2018).
Tumbuhan ini mensintesis fitokimia yang berfungsi sebagai sistem pertahanan
alami dan juga dipakai dalam pengobatan, pewarna, pewangi, farmasi,
bahan kimia pertanian, dan penyedap rasa. Mereka juga memiliki sifat
antimikroba yang berkorelasi dengan kemampuan mereka untuk memproduksi
beberapa metabolit sekunder dengan sifat antimikroba seperti fenol, asam
fenolik, flavonoid, alkanoid, tanin, kuinon, kumarin, saponin, terpenoid,
triterpenoid, glikosida dan asam organik. Hammad et al. (2018) menyatakan
124
selain potensi terapeutiknya, beberapa tanaman obat memiliki toksisitas
yang kuat pada manusia, terutama pada anak-anak dan orang tua. Meskipun
umumnya telah dipercayai bahwa produk alami yang berasal dari tumbuhan
sifatnya aman, dan hanya ada sedikit laporan mengenai toksisitasnya.
Meningkatnya pemakaian tanaman secara global untuk tujuan pangan dan
pengobatan, terutama di negara-negara berkembang, menimbulkan kebutuhan
mendesak untuk melakukan studi toksikologi terhadap tanaman ini . Hasil
studi toksikologi yang ekstensif cenderung memberi informasi keselamatan
pada tanaman beracun dan membantu mencegah masalah kesehatan
warga sekaligus memberi panduan keselamatan kepada warga
9.2 Macam Uji Toksisitas
Setiap obat yang akan di produksi dan dipasarkan harus memenuhi syarat
keamanan. Dan untuk memenuhi syarat aman ini harus melalui rangkaian
uji toksikologi. Toksisitas dapat didefinisikan sebagai sejauh mana suatu zat
(toksin atau racun) dapat membahayakan manusia atau hewan sehingga uji toksisitas merupakan uji yang dilakukan pada hewan uji
untuk mendeteksi efek toksik pada sistem biologi dan untuk memperoleh data
dosis respon yang khas dari sediaan uji. BPOM (2022) menyatakan bahwa
untuk melakukan uji toksisitas, pelaku usaha atau lembaga penelitian/riset
harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari komisi etik, dan untuk obat
Tradisional, Obat Kuasi, dan Suplemen Kesehatan harus memperoleh
persetujuan pelaksanaan uji praklinik dari BPOM.
Saat ini ada 3 (tiga) model utama pengujian toksisitas yaitu: in vitro, ini
dilakukan diluar tubuh makhluk hidup, misalnya pada sel kultur ; in vivo,
dilakukan langsung pada makhluk hidup misalnya tikus, mencit, kelinci ; in
silico, ini merupakan model pengujian yang memakai simulasi komputer
9.2.1 Uji Toksisitas in vitro
Tes in vitro dilakukan pada lingkungan terkendali seperti cawan petri atau
tabung reaksi, di luar organisme hidup memakai bagian tertentu dari
organisme misalnya, organ, jaringan, atau sel yang dikultur untuk
mempelajarinya di bawah lingkungan yang terkendali, sehingga bias dari
lingkungan internal atau eksternal sekitarnya sangat berkurang. Keuntungan
model toksisitas in vitro yaitu pengurangan waktu dan biaya serta
keterwakilan (sebab model ini dikembangkan memakai sel atau
jaringan organisme target) . Informasi yang
diperoleh dari hasil uji toksisitas in vitro yaitu mengetahui besarnya
konsentrasi bahan uji yang dapat membunuh 50% (lethal concentration 50% =
LC50) dari bahan biologi yang di kultur/di benihkan
Keuntungan dari pengujian in vitro ini yaitu hemat biaya, hemat waktu, dan
tidak memerlukan pemakaian hewan. Hal ini memungkinkan pengembangan
pengobatan baru yang lebih cepat, sebab banyak obat dapat dipelajari pada
satu waktu, dan hanya obat yang tampaknya berkhasiat yang dapat dilanjutkan
ke tahap selanjutnya. Itu sebabnya pendekatan ini sering kali menjadi langkah
pertama dalam proses penemuan obat, meskipun hasil yang diperoleh dengan
pendekatan ini memerlukan konfirmasi lebih lanjut dengan eksperimen in vivo
9.2.2 Uji Toksisitas in vivo
Model toksisitas in vivo yaitu satu-satunya model yang memakai
organisme secara keseluruhan, termasuk seluruh reaksi fisiologis dan interaksi
biokimia, dan dengan demikian merupakan satu-satunya model yang
memberi informasi tentang distribusi obat dalam organisme dan
kemungkinan interaksi obat dengan non-target. organ. Dengan demikian,
model in vivo bisa dibilang memberi model yang paling representatif untuk
menguji toksisitas obat. Namun demikian, ada beberapa keterbatasan pada
model toksisitas in vivo di antaranya tes ini biasanya membutuhkan jumlah
hewan yang relatif banyak, dan tentunya sangat mahal serta memakan waktu
dan tenaga, selain itu mengingat perbedaan biologis yang signifikan antara
organisme manusia dan hewan lainnya
Uji toksisitas secara in vivo untuk mempelajari efek kumulatif dosis yang dapat
menimbulkan efek toksik pada manusia, efek karsinogenik, teratogenik,
mutagenik dan efek lain yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi
manusia. BPOM RI telah mengeluarkan Pedoman Uji Toksisitas Praklinik
secara In Vivo, untuk menjamin keamanan pemaparan suatu zat pada manusia.
Uji toksisitas secara in vivo ini terdiri dari banyak jenis, meliputi: uji toksisitas
akut oral; uji toksisitas subkronis oral; uji toksisitas kronis oral; uji
teratogenisitas; uji sensitisasi kulit; uji iritasi mata;. uji iritasi/korosi akut
dermal;. uji iritasi mukosa vagina; uji toksisitas akut dermal; uji toksisitas
subkronis dermal; dan. uji karsinogenisitas
1. Uji Toksisitas Akut
Uji toksisitas akut oral yaitu suatu pengujian untuk mendeteksi efek
toksik yang muncul dalam waktu singkat setelah pemberian sediaan
uji yang diberikan secara oral dalam dosis tunggal, atau dosis
berulang yang diberikan dalam waktu 24 jam. Tujuan dilakukan uji
toksisitas akut yaitu disamping untuk menentukan bahaya
pemaparan suatu bahan secara akut, juga untuk menentukan batas
keamanan (margin of safety) suatu bahan dengan menentukan dosis
yang memicu kematian 50% pada hewan coba (lethal dose 50%
= LD50). Rute pemberian dalam pelaksanaan uji toksisitas akut pada
hewan coba dilakukan dengan 2 cara yakni (1) Cara pemberian yang
di sarankan untuk dipakai di klinik, (2) Cara pemberian intravena,
jika memungkinkan, hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan bila
terjadi pemaparan bahan uji secara sistemik. Hewan coba yang
dipakai sedikitnya dua spesies mamalia, termasuk spesies nonroden
jika memungkinkan, serta dibedakan berdasar jenis kelamin.
Untuk bahan uji yang memiliki daya toksisitas rendah dimulai
dengan dosis maksimum yang tidak menimbulkan efek toksik.
Penentuan kategori toksisitas akut untuk obat tradisional dan bahan
lainnya (Generally Recognized as Safe/GRAS) seperti bahan pangan,
dipakai penggolongan klasifikasi seperti pada tabel 9.1.
Tabel 9.1: Kategori Toksisitas Akut (Hodge dan Sterner, 1995)
Tingkat
Toksisitas LD50 oral (pada tikus) Klasifikasi
1 ≤ 5 mg/kg Super toksik
2 5 – 50 mg/kg Sangat Toksik
3 > 50 – 500 mg/kg Toksik
4 > 500 – 2000 mg/kg Toksik sedang
5 > 2000 – 5000 mg/kg Toksik ringan
6 > 5000 mg/kg Tidak Toksik
Pengamatan terhadap hewan coba dilakukan dalam jangka waktu 24
jam setelah pemberian bahan uji terhadap timbulnya gejala keracunan
seperti kejang, diare, vomit, sesak nafas dan lainnya, jumlah
kematian, mula kerja obat, lama kerja obat serta perubahan fungsi
organ vital tubuh hewan coba. Terhadap hewan coba yang masih
hidup dilakukan pengamatan sampai maksimal 14 hari. Dalam waktu
14 hari semua hewan coba yang masih hidup dikorbankan, untuk
dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis terhadap
organ vital seperti hepar, ginjal, paru, limpa, dan organ system
pencernaan serta fungsi hemopoetik. Hal ini dimaksudkan untuk
mengungkapkan kerusakan pada struktur organ vital dan menjelaskan
kerusakan yang diakibatkannya. Data yang di peroleh dilakukan
analisis memakai statistik non parametrik untuk mengetahui
tingkat signifikansi kerusakan organ yang timbul.
2. Uji Toksisitas Subkronis/Subakut
Uji ini dilakukan dengan memberi zat kimia yang sedang diuji
ini secara berulang-ulang terhadap hewan uji selama 14-90 hari,
namun WHO menyarankan sampai 180 hari tergantung dari lama
waktu pemakaian obat yang akan dipakai di klinik. Uji ini
ditujukan untuk mengungkapkan efek toksik senyawa uji setelah
diberikan secara berulang, serta untuk melihatkan apakah toksik itu
berkaitan dengan takaran konsentrasi. Pada akhir dari periode
pengujian toksisitas subkronis semua hewan coba dikorbankan dan
dilakukan otopsi, selanjutnya dilakukan pengamatan secara
makroskopis dan mikroskopis terhadap organ vital termasuk organ
metabolisme, organ ekskresi, pencernaan dan sistem kardiovaskuler
serta sistem hemopoitik.
3. Uji Toksisitas Kronis
Uji ini dilakukan dengan memberi zat kimia secara berulang-
ulang pada hewan uji selama lebih dari 3 bulan atau sebagian besar
dari hidupnya. Meskipun pada penelitian dipakai waktu lebih
pendek, namun tetap lebih lambat dibandingkan uji toksisitas Akut
maupun uji toksisitas sub akut. Tujuan dari uji toksisitas kronis
yaitu untuk mengetahui profil toksisitas suatu bahan uji secara
berulang dalam jangka panjang. sebab waktu yang diperlukan untuk
pelaksanaan uji toksisitas kronis sangat panjang maka dalam
pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan uji klinik. Persyaratan
yang berlaku pada pelaksanaan uji toksisitas kronis seperti hewan
coba, dosis bahan uji serta rute pemberian sama dengan persyaratan
seperti pada pelaksanaan uji toksisitas subkronis.
4. Uji Teratogenisitas
Pengujian yang dilakukan untuk memproleh informasi adanya
abnormalitas fetus yang terjadi selama pemberian sediaan uji selama
masa pembentukan organ fetus. Prinsip kerja uji ini umumnya
diberikan pada hewan yang hamil minimal dari implantasi hingga
satu hari sebelum hari dikorbankan yang harus sedekat mungkin
dengan waktu normal persalinan.
5. Uji sensitisasi kulit
Pengujian yang dilakukan untuk mengidentifikasi suatu zat
berpotensi memicu sensitisasi pada kulit.
6. Uji Iritasi Mata
Pengujian yang dilakukan untuk memperoleh adanya informasi
kemungkinan bahaya yang timbul pada saat sediaan uji terpapar pada
mata atau pada membrane mukosa mata.
7. Uji iritasi/korosi Akut Dermal
Pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi efek toksik setelah
paparan sediaan uji dalam dosis tunggal pada kulit seta untuk menilai
dan mengevaluasi karakteristik suatu zat apabila terpapar pada kulit.
Penilaian berdasar ada tidaknya pembentukan eritema dan
oedema.
8. Uji Iritasi Mukosa Vagina
Uji yang dipakai untuk menguji sediaan uji yang kontak langsung
dengan jaringan vagina di mana sediaan uji di paparkan kedalam
lapisan mukosa vagina hewan uji selama tidak kurang dari 5 kali
paparan dalam 24 jam, kemudian diamati ada tidaknya eritema,
eksudat ataupun oedema.
Bab 9 Toksikologi Tumbuhan Obat 129
9. Uji Toksisitas Akut Dermal
Pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul dalam waktu
singkat setelah paparan suatu sediaan uji dalam sekali pemberian
melali rute dermal.
10. Uji Toksisitas Subkronis Dermal
Pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul setelah
pemberian dosis berulang yag diberikan melali rute dermal selama
sebagian umur hewan, namun tidak lebih dari 10% seluruh umur
hewan. Pengujian ini dapat dilakukan salaam 28 hari atau 90 hari.
11. Uji Karsinogenisitas.
Pengujian untuk mendeteksi dan memperoleh informasi sifat
karsinogenik sediaan uji setelah pemberian dengan dosis berulang
yang diberikan pada hewan uji selama sebagian besar rentang hidup
hewan. (Meles, 2010) menjelaskan uji Karsinogenik dilaksanakan
dalam jangka lama yakni pada tikus dalam waktu 24 bulan sedangkan
pada mencit 18 bulan. berdasar Japenese Guidelines for Toxicity
Studies lama uji pada tikus 130 minggu dan pada mencit 104 minggu.
Parameter yang diamati yaitu terbentuknya neoplasma dan
peningkatan kasus neoplasma sejalan dengan peningkatan dosis
bahan uji.
Selain pengujian-pengujian ini diatas, (Meles, 2010) menambahkan uji
mutagenik meliputi mutasi gen dan mutasi kromosomal. Pada uji mutagenik
ini dilakukan uji secara in vitro yakni memakai mutasi gen pada bakteri
dan uji secara in vivo menentukan kerusakan gen pada hewan mamalia melalui
sumsum tulang untuk menentukan tingkat kerusakan kromosom, sedangkan
untuk mendeteksi kerusakan DNA memakai sel hati mencit atau tikus
9.2.3 Uji Toksisitas in silico
In silico artinya: “dilakukan di komputer atau melalui simulasi komputer”
Model toksisitas ini terutama dipakai untuk memprediksi bagaimana obat
berinteraksi dengan tubuh (Summerfield and Dong, 2013). (MartÃnez, 2022)
menyebutkan metode ini merupakan metode penelitian terbaru dari ketiga
metode penelitian yang ada (yang pertama dilakukan pada tahun 1989).
Meskipun penelitian in silico merupakan cara penelitian yang relatif baru dan
130
bukan merupakan replikasi organisme hidup, penelitian ini telah memberi
kontribusi yang signifikan terhadap penelitian biomedis dan penemuan obat.
Misalnya, sebuah penelitian Kinnings et al., (2009) memakai emulasi
perangkat lunak untuk memprediksi bagaimana obat-obatan tertentu yang
sudah ada di pasaran dapat mengobati jenis tuberkulosis yang resistan terhadap
obat.
Di antara keuntungan metode in silico yaitu lebih murah dan durasi
pengujian yang singkat sehingga lebih cepat untuk mendapatkan hasil.
Sebalikya sebab simulasi model toksisitas in silico dilakukan oleh komputer
di mana suatu algoritma dibangun untuk mengubah masukan tertentu menjadi
keluaran dan disisi lain masih terbatasnya pengetahuan tentang proses
biokimia dan fisiologis dalam tubuh manusia sehingga tidak dapat
mengembangkan algoritma yang efektif untuk memprediksi toksisitas obat.
Dalam kebanyakan kasus, data yang ada tidak cukup untuk melakukan
simulasi komputer dan mendapatkan keluaran yang representatif dengan
model toksisitas in silico. Dengan demikian, hasilnya harus divalidasi lebih
lanjut melalui pemanfaatan metodologi eksperimental in vitro dan in vivo )
(MartÃnez, 2022).
9.3 Toksisitas Beberapa Tumbuhan
Obat
Telah banyak riset terkait dengan toksisitas berbagai tumbuhan obat. Berikut
dipaparkan hasil riset toksisitas beberapa tumbuhan obat yang telah lama
dikenal dan sering dipakai khususnya oleh warga di negara kita .
1. Kunyit (Curcuma longa)
Kunyit telah lama dipakai sebagai tanaman obat yang dapat
dipakai untuk mengobati berbagai penyakit. Menurut Singh et al.,
(2002) dan Araujo dan Leon (2001) kunyit berkhasiat sebagai anti-
peradangan, obat luka, antioksidan, anti-protozoa, antibakteri,
antiviral, antifungi dan antikanker. Kajian Histopatologis Lambung,
Hati dan Ginjal setelah uji toksisitas akut ekstrak rimpang kunyit
pada mencit menujukkan hasil uji intoksikasi akut fraksi etil asetat
Bab 9 Toksikologi Tumbuhan Obat 131
dan hexan pada mencit diperoleh nilai LD 50 fraksi hexan yaitu
19,25 g/kg bb dan LD 50 fraksi etil asetat yaitu 27,98 g/kg bb.
Fraksi hexan dan fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kunyit
termasuk dalam katagori tidak toksik. Pemberian fraksi etil asetat dan
hexan rimpang kunyit pada uji intoksikasi akut meningkatkan jumlah
sel parietal pada lambung serta degenerasi dan nekrosis pada sel dan
sel tubulus ginjal (Winarsih et al., 2012).
2. Jahe (Zingiber officinale)
Kandungan dalam jahe banyak sekali dan berbeda-beda tergantung
tempat asalnya dan rimpangnya segar atau kering. Jahe yaitu zat
anti-oksidan yang kuat dan dapat mengurangi atau mencegah
pembentukan radikal bebas. Ini dianggap sebagai obat herbal yang
aman dengan efek samping/efek samping yang sedikit dan tidak
signifikan (Ali et al., 2008). Hasil penelitian (Sihotang and Umniyati,
2018) minyak atsiri jahe bersifat toksisk terhadap larva nyamuk
Aedes aegypti.
3. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.)
Rimpang temulawak merupakan rimpang yang berasal dari suku
Zingiberaceae. Rimpang temulawak umum dipakai sebagai
pengobatan tradisional di negara kita sebagai anti inflamasi. Seperti
pada umumnya kelompok Zingiberaceae, kandungan kurkumin atau
kurkuminoid merupakan bahan aktif utama (Cahyono et al., 2011).
Namun dalam temulawak kandungan xantorizol merupakan
komponen paling utama, selain kurkumin ini (Purwakusumah et
al., 2016). Penelitian (Endang et al., 2022) menunjukkan pemberian
ekstrak etanol 70% temulawak hingga dosis 5.625 mg/kg BB selama
28 hari pada tikus jantan dan betina memberi efek penurunan
terhadap nilai hemoglobin, hematokrit, dan leukosit, namun nilainya
masih dalam batas normal. Tidak ada perbedaan nyata antara
tikusjantan dan betina pada hasil pengukuran nilai hemoglobin,
hematokrit, dan leukosit.
132
4. Daun Sirih Merah (Piper ornatum)
Tanaman sirih merah merupakan salah satu tanaman obat yang
daunnya telah lama dikenal memiliki khasiat obat untuk
meyembuhkan berbagai penyakit. Beberapa penelitian tentang daun
sirih merah sebagai obat telah dilakukan, yaitu sebagai
imunomodulator, memiliki sifat sebagai anti inflamasi, anti fungi,
anti diare, analgetik dan masih banyak lagi. Penelitian (Kuncarli and
Djunarko, 2014) menyebutkan tidak didapatkan adanya spektrum
toksik infusa daun sirih merah selama 28 hari terhadap perubahan
kadar SGOT darah di mana menunjukkan hasil perbedaan tidak
bermakna serta perubahan pada gambaran histopatologi jantung yang
tidak teramati perubahan yang spesifik. Tidak ada hubungan
antara dosis infusa daun sirih merah dengan spektrum efek toksik
pada perubahan kadar SGOT darah dan histopatologi jantung.
5. Lidah Buaya (Aloe vera)
Guo and Mei (2016), Lidah buaya mengandung bahan aktif secara
farmakologis yang terkait dengan beragam aktivitas biologis.
Meskipun lidah buaya telah lama dianggap sebagai bahan makanan
fungsional yang aman dan dapat dipakai secara oral dan topikal,
dalam banyak kesempatan, lidah buaya belum seaman yang
diperkirakan secara umum. Baru-baru ini, laporan efek buruk pada
manusia dan toksisitas, genotoksisitas, dan karsinogenisitas baik
dalam penelitian in vitro maupun in vivo menimbulkan pertanyaan
apakah komponen dalam Aloe vera mungkin memiliki aktivitas
pemicu tumor pada manusia. sebab paparannya yang meluas pada
manusia dan kekhawatiran bahwa beberapa komponen dapat
memicu kanker, pada tahun 1998 National Cancer Institute
menominasikan Aloe vera sebagai kandidat prioritas tinggi untuk
studi karsinogenisitas di bawah National Toxicology Program (NTP).
Pada tahun 2002, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA)
mengeluarkan aturan akhir yang menyatakan bahwa pemakaian
Aloe sebagai obat pencahar tanpa resep secara umum tidak lagi
dianggap aman dan efektif. Baru-baru ini, ekstrak daun lidah buaya
Bab 9 Toksikologi Tumbuhan Obat 133
utuh telah diklasifikasikan oleh Badan Internasional untuk Penelitian
Kanker sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia, bersama
dengan produk alami lainnya seperti ekstrak Ginkgo biloba dan
ekstrak kava.
6. Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth)
Kumis kucing yaitu tanaman yang biasa dipakai sebagai obat.
Penelitian telah menunjukkan bahwa kumis kucing dapat dipakai
sebagai pengobatan berbagai penyakit, salah satunya Hipertensi. Ini
dapat dipakai sebagai antihipertensi sebab mengandung oleh
Methylripariochromene yang memiliki aktivitas terhadap tekanan
darah tinggi seperti aktivitas vasodilatasi, diuretik, dan penurunan
denyut jantung. Penelitian genotoksik pada ekstrak kumis kucing
telah diteliti memakai Salmonella atau metode mutasi mikrosom
dan uji mikronukleus sumsum tulang tikus. Pada metode mikrosom
atau salmonella menunjukkan ekstrak kumis kucing tidak mutagenik,
begitu juga pada mikronukleus sumsum tulang tikus, tidak ada
tanda-tanda toksisitas pada pemakaian Orthosiphon Stamineus.
Lebih jauh lagi, tidak ada tanda-tanda klinis pada toksisitas dan
tidak ada perubahan aktivitas pada sitokrom P4501A dan 2B
pada tikus yang diberikan ekstrak kumis kucing dengan dosis 4000
mg/kgBB. Hasil ini menyimpulkan bahwa toksisitas rendah dan
pemakaian obat tradisional tidak menunjukkan genotoksik (Emelda,
2017).
7. Daun Sukun (A. communis)
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ada senyawa metabolit
sekunder yang diduga terkandung dalam daun sukun antara lain
alkaloid, tanin, saponin dan flavonoid (Maharani et al, 2014). Hal ini
yang mendasari pemanfaatannya sebagai obat alternative pengobatan
tradisional. Tanaman Sukun dapat dipakai sebagai beberapa
kondisi penyakit seperti diabetes, hepatitis, gatal-gatal, dan beberapa
pernyakit lainnya. Hasil penelitian (Endang et al., 2022) uji toksisitas
akut memakai dosis 2000 mg/kgBB menunjukkan seluruh
hewan tidak ada yang mati maupun mengalami tanda-tanda
134
toksisitas, dan tidak terjadi perubahan yang bermakna pada bobot
mencit pada dosis 2000 mg/kgBB pada hasil uji statistik (p≥0,05).
berdasar software AOT 425StatPgm menunjukan LD50 sebesar
2000 mg/KgBB.
8. Benalu Batu (Begonia sp.)
Benalu batu yaitu salah satu tanaman yang dipakai secara
empiris oleh warga untuk mengobati tumor dan kanker.
Penelitian (Anam et al., 2022) benalu diperoleh 10 isolat jamur
endofit yang terdiri dari bagian daun diperoleh (enam isolat), bagian
batang (tiga isolat), dan bagian akar (satu isolat). Penapisan awal uji
toksisitas 10 isolat terhadap A. salina diperoleh isolat dari beberapa
bagian daun memberi persen kematian 100%. Penelitian lainnya
juga menunjukkan ekstrak metanol Begonia sp. mengandung
senyawa aktif yang toksik terhadap larva udang (A. salina) dengan
LC50 sebesar 369 ppm (Nurlansi, Nasruddin and Sari, 2015).
Bab 10
Penemuan Obat Baru dari
Alam
10.1 Pendahuluan
Tumbuhan merupakan sumber bahan alam paling potensial untuk dipakai
sebagai bahan obat dan dapat dikembangkan menjadi obat baru secara
berkelanjutan. Selama bertahun-tahun, obat-obatan tradisional dibuat dengan
memanfaatkan bahan alam untuk mengatasi berbagai penyakit. Dan saat ini,
sebagian besar obat-obatan farmasi dibuat memakai bahan alam ini .
Bahan alam terdiri atas senyawa-senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas
biologis dalam menghambat aktivitas agen penyebab penyakit. Saat ini,
banyak sekali metabolit sekunder dengan struktur dan aktivitas farmakologis
yang beragam yang telah berhasil diidentifikasi dari tumbuhan. Pengetahuan
yang berdasar dari sistem pengobatan tradisional menjadi salah satu dasar
eksplorasi obat yang berkelanjutan untuk pembuatan produk obat-obatan
secara industri farmasi.
10.2 Bahan Obat Berbasis Tumbuhan
Pada dasarnya, tumbuhan dapat diolah dengan banyak cara untuk
mengekstraksi bahan potensial obatnya. Cara paling mudah yang paling
banyak dipakai yaitu dalam bentuk teh herbal. Ekstrak tumbuhan dalam
bentuk ekstrak kasar maupun ekstrak terstandarisasi dipakai dalam sediaan
farmasi yang beragam, seperti bubuk, pil, tablet, dan tingtur. Tumbuhan
memproduksi molekul sinyal yang bervariasi seperti auksin, asam absisat,
sitokinin, giberelin, asam salisilat, dan etilen. Selain itu, tumbuhan juga
memproduksi metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, dan
fenilpropanoid yang memiliki peran penting dalam perkembangan dan
pertahanan tumbuhan. Molekul-molekul ini berperan penting dalam
meregulasi siklus hidup tumbuhan, dan diproduksi dalam keadaan stres untuk
melindungi tumbuhan dari patogen, suhu ekstrim, dan juga cahaya ultraviolet
Pengembangan bahan obat dari sumber tumbuhan juga dapat dilakukan
dengan bantuan bioteknologi, seperti pada obat kanker, diabetes, HIV,
penyakit liver, dan alzheimer. Bahan obat hasil bioteknologi ini dapat
diproduksi dengan lebih efisien, aman, dan efektif dibandingkan dengan
pengembangan bahan obat dengan kultur sel maupun fermentasi mikroba.
Phytopharmaceutical drug (PPD) merupakan kategori baru dari obat herbal
yang dibuat berdasar petunjuk dari AYUSH (Department of Ayurveda,
Unani, Siddha, dan Homeopathy) dan CDSCO (Central Drugs Standards
Control Organization) di India. Obat-obatan ini dibuat dari tumbuhan
herbal yang memiliki sejarah pernah dipakai sebagai obat tradisional. PPD
didefinisikan sebagai fraksi murni terstandarisasi dari ekstrak tumbuhan yang
mengandung minimal empat jenis senyawa bioaktif dan dapat dipakai
untuk mengobati atau mencegah penyakit. Biasanya, proses produksi obat
herbal tidak dimonitor dengan baik, serta tidak ada regulasi yang cukup. PPD
merupakan ekstrak yang diperkaya dengan fitomolekul seperti flavonoid,
karotenoid, polifenol, likopen, antosianin, dan fitoestrogen. Bahan alam
ini dapat dipakai untuk mengatasi penyakit umum seperti alergi,
inflamasi, diabetes, dan lain-lain
Produk bahan alam menjadi produk yang menarik bagi industri farmasi,
dengan terkonsentrasi pada obat-obatan yang berasal dari senyawa tumbuhan
dan dapat dipakai untuk alternatif terapi , Meskipun obat-obatan sintetis dapat menghilangkan rasa nyeri lebih
cepat, namun obat-obatan ini membutuhkan biaya produksi yang lebih
besar dan mungkin belum bisa diakses oleh seluruh kalangan. Di sisi lain, obat
tradisional memiliki efek samping yang lebih minim, dan dapat dengan mudah
dimetabolisme dan diserap oleh tubuh. Bahan alam yang telah banyak
dikembangkan untuk pengobatan disajikan pada Tabel 10.1.
10.3 Pendekatan dalam Pengembangan
Bahan Obat Berbasis bahan Alam
Berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk memperoleh bahan obat yang
berasal dari obat-obatan herbal dan tradisional.
10.3.1 Etnofarmakologi
Pemilihan sampel tumbuhan merupakan tahapan yang paling penting dalam
pengembangan bahan obat berbasis bahan alam. Umumnya, tumbuhan dengan
riwayat pernah dipakai untuk pengobatan tradisional oleh sekelompok
warga etnis dipilih menjadi subjek pengembangan obat berbasis bahan
alam, hal ini disebut dengan etnobotani atau etnofarmakologi (Süntar, 2019).
Berbagai metode ekstraksi dan formulasi herbal dipakai oleh kelompok
warga etnis. Formulasi herbal termasuk juga informasi mengenai cara
konsumsi sediaan herbal serta dosis herbal yang biasa dipakai . Pemilihan
tumbuhan herbal untuk dikembangkan sebagai bahan obat perlu pengkajian
lebih mendalam, sebab adanya potensi perbedaan konsep kesehatan dan
pemahaman antara kelompok etnis tradisional dengan konsep kesehatan
modern. Gejala penyakit perlu dikaji lebih detail sebelum memakai
formulasi herbal untuk pengobatan.
Bahan bioaktif yang memiliki aktivitas farmakologi diisolasi dari tumbuhan
selama proses pengembangan obat berbasis bahan alam. Keseluruhan ekstrak
kasar umumnya memiliki aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan
senyawa tunggal bahan bioaktif. Ekstrak tumbuhan memiliki struktur kimia
yang beragam dan memengaruhi kualitas aktivitas farmakologi sediaan herbal.
Ekstrak tumbuhan kemudian perlu dilakukan fraksinasi dan isolasi senyawa
bioaktifnya. Setelah dilakukan isolasi senyawa bioaktif, ekstrak dapat dibuat
menjadi ekstrak bioaktif terstandarisasi, yaitu secara pasti mengandung
beberapa senyawa aktif untuk meningkatkan aktivitas farmakologinya.
Bab 10 Penemuan Obat Baru dari Alam 139
Sebagai contoh, fraksi saponin terstandarisasi dari Panax ginseng memiliki
aktivitas farmakologi yang lebih baik dibandingkan senyawa aslinya. Adapun
skema proses penemuan bahan obat dari tumbuhan dijelaskan pada Gambar
10.1.
Gambar 10.1: Beberapa Skema Pengembangan Obat Berbasis Bahan Alam
(A) Prosedur yang Terlibat dalam Etnofarmakologi (EP) Dan Reverse
Farmakologi (RP) untuk Pengembangan Obat Berbahan Alam; (B) Analisis
Fitokimia pada Ekstrak Untuk Identifikasi Molekul Utama dan Potensi
pemakaian nya untuk Obat; (C) Integrasi Pendekatan Polifarmakologi (PP)
dan Jaringan Farmakologi (NP) untuk Penemuan Obat Modern (Nasim,
Sandeep and Mohanty, 2022).
10.3.2 Reverse Farmakologi
Pengembangan obat konvensional umumnya membutuhkan tahapan yang
panjang sehingga cukup tidak efisien dan mahal. Reverse farmakologi
merupakan tahapan penemuan obat dengan melakukan eksperimen untuk
memvalidasi khasiat bahan obat herbal yang banyak dipakai oleh
warga tradisional. Tahap ini kemudian disertai dengan penentuan dosis
obat, tingkat toleransi obat, hingga uji in vitro dan in vivo untuk menguji
efektivitas formulasi obat. Tahapan terakhir yaitu eksperimen klinik pada
beberapa level organisasi biologi. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui
tingkat efikasi dan keamanan bahan obat sebelum dipakai secara luas (
10.3.3 Bioteknologi Tumbuhan
Bioteknologi tumbuhan telah banyak dipakai sebagai upaya alternatif untuk
memproduksi biomolekul rekombinan. Sistem transgenik dikembangkan
untuk menghasilkan molekul rekombinan seperti enzim, hormon, antibodi,
vaksin, dan peningkatan ekspresi protein dalam jumlah besar (Rosales-
Mendoza, 2020). Tumbuhan yang umum dipakai sebagai media produksi
rekombinan antara lain tembakau, tomat, padi, kentang, dan jagung. Saat ini,
tumbuhan transgenik juga dipakai untuk memproduksi vaksin.
Bioteknologi tumbuhan menjadi salah satu cara yang lebih aman untuk
produksi bahan farmasi, dibandingkan dengan pemakaian mikroorganisme
seperti bakteri, kapang, atau kultur sel mamalia. Protein manusia yang
diproduksi oleh tumbuhan memiliki komponen karbohidrat namun tidak
mengandung komponen galaktosa dan asam sialat. Perubahan minor pada
struktur glikan dapat memengaruhi aktivitas protein rekombinan dan memicu
reaksi imunogenik.
Transfer dan ekspresi gen pada tumbuhan dapat diinduksi dengan
agroinfiltrasi, infeksi virus, ekspresi bawaan, dan transformasi nukleus. Vektor
virus tumbuhan juga dapat dimodifikasi secara genetik untuk menghasilkan
bahan obat farmasi. Virus ini tidak memicu infeksi pada manusia
atau hewan, dan dapat menghasilkan protein heterolog dalam jumlah banyak
Tumbuhan akan mengekspresikan
protein selama proses replikasi virus dalam sel tumbuhan. Protein rekombinan
kemudian dipurifikasi sebelum pengembangan vaksin. Virus yang dapat
dipakai antara lain as Cucumber Mosaic Virus (CMV), Tobacco Mosaic
Virus (TMV), serta Cowpea Mosaic Virus (CPMV). Tumbuhan banyak
mengandung molekul bioaktif seperti antivirus, antibakteri, antifungi dan lain
sebagainya. Molekul bioaktif ini tidak diproduksi dalam jumlah besar
pada sel tumbuhan secara normal. Bioteknologi tumbuhan dapat menjadi salah
satu cara untuk peningkatan produksi molekul bioaktif bahan obat melalui
media tumbuhan.
10.3.4 Bioteknologi Mikroorganisme
Teknologi yang dapat dipakai untuk produksi bahan obat dari
mikroorganisme dijelaskan pada Gambar 10.2. Tahapan proses pengembangan
bahan obat mencakup penentuan jenis mikroba yang akan dipakai , molekul
bioaktif yang akan diproduksi, hingga penentuan kultur sel, media kultur,
parameter pertumbuahn, serta optimasi kondisi untuk pertumbuhan kultur sel.
Tujuan utamanya yaitu transformasi substrat untuk menghasilkan produk
metabolit yang diinginkan (Jozala et al., 2016). Proses ini membutuhkan
kontrol yang cukup tinggi, dan peralatan bioreaktor untuk produksi skala besar.
Teknik sterilisasi dan kondisi kultur juga perlu diperhatikan untuk menghindari
terjadinya kontaminasi produk.
Gambar 10.2: Proses Pengembangan Bahan Obat Asal Mikroorganisme
(Jozala et al., 2016)
Seiring dengan berkembangnya teknologi biologi molekuler dan DNA
rekombinan, protein manusia dapat diproduksi dengan memanfaatkan ekspresi
heterolog dari Escherichia coli. Misalnya insulin, yang banyak dipakai
untuk pengobatan diabetes mellitus tipe I dan II. Insulin dipurifikasi dari
ekstrak pankreas bovine dan porcine (Leader, Baca and Golan, 2008). Metode
ini cukup mahal dan banyak berdampak pada respon imun pasien. Sebagai
alternatif, gen insulin mulai diisolasi dan disisipkan pada gen bakteri (Gambar
10.3).
Selain bakteri, fungi juga banyak dipakai untuk menghasilkan molekul
bioaktif yang dipakai sebagai bahan obat. Sebagai contoh, senyawa taxol
dapat diproduksi oleh fungi endofit, dan dapat dipakai sebagai bahan obat
antikanker (Jozala et al., 2016). Taxol diproduksi oleh Fusarium oxysporum
yang ditumbuhkan pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Selain itu, fungi
endofit Aspergillus niger pada tanaman Taxus cuspidate juga diketahui
memproduksi taxol seperti inangnya.
Selain itu, fungi diketahui mampu memproduksi enzim ekstraseluler, salah
satunya enzim laktase (enzim untuk mengkatalisis reaksi laktosa menjadi
glukosa dan galaktosa. Laktase menjadi ramai dibutuhkan diindustri susu,
seiring dengan meningkatkan kasus laktosa intoleran pada anak-anak. Laktase
dipasarkan dalam bentuk tablet atau kapsul sebagai suplemen makanan untuk
pasien yang intoleran laktosa, sebelum mengkonsumsi susu atau produk
turunannya.
Gambar 10.3: Produksi Protein Rekombinan. Gen Manusia yang Ditargetkan
Diisolasi dan Digabungkan dengan Vektor (plasmid). Plasmid Mengandung
Gen Manusia yang akan dipakai untuk Mentransformasi Sel Bakteri untuk
Memproduksi Protein Rekombinan dalam Jumlah Besar
Molekul aktif yang memiliki aktivitas antifungi Cytosporachrysosperma dapat
diproduksi melalui proses fermentasi dalam shaker (Li et al., 2015). Metode
yang dipakai yaitu ekstraksi metabolit memakai pelarut organik,
pemisahan dengan kromatografi cair dan kromatografi lapis tipis. Ilmuwan
juga telah berhasil memproduksi amfoterisin B memakai kultur
Penicillium nalgiovense yang diisolasi dari antartika.
Salah satu teknik purifikasi metabolit bahan obat yang dapat dipakai yaitu
teknik kromatografi. Kromatografi banyak dipakai untuk pemurnian asam
nukleat, peptida, dan protein. Teknik kromatografi saat ini merupakan teknik
yang paling efektif dengan aplikasi yang cukup luas di industri. Prinsip
pemisahan pada kromatogradi yaitu berdasar perbedaan afinitas molekul
yang dibawa oleh fasa cair melalui fasa padat (solid) selama tahap stasioner.
berdasar interaksi antara fasa solid dan biomolekul, teknik kromatografi
dapat disederhanakan dalam lima kategori, yaitu:
1. Afinitas
2. Pertukaran ion
3. Interaksi hidrofobik
4. Ukuran molekul
5. Kromatografi bauran
Secara umum, contoh protein rekombinan yang berperan sebagai bahan obat
disajikan pada Tabel 10.2.
Etika dan Keberlanjutan dalam
Farmakognosi
Tanaman obat semakin diminati sebab dimanfaatkan langsung khasiatnya
sebagai obat-obatan herbal seiring meningkatnya trend gaya hidup sehat
ataupun trend back to nature. Tanaman obat yaitu segala jenis tumbuhan
yang diketahui memiliki khasiat baik dalam membantu memelihara
kesehatan maupun pengobatan suatu penyakit. Tumbuhan obat sangat erat
kaitannya dengan pengobatan tradisional, sebab sebagian besar
pendayagunaan tumbuhan obat belum didasarkan pada pengujian klinis
laboratorium, melainkan lebih berdasar pada pengalaman pemakaian
Menurut Departemen Kesehatan RI tanaman obat negara kita seperti yang
tercantum dalam SK Menkes No. 149/SK/Menkes/IV/1978, yaitu:
1. Tanaman atau bagian tanaman yang dipakai sebagai bahan obat
tradisional atau jamu.
2. Tanaman atau bagian tanaman yang dipakai sebagai bahan pemula
bahan baku obat.
3. Tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tanaman
ini dipakai sebagai obat.
Ribuan jenis tanaman tumbuh subur hampir setiap kepulauan di negara kita . Hal
ini didukung oleh kondisi bangsa negara kita yang terdiri dari ribuan pulau dan
beragam suku serta tersedianya flora terlebih lagi dengan beragamnya fonnasi
hutan negara kita , seperti dataran rendah, dataran tinggi, rawa, dan pantai
(Hembing, 2000). Tumbuhan obat tradisional di negara kita memiliki peran
yang sangat penting terutama bagi warga di daerah pedesaan yang
fasilitas kesehatannya masih sangat terbatas. Nenek moyang kita mengenal
obat–obatan tradisisonal yang berasal dari tumbuhan di sekitar pekarangan
rumah maupun yang tumbuh liar di semak belukar dan hutan-hutan.
warga sekitar kawasan hutan memanfaatkan tumbuhan obat yang ada
sebagai bahan baku obat-obatan berdasar pengetahuan tentang
pemanfaatan tumbuhan obat yang diwariskan secara turun-temurun
11.2 Prinsip Etika Tanaman Obat
Bangsa negara kita dipacu untuk berlomba dengan semakin maraknya
kerusakan atau hilangnya sumber daya alam dan pengetahuan tradisional yang
belum dikaji tentang pemanfaatan tumbuhan obat. Dengan kemajuan teknologi
yang semakin pesat dan kompleks, membuat sumber daya alam bisa
dieksploitasi yang memicu kepunahan jenis-jenis tumbuhan, ditambah
lagi dengan semakin rusaknya alam. Adanya modernisasi budaya dapat
memicu hilangnya pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh
warga
Ada kekhawatiran bahwa hanya sebagian kecil dari spesies tanaman yang telah
dipakai melalui pengujian ketat dalam kondisi terkendali dan studi klinis
obat herbal sangat bervariasi kualitasnya dan kegunaannya. Saat dipakai
dalam hal ini secara komplementer, obat tradisional khususnya jamu dapat
bersumber secara lokal atau mungkin diimpor dari seluruh dunia. Contohnya,
pengobatan herbal dari Afrika atau Cina dapat dipakai bersamaan dengan
pengobatan konvensional atau pengobatan lainnya di negara Eropa.
Okonronkwo (2014) dan White (2014) menyatakan bahwa tantangan utama
dalam etika untuk pemakaian obat tradisional yaitu banyak orang yang
memiliki asumsi keliru bahwa produk herbal aman sebab alami, tapi obat
herbal memiliki efek farmakologis, sama seperti obat-obatan sintetik.
Banyak tanaman yang kuat atau beracun dan biasanya data keamanan yang
tersedia untuk herbal jauh lebih sedikit produk daripada yang dibutuhkan
untuk pengobatan konvensional menyatakan bahwa beberapa obat herbal
telah dikaitkan dengan reaksi obat yang merugikan termasuk overdosis dan
toksisitas, menambahkan adanya interaksi obat
herbal, juga mengatakan adanya reaksi
alergi, dan kontaminasi dengan produk lain. Selain itu, mereka diketahui
mengganggu hasil tes laboratorium. Di sebagian besar wilayah di dunia,
konsumen memiliki akses yang sangat mudah dalam mendapatkan obat-
obatan herbal yang tidak berlisensi atau tidak terdaftar secara legal (Ernst,
2001), yang mungkin dapat mengakibatkan hal hal yang tidak diinginkan
dalam pemakaian obat tanpa pengawasan seorang praktisi yang
berpengalaman.
Selain itu potensi bahaya dari obat-obatan ini , ada juga kekhawatiran
terhadap penyedia jamu sebab , dibanyak lingkungan, tidak terlatih secara
medis (Ernst, 2001) dan juga tidak diatur dengan baik peredarannya (Smith,
2008). Selain dampak terhadap manusia, produksi dan pengiriman obat-obatan
herbal berdampak pada warga setempat, lingkungan, dan komunitas.
Misalnya, semakin berkembangnya permintaan akan produk herbal terstandar
memberi tekanan pada spesies permintaan tinggi terpilih
dan beberapa tanaman ada di dalamnya bahaya kepunahan akibat banyaknya
permintaan
Terlebih lagi, banyak tanaman obat yang dikumpulkan dari alam liar secara
tidak terkendali sebab seringnya tanaman budidaya dianggap lebih sedikit
kandungan senyawa aktifnya (Ncube, 2012). Ancaman terhadap pemanenan
yang tidak berkelanjutan dan kelangsungan hidup tanaman obat tidak hanya
spesies tanaman obat, namun juga para tenaga yang melakukan melakukan
budidaya (Andel, 2008). Seiring dengan pertumbuhannya di pasar global, telah
terjadi peningkatan pembajakan hayati, di mana obat herbal tradisional telah
dipatenkan tanpa persetujuan atau kompensasi kepada pemegangnya
Membatasi pemakaian akan menjadi tidak realistis dan tidak etis dari obat-
obatan tradisional dibandingkan obat-obatan yang telah teruji secara intensif
sebab hal ini akan menghalangi akses terhadap obat-obatan bagi seluruh
warga , khususnya di wilayah yang kekurangan sumber daya. Namun
demikian, mengingat tantangan etika yang disebutkan di atas dalam
penyediaan obat herbal, sangat penting untuk mengambil tindakan yang
menghormati kebutuhan individu dan preferensi diberlakukan sambil
menghindari kerugian pasien, lingkungan, dan komunitas lokal.
Mengingat produksi dan pemakaian obat herbal yaitu sebuah fenomena
global, maka seharusnya ada penerapan etika kerangka kerja yang dapat
diterapkan. Baru-baru ini, dibuat semacam kerangka kerja ini muncul dari
konsorsium global yang terdiri dari para peneliti, akademisi, peserta penelitian,
pembuat kebijakan, dan pimpinan komite etik penelitian bersama dengan
perwakilan dari badan pendanaan dan farmasi industri.
Hasilnya yaitu etika dalam pemakaian tanaman obat dalam perkembangan
farmakognosi didasarkan pada nilai-nilai, bukan prinsip-prinsip, yakni nilai-
nilai care, respect, honesty, dan fairness.
1. Care
Bagi tenaga kesehatan dalam menjelaskan pemakaian obat herbal
memerlukan pengetahuan dan keahlian; praktisi harus membuat
penilaian tentang kapan obat tertentu diindikasikan, sesuai, dan aman.
Oleh sebab itu, penting untuk komitmen terhadap pembelajaran
seumur hidup; Contoh lebih lanjut dari kepedulian dapat dilihat
dalam cara praktisi berkomunikasi dengan pasien
2. Respect
Rasa menghargai dan menghormati dalam preferensi, adat istiadat,
dan budaya orang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam
budaya di mana ada pemakaian herbal secara tradisional obat-
obatan tertentu mungkin bersifat budaya atau spiritual yang
signifikansinya bagi anggota suatu kelompok atau suku. Pasien yang
memakai obat herbal secara komplementer, pelayanan kesehatan
harus menghargai dan menghormati hal ini . Hal ini khususnya
dapat menimbulkan tantangan ketika ada perbedaan pendapat tentang
apa yang paling penting membantu pasien untuk kesembuhan dan
keselamatan pasien.
3. Honesty
Di semua budaya dan negara, 'jangan berbohong' yaitu hal yang
mendasar prasyarat untuk interaksi manusia yang memiliki etika.
Oleh sebab itu, praktisi herbal harus jujur dan terbuka tentang bukti
hasil efektivitas maupun potensi efek samping. Kejujuran juga
diperlukan dalam promosi obat herbal. Tidak etis jika menyesatkan
pasien atau berjanji penyembuhan dalam keadaan di mana tidak ada
kepastian manfaatnya.
4. Fairness
Artinya kualitas pengobatannya sama harus tersedia bagi semua
orang, tanpa memandang ekonomi atau sosial status, atau faktor-
faktor yang merugikan. Tentu kita tahu hal ini saat ini belum
diaktualisasikan dalam bidang kesehatan. Inilah alasannya begitu
banyak orang yang bergantung pada pengobatan herbal di daerah
yang secara ekonomi menengah ke bawah sebab merupakan satu-
satunya pilihan yang terjangkau dan dapat diakses (Sato, 2012).
11.3 Ketepatan pemakaian Obat
Tradisional dalam Keberlanjutan
Farmakognosi
Pasar obat herbal yaitu salah satu yang paling cepat berkembang di dunia,
dengan permintaan yang terus meningkat meningkat di negara-negara
berkembang. Pertumbuhan penting ini berkaitan dengan preferensi terhadap
produk alami untuk manfaat kesehatan sebab dianggap lebih aman dan hemat
biaya dibandingkan obat farmasi sintetik
Eksploitasi berlebihan, dapat menghasilkan perubahan pola pada struktur dan
dinamika populasi tanaman yang diekstraksi, maka memengaruhi
pertumbuhan dan reproduksi, kapasitas, dan bahkan dapat memicu
hilangnya populasi yang ada, sampai mengakibatkan hilangnya berbagai
ekosistem
kegiatan pertanian memberi pengaruh terhadap lingkungan alam seperti
hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan polusi air, industri
obat herbal di sektor ini harus mengembangkan strategi berkelanjutan yang
memungkinkan peningkatan efisiensi sumber daya dalam produksi. Istilah
“keberlanjutan” secara etimologis berarti memelihara dan menjamin
kelestarian suatu hal, serta memikul komitmen dalam pengertian ini .
Dengan demikian, keberlanjutan berkaitan dengan pelestarian sesuatu yang
ada saat ini dan harus dipertahankan di masa depan, yang melibatkan
akuntabilitas dan komitmen . Namun, dalam rangka
pelestarian demi kelangsungan hidup generasi mendatang, diperlukan
komitmen untuk menerapkan praktik berkelanjutan oleh konsumen dan
industri obat herbal.
Tanaman obat dan obat tradisional akan bermanfaat dan aman jika dipakai
dengan mempertimbangkan sekurang–kurangnya enam aspek ketepatan, yaitu
tepat takaran, tepat waktu dan cara pemakaian , tepat pemilihan bahan dan
telaah informasi serta sesuai dengan indikasi penyakit tertentu. Disamping
berbagai kelebihan, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa tanaman obat dan obat
tradisional juga memiliki beberapa kelemahan yang merupakan kendala dalam
pelayanan kesehatan formal. Adapun beberapa kelemahan ini antara lain
efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat
higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar
berbagai jenis mikroorganisme
Efek samping obat tradisional relatif kecil jika dipakai secara tepat, yang
meliputi:
1. Kebenaran bahan Tanaman obat di negara kita terdiri dari beragam
spesies yang kadang kala sulit untuk dibedakan satu dengan yang
lain. Kebenaran bahan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi
yang diinginkan. Sebagai contoh jahe di pasaran ada beberapa macam
yang agak sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Jahe putih
memiliki rimpang yang besar dan gemuk, potongan melintang
berwarna putih kekuningan, berserat sedikit, dan lembut. Jahe gajah
biasanya dikonsumsi saat masih muda atau setelah aroma kurangnya
tajam dan rasanya kurang pedas. Jahe putih memiliki potongan
melintang berwarna putih kekuningan, berbentuk agak pipih, berserat
lembut, dengan aroma yang agak tajam. Jahe merah memiliki serat
yang kasar, aromanya sangat tajam, dan rasanya sangat pedas. Jahe
merah biasanya dipanen tua dan dipakai sebagai komponen obat-
obatan.
2. Ketepatan dosis tanaman obat, seperti halnya obat buatan pabrik
memang tak bisa dikonsumsi sembarangan. Tetap ada dosis yang
harus dipatuhi, seperti halnya resep dokter. Hal ini menepis anggapan
bahwa obat tradisional tak memiliki efek samping. Anggapan bila
obat tradisional aman dikonsumsi walaupun gejala sakit sudah hilang
yaitu keliru. Sampai batas-batas tertentu, mungkin benar. Akan
namun bila sudah melampaui batas, justru membahayakan. Takaran
yang tepat dalam pemakaian obat tradisional memang belum banyak
didukung oleh data hasil penelitian. Peracikan secara tradisional
memakai takaran sejumput, segenggam atau pun seruas yang
sulit ditentukan ketepatannya. pemakaian takaran yang lebih pasti
dalam satuan gram dapat mengurangi kemungkinan terjadinya efek
yang tidak diharapkan sebab batas antara racun dan obat dalam
bahan tradisional amatlah tipis. Dosis yang tepat membuat tanaman
obat bisa menjadi obat, sedangkan jika berlebih bisa menjadi racun.
3. Ketepatan waktu pemakaian Kunyit diketahui bermanfaat untuk
mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam
ramuan jamu kunir asam yang sangat baik dikonsumsi saat datang
bulan . Akan namun jika diminum pada awal
masa kehamilan berisiko memicu keguguran. Hal ini
menunjukkan bahwa ketepatan waktu pemakaian obat tradisional
menentukan tercapai atau tidaknya efek yang diharapkan.
4. Ketepatan cara pemakaian Satu tanaman obat dapat memiliki
banyak zat aktif yang berkhasiat di dalamnya. Masing-masing zat
berkhasiat kemungkinan membutuhkan perlakuan yang berbeda
dalam pemakaian nya. Sebagai contoh yaitu daun Kecubung jika
dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan dipakai sebagai
obat asma. namun jika diseduh dan diminum dapat memicu
keracunan/mabuk
5. Ketepatan telaah informasi Perkembangan teknologi informasi saat
ini mendorong derasnya arus informasi yang mudah untuk diakses.
Informasi yang tidak didukung oleh pengetahuan dasar yang
memadai dan telaah atau kajian yang cukup seringkali mendatangkan
hal yang menyesatkan. Ketidaktahuan bisa memicu obat
tradisional berbalik menjadi bahan membahayakan.
6. Tanpa penyalahgunaan tanaman obat maupun obat tradisional relatif
mudah untuk didapatkan sebab tidak memerlukan resep dokter, hal
ini mendorong terjadinya penyalahgunaan manfaat dari tanaman obat
maupun obat tradisional ini . Obat yang ditarik dari
peredarannya sebagian besar berupa jamu-jamuan yang mengandung
Bahan-bahan Kimia Obat (BKO) berbahaya bagi tubuh pemakainya.
Bahan-bahan kimia obat ini dapat menimbulkan efek negatif di
dalam tubuh pemakainya jika dipakai dalam jumlah banyak.
7. Ketepatan pemilihan obat untuk indikasi tertentu Dalam satu jenis
tanaman dapat ditemukan beberapa zat aktif yang berkhasiat dalam
terapi. Rasio antara keberhasilan terapi dan efek samping yang timbul
harus menjadi pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman obat
yang akan dipakai dalam terapi.












