anak ginjal aldosteron. Antago-
nis aldosteron (spironolakton) dan zat-zat
penghemat kalium (amilorida, triamteren)
memiliki titik kerja di sini dengan meng-
akibatkan ekskresi Na+ (kurang dari 5%)
dan retensi- K+.
4. saluran pengumpul. Hormon antidiuretik
ADH (vasopresin)dari hipofisis memiliki
titik kerja di sini dengan memengaruhi
permeabilitas sel-sel saluran ini bagi air
(homeostasis air).
Vasopressin yaitu suatu neurotrans-
mitter dan berfungsi sebagai vasopressor
kuat di samping fungsinya pada sistem
saraf pusat dengan mengatur sekresi hor-
mon adrenokortikotrop (ACTH), suhu tubuh,
sistem kar-diovaskular dan fungsi alat cerna.
Penggolongan
berdasar mekanisme kerjanya diuretika
dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu:
a. Diuretika lengkungan/loop: furosemida,
bumetanida dan etakrinat.
Obat-obat ini berkhasiat kuat dan
bekerja pesat namun agak singkat (4-6
jam). Banyak dipakai pada keadaan
akut, misalnya pada udema otak dan
paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis-
efek curam, artinya bila dosis dinaikkan
efeknya (diuresis) senantiasa bertam bah.
b. Derivat thiazida: klorothiazida, hidrokloro-
thiazida, polithiazida, bedroflumethiazida,
metiklothiazida, triklormethiazida, klorta-
lidon, mefrusida, indapamida dan klopamida.
Efeknya lebih lemah dan lambat, te-
tapi bertahan lebih lama (6 - 48 jam) dan
terutama dipakai pada terapi peme-
liharaan hipertensi dan kelemahan jan-
tung (decompensatio cordis). Obat-obat ini
memili ki kurva dosis-efek datar, artinya
bila dosis optimal dinaikkan lagi efeknya
(diuresis, penurunan tekanan darah) ti-
dak bertambah.
Struktur kimia dari hidroklorothiazida
mirip dengan struktur klortalidon, namun
farmakokinetik dari kedua senyawa diu-
retik ini sangat berbeda. Waktu paruh
(t1/2) dari HCT sangat bervariasi antar-
individu, sekitar 3-13 jam. sedang t1/2
dari klortalidon jauh lebih panjang, yaitu
50-60 jam sebab membentuk depot.
berdasar hal ini ada kecenderungan
untuk memilih klortalidon di banding
HCT8.
c. Diuretika penghemat ion kalium: anta-
gonis aldosteron (spironolakton, kanrenoat),
amilorida dantriamteren. Efek obat-obat
ini hanya lemah dan khusus dipakai
terkombinasi dengan diuretika lainnya
untuk menghemat ekskresi kalium. Al-
dosteron menstimulasi reabsorpsi Na+ dan
ekskresi K+; proses ini dihambat secara
kompetitif oleh obat-obat ini.
Amilorida dan triamteren dalam keadaan
normal hanya lemah efek ekskresinya
bagi Na+ dan K+. namun pada pemakaian
diuretika lengkun gan dan thiazida terjadi
ekskre si kalium dengan kuat, maka pem-
berian bersamaan dari penghemat kalium
ini menghambat ekskresi K dengan kuat
pula. Mungkin juga ekskresi dari mag-
nesium dihambat.
d. Diuretika osmotik: manitol, gliserin dan
sorbitol. Obat-obat ini hanya direabsorpsi
sedikit oleh tubuli, hingga reabsorpsi
air juga terbatas. Efeknya yaitu diuresis
osmotik dengan ekskresi air kuat dan rela-
tif sedikit ekskresi Na+. Terutama ma-
nitol (hanya jarang dipakai ) sebagai
infus intravena untuk menurunkan volu-
me cairan dan tekanan intraokuler (pada
glaucom), juga untuk menurunkan volu-
me CCS (cairan cerebrospinal) dan tekanan
intracrani al (dalam tengkorak).
e. Perintangkarbonanhidrase:asetazolami-
da, dikhlorfenamida dan methazolamida. Zat-
zat ini menghalangi enzim karbonanhidrase
di tubuli proksimal, sehingga di samping
karbonat, juga Na+ dan K+ diekskresi le-
bih banyak, bersamaan dengan air. Kha-
siat diuretiknya hanya lemah, sesudah
beberapa hari terjadi tachyfylaxie, oleh
sebab itu perlu dipakai secara selang-
seling (intermittens).
pemakaian
Diuretika dipakai pada semua keadaan
bilamana dikehendaki peningkatan penge-
luaran air, khususnya pada hipertensi dan
gagal jantung.
a. Hipertensi: untuk mengurangi volume
darah seluruhnya sehingga tekanan da-
rah (tensi) menurun. Khususnya deri-
vat thiazida diguna kan untuk indikasi
ini. Diuretika lengkungan pada jangka
panjang ternyata lebih ringan efek anti-
hipertensifnya lagipula t1/2-nya singkat,
oleh sebab itu hanya dipakai bila ada
kontra-indikasi untuk thiazida, seperti
pada insufiensi gin jal. Mekanisme kerjanya
diperkirakan berdasar kan penurunan da-
ya tahan pembuluh perifer. Dosis yang
diperlukan untuk efek antihipertensi ja-
uh lebih rendah daripada dosis diure tik.
Thiazida memperkuat efek obat-obat hi-
per tensi betablocker dan ACE-inhibi-
tor, sehingga sering dikombinasi dengan-
nya. Penghentian pemberian thiazida pa-
da lansia tidak boleh dengan mendadak,
sebab risiko timbulnya gejala kelemahan
jantung dan peningkatan tensi.
b. Gagal jantung (decompensatio cordis),
yang bercirikan peredaran darah tidak
sempurna lagi dan ada cairan berle-
bihan di jaringan. Akibat air yang ter-
timbun akan terjadi udema, misalnya
dalam paru-paru (udema paru). Begitu
pula pada sindromnefrotik, yang berci-
rikan udema tersebar akibat proteinuria
hebat sebab permeabilitas membran
glomeruli meningkat. Atau pada busung
perut (ascites) dengan air menumpuk di
rongga perut akibat cirrosis hati (hati
mengeras). Untuk indikasi ini terutama
dipakai diuretika lengkungan dan
dalam keadaan parah akut secara intra-
vena (asthma cardiale, udema paru). Thiazida
dapat memperbaiki efeknya pada pasien
dengan insufisiensi ginjal. Selain itu,
thiazida juga dipakai pada situasi di
mana diuresis pesat dapat memicu
masalah, seperti pada hipertrofi prostat.
*Resistensi diuretik yaitu suatu keadaan
pada mana penanganan dengan suatu diu-
retik dan asupan garam terbatas tidak meng-
hasilkan efek.
Bila peristiwa ini terjadi pada pemakaian
thiazida, sebaiknya dipakai suatu diuretik
yang bekerja lebih kuat, misalnya suatu
loop-diuretik (furosemida ; oral sampai 250
mg sehari), atau dipakai kombinasi dari
loop-diuretik dan thiazida untuk mengatasi
misalnya komplikasi gagal jantung yang
secara potensial dapat berlangsung fatal.
Resistensi diuretik kerapkali timbul pada
pemakaian bersamaan obat NSAID dan
diuretika yang diberikan kepada lansia.
Lihat selanjutnya Bab 37, Obat-obat jantung,
gagal jantung.
Untuk mengatasi resistensi diuretik dari
loop-diuretik dapat dilakukan beberapa cara:
a. Istirahat (bedrest) memperbaiki peredar-
an ginjal, sehingga efektivitas diuretik di-
perbaiki;
b. Memberikan diuretik beberapa kali dalam
dosis lebih kecil atau intravena kontinu
memicu kadar zat aktif berada lebih
lama di target site;
c. pemakaian dalam bentuk kombinasi
(lihat di atas) menghasilkan suatu siner-
gisme;
d. Mengurangi asupan garam;
e. Diuretik dipakai tepat sebelum makan
menghasilkan kadar efektif, khususnya
sewaktu kadar garam sedang maksimal.
Penyalahgunaan. Tidak jarang diuretika di-
salahgunakan dalam kur melangsingkan tu-
buh bagi orang gemuk (overweight) dengan
mengeluarkan cairannya. Penyusutan berat
badan yang diperoleh hanya bersifat semen-
tara! Begitu pula pemakaian nya pada ude-
ma kehamilan, yang umumnya tidak dian-
jurkan sebab dapat membahayakan penya-
luran darah ke janin.
Efeksamping utama yang dapat diakibatkan
oleh diuretika yaitu :
a. hipokaliemia, yaitui kekurangan kalium
dalam darah. Semua diuretika dengan
titik kerja di bagian muka tubuli distal
memperbesar ekskresi ion-K+ dan ion-H+
sebab „ditukarkan“ dengan ion-Na+.
Akibatnya kadar kalium plasma dapat
menurun di bawah 3,5 mmol/liter. Ke-
adaan ini terutama dapat terjadi pada
penanganan gagal jantung dengan dosis
tinggi furosemida, mungkin bersama
thiazida. Gejala kekurangan kalium ber-
gejala kelemahan otot, kejang-kejang, obs-
tipasi, anoreksia, kadang-kadang juga arit-
mia jantung, namun gejala ini tidak selalu
nyata.
Thiazida yang dipakai pada hiper-
tensi dengan dosis rendah (HCT dan
klortalidon 12,5 mg sehari), hanya sedi-
kit menurunkan kadar kalium. Oleh
sebab itu tidak perlu disuplesi kalium
(Slow-K 600 mg), yang dahulu agak sering
dilakukan; kombi nasi-nya dengan suatu
zat penghemat kalium sudah mencuku pi.
Pasien jantung dengan gangguan rit-
me atau yang diobati dengan digitalis
harus dimonitor dengan saksama, sebab
kekurangan kalium dapat memperhebat
keluhan dan meningkatkan toksisi tas di-
goksin. Pada mereka juga dikhawatirkan
peningkatan risiko kematian mendadak
(sudden heart death).
b. hiperurikemia akibat retensi asam urat
(uric acid) dapat terjadi pada semua diu-
retika, kecuali amilorida. Menurut perki-
raan, hal ini disebabkan oleh adanya per-
saingan antara diuretikum dengan asam
urat mengenai transpornya di tubuli.
Terutama klortalidonmemberikan risiko
lebih tinggi untuk retensi asam urat yang
berakibat serangan encok pada pasien yang
peka.
c. hiperglikemia dapat terjadi pada pasien
diabetes, terutama pada dosis tinggi,
akibat dikuranginya metabolisme glukosa
berhubung sekresi insulin ditekan. Ter-
utama thiazida terkenal memicu
efek ini; efek antidiabetika oral diperle-
mah olehnya.
d. hiperlipidemia ringan dapat terjadi de-
ngan peningkatan kadar kolesterol total
(juga LDL dan VLDL) dan trigliserida.
Kadar kolesterol-HDL yang dianggap se-
bagai faktor pelindung untuk PJP justru
diturunkan, terutama oleh klortalidon.
Pengecualian yaitu indapamida yang
praktis tidak meningkatkan kadar lipida
itu . Arti klinis dari efek samping ini
pada pemakaian jangka panjang belum
jelas.
e. hiponatriemia. Akibat diuresis yang ter-
lalu pesat dan kuat oleh diuretika leng-
kungan, kadar Na plasma dapat menu-
run drastis dengan akibat hiponatriemia.
Gejalanya berupa gelisah, kejang otot,
haus, letargi (selalu mengantuk), juga
kolaps. Terutama lansia peka untuk de-
hidrasi, maka sebaiknya diberikan do-
sis permulaan rendah yang berangsur-
angsur dinaikkan, atau dapat juga obat
diberikan secara berkala, misalnya 3-4 kali
seminggu. Terutama pada furosemida
dan etakrinat dapat terjadi alkalosis (ber-
lebihan alkali dalam darah).
f. lain-lain: gangguan lambung-usus (mual,
muntah, diare), rasa letih, nyeri kepala,
pusing dan jarang reaksi alergis kulit.
Ototoksisitas dapat terjadi pada penggu-
naan furosemida/bumetamida dalam do-
sis tinggi.
Interaksi
Kombinasi dari obat-obat lain dengan diu-
retika dapat menimbul kan interaksi yang
tidak dikehendaki, misalnya:
– penghambat ACE (lihat Bab 35, Anti-
hipertensiva) dapat menim bul kan hipo-
tensi hebat, maka sebaiknya baru dibe-
rikan sesudah pemakaian diuretikum
dihentikan selama 3 hari.
– obat-obat rema (NSAID’s) dapat sedi-
kit memperlemah efek diuretik dan anti-
hipertensif akibat sifat retensi natrium
dan airnya.
– kortikosteroida dapat memperkuat ke-
hilangan kalium.
– aminoglikosida: ototoksitas diperkuat
sebab diuretika sendiri dapat menye-
babkan ketulian (reversibel).
– antidiabetikaoral dikurangi efeknya bila
terjadi hiperglikemia.
– litiumklorida dinaikkan kadar darahnya
akibat terhambatnya ekskresi.
Kehamilan dan laktasi
Thiazida dan diuretika lengkungan dapat
memicu gangguan elektrolit pada
janin, juga dilaporkan kelainan darah pada
neonati. Wanita hamil hanya dapat meng-
gunakan diuretika pada tahap terakhir ke-
hamilannya atas indikasi ketat dan dengan
dosis yang serendah-rendahnya. pemakaian
spironolakton dan amilorida oleh wanita
hamil dianggap aman di beberapa negara,
antara lain Swedia. Furosemida, HCT dan
spironolakton mencapai air susu ibu dan
meng ham bat laktasi.
MONOGRAFI
1.Furosemida:frusemide, Lasix, Impugan
Turunan sulfonamida ini (1964) berkhasiat
diuretikkuat dengan titik kerja di lengkung-
an Henle bagian menaik. Sangat efektif pada
keadaan udema otak dan paru-paru yang
akut. Mulai kerjanya pesat, oral dalam 0,5-1
jam dan bertahan 4-6 jam, intravena dalam
beberapa menit dan lamanya 2,5 jam.
Resorpsi dari usus hanya ±50%, PP ±97%,
plasma-t½ 30-60 menit; ekskresi melalui urin
secara utuh, pada dosis tinggi juga melalui
empedu.
Efek samping berupa umum; pada injeksi
i.v. terlalu cepat, dosis tinggi atau penggu-
naan bersamaan dengan obat-obat ototoksik
(antibiotik aminoglikosid, cisplatin, vanko-
misin) dapat timbul ketulian (reversibel).
Hipotensi dapat timbul akibat hiponatremia
sebab pemakaian berlebihan. Bila asupan
ion K+ tidak mencukupi dapat pula timbul
hipokaliemia yang memicu aritmia
jantung, terutama pada penderita yang me-
nggunakan glikosida jantung.
Dosis: pada udema oral 40-80 mg pagi p.c.,
bila perlu atau pada insufisiensi ginjal sampai
250-2000 mg sehari dalam 2-3 dosis. Injeksi i.v.
(perlahan) 20-40 mg, pada keadaan kemelut
hipertensi sampai 500 mg (!). pemakaian
i.m. tidak dianjurkan.
* Bumetanida (Bumex) yaitu juga derivat
sulfamoyl (1972) dengan kerja diuretik
yang 50 kali lebih kuat. Sifat-sifat kinetik-
nya lebih kurang sama dengan furosemida,
juga pemakaian nya. Dapat dipakai oleh
penderita yang alergis terhadap furosemida.
Dosis: oral 0,5-1 mg pagi, bila perlu 3-4 dd.
i.m./ i.v. 0,5-2 mg.
2.Asametakrinat:Edecrin
Derivat fenoksiasetat ini (1963) juga bertitik
kerja di lengkungan Henle. Efeknya pesat dan
kuat, bertahan 6-8 jam. Ekskresi berlangsung
melalui empedu dan kemih.
Berhubung ototoksisitasnya dan seringnya
memicu gangguan lambung-usus, zat
ini tidak boleh diberikan pada anak-anak di
bawah usia 2 tahun.
Dosis: oral 1-3 dd 50 mg p.c.; i.v. 50 mg
garam Na (perlahan)
3. Hidroklorthiazida: HCT, Esidrex, Hydro-
diuril
Senyawa sulfamoyl ini (1959) merupa-
kan turunan dari klorthiazida yang dikem-
bangkan dari sulfani lamida. Bekerja di ba-
gian muka tubuli distal, efek diuretiknya
lebih ringan dari diuretika lengkungan namun
bertahan lebih lama, 6-12 jam. Khasiat hipo-
tensifnya lebih kuat (pada jangka pan jang),
maka banyak dipakai sebagai pilihan
pertama untuk hipertensi ringan sampai
sedang. Sering kali pada kasus yang lebih
berat dikombinasi dengan obat-obat lain
untuk memperkuat efeknya, khususnya be-
ta-blocker. Efek optimal ditetapkan pada
dosis 12,5 mg dan dosis di atasnya tidak akan
menghasilkan penurunan tensi lagi (kurva
dosis-efek datar). Zat induknya klorthiazida
berkhasiat 10 kali lebih lemah, maka kini
tidak dipakai lagi.
Resorpsinya dari usus sampai 80%, PP ±70%
dengan plasma-t½ 6-15 jam. Ekskresi terutama
lewat urin secara utuh.
Dosis: hipertensi 12,5 mg pagi p.c., udema
1-2 dd 25-100 mg, pemeliharaan 25-100 mg
2-3x seminggu.
Sediaan kombinasi: *Lorinid, *Modure tic =
HCT 50 + amilorida 5 mg
*Dytenzide = HCT 25 + triamte ren 50 mg
*DerivatHCT yang banyak sekali disintesis
semuanya memiliki daya kerja sama dan
hanya berlainan mengenai potensi dan
lama kerjanya, rata-rata 12-18 jam. Khusus
dipakai dalam kombi nasi dengan obat-
obat hipertensi lain, antara lain:
* Aldazide = buthiazida 2,5 + spironolakton
25 mg
* Dyta-urese =epitizida 4 + triamteren 50
mg
* Inderetic= bendroflumethiazida 2,5 +
propranolol 80mg
4.Klortalidon:Hygroton
Derivat sulfonamida ini (1959) rumusnya
mirip dengan thiazida, begitu pula khasiat
diuretiknyasedang. Mulai kerjanya sesudah
2 jam dan bertahan sangat lama, antara 24-
72 jam tergantung pada besarnya dosis. Efek
hipotensifnya bertambah secara berangsur-
angsur dan baru optimal sesudah 2-4 minggu.
Resorpsi dari usus tidak menentu, rata-
rata 50% dan mengala mi FPE dari 10-15%.
Plasma-t½ sangat tinggi, ±54 jam, mungkin
berhubung terikat kuat pada eritrosit.
Ekskresi lewat urin ±45% secara utuh.
Dosis: hipertensi 12,5 mg pagi p.c. (dosis
optimal!), udema setiap 2 hari 100-200 mg,
pemeliharaan 25-50 mg sehari.
Sediaan kombinasi:
*Trasiten sin = klortalidon 10 + oksprenolol
80 mg
*Tenoretic 50 = klortalidon 12,5 + atenolol 50
mg
*Indapamida(Natrilix, Fludex, Lozol) yaitu
derivat sulfamoyl long-acting (l974) dengan
efek hipotensif kuat pada dosis sub-diure-
tik, yang baru optimal sesudah 2-4 bulan.
Efeknya bertahan beberapa minggu sesudah
terapi dihentikan, tanpa terjadi rebound effect.
Resorpsi lengkap, bersifat sangat lipofil dan
terikat kuat pada eritro sit: PP 79%, plasma-t½
15-18 jam. Ekskresi lewat urin, yaitu 60%
terutama sebagai metabolit dan 20% lewat
feses. Dosis hipertensi: 2,5 mg pagi p.c. Dapat
dikombinasi dengan beta-blocker.
* Klopamida yaitu juga derivat sulfamoyl
dengan lama kerja 12-24 jam. Hanya
dipakai dalam sediaan kombinasi, antara
lain:
* Brinerdin = klopamida 5 + reserpin 0,1 +
dihidroergokristin 0,5 mg
* Viskaldix = klopamida 5 + pindolol 10 mg
* Mefrusida (Bayca ron) yaitu derivat di-
sulfonamida (1967) dengan titik kerja di leng-
kungan Henle, namun dengan pola kerja se-
perti thiazida. Mulai kerjanya lambat, sete-
lah 6 jam dan bertahan 20-24 jam. Dosis hiper-
tensi: 12,5 mg pagi p.c., udema: 25 –100 mg
sehari.
5.Spironolakton:Aldactone, Letona, *Aldazide
Penghambat/antagonis aldosteron ini
(1959) berumus steroida, mirip struktur hor-
mon alamiah,merupakan antagonis dari re-
septor mineralokortikoid dan dapat mem-
blokir efek biologiknya seperti retensi air
dan garam. Mulai kerja sesudah 2-3 hari dan
bertahan sampai beberapa hari sesudah pengo-
batan dihentikan. Khasiatdiuretiknyaagak
lemah, maka khusus dipakai dalam kom-
binasi dengan diuretika umum lainnya. Efek
kombinasi demikian yaitu adisi di samping
mencegah kehilangan kalium. Spironolakton
pada gagal jantung berat berkhasiat mengu-
rangi risiko kematian sampai 30% (N E J Med
Sept 1999).
Resorpsi dari usus tidak lengkap dan diper-
besar oleh makanan. PP-nya 98%. Dalam
hati zat ini dirombak menjadi metabolit
aktif, antara lain kanrenon, yang diekskresi
melalui urin dan feses. Plasma-t½ sampai 2
jam, kanrenon 20 jam.
pemakaian nya untuk udema dan hiper-
tensi biasanya dalam kombinasi dengan
thiazida (hidrokhlorothiazida, Aldactazide)
atau loop-diuretik. Kombinasi ini mening-
katkan pengeluaran cairan udema dan mem-
perbaiki homeostasis K+.
Obat ini merupakan diuretik pilihan per-
tama bagi penderita hepatic cirrhosis.
Efek samping berupa gangguan lambung
(perdarahan) dan cenderung memicu
tukak lambung. Oleh sebab itu tidak boleh
diberikan pada penderita tukak lambung.
Pada pemakaian lama dan dosis tinggi
efeknya antiandrogen dengan gynecomastia,
impotensi dan menurunnya libido pada pria,
sedang pada wanita nyeri buah dada,
gangguan suara dan haid tidak teratur. Efek
samping ini berdasar afinitasnya terhadap
progesteron dan reseptor steroid androgen.
Sama seperti diuretika penghemat kalium
lainnya, efek samping berbahaya dan utama
yaitu hiperkalemia. Oleh sebab itu tidak
boleh diberikan pada pasien hiperkalemia
dan yang berindikasi mendapatkan gejala ini
disebabkan oleh penyakit atau pengobatan.
Pada tikus ternyata berefek karsinogen, maka
hendaknya dipakai untuk jangka waktu
singkat!
Dosis: oral 1-2 dd 25-100 mg pada waktu
makan.
*Aldazide = spironolakton 25 + thiabutazide
2,5 mg
* Kanrenoat (canrenoic acid, Soldactone) ada-
lah derivat yang dapat larut dan hanya
dipakai sebagai injeksi (1967). Sifat-sifat
dan efek sampingnya sama dengan spiro-
nolakton, namun mulai kerjanya lebih cepat
dan bertahan lebih lama. Ekskresinya juga
sebagai kanrenon.
Dosis: i.v./infus 200-600 mg sehari (garam
K) selama maksimal 2 minggu.
*Eplerenone (Inspra) sebagai antagonis al-
dosteron juga berefek memblokir efek dari
aldosteron. Berlainan dengan spironolakton,
senyawa ini memiliki hanya sedikit sekali
afinitas terhadap progesteron dan reseptor
androgen, sehingga efek sampingnya ber-
dasarkan ini (misalnya gynecomastia) lebih
sedikit.
Eplerenone merupakan obat anti-hipertensi
yang efektif dan aman (Ouzan et al., 2002)
6.Amilorida: *Lorinid, Midamor
Derivat pirazin ini (1967) memiliki titik
kerja di bagian ujung tubuli distal dengan
menghambat penukaran ion Na+ dengan
ion-K+ dan ion-H+. Efeknya yaitu bertam-
bahnya ekskresi Na+ (bersama Cl- + karbonat),
sedang pengeluaran kalium berkurang.
Efek maksimal tercapai sesudah ±6 jam dan
bertahan 24 jam.
Resorpsi dari usus ±50%, yang dikurangi
oleh maka nan, PP 40%, plasma-t½ 6-9 jam,
mungkin juga lebih lama. Ekskresi terutama
lewat urin secara utuh.
Efek sampingnya umum, fotosensibilisasi
sering dilap orkan (di Australia), adakalanya
juga impotensi. Berlainan dengan diuretika
lain, obat ini tidak menekan sekresi urat,
melainkanmenstimulasinya.
pemakaian . sebab efek natriuresisnya dari
kelompok obat ini lemah, maka sebagai obat
hipertensi atau terhadap udema kerapkali
dipakai dalam kombinasi tertentu dengan
diuretik lainnya, misalya dengan thiazida.
Efek samping yang paling berbahaya dari
amilorida dan triamteren yaitu hiperkalemia.
Oleh sebab ini tidak boleh diberikan kepada
penderita hiperkalemia, misalnya pasien
dengan gangguan ginjal yang memakai
obat hipertensi penghalang ACE dan yang
minum diuretik penghemat kalium lainya
atau memakai K+ supplemen. Juga obat-
obat NSAID dapat meningkatkan hiperka-
lemi.
Efek samping umum lainnya yaitu mual,
muntah, diare dan sakit kepala.
Dosis hipertensi oral 1-2 dd 5 mg a.c.,
maksimal 20 mg sehari.
*Lorinid= amilorida 5 + HCT 50 mg (me-
ngandung kadar HCT terlampau tinggi).
7.Triamteren:Dytac, Dyrenium
Derivat pteridin ini (1962) berkhasiat
diuretik lemah, mulai kerjanya lebih cepat,
sesudah 2-4 jam, namun hanya bertahan ±8 jam.
Mekanisme kerjanya mirip amilorida.
Resorpsi dari usus antara 30% dan 70%, PP-
nya lebih kurang 60% dan t½ ±2 jam. Ekskresi
berlangsung lewat urin, sebagian besar se-
bagai metabolit aktif 4-hidroksitriamterene
sulfat. Urin dapat berwarna biru dan pem-
ben tukan batu ginjal dilaporkan pada 1:1500
pasien.
Efek samping umum lainnya (lihat di atas)
yaitu mual, muntah, kejang kaki dan kepala
pusing.
Dosis: hipertensi 1-2 dd 50 mg p.c., mak-
simal 200 mg.
*Dyta-urese dan *Dytenzide, masing-masing
bersama epitizida 4mg dan HCT 25 mg.
8.Asetazolamida:Diamox
Obat ini, yang diturunkan dari sulfanila-
mida (1957), dianggap sebagai pelopor thia-
zida dan merupakan diuretikum pertama
yang dipakai dalam terapi. Efekdiuretik-
nyalemah dan sesudah beberapa hari terjadi
tachyfylaxie (efeknya berkurang), maka harus
dipakai secara intermit ten. Khasiat diu-
retiknya berda sarkan perintangan enzim-
karbonanhidrase yang mengkatalisa reaksi
berikut:
CO2 + H2O ↔ H2CO3↔ H+ + HCO3
-
sebab penghambatan reaksi ini di tubuli
proksimal, maka tidak ada cukup ion-H+
lagi untuk ditukarkan dengan Na+. Hasil-
nya yaitu peningkatan ekskre si Na+, K+,
bikarbonat dan air.
Enzim karbonanhidrase ada di banyak
jaringan a.l. di mata, mukosa lambung, pan-
kreas, sistem saraf pusat dan sel darah me-
rah. Penghambatan enzim ini pada mata
mengurangi produksi cairan di dalam mata
dan menurunkan tekanan intra-okuler. Dua
jenis obat tetes mata khusus terhadap gang-
guan tekanan intra-okuler yaitu dorzola-
mida (Trusopt) dan brinzolamida (Azopt).
namun sekarang ini asetazolamida jarang
dipakai lagi pada penyakit mata glauko-
ma, ialah gangguan mata yang mengakibat-
kan meningkatnya tekanan intra-okuler (lihat
juga Bab 32. Kolinergika).
Berkat efek antikonvulsifnya pada sistem
saraf pusat dan timbulnya acidosis obat ini
dahulu diguna kan sebagai obatantiepilepsi,
namun pemakaian nya terhambat sebab
timbulnya toleransi yang cepat.
pemakaian off-label lainnya yaitu seba-
gai profilaksis obat ‘penyakit ketinggian’
(high altitude sickness atau mountain sickness,
rasa takut di tempat yang sangat tinggi) yang ber-
cirikan alkalosis dengan penghambatan pu-
sat napas; gejala ini ditanggulangi oleh aci-
dosis yang ditimbulkan oleh asetazolamida.
Resorpsi baik, mulai kerjanya dalam 1-3 jam
dan bertahan selama ±10 jam. PP 90% lebih,
plasma t½ 3-6 jam dan diekskresi lewat urin
secara utuh.
Efek samping. sebab senyawa diuretik ini
merupakan derivat dari sulfonamida, sehing-
ga juga menampakkan efek samping dari
obat-obat sulfa, seperti alergi, gangguan kulit
dan terhadap ginjal, serta depresi sumsum
tulang.
Dosis: untuk glaukoma oral 1-4 dd 250 mg,
‘penyakit keting gian’: 2 dd 250 mg dimulai 3
hari sebelum bertolak ke lokasi yang tinggi.
9.Mannitol: Manitol
Alkohol gula ini (C6H14O6) ada di tum-
buh-tumbuhan dan getahnya, juga di tum-
buhan laut. Diperoleh melalui reduksi elek-
trolitik dari glukosa. Efekdiuretiknyapesat
namun singkat dan berda sarkan sifat nya dapat
melintasi glome ruli secara lengkap, praktis
tanpa reabsorpsi di tubuli, hingga penye-
rapan kembali air dirintangi secara osmotik.
Mekanisme kerjanya khusus terletak pada
lengkungan Henle. Terutama dipakai se-
bagai infus untuk menurunkan tekanan intra-
okuler padaglaucoma dan selama bedah ma-
ta, juga untuk meringankan tekanan intra-
cranial pada bedah otak.
Dalam kelompok diuretik osmotik ini ter-
masuk gliserin (Osmoglyn), isosorbida dan
manitol (Osmitrol), yang meningkatkan eks-
kresi dari praktis semua elektrolit, termasuk
Na+, K+, Ca++, Mg++, Cl-, HCO3
- dan fosfat.
Manitol yaitu 0,6 kali kurang manis di-
bandingkan gula (saka rosa), maka diguna-
kan sebagai zat pengganti gula bagi pen-
deri ta diabetes (1g menghasilkan 8 kJ) dan
dalam berbagai gula-gula bagi anak-anak
(candy) berkat sifat non-cariogen (tidak meng-
akibat kan caries). Di atas 20 g sehari, mani-
tol berkhasiat laksatif, maka adakalanya di-
gunakan sebagai obat pencahar. Lihat juga
Bab 47, Antidiabetika oral, Zat-zat pemanis.
Efek samping: Berhubung dengan meka-
nisme diuretik osmotik yang meningkatkan
daya osmotik dari larutan ekstraselular dan
dengan ini menarik air dari bagian-bagian
intraselular, maka voluma dari larutan eks-
traselular meningkat. Pada penderita gang-
guan jantung hal ini dapat memicu
udema.
Hiponatriemia yang ditimbulkan oleh ke-
lompok diuretik ini dapat memicu sakit
kepala, mual dan muntah.
Tidak boleh diberikan kepada penderita
gangguan ginjal.
Dosis: gliserin dan isosorbida dipakai
per oral, sedang manitol per infus i.v. 1,5-
2 g/kg dalam 30-60 menit (larutan 15-25%).
* Sorbitol (Sorbo) yaitu stereoisomer dari
manitol dengan khasiat, sifat dan pemakaian
yang sama. Lihat juga Bab 47, Insulin dan
Antidiabetika Oral, Zat-zat pemanis. Dosis:
infus i.v. 1-2g /kg dari larutan 20-25%.
10. Daun Kumis kucing: remukjung, Ortho-
siphoni folium, Reinosan
Daun dari tumbuhan Orthosiphon stami-
neus ini sangat terkenal di negara kita dan me-
ngandung glikosida orthosifonin, minyak
terbang dan kalium (kadar tinggi, ±3,5%).
Zat-zat ini memiliki khasiat diuretik dan
bakteriostatik, mungkin juga litholytis (me-
larutkan batu). Maka secara tradisional re-
mukjung merupakan obat rakyat penting
untuk mengobati gangguan saluran kemih
dan kencing batu. pemakaian nya sering kali
dikombinasikan dengan ramuan lain, seperti
daun menir-meniran (Phyllan tus urinaria)
dan daun keji beling (Strobilan thus crispus),
yang keduanya pun mengandung banyak
kalium.
Dosis: 2-3 dd 150 ml dari infus 10% (godok-
an, yang dipero leh dari memanaskan 50 g
daun dengan 500 ml air di atas penangas air
selama 15 menit pada suhu 90° C). Reinosan
(350 mg estrak remukjung): 3-4 dd 1-2 tablet.
VASODILATOR
Vasodilator (Lat. vas = pembuluh, dilata tio
= memperlebar) atau vasodilatansia didefi-
nisikan sebagai zat-zat yang berkhasiat me-
lebarkan pembuluh secara langsung. Zat-zat
dengan khasiat vasodilatasi tak-langsung tidak
termasuk definisi ini, misalnya obat-obat
hipertensi yang memicu vasodilatasi
melalui blokade saraf-saraf perifer, aktivasi
saraf-saraf otak atau mekanisme lainnya,
seperti alfa- dan beta-blockers, penghambat ACE
dan antago nis-kalsium.
berdasar peng gun aannya dapat dibe-
dakan tiga kelompok vasodilator, yaitu:
a. obat-obat hipertensi : (di)hidralazin dan
minoksidil.
b. vasodilator koroner (obat angina pec-
toris): nitrat dan nitrit.
c. vasodilator perifer (obat gangguan sir-
kulasi): buflome dil, pentoxi fi lin, ekstrak
Gingko biloba, siklandelat, isoksu prin dan
turunan nikoti nat.
Ditinjau dari sudut farmako dinamika, vaso-
dila tor perifer dan obat-obat hiper tensi dengan
daya vasodilatasi tidak dapat dipisah kan
dengan tegas. Perbedaannya terutama terle-
tak pada penggun aanny a, yakni vasodilator
perifer terutama diperun tuk kan perbai kan
sirkulasi pada kea daan pereda ran darah ter-
halang (ischemia). Akan namun sejumlah obat
hipertensi tertentu juga diguna kan sebagai
vasodilator perifer, misalnya antagonis kal-
sium dan alfa-blockers.
Dalam bab ini khusus akan dibahas vaso-
dilator perifer, sedang obat-obat hiper-
tensi dan angina pectoris dibicarakan di bab-
bab tersendi ri.
Gangguan sirkulasi
Atherosclerosis (pengapuran dinding pembuluh
nadi) merupakan gangguan arteri yang paling
sering terjadi, di mana arterio le sedang
dan besar menyempit (stenose) dan hilang
kelenturan nya. pemicu nya ialah terjadinya
endapan dari antara lain lipida/kolesterol,
kalsium, polisa karida dan komponen darah
(fibrin) pada dinding pembuluh, lihat juga
Bab 37, Obat-obat jantung. Penyem pitan ini
dapat menimbul kan ische mia (tak meneri ma
darah setempat akibat terhalang nya pemasu-
kan darah) dan ter ganggunya sirkulasi pada
jan tung, otak dan otot.
1. Jantung. Akibat ischemia otot jantung
menerima kurang oksigen dan dapat
terjadi penyakit angina pectoris. Penya-
lu ran darah yang terhalang itu dapat
diperbaiki oleh vasodilator koroner de-
ngan khasiat memperle bar arteri jantung.
Gangguan jantung akan dibahas secara
luas dalam Bab 37, Obat-obat Jantung.
2. Otak. Dementia, disebut juga kepikun-
an, yaitu gangguan sel-sel otak akibat
proses menua dengan gejala seperti kele-
mahan konsentra si, perlam batan fungsi
intelek, gangguan-gangguan daya ingat
(sering lupa) dan kognitif, depresi dan
sukar tidur. Gejala ini tak jarang menyer-
tai proses menua dan insiden sinya me-
ningkat antara usia 65 dan 80 tahun,
dari kurang lebih 2% sampai 25%. Le bih
dari 50% dari kasus ini disebabkan oleh
penyakit Alzhei mer. Bentuk parah dari
demensia ini diakibatkan oleh degenera-
si sel-sel kulit otak besar dan bercirikan
antara lain kekacauan ingatan dan pikir-
an dengan peruba han kepribadian yang
berdampak terhadap kehidupan sosial.
Lihat selanjutnya Bab 28B, Obat-obat
Alzheimer.
Hanya sebagian kecil, kurang lebih
20% dari pasien dementia, ada hubun g-
annya dengan penyempitan arteriole
(vasokonstrik si; Lat. constrictio = me-
nyempit) dan sirkulasi darah buruk di
otak, yang dapat menimbul kan kekuran-
gan oksigen (hypoxi a). Dalam kasus ini
banyak dipakai vasodi lator ‘cere bral’
dengan efek bervariasi. Pada Alzheimer,
obat-obat ini sama sekali tidak berguna!
3. Otot. Terhalangnya sirkulasi dan hypoxia
otot tungkai akibat stenose arteriole se-
tempat dapat memicu antara lain
jalan pincang (claudicatio intermittens).
Faktor risiko bagi gangguan pembuluh
perifer ini yaitu merokok, diabetes, kadar
kolesterol tinggi dan hipertensi, yang juga
memperbu ruk keluhan yang sudah ada.
Penyakit arteri perifer
1. Claudi catio intermittens (CI)
CI disebut juga ‘penyakit etalase’ dan ber-
cirikan jalan pincang secara berkala, disertai
gejala khas seperti nyeri, letih dan/atau
kejang di otot pangkal paha, betis atau kaki.
sebab nyeri, kejang atau keletihan otot
itu timbul sesudah jalan sekian meter akibat
kekurangan oksigen, maka pasien perlu
berhen ti untuk istirahat, sering kali di depan
etalase. Keluhan itu hilang sesudah isti-
rahat. Gangguan ini terutama melanda lansia
di atas kurang lebih 50 tahun dan biasanya
memburuk dengan meningkatnya usia.
Pada stadium lebih lanjut, keluhan menjadi
lebih parah dan juga timbul bila duduk atau
berbaring (permulaan ischemia). Akhirnya
dapat muncul borok yang sukar sembuh,
bahkan matinya jaringan jari-jari kaki (gangre-
na), yang tak jarang harus diamputasi. Pasien
demikian berisiko lebih tinggi untuk infark
jantung dan otak. Harapan hidup penderita
claudicatio diperkirakan rata-rata 10 tahun
lebih singkat dibandingkan dengan orang
sehat.
pemicu utama yaitu penyempitan arteri
tungkai akibat athero sclerosis (stenosis), di-
perparah dengan penurunan kelenturan
eritrosit. CI juga memicu kecende-
rungan agrega si trombo sit meningkat, yang
diakibatkan oleh pembeba san ‘platelet-acti-
vating factor’. PAF ini yaitu suatu fosfolipi-
da, yang dibentuk di makrofag, lekosit dan
sel endotel, yang mengikat diri pada reseptor
di lekosit, trombosit dan mastcells. Hasilnya
yaitu pelepasan mediator, seperti histam in
dan eicosa noida (prostaglandin, prostasiklin,
trom boksan, leukotriën), yang mencetuskan
agregasi trombosit, vasodilatasi, peningkatan
permeabilitas pembuluh dan pembentukan
udema.
* Ischemia dan hypoxia yaitu keadaan ke-
kurangan oksigen dengan gangguan meta-
bolisme, yang juga berperan penting pada CI.
Keadaan ini berarah ke pembentukan radikal
bebas (FR) berlebihan, yang dapat merusak
dinding pembuluh dan mengganggu proses
seluler. FR menginduksi pemben tukan per-
oksida (dari asam lemak tak-jenuh) yang
mengham bat prostasiklin-sintetase. Akibat-
nya, keseimbangan prostasiklin PgI2 dan
tromboksan TxA2 terganggu. Peran TxA2
menjadi dominan dengan antara lain efek
vasokonstriksi, peningkatan agregasi trom-
bosit dan akhirnya sirkulasi darah di jaringan
bersangkutan menurun.
Tindakan umum yang dapat dilakukan
sendiri yaitu latihan jalan, artinya berjalan
secara teratur beberapa kali sehari dan setiap
kali diusahakan memperpanjang jaraknya.
Dampak nya yaitu jarak jalan akan terus
bertam bah dan aliran darah diper baiki, ka-
rena terbukanya cabang pembuluh-darah
tak-aktif yang selalu ada di dalam otot
(anastomose). Merokok perlu sekali dihentikan
agar pemburukan lebih lanjut dari arteri o le
dihambat. Singkatnya, seorang ilmuwan (dr
Housley) menganjur kan: ‘Stop smoking and
keep walking’.
biasanya dian jurkan pula untuk
makan secara bijaksana(miskin lemak, lihat
Bab 54, Dasar-dasar Diet Sehat), terlebih pula
bila pasien terlampau gemuk atau kadar
koleste rolnya terlalu tinggi.
Pengobatan Untuk kasus berat dan bila
latihan-jalan kurang berhasil, dianjurkan te-
rapi dengan suatu obat reologis, yakni pen-
toksi fi lin, buflomedil dan ekstrak Gingko
biloba. Obat-obat ini memperbaiki kelentur-
an eritrosit dan menurunkan viskositas
darah, maka memperbaiki aliran darah perifer.
Ketiga obat ini juga menghambat penggum-
pa lan trombo sit. Bila pemakaian nya sesudah
maksimal 3 bulan tidak menghasilkan efek
yang nyata, maka melanjutkan terapi tidak
ada faedahnya lagi.
Penanganan lain. Bila kelu han menghe -
bat dan pengobatan tidak ampuh (lagi),
maka dapat dipertimbangkan pembedahan
pembuluh, yang hanya dilakukan dalam
sejumlah kasus kecil. Teknik yang paling
populer yaitu metode angioplastik dari
dr. Dotter, di mana penyempitan arteri di-
tiadakan dengan jalan memipihkan atheroma
dengan balon kecil yang dihembuskan me-
lalui catheter di dalam arteri. Pembedahan
bypass juga banyak dilakukan, dengan mem-
buat jalan pintas pada segmen arteri yang
menyempit atau tersumbat dengan sepotong
vena dari tubuh pasien sendiri. Dottering
dan bedah bypass kini banyak dipakai
pada penderita penyempitan arteri koroner
(jantung).
2. Penyakit Buerger
Gangguan ini juga bercirikan jalan pin-
cang dengan nyeri/le tih otot (CI), namun
disebabkan oleh peradangan kronis berkala
dari arteri yang disertai pembentukan trom-
bose, terutama di anggo ta tubuh. Penyakit
ischemia ini jarang terjadi, namun paling
sering menyerang pria perokok berat pada
usia antara 25-35 tahun.
Penanganannya berupa sympa thectomia,
yakni pembedahan dengan mengelu arkan
sebagian dinding luar arteri, di mana ada
saraf simpatikus, dengan efek vasodilatasi.
Pengobatan agak efektif dapat dilaku kan
dengan obat antitrombotis iloprost untuk
waktu lama.
3. Sindrom Raynaud
Gangguan sirkul asi ini tidak diakibat-
kan oleh stenose akibat atherosclerosis, me-
lainkan oleh serangan kejang pembuluh
(vaso spasm). Khususnya mengenai jari-jari
tangan (dan sewaktu di kaki) yang membiru
dan kemudian memucat untuk semen tara
waktu; gangguan ini disebabkan oleh hawa
dingin atau kadang-kadang juga emosi.
Kebanyakan penderita penyakit ini yaitu
wanita pada usia subur.
Tindakan umum yang dapat dilakukan sen-
diri yaitu berhenti merokok, menghin-
dari hawa dingin dan gerak badan secu-
kupnya. Obat-obat yang dapat memicu
vasokon striksi pada jari-jari harus dielakkan,
misalnya beta-blockers dan ergota min, juga
bleomisin.
Pengobatan dapat dilakukan dengan vaso-
dilator dengan efek tak menentu, terutama
dengan antagonis-kalsium (nifedipin),alfa-
blockers (prazo sin) dan ilo prost. Efek vaso-
di lator lain diragukan sebab belum dipas-
tikan secara ilmiah, misalnya isoxuprin, xan-
tinolnikotinat dan siklande lat (Cyclospasmol).
Penanganan lain. Sympathectomia pernah
agak sering dilakukan, namun kini jarang lagi
berhubung efeknya tak menentu; persentase
kambuhnya tinggi (sampai 90%) dan ke-
mung kinan timbulnya efek samping agak
besar.
4. Insufisiensi cerebral
Gangguan ini disebabkan oleh gangguan
sirkulasi di otak dan sering kali diobati
dengan ‘vasodilator otak’. Terutama dite-
mukan pada lansia di atas usia 60 tahun.
Gejalanya dapat berupa kelemahan ingatan
jangka-pendek dan konsen trasi, pusing tu-
juh-keliling (vertigo), kuping berdengung
(tinnitus), jari-jari dingin dan depresi. Un-
tuk mengobati gejala itu sering kali
dipakai , namun dengan efek tak menentu:
kodergok rin, antago nis-kalsium (flunari zin,
bensik lan), ekstrak Gingko biloba, naftidrofuryl
(Praxilene), citicolin (Nicho lin) dan ni cergolin
(Sermi on).
* Nootropika, yakni zat-zat yang dapat
memperbaiki akal budi (Yun = nous), seperti
piracetam(Nootropil) dan pyritinol (Encep ha-
bol) juga banyak dianjurkan; efeknya pun
diragukan.
Jarak hidup penduduk dunia akan semakin
panjang berhubung dengan meningkatnya
harapan hidup rata-rata, maka jumlah orang
yang akan mende rita gangguan sirkul asi
ini juga akan meningkat. Dengan demikian,
menurut dugaan, di masa depan obat-obat
itu akan menjadi semakin penting.
Pengobatan gangguan sirkulasi
Kecepatan aliran darah tergantung dari
sifat rheologis (Yun. rheos = arus, logos = kata,
ajaran), lebarnya pembuluh dan tekanan
darah. Sifat mengalir ini berkaitan dengan
viskosi tas darah yang dapat diperbaiki de-
ngan jalan meningkatkan kelenturan eritrosit
dan mencegah penggumpalan trombosit.
Gangguan penyaluran darah perifer ke-
banyakan disebabkan oleh penyempitan
(stenosis) akibat arterosclerosis tanpa kela-
inan tekanan darah. Pengobatan yang kini
dipakai terdiri atas dua kelompok obat,
yakni vasodi lator perifer dan zat-zat yang
memperbaiki sifat rheolo gi darah.
a. Vasodilator perifer isoxsuprin, xantinol-
nikotinat dan siklandelat. Hingga kini belum
ditemukan obat yang secara efektif dapat
menyembuh kan atherosclerosis, yakni mela-
rutkan dan menghilang kan ather oma di
dinding-pembuluh. Oleh sebab itu vasodi-
la tor yang berdaya mendilatasi pembuluh
yang telah menyem pit akibat kejang sering kali
dipakai . namun bila ada penyempitan
akibat atherosclerosis vasodilator umumnya
tidak efektif. Hal ini sebetulnya mudah dime-
ngerti, sebab arteriole yang sudah mengeras
sukar diperlebar lagi. Bahkan tak jarang
terjadi efek berlawanan, yakni pembuluh
sehatlah (yang masih elastis) yang menga-
lami dilatasi, hingga pengaliran darah ke
arteriole sempit justru berkurang. Peris tiwa
ini disebut “steal effect”.
b. Zat-zat rheologis : buflomedil, pentoksifi lin
dan ekstrak Gingko biloba
Obat-obat ini dapat memperbaiki sifat
mengalirnya (rheologi) dan viskositas darah
dengan berbagai jalan. Misalnya dengan
menghambat penggumpalan trombosit,
mencegah pembekuan eritrosit (akibat an-
tara lain pemasu kan kalsium) dan mem-
pertahankan/memper baiki kelenturannya.
Berkat kelenturan ini, eritro sit pada keadaan
normal berdaya mengubah bentuk nya dan
mampu memasuki kapiler terkecil dengan
diame ter 3-4 mikron, yakni lebih kurang
separuh dari diame ternya sendiri. Daya ini
hilang pada eritrosit yang sudah hilang ke-
lenturannya, hingga mikrosir kulasi di ja-
ringan bersang kutan akan terhalang dengan
efek hypoxia.
Zat-zat pengencer darah (asetosal, antiko-
agulansia) yang juga berkhasiat menghambat
penggumpalan pelat darah atau berdaya
melarutkan trombi yang sudah ada dan
mencegah pembentukan trombi baru pada
hakekatnya tidak dipakai pada gangguan-
gangguan sirkulasi.
Penggolongan
Vasodilator dapat digolongkan secara kimi-
awi dan menurut titik-kerjanya, yaitu:
1. alfa-blockers: prazosin, buflomedil dan ko-
dergokrin.
Zat-zat ini merintangi reseptor alfa-adre-
nergik dengan efek memperlemah daya va-
sokonstriksi noradrenalin terhadap arterio le,
lihat selanjutnya Bab 35, Antihipertensiva.
2. beta-adrenergika: isoxuprin.
Zat ini menstimulasi reseptor beta-adre-
nergik di arterio le dengan efek vasodilatasi di
bronchia dan otot, namun terutama di bagian
yang tidak sakit.
3. Antagonis-Ca: nifedipin dan nimodipin,
flunarizin dan sinarizin.
Antagonis-Ca memblokir pemasukan ion
kalsium ekstraselular di sel otot jantung dan
otot polos pembuluh, sehingga penyaluran
rangsangan dan kontraksi dari otot-otot ini
dikurangi. Akibatnya yaitu a.l. vasodilatasi
di arteriole (koroner dan sistemik), sehingga
tekanan darah menurun. Dinding vena tidak
dipengaruhi sebab jauh kurang sensitif.
Ada dua kelompok yaitu zat-zat yang
memblok pemasukan ion kalsium dan zat-
zat yang menghindari peningkatan kadar
kalsium berlebihan yang disebut penghambat
overload kalsium (mis. flunarizin).
Efek samping dari semua antagonis kalsium
terdiri dari efek-efek perlebaran pembuluh
yang tidak diinginkan, seperti sakit kepala,
“flushes” dan pusing, terutama timbul pada
senyawa dihidropiridin. Juga dapat timbul
hipotensi, debar jantung ringan dan keluhan
saluran cerna dan udema pergelangan kaki.
Penghambat pemasukan ion kalsium dapat
dibagi berdasar struktur kimianya seba-
gai berikut.:
1. Fenilalkilamin (verapamil); lihat Bab 35
Antihipertensiva
2. Benzothiazepin (diltiazem); lihat Bab 35
Antihipertensiva
3. Senyawa-senyawa dihidropiridin atau
kelompok nifedipin (amlodipin, barnidi-
pin, felodipin, isradipin, lasidipin, lerka-
nidipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin,
nitrendipin).
4. Derivat nikotinat: nikotinilalkohol, xantinol-
dan metilnikotinat.
Asam nikotinat dan derivatnya terutama
mendilatasi pembu luh kulit di muka, leher
dan otot lengan, sedang penyalu ran da-
rah ke bagian bawah tubuh justru berkurang.
Maka itu, zat ini kurang berguna terhadap
gangguan sirkulasi di betis atau kaki (claudica-
tio), lebih efektif pada vasospasme di kulit (S.
Ray naud).
5. Obat lainnya: iloprost, pentoksi fi lin, ekstrak
Gingko biloba dan siklandelat (Cyclospasmol).
Efek samping
Semua vasodilator memicu beberapa
efek samping yang berta lian dengan vasodi-
latasi, yaitu:
– turunnya tekanan darah (hipotensi) de-
ngan pusing dan nyeri kepala berde-
nyut-denyut. Efek hipotensif dari obat-
obat hipertensi dapat diperkuat.
– tachycardia reflektoris (frekuensi jantung
naik akibat aksi-balasan) dengan gejala
debar-jantung (palpitasi), perasaan panas
di muka ((flushing) dan gatal-gatal.
– gangguan lambung-usus, seperti mual
dan muntah-muntah. Guna mengurangi
efek yang tak diinginkan ini vasodilator
sebaiknya diminum pada waktu atau
sesudah makan.
Kehamilan dan laktasi
Kebanyakan vasodilator perifer belum
memiliki data mengenai keamanannya bagi
janin, maka sebaiknya jangan diguna kan
oleh wanita hamil. Pengecualian yaitu is-
oxsuprin, yang juga dapat diminum selama
laktasi. Antagonis-kalsium dan derivat-ni-
kotinat dapat mencapai air susu.
MONOGRAFI
A. ZAT ZAT RHEOLOGIS
1. Buflomedil: Loftyl
Derivat` pyrolidin ini berkhasiat alfa-adre-
nolitik (alfa-reseptorblocker), menghambat
agregasi trombosit dan memperbaiki ke-
lenturan eritrosit dengan efek vasodilatasi
dan peningkatan sirkulasi darah perifer.
Efektif pada claudicatio dengan memperbaiki
jarak-jalan tanpa-nyeri, efeknya baru nyata
sesudah 2-4 minggu.
Efek sampingnya berupa umum; pada dosis
terlampau tinggi dapat terjadi agita si, rasa
kantuk, malah konvul si.
Dosis: oral 2 dd 150 mg selama minimal 12
minggu. Setengah dosis pada gangguan
hati/ginjal dan bagi lansia.
2. Pentoxyfilin: Trental
Derivat teofilin ini (1972) berkhasiat vaso-
dilatasi lemah, anti trombo tis dan fibrino-
litis, juga memper baiki kelenturan erit-
ro sit. Mekanisme kerjanya diperkirakan
berdasar penghambatan fosfo diëste rase
hingga kadar ATP (energi) dan fosforilasi
protein membran dari eritrosit meningkat.
Juga bersifat inotrop posi tif. Teruta ma digu-
nakan pada claudica tio.
Resorpsinya dari usus hampir lengkap,
namun mengalami FPE besar, BA-nya hanya
20%. PP-nya nihil, plasma-t½-nya kurang
lebih 3,5 jam; ekskresinya berlangsung lewat
kemih sebagai metabolit.
Dosis: oral 2-3 dd 400 mg d.c. selama 2-3
bulan.
3. Ekstrak Gingko biloba: EGb 761, Tebokan,
Tavonin, Brenax
Po hon klenteng Jepang (Gingko biloba) yaitu
pohon prehis toris yang sudah hidup berjuta-
juta tahun di Cina dan Jepang dan dianggap
sebagai “fosil hidup”. Namanya berdasar
buahnya yang berwarna keperak-perakan
(Jep. gin = perak, ko = buah). Daunnya yang
berbentuk kipas terbelah (Lat bi = dua, loba =
umbai) rontok di musim dingin..
Di Prancis (1974, Tanakan), Jerman (1977,
Tebonin forte) dan Belanda (1998, Tavonin) EGb
14108649_OBAT P(Bab 34)_T-532-540.indd 536 21/04/2015 19:38:39
Bab 34: Vasodilator 537
sudah diregistrasi sebagai obat, sedang
di negara-negara lain (masih) sebagai ‘food
supple ment’. Kini tanaman ini dibudidayakan
secara besar-besaran di AS dan Kanada.
Ekstrak daunnya mengan dung banyak zat,
terutama glikosida flavon (querce tin, kaempfe-
rol dan rutin) dan laktonterpen(gingkoli da A,
B, C, dan M, bilobalida), juga mengandung
asam shiki mic, protoca te chuic, vanillic, dan
p-hidroksiben zoat.
Flavonoida meringankan keregasan (fra-
gilitas) kapiler dan meningkatkan ambang
keluarnya darah dari kapiler, sehingga keru-
sa kan otak dihalangi. Flavon sebagai anti-
oksidans juga berfungsi sebagai perangkap
dan netralisator radi kal bebas oksigen(scave nger)
serta menghambat peroksida si membran
sel. Diperkirakan hal ini menghindarkan
kerusakan dinding pembuluh dan terjadinya
udema.
* Gingkolida-B menghambat dengan kuat
PAF (platelet-activating factor) yang dihasil-
kan oleh banyak jaringan. PAF berkhasiat
menstimulasi agregasi trombosit, broncho-
konstriksi, vasodilatasi kulit, hipotensi dan
pelepasan zat-zat-peradang (enzim dan ok-
sidans ia) dari fagosit. Terutama gingkolida B
menghambat semua efek ini. Lagi pula zat-
zat ini meningkatkan kekuatan mengalirnya
darah dan memperbaiki sirkulasi dengan
jalan peningkatan kelenturan eritrosit dan
penurunan kecenderungan penggumpalan.
Efeknya yaitu penurunan viskositas darah
di terutama arteri kecil dan sedang, juga di
kapiler.
* Bilobalida menunjang efek gingkolida de-
ngan memperbaiki daya tahan jaringan otak
terhadap hipoxia dan meningkatkan aliran
darah otak (mikrosirkulasi).
Resorpsi dari usus baik, BA dari gingkolida
A 98%, dari B 79% dan dari bilobalida 72%.
Ekskre sinya terutama melalui urin secara
utuh, masa paruhnya gingkolida 4-7 jam, dari
bilobalida 3 jam.
pemakaian . Khasiatnya itu telah
dipastikan oleh banyak studi. Pada claudi-
catio EGb ternyata efektif pada 75% kasus,
di mana jarak jalan maksimal (tanpa nyeri)
dapat diperbe sar dengan nyata, teruta ma
pada stadia permu laan penyakit. Sejak tahun
1980-an, EGb semakin banyak diguna kan
dengan efek baik di Eropa dan AS untuk
terapi semua gangguan sirkulasi otak yang
memicu kemunduran fungsinya, se-
perti lemah ingatan dan menurunnya konsen-
trasi. Beberapa studi telah memberikan indi-
kasi bahwa EGb mampu menghentikan
progres dan memperbaiki sementara gejala
dementia Alzhei mer, lihatBab 28 C, Obat-obat
Alzheimer. Juga gejala pusing tujuh-keliling
(vertigo), kuping berdengung (tinni tus), jari-
jari kaki-tangan dingin, depresi dan peru-
bahan suasana jiwa (‘moo d’) yang disertai
perasaan gelisah.
Efek sampingnya ringan dan tak sering
terjadi: ganggu an lambung-usus, nyeri ke-
pala dan reaksi alergi kulit. Akhir-akhir ini
telah dilaporkan terjadinya perdarahan di
bawah selaput otak (subarachnoidal) pada
seorang pasien berusia 61 tahun yang telah
memakai ekstrak ini untuk waktu yang
panjang. pemicu nya diperkirakan sebab
efek anti-PAF kuat dari gingkolida-B. Untuk
pemakaian nya selama kehamilan dan
laktasi belum ada cukup data.
Interaksi. Berhubung efek antiagregasinya
gingko dapat memperkuat efek asetosal
dan antikoagulansia dengan terjadinya per-
darahan. Telah dilaporkan koma pada pasien
Alzheimer yang mengkombinasi gingko de-
ngan antidepresivum trazodon.
Dosis: oral 3 dd 1 tablet a.c. tanpa dikunyah
(= 40 mg EGB yang mengandung 9.6 mg
glikosida flavon dan 2,4 mg lakton terpen)
selama minimal 3 bulan. EGb 761 distand-
arisasi pada 24% glikosida flavon dan 6%
laktonterpen (3,1% gingkolida A, B dan C,
2,9% bilobalida). 1 g ekstrak = 50 g daun ke-
ring.
B. VASODILATOR PERIFER
4. Isoxsuprin: Duvadilan
Derivat-fenoksi ini (1956) yaitu adrener-
gikum dengan kerja anti koliner gik, juga
berkhasiat vasodilatasi dan menurunkan vis-
ko sitas darah dengan memperbaiki kelen-
turan eritrosit. Teruta ma bekerja terhadap
14108649_OBAT P(Bab 34)_T-532-540.indd 537 21/04/2015 19:38:39
Seksi VI: Jantung, Pembuluh, dan Darah538
pembuluh otot di beberapa organ, termasuk
uterus dan bekerja lebih ringan terhadap
pembuluh kulit. Isoxsuprin mengu rangi
frekuensi dan intensitas kontraksi uterus
(spontan atau akibat oxytocin). dipakai
pada S. Raynaud dan juga pada keguguran
yang mengancam (abortus imminens) serta
nyeri haid dengan kejang-kejang.
Resorpsinya dari usus baik, BA-nya hanya
3%, plasma-t½-nya kurang lebih 2 jam, eks-
kresinya terutama lewat kemih. Efek sam-
pingnya jarang terjadi dan bersifat umum.
Obat ini aman bagi wanita hamil dan me-
nyusui.
Dosis: oral pada vasospasme perifer dan
dysmenorroe 3-4 dd 10-20 mg (klorida) p.c.,
i.m. 3 dd 10 mg.
5. Kodergokrin: DH3, dihidroergotoksin, Hy-
dergin
Campuran (1949) tiga derivat-dihidro
dari ergotoksin (= ergokornin + ergokristin +
ergo-kriptin) berdaya memblok reseptor
alfa-adrenolitik dengan efek vasodilatasi,
juga tidak bekerja oxyto cic. Sifat-sifat ini
berlawanan dengan zat induknya yang ber-
khasiat vasokonstriksi dan memicu
kontraksi rahim.
Di samping itu, zat ini juga menstimulasi
neurotransmisi di otak dengan mengaktivasi
reseptor dopamin serta serotonin dan mem-
perbaiki metabolisme sel-sel otak yang ter-
ganggu. Atas dasar ini, kodergokrin digu-
nakan pada keadaan dementia dengan efek
yang tak menentu. Juga dipakai pada
gangguan sirkulasi perifer dan sebagai
profilaksis pada pelbagai jenis sakit kepala,
antara lain migrain. Pada P. Alzheimer tidak
berguna. Lama kerjanya hanya singkat, seki-
tar 3 jam.
Resorpsinya dari usus 30% dengan FPE
besar, hingga BA-nya hanya kurang lebih
10%. PP-nya 80%, plasma-t½-nya lebih ku-
rang 2 jam. Ekskresinya terutama melalui
empedu dan tinja dan hanya 2% lewat kemih
secara utuh.
Efek sampingnya yang paling sering terjadi
yaitu hidung tersum bat, kadang kala mu-
al dan muntah, kulit menjadi merah dan
bradycar dia.
Dosis: oral sebagai (mesilat) 3 dd 1,5 mg
a.c., i.v. 1-2 dd 0,3 mg.
6. Iloprost: Ilomedine, Ventavis
Analogon ini dari prostacyclin (PgI2)
berkhasiat vasodilatasi dan fibrinolitis, juga
menghambat agregasi trombosit (1992).
Mengu rangi pelepasan radikal bebas oksigen.
Mekanisme kerjanya belum begitu diketahui;
terutama diguna kan pada penyakit Buerger.
Pengikatannya pada protein 60%, plasma-t½-
nya 30 menit. Ekskre sinya sebagai metabolit
tak aktif dan diekskresikan 80% melalui
kemih dan 20% melalui empedu.
Efek sampingnya berupa flushing, nyeri
kepala, juga gangguan lambung-usus dan
gejala influenza dengan perasaan kacau,
sedasi dan tachycardia. Juga nyeri dan men-
jadi merah di tempat infus. Tak boleh digu-
nakan oleh wanita hamil dan yang menyusui.
Dosis: infus i.v (sebagai trometamol) 0,5
nanogram/kg/menit selama 30 menit untuk
2-3 hari pertama. Kemudian dinaikkan seper-
lu nya.
C. ANTAGONIS KALSIUM
7. Nifedipin: Adalat/retard
Derivat dihidropiridin ini (1975) termasuk
kelompok antagonis-kalsium (‘calcium entry/
channel blockers’) yang berdaya menghambat
masuknya Ca ke dalam sel-sel otot-jantung
dan sel-sel otot-polos dinding arteri. Oleh
sebab itu, kontraktilitas sel-sel itu
dihambat dengan efek vasodi latasi. Banyak
dipakai antara lain pada penyakit jantung
angina pectoris dengan menghindarkan
terjadinya kejang hingga penya luran darah
ke otot-jantung meningkat (lihat Bab 37,
Obat-obat jantung). Juga pada hipertensi ber-
kat daya vasodilatasi peri fernya dan pada
Sindrom Raynaud guna meniadakan kejang
di jari-jari tangan. Lihat selanjutnya Bab 35,
Antihipertensiva.
Dosis: pada S. Raynaud oral 2 dd 10-40 mg
tablet retard.
* Nimodipin (Nimotop) yaitu derivat lipofil
dengan khasiat dan peng gunaan yang sama
(1985). Di samping indikasi di atas, zat ini
dipakai pula sesudah pendarahan otak
untuk mencegah keluhan ischemia akibat
kejang pembuluh otak. Dianjurkan pula
pemakaian nya pada kelemahan fungsi otak
(ingatan dan fikiran).
Pada suatu studi dengan 755 lansia (Pe-
rugia Nimodipi ne Study Group, 1993) telah
dibuktikan efek baiknya terhadap daya
belajar dan lemah ingatan. Cara kerjanya
berdasar kan teori bahwa pada proses me-
nua metabolisme kalsium terganggu dan
tidak berlangsung normal lagi. Antagonis-
Ca nimodipin berdaya menor malisasi pertu-
karan zat yang terganggu itu.
Dosis: oral 4-6 dd 60 mg.
8. Bensiklan: Fludilat
Derivat sikloheptan ini yaitu antagonis
kalsium pula dengan kerja selektif terhadap
arteriole. Berkhasiat memperbaiki kelentur-
an eritrosit dan mikrosirkulasi, sehingga
dianjurkan pada insufisiensi otak dan
gangguan sirkulasi perifer. Pada claudicatio
dilaporkan berguna untuk memperbesar
jarak-jalan. Obat ini juga memiliki sifat
antitrombo tis dan antiserotonin.
Efek sampingnya berupa umum; pada over-
dose dapat timbul efek sentral, seperti gelisah,
tremor, pusing, sukar tidur dan sebagainya.
Dosis: oral 3 dd 100 mg bila perlu sesudah
seminggu dinaikkan sampai 600 mg sehari.
I.v. 3-4 dd 50 mg.
9. Flunarizin: Sibelium
Derivat-sinarizin ini (1982) yaitu anta-
gonis kalsium khusus (‘calcium overload
blocker’), yakni menghindari peningkatan
berlebihan kadar-Ca intraseluler selama ada-
nya ischemia. sebab itu tak terjadi vaso-
konstriksi akibat kejang dan hypoxia otak.
Berkhasiat memperbaiki kelenturan eritro-
sit dan sedatif terhadap serambi organ
keseim bangan (vestibulum). Pada dosis tinggi
berkhasiat antihistamin dan antiserotonin.
Obat ini tidak aktif terhadap arteri jantung,
juga tidak memengaruhi fungsi jantung serta
tidak menurun kan daya-tahan pembu luh
dan tekanan darah.
pemakaian nya yaitu pada keadaan hi-
poxia di jaringan peri fer, seperti vertigo
(pusing tujuh keliling dengan nausea akibat
ganggu an keseimbangan), yaitu untuk
mengurangi hebatnya dan frekuensi seran-
gan. Obat ini juga untuk profilaksis migrain
bila obat-obat lain kurang efektif; efeknya
baru nyata sesudah lebih kurang 3 bulan.
Pada epilepsi dipakai sebagai obat tam-
bahan bila ada resistensi untuk obat-obat
lain. Efek pemakaian nya pada claudicatio
sering kali kurang memuaskan.
Resorpsinya dari usus hampir lengkap
dan pesat berhubung sangat lipofil, namun
mengalami FPE kuat. PP-nya 90% dengan
plasma-t½-nya 18 hari. Afinitasnya besar
sekali untuk membran sel, lemak dan otak.
Ekskresinya berlangsung terutama sebagai
metab olit inaktif lewat tinja.
Efek sampingnya yang paling sering terjadi
yaitu rasa letih dan kantuk, terutama se-
lama minggu pertama. Adakalanya berat
badan bertambah, mungkin berhubung efek
antiserotonin. Tachy car dia dan flushing
tidak terjadi. Pada tahun-tahun terakhir mu-
lai dilapor kan depresi dan gejala ekstra-
piramidal, terutama pada lansia. Oleh sebab
itu, tidak dianjurkan untuk pasien Parkinson.
Dosis: vertigo dan gangguan sirkulasi
perifer, oral malam hari 10 mg, orang tua 5
mg.
* Sinarizin (Cinnipirine, Stugeron) (1959)
yaitu zat-induk flunari zin dengan khasiat
dan pemakaian yang lebih kurang sama,
namun kerjanya lebih lemah, kecuali sifat
antihistaminiknya lebih kuat pada dosis
biasa. Lihat juga Bab 51, Antihistaminika.
Dosis: pada vertigo oral 1-3 dd 25-50 mg,
pada ganggu an sirkulasi perifer 3 dd 75 mg.
10. Asam nikotinat: niacin, PP-factor, Niaspan
Berlainan dengan nikotinamida (vitamin
B3), asam ini (1913) berdaya vasodilatasi
perifer, terutama terhadap pembuluh tubuh
di bagian atas. Dapat memicu ‘steal
effect’ ke bagian bawah tubuh. Kerja vasodi -
latasinya hanya singkat, turu nannya bekerja
lebih lama. Pada dosis tinggi, nikotinat ber-
khasiat menurunkan kolesterol (LDL,VLDL)
dan trigliserida darah (lihat Bab 36, Anti-
lipemika), namun penggun a an nya sebagai
obat antilipemik dibatasi oleh efek samping-
nya. Adaka lanya obat ini dipakai lokal
dalam krem sebagai vasodi lator kulit untuk
memperbaiki efek obat-obat lain, misalnya
dengan heparin (*Thrombop hob).
Efek sampingnya yang tidak enak yaitu
terutama flushing mendadak (muka merah
dengan gatal-gatal) dan muntah. Pada dosis
rendah efek ini lambat-laun lenyap dengan
sendiri nya, begitu pula gatal-gatal dan iritasi
kulit. Pada dosis tinggi risiko gangguan
fungsi hati dan kerusakannya meningkat.
pemakaian nya oleh wanita hamil dan me-
nyusui belum ada cukup data.
Dosis: oral 3 dd 50-150 mg p.c., hiperko-
lesterolemia sampai 3-6 g sehari.
* Nikotinilalkohol (piridilkarbinol, Ronicol)
yaitu precursor asam nikotinat dengan
daya vasodilatasi lemah dan di dalam hati
dioksidasi menjadi nikotinat. Mulai kerjanya
lebih lambat, namun bertahan lebih lama.
Dikatakan efektif pada gangguan sirkulasi
di otak dan otot tungkai. Praktis tidak menu-
runkan tekanan darah.
Dosis: gangguan sirkulasi oral 2 dd 150
mg (tablet time span). Pada hiperlipidemia:
berangsur-angsur dinaikkan sampai 3-4 dd
300 mg.
* Ksantinolnikotinat (Complamin) yaitu se-
nyawa kompleks dari asam nikotinat dengan
basa kuat xantinol (1958), yang sebagai deri-
vat teofilin berdaya inotrop positif lemah.
Lagi pula berdaya fibrinolitis seperti semua
derivat lainnya. Dosis: oral 2-3 dd 300-600 mg
d.c. atau 2 dd 500 mg.
* Metilnikotinat yaitu derivat yang khusus
dipakai secara lokal sebagai vasodilator
pada nyeri otot (krem 5%), sering kali di-
kombinasi dengan suatu analgetikum, misal-
nya metilsalisilat.
ANTIHIPERTENSIVA
TEkANAN dARAH
(Td, TENSI)
Jantung sering kali diibaratkan suatu pompa
yang menyalurkan cairan (darah) melalui
pipa lentur (pembuluh) ke wadah (organ) dan
kemudian kembali. Bila jantung menguncup
(kontraksi), darah dengan pesat dipompa ke
dalam pembuluh nadi besar (aorta) dengan
tekanan agak tinggi. Dari sini darah dialirkan
berangsur-angsur ke dalam arteri dan arte-
riole lainnya dengan tekanan semakin ber-
kurang. Tekanan ini yaitu perlu agar darah
mencapai seluruh organ dan jaringan dan
kemudian untuk bisa mengalir kembali ke
jantung melalui vena. Lihat selanjutnya Bab
37, Sirkulasi Darah.
* Pengukuran TD. Tekanan darah terhadap
dinding arteri dapat diukur dengan suatu
alat pengukur khusus, yakni manometer
air raksa; tensi yang diperoleh biasa nya di-
nyatakan sebagai mm Hg (air raksa). TD
sistolis yaitu tekanan pada dinding arteriole
sewaktu jantung menguncup (sistole) dan
TD diastolis bila jantung sudah mengendur
kembali (diastole). Jelas lah bahwa TD sistolis
selalu lebih tinggi daripada TD diasto lis dan
dengan demikian tensi kita selalu bervariasi
antara tinggi dan rendah sesuai dengan detak
jantung.
* Batas-batas tensi normal. TD bervariasi
sepanjang hari antara batas-batas tertentu
dan















