Tampilkan postingan dengan label kasus obstetri 4. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasus obstetri 4. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

kasus obstetri 4

 
























g berkaitan dengan EBM, yang 

telah disesuaikan dengan fasilitas yang ada di Indonesia.   

RCOG Green Top Guideline disusun berdasar  

metodologi standar untuk menyusun  pedoman-pedoman 

RCOG yang lain dengan mengambil data dari Cochrane 

Library, TRIP, Medline, PubMed (electronic database). 

Sedapat mungkin rekomendasi disusun berdasar  basis 

bukti yang telah diakui dan apabila data yang berbasis bukti 

belum ditetapkan, dicantumkan sebagai ‘Good practice 

point’. 

 

V. Definisi  PPS 

 

Perdarahan pasca salin yaitu  perdarahan yang  

mencapai 500-1000cc sesudah  anak lahir yang bisa 

diakibatkan oleh atoni uteri, perlukaan jalan lahir, sisa 

jaringan plasenta dan kelaianan faktor pembekuan darah.  

Secara klasik  WHO mengklasifikasikan PPS sebagai:5-6  

 

 

• Perdarahan pasca salin Primer/Dini yaitu: pedarahan ≥ 

500cc dalam 24 jam pertama sesudah  bayi lahir.                     

• Perdarahan pasca salin Sekunder / lanjut  yaitu: 

perdarahan  ≥ 500cc sesudah 24 jam pertama sesudah  

persalinan. 

 

berdasar  jumlah perdarahannya, PPS dibagi menjadi 2 

yaitu: 

• Perdarahan pasca salin minor: jumlah perdarahan 

antara 500-1000cc tanpa tanda-tanda klinis syok. 

• Perdarahan pasca salin mayor: jumlah perdarahan 

>1000 cc atau <1000cc  namun  terdapat tanda-tanda 

klinis syok.       

 

Pedoman ini menggunakan pendekatan pragmatis, bila 

diperkirakan darah yang keluar antara 500-1000 cc tanpa 

tanda-tanda klinis syok, dilakukan penatalaksanaan dasar 

untuk menghentikan perdarahan dan resusitasi awal. 

Bila perdarahan diperkirakan >1000cc (atau <1000 cc 

namun  tampak tanda-tanda  klinis syok seperti takikardia, 

hipotensi, takipnu, oliguria atau pengisian kapiler perifer 

yang melambat) maka harus segera dilakukan protokol 

lengkap. Perkiraan jumlah darah yang keluar secara visual 

seringkali underestimate / kurang dari yang sesungguhnya 

sehingga sebaiknya dipakai metoda yang lebih akurat 

seperti menimbang kassa yang terpakai dan mengukur 

darah yang keluar.7 

                                                                                                                      

VI. Prediksi dan Prevensi Perdarahan Pasca Salin 

 

Apakah faktor risiko PPS dan bagaimana meminimalkan 

risiko ini ? Faktor risiko dapat ditemukan saat 

antenatal atau intrapartum. Klinisi harus waspada dan 

tanggap terhadap faktor risiko PPS dan sudah harus 

mempertimbangkan risiko ini pada saat konseling 

penentuan tempat persalinan. 

  

 

Tabel 1. Risiko PPS 8 

 

 

 

VII. Keterangan Sesuai Evidens Based Medicine  

      Practice 

 

Mayoritas kasus PPS tidak ditemukan faktor risiko. 

Manajemen aktif kala III menurunkan jumlah perdarahan 

dan menurunkan risiko PPS. 

• Manajemen aktif kala III terdiri dari pemberian 

oksitosin 10 IU intramuskuler 1 menit sesudah  bayi 

lahir, melakukan peregangan tali pusat terkendali 

dengan melakukan  traksi berlawanan setinggi os 

pubis, masase uterus. Jika tidak terjadi tanda-tanda 

pelepasan plasenta traksi harus dihentikan dan 

ditunggu kontraksi selanjutnya sampai plasenta 

terlepas dan lahir. Masase fundus uteri dilanjutkan 

setiap 15 menit selama 1 jam untuk merangsang 

kontraksi uterus.  

 

• Masase fundus uteri yaitu  meletakkan telapak 

tangan pada fundus uteri, kemudian dengan lembut 

dan mantap menggerakkan tangan dengan arah 

memutar pada fundus uteri supaya uterus 

berkontraksi. 

     

Pemberian oksitosin profilaksis yang diberikan secara rutin 

pada manajemen aktif kala III terbukti menurunkan risiko 

PPS hingga 60%.  

Untuk ibu bersalin secara seksiosesarea, oksitosin (5  IU 

dengan cara intravena perlahan) harus diberikan untuk 

merangsang kontraksi uterus dan mengurangi perdarahan. 

Dosis oksitosin bolus mungkin tidak sesuai untuk beberapa 

kasus, misalnya pada ibu bersalin dengan kelainan 

kardiovaskuler, sehingga disarankan pemberian oksitosin 

dengan dosis lebih rendah sebagai alternatif yang lebih 

aman.  

Misoprostol tidak seefektif oksitosin namun  dapat digunakan 

bila tidak memungkinkan pemberian  oksitosin , misalnya 

pada persalinan di rumah. 

Semua wanita dengan riwayat seksio sesarea harus 

dilakukan pemeriksaan USG untuk menentukan letak 

plasenta dan mendeteksi kemungkinan adanya plasenta 

akreta atau perkreta. 

Ibu hamil dengan plasenta akreta / perkreta mempunyai 

risiko sangat tinggi mengalami PPS dini.  Bila plasenta 

akreta atau perkreta terdiagnosa antepartum, proses 

persalinan harus ditangani secara multidisiplin dibawah 

komando konsultan.  Tim terdiri dari konsultan obstetri dan 

staf anestesi disertai ketersediaan darah, plasma beku dan 

trombosit serta tempat persalinan yang lengkap dengan 

fasilitas OK 24 jam dan ICU.      

 

VIII. Keterbatasan Data Dalam Pedoman 

 

Kesulitan dalam menentukan jumlah perdarahan yang 

akurat membuat banyak kasus yang tidak terlaporkan atau 

underestimated sehingga belum diperoleh jumlah data 

yang akurat mengenai jumlah kasus PPS di Indonesia. 

 

 

IX. Penatalaksanaan PPS (medisinalis, operatif, 

termasuk informed consent ) 

 

Segera sesudah   diagnosa PPS ditegakkan, penatalaksana-

an yang mencakup 4 komponen, yaitu: komunikasi, 

resusitasi, monitoring tanda-tanda vital serta mencari dan 

menghentikan sumber perdarahan  harus dilakukan secara 

simultan. Harus diingat bahwa  PPS minor dapat dengan 

mudah  menjadi PPS mayor dan seringkali terjadi tanpa 

disadari. Pola penatalaksanaan yang akan diuraikan dalam 

pedoman ini yaitu  untuk kasus yang ditangani di RS yang 

dipimpin oleh konsultan obstetri dengan akses laboratorium 

dan bank darah dengan staf obstetri dan anestesi terlatih 

yang  siap siaga. 

Bila PPS dini terjadi di kondisi yang  berbeda (persalinan di 

rumah atau di rumah bersalin dengan penolong bidan) 

pedoman ini harus segera dilakukan untuk mengurangi 

perdarahan yang terjadi serta sesegera mungkin merujuk 

pasien ke tempat pelayanan yang mempunyai fasilitas 

operatif dan tim yang terlatih. 

 

9.1. Komunikasi 

 

Siapa yang harus diberi informasi bila seorang ibu bersalin 

mengalami PPS? 

Penatalaksanaan Dasar untuk PPS minor ( jumlah darah 

yang keluar antara 500-1000 cc tanpa tanda-tanda klinis 

syok) 

• Informasi pada bidan yang bertugas 

• Informasi pada tenaga obstetri dan anestesi yang 

terlatih dalam penatalaksanaan PPS 

Protokol lengkap untuk PPS mayor (kehilangan darah 

>1000cc dan perdarahan masih terus berlangsung atau 

terjadi syok) 

• Panggil bidan terlatih lain (tambahan di luar bidan 

yang bertugas) 

• Panggil dokter jaga obstetri  dan hubungi konsultan 

obstetri 

 

 

 

• Panggil dokter jaga anestesi dan hubungi konsultan 

anestesi 

• Hubungi dokter jaga hematologi  

• Hubungi bank darah 

• Panggil petugas untuk mengantar spesimen darah 

• Tetapkan seorang petugas tambahan untuk 

mencatat tindakan, cairan, obat yang telah diberikan 

dan mencatat tanda-tanda vital pasien. 

Pada kasus PPS mayor dengan perdarahan yang masih 

berlangsung  ini konsultan obstetri dan anestesi harus hadir 

untuk terlibat langsung dalam penanganan pasien. 

Komunikasi harus dilakukan kepada pasien dan  

keluarganya  tentang kondisi pasien serta masalah yang 

sedang terjadi termasuk penanganan yang akan dilakukan 

serta kemungkinan terburuk yang dapat terjadi seperti 

perlunya tindakan operatif bila tindakan konservatif dan 

medisinalis tidak membantu. 

 

9.2.  Resusitasi 

 

Segera lakukan penilaian awal adanya syok atau per-

darahan hebat dengan pendekatan sistematis ABC. Secara 

simultan dilakukan upaya menentukan pemicu  

perdarahan.   

 

A dan  B (assess airway and breathing) 

Berikan oksigen konsentrasi tinggi (10-15 liter/menit) 

melalui sungkup  tanpa harus memperhitungkan konsen-

trasi oksigen maternal.  Bila jalan nafas terganggu sebab  

terganggunya kesadaran, perlu diberikan bantuan anestesi 

secepat mungkin.  Biasanya  tingkat kesadaran dan 

perbaikan jalan nafas akan cepat terjadi segera sesudah  

volume sirkulasi diperbaiki. Penting sekali untuk segera 

menilai jumlah darah yang keluar seakurat mungkin dan 

menentukan derajat perubahan hemodinamik. Lebih baik 

overestimate jumlah darah yang hilang dan bersikap 

proaktif daripada underestimate dan bersikap menunggu / 

pasif. Nilai tingkat kesadaran, nadi, tekanan darah dan bila 

fasilitas memungkinkan, saturasi oksigen harus dimonitor.  

  

 

C (Evaluate circulation) 

Saat memasang jalur infus dengan abocath 14G - 16G, 

harus segera diambil 20 cc spesimen darah untuk 

pemeriksaan darah lengkap, profil pembekuan darah, 

elektrolit dan penentuan golongan darah, crossmatch untuk 

penyediaan 4 unit darah  ( RIMOT = resusitasi, infus 2 jalur, 

monitoring keadaan umum, nadi dan tekanan darah, 

oksigen, team approach ). Jumlah cairan dan jenis cairan 

yang diberikan harus disesuaikan dengan derajat 

perdarahan dan derajat syok. Diberikan cairan kristaloid 

dan koloid  sambil menunggu hasil crossmatch.  

 

Penatalaksanaan dasar untuk PPS minor (kehilangan 500-

1000cc darah tanpa tanda-tanda klinis syok) 

• Akses intravena  dengan jarum 14 G 1 jalur 

• Berikan infus kristaloid 

Protokol lengkap untuk PPS mayor (kehilangan darah 

>1000 cc atau perdarahan masih berlangsung atau 

terdapat tanda klinis syok) 

• Penilaian A=airway (jalan nafas) 

• Penilaian B=breathing (usaha nafas) 

• Evaluasi C=circulation 

• Pemberian oksigen 10-15 liter/menit 

• Pemasangan jalur intravena (l4 G 2 jalur) 

• Pasien diposisikan datar 

• Upayakan pasien tetap dalam kondisi hangat 

• Pemberian transfusi darah sesegera mungkin 

• Sampai darah tersedia, diberikan cairan infus 3,5 

liter cairan kristaloid Hartmann hangat 2 liter dan 

atau koloid 1-2 liter secepat mungkin. 

• Trasfusi darah harus menggunakan jalur intravena 

tersendiri 

• Pemberian faktor VII-a rekombinan harus 

berdasar  hasil pemeriksaan pembekuan darah. 

 

Terapi cairan dan produk darah untuk transfusi 

• Kristaloid : hingga 2 liter cairan Hartmann 

• Koloid :1-2 liter hingga produk darah  tersedia 

  

 

• Darah : harus yang sudah di crossmatched bila 

crossmatch tidak memungkinkan dapat diberikan 

darah yang tidak dicrossmatch dengan golongan 

darah yang sama dengan pasien. 

• Fresh frozen plasma (FFP) : 4 unit setiap 6 unit 

eritrosit (PRC) atau bila rasio protrombin time (PT) / 

activated partial thromboplastin time (aPTT) >1,5 x 

normal, dengan dosis 12-15 ml/kg atau total 1 liter. 

• Trombosit : bila jumlah trombosit < 50.000 

• Kriopresipitat : bila fibrinogen < 1 g/liter 

 

Lakukan penilaian Klinis dalam setiap situasi 

 

Tujuan utama resusitasi pada kasus PPS yaitu  upaya 

mengembalikan volume dan oxygen-carrying capacity 

darah.  Penggantian cairan yang hilang harus dilakukan 

berdasar  pertimbangan jumlah darah yang hilang (hati 

hati jangan sampai terjadi underestimated).  Packed Red 

Cell (PRC) yaitu  cairan terbaik untuk menggantikan darah 

yang hilang dan harus ditransfusikan secepat mungkin.  

Pertimbangan klinis harus didasarkan pada keadaan klinis 

pasien dan tidak harus menunggu hasil laboratorium.  

Pada tahun 2006 The British Committee for standards in 

Hematology membuat standar pencapaian resusitasi cairan 

dan darah pada keadaan PPS mayor dengan parameter 

sebagai berikut: 

• hemoglobin > 8g/dl 

• jumlah trombosit > 75.000/L 

• protrombin > 1,5 x nilai normal 

• fibrinogen> 1,0 g/L. 

 

Cairan apakah yang dapat digunakan untuk resusitasi ? 

 

9.2.1.  Cairan pengganti 

berdasar  konsensus, volume total 3,5 L cairan (2 liter 

Larutan Hartmann hangat secepat mungkin diberikan, 

dilanjutkan dengan koloid  hangat maksimal 1,5 liter)  bila 

darah belum tersedia. Yang terpenting selain volume, 

cairan infus ini  harus diberikan secepat mungkin dan 

 

Penatalaksanaan Perdarahan Pasca Salin      170 

 

harus dalam keadaan hangat sebab  suhu tubuh pasien 

harus tetap hangat. 

 

9.2.2.  Transfusi darah 

Apabila darah yang telah di-crossmatched belum tersedia 

sesudah  3,5 L cairan awal diberikan, harus dicari upaya 

yang dapat segera memperbaiki oxygen-carrying capacity.  

Terdapat berbagai variasi alternatif tergantung pasien dan 

kondisi setempat.  Untuk kasus emergensi di Inggris, 

biasanya digunakan darah Group O RhD-negatif untuk 

menghindari ketidak-cocokan darah.  Atau bila jenis darah 

kompatibel, bisa diberikan darah yang belum di 

crossmatched. Sehubungan dengan kebutuhan darah 

untuk kasus PPS mayor, semua tempat bersalin, 

khususnya tempat bersalin kecil tanpa bank darah harus 

menyediakan stok darah O RhD-negatif. The Confidential 

Enquiry into Maternal and Child Health  merekomendasikan 

setiap ibu dengan faktor risiko PPS yang telah diketahui 

sejak antenatal sebaiknya tidak bersalin di fasilitas yang 

tidak mempunyai bank darah dan fasilitas operatif. 

 

9.2.3.  Komponen darah apakah yang dapat digunakan? 

Bila darah yang hilang mencapai 4,5 liter (80% dari volume 

darah total) dan telah diberikan cairan pengganti dalam 

jumlah banyak, akan terjadi gangguan faktor pembekuan 

sehingga komponen darah tambahan harus diberikan.  

Sementara menunggu advis dari dokter ahli hematologi, 

dapat diberikan maksimal 1 liter fresh frozen plasma (FFP) 

dan 10 unit kriopresipitat (2 pak) secara empiris untuk 

menghentikan perdarahan yang terus berlangsung, sambil 

menunggu hasil pemeriksaan faktor koagulasi.  Terapi 

empiris ini berdasar  rekomendasi yang dibuat oleh The 

British Committee for Standards in Haematology guideline. 

(www.transfusiguidelines.org.uk). Klinisi harus selalu ingat 

bahwa segera sesudah  diagnose PPS ditegakkan 

permintaan komponen darah ini harus segera dimintakan 

sebab  perlu waktu untuk memprosesnya. 

 

 

 

9.3. Monitoring dan Investigasi 

Pemeriksaan laboratorium apakah yang harus dilakukan 

dan bagaimana sebaiknya memonitor pasien PPS? 

 

 

Penatalaksanaan dasar untuk PPS Minor: 

• Mengambil  darah vena (20 cc) untuk: 

o Skrining golongan darah 

o Pemeriksaan hematologis lengkap 

o Skrining faktor pembekuan termasuk 

fibrinogen 

• Mencatat nadi dan tekanan darah setiap 15 menit. 

 

Protokol Lengkap untuk PPS mayor, yaitu : 

• Mengambil  darah vena (20cc) untuk crossmatch, 

pemeriksaan hematologis lengkap, pemeriksaan 

faktor koagulasi termasuk fibrinogen, fungsi renal 

dan hepar. Disediakan minimal 4 kantong darah. 

• Monitor suhu setiap 15 menit 

• Memasang monitor nadi, tekanan darah dan 

respirasi kontinyu (memakai pulse-oximeter, EKG 

dan alat pengukur tensi otomatis) 

• Memasang kateter foley untuk memonitor output 

urin 

• Memasang 2 jalur infus, dengan jarum 14 atau 16 G 

• Pertimbangkan pemasangan  CVP 

• Pertimbangkan transfer ke ICU atau High care unit 

segera sesudah  perdarahan terkontrol atau 

setidaknya monitoring ketat di ruang persalinan 

• Pencatatan parameter tanda vital, semua cairan, 

obat dan darah yang diberikan serta prosedur yang 

dilakukan. 

 

Pemasangan CVP tidak saja dilakukan untuk memonitor 

tekanan arteri sentral secara akurat namun  juga untuk 

menilai pemberian input cairan.  berdasar   rekomendasi 

The 2000-2002 report of UK confidential Enquiries into 

Maternal Deaths : Monitoring  dengan CVP harus dilakukan 

  

 

bila sistem kardiovaskuler terganggu baik oleh perdarahan 

atau  proses penyakit.  Pemasangan CVP  pada kasus 

PPS mayor harus dilakukan oleh konsultan anestesi yang 

terampil agar risiko morbiditas dan mortalitas sebab  

perdarahan akibat  pemasangan CVP dapat dicegah. 

Hal penting yang harus diingat, segera sesudah  perdarahan 

berhasil diatasi dan faktor koagulasi dikoreksi, pemberian 

trombofilaksis harus segera dimulai sebab  kasus PPS 

mayor merupakan risiko tinggi terjadinya trombosis.  

Sebagai alternatif, bila trombofilaksis merupakan 

kontraindikasi misalnya pada kasus trombositopenia, dapat 

dipasang alat pneumatic compression. 

Pasien dan keluarganya harus terus diberi informasi 

tentang perkembangan situasi yang terjadi. 

 

9.4.  Penatalaksanaan anestesi 

 

Ahli anestesi diperlukan kehadirannya untuk menilai 

keadaan umum pasien, untuk memulai atau melanjutkan 

resusitasi sebagai upaya memperbaiki volume intravaskuler 

dan pemberian anestesi yang adekuat bila pasien harus 

dibantu lebih lanjut dengan terapi operatif. 

 

Pada kondisi pasien dengan ketidakstabilan kardiovaskuler, 

anestesi regional merupakan kontraindikasi relatif. Blok 

sistem simpatis berpotensi memperburuk hipotensi akibat 

perdarahan.  Bila sistem kardiovaskuler relatif stabil, 

anestesi regional dapat diberikan.  Pemberian blok epidural 

kontinyu lebih baik daripada blok spinal sebab  dapat 

mengontrol tekanan darah dan dapat dipergunakan pada 

tindakan operatif yang lama. 

Bila perdarahan terus berlanjut dan stabilitas 

kardiovaskuler mulai terganggu, lebih tepat dipilih  anestesi 

umum.  Standar baku yang disarankan yaitu  rapid 

sequence induction untuk menurunkan risiko aspirasi. 

Harus dipilih zat anestesi induksi yang tidak banyak 

mempengaruhi sistem kardiovaskuler dan vasodilator 

perifer yang minimal.  Adrenalin dan atropin harus tersedia 

  

 

pada saat induksi.  Ventilasi dengan oksigen konsentrasi 

tinggi diperlukan sampai sumber perdarahan terkontrol. 

 

9.5.  Menghentikan perdarahan 

pemicu  PPS yaitu  l atau lebih dari 4 faktor dibawah ini: 

• Tone (gangguan kontraksi uterus) 

• Tissue (sisa produk konsepsi) 

• Trauma (robekan jalan lahir) 

• Thrombin (gangguan fungsi koagulasi) 

pemicu  terbanyak PPS Dini yaitu  atonia uteri.  Akan 

namun  pemeriksaan klinis harus dilakukan dengan seksama 

untuk menyingkirkan sebab lain atau pemicu  penyerta 

lainnya, seperti: 

• Sisa jaringan (plasenta, membran, bekuan darah) 

• Laserasi vagina/serviks atau hematom 

• Ruptur uteri 

• Hematom ligamentum latum 

• Perdarahan ekstragenital (misalnya: ruptur 

subkapsula hepar) 

• Inversio uteri. 

 

Bila pemicu  perdarahan yaitu  atonia uteri, serangkaian 

langkah mekanis dan farmakologis berikut ini harus segera 

dilakukan sampai perdarahan berhenti: 

• Pastikan kandung kencing kosong (dipasang kateter 

foley) 

• Dilakukan kompresi uterus bimanual eksterna dan 

interna untuk merangsang kontraksi 

• Diberikan oksitosin 5 IU dengan cara pemberian 

bolus iv perlahan (dapat diulang) 

• Diberikan ergometrin 0,5 mg iv perlahan atau i.m. 

(kontraindikasi relatif pada wanita dengan 

hipertensi) 

• Infus oksitosin (40 unit dalam 500 cc larutan Hart -

mann dengan kecepatan 125cc/jam) kecuali diperlu 

kan restriksi cairan. 

• Misoprostol 800 ug per-rektal.   

 

 

Bila tindakan farmakologis gagal untuk mengontrol 

perdarahan, segera lakukan intervensi operatif.  

Tamponade uterus dengan balon merupakan intervensi  

operatif temporer yang tepat untuk semua wanita dengan 

atonia uteri sebagai pemicu  satu-satunya atau 

pemicu  utama PPS. Bila masih gagal, langkah 

intervensi operatif konservatif di bawah ini dapat 

dipertimbangkan, berdasar  kondisi sarana prasarana 

yang ada, antara lain : 

 

• Tamponade balon 

• B-Lynch suture  

• Ligasi arteri uterina bilateral 

• Ligasi arteri hipogastrika 

• Embolisasi arteria selektif. (hanya bila dicurigai 

adanya plasenta akreta dan fasilitas memungkin 

kan) 

 

Rekomendasi: gambar diagram teknik B-Lynch suture 

yang sudah dilaminasi harus tersedia di OK.                                                                                                                                                        

 

Segera beralih  ke tindakan histerektomi obstetri sesegera 

mungkin (terutama pada kasus plasenta akreta dan ruptur 

uteri). Diperlukan pertimbangan yang mendalam sebelum 

keputusan melakukan histerektomi. 

 

Tahapan penatalaksanaan perdarahan Pascasalin berikut 

ini dapat disingkat dengan istilah HAEMOSTASIS.9  

 

a. Ask for HELP   

Segera meminta pertolongan, atau dirujuk ke rumah 

sakit bila persalinan di bidan / PKM.  Kehadiran ahli 

obstetri, bidan, ahli anestesi dan hematologis sangat 

penting.  Pendekatan multi disipliner dapat 

mengoptimalkan monitoring dan pemberian cairan. 

Monitoring elektrolit dan parameter koagulasi yaitu  

data yang penting untuk penentuan tahap tindakan 

berikutnya. 

 C 

√ 

 C √ 

  

 

b. Establish Aetiology, Ensure Availability of Blood   

Sambil melakukan resusitasi juga dilakukan upaya 

menentukan etiologi perdarahan pasca salin.  (4 ‘T’s) 

c. Massage the uterus    

Perdarahan banyak yang terjadi sesudah  plasenta lahir 

harus segera ditangani dengan masase uterus  dan 

pemberian obat - obatan uterotonika.  Bila uterus tetap 

lembek harus dilakukan kompresi bimanual interna 

dengan menggunakan kepalan tangan kanan di dalam 

uterus dan telapan tangan kiri melakukan masase di 

fundus uteri. 

 

1. Medisinalis ( regimen farmakologis ) 

Oksitosin infus / ergometrin / prostaglandin. Dapat  

diberikan  oksitosin 40 unit dalam 500 cc normal salin dan 

dipasang dengan kecepatan 125 cc / jam. Hindari 

kelebihan cairan sebab  dapat menyebabkan edema 

pulmoner hingga edema otak yang pada akhimya dapat 

menyebabkan kejang sebab  hiponatremia. Hal ini timbul 

sebab  efek antidiuretic hormone ( ADH ) - like effect dari 

oksitosin. Jadi monitoring ketat masuk dan keluarnya cairan 

sangat esensial saat pemberian oksitosin dalam dosis 

besar. Ergometrin dapat diberikan secara intramuskuler 

atau intravena dengan dosis awal 0,2 mg ( secara perlahan 

). Dosis lanjutan 0,2 mg sesudah  15 menit bila masih 

diperlukan. Pemberian ergometrin dapat diulang setiap 2 - 

4 jam bila masih diperlukan. Dosis maksimal yaitu  1 mg 

atau 5 dosis per hari. Ergometrin kontraindikasi diberikan 

pada preeklampsia, vitiumcordis dan hipertensi. Bila 

perdarahan pascasalin tidak berhasil dengan pemberian 

ergometrin atau oksitosin, dapat diberikan misoprostol.  

2. Operatif ( prosedur – teknis operatif ) 

a. Shift to theatre  

Bila perdarahan masif masih tetap terjadi pasien segera 

dievakuasi ke ruang operasi. Pastikan pemeriksaan 

  

 

untuk menyingkirkan adanya sisa plasenta atau selaput 

ketuban. Bila diduga ada sisa jaringan, segera lakukan 

tindakan kuretase. Kompresi bimanual dilakukan selama 

ibu dibawa ke ruang operasi.  

 

b.Tamponade intra uterine or uterine packing  

Pada keadaan perdarahan masih berlangsung sesudah  

langkah - langkah di atas, pikirkan juga kemungkinan 

adanya koagulopati yang menyertai atonia yang 

refrakter. Tamponade uterus dapat membantu 

mengurangi perdarahan. Tindakan ini juga dapat 

memberi kesempatan koreksi faktor pembekuan. 

Segera libatkan tambahan tenaga dokter spesialis 

kebidanan dan hematologis, serta juga menyiapkan 

ruang ICU. Dapat dilakukan tamponade test dengan 

menggunakan Tube Sengstaken, yang mempunyai nilai 

prediksi positif 87% untuk menilai keberhasilan 

penanganan PPS. Bila pemasangan tube ini  

mampu menghentikan perdarahan berarti pasien tidak 

memerlukan tindakan bedah lebih lanjut. Akan namun  bila  

perdarahan masih tetap masif maka pasien harus 

menjalani tindakan bedah. Penilaian dilakukan sambil 

mempersiapkan ruang operasi atau merujuk ke fasilitas 

kesehatan yang lebih tinggi. 

 Pemasangan tamponade uterus dengan 

menggunakan balon relatif mudah dilaksanakan dan 

hanya memerlukan waktu beberapa menit. Tindakan ini 

dapat menghentikan perdarahan, mencegah koagulopati 

sebab  perdarahan masif dan memberi waktu persiapan 

tindakan bedah.  Hal ini perlu dilakukan pada pasien 

yang tidak membaik dengan terapi medis. Walaupun 

saat ini yang paling banyak dipakai yaitu  Sengstaken - 

Blakemore oesophageal catheter ( SBOC ), dapat juga 

dipakai Rush urological hydrostatic baloon dan Bakri 

SOS baloon. Biasanya dimasukkan 300 - 400 cc cairan 

untuk mencapai tekanan yang cukup adekuat sehingga 

perdarahan berhenti. 

 


 

c.  Apply compression suture  

Harus selalu dipertimbangkan antara mempertahankan 

hidup dan keinginan mempertahankan fertilitas. 

Sebelum mencoba setiap prosedur bedah konservatif 

harus dinilai ulang keadaan pasien berdasar  

perkiraan jumlah darah yang keluar, perdarahan yang 

masih berlangsung, keadaan hemodinamik dan 

paritasnya. Keputusan untuk melakukan laparotomi 

harus cepat sesudah  melakukan informed consent 

terhadap segala kemungkinan tindakan yang akan 

dilakukan di ruang operasi. 

Ikatan kompresi pertama kali diperkenalkan oleh 

Christopher B - Lynch sehingga tindakan ini  

dinamakan Ikatan B - Lynch ( B - Lynch suture ). 

Benang yang dapat dipakai yaitu  kromik catgut no.1 

atau no 2, Vicryl 0 ( Ethicon ) dan PDS 0 tanpa adanya 

komplikasi. Akan namun  perlu diingat bahwa tindakan B - 

Lynch ini harus didahului tes tamponade yaitu upaya  

menilai efektifitas tindakan B - Lynch dengan cara 

kompresi bimanual uterus secara langsung di meja 

operasi. Penting sekali kerjasama yang baik dengan ahli 

anestesi untuk menilai kemampuan pasien bertahan 

lebih lanjut dalam keadaan perdarahan bila upaya 

konservatif gagal. Khususnya di negara Indonesia, 

sebab  pasien seringkali datang ke tempat rujukan 

dalam keadaan sudah kehilangan banyak darah dan 

cadangan darah yang minim atau tidak ada, maka lebih 

bijaksana bila klinisi langsung melakukan histerektomi, 

daripada melakukan upaya konservatif. Upaya bedah 

konservatif hanya dilakukan bila kondisi pasien stabil.  

 

d. Systemic Pelvic Devascularization 

 a. Ligasi a. uterina. 

 b. Ligasi a. hipogastrika. 

 

e. Subtotal or total abdominal hysterectomy 

 

  

 

ALOGARITMA PENATALAKSANAAN PERDARAHAN 

PASCA SALIN10 

 

 

 

X. Informed Consent 

 

Pemberian informed concent secara komplit, jelas dan 

benar terutama mengenai tindakan yang akan dilakukan 

disertai dengan dampak yang akan terjadi di saat itu dan 

pada masa mendatang. 

 

XI.  Standar Audit 

 

1. Monitor semua kasus persalinan dengan kehilangan 

darah >1000 cc. 

2. Penanganan yang adekuat pada pasien bekas seksio 

sesarea. 

 

 

3. Dokumentasi penatalaksanaan, khususnya pada pasien 

yang mengalami PPS. 

4. Penanganan yang adekuat dan luaran pasien yang 

mengalami PPS. 

5. Informasi kepada tim Peristi tentang pasien dengan 

PPS. 

6. Pelatihan yang adekuat terhadap semua tim obstetri 

(bidan dan staf medis). 

 

XII. Manajemen Risiko ( medikolegal / pitt - fall ) 

 

1. Mengenal faktor risiko yang dapat menimbulkan 

perdarahan pasca salin (tabel 1)  

2. Melakukan pelatihan terhadap semua penolong 

persalinan baik bidan, dokter umum maupun dokter 

spesialis berdasar  Protap Penatalaksanaan 

Perdarahan Pasca Salin  HKFM edisi revisi ini.  

3. Pasien dengan risiko tinggi perdarahan pascasalin 

diberikan konseling untuk bersalin di rumah sakit yang 

mempunyai bank darah dan ruang OK 24 jam. 

4. Mempersiapkan penanggulangan bila terjadi PPS yang 

tidak mempunyai faktor risiko sebelumya. 

5. Pendekatan tim penanggulangan kegawat-daruratan 

medis. 

6. Memberikan informed consent   

7. Pertemuan audit medis secara rutin untuk menilai 

kasus dan senantiasa memperbaiki prosedur-prosedur 

penatalaksanaanya. 

 

XIII.   Dokumentasi 

 

Bagaimana tuntutan dapat dihindari bila terjadi 

Perdarahan Pasca Salin? 

 

Dokumentasi proses persalinan dengan perdarahan 

pasca salin yang akurat yaitu  esensial. 

Dokumentasi yang tidak adekuat dapat menimbulkan 

konsekuensi medikolegal. Sangat penting adanya prosedur 

penyimpanan catatan medis yang memenuhi standar.   

√ 

 

Penatalaksanaan Perdarahan Pasca Salin      180 

 

Hal penting yang harus dicatat: 

• staf yang menolong proses persalinan dan waktu 

kedatangannya 

• kronologis kejadian 

• waktu pemberian obat, dosis dan pengaruhnya 

• waktu intervensi operatif 

• kondisi pasien di setiap tahap tindakan 

• waktu pemberian dan jumlah cairan dan komponen 

darah yang diberikan. 

 

XIII. Jadwal revisi yang akan datang setiap 3 tahun oleh 

pengurus HKFM yang baru. 

 

 

 

 

PENATALAKSANAAN 

SEPSIS MATERNAL 

 


Di negara sedang berkembang kematian ibu merupakan 

fenomena gunung es, sebab  berbagai faktor, banyak 

kematian ibu yang tidak dilaporkan dan tercatat. 

Dinyatakan  hampir 500.000 kematian ibu hamil/bersalin/ 

nifas terjadi tiap tahun yang disebabkan oleh komplikasi 

kehamilan, persalinan dan nifas dan 99% terjadi di 

negara – negara berkembang. Sebagai contoh di Inggris 

terjadi kematian 2 - 9 ibu hamil/bersalin/nifas per 100.000 

kelahiran, sedangkan di Afrika terjadi 100 kematian ibu 

hamil/bersalin/nifas per 10.000 kelahiran.1 Angka 

kematian ibu (AKI) di Indonesia tidak saja yang tertinggi 

diantara negara ASEAN, namun  juga menurunnya sangat 

lamban yaitu dari 450/100.000 kelahiran pada tahun 1986 

menjadi 421/100.000 pada tahun 1992 dan target yang 

harus dicapai pada akhir Pelita VI yaitu  225/100.000.2 

Telah diketahui ada 5 pemicu  utama kematian ibu di 


seluruh dunia yaitu, perdarahan, sepsis, hipertensi, 

persalinan lama dan unsafe abortion. Sebagian besar 

kematian ibu yang disebabkan oleh ke lima hal ini  

sebenarnya dapat dicegah dengan memberikan 

pelayanan kesehatan yang memadai, memberikan 

informasi/edukasi serta penanganan medis yang cepat 

dan tepat.4,5 Laporan di RSUP Sanglah Denpasar selama 

5 tahun (1996 – 2000) didapatkan AKI 170/100.000 

kelahiran, lebih rendah dari angka rata-rata di Rumah 

Sakit Pendidikan Nasional. Terdapat pergeseran 

pemicu  kematian sebab  perdarahan dari 68,5% (1969-

1971) menjadi 33,33% (1996-2000); sebab  infeksi 

menurun dari 38,08% (1972-1974) menjadi 12,5% (1996-

2000). Sebaliknya ditemukan kematian ibu oleh penyakit 

medis penyerta yang meningkat dari 12,90% (1975-1977) 

menjadi 18,75% (1996-2000).3 AKI yang disebabkan oleh 

kondisi medis langsung terbanyak (25%) disebabkan 

sebab  perdarahan, diikuti oleh infeksi (15%), unsafe 

abortion (13%), eklampsia (12%), persalinan lama 

dengan/ tanpa pecah ketuban (8%) dan pemicu  lainnya 

(8%). Sedangkan pemicu  tidak langsung yaitu  

anemia, penyakit kardiovaskular, malaria, tuberkulosis, 

hepatitis dan penyakit-penyakit lainnya. Meskipun sudah 

mulai jarang namun  bila infeksi yang terjadi pada saat 

hamil, persalinan, dan nifas yang tidak ditangani dengan 

baik bisa berkelanjutan menjadi sepsis, sepsis berat dan 

syok septik dan berkembang menjadi Multi Organ 

Dysfunction Syndrome (MODS), yang menimbulkan 

mortalitas yang sangat tinggi. 

 

FAKTOR RISIKO / PREDISPOSISI 4, 5, 6 

 

Banyak faktor langsung maupun tidak langsung yang 

berpengaruh  memudahkan terjadi infeksi dan sepsis 

pada kehamilan, persalinan dan nifas. 

Beberapa kondisi ini  antara lain : 

1. sosial ekonomi rendah 

2. anemi dan kurang gizi 

3. melahirkan operatif / seksio sesaria 

 

  

 

4. mengalami ketuban pecah dini 

5. partus lama dan partus kasep 

6. masyarakat yang : - tidak tahu 

                                    - partus dukun 

7. kehamilan dengan komplikasi infeksi seperti 

pielonefritis, infeksi luka, infeksi traktus urinarius 

dan sepsis puerperalis. 

 

SUMBER INFEKSI : 

 

Infeksi bisa berasal dari sumber endogen, eksogen, 

sebab obstetri maupun non obstetri serta penularan 

nosokomial.  

 

OBSTETRI 

- khorioamnionitis 

- post partum endometritis 

- abortus provokatus 

- luka seksio sesar 

- necrotizing fasciitis 

- luka episiotomi dan perlukaan jalan lahir 

- pelvic thrombophlebitis  

- partus lama dan partus kasep 

 

NON-OBSTETRI 

- appendicitis 

- kholesisititis 

- infeksi saluran kemih / pielonefritis 

- pneumonia 

- HIV 

- Malaria 

 

PROSEDUR INVASIF 

- pengikatan serviks / cerclage 

- abortus provokatus kriminalis 

- infeksi post CVS / amniotomi 

 

LAIN-LAIN 

     -    Toxic shock syndrome (TSS) 

 

    

 

 

 

MIKROPATOGEN  

 

Kebanyakan infeksi bersifat poli-mikrobial yang bisa 

terdiri dari bakteri atau kokus gram negatif maupun gram 

positif, spesies anaerob maupun aerob serta 

kemungkinan terlibatnya infeksi oleh jamur.  

Kokus gram positif : Pneumococcus; Streptococcus 

Group A, B, dan D; Staphilococcus aureus. Bakteri gram 

negatif : Escheria Coli; Hemophyllus Influenza; spesies 

Klebsiella, Enterobacter, Proteus, Pseudomonas dan 

Serratia. Bakteria gram positif : Listeria monocytogenes. 

Anaerob : Spesies Bacteroides; Clostridium Perfringens; 

Fusobacterium; Peptococcus; Peptostreptococcus. Serta 

spesies fungal. 

 

PATOGENESIS 8,9,10,11 

 

Sepsis dipandang sebagai respon inflamasi yang tidak 

terkontrol. Mekanisme sepsis berhubungan dengan 

respon sistemik yang komplek dan proses imunologik 

yang dicetuskan oleh masuknya mikroorganisme atau 

produknya ke dalam sirkulasi. Mikroorganisme pemicu  

infeksi ini  kemudian masuk kedalam sirkulasi 

(bakteremia) atau mengalami proliferasi lokal dan 

melepaskan berbagai mediator imununoreaktif ke dalam 

sirkulasi darah. 

Pada bakteri gram negatif terdapat lipopolisakarida (LPS), 

yang bila masuk ke dalam sirkulasi sebagian akan terikat 

dengan LBP (Lypopolysacharide Binding Protein) 

sehingga mempercepat ikatan dengan CD14 terlarut dan 

membentuk komplek CD14-LPS. Kompleks ini 

menyebabkan transduksi sinyal intraselular melalui 

nuclear factor kappa B (NFkB), tyrosine kinase, pro RNA 

Cytokine oleh sel. Kompleks LPS-CD14 terlarut juga akan 

menyebabkan aktivasi intrasel melalui toll like recepror-2 ( 

TLR2).  

 

   

 

Pada bakteri gram positif, komponen dinding sel bakteri 

yang merupakan induktor sitokin terdiri dari lipotheicoic 

acid (LTA) dan peptidoglikan (PG). Pada sepsis terjadi 

pelepasan dan aktivasi mediator inflamasi yang 

berlebihan. Mediator inflamasi ini mencakup sitokin yang 

bekerja lokal maupun sistemik, aktivasi netrofil, monosit, 

makrofag, sel endotel, trombosit dan sel lainnya. Terjadi 

aktivasi kaskade protein plasma seperti komplemen, 

sistem koagulasi, dan fibrinolisis, pelepasan proteinase 

dan mediator lipid, oksigen dan nitrogen radikal. Selain 

mediator yang bersifat proinflamasi, dilepaskan juga 

mediator yang bersifat antiinflamasi. 

 

 

Gambar 1. 

Interaksi LPS, LBP dan reseptor CD14,TLR2 pada permukaan monosit 

menyebabkan aktifasi sinyal intraseluler melalui NFkB, TK dan PKC.11 

 

Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α) dan IL-1 yang 

merupakan sitokin terpenting dalam sepsis dan keduanya 

bekerja sinergis, menyebabkan efek biologis transkripsi 

berbagai gen molekul adesi, seperti intercellular adhesion 

molecule-1 (ICAM-1) dan plasminogen activator inhibitor-

1 (PAI-1), phospolipase A2, NO synthetase serta 

cyclooxygenase. Pengaruh TNF–α dan IL-1 pada endotel 

menyebabkan permeabilitas endotel meningkat, ekspresi 

tissue factor (TF), penurunan regulasi trombomodulin 

sehingga meningkatkan efek prokoagulan, pembentukan 

NO, endotelin-1, prostaglandin E2 dan prostaglandin I2, 

sedangkan NO berperan dalam mengatur tonus vaskuler. 

Pada sepsis produksi NO oleh sel endotel meningkat, 

sehingga menyebabkan gangguan hemodinamik berupa 

hipotensi, disamping itu NO juga berkaitan dengan reaksi 

inflamasi sebab  dapat meningkatkan produksi sitokin 

proinflamasi, ekspresi molekul adesi dan menghambat 

agregasi trombosit. Peningkatan sintesis NO ini  

berkaitan dengan syok septik yang resisten terhadap 

vasopressor. 

IL-1 dan TNF-α juga dapat merangsang proses koagulasi 

melalui berbagai jalur. Sitokin ini  dapat merangsang 

endotel dan monosit untuk mengekspresikan tissue 

factor, yang merupakan tahap pertama jalur ekstrinsik 

kaskade koagulasi. Tissue factor ini kemudian akan 

menghasilkan trombin, dan selanjutnya trombin dapat 

menyebabkan fibrin clot di dalam mikrovaskuler.  

 

 

Gambar 2 : Pathogenesis gangguan koagulasi akibat sepsis. 10 

 

Selanjutnya sitokin ini  dapat pula menyebabkan 

gangguan pada sistem fibrinolisis, melalui terbentuknya 

plasminogen activator inhibitor-1, yang merupakan 

 

substansi inhibitor yang kuat, dan menyebabkan disrupsi 

activated protein C dan antitrombin III.  

Activated Protein C, yang merupakan co-factor dari 

protein S, mencegah pembentukan trombin melalui 

pemecahan faktor Va dan VIII a, dan selain itu activated 

protein C juga mempertahankan integritas sistem 

fibrinolisis melalui penghambatan terhadap plasminogen 

activator inhibitor-1. Akhir dari proses inflamasi dan 

koagulasi ini  menyebabkan insufisiensi 

kardiovaskuler, multiple organ disfunction syndrome 

(MODS) sampai multiple organ failure (MOF) dan 

akhirnya dapat menyebabkan kematian. Insufisensi 

kadiovaskuler bisa terjadi secara langsung pada level 

miokardium sebagai akibat dari efek langsung TNF-α 

atau pada level pembuluh darah sebagai akibat dari 

vasodilatasi dan kebocoran kapiler.  

 

MANIFESTASI KLINIS INFEKSI: 1,6,14,15,16 

 

Gambaran klinis infeksi yaitu  akibat langsung dari efek 

sitopatik mikroorganisme serta reaksi imunitas berupa 

produksi mediator-mediator humoral atau seluler yang 

diproduksi tuan rumah/host sebagai reaksi inflamasi. 

Reaksi inflamasi yang timbul akan mengakibatkan suatu 

sindroma yang terdiri dari gangguan hemodinamik 

disertai dengan disfungsi sistem organ. Infeksi yang tidak 

ditanggulangi akan berkembang menjadi systemic 

inflammatory response syndrome (SIRS), sepsis, sepsis 

berat dan syok septik. 

Diagnosis SIRS ini ditegakkan oleh sekurang-kurangnya 

dua kriteria yaitu:  

1. temperatur > 38o C atau < 36 o C 

2. detak jantung > 90 / menit 

3. frekuensi pernafasan > 20/menit atau PCO2 

arteri <32 mmHg  

4. jumlah lekosit > 12000/µl  atau < 4000/µl 

dengan >10% bentuk imatur. 

Bila sepsis ini berkembang serta menimbulkan disfungsi 

organ, disebut sepsis berat dan bila ada komplikasi 

 

    191 

 

hipotensi yang tidak membaik sesudah  resusitasi volume 

cairan intra-vaskuler maka akan jatuh kedalam septik 

syok yang berakibat fatal. 

Definisi gradasi sepsis yang dipakai sampai saat ini 

yaitu  sesuai dengan konsensus dari American Of Chest 

Physicians and the Society of Critical Care Medicine 

(ACCP/SCCM) tahun 1994 sebagai berikut:  7,8 

1. Infeksi : 

Reaksi inflamasi yang disebabkan oleh adanya 

mikroorganisme atau invasi organ steril oleh 

mikroorganisme. 

2. Bakteremia : adanya bakteri dalam darah. 

3. Systemic Inflamatory Response Syndrome (SIRS) 

4. Reaksi inflamasi sebagai reaksi terhadap adanya 

berbagai penyakit/kondisi dengan diagnosis 

seperti telah disebutkan diatas.  

5. Sepsis (SIRS + Infeksi) yaitu  SIRS yang 

disebabkan oleh faktor infeksi. 

6. Sepsis berat: 

Sepsis dengan tanda tanda disfungsi organ atau 

penurunan perfusi organ (asidosis laktat, oliguri 

<30 ml/jam atau 0,5 ml/kg berat badan/jam, 

hipotensi <90 mmHg atau penurunan >40 mmHg) 

dan perubahan mental. 

7. Syok septik : 

Sepsis berat dan hipotensi yang persisten, 

meskipun telah diberikan cairan yang adekuat, 

dan sesudah  menyingkirkan pemicu  hipotensi 

yang lainnya. Sindrom disfungsi organ multipel 

(MODS), adanya gangguan fungsi multi organ 

pada pasien dengan sakit berat akut dimana 

hemostasis tidak dapat dipertahankan tanpa 

intervensi 

 

DIAGNOSIS 8,14,15,18,21 

 

Diagnosis sepsis ditegakkan berdasar  gabungan 

temuan faktor predisposisi dengan manifestasi klinis 

 

   

 

berupa SIRS. berdasar  hal itu bisa dikategorikan 

adanya infeksi, bakteremia, sepsis, sepsis berat, syok 

septik sampai  MODS atau  MOF. Kuman pemicu  

dapat diidentifikasi dari pemeriksaan laboratorium 

lengkap yang meliputi pemeriksaan darah, urin, dan kultur 

dari berbagai cairan tubuh dan amniosentesis bila 

dicurigai adanya infeksi intra uterin. Hasil kultur darah 

yang positif menguatkan adanya infeksi yang serius. 

sebab  keterbatasan teknik kultur hanya 30% kuman 

pemicu  dapat dikenali disamping secara klinis infeksi 

bisa masih terbatas lokal dan belum menstimulasi reaksi 

sistemik. 

Pemeriksaan kultur darah dilakukan sesegera mungkin 

begitu muncul gejala panas. Pemeriksaan rutin Candida 

tidak dianjurkan. 

 

PENATALAKSANAAN : 

 

Begitu diagnosis ditegakkan maka rangkaian terapi harus 

dimulai secara agresif dan adekuat dalam waktu kurang 

dari 6 jam. Patokan yang disebut dengan ”Early goal 

directed therapy” telah terbukti dapat menurunkan angka 

kematian ibu secara bermakna. Pendekatan ini  

terdiri dari : pemberian cairan intra vena, peningkatan 

pemberian oksigen, pemberian obat obat vasopresor, 

pemberian obat obat inotropik, pemberian tranfusi darah, 

pemberian ventilasi mekanik dan pemakaian kateter 

arteri. Pendekatan ini bertujuan untuk melakukan 

penyesuaian kembali, cardiac preload, afterload dan 

kontraktilitas jantung untuk tujuan akhir yaitu tercapainya 

keseimbangan antara oxygen delivery dan oxygen 

demand. 12 

 

1. PENGOBATAN DENGAN ANTIBIOTIKA 

 

Pemberian antibiotika hendaknya mempertimbangkan 

spektrum yang mencakup kemungkinan kuman 

pemicu nya, farmakokinetik, dosis, cara pemberian, 

keamanan serta biaya. Pemberian antibiotika segera

 

harus dilakukan tanpa menunggu hasil kultur dan dapat 

dimulai secara empiris dengan antibiotika spektrum luas. 

Apabila hasil kultur dan tes sensitifitas sudah ada, maka 

jenis antibiotika harus disesuaikan dengan hasil tes 

sensitifitas yang ada, untuk menghindari timbulnya 

resistensi antibiotika ini . Pada infeksi yang berat 

dipilih cara pemberian intravena untuk mempercepat 

kerja obat. Beberapa pilihan antibiotika pada 

sepsis/sepsis berat/syok septik sebagai berikut : 

1. Pada umumnya untuk infeksi yang terkait dengan 

kehamilan dan persalinan, yang dicurigai dengan 

infeksi aerob dan anaerob masih dapat diberikan 

kombinasi penisilin, aminoglikosid dan klindamisin 

atau metronidazole. 

2. Sebagai alternatif, pada pasien pasien yang tidak 

mengalami neutropenia dapat diberikan sefalo-

sporin generasi ke dua atau ke tiga. Dapat 

dipertimbangkan Sefalosporin generasi ketiga 

atau keempat,  seperti Cefotaxime, Ceftizoxime, 

Cefo-perazone, Ceftriaxone, Cefpirone,Cefepine 

atau Ceftazidime serta Meropenem untuk infeksi 

yang berat atau infeksi oleh berbagai macam 

strain bakteria gram negatif. 

3. Pada sepsis berat yang mengancam nyawa 

direkomendasikan kombinasi sefalosporin 

generasi ketiga atau keempat dengan 

aminoglikosida. 

4. Pada beberapa rumah sakit, terdapat bakteri gram 

negatif yang resisten terhadap aminoglikosida dan 

sefalosporin generasi kedua, tiga dan empat. 

Pada kondisi ini dapat diberikan Meropenem atau 

Ciprofloxacin. Pseudomonas aeruginosa yang 

resisten terhadap gentamisin, dapat diberikan 

Amikasin, Ceftazidime, Cefepime, Meropenem 

atau Tobramisin. Strain Enterokokal yang saat ini 

resisten dengan banyak antibiotika dapat 

diberikan klorampenikol, doksisiklin atau 

fluorokuinolon. 

 

  

 

5. Obat  anti jamur tidak dianjurkan untuk diberikan 

secara rutin, kecuali pada pasien pasien yang 

mengalami penurunan imunitas dan kondisi 

kondisi tertentu yang memudahkan terjadinya 

infeksi jamur dan dapat diberikan ampotericin B 

atau flukonasol.13,14,15 

 

Tabel 1 

Beberapa Pilihan Antibiotika untuk sepsis/sepsis berat/syok sepsis16 

 

Subset Patogen 

pemicu  

Terapi yg 

dianjurkan 

Terapi 

alternatif 

Perubahan IV 

ke oral 

Sumber 

Intraabdomi

nal/pelvik  

Enterobac

-teriaceae 

B. fragillis 

Meropenem 1 gr 

(IV)/8 jam ( 2 mgg) 

atau 

Piperacillin/ tazo-

bactam 3.375 gr 

IV/6jam (3 mgg) 

atau 

Ertapenem 1 gr 

(IV) /24 jam (2 

mgg) 

atau kombinasi 

dengan  

Ceftriaxone 1 gr 

IV/24 jam (2 mgg) 

Plus 

Metronidazole 1 gr 

IV/24 jam (2 mgg) 

Quinolone IV 

(2 mgg) 

+ salah satu 

dari: 

Metronidazole 

1 gm IV/24 

jam (2 mgg) 

atau 

Clindamycin 

600 mg IV / 8 

jam (2 mgg) 

 

 

Moxifloxacin 

400 mg(po)/24 

jam (2 mgg) 

atau kombina-

si dengan  

Clinda- 

mycin 300 

mg(po) / 8 jam 

(2 mgg) 

+ salah satu 

dari 

Cipro- 

floxacin 500 

mg(po) /12 

jam atau 

Levoflo- 

xacin 500 

mg/24 jam (2 

mgg) 

Urosepsis Enterobac

- teriaceae 

E. faecalis 

Meropenem 1gr 

IV/8jam (1- 2 mgg) 

atau 

Piperacillin/tazo-

bactam 3,375 gr 

IV/jam (1 – 2 mgg) 

Quinolone IV 

(1- 2 mgg) 

atau 

kombinasi 

dengan  

amniglikosidaI 

IV (1-2 mgg) 

atau 

Vancomicin 

1gr IV/12 jam 

(1- 2 mgg) 

Quinolone(po) 

(1- 2 mgg) 

Candidemia C.albicans Flukonasol 800mg 

IV 1x,lanjutkan 

dengan 400 mg 

IV/24 jam (2 mgg) 

atau 

Ampotericin B 0,7 

mg/kg IV /24 jam  

(2 mgg) 

  

 

   

 

atau 

Itrakonasol 200 

mg IV/12 jam (2 

hari) lanjutkan 

dengan 200 mg 

IV/24 jam  (2 mgg) 

 

 

2. RESUSITASI CAIRAN  : 

 

Salah satu komplikasi utama pasien sepsis yaitu  

adanya vasodilatasi umum yang diakibatkan oleh 

pelepasan NO dalam jumlah besar. Disamping itu pada 

sepsis, syok hipovolemik juga bisa disebabkan oleh 

adanya peningkatan kapasitas vaskular (penurunan 

venous return), dehidrasi (sebab  asupan yang kurang, 

kehilangan cairan melalui keringat dan pernapasan) atau 

sebab  adanya perdarahan dan kebocoran plasma. 

Stabilisasi hemodinamik  bertujuan untuk 

mempertahankan perfusi jaringan dan menormalkan 

metabolisme selular. Pemberian cairan kristaloid / koloid 

untuk mempertahankan stabilitas hemodinamik diberikan 

secara bolus 250 – 1000 ml selama 5-15 menit, sesudah  

itu dipertahankan sesuai dengan tekanan darah, yaitu 

mempertahankan tekanan darah sistolik minimal 90 

mmHg atau tekanan arterial rata-rata (MAP) 60-65 

mmHg, dan volume urine ≥ 0,5 ml/kg berat badan/jam. 

Bila sesudah  pemberian cairan ini  secara klinis, 

tekanan darah tidak ada perubahan/masih hipotensi, 

frekuensi denyut jantung tidak menurun, isi nadi tidak 

cukup, kulit dan ekstermitas dingin, produksi urin tidak 

membaik dan kesadaran tidak membaik, maka pemberian 

cairan selanjutnya sebaiknya dimonitor dengan 

pemasangan Central Venous Pressure (CVP) yang 

dipertahankan pada tekanan 8-12 mm H2O atau yang 

lebih tepat dengan memonitor tekanan ventrikel kiri dan 

tekanan diastolik dengan pemasangan Pulmonary 

Capillry Wedge Pressure (PCWP) yang dipertahankan 

pada tekanan 12-16 mmHg. Suplai oksigen sistemik 

tergantung dari cardiac output dan oxygen carrying 


 

capacity dari darah. Kadar Hb yang ideal untuk pasien 

sepsis yaitu  8 hingga 10 gr/dl tergantung keadaan klinis 

penderita. Semua tindakan ini dilakukan di ruang 

perawatan intensif dengan monitoring yang ketat. 

Apabila tekanan darah tetap tidak naik sesudah  pemberian 

cairan  dan peningkatan hemoglobin, maka diperlukan 

pemberian obat vasopresor. Vasopresor yang dipilih 

harus mempertimbangkan efek kardiak dan vaskular 

perifer dari obat ini . Norepinefrin lebih sering 

dipakai sebab  tidak banyak menyebabkan peningkatan 

frekuensi denyut jantung. Pada syok septik, norepinefrin 

juga lebih baik dalam meningkatkan cardiac output 

dibandingkan dengan dopamin, demikian juga dalam 

perbaikan aliran darah ke ginjal dan produksi urin. Bila 

cardic output tetap tidak baik, yang ditandai oleh perfusi 

perifer yang tidak adekuat, serta indeks kardiak <2,5 

L/min/m2, maka dapat diberikan  obat obat inotropik, 

seperti dobutamin, yang dimulai dengan dosis 2,5 µg/kg 

berat badan/ menit dan dinaikkan setiap 30 menit, sampai 

tercapai perfusi yang normal atau frekuensi jantung >140 

x/menit atau hilangnya hipotensi. Akhirnya apabila 

kombinasi vasopresor dan obat inotropik sudah diberikan 

dan hasilnya belum optimal maka dapat diberikan 

vasopresin dengan dosis 0,01 sampai 0,04 unit/menit 

dengan tujuan untuk mencegah iskemia arteria koroner 

dan splanikus. Pemberian bikarbonat pada asidosis tidak 

dianjurkan .7,8,9,10,13,14,15 

Pemberian resusitasi cairan harus dilakukan dengan 

pengawasan hemodinamik yang ketat yaitu, tekanan 

darah, nadi, cardiac output, PCWP, produksi urin dan 

kadar asam laktat darah. Hati-hati dalam pemberian 

cairan koloid pada pasien yang mengalami gangguan 

fungsi ginjal, sebab dapat mempengaruhi fungsi filtrasi 

ginjal yang pada akhirnya dapat menyetuskan terjadinya 

gagal ginjal akut. 9,15 

 

   

 

KONTROL SUMBER INFEKSI  : 

 

Sumber infeksi harus segera dihilangkan begitu kondisi 

pasien mengijinkan. Pada kasus kasus infeksi luka atau 

fasciitis dapat dilakukan debridement, evakuasi produk 

konsepsi yang tersisa dengan kuretase, drainase pada 

abses pelvik, laparatomi dan bahkan dilakukan 

histerektomi apabila diperlukan.7  

Bila sumber infeksi intrauterin pada saat kehamilan 

(misalnya khorioamnionitis pada ketuban pecah dini), 

maka kehamilan harus diterminasi sesuai dengan 

persyaratan yang ada. 

 

4. PENGOBATAN MENCEGAH GAGAL NAFAS:17 

 

Pada pasien sepsis yang mengalami ancaman gagal 

nafas (frekuensi nafas >35 kali/menit), penurunan 

kesadaran, dan hipoksemia berat, maka dilakukan 

intubasi endotrakeal dan pemasangan ventilasi mekanik.  

Adapun kriteria yang dapat dipakai untuk menentukan 

apakah seseorang sudah ada dalam kondisi kegagalan 

nafas yang mengancam yaitu  hal-hal sebagai berikut : 

1. Mekanikal : 

a. Kapasitas Vital < 15 ml/kg 

b. Maternal inspiratory force (MIF) < - 25 cm H20 

c. Frekuensi nafas > 35 kali/menit 

2. Oksigenasi : 

a. Pa 02 < 70 mmHg dengan FiO2 0,4 

b. P(A-a)02 > 350 mmHg dengan FiO2 1,0 

3. Ventilasi : 

a. Pa CO2 > 55 mmHg (pada keadaan akut) 

b. Dead space / tidal volume ( Vd/Vt > 0,6) 

4. End Respiratory lung inflation inadequate for adequate 

gas exchange. 

 

 

5. PEMBERIAN KORTIKOSTEROID:18 

 

Meskipun masih kontroversi penggunaan kortikosteroid 

dosis kecil jangka panjang menunjukkan perbaikan 

hemodinamik dan menurunkan kebutuhan obat 

vasopresor, serta menurunkan secara bermakna angka 

kematian pasien di ruang intensif serta mengurangi hari 

rawat inap. Penggunaan kortikosteroid ini juga tidak 

terbukti menimbulkan perdarahan saluran cerna, 

terjadinya superinfeksi dan hiperglikemia. Dengan 

demikian maka terapi kortikosteroid dapat diberikan pada 

pasien sepsis dan syok septik. Rekomendasi dosis yang 

dberikan yaitu  hidrokortison 50- 100 mg intravena 

setiap 6-8 jam atau 0,8 mg/kg BB/jam per infus 

ditambahkan dengan fluorokortison 50 ug/hari, untuk 

kemudian dilakukan tappering-off secara bertahap sesuai 

dengan kondisi klinis. Pemberian physiologic doses of 

corticosteroid ini  dapat diberikan pada kadar kortisol 

yang normal atau tinggi dengan asumsi terjadi efek 

penurunan regulasi reseptor adrenergik yang disertai 

dengan respon desensitisasi.9,17,19   

 

6. PEMBERIAN ANTIKOAGULAN : 13 

 

Sesuai dengan tersedianya fasilitas pada pasien dengan 

sepsis berat syok septik dan pasien dengan resiko 

kematian tinggi (APACHE II >25) dapat diberikan 

recombinant activated protein C (rh APC). Efek terapi 

yang diharapkan dari rhAPC ini yaitu  efek antikoagulan 

dan antifibrinolitik, sehingga dapat memperbaiki kondisi 

konsumtif koagulopati dan menghambat kaskade 

inflamasi. Perdarahan merupakan risiko mayor pemberian 

activated protein C, seperti perdarahan intrakranial. 

Kriteria pemberian dan kontra indikasinya dapat dilihat 

pada lampiran 1.  Score APACHE II dapat dilihat pada 

lampiran 2. 

 

 

7. PENGENDALIAN GULA DARAH  : 

 

Untuk mencegah terjadinya kematian akibat MODS, 

dilakukan pemberian terapi insulin untuk mengendalikan 

kadar gula darah pada kadar 80 - 100 mg/dl, dan harus 

dilakukan monitoring ketat terhadap adanya tanda tanda 

hipoglikemi. Pada pasien sepsis yang mengalami 

hiperglikemi akan terjadi penurunan fungsi fagositosis 

netrofil dan pemberian insulin mampu meningkatkan 

fungsi ini . Potensi insulin yang lainnya yaitu  

kemampuan untuk menurunkan kejadian apoptosis sel 

dengan cara mengaktivasi pospatidil inositol3-kinase. 

Tanpa me-mandang apapun mekanismenya 

pengendalian gula darah pada pasien kritis penting 

dilakukan dengan catatan tetap melakukan monitoring 

adanya hipoglikemi yang dapat membahayakan jaringan 

otak (Hypoglycemic brain injury). Kadar gula darah yang 

direkomendasikan yaitu  antara 80-110 mg/dl. 

9,11,12,13,18,19  

Tabel dibawah ini dapat dipakai sebagai pedoman 

pemberian dan monitoring insulin pada pasien sepsis. 

 

Tabel 2.  Appropriate action depending on blood glucose level : 12 

 

Test BG Level 

(mg/dl) Action 

A: Measure on entry to 

ICU           >220 Start insulin at dose of 2-4 IU/h. 

Continue test B 

 220-110 Start insulin at dose 1-2 IU/h. 

Continue test B 

 <110 Do not start insulin continue test BG. 

Monitoring every 4 h. Continue test A 

B: Measure glucose level  

    until normal >140 Increase dose by 1-2 IU/h 

 110-140 Increase dose 0,5-1 IU/h 

 Approaching N Adjust insulin dose by 0,1-0,5 IU/h. 

Continue test C 

C: Measure glucose every  

     4 h Approaching N Adjust insulin dose by 0,5-1 IU/h 

 Normal Leave insulin dose unchanged 

 Falling steeply Reduce insulin dose and check 

 

    200 

 

glucose within 1-2 h 

 60-80 Reduce insulin dose and glucose 

within 1 h 

 40-60 Stop insulin assure adequate baseline  

Glucose intake and check glucose 1 h 

 <40 

Stop insulin, assure adequate 

baseline 

Glucose intake administer glucose 10 

g IV boluses and check glucose 1 h 

 

8.  PENATALAKSANAAN KOAGULASI 

INTRAVASKULER DISEMINATA (KID) :  

 

Koagulasi intravaskuler diseminata (KID) yaitu  proses 

trombohemoragik sistemik yang terkait dengan kondisi 

klinis tertentu dengan adanya bukti-bukti laboratorium 

seperti (1). aktivasi prokoagulan, (2). aktivasi fibrinolitik, 

(3). konsumsi inhibitor dan (4). kegagalan organ. 

Diagnosis KID pada sepsis seringkali sulit ditegakkan 

hanya berdasar  pemeriksaan laboratorium saja, oleh 

sebab  hampir semua uji laboratorium memberikan hasil 

abnormal. Sebaliknya bila hasil uji laboratoriumnya masih 

belum menunjukkan gangguan, maka pemeriksaan ulang 

dilakukan dalam 24-48 jam sesuai keadaan klinis 

penderita, sehingga terapi dapat diberikan sesuai dengan 

kondisinya. Konsensus International Society on 

Thrombosis and Haemostasis (ISTH) ke-47 tahun 2001, 

mengajukan sistem penilaian untuk menetapkan 

diagnosis KID. Bila skor 5 atau lebih sugestif KID dan bila 

kurang dari 5 perlu diulang dalam 1 – 2  hari. 9,20 

 

Tabel 3. Sistem Skor KID (ISTH 2001) 20  

1. Penilaian risiko : apakah terdapat pemicu  yang    

    berkaitan dengan KID ?  jika tidak penilaian tidak  

    dilanjutkan 

2. Uji koagulasi ( hitung trombosit, PT, fibrinogen,       

    FDP/D-dimer ) 

3. Skor :  

- Hitung trombosit :  > 100. 000             = 0 

 

    201 

 

                                     50.000 – 100 000  = 1 

                                     < 50 000                = 2 

- FDP/D-dimer     :   

         Tidak meningkat  ( D-dimer < 500 )         = 0 

         Meningkat sedang ( D-dimer 500-1000 ) = 2 

         Sangat meningkat ( D-dimer > 1000 )     = 3 

- Pemanjangan masa protrombin (PT) 

                         < 3 detik = 0     

                         4-6 detik = 1      

                         > 6 detik = 2 

    - Fibrinogen :  < 100 mg/dl = 1      

                           > 100 mg/dl = 0 

_______________________________________________ 

Jumlah Skor :  

• ≥ 5 : sesuai KID  skor diulang setiap hari untuk          

                        pemantauan beratnya KID 

• < 5 : sugestif KID  skor diulang dalam 1-2 hari 

 

KID yang disebabkan oleh sepsis hal yang terpenting 

yaitu  mengatasi pemicu nya yaitu sepsis itu sendiri. 

Terapi antifibrinolitik (asam traneksamat/ asam amino-

kaproat) tidak dianjurkan sebab  mengganggu proses 

fibrionolisis dan dapat memperberat kegagalan organ. 

Rekomendasi pemberian heparin yaitu  bila terdapat 

bukti terjadinya tromboemboli (penurunan kesadaran, 

iskemik fokal, gangren superfisial, oliguria, azotemia, 

nekrosis kortikal, ARDS, perdarahan / ulserasi saluran 

cerna atas akut, anemia hemolitik). Heparin diberikan 

secara intravena dengan dosis 100 IU/kgBB bolus 

dilanjutkan dengan 15-25 IU/kgBB/ jam (750-1250 IU/jam) 

dengan infus kontinyu dan dosis selanjutnya disesuaikan 

untuk mencapai aPTT 1,5 – 2 kali kontrol.  

Fresh Frozen Plasma (FFP) dan konsentrat trombosit 

diberikan bila didapatkan perdarahan dan risiko terjadi 

perdarahan atau akan menjalani tindakan invasif. 

Pemberian antitrombin III direkomendasikan sebagai 

terapi substitusi bila aktivitas AT III < 70% dengan tujuan 

memperbaiki keadaan KID dan disfungsi organ. 

 

Antitrombin III diberikan dengan dosis awal 3000 IU(50 

IU/kgBB) diikuti 1500 IU setiap 8 jam dengan infus 

kontinyu selama 3-5 hari. Substitusi  AT III juga dapat 

diberikan berdasar  rumus 0,6 x  berat badan (kg) x 

(aktivitas yang diinginkan - aktivitas awal). Aktivitas AT III 

yang diinginkan yaitu  >120%. Pemakaian konsentrat 

AT III bersamaan dengan heparin tidak dianjurkan sebab  

tidak memperbaiki mortalitas dan malah meningkatkan 

risiko perdarahan.  

Bila memungkinkan dianjurkan untuk memantau AT III 

setiap 8 jam,atau bila terjadi perbaikan klinis atau menilai 

kembali skor KID.9,20 

 

9. PENGAKHIRAN KEHAMILAN : 

 

Terdapat beberapa pengaruh sepsis terhadap kehamilan, 

yaitu terjadinya penurunan sirkulasi uteroplasenta dan 

persalinan preterm yang disebabkan oleh hipoksemia 

maternal dan asidosis. Keputusan untuk melahirkan tetap 

mempertimbangkan kondisi pasien dan umur kehamilan 

(kecuali ada infeksi intra uterin). Apabila pemberian terapi 

yang adekuat terhadap sepsis tetap tidak memberikan 

perbaikan kondisi ibu atau terjadi perburukan kondisi ibu 

maka melahirkan/mengosongkan uterus dengan segera 

dapat dipertimbangkan sebab  dapat memperbaiki 

venous return dan volume paru.  

 

KESIMPULAN  

 

1. Berbagai penanganan obstetri yang aman dan 

bersih, tindakan pencucian tangan serta sterilisasi 

alat-alat, perlakuan partograf WHO serta 

pengembangan dan penemuan antibiotika 

menyebabkan faktor infeksi telah relatif menurun 

sebagai pemicu  AKI. namun  bila sampai terjadi 

dan bila tidak mendapatkan penanganan yang 

adekuat maka masalahnya akan menjadi serius dan 

akan meningkatkan morbiditas dan mortalitas ibu 

dan bayi. 

2. Sepsis maternal harus segera dikenali dengan 

memperhatikan adanya faktor risiko dan munculnya 

tanda SIRS. 

3. Diagnosis sepsis sudah boleh ditegakkan bila ada 

faktor predisposisi infeksi dan ditemukan minimal 

dua kriteria SIRS. 

4. Kecepatan melakukan tindakan secara agresif 

sangatlah penting, golden period nya yaitu  dalam 

waktu 6 jam pasien harus sudah mendapatkan 

penanganan intensif dengan didahului pemberian 

cairan yang cukup serta antibiotika yang tepat. 

5. Pada dasarnya pengelolaan sepsis maternal 

memerlukan perawatan intensif, pendekatan multi-

disiplin serta pengawasan yang ketat dan oleh 

sebab nya sesuai dengan algoritma pengelolaan, 

sesudah  mendapatkan penanganan  

maka sebaiknya segera dirujuk ke senter yang 

mempunyai fasilitas penanganan lebih lengkap. 

6. Dianjurkan dengan melihat algoritma maka setiap 

senter dapat bertindak sesuai dengan fasilitas yang 

dimiliki. 

7. Agar dihindarkan keadaan yang ”Early Under 

Treatment and Late Over Treatment” sebab bila 

pasien sudah jatuh ke dalam keadaan MOD dan 

MOF maka mortalitasnya sangat tinggi, pengobatan 

sia sia  dan menghabiskan biaya yang sangat 

mahal. 

 

 

 

    

Lampiran 1. 

 

Kriteria pemberian rh APC yaitu  : 

1. Adanya bukti atau kecurigaan sumber infeksi, yang 

dibuktikan dengan salah satu dari hal - hal berikut ini : 

a. Sputum purulen. 

b. Gambaran radiologis thorax dengan infiltrat baru 

yang tidak dapat dijelaskan dengan proses 

noninfeksi. 

c. Adanya kontaminasi dari isi usus pada saat 

operasi. 

d. Adanya bukti infeksi dari pemeriksaan fisik atau 

radiologik. 

e. Adanya leukosit pada cairan tubuh yang 

seharusnya steril. 

f. Kultur darah positip. 

 

2. Adanya bukti SIRS yang memenuhi minimal 3 dari 

kriteria.  

 

3. Kriteria kegagalan organ  : 

a. Sepsis berat (kriteria 1 dan 2) dengan APACHE II  

       Score ≥ 25, dan 

b. Disfungsi sistem kardiovaskuler: pasien harus   

       mengalami. 

- Syok septik, yang ditandai dengan MAP < 60 

mmHg atau tekanan darah sistolik < 90 

mmHg atau ada kebutuhan vasopresor untuk 

memepertahankan tekanan darah pada 

kondisi volume intravaskuler cukup (CVP > 

mmHg atau PCWP > 12 mmHg, atau sesudah  

pemberian cairan yang adekuat (12 cc/kgBB), 

atau 

- Adanya 2 atau lebih tanda tanda kegagalan 

organ sebagai berikut : 

1. Disfungsi sistem pernafasan : PaO2/FiO2 

ratio < 200. 

 

    207 

 

2. Disfungsi renal : produksi urin < 0,5 

mL/KgBB/Jam dalam 1 jam, pada kondisi 

volume intravaskuler sudah cukup (CVP 

> 8 mmHg atau PCWP > 12 mmHg atau 

sesudah  pemberian cairan adekuat 12 

mL/kgBB ).  

3. Disfungsi hematologik : trombositopenia 

(<80 000 platelet/mm3 atau kadarnya 

menurun 50% dalam 3 hari terakhir) atau 

INR > 1,2 yang tidak dapat dijelaskan 

dengan kelainan liver atau pemakaian 

warfarin. 

4. Asidosis metabolik yang tidak terjelaskan 

: pH < 7,30 dengan peningkatan kadar 

plasma laktat 1,5 kali diatas nilai batas 

atas normal. 

 

Kontra indikasi pemberian rhAPC yaitu  sebagai 

berikut : 

1. Perdarahan internal aktif. 

2. Pembedahan < 12 jam. 

3. Trombositopenia ( ≤ 20 000 platelet/mm3) 

4. Adanya perdarahan post operasi. 

5. Adanya perdarahan gastrointestinal. 

6. Adanya riwayat masa/lesi di sistem saraf atau 

adanya herniasi serebral. 

7. Adanya riwayat stroke, malformasi arteriovenous, 

aneurisma cerebral, pembedahan intrakranial atau 

intraspinal atau trauma kepala berat yang 

membutuhkan perawatan di rumah sakit dalam 

waktu 3 bulan terakhir. 

8. Sirosis 

9. Adanya riwayat perdarahan stelah tindakan per 

kutaneus 

10. Adanya riwayat gangguan kesadaran 

11. Adanya pemberia heparin ≥15.000 U/hari dalam 8 

jam terakhir, low molecular weight heparin dengan 

dosis lebih besar dari dosis propilaksis  dalam 12 

jam terakhir. 

 

    208 

 

12. Terapi trombolitik sistemik dalam 3 hari terakhir, 

aspirin >650 mg/hari dalam 3 hari terakhir, 

warfarin dalam 4 hari terakhir atau clopidogrel 

dalam 4 hari terakhir 

13. Proses penyakit dalam stadium terminal 

14. Trauma pada paru,lien dan liver 

15. Pemakaian kateterepidural 

 

Adapun dosis obat yang dianjurkan yaitu  sebagai 

berikut : 

Berikan rh APC dengan dosis 24µg/kg/jam dengan infus 

kontinyus dalam waktu 96 jam. Apabila akan dilakukan 

pembedahan atau tindakan per kutaneus, pemberian 

rhAPC distop 2 jam sebelum tindakan dan dapat 

diberikan lagi 1 jam sesudah  tindakan per kutaneus atau 

12 jam sesudah  prosedur pembedahan dengan 

hemostasis yang adekuat. Bila terjadi perdarahan 

gastrointestinal, segera hentikan pemberian rhAPC dan 

lakukan pemeriksaan endoskopi. Pasien harus 

mendapatkan profilaksis stress ulcer, misalnya sucralfate, 

atau proton-pump inhibitor. Bila pasien membutuhkan 

heparin full dose, maka pemberian rh APC dihentikan. 

 

 

PENGGUNAAN 

MISOPROSTOL 

DALAM BIDANG 

OBSTETRI 

 

 

Banyak ragam jenis obat dan cara penggunaan uterotonika 

di bidang obstetri untuk terminasi kehamilan, induksi 

persalinan, perdarahan pasca salin. Salah satu jenis 

uterotonika yang saat ini banyak digunakan yaitu  

misoprostol disebab kan mudah didapat, mudah cara 

penyimpanannya dan ekonomis. Namun masih belum ada 

kesepakatan mengenai dosis dan cara pemberiannya. 

Perlu diperhatikan bahwa penggunaan misoprostol ini  

yaitu  off label use. Mengingat efek samping misoprostol 

yang dapat mengakibatkan ruptur uteri maka sebaiknya 

tidak digunakan pada pasien rawat jalan. 

 

INDIKASI MISOPROSTOL 

 

Misoprostol dapat digunakan sebagai: 

1. Induksi persalinan. 


2. Perdarahan pasca salin. 

3. Terminasi kehamilan. 

 

KONTRAINDIKASI 

 

1. Riwayat seksio sesar 

Risiko ruptur uteri sebesar 4 – 5 kali lebih besar bila 

dibandingkan dengan pemakaian oksitosin 

2. Reaksi alergi terhadap misoprostol. 

 

REKOMENDASI PENGGUNAAN MISOPROSTOL  

 

1. Induksi persalinan 

Misoprostol digunakan sebagai induksi persalinan janin 

yang masih hidup. Khususnya bila Bishop score masih 

rendah yakni < 6. 

Rekomendasi dosis dan interval obat berdasar  cara 

pemberian yaitu  sebagai berikut : (Level of evidence 

Ia, Rekomendasi A) 

- Pemberian per oral 

Misoprostol 20 – 25 ug per oral setiap 2 jam.1 

- Pemberian per vaginam 

Misoprostol 25 ug pervaginam setiap 6 jam.2  

Dosis maksimal yaitu  dua kali pemberian. Tidak 

direkomendasikan untuk membasahi tablet miso-

prostol dengan air sebelum dimasukkan ke dalam 

vagina. 

- Pemberian sublingual, buccal maupun rektal belum 

direkomendasikan. 

 

Hal – hal yang harus diperhatikan selama pemberian 

misoprostol yaitu  sebagai berikut : 

- Selama pemberian misoprostol pasien sudah 

berada di kamar bersalin. 

- Dilakukan pemeriksaan kesejahteraan janin 

sebelum induksi persalinan.  

- sesudah  misoprostol diberikan, setiap 30 menit 

dilakukan pemeriksaan denyut jantung janin dan 

kontraksi uterus. 

 


 

- Tersedia obat tokolitik yakni terbutaline 250 ug 

subkutan. 

- Jangan memberikan oksitosin sebelum 6 jam 

pemberian misoprostol 

- Pemberian misoprostol sebagai induksi persalinan 

dilakukan di rumah sakit yang mampu melakukan 

operasi cito. 

 

2. Terminasi kehamilan trimester I (Umur kehamilan < 14 

minggu) untuk janin hidup. 

Rekomendasi dosis dan interval obat agar terjadi 

ekspulsi spontan yaitu  sebagai berikut: 

- Misoprostol per vaginam 800 ug setiap 6 jam 

sampai dosis maksimal 3 kali pemberian. (Level of 

evidence Ib, Rekomendasi A) 

- Rekomendasi dosis dan interval obat sebelum 

dilakukan tindakan kuretase yaitu  misoprostol 

pervaginam atau sublingual 400 ug 2 - 3 jam 

sebelum tindakan. (Level of evidence Ia, 

Rekomendasi A) 

 

3. Terminasi kehamilan trimester II (umur kehamilan 15 – 

27 minggu) untuk janin hidup. 

Rekomendasi dosis dan interval obat yaitu  

misoprostol pervaginam 400 ug setiap 3 jam sampai 

dosis maksimal 5 kali pemberian pada umur kehamilan 

15 - 20 minggu.7 Bila Umur kehamilan lebih dari 20 

minggu maka dosis dan interval obat dikurangi, sama 

dengan penggunaan misoprostol untuk IUFD. (Level of 

evidence Ib, Rekomendasi A) 

 

4. Intrauterine fetal death (IUFD) 

Rekomendasi penggunaan yaitu  sebagai berikut : 

- Umur kehamilan 20 – 26 minggu 

Misoprostol pervaginam 100 ug setap 6 – 12 j

am 
sampai maksimal 4 kali pemberian. 
- Umur kehamilan ≥ 27 minggu 
Bila bishop score ≤ 6, digunakan misoprostol 
pervaginam 25 – 50 ug setiap 4 jam sampai 
 
  
 
maksimal 6 kali pemberian. (Level of evidence Ib, 
Rekomendasi A) 
 
5. Perdarahan pasca salin 
Misoprostol digunakan untuk pencegahan perdarahan 
pasca salin bila tidak tersedia uterotonika injeksi. 
Rekomendasi untuk pencegahan perdarahan 
postpartum yaitu  misoprostol per oral 600 ug dan 
untuk pengobatan perdarahan pasca salin yaitu  
misoprostol per rektal 800 ug. (Level of evidence Ib, 
Rekomendasi A) 
 
EFEK SAMPING 
1.  Mual dan muntah 
Angka kejadian yaitu  kurang dari 2 %. 
2.  Demam dan menggigil 
Angka kejadian yaitu  kurang dari 2 %. 
3.  Hiperkontraktilitas uterus 
 Hiperkontraktilitas dapat berupa : 
-  Takisistol 
 Frekuensi kontraksi sebanyak 6 kali dalam 10 menit 
dalam 2 x 10 menit.  
-  Hipertoni 
 Durasi kontraksi lebih dari 2 menit. 
-  Sindrom hiperstimulasi 
 Takisistol dan gawat janin 
 
Terminasi 
kehamilan janin 
hidup maupun 
mati (20 – 26 
minggu) 
Per 
vaginam 
100 ug setiap 6 – 12 
jam, maksimal 4 kali 
pemberian 
Terminasi 
kehamilan pada 
IUFD (≥ 27 
minggu) 
Per 
vaginam 
100 ug setiap 6 – 12 
jam  setiap 4 jam, 
maksimal 6 kali 
pemberian 
Perdarahan post 
partum 
Oral 600 ug 
Rektal 800 ug 
 
    215 
 
 
Selama penggunaan misoprostol, 15 dari 250 orang 
mengalami takisistole ; 3 dari 250 orang mengalami 
hipertoni ; 1 dari 250 mengalami sindrom hiperstimulasi. 
Penanganannya yaitu  penggunaan tokolitik. 
4.  Gawat janin 
Frekuensi gawat janin antara misoprostol dan oksitosin 
yaitu  sama. 
5.  Ruptur uteri  
Risiko ruptur uteri meningkat bila misoprostol diberikan 
pada riwayat seksio sesaria. 
6. Mobius syndrome 
Sindrom ini terjadi bila ada kegagalan abortus yang 
diinduksi dengan misoprostol. 
 
 
 
 
 
 
 
Tujuan Rute Dosis 
Induksi 
persalinan 
Per oral 20 – 25 ug per oral 
setiap 2 jam 
Per 
vaginam 
25 ug setiap 6 jam, 
maksimal 2 kali 
pemberian 
Terminasi 
kehamilan janin 
hidup (< 14 
minggu) 
Per 
vaginam 
800 ug setiap 6 jam, 
dosis maksimal 3 kali 
pemberian 
Per 
vaginam 
Sublingual 
400 ug setiap 2 – 3 jam 
sebelum kuretase 
Terminasi 
kehamilan janin 
hidup (15 – 20 
minggu) 
Per 
vaginam 
400 ug setiap 3 jam, 
maksimal 5 kali 
pemberian