Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 30. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 30. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 30





 anak ginjal aldosteron. Antago-

nis aldosteron (spironolakton) dan zat-zat 

penghemat kalium­ (amilorida, triamteren) 

memiliki titik kerja di sini dengan meng-

akibatkan ekskresi Na+ (kurang dari 5%) 

dan retensi- K+.

4.­­ saluran­ pengumpul. Hormon antidiuretik 

ADH (vasopresin)dari hipofisis memiliki 

titik kerja di sini dengan memengaruhi 

permeabilitas sel-sel saluran ini bagi air 

(homeostasis air).

Vasopressin yaitu  suatu neurotrans-

mitter dan berfungsi sebagai vasopressor 

kuat di samping fungsinya pada sistem 

saraf pusat dengan mengatur sekresi hor-

mon adrenokortikotrop (ACTH), suhu tubuh, 

sistem kar-diovaskular dan fungsi alat cerna. 

Penggolongan

berdasar  mekanisme kerjanya diuretika 

dibagi dalam beberapa kelompok, yaitu: 

a.­ Diuretika­ lengkungan/loop:­ furosemida, 

bumetanida dan etakrinat.

Obat-obat ini berkhasiat kuat dan 

bekerja pesat namun  agak singkat (4-6 

jam). Banyak dipakai  pada keadaan 

akut, misalnya pada udema otak dan 

paru-paru. Memperlihatkan kurva dosis-

efek curam, artinya bila dosis dinaikkan 

efeknya (diuresis) senantiasa bertam bah.

b.­ Derivat­ thiazida: klorothiazida, hidrokloro-

thiazida, polithiazida, bedroflumethiazida, 

metiklothiazida, triklormethiazida, klorta-

lidon, mefrusida, indapamida dan klopamida.

Efeknya lebih lemah dan lambat, te-

tapi bertahan lebih lama (6 - 48 jam) dan 

terutama dipakai  pada terapi peme- 

liharaan hipertensi dan kelemahan jan-

tung (decompensatio cordis). Obat-obat ini 

memili ki kurva dosis-efek datar, artinya 

bila dosis optimal dinaikkan lagi efeknya 

(diuresis, penurunan tekanan darah) ti-

dak bertambah. 

Struktur kimia dari hidroklorothiazida 

mirip dengan struktur klortalidon, namun  

farmakokinetik dari kedua senyawa diu-

retik ini sangat berbeda. Waktu paruh 

(t1/2) dari HCT sangat bervariasi antar-

individu, sekitar 3-13 jam. sedang  t1/2 

dari klortalidon jauh lebih panjang, yaitu 

50-60 jam sebab  membentuk depot. 

berdasar  hal ini ada kecenderungan 

untuk memilih klortalidon di banding 

HCT8. 

c.­­ Diuretika­ penghemat­ ion­ kalium: anta-

gonis aldosteron (spironolakton, kanrenoat), 

amilorida dantriamteren. Efek obat-obat 

ini hanya lemah dan khusus dipakai  

terkombinasi dengan diuretika lainnya 

untuk menghemat ekskresi kalium. Al-

dosteron menstimulasi reabsorpsi Na+ dan 

ekskresi K+; proses ini dihambat secara 

kompetitif oleh obat-obat ini.

Amilorida dan triamteren dalam keadaan 

normal hanya lemah efek ekskresinya 

bagi Na+ dan K+. namun  pada pemakaian  

diuretika lengkun gan dan thiazida terjadi 

ekskre si kalium dengan kuat, maka pem-

berian bersamaan dari penghemat kalium 

ini menghambat ekskresi K dengan kuat 

pula. Mungkin juga ekskresi dari mag-

nesium dihambat.

d.­ Diuretika­ osmotik:­ manitol, gliserin dan 

sorbitol. Obat-obat ini hanya direabsorpsi 

sedikit oleh tubuli, hingga reabsorpsi 

air juga terbatas. Efeknya yaitu  diuresis 

osmotik dengan ekskresi air kuat dan rela-

tif sedikit ekskresi Na+. Terutama ma-

nitol (hanya jarang dipakai ) sebagai 

infus intravena untuk menurunkan volu- 

me cairan dan tekanan intraokuler (pada 

glaucom), juga untuk menurunkan volu-

me CCS (cairan cerebrospinal) dan tekanan 

intracrani al (dalam tengkorak). 

e.­­ Perintang­karbonanhidrase:­­asetazolami-

da, dikhlorfenamida dan methazolamida. Zat-

zat ini menghalangi enzim karbonanhidrase 

di tubuli proksimal, sehingga di samping 

karbonat, juga Na+ dan K+ diekskresi le-

bih banyak, bersamaan dengan air. Kha-

siat diuretiknya hanya lemah, sesudah  

beberapa hari terjadi tachyfylaxie, oleh 

sebab  itu perlu dipakai  secara selang-

seling (intermittens).

pemakaian 

Diuretika dipakai  pada semua keadaan 

bilamana dikehendaki peningkatan penge-

luaran air, khususnya pada hipertensi dan 

gagal jantung.

a.­­ Hipertensi:­ untuk mengurangi volume 

darah seluruhnya sehingga tekanan da-

rah (tensi) menurun. Khususnya deri-

vat­ thiazida diguna kan untuk indikasi 

ini. Diuretika­ lengkungan pada jangka 

panjang ternyata lebih ringan efek anti-

hipertensifnya lagipula t1/2-nya singkat, 

oleh sebab  itu hanya dipakai  bila ada 

kontra-indikasi untuk thiazida, seperti 

pada insufiensi gin jal. Mekanisme kerjanya 

diperkirakan berdasar kan penurunan da-

ya tahan pembuluh perifer. Dosis yang 

diperlukan untuk efek antihipertensi ja-

uh lebih rendah daripada dosis diure tik. 

Thiazida memperkuat efek obat-obat hi- 

per tensi betabloc­ker­ dan­ ACE-inhibi-

tor, sehingga sering dikombinasi dengan-

nya. Penghentian pemberian thiazida pa-

da lansia tidak boleh dengan mendadak, 

sebab  risiko timbulnya gejala kelemahan 

jantung dan peningkatan tensi.

b.­ Gagal­ jantung­ (decompensatio cordis), 

yang bercirikan peredaran darah tidak 

sempurna lagi dan ada  cairan berle- 

bihan di jaringan. Akibat air yang ter-

timbun akan terjadi udema,­ misalnya 

dalam paru-paru (udema­ paru). Begitu 

pula pada sindrom­nefrotik, yang berci-

rikan udema tersebar akibat proteinuria 

hebat sebab  permeabilitas membran 

glomeruli meningkat. Atau pada busung 

perut (ascites) dengan air menumpuk di 

rongga perut akibat cirrosis­ hati­ (hati 

mengeras). Untuk indikasi ini terutama 

dipakai  diureti­ka­ lengkungan­ dan 

dalam keadaan parah akut secara intra-

vena (asthma cardiale, udema paru). Thiazida 

dapat memperbaiki efeknya pada pasien 

dengan insufisiensi ginjal. Selain itu, 

thiazida juga dipakai  pada situasi di 

mana diuresis pesat dapat memicu  

masalah, seperti pada hipertrofi prostat.

*Resistensi diuretik yaitu  suatu keadaan 

pada mana penanganan dengan suatu diu- 

retik dan asupan garam terbatas tidak meng-

hasilkan efek.

Bila peristiwa ini terjadi pada pemakaian  

thiazida, sebaiknya dipakai  suatu diuretik 

yang bekerja lebih kuat, misalnya suatu 

loop-diuretik (furosemida ; oral sampai 250 

mg sehari), atau dipakai  kombinasi dari 

loop-diuretik dan thiazida untuk mengatasi 

misalnya komplikasi gagal jantung yang 

secara potensial dapat berlangsung fatal.

Resistensi diuretik kerapkali timbul pada 

pemakaian  bersamaan obat NSAID dan 

diuretika yang diberikan kepada lansia.

Lihat selanjutnya Bab 37, Obat-obat jantung, 

gagal jantung. 

Untuk mengatasi resistensi diuretik dari 

loop-diuretik dapat dilakukan beberapa cara:

a. Istirahat (bedrest) memperbaiki peredar-

an ginjal, sehingga efektivitas diuretik di-

perbaiki;

b. Memberikan diuretik beberapa kali dalam 

dosis lebih kecil atau intravena kontinu 

memicu  kadar zat aktif berada lebih 

lama di target site;

c. pemakaian  dalam bentuk kombinasi 

(lihat di atas) menghasilkan suatu siner-

gisme;

d. Mengurangi asupan garam;

e. Diuretik dipakai  tepat sebelum makan 

menghasilkan kadar efektif, khususnya 

sewaktu kadar garam sedang maksimal.

Penyalahgunaan. Tidak jarang diuretika di-

salahgunakan dalam kur melangsingkan tu-

buh bagi orang gemuk (overweight) dengan 

mengeluarkan cairannya. Penyusutan berat 

badan yang diperoleh hanya bersifat semen-

tara! Begitu pula pemakaian nya pada ude-

ma­ kehamilan, yang umumnya tidak dian-

jurkan sebab  dapat membahayakan penya-

luran darah ke janin.

Efek­samping utama yang dapat diakibatkan 

oleh diuretika yaitu :

a.­ hipokaliemia, yaitui kekurangan kalium 

dalam darah. Semua diuretika dengan 

titik kerja di bagian muka tubuli distal 

memperbesar ekskresi ion-K+ dan ion-H+ 

sebab  „ditukarkan“ dengan ion-Na+. 

Akibatnya kadar kalium plasma dapat 

menurun di bawah 3,5 mmol/liter. Ke-

adaan ini terutama dapat terjadi pada 

penanganan gagal jantung dengan dosis 

tinggi furosemida, mungkin bersama 

thiazida. Gejala kekurangan kalium ber- 

gejala kelemahan otot, kejang-kejang, obs-

tipasi, anoreksia, kadang-kadang juga arit-

mia jantung, namun  gejala ini tidak selalu 

nyata. 

Thiazida yang dipakai  pada hiper-

tensi dengan dosis rendah (HCT dan­

klortalidon 12,5 mg sehari), hanya sedi-

kit menurunkan kadar kalium. Oleh 

sebab  itu tidak perlu disuplesi kalium 

(Slow-K 600 mg), yang dahulu agak sering 

dilakukan; kombi nasi-nya dengan suatu 

zat penghemat kalium sudah mencuku pi.

Pasien jantung dengan gangguan rit-

me atau yang diobati dengan digitalis 

harus dimonitor dengan saksama, sebab  

kekurangan kalium dapat memperhebat 

keluhan dan meningkatkan toksisi tas di-

goksin. Pada mereka juga dikhawatirkan 

peningkatan risiko kematian mendadak 

(sudden heart death). 

b.­ hiperurikemia akibat retensi asam urat 

(uric acid) dapat terjadi pada semua diu-

retika, kecuali amilorida. Menurut perki-

raan, hal ini disebabkan oleh adanya per-

saingan antara diuretikum dengan asam 

urat mengenai transpornya di tubuli. 

Terutama klortalidon­memberikan risiko 

lebih tinggi untuk retensi asam urat yang 

berakibat serangan encok pada pasien yang 

peka.

c.­ hiperglikemia dapat terjadi pada pasien 

diabetes, terutama pada dosis tinggi, 

akibat dikuranginya metabolisme glukosa 

berhubung sekresi insulin ditekan. Ter-

utama thiazida terkenal memicu  

efek ini; efek antidiabetika oral diperle- 

mah olehnya.

d.­ hiperlipidemia ringan dapat terjadi de-

ngan peningkatan kadar kolesterol total 

(juga LDL dan VLDL) dan trigliserida. 

Kadar kolesterol-HDL yang dianggap se-

bagai faktor pelindung untuk PJP justru 

diturunkan, terutama oleh klortalidon.

Pengecualian yaitu  indapamida yang 

praktis tidak meningkatkan kadar lipida 

itu . Arti klinis dari efek samping ini 

pada pemakaian  jangka panjang belum 

jelas. 

e.­ hiponatriemia. Akibat diuresis yang ter-

lalu pesat dan kuat oleh diuretika­ leng-

kungan, kadar Na plasma dapat menu-

run drastis dengan akibat hiponatriemia. 

Gejalanya berupa gelisah, kejang otot, 

haus, letargi (selalu mengantuk), juga 

kolaps. Terutama lansia peka untuk de-

hidrasi, maka sebaiknya diberikan do-

sis permulaan rendah yang berangsur-

angsur dinaikkan, atau dapat juga obat 

diberikan secara berkala, misalnya 3-4 kali 

seminggu. Terutama pada furosemida 

dan etakrinat dapat terjadi alkalosis (ber-

lebihan alkali dalam darah).

f.­ lain-lain: gangguan lambung-usus (mual, 

muntah, diare), rasa letih, nyeri kepala, 

pusing dan jarang reaksi alergis kulit. 

Ototoksisitas dapat terjadi pada penggu-

naan furosemida/bumetamida dalam do-

sis tinggi.

Interaksi

Kombinasi dari obat-obat lain dengan diu-

retika dapat menimbul kan interaksi yang 

tidak dikehendaki, misalnya:


–­ penghambat­ ACE (lihat Bab 35, Anti-

hipertensiva) dapat menim bul kan hipo- 

tensi hebat, maka sebaiknya baru dibe-

rikan sesudah  pemakaian  diuretikum 

dihentikan selama 3 hari. 

–­ obat-obat­ rema­ (NSAID’s) dapat sedi-

kit memperlemah efek diuretik dan anti-

hipertensif akibat sifat retensi natrium 

dan airnya.

–­ kortikosteroida dapat memperkuat ke-

hilangan kalium.

–­ aminoglikosida: ototoksitas diperkuat 

sebab  diuretika sendiri dapat menye-

babkan ketulian (reversibel).

–­ antidiabetika­oral dikurangi efeknya bila 

terjadi hiperglikemia.

–­ litiumklorida dinaikkan kadar darahnya 

akibat terhambatnya ekskresi.

Kehamilan dan laktasi

Thiazida dan diuretika lengkungan dapat 

memicu  gangguan elektrolit pada 

janin, juga dilaporkan kelainan darah pada 

neonati. Wanita hamil hanya dapat meng- 

gunakan diuretika pada tahap  terakhir ke-

hamilannya atas indikasi ketat dan dengan 

dosis yang serendah-rendahnya. pemakaian  

spironolakton dan amilori­da oleh wanita 

hamil dianggap aman di beberapa negara, 

antara lain Swedia. Furosemida, HCT­ dan­

spironolakton mencapai air susu ibu dan 

meng ham bat laktasi.

MONOGRAFI

1.­Furosemida:­frusemide, Lasix, Impugan

Turunan sulfonamida ini (1964) berkhasiat­

diuretik­kuat  dengan titik kerja di lengkung-

an Henle bagian menaik. Sangat efektif pada 

keadaan udema otak dan paru-paru yang 

akut. Mulai kerjanya pesat, oral dalam 0,5-1 

jam dan bertahan 4-6 jam, intravena dalam 

beberapa menit dan lamanya 2,5 jam. 

Resorpsi dari usus hanya ±50%, PP ±97%, 

plasma-t½ 30-60 menit; ekskresi melalui urin 

secara utuh, pada dosis tinggi juga melalui 

empedu.

Efek samping berupa umum; pada injeksi 

i.v. terlalu cepat, dosis tinggi atau penggu- 

naan bersamaan dengan obat-obat ototoksik 

(antibiotik aminoglikosid, cisplatin, vanko-

misin) dapat timbul ketulian (reversibel). 

Hipotensi dapat timbul akibat hiponatremia 

sebab  pemakaian  berlebihan. Bila asupan 

ion K+ tidak mencukupi dapat pula timbul 

hipokaliemia yang memicu  aritmia 

jantung, terutama pada penderita yang me-

nggunakan glikosida jantung.

Dosis: pada udema oral 40-80 mg pagi p.c., 

bila perlu atau pada insufisiensi ginjal sampai 

250-2000 mg sehari dalam 2-3 dosis. Injeksi i.v. 

(perlahan) 20-40 mg, pada keadaan kemelut 

hipertensi sampai 500 mg (!). pemakaian  

i.m. tidak dianjurkan.

*­ Bumetanida­ (Bumex) yaitu  juga derivat 

sulfamoyl (1972) dengan kerja diuretik 

yang 50 kali lebih kuat. Sifat-sifat kinetik-

nya lebih kurang sama dengan furosemida, 

juga pemakaian nya. Dapat dipakai  oleh 

penderita yang alergis terhadap furosemida. 

Dosis: oral 0,5-1 mg pagi, bila perlu 3-4 dd. 

i.m./ i.v. 0,5-2 mg.

2.­Asam­etakrinat:­Edecrin

Derivat fenoksiasetat ini (1963) juga bertitik 

kerja di lengkungan Henle. Efeknya pesat dan 

kuat, bertahan 6-8 jam. Ekskresi berlangsung 

melalui empedu dan kemih. 

Berhubung ototoksisitasnya dan seringnya 

memicu  gangguan lambung-usus, zat 

ini tidak boleh diberikan pada anak-anak di 

bawah usia 2 tahun.

Dosis: oral 1-3 dd 50 mg p.c.; i.v. 50 mg 

garam Na (perlahan) 

3.­ Hidroklorthiazida:­ HCT, Esidrex, Hydro-

diuril

Senyawa sulfamoyl ini (1959) merupa-

kan turunan dari klorthiazida yang dikem-

bangkan dari sulfani lamida. Bekerja di ba-

gian muka tubuli distal, efek diuretiknya 

lebih ringan dari diuretika lengkungan namun  

bertahan lebih lama, 6-12 jam. Khasiat hipo-

tensifnya lebih kuat (pada jangka pan jang), 

maka banyak dipakai  sebagai pilihan 

pertama untuk hipertensi ringan sampai 

sedang. Sering kali pada kasus yang lebih 

berat dikombinasi dengan obat-obat lain 

untuk memperkuat efeknya, khususnya be-

ta-blocker. Efek optimal ditetapkan pada 

dosis 12,5 mg dan dosis di atasnya tidak akan 

menghasilkan penurunan tensi lagi (kurva 

dosis-efek datar). Zat induknya klorthiazida 

berkhasiat 10 kali lebih lemah, maka kini 

tidak dipakai  lagi.

Resorpsinya dari usus sampai 80%, PP ±70% 

dengan plasma-t½ 6-15 jam. Ekskresi terutama 

lewat urin secara utuh. 

Dosis: hipertensi 12,5 mg pagi p.c., udema 

1-2 dd 25-100 mg, pemeliharaan 25-100 mg 

2-3x seminggu. 

Sediaan kombinasi: *Lorinid, *Modure tic = 

HCT 50 + amilorida 5 mg 

*Dytenzide = HCT 25 + triamte ren 50 mg

*­Derivat­HCT yang banyak sekali disintesis 

semuanya memiliki daya kerja sama dan 

hanya berlainan mengenai potensi dan 

lama kerjanya, rata-rata 12-18 jam. Khusus 

dipakai  dalam kombi nasi dengan obat-

obat hipertensi lain, antara lain:

* Aldazide = buthiazida 2,5 + spironolakton 

25 mg

* Dyta-urese =epitizida­ 4 + triamteren 50 

mg 

* Inderetic= bendroflumethiazida 2,5 + 

propranolol 80mg 

4.­Klortalidon:­Hygroton

Derivat sulfonamida ini (1959) rumusnya 

mirip dengan thiazida, begitu pula khasiat­

diuretiknya­sedang. Mulai kerjanya sesudah 

2 jam dan bertahan sangat lama, antara 24-

72 jam tergantung pada besarnya dosis. Efek 

hipotensifnya bertambah secara berangsur-

angsur dan baru optimal sesudah 2-4 minggu.

Resorpsi dari usus tidak menentu, rata-

rata 50% dan mengala mi FPE dari 10-15%. 

Plasma-t½ sangat tinggi, ±54 jam, mungkin 

berhubung terikat kuat pada eritrosit. 

Ekskresi lewat urin ±45% secara utuh. 

Dosis: hipertensi 12,5 mg pagi p.c. (dosis 

optimal!), udema setiap 2 hari 100-200 mg, 

pemeliharaan 25-50 mg sehari. 

Sediaan kombinasi:

 *Trasiten sin = klortalidon 10 + oksprenolol 

80 mg

 *Tenoretic 50 = klortalidon 12,5 + atenolol 50 

mg 

*­Indapamida­(Natrilix, Fludex, Lozol) yaitu  

derivat sulfamoyl long-acting (l974) dengan 

efek­ hipotensif­ kuat pada dosis sub-diure-

tik, yang baru optimal sesudah  2-4 bulan. 

Efeknya bertahan beberapa minggu sesudah 

terapi dihentikan, tanpa terjadi rebound effect.

Resorpsi lengkap, bersifat sangat lipofil dan 

terikat kuat pada eritro sit: PP 79%, plasma-t½ 

15-18 jam. Ekskresi lewat urin, yaitu 60% 

terutama sebagai metabolit dan 20% lewat 

feses. Dosis hipertensi: 2,5 mg pagi p.c. Dapat 

dikombinasi dengan beta-blocker.

*­ Klopamida yaitu  juga derivat sulfamoyl 

dengan lama kerja 12-24 jam. Hanya 

dipakai  dalam sediaan kombinasi, antara 

lain: 

* Brinerdin = klopamida 5 + reserpin 0,1 + 

dihidroergokristin 0,5 mg

* Viskaldix = klopamida 5 + pindolol 10 mg 

*­ Mefrusida­ (Bayca ron) yaitu  derivat di-

sulfonamida (1967) dengan titik kerja di leng- 

kungan Henle, namun  dengan pola kerja se-

perti thiazida. Mulai kerjanya lambat, sete- 

lah 6 jam dan bertahan 20-24 jam. Dosis hiper-

tensi: 12,5 mg pagi p.c., udema: 25 –100 mg 

sehari.

5.­Spironolakton:­Aldactone, Letona, *Aldazide

Penghambat/antagonis aldosteron ini 

(1959) berumus steroida, mirip struktur hor-

mon alamiah,­merupakan antagonis dari re-

septor mineralokortikoid dan dapat mem- 

blokir efek biologiknya seperti retensi air 

dan garam. Mulai kerja sesudah  2-3 hari dan 

bertahan sampai beberapa hari sesudah  pengo-

batan dihentikan. Khasiat­diuretiknya­agak­

lemah, maka khusus dipakai  dalam kom-

binasi dengan diuretika umum lainnya. Efek 

kombinasi demikian yaitu  adisi di samping 

mencegah kehilangan kalium. Spironolakton 

pada gagal jantung berat berkhasiat mengu-

rangi risiko kematian sampai 30% (N E J Med 

Sept 1999).

Resorpsi dari usus tidak lengkap dan diper-

besar oleh makanan. PP-nya 98%. Dalam 

hati zat ini dirombak menjadi metabolit 

aktif, antara lain kanrenon, yang diekskresi 

melalui urin dan feses. Plasma-t½ sampai 2 

jam, kanrenon 20 jam.


pemakaian nya untuk udema dan hiper-

tensi biasanya dalam kombinasi dengan 

thiazida (hidrokhlorothiazida, Aldactazide) 

atau loop-diuretik. Kombinasi ini mening-

katkan pengeluaran cairan udema dan mem-

perbaiki homeostasis K+. 

Obat ini merupakan diuretik pilihan per-

tama bagi penderita hepatic cirrhosis.

Efek samping berupa gangguan lambung 

(perdarahan) dan cenderung memicu  

tukak lambung. Oleh sebab  itu tidak boleh 

diberikan pada penderita tukak lambung. 

Pada pemakaian  lama dan dosis tinggi 

efeknya antiandrogen dengan gynecomastia, 

impotensi dan menurunnya libido pada pria, 

sedang  pada wanita nyeri buah dada, 

gangguan suara dan haid tidak teratur. Efek 

samping ini berdasar  afinitasnya terhadap 

progesteron dan reseptor steroid androgen. 

Sama seperti diuretika penghemat kalium 

lainnya, efek samping berbahaya dan utama 

yaitu  hiperkalemia. Oleh sebab  itu tidak 

boleh diberikan pada pasien hiperkalemia 

dan yang berindikasi mendapatkan gejala ini 

disebabkan oleh penyakit atau pengobatan. 

Pada tikus ternyata berefek karsinogen, maka 

hendaknya dipakai  untuk jangka waktu 

singkat! 

Dosis: oral 1-2 dd 25-100 mg pada waktu 

makan.

*Aldazide = spironolakton 25 + thiabutazide 

2,5 mg

*­ Kanrenoat­ (canrenoic acid, Soldactone) ada-

lah derivat yang dapat larut dan hanya 

dipakai  sebagai injeksi (1967). Sifat-sifat 

dan efek sampingnya sama dengan spiro-

nolakton, namun  mulai kerjanya lebih cepat 

dan bertahan lebih lama. Ekskresinya juga 

sebagai kanrenon.

Dosis: i.v./infus 200-600 mg sehari (garam 

K) selama maksimal 2 minggu.

*Eplerenone­ (Inspra) sebagai antagonis al-

dosteron juga berefek memblokir efek dari 

aldosteron. Berlainan dengan spironolakton, 

senyawa ini memiliki hanya sedikit sekali 

afinitas terhadap progesteron dan reseptor 

androgen, sehingga efek sampingnya ber-

dasarkan ini (misalnya gynecomastia) lebih 

sedikit.

Eplerenone merupakan obat anti-hipertensi 

yang efektif dan aman (Ouzan et al., 2002)

6.­Amilorida: *Lorinid, Midamor

Derivat pirazin ini (1967) memiliki titik 

kerja di bagian ujung tubuli distal dengan 

menghambat penukaran ion Na+ dengan 

ion-K+ dan ion-H+. Efeknya yaitu  bertam-

bahnya ekskresi Na+ (bersama Cl- + karbonat), 

sedang  pengeluaran kalium berkurang. 

Efek maksimal tercapai sesudah  ±6 jam dan 

bertahan 24 jam. 

Resorpsi dari usus ±50%, yang dikurangi 

oleh maka nan, PP 40%, plasma-t½ 6-9 jam, 

mungkin juga lebih lama. Ekskresi terutama 

lewat urin secara utuh.

Efek sampingnya umum, fotosensibilisasi 

sering dilap orkan (di Australia), adakalanya 

juga impotensi. Berlainan dengan diuretika 

lain, obat ini tidak­ menekan­ sekresi­ urat,­

melainkan­menstimulasinya.

pemakaian . sebab  efek natriuresisnya dari 

kelompok obat ini lemah, maka sebagai obat 

hipertensi atau terhadap udema kerapkali 

dipakai  dalam kombinasi tertentu dengan 

diuretik lainnya, misalya dengan thiazida. 

Efek samping yang paling berbahaya dari 

amilorida dan triamteren yaitu  hiperkalemia. 

Oleh sebab  ini tidak boleh diberikan kepada 

penderita hiperkalemia, misalnya pasien 

dengan gangguan ginjal yang memakai  

obat hipertensi penghalang ACE dan yang 

minum diuretik penghemat kalium lainya 

atau memakai  K+ supplemen. Juga obat-

obat NSAID dapat meningkatkan hiperka- 

lemi.

Efek samping umum lainnya yaitu  mual, 

muntah, diare dan sakit kepala.

Dosis hipertensi oral 1-2 dd 5 mg a.c., 

maksimal 20 mg sehari. 

*Lorinid= amilorida 5 + HCT 50 mg (me-

ngandung kadar HCT terlampau tinggi).

7.­Triamteren:­Dytac, Dyrenium

Derivat pteridin ini (1962) berkhasiat 

diuretik­ lemah, mulai kerjanya lebih cepat, 

sesudah  2-4 jam, namun  hanya bertahan ±8 jam. 

Mekanisme kerjanya mirip amilorida.

Resorpsi dari usus antara 30% dan 70%, PP-

nya lebih kurang 60% dan t½ ±2 jam. Ekskresi 


berlangsung lewat urin, sebagian besar se-

bagai metabolit aktif 4-hidroksitriamterene 

sulfat. Urin dapat berwarna biru dan pem-

ben tukan batu ginjal dilaporkan pada 1:1500 

pasien.

Efek samping umum lainnya (lihat di atas) 

yaitu  mual, muntah, kejang kaki dan kepala 

pusing.

Dosis: hipertensi 1-2 dd 50 mg p.c., mak-

simal 200 mg.

*Dyta-urese dan *Dytenzide, masing-masing 

bersama epitizida 4mg dan HCT 25 mg.

8.­Asetazolamida:­Diamox

Obat ini, yang diturunkan dari sulfanila-

mida (1957), dianggap sebagai pelopor thia-

zida dan merupakan diuretikum pertama 

yang dipakai  dalam terapi. Efek­diuretik-

nya­lemah dan sesudah  beberapa hari terjadi 

tachyfylaxie (efeknya berkurang), maka harus 

dipakai  secara intermit ten. Khasiat diu-

retiknya berda sarkan perintangan­ enzim-

karbonanhidra­se yang mengkatalisa reaksi 

berikut:

CO2 + H2O ↔ H2CO3↔ H+ + HCO3

-

sebab  penghambatan reaksi ini di tubuli 

proksimal, maka tidak ada cukup ion-H+ 

lagi untuk ditukarkan dengan Na+. Hasil-

nya yaitu  peningkatan ekskre si Na+, K+, 

bikarbonat dan air.

Enzim karbonanhidrase ada  di banyak 

jaringan a.l. di mata, mukosa lambung, pan- 

kreas, sistem saraf pusat dan sel darah me-

rah. Penghambatan enzim ini pada mata 

mengurangi produksi cairan di dalam mata 

dan menurunkan tekanan intra-okuler. Dua 

jenis obat tetes mata khusus terhadap gang-

guan tekanan intra-okuler yaitu  dorzola- 

mida (Trusopt) dan brinzolamida (Azopt).

namun  sekarang ini asetazolamida jarang 

dipakai  lagi pada penyakit mata glauko-

ma,­ ialah gangguan mata yang mengakibat-

kan meningkatnya tekanan intra-okuler (lihat 

juga Bab 32. Kolinergika). 

Berkat efek antikonvulsifnya pada sistem 

saraf pusat dan timbulnya acidosis obat ini 

dahulu diguna kan sebagai obat­antiepilepsi, 

namun  pemakaian nya terhambat sebab  

timbulnya toleransi yang cepat. 

pemakaian  off-label lainnya yaitu  seba-

gai­ profilaksis­ obat­ ‘penyakit­ ketinggian’­

(high altitude sickness atau mountain sickness, 

rasa takut di tempat yang sangat tinggi) yang ber-

cirikan alkalosis dengan penghambatan pu-

sat napas; gejala ini ditanggulangi oleh aci-

dosis yang ditimbulkan oleh asetazolamida.

Resorpsi baik, mulai kerjanya dalam 1-3 jam 

dan bertahan selama ±10 jam. PP 90% lebih, 

plasma t½ 3-6 jam dan diekskresi lewat urin 

secara utuh.

Efek samping. sebab  senyawa diuretik ini 

merupakan derivat dari sulfonamida, sehing-

ga juga menampakkan efek samping dari 

obat-obat sulfa, seperti alergi, gangguan kulit 

dan terhadap ginjal, serta depresi sumsum 

tulang.

Dosis: untuk glaukoma oral 1-4 dd 250 mg, 

‘penyakit keting gian’: 2 dd 250 mg dimulai 3 

hari sebelum bertolak ke lokasi yang tinggi.

9.­Mannitol: Manitol

Alkohol gula ini (C6H14O6) ada  di tum-

buh-tumbuhan dan getahnya, juga di tum-

buhan laut. Diperoleh melalui reduksi elek-

trolitik dari glukosa. Efek­diuretiknya­pesat­

namun ­singkat dan berda sarkan sifat nya dapat 

melintasi glome ruli secara lengkap, praktis 

tanpa reabsorpsi di tubuli, hingga penye-

rapan kembali air dirintangi secara osmotik. 

Mekanisme kerjanya khusus terletak pada 

lengkungan Henle. Terutama dipakai  se- 

bagai infus untuk menurunkan tekanan intra-

okuler pada­glaucoma dan selama bedah ma-

ta, juga untuk meringankan tekanan intra-

cranial pada bedah otak.

Dalam kelompok diuretik osmotik ini ter- 

masuk gliserin (Osmoglyn), isosorbida dan 

manitol (Osmitrol), yang meningkatkan eks-

kresi dari praktis semua elektrolit, termasuk 

Na+, K+, Ca++, Mg++, Cl-, HCO3

- dan fosfat.

Manitol yaitu  0,6 kali kurang manis di-

bandingkan gula (saka rosa), maka diguna- 

kan sebagai zat­ pengganti­ gula bagi pen-

deri ta diabetes (1g menghasilkan 8 kJ) dan 

dalam berbagai gula-gula bagi anak-anak 

(candy) berkat sifat non-cariogen (tidak meng-

akibat kan caries). Di atas 20 g sehari, mani-

tol berkhasiat laksatif, maka adakalanya di-

gunakan sebagai obat pencahar. Lihat juga 

Bab 47, Antidiabetika oral, Zat-zat pemanis.

Efek samping: Berhubung dengan meka-

nisme diuretik osmotik yang meningkatkan 

daya osmotik dari larutan ekstraselular dan 

dengan ini menarik air dari bagian-bagian 

intraselular, maka voluma dari larutan eks-

traselular meningkat. Pada penderita gang- 

guan jantung hal ini dapat memicu  

udema. 

Hiponatriemia yang ditimbulkan oleh ke-

lompok diuretik ini dapat memicu  sakit 

kepala, mual dan muntah. 

Tidak boleh diberikan kepada penderita 

gangguan ginjal.

Dosis: gliserin dan isosorbida dipakai  

per oral, sedang  manitol per infus i.v. 1,5-

2 g/kg dalam 30-60 menit (larutan 15-25%).

*­ Sorbitol­ (Sorbo) yaitu  stereoisomer dari 

manitol dengan khasiat, sifat dan pemakaian  

yang sama. Lihat juga Bab 47, Insulin dan 

Antidiabetika Oral, Zat-zat pemanis. Dosis: 

infus i.v. 1-2g /kg dari larutan 20-25%.

10.­ Daun­ Kumis­ kucing: remukjung, Ortho-

siphoni folium, Reinosan

Daun dari tumbuhan Orthosiphon stami-

neus ini sangat terkenal di negara kita  dan me-

ngandung glikosida orthosifonin,­ minyak­

terbang­ dan kalium (kadar tinggi, ±3,5%). 

Zat-zat ini memiliki khasiat diuretik­ dan­

bakteriosta­tik, mungkin juga litholytis (me-

larutkan batu). Maka secara tradisional re-

mukjung merupakan obat rakyat penting 

untuk mengobati gangguan saluran kemih 

dan kencing batu. pemakaian  nya sering kali 

dikombinasikan dengan ramuan lain, seperti 

daun­ me­nir-meniran­ (Phyllan tus urinaria) 

dan daun­ keji­ beling­ (Strobilan thus crispus), 

yang keduanya pun mengandung banyak 

kalium. 

Dosis: 2-3 dd 150 ml dari infus 10% (godok-

an, yang dipero leh dari memanaskan 50 g 

daun dengan 500 ml air di atas penangas air 

selama 15 menit pada suhu 90° C). Reinosan 

(350 mg estrak remukjung): 3-4 dd 1-2 tablet.


VASODILATOR

Vasodilator (Lat. vas = pembuluh, dilata tio 

= memperlebar) atau vasodilatansia didefi-

nisikan sebagai zat-zat yang berkhasiat me-

lebarkan pembuluh secara langsung. Zat-zat 

dengan khasiat vasodilatasi tak-langsung tidak 

termasuk definisi ini, misalnya obat-obat 

hipertensi yang memicu  vasodilatasi 

melalui blokade saraf-saraf perifer, aktivasi 

saraf-saraf otak atau mekanisme lainnya, 

seperti alfa- dan beta-blockers, penghambat ACE 

dan antago nis-kalsium.

berdasar  peng gun aannya dapat dibe-

dakan tiga kelompok vasodilator, yaitu:

a.  obat-obat hipertensi : (di)hidralazin dan 

minoksidil.

b. vasodilator koroner (obat angina pec-

toris): nitrat dan nitrit.

c. vasodilator perifer (obat gangguan sir-

kulasi): buflome dil, pentoxi fi lin, ekstrak 

Gingko biloba, siklandelat, isoksu prin dan 

turunan nikoti nat.

Ditinjau dari sudut farmako dinamika, vaso-

dila tor perifer dan obat-obat hiper tensi dengan 

daya vasodilatasi tidak dapat dipisah kan 

dengan tegas. Perbedaannya terutama terle-

tak pada penggun aanny a, yakni vasodilator 

perifer terutama diperun tuk kan perbai kan 

sirkulasi pada kea daan pereda ran darah ter-

halang (ischemia). Akan namun  sejumlah obat 

hipertensi tertentu juga diguna kan sebagai 

vasodilator perifer, misalnya antagonis kal-

sium dan alfa-blockers.

Dalam bab ini khusus akan dibahas vaso-

dilator perifer, sedang  obat-obat hiper-

tensi dan angina pectoris dibicarakan di bab-

bab tersendi ri.

Gangguan sirkulasi

Atherosclerosis (pengapuran dinding pembuluh 

nadi) merupakan gangguan arteri yang paling 

sering terjadi, di mana arterio le sedang 

dan besar menyempit (stenose) dan hilang 

kelenturan nya. pemicu  nya ialah terjadinya 

endapan dari antara lain lipida/kolesterol, 

kalsium, polisa karida dan komponen darah 

(fibrin) pada dinding pembuluh, lihat juga 

Bab 37, Obat-obat jantung. Penyem pitan ini 

dapat menimbul kan ische mia (tak meneri ma 

darah setempat akibat terhalang nya pemasu-

kan darah) dan ter ganggunya sirkulasi pada 

jan tung, otak dan otot. 

1. Jantung. Akibat ischemia otot jantung 

menerima kurang oksigen dan dapat 

terjadi penyakit angina pectoris. Penya-

lu ran darah yang terhalang itu dapat 

diperbaiki oleh vasodilator koroner de-

ngan khasiat memperle bar arteri jantung. 

Gangguan jantung akan dibahas secara 

luas dalam Bab 37, Obat-obat Jantung.

2.  Otak. Dementia, disebut juga kepikun-

an, yaitu  gangguan sel-sel otak akibat 

proses menua dengan gejala seperti kele-

mahan konsentra si, perlam batan fungsi 

intelek, gangguan-gangguan daya ingat 

(sering lupa) dan kognitif, depresi dan 

sukar tidur. Gejala ini tak jarang menyer-

tai proses menua dan insiden sinya me-

ningkat antara usia 65 dan 80 tahun, 

dari kurang lebih 2% sampai 25%. Le bih 

dari 50% dari kasus ini disebabkan oleh 

penyakit Alzhei mer. Bentuk parah dari 

demensia ini diakibatkan oleh degenera-

si sel-sel kulit otak besar dan bercirikan 

antara lain kekacauan ingatan dan pikir-

an dengan peruba han kepribadian yang 

berdampak terhadap kehidupan sosial. 

Lihat selanjutnya Bab 28B, Obat-obat 

Alzheimer. 

Hanya sebagian kecil, kurang lebih 

20% dari pasien dementia, ada hubun g- 

annya dengan penyempitan arteriole 

(vasokonstrik si; Lat. constrictio = me-

nyempit) dan sirkulasi darah buruk di 

otak, yang dapat menimbul kan kekuran-

gan oksigen (hypoxi a). Dalam kasus ini 

banyak dipakai  vasodi lator ‘cere bral’ 

dengan efek bervariasi. Pada Alzheimer, 

obat-obat ini sama sekali tidak berguna!

3.  Otot. Terhalangnya sirkulasi dan hypoxia 

otot tungkai akibat stenose arteriole se-

tempat dapat memicu  antara lain 

jalan pincang (claudicatio intermittens).

Faktor risiko bagi gangguan pembuluh 

perifer ini yaitu  merokok, diabetes, kadar 

kolesterol tinggi dan hipertensi, yang juga 

memperbu ruk keluhan yang sudah ada.

Penyakit arteri perifer

1. Claudi catio intermittens (CI)

CI disebut juga ‘penyakit etalase’ dan ber-

cirikan jalan pincang secara berkala, disertai 

gejala khas seperti nyeri, letih dan/atau 

kejang di otot pangkal paha, betis atau kaki. 

sebab  nyeri, kejang atau keletihan otot 

itu timbul sesudah  jalan sekian meter akibat 

kekurangan oksigen, maka pasien perlu 

berhen ti untuk istirahat, sering kali di depan 

etalase. Keluhan itu  hilang sesudah  isti-

rahat. Gangguan ini terutama melanda lansia 

di atas kurang lebih 50 tahun dan biasanya 

memburuk dengan meningkatnya usia. 

Pada stadium lebih lanjut, keluhan menjadi 

lebih parah dan juga timbul bila duduk atau 

berbaring (permulaan ischemia). Akhirnya 

dapat muncul borok yang sukar sembuh, 

bahkan matinya jaringan jari-jari kaki (gangre-

na), yang tak jarang harus diamputasi. Pasien 

demikian berisiko lebih tinggi untuk infark 

jantung dan otak. Harapan hidup penderita 

claudicatio diperkirakan rata-rata 10 tahun 

lebih singkat dibandingkan dengan orang 

sehat.

pemicu  utama yaitu  penyempitan arteri 

tungkai akibat athero sclerosis (stenosis), di-

perparah dengan penurunan kelenturan 

eritrosit. CI juga memicu  kecende-

rungan agrega si trombo sit meningkat, yang 

diakibatkan oleh pembeba san ‘platelet-acti-

vating factor’. PAF ini yaitu  suatu fosfolipi-

da, yang dibentuk di makrofag, lekosit dan 

sel endotel, yang mengikat diri pada reseptor 

di lekosit, trombosit dan mastcells. Hasilnya 

yaitu  pelepasan mediator, seperti histam in 

dan eicosa noida (prostaglandin, prostasiklin, 

trom boksan, leukotriën), yang mencetuskan 

agregasi trombosit, vasodilatasi, peningkatan 

permeabilitas pembuluh dan pembentukan 

udema.

* Ischemia dan hypoxia yaitu  keadaan ke-

kurangan oksigen dengan gangguan meta-

bolisme, yang juga berperan penting pada CI. 

Keadaan ini berarah ke pembentukan radikal 

bebas (FR) berlebihan, yang dapat merusak 

dinding pembuluh dan mengganggu proses 

seluler. FR menginduksi pemben tukan per- 

oksida (dari asam lemak tak-jenuh) yang 

mengham bat prostasiklin-sintetase. Akibat- 

nya, keseimbangan prostasiklin PgI2 dan 

tromboksan TxA2 terganggu. Peran TxA2 

menjadi dominan dengan antara lain efek 

vasokonstriksi, peningkatan agregasi trom-

bosit dan akhirnya sirkulasi darah di jaringan 

bersangkutan menurun. 

Tindakan umum yang dapat dilakukan 

sendiri yaitu  latihan jalan, artinya berjalan 

secara teratur beberapa kali sehari dan setiap 

kali diusahakan memperpanjang jaraknya. 

Dampak nya yaitu  jarak jalan akan terus 

bertam bah dan aliran darah diper baiki, ka-

rena terbukanya cabang pembuluh-darah 

tak-aktif yang selalu ada  di dalam otot 

(anastomose). Merokok perlu sekali dihentikan 

agar pemburukan lebih lanjut dari arteri o le 

dihambat. Singkatnya, seorang ilmuwan (dr 

Housley) menganjur kan: ‘Stop smoking and 

keep walking’.

biasanya  dian jurkan pula untuk 

makan secara bijaksana(miskin lemak, lihat 

Bab 54, Dasar-dasar Diet Sehat), terlebih pula 

bila pasien terlampau gemuk atau kadar 

koleste rolnya terlalu tinggi.

Pengobatan Untuk kasus berat dan bila 

latihan-jalan kurang berhasil, dianjurkan te-

rapi dengan suatu obat reologis, yakni pen-

toksi fi lin, buflomedil dan ekstrak Gingko 

biloba. Obat-obat ini memperbaiki kelentur-

an eritrosit dan menurunkan viskositas 

darah, maka memperbaiki aliran darah perifer.

Ketiga obat ini juga menghambat penggum-

pa lan trombo sit. Bila pemakaian nya sesudah  

maksimal 3 bulan tidak menghasilkan efek 

yang nyata, maka melanjutkan terapi tidak 

ada faedahnya lagi.

Penanganan lain. Bila kelu han menghe -

bat dan pengobatan tidak ampuh (lagi), 

maka dapat dipertimbangkan pembedahan 

pembuluh, yang hanya dilakukan dalam 

sejumlah kasus kecil. Teknik yang paling 

populer yaitu  metode angioplastik dari 

dr. Dotter, di mana penyempitan arteri di-

tiadakan dengan jalan memipihkan atheroma 

dengan balon kecil yang dihembuskan me-

lalui catheter di dalam arteri. Pembedahan 

bypass juga banyak dilakukan, dengan mem-

buat jalan pintas pada segmen arteri yang 

menyempit atau tersumbat dengan sepotong 

vena dari tubuh pasien sendiri. Dottering 

dan bedah bypass kini banyak dipakai  

pada penderita penyempitan arteri koroner 

(jantung).

2. Penyakit Buerger

Gangguan ini juga bercirikan jalan pin-

cang dengan nyeri/le tih otot (CI), namun  

disebabkan oleh peradangan kronis berkala 

dari arteri yang disertai pembentukan trom-

bose, terutama di anggo ta tubuh. Penyakit 

ischemia ini jarang terjadi, namun  paling 

sering menyerang pria perokok berat pada 

usia antara 25-35 tahun.

Penanganannya berupa sympa thectomia, 

yakni pembedahan dengan mengelu arkan 

sebagian dinding luar arteri, di mana ada  

saraf simpatikus, dengan efek vasodilatasi. 

Pengobatan agak efektif dapat dilaku kan 

dengan obat antitrombotis iloprost untuk 

waktu lama.

3. Sindrom Raynaud

Gangguan sirkul asi ini tidak diakibat-

kan oleh stenose akibat atherosclerosis, me-

lainkan oleh serangan kejang pembuluh 

(vaso spasm). Khususnya mengenai jari-jari 

tangan (dan sewaktu di kaki) yang membiru 

dan kemudian memucat untuk semen tara 

waktu; gangguan ini disebabkan oleh hawa 

dingin atau kadang-kadang juga emosi. 

Kebanyakan penderita penyakit ini yaitu  

wanita pada usia subur. 

Tindakan umum yang dapat dilakukan sen-

diri yaitu  berhenti merokok, menghin-

dari hawa dingin dan gerak badan secu-

kupnya. Obat-obat yang dapat memicu  

vasokon striksi pada jari-jari harus dielakkan, 

misalnya beta-blockers dan ergota min, juga 

bleomisin.

Pengobatan dapat dilakukan dengan vaso-

dilator dengan efek tak menentu, terutama 

dengan antagonis-kalsium (nifedipin),alfa-

blockers (prazo sin) dan ilo prost. Efek vaso-

di lator lain diragukan sebab  belum dipas-

tikan secara ilmiah, misalnya isoxuprin, xan-

tinolnikotinat dan siklande lat (Cyclospasmol).

Penanganan lain. Sympathectomia pernah 

agak sering dilakukan, namun  kini jarang lagi 

berhubung efeknya tak menentu; persentase 

kambuhnya tinggi (sampai 90%) dan ke-

mung kinan timbulnya efek samping agak 

besar. 

4. Insufisiensi cerebral

Gangguan ini disebabkan oleh gangguan 

sirkulasi di otak dan sering kali diobati 

dengan ‘vasodilator otak’. Terutama dite-

mukan pada lansia di atas usia 60 tahun. 

Gejalanya dapat berupa kelemahan ingatan 

jangka-pendek dan konsen trasi, pusing tu-

juh-keliling (vertigo), kuping berdengung 

(tinnitus), jari-jari dingin dan depresi. Un-

tuk mengobati gejala itu  sering kali 

dipakai , namun  dengan efek tak menentu: 

kodergok rin, antago nis-kalsium (flunari zin, 

bensik lan), ekstrak Gingko biloba, naftidrofuryl 

(Praxilene), citicolin (Nicho lin) dan ni cergolin 

(Sermi on).

* Nootropika, yakni zat-zat yang dapat 

memperbaiki akal budi (Yun = nous), seperti 

piracetam(Nootropil) dan pyritinol (Encep ha-

bol) juga banyak dianjurkan; efeknya pun 

diragukan. 

Jarak hidup penduduk dunia akan semakin 

panjang berhubung dengan meningkatnya 

harapan hidup rata-rata, maka jumlah orang 

yang akan mende rita gangguan sirkul asi 

ini juga akan meningkat. Dengan demikian, 

menurut dugaan, di masa depan obat-obat 

itu  akan menjadi semakin penting.

Pengobatan gangguan sirkulasi

Kecepatan aliran darah tergantung dari 

sifat rheologis (Yun. rheos = arus, logos = kata, 

ajaran), lebarnya pembuluh dan tekanan 

darah. Sifat mengalir ini berkaitan dengan 

viskosi tas darah yang dapat diperbaiki de-

ngan jalan meningkatkan kelenturan eritrosit 

dan mencegah penggumpalan trombosit.

Gangguan penyaluran darah perifer ke-

banyakan disebabkan oleh penyempitan 

(stenosis) akibat arterosclerosis tanpa kela-

inan tekanan darah. Pengobatan yang kini 

dipakai  terdiri atas dua kelompok obat, 

yakni vasodi lator perifer dan zat-zat yang 

memperbaiki sifat rheolo gi darah.

a. Vasodilator perifer isoxsuprin, xantinol-

nikotinat dan siklandelat. Hingga kini belum 

ditemukan obat yang secara efektif dapat 

menyembuh kan atherosclerosis, yakni mela-

rutkan dan menghilang kan ather oma di 

dinding-pembuluh. Oleh sebab  itu vasodi-

la tor yang berdaya mendilatasi pembuluh 

yang telah menyem pit akibat kejang sering kali 

dipakai . namun  bila ada  penyempitan 

akibat atherosclerosis vasodilator umumnya 

tidak efektif. Hal ini sebetulnya mudah dime-

ngerti, sebab  arteriole yang sudah mengeras 

sukar diperlebar lagi. Bahkan tak jarang 

terjadi efek berlawanan, yakni pembuluh 

sehatlah (yang masih elastis) yang menga-

lami dilatasi, hingga pengaliran darah ke 

arteriole sempit justru berkurang. Peris tiwa 

ini disebut “steal effect”.

b. Zat-zat rheologis : buflomedil, pentoksifi lin 

dan ekstrak Gingko biloba

Obat-obat ini dapat memperbaiki sifat 

mengalirnya (rheologi) dan viskositas darah 

dengan berbagai jalan. Misalnya dengan 

menghambat penggumpalan trombosit, 

mencegah pembekuan eritrosit (akibat an-

tara lain pemasu kan kalsium) dan mem-

pertahankan/memper baiki kelenturannya. 

Berkat kelenturan ini, eritro sit pada keadaan 

normal berdaya mengubah bentuk nya dan 

mampu memasuki kapiler terkecil dengan 

diame ter 3-4 mikron, yakni lebih kurang 

separuh dari diame ternya sendiri. Daya ini 

hilang pada eritrosit yang sudah hilang ke- 

lenturannya, hingga mikrosir kulasi di ja-

ringan bersang kutan akan terhalang dengan 

efek hypoxia.

Zat-zat pengencer darah (asetosal, antiko-

agulansia) yang juga berkhasiat menghambat 

penggumpalan pelat darah atau berdaya 

melarutkan trombi yang sudah ada dan 

mencegah pembentukan trombi baru pada 

hakekatnya tidak dipakai  pada gangguan-

gangguan sirkulasi.

Penggolongan 

Vasodilator dapat digolongkan secara kimi-

awi dan menurut titik-kerjanya, yaitu:

1. alfa-blockers: prazosin, buflomedil dan ko-

dergokrin.

Zat-zat ini merintangi reseptor alfa-adre-

nergik dengan efek memperlemah daya va-

sokonstriksi noradrenalin terhadap arterio le, 

lihat selanjutnya Bab 35, Antihipertensiva.

2. beta-adrenergika: isoxuprin.

Zat ini menstimulasi reseptor beta-adre-

nergik di arterio le dengan efek vasodilatasi di 

bronchia dan otot, namun  terutama di bagian 

yang tidak sakit. 

3. Antagonis-Ca: nifedipin dan nimodipin, 

flunarizin dan sinarizin.

Antagonis-Ca memblokir pemasukan ion 

kalsium ekstraselular di sel otot jantung dan 

otot polos pembuluh, sehingga penyaluran 

rangsangan dan kontraksi dari otot-otot ini 

dikurangi. Akibatnya yaitu  a.l. vasodilatasi 

di arteriole (koroner dan sistemik), sehingga 

tekanan darah menurun. Dinding vena tidak 

dipengaruhi sebab  jauh kurang sensitif.

Ada dua kelompok yaitu zat-zat yang 

memblok pemasukan ion kalsium dan zat-

zat yang menghindari peningkatan kadar 

kalsium berlebihan yang disebut penghambat 

overload kalsium (mis. flunarizin). 

Efek samping dari semua antagonis kalsium 

terdiri dari efek-efek perlebaran pembuluh 

yang tidak diinginkan, seperti sakit kepala, 

“flushes” dan pusing, terutama timbul pada 

senyawa dihidropiridin. Juga dapat timbul 

hipotensi, debar jantung ringan dan keluhan 

saluran cerna dan udema pergelangan kaki.

Penghambat pemasukan ion kalsium dapat 

dibagi berdasar  struktur kimianya seba-

gai berikut.:

1. Fenilalkilamin (verapamil); lihat Bab 35 

Antihipertensiva

2. Benzothiazepin (diltiazem); lihat Bab 35 

Antihipertensiva

3. Senyawa-senyawa dihidropiridin atau 

kelompok nifedipin (amlodipin, barnidi-

pin, felodipin, isradipin, lasidipin, lerka-

nidipin, nikardipin, nifedipin, nimodipin, 

nitrendipin).

4. Derivat nikotinat: nikotinilalkohol, xantinol- 

dan metilnikotinat.

Asam nikotinat dan derivatnya terutama 

mendilatasi pembu luh kulit di muka, leher 

dan otot lengan, sedang  penyalu ran da-

rah ke bagian bawah tubuh justru berkurang. 

Maka itu, zat ini kurang berguna terhadap 

gangguan sirkulasi di betis atau kaki (claudica-

tio), lebih efektif pada vasospasme di kulit (S. 

Ray naud).

5. Obat lainnya: iloprost, pentoksi fi lin, ekstrak 

Gingko biloba dan siklandelat (Cyclospasmol).

Efek samping

Semua vasodilator memicu  beberapa 

efek samping yang berta lian dengan vasodi-

latasi, yaitu:

–  turunnya tekanan darah (hipotensi) de-

ngan pusing dan nyeri kepala berde-

nyut-denyut. Efek hipotensif dari obat-

obat hipertensi dapat diperkuat.

–  tachycardia reflektoris (frekuensi jantung 

naik akibat aksi-balasan) dengan gejala 

debar-jantung (palpitasi), perasaan panas 

di muka ((flushing) dan gatal-gatal. 

–  gangguan lambung-usus, seperti mual 

dan muntah-muntah. Guna mengurangi 

efek yang tak diinginkan ini vasodilator 

sebaiknya diminum pada waktu atau 

sesudah makan.

Kehamilan dan laktasi

Kebanyakan vasodilator perifer belum 

memiliki data mengenai keamanannya bagi 

janin, maka sebaiknya jangan diguna kan 

oleh wanita hamil. Pengecualian yaitu  is-

oxsuprin, yang juga dapat diminum selama 

laktasi. Antagonis-kalsium dan derivat-ni-

kotinat dapat mencapai air susu.

MONOGRAFI

A. ZAT ZAT RHEOLOGIS

1. Buflomedil: Loftyl 

Derivat` pyrolidin ini berkhasiat alfa-adre-

nolitik (alfa-reseptorblocker), menghambat 

agregasi trombosit dan memperbaiki ke-

lenturan eritrosit dengan efek vasodilatasi 

dan peningkatan sirkulasi darah perifer. 

Efektif pada claudicatio dengan memperbaiki 

jarak-jalan tanpa-nyeri, efeknya baru nyata 

sesudah  2-4 minggu.

Efek sampingnya berupa umum; pada dosis 

terlampau tinggi dapat terjadi agita si, rasa 

kantuk, malah konvul si.

Dosis: oral 2 dd 150 mg selama minimal 12 

minggu. Setengah dosis pada gangguan 

hati/ginjal dan bagi lansia.

2. Pentoxyfilin: Trental

Derivat teofilin ini (1972) berkhasiat vaso-

dilatasi lemah, anti trombo tis dan fibrino-

litis, juga memper baiki kelenturan erit-

ro sit. Mekanisme kerjanya diperkirakan 

berdasar  penghambatan fosfo diëste rase 

hingga kadar ATP (energi) dan fosforilasi 

protein membran dari eritrosit meningkat. 

Juga bersifat inotrop posi tif. Teruta ma digu-

nakan pada claudica tio.

Resorpsinya dari usus hampir lengkap, 

namun  mengalami FPE besar, BA-nya hanya 

20%. PP-nya nihil, plasma-t½-nya kurang 

lebih 3,5 jam; ekskresinya berlangsung lewat 

kemih sebagai metabolit.

Dosis: oral 2-3 dd 400 mg d.c. selama 2-3 

bulan.

3. Ekstrak Gingko biloba: EGb 761, Tebokan, 

Tavonin, Brenax

Po hon klenteng Jepang (Gingko biloba) yaitu  

pohon prehis toris yang sudah hidup berjuta-

juta tahun di Cina dan Jepang dan dianggap 

sebagai “fosil hidup”. Namanya berdasar  

buahnya yang berwarna keperak-perakan 

(Jep. gin = perak, ko = buah). Daunnya yang 

berbentuk kipas terbelah (Lat bi = dua, loba = 

umbai) rontok di musim dingin.. 

Di Prancis (1974, Tanakan), Jerman (1977, 

Tebonin forte) dan Belanda (1998, Tavonin) EGb 

14108649_OBAT P(Bab 34)_T-532-540.indd   536 21/04/2015   19:38:39

Bab 34: Vasodilator 537

sudah diregistrasi sebagai obat, sedang  

di negara-negara lain (masih) sebagai ‘food 

supple ment’. Kini tanaman ini dibudidayakan 

secara besar-besaran di AS dan Kanada. 

Ekstrak daunnya mengan dung banyak zat, 

terutama glikosida flavon (querce tin, kaempfe-

rol dan rutin) dan laktonterpen(gingkoli da A, 

B, C, dan M, bilobalida), juga mengandung 

asam shiki mic, protoca te chuic, vanillic, dan 

p-hidroksiben zoat.

Flavonoida meringankan keregasan (fra-

gilitas) kapiler dan meningkatkan ambang 

keluarnya darah dari kapiler, sehingga keru-

sa kan otak dihalangi. Flavon sebagai anti-

oksidans juga berfungsi sebagai perangkap 

dan netralisator radi kal bebas oksigen(scave nger) 

serta menghambat peroksida si membran 

sel. Diperkirakan hal ini menghindarkan 

kerusakan dinding pembuluh dan terjadinya 

udema.

* Gingkolida-B menghambat dengan kuat 

PAF (platelet-activating factor) yang dihasil-

kan oleh banyak jaringan. PAF berkhasiat 

menstimulasi agregasi trombosit, broncho-

konstriksi, vasodilatasi kulit, hipotensi dan 

pelepasan zat-zat-peradang (enzim dan ok-

sidans ia) dari fagosit. Terutama gingkolida B 

menghambat semua efek ini. Lagi pula zat-

zat ini meningkatkan kekuatan mengalirnya 

darah dan memperbaiki sirkulasi dengan 

jalan peningkatan kelenturan eritrosit dan 

penurunan kecenderungan penggumpalan. 

Efeknya yaitu  penurunan viskositas darah 

di terutama arteri kecil dan sedang, juga di 

kapiler.

* Bilobalida menunjang efek gingkolida de-

ngan memperbaiki daya tahan jaringan otak 

terhadap hipoxia dan meningkatkan aliran 

darah otak (mikrosirkulasi).

Resorpsi dari usus baik, BA dari gingkolida 

A 98%, dari B 79% dan dari bilobalida 72%. 

Ekskre sinya terutama melalui urin secara 

utuh, masa paruhnya gingkolida 4-7 jam, dari 

bilobalida 3 jam.

pemakaian . Khasiatnya itu  telah 

dipastikan oleh banyak studi. Pada claudi-

catio EGb ternyata efektif pada 75% kasus, 

di mana jarak jalan maksimal (tanpa nyeri) 

dapat diperbe sar dengan nyata, teruta ma 

pada stadia permu laan penyakit. Sejak tahun 

1980-an, EGb semakin banyak diguna kan 

dengan efek baik di Eropa dan AS untuk 

terapi semua gangguan sirkulasi otak yang 

memicu  kemunduran fungsinya, se-

perti lemah ingatan dan menurunnya konsen-

trasi. Beberapa studi telah memberikan indi-

kasi bahwa EGb mampu menghentikan 

progres dan memperbaiki sementara gejala 

dementia Alzhei mer, lihatBab 28 C, Obat-obat 

Alzheimer. Juga gejala pusing tujuh-keliling 

(vertigo), kuping berdengung (tinni tus), jari-

jari kaki-tangan dingin, depresi dan peru-

bahan suasana jiwa (‘moo d’) yang disertai 

perasaan gelisah. 

Efek sampingnya ringan dan tak sering 

terjadi: ganggu an lambung-usus, nyeri ke-

pala dan reaksi alergi kulit. Akhir-akhir ini 

telah dilaporkan terjadinya perdarahan di 

bawah selaput otak (subarachnoidal) pada 

seorang pasien berusia 61 tahun yang telah 

memakai  ekstrak ini untuk waktu yang 

panjang. pemicu nya diperkirakan sebab  

efek anti-PAF kuat dari gingkolida-B. Untuk 

pemakaian nya selama kehamilan dan 

laktasi belum ada  cukup data.

Interaksi. Berhubung efek antiagregasinya 

gingko dapat memperkuat efek asetosal 

dan antikoagulansia dengan terjadinya per-

darahan. Telah dilaporkan koma pada pasien 

Alzheimer yang mengkombinasi gingko de-

ngan antidepresivum trazodon.

Dosis: oral 3 dd 1 tablet a.c. tanpa dikunyah 

(= 40 mg EGB yang mengandung 9.6 mg 

glikosida flavon dan 2,4 mg lakton terpen) 

selama minimal 3 bulan. EGb 761 distand-

arisasi pada 24% glikosida flavon dan 6% 

laktonterpen (3,1% gingkolida A, B dan C, 

2,9% bilobalida). 1 g ekstrak = 50 g daun ke-

ring.

B. VASODILATOR PERIFER

4. Isoxsuprin: Duvadilan

Derivat-fenoksi ini (1956) yaitu  adrener-

gikum dengan kerja anti koliner gik, juga 

berkhasiat vasodilatasi dan menurunkan vis-

ko sitas darah dengan memperbaiki kelen-

turan eritrosit. Teruta ma bekerja terhadap 

14108649_OBAT P(Bab 34)_T-532-540.indd   537 21/04/2015   19:38:39

Seksi VI: Jantung, Pembuluh, dan Darah538

pembuluh otot di beberapa organ, termasuk 

uterus dan bekerja lebih ringan terhadap 

pembuluh kulit. Isoxsuprin mengu rangi 

frekuensi dan intensitas kontraksi uterus 

(spontan atau akibat oxytocin). dipakai  

pada S. Raynaud dan juga pada keguguran 

yang mengancam (abortus imminens) serta 

nyeri haid dengan kejang-kejang.

Resorpsinya dari usus baik, BA-nya hanya 

3%, plasma-t½-nya kurang lebih 2 jam, eks- 

kresinya terutama lewat kemih. Efek sam-

pingnya jarang terjadi dan bersifat umum. 

Obat ini aman bagi wanita hamil dan me-

nyusui.

Dosis: oral pada vasospasme perifer dan 

dysmenorroe 3-4 dd 10-20 mg (klorida) p.c., 

i.m. 3 dd 10 mg. 

5. Kodergokrin: DH3, dihidroergotoksin, Hy-

dergin

Campuran (1949) tiga derivat-dihidro 

dari ergotoksin (= ergokornin + ergokristin + 

ergo-kriptin) berdaya memblok reseptor 

alfa-adrenolitik dengan efek vasodilatasi, 

juga tidak bekerja oxyto cic. Sifat-sifat ini 

berlawanan dengan zat induknya yang ber-

khasiat vasokonstriksi dan memicu  

kontraksi rahim. 

Di samping itu, zat ini juga menstimulasi 

neurotransmisi di otak dengan mengaktivasi 

reseptor dopamin serta serotonin dan mem-

perbaiki metabolisme sel-sel otak yang ter-

ganggu. Atas dasar ini, kodergokrin digu-

nakan pada keadaan dementia dengan efek 

yang tak menentu. Juga dipakai  pada 

gangguan sirkulasi perifer dan sebagai 

profilaksis pada pelbagai jenis sakit kepala, 

antara lain migrain. Pada P. Alzheimer tidak 

berguna. Lama kerjanya hanya singkat, seki-

tar 3 jam.

Resorpsinya dari usus 30% dengan FPE 

besar, hingga BA-nya hanya kurang lebih 

10%. PP-nya 80%, plasma-t½-nya lebih ku-

rang 2 jam. Ekskresinya terutama melalui 

empedu dan tinja dan hanya 2% lewat kemih 

secara utuh.

Efek sampingnya yang paling sering terjadi 

yaitu  hidung tersum bat, kadang kala mu-

al dan muntah, kulit menjadi merah dan 

bradycar dia.

Dosis: oral sebagai (mesilat) 3 dd 1,5 mg 

a.c., i.v. 1-2 dd 0,3 mg.

6. Iloprost: Ilomedine, Ventavis

Analogon ini dari prostacyclin (PgI2) 

berkhasiat vasodilatasi dan fibrinolitis, juga 

menghambat agregasi trombosit (1992). 

Mengu rangi pelepasan radikal bebas oksigen. 

Mekanisme kerjanya belum begitu diketahui; 

terutama diguna kan pada penyakit Buerger.

Pengikatannya pada protein 60%, plasma-t½-

nya 30 menit. Ekskre sinya sebagai metabolit 

tak aktif dan diekskresikan 80% melalui 

kemih dan 20% melalui empedu.

Efek sampingnya berupa flushing, nyeri 

kepala, juga gangguan lambung-usus dan 

gejala influenza dengan perasaan kacau, 

sedasi dan tachycardia. Juga nyeri dan men- 

jadi merah di tempat infus. Tak boleh digu-

nakan oleh wanita hamil dan yang menyusui.

Dosis: infus i.v (sebagai trometamol) 0,5 

nanogram/kg/menit selama 30 menit untuk 

2-3 hari pertama. Kemudian dinaikkan seper-

lu nya.

C. ANTAGONIS KALSIUM

7. Nifedipin: Adalat/retard

Derivat dihidropiridin ini (1975) termasuk 

kelompok antagonis-kalsium (‘calcium entry/

channel blockers’) yang berdaya menghambat 

masuknya Ca ke dalam sel-sel otot-jantung 

dan sel-sel otot-polos dinding arteri. Oleh 

sebab  itu, kontraktilitas sel-sel itu  

dihambat dengan efek vasodi latasi. Banyak 

dipakai  antara lain pada penyakit jantung 

angina pectoris dengan menghindarkan 

terjadinya kejang hingga penya luran darah 

ke otot-jantung meningkat (lihat Bab 37, 

Obat-obat jantung). Juga pada hipertensi ber-

kat daya vasodilatasi peri fernya dan pada 

Sindrom Raynaud guna meniadakan kejang 

di jari-jari tangan. Lihat selanjutnya Bab 35, 

Antihipertensiva.

Dosis: pada S. Raynaud oral 2 dd 10-40 mg 

tablet retard.

* Nimodipin (Nimotop) yaitu  derivat lipofil 

dengan khasiat dan peng gunaan yang sama 

(1985). Di samping indikasi di atas, zat ini 

dipakai  pula sesudah  pendarahan otak 

untuk mencegah keluhan ischemia akibat 

kejang pembuluh otak. Dianjurkan pula 

pemakaian nya pada kelemahan fungsi otak 

(ingatan dan fikiran). 

Pada suatu studi dengan 755 lansia (Pe-

rugia Nimodipi ne Study Group, 1993) telah 

dibuktikan efek baiknya terhadap daya 

belajar dan lemah ingatan. Cara kerjanya 

berdasar kan teori bahwa pada proses me-

nua metabolisme kalsium terganggu dan 

tidak berlangsung normal lagi. Antagonis-

Ca nimodipin berdaya menor malisasi pertu-

karan zat yang terganggu itu.

Dosis: oral 4-6 dd 60 mg.

8. Bensiklan: Fludilat

Derivat sikloheptan ini yaitu  antagonis 

kalsium pula dengan kerja selektif terhadap 

arteriole. Berkhasiat memperbaiki kelentur-

an eritrosit dan mikrosirkulasi, sehingga 

dianjurkan pada insufisiensi otak dan 

gangguan sirkulasi perifer. Pada claudicatio 

dilaporkan berguna untuk memperbesar 

jarak-jalan. Obat ini juga memiliki sifat 

antitrombo tis dan antiserotonin.

Efek sampingnya berupa umum; pada over-

dose dapat timbul efek sentral, seperti gelisah, 

tremor, pusing, sukar tidur dan sebagainya. 

Dosis: oral 3 dd 100 mg bila perlu sesudah 

seminggu dinaikkan sampai 600 mg sehari. 

I.v. 3-4 dd 50 mg.

9. Flunarizin: Sibelium

Derivat-sinarizin ini (1982) yaitu  anta-

gonis kalsium khusus (‘calcium overload 

blocker’), yakni menghindari peningkatan 

berlebihan kadar-Ca intraseluler selama ada-

nya ischemia. sebab  itu tak terjadi vaso- 

konstriksi akibat kejang dan hypoxia otak. 

Berkhasiat memperbaiki kelenturan eritro-

sit dan sedatif terhadap serambi organ 

keseim bangan (vestibulum). Pada dosis tinggi 

berkhasiat antihistamin dan antiserotonin.

Obat ini tidak aktif terhadap arteri jantung, 

juga tidak memengaruhi fungsi jantung serta 

tidak menurun kan daya-tahan pembu luh 

dan tekanan darah.

pemakaian nya yaitu  pada keadaan hi-

poxia di jaringan peri fer, seperti vertigo 

(pusing tujuh keliling dengan nausea akibat 

ganggu an keseimbangan), yaitu untuk 

mengurangi hebatnya dan frekuensi seran-

gan. Obat ini juga untuk profilaksis migrain 

bila obat-obat lain kurang efektif; efeknya 

baru nyata sesudah lebih kurang 3 bulan. 

Pada epilepsi dipakai  sebagai obat tam-

bahan bila ada  resistensi untuk obat-obat 

lain. Efek pemakaian nya pada claudicatio 

sering kali kurang memuaskan.

Resorpsinya dari usus hampir lengkap 

dan pesat berhubung sangat lipofil, namun  

mengalami FPE kuat. PP-nya 90% dengan 

plasma-t½-nya 18 hari. Afinitasnya besar 

sekali untuk membran sel, lemak dan otak. 

Ekskresinya berlangsung terutama sebagai 

metab olit inaktif lewat tinja.

Efek sampingnya yang paling sering terjadi 

yaitu  rasa letih dan kantuk, terutama se-

lama minggu pertama. Adakalanya berat 

badan bertambah, mungkin berhubung efek 

antiserotonin. Tachy car dia dan flushing 

tidak terjadi. Pada tahun-tahun terakhir mu-

lai dilapor kan depresi dan gejala ekstra-

piramidal, terutama pada lansia. Oleh sebab  

itu, tidak dianjurkan untuk pasien Parkinson.

Dosis: vertigo dan gangguan sirkulasi 

perifer, oral malam hari 10 mg, orang tua 5 

mg.

* Sinarizin (Cinnipirine, Stugeron) (1959) 

yaitu  zat-induk flunari zin dengan khasiat 

dan pemakaian  yang lebih kurang sama, 

namun  kerjanya lebih lemah, kecuali sifat 

antihistaminiknya lebih kuat pada dosis 

biasa. Lihat juga Bab 51, Antihistaminika.

Dosis: pada vertigo oral 1-3 dd 25-50 mg, 

pada ganggu an sirkulasi perifer 3 dd 75 mg.

10. Asam nikotinat: niacin, PP-factor, Niaspan

Berlainan dengan nikotinamida (vitamin 

B3), asam ini (1913) berdaya vasodilatasi 

perifer, terutama terhadap pembuluh tubuh 

di bagian atas. Dapat memicu  ‘steal 

effect’ ke bagian bawah tubuh. Kerja vasodi -

latasinya hanya singkat, turu nannya bekerja 

lebih lama. Pada dosis tinggi, nikotinat ber-

khasiat menurunkan kolesterol (LDL,VLDL) 

dan trigliserida darah (lihat Bab 36, Anti-

lipemika), namun  penggun a an nya sebagai 

obat antilipemik dibatasi oleh efek samping-

nya. Adaka lanya obat ini dipakai  lokal 

dalam krem sebagai vasodi lator kulit untuk 

memperbaiki efek obat-obat lain, misalnya 

dengan heparin (*Thrombop hob).

Efek sampingnya yang tidak enak yaitu  

terutama flushing mendadak (muka merah 

dengan gatal-gatal) dan muntah. Pada dosis 

rendah efek ini lambat-laun lenyap dengan 

sendiri nya, begitu pula gatal-gatal dan iritasi 

kulit. Pada dosis tinggi risiko gangguan 

fungsi hati dan kerusakannya meningkat. 

pemakaian nya oleh wanita hamil dan me-

nyusui belum ada  cukup data. 

Dosis: oral 3 dd 50-150 mg p.c., hiperko-

lesterolemia sampai 3-6 g sehari. 

* Nikotinilalkohol (piridilkarbinol, Ronicol) 

yaitu  precursor asam nikotinat dengan 

daya vasodilatasi lemah dan di dalam hati 

dioksidasi menjadi nikotinat. Mulai kerjanya 

lebih lambat, namun  bertahan lebih lama. 

Dikatakan efektif pada gangguan sirkulasi 

di otak dan otot tungkai. Praktis tidak menu-

runkan tekanan darah.

Dosis: gangguan sirkulasi oral 2 dd 150 

mg (tablet time span). Pada hiperlipidemia: 

berangsur-angsur dinaikkan sampai 3-4 dd 

300 mg.

* Ksantinolnikotinat (Complamin) yaitu  se-

nyawa kompleks dari asam nikotinat dengan 

basa kuat xantinol (1958), yang sebagai deri-

vat teofilin berdaya inotrop positif lemah. 

Lagi pula berdaya fibrinolitis seperti semua 

derivat lainnya. Dosis: oral 2-3 dd 300-600 mg 

d.c. atau 2 dd 500 mg.

* Metilnikotinat yaitu  derivat yang khusus 

dipakai  secara lokal sebagai vasodilator 

pada nyeri otot (krem 5%), sering kali di-

kombinasi dengan suatu analgetikum, misal-

nya metilsalisilat.


ANTIHIPERTENSIVA

TEkANAN dARAH 

(Td, TENSI)

Jantung sering kali diibaratkan suatu pompa 

yang menyalurkan cairan (darah) melalui 

pipa lentur (pembuluh) ke wadah (organ) dan 

kemudian kembali. Bila jantung menguncup 

(kontrak­si), darah dengan pesat dipompa ke 

dalam pembuluh nadi besar (aorta) dengan 

tekanan agak tinggi. Dari sini darah dialirkan 

berangsur-angsur ke dalam arteri dan arte-

riole lainnya dengan tekanan semakin ber-

kurang. Tekanan ini yaitu  perlu agar darah 

mencapai seluruh organ dan jaringan dan 

kemudian untuk bisa mengalir kembali ke 

jantung melalui vena. Lihat selanjutnya Bab 

37, Sirkulasi Darah.

* Pengukuran TD. Tekanan darah terhadap 

dinding arteri dapat diukur dengan suatu 

alat pengukur khusus, yakni manometer 

air raksa; tensi yang diperoleh biasa nya di-

nyatakan sebagai mm Hg (air raksa). TD 

sistolis yaitu  tekanan pada dinding arteriole 

sewaktu jantung menguncup (sistole) dan 

TD diastolis bila jantung sudah mengendur 

kembali (diastole). Jelas lah bahwa TD sistolis 

selalu lebih tinggi daripada TD diasto lis dan 

dengan demikian tensi kita selalu bervariasi 

antara tinggi dan rendah sesuai dengan detak 

jantung. 

* Batas-batas tensi normal. TD bervariasi 

sepanjang hari antara batas-batas tertentu 

dan