risiko perdarahan an-
tara. Pengunduran lebih lama biasanya me-
nimbulkan perdarahan itu dan juga
tidak dianjurkan untuk melakukannya terla-
lu sering.
Cara penundaan yaitu sesudah satu kur
jangan mengadakan istirahat, namun melan-
jutkan minum pil selama 7 atau 14 hari bila
haid ingin diundur dengan masing-masing
7 atau 14 hari. Sesudah itu baru diadakan
istirahat;
c. a c n e, khususnya pil dengan siproteron
(Diane-35), lihat di atas.
Faktor-faktor yang mengurangi ke-
amanan pil
a.Terlupa minum
– bila lupa minum pil satu kali, dalam waktu
12 jam pil masih dapat diminum;
– bila lupa minum pil lebih dari 12 jam atau
lebih dari 2-3 pil, keama nannya tidak
dapat dijamin lagi. Pil-pil yang terlupa
dibuang dan kur dilanjutkan sampai
selesai dengan mengada kan cara antikon-
sepsi lain (kondom dengan spermicida).
Bila pil yang terlupa lebih dari 12 jam
merupakan satu dari empat pil terak-
hir, sebaiknya diadakan istirahat selama
4 hari, ketika akan terjadi perdarahan.
Kemudian dimulai lagi dengan kur baru.
– bila pil terlupa 3 kali atau lebih, kur harus
dihentikan sebab perdarahan penarikan
tidak dapat dihindari lagi. Terlepas dari
terjadinya perdarahan atau tidak, tanpa
istirahat segera dimulai lagi dengan kur
baru.
b. Gangguan lambung-usus juga dapat me-
ngurangi keamanan pil anti hamil akibat
berkurangnya resorpsi dari usus, misalnya
sebab diare atau muntah dalam waktu 3 jam
sesudah meminumnya. Dalam keadaan ini
sebaiknya sesudah beberapa waktu diminum
satu pil baru.
c. Interaksi dengan obat-obat lain. Sejumlah
obat yang diberikan bersamaan dengan pil
anti hamil mengurangi keamanannya melalui
induksi enzim (mikrosomal hati) sehingga
hormon-hormon dalam pil dipercepat pengu-
rai annya. Hal ini terutama berlaku bagi pil
sub-50. Oleh sebab itu risiko perdarahan
break-through (perdarahan antara dua periode
menstruasi) dan spot ting (perdarahan ringan
berupa bercak-bercak) juga lebih besar.
*Induk tor enzim terkenal yaitu rifampi-
sin, fenilbutazon, griseofulvin, terbinafin dan
anti epileptika fenobarbi tal, karbamaze pin,
primidon dan feni toin. Selain itu antibioti k
seperti ampisilin, amoksisiklin dan tetrasi-
klin, juga menguran gi keamanan nya. Menu-
rut perkiraan hal ini disebabkan oleh efek
buruk nya terhadap flora usus, yang berefek
mengurangi siklus entero hepa tik dari hor-
mon-hormon dan turun nya kadar darah.
*Efek terhadap obat-obat lain. Di lain pihak,
pil anti ha mil memper panjang efek diazepam,
klordiazepoksida dan imipramin, sebab
mengurangi metabolisme oksidatifnya. Efek
kortikoste roid dan teofilin diperkuat, begi-
tu pula daya kerja dari antihiper tensiva,
antikoagulansia dan antidiabetika oral dapat
dipenga ruhi oleh pil.
Efek samping
Pil antihamil dapat memicu banyak
efek samping yang tergantung pada dosis
komponen-komponennya, keseimban gan es-
trogen-progestagen dalam pil dan lamanya
pemakaian . Lagi pula efek-efek tertentu
dari kedua hormon dapat saling ditiada kan.
Kebanyakan efek samping tidak terjadi pada
pil ringan (sub-50).
a. Efek-efek kombinasi yang berkaitan de-
ngan khasiat antikonsepsinya yaitu perda-
rahan-antara bila pil pertama diminum pada
hari ke-5 dari siklus haid, juga mual, nyeri
kepala, buah dada tegang dan sensitif. Sering-
kali efek-efek ini hilang dengan sendirinya,
namun bila tetap timbul perlu dipertim-
bangkan pil yang lebih berat (mengan-
dung lebih banyak estro gen). Efek samping
lebih serius yaitu meningkatnya tekanan
darah, berkurangnya toleransi glukosa, ter-
bentuknya batu empedu dan pigmentasi
kulit (melasma, bintik-bintik hitam). Serius
pula yaitu trombosis (terbentuknya gum-
palan darah di pembuluh), yang risiko
timbulnya lebih besar pada kombinasi de-
ngan progestagen generasi ketiga (gestoden,
desogestrel dan drospirenon). Anovulasi
dan amenorroea dapat terjadi sesudah peng-
gunaan dihen ti kan, biasanya selama
3-6 bulan.
b. Efek estrogen dapat berupa mual, muntah,
mudah tersinggung, retensi air dan udema,
nyeri buah dada dan kepala, pening katan
tekanan darah serta melasma. Lagi pula
gangguan fungsi hati, hyper me norroe a, per-
darahan antara di paruh kedua dari siklus,
pembe saran myoma dan kontraksi nyeri dari
rahim. Kolesterol-HDL ditingkatkan dan
LDL diturunkan.
c. Efek progestagen terdiri dari obstipasi,
rasa letih, nyeri kepala, reaksi kulit alergi
dan melasma, varices dan kejang tungkai,
juga depresi. Di samping itu, zat ini juga
dapat memicu perdarahan-antara di
minggu-minggu pertama, hipomenorroea
dan amenorroea, libido berkurang dan
gangguan pembuluh. Kolesterol-HDL ditu-
runkan.
d. Efek androgen dari derivat nortestosteron
nampak sebagai acne, kulit dan rambut
berlemak, bertambahnya nafsu makan dan
berat badan, penurunan kolesterol-HDL
dan meningkatnya LDL Pil trifasis dengan
kadar progestagen total yang rendah sekali,
tidak memengaruhi HDL-LDL. Toleransi
karbohidrat menurun.
Efek samping positifnya yaitu berkurang-
nya insidensi kanker endometrium dan ova-
rium serta tumor mammae jinak (benigne).,
begitu pula membaiknya siklus haid dengan
mengurangi nyeri perut, perdarahan ovulasi
dan dysmenorrea.
Pilihan pil
Dari uraian di atas jelaslah bahwa pilihan
pertama yaitu pil dengan kadar hormon
serendah mungkin, yaitu pil sub-50 dengan
estrogen di bawah 50 mcg dan progestagen
di bawah 125 mcg. Juga yang paling dapat
dipercaya yaitu dengan Pearl Indeks kurang
dari 0,1. Maka lazimnya antikonsepsi dia-
wali dengan suatu pil sub-50 (Stediril), ke-
banyakan dengan EE 30 atau 37,5 mcg dan
levonorgestrel 125 atau 150 mcg. Pil sub-30
(Mercilon, Meliane, Lovette) dengan 20 mcg EE
lebih jarang dipakai sebab lebih sering
memicu «spotting», perdarahan-anta-
ra dan amenorroea. Peristiwa ini terutama
terjadi pada pil-mini yang hanya mengan-
dung progestagen. Bila timbul keluhan de-
mikian barulah dapat beralih ke pil yang
lebih berat dengan 30 atau 50 mcg EE.
Bila pil menimbulken efek samping tertentu,
maka atas dasar keluhannya pil dapat diganti
dengan pil lain yang lebih sesuai dengan
profil hormon pemakai. Artinya, beralih ke
pil dengan dosis estrogen/progestagen lebih
tinggi atau lebih rendah.
Pil dengan 30 ug etinilestradiol dan levo-
norgestrel merupakan pil antikonsepsi stan-
dar.
Kontra-indikasi
Kontra-indikasi pemakaian pil antihamil
dapat disimpulkan dari efek sampingnya.
Untuk lengkapnya dikemukakan lagi kea-
daan pada mana pil (sebaiknya) jangan di-
berikan, yaitu:
– bila ada riwayat trombosis, hiperli-
pidemia, myoma dan semua jenis kanker
yang bersifat estrogendependent (endome-
trium, mammae)
– perdarahan rahim yang tidak terdiagnosis
– pasien hati, migrain hebat, gangguan jan-
tung dan pembuluh
pemakaian nya harus dengan hati-hati pada
pasien diabetes dan hiperten si. Pil tidak dian-
jurkan untuk wanita di atas usia 40 tahun,
terutama yang merokok dan terlalu gemuk,
atau memiliki faktor risiko PJP lain. Tidak
pula bagi wanita sekitar masa peralihan, ber-
hubung haid akan berlangsung terus dan saat
menopause tidak dapat ditentukan. sebab
itu sebaiknya pemakaian pil dihentikan
pada usia sekitar 45 tahun, sebab pada usia
ini kemungkinan hamil kecil sekali dan yang
lebih dikuatirkan yaitu trombo-emboli, ter-
utama pada wanita yang merokok.
SEDIAAN-SEDIAAN
Kebanyakan sediaan pil antihamil mengan-
dung EE sebagai estrogen terkombinasi
dengan berbagai progestagen. Tersedia be-
berapa sediaan yang hanya berisi proges-
tagen. Dalam ikhtisar di bawah ini dimuat
sediaan-sediaan yang paling banyak digu-
nakan.
A. Pil “berat” dengan EE 50 mcg + progestagen
EE + norgestrel : Neogynon 50/250mcg, Microgynon-50 : 50/125 mcg
Binordiol 50/50 + 50/125 (bifasis)
EE + linestrenol : Ovostat 50/1000 mcg
………………………………………………………………………………………………….
B. Pil “ringan’ (sub-50), dengan EE < 50 mcg + progestagen
EE + norgestrel : Microgynon , Microdiol, pil KB, Nordette-28, Stederil : 30/150 mcg
Trinordiol, Triquilar : 30/50 + 40/75 + 30/125 (trifasis)
EE + noretisteron : Trinovum 35/500 + 35/750 + 35/1000 (trifasis)
EE + linestrenol : Minipregnon, Ministat : 37,5/ 750 mcg
Ovanon 50/0 + 50/2500 (bifasis)
EE + gestoden : Gynera, Minulet 30/75, Meliane 20/75 mcg
Triminulet 30/50, 40/70, 30/100 (trifasis)
EE + desogestrel : Marvelon 30/150 , Mercilon 20/150 mcg
EE + drospirenon : Yasmin , Angeliq 30/ 3000 mcg
EE + siproteron : Diane-35 : 35/2000 mcg (pil acne)
………………………………………………………………………………………………….
C. Pil dengan hanya progestagen
norgestrel : Postinor-2 750 mcg (morning after pill)
Norplant 216 mg (pil implantasi)
linestrenol : Exluton 500 mcg (pil mini)
desogestrel : Cerazette 75 mcg (pil mini)
etonogestrel : Implanon 68 mg (pil implantasi)
medroksiprogesteron : Depo-Provera 150 mg (“pil suntik”)
ACTH DAN KORTIKOSTEROIDA
ANAK-GINJAL DAN
HORMON-HORMONNYA
Anak ginjal atau kelenjar adrenal yaitu
organ kecil yang letaknya berdampingan de-
ngan ginjal pada bagian atas-dalamnya (Lat.
ad = dekat, ren = ginjal). Organ ini terdiri dari
bagian sumsum dan bagian kulit.
1. Medul la (= sumsum) yaitu bagian dalam
yang membentuk neurohormon adrena lin;
2. Cortex (= kulit) yaitu bagian luar yang
menghasilkan tiga jenis hormon steroi d, ya-
itu:
a. glukokortikoida: kortisol (hidrokortison),
yang terutama berkhasiat bagi metabolisme
karbohidrat, juga memengaruhi banyak
efek lain, termasuk pertuka ran zat pro-
tein, pembagian lemak dan reaksi pera-
dangan. Sekresi ACTH (dan kortisol),
yang memperlihatkan ritme siang-malam
(circadian) fisiologis, naik di waktu pagi
disusul oleh memuncaknya sekresi korti-
sol, yang sepanjang hari menurun lagi.
Produksi kortisol total berjumlah 20-30
mg sehari. Pada situasi stres produk si-
nya meningkat sampai 100-200 mg! Efek
mineralo kortikoidnya jauh lebih ringan da-
ripada aldosteron (lihat di bawah);
b. mineralokortikoi da: aldosteron serta
dua precursornya, yaitu kortikoste ron dan
desoksikorton. Hormon-hormon ini teru-
tama memengaruhi metabolis me garam
dan air. Kedua precursor hanya ringan
daya kerjanya, masing-masing 0,5 dan
3% dari efek aldosteron. Aldosteron dan
kortikoste ron juga memiliki efek gluko-
kortikoida, lebih kurang 30% diban-
dingkan dengan kortisol. Pada penggu-
naan 5-10 g garam sehari, produksi hor-
mon ini berjumlah 0,1-0,2 mg sehari.
c. hormon kelamin: produksi rendah dari
testosteron dan DHEA (= dehidro-epi-andro-
ste ron), juga estro gen dan proge ste ron.
Sintesis dari semua hormon itu ber-
langsung dalam anak-ginjal melalui koles-
terol, seperti juga sintesis hormon-hormon
kelamin dalam testes dan ovaria. Garis besar
reaksi sintetik ini tertera dalam gambar di
bawah ini, lihat juga Gambar 43-1 Bab 43, Zat-
zat Androgen.
Gambar 46-1: Metabolisme kolesterol di anak-ginjal dan sintesis DHEA
serta steroida lain.
*ACTH (kortikotropin) dari hipofisis men-
stimulasi produksi kortisol yang dikenda-
likan oleh hormon hipota la mus CRH (Corti-
cotrophin Relea sing Hormone), lihat Bab 42,
Hormon-hormon Hipofisis. Sebagai mana
telah diketahui produksi ACTH dihambat
oleh kortisol melalui mekanisme feedback
negatif, juga bila diberi kan dari ‘luar’. Sistem
ini untuk mudahnya disingkat sistem poros
(axis) atau sistem HHA(Hipo talamus - Hipofisis
- Adrenal).
Aldosteron. Hormon pria ini berperan pen-
ting pada metabolisme elektrolit. Produk-
sinya tidak tergan tung dari ACTH, namun da-
ri sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS),
khususnya dari angiotensin-II, kadar natrium
dan kalium, serta volume plasma yang me-
ngalir melalui ginjal. Selama berlangsung
diet garam dengan ketat (misalnya pada
hiper tensi) kedua nilai akan turun. Untuk
mencegah terlalu menurun nya tensi, ginjal
mening katkan pelepa san enzim renin dengan
akibat terben tuknya angio tensin. Peptida ini
selain meningkatkan tekanan darah, juga
menstimulasi produk si aldoste ron oleh anak-
ginjal, lihat Bab 35, Antihiper tensiva, RAAS.
*DHEA (dehidro-epi-androsteron, prasteron)
berfungsi sebagai bahan pangkal untuk pem-
bentukan hormon-hormon kelamin. Di sam-
ping itu DHEA berperan penting dalam
metabolisme, sistem imun dan sistem saraf
pusat. Produksinya 10-20 kali lebih banyak
dibandingkan dengan korti sol dan menca-
pai puncaknya sekitar usia 30 tahun untuk
kemudi an berangsur-ang sur menurun sam-
pai 10-20% pada usia 80 tahun. Hanya da-
lam keadaan stres kronis produksi kor-
tisol melebihi DHEA; pria lebih banyak
membentuknya daripada wanita. Hewan
menyu sui tidak membentuk DHEA, kecuali
orang utan (monyet).
Sejak awal tahun 1990-an, DHEA dian-
jurkan sebagai smart drug (obat pinter) un-
tuk menghambat proses menua dan mem-
perpanjang harapan hidup (life extension).
Di Prancis penelitian mengenai penggu-
naannya sebagai obat dipimpin oleh Prof E.
Baulieu. Lihat selanjutnya Bab 43, Zat-zat
Androgen.
Khasiat fisiologi kortisol
Kortisol memegang peranan penting pada
proses metabolisme hidratarang, protein
dan lemak, serta pada pemeliharaan keseim-
ban gan elektrolit dan air. Kortisol turut me-
ngatur fungsi sistem kardiovaskuler, sis-
tem saraf, otot, ginjal dan organ lain. Selain
itu, kortisol mendukung sistem tangkis,
sehingga tubuh menjadi lebih kebal terhadap
rangsangan buruk yang tercakup dalam
pengertian “stres”, seperti yang timbul pada
pembedahan, infeksi, luka be rat, juga trauma
psikis, lihat di bawah.
Reaksi stres
Stress (tekanan) yaitu reaksi non-spesifik
dari tubuh terhadap setiap rangsangan da-
lam bentuk apapun (dr H. Selye, 1947). Pe-
rangsang atau stressor yang memicu
tres dapat berbeda-beda dan menghasilkan
beberapa bentuk stres , yaitu:
– stres fisik seperti kecelakaan, luka berat
atau perdar ahan, pembedahan, hawa di-
ngin atau panas, juga olahraga;.
– stres psikis berupa emosi negatif seperti
perasaan marah, jengkel, dendam dan
kebencian, perasaan tidak senang atau
tidak puas dengan sesuatu, perasaan sa-
lah, kerinduan dan perasaan duka yang
berlarut-larut;
– stres akibat infeksi dan zat-zat kimiawi
(anestesia, kemote rapi).
* Hormon stres. Sebagai reaksi terhadap
stres, anak-ginjal didorong untuk mensekresi
berlebihan hormon-hormonnya adrenalin/
NA dan kortisol melalui masing-masing SSP
dan hipofisis; kedua sistem ini bekerjasama
dengan erat. Sekresi kortisol dapat meningkat
sampai 300 mg untuk mengatasi efek-efek
stres , seperti antara lain radang, nyeri dan
demam. Kortisol sebagai zat antiradang ber-
fungsi menghambat reaksi sistem tangkis
tubuh, sehingga respons terhadap stres ja-
ngan sampai terlampau kuat.
Adrenalin. Sebagaimana telah diuraikan
di Bab 31, Adrenergika dan Adrenolitika,
adrenalin dan NA berfungsi mempersiapkan
Gambar 46-1a: Regulasi produksi kortisol secara skematik.
CRH disekresi oleh hipotalamus, misalnya sebab stres , dan merangsang adenohipofi sis
melepaskan ACTH, yang menstimulasi anak ginjal memproduksi kortisol.
Kortisol berbalik memengaruhi secara negatif hipotalamus (mengurangi sekresi
CRH) dan hipofi sis (mengurangi sekresi ACTH).
......................................... Ned Tijdschr Geneesk 2008 december; 11(4)
organisme untuk aksi (fi ght or fl ight) dengan
mengaktifkan berbagai proses fi siologi. Yang
terpenting di antaranya yaitu stimulasi
SSP dengan efek antara lain meningkatnya
tekanan darah dan peningkatan alirannya
ke otak, paru-paru dan otot perifer. Sintesis
protein dikurangi dan produksi glukosa di-
tingkatkan melalui mobilisasi glikogen depot,
begitu pula pelepasan asam lemak ke dalam
darah. Asam lemak merupakan sumber
energi yang bisa langsung dipakai . Oleh
sebab itu, profi l lipida memburuk dengan
meningkatnya kadar triglise rida dan LDL-
kolesterol serta menurunnya HDL. Dengan
peruba han-perubahan ini, tubuh dapat me-
nyesuaikan diri(adaptasi) pada tekanan yang
mengancamnya.
Reaksi normal. Sebetulnya secara alamiah
reaksi stres merupa kan suatu reaksi emosi
yang bermanfaat bagi tubuh dalam peng-
hidu pan sehari-hari dan setiap orang pernah
mengalami suatu kete gan gan (tension), mi-
salnya bila menghadapi ujian atau sebelum
pemeriksaan oleh dokter. stres normal me-
mungkinkan kita untuk menjadi lebih was-
pada (alert) dan bereaksi lebih cepat terhadap
situa si sulit atau darurat. namun , terlampau
banyak tension dapat merugi kan keseha-
tan dan memicu atau memperbu ruk
keluhan. Penelitian WHO telah menunjuk-
kan adanya hubung an positif antara banyak-
nya penga laman hidup dan keluhan kese-
hatan. Dengan demikian ternyata tubuh
dapat belajar hidup dengan stres. Sekarang
ini masyarakat mendapat tekanan berat
dengan syarat-syarat ketat yang diharapkan
dari masing-masing orang, misalnya untuk
membangun karier, membina kehidupan ke-
luarga di samping kesibukan pekerjaan dan
juga keinginan berpenampilan sempurna.
Oleh sebab itu wajarlah bila banyak orang
merasa tertekan dan tegang.
Ketegangan yang tidak nyaman itu baru
menjadi stres yang merugi kan bila berlang-
sung terlampau lama. Tubuh mencoba me-
nyesuaikan diri dengan keadaan ini, namun
serentak daya tahan terhadap bentuk-bentuk
lain dari stres menurun. Dalam periode ini
misalnya, orang menjadi lebih peka terhadap
alergi. Lambat laun tubuh menjadi sangat
letih dan tidak mampu menyesuaikan diri
lagi untuk menyalur kan ketegangan ini
dengan layak dan mengata sinya.
Bila keadaan stres berlangsung berlarut-
larut dengan reaksi dari hormon stres yang
terlampau hebat, maka proses adaptasi ter-
sebut tidak berhasil lagi. Proses fisiologi
mulai terganggu dan timbullah bermacam-
macam keluhan, seperti sakit kepala, sakit
punggung dan perut, hilangnya nafsu makan,
sukar bernapas, hiperventilasi dan berkeringat
berlebihan. Akhirnya dapat terjadi perubahan
patologis pada organ-organ, sehingga dapat
sangat merugikan.
Penanganannya terdiri dari usaha meng-
ubah pola hidup, antara lain dengan gerak
badan secara teratur untuk memperbaiki
kondisi tubuh, misalnya dengan berjalan
kaki, bersepeda atau olahraga lainnya. Ju-
ga berekre asi dengan cukup hiburan, yang
memengaruhi secara baik daya tahan tu-
buh. Selain itu teknik-teknik pernapasan
seperti yoga, tai chi dan chi kung sangat
berguna untuk mengatasi stres . Di samping
itu suasana hidup harus tenang dengan
menjauhi kesibukan, kegelisahan dan faktor-
faktor stres lainnya sebanyak mungkin, serta
memperhatikan cukup istirahat dan hiburan.
Sejak lama telah diketahui bahwa stres emo-
sional membuat penyakit tukak lambung
bertambah parah, sedang pada waktu
serangan akut biasanya timbul kegelisahan
dan kecemasan pada penderita.
*Kortisol berlebihan selama waktu lama
akibat stres menahun dapat mengacaukan
regulasi sistem imun yang sangat rumit.
Misalnya, ratio jumlah sel T-helper dan
T-supresor bisa berubah, yang dapat mence-
tuskan suatu penyakit auto-imun. Bila
masalah tidak terpecahkan akhirnya akan
terjadi kerusakan pada jaringan otot, saraf
dan penurunan fungsi sistem imun, di
samping kadar glukosa dan tekanan darah
meningkat. Sel-sel otak bereaksi kuat terhadap
kortisol, khususnya bagian otak di mana
terletak fungsi ingatan (hippocampus), di
mana ada banyak reseptor kortisol dan
dapat dianggap sebagai termostat untuk
kortisol. Kelebihan kortisol memicu
perubahan ekspresi dari gen-gen tertentu
yang penting bagi sistem ketahanan. Oleh
sebab itu pasien lebih mudah menderita
berbagai infeksi serius (tbc, dan lain-lain) atau
mendapatkan suatu gangguan psikosomatis.
Misalnya hipertensi, infark jantung, tukak
lambung, asma, eksem, colitis atau kanker.Bila
masalah tidak terpecahkan dan tekanan
berlan jut, maka tubuh tidak berenergi lagi
dan akan runtuh.
Khasiat farmakologi
Kortisol memiliki banyak fungsi farmakologi,
yang baru menjadi nyata pada dosis besar
dan dapat dibagi dalam dua kelompok,
yaitu khasiat glukokortikoid dan khasiat
mineralokortikoid.
1. Khasiat glukokortikoid meliputi antara
lain:
a. efek antiradang (anti-inflammatoir), misal-
nya akibat trauma, alergi dan infeksi, yang
berdasar efek vasokonstriksi. Juga
berkhasiat merintangi atau menguran-
gi terbentuknya cairan peradangan dan
udema setempat, misalnya sewaktu ra-
diasi sinar-X di bagian kepala dan tulang
punggung;
b. daya imunosupresif dan anti alergi ,
yang mungkin ada hubun gan nya dengan
khasiat antiradangnya. Reaksi imun di-
hambat, sedang migrasi dan aktivi tas
limfosit T/B dan makrofag menurun;
c. peningkatan gluko-neogenesis, artinya
pembentukan hid ratarang dari protein
dinaikkan dengan kehilangan nitrogen.
Pembentukan glukosa distimulasi, utili-
sasinya di jaringan perifer dikurangi dan
penyimpanannya sebagai glikogen diting-
katkan;
d. efek katabol, yaitu merintangi pemben-
tukan protein dari asam amino, sedang-
kan pengubahannya ke glukosa diperce-
pat. Sebagai akibat dapat terjadi osteo-
porosis (tulang menjadi rapuh ka rena
massa dan kepada tannya berkurang),
atrofia otot dan kulit dengan terjadinya
striae (garis-garis). Anak-anak dihambat
pertumbuhan nya, sedang penyem-
buhan borok (lambung) dipersu lit;
e. pengubahan pembagian lemak. Yang ter-
kenal yaitu penumpukkan lemak di atas
tulang selangka dan muka, yang menjadi
bundar (“moon face”), juga di bagian perut
dan di belakang tengkuk (“buffalo hump”).
Gejala ini mirip Sindroma Cushing, yang
disebab kan oleh hiperfungsi hipofisis
atau adrenal, atau juga sebab penggun-
aan korti kosteroid terlampau lama.
2. Khasiat mineralokortikoid terdiri dari
retensi natrium dan air oleh tubuli ginjal, se-
dangkan kalium justru ditingkatkan ekskre-
sinya.
Derivat kortisol sintetik
pemakaian hidrokortison dengan dosis
tinggi yang sering kali diper lukan dalam
terapi, kerapkali terganggu oleh efek-efek
sampingnya, seperti retensi garam/air, ude-
ma dan hipertensi. Oleh sebab itu telah
disinte sis banyak derivat dengan maksud
memperkuat efek gluko kortikoid dan anti radang-
nya dengan menghilangkan sebanyak mungkin
efek mineralokortikoid nya. Zat-zat ini sering kali
dipakai pada dermato-farmakoterapi.
Derivat-derivat yang kini tersedia secara
kimiawi dapat dibagi dalam dua kelompok,
yaitu deltakortikoida dan fluorkortikoida.
a. Deltakortikoida: predniso(lo)n, metilpred-
nisolon, budeso ni da, desonida dan prednikarbat.
Zat-zat ini berbeda dari kortisol dengan
adanya ikatan ganda pada C1-2 (delta 1-2),
sebab itu namanya demikian. Efek gluko-
kortikoidnya ±5 x lebih kuat dan daya mi-
neralonya lebih ringan dibandingkan dengan
kortisol, sedang lama kerjanya ±2x lebih
panjang.
b. Fluorkortikoida: betametason, deksametason,
triamsinolon, dan lain-lain (lihat di bawah)
merupakan turunan fluor dari prednisolon
dengan 1 atau 2 atom fluor pada C6 atau/dan
C9 dalam posisi -alfa. Khasiat glukokorti-
koid dan anti radangnya 10-30 x lebih kuat
daripada kortisol, daya mineralonya praktis
hilang sama sekali. Plasma-t½-nya lebih pan-
jang (3-5 jam) sebab perombakannya dalam
hati dipersu lit oleh adanya substituen fluor,
oleh sebab itu efeknya juga bertahan 3-5x
lebih lama.
pemakaian sistemiknya tidak mengun-
tungkan dibandingkan prednisolon, sebab
efek sampingnya biasanya juga se-
banding lebih kuat. Maka zat ini hanya di-
gunakan bila predniso(lo)n diperlukan da-
lam dosis yang terlampau tinggi. Khususnya
ketiga zat yang itu di atas banyak di-
gunakan per oral dan parenteral.
pemakaian dermal dalam salep/krem se-
ring sekali, begitu pula penyalahgunaannya,
sebab lebih manjur daripada hidrokortison.
namun sering kali penyakit lebih cepat kam-
buh, sedang efek sampingnya pada
pemakaian tanpa aturan menjadi parah,
seperti kulit menjadi tipis dan mudah terluka,
dan lain-lain, lihat di bawah.
Penggolongan. berdasar posisi dari
atom fluor dalam rumus steroid, deri vat-
derivat fluor dapat dibagi sebagai berikut:
* 6-alfa-fluor : fluokortolon, flunisolida
* 9-alfa-fluor: betametason, deksametason, tri-
amsinolon, desok simetason, fluormetolon dan
flup redni den
* 6,9-alfa-difluor: flumetason, fluosinolon, di-
flukort olon
* 9-alfa-fluor 21-klor : klobetasol, klobetason
* 6-alfa-fluor 9,11-diklor : fluklorolon
* 6,9-alfa-difluor 2-klor: halometason
Tabel berikut ini memperlihatkan aktivitas
biologik relatif dari sejumlah kortikoida ala-
miah dan sintetik dengan masa paruhnya.
Khasiat Khasiat Masa
mineral- gluko- paruh
okort. kort. (t ½)
hidrokortison 1 1 1,5-2 j.
kortison 0,8 0,8 0,5-2 j
prednison/olon 0,7 4 2,5-3
6-alfa-metilpredni. 0,5 5 3,5
triamsinolon 0 5 >5
deksametason 0 >3 3-4,5
betametason 0 >35
aldosteron 3000 0,3 –
kortikosteron 15 0,35 –
desoksikorton 40 0 –
fludrokortison 800 10 0,5
Tabel 46-1: Khasiat relatif atas dasar
berat dari beberapa kortikoida alamiah
dan sintetik.
Kinetik
Semua kortikoida secara oral diserap baik,
efeknya baru nampak sesudah 4-6 jam, maka
untuk efek cepat hendaknya dipakai
parenteral dari derivat yang mudah larut.
Masa paruh berkisar antara 1,5 dan 5 jam,
namun bertahan jauh lebih lama. (t½biolo-
giknya lebih panjang). Misalnya hidrokor-
tison dan kortison 8-12 jam, prednisolon
dan triamsinolon 12-36 jam, deksa- dan beta-
metason (36-72 jam).
Secara intramuskuler kecepatan absorpsi ter-
gantung dari zat yang dipakai , senyawa-
Na dari suksinat dan fosfat yang dapat larut
cepat diserapnya, sedang suspensi dari
asetat dan asetonida yang sukar larut lambat
absorpsinya sehingga bekerja panjang. Oleh
sebab itu untuk pemakaian intra-artikuler
dan intrabursal dipakai terutama senyawa
asetat dan senyawa asetonida. Misalnya in-
jeksi asetat memberikan efek antiradang dan
analgetik yang dapat bertahan 2 hari sampai
2 bulan (asetonida), rata-rata 10 hari.
Absorpsinya per rektal sangat berbeda-
beda, biasanya senyawa dinatrium
dari fosfat paling baik penyerapannya, maka
banyak dipakai sebagai klisma pada co-
litis dan radang rektum (proctitis). Biasanya
dipakai beklometasondipropionat dengan
efek lokal sangat kuat dan efek sistemik agak
ringan.
Kortikoida diikat pada protein plasma
transkortin dan albumin. Pengikatannya pada
protein (PP) berkisar antara 90-95% untuk
hidrokortison dan 60-70% untuk derivat sin-
tetiknya. Prednison inaktif diubah menjadi
prednisolon aktif selama first pass melalui
hati, begitu pula kortison melalui proses sama
menjadi hidrokortison aktif. Pengubahan ini
tidak terjadi di kulit, mata, sendi dan rektum,
maka sediaan-sediaan lokal untuk lokasi
itu , perlu dipakai senyawa hidronya.
sesudah dirombak dalam hati metabolitnya
dikeluarkan melalui urin dan feses.
pemakaian . Glukokortikoida terutama di-
gunakan berdasar berbagai khasi atnya
sebagai berikut.
1. Terapi substitusi dilakukan pada insufi-
siensi adrenal, seperti pada penyakit Addison
yang bercirikan perasaan letih, kurang tenaga
dan otot lemah akibat kekurangan kortisol.
Dalam hal ini diberikan hidrokortison sebab
efek mineralnya paling kuat.
2. Terapi non-spesifik dengan dosis lebih
tinggi berdasar khasiat anti radang dan
khasiat imunosupresifnya pada banyak je-
nis penyakit. Juga berefek menghilangkan
perasaan malaise serta memberikan perasaan
nyaman dan segar pada pasien (sense of well-
being). Untuk ini biasanya dipakai
predniso(lo)n, triamsinolon, deksametason
dan betametason dengan kerja mineralokor-
tikoid yang dapat diabaikan.
*Indikasi terpenting di mana glukokortikoida
telah membuktikan keampuhannya yaitu
pada gangguan-gangguan berikut:
a. asma hebat akut atau kronis, misalnya
status asthmaticus, namun efeknya lebih
lambat daripada ß2-mimetika. Inhalasi
(spray, aerosol) merupakan terapi baku
pada asma kronis, umumnya bersama
suatu ß2-mimetikum
b. radang usus akut (colitis ulcerosa, penyakit
Crohn)
c. penyakit auto imun, pada mana sistem
imun terganggu dan menyerang jaring-
an tubuh sendiri. Kortikoida menekan
reaksi imun dan meredakan gejala pe-
nyakit, misalnya pada rema, MS (mul-
tiple sclerosis), SLE (systemic lupus erythe-
matosus), sclero derma, anemia hemolitis, p.
Crohn dan colitis.
d. sesudah transplantasi organ, bersama
siklosporin atau azati oprin untuk mencegah
penolakannya oleh sistem imun tubuh
e. kanker, bersama onkolitika dan sesudah
radiasi X-ray, untuk mencegah pem-
bengkakan dan udema (khususnya deksa-
metason). Juga sebagai anti emetikum,
bersama obat-obat lain untuk prevensi
mual dan muntah akibat penggun aan
sitosta tika.
* Waktu minum. Glukokortikoida sebaiknya
diminum dalam satu dosis pagi hari, sebab
kadar kortisol alamiah maksimal antara
pukul 8 - 9 dan terendah tengah malam (rit-
me circadi an, ritme siang malam, lihat Bab 42,
Melatonin). Dengan demiki an risiko akan
supresi sistem-HHA lebih kecil.
* ACTH dewasa ini khusus dipakai se-
bagai obat diagnostik fungsi anak-ginjal.
pemakaian lokal
Di samping secara oral dan parenteral, kor-
tikoida juga banyak digu nakan secara lokal,
yakni:
a. pada mata, terutama pada proses pera-
dangan, seperti radang selaput mata, sela-
put bening dan pinggir kelopak mata (con-
junc tivitis, keratitis, blephari tis). Obat yang
lazim dipakai untuk terapi singkat ada-
lah hidrokortison, prednisolon, deksame tason,
betametason dan fluormeto lon. Obat-obat ini
memiliki akti vitas relatif lemah dan tidak atau
sedikit diserap ke dalam darah. Mengingat
risiko akan efek sampingnya (katarak dan
glaukoma), maka tidak boleh dipakai
pada ganggu an mata lain (gatal-gatal, mata
merah).
b. pada telinga pada radang rongga gendang
(otitis media) dan otitis externa kronis, ada
kalanya terkombinasi dengan antibiotika.
c. di hidung (intranasal). dipakai seba-
gai spray hidung pada rhinitis (radang mu-
kosa hidung, pilek) dan pada polip untuk
menghambat atau mencegah pertumbuh-
annya.
d. mulut (tracheal) khusus pada asma dan
umumnya bersama ß2-mimetika. Ternyata
efektif untuk mencegah serangan, pengem-
bangan dan udema bronchi, dengan risiko
ringan bagi supresi sistem-HHA. Untuk
ini tersedia spray (dosis aerosol) dengan
beklometason, budisonida dan flutikason, yang
disemprotkan ke dalam tenggorok dan
berkhasiat lokal di bronchi. Resorpsinya ke
dalam darah hanya ringan sekali.
e. rektal. Kadang kala dipakai sebagai
suppositoria terhadap wasir yang meradang,
biasanya hidrokortison atau triamsinolon, di-
kombinasi dengan suatu anestetikum lokal,
umumnya lidokain. Sebagai lavemen/klisma,
zat ini juga dipakai pada radang usus
besar (colitis ulcerosa) untuk meringankan
gejalanya (betame tason, prednisolon).
f. intra-artikuler. Pada radang sendi, seperti
bursitis (“ten nis elbow”, radang kandung sega)
dan synovitis (radang selaput synovium) dapat
disuntikkan hidrokortison atau triamsinolon
di antara sendi-sendi untuk mencapai efek
lokal.
g. dermal, lihat di bawah.
* Kortison dan prednison baru menjadi
aktif sesudah diubah dalam hati menjadi
derivat hidronya, yakni hidrokortison dan
predni solon, maka bila peroral diperlukan
efek cepat sebaiknya dipakai derivat
hidro aktif ini. Di kulit dan sendi pengubahan
itu tidak terjadi, maka untuk salep/
krem dan injeksi intra artiku ler selalu harus
dipakai hidrokortison dan prednisolon.
Efek samping
Efek samping kortisol terutama nampak pada
pemakaian lama dengan dosis tinggi, yaitu
melampaui 50 mg sehari atau dosis setaraf
dengan derivat sintetiknya. Efek ini mirip
gejala dari suatu gangguan yang disebabkan
oleh produksi kortisol faal berlebihan, yaitu
sindroma Cushing.
* Sindroma Cushing sering kali disebabkan
oleh tumor di hipofisis dan hiperproduksi
ACTH. Gejala utama nya yaitu retensi cairan
di jaringan-jaringan yang memicu
naiknya berat badan dengan pesat, muka
menjadi tembam dan bundar (“muka bulan”),
adakalanya kaki-tangan gemuk (bagian atas).
Selain itu terjadi penum pukan lemak di bahu
dan tengkuk. Kulit menjadi tipis, mudah
terluka dan timbul garis kebiru-biruan
(striae).
Ada tiga kelom pok efek samping berda-
sarkan khasiat faali pokoknya, yaitu efek
glukokortikoid, mineralokortikoid dan efek
umum.
1. Efek glukokortikoid dapat memicu
efek samping sebagai berikut:
a. imunosupresi, yaitu menekan daya ta-
han tubuh, seperti yang terjadi pada
transplantasi organ. Jumlah dan aktivitas
limfosit-T/B beserta makrofag dikurangi dan
pada dosis sangat tinggi juga produksi
antibodies. Akibatnya yaitu turunnya
daya tahan dan tubuh menjadi lebih
peka bagi infeksi oleh jasad-jasad renik.
Lagi pula gejala klinis dari infeksi dan
pera dangan menjadi saru. TBC dan
infeksi parasiter dapat direakti fkan, be-
gitu pula tukak lambung-usus dengan
risiko meningkatnya perdar ahan dan
perforasi.
b. atrofia dan kelemahan otot (myopati ste-
roid), khusus dari anggota badan dan bahu.
Lebih sering terjadi pada hidrokortison
daripada derivat sintetiknya.
c. osteoporosis (rapuh tulang) sebab me-
nyusutnya tulang memicu risi-
ko besar fraktur bila terjatuh. Efek ini
terutama pada pemakaian lama dari
dosis di atas 7,5 mg prednison sehari
(atau dosis ekivalen dari glukokortikoid
lain), seperti pada rema dan asma hebat.
Prevensi dapat dilakukan efektif dengan
vitamin D3 + kalsi um, masing-masing
500 UI dan 1.000 mg sehari. Senyawa
bisfosfonat (alendronat, risedronat) kini juga
sering dipakai . Lihat juga Bab 44, Zat-
zat Estrogen, osteoporosis (boks).
d. merintangi pertumbuhan pada anak-
anak, akibat dipercepatnya penutupan
epifisis tulang pipa;
e. atrofia kulit dengan striae, yaitu garis
kebiru-biruan akibat perdar ahan di ba-
wah kulit, juga luka/borok sukar sembuh
sebab pengham batan pembentukan ja-
ringan granulasi (efek katabol);
f. diabetogen. Penurunan toleransi glukosa
dapat menim bul kan hiperglikemia dengan
efek menjadi manifest atau memper parah
diabetes. pemicu nya yaitu stimulasi
pembentukan glukose berlebihan dalam
hati.
g. gejala Cushing, seperti tertera di atas;
h. anti mitotis, yaitu menghambat pembe-
lahan sel (mitose), terutama kortikoida-
fluor berefek kuat, yang hanya dipakai
secara dermal pada penyakit psoriasis
(penyakit sisik), lihat di bawah.
2. Efek mineralokortikoid dapat menye-
babkan efek samping sebagai berikut:
a. hipokaliemia akibat kehilangan kalium me-
lalui urin;
b. udema dan berat badan meningkat akibat
retensi garam dan air, juga risiko hipertensi
dan gagal jantung.
3. Efek-efek umum:
a. efek sentral (atas SSP) berupa geli sah,
perasaan takut, sukar tidur, depresi dan
psikosis. Perasaan euforia dengan keter-
gantungan fisik dapat pula terjadi.
b. efek androgen, seperti acne, hirsutisme dan
gangguan haid;
c. katarak (bular mata) dan naiknya tekanan
intra okuler (glaukoma), juga bila diguna-
kan sebagai tetes mata. Risiko glaukoma
meningkat.
d. bertambahnya sel-sel darah: eritrositosis dan
granulositosis;
e. bertambahnya nafsu makan dan berat badan;
f. reaksi hipersensitivitas;
g. pada pemakaian intra-artikuler (dalam
sendi): iritasi dan sakit di tempat injeksi,
abses steril, parestesia (kesemutan) dan
khusus sesudah injeksi berulangkali, des-
truksi dari sendi.
Interaksi. Efek samping ulcerogen dari
NSAIDs dapat diperkuat. Risiko borok lam-
bung-usus pada dosis lebih tinggi, peng-
gunaan lebih lama dan pada lansia mening-
kat.
Zat-zat induktor enzim seperti fenobarb,
fenitoin, karbamazepin dan rifampisin dapat
menurunkan efek glukokortikoida. Estrogen
justru memperkuat daya kerjanya. Efek dari
antikoagulantia dapat diperkuat dengan pe-
ningkatan risiko perdarahan.
Wanita hamil harus berhati-hati bila di-
berikan kortikoida, sebab pada hewan
percobaan dilaporkan efek-efek teratogen.
(Metil)prednisolon mencapai ASI dalam
jumlah kecil yang pada bayi tidak
memicu efek buruk. Dari kortikoida
lain belum tersedia cukup data.
Tingkat I. lemah
hidrokortison asetat 1%
metilprednisolon asetat 2,5 Neo Medrol
tingkat II. sedang
desoksimetason + salis. 0,25% Esper son
deksametason + klorheksidin 0,04 *Dexatopic
hidrokortison butirat 0,1 Locoid
flukortolon pivalat 0,25 Ultralan
flumetason pivalat 0,02 Locacorten
fluosinolon asetonida 0,025 *Synalar
flupredniden + neomisin 0,5% 0,1 *Decoderm3
klobetason butirat 0,05 Emovate
triamsinolon asetonida 0,1 Kenacort-A
tingkat III. kuat
beklometason dipropionat 0,025 % Cleniderm
alklometason dipropionat 0.05 Perderm, Aclosone
betame tason valerat 0,1 Celestoderm-V
betametason dipropionat 0,05 Diprosone-OV
budesonida - 0.025 Preferid
diflukortolon valerat 0,1 Nerisona
fluklorolon asetonida 0,025 Topilar-N
flutikason propionat 0,05 Cutivate
halometason - 0,05 Sicorten
halsinonida - 0,1 Halog
mometason furoat 0,1 Elocon
prednikarbat - 0,25 Derma top
tingkat IV. sangat kuat
klobetasol propionat 0,05 % Dermovate
Tabel 46-2: Tingkat-tingkat potensi dari sejumlah glukokortikoid
pada pemakaian dermal
KORTIKOSTEROID
DERMAL
Kortikoid merupakan obat paling ampuh
dalam pengobatan gangguan kulit dan di-
gunakan secara luas. Berkat efek anti ra-
dang dan anti mitotiknya zat-zat ini dapat
menyembuhkan dengan efektif berbagai
bentuk eksem dan derma titis, psoria sis (pe-
nyakit sisik) dan prurigo (bintil-bintil gatal).
namun tidak jarang gangguan (khusu snya
eksem) segera kambuh lagi, terutama bila
dipakai fluor korti koid dengan khasiat kuat.
Tingkat daya kerja. berdasar aktivitasnya
kortikoida lokal dapat dibagi dalam 4 tingkat
dengan urutan potensi yang mening kat. Di
Tabel 46-2. sediaan digolongkan atas dasar
kadar standarnya; pada kadar yang lebih ren-
dah, daya kerjanya juga menurun ke tingkat
lebih rendah. Misalnya triamsinolon 0,1%
termasuk tingkat II, namun triamsinolon 0,05%
menurun ke tingkat I.
Pembagian potensi. Tabel 46-2 hendaknya
dianggap sebagai penun tun saja, sebab
aktivitas sekian banyak nya sediaan sangat
sukar untuk diperbanding kan. Lagi pula
aktivitasnya tidak hanya tergan tung dari
tingkatan khasiatnya, namun juga dari daya
pene trasinya ke dalam kulit dan basis salep/krem
yang dipakai . Misalnya obat dalam bentuk
salep lebih baik penetrasi nya daripada krem,
sebab berta han lebih lama di atas kulit.
Penetra si dapat pula ditingkatkan (lebih dari
10 kali) melalui oklusi, yaitu menutup bagian
kulit dengan sehelai plas tik. Atau dengan
memberikan zat-zat tambahan seperti urea
(10%), asam salisilat (3%), asam laktat (2%)
dan propilen glikol (10%). Keratoli tika ini
melepaskan atau menghidrata si selaput tan-
lengan bawah 1,0 kepala (atas) 3,5
tangan (tapak) 0,83 ketiak 3,6
kaki (tapak) 0,14 muka 6,0
pergelangan kaki 0,42 rahang bawah 13,0
punggung 1,7 scrotum 42,0
Tabel 46-3: Perbandingan resorpsi hidrokortison dari kulit
di berbagai daerah tubuh
duk kulit dengan efek meningkatnya pene-
trasi, resorpsi dan efeknya.
Resorpsi obat juga tergantung dari lokasi pada
tubuh di mana salep diolesi, seperti dapat
dilihat dari Tabel 46-3. Di tabel ini resorpsi
hidrokortison pada lengan bawah (sekitar 1%
dari dosis yang dipakai ) dibandingkan
dengan resorpsinya pada bagian-bagian tu-
buh lain.
Pilihan obat
Pada dasarnya terapi gangguan kulit dimulai
dengan obat-obat klasik, seperti mentol, ZnO,
titanoksid, resorsin, ichtiol dan ter. Bila obat-
obat ini kurang efektif, barulah dipakai
suatu korti koid lemah (tingkat I), yaitu hi-
drokortison 1%. Misalnya pada berbagai
bentuk eksem, prurigo, gatal-gatal dan dermatitis
popok, juga pada sengatan tawon, untuk me-
ngurangi reaksi radang dan alergi. Bila efek-
nya kurang memuaskan dapat beralih ke
obat tingkat II, misalnya triamsinolon 0,1%
pada eksem kontak/a lergik dan eksem konsti-
tusional (atopik).
Zat-zat tingkat III dan IV berkhasiat anti
mitotik, artinya menghambat pembelahan
sel (mitosis). Oleh sebab itu obat-obat ini
lebih ampuh untuk gangguan yang berkaitan
dengan pertumbuhan sel berlebihan, seperti
psoriasis (penyakit kulit menahun dengan
pembentukan sisik), begitu pula pada eksem
dengan timbulnya lichen (bintil-bintil terten-
tu) dan lupus discoid (borok berbentuk ca-
kram). Zat-zat tingkat IV hanya dipakai
bila obat-obat tingkat III tidak efektif (lagi).
Risiko akan efek samping lokal atau sistemik
menjadi lebih besar. Maka pada dasarnya
pengobatan hendaknya dilakukan sesing kat
mungkin.
Berhubung dengan adanya perbedaan re-
sorpsi yang substansial pada berbagai bagi-
an tubuh, maka bila dipakai pada kulit
tipis risiko efek sampingnya lebih besar dan
sebaiknya dipakai suatu sediaan dengan
tingkat lebih rendah. Misalnya di muka, li-
patan kulit, daerah anogenital, bagian dalam
paha dan pada permukaan luas.
*Kombinasi dengan zat antimikotik atau
antibiotik dapat dipakai pada mycosis
kulit atau infeksi kuman, pada mana ada
gejala-gejala radang yang nyata.
Terapi intermitten. Kortikoid ditimbun di
lapisan tanduk dari epidermis (kulit ari) dan
dari depot ini dilepaskan ke lapi san dalam
selama 24-36 jam. berdasar ini telah
dikembangkan kebijakan terapi dalam dua
tahap sebagai berikut:
a. penyembuhan: salep diolesi 2-3 kali sehari
selama 1-2 minggu. dengan sediaan tingkat
I-III, untuk secepat mungkin mengendalikan
penyakit. Sebaiknya salep diolesi secukupnya
secara kontinu, tanpa interupsi.
b. pemeliharaan untuk menghindari kambuh-
nya gangguan:
– selama 1-2 minggu 1 kali setiap hari salep
tingkat I- III.
– selama 1-2 minggu 1 kali setiap hari ke-
dua, untuk masing-masing tingkat III dan
IV.
– selama 1-3 bulan 1 dd pada 2 hari semi-
nggu.
Pada hari-hari ‘istirahat’ perlu dipakai
suatu salep/krem netral, yang hanya mengan-
dung basisnya tanpa kortikoid.
Bila penggu naan obat yang berkhasiat
kuat dihentikan, hendaknya jangan secara
mendadak, terutama sesudah pengobatan
lama. Sebaiknya diakhiri dengan salep ber-
khasiat lemah (hidro kortison) atau salep
netral.
Efek samping
Khusus dapat terjadi pada bagian kulit
yang peka dan berupa atrofia dan striae,
peradangan sekitar mulut dan benjolan aki-
bat pembuluh menggelembung (teleangiecta-
sia). Penambahan tretinoin pada kortikoid
dapat mencegah timbulnya striae, namun
membawa efek samping lain. Penyembuhan
luka dihambat, akne dan rosacea (eritema di
muka) dapat diperhebat, sedang infeksi
mikroorganisme dapat tersamar (berlang-
sung tanpa gejala). Pada pemakaian terlalu
lama di kelopak mata atau sekitarnya, kor-
tikoid dapat memicu glaukoma dan
keratitis herpetica.
*Efek samping sistemik jarang terjadi bi-
la petunjuk di atas diperhatikan. Risiko
meningkat bila sediaan dipakai dalam
jumlah besar, lebih dari 30-50 g seminggu,
pada permukaan luas selama jangka waktu
lama dan khususnya pada obat-obat yang
bekerja kuat. Begitu pula bila obat dipakai
di bawah tutup plastik (oklusi) atau dikom-
binasi dengan keratolitika atau zat-zat hidratasi,
terutama di bagian kulit dengan resorpsi
baik.
Kontraindikasi. Sediaan kortikoid lokal tidak
boleh dipakai pada gangguan kulit akibat
infeksi kuman, virus, jamur atau parasit, juga
tidak pada akne dan borok.
MONOGRAFI
1.KORTISON
1. Hidrokortison: HC, kortisol, 17-alfa-korti-
kosteron, Solu-Cortef
Hormon adrenal utama ini (1952) ter-
utama berkhasiat terhadap metabo lisme
karbohidrat, protein dan lemak, serta relatif
ringan terhadap metabolisme mineral dan
air. Hormon ini terutama dipakai pada
terapi substitusi, misalnya pada penyakit
Addison. Topikal banyak dipakai dalam sa-
lep/krem 1-2% (asetat) atau 0,1% buti rat,
juga dalam tetes mata dan telinga (1% asetat).
Pada dosis biasa tidak memicu efek
samping. Tersedia banyak sediaan kombinasi
dengan kemoterapeutika. Di banyak negara
salep/krem dengan maksimal 1% HC dapat
dibeli tanpa resep, antara lain di Inggris dan
Skandinavia.
Resorpsi dari usus buruk, oleh sebab itu tidak
dipakai per oral namun sebagai injeksi (i.m.
atau intra-artikuler). Dalam darah terikat
95% pada globulin pengangkut transkortin.
Plasma-t½ 1,5-2 jam, namun efek maksimalnya
baru tercapai sesudah 6-8 jam. Keganjilan
ini juga timbul pada prednison dan derivat
lainnya. Ekskresi berlangsung lewat urin
sebagai metabolit 17-keto yang mudah larut.
Dosis: i.m./i.v. semula 100-500 mg larutan
Na-suksinat, bila perlu diulang setiap 2-10
jam, maksimal 8 g sehari. Rektal pada wasir:
suppos./salep 1-2 dd 5 mg, pada colitis:
klisma 100 mg.
*Kortison (F.I.) yaitu derivat keto sintetik
dari hidrokorti son yang resorpsinya dari
usus lebih baik dan cepat. Tidak aktif, namun
dalam hati diubah menjadi kortisol. Pembe-
rian i.m. ±20% lebih efektif, walaupun penye-
rapan ke dalam darah agak lambat (bahaya
kumulasi!). Tidak dapat dipakai lokal
atau intra-artikuler, sebab di kulit dan sendi
tidak terjadi perubahan enzimatik menjadi
kortisol. Penderita gangguan hati sebaiknya
jangan diberikan kortison oral.
Dosis: pada insufisiensi oral 3 dd 25-50
mg (asetat). Perbandingan efeknya: 25 mg
kortisonasetat = 20 mg hidrokortison.
2. PREDNISON
2. Prednison:Hostacortin
Derivat keto ini (1954) baru aktif sesudah
dalam hati diubah menjadi derivat hidronya
prednisolon. Khasiat dan pemakaian nya
sama, hanya tidak dipakai secara lokal
dan intra artikuler sebab tidak dihidrogenasi
di kulit, mukosa mata dan sendi. Tidak dian-
jurkan bagi pasien hati.
Dosis: oral semula 1 dd 5-60 mg pagi hari,
pemeliharaan 5 mg sehari.
*Prednisolon (delta-hidrokortison, Di-Adre-
son-F aquosum)
Delta-steroid sintetik ini (1955) dengan
ikatan ganda pada C1-2 berkhasiat ±5 x lebih
kuat dari pada kortisol dengan efek mineralo-
kortikoid yang lebih ringan. Daya kerjanya
juga lebih panjang (t½ = 3 jam). Berhubung
dengan sifat-sifatnya, obat ini banyak digu-
nakan untuk terapi sistemik, begitu pula
prednison. Kadar puncak nya dalam darah
baru tercapai sesudah 6-8 jam (per oral). Sifat
merang sangnya ringan, maka sering kali
dipakai untuk injeksi intra artikuler dan
tetes mata (0,25-5%), juga dalam klisma
pada colitis. Dosis: oral semula 1 dd 5-60 mg
pagi hari, berangsur-angsur dalam waktu 4
minggu diturunkan sampai 5 mg sehari atau
10 mg setiap 2 hari; i.m./i.v. 25-75 mg sebagai
diNa-fosfat atau Na-suksinat.
Perbandingan efek: 5 mg prednisolon = 20
mg hidrokortison.
*Metilprednisolon (Depo-Medrol, Solu-Me-
drol, Urbason) berkhasiat ±20% lebih kuat dari
pada prednisolon (1956) dengan berbagai
cara pemakaian oral dan parenteral.
Dosis: oral semula 2-60 mg/ hari, peme-
liharaan 4 mg sehari. Pada rema, MS dan LE
1 g sehari selama 3-10 hari atau lebih lama.
Advantan: krem/salep 0.1%.
*Budesonida (Pulmicort, Rhinocort, *Symbi-
cort) yaitu derivat (1980) yang khusus
dipakai topikal sebagai salep/krem. Juga
sebagai spray inhal asi (bersama suatu ß2-
mimetikum) pada asma untuk mencegah
serangan dan meniadakan pengembangan
dan udema dari mukosa bronchi. Efeknya
kuat dan cepat; bahaya efek sistemik ringan
sebab cepat dan tuntas diinaktifkan oleh
hati. Plasma- t½ ±3 jam. Dosis: tracheal 2-4 dd
1 puff dari 200 mcg, begitupula intrana sal
pada rhinitis.
*Symbicort turbuhaler: 80/160 + formoterol
fumarat 4,5/4,5 mcg per dosis. Salep/krem:
0,025% (Preferid)
3. DERIVAT 9-ALFA-FLUOR
Senyawa-senyawa ini pada pemakaian oral
sering kali memicu myopathy (otot
menyusut dan nyeri), terutama bila diguna-
kan untuk jangka waktu lama dengan dosis
tinggi, juga menekan adrenal agak kuat.
Zat-zat ini praktis tidak memili ki efek minera-
lokortikoid dan yang terpenting yaitu sebagai
berikut.
3a. Triamsinolon(Kenacort) banyak diguna-
kan oral, intra artiku ler, i.m./i.v., rektal dan
dermal (1956). Secara dermal hanya aktif se-
ba gai asetonidanya: salep/krem 0.05-0,1%.
Perbandingan efek: 4 mg triamsinolon = 20
mg hidrokortison.
Dosis: oral semula 8-32 mg sehari sesudah
makan pagi, pemeliha raan 4-8 mg sehari.
*Halsinonida (Halog, Halciderm) yaitu tri-
amsinolon tanpa ikatan ganda antara C1 dan
C2, maka dapat dianggap sebagai derivat
kortisol. dipakai dalam krem 0,1%.
3b. Deksametason (Oradexon, Fortecortin, *De-
xatopic) ±6x lebih kuat dari kortisol (1958). Zat
ini menekan adrenal relatif kuat, maka risiko
insufisiensi juga agak besar. Deksametason
sering kali dipakai sebagai zat diagnostik
untuk menentukan hiperfungsi adrenal (tes
supresi deksametason). Topikal dipakai
sebagai tetes mata/telinga (fosfat 0,1%), juga
dikombinasi dengan antibiotika, misalnya
dengan soframisin (*Sofradex).
Perbandingan efeknya: 0,65 mg deksame-
tason = 20 mg hidrokorti son.
Dosis: oral semula 0,5-9 mg sehari sesudah
makan pagi, pemeli ha raan 0,5-1 mg sehari.
Pada syok i.v. 100-300 mg larutan Na-fosfat.
*Desoksimetason (Esperson, Topicorte, *Deno-
mix) yaitu deksametason tanpa gugus-OH
pada C17 (1965). Efek lokalnya ±2x lebih
lemah. dipakai dalam krem 0,25%, juga
dikombinasi dengan antibiotik. *Denomix: des-
oksimetason 0,05 % + neomisin sulfat 0,5%.
3c. Betametason (Celestone, Celestoderm, *Di-
progenta) yaitu stereoisomer dari deksame-
tason (1961), pada mana gugus metil pada
C16 berada dalam posisi-beta. Khasiat anti-
radangnya pada pemakaian lokal lebih
ringan. Zat ini dipakai dalam tetes mata
sebagai diNa-fosfat 0,1% dan dalam salep
sebagai valerat 0,1% atau dipropio nat yang
2x lebih kuat: 0,05 % (Diprosone).
Dosis: oral 0,5-8 mg sehari sesudah makan
pagi.
* Diprogenta: betametason diprop. 0.05% +
gentamisin sulfat 0,1%
3d. Fluormetolon : Flumetolon, FML liquifilm
Derivat 9-alfa-fluor ini (1959) khusus digu-
nakan dalam tetes mata dengan kadar 0,1%.
4. DERIVAT 6-ALFA-FLUOR
Senyawa-senyawa ini memiliki atom fluor
pada C6 dalam posisi alfa.
4a. Fluokortolon (Ultralan) rumusnya mirip
dengan deksameta son, hanya posisi atom
fluor tidak pada C9 namun pada C6 dan tanpa
gugus-OH pada C17 (1976). Zat ini khusus
dipakai dalam salep sebagai kapronat
atau trimetilasetat 0,5%.
*Flunisolida (Syntaris) yaitu derivat fluo-
kortolon (1978) yang khusus dipakai da-
lam spray hidung 0,025%.
5. DERIVAT DIFLUOR
Dengan ditambahkannya atom fluor kedua,
zat-zat ini diperkuat khasiat antiradangnya
dan pada pemakaian dermal termasuk
tingkat kerja III.
5a. Fluosinonida (fluosinolon-asetonida, Syna-
lar, Topsyne) memiliki rumus triamsinolon
dengan atom fluor ekstra pada C6, dengan
khasiat 5 x lebih kuat (1961). Khusus digu-
nakan dalam salep/krem 0,025%.
5b. Flumetason (Locacorten) yaitu deksame-
tason dengan atom fluor kedua pada C6
(1963). Efek lokalnya juga ±5x lebih kuat.
dipakai khusus dalam salep/krem/pasta
0,02% pivalat, juga dalam kombinasi dengan
asam salisilat 3% (Locasalen) atau vioform.
Begitu juga dalam tetes telinga.
*Diflukortolon (Nerisona) yaitu flukortolon
dengan atom fluor kedua pada C9 dan efek
lokal yang 5x lebih kuat. dipakai dalam
salep/krem 0,1%, juga terkombinasi dengan
zat antiseptik klorkinaldol 1%.
5c. Flutikason (Cutivate, Flixotide, *Seretide)
yaitu derivat trifluor dengan belerang pada
C20 (-CO-S-CH2-F) yang termasuk dalam
tingkat III (1990). dipakai sebagai krem
0,05% (propionat) dan salep 0,005%, juga
sebagai inhalasi (Flixotide) dan spray hidung
dengan 50 mcg/d osis (Flixonase).
*Seretide: futikason prop 50 + salmeterol 25
mcg per 50 dosis inhaler.
6. DERIVAT KLOR
6a. Beklometason (Cleniderm, Becotide, Beco-
nase) memiliki struk tur betametason, pada
mana atom F pada C9 diganti dengan atom
Cl (1967). Ester dipropionatnya (C17 dan
C21) berkhasiat ±300 kali lebih kuat daripada
kortisol. Plasma-t½ singkat sekali, hanya 9
menit, secara lokal ±2 menit. Di samping
sebagai krem 0,025%, teruta ma dipakai
sebagai inhalasi pada asma (bersama ß2-
mimetika) berkat efek lokalnya di bronchi. Zat
ini dapat diresorpsi dari saluran pernapasan
(dan usus) ke dalam darah, namun sebab
dalam hati FPE besar dengan cepat dirombak
menjadi beklometason inaktif. Oleh sebab
itu pada dosis biasa tidak menekan sistem
HHA.
Dosis: inhalasi 3-4 dd 2 puffs à 50 mcg
(dipropionat), intrana sal pada rhinitis 2-4 dd
50 mcg di setiap lubang hidung.
*Alklometason (Perderm, Alclosone) yaitu
isomer dengan atom klor pada C6 sebagai
ganti C8. Khasiatnya juga (agak) kuat. Di-
gunakan sebagai salep/krem 0,5 mg/g (di-
propionat) selama 3-5 hari, kemudian 1 x
sehari dan sesudah terjadi perbaikan 2-3 x
seminggu.
6b. Mometason (Elocon, *Elosalic) yaitu
derivat diklor (C9, C21) tingkat III (1987),
yang khusus dipakai sebagai salep 0,1%
(furoat). Risiko alergi kontak pada obat ini
kecil, seperti juga pada flutikason.
*Elosalic salep: mometason furoat 0,1% +
salisilat 5%.
7. DERIVAT KLOR-FLUOR
Kombinasi dari dua atom halogen di dalam
molekul memperkuat khasiat anti radangnya,
oleh sebab itu zat-zat ini terhitung glu-
kokortikoida yang terkuat (tingkat III dan IV).
pemakaian nya di bagian kulit yang sensi tif
harus dengan sangat berhati-hati, misalnya di
muka, ketiak, bagian paha dan alat kelamin.
7a. Klobetasol (Dermovate) yaitu betame-
tason, di mana gugusan OH pada C21 diganti
dengan klor (1973). Penetrasinya ke dalam
kulit baik sekali, juga pada penyakit psoriasis.
Klobetasol berkhasi at anti radang, vasokonstriksi
dan antimitotik yang paling kuat dari semua
fluor kortikoida (tingkat IV). Oleh sebab itu
zat ini hanya dica dangkan untuk gangguan
parah yang kurang bereaksi terhadap obat-
obat tingkat III, seperti psoriasis, lupus discoid
dan hipertro fi parut. Tersedia salep/krem
dengan 0,05% propionat.
*Klobetason (Emovate) yaitu derivat 17-keto
dari klobetasol (1975) dengan khasiat lebih
ringan (tingkat II), penetrasinya ke dalam
kulit juga kurang. dipakai dalam salep/
krem 0,05% (butirat).
7b. Fluklorolon (*Topilar-N) yaitu derivat
difluorklor yang khasiat lokalnya kuat (tingkat
III) dan dipakai sebagai krem 0,025 %
(asetonida).
*Halometason (Sicorten) yaitu juga derivat
difluorklor, yang khasiat lokalnya mendekati
klobetasol, daya kerjanya pun panjang (1983).
Berkhasiat antimitotik kuat dengan efek atro-
fia ringan (tingkat III). dipakai sebagai
salep/krem 0,05%.
INSULIN DAN ANTIDIABETIKA
ORAL
A. DIABETES DAN INSULIN
Diabetes mellitus, penyakit gula atau kencing
manis yaitu gangguan kronis yang disebab-
kan oleh kekurangan relatif atau absolut dari
hormon insulin yang dihasilkan oleh sel-
sel beta dari kelenjar pankreas. Gangguan
ini bercirikan hiperglikemia (glukosa-darah
terlampau meningkat) dan khususnya me-
nyangkut metabolisme hidratarang (gluk
osa) di dalam tubuh. namun metabolisme
lemak dan protein juga tergang gu (Lat.
diabetes = penerusan, mellitus = manis madu).
Kadar glukosa-darah ditentukan oleh ke-
seimbangan antara insulin dan zat-zat tubuh
yang bekerja antagonis terhadap insulin,
seperti glukagon, katecholamin, hormon
pertumbuhan dan glukokortikoid. Keseim-
bangan inilah yang pada penyakit diabetes
terganggu.
Harapan hidup penderita diabetes rata-
rata 5-10 tahun lebih rendah dan risikonya
untuk PJP yaitu 2-4 kali lebih besar.
pemicu nya yaitu kekurangan hormon
insulin, yang berfungsi memungkinkan
glukosa masuk ke dalam sel untuk dimeta-
bolisasi (dibakar) dan dimanfaatkan sebagai
sumber energi. Akibatnya glukosa bertum-
puk di dalam darah (hiper gli kemia) dan
akhirnya diekskresi lewat urin tanpa digu-
nakan (glycosu ria). Oleh sebab itu produksi
urin sangat mening kat dan penderita sering
berkemih, merasa amat haus, berat badan
menurun dan merasa lelah. pemicu lain
yaitu menurunnya kepekaan reseptor sel
bagi insulin (resistensi insulin) yang diaki-
batkan oleh makan terlalu banyak dan
kegemukan (overweight). Rata-rata 1,5-2% dari
seluruh penduduk dunia menderi ta diabe-
tes yang bersifat menurun (familial). Di
negara kita penderita diabetes diperkirakan 3
juta orang atau 1,5% dari 200 juta penduduk,
sedang di Eropa mencapai angka 3-5%!
Pada lima tahun terakhir jumlah ini telah
meningkat secara eksplosif, yang disebabkan
oleh meningkatnya overweight dan obesitas
terutama di dunia Barat. Diperkirakan bahwa
di tahun 2030 jumlah penderita diabetes akan
meningkat sampai 366 juta jiwa, berarti ±2
kali dari sekarang.27
Insulin
Pankreas yaitu suatu organ lonjong dari
kira-kira 15 cm, yang terletak di belakang
lambung dan sebagian di belakang hati.
Organ ini terdiri dari 98% sel-sel dengan
sekresi ekstern, yang memproduksi enzim-
enzim cerna yang disalurkan ke duodenum
(lihat Seksi III, Obat Saluran Cerna). Sisanya
terdiri dari kelompok sel (pulau Langer hans)
dengan sekresi intern, yaitu hormon-hormon
endokrin yang disalur kan langsung ke aliran
darah. Dalam pankreas ada empat jenis
sel endokrin, yakni:
a. sel-alfa, yang memprodusir hormon glu
kagon;
b. sel-beta dengan banyak granula berde-
katan membran selnya, dalam mana
ada insulin (Lat. insula= pulau).
Setiap hari dis ekresi ±2 mg (= 50 UI)
insulin, yang dengan aliran darah diang-
kut ke hati. Kira-kira 50% dari hormon ini
dirombak di sini dan sisanya diuraikan
dalam ginjal
c. sel-D memprodusir somatostatin (antago-
nis somatropin, lihat Bab 42, Hormon
hipofisis)
d. sel-PP memprodusir PP (pancreatic poly-
peptide), yang mungkin berperan pada
penghambatan sekresi endokrin dan
empedu
* Gluconeogenesis (pembentukan baru glu-
kosa). Hati merupakan organ utama yang
menstabilkan keseimbangan glukosa (home-
ostasis) antara absorpsi dan penimbu nannya
sebagai glikogen (pati hewan). Glikogen
ini sesudah makan dilepaskan ke dalam
sirkul asi untuk menyesuaikan kecepatan
pembaka ran glukosa oleh jaringan perifer.
Hati juga mampu mensintesis glukosa dari
molekul-molekul beratom-3C yang berasal
dari perom ba kan lemak dan protein (proses
gluconeogene sis; Lat. neo = baru, genesis =
terbentuk, jadi, tumbuh). Setiap hari «diba-
kar» ±200 g glukosa, yang ±25% berasal dari
gluconeogenesis.
* Metabolisme glukosa. sesudah karbohidrat
dari makanan didegradasi dalam usus, glu-
kosa lalu diserap ke dalam darah dan diangkut
ke sel-sel tubuh. Untuk penyerapannya ke
dalam sel-sel ini dibutuhkan insulin, yang
dapat di-ibaratkan sebagai «kunci untuk pintu
sel». Sesudah masuk ke dalam sel, glukosa
segera diubah di mitochondria (‘pabrik
energi’) menjadi energi atau ditimbun sebagai
glikogen. Cadangan ini dipakai bila tubuh
kekurangan energi sebab misalnya berpuasa
beberapa waktu.
Setiap kali kita makan hidratarang (gula),
maka kadar glukosa darah akan naik. Seba-
gai reaksi pankreas memproduksi dan
melepaskan insulin untuk memungkinkan
absorpsi glukosa oleh sel, sehingga kadar
glukosa darah turun lagi dan pankreas me-
nurunkan produksi insulinny a. Dengan
demikian kadar glukosa dapat bervariasi
antara batas-batas normal dari 4-8 mmol/liter
(1 mmol/l = 180 mg glukosa/l darah).
* pemakaian glukosa. Yang paling banyak
memakai glukosa yaitu saraf dan otak,
pemasukannya mutlak (obligat) dan tidak
tergantung dari insulin. Di dalam sel, glukosa
dioksidasi menjadi karbondiok sida dan air
dengan menghasilkan energi.
glukosa + O2 ––––––> CO2 + Energi
Jaringan otot dan lemak menyerap glukosa
hanya bila diper lukan, sebab kebutuhan
energi dapat pula dicapai melalui oksidasi
asam lemak. Glukosa yang diserap di otot
ditim bun sebagai glikogen atau dirombak
menjadi asam laktat, yang dengan darah
diangkut ke hati dan menjadi bahan pangkal
untuk glucone ogenesis. Jaringan lemak meng-
gunakan glukosa sebagai sumber energi
dan sebagai substrat untuk sintesis trigli
serida. Zat-zat ini mengalami lipolysis de-
ngan menghasilkan asam lemak dan glis erol,
yang juga merupakan bahan pangkal untuk
gluconeo genesis.
* Regulasi hormonal. Bila kadar insulin
rendah, produksi glukosa maksimal dan
utilisasinya minimal. Pada kadar insulin ti-
n















