lebih rendah dari amfetamin, ya-
itu tachycardia, palpitasi, TD meningkat,
gangguan lambung-usus, pusing dan stimu-
lasi SSP. Efek kardiovaskuler pada pasien
hipertensi dan angina tidak dilap orkan.
Dosis: 1dd 1 tablet slow-release ½ jam a.c.
(amfepramon 75 mg + vit B1,B2,B3,B6)
2. Orlistat: Xenical
Obat ini telah dipasarkan sebagai pil anti-
obesi tas (‘bikini slimmer’1998). Khasiatnya
berdasar penurunan absorpsi lemak
dalam usus dengan jalan memblokir lipase
pankreas. Efeknya terhadap penurunan be-
rat badan nampaknya tidak begitu besar.
Orlistat mengikat lipase secara irreversibel,
sehingga lemak (triglise rida) dari makanan
tidak dihidrolisis menjadi asam lemak
bebas dan gliserol, yang dapat diabsorpsi
usus. Akibatnya 30% dari lemak tidak dise-
rap dan dikeluarkan melalui feses, sedang-
kan lazimnya jumlah ini hanya 4-5%. Peng-
gunaannya dibatasi pada orang gemuk
dengan Body Mass Index (BMI) > 30 atau le-
bih, bersamaan dengan diet miskin kalori
dan ±30% sebagai lemak. Bila sesudah 12
minggu tidak tercapai penurunan berat
badan minimal 5%, maka pengobatan harus
dihentikan. Suatu studi menunjukkan bahwa
sesudah satu tahun tercatat kehilangan berat
badan tidak terlalu banyak, yaitu rata-
rata 10,2% dibandingkan dengan 6,1% di
kelompok plasebo. Pada ±10% pasien terjadi
kehilangan bobot badan maksimal 20% lebih.
Resorpsi dari usus minimal, ±1%, yang dalam
darah terikat 99% pada protein. Dalam hati
sebagian zat dirombak menjadi metabolit in-
aktif, yang dikeluarkan lewat empedu.
Efek samping agak sering terjadi namun
tidak serius dan terutama berupa gangguan
lambung-usus seperti flatulensi, sakit perut,
diare dan kejang lambung.
Dosis: 3 dd 120 mg a.c./d.c./p.c. bersama
diet kalori sedang.
3. Sibutramin: Reductil
Derivat siklobutan ini (1998) yaitu suatu
serotonin-NA re-uptake blocker, yang ber-
peran pada terjadinya perasaan kenyang
sesudah makan. Di samping itu juga me-
ningkatkan pemakaian energi akibat kerja
adrenergik perifer. sesudah pemakaian 6
bulan dari 15 mg/hari dengan kombinasi
diet, tercapai penurunan bobot badan rata-
rata 11 kg (6-8%). Tanpa diet penurunan
hanya 1% (Ph Wkbl 1998; 133: 1590), Terapi
sebaiknya dihentikan bila sesudah 4 minggu
turunnya bobot badan hanya kurang dari
2 kg. dipakai pada penderita gemuk
dengan BMI > 30 atau di atas 27 bila ada
faktor risiko lain.
Efek samping yang tersering yaitu obsti-
pasi, mulut kering dan sukar tidur, juga
debar jantung dan hipertensi. Maka frekuensi
jantung dan tensi perlu dimonitor selama 3
bulan pertama.
Dosis: oral 1 dd 10 mg pagi hari, sesudah 4
minggu bila berat badan menurun < 2 kg,
dosis dapat dinaikkan sampai 15 mg, maks.
selama 1 tahun.
4. Rimonabant: Acomplia
Derivat piperidinil ini (2005) yaitu pene-
kan nafsu makan berdasar perintangan
reseptor cannabinoid (RC). RC ada di
permukaan sel-sel otak, a.l. dari hipotalamus
dan dapat ditempati oleh Cannabis (mari-
huana, hashiz) dan juga oleh endo-cannabi-
noida tubuh sendiri. Reaksinya berupa me-
ningkatnya nafsu makan; efek samping ini
sudah terkenal pada pecandu hashiz. Orang
gemuk membentuk terlalu banyak RC ini.
Rimonabant memblokir RC dan mengurangi
nafsu makan, juga menurunkan kadar TG
dan glukosa darah serta meningkatkan HDL.
Di samping itu juga menurunkan hasrat
merokok dan minum alkohol. Obat anorek-
sans ini dimaksudkan hanya untuk para
penderita overweight dengan gangguan me-
tabolisme, yaitu kolesterol tinggi atau dia-
betes. Dilaporkan bahwa rimonabant juga
efektif pada pecandu drugs, alkohol dan
rokok. (Gail L et al. Effects of cannabinoid recep-
tor blocker rimonabant on weight reduction in
overweight patients. Lancet 16-4-2006) Peng-
gunaan 20 mg setiap hari dapat menurunkan
berat badan dengan ±10 kg (6-8%).
Efek samping berupa mual, nyeri kepala,
pusing dan gangguan saraf seperti depresi
serius dan daya kognitif.
Dosis: 1 dd 10-20 mg a.c.
5. Ekstrak Hoodia: kaktus Afrika Selatan, Trim-
spa
Glikosida ini dengan rumus steroida (1998)
yaitu zat penekan lapar, yang dihasilkan
dari tumbuhan yang banyak mengandung air
Hoodia gordoni dan berasal dari gurun pasir
(Kalahari desert) di Afrika Selatan, Angola dan
Namibia. Batang “kaktus” ini mengandung
zat aktif P57, suatu glikosida steroid yang
sebagai antagonis reseptor glukosa berefek
menekan nafsu makan. Hipotalamus me-
ngontrol kadar glukosa dan bila kadarnya
menurun, dikirim isyarat untuk makan.
sesudah makan kadar glukosa naik lagi dan
hipotalamus menghentikan sinyal lapar. P57
mengikat diri pada reseptor-reseptor sama
dengan glukosa, sehingga hipotalamus “me-
ngira” bahwa kadar glukosa darah normal-
dan tidak memicu rasa lapar. Efeknya
yaitu asupan kalori sehari dapat diturunkan
dengan ±50%.
Efek samping tidak diketahui.
Dosis: selama tiga hari 2 dd 250 mg (tablet
atau juice) ½ jam a.c. Bila efeknya kurang,
dapat ditingkatkan sampai 2 dd 500 mg.
Pemeliharaan: 1-2 dd 250 mg.
6. Hidroksisitrat: HCA
Hidroksisitrat diperoleh dari buah garoka,
Katch puli (Hindi = buah asam) atau Malabar
Tamarind dari pohon Garcinia cambogia. Di
India dan Sri Lanka, buah ini dipakai
untuk menga samkan makanan (seperti asam
Jawa). Selain itu buah ini juga dipakai
sebagai obat rakyat tradisional pada penyakit
jantung, gangguan empedu dan gangguan
lambung-usus. Khasiat menekan nafsu ma-
kannya berdasar blokade enzim yang
memung kinkan lipogenesis. Dalam siklus
asam sitrat (‘Krebs cyclus’), glukosa diubah
melalui piruvat menjadi asam sitrat, yang
merupakan bahan pangkal untuk sintesis
asam lemak dan koleste rol. Enzim yang ter-
libat pada sintesis diikat oleh HCA (persaingan
sub strat), sehing ga lipogenesis gagal. Sebagai
gantinya, hati terpaksa mengubah glukosa
menjadi glikogen. Oleh sebab itu, rasa lapar
berkurang dan pemakaian energi mening-
kat, sedang kadar LDL-koleste rol dan
trigliserida menurun. Asupan makanan ber-
ku rang, yang memicu menurunnya
berat badan. pemakaian nya hingga kini
masih terbatas pada kalangan kedokteran
komplementer.
Krom memperkuat efek HCA dan berkha-
siat mempertahankan keseim bangan kadar
glukosa darah. Menurut beberapa studi,
kombinasi dari kedua zat dengan diet dapat
menguran gi berat badan dengan ±4 kg dalam
waktu 4 bulan.
Efek samping tidak diketahui dan dapat
disamakan dengan asam sitrat yang digu-
nakan di banyak bahan makanan.
Dosis: oral 3 dd 250 mg bersama krom-
pikolinat (Glucose Tole rance Factor).
C. ADRENOLITIKA
Adrenolitika atau simpatolitika yaitu zat-
zat yang melawan sebagian atau seluruh
aktivitas Susunan Saraf Simpatik. Misal-
nya, adrenolitika meniadakan vasokonstriksi
yang ditimbulkan oleh aktivasi reseptor-alfa
akibat adrenergika. berdasar mekanisme
dan titik kerjanya, adren oli tika dapat dibagi
dalam tiga kelompok, yaitu zat-zat penghambat
reseptor adrenergik (alfa-blocker dan beta-blocker)
dan zat-zat penghambat neuron adrenergik.
1.Alfa-blockers (a-simpatolitika)
Zat-zat ini memblokir reseptor-alfa yang
banyak ada di jaringan otot polos dari
kebanyakan pembuluh, khususnya dalam
pembuluh kulit dan mukosa. Efek utamanya
yaitu vasodilatasi perifer, oleh sebab itu
banyak dipakai pada hipertensi dan hi-
per trofi prostat. Prazosin juga dipakai
pada gagal jantung (dekompensasi) dan pada
penyakit Raynaud.Lihat Bab 34, Vasodi latansia
dan Bab 35, Antihipertensiva, sub 2.Alfa-
blockers.
Dikenal tiga jenis alfa-blocker, yaitu:
– Zat-zat tak selektif: fentolamin dan alka-
loida ergot
Fentolamin khusus dipakai untuk
diagno sis dan terapi hipertensi tertentu
(feochromocyto ma). Juga pada gangguan
ereksi sebagai injeksi intracaverneus (ber-
sama papaverin: Androskat).
Alkaloid ergot, berkat efek vasokonstrik-
sinya banyak dipakai pada serang-
an migrain, juga dalam ilmu kebidan-
an untuk menghentikan perdarahan sete-
lah persalinan.
– α1-blockers selektif: derivat quinazolin
(prazosin, terazosin, tamsulosin dan lain-
lain) serta urapidil. pemakaian nya seba-
gai obat hipertensi dan pada hiperplasia
prostat.
– α2-blockers selektif: yohimbin, yang digu-
nakan sebagai obat perangsang syahwat
(aphrodisiacum).
2. Beta-blocker (β-simpatikolitika)
Semula beta-blocker dipakai untuk
gangguan jantung (aritmia, angina pectoris),
untuk meringankan kepekaan organ ini bagi
rangsangan, seperti kerja berat, emosi, stress
dan sebagainya. Sejak tahun 1980-an obat ini
terutama dipakai sebagai obat hiper tensi,
lihat selan jutnya Bab 35, Antihipertensiva.
Obat-obat ini dapat dibagi pula dalam 2
kelompok, yaitu
– zat-zat β1 selektif, yang melawan efek
dari stimulasi jantung oleh adrena lin dan
NA (reseptor-β1), misalnya atenolol dan
metoprolol
– zat-zat β1 tak selektif, yang juga meng-
hambat efek bronchodi la tasi (resep tor-β2),
misalnya propranolol, alprenolol, dan la-
in-lain.
Labetalol dan karvedilol yaitu zat-zat
yang menghambat kedua reseptor (alfa
+ beta).
3. Penghambat neuron adrenergik: derivat
guanidin (guaneti din). Zat-zat ini tidak mem-
blokir reseptor, melainkan bekerja terhadap
bagian postganglioner dari saraf simpatik
dengan mence gah pelepasan katecholamin.
Guanetidin khusus dipakai pada jenis
glaukoma tertentu.
MONOGRAFI
Yohimbin
Alkaloid ini diperoleh dari kulit pohon
Corynanthe yohimbe (Afrika Barat) dan po-
hon Aspidosperma quebracho-blanco (Amerika
Selatan). Kulit pohon itu juga mengan-
dung alkaloid lain, yaitu ajmalin/corynanthein
dan aspidospermin.
Efek adrenoli tiknya agak lemah dan sing-
kat berdasar blokade selektif dari adre-
noreseptor alfa-2 presinap tik. Dalam dosis
Hipertrofi prostat
Sekitar 25% dari pria di atas usia 60 tahun menderita pembesaran prostat yang tak-ganas (Benign
Prostatic Hyper plasia, BPH). Gejalanya merupakan harus sering kali berkemih dengan aliran lemah dan
setiap kali hanya sedikit yang keluar. Lihat juga Bab 43, Zat-zat Androgen, antihormon.
Di prostat yang membesar jaringan otot hiperplasif memiliki banyak reseptor-alfa-1, begitu pula
di saluran kemih (urethra). Blokade reseptor ini dengan derivat quinazolin (alfuzosin, terazosin,
tamsulosin, dan lain-lain) menurunkan tonus dinding pembuluh dalam prostat dan saluran kemih.
Efeknya yaitu perbaikan pengeluaran urin dan mengurangi frekuensi berkemih serta memperkecil
residu urin dalam kan dung kemih.
Alfa-1-blockers bermanfaat pada BPH ringan (dengan terutama jarin gan ikat) sebagai penanganan
sementara untuk meringankan gejala sambil menunggu pembedahan bila diperlukan. Obat-obat
ini tidak berefek menciutkan prostat yang membesar, berlainan dengan obat BPH lainnya, yaitu zat
anti-and rogen finasteri da, lihat Bab 43, Zat-zat Andro gen, anti hor mon). Finasterida ternyata tidak
lebih efektif dari terazosin pada penanganan keluhan BPH. Oleh sebab itu alfa-blockers sekarang
dianggap sebagai obat pilihan pertama pada farmakoterapi BPH. Untuk monografi lihat Bab 35,
Antihipertensiva, alfa-blockers.
Penanganan lainnya terdiri dari pembedahan ‘terbuka’ untuk mengeluarkan prostat dan reseksinya
melalui uretra (saluran kemih), yang disebut TURP (Transurethral Resection of Prostate). Di samping itu
dilakukan pula cara-cara modern, seperti pembedahan dengan laser(ablatio) dan transurethral microwave
therapy (TUMT). Metoda terakhir sangat efektif dan dapat dilaku kan poliklinis dengan anestesi lokal
dan sedasi ringan.
rendah dapat meningkatkan tekanan darah,
sedang pada dosis lebih tinggi justru
menurunkannya. Oleh sebab itu terjadilah
vasodilatasi perifer yang memicu
penyaluran darah diperkuat ke organ-organ
di bagian bawah perut.
pemakaian . Secara tradisional diguna-
kan sebagai afrodisia kum, untuk memperkuat
syahwat dan mengata si impotensi. Sering kali
obat ini dianggap obsolet, namun pada suatu
meta-analisis dari tujuh studi, yohimbin
ternyata efektif dalam 34-73% dari kasus
untuk memicu ereksi. Perbedaan besar
dalam persentase disebab kan oleh populasi
penderita impotensi dari etiologi berlainan.
Vasodilatasi di badan pengembang penis
mungkin dapat menerang kan efeknya pada
disfungsi erektil. Lihat juga Bab 43, Zat-
zat Andro gen, boks Gangguan ereksi dan
Viagra.
Efek samping dapat berupa penurunan ten-
si, pusing, berkeringat kuat, debar jantung,
tremor, agitasi, gelisah dan sukar tidur, ke-
jang bronchi dan gejala yang mirip lupus.
Pada penderita gangguan jiwa, dosis rendah
dapat mencetuskan depresi. Fenotia zin mem-
perkuat toksisitasnya.
Dosis: oral 3-4 dd 5-10 mg.
KOLINERGIKA
DAN ANTIKOLINERGIKA
A. KOLINERGIKA
Kolinergika atau parasimpatikomimetika
yaitu sekelompok zat yang dapat menim-
bulkan efek yang sama dengan stimulasi
Susunan Parasim pa tik (SP), sebab melepas-
kan neurohormon asetilkolin (ACh) di ujung-
ujung neuronnya. Tugas utama SP yaitu
mengumpulkan energi dari makanan dan
menghambat pemakaian nya, singkatnya
berfungsi asimilasi. Bila neuron SP dirangsang,
timbullah sejumlah efek yang menyerupai kea-
daan istirahat dan tidur.
Efek kolinergik faal yang terpen ting yaitu
sebagai berikut:
– stimulasi pencernaan dengan memper-
kuat peristaltik dan sekresi kelenjar ludah
dan getah lambung (HCl), juga sekresi air
mata dan lain-lain;
– memperlambat sirkulasi, antara lain de-
ngan mengurangi kegiatan jantung, vaso-
dilatasi dan penurunan tekanan darah;
– memperlambat pernapasan, antara lain
dengan menciutkan bronchi, sedang
sekresi dahak diperbesar;
– kontraksi otot mata dengan efek pe-
nyempitan pupil (miosis) dan menurun-
nya tekanan intraokuler akibat lancarnya
pengelu a ran air mata;
– kontraksi kandung kemih dan ureter
dengan efek memperlancar pengeluaran
urin;
– dilatasi pembuluh dan kontraksi otot
kerangka;
– menekan SSP sesudah pada awal mensti-
mulasinya.
Efek muskarin dan efek nikotin
Reseptor-reseptor kolinergika ada da-
lam semua ganglia, sinaps dan neuron post-
ganglioner dari SP, juga di pelat-pelat ujung
motorik (otot lurik) dan di bagian Susunan
Saraf Pusat yang disebut sistem ekstrapira-
midal. berdasar efeknya terhadap rang-
sangan, reseptor ini dapat dibagi dalam 2
jenis, yakni reseptor muskarin dan reseptor
nikotin, yang masing-masing menghasilkan
efek berlainan.
1. Reseptor muskarin (M) ada di neu-
ron postganglioner dan dapat dibagi da-
lam minimal 3 subtipe, yakni reseptor-M1,
-M2, dan -M3.. Ketiga jenis reseptor ini bila
dirangsang membe rikan efek yang berlainan,
lihat tabel di bawah ini. Dewasa ini sudah
ditemukan dua subtipe reseptor-M lainnya
lagi.
Muskarin (M) yaitu derivat furan yang
bersifat sangat beracun dan ada sebagai
alkaloid pada jamur merah Amanita musca-
ria. Resep tor muskar in sesudah diaktivasi oleh
neuro trans mitter asetil ko lin atau kolinergika
dapat memicu semua efek fisiologis
yang tertera di atas.
reseptor jaringan efek stimulasi
M1 neuron-neuron aktivasi
ganglia simpatis pelepasan NA>
M2 myocard kontraksi>
jaringan nodus bradycardia
penyaluran AV<
M3 kelenjar eksokr. sekresi
ileum relaksasi
pembuluh langsung: kontraksi
via endotel: relaksasi
Tabel 32-1: Aktivasi subtipe reseptor-
M di berbagai organ dan efeknya bila
dirangsang oleh kolinergika
Asetilkolin(ACh) bekerja tidak selektif dan
merangsang ketiga tipe reseptor M, sama
dengan adrenalin dan NA dari Sistem Simpatik
(SS), yang juga merangsang secara tak-selektif
resep tor -alfa dan -beta adre nergik. Obat-obat
yang mengaktivasi resep tor-M1, -M2, atau -M3
secara selektif hingga kini belum ditemu kan.
2. Reseptor nikotin (N) terutama ada
di pelat-pelat ujung myoneu ral dari otot ke-
rangka dan di ganglia otonom (simpatik dan
parasimpatik). Stimulasi reseptor ini oleh
kolinergika (neos tigmin dan piridostigmin)
memicu efek yang menyerupai efek
adrenergika, oleh sebab itu bersifat berla-
wanan sama sekali. Misal nya vasokonstriksi
dengan meningkatnya tensi ringan, penguatan
kegiatan jantung, juga stimulasi SSP ringan.
Pada dosis rendah timbul kontraksi otot
lurik, sedang pada dosis tinggi terjadi
depolarisasi dan blokade neuromusku lar.
Mekanisme kerjanya berdasar stimu-
lasi penerusan impuls di ganglia simpatik dan
stimulasi anak ginjal dengan sekresi noradre-
nalin. Di samping itu juga terjadi sti mulasi
ganglia kolinergik (terutama di saluran lam-
bung-usus dengan peningkatan peristaltik)
dan pelat-pelat ujung motorik otot lurik, di
mana ada banyak reseptor nikotin.
* Efek nikotin dari ACh juga terjadi pada
perokok, yang disebabkan oleh sejumlah
kecil nikotin yang diserap ke dalam darah
melalui mukosa mulut.
Selektivitas parsial untuk reseptor -M dan
-N ada pada kolinergika klasik seperti
pilokarpin, karbachol dan aseklidin (*Glau-
cofrin). Obat-obat ini pada dosis biasa meng-
ak tivasi beberapa tipe resep tor-M tanpa me-
mengaruhi reseptor nikotin. Sebaliknya, ko-
linergika lain seperti zat-zat antikolinesterase
(neostig min, piridos tigmin), bekerja tidak
selektif.
Penggolongan
Kolinergika dapat dibagi menurut mekanisme
kerjanya, yaitu zat-zat dengan kerja langsung
dan zat-zat dengan kerja tak-langsung.
1.Bekerja langsung: karbachol, pilokarpin, mus-
karin dan arekolin (alkaloid dari pinang, Areca
catechu). Zat-zat ini bekerja langsung ter-
hadap organ ujung dengan kerja utama yang
mirip efek muskarin dari ACh. Semuanya
yaitu zat-zat amonium kwaterner yang
bersifat hidrofil dan sukar memasuki SSP,
terkecuali arekolin.
2.Bekerja tak-langsung: zat-zat antikolines-
terase seperti fisostigmin, neostigmin dan piri-
dostigmin. Obat-obat ini menghambat pengu-
raian ACh secara reversibel, yaitu hanya
untuk sementara. sesudah zat-zat itu
selesai diuraikan oleh kolinesterase, ACh
segera akan dirombak lagi.
Di samping itu ada pula zat-zat yang me-
ngikat enzim secara irrever sibel, misal-
nya parathion dan organofosfat lain. Kerjanya
panjang sebab bertahan sampai enzim ter-
bentuk baru lagi. Zat ini banyak dipakai
sebagai insektisid beracun kuat di bidang
pertanian dan sebagai obat kutu rambut
(malat hion). Gas saraf yang dipakai se-
bagai senjata perang juga terma suk dalam
kelompok organo fosfat ini, misalnya Sarin
dan Soman.
pemakaian
Kolinergika khusus dipakai pada penya-
kit mata glaukoma, myasthenia gravis, demensia
Alzheimer dan atonia.
1.Glaukoma
Staar hijau (glaukoma) yaitu penyakit
mata yang bercirikan peningkatan tekanan
cairan mata intraokuler (TIO) di atas 21 mm
Hg, yang bisa menjepit saraf mata. Saraf
ini berangsur-angsur dirusak secara progre-
sif, sehingga penglihatan memburuk dan
akhirnya dapat menimbul kan kebutaan. Teta-
pi hanya persentase kecil dari pasien dengan
TIO meningkat menderita glaukoma. Nilai
tekanan intraoku ler normal yaitu antara 10-
21 mm Hg.
Gejalanya tidak begitu nyata dan berlang-
sung secara sangat berangsur-angsur, teruta-
ma penyempitan pandangan perspektif de-
ngan timbulnya ‘blind spots’. Oleh sebab
itu umumnya glaukom baru menjadi mani-
fes pada stadium lanjut dengan sudah ada-
nya kerusakan irreversibel. Oleh sebab
itu orang-orang di atas 50 tahun sebaiknya
memeriksakan matanya setiap 1-2 tahun
untuk mengukur TIO-nya (tonometri).
pemicu nya. Cairan mata terbentuk di mu-
kosa tipis di belakang pupil, di corpus ciliare
dan via liang pupil mengalir ke ruang mata
depan. Pengeluarannya melalui ruang sempit
antara pupil dan kornea (“segi-bilik”) ke
saluran keluar. Bila cairan ini tidak dapat
mengalir keluar dari ruang mata depan
sebab misalnya penyumbatan, maka TIO
akan meningkat. Jenis glaukoma yang paling
sering ada yaitu glaukoma segi-bilik
terbuka (glaucoma simplex). Pada bentuk ini
pengeluaran cairan dari ruang mata depan
terlampau lambat, meskipun saluran keluar
di segi-bilik tidak tersumbat. Hal ini bisa
dilihat pada pemeriksaan mata. Gangguan ini
disebabkan oleh kelainan bagian depan dari
saraf mata, biasanya timbul di keluarga dan
sering kali pada penderita diabetes atau myopia,
yang dapat ditangani dengan pengobatan
atau melalui pembedahan mikro. Bagi bentuk
glaukoma yang saluran keluarnya tersumbat,
yaitu glaukomasegi-bilik tertutup, juga da-
pat dilakukan pengobatan atau penyinaran
dengan laser guna membuat lubang pada iris
untuk mengatasi penyumbatan itu .
Tujuan penanganan glaukoma yaitu me-
nurunkan tekanan cairan mata intraokuler
(senyawa prostaglandin latanoprost) melalui
peningkatan penyaluran keluar dari cairan
ini atau merintangi produksiya (betablocker).
Pengobatan dapat dilakukan dengan teru-
tama dua jenis obat tergantung pada penye-
bab gangguan, yaitu dengan kolinergika atau
β-bloc ker. Pada glaukoma terbuka, beta-blocker
merupakan pilihan pertama. Bila obat-obat
ini terkontraindikasi atau kurang efektif,
baru dipakai kolinergika atau adrenergika.
a. Beta-blocker: timo lol (Nyolol 0,5%), betak-
so lol (Betoptima 0,5%) dan befunolol (Glau-
conex 0,5%). Efektif bila kenaikan tekan-
an intraoku ler disebabkan oleh mening-
katnya produksi cairan mata. Mekanis-
me kerjanya melalui reseptor beta di
corpus ciliare mata. Beta-bloc ker berkha-
siat menurunkan produksi cairan mata
sampai 20-25%, namun tidak memengaruhi
pengeluarannya.
b. Kolinergika:pilokar pin, karbachol dan neos-
tigmin. dipakai bila segi bilik me-
nyempit, yang sering kali terjadi pada
manula. Akibatnya pengeluaran cairan
mata dari bilik depan terham bat, sehingga
volume dan tekanan intraokuler setem pat
mening kat. Obat-obat ini meng kontraksi
dan menyempitkan manik mata (miosis),
yang memicu segi bilik mereng gang
dan penyaluran cairan mata meningkat.
Juga menurunkan produksi cairan mata
melalui rangsangan dari alfa-2-reseptor.
c. Adrenergika: dipivefrin, apraklonidin dan
brimonidin. Dipivefrin melalui stimulasi
reseptor-beta meskipun meningkatkan
produksi cairan bilik, namun serentak juga
penyalurannya distimulasi sehingga efek
keseluruhannya yaitu netral. Stimulasi
reseptor-alfa menghambat produksi
cairan. Kedua obat terakhir mengurangi
produksi cairan mata, brimonidin juga
melancarkan penyalurannya. Kedua obat
ini hanya dipakai untuk pengobatan
jangka pendek sebelum atau sesudah
penanganan dengan laser.
d. Obat-obat lainnya yaitu latanoprost,
dorzolami da dan brinzolamida. Obat perta-
ma mempercepat pengeluaran cairan, se-
dangkan kedua zat terakhir penghambat
karboanhidrase yang mengurangi pro-
duksinya.
2. Myasthenia gravis (Yun. myo = otot, as-
thenia = kelemahan)
yaitu suatu penyakit auto-imun yang
bercirikan keletihan dan kelemahan dari
terutama otot-otot muka, mata dan mulut.
pemicu nya yaitu kekurangan relatif dari
ACh di pelat ujung motorik dari otot lurik.
Kekurangan ini disebabkan oleh antibo-
dies IgG, yang telah merusak reseptor ACh
setempat. Oleh sebab itu penerusan impuls
dari saraf ke otot oleh ACh tidak berlang-
sung sebagaimana mestinya. Zat-zat anti-
kolinesterase (fisostigmin dan derivatnya)
merintangi perom bakan cepat dari ACh oleh
kolinesterase, sehingga kerjanya lebih lama.
Dengan demikian transmisi impuls diper-
baiki atau bahkan kerusakan reseptor dapat
dihambat.
Obat lain yang sering dipakai yaitu
prednison, yang berkha si at menghambat se-
luruh proses penyakit.
3. Demensia Alzheimer. berdasar pene-
muan bahwa kadar ACh di otak berkurang
pada demensia, maka dipakai pengham-
bat kolinesterase untuk mencegah perom-
bakan dan meningkatkan kadar ACh di otak.
Yang kini tersedia yaitu takrin, rivastigmin
(Exelon), metrifonat, milameli ne dan obat
baru donepe zil (Aricept). Obat-obat ini hanya
berkhasiat memperlambat progres dari ka-
sus-kasus yang tidak begitu serius. Lihat
selanjutnya Bab 28 B, Obat-obat Alzheimer.
4. Atonia (keadaan kelemahan otot polos). Se-
telah pembedahan besar dengan stress ba-
gi tubuh adakalanya terjadi peningkatan
aktivi tas saraf adrenergik. Akibatnya dapat
berupa obstipasi dan sukar berkemih (ato-
nia kandung kemih), bahkan obstruksi usus
(ileus paralyticus) akibat pengenduran dan
kelumpuhan peris taltik. Keadaan ini dapat
ditanggulangi oleh kolinergika (karbachol dan
neostigmin).
Efek samping kolinergika yaitu sama de-
ngan efek dari stimul asi SP secara berlebihan,
antara lain mual, muntah-muntah dan dia-
re, juga mening katnya sekresi ludah, dahak,
keringat dan air mata, bradycardi a, bron-
chokonstriksi serta depresi pernapasan.
Antidotum pada overdosis atau keracunan
dengan kolinergika yaitu senyawa antiko-
linergik atropin dengan dosis tinggi sekali,
khusus untuk melawan efek muskarin.
Kehamilan dan laktasi. Senyawa amonium
kwaterner tidak melinta si plasenta, maka da-
pat dipakai per oral, namun tidak parenteral
sebab dapat memicu his.
MONOGRAFI
1.BETA-BLOCKER
1a. Timolol (Nyolol, Timoptol, *Xalacom)
Dosis: 2 dd 1 tetes larutan 0,25-0,5%
1b. Betaxolol (Betoptima 0.5%, Betoptic)
Dosis: 2 dd 1 tetes larutan 0,25-0,5%
1c. Befunol (Glauconex 0,25%)
Dosis: 2 dd 1 tetes larutan 0,25-0,5 %
Lihat selanjutnya Bab 35, Antihipertensiva
1d. Karteolol: Arteoptic LA, Teoptic, Carteabak
Merupakan betablocker non-selektif yang
berkhasiat menurunkan tekanan intraokuler
pada glaukoma simpleks dengan mengurangi
sekresi cairan mata. Mulai bekerja dalam
waktu 30 menit dan berlangsung sampai 24
jam.
Efek sampingnya lupus erythematosus
sistemik (SLE), sakit kepala, pusing, mening-
katnya myasthenia gravis dan iritasi mata,
konyung-tivitis dan gangguan penglihatan.
Dosis: 2 dd 1 tetes (1%-2%)
1e. Levobunolol: Betagan Liquifilm
Isomer levo dari bunolol ini yaitu beta-
blocker non-selektif yang berkhasiat menu-
runkan dengan cepat tekanan intraokuler
pada glaukoma simpleks dan berlangsung
selama paling sedikit 12 jam.
Efek samping iritasi mata, konyungtivitis,
gangguan visus dan sistemik seperti gang-
guan jantung, bronchospasme, sakit kepala,
mual dan pusing.
Dosis: 1-2 dd 1 tetes 0,25%
2.KOLINERGIKA
2a. Asetilkolin:ACh
Neurohormon penting ini bersifat sangat ti-
dak stabil sebab segera diuraikan oleh dua
jenis enzim kolinesterase untuk menghinda-
ri stimulasi terus-menerus dari saraf koli-
nergik. Hasil pengurai annya yaitu kolin,
suatu unsur penting dari lesi tin, yang terda-
pat di banyak organ tubuh, misalnya dalam
empedu, otak dan kuning telur. Berhubung
labilitasnya, ACh tidak dipakai lagi da-
lam terapi dan diganti oleh derivat yang
lebih stabil, antara lain karbachol.
Defisiensi ACh di otak dihubungkan dengan
penyakit demensi Alzheimer, lihat Bab 28C.
*Karbachol (Isopto Carbachol, Miostat) ada-
lah derivat uretan dari kolin (1933) yang pe-
nguraiannya oleh enzim tidak secepat ACh,
sehingga efeknya lebih lama. Khasiat mus-
karin dan nikotin sama kuatnya, efek sam-
ping lebih ringan dan jarang terjadi pada do-
sis biasa. dipakai sebagai miotikum pada
glaukoma dan pada atonia organ dalam.
Dosis: pada glaukoma 3 dd 2 gtt dari larutan
1,5-3% (klorida), pada atonia usus/kandung
kemih akut oral 1-3 dd 4 mg.
2b. Pilokarpin : (Cendo Carpine, *Timpilo, Mio-
kar)
Alkaloid ini ada pada daun tanaman
Amerika, Pilocarpus jaborandi. Terutama ber-
khasiat muskarin, efek nikotin ringan sekali.
Pada awalnya SSP distimulasi, kemudian
ditekan aktivitasnya. pemakaian utamanya
yaitu sebagai miotikum pada glaukoma.
Efek miotiknya (tetes mata) dimu lai sesudah
10-30 menit dan bertahan 4-8 jam.
Toleransi dapat terjadi sesudah dipakai
untuk waktu lama yang dapat diatasi de-
ngan memakai kolinergika lain untuk
beberapa waktu, misalnya karbachol atau neos-
tigmin.
Dosis: pada glaukoma 2-4 dd 1-2 tetes la-
rutan 1-2% (klorida, nitrat).
*Timpilo = timolol + pilokar pin.
2c. Neostigmin: Prostigmin
Senyawa amonium kwaterner ini
yaitu perintang kolines terase reversibel.
Neostigmin memiliki khasiat muskarin agak
kuat, yang jauh melebi hi efek nikotinnya
yang sangat ringan. dipakai teruta ma
pada keadaan otot lemah, yaitu untuk diag-
nosis dan terapi myasthenia, atonia usus dan
kandung kemih (sukar buang air besar dan
kecil). Begitu pula pada glaukoma.
Resorpsi dari usus berlangsung buruk se-
perti semua zat hidrofil. Lama kerja bervariasi
secara individual, plasma-t½ 15-54 menit.
Dalam hati zat ini dihidrolisis ikatan esternya
oleh kolinesterase. sebab sukar melintasi
membran otak, efek pusatnya ringan.
Efek samping atas jantung dan peredaran
darah lebih ringan daripada pilokarpin. Un-
tuk melawan efek muskarin ini dapat dibe-
rikan atropin. Pada dosis berlebihan dapat
timbul kelemahan otot, sehingga seolah-olah
obat tidak efektif lagi (pada myasthenia). Oleh
sebab itu, pemakaian nya perlu dipantau
dengan saksama dan kontinu.
Dosis: pada myasthenia oral rata-rata 150
mg sehari dalam 4-6 dosis (bromida), pada
glaukoma 1-2 dd 1-2 tetes 3-5% larutan metil-
sul fat.
* Piridostigmin (Mestinon) yaitu derivat
(1954) dengan efek muskarin ±4 kali lebih
lemah daripada neostigmin. Efek samping
juga lebih ringan dan terutama berupa gang-
guan lambung-usus. Mulai kerja lebih lama,
namun juga bertahan lebih lama. Khusus digu-
nakan pada myasthenia gravis. Dosis: oral 3-4
dd 30 mg (bromida).
2d. Nikotin: Nicorette, plester Nicotinell TTS
Derivat piridin ini (1978) ada sebagai
alkaloid pada daun tembakau (Nicotiana
tabacum). Nikotin diikat pada resep tor-N di
SSP dan SS perifer, berefek terhadap otak,
jantung, pembuluh, saraf, lambung-usus dan
otot kerang ka. Pada dosis rendah berkhasiat
stimulasi, sedang pada dosis tinggi
bekerja inhibisi.
Terutama untuk mendukung penghentian
merokok, dipakai dalam bentuk plester
atau sebagai chewing gum (Nicorette). Plester
dari 10, 20 dan 30 cm2 melepaskan nikotin
masing-masing 7, 14 atau 21 mg secara teratur
selama 24 jam. Bila chewing gum itu
dikunyah perlahan-lahan selama 30 menit,
akan dibebaskan 2 sampai 4 mg nikotin, yang
diserap melalui mukosa mulut.
Efek samping tergantung pada besarnya
dosis dan terutama berupa kenaikan tensi
dan frekuensi pukulan jantung, juga sukar
tidur dan gatal-gatal, jarang iritasi, rasa takut,
berkeringa t, nyeri kepala, pusing, rasa letih,
mulut kering atau sekresi liur berlebihan.
Selama kehamilan dan laktasi tidak boleh digu-
nakan.
Dosis: chewing gum maksimal 7 dd, plester
1 dd pagi hari. Sebelum terapi dimulai, me-
rokok harus dihentikan seluruhnya.
2e. Tacrin: tetrahidroakridin, THA, Cognex
Derivat akridin ini (1993) yaitu antiko-
linesterase rever sibel dengan khasiat terhadap
SSP. Tacrin terutama dipakai untuk me-
ningkatkan kadar ACh di otak pada demensia
Alzheimer, yang antara lain bercirikan keku-
ran gan neurohormon ini di sel-sel otak ter-
tentu (substantia nigra).
Dosis: oral permulaan 40 mg/hari selama 6
minggu, lalu dinaikkan dengan 40 mg setiap
6 minggu, maksimal 160 mg.
Lihat selanjutnya Bab 28 C, Obat-obat
Alzheimer.
3 ADRENERGIKA
3a. Dipivefrin (epinefrinedipivalat, Diopine)
Ester adrenalin ini yaitu prodrug inaktif
yang dalam kornea dan bilik-depan mata
dihidrolisis oleh esterase (1978). Berkat sifat
lipofilnya lebih mudah mempenetrasi mata
dari pada adrenalin, yang menghambat pro-
duksi cairan bilik dan meningkatkan penya-
luranny a. Tidak memicu miosis, namun
midriasis.
Efek samping jarang terjadi dan berupa iri-
tasi, rasa terbakar, conjunctivitis dan pengen-
dapan pigmen di kornea dan conjunc tiva.
Dosis: 2 dd 1 tetes larutan 0,1% pada glau-
koma terbuka.
3b. Brimonidin (Alphagan) yaitu alfa-2-
adrenergikum yang rumusnya mirip dengan
klonidin, namun bersifat kurang lipofil. Tidak
memengaruhi tekanan darah atau frekuensi
jantung, mengurangi produksi cairan mata
dan meningkatkan penyalurannya. Diguna-
kan pada glauoma terbuka bila beta-blocker
tidak dapat dipakai .
Efek samping yang tersering yaitu reaksi
alergik.
Dosis: 2 dd 1 tetes.
3c. Apraklonidin (Iopidine) yaitu derivat
obat antihipertensif klonidin dengan khasiat
stimulasi reseptor-alfa dan -beta, yang meng-
hambat produksi cairan mata melalui pe-
nurunan tonus simpatik. Tidak memenga-
ruhi tekanan darah. Toleransi dapat terjadi.
Dosis: pada glaukoma terbuka 3 dd 1 tetes
larutan 0,5%, lazimnya selama 4 minggu.
4. LAINNYA
4a. Latanoprost (Xalatan) yaitu ester inak-
tif dari suatu analogon prostaglandin-F2-alfa
(1995). sesudah absorpsi oleh kornea dihidro-
lisis oleh esterase menjadi asam aktifnya. Zat
ini berkhasiat menurunkan tekanan mata
dengan meningkatkan penyaluran cairan
mata dari bilik depan.
Dosis:1 dd 1 tetes larutan 0,005 %.
*Xalacom = latanoprost 0,005% + timolol
0,5%
4b. Bimatoprost: Lumigan
yaitu prostamida sintetik yang struktural
berkaitan dengan prostaglandin F2alfa dan
dipakai a.l. terhadap glaukoma terbuka
kronis.
Berkhasiat menurunkan tekanan intra-
okuler dengan memperbaiki pengaliran ke-
luar cairan mata. Khasiatnya sesudah 4 jam
dan berlangsung paling sedikit 24 jam.
Resorpsinya melalui kornea baik. PP 88%,
dimetabolisasi dalam hati dan metabolitnya
diekskresi terutama via urin 67% dan via
feses 25%. T1/2 ±45 menit.
Efek samping sering kali gatal dan iritasi
pada mata, konjunctivitis, sakit kepala dan
hipertensi.
Dosis: malam 1dd 1 tetes (0,01%). Peng-
gunaan lebih sering menurunkan efeknya.
4c. Tafluprost: Saflutan
Prodrug ini yaitu analogon dari pros-
taglandin F2alfa yang berkhasiat menurunkan
tekanan intraokuler pada glaukoma sim-
pleks dengan memperbaiki penyaluran cair-
an mata. Metabolit aktif yaitu asam taflu-
prost yang terbentuk sewaktu melintasi kor-
nea. Efeknya timbul sesudah 2-4 jam dan
berlangsung minimal 24 jam.
Efek samping sering kali hiperaemia oku-
ler, di samping sakit kepala, gangguan mata
(gatal, sakit, kering dan iritasi) serta tum-
buhnya bulu mata berlebihan.
Dosis: malam 1 dd 1 tetes larutan 15 mcg/
ml. pemakaian lebih sering dapat menu-
runkan efeknya.
4d. Travoprost: Travatan
Senyawa ini juga merupakan analogon
dari prostaglandin F2a yang pada glaukoma
simpleks berkhasiat menurunkan cairan
mata dengan memperbaiki pengeluarannya.
Efeknya dalam waktu 2 jam dan berlangsung
selama 24 jam.
Senyawa ini yaitu suatu prodrug dan
waktu melintasi kornea dihidrolisissi men-
jadi asam aktif yang bersamaan dengan meta-
bolitnya diekskresi melalui ginjal.
Efek samping sering kali (>10%) hyperaemia
okuler, hiperpigmentasi iris, gangguan mata,
penglihatan menurun, juga sakit kepala, ko-
nyungtivitis, alergi dan gangguan jantung
serta gangguan tekanan darah.
Dosis: malam 1 dd 1 tetes dan jangan lebih.
4e. Dorzolamida (Trusopt) yaitu derivat
sulfonamida dengan khasiat menghambat
karbonanhidrase yang berefek mengurangi
produksi cairan mata (1995). Efek sampingnya
lebih ringan daripada karbonanhidrase-bloc-
ker sistemik asetazolami da, sehingga lebih
disukai penggun aannya. Lihat juga Bab 33,
Diuretika, Asetazo lamida.
Antara latanaprost dan dorzolamida
mungkin terjadi interaksi bila dipakai ber-
samaan.
Dosis: 3 dd 1 tetes larutan 2 % bersama beta-
blocker.
* Brinzolamida (Azopt) yaitu sulfonamida,
juga dengan khasiat karbonanhidrase-blocker
(1998). Dosis: 2-3 dd 1 tetes larutan 1%.
B. ANTIKOLINERGIKA
Antikolinergika atau parasimpatikolitika
melawan khasiat asetilkolin dengan meng-
hambat terutama reseptor-resep tor-M(uska-
rin) yang ada di SSP dan organ perifer.
Zat-zat ini tidak bekerja terhadap reseptor-
reseptor-N(ikotin) terkecuali zat-zat amonium
kwaterner yang berkhasiat lemah. Misalnya
relaksan otot pankuronium dan vekuronium, serta
ganglion-blocker yang terutama menghambat
reseptor-N di pelat ujung myoneural dan di
ganglia otonom.
Kebanyakan antikolinergika tidak bekerja
selektif bagi lima subtipe reseptor-M. Bekerja
terhadap banyak organ tubuh, a.l. mata,
kelenjar eksokrin, paru-paru, jantung, saluran
kemih, saluran lambung-usus dan SSP.
Khasiatnya
Efek antikolinergika terpenting yaitu seba-
gai berikut:
– memperlebar pupil (mydriasis) dan berku-
rangnya akomodasi
– mengurangi sekresi kelenjar (liur, keringat,
dahak)
– mengurangi tonus dan motilitas saluran
lambung-usus, juga sekresi getah lam-
bung
– dilatasi bronchi
– meningkatkan frekuensi jantung dan mem-
percepat penerusan impuls di berkas His
(bundle of His), yang disebabkan peng-
hambatan saraf paru-lambung (saraf me-
ngembara, nervus vagus).
– merelaksasi otot detrusor yang memicu
pengosongan kandung kemih, sehingga
kapasitasnya meningkat. Flavoksat dan
oksibutinin juga berkhasiat langsung me-
relaksasi otot
– merangsang SSP dan pada dosis tinggi me-
nekan SSP (terkecuali pada zat amonium
kwaterner).
pemakaian
Tergantung pada sifat spesifiknya masing-
masing, antikolinergika dipakai dalam far-
makoterapi untuk bermacam-macam gang-
guan dan yang terpenting di antaranya ada-
lah:
a. sebagai midriatikum, untuk melebarkan pu-
pil dan melumpuhkan akomodasi (atro-
pin, homatropin, tropikamida). Jika efek
terakhir tidak diinginkan, maka harus
dipakai suatu adrenergikum, misalnya
fenilefrin;
b. sebagai spasmolitikum (pereda kejang otot
dan kolik) dari saluran lambung-usus,
saluran empedu dan alat urogenital, mi-
salnya pada IBS (Irritable Bowel Syndrome)
(hyoscyamin, butilskopolamin dan propan-
telin);
c. pada inkontinensi urin pada kandung ke-
mih instabil akibat hiperaktivitas dari otot
detrusor. Kontraksi spontan serta hasrat
berkemih dikurangi (flavoksat, oksibutinin,
tolterodin);
d. pada Parkinsonisme, lihat Bab 28, Obat-obat
Parkinson;
e. pada asma dan bronchitis (ipratropium, tio-
tropium);
f. sebagai premedikasi pra-bedah, untuk me-
ngurangi sekresi ludah dan bronchi dan
sebagai sedativum berkat efek menekan-
nya terhadap SSP. Terutama dipakai
atropin dan skopolamin bersamaan dengan
anestetika umum. Antihistaminika dan
fenotiazin juga dipakai untuk maksud
ini;
g. sebagai zat anti-mabuk jalan, guna mencegah
mual dan muntah (skopolamin);
h. pada hiperhidrosus, untuk menekan penge-
luaran keringat berlebi han;
i. sebagai zat penawar pada intoksikasi dengan
zat penghambat kolinesterase (atropin).
Efek samping
Efek samping umum antikolinergika tergan-
tung dari dosis dan berupa efek-efek muskarin,
ya-itu mulut kering, obstipasi, retensi urin,
tachycardia, palpi tasi dan aritmia, gangguan
akomodasi, midria sis dan berkeringa t. Pada
dosis tinggi timbul efek sentral, seperti gelisah,
bingung, eksitasi, halusinasi dan delirium.
Zat-zat amonium kwaterner dalam dosis ting-
gi juga dapat menghasilkan efek nikotin,
khususnya blokade ganglion dengan antara
lain hipotensi ortostatik dan impotensi.
Kehamilan dan laktasi. Hanya atropin da-
pat dipakai oleh wanita hamil dan yang
menyusui; sedang dari obat-obat lain-
nya belum tersedia cukup data mengenai
keamanannya.
Penggolongan
Antikolinergika dapat dibagi dalam 3 ke-
lompok, yaitu :
a. alkaloida Belladonna: atropin, hyoscyamin,
skopolamin dan homatropin
b. zat amonium kwaterner: propante lin, ipra-
tropium dan tiotropium
c. zat amin tersier: pirenzepin, flavoksat, oksi-
butinin, tolterodin dan tropikamida
MONOGRAFI
1. ALKALOID BELLADONNA
Tumbuhan Atropa belladonna dari Eropa me-
ngandung beberapa jenis alkaloid, terutama
l-hyoscyamin dengan sedikit atropin dan
skopolamin. Ketiga zat ini juga ada da-
lam beberapa tumbu han lain dari famili Sola-
naceae, antara lain kecubung (Datura fastuosa).
1a. Atropin (F.I.): dl-hyoscyamine
Derivat tropan ini yaitu campuran rasemis
(bentuk-dl), yang berkhasiat antikolinergik
kuat dan merupakan antagonis khusus dari
efek muskarin ACh. Efek niko tin diantagonir
dengan sangat ringan. Zat ini dipakai
sebagai midriatikum kerja panjang (sampai
beberapa hari) dan juga melumpuhkan ako-
modasi (cycloplegia). Juga sebagai spasmoli-
tikum pada kejang-kejang di saluran lam-
bung-usus dan uroge nital, sebagai premedi-
kasi pada anestesi dan sebagai zat penawar
(antidotum) keracunan ACh (zat-zat anti-
kolinesterase) dan koliner gi ka lain.
Atropin juga memiliki daya kerja atas SSP
(antara lain sedatif) dan efek bronchodilata-
si ringan berdasar peredaan otot polos
bron chi.
Resorpsi di usus cepat dan lengkap seperti
alkaloid alamiah lainnya, begitu pula dari
mukosa. Resorpsi melalui kulit utuh dan
mata tidak mudah. Distribusinya ke seluruh
tubuh baik. Ekskresi melalui ginjal, yang
separuhnya dalam keadaan utuh. Plasma-t½
2-4 jam.
Dosis: oral 3 dd 0,4-0,6 mg (sulfat), maksimal
4 mg sehari, okuler larutan 0,5-1%.
* Hyoscyamin (l-atropin, Egacene) yaitu ben-
tuk levo aktif dari atropin dengan khasiat
sentral dan perifer lebih kuat. Zat ini khusus
dipakai pada kejang-kejang lambung-
usus dan pada hiperhidrosus.
14108649_OBAT P(Bab 32)_T-508-518.indd 515 21/04/2015 19:24:00
Seksi V: Obat Sistem Saraf Otonom516
Dosis: oral 2-3 dd 0,4-0,6 mg tablet retard
(sulfat).
* Homatropin (Homatro, *Peptisin) yaitu de-
rivat sintetik yang ±10 kali lebih lemah dari
atropin. Efek midriatiknya lebih cepat dan
singkat (maksimal 24 jam), efek cycloplegia
lebih ringan, begitu pula efek-efek samping
lainnya. Homatropin diguna kan sebagai te-
tes mata (larutan HBr 2%) untuk diagnosis
dan dahulu dalam sediaan terhadap tukak
lambung untuk menghambat sekresi asam.
1b. Skopolamin: l-hyoscine, Scopoderm TTS
Derivat epoksi dari atropin ini bekerja lebih
kuat mengenai perintangan sekresi ludah
dan keringat, juga efek sentralnya ±3 kali
lebih kuat (sedatif dan hipnotik). Oleh sebab
itu, zat ini dalam bentuk plester dipakai
sebagai obat mabuk jalan. Di samping itu,
adakalanya skopolamin dipakai sebagai
midriatikum, zat anti-kejang lambung-usus
dan untuk premedikasi anestesi.
Dosis: transkutan sebagai plester dengan 1,5
mg skopolamin, yang dilekat kan di belakang
telinga, ±10 jam sebelum berangkat.
* Butilskopolamin (hyoscine-N-butilbromida,
Buscopan, Spasmolit) yaitu derivat amonium
kwaterner (1951), yang banyak dipakai
sebagai spasmolitikum organ dalam, khu-
susnya pada kejang-kejang di lambung-usus,
saluran empedu dan saluran kemih, serta
rahim. Efek samping ringan dan jarang terjadi.
Dosis: oral atau rektal 3-5 dd 10-20 mg (garam
bromida), injeksi i.m./i.v. 20 mg, bila perlu
diulang 2-3 kali.
2. ZAT–ZAT AMONIUM
KWATERNER
Senyawa-senyawa ini mengandung atom-N
bervalensi-5, bersifat basa kuat dan terionisasi
baik, sehingga sukar melintasi membran sel.
Oleh sebab itu resorpsinya dari usus buruk
dan tidak dapat memasuki CCS (Cairan Cere-
brospinal), maka tidak memiliki kerja sentral.
Khasiat antikolinergiknya lebih lemah dari-
pada atropin; efek spasmolitik umumnya
lebih kuat. Efek samping juga lebih ringan.
pemakaian nya terutama untuk menekan
peristaltik dan mengu rangi sekresi getah
lambung dalam sediaan tukak lambung-
usus. Juga dipakai sebagai spasmolitikum
terhadap kejang-kejang di organ dalam.
2a. Propantelin: (Pro-Banthine 1953) dalam
dosis tinggi memiliki efek kurare, yaitu me-
ngendurkan (relaksasi) otot-otot lurik kerang-
ka. Dahulu banyak dipakai pada tukak
lambung, gastritis dan kejang lambung-usus
pada IBS. Khasiat antikolinergiknya sedang
sampai kuat.
Dosis: oral 3 dd 15 mg (HBr) d.c. dan 30 mg
a.n.
Lihat Bab 40, Obat-obat Asma dan COPD.
2b Ipratropium: Atrovent
Derivat isopropil dari atropin ini dengan
ikatan amonium kwaterner (1974) khusus
dipakai sebagai inhalasi pada asma
dan bronchitis. Berkhasiat bronchodilatasi
dengan mengurangi hipersekresi dahak dari
bronchi tanpa efek buruk terhadap bulu
gerak (cilia). Lihat selanjutnya Bab 40, Obat
Asma dan COPD.
* Tiotropium (Spiriva) yaitu derivat lebih
baru (2001) dengan pemakaian sama. namun
khasiat bronchodilatasinya lebih kuat dan
bertahan lebih lama daripada ipratropium
sehingga dapat diberikan dalam dosis 1x se-
hari.
3. ZAT–ZAT AMIN TERSIER
3a. Pirenzepin: Gastrozepin
Derivat benzodiazepin ini (1977) dalam dosis
rendah menghambat secara selektif reseptor
muskarin-M1 dalam sel-sel parietal lambung
yang memben tuk HCl. Penghambatan resep-
tor di organ-organ lain (jantung, mata, lam-
bung-usus, alat urogenital) baru terjadi pada
dosis lebih tinggi. Atas dasar kerja selektifnya,
pirenzepin dahulu banyak dipakai pada
tukak lambung-usus dan gastritis.
Resorpsi di usus buruk, hanya sekitar 25%
berhubung si fat hidrofilnya. PP juga ringan
(12%), plasma-t½ rata-rata 12 jam.
Dosis: oral 2 dd 50 mg pagi hari 30 menit a.c.
dan a.n. selama 4-6 minggu, bila perlu 3 dd 50
mg. Lihat juga Bab 16, Obat-obat Lambung.
14108649_OBAT P(Bab 32)_T-508-518.indd 516 21/04/2015 19:24:00
Bab 32: Kolinergika dan Antikolinergika 517
3b Flavoksat : Urispas
Derivat benzopiran ini (1972) berkhasiat
relaksasi langsung terhadap otot kandung
kemih sehinga kapasitasnya meningkat. Di-
samping itu juga berkhasiat lokal anestetik
dan analgetik, dengan efek antikolinergik
lemah. Absorpsinya dari usus baik, tidak
diikat pada protein plasma. Dalam hati di-
ubah menjadi 2 metabolit, hanya satu aktif,
yang diekskresi melalui urin dan feses.
Efek sampingnya umum, namun lebih sedi-
kit dari pada obat inkontinensi lain. Tidak
boleh dipakai pada pasien glaukoma ter-
tentu dan pada gangguan fungsi ginjal.
Dosis: pada urge-inkontinensi 3 dd 200-400
mg (garam HCl) p.c.
3c. Oksibutinin: Dridase
Ester dari asam glikolat (1975) yang ter-
masuk senyawa antikolinergik ini berkhasiat
spasmolitik terhadap otot polos kandung ke-
mih, sehingga kapasi tasnya diperbesar dan
kontraksi tak terkendali dikurangi. Berda-
sarkan sifat ini oksibutinin dipakai khusus
pada urge-inkontinensi urin untuk mengu-
rangi hasrat berkemih, juga pada kejang kan-
dung kemih akibat iritasi oleh kateter. Ab-
sorpsinya baik dan cepat, namun BA-nya
hanya 6 % sebab FPE besar. Metabolit aktif-
nya diekskresi melalui urin, zat utuhnya
dengan feses.
Dosis: oral 3 dd 2,5 mg (HCl), bila perlu 3-4
dd 5 mg.
3d. Tolterodin: Detrusitol
Derivat metilfenol in (1997) berkhasiat an-
tikolinergik sedang, efeknya terhadap ke-
lenjar liur lebih lemah dari pada obat lain.
Khusus dipakai pada urge-inkontinensi
urin yang efeknya sudah nyata sesudah 4
minggu. Absorpsi cepat, BA antara 17 dan
65%, masa paruh antara 3 dan 10 jam tergan-
tung dari kecepatan metabolismenya. Kadar
plasma maksimal tercapai sesudah 1-3 jam.
Dalam hati diubah menjadi metabolit aktif
yang diekskresi melalui urin (77%) dan feses
(17%).
Efek samping: mulut kering dan berku-
rangnya fungsi kognitif pada lansia.
Dosis: oral 3 dd 2,5 – 5 mg (tartrat).
*Fesoterodin (Toviaz)
Antagonis reseptor muskarin dengan se-
lektivitas terhadap kandung kemih, memper-
besar kapasitasnya dan mengurangi frekuen-
si kencing pada sindrom kandung kemih
overaktif, berdasar aktivitas metabolitnya
5-hidroksimetil. Daya kerjanya maksimal
dalam 2-8 minggu.dipakai simptomatik
pada urge-inkontinensi urin.
Efek samping : mulut, mata dan tenggorok
kering, gangguan saluran cerna, mual, diare,
obstipasi dan retensi urin pada penderita
BPH. Dosis : 1 dd 4 mg, maks. 1dd 8 mg.
3e. Mirabegron: Betmiga
Agonis beta-3-adreno-reseptor ini diguna-
kan untuk penanganan simtomatik pada urge-
inkontinensi atau meningkatnya frekuensi
kencing akibat kandung kemih overaktif.
Mekanisme kernjanya berdasar stimulasi
dari reseptor beta-3 yang mengendurkan otot
licin dari kandung kemih. Sifat-sifat klinisnya
dapat disamakan dengan tolterodin, namun
tanpa efek samping antikolinergik.
Efek samping: infeksi saluran kemih dan
takhikardi.
Tablet retard dari 50 mg.
3f. Tropikamida (Mydriatyl Cendo, Midric)
Derivat propionamida ini (1957) berkhasiat
antikolinergik kuat dan terutama dipakai
sebagai midriatikum untuk diagnosis. Pele-
baran pupil terjadi lebih cepat namun waktu-
nya lebih singkat dari pada atropin dan
skopolamin. Pada dosis lebih besar (larutan
1%) berefek cycloplegis, artinya melumpuhkan
akomodasi.
Dosis: untuk midriasis 1-2 tetes larutan
0,5% minimal 15 menit sebelum pemeriksaan
mata.
14108649_OBAT P(Bab 32)_T-508-518.indd 517 21/04/2015 19:24:00
14108649_OBAT P(Bab 32)_T-508-518.indd 518 21/04/2015 19:24:00
SEKSI VI
JANTUNG, PEMBULUH,
DAN DARAH
14108649_OBAT P(Bab 33)_T-519-531.indd 519 21/04/2015 19:27:12
Seksi VI: Jantung, Pembuluh, dan Darah520
Di negara-negara indus tri penyakit jantung
dan pembuluh (PJP) seperti angina pectoris,
infark jantung, gagal-jantung dan hipertensi,
merupa kan pemicu kematian terbesar, di-
susul kanker dan CARA.
Angka kematian selama masa 25 tahun
terakhir akibat PJP di AS dan Eropa Utara
yaitu 2-3 kali lebih besar dibandingkan
dengan di Jepang dan negara-negara sekitar
Laut Tengah (antara lain Portugal, Spanyol,
Italia dan Yunani). Keadaan di negara kita
dapat disamakan dengan di negara-negara
Laut Tengah dan Jepang. Situasi ini terutama
berkaitan dengan kebiasaan dan susunan
makanan yang disebut Mediterranean diet.
Diet sehari-hari ini di negara-negara terse-
but mengandung lebih sedikit daging dan
lemak hewan (jenuh) serta lebih banyak
ikan, minyak nabati tak-jenuh, buah-buahan,
sayur-mayur dengan antioksidansia dan
flavonoida. Lihat juga Bab 54, Dasar-Dasar
Diet sehat.
Sebaliknya di negara-negara maju makan-
annya terutama kaya akan kalori, protein
dan lemak (jenuh), serta miskin akan serat-
serat nabati. sebab PJP terutama ada di
negara kaya, maka gangguan ini sering kali
disebut penyakit-penyakitkemakmuran.
Penyakit jantung dan pembuluh
Atherosclerosis. Gangguan pembuluh yang
berperan sangat penting pada terja dinya PJP
yaitu atheros clero sis yang bercirikan mene-
bal dan mengerasnya dinding arteri besar
dan sedang. Keadaan ini diakibatkan oleh
enda pan dari antara lain kolesterol, lemak,
kalsium dan fibrin (plaks,atheroma) di dinding
(endotel) pembuluh. Terjadinya peristiwa ini
antara lain diperkirakan ada hubungannya
dengan suatu infeksi bakteri yang menim-
bulkan reaksi peradangan. Kebiasaan makan
dan gaya hidup (‘lifestyle’) yang salah juga
memegang peranan penting khususnya ma-
kanan terlalu berle mak, merokok dan kurang
gerak badan yang membu tuhkan enersi.
Hipertensi. Gangguan penting yang sering
terjadi yaitu tekanan darah tinggi, yang
ada hubungannya pula dengan pengerasan
pembuluh.
Penyakitjantungyaitu lebih serius, misal-
nya angina pectoris, akibat jantung tidak
meneri ma cukup darah (dan oksigen) sebab
arteri jantung tertu tup oleh plaks. Bila arteri
jantung atau otak tersumbat sama sekali,
dapat timbul infarkjantung atau infarkotak
(stroke, beroerte). Pada gangguan gawat ini
sebagian atau seluruh jantung/otak menjadi
mati, sehingga sering kali bersifat fatal. Akibat
beban jantung yang diperbesar dapat pula
timbul gagal jantung(decompensatio), sebab
jantung tidak sanggup lagi memelihara pere-
daran darah selayaknya.
Faktor-faktor risiko
Atherosclerosis bersifat sangat mengelabui,
sebab baru menim bulkan gejala klinis pada
jangka panjang. Masa latensi lama ini disebab-
kan oleh proses penebalan arteri berlangsung
sangat lambat, bisa sampai puluhan tahun.
Lazimnya keluhan baru muncul di atas usia
50 tahun, saat penyakit sudah mencapai
taraf yang cukup serius. Oleh sebab itu
penanggulang annya kini ditekankan pada
tindakan prevensi dengan menghindari faktor-
faktor risiko yang dapat mempercepat ter-
jadi nya atherosclerosis dengan akibatny a.
Faktor risiko utama dalam urutan kepen-
tingannya yaitu kadar kolesterol darah
tinggi (hiperkolesterolemia), merokok dan
hipertensi. Risiko ditingkatkan lagi oleh
faktor lainnya seperti kegemukan (obesitas},
diabetes dan inaktivitas fisik. Di samping
itu terlalu banyak stress (ketegangan psikis)
juga memegang peranan penting pada orang
yang berisiko tinggi, begitupula usiadanke-
lamin. Ternyata bahwa kadar homosistein
tinggi dalam darah juga merupakan faktor
metionin
C-S-C-C-C-N-COOH
- CH3
HS-C-C-C-N-COOH
homosistein
HS-C-C-N-COOH
sistein
- CH3
14108649_OBAT P(Bab 33)_T-519-531.indd 520 21/04/2015 19:27:13
521
risiko penting. Asam amino ini dibentuk
sebagai produk-antara pada reaksi demetilasi
dari metio nin menjadi sistein, sebagai berikut:
Lihat persamaan reaksi.
Asam folat dan juga vitamin B6 dan B12,
menurunkan kadar homo sistein dan dengan
demikian meniadakan faktor risiko itu .
Ketiga vitamin ini dari kelompok vitamin B
merupa kan ko-faktor dari enzim-enzim yang
berperan pada transmisi gugus-metil pada
perombakan metionin.
Tindakan prevensi
Tindakan pencegahan utama yaitu menjauhi
semua faktor risiko di atas dan menjalani pola
hidup dan diet sehat tanpa merokok dengan banyak
aktivitas fisik. Betapa pentingnya tindakan
pencegahan itu telah dibuktikan di AS,
yang pemerintahnya sejak tahun 1961 secara
nasional berkampanye untuk memperbaiki
pola hidup masyarakat. Juga biaya besar telah
dikeluar kan untuk mengusut dan mengo bati
pasien hiper tensi sedini mungkin. Kira-kira
sepuluh tahun kemudian baru nampak hasil
tindakan itu dengan turunnya secara
drastis angka kematian akibat PJP. Kini, 45 tahun
kemudian angka itu bahkan telah turun
sampai ±50%!
Begitu juga di banyak negara Barat lain
Departe men Kesehatannya telah melancar-
kan program penanggulangan PJP dengan
hasil mengesankan pula. Permulaan tahun
2006 DepKes negeri Belanda melaporkan
bahwa kedudukan PJP sebagai pemicu
mortalitas utama dewasa ini telah turun
dan tempatnya diambil alih oleh penyakit
kanker. Efek baik ini yaitu berkat kampanye
luas pada dasawarsa terakhir, pada mana
rakyat dianjurkan untuk makan lebih sehat
dengan menitik-beratkan pada diet dengan
mengurangi asupan lemak hewan dan me-
ningkatkan asupan ikan, sayur-mayur dan
buah-buahan.
Dalam Bab-bab berikut akan dibahas ke-
lompok obat yang dipakai pada pence-
gahan dan pengobatan semua gangguan
pembuluh dan jantung. Berturut-turut akan
dibicarakan diuretika,vasodilator,obat-obat
hipertensi, obat-obat penurun kolesterol
dan obat-obat jantung, termasuk antitrom-
botika. Bertalian dengan obat-obat terakhir,
seksi ini ditutup dengan pembahasan he-
matinika (obat kurang darah), walaupun
obat-obat ini tidak langsung berhubungan
dengan obat-obat dari bab-bab lainnya.
14108649_OBAT P(Bab 33)_T-519-531.indd 521 21/04/2015 19:27:13
B A B 3 3
DIURETIKA
Diuretika yaitu zat-zat yang dapat mem-
perbanyak pengeluaran urin (diuresis) me-
lalui kerja langsung terhadap ginjal. Obat-
obat lainnya yang menstimulasi diuresis
dengan memengaruhi ginjal secara tak
langsung tidak termasuk dalam definisi ini,
misalnya zat-zat yang memperkuat kontraksi
jantung (digoksin, teofilin), memperbesar volu-
me darah (dekstran) atau merintangi sekresi
hormon antidiuretik ADH (air, alkohol).
Pembentukan kemih, fungsi ginjal
Fungsi utama ginjal yaitu memelihara ke-
murnian darah dengan mengeluarkan dari
darah semua zat asing dan sisa pertu karan
zat. Untuk ini darah mengalami filtrasi,
di mana semua komponennya melintasi
‘saringan’ ginjal kecuali zat putih telur dan
sel-sel darah. Setiap ginjal mengandung le-
bih kurang 1 juta filter kecil (glomeruli) dan
setiap 50 menit seluruh darah tubuh (±5 liter)
‘dimurnikan’ dengan melewati saringan
itu .
Fungsi penting lainnya yaitu meregula-
si kadar garam dan cairan tubuh. Ginjal
merupakan organ terpenting pada penga-
turan homeostasis, yakni keseimbangan di-
namis antara cairan intrasel dan ekstrasel, serta
pemeliharaan volume total dan susunan cairan
ekstrasel. Hal ini terutama tergantung dari
jumlah ion Na+, yang untuk sebagi an besar
ada di luar sel, di cairan antarsel dan di
plasma darah. Kadar Na+ di cairan ekstra sel
diregulasi oleh Anti Diuretic Hormone (ADH)
di neurohipofisis, lihat Bab 42, Hormon-hor-
mon Hipofisis.
Secara klinis daya kerja diuretika yaitu
ekskresi ion Na+ bersamaan dengan ion
khlorida. NaCl merupakan senyawa yang
menentukan bagi voluma cairan ekstra-
selular dan kebanyakan diuretika bertujuan
mengurangi cairan ekstraselular ini dengan
menurunkan kadar NaCl. namun keseim-
bangan antara asupan NaCl melalui makan-
an dan ekskresinya merupakan peristiwa
penting bagi kehidupan. Na+ balans positif
memicu meningkatnya volume cairan
ekstraselular dan timbulnya udem, sedang
Na+ balans negatif akan menurunkan volume
cairan dan risiko kolaps kardiovaskuler.
Hasil positif atau negatif dari kadar Na+
tubuh merupakan hasil dari asupan Na dari
makanan dikurangi ekskresi melalui urin dan
ekskresi via jalan lain, misalnya berkeringat,
muntah dan sebagainyanya. Kadar Na positf
memicu kadar Na di cairan ekstra-
selular meningkat, memicu rasa dahaga dan
mengurangi pengeluaran air melalui urin via
mekanisme ADH. Peristiwa sebaliknya akan
timbul pada keseimbangan kadar Na negatif.
Teoretis pemakaian diuretika yang berlan-
jut akan memicu defisit total dari kadar
Na+ dalam tubuh, namun mekanisme kom-
pensasi dari ginjal akan mengkoreksi imba-
lans ini dengan menyelaraskan pemasukan
dan pengeluaran Na+. Fenomena ini disebut
diuretic braking yang a.l. mengaktivasi sistem
renin-angiotensin-aldosteron (RAAS).
Prosesdiuresis dimulai dengan mengalirnya
darah ke dalam glomeruli (gumpalan kapi-
ler), yang terletak di bagian luar ginjal (cor-
tex), lihat gambar. Dinding glomeruli inilah
yang bekerja sebagai saringan halus yang se-
cara pasif dapat dilinta si air, garam dan glu-
kosa.Ultrafiltrat yang diperoleh dari filtrasi
dan mengandung banyak air serta elektrolit
ditampung di wadah, yang mengeli lingi se-
tiap glomerulus seperti corong (kapsulBow-
man) dan kemudi an disalurkan ke pipa kecil.
Tubuli ini terdiri dari bagian proksimal dan
distal, yang letaknya masing-masing dekat
dan jauh dari glomerulus; kedua bagian ini
dihubungi oleh sebuah lengkungan(Henle‘s
loop).
Di sini terjadi penarikan kembali secara
aktif dari air dan komponen yang sangat
penting bagi tubuh, seperti glukosa dan ga-
ram-garam, antara lain ion-Na+. Zat-zat ini
dikembalikan pada darah melalui kapiler
yang mengelilingi tubuli. Sisanya yang tak
berguna seperti “sampah” perom bakan meta-
bolisme protein (ureum) untuk sebagian be-
sar tidak diserap kembali.
Akhirnya filtrat dari semua tubuli ditam-
pung di suatu saluran pengumpul (ductus
colligens), di mana teruta ma berlangsung
penyerapan kembali dari air. Filtrat akhir
disalurkan ke kandung kemih dan ditimbun
di sini sebagai urin.
Dengan demikian ultra filtrat yang setiap
harinya diha silkan rata-rata 180 liter oleh
seorang dewasa, dipekatkan sampai hanya
lebih kurang 1 liter urin. Sisanya, lebih dari
99%, direab sorpsi dan dikemba likan pada
darah. Dengan demikian suatu obat yang
cuma sedikit mengurangi reabsorpsi tubuler,
misalnya dengan 1%, mampu melipat gan-
dakan volume urin (menjadi ±2,6 liter).
Mekanisme kerja diuretika
Kebanyakan diuretika bekerja dengan me-
ngurangi reabsorpsi natrium, sehingga pe-
ngeluarannya lewat kemih —dan demikian
juga dari air— diperbanyak. Obat-obat ini
bekerja khusus terhadap tubuli, namun juga di
tempat lain, yaitu di:
1. tubuli proksimal. Ultrafiltrat mengan-
dung sejumlah besar garam yang di sini
direabsorpsi secara aktif untuk kurang
lebih 70%, antara lain ion-Na+ dan air,
Gambar 33-1: Unit ginjal terkecil (nefron) dan
lokasi kerja diuretika di tubuli
begitu pula glukosa dan ureum. sebab
reabsorpsi berlangsung secara propor-
sional, maka susunan filtrat tidak berubah
dan tetap isotonik terhadap plasma. Diu-
retika osmotik (mani tol, sorbitol) bekerja
di sini dengan menghalangi reabsorpsi
air dan juga natrium.
2. lengkungan Henle. Di bagian menaik
dari Henle’s loop ±25% dari semua ion Cl-
yang telah difiltrasi direabsorpsi secara
aktif, disusul dengan reabsorpsi pasif dari
Na+ dan K+ namun tanpa air, hingga filtrat
menjadi hipotonis. Diuretika lengkungan
seperti furosemida, bumetanida dan etakri-
nat, bekerja terutama di sini dengan
merintangi transpor Cl- dan demikian
reabsorpsi Na+. Pengeluaran K+ dan air
juga diperba nyak.
3. tubuli distal. Di bagian pertama segmen
ini, Na+- direabsorpsi secara aktif pula
tanpa air hingga filtrat menjadi lebih cair
dan lebih hipotonis. Senyawa thiazida
dan klortalidon bekerja di tempat ini
dengan memperbanyak ekskresi Na+ dan
Cl- se-kitar 5 - 10%. Di bagian kedua segmen
ini, ion Na+ ditukarkan dengan ion K+
atau -NH4
+; proses ini dikendalikan oleh
hormon















