Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 15. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 15. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 15

 





Cl)2] atau senyawa 

klor organik tosilkloramid (kloramin, 

Halamid) dan halazon. Semua antiseptika ini 

bekerja berdasar  pelepasan klor.

Klor tidak dipakai  lagi sebagai anti-

septikum untuk luka terbuka, sebab  terlalu 

merangsang, kecuali untuk “melarutkan” 

jaringan mati dari borok terbuka yang bau 

dengan banyak necrosis (Eusol = Dakin + pa-

rafin). pemakaian  utamanya yaitu  seba-

gai desinfektans lantai, air minum dan 

kolam renang (konsentrasi 0,5-20 ppm klor, 

tergantung dari adanya zat-zat organik).

1d. Klorheksidin: Hibitane, *Pravlon.

Senyawa biguanida ini (1954) yaitu  sa-

lah satu antiseptikum terbaik dengan kha-

siat bakterisid (Gram-positif dan Gram-

negatif) dan fungisid yang khasiat serta luas 

spektrumnya menyerupai iod. Spektrum 

ker-janya meliputi kuman-kuman “sukar” 

Stafylococcus aureus, Pseudomonas dan 

Proteus. Kurang efektif terhadap basil 

tbc/lepra, spura dan virus. Efeknya lebih 

lambat daripada iod, misalnya larutan 0,1% 

baru efektif dalam 10 menit. Khasiatnya 

paling kuat pada pH netral atau alkalis dan 

berkurang dengan adanya zat-zat organik 

dan sabun. Efektivitasnya juga dikurangi 

oleh tanin (asam tanat, asam samak), maka 

botol dengan larutan klorheksidin sebaiknya 

jangan ditutup dengan sumbat gabus, namun  

dengan karet atau plastik. 

Keuntungannya. Bila dibandingkan de-

ngan iod, ada beberapa keuntungannya: 

tidak berwarna, mudah larut dalam air se-

hingga tidak perlu dipakai  alkohol dan 

tidak merangsang. Sebagai desinfektans 

mulut obat ini mencegah terbentuknya 

plak gigi dan berkhasiat melarutkan se-

bagian plak yang sudah ada. berdasar  

sifat baik ini klorheksidin sekarang ba-

nyak dipakai  untuk penanganan luka 

(larutan, spray, krem, salep, bedak tabur), 

dalam obat kumur untuk desinfeksi mulut 

dan tenggorok (0,05%) serta dental (gel 1%). 

Begitu pula dalam tetes mata dan untuk 

desinfeksi kulit utuh (0,1-1,5%) sebelum in-

jeksi, dan sebagai bilasan vaginal (0,2 mg/

ml). Untuk mempercepat mulai kerjanya, 

biasanya dipakai  larutan dalam alkohol 

50%, yang juga lebih efektif terhadap in-

feksi fungi daripada larutan air. Dalam tablet 

hisap (2,5 mg garam HCl, setiap jam 1 tablet) 

berguna untuk pengobatan nyeri (infeksi) 

tenggorok.

Efek sampingnya pada pemakaian  seba-

gai obat kumur yaitu  timbulnya warna 

cokelat pada gigi dan memengaruhi rasa. 

Bila dipakai  pada mata, obat ini dapat 

diserap oleh lensa kontak lembut dengan 

memicu  reaksi alergi. Dalam tetes te-

linga (0,5%) dapat memicu  ketulian 

(neurotoksik), oleh sebab  itu tidak diguna-

kan lagi.

* Sediaan: 

– Hibiscrub: larutan 4% (diglukonat) untuk 

mencuci dan desinfeksi tangan prabedah; 

– Sterilon: diglukonat 10mg/g, krem dan 

spray kulit.

– Pravlon, Hibicet: larutan glukonat 1,5% + 

setrimida 15% untuk desinfeksi luka dan 

alat kedokteran.

1e. Heksaklorofen: G11, Dermisan, *Topicide.

Derivat bifenol dengan 6 atom klor ini 

(1948) berkhasiat bakterisid terhadap teruta-

ma kuman Gram-positif (stafilokok) dan juga 

bekerja fungistatik. Kurang aktif terhadap 

bakteri Gram-negatif dan spura; Pseudomonas 

dan Salmonella sudah resisten. Daya kerjanya 

lambat sekali dan paling kuat di lingkungan 

asam lemah, aktivitasnya dikurangi oleh 

darah, zat organik, namun  tidak oleh sabun. 

pemakaian . sebab  sifatnya yang tidak 

merangsang sering kali dipakai  dalam 

sabun antiseptik. Bila sabun ini dipakai  se-

cara teratur, obat akan diadsorpsi dan ditim-

bun oleh lapisan-atas kulit dan mengaki-

batkan berkurangnya flora normal. Sifat 

kumulasinya menyerupai iod, lihat di atas. 

Oleh alkohol atau pemakaian  sabun lain, 

timbunan itu  dapat hilang. Selain itu, 

zat ini banyak pula dipakai  dalam krem, 

bedak tabur atau lotion sebagai antiseptikum 

umum. Dermisan (larutan 3,15%) dipakai  

sebagai scrub tangan sebelum pembedaha n.

Efek samping. pemakaian  sediaan ini harus 

dengan sangat hati-hati, sebab  obat yang 

diadsorpsi kulit, terutama pada kulit yang 

terluka dan pada bayi, dapat memicu  

keracunan sistemik yang mungkin saja 

fatal (kerusakan SSP). Oleh sebab  itu di 

banyak negara sediaan obat dan kosmetika 

tidak boleh mengandung lebih dari 0,5% 

heksaklorofen. Sediaan dengan lebih dari 

0,75% heksaklorofen hanya dapat diperoleh 

atas resep dokter (A.S. 1973). 

1f. Klorksilenol: klordimetilfenol, Dettol

Zat ini dipakai  sebagai larutan 16 mg/

ml dalam air atau alkohol untuk desinfeksi 

kulit. Bekerja bakterisid atau bakteriostatik 

dengan spektrum kerja yang lebih sempit 

daripada klorheksidin. Efektif terhadap 

streptokok, namun  kurang efektif terhadap 

stafilokok dan tidak efektif terhadap kuman 

Gram-negatif (Pseudomonas, Proteus). Kha-

siatnya berkurang bila ada  darah atau 

serum. dipakai  dalam sabun, lotion dan 

serbuk untuk desinfeksi tangan (larutan 3% 

dalam air) dan luka (5%). Efek sampingnya 

berupa dermatitis kontak (alergi).

1g. Triklosan(Phisohex)

Senyawa diklorfenoksi ini berkhasiat bak-

teriostatik terhadap kuman Gram-positif dan 

Gram-negatif. Praktis tidak aktif terhadap 

Pseudomonas, ragi dan jamur. dipakai  

dalam emulsi 2% sebagai sabun pada acne 

dan luka/borok, sabun 7,5 mg/g (Cidal) atau 

krem.

1h. Triklokarban (triklorkarbanilida, *Scabex) 

Derivat ureum ini berkhasiat bakteriosta-

tik kuat terhadap terutama kuman Gram-

positif dan kurang aktif terhadap kuman 

Gram-negatif dan fungi. Sabun tidak meng- 

inaktifkan zat ini, maka sering kali dipakai  

dalam sabun antiseptik (lihat di bawah). 

Kadang-kadang juga dipakai  sebagai sa-

lep kulit terhadap kudis (*Scabex). Efek sam-

pingnya berupa fotosensibilisasi, necrosis 

kulit dan pigmentasi pada muka sebab  

alergi kontak.

2. SeNYAWA FeNOL

2a. Fenol (F.I.): karbol, acidum carbolicum

Fenol merupakan salah satu antiseptikum 

tertua (Lister, 1870) dengan khasiat bakterisid 

dan fungisid, juga terhadap basil TBC dan 

spura, walaupun memerlukan waktu yang 

lebih lama. Mekanisme kerjanya berdasar  

denaturasi protein sel bakteri, yaitu perubahan 

rumus bangunnya sehingga sifat khasnya 

hilang. Khasiatnya dikurangi oleh zat organik 

dan ditiadakan oleh sabun, sebab  dengan 

alkali terbentuk fenolat inaktif. sebab  sifat 

mendenaturasi juga berlaku untuk jaringan 

utuh manusia, fenol berdaya korosif (“mem-

bakar”) terhadap kulit dan sangat merang-

sang, sehingga jarang dipakai  lagi se-

bagai antiseptikum kulit. berdasar  sifat 

anestetik lokalnya, kadang-kadang senyawa 

ini dipakai  dalam lotion anti gatal, mi-

salnya lotio alba.

* Kresol (cresolum crudum, *Lysol) yaitu  de-

rivat metil dengan minimal 50% meta-kresol, 

khasiatnya 3 kali lebih kuat daripada fenol, 

sedang  toksisitasnya sama. dipakai  

sebagai desinfektans rumah tangga dan 

peralatan, misalnya Lysol (= campuran 1:1 

dengan sapo kalinus) dan kreolin (= larutan 

±15% dalam sabun damar). Beberapa senya- 

wa fenol yang tersubstitusi, misalnya tri-

klosan dan heksaklorofen, dapat diproses 

dalam sabun, sebab  praktis tidak merang-

sang kulit.

* Diklorbenzilalkohol (amilmetakresol) be-

kerja antiseptik dan dipakai  dalam tablet 

hisap (Strepsil) terhadap sakit tenggorok. 

Dosis: setiap jam 1 tablet, maks. 8 tablet 

sehari.

* Albothyl: produk kondensat dari asam 

metakresolsulfonik dan metanal.

Untuk membersihkan dan regenerasi ja-

ringan pada luka, luka bakar, dan stomatitis 

aphthosa (seriawan). Juga terhadap vaginosis 

bakterial, kandidiasis dan trichomoniasis.

2b. Resorsinol (F.I.): metadioksibenzol, resor-

sinum. 

Khasiat bakterisidnya sama dengan fenol, 

namun  3 kali lebih lemah. Senyawa difenol 

ini dipakai  pada gangguan kulit (eksem, 

psoriasis, dan sebagainya) dalam salep atau 

lotion 1-10%.

2c. Timol (metilpropilfenol) juga berkhasiat 

kuat dan kadang-kadang masih dipakai  

sebagai antiseptikum kulit (larutan 1% dalam 

alkohol) dan mulut (sediaan obat gigi).

2d. Trinitrofenol (asam pikrat) yaitu  zat ber-

warna kuning dengan khasiat bakterisid 

dan anestetik lokal, yang dahulu sering 

kali dipakai  untuk mengobati luka bakar 

(larutan 1%). 

Awas: sangat eksplosif bila dipanaskan atau 

digerus!

3. ZAT-ZAT DeNGAN AKTIVITAS 

peRMUKAAN

Senyawa-senyawa ini merupakan derivat 

amonium yang tersubstitusi dan memiliki 

sifat menurunkan ketegangan permukaan 

air. Senyawa organik ini dapat dibagi dalam 

dua kelompok, yaitu zat-zat non-ionogen dan 

zat-zat ionogen.

3a. Zat non-ionogen dalam larutan tida k 

terurai menjadi ion. Aktivitas permukaannya 

berdasar  ada nya banyak gugus hi-

drofil (-OH) di dalam molekulnya sebagai 

imbangan dari gugus lainnya yang bersifat 

lipofil, seperti alkil dan benzil. Dalam kegiatan 

farmasi zat-zat ini terutama dipakai  se-

bagai wetting agents untuk membuat zat-

zat hidrofob (talk, belerang, dan lain-lain), 

yang “tidak suka air“ menjadi lebih mudah 

“dibasahkan“ dengan air. dipakai  pula 

sebagai emulgator pada pembuatan emulsi 

dan krem, yakni emulgator O/W: Tween, me-

tilselulosa, CMC dan bentonit, atau emulgator 

W/O: kolesterol (adeps lanae), lesitin dan Span. 

Khasiat antibakterinya ringan.

3b. Zat ionogen. Dalam molekul zat-zat 

ini juga ada  bagian lipofil dan bagian 

hidrofil (dalam hal ini -COO- atau -NH4

+), 

yang dalam larutan terurai dalam ion-positif 

dan -negatif. Zat-zat ini dapat dibagi dalam 

senyawa anionaktif dan kationaktif.

1. Zat anionaktif (sabun, bahan pembersih 

sintetik, Na laurilsulfat), bagian molekulnya 

mengandung gugus lipofil dan hidrofil 

bermuatan negatif, yakni R-COO- (sabun) 

atau R-SO3-. Zat-zat ini banyak dipakai  

sebagai bahan pembersih sintetik dan 

dalam shampo, sebab  memiliki khasiat 

bakteriostatik terhadap kuman Gram-

positif, sedang  terhadap kuman 

Gram-negatif tidak aktif.

2. Zat kationaktif (basa amoniumkwaterner), 

molekul aktifnya bermuatan positif. Zat-

zat ini berkhasiat bakterisid kuat ber-

dasarkan inaktivasi enzim kuman, dena-

turasi protein dan perusakan membran-

nya. Daya kerjanya lebih kuat terhadap 

kuman Gram-positif daripada terhadap 

kuman Gram-negatif; tidak aktif terha-

dap Mycobacteriae, virus dan spura. 

Efektivitas dari misalnya setrimida dan 

benzalkonium (larutan 1-2 mg/ml) relatif 

rendah terhadap bakteri Gram-negatif, 

termasuk Pseudomonas aeruginosa. Khasiat 

fungisid dan virusidnya tergantung dari 

jenisnya. Daya kerjanya terkuat pada 

lingkungan alkalis dan tidak aktif di 

bawah pH 3. 

3c. Sabun

Sabun yaitu  garam natrium (sabun padat, 

keras) atau kalium (sabun lunak) dari asam 

lemak dan memiliki khasiat bakteriostatik 

terhadap banyak kuman, a.l. Pseudomonas, 

Proteus dan Salmonella. Sabun sama sekali 

tidak aktif terhadap E. coli dan Stafilokokus 

yang merupakan penghuni terbanyak pada 

kulit manusia. sebab  bersifat menurunkan 

ketegangan permukaan air, kontak antara air 

dan benda atau kulit yang akan dibersihkan 

menjadi lebih erat. Lemak diemulsikan, 

kotoran dan keringat disuspensikan untuk 

kemudian dibersihkan dengan air pembilas. 

Dengan demikian bila kulit, misalnya tangan, 

dicuci dengan sabun secara baik selama 

sekurang-kurangnya dua menit, maka lapisan 

kulit luar dengan flora kuman (resident flora) 

dapat dikeluarkan dengan efektif.

* Sabun antiseptik mengandung suatu anti-

septikum untuk memperkuat khasiat anti-

bakterinya. Untuk tujuan ini hanya beberapa 

zat saja yang dapat dipakai , sebab  pada 

umumnya antiseptika diinaktivasi oleh sabun 

yang bereaksi alkalis. Zat-zat yang dapat 

mempertahankan aktivitasnya yaitu  a.l. 

heksaklorofen, bithionol dan triklokarban.

3d. Basa amoniumkwaterner: Quats.

Senyawa ini berkhasiat bakterisid dan 

fungisid kuat terkecuali terhadap basil 

TBC dan lepra, terhadap spura dan virus 

kurang aktif. Daya kerjanya (larutan 0,1%) 

lebih lambat daripada iod dan etanol 70%. 

Aktivitasnya ditiadakan oleh zat-zat anion-

aktif, termasuk sabun dan dikurangi oleh zat-

zat organik, khususnya protein dan nanah, 

serta oleh zat-zat non-ionogen tertentu 

(Tween) dan logam, misalnya Fe, Al, magne-

sium dan kalsium (air ledeng!). Senyawa ini 

mudah diadsorpsi pada permukaan berpori-

pori, maka larutannya sebaiknya jangan 

dipakai  dengan kapas atau bersentuhan 

dengan karet. Toksisitas sistemiknya rendah 

dan juga tidak merangsang. 

pemakaian . Dalam kurun waktu 1940-

1970, quats sering kali dipakai  sebagai 

desinfektans kulit (0,1% dalam alkohol 70%) 

untuk mencapai kerja residual guna des-

infeksi tangan sebelum pembedahan dan 

juga untuk desinfeksi selaput lendir sebab  

toksisitasnya rendah dan tidak merangsang. 

Juga sebagai konservans obat tetes mata 

(benzalkonium 0,01%) dan antiseptikum te- 

nggorok (lozenges). pemakaian  lainnya ada-

lah sebagai desinfektans peralatan (1%) de-

ngan penambahan natriumnitrit 0,5% untuk 

mencegah timbulnya karat dan sebagai anti-

septikum pra-bedah (10% dalam etanol 70%). 

Keberatan. Bila dipakai  pada kulit, quats 

membentuk suatu film pada mana kuman 

bisa terus hidup. Lagi pula pada pemakaian  

lama dapat terjadi resistensi. Dewasa ini 

pemakaian nya sebagai desinfektans kulit 

sudah banyak berkurang dengan diintro-

duksinya obat-obat dengan spektrum kerja 

lebih luas dan daya kerja lebih efektif.

Quats yang paling banyak dipakai  

yaitu :

benzalkoniumklorida (F.I.): Zephirol, 

C6H5-CH2-NH2R Cl-

setrimida: setrimoniumbromida, *Pravlon, 

*Lemocin lozenges 

setilpiridiniumklorida: *Sentril lozenges 

= spk 0,07% + dekualin 0,25 mg;  

dekualiniumklorida: Degirol lozenges.

* akriflavin (F.I.): merupakan campuran dari 

2 senyawa: diaminoakridin dan suatu quat 

(diaminometilakridinium). Khasiatnya hanya 

bakteriostatik lambat terhadap kuman 

Gram-positif, namun  kurang efektif terhadap 

kuman Gram-negatif dan jamur. dipakai  

untuk desinfeksi mulut dan tenggorok (3 

mg dalam tablet hisap). Akriflavin tidak di-

inaktifkan oleh cairan tubuh, maka bergu-

na sebagai antiseptikum borok bernanah 

(0,1%), begitu pula derivat akridin lainnya 

ethakridin (Rivanol) yang dulu banyak di-

gunakan sebagai obat kumur pada sakit 

tenggorok.

* Mecetronium (Sterillium): senyawa amo-

nium kwaterner dalam campuran isopropa-

nol dan n-propanol berkhasiat baktericid ter -

hadap mikroorganisme Gram-positif maupun 

Gram-negatif. dipakai  untuk desinfeksi 

tangan dan lokasi pembedahan. Efeknya ber- 

kurang oleh nanah dan darah.

4. ALKOHOL, ALDeHIDA dan 

ASAM

4a. Etanol (F.I.): etilalkohol, alkohol, spiritus 

(=90% etilalkohol)

Etanol dan juga isopropanol pada kadar 

60-80% dalam air berkhasiat bakterisid dan 

fungisid kuat; bekerjanya cepat (efektif da-

lam 2 menit). Spektrum kerjanya meliputi 

kuman Gram-positif dan Gram-negatif, ter-

masuk basil tbc, namun  tidak efektif terhadap 

spora. Terhadap virus, misalnya hepatitis-B 

dan enterovirus, dibutuhkan konsentrasi 

yang relatif lebih tinggi (80-90%) dan dalam 

lingkungan basa. Konsentrasi optimal untuk 

efek bakterisid yaitu  70%, di atasnya men-

jadi kurang efektif sebab  persentase air 

terlalu sedikit untuk membasahkan kuman; 

hal ini membuatnya kurang peka bagi daya 

kerja bakterisid dari etanol. sebab  cepat 

menguap, maka pada kulit harus dikena- 

kan sekitar 2 menit lamanya agar efeknya 

maksimal. Di samping itu etanol juga me-

miliki dayakerja adstringens, oleh sebab  

itu dipakai  dalam lotion anti keringat. 

Juga sering kali dipakai  sebagai zat pem-

bantu pada sediaan farmasi. Untuk khasiat 

dan efeknya pada pemakaian  oral, lihat 

Bab 23, Drugs.

Daya kerja etanol cepat, namun  singkat 

sebab  bersifat menguap dan mekanisme 

kerjanya berdasar  denaturasi protein da-

lam lingkungan air. Untuk memperpanjang 

efeknya sering kali dikombinasi dengan 

klorheksidin, triklosan, heksaklorofen atau 

quats (masing-masing 0,5%), terutama un-

tuk desinfeksi kulit atau tangan dokter be-

dah. Kombinasi ini meninggalkan sisa zat 

antiseptik di atas kulit yang mampu memper- 

lambat tumbuhnya kembali flora kulit (re-

sidual effect).

Efek sampingnya pada pemakaian  lokal 

berupa dermatitis kontak, urtikaria dan efek 

sistemik sebab  absorpsi melalui kulit. Guna 

menghindari mengeringnya kulit pada peng-

gunaan yang terlalu sering, pada alkohol 

ditambahkan zat-zat yang melunakkan kulit, 

misalnya gliserol (0,5-1%). Alkohol berkhasiat 

teratogen,wanita hamil yang minum banyak 

alkohol dapat melahirkan bayi cacat. Alkohol 

masuk ke dalam air susu ibu.

* Isopropanol (isopropilalkohol) lebih kuat 

khasiat bakterisid dan fungisidnya serta 

aktif pada konsentrasi lebih rendah (50-

70%). Sifatnya melarutkan lemak lebih kuat 

hingga membuat kulit kering. Pada peng-

gunaan di kulit memicu  vasodila-

tasi, se hing ga perdarahan di bekas injeksi 

lebih banyak dari pada bila memakai  

etanol. Isopropanol tidak dipakai  dalam 

minuma n, sebab  2 kali lebih toksik diban-

dingkan dengan etilalkohol dan rasanya 

juga tidak enak. Merangsang kulit, alat per-

napasan dan mata.

* Propanol (propilalkohol) lebih kuat dan lebih 

toksik lagi, maka terutama dipakai  untuk 

mendesinfeksi alat medik (kedokteran gigi) 

sebagai larutan 20-25%.

* Fenetilalkohol (feniletanol) yaitu  cairan 

yang terutama aktif terhadap bakteri Gram-

negatif. Wanginya menyerupai kembang ma- 

war, maka sering kali dipakai  dalam mi-

nyak wangi. Senyawa ini juga dipakai  se-

bagai konservans tetes mata (0,25-0,5%).

* Fenoksietanol yaitu  cairan dengan kha-

siat bakteriostatik (konsentrasi 0,3-0.8%) 

dan bakterisid (1,3-1,9%), terutama terhadap 

Pseudomonas. Juga masih efektif bila terda-

pat serum. Kurang aktif terhadap bakteri 

Gram-negatif lainnya dan tidak berkhasiat 

terhadap bakteri Gram-positif. Zat ini khusus 

dipakai  pada luka ringan dan luka bakar 

yang terinfeksi Pseudomonas aeruginosa dalam 

sedia an larutan atau krem 2%, biasanya ber-

samaan dengan suatu anti septikum lain, se-

perti benzalkoniumklorida atau klorheksidin.

* Diklorbenzilalkohol (amilmetakresol) ter-

utama dipakai  sebagai antisepticum teng-

gorok dalam tablet hisap (Strepsil).

4b. Formaldehida: methanal, formalin

Larutan gas ini dalam air (1-5%) berkha-

siat bakterisid, fungisid dan virusid, terma-

suk terhadap basil tbc, namun  kerjanya rela- 

tif lambat (beberapa jam). Terhadap spura 

dibutuhkan waktu sekitar 8 kali lebih lama 

lagi. Zat-zat organik mengurangi aktivitas-

nya sebab  terbentuknya kompleks. Formal-

dehida memiliki sifat adstringens dan digu-

nakan sebagai obat anti-keringat untuk 

kaki (10-20%). Selanjutnya zat ini hanya 

dipakai  sebagai desinfektans benda dan 

konservans jaringan organik sebab  sifat 

merangsangnya dan baunya yang tajam.

Menjelang akhir tahun 2005 timbul kehe-

bohan mengenai pemakaian  formalin seba-

gai pengawet makanan seperti mi basah, tahu, 

bakso dan ikan laut. Zat ini sejatinya termasuk 

bahan pengawet (a.l. mayat) yang dilarang 

dipakai  untuk makanan sesuai Peraturan 

Menteri Kesehatan Nomor 722/1988, namun 

secara sembunyi dipakai  sejak bertahun-

tahun.

berdasar  survey periodik Badan Penga-

wasan Obat dan Makanan (POM) terhadap 

berbagai jenis produk pangan, diketemukan 

makanan yang mengandung formalin sebagai 

bahan pengawet. Hasil penemuan ini marak 

diberitakan di media massa cetak maupun 

elektronik dengan mengemukakan bahaya-

bahaya (laten) yang dapat ditimbulkan oleh 

formalin, dari kerusakan hati, ginjal, saraf, 

sampai kanker. 

Dampak dari masalah ini sangat meme-

ngaruh i produsen maupun penyalur bahan 

makanan itu  yang dicurigai mengan-

dun g formalin, dengan akibat menu runnya 

dengan drastis produksi maupun penjual-

annya.

– Formalin (Solutio Formaldehydi, F.I.) ada-

lah larutan HCOH 36%. 

* Paraformaldehida (HCOH)3 yaitu  polimer 

padat yang pada pemanasan menghasilkan 

gas HCOH. Senyawa ini dipakai  untuk 

sterilisasi tekstil, ruangan, alat-alat, dan 

sebagainya pada kelembapan relatif udara 

dari 70% atau lebih.

* Glutaral (glutaraldehida) yaitu  di-aldehid a 

dari pentan (1963), yang berkhasiat lebih kuat 

dan cepat daripada HCOH; larutan 2% efektif 

dalam lebih kurang 2 menit. Spektrum kerja-

nya sama luasnya, termasuk Pseudomonas 

dan spura. Baunya tidak tajam, tidak bersifat 

merangsang dan tidak dihambat oleh zat-

zat organik, sehingga larutannya banyak 

dipakai  sebagai desinfektans alat-alat dan 

instrumen bedah. Pada larutan 2% dalam 

isopropanol perlu dibubuhi bikarbonat 0,3% 

untuk membuat pH basa (pH ± 8) dan hanya 

aktif selama 14 hari! Larutan dengan pH 

asam tidak bekerja sporosid.

4c. Asam asetat: acidum aceticum, asam cuka

Asam cuka pada konsentrasi 5% berkhasiat 

bakterisid dengan spektrum luas dan ter-

utama sangat aktif terhadap Pseudomonas 

dan Hemofilus, juga terhadap Candida albicans 

dan Trichomonas, dua mikroorganisme yang 

sering kali memicu  vaginitis. Oleh 

sebab  itu, dahulu larutan asam ini banyak 

dipakai  sebagai bilasan vagina (0,25%). 

Asam ini juga berkhasiat spermisid. Dalam 

industri pangan dan di rumah tangga ba nyak 

dipakai  sebagai konservans makanan.

*  Asam borat (F.I.) Asam ini pada konsentrasi 

jenuh (±3%) berkhasiat bakteriostatik lemah. 

Asam borat dapat diabsorpsi oleh kulit yang 

rusak, terutama pada bayi dan anak kecil, 

untuk kemudian ditimbun dalam tubuh 

sebagai racun kumulatif. Oleh sebab  itu 

pemakaian nya dalam bedak tabur dan salep 

tidak dianjurkan lagi. Sebagai obat cuci mata 

sebaiknya dipakai  larutan 2% (kurang 

merangsang daripada 3%), ditambah dengan 

benzalkoniumklorida 0,01% sebagai pengawet, 

namun  pengawet ini dapat memicu  

mata berair dan peka terhadap cahaya.

* Asam benzoat dan asam salisilat: lihat juga 

Bab 6, Antimikotika.

Asam salisilat berkhasiat keratolitik dan 

sering dipakai  sebagai obat ampuh ter-

hadap kutil kulit, yang berciri penebalan epi-

dermis setempat dan disebabkan oleh infek-

si dengan virus papova. Salisilat lebih efektif 

daripada fluorurasil dan dinitroklorbenzen 

(BMJ 2002;325:461-4). Sediaan terkenal yaitu  

larutan asam salisilat 10% dan asam laktat 

10% dalam collodium (Collodium ad verrucas).

* Asam mandelat: lihat Bab 8, Antiseptika 

saluran kemih.

5. SeNYAWA LOGAM beRAT

Sejak zaman purbakala sudah diketahui bah-

wa air yang disimpan dalam bejana yang 

dibuat dari perak tidak cepat “rusak”. Efek 

germisid dari ion logam ini dalam kadar 

rendah sekali disebut kerja oligodinamik 

(Yun. oligo = sedikit). Walaupun tidak larut 

dalam air, ion Ag+ dapat membunuh dengan 

cepat semua kuman yang berada di dalam 

bejana itu . Berkat khasiat germisid ini, 

dahulu dalam pengobatan terutama digu-

nakan garam-garam air raksa dan perak 

sebagai antiseptika, namun  berhubung sifat 

merangsangnya dan toksisitasnya, kini sudah 

terdesak oleh antiseptika modern.

Khasiatnya berdasar  pembentukan 

kompleks dengan protein yang mengendap 

dan perintangan enzim dengan gugusan -SH 

dari bakteri maupun dari sel-sel manusia. 

Khasiatnya dihambat oleh zat-zat organik.

5a. Merkuriklorida (F.I.): sublimat

Berkhasiat bakteriostatik dan fungistatik. 

Sangat toksik bila termakan dan bersifat me-

rangsang pada pemakaian  loka l, di samping 

sering kali meng akibatkan reaksi alergi. Oleh 

sebab  itu merkuriklorida tidak dipakai  

lagi sebagai antiseptikum kulit (larutan 0,1% 

diberi warna biru sebagai tanda bahaya) atau 

obat tetes mata (maks. 1: 4.000). Bagi logam-

logam lain bersifat korosi f.

5b. Merbromin: merkurokrom

Derivat dibrommerkuri dari fluorescein 

(1930) bekerja bakteriostatik lemah ter-

hadap stafilokoki dan streptokoki, sehing- 

ga tidak begitu bermanfaat sebagai anti-

septikum lokal. Mekanisme kerjanya 

berdasar  blokade dari enzim sulfhidril. 

Daya kerjanya sangat dikurangi bila ada  

zat-zat organik (nanah). namun  berguna 

sekali untuk mempercepat keringnya luka 

dan pembentukan kerak (“korst“, granulasi). 

Oleh sebab  itu ada kalanya merbromin 

masih dipakai  pada bedah plastik 

(larutan dalam air 5-10%). 

5c. Fenilmerkurinitrat, -borat dan -asetat 

yaitu  senyawa-senyawa merkuri organik 

dengan khasiat bakteriostatik dan fungisid 

kuat, namun  aktivitasnya diperlemah oleh 

cairan tubuh. Oleh sebab itu dan juga sebab  

toksik dan dapat memicu  sensitasi, 

sekarang senyawa ini tidak dipakai  lagi 

untuk desinfeksi luka dan kulit. Dewasa ini 

fenilmerkurinitrat masih dipakai  seba- 

gai pengawet tetes mata (0,004%) dan ada-

kalanya sebagai spermisida dalam sediaan 

kontraseptif. sebab  toksisitasnya obat tetes 

mata demikian sebaiknya jangan dipakai  

untuk jangka waktu lama.

5d. Peraknitrat (F.I.)

Ion perak berkhasiat bakterisid kuat, 

larutan 0,1% mampu membunuh bakteri 

hanya dalam beberapa detik. Bersifat kaustik 

(membakar) pada konsentrasi tinggi dan 

adstringens pada konsentrasi rendah, di 

samping meninggalkan noda-noda hitam di 

kulit, sebab  endapan logam perak. Sebagai 

kaustikum dalam bentuk batang dipakai  

untuk menghilangkan kutil (mole, wrat). Juga 

dipakai  untuk desinfeksi air yang optis 

jernih.

Dahulu peraknitrat banyak dipakai  da- 

lam tetes mata (recentus paratus 1%) dan se-

bagai profilaktikum ter hadap gonore pada 

bayi baru lahir. sebab  dapat memicu  

conjunctivitis, sejak lama diganti dengan se-

diaan benzilpenisilin.

5e. Silversulfadiazin: Flammazine, Darmazin, 

Silvadene

Senyawa kompleks dari perak denga n 

sulfa diazin ini memiliki daya kerja bakte-

risid kuat terhadap banya k bakteri, khu-

susnya Staphylococcus, Streptococcus, Kleb- 

siella, E. coli, Proteus dan Pseudo monas. 

Zat ini lambat laun terurai dalam sulfadia- 

zin dan perak, yang memberikan sifat bak-

terisidnya. Silversulfadiazin sukar larut, ma-

ka tidak mengendapkan protein dan tidak 

memicu  noda-noda di kulit dan tidak 

merangsang atau memicu  rasa nye ri 

pada pemakaian  lokal (krem 1-3%). Jarang 

dilaporkan efek samping alergi maupun 

resistensi. Sangat efektif untuk peng obat-

an luka bakar parah. Lihat juga Bab 8, Sul-

fonamida. 

5f. Sengsulfat (F.I.)

Berkhasiat bakteriostatik lemah dan ads-

tringens, juga bersifat emetik (memicu  

muntah) pada dosis tinggi. dipakai  dalam 

tetes mata (0,5-2%) atau dalam obat kumur 

dengan sengklorida sebagai adstringens. Per 

oral sengsulfat dipakai  untuk memper-

cepat penyembuhan borok terbuka (ulcus 

cruris), terutama pada pasien dengan defi-

siensi seng. Penyembuhan dapat 2-3 kali 

dipercepat dengan memberikan dosis oral 3 

dd 200 mg selama maksimal 4 bulan. Untuk 

pemakaian nya sebagai antioksidan, lihat 

Bab 53, Vitamin dan Mineral.

* Sengoksida (F.I. stearat/karbonat basa) 

bekerja bakteriostatik lemah dan banyak 

dipakai  dalam berbagai sediaan farmasi, 

misalnya salep dan bedak tabur.

* Sengpirition yaitu  sulfida dari hidrok-

sipiridin dengan khasiat bakteriostatik, fu-

ngistatik dan anti-seborrhoeic, yaktu merin-

tangi hipersekresi sebum dari kelenjar lemak 

kulit. Zat ini terutama digunaka n dalam 

shampo anti ketombe (1-2%) [seperti juga 

selensulfida(Selsun)].

6. OKSIDANSIA

6a. Hidrogenperoksida (F.I.)

Hidrogenperoksida merupakan antisep-

tikum yang relatif lemah dengan kerja singkat, 

sebab  khasiat bakterisidnya berdasar  

oksigen, yang dibebaskan pada kontak de-

ngan jaringan atau zat organik lainnya. 

Sebagai larutan 3-6%, H2O2 berguna untuk 

membersihkan luka yang kotor: oksigen 

yang terbentuk membantu secara mekanis 

pengeluaran jaringan mati dan bakteri. Obat 

ini juga dipakai  sebagai desinfektans dan 

deodorans dalam obat kumur (1,5%) dan tetes 

telinga (30 mg/ml) untuk mengeluarkan „tai 

kuping“ (cerume n).

* Sengperoksida dan magnesiumperoksida 

yaitu  zat-zat padat dengan khasiat yang 

sama. Senyawa ini dipakai  sebagai de-

sinfektans lemah dan deodoran dalam pasta 

gigi dan salep/suspensi pada luka bakar.

6b. Kaliumpermanganat

Dalam konsentrasi yang tidak merangsang 

kulit (maksimal 1: 5.000) oksidator berwarna 

ungu ini berkhasiat bakterisid dan fungisid 

lemah. Daya kerjanya agak lambat (1:10.000 

efektif dalam 1 jam), lagi pula singkat sebab  

cepat direduksi oleh zat-zat organik. Pada 

reaksi penguraian ini terbentuk ion mangano 

yang berkhasiat adstringens dan anti 

radang.

Sebagai antiseptikum (0,1%) kalium per-

manganat dipakai  untuk membersihkan 

abses dan borok, untuk kompres (1:5.000) 

pada eksem dan penyakit kulit lainnya, serta 

sebagai obat kumur (1:4.000) pada infeksi 

tenggorok. Terhadap infeksi jamur (kutu 

air) dibutuhkan larutan yang lebih pekat, 

sampai 1%. Di rumah tangga berguna pula 

sebagai desinfektans (larutan 0,1%) sayuran 

dengan membasuhnya selama minimal ½ 

jam.

6c. Kaliumklorat (F.I.)

Zat ini juga merupakan suatu oksidator 

yang berkhasiat bakteriostatik dan adstri-

ngens ringan. Mekanisme kerjanya juga 

berdasar  pembebasan oksigen dan 

dahulu terutama dipakai  sebagai 

desinfektans mulut dan tenggorok dalam 

konsentrasi 3%. Tidak boleh ditelan sebab  

toksik (gangguan saluran cerna, ginjal dan 

darah) dan sebaiknya jangan dipakai  

terlalu lama.

6d. Natriumperborat (NaBO3)

Natriumperborat berkhasiat bakterisi d, 

juga berkat pembebasan oksigen. dipakai  

sebagai desinfektans dalam obat kumur 

dengan konsentrasi 40 mg/ml. Untuk desin-

feksi alat-alat (disamping sterilisasi) 20mg/

ml, juga terkombinasi dengan desinfektansia 

lainnya.

7. LAINNYA

7a. Belerang (F.I.): sulfur precipitatum, subli-

matum dan depuratum

Elemen ini memiliki khasiat bakterisid 

dan fungisid lemah berdasar  dioksidasi-

nya menjadi  asam pentathionat (H2S5O6) oleh 

kuman tertentu di kulit. Zat ini juga ber-

sifat keratolitik (melarutkan kulit tanduk), 

sehingg a banyak dipakai  bersama asam 

salisilat dalam salep dan lotion (2-10%) 

untuk pengobatan jerawat dan kudis. Sulfur 

precipitatum yaitu  yang paling aktif, kare-

na serbuknya terhalus.

Dahulu zat ini dipakai  sebagai laksans 

lemah berkat perombakannya dalam usus 

menjadi sulfida (natrium/kalium) yang me-

rangsang peristaltik usus.

7b. Ichtammol (F.I.): ichtyol.

Ichtyol yaitu  cairan kental berwarna 

cokelat-hitam dengan bau khas dan diper-

oleh dari batu bituminus yang mengan-

dung sisa-sisa ikan dari zaman purbakala 

(Yun. ichtys = ikan, Latin: oleum = minyak). 

Susunannya tidak menentu, mengandung 

± 10% belerang sebagai amoniumsulfat dan 

sulfona t. Ichtyol memiliki daya kerja bak-

teriostatik lemah, juga antiradang dan 

anti gatal. Zat ini masih banyak dipakai  

dalam salep (10-15% dalam vaselin) untuk 

mempercepat masak dan pecahnya bisul.

7c. Balsem Peru

Balsem Peru yaitu  getah yang berbau 

aromatis dari pohon Myroxylon pereira di 

Amerika Selatan. Berkhasiat bakteriostatik 

lemah berdasar  zat aktifnya cinnameïne, 

yaitu campuran ester benzoat, sinamat dan 

alkohol. Walaupun sering kali memicu  

sensitasi dan reaksi alergi, obat ini masih 

banyak dipakai  dalam salep dan bedak 

tabur (Purol) 3-4% untuk mengobati luka, 

eksem dan kudis.

7d. Gentianviolet (F.I.): metilrosanilin, kris-

talviolet

Zat warna dari kelompok rosanilin 

ini berkhasiat bakterisid terhadap ter-

utama bakteri Gram-positif, khususnya 

Stafilokokus dan fungisid terhadap be-

berapa jamur patogen, misalnya Candida 

albicans yang merupakan mikro-organisme 

yang normal menghinggapi selaput lendir 

mulut anak-anak4.

Tidak bermanfaat terhadap C. albicans 

usus5 dan kurang aktif terhadap kuman 

Gram-negatif dan sama sekali tidak ter-

hadap spura. Adakalanya obat ini masih 

dipakai  sebagai larutan antiseptik (0,5- 

1% dalam air) untuk di oleskan pada luka 

di mulut (seriawan) dengan efektivitas 66-

75%, hanya keberatannya yaitu  warnanya 

yang dapat mengotori baju. Sekarang peng-

gunaan ini dianggap sudah obsolet dan di-

gantikan dengan obat topikal mikonazol gel 

20 mg/g (4 dd dioleskan) dengan efektivi-

tas 96-100%.

pemakaian nya sebagai obat cacing kermi 

juga sudah obsolet.

7e. Nitrofural (nitrofurazone, Furacine)

Derivat nitrofuran ini memilik i sifa t bak-

terisid (10-100 mcg/ml ber dasarkan ham-

batan enzim, kecuali terhadap Pseudomonas 

yang selalu resisten. Nitrofural dipakai  

untuk profilaksis dan pengobatan infeksi 

kulit yang ditimbulkan oleh kuman yang 

peka terhadap nitrofural (salep atau lotion 

dari 2 mg/g). Efek samping nya berupa reak-

si kulit, seperti urticaria dan erythema akibat 

alergi kontak, maka pemakaian nya tidak 

dianjurkan lagi.

7f. Etilenoksida

Gas tak berwarna ini bersifat bakterisid, 

fungisid, virusid dan juga sporosid. Etilen-

oksida dipakai  tersendiri atau dicam-

pur dengan gas inert lain, misalnya gas 

asam arang (CO2) untuk sterilisasi peralatan 

medik yang tidak tahan panas (kateter, 

pacemakers). Gas ini memiliki kemampuan 

penetrasi kuat dan diadsorbsi pada karet 

dan bahan buatan (plastics). Harap waspada 

sebab  mudah terbakar dan bersifat eksplosif! 

Efek sampingnya berupa sifatnya yang mu-

tagen dan karsinogen.

7g. Heksetidin: Bactidol, *Hexadol

 Derivat pirimidin ini berkhasiat terhadap 

kuman Gram-positif dan Gram-negatif, pro-

tozoa dan ragi Candida albicans (1956). 

Heksetidin dipakai  sebagai larutan 

0,1% dalam etanol 9% sebagai obat kumur 

untuk desinfeksi mulut pada stomatitis dan 

gingiviti s. Tidak boleh diminum; kerjanya 

bertahan 10-12 jam.

OBAT-OBAT 

GANGGUAN 

SALURAN CERNA

Sistem saluran cerna, lambung dan usus 

yaitu  pintu gerbang bagi zat-zat gizi ma-

kanan, vitamin, mineral dan cairan ke dalam 

tubuh. Fungsi sistem ini yaitu  mencerna- 

kan makanan dengan menghaluskan dan 

kemudian mengubah secara kimiawi keti-

ga bagian utamanya (protein, lemak dan kar-

bohidrat) menjadi unit-unit yang siap dire-

sorpsi tubuh. Proses pencernaan ini dibantu 

oleh enzim-enzim pencernaan yang ada  

pada ludah, getah lambung dan getah pankreas. 

Produk-produk hasil pencernaan yang ber-

manfaat bagi tubuh beserta vitamin, mineral 

dan cairan, melintasi selaput lendir usus un-

tuk masuk ke aliran darah dan sistem getah 

bening.

A. STRUKTUR  

LAMBUNG-USUS

1. Lambung

Lambung merupakan suatu tabung elastis, 

yang lebar dan lunak dengan volume da-

lam keadaan kosong ±1,5 l. Sesudah makan, 

lambung dapat membesar sampai 30 cm pan- 

jangnya dengan volume 3-4 liter! Dindingnya 

terdiri dari 3 lapisan otot yang dari dalam 

diselubungi oleh selaput lendir dan dari luar 

oleh selaput perut. Otot-otot ini berfungsi 

menggerakkan peristaltik yang meremas ma-

kanan menjadi bubur. 

Lambung dibagi dalam tiga bagian, yaitu 

bagian atas (fundus), bagian tengah (corpus) 

dan bagian bawah (antrum) yang meliputi 

pelepasan lambung (pylorus). Selain otot pe-

nutup pylorus, di bagian atas lambung juga 

ada  otot melingkar lain, yakni sfingter 

kerongkongan lambung (katup gastro-oeso-

phagus). Sfingter itu  bekerja sebagai 

katup dan berfungsi menyalurkan makanan 

ke hanya satu jurusan, yaitu ke arah usus.

Dinding lambung terdiri dari tiga lapis, yang 

luar bersifat membujur, yang tengah sirkuler 

dan yang paling dalam otot polos. Sel-sel 

mukosanya menghasilkan berbagai senyawa, 

sebagai berikut:

Sel-sel utama(chief cells) di mukosa fundus 

mensekresi precursor enzim pepsinoge n; 

Sel-sel parietal ada  di dinding 

mukosa fundus dan corpus yang melalui 

histamin melepaskan HCl (asam lambung) 

dan hormon intrinsic factor. Sel-sel fundus 

lainnya membentuk pula hormon lapar 

ghrelin.

Sel-sel G ada  di mukosa antrum dan 

mengeluarkan hormon lambung gastrin.

Di lokasi ini ada  pula sel-sel mucus 

yang mensekresi lendir. 

Mucus terdiri dari glikoprotein (mucin) dan 

berfungsi melindungi epitel lambung terha-

dap efek buruk dari asam empedu dan obat-

obat merangsang seperti mis. alkohol, aspirin 

dan NSAIDs. Prostaglandin menstimulasi se-

kresi mucus, sedang  somatostatin yang 

diproduksi oleh sel-sel D dari pankreas meng-

hambat pelepasan gastrin dan histamin, se-

hingga sekresi asam lambung juga dihambat.

Fungsi lambung yaitu  sebagai penampung 

makanan dan di tempat inilah makanan 

diaduk secara intensif dengan getah lambung 

dan terjadi absorpsi (minimal) dari bahan 

makanan tertentu.

Proses pencernaan dimulai dalam mulut, 

tempat di mana makanan dihaluskan sam-

bil diaduk dengan ludah. Kelenjar liur men- 

sekresi enzim amilase (ptyalin) yang dapat 

menguraikan karbohidrat. Ludah juga me-

ngandung mucin, yang berfungsi “melu-

mas” makanan sehingga lebih mudah dite-

lan. Dalam kerongkongan (oesophagus), yang 

panjangnya ±25 cm, makanan kemudian 

didorong dengan gerakan peristaltik mela-

lui katup gastro-oesofagus (sfingter, otot ling-

kar) pada ujung oesophagus ke arah lam- 

bung. Gerakan berombak yang terdiri dari 

gerakan kontraksi dan relaksasi ini, ditim- 

bulkan oleh otot-otot pada dinding esofagus.

* Getah lambung. Adukan makanan dalam 

lambung diremas sampai sempurna menjadi 

bubur (chymus) oleh gerakan peristaltik. Aki-

bat tekanan makanan pada dinding lambung, 

mukosanya melepaskan hormon gastrin, 

yang berfungsi merangsang sekresi getah 

lambung, khususnya HCl dan pepsinogen, 

lagi pula menstimulasi fungsi-fungsi motorik 

lambung. 

Mukosa lambung memiliki berjuta-juta 

kelenjar kecil yang menghasilkan getah lam-

bung sebanyak ±3 l per hari dengan der-

jajat keasaman antara pH 0,9 - 1,5 . Getah ini 

terdiri dari HCl, pepsin dan lendir. Sekresi 

ini juga dipicu melalui stimulasi N. vagus dan 

diprodusirnya asetilkolin pada saat orang 

melihat atau mencium makanan. Alkohol dan 

kopi juga dapat menstimulasi sekresi gastrin 

melalui efek langsung terhadap mukosa 

lambung. Hasilnya yaitu  peningkatan nafsu 

makan dan daya pencernaan.

Asam lambung terbentuk di sel-sel parieta l 

dan berfungsi membantu pencernaan dan 

mengaktivasi pepsin, yang hanya efektif da-

lam lingkungan asam. Fungsi lainnya yaitu  

membunuh kuman yang masuk bersamaan 

dengan makanan.

Pepsinogen merupakan prekursor dari 

enzim proteolitik pepsin, yang disintesis oleh 

sel-sel utama.

Lendir berfungsi sebagai suatu rintangan/

pelindung (barrier) mekanis (dengan kete-

balan ±500 mu) pada permukaan lambung 

dan duodenum proksimal, tahan asam dan 

tahan pepsin, yang kedua-duanya dapat me-

rusak jaringan lambung. 

Glukokortikoida (lihat Bab 46, ACTH dan 

Kortikosteroida) mengurangi sekresi mucus, 

mengubah susunannya dan dengan mele- 

mahkan barrier ini memicu  predis-

posisi bagi tukak lambung. Hal ini yaitu  

efek samping yang potensial berbahaya dari 

pemakaian  kortikoida untuk jangka waktu 

lama.

Gambar Seksi III-1: Lambung dan duodenum, sel-sel sekresi getah lambung.

Intrinsic factor yaitu  suatu glikoprotei n 

dengan berat molekul 60.000, yang juga 

dibentuk oleh sel-sel parietal. Zat ini mutla k 

diperluka n untuk absorpsi vitamin B12 dari 

usus halus. Caranya yaitu  melalui pengi-

kata n vitamin B12 dan mengangkutnya ke 

reseptor spesifik pada permukaan mukosa 

ileum. sesudah  diserap B12 langsung disalurkan 

ke sumsum tulang oleh protein pengantar 

transkobalamin II (TC II). Intrinsic factor 

tidak diserap, namun  tertinggal dalam rongga 

usus (lumen). Di dalam darah vitamin B12 

bersirkulasi terutama terikat pada TC I dan 

TC III.

* Kecepatan pengosongan lambung ke duo-

denum tergantung pada jenis makana n. 

Misalnya makanan yang mengandung ba-

nyak hidratarang meninggalkan lambung 

dalam waktu beberapa jam. Makanan yang 

terdiri dari banyak protein lebih lambat pe-

nerusannya ke usus, sedang  yang paling 

lambat yaitu  bila ada  banyak lemak. 

Faktor-faktor   psikis  juga memengaruhi 

sekresi getah lambung dan gerakannya. 

Keadaan tegang dan marah memper-

cepat sedang  perasaan cemas dan 

depresi mengurangi sekresi getah lambung 

dan memperlambat pengosongannya.

Efek “anti-mabuk” dari lemak. sebab  

lemak memperlambat pengosongan isi lam-

bung, ada sementara orang yang terlebih 

dahulu mengonsumsi makanan yang kaya 

akan lemak sebelum menghadiri suatu ja-

muan cocktail. Dengan demikian alkohol yang 

diminum akan diperlambat penyerap annya 

dalam lambung, sehingga kenaikan drastis 

dari kadar alkohol dalam darah de ngan efek 

buruknya dapat dihindari.

Perjalanan chymus

sesudah  chymus melewati pylorus, maka te-

rusan ini yang dikelilingi otot-otot melingkar, 

menutup kembali secara reflektoris sebab  

pengaruh keasaman. Di dalam usus chymus 

dinetralisir oleh alkali (natriumbikarbonat) dari 

getah pankreas dan empedu dari hati. Segera 

sesudah  netralisasi, pylorus terbuka lagi dan 

sebagian chymus dapat lewat. Dengan demi-

kian seluruh isi lambung berangsur-angsur 

disalurkan ke duodenum.

Getah pankreas. Dengan perantaraan enzim 

pankreas (pankreatin), pencernaan chymus 

diselesaikan. Enzim-enzimnya amilase, lipase 

dan trypsin menguraikan masing-masing zat 

hidratarang, lemak dan protein yang masih 

utuh.

Empedu setiap hari dibuat ±0,5–1 liter 

oleh hati, yang ditimbun secara berangsur di 

kandung empedu dan dipekatkan sampai 5-10 

kali. Sekitar 80-90% dari zat ini diabsorpsi 

kembali di ujung usus halus, sehingga setiap 

hari hanya sebagian kecil saja dari empedu 

harus disintesis. 

Empedu terdiri dari asam-asam empedu 

(garam kolat dan desoksikolat), glisin, taurin dan 

lesitin. Zat terakhir ini yaitu  esensial bagi 

proses emulsifikasi lemak dari chymu s untuk 

diubah menjadi butir-butir kecil yang mudah 

diserap. Empedu juga meningkatkan daya 

kerja lipase yang penting sekali dalam proses 

resorpsi vitamin yang larut dalam lemak, 

seperti vitamin A D, E dan K. Kekurangan 

empedu memperburuk absorpsi lemak de-

ngan terjadinya “diare lemak”. Di samping 

ini empedu juga mengandung zat-zat warna

empedu yang terdiri dari produk penguraian 

eritrosit, antara lain bilirubin. 

2. USUS hALUS

Panjangnya ±6 m dan di tempat ini berlang-

sung hampir seluruh proses pencernaan.

Usus halus terdiri dari 3 bagian utama, 

yakni  duodenum (usus duabelas jari) yang 

ber-bentuk huruf C, jejunum dan akhirnya 

ileum (ujung usus halus), yakni bagian 

tersempit dari usus halus.

a. Duodenum. Organ ini dibentuk dari otot-

otot luar membujur dan otot polos bagian 

dalam, panjangnya ±25 cm. Ujungnya ter-

s-ambung dengan jejunum dan selanjutnya 

dengan ileum. Penampang duodenum pada 

permulaan ±5 cm dan menyusut sampai se-

kitar separonya. Struktur dasar usus halus 

sama dengan lambung dan otot din dingnya 

memicu  gerakan peristaltik untuk 

meneruskan chymus. Di mukosa duodenum 

ada  kelenjar yang mensekresi lendir 

alkalis. Mucus ini menetralisasi asam lam-

bung bersamaan dengan getah pankreas dan 

empedu, yang melalui suatu saluran kecil 

(katup dari Oddi) masuk ke dalam duodenum.

Di bagian usus ini unsur-unsur makanan 

mulai dicernakan dan diserap oleh villi.

Fungsi pada sistem imun. Di samping fung-

si mencernakan makanan, duodenum juga 

memegang peranan penting pada sistem 

imun tubuh. Pada mukosanya ada  ke-

lompok sel yang disebut plak dari Peyer 

yang melalui limfosit B berperan pada 

pembentukan antibodi, khususnya imuno-

globulin A. IgA ini berperan penting pada 

daya tangkis imun. Lihat selanjutnya Bab 49, 

Dasar-Dasar Imunologi.

b. Jejunum dan ileum Jejunum yaitu  bagi-

an kedua dari usus halus (2,5 m) disusu l oleh 

bagian ketiga yaitu ileum yang panjangnya 

±3,5 m. Permukaannya sangat diperluas 

oleh lipatan-lipatan mukosa dan berjuta-juta 

jonjot-jonjot laksana jari-jari tangan kecil 

(villi). Tiap villi terdiri dari inti pembuluh 

darah, pembuluh limfe dan sel-sel dengan 

daya kerja absorpsi. Sel-sel ini berfungsi ha-

nya dua sampai tiga hari, lalu dilepaskan dan 

dikeluarkan lewat tinja.

Fungsi dari usus halus yaitu :

– pencernaan karbohidrat, protein dan le-

mak dengan bantuan enzim-enzim pen-

cernaan (disaccharidase, protease) yang di-

hasilkan oleh usus halus dan lipase dari 

pankreas;

– penyerapan dari bahan gizi (asam amino, 

asam lemak dan glukosa), vitamin yang 

melarut dalam air, mineral (kalsium, besi) 

dan sebagian besar air.

Kebanyakan unsur gizi masuk ke dalam 

sirkulasi darah dan melalui pembuluh besar 

(vena portae) diangkut ke hati dan seterusnya 

ke jantung dan sirkulasi besar. Asam lemak 

dan zat lipida lainnya, termasuk vitamin 

yang tidak melarut dalam air (vitamin A, D, E 

dan K) diserap melalui sistem limfe di bagian 

atas dari usus halus. Pencernaan berakhir 

bila chymus mencapai usus buntu (coecum). 

Di tempat ini zat-zat sampah yang tidak 

bermanfaat untuk tubuh dikumpulkan dan 

kemudian diteruskan ke usus besar.

3. USUS BESAR dAN 

REKTUM

Bagian pertama dari colon atau usus besar 

dinamakan coecum dengan umbai usus bun-

tu (appendix) pada dinding belakangnya. 

Panjangnya usus besar ±1,5 m dan terdiri dari 

bagian menaik (ascending), bagian mendatar 

(transversal), bagian menurun dan bagian 

sigmoid yang menghubungi usus besar de-

ngan bagian terakhirnya, yakni poros usus 

(rectum). Lihat gambar III-1.

Usus besar yang mukosanya dilapisi de-

ngan sel-sel epitel tanpa villi memiliki daya 

absorpsi kuat untuk cairan. Di tempat ini 

kebanyakan air yang tertinggal dalam chy-

mus diserap kembali, sehingga sisanya di-

padatkan. Bersama air juga natrium dan 

mineral diserap kembali. Dengan peragian 

tanpa oksigen (fermentasi anaerob) pencernaan 

diselesaikan dalam colon.

* Flora usus. Sejumlah besar kuman, sekitar 

1014 menghuni usus halus dan colon. Flora 

ini terdiri dari dua kelompok yang seimbang, 

yaitu jenis Lactobacilli (batang Gram-positif) 

yang membentuk asam laktat dan kuman 

Gram-negatif, a.l. Escherichia coli, Enterobacter 

aerogenes dan Enterococci. Fungsinya yaitu  

membantu perncernaan dengan mempro-

duksi enzim dan sintesis vitamin K, biotin dan 

B-kompleks. Selain itu juga membentuk lendir 

(mucus) dan memegang peranan penting 

pada sistem imun. Lihat selanjutnya Bab 49. 

Dasar-Dasar imunologi.

Akhirnya, sisa yang mengandung zat-zat 

yang tidak dapat dicernakan (serat-serat 

makanan: hemi/selulosa, lignin, sel-sel jonjot 

mati, kuman dan sedikit air) dikeluarkan 

sebagai tinja melalui poros usus (rectum) dan 

dubur (anus). Dubur memiliki katup internal 

dan eksternal yang berfungsi pada proses 

defekasi.

B. GANGGUAN SALURAN 

CERNA

Di saluran lambung-usus dapat timbul ber-

bagai gangguan yang berkaitan dengan pro-

se s pencernaan, resorpsi bahan gizi, transpor 

Seksi III: Obat-Obat Gangguan Saluran Cerna270

isi usus yang terlampau cepat (diare) atau 

terlampau lambat (konstipasi), serta infeksi 

usus oleh mikroorganisme.

Dalam bab-bab berikut akan dibahas se-

jumlah obat penting yang dipakai  pada 

Tabel Seksi III-1: Enzim-enzim pencernaan yang terpenting

pengobatan gangguan itu , yaitu anta-

sid a dan obat tukak lambung/usus, obat 

pengua t cerna untuk memperbaiki pencerna-

an, obat antimual, obat diare dan obat pen-

cahar terhadap sembelit.


OBAT-OBAT LAMBUNG


A. PENYAKIT SALURAN 

LAMBUNG-USUS

Penyakit saluran cerna yang paling sering 

terjadi yaitu  radang kerongkongan (reflux 

oesophagitis), radang mukosa lambung (gas-

tritis), tukak lambung-usus (ulcus pepticum) 

dan kanker lambung-usus. Gangguan usus 

seperti penyakit Crohn, colitis, polip-polip, 

divertikel, IBS dan wasir pada hakekatnya 

tidak termasuk dalam bab ini dan hanya 

sekadar disinggung untuk melengkapi. Sebe-

lum membahas obat-obat yang dipakai  

untuk mengobati penyakit-penyakit itu , 

untuk lebih mendapatkan pengertian yang 

baik, terlebih dahulu akan dibahas secara 

singkat  etiologi, gejala, sifat-sifat lain dan pe-

nanganannya. 

1. Radang Kerongkongan (oesopha-

gitis)

Seperti telah diuraikan di atas, kerong kongan 

tahan terhadap ludah, namun  peka terhadap 

getah lambung dan getah duodenum. Bila 

otot penutup cardia (di permulaan lambung) 

tidak menutup dengan sempurna dan pe- 

ristaltik tidak bekerja dengan baik, dapat ter-

jadi aliran balik dari isi lambung ke oesofagus. 

Bila reflux ini berlangsung sering atau untuk 

jangka waktu yang cukup lama, mukosa 

dapat dirusak oleh asam lambung-pepsin. 

Luka (erosi) yang timbul berubah menjadi 

peradangan (oesophagitis) dan akhir nya dapat 

berkembang menjadi tukak. 

Gejalanya berupa perasaan terbakar (pyro-

sis, heartburn) dan perih di belakang tulang 

dada, yang disebabkan sebab  luka-luka mu- 

kosa bersentuhan dengan makanan atau mi- 

numan yang merangsang (alkohol, sari buah, 

minuman bersoda). Timbul pula rasa asam 

atau pahit di mulut akibat mengalirnya kem-

bali isi lambung (reflux). Sebagai reaksi ter-

hadap rangsangan asam itu pada mukosa 

oesofagus secara otomatis akan timbul se-

kresi ludah. Sifat alkalis dari ludah selan-

jutnya akan menetralisasi keasaman getah 

lambung. namun  bila refluxnya terlalu ba nyak 

mekanisme perlindungan itu  tidak 

mencukupi. 

Penderita dengan gejala reflux parah me-

miliki ±8 kali kemungkinan mendapatkan 

kanker kerongkongan (adenokarsinoma) de-

ngan risiko yang tambah besar seirin g denga n 

frekuensi dan parahnya gejala tersebu t.

Terapi. Tindakan umum yang perlu diamati 

yaitu  menaikkan bagian kepala tempat tidur 

dengan 10-15 cm, juga jangan me ngenakan 

pakaian ketat atau membungkukkan badan 

ke depan. Pengobatan terdiri dari zat-zat 

yang menetralisasi asam lambung (antasida), 

obat penghambat produksi asam (H2-blockers 

dan penghambat pompa-proton) atau obat yang 

menstimulasi peristaltik lambung (prokinetika, 

propulsiva). Antasida bekerja cepat, namun  

efeknya hanya bertahan singkat.

2. Radang lambung (gastritis)

Bila mukosa lambung sering kali atau dalam 

waktu cukup lama bersentuhan dengan alir- 

an balik getah duodenum yang bersifat al-

kalis, peradangan sangat mungkin terjadi 

dan akhirnya malah berubah menjadi tukak 

lambung. Hal ini disebabkan mekanisme penu-

tupan pylorus tidak bekerja dengan sempurna, 

sehingga terjadi refluks itu . Mukosa 

lambung dikikis oleh garam-garam empedu dan 

lysolesitin (dengan kerja detergens). Akibat-

nya timbul luka-luka mikro, sehingga getah 

lambung dapat meresap ke jaringan-jaringan 

dalam dan memicu  keluhan-keluhan. 

pemicu  lain yaitu  hipersekresi asam se-

hingga dinding lambung dirangsang secara 

terus-menerus dan akhirnya dapat terjadi 

gastritis dan tukak. Sekresi berlebihan dapat 

merupakan efek samping dari suatu tukak 

usus yang, agak jarang disebabkan oleh suatu 

tumor di pankreas (gastrinom atau Sindrom 

Zollinger-Ellison) dengan pembentukan gas-

trin yang menstimulasi produksi asam.

Akhirnya gastritis dapat pula disebabkan 

oleh turunnya daya tahan mukosa, yang dalam 

keadaan sehat sangat tahan terhadap sifat 

agresif HCl-pepsin. Keutuhan dan daya-

regenerasi sel-sel mukosa dapat diperlemah 

tidak saja oleh sekresi HCl berlebihan, namun  

juga oleh obat-obat NSAIDs, lihat Bab 21, 

Analgetika antiradang. Juga kortikosteroida 

dan alkohol dalam kadar tinggi dapat me-

rusak barrier mucus lambung dan mengaki-

batkan perdarahan. 

Gejala-gejala umumnya tidak ada atau ku-

rang nyata, kadangkala dapat berupa gang-

guan pada pencernaan (indigesti, dispepsia), 

nyeri lambung dan muntah-muntah akibat 

erosi kecil di selaput lendir. Adakalanya ter-

jadi perdarahan.

Penanganan hanya dengan menghindari 

pemicu -pemicu  itu  di atas dan ma- 

kanan yang merangsang (cabe, merica), juga 

hindari makan terlalu banyak seka ligus. Pe-

ngobatan spesifik tidak diperlukan, kadang-

kadang hanya diberikan H2-blockers untuk 

mengurangi sekresi asam.

3. Tukak lambung-usus 

(ulcus pepticum)

Selain gastritis masih ada  banyak fak-

to r lain yang memegang peranan pada 

terjadinya tukak lambung usus. Hanya ±20% 

dari semua tukak terjadi di lambung (ulcus 

ventriculi), bagian terbesar (2-3 kali) terjadi 

di usus duabelas jari (ulcus duodeni). Orang 

berusia antara 20 dan 50 tahun (terutama juga 

lansia) sering kali men derita tukak lambung/

usus dan empat kali lebih banyak pada pria 

daripada wanita. Rata-rata 90% dari semua 

tukak lambung diakibatkan oleh infeksi ku-

man H. pylori, dibandingkan dengan 100% 

dari tukak usus.

a. Tukak lambung. Selain disebabkan oleh in-

feksi Helicobacter pylori dengan peradangan 

dan kerusakan sel sebagai pemicu  utama, 

masih ada beberapa faktor ulcerogen yang 

menstimulasi terjadinya tukak lambung. 

* ada nya gastritis kronis seperti di urai-

kan diatas

* gangguan motilitas lambung, khususnya ter-

hambatnya peristaltik dan pengosongan 

lambung

* stress, ketegangan psikis dan emosional 

dengan produksi kortisol berlebihan dan 

merokok

b. Tukak usus. Duodenum tahan terhada p 

garam empedu, lisolesitin dan tripsin, namun  

peka terhadap asam. Akibat hi per reaktivi-

tas lambung, gangguan motilitas dan/atau 

gangguan fungsi pylorus, isi lambung yang 

asam dapat diteruskan ke usus terlampau 

cepat dan dalam jumlah berlebihan. Bila 

mukosa duodenum untuk jangka waktu 

lama bersentuhan dengan asam itu , 

timbullah radang usus halus (duodenitis) dan 

kemudian tukak duodenum. Fungsi bikar-

bonat dari getah pankreas yaitu  untuk 

menetralisasi asam itu . Oleh sebab  itu 

pada patogenesis tukak usus, asam lambung 

memegang peranan utama: lazimnya tukak 

usus disertai hiperaciditas di bagian prok-

simal duodenum. Hal ini berlainan dengan 

tukak lambung pada mana derajat asam yaitu  

normal atau bahkan lebih rendah daripada 

orang-orang sehat.

* Helicobacter pylori memproduksi urease, 

berbentuk spiral dengan 4-6 benang cambuk, 

yang mengikat diri pada bagian dalam 

selaput lendir. Bila kuman memperbanyak 

diri terbentuklah sa ngat banyak enzim dan 

protein toksik yang merusak mukosa. Khu-

susnya urease, yang mengubah urea menjadi 

amonia dan air. Amonia menetralisasi HCl, 

yang juga toksik bagi mukosa. Bagian-ba-

gian yang rusak itu  tidak dilindungi 

lagi oleh barrier mucus dan dapat “dikikis” 

oleh HCl (dan pepsin). Akibatnya yaitu  

reaksi peradanga n mukosa kronis (gastritis, 

duodenitis) yang biasanya  berlangsung 

tanpa gejala dan bertahan seumur hidup. 

Hanya pada 10-20% dari pasien gastritis 

berkembang menjadi tukak.

Pada tes napas urea, pasien diberi urea dalam 

makanannya, yang oleh H. pylori dipecah 

menjadi amoniak dan karbondioksida. Gas 

ini dapat dideteksi dalam napasnya berda-

sarkan reaksi kimia yang berlangsung dalam 

lambung sebagai berikut:

Tes ini mudah, cepat dan digunaka n se bagai 

screening-test yang memiliki kepeka an tinggi 

(98%) dan sangat spesifik (95%). Pemeriksaan 

ini juga dilakukan untuk mendapatkan ke-

pastian bahwa kuman H.pylori telah dibe-

rantas dengan tunta s sesudah  pengobatan 

eradikasi (lihat di bawah).

Diagnosis baru ditetapkan dengan pasti me-

lalu i pemeriksaan gastroduodenoscopy dengan 

penelitian mikroskopis dan biakan dari ja- 

ringan (biopsi). Di samping itu, masih diper-

lukan tes-tes tambahan berupa tes terhadap 

antibodies dalam darah terhadap H. pylori (tes 

ELISA).    

Gejala. Pada tukak lambung gejala per-

mulaan berupa perasaan terbakar dan pe-

rih di lambung 15-60 menit sesudah  makan, 

adakalanya memancar ke punggung. Pada 

tukak usus rasa nyeri terbakar timbul lebih 

lambat, yakni 1-4 jam sesudah  makan, jadi 

lazimnya pada perut agak kosong ataupun pada 

waktu malam. Sebagai komplikasi dapat terjadi 

perdarahan lambung dan perforasi (terjadinya 

lubang di dinding lambung). Penderita akan 

kehilangan darah yang tampak sebagai tinja 

hitam (melaena), merasa letih dan timbulnya 

anemia. Pengosongan isi lambung yang 

lambat juga akan memicu  perasaan 

kembung dan mual.

NH2 – C = O – NH2 + H2O     →  2 NH3 + CO2

 urea urease

  (H.pylori)

Tindakan umum terpenting yang harus di-

taati oleh penderita tukak lambung-usus 

yaitu  makan tiga kali sehari pada waktu-

waktu tertentu, agar obat dapat diminum 

secara tertentu pula. Harus menghindari 

makanan yang menstimulasi produksi asam, 

seperti makanan pedas, alkohol dan kafein (ko-

pi, teh, cola); merokok mutlak harus dihen-

tikan sama sekali. Di sam ping itu pola hi-

dup harus tenang dengan menjauhkan ke-

sibukan, kegelisahan dan faktor stress seba-

nyak mungkin serta memper hatikan cukup 

istirahat dan hiburan.

Penanganan. Dahulu sering kali dilakukan 

pembedahan reseksi atau vagotomi untuk 

menyembuhkan tukak. Pada vagotomi selektif 

cabang-cabang saraf vagus (saraf otak ke-

Helicobacter pylori dan tukak lambung-usus. 

H. pylori yaitu  kuman Gram-negatif yang ditemukan di seluruh dunia pada hampir separuh dari 

semua orang sehat, terutama pada lansia dan anak-anak kecil. Ternyata di negara-negara berkembang 

banyak infeksi sudah terjadi pada usia kanak-kanak melalui fekal-oral. Antara insidensi infeksi dan 

status sosial-ekonomi rendah ada  hubungan erat, yang berkaitan dengan keadaan higiene yang 

kurang baik.

Pada tahun 1982 dua dokter Australia R.Warren dan B.Marshall menemuka n, bahwa H.pylori yaitu  

pemicu  tukak lambung dan tukak usus. Pada permula an mereka tidak dipercaya oleh dunia 

kedokteran, sebab  saat itu dianggap tukak diperkirakan akibat produksi asam berlebihan ditambah 

dengan kebiasa an makan yang keliru dan stres. Walaupun tersedia banyak zat baru penghambat asam 

yang memang mampu menyembuhkan penyakit, namun tukak selalu kambuh kembali. Penemuan 

baru ini merupakan “revolusi” dalam pengobat an tukak lambung-usus, sebab  menunjuk kan bahwa 

tukak sebetulnya yaitu  suatu penyakit infeksi kuman yang dapat disembuhkan tuntas de ngan 

antibiotika. Pada separuh orang H.pylori ada  dalam lambung tanpa memicu  keluhan. 

Hanya pada 10-15% berkembang menjadi tukak.

Warren dan Marshall pada bulan Oktober 2005 dianugerahi hadiah Nobel ilmu kedokteran umtuk 

penemuannya. 

sepuluh) di bagian atas lambung yang mem-

berikan rangsangan untuk sekresi asam, 

diputus secara selektif. Tukak sembuh de-

ngan persentase kambuh ringan sekali (2% 

setahun). Keberatan vagotomi ini yaitu  sifat 

invasifnya bagi pasien dan biayanya yang 

relatif tinggi.

Pengobatan lazimnya dilakukan dengan 

sejumlah obat yang hanya bekerja simtomatis, 

yaitu meringankan gejala-gejalanya dengan 

jalan menurunkan keasaman isi lambung 

(antasida, H2-blockers, penghambat pompa-pro-

ton, antikolinergika) atau obat yang menutupi 

tukak dengan lapisan pelindung (bismut). 

Pengobatan dengan penghambat sekresi 

asam (H2-blockers dan proton-pump inhibitors) 

dapat menyembuhkan tukak namun  harus 

dilakukan beberapa tahun untuk menghin-

dari kambuhnya penyakit. Namun persentase 

residif berjumlah sampai 30% setahun.

Terapi eradikasi Helicobacter. Baru sejak 

permulaan tahun 1990-an dikembangkan te-

rapi kombinasi dari tiga atau empat obat 

untuk mengeluarkan Helicobacter dari lam-

bung secara definitif dan menyembuhkan 

tukak praktis seluruhnya dalam waktu 

singkat (1-2 minggu). sesudah  eradikasi jarang 

sekali timbul residif. Lagi pula biayanya 

jauh lebih rendah daripada cara penanganan 

lainnya. Oleh sebab  itu kini cara ini 

dianggap sebagai terapi pilihan pertama dan 

semua penderita tukak lambung dan usus 

dianjurkan untuk menjalani terapi ini.  

Kombinasi dari hanya dua obat (dual the-

rapy) ternyata mencapai eradikasi yang lebih 

rendah, misalnya klaritromisin + lansoprazol 

selama 14 hari efektif untuk rata-rata 74%.

a. Triple therapy yang dewasa ini ba nyak 

dipakai  yaitu  kombinasi dari 2 antibio-

tika dan suatu proton-inhibitor selama satu 

minggu, misalnya metronidazole 400 mg + 

klaritromisin 500 mg + omeprazole 20 mg. 

Atau juga amoksisillin 1 g + klaritromisin 

500 mg + omeprazole 20 mg 2 kali sehari 

Kombinasi klasik terdiri dari amoksisilin atau 

tetrasiklin + metronidazol + sediaan bismut.

b. Quadruple therapy biasanya dipakai  

bila triple therapy kurang efektif dan men-

cakup 4 obat dari kedua kelompok itu . 

Misalnya omeprazol 2x 20mg, bismutsubsalisilat 

(BSS) 4x 120 mg, metronidazol 3x 500 mg dan 

tetrasiklin 4x 500 mg selama 1-2 minggu.

Ikhtisar dari banyak kombinasi lain dengan 

efektivitasnya dimuat dalam artikel dari 

Wermeille. Eradikasi dari H. pylori pada pen-

derita yang tukak lambung/ususnya telah 

sembuh ternyata bisa menghindari kambuh-

nya penyakit. Di samping itu juga dipakai  

obat-obat yang memperkuat peristaltik (dom-

peridon, metoklopramida).

4. Kanker lambung

Kanker lambung yaitu  sejenis kanker sa-

luran cerna dengan insidensi paling tinggi. 

Menurut data 20% dari semua jenis kanker 

terjadi di saluran lambung usus. Sekitar 10% 

dari kanker lambung berupa limfoma (non-

Hodgkin), yakni terdiri dari jaringan-jaring-

a n limfoid (mirip jaringan kelenjar limfe) 

yang tidak ada  di lambung sehat.

Akhir tahun 1997 telah dibuktikan bahwa 

Helicobacter pylori juga memegang peranan 

kausal pada semua tumor ini ; banyak peng-

idap kanker lambung semula mende rita tukak 

lambung. Kuman H. pylori melalui gastritis 

kronis dan atrofia sel diperkirakan berang-

sur-angsur memicu  berkembangnya 

tumor ganas. Pembedahan dan radiasi kini 

tidak diperlukan lagi sebab  kuman dapat 

dibasmi tuntas dengan antibiotika. Faktor 

risiko akan kanker lambung meningkat de-

ngan a.l. merokok, alkohol dan makanan 

yang mengandung banyak garam dan nitrat. 

Lihat selanjutnya Bab 14, Sitostatika.

PENYAKIT SALURAN 

PENCERNAAN LAINNYA

ada  sejumlah gangguan saluran cerna 

lain kh