Senin, 13 Juli 2026

Jantung 1

 


Pendidikan Profesi Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 

(SpJP) di Indonesia diawali dengan berdirinya Perkumpulan Kardiologi 

Indonesia (PerKI) pada tanggal 16 November 1957 oleh dr. Gan Tjong 

Bing (seorang Internist Cardiologist yang menyelesaikan studinya di 

negeri Belanda). Berdasarkan pengamatannya, di negara negara maju 

prevalensi penyakit jantung dan pembuluh darah (kardiovaskular) terus 

meningkat, dan diramalkan akan menjadi pemicu  utama kematian 

dunia. Oleh karenanya, di Eropa pendidikan Cardiologist berkembang 

menjadi pendidikan spesialis. Dengan bertambahnya jumlah Cardiologist, 

pelayanan kardiovaskular akan maju pesat dan angka kematian dapat 

ditekan. Inilah yang kemudian menginspirasi Perhimpunan Kardiologi 

Indonesia (PerKI) untuk memulai pendidikan dokter SpJP di Indonesia, 

negara yang memiliki  jumlah penduduk terbesar di kawasan Asia 

Tenggara. 

Pendidikan Dokter SpJP di Indonesia dimulai sesudah  Lembaga 

Kardiologi Nasional (LAKARNAS) dibentuk di Rumah Sakit Cipto 

Mangunkusumo (RSCM) pada tanggal 17 Agustus 1965. Para pionir 

pendidikan Dokter SpJP saat itu yaitu  dr. Sukaman, dr. Loetfi Usman, 

dr. Tagor G. Siregar, dr. ISF Ranti dan dr. Asikin Hanafiah, yang baru 

kembali dari pendidikan di Amerika dan Eropa. Konsep pendidikan 

bersifat magang (hospital based), seperti halnya yang mereka dapatkan 

di luar negeri. Lulusan pertamanya (1969) yaitu  dr. R. Mohammad 

Saleh, seorang Internist yang bekerja di Rumah Sakit Dr. Soetomo; beliau 

pun kemudian membuka pendidikan dokter SpJP di Surabaya dengan 

metode yang sama. Pada Kongres PERKI (KOPERKI) pertama tahun 1974 

di Jakarta, katalog Program Studi Ilmu Penyakit Jantung disahkan.

Bagian Kardiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) 

diresmikan pada tanggal 10 November 1976, sesuai SK Dekan FKUI Nomor 

1353/II/A/FK/76 yang dikuatkan oleh SK Rektor UI Nomor 064/SK/R/

UI/76 dan SK Menteri PDK Nomor 1000939/MPK/1976, menggantikan 

posisi LAKARNAS. Sejak itu, pendidikan Dokter SpJP menjadi pendidikan 


formal akademik-profesi yang terstruktur di selenggarakan oleh Fakultas 

Kedokteram (university based). Penyelenggaraan pendidikan dokter SpJP 

dilakukan oleh universitas (melalui Fakultas Kedokteran/FK) di rumah sakit 

pendidikan. Program Pendidikan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh 

Darah di FK Universitas Indonesia – Jakarta dan Universitas Airlangga 

- Surabaya mendapat dukungan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 

RI sesuai SK Nomor 076/U/1980 tentang Program Pendidikan Dokter 

Spesialis I, yang menyatakan bahwa program studi Ilmu Penyakit Jantung 

diakui sah dan sejajar dengan Program Studi Dokter Spesialis lainnya. 

Sejalan dengan kemajuan dan perkembangan tata kelola organisasi 

profesi, PerKI berubah nama menjadi Perhimpunan Dokter Spesialis 

Kardiovaskular Indonesia (PERKI). Kemudian PERKI membentuk Kolegium 

Ilmu Penyakit Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia (IPJPDI), yaitu 

badan yang bertugas mengampu cabang disiplin ilmu penyakit jantung 

dan pembuluh darah. Kolegium IPJPDI selanjutnya ditetapkan sebagai 

anggota MKKI, sesuai Surat Keputusan Majelis Kolegium Kedokteran 

Indonesia (MKKI) Nomor 072/S.Kep/MKKI/IX/2006. Atas keputusan 

KOPERKI-17 tanggal 11 Mei 2018, nama kolegium diganti menjadi 

Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia atau disingkat 

Kolegium JPDI. Nama ini menyesuaikan dengan Keputusan Menteri Riset, 

Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 257/M/

KPT/2017 tentang Nama Program Studi Pada Perguruan Tinggi, Program 

Studi Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah (Lampiran III). 

Dengan mengacu pada Undang Undang Republik Indonesia Nomor 

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang Undang 

Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, 

maka Kolegium IPJPDI merevisi dan menyusun Standar Kompetensi dan 

Standar Nasional Pendidikan Dokter SpJP yang berbasis kompetensi 

(competency based). Kurikulum pendidikan tersebut mengandung 

beban 120 satuan kredit semester (SKS) dengan lama pendidikan 8 

(delapan) semester. Pada tahun 2012 Standar Nasional Pendidikan 

Dokter SpJP direvisi kembali, dan standar tersebut berlaku hingga saat 

ini. Semua pusat pendidikan Dokter SpJP wajib memiliki kurikulum inti 

yang sama minimal 90% (sembilan puluh persen), dengan penambahan 

kurikulum lokal yang tidak melebihi 10% (sepuluh persen) dari kurikulum 


nasional. Pendidikan dokter SpJP merupakan pendidikan profesi yang 

juga mengandung muatan akademik, meliputi pendidikan keilmuan, 

keterampilan dan perilaku untuk memenuhi standar kompetensi 

yang telah ditetapkan. Panduan ini menjadi acuan penyelenggaraan 

pendidikan dokter SpJP yang ada. Ketua Program Studi (KPS) sebagai 

penanggung jawab pelaksanaan program pendidikan Dokter SpJP 

wajib menerbitkan buku panduan sebagai petunjuk teknis pelaksanaan 

program pendidikan, dengan mengacu pada standar nasional pendidikan 

yang telah ditetapkan.

Kebutuhan warga  Indonesia akan pelayanan kesehatan jantung 

dan pembuluh darah terus meningkat, sesuai pertambahan jumlah 

penduduk dan harapan hidup yang semakin panjang. Idealnya, setiap 

100.000 penduduk dilayani oleh seorang dokter SpJP, dengan demikian 

seharusnya saat ini ada 2600 dokter SpJP. Namun pada kenyataannya saat 

ini hanya ada sekitar 1000 dokter SpJP yang distribusinya belum merata. 

Masih banyak Kabupaten/Kota yang tidak memiliki  dokter SpJP. 

Oleh sebab itu, maka secara bertahap sejak tahun 2006 hingga tahun 

2017 telah dibuka Institusi Pendidikan Dokter SpJP tambahan, sehingga 

sekarang menjadi 13 (tiga belas), yaitu di: 1) FK Universitas Indonesia - 

Jakarta, 2) FK Universitas Airlangga - Surabaya, 3) FK Universitas Sumatera 

Utara - Medan, 4) FK Universitas Padjajaran - Bandung, 5) FK Universitas 

Gajah Mada - Yogyakarta, 6) FK Universitas Udayana - Bali, 7) FK 

Universitas Diponegoro - Semarang, 8) FK Universitas Andalas - Padang, 

9) FK Universitas Hasanuddin - Makassar, 10) FK Universitas Brawijaya - 

Malang, 11) FK Universitas Sam Ratulangi - Manado, 12) FK Universitas 

Sebelas Maret - Solo,dan 13) FK UniversitasSyiah Kuala - Banda Aceh.

Disadari bahwa, tidak semua Institusi Pendidikan Dokter SpJP 

memiliki  fasilitas pendidikan yang sama, karena keterbatasan 

kemampuan rumah sakit pendidikan dan institusi pendidikan dalam 

menyediakan sarana, prasarana, alat dan sumber daya manusia. Oleh 

karena itu, PERKI dan Kolegium JPDI menyelenggarakan berbagai kursus, 

workshop, dan acara ilmiah untuk para peserta program studi di seluruh 

Indonesia, agar kekurangan mereka dalam pendidikan dapat terpenuhi. 

Disamping itu, institusi pendidikan yang sudah maju bersedia mengisi 

modul yang belum terpenuhi melalui sistem pengampuan. Untuk 

14 ______________________________ ______________________________

menyamakan kualitas lulusan, Kolegium JPDI menyelenggarakan ujian 

nasional tertulis (computer based test/ CBT) dan oral (National Board Oral 

Exam/ NBOE).

Capaian pembelajaran Dokter SpJP yang mengacu pada profil 

dan kompetensi inti, memiliki kesetaraan dengan jenjang kualifikasi 

level 8 (delapan) Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), yang 

didiskripsikan sebagai berikut: 

1. Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan atau seni di 

dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, 

hingga menghasilkan karya inovatif dan teruji; 

2. Mampu memecahkan permasalahan sains, teknologi, dan atau seni di 

bidang keilmuannya melalui pendekatan inter- atau multidisipliner; 

3. Mampu mengelola riset dan pengembangan yang bermanfaat bagi 

warga  dan keilmuan; 

4. Mampu mendapat pengakuan nasional maupun internasional.

B. Latar Belakang

Sesuai Undang-undang Nomor 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan 

Kedokteran, Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang 

Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi, 

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 73 tahun 2013 

tentang Penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia Bidang 

Pendidikan Tinggi, serta Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan 

RI Nomor 49 tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi, 

maka Program Pendidikan Dokter SpJP di Indonesia diselenggarakan di 

Fakultas Kedokteran Universitas Negeri yang telah diakreditasi oleh LAM-

PTKes dengan capaian nilai minimal tingkat B. Pendidikan dokter SpJP 

merupakan salah satu Pendidikan Dokter Spesialis, yang dilaksanakan di 

bawah koordinasi Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Bidang Pendidikan, 

bekerjasama dengan Rumah Sakit Pendidikan dan berkolaborasi dengan 

Kolegium JPDI. 

Mengacu pada Undang – Undang Republik Indonesia Nomor 20 

Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran, Peraturan Menteri Riset, 

Teknologi dan Pendidikan Tinggi Nomor 44 Tahun 2015 tentang Standar 

Nasional Pendidikan Tinggi, dan Peraturan Menteri Riset, Teknologi 

l

dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2018 

tentang Standar Nasional Pendidikan Kedokteran, serta perkembangan 

ilmu dan teknologi, maka dipandang perlu untuk merevisi Standar 

Nasional Pendidikan Profesi Dokter SpJP. Standar Pendidikan ini juga 

memakai standar pendidikan dari The European Society of Cardiology 

(ESC) tahun2013, Core Cardiovascular Training Statement (COCATS) 

revisi ke-4 tahun 2015 dan Lifelong Learning Competencies for General 

Cardiologists tahun 2016 yang keduanya dikeluarkan oleh American 

Collage of Cardiology (ACC) sebagai benchmark, dengan beberapa 

modifikasi sesuai situasi dan kondisi Indonesia.

Untuk mengejar kebutuhan dokter SpJP di Indonesia, maka selain 

membuka pusat pendidikan baru, juga menekankan agar pendidikan 

selesai tepat waktu yaitu 8 (delapan) semester, dimana 2 (dua) semester 

merupakan pendidikan ilmu kedokteran yang menjadi dasar ilmu jantung 

dan pembuluh darah. Keberadaan dokter spesialis penyakit dalam 

yang lebih banyak jumlahnya dan sudah terdistribusi merata di seluruh 

wilayah Indonesia, diharapkan dapat berkolaborasi dengan dokter SpJP 

dalam memberikan pelayanan optimal kepada pasien penyakit jantung 

dan pembuluh darah yang kompleks. Pola pelayanan semacam ini 

sesuai dengan prinsip pelayanan terkini yang “collaborative and patient 

oriented”.  




1. Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah yang selanjutnya 

disingkat Dokter SpJP yaitu  dokter spesialis yang mampu 

(kompeten) melakukan tugas promotif, preventif, diagnosis, kuratif 

dan rehabilitatif untuk berbagai jenis penyakit jantung dan pembuluh 

darah, sebagaimana tercantum dalam Standar Kompetensi Dokter 

SpJP Indonesia;

2. Kompetensi Dokter SpJP yaitu  kriteria minimal tentang kualifikasi 

kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan, dan 

perilaku yang dinyatakan dalam rumusan capaian pembelajaran 

lulusan pendidikan Dokter SpJP.

3. Sertifikat Kompetensi Dokter SpJP yaitu  pernyataan pengakuan 

resmi dari Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia, bahwa 

pemegang sertifikat telah memenuhi Standar Kompetensi Dokter 

SpJP.

4. Konsil Kedokteran Indonesia yang selanjutnya disingkat KKI yaitu  

suatu badan otonom, mandiri, non struktural dan bersifat independen 

yang bertanggung jawab kepada Presiden RI, bertugas melakukan 

registrasi dokter dan dokter gigi, mengesahkan standar pendidikan 

profesi dokter dan dokter gigi, serta melakukan pembinaan terhadap 

penyelenggaraan praktik kedokteran.  

5. Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia yang selanjutnya 

disingkat Kolegium JPDI yaitu  badan yang dibentuk oleh 

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), yang 

bertugas mengampu cabang disiplin Ilmu Jantung dan Pembuluh 

Darah.

6. Institusi Pendidikan Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah 

yang selanjutnya disingkat IPDS-JP yaitu  Fakultas Kedokteran yang 

mengemban tugas Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan 

Tinggi untuk menyelenggarakan pendidikan Dokter SpJP;

7. Standar Nasional Pendidikan Dokter SpJP yaitu  kriteria minimal 

komponen pendidikan yang harus dipenuhi oleh setiap Institusi 

Pendidikan Dokter SpJP, dalam penyelenggaraan pendidikan Dokter 

SpJP; disusun oleh Kolegium Jantung dan Pembuluh Darah Indonesia 

berkoordinasi dengan PERKI, dan ditetapkan dan disahkan oleh 

Konsil Kedokteran Indonesia. 

8. Buku Panduan merupakan penjabaran kurikulum yang disusun oleh 

Institusi Pendidikan Dokter SpJP, sebagai pedoman pelaksanaan 

program pendidikan bagi peserta didik dan pendidik untuk mencapai 

kemampuan atau kompetensi yang telah ditetapkan.

9. Kurikulum Pendidikan Dokter SpJP yaitu  seperangkat rencana dan 

pengaturan pendidikan yang meliputi tujuan pendidikan, isi, bahan 

pelajaran, cara pencapaian dan penilaian, yang dipakai  sebagai 


pedoman penyelenggaraan kegiatan pendidikan Dokter SpJP.

10. Satuan Kredit Semester yang selanjutnya disingkat SKS yaitu  

takaran waktu kegiatan belajar yang dibebankan pada mahasiswa per 

minggu per semester dalam proses pembelajaran melalui berbagai 

bentuk pembelajaran atau besarnya pengakuan atas keberhasilan 

usaha mahasiswa dalam mengikuti kegiatan kurikuler di suatu 

program studi;

11. Buku Log yaitu  data pengalaman dan capaian objektif pendidikan 

peserta didik. Kelengkapan capaian target pendidikan merupakan 

bukti untuk penilaian sebagai syarat sebelum ujian.

12. Portfolio yaitu  buku kegiatan harian yang dilakukan oleh peserta 

didik (residen) selama mengikuti pendidikan.

13. Kemampuan klinik yaitu  kemampuan dalam menerapkan proses 

klinis dan komunikasi dalam memecahkan masalah kesehatan yang 

mencakup profisiensi pengetahuan akademik dan keterampilan 

klinik.

14. Kemampuan akademik yaitu  kemampuan dalam menerapkan 

metode ilmiah untuk pemecahan masalah, pengambilan keputusan, 

pengembangan diri, dan berkomunikasi secara efektif.

15. Rumah Sakit Pendidikan yaitu  rumah sakit yang memiliki  fungsi 

sebagai tempat pendidikan, penelitian, dan pelayanan kesehatan 

secara terpadu dalam bidang pendidikan kedokteran dan/atau 

kedokteran gigi, pendidikan berkelanjutan, dan pendidikan kesehatan 

lainnya secara multiprofesi. 

16. Institusi Pendidikan yaitu  perguruan tinggi yang menyelenggarakan 

pendidikan akademik, profesi, dan/atau vokasi di bidang kedokteran, 

kedokteran gigi, dan/atau kesehatan lain. 

17. Pemangku Kepentingan (stake holder) yaitu  semua pihak yang 

berkepentingan dengan pendidikan Dokter SpJP yakni: peserta 

didik, IPDS-JP, Rumah Sakit Pendidikan, Kolegium JPDI, PERKI dan 

Dokter SpJP, Kementerian Kesehatan, Kementerian Riset Teknologi 

Dan Pendidikan Tinggi, Konsil Kedokteran Indonesia dan wakil 

warga .


b. Pemeriksaan Fisik

Tujuan:

1) Mendapatkan data objektif untuk mencari manifestasi 

penyakit kardiovaskular 

2) Mendapatkan data objektif untuk mencari manifestasi 

penyakit lain yang mungkin menyertai

Pengetahuan yang dibutuhkan:

1) Penampilan fisik terkait sindrom-sindrom : misalnya Down, 

Marfan

2) Pengukuran tekanan darah: 

a) prinsip pengukuran 

b) keterbatasan nilai diagnostik dan prognostiknya mengingat 

besarnya variabilitas pengukuran tekanan darah di klinik

3) Karakteristik denyut nadi: laju, regularitas, pengisian normal/ 

abnormal

4) Impuls prekordial yang normal dan abnormal

5) Auskultasi jantung : bunyi jantung dan bising

6) Tekanan atrium kanan (tekanan vena jugularis)

7) Palpasi dan auskultasi arteri: nadi yang normal atau abnormal, 

serta kemungkinan terdengar bruit vaskular di berbagai 

tempat;

8)  Indeks Ankle-brachial (ABI) sebagai indikator penyakit arteri 

9) Sistem vena;

10) Tanda klinis adanya perfusi yang buruk dan retensi cairan;


11) Pemeriksaan umum paru, hati, kulit, dan tungkai

Keterampilan

1) Membuat dan mencatat secara akurat hasil pengamatan 

tentang status klinis pasien, dengan penekanan pada sistem 

kardiovaskular baik yang normal maupun yang abnormal;

2) Melakukan pemeriksaan klinis menyeluruh (termasuk 

neurologi dasar), dengan penekanan pada palpasi dan 

auskultasi jantung, paru, dan arteri, inspeksi pulsasi vena, 

serta evaluasi pembesaran hati, asites dan edema;

3) Mencatat temuan pemeriksaan fisik secara terstruktur dalam 

berkas rekam medis pasien.

Sikap

1) Menyediakan waktu yang cukup untuk melakukan 

pemeriksaan fisik dengan cermat;

2) Pemeriksaan pasien dengan memhormati martabatnya.

c. Elektrokardiografi dan EKG jangka panjang ambulatory (Holter)

Tujuan:

Memilih, melakukan dan menginterpretasi masing-masing teknik 

EKG:

1) Mendeteksi hipertrofi atrium atau ventrikel

2) Mendeteksi aritmia

3) Mendeteksi iskemia atau infark miokard 

Pengetahuan yang dibutuhkan:

1) Mekanisme selular dan molekular yang terlibat dalam 

aktivitas listrik jantung

2) Anatomi dan fisiologi sistem konduksi

3) Vektor-vektor elektrik di sepanjang siklus kardiak

4) EKG normal dan pengaruh vektor-vektor elektrik 

5) Artefak dan sandapan terbalik yang umum pada EKG

6) Penampakkan khas dari, dan penjelasan untuk, EKG pada 

pasien:


a) Hipertrofi atrium dan ventrikel

b) Iskemia dan infark

c) Penilaian penyakit sisi kanan atau posterior jantung 

melalui EKG 15 atau 18 sandapan dengan penempatan 

sandapan prekordial alternative.

d) Gangguan konduksi

Left Bundle Branch Block, Right Bundle Branch Block

Hemi-Fascicular Block

− Kelambatan konduksi intraventrikular jenis lain

− Blok AV

e) Takikardia dan bradikardia

f) Pre-eksitasi

g) Channelopathies

− Abnormalitas QT (QT pendek, QT memanjang)

− Pola EKG Brugada

− Repolarisasi awal

h) Gangguan repolarisasi lainnya

− Abnormalitas elektrolit

− Obat-obat antiaritmia dan obat-obatan lain

− Hipotermia

i) Perikarditis, efusi perikard, miokarditis

j) Kardiomiopati aritmogenik

k) Peralatan pacemaker, ICD, dan CRT, dan kerusakannya

7) Indikasi dan keterbatasan

Keterampilan

1) Mampu melakukan pemeriksaan EKG dan Holter

2) Menginterpretasi secara sistematis dalam konteks klinis

Sikap

1) Sadar akan pengaruh kemungkinan pre-test terhadap 

kemungkinan post-test (hukum Bayes)

2) Menyemangati dan meyakinkan pasien selama pemeriksaan


d. Uji Latih Jantung dan Cardiopulmonary Exercise Test

Tujuan

1) Uji latih jantung dengan/tanpa obat atau dengan modalitas 

pencitraan

2) Memilih, melakukan dan menginterpretasi respons EKG 

ketika jantung diberi beban dengan treadmill atau sepeda.

Pengetahuan

1) Menjelaskan prinsip dasar dari fisiologi koroner 

2) Menggambarkan prinsip-prinsip fisiologi latihan.

3) Menggambarkan berbagai mekanisme dari obat vasodilator, 

inotropik yang dipakai  dalam uji latih.

4) Memahami indikasi dan kontraindikasi 

a) Indikasi utama Uji Latih Jantung:

− Evaluasi iskemia

− Evaluasi respons pengobatan

− Evaluasi kapasitas fungsional 

− Evaluasi aritmia yang inducible

− Evaluasi respons hemodinamik non-invasif terhadap 

latihan (misalnya respons kronotropik, respons 

tekanan darah)

b) Indikasi utama Cardiopulmonary Exercise Testing

− Evaluasi toleransi latihan

− Diferensiasi pada intoleransi latihan antara etiologi 

kardiovaskular dan pulmonar 

− Kapasitas aerobik dan batasan anaerobik, slope VE/

VCO2

− Evaluasi pada pasien dengan penyakit kardiovaskular

− Evaluasi fungsional dan prognosis pasien gagal 

jantung

− Seleksi untuk transplantasi jantung

− Monitoring rehabilitasi jantung

c) Kontraindikasi Uji Latih Jantung / Cardiopulmonary 

Exercise Testi:

− Kriteria untuk menghentikan pemeriksaan


− Komplikasi dan tatalaksana

Keterampilan

1) Mampu mengintepretasi gambaran EKG iskemia dan aritmia.

2) Mampu menangani berbagai jenis aritmia yang 

membahayakan, iskemia atau keadaan emergensi sewaktu 

melakukan uji latih, termasuk ACLS.

3) Mampu menjelaskan penilaian klinis PJK yang dicurigai (laten) 

atau telah diketahui, termasuk evaluasi nyeri dada (khas atau 

tipikal), gejala dan tanda lain, serta prosedur diagnostik yang 

diperlukan 

4) Mampu menjelaskan anatomi dan fisiologi arteri koronaria

5) Mampu menjelaskan fisiologi dasar latihan aerobik (dinamik) 

akut/ kronis

6) Memahami indikasi dan kontraindikasi uji latih jantung dlm 

upaya menilai penyakit jantung iskemik

7) Mahir menginterpretasikan perubahan EKG, mengukur 

kemampuan fisik, memberikan panduan latihan maupun 

pemeriksaan lanjut yang diperlukan.

Sikap

Mampu menyeleksi secara tepat modalitas uji latih jantung 

dan Cardio- pulmonary Exercise Test untuk pasien tertentu.

e. Ekokardiografi, Dupplex Sonografi Vaskular, Ultrasonografi Paru

Tujuan:

1) Mampu melakukan dan menginterpretasi dengan tepat hasil 

pemeriksaan Ekokardiografi  M-mode, 2D, Doppler,Dupplex 

sonografi vaskulardan ultrasonografi paru

2) Mampu memilih teknik, modalitas dan protokol pencitraan 

yang berguna secara klinis dan cost-effective, menghindari 

pemakaian  yang berlebihan atau tidak optimal (over- and 

under-utilisation).


Pengetahuan

1) Memahami berbagai teknik pemeriksaan ekokardiografi 

yang meliputi:

a)  Trans Thoracal Echocardiography (TTE) : 

− M-mode, 

− Ekokardiografi 2-Dimensi dan 3-Dimensi

− Ekokardiografi berwarna (color echo) dan Doppler

− Contrast echocardiography

Stress ekokardiografi dengan uji latih atau 

farmakologis

Speckle-tracking dan  Doppler-based strain analysis;

b)  Trans Eusophageal Echocardiography (TEE)

c) Dupplex sonografi vaskular (arteri dan vena)

d) Ultrasonografi paru

2) Menguasai indikasi pemeriksaan ekokardiografi, yaitu untuk 

menilai :

a) fungsi sistolik global ventrikel kiri (LV) dan kanan (RV) 

b) fungsi diastolik ventrikel kiri (LV) dan kanan (RV) 

c) fungsi regional LV, termasuk ischaemic regional wall 

motion

d) kelainan miokard seperti scar, stunning, hibernasi, perfusi 

dan viabilitas miokard, serta implikasinya;

e) massa LV sesuai indeks massa tubuh pasien, dan hipertrofi;

f) anatomi, ukuran dan fungsi ruang jantung; 

g) kardiomiopati primer dan sekunder (dilatasi, hipertrofik, 

restrictif, dan aritmogenik);

h) morfologi dan fungsi katup termasuk menilai derajat 

stenosis dan regurgitasi katup

i) hasil intervensi katup (reparasi, penggantian, dilatasi 

dengan balon atau implantasi perkutan);

j) endokarditis;

k) penyakit perikardial (termasuk tamponade kardiak);

l) massa kardiak (tumor, thrombi, vegetasi, benda asing);

m) penyakit jantung bawaansebelum dan sesudah intervensi;

n) lesi pirau (shunt);


o) hipertensi pulmoner;

p) kondisi hemodinamik: curah jantung (cardiac output), 

tekanan pengisian LV, tekanan arteri pulmoner, tekanan 

atrium kanan;

q) kongesti hepar dan aliran vena, perubahan aliran vena 

cava dengan sesuai fase respirasi;

r) patologi yang perlu diantisipasi dan dideteksi melalui 

emergency echocardiography

3) Memahami indikasi pemeriksaan Dupplex ultrasonografi 

vaskular, yaitu untuk menilai :

a) penebalan carotid intima-mediadan plak 

b) stenosis carotid, vertebral, abdominal, arteri ekstrimitas 

atas dan bawah

c) penyakit aorta throrakalis dan abdominalis

d) penyakit arteri perifer

e) anatomi vena pulmonalis

f) insufisiensi vena tungkai

4) Memahami indikasi pemeriksaan ultrasonografi paru yaitu 

untuk menilai: 

a) edema paru, 

b) penyakit paru obstruktif kronik, 

c) pneumothorax, 

d) pneumonia 

e) emboli paru, 

f) efusi pleura.

Keterampilan

Mampu melakukan dan menginterpretasi hasil pemeriksaan:

1) trans-thoracic echocardiography;

2) trans-oesophageal echocardiography;

3) stress-echocardiography.

4) vascular ultrasound

5) lung ultrasound


Sikap

1) Mengintegrasikan pemeriksaan ekokardiografi/ultrasonografi 

dengan hasil anamnesis, pemeriksaan fisik, dan EKG 

2) Merekognisi kekuatan dan keterbatasan ekokardiografi/

ultrasonografi dibandingkan dengan modalitas pencitraan 

lainnya, sehingga mau merujuk pasiennya untuk pemeriksaan 

lain sesuai kebutuhan.

3) Bekerjasama secara interaktif dengan sonografer dan staf 

paramedik untuk mendapatkan data yang akurat.

f. Cardiac Computed Tomography

Tujuan:

1) Mampu melakukan dan menginterpretasi dengan tepat hasil 

pencitraan: Cardiac Computed Tomography (CT)

2) Mampu memilih teknik, modalitas dan protokol pencitraan 

yang berguna secara klinis dan cost-effective, menghindari 

pemakaian  yang berlebihan atau tidak optimal (over- and 

under-utilisation).

Pengetahuan

1) Teknik

a) test bolus acquisition dan bolus chasing;

b) modus prospective ECG-triggered axialdan retrospectively 

ECG gated spiral scan;

c) cardiac X-ray CT tanpa contrast enhancement

− coronary calcium score;

d) cardiac X-ray CT dengan contrast enhancement

− penyakit jantung koroner;

− morfologi jantung;

e) angiografiarteri besar dan vena

2) Indikasi

a) penyakit jantung koroner

− skor calcium koroner;

− CT angiografi arteri koroner untuk menilai stenosis 

koroner


− Menilai graft bypass;

− Visualisasi karekteristik;

b) anomali koroner;

c) patologi kardiak (non-koroner): kongenital, trauma, 

degeneratif, atherosklerotik (infark/ aneurisma LV, dll.), 

massa;

d) pemandu intervensi misalnya. implantasi katup perkutan, 

isolasi vena pulmoner;

e) fungsi ventrikel;

f) disfungsi katup prostetik 

− menilai sudat pembukaan dan penutupan ;

− visualisasi trombus dan pannus;

g) endocarditis katup asli dan katup prostetik

− visualisasivegetasi katup;

− menilai abses annulus dan aneurisma mikotik serta 

hubungannya dengan arteri kororner

h) penyakit jantung bawaan

− anatomi;

− kuantifikasi volume dan fungsi ventrikel;

i) penyakit perikard

− termasuk kalsifikasi perikard;

j) penyakit arteri dan vena besar (anomali congenital), 

aneurisma aorta, false aneurysms, diseksi aorta, abses 

periaortik, kelainan arkus aorta;

k) kelainan arteri cervicalis dan arteri perifer.

Keterampilan

1) memilih indikasi yang tepat dan menghindari kontraindikasi 

cardiac CT;

2) memaparkan gambar pencitraan cardiac CT dan 

menginterpretasi dengan tepat untuk kepentingan klinis 

(kompetensi level II).


Sikap

1) Bekerjasama dengan spesialis radiologi, paramedic, tenaga 

kesehatan lain

2) Mewaspadai efek samping kontras dan merekognisi risiko 

bahaya radiasi bagi pasien dan petugas

3) Terus mengikuti perkembangan kegunaan X-ray computer 

tomography dan mau merujuk sesuai indikasi;

g.  Cardiac Magnetic Resonance (CMR)

Tujuan:

1) Mampu melakukan dan menginterpretasi dengan tepat hasil 

pencitraan Cardiovascular Magnetic Resonance (CMR)

2) Mampu memilih teknik, modalitas dan protokol pencitraan 

yang berguna secara klinis dan cost-effective, menghindari 

pemakaian  yang berlebihan atau tidak optimal (over- and 

under-utilisation).

Pengetahuan

1) Teknik : 

a) dasar fisik CMR;

b) kualitas pencitraan dan artefak;

c) keamanan CMR dan keamanan piranti (device) medisdi 

CMR;

d) bahan kontras pada CMR indikasi dan keamanan;

e) metodologi CMR 

− anatomi jantung (termasuk teknik dark and bright 

blood);

− fungsi jantung (termasuk metoda cine and myocardial 

tagging);

− karakterisasi jaringan (termasuk teknik contrast-

enhanced);

− CMR stress imaging (perfusi miokard, dobutamine 

stress);

− Penilaian aliran darah dengan flow-velocity encoded

CMR;


Magnetic Resonance Angiography (MRA).

2) Indikasi:

a) penyakit jantung koroner (PJK);

b) diagnosis dan tatalaksana PJK kronik;

c) deteksi iskemia dengan CMR stress imaging;

d) menilai viabilitas miokard dengan CMR late-gadolinium-

enhanced

e) pencitraan koroner;

f) diagnosis dan tatalaksana sindroma koroner akut (SKA);

g) mengukuran luas infark dan area berisiko pada SKA 

memakai  late-gadolinium enhancement  dan  T2-

weighted CMR;

h) fungsi LV dan RV pasca-infark miokard ;

i) obstruksi mikrovaskular dan perdarahan intramiokardial;

j) penyakit miokard

− diagnosis dan penentuan prognosis pada 

kardiomiopati turunan;

− diagnosis dan penentuan prognosis pada miokarditis;

− kesertaan jantung pada peyakit sistemik/

kardiomiopati sekunder

− diagnosis dan penentuan prognosis gagal jantung 

akut/kronik

− penilaian transplant cardiomyopathy;

k) penyakit perikard

− anatomi normal dan diagnosis penyakit perikard

− penilaian efek fungsional penyakit perikard;

l) penyakit vaskular

− morfologi dan patologi aorta thorakalis dan 

abdominalis,  termasuk aneurisma dan diseksi;

− morfologi dan patologi pembuluh darah pulmoner;

− morfologi dan patologi  arteri cervicalis dan arteri 

perifer;

− morfologi dan patologi vena sistemik;

m) penyakit katup jantung

− menilai morfologi katup;


− menilai derajat stenosis katup;

− menilai derajat regurgitasi katup;

− menilai dimensi dan fungsiLV / RV;

n) massa/tumor kardiak dan pericardial;

o) penyakit jantung bawaan

− diagnosis follow-up jangka panjang;

− menilai besar volumes pirau (shunt);

p) temuan insidentil (non-kardiovaskular).

Keterampilan

1) memilih indikasi yang tepat dan menghindari kontraindikasi 

CMR;

2) menyupervisi stress tes kardiovaskular memakai  teknik 

farmakologi sehingga aman bagi pasien;

3) memaparkan gambar pencitraan CMR dan meng-

interpretasinya dengan tepat untuk kepentingan klinis 

(kompetensi level II).

Sikap

1) Terus mengikuti perkembangan CMR dan mau merujuk 

sesuai indikasi;

2) Bekerjasama dengan spesialis radiologi, paramedik, tenaga 

kesehatan lain

h. Nuklir Kardiak

Tujuan:

1) Mampu melakukan dan menginterpretasi dengan tepat hasil 

pencitraan: nuklir kardiak

2) Mampu memilih teknik, modalitas dan protokol pencitraan 

yang berguna secara klinis dan cost-effective, menghindari 

pemakaian  yang berlebihan atau tidak optimal (over- and 

under-utilisation).


Pengetahuan

1) Teknik 

a) Prinsip dasar pencitraan radionuclide untuk sistem 

kardiovaskular,  termasuk radio-isotopes, radiofarmaka, 

gamma cameras, akuisisi pencitraan, rekonstruksi, 

memaparkan dan menginterpretasi;

b) single-photon emission computed tomography perfusions 

cintigraphy (SPECT);

c) gated SPECT (perfusi danfungsi LV)

tracers:201Tl, 99mTc-sestamibi, or 99mTc-

tetrofosmin;

− modalitas:

- rest imaging;

- stress imaging (stress exercise / farmakologis 

memakai  obat vasodilators dan simpatomimetik);

- protokol 2-daydan 1-day;

d) positron emission tomography (PET): perfusi miocard, 

metabolism glucose, dan pencitraan peradangan;

e) teknik hybrid (PET-CT dan SPECT-CT) untuk meningkatkan 

mutu pencitraan serta untuk kombinasi pencitraan 

anatomi dan fungsi.

f) Ventrikulografi radio nuclide memakai  equilibrium 

planardan pencitraan SPECT, first-pass planar, phase dan 

amplitude imaging atau fungsi regional;

g) pencitraan innervasi simpatik;

h) pencitraan emboli arteri pulmoner, menilai perfusi paru 

dan besaran pirau kanan ke kiri

i) labelled leucocyte imaging- menilai abses miokard dan 

infeksi;

j) pecitraan sarcoidosis miokard.

2) Indikasi :

a) diagnosis sindroma nyeri dada;

b) tatalaksana PJK yang sudah dipastikan atau yang baru 

diduga, meliputi: deteksi, mengenali lokasi stenosis, 

menilai iskemi atau scar miokard;


c) menilai prognosis PJK stabil, SKA dan sebelum bedah 

non-kardiak.

d) menilai disfungsi LV dan gagal jantung, termasuk: fungsi 

global dan  regional, abnormalitas gerak miokard, 

penebalan, viabilitas, stunning, hibernasi and innervasi;

e) monitoring fungsi LV sebelum dan sepanjang pemberian 

kemoterapi yang kardiak – toksik.

f) deteksi dan kuantifikasi pirau kiri ke kanan atau kanan 

ke kiri. 

g) Deteksi infeksi jantung dan proses peradangan.

Keterampilan

1) memilih indikasi yang tepat dan menghindari kontra indikasi 

pemakaian  nuklir kardiak;

2) menyupervisites stress kardiovaskular memakai  teknik 

uji latih dinamik dan farmakologik. 

3) Menangani bahan radiopharmasi yang sudah dibuka 

sehingga aman bagi diri sendiri, pasien dan staf ;

4) Memaparkan gambar pencitraan nuklir dan membuat 

interpretasi secara benar (kualifikasi level II).

Sikap

1) Berkolaborasi dengan dokter perujuk, staf keperawatan, 

spesialis nuklir medisin, teknisi, tenaga kesehatan lain dan 

ahli fisika radionuklid;

2) Mewaspadai efek samping ionizing bahan ionized dan 

mengenali  risiko radiasi terhadap pasien dan petugas.

i. Kateterisasi Jantung dan Angiografi dan Intervensi Non Bedah

Tujuan

1) Mampu melakukan dan menginterpretasi :

a) angiogram koroner native dan graft bedah 

b) angiogram ventrikel kiri

c) kateterisasi jantung kanan

l

2) Mampu membuat informed consent untuk pasien yang 

akan dilakukan tindakan, dengan menjelaskan komplikasi-

komplikasi yang dapat terjadi pada kateterisasi jantung 

dan angiografi (termasuk hipotensi, gagal jantung, aritmia, 

iskemik miokard, reaksi kontras, emboli kolesterol, gagal 

ginjal, komplikasi-komplikasi vaskuler seperti perdarahan 

retro-peritoneal dan tamponade jantung).

Pengetahuan

1) Prinsip pencitraan fluoroskopi, fisika radiasi, eksposur dan 

keamanan

2) Efek nefrotoksik akibat kontras, pencegahan dan 

tatalaksananya

3) Peralatan di laboratorium kateterisasi (fisiologi monitoring, 

transduser, analisa gas darah, kekuatan injeksi)

4) Memahami anatomi radiologis dari jantung, aorta, pembuluh-

pembuluh darah besar dan arteri koroner, serta arteri femoral, 

radial dan brachial yang dipakai  untuk akses pembuluh 

darah selama kateterisasi

5) Pengambilan data hemodinamik dan oksimetrik, serta 

memakai nya untuk menghitung curah jantung, 

resistensi vaskular, area katup dan besaran pirau

6) Interpretasi bentuk gelombang tekanan, hemodinamik dan 

data oksimetri 

7) Berbagai teknik dan akses vaskular

8) Berbagai tipe kateter yang dipakai  dalam angiografi 

koroner dan kateterisasi jantung

9) Kateterisasi jantung transeptal 

10) Prinsip dasar dan indikasi ultrasound intrakoroner (IVUS), 

Doppler dan penilaian tekanan arteri koroner (FFR)

11) Indikasi dan prosedur pacu jantung dan pericardiocentesis 

12) Komplikasi-komplikasi yang berhubungan dengan tindakan 

kateterisasi jantung, angiografi dam tatalaksananya.


Keterampilan

1) Mengoptimalisasi pemakaian   peralatan laboratorium 

kateterisasi  untuk meminimalkan paparan radiasi sehingga 

pasien/petugas terlindungi, dan meminimalisasi pemakaian  

kontras yang nefrotoksik. 

2) Mendapatkan akses arterial perkutan (femoral, radial, 

brachial) dan akses vena,serta pencapaian hemostasis sesudah  

kateterisasi

3) Melakukan kateterisasi jantung kiri yang meliputi: angiografi 

koroner, ventrikulografi, angiografi graft bypass koroner 

termasuk graft arteri mamaria;

4) Melakukan kateterisasi jantung kanan di laboratorium 

kateterisasi dan di sisi tempat tidur pasien, yang meliputi: 

pengukuran cardiac output, tekanan intravaskular dan 

saturasi oksigen.

5) Mengatasi aritmia yang mengancam jiwa dan kegawatan 

lainnya di laboratorium kateterisasi.

6) Menilai angiografi koroner, ventrikulogram, aortogram dan 

angiografi pulmonal, yang normal dan patologis.

7) Menginterpretasikan data hemodinamik dan oximentri

8) memakai  obat-obat penopang hemodinamik secara 

tepat dan aman

Sikap

1) Menunjukkan tanggung jawab dalam meminta, melakukan 

dan menginterpretasi pemeriksaan invasif dengan 

mempertimbangkan secara tepat risiko dan keuntungan 

tindakan

2) Berkolaborasi dengan perawat, teknisi dan tenaga medis 

lainnya

3) Mampu melakukan pemilihan modalitas tatalaksana yang 

tepat (medis, perkutan atau bedah) berdasarkan data klinis 

dan data kateterisasi jantung

4) Mewaspadai efek samping kontras dan risiko radiasi terhadap 

pasien dan petugas medis.


3. Diskripsi Capaian Kompetensi Dalam Hal Masalah dan Penyakit 

kardiovaskular:

a. Farmakologi Kardiovaskular

Tujuan

Menguasai teori dan praktek dari seni terapi farmakologik untuk 

penyakit kardiovaskular

Pengetahuan

1) Klasifikasi, mekanisme kerja dan dosis obat-obat 

kardiovaskular (dengan penekanan pada: penghambat EKA, 

penghambat reseptor angiotensin, anatagonis aldosteron, 

obat-obat anti aritmia, penghambat beta, anatagonis kalsium, 

diuretik, obat-obat penurun lemak, obat anti platelet, anti 

koagulan, inotropik, digitalis, nitrat, obat-obat vasodilator 

lain, obat-obat dengan toksisitas terhadap jantung, serta 

obat-obat dengan dengan mekanisme lain).

2) Mengenali, untuk obat-obat yang telah disebut diatas.

a) Farmakokinetik (absorbsi, bioavailabilitas, distribusi, bio 

transformasi, ekskresi)

b) Farmakodinamik,

c) Farmakogenetik

d) Indikasi

e) Kontraindikasi

f) Interaksi

g) Efek samping dan toksisitas

3) Memilih obat atau kombinasi obat sesuai kondisi pasien (usia, 

profil, co-morbiditas, latar belakang genetic dan etnik); 

4) Efek samping kardiovaskular dari obat non-kardiovaskular 

5) Melakukan dan menginterpretasikan tes diagnostik untuk 

menilai efektivitas dan keamanan dari obat (tes laboratorium, 

EKG, monitoring, hemodinamik, ekokardiografi)

6) Menggambarkan pengetahuan dasar tentang percobaan 

klinik acak dan ilmu kedokteran berbasis bukti


Keterampilan

1) Mengambil anamnesa yang relevan dari regimen pengobatan 

pasien termasuk obat yang dibeli bebas

2) Menilai risiko dan manfaat dari regimen obat-obatan untuk 

kondisi kardiovaskular tertentu

3) Mengamati efek yang diinginkan serta efek samping dari 

terapi pasien. Dari hal ini, mampu membuat modifikasi yang 

sesuai pada regimen pengobatan

4) Mengenali dan menangani interaksi obat yang mungkin 

terjadi

5) Mengevaluasi desain dan hasil dari percobaan-percobaan 

klinik yang telah dipublikasikan

6) Mengidentifikasi dan menginterpretasi kegunaan terapi 

herbal yang dipakai  oleh pasien.

Sikap

1) Mengaplikasikan pedoman-pedoman pengobatan berbasis 

bukti yang terbaru dalam praktik klinik

2) Komunikasi dengan pasien dan keluarganya untuk 

meningkatkan kewaspadaan atas komplain pasien, dan 

memastikan pengenalan dini dari efek samping yang 

mungkin terjadi

3) Mempertimbangkan efektivitas biaya dan ketersediaan obat-

obatan yang diresepkan.

b. Genetik Kardiovaskular

Tujuan

1) Mampu melakukan penilaian dan pengobatan kardiologik 

umum terhadap pasien dengan kelainan kardiovaskular 

herediter.

2) Mampu mengintegrasikan faktor genetik dan epigenetik 

ke dalam evaluasi menyeluruh risiko pada penyakit 

kardiovaskular yang sering terjadi.


Pengetahuan

1) Mengintegrasikan pengetahuan genetik dalam mengevaluasi 

faktor-faktor risiko dan penyakit kardiovaskular yang sering 

terjadi.

2) Menjelaskan insidens dan prevalensi dari penyakit 

kardiovaskular herediter di komunitas lokal

3) memiliki  pengetahuan dasar tentang embriologi kardiak 

dan gen familial utama yang berperan dalam kardiogenensis

4) Menjelaskan prinsip-prinsip tentang keturunan Mendelian

5) Menjelaskan prinsip-prinsip penyakit kardiovaskular poligenik 

(seperti: hipertensi, diabetes dan dislipidemia)

6) Mengingat kembali penyakit kardiovaskular monogenik 

utama; kardiomiopati hipertropik; aortopati familial, seperti 

sindroma Marfan, Ehler-Danlos dan William; kardiomiopati 

dilatasi familial, familial channelopathies, kelainan familial 

dari proses septasi, familial basis of conotruncal anomalies; 

trisomi khususnya trisomi 21, dislipidemia familial, khususnya 

low density lipoprotein receptor.

7) Menjelaskan dasar familial tentang tumor kardiak yang 

diturunkan.

Keterampilan

1) Melakukan anamnesa yang relevan dan pemeriksaan yang 

sesuai

2) Menilai riwayat keluarga yang relevan dan membuat silsilah 

keluarga

3) Membedakan autosomal dominan, autosomal resesif, 

“X-linked”, dan pola mitokondrial dari warisan

4) Memberikan penyuluhan terhadap anggota keluarga tentang 

kasus-kasus kelainan kardiovaskular genetik dan risiko 

kemungkinan terkena kelainan tersebut

5) Mengenali masalah-masalah dengan interpretasi silsilah 

seperti penetrasi yang tidak lengkap, variasi ekspresi serta 

pola-pola ekspresi yang berhubungan dengan usia.


6) Tatalaksana ketidakpastian yang berhubungan dengan 

pemeriksaan genetik

7) Merujuk pasien serta keluarga ke pusat-pusat kesehatan 

yang sesuai dengan kelainan yang dimiliki.

Sikap

1) Bekerja sama dengan ahli genetika klinik

2) Mengembangkan metode pendekatan sistematik terhadap 

keluarga pasien yang berpotensi memiliki kelainan 

kardiovaskular herediter

3) memakai  teknik konseling yang sesuai untuk 

menjelaskan, mengedukasi dan menginformasikan pada 

pasien tentang perjalanan penyakitnya, keuntungan/

kelemahan pemeriksaan diagnostik yang dipakai.

4) memiliki  komitmen untuk meningkatkan pengetahuan 

dan kemampuan dalam tatalaksana penyakit kardiovaskular 

herediter.

c. Pencegahan Penyakit Kardiovaskular

Faktor Risiko Kardiovaskular, penilaian dan tatalaksananya

Tujuan

1) Menilai  dan menangani pasien dengan faktor risiko 

kardiovaskular

2) Memahami bagaimana metode pencegahan yang berbeda-

beda dapat bermanfaat

3) Berperan serta dalam upaya global menurunkan mortalitas 

kardiovaskular dengan mengkomunikasikan pesan-pesan 

pencegahan kepada publik

4) Melakukan upaya pencegahan secara holistik, memahami 

potensiasi risiko kardiovaskular dengan melakukan 

pengelompokan faktor  risiko.

5) Hipertensi : lihat capaian pembelajaran Hipertensi

6) Dislipidemia :

a) diagnosis dan tatalaksana berbagi jenis dislipidemia


b) menilai komplikasi dislipidemia pada sistem 

kardiovaskular dan organ tubuh lainnya

7) Diabetes : lihat capaian pembelajaran diabetes mellitus

8) Pola hidup (sama pentingnya dengan faktor risiko mayor):

a) Memahami pentingnya pola hidup (rokok, diet dan olah 

raga) dalam pencegahan penyakit kardiovaskular.

b) Menerapkan metode untuk mengoreksi pola hidup yang 

tidak sehat.

Pengetahuan

1) Epidemiologi penyakit kardiovaskular di komunitas lokal: 

insiden, prevalensi dan kesintasannya 

2) Faktor-faktor risiko penyakit kardiovaskular di komunitas 

lokal

3) Penilaian risiko pada prevensi primer, interaksi risiko 

multifaktorial dan tabel penghitungan skor risiko

4) Dampak pola hidup terhadap populasi berisiko dan penderita 

penyakit kardiovaskular

5) Potensi perubahan pola hidup dalam mencegah dan 

memperbaiki kondisi penyakit kardiovaskular: diet dan 

nutrisi, toksik (rokok, alkohol dll), aktifitas fisik.

6) Faktor risiko emerging: sosial, ekonomi, stress, depresi dan 

kepribadian

7) Strategi pengobatan/pencegahan faktor risiko mayor dan 

perubahan pola hidup, termasuk terapi farmakologis

8) Pendekatan komprehensif untuk penanganan faktor risiko 

9) Kepatuhan pasien

10) Hipertensi (lihat capaian pemberlajaran hipertensi)

11) Dislipidemia :

a) epidemiologi, etiologi dan patofisiologi dislipidemia

b) komplikasi dislipidemia

c) diagnosis dan penilaian dislipidemia

d) manajemen dislipidemia: terapi farmakologis dan non- 

farmakologis


e) deteksi dan tatalaksana efek samping obat-obat penurun 

lipid

f) tatalaksana dislipidemia pada pasien yang memiliki  

toleransi rendah terhadap obat-obat penurun lipid

12) Diabetes mellitus (lihat capaian pemberlajaran diabetes 

mellitus)

13) Pola hidup

a) Rokok

− risko merokok

− manfaat berhenti merokok

− pilihan terapi berhenti merokok termasuk pemakaian 

obat

b) Diet

− efek berbagai jenis diet terhadap profil metabolisme 

dan luaran klinik

− komponen diet yang meningkatkan kejadian 

aterosklerosis 

− komponen protektif diet

c) Aktifitas fisik

− risiko terkait kurang aktifitas fisik

− manfaat aktifitas fisik yang teratur

− evaluasi aktifitas fisik

− aturan aktifitas fisik untuk individu dalam pencegaran 

primer dan sekunder

Keterampilan

1) Mengambil riwayat penyakit yang relevan dan melakukan 

pemeriksaaan klinis yang tepat

2) Mengevaluasi risiko penyakit kardiovaskular pada individu 

termasuk memakai  Carta Prediksi Risiko Penyakit 

Kardiovaskular WHO dan Framingham

3) Mengevaluasi risiko penyakit kardiovaskular pada populasi 

(mortalitas, morbiditas dan disabilitas)

4) Mengevaluasi manfaat pencegahan pada individu dan 

warga 


5) Menatalaksanai faktor risiko secara tepat, dengan terapi 

farmakologis dan non-farmakologis

6) Mengkomunikasikan pentingnya berhenti merokok, diet dan 

aktifitas fisik kepada pasien, keluarga dan komunitas

7) Mengkomunikasikan pentingnya kepatuhan dan perilaku 

pasien

8) Memotivasi pasien dan keluarganya untuk merubah pola 

hidup dan patuh terhadap dan rekomendasi obat yang 

diberikan

9) Memantau kepatuhan dan perilaku pasien terkait pola hidup

10) Mengevaluasi manfaat intervensi faktor risiko terhadap 

individu

Sikap

1) Sikap tidak menghakimi pasien terkait pola hidupnya 

2) Mencontohkan pola hidup yang sesuai pada pasien;

3) Bekerjasama dengan spesialis lain seperti Ahli Gizi, Ahli 

Diabetes, Nefrologis,  dan spesialis lainnya dalam menangani 

faktor risiko

4) Bekerjasama dengan perawat, dietisen, guru dan politisi 

dalam melakukan pencegahan primer dan sekunder.

d. Kehamilan pada Penyakit Jantung 

(untuk Penyakit Jantung Bawaan/PJB Dewasa digabung ke topik 

PJB)

Tujuan

Melakukan evaluasi jantung, merawat dan menindaklanjuti 

wanita  hamil yang diketahui atau diduga menderita penyakit 

jantung; baik sebelum, selama atau sesudah kehamilan.

Pengetahuan

1) Perubahan fisiologi, hemodinamik, hemostatik dan metabolik 

pada kehamilan

Ekokardiogram normal selama kehamilan dan nifas.

2) Komplikasi yang bisa terjadi pada masa kehamilan dan nifas 


pada wanita  tanpa penyakit jantung:

a) trombo-emboli

b) hipertensi  (pre/eklampsia)

c) kejadian iskemia koroner termasuk sindroma koroner 

akut

d) diseksi spontan koronerm aorta atau vaskualr lain

e) aritmia

f) kardiomiopati peripartal

3) wanita  yang diketahui atau diduga mengidap penyakit 

jantung:

a) kondisi dimana kehamilan merupakan konta-indikasi 

(dianjurkan terminasi pada awal kehamilan)

b) indikasi konseling genetik 

c) kondisikehamilan yang berisiko tinggi mengalami 

komplikasi jantung,  yang memerlukan intervensi 

sebelum tejadi kehamilan

d) rencana follow-up jantung selama kehamilan dan post-

partum

e) kondisi yang memerlukan terapi medikamentosa selama 

kehamilan

f) kondisi yang memerlukan intervensi jantung selama 

kehamilan

g) pemakaian  terapi antikoagulan terutama pasien dengan 

katup prostetik

h) endokarditis saat kehamilan

i) modalitas partus dan indikasinya 

4) Modalitas penilaian janin dan diagnosis kelainan genetic

5) Farmakologi kardiovaskular selama kehamilan dan masa 

menyusui

6) Efikasi, risiko dan kontraindikasi untuk berbagai macam 

metode kontrasepsi pada berbagai jenis penyakit jantung.

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis yang terarah dan pemeriksaan fisik 

yang tepat


2) Mengenali keluhan dan gejala terkait perubahan hemodinamik 

pada kehamilan

3) Membedakan dispnue fisiologis dan patologis pada 

kehamilan

4) Menilai risiko jantung pada kehamilan berdasarkan evaluasi 

klinis dan interpretasi prosedur diagnostik

5) Mengindentifikasi kebutuhan dan melakukan atau  merujuk 

pasien untuk intervensi jantung preventif

6) Melakukan evaluasi klinis dan tindakan diagnostic non-

invasif untuk menilai toleransi jantung pada kehamilan, 

serta menangani komplikasi kardiovaskular yang mungkin 

ditemukan selama kehamilan

7) Memilih obat yang aman dipakai  pada masa kehamilan 

dan laktasi

8) Melakukan uji latih jantung 

9) Melakukan ekokardiografi dan ultrasonografi vaskular 

10) Memilih modalitas pencitraan dengan mempertimbangkan 

keselamatan janin terhadap bahaya radiasi 

11) Menangani kehamilan yang memerlukan  antikoagulan, 

diperlukan kerjasama dengan rumah sakit tersier 

12) Mengevaluasi risiko janin dan ibu pada berbagai intervensi 

jantung

13) Mengevaluasi  kondisi jantung sesudah  kehamilan

14) Menilai risiko jantung terhadap kehamilan berikutnya

Sikap

1) Memahami pentingnya konseling dan edukasi sebelum 

hamil bagi wanita  dengan penyakit jantung beserta 

pasangannya.

2) Kerjasama dengan spesialis obstetri dan bidan dalam 

merekomendasikan pemakaian  kontrasepsi yang aman 

3) Kerjasama multidisiplin (spesialis obstetri, anestesi, 

neonatologis  dan bidan) selama kehamilan untuk 

merencanakan persalinan (tanggal, metode, terapi obat, 

lingkungan medis), peripartal dan post partum.


4) Memahami pentingnya edukasi pasien mengenai gejala-

gejala yang timbul akibat toleransi jantung yang lemah

5) Menginformasikan pada ahli obtetri dan bidan mengenai 

risiko perburukan status jantung pasien pada periode awal 

sesudah  melahirkan.

e. Kardiovaskular Akut dan Perawatan Intensif

Tujuan

1) Menilai dan menangani pasien dengan kegawatan 

kardiovaskular

2) Melakukan bantuan hidup dasar dan lanjut (BLS dan ACLS).

3) Memberikan perawatan intensif bagi pasien kondisi 

kardiovaskular kritis

Pengetahuan

1) Keluhan dan gejala awal kegawatan

2) pemicu  henti jantung-paru, identifikasi pasien berisiko, 

dan penanganan segera pasca henti jantung-paru

3) Pengetahuan dasar dari ilmu pengetahuan dasar klinis 

thd perawatan pasien dengan nyeri dada dan penyakit 

kardiovaskular akut .

4) Algoritme BLS dan ACLS, termasuk indikasi tidak memulai 

atau menghentikan bantuan hidup

5) Kriteria masuk dan keluar rawat intensif

6) Epidemiologi, patofisiologi, diagnosis dan manajemen 

kegawatan kardiak, termasuk sindroma koroner akut,gagal 

jantung akut, syok kardiogenik, aritmia yang mengancam 

hidup, henti jantung dan resusitasi, tamponade jantung, 

emboli paru, disfungsi katup akut dan kegawatan aorta.

7) Pengetahuan penopang sistem kardiovaskular:

a) pemicu , diagnosis, konsekuensi, terapi kegagalan 

sirkulasi dan syok.

b) Indikasi, keterbatasan, komplikasi dam interpretasi 

pemantauan hemodinaik non-invasif dan invasif.

c) Indikasi dan kontraindikasi terapi yang dipakai  


untuk mendukung sirkulasi (cairan, obat inotropik dan 

vasoaktif).

d) Indikasi pemakaian mechanical circulatory assist devices 

(ECMO, Intra Aortic Balloon Pump/IABP), dan piranti lain.

e) Indikasi,  kontraindikasi dan komplikasi akses arteri/vena 

sentral

f) Deteksi dan penanganan berbagai jenis aritmia termasuk 

aritmia saat resusitasi

g) Prinsip penopang  respirasi

h) Fisiologi dan patofisiologi respirasi: pertukaran gas 

exchange, transport O2 dan CO2, hipoxia, hipo- dan 

hiper-capnoea;

i) Interpretasi analisa gas darah arteri dan vena

j) pemicu ,  prevensi, dan tata kelola insufisiensi respirasi

k) Penanganan kegawatan jalan nafas

l) Prinsip terapi oksigen dan seleksi alat penyuplai oksigen

m) Pengetahuan indikasi, seleksi dan manajemen berbagai 

modalitas ventilasi mekanik non invasif dan invasif 

(termasuk prinsip umum ventilasi mekanik dan interaksi 

jantung-paru)

n) Efek ventilasi mekanik terhadap sirkulasi

o) Pathogenesis, diagnosis, pencegahan dan prinsip terapi 

injuri akut paru/acute respiratory distress syndrome(ARDS).

8) Prinsip pemberian cairan, elektrolit dan keseimbangan asam-

basa, dan penopang ginjal

a) Patofisiologi ginjal, regulasi cairan, elektrolit, 

keseimbangan asam-basa

b) pemicu  dan diagnosis, pencegahan dan prinsip umum 

pengelolaan gagal ginjal (akut, kronik dan akut pada 

kronik)

c) Pengetahuan umum tentang terapi renal replacement 

(hemofiltasi dan dialisis)

d) Strategi terapi gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, 

asam basa

e) Indikasi, kontraindikasi dan komplikasi terapi cairan


f) Identifikasi dan pencegahan perburukan faal ginjal 

dengan penyesuaian dosis obat nefrotoksik untuk pasien 

disfungsi/gagal ginjal.

9) Prinsip metabolik dan gastrointestinal

a) Homeostasis kontrol gula darah : patofisiologi, indikasi 

terapi dan pemantauannya

b) Prinsip dasar faal gastrointestinal, motilitas usus

c) Penilaian gizi dan manajemen nutrisi dan kebutuhan 

energy basal

d) Pencegahan tukak lambung

10) Prinsip pencegahan dan terapi infeksi:

a) Epidemiologi dan strategi pencegahan infeksi di 

perawatan intensif

b) Indikasi pengambilan sampel mikrobiologi dan 

interpretasi hasilnya

c) Seleksi, indikasi dan komplikasi, interaksi dan monitoring 

obat anti mikroba yang sering dipakai .

d) Pengetahuan dasar tentang sepsis, septic shock dan 

sindrom respons inflamasi sistemik (systemic inflammatory

response syndrome/ SIRS)

11) Prinsip dukungan lain di perawatan intensif

a) pemicu , keluhan, gejala, konsekuensi dan cara penilaian 

penurunan fungsi neurologi

b) Penilaian nyeri dan penanganannya (analgetik yang 

tepat)

c) Terapi obat dan cara penilaian untuk sedasi

d) Terapi obat dan cara penilaian untuk nyeri

12) Indikasi terapi antikoagulan agresif dan terapi antithrombotik 

berikut mekanisme dari beragam agen lainnya.

Keterampilan

1) Anamnesis dan pemeriksaan fisik secara akurat 

2) Mengenali temuan klinis dan penanganan pasien dengan 

sindroma koroner akut, gagal jantung akut/kronik/akut pada 

kronik, regurgitasi/ stenosis mitral, aorta, trikuspid, dan 


pulmonal, diseksi aorta, emboli pulmonal, iskemia tungkai 

akutdan kegawatan kardiovaskular lainnya. 

3) Melakukan BLS dan ACLS, serta penanganan pasca resusitasi

4) Melaksanakan pendekatan yang sistematik untuk identifikasi, 

tatakelola dan stabilisasi pasien dengan hemodinamik yang 

tidak stabil

5) memakai  alat monitoring dan  secara cepat mendeteksi 

kelainan kardiovaskular yang memerlukan intervesi segera

6) Berpartisipasi dalam membuat keputusan memasukkan, 

memindahkan / mengeluarkan pasien  dari unit perawatan 

intensif

7) Dukungan sistem kardiovaskualr

a) Melakukan kateterisasi arterial, vena sentral dan arteri 

pulmoner (pemasangan kateter Swan-Ganz)

b) Mengukur dan menginterpretasi berbagai kondisi 

hemodinamik

c) Melakukan ekokardiografi dengan benar pada pasien di 

rawat intensif, IGD dan peri-resusitasi, sebagai operator 

mandiri

d) Memasang pacu jantung transvenous atau transtorakal

e) Melakukan perikardiosentesis

f) Menangani berbagai jenis arimia pada berbagai kondisi

g) Memilih dan memakai  cairan, inotropik, vasoaktif, 

antiaritmik

8) Mengelola penopang sistem respirasi

a) Mendeteksi tanda awal gangguan jalan nafas dan 

kegagalan respirasi 

b) Melakukan intubasi trakea dengan cepat

c) Mengambil dan menginterpretasi hasil analisa gas darah 

(arteri, vena sentral dan mixed vein)

d) Mematuhi panduan pencegahan infeksi dan 

memakai  antimikroba secara benar

e) Mengoreksi gangguan keseimbangan cairan, elektrolit, 

metabolik dan glukosa dengan tepat


f) Melakukan penilaian fungsi neurologis (mis.Glasgow 

Coma Scale) 

Sikap

1) Mampu berkomunikasi secara efektif dengan pasien dan 

keluarganya yang sedang dalam kecemasan

2) Mampu berkomunikasi secara efektif dengan anggota 

tim perawatan intensif atau disiplin lain, termasuk dalam 

membuat keputusan meneruskan atau menghentikan 

pengobatan

3) Merespons cepat ketika dibutuhkan baik oleh sesama peserta 

didik, staf  atau perawat

4) Menyiapkan cepat pasien untuk tindakan primary PCI

f. Aktifitas Fisik/ Olah Raga Sebagai Pencegahan Primer, Sekunder 

dan Rehabilitasi Jantung

Aktifitas Fisik

Tujuan 

1) Sebagai strategi untuk mengimplementasikan pola hidup 

sehat melalui aktifitas fisik dan olah raga di warga  

(sebagai pencegaha primer)

2) Mengevaluasi risiko kardiovaskular dan menilai kapasitas 

latihan 

3) Mengenali  karakteristik jantung atlit

4) Menentukan secara akurat kontraindikasi latihan fisik/

kompetisi  dan membuat surat rekomendasi aman melakukan 

kegiatan fisik

Pengetahuan

1) Fisiologi latihan fisik dan oleh raga

2) Manfaat latihan fisik

3) Isue keamanan dalam latihan fisik dan olah raga

4) Kriteria diagnostik dan pemeriksaan yang tepat untuk atlit 

dengan penyakit kardiovaskular


5) Faktor risiko dan mekanisme terjadinya kematian jantung 

mendadak sewaktu atau sesudah  melakukan latihan fisik yang 

berat

6) Menentukan program latihan pada kelompok individu 

tertentu secara akurat

7) Rekomendasi untuk oleh raga kompetitif dan reakreasi 

8) Kematian jantung mendadak pada pasien, atlit dan populasi 

umum

9) Mekanisme kerja obat-obat penguat

Keterampilan 

1) Membuat penilaian risiko kardiovaskular individu dari 

anamnesis, data pemeriksan fisik dan laboratorium (profil 

lipid, kadar glukosa darah)

2) Mengenali perubahan patologis kardiovaskular dan 

membedakannya dengan temuan pada jantung atlit;

3) Menetapkan kelayakan seseorang berpartisipasi olah raga 

kompet


Jantung 2

 


itif

Sikap

Meyakini peran aktifitas fisik dan olah raga dalam promosi 

kesehatan dan pencegahan penyakit yang mematikan seperti 

penyakit kardiovaskular.

Rehabilitasi Jantung

Tujuan

1) Mengevaluasi dan menangani risiko kardiovaskualr 

2) Mengevaluasi kapasitas latihan dan pemicu  intoleransi 

latihan 

3) Merehabilitasi kapasitas fungsional pasien penyakit 

kardiovaskular dan melakukan prevensi sekunder.  

Pengetahuan

1) Fisiologi latihan fisik

2) Manfaat latihan fisik

3) Intervensi faktor risiko melalui penanganan multidisiplin 

4) Definisi pencegahan dan rehabilitasi kardiovaskular yang 

komprehensif 

5) Efek perubahan kebiasaan (misalnya aktifitas fisik, nutrisi, 

berhenti merokok dan faktor risiko psikologis) terhadap 

kualitas hidup, risiko kardiovaskular dan morbiditas serta 

mortalitas

6) Rehabilitasi sebagai komponen parawatan kardiovaskular 

pasien dan komponen penting dalam prevensi sekunder

7) Populasi target dan stratifikasi risiko pasien secara individual

8) Aspek psikologi rehabilitasi dan praktik latihan fisik

9) Mengidentifikasi komponen-komponen program rehabilitasi 

termasuk edukasi pasien, uji latihan dan latihan fisik

10) Mengenali prinsip-prinsip swatatalaksana penyakit kronik

11) Menjelaskan program pada populasi khusus pada situasi 

yang tepat

12) Mengidetifikasi keluaran dan metode penilaian

13) Mendefinisikan hal-hal keamanan

14) Memonitor keikutsertaan dan kepatuhan pasien terhadap 

program.

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan klinis dengan tepat, 

termasuk evaluasi spesifik pada kelompok geriatri

2) Menunjukkan keterlibatan sebagai anggota yang aktif dalam 

tim rehabilitasi multidisiplin

3) Melakukan dan menginterpretasi stratifikasi risiko memakai 

tes yang ada

4) Menginterpretasi tes cardiopulmonary exercise dan 

membedakan berbagai macam pemicu  limitasi 

kemampuan fisik

5) Membuat program rehabilitasi dan intervensi pola hidup 

sesuai kondisi pasien, berkolaborasi dengan spesialis lain bila 

diperlukan

6) Memotifasi pasien untuk mempertahankan kepatuhannya 


mengadopsi pola hidup sehat dan melanjutkan program 

latihan fisik

7) Mendiskusikan masalah aktifitas pekerjaan, sex dll, dengan 

bahasa yang mudah dipahami oleh pasien.

Sikap

1) Rehabilitasi sebagai sebagai komponen penting dari 

perawatan pasien

2) Menjadikan rehabilitasi dan prevensi sekunder sebagai unsur 

penting untuk pekerjaan, pribadi dan kehidupan sosial pasien 

penyakit jantung

3) Menghargai peran profesional lainnya termasuk perawat, 

fisioterapis, ahli gizi, dan tenaga kesehatan lain

4) Mengenali tantangan populasi khusus: penuaan, gender, 

status sosioekonomi, kebudayaan

g. Konsultasi Pasien Penyakit Jantung

Untuk pasien penyakit jantung yang akan operasi non kardiak:

Tujuan

1) Membantu spesialis lain dalam mencegah, menilai dan 

menangani pasien penyakit kardiovaskular yang akan 

menjalani bedah non kardiak

2) Membuat penilaian risiko kardiovaskular secara individual 

untuk dijadikan pedoman tata kelola bedah non kardiak

3) Membangun pendekatan multidisiplin terintegrasi pre dan 

peri-operatif, (anestetis, ahli bedah, tenaga medis lain dan 

juga tenaga keperawatan dan paramedik)

4) Mengoptimalkan kondisi pre-opertif pasien

Pengetahuan

1) Patofisologi respons sistemik dan kardiovaskular terhadap 

stress bedah

2) Patofisiologi komplikasi kardiovaskular selama operasi seperti 

infark perioperatif, aritmia, gagal jantung

3) Kondisi umum pasien, kondisi jantung dan jenis operasi yang 

79______________________________ ______________________________

akan mempengaruhi risiko kardiovaskular saat menjalani 

bedah non-kardiak

4) Efek obat anestesi dan sedasi yang sering dipakai terhadap 

fungsi kardiovaskular

5) Indikasi dan keterbatasan pemeriksaan non invasif jantung 

pra-operasi, termasuk EKG, ekokardiografi, berbagai 

modalitas stress test, CT scan

6) Indikasi angiografi koroner pre-operatif

7) Manfaat dan indikasi klinis terapi farmakologis untuk 

menurunkan risiko kardiovaskular sebelum dan selama 

operasi (beta blocker, statin dan anti platelet)

8) Mencari alternatif jenis operasi dan teknik anestesi (lokal atau 

regional) yang dapat menurunkan risiko kardiovaskular

9) Indikasi untuk revaskularisasi miokardial profilaksis sebelum 

operasi

10) Peran teknik monitoring untuk mendeteksi kejadian peri-

operatif

11) Evaluasi risiko, waktu operasi dan strategi penurunan 

risiko pada pasien dengan kondisi spesifik seperti pasca 

revaskularisasi (intervensi atau bedah), gagal jantung, 

penyakit katup, katup prostetik, aritmia dan device kardiak 

(ICD, pacemaker)

Keterampilan

1) Melakukan penilaian risiko kardiovaskular individual dengan 

memakai  indeks-indeks stratifikasi risiko  sesuai kondisi 

klinis pasien, jenis dan urgensi operasi

2) Memilih, melakukan dan menginterpretasi teknik diagnostic 

non invasif sebelum operasi (EKG, Ekokardiografi, stress test)

3) Bicarakan dengan anestetis tentang manajemen perioperatif 

terkait jenis operasi, teknik anestesi, dan surveilans 

perioperasi.

4) Pilih dan berikan intervensi farmakologis dan non 

faarmakologis yang dapat menurunkan risiko kardiovaskular 

selama operasi.


5) Memutuskan waktu yang tepat untuk operasi dan menentukan 

jenis anti-trombotik pada pasien pasca revaskularisasi di 

mana operasi tidak bisa ditunda.

6) Memeriksa dan mengoptimalkan pengendalian semua faktor 

risiko kadiovaskular untuk mencegah penyakit kardiovaskular 

jangka panjang

7) Mengidentifikasi kebutuhan follow up jantung pasca operasi

Sikap

1) Membangun tim multidisiplin yang mendiskusikan penilaian 

penyakit kardiovaskular dan strategi manajemen peri-

operatif.

2) Membuat dan menjalankan protokol multidisiplin penilaian 

dan manajemen penyakit kardiovaskular

3) Mewaspadai prognosis kardiovaskular pasien yang akan 

dilakukan operasi non kardiak.

Untuk pasien penyakit jantung yang akan operasi kardiak:

Tujuan

1) Membantu spesialis lain dalam mencegah, menilai dan 

menangani pasien penyakit kardiovaskular yang akan 

menjalani bedah kardiak

2) Membuat penilaian risiko kardiovaskular secara individual 

untuk dijadikan pedoman tata kelola bedah kardiak

3) Membangun pendekatan multidisiplin terintegrasi pre dan 

peri-operatif, (anestetis, ahli bedah jantung, tenaga medis 

lain dan juga tenaga keperawatan dan paramedik)

4) Mengoptimalkan kondisi pre-opertif pasien

Pengetahuan

1) Patofisologi respons sistemik dan kardiovaskular terhadap 

stress anestesi dan pemakaian  mesin pintas jantung paru

2) Patofisiologi komplikasi kardiovaskular selama operasi seperti 

infark perioperatif, aritmia, gagal jantung

3) Kondisi umum pasien, kondisi jantung dan jenis operasi 


jantung yang akan mempengaruhi risiko kardiovaskular 

ketika menjalani operasi

4) Efek obat anestesi dan sedasi yang sering dipakai terhadap 

fungsi kardiovaskular

5) Indikasi dan keterbatasan pemeriksaan non invasif jantung 

pra-bedah, termasuk EKG, ekokardiografi, berbagai modalitas 

stress test, CT scan

6) Indikasi angiografi koroner pre-operatif

7) Manfaat dan indikasi klinis terapi farmakologis untuk 

menurunkan risiko kardiovaskular sebelum dan selama 

operasi (beta blocker, statin dan anti platelet)

8) Mencari alternatif jenis operasi jantung dan teknik anestesi 

yang dapat menurunkan risiko kardiovaskular

9) Indikasi untuk revaskularisasi miokardial profilaksis sebelum 

dilakukan operasi jantung

10) Peran teknik monitoring untuk mendeteksi kejadian peri-

operatif

11) Evaluasi risiko, waktu operasi jantung dan strategi penurunan 

risiko pada pasien dengan kondisi spesifik seperti pasien 

dengan fraksi ejeksi yang rendah, aritmia, pemakaian 

antikoagulan/antiplatelet, diabetes, penurunan fungsi ginjal, 

penurunan fungsi hati, geriatri dan lain-lain

Keterampilan

1) Melakukan penilaian risiko kardiovaskular dan non kardiak 

individual dengan memakai  indeks-indeks stratifikasi 

risiko  sesuai kondisi klinis pasien, jenis dan urgensi operasi

2) Memilih, melakukan dan menginterpretasi teknik diagnostic 

non invasif sebelum operasi (EKG, echokardiografi, stress test, 

nuklir)

3) Bicarakan dengan anestetis tentang manajemen perioperatif 

terkait jenis operasi, teknik anestesi, dan surveilans 

perioperasi.

4) Pilih dan berikan intervensi farmakologis dan non 

faarmakologis yang dapat menurunkan risiko kardiovaskular 


dan non kardiak selama operasi.

5) Memutuskan waktu yang tepat untuk operasi dan tatakelola 

pada pasien yang memakai  anti-platelet di mana 

operasi jantung tidak bisa ditunda.

6) Memeriksa dan mengoptimalkan pengendalian semua faktor 

risiko kadiovaskular dan non kardiak untuk mencegah sekuale 

jangka panjang

7) Mengidentifikasi kebutuhan follow up jantung pasca operasi 

jantung.

Sikap

1) Membangun tim multidisiplin yang mendiskusikan penilaian 

penyakit kardiovaskular dan non kardiak, risiko operasi dan 

strategi manajemen peri-operatif.

2) Membuat dan menjalankan protokol multidisiplin penilaian 

dan manajemen penyakit kardiovaskular dan non kardiak 

pada pasien yang akan menjalani operasi kardiovaskular

3) Mewaspadai prognosis pasien yang akan dilakukan operasi 

kardiak.

Untuk Pasien Dengan Gejala Neurologis

Tujuan

1) Mencari sumber emboli jantung dan manifestasi lain 

aterosklerosis (PJK atau PAD) pada pasien dengan gejala 

iskemik neurologis, dan melakukan tata kelola jangka pendah 

dan panjang (pencegahan sekunder stroke).

2) Bekerjasama dengan neurologis dalam mengevaluasi pasien 

dengan gangguan nerurologi seperti sinkope, pusing, 

stroke hemoragik (akibat hipertensi, obat antiplatelet 

atau antikoagulan) dan penyakit neuromuskular dengan 

gangguan jantung

Pengetahuan

1) Epidemiologi, mekanisme, tanda klinis dan opsi terapi pada 

pasien dengan sumber emboli di jantung atau aorta


2) Aterosklerosis sebagai penyakit sistemik yang mengenai 

mengenai vaskular lain (bersamaan)

3) Pentingnya pencegahan stroke pada pasien dengan atrial 

fibrilasi (pemakaian  antikoagulan)

4) Terapi farmakologi dan non farmakologi termasuk indikasi 

untuk intervensi carotis (endarterectomi vs pemasanagn 

stent)

5) Pada pasien dengan manifestasi neurologis non-iskemik

a) Berbagai sebab hilangnya kesadaran sesaat

b) Diagnosis dan terapi medik stroke hemoragik yang 

memerlukan  intervensi neurologis

c) Manajemen terapi antikoagulan/ antiplatelet yang 

diberikan pada pasien penyakit jantung dengan stroke 

iskemik atau hemoragik

d) Patofisiologi, epidemiologi, evaluasi dan manajemen 

yang direkomendasikan pada pasien kardiak dengan 

gangguan neuromuscular yang berkaitan dengan jantung

Keterampilan

1) memakai  ekokardiografi termasuk TEE dan teknik lain 

untuk mencari sumber emboli.

2) Menentukan pemeriksaan lanjutan untuk mencari manifestasi 

aterosklerosis lainnya dan menentukan terapi yang sesuai

3) Membuat strategi pencegahan sekunder, dengan pola hidup 

dan terapi obat

Sikap

Kerjasama dengan neurologis dan radiologis untuk menentukan 

penanganan terbaik pasien dengan stroke iskemik dan stroke 

hemoragik.

Pasien dengan kondisi primer bukan penyakit kardiovaskular

Tujuan 

1) Menangani pasien dengan penyakit non kardiak yang 

mempengaruhi sistem kardiovaskular atau disertai kelainan 


kardiovaskular

2) Waspada pada kondisi tertentu seperti usia tua, diabetes tipe 

I dan II, gagal ginjal kronik, penyakit paru, disfungsi erektil, 

penyakit reumatik.

Pengetahuan 

Diabetes

1) Definisi, klasifikasi, epidemiologi, patologi, komplikasi dan 

prinsip terapi diabetes

2) Diabetes sebagai risiko ekivalen kardiovaskular dan risiko 

gagal jantung (kardiomiopati diabetik)

3) Spesifikasi tatakelola kardiovaskular pada pasien diabetes 

(misal strategi revaskularisasi)

4) Efek kardiovaskular obat-obat antidiabet,

Gagal ginjal kronik

1) Patofisologi, epidemiologi dan implikasi klinik hubungan 

kompleks antara jantung, pembuluh darah dan gagal ginjal 

kronik

2) Pentingnya mengevaluasi fungsi ginjal pasien penyakit 

kardiovaskular

3) Prevensi primer dan sekunder gagal ginjal kronik dengan 

obat-obatan (RAS inhibitor), 

4) Spesifikasi farmakologis (indikasi, kontra indikasi dan 

penyesuaian dosis) obat-obat kardiovaskular pada pasien 

gagal ginjal kronik

5) Strategi menghindari nefropati akibat pemakaian  kontras 

pada waktu pemeriksaan jantung

Lain-lain

Epidemiologi dan manifestasi klinik serta strategi pengobatan 

penyakit kardiovaskular pada kelompok geriatric, penyakit paru, 

disfungsi erektil, penyakit reumatik dan penyakit penyerta lainnya


Keterampilan

1) Mencegah, mengidentifikasi, dan menstratifikasi risiko 

penyakit kardiovaskular, termasuk evaluasi spesifik penyakit 

kardiovaskular pada pasien usia tua

2) Memberikan konseling tentang strategi diagnostik dan terapi

3) Konseling  pasien tentang penurunan risiko jangka panjang

Sikap

memakai  waktu konsultasi untuk mengenali risiko 

kardiovaskular pasien dan memberikan nasihat pola hidup serta 

terapi medikal.

 

h. Hipertensi

Tujuan

1) Mendiagnosis dan mengobati berbagi jenis hipertensi 

2) Mengintegrasikan hipertensi ke dalam evaluasi risiko 

kardiovaskular menyeluruh

3) Mengidentifikasi hipertensi sebagai faktor risiko untuk 

penyakit jantung koroner, gagal jantung, penyakit 

serebrovaskular, penyakit arteri perifer, gagal ginjal, fibrilasi 

atrial dan disfungsi kognitif. 

Pengetahuan

1) Definisi dan klasifikasi hipertensi

2) Patofisiologi hipertensi: dalam kaitan dengan cardiac output, 

resistensi arteri perifer, dan kekakuan pembuluh darah terkait 

usia yang dapat menimbulkan hipertensi primer.

3) Tekanan darah sentral dan hubungannya dengan tekanan 

darah brachial

4) Etiologi dan patofisiologi hipertensi sekunder

a) Hipertensi renovaskular

b) Hipertensi penyakit parenkim ginjal bilateral

c) Hipertensi akibat kantrasepsi hormonal dan estrogen 

terkojugasi

d) Bentuk lain hipertensi sekunder


5) Interaksi antara regulasi tekanan darah dan sleep apnoea

6) White-coat hypertension, mengacaukan penilaian hipertensi 

dan implikasinya dalam pengukuran tekanan darah dan 

terapi

7) Faktor-faktor yang mempengaruhi prognosis hipertensi

8) Gejala dan tanda kerusakan organ target (otak, ginjal, arteri 

besar)

9) Pola hidup untuk mencegah dan mengatasi hipertensi

10) Obat-obat anti-hipertensi: indikasi, dosis, efek samping 

11) Pemilihan obat anti-hipertensi atau kombinasi obat anti-

hipertensi sesuai kondisi pasien (usia, profil, co-morbiditas, 

latar belakang genetik, etnik)

12) Teknik intervensi untuk mengontrol tekanan darah (dilatasi 

atenosis arteri renalis, denervasi arteri renalis).

13) Target-target untuk menurunkan tekanan darah

14) Definisi dan tatalaksana hipertensi refrakter

15) Definisi dan tatalaksana hipertensi maligna

Keterampilan

1) Mengukur dan menginterpretasikan tekanan darah 

dengan tensimeter manual dan otomatis di tempat praktik, 

ambulatoar dan pemantauan tekanan darah di rumah.

2) Mengevaluasi pasien hipertensi secara komprehensif, 

termasuk tes darah (skrining diabetes, disfungsi renal, 

proteinuria dan microalbumin-uria), EKG, ekokardiografi dan 

ultrasonografi vaskular, penilaian tekanan darah sentral, ankle 

brachial index (ABI) dan fundoskopi.

3) Menatalaksanai hipertensi dengan terapi farmakologi/non-

farmakologi

4) Menurunkan risiko kardiovaskular menyeluruh pada pasien 

hipertensi dengan terapi farmakologi dan non-farmakologi

5) Menangani hipertensi maligna


Sikap

1) Berkolaborasi dengan dokter keluarga dan spesialis lain 

dalam penanganan hipertensi, terutama pada pasien geriatri, 

diabetes, gagal ginjal kronik, penyakit serebrovaskular.

2) Mewaspadai dampak hipertensi terhadap organ sistemik dan 

vaskular 

3) Mewaspadai hipertensi sebagai faktor risiko mayor penyakit 

kardiovaskularyang sering tidak terdiagnosa dan tidak 

diterapi adekuat

4) Mewaspadai pengobatan hipertensi yang kurang adekuat 

atau berlebihan

5) Memotivasi pasien untuk patuh minum obat antihipertensi

6) Berpartisipasi aktif dalam pencegahan hipertensi, deteksi 

dini, dan program pengobatan di komunitas.

i. Diabetes Mellitus

Tujuan

Mampu mendiagnosis dan menangani pasien diabetes yang 

bervariasi, mulai dari gangguan toleransi glukosa sampai insulin 

dependen dan komplikasinya.

Pengetahuan

1) Definisi diabetes mellitus

2) Pengaruh diabetes terhadap kejadian penyakit jantung 

koroner meliputi :

a) epidemiologi

b) patofisiologi komplikasi kardiovaskular

c) peran dari intervensi faktor risiko 

d) skrining penyakit jantung koroner (PJK) pada pasien 

diabetes

e) skrining diabetes pada pasien PJK (tes glukosa oral)

3) Menjabarkan patofiologi diabetes, komplikasi kardiak dan 

non-kardiak

4) Menjabarkan terapi: diet, olahraga, obat hipoglikemik dan 

insulin.


5) Menjelaskan perkembangan baru tentang konsep sindroma 

metabolik

Keterampilan

1) Membuat anamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik yang 

tepat

2) Prevensi, diagnosis, terapi diabetes dan komplikasi 

kardiovaskular

3) Secara aktif berpartisipasi pada kerjasama antar dokter 

multidisiplin dan mendukung staf medis dalam mengelola 

pasien diabetes dengan tepat berdasarkan status penyakitnya 

dan komplikasinya.

Sikap

1) Memahami pendekatan multidisiplin pada pasien dengan 

diabetes

2) Menyadari pentingnya memahami perjalanan penyakit 

diabetes dari prevensi dini sampai pada terapi pada kerusakan 

permanen organ

3) Mengetahui pentingnya mengelola pasien diabetes yang 

asimptomatik untuk memperbaiki prognosis.

j. Sindroma Koroner Akut

Tujuan

Mampu melakukan penilaian dan tatalaksana sindroma koroner 

akut (SKA):

1) ST Elevasi Miokard Infark (STEMI), 

2) Non ST Elevasi Miokard Infark (NSTEMI), 

3) Angina Pektoris Tidak Stabil (APTS).

Pengetahuan

1) Kriteria diagnostik SKA 

2) Klasifikasi infark miokard

3) Patofisiologi SKA termasuk ruptur atau erosiplak, trombosis, 

vasospasme, immunitas (bawaan dan didapat), dan nekrosis 


sel. Dampaknya terhadap arteri koroner epikardial, arteri kecil 

mikro-sirkulasi, dan miokard.

4) Patofisiologi SKA non-atrosklerotik (misalnya angina variant, 

diseksi koroner,  kardiomiopati takotsubo,  embolikoroner);

5) Faktor presipitasi SKA

6) Gejala klinis utama SKA; nyeri dada iskemik, pemeriksaan 

sistem kardiovaskuler pada SKA, iskemia terselubung dan 

infark miokard.

7) Teknik menegakkan diagnosis SKA: analisis  keluhan dan 

tanda-tanda klinis, diagnosis banding, rekam EKG 12 lead, 

pemeriksaan laboratorium (troponin dan penanda biokimia 

lainnya), modalitas pencitraaan.

8) Komplikasi potensial yang dapat terjadi pada pasien 

SKA(aritmia dan komplikasi mekanik) dan menetapkan skor 

risiko.

9) Monitoring EKG dan hemodinamik

10) Tatalaksana SKA: pre-hospitalisasi dan terapi farmakologis 

segera sesudah  masuk rumah sakit, serta indikasi intervensi 

koroner perkutan, bedah pintas koroner sesuai penilaian 

klinis dan skor risiko.

11) Sifat, efek, indikasi, kontaindikasi dan efek sekunder dari 

obat analgesik, anti-iskemik, antikoagulasi, fibrinolisis, anti-

platelet, statin dan obat lain untuk pencegahan sekunder 

serta komplikasi pemakaian  obat antitrombotik secara 

bersamaan.

12) Dampak dan terapi co-morbiditas

13) Komplikasi dini dan lambat dari SKA serta penanganannya

Keterampilan

1) Membuat anamnesis yang mengarah dan melakukan 

pemeriksaan klinis yang memadai

2) Memahami dengan baik faktor-faktor risiko, karakteristik 

klinis oklusi koroner dan perjalanan klinis selanjutnya

3) Melakukan pemeriksaan marka biokimiawi ulangan dan 

memahami makna kinetiknya (luas  kerusakan miokard)


4) Interpretasi EKG dan modalitas pencitraaan untuk mendeteksi 

serta menentukan lokasi iskemia atau infark

5) Memanfaatkan algoritme dalam diagnosis

6) Membuat informed consent untuk prosedur invasif

7) Memantaupasien SKA

8) Tatalaksana farmakologis yang tepat: pemakaian  obat 

analgetik, anti iskemia, anti-koagulan, fibrinolitik, antiplatelet, 

statin dan obat lain untuk prevensi sekunder

9) Skor risiko untuk menilai prognosis dan memilih pasien yang 

tepat untuk angiografi dan reperfusi segera (primer) atau 

reperfusi yang tidak segera.

10) Diagnosis dan tatalaksana komplikasi fase akut SKA (gagal 

jantung, syok kardiogenik, aritmia, henti jantung), termasuk 

monitoring hemodinamik secara invasif dan sarana penopang 

hemodinamik (seperti Intra Aortic Balloon Pump dll).

Sikap

1) Memahami makna kerjasama multidisiplin yang dibutuhkan 

dalam mengelola pasien SKA secara optimal

2) Menyadari pentingnya membuat keputusan yang cepat 

dalam pengelolaan pasien SKA saat tiba di IGD hingga 

tindakan terapi definitif dilakukan (guna meminimalkan 

waktu door to ballon/needle)

3) Menyadari kecemasan akibat SKA bagi pasien dan keluarga

4) Memiliki kontribusi dalam meningkatkan kewaspadaan 

rumah sakit jejaring, terhadap keluhan nyeri dada dan 

pentingnya deteksi dini serta kecepatan merujuk pasien 

untuk penanganan yang cepat dan tepat 

5) Memiliki kontribusi dalam meningkatkan kewaspadaan 

warga  awam terhadap keluhan nyeri dada dan segera 

mencari pertolongan.

k. Penyakit Jantung Iskemik (PJK) Kronik

Tujuan

1) Mampu melakukan penilaian dan tatalaksana pasien PJK 


dengan taraf spesialis

2) Mampu menginterpretasi hasil prosedur diagnostik untuk 

mengevaluasi iskemia, fungsi ventrikel dan komplikasi PJK 

kronik

3) Mampu menyeleksi dan memberikan terapi yang tepat untuk 

iskemia, pencegahan sekunder  dan komplikasi PJK kronik

Pengetahuan

1) Epidemiologi PJK kronik  dan faktor risikonya

2) Biologi molekuler dan selular dari PJK Kronik, 

3) Fisiologi arteri koroner

4) Patofisiologi pembentukan plak iskemik, trombosis, 

mekanisme immunologis bawaan dan didapat, vasospasme

5) Dampak iskemia terhadap miokard (stunning, hibernasi, 

viabilitas)

6) Peristiwa yang dapat mencetuskan serangan angina

7) Prognosis PJK kronik

8) Penilaian klinis PJK kronik yang telah diketahui atau dicurigai 

PJK kronik, termasuk diagnosis banding nyeri dada, gejala/

tanda lain. Pemeriksaan noninvasif  diinterpretasikan dengan 

prinsip Bayes.

9) Indikasi dan informasi yang didapat dari prosedur diagnostik 

seperti EKG, stress test dengan berbagai modalitas (dengan 

atau tanpa pencitraan, stress dengan uji latih atau obat) dan 

angiografi koroner

10) Fisiologi uji latih jantung

11) Manajemen PJK kronik termasuk pola hidup dan farmakologis.

12) Indikasi revaskularisasi koroner termasuk intervensi koroner 

perkutan dan bedah pintas koroner (CABG) 

13) Partisipasi sebagai bagian dari Tim Jantung

14) Pengetahuan tentang intervensi alternatif  angina refrakter 

kronik (mis. counterpulsasi eksternal/EECP, denervasi spinal, 

stimulasi spinal cord)


Keterampilan

1) Melakukan anamnesis yang relevan dan pemeriksaan klinis 

yang tepat

2) Menyeleksi pemakaian  dan menginterpretasi prosedur 

diagnostik non-invasif dan invasif, untuk mengevaluasi 

iskemia, viabilitas, struktur dan fungsi ventrikel kiri, serta 

anatomi koroner

3) Menginterpretasi EKG untuk deteksi iskemia dan aritmia

4) Melakukan tatalaksana aritmia yang mengancam hidup, 

iskemia atau keadaan darurat lain (termasuk ACLS) waktu tes 

diagnostik dilakukan.

5) Stratifikasi risiko pasien dan menanganinya secara tepat

6) Mengidentifikasi dan menangai faktor risiko PJK kronik

7) memakai  terapi yang tepat untuk pencegahan sekunder, 

pengobatan iskemia, dan seleksi pasien untuk revaskularisasi.

Sikap

1) Komitmen bekerjasama dalam tim, dan dokter perujuk 

2) Memahami pentingnya manajemen risiko dan prevensi 

sekunder

3) Konsultasi dengan spesialis seperti intervensionis, dokter 

bedah jantung dan diabetologis mengenai manajemen yang 

tepat untuk pasien

4) Bila tidak memiliki  ahli bedah jantung, perlu kolaborasi 

dengan intervensionis dan ahli bedah jantung di rumah sakit 

lain.

l. Penyakit Miokardial

Tujuan

Mampu melakukan penilaian dan terapi spesialistik pada pasien 

dengan kardiomipati dan miokarditis.


Pengetahuan

Kardiomiopati

1) Definisi dan epidemiology kardiomipati dilatasi, hipertrofi, 

restriktif, aritmogenik dan kardiomiopati lain yang tidak 

terklasifikasi.

2) Patofisiologi: genetik, penyakit yang bisa menyebabkan 

kardiomiopati, gambaran klinis dan kriteria diagnosis 

kardiomiopati 

3) Terapi medik dan invasif (bedah, elektrofisiologi dan 

intervensi) dari kardiomipati: indikasi, kontraindikasi, efek 

samping

4) Faktor penentu prognosis

Miokarditis 

1) Definisi miokarditis, etiologidan fasenya (akut, sub-akut, 

kronik)

2) Gambaran klinis, teknik pencitraan (terutama CMR), patologi 

dan kriteria diagnosis dari miokarditis infektif dan non infektif

3) Terapi miokarditis dan komplikasinya.

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat

2) Interpretasi data diagnosis (EKG, EKG Ambulatoar, 

ekokardiografi, treadmill, roentgen, kateterisasi, angiografi 

koroner, MRI dan radionuklir, biopsy endomiokardial, 

pemeriksaan genetik)

3) Memilih terapi dan modalitas pendukung (medik, intervensi, 

bedah, ICD/ CRT, alat bantu, IABP dll) 

4) Menilai prognosis tiap individu terkait kebutuhan transplantasi

5) Evaluasi untuk biopsi endomiokardial, menginterpretasi 

hasilnya dan potensi risiko prosedur.

Sikap. 

1) Membangun kerjasama medis dengan tenaga medis 

profesional (bidang imunologi, bakteriologi, genetik, bedah 


toraks kardiovaskular dan pencitraan) untuk diferensiasi 

diagnosis penyakit miokardial dan terapi lanjutan

2) Mewasdai kemungkinan kardiomiopati infiltratif bila 

ditemukan pasien gagal jantung  dengan hipertrofi tanpa 

pemicu  pasti 

3) Kepekaan untuk melakukan konseling pasien kardiomipati 

dan keluarganya karena sifat herediternya, serta menjelaskan 

manfaat maupun limitasi tes genetik dan skrining fenotipe.

m. Penyakit Perikardial

Tujuan

Mampu memeriksa, mendiagnosa, mengobati penyakit 

perikardial.

Pengetahuan

1) Definisi dan klasifikasi:

a) perikarditis akut (infektif, idiopatik, atau keganasan)

b) perikarditis ulangan

c) perikarditis kronik

d) efusi perikard dan tamponade jantung

e) perikarditis konstriktif dan efusif - konstriktf

2) Epidemiologi, patofisiologi, dan etiologi perikarditis 

(termasuk kelainan infektif, inflamasi, dan neoplastik)

3) Pemeriksaan yang relevan: laboratorium, non invasif dan 

invasif

4) Membedakan  perikarditis konstriktif dengan kardiomiopati 

restriktif

5) Indikasi perikardiosentesis

6) Terapi medikamentosa untuk mengatasi inflamasi perikard

7) Tatalaksana perikarditis dan komplikasinya

8) pemicu  timbulnya fisiologi konstriktif  sesaat 

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sesuai

2) Mengenali kelainan EKG pada perikarditis akut


3) memakai  modalitas pencitraan non invasif: 

ekokardiografi, CMR, CT scan dan prosedur  invasif untuk 

mendiagnosa penyakit perikardial

4) Mengevaluasi status hemodinamik

5) Menentukan etiologi dari efusi perikard

6) Mampu membedakan perikarditis dengan iskemia miokard 

secara klinis

7) Melakukan perikardiosintesis pada pasien-pasien yang 

sesuai.

Sikap

1) Mempertimbangkan penyakit perikardial dalam diagnosa 

banding pasien-pasien dengan penyakit kardiovaskular

2) Tanggap terhadap berbagai strategi diagnostik dan terapi 

yang dibutuhkan pada tiap-tiap kasus penyakit perikardial

3) Bekerja sama dengan intensivis, anestetis, radiologis, bedah 

jantung

n. Onkologi Kardiak

Tujuan

1) Mengembangkan pengetahuan tentang manifestasi tumor 

jantung primer ( jinak dan ganas), dan tumor jantung 

metastatik;

2) Mengevaluasi efek kardiovaskular dari keganasan dan terapi 

kanker (kemoterapi, radioterapi, dan operasi kanker);

3) Ikut berpartisipasi dalam pengelolaan pasien dengan tumor 

yang melibatkan jantung dan komplikasi kardiovaskular yang 

terkait dengan pengobatan keganasan non-kardiak

Pengetahuan

1) Gejala dan tanda tumor jantung, termasuk sistemik dan 

manifestasi embolik;

2) Klasifikasi, diagnosis, dan terapi tumor jantung primer dan 

metastasis;

3) Efek onkoagulasi tumor dan terjadinya tromboemboli;


4) Obstruksi aliran darah yang disebabkan oleh proses 

proliferative (misalnya sindroma vena kava, atrial myxoma, 

kompresi arteri pulmonalis);

5) Efek radioterapi toraks pada perikardium, miokardium, sistem 

konduksi dan arteri koroner;

6) Efek toksik pada jantung akibat terapi kanker, misal: 

Anthracyclines, Trastuzumab, dan terapi yang ditargetkan 

pada protein kinase;

7) Efek samping lainnya dari obat kemoterapi: iskemia miokard, 

trombosis, dan emboli; perubahan tekanan darah, irama dan 

gangguan konduksi: bradikardia dan blok jantung, takikardia, 

aritmia;

8) Komplikasi perangkat akses vena permanen;

9) Strategi mencegah efek samping obat-obatan kemoterapi 

(mis. statin).

Keterampilan

1) memakai  modalitas pencitraan yang tepat untuk 

mendiagnosis tumor primer dan metastatik, membedakan 

tumor dari massa jantung non-neoplastik seperti trombi, 

vegetasi, strukturvarian normal;

2) Mengevaluasi sistem kardiovaskular pasien sebelum terapi 

kanker;

3) Mengevaluasi sistem kardiovaskular selama dan sesudah 

terapi kanker;

4) Menangani komplikasi kardiovaskular pasien onkologi

Sikap

1) Sebagai anggota tim yang mampu bekerja sama dengan 

dokter umum, ahli onkologi, perawat onkologi, ahli radiologi, 

dan ahli bedah;

2) Kesediaan merujuk pasien onkologi untuk evaluasi jantung 

invasif dan biopsi jantung bila ada indikasi;

3) Pendekatan empati dan suportif pada pasien onkologiyang 

psikisrentan


o. Penyakit Jantung Bawaan (PJB)

Tujuan

1) Menilai, menangani dan memantau pasien PJB sederhana 

dan yang kompleks semua usia untuk kemudian merujuk ke 

rumah sakit yang mampu menangani.

2) Mengenali kegawatan pada pasien PJB semua usia atau anak-

anak dengan penyakit jantung didapat, stabilisasi kondisi 

pasien sebelum dirujuk.

Pengetahuan

1) Epidemiologi, etiologi, embriologi PJB utama 

2) Fisiologi sirkulasi janin dan sirkulasi transisi.

3) Anatomi jantung, vena dan pembuluh darah utama, kelainan 

bawaan yang sering terjadi dan  prinsip nomenklatur 

4) Cara menegakkan diagnosis dan pemeriksaan penunjang 

yang diperlukan.

5) Prinsip penatalaksanaan PJB.

6) Kelainan genetika dan herediter yang sering menyertai PJB

7) Patofisiologi, perjalanan alami dan komplikasi spesifik PJB :

a) defek septum (Atrial Septal Defect/ ASD, Ventricular 

Septal Defect/ VSD, Atrioventricular Septal Defect/AVSD)

b) patent ductus arteriosus (PDA) dan Aorto-Pulmonary 

Window

c) hipertensi pulmonal dan sindroma  Eisenmenger;

d) kelainan katup bawaan: stenosis/atresia/regurgitasi katup 

pulmonal, aorta, mitral, trikuspid, anomali Ebstein;

e) anomali vena;

f) Transposition of the Great Arteries (complete, congenitally 

corrected);

g) Tetralogi Fallot

h) kelainan hubungan atrioventrikuler

i) kelainan hubungan ventrikulo-arterial: Double Outlet 

Right Ventricle (DORV), Double Outlet Left Ventricle 

(DOLV)

j) Truncus arteriosus


k) Malformasi arteri koroner bawaan

l) Malformasi arteri pulmonal bawaan

m) Malformasi arteri sistemik bawaan

n) Malformasi koneksi vena pulmonalis bawaan

o) Malformasi koneksi vena sistemik bawaan

p) Kelainan arkus aorta (coarctatio aorta, Interrupted aortic 

arch, hypoplastic isthmus)

q) Kelainan jantung bawaan kompleks

r) Gangguan konduksi listrik jantung bawaan

s) Demam rematik dan penyakit jantung rematik (Lihat 

modul demam rematik dan penyakit jantung katup).

t) Penyakit Kawasaki

u) Penyakit Takayashu

v) Penyakit jantung akibat penyakit infeksi, imunologi, dan 

sistemik 

w) Sirkulasi jantung univentricular 

8) Aritmia dan gangguan konduksi bawaan

9) Patofisiologi, perjalanan alami dan komplikasi berbagai jenis 

intervensi non bedah, bedah paliatif dan korektif pada PJB.

10) Gejala fisik PJB dan komplikasinya

11) Teknik diagnosis

12) Prinsip terapi medis, intervensi dan bedah

13) Pencegahan endokarditis infektif

14) Bahaya kehamilan, kontrasepsi, penyakit kambuhan dan 

bedah non- kardiak pada pasien PJB

Keterampilan

1) Mendapatkan riwayat penyakit yang relevan dan melakukan 

pemeriksaan fisik yang sesuai.

2) Memilih teknik penunjang diagnosis yang sesuai 

3) Melakukan dan menginterpretasi pemeriksaan penunjang 

non invasif dan invasif yang diperlukan untuk diagnosis.

4) Memberikan terapi sesuai kondisi kelainan yang ditemukan.

5) Menangani kegawatan yang mungkin terjadi.

6) Melakukan intervensi invasif darurat jika diperlukan.


7) Menangani hipertensi pulmonal dan eritrositosis sekunder

8) Melakukan follow up jangka panjang, termasuk monitor 

pasien dan nasihat gaya hidup.

9) Melakukan rehabilitasi pra dan pasca operasi

Sikap

1) Memahami pentingnya merujuk pasien untuk konsultasi 

subspesialis.

2) Memahami pentingnya survailans jangka panjang  pasien PJB

3) Memahami pentingnya penanganan multidisiplin, konseling 

genetik.

4) Memahami kesulitan sosial dan emosional yang dialami 

orang tua pasien ataupun pasien PJB dewasa atau penyakit 

jantung didapat.

p. Demam Reumatik dan Penyakit Katup Jantung

Tujuan

1) Menilai dan menangani pasien dengan demam rematik 

akut.

2) Menilai, menangani dan merujuk sesuai dengan kondisi 

pasien dengan penyakit jantung rematik dan penyakit 

jantung katup lainnya.

3) Melakukan penilaian spesialistik, pengobatan dan follow up 

pasien dengan kelainan pada:

a) katup jantung asli (native): mitral, tricuspid, aorta dan 

pulmonal

b) katup yang direparasi dengan cara operasi atau intervensi

c) katup yang diganti dengan cara operasi atau intervensi

4) Mampu merencanakan dan melakukan pencegahan primer 

dan sekunder Demam Rematik dan Penyakit Jantung Rematik

Pengetahuan

1) Etiologi, patofisiologi, patologi-anatomi, kelainan katup pada 

demam rematik, penyakit jantung rematik dan penyakit 

jantung katup lainnya.


2) Perjalanan alamiah dan perkembangan penyakit

3) Kelebihan dan keterbatasan teknik diagnosis invasif dan non 

invasif

4) Manfaat dan keterbatasan berbagai skor yang dipakai  

untuk menilai risiko pada penyakit jantung katup

5) Indikasi dan tatalaksana pemakaian  terapi antikoagulan 

6) Dampak adanya penyakit jantung koroner pada penyakit 

katup jantung, serta konsekuensinya dalam tindakan bedah

7) Manajemen medikamentosa dan follow up penyakit katup 

jantung baik yang asli maupun prostetik, yang direparasi 

maupun yang diganti.  

8) Prinsip penanganan pasca bedah

9) Perubahan yang terjadi pada fungsi ventrikel dan resistensi 

pembuluh darah paru sesudah  bedah atau intervensi non 

bedah

10) pemakaian  diuretik, vasodilator, inotropik dan obat vasoaktif 

11) Etiologi, komplikasi dan farmakologi untuk pencegahan 

primer dan sekunder Demam Rematik dan Penyakit Jantung 

Rematik

12) Insidens dan prevalensi Demam Rematik dan Penyakit 

Jantung Rematik di Indonesia

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sesuai

2) Memilih tehnik invasif maupun non invasif yang tepat

3) Menginterpretasikan hasil prosedur diagnostik

4) Menentukan indikasi dan waktu intervensi perkutan/operasi 

yang tepat

5) Menilai risiko dan manfaat suatu tindakan intervensi katup 

6) Mengetahui dan mampu menangani komplikasi yang 

dapat terjadi pada pasien dengan katup buatan atau pasca 

intervensi.

7) Mampu memberikan edukasi tentang demam rematik dan 

penyakit jantung rematik pada pasien, keluarga pasien dan 

warga  sekitarnya.


Sikap

1) Memahami pentingnya edukasi pasien tentang perjalanan 

alamiah penyakit jantung katup baik rematik atau non-

rematik, pemberian antikoagulan, pencegahan endokarditis 

bakterial, pencegahan demam rematik berulang, risiko dan 

manfaat berbagai jenis intervensi katup dan pemilihan katup 

buatan.

2) Merekognisi kepatuhan pasien

3) Mengetahui follow up yang tepat berdasarkan kondisi klinis 

post operasi atau intervensi katup

4) Komitmen kerjasama dalam tim dengan ahli bedah 

kardiovaskular, intervensiovis, anestesi dan intensivis serta 

tenaga medis lainnya. 

q. Infektif Endokarditis (IE)

Tujuan

1) Menilai, mendiagnosis dan mengobati pasien infektif 

endokarditis

2) Melakukan upaya pencegahan pada pasien yang berisiko, 

termasuk pencegahan infeksi nosokomial.

Pengetahuan

1) Epidemiologi IE dalam kaitannya dengan peningkatan jumlah 

populasi usia tua, intervensi bedah, implantasi prostetik 

kardiak

2) Patologi, patogenesis dan mikrobiologi endokarditis

3) Gambaran klinis berbagai jenis IE, termasuk pada katup asli, 

jantung kanan, katup prostetik (segera atau jangka panjang 

sesudah  operasi), infeksi terkait pemakaian  kateter/ device 

kardiak (pacemaker, ICD dll)

4) Klasifikasi IE berdasarkan cara akuisisinya: 

a) nosokomial

b) non-nosolomial 

c) community-acquired;

d) pemakaian  obat narkotik intravena


5) IE aktif atau berulang (relaps, re-infeksi)

6) Keluhan dan gejala IE

7) Pemeriksaan laboratorium termasuk mikrobiologi dan 

keterbatasannya

8) Pencitraan jantung (TEE, MRI, CT scan) 

9) Pemilihan dan penanganan terapi antibiotik serta 

monitoringnya

10) Peranan operasi pada pasien dengan endokarditis

11) Komplikasi dan penanganannya

12) Pencegahan Endokarditis

a) Cara-cara mengurangi atau mencegah bakteraemia

b) Kondisi jantung yang paling berisiko mengalami IE

c) Prosedur yang dianggap berisiko menimbulkan IE

d) Indikasi pemakaian  antibiotic pencegahan IE

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik yang 

tepat

2) Memilih pemeriksaan laboratorium dan prosedur diagnostik 

yang tepat

3) Melakukan evaluasi prognosis segera sesudah  pasien masuk 

rumah sakit

4) Memilih regimen antibiotik yang tepat dan memantaunya 

dengan ketat

5) Merencanakan follow up jangka pendek dan jangka panjang

6) Dapat menentukan kebutuhan dan waktu yang tepat untuk 

pembedahan

7) Mampu mengatasi komplikasi

8) Pencegahan Endokarditis

a) Memastikan pasien memiliki  hygiene oral yang baik

b) Memberi antibiotik yang tepat untuk profilaksis pasien 

berisiko tinggi IE


Sikap

1) Melakukan pendekatan multidisiplin dengan ahli bedah 

jantung, ahli mikrobiologi, ahli infeksi untuk diagnosis dan 

penanganan

2) Memahami pentingnya edukasi pasien dan dokter tentang 

profilaksis dan pencegahan infeksi nosokomial, serta 

kepatuhan upaya pencegahan ini

3) Secara konsisten memberikan informasi kepada pasien yang 

berisiko dan para praktisi, tentang pentingnya pencegahan 

dan gejala awal IE.

r. Gagal Jantung

Tujuan

1) Untuk mengenali dampak gagal jantung terhadap morbiditas 

dan mortalitas individu pasien dan populasi luas

2) Mengenali gagal jantung  dan sebab-sebab yang mendasari 

3) Melakukan penilaian dan penanganan spesialistis pasien 

gagal jantung.

4) Membangun kerjasama tim

5) Membangun struktur untuk mengevaluasi pasien sesudah  

keluar rumah sakit

Pengetahuan

1) Definisi gagal jantung

2) Epidemiologi, patofisiologi dan prognosis gagal jantung 

akibat disfungsi sistolik dan disfungsi diastolik

3) Faktor presipitasi gagal jantung

4) Klasifikasi gagal jantung menurut AHA (klas A-D), klasifikasi 

Weber-Janicki (peak Vo2)

5) Klasifikasi keterbatasan fungsional menurut NYHA

6) Prosedur diagnostik pasien yang diketahui atau dicurigai 

gagal jantung, termasuk natriuretic peptide, EKG, ambulatory 

ECG, elokardiografi, CMR, stress testing, kateterisasi jantung

7) Pentingnya co-morbiditas untuk prognosis gagal jantung: 

anemia, disfungsi renal, depresi, penyakit paru obstruktif 


kronis, cachexia

8) Evaluasi untuk menentukan prognosis

9) Tatalaksana medikamentosa gagal jantung akut dan kronik

10) Tatalaksana memakai  alat: CRT dan ICD 

11) Terapi pendukung termasuk teknik ventilasi non invasif, 

ultrafiltasi, dialisis

12) Memahami intervensi seperti revaskularisasi perkutan dan 

bedah, mitral clip, tansplantasi dan jantung artifisial

13) Pengaruh revaskularisasi terhadap prognosis pasien gagal 

jantung

14) Peran program latihan fisik pada pasien gagal jantung

15) Komplikasi gagal jantung

16) Pengaruh pengelolaan multidisiplin termasuk home base 

nursing dan telemedicine pada pasien gagal jantung, juga 

monitoring tekanan pengisian venrikel kiri dan marka 

biokimia serial.

17) Mengenali pentingnya status volume dan evaluasi fungsi 

ginjal dan elektrolit pada pasien gagal jantung

18) Prinsip perawatan paliatif

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis yang relevan dan melakukan 

pemeriksaan klinis yang sesuai,  untuk mendeteksi keluhan, 

gejala dan tanda klinis awal gagal jantung

2) Memilih dan memakai  teknik diagnostik untuk 

membedakan pemicu  yang mendasari gagal jantung, 

mengevaluasi status volume, curah jantung dan tekanan 

arteri pulmoner.

3) Mengedukasi pasien dan keluarganya tentang manajemen 

perawatan mandiridan kepatuhan minum obat, serta 

mengadopsi pola hidup sehat.

4) Menangani pasien gagal jantung akut dan kronik dengan 

medikamentosa 

5) Nasihat pola hidup dan strategi perawatan rumah

6) Stratifikasi risiko dan memilih terapi farmaklogis atau terapi 


lainnya

7) Evaluasi pasien gagal jantung dalam follow up dan terus 

menerus menyesuaikan obat sesuai kondisi pasien

Sikap

1) Menekankan pentingnya edukasi pasien tentang pola hidup 

sehat, olahraga dan penurunan berat badan, pengaturan 

diet, restriksi cairan serta kepatuhan minum obat.

2) Memahami pentingnya rehabilitasi dan latihan fisik teratur

3) Komitmen bekerjasama dengan subspesialis yang terkait 

dengan penangaan pasien gagal jantung, juga dengan 

perawat home care

4) Memahami pentingnya terapi suportif dan perawatan paliatif 

bagi pasien dengan gagal jantung yang lanjut

s. Hipertensi Pulmoner (Pulmonary Hypertension/ PH)

Tujuan

1) Dapat mendiagnosa PH

2) Dapat membedakan antara berbagai pemicu  PH

3) Dapat menatalaksana secara optimal pasien PH

Pengetahuan

1) DefinisiPH dan klasifikasi berdasarkan patofisologi

2) Klasifikasi klinis PH dan rasionalisasinya

3) Epidemiologi PH: insidensi, prevalensi, etiologi, genetik, 

kelompok risiko tinggi

4) Patologi dan patofisiologi berbagai jenis pemicu  PH

5) Kriteria diagnosis PH

6) Petanda prognostik PH

7) Tatalaksana PH (medis, intervensi termasuk balloon atrial 

septostomydan bedahend-arterectomy pulmoner: indikasi, 

kontraindikasi dan kemungkinan efek samping)

8) Komplikasi PH dan cara penanganannya


Keterampilan

1) Melakukan anamnesis yang relevan dan pemeriksaan klinis 

yang sesuai

2) Mengenali tanda-tanda klinis kecurigaan PH dan penyakit 

penyerta

3) Membedakan PH dengan penyakit lain yang bergejala sama

4) Melakukan dan menginterpretasikan penilaian medis yang 

akurat, memakai  hasil laboratorium termasuk analisa 

gas darah dan marka biokimia jantung, tes fungsi pulmoner, 

EKG, ekokardiografi, tes jalan 6 menit, ventilation-perfusion 

lung scan, CT spiral, MRI, kateterisasi jantung dan angiografi 

pulmoner, biopsi paru

5) Meresepkan tatalaksana medikal dan invasif (bedah, 

intervensional)

6) Memberikan nasihat tentang rencana berkeluarga 

7) Merujuk keluarga dekat PH herediter untuk konseling genetik

8) Mengevaluasi petanda prognostik klinis dan hemodimanik

9) Merencanakan perawatan akhir hidup  bagi yang 

memerlukan 

10) Melakukan skrining pada anggota keluarga dekat

Sikap

1) Membina kerjasama dengan dokter keluarga dan profesional 

kesehatan lainnya (bedah thorax, intervensionis, anesthetis) 

untuk mengenali secara dini PH primer, dan merujuk sesuai 

waktu untuk intervensi.

2) Mendorong keterlibatan pasien dan anggota keluarganya 

dalam kegiatan mengadopsi gaya hidup sehat dan kepatuhan 

pengobatan

3) Mewaspadai peningkatan prevalensi PH pada kondisi medis 

lainnya seperti skleroderma

4) Merujuk ke spesialis PH bila dibutuhkan


t. Aritmia

Tujuan

Menilai dan menangani pasien dengan aritmia dan gangguan 

irama jantung

1) Elektrofisologi (EP)

a) Memilih pasien yang sesuai untuk indikasi EP

b) MemahamiEP untuk kepentingan diagnosis dan 

penatalaksanaan aritmia

2) Pacing

a) Memilih pasien yang memerlukan tindakan pemasangan 

pacu jantung. 

b) Melakukan pemasangan pacu jantung sementara secara 

mandiri

c) Memahami pacu jantung permanen dan cara 

memprogramnya, 

3)  Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD)

a) Menyeleksi pasien yang memerlukan ICD dan cara follow 

up

b) Memahami pemakaian  ICD, cara memprogram dan 

follow up

4) Cardiac Resynchronization Therapy (CRT)

a) Menyeleksi pasien yang memerlukan pemasangan CRT 

b) Memahami pemakaian  ICD, cara memprogram dan 

follow up

5) Genetik

Mendiagnosis dan menangani penyakit aritmogenik 

herediter, dan memintakan tes dan konsultasi genetik bagi 

pasien dan keluarga dekatnya

Pengetahuan

1) Definisi dan klasifikasi: 

a) bradikardia

b) takikardia :

− suparventrikuler aritmia termasuk atrial fibrilasi dan 

flutter


− ventrikuler aritmia

2) Epidemiologi, patofisiologi, diagnostik dan tampilan klinis 

dari berbagai jenis aritmia dan gangguan konduksi

3) Aritmi yang herediter

4) Prognosis, termasuk evaluasi risiko

5) Gambaran EKG istirahat yang berisiko tinggi: long QT, 

Brugada, aritmogenik kardiomiopati, dan cathecholaminergic 

VT

6) Farmakologi dari berbagai macam obat anti aritmia dan efek 

aritmogenik obat-obat kardiovaskular dan obat lainnya

7) Pencegahan komplikasi tromboembolik dari atrial fibrilasi 

dan flutter

8) Prinsip-prinsip elektrokardiografi, elektrofisiologi pada 

berbagai jenis aritmia dan tindakan atau pemasangan alat 

untuk mengatasi aritmia (ablasi, pacemaker sementara/ 

permanen, ICD, CRT, tindakan bedah)

9) Pentingnya kelainan penyerta seperti penyakit jantung 

koroner, PJB dalam penanganan aritmia.

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat

2) Mendeteksi aritmia dari EKG 12 sandapan

3) Melakukan ACLS

4) Menangani aritmia akut dengan obat

5) Menangani aritmia akut dengan kardioversi

6) Meresepkan obat preventif aritmia yang tepat

7) Melakukan dan menilai monitoring elektrokardigrafi (Holter 

dan perekaman EKG jangka panjang lainnya)

8) Interpretasi hasil pemeriksaan elektrofisiologi study

9) Merujuk pasien untuk ablasi dan melakukan follow up pasca 

ablasi

10) Memahami indikasi konseling genetik untuk aritmia herediter 

(channellopathies  dan kardiomiopati).

11)  Pacing, ICD dan CRT


memiliki  kemampuan:

a) Memasang pacu jantung temporer

b) Melakukan follow up pasien dengan pacu jantung, merujuk 

ke rumah sakit tersier bila ada masalah kecuali bila 

disebabkan oleh lemahbatere

c) Follow up dasar ICD dan CRT bekerjasama dengan rumah 

sakit tersier

Sikap

1) Memahami ketegangan yang dirasakan pasien dengan 

aritmia, berbagai metode tindakan (ablasi kateter, defibrilasi, 

dan pemasangan alat)

2) Memahami efek paliatif dan efek samping pemakaian  obat/

alat

3) Kerjasama ahli EP dengan spesialis gagal jantung pada pasien 

dengan CRT

u. Fibrilasi Atrium (Atrial Fibrilation /AF)

Tujuan

Penilaian dan penanganan spesialistik pasien Atrial Fibrilation 

(AF)

Pengetahuan

1) Epidemiologi, patofisiologi dan prognosis AF

2) Klasifikasikan AF

3) Diagnosis, gambaran klinis, dan pengaruhnya terhadap 

kualitas hidup

4) Identifikasi kondisi pemicu AF

5) Pentingnya kelainan struktural penyerta terhadap hasil dan 

implikasinya terhadap tatalaksana AF

6) Prosedur diagnosis disesuaikan dengan kondisi pasien

7) Diagnosis dan pencegahan trombosis atrial dan komplikasi 

emboli memakai  skor risiko emboli dan skor risiko 

perdarahan

8) Indikasi, kontraindikasi, efek samping dan komplikasi : 


a) Terapi antitrombotik (termasuk antagonis vitamin K, 

antagonis trombin reseptor atau faktor Xa dan heparin 

low-molecular-weight)

b) Kontrol ritme vs kontrol laju jantung

c) Terapi anti aritmia 

d) Konversi farmakologis 

e) Pencegahan AF berulang

f) Konrol laju jantung secara farmakologis

g) Terapi defibrilator pacu jantung

h) Terapi pacu jantung dan ICD

i) Ablasi kateter untuk AF


j) Ablasi bedah untuk AF dan oklusi apendiks atrium kiri 

(LAA)

k) Ablasi kateter AV node

l) Oklusi LAA dengan alat perkutan

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis dan melakukan pemeriksaan klinis 

yang tepat 

2) Melakukan atau menginterpretasikan 

a) Elektrokardiogram

b) Ekokardiogram trans-torakal dan transesofageal

c) Pemantauan/monitoring EKG yang diperpanjang 

(contohnya pemantauan / monitoring Holter)

d) Uji latih jantung

3) Menetapkan skor risiko trombosis dan risiko perdarahan

4) Menyusun strategi antitrombotik yang tepat untuk 

pencegahan stroke iskemik dan embolisme sistemik

5) Memilihpasien untuk tindakan yang disebut pada : 

Pengetahuan (8)

6) Melakukan secara mandiri:

a) Terapi antitrombotik, merubah dari satu antitrombotik ke 

yang lain

b) Melakukan terapi kontrol irama vs kontrol laju jantung

c) Terapi anti aritmia secara farmakologis


d) Kardioversi secara farmakologis

e) Kontrol laju ventrikel secara farmakologis

f) Kardioversi defibrilator

Sikap

1) Memahami kecemasan pasien AF terkait palpitasi, terapi 

antikoagulan,dan tindakan invasif

2) Menyadari keterbatasan dan risiko terapi obat antiaritmia 

pada AF

3) Menyadari pentingnya terapi antikoagulan

4) Menyadari keterbatasan dan risiko terapi memakai  alat/

device

5) Menyadari pentingnya pemberian informasi dan edukasi 

pada pasien dan pengasuhnya

6) Kerjasama dengan dokter keluarga, perawat, elektrofisiologis, 

ahli bedah, hematologis dan tenaga kesehatan lain.

v. Sinkope

Tujuan

1) Mendefinisikan sinkope

2) Membedakan sinkope dari pemicu  lain hilangnya 

kesadaran 

3) Menilai dan mengobati pasien dengan sinkope

Pengetahuan

1) Epidemiologi dan prevalensi sinkope dengan berbagai sebab

2) Patofisiologi sinkope

3) pemicu  sinkope dan bentuk lain hilangnya kesadaran 

(misal: sinkope dimediasi oleh refleks saraf, serangan Adams-

stokes, hipotensi ortostatik)

4) Stratifikasi risiko pasien sinkope dan indikasi rawat 

5) Evaluasi diagnostik :

a) Riwayat sinkope menurut keterangan pasien dan saksi 

mata, dengan fokus kondisi lingkungan saat terjadi 

sinkope terjadi


b) Evaluasi awal (pemeriksaan fisik, EKG)

c) Kepatutan untuk melakukan  pemeriksaan lain:

− Pijat sinus karotis

− Tes respons ortostatik 

− Ekokardiogram

− Uji latih beban

− Uji tegak (Tilt testing)

− Pemantauan EKG (Holter monitoring, perekam 

eksternal dan implantable loop recorder)

− Kateterisasi jantung dan angiografi koroner

− Uji elektrofisiologi

6) Mendeskripsikan pengobatan, berdasar alat, farmakologi 

atau manufer:

a) refleks sinkope yang dimediasi saraf

b) hipotensi ortostatik

c) aritmia jantung sebagai pemicu  primer

d) penyakit struktur jantung atau penyakit kardiopulmonal.

Keterampilan 

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan   klinik yang tepat

2) Mengerjakan atau mengintepretasikan: berbagai macam 

pemeriksaan yang disebut dalam pengetahuan

3) Melakukan stratifikasi risiko

4) Memilih pengobatan yang tepat bagi pasien, edukasi dan 

meyakinkan pasien: manufer fisik, terapi obat, implantasi alat

Sikap

1) Memahami dampak sinkope terhadap gaya hidup pasien

2) Memahami bahwa sinkope merupakan gejala sementara dan 

bukan merupakan suatu penyakit

3) Konsultasi dengan spesialis lain

4) Memahami bahwa diagnosis sinkope seringkali presumptif 

(dugaan)

5) Mengenali bahwa kebanyakan sinkope tidak memerlukan 

terapi, melainkan hanya perlu edukasi dan memberikan rasa 


aman.

6) Mengenali sebagian besar pasien yang tidak memerlukan 

terapi spesifik selain pendidikan dan penyuluhan

7) Mengenali bahwa terapi obat seringkali tidak efektif

8) Mengenali risiko/manfaat dan biaya pacu jantung, ICD dan 

terapi ablasi.

w. Kematian Jantung Mendadak dan Resusitasi

Tujuan

1) Kematian jantung mendadak

Mampu melakukan stratifikasi risiko, diagnostik dan 

terapi pasien dengan ancaman kematian mendadak 

2) Resusitasi

Mampu melakukancardiac life support (dasar dan 

lanjutan).

Pengetahuan

1) Kematian jantung mendadak

a) Definisi kematian jantung mendadak

b) Epidemiologi, etiologi, patologi, patofisiologi dan 

presentasi klinis dari pemicu  kematian jantung 

mendadak.

c) Prinsip penegakan diagnosis dan stratifikasi risiko pasien 

yang berhasil ditolong dengan resusitasi.

d) Terapi jangka panjang yang sesuai, baik dengan obat 

atau alat

e) Rekomendasi terbaru untuk pencegahan primer dan 

sekunder kematian jantung mendadak

f) Identifikasi, stratifikasi risiko dan penanganan orang 

berisiko tinggimengalami kematian jantung mendadak, 

termasuk anggota keluarganya

2) Resusitasi

a) pemicu  pemicu  henti jantung paru, identifikasi 

pasien yang berisiko, dan terapi korektif dini untuk 

mengatasi pemicu  yang reversibel.

114 ______________________________ ______________________________

b) Metoda dan pedoman bantuan hidup dasar dan lanjut 

termasuk jalan nafas, pemakaian  obat, defibrilasi dan 

pacing.

c) Indikasi untuk tidak melakukan resusitasi atau 

menghentikan resusitasi

d) Farmakologi, tindakan, indikasi dan kontraindikasi obat-

obat utama yang dipakai  dalam manajemen henti 

jantung.

Keterampilan

1) Kematian jantung mendadak: 

a) Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat

b) Stratifikasi risiko memakai  hasil pemeriksaan : EKG, 

Holter, uji latih jantung dan ekokardiografi,

c) Merujuk ke rumah sakit tersier untuk pemantauan 

EKG jangka lama, kateterisasi, angiografi koroner, 

elektrofisiologi, variabilitas laju jantung. 

d) Follow up pasien kematian jantung mendadak yang 

berhasil ditolong 

2) Resusitasi :  

a) Mengidentifikasi pemicu  kolaps dengan cepat

b) Melakukan bantuan hidup dasar dan lanjut dengan cepat, 

termasuk melakukan ekokardiografi emergensi dan peri-

resusitasi.

c) Memimpin dan mengkoordinasi kegiatan tim resusitasi

d) Mengajar bantuan hidup dasar

Sikap

1) Kematian jantung mendadak

a) Mengenali pentingnya keluhan dan gejala prodromal

b) Memahami kecemasan pasien yang berhasil ditolong 

dan keluarganya 

c) Menyadari pentingnya edukasi pasien dan pencegahan 

sekunder.

d) Menyadari masalah medikal, psikologikal dan sosial pada 


pasien dengan aktivasi ICD yang sering

e) Mengenali perlunya mengubah perawatan pasien gagal 

jantung dengan ICD menjadi perawatan paliatif 

2) Resusitasi

a) Mengenali kebutuhan untuk melakukan resusitasi segera

b) Menyadari pentingnya kerjasama dalam sebuah tim 

dengan awam, paramedis, dan tenaga medis lainnya 

selama resusitasi. 

c) Mengerti pentingnya audit secara berkala dari program 

BLS dan ACLS

x. Penyakit Aorta dan Trauma pada Aorta

Tujuan

1) Menilai penyakit – penyakit aorta dan trauma pada aorta dan 

jantung

2) Melakukan penanganan secara medikal, intervensi perkutan 

atau bedah dengan tepat

Pengetahuan

1) Epidemiologi, etiologi, patologi, genetik, patofisiologidan 

presentasi klinik penyakit-penyakit aorta, trauma aorta dan 

jantung, termasuk :

a) aneurisma aorta torakalis

b) klasifikasi diseksi Aorta

c) sindroma Leriche

d) aterosklerosis aorta tipe I-IV

e) penyakit inflamasi aorta

f) kelainan genetik terkait sindroma aorta

g) trauma jantung termasuk kontusio dan sindroma koroner 

akut

h) trauma pembuluh darah termasuk diseksi aorta akut dan 

ruptur aorta

2) Memahami kelebihan dan kekurangan berbagi macam 

modalitas pencitraan


3) Strategi tatalaksana secara medikal, intervensi atau bedah 

dengan tepat.

Keterampilan

1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik dengan tepat, 

termasuk penilaian nadi dan tekanan darah, pengukuran di 

lengan dan tungkai yang berbeda, serta pengukuran angke 

brachial index (ABI).

2) Memahami keperluan melakukan pemeriksaan genetic 

termasuk skrining pada keluarga, bila memungkinkan

3) Memilih dan menginterpretasi hasil pencitraan: foto toraks, 

ekokardiografi (TTE dan TEE), CMR, cardiaa CT, IVUS, 

angiografi aorta dan jantung.

4) Menangani berbagai kelainan aorta secara medikal, 

intervensionaldan surgikal tepat waktu.

Sikap

1) Bekerjasama dengan dokter bedah kardiovaskular, 

intervensionis, intensivis dan radiologis  untuk keperluan 

diagnosis dan pengobatan.

2) Mengenali potensi kegawatan pasien penyakit aorta dan 

trauma jantung

3) Mengenali kebutuham follow up jangka panjang pasien 

dengan penyakit aorta kronik

y. Penyakit Arteri Perifer (peripheral artery disease/PAD) dan Vena

Tujuan

1) Menilai dan menangani pasien dengan peny

akit arteri perifer 
(PAD), termasuk aterosklerosis dan penyakit lain pada arteri 
cervicalis (carotis dan vertebral), mesenterik, renal, ekstrimitas 
atas dan bawah
2) Menilai dan menangani pasien dengan penyakit vena dan 
limfe.

Pengetahuan
Penyakit arteri perifer :
1) Epidemiologi dan patologi PAD
2) Diagnosis dan penilaian PAD, termasuk ABI dan pencitraan 
vena
3) Penanganan PAD secara umum termasuk modifikasi gaya 
hidup (stop merokok, diet sehat, program pelatihan fisik 
dengan supervisi), obat antiplatelet dan anti-trombotik, obat 
penurun lipid, anti-hipertensi
4) Indikasi terapi invasif (intervensi dan bedah) untuk PAD.
5) Stratifikasi prognosis PAD
6) Penanganan akut iskemia ekstrimitasyang kritikal
Penyakit Vena dan Limfe
1) Epidemiologi dan faktor risiko penyakit varises vena 
dalam kaitannya dengan kondisi klinis seperti : kehamilan, 
pemakaian  pil kontrasepsi, imobilitas yang lama, dan 
obesitas
2) Efek perubahan anatomi dan hemodinamik varises vena pada 
molekular,  
3) Presentasi klinis berkaitan dengan komplikasi klinis yang 
dapat terjadi
4) Modalitas untuk mendiagnosis penyakit varises vena:
a) Doppler Ultrasound vena tungkai bawah
b) Ambulatory Venous pressure monitoring
5) Pengobatan penyakit varises vena dengan memakai  :
a) Kompresi hosiery
b) Sclerotherapi
c) Minimal Invasif (Ultrasound guided sclerotherapy)
d) Radio frekwensi ablasi
e) Endo venous laser treatment
6) Diagnosis dan tata laksana berbagai penyakit limfe terutama 
limfedema 

Keterampilan
Penyakit Arteri Perifer
1) Anamnesis dan pemeriksaan klinis yang tepat terutama nadi 
perifer
2) Identifikasi factor-faktor risiko PAD dan memilih strategi tata 
kelola.
3) Melakukan dan menginterpretasi skrining ABI, ultrasonografi 
vascular untuk aorta abdominalis, arteri carotis dan arteri 
femoralis, 
4) Menginterpretasi hasilMR dan CT angiography, serta 
angiography berbagai arteriperifer
5) Menilai dan mengklasifikasi PAD ekstrimitas bawah
Penyakit  Vena dan Limfe
1) Menginterprestasikan pemeriksaan-pemeriksaan tambahan 
khusus penyakit varises vena
2) Menentukan pengobatan penderita penyakit varises vena 
secara medikal, interventional dan surgikal.
Sikap
1) Mewaspadai adanya proses sistemik aterosklerosis dan 
implikasinya pada pasien-pasien PAD yang manifestasinya 
hanya pada satu area; terutama menyangkut arteri koroner, 
carotis dan renal.
2) Memahami pentingnya modifikasi faktor risiko dalam 
pencegahan
3) Pendekatan pada pasien untuk mengikuti gaya hidup sehat 
dengan menekan faktor risiko yang spesifik.
4) Mampu bekerjasama dengan spesialis seperti intervensionis, 
radiologis, bedah vaskular dan diabetologis

z. Penyakit Tromboembolik Vena
Tujuan
Mendiagnosa, mengobati danmencegah trombosis vena 
dalam (deep vein thrombosis/ DVT)
Pengetahuan
1) Epidemiologi trombolisis vena dalam 
2) Faktor risiko trombolisis vena dalam 
a) Bawaan: inherited thrombophilia(misal: mutasi gen 
protrombin dan faktor V Leiden)
b) Didapat: acquired thrombophilia (misal: pemulihan pasca 
operasi besar/trauma, imobilisasi lama, antikoagulan 
lupus, peningkatan antibodi antiphospholipid, keganasan, 
kehamilan,kontrasepsi oral, kelainan myeloproliferatif.
3) Patofisiologi thrombosis vena
4) Presentasi klinis trombosis vena superfisial dan vena dalam 
5) Diagnosis tromboemboli vena dengan ultrasound dan 
Doppler vena terutama vena tungkai dan pinggul
6) Tata kelola
a) trombosis vena superfisial
b) trombosis vena dalamdengan: anti koagulan, trombolisis, 
embolektomi dan fragmentasi, 
7) Pencegahan trombosis vena dalam dengan stoking kompresi, 
heparin, caval filter
Keterampilan
1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang sesuai
2) Melakukan dan menginterpretasikan Ultrasound dan Doppler 
vena 
3) Diagnosis dan tatalaksana trombosis vena akut dan kronis, 
termasuk durasi pemberian antikoagulan.
Sikap
1) Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat
2) Kolaborasi dengan ahli radiologi dan bedah vaskular.
120 ______________________________ ______________________________
3) Edukasi pasien tentang penyakitnya, komplikasi yang bisa 
terjadi, patuh berobat dan kewaspadaan pemakaian  
antikoagulan jangka panjang
aa. Emboli Paru dan Tromboemboli Kronik
Tujuan
Mendiagnosis, mengobati dan melakukan prevensi emboli 
paru akut yang berpotensi mengakibatkan hipertensi pulmoner 
tromboemboli kronik (Chronic Thrombo Embolic Pulmonary 
Hypertension/CTEPH)
Pengetahuan
1) Epidemiologi thrombosis vena dalam dan emboli paru
2) Faktor risiko thrombosis vena dalam (lihat 3.3.26)
3) Patofisiologi emboli paru : 
a) peningkatan resistensi vaskular paru
b) ketidaksesuaian ventilasi-perfusi
c) perubahan anatomi dan hemodinamik 
d) perubahan di tingkat molekular 
4) Presentasi klinis  emboli paru akut
5) Menegakkan diagnosis  emboli paru akut  berdasarkan hasil 
pemeriksaan:
a) D-Dimer dan troponin
b) elektrokardiografi
c) ekokardiografi
d) Dupplex ultrasonografi vena dalam tungkai/pelvic untuk 
mencari sumber emboli
e) Scanning ventilasi-perfusi paru
f) CT scan angio (MSCT)
g) MR angiography
h) Angiography pulmoner
6) Tatalaksana  emboli paru akut dan kronik
7) Pencegahan  emboli paru akut

Keterampilan
1) Melakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik yang tepat
2) Melakukan pemeriksaan non invasif dan invasif, meng-
interpretasi hasil
3) Menentukan  pengobatan penderita penyakit emboli paru 
4) Memilih tindakan intervensi atau bedah untuk emboli paru 
5) Melakukan pencegahan emboli paru
Sikap 
1) Memahami kesulitan dan kendala dalam menegakkan 
diagnosis dan penatalaksanaan emboli paru
2) Kerja sama dengan Radiologis, intervensionis, bedah toraks 
kardiovaskular