Sabtu, 06 Juni 2026

farmakognosi obat 4

 






senyawa kalium dan klorofil 

yang mampu menyembuhkan penyakit 

Pemanfaatan daun juga dianggap lebih lestari sebab  tidak memerlukan 

pengambilan secara utuh seperti penebangan atau pencabutan, sehingga 

tumbuhan yang dipakai  tetap bisa dilestarikan. Sama halnya dengan 

pemanfaatan daun, buah yang dimanfaatkan juga tidak memerlukan 

penebangan atau pencabutan keseluruhan tumbuhan serta mudah diambil 

 Namun, meskipun buah menjadi salah satu 

bagian yang paling mudah diambil namun  tidak mudah ditemukan kapan saja 

saat diperlukan, sebab  biasanya keberadaan buah tergantung pada musim 

seperti halnya bunga  pemakaian  bagian tumbuhan lain 

seperti batang, rimpang, umbi dan akar lebih sulit pengambilannya sebab  

memerlukan tindakan pencabutan dan penebangan untuk pemanfaatannya 

sehingga secara ekologi memengaruhi jumlahnya di alam ,. Pengolahan tumbuhan obat umumnya dilakukan dengan cara 

yang cukup sederhana. 

Beberapa cara pengolahan tumbuhan obat yang sering dipakai  oleh 

warga  yaitu dengan cara direbus, diparut, ditumbuk, diperas dan dikupas. 

Cara pengobatan untuk penyakit dalam umumnya bagian dari tumbuhan obat 

direbus, sedangkan pada penyakit luar bagian tumbuhan obat di tempel atau 

digosok. Selain itu, pengolahan dengan cara direbus sangat mudah dan hemat 

sebab  proses perebusan dapat dilakukan berulang kali. berdasar  penelitian 

yang pernah dilakukan dilaporkan bahwa melalui teknik perebusan dapat 

membuat kandungan aktif di dalam daun seperti flavonoid menjadi larut di 

dalam air sehingga mudah dicerna di dalam tubuh 

pemakaian  tumbuhan obat dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti 

diminum, dimakan, dioleskan, ditempelkan, diurutkan, diteteskan, ditaburkan 

dan digosokkan. Menurut (Efremila., 2015) untuk mengobati penyakit dalam, 

bagian tumbuhan obat yang dipakai  direbus terlebih dahulu dan kemudian 

diminum. warga  meyakini bahwa pemakaian  tumbuhan obat dengan 

cara diminum memiliki  efek dan reaksi yang lebih cepat jika dibandingkan 

dengan cara pemakaian  tumbuhan obat yang lainnya. Penelitian menyebutkan bahwa jamu dapat segera diminum dan segera 

beredar diseluruh tubuh sehingga diharapkan efek dan reaksinya lebih cepat 

untuk mengobati suatu penyakit. 

Tumbuhan obat yang diolah dalam bentuk ramuan umumnya yaitu  berupa 

jamu yang diracik dengan tumbuhan obat sebagai bahan dasarnya dan 

ditambah dengan bahan pendukung lain yang ada  di alam  pemakaian  bahan dasar tumbuhan obat untuk meramu atau meracik 

jamu disesuaikan dengan fungsinya dalam mengobati suatu penyakit. 

Contohnya jamu perut kembung yang diramu memakai  bahan-bahan di 

antaranya jahe, lengkuas, kelapa, temu kunci, sirih, merica, gula merah, kunyit 

putih, kesembukan, kencur dan daun bawang. Jamu keset diramu dengan 

bahan-bahan di antaranya kayu gading, kunyit putih, kunci pepet, temulawak 

hitam, mengkudu dan delima  warga  negara kita  

sudah sejak lama memakai  tumbuhan dari familia Zingiberaceae sebagai 

obat (jamu) sebab  keberadaannya yang tumbuh subur didaerah tropis. Hasil 

penelitian Lavenia et al. (2019) juga menunjukkan jenis tumbuhan yang sering 

dipakai  sebagai bahan dasar pembuatan ramuan jamu yaitu  dari familia 

Zingiberaceae, organ tumbuhan yang sering dipakai  sebagai bahan dasar 

pembuatan jamu yaitu  rimpang. 

Beberapa tanaman lain yang telah dipergunakan sebagai obat tradisional oleh 

warga  negara kita  sebagai berikut. 

1. Pala (Myristica Fragrans Houtt) 

Bagian yang dipakai  biji. 

Khasiat dan manfaat: 

a. Mengobati penyakit disentri, maag, mencret, menghentikan 

muntah, mual, mulas, perut kembung dan rematik. 

Cara pemakaian bagi penyakit di atas:  

Biji pala (serbuk) 1 gram, buah pisang batu (serbuk) 6 gram, air 

100 ml diseduh lalu diminum satu kali sehari 100 ml, diulang 

selama 30 hari/sampai sembuh 

b. Suara parau 

Cara pemakaiannya: Biji pala (serbuk) 2 butir, rimpang jahe 

(diukur) 3 rimpang, bunga kuncup cengkeh (serbuk) 7 biji, air 50 

ml diseduh lalu diborehkan pada leher, bila perlu ditambah 

minyak kayu putih sedikit, diperbarui setiap 3 jam. 


 

c. Vitalitas/stamina 

Cara pemakaian: Pala dibelah diambil bijinya lalu direbus 

dicampur dengan pinten, jahe dan kapolaga, diminum atau bisa 

dicampur air susu dan gula merah dimimun seperlunya 

d. Pala dapat dibuat bumbu/rempah-rempah 

Adapun manfaat lainnya, pala muda untuk manisan dan pala 

yang tua dapat dipakai  untuk rempah-rempah. 

2. Lengkuas/Laja (Alpinia Galanga, Linn) 

Bagian yang dipakai  rimpang. 

Khasiat dan manfaat: 

a. Mengobati rematik, sakit limpa, gairah seks, nafsu makan 

Cara pemakaian untuk penyakit di atas: 2 Rimpang laja diparut 

dan diperas untuk diambil airnya, telur ayam kampung mentah 

diambil kuningnya lalu dicampur sampai merata, diminum1 kali 

sehari. 

b. Bronkhitis, morbili, panu, kadas kurap 

Cara pemakaiannya: 2 Rimpang laja sebesar ibu jari, 3 rimpang 

umbi temulawak sebesar ibu jari dan 1 genggam daun meniran, 

bahan-bahan ini  direbus ditambah tiga gelas air sampai 

mendidih, diminum 2 kali sehari 1 cangkir (pagi dan sore). 

c. Menurunkan kolesterol 

Cara pemakaiannya: daun sirih, salam dan lengkuas/laja 

dicampur direbus dalam masakan agar berkhasiat menurunkan 

kolesterol yang ada pada masakan. 

3. Jahe (Zingiber officinale Rosc) 

Bagian yang dipakai  rimpang. 

Khasiat dan manfaat: 

a. Mengobati batuk, membangkitkan nafsu makan. 

Cara pemakaiannya: Jahe diparut 3 rimpang, diperas lalu 

diminum 3 kali sehari 1 sendok teh diulang selama 3 hari. 

b. Mulas, perut kembung, gatal, luka, dan sakit kepala 

Cara pemakaian: Jahe diparut 3 rimpang, pindahkan ramuan ke 

kain bersih dan ikat dengan tali, kemudian masukkan ke dalam 

 

cuka hangat dan oleskan ke seluruh badan agar mempercepat 

keluarnya keringat. 

c. Pegal linu dan rheumatik 

Cara pemakaian: jahe diparut 3 rimpang lalu ditempel ke badan 

yag pegal secukupnya. 

4. Daun sirsak (Annona Muricata) 

Bagian yang dipakai  daun dan buah. 

Khasiat dan manfaat: 

a. Mengobati ambeien 

Cara pemakaian: Buah sirsak yang sudah masak, diperas untuk 

diambil airnya sebanyak 1 gelas, diminum 2 kali sehari. 

b. Sakit kandung air seni 

Cara pemakaian: Buah sirsak setengah masak, gula dan garam 

secukupnya, semua bahan ini  dimasak dibuat kolak, 

dimakan biasa dan dilakukan secara rutin setiap hari selama 

seminggu berturut-turut. 

c. Bayi mencret 

Cara pemakaian: Buah sirsak yag sudah masak diperas dan 

disaring untuk diambil airnya, diminumkan pada bayi yang 

mencret sebanyak 2-3 sendok makan. 

d. Sakit Pinggang 

Cara pemakaian: 20 lembar daun sirsak direbus dengan 5 gelas 

air sampai mendidih hingga tinggal 3 gelas, diminum 1 kali 

sehari ¾ gelas. 

e. Bisul 

Cara pemakaian: Daun sirsak yang masih muda secukupnya 

ditumbuk halus dan ditambah ½ sendok air, diaduk sampai 

merata, ditempelken pada bagian bisul. 

5. Daun Jambu (Psidium Guajava) 

Bagian yang dipakai  daun. 

 

Khasiat dan manfaat: 

a. Disentri 

Cara pemakaian: Daun jambu biji 6 gram, kayu secang 1 gram, 

rasuk angin 1 gram, daun patikan cina 5 gram, daun pegagan 7 

gram, kayu ules 2 buah, kayu ules 2 buah, bawang merah 1 umbi, 

air 120 ml. Dibuat Infus diminum 2 kali sehari (pagi dan sore) 

tiap kali minum 100 ml diulang selama 4 hari. 

b. Mencret 

Cara pemakaian: Daun biji jambu muda 9 helai, kunyit 1 jari, biji 

kedawung (disangrai) 4 butir, rasuk angis 4 gram, air 100 ml, 

dibuat infus, diminum 2 kali sehari, tiap kali minum 100 ml 

diulang selama 4 hari. 

6. Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus (B1) Miq.) 

Khasiat dan manfaat: Kencing batu, peluruh air seni, infeksi ginjal 

dan infeksi kandung kemih. 

Cara pemakaian: 30-60 gr (kering) atau 90-120 (basah) direbus, atau 

yang kering/basah diseduh sebagai teh, diminum 2 kali sehari pagi 

dan sore. 

7. Daun Sembung (Blumea Balsamifera) 

Khasiat dan manfaat: 

a. Meningkatkan empedu 

Cara pemakaian: Daun sembung 4 helai, air 110 ml direbus 

sampai mendidih diminum 1 kali sehari 100 ml. 

b. Salesma 

Cara pemakaian: Daun sembung 5 helai, daun sembukan 1 

genggam, air 110 ml, dibuat infus atau dipipis, diminum 2 kali 

sehari, tiap kali minum 100 ml apabila dipipis diminum 2 kali 

sehari dan tiap kali minum ¼ cangkir. 

c. Demam 

Cara pemakaian: Daun sembung secukupnya, air 1 panci, direbus 

sampai mendidih lalu basahi handuk dengan ramuan ini  

kemudian gunakan untuk membasuh badanm muka, kaki dan 

tangan. 

100  

 

8. Kencur (Kaemferia Galanga) 

Bagian yang dipakai : rimpang/akar Khasiat dan manfaat: 

a. Masuk angin/sakit kepala/radang lambung 

2 rimpang kencur sebesar ibu jari dikuliti sampai bersih dan 

dikunyah; ditelan airnya dan dibuang ampasnya kemudian 

minum segelas air putih lalu diulangi sampai sembuh. 

b. Batuk/menghilangkan darah kotor/diare 

1 rimpang kencur sebesar ibu jari dan garam secukupnya, kencur 

diparut kemudian ditambah 1 cangkir air hangat, diperas dan 

disaring. Diminum dengan ditambah garam secukupnya. 

c. sp 

2 rimpang kencur digerus/ditumbuk sampai halus lalu ditempel 

ke bagian tubuh yang keseleo. 

9. Katuk (Sauropus Androgynus) 

Bagian yang dipakai  daun. 

Khasiat dan manfaat: 

a. Memperlancar ASI 

Untuk memperlancar ASI, 200 gram daun katuk direbus dengan 

1,5 gelas air selama 15 menit, setelah dingin disaring lalu 

diminum, bisa juga dibuat sayur lalu dimakan. 

b. Obat bisul 

Untuk bisul, daun segar dilumatkan, tempelkan ke bagian yang 

sakit. 

10. Meniran (Pyillanthus Niruri) 

Bagian yang dipakai  seluruh tanaman. 

Khasiat dan manfaat: 

a. Peluruh dahak dan penambah nafsu makan. 

Caranya yaitu : 30-60 gram meniran direbus dalam 3 gelas air 

hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum. 

b. Mengobati luka dalam setelah melahirkan/pendarahan dan 

mengobati kista Cara pemakaian: 3 tangkai daun meniran yang 

tinggi/sudah besar direbus dengan akarnya lalu diminum airnya. 

 

 


Farmakognosi Berbasis 

Teknologi 

 

 

 

7.1 Perkembangan Farmakognosi  

Penerapan farmakognosi deskriptif dan mikroskopis berkembang pada abad ke 

19 dan ke 20 dan memberi  dasar untuk mengatur pemakaian  tanaman 

dalam sistem pelayanan kesehatan berdasar  definisi farmakope. Namun, 

selama tahun 1960an dan 1970an, farmakognosi mulai beralih dari studi botani 

deskriptif menjadi kimia yang lebih terintegrasi dan berfokus pada biologis 

Pada akhir tahun 1960an, farmakognosi sebagai ilmu pendidikan farmasi 

terutama dikaitkan dengan botani. Pada tahap ini, sebagian besar berkaitan 

dengan identifikasi makro dan mikroskopis, deskripsi, dan otentikasi obat. 

Bidang farmakognosi ini disebut sebagai farmakognosi klasik dan secara 

keseluruhan masih memiliki  kepentingan mendasar terutama untuk tujuan 

standardisasi awal dan proses pengendalian mutu yang membantu dalam 

pengembangan standar farmakope. Pada identifikasi mikroskopis bahan 

tanaman dan penentuan data kuantitatif diberi perhatian khusus seperti benda 

asing, nilai abu dan kadar air. Selanjutnya, sidik jari kromatografi, khususnya 

KLT dipakai  untuk tujuan identifikasi dan standardisasi. Farmakognosi 

klasik ini, yang awalnya berfokus pada evaluasi kognostik farmasi tanaman, 

telah diperluas hingga mencakup bentuk-bentuk alami lainnya, seperti 

berbagai jenis mikroba dan organisme laut 

Seiring berjalannya waktu, farmakognosi klasik berkembang menuju disiplin 

kimia dan biologi yang lebih terspesialisasi yang berkaitan dengan isolasi dan 

karakterisasi prinsip aktif biologi dari sumber alami serta evaluasi hubungan 

aktivitas struktur isolat untuk tujuan mengoptimalkan pengembangannya 

menjadi agen obat untuk pemakaian  klinis. Identifikasi DNA produk alami 

sebagai standar peraturan juga menjadi fokus saat ini dalam Farmakognosi 

Saat ini, farmakognosi sebagai departemen akademis yang sudah mapan di 

beberapa sekolah farmasi di seluruh dunia, meskipun namanya mungkin telah 

digantikan oleh istilah-istilah seperti biologi farmasi, fitokimia, dan penelitian 

produk alami di negara-negara tertentu. Bidang penelitian yang melibatkan 

ahli farmakognosi, termasuk kimia analitik, pengembangan metode penilaian 

bioaktivitas, biokatalisis, biosintesis, bioteknologi, biologi sel, kemotaksonomi, 

studi klinis, budidaya tanaman obat, etnobotani, genetika, kimia kelautan, 

biotransformasi mikroba, biologi molekuler, modifikasi sintetik bahan alam, 

farmakologi, fitokimia, fitoterapi, standardisasi obat tradisional, taksonomi, 

kultur jaringan, dan zoofarmakognosi 

Ruang lingkup farmakognosi telah mengalami perubahan dan perkembangan 

sesuai dengan jamannya. Farmakognosi ini merupakan pengetahuan tentang 

obat. Dengan masuknya bioteknologi ke dalam farmakognosi, kemampuan 

farmakognosi akan meningkat dari mode deskripsi dan pengenalan menjadi 

model pengendalian dan rancangan produk yang dinamakan 

Farmakobioteknologi. 

 

7.2 Bioteknologi Tanaman  

Saat ini populasi penduduk di negara kita  diprediksi akan meningkat. 

Peningkatan jumlah penduduk tidak diimbangi dengan peningkatan 

ketersedian produksi pertanian, khususnya tanaman pangan. Selain masalah 

peningkatan jumlah penduduk, masalah lain seperti berubahnya iklim, 

meningkatnya emisi gas rumah kaca dan peningkatan lahan marginal juga 

menjadi kendala dalam bidang pertanian. Masalah-masalah ini  bisa 

 

diatasi dengan dibutuhkan pendekatan teknologi, salah satunya yaitu  

bioteknologi. Pemanfaatan bioteknologi ini akan mampu dalam peningkatan 

ketahanan pangan, penghasil pangan yang sehat dan pengurangan dampak 

negatif terhadap lingkungan produksi pertanian 

Bioteknologi tanaman yaitu  penerapan teknologi baik bioteknologi 

konvensional maupun bioteknologi modern dengan memfokuskan pada 

perbaikan sifat tanaman secara spesifik, sehingga menghasilkan varietas 

unggul demi pemenuhan kebutuhan manusia 

Bioteknologi tanaman ini bertujuan merekayasa genetik tanaman, sehingga 

diperoleh sifat tanaman lebih unggul dari sebelumnya. Hal ini  bisa 

didapatkan dengan pemuliaan tanaman konvensional melalui persilangan-

persilangan tetua yang memiliki sifat yang dikehendaki. Kemudian dilakukan 

penyeleksian yang bertujuan dalam penggabungan sifat baik dari tetua-tetua 

pada keturunannya, sehingga diperoleh varietas unggul baru 

Namun pemuliaan tanaman konvensional memiliki beberapa kelemahan yaitu 

perbaikan sifat tidak terarah, memerlukan waktu cukup lama untuk 

menghasilkan varietas unggul baru dan sulit untuk dilakukan penggabungan 

sifat tanaman yang berasal dari tanaman tidak sejenis. Hal ini dapat dilakukan 

dengan bioteknologi modern yaitu melibatkan rekayasa genetika . Metode bioteknologi tanaman ini meliputi 

teknologi kultur in vitro dan rekayasa genetika. Pengerjaan kultur in vitro ini 

berhubungan dengan rekayasa genetika, sebab  teknologi rekayasa genetika 

juga memerlukan kultur in vitro 

7.2.1 Teknologi Kultur In Vitro Tanaman 

Kultur in vitro disebut juga dengan kultur jaringan (tissue culture). Teknologi 

kultur in vitro tanaman (kultur jaringan) didefinisikan sebagai metode maupun 

teknik dalam mengisolasi sel, jaringan dan organ pada tanaman yang 

menginduksi bagian ini  pada media yang mengandung banyak nutrisi dan 

zat pengatur tumbuh yang dilakukan dalam suatu tempat dengan kondisi serba 

terkendali yang menyangkut pencahayaan, pengaturan suhu dan dalam kondisi 

aseptic  Teknologi kultur in vitro 

tanaman juga dapat di definisikan suatu metode teknologi yang dilakukan 

dalam memproduksi benih tanaman dan juga bisa menghasilkan metabolit 

sekunder jika dibutuhkan oleh konsumen atau industri 

Metode teknologi kultur in vitro ini bertujuan untuk menghasilkan tanaman 

dengan pembiakan yang cepat , untuk memperoleh keragaman genetik dalam 

kultur in vitro ada beberapa teknologi yang dapat dipakai  di antaranya 

sebagai berikut:  

1. Teknologi Haploid 

Teknologi haploid merupakan suatu teknologi berpotensi dalam 

peningkatan efektivitas dan efisiensi untuk pengembangan benih 

hibrida. Dengan teknologi haploid ini, calon tetua pada bentuk 

inbrida homozigot dipakai  dalam pengembangan dan produksi 

benih hibrida yang hanya bisa diproduksi pada satu generasi yang 

berbentuk tanaman haploid ganda homozigot dalam karakter yang 

seragam, sedangkan jika dibandingkan pemuliaan tanaman secara 

umum atau konvensional dalam penyerbukan sendiri, dibutuhkan 

lima sampai tujuh generasi untuk menghasilkan tanaman homozigot 

baru dan tidak seragam untuk semua karakter 

Teknik embriogenesis mikrospora, baik melalui kultur anther atau 

kultur mikrospora merupakan salah satu cara untuk meregenerasikan 

tanaman haploid. Tanaman haploid ini dapat diregenerasikan melalui 

kultur in vitro secara langsung, baik dari sel jantan atau dari sel 

betina dengan tidak dilakukan proses fertilisasi. Dibanding dengan 

tanaman diploid, tanaman haploid lebih bersifat steril  Induk haploid dengan tanaman hasil penggandaan (double-

haploid) bersifat sama yaitu bersifat homozigot. Namun untuk 

individu double-haploid bersifat fertile. Oleh sebab  itu, individu 

double-haploid dapat diperbanyak secara seksual 

2. Teknologi Kultur Protoplas  

Kultur protoplas (fusi protoplas) yaitu suatu teknik kultur jaringan 

yang telah banyak dibutuhkan dalam program pemuliaan tanaman 

pada waktu yang sangat singkat. Metode ini dipergunakan untuk 

mengatasi masalah tanaman yang sulit atau tidak mungkin 

disilangkan secara konvensional serta dipakai  untuk perbaikan 

spesies dengan mentransfer suatu gen yang dikehendaki dari tanaman 

donor ke tanaman target melalui fusi protoplas. Fusi protoplas  

 

memungkinkan dihasilkannya tanaman yang tahan terhadap suatu 

penyakit dan berbagai cekaman abiotik, laju pertumbuhan yang cepat 

serta memiliki kuantitas dan kualitas metabolit yang lebih baik 

dibandingkan induknya. Keberhasilan peleburan dan regenerasi 

protoplas menjadi tanaman utuh yang memengaruhi berbagai faktor, 

meliputi sumber eksplan, komposisi larutan enzim dan lama inkubasi, 

jenis fusogen, dan media kultur untuk regenerasi 

Adanya fusi protoplas memungkinkan untuk melakukan hibridisasi 

somatik antar spesies yang tidak kompatibel secara seksual, 

menghasilkan galur tanaman heterozigot yang berasal dari satu 

spesies tanaman normal yang hanya bisa dikembangbiakan secara 

vegetatif, mentransfer Sebagian gen dari spesies tanaman yang 

berbeda dengan cara penghilangan kromosom (chromosome 

elimination), dan mentransfer informasi gen yang ada pada 

sitoplasma dari galur atau spesies yang berbeda. Ada dua 

kemungkinan yang akan dihasilkan dari fusi protoplas yaitu hybrid 

(kedua nukleus dari dua spesies benar-benar menyatu) dan cybrid 

atau heteroplasma (hanya sitoplasma dari kedua spesies yang 

menyatu, sedangkan salah satu nukleus dari kedua spesies hilang) 

Kultur protoplas juga dikenal sebagai hibridisasi somatic yaitu suatu 

teknik kultur jaringan untuk peningkatan keragaman genetik tanaman 

dengan penggabungan dua spesies materi genetik tanaman berbeda 

dalam pembuatan tanaman hibrida 

Fusi protoplas dari hasil dua tetua akan memiliki variabilitas genetik 

tinggi untuk ketahanan pada infeksi penyakit, dari mulai kategori 

rentan sampai resistansi pada infeksi (Armita, 2020). Keberhasilan 

suatu kultur atau fusi protoplas akan memengaruhi sumber eksplan, 

kandungan larutan enzim, waktu selama inkubasi jenis fusogen serta 

pemakaian  media kultur dalam meregenerasikan protoplas dengan 

organogenesis maupun embriogenesis dalam suatu pembentukan 

kalus 

Teknologi isolasi protoplas semakin maju pesat dan tahun 1972 

penelitian-penelitian terkait kultur protoplas terus dikembangkan. 

Protoplas dapat diinduksi untuk membelah diri dan beregenerasi 

membentuk dinding sel Kembali, selanjutnya sel akan mengalami 

pembelahan dan akhirnya akan membentuk kalus. Kemudian kalus 

ini  disubkulturkan dan ditumbuhkan dalam medium untuk 

proses embriogenesis. Embrio yang dihasilkan dari proses 

embriogenesis akan berkembang lebih lanjut menjadi kecambah 

hingga menjadi tanaman lengkap 

3. Variasi Somaklonal 

Variasi somaklonal merupakan bentuk perubahan genetik, epigenetik, 

ataupun perubahan fenotipe, kariotipe, fisiologi, biokimia atau jenis 

pada tingkat molekuler pada populasi tanaman dengan kultur jaringan 

atau sel yang terjadi baik pada sel somatik yaitu sel daun, sel akar, sel 

batang, serta sel induk ,Teknik ini berasal dari suatu perubahan pada eksplan tanaman 

yang berasal dari penginduksian kultur secara in vitro dari suatu 

media dan lingkungan. Variasi somaklonal dipengaruhi oleh 

penghilangan sebab  adanya proses kultur yang menginisiasi 

munculnya variasi genetik yang begitu penting dalam pengembangan 

basis genetik untuk suatu program pemuliaan dan konservasi pada 

tanaman 

Variasi somaklonal bisa berubah namun  bukan akibat dari segregasi 

atau rekombinasi gen, seperti mengalami proses persilangan, namun 

akibat adanya mutasi genetik pada eksplan yang ditanam pada suatu 

kondisi in vitro. Variasi somaklonal dari tanaman akan mengalami 

mutasi atau penyimpangan sitologi, sehingga dapat muncul 

perubahan struktur kromosom, kerusakan kromosom (delesi, 

duplikasi, inversi dan translokasi), perubahan metilasi kromatin dan 

jumlah kromosom  Variasi somaklonal 

diwariskan secara seksual ke generasi seterusnya atau turunannya 

yang bersifat stabil, akan namun  variasi somaklonal yang bersifat 

epigenetik akan kehilangan jika dilakukan penurunan secara seksual.  

 

Teknologi pada kultur jaringan ini diinisiasi oleh penambahan zat 

pengatur tumbuh, seperti pemakaian  auksin 2,4-D dan 2,4,5-T, 

konsentrasi pemakaian  ZPT (zat pengatur tumbuh), waktu tahap 

pertumbuhan kalus, dan pemakaian  jenis kultur (sel, protoplasma 

atau kalus), cahaya, kelembaban dan transpirasi. Penyusunan 

tanaman dengan teknologi ini telah diterapkan dalam memperoleh 

tanaman yang toleran pada kekeringan, salinitas atau kadar tinggi, pH 

rendah atau tinggi serta ketahanan pada penyakit (. Faktor yang menimbulkan terjadinya variasi 

somaklonal yaitu: (1) Organisasi sel dari sumber eksplan yang 

dipakai , (2) Variasi jaringan yang dipakai  sebagai sumber 

eksplan, (3) Akibat ketidaknormalan pembelahan sel selama proses 

regenerasi 

4. Mutagenesis In Vitro  

Mutagenesis merupakan induksi perubahan gen melalui kultur sel in 

vitro dengan perlakuan mutagenik kimia atau fisika yang selanjutnya 

dilakukan pemeliharaan sel mutan dan meregenerasi tanaman mutan 

. Prinsip pada mutagenesis in vitro ini yaitu  

mengatasi kerusakan DNA genom pada populasi di sel tertentu dan 

memungkinkan sel yang rusak ini  berkembang biak secara 

cepat, sehingga kerusakan yang ditimbulkan relatif kecil pada urutan 

nukleotida DNA. Pada akhirnya, hanya populasi sel yang dipilih 

dengan mutasi di gen tertentu yang berhasil beregenerasi menjadi 

galur tanaman mutan. Tanaman mutan yang diperoleh melalui 

mutagenesis kemudian dilakukan pengujian dan seleksi lebih lanjut. 

Namun cara ini jarang dipakai  sebab  mutasi diakibatkan mutagen 

kimia atau fisika merusak komponen DNA genom tanaman yang 

pada akhirnya dapat menimbulkan sifat-sifat yang tidak diinginkan. 

Kerusakan DNA yang terjadi sebab  hilangnya atau rekayasa 

nukleotida atau translokasi fragmen DNA yang berubah menjadi 

kromosom. Fenotipe suatu tanaman tidak akan terjadi perubahan 

apabila mengalami hilangnya atau substitusi yang berbasis pasangan, 

sebagai contoh misalnya tiga basis kodon dalam satu gen 


. Metoda mutagenesis memberi  keuntungan 

yaitu meliputi material tanaman dengan memperbanyak sangat cepat 

sampai mencapai populasi cukup besar sebelum dilakukan perlakuan, 

peningkatan frekuensi variasi somaklonal, potensi pemulihan sel 

bermutasi akan meningkat seiring menurunnya kompetisi somatik 

sebab  terjadi perubahan kondisi pada kultur, termasuk penambahan 

sitokinin pada media, dan meningkatkan efisiensi yang ditimbulkan 

dari mempercepat produksi mutant oleh peningkatan kecepatan 

perkembangbiakan dan generasi dengan jumlah yang lebih banyak 

. Keberhasilan mutagenesis secara in vitro salah 

satunya ditentukan oleh kesesuaian dalam teknik perbanyakan pada 

tanaman secara in vitro. 

7.2.2 Teknologi Rekayasa Genetika  

Teknologi rekayasa genetika yaitu sebagai suatu teknik memanipulasi atau 

merubah susunan suatu asam nukleat dari DNA (gen) atau dengan 

menyelipkan suatu gen yang baru pada struktur DNA organisme penerima. 

Penyelipan ini  bisa berasal dari organisme manapun. Contohnya, suatu 

gen berasal dari bakteri dilakukan penyelipan ke kromosom tanaman, dan 

begitu juga gen dari tanaman bisa diselipkan di kromosom bakteri. Gen pada 

serangga bisa diselipkan di tanaman atau gen pada babi bisa diselipkan di 

bakteri, atau gen pada manusia diselipkan di kromosom bakteri. Tanaman 

lebih mudah direkayasa secara genetik dari pada sebagian besar hewan. Bagi 

banyak spesies tanaman, satu sel jaringan yang ditemukan dalam kultur dapat 

berkembang menjadi tanaman dewasa (sifat totipotensi), sehingga manipulasi 

genetik dapat dilakukan pada sel somatik dan sel ini  selanjutnya 

dipergunakan dalam memproduksi organisme yang memiliki sifat baru 

Teknologi rekayasa genetika merupakan metode pemuliaan yang secara 

konvensional dipakai  untuk meningkatkan karakteristik organisme. 

Misalnya saja pada suatu tanaman, teknologi ini dapat dipakai  dalam 

peningkatan ketahanan tanaman daricekaman biotik dan abiotik, 2 faktor yang 

menurunkan produktivitas tanaman. Selain itu juga bisa dipakai  untuk 

meningkatkan kandungan atau kadar nutrisi tanaman dan memproduksi vaksin 

tanaman 

 

Prinsip dasar suatu pemuliaan tanaman yaitu  memasukkan gen yang 

membawa sifat baik dengan diperoleh dari kerabat jauh atau spesies liar pada 

suatu kromosom tanaman. Untuk melakukan hal ini, dibutuhkan banyak waktu 

melalui pembiakan selektif. Dengan memakai  teknologi DNA 

rekombinan dan bantuan peralatan modern, pemulia tanaman dapat 

memasukkan gen yang bersumber dari organisme apa pun ke dalam tanaman. 

Selain itu, teknologi DNA rekombinan dapat dilaukan penggabungan dengan 

biologi molekuler dalam kloning gen dapat membantu program pemuliaan 

tanaman dalam mengidentifikasi gen yang memberi  sifat tertentu, misal 

tahan hama dan penyakit yang terkena tekanan pada abiotik. Pemuliaan pada 

molekuler yaitu istilah untuk penggambaran penerapan atau pengaplikasian 

teknologi genetika molekuler untuk memperkenalkan sifat baru yang 

diinginkan ke suatu program pemuliaan tanaman  Tanaman 

hasil dari rekayasa genetika disebut tanaman transgenik yang dikenal dengan 

istilah “genetically modified organism” atau GMO 

7.3 Contoh Penerapan Bioteknologi 

Tanaman 

7.3.1 Contoh Penerapan Teknologi Kultur In Vitro 

Tanaman 

Teknologi kultur in vitro tanaman sebagai suatu metode yang meliputi 

langkah-langkah sebagai berikut: (1) menyiapkan sarana dan prasarana dalam 

kondisi benar-benar steril (aseptis), termasuk lokasi, bahan dan peralatan, (2) 

menyiapkan media dasar yang dipilih sesuai dengan kultivar yang akan 

diproduksi, (3) melakukan kultur benih dan teknik untuk memperoleh 

metabolit sekunder 

Contoh penerapan teknologi kultur in vitro yaitu salah satunya untuk 

mengatasi permasalahan pemenuhan sumber benih anggrek yang cukup. 

Setiap tahapan untuk produksi anggrek sering kali memerlukan input atau 

masukan teknologi, khususnya teknologi kultur in vitro atau kultur jaringan 

(tissue culture) yang diketahui sudah efektif. Kultur in vitro ini dipakai  

untuk perbanyakan anggrek (mikropropagasi) atau untuk perkecambahan 

  

 

benih anggrek . Berikut beberapa contoh teknologi 

kultur in vitro tanaman yang telah dilakukan. 

Tabel 7.1: Teknologi Kultur In Vitro Tanaman 

Tanaman Macam teknologi Kultur in 

vitro 

Pustaka 

Cabai Haploid (Supena, 2018) 

Padi Protoplas (Sukmadjaja et al., 2007) 

Ubi kayu Variasi Somaklonal (Ramadanti, Putri and Hartati, 

2020) Porang Mutagenesis (Poerba et al., 2016) 

7.3.2 Contoh Penerapan Teknologi Rekayasa Genetik 

Tanaman 

Teknologi rekayasa genetika sebagai suatu bentuk dari bioteknologi modern 

dengan memakai  pendekatan teknologi DNA rekombinan yang 

dipadukan dengan genetika molekuler (Ningsih et al., 2021). Tanaman pada 

pertanian yang dihasilkan dengan rekayasa genetika dikategorikan mengikuti 

suatu struktur dan strategi yang telah dipakai  untuk memperbanyak 

tanaman transgenik, diklasifikasikan dalam empat generasi (Prianto and 

Yudhasasmita, 2017). Pada generasi yang pertama atau sifatnya tunggal, sering 

dipakai  tumbuhan yang mengandung unsur transgenik. Pada generasi 

kedua, tanaman umumnya sebagai hasil mutasi atau persilangan antara 

generasi komersial yang pertama. Generasi yang ketiga, tanaman ini disebut 

dengan near-intragenics di mana unsur transgeniknya tidak dapat dipakai  

pada tanaman transgenik lainnya dan generasi yang keempat merupakan 

tanaman tergolong gen intragenik ataupun cisgenik. Beberapa contoh 

keberhasilan dari penerapan teknologi rekayasa genetika yaitu Padi atau beras 

Bt yang kebal atau kuat terhadap hama batang, papaya kebal terhadap 

penyakit, papaya tahan terhadap ringspot virus, jagung Bt dan kapas Bt kebal 

terhadap hama Lepidoptera, kedelai yang toleran herbisida, tomat Flavr Savr 

yang masak terlambat, beta carotene yang dikandung Golden rice pada 

endosperma dan pisang sebagai penghasil vaksin 

Standardisasi dan Sertifikasi 

Produk Herbal 

 

 

 

8.1 Produk Herbal 

negara kita  memiliki keanekaragaman hayati tanaman sehingga memiliki 

potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah produk yang dapat dikonsumsi 

warga . Sejak jaman dahulu kala manfaat dari berbagai tumbuhan sudah 

dilakukan oleh warga  dengan kepercayaan bahwa sumber bahan dapat 

menyembuhkan penyakit atau gejala tertentu meskipun belum ada 

pemeriksaan secara ilmiah yang menjadi dasar pemakaian  tanaman. 

Pengertian dari produk herbal yaitu produk yang memiliki sumber dari alam, 

mengalami proses tertentu atau dalam bentuk aslinya. Sumber bisa berupa 

tumbuhan, berasal dari hewan atau sumber mineral tertentu. Proses pembuatan 

bahan kering dengan panas alami yaitu sinar matahari atau memakai  alat 

tertentu seperti oven. Produk herbal yang ada di negara kita  dapat berupa Jamu, 

OHT, dan Fitofarmaka. Dengan adanya kasus pandemi seperti Covid-19, 

warga  memiliki pola pikir dan pola hidup kembali kepada alam atau back 

to nature, hal ini juga memengaruhi segmentasi dan pangsa pasar produk 

herbal menjadi meningkat seiring bertambahnya daya beli konsumen terhadap 

pemakaian  bahan-bahan alami yang bertujuan untuk menjaga kesehatan 

tubuh.  

  

 

Produk herbal yang ada di negara kita  sangat beragam dan dapat diproduksi 

dalam skala kecil maupun besar sehingga mudah ditemukan di tempat resmi 

yang memiliki izin, toko, atau kedai makanan. warga  sebagai konsumen 

produk herbal mempertimbangkan kemudahan dalam mendapatkan produk 

disertai dengan khasiat yang didapatkan dan harga yang terjangkau, selain itu 

aspek kehalalan, varian rasa, serta adanya koneksi dan komunikasi dengan 

penjual menjadi pertimbangan dalam pembelian produk herbal. Konsumen 

memperoleh informasi mengenai produk dari teman, keluarga, media 

elektronik, atau brosur 

Produk herbal yang tersebar sangat beragam dari merek yang sudah terkenal 

dan diingat oleh warga  maupun produk yang dibuat secara sederhana 

oleh usaha kecil atau usaha mikro obat tradisional. Produk herbal yang dijual 

di kalangan warga  antara lain yaitu  jamu tradisional dalam kemasan 

serbuk maupun bentuk minuman, racikan bahan-bahan secara langsung seperti 

racikan wedang uwuh dalam kemasan sederhana, madu, obat herbal terstandar, 

atau fitofarmaka yang di mana produk ini  menyebutkan khasiat sebagai 

suplemen yang dapat meningkatkan kesehatan atau menyembuhkan penyakit-

penyakit tertentu. 

warga  memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi produk herbal 

dibandingkan produk sintesis, padahal tidak semua produk herbal yang dapat 

dikonsumsi warga  sudah mengantongi ijin edar dan BPOM, banyak juga 

yang tidak memiliki legalitas produk. Hal ini menjadi perhatian khusus di 

mana warga  harus lebih jeli dan teliti pada saat membeli produk herbal. 

Oleh sebab  itu perlu adanya sebuah standar yang dipenuhi oleh pelaku usaha 

produk herbal agar manfaat dan khasiat yang disebutkan dalam produk disertai 

dengan kepercayaan terhadap kualitas produk yang baik. 

 

8.2 Standardisasi Produk Herbal 

Produk herbal atau obat tradisional disebut dengan jamu, dengan sumber 

bahan yang dikeringkan tidak melalui proses pengolahan lebih lanjut, 

pemakaian nya didasarkan pada pengalaman dan belum memakai  bahan 

baku yang terstandar, oleh sebab  itu jamu kemudian diteliti khasiat, 

komposisi, maupun cara pembuatan yang optimal sehingga didapatkan sediaan 

berupa obat herbal terstandar yang sudah melewati uji khasiat dan keamanan 

melalui uji pra-klinik sedangkan khasiat fitofarmaka sudah dibuktikan melalui 

uji klinik dengan bahan baku yang telah terstandar (BPOM, 2019). Logo dari 

ketiga jenis obat tradisional negara kita  dapat dilihat pada Gambar 1. 

Pelaku usaha obat tradisional perlu untuk yaitu dalam hal pemenuhan kualitas 

bahan baku atau produk yang sudah jadi, persyaratan ini  sesuai dengan 

ketentuan dalam Farmakope Herbal negara kita , Materia Medika, atau data 

ilmiah yang dapat dipercaya. Bahan baku atau produk jadi yang sudah beredar 

di pasaran di antaranya jamu, obat tradisional baik lokal maupun impor yang 

berlisesi, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Bentuk dari produk dapat 

berupa serbuk, serbuk instan, bahan yang dirajang, pil, kapsul, atau tablet yang 

dipakai  sebagai obat dalam, dan obat yang dipakai  selain diminum dapat 

berupa sediaan cair, padat seperti parem padat, tapel, atau semipadat seperti 

krim, gel. 

 

Gambar 8.1: Logo Jamu, OHT, dan Fitofarmaka 

Persyaratan keamanan yang wajib dipenuhi dilakukan dengan cara 

standardisasi produk herbal meliputi dua parameter, di mana kedua nya secara 

garis besar menggambarkan karakteristik bahan herbal secara umum atau biasa 

disebut non spesifik maupun secara khusus atau spesifik. Produk herbal seperti 

jamu yang memakai  bahan baku baik dalam bentuk serbuk atau simplisia 

perlu dilakukan standardisasi agar kualitas produk baik, sesuai ketentuan, dan 

aman untuk dipakai  oleh warga  secara luas. 

8.2.1 Standardisasi sebagai jaminan mutu produk 

Dalam memenuhi mutu kefarmasian, ada  sebuah parameter prosedur yang 

dapat dilakukan dengan cara pengukuran tertentu atau biasa disebut dengan 

Standardisasi. Dalam hal standardisasi produk herbal, pelaku usaha perlu 

melakukan beberapa pengujian kimia, biologis, dan farmasi sesuai persyaratan. 

Standardisasi yang telah dilakukan sebagai jaminan pembuatan produk melalui 

metode ilmiah dan memenuhi parameter tertentu yang harus dipenuhi.  

Standardisasi perlu dilakukan untuk mencapai derajat kualitas yang sama baik 

dari bahan baku produk dalam bentuk simplisia, ekstrak, maupun produk 

 

ekstrak. Tujuan standardisasi berkaitan dengan keseragaman bahan baku 

maupun produk yang dihasilkan oleh pelaku usaha disebab kan faktor biologi 

dan kimia yang memengaruhi kualitas bahan baku. Faktor biologi seperti 

lingkungan tempat tumbuh, kondisi lingkungan (kandungan tanah, kandungan 

air) serta cuaca dan kelembapan menghasilkan karakter bahan tertentu antara 

satu daerah dengan daerah yang lainnya dapat dihasilkan karakter maupun 

kandungan metabolit sekunder yang sedikit berbeda. 

Standardisasi secara farmasetika contohnya yaitu  standardisasi pada bahan 

kering atau simplisia, proses pembuatan produk herbal dan jika dibuat dalam 

bentuk cairan termasuk pelarut produk, standardisasi ekstrak, standardisasi 

sediaan jadi, di mana parameter yang dilihat dibagi menjadi parameter umum 

dan parameter khusus. Selain itu, dapat dilakukan pengujian pra-klinik baik 

sekala laboratorium maupun dengan memakai  hewan atau makhluk 

hidup, pengujian klinik ke manusia jika akan membuat produk fitofarmaka 

Parameter khusus akan menjelaskan mengenai karakteristik bahan yang khas 

atau ada  hanya dalam bahan itu sedangkan parameter umum melihat 

karakteristik kimia seperti berat jenis, kadar air maupun aspek mikrobiologi. 

Pemenuhan parameter ini menjadi tolak ukur kualitas bahan, apakah bahan 

ini  aman untuk dijadikan produk herbal. Standardisasi produk herbal 

dimulai dari pemenuhan bahan baku yang standar atau produk dan bisa 

dilakukan untuk proses baik proses produksi maupun peralatan yang 

dipakai  untuk memproduksi produk herbal. Standardisasi produksi meliputi 

pemilihan pengolahan bahan awal atau bahan baku, pengemasan produk, 

pengawasan mutu selama proses produksi, dan produk jadi sedangkan 

standardisasi peralatan mencakup rancang bangun dan konstruksi, pemasangan 

alat, prosedur pengujian dan produksi, penempatan alat, jenis peralatan yang 

dipakai . 

Semua proses standardisasi ini memberi  keuntungan tidak hanya bagi 

produsen atau pelaku usaha maupun konsumen. Pada pelaku usaha, jaminan 

bahwa produk yang dihasilkan telah melewati standardisasi akan 

meningkatkan kepercayaan warga  sebab  produk yang dihasilkan sesuai 

standar dan bermutu, sejalan dengan itu warga  mendapatkan rasa aman 

atau jaminan produk herbal memiliki mutu yang baik. Dalam produksi produk 

herbal dan kosmetik herbal, pada kenyataannya masih ada pelaku usaha yang 

belum menerapkan standardisasi meskipun produknya sudah banyak 

dikonsumsi di warga . Hal ini dapat didukung dengan adanya pemberian 

 

edukasi proses standardisasi yang dilakukan oleh apoteker dengan kompetensi 

di bidang kesehatan khususnya produk herbal 

8.2.2 Parameter Umum  

Parameter umum bisa disebut juga dengan parameter non spesifik, seperti 

pengujian berat jenis, kadar air, dan susut pengeringan melihat secara fisik 

bahan atau produk, kadar abu dan kadar abu tidak larut asam berkaitan dengan 

kandungan kimia produk, pelarut organik yang mungkin ada  dalam 

produk herbal, jumlah cemaran seperti logam dan mikrobiologi termasuk juga 

sisa pesitisida yang didapatkan selama proses penanaman hingga pemanenan. 

Penjelasan mengenai parameter ini dapat dilihat pada tabel 8.1.  

Tabel 8.1: Parameter Non Spesifik dalam Standardisasi produk herbal 

No Paramater 

umum Penjelesan 

1 Berat Jenis Berat jenis yaitu  massa per volume, pada kondisi suhu 25°C 

dilakukan pengujian untuk melihat nilai dari BJ sebuah bahan 

atau produk. nilai dari bobot jenis yang didapatkan 

memberi  informasi yang berkaitan dengan kekentalan dari 

bahan. Produk yang terlalu kental seperti ekstrak pekat akan 

sulit untuk dituang dari wadah. 

Proses pengujian dengan piknometer dan air dengan kondisi 

suhu 25°C. perhitungan antara bobot bahan (simplisia atau 

ekstrak) yang diperoleh kemudian dibagi dengan bobot air 

yang dipakai  akan menunjukkan nilai BJ dari bahan atau 

produk ini  

2 Susut 

Pengeringan 

Senyawa tertentu dapat hilang pada saat bahan dikeringkan, 

hilangnya senyawa dapat dilihat dari pengujian ini. Jika bahan 

yang diuji tidak ada kandungan minyak atsiri atau 

memakai  pelarut organik tertentu maka dapat disamakan 

dengan pengujian kadar air 

Proses pengujian memakai  alat botol timbang dangkal 

bertutup, proses pemanasan dilakukan pada suhu 105°C 

dengan waktu 30 menit. Jika bobot sudah tetap proses 

dihentikan dan jika ekstrak sulit kering dapat ditambahkan 

silika. Nilai susut pengeringan didapatkan dengan 

 

No Paramater 

umum Penjelesan 

mengurangi berat sebelum dan sesudah pemanasan dalam 

bentuk persen (%). 

3 Kadar air Kadar air berkaitan dengan stabilitas dan penyimpanan bahan 

dan juga pada kualitas bahan. Mikroorganisme seperti jamur, 

bakteri dapat hidup di air dan cemaran akan memengaruhi 

kandungan produk. Produk dikatakan memenuhi aspek ini 

jika diperoleh nilai kurang dari sama dengan sepuluh persen 

(%). 

Pengujian dilakukan dengan memakai  metode 

gravimetri, destilasi, maupun titrasi di mana prosedur uji dari 

ketiga metode ini  berbeda-beda. Nilai persen kadar air 

dapat diperoleh dari pengurangan bobot awal dan akhir pada 

metode gravimetri sedangkan pada metode destilasi dihitung 

dengan volume air hasil destilasi dibagi berat sampel. 

4 Kadar abu dan 

kadar abu tidak 

larut asam 

Senyawa non organik seperti mineral yang ada  di dalam 

bahan termasuk dalam cemaran pada produk. Prinsip 

pengujian dengan pemanasan sehingga senyawa organik 

menguap dan senyawa anorganik serta mineral dapat 

dihitung. Berbeda dengan kada abu, cemaran logam pada 

bahan dapat diketahui dengan melakukan uji kadar abu tidak 

larut asam  

Pengujian dilakukan dengan memakai  krus silikat dan 

proses pemijaran hingga arang habis pada suhu hingga 600C. 

tahap lanjutan dari perolehan kadar abu yaitu abu tidak larut 

asam di mana abu yang diperoleh ditambahkan asam sulfat 

encer. Nilai kadar abu dalam persen diperoleh dari hasil bobot 

yang tetap dibagi dengan berat bahan yang diuji  

6 Kadar Sisa 

Pelarut 

Ekstrak kental yang diperoleh dari hasil ekstraksi 

memakai  pelarut organik akan mungkin terjadi sisa 

pelarut tertinggal di dalam ekstrak sehingga parameter ini 

bertujuan untuk menentukan kadar sisa pelarut di dalam 

ekstrak.  

Penentuan kadar sisa pelarut dapat dilakukan dengan metode 

destilasi atau kromatografi gas-cair. Metode disesuaikan 

dengan yang tertera di monografi bahan. Jumlah sisa pelarut 

 

No 

Paramater 

umum Penjelesan 

harus dapat terdeteksi dalam jumlah yang sedikit sebab  

berkaitan dengan keamanan, pelarut organik yang terkandung 

dalam jumlah yang besar tidak baik dan dapat 

membahayakan kesehatan 

7 Cemaran 

Logam Berat 

Jumlah logam dalam ekstrak akan berbahaya bagi kesehatan. 

Pengujian dengan metode spektroskopi serapan atom 

memakai  larutan baku logam yang akan diuji. Nilai 

cemaran logam berat timbal ≤ 10 ppm, kadmium ≤ 0,3 ppm, 

arsen ≤5 ppm, dan raksa ≤ 0,5 ppm  

8 Cemaran 

mikrobiologi 

atau mikroba 

Mikroba patogen dan mikroba non patogen tidak boleh 

ada  dalam bahan atau ekstrak dengan nilai batas yang 

sudah ditentukan. Mikroba akan berbaya bagi kesehatan dan 

juga akan mengganggu stabilitas serta khasiat dari bahan. 

Aspek cemaran mikroba yaitu angka lempeng total dengan 

nilai ≤ 5 x 107 koloni/g yaitu  standar yang harus dipenuhi, 

bahan juga tidak mengandung bakteri clostridia, salmonella, 

shigella di mana batas untuk bakteri escherichia coli ≤ 102 

koloni/g 

9 Cemaran 

kapang, khamir, 

dan aflatoksin 

total 

Prinsip pengujian ini yaitu  cemaran jamur, kapang, dan 

khamir dilakukan dengan mengambil cuplikan ekstrak 

kemudian dilakukan inokulasi dan inkubasi pada media 

tertntu. Pada uji aflatoksin dapat dilakukan pemisahan isolat 

aflatoksin dengan metode kromatografi lapis tipis. Nilai 

angka kapang khamir ≤ 5 x 107 koloni/g, nilai aflatoksin total 

≤ 20 μg/kg di mana nilai aflatoksin B1 kurang dari sama 

dengan 5 μg/kg 

10 Residu atau sisa 

pestisida 

Tumbuhan yang akan dipakai  sebagai bahan baku dapat 

mengandung pestisida, baik ekstrak maupun simplisia tidak 

boleh ada  kandungan pestisida dengan batas tertentu 

sebab  pestisida akan membahayakan kesehatan 

Metode kromatografi, seperti kromatografi lapis tipis (KLT) 

atau kromatografi gas dapat dilakukan dalam pengujian 

residu pestisida. jika tidak ada unsur nitrogen di dalam 

ekstrak dapat dipakai  metode kromatografi gas 


 

Standardisasi ektrak kayu sanrego (Lunasia amara Blanco) memakai  

pelarut etil asetat, hasil pengujian menunjukkan karakteristik warna coklat tua, 

rasa sepat, dan bau khas, senyawa yang larut dalam etanol lebih besar dari 

senyawa yang dapat larut dalam pelarut air, dengan kadar air yang 

menunjukkan hasil dibawah 10 %, pengujian lain yang dilakukan yaitu  kadar 

abu, kadar abu tidak larut asam, berat jenis ekstrak, total cemaran bakteri dan 

kapang, serta kadar logam timbal yang mana keseluruhan hasil menunjukkan 

memenuji syarat uji aspek dalam standardisasi 

8.2.3 Parameter Khusus 

Aspek dalam parameter ini memberi  gambaran pada simplisia atau ekstrak 

yang khusus atau khas pada bahan tertentu. Parameter ini mencakup identitas, 

organoleptik, senyawa terlarut dalam pelarut air atau pelarut organik, 

kandungan kimia ekstrak melihat pola kromatogram dan atau kadar total 

golongan kandungan kimia. Parameter ini akan memberi  gambaran antara 

satu bahan dengan bahan lainnya meskipun bahan ini  berasal dari famili 

yang sama. Identitas bahan meliputi penjelasan mengenai nama bahan seperti 

nama ekstrak, nama ilmiah bahan, bagian dari tumbuhan yang dipakai , serta 

nama khas yang ada di negara kita  dari bahan ini , selain itu ada  pula 

informasi mengenai senyawa identitas pada ekstrak. Senyawa identitas yaitu  

senyawa kimia dalam tumbuhan yang dapat dipakai  dalam analisa senyawa 

yang dapat bertujuan untuk kontrol kualitas. Selain senyawa identitas, perlu 

ada nya senyawa penciri (marker) sebagai kontrol kualitas lebih lanjut. 

Senyawa dengan aktivitas tertentu, senyawa yang menjadi kandungan utama 

dalam bahan, senyawa ciri dalam bahan, atau senyawa aktual merupakan 

empat kelompok kriteria senyawa penciri. Marker berfungsi sebagai standar 

spesifik saat tanaman mengalami komersialisasi atau pemakaian  sebagai 

bahan baku dalam produk herbal 

Pengamatan secara langsung memakai  panca indera dapat disebut dengan 

pengamatan organoleptik yaitu dilihat dari bentuk, warna, bau, dan rasa yang 

dapat mendeskripsikan produk atau bahan baku. Dalam hal bentuk, dapat 

dijelaskan sebagai bentuk padat, serbuk kering, kental, atau cair dan ragam 

jenis bau dapat ditulis dengan bau khas aromatik atau tidak memiliki bau. Uji 

organoleptis juga menjadi tolak ukur kesamaan produk yang dihasilkan dari 

suatu tanaman baik dalam bentuk simplisia kering atau ekstrak. Tanaman 

mengandung senyawa metabolit sekunder di mana masing-masing senyawa 

seperti alkaloid, flavonoid dan golongan senyawa fenol, minyak atsiri, 

 

golongan terpen, antrakinon. Senyawa metabolit sekunder di dalam tanaman 

dapat dilihat dengan memakai  parameter senyawa terlarut atau kadar sari 

larut dalam pelarut tertentu seperti air, etanol, heksana, diklorometan, metanol 

dengan memakai  metode gravimetri. 

Kandungan metabolit sekunder juga dapat diketahui dengan metode pola 

kromatogram untuk melihat gambaran mengenai komponen yang ada  di 

bahan dengan memakai  Kromatografi Lapis Tipis (KLT), kromatografi 

gas, atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Selain dengan 

memakai  metode kromatografi, beberapa metode yang dapat dilakukan 

untuk mengetahui kadar total golongan metabolit sekunder yaitu 

spektrofotometri, titrimetri, volumetri, gravimetri, atau metode lain yang sesuai 

untuk masing-masing senyawa. Validasi terhadap metode pengujian dapat 

dilakukan untuk menjamin bahwa metode yang dilakukan sudah betul atau 

sesuai, parameter validasi yang dapat dilakukan seperti linearitas, selektivitas, 

spesifisitas, dan lainnya. 

 

8.3 Sertifikasi Produk Herbal 

Produk herbal yang sudah dilakukan standardisasi akan memberi  

kepercayaan pada warga  mengenai keamanan serta khasiatnya. Proses 

jaminan kualitas dapat dilihat dari berbagai aspek seperti perizinan, sertifikasi 

produk oleh lembaga yang bersangkutan seperti lembaga pengawasan obat dan 

makanan, Kementerian, atau Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan 

Kosmetika (LPPOM) MUI. Lembaga-lembaga ini  memiliki peran dalam 

justifikasi produk dari segi keamanan maupun kehalalan produk. 

Konsumen produk herbal baik lokal maupun impor sangatlah besar, perilaku 

konsumen terhadap keputusan pembelian obat herbal dapat ditentukan oleh 

beberapa faktor seperti keputusan pembelian, budaya, persepsi, dan 

kepercayaan. Konsumen mengaku pernah memakai  produk herbal 

meskipun tidak begitu banyak mengenal merek produk herbal, dengan 

mengkonsumsi obat herbal dianggap dapat memperoleh kesembuhan dan akan 

mungkin menyarankan produk ini  kepada orang lain. Selain itu, persepsi 

mengenai obat herbal lebih aman, terjamin, dan dapat berkhasiat dengan 

kandungan dalam produk yang bagus membuat warga  semakin tertarik 

dan mengkonsumsi obat herbal 

 

Pelaku usaha perlu memahami pentingnya aturan perizinan termasuk 

pemenuhan terhadap sertifikasi cara pembuatan obat tradisional yang baik. 

Pada dasarnya, proses perizinan dapat dilakukan setelah pelaku usaha 

mendapatkan nomer izin berdagang (NIB) dengan mendaftarkan usahanya 

melalui sistem daring yang saat ini memudahkan warga  untuk lebih taat 

dalam hal peraturan yang berlaku demi terjaminnya kualitas sebuah produk 

8.3.1 Sertifikat CPOTB 

Cara Pembuatan Obat Tradisional yang baik (CPOTB) yaitu  pedoman yang 

menjelaskan mengenai aspek kegiatan pembuatan obat tradisional, CPOTB 

dipakai  oleh industri obat tradisional, selain itu pedoman ini dipakai  

untuk indutri yang memproduksi ekstrak, juga termasuk Usaha Mikro Kecil 

(UMK) yang berfokus pada produk herbal. Kegiatan yang dimaksud dalam 

pembuatan obat tradisional yaitu cara memperoleh bahan, proses pengolahan 

sampai didapatkan produk jadi, pengemasan, proses pemberian label maupun 

label ulang, pengawasan mutu, produk yang lolos dalam standar tertentu 

sehingga dapat dipasarkan, tahap penyimpanan produk yang sudah jadi, dan 

proses penyebaran produk di warga  yakni sistem distribusi produk herbal. 

Aspek yang dinilai dalam CPOTB mirip dengan CPOB atau pedoman 

pembuatan obat seperti sistem mutu, personal yang terlibat, bangunan dan 

fasilitas, peralatan, produksi, penyimpanan & pengiriman OT, kontrol kualitas, 

dan lain lain. Sistem mutu berfungsi dalam pengaturan prosedur, penjaminan 

kualitas produk yang dihasilkan maupun jika akan dikembangkan lebih lanjut.  

Pelaksanaan CPOTB dan pengendalian secara menyeluruh dari proses 

pembuatan produk herbal sangat penting. Hal ini dilakukan agar produk 

memiliki kualitas yang baik serta telah sesuai dengan syarat tertentu untuk 

diedarkan. Penerapan CPOTB dibuktikan dengan diperolehnya sertifikat 

CPOTB yang menajadi bukti bahwa pelaku usaha memenuhi segala aspek di 

dalam pedoman sehingga dihasilkan jaminan kepada warga  bahwa semua 

produk dalam keadaan baik dari segitu kualitas, khasiat, termasuk proses 

produksi. 

Pemenuhan aspek CPOTB hingga diperoleh sertifikat CPOTB sangat penting 

bagi pelaku usaha di bidang produk herbal. Mudahnya perizinan dan produksi 

serta bahan baku memicu  maraknya usaha mikro dan usaha kecil produk 

herbal di negara kita , hal ini menjadi perhatian terkait dengan kesiapan dan  

 

kesanggupan UMOT dan UKOT dalam pemenuhan CPOTB. Oleh sebab  itu 

ada  cara perolehan sertifikat pemenuhan aspek CPOTB secara bertahap. 

Pelaku usaha kecil maupun mikro dalam bidang obat tradisional dapat 

mendaftarkan usahanya untuk dapat mengajukan proses perijinan ini  

melalui website e-sertifikasi pom kemudian balai besar POM akan melakukan 

verifikasi dokumen serta penerapan aspek CPOTB seperti sanitasi higiene, 

penyimpanan, pengawasan dan sistem manajemen mutu, dokumentasi, dan 

aspek mengenai personalia dan bangunan fasilitas dengan melakukan audit 

secara langsung dan hasil inspeksi akan diterbitkan. 

Hasil inspeksi dapat berupa perbaikan yang perlu dipenuhi oleh pelaku usaha 

dalam hal ini apoteker atau pelaku usaha perlu melakukan tindakan 

pencegahan dan tindakan korektif (corrective action and preventive action, 

CAPA). BBPOM atau BPOM akan menyetujui laporan inspeksi yang 

diberikan pelaku usaha setelah proses penyelesaian CAPA dilakukan. 

Sertifikat CPOTB tahap I/II/III akan diterbitkan setelah evaluasi rekomendasi 

pemenuhan CPOTB dan berkas sudah dinyatakan lengkap. 

8.3.2 Sertifikasi Halal Produk Herbal 

Di negara kita , keragaman penduduk dalam beragama sangat terlihat jelas di 

mana mayoritas warga  beragama islam. Dalam agama islam ada  

kewajiban untuk membuat serta mengkonsumsi bahan-bahan dalam bentuk 

makanan yang halal, hal ini ada  dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 

168. Halal merupakan aspek yang sesuai atau dapat dikatakan sesuai syari’at, 

produk halal menjadi perhatian sebab  akan pasti aman untuk dikonsumsi 

warga . Kehalalan suatu produk menjadi suatu komponen yang penting 

dalam produk herbal sebab  akan meningkatkan nilai jual dari produk ini . 

Produk herbal secara keseluruhan dibuat dengan memakai  bahan yang 

tidak haram namun tidak ada bukti bahwa produk ini  tidak memiliki 

komponen atau unsur haram yang terlibat di dalamnya. Pemahaman mengenai 

regulasi tentang jaminan produk halal, yaitu kepastian hukum bahwa produk 

ini  yaitu  halal di mana bukti bahwa produk halal yaitu  sertifikat halal 

oleh LPPOM 

Pengelolaan sertifikasi halal dilakukan oleh pemerintah melalui badan 

penyelenggara jaminan produk halal (BPJPH) dibawah kementerian agama. 

LPPOM MUI yaitu  salah satu lembaga dengan tugas memeriksa produk 

halal melalui audit lapangan oleh auditor halal. Kajian dari pemeriksaan akan 

dikoordinasikan BPJPH dengan MUI melalui sidang fatwa halal, keputusan 

ini  akan menjadi landasan BPJPH untuk menerbitkan sertifikat halal bagi 

perusahaan atau pelaku usaha yang mendaftarkan produknya. Aspek kehalalan 

tidak hanya berfokus pada produk namun seluruh aspek yang terlibat seperti 

industri obat herbal (IOT) di mana yang dapat dikatakan menjalankan aspek 

kehalalan yaitu  industri yang pada proses produksi hingga supply chain 

produk memerhatikan ketentuan jaminan produk herbal sesuai syariat Islam 

Pengelompokan jenis produk jamu dan obat tradisional (herbal) yaitu  jamu 

seduh, jamu yang dibuat dengan menggodog bahan tumbuhan, jamu yang 

dibuat menjadi obat, jamu untuk dipakai  di luar tubuh, produk herbal, jamu 

dalam bentuk minuman, maupun sediaan obat yang telah mengalami uji klinis 

yaitu fitofarmaka. Produk produk ini kemudian akan dilakukan evaluasi dari 

segi kehalalan produk baik dalam hal dengan titik kritis tertentu di mana 

mungkin ada  komponen yang melibatkan unsur yang bersifat haram di 

dalamnya. Produk herbal yang telah mengantongi sertifikat CPOTB dan 

sertifikat halal dapat menjadi kelebihan di mana konsumen dalam hal ini 

warga  muslim akan cenderung memilih produk ini . 

Pangsa pasar produk herbal akan semakin meningkat seiring dengan 

perubahan pola pikir dan pola konsumsi warga  yang semakin memilih 

produk alami yang halal dan memiliki efek samping yang tidak sama dengan 

produk sintesis. Meskipun begitu, produk herbal tidak boleh secara langsung 

mengatakan bahwa produknya dapat dipakai  sebagai pengganti obat 

sintesis, di mana produk herbal dapat dipakai  sebagai suplemen yaitu 

pendamping dari pengobatan yang berfungsi sebagai peningkat imunitas 

 

 

Toksikologi Tumbuhan Obat 

  

Tumbuhan menyediakan oksigen yang dibutuhkan untuk pemeliharaan 

kehidupan manusia. Mereka penting bagi kehidupan manusia dalam hal 

makanan dan kesehatan. Ribuan tahun yang lalu, manusia telah 

mengeksplorasi kekuatan terapeutik dari tanaman dan lebih memilih untuk 

mendapatkan manfaat dari tanaman ini  untuk hidup sehat. Penelitian 

yang dilakukan di seluruh dunia selama beberapa tahun terakhir menyatakan 

bahwa hampir 72.000 (setara dengan sekitar 17%) dari 422.000 tanaman 

berbunga yang tersebar di seluruh dunia memiliki nilai terapeutik. Sedangkan 

data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan jumlah tanaman yang 

dipakai  untuk tujuan terapeutik yaitu  sekitar 20.000. Sejak awal 

pemanfaatan tumbuhan untuk kesehatan manusia, karakteristik bioaktivitas 

tumbuhan telah dipelajari di laboratorium (Özaslan and Oguzkan,