Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 36. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 36. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 36

 





s, yang dapat 

dibagi dalam dua kelompok, yakni:

a. faktor-faktor pertumbuhan eritrosit (eri-

tropoëtik), antara lain epoëtin dan darbepoëtin, 

yaitu glikoprotein yang dibuat dengan teknik 

rekombinan. Obat ini menstimulasi pem-

bentukan eritrosit dan khususnya diguna-

kan oleh penderita anemia berat yang per- 

lu menjalani dialisa akibat insufisiensi gi-

njal kronis. Faktor-faktor ini terlibat pada 

proliferasi dan diferensiasi sel-sel batang 

di sumsum tulang, yang tumbuh menjadi 

eritrosit, lekosit dan trombosit. 

b.faktor-faktor stimulasi koloni yang men-

stimulasi terutama pertumbuhan granulosit 

neutrofil, a.l. filgrastim dan lenograstim. Zat-

zat ini khusus dipakai  pada keadaan neu-

tropeni.

Pegfilgrastim (Neulasta) memiliki t1/2 le-

bih panjang daripada filgrastim sehingga 

daya kerjanya lebih lama dan fekuensi pem-

beriannya dapat dikurangi. Dosis: s.k. 6 mg.

MOnOGrAFI

1. Besi

Besi ada  dalam makanan, terutama se-

bagai kompleks ferri, yang dalam lambung 

diubah menjadi ferroklorida pada mana 

vitamin C bertindak sebagai stabilisator. Ka-

dar normalnya dalam serum yaitu  antara 

11-27 milimol/liter.

Tubuh pria mengandung 2,5-4 g besi (±50 

mg/kg) dan wanita sebelum menopause 

±38 mg per kg, yang untuk 70% ada  

dalam eritrosit sebagai zat warna darah 

hemoglobin (Hb). Sisanya disimpan dalam 

sel-sel hati, limpa dan sumsum tulang se-

bagai persediaan besi dari tubuh dalam 

bentuk kompleks besi-globulin:ferritin dan 

hemosiderin (500-1.500 mg). Dari ferritin, 

yang melarut dalam air, besi lebih mudah 

dimobilisasi untuk pembentukan hemoglobin 

daripada hemosiderin yang tidak larut dalam 

air. Sebagian lain dari besi masuk ke dalam 

darah dan diangkut oleh suatu beta-globulin 

(transferrin), yang disintesis dalam hati, 

ke sumsum tulang, hati dan sel-sel lainnya 

untuk sintesis zat warna otot myoglobin (ber-

peran pada metabolisme otot) dan enzim 

besi (metallo-enzim). Tiap molekul transfer-

rin mengikat 2 ion ferri. Dua per tiga dari 

seluruh besi dalam tubuh berada dalam 

sirkulasi sebagai hemoglobin (2,5-3 g pada 

orang dewasa normal). Senyawa besi khusus 

dipakai  pada keadaan anemia ferriprive 

(akibat kekurangan Fe). 

Resorpsi. Diet sehari-hari mengandung 

10-20 mg besi, yang ada  dalam dua ben-

tuk, yaitu dalam daging sebagai haem (= Fe 

terikat pada porfirin) dan dalam sayuran se-

bagai senyawa komplek ferri. Haem diserap 

lengkap oleh sel mukosa usus. Senyawa 

ferri dilarutkan oleh asam dan oleh vitamin 

C direduksi menjadi ferro. Hanya ±10% dari 

ferro ini diserap oleh usus ±1-2 mg sehari), 

yang mencukupi kebutuhan sehari. Vitamin 

C meningkatkan penyerapan besi dari ma-

kanan, sebaliknya garam fosfat dan asam 

fytat dari serat nabati dapat menurunkannya, 

seperti juga resorpsi dari mineral lain. Resorpsi 

dapat meningkat melalui suatu mekanisme 

kontrol, seperti di masa pubertas, selama ke-

hamilan dan laktasi, juga bila ada  defi-

siensi (naik sampai ±40%). 

Resorpsi terjadi terutama di bagian atas 

usus halus, di mana lingkungan asam me-

ningkatkan daya larut garam ferro dan mem-

pertahankannya dalam bentuk ferro. Garam 

ferri lebih buruk resorpsinya, mungkin sebab  

terbentuk garam fosfat dan fitat yang sukar 

larut. Sesudah diserap, sebagian Fe diikat 

pada sel mukosa usus, sedang  sebagian 

lain masuk ke sirkulasi darah dan diikat pada 

transferrin. Dengan transferrin ini, sebagian 

besar besi diangkut ke sumsum tulang, di 

mana terjadi inkorporasi di dalam molekul 

hemoglobin. Sebagian lainnya ditranspor ke 

hati dan limpa untuk sintesis myoglobin dan 

metallo-enzim yang juga disimpan sebagai a.l. 

ferritin. (Ferritin yaitu  kompleks larut air 

dari besi dan protein, yang ada  di plasma 

dalam jumlah kecil dan mudah dimobilisasi 

untuk pembentukan Hb. Kadar ferritin serum 

diukur untuk menentukan jumlah besi yang 

tertimbun). Ekskresi berlangsung 30% lewat 

urin. Beberapa faktor dapat memengaruhi 

resorpsi besi, yaitu:

– senyawa ferro lebih baik diserap daripada 

bentuk ferri;

– zat-zat reduktor, misalnya vitamin C, 

meningkatkan resorpsi besi; 

– alkohol juga meningkatkan resorpsinya.

Kebutuhan besi. Setiap hari 0,5-1 mg besi di-

ekskresi lewat feses, urin dan keringat. Tubuh 

kehilangan besi ±1 mg sehari pada laki-laki 

melalui saluran pencernaan, misalnya da-

lam empedu. Wanita kehilangan unsur be- 

si sewaktu haid ±40 ml darah per bulan, 

atau sama dengan lebih kurang 0,7 mg besi/

hari atau rata-rata ± 1,5 mg sampai lebih 

dari 2 mg per hari. Kebutuhan besi lebih 

meningkat lagi selama kehamilan (sampai 

1-2 mg/hari) dan menyusui, juga selama 

pertumbuhan meningkat sampai ±0,6 mg. 

pemicu  lain dari kehilangan unsur besi 

yaitu  pemakaian  obat-obat anti-radang 

yang memicu  perdarahan dari mukosa 

lambung. 

Pada orang sehat hanya 5-10% dari jumlah 

besi dalam makanan yang diserap, yaitu 10-20 

mg sehari, yang mencukupi kebutuhan sehari 

1-2 mg. namun  selama masa pubertas, haid, 

hamil dan laktasi, kebutuhan besi meningkat 

(sampai 2-4 mg sehari) dan resorpsinya ju-

ga ditingkatkan melalui suatu mekanisme 

kontrol di usus. Bila ada  defisiensi besi, 

resorpsi bisa naik sampai 120-140%. 

Dalam keadaan normal absorpsi besi se-

harinya yaitu  ±1 mg pada laki-laki dewasa 

dan 1,4 mg pada wanita dewasa; maksimal 

3-4 mg dari asupan makanan. Absorpsi me-

ningkat bilamana timbunan (depot) besi 

dalam tubuh sudah berkurang atau erithro-

poiesis meningkat atau terganggu. 

Kekurangan ini pertama-tama ditampung 

oleh persediaan ferritin dalam hati dan sum-

sum tulang, sesudah  itu baru dipakai  besi 

plasma yang terikat pada transferrin. Proses 

ini tampak dari menurunnya kadar ferritin 

plasma; kemudian sesudah  persediaannya ha-

bis, kadar Hb baru menurun. Sebagai kom-

pensasi, nilai Daya Ikat Besi dari transferrin 

meningkat (DIB).

Perhitungan kebutuhan tubuh untuk besi 

dapat dilakukan dengan rumus berikut:

         9 - kadar Hb dalam mmol/l 

Kebutuhan Fe = ———————————– x 2,5 + 1 

  (dalam g) 9 

    

Dalam rumus ini 9 yaitu  kadar Hb rata-

rata pada orang dewasa dan 2,5 yaitu  

jumlah gram total Fe (dari Hb), sedang  

1 merupakan jumlah gram besi yang perlu 

untuk mengisi depot yang kosong. Perlu 

diperhatikan bahwa hanya 10-30% dari besi 

yang diberikan per oral dapat diserap oleh 

tubuh. pemakaian  oral dan parenteral secara 

bersamaan tidak boleh dilakukan, sebab  

penjenuhan ferritin dapat memicu  

reaksi toksik akut.  

Terapi dengan sediaan besi. Umumnya pe-

ngobatan anemia ferriprive dilakukan per oral 

dengan suatu garam ferro, yaitu ferrofumarat, 

- glukonat, atau -sitrat (Ferromia). Juga de-

ngan garam anorganik ferrosulfat, yang di-

serap lebih lemah. Dosis umum berkisar an-

tara 100 dan 200 mg Fe (elemen) sehari. Risiko 

overdosis dan keracunan umumnya tidak 

ada, sebab  resorpsi dalam usus tergantung 

dari kebutuhan, yang diatur oleh suatu 

mekanisme kontrol.

pemakaian  parenteral besi-sorbitol-sitrat 

atau Fe-dextran (Hibiron) tidak menghasilkan 

efek yang lebih baik dari pada per oral, 

sedang  kecepatan naiknya kadar Hb tidak 

berbeda banyak. Oleh sebab  itu, parenteral 

hanya dilakukan bila pengobatan oral ti-dak 

mungkin, sebab  misalnya malabsorption 

syndrome, adanya perdarahan atau keluhan 

lambung-usus hebat.

Penyakit kronis tertentu, seperti rema 

(artrithis reumatoid), tidak menunjukkan ke-

kurangan besi (kadar ferritin normal dan 

nilai DIB rendah), hanya tubuh tidak mampu 

memakai  depot besinya. Oleh sebab  

itu dalam keadaan demikian tidak boleh 

diberikan besi.

Lamanya terapi minimal 3 bulan; sesudah  

suatu masa latensi dari ±10 hari, kadar Hb 

akan naik ±1% (= 0.15 g%) sehari sampai nilai 

Hb pulih normal dalam waktu 1-2 bulan. 

Kemudian terapi perlu dilanjutkan 1-2 bulan 

lagi untuk mengisi depot besi dari tubuh.

Efek samping yang lebih sering terjadi de-

ngan dosis semakin tinggi yaitu  pirosis 

(heartburn; rasa terbakar dalam lambung dan 

tekak), perasaan tidak nyaman di lambung, 

mual, muntah, sembelit ringan dan kadang-

kadang diare. Gejala ini diakibatkan oleh sifat 

merangsang dari besi dan bisa juga sebab  

perubahan pada flora usus. Juga timbul ra-

sa logam dan tinja berwarna hitam. Untuk 

mengurangi efek samping ini, sebaiknya 

pemakaian  obat dimulai dengan dosis ren-

dah yang lambat laun ditingkatkan.

Pada overdosis mekanisme kontrol usus tidak 

berfungsi lagi dan dapat terjadi perdarahan 

lambung-usus, syok, tachycardia, kerusakan 

hati, konvulsi dan koma. Terutama anak 

kecil sangat peka terhadap overdosis sebab  

mekanisme penangkalan dalam ususnya 

belum sempurna. Sebagai antidotum pada 

keracunan besi tersedia injeksi dengan zat 

pengikat besi desferrioksamin (Desferal).

Kehamilan. Sediaan besi boleh dipakai  

per oral selama kehamilan.

lnteraksi. Tetrasiklin mengurangi resorpsi 

sebab  pembentukan kompleks yang tidak 

larut, sehingga pemberian dosis harus dila-

kukan dengan interval 3 jam. Begitupula hal-

nya dengan antasida, garam kalsium dan fosfat 

(dalam makanan, susu). Metildopa, penisilin, 

probenesid dan senyawa fenotiazin adakalanya 

dapat memicu  anemia hemolitik akibat 

reaksi hipersensitasi. 

Vitamin C meningkatkan resorpsi senyawa 

ferro sedang  penyerapan senyawa kui-

nolon dikurangi oleh besi.

Dosis: oral 2 dd 65 mg Fe a.c. atau antara 

jam makan, dari dosis ini diserap rata-rata 

25 mg sehari. Dosis lebih tinggi tidak ada 

gunanya sebab  tidak mempercepat efek. 

Anak-anak: maksimal 3 mg/kg sehari dalam 

3 dosis. Makanan lazimnya mengurangi 

resorpsi, sehingga sebaiknya diminum pada 

perut kosong. namun  bila timbul gangguan 

saluran cerna, sebaiknya diminum pada 

waktu makan. 

Sediaan besi

1a. Ferrofumarat: Superton, *Nichobion

Garam ini mengandung 33% Fe, yaitu 

yang tertinggi dari semua garam ferro. Sifat 

merangsangnya juga lebih ringan dan tidak 

memicu  rasa logam. Oleh sebab  itu zat 

ini dianggap sebagai pilihan pertama pada 

terapi oral.

Dosis: 2 dd 200 mg (= 65 mg Fe) antara jam 

makan. 

1b. Ferrosulfat: Fero Gradumet, Iberet-500, Fer-

rograd

Bersifat sangat merangsang sebab  reaksi 

asamnya dan lebih sering memicu  

mual dan muntah. Efek samping ini dapat 

dikurangi dengan memakai  tablet slow-

release atau juga dengan meminumnya seba-

gai larutan sesudah makan. 

Dosis: oral 2 dd 325 mg (= 65 mg Fe) atau 1 

dd tablet retard 525 mg (Gradumet = 105 mg 

Fe) sesudah makan pagi.

1c. Ferroglukonat: *Sangobion, *Inbion, Los-

ferron

Garam organik ini tidak begitu merangsang 

seperti ferrosulfat. Sering dipakai  dalam 

sediaan kombinasi dengan B12 dan asam folat 

walaupun secara rasional kombinasi itu  

tidak dapat dibenarkan. 

Dosis: oral 2 dd 500 mg (= 55 mg Fe) antara 

jam makan.

1d. Ferri-sorbitolsitrat: Jectofer

Kompleks ini mengandung 14% Fe dan 

distabilkan dengan dekstran. Tidak dapat 

diberikan secara i.v., sebab  kadar Fe bebas 

dalam plasma mudah melampaui kadar 

normal. 

Dosis: i.m.(dalam) 100 mg Fe sehari (= 2 ml 

larutan).

2. Asam folat: vitamin B11, asam pteroilglu-

tamat, acidum folicum

Vitamin dari kelompok B-kompleks (1947) 

ini ada  dalam gandum whole grain dan 

sayuran hijau yang kaya serat gizi (Lat. folium 

= daun), antara lain dalam buncis, kacang-

kacangan dan kelapa, juga dalam daging, 

ikan, hati dan ragi, sedang  dalam buah-

buahan hanya sedikit. Pemanasan yang 

lama bisa merusak sampai 90% kadar folat 

dalam makanan. Dalam bahan-bahan ini, 

folat ada  sebagai senyawa konyugasi 

(poliglutamat), yang di jaringan diuraikan 

kembali oleh enzim.

Fungsi. Dalam hati, asam folat direduksi 

menjadi zat aktifnya THFA (tetrahydrofolic 

acid), suatu ko-enzim yang penting sekali bagi 

sintesis DNA dan RNA serta pembelahan sel. 

Lihat juga Bab 8. Sulfonamida, Mekanisme 

kerja. Oleh sebab  itu sama dengan vitamin 

B12, kekurangan folat dapat memicu  

anemia primer (megaloblaster). Di negara 

berkembang sering kali ada  pula anemia 

macrositer akibat malnutrisi dengan gejala 

seperti seriawan dan diare lemak.

Kebutuhan tubuh yaitu  50-100 mcg sehari, 

namun  waktu hamil dapat meningkat sampai 

300 mcg atau lebih. Selama kehamilan atau 

laktasi ±50 mcg folat seharinya “hilang”, 

antara lain masuk ke dalam air susu ibu. 

Kekurangan folat selama kehamilan dapat 

menghasilkan bayi dengan cacat spina bifida, 

suatu “neural tube defect”, yaitu adanya celah 

pada tulang belakang sebab  beberapa ruas 

tulang gagal bertaut. 

Defisiensi folat. Kekurangan dapat dise-

babkan oleh terganggunya absorpsi folat 

dari makanan, lihat di atas. Akibatnya yaitu  

pembentukan sel darah juga terganggu, se-

hingga timbul anemia primer, sama dengan 

yang diakibatkan oleh defisiensi vitamin B12. 

Perbedaannya yaitu  defisiensi folat: 

– memicu  anemia lebih cepat diban-

dingkan defisiensi vitamin B12, sebab  

depot asam folat dalam tubuh jauh lebih 

terbatas dan

– tidak memicu  gangguan neurologi 

(pada saraf).

Khasiat. Selain berkhasiat mencegah spina 

bifida pada bayi, asam folat diduga dapat 

mencegah PJP, khususnya infark jantung. 

Pada trombosis vena/arteri berulang terda-

pat kadar homosistein dalam darah, yang 

meningkat dan merupakan suatu faktor 

risiko untuk penyakit jantung dan pembuluh 

(trombosis, infark). Asam amino ini terben-

tuk sebagai produk-antara pada reaksi pe-

ngubahan metionin menjadi sistein, sebagai 

berikut:

metionin ——> homosistein ——> sistein

Asam folat dan juga vitamin B6 dan B12, 

menurunkan kadar homosistein dan dengan 

demikian meniadakan faktor risiko itu  

(3). Lihat juga Bab 37, Obat-obat jantung dan 

pembuluh, faktor risiko.

Asam folat diperkirakan dapat melindungi 

terhadap kanker usus besar. Dahulu para 

ahli berpendapat bahwa perlindungan ter-

hadap kanker itu  yaitu  berkat kadar 

serat dalam makanan, namun  kini ada  

indikasi bahwa mungkin asam folat berperan 

atas efek ini.

pemakaian  yang terpenting yaitu  pre-

ventif untuk memperkecil risiko spina bi-

fida dan untuk terapi anemia megalositer 

serta makrositer, juga terhadap kadar homo-

sistein yang meningkat. Sama seperti terapi 

dengan vitamin B12, pemakaian nya yang 

efektif tergantung pada diagnosis yang te-

pat dan pengertian mengenai mekanisme 

penyakitnya. 

a. Profilaksis selama kehamilan. Sejak a-

wal tahun 1990-an, asam folat 0,5 mg di-

anjurkan pada wanita yang ingin hamil dan 

selama kehamilan sampai minggu kedelapan 

untuk memperkecil risiko spina bifida. Di 

banyak negara Barat, folat dibubuhi pada 

makanan dasar, seperti produk makanan 

pagi (cereals), susu dan roti. Bahkan di AS, 

sejak 1 Januari 1998, tepung roti diwajibkan 

diperkaya dengan folat, yang mungkin sekali 

akan disusul oleh Inggris. Di samping itu, 

“perkayaan” itu  juga dianjurkan untuk 

besi dan vitamin lain, untuk mencegah antara 

lain timbulnya anemia ferriprive.

b. Terapi anemia megaloblaster akibat de-

fisiensi folat. Sama dengan defisiensi vitamin 

B12, setiap penderita defisiensi asam folat dan 

anemia megaloblaster harus diteliti dengan 

saksama mengenai pemicu nya. Pada pe-

ngobatan ini, perlu diperhatikan beberapa 

faktor, yaitu:

– terapi harus sespesifik mungkin. pemakaian  

sediaan multi-vitamin harus dihindari, 

kecuali bila diperkirakan adanya defisi-

ensi dari beberapa vitamin sekaligus 

– salah pengobatan anemia akibat B12. Pem-

berian folat dalam jumlah besar pada 

anemia megaloblaster akibat defisiensi 

vitamin B12 dapat seolah-olah menyem-

buhkannya. Akan namun  tidak menghin-

dari atau menghilangkan defek neurolo-

giks akibat kekurangan vitamin B12 yang 

dapat berkembang terus dan menjadi 

irreversibel. Umumnya dianggap bahwa 

penambahan folat pada terapi dengan B12 

tidak ada manfaatnya

– salah-pengobatan pada anemia perniciosa, 

sebab  meskipun berdaya memperbaiki 

kelainan darah, namun memperburuk 

atau memicu  gejala neurologiknya 

c. Pada anemia makrositer (eritrosit mem-

besar) selama terapi rematik dengan antago-

nis folat (metotreksat) untuk mengurangi 

efek toksiknya. Begitu pula pada terapi ma-

laria dengan pirimetamin.

Resorpsi dari usus lancar dan segera diubah 

enzimatik menjadi zat aktif 5-metil-THFA, 

yang diangkut ke jaringan. Pengubahan ini 

pada dosis di bawah 1 mg praktis lengkap, 

namun  pada dosis tinggi hanya sedikit. Terikat 

kuat pada protein plasma; ekskresinya 

melalui urin.

Efek samping jarang terjadi dan berupa re-

aksi alergi (demam, ruam kulit). Dosis tinggi 

dapat memicu  gangguan lambung-

usus, sukar tidur, iritasi dan aktivitas ber-

lebihan.

Dosis: anemia megaloblaster permulaan 

1-2 dd 0,5 mg, pemeliharaan 1 dd 0,1-0,5 mg. 

Untuk memperkecil risiko spina bifida 0,5 mg 

dimulai minimal 4 minggu sebelum pembuahan 

(konsepsi) sampai dengan minggu ke-8 dari ke-

hamilan. 

* Asam folinat (acidum folinicum, citrovo-

rumfactor, Rescuvolin)

Zat ini yaitu  derivat formil dan metabolit 

dari asam folat, yang merupakan campuran 

rasemis (1950). Hanya bentuk levonya yang 

aktif. pemakaian nya selama terapi MTX 

dan fluor-urasil dalam dosis tinggi dapat me-

ngurangi efek samping dan memperkuat 

efeknya. Juga pada anemia megaloblaster 

akibat defisiensi folat, namun  untuk ini pe-

nggunaannya tidak lebih menguntungkan 

dibandingkan dengan asam folat, sebab  

reduksinya menjadi THFA tidak terhambat. 

sesudah  diserap, asam ini segera diubah 

menjadi zat aktif 5-metil-THFA pula dengan 

plasma-t½ rata-rata 6,5 jam. 

Dosis: sebagai antidotum pada overdosis 

antagonis folat (rescue therapy) i.v. atau oral 4 

dd 15 mg selama 2-3 hari (garam Ca).

3. Sianokobalamin: vitamin B12, extrinsic factor

Vitamin B12 yaitu  nama umum untuk 

se-jumlah senyawa yang memiliki efek 

biologis dari sianokobalamin. Di alam dan 

dalam tubuh vitamin B12 ada  terutama 

sebagai hidroksokobalamin dan adenosil-

kobalamin dan sedikit sebagai metilkobala-

min. Semua zat ini mudah larut dalam air. 

Vitamin B12 (1950) memiliki struktur yang 

mirip porfirin dengan 8 cincin (termasuk 4 

cincin pyrrol), yang saling terikat dengan 

atom kobal di pusatnya. (Lihat rumus 

bangun). Pada atom Co ini terikat gugusan 

-CN, -OH dan -CH3 pada masing-masing 

siano-, hidrokso- dan metilkobalamin. 

Vitamin B12 ada  dalam makanan hewani 

(daging, ikan, hati, telur, susu) dalam 

bentuk suatu kompleks protein, namun  tidak 

ada  dalam tumbuhan. Tahan terhadap 

pemasakan dan kini diperoleh dari biakan 

Streptomyces. 

Fungsinya. Vitamin B12 memegang peran-

an penting sebagai ko-enzim pada sintesis 

asam inti (nukleat, DNA/RNA), juga pada 

pembelahan sel yang terutama memengaruhi 

jaringan yang tumbuh pesat. Misalnya sistem 

haemopoiëtik (pembentukan darah) yang 

sangat peka terhadap kekurangan vitamin B12 

dan folat. 

Kebutuhan. Tubuh mengandung ±2,5 mg 

B12 dengan 60% ada  dalam hati. Kebu-

tuhan sehari pada orang sehat yaitu  2-5 

mcg, minimal diperkirakan 1-2 mcg. Dari 

diet sehari-hari yang rata-rata mengandung 

5-30 mcg vitamin B12, hanya 2-3 mcg diserap 

oleh tubuh. Selama kehamilan dan laktasi, 

kebutuhan ini meningkat sampai masing-

masing 3 dan 3,5 mcg. RDA dewasa yaitu  

2,5 mcg/hari. 

Defisiensi sangat jarang terjadi dan da-

pat disebabkan oleh diet yang miskin B12 

(vegetarir), atau resorpsi terganggu akibat 

berbagai sebab, antara lain sebab  kekurang- 

an sekresi intrinsic factor dalam getah lam-

bung (lihat di bawah Resorpsi). Defisiensi 

pertama-tama nampak sebagai anemia pri-

mer dengan terbentuknya eritrosit abnormal 

dan penderita menjadi sangat anemis 

(pernicious anemia).

pemakaian  khusus pada defisiensi B12 se-

telah diadakan diagnosis yang cermat dan 

saksama, misalnya pada anemia perniciosa. 

Juga untuk mencegah anemia primer pada 

keadaan malabsorpsi, antara lain sesudah  re-

sectio lambung (gastrectomi), atau pada ve-

getarir.

Pada anemia yang belum didiagnosis 

dengan pasti tidak dianjurkan pemberian 

asam folat bersamaan, sebab  asam ini dapat 

menyelubungi diagnosis anemia perniciosa. 

Dalam dosis oral tinggi sekali (1000 mcg), B12 

dapat diserap sebanyak 1,2% tanpa adanya 

intrinsic factor.

Gangguan psikis pada lansia sering kali 

dapat ditangani secara efektif dengan vita-

min B12, dengan perbaikan gejala depresi, 

apati dan lemah ingatan. Begitu pula pada 

perkiraan adanya anemia makrositer 

(dengan eritrosit besar) atau gangguan saraf 

yang tidak jelas pemicu nya.

Vitamin B12 terutama dipakai  sebagai 

injeksi, sebab  peroral efeknya tidak tetap, 

juga tidak bila dikombinasi dengan intrinsic 

factor (serbuk pylorus). pemakaian nya kini 

sudah banyak berkurang, sebab  hidrok-

sokobalamin lebih menguntungkan. 

Untuk pemakaian  yang efektif hendaknya 

diperhatikan prinsip bahwa terapi harus ses-

pesifik mungkin. Diterapkannya terapi vita-

min “shotgun” pada defisiensi vitamin B12 

dengan sediaan multivitamin dapat mem-

bahayakan. Ada kemungkinan bahwa asam 

folat diberikan sekian banyaknya, sehing-

ga berefek perbaikan hematologik, namun  

defisiensi vitamin B12 diselubungi dan ber-

langsung terus. Keadaan demikian dapat 

memicu  berkembangnya atau berlan-

jutnya kerusakan saraf.

Resorpsinya sangat rumit. Dalam lambung 

vitamin ini diikat pada suatu protein menjadi 

kompleks, yang dipecah lagi oleh enzim 

pankreas. Untuk transpor dan absorpsi yang 

sempurna, vitamin B12 perlu diikat pada 

intrinsic factor (IF) (Castle, 1953). IF ini ada-

lah suatu glikoprotein (dengan BM > 44.000), 

yang disekresi bersama ion hidrogen (H+) 

oleh sel parietal lambung. Langkanya unsur 

ini dapat disebabkan oleh atrofia selaput 

lendir lambung atau sebab  pembedahan (2-3 

tahun sesudah  reseksi). 

Dalam ileum IF dilepaskan, lalu B12 diserap 

secara aktif oleh mukosa, padamana ion Ca 

dan lingkungan netral memegang peranan. 

Dalam darah, B12 terikat pada protein pem-

bawa transkobalamin dan diangkut ke ginjal, 

hipofisis, jaringan dan terutama ke hati, di 

mana ±90% ditimbun (1-10 mg). Persediaan 

ini mampu menampung kegagalan absorpsi 

selama lebih dari 2 tahun sebelum gejala 

defisiensi nampak, sebab  kehilangan sehari-

harinya yaitu  kecil (1-2 mikrogram). Dari 

hati, vitamin B12 secara bertahap dilepaskan 

kembali ke dalam darah sesuai kebutuhan 

untuk pembentukan eritrosit. Biotransformasi 

praktis tidak terjadi; ekskresinya berlangsung 

melalui urin dan empedu; di ileum zat ini 

diserap kembali sesudah terikat pada intrinsic 

factor. berdasar  siklus enterohepatik ini, 

plasma-t½-nya panjang, ±12 bulan. 

Efek samping dapat berupa reaksi alergi ter-

hadap kobal, antara lain eksem dan eksantem.

Dosis: pada defisiensi i.m. 0,5-1 mg se-

minggu, pemeliharaan 1 mg setiap 2 bulan. 

Pada gejala neurologik 1-2x seminggu 0,5-1 

mg, pemeliharaan 1 mg sebulan. Oral: 2-3 dd 

1 mg, profilaktis dalam sediaan multivitamin 

1-10 mcg/hari.

* Hidroksokobalamin: hidrokobamin

Derivat hidroksi ini (1962) lebih lambat 

resorpsi dan ekskresinya, sebab  lebih kuat 

terikat pada protein darah, sehingga kerjanya 

pun lebih lama. Pada pemakaian  parenteral 

menunjukkan puncak plasma yang lebih 

tinggi daripada sianokobalamin. Oleh sebab  

itu, praktis sudah mendesak sianokobalamin. 

Dosis: pada defisiensi i.m. atau s.k. 2 x se-

minggu 1 mg selama 5 minggu, lalu 1 mg 

setiap 2 bulan. Oral 1-3 mg sehari.

* Cobamamide (dibencozide, *Superton) yaitu  

metabolit aktif dari vitamin B12 yang bekerja 

sebagai ko-enzim. Ko-enzim yaitu  bagian 

non-protein dari suatu enzim yang berfungsi 

sebagai aktivator, lihat Bab 53. Vitamin.

Dosis: oromukosal 1500 mg dalam 1-2 dosis.

4. Epoetin alfa (Epogen, Procrit, Binocrit, 

Eprex) yaitu  glikoprotein dengan 165 

asam amino dan berat mollekul 30.400 

Dalton. Dibuat dalam kultur sel dengan 

memakai  teknologi DNA rekombinan. 

Memiliki efek imunologik dan biologik sama 

dengan eritropoietin endogen/human dan 

dipakai  untuk pengobatan anemia pada 

penderita gangguan ginjal kronis, pasien HIV 

dan penderita kanker.

Eritropoietin yaitu  suatu glikoprotein 

yang terutama dibentuk dalam ginjal dan 

merangsang produksi sel-sel darah merah 

(eritropoese). Jumlahnya menurun pada ke-

adaan gagal ginjal atau pemakaian  obat-

obat tertentu, misalnya zidovudin (HIV) dan 

kemoterapi pada kanker. T½ i.v. 4 jam dan s.k. 

24 jam.

Efek samping yang tersering yaitu  hiper-

tensi, sakit kepala, tachycardia, mual/mun- 

tah, pendek napas, hiperkalemia dan diare. 

Juga kemungkinan potensial untuk imu- 

nogenetik seperti lazimnya dengan protein-

protein terapeutik.

Dosis: permulaan bagi pasien gagal ginjal 3 

kali per minggu 50-100 unit/kg s.k. atau i.v.

5. Darbepoetin (Aranesp, Amgen)

Faktor pertumbuhan hematopoetik ini 

juga dipakai  bagi penderita anemia aki-

bat gagal ginjal kronis. T½ s.k. 73 jam dan 

i.v. 21 jam.Dibandingkan dengan epoetin 

fekuensi dosisya lebih rendah sebab  waktu 

eliminasinya dari tubuh lebih lama. 

Efek samping: sangat sering hipertensi, 

udema dan alergi; juga sering kali gangguan 

kulit eritema, CVA dan tromboemboli.

Dosis: tergantung dari hasil monitoring 

kadar Hb dan diberikan perlahan-lahan 

melalui injeksi s.k. atau i.v.

SALURAN 

PERNAPASAN

Dalam seksi ini akan dibahas dua bab me-

ngenai penyakit-penyakit saluran perna-

pasan, yang bersama dengan penyakit infeksi 

menempati posisi teratas dalam urutan/pola 

penyakit di negara kita .

Bab 40 akan membahas gangguan-gangguan 

yang dahulu dinamakan CARA (Chronic 

Aspecific Respiratory Affections). CARA menca-

kup antara lain asma yang berlatar belakang 

sebab-sebab alergis maupun non-alergis, 

juga bronkitis yang umumnya disebabkan 

oleh infeksi bakteri. Dewasa ini istilah CARA 

sudah dibagi menjadi Asma dan COPD 

(Chronic Obstructive Pulmonary Diseases). Bab 

41 akan menelaah fisiologi batuk dan meng-

inventarisasikan jenis-jenis obat batuk yang 

sangat banyak ragamnya dan dipakai  

terhadap batuk yang produktif maupun non-

produktif.


OBAT ASMA DAN COPD

Istilah CARA atau Chronic Aspecific Respiratory 

Affections mencakup semua penyakit saluran 

pernapasan yang bercirikan penyumbatan 

(obstruksi) bronchi disertai pengembangan 

mukosa (udema) dan sekresi dahak (sputum) 

berlebihan. Penyakit-penyakit itu  me-

liputi berbagai bentuk penyakit beserta 

peralihannya, yaitu asma, bronchitis kronis 

dan emfisema paru yang gejala kliniknya 

dapat saling menutupi (overlapping). Gejala 

terpentingnya a.l. sesak napas (dyspnoe) saat 

mengeluarkan tenaga atau selama istirahat 

dan/atau sebagai serangan akut, juga ba-

tuk kronis dengan pengeluaran dahak ken-

tal. sebab  gangguan itu  memiliki 

mekanisme pathofisiologi yang berbeda-

beda dengan penanganan yang juga tidak 

sama, maka biasanya  telah dilakukan 

pemisahan antara asma dan bronchitis kro-

nis + emfisema, yang kini dinamakan COPD 

(Chronic Obstructive Pulmonary Diseases). Isti-

lah ini selanjutnya akan dipakai  dalam 

uraian bab ini. ,

Walaupun dalam praktik diferensiasi ini 

sering kali tidak mudah dilakukan, namun 

sebetulnya memiliki konsekuensi langsung 

dan esensial untuk cara pengobatan dari 

kedua kelompok penyakit ini. Per definisi 

asma yaitu  steroidresponsif, artinya dapat 

ditangani dengan terapi kortison, terutama 

sebab  dasar dari penyakit ini yaitu  proses 

peradangan eosinofil. namun  sebaliknya be-

berapa penelitian jangka waktu panjang 

menunjukkan bahwa pemakaian  steroid 

inhalasi pada COPD tidak memengaruhi 

fungsi paru.21-25, walaupun jangka waktu 

pemburukkan dari gejalanya (exacerbatio) 

dapat berkurang.33 Lihat selanjutnya pada 

pembahasan obat kortikosteroida inhalasi 

(ICS).

Obstruksi bronchi (Lat. obstructio = pe-

nyumbatan).

Penyumbatan bronchi dengan sesak napas, 

yang merupakan sebab utama asma dan 

COPD, diperkirakan dapat terjadi menurut 

mekanisme berikut, yaitu berdasar  hiper-

reaktivitas bronchi (HRB), reaksi alergi atau 

infeksi saluran pernapasan.

a. Hiperreaktivitas bronchi (HRB) Pada 

semua penderita asma dan COPD terda- 

pat hiperreaktivitas bronchi. HRB yaitu  

meningkatnya kepekaan bronchi, dibanding-

kan saluran pernapasan normal, terhadap 

zat-zat merangsang tak-spesifik yang dihisap 

dari udara. Sebagian penderita asma juga 

mengidap kepekaan berlebihan terhadap 

stimuli/rangsangan spesifik yang pada 

orang sehat tidak memberikan reaksi. HRB 

aspesifik selalu timbul bersamaan dengan 

reaksi peradangan di saluran pernapasan.

* Stimuli. Ada beberapa jenis stimuli, yaitu 

rangsangan fisis (perubahan suhu, dingin 

dan kabut), rangsangan kimiawi (polusi 

udara: gas-gas pembuang, sulfurdioksida, 

ozon, asap rokok), rangsangan fisik (exertion, 

hiperventilasi) dan rangsanganpsikis (emosi 

dan stress). Juga rangsangan farmakologik 

(histamin, serotonin, asetilkolin, beta-blocker, 

asetosal dan NSAIDs lainnya), termasuk 

obat-obat yang dapat membebaskan histamin 

(histamin liberators), seperti morfin, kodein, 

klordiazepoksida dan polimiksin. Akibat 

stimuli ini terhadap reseptor sensoris di 

selaput lendir dan otot, serta/atau stimulasi 

dari sistem kolinergik, maka terjadilah suatu 

reaksi kejang dengan obstruksi umum pada 

saluran pernapasan. 

b. Alergi. Pada sebagian pasien asma, di 

samping HRB aspesifik, juga ada  alergi. 

Dengan ini dimaksudkan bakat keturun-

an untuk membentuk antibodies terhadap 

antigen (alergen) tertentu yang mema-

suki tubuh. Antibodies ini dari tipe IgE 

(imunoglobulin type E) juga disebut rea-

gin, mengikat diri pada mastcells a.l. di sa-

luran pernapasan, mata dan hidung. Bila- 

mana jumlah IgE sudah cukup besar, maka 

pada waktu alergen yang identik masuk 

lagi ke dalam tubuh, terjadilah pengga-

bungan antigen-antibody. Mastcells pecah 

(degranulasi) dan segera melepaskan media-

tornya, a.l. histamin. Akibatnya yaitu  

bronchokonstriksi (bronchospasm) dengan pe-

ngembangan mukosa (udema) dan hiperse-

kresi dahak/mucus, yang merupakan gejala 

khas serangan asma. 

Bila pelepasan mediator itu  di atas 

bukannya setempat namun  menyeluruh (ge-

neral release), maka dapat timbul anaphylaxis, 

suatu reaksi hebat yang dapat mengancam 

jiwa, misalnya sebab  sengatan tawon, in-

jeksi penisilin (anaphylactic shock). Pada kea-

daan demikian perlu segera diberikan injeksi 

adrenalin i.m. yang diulang tiap 5 menit 

sampai ada perbaikan tekanan darah dan 

detak nadi. Di samping pemberian oksigen 

juga suatu antihistaminikum (klorfeniramin) 

dapat diberikan i.v. Pada anafilaksis parah 

atau yang berulang kali, diberikan injeksi 

hidrokortison i.m. atau i.v.

* Alergen inhalasi yang masuk ke tubuh 

lewat pernapasan merupakan pemicu  uta-

ma reaksi alergi itu  di atas. Penderita 

asma menunjukkan kepekaan berlebihan 

terhadap terutama debu rumah, yang me-

ngandung a.l. tungau (housedust mite) dan 

sisik/bulu binatang piaraan (animal danders), 

begitu pula terhadap sari bunga (pollen) 

berbagai tumbuhan dan pohon, jenis tepung 

dan jamur.

* Alergen oral dan lokal dikenal pula, yang 

memasuki tubuh melalui mulut atau kulit. 

Banyak bahan makanan mengandung aler-

gen dan juga obat-obat tertentu atau meta-

bolitnya dapat memicu  reaksi alergi. 

Lihat selanjutnya Bab 51, Anti-histaminika, 

Reaksi alergi.

c. Infeksi saluran pernapasan dapat me-

nyebabkan gejala radang dengan perubahan 

di selaput lendir, yang pada pasien asma 

dan COPD memperkuat HRB dan broncho-

konstriksi serta mempermudah penetrasi 

alergen. Akhirnya dapat terjadi suatu ling-

karan setan dengan infeksi yang selalu 

kambuh akibat obstruksi bronchi, yang 

memudahkan infeksi itu .

1. ASMA (ASThMA 

BRONChIALE) 

Asma atau bengek yaitu  suatu penyakit 

alergi yang bericirikan peradangan steril kronis 

dari alat pernapasan, yang khas ditandai oleh 

aktivasi mastcells, infiltrasi dari eosinofil dan 

T helper 2 (TH2) limfosit. (Barnes, 2008b)39. 

Mastcells yang diaktivasi oleh alergen dan 

rangsangan fisik melepaskan mediator pe-

nyempit bronchus seperti histamin, leuko-

trien D4 dan prostaglandin D2.

Peningkatan jumlah mastcel dalam otot 

alat pernapasan merupakan ciri khas dari 

asma.

Peradangan kronis dapat memicu  

perubahan struktural dari jaringan saluran 

pernapasan a.l. meningkatnya jumlah sel otot 

licin, saluran darah dan sel-sel pembentuk 

mukus.

Biasanya penyakit ini timbul pada waktu 

anak-anak, kemudian bisa menghilang me-

njelang dewasa untuk timbul kembali pada 

usia dewasa. Secara khas gangguan ini mem-

perlihatkan respons pengobatan yang baik 

terhadap senyawa kortikosteroid dan obat 

bronchodilator.

Penyakit ini disertai serangan sesak napas 

akut secara berkala, mudah tersengal-sengal 

dan batuk (dengan bunyi khas). Ciri lain 

yaitu  hipersekresi dahak yang biasanya 

lebih parah pada malam hari dan meningkat-

nya ambang rangsang (hiperreaktivitas) 

bronchi terhadap rangsangan alergik mau- 

pun non-alergik. Faktorfaktor genetik ber- 

sama faktor lingkungan berperan pada 

timbulnya gejala-gejala itu .

biasanya  penyakit asma (ringan) ini 

stabil, namun  asma yang parah sudah timbu 

sejak awal dan lebih memperlihatkan gejala 

COPD serta kurang memberikan respons 

terhadap pengobatan dengan kortikosteroida 

(Wenzel and Busse, 2007)40.

Berlainan dengan COPD, obstruksi saluran 

napas pada asma umumnya bersifat reversibel 

dan serangan biasanya berlangsung beberapa 

menit sampai beberapa jam. Di antara dua 

serangan, pasien tidak menunjukkan gejala 

apa pun. 

Status asthmaticus yaitu  serangan asma 

hebat dengan penciutan bronchi lebih kuat 

dan bertahan abnormal lama (sampai lebih 

dari 24 jam). Ciri-ciri lainnya yaitu  tachy-

cardia dan tak bisa berbicara lancar (tersendat-

sendat) akibat napas tersengal-sengal.

Asma alergik biasanya  sudah dimulai 

sejak masa kanak-kanak dan didahului oleh 

gejala alergi lain, khususnya eksem. Faktor 

keturunan dan resam (konstitusi) tubuh me-

megang peranan penting pada terjadinya 

jenis asma ini. Eksem ini umumnya membaik 

sesudah  anak-anak mencapai usia remaja, 

Gambar 40-0: Saluran pernapasan dalam keadaan normal 

dan sewaktu serangan asma.

namun  acapkali kambuh kembali pada usia 

20-40 tahun, sebab  peradangan dari saluran 

pernapasan tetap bertahan walaupun tanpa 

gejala.

Pasien asma memiliki kepekaan terhadap 

infeksi saluran pernapasan dan kebanyakan 

terhadap virus. Akibatnya yaitu  peradangan 

bronchi yang juga dapat memicu  se-

rangan asma. Bronchitis asmatik demikian 

biasanya menyerang manula. 

pemicu 

Serangan asma disebabkan oleh peradangan 

steril kronis dari saluran pernapasan dengan 

mastcells dan granulosit eosinofi l sebagai pe-

meran penting. Pada orang-orang yang peka 

terjadi obstruksi saluran pernapasan yang 

difus dan reversibel. Di samping itu juga 

ada  hiperreaktivitas bronchi terha-

dap berbagai stimuli (a)spesifi k yang dapat 

memicu serangan. Stimuli terkenal yaitu  

zat-zat alergen, terutama partikel-partikel 

tinja dari tungau, pollen, spora jamur (Asper-

gillus fumigatus), zat-zat perangsang (a.l. asap 

dan SO2 dari polusi kendaraan, asap rokok, 

uap, debu). Begitupula hawa dingin (kering), 

emosi, kelelahan dan infeksi virus (mis. 

rhinovirus, virus parainfluenza), juga obat-

obat tertentu (asetosal, β-blocker, NSAIDs).

Pada serangan yang hebat penyaluran 

udara dan oksigen ke darah menjadi sede-

mikian lemah, sehingga penderita membiru 

kulitnya (cyanosis). Sebaliknya, pengeluaran 

napas dipersulit dengan meningkatnya ka-

dar CO2 dalam darah, yang memperkuat 

perasaan terengah-engah dan kecemasan. 

Kontak dengan zat-zat tertentu (mis. bahan- 

bahan kimia) di lingkungan pekerjaan 

(industri) dapat memicu timbulnya asma 

yang berkaitan dengan pekerjaan (occupa-

tional asthma). Hal ini disebabkan sebab  zat-

zat itu  dapat memicu  antibodies 

IgE spesifik. 

* Peranan lekosit. Di membran mukosa sa-

luran pernapasan dan alveoli ada  banyak 

makrofag dan limfosit. Makrofag berperan 

penting pada pengikatan pertama alergen 

dan ‘penyajiannya’ kepada limfosit (lihat Bab 

49, Dasar-dasar Imunologi). Makrofag juga 

dapat melepaskan mediator peradangan, se-

perti prostaglandin, tromboksan, leukotriën 

dan PAF (platelet activating factor). T-helper 

cells (melepaskan sitokinnya, a.l. interleukin 

IL-3 dan IL-5, yang mungkin berperan CD4+) 

penting pada migrasi dan aktivasi mastcells 

dan granulosit. Lagipula IL-4 mendorong 

limfosit-B untuk membentuk IgE. Aktivitas 

makrofag dan limfosit itu  dihambat oleh 

kortikosteroida, namun  tidak oleh adrenergika. 

* Mastcells. Pada penderita asma, mastcells 

bertambah banyak di sel-sel epitel serta mu-

kosa dan melepaskan mediator vasoaktif 

kuat pula, seperti histamin, serotonin dan bra-

dikinin, yang mencetuskan reaksi asma akut. 

Prostaglandin dan leukotriën mulai dibentuk 

untuk dilepaskan kemudian. Diperkirakan 

bahwa mastcells juga dapat didegranulasi 

oleh rangsangan aspesifik, misalnya pada 

waktu hawa dingin pelat darah bisa meng-

gumpal yang berakibat terbentuknya IgE 

(atau IgM). 

Mediator (zat perantara) yang berkhasiat 

vasokonstriktif terhadap otot polos selain 

prostaglandin, tromboksan dan leukotriën, juga 

mencakup neuropeptida dan PAF. LTB4 dan 

PAF dapat menstimulasi chemotaxis, artinya 

dapat menarik granulosit ke tempat pera-

dangan. Senyawa ini memegang peranan 

penting pada proses pathogenesis asma, 

yang mekanisme eksaknya belum diketahui.

Diagnosis. Pada gangguan asma HRB ber-

peran sentral, sehingga suatu ukuran bagi HR 

yang meningkat yaitu  variabilitas dari nilai 

PEF(peak expiratory flow). Untuk menentukan 

PEF dipakai  suatu tabung khusus dengan 

diameter ±4 cm berskala yang berisi suatu 

pelocok (serupa piston yang bergerak keluar 

masuk). Pasien meniup ke dalam tabung 

hingga pelocok didorong ke depan dan lalu 

pada dinding tabung dapat dibaca volume 

embusan napasnya. Pada asma ringan, vari-

abilitas PEF yaitu  <20%, sedang  asma 

berat menunjukkan nilai sampai 30%.

Penanganan

Tindakan umum. Tujuan utama yaitu  men-

cegah reaksi antigen-antibody serta serangan as- 

ma dan menurunkan HRB dengan menghi-

langkan faktor pemicu. Asma menekan dan 

memperlambat pertumbuhan, maka pena-

nganannya pada anak-anak juga dimaksud-

kan agar anak bertumbuh normal.

Tindakan yang dapat diambil berupa 

menjauhi sebanyak mungkin faktor pemicu 

serangan (sanitasi), berhenti merokok, hipo-

sensibilisasi, latihan fisioterapi, mengurangi 

kepekaan terhadap alergen eksogen dan pre-

vensi infeksi virus atau bakteri.

Begitupula dengan obat-obat profilaksis 

kromoglikat dan nedokromil, antihistaminika (ke-

totifen dan oksatomida) serta kortikosteroida. 

* Sanitasi, yaitu menyingkirkan semua rang-

sangan luar, terutama hewan piaraan (burung, 

anjing, kucing, kelinci) dan debu rumah. 

Rumah harus dibersihkan setiap hari dengan 

saksama, terutama kasur, sprei dan selimut 

yang biasanya penuh dengan tungau (house-

dust mite). Reduksi dari alergen juga dapat 

dicapai dengan penyaringan udara. Begitu 

pula faktor aspesifik, seperti perubahan suhu, 

hawa dingin, asap dan kabut harus dihindari, 

juga obat pembebas histamin. 

* Berhenti merokok, sebab  asap rokok (me-

rokok aktif maupun pasif) dapat menim-

bulkan bronchokonstriksi dan memperbu-

ruk asma, terutama pada anak-anak.30 Perlu 

pula menghindari zat-zat lain yang dapat 

merangsang saluran pernapasan. 

* Fisioterapi: menepuk-nepuk bagian dada 

(tapotage) untuk mempermudah pengeluar-

an dahak (ekspektorasi) dan juga latihan per-

napasan serta relaksasi. Usaha ini terutama 

bermanfaat bagi anak-anak.

* Hiposensibilisasi dilakukan bila kontak 

dengan alergen, seperti pollen dan sisik/bulu 

binatang (danders), tidak dapat dihindari. 

Untuk mengurangi hipersensitasi terhadap 

alergen itu , pasien diberi sejumah in-

jeksi dengan ekstrak alergen dalam kadar 

meningkat. Imunoglobulin yang terbentuk 

(terutama IgG dan IgA) akan mengikat aler-

gen baru, sehingga reaksi antara alergen dan 

IgE tidak terjadi. Terapi ini paling efektif pada 

alergi terhadap pollen rumput-rumputan 

(Pollinex), lihat juga Bab 51. Antihistaminika. 

* Prevensi infeksi viral, misalnya dengan 

jalan vaksinasi (influenza) atau memakai  

obat-obat yang dapat meningkatkan ketahan-

an tubuh, seperti tingtur Echinacea.

* Prevensi infeksi bakteriil dapat dilakukan 

pada pasien asma (dan bronchitis), namun  tidak 

berguna terhadap infeksi virus. Umumnya 

diberikan amoksisilin atau doksisiklin selama 

10-14 hari. 

* Prevensi prenatal. Ibu yang sedang me-

ngandung perlu menghindari zat-zat pemicu 

alergi, makanan tertentu dan asap rokok (aktif 

maupun pasif) yang dapat memengaruhi ja-

nin. Pemberian ASI pada bayi menurunkan 

risiko terhadap asma dan ekzem, terutama 

pada anak-anak dari keluarga yang memiliki 

riwayat alergi.31

Pengobatan

Pengobatan asma dan bronchitis dapat di-

bagi atas terapi serangan akut dan terapi pe-

meliharaan untuk mencegah serangan atau 

memburuknya penyakit.

1. Serangan asma akut biasanya dapat di-

hentikan dengan suatu bronchospasmolitikum 

untuk membebaskan kejang bronchi. Pilihan 

pertama yaitu  suatu β2-mimetikum (β2-

agonis) per inhalasi, misalnya salbutamol 

atau terbutalin dengan efek cepat (sesudah 

3-5 menit). Bila perlu dibantu dengan sup-

positoria aminofilin. Obat yang tak-selektif, 

seperti efedrin dan isoprenalin, dapat pula 

diberikan sebagai tablet, namun  efeknya baru 

nampak sesudah lebih kurang 1 jam. Bila 

sesudah 15 menit belum menghasilkan efek, 

inhalasi dapat diulang sekali lagi. Jika juga 

tidak memberikan efek, pasien perlu diberi 

obat secara injeksi intravena: aminofilin dan/

atau salbutamol. Pada serangan hebat, se-

ring kali ditambahkan hidrokortison atau 

prednison i.v.

Sebagai tindakan terakhir dapat diinjek-

sikan adrenalin, yang dapat diulang 2 kali 

dalam waktu satu jam.

*Status asthmaticus. Merupakan serangan 

asma akut dan hebat yang bisa bertahan 

lama sekali. Efek suatu bronchodilator pada 

keadaan ini hanya kecil dan lambat, yang 

disebabkan oleh blokade reseptor-beta seba- 

gai akibat umum dari suatu infeksi saluran 

pernapasan. Keadaan demikian perlu dio-

bati secara khusus di rumah sakit dengan 

pemberian oksigen dan minum banyak air, 

hidrokortison i.v. dan bila perlu bikarbonat. 

Lazimnya pasien diberi injeksi i.v. dengan 

salbutamol dan/atau aminofilin serta hi-

drokortison dalam dosis besar (yang diper-

kirakan lebih cepat kerjanya daripada pred- 

nison). Perlu juga diambil tindakan-tin-

dakan tambahan lainnya untuk melawan 

efek samping dari status asthmaticus. Pada 

serangan yang tidak dapat dihentikan dengan 

injeksi adrenalin sebagai tindakan terakhir 

(ultimum remedium) umumnya injeksi i.v. 

dengan novocain 2% (atau lidocain) efektif. 


Terapi pemeliharaan

Pengobatan pemeliharaan biasanya  

dilakukan secara bertingkat, berdasar  

prinsip (baru) bahwa asma yaitu  suatu pe-

nyakit peradangan, maka obat antiradang per-

lu dipakai  sedini mungkin. Di samping 

itu, pemakaian  bronchodilator hendaknya 

dibatasi pada terapi serangan dan/atau da- 

lam kombinasi dengan obat antiradang. Da-

lam garis besar sering kali ditempuh urutan 

sebagai berikut.

a. Asma ringan (serangan < 1x sebulan) dapat - 

bila perlu - diobati dengan suatu β2-mime-

tikum yang bekerja singkat sebagai mo- 

noterapi, misalnya salbutamol atau terbu-

talin (1-2 inhalasi/minggu);

b. Asma sedang (serangan 1-4x sebulan) per-

lu diobati dengan obat yang menekan 

peradangan di saluran pernapasan, yaitu 

kortikosteroida-inhalasi, seperti beklometa-

son, flutikason atau budesonida dalam do-

sis rendah (200-800 mcg/hari). Bila per-

lu dikombinasi dengan salbutamol atau 

terbutalin sampai 3-4 inhalasi/hari atau 

dengan obat pencegah kromoglikat dan 

nedokromil, juga per inhalasi. Untuk anak-

anak dengan asma yang bercirikan aler- 

gi dapat diberikan per oral ketotifen atau 

oksatomida, yang juga berkhasiat mence-

gah degranulasi mastcells. 

c. Asma agak serius (serangan > 1-2 x se-

minggu) dapat ditanggulangi oleh korti-

kosteroida dengan dosis lebih tinggi 

(800-1200 mcg/hari) dan dikombinasi 

dengan β2-mimetika atau antikolinergika 

(ipratropium) sebagai bronchodilator un-

tuk mengurangi obstruksi bronchi.

d. Asma serius (serangan > 3 x seminggu) 

Walaupun pemakaian  ICS dalam dosis 

cukup tinggi, namun  pada malam hari 

masih timbul sesak napas (dyspnoe). Da-

lam hal ini dapat diberikan β2-mimeti-

kum kerja-panjang sebagai inhalasi (sal-

meterol, formoterol). Bila perlu obat ini 

dapat dikombinasi dengan teofilin dalam 

bentuk slow-release.

* Inhalasi yaitu  suatu cara pemakaian  

adrenergika dan kortikosteroida yang mem-

berikan beberapa keuntungan dibandingkan 

pengobatan per oral. Pemberian obat mela- 

lui inhalasi merupakan cara terpilih bagi 

kebanyakan obat yang memerlukan efek 

langsung pada saluran pernapasan, khu-

susnya pada penderita asma dan COPD 

(Berger, 2009)42‘ Untuk ini kehalusan partikel 

merupakan hal yang sangat penting.

Efeknya lebih cepat, dosisnya jauh lebih 

rendah dan tidak diresorpsi ke dalam darah 

sehingga risiko efek samping sistemiknya 

ringan sekali. Ada beberapa cara untuk mem-

berikan obat sebagai inhalasi, antara lain 

43:

a. Metered Dose Inhaler: obat disemprotkan 

dari suatu wadah di bawah tekanan su-

atu propellant yang ozon-friendly (hidro-

fluoroalkan, HFA).

b. Dry Powder Inhaler (Turbuhaler): obat di-

hisap sebagai serbuk halus.

c. Nebulizer: obat dihisap sebagai aerosol.

Inhalasi dilakukan 3-4 kali sehari 2 sem-

protan (puffs), sebaiknya pada saat-saat ter-

tentu, seperti sebelum atau sesudah menge- 

luarkan tenaga, sesudah  bersentuhan dengan 

zat-zat yang merangsang (asap rokok, kabut, 

alergen) dan saat sesak napas di tengah 

malam dan pagi hari (‘morning dip’).

Dianjurkan untuk pengobatan dengan 

kortikosteroida inhalasi pada anak dan de-

wasa dilakukan dalam waktu dini untuk 

memperbaiki fungsi paru (O’Byrne et al., 

2006)44 sebab  obat ini dapat menghindari 

akibat buruk dari peradangan kronis di 

saluran pernapasan.

2. BRONChITIS KRONIS 

DAN EMFISEMA 

COPD menempatkan urutan ketiga dari 

kematian penduduk di negeri Belanda (se-

telah PJP dan kanker).26 Juga secara global 

mortalitas akibat gangguan ini meningkat, 

sedang  kematian sebab  penyakit kar-

diovaskuler (PJP) menurun.27 Menurunkan 

angka kematian COPD merupakan salah 

satu tujuan dari “Global initiative for chronic 

obstructive lung disease” (GOLD), suatu or-

ganisasi dari WHO dan US National Heart, 

Lung and Blood Institute. Petunjuk-petunjuk 

dalam GOLD ini dapat dipakai  untuk 

klasifikasi parahnya COPD.

pemicu 

Juga bergejala inflamasi dari saluran per-

napasan namun  dengan corak yang berlainan 

dari asma.

Kelanjutan dari peradangan memicu  

penyempitan dari saluran udara dan tim-

bulnya fibrosis dan destruksi dari parenkim 

paru-paru (emfisema). Akibatnya yaitu  se-

sak napas pada waktu menjalani kegiatan 

fisik dan sewaktu berolahraga, yang meru-

pakan gejala khas dari COPD.

Pengobatan utama dari COPD yaitu  

bronchodilator yang berfungsi melegakan 

saluran pernapasan. 

Berbeda dengan asma penyumbatan sa-

luran udara pada COPD yaitu  progresif 

dan peradangannya biasanya  resis-

ten terhadap obat-obat kortikosteroid. Di 

samping gangguan alat pernapasan, keba-

nyakan penderita COPD juga menderita 

gangguan jantung, hipertensi dan diabetes 

(Barnes and Celli, 2009)41, menurunnya berat 

badan, depresi, osteoporosis dan anemia.

Bronchitis bercirikan batuk ‘produktif’ me-

nahun dengan pengeluaran banyak dahak, 

tanpa sesak napas atau hanya ringan. Dalam 

kebanyakan kasus (80%) disebabkan infeksi 

akut saluran pernapasan oleh virus, yang 

mudah disuprainfeksi oleh bakteri, terutama 

Haemophilus influenzae yang sangat terkenal. 

Namun, di negara-negara dingin juga terjadi 

(supra)-infeksi dengan Str. pneumoniae (Pneu-

mococcus) dan Branhamella catarrhalis. 

Emfisema paru (L. pengembangan) berciri-

kan dilatasi dan destruksi dari jaringan paru-

paru, yang memicu  sesak napas terus-

menerus dan menghebat pada waktu menge- 

luarkan tenaga (exertion); penderita sering 

kali merasa letih dan tidak bergairah. 

Gelembung paru (alveoli) terus mengembang 

dan rongganya membesar, sehingga dinding-

dindingnya yang mengandung pembuluh 

darah menjadi sangat tipis dan sebagian 

akhirnya rusak. Dengan demikian permukaan 

paru yang tersedia bagi penyerapan oksigen 

berkurang sampai di bawah 30%, sehingga 

jantung harus bekerja lebih keras untuk 

memenuhi kebutuhan akan oksigen. Tonus di 

cabang-cabang batang nadi (aorta) bertambah 

dan tekanan darah di arteriole paru-paru 

meningkat. Akhirnya pembebanan ini dapat 

memicu  hipertrofi ventrikel kanan 

jantung dan terjadilah cor pulmonale (jan-

tung membesar).

pemicu  utama emfisema yaitu  bron-

chitis kronis dengan batuk bertahun-tahun 

lamanya, juga asma. Emfisema dapat diang-

gap sebagai tahap  terakhir dari asma dan 

bronchitis, yang tidak dapat disembuhkan 

lagi (irreversibel). Sebetulnya, setiap orang di 

atas usia 60 tahun kurang lebih menderita 

emfisema ringan sebagai bagian dari proses 

menua, namun  terutama pada penderita bron-

chitis kronis terjadi keluhan-keluhan itu  

di atas.

* Merokok.Faktor utama timbulnya COPD 

yaitu  merokok (sigaret). Rangsangan terus-

menerus dari asap rokok memicu  

hipertrofi dari sel-sel pembentuk mucus di 

saluran pernapasan yang merupakan ciri 

patologis yang konsisten dari bronchitis 

kronis. Asap rokok mengandung banyak ok-

sidan, seperti radikal bebas, NO, radikal 

hidroksil dan H2O2. Lekosit perokok mem-

bentuk lebih banyak oksidansia seperti su-

peroksida-anion (O2

-) dan H2O2 dibanding 

dengan non-smokers. Juga mengandung zat-

zat perangsang enzim elastase, yang merom-

bak serat-serat elastin dalam dinding gelem-

bung paru, sehingga kekenyalannya menurun. 

Akhirnya terjadi kelainan irreversibel dalam 

bentuk fibrosis dan destruksi dari dinding 

itu  di mana ada  pembuluh darah, 

sehingga fungsi paru terganggu secara per- 

manen. Kebanyakan pasien bronchitis kro-

nis dan emfisema terdiri dari pria, yang 

sering kali yaitu  perokok berat (lebih dari 

30 batang sehari). Bahkan ada hubungan 

langsung dengan jumlah sigaret yang dihisap 

seharinya. Risiko kematian akibat bronchitis 

pada perokok berat yaitu  20 kali lebih besar 

daripada orang yang tidak merokok. 

Merokok yaitu  pemicu  penting dari 

kanker dan secara langsung atau tidak lang- 

sung berkaitan dengan timbulnya 10 jenis 

tumor dan pemicu  30% dari semua ke-

matian sebab  kanker. Walaupun penge-

tahuan mengenai efek buruk dari merokok 

sudah diketahui, namun  jumlah perokok 

masih tetap besar dan sekitar lebih dari 1,3 

milyar perokok ada  di seluruh dunia.

......................................... Guindon GE et al.; Past, current and fu-

ture trends in tobacco use. Washington, The 

International Bank for Reconstruction and 

Development, 2012.

Asap rokok mengandung a.l. senyawa 

karbohidrat polisiklis aromatik yang dapat 

menginduksi enzim metabolisasi cytochrom 

P450 (CYP). Oleh sebab ini farmakokinetik 

dari berbagai jenis obat dapat dipengaruhi, 

misalnya klozapin dan propranolol (diper-

cepat).

* Polusi udara juga merupakan faktor pada 

terjadinya COPD. Walaupun hal ini tidak 

terlalu penting, namun  nyatanya mortalitas 

akibat COPD sangat meningkat pada saat 

timbulnya polusi berat. Di negara-negara 

Barat situasi ini terutama terjadi pada musim 

dingin (smog) ketika asap dan SO2 (kendaraan 

bermotor) terjebak di udara.

Radikal bebas. Lihat juga boks Antioksidansia di Bab 54, Dasar-dasar diet sehat.

Pada banyak proses metabolisme di dalam tubuh terbentuk radikal bebas (free radicals, FR), yaitu 

molekul-molekul yang sangat reaktif sebab  kehilangan satu elektron. Hal yang juga terjadi ketika 

granulosit neutrofil meningkatkan metabolisme oksidatifnya, pada saat mana dibebaskan produk 

oksigen aktif, seperti hidrogenperoksida, oksigen singlet (O2), anion-superoksida (O2

-), dan radikal-

hidroksil (OH-). FR ini memasuki dan “menari-nari” di dalam sel-sel tubuh sambil „mencuri“ elektron 

dari molekul lain, yang terpaksa berbuat sama. Reaksi rantai ini berlangsung terus-menerus bila tidak 

dihentikan oleh antioksidansia dan mampu merusak langsung bagian vital dari sel (DNA) atau secara 

tak langsung via peroksidasi-lipida dari membran sel. 

Antioksidansia. FR ini lazimnya diinaktifkan oleh antioksidansia alamiah kuat yang ada  dalam 

tubuh, seperti vitamin A dan E, katalase, super-oksida-dismutase (SOD) dan glutationperoksidase 

(GPx). Senyawa-senyawa ini dapat menyerahkan elektron pada FR, misalnya anion-superoksida 

pertama-tama diubah menjadi H2O2 untuk kemudian direduksi menjadi H2O oleh katalase dan GPx. 

Radikal bebas juga dapat “dihirup” dari luar melalui udara, sebagai asap rokok, asap pabrik dan gas 

pembuang mobil (NO2, SO2). Paru-paru dilindungi terhadap FR ini oleh antioksidansia alamiah yang 

ada  di mucus dan sekret khusus dari gelembung paru. Pada proses antioksidasi ini di paru, 

khususnya suatu tripeptida glutation, berperan penting. 

Nitrogenoksida (NO) telah ditemukan di tahun 1992 sebagai radikal bebas dengan sifat 

neurotransmitter dan ternyata berperan penting pada ketahanan umum serta imunomodulasi. 

Dengan demikian senyawa ini terkait pada banyak proses peradangan. Misalnya NO berperan pada 

aterosklerosis, hipertensi, ARDS (adult respiratory distress syndrome), radang usus kronis, ALS (amyotrofe 

laterale sclerosis), rema dan penyakit auto-imun lain. Gas bermolekul kecil ini mudah melintasi 

dinding sel dan akibat elektron bebasnya bersifat radikal dan instabil dengan masa paruhnya yang 

singkat sekali (<500 msec). NO bereaksi sangat cepat dengan a.l. oksigen dan superoksida (O2

-) dan 

membentuk metabolit, seperti nitrit (NO2

-), nitrat (NO3

-) dan peroxynitrit (ONOO-). Selanjutnya NO 

juga mengaktivasi enzim guanilatsiklase. 

NO dibebaskan pada reaksi oksidasi dari asam amino arginin di bawah pengaruh enzim NO-sintetase 

sebagai berikut:

 l-arginin ––––––––––> l-citrulin + *N=O

 

Dalam darah NO dengan pesat mengikat pada ion-ferro dari haem (= bagian nonprotein dari hemoglobin) 

atau zat-zat thiol dengan pembentukan nitrosothiol yang bersifat lebih stabil (masa paruhnya 

lebih panjang daripada NO). Senyawa ini dapat mengaktivasi guanilatsiklase yang menstimulisasi 

pengubahan GTP menjadi “second messenger” cGMP (cyclic guanil-mono-p hosphate). cGMP ini berperan 

di banyak proses tubuh, a.l. di paru-paru dengan efek relaksasi langsung atas otot polos.Lihat jugaBab 

43. Zat-zat Androgen, boks Viagra. 

*NO dalam paru. NO yang berasal dari endotel berefek vasodilatasi bronchi sehingga berperan pada 

regulasi lokal dan umum dari paru-paru. Gas ini merupakan neurotransmitter utama dari sistem non-


Penanganan COPD

Tindakan umum yang dapat diambil untuk 

menghindari perusakan lebih jauh dari 

saluran pernapasan dan paru-paru yaitu  

kurang lebih sama dengan langkah-langkah 

preventif terhadap asma. Yang mutlak yaitu  

berhenti merokok, juga menjauhi zat-zat 

perangsang lainnya. 

Pengobatan. Pada terapi COPD, tujuan uta-

ma yaitu  bronchodilatasi melalui inhalasi 

β2-mimetika atau antikolinergika untuk me-

ngurangi obstruksi bronchi. Pada eks-pero-

kok ipratropium lebih efektif daripada β2-

mimetika untuk memperbaiki fungsi paru-

paru (Rennard, 1996). Kombinasi kedua 

jenis obat biasanya  berefek lebih baik 

(aditif). Teofilin bila perlu dapat ditambahkan 

dan sebaiknya sebagai sediaan-retard agar 

pelepasan obat berlangsung secara teratur.

*Exacerbatio (serangan) perlu diobati seca-

ra intensif dengan bronchodilator (β2-mime-

tika, ipratropium) bersama kur oral korti-

kosteroid dengan dosis tinggi. Antibiotik 

baru dipakai  bila ada  gejala infeksi 

bakteriil dan bila kedua obat sesudah  48 jam 

tidak menghasilkan (cukup) efek.

Pada serangan akut dengan bakteri bia-

sanya diberikan antibiotik selama minimal 10 

hari agar infeksi tidak kambuh. 

Antibiotik terpilih yang sering dipakai  

yaitu  co-amoxiclav, kotrimoksazol, sefik-

sim, sefradin atau sefaklor yang semuanya 

berkhasiat bakterisid. Doksisiklin bekerja 

bakteriostatik dan sebaiknya hanya diberikan 

adrenerg dan non-kolinerg yang menghambat penciutan bronchi berlebihan. NO dibentuk dalam 

jumlah besar pada sel-sel beradang, oleh sebab  itu penting pada ketahanan paru terhadap mikro-

organisme dan sel-sel tumor, yang dapat dimusnahkannya. Dalam hal ini, makrofag berperan sentral, 

sebab  berdaya membentuk berlebihan NO sesudah  aktivasi oleh a.l. sitokin, seperti IFN-gamma, IL-1-

beta, atau TNF-alfa. NO dalam konsentrasi tinggi bersifat mematikan sel secara langsung. 

Peranan NO pada patologi asma yaitu  besar,namun  makna sebenarnya belum begitu jelas sebab  

efeknya dapat bertentangan. Misalnya di dalam paru NO memicu  penciutan saluran pernapasan 

akibat stimulasi peradangan, sedang  di pihak lain merelaksasi otot polos kecil bronchi dengan efek 

dilatasi. NO juga dapat meningkatkan permeabilitas dari pembuluh kecil yang terlibat dalam proses 

peradangan asma serta berfungsi imunomodulasi, yang turut bertanggungjawab atas terjadi dan 

terpeliharanya asma. Caranya ialah dengan memicu  dan memperkuat disbalans (terganggunya 

keseimbangan) antara limfo-T-helpercells (helper-1 dan helper-2). Akhirnya diperkirakan bahwa 

kadar tinggi NO menstimulasi obstruksi bronchi dan hiperreaktivitas aspesifik. 

* stres oksidatif. Masalah ini penting pada asma parah dan COPD yang dapat meningkatkan resistensi 

kortikosteroid. Bila timbul terlalu banyak FR, seperti pada perokok, maka jumlah antioksidansia faal 

tidak mencukupi lagi untuk menginaktifkannya. Epitel paru-paru dengan bulu-bulu getar akan 

dirusak, sedang  sel-sel lendir justru bertambah banyak. Produksi lendir bertambah dengan efek 

peningkatan jumlah makrofag yang membentuk zat-zat chemotactis. Oleh sebab  itu granulosit „ditarik“ 

ke paru-paru yang bersama makrofag membentuk enzim peroksidase dan elastase dalam jumlah 

besar. Pada proses ini terbentuk pula FR yang toksik (merusak) bagi enzim-pelindung anti-elastase. 

Dengan demikian elastase „berkuasa“ dan merombak serat elastin di dinding alveoli. 

Radikal oksigen toksik itu  selain pada COPD, juga memegang peranan penting pada 

patogenesis dari berbagai penyakit, a.l. aterosklerosis, katarak dan gagal hati akut akibat intoksikasi 

parasetamol. 

Antioksidansia. Proses perusakan itu  oleh FR dapat dihambat dengan jalan memberikan 

antioksidansia tambahan dari luar (eksogen), a.l. vitamin A, vitamin E, selenium, seng dan asetilsistein. 

Yang terakhir yaitu  precursor dari glutation dan berkhasiat mengurangi produksi FR yang meningkat 

oleh makrofag alveoler di bawah pengaruh asap sigaret. 

sebab  daya kerja anti-oksidan itu  di atas hanya lemah, usaha mencari anti-oksidan yang 

lebih kuat masih dalam perkembangan 

bila daya tahan pasien masih baik, yaitu 

memiliki cukup granulosit dan limfosit. 

Bila ada  komponen asma, pemakaian  

kortikosteroida inhalasi (ICS) sangat ber-

manfaat untuk mengurangi HRB dan meng-

hadapi peradangan di saluran pernapasan. 

Pada permulaan bab ini telah diungkapkan 

bahwa pemakaian  ICS pada COPD tidak 

memberikan efek terhadap fungsi paru, teta- 

pi timbul pertanyaan apakah fungsi paru 

merupakan parameter yang cocok untuk 

mengevaluasi efek pengobatan dengan ste- 

roid, sebab  obat-obat ini juga mampu 

memperbaiki kwalitas hidup, menurunkan 

jumlah eksaserbasi dan angka kematian. 

Juga ternyata bahwa masih cukup banyak 

penderita COPD di obati dengan kortikos-

teroida inhalasi.28 Di samping itu dewasa ini 

mulai diterima pengertian efektivitas dari 

tambahan antioksidansia untuk melindungi 

paru-paru terhadap efek merusak dari radi-

kal bebas. 

Peradangan dan stres oksidatif memegang 

peranan penting pada patogenesis dan pro-

gres COPD. Radikal oksigen reaktif yang 

dihirup melalui asap rokok dan radikal ok-

sigen yang dibentuk endogen oleh sel-sel 

radang memicu  beban yang meningkat 

pada paru-paru penderita. Sel radang ini, 

pada COPD terutama makrofag, limfo-T CD8+ 

dan sel neutrofil membentuk mediator-media-

tor seperti interleukin-8, TNF-alfa dan LT-B4, 

yang selanjutnya menarik lagi sel radang dan 

meningkatkan lebih lanjut produksi radikal 

oksigen reaktif, lihat selanjutnya boks.

Akibatnya ialah perubahan struktural 

pada sel-sel paru, seperti kontraksi jaringan 

otot polos, aktivasi mastcells, bertambahnya 

permeabilitas epitel alveoli dan pelarutan 

sel (lysis) yang akhirnya merusak sel secara 

irreversibel.

Selain itu, stres oksidatif menurunkan da-

ya tahan imunologik di paru, yang mening-

katkan risiko akan infeksi dan pemburukan 

fungsi paru.

pemakaian  kontinu dari asetilsistein 

(NAC) mampu mengurangi kumatnya (exa-

cerbatio) penyakit, terutama bila bronchitis 

diakibatkan oleh mero