Selasa, 09 Januari 2024
Home »
ilmu bedah
» ilmu bedah
ilmu bedah
Januari 09, 2024
ilmu bedah
Hernia inguinalis dapat terjadi sebab anomali kongenital atau sebab
sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyak
pada pria daripada wanita. Berbagai faktor penyebab berperan pada
pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar
sehingga dapat dilalui oleh kantong dan isi hernia. Di samping itu
diperlukan pula faktor yang dapat mendorong isi hernia melewati pintu
yang sudah terbuka cukup lebar ini .
Pada orang sehat ada tiga mekanisme yang dapat mencegah terjadinya
hernia inguinalis, yaitu kanalis inguinalis yang berjalan miring, ada
struktur m.oblikus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis
internus ketika berkontraksi, dan ada fasia transversa yang kuat yang
menutupi trigonum Hasselbach yang umumnya hampir tidak berotot.
Gangguan pada mekanisme ini dapat memicu terjadinya hernia.
Faktor yang dipandang berperan kausal yaitu ada prosesus vaginalis
yang terbuka, peninggian tekanan di dalam rongga perut, dan kelemahan
otot dinding perut sebab usia.
Proses turunnya testis mengikuti prosesus vaginalis. Pada neonatus kurang
lebih 90% prosesus vaginalis tetap terbuka sedangkan pada bayi umur satu
tahun sekitar 30% prosesus vaginalis belum tertutup. Tetapi kejadian
hernia pada umur ini hanya beberapa persen. Tidak sampai 10% anak
dengan prosesus vaginalis paten menderita hernia. Pada anak dengan
hernia unilateral dapat dijumpai prosesus vaginalis paten kontralateral
lebih dari separo, sedangkan insidens hernia tidak melebihi 20%.
Umumnya disimpulkan bahwa ada prosesus vaginalis yang paten
bukan merupakan penyebab tunggal terjadinya hernia tetapi diperlukan
ada faktor lain seperti anulus inguinalis yang cukup besar.
Tekanan intraabdomen yang meninggi secara kronik seperti batu kronik,
hipertrofi prostat, konstipasi, dan asites sering disertai hernia inguinalis.
Insidens hernia meningkat dengan bertambahnya umur mungkin sebab
meningkatnya penyakit yang meninggikan tekanan intraabdomen dan
jaringan penunjang berkurang kekuatannya. Dalam keadaan relaksasi otot
dinding perut, bagian yang membatasi anulus internus turut kendur. Pada
keadaan itu tekanan intraabdomen tidak tinggi dan kanalis inguinalis
berjalan lebih vertikal. Sebaliknya bila otot dinding perut berkontraksi,
kanalis inguinalis berjalan lebih transversal dan anulus inguinalis tertutup
sehingga dapat mencegah masuknya usus ke dalam kanalis inguinalis.
Kelemahan otot dinding perut antara lain terjadi akibat kerusakan
n.illioinguinalis dan n.illiofemoralis sesudah apendektomi.
Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum disebut hernia
skrotalis.
b. Hasil Anamnesis (subjective)
Gejala dan tanda klinik hernia banyak ditentukan oleh keadaan isi hernia.
Pada hernia reponi bel keluhan satu-satunya yaitu ada benolan di
lipat paha yang muncul pada waktu berdiri, batuk, bersin, atau mengedan,
dan menghilang sesudah berbaring. Keluhan nyeri jarang dijumpai, kalau
ada biasanya dirasakan di daerah epigastrium atau paraumbilikal berupa
nyeri viseral sebab regangan pada mesenterium sewaktu satu segmen usus
halus masuk ke kantong hernia. Nyeri yang diserta mual atau muntah baru
timbul kalau terjadi inkarserasi sebab ileus atau strangulasi sebab
nekrosis atau gangren.
c. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang sederhana (Objective)
Tanda klinik pada pemeriksaan fisik bergantung pada isi hernia. Pada
inspeksi saat pasien mengedan dapat dilihat hernia inguinalis lateralis
muncul sebagai penonjolan di regio inguinalis yang berjalan lateral ke atas
ke medial bawah. Kantong hernia yang kosong kadang dapat diraba pada
funikulus spermatikus sebagai gesekan dari dua lapis kantong yang
memberi sensasi gesekan dua permukaan sutera. Tanda ini disebut
tanda sarung tangan sutera, tetapi umumnya tanda ini sukar ditemukan.
Kalau kantomg hernia berisi organ maka tergantung isinya, pada palpasi
mungkin teraba usus, omentum (seperti karet) atau ovarium. Dengan jari
telunjuk atau jari kelingking pada anak dapat dicoba mendorong isi hernia
dengan menonjolkan kulit skrotum melalui anulus eksternus sehingga
dapat ditentukan apakah isi hernia dapat direposisi atau tidak. Dalam hal
hernia dapat direposisi, pada waktu jari masih berada dalam anulus
eksternus, pasien diminta mengedan. Kalau hernia menyentuh ujung jari,
berarti hernia inguinalis lateralis, dan kalau samping jari yang menyentuh
menandakan hernia inguinalis medialis. Isihernia pada bayi wanita yang
teraba seperti sebuah massa yang padat biasanya terdiri dari ovarium.
d. Penegakkan Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta
dapat dibantu dengan ultrasonografi abdomen
e. pengobatan Komprehensif
Pengobatan konservatif terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan
pemakaian penyangga atau penunjang untuk mempertahankan isi hernia
yang telah direposisi. Reposisi tidak dilakukan pada hernia inguinalis
strangulata, kecuali pada pasien anak-anak. Reposisi dilakukan secara
bimanual. Tangan kiri memegang isi hernia membentuk corong sedangkan
tangan kanan mendorongnya ke arah cincin hernia dengan takanan lambat
tapi menetap sampai terjadi reposisi. Pada anak-anak inkarserasi lebih
sering terjadi pada umur di bawah dua tahun. Reposisi spontan lebih sering
dan sebaliknya gangguan vitalitas isi hernia jarang terjadi dibandingkan
dengan orang dewasa. Hal ini dipicu oleh cincin hernia yang lebih
elastis pada anak-anak. Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak
dengan pemberian sedatif dan kompres es di atas hernia. Bila usaha
reposisi ini berhasil anak disiapkan operasi pada hari berikutnya. Jika
reposisi hernia tidak berhasil, dalam waktu enam jam harus dilakukan
operasi segera.
Pemakaian bantalan penyangga hanya bertujuan menahan hernia yang
telah direposisi dan tidak pernah menyembuhkan sehingga harus dipakai
seumur hidup. Namun cara yang dipakai lebih dari 4000 tahun ini masih
saja dipakai sampai sekarang. Sebaiknya cara ini tidak dianjurkan sebab
mempunyai komplikasi, antara lain merusak kulit dan tonus otot dinding
perut di daerah yang tertekan sedangkan strangulasi tetap mengancam.
Pada anak-anak cara ini dapat menimbulkan atrofi testis sebab tekanan
pada tali sperma yang mengandung pembuluh darah testis.
Pengobatan operatif merupakan satu-satunya pengobatan hernia inguinalis
yang rasional. Indikasi operasi sudah ada begitu Diagnosa dilakukan .
Prinsip dasar operasi hernia terdiri dari herniotomi dan hernioplastik.
Pada herniotomi dilakukan pembebasan kantong hernia sampai ke
lehernya, kantong dibuka dan isi hernia dibebaskan kalau ada perlekatan,
kemudian direposisi. Kantong hernia dijahit-ikat setinggi mingkin lalu
dipotong. Pada hernioplastik dilakukan tindakan memperkecil anulus
inguinalis internus dan memperkuat dinding belakang kanalis inguinalis.
Hernioplastik lebih penting artinya dalam mencegah terjadinya residif
dibandingkan dengan herniotomi. Dikenal berbagai metode hernioplastik
seperti memperkecil anulus inguinalis internus dengan jahitan terputus,
menutup dan memperkuat fasia transversa, dan menjahitkan pertemuan
m.transversus internus abdominis dan m.oblikus internus abdominis yang
dikenal dengan nama conjoint tendon ke ligamentum inguinale Poupart
menurut metode Bassini, atau menjahitkan fasia transversa, m.transversus
abdominis, m.oblikus internus abdominis ke ligamentum Cooper pada
metode Mc Vay.
Bila defek cukup besar atau terjadi residif berulang diperlukan pemakaian
bahan sintetis seperti mersilene, prolene mesh, atau marleks untuk
menutup defek.
Metode Bassini merupakan teknik herniorafi yang pertama kali
dipublikasikan pada 1887, dan sampai sekarang masih merupakan operasi
baku. Namun ahli bedah harus memilih an memodifikasi teknik mana
yang akan dipakai sesuai temuan pada operasi dan patogenesis hernia
menurut usia dan keadaan penderita.
Pada bayi dan anak-anak dengan hernia kongenital lateral yang faktor
penyebabnya yaitu ada prosesus vaginalis yang tidak menutup
sedangkan anulus inguinalis internus cukup elastis dan dinding belakang
kanalis cukup kuat, hanya dilakukan herniotomi tanpa hernioplastik.
Kadang ditemukan insufisiensi dinding belakang kanalis inguinalis dengan
hernia inguinalis medialis besar yang biasanya bilateral. Dalam hal ini
diperlukan hernioplastik yang dilakukan secara cermat dan teliti. Tidak
satupun teknik yang dapat menjamin bahwa tidak akan terjadi residif.
Yang penting diperhatikan ialah mencegah terjadinya tegangan pada
jahitan dan kerusakan pada jaringan. Umumnya dibutuhkan plastik dengan
bahan sintetis prolene mesh misalnya.
Terjadinya residif lebih banyak dipengaruhi oleh teknik reparasi
dibandingkan dengan faaktor konstitusi. Pada hernia inguinalis lateralis
penyebab residif yang paling sering ialah penutupan anulus inguinalis
yang tidak memadai, di antaranya sebab diseksi kantong yang kurang
sempurna, ada lipoma preperitoneal, atau kantong hernia tidak
ditemukan. Pada hernia inguinalis medialis penyebab residif umumnya
sebab tegangan yang berlebihan pada jahitan plastik atau kekurangan lain
dalam tekhnik. Angka residif operasi hernia umumnya mendekati 10%.
f. Prognosis
g. Sarana prasarana
Diperlukan sarana pemeriksaan penunjang yang lengkap untuk
mendukung diagnose
HERNIA UMBILIKALIS
Hernia umbilikalis merupakan hernia kongenital pada umbilikus yang hanya
ditutup periotoneum dan kulit. Hernia ini ada pada kira-kira 20% bayi dan
angka ini lebih tinggi lagi pada bayi prematur. Tidak ada perbedaan angka
kejadian antara bayi laki-laki dan perempuan..
Gejala klinik
Hernia umbilikalis merupakan penonjolan yang mengandung isi rongga perut
yang masuk melalui cincin umbilikus akibat peninggian tekanan intraabdomen,
biasanya jika bayi menangis. Hernia umumnya tidak menimbulkan nyeri dan
sangat jarang terjadi inkarserasi.
Pengelolaan
Bila cincin hernia kurang dari 2 cm, umumnya regresi spontan akan terjadi
sebelum bayi berumur 6 bulan, kadang cincin baru tertutup sesudah 1 tahun.
Usaha untuk mempercepat penutupan dapat dikerjakan dengan mendekatkan
tepi kiri dan kanan kemudian memancangnya dengan pita perekat (plester)
untuk 2 – 3 minggu. Dapat pula digunakan uang logam yang dipancangkan di
umbilikus untuk mencegah penonjolan isi rongga perut. Bila sampai usia satu
setengah tahun hernia masih menonjol maka umumnya diperlukan koreksi
operasi. Pada cincin hernia yang melebih 2 cm jarang terjadi regresi spontan
dan lebih sukar diperoleh penutupan dengan tindakan konservatif.
Hernia umbilikalis pada orang dewasa merupakan lanjutan hernia umbilikalis
pada anak. Peninggian tekanan sebab kehamilan, obesitas, atau asites,
merupakan faktor predisposisi. Perbandingan antara laki dan perempuan kira-
kira 1:3. Diagnosa mudah dibuat seperti halnya pada anak-anak. Inkarserasi
lebih sering terjadi dibandingkan dengan anak-anak. Terapi hernia umbilikalis
pada orang dewasa hanya operatif.
Hasil Anamnesis (subjective)
Hernia umbilikalis merupakan penonjolan yang mengandung isi rongga perut
yang masuk melalui cincin umbilikus akibat peninggian tekanan intraabdomen,
biasanya jika bayi menangis. Hernia umumnya tidak menimbulkan nyeri dan
sangat jarang terjadi inkarserasi.
Penegakkan Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta dapat
dibantu dengan ultrasonografi abdomen
Diagnosa mudah dibuat seperti halnya pada anak-anak. Inkarserasi lebih sering
terjadi dibandingkan dengan anak-anak
pengobatan Komprehensif
Bila cincin hernia kurang dari 2 cm, umumnya regresi spontan akan terjadi
sebelum bayi berumur 6 bulan, kadang cincin baru tertutup sesudah 1 tahun.
Usaha untuk mempercepat penutupan dapat dikerjakan dengan mendekatkan
tepi kiri dan kanan kemudian memancangnya dengan pita perekat (plester)
untuk 2 – 3 minggu. Dapat pula digunakan uang logam yang dipancangkan di
umbilikus untuk mencegah penonjolan isi rongga perut. Bila sampai usia satu
setengah tahun hernia masih menonjol maka umumnya diperlukan koreksi
operasi. Pada cincin hernia yang melebih 2 cm jarang terjadi regresi spontan
dan lebih sukar diperoleh penutupan dengan tindakan konservatif.
Prognosis
Sarana prasarana
Diperlukan sarana pemeriksaan penunjang yang lengkap untuk mendukung
diagnose
DIVERTIKULOSIS
Merupakan suatu keadaan dimana ada banyak penonojolan mukosa yang
menyerupai kantong (divertikula) yang tumbuh dalam usus besar, khususnya
kolon sigmoid. Bila ada peradangan akut maka memicu divertikulitis
Insidensi tertinggi pada usia 40 dan 50 tahun an dengan perbandingan kejadian
1: 1,5 pada pria/wanita
Hasil Anamnesis (subjective)
Divertikulosis tidak bergejala pada 80 % penderita. Keluhan dan tandanya
berupa serangan nyeri, obstipasi, dan diare oleh gangguan motilitas sigmoid.
Bila diikuti oleh diverticulitis maka didapatkan nyeri local kiri bawah atau
suprapubik dan disertai konstipasi atau diare. Sering juga disertai mual dan
muntah serta demam sedang dan distensi perut.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang sederhana (Objective)
Pada divertikulosis didapatkan nyeri tekan local pada ringan pada perut dan
sigmoid sering dapat diraba sebagai struktur padat. Akan tetapi pada
diverticulitis didapatkan massa di daerah pelvis atau kiri bawah.
Pemeriksaan darah rutin dan pemeriksaan foto rontgen barium dapat dilakukan
untuk membantu menegakkan Diagnosa . pemeriksaan foto rontgen barium
tidak dapat dilakukan pada fase akut.
Penegakkan Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta dapat
dibantu dengan pemeriksaan laboratorium didapatkan leukositosis sedang serta
pada pemeriksaan foto rontgen barium tampak divertikel dengan spasme local
dan penebalan dinding yang memicu penyempitan lumen
pengobatan Komprehensif
Pada serangan akut, dilakukan tindakan konservatif berupa puasa, pemasnagan
pipab isap lambung, pemberian antibiotic sistemik dan analgetik.
Pembedahan bagian kolon yang mengandung divertikel multiple dapat
dilakukan secara elektif sesudah diverticulitis menyembuh
Prognosis
Merupakan keadaan jinak, akan tetapi memiliki mortalitas dan morbiditas yang
signifikan akibat komplikasi
Sarana prasarana
Diperlukan sarana pemeriksaan penunjang yang lengkap untuk mendukung
diagnose
KOLITIS
Merupakan suatu gangguan inflamasi kronis dari mukosa kolon, biasanya
dimulai dari rectum dan meluas ke arah proksimal sampai batas yang
bervariasi.
Insidensi tertinggi pada usia muda (15-30) dan usia lanjut (60-80) tahun an
dengan perbandingan kejadian 1: 1,6 pada pria/wanita
Hasil Anamnesis (subjective)
Keluhan yang sering didapatkan yaitu perdarahan dari rectum dan diare
bercampur darah, nanah dan lender. Keluhan biasanya disertai demam, mual,
muntah dan penurunan berat badan
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang sederhana (Objective)
Pada pemeriksaan sering didapatkan nyeri perut pada perut dan pada colok
dubur biasanya didapatkan nyeri sebab fisura.
Pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan pencitraan kolon dapat digunakan
untuk membantu menegakkan Diagnosa
Penegakkan Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta dapat
dibantu dengan pemeriksaan laboratorium didapatkan anemia, leukositosis dan
peninggian laju endap darah. Pada pemeriksaan pencitraan kolon didapatkan
kelainan mukosa dan hilangnya haustra. Kolonoskopi harus dibuat dengan hati-
hati, sebab dinding koon sangat tipis.
Biopsy dan pemeriksaan biakan juga perlu dilakukan untuk menyingkirkan
Diagnosa penyakit lain, seperti karsinoma kolon, divertikulosis, demam
typhoid, morbus crhon, tuberculosis dan amubiasis.
pengobatan Komprehensif
Terapi konservatif terdiri atas, istirahat, diet, pemberian sulfasalasin dan
kortikosteroid local atau sistemik. Pada colitis ulserosa akut, laparotomi
dilakukan pada perforasi, ancaman perforasi dan dilatasi kolon akut.
Tindakan bedah dilakukan pada penyakit yang membandel, misalnya tidak ada
perubahan dengan terapi yang optimal, malah terjadi malnutrisi, kelelahan
menetap, tidak dapat bekerja, gangguan sistemik dan ancaman Ca Kolon
Prognosis
Merupakan masalah kronis yang membutuhkan pemantauan konstan kecuali
dilakukan pembedahan yang drastis tetapi kuratif
Sarana prasarana
Diperlukan sarana pemeriksaan penunjang yang lengkap untuk mendukung
diagnose
ABSES HEPAR AMUBA
Abses hepar amuba terjadi sebab Entamoeba Histolytica terbawa aliran vena
porta ke hepar, tetapi tidak semua amuba yang masuk ke hapar menimbulkan
abses. Akibat infeksi amuba ini terjadi reaksi radang dan akhirnya
nekrosis jaringan hepar.
Hasil Anamnesis (subjective)
Diare dialami oleh 20-50 % penderita, disertai demam, berkeringat dan berat
badan menurun. Penyakit timbul secara perlahan. ada nyeri spontan
didaerah lengkung iga pada hepar yang membesar, kadang nyeri juga dirasakan
didaerah bahu kanan sebab ada iritasi diafragma
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang sederhana (Objective)
Pada pemeriksaan fisik biasanya didapatkan nyeri tekan didaerah
hipokondrium kanan dan thorax kanan. Biasanya ada hepatomegali dan
ada massa didaerah epigastrium bila lobus kiri yang terkena. Suhu tubuh
tidak lebih dari 38,50C dan penerita tidak tampak sakit berat sseperti bila abses
sebab bakteri.
Pemeriksaan penunjang sederhana yaitu dengan pemeriksaan kadar leukosit,
kadar fosfatase alkali serum.
Pemeriksaan ultrasonografi abdomen dan pemeriksaan foto rontgen thorax juga
penting untuk menegakkan Diagnosa
Penegakkan Diagnosa
Diagnosa dapat dibuat dengan menyadari kemungkinan ada penyakit ini,
yaitu bila ada nyeri daerha epigastrium kanan dan hepatomegali serta demam
yang tidak terlalu tinggi dugaan abses hepar perlu dipertimbangkan. Riwayat
diare dan ditemukannnay amuba dalam feses sangat membantu.
Jumlah kadar leukosit sekitar 10.000-20.000, kadar alkali fosfatase serum
meningkat pada semua tingkat abses amuba. Pada foto rontgen ada kubah
diafragma kanan meninggi, ada efusi pleura dan atelektasis. Pemeriksaan
USG abdomen untuk menentukan lokasi dan besarnya abses amuba ini .
Diagnosa banding untuk penyakit ini yaitu kolesistisis akut, hepatitis virus
akut, dan karsinoma hati primer tipe febril.
Untuk menegakkan Diagnosa perlu dilihat hasil USG, pungsi dan percobaan
pengobatan dengan amubisid
pengobatan Komprehensif
Terapi farmakologis yaitu dengan metronidazol atau tinidazol yang bersifat
amubisid jaringan dengan dosis 50 mg/kg BB/hari selama 10 hari. Terapi
bedah dengan aspirasi dan penyaliran
Prognosis
Komplikasi umumnya berupa perforasi abses ke semua rongga tubuh dan kulit.
Insiden perforasi ke rongga pleura yaitu 10-20%
Sarana prasarana
Diperlukan sarana pemeriksaan penunjang yang lengkap untuk mendukung
diagnose
ABSES APPENDIKS
Appendicitis merupakan suatu keadaaan infeksi yang terjadi disebab kan
sebab ada sumbatan pada lumen appendiks sebagai faktor pencetus dan
ada erosi mukosa appendiks sebab parasit seperti E. Histolityca.
Appendicitis dapat berlangsung dari keadaaan akut, kronik bahkan sampai
menimbulkan perforasi dan abses appendiks. Abses appendiks sendiri
merupakan komplikasi dari apppendisitis akut disebab kan ada perforasi
ppendiks.
Hasil Anamnesis (subjective)
pada abses appendiks akan didapatkan bertambahnya rasa nyeri yasng makin
hebat yang meliputi seluruh perut dan perut menjadi tegang dan kembung.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang sederhana (Objective)
Perabaan massa pada daerah region iliaka kanan dan ada nyeri tekan dan
defans muscular pada seluruh perut. Juga didapatkan kenaikan suhu dan
frekuensi nadi.
Pemeriksaan darah rutin terutama angka leukosit dan pemeriksaan
ultrasonografi abdomen dapat membantu untuk menegakkan Diagnosa abses
appendiks
Penegakkan Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta dapat
dibantu dengan ultrasonografi abdomen dan rontgen dada untuk membedakan
abses yang berasal dari rongga pleura
pengobatan Komprehensif
Perbaikan keadaan umum dengan infuse, pemberian antibiotic untuk kuman
gram negative dan positif serta kuman anaerob dan pemasangan NGT perlu
dilakukan sebelum dilakukan operasi.
Untuk pembedahan perlu dilakukan incise yang panjang, supaya dapat
dilakukan pencucian rogga peritoneum dari pus maupun pengeluaran fibrin
yang adekuat secara mudah.
Prognosis
Dubia ad Bonam
Sarana prasarana
Diperlukan sarana pemeriksaan penunjang yang lengkap untuk mendukung
diagnose
ABSES ANOREKTAL/PERIANAL
Abses anorektal dipicu oleh radang di ruang pararektum akibat infeksi
kuman usus. Umumnya pintu infeksi ada di kelenjar rektum di kripta
antarkolumnta rektum. Penyebab lain ialah infeksi dari kulit anus, hematom,
fisura anus, dan skleroterapi. Abses diberi nama sesuai letak anatomik seperti
pelvirektal, inskiorektal, antarsfingter, marginal, yaitu di saluran anus di bawah
epitel, dan perianal. Dalam praktik sehari-hari abses perianal paling sering
ditemukan
Hasil Anamnesis (subjective)
Nyeri timbul bila abses terletak di sekitar anus atau kulit perianal. Gejala dan
tanda sistemik radang biasanya cukup jelas seperti demam, leukositosis, dan
mungkin keadaan toksik. Tanda dan gejala lokal bergantung pada letaknya.
Umumnya tidak ada gangguan defekasi.
Penderita demam dan tak dapat duduk di sisi pantat yang sakit. Komplikasi
terdiri dari perluasan ke ruang lain dan perforasi ke dalam, ke anorektum, atau
ke luar melalui kulit perianal.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang sederhana (Objective)
Pada colok dubur atau pemeriksaan vaginal dapat dicapai gejala dalam seperti
abses iskiorektal atau pelvirektal. Abses perianal biasanya jelas sebab tampak
pembengkakan yang mungkin biru, nyeri, panas dan akhirnya berfluktuasi.
Penegakkan Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan apabila ditemukan gejala dan tanda sebagai
berikut:
- Nyeri anorektal terus-menerus
- Tanda abses
o Kelihatan di luar
o Pada palpasi
o Pada colok dubur
- Tanda sistemik radang
pengobatan Komprehensif
Penanganan abses terdiri dari penyaliran. Umumnya sudah ada pernanahan
sewaktu penderita datang. Pemberian antibiotik kurang berguna sebab efeknya
hanya untuk waktu terbatas dengan risiko keluhan dan tandanya tersamarkan.
Rendam duduk dan analgesik memberi pertolongan paliatif. Umumnya
sesudah perforasi spontan atau insisi abses untuk disalurkan akan terbentuk
fistel.
Prognosis
Sarana prasarana
Diperlukan sarana pemeriksaan penunjang yang lengkap untuk mendukung
diagnose
PROKTITIS
Radang pada rektum dan/atau anus dapat dipicu oleh gonore, sifilis,
amuba, dan berbagai virus. Pada penyinaran uterus, serviks, prostat, dan buli-
buli, mungkin usus, termasuk rektum, dapat terpengaruh, hal ini memicu
proktitis radiasi. Insidensnya beranjak antara beberapa sampai 15%. Dalam hal
ini rektum lebih peka daripada vagina. Umumnya gejala dan penyulit timbul
dalam waktu dua tahun sesudah penyinaran, kadang baru sesudah 10-20 tahun
Hasil Anamnesis (subjective)
Proktitis gonore menimbulkan iritasi, gatal, pengeluaran mukus dan pus, dan
nyeri. Sifilis memicu ulkus durum yang agak keras dan tidak nyeri. Pada
proktitis radiasi tidak ada keluhan dan tanda di kulit
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang sederhana (Objective)
Pada pemeriksaan rektum didapati spasme yang nyeri. Pada minggu pertama,
rektoskopi usus memperlihatkan udem, iritasi, dan kemerahan yang mudah
berdarah. Akhirnya, reaksi akut hilang dan mukosa menjadi rata, pucat, dan
hipotrofik dengan teleangiektasia. Mungkin terbentuk ulkus, fistel, atau
striktur. Kadang ulkus mirip dengan yang ada pada keganasan.
Proktitis radiasi menimbulkan perdarahan, tenesmi, spasme, dan inkontinensia.
Kelainan dapat mengalami progresi selama beberapa tahun dengan
pembentukan fibrosis berdasarkan kelainan obliteratif arteri.
Pada fase akut dapat dilakukan enema yang mengandung kortikosteroid. Bila
terbentuk fistel intern atau ekstern, akan timbul nyeri dan stenosis.
Penegakkan Diagnosa
Diagnosa dapat dilakukan dari hasil anamnesis, pemeriksaan fisik serta dapat
dibantu dengan pemeriksaan penunjang, diantaranya:
pengobatan Komprehensif
Mungkin perlu dibuat kolostomi untuk mengistirahatkan rektum dan
menghindari kontaminasi oleh tinja. Biopsi tidak dianjurkan sebab dapat
memicu fistel.
Prognosis
-
Sarana prasarana
Diperlukan sarana pemeriksaan penunjang yang lengkap untuk mendukung
diagnose
HEMORRHOID GRADE 3-4
Hemoroid merupakan pelebaran vena di dalam pleksus hemoroidalis yang bukan
merupakan keadaan patologis, kecuali jika menimbulkan keluhan dan penyulit,
hal ini perlu dilakukan tindakan. Hemoroid sering disebut wasir atau ambeyen.
Hemoroid dibagi menjadi dua yaitu hemoroid interna dan eksterna. Hemoroid
interna merupakan bantalan vaskuler di dalam jaringan submukosa pada rektum
sebelah bawah dengan posisi primer hemoroid meliputi posisi kanan-depan,
kanan-belakang, dan kiri-lateral; sedangkan hemoroid eksterna merupakan
pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior yang ada di sebelah
distal garis mukokutan di dalam jaringan bawah epitel anus.
Beberapa teori Mekanisme terjadinya hemoroid meliputi (1). Hemoroid dimulai
saat faktor usia dan fakktor penyebab lain merusak jaringan penunjang dan
jangkar. Jangkar yang dimaksud yaitu mukosa rektum /anodermal, stroma
jaringan yang kaya pembuluh darah,dan otot polos yang berfungsi melindungi
pleksus hemorroid dari mekanisme kerja sfinkter ani. Rusaknya jangkar dan
jaringan penunjang memicu pleksus hemoroidalis menonjol sehingga
muncul gejala. (2) Hemorroid serupa dengan suatu AV malformasi, sehingga
perdarahan yang terjadi berwarna merah (bukan hitam) seperti perdarahan
arterial.(3). Defek utama yang terjadi merupakan kombinasi dari lemahnya
jaringan penyokong pleksus hemorroidalis dan hipertrofi otot sfinkter ani.
Hasil anamnesis (Subjective)
Pasien datang ke praktek dokter dengan keluhan BAB berdarah. Pasien
mengeluhkan susah BAB, dan setiap BAB, feses yang keluar keras dan ada
tetesan darah yang mewarnai air toilet. Darah yang keluar berwarna merah segar
namun tidak bercampur feses.
Darah yang keluar merupakan darah vena yang berwarna merah segar yang kaya
akan zat asam, tapi darah yang keluar pada perdarahan yang luas dari pleksus
hemoroidalis merupakan darah arteri. Perdarahan berulang dapat memicu
anemia berat. Hemoroid yang besar perlahan-lahan akan menonjol dan
memicu prolaps. Pada tahap awal penonjolan ini terjadi pada saat defekasi
disusul reduksi spontan sesudah defekasi. Pada tahap lanjut, hemoroid yang
menonjol perlu di dorong agar dapat masuk kembali ke dalam anus. Keluarnya
mucus dan ada nya feses pada pakaian dalam merupakan ciri hemoroid
dengan prolaps menetap. Gatal terjadi sebab iritasi kulit perianal akibat
kelembaban yang terus menerus dan ragsangan mucus. Nyeri dapat timul apabila
ada thrombosis luas dengan udem dan radang.
Faktor-faktor yang memicu gejala pada hemoroid yaitu perilaku mengedan
saat defekasi, konstipasi menahun, kehamilan, dan obesitas. Penyakit kronis
seperti PPOK dan kondisi yang menimbulkan peningkatan tekanan intrapelvis
juga menjadi faktor penyebab hemoroid
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective)
Pemeriksaan hemoroid dapat dilakukan dengan inspeksi prolaps. Inspeksi prolaps
dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan kondiloma perianal dan tumor
anorektum. Jika prolaps tidak terlihat dilakukan colok dubur. Colok dubur
dilakukan untuk menyingkirkan Diagnosa banding karsinoma rectum.
Pemeriksaan lain dilakukan dengan meminta pasien mengedan maka didapatkan
hasil hemoroid menonjol keluar atau hemoroid yang sudah menonjol akan terlihat
semakin besar. Pemeriksaan menggunakan anoskop juga dapat dilakukan untuk
melihat empat kuadran hemoroid interna tanpa prolaps. Pemeriksaan feses dapat
dilakukan untuk memastikan darah yang keluar bercampur feses atau tidak.
Pemeriksaan darah dilakukan untuk menilai kadar hemoglobin dan menentukan
derajat anemia.
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa : dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
peeriksaan penunjang. Derajat hemoroid interna dibagi menjadi 4 yaitu
27
Derajat Berdarah Menonjol Reposisi
I + - -
II + + Spontan
III ++ + Manual
IV ++ Tetap Tidak dapat
Jika prolaps tidak dapat masuk kembali dapat menjadi ireponibel, kondisi ini
biasanya terjadi udem dan thrombosis karea kongesti. Diagnosa banding
hemoroid meliputi karsinoma kolorektum, penyakit divertikel, polip, colitis
ulserosa, prolaps rektum, dan kondiloma perianal
pengobatan
Tujuan terapi bukan menghilangkan pleksus hemoroidalis tetapi menghilangkan
keluhan. Pasien hemoroid grade I&II diberikan terapi topikal dan edukasi tentang
perubahan kebiasaan makan . Pemilihan terapi hemorroid meliputi (1) hemoroid
derajat 1: terapi medik, bila kurang baik diganti dengan cara minimal invasif, (2)
hemorroid derajat 2: terapi dengan cara minimal invasif, bila pasen tidak mau
dapat dicoba terapi medik, bila gagal dengan minimal invasif ganti dengan
operasi, (3) hemorriod derajat 3: terapi dengan minimal invasif atau operasi, (4)
hemorroid derajat 4: operasi.
Edukasi ini meliputi:
1. Diit tinggi serat,bila perlu diberikan supplemen serat,atau obat yang
memperlunak feses (bulk forming cathartic).
2. Menghindarkan mengedan berlama-lama pada saat defekasi.
3. Menghindarkan diare sebab akan menimbulkan iritasi mukosa yang dapat
menimbulkan ekaserbasi
Obat-obatan simtomatik
Obat antiinflammasi seperti steroid topikal jangka pendek dapat diberikan untuk
mengurangi udem jaringan sebab inflammasi. Antiinflammasi ini biasanya
digabungkan dengan anestesi lokal, vasokonstriktor, lubricant, emollient, dan zat
pembersih perianal. Obat -obat ini tidak akan berpengaruh terhadap hemorroidnya
sendiri, tetapi mengurangi inflammasi, rasa nyeri/ tidak enak dan rasa gatal.
pemakaian steroid ini bermanfaat pada saat ekaserbasi akut dari hemorroid
sebab bekerja sebagai antiinflammasi, antipruritus, dan vasokonstriktor.
Pemakaian jangka panjang perlu dipertimbangkan sebab menimbulkan atrofi
kulit perianal yang merupakan predisposisi terjadinya infeksi.
Obat yang mengandung anestesi lokal juga perlu hatihati dalam pemberiannya
sebab sering menimbulkan reaksi buruk terhadap kulit /mukosa.
Metode Sitz bath dengan cara bagian anus direndam di Waskom /ember dengan
air hangat ditambah permanganas kalikus sangat bermanfaat sebab ada
efekmeringankan nyeri, mengurangi pembengkakan, dan membersihkan perianal.
Terapi dengan cara "minimal invasive"
Terapi dengan cara ini dlakukan pada penderita yang tidak berhasil dengan cara
medik atau penderita yang belum mau dilakukan operasi. Cara ini optimal
dilakukan pada penderita hemorroid derajat III/ IV.
1. Skleroterapi, cara ini sudah sangat lama
digunakan.Sklerosant(morhuat,etoksisklerol dsb) disuntikkan pada varises
sehingga terjadi inflammasi dan sklerosis lapisan submukosa. Cara ini
bermanfaat untuk mengatasi hemorroid kecil yang sedang berdarah.
2. Rubber band ligation, dengan memakai aplikator khusus,hemorroid
dihisap kemudian rubber band dilepaskan dan hemorroid terikat.Keadaan
ini akan menimbulkan nekrosis lokal dan terjadi fibrosis serta fiksasi
mukosa pada lapisan otot.
3. Dilatasi anus, prosedur sangat simpel bisa dengan lokal anestesi atau
neuroleptik.
4. Bedah krio, sebagian dari mukosa anus dibekukan dengan nitrogen
cair,dalam beberapa hari terjadi nekrosis,kemudian sklerosis dan fiksasi
mukosa pada lapisan otot.
5. Foto koagulasi infra merah, Elektrokoagulasi,Diatermi bipolar: prinsip
dari cara-cara ini hampir sama yaitu nekrosis lokal sebab panas, terjadi
29
nekrosis, fibrosis/sklerosis, dan fiksasi mukosa pada jaringan otot
dibawahnya.
Terapi bedah.
Terapi bedah dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya
Whitehead,Milligan-Morgan atau Parks. Pengobatan hemoroid hendaknya
mempertimbangkan derajat, tehnik, dan fasilitas yang ada pada pelayanan
kesehatan. Jika hemoroid merupakan grade III/ IV segera di rujuk ke dokter
spesialis bedah agar segera dilakukan tindakan bedah.
PROLAPS REKTUM
Prolaps rektum aatau disebut prosidensia merupakan keluarnya seluruh dinding
rektum, hal ini harus dibedakan dari prolaps mukosa rektum pada hemoroid
interna pasien dewasa. Penunjang rektum terdiri dari mesenterium dorsal, lipatan
peritoneum, berbagai fasia, dan m. levator rektum. Rektum dan anus membentuk
sudut tajam akibat lipatan bagian puborektum m. levator rektum. Prolaps rektum
dapat terjadi pada anak dan dewasa.
Prolaps rektum pada anak bisa dipicu kelainan bawaan meliputi (1) gangguan
faal sfingter seperti pareses sfingter ani pada meningokel, atau agenesis sakrum,
(2) malformasi anorektal sesudah anoplastik/ rektoplasti vesika ektopik. Kondisi
lain yang memicu prolaps rektum yaitu kondisi otot dasar panggul
hipotonik akibat kurang gizi atau obstipasi. Pencetus timbulnya prolaps yaitu
mengedan saat defekasi pada anak obstipasi kronik atau diare kronik pada anak
dengan sindrom malabsorbsi.
Prolaps rektum pada dewasa biasanya dipicu peningkatan tekanan
intraabdomen, atau kurangnya daya tahan jaringan / sistem penujang rektum.
Berkurangnya daya tahan jaringan / sistem penunjang rektum dialami oleh pasien
pasca bedah perineum, kelainan neurologik, dan kelemahan otot pada usia lanjut /
kondisi kurang gizi
Hasil anamnesis (Subjective)
Anak usia 3 tahun datang dibawa ibunya ke dokter sebab ibunya prihatin melihat
benjolan di anus anak yang muncul tiap mengedan saat BAB. Beberapa minggu
ini anak sulit disuruh BAB, menolak BAB sebab tidak mau mengedan. Anak
mengatakan sakit saat mengedan. Toilet yang biasa digunakan anak saat BAB
yaitu toilet jongkok. Anak merupakan anak yang sehat dan aktif bermain dengan
teman sebaya.
Awalnya prolaps rektum muncul saat defekasi dan dapat masuk kembali sesudah
defekasi tanpa menimbulkan nyeri tapi pada sebagian pasien, prolaps ini
tidak dapat kembali walau di dorong sehingga menimbulkan udem, nyeri, dan
kadang berdarah. Nyeri dan keluarnya darah bisa dipicu akibat feses yang
keras dan melukai mukosa rektum.
Riwayat obstipasi kronik harus digali sebab pada anak yang sering menahan
BAB / defekasi, feses menjadi dan semakin sulit dikeluarkan. Hal ini membuat
anak semakin enggan untuk BAB sebab feses tidak dapat segera keluar dan harus
mengedan. Pada saat anak terpaksa / dipaksa defekasi, feses dikeluarkan secara
mendadak dengan tegangan tinggi sehingga mukosa rektum terdorong ke luar
lubang anus.
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective)
Pemeriksaan prolaps pada stadium awal diketahui dari inspeksi anus dengan hasil
ada penonjolan dengan lipatan mukosa konsentrik. Pemeriksaan ini dapat
dilengkapi dengan endoskopi atau foto Rontgen colon untuk menyingkirkan
penyakit colon dan juga pemeriksaan neurologis untuk menyingkirkan kausa
kelainan neurologis.
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa : dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan kadang
dapat dibantu dengan peeriksaan penunjang. Diagnosa prolaps rektum dapat
dilakukan dari penonjola rektum dari anus, inkontiensia feses parsial atau total,
dan pengeluaran mucus.
Diagnosa banding prolaps rektum yaitu polip atau papil rektum hipertrofi. Pada
pasien dewasa prolaps rektum harus dibedakan dari Diagnosa hemoroid,
karsinoma kolorektum, dan kondiloma perianal
pengobatan
pelaksanaan prolaps rektum lebih banyak pada edukasi mengenai pola makan/ diit
berserat sehingga memperlancar defekasi, hindari mengedan saat defekasi,
gunakan toilet duduk bukan toilet jongkok untuk mengurangi tekanan saat
mengedan, dianjurkan juga untuk latihan otot dasar panggul. Perbaikan nutris
merupakan dasar pengobatan.
Pemerian obat pelunak feses dapat membantu mempermudah defekasi, tapi
edukasi merupakan hal yang penting agar pasien tidak ketergantungan terhadap
obat pelunak feses. Segera lakukan rujukan ke dokter spesialis bedah jika
diperlukan tindakan operatif
Tindakan bedah jarang diperlukan, jika perlu, dilakukan cara Thiersch yaitu
melakukan jahitan subkutan melingkat menggunakan pita bahan sintetik pada
sfingter ani eksterna dua rangkap agar terjadi konstriksi anus. Rektopeksia yang
dilakukan melalui laparotomi juga dapat dilakukan. Kadang dilakukan
sigmoidektomi dan kolon desendens dianastomosis dengan sisa rektum.
Prognosis
Prognosis kasus ini dubia ad bonam
SISTEM MUSKULOSKELETAL
FRAKTUR KLAVIKULA
Fraktur yaitu terputusnya kontinuitas tulang. Fraktur dapat berbentuk transversa,
oblik atau spiral. Fraktur dapat berupa patahan dahan ( greenstick ) biasanya
tulang yang immatur, kominutif ada dua atau lebih fragmen tulang,
komplikata dimana beberapa struktur organ yang lain juga rusak ( saraf atau
pembuluh darah ), patologis yaitu sebab kelemahan tulang akibat penyakit.
Hasil Anamnesis
Keluhan
Pasien laki-laki usia 18 tahun dengan keluhan lengan kanan tidak bisa digerakkan
dan nyeri bila digerakkan sesudah jatuh dari pohon 1 jam yang lalu.
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik terpenting yaitu pertimbangan trauma multipel. Cari tanda-
tanda syok/perdarahan dan periksa ABC. Pemeriksaan lokalis : hematom/odem,
fungsi lesi dan diskontinuitas/deformitas serta disertai luka jaringan sekitar atau
tidak.
Pemeriksaan penunjang
Radiografi pada dua bidang ( cari lusensi dan diskontinuitas pada kortek tulang )
Diagnosa :
Diagnosa klinis
Diagnosa dilakukan berdasrkan anamnesis ( post jatuh ), pemeriksaan klinis (
deformitas, fungsi lesi dan atau memar ), pemeriksaan penunjang dengan
radiografi.
Diagnosa banding
Fraktur kominutif, komplet/inkomplet, atau komplikata.
Komplikasi
Infeksi, sindrom kompartemen
pengobatan komprehensif
Umum
Cari tanda-tanda syok/perdarahan dan periksa ABC
Cari trauma tempat lain ( kepala, tuang belakang, pelvis dll )
Segera
Hilangkan rasa nyeri
Fraktur terbuka ( compound ) membutuhkan debridemen, antibiotik, dan
profilaksis anti tetanus.
Definitif
Reduksi ( tertutup atau terbuka )
Imobilisasi ( gips, traksi atau fiksasi )
Rehabilitasi ( fisioterapi dan terapi okupasi )
Prognosis
Prognosis tergantung pada keadaan pasien saat datang, adakah syok atau
komplikasi. Umumnya prognosa dubia ad bonam bila tidak ada syok atau
komplikasi.
Sarana prasarana
1. Bidai
2. Anti nyeri
3. Radiografi
RUPTUR TENDO ACHILES
Ruptur tendon Achilles merupakan suatu kondisi di mana tendon Achilles,
mengalami cedera atau robekan sebab suatu hal. tendon Achilles merupakan
tendon tertebal terkuat pada badan manusia dan memiliki panjang sekitar 15
sentimeter. Tendon Achilles merupakan tendon yang melekatkan otot
gastrocnemius dan otot soleus ke salah satu tulang penyusun pergelangan kaki
yaitu calcaneus.
Hasil Anamnesis
Keluhan:
Pasien datang dengan keluhan sakit pada bagian bawah kaki sampai tidak bisa
menggerakkan kakinya.
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik ada pembengkakan dan kemerahan pada tendon juga
menjadi ciri dari cedera tendon Achilles.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang dapat membantu menegakkan Diagnosa dari cedera
tendon ini, seperti pemeriksaan radiologi, ultrasonografi, dan juga MRI (Magnetic
Resonance Imaging).
Diagnosa :
Diagnosa klinis
Diagnosa dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosa banding
Dislokasi dan atau fraktur ankle.
Komplikasi
-
pengobatan
Istirahat aktifitas fisik yang menggunakan kaki
Operasi merupakan salah satu pilihan yang terbaik, sebab akan
meminimalisir kemungkinan terjadi lagi ruptur untuk yang berikutnya.
Non operasi biasanya juga menjadi pilihan pada pasien-pasien yang telah
memasuki usia tua, sebab akan menimbulkan risiko jika operasi dijalankan.
Prognosis
Umumnya baik, tergantung pada kecepatan saat pemberian terapi.
Sarana prasarana
-
LESI MENISKUS, MEDIAL, LATERAL
Mononeuropati merupakan gangguan saraf perifer tunggal akibat trauma,
khususnya akibat tekanan, atau gangguan suplai darah (vasa nervosum).
Gangguan sistemik yang secara umum dapat memicu saraf sangat sensitif
terhadap tekanan, misalnya diabetes melitus atau penyakit lain yang memicu
gangguan perdarahan yang menyebar luas, misalnya vaskulitis, dapat
memicu neuropati multifokal ( atau mononeuritis multipleks).
Hasil Anamnesis
Keluhan
Pasien laki-laki usia 18 tahun datang dengan keluhan pergelangan tangan kanan
nyeri apabila digerakkan. Pasien memiliki hobi bermain tenis.
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan fisik
1. Lesi N. Medianus
Nyeri di tangan atau lengan, terutama pada malam hari atau saat bekerja.
Pengecilan dan kelemahan otot-otot eminensia tenar.
Hilangnya sensasi pada tangan pada distribusi N. Medianus .
Parestesi seperti kesemutan pada distribusi N. Medianus saat dilakukan
perkusi pada telapak tangan daerah terowongan karpal (tanda Tinel)
Kondisi ini sering bilateral.
2. Lesi N. Ulnaris
Nyeri dan/atau parestesi seperti kesemutan yang menjalar ke bawah dari
siku ke lengan sampai batas ulnaris tangan.
Atrofi dan kelemahan otot-otot intrinsik tangan (eminensia tenar masih
baik)
Hilangnya sensasi tangan pada distribusi N. Ulnaris.
Deformitas tangan cakar (Claw hand) yang khas pada lesi kronik.
3. Lesi N. Radialis
Hilangnya sensasi pada distribusi N. Radialis superfisial.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab, bila belum jelas, meliputi kadar
glukosa darah, LED dan fungsi tiroid.
Diagnosa :
Diagnosa klinis
Diagnosa CTS (carpal tunel sindrome) dilakukan berdasrkan hasil pemeriksaan
elektrodiagnostik.
Diagnosa banding
-
Komplikasi
Gangguan motorik progresif.
pengobatan komprehensif
Lesi N. Medianus
Balut tangan, terutama pada malam hari, pada posisi ekstensi parsial
pergelangan tangan.
Injeksi lokal terowongan karpal dengan kortikosteroid.
Dekompresi nervus medianus pada pergelangan tangan dengan
pembedahan, pada divisi fleksor retinakulum.
Lesi N. Ulnaris
Lesi ringan balutan tangan pada malam hari, dengan posisi siku ekstensi
untuk mengurangi tekanan pada saraf.
Lesi lebih berat, dekompresi bedah atau transposisi N. Ulnaris, belum
dijamis keberhasilannya.
37
Operasi diperlukan jika ada kerusakan N. Ulnaris terus menerus.
Lesi N. Radialis
-
Prognosis
Prognosis tergantung pada keadaan lesi pasien.
Sarana prasarana
-
OSTEOMIELITIS
Osteomielitis yaitu infeksi pada tulang dan sunsum tulang yang dapat
dipicu oleh bakteri, virus atau proses spesifik (m. Tuberkulosa, jamur).
Osteomielitis selalu dimulai dari daerah metafisis sebab pada daerah ini
peredaran darahnya lambat dan banyak mengandung sinusoid.
Hasil Anamnesis
Keluhan
Pasien laki-laki usia 18 tahun dengan keluhan nyeri tulang dekat sendi, panas
tinggi dan sakit keras, tidak dapat menggerakkan anggota bersangkutan,
pembengkakan lokal dan nyei tekan.
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan fisik
Osteomielitis dibagi akut dan kronik. Osteomielitis akut pasien tampak sangat
sakit, panas tinggi, pembengkakan dan gangguan fungsi gerak yang terkena.
Osteomielitis kronik biasanya rasa sakit tidak begitu berat, anggota yang terkena
merah dan bengkak atau disertai terjadinya fistel.
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Pada fase akut ditemukan CRP yang tinggi, LED yang meninggi dan
leukositosis
2. Pemeriksaan radiologi
Pada fase akut tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu
involukrum dan sekuester.
Diagnosa :
Diagnosa klinis
Diagnosa dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosa banding
Selulitis, tumor Ewing, demam reumatik, artritis pyogenik, leukemia.
Komplikasi
Patah tulang patologis, gangguan pertumbuhan, penyebaran infeksi dan timbulnya
amiloidosis.
pengobatan
1. Perawatan di RS
2. Pengobatan suportif dengan pemberian infus
3. Antibiotik spektrum luas diberikan langsung tanpa menunggu hasil biakan
darah secara parenteral selama 3-6 minggu.
4. Imobilisasi anggota gerak yang terkena.
5. Tindakan pembedahan.
Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah :
a. ada abses
b. Rasa sakit yang hebat
c. ada sekuester
d. Bila curiga kearah keganasan.
Osteomielitis kronik tidak dapat sembuh sempurna sebelum semua jaringan yang
mati disingkirkan.
Prognosis
Tergantung pada kecepatan saat pemberian terapi.
TRAUMA SENDI
Trauma sendi yaitu trauma yang terjadi pada sendi, dapat berupa trauma
ligamen, occult joint instability, subluksasi dan dislokasi. Mekanisme trauma
sendi dapat terjadi secara langsung ataupun tidak langsung.
Hasil Anamnesis
Keluhan:
Pasien datang dengan keluhan sakit pada bagian sendi sampai tidak bisa
menggerakkan sendinya
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik ada pembengkakan dan kemerahan pada daerah sendi, nyeri
saat sendi digerakan, ROM terbatas
Pemeriksaan penunjang:
Ultrasonografi, dan juga MRI (Magnetic Resonance Imaging), arthroscopy
Diagnosa :
Diagnosa klinis
Diagnosa dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosa banding
Dislokasi dan atau fraktur
Komplikasi
Kontraktur sendi
pengobatan
Istirahat aktifitas fisik yang menggunakan kaki
Operasi untuk memperbaiki struktur sendi
Prognosis
Tergantung pada derajat kerusakan dan waktu saat pemberian terapi.
Sarana prasarana
-
TENDINITIS
Tendinitis, tenosinovitisOsteomielitis yaitu infeksi pada tulang dan sunsum
tulang yang dapat dipicu oleh bakteri, virus atau proses spesifik (m.
Tuberkulosa, jamur). Osteomielitis selalu dimulai dari daerah metafisis sebab
pada daerah ini peredaran darahnya lambat dan banyak engandung sinusoid.
Hasil Anamnesis
Keluhan
Pasien laki-laki usia 18 tahun dengan keluhan nyeri tulang dekat sendi, panas
tinggi dan sakit keras, tidak dapat menggerakkan anggota bersangkutan,
pembengkakan lokal dan nyei tekan.
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik ada demam, nyeri tekan pada daerah yang sakit, ada
pembengkakkan, ada tanda-tanda abses, anggota bersangkutan tidak dapat
digerakkan.
Pemeriksaan penunjang
3. Pemeriksaan laboratorium
Pada fase akut ditemukan CRP yang tinggi, LED yang meninggi dan
leukositosis
4. Pemeriksaan radiologi
Pada fase akut tidak menunjukkan kelainan. Pada fase kronik ditemukan suatu
involukrum dan sekuester.
Diagnosa :
Diagnosa klinis
Diagnosa dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan klinis, pemeriksaan
penunjang.
Diagnosa banding
Selulitis, tumor Ewing, demam reumatik, artritis pyogenik, leukemia.
Komplikasi
-
pengobatan
1. Perawatan di RS
2. Pengobatan suportif dengan pemberian infus
3. Antibiotik spektrum luas diberikan langsung tanpa menunggu hasil biakan
darah secara parenteral selama 3-6 minggu.
4. Imobilisasi anggota gerak yang terkena.
5. Tindakan pembedahan.
Indikasi untuk melakukan tindakan pembedahan ialah :
e. ada abses
f. Rasa sakit yang hebat
g. ada sekuester
h. Bila curiga kearah keganasan.
Prognosis
Tergantung pada kecepatan saat pemberian terapi.
Sarana prasarana
-
ULKUS TUNGKAI BAWAH
Ulkus didefinisikan sebagai daerah diskontinuitas permukaan epitel.
Hasil Anamnesis
Keluhan
Pasien laki-laki usia 58 tahun dengan keluhan kaki kanan berlobang dan tampak
ada pus dan jaringan mati sebagian, tidak nyeri. BB menurun.
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik untuk melihat perbedaan diagnosa klinis, antara lain :
1) Ulkus vena
Ulkus pada posisi medial tungkai bawah, di atas pergelangan kaki, dangkal
dengan tepi landai, berdarah sesudah trauma ringan, mengalir, berhubungan
dengan dermatoliposklerosis.
2) Ulkus arteri
Ulkus nyeri, tidak berdarah, tidak sembuh, pada pergelangan kaki lateral,
tonjolan metatarsal, ujung jari kaki, berhubungan dengan gambaran iskemia,
misal klaudikasio, denyut nadi menghilang, pucat.
3) Ulkus diabetikum
a. Iskemik : sama seperti ulkus arteri
b. Neuropati : ulkus dalam tidak nyeri, plantar kaki atau jari kaki,
berhubungan dengan selulitis dan abses jaringan dalam, kaki hangat,
denyut nadi mungkin dapat teraba.
4) Ulkus keganasan
a. Karsinoma sel squamosa : ulkus yang besar, menumpuk dan tepi cekung.
Dapat terjadi de novo atau perubahan keganasan pada ulkus atau luka
bakar kronis.
b. Karsinoma sel basal : jarang pada tungkai bawah, tepi melingkar, berwarna
putih mutiara.
c. Melanoma maligna : tungkai bawah merupakan lokasi yang sering,
pertimbangkan keganasan jika ada peningkatan ukuran atau
pigmentasi, perdarahan, gatal atau ulkus.
5) Ulkus lain : trauma, vaskulitis (jarang), infeksi (jarang), pioderma
gangrenosum.
Pemeriksaan penunjang
1. DPL : infeksi
2. Glukosa : diabetes
3. Tes darah spesifik : TPHA (sifilis), ANCA (SLE), faktor Rh
4. Perhitungan indeks tekanan pergelangan kaki brakialis untuk menyingkirkan
penyakit PVD
5. USG doppler : penilaian penyakit vena dan arteri (diatas lutut)
6. Biopsi : keganasan
7. Venografi/angiografi : menentukan luas dan keparahan penyakit.
Diagnosa :
Diagnosa klinis
Diagnosa dilakukan berdasrkan anamnesis, pemeriksaan klinis ( deformitas,
fungsi lesi dan atau memar ), pemeriksaan penunjang, dalam kasus ini kadar
glukosa darah.
Diagnosa banding
Ulkus arteri, ulkus vena, ulkus diabetikum, ulkus keganasan atau ulkus lain.
Komplikasi
Osteomyelitis, abses, keganasan,sepsis
pengobatan komprehensif
-
Prognosis
Tergantung dari jenis ulkus dan tingkat keparahan.
Sarana prasarana
-
LUKA BAKAR
Luka bakar merupakan respon kulit dan jaringan sub kutan terhadap trauma
suhu/termal. Luka bakar dengan ketebalan parsial merupakan luka bakar yang
tidak merusak epitel kulit maupun hanya merusak sebagian dari epitel. Luka bakar
dengan ketebalan penuh merusak semua sumber-sumber pertumbuhan kembali
epitel kulit dan bisa membutuhkan eksisi dan cangkok kulit jika luas.
Hasil Anamnesis
Keluhan
Pasien laki-laki usia 18 tahun dengan keluhan luka bakar 30 menit yang lalu. Luka
bakar warna keputihan, tidak ada bula dan tidak nyeri.
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang.
Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik terpenting yaitu pertimbangkan cari tanda-tanda syok dan
periksa ABC. Menilai daerah luka bakar yang vital ( jalan nafas, tangan, muka,
perineum, sirkumferensial ) Pemeriksaan lokalis : nilai ukuran luka bakar ( aturan
9 dari Wallace ) dan ketebalannya.
Kedalaman luka bakar :
1. Derajat 1 (luka bakar superfisial)
Luka bakar yang terbatas pada lapisan epidermis. Ditandai dengan kemerahan
yang biasanya akan sembuh tanpa jaringan parut dalam waktu 5-7 hari.
2. Derajat 2 (luka bakar dermis)
Mencapai kedalaman dermis tetapi masih ada elemen epitel yang tersisa,
seperti sel epitel basal, kelenjar sebasea, kelenjar keringat dan folikel rambut.
3. Derajat 3
Meliputi seluruh kedalaman kulit, mungkin subkutis atau organ yang lebih
dalam. Koagulasi protein yang terjadi memberi gambaran warna keputihan,
tidak ada bula dan tidak nteri.
Penentuan derajat luka bakar untuk dewasa : rule of nines, yaitu tiap tangan 9%,
kepala 9%, badan depan dan belakang masing-masing 18%, tiap kaki 18% dangan
total 99%.
Klasifikasi luka bakar :
1. Berat/kritis :
Derajat 2 luas > 25%
Derajat 3 luas > 10% atau ada di muka, kaki dan tangan.
Luka bakar disertai trauma jalan nafas atau jaringan lunak luas, atau fraktur.
Luka bakar akibat listrik
2. Sedang :
Derajat 2 luas 15-25%
Derajat 3 luas <10%, kecuali muka, kaki dan tangan.
3. Ringan :
Derajat 2 luas < 15%
Derajat 3 luas < 2%
Pemeriksaan penunjang
DPL
Ureum dan elektrolit
Jika curiga trauma inhalasi : Ro thorak, gas darah arteri, perkiraan CO.
EKG/ enzim jantung dengan luka bakar listrik
Diagnosa :
Diagnosa klinis
Diagnosa dilakukan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik ( nilai ukuran
luka bakar dan ketebalan ), pemeriksaan penunjang.
Diagnosa banding
Luka bakar derajat 3. Baik dengan komplikasi atau tidak.
Komplikasi
Segera
Sindrom kompartemen dari luka bakar sirkumferensial ( luka bakar ekstremitas
iskemik ekstremitas, luka bakar thorak hipoksia dari gagal nafas restriktif (
cdgah dengan eskarotomi segera )
Awal
Hiperkalemi ( dari sitolisis luka bakar yang luas )
Gagal ginjal akut ( kombinasi dari hipovolemi, sepsis, toksis jaringan )
Infeksi
Ulkus peptik akibat stres
Lanjut
Kontraktur
pengobatan komprehensif
Umum
Mulai resusitasi ( ABC ), buat jalur IV dan berikan O2
Nilai ukuran luka bakar
Luka bakar berat
Pantau nadi, TD, suhu, keluaran urin, analgesik adekuat IV,
pertimbangkan NGT, berikan profilaksis tetanus
Berikan cairan IV berdasarkan formula Muir-Barclay: % luka bakar x BB
dalm Kg/2 = satu aliquot cairan. Berikan 6 aliquot cairan selama 36 jam
pertama dengan urutan 4, 4, 4, 6, 6, 12 jam dari waktu terjadinya luka
bakar. Biasanya menggunakan larutan koloid, albumin atau plasma.
Luka akibat terbakar dibersihkan
Pertimbangkan merujuk ke pusat luka bakar.
Prognosis
Prognosis tergantung pada keadaan pasien saat datang, adakah syok atau
komplikasi. Umumnya prognosa dubia ad bonam bila tidak ada syok atau
komplikasi.
Sarana prasarana
1. Cairan infus dan O2
2. Anti nyeri
3. NGT
LUKA KIMIA
Trauma akibat bahan kimia diperlakukan sebagai luka bakar sebab sama-
sama menimbulkan efek panas seperti luka bakar.bahan kimia yang berupa
asam/basa kuat menimbulkan reaksi tubuh, memicu kerusakan
jaringan yang hebat dan penyembuhan yang lama, sehingga menimbulkan
deformitas pada bagian tubuh yang terkena.
B. Hasil Anamnesis (Subjective)
Allo maupun autoanamnesis ada riwayat paparan dengan bahan kimia.
Waktu dan luasnya irigasi setalah paparan, jenis zat kimia yang
memicu trauma (konsentrasi, bentuk fisik, pH), rute paparan, volume
paparan, kemungkinan paparan berulang dengan zat ini ,.
C. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana
(Objective)
48
Pemeriksaan Fisik
Ciri luka bakar akibat zat asam : batas tegas, luka kering dan keras,
ada edem ringan. Sedangkan luka bakar akibat zat basamembentuk
reaksi penyabunan intra sel sehingga luka bersifat basah, licin, dan
kerusakan akan berlanjut terus asampai jaringan yang lebih dalam.
Tanda-tanda :
1. Kemerahan, iritasi, atau ada bekas pembakaran pada lokasi
yang terpapar
2. Nyeri atau mati rasa pada lokasi yang terpajan
3. Kulit melepuh atau menghitam dan mati pada lokasi terpajan
4. Perubahan visus bila zat kimia ini masuk mata
5. Jika bahan kimia terhirup akan memicu batuk dan sesak nafas
6. Tekanan darah rendah
7. Pingsan, kelemahan, pusing
8. Nyeri kepala hebat
9. Kejang otot (berkedut)
10. Aritmia jantung atau cardiac arrest
Pemeriksaan Penunjang :
- hitung darah lengkap
- elektroloit serum
- urine
- foto thorax
- EKG
D. Diagnosa : (Assesment)
Diagnosa Klinis : Diagnosa dilakukan berdasarkan gejala dan hasil
pemeriksaan fisik dan penunjang. Ditentukan derajadnya dengan rule’s of
nine.
Diagnosa Banding :-
E. pengobatan : (Plan)
pengobatan
Catatan penting pada pertolongan trauma akibat bahan kimia, jangan
memberi antidotum (asam diberi basa atau sebaliknya), sebab akan
menimbulkan reaksi yang akan menimbulkan reaksi yang akan
memperberat kerusakan yang terjadi.
Tindakan paling penting yaitu penanganan harus segera dilakukan begitu
terjadi trauma, meliputi perawatan luka lokal dan sistemik untuk
menunjang kesembuhan.
Urutan tindakan yang harus dilakukan :
- melepaskan pakaian dan irigasi dengan air dalam jumlah banyak.
Pengenceran ini akan menghilangkan zat kimia dari tubuh
sekaligus mengurangi reaksi antara zat kimia dengan jaringan tubuh.
- Irigasi dilanjutkan selama 2 jam pada trauma asam dan 12 jam pada
trauma basa
- Rehidrasi, sebab trauma kimia dan luka bakar sama-sama
memicu keadaan hipovolemia.
Konseling dan Edukasi
Kriteria Rujukan
F. Sarana Prasarana
G. Prognosis dubia ( tergantung kekuatan dan konsentrasi, kuantitas, lamanya
kontak dan luas penetrasi tubuholeh bahan kimia)
LUKA LISTRIK
Kerusakan akibat listrik pada struktur yang lebih dalam tergantung pada
resistensi jaringan dengan urutan paling resisten yaitu tulang, lemak,
tendon, kulit, otot, pembuluh darah dan otot. Arus listrik bisa
memicu terjadinya cedera melalui 3 cara : henti jantung (cardiac
arrest) akibat efek listrik terhadap jantung, perusakan otot, saraf dan
50
jaringan oleh arus listrik yang melewati tubuh, dan luka bakar termal
akibat kontak dengan sumber listrik.
B. Hasil Anamnesis (Subjective)
Allo maupun autoanamnesis ada riwayat paparan / trauma listrik.
Jenis dan kekuatan arus listrik (petir, arus AC, arus DC, dll). Jalur arus
listrik ketika masuk kedalam tubuh, lamanya terkena arus listrik.
C. Hasil Pemeriksaan Fisik dan Pemeriksaan Penunjang Sederhana
(Objective)
Pemeriksaan Fisik:
Arus listrik yang melewati kepala bisa menimbulkan : kejang, perdarahan
otak, kelumpuhan nafas, perubahan psikis (gangguan ingatan jangka
pendek, perubahan kepribadian, dll), irama jantung yang tidak teratur,
katarak pada mata. ada luka bakar pada kulit dan bisa meluas ke
jaringan yang lebih dalam.
Pemeriksaan Penunjang :
Untuk memantau denyut jantung korban dilakukan pemeriksaan EKG
Jika korban tidak adar atau mengalami cedera kepala, dilakukan CT Scan
D. Diagnosa : (Assesment)
Diagnosa Klinis
Diagnosa dilakukan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik dan
penunjang. Ditentukan derajadnya dengan rule’s of nine.
Diagnosa Banding : -
Komplikasi :
1. Neurologis : trauma susunan saraf pusat, trauma susunan saraf tepi
2. Kerusakan pleura : efusi dan pneumonitis
3. Trauma jantung : aritmia
4. Trauma abdomen : perforasi saluran cerna
5. Mata : kekeruhan lensa
E. pengobatan : (Plan)
pengobatan :
1. Lakukan ABC traumatologi
2. Perhatian khusus pada kelainan yang merupakan dampak aliran listrik
pada tubuh antara lain :
a. Ensefalopati
b. Kardiomiopati
c. Gagal ginjal akut
d. Rabdomiolisis
3. pengobatan lainnya sebagimana penanganan luka bakarpada
umumnya. Namun sebab luka bakar listrik mempunyai kekhususan
maka penanganan luka tidak terlalu agresif.
4. Evaluasi status neurologis berulang selama masa pnyembuhan, sebab
trauma listrik dapat disertai trauma tumpul dan trauma kepala.
5. Terapi cairan. Kerusakan jaringan yang luas akan memicu
hilangnya cairan (hipovolemi) dan asidosis metabolik, maka diperlukan
cairan kristaloid untuk rehidrasi dan natrium bikarbonat sebanyak 200-
400 mmol untuk mengoreksi asidosis.
Konseling dan Edukasi
Kriteria Rujukan
F. Sarana Prasarana
G. Prognosis : dubia
SISTEM GINJAL DAN SALURAN KEMIH
BATU SALURAN KEMIH TANPA KOLIK
Batu saluran kemih dapat terjadi pada Vesika Urinaria, Ureter dan Uretra.
Terbentuknya batu saluran kemih ada hubungannya dengan gangguan aliran urin,
gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi dan keadaan idiopatik.
Komposisi batu saluran kemih umumnya mengandung unsur kalsium oksalat,
asam urat, magnesiun-amonium-fosfat (MAP), xanthyn, dan senyawa lainnya.
Batu kalsium merupakan yang paling banyak dijumpai (70%) dari seluruh batu
saluran kemih, diantaranya batu kalsium oksalat, kalsium fosfat atau campuran
dari keduanya. Batu struvit merupakan jenis batu saluran kemih yang dipicu
oleh infeksi. Kuman penyebab infeksi ini yaitu kuman pemecah urea (Urea
splitter) seperti Proteus sp, Klebsiella, Serratia, Enterobakter, Pseudomonas dan
Stafilokokkus. Batu asam urat dijumpai 5-10% dari seluruh batu saluran kemih.
Batu asam urat umumnya diderita oleh pasien penyakit gout. Obesitas, peminum
alkohol, diet tinggi protein merupakn faktor resiko terjadinya batu asam urat.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan :
Keluhan yang disampaikan pasien tergantung posisi atau letak batu, besar batu
dan penyulit yang terjadi.
1. Pada umumnya terjadi nyeri pinggang. ( bila batu pada ginjal)
2. Disuria
3. Anyang anyanen
4. Reffered pain pada ujung penis, skrotum, perineum
5. Retensi urin
Faktor Risiko :
Obesitas, peminum alkohol, diet tinggi protein faktor resiko batu asam urat.
Banyak mengkonsumsi makanan kaya oksalat seperti teh, kopi instan, soft drink,
jeruk sitrun, strawberry dan sayuran berwarna hijau utamanya bayam, merupakan
faktor resiko batu kalsium oksalat.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
1. nyeri ketok pada daerah kosto-vertebrae
2. teraba ginjal pada sisi yang terkena, bila terjadi hidronefrosis
3. retensi urin
4. bila ada infeksi ada tanda-tanda infeksi seperti demam
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan darah:
Ureum, kreatinin, asam urat, kalsium dan fosfat.
Jika ada riwayat batu keluar perlu dilakukan analisis batu .
Pemeriksaan urin:
1. Leukosituria
2. Hematuria
3. Kristal pembentuk batu
4. Kultur urin bila ada infeksi, guna menentukan jenis kuman.
Pemeriksaan BNO (foto polos abdomen):
1. Radioopak pada batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat
2. Radiolusen /non opak pada batu jenis asam urat.
Pielografi Intra Vena (IVP)
Guna mendeteksi batu jenis non opak yang tidak terlihat dengan pemeriksaan
BNO
Uktrasonografi (USG)
1. Dapat mendeteksi batu di ginjal dan vesika urinaria ditunjukkan dengan
echoic shadow.
2. Hidronefrosis
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis :
Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan peneriksaan fisik
Diagnosa Banding:
1. Pielonefrosis akuta
2. Tumor ginjal
3. Tuberkuloasis ginjal
4. Kolik dari organ lain
Komplikasi :
1. Obstruksi: Hidroureter,hidronefrosis
2. Infeksi: Sistitis, pionefrosis,urosepsis
3. Gagal ginjal akut dan kronis
pengobatan
pengobatan :
pengobatan dilakukan berdasar jenis batu saluran kemih, oleh sebab itu perlu
menentukan terlebih dulu jenis batunya.
Bila batu ukuran < 5mm sebab diharapkan batu bisa keluar dengan sendirinya.
Medikamentosa :
1. Analgetik, misalnya asam mefenamat 3 x 500mg/hari
2. Diuretikum, misalnya firosemid 40- 60 mg/hari.
Kontra indikasi pemberian diuretikum : gangguan faal ginjal,
hidronefrosis, retensi urin total, dan payah jantung.
3. Antibiotik bila ada infeksi , sesuai dengan jenis kuman.
4. Allopurinol jika ada hiperurisemia.
Non medikamentosa :
Minum banyak (4 liter sehari)
Diit rendah kalsium (bila batu kalsium)
Diit rendah purin (bila batu urat)
Kriteria Rujukan :
Bila batu lebih dari 5 mm harus dirujuk ke layanan sekunder.
Prognosis
Prognosis bonam bila penanganan kegawatdaruratan segera dilakukan.
KOLIK RENAL
Kolik renal dikarakterisasikan sebagai nyeri hebat yang intermiten (hilang-timbul)
biasanya di daerah antara iga dan panggul, yang menjalar sepanjang abdomen dan
dapat berakhir pada area genital dan paha bagian dalam. Kolik renal biasanya
berawal di punggung bagian mid-lateral atas dan menjalar anteroinferior menuju
daerah lipatan paha dan kelamin. Nyeri yang timbul akibat kolik renal terutama
dipicu oleh dilatasi, peregangan, dan spasme traktus urinarius yang
dipicu oleh obstruksi ureter akut. Ketika ada obstruksi yang kronik, seperti
kanker, biasanya tidak dirasakan nyeri.
Etiologi paling umum yaitu melintasnya batu ginjal. Bertambah parahnya nyeri
bergantung pada derajat dan tempat terjadinya obstruksi; bukan pada keras,
ukuran, atau sifat abrasi batu ginjal. Bekuan darah atau fragmen jaringan juga
dapat memicu hal yang sama. Kolik sebab bekuan darah sering ditemui
pada penyakit gangguan pembekuan darah herediter atau didapat, trauma,
neoplasma dari ginjal dan traktus urinarius, perdarahan sesudah biopsi renal
perkutan, kista renal, malformasi vaskular renal, nekrosis papilar, tuberkulosis,
dan infark pada ginjal. Kolik sesungguhnya terjadi sebab refluks vesikoureteral.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan :
Nyeri kolik, yang terasa di satu sisi pinggang atau perut, dapat menjalar ke alat
kelamin (scrotum, penis, vulva), muncul mendadak, hilang timbul, dan
intensitasnya kuat.
Nyeri ginjal (renal colic), yang terasa di pinggang, tidak menjalar, terjadi akibat
regangan kapsul ginjal, sering berhubungan dengan mual dan muntah.
Nyeri kandung kemih, terasa di bawah pusat.
Kolik biasanya disertai gelisah dan pernafasan cepat.
Biasanya keluhan-keluhan buang air kencing juga menyertai kolik renal , seperti
Urgensi, yaitu rasa ingin kencing sehingga terasa sakit, Disuria, yaitu rasa nyeri
saat kencing atau sulit kencing. Polakisuria, yaitu frekuensi kencing yang lebih
sering dari biasanya. Hematuria, yaitu ada darah atau sel darah merah
(eritrosit) di air seni. Anuria yaitu jika produksi air seni < 200 cc/hari. Oliguria
yaitu jika jika produksi air seni < 600 cc/hari.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
Baik pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang diperlukan untuk
menegakkan Diagnosa penyebab kolik renal.
Pasien tampak kesakitan dan gelisah, nafas cepat, tekanan darah meningkat.
Kadang-kadang teraba ginjal yang mengalami hidronefrosis.
Nyeri ketok kosto-vertebrae
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan darah
Pemeriksaan Urinalisis, kalsium, fosfat,urat, kreatinin, dan urem
Pemeriksaan volume urin, osmolaritas, pH, BJ
Pemeriksaan radiologis :
Foto polos abdomen (BNO) , utnuk menentukan besar, macam dan lokasi batu
radioopaque
Intravenous Pyelografi (IVP) untuk menilai obstruksi urinaria dan mencari
etiologi kolik.
Seringkali batu atau benda obstruktif lainnya sudah dikeluarkan ketika pielografi,
sehingga hanya ditemukan dilatasi unilateral ureter, pelvis renalis, ataupun calyx.
CT scan
USG , dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu
pada keadaan-keadaan : alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang menurun
dan pada wanita yang sedang hamil.
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis :dilakukan berdasarkan pemeriksaanfisik dan pemeriksaan
penunjang
Diagnosa Banding :
Apendisitis akut
Divertikulitis
Salpingitis
Aneurisma ruptur aorta
Pielonefritis
pengobatan
Simptomatik:
Penanganan awal kolik ginjal yaitu dengan menangani nyeri yang dirasakan
pasien.
Obat golongan NSAID seperti diklofenak intramuscular untuk meredakan nyeri
segera.
Analgesic opiate seperti tramadol mungkin diperlukan.
Obat antiemetik diberikan untuk menangani mual dan muntah, namun bila
muntahnya persisten, diberikan cairan intravena.
Obat antispasmodik.
Penanganan kausal :
Penanganan sesuai dengan penyebab yang terjadi,
Jika sebab infeksi maka diberikan antibiotik.
Jika ada batu maka penanganan sesuai dengan pengobatan batu sal kencing.
Prognosis
Prognosis sesuai dengan penyakit yang mendasarinya.
PHIMOSIS
Fimosis yaitu kondisi dimana preputium tidak dapat diretraksi melewati glans
penis. Fimosis dapat bersifat fisiologis ataupun patalogis. Umumnya fimosis
fisiologis ada pada bayi dan anak-anak. Pada anak usia 3 tahun 90%
preputium telah dapat diretraksi tetapi pada sebagian anak preputium tetap lengket
pada glans penis sehingga ujung preputium mengalami penyempitan dan
mengganggu proses berkemih. Fimosis patologis terjadi akibat peradangan atau
cedera pada preputium yang menimbulkan parut kaku sehingga menghalangi
retraksi.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan Keluhan umumnya berupa gangguan aliran urin seperti:
1. Nyeri saat buang air kecil
2. Mengejan saat buang air kecil
3. Pancaran urin mengecil
4. Benjolan lunak di ujung penis akibat penumpukan smegma.
Faktor Risiko :
1. Hygiene yang buruk
2. Episode berulang balanitis atau balanoposthitis memicu skar pada
preputium yang memicu terjadinya fimosis patalogis
3. Fimosis dapat terjadi pada 1% pria yang tidak menjalani sirkumsisi
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
1. Preputium tidak dapat diretraksi keproksimal hingga ke korona glandis
2. Pancaran urin mengecil
3. Menggelembungnya ujung preputium saat berkemih
4. Eritema dan udem pada preputium dan glans penis
5. Pada fimosis fisiologis, preputium tidak memiliki skar dan tampak sehat
6. Pada fimosis patalogis pada sekeliling preputium ada lingkaran fibrotik
7. Timbunan smegma pada sakus preputium
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis:
Diagnosa klinis dilakukan berdasarkan gejala klinis dan pemeriksaan fisis
Diagnosa Banding :
Parafimosis, Balanitis, Angioedema
Komplikasi:
Dapat terjadi infeksi berulang sebab penumpukan smegma.
pengobatan
pengobatan :
1. Pemberian salep kortikosteroid (0,05% betametason) 2 kali perhari selama 2-8
minggu pada daerah preputium.
2. Sirkumsisi Rencana Tindak Lanjut Apabila fimosis bersifat fisiologis seiring
dengan perkembangan maka kondisi akan membaik dengan sendirinya
Konseling dan Edukasi :
Pemberian penjelasan terhadap orang tua atau pasien agar tidak melakukan
penarikan preputium secara berlebihan ketika membersihkan penis sebab dapat
menimbulkan parut.
Kriteria Rujukan :
Bila ada komplikasi dan penyulit untuk tindakan sirkumsisi maka dirujuk ke
layanan sekunder.
Peralatan
Set bedah minor
Prognosis
Prognosis bonam bila penanganan sesuai
PARAPHIMOSIS
Parafimosis merupakan kegawatdaruratan sebab dapat memicu terjadinya
ganggren yang dipicu preputium penis yang diretraksi sampai di sulkus
koronarius tidak dapat dikembalikan pada kondisi semula dan timbul jeratan pada
penis di belakang sulkus koronarius.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan :
1. Pembengkakan pada penis
2. Nyeri pada penis
Faktor Risiko :
Penarikan berlebihan kulit preputium (forceful retraction) pada laki-laki yang
belum disirkumsisi misalnya pada pemasangan kateter.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
1. Preputium tertarik ke belakang glans penis dan tidak dapat dikembalikan ke
posisi semula
2. Terjadi eritema dan edema pada glans penis
3. Nyeri
4. Jika terjadi nekrosis glans penis berubah warna menjadi biru hingga kehitaman
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis :
Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan peneriksaan fisik
Diagnosa Banding:
Angioedema, Balanitis, Penile hematoma
Komplikasi :
Bila tidak ditangani dengan segera dapat terjadi ganggren
pengobatan
pengobatan :
1. Reposisi secara manual dengan memijat glans selama 3-5 menit. Diharapkan
edema berkurang dan secara perlahan preputium dapat dikembalikan pada
tempatnya.
2. Dilakukan dorsum insisi pada jeratan
Rencana Tindak Lanjut:
Dianjurkan untuk melakukan sirkumsisi.
Konseling dan Edukasi :
sesudah penanganan kedaruratan disarankan untuk dilakukan tindakan sirkumsisi
sebab kondisi parafimosis ini dapat berulang.
Kriteria Rujukan :
Bila terjadi tanda-tanda nekrotik segera rujuk ke layanan sekunder.
Peralatan
Set bedah minor
Prognosis
Prognosis bonam bila penanganan kegawatdaruratan segera dilakukan.
RUPTUR URETHRA
Ruptur uretra yaitu kerusakan kontinuitas uretra yang dipicu oleh ruda
paksa yang datang dari luar (patah tulang panggul atau straddle injury) atau dari
dalam (kateterisasi, tindakan-tindakan melalui uretra).
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan :
1. Ada riwayat trauma yang khas , ada patah tulang panggul.
2. Tidak dapat berkemih/ retensio urin, terjadi pada ruptur uretra posterior.
3. Nyeri pada perineum/ genitalia, pada ruptur uretra anterior.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
1. ada hematome atau udem pada skrotum, perineum, penis, terjadi pada
pada ruptur uretra anterior.
2. Pada pemeriksaan rektal toucher didapatkan massa lunak yang menonjol
ke dalam
rektum yang dipicu kumpulan darah rongga panggul.
3. Pada pemeriksaan rektal toucher didapatkan prostat tidak berada di
tempatnya semula, prostat pindah ke atas (melayang).
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan BNO (foto polos abdomen), bisa melihat daerah kesuraman pada
daerah yang mengala,mi hematom.
Uretrogram retrograd , pada ruptur uretra pembuatan foto ini untuk melihat lokasi
dan derajad ruptur uretra apakah partial atau total.
Urinalisis : untuk melihat ada eritrosituria dan hematuria.
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis :
Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan peneriksaan fisik
Diagnosa Banding:
Ruptur vesika urinaria
Komplikasi :
Dini : - perdarahan, Infeksi dan Infiltrate urin
Lanjut : striktur uretra
pengobatan
1. Mangatasi Perdarahan dan syok, yaitu dengan pemasangan infus dan
pemberian cairan
elektrolit atau darah, tergantung derajat perdarahan yang ditemui.
2. Pembedahan darurat yaitu untuk mengalihkan aliran urin. Pada ruptur uretra
dilakukan sistostomi untuk mengalihkan aliran urin (diversion)
Kateter sistostomi diganti tiap 2 minggu, sampai dkerjakan operasi
definitive
Tidak dibenarkan melakukan kateterisasi pada persangkaan rupture uretra
Kriteria Rujukan :
Kasus ruptur ureter harus dirujuk ke layanan sekunder sesudah stabilisasi.
Peralatan
Infus set
Kateter urin
Prognosis
RUPTUR KANDUNG KEMIH
Ruptur kandung kemih yaitu kerusakan kandung kemih yang pada umumnya
dipicu oleh ruda
Paksa atau trauma yang datang dari luar yang memicu fragmen patah tulang
pelvis mencederai kandung kemih , misalnya kecelakaan lalu lintas maupun
kecelakaan kerja . Ruptur kandung kemih dapat bersifat intraperitoneal maupun
ekstraperitoneal. Ruptur kandung kemih ekstraperitoneal biasanya akibat tertusuk
fragmen fraktur tulang pelvis pada dinding anterior kandung kemih yang sedang
penuh. Pada kejadian ini terjadi ekstravasasi urin di rongga perivesikal.
.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan :
1. Ada riwayat trauma yang khas , ada patah tulang panggul.
2. Nyeri suprapubik
3. Ketegangan otot dinding perut bawah
4. Tidak bisa berkemih
5. Kadang disertai hematuria
6. Kadang hematome abdomen bag bawah
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
1. Pada ruptur intraperitoneal timbul tanda dan gejala rangsang peritoneum
termasuk defans muskuler dan ileus paralitik.
2. Pada umumnya fraktur pelvis disertai perdarahan hebat, sehingga sering
timbul syok hemoragik.
3. ada jejas suprapubik memungkinkan ada cedera vseika Urinaria
Pemeriksaan penunjang :
Tes Buli, yaitu dengan memasukkan cairan fisiologi NaCl 100 ml ke dalam VU
melalui kateter dan dikeluarkan lagi , jika yang keluar kurang dari 100 ml maka
tes buli (+), artinya ada ruptur buli / ruptur VU.
Pemeriksaan BNO (foto polos abdomen) adakah terlihat ada fraktur pelvis.
Pemeriksaan Sistogram , bila ruptur ekstraperitoneal terlihat gambaran
ekstravasasi tampak seperti nyala api pada daerah perivesikal. Bila ruptur
intraperitoneal terlihat kontras masuk ke ringga abdomen.
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis :
Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan peneriksaan fisik dan
penunjang
Diagnosa Banding:
Ileus paralitikus
Komplikasi :
pengobatan
Mangatasi Perdarahan dan syok, yaitu dengan pemasangan infus dan pemberian
cairan
elektrolit atau darah, tergantung derajat perdarahan yang ditemui.
Kriteria rujukan
Kasus ruptur vesika urinaria harus dirujuk ke layanan sekunder sesudah stabilisasi.
Peralatan
Infus set
Kateter urin
Prognosis
RUPTUR GINJAL
Ruptur ginjal yaitu kerusakan pada parenkim ginjal yang pada umumnya
dipicu oleh ruda
Paksa atau trauma yang datang dari luar . Laserasi bisa meliputi laserasi ringan
yang tidak mencapai pielum , yang disertai robekan pielum dan yang total
kerusakan meliputi seluruh parenkim ginjal.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan :
1. Ada riwayat trauma.
2. Nyeri abdomen , bagian pinggang dengan intensitas nyeri yang bervariasi.
3. Ketegangan otot pinggang
4. Hematuria
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
4. Pada umumnya disertai cedera pada daerah lain , sehingga perlu
pemeriksaan yang komprehensif.
5. Pemeriksaan KU dan tanda-tanda syok, untuk menentukan tindakan
kegawatdaruratan
6. Hematuria
7. Nyeri ketok costo vertebrae
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan BNO (foto polos abdomen) , untuk melihat ada ekstravasasi , dan
adakah terlihat ada fraktur pelvis dan lain-lain.
Pemeriksaan pielografi intravena , ada ekstravasasi kontras, fungsi ginjal
kontralateral dan kelainan anatomik. .
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis :
Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan peneriksaan fisik dan
penunjang.
Diagnosa Banding:
Perdarahan intraabdomen.
Komplikasi :
Komplikasi lambat pada terapi konservatif trauma ginjal :
a. Stenosis arteri renalis , oleh sebab timbul jaringan fibrotik di sekitar
pedikel.
b. Hidronefrosis , sebab timbul jaringan fibrotik sekitar uretr proksimal.
c. Pseudokista, terjadi sebab ekstravasasi urin di sekitar ginjal dan timbul
dinding jaringan fibrotik tebal kadang-kadang ada kalsifikasi.
d. Persisten hematuri, bila sangat berat perlu eksplorasi lebih lanjut.
pengobatan
1. Bila KU buruk disertai tanda-tanda syok, harus datasi perdarahan dan
syok, yaitu dengan pemasangan infus dan pemberian cairan elektrolit atau
darah, tergantung derajat perdarahan yang ditemui. Segera rujuk ke
layanan sekunder cito.
2. Bila KU baik , tidak ada ekstravasasi pada pemeriksaan BNO ,
kemungkinan ruptur parenkim ginjal dan kapsul masih utuk, sehingga
penderita hanya perlu bed rest dan roborantia.
Kriteria rujukan
Bila ada tanda kegawat daruratan harus segera dirujuk ke layanan sekunder.
Peralatan
Infus set
Kateter urin
Prognosis
TORSIO TESTIS
Torsio testis yaitu terpeluntirnya funikulus spermatikus yang berakibat
terjadinya gangguan
aliran darah pada testis.
Secara fisiologis otot kremaster berfungsi menggerakkan testis mendekati dan
menjauhi rongga abdomen guna mempertahankan suhu ideal untuk testis. ada
kelainan sistem penyanggah testis memicu testis dapat mengalami torsio jika
bergerak secara berlebihan. Beberapa keadaan yang memicu pergerakan
yang berlebihan itu, antara lain perubahan suhu yang mendadak, celana dalam
yang terlalu ketat dan trauma yang mengenai skrotum.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan :
1. Keluhan berupa nyeri hebat di daerah skrotum, yang sifatnya mendadak
atau perlahan.
2. Nyeri dapat menjalar ke daerah inguinal atau perut sebelah bawah
3. Kadang disertai nausea vomiting
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
1. Inspeksi: testis membengkak, letaknya lebih tinggi dan lebih horisontal
daripada testis sisi kontralateral.
2. Palpasi: kadang-kadang pada torsio testis yang baru saja terjadi dapat
diraba
ada lilitan atau penebalan funikulus spermatikus.
3. Angel’s siba sign : testis letaknya lebih horisontal
4. Prehns siba sign : pengangkatan testis tetap merasa sakit.
Pemeriksaan penunjang :
Pemeriksaan sedimen urine tidak menunjukkan ada lekosit dalam urine dan
pemeriksaan darah tidak menunjukkan tanda inflamasi, kecuali pada torsio testis
yang sudah lama dan telah mengalami peradangan steril.
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis :
Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan peneriksaan fisik
Diagnosa Banding:
Appendicitis akut
Hernia skrotalis inkarserata
Hidrokel terinfeksi
Komplikasi :
Iskemia testis , nekrosis tesis
Atropia testis
Gangguan spermatogenesis.
pengobatan
1. Untuk mengurangi rasa sakit infiltrasi lokal lidokain pada daerah skrotum.
Segera rujuk ke layanan sekunder untuk penanganan detorsi.
Viabilitas testis tergantung lamanya torsi , sehingga penanganan segera
sangat penting.
Peralatan
Infus set
Lidokain ampul
Prognosis
Bila ditangan segera akan membaik
PROSTATITIS
Prostatitis yaitu reaksi inflamasi pada kelenjar prostat yang dapat dipicu
oleh bakteri maupun non bakteri .
Klasifikasi prostatitis menurut National Institute Health :
Kategori I : Acute bacterial prostatitis
Kategori II :Prostatitis bakteri kronis
Kategori III : Prostatitis kronis nonbacterial kronis atau sindrom nyeri panggul
kronis. Keluhan yang dirasakan berupa rasa tidak nyaman di daerah pelvis yang
berlangsung paling sedikit 3 bulan.
Dibedakan menjadi sub kategori IIIA sindrom pelvis kronis inflamasi .Pada
kategori ini pemeriksaan 4 tabung tidak didapatkan pertumbuhan kuman namun
pemeriksaan EPS tampak banyak leukosit dan oval fat body
Sub kategori III B sindrom pelvis kronis non inflamasi. Pada kategori ini
pemeriksaan urin 4 tabung tidak didapatkan kuman maupun tanda-tanda
inflamasi. Diduga kelainan ini berhubungan dengan faktor stres. Sering terjadi
pada usia 20-45 tahun.
Kategori IV : Prostatitis inflamasi asimptomatis
Hasil Anamnesis (Subjective)
Keluhan :
Pada prostatitis bakterial akut , pasien tampak kesakitan, demam menggigil dan
nyeri di daerah perianal, serta mengeluh ada gangguan miksi.
Pada prostatitis bakterial kronis , keluhan lebih banyak pada gangguan miksi,
seperti disuri, urgensi, frekuensi, nyeri perineal, dan kadang-kadang nyeri saat
ejakulasi dan hematospermia.
Prostatitis ada juga yang asimptomatis, namun ditemukan sel-sel radang pada
pemeriksaan analisis sperma. Kasus ini seringkali ditemukan pada kasus
infertilitas pria.
Hasil Pemeriksaan Fisik dan Penunjang Sederhana (Objective)
Pemeriksaan Fisik :
Pada prostatitis bakterial akut, pemeriksaan fisik menunjukkan tanda-tanda infeksi
, seperti demam.
Pemeriksaan rectal toucher didapatkan prostat teraba membengkak, hangat dan
nyeri. Pada keadaan ini tidak diperbolehkan masase prostat untuk mengeluarkan
getah kelenjar prostat sebab dapat menimbulkan bakteriemia.
Pada prostatitis bakterial kronis , pemeriksaan rectal toucher mungkin teraba
krepitasi yang merupakan tanda kalkulosa prostat.
Pemeriksaan penunjang :
Untuk menentukan penyebab suatu prostatitis, diambil sampel urin dan getah
kelenjar prostat melalui uji 4 tabung :
(1) 10 cc pertama yaitu contoh urin yang dikemihkan pertama kali, yang
dimaksudkan untuk menilai keadaan mukosa uretra.
(2) Urin porsi tengah yang dimaksudkan untuk menilai keadaan mukosa
kandung kemih.
(3) Getah prostat yang dikeluarkan melalui masase prostat atau expressed
prostatic secretion (EPS) yang dimaksudkan untuk menilai keadaan
kelenjar prostat.
(4) Urin yang dikeluarkan sesudah masase prostat.
Keempat sampel ini dianalisis mikroskopik dan dilakukan kultur untuk
mencari jenis kuman penyebab infeksi.
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa Klinis :
Diagnosa : berdasarkan gejala klinis dan peneriksaan fisik
Diagnosa Banding:
Komplikasi :
Abses prostat dan urosepsis
pengobatan
Pemberian antibiotik yang dipilih yaitu yang sensitif terhadap kuman penyebab
infeksi. Diantaranya yaitu golongan fluoroquinolon, co trimoxazol, dan
golongan aminoglikosida. Bila keadaan parah maka perlu perawatan tirah baring
di RS.
Jenis antibiotik untuk bakterial kronis diperlukan antibiotik yang dapat menembus
barier, diantaranya co-trimoxazol, doksisiklin, minosiklin, karbenisilin dan
fluoroquinolon.
Prognosis
Membaik jika dilakukan penanganan segera
PRIAPISMUS
Priapismus yaitu ereksi yang berkepanjangan tanpa diikuti asrat seksual dan
sering disertai rasa nyeri. Priapismus termasuk kegawatdaruratan bidang urologi
sebab jika tidak segera ditangani akan menimbulkan kecacatan permanen
disfungsi ereksi.
Dari etiologi priapismus dibagi menjadi 2 yaitu priapismus primer yang idiopatik
sebesar 60%, sisanya priapismus sekunder. Penyebab priapismus sekunder
meliputi (1) kelainan pembekuan darah (anemia bulan sakit, leukemia, dan emboli
lemak), (2) trauma pada perineum atau genitalia, (3) gangguan neurogen sesudah
anestesi regional atau penderita paraplegia, (4) keganasan, (5) pemakaian obat-
obatan seperti alcohol, psikotropik,antihipertensi, (6) pasca injeksi intrakavernosa
dengan zat vasoaktif
Hasil anamnesis (Subjective)
Seorang laki-laki 30 tahun datang ke IGD sebab ereksi penis yang tidak selesai-
selesai. Gejala ini sudah terjadi 3 jam yang lalu saat bangun tidur, sekarang pasien
merasa nyeri di penis. Pasien bingung sebab dia tidak merasa sedang memiliki
hasrat seksual tetapi kenapa penisnya ereksi.
Ereksi penis yang berkepanjangan dapat dipicu (1) gangguan mekanisme
outflow (veno-oklusi) sehingga darah tidak dapat keluar dari jaringan erektil, atau
(2) peningkatan inflow aliran darah arteri yang masuk ke jaringan erektil. Secara
hemodinamik priapismus dibagi menjadi 2 yaitu low flow (veno-oklusi) dan high
flow (tipe arterial).
Priapismus jenis iskemik ditandai iskemik atau anoksia pada otot polos kavernosa.
Iskemik semakin berat sesudah 3-4 jam. Ereksi dirasa sangat sakit. sesudah 12 jam
terjadi edema interstisial dan kerusakan endothelium sinusoid, nekrosis dapat
terjadi sesudah 24-48 jam. Lebih dari 48 jam akan terjadi pembekuan darah dalam
kaverne dan terjadi destruksi endotel sehingga jaringan trabekel kehilangan daya
elastisitas. Detumesensi sapat terjadi sesudah 2-4 minggu, jaringan fibrosa
menggantikan otot polos yang nekrosis sehingga kehilangan kemampuan
mempertahankan ereksi maksimal. Priapismus jenis non iskemik biasanya terjadi
sesudah trauma perineum atau operasi rekonstruksi arteri pada disfungsi ereksi.
Anamnesis mengeai onset dan nyeri serta ukuran ketegangan penis menentukan
klasifikasi priapismus.
Tanda dan gejala Low flow/ iskemik/ veno-oklusi High flow/ non iskemik/
arterial
Anamnesis
Onset
Nyeri
Pada saat tidur
Mula-mula ringan menjadi sangat
nyeri
sesudah trauma
Ringan sampai sedang
Pemeriksaan fisik
Ketegangan penis
Darah kavernosa
Sangat tegang
hitam
Tidak terlalu tegang
merah
Pemeriksaan lab
pO2
pCO2
<30 mmHg
>80 mmHg
>50 mmHg
<50 mmHg
Ph < 7,25 >7,5
Pemeriksaan penunjang
Color dopler
Arteriografi
Tidak ada aliran
Pembuluh darah utuh
Ada aliran, fistula
Malvormasi arterio-vena
Hasil pemeriksaan fisik dan penunjang sederhana (Objective)
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk membantu menegakkan Diagnosa denga
pemeriksaan fisik ketegangan penis dan darah kavernosa. Pemeriksaan
laboratorium analisis gas darah pO2, pCO2, dan pH yang diambil intrakavernosa
juga dibutuhkan untuk men Diagnosa klasifikasi priapismus serta pemeriksaan
color dopler dan arterografi. Ultrasonografi dopler mendeteksi ada n pulsasi
arteri kavernosa.
Diagnosa : (Assessment)
Diagnosa dapat dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang baik.
Ketegangan batang penis tidak diikuti ketegangan gland penis. Pemeriksaan
pengobatan
Prinsip pelaksanaan yaitu mengembalikan aliran darah pada corpora kavernosa
secepatnya. Hal ini dapat dilakukan dengan medikamentosa maupun operatif.
Terapi non farmako meliputi
1. Latihan melompat-lompat dengan harapan terjadi diversi alira darah dari
kavernosa ke otot gluteus
2. Kompres air es pada penis
3. Enema larutan garam fisiologis dingin dapat merangsang aktivitas
simpatik sehingga memperbaiki aliran darah kaverosa
Pemberian hidrasi dan anestesi regional dapat membantu beberapa kasus. Jika
tindakan dan usaha diatas tidak berhasil, perlu dilakukan aspirasi dan irigasi
intrakavernosa. Aspirasi dilakukan menggunakan jarum scalp vein no 21, darah
intrakaverosa diaspirasi sebanyak 10-20 ml, instilasi 10-20 µg epinefrin atau 100-
200 µg fenilefrin yang dilarutkan dalam 1 ml garam fisiologis setiap 5 menit
higga detumesensi. Selengkapnya dapat dilihat pada tabel obat yang digunakan
priapismus iskemik. Tingkat kesembuhan tehnik ini mendekati 100% jika
dilakukan < 24 jam. Instilasi streptokinase digunakan pada priapismus yang
berlangsung 14 hari dan gagal di terapi instilasi α –adrenergik1
Jika medikamentosa tidak berhasil, perlu dipertimbangkan tindakan shunting
keluar dari corpora kavernosa. Hal ini mencegah simdroma kompartemen yang
menekan arteri kaverosa dan memicu iskemik.
Tabel obat yang digunakan priapismus iskemik
Rujukan perlu dipertimbangkan sesuai degan jenis / klasifikasi priapismus, dan
dilakukan jika
1. tidak ada fasilitas yang memadai
2. jarak tempuh RS rujukan yang terjangkau < 24 jam menghindari terjadinya
nekrosis
3. tidak membaik dengan terapi medikamentosa
Prognosis
Prognosis tergantung jenisnya, prognosis priapismus tipe non iskemik lebih baik
daripada jenis iskemik sebab jika ditangani dengan baik, ereksi dapat kembali
normal. Sedangkan jenis iskemik, jika tidak ditangani akan terjadi nekrosis
jaringan dan kehilangan kemampuan mempertahankan ereksi maksimal
SISTEM RESPIRASI
TENSION PNEUMOTHORAX
Tension Pneumotoraks terjadi akibat kebocoran udara “one way valve”
dari paru atau melalui dinding toraks. Udara mendorong masuk ke dalam
rongga toraks tanpa ada celah untuk keluar sehingga memacu paru kolaps.
Mediastinum terdorong ke sisi yang berlawanan. Terjadi penurunan aliran
darah balik vena dan penekanan pada paru di sisi yang berlawanan.
Hasil Anamnesis (Subjective)
Tension pneumothorax ditandai oleh ada beberapa tanda dan gejala
berikut ini : nyeri dada, air hunger, distress nafas, takikardia, dan
hipotensi.
Hasil Pemeriksaan Fisik (Objective)
Pada pemeriksaan fisik didapatkan deviasi trakea, hilangnya suara napas
pada salah satu sisi atau unilateral, distensi vena leher dan sianosis sebagai
manifestasi lebih lanjut.
Tanda tension pneumotoraks ini bisa dikacaukan dengan tamponade
jantung akibat ada kemiripan. Kedua kasus ini dapat dibedakan dengan
ada hiperesonansi pada perkusi atau suara napas yang menghilang pada
hemitoraks yang sakit.
Pemeriksaan Penunjang
Foto ronsen toraks akan memberi gambaran yang mendukung
Diagnosa .
Diagnosa :
Diagnosa dilakukan dengan anamnesis dan pemeriksaan fisik.
pengobatan :
pelaksanaan tidak boleh ditunda sebab menunggu konfirmasi radiologi
selesai. Tension pneumotoraks memerlukan dekompresi segera dan
dilakukan awal dengan cepat melalui penusukan jarum kaliber besar
pada ruang interkostal kedua pada garis midklavikular dari hemitoraks
yang sakit.
Manuver ini bermanfaat untuk mengubah tension pneumothorax menjadi
simple pneumothorax; akan tetapi, kemungkinan pneumothorax lanjut
akibat ada jarum masih tetap ada. Penilaian ulang pasien harus
dilakukan. pelaksanaan definitif meliputi pemasangan chest tube pada
ruang interkostalis lima (setinggi papilla mammae)
HEMATOTHORAX
Hematotoraks masif terjadi akibat akumulasi cepat lebih dari 1500 ml
darah atau sepertiga atau lebih volume darah pasien dalam rongga toraks.
Biasanya terjadi akibat luka tembus yang merobek pembuluh darah
sistemik atau hilar. Hematotoraks masif juga dapat terjadi akibat trauma
tumpul.
Hasil Anamnesis (Subjective) ; sesak nafas
Hasil Pemeriksaan Fisik (Objective)
Perdarahan akan disertai hipoksia. Vena leher dijumpai datar akibat
ada hipovolemia berat atau akan mengalami distensi akibat tension
pneumothorax.
Hematotoraks masif dijumpai bila syok yang terjadi berhubungan dengan
hilangnya suara napas atau perkusi redup pada salah satu sisi hemitoraks
Pemeriksaan Penunjang
Foto ronsen toraks akan memberi gambaran yang mendukung
Diagnosa .
Diagnosa :
Diagnosa dilakukan dengan anamnesis, pemeriksaan fisik dan
pemeriksaaan penunjang.
pengobatan :
Hematotoraks masif dilakukan secara dini dengan restorasi volume
darah dan dekompresi kavitas toraks. Jalur intravena dengan kaliber besar
dan infus kristaloid tetsan cepat disertai tranfusi darah harus egera
diberikan. Darah dari chest tube sebaiknya dikumpulkan dalam satu wadah
untuk autotranfusi. Jika dievakuasi 1500 ml darah maka sebaiknya
dipersiapkan tindakan torakotomi dini. Torakotomi harus dilakukan oleh
ahli bedah yang berkompeten dan berpengalaman.
Related Posts:
ilmu bedah Hernia inguinalis dapat terjadi sebab anomali kongenital atau sebab sebab yang didapat. Hernia dapat dijumpai pada setiap usia. Lebih banyakpada pria daripada wanita. Berbagai faktor penyebab berperan padapem… Read More