Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 12. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 12. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 12

 






cacing kermi

Coecum, colon Anal-oral,  

auto-infeksi

Seluruh dunia piperazin

pyrvinium pamoat

Filiariasis

Wucheria bancrofti (N)

Simpul limfe;

mikrofilaria 

dalam darah.

Gigitan nyamuk Daerah tropis 

dan subtropis

dietilkarbamazin

Hookworms

Ancylostoma duodenale

Necator americanus (N)

Usus halus;

Larva via paru

Melalui kulit, 

tanah yg 

terinfeksi.

Daerah tropis befenium, 

tetrakloretilen, 

thiabendazol

Strongyloidiasis

Strongyl.stercoralis (N)

Duodenum, 

jejunum; larva 

via kulit, paru

Melalui kulit Seluruh dunia thiabendzol, 

pyrvinium pamoat

Taeniasis (cacing pita)

Taenia saginata/solium (C)

Usus halus Daging mentah Seluruh dunia niklosamida, 

quinakrin

Trichinosis

Trichinella spiralis (N)

Larva dalam otot Daging mentah Seluruh dunia thiabendazol

Trichuriasis

Trichiuris trichiura (N)

cacing cambuk

Coecum, colon Tanah yang 

terinfeksi

tinja dg telur 

cacing

Seluruh dunia heksilresorsinol

thiabendazol

Tabel 13-1: Penyakit yang ditimbulkan oleh infeksi cacing


dibagi pula dalam infeksi saluran cerna dan 

infeksi jaringan.

Ketiga kelompok ini berbeda mengenai 

siklus hidup, bentuk, pengembangan, fisio-

logi, lokalisasi di dalam tuan rumah (host) dan 

kepekaannya terhadap kemoterapi. Bentuk-

bentuk yang belum dewasa (immature) me-

masuki tubuh manusia melalui kulit atau 

saluran cerna dan berkembang menjadi ca-

cing dewasa.

Dari sekian banyak jenis infeksi cacing yang 

dikenal, hanya sejumlah kecil yang sering 

terjadi di negara kita  dan akan dibahas di 

bawah ini. Pada setiap jenis juga disebutkan 

anthelmintik yang dapat dipakai  ter-

hadapnya

1. Ascariasis: mebendazol, albendazol, pirante l 

dan piperazin.

Ascaris lumbricoides atau cacing gelang 

panjangnya 10-15 cm dan biasanya bermukim 

dalam usus halus. Kira-kira 25% dari seluruh 

penduduk dunia terinfeksi cacing ini, ter-

utama di negara tropik (70-90%). Infeksi 

terutama timbul pada anak-anak sekolah dan 

memicu  obstruksi saluran cerna atau 

hepatobiliary ascariasis.

Cacing betina mengeluarkan telur dalam 

jumlah yang sangat banyak, sampai 200.000 

telur sehari yang dikeluarkan dalam tinja. 

Penularan terjadi melalui makanan yang 

terinfeksi oleh telur dan larvanya (panjangnya 

kira-kira 0,25 mm) yang berkembang dalam 

usus halus. Larva ini menembus dinding 

usus, melalui hati untuk kemudian ke paru-

paru. sesudah  mencapai tenggorok, lalu larva 

ditelan untuk kemudian berkembang biak 

menjadi cacing dewasa di usus halus. Lihat 

Gambar: Lingkaran hidup Ascaris. Jumlah-

nya dapat menjadi demikian besar hingga 

bisa memicu  penyumbatan, juga kom- 

plikasi seperti ileus, appendicitis dan pan-

creatitis. 

Pengobatan. Obat pilihan pertama yaitu  

mebendazol, albendazol dan pirantel. Sering 

kali kur harus diulang dengan kur kedua, 

sebab  tidak semua cacing atau telurnya da- 

pat dimusnahkan pada tahap pertama. Ang-

gota keluarga juga mungkin pembawa kista 

oleh sebab  itu sebaiknya diobati. 

2. Oxyuriasis: mebendazol, albendazol, pirantel 

dan piperazin.

Enterobius vermicularis (dahulu disebut 

Oxyuris) atau cacing kermi yang biasanya 

ada  dalam coecum, memicu  gatal 

di sekitar dubur (anus) dan kejang hebat 

pada anak-anak. Adakalanya infeksi ini 

memicu  radang umbai-usus buntu 

akut (appendicitis). Pada wanita cacing ini bisa 

merambat ke saluran genital dan seterusnya 

ke rongga perut sehingga memungkinkan 

timbulnya salpingitis atau peritonitis. Penularan 

pada anak kecil sering kali terjadi dengan 

jalan auto-reinfeksi, yakni melalui telur yang 

melekat pada jari-jari sewaktu menggaruk 

daerah dubur yang dirasakan sangat gatal dan 

dengan demikian memungkinkan terjadinya 

infeksi sekunder. pemicu nya yaitu  cacing 

betina yang panjangnya 8-13 mm, keluar dari 

dubur antara jam 8-9 malam untuk bertelur 

di kulit sekitar dubur. 

Infeksi cacing kermi yaitu  infeksi cacing 

satu-satunya yang penularannya berlangsung 

dari orang ke orang, sehingga semua anggota 

keluarga harus serentak diobati pula, walau-

pun mereka tidak menunjukkan gejala apa-

pun. Soalnya yaitu  sebab  cacing betina 

baru meletakkan telurnya antara 3-6 minggu 

sesudah  infeksi.

Pengobatan. Mebendazol, albendazol dan 

pirantel tidak mematikan telurnya, sehingga 

sesudah  dua minggu cacing yang menetas 

harus dimatikan oleh kur kedua. Piperazin 

yaitu  obat pilihan kedu a.

3. Taeniasis: praziquantel, niklosamida

Cacing pita yang paling umum ada  

yaitu  Taenia soliumdan T. saginata yang ba-

nyak ada  pada masing-masing babi dan 

sapi, juga ikan. Penularannya terjadi sebab  

memakan daging yang dimasak belum 

cukup lama dan masih mengandung larva. 

Cacing dewasa yang berkembang dalam 

usus, berbentuk seperti pita bersegmen. T. 

saginata dapat mencapai panjang sampai 10 

m, sedang  T. solium lebih pendek, sampai 

6 m. 

Taenia sukar sekali dibasmi sebab  kepa-

lanya (scolex) yang relatif kecil dibenamkan 

ke dalam selaput lendir usus hingga tidak 

bersentuhan dengan obat. Bagian cacing (seg-

men, proglotida) yang bersentuhan dengan 

obat dan telah dimatikan, dilepaskan dari 

scolex yang kemudian membuat segmen- 

segmen baru (regenerasi). Segmen dan telur-

nya dapat dikenali dalam tinja, namun  scolex-

nya biasanya  sudah dicernakan oleh 

getah usus. Penularan terjadi bila telur yang 

dikeluarkan dengan tinja, dimakan oleh 

tuan rumah-antara (hewan) dan kemudian 

berkembang menjadi larvae. Larvae ini me-

nembus dinding usus dan menyebar ke 

berbagai jaringan tubuh a.l. jaringan sub-

kutan, otot dan malahan ke otak. Di situ 

larvae (khusus dari T. solium) dapat berkem- 

bang menjadi cysticerci, ialah kista dengan 

ukuran 0,5 – 1 cm yang mengandung scolex 

cacing dewasa. Manusia makan kista ini me-

lalui daging terinfeksi yang dimasak kurang 

matang, di lambung parasit keluar dari kis- 

tanya dan dalam usus halus menjadi cacing 

dewasa. Diagnosisnya dilakukan dengan de-

teksi proglotida atau telur dalam tinja. Kista 

yang berada di dalam otak dapat dideteksi 

melalui CT atan MRI scan. 

Gejala umum. Infeksi dengan cacing dewa-

sa umumnya tak memicu  gejala (asim-

tomatis), jarang sekali anemia, radang usus 

buntu atau radang pankrea s. 

Pengobatan. Obat pilihan pertama ter hadap 

infeksi Taenia yaitu  praziquantel (10 mg/kg 

single dose) atau niklosamida (2 x 1g dengan 

selang waktu 2 jam). Pemberian suatu laksan 

sesudahnya dianggap tidak perlu.

4. Ancylostomiasis: mebendazol dan albendazol.

Ada dua jenis cacing tambang, yakni Necator 

americanus yang terutama ter dapat di Amerika 

dan Ancylostoma duodenale yang ada  di 

daerah tropik/subtropik dan panjangnya ± 

10 mm. Cacing ini disebut cacing tambang 

atau cacing terowongan (pemicu  tunnel 

disease) sebab  ada  di daerah tambang 

dan terowongan di gunung. Penularannya 

terjadi oleh larva yang memasuki kulit kaki 

yang terluka dan memicu  reaksi lokal. 

sesudah  memasuki vena, larva menuju ke 

paru-paru dan bronchi, akhirnya ke saluran 

cerna. Seperti Taenia, cacing tambang juga 

mengaitkan diri pada mukosa usus dan 

menghisap darah tuan-rumah sehingga me-

nimbulkan anemia yang cukup serius.

Pengobatannya diarahkan pada dua tuju-

an, yakni memperbaiki hematologik dan 

memberantas cacing. Mebendazol dan pi-

rantel merupakan obat pilihan pertama, yang 

sekaligus juga membasmi cacing gelang bila 

terjadi infeksi campura n.

5. Strongyloidiasis: tiabendazol, ivermectin, 

albendazol 

Strongyloides stercoralis atau cacing be nang 

sering kali ada  di daerah tropik dan 

subtropik. Penularannya lewat larva yang 

berbentuk benang yang menembus kulit. 

Larva ini dapat dikenali dalam tinja namun  

tidak mengandung telurnya. Berhubung ter-

jadinya auto-reinfeksi, maka cacing dapat 

bertahan puluhan tahun lamanya di mukosa 

bagian atas usus halus. Di tempat ini cacing 

merusak jaringan dan memicu  reaksi 

radang. Gejalanya yang khas yaitu  gatal 

hebat (urticaria) di bagian bokong yang ber-

sifat sementara, juga gangguan perut dan 

iritasi saluran pernapasan (batuk, sesak 

napas) akibat migrasi cacing.

Pengobatan. Tiabendazol dan ivermectin 

merupakan obat pilihan pertama terhadap 

cacing benang; albendazol juga efektif.

6. Trichiuriasis: mebendazol, pirantel, albendazol

Trichiuris trichiura atau cacing cambuk 

umumnya ada  di negara beriklim pa-

nas dan lembap. Dalam tubuh manusia 

biasanya cacing cambuk ada  dalam 

coecum dan bermukim di mukosa ileum dan 

colon, dengan memicu  kerusakan dan 

peradangan. Telurnya dikeluarkan dalam 

tinja dan dapat di deteksi untuk keperluan 

diagnosis. Telur dapat berkembang di tanah. 

Penularannya terjadi melalui makanan dan air 

yang terinfeksi. 

Gejalanya: pada anak kecil dapat meng-

akibatkan appendicitis akut. Akibat kehilangan 

darah juga dapat timbul anemia. Pengobatan 

efektif dengan mebendazol, pirantel dan 

albendazol.

7. Filariasis: dietilkarbamazin (DEC), Hetrazan

Wucheria bancrofti atau cacing benang 

merupakan nematoda dari famili Filaria, 

yang memicu  penyakit tropik elephan-

tiasis (kaki gajah) atau filariasis Bancrofti. Ca-

cing ini ada  antara lain di Afrika Te-

ngah, Amerika Selatan, India dan negara 

tropik lainnya, begitu pula di Asia Tengga- 

ra (negara kita , Malaysia, Vietnam dan Cina 

Selatan). memicu  radang pembuluh 

limfa (lymphangitis) disusul dengan pe-

nyumbatan oleh cacing dewasa (panjang-

nya 8-10 cm). Akibatnya yaitu  hipertrofi 

dari jaringan sel, terutama di bagian kaki 

yang dapat membesar sampai diameter 30 

cm, oleh sebab  itu disebut “kaki gajah”. Pe- 

nularannya ke manusia terjadi melalui tuan 

rumah-antaranya, yaitu nyamuk Culex fati-

gans yang menyengat pada waktu malam. 

Pengobatan. Obat utama terhadap infek-

si ini yaitu  dietilkarbamazin, khusus nya 

bila diberikan pada waktu dini. Kadangkala 

diperlukan pembedah an untuk memperbaiki 

penyaluran getah bening dan membuang 

jaringan yang berlebihan.

8. Skistosomiasis: praziquantel.

Schistosoma haematobium merupakan cacing 

pipih yang tidak bersegmen dan ada  di 

Amerika Selatan, negara Arab, Afrika, Cina 

dan beberapa negara Asia, a.l. negara kita  (S. 

japonicum). Cacing ini merupakan pemicu  

penyakit schistosomiasis atau bilharziasis yang 

di tularkan melalui sejenis keong pembawa 

larvanya. sesudah  berkembang, parasit ini 

menembus kulit manusia dan memasuki 

peredaran darah. Di beberapa bagian dunia 

schistosomiasis merupakan suatu masalah 

kesehatan masyarakat yang disebarkan me-

lalui mandi di air yang terinfeksi. 

Penularan terjadi oleh cercariae dengan 

bentuk khas yang dilepaskan ke dalam air 

oleh tuan rumah-antara (keong), yang kemu- 

dian menembus kulit atau selaput lendir 

manusia. Siklus seksualnya terjadi di dalam 

tubuh manusia dengan pembentukan ba-

nyak telur, yang dikeluarkan lewat tinja 

atau urin. Di dalam air larva keluar dari 

telur dan menulari keong, yang kemudian 

memproduksi puluhan ribu cercariae. 

Terapi. Obat pilihan pertama yaitu  prazi-

quantel terhadap semua jenis skistosomiasis 

yang menyerang manusia. 

MoNoGrAFI

1. Mebendazol: Vermox.

Ester metil dari benzimidazol ini (1972) 

yaitu  anthelmintikum berspektrum luas 

yang sangat efektif terhadap cacing kermi, 

gelang, pita, cambuk dan tambang. Obat 

ini banyak dipakai  sebagai monoterapi 

untuk penanganan massal penyakit cacing, 

juga pada infeksi campuran dengan dua 

atau lebih jenis cacing. Mebendazol bekerja 

sebagai vermisid, larvisid dan juga ovisid. 

Mekanisme kerjanya melalui perintangan 

pemasukan glukosa dan mempercepat peng-

gunaannya (glikogen) pada cacing. Tidak 

perlu diberikan laksan. Resorpsi dari usus 

ringan sekali, kurang dari 10%. BA-nya juga 

rendah akibat first pass effect tinggi. PP-nya 

95%. Ekskresinya berlangsung lewat empedu 

dan urin. Efek samping jarang terjadi dan 

berupa gangguan saluran cerna seperti sakit 

perut dan diare. 

Kehamilan dan laktasi: tidak boleh dipakai  

oleh ibu hamil sebab  memiliki sifat teratogen 

yang potensial. Mengingat resorpsinya 

sangat ringan, laktasi tidak perlu dihentikan. 

Tidak dianjurkan bagi anak di bawah usia 2 

tahun.

Dosis: bagi dewasa dan anak-anak sama, 

yaitu pada oxyuriasis dosis tunggal dari 100 

mg (= 1 tablet) pada waktu makan pagi. Kur 

diulang 14 hari kemudian. Sebaiknya seluruh 

keluarga diberi obat terhadap cacing kermi. 

Pada infeksi cacing gelang, tambang, benang, 

pita dan cambuk 2 dd 100 mg selama 3 hari, 

bila perlu diulang sesudah  3 minggu.

* Albendazol (Eskazole, Albenza, Zentel)

yaitu  juga derivat karbamat dari ben-

zimidazol (1988), berspektrum luas terha-

dap Ascaris, Oxyuris, Taenia, Ancylostoma, 

Strongyloides dan Trichiuris. Terutama di-

anjurkan pada echinococciosis (cacing pita 

anjing). Resorpsi dari usus buruk, namun  ma-

sih lebih baik daripada mebendazol. Di da-


lam hati, zat ini segera diubah menjadi sul-

foksidanya, yang diekskresi melalui empedu 

dan urin. 

Efek samping berupa gangguan lambung-

usus, demam, rontok rambut (selewat) dan 

exanthema. 

Wanita hamil dan selama laktasi tidak boleh 

memakai  albendazol, sebab  ternyata 

teratogen pada binatang percobaan. 

Dosis: pada echinococciosis di atas 6 thn 15 

mg/kg/hari dalam 2 dosis d.c., pada as-

cariasis, enterobiasis, ancylostomiasis, tri-

churiasis: anak dan dewasa dosis tunggal 400 

mg d.c., pada strongyloidiasis 1 dd 400 mg 

d.c. selama 3 hari.

2. Piperazin (F.I.): Upixon

Zat basa ini (1949) sangat efektif terhadap 

Oxyuris dan Ascaris berdasar  perintangan 

penerusan impuls neuromuskuler, hingga 

cacing dilumpuhkan untuk kemudian dike-

luarkan dari tubuh oleh gerakan peristaltik 

usus. Di samping itu piperazin juga ber- 

khasiat laksan lemah. Dahulu obat ini banyak 

dipakai  sebab  efektif dan murah, namun  

di banyak negara Barat sejak tahun 1984 tidak 

dipakai  lagi sebab  efek sampingnya, 

terutama neurotoksisitasnya. Resorpsi oleh 

usus cepat dan ± 20% diekskresi melalui urin 

dalam keadaan utuh. Dari sekian banyak 

garam  yang dipakai , mungkin hanya ga-

ram adipat yang paling sedikit resorpsinya. 

Efek samping jarang terjadi (mual, muntah, 

reaksi alergi), pada overdosis timbul gatal-

gatal (urticaria), kesemutan (paresthesia) dan 

gejala neurotoksik (mengantuk, pikiran kacau, 

kon-vulsi, dan lain-lain). Hati-hati pengguna- 

annya pada pasien epilepsi, gangguan hati 

dan ginjal. Wanita hamil dapat diberikan 

piperazin.

Dosis: terhadap Ascaris 75 mg/kg berat 

badan atau dosis tunggal dari 3 g (terhitung 

sebagai heksahidrat. 6 aq.) selama 2 hari. 

Terhadap Oxyuris 65 mg/kg berat badan atau 

dosis tunggal dari 2,5 g selama 7 hari. 

Untuk anak-anak terhadap Ascaris: 50 mg/

kg berat badan, yakni 1-2 tahun 1 g, 3-5 tahun 

2 g dan di atas 6 tahun 3 g sekaligus. Terhadap 

Oxyuris: dosis sama, namun  selama 4-7 hari.

* Dietilkarbamazin (DEC, Hetrazan)

Derivat piperazin ini (1948) dikembangkan 

sewaktu perang dunia kedua, ketika ±15.000 

tentara AS yang ditempatkan di pulau-pulau 

Pasifik Barat menderita filariasis. Obat ini 

khusus dipakai  terhadap mikrofilaria ca-

cing benang, a.l. Wucheria bancrofti dan

Loaloa, sedang  terhadap makrofilaria 

Obat Terpilih Pilihan Kedua

Ascaris (gelang) meb - pir – alb pip - lev 

Oxyuris (kermi) meb - pir pip

Taenia (pita) nik – pra alb - meb

Necator (tambang) meb – alb pir – lev

Strongyl. (benang) alb      meb 

Trichuris (cambuk) Meb - pir alb

Filaria (benang) dietilkarbamazin  -

Bilharzia pra  -

Echinococcus meb –alb

meb = mebendazol pip = piperazin ivr = ivermectin

pir = pirantel lev - levamisol

alb = albendazol pra = praziquantrel nik = niklosamida

Tabel 13-2: Anthelmintika yang dipakai  pada berbagai 

jenis infeksi cacing

kurang efektif. Khasiatnya berdasar  

penurunan aktivitas otot dan kemudian 

melumpuhkan mikrofilaria. Lagi pula obat 

ini mengubah permukaan membran cacing, 

sehingga cacing dapat dimusnahkan oleh 

daya tahan penderita. Resorpsi dari usus 

mudah sehingga kadar dalam plasma 

sudah mencapai puncaknya dalam 1-2 jam. 

Plasma-t½-nya 10-12 jam. Lebih dari 50% 

diekskresi melalui urin dalam keadaan utuh. 

Efek samping sakit kepala, pusing, mual dan 

muntah, walaupun sering terjadi namun  tidak 

serius dan biasanya hilang sendiri dalam 

waktu beberapa hari tanpa menghentikan 

pengobatan. Protein dari filaria yang mati 

dapat memicu  reaksi alergi, mis. 

urticaria hebat, dermatitis dan demam, yang 

juga dapat hilang sendiri sesudah  3-7 hari. 

Kehamilan. Obat ini dianggap aman untuk 

dipakai  oleh ibu hamil.

Dosis: 3 dd 2 mg/kg berat badan p.c. atau 

150-500 mg seharinya untuk 14 hari.

3.  Pirantel: Combantrin, *Quantrel, *Trivexan

Derivat pirimidin ini (1966) berkhasiat 

terhadap Ascaris, Oxyuris dan cacing tam-

bang, namun  tidak efektif terhadap Trichiuris. 

Mekanisme kerjanya berdasar  melum- 

puhkan cacing dengan menghambat pene-

rusan impuls neuromuskuler (seperti pipe-

razin). Lalu parasit dikeluarkan oleh peris-

taltik usus tanpa memerlukan laksan. Resorpsi 

dari usus ringan; 50% zat diekskresi dalam 

keadaan utuh bersama metabolitnya melalui 

tinja dan ± 7% dikeluarkan melalui urin. Efek 

samping ringan dan berupa gangguan saluran 

cerna dan kadangkala sakit kepala. 

Kehamilan: Pirantel tidak dianjurkan peng-

gunaannya oleh wanita hamil maupun anak-

anak di bawah usia 2 tahun.

Dosis: pada cacing kermi dan gelang 

sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg (pamoat = 

embonat), anak-anak ½-2 tablet sesuai usia (10 

mg/kg). Pada cacing cambuk dosisnya sama 

dan diberikan selama 3 hari. 

* Oksantel yaitu  derivat m-oksifenol dari 

pirantel yang dalam dosis tunggal (250-375 

mg) efektif terhadap trichiuriasis.

Sediaan kombinasi:

* Quantrel = pirantel pamoat 150 + oksantel 

pamoat 150 mg

* Trivexan= pirantel pamoat 100 + meben-

dazol 150 mg

4. Levamisol: levotetramisol, Askamex, Erga-

misol

Derivat imidazol ini (1969) sanga t efektif 

terhadap Ascaris (90%) dan cacing tambang 

(80%) denga n cara melumpuhkannya. Bentuk 

rasemis nya tetramisol juga dipakai  ter-

utama pada hewan; aktivitasnya hanya 

setengahnya dari levamisol. Khasiat lainnya 

yang sangat penting yaitu  stimulasi sistem 

imunologi tubuh (imunostimulator pada 

kemoterapi; khususnya mengenai T-cells). 

Oleh sebab  itu sangat berguna pada terapi 

dengan obat yang menekan sistem itu , 

yaitu sitostatika dan kortikosteroida. dipakai  

pula dalam kombinasi dengan fluoro-urasil 

sesudah  pembedahan reseksi pada kanker 

colon. Efek samping jarang terjadi, yaitu reaksi 

alergi (rash), granulocytopenia dan kelainan 

darah lainnya. Hati-hati pada penderita rema 

dan penyakit auto-imun lainnya, sebab  

mereka sangat peka terhadap efek samping 

hematologis. 

Kehamilan dan laktasi: data untuk ini masih 

kurang jelas.

Dosis: pada ascariasis orang lebih berat 

dari 40 kg sekaligus 150 mg d.c (garam HCl), 

anak-anak 10-19 kg: 50 mg, 20-39 kg: 100 mg. 

5. Praziquantel: Biltricide

Derivat pirazino-isokinolin ini (1980) ber-

khasiat baik terhadap jenis tertentu Schisto-

soma (Cina) dan Taenia, sedang  terhadap 

cacing hati Fasciola hepatica tidak efektif. Obat 

ini dipakai  sebagai obat satu-satunya pada 

schistosomiasis dan juga dianjurkan pada 

taeniasis. Khasiatnya berdasar  pemicuan 

kontraksi cepat pada cacing dan desintegrasi 

kulitnya, untuk kemudian dikeluarkan dari 

tubuh. Efek samping ringan dan berupa mual, 

sakit perut dan sakit kepala (selewat), jarang 

demam dan urticaria. 

Dosis: 600 mg sesudah  makan malam. Untuk 

taeniasis dosis tunggal 10mg/kg.

6. Niklosamida: Yomesan

Senyawa nitrosalisilanilida ini (1960) sangat 

efektif sebagai vermisid terhadap cacing pita 

manusia/hewan, namun  terhadap telurnya 

tidak aktif. Khasiatnya diperkirakan melalui 

peningkatan kepekaan cacing terhadap enzim 

protease dalam usus tuan-rumah, hingga ca-

cing lebih mudah dicerna. Oleh sebab  itu 

sering kali scolex tidak ditemukan lagi dalam 

tinja yang menyukarkan penilaian berhasil 

atau tidaknya pengobatan. Umumnya terapi 

dinilai efektif bila sesudah  3-4 bulan tidak 

ditemukan lagi segmen cacing (proglottida) 

dan telurnya dalam tinja. Khusus pada infeksi 

oleh Taenia solium (babi) sesudah  segmen di-

cernakan, telurnya akan dibebaskan dalam 

rongga usus, sehingga timbul kemungkin-

an cysticercosis bagi pasien. Dalam hal itu 

perlu diberikan laksan garam 3-4 jam sete- 

lah pengobatan untuk mengeluarkan seg-

men mati sebelum dicernakan. Laksan tidak 

diperlukan pada infeksi oleh Taenia saginata 

(sapi) sebab  tidak ada risiko cysticercosis. 

Resorpsi dari saluran cerna hanya ringan 

(±15%) dan sebagian besar diekskresi melalui 

urin dalam bentuk yang sudah direduksi, 

sisanya melalui feses dalam 1-2 hari. Plasma-

t½-nya 3 jam. 

Efek samping hampir tidak ada, namun 

obat ini bersifat sangat toksik sehingga peng- 

gunaannya harus hati-hati sekali pada 

gangguan yang meningkatkan resorpsi (co-

litis dan luka di usus). Kehamilan dan laktasi: 

data untuk ini belum mencukupi.

Dosis: dewasa dan anak di atas 8 tahun 

pagi hari saat perut kosong 1 g (= 2 tablet) 

dikunyah halus, disusul dengan 1 g lagi 1 jam 

kemudian. sesudah  2 jam baru boleh makan. 

Anak-anak dari 2-8 tahun: dosis setengahnya 

dan di bawah 2 tahun seperempat (sebaiknya 

tablet ditumbuk menjadi serbuk halus).

7. Ivermectin: Stromectol

Hasil fermentasi (1987) dari jamur Strep-

tomyces avermitilis ini merupakan obat terpilih 

untuk infeksi cacing benang (onchocerciasis). 

Obat ini berkhasiat mengurangi mikrofilaria 

di kulit dan mata dengan efektif. Ivermectin 

juga sangat efektif terhadap Ascaris dan 

Strongyloides, namun  lebih ringan daya ker-

janya terhadap Oxyuris dan Trichiuris. Ter-

hadap kudis dan kutu rambut juga ampuh. 

Plasma-t½-nya 12 jam, ekskresi berlangsung 

khusus melalui tinja. Efek samping ringan dan 

berupa gatal-gatal, ruam kulit dan perasaan 

pusing. Tidak dianjurkan bagi wanita hamil.

Dosis: di atas 12 tahun dosis tunggal dari 

150 mcg/kg minimal 2 jam a.c/p.c. Bila perlu 

diulang sesudah 6 bulan.

8. Obat-obat lainnya seperti minyak Che-

nopodi, gentianviolet, ekstrak Filices, san-

tonin dan papain yang sudah obsolet dan 

praktis tidak dipakai  lagi telah dibica-

rakan dalam Edisi III. Untuk obat yang 

pemakaian nya tidak lazim lagi sebab  efek 

sampingnya seperti pyrvinium, befenium 

dan tetrakloretilen, lihat Edisi IV.


SITOSTATIKA


A. KANKER

Kanker atau karsinoma (Yun. karkinos = 

kepiting) yaitu  pemben tu kan jaringan baru 

yang abnor mal dan bersifat ganas (maligne). 

Suatu kelompok sel dengan mendadak men-

jadi liar dan memperbany ak diri se cara pesat 

dan terus-menerus (proliferasi).

Akibatnya yaitu  pem bengkakan atau 

benjolan yang disebut tumor atau neoplas-

ma (Lat. neo = baru, plasma=bentukan). Sel-

sel kanker menginfiltrasi jaringan sekitarnya 

dan memusnahkannya. Tumor primer setem-

pat sering kali menyebarkan sel-selnya me- 

lalui saluran darah dan limfe ke tempat 

lain di tubuh (metastase), yang selanjutnya 

berkembang menjadi tumor sekunder. Gejala-

gejala umum utama yaitu  nyeri sangat 

hebat, penurunan berat badan mendadak, 

kepenatan total (cachexia) dan berkeringat 

malam. 

Jenis-jenis kanker banyak sekali dan ham-

pir semua organ dapat diserang penyakit 

ganas ini, termasuk limfe, darah, sumsum dan 

otak. Kanker merupakan pemicu  kematian 

kedua di dunia sesudah  penyakit jantung 

dan pembuluh. berdasar  penelitian in-

tensif mengenai peranan makanan sehat di 

beberapa negara Barat a.l. negeri Belanda 

pada beberapa dasawarsa lalu, ternyata kan- 

ker telah menempati urutan nomor satu 

menggantikan penyakit PJP.

Bentuk-bentuk tumor dinamakan sesuai ja-

ringan tempat neo plasma berasal, yaitu:

adenoma: benjolan maligne pada kelenjar, 

misalnya pada prostat dan payudara 

• limfoma: kanker pada kelenjar limfe, mi-

salnya penyakit (non-) Hodgkin dan p. Bur-

kitt yang berciri benjolan rahang

• sarkoma: neoplasma ganas yang berasal 

pembuluh darah, jaringan ikat, otot atau 

tulang, misalnya sarkoma Kaposi, suatu 

tumor pembuluh di bawah kulit tungkai 

bawah dengan bercak-bercak merah 

• leukemia: kanker darah yang berhubungan 

dengan produksi lekosit yang abnormal 

tinggi dan jumlah eritrosit sangat me nu-

run

• myeloma: kanker pada sumsum tulang, 

misalnya penyakit Kahler(multiple myeloma) 

dengan pertumbuhan liar sel-sel plasma 

di sumsum. Sel plasma berkembang men-

jadi limfosit-B. Lihat Bab 49 Dasar-Dasar 

Imunologi. 

• melanoma: neoplasma kulit yang sangat 

ganas, terdiri dari sel-sel pigmen, yang 

menyebar pesat. Neoplasma kulit lainnya 

yang dapat terjadi yaitu  sel basal dan sel 

“plaveisel”(squamous cell). Berlainan de-

ngan melanoma, kedua jenis kanker ter-

akhir dapat disembuhkan.

pemicu 

Riset pada beberapa dasawarsa terakhir 

mengungkapkan bahwa kanker disebabkan 

terganggunya siklus sel akibat mutasi dari gen-

gen yang mengatur pertumbuhan. Pada umum-

nya dibutuhkan minimal dua jenis mutasi 

untuk membentuk pertumbuhan sel ganas. 

Sel-sel tumor “berusaha“ menjauhkan diri 

dari regulasi pertumbuhan sel normal. Hal 

ini dicapai dengan jalan perubahan genetik, 

sehingga sel tumor menjadi mandiri dari 

regulasi itu . Oleh sebab  itu, kanker 

termasuk penyakit akibat defek pada gen.

Defek pada gen dapat diakibatkan oleh 

banyak sebab, yaitu:


– radiasi dari sinar Röntgen, sinar gama 

dan gelombang sinar UV tertentu (UV-C; 

260 nm) yang diabsorpsi kuat oleh DNA;

– zat-zat kimia lingkungan (polu si, a.l. 

asap rokok dengan zat karbonhidro gen), 

juga aflatoksin yang di ben tuk jamur 

Aspergillus;

– radikal bebas yang sangat reaktif ( O2

--

H2O2, OH-) dari pernapasan biasa dan 

proses-proses faal lainnya;

– sitostatika, obat-obat kemoterapi kanker 

(„kemo“), yang sendirinya memiliki ri-

siko besar memicu  kanker baru, 

sering kali leukemia. Sitostatika yang 

dapat merusak DNA dan berkhasiat kar-

sinogen yaitu  zat-zat alkilasi.

Sistem reparasi DNA. Cacat-cacat pada 

gen beraneka ragam, yang pada hakikatnya 

dapat diperbaiki oleh sejumlah sistem enzim. 

Salah satu zat yang membantu reparasi ini 

yaitu  NADH (Niacinamide Adenine Dinu-

cleotide), suatu zat antioksidan kuat dan 

penyuplai energi seperti ATP. namun  bila sel 

diekspose terus-menerus pada pemicu  ke-

rusakannya, maka sistem reparasi akhirnya 

tidak mampu lagi untuk memperbaiki cacat 

itu . Sel defek ini memperbanyak diri 

dan menurunkannya pada generasi berikut-

nya, sehingga akhirnya kanker dapat muncul 

di keturunannya sesudah  rentan waktu pan-

jang. Sel cacat demikian yang tidak dapat 

direparasi lagi telah mengalami mutasi dari 

gen-gennya.

Proses timbulnya kanker. Tumor ganas ter-

jadi melalui beberapa tingkat yaitu:

a.  tahap  inisiasi: DNA dirusak akibat radiasi 

atau zat karsinogen (radikal bebas). Zat-

zat inisiator ini mengganggu proses re-

parasi normal, sehingga terjadi mutasi 

DNA dengan kelainan pada kromosom-

nya. Kerusakan DNA diturunkan kepada 

anak-anak sel dan seterusnya.

b. tahap  promosi: zat karsinogen tambahan 

(co-carcinogens) diperlukan sebagai pro-

motor untuk mencetuskan proliferasi sel 

sehingga sel-sel rusak menjadi ganas. 

c.  tahap  progresi: gen-gen pertumbuhan yang 

diaktivasi oleh kerusakan DNA meng-

akibatkan mitosis yang dipercepat dan 

pertumbuhan liar dari sel-sel ganas, 

berarti tumor menjadi manifes. 

Sel-sel tumor dapat menggandakan gen- 

gennya sampai 10.000 kali lebih cepat dari-

pada sel normal. Oleh sebab  itu berbagai 

mutasi dapat berlangsung serentak, juga 

akibat kekhilafan genetik secara spontan. 

Sel membelah dalam beberapa tahap  selama 

siklusnya, yang rata-rata memakan waktu 

sekitar 20 jam.

* Apoptosis yaitu  kematian sel yang te-

lah diprogram. Pada perkembangannya di 

dalam embryo praktis setiap sel menerima seca-

ra genetik suatu program khas, yang memati-

kannya sesudah  sejumlah pembelahan terten- 

tu (prinsip “you are born to die”). Begitu juga 

bila cara berfungsinya terganggu hebat se-

perti halnya pada sel-sel kanker, yang demi- 

kian tidak akan mati pada waktunya. Akibat 

apoptosis sel kehilangan cairannya, meng-

kerat dan pecah dalam bentuk gelembung-

gelembung kecil, yang akan diserap oleh 

sel-sel sekitarnya. Kalsium berperan penting 

pada proses ini. Berbeda dengan necrosis 

sel, pada apoptosis tidak timbul reaksi pera-

dangan. 

Sel-sel tumor telah menemukan cara untuk 

menghindari apoptosis, antara lain melalui 

mutasi dalam gen p53. Dengan demikian gen 

ini tidak bereaksi lagi terhadap kerusakan 

DNA dan proses reparasi tidak terwujud. 

Mekanisme yang mengatur apoptosis ter-

ganggu dan mutasi DNA yang sudah ada 

menjadi tetap dan diturunkan kepada sel-sel 

turunannya, sehingga akhirnya, mungkin 

baru pada generasi berikut, akan terbentuk 

sel-sel tumor ganas.

* Gen p53 (juga disebut gen-apoptosis atau 

tumor-suppressor gene) memegang peran-

an esensial pada lebih dari separuh dari 

semua kanker. Protein ini berfungsi sebagai 

gen bunuh diri, sebab  berdaya mencetuskan 

apoptosis dan bekerja sebagai faktor trans-

kripsi di dalam inti sel. Oleh sebab  itu jumlah 

total dari pembelahan sel menjadi tetap bagi 

setiap jenis sel. Bila gen p53 dihambat atau 

dirusak, maka pertumbuhan sel (ganas) da- 

pat berlangsung secara tak terkendali. Seba- 

gai contoh dapat disebut virus HPV-16 (hu-

man papillomavirus) pemicu  kanker cervix 

(leher rahim). Virus ini mampu memadam- 

kan isyarat darurat sel dengan jalan meng-

inaktivasi gen p53, sehingga sel-sel tidak 

mati pada waktunya, namun  membelah te-

rus-menerus. Pada replikanya (anak-anak 

sel) akan timbul lebih banyak kekhilafan 

atau cacat dari pada normal, yang akhirnya 

berkembang menjadi sel-sel ganas dan tim-

bulnya tumor. Para peneliti telah menemukan 

suatu protein (gen BCL-2) yang berefek 

menginaktivasi gen apoptosis ini. Kerja gen 

p53 diregulasi pula oleh hormon-hormon, 

misalnya pada haid kadar progesteron me-

nurun dan beberapa jam kemudian sel-sel 

epitel rahim mengkerat dan mati dengan 

sendirinya. Contoh lain yaitu  kematian sel-

sel prostat sesudah kastrasi dan terhentinya 

produksi testosteron.

* Telomer-telomer juga memegang peranan 

penting pada terjadinya kanker. Sel-sel sehat 

memiliki suatu rantai dari strip-DNA kecil 

(telomer) pada ujung setiap kromosomnya. 

sesudah  setiap pembelahan rantai sel telomer 

menjadi semakin pendek dan proses ini 

merupakan bagian dari proses menua. sesudah  

membelah sekian kali telomer habis terpakai, 

pembelahan sel terhenti dan sel mati. Sel-

sel kanker dapat membentuk telomerase, 

suatu enzim ribonukleoprotein yang berefek 

mencegah penyingkatan rantai telomer, se-

hingga sel tumor dimungkinkan untuk mem-

belah kontinu tanpa terhenti.

Telomerase telah diketemukan oleh pe-

nyelidik Amerika dan pemenang hadiah 

Nobel 2009 (Profs Elizabeth Blackburn, Carol 

Greidi dan Jack Szostak). Kini telomerase ak-

tivator dalam kapsul sudah mulai dipakai  

peroral sebagai obat untuk memperpanjang 

penghidupan (Life-extension capsule TA-65). 

namun  pemakainya harus sangat berhati-hati 

sebab  potensial ada  risiko terjadinya 

kanker bila telomerase bekerja tidak ter- 

kendali. 

Sebab-sebab mutasi. Selain penyinaran 

dan zat-zat perusak DNA (radikal bebas,lihat 

Bab 40, Obat Asma), mutasi DNA di inti sel 

dapat pula diakibatkan oleh kekeliruan-kekeli-

ruan kecil pada ratusan ribu pembelahan sel yang 

berlangsung setiap hari. Sel-sel cacat pada 

orang sehat dikena li oleh limfosit sebagai sel 

asing dan dimusnah kan. namun , bila sistem 

imun terganggu atau lemah, sel-sel yang termu-

tasi itu dibiarkan berkembang menjadi sel 

kanker yang kemudian berpro liferasi. 

Infeksi “virus lambat” dalam kombi na-

si dengan faktor-faktor lain juga mungkin 

merupakan pemicu  dari mutasi. “Slow 

virus” ini dapat bermukim dalam tubuh se-

lama puluhan tahun tanpa memicu  

gejala. Contoh dari virus pemicu  kanker 

mulut rahim yaitu  human papillomavirus 

(HPV-16), lihat di atas. Pria, meskipun tidak 

mengalami keluhan, dapat menjadi karier 

HPV dan menularkannya. Lihat juga Bab 7. 

Virustatika, Virus-virus lain.

Faktor lingkungan

Diperkirakan sekitar 80% dari semua kanker 

yang menyerang manusia diakibatkan oleh 

pengaruh lingkungan dalam arti seluas-

luasnya, yaitu pengaruh zat-zat karsinogen 

dari luar (eksogen). Sisanya yang menjadi 

pemicu  yaitu  virus dan radiasi, masing-

masing ±10%. Faktor-faktor eksogen penting 

yaitu :

• pengotoran udara oleh gas buangan mobil, 

pesawat udara, pabrik dan sebagainya.

• sinar ultraviolet dari matahari (kanker ku-

lit, melanoma)

• radiasi terlalu sering dengan dosis tinggi 

oleh sinar-sinar ionisasi yang kaya akan 

enersi (sinar Röntgen dan sinar radio-ak-

tif)

• makanan yang kaya akan lemak hewan dan 

miskin serat nabati

• tembakau: merokok bertanggungjawab 

untuk ±30% dari semua kematian akibat 

kanker (cutaneous squamous cell carcino mas). 

 Leonardi-Bee J et al. Arch Dermatol 2012 

Aug 148:939.

Ingatlah peribahasa berikut: “Au bout de 

chaque cigarette, toujours le meme filtre: vos pou-

mons.” (di ujung setiap rokok selalu ada  

filter yang sama, yaitu paru-paru Sdr).

Faktor Keturunan

Sejumlah kanker ternyata dapat diturunkan, 

antara lain 10-20% tumor payudara, 40% tu-

mor mata (retinoblas toma) dan kanker ginjal 

pada anak-anak (Wilms tumor). Diketahui 

bahwa dua gen tumor payudara (BRCA-1dan 

BRCA-2) merupakan pemicu  diturunkan 

kanker ini dari ibu ke anak perempuan. 

Anak-anak yang memiliki gen-gen itu  

dalam kromosomnya berisiko sangat tinggi 

(± 80%) untuk mendapatkan kanker payuda-

ra atau ovaria sesudah  usia 40 tahun. Untuk 

menghindari risiko itu , sebagian wanita 

yang termasuk kelompok di atas secara pre-

ventif menjalani mammectomi (prophylactic 

mastectomy) dan ovariotomi .

(‚Angelina Jolie effect,‘, meningkatnya genetic 

testing terhadap mutasi BRCA1/2 bagi car-

rier; Breast Cancer Symposium September, 

2014).

Zat-zat karsinogen

Merupakan zat-zat yang dapat memicu  

tumor melalui kontak (lokal, inhalasi) atau 

oral (usus). ada  banyak zat kimia wi 

yang bersifat karsino gen, misalnya ter yang 

timbul pada pembakaran tem bakau dan 

kertas. Ada hubungan lang sung yang jelas 

antara merokok dan kanker paru, tenggorok 

dan kandung kemih. Juga antara serat-serat 

asbes dan nikel (Ni) yang ada  di udara 

dan kanker paru.

Obat-obat yang bersifat karsinogen yaitu  

a.l. semua zat alkilasi, azatioprin, doksorubisin, 

daunorubisin dan prokarba zin (leukemia), hor-

mon-hormon wanita (dietilstilbestrol = DES 

kanker vagina dan endome tri um), fe nasetin 

(ginjal, hati) dan fenitoin, juga metronidazol 

dan ter arang batu (Liq. Carbonis detergens).

Makanan juga dapat mengandung zat-zat 

kimiawi yang bersifat karsi nogen langsung 

atau sesudah  interaksi dengan zat lain di da-

lam tubuh. Beberapa zat karsinogen terkenal 

yang berasal dari makanan yaitu : 

a.  Nitrosamin, yang antara lain ada  

dalam lemak babi dan diuap kan pada 

proses penggorengan. Di dalam usus zat-

zat ini dapat terben tuk sebagai hasil re- 

aksi dari nitrit dengan amin (hasil pe-

rombakan protein). Pembentukan nitro-

samin dapat dihindari oleh vitamin C.

b.  Nitrat ada  dalam banyak sayur-

mayur, terutama yang dibiakkan dengan 

pupuk buatan berlebihan, khususnya ba-

yem. Oleh sebab  itu bayem yang sudah 

diolah sebaiknya dikonsumsi habis sebab  

bila disimpan pada suhu kamar akan 

segera membentuk nitrit. pemakaian  

kalium nitrat sebagai pengawet dan untuk 

memberi kan warna segar (merah) pada 

daging sudah dilarang di kebanyakan 

negara Barat! Nitrat direduksi menjadi 

nitrit oleh flora usus. Vitamin C (0,5-1 

g/hari) dapat mencegah bersenyawanya 

nitrit dengan amin men jadi nitrosamin.

c.  Benzpiren yaitu  suatu induktor enzim 

yang antara lain ada  pada asap 

rokok dan gas-buangan mobil. Zat ini 

juga terbentuk saat pemanasan daging 

dan ikan di atas api langsung pada bagian 

yang terbakar hitam (gosong). Perhatian: 

panggang sate.

d. Asam desoksikholat terbentuk dalam 

usus pada per ombakan kolesterol dan 

empedu.

e.  Aflatoksin dibentuk oleh jamur Asper-

gillus flavus yang berkembang biak pada 

kacang tanah, ke lapa, jagung dan seba-

gainya yang disimpan di tempat lembap. 

Berhati-hatilah dengan mentega kacang 

(‚pindakaas‘) yang berkualitas buruk, ka-

rena dapat mengandung aflatoksin! 

Ochratoksin yang ada  pada jenis 

gandum tertentu di Eropa yaitu  zat 

karsinogen lain yang dibentuk oleh 

jamur Aspergillus ochraceus pada proses 

pembusukan.

f.  Zat-zat pewarna yang dipakai  pada 

pembuatan kue, sirop, gula-gula dan se-

bagainya sering kali bersifat karsinogen 

pada binatang percobaan. Dalam sebu-

ah Daftar WHO dimuat zat-zat pewarna 

yang dianggap aman (GRAS list = Gene-

rally Recognized As Safe).

g. Lainnya: dioxin dan radon. Dioxin terma-

suk kelompok PCB (polychlorbifenyl, C12 

   a                          b

  nitrat  nitrit         nitrosamin

            flora usus                + amin

 a: reduksi

 b: reaksi ini dicegah oleh vitamin C.


H10-xClx), yang sangat toksik. Dibentuk 

pada pembakaran sampah, bersifat lipofil, 

sukar didegradasi dan berkumulasi di 

jaringan lemak hewan dan ikan. sebab  

berkhasiat karsinogen dan teratogen serta 

menurunkan sistem imun dan kesuburan, 

sejak 1985 penjualan dan pemakaiannya 

dilarang. Selama ± 50 tahun dioksin telah 

dipakai  sebagai cairan pendingin di 

transformator dan kondensator. 

Radon yaitu  gas mulia yang ada  

di mana-mana dan terbentuk dari radium 

sesudah  degradasi. Juga bersifat radioaktif, 

namun  hanya melepaskan sinar-sinar alfa.

h. Zat degradasi minyak nabati yang ter-

bentuk bila minyak goreng dengan kan-

dungan banyak asam lemak tak-jenuh 

dipanasi pada suhu diatas 1700 C. 

i.  Tumbuhan Aristolochia yang sering di-

gunakan dalam campuran Traditional Chi-

nese Medicin (TCM) mengandung asam 

aristolo chia, yang selain mutagenik dan 

nefrotoksik juga bersifat karsinogenik.

Diagnosis

Bila diduga adanya suatu kanker berdasar  

gejala-gejala khusus (pendarahan abnormal, 

benjolan, suara parau, peruba han kutil, dan 

sebagainyanya) dan gejala-gejala umum (rasa 

nyeri hebat, anoreksia, penurunan berat 

badan mendadak, rasa sangat letih), diagno-

sis biasanya diperkuat dengan a.l. foto X-ray, 

echografi, CT-scan, MRI dan/atau penyelid-

ikan mikrosko pis jaringan (biopt).

* Indikator tumor. Se lain sedimen tasi tinggi 

dan hemoglobin rendah, juga ada sejumlah 

bio-markers penting di dalam darah. Yang 

terutama yaitu  PSA (prostate specific antigen), 

alfa-FP (alfa-fetoprotein) dan beta-HCG (beta-

human chorio nic gonadotrophin). Nilai yang 

meningkat memberikan indikasi yang agak 

spesi fik untuk adanya tumor pada masing-

masing prostat (normal: 0-4 mcg/l darah), 

hati dan antara lain testis. Kurang spesi fik 

yaitu  CEA (carcino-embryonic antigen) (0-4 

mcg/l) dan CA 125 (carcino-antigen), na-

mun berguna untuk memonitor efek terapi 

terhadap kanker tersebar dari masing-masing 

lambung-usus dan payudara, ovari um/epi-

tel lain.

* Biomarker kanker prostat. Kebanyakan 

bentuk kanker prostat disertai PSA yang 

meningkat (di atas 10 mcg/l), lihat Bab 43, 

Hormon-hormon Pria, PSA. Awal tahun 

1998 di AS ditemukan suatu protein IGF1 

dengan fungsi isyarat untuk kanker prostat 

pada pria dengan risiko yang meningkat. 

Protein ini menurut perkiraan merupakan 

marker tumor yang lebih baik, sebab  dapat 

dideteksi di dalam darah beberapa tahun 

lebih dini daripada PSA. Namun nilai tinggi 

dapat juga disebabkan oleh prostatitis atau 

pembesaran prostat. 

Gen-gen di kemudian hari mungkin dapat 

dipakai  sebagai marker tumor umum, 

misalnya dengan tes warna untuk mendeteksi 

gen supresi tumor p53 yang termutasi, lihat di 

atas. Begitu juga dapat ditentukan gen-gen 

BRCA1dan BRCA2 pada wanita dengan 

sejarah kanker payudara di keluarga. 

Akhir-akhir ini telah dihasilkan suatu tes 

pewarnaan untuk mendeteksi gen p53 termu-

tasi, yang memberikan indikasi terganggunya 

siklus sel dan dimulainya pertumbuhan sel-

sel ganas. Tes ini mungkin dapat dipakai  di 

klinik secara rutin untuk screening kanker dan 

sebagai marker untuk memonitor progresnya 

(diss. dr I.O. Baas, Univ. Amsterdam, Jan. 

1998).

* Klasifikasi tumor didasarkan atas sistem 

TNM, pada mana T = tumor, N = nodul dan 

M = metastasis. T 1-3 meny atakan besarnya 

tumor, N 1-3 luasnya kelenjar limfe yang ter-

libat dan M 0-1 ada/ tidaknya metastasis.

Pencegahan

Menurut pendapat pada Union for Interna-

tional Cancer Control (UICC) World Cancer 

Congress 2012, perubahan pola hidup dapat 

menghindari dengan 50% insidensi penyakit 

kanker tertentu (paru, payudara). 

Faktor-faktor risiko yang terutama harus 

diperhatikan yaitu  menghindari merokok, 

kegemukan, makanan tertentu dan kurang 

bergerak (aktivitas fisik). Juga dianjurkan 

eradikasi melalui vaksinasi dari 3 jenis virus 

yang dapat memicu kanker, yaitu human-

papillomavirus, hepatitis B dan C. 


TUMOR MARKERS/CANCER bIOMARKERS

Penanda tumor ideal yaitu  zat yang khusus diproduksi oleh jaringan tumor dan tidak oleh jaringan 

normal. Dapat ditentukan dengan mudah dan terpercaya dalam cairan tubuh (darah, urin), tinja atau 

jaringan  dan yang kadarnya berkaitan dengan massa tumor.

Tumor marker ideal dapat mengenali pertumbuhan ganas dalam stadium dini, spesifik bagi organ 

tertentu, berkaitan dengan aktivitas tumor (“tumour burden”) dan memberikan informasi untuk 

prognosis. namun  tumormarker ideal demikian tidak tersedia, sebab  kadar dari banyak tumormarkers 

meningkat pada gangguan jinak (benign) maupun akibat gangguan ganas (maligne). sebab  

terbatasnya spesifisitas masalah ini dapat memicu  “overtreatment” yang menjadi beban fisik 

dan psikis bagi pasien.

Definisi yang lebih praktis dari penanda tumor yaitu :  suatu zat yang penentuannya secara kualitatif 

atau kuantitatif dalam cairan tubuh atau dalam jaringan tumor dapat memberikan informasi  bagi 

diagnostik dan terapi  pertumbuhan jaringan abnormal. 

Penentuan dalam cairan tubuh (darah/serum) sebagai indikator biokimia untuk diagnostik primer 

dan monitoring responsnya terhadap terapi atau untuk deteksi timbulnya residif merupakan aplikasi 

terpenting dari tumor marker.

Singkatnya pada penelitian kanker, biomarker dipakai  untuk 3 tujuan:

1.  diagnostik: identifikasi kanker secara dini

2.  prognostik: meramalkan keganasan kanker tertentu

3.  predictive:  memonitor respons pasien terhadap terapi

biasanya  tumor marker berupa protein, namun  akhir-akhir ini dengan kemajuan teknologi, 

perubahan-perubahan genetik(DNA/RNA) yang berkaitan dengan jenis kanker tertentu,  juga dapat 

dipakai  sebagai marker genetik  a.l. untuk memonitor terapi terarah (targeted treatment).

Lebih dari 20 tumor markers sekarang ini dipakai , sebagian hanya berkaitan dengan satu jenis 

kanker dan ada juga yang menandai beberapa tipe kanker. Suatu “universal” tumor marker yang 

dapat menunjukkan setiap jenis kanker tidak tersedia.

Tumor marker  yang paling sering dipakai  klinis yaitu  a.l.: 

α1-foetoprotein (AFP), karsino-embrional antigen (CEA), human choriongonadotrofine (HCG), 

prostat specifik antigen (PSA), thyreoglobuline (TG) dan kalsitonin.

Tabel  pemakaian  tumor markers pada keganasan (malignitas) spesifik

Organ Marker Tujuan

Colon dan rektum CEA penentuan dini residif atau metastase

Pankreas karsinoma CA 19/9 diferensiasi pankreatitis kronis dan karsinoma

Hati karsinoma AFP diagn. dini; penentuan dini residif atau metastase

Payudara karsinoma BRCA1/BRCA2/HER2 penentuan dini residif atau metastase

Ovarium karsinoma BRCA/CA 125 penentuan dini residif atau metastase

Prostat karsinoma PSA penentuan dini residif atau metastase

Testis karsinoma AFP, hCG diagnosis primer; penentuan dini residif atau  

  metastase

Paru, non small cel EGFR penentuan dini residif atau metastase

Tiroid karsinoma kalsitonin diagnosis primer; penentuan dini residif atau  

  metastase

Terhadap kanker hingga kini baru tersedia 

satu vaksin, yaitu vaksin cervix (Gardasil 

2006, Cervarix 2007) yang mengandung anti-

bodies terhadap Human Papilloma virus 

tipe 6, 11, 16 dan 18, pemicu  kanker mulut 

rahim dan terutama dianjurkan bagi wanita 

usia 16-26 tahun. 

Dosis: kur dari 3 injeksi 0,5 ml sesuai jadwal 

0-2-6 bulan.

Di samping sebagai prevensi juga diguna-

kan terapeutik terhadap infeksi virus ini. 

Profilaktis juga berkhasiat terhadap kutil ge-

nital (condyloma acuminata) yang juga diaki-

batkan oleh HPV. Lihat Bab 7, Virustatika.

Makanan. Lihat juga Bab 54. Dasar-dasar 

diet sehat.

Pada dasawarsa terakhir telah dibuktikan 

adanya hubungan erat antara makanan dan 

kanker. Susunan diet sehari-hari dapat meme-

ngaruhi risiko kanker, khususnya daging, 

lemak jenuh, sayuran dan buah-buahan, 

serta serat nabati. Diperkirakan 30-40% dari 

semua kanker berkaitan dengan makanan. 

Protein hewan dan lemak jenuh dalam diet 

mempunyai hubungan jelas dengan berbagai 

jenis kanker, misalnya kanker payudara, usus 

besar, prostat, ovarium dan cervix. Di negara 

Barat seperti Spanyol dan Yunani, yang ma-

kanan sehari-harinya mengandung lebih ba-

nyak lemak dan daging, ada  dua kali 

lebih banyak jenis kanker itu  dibanding-

kan dengan Jepang. 

Protein hewan (termasuk daging ayam dan 

ikan) mengandung asam arachidonat yang 

dalam tubuh merupakan bahan pangkal bagi 

prostaglandin-E. PgE2 ini di samping bersifat 

meradang, juga berefek menekan sistem 

imun dan menstimulasi pertumbuhan sel 

tumor. (lihat Bab 21, Analgetika Antiradang).

Oleh sebab  itu sebaiknya jangan makan 

terlalu banyak daging hewan, terutama or-

gan (jeroan, otak, limpa, jantung, lambung) 

dengan pengecualian hati dan kelenjar ka-

cangan (timus). Hati mengandung banyak 

zat penting, seperti enzim antioksidan (SOD, 

katalasa, glutathion-peroksidase), glutathi-

on, vitamin B-kompleks dan vitamin K, mi-

neral dan elemen spura. Sebaliknya, prote-

in nabati(kedele, kacang-kacangan (beans), 

syampinyon, jagung) tidak mengandung 

arachidonat, sehingga dapat bebas dimakan. 

namun  sebab  protein nabati tidak mengan-

dung semua asam amino esensial, sebaiknya 

dilengkapi juga dengan produk-produk su-

su dan protein telur.

Minyak nabati (kembang matahari, ja-

gung, kedele) dianjurkan untuk dikonsumsi 

tiap hari, sebab  mengandung asam lemak 

tak-jenuh yang esensial bagi tubuh. Asam 

lemak tak-jenuh tidak dapat disintesis sendiri. 

Lemak jenuh (mentega, margarin, min-

yak babi/sapi/domba/ayam) sebaiknya di-

konsumsi sesedikit mungkin, sebab  me- 

ngandung banyak asam lemak trans yang 

mudah diubah menjadi kolesterol dan ti-

dak dapat dipakai  untuk pembentukan 

prostaglandin “baik”. Minyak kacang (tanah) 

sebaiknya jangan dipakai  sebab  me ngan- 

dung arachidonat. Untuk proses menggoreng 

sebaiknya dipakai  sedikit mentega atau 

minyak kelapa. Jenis-jenis kacang (cashew/

mede, pistachio, walnut, hazelnut, pecan) 

mengandung banyak minyak tak jenuh serta 

mineral dan dapat dimakan secukupnya, 

sebaiknya dalam keadaan mentah. Minyak 

ikan mengandung asam lemak omega (EPA, 

DHA) yang berefek anti tumor sebab  men-

desak arachidonat dari membran sel dan 

membentuk prostaglandin “baik” (tipe E1 

dan E3). Oleh sebab  itu dianjurkan untuk 

beberapa kali seminggu mengonsumsi ikan 

berlemak seperti kembung (makril India), 

salem, herring, sardencis dan tongkol. 

Sayuran dan buah-buahan mengandung 

banyak zat alamiah dengan khasiat anti-

oksidan yang memperkuat sistem imun dan 

menghambat pertumbuhan tumor, misalnya 

vitamin C, E, karoten, lycopen dan zat-zat 

indol. Sangat dianjurkan mengonsumsi sa-

yur an, seperti brokoli, kembang kol, kol 

hijau/putih, bayem, wortel, alfalfa, bawang 

putih dan bit. Buah-buahan yang dianjurkan 

yaitu  arbai, abrikos, nenas, kiwi, sitrun, 

grapefruit, tomat, paprika, papaya dan se-

mangka. Sayur an sebaiknya dimakan dalam 

keadaan segar sebagai lalap. 

Serat nabati dalam diet juga mempunyai 

peranan pent ing, sebab kekurangan serat 

(dalam sayur-mayur, katul dan tepung 

„whole grain“) dapat meningkatkan risiko 


kanker, terutama kanker usus. Serat di dalam 

usus menghisap air dan mengem bang, isi 

usus membesar, peristaltik distimulasi dan 

pengelua rannya (tinja) diperlancar. Zat-zat 

peromba k makanan yang bersifat karsinogen, 

seperti nitrosamin dan metabolit-metabolit 

koleste rol “ter perangkap“  dalam gumpalan 

serat, sehingga tidak dapat di serap atau mela-

kukan kerja buruknya terhadap dinding 

usus.

Diperkirakan sekitar 40% dari kanker 

usus dapat dihindari dengan diet yang kaya 

akan serat nabati. Sejak lama telah diketahui 

bahwa kasus kanker pada orang vegetarian 

tidak begitu banyak.

Penanganan

Ada berbagai cara penanganan kanker, anta-

ra lain pembedahan, penyinaran, kemote- 

rapi, hormon terapi, imuno ter api dan hiper-

termi. Sering kali cara-cara ini dikombinasi, 

yaitu penanganan secara lokal dan sistemik 

pada saat terdeteksi penyakit. Pembedahan 

dan radiasi dapat mencapai penyembuh-

an lengkap (kuratif) bila dilakukan sedini 

mungkin dan bila belum ter jadi metastasis. 

Kemote rapi dengan sitostatika dapat me-

nyembuhkan hanya se jumlah kecil jenis 

kanker, lihat uraian di bawah ini bagian c. 

Pengo batan kanker yang sudah menyebar 

biasanya  hanya bersi fat paliatif, yaitu 

meringankan gejala tanpa dapat menyem-

buhkan penyakit.

Sitostatika, yaitu kelompok obat yang di-

gunakan terhadap kanker didasarkan atas 

penghentian mekanisme proliferasi sel, se-

hingga bersifat toksik bagi sel tumor maupun 

sel normal, terutama sel sumsum tulang, 

epitel saluran pencernaan dan folikel rambut 

(rambut rontok). Selektivitas dari sitostatika 

berdasar  kenyataan bahwa sel kanker 

membelah jauh lebih intensif daripada sel 

jaringan normal. 

Sebagian obat hanya efektif pada tahap  

tertentu dari siklus pembelahan sel (phase-

specific drug), seperti zat anti metabolit, al-

kaloid vinca dan senyawa taksan. Sebagian 

lain efektif pada seluruh siklus pembelahan 

sel (cycle-specific drug), seperti penghambat 

DNA, senyawa alkilasi, antibiotika dan hor-

mon steroid. 

Penerapan terapi hormone replacement di 

Amerika menurun dengan drastis sesudah  

diketahui ada  risiko kanker payudara 

yang meningkat. 

a.  Pembedahan untuk mengeluarkan tumor 

secara radikal hanya dapat dilakukan 

pada tumor tunggal yang belum menye-

bar, misalnya pada kanker kulit atau 

payu dara. Risikonya yaitu  penyebaran 

sel-sel tumor ke jaringan dan pembuluh 

sekitarnya akibat pemotongan. Untuk 

mengurangi kemungkinan ini adakala-

nya pre-operatif dilakukan radiasi untuk 

sekadar merusak sel-sel kanker dan mem- 

per lunak keganasan nya. Pasca bedah se-

ring kali dilakukan radiasi atau kemo-

terapi untuk membasmi sisa-sisa sel 

tumor yang mungkin masih tertinggal. 

Di AS pembedahan demikian merupakan 

prosedur standar.

b.  Radiasi dengan sinar radioaktif (radio-

terapi) “membakar“ dan memusnahkan 

sel-sel tumor dan bisa bersifat kuratif (a.l. 

kanker kulit, oropharynx, cervix, vagina 

dan prostat) atau paliatif (a.l. mengu- 

rangi rasa sakit misalnya pada metastasis 

tulang, mengurangi sakit kepala akibat 

meningkatnya tekanan intra-kranial pada 

metastasis CNS). Sekarang ini pelaksa-

naannya dengan alat megavolt (linear 

accelerator) 4-25MV, SL-25 dan yang ter-

mutakhir yaitu  Race track Microtron 

MM50, yang mengguna kan sinar dengan 

energi sangat tinggi (foton atau elek-

tron). Alat-alat yang memakai  ko-

bal dari akhir tahun 1970-an sudah ja-

rang dipakai  lagi. Alat-alat modern 

bersifat kurang merusak jaringan se hat 

dan lebih efektif, sebab  dapat menem- 

bus tubuh lebih dalam. Lagi pula de-

ngan perantaraan komputer ben tuk dan 

intensitas sinar dapat diubah secara ter-

pimpin. Dosis radiasi dinyata kan dalam 

satuan Gray (Gy). 1 Gray = 1 joule yang 

diabsorpsi per kg jaringan; 1 centigray = 

1 rad.

 Radioterapi (dengan foton) yang konven-

sional, walaupun relatif murah diban-

dingkan dengan pembedahan dan kemo- 

terapi, tidak optimal sebab  dosis penyi-

naran untuk membunuh sel-sel tumor 

terlalu merusak jaringan dan organ sehat 

di sekitarnya. Perkembangan mutakhir 

lainnya untuk terapi kanker didasarkan 

atas pemakaian  partikel-partikel proton 

(terutama) dan ion (charged particle the-

rapy) pada mana distribusi penyinaran 

dapat diatur lebih cermat, yakni dosis 

penyinaran rendah sebelum mengenai 

tumor, lalu dosis tinggi terhadap sel-sel 

tumor dan praktis nihil penyinaran di 

belakang tumor. Dengan cara ini kerja 

samping juga dapat dikurangi.43

* Radiasi intern (brachyterapi, IBU) menggu-

nakan sumber radioaktif dua radioisotop: 

iridium (192Ir) dan cesium (137Cs). Cara ini 

memung kinkan ra diasi di daerah tumor se-

cara langsung “dari dalam“ dengan dosis 

tinggi tanpa merugikan jaringan sekitarnya. 

Ke dalam tumor dimasukkan (dengan pem-

biu san) tabung kecil yang lalu diisi dengan 

elemen radioaktif itu . Brachyterapi se-

ring kali dikombinasi dengan radiasi MM50.

c.  Kemoterapi dengan sitostatika, juga ber-

sama radioterapi, sering kali dilakukan 

dengan berbagai tujuan, yaitu: 

1. kuratif, untuk mencapai penyembuh-

an penyakit pada tumor-tumor yang 

sangat peka bagi sitostatika. Untuk 

meningkatkan efektivitas dan mem- 

perlambat terjadinya resistensi, biasa-

nya dipakai  kombiterapi dari tiga 

onkolitika. Jenis-jenis tumor yang se- 

karang bisa disembuhkan masih be-

lum banyak dan meliputi p. Hodgkin, 

leukemia limfatis akut, limfoma non-

Hodgkin, kanker testis, chorion, retina 

dan ginjal pada anak-anak(Wilms-tumor).

2. paliatif, untuk mengurangi keluhan 

dan gejala yang berkaitan dengan sta- 

dium lanjut dari kanker tanpa meng-

hambat proses penyakit. Untuk se- 

mentara massa tumor dapat diper-

kecil. Cara ini a.l. dipakai  pada 

pasien dengan kanker yang sudah 

menyebar ke organ-organ lain (meta-

stasis), misalnya pada kanker payu-

dara dan paru (sel kecil), penyakit 

Kahler dan leukemia kronis. 

Pada anak-anak kemoterapi diguna-

kan sebagai terapi primer sebab  radio-

terapi membawa risiko terhambatnya 

pertumbuhan jaringan dan tulang. Ke-

beratan terhadap semua sito statika ada-

lah sifatnya yang sangat toksik dan efek 

samp ingnya yang hebat.

d.  Terapi hormon. Hormon dan antihormon 

tertentu di gunakan pada kanker yang 

pertumbuhannya tergantung dari hor-

mon, terutama senyawa-senyawa anti 

estrogen (tamoksifen) pada kanker payu-

dara dan endometrium, serta senyawa 

anti androgen (flutamida, nilutamida) 

pada kanker prostat.. 

e.  Imunoterapi yaitu  pengobatan gang-

guan maligne dengan stimulator sistem 

imun, antara lain interferon, interleukine-2 

atau LAK-cells. Zat-zat ini dinamakan 

Biological Respons Modifiers (BRM) 

dan berefek menstimulasi limfosit sito-

toksik (natural killer cells = NKc) dan me-

ningkatkan ekspresi antigen-antigen ter-

tentu pada permukaan sel tumor. Cara 

lain memakai  vaksin, seperti vaksin 

BCG dan antibo di monoklo nal (MOABs)

terhadap tumor tertentu, yaitu kopi 

identik dari suatu antibodi yang dibuat 

in vitro. Lihat Bab 21, Obat rema, boks 

Biologicals.

NK-cells termasuk kelompok limfosit 

yang langsung dapat memusnahkan sel-

sel asing tanpa reaksi antigen antibodi. 

NK-cells dianggap sebagai sel-sel efektor 

penting dalam ketahanan imun terhadap 

tumor. Lihat selanjutnya Bab 49, Dasar-

dasar imunologi. 

f.  Hipertermi yaitu  penanganan tumor 

dengan kalor sebagai terapi tambahan 

(additional, adjuvant therapy) untuk mem-

perkuat efek radiasi. Kalor dari 43°–44° 

C bek erja mematikan langsung sel-sel 

tumor, terutama dalam lingkungan asam 

dan bila ada keku rangan oksigen (hy-

poxia), seperti halnya di lokasi tumor. 

sebab  teknis pemanasan saksama da-

lam waktu lama sulit sekali, hingga kini 

khusus dipakai  pada tumor di permu- 

kaan (kulit, payudara, kelenjar leher). 

Penanganan melalui hipertermi sebelum-

nya kemoterapi membuat tumor lebih 

rentan bagi obat kemo. 

g.  Genterapi. Inaktivasi dari gen-gen ter-

tentu (misalnya gen supresor tumor p53) 

berperan penting terhadap pertumbuhan 

liar dari tumor. Pada hewan percobaan, 

gen p53 sudah dapat dimasukkan ke 

dalam sel-sel tumor dengan efek terhen- 

tinya pertumbuhan. Sekarang ini gen-

terapi sedang dikembangkan di banyak 

Pusat Riset Kanker dan merupakan pen-

dekatan mutakhir penanganan kanker. 

Dari kanker dibuat profil-DNAnya dan 

ditentukan mutasi genetik mana yang 

memicu sel kanker. Kemudian pasien 

dapat diberi obat terhadap mutasi spesifik 

itu. Sekarang ini sudah dipakai  lebih 

dari sepuluh obat yang semuanya khusus 

bekerja terhadap mutasi kanker tertentu 

dan beratus-ratus obat baru sedang 

diselidiki. Obat-obat baru ini disebut 

Monoclonal Antibodies (MOABs) dan 

Tirosin kinase inhibitors (TKIs). 

h.  Terapi sel batang (stemcell therapy) masih 

berada dalam tingkat eksperimental. 

Prinsip dari penanganan regeneratif ini 

terdiri atas menggantikan gen-gen cacat 

yang memicu  tumor dengan gen-

gen sehat melalui cara-cara khusus. Di 

A.S. sedang dilakukan banyak riset di 

bidang ini yang sampai saat ini belum 

membuahkan hasil konkret. Banyak il-

muwan percaya bahwa terapi ini dalam 

rentang waktu 10-30 tahun menjadi cara 

penanganan kanker yang sangat penting.

 Di bidang kardiovaskuler sudah diper-

oleh hasil baik dengan implantasi sel 

batang sesudah  infark jantung. Sumsum 

tulang penderita disuntikkan ke dalam 

arteri jantung, kemudian sel-sel batang 

berkembang menjadi jaringan jantung 

untuk menggantikan sel-sel mati 

i.   CAM (= Complementary & Alternative 

Medicine)

 Terapi komplementer & alternative, ju-

ga disebut NTTT (Non Toxic Tumor Thera-

py). Cara ini ditujukan untuk memus-

nahkan sel ganas dan terhadap metastasis 

mikroskopis yang belum dapat dideteksi 

dengan metode biasa. Terapi ini juga 

untuk meniadakan atau mengurangi efek 

samping dari terapi regular. Misalnya se- 

bagai penanganan tambahan pada terapi 

dengan sitostatika atau sebagai follow-

up pembedahan dan radioterapi untuk 

mengeliminasi sisa-sisa sel tumor yang 

mungkin lolos (mikro-metastasis tersembu-

nyi). Ternyata prosedur ini sangat berguna 

sesudah  pembedahan kanker payudara 

dan kolon. Pada hakikatnya cara ini me-

rupakan terapi diet, yang berdasar  

diet dasar sehat seperti dianjurkan oleh 

Dewan Gizi Nasional. Di samping itu juga 

diberikan food supplement seperti vita-

min dan mineral dalam dosis tinggi dan 

zat-zat penghambat tumor yang terutama 

ada  dalam sayuran dan buah-buah-

an. Zat-zat alternatif ini terdiri dari zat-

zat yang memiliki sifat antioksidan kuat, 

seperti senyawa-senyawa polifenol, indol, 

monoterpen, katechin, enzim, flavonoida 

dan karotenoida. ada  banyak publi-

kasi menge nai hasil penanganan ini untuk 

meringan kan gejala penyakit dan memperbaiki 

kualitas hidup, dalam sejumlah kasus bah-

kan dengan efek menyembuhkan. namun  

secara resmi belum diterima oleh dunia 

kedokteran, sebab  banyak prasangka 

dan secara ilmiah belum dapat dibuktikan 

dengan tuntas.

pemakaian  obat-obat alternatif, ter-

masuk rempah-rempah oleh penderita 

kanker biasanya  dianggap aman 

dan tidak toksik. namun  beberapa suple-

men ini dapat memengaruhi enzim sito- 

krom-P450 dan distribusi obat-obat, se-

perti P-glikoprotein. 

Goey AK et al.; Herb-drug interactions 

in oncology. Clin Pharmacol Ther.2014 

apr;95(4)354-5.

* Dasar-dasar terapi tambahan 

Penanganan alternatif juga disebut meto-

da biologis, sebab  memakai  zat-zat 

alamiah (tumbuhan, enzim, vitamin) dan 

sering kali bersifat empiris atau tradisio-

nal berdasar  pengalaman rakyat. Cara 

yang paling sering dipakai  yaitu  terapi 

ortomolekular, terapi enzim dan fitoterapi 

(terapi dengan tumbuhan)..

Terapi alternatif bertolak dari fakta bahwa 

pasien kanker, yang kebanyakan sudah 

berusia agak lanjut (di atas 55 tahun), sering 

kali menderita kelemaham sistem imun. Hal 

ini disebabkan oleh proses menua, pada saat 

mana banyak fungsi organ semakin mundur 

dan banyak pro ses berlangsung semakin 

lambat. Misalnya aktivitas limfo-T dan NK-

cells sudah berku rang sehingga tidak mam-

pu lagi mereparasi atau membasmi sel pre-

karsinom. Sel ini yaitu  benih-benih sel 

tumor yang DNA-nya cacat akibat berba-

gai sebab. Antioksidansia tubuh lansia un-

tuk melindungi sel terhadap serangan ra-

dikal bebas juga berkurang (lihat Bab 53, 

Vitamin-vitamin, boks Terapi ortomolekular 

& antioksidansia). Begitu juga pro duksi enzim 

(protei nase) tertentu yang berefek menghambat 

perkem ban gan sel-sel pre-tumor berkurang.

* Suplemen diet. Untuk memperkuat sis-

tem imun dan daya tahan, maka pada 

terapi ortho molekular banyak dipakai  

antioksidansia, yaitu dosis tinggi dari vitamin, 

mineral dan bioflavonoida alamiah yang berefek 

menetralisasi radikal bebas. Zat-zat ini tidak 

termasuk golongan ob