Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 39. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 39. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 39





 melaksanakan daya kerjanya dan ereksi berlalu. 

Gangguan ereksi dapat disebabkan oleh kerusakan saraf, misal nya sesudah  kerusakan sumsum 

tulang belakang. Atau sebagai komplikasi pada penderita diabetes atau MS, pada peminum alkohol 

kronis, perokok berat atau sesudah  bedah prostat. Pada semua keadaan ini keseimbangan antara 

cGMP dan PDE terganggu, mungkin sebab  berkurangnya produksi cGMP sehing ga persediaannya 

”dihabiskan” terlalu cepat.

Penanganan. Sejak dahulu ganggu an ereksi ditangani dengan afrodi siaka, yaitu zat-zat yang dapat 

membangkitkan syahwat, seperti obat terkenal yohimbin atau sediaan androgen, namun  hasilnya 

sering kali mengece wakan. Obat kuno apomorfin yang berkhasiat meningkatkan syahwat, semula 

dianggap tidak cocok sebab  efek sampingnya (mual, munt ah-muntah) terlalu hebat. namun  dengan 

munculnya sildenafil dan meningkatnya minat luar biasa untuk obat-obat ereksi, apomorfin telah 

dipasarkan lagi, lihat di bawah Uprima. 

Pada akhir tahun 80-an mulai dipakai  papaverin yang diinjeksikan ke dalam badan pengembang 

dari penis. Juga diusahakan cara-cara mekanis yang berupa pompa vakum dan implantasi prothesis penis.

Namun semua penanganan ini hingga sekarang tidak begitu banyak dipraktikkan, sebab  terlalu 

invasif atau sulit pemakaian nya.

Baru akhir 1990-an telah ditemukan suatu obat ampuh, sildenafil yang dipa sarkan untuk indikasi 

dis fungsi ereksi. Obat revolusioner ini dalam waktu singkat menjadi sangat populer. Dewasa ini 

beberapa obat ereksi lain telah dipasarkan, a.l. vardenafil (Levitra, Nuviva, efek lebih cepat), tadalafil 

(Cialis,daya kerja lebih lama), vasomax dan ICS. 

1. Sildenafil(Viagra, 1998; Revatio)

Obat ini telah mengakibat kan suatu gejolak pada kelompok pende rita impoten si di seluruh dunia. 

Penjua lannya di AS selama enam bulan pertama (1998) sudah memecahkan semua rekor obat baru, 

termasuk obat antide presi fluokse tin(Prozac). Penemuan “pil ereksi” ini ter jadi secara kebetu lan oleh 

Dr.Ian Osterloh, A.S., pada waktu sildena fil diteliti sebagai vasodila tor koroner untuk terapi angina 

pecto ris. Efek vasodi latasi nya terhadap myocard kurang memuas kan, namun  ternyata efektif untuk 

memeliha ra ereksi selama beberapa jam. [Dengan demikian sildenafil termasuk obat-obat serendipity, 

yaitu obat yang ditemukan secara tidak sengaja sewaktu seorang ilmuwan menyelidiki atau meneliti 

suatu zat mengenai khasiatnya untuk indikasi lain. Contoh terkenal yaitu  penemuan penisilin.]

Mekanisme kerja nya berda sar kan perintangan enzim fosfo diëste rase (PDE) melalui blokade 

reseptorny a di badan pengembang, sehingga cGMP terham bat pengurai annya dan ereksi diperpan-

jang. sebab  tidak menstimulasi pembentukan cGMP, namun  hanya memperkuat dan memperpanjang 

daya kerjanya, sildenafil tidak efektif jika belum ada  stimul asi atau eksitasi seksual. Artinya, 

tidak bekerja sebagai afrodisiakum untuk menim bulkan syahwat (libido). 

Pada 30-35% penderita disfungsi ereksi perintang PDE-5 kurang memberikan hasil memuaskan 

sebab  daya kerjanya tergantung pada kadar testosteron, yang pada defisiensi mengurangi efeknya.

1.  Spitzer M, et al. Effect of testosterone replacement on response to sildenafil citrate in men with 

erectile dysfunction: a parallel, randomized trial. Ann Intern Med. 2012;157:681-91.

2. Buvat J, et al.Hypogonadal men nonresponders to the PDE5 inhibitor tadalafil benefit from 

normalization of testosterone levels with a 1% hydroalcoholic testosterone gel in the treatment of 

erectile dysfunction. (TADTEST study). J Sex Med. 2011;8:284-93.

pemakaian  lain dari sildenafil (Revatio) yaitu  untuk hipertensi arteri pulmonal dengan dosis 3 dd 

20 mg.

Resorpsinya dari usus cepat dengan BA 41% dan efeknya sudah nampak sesudah  ±20 menit. Kadar 

puncak dicapai sesudah  ½ - 2 jam, PP di atas 95%, plasma-t½ 3-5 jam. Dalam hati dirombak oleh enzim 

CYP3A4 menjadiN-desmetilsildenafil dengan aktivitas 50% dan masa paruh 4 jam.

Gambar 43-2: Mekanisme kerja sildenafil (bandingkan Adrenergika,

Gambar 31-2. Sistem transmisi energi melalui cAMP)

     

Ekskresi sebagai metabolit terutama melalui feses (80%) dan untuk 13% via urin.

Efek samping umumnya bersifat singkat, tidak begitu serius dan tergantung dari dosis. Paling sering 

timbul sakit kepala (10%), muka merah (flushing) dan ganggu an pengliha tan (guram sampai melihat 

segala sesuatu kebiru-biruan, 3%) dan mual. Semua efek ini berkai tan dengan blokade PDE yang 

ada  di seluruh tubuh. Lagi pula dapat terjadi hilangnya kesadaran (‘black out’) akibat turunnya 

tensi terlalu drastis, terutama dalam kombinasi dengan nitrogli serin atau antihipertensiva lainnya. 

Beberapa kematian di antara pemakai telah dilaporkan, namun  tidak ditemukan hubungan kausal 

dengan sildenafil. Namun lansia di atas 60 tahun yang mengidap penyakit jantung, hipertensi atau 

diabetes hendaknya berhati-hati memakai  sildenafil.

Kontra-indikasi. pemakaian  bersamaan dengan obat yang juga dirombak oleh enzim CYP3A4 

meningkatkan kadarnya dalam darah, seperti simetidin, ketokonazol, itrakonazol, eritromisin dan 

obat anti-HIV penghambat-protease (AZT, DDI, dan lain-lain). Ritonavir bahkan meningkatkan kadar 

sildenafil dalam darah dengan 300%, oleh sebab  itu dosis perlu diturunkan menjadi 1x 25 mg per 

48 jam.

Dosis: 25 - 100 mg (sebagai sitrat) 1 jam sebelumnya aktivitas seksual, maks. 1 x sehari. 

*Vardenafil (Levitra) yaitu  isomer sildenafil (2002) dengan efek dan pemakaian  sama. Pada 

stimulasi seksual terbentuk NO yang mendorong produksi cGMP, yang kadarnya meningkat akibat 

Doping

Doping didefinisikan sebagai pelanggaran 

kode antidoping dari World Anti-Doping 

Agency (WADA, didirikan th 2003) yang 

telah menyusun daftar dari obat-obat dan 

cara-cara yang dilarang. Susunan dari daftar 

ini berdasar  3 pilar, yaitu «fair play», 

merugikan kesehatan dan image olah raga. 

Yang termasuk obat-obat yang dilarang ada-

lah a.l. obat anabol, beta-simpatikomimetika, 

eritropoetin (epo, doping darah), hormon 

pertumbuhan dan senyawa-senyawa yang 

menutupi pemakaian  obat terlarang. Cara 

mengontrolnya yaitu  melalui pemeriksaan 

darah (deteksi obatnya sendiri) dan urin 

(deteksi zat-zat penguraiannya). Dispensasi 

dapat diberikan untuk pemakaian  medis 

dari obat yang tercantum dalam daftar.

pemakaian  anabolika oleh atlit-atlit di- 

maksudkan untuk mengembangkan dan 

memperku at ototnya, terutama pada cabang 

olah-raga yang prestasinya sangat tergantung 

pada kekua tan otot, seperti angkat besi dan 

atletik, juga pada bina raga (body building). 

Volume dan kekuatan otot bertambah sebab  

peningkatan sintesis protein di otot kerangka, 

begitu pula berat badan meningkat, antara lain 

sebab  retensi air. Prestasi dapat dinaikkan 

10-15%, namun  sesudah  4 minggu menurun 

lagi. Efeknya hanya nyata bila sebelum dan 

selama pemakaian  zat anabol dilakukan 

latihan intensif, yang disertai diet yang kaya 

akan protein dan kalori.

Mengingat dosis tinggi yang diperlukan 

untuk mencapai efek itu  dan efek sam-

ping buruk yang dapat terjadi (yang terpenting 

yaitu  gangguan fungsi hati dan tumor hati, 

lihat di bawah), maka pemakaian  doping 

tidak dapat dibenarkan. Semua organisasi 

olahraga dunia melarang pemakaian  obat-

obat yang dimuat dalam suatu daftar khusus. 

Atlit yang tertangkap basah atas dasar tes urin 

selalu didiskualifikasi dan didenda berat. 

Walaupun demikian, sampai sekarang masih 

sering kali dilaporkan terjadinya pelangga-

ran.

Zat-zat lain. Di samping steroida androgen 

dan anabolika (nandrolon, stanozolol) kini juga 

banyak dipakai  sejumlah obat lain untuk 

doping. Misalnya amfetamin dan derivatnya 

yang berefek peningka tan prestasi (efek ergo-

gen), terutama pada jenis olahraga yang me-

merlukan pengelua ran tenaga «eksplosif» 

untuk waktu singkat. Adrenergika(obat asma 

efedrin, klenbuterol) dan somatropin (GH)juga 

menghasilkan efek positif terhadap volume 

penghambatan PDE-5. Masa paruhnya 4 jam. Khasiatnya yaitu  relaksasi otot polos, peningkatan 

penyaluran darah dan ereksi dipertahankan selama 4-6 jam. 

Dosis: 1 dd 5-40 mg 

* Tardanafil (tadalafil, Cialis) yaitu  juga derivat dengan khasiat dan pemakaian  sama, namun  masa 

paruhnya lebih panjang, ±17 jam, maka efeknya bertahan sampai 36 jam. Juga hanya bekerja sesudah  

stimulasi seksual. Dosis: 1 dd 10-20 mg.

2. Apomorfin :Uprima14

Derivat morfin ini tanpa khasiat opiat/narkotik yaitu  agonis dopamin yang dipakai  sebagai 

obat Parkinson, lihat Bab 28, Obat-obat Parkinson. Di samping itu sejak 1998 juga dipakai  sebagai 

obat disfungsi ereksi dengan mekanisme kerja yang sama seperti sildenafil, yaitu melalui senyawa 

NO. sesudah  pemakaian  sublingual kadarnya dalam darah memuncak dalam 40-60 menit dan ereksi 

dapat terjadi sesudah 20 menit. Masah paruhnya 3 jam. 

Efek samping utama yaitu  mual (7%), juga sakit kepala (7%) dan pusing-pusing (4%). Lebih jarang 

terjadi perasaan mengantuk, batuk, pilek dan sakit tenggorok. Penderita jantung dan hipotensi tidak 

dianjurkan minum apomorfin. namun  berlainan dengan sildenafil dapat dikombinasi dengan nitrat 

(Pharm.Wkbl 2002; 137: 823)

Dosis: s.l. 2 mg dilarutkan di bawah lidah ±20 menit menjelang aktivitas seksual. Bila perlu dosis 

dapat ditingkatkan sampai 3 mg. Dosis kedua baru boleh diminum sesudah  8 jam. Untuk penyakit 

Parkinson dosisnya lebih tinggi, sampai 4 dd 10 mg.

dan kekuata n otot. Doping darah sendiri dan 

eritropoe tin juga masih sering dipakai  

pada jenis olahraga yang membutuh kan ke- 

uletan jangka panjang (lari dan lomba sepe-

da 10 km atau lebih). Efek ergogennya ber-

dasarkan antara lain peningkatan jumlah 

eritrosit dan kapasitas transpor oksigen dan 

CO2, lihat juga Bab 39, Hemopoe tika.

Zat-zat anti androgen

Zat anti androgen yaitu  steroida sintetik 

yang berkhasiat menekan efek andro gen se-

cara selektif, antara lain siproteron, finaste-

rida dan danazol. Senyawa-senyawa peng-

hambat reseptor androgen (RA) atau sing-

katnya anti androgen non-steroida yaitu  

flutamida dan derivat long-actingnya nilu-

tamida dan bikaluta mida. Zat-zat ini memi-

liki efek androgen lemah dan dapat menem-

pati resep tor testosteron di hipotalamus 

dan organ tujuan. sebab  aktivitas nya lebih 

ringan daripada hormon alamiah, maka 

efeknya yaitu  antagonis tik. Kebanyakan zat 

ini juga berdaya progesta tif dan anti gona-

dot rop.

pemakaian nya terutama pada hiperseksu-

alitas pria (libido berle bihan) dan gangguan 

seksual lainnya. Flutamida, niluta mi da dan 

bikalutamida dipakai  sejak beberapa deka-

de untuk terapi (‘kastrasi kimiawi’) kanker 

prostat yang tersebar. Lazimnya ber-sama 

suatu analogon LHRH (goserelin, buserelin, 

leuprorelin) yang menekan produksi testos-

teron dengan melemahkan sel-sel hipofisis 

gonadotrop.

Wanita hamil tidak boleh diberikan obat-

obat ini, sebab  dapat melin tasi plasenta dan 

mengganggu perkem bangan janin (masku-

linasi dari foetus wanita).


MONOGRAFI

A. ZAT ANDROGEN

1. Testosteron (F.I.): Andriol, *Sustanon, Testo-

viron, Nebido.

Testosteron dibuat secara (semi) sintetik 

dari kolesterol atau diosgenin, suatu senyawa 

steroid berasalkan tumbuhan Mexican Dios-

corea spec.

Resorpsi dari usus tidak teratur, BA hanya 

kecil sebab  inaktivasi di lambung-usus dan 

FPE besar. Oleh sebab  itu harus dipakai  

parenteral sebagai esternya. Pengikatan (PP) 

pada SHBG lebih dari 90%. Plasma-t½ 20 

menit. Di dalam hati zat ini dirombak menja-

di metab olit inaktif, antara lain andros-

tendion melalui ok sidasi dari gugusan 17-

OH dan andros teron melalui reduksi dari 

gugusan-3-keto. Bentuk aktif DHT dirombak 

pula menjadi androste ron, andro stan diol dan 

andro standion. Ekskresi berlang sung lewat 

urin untuk ±90% sebagai androsteron, lewat 

feses hanya untuk ±6% dan sisanya sebagai 

zat-zat konyugasi (glukuronida dan sulfat).

Ester-esternya:

* T-undekanoat(Andriol) yaitu  ester yang 

oral aktif sebab  sebagian diserap oleh 

sistem limfe bersama lemak dan diangkut ke 

sirkulasi besar. Dengan demikian dalam hati 

tidak diinaktivasi melalui FPE. Di jaringan 

perifer dihidrolisis menjadi hormon bebas 

lagi. Dosis: oral 2 dd 60-80 mg (larutan asam 

oleat) p.c. selama 2-3 minggu.

*  T - enantat (Testoviron): i.m. 50-400 mg 

setiap 2-4 minggu; 

*  T -propionat + dekanoat (Sustanon): i.m. 

250 mg setiap 3 minggu.

2. Mesterolon:Proviron

Derivat dihidrometil dari testosteron ini 

(1941) dinyatakan menghambat hipofisis 

pada dosis terapi secara ringan, sehingga 

sekresi androgen dan spermatogenesis tidak 

dirintangi. Efek samping lebih ringan, antara 

lain kurang toksik bagi hati. 

Dosis: oral permulaan 3 dd 25-50 mg p.c., 

lalu 2-3 dd 25 mg.

* Fluoksimesteron(Halotestin) yaitu  derivat 

fluor (1956) yang ±5x lebih aktif dan bekerja 

lebih lama (t½ ±9 jam). Dosis: oral 5-20 mg 

sehari dalam 1-2 dosis.

3. Prasteron : DHEA, dehidro-epi-androsteron

Derivat androsteron ini diproduksi dalam 

jumlah besar di anak ginjal dalam bentuk 

sulfat inaktif, 10-20 kali lebih banyak daripada 

produksi kortisol. DHEA merupakan precursor 

dari testos teron maupun dari estradiol yang 

disintesis dalam jarin gan perifer, lihat Skema 

reaksi di atas. Kadar darahnya paling tinggi 

pada sekitar usia 30 tahun (4,1 - 8,7 mmol/l, 

rata-rata 30 mg), lalu berangsur-angsur me-

nurun dengan ±2% setahun sampai 0,7-1,7 

mmol/l (rata-rata 5 mg) pada usia 60 tahun. 

Pada wanita kadar nya rata-rata 30% lebih 

rendah. Pada lansia produksi kortisol menjadi 

jauh lebih besar daripada DHEA, seperti 

juga pada keadaan stres kronis. Penyusu-

tan kontinu ini mungkin disebab kan oleh 

turunnya aktivitas sel-sel retikularis dari anak-

ginjal. Oleh sebab  itu prasteron adakalanya 

diang gap sebagai biomarker proses menua.*

«Obat ajaib». DHEA menjadi sangat popu-

ler di AS sebagai ‘miracle anti-aging drug’ 

( hormon antime nu a) yang dapat mening-

katkan sistem imun, libido, membentuk mas-

sa otot, melin dungi terhadap PJP, kanker, 

diabetes tipe-II dan demensia. Lagi pula 

dikemukakan dapat mengham bat penyakit 

L.E., Parkin son dan Alzhei mer. Zat ini diberi 

nama julukan ‘sumber keremajaan abadi’ 

(foun tain of youth) berkaitan dengan klaim 

mengenai khasiatnya yang dapat memper-

lambat proses menua. namun  kebanyakan 

klaim itu  tidak berda sarkan peneliti an 

ilmiah absolut. Di AS DHEA tidak diregis-

trasi sebagai obat melain kan sebagai food 

supple ment, walaupun tidak ada  dalam 

sumber makanan mana pun.

Telah ditemukan bahwa pada penyakit 

menua tertentu ada  kadar DHEA yang 

rendah, misalnya pada penyakit jantung dan 

pembuluh, diabetes type-II, rematik dan SLE, 

begitu pula pada Alzheimer (demensia), 

AIDS dan schizofrenia. Melalui penelitian 

serius pada lansia yang diberikan 50 mg 

DHEA sehari, ternyata kadarnya dalam darah 

mening kat sampai nilai tinggi. Begitu pu la 

ternyata berkhasiat memperbanyak T-killer-

cells dan meningkatkan pelepasan IGF, 

yaitu hormon pepti da yang menstimulasi 

kegiatan somatotropin (GH). Selain itu juga 

memper baiki suasana dan perasaan nyaman. 

Mekanisme kerjanya tidak diketa hui. ada  

pula indika si bahwa DHEA menghambat 

agregasi trombo sit dan mem perkuat sistem 

imun (melin dungi terhadap infeksi virus dan 

kuman), berkhasiat meningkat kan kepekaan 

bagi insulin dan dapat meringankan geja la 

LE. namun  pernyataan-pernyataan ini perlu 

diteliti lebih jauh.3,4 

Efek samping pada wanita berupa efek 

androgen seperti akne, rambut rontok, hirsu-

tisme dan suara menjadi rendah. Sebagai 

androgen DHEA juga dapat mendorong 

pertumbuhan kanker prostat. 

Suatu penelitian pada pasien HIV yang 

diberikan 750-2.250 mg DHEA sehari selama 

4 bulan menunjukkan bahwa tidak ada  

suatu efek samping apapun, bahkan jumlah 

virus (viral load) menurun dengan 90%! 

Dosis: sebagai food supplement 25-50 mg 

sehari pagi hari, pada terapi alternatif berba-

gai gangguan 1-2 dd 200-600 mg.

B. ANABOLIKA

4a. Metandrostenolon (NeoAnabolene) ada-

lah derivat metiltes tos teron yang khusus di-

anjurkan pada osteoporosis postmenopau sal. 

Dosis: oral 1 dd 2,5-5 mg p.c.

4b. Nandrolon:19-nortestosteron, Deca/Dura-

bolin

Dosis: i.m. pada anemia 50-100 mg dekanoat 

1x seminggu, pada osteopo rosis parah 50 mg 

per 3 minggu, pada kanker mammae 50 mg 

setiap 2-3 minggu (-fenilpro pionat). 

4c. Stanozol (Stromba). Dosis: pada osteopo-

rosis oral 5 mg/h ari.

4d. Etilestrenol(Orgabolin). Dosis: oral 1-4 dd 

2 mg, maks. 16 mg sehari.

C. ZAT ANTI ANDROGEN

5. Siproteron:Androcur, *Diane-35

Derivat dehidro dari progesteron ini (1973) 

berkhasiat anti-androgen berdasar  bloka-

de reseptor androgen dan juga berkhasi at 

progestagen kuat, ±2.000 kali lebih kuat dari 

pada progesteron. Oleh sebab  itu zat ini 

juga bekerja anti gonadotrop dengan meng-

hambat sekresi LH/FSH dengan efek anovul-

asi. Efek lain yaitu  menghambat konversi 

testos teron ke DHT di organ tujuan.

pemakaian nya terutama pada hipersek-

sualitas pria, yang efeknya baru nampak 

sesudah beberapa minggu atau beberapa 

bulan. Pada kanker prostat hanya diberikan 

bila estrogen tidak memberikan efek lagi. 

Pada wanita dipakai  terhadap hirsutisme 

(tumbuh nya rambut berlebihan, a.l. di muka) 

dan akne ganas yang resisten terhadap obat-

obat akne biasa. Untuk wanita demikian 

yang serentak ingin menjalani antikon sepsi 

tersedia pil akne/antihamil Diane-35. Akne 

biasa nya mereda dalam waktu 3 bulan, be-

gitu pula sekresi lemak kulit berle bihan 

(seborroea). 

Resorpsi dari usus kurang baik, plasma-t½ 

bifasis 12/48 jam. Ekskresi terutama melalui 

empedu dan feses (65%), sisanya sebagai 

metabolit hidroksi lewat urin.

Efek samping: perasaan lesu dan letih (se-

mentara), keluhan lambung dan naiknya 

berat badan. Pada pria juga gynecomastia 

dan menurunnya fertilitas, sedang  pada 

wanita mammae tegang dan nyeri serta per-

darahan tidak teratur.

Dosis: oral 2 dd 50-100 mg, maksimal 200-

300 mg/hari.

6. Danazol: Danocrine, Danatrol, Azol

Derivat 17-alfa-etinil (1974) dari testoste-

ron ini berkhasiat antigonadotrop dengan 

mengurangi sekresi FSH/LH dan mence-

gah ovulasi. Danazol juga berkhasiat andro-

gen dan anabol lemah, tidak memiliki efek 

estrogen atau progestagen. Efek antiandro-

gennya memicu  berkurangnya sper-

matogenesis.

pemakaian  terutama pada endometriosis 

dan kemandulan yang lazim menjadi akibat-

nya. Zat ini juga dianjurkan pada tumor payu 

dara jinak.

Efek samping sebagian berkaitan dengan 

efek androgen (udema, berat badan naik, 

akne, perubahan suara, hirsutisme). Juga 

efek samping akibat berkurangnya estrogen 

yang mirip keluhan klimakterium, antara 

lain flushing, berkeringat, haid tak menentu, 

libido menurun dan atrofia mukosa vagina. 

Di samping itu efek umum seperti sakit ke-

pala, gangguan lambung-usus dan reaksi 

kulit.

Dosis: pada endometriosis oral 2-3 dd 200 

mg selama 6-9 bulan. Pada benjolan mammae 

2 dd 50-100 mg selama 3-6 bulan.

7. Flutamida:Fugerel, Eulexin

Derivat anilida ini (1982) berkhasiat anti-

androgen kuat, khusus dalam prostat, 

berdasar  blokade reseptor androgen 

sehingga testosteron tidak berfungsi. Juga 

menghambat konversi testosteron menjadi 

DHT. Tidak memili ki khasiat (anti) estrogen, 

prostagen, androgen atau antigo nadotrop. 

Diguna kan khusus pada kanker prostat tersebar 

sebagai obat tambahan pada kastrasi kimiawi 

dengan agonis gonadore lin, yang berfungsi 

menekan dengan tuntas daya kerja androgen 

perifer. Pertama untuk menang gu langi ke-

naikan semen tara dari produk si testos te ron 

selama minggu-minggu pertama pemberian 

LHRH. Kedua untuk memblo kir testos teron 

yang diproduksi oleh anak-ginjal (yang tidak 

diham bat oleh LHRH). Kombinasi dengan 

finasterida meningkatkan efektivitasnya de-

ngan efek samping minimal (hanya 14% dari 

pasien kehilangan libidonya).

Resorpsi dari usus cepat dan dalam hati 

diubah menjadi zat aktif hidroksiflutamida, 

yang diekskresi lewat urin. Plasma-t½ 6-8 

jam.

Efek samping dapat berupa gynecomastia, 

benjolan nyeri di buah dada, berkurangya 

libido, menurunnya produksi sperma dan 

udema. Jarang sekali gangguan jantung, 

fungsi hati dan lambung-usus. Urin bisa ber-

warna gelap sampai kehijau-hijauan.

Dosis: oral 3 dd 250 mg p.c., umumnya 

serentak dengan goserelin atau analogon 

LHRH lainnya.

* Nilutamida (Anandron) yaitu  derivat pi-

rolidin (1990) dengan sifat dan pemakaian  

yang sama, berkhasiat panjang (t½ rata-rata 

56 jam). Dosis: serentak dengan analogon 

gonadorelin 1 dd 300 mg selama 4 minggu; 

pemeliharaan 150 mg.

* Bikalutamida(Casodex) yaitu  juga derivat 

kerja panjang (1993) dengan pemakaian  

sama, plasma-t½ ±1 minggu. Dosis: oral 1 dd 

50 mg bersama agonis-LHRH.

8. Finasterida: Proscar, Propecia12,13.

Antihormon ini memiliki rumus yang me- 

nyerupai steroida (1992). Berkha siat meng-

hambat enzim 5-alfa-reduktase yang meng-

ubah testoste ron menjadi dihidrotestosteron. 

DHT bekerja lebih kuat dan berkhasiat men-

stimulasi pertumbuhan jaringan prostat dan 

terjadinya hiper plasia benigne (BPH, lihat box). 

Lagi pula DHT memegang peranan penting 

pada rontoknya rambut. pemakaian nya 

pada BPH dapat memper kecil prostat dengan 

±15%, berdasar  blokade sintesis DHT. 

Efeknya baru kentara sesudah  6 bulan dan 

paling nyata bila volume prostat membesar 

di atas 40 ml. Lagi pula memperbaiki aliran 

urin yang terganggu dan menurunkan kadar 

enzim PSA(prosta te specific antigene) dalam 

darah. Obat lain terha dap BPH yaitu  alfa-

blocker (tamsulosin, alfuzosin, dan sebagainya, 

lihat Bab 31 B, Adrenoli tika) yang sama efek-

tifnya untuk mengurangi gejala BPH namun  

menghasilkan efek lebih cepat, dalam 3-6 

minggu.

pemakaian  lain yaitu  sebagai obat anti- 

rontok rambut dan menstimulasi pertum-

buhan rambut pada pria (alopecia androge-

netica). Finasterida paling efektif bila digu-

nakan di fasa dini pada pria 18-41 tahun yang 

rambutnya mulai rontok di bagian belakang 

kepala. sesudah  1 tahun pada 86% dari kasus, 

keronto kan dapat dihentikan atau nampak 

pertumbuhan rambut baru. Bila kerontokan 

rambut terjadi di depan atau di bagian tengah 

kepala, efeknya lebih rendah dan hanya 37% 

menunjukkan pertumbuhan rambut baru. 

Efek baik ini hilang sesudah  pemakaian nya 

dihentikan beberapa bulan dan rambut baru 

akan rontok lagi. Oleh sebab  itu untuk 

memelihara pertumbuhan rambut baru, obat 

perlu dipakai  terus-menerus. Pada wanita 

finasterida ternyata juga bisa efektif, namun  

dalam persentase lebih rendah, ±60%.

Resorpsi dari usus baik dengan BA 80%, PP 

±93%, plasma-t½ 6 jam. Dalam hati senyawa 

ini dirombak menjadi 2 metabolit dengan 

Prostate Specific Antigen pada BPH

PSA yaitu  suatu enzim (glikoprotein) yang dibentuk oleh sel-sel kelenjar dari prostat dan disekresi ke 

dalam cairan mani. Dalam sperma PSA berfungsi memecah molekul protein besar menjadi bagian-bagian 

yang lebih kecil sehingga sperma menjadi lebih cair. Sebagian kecil masuk ke dalam darah dan dapat 

ditentukan kadarnya. Nilai PSA normal yaitu  < 4 mcg/l. namun  dengan bertambahnya usia dan 

tanpa adanya kelainan di prostat, PSA dapat meningkat sampai ±10 mcg/l. Begitu pula bila ada  

pembesaran prostat tidak ganas (BPH= Benign Prosta tic Hyper plasia). PSA > 10 biasanya menan-

dakan sesuatu yang tidak baik dan perlu diperiksa lebih lanjut, khususnya terhadap kemungkinan 

kanker prostat. Pemeriks aan lanjut terdiri dari peme riksaan rektal(‘tou cher’) untuk mendeteksi kelainan 

permukaan, bentuk dan besar nya prostat. Penentu an aktivi tas fosfatase alkalis dalam darah yang 

dahulu dipakai  sebagai indikator, kini dianggap obsolet. Diagnosis umumnya dituntaskan dengan 

pemeriksaan tamba han berupa CT-scan/echogra fi dari pelvis dan biopsi dari prostat. Hingga kini belum 

ada  kepasti an bahwa PSA tinggi tanpa kelainan fisik prostat, dapat menim bulkan kanker di masa 

depan. 

Kesimpulan: 

Tes PSA tidak dapat memastikan kanker dan harus dilanjutkan dengan misalnya pemeriksaan biopsi 

prostat; 

Tes PSA tidak tuntas: dapat memberikan hasil abnormal walaupun tidak ada  kanker (false-

positive result) atau hasilnya normal sedang  pasien menderita kanker (fals-negative result).

Hasil PSA yang tinggi tidak selalu menunjukkan kanker, namun  dapat juga berkaitan dengan sebab-

sebab lain, misalnya BPH atau infeksi.

* Kanker prostat tidak selalu disertai PSA tinggi, namun  PSA merupakan petanda (marker) yang sensitif 

untuk menentukan progres atau penghen tian proses pertumbuhan tumor selama terapi. Bila tumor 

tumbuh atau menyusut, PSA juga akan menaik atau menu run.

aktivitas lemah dan diekskresi lewat urin dan 

feses.

Efek samping dapat berupa impotensi, libido 

dan ejakulat berkurang, juga gynecomastia. 

ada  indikasi bahwa pada hewan fi-

nasterida bekerja teratogen.

Dosis: pada BPH oral 1 dd 5 mg (Proscar), 

pada rontok rambut 1 dd 1 mg (Propecia).

*Dutasterida (Avodart)

Juga merupakan penghambat 5-alfa-re-

duktase yang merintangi perubahan tes-

tosteron menjadi dihidrotestosteron yang 

lebih kuat, sehingga besarnya prostat berku- 

rang, menurunkan risiko retensi urin akut 

dan mengurangi keluhan penderita BPH. 

Mekanisme kerjanya berdasar  peng-

hambatan intraseluler dari iso-enzim tipe 1 

dan tipe 2 dari 5-alfa-reduktase, sedang  

finasterida terutama menghambat tipe 1.

Efek samping: impotensi, ginekomasti, pu-

sing dan reaksi alergi. Dosis: 1 dd 0,5 mg 

dengan minum banyak air.

Gambar 43-3: Prostat membesar dan 

menghambat aliran urin 


HORMON-HORMON  

WANITA

FISIOLOGI

Di bawah pengaruh FSH dari hipofisis, ova-

rium mulai memproduksi hormon estrogen 

dan progesteron, yang berperan bagi ciri-ciri 

kelamin primer dan sekunder wanita.

Estrogen (estradiol, estron dan estriol) bekerja 

terhadap mukosa rahim (endometrium) de-

ngan mendorongnya untuk berkembang dan 

menebal. Proses proliferasi ini berlangsung 

pada 2 minggu pertama dari siklus haid dan 

berfungsi menampung telur y ang sudah 

dibuahi.

Progesteron bersama estrogen, penting se-

kali bagi pemasakan folikel dan pelepasan 

telur. Ovulasi ini baru terjadi beberapa hari 

sesudah  kadar LH mencapai puncaknya. Si-

sa folikel berkembang lagi menjadi Badan 

Kuning (Corpus luteum), yang segera mulai 

membentuk progesteron. Dua fungsi pen-

ting dari progesteron yaitu  menstimulasi 

endometri um untuk tumbuh lebih lanjut (fa-

se proliferasi) serta mense kresi dan mengum-

pulkan zat-zat gizi bagi perkembangan te-

lur yang sudah dibuahi menjadi janin. tahap  

sekresi ini berlang sung sepanjang minggu 

ketiga dari siklus. Selain itu hormon ini juga 

berfungsi memelihara kehamilan sebab  ter-

hentinya produksi progesteron dapat meng- 

akibatkan pelepasan endometri um dan abor-

tus. Khasiat ini disebut daya kerja (pro) ge s-

tagen (Lat. pro = untuk, gestatione = kehami l-

an). Oleh sebab  itu progesteron juga disebut 

hormon kehamilan.

Kedua hormon wanita ini juga memegang 

peranan penting pada pembuahan dan trans-

portasi telur melalui tuba telur ke rahim 

dan pada penanamannya di endometrium 

(implantasi, nidatio). Lihat Gambar 44-1.

Haid. Jika sel telur tidak dibuahi oleh sel mani, 

Corpus luteum pada akhir minggu keempat 

menghentikan produksi proges te ronnya. 

Akibatnya rahim melepaskan endometrium 

yang sudah berse kresi itu dan dikeluarkan 

sebagai perdarahan, yakni haid atau men-

struasi.

Bila ovaria tidak bekerja lagi atau telah di- 

angkat, haid dapat diinduksi dengan pem-

berian estrogen untuk jangka waktu yang 

layak. Keadaan ini disebut perdarahan pe-

narikan (withdrawal bleeding). Perdarahan-

antara yang menjemukan dapat pula terjadi 

tanpa tambahan progestativum (breakthr ough 

bleeding). Dalam hal ini, perdarahan dapat 

dihindari dengan meningkatkan dosis estro-

gen.

Abortus. Sesudah kira-kira tiga bulan, Corpus 

luteum mengurangi produksi progesteronnya, 

yang lalu dilanjutkan oleh ari-ari (plasenta), 

yakni jaringan hubungan darah antara ra-

him dan janin. Dengan berlangsungnya keha-

milan, ari-ari berangsur-angsur meningkat-

kan produksinya. Jika sebab  sesuatu hal 

pembentukan progesteron ini terhenti, maka 

akibatnya rahim akan me lepas kan endometrium 

bersama janin dan terjadilah keguguran (abor­

tus).

Efek anti hamil. Akhirnya progesteron juga 

bertugas mencegah pembuahan berikutnya 

selama masa hamil, yang berlangsung de-

ngan dua cara. Pertama melalui mekanisme 

feedback negatif sekresi LH dihambat sehingga 

tidak terjadi ovulasi lagi. Kedua, progesteron 

memengaruhi leher rahim (cervix) untuk 

membuat lendirnya liat dan kental, hingga su-

Gambar 44-1: Skema perkembangan telur di bawah pengaruh hormon

kar dilewati oleh sel-sel mani. Hal ini dise-

but permusuhan cervix (cervical hostility). 

Lendir ini pada waktu ovulasi bersifat sangat 

cair di bawah pengaruh estrogen guna me-

mudahkan pembuahan. Seperti yang akan 

dibahas dalam Bab 45, Antikonseptiva, kedua 

prinsip itu  di atas dipakai  dalam pil 

anti hamil.

Gambar di bawah ini memberikan secara 

skematis pengaruh hormonal terhadap per- 

kembangan sel telur. Lalu pada grafik dari 

Gambar 44-2 dapat dilihat hubungan antara 

siklus ovarium dan endometrium serta kadar 

estro gen-progesteron dan kadar gonadotro-

pin dalam darah. 

Klimakterium

Klimakterium pada wanita yaitu  masa pe-

ralihan antara masa subur (fertil) dan masa 

menua. Cirinya yaitu  berhentinya men-

struasi (menopause) yang dapat disertai de-

ngan sejumlah besar gejala-gejala. 

Lazimnya masa peralihan dimulai pada 

usia sekitar 50 tahun dan diawali dengan 

menjadi kurang teraturnya siklus haid dan 

sering kali tanpa pelepasan telur. Akhirnya 

ovulasi berhenti sama sekali dan beberapa 

bulan sampai beberapa tahun kemudian 

haid berhenti pula. Jelaslah bahwa di masa 

menopause wanita tidak bisa mengandung 

lagi. 

Gejalanya berbagai macam dan yang ter-

pen ting berupa gejolak panas di muka (hot 

flushes, flushing), sewaktu-waktu berkeringat 

hebat (di waktu malam), debar jantung dan 

dyspareu nia. Juga mudah tersinggung, kurang 

semangat dan depresif, serta perasaan lelah, 

sukar tidur, gelisah dan nyeri kepala, otot 

atau sendi. Di samping itu terjadi kelainan 

pada mukosa alat kelamin akibat terham bat 

pertumbu han epitelnya, antara lain atrofia 

mukosa vagina dan timbulnya osteoporosis 

(irreversibel). sesudah  pengangkatan kedua 

ovaria (ovariectomia) keluhan-keluhan ini se-

gera muncul dengan cepat dan hebat.

Gambar 44-2: Pengaruh hormonal terhadap perkembangan ovum

pemicu  semua gejala itu  berkaitan 

dengan penyusutan drastis kadar estrogen dalam 

darah, sebab  produksinya dalam ovaria 

menurun dengan kuat dan agak mendadak, 

dari rata-rata 50-60 mcg sampai 5-10 mcg 

sehari. Sebagian penurunan ini dikompensasi 

oleh kenaikan produksi di anak-ginjal. Hati 

dan jaringan lemak juga mensintesis estra-

diol bertolak dari estron yang berasalkan 

androstendion dari anak-ginjal. namun  pada 

umumnya jumlahnya tidak mencukupi un-

tuk menghindari timbulnya gejala-gejala ter-

sebut.

*Climaterium virile (Lat. virile = pria), yang 

istilahnya kadang-kadang diplesetkan men-

jadi ‘peno pause’, yaitu  masa peralihan pa-

da pria di atas ±55 tahun. Berbeda dengan 

wanita produksi testos teron tidak menyusut 

dengan menda dak, namun  secara berangsur. 

Oleh sebab  itu dimulainya masa peralihan 

juga berlangsung lambat. Turunnya kadar 

testos teron dalam darah dapat memicu  

beberapa keluhan, seperti berku rangnya libi-

do dan potensi sek sual. 

Pengobatan

Terapi gejala klimakterium biasanya  

dapat dilakukan dengan tranquillizers dan 

klonidin dalam dosis rendah terhadap khu-

susnya flushing. Pengobatan terbaik dan 

yang dianjurkan yaitu  terapi sulih hormon 

(hormone replacement therapy, HRT) dengan 

kombinasi estro gen-progesta gen pada do-

sis serendah mungkin, yang dipakai  se-

cara siklis. Terapi substitusi hormonal ini 

sangat efektif untuk meniadakan keluhan 

dan memulihkan semangat hidup serta pe-

rasaan nyaman (sense of general well­being). 

Keuntungan tambahan dari HRT ini untuk 

jangka panjang yaitu  efek preventifnya ter-

hadap osteopo ro sis dan mungkin juga ter-

hadap penyakit kardiovaskuler. namun  kare-

na penyelidikan telah menunjukkan terjadi-

nya peningkatan risiko kanker payudara, 

maka HRT sekarang ini hanya dianjurkan 

untuk waktu yang singkat dan hanya bagi 

wanita dengan keluhan hebat (flushing). 

Lihat di bawah Pencegahan.

*Pengobatan alternatif memakai  be-

berapa food supplement yang berkhasiat 

meringankan keluhan, a.l. isoflavon kede-

lai dengan efek fito-estrogen lemah genis-

tein (2 dd 50 mg), juga ekstrak “red clo-

ver” (Cimicifuga racemosa, Promeno, Ymea) 

dan asam gamma linolenat (GLA, 1­2 dd 

250 mg), suatu PUFA (C18:3, n6). Sediaan 

nabati ini sering kali dipakai  di ilmu 

kedokteran komplementer terhadap keluh-

an klimakterium dan PMS(premenstrual syn­

drome).

Osteoporosis(rapuh tulang)

Gangguan ini dapat diderita oleh ±25% dari semua wanita (Barat) sesudah menopause, biasanya 

pada usia di atas 60 tahun. Pada pria osteoporosis lebih jarang terjadi. Juga merupakan masalah 

umum (10-20%) bagi penderita penyakit lupus (SLE) yang terutama disebabkan oleh pemakaian  

glukokortikoid, di samping usia, gender, keturunan, kadar vitamin D yang rendah dan gaya hidup. 

Akibat kehilan gan kalsium tulang menjadi berpori, tipis, rapuh dan mudah patah. Akhirnya 

kerangka ‘menciut’ dan tubuh menjadi lebih pendek dan bungkuk, seperti sering terlihat pada orang 

yang tua sekali. 

pemicu nya. Dalam jaringan tulang normal ada  keseimbangan dinamis antara pembentukan 

tulang (oleh osteoblast) dan perom ba kannya (oleh osteoclast). Hingga usia ±35 tahun, pemben tu kan 

tulang yang aktif dan kepadatan tulang (density) menca pai puncak nya. Dengan meningkatnya usia, 

massa tulang berangsur-angsur menyusut. Faktor-faktor yang memicu terjadinya osteoporo sis yaitu  

menopause pada wanita dan pemakaian  glukokortikoida.

*Menopause. Pada wanita postmenopausal menurunnya produk si estrogen mengakibat kan perom-

bakan tulang yang meningkat; dalam beberapa tahun dapat terjadi penyusutan dari 10-20%. Kemudi-

an juga pembentu kan tulang berku rang selama 5-10 tahun. Oleh sebab  itu kepadatannya menurun 

dan dapat terjadi osteopo rosis. Apabila pasien ini terjatuh, risiko keretakan dari ruas tulang belakang, 

pang kal paha dan pergelangan tangan sangat meningkat. Wanita dengan menopause dini (sebelum 

usia 40 tahun) juga memiliki risiko yang meningkat untuk osteoporosis. Life time risk terhadap fraktur 

sebab  osteoporosis untuk wanita di atas usia 50 tahun yaitu  40% dan pada pria 15%.

*pemakaian  prednison/prednisolon dalam dosis di atas 7,5 mg sehari untuk jangka waktu lama juga 

memicu  kehilangan massa tulang. Diperkirakan pemicu nya yaitu  menurunnya aktivitas 

osteoblast dan mungkin juga mening katnya resorpsi tulang, berkurangnya absorpsi kalsium dari usus 

atau berkurang reabsorpsinya di tubuli ginjal. Lihat selan jutnya Bab 46, ACTH dan Kortikosteroida.

Pencegahan. Risiko osteoporosis dapat dikurangi dengan makanan yang susunannya baik, antara 

lain mengandung banyak kalsium,vitamin D, cukup gerak badan, tidak merokok dan latihan tenaga 

dan keseimbangan untuk mencegah terjatuh. Sering kali bagi wanita dengan risiko tinggi, sebab  

misalnya menopau se prematur (sebelum waktunya) atau sebab faktor keturunan, dianjurkan terapi 

substitusi hormonal. Yang digu nakan yaitu  suatu estro gen, dikom bina si dengan kalsium dan vitamin 

D, dengan penamba han proge stagen secara siklis untuk memperkecil risiko kanker. Namun suatu 

penelitian intervensi besar dengan konyugat estrogen 0,625 mg sehari telah dihentikan sebelum 

waktunya, sebab  ternyata meningkatkan risiko kanker payudara.12Oleh sebab  itu HRT hanya dapat 

dibenarkan dalam kasus hot flushes sangat hebat serta osteoporosis dan hanya untuk rentang waktu 

singkat. Wanita dengan predisposisi familiar untuk kanker payudara tidak boleh menjalani HRT. 

Juga perlu diwaspadai bahwa obat-obat tertentu dapat memicu  atau memperparah 

osteoporosis. Misalnya penghambat aromatase, agonis LHRH, anti-androgen (terapi hormon pada 

kanker prostat) dan beberapa sitostatika. pemakaian  jangka waktu lama dari anti-epileptika, 

seperti fenitoin dan karbamazepin, juga berkaitan dengan rapuh tulang. Glukokortikoida dapat 

memicu  menurunnya masa tulang.

Penanga nannya dapat dilakukan dengan obat-obat yang menghambat resorpsi tulang (bisfosfonat, 

kalsitonin dan estro gen) dan/a tau zat-zat yang menstimulasi pembentukannya (steroi da anabol dan 

fluorida). Di samping itu, diberikan kalsium (500-1000 mg sehari) bersama vitamin D3 (800­1000 unit) 

untuk mencapai mineralisa si tulang normal. pemakaian  kalsium sebaiknya tidak melebihi 1200 mg 

sehari, sebab  bila berlebihan dapat memicu  risiko batu ginjal.

Untuk kebutuhan kalsium sehari (RDA), lihat Bab 53, Vitamin dan Mineral. Untuk gerak badan 

dian jur kan gerak jalan dua kali 1/2 jam setiap hari. Untuk kalsitonin dengan khasiat menghambat 

langsung terhadap osteoclast, lihat Bab 48, Hormon tiroid. 

Alternatif dianjurkan flavonoid dari kedelai genistein (2 x 50 mg) yang berkhasiat sebagai estrogen 

lemah dan glukosamin (3 x 500 mg) bersama elemen spura mangan + seng untuk menstimulasi 

sintesis sel-sel tulang.

Sel-sel tumor mengganggu keseimbangan antara osteoblast dan osteoclast akibat produksi dari 

beberapa faktor yang meningkatkan perombakan, yaitu faktor pertumbuhan, prostaglandin, enzim, 

sitokin, dan lain-lain. Akibatnya yaitu  peningkatan perombakan (‚resorpsi‘, ‚mineralisasi‘).

Bisfosfonat merupakan turunan dari pirofosfat alamiah (H4P2O7) yang berkhasiat menghambat 

perombakan tulang oleh osteoclast. Mekanisme kerjanya sebagai obat antiresorptif, berarti memper-

lambat atau menghentikan proses alamiah penguraian jaringan tulang, sehingga kepadatan dan 

kekuatan tulang dipertahankan atau ditingkatkan. Dengan demikian proses osteoporosis dapat 

dihindari. Bila osteoporosis sudah terjadi, perlambatan proses penipisan tulang mengurangi risiko 

fraktur.

Obat-obat ini memiliki afinitas besar untuk kalsiumfosfat dan mengikat pada kristalnya di dalam 

tulang untuk kemudian secara berangsur diekskresi dari jaringan tulang. Oleh sebab  itu, obat ini 

selain untuk pengobatan osteoporosis juga dipakai  pada terapi dan prevensi metastasis kanker 

tulang, khususnya pada tumor prostat, payudara, ginjal, tiroid dan paru-paru. Gejala metastasis 

kanker tulang berupa nyeri tulang, imobilisasi, fraktur, hiperkalsiémia dan kelumpuhan akibat 

terjepitnya saraf-saraf oleh sumsum tulang.

Sekarang banyak dipakai  derivatnya etidronat, pamidronat, alendronat dengan perbandingan 

1 : 10 : 10 : 100.

Bisfosfonat dipakai  pada osteoporosis postmenopausal atau akibat kortikosteroid, penyakit Paget 

dan metastasis kanker, lihat juga Bab 14, Sitostatika.  Metabolisme dari bisfosfonat buruk dan ting-

gal dalam tulang untuk waktu lama. dipakai  per oral (asam alendronat, asam etidronat atau per 

intravena (asam pamidronat dan asam zoledronat) tiap 3 atau 4 minggu.

Bisfosfonat yang dipakai  per intravena (asam zoledronat-Reclast, ibandronat) merintangi os-

teoclast lebih kuat daripada per oral dan terutama untuk pengobatan hiperkalsiemi dan metastasis 

kanker pada tulang atau bila pasien tidak dapat memakai nya per oral. 

Efek samping. Sering kali nyeri tulang/otot, bengkak persendian, nyeri perut, obstipasi, diare, sakit 

kepala, pusing, mual, muntah, kesulitan menelan (disfagia), gangguan alat cerna dan nekrosis tulang 

(osteonecrosis) terutama dari tulang rahang yang baru nampak bulanan sesudah  pemberian per i.v. (ter-

utama asam zoledronat dan pamidronat). Osteonekrosis dari tulang rahang juga dapat terjadi pada 

pemakaian  oral dengan insidensi sekitar 1:10.000, namun  lebih sering pada pemakaian  intravena.

Efek samping ini terjadi khusus pada tulang rahang sebab  dibandingkan dengan tulang kerangka 

lainnya, tulang rahang memiliki metabolisme yang lebih cepat dan vaskularisasi lebih baik, sehingga 

bisfosfonat tertimbun dalam osteoklasnya.


Untuk menghindari rangsangan pada tenggorok (oesofagitis), bisfosfonat  harus diminum pagi hari 

minimal 30 menit  sebelum makan dengan segelas air dan pasien tidak boleh berbaring dalam sejam 

sesudah nya untuk menghindari “heartburn”. 

Bisfosfonat terpenting yaitu  ibandronat (Bonviva), risedronat (Actonel, Atelvia), alendronat 

(Fosamax), klodronat (Ostac), etidronat dan pamidronat. Sediaan kombinasi Actokit diminum rise-

dronat 1x seminggu 35 mg danselama 6 hari per minggu 500 mg kalsium (sebagai kalsium karbonat) 

untuk menstimulasi pembentu kan tulang. Kur dijalankan 3 bulan dan dapat diulang beberapa kali 

dengan tujuan mening katkan kepadatan tulang. Sesudah 6 bulan ternyata  jumlah keretakan ruas 

berku rang secara signifikan  Dengan alendronat1 dd 10 mg  (atau 1 x seminggu  *Fosavance =  alendro-

nat 70 mg + vit D3 2800 I.U.) 0,5 jam a.c. pagi hari juga dapat dicapai pengurangan fractura itu .6  

Berkat masa paruhnya yang panjang sekali, ibandronat (2004) dapat diminum 1 x sebulan  150 mg 

(garam Na) 1 jam a.c.

* Etidronat (Didronel, 1970), pamidronat (APD, Aredia. 1991) dan risedronat (Actonel, 1996) selain pada 

kanker23 juga dipakai  pada penyakit kronis tulang melunak (M. Paget)  dan pada osteoporosis post-

menopausal. Lihat juga Bab 44,  Zat2 estrogen,  box Osteoporosis. 

* Alendronat (Fosamax)  yaitu  aminobisfosfonat (1993) yang sama sifat kerja  dan pemakaian nya 

dengan pamidronat. Pada perut kosong BA-nya terbaik, yaitu hanya 0,65%, PP 78% dengan masa 

paruh panjang. Tidak boleh dipakai  pada hipokalsiemia.

Dosis: osteoporosis  pasca menopause/akibat glukokortikoid  1 x seminggu  70 mg  0,5 jam a.c., 

langsung sesudah  bangun tidur,  diminum dalam posisi berdiri dengan  minimal 200 cc air  tanpa 

dikunyah atau  dilarutkan dalam mulut. sesudah  diminum  tidak boleh  berbaring lagi (untuk meng-

hindari  iritasi  mukosa oesofagus).  Air mineral dan soft drink dapat mengurangi absorpsi obat, de-

mikian juga sediaan-sediaan yang mengandung kalsium dan antasida yang baru dapat dipakai  

sesudah  minimal ½ jam. Juga terlebih-lebih harus waspada pemakaian  bersamaan dari obat-obat 

yang merangsang saluran gastro-intestinal, seperti NSAID’s. 

Preventif: 1 dd 5 mg a.c

*Risedronat (Acton, 1988) juga buruk resorpsinya dari usus dengan BA 0,6 % , PP 25%. Tidak dime-

tabolisasi dan diekskresi melalui urin secara utuh, masa paruhnya juga panjang, ±20 hari.  Dosis: 1 

dd 5 mg 2 jam a.c. atau 1 x seminggu 35 mg 2 jam a.c. 

* Strontium ranelat (Protelos, Osseor) juga efektif pada osteoporosis postmenopausal (2004) untuk 

mengurangi fraktur tulang punggung dan  pangkal paha. Mekanisme kerjanya berdasar  stimulasi 

pembentukan tulang dan penghambatan perombakannya oleh osteoclast. Zat ini berkumulasi di ja-

ringan tulang dan di-inkorporasi di kristal apatit.  BA ±25%, masa paruh 60 jam. Efek samping  utama 

yaitu  mual dan diare. 

Senyawa ini telah diizinkan peredaraannya di Eropa sejak tahun 2004 untuk pengobatan oste-

oporosis dan untuk mengurangi risiko fraktur tulang belakang dan pinggul pada wanita postmeno-

pausal.

Di tahun 2012 indikasi ini juga diberlakukan bagi kaum pria. Di tahun 2013 timbul rekomen-

dasi untuk membatasi pemakaian nya hanya untuk pengobatan osteoporosis parah dengan risiko 

fraktur yang tinggi, bila ada  kontraindikasi terhadap obat-obat lain (misalnya intolerasi). 

Pembatasan indikasi ini sebab  risiko efek samping kardiovaskuler. Strontium ranelat janga n di-

gunakan pada pasien dengan riwayat gangguan jantung iskemik seperti angina atau infark, 

ganggua n arterial perifer, trombo-emboli atau gangguan serebrovaskuler, juga jangan diberikan 

pada pasien hipertensi yang tidak terkendali.

Dosis: oral 1 dd 2 g  malam hari sebelum tidur. (Geneesm Bull 2006; 40:80-81). 

*Teriparatide (Forsteo). Merupakan suatu sediaan rekombinan human parathyroidhormon 

(PTH; human parathyroid hormone I­34) dengan mekanisme kerja yang sama sekali berlainan de-

ngan bisfosfonat dan raloksifen. Seperti diketahui kedua obat bisfosfonat ini (= antiresorptiva) 

terutama me rintangi resorpsi tulang oleh osteoclast dan sekunder disusul  dengan meningkat-

nya mineralisasi. sedang  teriparatide (2005)  memiliki terutama efek anabol yang mensti-

mulasi osteoblast untuk pembentukan tulang baru dengan efek bertambahnya volume tulang 

dan memperbaiki strukturnya. namun  daya kerjanya tidak kausal, berarti tidak memperbaiki 

tulang yang sudah hilang. Dibandingkan dengan strontium ranelat yang di samping meng-

hambat resorpsi tulang juga ber daya merangsang pembentukan tulang baru, efek anabol dari 

teriparatide jauh lebih kuat.

Penyelidikan menunjukkan bahwa teriparatide mengurangi drastis risiko fraktur pada wanita 

maupun pria. Terutama ditujukan bagi wanita postmenopause dengan osteoporosis parah dan beri-

siko besar untuk fraktur sesudah  pengobatan dengan bisfosfonat maupun raloksifen, atau yang tidak 

tahan terhadap kedua obat ini. Berhubung mekanisme kerja dari teriparatide berlawanan dengan-

nya, maka tidak boleh dipakai  bersamaan.

Efek samping tersering berupa pusing, kejang kaki (1-10%), mual, sakit kepala dan perasaan lemah.

Dosis: tiap hari parenteral 20 ug selama maksimal 18 bulan selama hidup, ditunjang dengan 

asupa n kalsium dan vitamin D.14,15

*Denosumab (Prolia, Xgeva)

Merupakan IgG2 monoklonal antibodi human yang mengikat secara spesifik dan sangat kuat 

pada sitokin (RANKL) (nuclear factor­kappaB ligand) yang mutlak untuk pembentukan dan aktivasi 

osteoklas. Denosumab memblokir pengikatannya kepada RANK dan merintangi pembentukan dan 

aktivitas osteoklas, mengurangi resorpsi tulang dan meningkatkan kepadatan tulang. Dimetabolisasi 

oleh peptidase menjadi peptida kecil dan asam amino. Waktu paruh t1/2  ±26 hari (6-52 hari).

pemakaian . Sebagai prevensi bagi wanita postmenopause terhadap risiko fraktur akibat osteopo-

rosis dan hanya dianjurkan pada osteoporosis parah dan meningkatnya risiko fraktur sebab  usia 

lanjut. dipakai  melalui injeksi s.k. bila ada  toleransi terhadap bisfosfonat, yang sebetulnya 

merupakan pilihan pertama bagi pasien osteoporosis wanita postmenopause, seperti asam alen-

dronin dan asam risedronin, sebab  efektivitasnya tinggi, pengalaman dengan bisfosfonat oral ini 

cukup banyak dan efek sampingnya yang lebih terbatas. 

Denosumab juga dapat mengurangi risiko fraktur ruas tulang punggung pada pria penderita 

kanker prostat yang diterapi dengan androgen.

sebab  bisfosfonat dimetabolisasi oleh ginjal sehingga merupakan kontraindikasi bagi pasien 

gagal ginjal, mungkin denosumab aman bagi pasien demikian sebab metabolisasi denosumab tidak 

melalui ginjal, walaupun penelitian mengenai hal ini masih harus dilakukan.

......................................... N Engl J Med. Aug 20, 2009; 361(8): 818–820.

Efek samping. Sering kali katarak (1-10%), obstipasi, nyeri pada kaki-tangan, infeksi saluran urin 

dan alat pernapasan, infeksi kulit, osteonekrosis tulang dagu (terutama bila pernah diterapi dengan 

bisfosfonat) dan hipokalsiemia.

Sebelum dimulai terapi dengan suatu penghambat resorpsi tulang dianjurkan untuk terlebih 

dahulu ditentukan kadar dari kalsium maupun vitamin D dan bila perlu dioptimalkan untuk 

menghindari timbulnya hipokalsiemia.

Dosis: injeksi s.k. 60 mg sekali dalam 6 bulan di samping suplesi vitamin D3 dan kalsium, terkecuali 

ada  hyperkalsiemia.

2. Cummings SR, San Martin J, McClung MR, et al. Denosumab for prevention of fractures in post-

menopausal women with osteoporosis. N Engl J Med. 2009;361:756-65


*Pada pria gejala peralihan adakalanya dapat 

ditanggulangi melalui terapi suplesi dengan 

androgen secara siklis atau dengan penggu-

naan pil ereksi sildenafil (Viagra).

A. ESTROGEN

Estradiol, estron dan estriol merupakan es-

trogen alamiah, yang adakalanya disingkat 

sebagai masing-masing E2, E1dan E3 sesuai 

jumlah gugu san-OH dalam molekulnya. 

Estradiol memiliki khasiat estrogen terkuat 

dan 2-5 kali lebih aktif daripada kedua hor-

mon lainnya.

Estrogen terutama dihasilkan oleh ovaria 

sebanyak 2-25 mcg sehari pada minggu per-

tama sampai 25-100 mcg di perten gahan 

siklus haid. Dalam jumlah lebih sedikit juga 

dibentuk oleh folikel dan Corpus luteum, testes 

dan anak ginjal (pria dan wanita). Plasenta 

membentuk dalam jumlah berlimpah, sampai 

30 mg (!) sehari pada bulan ke-9 kehami-

lan. Sesudah menopause produksi menurun 

sampai 5-10 mcg sehari.

Sintesisnya berlangsung di bawah penga-

ruh FSH dengan asetat dan kolesterol sebagai 

bahan pangkal dan testosteron sebagai pre­

cursor, di mana c­AMP juga memegang pe-

ranan penting. Adakalanya konversi testos-

teron ––> estradiol terhalang, yang berakibat 

terjadinya hirsutisme sebab  meningkatnya 

kadar androgen.

Kinetik. Secara oral dan dermal estrogen 

diabsorpsi dengan baik dan cepat, juga va-

ginal. namun  FPE dalam hati yaitu  sede-

mikian tinggi sehingga BA-nya rendah dan 

oral menjadi kurang aktif. Seperti hormon 

kelamin lainnya hormon ini terikat pada 

protein transpor SHBG (Sex Hormone Binding 

Globuline). Dalam hati hormon ini dirombak 

dengan pesat menjadi metabolit yang ku-

rang aktif, antara lain estron, estriol dan 

glukuro nidanya. Sebagian mengalami siklus 

enterohepa tik. Ester estradi ol dan estrogen 

nonsteroida lebih lambat inaktivasi nya dalam 

hati dan jaringan lainnya, oleh sebab  itu 

daya kerjanya lebih kuat daripada estradiol. 

Ekskresi berlangsung melalui urin sebagai 

konyugat glukuronida.

Khasiat fisiologi dan farmakologi

Nama estrogen berasal dari daya kerja hormon 

ini yang menim bulkan oestrus pada hewan, 

yaitu hasrat bersenggama. Pada manusia 

efek-efek estrogen terpenting yaitu  sebagai 

berikut:

a. efek feminisasi(Lat. femina = wanita), yaitu 

memicu  ciri-ciri kelamin wanita 

primer dan sekunder. Terutama vagina 

sangat peka bagi estrogen, yang antara 

lain memicu  pertandukan epitelnya. 

Kekuran gan yang sama seperti sesudah 

menopause dapat mengaki batkan atrofia 

dan radang mukosanya (vaginitis).

b. proliferasi rahim dan endometrium. Es-

trogen menstimulasi pertumbuhan rahim 

hingga dapat tumbuh besar (hyperplasia), 

di samping itu juga memicu  tahap  

proliferasi dari endometrium. Sekitar per-

tengahan siklus (masa fertil wanita) leher 

rahim dirangsang untuk mensekresi len- 

dir berlebihan yang cair sekali untuk 

mempermudah penetra si sel-sel mani. La-

gi pula menstimulasi kelenjar di dinding 

saluran telur untuk mensekresi lendir - 

nya dan memperlancar transpor telur ke 

rahim.

c. terhadap menstruasi. Kadar estrogen da-

rah harus melebihi nilai ambang tertentu 

untuk memelihara tahap  proliferasi dan 

tahap  sekresi dari endometrium. Bila menu-

run di bawah nilai itu endome trium dile-

paskan dan terjadilah perdarahan. 

d. terhadap laktasi. Estrogen membantu 

progesteron memelihara kehamilan nor- 

mal dan pertumbuhan payudara. Sesu-

dah persalinan estrogen membantu pro­

laktin, yang menstimulasi keluarnya air 

susu melalui penghambatan produksi 

dopamin (= PIF, prolactin inhibiting factor), 

hingga sekresi prolaktin meningkat. Lak-

tasi turut didorong oleh oksitosin dari 

neurohipofisis. Pada dosis tinggi estrogen 

justru menekan laktasi, mungkin sebab  

menghambat efek prolak tin terhadap pa-

yudara.

e. efek anti ovulasi berdasar  khasiat 

antigonadotrop. Estrogen dan juga pro-

gestagen di atas kadar tertentu meng-

hambat GnRH di hipotalamus dan FSH/

LH di hipofisis melalui feed back negatif. 

Salah satu akibatnya yaitu  tercegahnya 

ovulasi. 

f. efek anabol, yang lebih lemah daripada 

androgen. 

g. efek penutupan epifisis tulang sama 

efektifnya dengan androgen. 

h. efek antiandrogen. Melalui hipofisis hor-

mon-hormon wanita di atas kadar tertentu 

menurunkan sekresi androgen, sehingga 

efeknya diperlemah. Lagi pula estrogen 

menstimulasi sintesis protein pengangkut 

SHBG dengan efek menurunkan kadar 

androgen bebas.

i. efek terhadap kolesterol. Estrogen me-

ningkatkan kadar HDL kolesterol dan se-

dikit menurunkan kadar LDL, yaitu jus- 

tru kebalikan dari efek androgen. Sifat 

ini yaitu  pemicu  mengapa wanita 

sebelum menopause lebih jarang men- 

derita penyakit kardiovasku ler diban-

dingkan dengan pria. Lagi pula estrogen 

memperlebar arteri jantung sehingga alir-

an darah lebih deras dan risiko penciutan 

dan infark menjadi lebih kecil.

j. retensi garam dan air, khususnya pa-

da dosis agak tinggi dan pada paruh 

kedua dari siklus, yang memicu  

perasaan tegang dan nyeri di payudara. 

Juga udema dan naiknya berat badan. 

k. menghambat kehilangan tulang yang 

cepat pada 5 tahun pertama dari meno-

pause. Bila dipakai  minimal 5 tahun 

fractura dikurangi dengan 50-60%.

pemakaian  

Estrogen dipakai  pada berbagai gangguan 

dan yang terpenting yaitu  sebagai berikut:

a. terapi substitusi untuk mensuplesi hor-

mon bila produksi alamiah tidak men-

cukupi kebutuhan. Misalnya pada hipo-

gonadisme dan sesudah  pengangkatan 

ovaria (ovarectomi). Begitu pula pada 

keluhan serius selama klimakterium 

yang tidak dapat diatasi dengan obat-

obat biasa. Satu dosis kecil estro gen ter-

nyata sudah efek tif, misalnya 10­15 mcg 

etinilestradiol sehari, dengan tambahan 

proge stagen pada hari ke-8 s/d hari ke-

20 untuk mencegah hiperplasia endo-

metrium dan risiko kanker. Kombinasi 

sebaiknya dipakai  secara siklis; artinya 

setiap tiga minggu diselingi istirahat 1 

minggu untuk meniru keadaan alamiah. 

namun  dapat pula dipakai  secara 

kontinu dengan “keuntungan” tidak 

timbulnya perdarahan penarikan. Suatu 

studi meta analisis mengungkapkan 

risiko kanker payudara yang meningkat 

dengan semakin lama berlang sungnya 

terapi substitusi. Risiko ini menurun 

sesudah  pemakaian  estrogen dihentikan 

dan praktis hilang sama sekali sesudah  

5 tahun. Sebalik nya ditemukan pula 

indikasi bahwa substi tusi jangka panjang 

memberikan pengaruh baik terha dap 

risiko kematian.

Mengenai pemakaian  postmenopa-

usal dari terapi substitusi ini, khusus 

mengenai indikasi eksak dan jangka wak-

tunya, belum ada  kesepakatan di 

antara para ahli.

b.  anti ovulasi (pil antihamil), bersama su-

atu progestagen, juga sebagai morning-

after-pill, lihat Bab 45, Antikonseptiva 

oral.

c.  menekan laktasi. Estrogen–seperti juga 

progestagen dan androgen–berkhasiat 

langsung menghambat sekresi air susu 

secara primer, artinya bila laktasi belum 

dimulai. pemakaian nya segera sesudah  

persalinan untuk menghambat produksi 

air susu, sudah diting galkan berhubung 

risiko trombo-emboli pada dosis tinggi 

yang diperlukan. Sekarang dipakai  

bromokriptin, suatu zat penghambat se-

kresi prolaktin, yang juga aktif bila laktasi 

sudah dimulai.

d. menghambat pertumbuhan anak-anak 

perempuan sekitar usia 12 tahun yang 

tumbuh terlalu pesat dan dikuatirkan 

menjadi terlampau tinggi. Estrogen men- 

stimulasi penutupan epifisis tulang pipa 

yang memicu  penghentian per-

tumbuhan.

e. pada osteoporosis postmenopausal. Es-

trogen berkhasiat memulihkan keseim-

bangan antara pembentukan dan pe-

rombakan sel-sel tulang yang tergang-

gu pada osteoporosis. Efeknya nampak 

relatif cepat, sesudah 6 bulan ternyata 

massa tulang naik sedikit dan kehilan gan 

tulang dihentikan. Lihat selanjutnya di 

atas, boks Osteoporosis.

f.  kanker prostat (tersebar) dapat diusaha-

kan pengobatannya dengan estrogen 

(misalnya fosfest rol) atau progestagen 

(misalnya megestrol). namun  penanganan 

utamanya terdiri dari kastrasi kimiawi 

dengan analoga LH-RH (gonadorelin, 

dan lain-lain), umumnya bersamaan de-

ngan suatu antiandrogen (flutamida, dan 

lain-lain). 

g. atrofia dan colpitis (radang mukosa, 

Yun. colpos = vagina) yang dapat terjadi 

sesudah menopause, dapat efektif diobati 

dengan krem vaginal yang mengandung 

misalnya diënestrol atau estriol. 

Penggolongan

Estrogen yang dipakai  dalam terapi dapat 

dibagi dalam dua kelompok berdasar  

struktur kimiawinya.

a. Zat steroid: estradiol, estron, estriol, etiniles­

tradiol, mestranol dan epimestrol (Stimovul)

b. Zat non-steroid:dietilstilbestrol, diënestrol 

dan fos festrol (Honvan)

c. Fito-estrogen yaitu  zat-zat polifenol, 

flavon dan flavonoida dari tumbuhan yang 

dalam saluran gastrointestinal dikon-

versi oleh flora usus menjadi zat-zat 

yang menyerupai estrogen. Senyawa 

ini dapat menempati reseptor estrogen 

dan berkhasiat sebagai estrogen lemah. 

Dapat ditemukan di kedele, kacang-

kacangan, gandum, buah-buahan dan 

sayur-mayur. Di negara-negara dimana 

diet sehari-hari mengandung banyak 

fito-estrogen, insidensi kanker payudara 

dan prostat rendah sekali, begitu pula PJP 

dan osteoporosis, misalnya di Cina dan 

Jepang. Sebaliknya insidensi kanker usus 

besar meningkat. Hal ini belum dapat 

dimengerti dengan jelas.

Khasiat. Penelitian telah mengungkap-

kan, bahwa genistein dan daidzein (fito-

estrogen kedele) dalam konsentrasi ren-

dah merangsang pertumbuhaan sel-sel 

kanker payudara. Sebaliknya dalam kon-

sentrasi tinggi pertumbuhan tumor in 

vitro dihambat. Fito-estrogen meringan-

kan kerja anti estrogen dari tamoksifen. 

sebab  mungkin bekerja mutagen dan 

karsinogen, maka fito-estrogen tidak 

dianjurkan pada wanita dengan riwayat 

kanker payudara atau yang sedang me-

ngidapnya (Thung, W. Pharm Wkbl 2002; 

137 : 999).

Efek samping

Estrogen dapat memicu  gangguan 

lambung-usus (mual, anoreksia, diare), nyeri 

kepala dan pusing-pusing, serta pada dosis 

tinggi mual dan muntah. Selain itu juga 

sejumlah efek samping yang lebih berat, 

yaitu:

– efek feminisasi pada pria dengan gyne­

comastia, libido berku rang, impotensi dan 

hambatan spermatogenesis

– trombo-emboli, yakni penyumbatan ar-

teri kecil oleh darah beku, yang teruta-

ma dapat terjadi pada pemakaian  lama 

dengan dosis tinggi (di atas 50 mcg sehari)

– kanker endometrium. Dosis tinggi yang 

diminum untuk jangka waktu lama 

memicu  hiperplasia endometrium, 

yang meningkatkan risiko berkembang-

nya menjadi kanker. Maka lazimnya 

secara siklis dipakai  dosis serendah 

mungkin bersama prostagen untuk meng-

hindari pertumbuhan berlebihan itu . 

Hingga kini tidak terbukti bahwa estrogen 

pada pemakaian  lama (pil antihamil!) 

meningkatkan risiko kanker payudara, 

seperti pernah dilaporkan. Namun ter-

nyata bahwa estrogen menstimulasi tu-

mor yang sudah ada dan bersifat “estrogen 

dependent” (memiliki reseptor estrogen)

– perdarahan tak teratur terjadi bila kadar 

estrogen faal menurun (breakthrough blee­

ding), bila perdarahan-antara ini hanya 

ringan disebut “spotting”. Bila terapi es-

trogen dihenti kan, timbullah perdar ahan 

penarikan(withdrawal bleeding)

– udema dan naiknya berat badan, juga 

nyeri buah dada akibat retensi garam 

dan air, khususnya pada dosis tinggi. 

Pada pasien jantung dan manula, udema 

meningkatkan risiko gagal jantung (de­

kompensa si).

Kontra-indikasi. Estrogen tidak boleh dibe-

rikan pada wanita hamil, pasien myoma atau 

kanker serta pasien jantung dan pembuluh. 

pemakaian  hendaknya berhati-hati pada 

pasien diabetes, migrain dan hipertirosis. 

Anak perempuan di bawah usia 16 tahun 

sebaiknya jangan diberi kan estrogen (pil 

antihamil) berhubung stimulasi penutupan 

epifisis dan berhentinya pertumbuhan (me-

manjang).

Zat antiestrogen

Zat-zat ini dapat “melawan” atau mengurangi 

efek estro gen. Dalam arti luas androgen dan 

progestagen dapat diang gap sebagai zat anti-

estrogen. Dikenal dua kelompok zat dengan 

khasiat antiestrogen, yakni estrogen lemah 

dan penghambat enzim aromatase.

a. Estrogen lemah klomifen, epimestrol, tamok­

si fen dan raloksifen.

Mekanisme kerja zat-zat ini diperkirakan 

berdasar  penggeseran hormon alamiah dari 

reseptornya di hipotalamus, hingga aktivitas 

dan kadar estradiol darah menurun. 

Akibatnya ialah terhambatnya mekanisme 

feedback yang mengatur produksi estro-

gen. Ovaria dan folikel distimulasi dan 

sekresi FSH/LH ditingkatkan, yang ber-

efek ovulasi. Atas dasar khasiat mendo-

rong ovulasi ini klo­mifen dan epimest­

rol dipakai  pada infer tilitas wanita 

akibat hipo fungsi hipofisis dan anovul asi. 

Tamoksifen dan raloksifen khusus dipakai  

pada terapi paliatif dari kanker mammae 

dan raloksifen untuk terapi osteoporosis 

pada wanita pasca-menopause.

b. Penghambat aromatase: aminoglutetimida, 

anastrozol (Arimi dex), exemestan (Aromasin) 

dan letrozol (Femara). 

Sejak tahun 90-an dari abad yang lalu, para 

peneliti menyelidiki cara-cara mengurangi/