s, yang dapat
dibagi dalam dua kelompok, yakni:
a. faktor-faktor pertumbuhan eritrosit (eri-
tropoëtik), antara lain epoëtin dan darbepoëtin,
yaitu glikoprotein yang dibuat dengan teknik
rekombinan. Obat ini menstimulasi pem-
bentukan eritrosit dan khususnya diguna-
kan oleh penderita anemia berat yang per-
lu menjalani dialisa akibat insufisiensi gi-
njal kronis. Faktor-faktor ini terlibat pada
proliferasi dan diferensiasi sel-sel batang
di sumsum tulang, yang tumbuh menjadi
eritrosit, lekosit dan trombosit.
b.faktor-faktor stimulasi koloni yang men-
stimulasi terutama pertumbuhan granulosit
neutrofil, a.l. filgrastim dan lenograstim. Zat-
zat ini khusus dipakai pada keadaan neu-
tropeni.
Pegfilgrastim (Neulasta) memiliki t1/2 le-
bih panjang daripada filgrastim sehingga
daya kerjanya lebih lama dan fekuensi pem-
beriannya dapat dikurangi. Dosis: s.k. 6 mg.
MOnOGrAFI
1. Besi
Besi ada dalam makanan, terutama se-
bagai kompleks ferri, yang dalam lambung
diubah menjadi ferroklorida pada mana
vitamin C bertindak sebagai stabilisator. Ka-
dar normalnya dalam serum yaitu antara
11-27 milimol/liter.
Tubuh pria mengandung 2,5-4 g besi (±50
mg/kg) dan wanita sebelum menopause
±38 mg per kg, yang untuk 70% ada
dalam eritrosit sebagai zat warna darah
hemoglobin (Hb). Sisanya disimpan dalam
sel-sel hati, limpa dan sumsum tulang se-
bagai persediaan besi dari tubuh dalam
bentuk kompleks besi-globulin:ferritin dan
hemosiderin (500-1.500 mg). Dari ferritin,
yang melarut dalam air, besi lebih mudah
dimobilisasi untuk pembentukan hemoglobin
daripada hemosiderin yang tidak larut dalam
air. Sebagian lain dari besi masuk ke dalam
darah dan diangkut oleh suatu beta-globulin
(transferrin), yang disintesis dalam hati,
ke sumsum tulang, hati dan sel-sel lainnya
untuk sintesis zat warna otot myoglobin (ber-
peran pada metabolisme otot) dan enzim
besi (metallo-enzim). Tiap molekul transfer-
rin mengikat 2 ion ferri. Dua per tiga dari
seluruh besi dalam tubuh berada dalam
sirkulasi sebagai hemoglobin (2,5-3 g pada
orang dewasa normal). Senyawa besi khusus
dipakai pada keadaan anemia ferriprive
(akibat kekurangan Fe).
Resorpsi. Diet sehari-hari mengandung
10-20 mg besi, yang ada dalam dua ben-
tuk, yaitu dalam daging sebagai haem (= Fe
terikat pada porfirin) dan dalam sayuran se-
bagai senyawa komplek ferri. Haem diserap
lengkap oleh sel mukosa usus. Senyawa
ferri dilarutkan oleh asam dan oleh vitamin
C direduksi menjadi ferro. Hanya ±10% dari
ferro ini diserap oleh usus ±1-2 mg sehari),
yang mencukupi kebutuhan sehari. Vitamin
C meningkatkan penyerapan besi dari ma-
kanan, sebaliknya garam fosfat dan asam
fytat dari serat nabati dapat menurunkannya,
seperti juga resorpsi dari mineral lain. Resorpsi
dapat meningkat melalui suatu mekanisme
kontrol, seperti di masa pubertas, selama ke-
hamilan dan laktasi, juga bila ada defi-
siensi (naik sampai ±40%).
Resorpsi terjadi terutama di bagian atas
usus halus, di mana lingkungan asam me-
ningkatkan daya larut garam ferro dan mem-
pertahankannya dalam bentuk ferro. Garam
ferri lebih buruk resorpsinya, mungkin sebab
terbentuk garam fosfat dan fitat yang sukar
larut. Sesudah diserap, sebagian Fe diikat
pada sel mukosa usus, sedang sebagian
lain masuk ke sirkulasi darah dan diikat pada
transferrin. Dengan transferrin ini, sebagian
besar besi diangkut ke sumsum tulang, di
mana terjadi inkorporasi di dalam molekul
hemoglobin. Sebagian lainnya ditranspor ke
hati dan limpa untuk sintesis myoglobin dan
metallo-enzim yang juga disimpan sebagai a.l.
ferritin. (Ferritin yaitu kompleks larut air
dari besi dan protein, yang ada di plasma
dalam jumlah kecil dan mudah dimobilisasi
untuk pembentukan Hb. Kadar ferritin serum
diukur untuk menentukan jumlah besi yang
tertimbun). Ekskresi berlangsung 30% lewat
urin. Beberapa faktor dapat memengaruhi
resorpsi besi, yaitu:
– senyawa ferro lebih baik diserap daripada
bentuk ferri;
– zat-zat reduktor, misalnya vitamin C,
meningkatkan resorpsi besi;
– alkohol juga meningkatkan resorpsinya.
Kebutuhan besi. Setiap hari 0,5-1 mg besi di-
ekskresi lewat feses, urin dan keringat. Tubuh
kehilangan besi ±1 mg sehari pada laki-laki
melalui saluran pencernaan, misalnya da-
lam empedu. Wanita kehilangan unsur be-
si sewaktu haid ±40 ml darah per bulan,
atau sama dengan lebih kurang 0,7 mg besi/
hari atau rata-rata ± 1,5 mg sampai lebih
dari 2 mg per hari. Kebutuhan besi lebih
meningkat lagi selama kehamilan (sampai
1-2 mg/hari) dan menyusui, juga selama
pertumbuhan meningkat sampai ±0,6 mg.
pemicu lain dari kehilangan unsur besi
yaitu pemakaian obat-obat anti-radang
yang memicu perdarahan dari mukosa
lambung.
Pada orang sehat hanya 5-10% dari jumlah
besi dalam makanan yang diserap, yaitu 10-20
mg sehari, yang mencukupi kebutuhan sehari
1-2 mg. namun selama masa pubertas, haid,
hamil dan laktasi, kebutuhan besi meningkat
(sampai 2-4 mg sehari) dan resorpsinya ju-
ga ditingkatkan melalui suatu mekanisme
kontrol di usus. Bila ada defisiensi besi,
resorpsi bisa naik sampai 120-140%.
Dalam keadaan normal absorpsi besi se-
harinya yaitu ±1 mg pada laki-laki dewasa
dan 1,4 mg pada wanita dewasa; maksimal
3-4 mg dari asupan makanan. Absorpsi me-
ningkat bilamana timbunan (depot) besi
dalam tubuh sudah berkurang atau erithro-
poiesis meningkat atau terganggu.
Kekurangan ini pertama-tama ditampung
oleh persediaan ferritin dalam hati dan sum-
sum tulang, sesudah itu baru dipakai besi
plasma yang terikat pada transferrin. Proses
ini tampak dari menurunnya kadar ferritin
plasma; kemudian sesudah persediaannya ha-
bis, kadar Hb baru menurun. Sebagai kom-
pensasi, nilai Daya Ikat Besi dari transferrin
meningkat (DIB).
Perhitungan kebutuhan tubuh untuk besi
dapat dilakukan dengan rumus berikut:
9 - kadar Hb dalam mmol/l
Kebutuhan Fe = ———————————– x 2,5 + 1
(dalam g) 9
Dalam rumus ini 9 yaitu kadar Hb rata-
rata pada orang dewasa dan 2,5 yaitu
jumlah gram total Fe (dari Hb), sedang
1 merupakan jumlah gram besi yang perlu
untuk mengisi depot yang kosong. Perlu
diperhatikan bahwa hanya 10-30% dari besi
yang diberikan per oral dapat diserap oleh
tubuh. pemakaian oral dan parenteral secara
bersamaan tidak boleh dilakukan, sebab
penjenuhan ferritin dapat memicu
reaksi toksik akut.
Terapi dengan sediaan besi. Umumnya pe-
ngobatan anemia ferriprive dilakukan per oral
dengan suatu garam ferro, yaitu ferrofumarat,
- glukonat, atau -sitrat (Ferromia). Juga de-
ngan garam anorganik ferrosulfat, yang di-
serap lebih lemah. Dosis umum berkisar an-
tara 100 dan 200 mg Fe (elemen) sehari. Risiko
overdosis dan keracunan umumnya tidak
ada, sebab resorpsi dalam usus tergantung
dari kebutuhan, yang diatur oleh suatu
mekanisme kontrol.
pemakaian parenteral besi-sorbitol-sitrat
atau Fe-dextran (Hibiron) tidak menghasilkan
efek yang lebih baik dari pada per oral,
sedang kecepatan naiknya kadar Hb tidak
berbeda banyak. Oleh sebab itu, parenteral
hanya dilakukan bila pengobatan oral ti-dak
mungkin, sebab misalnya malabsorption
syndrome, adanya perdarahan atau keluhan
lambung-usus hebat.
Penyakit kronis tertentu, seperti rema
(artrithis reumatoid), tidak menunjukkan ke-
kurangan besi (kadar ferritin normal dan
nilai DIB rendah), hanya tubuh tidak mampu
memakai depot besinya. Oleh sebab
itu dalam keadaan demikian tidak boleh
diberikan besi.
Lamanya terapi minimal 3 bulan; sesudah
suatu masa latensi dari ±10 hari, kadar Hb
akan naik ±1% (= 0.15 g%) sehari sampai nilai
Hb pulih normal dalam waktu 1-2 bulan.
Kemudian terapi perlu dilanjutkan 1-2 bulan
lagi untuk mengisi depot besi dari tubuh.
Efek samping yang lebih sering terjadi de-
ngan dosis semakin tinggi yaitu pirosis
(heartburn; rasa terbakar dalam lambung dan
tekak), perasaan tidak nyaman di lambung,
mual, muntah, sembelit ringan dan kadang-
kadang diare. Gejala ini diakibatkan oleh sifat
merangsang dari besi dan bisa juga sebab
perubahan pada flora usus. Juga timbul ra-
sa logam dan tinja berwarna hitam. Untuk
mengurangi efek samping ini, sebaiknya
pemakaian obat dimulai dengan dosis ren-
dah yang lambat laun ditingkatkan.
Pada overdosis mekanisme kontrol usus tidak
berfungsi lagi dan dapat terjadi perdarahan
lambung-usus, syok, tachycardia, kerusakan
hati, konvulsi dan koma. Terutama anak
kecil sangat peka terhadap overdosis sebab
mekanisme penangkalan dalam ususnya
belum sempurna. Sebagai antidotum pada
keracunan besi tersedia injeksi dengan zat
pengikat besi desferrioksamin (Desferal).
Kehamilan. Sediaan besi boleh dipakai
per oral selama kehamilan.
lnteraksi. Tetrasiklin mengurangi resorpsi
sebab pembentukan kompleks yang tidak
larut, sehingga pemberian dosis harus dila-
kukan dengan interval 3 jam. Begitupula hal-
nya dengan antasida, garam kalsium dan fosfat
(dalam makanan, susu). Metildopa, penisilin,
probenesid dan senyawa fenotiazin adakalanya
dapat memicu anemia hemolitik akibat
reaksi hipersensitasi.
Vitamin C meningkatkan resorpsi senyawa
ferro sedang penyerapan senyawa kui-
nolon dikurangi oleh besi.
Dosis: oral 2 dd 65 mg Fe a.c. atau antara
jam makan, dari dosis ini diserap rata-rata
25 mg sehari. Dosis lebih tinggi tidak ada
gunanya sebab tidak mempercepat efek.
Anak-anak: maksimal 3 mg/kg sehari dalam
3 dosis. Makanan lazimnya mengurangi
resorpsi, sehingga sebaiknya diminum pada
perut kosong. namun bila timbul gangguan
saluran cerna, sebaiknya diminum pada
waktu makan.
Sediaan besi
1a. Ferrofumarat: Superton, *Nichobion
Garam ini mengandung 33% Fe, yaitu
yang tertinggi dari semua garam ferro. Sifat
merangsangnya juga lebih ringan dan tidak
memicu rasa logam. Oleh sebab itu zat
ini dianggap sebagai pilihan pertama pada
terapi oral.
Dosis: 2 dd 200 mg (= 65 mg Fe) antara jam
makan.
1b. Ferrosulfat: Fero Gradumet, Iberet-500, Fer-
rograd
Bersifat sangat merangsang sebab reaksi
asamnya dan lebih sering memicu
mual dan muntah. Efek samping ini dapat
dikurangi dengan memakai tablet slow-
release atau juga dengan meminumnya seba-
gai larutan sesudah makan.
Dosis: oral 2 dd 325 mg (= 65 mg Fe) atau 1
dd tablet retard 525 mg (Gradumet = 105 mg
Fe) sesudah makan pagi.
1c. Ferroglukonat: *Sangobion, *Inbion, Los-
ferron
Garam organik ini tidak begitu merangsang
seperti ferrosulfat. Sering dipakai dalam
sediaan kombinasi dengan B12 dan asam folat
walaupun secara rasional kombinasi itu
tidak dapat dibenarkan.
Dosis: oral 2 dd 500 mg (= 55 mg Fe) antara
jam makan.
1d. Ferri-sorbitolsitrat: Jectofer
Kompleks ini mengandung 14% Fe dan
distabilkan dengan dekstran. Tidak dapat
diberikan secara i.v., sebab kadar Fe bebas
dalam plasma mudah melampaui kadar
normal.
Dosis: i.m.(dalam) 100 mg Fe sehari (= 2 ml
larutan).
2. Asam folat: vitamin B11, asam pteroilglu-
tamat, acidum folicum
Vitamin dari kelompok B-kompleks (1947)
ini ada dalam gandum whole grain dan
sayuran hijau yang kaya serat gizi (Lat. folium
= daun), antara lain dalam buncis, kacang-
kacangan dan kelapa, juga dalam daging,
ikan, hati dan ragi, sedang dalam buah-
buahan hanya sedikit. Pemanasan yang
lama bisa merusak sampai 90% kadar folat
dalam makanan. Dalam bahan-bahan ini,
folat ada sebagai senyawa konyugasi
(poliglutamat), yang di jaringan diuraikan
kembali oleh enzim.
Fungsi. Dalam hati, asam folat direduksi
menjadi zat aktifnya THFA (tetrahydrofolic
acid), suatu ko-enzim yang penting sekali bagi
sintesis DNA dan RNA serta pembelahan sel.
Lihat juga Bab 8. Sulfonamida, Mekanisme
kerja. Oleh sebab itu sama dengan vitamin
B12, kekurangan folat dapat memicu
anemia primer (megaloblaster). Di negara
berkembang sering kali ada pula anemia
macrositer akibat malnutrisi dengan gejala
seperti seriawan dan diare lemak.
Kebutuhan tubuh yaitu 50-100 mcg sehari,
namun waktu hamil dapat meningkat sampai
300 mcg atau lebih. Selama kehamilan atau
laktasi ±50 mcg folat seharinya “hilang”,
antara lain masuk ke dalam air susu ibu.
Kekurangan folat selama kehamilan dapat
menghasilkan bayi dengan cacat spina bifida,
suatu “neural tube defect”, yaitu adanya celah
pada tulang belakang sebab beberapa ruas
tulang gagal bertaut.
Defisiensi folat. Kekurangan dapat dise-
babkan oleh terganggunya absorpsi folat
dari makanan, lihat di atas. Akibatnya yaitu
pembentukan sel darah juga terganggu, se-
hingga timbul anemia primer, sama dengan
yang diakibatkan oleh defisiensi vitamin B12.
Perbedaannya yaitu defisiensi folat:
– memicu anemia lebih cepat diban-
dingkan defisiensi vitamin B12, sebab
depot asam folat dalam tubuh jauh lebih
terbatas dan
– tidak memicu gangguan neurologi
(pada saraf).
Khasiat. Selain berkhasiat mencegah spina
bifida pada bayi, asam folat diduga dapat
mencegah PJP, khususnya infark jantung.
Pada trombosis vena/arteri berulang terda-
pat kadar homosistein dalam darah, yang
meningkat dan merupakan suatu faktor
risiko untuk penyakit jantung dan pembuluh
(trombosis, infark). Asam amino ini terben-
tuk sebagai produk-antara pada reaksi pe-
ngubahan metionin menjadi sistein, sebagai
berikut:
metionin ——> homosistein ——> sistein
Asam folat dan juga vitamin B6 dan B12,
menurunkan kadar homosistein dan dengan
demikian meniadakan faktor risiko itu
(3). Lihat juga Bab 37, Obat-obat jantung dan
pembuluh, faktor risiko.
Asam folat diperkirakan dapat melindungi
terhadap kanker usus besar. Dahulu para
ahli berpendapat bahwa perlindungan ter-
hadap kanker itu yaitu berkat kadar
serat dalam makanan, namun kini ada
indikasi bahwa mungkin asam folat berperan
atas efek ini.
pemakaian yang terpenting yaitu pre-
ventif untuk memperkecil risiko spina bi-
fida dan untuk terapi anemia megalositer
serta makrositer, juga terhadap kadar homo-
sistein yang meningkat. Sama seperti terapi
dengan vitamin B12, pemakaian nya yang
efektif tergantung pada diagnosis yang te-
pat dan pengertian mengenai mekanisme
penyakitnya.
a. Profilaksis selama kehamilan. Sejak a-
wal tahun 1990-an, asam folat 0,5 mg di-
anjurkan pada wanita yang ingin hamil dan
selama kehamilan sampai minggu kedelapan
untuk memperkecil risiko spina bifida. Di
banyak negara Barat, folat dibubuhi pada
makanan dasar, seperti produk makanan
pagi (cereals), susu dan roti. Bahkan di AS,
sejak 1 Januari 1998, tepung roti diwajibkan
diperkaya dengan folat, yang mungkin sekali
akan disusul oleh Inggris. Di samping itu,
“perkayaan” itu juga dianjurkan untuk
besi dan vitamin lain, untuk mencegah antara
lain timbulnya anemia ferriprive.
b. Terapi anemia megaloblaster akibat de-
fisiensi folat. Sama dengan defisiensi vitamin
B12, setiap penderita defisiensi asam folat dan
anemia megaloblaster harus diteliti dengan
saksama mengenai pemicu nya. Pada pe-
ngobatan ini, perlu diperhatikan beberapa
faktor, yaitu:
– terapi harus sespesifik mungkin. pemakaian
sediaan multi-vitamin harus dihindari,
kecuali bila diperkirakan adanya defisi-
ensi dari beberapa vitamin sekaligus
– salah pengobatan anemia akibat B12. Pem-
berian folat dalam jumlah besar pada
anemia megaloblaster akibat defisiensi
vitamin B12 dapat seolah-olah menyem-
buhkannya. Akan namun tidak menghin-
dari atau menghilangkan defek neurolo-
giks akibat kekurangan vitamin B12 yang
dapat berkembang terus dan menjadi
irreversibel. Umumnya dianggap bahwa
penambahan folat pada terapi dengan B12
tidak ada manfaatnya
– salah-pengobatan pada anemia perniciosa,
sebab meskipun berdaya memperbaiki
kelainan darah, namun memperburuk
atau memicu gejala neurologiknya
c. Pada anemia makrositer (eritrosit mem-
besar) selama terapi rematik dengan antago-
nis folat (metotreksat) untuk mengurangi
efek toksiknya. Begitu pula pada terapi ma-
laria dengan pirimetamin.
Resorpsi dari usus lancar dan segera diubah
enzimatik menjadi zat aktif 5-metil-THFA,
yang diangkut ke jaringan. Pengubahan ini
pada dosis di bawah 1 mg praktis lengkap,
namun pada dosis tinggi hanya sedikit. Terikat
kuat pada protein plasma; ekskresinya
melalui urin.
Efek samping jarang terjadi dan berupa re-
aksi alergi (demam, ruam kulit). Dosis tinggi
dapat memicu gangguan lambung-
usus, sukar tidur, iritasi dan aktivitas ber-
lebihan.
Dosis: anemia megaloblaster permulaan
1-2 dd 0,5 mg, pemeliharaan 1 dd 0,1-0,5 mg.
Untuk memperkecil risiko spina bifida 0,5 mg
dimulai minimal 4 minggu sebelum pembuahan
(konsepsi) sampai dengan minggu ke-8 dari ke-
hamilan.
* Asam folinat (acidum folinicum, citrovo-
rumfactor, Rescuvolin)
Zat ini yaitu derivat formil dan metabolit
dari asam folat, yang merupakan campuran
rasemis (1950). Hanya bentuk levonya yang
aktif. pemakaian nya selama terapi MTX
dan fluor-urasil dalam dosis tinggi dapat me-
ngurangi efek samping dan memperkuat
efeknya. Juga pada anemia megaloblaster
akibat defisiensi folat, namun untuk ini pe-
nggunaannya tidak lebih menguntungkan
dibandingkan dengan asam folat, sebab
reduksinya menjadi THFA tidak terhambat.
sesudah diserap, asam ini segera diubah
menjadi zat aktif 5-metil-THFA pula dengan
plasma-t½ rata-rata 6,5 jam.
Dosis: sebagai antidotum pada overdosis
antagonis folat (rescue therapy) i.v. atau oral 4
dd 15 mg selama 2-3 hari (garam Ca).
3. Sianokobalamin: vitamin B12, extrinsic factor
Vitamin B12 yaitu nama umum untuk
se-jumlah senyawa yang memiliki efek
biologis dari sianokobalamin. Di alam dan
dalam tubuh vitamin B12 ada terutama
sebagai hidroksokobalamin dan adenosil-
kobalamin dan sedikit sebagai metilkobala-
min. Semua zat ini mudah larut dalam air.
Vitamin B12 (1950) memiliki struktur yang
mirip porfirin dengan 8 cincin (termasuk 4
cincin pyrrol), yang saling terikat dengan
atom kobal di pusatnya. (Lihat rumus
bangun). Pada atom Co ini terikat gugusan
-CN, -OH dan -CH3 pada masing-masing
siano-, hidrokso- dan metilkobalamin.
Vitamin B12 ada dalam makanan hewani
(daging, ikan, hati, telur, susu) dalam
bentuk suatu kompleks protein, namun tidak
ada dalam tumbuhan. Tahan terhadap
pemasakan dan kini diperoleh dari biakan
Streptomyces.
Fungsinya. Vitamin B12 memegang peran-
an penting sebagai ko-enzim pada sintesis
asam inti (nukleat, DNA/RNA), juga pada
pembelahan sel yang terutama memengaruhi
jaringan yang tumbuh pesat. Misalnya sistem
haemopoiëtik (pembentukan darah) yang
sangat peka terhadap kekurangan vitamin B12
dan folat.
Kebutuhan. Tubuh mengandung ±2,5 mg
B12 dengan 60% ada dalam hati. Kebu-
tuhan sehari pada orang sehat yaitu 2-5
mcg, minimal diperkirakan 1-2 mcg. Dari
diet sehari-hari yang rata-rata mengandung
5-30 mcg vitamin B12, hanya 2-3 mcg diserap
oleh tubuh. Selama kehamilan dan laktasi,
kebutuhan ini meningkat sampai masing-
masing 3 dan 3,5 mcg. RDA dewasa yaitu
2,5 mcg/hari.
Defisiensi sangat jarang terjadi dan da-
pat disebabkan oleh diet yang miskin B12
(vegetarir), atau resorpsi terganggu akibat
berbagai sebab, antara lain sebab kekurang-
an sekresi intrinsic factor dalam getah lam-
bung (lihat di bawah Resorpsi). Defisiensi
pertama-tama nampak sebagai anemia pri-
mer dengan terbentuknya eritrosit abnormal
dan penderita menjadi sangat anemis
(pernicious anemia).
pemakaian khusus pada defisiensi B12 se-
telah diadakan diagnosis yang cermat dan
saksama, misalnya pada anemia perniciosa.
Juga untuk mencegah anemia primer pada
keadaan malabsorpsi, antara lain sesudah re-
sectio lambung (gastrectomi), atau pada ve-
getarir.
Pada anemia yang belum didiagnosis
dengan pasti tidak dianjurkan pemberian
asam folat bersamaan, sebab asam ini dapat
menyelubungi diagnosis anemia perniciosa.
Dalam dosis oral tinggi sekali (1000 mcg), B12
dapat diserap sebanyak 1,2% tanpa adanya
intrinsic factor.
Gangguan psikis pada lansia sering kali
dapat ditangani secara efektif dengan vita-
min B12, dengan perbaikan gejala depresi,
apati dan lemah ingatan. Begitu pula pada
perkiraan adanya anemia makrositer
(dengan eritrosit besar) atau gangguan saraf
yang tidak jelas pemicu nya.
Vitamin B12 terutama dipakai sebagai
injeksi, sebab peroral efeknya tidak tetap,
juga tidak bila dikombinasi dengan intrinsic
factor (serbuk pylorus). pemakaian nya kini
sudah banyak berkurang, sebab hidrok-
sokobalamin lebih menguntungkan.
Untuk pemakaian yang efektif hendaknya
diperhatikan prinsip bahwa terapi harus ses-
pesifik mungkin. Diterapkannya terapi vita-
min “shotgun” pada defisiensi vitamin B12
dengan sediaan multivitamin dapat mem-
bahayakan. Ada kemungkinan bahwa asam
folat diberikan sekian banyaknya, sehing-
ga berefek perbaikan hematologik, namun
defisiensi vitamin B12 diselubungi dan ber-
langsung terus. Keadaan demikian dapat
memicu berkembangnya atau berlan-
jutnya kerusakan saraf.
Resorpsinya sangat rumit. Dalam lambung
vitamin ini diikat pada suatu protein menjadi
kompleks, yang dipecah lagi oleh enzim
pankreas. Untuk transpor dan absorpsi yang
sempurna, vitamin B12 perlu diikat pada
intrinsic factor (IF) (Castle, 1953). IF ini ada-
lah suatu glikoprotein (dengan BM > 44.000),
yang disekresi bersama ion hidrogen (H+)
oleh sel parietal lambung. Langkanya unsur
ini dapat disebabkan oleh atrofia selaput
lendir lambung atau sebab pembedahan (2-3
tahun sesudah reseksi).
Dalam ileum IF dilepaskan, lalu B12 diserap
secara aktif oleh mukosa, padamana ion Ca
dan lingkungan netral memegang peranan.
Dalam darah, B12 terikat pada protein pem-
bawa transkobalamin dan diangkut ke ginjal,
hipofisis, jaringan dan terutama ke hati, di
mana ±90% ditimbun (1-10 mg). Persediaan
ini mampu menampung kegagalan absorpsi
selama lebih dari 2 tahun sebelum gejala
defisiensi nampak, sebab kehilangan sehari-
harinya yaitu kecil (1-2 mikrogram). Dari
hati, vitamin B12 secara bertahap dilepaskan
kembali ke dalam darah sesuai kebutuhan
untuk pembentukan eritrosit. Biotransformasi
praktis tidak terjadi; ekskresinya berlangsung
melalui urin dan empedu; di ileum zat ini
diserap kembali sesudah terikat pada intrinsic
factor. berdasar siklus enterohepatik ini,
plasma-t½-nya panjang, ±12 bulan.
Efek samping dapat berupa reaksi alergi ter-
hadap kobal, antara lain eksem dan eksantem.
Dosis: pada defisiensi i.m. 0,5-1 mg se-
minggu, pemeliharaan 1 mg setiap 2 bulan.
Pada gejala neurologik 1-2x seminggu 0,5-1
mg, pemeliharaan 1 mg sebulan. Oral: 2-3 dd
1 mg, profilaktis dalam sediaan multivitamin
1-10 mcg/hari.
* Hidroksokobalamin: hidrokobamin
Derivat hidroksi ini (1962) lebih lambat
resorpsi dan ekskresinya, sebab lebih kuat
terikat pada protein darah, sehingga kerjanya
pun lebih lama. Pada pemakaian parenteral
menunjukkan puncak plasma yang lebih
tinggi daripada sianokobalamin. Oleh sebab
itu, praktis sudah mendesak sianokobalamin.
Dosis: pada defisiensi i.m. atau s.k. 2 x se-
minggu 1 mg selama 5 minggu, lalu 1 mg
setiap 2 bulan. Oral 1-3 mg sehari.
* Cobamamide (dibencozide, *Superton) yaitu
metabolit aktif dari vitamin B12 yang bekerja
sebagai ko-enzim. Ko-enzim yaitu bagian
non-protein dari suatu enzim yang berfungsi
sebagai aktivator, lihat Bab 53. Vitamin.
Dosis: oromukosal 1500 mg dalam 1-2 dosis.
4. Epoetin alfa (Epogen, Procrit, Binocrit,
Eprex) yaitu glikoprotein dengan 165
asam amino dan berat mollekul 30.400
Dalton. Dibuat dalam kultur sel dengan
memakai teknologi DNA rekombinan.
Memiliki efek imunologik dan biologik sama
dengan eritropoietin endogen/human dan
dipakai untuk pengobatan anemia pada
penderita gangguan ginjal kronis, pasien HIV
dan penderita kanker.
Eritropoietin yaitu suatu glikoprotein
yang terutama dibentuk dalam ginjal dan
merangsang produksi sel-sel darah merah
(eritropoese). Jumlahnya menurun pada ke-
adaan gagal ginjal atau pemakaian obat-
obat tertentu, misalnya zidovudin (HIV) dan
kemoterapi pada kanker. T½ i.v. 4 jam dan s.k.
24 jam.
Efek samping yang tersering yaitu hiper-
tensi, sakit kepala, tachycardia, mual/mun-
tah, pendek napas, hiperkalemia dan diare.
Juga kemungkinan potensial untuk imu-
nogenetik seperti lazimnya dengan protein-
protein terapeutik.
Dosis: permulaan bagi pasien gagal ginjal 3
kali per minggu 50-100 unit/kg s.k. atau i.v.
5. Darbepoetin (Aranesp, Amgen)
Faktor pertumbuhan hematopoetik ini
juga dipakai bagi penderita anemia aki-
bat gagal ginjal kronis. T½ s.k. 73 jam dan
i.v. 21 jam.Dibandingkan dengan epoetin
fekuensi dosisya lebih rendah sebab waktu
eliminasinya dari tubuh lebih lama.
Efek samping: sangat sering hipertensi,
udema dan alergi; juga sering kali gangguan
kulit eritema, CVA dan tromboemboli.
Dosis: tergantung dari hasil monitoring
kadar Hb dan diberikan perlahan-lahan
melalui injeksi s.k. atau i.v.
SALURAN
PERNAPASAN
Dalam seksi ini akan dibahas dua bab me-
ngenai penyakit-penyakit saluran perna-
pasan, yang bersama dengan penyakit infeksi
menempati posisi teratas dalam urutan/pola
penyakit di negara kita .
Bab 40 akan membahas gangguan-gangguan
yang dahulu dinamakan CARA (Chronic
Aspecific Respiratory Affections). CARA menca-
kup antara lain asma yang berlatar belakang
sebab-sebab alergis maupun non-alergis,
juga bronkitis yang umumnya disebabkan
oleh infeksi bakteri. Dewasa ini istilah CARA
sudah dibagi menjadi Asma dan COPD
(Chronic Obstructive Pulmonary Diseases). Bab
41 akan menelaah fisiologi batuk dan meng-
inventarisasikan jenis-jenis obat batuk yang
sangat banyak ragamnya dan dipakai
terhadap batuk yang produktif maupun non-
produktif.
OBAT ASMA DAN COPD
Istilah CARA atau Chronic Aspecific Respiratory
Affections mencakup semua penyakit saluran
pernapasan yang bercirikan penyumbatan
(obstruksi) bronchi disertai pengembangan
mukosa (udema) dan sekresi dahak (sputum)
berlebihan. Penyakit-penyakit itu me-
liputi berbagai bentuk penyakit beserta
peralihannya, yaitu asma, bronchitis kronis
dan emfisema paru yang gejala kliniknya
dapat saling menutupi (overlapping). Gejala
terpentingnya a.l. sesak napas (dyspnoe) saat
mengeluarkan tenaga atau selama istirahat
dan/atau sebagai serangan akut, juga ba-
tuk kronis dengan pengeluaran dahak ken-
tal. sebab gangguan itu memiliki
mekanisme pathofisiologi yang berbeda-
beda dengan penanganan yang juga tidak
sama, maka biasanya telah dilakukan
pemisahan antara asma dan bronchitis kro-
nis + emfisema, yang kini dinamakan COPD
(Chronic Obstructive Pulmonary Diseases). Isti-
lah ini selanjutnya akan dipakai dalam
uraian bab ini. ,
Walaupun dalam praktik diferensiasi ini
sering kali tidak mudah dilakukan, namun
sebetulnya memiliki konsekuensi langsung
dan esensial untuk cara pengobatan dari
kedua kelompok penyakit ini. Per definisi
asma yaitu steroidresponsif, artinya dapat
ditangani dengan terapi kortison, terutama
sebab dasar dari penyakit ini yaitu proses
peradangan eosinofil. namun sebaliknya be-
berapa penelitian jangka waktu panjang
menunjukkan bahwa pemakaian steroid
inhalasi pada COPD tidak memengaruhi
fungsi paru.21-25, walaupun jangka waktu
pemburukkan dari gejalanya (exacerbatio)
dapat berkurang.33 Lihat selanjutnya pada
pembahasan obat kortikosteroida inhalasi
(ICS).
Obstruksi bronchi (Lat. obstructio = pe-
nyumbatan).
Penyumbatan bronchi dengan sesak napas,
yang merupakan sebab utama asma dan
COPD, diperkirakan dapat terjadi menurut
mekanisme berikut, yaitu berdasar hiper-
reaktivitas bronchi (HRB), reaksi alergi atau
infeksi saluran pernapasan.
a. Hiperreaktivitas bronchi (HRB) Pada
semua penderita asma dan COPD terda-
pat hiperreaktivitas bronchi. HRB yaitu
meningkatnya kepekaan bronchi, dibanding-
kan saluran pernapasan normal, terhadap
zat-zat merangsang tak-spesifik yang dihisap
dari udara. Sebagian penderita asma juga
mengidap kepekaan berlebihan terhadap
stimuli/rangsangan spesifik yang pada
orang sehat tidak memberikan reaksi. HRB
aspesifik selalu timbul bersamaan dengan
reaksi peradangan di saluran pernapasan.
* Stimuli. Ada beberapa jenis stimuli, yaitu
rangsangan fisis (perubahan suhu, dingin
dan kabut), rangsangan kimiawi (polusi
udara: gas-gas pembuang, sulfurdioksida,
ozon, asap rokok), rangsangan fisik (exertion,
hiperventilasi) dan rangsanganpsikis (emosi
dan stress). Juga rangsangan farmakologik
(histamin, serotonin, asetilkolin, beta-blocker,
asetosal dan NSAIDs lainnya), termasuk
obat-obat yang dapat membebaskan histamin
(histamin liberators), seperti morfin, kodein,
klordiazepoksida dan polimiksin. Akibat
stimuli ini terhadap reseptor sensoris di
selaput lendir dan otot, serta/atau stimulasi
dari sistem kolinergik, maka terjadilah suatu
reaksi kejang dengan obstruksi umum pada
saluran pernapasan.
b. Alergi. Pada sebagian pasien asma, di
samping HRB aspesifik, juga ada alergi.
Dengan ini dimaksudkan bakat keturun-
an untuk membentuk antibodies terhadap
antigen (alergen) tertentu yang mema-
suki tubuh. Antibodies ini dari tipe IgE
(imunoglobulin type E) juga disebut rea-
gin, mengikat diri pada mastcells a.l. di sa-
luran pernapasan, mata dan hidung. Bila-
mana jumlah IgE sudah cukup besar, maka
pada waktu alergen yang identik masuk
lagi ke dalam tubuh, terjadilah pengga-
bungan antigen-antibody. Mastcells pecah
(degranulasi) dan segera melepaskan media-
tornya, a.l. histamin. Akibatnya yaitu
bronchokonstriksi (bronchospasm) dengan pe-
ngembangan mukosa (udema) dan hiperse-
kresi dahak/mucus, yang merupakan gejala
khas serangan asma.
Bila pelepasan mediator itu di atas
bukannya setempat namun menyeluruh (ge-
neral release), maka dapat timbul anaphylaxis,
suatu reaksi hebat yang dapat mengancam
jiwa, misalnya sebab sengatan tawon, in-
jeksi penisilin (anaphylactic shock). Pada kea-
daan demikian perlu segera diberikan injeksi
adrenalin i.m. yang diulang tiap 5 menit
sampai ada perbaikan tekanan darah dan
detak nadi. Di samping pemberian oksigen
juga suatu antihistaminikum (klorfeniramin)
dapat diberikan i.v. Pada anafilaksis parah
atau yang berulang kali, diberikan injeksi
hidrokortison i.m. atau i.v.
* Alergen inhalasi yang masuk ke tubuh
lewat pernapasan merupakan pemicu uta-
ma reaksi alergi itu di atas. Penderita
asma menunjukkan kepekaan berlebihan
terhadap terutama debu rumah, yang me-
ngandung a.l. tungau (housedust mite) dan
sisik/bulu binatang piaraan (animal danders),
begitu pula terhadap sari bunga (pollen)
berbagai tumbuhan dan pohon, jenis tepung
dan jamur.
* Alergen oral dan lokal dikenal pula, yang
memasuki tubuh melalui mulut atau kulit.
Banyak bahan makanan mengandung aler-
gen dan juga obat-obat tertentu atau meta-
bolitnya dapat memicu reaksi alergi.
Lihat selanjutnya Bab 51, Anti-histaminika,
Reaksi alergi.
c. Infeksi saluran pernapasan dapat me-
nyebabkan gejala radang dengan perubahan
di selaput lendir, yang pada pasien asma
dan COPD memperkuat HRB dan broncho-
konstriksi serta mempermudah penetrasi
alergen. Akhirnya dapat terjadi suatu ling-
karan setan dengan infeksi yang selalu
kambuh akibat obstruksi bronchi, yang
memudahkan infeksi itu .
1. ASMA (ASThMA
BRONChIALE)
Asma atau bengek yaitu suatu penyakit
alergi yang bericirikan peradangan steril kronis
dari alat pernapasan, yang khas ditandai oleh
aktivasi mastcells, infiltrasi dari eosinofil dan
T helper 2 (TH2) limfosit. (Barnes, 2008b)39.
Mastcells yang diaktivasi oleh alergen dan
rangsangan fisik melepaskan mediator pe-
nyempit bronchus seperti histamin, leuko-
trien D4 dan prostaglandin D2.
Peningkatan jumlah mastcel dalam otot
alat pernapasan merupakan ciri khas dari
asma.
Peradangan kronis dapat memicu
perubahan struktural dari jaringan saluran
pernapasan a.l. meningkatnya jumlah sel otot
licin, saluran darah dan sel-sel pembentuk
mukus.
Biasanya penyakit ini timbul pada waktu
anak-anak, kemudian bisa menghilang me-
njelang dewasa untuk timbul kembali pada
usia dewasa. Secara khas gangguan ini mem-
perlihatkan respons pengobatan yang baik
terhadap senyawa kortikosteroid dan obat
bronchodilator.
Penyakit ini disertai serangan sesak napas
akut secara berkala, mudah tersengal-sengal
dan batuk (dengan bunyi khas). Ciri lain
yaitu hipersekresi dahak yang biasanya
lebih parah pada malam hari dan meningkat-
nya ambang rangsang (hiperreaktivitas)
bronchi terhadap rangsangan alergik mau-
pun non-alergik. Faktorfaktor genetik ber-
sama faktor lingkungan berperan pada
timbulnya gejala-gejala itu .
biasanya penyakit asma (ringan) ini
stabil, namun asma yang parah sudah timbu
sejak awal dan lebih memperlihatkan gejala
COPD serta kurang memberikan respons
terhadap pengobatan dengan kortikosteroida
(Wenzel and Busse, 2007)40.
Berlainan dengan COPD, obstruksi saluran
napas pada asma umumnya bersifat reversibel
dan serangan biasanya berlangsung beberapa
menit sampai beberapa jam. Di antara dua
serangan, pasien tidak menunjukkan gejala
apa pun.
Status asthmaticus yaitu serangan asma
hebat dengan penciutan bronchi lebih kuat
dan bertahan abnormal lama (sampai lebih
dari 24 jam). Ciri-ciri lainnya yaitu tachy-
cardia dan tak bisa berbicara lancar (tersendat-
sendat) akibat napas tersengal-sengal.
Asma alergik biasanya sudah dimulai
sejak masa kanak-kanak dan didahului oleh
gejala alergi lain, khususnya eksem. Faktor
keturunan dan resam (konstitusi) tubuh me-
megang peranan penting pada terjadinya
jenis asma ini. Eksem ini umumnya membaik
sesudah anak-anak mencapai usia remaja,
Gambar 40-0: Saluran pernapasan dalam keadaan normal
dan sewaktu serangan asma.
namun acapkali kambuh kembali pada usia
20-40 tahun, sebab peradangan dari saluran
pernapasan tetap bertahan walaupun tanpa
gejala.
Pasien asma memiliki kepekaan terhadap
infeksi saluran pernapasan dan kebanyakan
terhadap virus. Akibatnya yaitu peradangan
bronchi yang juga dapat memicu se-
rangan asma. Bronchitis asmatik demikian
biasanya menyerang manula.
pemicu
Serangan asma disebabkan oleh peradangan
steril kronis dari saluran pernapasan dengan
mastcells dan granulosit eosinofi l sebagai pe-
meran penting. Pada orang-orang yang peka
terjadi obstruksi saluran pernapasan yang
difus dan reversibel. Di samping itu juga
ada hiperreaktivitas bronchi terha-
dap berbagai stimuli (a)spesifi k yang dapat
memicu serangan. Stimuli terkenal yaitu
zat-zat alergen, terutama partikel-partikel
tinja dari tungau, pollen, spora jamur (Asper-
gillus fumigatus), zat-zat perangsang (a.l. asap
dan SO2 dari polusi kendaraan, asap rokok,
uap, debu). Begitupula hawa dingin (kering),
emosi, kelelahan dan infeksi virus (mis.
rhinovirus, virus parainfluenza), juga obat-
obat tertentu (asetosal, β-blocker, NSAIDs).
Pada serangan yang hebat penyaluran
udara dan oksigen ke darah menjadi sede-
mikian lemah, sehingga penderita membiru
kulitnya (cyanosis). Sebaliknya, pengeluaran
napas dipersulit dengan meningkatnya ka-
dar CO2 dalam darah, yang memperkuat
perasaan terengah-engah dan kecemasan.
Kontak dengan zat-zat tertentu (mis. bahan-
bahan kimia) di lingkungan pekerjaan
(industri) dapat memicu timbulnya asma
yang berkaitan dengan pekerjaan (occupa-
tional asthma). Hal ini disebabkan sebab zat-
zat itu dapat memicu antibodies
IgE spesifik.
* Peranan lekosit. Di membran mukosa sa-
luran pernapasan dan alveoli ada banyak
makrofag dan limfosit. Makrofag berperan
penting pada pengikatan pertama alergen
dan ‘penyajiannya’ kepada limfosit (lihat Bab
49, Dasar-dasar Imunologi). Makrofag juga
dapat melepaskan mediator peradangan, se-
perti prostaglandin, tromboksan, leukotriën
dan PAF (platelet activating factor). T-helper
cells (melepaskan sitokinnya, a.l. interleukin
IL-3 dan IL-5, yang mungkin berperan CD4+)
penting pada migrasi dan aktivasi mastcells
dan granulosit. Lagipula IL-4 mendorong
limfosit-B untuk membentuk IgE. Aktivitas
makrofag dan limfosit itu dihambat oleh
kortikosteroida, namun tidak oleh adrenergika.
* Mastcells. Pada penderita asma, mastcells
bertambah banyak di sel-sel epitel serta mu-
kosa dan melepaskan mediator vasoaktif
kuat pula, seperti histamin, serotonin dan bra-
dikinin, yang mencetuskan reaksi asma akut.
Prostaglandin dan leukotriën mulai dibentuk
untuk dilepaskan kemudian. Diperkirakan
bahwa mastcells juga dapat didegranulasi
oleh rangsangan aspesifik, misalnya pada
waktu hawa dingin pelat darah bisa meng-
gumpal yang berakibat terbentuknya IgE
(atau IgM).
Mediator (zat perantara) yang berkhasiat
vasokonstriktif terhadap otot polos selain
prostaglandin, tromboksan dan leukotriën, juga
mencakup neuropeptida dan PAF. LTB4 dan
PAF dapat menstimulasi chemotaxis, artinya
dapat menarik granulosit ke tempat pera-
dangan. Senyawa ini memegang peranan
penting pada proses pathogenesis asma,
yang mekanisme eksaknya belum diketahui.
Diagnosis. Pada gangguan asma HRB ber-
peran sentral, sehingga suatu ukuran bagi HR
yang meningkat yaitu variabilitas dari nilai
PEF(peak expiratory flow). Untuk menentukan
PEF dipakai suatu tabung khusus dengan
diameter ±4 cm berskala yang berisi suatu
pelocok (serupa piston yang bergerak keluar
masuk). Pasien meniup ke dalam tabung
hingga pelocok didorong ke depan dan lalu
pada dinding tabung dapat dibaca volume
embusan napasnya. Pada asma ringan, vari-
abilitas PEF yaitu <20%, sedang asma
berat menunjukkan nilai sampai 30%.
Penanganan
Tindakan umum. Tujuan utama yaitu men-
cegah reaksi antigen-antibody serta serangan as-
ma dan menurunkan HRB dengan menghi-
langkan faktor pemicu. Asma menekan dan
memperlambat pertumbuhan, maka pena-
nganannya pada anak-anak juga dimaksud-
kan agar anak bertumbuh normal.
Tindakan yang dapat diambil berupa
menjauhi sebanyak mungkin faktor pemicu
serangan (sanitasi), berhenti merokok, hipo-
sensibilisasi, latihan fisioterapi, mengurangi
kepekaan terhadap alergen eksogen dan pre-
vensi infeksi virus atau bakteri.
Begitupula dengan obat-obat profilaksis
kromoglikat dan nedokromil, antihistaminika (ke-
totifen dan oksatomida) serta kortikosteroida.
* Sanitasi, yaitu menyingkirkan semua rang-
sangan luar, terutama hewan piaraan (burung,
anjing, kucing, kelinci) dan debu rumah.
Rumah harus dibersihkan setiap hari dengan
saksama, terutama kasur, sprei dan selimut
yang biasanya penuh dengan tungau (house-
dust mite). Reduksi dari alergen juga dapat
dicapai dengan penyaringan udara. Begitu
pula faktor aspesifik, seperti perubahan suhu,
hawa dingin, asap dan kabut harus dihindari,
juga obat pembebas histamin.
* Berhenti merokok, sebab asap rokok (me-
rokok aktif maupun pasif) dapat menim-
bulkan bronchokonstriksi dan memperbu-
ruk asma, terutama pada anak-anak.30 Perlu
pula menghindari zat-zat lain yang dapat
merangsang saluran pernapasan.
* Fisioterapi: menepuk-nepuk bagian dada
(tapotage) untuk mempermudah pengeluar-
an dahak (ekspektorasi) dan juga latihan per-
napasan serta relaksasi. Usaha ini terutama
bermanfaat bagi anak-anak.
* Hiposensibilisasi dilakukan bila kontak
dengan alergen, seperti pollen dan sisik/bulu
binatang (danders), tidak dapat dihindari.
Untuk mengurangi hipersensitasi terhadap
alergen itu , pasien diberi sejumah in-
jeksi dengan ekstrak alergen dalam kadar
meningkat. Imunoglobulin yang terbentuk
(terutama IgG dan IgA) akan mengikat aler-
gen baru, sehingga reaksi antara alergen dan
IgE tidak terjadi. Terapi ini paling efektif pada
alergi terhadap pollen rumput-rumputan
(Pollinex), lihat juga Bab 51. Antihistaminika.
* Prevensi infeksi viral, misalnya dengan
jalan vaksinasi (influenza) atau memakai
obat-obat yang dapat meningkatkan ketahan-
an tubuh, seperti tingtur Echinacea.
* Prevensi infeksi bakteriil dapat dilakukan
pada pasien asma (dan bronchitis), namun tidak
berguna terhadap infeksi virus. Umumnya
diberikan amoksisilin atau doksisiklin selama
10-14 hari.
* Prevensi prenatal. Ibu yang sedang me-
ngandung perlu menghindari zat-zat pemicu
alergi, makanan tertentu dan asap rokok (aktif
maupun pasif) yang dapat memengaruhi ja-
nin. Pemberian ASI pada bayi menurunkan
risiko terhadap asma dan ekzem, terutama
pada anak-anak dari keluarga yang memiliki
riwayat alergi.31
Pengobatan
Pengobatan asma dan bronchitis dapat di-
bagi atas terapi serangan akut dan terapi pe-
meliharaan untuk mencegah serangan atau
memburuknya penyakit.
1. Serangan asma akut biasanya dapat di-
hentikan dengan suatu bronchospasmolitikum
untuk membebaskan kejang bronchi. Pilihan
pertama yaitu suatu β2-mimetikum (β2-
agonis) per inhalasi, misalnya salbutamol
atau terbutalin dengan efek cepat (sesudah
3-5 menit). Bila perlu dibantu dengan sup-
positoria aminofilin. Obat yang tak-selektif,
seperti efedrin dan isoprenalin, dapat pula
diberikan sebagai tablet, namun efeknya baru
nampak sesudah lebih kurang 1 jam. Bila
sesudah 15 menit belum menghasilkan efek,
inhalasi dapat diulang sekali lagi. Jika juga
tidak memberikan efek, pasien perlu diberi
obat secara injeksi intravena: aminofilin dan/
atau salbutamol. Pada serangan hebat, se-
ring kali ditambahkan hidrokortison atau
prednison i.v.
Sebagai tindakan terakhir dapat diinjek-
sikan adrenalin, yang dapat diulang 2 kali
dalam waktu satu jam.
*Status asthmaticus. Merupakan serangan
asma akut dan hebat yang bisa bertahan
lama sekali. Efek suatu bronchodilator pada
keadaan ini hanya kecil dan lambat, yang
disebabkan oleh blokade reseptor-beta seba-
gai akibat umum dari suatu infeksi saluran
pernapasan. Keadaan demikian perlu dio-
bati secara khusus di rumah sakit dengan
pemberian oksigen dan minum banyak air,
hidrokortison i.v. dan bila perlu bikarbonat.
Lazimnya pasien diberi injeksi i.v. dengan
salbutamol dan/atau aminofilin serta hi-
drokortison dalam dosis besar (yang diper-
kirakan lebih cepat kerjanya daripada pred-
nison). Perlu juga diambil tindakan-tin-
dakan tambahan lainnya untuk melawan
efek samping dari status asthmaticus. Pada
serangan yang tidak dapat dihentikan dengan
injeksi adrenalin sebagai tindakan terakhir
(ultimum remedium) umumnya injeksi i.v.
dengan novocain 2% (atau lidocain) efektif.
Terapi pemeliharaan
Pengobatan pemeliharaan biasanya
dilakukan secara bertingkat, berdasar
prinsip (baru) bahwa asma yaitu suatu pe-
nyakit peradangan, maka obat antiradang per-
lu dipakai sedini mungkin. Di samping
itu, pemakaian bronchodilator hendaknya
dibatasi pada terapi serangan dan/atau da-
lam kombinasi dengan obat antiradang. Da-
lam garis besar sering kali ditempuh urutan
sebagai berikut.
a. Asma ringan (serangan < 1x sebulan) dapat -
bila perlu - diobati dengan suatu β2-mime-
tikum yang bekerja singkat sebagai mo-
noterapi, misalnya salbutamol atau terbu-
talin (1-2 inhalasi/minggu);
b. Asma sedang (serangan 1-4x sebulan) per-
lu diobati dengan obat yang menekan
peradangan di saluran pernapasan, yaitu
kortikosteroida-inhalasi, seperti beklometa-
son, flutikason atau budesonida dalam do-
sis rendah (200-800 mcg/hari). Bila per-
lu dikombinasi dengan salbutamol atau
terbutalin sampai 3-4 inhalasi/hari atau
dengan obat pencegah kromoglikat dan
nedokromil, juga per inhalasi. Untuk anak-
anak dengan asma yang bercirikan aler-
gi dapat diberikan per oral ketotifen atau
oksatomida, yang juga berkhasiat mence-
gah degranulasi mastcells.
c. Asma agak serius (serangan > 1-2 x se-
minggu) dapat ditanggulangi oleh korti-
kosteroida dengan dosis lebih tinggi
(800-1200 mcg/hari) dan dikombinasi
dengan β2-mimetika atau antikolinergika
(ipratropium) sebagai bronchodilator un-
tuk mengurangi obstruksi bronchi.
d. Asma serius (serangan > 3 x seminggu)
Walaupun pemakaian ICS dalam dosis
cukup tinggi, namun pada malam hari
masih timbul sesak napas (dyspnoe). Da-
lam hal ini dapat diberikan β2-mimeti-
kum kerja-panjang sebagai inhalasi (sal-
meterol, formoterol). Bila perlu obat ini
dapat dikombinasi dengan teofilin dalam
bentuk slow-release.
* Inhalasi yaitu suatu cara pemakaian
adrenergika dan kortikosteroida yang mem-
berikan beberapa keuntungan dibandingkan
pengobatan per oral. Pemberian obat mela-
lui inhalasi merupakan cara terpilih bagi
kebanyakan obat yang memerlukan efek
langsung pada saluran pernapasan, khu-
susnya pada penderita asma dan COPD
(Berger, 2009)42‘ Untuk ini kehalusan partikel
merupakan hal yang sangat penting.
Efeknya lebih cepat, dosisnya jauh lebih
rendah dan tidak diresorpsi ke dalam darah
sehingga risiko efek samping sistemiknya
ringan sekali. Ada beberapa cara untuk mem-
berikan obat sebagai inhalasi, antara lain
43:
a. Metered Dose Inhaler: obat disemprotkan
dari suatu wadah di bawah tekanan su-
atu propellant yang ozon-friendly (hidro-
fluoroalkan, HFA).
b. Dry Powder Inhaler (Turbuhaler): obat di-
hisap sebagai serbuk halus.
c. Nebulizer: obat dihisap sebagai aerosol.
Inhalasi dilakukan 3-4 kali sehari 2 sem-
protan (puffs), sebaiknya pada saat-saat ter-
tentu, seperti sebelum atau sesudah menge-
luarkan tenaga, sesudah bersentuhan dengan
zat-zat yang merangsang (asap rokok, kabut,
alergen) dan saat sesak napas di tengah
malam dan pagi hari (‘morning dip’).
Dianjurkan untuk pengobatan dengan
kortikosteroida inhalasi pada anak dan de-
wasa dilakukan dalam waktu dini untuk
memperbaiki fungsi paru (O’Byrne et al.,
2006)44 sebab obat ini dapat menghindari
akibat buruk dari peradangan kronis di
saluran pernapasan.
2. BRONChITIS KRONIS
DAN EMFISEMA
COPD menempatkan urutan ketiga dari
kematian penduduk di negeri Belanda (se-
telah PJP dan kanker).26 Juga secara global
mortalitas akibat gangguan ini meningkat,
sedang kematian sebab penyakit kar-
diovaskuler (PJP) menurun.27 Menurunkan
angka kematian COPD merupakan salah
satu tujuan dari “Global initiative for chronic
obstructive lung disease” (GOLD), suatu or-
ganisasi dari WHO dan US National Heart,
Lung and Blood Institute. Petunjuk-petunjuk
dalam GOLD ini dapat dipakai untuk
klasifikasi parahnya COPD.
pemicu
Juga bergejala inflamasi dari saluran per-
napasan namun dengan corak yang berlainan
dari asma.
Kelanjutan dari peradangan memicu
penyempitan dari saluran udara dan tim-
bulnya fibrosis dan destruksi dari parenkim
paru-paru (emfisema). Akibatnya yaitu se-
sak napas pada waktu menjalani kegiatan
fisik dan sewaktu berolahraga, yang meru-
pakan gejala khas dari COPD.
Pengobatan utama dari COPD yaitu
bronchodilator yang berfungsi melegakan
saluran pernapasan.
Berbeda dengan asma penyumbatan sa-
luran udara pada COPD yaitu progresif
dan peradangannya biasanya resis-
ten terhadap obat-obat kortikosteroid. Di
samping gangguan alat pernapasan, keba-
nyakan penderita COPD juga menderita
gangguan jantung, hipertensi dan diabetes
(Barnes and Celli, 2009)41, menurunnya berat
badan, depresi, osteoporosis dan anemia.
Bronchitis bercirikan batuk ‘produktif’ me-
nahun dengan pengeluaran banyak dahak,
tanpa sesak napas atau hanya ringan. Dalam
kebanyakan kasus (80%) disebabkan infeksi
akut saluran pernapasan oleh virus, yang
mudah disuprainfeksi oleh bakteri, terutama
Haemophilus influenzae yang sangat terkenal.
Namun, di negara-negara dingin juga terjadi
(supra)-infeksi dengan Str. pneumoniae (Pneu-
mococcus) dan Branhamella catarrhalis.
Emfisema paru (L. pengembangan) berciri-
kan dilatasi dan destruksi dari jaringan paru-
paru, yang memicu sesak napas terus-
menerus dan menghebat pada waktu menge-
luarkan tenaga (exertion); penderita sering
kali merasa letih dan tidak bergairah.
Gelembung paru (alveoli) terus mengembang
dan rongganya membesar, sehingga dinding-
dindingnya yang mengandung pembuluh
darah menjadi sangat tipis dan sebagian
akhirnya rusak. Dengan demikian permukaan
paru yang tersedia bagi penyerapan oksigen
berkurang sampai di bawah 30%, sehingga
jantung harus bekerja lebih keras untuk
memenuhi kebutuhan akan oksigen. Tonus di
cabang-cabang batang nadi (aorta) bertambah
dan tekanan darah di arteriole paru-paru
meningkat. Akhirnya pembebanan ini dapat
memicu hipertrofi ventrikel kanan
jantung dan terjadilah cor pulmonale (jan-
tung membesar).
pemicu utama emfisema yaitu bron-
chitis kronis dengan batuk bertahun-tahun
lamanya, juga asma. Emfisema dapat diang-
gap sebagai tahap terakhir dari asma dan
bronchitis, yang tidak dapat disembuhkan
lagi (irreversibel). Sebetulnya, setiap orang di
atas usia 60 tahun kurang lebih menderita
emfisema ringan sebagai bagian dari proses
menua, namun terutama pada penderita bron-
chitis kronis terjadi keluhan-keluhan itu
di atas.
* Merokok.Faktor utama timbulnya COPD
yaitu merokok (sigaret). Rangsangan terus-
menerus dari asap rokok memicu
hipertrofi dari sel-sel pembentuk mucus di
saluran pernapasan yang merupakan ciri
patologis yang konsisten dari bronchitis
kronis. Asap rokok mengandung banyak ok-
sidan, seperti radikal bebas, NO, radikal
hidroksil dan H2O2. Lekosit perokok mem-
bentuk lebih banyak oksidansia seperti su-
peroksida-anion (O2
-) dan H2O2 dibanding
dengan non-smokers. Juga mengandung zat-
zat perangsang enzim elastase, yang merom-
bak serat-serat elastin dalam dinding gelem-
bung paru, sehingga kekenyalannya menurun.
Akhirnya terjadi kelainan irreversibel dalam
bentuk fibrosis dan destruksi dari dinding
itu di mana ada pembuluh darah,
sehingga fungsi paru terganggu secara per-
manen. Kebanyakan pasien bronchitis kro-
nis dan emfisema terdiri dari pria, yang
sering kali yaitu perokok berat (lebih dari
30 batang sehari). Bahkan ada hubungan
langsung dengan jumlah sigaret yang dihisap
seharinya. Risiko kematian akibat bronchitis
pada perokok berat yaitu 20 kali lebih besar
daripada orang yang tidak merokok.
Merokok yaitu pemicu penting dari
kanker dan secara langsung atau tidak lang-
sung berkaitan dengan timbulnya 10 jenis
tumor dan pemicu 30% dari semua ke-
matian sebab kanker. Walaupun penge-
tahuan mengenai efek buruk dari merokok
sudah diketahui, namun jumlah perokok
masih tetap besar dan sekitar lebih dari 1,3
milyar perokok ada di seluruh dunia.
......................................... Guindon GE et al.; Past, current and fu-
ture trends in tobacco use. Washington, The
International Bank for Reconstruction and
Development, 2012.
Asap rokok mengandung a.l. senyawa
karbohidrat polisiklis aromatik yang dapat
menginduksi enzim metabolisasi cytochrom
P450 (CYP). Oleh sebab ini farmakokinetik
dari berbagai jenis obat dapat dipengaruhi,
misalnya klozapin dan propranolol (diper-
cepat).
* Polusi udara juga merupakan faktor pada
terjadinya COPD. Walaupun hal ini tidak
terlalu penting, namun nyatanya mortalitas
akibat COPD sangat meningkat pada saat
timbulnya polusi berat. Di negara-negara
Barat situasi ini terutama terjadi pada musim
dingin (smog) ketika asap dan SO2 (kendaraan
bermotor) terjebak di udara.
Radikal bebas. Lihat juga boks Antioksidansia di Bab 54, Dasar-dasar diet sehat.
Pada banyak proses metabolisme di dalam tubuh terbentuk radikal bebas (free radicals, FR), yaitu
molekul-molekul yang sangat reaktif sebab kehilangan satu elektron. Hal yang juga terjadi ketika
granulosit neutrofil meningkatkan metabolisme oksidatifnya, pada saat mana dibebaskan produk
oksigen aktif, seperti hidrogenperoksida, oksigen singlet (O2), anion-superoksida (O2
-), dan radikal-
hidroksil (OH-). FR ini memasuki dan “menari-nari” di dalam sel-sel tubuh sambil „mencuri“ elektron
dari molekul lain, yang terpaksa berbuat sama. Reaksi rantai ini berlangsung terus-menerus bila tidak
dihentikan oleh antioksidansia dan mampu merusak langsung bagian vital dari sel (DNA) atau secara
tak langsung via peroksidasi-lipida dari membran sel.
Antioksidansia. FR ini lazimnya diinaktifkan oleh antioksidansia alamiah kuat yang ada dalam
tubuh, seperti vitamin A dan E, katalase, super-oksida-dismutase (SOD) dan glutationperoksidase
(GPx). Senyawa-senyawa ini dapat menyerahkan elektron pada FR, misalnya anion-superoksida
pertama-tama diubah menjadi H2O2 untuk kemudian direduksi menjadi H2O oleh katalase dan GPx.
Radikal bebas juga dapat “dihirup” dari luar melalui udara, sebagai asap rokok, asap pabrik dan gas
pembuang mobil (NO2, SO2). Paru-paru dilindungi terhadap FR ini oleh antioksidansia alamiah yang
ada di mucus dan sekret khusus dari gelembung paru. Pada proses antioksidasi ini di paru,
khususnya suatu tripeptida glutation, berperan penting.
Nitrogenoksida (NO) telah ditemukan di tahun 1992 sebagai radikal bebas dengan sifat
neurotransmitter dan ternyata berperan penting pada ketahanan umum serta imunomodulasi.
Dengan demikian senyawa ini terkait pada banyak proses peradangan. Misalnya NO berperan pada
aterosklerosis, hipertensi, ARDS (adult respiratory distress syndrome), radang usus kronis, ALS (amyotrofe
laterale sclerosis), rema dan penyakit auto-imun lain. Gas bermolekul kecil ini mudah melintasi
dinding sel dan akibat elektron bebasnya bersifat radikal dan instabil dengan masa paruhnya yang
singkat sekali (<500 msec). NO bereaksi sangat cepat dengan a.l. oksigen dan superoksida (O2
-) dan
membentuk metabolit, seperti nitrit (NO2
-), nitrat (NO3
-) dan peroxynitrit (ONOO-). Selanjutnya NO
juga mengaktivasi enzim guanilatsiklase.
NO dibebaskan pada reaksi oksidasi dari asam amino arginin di bawah pengaruh enzim NO-sintetase
sebagai berikut:
l-arginin ––––––––––> l-citrulin + *N=O
Dalam darah NO dengan pesat mengikat pada ion-ferro dari haem (= bagian nonprotein dari hemoglobin)
atau zat-zat thiol dengan pembentukan nitrosothiol yang bersifat lebih stabil (masa paruhnya
lebih panjang daripada NO). Senyawa ini dapat mengaktivasi guanilatsiklase yang menstimulisasi
pengubahan GTP menjadi “second messenger” cGMP (cyclic guanil-mono-p hosphate). cGMP ini berperan
di banyak proses tubuh, a.l. di paru-paru dengan efek relaksasi langsung atas otot polos.Lihat jugaBab
43. Zat-zat Androgen, boks Viagra.
*NO dalam paru. NO yang berasal dari endotel berefek vasodilatasi bronchi sehingga berperan pada
regulasi lokal dan umum dari paru-paru. Gas ini merupakan neurotransmitter utama dari sistem non-
Penanganan COPD
Tindakan umum yang dapat diambil untuk
menghindari perusakan lebih jauh dari
saluran pernapasan dan paru-paru yaitu
kurang lebih sama dengan langkah-langkah
preventif terhadap asma. Yang mutlak yaitu
berhenti merokok, juga menjauhi zat-zat
perangsang lainnya.
Pengobatan. Pada terapi COPD, tujuan uta-
ma yaitu bronchodilatasi melalui inhalasi
β2-mimetika atau antikolinergika untuk me-
ngurangi obstruksi bronchi. Pada eks-pero-
kok ipratropium lebih efektif daripada β2-
mimetika untuk memperbaiki fungsi paru-
paru (Rennard, 1996). Kombinasi kedua
jenis obat biasanya berefek lebih baik
(aditif). Teofilin bila perlu dapat ditambahkan
dan sebaiknya sebagai sediaan-retard agar
pelepasan obat berlangsung secara teratur.
*Exacerbatio (serangan) perlu diobati seca-
ra intensif dengan bronchodilator (β2-mime-
tika, ipratropium) bersama kur oral korti-
kosteroid dengan dosis tinggi. Antibiotik
baru dipakai bila ada gejala infeksi
bakteriil dan bila kedua obat sesudah 48 jam
tidak menghasilkan (cukup) efek.
Pada serangan akut dengan bakteri bia-
sanya diberikan antibiotik selama minimal 10
hari agar infeksi tidak kambuh.
Antibiotik terpilih yang sering dipakai
yaitu co-amoxiclav, kotrimoksazol, sefik-
sim, sefradin atau sefaklor yang semuanya
berkhasiat bakterisid. Doksisiklin bekerja
bakteriostatik dan sebaiknya hanya diberikan
adrenerg dan non-kolinerg yang menghambat penciutan bronchi berlebihan. NO dibentuk dalam
jumlah besar pada sel-sel beradang, oleh sebab itu penting pada ketahanan paru terhadap mikro-
organisme dan sel-sel tumor, yang dapat dimusnahkannya. Dalam hal ini, makrofag berperan sentral,
sebab berdaya membentuk berlebihan NO sesudah aktivasi oleh a.l. sitokin, seperti IFN-gamma, IL-1-
beta, atau TNF-alfa. NO dalam konsentrasi tinggi bersifat mematikan sel secara langsung.
Peranan NO pada patologi asma yaitu besar,namun makna sebenarnya belum begitu jelas sebab
efeknya dapat bertentangan. Misalnya di dalam paru NO memicu penciutan saluran pernapasan
akibat stimulasi peradangan, sedang di pihak lain merelaksasi otot polos kecil bronchi dengan efek
dilatasi. NO juga dapat meningkatkan permeabilitas dari pembuluh kecil yang terlibat dalam proses
peradangan asma serta berfungsi imunomodulasi, yang turut bertanggungjawab atas terjadi dan
terpeliharanya asma. Caranya ialah dengan memicu dan memperkuat disbalans (terganggunya
keseimbangan) antara limfo-T-helpercells (helper-1 dan helper-2). Akhirnya diperkirakan bahwa
kadar tinggi NO menstimulasi obstruksi bronchi dan hiperreaktivitas aspesifik.
* stres oksidatif. Masalah ini penting pada asma parah dan COPD yang dapat meningkatkan resistensi
kortikosteroid. Bila timbul terlalu banyak FR, seperti pada perokok, maka jumlah antioksidansia faal
tidak mencukupi lagi untuk menginaktifkannya. Epitel paru-paru dengan bulu-bulu getar akan
dirusak, sedang sel-sel lendir justru bertambah banyak. Produksi lendir bertambah dengan efek
peningkatan jumlah makrofag yang membentuk zat-zat chemotactis. Oleh sebab itu granulosit „ditarik“
ke paru-paru yang bersama makrofag membentuk enzim peroksidase dan elastase dalam jumlah
besar. Pada proses ini terbentuk pula FR yang toksik (merusak) bagi enzim-pelindung anti-elastase.
Dengan demikian elastase „berkuasa“ dan merombak serat elastin di dinding alveoli.
Radikal oksigen toksik itu selain pada COPD, juga memegang peranan penting pada
patogenesis dari berbagai penyakit, a.l. aterosklerosis, katarak dan gagal hati akut akibat intoksikasi
parasetamol.
Antioksidansia. Proses perusakan itu oleh FR dapat dihambat dengan jalan memberikan
antioksidansia tambahan dari luar (eksogen), a.l. vitamin A, vitamin E, selenium, seng dan asetilsistein.
Yang terakhir yaitu precursor dari glutation dan berkhasiat mengurangi produksi FR yang meningkat
oleh makrofag alveoler di bawah pengaruh asap sigaret.
sebab daya kerja anti-oksidan itu di atas hanya lemah, usaha mencari anti-oksidan yang
lebih kuat masih dalam perkembangan
bila daya tahan pasien masih baik, yaitu
memiliki cukup granulosit dan limfosit.
Bila ada komponen asma, pemakaian
kortikosteroida inhalasi (ICS) sangat ber-
manfaat untuk mengurangi HRB dan meng-
hadapi peradangan di saluran pernapasan.
Pada permulaan bab ini telah diungkapkan
bahwa pemakaian ICS pada COPD tidak
memberikan efek terhadap fungsi paru, teta-
pi timbul pertanyaan apakah fungsi paru
merupakan parameter yang cocok untuk
mengevaluasi efek pengobatan dengan ste-
roid, sebab obat-obat ini juga mampu
memperbaiki kwalitas hidup, menurunkan
jumlah eksaserbasi dan angka kematian.
Juga ternyata bahwa masih cukup banyak
penderita COPD di obati dengan kortikos-
teroida inhalasi.28 Di samping itu dewasa ini
mulai diterima pengertian efektivitas dari
tambahan antioksidansia untuk melindungi
paru-paru terhadap efek merusak dari radi-
kal bebas.
Peradangan dan stres oksidatif memegang
peranan penting pada patogenesis dan pro-
gres COPD. Radikal oksigen reaktif yang
dihirup melalui asap rokok dan radikal ok-
sigen yang dibentuk endogen oleh sel-sel
radang memicu beban yang meningkat
pada paru-paru penderita. Sel radang ini,
pada COPD terutama makrofag, limfo-T CD8+
dan sel neutrofil membentuk mediator-media-
tor seperti interleukin-8, TNF-alfa dan LT-B4,
yang selanjutnya menarik lagi sel radang dan
meningkatkan lebih lanjut produksi radikal
oksigen reaktif, lihat selanjutnya boks.
Akibatnya ialah perubahan struktural
pada sel-sel paru, seperti kontraksi jaringan
otot polos, aktivasi mastcells, bertambahnya
permeabilitas epitel alveoli dan pelarutan
sel (lysis) yang akhirnya merusak sel secara
irreversibel.
Selain itu, stres oksidatif menurunkan da-
ya tahan imunologik di paru, yang mening-
katkan risiko akan infeksi dan pemburukan
fungsi paru.
pemakaian kontinu dari asetilsistein
(NAC) mampu mengurangi kumatnya (exa-
cerbatio) penyakit, terutama bila bronchitis
diakibatkan oleh mero















