Tampilkan postingan dengan label buku obat 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label buku obat 1. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Juli 2026

buku obat 1



01. Obat Demam 9 

 02. Obat Sakit Kepala dan Nyeri 19 

 03. Obat Flu-Pilek 37 

 04. PPA dan Obat Pelega Hidung 50 

 05. Obat Batuk 58 

 06. Obat Mag 70 

 07. Obat Diare 81 

 08. Obat Perut Kembung 92 

 09. Obat Sembelit 97 

 10. Suplemen  111 

 11. Vitamin C 121 

 12. Obat Sariawan 126 

 13. Obat Radang Tenggorok 134 

 14. Obat Bronkitis 141 

 15. Obat Mata 145 

 16. Obat Alergi 156 

 17. Kortikosteroid 162

 18. Obat Hipertensi 166 

 19. Pil KB 180 

 20. Antibiotik 192 

 21. Obat Tifus 212 

 22. Obat Asma 224 

 23. Obat TBC 251 

 24. Obat Asam Urat 271 

 25. Obat Generik 290 

 26. Obat buat Ibu Hamil 306 

 27. Obat buat Ibu Menyusui 327 

 28. Obat pada Bayi dan Anak 336 

 29. Obat Tradisional 345 

 30. Obat Awet Sehat 366 

 31. Referensi Kesehatan di Internet 374 

 32. Medicine Is A Big Business 377 

 33. Penulis 401 

   

   

 

 

Anda tahu berapa banyak jumlah merek dagang obat 

yang beredar di negara kita ? Saya tidak tahu angka pastinya. 

Setidaknya pasti puluhan ribu, bahkan mungkin hingga 

beberapa ratus ribu. Itu pun setiap tahun masih ada tambahan 

ribuan merek obat baru yang beredar. Menurut catatan Badan 

Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM), sepanjang tahun 

2012 saja, ada sekitar empat ribu produk obat, obat 

tradisional, dan suplemen yang teregistrasi. Ini baru jumlah 

dalam satu tahun.  

Tiap tahun ribuan produk baru membanjiri pasar, 

sementara kita sebagai konsumen tidak mengetahui apa-apa 

mengenai produk-produk ini. Kita mempercayakan urusan obat 

sepenuhnya kepada petugas kesehatan (dan... iklan!) Saat kita 

pulang dari dokter dan apotek, kita membawa satu kresek obat 

yang kita tidak tahu apa isinya dan bagaimana efeknya 

terhadap tubuh. Padahal, sebagai konsumen kita mestinya 

punya pengetahuan mengenai apa yang kita bayar dan kita 

konsumsi.  

itu. Dan apoteker yaitu  pasien  yang menyediakan racun itu. 

sebab  berurusan dengan racun itulah, dokter dan apoteker 

bekerja di bawah sumpah. 

Sebetulnya jumlah obat esensial (yang memang sangat 

kita butuhkan dan sebaiknya kita ketahui) tidak begitu banyak. 

Hanya dalam kisaran beberapa ratus. Namun, faktanya, di 

negara kita  obat yang beredar di pasar jumlahnya melimpah 

ruah. Dalam hitungan ribuan. Seolah-olah kita memerlukan 

semuanya. Banyaknya jumlah obat ini cukup membingungkan. 

Bukan hanya bagi konsumen awam, bahkan juga bagi dokter 

dan apoteker. (Buku Obat ini memang ditulis sebab  penulis 

berusaha mengurai kebingungan itu :p) 

Buku pedoman obat yang diperuntukkan buat tenaga 

kesehatan sudah banyak diterbitkan. Jika Anda rajin pergi ke 

toko buku Gramedia atau Gunung Agung, Anda bisa 

mengamati, di sana biasanya ada satu rak khusus yang 

sepanjang tahun selalu berisi buku berjudul ISO negara kita  dan 

MIMS. ISO kependekan dari Informasi Spesialite Obat. MIMS 

singkatan dari Monthly Index of Medical Specialities. Buku-

buku ini hanya untuk tenaga kesehatan seperti dokter, dokter 

gigi, apoteker, bidan, dan perawat. Sementara, buku panduan 

serupa yang ditulis untuk konsumen (yang harus membayar 

dan menerima risikonya) justru masih belum banyak. 

Apakah pasien  awam perlu memiliki pengetahuan 

mengenai obat-obatan? Bukankah ilmu obat itu memang 

wilayah tenaga kesehatan? 

Tentu saja konsumen tidak perlu tahu urusan obat seperti 

mahasiswa jurusan kedokteran atau farmasi. Yang perlu 

diketahui yaitu  pengetahuan dasar yang membuat mereka 

tahu apa yang mereka minum. 

Penjelasan di buku ini sama sekali tidak dimaksudkan 

agar pembaca bisa mengobati diri sendiri dan tidak perlu 

datang ke dokter. Penjelasan obat di sini lebih dimaksudkan 

sebagai bekal pengetahuan agar pasien  awam mengetahui isi 

obat yang mereka minum, bagaimana cara kerjanya, apa efek 

sampingnya, dan informasi-informasi lain yang perlu diketahui. 

Idealnya dokter dan apoteker memberi penjelasan 

gamblang kepada pasien. Namun, seperti kita tahu, kondisi 

layanan kesehatan di negara kita  masih jauh dari bagus. Pasien 

sering tidak mendapatkan penjelasan yang memadai tentang 

obat yang diberikan kepadanya. Bahkan, pasien yang 

memakai  haknya untuk bertanya pun sering dianggap

rewel dan bawel. Padahal, informasi yang penting dan jujur 

yaitu  hak pasien. 

 

OBAT DEMAM 

 

 

 

Dari sekian banyak merek obat yang beredar di negara kita , 

salah satu obat yang paling banyak memiliki merek dagang yaitu  

parasetamol, obat demam yang juga punya khasiat meredakan 

nyeri. Jumlahnya tak kurang dari 250 merek dagang. Artinya, 

demam yaitu  salah satu alasan yang paling banyak membuat 

pasien  minum obat.  

Demam sebetulnya bukanlah sebuah penyakit. Demam 

merupakan salah satu mekanisme tubuh bereaksi terhadap sesuatu 

yang tidak normal, misalnya infeksi virus atau bakteri. Tubuh 

menaikkan suhu dirinya untuk membunuh kuman penginfeksi itu. 

Kita tahu, bakteri dan virus tidak tahan terhadap panas. 

Demam juga merupakan salah satu cara alami mengaktifkan 

sistem pertahanan tubuh. Kita tahu, kuman bisa mati jika terkena 

 

suhu panas. Demam juga membuat sel-sel darah putih lebih aktif 

melawan virus dan bakteri. Jadi, sebetulnya demam punya fungsi  

yang baik bagi kesehatan 

kita. Itu sebabnya Mayo 

Clinic menyarankan, untuk 

penyakit yang tidak 

berbahaya, demam tidak 

perlu diobati! Jika setiap kali demam, kita minum obat, itu sama 

saja dengan menghentikan kerja tubuh melawan kuman dan 

meningkatkan imunitas (kekebalan). 

Sebagian besar demam disebabkan oleh infeksi. Sebagian 

kecil disebabkan oleh kondisi lain, misalnya akibat terpapar sinar 

matahari. Infeksi bisa disebabkan oleh bakteri, bisa juga oleh virus. 

Beda sebab, beda pula pengobatannya. 

Sekalipun demam sebetulnya baik bagi daya tahan tubuh, 

kita tetap memerlukan obat demam. Sebab, kalau dibiarkan saja, 

demam bisa menyebabkan risiko buruk, misalnya dehidrasi 

(kehilangan cairan tubuh), kejang (kalau demam sangat tinggi). 

Pada bayi, demam biasanya menyebabkan mereka menjadi rewel 

dan kurang istirahat. 

Suhu tubuh normal manusia yaitu  37 C. Disebut demam 

jika suhunya 38 C atau lebih. Pada pasien  dewasa, demam pada 

umumnya tidak berbahaya kecuali jika mencapai suhu 39,4 C. 

 

  

Demam sebetulnya bagus 

untuk kesehatan. 



Pada anak-anak, demam harus diwaspadai kalau suhunya 

mencapai 38 C. 

 

Ukur dengan Termometer 

Dalam kondisi demam, kita sebaiknya tahu persis berapa suhunya. 

Ini penting sebab suhu merupakan dasar untuk mengambil 

tindakan. sebab  itu, setiap keluarga, terutama yang memiliki bayi 

atau anak-anak, sangat disarankan memiliki termometer. 

Sebaiknya termometer digital, bukan termometer air raksa sebab  

air raksa bisa berbahaya jika tertelan. 

Pengukuran suhu tubuh harus benar-benar akurat. Hasil 

pengukuran yang tidak akurat, misalnya meleset 1 C saja, bisa 

menyebabkan kita melakukan tindakan yang tidak tepat. Pastikan 

termometer masih akurat. 

Pengukuran di ketiak biasanya kurang akurat. Pengukuran 

suhu paling akurat bisa dilakukan di anus. Kalau pengukuran suhu 

anus dianggap merepotkan, pengukuran suhu bisa dilakukan di 

dalam mulut. 

Jika pengukuran suhu lewat anus menunjukkan 38,0 C, 

biasanya pengukuran lewat mulut terbaca 37,8 C. Sementara 

pengukuran lewat ketiak terbaca 37,2 C.  

sesudah  tahu persis berapa suhunya, kita bisa menentukan 

tindakan yang tepat. Ada ratusan penyakit atau kondisi yang bisa 


12 

 

menyebabkan demam. Demam bisa merupakan gejala dari 

berbagai macam penyakit, mulai dari yang ringan sampai yang 

berbahaya dan harus segera mendapatkan pertolongan dokter. 

Yang ringan misalnya demam sebab  flu-pilek, imunisasi, 

tumbuh gigi, atau paparan sinar matahari. Yang tergolong serius 

misalnya demam tifoid (tifus), infeksi saluran napas, atau infeksi 

saluran cerna. Yang kritis dan harus segera mendapatkan 

pertolongan dokter misalnya demam berdarah. 

Tinggi rendahnya suhu tidak selalu berbanding lurus dengan 

tingkat bahaya sebuah penyakit. Ada kalanya penyakit gawat 

hanya disertai demam ringan. Sebaliknya ada pula penyakit ringan 

yang disertai demam tinggi. 

Pengukuran suhu memang penting. Tapi jangan terpaku 

pada angka di termometer. Kondisi anak jauh lebih penting dari 

angka temperatur. Walaupun suhu tinggi, mungkin demam itu 

tidak begitu berbahaya jika anak masih aktif seperti biasa. 

Sebaliknya, walaupun demamnya tidak begitu tinggi, bisa saja 

kondisinya gawat kalau ia menunjukkan gejala lain yang kritis, 

misalnya tidak responsif, muntah, atau diare. 

Saat kita atau anak kita mengalami demam, kita memang 

harus tetap tenang, tapi juga jangan terlalu meremehkan. Sebab, 

demam bisa jadi merupakan gejala demam berdarah dengue. Di 

negara kita , penyakit akut ini masih merupakan salah satu ancaman 

serius yang setiap tahun merenggut banyak korban. 



 

 

Cara Mengukur 

Suhu Lewat Mulut 

 

  Bersihkan ujung termometer. 

  Masukkan ujung termometer 

ke bawah lidah.  

 

 

  Tahan minimal satu menit, 

baca hasilnya.  

  Keluarkan termometer. 

 

Cara Mengukur Suhu 

Lewat Anus 

 

  Oleskan pelumas pada ujung termometer. 

  Tengkurapkan bayi di pangkuan, atau 

telentangkan.  

  Masukkan 1,5-2,5 cm ujung termometer 

secara hati-hati ke dalam dubur. 

 

 

 

 

  Tahan bayi dalam posisi tengkurap atau 

telentang selama tiga menit. Posisi bayi 

harus ditahan sebab  jika ia menggeliat, 

termometer bisa masuk terlalu dalam dan 

menyebabkan luka. 

  Baca hasilnya lalu keluarkan termometer. 

  Jangan gunakan termometer di anus untuk 

pengukuran di mulut. 



Pilihan Pertama: Parasetamol 

Sebelum berpikir tentang obat, sebaiknya kita berpikir tentang cara 

non-obat. Dalam urusan demam, kita bisa memakai  cara 

sederhana seperti kompres air. Jika cara ini tidak mempan, kita 

bisa mempertimbangkan penggunaan obat.  

Pada anak-anak, obat demam dianjurkan untuk diberikan 

jika suhu tubuhnya mencapai 38,9 C atau lebih. Tujuan minum 

obat tidak untuk menghilangkan demam namun  untuk menurunkan 

suhu.  

Lo, apa bedanya? 

sesudah  si anak 

minum obat, diharapkan 

suhu tubuhnya turun 

sampai batas aman, tidak 

perlu sampai demamnya 

hilang sama sekali. Sekali 

lagi, demam sendiri tidak berbahaya asal tidak terlalu tinggi. 

sesudah  minum obat, anak mungkin masih mengalami demam tapi 

suhunya tidak terlalu tinggi.  

Suhu yang terlalu tinggi harus dihindari, terutama buat anak 

yang pernah punya riwayat kejang-demam. Sekali anak 

mengalami kejang demam, ia punya kemungkinan mengalaminya 

lagi saat mengalami demam tinggi lagi. Selain itu, obat demam 

 

 

Tujuan minum obat tidak 

untuk menghilangkan 

demam namun  untuk 

menurunkan suhu. 


 

diperlukan untuk menghentikan rewel pada bayi yang 

membuatnya menjadi kurang tidur. 

Jika memang obat penurun panas diperlukan, obat pilihan 

utama yang dianjurkan yaitu  parasetamol. Dibandingkan obat-

obat penurun panas lainnya, parasetamol paling aman asalkan 

digunakan dengan dosis normal dan tidak dalam jangka panjang. 

Contoh merek dagang yang terkenal: Panadol®. 

Jika pasien tidak bisa menelan obat, ia bisa memakai  

parasetamol dalam bentuk supositoria (mirip torpedo) yang 

dimasukkan ke dalam dubur. 

Hati-hati jika memakai  obat tetes. Baca betul aturan 

pakainya. Pada saat meneteskan ke mulut bayi, pastikan betul 

volumenya sudah tepat untuk menghindari risiko overdosis. 

Pasalnya, obat tetes mengandung parasetamol dalam konsentrasi 

yang tinggi. Kesalahan volume sebesar 0,3 ml liter saja bisa 

menyebabkan anak minum parasetamol 30 mg lebih banyak. 

Overdosis parasetamol bisa menyebabkan masalah di lever (hati). 

Risiko overdosis harus diwaspadai mengingat aturan pakai 

obat-obatan di negara kita  biasanya didasarkan pada umur, bukan 

berat badan. Padahal, yang lebih tepat mestinya didasarkan pada 

umur dan berat badan. Ada kalanya anak baru berusia dua tahun 

tapi tubuhnya bongsor dan berat badannya seperti anak umur 

empat tahun. Begitu pula sebaliknya, anak dengan usia empat 

tahun tapi badannya kecil seperti anak umur dua tahun. 


Pilihan Kedua: Ibuprofen 

Jika parasetamol sudah tidak mempan, kita bisa memakai  

ibuprofen. Namun, pemakaiannya jangan digabung dengan 

parasetamol. Gunakan salah satu saja. Jika keduanya diberikan 

dalam waktu berdekatan, mungkin saja overdosis. 

Contoh merek dagang ibuprofen yang terkenal: Proris®. 

Dibandingkan parasetamol, ibuprofen memiliki kemampuan 

menurunkan panas lebih kuat. Namun, obat ini memiliki 

kelemahan sebab  punya efek samping lebih banyak. 

Ibuprofen sebaiknya tidak digunakan pada bayi di bawah 

enam bulan, atau pada kondisi demam yang disertai muntah dan 

dehidrasi, serta pada demam berdarah. Pada penderita demam 

berdarah, ibuprofen justru akan meningkatkan risiko pendarahan. 

Jika parasetamol dan ibuprofen tidak mempan, sebaiknya 

segera pergi ke dokter. Kecuali atas resep dokter, sebaiknya jangan 

memakai  aspirin (asetosal) sebab  obat ini punya efek buruk 

yang lebih banyak. 

Obat demam-flu terbaik yaitu  istirahat dan minum banyak 

cairan, seperti air putih, jus buah yang encer, kuah sup, air hangat, 

ASI, susu, atau oralit siap minum (misalnya Pedialyte®). Dalam 

keadaan demam, tubuh kehilangan cairan lebih banyak dari 

biasanya. Itu sebabnya kita harus minum air lebih banyak dari 

biasanya. 

 

Jangan memakai pakaian atau selimut yang tebal. Hindari 

mandi dengan air dingin. Sebaiknya gunakan air suam-suam kuku. 

Mandi dengan air dingin justru bisa merangsang tubuh untuk 

meningkatkan temperatur.  

 

Obat Contoh merek dagang 

Parasetamol Panadol®, Alphagesic®, Alphamol®, Analpim®, 

Biogesic®, Bodrexin Demam®, Contratemp®, Cupanol®, 

Dumin®, Erphamol®, Farmadol®, Fasgo Forte®, Fevrin®, 

Grafadon®, Ikacetamol®, Itamol®, Lanamol®, Kamolas®, 

Maganol®, Naprex®, Moretic®, Nasamol®, Nufadol®, 

Ottopan®, Pamol, ®Praxion, Propyretic®, Pyrex®, 

Pyrexin®, Pyridol®, Sanmol®, Tempra®, Turpan®, 

Xepamol Drops® 

Ibuprofen Proris®, Anafen®, Arfen®, Arthrifen®, Brufen®, Bufect®, 

Dofen 400®, Dolofen-F®, Ethifen®, Farsifen®, Fenatic®, 

Fenris®, Ibufenz®, Iprox®, Lexaprofen®, Mofen®, 

Moris®, Ostarin®, Profen®, Prosic®, Prosinal®, 

Rhelafen®, Ribunal®, Spedifen®, Yariven® 

 

 

Kapan perlu ke dokter? 

Pada Bayi dan Anak-anak: 

  Jika demam mencapai 38,3 C atau lebih 

  Jika usia bayi belum genap tiga bulan 

 

  Jika bayi tidak mau makan atau minum 

  Jika bayi terus-terusan rewel atau tidak responsif 

  Disertai muntah, diare, ruam (bercak merah) di kulit, atau lesu 

  Demam tidak sembuh lebih dari 24 jam (untuk anak yang 

belum genap dua tahun) 

  Demam tidak sembuh lebih dari 3 x 24 jam (untuk anak di atas 

dua tahun) 

 

Pada pasien  Dewasa: 

  Jika demam mencapai 39,4 C atau lebih 

  Jika demam tidak sembuh dalam tiga hari 

  Disertai salah satu dari gejala ini: sakit kepala hebat, nyeri saat 

menelan makanan, ruam di kulit yang berkembang, sensitif 

terhadap cahaya terang, leher kaku dan sakit saat digerakkan, 

muntah-muntah, kesulitan bernapas, nyeri dada, nyeri perut, 

atau nyeri saat kencing 



OBAT SAKIT KEPALA 

DAN NYERI 

 

 

 

Apa obat sakit kepala yang paling cespleng? Jika Anda 

bertanya kepada Hilbram Dunar, presenter acara Mario Teguh 

Golden Ways, jawabannya tentu Bodrex®. Tapi kalau Anda 

bertanya kepada Mario Teguh, biangnya langsung, tentu 

jawabannya lain: Pamol Forte®—sambil tak lupa memberi nasihat 

bahwa solusi selalu ada. 

Kalau Anda bertanya kepada Tom, si kucing yang selalu sial 

dalam serial kartun Tom and Jerry itu, jawabannya tentu lain lagi: 

Aspirin®. Di beberapa episode, Tom digambarkan minum obat ini 

sebab  pusing dikerjai oleh Jerry. Tom dan Jerry perlu kita bahas 


 

di sini sebab  hal ini berkaitan dengan budaya memilih obat sakit 

kepala di masyarakat. 

Kesimpulannya, mana yang lebih cespleng: Pamol Forte®, 

Bodrex®, atau Aspirin®? Tidak ada obat sakit kepala yang 

cespleng. Kalaupun ada, wallahu a’lam. Obat yang cespleng 

harusnya bisa menyembuhkan sakit sampai ke akar-akarnya.  

Faktanya, tidak ada obat sakit kepala yang menyembuhkan 

sampai ke akar penyebabnya. Obat sakit kepala yang banyak 

beredar di pasar hanya meredakan rasa nyeri. Nyeri kepala 

hanyalah gejala, bukan sakit itu sendiri.  

Kemungkinan penyebab sakit ini banyak sekali, lebih dari 

dua ratusan. Bukan hanya penyakit di sekitar kepala dan leher. 

Gangguan di daerah perut, dada, pembuluh darah, bahkan ujung 

kaki pun bisa menyebabkan sakit kepala. Jadi, bukan pekerjaan 

mudah, bahkan bagi dokter sekalipun, untuk mencari akar 

masalahnya.  

Untuk menemukan penyebabnya, dokter harus melakukan 

pemeriksaan menyeluruh. Jadi, jangan merasa dikerjai jika hanya 

sebab  urusan sakit kepala, dokter bertanya urusan makan, tidur, 

sampai masalah di kantor dan problem rumah tangga. Itu bagian 

dari metode dokter menemukan akar penyakit.   

Sebagian besar pasien  pernah mengalami sakit kepala, 

terutama kaum perempuan. Seperti namanya, gejala utama sakit 


 

ini berupa rasa nyeri di sekitar daerah kepala dan leher. Nyeri ini 

bisa berlangsung selama beberapa jam sampai beberapa hari. 

Sakit kepala bisa disebabkan oleh bermacam-macam faktor, 

kemungkinannya banyak sekali. Beberapa di antaranya:   

 

  Perubahan hormonal 

Ini yaitu  jawaban kenapa sakit kepala lebih banyak dialami 

oleh perempuan dibandingkan  laki-laki. Jadi, penyebabnya bukan 

sebab  laki-laki lebih menyebalkan, melainkan sebab  

memang secara biologis perempuan lebih kompleks dibandingkan  

laki-laki.  

Perempuan punya siklus hormonal yang menyebabkan 

kadar estrogen naik turun. Perempuan haid, laki-laki tidak. 

Perempuan hamil, laki-laki tidak. Perempuan menyusui, laki-

laki tidak. Semua proses ini melibatkan perubahan hormonal 

yang bisa menyebabkan sakit kepala. Pada peempuan, sakit 

kepala biasanya terjadi menjelang atau selama menstruasi. 

Sebagian perempuan mengalami sakit kepala saat hamil, 

menopause (mati haid), atau minum pil kontrasepsi (pil KB).  

 

  Stres 

Jangan heran bila stres nanti masuk ke berbagai bab. 

Gangguan psikis ini memang bisa menyebabkan banyak sekali 


22 

 

penyakit, mulai dari sakit kepala, sakit mag, gangguan tidur, 

sampai tekanan darah tinggi. 

Stres dan sakit kepala sebetulnya terjadi di tempat yang 

berbeda. Stres terjadi hanya di otak, sementara sakit kepala 

terjadi di kepala dan leher. Otak sendiri sebetulnya tidak bisa 

merasakan nyeri sebab  otak tidak memilki saraf yang sensitif 

terhadap rangsangan nyeri. Nyeri disebabkan oleh saraf-saraf 

di wilayah kepala dan leher.  

Lalu kenapa stres memikirkan atasan yang menyebalkan 

atau pasangan yang bawel bisa menjadi pemicu sakit kepala? 

Diduga, ini terjadi lewat mekanisme yang dikenal sebagai 

mind-body connection. 

 

  Makanan 

Misalnya, pemanis buatan (seperti aspartam, yang banyak 

terdapat di dalam minuman buatan pabrik), minuman tinggi 

kafein (seperti kopi kental atau suplemen yang biasa disebut 

“minuman berenergi”), makanan yang banyak mengandung 

garam atau penyedap rasa MSG (misalnya mi instan), 

makanan awetan, alkohol (misalnya wine), cokelat atau keju 

jenis tertentu, dan masih banyak lagi. Semua contoh yang 

disebut ini bisa saja menjadi biang keladi sakit kepala pada 

pasien -pasien  tertentu. 



 

Selain jenis makanan, sakit kepala bisa juga disebabkan oleh 

pola makan, misalnya makan tidak teratur, telat makan, atau 

makan dalam jumlah terlalu banyak. 

 

  Perubahan pola tidur 

Sebagian besar pasien  butuh tidur 7–8 jam sehari. Kurang tidur 

atau kebanyakan tidur sama-sama bisa menjadi penyebab sakit 

kepala. Sebagian pasien  memang terbiasa tidur singkat, tapi 

mereka ini bukan pembanding yang umum.  

Dalam urusan tidur, yang penting tidak hanya kuantitas tapi 

juga kualitas. Sekalipun kita tidur selama delapan jam sehari, 

bisa saja kita masih kurang istirahat jika kita tidur tidak 

nyenyak. Selain itu, sakit kepala bisa juga dipicu oleh 

perubahan jam tidur (misalnya sebab  kerja shift), atau jet lag. 

 

  Ketegangan otot di daerah leher atau kepala 

Misalnya, terlalu lama bekerja di depan komputer, terlalu lama 

menonton televisi, salah postur saat tidur. Bisa juga 

disebabkan sebab  ketegangan otot penglihatan. Misalnya, kita 

mestinya sudah memakai kacamata namun  memaksakan diri 

banyak membaca tanpa kacamata. Ini juga bisa memicu sakit 

kepala. 

 


24 

 

  Faktor fisikal 

Misalnya, bekerja terlalu capek atau melakukan aktivitas fisik 

yang terlalu berat. 

 

  Perubahan lingkungan 

Contohnya, pindah bekerja di tempat baru, ruangan baru, 

kantor baru, atau tempat tinggal baru.  

 

  Putus kafein, putus nikotin, dsb. 

Jika pasien   biasa minum kopi atau merokok, lalu dia 

menghentikan kebiasaan ini, ia bisa mengalami sakit kepala 

sebab  otaknya sudah terbiasa mendapat suplai kafein dari 

kopi atau nikotin rokok. 

 

  Rangsangan indra 

Misalnya, cahaya lampu yang terlalu terang, sinar matahari 

yang menyilaukan, suara yang terlalu bising, atau parfum yang 

terlalu menyengat. 

 

  Gas polutan 

Misalnya, asap knalpot, uap cat, atau asap rokok. 

 

  Pemakaian obat 

Obat bisa menjadi biang keladi sakit kepala, terutama obat 

sakit kepala yang diminum terus-menerus. Mungkin ini 


25 

 

terdengar aneh tapi memang begitulah sifat obat. Jika kita sakit 

kepala, lalu minum obat sakit kepala, rasa sakit itu bisa hilang 

sesaat. Namun, jika kita terus-terusan minum obat tersebut, 

obat itu justru bisa memicu sakit kepala.  

Itu sebabnya kalau kita langganan sakit kepala, sebaiknya 

kita fokus ke penyebabnya, bukan dengan cara mengandalkan 

obat-obatan. Obat sakit kepala hanya menyelesaikan masalah 

sesaat, tidak menyelesaikan masalah secara permanen, bahkan 

mungkin saja bisa menambah masalah.  

 

  Penyakit lain 

Sakit kepala mungkin saja merupakan gejala dari penyakit 

lain, misalnya flu, demam berdarah dengue, tifus (demam 

tifoid), infeksi lain, tekanan darah tinggi (hipertensi), tumor, 

gangguan pembuluh darah, gangguan saraf gigi, dan masih 

banyak lagi. 

Selain contoh-contoh di atas, masih ada amat sangat banyak 

sekali faktor yang termasuk kategori “dan lain-lain”. Saking 

banyaknya, tidak mungkin disebut satu per satu di sini. 

 

Atasi Akar Masalahnya 

Jika kemungkinan penyebab sakit kepala begitu banyak, lalu 

bagaimana kita bisa mengobatinya? Di sinilah pentingnya kita 

mengenali penyebabnya dengan tepat. Kekeliruan mengenali 


26 

 

penyebabnya bisa menyebabkan sakit kepala berulang terus dan 

menjadi kronis. sebab  penyakit ini sangat berkaitan dengan pola 

hidup kita sehari-hari, pasien  yang paling tahu penyebabnya yaitu  

kita sendiri. 

Untuk mengatasi rasa nyeri, kita bisa minum obat-obat yang 

dijual bebas di apotek. Namun, harap dicatat, obat-obat ini hanya 

bekerja menghilangkan rasa nyeri. Jika masalah utama penyebab 

sakit kepala tidak diselesaikan, maka nyeri bisa saja timbul lagi 

berulang-ulang.  

Pengobatan harus meliputi dua hal, yaitu pengobatan 

simptomatis (mengatasi rasa nyerinya) dan pengobatan kausatif 

(menghilangkan penyebabnya). Keduanya harus dilakukan 

beriringan. sesudah  rasa nyeri diatasi, si biang keladi nyeri juga 

harus dihilangkan. Misalnya, jika sakit kepala dipicu oleh pola 

tidur yang tidak teratur, kita juga harus mengatur pola tidur 

dengan lebih baik. Jika penyebabnya yaitu  stres, kita harus 

mengatasi dulu stres itu. Jika penyebabnya yaitu  hipertensi, 

maka penderita juga harus mengontrol tekanan darahnya. Sekali 

lagi, sakit kepala sangat berkaitan dengan gaya hidup secara 

umum. Obat antinyeri saja tidak cukup. Harus disertai perubahan 

pola hidup.  

Jika akar masalahnya tidak diselesaikan, sakit kepala 

cenderung menjadi kronis. Jika sudah kronis, umumnya penderita 

akan sangat tergantung kepada obat. Sedikit-sedikit minum obat. 


27 

 

Bahkan, satu tablet kadang tidak mempan lagi lalu sampai harus 

menenggak dua tablet sekaligus. Selain akan membahayakan lever 

(hati), minum obat terus-menerus juga akan menyebabkan 

penderita lebih gampang terkena nyeri. 

 

Obat-obat yang Biasa Digunakan 

Sebagian besar obat sakit kepala dijual bebas. Bisa didapatkan di 

apotek, toko obat, maupun toko kelontong. Dalam bahasa medis, 

obat sakit kepala digolongkan ke dalam analgesik. Arti harfiahnya, 

antinyeri. sebab  khasiatnya meredakan nyeri, obat sakit kepala 

bisa juga digunakan untuk mengobati nyeri lain, tidak hanya di 

kepala. Misalnya, untuk sakit gigi, nyeri otot, rematik, hingga 

nyeri haid. Pokoknya, semua sakit yang melibatkan rasa nyeri.  

Sebagian besar obat pereda nyeri juga punya khasiat 

menurunkan demam. Dalam istilah medis, khasiat menurunkan 

demam ini disebut antipiretik. Itu sebabnya, dalam buku-buku 

medis, obat sakit kepala, pereda nyeri, dan obat demam biasanya 

masuk dalam satu bab: Analgesik-Antipiretik.  

Beberapa contoh obat analgesik-antipiretik antara lain: 

 

1. Parasetamol 

Kadang di kemasan obat ditulis asetaminofen atau N-asetil-

para-aminofenol. Ketiganya bersinonim alias sama saja. 

(Dalam dunia farmasi, satu jenis obat punya banyak nama 


28 

 

lain.) Dibanding obat-obat lain di dalam kelompok ini, 

parasetamol hingga saat ini dianggap paling aman. Baik bagi 

perempuan hamil, ibu yang menyusui, maupun anak-anak. 

Namun, penggunaan dosis besar dalam jangka panjang bisa 

menyebabkan kerusakan hati. Itu sebabnya, meskipun relatif 

aman, parasetamol tetap tidak dianjurkan untuk dikonsumsi 

terus-menerus dalam dosis besar. Salah satu kelebihan obat ini 

yaitu  bisa diminum saat perut kosong tanpa mengganggu 

lambung. Dosis umum sekali minum 500 mg. Contoh merek 

dagang: Lihat Bab Obat Demam. 

 

2. Asetosal 

Nama lainnya asam asetil salisilat atau aspirin. Ketiganya 

sami mawon alias setalen tiga wang.  

Asetosal mungkin bisa dianggap obat pereda nyeri dan 

demam yang paling legendaris. Di masyarakat Barat, aspirin 

merupakan obat sakit kepala legendaris. Itu sebabnya, saat 

sakit kepala, Tom memilih obat ini, bukan parasetamol. 

Di buku-buku atau artikel berbahasa Inggris, obat sakit 

kepala identik dengan aspirin/asetosal. Jika Anda membaca 

artikel kesehatan berbahasa negara kita  yang mengidentikkan 

obat sakit kepala dengan aspirin, Anda boleh menduga artikel 

itu terjemahan letterlijk dari tulisan berbahasa Inggris. Di 


29 

 

masyarakat negara kita , obat sakit kepala yang paling banyak 

dikonsumsi yaitu  parasetamol. Budaya kita berbeda dari 

budaya Tom dan Jerry. 

Selain berkhasiat meredakan nyeri dan demam, aspirin 

dalam dosis kecil (80–100 mg) juga biasa dipakai untuk 

mencegah penggumpalan darah pada penderita serangan 

jantung atau stroke. Merek dagang yang populer: Aspilets®. 

Bukan untuk sakit kepala, melainkan untuk mencegah stroke 

atau serangan jantung. Untuk obat sakit kepala, dosis umum 

aspirin sekitar 500 mg. 

Contoh merek dagang yang terkenal: Aspirin®, Inzana®. 

(Aspirin sebetulnya nama dagang asetosal milik produsen 

farmasi asal Jerman, Bayer. sebab  saking legendarisnya, 

nama dagang ini menjadi nama lain dari asetosal.) 

Sesuai namanya, asam asetil salisilat ini bersifat asam. Sifat 

asam membuat obat ini punya efek samping mengiritasi 

lambung dan sebab nya tidak cocok buat pasien  dengan sakit 

mag. Juga tidak disarankan diminum dalam keadaan perut 

kosong. Efek samping lain yang juga bisa terjadi antara lain 

reaksi alergi pada kulit dan telinga berdengung.  

Obat ini tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak yang 

menderita flu (dan infeksi virus lainnya) sebab  berpotensi 

menyebabkan penyakit yang disebut Sindrom Rye. Gejalanya 

antara lain muntah dan demam tinggi. Obat ini juga tidak 


30 

 

dianjurkan buat kasus demam berdarah dengue sebab  justru 

akan meningkatkan risiko perdarahan.   

 

3. Ibuprofen 

Di negara kita , obat ini lebih dikenal sebagai obat turun panas 

pada anak-anak dibandingkan  pereda nyeri. Sama seperti aspirin, 

ibuprofen sebaiknya dihindari kalau kita memiliki gangguan 

mag. Obat ini memang cukup efektif untuk demam tinggi, tapi 

sebaiknya tidak digunakan pada demam berdarah dengue 

sebab  justru akan meningkatkan risiko perdarahan.  

Contoh merek dagang yang mengandung obat ini: Lihat Bab 

Obat Demam.  

Dari nama merek dagang ibuprofen kita bisa melihat, 

budaya masyarakat sangat mempengaruhi persepsi kita 

terhadap khasiat obat. Proris® selama ini lebih terkenal 

sebagai penurun panas pada anak-anak. Padahal, bisa saja 

pasien  dewasa minum obat ini untuk sakit gigi, misalnya. 

 

4. Asam mefenamat 

Obat ini lebih dikenal sebagai pereda nyeri untuk sakit gigi. 

Contoh merek dagang yang terkenal: Ponstan®. Obat ini 

sebetulnya tidak termasuk obat bebas. Kalaupun tidak dengan 

resep dokter, setidaknya harus lewat konsultasi dengan 


31 

 

apoteker. Tapi faktanya obat ini bisa kita dapatkan dengan 

mudah. Tidak hanya di apotek, tapi juga di toko-toko obat.  

Mengapa kategorinya bukan obat bebas? Pertimbangannya 

selalu masalah keamanan. Pasalnya,  pada sebagian pasien , 

obat ini bisa menimbulkan gangguan darah sebab  itu harus 

digunakan dengan hati-hati. Selain itu, sesuai namanya, "asam 

mefenamat", obat ini juga bersifat asam.  

Nama obat memang bisa dijadikan sebagai patokan umum. 

Kalau didahului oleh kata “asam”, biasanya obat jenis ini bisa 

mengiritasi lambung. Sama seperti aspirin, obat ini sebaiknya 

dihindari kalau kita memiliki gangguan mag. Juga sebaiknya 

tidak diminum dalam keadaan perut kosong. 

 

Obat Contoh merek dagang 

Asam 

mefenamat 

Ponstan®, Allogon®, Alpain®, Altran®, Anacof®, 

Analspec®, Anastan Forte®, Asimat®, Benostan®, 

Cetalmic®, Corstanal®, Datan Forte®, Dentacid®, 

Dogesic®, Dolos®, Femisic®, Fensik 500®, Gitaramin®, 

Grafamic®, Grafix®, Lapistan®, Licostan®, Maxstan®, 

Mefast®, Mefinal®, Mefinter®, Menin®, Molasic®, 

Nichostan®, Opistan®, Ponalar®, Poncofen®, Pondex®, 

Ponsamic® 

 

 

 

5. Aminofenazon 

Obat ini masih satu kelompok dengan asam mefenamat. 

Dibandingkan golongan parasetamol dan asetosal, obat ini 

relatif kurang aman. Itu sebabnya obat-obat golongan ini tidak 

boleh digunakan secara bebas. Di beberapa negara, obat 

golongan ini tidak boleh beredar. Tapi di negara kita , obat ini 

masih bisa dijumpai di dalam beberapa produk. 

Termasuk dalam kategori ini yaitu  obat-obat analgesik 

yang namanya berakhiran dengan “–azon”, seperti isopropil 

fenazon, propifenazon (isopropil antipirin), dan fenil 

butazon. Demi pertimbangan keamanan, sebaiknya hindari 

berurusan dengan obat-obat jenis ini kecuali lewat resep 

dokter. Di pasaran, masih ada beberapa produk obat sakit 

kepala dan migrain yang mengandung propifenazon. 

Sekalipun faktanya obat ini bisa dibeli tanpa resep, sebaiknya 

kita hanya mengonsumsinya kalau sudah berkonsultasi ke 

dokter atau apoteker.   

 

6. Antalgin 

Nama lainnya metamizol, metampiron.  Obat ini pun masih 

satu kelompok dengan aminofenazon dan asam mefenamat. 

Di beberapa negara, obat ini dilarang beredar. Tapi di 

negara kita , obat ini masih beredar dengan status obat keras. 


33 

 

Konsumen awam sebaiknya tidak memakai  obat 

golongan ini kecuali dengan resep dokter. Contoh merek 

dagang yang cukup terkenal yaitu  Novalgin®.  

 

Obat nomor 5 dan 6 ini sekadar untuk pengetahuan, mungkin 

kita mendapat obat ini dari kawan atau penjual obat. Umumnya 

kita sangat jarang berurusan dengan obat-obat ini. Sekali lagi, 

pilihan utama untuk sakit kepala dan demam yaitu  parasetamol. 

Sebelum minum obat, biasakan untuk membaca komposisinya 

lebih dulu, siapa tahu produk itu mengandung obat yang 

sebaiknya kita hindari. 

 

Aman Dulu, Ampuh Belakangan 

Satu merek obat kadang berisi salah satu obat di atas, kadang 

berisi kombinasi dua atau lebih obat. Apa pun obat yang Anda 

minum, biasakan untuk mencari tahu kandungannya lebih dulu. 

Tujuannya agar kita terhindar dari efek buruk yang mungkin 

terjadi. Dalam hal konsumsi obat, pedoman pertama: do no harm. 

Jangan minum sesuatu yang mungkin membahayakan. 

Jika Anda membeli obat (sekalipun obat bebas), usahakan 

membelinya di apotek dibandingkan  di toko. Tiap kali mendapatkan 

obat, pastikan Anda mengetahui merek (nama dagang) obat itu. 

Biasanya merek obat tercantum di bungkusnya. Jika di 


34 

 

bungkusnya tidak ada keterangan tentang kandungan obat, jangan 

lupa bertanya. Itu hak pasien.  

Untuk mengecek kandungan obat, Anda bisa mengunjungi 

situ Badan POM di http://www.pom.go.id/webreg/. 

Pilihan pertama obat sakit kepala dan demam yaitu  

parasetamol 500 mg. Di pasaran, ada beberapa produk yang berisi 

parasetamol di atas 500 mg. Ada yang 600 mg, bahkan ada yang 

650 mg. (Silakan cek berapa miligram parasetamol di dalam 

produk yang diiklankan oleh Hilbram Dunar dan Mario Teguh.) 

Ada juga parasetamol yang dikombinasikan dengan obat lain yang 

masih satu kelompok, misalnya plus ibuprofen atau asetosal. 

Kalau ditotal, dosis keduanya lebih besar dari parasetamol 500  

mg. 

Makin besar dosis suatu obat, biasanya obat memang akan 

makin manjur tapi tentu saja makin besar efek buruknya. Maka, 

demi alasan keamanan, sebagai pedoman pertama: pilihlah 

parasetamol tunggal yang dosisnya standar saja, yaitu 500 mg. 

Biasakan membaca label obat sebelum mengonsumsinya. Kalau 

dosis lazim parasetamol sebesar 500 mg tidak mempan, sebaiknya 

kita berusaha lebih sungguh-sungguh untuk menghilangkan 

penyebab sakitnya, bukan dengan cara menaikkan dosisnya atau 

minum beberapa macam jenis obat. 

Di pasaran juga banyak produk parasetamol yang 

dikombinasikan dengan kafein. Jika memang kita tidak 


 

memerlukan kafein, lebih baik kita minum parasetamol tunggal 

saja. Sekali lagi, biasakan membaca label obat sebelum 

mengonsumsinya.  

Minum obat kombinasi parasetamol plus kafein sama saja 

dengan minum obat sakit kepala bersamaan dengan minum 

secangkir kopi. Kalau pada saat yang sama kita juga minum kopi, 

maka efek sampingnya tentu akan lebih besar lagi. Obat kombinasi 

seperti ini mungkin kita perlukan dalam kondisi khusus, misalnya 

ketika kita mengalami sakit kepala saat berkendara atau saat 

melakukan aktivitas yang menuntut kita tetap dalam kewaspadaan 

tinggi.  

 

Ke Dokter Jika 

Sebagian besar kasus sakit kepala memang masuk kategori yang 

tidak membahayakan jiwa. Namun, pada beberapa kasus, sakit 

kepala bisa sangat membahayakan, terutama jika berhubungan 

dengan penyakit lain. Ada sangat banyak penyakit yang 

menimbulkan gejala sakit kepala. Sekadar menyebut contoh, 

hipertensi, tumor kepala, penyempitan pembuluh darah kepala, 

infeksi, radang, trauma kepala, dan masih banyak lagi. 

Contoh ekstrem, sakit kepala bisa saja merupakan gejala dini 

sebelum serangan stroke. Jika sakit kepala dianggap enteng dan 

hanya diatasi dengan parasetamol, akibatnya bisa fatal. Itu 


36 

 

sebabnya penderita harus tanggap dan segera mengenali 

penyebabnya. 

Umumnya sakit kepala tidak sampai mengharuskan kita 

pergi ke dokter. Namun, untuk menghindari kemungkian risiko 

yang lebih buruk, kita sebaiknya pergi ke dokter jika:   

 

  Sakit kepal sangat parah dan sampai mengganggu tidur. 

  Disertai kaku-leher, mual, muntah, demam, padangan mata 

kabur, kesadaran menurun. 

  Sakit kepala kronis, misalnya dalam seminggu terjadi 2–3 kali. 

  Sakit kepala makin lama makin parah. 

 

Agar penyebabnya mudah dikenali, penderita sangat 

disarankan membuat catatan lengkap, misalnya kapan terjadi 

nyeri, bagaimana rasanya, berapa lama, apa yang dimakan selama 

24 jam terakhir, kapan dan berapa lama ia istirahat, adakah stres 

di kantor atau di rumah, obat apa saja yang diminum, dsb. Makin 

lengkap datanya, makin mudah dokter menemukan biang 

keladinya. 



OBAT FLU-PILEK 

 

 

 

Apa beda antara flu dan pilek? Ini pertanyaan awam yang 

jawabannya masih belum disepakati di kalangan ahli bahasa 

kedokteran. Hingga saat ini, istilah flu dan pilek masih sering 

dipakai secara bergantian sebagai sinonim. Kamus Besar Bahasa 

negara kita  edisi IV pun masih belum membedakan keduanya 

dengan jelas. Selain flu dan pilek, masih ada istilah lain yang 

mirip, yaitu selesma dan influenza. 

  Pilek: sakit (demam) dengan banyak mengeluarkan ingus (biasanya disertai 

batuk-batuk kecil); selesma. 

  Flu: penyakit menular pd saluran pernapasan yg disebabkan oleh virus; 

influenza; pilek 

  Selesma: sakit kedinginan sehingga mengeluarkan ingus; pilek; ingus. 

  Influenza: radang selaput lendir pada rongga hidung (yang menyebabkan 

demam); penyakit demam yang mudah menular, disebabkan oleh virus yang 

menyerang saluran pernapasan dsb; selesma 


38 

 

 

Sebagian kalangan medis membedakan keduanya. 

Penjelasannya mungkin agak ruwet untuk kebanyakan pasien  

awam. Untuk menyamakan persepsi di buku ini, kita bisa 

menganggap flu yaitu  pilek yang berat. Kalau gejalanya hanya 

berupa bersin-bersin dan hidung meler, itu namanya pilek. Tapi 

kalau gejalanya berat sampai disertai demam dan sakit kepala, itu 

bisa disebut sebagai flu.  

Flu bisa disertai sakit kepala, demam, dan batuk. Itu 

sebabnya obat flu kadang sulit dibedakan dari obat sakit kepala, 

obat demam, dan obat batuk. 

 

Penyebab 

Flu dan pilek yaitu  penyakit yang disebabkan oleh virus, bukan 

bakteri. Virus dan bakteri sama-sama kuman tapi ukuran virus 

lebih kecil dari ukuran bakteri, struktur biologisnya juga lebih 

sederhana.  

Virus penyebab flu dan pilek ini bermacam-macam. Jenisnya 

sekitar 200-an. Virus ini menyerang saluran napas bagian atas, 

yaitu hidung dan tenggorok. (Sekadar untuk diketahui, istilah yang 

dipakai di kalangan medis yaitu  tenggorok, bukan tenggorokan). 

Virus flu ini masuk ke dalam tubuh lewat mulut atau 

hidung. Kuman-kuman ini menular lewat percikan cairan saat 


39 

 

penderita bersin, batuk, atau bicara. Bisa juga menular lewat 

benda-benda yang dipegang penderita. 

sebab  disebabkan oleh virus, penyakit flu ini tidak bisa 

diobati dengan antibiotik. Jadi, pasien tak perlu minum antibiotik. 

Percuma, sia-sia, mubazir. Antibiotik hanya bisa bekerja untuk 

infeksi bakteri. Obat jenis ini tidak berdaya menghadapi virus. 

Bagian ini perlu kita bahas sebab  di negara kita  sebagian 

kalangan masyarakat punya kebiasaan yang tidak rasional. Saat 

terkena flu, mereka berusaha mengobati diri sendiri, pergi ke 

apotek membeli antibiotik yang merupakan obat resep tapi biasa 

dijual bebas. Bahkan, sebagian dokter pun punya kebiasaan 

meresepkan antibiotik buat pasien flu, terutama pasien anak-anak. 

Jadi, pasien, apoteker, sampai dokter pun sering memakai  

antibiotik secara tidak rasional.  

Kalau begitu, apa yang bisa kita lakukan kalau terkena flu? 

Masak, sakit kok tidak minum obat? 

Penyakit ini termasuk self limiting diseases. Artinya, gejalanya 

bisa hilang dengan sendirinya, asalkan daya tahan tubuh dalam 

kondisi normal, dan tidak disertai dengan komplikasi penyakit 

lainnya. Jadi, tanpa minum obat pun penyakit ini akan sembuh 

dengan sendirinya, biasanya dalam tempo satu sampai dua 

minggu. 

Kalau gejalanya sudah dalam tingkat menjengkelkan, 

misalnya sakit kepala berat atau hidung meler tak henti-henti, 


 

bolehlah kita minum obat untuk meringankan gejala-gejala 

tersebut. Namun, perlu dicatat, obat-obat ini tidak menyembuhkan 

flu, melainkan hanya meredakan gejalanya. Obat-obat ini tidak 

membasmi virusnya, tapi hanya meredakan sakit kepala atau 

hidung melernya.  

Umumnya obat-obat flu termasuk golongan obat bebas. 

Istilah kerennya OTC (over the counter), boleh dibeli bebas di konter 

toko atau apotek tanpa resep dokter. Sama seperti obat sakit 

kepala, obat flu juga merupakan golongan obat yang paling 

banyak dibeli di apotek. 

Yang perlu diingat yaitu  bahwa semua obat flu bekerja 

secara simptomatis (hanya menghilangkan gejala), tidak melawan 

virus penyebabnya. Tugas menghalau virus ini tetap dilakukan 

oleh sistem pertahanan tubuh kita sendiri. Fungsi obat hanya 

membantu supaya selama perang melawan virus itu, kita tidak 

terganggu sakit kepala, demam, batuk, ataupun pilek. 

Di pasar, merek dagang obat flu jumlahnya berjibun. Bahasa 

Jawanya sak arat-arat. Harap maklum, permintaan pasar memang 

sangat tinggi. Pabrik-pabrik farmasi berlomba membuat produk 

obat flu. Semua diklaim paling manjur. 

Sebetulnya, apa sih beda satu obat flu dengan obat lain? 

Untuk tahu jawabannya, pertama-tama kita harus tahu isinya. 

Secara umum, obat flu-pilek biasanya berisi: 

 


41 

 

 

1. Analgesik-antipiretik 

Ini istilah medis untuk obat yang khasiatnya meredakan nyeri 

(analgesik) dan menurunkan demam (antipiretik). Baca juga 

Bab Obat Sakit Kepala & Nyeri. Obat flu berisi pereda nyeri 

sebab  memang salah satu gejala flu yang mungkin timbul 

yaitu  sakit kepala. Adapun khasiat antipiretik dimaksudkan 

untuk menurunkan gejala panas badan (demam) yang 

menyertai flu. 

Dalam tulisan-tulisan medis, istilah analgesik biasanya 

berpasangan dengan antipiretik. Ini sebab  obat yang 

berkhasiat meredakan nyeri biasanya juga berkhasiat 

menurunkan demam. Contoh golongan obat ini antara lain 

parasetamol dan asetosal. Di kemasan obat, parasetamol 

kadang ditulis sebagai asetaminofen, sedangkan asetosal 

kadang ditulis dalam versi panjangnya, asam asetil salisilat. 

 

2. Dekongestan (pelega hidung) 

Obat golongan ini bekerja melegakan hidung tersumbat. Istilah 

dekongestan (decongestant) berasal dari kata de- yang berarti 

menghilangkan, dan congest yang merujuk pada penyumbatan 

saluran hidung. Contoh obat golongan ini: fenil propanolamin 

dan pseudoefedrin. Mungkin telinga kita tidak begitu familiar 


42 

 

dengan nama fenil propanolamin. Ya, obat ini memang lebih 

dikenal sebagai PPA, singkatan dari phenyl-propanolamine. 

PPA inilah bahan obat yang sempat berkali-kali diributkan 

sebab  adanya berita bahwa obat ini ditarik dari pasar. Untuk 

lebih jelasnya, silakan baca Bab PPA & Obat Pelega Hidung. 

 

3. Antihistamin (antialergi) 

Obat ini bekerja dengan cara menetralkan histamin. Histamin 

sendiri yaitu  bahan yang bertanggung jawab terhadap 

timbulnya gejala flu-pilek seperti hidung meler dan bersin-

bersin. Contoh obat golongan ini klorfeniramin maleat, 

difenhidramin, tripolidin, bromfeniramin maleat. 

Dari sekian banyak contoh antihistamin di atas, yang paling 

banyak digunakan yaitu  klorfeniramin maleat. Nama ini 

mungkin tidak begitu akrab di telinga awam. Dalam bahasa 

sehari-hari, kita mengenalnya dengan sebutan CTM, singkatan 

dari chlor-trimeton, nama lain klorfeniramin maleat. CTM, 

klorfeniramin maleat, chlor-trimeton, semuanya setali tiga 

uang alias sami mawon. 

Selain punya khasiat antialergi dan menekan refleks batuk, 

antihistamin punya efek samping membuat kantuk. Itu 

sebabnya, saat minum obat flu yang mengandung 

antihistamin, kita disarankan untuk tidak mengendarai 


43 

 

kendaraan bermotor sebab  obat ini bisa mengurangi 

kemampuan kita berkonsentrasi. 

Obat flu hanya akan menyebabkan kantuk kalau ia berisi 

golongan antihistamin. Kalau tidak mengandung antihistamin, 

obat flu biasanya tidak menyebabkan kantuk. Jadi, agar kita 

tidak mengantuk, pilihlah obat flu yang tidak mengandung 

kelompok antihistamin. 

 

4. Obat batuk 

sebab  flu kadang disertai batuk, banyak produk obat flu 

mengandung obat batuk. Ada dua kelompok besar obat batuk, 

yaitu penekan batuk (antitusif) dan pengencer dahak 

(ekspektoran). Antitusif bekerja langsung di otak dengan cara 

menekan sistem refleks batuk. Contoh obat, dekstrometorfan 

dan noskapin. 

Sementara ekspektoran bekerja dengan cara membantu 

mengurangi kekentalan dahak sehingga lebih mudah 

dikeluarkan. Contoh obat, bromheksin, guaifenesin (biasa 

disebut juga gliseril guaiakolat atau GG), ambroksol, dan 

karbosistein. Untuk penjelasan lebih detail, baca Bab Obat 

Batuk. 

 


44 

 

Obat flu-pilek umumnya berisi satu atau beberapa jenis obat 

golongan di atas. Kadang, satu tablet berisi semua jenis obat di 

atas. Di negara kita , sebagian pabrik farmasi punya kecenderungan 

untuk membuat satu obat berisi bermacam-macam kombinasi 

bahan aktif. Obat “sapu jagat” semacam ini memang bisa sangat 

laris sebab  bisa untuk segala jenis flu-pilek. Namun, dari sisi 

keamanan terapi, cara ini sebetulnya tidak sesuai dengan kaidah 

farmasi yang baik. Harusnya pencampuran obat dilakukan 

seminimal mungkin untuk menghindari interaksi obat dan efek 

samping yang tidak perlu. 

Sebagai pedoman umum, sebaiknya pilihlah obat yang 

isinya memang benar-benar kita butuhkan. Jangan membiasakan 

diri minum obat sapu jagat. Sebagai contoh, jika pileknya tidak 

disertai dengan sakit kepala atau demam, kita tak perlu minum 

obat flu-pilek yang berisi parasetamol. Jika flu tidak disertai 

penyumbatan saluran napas, kita tak perlu minum obat yang 

mengandung PPA atau pseudoefedrin.  

Ingat, obat sejatinya yaitu  racun. Makin banyak kita 

minum obat, artinya makin banyak kita minum racun—sesuatu 

yang tidak kita perlukan dan hanya akan membebani tubuh. 

Obat-obat flu-pilek di pasaran sebagian besar berada dalam 

bentuk kombinasi yang berisi dua, tiga, empat, bahkan lima jenis 

obat dari kelompok parasetamol (antinyeri-antidemam), CTM 

(antialergi), PPA (pelega hidung), dekstrometorfan (penekan 


45 

 

batuk), ekspektoran (pengencer dahak). Dari sisi keamanan, makin 

banyak kombinasinya, makin besar efek samping dan mudaratnya. 

sebab  itu, sebagai pedoman umum: gunakan obat yang memang 

kita perlukan saja. 

 

 

 

Jika gejala flu 

berupa 

Pilihlah Obat yang Mengandung 

Antihistamin 

(antialergi) 

Dekongestan 

(pelega 

hidung) 

Analgesik-

antipiretik 

(antinyeri-

antidemam) 

Antitusif 

(penekan 

batuk) 

Ekspektoran 

(pengencer 

dahak) 

Bersin-bersin, 

hidung meler 

ringan, batuk 

ringan 

 

√ 

    

Hidung meler 

sampai 

tersumbat 

 √    

Demam atau 

sakit kepala 

  √   

Batuk kering    √  

Batuk berdahak     √ 

 

Biasanya saat kita mengalami flu-pilek, jarang sekali semua 

gejala di atas muncul bersamaan. Pada umumnya hanya dua atau 

tiga saja gejalanya. sebab  itu, kalau memang kita harus 


46 

 

memakai  obat flu, pilihlah obat yang memang kita perlukan 

saja sesuai gejala.  

Sebagai contoh, kalau flu-pilek tidak disertai batuk, buat apa 

membeli obat batuk yang mengandung pengencer dahak 

(ekspektoran) atau penekan batuk (antitusif)? Begitu pula kalau 

hidung tidak tersumbat, tak ada gunanya kita membeli obat flu 

yang mengandung dekongestan (pelega hidung). Obat-obat yang 

tidak kita perlukan ini hanya akan membebani tubuh dengan efek 

samping. 

Dari tabel berikut kita bisa melihat, makin ke bawah, makin 

banyak kandungan obatnya, dan tentu saja makin banyak 

kemungkinan efek samping dan mudaratnya. Perhatikan juga 

dosisnya. Sebagian produk mengandung pseudoefedrin 30 mg per 

takaran, sebagian lainnya mengandung 60 mg. Sebagai pilihan 

pertama, gunakan yang dosisnya 30 mg per takaran. Jika kita 

memakai  produk pseudoefedrin 60 mg, hati-hati terhadap 

risiko efek sampingnya seperti jantung berdebar-debar atau susah 

tidur.  

Satu hal lagi yang perlu diingat: apa pun penyakit kita, 

jangan pernah lupa pedoman umum berobat: jika sakit berlanjut, 

segera hubungi dokter. 


47 

 

 

 Komposisi obat Contoh merek dagang 

je

n

is

 o

b

at

 

Antialergi & pelega 

hidung 

 

Actifed®, Alerfed®, Crofed®, Flutrop®, Grafed®, 

Lapifed®, Librofed®, Mertisal®, Protifed®, 

Nichofed®, Nostel®, Protifed®, Quantidex®, 

Tremenza®, Trifed®, Trifedrin®, Valved®, Zentra®, 

Alco Plus®, Aldisa SR®, Bodrexin Pilek Alergi®, 

Cirrus®, Rhinofed®, Rhinos Junior®, Rhinos SR®, 

Clarinase®, Cronase®, Fexofed®, Telfast Plus®, 

Triaminic Pilek®, Nalgestan® 

Penekan batuk 

& pelega hidung 

Bantif Child®, Triaminic Batuk & Pilek® 

Pengencer dahak & 

pelega hidung 

Triaminic Expectorant & Pilek® 

Parasetamol & pelega 

hidung 

Sanaflu®, Topras® 

je

n

is

 o

b

at

 Parasetamol, 

antialergi & pelega 

hidung 

Contrex®, Corhinza®, Colpica®, Decolgen FX®, 

Decolgen Syrup®, Decolgen Tablet®, Deconal®, 

Fludane®, Flurin®, Flu-Tab®, Mixagrip®, 

Molexflu®, Panadol Cold & Flu Night®, 

Paranomin®, Procold®, Refagan®, Trifedrin Plus®, 

Extra-Flu®, Flunax® 

Parasetamol, pelega Bodrex Flu & Batuk®, Panadol Cold & Flu®, 


48 

 

hidung & penekan batuk Recomint®, Sanaflu Plus Batuk®, Ultragrip® 

Antialergi, pelega 

hidung & penekan batuk 

Actifed Plus Cough Suppressant®, Lapifed DM®, 

Alco Plus DMP®, Hustadin®, Noscapax®, Tuseran 

Pedia DMP® 

Antialergi, pelega 

hidung & pengencer 

dahak 

Actifed Plus Expectorant®, Gifed Expectorant®, 

Lapifed Expectorant®, Valved DM®, Berlifed®, 

Polaramine Expectorant® 

Parasetamol, antialergi 

& pengencer dahak 

Hustab®, Kidikol®, Pinkid's Cough® 

je

n

is

 o

b

at

 

Parasetamol, antialergi,  

Pelega hidung 

& penekan batuk 

Alpara®, Anadex®, Antiza®, Corsagrip®, Flu 

Stop®, Fludane Plus®, Fludexin®, Flurin Dmp®, 

Flutamol P®, Lacoldin®, Kontrabat®, Mixaflu®, 

Tuzalos®, Frigrip® 

Parasetamol, antialergi,  

Pelega hidung & 

pengencer dahak 

Anacetine®, Bestocol®, Bisolfon Flu®, Bronchitin®, 

Bodrexin Syrup®, Bodrexin Flu & Batuk®, Bodrex 

Flu & Batuk Berdahak®, Bycolen®, Flutamol®, 

Frigrip®, Ikadryl Flu®, Kafsir®, Oskadon Flu & 

Batuk Berdahak®, Ponflu®, Supra Flu®, Stop 

Cold®, Ikadryl Flu®, Combi Flu® 

Antialergi, pelega 

hidung, antibatuk 

& pengencer dahak 

Dextral®, Dextrosin® 


49 

 

je

n

is

  o

b

at

 Parasetamol, antialergi, 

pelega hidung, 

antibatuk & pengencer 

dahak 

Sebetulnya di kolom ini masih ada contoh produk-

produk obat “sapu jagat” yang berisi lima jenis obat. 

Demi alasan keamanan, sebaiknya hindari 

penggunaannya kecuali tidak ada pilihan yang lebih 

aman, yang komposisinya memang benar-benar 

kita butuhkan. 


50 

 

 

 

PPA  

& OBAT PELEGA HIDUNG 

 

 

 

 

Di negara kita , obat yang biasa disebut PPA (singkatan versi 

Inggris: phenyl propanolamine) ini sering sekali diributkan. Hampir 

sepanjang tahun. Dan lucunya, setiap tahun, materi yang 

diributkan itu-itu saja tapi tetap saja berulang. Beberapa tahun 

lalu, beredar hoax alias kabar tak benar yang menyebar lewat SMS 

dan e-mail. Isi berita itu mengatakan bahwa Badan Pengawas Obat 

dan Makanan (Badan POM) Republik negara kita  telah melarang 

peredaran semua produk obat yang mengandung PPA. Di akhir 

tulisan, terdapat perintah yang tegas sekali: kirimkan informasi ini 

kepada setiap pasien  yang Anda kenal! 


51 

 

Badan POM sudah berkali-kali memberikan penjelasan 

resmi. Meski begitu, hoax ini masih saja beredar. Penyebarannya 

jauh lebih cepat dibandingkan  berita resmi yang dikeluarkan oleh 

Badan POM. 

Sebetulnya bagaimana sih duduk perkaranya? 

Seperti yang sudah dijelaskan di Bab Obat Flu-Pilek, khasiat 

utama PPA yaitu  melegakan hidung yang mampet. Itu sebabnya, 

obat ini biasa dijumpai di dalam produk obat flu-pilek dan obat 

batuk. Namun, selain efek melegakan hidung, obat ini juga punya 

beberapa efek samping, misalnya jantung berdebar-debar, tekanan 

darah tinggi, dan berkurangnya nafsu makan. 

sebab  bisa mengurangi nafsu makan, PPA di beberapa 

negara dimanfaatkan sebagai obat pelangsing yang dijual bebas. 

Dosisnya dibuat tinggi sehingga peminumnya kehilangan nafsu 

makan dan akhirnya bisa kurus. 

Sebagai pelega hidung mampet, dosis PPA biasanya tidak 

lebih dari 15 mg. Tapi sebagai obat pelangsing, dosisnya bisa 

beberapa puluh miligram. Jauh di atas dosis yang lazim untuk obat 

flu-pilek dan batuk. 

Dalam dosis besar ini, PPA bisa meningkatkan risiko 

perdarahan di otak alias stroke. Itu sebabnya Food and Drug 

Administration (FDA, Badan POM di Amerika Serikat) melarang 

peredarannya sejak November 2000. Di beberapa negara lain, 


52 

 

PPA tidak boleh beredar sama sekali, atau beredar tapi hanya 

boleh didapatkan dengan resep dokter. 

Itu kebijakan di luar negeri. Bagaimana dengan negara kita ? 

Di bawah ini penjelasan resmi (versi cerita bebas) Kepala 

Badan POM Dokter Husniah Rubiana Thamrin Akib, Sp.FK, 

tahun 2009. Penjelasan ini masih bisa dipakai sebagai acuan 

hingga sekarang sebab  kasus salah-informasi tentang PPA masih 

sering berulang dan isinya sebetulnya sama saja dari tahun ke 

tahun. (Ini salah satu tabiat buruk kita. Meributkan hal yang sama 

berulang-ulang, bertahun-tahun.) 

 

Dibatasi, Bukan Dilarang 

Sampai sekarang FDA Amerika masih merupakan rujukan utama 

di tingkat internasional mengenai obat dan makanan. Badan POM 

Republik negara kita  pun biasa merujuk ke badan ini. Namun, 

dunia farmasi tak bisa dilepaskan dari aspek budaya masyarakat. 


Dalam hal PPA, masyarakat negara kita  berbeda dari Amerika.  

Di Amerika, PPA, selain digunakan di obat pilek, juga 

digunakan sebagai obat pelangsing dalam dosis besar. Kebiasaan 

ini tidak berlaku di negara kita . Di negara kita, PPA tidak lazim 

dipakai sebagai obat pelangsing. Obat ini lazimnya hanya 

digunakan dalam obat flu-pilek dan batuk dalam dosis kecil, tak 

lebih dari 15 mg. Dosis ini dianggap masih aman. Itu sebabnya 


53 

 

negara kita  tidak melarang peredaran obat flu-pilek dan obat batuk 

yang mengandung PPA. 

Yang dilakukan Badan POM yaitu  membatasi kadar PPA 

di dalam produk obat, maksimal 15 mg dalam satu takaran. Yang 

dimaksud satu takaran di sini yaitu  dosis sekali minum. Hanya 

produk yang mengandung PPA di atas 15 mg per takaran yang 

harus ditarik dari peredaran. 

Jadi, di negara kita , PPA tidak dilarang beredar, melainkan 

dibatasi pemakaiannya. Obat-obat flu-pilek yang mengadung PPA 

masih boleh beredar, masih bisa diminum sebagai pelega hidung, 

asalkan sesuai dengan batasan di atas. 

Yang perlu dicatat, PPA memang punya beberapa efek 

samping buruk yang harus diwaspadai, misalnya jantung berdebar, 

tekanan darah meningkat, pusing, dan susah tidur. Itu  sebabnya 

obat ini tidak boleh diminum oleh pasien yang punya darah tinggi, 

masalah jantung, diabetes, atau glaukoma (tekanan tinggi bola 

mata). 

Makin besar dosis yang diminum, makin besar pula 

kemungkinan timbulnya efek samping tersebut. Hal ini perlu 

ditegaskan sebab  pasien  negara kita  punya kebiasaan tidak baik 

dalam minum obat, yakni minum beberapa tablet sekaligus, 

melebihi dosis yang dianjurkan.  

Efek buruk ini sebetulnya bukan hanya dimiliki oleh PPA, 

tapi juga obat-obat dekongestan lain yang masih satu golongan, 


54 

 

misalnya efedrin dan pseudoefedrin. Jadi, kalau kita dianjurkan 

waspada terhadap PPA, mestinya kita juga waspada terhadap 

efedrin dan pseudoefedrin.  

Yang menarik, sebab  PPA sudah dipersepsi oleh sebagian 

konsumen sebagai “obat terlarang”, beberapa pabrik obat beralih 

memakai  pseudoefedrin dalam dosis tinggi (di atas 30 mg) 

yang risiko buruknya sama atau bahkan lebih besar dari PPA 

dosis wajar.  

Di jajaran obat bebas, banyak sekali obat flu, pilek, batuk, 

dan asma yang mengandung PPA, efedrin, dan pseudoefedrin 

bersama obat-obat jenis lain. Ini juga merupakan salah satu 

kebiasaan industri farmasi yang tidak baik, yaitu mencampur 

berbagai obat dalam satu sediaan. Agar kita terhindar dari paparan 

obat yang tidak kita perlukan, setiap kali hendak membeli dan 

minum obat, biasakan untuk selalu membaca komposisinya. 

Untuk mengurangi efek samping obat pelega hidung, kita 

bisa memilih dekongestan dalam bentuk obat tetes hidung. sebab  

langsung diteteskan di hidung, obat ini tidak begitu banyak diserap 

oleh tubuh sehingga efek sampingnya pun minimal. Secara umum, 

obat tetes hidung ini bisa dipakai oleh ibu hamil maupun penderita 

hipertensi. Contoh dekongestan yang biasanya berupa obat tetes: 

oksimetazolin, xilometazolin. Contoh merek dagang: