Tampilkan postingan dengan label forensik medikolegal 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label forensik medikolegal 6. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

forensik medikolegal 6












 Contoh klasik yaitu  yang dinamakan 

“pseudoepidural hematom” yang terjadi sebab  efek panas 

sehingga darah akan banyak berkumpul di kepala, dan bila 

disertai pula dengan retaknya tengkorak akan dapat 

memicu  penafsiran yang salah, oleh sebab  dianggap 

sebagai perdarahan epidural, yang terjadi sebelum korban 

tewas. 3 

Pseudoepidural 

hematom 

Epidural Hematom 

Warna bekuan darah 

coklat. 

Warna bekuan darah hitam. 

Konsistensi rapuh. Konsistensi kenyal. 

Bentuk otak 

mengkerut 

seluruhnya. 

Bentuk otak cekung sesuai dengan 

bekuan darah. 

Garis patah tidak 

menentu. 

Garis patah melewati sulcus arteri 

meningeal. 

Tanda post mortem. Tanda intravital. 

Tabel 1. Perbedaan pseudoepidural dan epidural 

hematom 7 

 

Mekanisme Kematian 

Angka kejadian terbanyak dari luka bakar terjadi pada 

24 jam pertama. Biasanya akibat syok dan toksemia. 

Toksemia berlangsung pada 72-96 jam dan dapat 

memicu  kematian. Sepsis yaitu  faktor yang paling 


 

penting pada kematian pada kejadian 4-5 hari/lebih sesudah  

luka bakar. 3,13 

Kematian sebab  kecelakaan kebakaran dapat terjadi 

secara cepat atau lambat dan memiliki ciri-ciri sebagai 

berikut : 1 

A. Kematian Cepat  yaitu  kematian yang dilihat 

menurut waktunya dalam beberapa menit  sampai 

berapa jam dari kecelakan, ini dapat terjadi dari :  

a. Syok neurogenik dalam kaitan dengan sakit yang 

sangat parah  

b. Luka akibat panas. kulit yang terbakar memicu  

kehilangan cairan dalam jumlah besar, yang dapat 

memicu  terjadinya  hypovolemia, Syok dan 

kegagalan ginjal akut  

c. Luka Pada Pernafasan, yang harus dicurigai dalam 

setiap kasus dimana warna hitam sangat kelihatan di 

sekitar atau dimulut 

- Akibat panas di saluran udara mukosa, yang 

mengarah ke mukosal nekrosis dan edema, 

bronkospasme, atau edema pada pangkal 

tenggorokan, 

- pemicu  utama dari kematian luka pada 

pernafasan yaitu  racun karbon monoksida. 

Karbon monoksida mengikat hemoglobin dengan 

gaya gabung lebih dari 200 kali lebih besar 

dibanding oksigen, dan melakukan pemindahan 

oksigen dari hemoglobin molekul, mendorong ke 

arah jaringan dalam hypoxia dan kematian. 

Tingkatan darah postmortem carbon hemoglobin 

(COHb) harus ditentukan dalam semua kasus yang 

menyertakan api. 

- Sebagai tambahan terhadap CO, asap mengandung 

agen lain: 

Á Sianida, yang dengan cepat diserap dan 

menghambat sistem cytochrome oxidase untuk 

pemanfaatan oksigen selular.  

 

Á Acrolin yaitu  suatu aldehid reaktif yang 

diproduksi dari kayu dan produk minyak tanah 

dapat memicu  luka - luka / kekurangan  

protein denaturation. 

Á Hydrochloric Acid diproduksi oleh pembakaran 

beberapa plastik, perabot, komponen  bangunan 

dapat mengakibatkan edema. 

Á Toluene Diisocyanate, diproduksi dari pembakaran 

polyurethane (produk buatan yang secara luas  

digunakan untuk bantal, kasur, dukungan 

permadani) yang memicu  bronkospasme. 

Á Nitrogen dioksida, diproduksi dari mobil atau 

sampah argikultural, dengan konsentrasi tinggi 

memicu  bronko/laringospasme dan edema 

paru, yang pada akhirnya memicu  PPOK. 

 

B. Kematian yang lambat  terjadi sebagai hasil beberapa 

kemungkinan komplikasi 

a. Dehidrasi yang berlanjut, syok yang tertunda atau 

kegagalan ginjal 

b. Kegagalan pernafasan sebab  tertundanya 

kerusakan epithelium yang berhubungan dengan  

pernapasan dan pengembangan organ.  

c. Sepsis terjadi terutama berkaitan dengan luas luka 

bakar atau radang paru 

 

Jenis-jenis Luka Bakar Menurut Ilmu Forensik 

Dry heat (burn heat / luka bakar)  

Dry heat (burn heat / luka bakar) yaitu  luka bakar 

yang dipicu  oleh persentuhan tubuh dengan api atau 

benda panas (bukan cairan). 

Gejala umum yang sering ditemukan pada kasus ini 

berupa: 7  

Á Nyeri yang sangat hebat, dapat memicu  syok 

dan kematian.  

 

Á Pugilistik attitude / coitus attitude berupa 

ekstremitas fleksi, kulit menjadi arang & 

mengelupas.  

Á Ekstremitas fleksi akibat koagulasi protein dan 

tidak sampai memicu  rigor mortis 

Á Otot merah gelap, kering, berkontraksi dan jari-jari 

mencengkeram.  

Á Bukan tanda intravital. 

Á Fraktur tengkorak yang dapat memicu  

pseudoepidural hematom. 

Dua reaksi dari tubuh korban luka bakar yang dapat 

kita periksa, yaitu reaksi lokal dan umum. Reaksi lokal yang 

ditemukan berupa : 7  

Á Eritema dengan ciri-ciri: epidermis intak, 

kemerahan, sembuh tanpa meninggalkan sikatriks.  

Á Vesikel, bulla & bleps dengan albumin atau NaCl 

tinggi.  

Á Necrosis coagulativa dengan ciri-ciri : warna coklat 

gelap hitam dan sembuh dengan meninggalkan 

sikatriks (litteken).  

Á Karbonisasi (sudah menjadi arang).  

sedang  reaksi umum dari tubuh korban yang dapat 

ditemukan berupa gejala heat exhaustion , heat stroke / sun 

stroke / pingsan panas, dan heat cramp.  

Gejala-gejala yang ditemukan melalui reaksi heat 

exhaustion seperti badan panas, pusing, pucat, berkeringat, 

otot lemah, suhu tubuh turun, nadi irreguler, kolaps 

sirkuler. Heat exhaustion terbagi menjadi primer, yaitu 

akibat suhu tinggi, sedang  sekunder akibat kehilangan 

cairan tubuh yang berlebihan.8 

Dalam hal pemeriksaan dalam, ada 3 hal yang dapat 

kita temukan sebagai tanda adanya reaksi heat exhaustion, 

yaitu : 

1. Arteriosklerosis arteri koroner, darah berwarna gelap 

di jantung, dan organ dalam mengalami kongesti. 

 

 

2. Heat stroke / sun stroke / pingsan panas dipicu  

oleh terjadinya kegagalan dan paralise centrum di 

medulla. Keadaan ini terjadi pada udara yang panas 

(1000F) dan lembab serta telah berlangsung beberaoa 

hari. Gejala heat stroke / sun stroke / pingsan panas, 

yaitu : badan panas, pusing, sakit kepala, nadi cepat & 

penuh, kolaps sirkuler hingga syok sampai beresiko 

mati dengan tubuh kemerahan. 7,8 

Pada otopsi sebagai tanda adanya reaksi heat stroke / 

sun stroke / pingsan panas ditemukan tanda-tanda 

darah berwarna merah gelap, organ mengalami 

kongesti, perdarahan otak, epicard, endocard atau 

berkas his, degenerasi sel-sel ganglion, kongesti (edem 

berat), perdarahan kecil pada ventrikel III & IV. 7 

3. Heat cramp dapat terjadi pada individu yang bekerja 

dalam ruangan yang bersuhu tinggi dengan 

kehilangan NaCl dengan cepat. 7,8 

 

Moist heat 

Moist heat (scald heat) yaitu  luka bakar yang 

dipicu  oleh persentuhan tubuh dengan cairan panas 

atau uap panas. 9 

Reaksi lokal dari tubuh korban yang ditemukan 

berupa eritem, blister (tanda khas) berupa vesikel dan bulla. 

Enam jam kemudian akan terjadi infiltrasi PMN granulasi 

dan sembuh dengan meninggalkan koagulativa, yang 

kemudian terjadi nekrosis koagulativa. sedang  reaksi 

umum yang terjadi berupa syok sebab  nyeri (jarang 

memicu  kematian) dan syok sekunder sebab  kolaps 

pembuluh darah (sering memicu  kematian), terjadi 

akibat dehidrasi, autointoksikasi, infeksi dan sepsis. 9 

Temuan Dini Otopsi Pada Kematian Luka Bakar 

Kelainan Khusus Patologis 

Lesi eksternal luka bakar dapat ditemukan pada 

pemeriksaan luar tubuh. Keadaan, luas, sifat dasar luka 

harus dideskripsikan. Luas luka sebanding dengan angka 

kematian. 

Heat rigor, ditemukan pada otot, terjadi pada kasus 

dimana terjadi pada deep charring of the body. 3 

Liver necrosis. Bentuk ini ditemukan pada akut 

toksikemi yang menyertai luka bakar, disebabkan oleh 

koagulasi agen dari luka bakar ini . 3 

Kelainan Umum Patologis 

Berupa perubahan kongestif organ visceral. Bintik-

bintik perdarahan sering ditemukan pada pleura, 

pericardium dan endocardium. 3 

Artefak Yang Ditemukan Pada Mayat Oleh sebab  

Luka Bakar 

Pada kebakaran yang hebat, apakah di dalam gedung 

atau yang terjadi pada kecekalaan mobil yang terbakar, 

sering terlihat bahwa keadaan tubuh korban yang terbakar 

sering tidak mencerminkan kondisi saat matinya. 2 

1. Skin Split 

Kontraksi dari jaringan ikat yang terbakar 

memicu  terbelahnya kulit dari epidermis dan 

korium, yang menyerupai luka sayat dan sering 

disalahartikan sebagai kekerasan tajam. Artefak post 

mortem ini dapat mudah dibedakan dengan kekerasan 

tajam ante mortem sebab  tidak adanya perdarahan 

dan lokasinya yang bervariasi di sembarang tempat. 

2. Abdominal Wall Destruction 

Kebakaran parsial dari dinding abdomen bagian 

depan akan memicu  keluarnya sebagian dari 

jaringan usus melalui defek yang terjadi. Biasanya 

terjadi tanpa perdarahan. 

3. Skull Fractures 

Bila kepala terpapar cukup lama dengan panas 

memicu  pembentukan uap didalam rongga 

kepala yang akan mengakibatkan kenaikan tekanan 

intra kranial, yang akhirnya memicu  terpisahnya 

sutura-sutura dari tulang tengkorak. Pada luka bakar 

yang hebat dan kepala sudah menjadi arang atau 

hangus terbakar dapat terlihat fraktur tulang 

 

tengkorak menyerupai fraktur linier tanpa diikuti oleh 

kontusio serebri, subdural, atau subaraknoid. 

4. Pseudo Epidural hemorrages 

ada  pada korban yang hangus terbakar dan 

kepala yang sudah menjadi arang. 

5. Non-cranial fractures 

Berupa fraktur pada tulang ekstremitas pada korban 

yang mengalami karbonisasi oleh sebab  terpapar 

terlalu lama dengan api dan asap. Tulang-tulang yang 

terbakar memiliki  warna abu-abu keputihan dan 

sering menunjukkan fraktur kortikal pada 

permukaannya. Umumnya hancur bila dipegang 

sehingga memudahkan trauma post mortem pada 

waktu transportasi ke kamar mayat atau selama usaha 

memadamkan api.  

6. Pugilistic Posture 

Koagulasi dari otot-otot oleh sebab  panas yang akan 

memicu  kontraksi serabut otot-otot fleksor, 

mengakibatkan ekstremitas atas mengambil sikap 

seperti posisi boxer dengan tangan terangkat di 

depannya, paha dan lutut juga fleksi sebagian atau 

seluruhnya. Posisi ini akan hilang bersama dengan 

timbulnya pembusukan. 

Pandangan Forensik tentang Kepentingan 

Medikolegal 

Apakah orang ditemukan pada kebakaran masih 

hidup atau sudah meninggal pada saat api membakar 

dirinya? 3 

Pada kasus ini , dapat diketahui melalui 

pemeriksaan yang teliti terhadap tubuh korban, dimana 

akan ditemukan tanda-tanda intravitalitas atau post mortem 

luka bakar. 

Pada tubuh manusia yang masih hidup, adanya 

trauma akan memicu  timbulnya reaksi tubuh terhadap 

trauma ini . Dengan menemukan adanya reaksi trauma, 

 

dapat dipastikan bahwa saat terjadi trauma, yang 

bersangkuan masih hidup. 8  

Reaksi vital yang umum yaitu : perdarahan berupa 

ekimosis, petechie dan terjadinya emboli. 8 

Pada penilaian terhadap perdarahan, harus dilakukan 

dengan teliti terutama bila luka terletak di daerah hipostatis. 

Luka pada korban harus diperhatikan dengan seksama 

termasuk saluran luka / kerusakan jaringan bawah kulit. 14 

Emboli lemak dapat terjadi pada kasus patah tulang 

atau trauma tumpul jaringan lemak sedang  emboli udara 

terjadi bila ada vena superfisial yang terbuka dan emboli 

jaringan dapat terjadi bila alat dalam, misalnya hati 

mengalami kerusakan. 8 

Kadar laktat dalam darah dapat digunakan sebagai 

cerminan reaksi adrenergik, yaitu  parameter terjadinya 

suatu situasi stres premortal, misalnya pada kecelakaan 

pesawat terbang. 15 

Reaksi radang, sepsis dan terjadinya ulkus duodeni 

dapat pula sebagai indikator intravital. Peningkatan kadar 

histamin bebas serta serotonin pada jaringan yang 

mengalami trauma dapat pula ditemukan. 15 

Sebagai contoh, orang yang meninggal oleh kobaran 

api akan didapatkan konsentrasi CO darah mencapai 10%, 

dan partikel karbon ditemukan pada jalan napasnya. Dua 

tanda ini  tidak akan ditemukan pada orang yang 

meninggal sebelum terjadi kebakaran. 3 Selain itu ditemukan 

juga tanda-tanda intravitalitas yang lain, yaitu: 2 

1. Jelaga dalam saluran nafas 

Pada kebakaran rumah atau gedung beserta isi 

perabotannya juga terbakar seperti bahan-bahan yang 

terbuat dari kayu, plastik akan menghasilkan asap yang 

berwarna hitam dalam jumlah yang banyak. Akibat dari 

inhalasi ini korban akan menghirup partikel karbon dalam 

asap yang berwarna hitam. Sebagai tanda dari inhalasi aktif 

antemortem, maka partikel-partikel jelaga ini dapat masuk 

kedalam saluran nafas melalui mulut yang terbuka, 

mewarnai lidah, dan pharynx, glottis, pita suara, trakhea 

 

bahkan bronkiolus terminalis. Sehingga bila secara histology 

ditemukan jelaga yang terletak pada bronkiolus terminalis 

merupakan bukti yang absolut dari fungsi respirasi. Sering 

pula dijumpai adanya jelaga dalam mukosa lambung, ini 

juga merupakan bukti bahwa korban masih hidup pada 

waktu ada  asap pada peristiwa kebakaran. Karbon ini 

biasanya bercampur dengan mucus yang melekat pada 

trakhea dan dinding bronkus oleh sebab  iritasi panas pada 

mukosa. 

 

2. Saturasi CO-HB dalam darah 

CO dalam darah merupakan indikator yang paling 

berharga yang dapat menunjukkan bahwa korban masih 

hidup pada waktu terjadi kebakaran. Oleh sebab  gas ini 

hanya dapat masuk melalui absorbsi pada paru-paru.  

Akan namun  bila pada darah korban tidak ditemukan adanya 

saturasi CO-HB maka tidak berarti korban mati sebelum 

terjadi kebakaran. Pada nyala api yang terjadi secara cepat, 

terutama kerosene dan benzene, maka level 

karbonmonoksida lebih rendah atau bahkan negative dari 

pada kebakaran yang terjadi secara perlahan-lahan dengan 

akses oksigen yang terbatas seperti pada kebakaran gedung.  

Satu lagi yang harus disadari bahwa kadar saturasi CO 

dalam darah tergantung beberapa faktor termasuk 

konsentrasi CO yang terinhalasi dari udara, lamanya 

eksposure, rata-rata dan kedalaman respiration rate dan 

kandungan Hb dalam darah. Kondisi-kondisi ini akan 

mempengaruhi peningkatan atau penurunan rata-rata 

absorbsi CO. sebagai contoh api yang menyala dalam 

ruangan tertutup, akumulasi CO dalam udara akan cepat 

meningkat sampai konsentrasi yang tinggi, sehingga 

diharapkan absorbsi CO dari korban akan meningkat seacra 

bermakna.  

Pada otopsi biasanya relatif mudah untuk menentukan 

korban yang meninggal pada keracuan CO dengan melihat 

warna lebam mayat yang berupa cherry red pada kulit, otot, 

darah dan organ-organ interna, akan namun  pada orang yang 

 

 

anemik atau memiliki  kelainan darah warna cherry red 

ini menjadi sulit dikenali. Warna cherry red ini juga dapat 

disebabkan oleh keracuan sianida atau bila tubuh terpapar 

pada suhu dingin untuk waktu yang lama. 

 

3. Reaksi jaringan 

Sebenarnya tidak mungkin untuk membedakan luka 

bakar yang akut yang terjadi ante mortem dan post mortem. 

Pemeriksaan mikroskopik luka bakar tidak banyak 

menolong kecuali bila korban dapat bertahan hidup cukup 

lama sampai terjadi respon respon radang. Kurangnya 

respon tidak merupakan indikasi bahwa luka bakar terjadi 

postmortem. Pemeriksaan slide secara mikroskopis dari 

korban luka bakar derajat tiga yang meninggal tiga hari 

kemudian tidak ditemukan reaksi radang, ini diperkirakan 

oleh sebab  panas memicu  trombosis dari pembuluh 

darah pada lapisan dermis sehingga sel-sel radang tidak 

dapat mencapai area luka bakar dan tidak memicu  

reaksi radang.  

Blister juga bukan merupakan indikasi bahwa korban 

masih hidup pada waktu terjadi kebakaran, oleh sebab  

blister ini dapat terjadi secara postmortem. Blister yang 

terjadi postmortem berwarna kuning pucat, kecuali pada 

kulit yang hangus terbakar. Agak jarang dengan dasar 

merah atau areola yang eritematous, walaupun ini bukan 

merupakan tanda pasti. Secara tradisionil banyak penulis 

mengatakan bahwa untuk dapat membedakan blister yang 

terjadi antemortem dengan blister yang terjadi post mortem 

yaitu  dengan menganalisa protein dan klorida dari cairan 

itu. Blister yang dibentuk pada ante mortem dikatakan 

mengandung lebih banyak protein dan klorida, namun  inipun 

tidak merupakan angka yang absolut. 

 

4. Subendocardial left ventricular hemorrhages 

Perdarahan subendokardial pada ventrikel kiri dapat 

terjadi oleh sebab  efek panas. Akan namun  perdarahan ini 

bukan sesuatu yang spesifik sebab  dapat disebabkan oleh 

 

berbagai mekanisme kematian. Pada korban kebakaran 

perdarahan ini merupakan indikasi bahwa sirkulasi aktif 

sedang berjalan saat  tereksposure oleh panas tinggi yang 

tidak dapat ditoleransi oleh tubuh dan ini merupakan bukti 

bahwa korban masih hidup saat terjadi kebakaran. 

 

 Ante Mortem Post Mortem 

Garis Merah Ada 

Tidak ada (Keras, 

kekuningan) 

Kandungan 

Vesikel 

Albumin dan 

Cl- 

Udara 

Infeksi Pus Tidak ada 

Proses 

penyembuhan 

Granulasi Tidak ada 

Jelaga Saluran 

Nafas Atas 

Ada Tidak ada 

CO Darah Ada Tidak ada 

Enzym Meningkat Tidak berarti 

Tabel 2. Perbedaan Luka Bakar Ante Mortem dan Post Mortem 

KESIMPULAN 

 

Kejadian luka bakar umumnya terjadi akibat 

kecelakaan, yang sering berhubungan dengan penggunaan 

alkohol dan rokok, ataupun akibat dari kecerobohan 

seseorang dalam mengunakan alat-alat rumah tangga yang 

dapat memicu  ledakan, atau kebakaran, ataupun 

tersengat listrik. Kasus bunuh diri dengan membakar diri, 

pada saat sekarang jarang ditemukan. 

Pada kasus luka bakar, penentuan sebab kematian, 

baik itu merupakan kecelakaaan ataupun pembunuhan 

dapat diketahui melalui tanda-tanda intravitalitas yang 

ditemukan baik pada pemeriksaan luar maupun dalam dari 

tubuh korban. Tanda-tanda intravitalitas luka bakar ini  

mencakup blister, adanya jelaga pada saluran nafas, reaksi 

jaringan, kadar CO dalam darah dan lain-lain. 

Kematian yang disebakan oleh luka bakar dapat terjadi 

secara cepat, akibat langsung dari luka bakar atau lambat, 

akibat dari komplikasi yang terjadi. 


TRAUMA LISTRIK  

DAN PETIR 

 

TUJUAN INSTRUKSI UMUM (TIU) 

• Memahami Perlukaan Yang Disebabkan Listrik dan 

Petir 

 

TUJUAN ISTRUKSI KHUSUS (TIK) 

• Mengetahui Ciri – Ciri Luka Akibat Listrik dan Petir. 

• Menngetahui Jenis – Jenis Luka Akibat Listrik dan 

Petir. 

• Memahami Perbedaan Pembunuhan, Bunuh diri dan 

Kecelakaan Akibat Listrik dan Petir. 

• Memahami Aspek Medikolegal Tentang Luka Yang di 

Akibatkan Listrik dan Petir. 

 

 

 

 

A. LATAR BELAKANG 

Setiap dokter yang bekerja di Indonesia perlu 

memahami Ilmu Kedokteran Forensik terlebih dahulu agar 

tidak menemui kesulitan di dalam menerapkan ilmu 

kedokteran yang dimilikinya untuk kepentingan peradilan. 

Hal ini khususnya membantu penegak hukum (penyidik) 

dalam memecahkan kasus agar lebih terarah dan selektif di 

dalam melakukan pemeriksaan terhadap para tersangka 

atau korban tindak pidana di dalam proses penyidikan.(1) 

 

   

Gambar 1: FRANKLIN BENYAMIN 

Sejak eksperimen Franklin dengan petir, manusia telah 

terbiasa dengan listrik,  penggunaan listrik yang meluas dan 

aplikasi dari tenaga listrik pada mesin telah memicu  

peningkatan jumlah pasien terluka akibat listrik. Samuel W. 

Smith yaitu  orang pertama di USA yang meninggal akibat 

 

 

luka listrik oleh generator di Buffalo, New York  USA, pada 

tahun 1881.(2) 

Untuk mencari metode hukuman mati yang lebih 

manusiawi dibandingkan dengan hukum gantung, pada 

tahun 1888 New York merancang kursi mati listrik yang 

pertama dan menghukum mati William Kemmler pada 

tahun 1890. Segera, sesudah  itu negara bagian lain 

mengadopsi cara hukuman mati ini. Pada zaman sekarang 

ini, hukuman mati memakai  kursi listrik dilakukan 

hanya di negara bagian Nebraska.(3) 

Hukuman mati dengan kursi listrik yang dilakukan di 

New York State sejak tahun 1889 yaitu  sebagai berikut : 

Kepala dan tungkai terhukum mati dicukur, kemudian 

ia diikat pada suatu kursi. Satu elektrode ditempatkan di 

kepala dan yang lain di tungkai. Listrik arus bolak-balik 

dengan tegangan 1700 V dan arus 7 A dialirkan melalui 

tubuhnya selama 1 menit. Terhukum mengalami kejang 

tetani dan langsung pingsan. Proses ini diulang sekali lagi. 

Untuk kepastian terhukum sudah meninggal dunia, hukum 

mengharuskan terhukum diautopsi segera sesudah  eksekusi 

dilakukan.   

 

Luka listrik (Electrical injuries) angka kejadiannya 

cukup jarang tapi oleh praktisi medis dianggap sebagai 

keadaan gawat paling darurat. Luka listrik mengarah dalam 

berbagai bentuk diagnostik dan perawatan. Secara umum, 

diklasifikasikan antara lain luka akibat petir, tegangan 

rendah dan tegangan tinggi.(4) 

Luka listrik yang terjadi diperkirakan 1000 kematian 

setiap tahun dan sekitar 3000 luka dialokasikan pada tempat 

penanganan luka bakar setiap tahunnya.  Luka akibat 

serangan petir memicu  50-300 kematian setiap tahun 

di USA, dengan kemungkinan terkena sambaran petir 

meningkat saat  memakai  benda-benda metal atau 

saat  basah. Hingga 40% dari luka listrik yaitu  fatal.(2) 

Diperkirakan 20% dari luka listrik yang terjadi pada 

anak-anak, dengan puncak grafik meningkat pada balita dan 

remaja. Satu berbanding tiga dari luka listrik dan hampir 

semua luka tegangan tinggi berhubungan dengan pekerjaan. 

Hampir lebih dari 50% dari pasien ini  akibat dari 

hubungan dengan sumber listrik dan 25% berhubungan 

dengan penggunaan mesin atau peralatan listrik. Rata-rata 

kematian akibat listrik pada pekerja yaitu  1 kematian 

setiap 100.000 pekerja, dengan perbandingan pria 

berbanding wanita yaitu  9:1.(2)  

Listrik merupakan bentuk energi yang dapat 

memicu  luka yang memicu  kematian, dimana 

listrik memiliki beda potensial dan mengalir melalui 

medium perantara (konduktor) yang pada akhirnya 

menghilang masuk ke dalam tanah. Pada sisi lain, tubuh 

manusia merupakan konduktor yang baik bagi listrik.(1) 

Untuk dapat terjadinya luka, harus ada proses 

masuknya elektron melalui tubuh sehingga tubuh 

membentuk bagian dari sirkuit, yang biasanya mengalirkan 

listrik dari sumber ke bumi. Arus listrik masuk melalui satu 

titik (paling sering tangan yang memegang, menyentuh atau 

memanipulasi peralatan listrik) dan meninggalkan tubuh 

melalui titik keluar, biasanya ke bumi atau ke peralatan 

listrik yang netral. Jalan arus listrik terutama tergantung 

pada tahanan relatif dari berbagai titik keluar. Jika seseorang 

 

251 

 

meletakkan jarinya pada arus 240 V saat  berdiri dengan 

memakai  sepatu lembab pada lantai yang basah, 

kemudian arus listrik akan lewat dari tangan ke kaki, akan 

menghasilkan akibat yang fatal. Sebaliknya orang yang 

berdiri di atas karpet dengan lantai kayu, hanya sedikit arus 

listrik yang dapat melewati tubuh dan hanya akan 

memicu  spame pada otot.(5,6) 


Hampir seluruh trauma listrik, fatal atau tidak, 

ditimbulkan oleh arus masuk antara 110 atau 240 volts. 

Jarang sekali terjadi kematian yang ditimbulkan oleh arus 

kurang dari 100 volts. Arus listrik yang masuk melewati 

thoraks dapat memicu  shock, sebab  beresiko 

memicu  henti jantung atau paralisis pernafasan. saat  

arus listrik tersentuh oleh tangan, rasa sakit dan  gerakan 

refleks otot akan terjadi jika arus yang mengalir kira-kira 10 

mA.  

Jika arus listrik yang tersentuh kira-kira 30 mA, akan 

terjadi spasme otot yang tidak bisa di relaksasi lagi. Efek ini 

sangat berbahaya terutama jika terjadi pada waktu yang 

lama, dapat memicu  aritmia jantung.  Jika arus yang 

masuk melalui dada 50 mA atau lebih walaupun hanya 

beberapa detik, ventrikular fibrilasi akan terjadi (tampak 

pada tabel hal 6). Arus bolak balik (AC) dengan 50-60 siklus 

perdetik lebih berbahaya daripada arus searah (DC) sebab  

lebih mudah memicu  aritmia jantung.(6)    

   

B. LISTRIK  

Listrik yaitu  kondisi dari partikel subatomik tertentu, 

seperti elektron dan proton, yang memicu  penarikan 

dan penolakan gaya diantaranya. Dapat juga diartikan 

sebagai sumber energi yang disalurkan melalui kabel, arus 

listrik timbul oleh sebab  muatan listrik mengalir dari 

saluran positif ke saluran negatif. Ada beberapa teori yang 

berkaitan listrik diantaranya yaitu : 

a. Hukum Ohm : “perbedaan potensial antara ujung 

konduktor berbanding langsung dengan arus yang 

melewati dan berbanding terbalik dengan tahanan 

konduktor “ 

V   =  I . R  

R :  tahanan (Ω) 

I :  kuat arus (A) 

V : tegangan (Volt) 

 

b. Hukum Joule  : “arus listrik yang melewati 

konduktor dengan perbedaan tegangan dalam 

waktu tertentu akan memicu  panas” 

E    =  (V . I . t) : Joule  (angka koefisien = 0, 

239 kalori) 

E :  energi / panas / kalori    

I  :  kuat arus (A) 

V :  tegangan (Volt)    

t  :  waktu (detik) (1) 

 

Ada 2 jenis tenaga listrik yang dapat kita manfaatkan, 

yaitu: 

1. Tenaga listrik alam seperti petir dan kilat 

2. Tenaga listrik buatan meliputi arus searah 

(DC) seperti telepon dan arus bolak-balik (AC) seperti listrik 

rumah, pabrik dan lain-lain. 

Kerusakan yang berat pada jaringan tubuh termasuk 

kematian berhubungan langsung dengan sejumlah fakto-

faktor fisik yaitu arus listrik, tegangan, tahanan dan waktu. 

Kumpulan elektron yang membentuk listrik statis tidak akan 

melukai, yang dibuktikan dengan percobaan, hanya akan 

memicu  rambut berdiri.(7) 

Luka yang disebabkan arus listrik yang fatal pada 

umumnya bersifat kecelakaan, dimana jenis arus listrik 

bolak-balik (AC = alternating current) lebih sering sebagai 

pemicu  kecelakaan, sedang  kecelakaan sebab  arus 

listrik searah (DC = direct current) lebih jarang dan pada 

umumnya terjadi di pabrik-pabrik, seperti pabrik pemurnian 

logam dan penyepuhan. Manusia lebih sensitive (sekitar 4-6 

kali) terhadap arus listrik bolak-balik bila dibandingkan 

dengan arus listrik yang searah. Bila seseorang terkena arus 

listrik bolak-balik dengan intentitas 80 mA ia dapat mati 

akan namun  dengan arus listrik searah yang intentitasnya 250 

mA (umumnya) tidak akan berakibat kematian.(8)  

Menurut Moritz peristiwa trauma listrik disebabkan 

kontak dengan penghantar listrik tergantung pada : jenis 

 

arus listrik, kuat arus listrik, lintasan arus listrik dan 

lamanya arus mengalir. Kuat arus yang mengalir melalui 

tubuh dapat dihitung dengan rumus C(I)=V/R, dimana C 

yaitu  kuat arus dalam Ampere, V yaitu  tegangan arus 

listrik dalam volt dan R yaitu  tahanan tubuh dalam Ohm. 

Jika tegangan arus tinggi, atau jika tahanan rendah, kuat 

arus listrik yang mengalir dalam tubuh akan menjadi besar. 

Pada umumnya tingkat keparahan dari trauma listrik 

berhubungan langsung dengan lamanya terpapar arus 

listrik.(9)  

Charles Dalziel membuat suatu riset pada pertengahan 

abad ke dua puluh mengenai respon tubuh manusia jika  

dimasuki arus listrik. Riset ini berguna bagi kita sehingga 

kita mengetahui batas-batas arus listrik yang tidak akan 

melukai kita.(9) 

  

Arus listrik ( dalam mA 

Efek terhadap tubuh 

Ambang batas persepsi, 

sensasi tingling pada lidah 

5 Tremor otot 

15 Kontraksi otot 

40 Hilang kesadaran 

75-100 Fibrilasi ventrikel 

2000 (2 Amps) 

Ventrikel berhenti  

berkontraksi (Ventrikel 

arrest) 

Tabel arus listrik dan efek dalam tubuh 

http://www.ELECTROCUTION -- Stella, Yessi, Anita, Alex, Farid.htm 

Gambar 5: Reaksi eritema akibat trauma listrik tegangan rendah 

Dikutip dari   

http://www.uic.edu/labs/lightninginjury/treatment.html 

 

1. Sifat Fisika Kelistrikan 

1.1 Arus Listrik 

Aliran listrik (elektron) yang bergerak pada suatu 

penghantar listrik dengan kecepatan tertentu disebut arus 

listrik. Timbulnya arus listrik sebab  ada nya beda 

potensial pada dua ujung penghantar. sedang  terjadinya 

beda potensial pada dua tempat penghantar disebabkan 

sebab  salah satu ujung penghantar mendapatkan suatu 

tenaga yang mendorong elektron-elektron untuk berpindah 

tempat. Besar kecilnya arus listrik, tergantung dari tenaga 

yang dihasilkan oleh pembangkit listriknya itu sendiri. 

Kecepatan pemindahan sejumlah elektron dalam waktu 

tertentu disebut kuat arus. Satuan untuk ukuran arus listrik 

dinamakan Ampere. 1 Ampere yaitu  sejumlah listrik dari 1 

Coulomb (6,25 x 1018 elektron) dipindahkan melalui suatu 

penampang pada suatu tempat dalam suatu rangkaian 

dalam satu detik. (11) 

1.2 Tegangan Listrik 

Menurut teori elektron, sebuah benda bermuatan 

positif jika benda ini  kehilangan elektron dan sebuah 

benda bermuatan negatif jika benda ini  kelebihan 

elektron. Dalam keadaan berbeda muatan inilah munculnya 

tenaga potensial yang berada diantara benda-benda ini . 

Besarnya tenaga potensial ini  diukur dengan satuan 

volt. (11)  

1.3 Tahanan Listrik 

Tahanan listrik yaitu  gesekan atau rintangan yang 

diberikan suatu bahan terhadap suatu aliran listrik. Dengan 

adanya gesekan atau rintangan ini memicu  gerak 

elektron berkurang. Makin besar tahanan listrik makin 

sedikit arus listrik yang melewatinya. Akibat adanya 

gesekan atau rintangan pada aliran elektron maka sejumlah 

energi listrik berubah menjadi energi panas. (11) 

1.4 Macam-Macam Gelombang Arus Listrik 

ada  dua macam gelombang arus listrik yang 

berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu 

gelombang bolak balik/ AC (sinusoidal) dan gelombang 

searah/ DC.  Disebut arus searah sebab  arah arusnya selalu 

mengalir dalam satu arah. Terjadinya arus searah yaitu  

jika  pada suatu sumber listrik memiliki muatan kutub-

kutubnya tetap atau tidak berpindah-pindah.  

Contoh sumber listrik searah misalnya batu baterai 

dan accumulator. sedang  arus bolak balik jika arah 

arusnya berbalik setiap setengah putaran. Contohnya 

yaitu : pembangkit listrik Perusahaan Listrik Negara (PLN). 

Perlu diketahui bahwa arus listrik bolak balik tidak 

digunakan untuk alat-alat elektronika. Jika dijumpai alat-alat 

elektronika mempergunakan arus bolak balik, sebenarnya 

arus bolak balik ini  secara otomatis  telah diubah oleh 

dioda yang ada  di setiap peralatan elektronika menjadi 

arus searah. (11) 

1.5 Frekwensi Arus Listrik 

Sesuai dengan efek yang timbulkan arus listrik, maka 

arus listrik dibagi dalam dua bentuk, yaitu : listrik 

berfrekwensi rendah dan listrik berfrekwensi tinggi. 

Frekwensi 20 Hz sampai dengan 500.000 Hz disebut listrik 

frekwensi rendah. Frekwensi ini memiliki  efek 

merangsang saraf dan otot sehingga terjadi kontraksi otot. 

Arus searah maupun arus bolak balik dengan frekwensi 

rendah memiliki  kemampuan yang serupa yaitu 

merangsang saraf sensoris, saraf motoris dan otot.  

Contoh peralatan medis yang memanfaatkan 

frekwensi ini yaitu  multivibrator. Listrik berfrekwensi 

tinggi yaitu  frekwensi arus listrik di atas 500.000 Hz. 

Frekwensi ini tidak memiliki  sifat merangsang saraf dan 

otot. Namun memiliki sifat mampu memanaskan. Contoh 

alat medis yang memakai  frekwensi tinggi yaitu  

elektrocauter dan elektrosurgery. (12) 

 

1.6 Konduktor dan Isolator 

Zat-zat berbeda dalam kebebasan relatif elektron-

elektron untuk bergerak di dalam zat ini . Disebut 

konduktor jika elektron-elektron dapat bergerak bebas, 

sebaliknya dikatakan isolator jika sedikit elektron yang 


dapat bergerak bebas di dalam zat ini . Semua logam 

yaitu  konduktor yang baik. Kaca, karet, busa yaitu  

isolator. Di dalam isolator, setiap elektron terikat bebas pada 

satu atom dan tidak bebas bergerak menjauh. sedang  

dalam suatu konduktor logam, paling tidak satu elektron 

dipisahkan dari setiap atom dan bebas bergerak kemana saja 

dalam konduktor ini . (11) 

 

2. Biolistrik 

2.1 Rumus atau Hukum dalam Biolistrik 

Ada beberapa rumus atau hukum yang berkaitan 

dengan biolistrik (seperti telah disinggung pada hal 5) antara 

lain : hukum Ohm dan hukum Joule. Hukum Ohm 

menyatakan bahwa perbedaan potensial antara ujung 

konduktor berbanding langsung dengan arus yang 

melewati, berbanding terbalik dengan tahanan dari 

konduktor. Hukum Ohm ini dapat dinyatakan dalam rumus 

: V = I x R. Dimana R =  tahanan listrik (ohm), I = kuat arus 

(A), V = tegangan (Volt). sedang  Hukum Joule 

mengatakan bahwa arus listrik yang melewati konduktor 

dengan perbedaan tegangan (V) dalam waktu tertentu akan 

memicu  panas. Hal ini dinyatakan dalam rumus : H 

(E) = VIT/ J. Dimana H (E) = energi panas (kalori), I = kuat 

arus (A), V = tegangan (Volt), T = waktu (detik), J = Joule = 

0,239 kalori.(12)   Panas (kalori) yang dihasilkan oleh arus 

listrik juga dapat dijelaskan dari formula GC = I2R/ 4,187. 

GC= gram kalori per detik, I = kuat arus (A),  R =  tahanan 

listrik (ohm).(2) 

   

2.2 Kelistrikan dan Kemagnetan yang timbul dalam 

Tubuh   

Di dalam tubuh manusia ada  medan listrik dan 

medan magnet. Pada tahun 1856 Caldani menunjukkan 

kelistrikan pada test otot katak yang telah mati. Luigi 

Galvani (1780) mulai mempelajari kelistrikan pada tubuh 

hewan kemudian pada tahun 1786 Luigi Galvani 

melaporkan hasil eksperimennya bahwa kedua kaki katak 

 

terangkat saat  diberikan arus listrik lewat suatu 

konduktor. Pada tahun 1899 Van Seynek melakukan 

pengamatan tentang terjadinya panas pada jaringan yang 

disebabkan oleh aliran frekwensi tinggi. Arons (1892) 

merasakan ada aliran melalui beliau sendiri serta asistennya. 

(12) 

Pada dasarnya di seluruh sel tubuh ada  potensial 

listrik yang melintasi membran. Selain itu, pada beberapa 

sel, misalnya sel saraf dan sel otot, bersifat dapat dirangsang 

artinya, mampu membangkitkan sendiri impuls 

elektrokimia pada membrannya. Pada beberapa keadaan, 

impuls ini dapat digunakan untuk menghantarkan sinyal 

sepanjang membran. (13) 

2.3 Fisiologi Membran Saraf dan Otot 

ada  perbedaan komposisi cairan ekstraseluler, 

yang terletak di luar membran sel dan cairan intraseluler, di 

dalam sel. Cairan ekstraseluler mengandung sejumlah besar 

natrium namun  hanya mengandung sedikit kalium. Keadaan 

ini justru sebaliknya terjadi pada cairan intraseluler. Selain 

itu, cairan ekstraseluler juga banyak mengandung klorida. 

Berbagai perbedaan  ini sangat penting untuk kehidupan sel. 

Telah diketahui bahwa sel memiliki  lapisan yang disebut 

membran sel. Sel memiliki  kemampuan memindahkan 

ion dari satu sisi ke sisi lain.  

Kemampuan sel ini disebut aktifitas kelistrikan sel. 

Dalam keadaan biasa konsentrasi ion Na+ lebih besar di luar 

sel daripada di dalam sel. Pada keadaan demikian potensial 

di dalam sel relatif negatif dibandingkan dengan potensial di 

luar sel. Keadaan ini dinamakan potensial membran negatif. 

Jika konsentrasi ion Na+ lebih banyak di dalam sel daripada 

di luar sel, perbedaan potensial listrik di dalam sel lebih 

positif daripada di luar  sel. Keadaan ini disebut potensial 

membran positif. (12,13) 

Suatu saraf atau membran otot pada keadaan istirahat 

(tidak adanya proses konduksi listrik), konsentrasi ion Na+ 

lebih banyak di luar sel daripada di dalam sel. Jadi di dalam 

sel akan lebih negatif dibandingkan dengan di luar sel. 

 

 

jika  perbedaan ini diukur dengan galvanometer akan 

mencapai -90 mV. Membran sel ini disebut dalam keadaan 

polarisasi, dengan potensial membran istirahat -90 mV.(12,13) 

jika  suatu rangsangan terhadap membran dengan 

mempergunakan listrik, mekanik atau zat kimia, butir-butir 

membran akan berubah dan beberapa ion Na+ akan masuk 

ke dalam sel. Di dalam sel akan menjadi kurang negatif 

daripada di luar sel dan potensial membran akan meningkat. 

Keadaan membran ini dikatakan menjadi depolarisasi. Suatu 

rangsangan yang cukup kuat mencapai titik tertentu 

sehingga dapat memicu  depolarisasi membran. Titik 

tertentu ini disebut nilai ambang. Proses depolarisasi akan 

berkelanjutan serta irreversibel. Ion-ion Na+ akan mengalir 

ke dalam sel secara cepat dan dalam jumlah yang sangat 

banyak. Pada keadaan ini potensial membran akan naik 

dengan cepat mencapai puncak + 40 mV.  

Terjadinya depolarisasi sel membran secara tiba-tiba 

disebut potensial aksi, yang berlangsung kurang dari 1 

millidetik. Potensial aksi merupakan fenomena keseluruhan  

atau tidak sama sekali (all or none) yang berarti bahwa 

begitu nilai ambang tercapai, peningkatan waktu dan 

amplitudo dari potensial aksi akan selalu sama, tidak 

perduli macam maupun intensitas dari rangsangan.(12.13) 

Segera sesudah  potensial aksi mencapai puncak mekanisme 

pengangkutan di dalam sel membran dengan cepat 

mengembalikan ion Na+ ke luar sel sehingga mencapai 

potensial membran istirahat (-90 mV). Proses ini disebut 

repolarisasi. Proses repolarisasi sel membran disebut juga 

suatu tingkat refrakter.  

Tingkat refrakter ada dua fase yaitu periode refrakter 

absolut dan periode refrakter relatif. Selama periode 

refrakter absolut tidak ada rangsangan, tidak ada unsur 

kekuatan untuk menghasilkan potensial aksi yang lain. 

sesudah  sel membran mendekati repolarisasi seluruhnya 

maka dari periode refrakter absolut akan menjadi periode 

refrakter relatif. jika  ada stimulus atau rangsangan yang 

kuat secara normal akan menghasilkan potensial aksi yang 

baru. Mulai dengan suatu rangsangan sampai mencapai nilai 

 

 

ambang timbul potensial aksi kemudian mencapai 

repolarisasi dan berakhir dengan potensial membran 

istirahat mebutuhkan waktu 3 milidetik. sesudah  mencapai 

potensial membran istirahat maka sel membran ini  

telah siap untuk menghantarkan impuls yang lain. (12,13) 

Potensial aksi bisa terjadi jika  suatu daerah 

membran saraf atau otot mendapat rangsangan mencapai 

nilai ambang. Potensial aksi itu sendiri memiliki  

kemampuan untuk merangsang daerah sekitar sel membran 

untuk mencapai nilai ambang. Dengan demikian dapat 

terjadi perambatan potensial aksi ke segala jurusan sel 

membran. Keadaan ini disebut perambatan potensial aksi 

atau gelombang depolarisasi.  

Kemampuan meneruskan gelombang depolarisasi bisa 

terjadi pada hubungan antara dua sel saraf (sinapsis) dan 

pada hubungan antar saraf dengan sel  otot (neuromyal 

junction). Gelombang depolarisasi ini penting pada sel 

membran otot oleh sebab  pada waktu terjadi depolarisasi, 

zat kimia yang ada  pada otot akan bergetar 

memicu  depolarisasi sel otot yang diikuti kontraksi sel 

otot. sesudah  itu terjadi repolarisasi sel otot hal mana otot 

akan mengalami relaksasi.(12,13) 

Sel membran otot jantung (miokardium) sangat 

berbeda dengan dengan saraf dan otot bergaris. Pada saraf 

maupun otot bergaris dalam keadaan potensial membran 

istirahat dilakukan rangsangan maka ion-ion Na+ akan 

masuk ke dalam sel dan sesudah  tercapai nilai ambang akan 

timbul depolarisasi. sedang  pada sel otot jantung, ion Na 

+ mudah bocor sehingga sesudah  terjadi repolarisasi lengkap, 

ion Na + akan perlahan-lahan kembali masuk ke dalam sel 

dengan akibat akan terjadi gejala depolarisasi secara spontan 

sampai mencapai nilai ambang dan terjadi potensial aksi 

tanpa memerlukan rangsang dari luar.  

Potensial aksi ini terjadi pada suatu kecepatan (natural 

rate) yang teratur. Kecepatan ini disebut kecepatan dasar 

membran sel otot jantung. Waktu antara mulai depolarisasi 

spontan sampai mencapai nilai ambang sesudah  terjadinya 

repolarisasi ternyata bervariasi oleh sebab  perubahan 

 

dalam potensial membran istirahat, tingkat dari nilai 

ambang dan slope dari depolarisasi spontan terhadap nilai 

ambang. Perubahan ketiga parameter itu sangat 

mempengaruhi mekanisme kontrol fisiologis terhadap 

frewensi jantung.  

Jika daerah sekitar miokardium belum mencapai nilai 

ambang sedang  bagian lain telah mengalami potensial 

aksi, bagian ini akan dengan segera memicu  bagian 

lain mencapai nilai ambang dan menghasilkan potensial 

aksi. Demikian seterusnya sehingga menghasilkan 

depolarisasi untuk seluruh otot jantung. 

 Irama jantung diatur oleh isyarat listrik yang 

dihasilkan oleh rangsangan secara spontan oleh sel-sel 

khusus yang ada  pada atrium kanan (dekat muara vena 

cava superior dan inferior), yaitu simpul SA (SA node). SA 

node ini berperan sebagai pacemaker. Bergetarnya SA node 

berkisar 72 kali per menit. Getaran ini  dapat meningkat 

dan menurun diatur oleh saraf eksternal jantung yang 

merupakan respon kebutuhan darah oleh tubuh. Isyarat 

listrik dari SA node memicu  depolarisasi otot jantung 

atrium dan memompa darah ke ventrikel, kemudian diikuti 

oleh repolarisasi atrium. Isyarat listrik akan dilanjutkan ke 

simpul AV (atrioventrikular node) yang akan memicu  

depolarisasi ventrikel kanan dan kiri yang memicu  

kontraksi ventrikel sehingga darah dipompa ke arteri 

pulmonalis dan aorta. 

 Saraf pada ventrikel dan otot ventrikel kemudian 

mengalami repolarisasi dan mulai lagi isyarat listrik dari SA 

node. ada  tiga perbedaan penting perbedaan sel otot 

jantung dengan sel otot bergaris dalam hal potensial aksi, 

yaitu pada otot jantung memiliki  konduksi yang berjalan 

sangat cepat, periode refrakter yang panjang dan adanya 

automatisasi.(7,20) Saraf dan otot jantung dapat dipandang 

sebagai sumber listrik tertutup dalam suatu konduktor 

listrik dada dan perut. (14) 

 

2.4 Syok Listrik 

Syok listrik atau kejutan listrik yaitu  suatu nyeri 

pada saraf sensoris yang dipicu  aliran listrik yang 

mengalir secara tiba-tiba melalui tubuh. Kejadian syok listrik 

merupakan kejadian yang timbul secara kebetulan. Tidak 

mengherankan kejadian syok listrik semakin meningkat 

dengan meluasnya pemakain listrik di rumah tangga dan 

industri. Disamping itu kemajuan instrumentasi elektronik 

rumah sakit ada kecendrungan meningkatnya kejadian syok 

listrik  Bahaya syok listrik sangat besar yaitu fibrilasi 

ventrikel jantung dan kelumpuhan pernafasan yang 

memicu   kematian jika tidak mendapatkan 

pertolongan segera.(12,14,15) 

Dalam bidang kedokteran ada dua macam syok listrik, 

yaitu : syok yang dibuat dengan tujuan tertentu dan syok 

yang timbul tanpa tujuan tertentu. Electro convultion 

therapy pada pasien gila merupakan syok listrik yang 

sengaja dilakukan dalam bidang kedokteran jiwa. Syok yang 

timbul dari kecelakaan dikenal dengan earth syok. 

Seseorang memperoleh syok jika  salah satu bagian tubuh 

menyentuh kawat fasa (yang memiliki kuat arus tinggi) 

sedang  bagian tubuh yang lain menyentuh kawat netral. 

berdasar  besar kecilnya tegangan earth syok dapat 

dibagi menjadi dua, yaitu : syok tegangan rendah dan syok 

tegangan tinggi. 

 Syok tegangan rendah berkaitan dengan pemakaian 

generator yang menghasilkan arus listrik dengan tegangan 

rendah atau berkaitan dengan pemakaian lampu sinar ultra 

ungu. sedang  syok tegangan tinggi berkaitan dengan 

pemakaian generator tegangan tinggi, generator gelombang 

pendek. Pada penderita ini akan mengalami luka bakar. (12) 

ada  beberapa parameter yang mempengaruhi 

syok listrik. Syok semakin serius jika  arus yang melewati 

tubuh semakin besar. Menurut hukum Ohm intensitas arus 

listrik tergantung dari tegangan dan tahanan yang ada. 

Disamping itu ada parameter-parameter lain yang turut 

berperan mempengaruhi tingkat syok seperti jenis kelamin, 

frekwensi arus bolak balik, durasi, berat badan dan jalan 

yang ditempuh arus. Dari sudut arus dapat dijelaskan 

sebagai berikut : (1,12,15) 

a. Seseorang akan menderita syok lebih serius pada 

tegangan 220 Volt daripada tegangan 80 Volt, oleh 

sebab  kuat arus pada tegangan 220 Volt lebih besar 

daripada tegangan 80 Volt (pada tahanan sama yang 

sama). 

b. Basah tidaknya kulit penderita. Kulit penderita yang 

basah atau berkeringat akan memudahkan arus listrik 

melewati kulit penderita. Ini dapat dimengerti oleh 

sebab  kulit yang basah atau berkeringat memiliki 

tahanan yang lebih kecil bila dibandingkan kulit yang 

kering. 

c. Basah tidaknya lantai. Lantai yang basah merupakan 

konduktor yang baik sehingga lebih besar arus yang 

dapat melewati tubuh ke tanah (ground). Dari sudut 

parameter lain  : (8)  

d. Jenis kelamin. Tahun 1973 Dalziel melakukan 

penelitian tentang nilai ambang persepsi (arus 

minimum yang dapat dideteksi) dan let go current 

(arus yang dapat memicu  tarikan tangan 

kembali) yang ditunjukkan oleh distribusi Gausian 

yang menyatakan bahwa rata-rata nilai ambang 

persepsi (threshold of perception) untuk laki-laki 1,1 

mA sedang  untuk wanita 0,7 mA, minimum nilai 

ambang persepsi yaitu  500 mikro ampere. Gausian 

juga menjelaskan bahwa bahwa rata-rata let go current 

untuk laki-laki 16 mA, untuk wanita 10,5 mA. 

Minimum let go current untuk laki-laki 9,5 mA, untuk 

wanita 6 mA. 

e. Frekwensi arus bolak balik. Hasil penelitian 

menunjukkan bahwa frekuensi 560 Hz merupakan 

batas minimum let go current. Di bawah 10 Hz let go 

current akan meningkat dan otot-otot akan terjadi 

relaksasi sebagian dan di atas beberapa ratus Hz let go 

current akan meningkat pula yang mana otot-otot 

 

mengalami strength duration trade off serta refrakter 

jaringan yang telah mengalami eksitasi 

f. Durasi. LA geddes (1973) melakukan percobaan 

terhadap binatang ponny dan anjing. Ternyata nilai 

ambang fibrilasi akan meningkat bila waktu semakin 

kecil 

g. Berat badan. Penelitian Ferris (1936) dan Kiselev (1963) 

menunjukkan bahwa nilai ambang fibrilasi akan 

meningkat dengan meningkatnya berat badan. Hal ini 

diramalkan berlaku juga pada manusia. 

h. Jalan yang ditempuh arus. jika  jalan yang 

ditempuh arus melewati jantung dan otak akan timbul 

bahaya syok yang lebih serius. 

 

3. Faktor Yang Berperan Dalam Trauma Listrik 

3.1 Intensitas (I) 

Banyaknya arus listrik yang mengalir melalui kawat 

atau tubuh manusia dan ini yang menentukan fitalitas 

seseorang.(7) Pada eksprimen didapat hasil sebagai berikut : 

Manusia yang terkena arus listrik (AC) dengan intensitas di 

bawah 25 mA atau arus listrik (DC) sekitar 25-80 mA, tidak 

akan memicu  efek apa-apa. Bla terkena arus listrik 

(AC), dengan intensitas 25-80 mA atau arus listrik (DC) 

sebesar 80-300 mA akan terjadi penurunan kesadaran dan 

gangguan denyut jantung (fibrilasi ventrikel). Bila kekuatan 

arus listrik melebihi 3 A, maka akan terjadi penghentian 

denyut jantung (cardiac arrest).(15) 

3.2 Tegangan atau voltase (V) 

- Tegangan rendah  : kurang dari 65 Volt. 

- Tegangan sedang  : 65-1000 Volt. 

- Tegangan tinggi   :  lebih 1000 Volt. 

- Tegangan sangat tinggi : 100.000 Volt. 

- Tegangan rendah (umumnya) tidak berbahaya, namun  

tegangan sedang sudah dapat mematikan manusia 

(contoh tengangan listrik rumah tangga 110-220 

Volt).(8) 

 

Arus listrik searah (DC) : Untuk telepon 30-50 

Volt. 

Arus listrik bolak-balik (AC) : Volt rendah 110-380 

untuk perumahan dan Volt tinggi 1000 untuk transpor arus 

listrik.(16) 

Voltase (tegangan) yang rendah, yaitu sekitar 100 volt 

pada beberapa kasus dapat memicu  kematian. Voltase 

yang lebih tinggi misalnya 10.000 malah pada beberapa 

kasus dapat tidak mematikan (tergantung oleh banyak 

faktor yang mempengaruhi). Peralatan rumah tangga yang 

memakai listrik sebagai sumber energi, aman bila voltase 

dari peralatan ini  maksimal 42 volt. Umumnya 

kematian orang yang terkena arus listrik yang bertegangan 

rendah berbeda dengan mereka yang terkena arus listrik 

yang tegangannya tinggi, dimana pada yang pertama 

kematian disebabkan sebab  terjadinya fibrilasi ventrikel, 

sedang  pada yang kedua kematian biasanya sebab  luka 

bakar/ panas.(15) 

3.3 Tahanan (R) 

Besarnya tahanan pada manusia tergantung dari 

banyak sedikitnya air yang ada  pada bagian tubuh. 

Tahanan yang paling besar yaitu  kulit, kemudian tulang, 

lemak, saraf, otot, darah dan yang rendah yaitu  cairan 

tubuh. Dengan demikian dapat dimengerti mengapa orang 

yang terkena arus listrik dalam bak mandi yang berisi air 

kelainan bisa tidak ditemukan, kelainan yang dimaksud 

yaitu  ”electrik mark” (luka masuk di kulit). Pada kulit 

yang kering R tinggi, sedang kulit yang lembab R rendah. 

Selain itu R tergantung pula dari luas kontak, lebih luas 

kontaknya lebih rendah R. Kulit kering memiliki  tahanan 

antara 2000-3000 ohm, sedang  kulit yang lembab kurang 

lebih 500 ohm.(15,17) 

3.4 Arah aliran 

Manusia dapat mati bila terkena arus listrik bila aliran 

dari arus listrik ini  melintasi otak atau jantung, 

misalnya arah aliran dari kepala ke kaki atau dari lengan kiri 

 

ke lengan kanan (sebaliknya). Dengan sendirinya lebih lama 

arus listrik melalui tubuh, lebih besar akibatnya.   

3.5 Waktu 

Waktu lamanya seseorang kontak dengan benda yang 

beraliran listrik menentukan kecepatan datangnya kematian. 

Sebagai contoh, bila intentitas sekitar 70-300 mA, maka 

kematian akan terjadi dalam 5 detik, sedang  pada 

intentitas sekitar 200-700 mA kematian akan terjadi dalam 1 

detik.(15,16) Cepat lambatnya arus listrik masuk ke dalam 

tubuh juga menjadi suatu faktor penentu kematian. 

Sebagaimana telah dijelaskan pada halaman 7, bahwa : 1 

Ampere yaitu  sejumlah listrik dari 1 Coulomb (6,25 x 1018 

elektron) dipindahkan melalui suatu penampang pada suatu 

tempat dalam suatu rangkaian dalam satu detik, maka 

semakin lama seseorang menyentuh sumber arus akan 

mengakibatkan semakin banyak muatan elektron yang 

masuk ke dalam tubuh dan semakin berbahaya bagi tubuh, 

bahkan dapat memicu  kematian. (7) 

Selain faktor-faktor di atas, hal lain yang penting 

diperhatikan yaitu  luas permukaan kontak seluas 50 cm 

persegi (kurang lebih selebar telapak tangan) dapat 

mematikan tanpa memicu  jejas listrik, sebab  pada 

kuat arus letal/ mematikan (100 mA), kepadatan arus pada 

daerah selebar telapak tangan ini  hanya 2 mA/ cm 

persegi, yang tidak cukup besar untuk memicu  jejas 

listrik. Kuat arus yang masih memungkinkan bagi tangan 

yang memegangnya untuk melepaskan diri disebut let go 

current yang besarnya berbeda-beda untuk setiap 

individu.(17) 

 

TRAUMA LISTRIK 

 

A. DEFINISI TRAUMA LISTRIK 

Trauma listrik (electrical injuries) merupakan jenis 

trauma atau kekerasan yang disebabkan oleh adanya 

persentuhan dengan benda yang memiliki arus listrik 

sehingga dapat memicu  luka bakar sebagai akibat 

berubahnya energi listrik menjadi energi panas.(1) Lewatnya 

arus listrik substansial melalui jaringan dapat memicu  

lesi kulit, kerusakan organ dan kematian. Cedera semacam 

ini biasa disebut “electrocution”.(18) 

 

B. JENIS-JENIS TRAUMA LISTRIK 

Ada tiga jenis trauma akibat akibatan kontak dengan 

sesuatu bermuatan listrik: 

1. Contact burn disebabkan kontak dengan benda hidup 

(manusia, hewan) dan tingkat keparahannya bervariasi 

dari lesi yang kecil dan superficial sampai ke dasar jika 

kontaknya berlangsung lama. 

2. Spark burn disebabkan kontak murni/ langsung 

dengan arus listrik oleh kulit. Luka yang timbul 

berbentuk lingkaran dengan dengan daerah 

pertengahan yang pucat dikelilingi daerah yang 

hiperemis. Luka ini penting untuk membuktikan 

adanya kontak murni dengan arus listrik. 

3. Flash burn menunjukkan tampilan yang bervariasi, 

mulai dari bentuk seperti pohon, hingga tampilan 

 

seperti kulit buaya Crocodile skin effect yang 

disebabkan kontak dengan arus yang sangat tinggi 

(petir atau radisi arus tegangan tinggi).(19) 

 

C. BENTUK-BENTUK JEJAS 

Ada tiga bentuk : 

1. Electric mark. 

Dijumpai pada tempat dimana arus listrik masuk ke 

dalam tubuh, dengan tegangan rendah sampai sedang. 

Electric mark berupa kerusakan lapisan tanduk kulit 

berupa luka bakar dengan tepi yang menonjol, di 

sekitarnya ada  daerah yang pucat dikelilingi oleh 

kulit yang hiperemi. Bentuknya sering sesuai dengan 

bentuk benda pemicu nya. Metalisasi dapat juga 

ditemukan pada jejas listrik. Gambaran jejas ini juga 

dapat ditemukan akibat persentuhan kulit dengan 

benda/ logam panas (membara). Untuk 

membedakannya dapat dilakukan pemeriksaan 

mikroskopis. Jejas listrik bukanlah tanda intravital 

sebab  dapat juga ditemukan pada kulit mayat atau 

pasca kematian namun tanpa disertai daerah hiperemi  

disekitar jejas.(8) 

2. Joule burn atau endogenous burn. 

Terjadi bilamana kontak antara tubuh dengan benda 

yang mengandung arus listrik yang cukup lama. 

Gambaran jejas berupa elektric mark dengan bagian 

tengah yang menjadi hitam hangus terbakar.(8) 

3. Exogenous burn. 

Dapat terjadi bila tubuh manusia terkena benda yang 

berarus listrik dengan tegangan tinggi dan benda 

ini  memang sudah mengandung panas. Tubuh 

korban akan hangus terbakar dengan kerusakan yang 

sangat berat, yang tidak jarang disertai dengan 

patahnya tulang-tulang.(8) 

 

Gambar 6: Electric mark (spark burn = kontak langsung dari arus listrk) 

Dikutip dari 

http://www.uic.edu/labs/lightninginjury/treatment.html 

 

 

 

Gambar 8: Joule burn 

Dikutip dari http://www.siegfriedandjensen.com/html/burn-injuries.html 

 

 

Gambar 9: Exogenous burn 

http://www.cdc.gov/niosh/docs/2002-123/2002-123b.html  

 

Gambar 9 : Trauma listrik tegangan tinggi dengan patah tulang 

(exogenous burn) 

Dikutip dari farm4.static.flickr.com/3185/2492830434_18c8b. 

www.electricityforum.com/.../arc-flash-burn1.jpg 

 

 

Gambar 10: Multiple spark lesion (Crocodile skin effect) = flash burn 


 

 

 


 

Gambar 11: Crocodile skin effect (flash burn) Dikutip dari forensic 

pathology second edition 

 

Gambar 12: Arborescent mark (gambaran pohon = flash burn) 


D. MEKANISME TERJADINYA KEMATIAN(5,6,9) 

Kematian biasanya terjadi dengan cepat namun bisa 

saja terjadi sesudah  beberapa jam. Menurut Barrera kematian 

yang cepat disebabkan oleh, gagal jantung atau gagal napas. 

Barera mengatakan bahwa dalam prakteknya seluruh 

kejadian gagal nafas dapat diatasi dengan bantuan nafas 

yang memadai, namun gagal jantung akan mengakibatkan 

henti jantung yang tiba-tiba.  

Henti jantung ini dipicu  oleh fibrilasi ventrikel, 

ini lebih disebabkan oleh perangsangan yang hebat pada 

pusat vagal di medulla oblongata. Pada kasus-kasus dimana 

kematian terjadi lebih lambat, penurunan kesadaran yaitu  

simptom yang umum dan terjadi bahkan pada kasus-kasus 

dimana otak tidak secara langsung terkena arus listrik. 

Penurunan kesadaran biasanya diikuti dengan tanda-tanda 

gagal sirkulasi dan gagal nafas. Pada kasus-kasus dimana 

lesi spesifik tidak muncul pada system saraf pusat, 

penurunan kesadaran dapat disebabkan oleh hipoksia atau 

anoksia yang merupakan akibat sekunder dari gagal jantung 

dan gagal nafas.  

Arus bolak-balik (AC) lebih cepat memicu  

terjadinya lesi daripada arus searah (DC). Moritz 

menyatakan bahwa 60 siklus arus bolak balik yang biasanya 

digunakan di rumah dan beberapa industri, dapat 

memicu  trauma pada pusat medulla dan jantung. 

Moritz menyatakan bahwa kematian akan terjadi jika batang 

otak atau jantung terkena langsung oleh arus listrik. 

Sebagaimana telah dinyatakan di atas bahwa pemicu  

kematian pada umumnya yaitu  aritmia jantung yang 

disebabkan fibrilasi ventrikel.  

Ini disebabkan oleh proses arus listrik yang masuk 

melalui myocardium, khususnya di lapisan terluar 

epicardium dan masuk ke inti myocardium. saat  kematian 

terjadi oleh sebab  henti jantung, tubuh akan menjadi sedikit 

pucat dan terlihat sedikit kongesti dan tampilan pada 

autopsi tidak akan menolong sebab  tidak ada bekas luka di 

permukaan tubuh. 

 

Kematian oleh sebab  gagal nafas, dimana arus 

melewati toraks akan memicu  otot-otot interkosta dan 

diafragma spasme atau menjadi paralysis. Gerakan alat-alat 

pernafaan dihambat dan kematian sebab  hipoksia dan 

kongesti akan terjadi. Batang otak jarang terpengaruh, saat  

arus listrik melewati kepala. Walaupun jarang terpengaruh, 

arus listrik yang masuk ke kepala akan merangsang batang 

otak memicu  gagal nafas. Ini terjadi jika kepala 

dimasuki arus listrik tegangan tinggi di atas 660 volt. Banyak 

kematian sebab  trauma listrik tidak diobservasi, korban 

ditemukan mati kemudian, sehingga sebab kematian tidak 

diketahui. (5,6,9) 

 

E. KEMATIAN AKIBAT SENGATAN LISTRIK(20) 

Cedera Akibat Listrik yaitu  kerusakan yang terjadi 

jika arus listrik mengalir ke dalam tubuh manusia dan 

membakar jaringan ataupun memicu  terganggunya 

fungsi suatu organ dalam. Tubuh manusia yaitu  

penghantar listrik yang baik.  

Kontak langsung dengan arus listrik bisa berakibat 

fatal. Lintasan listrik yang melalui jaringan akan 

menghasilkan panas yang dapat membakar dan 

menghancurkan jaringan tubuh sehingga memicu  lesi 

kulit, kerusakan organ dan kematian. Cedera ini umumnya 

disebut ‘elektrokusion’ meski beberapa orang memakai  

batasan ini hanya bila terjadi kematian. Meskipun luka bakar 

list