Tampilkan postingan dengan label farmakognosi obat 5. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label farmakognosi obat 5. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

farmakognosi obat 5

 







2018). 

Tumbuhan ini mensintesis fitokimia yang berfungsi sebagai sistem pertahanan 

alami dan juga dipakai  dalam pengobatan, pewarna, pewangi, farmasi, 

bahan kimia pertanian, dan penyedap rasa. Mereka juga memiliki sifat 

antimikroba yang berkorelasi dengan kemampuan mereka untuk memproduksi 

beberapa metabolit sekunder dengan sifat antimikroba seperti fenol, asam 

fenolik, flavonoid, alkanoid, tanin, kuinon, kumarin, saponin, terpenoid, 

triterpenoid, glikosida dan asam organik. Hammad et al. (2018) menyatakan 

124  

 

selain potensi terapeutiknya, beberapa tanaman obat memiliki  toksisitas 

yang kuat pada manusia, terutama pada anak-anak dan orang tua. Meskipun 

umumnya telah dipercayai bahwa produk alami yang berasal dari tumbuhan 

sifatnya aman, dan hanya ada sedikit laporan mengenai toksisitasnya. 

Meningkatnya pemakaian  tanaman secara global untuk tujuan pangan dan 

pengobatan, terutama di negara-negara berkembang, menimbulkan kebutuhan 

mendesak untuk melakukan studi toksikologi terhadap tanaman ini . Hasil 

studi toksikologi yang ekstensif cenderung memberi  informasi keselamatan 

pada tanaman beracun dan membantu mencegah masalah kesehatan 

warga  sekaligus memberi  panduan keselamatan kepada warga  

 

9.2 Macam Uji Toksisitas 

Setiap obat yang akan di produksi dan dipasarkan harus memenuhi syarat 

keamanan. Dan untuk memenuhi syarat aman ini  harus melalui rangkaian 

uji toksikologi. Toksisitas dapat didefinisikan sebagai sejauh mana suatu zat 

(toksin atau racun) dapat membahayakan manusia atau hewan  sehingga uji toksisitas merupakan uji yang dilakukan pada hewan uji 

untuk mendeteksi efek toksik pada sistem biologi dan untuk memperoleh data 

dosis respon yang khas dari sediaan uji. BPOM (2022) menyatakan bahwa 

untuk melakukan uji toksisitas, pelaku usaha atau lembaga penelitian/riset 

harus terlebih dahulu memperoleh persetujuan dari komisi etik, dan untuk obat 

Tradisional, Obat Kuasi, dan Suplemen Kesehatan harus memperoleh 

persetujuan pelaksanaan uji praklinik dari BPOM. 

Saat ini ada 3 (tiga) model utama pengujian toksisitas yaitu: in vitro, ini 

dilakukan diluar tubuh makhluk hidup, misalnya pada sel kultur ; in vivo, 

dilakukan langsung pada makhluk hidup misalnya tikus, mencit, kelinci ; in 

silico, ini merupakan model pengujian yang memakai  simulasi komputer 


9.2.1 Uji Toksisitas in vitro 

Tes in vitro dilakukan pada lingkungan terkendali seperti cawan petri atau 

tabung reaksi, di luar organisme hidup memakai  bagian tertentu dari 

organisme misalnya, organ, jaringan, atau sel yang dikultur untuk  

 

mempelajarinya di bawah lingkungan yang terkendali, sehingga bias dari 

lingkungan internal atau eksternal sekitarnya sangat berkurang. Keuntungan 

model toksisitas in vitro yaitu  pengurangan waktu dan biaya serta 

keterwakilan (sebab  model ini  dikembangkan memakai  sel atau 

jaringan organisme target) . Informasi yang 

diperoleh dari hasil uji toksisitas in vitro yaitu  mengetahui besarnya 

konsentrasi bahan uji yang dapat membunuh 50% (lethal concentration 50% = 

LC50) dari bahan biologi yang di kultur/di benihkan 

Keuntungan dari pengujian in vitro ini yaitu  hemat biaya, hemat waktu, dan 

tidak memerlukan pemakaian  hewan. Hal ini memungkinkan pengembangan 

pengobatan baru yang lebih cepat, sebab  banyak obat dapat dipelajari pada 

satu waktu, dan hanya obat yang tampaknya berkhasiat yang dapat dilanjutkan 

ke tahap selanjutnya. Itu sebabnya pendekatan ini sering kali menjadi langkah 

pertama dalam proses penemuan obat, meskipun hasil yang diperoleh dengan 

pendekatan ini memerlukan konfirmasi lebih lanjut dengan eksperimen in vivo 


9.2.2 Uji Toksisitas in vivo 

Model toksisitas in vivo yaitu  satu-satunya model yang memakai  

organisme secara keseluruhan, termasuk seluruh reaksi fisiologis dan interaksi 

biokimia, dan dengan demikian merupakan satu-satunya model yang 

memberi  informasi tentang distribusi obat dalam organisme dan 

kemungkinan interaksi obat dengan non-target. organ. Dengan demikian, 

model in vivo bisa dibilang memberi  model yang paling representatif untuk 

menguji toksisitas obat. Namun demikian, ada  beberapa keterbatasan pada 

model toksisitas in vivo di antaranya tes ini biasanya membutuhkan jumlah 

hewan yang relatif banyak, dan tentunya sangat mahal serta memakan waktu 

dan tenaga, selain itu mengingat perbedaan biologis yang signifikan antara 

organisme manusia dan hewan lainnya 

Uji toksisitas secara in vivo untuk mempelajari efek kumulatif dosis yang dapat 

menimbulkan efek toksik pada manusia, efek karsinogenik, teratogenik, 

mutagenik dan efek lain yang berpotensi menimbulkan risiko kesehatan bagi 

manusia. BPOM RI telah mengeluarkan Pedoman Uji Toksisitas Praklinik 

secara In Vivo, untuk menjamin keamanan pemaparan suatu zat pada manusia. 

Uji toksisitas secara in vivo ini terdiri dari banyak jenis, meliputi: uji toksisitas 

akut oral; uji toksisitas subkronis oral; uji toksisitas kronis oral; uji 

teratogenisitas; uji sensitisasi kulit; uji iritasi mata;. uji iritasi/korosi akut 

dermal;. uji iritasi mukosa vagina; uji toksisitas akut dermal; uji toksisitas 

subkronis dermal; dan. uji karsinogenisitas 

1. Uji Toksisitas Akut 

Uji toksisitas akut oral yaitu  suatu pengujian untuk mendeteksi efek 

toksik yang muncul dalam waktu singkat setelah pemberian sediaan 

uji yang diberikan secara oral dalam dosis tunggal, atau dosis 

berulang yang diberikan dalam waktu 24 jam. Tujuan dilakukan uji 

toksisitas akut yaitu  disamping untuk menentukan bahaya 

pemaparan suatu bahan secara akut, juga untuk menentukan batas 

keamanan (margin of safety) suatu bahan dengan menentukan dosis 

yang memicu  kematian 50% pada hewan coba (lethal dose 50% 

= LD50). Rute pemberian dalam pelaksanaan uji toksisitas akut pada 

hewan coba dilakukan dengan 2 cara yakni (1) Cara pemberian yang 

di sarankan untuk dipakai di klinik, (2) Cara pemberian intravena, 

jika memungkinkan, hal ini dimaksudkan untuk meyakinkan bila 

terjadi pemaparan bahan uji secara sistemik. Hewan coba yang 

dipakai sedikitnya dua spesies mamalia, termasuk spesies nonroden 

jika memungkinkan, serta dibedakan berdasar  jenis kelamin. 

Untuk bahan uji yang memiliki  daya toksisitas rendah dimulai 

dengan dosis maksimum yang tidak menimbulkan efek toksik. 

Penentuan kategori toksisitas akut untuk obat tradisional dan bahan 

lainnya (Generally Recognized as Safe/GRAS) seperti bahan pangan, 

dipakai  penggolongan klasifikasi seperti pada tabel 9.1. 

Tabel 9.1: Kategori Toksisitas Akut (Hodge dan Sterner, 1995) 

Tingkat 

Toksisitas LD50 oral (pada tikus) Klasifikasi 

1 ≤ 5 mg/kg Super toksik 

2 5 – 50 mg/kg Sangat Toksik 

3 > 50 – 500 mg/kg Toksik 

4 > 500 – 2000 mg/kg Toksik sedang 

5 > 2000 – 5000 mg/kg Toksik ringan 

6 > 5000 mg/kg Tidak Toksik 

Pengamatan terhadap hewan coba dilakukan dalam jangka waktu 24 

jam setelah pemberian bahan uji terhadap timbulnya gejala keracunan 


 

seperti kejang, diare, vomit, sesak nafas dan lainnya, jumlah 

kematian, mula kerja obat, lama kerja obat serta perubahan fungsi 

organ vital tubuh hewan coba. Terhadap hewan coba yang masih 

hidup dilakukan pengamatan sampai maksimal 14 hari. Dalam waktu 

14 hari semua hewan coba yang masih hidup dikorbankan, untuk 

dilakukan pengamatan secara makroskopis dan mikroskopis terhadap 

organ vital seperti hepar, ginjal, paru, limpa, dan organ system 

pencernaan serta fungsi hemopoetik. Hal ini dimaksudkan untuk 

mengungkapkan kerusakan pada struktur organ vital dan menjelaskan 

kerusakan yang diakibatkannya. Data yang di peroleh dilakukan 

analisis memakai  statistik non parametrik untuk mengetahui 

tingkat signifikansi kerusakan organ yang timbul. 

2. Uji Toksisitas Subkronis/Subakut 

Uji ini dilakukan dengan memberi  zat kimia yang sedang diuji 

ini  secara berulang-ulang terhadap hewan uji selama 14-90 hari, 

namun WHO menyarankan sampai 180 hari tergantung dari lama 

waktu pemakaian obat yang akan dipakai  di klinik. Uji ini 

ditujukan untuk mengungkapkan efek toksik senyawa uji setelah 

diberikan secara berulang, serta untuk melihatkan apakah toksik itu 

berkaitan dengan takaran konsentrasi. Pada akhir dari periode 

pengujian toksisitas subkronis semua hewan coba dikorbankan dan 

dilakukan otopsi, selanjutnya dilakukan pengamatan secara 

makroskopis dan mikroskopis terhadap organ vital termasuk organ 

metabolisme, organ ekskresi, pencernaan dan sistem kardiovaskuler 

serta sistem hemopoitik.  

3. Uji Toksisitas Kronis 

Uji ini dilakukan dengan memberi  zat kimia secara berulang-

ulang pada hewan uji selama lebih dari 3 bulan atau sebagian besar 

dari hidupnya. Meskipun pada penelitian dipakai  waktu lebih 

pendek, namun  tetap lebih lambat dibandingkan uji toksisitas Akut 

maupun uji toksisitas sub akut. Tujuan dari uji toksisitas kronis 

yaitu  untuk mengetahui profil toksisitas suatu bahan uji secara 

berulang dalam jangka panjang. sebab  waktu yang diperlukan untuk 

pelaksanaan uji toksisitas kronis sangat panjang maka dalam 

pelaksanaannya dilakukan bersamaan dengan uji klinik. Persyaratan 

yang berlaku pada pelaksanaan uji toksisitas kronis seperti hewan 

coba, dosis bahan uji serta rute pemberian sama dengan persyaratan 

seperti pada pelaksanaan uji toksisitas subkronis.  

4. Uji Teratogenisitas  

Pengujian yang dilakukan untuk memproleh informasi adanya 

abnormalitas fetus yang terjadi selama pemberian sediaan uji selama 

masa pembentukan organ fetus. Prinsip kerja uji ini umumnya 

diberikan pada hewan yang hamil minimal dari implantasi hingga 

satu hari sebelum hari dikorbankan yang harus sedekat mungkin 

dengan waktu normal persalinan. 

5. Uji sensitisasi kulit 

Pengujian yang dilakukan untuk mengidentifikasi suatu zat 

berpotensi memicu  sensitisasi pada kulit. 

6. Uji Iritasi Mata 

Pengujian yang dilakukan untuk memperoleh adanya informasi 

kemungkinan bahaya yang timbul pada saat sediaan uji terpapar pada 

mata atau pada membrane mukosa mata. 

7. Uji iritasi/korosi Akut Dermal 

Pengujian yang dilakukan untuk mendeteksi efek toksik setelah 

paparan sediaan uji dalam dosis tunggal pada kulit seta untuk menilai 

dan mengevaluasi karakteristik suatu zat apabila terpapar pada kulit. 

Penilaian berdasar  ada tidaknya pembentukan eritema dan 

oedema. 

8. Uji Iritasi Mukosa Vagina 

Uji yang dipakai  untuk menguji sediaan uji yang kontak langsung 

dengan jaringan vagina di mana sediaan uji di paparkan kedalam 

lapisan mukosa vagina hewan uji selama tidak kurang dari 5 kali 

paparan dalam 24 jam, kemudian diamati ada tidaknya eritema, 

eksudat ataupun oedema. 

 

 

Bab 9 Toksikologi Tumbuhan Obat 129 

 

9. Uji Toksisitas Akut Dermal 

Pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul dalam waktu 

singkat setelah paparan suatu sediaan uji dalam sekali pemberian 

melali rute dermal.  

10. Uji Toksisitas Subkronis Dermal 

Pengujian untuk mendeteksi efek toksik yang muncul setelah 

pemberian dosis berulang yag diberikan melali rute dermal selama 

sebagian umur hewan, namun  tidak lebih dari 10% seluruh umur 

hewan. Pengujian ini dapat dilakukan salaam 28 hari atau 90 hari. 

11. Uji Karsinogenisitas. 

Pengujian untuk mendeteksi dan memperoleh informasi sifat 

karsinogenik sediaan uji setelah pemberian dengan dosis berulang 

yang diberikan pada hewan uji selama sebagian besar rentang hidup 

hewan. (Meles, 2010) menjelaskan uji Karsinogenik dilaksanakan 

dalam jangka lama yakni pada tikus dalam waktu 24 bulan sedangkan 

pada mencit 18 bulan. berdasar  Japenese Guidelines for Toxicity 

Studies lama uji pada tikus 130 minggu dan pada mencit 104 minggu. 

Parameter yang diamati yaitu  terbentuknya neoplasma dan 

peningkatan kasus neoplasma sejalan dengan peningkatan dosis 

bahan uji. 

Selain pengujian-pengujian ini  diatas, (Meles, 2010) menambahkan uji 

mutagenik meliputi mutasi gen dan mutasi kromosomal. Pada uji mutagenik 

ini dilakukan uji secara in vitro yakni memakai  mutasi gen pada bakteri 

dan uji secara in vivo menentukan kerusakan gen pada hewan mamalia melalui 

sumsum tulang untuk menentukan tingkat kerusakan kromosom, sedangkan 

untuk mendeteksi kerusakan DNA memakai  sel hati mencit atau tikus 

9.2.3 Uji Toksisitas in silico 

In silico artinya: “dilakukan di komputer atau melalui simulasi komputer” 

Model toksisitas ini terutama dipakai  untuk memprediksi bagaimana obat 

berinteraksi dengan tubuh (Summerfield and Dong, 2013). (Martínez, 2022) 

menyebutkan metode ini merupakan metode penelitian terbaru dari ketiga 

metode penelitian yang ada (yang pertama dilakukan pada tahun 1989). 

Meskipun penelitian in silico merupakan cara penelitian yang relatif baru dan 

130  

 

bukan merupakan replikasi organisme hidup, penelitian ini telah memberi  

kontribusi yang signifikan terhadap penelitian biomedis dan penemuan obat. 

Misalnya, sebuah penelitian Kinnings et al., (2009) memakai  emulasi 

perangkat lunak untuk memprediksi bagaimana obat-obatan tertentu yang 

sudah ada di pasaran dapat mengobati jenis tuberkulosis yang resistan terhadap 

obat. 

Di antara keuntungan metode in silico yaitu  lebih murah dan durasi 

pengujian yang singkat sehingga lebih cepat untuk mendapatkan hasil. 

Sebalikya sebab  simulasi model toksisitas in silico dilakukan oleh komputer 

di mana suatu algoritma dibangun untuk mengubah masukan tertentu menjadi 

keluaran dan disisi lain masih terbatasnya pengetahuan tentang proses 

biokimia dan fisiologis dalam tubuh manusia sehingga tidak dapat 

mengembangkan algoritma yang efektif untuk memprediksi toksisitas obat. 

Dalam kebanyakan kasus, data yang ada tidak cukup untuk melakukan 

simulasi komputer dan mendapatkan keluaran yang representatif dengan 

model toksisitas in silico. Dengan demikian, hasilnya harus divalidasi lebih 

lanjut melalui pemanfaatan metodologi eksperimental in vitro dan in vivo ) 

(Martínez, 2022). 

 

9.3 Toksisitas Beberapa Tumbuhan 

Obat 

Telah banyak riset terkait dengan toksisitas berbagai tumbuhan obat. Berikut 

dipaparkan hasil riset toksisitas beberapa tumbuhan obat yang telah lama 

dikenal dan sering dipakai  khususnya oleh warga  di negara kita . 

1. Kunyit (Curcuma longa) 

Kunyit telah lama dipakai  sebagai tanaman obat yang dapat 

dipakai untuk mengobati berbagai penyakit. Menurut Singh et al., 

(2002) dan Araujo dan Leon (2001) kunyit berkhasiat sebagai anti-

peradangan, obat luka, antioksidan, anti-protozoa, antibakteri, 

antiviral, antifungi dan antikanker. Kajian Histopatologis Lambung, 

Hati dan Ginjal setelah uji toksisitas akut ekstrak rimpang kunyit 

pada mencit menujukkan hasil uji intoksikasi akut fraksi etil asetat 

Bab 9 Toksikologi Tumbuhan Obat 131 

 

dan hexan pada mencit diperoleh nilai LD 50 fraksi hexan yaitu  

19,25 g/kg bb dan LD 50 fraksi etil asetat yaitu  27,98 g/kg bb. 

Fraksi hexan dan fraksi etil asetat ekstrak etanol rimpang kunyit 

termasuk dalam katagori tidak toksik. Pemberian fraksi etil asetat dan 

hexan rimpang kunyit pada uji intoksikasi akut meningkatkan jumlah 

sel parietal pada lambung serta degenerasi dan nekrosis pada sel dan 

sel tubulus ginjal (Winarsih et al., 2012). 

2. Jahe (Zingiber officinale) 

Kandungan dalam jahe banyak sekali dan berbeda-beda tergantung 

tempat asalnya dan rimpangnya segar atau kering. Jahe yaitu  zat 

anti-oksidan yang kuat dan dapat mengurangi atau mencegah 

pembentukan radikal bebas. Ini dianggap sebagai obat herbal yang 

aman dengan efek samping/efek samping yang sedikit dan tidak 

signifikan (Ali et al., 2008). Hasil penelitian (Sihotang and Umniyati, 

2018) minyak atsiri jahe bersifat toksisk terhadap larva nyamuk 

Aedes aegypti. 

3. Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) 

Rimpang temulawak merupakan rimpang yang berasal dari suku 

Zingiberaceae. Rimpang temulawak umum dipakai  sebagai 

pengobatan tradisional di negara kita  sebagai anti inflamasi. Seperti 

pada umumnya kelompok Zingiberaceae, kandungan kurkumin atau 

kurkuminoid merupakan bahan aktif utama (Cahyono et al., 2011). 

Namun dalam temulawak kandungan xantorizol merupakan 

komponen paling utama, selain kurkumin ini  (Purwakusumah et 

al., 2016). Penelitian (Endang et al., 2022) menunjukkan pemberian 

ekstrak etanol 70% temulawak hingga dosis 5.625 mg/kg BB selama 

28 hari pada tikus jantan dan betina memberi  efek penurunan 

terhadap nilai hemoglobin, hematokrit, dan leukosit, namun nilainya 

masih dalam batas normal. Tidak ada perbedaan nyata antara 

tikusjantan dan betina pada hasil pengukuran nilai hemoglobin, 

hematokrit, dan leukosit. 

 

 

132  

 

4. Daun Sirih Merah (Piper ornatum) 

Tanaman sirih merah merupakan salah satu tanaman obat yang 

daunnya telah lama dikenal memiliki  khasiat obat untuk 

meyembuhkan berbagai penyakit. Beberapa penelitian tentang daun 

sirih merah sebagai obat telah dilakukan, yaitu sebagai 

imunomodulator, memiliki sifat sebagai anti inflamasi, anti fungi, 

anti diare, analgetik dan masih banyak lagi. Penelitian (Kuncarli and 

Djunarko, 2014) menyebutkan tidak didapatkan adanya spektrum 

toksik infusa daun sirih merah selama 28 hari terhadap perubahan 

kadar SGOT darah di mana menunjukkan hasil perbedaan tidak 

bermakna serta perubahan pada gambaran histopatologi jantung yang 

tidak teramati perubahan yang spesifik. Tidak ada  hubungan 

antara dosis infusa daun sirih merah dengan spektrum efek toksik 

pada perubahan kadar SGOT darah dan histopatologi jantung. 

5. Lidah Buaya (Aloe vera) 

Guo and Mei (2016), Lidah buaya mengandung bahan aktif secara 

farmakologis yang terkait dengan beragam aktivitas biologis. 

Meskipun lidah buaya telah lama dianggap sebagai bahan makanan 

fungsional yang aman dan dapat dipakai  secara oral dan topikal, 

dalam banyak kesempatan, lidah buaya belum seaman yang 

diperkirakan secara umum. Baru-baru ini, laporan efek buruk pada 

manusia dan toksisitas, genotoksisitas, dan karsinogenisitas baik 

dalam penelitian in vitro maupun in vivo menimbulkan pertanyaan 

apakah komponen dalam Aloe vera mungkin memiliki  aktivitas 

pemicu tumor pada manusia. sebab  paparannya yang meluas pada 

manusia dan kekhawatiran bahwa beberapa komponen dapat 

memicu  kanker, pada tahun 1998 National Cancer Institute 

menominasikan Aloe vera sebagai kandidat prioritas tinggi untuk 

studi karsinogenisitas di bawah National Toxicology Program (NTP). 

Pada tahun 2002, Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) 

mengeluarkan aturan akhir yang menyatakan bahwa pemakaian  

Aloe sebagai obat pencahar tanpa resep secara umum tidak lagi 

dianggap aman dan efektif. Baru-baru ini, ekstrak daun lidah buaya 

Bab 9 Toksikologi Tumbuhan Obat 133 

 

utuh telah diklasifikasikan oleh Badan Internasional untuk Penelitian 

Kanker sebagai kemungkinan karsinogen bagi manusia, bersama 

dengan produk alami lainnya seperti ekstrak Ginkgo biloba dan 

ekstrak kava. 

6. Kumis Kucing (Orthosiphon stamineus Benth) 

Kumis kucing yaitu  tanaman yang biasa dipakai  sebagai obat. 

Penelitian telah menunjukkan bahwa kumis kucing dapat dipakai  

sebagai pengobatan berbagai penyakit, salah satunya Hipertensi. Ini 

dapat dipakai  sebagai antihipertensi sebab  mengandung oleh 

Methylripariochromene yang memiliki aktivitas terhadap tekanan 

darah tinggi seperti aktivitas vasodilatasi, diuretik, dan penurunan 

denyut jantung. Penelitian genotoksik pada ekstrak kumis kucing 

telah diteliti memakai  Salmonella atau metode mutasi mikrosom 

dan uji mikronukleus sumsum tulang tikus. Pada metode mikrosom 

atau salmonella menunjukkan ekstrak kumis kucing tidak mutagenik, 

begitu juga pada mikronukleus sumsum tulang tikus, tidak ada  

tanda-tanda toksisitas pada pemakaian  Orthosiphon Stamineus. 

Lebih jauh lagi, tidak ada  tanda-tanda klinis pada toksisitas dan 

tidak ada  perubahan aktivitas pada sitokrom P4501A dan 2B 

pada tikus yang diberikan ekstrak kumis kucing dengan dosis 4000 

mg/kgBB. Hasil ini  menyimpulkan bahwa toksisitas rendah dan 

pemakaian  obat tradisional tidak menunjukkan genotoksik (Emelda, 

2017). 

7. Daun Sukun (A. communis) 

Beberapa penelitian menyebutkan bahwa ada  senyawa metabolit 

sekunder yang diduga terkandung dalam daun sukun antara lain 

alkaloid, tanin, saponin dan flavonoid (Maharani et al, 2014). Hal ini 

yang mendasari pemanfaatannya sebagai obat alternative pengobatan 

tradisional. Tanaman Sukun dapat dipakai  sebagai beberapa 

kondisi penyakit seperti diabetes, hepatitis, gatal-gatal, dan beberapa 

pernyakit lainnya. Hasil penelitian (Endang et al., 2022) uji toksisitas 

akut memakai  dosis 2000 mg/kgBB menunjukkan seluruh 

hewan tidak ada yang mati maupun mengalami tanda-tanda 

134  

 

toksisitas, dan tidak terjadi perubahan yang bermakna pada bobot 

mencit pada dosis 2000 mg/kgBB pada hasil uji statistik (p≥0,05). 

berdasar  software AOT 425StatPgm menunjukan LD50 sebesar 

2000 mg/KgBB. 

8. Benalu Batu (Begonia sp.) 

Benalu batu yaitu  salah satu tanaman yang dipakai  secara 

empiris oleh warga  untuk mengobati tumor dan kanker. 

Penelitian (Anam et al., 2022) benalu diperoleh 10 isolat jamur 

endofit yang terdiri dari bagian daun diperoleh (enam isolat), bagian 

batang (tiga isolat), dan bagian akar (satu isolat). Penapisan awal uji 

toksisitas 10 isolat terhadap A. salina diperoleh isolat dari beberapa 

bagian daun memberi  persen kematian 100%. Penelitian lainnya 

juga menunjukkan ekstrak metanol Begonia sp. mengandung 

senyawa aktif yang toksik terhadap larva udang (A. salina) dengan 

LC50 sebesar 369 ppm (Nurlansi, Nasruddin and Sari, 2015). 

 

 

 

 

 

 

Bab 10 

Penemuan Obat Baru dari 

Alam 

 

 

 

10.1 Pendahuluan 

Tumbuhan merupakan sumber bahan alam paling potensial untuk dipakai  

sebagai bahan obat dan dapat dikembangkan menjadi obat baru secara 

berkelanjutan. Selama bertahun-tahun, obat-obatan tradisional dibuat dengan 

memanfaatkan bahan alam untuk mengatasi berbagai penyakit. Dan saat ini, 

sebagian besar obat-obatan farmasi dibuat memakai  bahan alam ini . 

Bahan alam terdiri atas senyawa-senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas 

biologis dalam menghambat aktivitas agen penyebab penyakit. Saat ini, 

banyak sekali metabolit sekunder dengan struktur dan aktivitas farmakologis 

yang beragam yang telah berhasil diidentifikasi dari tumbuhan. Pengetahuan 

yang berdasar dari sistem pengobatan tradisional menjadi salah satu dasar 

eksplorasi obat yang berkelanjutan untuk pembuatan produk obat-obatan 

secara industri farmasi. 

 

  

 

10.2 Bahan Obat Berbasis Tumbuhan 

Pada dasarnya, tumbuhan dapat diolah dengan banyak cara untuk 

mengekstraksi bahan potensial obatnya. Cara paling mudah yang paling 

banyak dipakai  yaitu  dalam bentuk teh herbal. Ekstrak tumbuhan dalam 

bentuk ekstrak kasar maupun ekstrak terstandarisasi dipakai  dalam sediaan 

farmasi yang beragam, seperti bubuk, pil, tablet, dan tingtur. Tumbuhan 

memproduksi molekul sinyal yang bervariasi seperti auksin, asam absisat, 

sitokinin, giberelin, asam salisilat, dan etilen. Selain itu, tumbuhan juga 

memproduksi metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, dan 

fenilpropanoid yang memiliki peran penting dalam perkembangan dan 

pertahanan tumbuhan. Molekul-molekul ini  berperan penting dalam 

meregulasi siklus hidup tumbuhan, dan diproduksi dalam keadaan stres untuk 

melindungi tumbuhan dari patogen, suhu ekstrim, dan juga cahaya ultraviolet 

Pengembangan bahan obat dari sumber tumbuhan juga dapat dilakukan 

dengan bantuan bioteknologi, seperti pada obat kanker, diabetes, HIV, 

penyakit liver, dan alzheimer. Bahan obat hasil bioteknologi ini dapat 

diproduksi dengan lebih efisien, aman, dan efektif dibandingkan dengan 

pengembangan bahan obat dengan kultur sel maupun fermentasi mikroba. 

Phytopharmaceutical drug (PPD) merupakan kategori baru dari obat herbal 

yang dibuat berdasar  petunjuk dari AYUSH (Department of Ayurveda, 

Unani, Siddha, dan Homeopathy) dan CDSCO (Central Drugs Standards 

Control Organization) di India. Obat-obatan ini  dibuat dari tumbuhan 

herbal yang memiliki sejarah pernah dipakai  sebagai obat tradisional. PPD 

didefinisikan sebagai fraksi murni terstandarisasi dari ekstrak tumbuhan yang 

mengandung minimal empat jenis senyawa bioaktif dan dapat dipakai  

untuk mengobati atau mencegah penyakit. Biasanya, proses produksi obat 

herbal tidak dimonitor dengan baik, serta tidak ada regulasi yang cukup. PPD 

merupakan ekstrak yang diperkaya dengan fitomolekul seperti flavonoid, 

karotenoid, polifenol, likopen, antosianin, dan fitoestrogen. Bahan alam 

ini  dapat dipakai  untuk mengatasi penyakit umum seperti alergi, 

inflamasi, diabetes, dan lain-lain 

Produk bahan alam menjadi produk yang menarik bagi industri farmasi, 

dengan terkonsentrasi pada obat-obatan yang berasal dari senyawa tumbuhan 

dan dapat dipakai  untuk alternatif terapi , Meskipun obat-obatan sintetis dapat menghilangkan rasa nyeri lebih 


 

cepat, namun obat-obatan ini  membutuhkan biaya produksi yang lebih 

besar dan mungkin belum bisa diakses oleh seluruh kalangan. Di sisi lain, obat 

tradisional memiliki efek samping yang lebih minim, dan dapat dengan mudah 

dimetabolisme dan diserap oleh tubuh. Bahan alam yang telah banyak 

dikembangkan untuk pengobatan disajikan pada Tabel 10.1.  


10.3 Pendekatan dalam Pengembangan 

Bahan Obat Berbasis bahan Alam 

Berbagai pendekatan telah dikembangkan untuk memperoleh bahan obat yang 

berasal dari obat-obatan herbal dan tradisional. 

10.3.1 Etnofarmakologi 

Pemilihan sampel tumbuhan merupakan tahapan yang paling penting dalam 

pengembangan bahan obat berbasis bahan alam. Umumnya, tumbuhan dengan 

riwayat pernah dipakai  untuk pengobatan tradisional oleh sekelompok 

warga  etnis dipilih menjadi subjek pengembangan obat berbasis bahan 

alam, hal ini disebut dengan etnobotani atau etnofarmakologi (Süntar, 2019). 

Berbagai metode ekstraksi dan formulasi herbal dipakai  oleh kelompok 

warga  etnis. Formulasi herbal termasuk juga informasi mengenai cara 

konsumsi sediaan herbal serta dosis herbal yang biasa dipakai . Pemilihan 

tumbuhan herbal untuk dikembangkan sebagai bahan obat perlu pengkajian 

lebih mendalam, sebab  adanya potensi perbedaan konsep kesehatan dan 

pemahaman antara kelompok etnis tradisional dengan konsep kesehatan 

modern. Gejala penyakit perlu dikaji lebih detail sebelum memakai  

formulasi herbal untuk pengobatan.  

Bahan bioaktif yang memiliki aktivitas farmakologi diisolasi dari tumbuhan 

selama proses pengembangan obat berbasis bahan alam. Keseluruhan ekstrak 

kasar umumnya memiliki aktivitas yang lebih tinggi dibandingkan dengan 

senyawa tunggal bahan bioaktif. Ekstrak tumbuhan memiliki struktur kimia 

yang beragam dan memengaruhi kualitas aktivitas farmakologi sediaan herbal. 

Ekstrak tumbuhan kemudian perlu dilakukan fraksinasi dan isolasi senyawa 

bioaktifnya. Setelah dilakukan isolasi senyawa bioaktif, ekstrak dapat dibuat 

menjadi ekstrak bioaktif terstandarisasi, yaitu secara pasti mengandung 

beberapa senyawa aktif untuk meningkatkan aktivitas farmakologinya. 

Bab 10 Penemuan Obat Baru dari Alam 139 

 

Sebagai contoh, fraksi saponin terstandarisasi dari Panax ginseng memiliki 

aktivitas farmakologi yang lebih baik dibandingkan senyawa aslinya. Adapun 

skema proses penemuan bahan obat dari tumbuhan dijelaskan pada Gambar 

10.1. 

 

Gambar 10.1: Beberapa Skema Pengembangan Obat Berbasis Bahan Alam 

(A) Prosedur yang Terlibat dalam Etnofarmakologi (EP) Dan Reverse 

Farmakologi (RP) untuk Pengembangan Obat Berbahan Alam; (B) Analisis 

Fitokimia pada Ekstrak Untuk Identifikasi Molekul Utama dan Potensi 

pemakaian nya untuk Obat; (C) Integrasi Pendekatan Polifarmakologi (PP) 

dan Jaringan Farmakologi (NP) untuk Penemuan Obat Modern (Nasim, 

Sandeep and Mohanty, 2022). 

10.3.2 Reverse Farmakologi 

Pengembangan obat konvensional umumnya membutuhkan tahapan yang 

panjang sehingga cukup tidak efisien dan mahal. Reverse farmakologi 

merupakan tahapan penemuan obat dengan melakukan eksperimen untuk 

memvalidasi khasiat bahan obat herbal yang banyak dipakai  oleh 

warga  tradisional. Tahap ini kemudian disertai dengan penentuan dosis 

obat, tingkat toleransi obat, hingga uji in vitro dan in vivo untuk menguji 

efektivitas formulasi obat. Tahapan terakhir yaitu eksperimen klinik pada 

beberapa level organisasi biologi. Langkah ini dilakukan untuk mengetahui 

tingkat efikasi dan keamanan bahan obat sebelum dipakai  secara luas (

10.3.3 Bioteknologi Tumbuhan 

Bioteknologi tumbuhan telah banyak dipakai  sebagai upaya alternatif untuk 

memproduksi biomolekul rekombinan. Sistem transgenik dikembangkan 

untuk menghasilkan molekul rekombinan seperti enzim, hormon, antibodi, 

vaksin, dan peningkatan ekspresi protein dalam jumlah besar (Rosales-

Mendoza, 2020). Tumbuhan yang umum dipakai  sebagai media produksi 

rekombinan antara lain tembakau, tomat, padi, kentang, dan jagung. Saat ini, 

tumbuhan transgenik juga dipakai  untuk memproduksi vaksin. 

Bioteknologi tumbuhan menjadi salah satu cara yang lebih aman untuk 

produksi bahan farmasi, dibandingkan dengan pemakaian  mikroorganisme 

seperti bakteri, kapang, atau kultur sel mamalia. Protein manusia yang 

diproduksi oleh tumbuhan memiliki komponen karbohidrat namun tidak 

mengandung komponen galaktosa dan asam sialat. Perubahan minor pada 

struktur glikan dapat memengaruhi aktivitas protein rekombinan dan memicu 

reaksi imunogenik.  

Transfer dan ekspresi gen pada tumbuhan dapat diinduksi dengan 

agroinfiltrasi, infeksi virus, ekspresi bawaan, dan transformasi nukleus. Vektor 

virus tumbuhan juga dapat dimodifikasi secara genetik untuk menghasilkan 

bahan obat farmasi. Virus ini  tidak memicu  infeksi pada manusia 

atau hewan, dan dapat menghasilkan protein heterolog dalam jumlah banyak 

Tumbuhan akan mengekspresikan 

protein selama proses replikasi virus dalam sel tumbuhan. Protein rekombinan 

kemudian dipurifikasi sebelum pengembangan vaksin. Virus yang dapat 

dipakai  antara lain as Cucumber Mosaic Virus (CMV), Tobacco Mosaic 

Virus (TMV), serta Cowpea Mosaic Virus (CPMV). Tumbuhan banyak 

mengandung molekul bioaktif seperti antivirus, antibakteri, antifungi dan lain 

sebagainya. Molekul bioaktif ini  tidak diproduksi dalam jumlah besar 

pada sel tumbuhan secara normal. Bioteknologi tumbuhan dapat menjadi salah 

satu cara untuk peningkatan produksi molekul bioaktif bahan obat melalui 

media tumbuhan.  

10.3.4 Bioteknologi Mikroorganisme 

Teknologi yang dapat dipakai  untuk produksi bahan obat dari 

mikroorganisme dijelaskan pada Gambar 10.2. Tahapan proses pengembangan 

bahan obat mencakup penentuan jenis mikroba yang akan dipakai , molekul 

bioaktif yang akan diproduksi, hingga penentuan kultur sel, media kultur, 

parameter pertumbuahn, serta optimasi kondisi untuk pertumbuhan kultur sel. 


 

Tujuan utamanya yaitu  transformasi substrat untuk menghasilkan produk 

metabolit yang diinginkan (Jozala et al., 2016). Proses ini membutuhkan 

kontrol yang cukup tinggi, dan peralatan bioreaktor untuk produksi skala besar. 

Teknik sterilisasi dan kondisi kultur juga perlu diperhatikan untuk menghindari 

terjadinya kontaminasi produk.  

 

Gambar 10.2: Proses Pengembangan Bahan Obat Asal Mikroorganisme 

(Jozala et al., 2016) 

Seiring dengan berkembangnya teknologi biologi molekuler dan DNA 

rekombinan, protein manusia dapat diproduksi dengan memanfaatkan ekspresi 

heterolog dari Escherichia coli. Misalnya insulin, yang banyak dipakai  

untuk pengobatan diabetes mellitus tipe I dan II. Insulin dipurifikasi dari 

ekstrak pankreas bovine dan porcine (Leader, Baca and Golan, 2008). Metode 

ini cukup mahal dan banyak berdampak pada respon imun pasien. Sebagai 

alternatif, gen insulin mulai diisolasi dan disisipkan pada gen bakteri (Gambar 

10.3). 

Selain bakteri, fungi juga banyak dipakai  untuk menghasilkan molekul 

bioaktif yang dipakai  sebagai bahan obat. Sebagai contoh, senyawa taxol 

dapat diproduksi oleh fungi endofit, dan dapat dipakai  sebagai bahan obat 

antikanker (Jozala et al., 2016). Taxol diproduksi oleh Fusarium oxysporum 

yang ditumbuhkan pada media Potato Dextrose Agar (PDA). Selain itu, fungi 

endofit Aspergillus niger pada tanaman Taxus cuspidate juga diketahui 

memproduksi taxol seperti inangnya.  

Selain itu, fungi diketahui mampu memproduksi enzim ekstraseluler, salah 

satunya enzim laktase (enzim untuk mengkatalisis reaksi laktosa menjadi 

glukosa dan galaktosa. Laktase menjadi ramai dibutuhkan diindustri susu, 

seiring dengan meningkatkan kasus laktosa intoleran pada anak-anak. Laktase 


 

dipasarkan dalam bentuk tablet atau kapsul sebagai suplemen makanan untuk 

pasien yang intoleran laktosa, sebelum mengkonsumsi susu atau produk 

turunannya.  

 

Gambar 10.3: Produksi Protein Rekombinan. Gen Manusia yang Ditargetkan 

Diisolasi dan Digabungkan dengan Vektor (plasmid). Plasmid Mengandung 

Gen Manusia yang akan dipakai  untuk Mentransformasi Sel Bakteri untuk 

Memproduksi Protein Rekombinan dalam Jumlah Besar 

Molekul aktif yang memiliki aktivitas antifungi Cytosporachrysosperma dapat 

diproduksi melalui proses fermentasi dalam shaker (Li et al., 2015). Metode 

yang dipakai  yaitu ekstraksi metabolit memakai  pelarut organik, 

pemisahan dengan kromatografi cair dan kromatografi lapis tipis. Ilmuwan 

juga telah berhasil memproduksi amfoterisin B memakai  kultur 

Penicillium nalgiovense yang diisolasi dari antartika.  

Salah satu teknik purifikasi metabolit bahan obat yang dapat dipakai  yaitu  

teknik kromatografi. Kromatografi banyak dipakai  untuk pemurnian asam 

nukleat, peptida, dan protein. Teknik kromatografi saat ini merupakan teknik 

yang paling efektif dengan aplikasi yang cukup luas di industri. Prinsip 

pemisahan pada kromatogradi yaitu  berdasar  perbedaan afinitas molekul 

yang dibawa oleh fasa cair melalui fasa padat (solid) selama tahap  stasioner.  


 

berdasar  interaksi antara fasa solid dan biomolekul, teknik kromatografi 

dapat disederhanakan dalam lima kategori, yaitu: 

1. Afinitas 

2. Pertukaran ion 

3. Interaksi hidrofobik 

4. Ukuran molekul 

5. Kromatografi bauran 

Secara umum, contoh protein rekombinan yang berperan sebagai bahan obat 

disajikan pada Tabel 10.2. 


Etika dan Keberlanjutan dalam 

Farmakognosi 

    

Tanaman obat semakin diminati sebab  dimanfaatkan langsung khasiatnya 

sebagai obat-obatan herbal seiring meningkatnya trend gaya hidup sehat 

ataupun trend back to nature. Tanaman obat yaitu  segala jenis tumbuhan 

yang diketahui memiliki  khasiat baik dalam membantu memelihara 

kesehatan maupun pengobatan suatu penyakit. Tumbuhan obat sangat erat 

kaitannya dengan pengobatan tradisional, sebab  sebagian besar 

pendayagunaan tumbuhan obat belum didasarkan pada pengujian klinis 

laboratorium, melainkan lebih berdasar  pada pengalaman pemakaian  

Menurut Departemen Kesehatan RI tanaman obat negara kita  seperti yang 

tercantum dalam SK Menkes No. 149/SK/Menkes/IV/1978, yaitu: 

1. Tanaman atau bagian tanaman yang dipakai  sebagai bahan obat 

tradisional atau jamu.  

2. Tanaman atau bagian tanaman yang dipakai  sebagai bahan pemula 

bahan baku obat.  


 

3. Tanaman atau bagian tanaman yang diekstraksi dan ekstrak tanaman 

ini  dipakai  sebagai obat. 

Ribuan jenis tanaman tumbuh subur hampir setiap kepulauan di negara kita . Hal 

ini didukung oleh kondisi bangsa negara kita  yang terdiri dari ribuan pulau dan 

beragam suku serta tersedianya flora terlebih lagi dengan beragamnya fonnasi 

hutan negara kita , seperti dataran rendah, dataran tinggi, rawa, dan pantai 

(Hembing, 2000). Tumbuhan obat tradisional di negara kita  memiliki  peran 

yang sangat penting terutama bagi warga  di daerah pedesaan yang 

fasilitas kesehatannya masih sangat terbatas. Nenek moyang kita mengenal 

obat–obatan tradisisonal yang berasal dari tumbuhan di sekitar pekarangan 

rumah maupun yang tumbuh liar di semak belukar dan hutan-hutan. 

warga  sekitar kawasan hutan memanfaatkan tumbuhan obat yang ada 

sebagai bahan baku obat-obatan berdasar  pengetahuan tentang 

pemanfaatan tumbuhan obat yang diwariskan secara turun-temurun 

 

11.2 Prinsip Etika Tanaman Obat 

Bangsa negara kita  dipacu untuk berlomba dengan semakin maraknya 

kerusakan atau hilangnya sumber daya alam dan pengetahuan tradisional yang 

belum dikaji tentang pemanfaatan tumbuhan obat. Dengan kemajuan teknologi 

yang semakin pesat dan kompleks, membuat sumber daya alam bisa 

dieksploitasi yang memicu  kepunahan jenis-jenis tumbuhan, ditambah 

lagi dengan semakin rusaknya alam. Adanya modernisasi budaya dapat 

memicu  hilangnya pengetahuan tradisional yang dimiliki oleh 

warga  

Ada kekhawatiran bahwa hanya sebagian kecil dari spesies tanaman yang telah 

dipakai  melalui pengujian ketat dalam kondisi terkendali dan studi klinis 

obat herbal sangat bervariasi kualitasnya dan kegunaannya. Saat dipakai  

dalam hal ini secara komplementer, obat tradisional khususnya jamu dapat 

bersumber secara lokal atau mungkin diimpor dari seluruh dunia. Contohnya, 

pengobatan herbal dari Afrika atau Cina dapat dipakai  bersamaan dengan 

pengobatan konvensional atau pengobatan lainnya di negara Eropa. 

Okonronkwo (2014) dan White (2014) menyatakan bahwa tantangan utama 

dalam etika untuk pemakaian  obat tradisional yaitu  banyak orang yang 


 

memiliki  asumsi keliru bahwa produk herbal aman sebab  alami, tapi obat 

herbal memiliki  efek farmakologis, sama seperti obat-obatan sintetik. 

Banyak tanaman yang kuat atau beracun dan biasanya data keamanan yang 

tersedia untuk herbal jauh lebih sedikit produk daripada yang dibutuhkan 

untuk pengobatan konvensional  menyatakan bahwa beberapa obat herbal 

telah dikaitkan dengan reaksi obat yang merugikan termasuk overdosis dan 

toksisitas, menambahkan adanya interaksi obat 

herbal, juga mengatakan adanya reaksi 

alergi, dan kontaminasi dengan produk lain. Selain itu, mereka diketahui 

mengganggu hasil tes laboratorium. Di sebagian besar wilayah di dunia, 

konsumen memiliki akses yang sangat mudah dalam mendapatkan obat-

obatan herbal yang tidak berlisensi atau tidak terdaftar secara legal (Ernst, 

2001), yang mungkin dapat mengakibatkan hal hal yang tidak diinginkan 

dalam pemakaian  obat tanpa pengawasan seorang praktisi yang 

berpengalaman. 

Selain itu potensi bahaya dari obat-obatan ini , ada juga kekhawatiran 

terhadap penyedia jamu sebab , dibanyak lingkungan, tidak terlatih secara 

medis (Ernst, 2001) dan juga tidak diatur dengan baik peredarannya (Smith, 

2008). Selain dampak terhadap manusia, produksi dan pengiriman obat-obatan 

herbal berdampak pada warga  setempat, lingkungan, dan komunitas. 

Misalnya, semakin berkembangnya permintaan akan produk herbal terstandar 

memberi  tekanan pada spesies permintaan tinggi terpilih 

dan beberapa tanaman ada di dalamnya bahaya kepunahan akibat banyaknya 

permintaan 

Terlebih lagi, banyak tanaman obat yang dikumpulkan dari alam liar secara 

tidak terkendali sebab  seringnya tanaman budidaya dianggap lebih sedikit 

kandungan senyawa aktifnya (Ncube, 2012). Ancaman terhadap pemanenan 

yang tidak berkelanjutan dan kelangsungan hidup tanaman obat tidak hanya 

spesies tanaman obat, namun  juga para tenaga yang melakukan melakukan 

budidaya (Andel, 2008). Seiring dengan pertumbuhannya di pasar global, telah 

terjadi peningkatan pembajakan hayati, di mana obat herbal tradisional telah 

dipatenkan tanpa persetujuan atau kompensasi kepada pemegangnya 

Membatasi pemakaian  akan menjadi tidak realistis dan tidak etis dari obat-

obatan tradisional dibandingkan obat-obatan yang telah teruji secara intensif 

  

 

sebab  hal ini akan menghalangi akses terhadap obat-obatan bagi seluruh 

warga , khususnya di wilayah yang kekurangan sumber daya. Namun 

demikian, mengingat tantangan etika yang disebutkan di atas dalam 

penyediaan obat herbal, sangat penting untuk mengambil tindakan yang 

menghormati kebutuhan individu dan preferensi diberlakukan sambil 

menghindari kerugian pasien, lingkungan, dan komunitas lokal. 

Mengingat produksi dan pemakaian  obat herbal yaitu  sebuah fenomena 

global, maka seharusnya ada  penerapan etika kerangka kerja yang dapat 

diterapkan. Baru-baru ini, dibuat semacam kerangka kerja ini muncul dari 

konsorsium global yang terdiri dari para peneliti, akademisi, peserta penelitian, 

pembuat kebijakan, dan pimpinan komite etik penelitian bersama dengan 

perwakilan dari badan pendanaan dan farmasi industri.  

Hasilnya yaitu  etika dalam pemakaian  tanaman obat dalam perkembangan 

farmakognosi didasarkan pada nilai-nilai, bukan prinsip-prinsip, yakni nilai-

nilai care, respect, honesty, dan fairness. 

1. Care 

Bagi tenaga kesehatan dalam menjelaskan pemakaian  obat herbal 

memerlukan pengetahuan dan keahlian; praktisi harus membuat 

penilaian tentang kapan obat tertentu diindikasikan, sesuai, dan aman. 

Oleh sebab  itu, penting untuk komitmen terhadap pembelajaran 

seumur hidup; Contoh lebih lanjut dari kepedulian dapat dilihat 

dalam cara praktisi berkomunikasi dengan pasien 

2. Respect 

Rasa menghargai dan menghormati dalam preferensi, adat istiadat, 

dan budaya orang mungkin berbeda satu dengan yang lainnya. Dalam 

budaya di mana ada  pemakaian  herbal secara tradisional obat-

obatan tertentu mungkin bersifat budaya atau spiritual yang 

signifikansinya bagi anggota suatu kelompok atau suku. Pasien yang 

memakai  obat herbal secara komplementer, pelayanan kesehatan 

harus menghargai dan menghormati hal ini . Hal ini khususnya 

dapat menimbulkan tantangan ketika ada perbedaan pendapat tentang 

apa yang paling penting membantu pasien untuk kesembuhan dan 

keselamatan pasien. 

3. Honesty 

Di semua budaya dan negara, 'jangan berbohong' yaitu  hal yang 

mendasar prasyarat untuk interaksi manusia yang memiliki etika. 

Oleh sebab  itu, praktisi herbal harus jujur dan terbuka tentang bukti 

hasil efektivitas maupun potensi efek samping. Kejujuran juga 

diperlukan dalam promosi obat herbal. Tidak etis jika menyesatkan 

pasien atau berjanji penyembuhan dalam keadaan di mana tidak ada 

kepastian manfaatnya. 

4. Fairness 

Artinya kualitas pengobatannya sama harus tersedia bagi semua 

orang, tanpa memandang ekonomi atau sosial status, atau faktor-

faktor yang merugikan. Tentu kita tahu hal ini saat ini belum 

diaktualisasikan dalam bidang kesehatan. Inilah alasannya begitu 

banyak orang yang bergantung pada pengobatan herbal di daerah 

yang secara ekonomi menengah ke bawah sebab  merupakan satu-

satunya pilihan yang terjangkau dan dapat diakses (Sato, 2012).  

 

11.3 Ketepatan pemakaian  Obat 

Tradisional dalam Keberlanjutan 

Farmakognosi 

Pasar obat herbal yaitu  salah satu yang paling cepat berkembang di dunia, 

dengan permintaan yang terus meningkat meningkat di negara-negara 

berkembang. Pertumbuhan penting ini berkaitan dengan preferensi terhadap 

produk alami untuk manfaat kesehatan sebab  dianggap lebih aman dan hemat 

biaya dibandingkan obat farmasi sintetik 

Eksploitasi berlebihan, dapat menghasilkan perubahan pola pada struktur dan 

dinamika populasi tanaman yang diekstraksi, maka memengaruhi 

pertumbuhan dan reproduksi, kapasitas, dan bahkan dapat memicu  

hilangnya populasi yang ada, sampai mengakibatkan hilangnya berbagai 

ekosistem 

 

kegiatan pertanian memberi  pengaruh terhadap lingkungan alam seperti 

hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan polusi air, industri 

obat herbal di sektor ini harus mengembangkan strategi berkelanjutan yang 

memungkinkan peningkatan efisiensi sumber daya dalam produksi. Istilah 

“keberlanjutan” secara etimologis berarti memelihara dan menjamin 

kelestarian suatu hal, serta memikul komitmen dalam pengertian ini . 

Dengan demikian, keberlanjutan berkaitan dengan pelestarian sesuatu yang 

ada saat ini dan harus dipertahankan di masa depan, yang melibatkan 

akuntabilitas dan komitmen . Namun, dalam rangka 

pelestarian demi kelangsungan hidup generasi mendatang, diperlukan 

komitmen untuk menerapkan praktik berkelanjutan oleh konsumen dan 

industri obat herbal. 

Tanaman obat dan obat tradisional akan bermanfaat dan aman jika dipakai  

dengan mempertimbangkan sekurang–kurangnya enam aspek ketepatan, yaitu 

tepat takaran, tepat waktu dan cara pemakaian , tepat pemilihan bahan dan 

telaah informasi serta sesuai dengan indikasi penyakit tertentu. Disamping 

berbagai kelebihan, tidak bisa dipungkiri lagi bahwa tanaman obat dan obat 

tradisional juga memiliki beberapa kelemahan yang merupakan kendala dalam 

pelayanan kesehatan formal. Adapun beberapa kelemahan ini  antara lain 

efek farmakologisnya lemah, bahan baku belum terstandar dan bersifat 

higroskopis serta volumines, belum dilakukan uji klinik dan mudah tercemar 

berbagai jenis mikroorganisme 

Efek samping obat tradisional relatif kecil jika dipakai  secara tepat, yang 

meliputi:  

1. Kebenaran bahan Tanaman obat di negara kita  terdiri dari beragam 

spesies yang kadang kala sulit untuk dibedakan satu dengan yang 

lain. Kebenaran bahan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi 

yang diinginkan. Sebagai contoh jahe di pasaran ada beberapa macam 

yang agak sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. Jahe putih 

memiliki rimpang yang besar dan gemuk, potongan melintang 

berwarna putih kekuningan, berserat sedikit, dan lembut. Jahe gajah 

biasanya dikonsumsi saat masih muda atau setelah aroma kurangnya 

tajam dan rasanya kurang pedas. Jahe putih memiliki potongan 

melintang berwarna putih kekuningan, berbentuk agak pipih, berserat 

lembut, dengan aroma yang agak tajam. Jahe merah memiliki serat 


 

yang kasar, aromanya sangat tajam, dan rasanya sangat pedas. Jahe 

merah biasanya dipanen tua dan dipakai  sebagai komponen obat-

obatan. 

2. Ketepatan dosis tanaman obat, seperti halnya obat buatan pabrik 

memang tak bisa dikonsumsi sembarangan. Tetap ada dosis yang 

harus dipatuhi, seperti halnya resep dokter. Hal ini menepis anggapan 

bahwa obat tradisional tak memiliki efek samping. Anggapan bila 

obat tradisional aman dikonsumsi walaupun gejala sakit sudah hilang 

yaitu  keliru. Sampai batas-batas tertentu, mungkin benar. Akan 

namun  bila sudah melampaui batas, justru membahayakan. Takaran 

yang tepat dalam pemakaian  obat tradisional memang belum banyak 

didukung oleh data hasil penelitian. Peracikan secara tradisional 

memakai  takaran sejumput, segenggam atau pun seruas yang 

sulit ditentukan ketepatannya. pemakaian  takaran yang lebih pasti 

dalam satuan gram dapat mengurangi kemungkinan terjadinya efek 

yang tidak diharapkan sebab  batas antara racun dan obat dalam 

bahan tradisional amatlah tipis. Dosis yang tepat membuat tanaman 

obat bisa menjadi obat, sedangkan jika berlebih bisa menjadi racun.  

3. Ketepatan waktu pemakaian  Kunyit diketahui bermanfaat untuk 

mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam 

ramuan jamu kunir asam yang sangat baik dikonsumsi saat datang 

bulan . Akan namun  jika diminum pada awal 

masa kehamilan berisiko memicu  keguguran. Hal ini 

menunjukkan bahwa ketepatan waktu pemakaian  obat tradisional 

menentukan tercapai atau tidaknya efek yang diharapkan.  

4. Ketepatan cara pemakaian  Satu tanaman obat dapat memiliki 

banyak zat aktif yang berkhasiat di dalamnya. Masing-masing zat 

berkhasiat kemungkinan membutuhkan perlakuan yang berbeda 

dalam pemakaian nya. Sebagai contoh yaitu  daun Kecubung jika 

dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan dipakai  sebagai 

obat asma. namun  jika diseduh dan diminum dapat memicu  

keracunan/mabuk 

 

5. Ketepatan telaah informasi Perkembangan teknologi informasi saat 

ini mendorong derasnya arus informasi yang mudah untuk diakses. 

Informasi yang tidak didukung oleh pengetahuan dasar yang 

memadai dan telaah atau kajian yang cukup seringkali mendatangkan 

hal yang menyesatkan. Ketidaktahuan bisa memicu  obat 

tradisional berbalik menjadi bahan membahayakan.  

6. Tanpa penyalahgunaan tanaman obat maupun obat tradisional relatif 

mudah untuk didapatkan sebab  tidak memerlukan resep dokter, hal 

ini mendorong terjadinya penyalahgunaan manfaat dari tanaman obat 

maupun obat tradisional ini . Obat yang ditarik dari 

peredarannya sebagian besar berupa jamu-jamuan yang mengandung 

Bahan-bahan Kimia Obat (BKO) berbahaya bagi tubuh pemakainya. 

Bahan-bahan kimia obat ini  dapat menimbulkan efek negatif di 

dalam tubuh pemakainya jika dipakai  dalam jumlah banyak.  

7. Ketepatan pemilihan obat untuk indikasi tertentu Dalam satu jenis 

tanaman dapat ditemukan beberapa zat aktif yang berkhasiat dalam 

terapi. Rasio antara keberhasilan terapi dan efek samping yang timbul 

harus menjadi pertimbangan dalam pemilihan jenis tanaman obat 

yang akan dipakai  dalam terapi.