Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 29. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 29. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 29

 





lebih rendah dari amfetamin, ya-

itu tachycardia, palpitasi, TD meningkat, 

gangguan lambung-usus, pusing dan stimu-

lasi SSP. Efek kardiovaskuler pada pasien 

hipertensi dan angina tidak dilap orkan. 

Dosis: 1dd 1 tablet slow-release ½ jam a.c. 

(amfepramon 75 mg + vit B1,B2,B3,B6)

2. Orlistat: Xenical

Obat ini telah dipasarkan sebagai pil anti-

obesi tas (‘bikini slimmer’1998). Khasiatnya 

berdasar  penurunan absorpsi lemak 

dalam usus dengan jalan memblokir lipase 

pankreas. Efeknya terhadap penurunan be- 

rat badan nampaknya tidak begitu besar. 

Orlistat mengikat lipase secara irreversibel, 

sehingga lemak (triglise rida) dari makanan 

tidak dihidrolisis menjadi asam lemak 

bebas dan gliserol, yang dapat diabsorpsi 

usus. Akibatnya 30% dari lemak tidak dise- 

rap dan dikeluarkan melalui feses, sedang-

kan lazimnya jumlah ini hanya 4-5%. Peng-

gunaannya dibatasi pada orang gemuk 

dengan Body Mass Index (BMI) > 30 atau le-

bih, bersamaan dengan diet miskin kalori 

dan ±30% sebagai lemak. Bila sesudah  12 

minggu tidak tercapai penurunan berat 

badan minimal 5%, maka pengobatan harus 

dihentikan. Suatu studi menunjukkan bahwa 

sesudah  satu tahun tercatat kehilangan berat 

badan tidak terlalu banyak, yaitu rata-

rata 10,2% dibandingkan dengan 6,1% di 

kelompok plasebo. Pada ±10% pasien terjadi 

kehilangan bobot badan maksimal 20% lebih. 

Resorpsi dari usus minimal, ±1%, yang dalam 

darah terikat 99% pada protein. Dalam hati 

sebagian zat dirombak menjadi metabolit in-

aktif, yang dikeluarkan lewat empedu.

Efek samping agak sering terjadi namun  

tidak serius dan terutama berupa gangguan 

lambung-usus seperti flatulensi, sakit perut, 

diare dan kejang lambung. 

Dosis: 3 dd 120 mg a.c./d.c./p.c. bersama 

diet kalori sedang. 

3. Sibutramin: Reductil

Derivat siklobutan ini (1998) yaitu  suatu 

serotonin-NA re-uptake blocker, yang ber-

peran pada terjadinya perasaan kenyang 

sesudah makan. Di samping itu juga me-

ningkatkan pemakaian  energi akibat kerja 

adrenergik perifer. sesudah  pemakaian  6 

bulan dari 15 mg/hari dengan kombinasi 

diet, tercapai penurunan bobot badan rata-

rata 11 kg (6-8%). Tanpa diet penurunan 

hanya 1% (Ph Wkbl 1998; 133: 1590), Terapi 

sebaiknya dihentikan bila sesudah 4 minggu 

turunnya bobot badan hanya kurang dari 

2 kg. dipakai  pada penderita gemuk 

dengan BMI > 30 atau di atas 27 bila ada  

faktor risiko lain.

Efek samping yang tersering yaitu  obsti-

pasi, mulut kering dan sukar tidur, juga 

debar jantung dan hipertensi. Maka frekuensi 

jantung dan tensi perlu dimonitor selama 3 

bulan pertama.

Dosis: oral 1 dd 10 mg pagi hari, sesudah  4 

minggu bila berat badan menurun < 2 kg, 

dosis dapat dinaikkan sampai 15 mg, maks. 

selama 1 tahun.

4. Rimonabant: Acomplia

Derivat piperidinil ini (2005) yaitu  pene-

kan nafsu makan berdasar  perintangan 

reseptor cannabinoid (RC). RC ada  di 

permukaan sel-sel otak, a.l. dari hipotalamus 

dan dapat ditempati oleh Cannabis (mari-

huana, hashiz) dan juga oleh endo-cannabi-

noida tubuh sendiri. Reaksinya berupa me-

ningkatnya nafsu makan; efek samping ini 

sudah terkenal pada pecandu hashiz. Orang 

gemuk membentuk terlalu banyak RC ini. 

Rimonabant memblokir RC dan mengurangi 

nafsu makan, juga menurunkan kadar TG 

dan glukosa darah serta meningkatkan HDL. 

Di samping itu juga menurunkan hasrat 

merokok dan minum alkohol. Obat anorek-

sans ini dimaksudkan hanya untuk para 

penderita overweight dengan gangguan me- 

tabolisme, yaitu kolesterol tinggi atau dia-

betes. Dilaporkan bahwa rimonabant juga 

efektif pada pecandu drugs, alkohol dan 

rokok. (Gail L et al. Effects of cannabinoid recep-

tor blocker rimonabant on weight reduction in 

overweight patients. Lancet 16-4-2006) Peng-

gunaan 20 mg setiap hari dapat menurunkan 

berat badan dengan ±10 kg (6-8%). 

Efek samping berupa mual, nyeri kepala, 

pusing dan gangguan saraf seperti depresi 

serius dan daya kognitif. 

Dosis: 1 dd 10-20 mg a.c.


5. Ekstrak Hoodia: kaktus Afrika Selatan, Trim-

spa

Glikosida ini dengan rumus steroida (1998) 

yaitu  zat penekan lapar, yang dihasilkan 

dari tumbuhan yang banyak mengandung air 

Hoodia gordoni dan berasal dari gurun pasir 

(Kalahari desert) di Afrika Selatan, Angola dan 

Namibia. Batang “kaktus” ini mengandung 

zat aktif P57, suatu glikosida steroid yang 

sebagai antagonis reseptor glukosa berefek 

menekan nafsu makan. Hipotalamus me-

ngontrol kadar glukosa dan bila kadarnya 

menurun, dikirim isyarat untuk makan. 

sesudah  makan kadar glukosa naik lagi dan 

hipotalamus menghentikan sinyal lapar. P57 

mengikat diri pada reseptor-reseptor sama 

dengan glukosa, sehingga hipotalamus “me- 

ngira” bahwa kadar glukosa darah normal-

dan tidak memicu  rasa lapar. Efeknya 

yaitu  asupan kalori sehari dapat diturunkan 

dengan ±50%.

Efek samping tidak diketahui.

Dosis: selama tiga hari 2 dd 250 mg (tablet 

atau juice) ½ jam a.c. Bila efeknya kurang, 

dapat ditingkatkan sampai 2 dd 500 mg. 

Pemeliharaan: 1-2 dd 250 mg.

6. Hidroksisitrat: HCA

Hidroksisitrat diperoleh dari buah garoka, 

Katch puli (Hindi = buah asam) atau Malabar 

Tamarind dari pohon Garcinia cambogia. Di 

India dan Sri Lanka, buah ini dipakai  

untuk menga samkan makanan (seperti asam 

Jawa). Selain itu buah ini juga dipakai  

sebagai obat rakyat tradisional pada penyakit 

jantung, gangguan empedu dan gangguan 

lambung-usus. Khasiat menekan nafsu ma-

kannya berdasar  blokade enzim yang 

memung kinkan lipogenesis. Dalam siklus 

asam sitrat (‘Krebs cyclus’), glukosa diubah 

melalui piruvat menjadi asam sitrat, yang 

merupakan bahan pangkal untuk sintesis 

asam lemak dan koleste rol. Enzim yang ter-

libat pada sintesis diikat oleh HCA (persaingan 

sub strat), sehing ga lipogenesis gagal. Sebagai 

gantinya, hati terpaksa mengubah glukosa 

menjadi glikogen. Oleh sebab  itu, rasa lapar 

berkurang dan pemakaian  energi mening- 

kat, sedang  kadar LDL-koleste rol dan 

trigliserida menurun. Asupan makanan ber-

ku rang, yang memicu  menurunnya 

berat badan. pemakaian nya hingga kini 

masih terbatas pada kalangan kedokteran 

komplementer.

Krom memperkuat efek HCA dan berkha-

siat mempertahankan keseim bangan kadar 

glukosa darah. Menurut beberapa studi, 

kombinasi dari kedua zat dengan diet dapat 

menguran gi berat badan dengan ±4 kg dalam 

waktu 4 bulan.

Efek samping tidak diketahui dan dapat 

disamakan dengan asam sitrat yang digu-

nakan di banyak bahan makanan.

Dosis: oral 3 dd 250 mg bersama krom-

pikolinat (Glucose Tole rance Factor).

C. ADRENOLITIKA

Adrenolitika atau simpatolitika yaitu  zat-

zat yang melawan sebagian atau seluruh 

aktivitas Susunan Saraf Simpatik. Misal- 

nya, adrenolitika meniadakan vasokonstriksi 

yang ditimbulkan oleh aktivasi reseptor-alfa 

akibat adrenergika. berdasar  mekanisme 

dan titik kerjanya, adren oli tika dapat dibagi 

dalam tiga kelompok, yaitu zat-zat penghambat 

reseptor adrenergik (alfa-blocker dan beta-blocker) 

dan zat-zat penghambat neuron adrenergik.

1.Alfa-blockers (a-simpatolitika)

Zat-zat ini memblokir reseptor-alfa yang 

banyak ada  di jaringan otot polos dari 

kebanyakan pembuluh, khususnya dalam 

pembuluh kulit dan mukosa. Efek utamanya 

yaitu  vasodilatasi perifer, oleh sebab  itu 

banyak dipakai  pada hipertensi dan hi-

per trofi prostat. Prazosin juga dipakai  

pada gagal jantung (dekompensasi) dan pada 

penyakit Raynaud.Lihat Bab 34, Vasodi latansia 

dan Bab 35, Antihipertensiva, sub 2.Alfa-

blockers.

Dikenal tiga jenis alfa-blocker, yaitu:

–  Zat-zat tak selektif: fentolamin dan alka-

loida ergot

Fentolamin khusus dipakai  untuk 

diagno sis dan terapi hipertensi tertentu 

(feochromocyto ma). Juga pada gangguan 

ereksi sebagai injeksi intracaverneus (ber-

sama papaverin: Androskat). 


Alkaloid ergot, berkat efek vasokonstrik-

sinya banyak dipakai  pada serang-

an migrain, juga dalam ilmu kebidan-

an untuk menghentikan perdarahan sete-

lah persalinan.

–  α1-blockers selektif: derivat quinazolin 

(prazosin, terazosin, tamsulosin dan lain-

lain) serta urapidil. pemakaian nya seba-

gai obat hipertensi dan pada hiperplasia 

prostat.

– α2-blockers selektif: yohimbin, yang digu-

nakan sebagai obat perangsang syahwat 

(aphrodisiacum).

2. Beta-blocker (β-simpatikolitika)

Semula beta-blocker dipakai  untuk 

gangguan jantung (aritmia, angina pectoris), 

untuk meringankan kepekaan organ ini bagi 

rangsangan, seperti kerja berat, emosi, stress 

dan sebagainya. Sejak tahun 1980-an obat ini 

terutama dipakai  sebagai obat hiper tensi, 

lihat selan jutnya Bab 35, Antihipertensiva. 

Obat-obat ini dapat dibagi pula dalam 2 

kelompok, yaitu

– zat-zat β1 selektif, yang melawan efek 

dari stimulasi jantung oleh adrena lin dan 

NA (reseptor-β1), misalnya atenolol dan 

metoprolol

– zat-zat β1 tak selektif, yang juga meng-

hambat efek bronchodi la tasi (resep tor-β2), 

misalnya propranolol, alprenolol, dan la-

in-lain. 

Labetalol dan karvedilol yaitu  zat-zat 

yang menghambat kedua reseptor (alfa 

+ beta). 

3. Penghambat neuron adrenergik: derivat 

guanidin (guaneti din). Zat-zat ini tidak mem-

blokir reseptor, melainkan bekerja terhadap 

bagian postganglioner dari saraf simpatik 

dengan mence gah pelepasan katecholamin. 

Guanetidin khusus dipakai  pada jenis 

glaukoma tertentu. 

MONOGRAFI

Yohimbin

Alkaloid ini diperoleh dari kulit pohon 

Corynanthe yohimbe (Afrika Barat) dan po-

hon Aspidosperma quebracho-blanco (Amerika 

Selatan). Kulit pohon itu  juga mengan-

dung alkaloid lain, yaitu ajmalin/corynanthein 

dan aspidospermin.

Efek adrenoli tiknya agak lemah dan sing- 

kat berdasar  blokade selektif dari adre-

noreseptor alfa-2 presinap tik. Dalam dosis 

Hipertrofi prostat

Sekitar 25% dari pria di atas usia 60 tahun menderita pembesaran prostat yang tak-ganas (Benign 

Prostatic Hyper plasia, BPH). Gejalanya merupakan harus sering kali berkemih dengan aliran lemah dan 

setiap kali hanya sedikit yang keluar. Lihat juga Bab 43, Zat-zat Androgen, antihormon.

Di prostat yang membesar jaringan otot hiperplasif memiliki banyak reseptor-alfa-1, begitu pula 

di saluran kemih (urethra). Blokade reseptor ini dengan derivat quinazolin (alfuzosin, terazosin, 

tamsulosin, dan lain-lain) menurunkan tonus dinding pembuluh dalam prostat dan saluran kemih. 

Efeknya yaitu  perbaikan pengeluaran urin dan mengurangi frekuensi berkemih serta memperkecil 

residu urin dalam kan dung kemih. 

Alfa-1-blockers bermanfaat pada BPH ringan (dengan terutama jarin gan ikat) sebagai penanganan 

sementara untuk meringankan gejala sambil menunggu pembedahan bila diperlukan. Obat-obat 

ini tidak berefek menciutkan prostat yang membesar, berlainan dengan obat BPH lainnya, yaitu zat 

anti-and rogen finasteri da, lihat Bab 43, Zat-zat Andro gen, anti hor mon). Finasterida ternyata tidak 

lebih efektif dari terazosin pada penanganan keluhan BPH. Oleh sebab  itu alfa-blockers sekarang 

dianggap sebagai obat pilihan pertama pada farmakoterapi BPH. Untuk monografi lihat Bab 35, 

Antihipertensiva, alfa-blockers.

Penanganan lainnya terdiri dari pembedahan ‘terbuka’ untuk mengeluarkan prostat dan reseksinya 

melalui uretra (saluran kemih), yang disebut TURP (Transurethral Resection of Prostate). Di samping itu 

dilakukan pula cara-cara modern, seperti pembedahan dengan laser(ablatio) dan transurethral microwave 

therapy (TUMT). Metoda terakhir sangat efektif dan dapat dilaku kan poliklinis dengan anestesi lokal 

dan sedasi ringan. 


rendah dapat meningkatkan tekanan darah, 

sedang  pada dosis lebih tinggi justru 

menurunkannya. Oleh sebab  itu terjadilah 

vasodilatasi perifer yang memicu  

penyaluran darah diperkuat ke organ-organ 

di bagian bawah perut. 

pemakaian . Secara tradisional diguna-

kan sebagai afrodisia kum, untuk memperkuat 

syahwat dan mengata si impotensi. Sering kali 

obat ini dianggap obsolet, namun  pada suatu 

meta-analisis dari tujuh studi, yohimbin 

ternyata efektif dalam 34-73% dari kasus 

untuk memicu  ereksi. Perbedaan besar 

dalam persentase disebab kan oleh populasi 

penderita impotensi dari etiologi berlainan. 

Vasodilatasi di badan pengembang penis 

mungkin dapat menerang kan efeknya pada 

disfungsi erektil. Lihat juga Bab 43, Zat-

zat Andro gen, boks Gangguan ereksi dan 

Viagra.

Efek samping dapat berupa penurunan ten-

si, pusing, berkeringat kuat, debar jantung, 

tremor, agitasi, gelisah dan sukar tidur, ke-

jang bronchi dan gejala yang mirip lupus. 

Pada penderita gangguan jiwa, dosis rendah 

dapat mencetuskan depresi. Fenotia zin mem-

perkuat toksisitasnya.

Dosis: oral 3-4 dd 5-10 mg.


KOLINERGIKA  

DAN ANTIKOLINERGIKA

A. KOLINERGIKA

Kolinergika atau parasimpatikomimetika 

yaitu  sekelompok zat yang dapat menim-

bulkan efek yang sama dengan stimulasi 

Susunan Parasim pa tik (SP), sebab  melepas-

kan neurohormon asetilkolin (ACh) di ujung-

ujung neuronnya. Tugas utama SP yaitu  

mengumpulkan energi dari makanan dan 

menghambat pemakaian nya, singkatnya 

berfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang, 

timbullah sejumlah efek yang menyerupai kea-

daan istirahat dan tidur. 

Efek kolinergik faal yang terpen ting yaitu  

sebagai berikut:

– stimulasi pencernaan dengan memper-

kuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah 

dan getah lambung (HCl), juga sekresi air 

mata dan lain-lain;

– memperlambat sirkulasi, antara lain de-

ngan mengurangi kegiatan jantung, vaso-

dilatasi dan penurunan tekanan darah;

– memperlambat pernapasan, antara lain 

dengan menciutkan bronchi, sedang  

sekresi dahak diperbesar;

– kontraksi otot mata dengan efek pe-

nyempitan pupil (miosis) dan menurun-

nya tekanan intraokuler akibat lancarnya 

pengelu a ran air mata;

– kontraksi kandung kemih dan ureter 

dengan efek memperlancar pengeluaran 

urin;

– dilatasi pembuluh dan kontraksi otot 

kerangka;

– menekan SSP sesudah  pada awal mensti-

mulasinya.

Efek muskarin dan efek nikotin

Reseptor-reseptor kolinergika ada  da-

lam semua ganglia, sinaps dan neuron post-

ganglioner dari SP, juga di pelat-pelat ujung 

motorik (otot lurik) dan di bagian Susunan 

Saraf Pusat yang disebut sistem ekstrapira-

midal. berdasar  efeknya terhadap rang-

sangan, reseptor ini dapat dibagi dalam 2 

jenis, yakni reseptor muskarin dan reseptor 

nikotin, yang masing-masing menghasilkan 

efek berlainan.

1. Reseptor muskarin (M) ada  di neu-

ron postganglioner dan dapat dibagi da-

lam minimal 3 subtipe, yakni reseptor-M1, 

-M2, dan -M3.. Ketiga jenis reseptor ini bila 

dirangsang membe rikan efek yang berlainan, 

lihat tabel di bawah ini. Dewasa ini sudah 

ditemukan dua subtipe reseptor-M lainnya 

lagi.

Muska­rin­ (M)­ yaitu  derivat furan yang 

bersifat sangat beracun dan ada  sebagai 

alkaloid pada jamur merah Amanita musca-

ria. Resep tor muskar in sesudah  diaktivasi oleh 

neuro trans mitter asetil ko lin atau kolinergika 

dapat memicu  semua efek fisiologis 

yang tertera di atas. 

 reseptor       jaringan       efek stimulasi

    M1 neuron-neuron aktivasi

 ganglia simpatis pelepasan NA>

    M2 myocard kontraksi>

 jaringan nodus bradycardia

  penyaluran AV<

    M3 kelenjar eksokr. sekresi

 ileum relaksasi

 pembuluh langsung: kontraksi

  via endotel: relaksasi

Tabel 32-1: Aktivasi subtipe reseptor-

M di berbagai organ dan efeknya bila 

dirangsang oleh kolinergika

Asetilkolin­(ACh) bekerja tidak selektif dan 

merangsang ketiga tipe reseptor M, sama 

dengan adrenalin dan NA dari Sistem Simpatik 

(SS), yang juga merangsang secara tak-selektif 

resep tor -alfa dan -beta adre nergik. Obat-obat 

yang mengaktivasi resep tor-M1, -M2, atau -M3 

secara selektif hingga kini belum ditemu kan. 

 

2. Reseptor nikotin (N) terutama ada  

di pelat-pelat ujung myoneu ral dari otot ke-

rangka dan di ganglia otonom (simpatik dan 

parasimpatik). Stimulasi reseptor ini oleh 

kolinergika (neos tigmin dan piridostigmin) 

memicu  efek yang menyerupai efek 

adrenergika, oleh sebab  itu bersifat berla-

wanan sama sekali. Misal nya vasokonstriksi 

dengan meningkatnya tensi ringan, penguatan 

kegiatan jantung, juga stimulasi SSP ringan. 

Pada dosis rendah timbul kontraksi otot 

lurik, sedang  pada dosis tinggi terjadi 

depolarisasi dan blokade neuromusku lar.

Mekanisme kerjanya berdasar  stimu-

lasi penerusan impuls di ganglia simpatik dan 

stimulasi anak ginjal dengan sekresi noradre-

nalin. Di samping itu juga terjadi sti mulasi 

ganglia kolinergik (terutama di saluran lam-

bung-usus dengan peningkatan peristaltik) 

dan pelat-pelat ujung motorik otot lurik, di 

mana ada  banyak reseptor nikotin.

* Efek nikotin dari ACh juga terjadi pada 

perokok, yang disebabkan oleh sejumlah 

kecil nikotin yang diserap ke dalam darah 

melalui mukosa mulut. 

Selektivitas parsial untuk reseptor -M dan 

-N ada  pada kolinergika klasik seperti 

pilokarpin, karbachol dan aseklidin (*Glau-

cofrin). Obat-obat ini pada dosis biasa meng-

ak tivasi beberapa tipe resep tor-M tanpa me- 

mengaruhi reseptor nikotin. Sebaliknya, ko- 

linergika lain seperti zat-zat antikolinesterase 

(neostig min, piridos tigmin), bekerja tidak 

selektif. 

Penggolongan 

Kolinergika dapat dibagi menurut mekanisme 

kerjanya, yaitu zat-zat dengan kerja langsung 

dan zat-zat dengan kerja tak-langsung.

1.Bekerja langsung: karbachol, pilokarpin, mus-

karin dan arekolin (alkaloid dari pinang, Areca 

catechu). Zat-zat ini bekerja langsung ter-

hadap organ ujung dengan kerja utama yang 

mirip efek muskarin dari ACh. Semuanya 

yaitu  zat-zat amonium kwaterner yang 

bersifat hidrofil dan sukar memasuki SSP, 

terkecuali arekolin.

2.Bekerja tak-langsung: zat-zat antikolines-

terase seperti fisostigmin, neostigmin dan piri-

dostigmin. Obat-obat ini menghambat pengu-

raian ACh secara reversibel, yaitu hanya 

untuk sementara. sesudah  zat-zat itu  

selesai diuraikan oleh kolinesterase, ACh 

segera akan dirombak lagi.

Di samping itu ada pula zat-zat yang me-

ngikat enzim secara irrever sibel, misal-

nya parathion dan organofosfat lain. Kerjanya 

panjang sebab  bertahan sampai enzim ter-

bentuk baru lagi. Zat ini banyak dipakai  

sebagai insektisid beracun kuat di bidang 

pertanian dan sebagai obat kutu rambut 

(malat hion). Gas saraf yang dipakai  se-

bagai senjata perang juga terma suk dalam 

kelompok organo fosfat ini, misalnya Sarin 

dan Soman.

pemakaian 

Kolinergika khusus dipakai  pada penya-

kit mata glaukoma, myasthenia gravis, demensia 

Alzheimer dan atonia.

1.Glaukoma

Staar hijau (glaukoma) yaitu  penyakit 

mata yang bercirikan peningkatan tekanan 

cairan mata intraokuler (TIO) di atas 21 mm 

Hg, yang bisa menjepit saraf mata. Saraf 

ini berangsur-angsur dirusak secara progre-

sif, sehingga penglihatan memburuk dan 

akhirnya dapat menimbul kan kebutaan. Teta-

pi hanya persentase kecil dari pasien dengan 

TIO meningkat menderita glaukoma. Nilai 

tekanan intraoku ler normal yaitu  antara 10-

21 mm Hg. 

Gejalanya tidak begitu nyata dan berlang-

sung secara sangat berangsur-angsur, teruta-

ma penyempitan pandangan perspektif de- 

ngan timbulnya ‘blind spots’. Oleh sebab  

itu umumnya glaukom baru menjadi mani- 

fes pada stadium lanjut dengan sudah ada-

nya kerusakan irreversibel. Oleh sebab  

itu orang-orang di atas 50 tahun sebaiknya 

memeriksakan matanya setiap 1-2 tahun 

untuk mengukur TIO-nya (tonometri).


pemicu nya. Cairan mata terbentuk di mu-

kosa tipis di belakang pupil, di corpus ciliare 

dan via liang pupil mengalir ke ruang mata 

depan. Pengeluarannya melalui ruang sempit 

antara pupil dan kornea (“segi-bilik”) ke 

saluran keluar. Bila cairan ini tidak dapat 

mengalir keluar dari ruang mata depan 

sebab  misalnya penyumbatan, maka TIO 

akan meningkat. Jenis glaukoma yang paling 

sering ada  yaitu  glaukoma­ segi-bilik­

terbuka­ (glaucoma simplex). Pada bentuk ini 

pengeluaran cairan dari ruang mata depan 

terlampau lambat, meskipun saluran keluar 

di segi-bilik tidak tersumbat. Hal ini bisa 

dilihat pada pemeriksaan mata. Gangguan ini 

disebabkan oleh kelainan bagian depan dari 

saraf mata, biasanya timbul di keluarga dan 

sering kali pada penderita diabetes atau myopia, 

yang dapat ditangani dengan pengobatan 

atau melalui pembedahan mikro. Bagi bentuk 

glaukoma yang saluran keluarnya tersumbat, 

yaitu glaukoma­segi-bilik­ tertutup, juga da-

pat dilakukan pengobatan atau penyinaran 

dengan laser guna membuat lubang pada iris 

untuk mengatasi penyumbatan itu .

Tujuan penanganan glaukoma yaitu  me-

nurunkan tekanan cairan mata intraokuler 

(senyawa prostaglandin latanoprost) melalui 

peningkatan penyaluran keluar dari cairan 

ini atau merintangi produksiya (betablocker).

Pengobatan dapat dilakukan dengan teru-

tama dua jenis obat tergantung pada penye-

bab gangguan, yaitu dengan kolinergika atau 

β-bloc ker. Pada glaukoma terbuka, beta-blocker 

merupakan pilihan pertama. Bila obat-obat 

ini terkontraindikasi atau kurang efektif, 

baru dipakai  kolinergika atau adrenergika.

a.­ Beta-blocker: timo lol (Nyolol 0,5%), betak-

so lol (Betoptima 0,5%) dan befunolol (Glau-

conex 0,5%). Efektif bila kenaikan tekan-

an intraoku ler disebabkan oleh mening-

katnya produksi cairan mata. Mekanis-

me kerjanya melalui reseptor beta di 

corpus ciliare mata. Beta-bloc ker berkha-

siat menurunkan produksi cairan mata 

sampai 20-25%, namun  tidak memengaruhi 

pengeluarannya. 

b.­ Kolinergika:­pilokar pin, karbachol dan neos-

tigmin. dipakai  bila segi bilik me-

nyempit, yang sering kali terjadi pada 

manula. Akibatnya pengeluaran cairan 

mata dari bilik depan terham bat, sehingga 

volume dan tekanan intraokuler setem pat 

mening kat. Obat-obat ini meng kontraksi 

dan menyempitkan manik mata (miosis), 

yang memicu  segi bilik mereng gang 

dan penyaluran cairan mata meningkat. 

Juga menurunkan produksi cairan mata 

melalui rangsangan dari alfa-2-reseptor.

c.­ Adrenergika: dipivefrin, apraklonidin dan 

brimonidin. Dipivefrin melalui stimulasi 

reseptor-beta meskipun meningkatkan 

produksi cairan bilik, namun  serentak juga 

penyalurannya distimulasi sehingga efek 

keseluruhannya yaitu  netral. Stimulasi 

reseptor-alfa menghambat produksi 

cairan. Kedua obat terakhir mengurangi 

produksi cairan mata, brimonidin juga 

melancarkan penyalurannya. Kedua obat 

ini hanya dipakai  untuk pengobatan 

jangka pendek sebelum atau sesudah 

penanganan dengan laser.

d.­ Obat-obat­ lainnya yaitu  latanoprost, 

dorzolami da dan brinzolamida. Obat perta-

ma mempercepat pengeluaran cairan, se-

dangkan kedua zat terakhir penghambat 

karboanhidrase yang mengurangi pro-

duksinya.

2. Myasthenia gravis (Yun. myo = otot, as-

thenia = kelemahan)



yaitu  suatu penyakit auto-imun yang 

bercirikan keletihan dan kelemahan dari 

terutama otot-otot muka, mata dan mulut. 

pemicu nya yaitu  kekurangan relatif dari 

ACh di pelat ujung motorik dari otot lurik. 

Kekurangan ini disebabkan oleh antibo-

dies IgG, yang telah merusak reseptor ACh 

setempat. Oleh sebab  itu penerusan impuls 

dari saraf ke otot oleh ACh tidak berlang-

sung sebagaimana mestinya. Zat-zat­ anti-

kolines­terase (fisostigmin dan derivatnya) 

merintangi perom bakan cepat dari ACh oleh 

kolinesterase, sehingga kerjanya lebih lama. 

Dengan demikian transmisi impuls diper-

baiki atau bahkan kerusakan reseptor dapat 

dihambat. 

Obat lain yang sering dipakai  yaitu  

prednison, yang berkha si at menghambat se-

luruh proses penyakit.

3. Demensia Alzheimer. berdasar  pene-

muan bahwa kadar ACh di otak berkurang 

pada demensia, maka dipakai  pengham-

bat kolinesterase untuk mencegah perom-

bakan dan meningkatkan kadar ACh di otak. 

Yang kini tersedia yaitu  takrin, rivastigmin 

(Exelon), metrifonat, milameli ne dan obat 

baru donepe zil (Aricept). Obat-obat ini hanya 

berkhasiat memperlambat progres dari ka-

sus-kasus yang tidak begitu serius. Lihat 

selanjutnya Bab 28 B, Obat-obat Alzheimer. 

4. Atonia (keadaan kelemahan otot polos). Se-

telah pembedahan besar dengan stress ba-

gi tubuh adakalanya terjadi peningkatan 

aktivi tas saraf adrenergik. Akibatnya dapat 

berupa obstipasi dan sukar berkemih (ato-

nia­ kandung kemih), bahkan obstruksi usus 

(ileus­ paralyticus) akibat pengenduran dan 

kelumpuhan peris taltik. Keadaan ini dapat 

ditanggulangi oleh kolinergika (karbachol dan 

neostigmin).

Efek samping kolinergika yaitu  sama de-

ngan efek dari stimul asi SP secara berlebihan, 

antara lain mual, muntah-muntah dan dia-

re, juga mening katnya sekresi ludah, dahak, 

keringat dan air mata, bradycardi a, bron-

chokonstriksi serta depresi pernapasan. 

Antidotum pada overdosis atau keracunan 

dengan kolinergika yaitu  senyawa antiko-

linergik atropin dengan dosis tinggi sekali, 

khusus untuk melawan efek muskarin.

Kehamilan dan laktasi. Senyawa amonium 

kwaterner tidak melinta si plasenta, maka da-

pat dipakai  per oral, namun  tidak parenteral 

sebab  dapat memicu his. 

MONOGRAFI

1.BETA-BLOCKER

1a. Timolol (Nyolol, Timoptol, *Xalacom)

Dosis: 2 dd 1 tetes larutan 0,25-0,5%

1b. Betaxolol (Betoptima 0.5%, Betoptic)

Dosis: 2 dd 1 tetes larutan 0,25-0,5%

1c. Befunol (Glauconex 0,25%)

Dosis: 2 dd 1 tetes larutan 0,25-0,5 %

Lihat selanjutnya Bab 35, Antihipertensiva

1d. Karteolol: Arteoptic LA, Teoptic, Carteabak

Merupakan betablocker non-selektif yang 

berkhasiat menurunkan tekanan intraokuler 

pada glaukoma simpleks dengan mengurangi 

sekresi cairan mata. Mulai bekerja dalam 

waktu 30 menit dan berlangsung sampai 24 

jam. 

Efek sampingnya lupus erythematosus 

sistemik (SLE), sakit kepala, pusing, mening-

katnya myasthenia gravis dan iritasi mata, 

konyung-tivitis dan gangguan penglihatan. 

Dosis: 2 dd 1 tetes (1%-2%)

1e. Levobunolol: Betagan Liquifilm

Isomer levo dari bunolol ini yaitu  beta-

blocker non-selektif yang berkhasiat menu-

runkan dengan cepat tekanan intraokuler 

pada glaukoma simpleks dan berlangsung 

selama paling sedikit 12 jam.

Efek samping iritasi mata, konyungtivitis, 

gangguan visus dan sistemik seperti gang-

guan jantung, bronchospasme, sakit kepala, 

mual dan pusing.

Dosis: 1-2 dd 1 tetes 0,25%

2.KOLINERGIKA

2a. Asetilkolin:ACh

Neurohormon penting ini bersifat sangat ti-

dak stabil sebab  segera diuraikan oleh dua 


jenis enzim kolinesterase untuk menghinda-

ri stimulasi terus-menerus dari saraf koli-

nergik. Hasil pengurai annya yaitu  kolin, 

suatu unsur penting dari lesi tin, yang terda-

pat di banyak organ tubuh, misalnya dalam 

empedu, otak dan kuning telur. Berhubung 

labilitasnya, ACh tidak dipakai  lagi da-

lam terapi dan diganti oleh derivat yang 

lebih stabil, antara lain karbachol.

Defisiensi ACh di otak dihubungkan dengan 

penyakit demensi Alzheimer, lihat Bab 28C. 

*Karbachol (Isopto Carbachol, Miostat) ada-

lah derivat uretan dari kolin (1933) yang pe- 

nguraiannya oleh enzim tidak secepat ACh, 

sehingga efeknya lebih lama. Khasiat mus- 

karin dan nikotin sama kuatnya, efek sam-

ping lebih ringan dan jarang terjadi pada do-

sis biasa. dipakai  sebagai miotikum pada 

glaukoma dan pada atonia organ dalam. 

Dosis: pada glaukoma 3 dd 2 gtt dari larutan 

1,5-3% (klorida), pada atonia usus/kandung 

kemih akut oral 1-3 dd 4 mg.

2b. Pilokarpin : (Cendo Carpine, *Timpilo, Mio-

kar)

Alkaloid ini ada  pada daun tanaman 

Amerika, Pilocarpus jaborandi. Terutama ber-

khasiat muskarin, efek nikotin ringan sekali. 

Pada awalnya SSP distimulasi, kemudian 

ditekan aktivitasnya. pemakaian  utamanya 

yaitu  sebagai miotikum pada glaukoma. 

Efek miotiknya (tetes mata) dimu lai sesudah  

10-30 menit dan bertahan 4-8 jam.

Toleransi dapat terjadi sesudah  dipakai  

untuk waktu lama yang dapat diatasi de-

ngan memakai  kolinergika lain untuk 

beberapa waktu, misalnya karbachol atau neos-

tigmin.

Dosis: pada glaukoma 2-4 dd 1-2 tetes la-

rutan 1-2% (klorida, nitrat).

*Timpilo = timolol + pilokar pin. 

2c. Neostigmin: Prostigmin

Senyawa amonium kwaterner ini 

yaitu  perintang kolines terase reversibel. 

Neostigmin memiliki khasiat muskarin agak 

kuat, yang jauh melebi hi efek nikotinnya 

yang sangat ringan. dipakai  teruta ma 

pada keadaan otot lemah, yaitu untuk diag-

nosis dan terapi myasthenia, atonia usus dan 

kandung kemih (sukar buang air besar dan 

kecil). Begitu pula pada glaukoma.

Resorpsi dari usus berlangsung buruk se-

perti semua zat hidrofil. Lama kerja bervariasi 

secara individual, plasma-t½ 15-54 menit. 

Dalam hati zat ini dihidrolisis ikatan esternya 

oleh kolinesterase. sebab  sukar melintasi 

membran otak, efek pusatnya ringan. 

Efek samping atas jantung dan peredaran 

darah lebih ringan daripada pilokarpin. Un-

tuk melawan efek muskarin ini dapat dibe-

rikan atropin. Pada dosis berlebihan dapat 

timbul kelemahan otot, sehingga seolah-olah 

obat tidak efektif lagi (pada myasthenia). Oleh 

sebab  itu, pemakaian nya perlu dipantau 

dengan saksama dan kontinu.

Dosis: pada myasthenia oral rata-rata 150 

mg sehari dalam 4-6 dosis (bromida), pada 

glaukoma 1-2 dd 1-2 tetes 3-5% larutan metil-

sul fat.

* Piridostigmin (Mestinon) yaitu  derivat 

(1954) dengan efek muskarin ±4 kali lebih 

lemah daripada neostigmin. Efek samping 

juga lebih ringan dan terutama berupa gang-

guan lambung-usus. Mulai kerja lebih lama, 

namun  juga bertahan lebih lama. Khusus digu-

nakan pada myasthenia gravis. Dosis: oral 3-4 

dd 30 mg (bromida).

2d. Nikotin: Nicorette, plester Nicotinell TTS

Derivat piridin ini (1978) ada  sebagai 

alkaloid pada daun tembakau (Nicotiana 

tabacum). Nikotin diikat pada resep tor-N di 

SSP dan SS perifer, berefek terhadap otak, 

jantung, pembuluh, saraf, lambung-usus dan 

otot kerang ka. Pada dosis rendah berkhasiat 

stimulasi, sedang  pada dosis tinggi 

bekerja inhibisi.

Terutama untuk mendukung penghentian 

merokok, dipakai  dalam bentuk plester 

atau sebagai chewing gum (Nicorette). Plester 

dari 10, 20 dan 30 cm2 melepaskan nikotin 

masing-masing 7, 14 atau 21 mg secara teratur 

selama 24 jam. Bila chewing gum itu  

dikunyah perlahan-lahan selama 30 menit, 

akan dibebaskan 2 sampai 4 mg nikotin, yang 

diserap melalui mukosa mulut.

Efek samping tergantung pada besarnya 

dosis dan terutama berupa kenaikan tensi 

dan frekuensi pukulan jantung, juga sukar 

tidur dan gatal-gatal, jarang iritasi, rasa takut, 

berkeringa t, nyeri kepala, pusing, rasa letih, 

mulut kering atau sekresi liur berlebihan. 

Selama kehamilan dan laktasi tidak boleh digu-

nakan.

Dosis: chewing gum maksimal 7 dd, plester 

1 dd pagi hari. Sebelum terapi dimulai, me-

rokok harus dihentikan seluruhnya.

2e. Tacrin: tetrahidroakridin, THA, Cognex

Derivat akridin ini (1993) yaitu  antiko-

linesterase rever sibel dengan khasiat terhadap 

SSP. Tacrin terutama dipakai  untuk me-

ningkatkan kadar ACh di otak pada demensia 

Alzheimer, yang antara lain bercirikan keku-

ran gan neurohormon ini di sel-sel otak ter-

tentu (substantia nigra).

Dosis: oral permulaan 40 mg/hari selama 6 

minggu, lalu dinaikkan dengan 40 mg setiap 

6 minggu, maksimal 160 mg. 

Lihat selanjutnya Bab 28 C, Obat-obat 

Alzheimer.

3 ADRENERGIKA

3a. Dipivefrin (epinefrinedipivalat, Diopine)

Ester adrenalin ini yaitu  prodrug inaktif 

yang dalam kornea dan bilik-depan mata 

dihidrolisis oleh esterase (1978). Berkat sifat 

lipofilnya lebih mudah mempenetrasi mata 

dari pada adrenalin, yang menghambat pro-

duksi cairan bilik dan meningkatkan penya-

luranny a. Tidak memicu  miosis, namun  

midriasis. 

Efek samping jarang terjadi dan berupa iri-

tasi, rasa terbakar, conjunctivitis dan pengen-

dapan pigmen di kornea dan conjunc tiva.

Dosis: 2 dd 1 tetes larutan 0,1% pada glau-

koma terbuka.

3b. Brimonidin (Alphagan) yaitu  alfa-2-

adrenergikum yang rumusnya mirip dengan 

klonidin, namun  bersifat kurang lipofil. Tidak 

memengaruhi tekanan darah atau frekuensi 

jantung, mengurangi produksi cairan mata 

dan meningkatkan penyalurannya. Diguna-

kan pada glauoma terbuka bila beta-blocker 

tidak dapat dipakai . 

Efek samping yang tersering yaitu  reaksi 

alergik. 

Dosis: 2 dd 1 tetes.

3c. Apraklonidin (Iopidine) yaitu  derivat 

obat antihipertensif klonidin dengan khasiat 

stimulasi reseptor-alfa dan -beta, yang meng- 

hambat produksi cairan mata melalui pe-

nurunan tonus simpatik. Tidak memenga-

ruhi tekanan darah. Toleransi dapat terjadi. 

Dosis: pada glaukoma terbuka 3 dd 1 tetes 

larutan 0,5%, lazimnya selama 4 minggu.

4. LAINNYA

4a. Latanoprost (Xalatan) yaitu  ester inak-

tif dari suatu analogon prostaglandin-F2-alfa 

(1995). sesudah  absorpsi oleh kornea dihidro-

lisis oleh esterase menjadi asam aktifnya. Zat 

ini berkhasiat menurunkan tekanan mata 

dengan meningkatkan penyaluran cairan 

mata dari bilik depan. 

Dosis:1 dd 1 tetes larutan 0,005 %.

*Xalacom = latanoprost 0,005% + timolol 

0,5%

4b. Bimatoprost: Lumigan

yaitu  prostamida sintetik yang struktural 

berkaitan dengan prostaglandin F2alfa dan 

dipakai  a.l. terhadap glaukoma terbuka 

kronis.

Berkhasiat menurunkan tekanan intra-

okuler dengan memperbaiki pengaliran ke-

luar cairan mata. Khasiatnya sesudah  4 jam 

dan berlangsung paling sedikit 24 jam. 

Resorpsinya melalui kornea baik. PP 88%, 

dimetabolisasi dalam hati dan metabolitnya 

diekskresi terutama via urin 67% dan via 

feses 25%. T1/2 ±45 menit.

Efek samping sering kali gatal dan iritasi 

pada mata, konjunctivitis, sakit kepala dan 

hipertensi.

Dosis: malam 1dd 1 tetes (0,01%). Peng-

gunaan lebih sering menurunkan efeknya.

4c. Tafluprost: Saflutan

Prodrug ini yaitu  analogon dari pros-

taglandin F2alfa yang berkhasiat menurunkan 

tekanan intraokuler pada glaukoma sim-

pleks dengan memperbaiki penyaluran cair-

an mata. Metabolit aktif yaitu  asam taflu-

prost yang terbentuk sewaktu melintasi kor-

nea. Efeknya timbul sesudah  2-4 jam dan 

berlangsung minimal 24 jam. 

Efek samping sering kali hiperaemia oku-

ler, di samping sakit kepala, gangguan mata 

(gatal, sakit, kering dan iritasi) serta tum-

buhnya bulu mata berlebihan.

Dosis: malam 1 dd 1 tetes larutan 15 mcg/

ml. pemakaian  lebih sering dapat menu-

runkan efeknya.

4d. Travoprost: Travatan

Senyawa ini juga merupakan analogon 

dari prostaglandin F2a yang pada glaukoma 

simpleks berkhasiat menurunkan cairan 

mata dengan memperbaiki pengeluarannya. 

Efeknya dalam waktu 2 jam dan berlangsung 

selama 24 jam. 

Senyawa ini yaitu  suatu prodrug dan 

waktu melintasi kornea dihidrolisissi men-

jadi asam aktif yang bersamaan dengan meta-

bolitnya diekskresi melalui ginjal. 

Efek samping sering kali (>10%) hyperaemia 

okuler, hiperpigmentasi iris, gangguan mata, 

penglihatan menurun, juga sakit kepala, ko-

nyungtivitis, alergi dan gangguan jantung 

serta gangguan tekanan darah. 

Dosis: malam 1 dd 1 tetes dan jangan lebih.

4e. Dorzolamida (Trusopt) yaitu  derivat 

sulfonamida dengan khasiat­ menghambat­

karbonanhidrase­ yang berefek mengurangi 

produksi cairan mata (1995). Efek sampingnya 

lebih ringan daripada karbonanhidrase-bloc-

ker sistemik asetazolami da, sehingga lebih 

disukai penggun aannya. Lihat juga Bab 33, 

Diuretika, Asetazo lamida.

Antara latanaprost dan dorzolamida 

mungkin terjadi interaksi bila dipakai  ber-

samaan.

Dosis: 3 dd 1 tetes larutan 2 % bersama beta-

blocker.

* Brinzolamida (Azopt) yaitu  sulfonamida, 

juga dengan khasiat karbonanhidrase-blocker 

(1998). Dosis: 2-3 dd 1 tetes larutan 1%.

B. ANTIKOLINERGIKA

Antikolinergika atau parasimpatikolitika 

melawan khasiat asetilkolin dengan meng-

hambat terutama reseptor-resep tor-M(uska-

rin) yang ada  di SSP dan organ perifer. 

Zat-zat ini tidak bekerja terhadap reseptor-

reseptor-N(ikotin) terkecuali zat-zat amonium 

kwaterner yang berkhasiat lemah. Misalnya 

relaksan otot pankuronium dan vekuronium, serta 

ganglion-blocker yang terutama menghambat 

reseptor-N di pelat ujung myoneural dan di 

ganglia otonom.

Kebanyakan antikolinergika tidak bekerja 

selektif bagi lima subtipe reseptor-M. Bekerja 

terhadap banyak organ tubuh, a.l. mata, 

kelenjar eksokrin, paru-paru, jantung, saluran 

kemih, saluran lambung-usus dan SSP. 

Khasiatnya

Efek antikolinergika terpenting yaitu  seba-

gai berikut:

– memperlebar pupil (mydriasis) dan berku-

rangnya akomodasi 

– mengurangi sekresi kelenjar (liur, keringat, 

dahak)

– mengurangi tonus dan motilitas saluran 

lambung-usus, juga sekresi getah lam-

bung

–  dilatasi bronchi

– meningkatkan frekuensi jantung dan mem-

percepat penerusan impuls di berkas His 

(bundle of His), yang disebabkan peng-

hambatan saraf paru-lambung (saraf me-

ngembara, nervus vagus).

– merelaksasi otot detrusor yang memicu  

pengosongan kandung kemih, sehingga 

kapasitasnya meningkat. Flavoksat dan 

oksibutinin juga berkhasiat langsung me-

relaksasi otot 

– merangsang SSP dan pada dosis tinggi me-

nekan SSP (terkecuali pada zat amonium 

kwaterner).

pemakaian 

Tergantung pada sifat spesifiknya masing-

masing, antikolinergika dipakai  dalam far- 

makoterapi untuk bermacam-macam gang-

guan dan yang terpenting di antaranya ada-

lah:

a. sebagai midriatikum, untuk melebarkan pu-

pil dan melumpuhkan akomodasi (atro-

pin, homatropin, tropikamida). Jika efek 

terakhir tidak diinginkan, maka harus 

dipakai  suatu adrenergikum, misalnya 

fenilefrin;

b.  sebagai spasmolitikum (pereda kejang otot 

dan kolik) dari saluran lambung-usus, 

saluran empedu dan alat urogenital, mi-

salnya pada IBS (Irritable Bowel Syndrome) 

(hyoscyamin, butilskopolamin dan propan-

telin);

c.  pada inkontinensi urin pada kandung ke-

mih instabil akibat hiperaktivitas dari otot 

detrusor. Kontraksi spontan serta hasrat 

berkemih dikurangi (flavoksat, oksibutinin, 

tolterodin); 

d.  pada Parkinsonisme, lihat Bab 28, Obat-obat 

Parkinson;

e. pada asma dan bronchitis (ipratropium, tio-

tropium);

f. sebagai premedikasi pra-bedah, untuk me-

ngurangi sekresi ludah dan bronchi dan 

sebagai sedativum berkat efek menekan-

nya terhadap SSP. Terutama dipakai  

atropin dan skopolamin bersamaan dengan 

anestetika umum. Antihistaminika dan 

fenotiazin juga dipakai  untuk maksud 

ini;

g. sebagai zat anti-mabuk jalan, guna mencegah 

mual dan muntah (skopolamin);

h. pada hiperhidrosus, untuk menekan penge-

luaran keringat berlebi han;

i.  sebagai zat penawar pada intoksikasi dengan 

zat penghambat kolinesterase (atropin).

Efek samping

Efek samping umum antikolinergika tergan-

tung dari dosis dan berupa efek-efek muskarin, 

ya-itu mulut kering, obstipasi, retensi urin, 

tachycardia, palpi tasi dan aritmia, gangguan 

akomodasi, midria sis dan berkeringa t. Pada 

dosis tinggi timbul efek sentral, seperti gelisah, 

bingung, eksitasi, halusinasi dan delirium. 

Zat-zat amonium kwaterner dalam dosis ting-

gi juga dapat menghasilkan efek nikotin, 

khususnya blokade ganglion dengan antara 

lain hipotensi ortostatik dan impotensi.

Kehamilan dan laktasi. Hanya atropin da-

pat dipakai  oleh wanita hamil dan yang 

menyusui; sedang  dari obat-obat lain-

nya belum tersedia cukup data mengenai 

keamanannya. 

Penggolongan

Antikolinergika dapat dibagi dalam 3 ke-

lompok, yaitu :

a.  alkaloida Belladonna: atropin, hyoscyamin, 

skopolamin dan homatropin

b. zat amonium kwaterner: propante lin, ipra-

tropium dan tiotropium 

c. zat amin tersier: pirenzepin, flavoksat, oksi-

butinin, tolterodin dan tropikamida

MONOGRAFI

1. ALKALOID BELLADONNA

Tumbuhan Atropa belladonna dari Eropa me-

ngandung beberapa jenis alkaloid, terutama 

l-hyoscyamin dengan sedikit atropin dan 

skopolamin. Ketiga zat ini juga ada  da-

lam beberapa tumbu han lain dari famili Sola-

naceae, antara lain kecubung (Datura fastuosa).

1a. Atropin (F.I.): dl-hyoscyamine

Derivat tropan ini yaitu  campuran rasemis 

(bentuk-dl), yang berkhasiat antikolinergik 

kuat dan merupakan antagonis khusus dari 

efek muskarin ACh. Efek niko tin diantagonir 

dengan sangat ringan. Zat ini dipakai  

sebagai midriatikum kerja panjang (sampai 

beberapa hari) dan juga melumpuhkan ako-

modasi (cycloplegia). Juga sebagai spasmoli-

tikum pada kejang-kejang di saluran lam- 

bung-usus dan uroge nital, sebagai premedi-

kasi pada anestesi dan sebagai zat penawar 

(antidotum) keracunan ACh (zat-zat anti-

kolinesterase) dan koliner gi ka lain.

Atropin juga memiliki daya kerja atas SSP 

(antara lain sedatif) dan efek bronchodilata-

si ringan berdasar  peredaan otot polos 

bron chi.

Resorpsi di usus cepat dan lengkap seperti 

alkaloid alamiah lainnya, begitu pula dari 

mukosa. Resorpsi melalui kulit utuh dan 

mata tidak mudah. Distribusinya ke seluruh 

tubuh baik. Ekskresi melalui ginjal, yang 

separuhnya dalam keadaan utuh. Plasma-t½ 

2-4 jam.

Dosis: oral 3 dd 0,4-0,6 mg (sulfat), maksimal 

4 mg sehari, okuler larutan 0,5-1%.

* Hyoscyamin (l-atropin, Egacene) yaitu  ben-

tuk levo aktif dari atropin dengan khasiat 

sentral dan perifer lebih kuat. Zat ini khusus 

dipakai  pada kejang-kejang lambung-

usus dan pada hiperhidrosus. 

14108649_OBAT P(Bab 32)_T-508-518.indd   515 21/04/2015   19:24:00

Seksi V: Obat Sistem Saraf Otonom516

Dosis: oral 2-3 dd 0,4-0,6 mg tablet retard 

(sulfat).

* Homatropin (Homatro, *Peptisin) yaitu  de-

rivat sintetik yang ±10 kali lebih lemah dari 

atropin. Efek midriatiknya lebih cepat dan 

singkat (maksimal 24 jam), efek cycloplegia 

lebih ringan, begitu pula efek-efek samping 

lainnya. Homatropin diguna kan sebagai te-

tes mata (larutan HBr 2%) untuk diagnosis 

dan dahulu dalam sediaan terhadap tukak 

lambung untuk menghambat sekresi asam.

1b. Skopolamin: l-hyoscine, Scopoderm TTS

Derivat epoksi dari atropin ini bekerja lebih 

kuat mengenai perintangan sekresi ludah 

dan keringat, juga efek sentralnya ±3 kali 

lebih kuat (sedatif dan hipnotik). Oleh sebab  

itu, zat ini dalam bentuk plester dipakai  

sebagai obat mabuk jalan. Di samping itu, 

adakalanya skopolamin dipakai  sebagai 

midriatikum, zat anti-kejang lambung-usus 

dan untuk premedikasi anestesi. 

Dosis: transkutan sebagai plester dengan 1,5 

mg skopolamin, yang dilekat kan di belakang 

telinga, ±10 jam sebelum berangkat.

* Butilskopolamin (hyoscine-N-butilbromida, 

Buscopan, Spasmolit) yaitu  derivat amonium 

kwaterner (1951), yang banyak dipakai  

sebagai spasmolitikum organ dalam, khu-

susnya pada kejang-kejang di lambung-usus, 

saluran empedu dan saluran kemih, serta 

rahim. Efek samping ringan dan jarang terjadi. 

Dosis: oral atau rektal 3-5 dd 10-20 mg (garam 

bromida), injeksi i.m./i.v. 20 mg, bila perlu 

diulang 2-3 kali.

2. ZAT–ZAT AMONIUM  

KWATERNER

Senyawa-senyawa ini mengandung atom-N 

bervalensi-5, bersifat basa kuat dan terionisasi 

baik, sehingga sukar melintasi membran sel. 

Oleh sebab  itu resorpsinya dari usus buruk 

dan tidak dapat memasuki CCS (Cairan Cere-

brospinal), maka tidak memiliki kerja sentral. 

Khasiat antikolinergiknya lebih lemah dari-

pada atropin; efek spasmolitik umumnya 

lebih kuat. Efek samping juga lebih ringan. 

pemakaian nya terutama untuk menekan 

peristaltik dan mengu rangi sekresi getah 

lambung dalam sediaan tukak lambung-

usus. Juga dipakai  sebagai spasmolitikum 

terhadap kejang-kejang di organ dalam. 

2a. Propantelin: (Pro-Banthine 1953) dalam 

dosis tinggi memiliki efek kurare, yaitu me-

ngendurkan (relaksasi) otot-otot lurik kerang-

ka. Dahulu banyak dipakai  pada tukak 

lambung, gastritis dan kejang lambung-usus 

pada IBS. Khasiat antikolinergiknya sedang 

sampai kuat.

Dosis: oral 3 dd 15 mg (HBr) d.c. dan 30 mg 

a.n.

Lihat Bab 40, Obat-obat Asma dan COPD.

2b Ipratropium: Atrovent

Derivat isopropil dari atropin ini dengan 

ikatan amonium kwaterner (1974) khusus 

dipakai  sebagai inhalasi pada asma 

dan bronchitis. Berkhasiat bronchodilatasi 

dengan mengurangi hipersekresi dahak dari 

bronchi tanpa efek buruk terhadap bulu 

gerak (cilia). Lihat selanjutnya Bab 40, Obat 

Asma dan COPD. 

* Tiotropium (Spiriva) yaitu  derivat lebih 

baru (2001) dengan pemakaian  sama. namun  

khasiat bronchodilatasinya lebih kuat dan 

bertahan lebih lama daripada ipratropium 

sehingga dapat diberikan dalam dosis 1x se-

hari.

3. ZAT–ZAT AMIN TERSIER

3a. Pirenzepin: Gastrozepin

Derivat benzodiazepin ini (1977) dalam dosis 

rendah menghambat secara selektif reseptor 

muskarin-M1 dalam sel-sel parietal lambung 

yang memben tuk HCl. Penghambatan resep- 

tor di organ-organ lain (jantung, mata, lam-

bung-usus, alat urogenital) baru terjadi pada 

dosis lebih tinggi. Atas dasar kerja selektifnya, 

pirenzepin dahulu banyak dipakai  pada 

tukak lambung-usus dan gastritis.

Resorpsi di usus buruk, hanya sekitar 25% 

berhubung si fat hidrofilnya. PP juga ringan 

(12%), plasma-t½ rata-rata 12 jam.

Dosis: oral 2 dd 50 mg pagi hari 30 menit a.c. 

dan a.n. selama 4-6 minggu, bila perlu 3 dd 50 

mg. Lihat juga Bab 16, Obat-obat Lambung.

14108649_OBAT P(Bab 32)_T-508-518.indd   516 21/04/2015   19:24:00

Bab 32: Kolinergika dan Antikolinergika 517

3b Flavoksat : Urispas

Derivat benzopiran ini (1972) berkhasiat 

relaksasi langsung terhadap otot kandung 

kemih sehinga kapasitasnya meningkat. Di-

samping itu juga berkhasiat lokal anestetik 

dan analgetik, dengan efek antikolinergik 

lemah. Absorpsinya dari usus baik, tidak 

diikat pada protein plasma. Dalam hati di-

ubah menjadi 2 metabolit, hanya satu aktif, 

yang diekskresi melalui urin dan feses.

Efek sampingnya umum, namun  lebih sedi-

kit dari pada obat inkontinensi lain. Tidak 

boleh dipakai  pada pasien glaukoma ter-

tentu dan pada gangguan fungsi ginjal.

Dosis: pada urge-inkontinensi 3 dd 200-400 

mg (garam HCl) p.c.

3c. Oksibutinin: Dridase

Ester dari asam glikolat (1975) yang ter-

masuk senyawa antikolinergik ini berkhasiat 

spasmolitik terhadap otot polos kandung ke-

mih, sehingga kapasi tasnya diperbesar dan 

kontraksi tak terkendali dikurangi. Berda- 

sarkan sifat ini oksibutinin dipakai  khusus 

pada urge-inkontinensi urin untuk mengu-

rangi hasrat berkemih, juga pada kejang kan- 

dung kemih akibat iritasi oleh kateter. Ab-

sorpsinya baik dan cepat, namun  BA-nya 

hanya 6 % sebab  FPE besar. Metabolit aktif-

nya diekskresi melalui urin, zat utuhnya 

dengan feses. 

Dosis: oral 3 dd 2,5 mg (HCl), bila perlu 3-4 

dd 5 mg.

3d. Tolterodin: Detrusitol

Derivat metilfenol in (1997) berkhasiat an-

tikolinergik sedang, efeknya terhadap ke-

lenjar liur lebih lemah dari pada obat lain. 

Khusus dipakai  pada urge-inkontinensi 

urin yang efeknya sudah nyata sesudah  4 

minggu. Absorpsi cepat, BA antara 17 dan 

65%, masa paruh antara 3 dan 10 jam tergan-

tung dari kecepatan metabolismenya. Kadar 

plasma maksimal tercapai sesudah 1-3 jam. 

Dalam hati diubah menjadi metabolit aktif 

yang diekskresi melalui urin (77%) dan feses 

(17%).

Efek samping: mulut kering dan berku-

rangnya fungsi kognitif pada lansia.

Dosis: oral 3 dd 2,5 – 5 mg (tartrat).

*Fesoterodin (Toviaz)

Antagonis reseptor muskarin dengan se-

lektivitas terhadap kandung kemih, memper-

besar kapasitasnya dan mengurangi frekuen-

si kencing pada sindrom kandung kemih 

overaktif, berdasar  aktivitas metabolitnya 

5-hidroksimetil. Daya kerjanya maksimal 

dalam 2-8 minggu.dipakai  simptomatik 

pada urge-inkontinensi urin.

Efek samping : mulut, mata dan tenggorok 

kering, gangguan saluran cerna, mual, diare, 

obstipasi dan retensi urin pada penderita 

BPH. Dosis : 1 dd 4 mg, maks. 1dd 8 mg.

3e. Mirabegron: Betmiga

Agonis beta-3-adreno-reseptor ini diguna-

kan untuk penanganan simtomatik pada urge-

inkontinensi atau meningkatnya frekuensi 

kencing akibat kandung kemih overaktif. 

Mekanisme kernjanya berdasar  stimulasi 

dari reseptor beta-3 yang mengendurkan otot 

licin dari kandung kemih. Sifat-sifat klinisnya 

dapat disamakan dengan tolterodin, namun  

tanpa efek samping antikolinergik.

Efek samping: infeksi saluran kemih dan 

takhikardi.

Tablet retard dari 50 mg. 

3f. Tropikamida (Mydriatyl Cendo, Midric)

Derivat propionamida ini (1957) berkhasiat 

antikolinergik kuat dan terutama dipakai  

sebagai midriatikum untuk diagnosis. Pele-

baran pupil terjadi lebih cepat namun  waktu- 

nya lebih singkat dari pada atropin dan 

skopolamin. Pada dosis lebih besar (larutan 

1%) berefek cycloplegis, artinya melumpuhkan 

akomodasi. 

Dosis: untuk midriasis 1-2 tetes larutan 

0,5% minimal 15 menit sebelum pemeriksaan 

mata.

14108649_OBAT P(Bab 32)_T-508-518.indd   517 21/04/2015   19:24:00

14108649_OBAT P(Bab 32)_T-508-518.indd   518 21/04/2015   19:24:00

SEKSI VI

JANTUNG, PEMBULUH, 

DAN DARAH

14108649_OBAT P(Bab 33)_T-519-531.indd   519 21/04/2015   19:27:12

Seksi VI: Jantung, Pembuluh, dan Darah520

Di negara-negara indus tri penyakit jantung 

dan pembuluh (PJP) seperti angina pectoris, 

infark jantung, gagal-jantung dan hipertensi, 

merupa kan pemicu  kematian terbesar, di-

susul kanker dan CARA.

Angka kematian selama masa 25 tahun 

terakhir akibat PJP di AS dan Eropa Utara 

yaitu  2-3 kali lebih besar dibandingkan 

dengan di Jepang dan negara-negara sekitar 

Laut Tengah (antara lain Portugal, Spanyol, 

Italia dan Yunani). Keadaan di negara kita  

dapat disamakan dengan di negara-negara 

Laut Tengah dan Jepang. Situasi ini terutama 

berkaitan dengan kebiasaan dan susunan 

makanan yang disebut Mediterranean diet. 

Diet sehari-hari ini di negara-negara terse-

but mengandung lebih sedikit daging dan 

lemak hewan (jenuh) serta lebih banyak 

ikan, minyak nabati tak-jenuh, buah-buahan, 

sayur-mayur dengan antioksidans­ia dan 

flavonoida. Lihat juga Bab 54, Dasar-Dasar 

Diet sehat.

Sebaliknya di negara-negara maju makan-

annya terutama kaya akan kalori, protein 

dan lemak (jenuh), serta miskin akan serat-

serat nabati. sebab  PJP terutama ada  di 

negara kaya, maka gangguan ini sering kali 

disebut penyakit-penyakit­kemakmuran.

Penyakit jantung dan pembuluh

Atherosclerosis. Gangguan pembuluh yang 

berperan sangat penting pada terja dinya PJP 

yaitu  atheros clero sis yang bercirikan mene-

bal dan mengerasnya dinding arteri besar 

dan sedang. Keadaan ini diakibatkan oleh 

enda pan dari antara lain kolesterol, lemak, 

kalsium dan fibrin (plaks,atheroma) di dinding 

(endotel) pembuluh. Terjadinya peristiwa ini 

antara lain diperkirakan ada hubungannya 

dengan suatu infeksi­ bakteri yang menim-

bulkan reaksi peradangan. Kebiasaan makan 

dan gaya hidup (‘lifestyle’) yang salah juga 

memegang peranan penting khususnya ma-

kanan terlalu berle mak, merokok dan kurang 

gerak badan yang membu tuhkan enersi. 

Hipertensi.­ Gangguan penting yang sering 

terjadi yaitu  tekanan­ darah­ tinggi, yang 

ada hubungannya pula dengan pengerasan 

pembuluh. 

Penya­kit­jantung­yaitu  lebih serius, misal-

nya angina­ pectoris, akibat jantung tidak 

meneri ma cukup darah (dan oksigen) sebab  

arteri jantung tertu tup oleh plaks. Bila arteri 

jantung atau otak tersumbat sama sekali, 

dapat timbul infark­jantung atau infark­otak­

(stroke, beroerte). Pada gangguan gawat ini 

sebagian atau seluruh jantung/otak menjadi 

mati, sehingga sering kali bersifat fatal. Akibat 

beban jantung yang diperbesar dapat pula 

timbul gagal­ jantung(decompensatio), sebab  

jantung tidak sanggup lagi memelihara pere-

daran darah selayaknya.

Faktor-faktor risiko

Atherosclerosis bersifat sangat mengelabui, 

sebab  baru menim bulkan gejala klinis pada 

jangka panjang. Masa latensi lama ini disebab-

kan oleh proses penebalan arteri berlangsung 

sangat lambat, bisa sampai puluhan tahun. 

Lazimnya keluhan baru muncul di atas usia 

50 tahun, saat penyakit sudah mencapai 

taraf yang cukup serius. Oleh sebab  itu 

penanggulang annya kini ditekankan pada 

tindakan prevensi dengan menghindari faktor-

faktor­ risiko yang dapat mempercepat ter-

jadi nya atherosclerosis dengan akibatny a.

Faktor risiko utama dalam urutan kepen-

tingannya yaitu  kadar koles­te­rol­ darah­

tinggi (hiperkolesterolemia), merokok­ dan­

hiper­tensi. Risiko ditingkatkan lagi oleh 

faktor lainnya seperti kegemu­kan­ (obesitas},­

diabe­tes­ dan inakti­vitas­ fisik. Di samping 

itu terlalu banyak stress (ketegangan psikis) 

juga memegang peranan penting pada orang 

yang berisiko tinggi, begitupula usia­dan­ke-

lamin. Ternyata bahwa kadar­ homosistein­

tinggi dalam darah juga merupakan faktor 

metionin

C-S-C-C-C-N-COOH

- CH3

HS-C-C-C-N-COOH

homosistein

HS-C-C-N-COOH

sistein

- CH3

14108649_OBAT P(Bab 33)_T-519-531.indd   520 21/04/2015   19:27:13

521

risiko penting. Asam amino ini dibentuk 

sebagai produk-antara pada reaksi demetilasi 

dari metio nin menjadi sistein, sebagai berikut: 

Lihat persamaan reaksi.

Asam folat dan juga vitamin B6 dan B12, 

menurunkan kadar homo sistein dan dengan 

demikian meniadakan faktor risiko itu . 

Ketiga vitamin ini dari kelompok vitamin B 

merupa kan ko-faktor dari enzim-enzim yang 

berperan pada transmisi gugus-metil pada 

perombakan metionin.

Tindakan prevensi

Tindakan pencegahan utama yaitu  menjauhi 

semua faktor risiko di atas dan menjalani pola 

hidup dan diet sehat tanpa merokok dengan banyak 

aktivitas fisik. Betapa pentingnya tindakan 

pencegahan itu  telah dibuktikan di AS, 

yang pemerintahnya sejak tahun 1961 secara 

nasional berkampanye untuk memperbaiki 

pola hidup masyarakat. Juga biaya besar telah 

dikeluar kan untuk mengusut dan mengo bati 

pasien hiper tensi sedini mungkin. Kira-kira 

sepuluh tahun kemudian baru nampak hasil 

tindakan itu  dengan turunnya secara 

drastis angka kematian akibat PJP. Kini, 45 tahun 

kemudian angka itu  bahkan telah turun 

sampai ±50%! 

Begitu juga di banyak negara Barat lain 

Departe men Kesehatannya telah melancar-

kan program penanggulangan PJP dengan 

hasil mengesankan pula. Permulaan tahun 

2006 DepKes negeri Belanda melaporkan 

bahwa kedudukan PJP sebagai pemicu  

mortalitas utama dewasa ini telah turun 

dan tempatnya diambil alih oleh penyakit 

kanker. Efek baik ini yaitu  berkat kampanye 

luas pada dasawarsa terakhir, pada mana 

rakyat dianjurkan untuk makan lebih sehat 

dengan menitik-beratkan pada diet dengan 

mengurangi asupan lemak hewan dan me-

ningkatkan asupan ikan, sayur-mayur dan 

buah-buahan. 

Dalam Bab-bab berikut akan dibahas ke-

lompok obat yang dipakai  pada pence-

gahan dan pengobatan semua gangguan 

pembuluh dan jantung. Berturut-turut akan 

dibicarakan diuretika,­vasodilator,­obat-obat­

hipertensi,­ obat-obat­ penurun­ kolesterol­

dan obat-obat­ jantung, termasuk antitrom-

botika. Bertalian dengan obat-obat terakhir, 

seksi ini ditutup dengan pembahasan he-

matinika (obat kurang darah), walaupun 

obat-obat ini tidak langsung berhubungan 

dengan obat-obat dari bab-bab lainnya.

14108649_OBAT P(Bab 33)_T-519-531.indd   521 21/04/2015   19:27:13

B A B  3 3 

DIURETIKA

Diuretika yaitu  zat-zat yang dapat mem-

perbanyak pengeluaran urin (diuresis) me-

lalui kerja langsung terhadap ginjal. Obat-

obat lainnya yang menstimulasi diuresis 

dengan memengaruhi ginjal secara tak 

langsung tidak termasuk dalam definisi ini, 

misalnya zat-zat yang memperkuat kontraksi 

jantung (digoksin, teofilin), memperbesar volu-

me darah (dekstran) atau merintangi sekresi 

hormon antidiuretik ADH (air, alkohol).

Pembentukan kemih, fungsi ginjal

Fungsi utama ginjal yaitu  memelihara ke-

murnian darah dengan mengeluarkan dari 

darah semua zat asing dan sisa pertu karan 

zat. Untuk ini darah mengalami filtrasi, 

di mana semua komponennya melintasi 

‘saringan’ ginjal kecuali zat putih telur dan 

sel-sel darah. Setiap ginjal mengandung le-

bih kurang 1 juta filter kecil (glomeruli) dan 

setiap 50 menit seluruh darah tubuh (±5 liter) 

‘dimurnikan’ dengan melewati saringan 

itu . 

Fungsi penting lainnya yaitu  meregula-

si­ kadar­ garam dan cairan­ tubuh. Ginjal 

merupakan organ terpenting pada penga-

turan homeosta­sis, yakni keseimbangan di-

namis antara cairan intrasel dan ekstrasel, serta 

pemeliharaan volume total dan susunan cairan 

ekstrasel. Hal ini terutama tergantung dari 

jumlah ion Na+, yang untuk sebagi an besar 

ada  di luar sel, di cairan antarsel dan di 

plasma darah. Kadar Na+ di cairan ekstra sel 

diregulasi oleh Anti Diuretic Hormone (ADH) 

di neurohipofisis, lihat Bab 42, Hormon-hor-

mon Hipofisis. 

Secara klinis daya kerja diuretika yaitu  

ekskresi ion Na+ bersamaan dengan ion 

khlorida. NaCl merupakan senyawa yang 

menentukan bagi voluma cairan ekstra-

selular dan kebanyakan diuretika bertujuan 

mengurangi cairan ekstraselular ini dengan 

menurunkan kadar NaCl. namun  keseim- 

bangan antara asupan NaCl melalui makan- 

an dan ekskresinya merupakan peristiwa 

penting bagi kehidupan. Na+ balans positif 

memicu  meningkatnya volume cairan 

ekstraselular dan timbulnya udem, sedang  

Na+ balans negatif akan menurunkan volume 

cairan dan risiko kolaps kardiovaskuler. 

Hasil positif atau negatif dari kadar Na+ 

tubuh merupakan hasil dari asupan Na dari 

makanan dikurangi ekskresi melalui urin dan 

ekskresi via jalan lain, misalnya berkeringat, 

muntah dan sebagainyanya. Kadar Na positf 

memicu  kadar Na di cairan ekstra-

selular meningkat, memicu rasa dahaga dan 

mengurangi pengeluaran air melalui urin via 

mekanisme ADH. Peristiwa sebaliknya akan 

timbul pada keseimbangan kadar Na negatif.

Teoretis pemakaian  diuretika yang berlan-

jut akan memicu  defisit total dari kadar 

Na+ dalam tubuh, namun  mekanisme kom-

pensasi dari ginjal akan mengkoreksi imba-

lans ini dengan menyelaraskan pemasukan 

dan pengeluaran Na+. Fenomena ini disebut 

diuretic braking yang a.l. mengaktivasi sistem 

renin-angiotensin-aldosteron (RAAS).

Proses­diuresis dimulai dengan mengalirnya 

darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapi-

ler), yang terletak di bagian luar ginjal (cor-

tex), lihat gambar. Dinding glomeruli inilah 

yang bekerja sebagai saringan halus yang se-

cara pasif dapat dilinta si air, garam dan glu-

kosa.­Ultrafiltrat yang diperoleh dari filtrasi 

dan mengandung banyak air serta elektrolit 

ditampung di wadah, yang mengeli lingi se-

tiap glomerulus seperti corong (kapsul­Bow-

man) dan kemudi an disalurkan ke pipa kecil. 

Tubuli ini terdiri dari bagian proksimal dan 

distal, yang letaknya masing-masing dekat 

dan jauh dari glomerulus; kedua bagian ini 

dihubungi oleh sebuah lengkungan­(Henle‘s­

loop). 

Di sini terjadi penarikan kembali secara 

aktif dari air dan komponen yang sangat 

penting bagi tubuh, seperti glukosa dan ga-

ram-garam,­ antara lain­ ion-Na+.­ Zat-zat ini 

dikembalikan pada darah melalui kapiler 

yang mengelilingi tubuli. Sisanya yang tak 

berguna seperti “sampah” perom bakan meta-

bolisme protein (ureum) untuk sebagian be-

sar tidak diserap kembali. 

Akhirnya filtrat dari semua tubuli ditam-

pung di suatu saluran pengumpul (ductus­

colligens), di mana teruta ma berlangsung 

penyerapan kembali dari air. Filtrat akhir 

disalurkan ke kandung kemih dan ditimbun 

di sini sebagai urin. 

Dengan demikian ultra filtrat yang setiap 

harinya diha silkan rata-rata 180 liter oleh 

seorang dewasa, dipekatkan sampai hanya 

lebih kurang 1 liter urin. Sisanya, lebih dari 

99%, direab sorpsi dan dikemba likan pada 

darah. Dengan demikian suatu obat yang 

cuma sedikit mengurangi reabsorpsi tubuler, 

misalnya dengan 1%, mampu melipat gan-

dakan volume urin (menjadi ±2,6 liter).

Mekanisme kerja diuretika

Kebanyakan diuretika bekerja dengan me-

ngurangi reabsorpsi natrium, sehingga pe-

ngeluarannya lewat kemih —dan demikian 

juga dari air— diperbanyak. Obat-obat ini 

bekerja khusus terhadap tubuli, namun  juga di 

tempat lain, yaitu di:

1.­­ tubuli­ proksimal. Ultrafiltrat mengan-

dung sejumlah besar garam yang di sini 

direabsorpsi secara aktif untuk kurang 

lebih 70%, antara lain ion-Na+ dan air, 

Gambar 33-1: Unit ginjal terkecil (nefron) dan 

lokasi kerja diuretika di tubuli

begitu pula glukosa dan ureum. sebab  

reabsorpsi berlangsung secara propor-

sional, maka susunan filtrat tidak berubah 

dan tetap isotonik terhadap plasma. Diu-

retika osmotik (mani tol, sorbitol) bekerja 

di sini dengan menghalangi reabsorpsi 

air dan juga natrium. 

2.­­ lengkungan­ Henle. Di bagian menaik 

dari Henle’s loop ±25% dari semua ion Cl- 

yang telah difiltrasi direabsorpsi secara 

aktif, disusul dengan reabsorpsi pasif dari 

Na+ dan K+ namun  tanpa air, hingga filtrat 

menjadi hipotonis. Diuretika lengkungan 

seperti furosemida, bumetanida dan etakri-

nat, bekerja terutama di sini dengan 

merintangi transpor Cl- dan demikian 

reabsorpsi Na+. Pengeluaran K+ dan air 

juga diperba nyak.

3.­­ tubuli­ distal.­ Di bagian pertama segmen 

ini, Na+- direabsorpsi secara aktif pula 

tanpa air hingga filtrat menjadi lebih cair 

dan lebih hipotonis. Senyawa thiazida 

dan klortalidon bekerja di tempat ini 

dengan memperbanyak ekskresi Na+ dan 

Cl- se-kitar 5 - 10%. Di bagian kedua segmen 

ini, ion Na+ ditukarkan dengan ion K+ 

atau -NH4

+; proses ini dikendalikan oleh 

hormon