antikolinergiknya dapat me-
nye babkan retensi urin dan gangguan ako-
modasi pada manula.
Dosis: 3 dd 25-50 mg (garam HCl) d.c.,
anak-anak di atas 1 tahun 2-4 dd 0,2 mg/kg.
Lihat selanjutnya Bab 51, Antihistaminika.
* Oksomemazin (Doxergan, *Toplexil) yaitu
derivat dengan khasiat dan pemakaian
yang sama (1964), efek antikolinergiknya
lemah. Dosis: 2-3 dd 15 mg, anak-anak 1-2
tahun 2,5-10 mg sehari, 2-5 tahun 10-20 mg
sehari, 5-10 tahun 2-3 dd 10 mg.
2b. Difenhidramin: Benadryl
Sebagai zat antihistamin (H1-blocker), se-
nyawa ini bersifat hipnotik-sedatif dan
dengan demikian meredakan rangsangan
batuk. Pada bayi dapat memicu perang-
sangan paradoksal, misalnya mengeringnya
selaput lendir sebab efek antikolinergik.
Dosis: 3-4 dd 25-50 mg.
3. MUKOLITIKA
3a. Asetilsistein: Fluimucil
Derivat dari asam amino alamiah sistein
ini berkhasiat mencairkan dahak yang liat
melalui pemutusan jembatan disulfida, se-
hingga rantai panjang antara mukoprotein
terbuka dan lebih mudah dikeluarkan me-
lalui proses batuk. Sebagai precursor dari
glutathion, zat ini juga bersifat antioksidan
dengan melindungi sel terhadap oksidasi
dan perusakan oleh radikal bebas; derivatnya
karbosistein dan mukolitik lainnya mesna
(Misatabron) tidak memiliki sifat ini.
Asetilsistein juga mampu memperbaiki
gerakan bulu getar (cilia) dan membantu
efek antibiotik (doksisiklin, amok sisiklin
dan tiamfenikol). Zat ini terutama efektif
terhadap dahak yang kental sekali dan sa-
ngat bermanfaat bagi pasien COPD dan
mucoviscidosis. Asetilsistein juga merupakan
zat penawar (antidotum) terhadap keracunan
parasetamol melalui peningkatan persediaan
glutation. Zat ini mengikat metabolit toksik
dari parasetamol dan dengan demikian da-
pat menghindari necrosis hati bila diberikan
dalam waktu 10 jam (per oral atau i.v.) sesudah
intoksikasi.
Resorpsi pesat, namun BA hanya ±5% akibat
FPE tinggi. Seperti semua asam amino, dis-
tribusinya dalam tubuh baik dengan men-
capai kadar tinggi, a.l. di saluran perna-
pasan dan sekret bronchi. Dalam hati diubah
menjadi sistein, sistin dan taurin, sedang
ekskresinya berlangsung melalui urin.
Efek samping yang paling sering terjadi
yaitu mual dan muntah, maka penderita
tukak lambung perlu waspada. Sebagai obat
inhalasi, zat ini da pat memicu kejang
bronchi pada penderita asma. Pada dosis
tinggi (seperti pada intoksikasi parasetamol)
dapat timbul reaksi anafilaktis dengan rash,
gatal, udema, hipotensi dan bronchospasme.
Dosis: oral 3-6 dd 200 mg atau 1-2 dd 600
mg granulat, anak-anak 2-7 tahun 2 dd 200
mg, di bawah 2 tahun 2 dd 100 mg. Sebagai
antidotum keracunan parasetamol, oral 150
mg/kg berat badan dari larutan 5%, disusul
dengan 75 mg/kg setiap 4 jam.
* Karbosistein (karboksimetilsistein, Mucocil,
Rhinathiol, Solmux) yaitu derivat dengan
pemakaian yang sama namun khasiat muko-
litiknya lebih lemah. Diperkirakan bahwa
efeknya terhadap lambung lebih jarang
terjadi. Plasma-t½ 2 jam. Dosis: oral 3-4 dd 750
mg, anak-anak 3 dd 100-375 mg.
3b. Bromheksin: Bisolvon, Mosavon
Derivat sikloheksil ini berkhasiat mukoli-
tik pada dosis yang cukup tinggi. Viskositas
dahak dikurangi melalui depolimerisasi serat-
serat mukopolisakaridanya. Bila dipakai
melalui inhalasi efeknya sudah tampak
sesudah 20 menit, sedang per oral baru
sesudah beberapa hari dengan berkurangnya
rangsangan batuk.
Resorpsi dari usus baik, mulai kerjanya
per oral sesudah ±5 jam, sedang sebagai
inhalasi sesudah 15 menit. Dalam hati zat
ini dirombak praktis tuntas menjadi a.l.
metabolit aktif ambroksol (Ambril, Mucopect),
yang juga dipakai sebagai mukolitikum.
Efek samping berupa gangguan saluran
cerna, pusing dan berkeringat, namun jarang
terjadi. Pada inhalasi dapat terjadi bron-
chokon striksi ringan.
Dosis: oral 3-4 dd 8-16 mg (klorida), anak-
anak 3 dd 1,6-8 mg, tergantung dari usia.
4. EKSPEKTORANSIA
4a. Kaliumiodida
Iodida menstimulasi sekresi mucus di ca-
bang tenggorok dan mencairkannya, namun
sebagai obat batuk (hampir) tidak efektif.
Namun obat ini banyak dipakai dalam
sediaan batuk, khususnya pada asma, wa-
laupun risiko efek samping besar sekali.
Kaliumiodida terutama dipakai untuk
profilaksis dan terapi struma (gondok) dan
hipertirosis (lihat Bab 48, Tiroksin dan tiro-
istatika), serta sebagai obat tetes mata (larutan
1%) untuk lensa mata keruh (katarak).
Efek samping kuat dan berupa gangguan
tiroid, struma, urticaria dan iod-akne, juga
hiperkaliëmia (pada fungsi ginjal buruk).
Dosis: pada batuk oral 3 dd 0,5-1 g, maks.
6 g sehari. Bagi pasien yang tidak boleh
diberikan kalium, obat ini dapat diganti
dengan natriumiodida dengan khasiat yang
sama.
4b. Amoniumklorida
Berkhasiat diuretik lemah yang menye-
babkan acidosis, yaitu kelebihan asam dalam
darah, lihat Bab 33, Diuretika. Keasaman
darah merangsang pusat pernapasan, se-
hingga frekuensi napas meningkat dan
gerakan bulu getar (cilia) di saluran napas
distimulasi. Sekresi dahak juga meningkat.
Maka senyawa ini banyak dipakai dalam
sediaan sirop batuk, misalnya Obat Batuk
Hitam.
Efek samping hanya terjadi pada dosis tinggi
dan berupa acidosis (khusus pada anak-
anak dan pada pasien ginjal) dan gangguan
lambung (mual, muntah), sebab sifatnya
yang merangsang mukosa.
Dosis: oral 3-4 dd 100-150 mg, maks. 3 g
seharinya.
4c. Guaifenesin (gliserilguaiakolat, *Toplexil)
yaitu derivat guaiakol yang banyak di-
gunakan sebagai ekspektoran dalam ber-
bagai jenis sediaan batuk populer. Pada
dosis tinggi bekerja merelaksasi otot, seperti
mefenesin.
Efek samping kadangkala berupa iritasi
lambung (mual, muntah) yang dapat diku-
rangi bila diminum dengan segelas air.
Dosis: oral 4-6 dd 100-200 mg.
4d. Minyak atsiri
Minyak atsiri/mudah menguap, seperti
minyak kayu putih, minyak permen dan
minyak adas (Oleum foeniculi) berkhasiat
menstimulasi sekresi dahak, bekerja spasmolitik
(melawan kejang), anti radang dan juga bersifat
bakteriostatik lemah. berdasar sifat-sifat ini
minyak terbang banyak dipakai dalam
sirop batuk atau juga sebagai obat inhalasi uap
(obat sedot), yaitu ±10 tetes dimasukkan ke
dalam 1 liter air panas dan dihisap uapnya.
Terbukti bahwa inhalasi demikian juga
sangat efektif un tuk meringankan selesma
akibat infeksi virus, yang ternyata dapat
diinak tifkan oleh suhu di atas 40° C.
4e. Ipecacuanhae radix (F.I.): *Doveri pulvis
Akar tambahan dari tumbuhan Psychotria
ipecacuanha (Rubiaceae) ini mengandung dua
alkaloid, yakni emetin dan sefaelin. Zat-zat
ini bersifat emetik (memicu muntah),
spasmolitik terhadap kejang saluran perna-
pasan dan menstimulasi sekresi bronchi
secara reflektoris. pemakaian utamanya
yaitu sebagai emetikum yang efektif pa-
da peristiwa kera cunan, terutama pada
anak-anak. Sebagai ekspektorans hanya di-
gunakan dalam kombinasi dengan obat-
obat batuk lain, misalnya dalam Pulvis/Tablet
Doveri, yakni campuran dengan serbuk candu
dan dalam sediaan ini Ipeca juga berfungsi
mencegah penyalahgunaannya.
Efek samping pada dosis biasa berupa reaksi
hipersensitasi dan muntah-muntah pada
dosis lebih tinggi.
Dosis: oral 3 dd 50 mg.
5. EMOLLIENSIA
5a. Succus liquiritiae: *Obat Batuk Hitam.
Serbuk yang berwarna hitam ini diperoleh
dari ekstrak akar tumbuhan Glycyrrhiza
glabra (akar manis) dan mengandung dua
asam (glycyrrhizic acid dan glycyrrhetic
acid), liquiritin yang bersifat spasmolitik
dan flavonoida lain, seperti fito-estrogen (Yun.
phyto- : berasal tumbuhan). Obat ini banyak
dipakai sebagai salah satu komponen dari
sediaan obat batuk untuk mempermudah
pengeluaran da hak dan untuk memperbaiki
rasa (corrigens rasa).
Efek samping pada dosis lebih tinggi dari
3 g sehari berupa nyeri kepala, udema dan
terganggunya ke seimbangan elektrolit,
akibat efek mineralokortikoid dan hipernatriëmia
dari asam glycyrrizinat. Yang terkenal yaitu
hipertensi pada mereka yang makan terlalu
banyak drop (gula-gula dengan succus).
Dosis: oral 1-3 g sehari.
Hormon yaitu zat kimiawi yang disekre-
sikan oleh kelenjar endokrin dan masuk
langsung ke dalam aliran darah. Efeknya
terjadi di suatu organ lain dari tubuh yang
membutuhkannya untuk dapat berfungsi
secara normal.
Kelenjar endokrin yaitu kelenjar dengan
sekresi intern dan yang terpenting yaitu
hipofisis, hipotalamus dan epifisis di otak, kelen-
jar kelamin (ovaria dan testes), anak-ginjal,
pankre as, tiroid,parati roid dan timus.
pemakaian
Sediaan hormon banyak dipakai sebagai
terapi substitusi untuk menggantikan ke-
kurangan yang terjadi akibat hipofungsi
suatu kelenjar endokrin, misalnya insulin
pada diabetes dan estrogen pada masa se-
telah menopause. namun jumlah terbanyak
dipakai sebagai obat pada gangguan
yang tidak bersifat endokrin, namun berda-
sarkan kegiatannya yang khas. Misalnya
pemakaian korti koste roida pada antara
lain gangguan yang berkai tan dengan pera-
dan gan dan hormon kelamin wanita dalam
pil antiha mil.
Dahulu sering kali dipakai sediaan or-
gannya sendiri, yaitu kelenjar hewan (sapi,
babi, domba) yang telah dikeringkan, diha-
luskan dan distandardisasi. namun sediaan
itu dewasa ini praktis sudah seluruhnya
ditinggalkan, sebab banyak hormon sudah
dapat dibuat secara sintesis, yang lebih mur-
ni dan kerapkali lebih kuat aktivitasnya.
Sejak akhir tahun 1990-an, sejumlah hormon
malah dibuat secara biosin tetik melalui tek-
nik rekombinan-DNA, misal nya insulin, hor-
mon pertumbuhan somatro pin dan FSH
(folitropine,Puregon).
HORMON-HORMON
HIPOFISIS
HIPOFISIS
DAN HIPOTALAMUS
Hypophysis cerebri (embelan otak) atau
glandula pituitaria yaitu sebuah umbai
kecil yang terikat dengan tangkai pada dasar
otak. Kelenjar ini beratnya hanya 1 g, namun
merupakan mata rantai terpenting antara
SSP dan kelenjar-kelenjar endokrin lainnya
dan terkadang juga disebut Kelenjar Utama
(Master gland).
Hypothalamus yaitu organ kecil yang se-
cara anatomis dan fungsi o nal berhubungan
erat dengan hipofisis. Hipotalamus yaitu
bagian dari otak-tengah (diencep halon) ber-
sama talamus dan merupa kan pusat sangat
pen ting, yang mere gulasi a.l. suhu tubuh,
tekanan darah serta sekresi hormon-hormon
seks dan kortikoste roida.
Kedua organ endokrin itu mengha-
silkan hormon-hormonnya sendiri. Sekresi
dari sebagian besar hormon hipofisis
dikendalikan oleh hormon-hormon hipota-
lamus, yang disebut releasing hormones dan
inhibiting factors. Contohnya yaitu PRH
(Prolactine Releasing Hormone) yang men-
stimulasi sekresi prolak tin, sedang PIF
(Prolactine Inhibiting Factor) yang identik
dengan dopamin, justru mengham batnya.
Produksi hormon-hormon peptida ini di hipo-
tala mus diatur oleh neurotransmitter seperti
noradrenalin, seroto nin dan dopamin.
Hormon-hormon hipofisis
Hipofisis terdiri dari dua bagian, yakni umbai
depan dan umbai belakang yang memben-
tuk hormonnya masing-masing.
1. Adenohipofisis: umbai depan (lobus an-
terior) merupa kan bagian terbesar, kira-kira
duapertiga dari seluruh organ dan terdiri
dari jaringan kelenjar (= Lat. adeno). Adeno-
hipofisis mengha silkan minimal 10 peptida,
yang disebut hormon trophic (akhiran -troph
berasal Yun. trophikos = beri makan, to feed).
Hormon-hormon ini memiliki fungsi regulasi
untuk organ endokrin lain yang didorong
olehnya untuk mengeluarkan hormonnya
sendiri. Penge cualian yaitu prolaktin dan
somatropin yang berefek langsung terhadap
masing-masing laktasi dan pertumbuhan
jaringan.
Hormon-hormon adenohipofisis kini dapat
disintesis dalam keadaan agak murni dan
yang terpenting yaitu :
a. gonadotropin atau hormon gonadotrop:
sekresinya distimulasi oleh hormon hi-
potalamus GnRH, lihat di bawah. Gona-
dotropin terdiri dari dua hormon, yakni:
– FSH(= Follicle Stimulating Hormone):
menstimulasi perkembangan folikel
(de Graaf) dalam ovaria dan pemben-
tukan spermatozoa dalam testes
– LH(= Luteinizing Hormone), dahulu
juga disebut ICSH(= Interstitial Cell
Stimulating Hormone), menstimulasi
antara lain transformasi folikel ma-
sak menjadi badan kuning(Corpus
luteum) serta produksi estrogen dan
progesteron oleh ovaria. Juga mendo-
rong sel-sel Leydig (=sel-sel interstitium
testes) untuk memproduksi testos-
teron.
b. kortikotropin, hormon kortikotrop atau
ACTH (= Adreno-Corti cotropic Hormone)
menstimulasi kulit anak-ginjal untuk
memproduksi kortisol dan hormon-hor-
mon kelamin
c. tirotropin, hormon tirotrop atau TSH
menstimulasi produksi tiroksin oleh ke-
lenjar tiroid
d. somatropin (STH) atau hormon pertum-
buhan (Growth hormone, GH) menstimulasi
pertumbuhan umum dari jaringan, juga
berefek laktogen
e. prolaktin menstimulasi sekresi air susu
ibu yang telah “disiap-sediakan” oleh
estrogen dan progesteron selama masa
hamil. Juga untuk memelihara laktasi.
Struktur molekul peptidanya mirip de-
ngan STH.
Hormon-hormon lainnya belum diiden-
tifikasi dengan tuntas dan mungkin juga
berfungsi meregulasi. Beberapa hormon yang
itu di atas, selain di adenohipofisis, ju-
ga disintesis di plasenta, misalnya chorion
gonadotropin dengan efek sama seperti LH.
2. Neurohipofisis: umbai belakang (lobus
posterior) teruta ma terdiri dari jaringan saraf.
Kedua hormonnya yaitu :
a. oksitosin (oxytocin): berkhasiat meng-
kon traksi rahim dan menstimulasi dimu-
lainya laktasi
b. vasopresin atau ADH(Anti Diuretic Hor-
mone) mencegah ekskre si air berlebihan
oleh ginjal. Kedua hormon ini disintesis
di dalam hipotalamus dan diangkut se-
bagai paket-paket kecil melalui ujung-
ujung neuron di tangkai hipofisis ke
umbai belakangnya.
A. HORMON ADENOHIPOFISIS
Gonadotropin
Efek atas ovaria. Setiap bulan FSH bersama
LH menstimulasi pemasakan satu sel telur
(ovum) hingga berkembang menjadi sebuah
gelembung kecil, yaitu Folikel de Graaf. Pro-
duksi estrogen oleh ovaria juga distimulasi
olehnya. Kira-kira 2 minggu kemudi an, pa-
da pertengahan siklus haid, produksi LH
memuncak dan terjadilah ovulasi, yaitu fo-
likel masak melepaskan sel telurnya. Juga
di bawah pengaruh LH sisa folikel ber-
kembang lagi menjadi suatu Badan kuning
(Corpus luteum), yang distimu lasinya untuk
mensekresi progesteron dan estrogen dalam
jumlah besar. Ketika terjadi kehamilan,
sesudah ovaria meng hentikan produk sinya
sekitar bulan ke-4, plasenta membentuk
HCG (gonadotropin) yang mendorong sekresi
progesteron untuk memeli hara kehamilan.
Efek atas testes. FSH khusus bertanggung
jawab atas perkemban gan testes dan pem-
bentukan sel-sel mani (spermatogenesis), se-
dang kan LH bekerja terhadap sel-sel Leydig
dalam testes untuk meningkatkan sintesis
dan sekresi testosteron.
Sediaan
Gonadotropin dapat diperoleh dari air kemih
wanita hamil dan wanita sesudah meno-
pause. berdasar ini tersedia 2 sedia-an,
yaitu gonadotropin chorion dan gonadotropin
menopau sal.
a. Human chorion gonadotropine (HCG).
Telur yang sudah dibuahi dalam tuba sesudah
kira-kira 8 hari tiba di rahim dan bersarang
di endometrium. Janin muda berkem bang
dengan cepat dan sel-sel tertentu dari pla-
senta (= uri, organ penghubung antara ibu
dan janin) tumbuh ke dalam pembuluh ibu.
Sel-sel ini secara khas membuat chorion go-
nadotro pin (chorion = selubung janin bagian
luar). Gonadotropin juga memasuki sirkul asi
Gambar 42-1a:Kehamilan dini
ibu untuk kemudian diekskresi lewat kemih,
dari mana isolasi dapat dilakukan.
b. Human menopausal gonadotropine (me-
notropin, HMG). Pada wanita sesudah meno-
pause produksi estrogen yang sangat me-
nurun memicu bertambahnya sekresi FSH
(dan LH) oleh hipofisis melalui feed back
negatif. HMG ini diekskresi lewat urin.
*Tes kehamilan semuanya didasarkan atas
indikasi adanya HCG dalam urin dan dike-
nal tes biologis serta tes imuno kimiawi. HCG
terbentuk pada 6 hari pertama sesudah pem-
bua han dan 9 sampai 11 hari sesudah ovulasi
HCG sudah dapat dideteksi dalam urin. Pada
8-12 minggu pertama dari nifas, kadarnya
sangat meningkat sampai puncak 100–250.000
U/l urin dan kemudian menurun lagi.
Tes lama dapat mende teksi HCG ±2 minggu
sesudah tanggal haid yang diperkirakan. Tes
mutakhir jauh lebih sensitif dan sudah mam-
pu menentukannya pada kadar 25-50 mlU/
ml, jadi sangat dini, bahkan sudah pada
tanggal haid itu . Keberatan dari deteksi
dini yaitu bahwa rata-rata 30% dari semua
kasus kehamilan, pada permulaan nifas ber-
akhir dengan abortus spontan. sebab itu, tes
kehamilan sebaiknya dilaku kan beberapa
waktu seusai tanggal haid.
Tes kehamilan yang tersedia di negara kita
antara lain Testpack Plus (sensitivitas 25 mIU/
ml), Acon hCG Card/Strip Test (sensitivitas 25
mIU/ml), Sensitif (sensitivitas 25 mIU/ml;
Plasmatec (UK), dan Trusty (Blue Cross).
Gambar 42-2: Hubungan antara kadar estradiol dan kadar
FSH/LH dengan mekanisme kerja feedback positif
(M.Madlener, Hormon, vol XL, nr 1, p.4)
B. HORMON HIPOTALAMUS
Hormon-hormon hipotalamus menstimulasi
atau menghambat sintesis dan pelepasan
semua hormon hipofisis yang itu di
atas. Kini dikenal tujuh hormon polipeptida
dengan aktivitas khusus terhadap adenohi-
pofisis, yaitu:
1. GnRH (= Gonadotropin RH), juga disebut
LHRH (Luteinizing Hormone RH) atau go-
nado relin
2. CRH (= Corticotropin RH) atau kortiko-
relin
3. TRH (= Thyrotropin RH) atau protirelin
4. GHRH (= Growth Hormone RH) atau so-
matorelin
5. GHRIF (= GH Release Inhibiting Factor)
menghambat se kresi somatotropin (dan
tirotropin). Selain di hipotalamus dan
Hormon
hipotalamus
Hormon
hipofisis
Organ
tujuan
Efek-efek
utama
GnRH =
LH-RH =
gonadorelin
-----------------------
CRH =
kortikorelin
-----------------------
TRH = protirelin
GHRH
= somatorelin
*GHIF
= somatostatin
-----------------------
PRL-RH
*PIF = dopamin
-----------------------
umbai depan
FSH
LH (= ICSH)
----------------------
ACTH =
kortikotropin
---------------------
TSH= tireotropin
GH=somatotropin
—
---------------------
prolaktin (= LTH)
—
-----------------------
umbai belakang
oksitosin ADH=
vasopresin
ovaria dan testes
----------------------
anak ginjal
----------------------
tiroid
otot, tulang
—
—
----------------------
buah dada
—
----------------------
rahim
mammae
ginjal
– pertumbuhan folikel,
– produksi estrogen dan
spermatozoa, ovulasi
– pembentukanC.
luteum,produksi proges-
teron/testosteron
------------------------------------
stimulasi sekresi kortisol
dan hormon kelamin
------------------------------------
stimulasi sekresi tiroksin
stimulasi pertumbuhan
umum
menghambat GH
------------------------------------
stimulasi sekresi air susu
menghambat laktasi
------------------------------------
kontraksi
“milk-ejecting”
stimulasi, retensi air
Tabel 42-1: Hormon-hormon hipotalamus dan hipofisis dengan efek utamanya
(7 hormon yang disekresi oleh adenohipofisis di bawah pengaruh
hormon-hormon hipotalamus)
otak, hormon ini juga disintesis di usus
halus dan pankre as. Di saluran pencer-
naan hormon ini menghambat sekresi
asam lambung, pepsin serta gas trin dan
di pankreas menghambat sekresi insulin
serta glukagon.
6. PRL-RH (= Prolactine RH)
7. PIF (=Prolactine Inhibiting Factor) yaitu
identik dengan neurotransmitter dopa-
min (DA)
Semua hormon ini sekarang dapat disintesis
secara kimiawi. Gonadore lin dan analogon
sintetiknya terutama diguna kan berdasar
efek tak-langsungnya terhadap kadar hor-
mon kelamin. Kortiko relin, protirelin dan
somatorelin dipakai sebagai diagnosti ka,
sedang somatostatin dan analogonnya
oktreotide untuk terapi. Lihat Tabel 42-1.
Mekanisme feedback negatif
Sekresi hormon adenohipofisis tidak hanya
dikendalikan oleh peptida-peptida hipota-
lamus, namun juga oleh kadar hormon ber-
sang kutan dalam darah. Umpamanya bila
kadar kortisol meningkat di atas nilai tertentu,
sekresi ACTH akan ditekan. Bila kadarnya
turun, sekresi ACTH ditingkatkan untuk men-
dorong anak ginjal memperbanyak produksi
kortisolnya. Begitu pula sekresi FSH, LH dan
tirotropin juga diatur oleh kadar masing-ma-
sing estrogen, progesteron/testosteron dan
tiroksin dalam darah. Fenome na ini disebut
mekanisme feedback negatif.
Mekanisme feedback positif dapat pula
terjadi, yaitu bila suatu hormon memengaruhi
hipofisis secara positif. Contohnya yaitu
estradiol: peningkatan kuat dari produksinya
pada tahap pemasakan folikel, menstimulasi
sekresi LH optimal sehingga terjadi ovulasi.
Sekresi FSH justru agak dihambat, mungkin
untuk mence gah agar jangan sampai lebih
dari satu folikel menjadi masak. Lihat Gambar
42-2: Progesteron pun dapat memperlihatkan
feed back positif demikian, sedang zat-zat
androgen tidak.
pemakaian
Terutama dipakai pada gangguan yang
disebabkan oleh defisiensi hormon hipofisis,
seperti gonadotropin pada kemandulan wani-
ta akibat anovulasi dan vasopresin pada dia-
betes insipidus. Atau pada kekurangan
Releasing Hormone dari hipotalamus, misal-
nya gonadore lin pada cryptorchisme (buah
zakar tidak turun ke dalam kandung buah
zakar). Di samping itu juga dipakai sebagai
diagnostikum untuk menen tukan fungsi
suatu organ, seperti protirelin untuk diagnosis
hipo- atau hiperfungsi tiroid. Akhirnya, digu-
nakan juga pada keadaan khusus, misalnya
oksitosin untuk memperkuat his pada per-
mulaan persalinan dan somastatin pada per-
darahan lambung-usus yang hebat.
C. HORMON EPIFISIS
Epiphysis cerebri atau glandula pinealis (ke-
lenjar nenas) yaitu kelenjar sangat kecil
yang terletak di atas hipotalamus (di tengah
otak) dan memproduksi melato nin dan se-
rotonin. Letaknya di atas titik di mana sa raf
mata bersilang (nucleus suprachiasmaticus),
titik itu dihubungi langsung melalui
serat-serat saraf dengan kelenjar epifisis.
Beberapa dasa warsa yang lalu, kelenjar epi-
fisis masih dianggap sebagai suatu organ sisa
dari evolusi yang tak berguna. namun kini
sudah dipastikan bahwa melatonin memiliki
berbagai fungsi vital dalam tubuh.
Fungsi faal utama melatonin yaitu mengatur
ritme siang-malam, yang dikendalikan oleh
nucleus suprachiasmaticus (SCN = inti di atas
lintasan), yaitu “lonceng biologis pusat” yang
letaknya di hipotalamus. Rangsangan cahaya
masuk ke dalam mata dan via retina dan jalur
saraf mencapai SCN yang kemudian melalui
SS simpatik berhubungan dengan epifysis,
lihat Gambar. Dengan tibanya malam,
stimulasi adrenerg akan bertambah yang
berakibat meningkatnya produksi melatonin.
Bila jumlah cahaya meningkat, pelepasan
melatonin akan ditekan. Pada tengah malam
kadar melatonin mencapai puncaknya dan
dengan demikian merupakan pertanda khas
dari senja dan bukannya dari tidur.
Orang tunanetra tanpa persepsi cahaya
ternyata juga memiliki ritme siang-malam
yang dihasilkan oleh SCN dengan siklus dari
±25 jam, sehingga ritmenya bergeser setiap
hari.12
Khasiat lain dan pemakaian .13,14 Kelenjar
epifisis orang sehat setiap hari memprodu-
ksi ±29 mcg melatonin. Berbagai obat seperti
beta-blocker, dapat menekan produk si ini.
Sekre sinya teru tama pada waktu malam hari
dan dihambat oleh cahaya; produksi malam
hari yaitu 5-10 x lebih besar daripada
waktu siang hari. Fungsi utamanya yaitu
sebagai antioksi dans dan zat pelindung
kuat terhadap kerusakan oksidatif akibat
sinar-UV, juga meregulasi bioritme siang-
malam, memperlancar tidur alamiah dan
memperkuat sistem imun. sebab bersifat
lipofil maupun hidrofil, distribusinya ke
seluruh jaringan tubuh baik sekali. Daya
kerja nya di tubuh sebagai neuro hor mon dan
neuro modula tor melalui reseptor melatonin
yang banyak ada antara lain di hipota-
lamus, hipofisis, retina dan sistem kelamin.
Melatonin dan serotonin yaitu derivat
indolil, seperti juga tripto fan yang merupa kan
bahan pangkal untuk sintesis alamiah nya.
Lihat persamaan reaksi di bawah ini dan juga
rumus bangun Bab 30, Antide presiva.
MONOGRAFI
A. HORMON ADENOHIPOFISIS
1. Chorion Gonadotropin: HCG, Pregnyl,
Profasi
Glikoprotein ini yang dibentuk oleh pla-
senta, diperoleh dari air kemih wanita ha-
mil dan terdiri dari khusus LH. Terutama
dipakai pada infertilitas wanita akibat
terganggunya pemasa kan folikel dan ano-
vulasi. Biasanya terapi dimulai dengan pem-
berian HMG dengan aktivitas FSH selama
10 hari untuk memasakkan folikel. Disusul
dengan HCG untuk menginduksi ovulasi.1,2
Pada pria dipakai antara lain pada
pubertas terlam bat akibat insufi sien si fungsi
hipofisis dan pada kemandulan untuk men-
stimulasi produksi sperma.
Efek samping dapat berupa sakit kepala,
rasa letih, iritasi, gelisah, depresi, udema dan
gynecomastie.
Dosis: kemandulan wanita i.m. 5-10.000 UI/
hari selama 1-3 hari sesudah kur HMG/foli-
tropin. Sanggama hendaknya dilakukan pa-
da hari ke-1 dan/a tau ke-2 dari pemberian
HMG. Pria: 1-2.000 UI/hari 2-3x seming gu,
bersamaan dengan 75-150 UI HMG, selama
minimal 3 bulan.
2. Menopausal Gonadotropin: HMG, meno-
tropin, Humegon, Pergonal
Ekstrak murni yang diperoleh dari urin
wanita postmenopause mengandung FSH
dan LH dalam perbandingan 1:1. Sekarang
juga dibuat dengan teknik rekombinan-DNA
(Puregon), lihat di bawah.
FSH dan LH —berbeda dengan hormon
hipofisis dan hormon hipotalamus lainnya—
termasuk kelompok glikopep tida. Diguna-
kan terutama pada keman dulan wanita de-
ngan keberhasilan (ovulasi) ±90%. Persen tase
poli-ovulasi dan keha milan ganda cukup
tinggi.
IVF. Meningkatnya permintaan akan HMG
berkaitan dengan IVF (in vitro fertilization).
Oleh sebab kesulitan meningkatkan pe-
ngum pulan air seni, maka lambat-laun terjadi
kekurangan HMG. Oleh sebab itu, intro-
duksi dari folitropin rekombinan-DNA yaitu
tepat pada waktunya.
Dosis: i.m. 150 UI selama 10 hari, sesudah 24-
48 jam disusul oleh HCG untuk menginduksi
ovulasi. Untuk IVF, ada beberapa protocol
dan dosisnya jauh lebih tinggi.
* Folitropin (-alfa) (Puregon, Gonal-F) dibuat
dari sel-sel ovarium hewan hamster Cina
dengan teknik rekombinan-DNA. Hanya
berefek FSH tanpa aktivitas LH (1996),
struktur kimianya hanya berbeda dari FSH
alamiah pada gugus samping karbohidrat-
nya. Folitropin selain secara i.m. dapat juga
diberi kan subku tan. Sediaan folitropin me-
lengkapi kekurangan HMG dengan baik,
namun harganya rata-rata tiga kali lebih tinggi!
Dosis: pada anovulasi selama 7 hari i.m.
50 UI atau s.k. dengan pena khusus (Puregon
pen). Pada IVF: hari ke-2 atau 3 dari siklus
150-225 UI/hari, maks. 450 U, sampai tercapai
pertumbuhan folikel secukupnya (rata-rata
10 hari), disusul dengan HCG maks. 10.000 U
untuk pemasakan folikel dengan tuntas.
* Lutropin-alfa (Luveris) yaitu human
LH sangat murni, yang diperoleh dari sel-
sel ovarium hewan hamster Cina dengan
teknologi-DNA. dipakai untuk menun-
jang produksi estradiol serta menstimulasi
pemasakan folikel dan selalu terkombinasi
dengan folitropin, terutama bila ada
kadar-LH dan –FSH yang rendah sekali (un-
tuk induksi ovulasi).
Dosis: s.k. individual berdasar besarnya
folikel dan kadar estradiol dalam darah.
3. Somatropin: somatotrofin, Growth Hormone,
GH, Saizen, Humatrope, Norditropin, Genotropin
Hormon pertumbuhan ini terdiri dari
rantai polipeptida 191 asam amino dan di-
buat sejak tahun 1985 dari kuman E. coli
dengan teknik rekombi nan-DNA. Produksi
dari hipofisis manusia dihentikan sesudah
dilaporkan timbulnya penyakit Creutzfeldt-
Jakob akibat infeksi viral.
Produksi GH distimulasi oleh GHRH dan
dihambat oleh GHRIF dari hipotalamus.
Faktor mana yang aktif tergantung dari kadar
glukosa dalam plasma. Sekresinya berku-
rang bila kadar glukosa meningkat dan ber-
tambah pada keadaan lapar atau sesudah
injeksi insulin. Berbagai jenis stress, fisik dan
psikis, termasuk olahraga, juga menstimulasi
produksi GH.
Khasiat. Somatropin berkhasiat anabol,
yaitu menstimulasi sintesis protein dan per-
tumbu han dari semua organ dan jaringan,
termasuk otot, kulit dan tulang terutama me-
lalui peningkatan jumlah sel-sel otot kerangka.
Gonad, hati, anak ginjal dan timus dapat
membe sar. Pada anak-anak GH menstimulasi
pertum buhan cakram epifisis, yaitu tulang
rawan di kedua ujung tulang pipa panjang,
tempat terjadinya pertumbu han. Di samping
itu somatropin memengaruhi metabo lisme
lemak dan karbo hidrat.
Pada orang dewasa somatropin mening-
katkan energi dan vitalitas, memperbesar
masa otot dan menurunkan masa lemak,
juga menstimulasi timus. Pada usia menua
produksinya lambat laun berkurang; pene-
litian di AS (1990) menunjuk kan efek pere-
majaan dan revitalisasi pada manula yang
«disuplesi» dengan GH. Sejumlah geria ter di
AS mengan jur kan suplesi ini dalam rangka
mengham bat proses menua dan memperpan-
jang hidup (life extensi on). Daya kerja GH
terutama melalui insulin-like growth factors
(IGF), suatu pepti da yang dibentuk di semua
jaringan, khusus dalam hati. Plasma-t½ 4 jam.
pemakaian nya terutama pada gangguan
pertumbuhan pada anak-anak akibat kekurang-
an GH, misalnya pada anak kerdil untuk
meninggikan tubuhnya. Pembe rian subkutan
menghasilkan efek lebih baik dan kurang
nyeri daripada secara intramuskuler. Terapi
tidak ada gunanya bila cakram epifisis sudah
menutup dan pertumbuhan memanjang
berhenti (pada akhir pubertas). IOC (Interna-
tional Olympic Comittee), menganggap GH
sebagai zat doping.
Efek samping jarang terjadi dan dapat be-
rupa sakit kepala, sakit sendi dan otot, ude-
ma, reaksi kulit dan hipoglike mia. Pada anak-
anak adakalanya dilaporkan leukemia.
Dosis: subkutan (kadang-kadang i.m.) 0,5-
0,8 UI/kg/minggu dalam 6-7 dosis, sebaik-
nya pada malam hari.
4. Corifollitropine alfa: Elonva
Efektivitas senyawa ini pada IVF sama
dengan follitropin (rFSH).
Merupakan glikoprotein yang diproduksi
di sel-sel ovarium hewan hamster dari Cina.
Khasiatnya sesuai dengan FSH rekombinan.
Lama kerjanya 7 hari. sesudah resorpsi disa-
lurkan terutama ke ovarium dan ginjal. Eks-
kresi khusus melalui ginjal. T1/2 ±69 jam.
Dalam kombinasi dengan antagonis GnRH
dipakai untuk menstimulasi ovarium.
Efek samping sering kali sakit kepala, pera-
saan letih, mual dan sindrom hiperstimulasi
ovarium (nyeri panggul). Kadang-kadang
pusing, nyeri perut, muntah dan diare.
Dosis: parenteral dan disesuaikan dengan
respons ovariil.
5. Mecasermine: Increlex
Merupakan faktor pertumbuhan rekombi-
nan yang dipakai pada defisiensi/gang-
guan pertumbuhan anak. Metabolisasi di hati
dan ginjal dengan T1/2 ±6 jam.
Efek samping sering kali hipoglikemia (bulan
pertama), hipertrofi timus dan tonsil, sakit
kepala, gangguan pendengaran, tachycardie
dan rasa pusing.
Dosis: permulaan s.k. 2 dd 0,04 mg/kg
dan lambat laun dapat ditingkatkan sampai
maksimal 2 dd 0,12 mg/kg.
6. Tetracosactide: Synacthen
Polipeptida sintetik ini terdiri dari 24 asam
amino ACTH alamiah. Khasiat biologiknya
serupa dengan ACTH, yaitu stimulasi biosin-
tesis gluko- dan mineralokortikoid serta seba-
gian androgen.
Terutama dipakai untuk diagnostik
gangguan fungsi anak ginjal dan terhadap
eksaserbasi MS akut.
Efek samping terdiri dari reaksi hipersen-
sitivitas, kadangkala syok anfilaktik; pada
pemakaian lama dapat timbul efek-efek mi-
neralokortikoid, glukokortikoid dan andro-
gen.
Dosis: untuk diagnostik i.m. atau i.v. 0,25
mg; terapeutik i.v. infus permulaan sehari 1
mg dan untuk pemeliharaan 0,5 mg tiap 2-3
hari atau 1 mg seminggu.
7. Urofollitropine: Fostimon
Senyawa ini dibuat dari menopausal
gonadotrofin human (HMG) dan terdiri dari
FSH dalam keadaan yang sangat murni. FSH
berfungsi merangsang pertumbuhan dan
pemasakan follikel dalam ovarium, kemudi-
an memicu follikel memproduksi oestrogen.
T1/250 jam (s.k.). Obat ini dipakai pada
infertilitas akibat anovulasi dan bila terapi
dengan klomifen tidak membuahkan hasil.
namun follitropin lebih efektif daripada
urofollitropin pada in vivo fertilisasi (IVF).
Efek samping yang sering terjadi yaitu sakit
kepala, sembelit, sindrom hiperstimulasi ova-
rium, mual, nyeri perut dan dispepsi.
Dosis: permulaan i.m. atau s.k. 75-150 IE
sehari, maksimal 225 IE sehari.
HORMON NEUROHIPOFISIS
8. Oksitosin: Oxytocin-S, Piton-S, Syntocinon
Nonapeptida (dengan 9 asam amino) ini
bersama vasopresin sebetulnya dibentuk di
hipotalamus dan hanya disimpan di umbai
belakang hipofisis. Kini senyawa ini dibuat
secara sintetik. Berkhasiat oksitosik, yaitu
memicu kontraksi ritmis pada rahim
dan memperkuat kontraksi yang sudah
ada. Di samping itu bekerja laktogen (‘milk-
ejecting’) melalui kontraksi ritmis dari otot
sekitar kelenjar susu. Bila bayi menghisap
putting susu, secara reflektoris hipofisis
mensekresi oksitosin. Tidak memengaruhi
pembentukan air susu.
pemakaian nya khusus dalam ilmu kebi-
danan untuk menstimulasi kontraksi sebe-
lum persalinan bila ada kelemahan his,
namun hanya bila mulut rahim sudah praktis
terbuka seluruhnya. Juga dipakai sesudah
persalinan untuk mencegah perdarahan
berlebihan.
Plasma-t½ singkat, rata-rata 10 menit. Se-
perti semua peptida, oksitosin dalam lam-
bung diuraikan oleh enzim proteolitik, se-
hingga tidak dapat dipakai per oral.
Efek samping berupa kejang rahim (tetania)
dengan risiko rahim robek (ruptura uteri) dan
hambatan sirkulasi janin, juga aritmia dan
reaksi hipersensitivitas.
Dosis: menjelang persalinan infus i.v. 0,001
UI/min dari larutan dengan 0,002-0,010 UI/
ml. Sesudah persalinan i.v./i.m. 2-10 UI dari
larutan 5-10 UI/ml. Spray hidung untuk
mempermudah laktasi 4 UI di setiap lubang
hidung, 2-5 menit sebelum menyusui.
9. Vasopresin: antidiuretic hormone, ADH, Pi-
tressin
Nonapeptida ini diperoleh dari hipofisis
babi dan hanya berbeda 1 asam amino (ly-
sine) dari hormon manusia/sa pi (arginine).
Berkhasiat antidiuretik, yaitu mencegah
ekskresi air berlebihan oleh ginjal melalui
peningkatan resorpsi kembali oleh tubuli
ginjal. Mekanisme kerjanya yaitu peleba ran
pori-pori membran mukosa tubuli, sehingga
molekul air dapat melinta sinya sekaligus
dalam kelompok lebih besar. Dengan demi-
kian dari ±180 l filtrat glomerulus seharinya,
hanya 1-1,5 l dikelu arkan sebagai urin. Lihat
Bab 33, Diuretika, fisiologi ginjal.
Peng gunaannya untuk mengu ji fungsi hi-
pofisis berdasar efeknya menstimulasi
sekresi ACTH. Terutama dipakai pada
diabetes insipidus yang bergejala poliu ria (ba-
nyak kencing) akibat kekurangan ADH.
Juga pada perdar ahan varices di esofagus (vena
mekar), berdasar efek kon striksi arteri ole
dan biasanya bersamaan dengan nitrogliserin
untuk mengu rangi efek sampingnya.
Efek sampingnya berkaitan dengan efek
kontraksinya terhadap jaringan otot polos
dan berupa muka pucat, tekanan darah naik,
bronchokonstriksi, kejang lambung-usus dan
uterus, terutama pada dosis tinggi.
Dosis: diabetes insipidus, i.m. 1,5-5 UI se-
tiap 1-3 hari (-tanat dalam minyak), pada
varices esofagus infus i.v. 0,2-0,6 UI/menit
selama 24 jam.
Sekarang ini vasopresin alamiah sudah prak-
tis terdesak oleh analogon sintetiknya, yaitu :
a. Desmopresin (Minrin). Khasiat antidi-
uretiknya lebih kuat dan lebih lama ker-
janya. Dapat dipakai intranasal sebagai
spray atau tetes hidung, antara lain pada
ngompol malam (enuresis nocturna).
b. Terlipresin (Glypressin). Khasiat antidiu-
retik lebih ringan, namun dipakai ber-
dasarkan efek vasokonstriksinya, teru-
tama pada saluran cerna dan rahim.
B. HORMON HIPOTALAMUS
10. Gonadorelin:GnRH, LH-RH, Cryptocur,
Relefact, Lutrelef
Dekapeptida sintetik ini (dengan 10 asam
amino, 1974) yaitu identik dengan GnRH
dari hipotalamus yang mengatur sekresi
LH dan FSH oleh hipofisis. dipakai
pada kemandulan wanita akibat anovu lasi
dan pada infertilitas pria sebab insufisiensi
GnRH. Pada anak kecil dengan cryptorchis me
(buah zakar tidak turun ke kandung zakar)
sebaiknya dipakai pada usia dua tahun.
Juga sebagai diagnos tikum untuk menentukan
fungsi adenohipofisis.
Bioavailability-nya pada pemakaian nasal
yaitu 1-2%, sesudah injeksi subkutan 75-90%.
Kerjanya hanya singkat, plasma-t½ 15-60
menit.
Efek samping berupa nyeri buah dada, pa-
da pria gynecomasti dan priapisme, jarang
reaksi hipersensitivitas (gatal-gatal, udema,
urticaria, bronchospasme, syok anafilaktik).
Pada dosis tinggi memicu mual serta
nyeri perut dan sakit kepala. Pada wanita,
risiko kehamilan ganda tidak demikian besar
dibandingkan dengan pemakaian gonado-
tropin. Pada anak lelaki, kadang-kadang
timbul agresi dan membesarnya penis.
Dosis: wanita i.v./s.c. 5-15 mcg sekali
dengan interval 90 menit. Anak-anak: nasal
3 dd 0,2 mg di setiap lubang hidung selama
4 minggu, bila perlu diulang sesudah 3 bulan.
* Goserelin (Zoladex, 1987) yaitu analogon
yang 50-100 x lebih kuat daripada GnRH.
Obat ini mula-mula meningkatkan sekresi LH
dan FSH oleh hipofisis, yang memicu
naiknya kadar estrogen atau testosteron. Bila
peng gunaan dilanjut kan, sesudah 3 minggu
hipofisis menjadi tidak peka lagi (desen sita-
si). Akibat turunnya jumlah reseptor aktif,
maka sekresi gonadotropin dihambat dan
kadar testosteron pada pria menurun sampai
keadaan laksana kastrasi. Pada wanita kadar
estrogen menurun sampai nilai postmeno-
pause.
pemakaian . berdasar efek anti andro-
gen/estrogen itu gosere lin diguna kan
pada tumor prostat (yang peka bagi testos-
teron dan sudah bermetastasis) dengan efek
penghambatan pertum buhanny a. Terapi ini
juga dinamakan kastrasi kimiawi, lihat juga
Bab 43, Zat-zat androgen, Antihormon. Pada
wanita penurunan kadar estro gen dipakai
untuk mengham bat pertumbu han kanker
mamma (yang peka bagi estrogen). Juga
untuk menge cilkan myoma uterus dan me-
ngurangi gejala endometriosis (antara lain
nyeri perut dan dysme norroe). Plasma-t½ ±4
jam.
Dosis: implantasi s.k. di kulit perut 3,6 mg
(sebagai asetat) setiap 4 minggu.
* Buserelin(Suprefact, 1984) yaitu analogon
yang 16x lebih kuat dengan pemakaian
sama seperti goserelin. Dosis: s.k. selama 7
hari 3 dd 0,5 mg, disusul oleh spray nasal 3
dd 1 mg.
* Leuprorelin (leuprolide, Tapros, Lucrin, 1985)
yaitu analogon yang ±20x lebih kuat dari-
pada GnRH. Juga dipakai pada kanker
prostat dan endometriosis. Larutannya da-
lam air dipakai untuk injeksi subkutan;
plasma-t½ ±3 jam.
Dosis: s.k. sediaan delayed action 3,75 mg
setiap bulan (sebagai asetat).
11. Protirelin:TRH, Relefact
Tripeptida sintetik ini (1970) yaitu iden-
tik dengan TRH (Thyreotrophin Releasing Hor-
mone) alamiah yang menstimulasi sekresi ti-
reotropin dan prolaktin dari adenohipofisis.
Protirelin terutama dipakai untuk diag-
nosis gangguan tireoid dan tumor hipofisis.
Juga pada produksi prolaktin berlebihan
(hiperprolakti nemia) yang antara lain menye-
babkan kelebihan produksi air susu.
Dosis: oral 1-2 dd 40 mg a.c.atau i.v. 0,2 mg.
12. Somatostatin: GHR-IF, SR-IF, Somatofalk,
Stilamin
Tetradekapeptida sintetik ini (1980) ada-
lah identik dengan SR-IF alamiah, selain
di hipotalamus dan otak juga dibentuk di
saluran lambung-usus dan pankreas. Soma-
tostatin menghambat sekresi GH dan ti-
reotropin di lambung dari gastrin, HCl dan
pepsin, di pankreas dari insulin dan glukagon.
Terutama dipakai pada perdarahan akut
yang parah dari tukak lambung-usus dan
varices esofagus.
Dosis: i.v. 250 mcg dalam 1-2 ml larutan
NaCl 0,9%, langsung disusul dengan infus i.v.
3,5 mcg/kg/jam sampai perdarahan berhenti
selama 48 jam.
13. Cetrorelix: Cetrotide
Senyawa ini seperti juga ganirelix terma-
suk GnRH antagonis, yang dipakai pada
pembuahan artifisial (teknik IVF). Secara
kompetitif mengikat diri pada reseptor
GnRH di hipofisis, sehingga pelepasan LH
maupun FSH diblokir dan ovulasi tertunda.
Efek injeksi dari 0,25 mg berlangsung selama
24 jam.
Efek samping sering kali eritema, gatal dan
bengkak pada tempat injeksi. yang hanya
berlangsung singkat. Juga sakit kepala, mual
dan alergi.
Dosis: s.k. 1 dd 0,25 mg di bagian bawah
perut.
14. Ganirelix: Orgalutran
Antagonis gonadorelin (GnRH) ini memi-
liki khasiat dan pemakaian yang sama
dengan cetrorelix dan juga lebih murah.
Ekskresi melalui feses ±75% sebagai meta-
bolit dan 22% via urin dalam keadaan utuh.
T1/2 ±13 jam.
Efek samping hampir serupa dengan cetro-
relix.
Dosis: s.k. 1 dd 0,25 mg di bagian paha.
15. Histreline: Vantasse
Pada penanganan paliatif dari kanker
prostat lanjut, pilihannya yaitu pemakaian
agonis GnRH seperti leuprorelin, goserelin,
buserelin dan triptorelin. Histrelin sebagai
agonis GnRH dan antagonis GnRH degarelix
juga dapat menurunkan kadar testosteron.
Dimetabolisasi melalui hidrolisis dan deal-
kilasi. T1/2 ±4 jam.
Efek samping sering kali depresi, insomnia,
pusing, sakit kepala dan obstipasi.
Dosis: sebagai implantasi s.k. di bagian
lengan atas; tiap hari dilepaskan 50 mcg
histrelin asetat.
16. Nafareline: Synarel
yaitu agonis gonadorelin (GnRH) dan
merupakan analogon sintetik dari gonado-
relin (LH-RH). dipakai untuk penangan-
an endometriosis.
Ekskresi terutama sebagai metabolit via
urin (35%) dan melalui feses (50%).
T1/2 2-4 jam.
Efek samping sakit kepala, mual dan gejala
klimakterium,
Dosis: sebagai semprotan hidung 2 dd 200
mcg (=1 semprotan).
17. Octreotide: Sandostatin
Merupakan oktapeptida sintetik dan ana-
logon dari somatostatin alamiah, dengan
daya kerja lebih kuat dan tahan lebih lama.
Menghambat sekresi hormon pertumbuhan
dan IGF-1, juga dari peptida sistem endokrin
saluran lambung-usus dan pankreas.T1/2 100
menit (s.k.) dan 90 menit (i.v.)
dipakai terhadap akromegali dan untuk
meringankan gejala tumor endokrin dari
saluran cerna dan pankreas. Sama dengan
somatostatin senyawa ini juga dipakai
terhadap perdarahan lambung/usus, berda-
sarkan antara lain penghambatan sekresi
pepsin dan asam lambung.
Efek samping sering kali sakit kepala, diare,
sakit perut, mual, obstipasi dan hiperglikemia.
Dosis: permulaan s.k. 0,05-0,1 mg tiap 8-12
jam
18. Triptoreline: Decapeptyl, Pamorelin, Sal-
vacyl
yaitu juga agonis gonadorelin (GnRH)
dan merupakan analogon sintetik dari gona-
dorelin (LH-RH) dengan daya kerja kuat.
Metabolisasi terutama di hati dan ginjal
menjadi peptida lebih kecil dan asam amino.
Ekskresi via urin ±5% utuh. T1/2 s.k. 3-5 jam.
dipakai untuk kanker prostat yang
sudah bermetastasis dan peka terhadap tes-
tosteron. Juga terhadap miom pra-bedah.
Efek samping sebagai akibat dari penurunan
kadar testostron atau estrogen, sering kali
gangguan mental dan penurunan libido. Juga
depresi, iritasi, mual, gangguan tidur dan
alergi.
Dosis: untuk kanker prostat permulaan
s.k. 500 mcg sehari, selanjutnya s.k. 100 mcg
sehari.
C. HORMON KELENJAR EPIFISIS
19. Melatonin
Sintesis dan pelepasan melatonin terjadi
khusus pada waktu malam hari dan dihambat
oleh cahaya. Pada musim dingin negara-
negara belahan bumi Utara mengalami ke-
kurangan cahaya matahari. Oleh sebab itu
sebagian penduduknya menderita depresi
musim dingin, yang bertalian dengan keba-
nyakan produksi melatonin, lihat Bab 30,
Antidepre siva. Melatonin diperoleh dari ke-
lenjar epifisis anak sapi atau melalui sintesis
kimiawi.
Fungsi faal. Melatonin berkhasiat mere-
gulasi bioritme tubuh, yaitu lonceng biologik
yang dimiliki oleh setiap mahluk hidup dan
yang mengatur berbagai fungsi tubuh. Pada
manusia ada banyak bentuk bioritme,
misalnya sekresi hor mon endokrin, denyut
jantung (lamanya kira-kira 1 detik), siklus
haid (±28 hari), proses regenerasi jaringan
(1 minggu) dan ritme siang-malam (circa-
dian rhythm) yang lamanya 25 jam (Lat circa
= kurang lebih, diem = hari). sebab satu hari
(= ritme bola dunia) terdiri dari 24 jam, maka
lonceng intern selalu terlambat sedikit dan
perlu dicocok kan terus menerus. Sinkronisasi
ini berlang sung melalui saraf mata. Di sam-
ping itu melatonin dapat dianggap sebagai
obat tidur alami ah. Pada manula lonceng
circadian umumnya bekerja kurang baik
dengan akibat terganggunya ritme siang-
malam, menurunnya kadar melato nin dan
kualitas tidur.
pemakaian . Melatonin (Circadin, tablet
slow-release 2 mg) dipakai sebagai mono-
terapi bagi pasien di atas usia 55 tahun untuk
gangguan insomnia primer akibat kualitas
tidur yang buruk. Sifat-sifat insomnia pri-
mer yaitu masalah sulitnya tidur dan ke-
langsungan tidur.
Di dalam tubuh melatonin diproduksi oleh
kelenjar pinealis dan mengatur siklus tidur-
sadar sebagai agonis dari reseptor melatonin.
Sekresinya meningkat sesudah magrib dengan
puncak antara pukul 2 dan 4 subuh dan
kemudian menurun.
Meningkatnya kadar melatonin dalam da-
rah memicu rasa mengantuk dan pe-
nurunan suhu tubuh, Lansia memproduksi
lebih sedikit melatonin.
Khasiat lainnya. Melatonin memiliki banyak
khasiat lain dan yang terpenting di antaranya
yaitu :
– khasiat anti ovulasi berdasar peng-
hambatan sekresi FSH. Atas dasar sifat
ini pernah diselidiki pemakaian nya
sebagai pil antihamil kombinasi, lihat Bab
45, Antikonseptiva.
– efek antioksi dan intrasel. Melatonin
bersifat hidrofil dan lipofil, mudah me-
lintasi sawar darah-otak dan mampu
men capai setiap sel dalam tubuh. Zat
ini mengikatkan dirinya pada inti sel
dan melindungi DNA- nya terhadap ra-
dikal bebas oksida tif, terutama dengan
“menangkap” radikal hidroksil (OH) ber-
bahaya. Juga menstimulasi anti-oksidan
alamiah glutation-peroksidase
– stimulasi pertumbuhan timus dan se-
kresi hormon timosin, yaitu polipeptida
yang memegang peranan penting pada
perkem bangan dan pemasakan T-limfosit
(Thymus-dependent lymphocyte). Bila pada
hewan percobaan kelenjar epifisisnya
dikeluarkan, timus akan mengerut. Li-
hat juga Bab 48, Hormon-hormon tiroid,
timus.
– stimulasi sistem imun berkat stimulasi
fagositosis dan pertum buhan natural kil-
ler cells (NKc), juga mempercepat pertum-
buhan sel-sel sumsum tulang. Ternyata
T-helper cells juga memiliki reseptor me-
latonin.
– antikan ker. Pada hewan percobaan, me-
lato nin mengham bat dengan kuat per-
tumbuhan kanker mamma dan prostat,
yang mungkin berdasar efek me-
lindunginya bagi inti sel dan stimulasi
T-limfosit (NKc).
pemakaian nya terutama sebagai obat mem-
percepat tidur bagi orang-orang yang
lonceng biologik dan ritme circadiannya
terganggu, misalnya manula dan karyawan
yang bekerja pada malam hari. Juga sebagai
obat pencegah jet-lag bagi wisatawan uda-
ra yang dalam waktu singkat melinta si
beberapa zona waktu. Jet-lag terutama terjadi
bila terbang dari Barat ke arah Timur.
Berdasar kan khasiat antioksidannya ter-
dapat petunjuk bahwa melatonin dapat
memperlambat proses menua. berdasar
khasiat melindungi membran sel dan inti
sel, melatonin pada tahun-tahun terakhir
dianjurkan oleh dokter alterna tif pada kanker
dan untuk ‘life-extensi on’. Terutama di AS
terda pat aliran yang yakin bahwa kehidupan
dapat diperpanjang dengan memakai
setiap hari 3 hormon, yakni melatonin, so-
matropin dan DHEA (dehidroepiandrosteron),
suatu precursor dari testos te ron, lihat Bab 43,
Zat-zat androgen.
Resorpsi dari usus tidak konstan dengan
FPE besar, BA bervariasi antara 3 dan 76%, PP
±60%, plasma-t½ singkat 30-45 menit. Dalam
hati zat ini hampir seluruhnya dirombak
menjadi derivat-6-hidroksi dan N-asetilseroto-
nin, yang diekskresi lewat urin sebagai
konyugatnya.
Efek samping dapat berupa perdarahan
tak teratur, gangguan haid dan nyeri buah
dada. Umumnya efek ini hanya selama 5
bulan pertama, kemudian hilang dengan
sendirinya. Juga gangguan lambung-usus,
nyeri ulu hati (heartburn), rasa lapar dan
pusing. Penggun aannya tidak dianjurkan se-
lama kehamilan dan laktasi.
Dosis: pada gangguan ritme siang-malam
sebagai obat menidur kan 1 dd 3-5 mg malam
hari, prevensi jet-lag dimulai satu hari sebelum
Sintesa Serotonin
Gambar 42-3: Skema pembentukan melatonin
berangkat.
20. Serotonin:5-hidroksitriptamin, 5HT
Neurohormon ini antara lain juga dise-
kresi oleh kelenjar epifisis dan dapat pula
terbentuk dari melatonin. Produksinya ti-
dak begitu tergantung dari cahaya, namun
dari insulin dan kadar glukosa darah. Ber-
khasiat meng hambat nafsu makan dan
meningkatkan rasa kantuk. sesudah makan
banyak karbohidrat atau makanan manis
(gula), produksi insulin naik berikut sekresi
serotonin, sehingga hasrat makan menurun
dan timbul rasa kantuk. Bila kadar 5HT di
otak rendah, nafsu makan bertambah dan
kebutuhan gula naik.
* Antagonis serotonin: siproheptadin (Pe-
riactin, Ennamax) dan pizotifen (Litec, Sando-
mi gran) meningkatkan nafsu makan berda-
sarkan pengaruhnya terhadap pusat-pusat
tertentu di hipotalamus.
HORMON-HORMON
PRIA
Testosteron yaitu zat androgen utama yang
disintesis dalam testis, ovarium dan anak-
ginjal. Hormon ini pertama kali diisolasi
oleh ahli fisiologi Belanda Ernst Laqueur dari
testikel kerbau, 1935).
Sel-sel Leydig (sel intersti tium) dari testes
distimulasi oleh LH untuk menghasilkan
testos teron sebanyak 2,5-11 mg sehari, se-
dangkan ovaria dan anak-ginjal membentuk
hanya 0,5-2 mg sehari. Sintesis testoste ron
diregulasi oleh FSH dan LH dari hipofisis,
yang juga mensti mulasi pertumbuhan testes
dan pemben tukan sel-sel mani (spermatoge-
nesis).
LH yang dahulu juga disebut ICSH (In-
terstitial Cell Stimulating Hormone) bereaksi
dengan sel-sel Leydig dengan efek pening-
katan produksi c-AMP (cyclic Adenosine-
Mono-Phospha te). Hasilnya ialah dimulainya
reaksi enzimatis: asetat ––> kolesterol ––>
testosteron. Dalam ovaria dan folikel reaksi
yang sama berlangsung di bawah pengaruh
FSH. Pada pria FSH mengaktifkan sel-sel
Sertoli dalam dinding saluran mani untuk
memproduksi sel-sel sperma. Selain itu juga
dapat menstimulasi sintesis testosteron dan
mem perkuat aktivitas LH. Kadar testosteron
darah yang meningkat memicu feed-
back negatif terhadap GnRH dan gonadot-
ropin.
Produksi testosteron mencapai puncaknya
sekitar usia 25 ta hun, lalu menurun drastis
sampai ±60% pada usia 40 tahun dan
selanjut nya menyusut terus sampai kira-kira
50%, 37% dan 33% pada masing-masing usia
50, 70 dan 80 tahun.
* Dihidrotestosteron (DHT) yaitu metabolit
aktif yang terben tuk dengan bantuan enzim
5-alfa-reduktase dalam darah dan di keba-
nyakan jaringan-tujuan dari testosteron. DHT
berperan atas sebagian besar aktivitas andro-
gen dan hipertrofi prostat, sedang rontok
rambut dihubungkan dengan produksi DHT
berlebihan. DHT dimetaboli sasi selanjutnya
menjadi androste ron. Testosteron atau
metabolit-metabolit lainnya melaksanakan
daya kerjanya hanya dalam otot kerangka
dan sumsum tulang.
* Androgen (Yun. andros = pria) juga dapat
disintesis oleh ovaria dan anak-ginjal; organ
terakhir ini juga dapat membentuk 2 precursor
dari testosteron dan estradiol, yakni dehid ro-
epi-and rosteron (DHEA) dan androstendion.
Pada wanita testosteron diproduksi sekitar
0,25 mg sehari, separuhnya berasal dari pe-
ngubahan androstendi on di jaringan. Pro-
duksi berlebihan dapat memicu efek
virili sasi (sifat kejantanan).
* Estradiol, suatu estrogen, yaitu juga meta-
bolit testosteron yang dibentuk di jaringan
perifer dan berkha siat memper kuat atau
memperlemah bebera pa efek androgen. Seti-
ap hari dibentuk rata-rata 2-25 mcg, produksi
yang berlebi han dapat mengaki batkan femini-
sasi pada pria.
Gambar 43-1 :Jalur biosintesis dari
hormon-hormon pria
Kerja fisiologi
Testosteron memiliki sejumlah khasiat fisio-
logi dan farmakologi penting sebagai berikut:
a. efek virilisasi (Lat. virile = jantan). Testos-
teron bertang gungjawab atas ciri-ciri ke-
lamin primer dan sekunder serta meme-
gang peranan penting pada sperma-
togenesis. Mungkin sekali hormon ini
memengaruhi hasrat seks (libido) dan da-
ya ereksi (potensi).
b. efek anabol, yaitu daya retensi protein atau
menghambat perombakannya, khusus
dalam jaringan otot, juga meningkatkan
pembentu kan protein dan pertumbuhan sel-
sel otot.
c. efek tulang. Androgen mempercepat
pertumbuhan tulang pipa dan epifisisnya,
yaitu tulang rawan di kedua ujungnya.
Pada anak lelaki selama pubertas pro-
duksi testos teron meningkat dengan kuat,
yang memicu mereka tumbuh
lebih panjang untuk bebera pa waktu.
Pertumbu han ini kemudian berhenti,
sebab epifisis menutup ujung tulang
seluruhnya. Dalam hal ini, somatropin
(GH) juga memegang peranan penting.
d. efek anti-gonadotrop, artinya meng-
hambat sekresi FSH dan LH bila kadar
testosteron dalam darah melebihi nilai
tertentu. Sebaliknya kadar hormon ren-
dah merupakan isyarat bagi hipofisis
untuk meningkatkan sekresi gonadotro-
pin, yang menstimulasi testes untuk me-
mperbanyak produksi testoste ron. De-
ngan demi kian ada keseimbangan
antara andro gen dan gonadot ropin. Me-
kanisme feedback ini juga berlaku ba-
gi hormon-hormon lainnya. Pemberian
androgen dari luar dapat menghambat
sekresi testosteron melalui feedback nega-
tif ini.
e. efek anti-estrogen. Testosteron dapat me-
lawan sejumlah efek estrogen, misalnya
pertumbuhan endometrium rahim dan
pertandukan epitel mukosa vagina.
f. efek atas sebum. Kelenjar sebum diper-
besar dan sekresi urapnya (lemak kulit,
‘talg’) ditingkatkan, sehingga selama pu-
ber tas dapat mengakibat kan acne, juga
pada anak perempuan. Pemberian estro-
gen memperbaiki gejala acne melalui
penekanan sekresi gonadot ropin dan
andro gen.
g. efek kolesterol. Testosteron menurunkan
kadar HDL-koleste rol dan menaikkan
sedikit LDL. Sifat ini dianggap sebagai
faktor risiko bagi terjadinya penyakit
jantung dan pembuluh, lihat Bab 37, Obat
jantung.
h. retensi garam dan air dengan efek berat
badan mening kat. Sifat ini dimiliki oleh
semua hormon steroi da.
Kinetik
Secara oral testosteron untuk sebagian besar
diuraikan oleh mukosa usus selama absorpsi
dan kemudian oleh FPE. Lagi pu la dari jum-
lah ini sebagian besar terikat pada SHBG (Sex
Hormone Binding Globuline), sehingga sedikit
sekali ada dalam bentuk bebas aktif
dalam darah. Injeksi dari larutan minyak,
dengan cepat diinaktifkan oleh FPE.
Ester testosteron, yaitu testosteron.-propio-
nat, -enantat dan -undeka noat sebagai injeksi
diabsorpsi lebih lambat dan ternyata efektif
meng ha silkan kadar darah yang lebih tinggi.
Dalam hati ester dimetabolisasi melalui ok-
sidasi dari gugusan-17OH menjadi andros-
tendion, reduksi dari gugusan-3-keto meng-
ha silkan androsteron. DHT dirombak pula
menjadi androste ron, androstan diol dan
androstandion. Ekskresi berlangsung melalui
urin untuk ±90% sebagai androsteron, hanya
±6% lewat feses.
Derivat 17-alkil (metiltestosteron dan fluok-
simesteron) lebih lambat metabolisme nya da-
lam hati, oleh sebab itu dapat dipakai
secara oral. namun risiko hepatotoksisitasnya
lebih besar.
pemakaian
Androgen dipakai sebagai terapi suplesi
pada insufisiensi fungsi hipofisis atau testes
(hipogonadisme), seperti sesudah kastrasi dan
pada klimakterium pria di atas usia ±50 tahun,
yang istilahnya kadangka la diplesetkan men-
jadi «peno pause». Akibat menurunnya kadar
testosteron dalam darah, maka dapat timbul
beberapa keluhan, seperti berkurangnya
libido dan potensi seksual. Jika tidak ter-
dapat sebab-sebab psikis, androgen dapat
memberikan efek baik. Pada pria dengan
kadar androgen darah normal pemberian
testos teron tidak memicu rangsangan
sek sual, bahkan tidak pada dosis tinggi. Oleh
sebab itu tidak berguna sebagai afrodi siakum !
Pada pubertas terlambat, bagi anak laki-
laki di atas usia 16 tahun yang terlambat
pertumbuhannya (kerdil) akibat hipofungsi
hipofisis. Pengobatan dibatasi sampai mak-
simal 6 bulan berhubung risiko penutupan
epifisis sebelum waktunya dan virilisasi.
Indikasi lainnya seperti pada kanker buah dada
dan osteoporo sis, dewasa ini jarang dipakai
lagi berhubung tersedianya obat-obat baru
yang lebih efektif. Misalnya untuk kanker
mammae biasanya kini diberikan
suatu anti-estrogen.
Efek samping
Pada pemakaian oral selainnya efek sam-
ping ringan seperti mual, androgen juga da-
pat memicu efek-efek yang lebih serius,
yaitu:
– efek virilisasi pada wanita dengan geja-
la acne, tumbuhnya rambut di muka,
suara menjadi rendah (umumnya tidak
reversibel) dan gangguan haid. Anak-
anak di bawah usia 16 tahun dapat ter-
hambat pertumbuhannya akibat penu-
tupan epifisis. Pada pria dapat terjadi
peningkatan libido, priapisme dan hiper-
trofi prostat. Anabolika pada dosis tinggi
juga bisa memicu efek ini.
– menekan spermatogenesis dan degene-
rasi tubuli mani. Bila dipakai untuk
jangka waktu lama, androgen dapat me-
nyebabkan azoospermia akibat ham-
batan sekresi FSH/LH serta perombakan
testosteron menjadi estradiol. Supresi ini
sudah nampak sesudah pemberian testos-
teronpropionat 25 mg i.m. selama 6 minggu.
sesudah penghentian terapi dapat timbul
impotensi pada pria, sedang pada
wanita kemandulan yang tidak jarang
bersifat irreversi bel. Efek samping ini
berlaku juga bagi anabolika.
– efek feminisasi, terutama gynecomastia
(buah dada laki-laki membe sar), terutama
pada anak-anak. pemicu nya belum je-
las, hanya diketahui bahwa ester testos-
teron menyebab kan kadar estrogen plas-
ma meningkat.
– udema dan naiknya berat badan akibat
retensi garam dan air, khususnya pada
dosis tinggi. Sering kali disebabkan pula
oleh bertambahnya nafsu makan. Pada
pasien jantung dan pada manula, ude-
ma memperbesar risiko gagal jantung
(dekompensa si).
– penyakit kuning (hepatitis cholestatic)
dapat terjadi akibat tersumbatnya kapiler
empedu, khusus sebab derivat 17-alkil
yang aktif secara oral
– tumor hati dilaporkan pada pemakaian
lama dengan dosis tinggi
Banyak efek samping ini dapat dihinda-
ri bila androgen diguna kan untuk kur
singkat dari maksimal 3-4 minggu. Kemu-
dian bila perlu kur dapat diulang sesudah
istirahat empat minggu.
Anabolika
Steroida anabol yaitu derivat testosteron
(dan progesteron) sinte tik yang telah dikem-
bangkan untuk memperoleh daya kerja
anabol besar dengan efek virilisasi seringan
mungkin. Maksudnya ialah agar juga dapat
dipakai oleh khususnya wanita dan anak-
anak di bawah usia 16 tahun. namun ternyata
bahwa pemisahan kedua efek itu hanya
berhasil untuk sebagian saja; semua anabolika
masih memiliki sifat-sifat androgen yang
tidak diinginkan.
Anabolika yang banyak dipakai yaitu :
– derivat testosteron: metandrostenolon,
metenolon (Primobo lan), oksimetolon (Ze-
nalosyn) dan stanozol (Stromba)
– derivat nandrolon: nandrolon dan etil-
estrenol
pemakaian . Obat-obat ini terutama digu-
nakan untuk penanganan simtomatik pada
anemia aplastis, osteoporosis parah yang re-
sis ten terhadap obat-obat lain dan kanker
mammae yang sudah menyebar pada wanita
postmenopausal. Di sam ping itu juga banyak
disalahgunakan sebagai doping di dunia
olahraga.
Disfungsi ereksi dan sildenafil.
Banyak pria di atas usia 50-60 tahun menderita gangguan potensi berupa disfungsi (kegagalan)
ereksi dari alat kelaminnya (dahulu disebut impotensi) yang sangat memperburuk kehidupan
seksual dan kesehatannya.
Ereksi terjadi sebab pada eksitasi seksual saraf-saraf otak membe rikan isyarat ke penis yang
mencetuskan pelepasan sejumlah neurotransmittter oleh semua sel dinding pembuluh di badan
pengembangnya, a.l. nitrogenoksida (NO). Gas neurotransmitter ini berperan penting pada daya
tahan tubuh serta imunomodulasi dan dengan demikian terlibat pada banyak masalah peradangan,
lihat selanjutnya Bab 40, Obat Asma, boks Radikal bebas. Antara lain NO mengaktifkan enzim
guanylatcyclase yang menstimulasi pengubahan GTP (guanyltriphosphate) menjadi cGMP(cyclic guanyl-
monop hosphate). Zat ini juga disebut “second messenger”dan memegang peranan di banyak proses
hayati. Misalnya cGMP menurunkan kadar kalsium dalam sel, sehingga terjadi relaksasi sel-sel otot
dindingnya dan kemudian vasodilatasi lokal. Badan pengem bang (corpora cavernosa) dari penis terisi
darah dan terjadilah ereksi. Bandingkan dengan kerja trinitrogliserin di Bab 37B, Obat-obat Angina
Pectoris.
Secara biokimiawi ereksi bercirikan adanya keseimbangan antara cGMP dan enzim PDE-5
(phosphodiëstera se tipe-5) yang mengurai kan cGMP menjadi 5-GMP, lihat Gambar di Bab 40, Obat asma
dan Bab 37, Obat-obat Jantung, sub A3. Penghambat fosfodiësterase. Pada keadaan normal keseim-
ban gan ini baik, yaitu darah dapat mengalir ke dalam penis namun tidak bisa keluar lagi. Baru seusai
orgasme, PDE















