Cl)2] atau senyawa
klor organik tosilkloramid (kloramin,
Halamid) dan halazon. Semua antiseptika ini
bekerja berdasar pelepasan klor.
Klor tidak dipakai lagi sebagai anti-
septikum untuk luka terbuka, sebab terlalu
merangsang, kecuali untuk “melarutkan”
jaringan mati dari borok terbuka yang bau
dengan banyak necrosis (Eusol = Dakin + pa-
rafin). pemakaian utamanya yaitu seba-
gai desinfektans lantai, air minum dan
kolam renang (konsentrasi 0,5-20 ppm klor,
tergantung dari adanya zat-zat organik).
1d. Klorheksidin: Hibitane, *Pravlon.
Senyawa biguanida ini (1954) yaitu sa-
lah satu antiseptikum terbaik dengan kha-
siat bakterisid (Gram-positif dan Gram-
negatif) dan fungisid yang khasiat serta luas
spektrumnya menyerupai iod. Spektrum
ker-janya meliputi kuman-kuman “sukar”
Stafylococcus aureus, Pseudomonas dan
Proteus. Kurang efektif terhadap basil
tbc/lepra, spura dan virus. Efeknya lebih
lambat daripada iod, misalnya larutan 0,1%
baru efektif dalam 10 menit. Khasiatnya
paling kuat pada pH netral atau alkalis dan
berkurang dengan adanya zat-zat organik
dan sabun. Efektivitasnya juga dikurangi
oleh tanin (asam tanat, asam samak), maka
botol dengan larutan klorheksidin sebaiknya
jangan ditutup dengan sumbat gabus, namun
dengan karet atau plastik.
Keuntungannya. Bila dibandingkan de-
ngan iod, ada beberapa keuntungannya:
tidak berwarna, mudah larut dalam air se-
hingga tidak perlu dipakai alkohol dan
tidak merangsang. Sebagai desinfektans
mulut obat ini mencegah terbentuknya
plak gigi dan berkhasiat melarutkan se-
bagian plak yang sudah ada. berdasar
sifat baik ini klorheksidin sekarang ba-
nyak dipakai untuk penanganan luka
(larutan, spray, krem, salep, bedak tabur),
dalam obat kumur untuk desinfeksi mulut
dan tenggorok (0,05%) serta dental (gel 1%).
Begitu pula dalam tetes mata dan untuk
desinfeksi kulit utuh (0,1-1,5%) sebelum in-
jeksi, dan sebagai bilasan vaginal (0,2 mg/
ml). Untuk mempercepat mulai kerjanya,
biasanya dipakai larutan dalam alkohol
50%, yang juga lebih efektif terhadap in-
feksi fungi daripada larutan air. Dalam tablet
hisap (2,5 mg garam HCl, setiap jam 1 tablet)
berguna untuk pengobatan nyeri (infeksi)
tenggorok.
Efek sampingnya pada pemakaian seba-
gai obat kumur yaitu timbulnya warna
cokelat pada gigi dan memengaruhi rasa.
Bila dipakai pada mata, obat ini dapat
diserap oleh lensa kontak lembut dengan
memicu reaksi alergi. Dalam tetes te-
linga (0,5%) dapat memicu ketulian
(neurotoksik), oleh sebab itu tidak diguna-
kan lagi.
* Sediaan:
– Hibiscrub: larutan 4% (diglukonat) untuk
mencuci dan desinfeksi tangan prabedah;
– Sterilon: diglukonat 10mg/g, krem dan
spray kulit.
– Pravlon, Hibicet: larutan glukonat 1,5% +
setrimida 15% untuk desinfeksi luka dan
alat kedokteran.
1e. Heksaklorofen: G11, Dermisan, *Topicide.
Derivat bifenol dengan 6 atom klor ini
(1948) berkhasiat bakterisid terhadap teruta-
ma kuman Gram-positif (stafilokok) dan juga
bekerja fungistatik. Kurang aktif terhadap
bakteri Gram-negatif dan spura; Pseudomonas
dan Salmonella sudah resisten. Daya kerjanya
lambat sekali dan paling kuat di lingkungan
asam lemah, aktivitasnya dikurangi oleh
darah, zat organik, namun tidak oleh sabun.
pemakaian . sebab sifatnya yang tidak
merangsang sering kali dipakai dalam
sabun antiseptik. Bila sabun ini dipakai se-
cara teratur, obat akan diadsorpsi dan ditim-
bun oleh lapisan-atas kulit dan mengaki-
batkan berkurangnya flora normal. Sifat
kumulasinya menyerupai iod, lihat di atas.
Oleh alkohol atau pemakaian sabun lain,
timbunan itu dapat hilang. Selain itu,
zat ini banyak pula dipakai dalam krem,
bedak tabur atau lotion sebagai antiseptikum
umum. Dermisan (larutan 3,15%) dipakai
sebagai scrub tangan sebelum pembedaha n.
Efek samping. pemakaian sediaan ini harus
dengan sangat hati-hati, sebab obat yang
diadsorpsi kulit, terutama pada kulit yang
terluka dan pada bayi, dapat memicu
keracunan sistemik yang mungkin saja
fatal (kerusakan SSP). Oleh sebab itu di
banyak negara sediaan obat dan kosmetika
tidak boleh mengandung lebih dari 0,5%
heksaklorofen. Sediaan dengan lebih dari
0,75% heksaklorofen hanya dapat diperoleh
atas resep dokter (A.S. 1973).
1f. Klorksilenol: klordimetilfenol, Dettol
Zat ini dipakai sebagai larutan 16 mg/
ml dalam air atau alkohol untuk desinfeksi
kulit. Bekerja bakterisid atau bakteriostatik
dengan spektrum kerja yang lebih sempit
daripada klorheksidin. Efektif terhadap
streptokok, namun kurang efektif terhadap
stafilokok dan tidak efektif terhadap kuman
Gram-negatif (Pseudomonas, Proteus). Kha-
siatnya berkurang bila ada darah atau
serum. dipakai dalam sabun, lotion dan
serbuk untuk desinfeksi tangan (larutan 3%
dalam air) dan luka (5%). Efek sampingnya
berupa dermatitis kontak (alergi).
1g. Triklosan(Phisohex)
Senyawa diklorfenoksi ini berkhasiat bak-
teriostatik terhadap kuman Gram-positif dan
Gram-negatif. Praktis tidak aktif terhadap
Pseudomonas, ragi dan jamur. dipakai
dalam emulsi 2% sebagai sabun pada acne
dan luka/borok, sabun 7,5 mg/g (Cidal) atau
krem.
1h. Triklokarban (triklorkarbanilida, *Scabex)
Derivat ureum ini berkhasiat bakteriosta-
tik kuat terhadap terutama kuman Gram-
positif dan kurang aktif terhadap kuman
Gram-negatif dan fungi. Sabun tidak meng-
inaktifkan zat ini, maka sering kali dipakai
dalam sabun antiseptik (lihat di bawah).
Kadang-kadang juga dipakai sebagai sa-
lep kulit terhadap kudis (*Scabex). Efek sam-
pingnya berupa fotosensibilisasi, necrosis
kulit dan pigmentasi pada muka sebab
alergi kontak.
2. SeNYAWA FeNOL
2a. Fenol (F.I.): karbol, acidum carbolicum
Fenol merupakan salah satu antiseptikum
tertua (Lister, 1870) dengan khasiat bakterisid
dan fungisid, juga terhadap basil TBC dan
spura, walaupun memerlukan waktu yang
lebih lama. Mekanisme kerjanya berdasar
denaturasi protein sel bakteri, yaitu perubahan
rumus bangunnya sehingga sifat khasnya
hilang. Khasiatnya dikurangi oleh zat organik
dan ditiadakan oleh sabun, sebab dengan
alkali terbentuk fenolat inaktif. sebab sifat
mendenaturasi juga berlaku untuk jaringan
utuh manusia, fenol berdaya korosif (“mem-
bakar”) terhadap kulit dan sangat merang-
sang, sehingga jarang dipakai lagi se-
bagai antiseptikum kulit. berdasar sifat
anestetik lokalnya, kadang-kadang senyawa
ini dipakai dalam lotion anti gatal, mi-
salnya lotio alba.
* Kresol (cresolum crudum, *Lysol) yaitu de-
rivat metil dengan minimal 50% meta-kresol,
khasiatnya 3 kali lebih kuat daripada fenol,
sedang toksisitasnya sama. dipakai
sebagai desinfektans rumah tangga dan
peralatan, misalnya Lysol (= campuran 1:1
dengan sapo kalinus) dan kreolin (= larutan
±15% dalam sabun damar). Beberapa senya-
wa fenol yang tersubstitusi, misalnya tri-
klosan dan heksaklorofen, dapat diproses
dalam sabun, sebab praktis tidak merang-
sang kulit.
* Diklorbenzilalkohol (amilmetakresol) be-
kerja antiseptik dan dipakai dalam tablet
hisap (Strepsil) terhadap sakit tenggorok.
Dosis: setiap jam 1 tablet, maks. 8 tablet
sehari.
* Albothyl: produk kondensat dari asam
metakresolsulfonik dan metanal.
Untuk membersihkan dan regenerasi ja-
ringan pada luka, luka bakar, dan stomatitis
aphthosa (seriawan). Juga terhadap vaginosis
bakterial, kandidiasis dan trichomoniasis.
2b. Resorsinol (F.I.): metadioksibenzol, resor-
sinum.
Khasiat bakterisidnya sama dengan fenol,
namun 3 kali lebih lemah. Senyawa difenol
ini dipakai pada gangguan kulit (eksem,
psoriasis, dan sebagainya) dalam salep atau
lotion 1-10%.
2c. Timol (metilpropilfenol) juga berkhasiat
kuat dan kadang-kadang masih dipakai
sebagai antiseptikum kulit (larutan 1% dalam
alkohol) dan mulut (sediaan obat gigi).
2d. Trinitrofenol (asam pikrat) yaitu zat ber-
warna kuning dengan khasiat bakterisid
dan anestetik lokal, yang dahulu sering
kali dipakai untuk mengobati luka bakar
(larutan 1%).
Awas: sangat eksplosif bila dipanaskan atau
digerus!
3. ZAT-ZAT DeNGAN AKTIVITAS
peRMUKAAN
Senyawa-senyawa ini merupakan derivat
amonium yang tersubstitusi dan memiliki
sifat menurunkan ketegangan permukaan
air. Senyawa organik ini dapat dibagi dalam
dua kelompok, yaitu zat-zat non-ionogen dan
zat-zat ionogen.
3a. Zat non-ionogen dalam larutan tida k
terurai menjadi ion. Aktivitas permukaannya
berdasar ada nya banyak gugus hi-
drofil (-OH) di dalam molekulnya sebagai
imbangan dari gugus lainnya yang bersifat
lipofil, seperti alkil dan benzil. Dalam kegiatan
farmasi zat-zat ini terutama dipakai se-
bagai wetting agents untuk membuat zat-
zat hidrofob (talk, belerang, dan lain-lain),
yang “tidak suka air“ menjadi lebih mudah
“dibasahkan“ dengan air. dipakai pula
sebagai emulgator pada pembuatan emulsi
dan krem, yakni emulgator O/W: Tween, me-
tilselulosa, CMC dan bentonit, atau emulgator
W/O: kolesterol (adeps lanae), lesitin dan Span.
Khasiat antibakterinya ringan.
3b. Zat ionogen. Dalam molekul zat-zat
ini juga ada bagian lipofil dan bagian
hidrofil (dalam hal ini -COO- atau -NH4
+),
yang dalam larutan terurai dalam ion-positif
dan -negatif. Zat-zat ini dapat dibagi dalam
senyawa anionaktif dan kationaktif.
1. Zat anionaktif (sabun, bahan pembersih
sintetik, Na laurilsulfat), bagian molekulnya
mengandung gugus lipofil dan hidrofil
bermuatan negatif, yakni R-COO- (sabun)
atau R-SO3-. Zat-zat ini banyak dipakai
sebagai bahan pembersih sintetik dan
dalam shampo, sebab memiliki khasiat
bakteriostatik terhadap kuman Gram-
positif, sedang terhadap kuman
Gram-negatif tidak aktif.
2. Zat kationaktif (basa amoniumkwaterner),
molekul aktifnya bermuatan positif. Zat-
zat ini berkhasiat bakterisid kuat ber-
dasarkan inaktivasi enzim kuman, dena-
turasi protein dan perusakan membran-
nya. Daya kerjanya lebih kuat terhadap
kuman Gram-positif daripada terhadap
kuman Gram-negatif; tidak aktif terha-
dap Mycobacteriae, virus dan spura.
Efektivitas dari misalnya setrimida dan
benzalkonium (larutan 1-2 mg/ml) relatif
rendah terhadap bakteri Gram-negatif,
termasuk Pseudomonas aeruginosa. Khasiat
fungisid dan virusidnya tergantung dari
jenisnya. Daya kerjanya terkuat pada
lingkungan alkalis dan tidak aktif di
bawah pH 3.
3c. Sabun
Sabun yaitu garam natrium (sabun padat,
keras) atau kalium (sabun lunak) dari asam
lemak dan memiliki khasiat bakteriostatik
terhadap banyak kuman, a.l. Pseudomonas,
Proteus dan Salmonella. Sabun sama sekali
tidak aktif terhadap E. coli dan Stafilokokus
yang merupakan penghuni terbanyak pada
kulit manusia. sebab bersifat menurunkan
ketegangan permukaan air, kontak antara air
dan benda atau kulit yang akan dibersihkan
menjadi lebih erat. Lemak diemulsikan,
kotoran dan keringat disuspensikan untuk
kemudian dibersihkan dengan air pembilas.
Dengan demikian bila kulit, misalnya tangan,
dicuci dengan sabun secara baik selama
sekurang-kurangnya dua menit, maka lapisan
kulit luar dengan flora kuman (resident flora)
dapat dikeluarkan dengan efektif.
* Sabun antiseptik mengandung suatu anti-
septikum untuk memperkuat khasiat anti-
bakterinya. Untuk tujuan ini hanya beberapa
zat saja yang dapat dipakai , sebab pada
umumnya antiseptika diinaktivasi oleh sabun
yang bereaksi alkalis. Zat-zat yang dapat
mempertahankan aktivitasnya yaitu a.l.
heksaklorofen, bithionol dan triklokarban.
3d. Basa amoniumkwaterner: Quats.
Senyawa ini berkhasiat bakterisid dan
fungisid kuat terkecuali terhadap basil
TBC dan lepra, terhadap spura dan virus
kurang aktif. Daya kerjanya (larutan 0,1%)
lebih lambat daripada iod dan etanol 70%.
Aktivitasnya ditiadakan oleh zat-zat anion-
aktif, termasuk sabun dan dikurangi oleh zat-
zat organik, khususnya protein dan nanah,
serta oleh zat-zat non-ionogen tertentu
(Tween) dan logam, misalnya Fe, Al, magne-
sium dan kalsium (air ledeng!). Senyawa ini
mudah diadsorpsi pada permukaan berpori-
pori, maka larutannya sebaiknya jangan
dipakai dengan kapas atau bersentuhan
dengan karet. Toksisitas sistemiknya rendah
dan juga tidak merangsang.
pemakaian . Dalam kurun waktu 1940-
1970, quats sering kali dipakai sebagai
desinfektans kulit (0,1% dalam alkohol 70%)
untuk mencapai kerja residual guna des-
infeksi tangan sebelum pembedahan dan
juga untuk desinfeksi selaput lendir sebab
toksisitasnya rendah dan tidak merangsang.
Juga sebagai konservans obat tetes mata
(benzalkonium 0,01%) dan antiseptikum te-
nggorok (lozenges). pemakaian lainnya ada-
lah sebagai desinfektans peralatan (1%) de-
ngan penambahan natriumnitrit 0,5% untuk
mencegah timbulnya karat dan sebagai anti-
septikum pra-bedah (10% dalam etanol 70%).
Keberatan. Bila dipakai pada kulit, quats
membentuk suatu film pada mana kuman
bisa terus hidup. Lagi pula pada pemakaian
lama dapat terjadi resistensi. Dewasa ini
pemakaian nya sebagai desinfektans kulit
sudah banyak berkurang dengan diintro-
duksinya obat-obat dengan spektrum kerja
lebih luas dan daya kerja lebih efektif.
Quats yang paling banyak dipakai
yaitu :
benzalkoniumklorida (F.I.): Zephirol,
C6H5-CH2-NH2R Cl-
setrimida: setrimoniumbromida, *Pravlon,
*Lemocin lozenges
setilpiridiniumklorida: *Sentril lozenges
= spk 0,07% + dekualin 0,25 mg;
dekualiniumklorida: Degirol lozenges.
* akriflavin (F.I.): merupakan campuran dari
2 senyawa: diaminoakridin dan suatu quat
(diaminometilakridinium). Khasiatnya hanya
bakteriostatik lambat terhadap kuman
Gram-positif, namun kurang efektif terhadap
kuman Gram-negatif dan jamur. dipakai
untuk desinfeksi mulut dan tenggorok (3
mg dalam tablet hisap). Akriflavin tidak di-
inaktifkan oleh cairan tubuh, maka bergu-
na sebagai antiseptikum borok bernanah
(0,1%), begitu pula derivat akridin lainnya
ethakridin (Rivanol) yang dulu banyak di-
gunakan sebagai obat kumur pada sakit
tenggorok.
* Mecetronium (Sterillium): senyawa amo-
nium kwaterner dalam campuran isopropa-
nol dan n-propanol berkhasiat baktericid ter -
hadap mikroorganisme Gram-positif maupun
Gram-negatif. dipakai untuk desinfeksi
tangan dan lokasi pembedahan. Efeknya ber-
kurang oleh nanah dan darah.
4. ALKOHOL, ALDeHIDA dan
ASAM
4a. Etanol (F.I.): etilalkohol, alkohol, spiritus
(=90% etilalkohol)
Etanol dan juga isopropanol pada kadar
60-80% dalam air berkhasiat bakterisid dan
fungisid kuat; bekerjanya cepat (efektif da-
lam 2 menit). Spektrum kerjanya meliputi
kuman Gram-positif dan Gram-negatif, ter-
masuk basil tbc, namun tidak efektif terhadap
spora. Terhadap virus, misalnya hepatitis-B
dan enterovirus, dibutuhkan konsentrasi
yang relatif lebih tinggi (80-90%) dan dalam
lingkungan basa. Konsentrasi optimal untuk
efek bakterisid yaitu 70%, di atasnya men-
jadi kurang efektif sebab persentase air
terlalu sedikit untuk membasahkan kuman;
hal ini membuatnya kurang peka bagi daya
kerja bakterisid dari etanol. sebab cepat
menguap, maka pada kulit harus dikena-
kan sekitar 2 menit lamanya agar efeknya
maksimal. Di samping itu etanol juga me-
miliki dayakerja adstringens, oleh sebab
itu dipakai dalam lotion anti keringat.
Juga sering kali dipakai sebagai zat pem-
bantu pada sediaan farmasi. Untuk khasiat
dan efeknya pada pemakaian oral, lihat
Bab 23, Drugs.
Daya kerja etanol cepat, namun singkat
sebab bersifat menguap dan mekanisme
kerjanya berdasar denaturasi protein da-
lam lingkungan air. Untuk memperpanjang
efeknya sering kali dikombinasi dengan
klorheksidin, triklosan, heksaklorofen atau
quats (masing-masing 0,5%), terutama un-
tuk desinfeksi kulit atau tangan dokter be-
dah. Kombinasi ini meninggalkan sisa zat
antiseptik di atas kulit yang mampu memper-
lambat tumbuhnya kembali flora kulit (re-
sidual effect).
Efek sampingnya pada pemakaian lokal
berupa dermatitis kontak, urtikaria dan efek
sistemik sebab absorpsi melalui kulit. Guna
menghindari mengeringnya kulit pada peng-
gunaan yang terlalu sering, pada alkohol
ditambahkan zat-zat yang melunakkan kulit,
misalnya gliserol (0,5-1%). Alkohol berkhasiat
teratogen,wanita hamil yang minum banyak
alkohol dapat melahirkan bayi cacat. Alkohol
masuk ke dalam air susu ibu.
* Isopropanol (isopropilalkohol) lebih kuat
khasiat bakterisid dan fungisidnya serta
aktif pada konsentrasi lebih rendah (50-
70%). Sifatnya melarutkan lemak lebih kuat
hingga membuat kulit kering. Pada peng-
gunaan di kulit memicu vasodila-
tasi, se hing ga perdarahan di bekas injeksi
lebih banyak dari pada bila memakai
etanol. Isopropanol tidak dipakai dalam
minuma n, sebab 2 kali lebih toksik diban-
dingkan dengan etilalkohol dan rasanya
juga tidak enak. Merangsang kulit, alat per-
napasan dan mata.
* Propanol (propilalkohol) lebih kuat dan lebih
toksik lagi, maka terutama dipakai untuk
mendesinfeksi alat medik (kedokteran gigi)
sebagai larutan 20-25%.
* Fenetilalkohol (feniletanol) yaitu cairan
yang terutama aktif terhadap bakteri Gram-
negatif. Wanginya menyerupai kembang ma-
war, maka sering kali dipakai dalam mi-
nyak wangi. Senyawa ini juga dipakai se-
bagai konservans tetes mata (0,25-0,5%).
* Fenoksietanol yaitu cairan dengan kha-
siat bakteriostatik (konsentrasi 0,3-0.8%)
dan bakterisid (1,3-1,9%), terutama terhadap
Pseudomonas. Juga masih efektif bila terda-
pat serum. Kurang aktif terhadap bakteri
Gram-negatif lainnya dan tidak berkhasiat
terhadap bakteri Gram-positif. Zat ini khusus
dipakai pada luka ringan dan luka bakar
yang terinfeksi Pseudomonas aeruginosa dalam
sedia an larutan atau krem 2%, biasanya ber-
samaan dengan suatu anti septikum lain, se-
perti benzalkoniumklorida atau klorheksidin.
* Diklorbenzilalkohol (amilmetakresol) ter-
utama dipakai sebagai antisepticum teng-
gorok dalam tablet hisap (Strepsil).
4b. Formaldehida: methanal, formalin
Larutan gas ini dalam air (1-5%) berkha-
siat bakterisid, fungisid dan virusid, terma-
suk terhadap basil tbc, namun kerjanya rela-
tif lambat (beberapa jam). Terhadap spura
dibutuhkan waktu sekitar 8 kali lebih lama
lagi. Zat-zat organik mengurangi aktivitas-
nya sebab terbentuknya kompleks. Formal-
dehida memiliki sifat adstringens dan digu-
nakan sebagai obat anti-keringat untuk
kaki (10-20%). Selanjutnya zat ini hanya
dipakai sebagai desinfektans benda dan
konservans jaringan organik sebab sifat
merangsangnya dan baunya yang tajam.
Menjelang akhir tahun 2005 timbul kehe-
bohan mengenai pemakaian formalin seba-
gai pengawet makanan seperti mi basah, tahu,
bakso dan ikan laut. Zat ini sejatinya termasuk
bahan pengawet (a.l. mayat) yang dilarang
dipakai untuk makanan sesuai Peraturan
Menteri Kesehatan Nomor 722/1988, namun
secara sembunyi dipakai sejak bertahun-
tahun.
berdasar survey periodik Badan Penga-
wasan Obat dan Makanan (POM) terhadap
berbagai jenis produk pangan, diketemukan
makanan yang mengandung formalin sebagai
bahan pengawet. Hasil penemuan ini marak
diberitakan di media massa cetak maupun
elektronik dengan mengemukakan bahaya-
bahaya (laten) yang dapat ditimbulkan oleh
formalin, dari kerusakan hati, ginjal, saraf,
sampai kanker.
Dampak dari masalah ini sangat meme-
ngaruh i produsen maupun penyalur bahan
makanan itu yang dicurigai mengan-
dun g formalin, dengan akibat menu runnya
dengan drastis produksi maupun penjual-
annya.
– Formalin (Solutio Formaldehydi, F.I.) ada-
lah larutan HCOH 36%.
* Paraformaldehida (HCOH)3 yaitu polimer
padat yang pada pemanasan menghasilkan
gas HCOH. Senyawa ini dipakai untuk
sterilisasi tekstil, ruangan, alat-alat, dan
sebagainya pada kelembapan relatif udara
dari 70% atau lebih.
* Glutaral (glutaraldehida) yaitu di-aldehid a
dari pentan (1963), yang berkhasiat lebih kuat
dan cepat daripada HCOH; larutan 2% efektif
dalam lebih kurang 2 menit. Spektrum kerja-
nya sama luasnya, termasuk Pseudomonas
dan spura. Baunya tidak tajam, tidak bersifat
merangsang dan tidak dihambat oleh zat-
zat organik, sehingga larutannya banyak
dipakai sebagai desinfektans alat-alat dan
instrumen bedah. Pada larutan 2% dalam
isopropanol perlu dibubuhi bikarbonat 0,3%
untuk membuat pH basa (pH ± 8) dan hanya
aktif selama 14 hari! Larutan dengan pH
asam tidak bekerja sporosid.
4c. Asam asetat: acidum aceticum, asam cuka
Asam cuka pada konsentrasi 5% berkhasiat
bakterisid dengan spektrum luas dan ter-
utama sangat aktif terhadap Pseudomonas
dan Hemofilus, juga terhadap Candida albicans
dan Trichomonas, dua mikroorganisme yang
sering kali memicu vaginitis. Oleh
sebab itu, dahulu larutan asam ini banyak
dipakai sebagai bilasan vagina (0,25%).
Asam ini juga berkhasiat spermisid. Dalam
industri pangan dan di rumah tangga ba nyak
dipakai sebagai konservans makanan.
* Asam borat (F.I.) Asam ini pada konsentrasi
jenuh (±3%) berkhasiat bakteriostatik lemah.
Asam borat dapat diabsorpsi oleh kulit yang
rusak, terutama pada bayi dan anak kecil,
untuk kemudian ditimbun dalam tubuh
sebagai racun kumulatif. Oleh sebab itu
pemakaian nya dalam bedak tabur dan salep
tidak dianjurkan lagi. Sebagai obat cuci mata
sebaiknya dipakai larutan 2% (kurang
merangsang daripada 3%), ditambah dengan
benzalkoniumklorida 0,01% sebagai pengawet,
namun pengawet ini dapat memicu
mata berair dan peka terhadap cahaya.
* Asam benzoat dan asam salisilat: lihat juga
Bab 6, Antimikotika.
Asam salisilat berkhasiat keratolitik dan
sering dipakai sebagai obat ampuh ter-
hadap kutil kulit, yang berciri penebalan epi-
dermis setempat dan disebabkan oleh infek-
si dengan virus papova. Salisilat lebih efektif
daripada fluorurasil dan dinitroklorbenzen
(BMJ 2002;325:461-4). Sediaan terkenal yaitu
larutan asam salisilat 10% dan asam laktat
10% dalam collodium (Collodium ad verrucas).
* Asam mandelat: lihat Bab 8, Antiseptika
saluran kemih.
5. SeNYAWA LOGAM beRAT
Sejak zaman purbakala sudah diketahui bah-
wa air yang disimpan dalam bejana yang
dibuat dari perak tidak cepat “rusak”. Efek
germisid dari ion logam ini dalam kadar
rendah sekali disebut kerja oligodinamik
(Yun. oligo = sedikit). Walaupun tidak larut
dalam air, ion Ag+ dapat membunuh dengan
cepat semua kuman yang berada di dalam
bejana itu . Berkat khasiat germisid ini,
dahulu dalam pengobatan terutama digu-
nakan garam-garam air raksa dan perak
sebagai antiseptika, namun berhubung sifat
merangsangnya dan toksisitasnya, kini sudah
terdesak oleh antiseptika modern.
Khasiatnya berdasar pembentukan
kompleks dengan protein yang mengendap
dan perintangan enzim dengan gugusan -SH
dari bakteri maupun dari sel-sel manusia.
Khasiatnya dihambat oleh zat-zat organik.
5a. Merkuriklorida (F.I.): sublimat
Berkhasiat bakteriostatik dan fungistatik.
Sangat toksik bila termakan dan bersifat me-
rangsang pada pemakaian loka l, di samping
sering kali meng akibatkan reaksi alergi. Oleh
sebab itu merkuriklorida tidak dipakai
lagi sebagai antiseptikum kulit (larutan 0,1%
diberi warna biru sebagai tanda bahaya) atau
obat tetes mata (maks. 1: 4.000). Bagi logam-
logam lain bersifat korosi f.
5b. Merbromin: merkurokrom
Derivat dibrommerkuri dari fluorescein
(1930) bekerja bakteriostatik lemah ter-
hadap stafilokoki dan streptokoki, sehing-
ga tidak begitu bermanfaat sebagai anti-
septikum lokal. Mekanisme kerjanya
berdasar blokade dari enzim sulfhidril.
Daya kerjanya sangat dikurangi bila ada
zat-zat organik (nanah). namun berguna
sekali untuk mempercepat keringnya luka
dan pembentukan kerak (“korst“, granulasi).
Oleh sebab itu ada kalanya merbromin
masih dipakai pada bedah plastik
(larutan dalam air 5-10%).
5c. Fenilmerkurinitrat, -borat dan -asetat
yaitu senyawa-senyawa merkuri organik
dengan khasiat bakteriostatik dan fungisid
kuat, namun aktivitasnya diperlemah oleh
cairan tubuh. Oleh sebab itu dan juga sebab
toksik dan dapat memicu sensitasi,
sekarang senyawa ini tidak dipakai lagi
untuk desinfeksi luka dan kulit. Dewasa ini
fenilmerkurinitrat masih dipakai seba-
gai pengawet tetes mata (0,004%) dan ada-
kalanya sebagai spermisida dalam sediaan
kontraseptif. sebab toksisitasnya obat tetes
mata demikian sebaiknya jangan dipakai
untuk jangka waktu lama.
5d. Peraknitrat (F.I.)
Ion perak berkhasiat bakterisid kuat,
larutan 0,1% mampu membunuh bakteri
hanya dalam beberapa detik. Bersifat kaustik
(membakar) pada konsentrasi tinggi dan
adstringens pada konsentrasi rendah, di
samping meninggalkan noda-noda hitam di
kulit, sebab endapan logam perak. Sebagai
kaustikum dalam bentuk batang dipakai
untuk menghilangkan kutil (mole, wrat). Juga
dipakai untuk desinfeksi air yang optis
jernih.
Dahulu peraknitrat banyak dipakai da-
lam tetes mata (recentus paratus 1%) dan se-
bagai profilaktikum ter hadap gonore pada
bayi baru lahir. sebab dapat memicu
conjunctivitis, sejak lama diganti dengan se-
diaan benzilpenisilin.
5e. Silversulfadiazin: Flammazine, Darmazin,
Silvadene
Senyawa kompleks dari perak denga n
sulfa diazin ini memiliki daya kerja bakte-
risid kuat terhadap banya k bakteri, khu-
susnya Staphylococcus, Streptococcus, Kleb-
siella, E. coli, Proteus dan Pseudo monas.
Zat ini lambat laun terurai dalam sulfadia-
zin dan perak, yang memberikan sifat bak-
terisidnya. Silversulfadiazin sukar larut, ma-
ka tidak mengendapkan protein dan tidak
memicu noda-noda di kulit dan tidak
merangsang atau memicu rasa nye ri
pada pemakaian lokal (krem 1-3%). Jarang
dilaporkan efek samping alergi maupun
resistensi. Sangat efektif untuk peng obat-
an luka bakar parah. Lihat juga Bab 8, Sul-
fonamida.
5f. Sengsulfat (F.I.)
Berkhasiat bakteriostatik lemah dan ads-
tringens, juga bersifat emetik (memicu
muntah) pada dosis tinggi. dipakai dalam
tetes mata (0,5-2%) atau dalam obat kumur
dengan sengklorida sebagai adstringens. Per
oral sengsulfat dipakai untuk memper-
cepat penyembuhan borok terbuka (ulcus
cruris), terutama pada pasien dengan defi-
siensi seng. Penyembuhan dapat 2-3 kali
dipercepat dengan memberikan dosis oral 3
dd 200 mg selama maksimal 4 bulan. Untuk
pemakaian nya sebagai antioksidan, lihat
Bab 53, Vitamin dan Mineral.
* Sengoksida (F.I. stearat/karbonat basa)
bekerja bakteriostatik lemah dan banyak
dipakai dalam berbagai sediaan farmasi,
misalnya salep dan bedak tabur.
* Sengpirition yaitu sulfida dari hidrok-
sipiridin dengan khasiat bakteriostatik, fu-
ngistatik dan anti-seborrhoeic, yaktu merin-
tangi hipersekresi sebum dari kelenjar lemak
kulit. Zat ini terutama digunaka n dalam
shampo anti ketombe (1-2%) [seperti juga
selensulfida(Selsun)].
6. OKSIDANSIA
6a. Hidrogenperoksida (F.I.)
Hidrogenperoksida merupakan antisep-
tikum yang relatif lemah dengan kerja singkat,
sebab khasiat bakterisidnya berdasar
oksigen, yang dibebaskan pada kontak de-
ngan jaringan atau zat organik lainnya.
Sebagai larutan 3-6%, H2O2 berguna untuk
membersihkan luka yang kotor: oksigen
yang terbentuk membantu secara mekanis
pengeluaran jaringan mati dan bakteri. Obat
ini juga dipakai sebagai desinfektans dan
deodorans dalam obat kumur (1,5%) dan tetes
telinga (30 mg/ml) untuk mengeluarkan „tai
kuping“ (cerume n).
* Sengperoksida dan magnesiumperoksida
yaitu zat-zat padat dengan khasiat yang
sama. Senyawa ini dipakai sebagai de-
sinfektans lemah dan deodoran dalam pasta
gigi dan salep/suspensi pada luka bakar.
6b. Kaliumpermanganat
Dalam konsentrasi yang tidak merangsang
kulit (maksimal 1: 5.000) oksidator berwarna
ungu ini berkhasiat bakterisid dan fungisid
lemah. Daya kerjanya agak lambat (1:10.000
efektif dalam 1 jam), lagi pula singkat sebab
cepat direduksi oleh zat-zat organik. Pada
reaksi penguraian ini terbentuk ion mangano
yang berkhasiat adstringens dan anti
radang.
Sebagai antiseptikum (0,1%) kalium per-
manganat dipakai untuk membersihkan
abses dan borok, untuk kompres (1:5.000)
pada eksem dan penyakit kulit lainnya, serta
sebagai obat kumur (1:4.000) pada infeksi
tenggorok. Terhadap infeksi jamur (kutu
air) dibutuhkan larutan yang lebih pekat,
sampai 1%. Di rumah tangga berguna pula
sebagai desinfektans (larutan 0,1%) sayuran
dengan membasuhnya selama minimal ½
jam.
6c. Kaliumklorat (F.I.)
Zat ini juga merupakan suatu oksidator
yang berkhasiat bakteriostatik dan adstri-
ngens ringan. Mekanisme kerjanya juga
berdasar pembebasan oksigen dan
dahulu terutama dipakai sebagai
desinfektans mulut dan tenggorok dalam
konsentrasi 3%. Tidak boleh ditelan sebab
toksik (gangguan saluran cerna, ginjal dan
darah) dan sebaiknya jangan dipakai
terlalu lama.
6d. Natriumperborat (NaBO3)
Natriumperborat berkhasiat bakterisi d,
juga berkat pembebasan oksigen. dipakai
sebagai desinfektans dalam obat kumur
dengan konsentrasi 40 mg/ml. Untuk desin-
feksi alat-alat (disamping sterilisasi) 20mg/
ml, juga terkombinasi dengan desinfektansia
lainnya.
7. LAINNYA
7a. Belerang (F.I.): sulfur precipitatum, subli-
matum dan depuratum
Elemen ini memiliki khasiat bakterisid
dan fungisid lemah berdasar dioksidasi-
nya menjadi asam pentathionat (H2S5O6) oleh
kuman tertentu di kulit. Zat ini juga ber-
sifat keratolitik (melarutkan kulit tanduk),
sehingg a banyak dipakai bersama asam
salisilat dalam salep dan lotion (2-10%)
untuk pengobatan jerawat dan kudis. Sulfur
precipitatum yaitu yang paling aktif, kare-
na serbuknya terhalus.
Dahulu zat ini dipakai sebagai laksans
lemah berkat perombakannya dalam usus
menjadi sulfida (natrium/kalium) yang me-
rangsang peristaltik usus.
7b. Ichtammol (F.I.): ichtyol.
Ichtyol yaitu cairan kental berwarna
cokelat-hitam dengan bau khas dan diper-
oleh dari batu bituminus yang mengan-
dung sisa-sisa ikan dari zaman purbakala
(Yun. ichtys = ikan, Latin: oleum = minyak).
Susunannya tidak menentu, mengandung
± 10% belerang sebagai amoniumsulfat dan
sulfona t. Ichtyol memiliki daya kerja bak-
teriostatik lemah, juga antiradang dan
anti gatal. Zat ini masih banyak dipakai
dalam salep (10-15% dalam vaselin) untuk
mempercepat masak dan pecahnya bisul.
7c. Balsem Peru
Balsem Peru yaitu getah yang berbau
aromatis dari pohon Myroxylon pereira di
Amerika Selatan. Berkhasiat bakteriostatik
lemah berdasar zat aktifnya cinnameïne,
yaitu campuran ester benzoat, sinamat dan
alkohol. Walaupun sering kali memicu
sensitasi dan reaksi alergi, obat ini masih
banyak dipakai dalam salep dan bedak
tabur (Purol) 3-4% untuk mengobati luka,
eksem dan kudis.
7d. Gentianviolet (F.I.): metilrosanilin, kris-
talviolet
Zat warna dari kelompok rosanilin
ini berkhasiat bakterisid terhadap ter-
utama bakteri Gram-positif, khususnya
Stafilokokus dan fungisid terhadap be-
berapa jamur patogen, misalnya Candida
albicans yang merupakan mikro-organisme
yang normal menghinggapi selaput lendir
mulut anak-anak4.
Tidak bermanfaat terhadap C. albicans
usus5 dan kurang aktif terhadap kuman
Gram-negatif dan sama sekali tidak ter-
hadap spura. Adakalanya obat ini masih
dipakai sebagai larutan antiseptik (0,5-
1% dalam air) untuk di oleskan pada luka
di mulut (seriawan) dengan efektivitas 66-
75%, hanya keberatannya yaitu warnanya
yang dapat mengotori baju. Sekarang peng-
gunaan ini dianggap sudah obsolet dan di-
gantikan dengan obat topikal mikonazol gel
20 mg/g (4 dd dioleskan) dengan efektivi-
tas 96-100%.
pemakaian nya sebagai obat cacing kermi
juga sudah obsolet.
7e. Nitrofural (nitrofurazone, Furacine)
Derivat nitrofuran ini memilik i sifa t bak-
terisid (10-100 mcg/ml ber dasarkan ham-
batan enzim, kecuali terhadap Pseudomonas
yang selalu resisten. Nitrofural dipakai
untuk profilaksis dan pengobatan infeksi
kulit yang ditimbulkan oleh kuman yang
peka terhadap nitrofural (salep atau lotion
dari 2 mg/g). Efek samping nya berupa reak-
si kulit, seperti urticaria dan erythema akibat
alergi kontak, maka pemakaian nya tidak
dianjurkan lagi.
7f. Etilenoksida
Gas tak berwarna ini bersifat bakterisid,
fungisid, virusid dan juga sporosid. Etilen-
oksida dipakai tersendiri atau dicam-
pur dengan gas inert lain, misalnya gas
asam arang (CO2) untuk sterilisasi peralatan
medik yang tidak tahan panas (kateter,
pacemakers). Gas ini memiliki kemampuan
penetrasi kuat dan diadsorbsi pada karet
dan bahan buatan (plastics). Harap waspada
sebab mudah terbakar dan bersifat eksplosif!
Efek sampingnya berupa sifatnya yang mu-
tagen dan karsinogen.
7g. Heksetidin: Bactidol, *Hexadol
Derivat pirimidin ini berkhasiat terhadap
kuman Gram-positif dan Gram-negatif, pro-
tozoa dan ragi Candida albicans (1956).
Heksetidin dipakai sebagai larutan
0,1% dalam etanol 9% sebagai obat kumur
untuk desinfeksi mulut pada stomatitis dan
gingiviti s. Tidak boleh diminum; kerjanya
bertahan 10-12 jam.
OBAT-OBAT
GANGGUAN
SALURAN CERNA
Sistem saluran cerna, lambung dan usus
yaitu pintu gerbang bagi zat-zat gizi ma-
kanan, vitamin, mineral dan cairan ke dalam
tubuh. Fungsi sistem ini yaitu mencerna-
kan makanan dengan menghaluskan dan
kemudian mengubah secara kimiawi keti-
ga bagian utamanya (protein, lemak dan kar-
bohidrat) menjadi unit-unit yang siap dire-
sorpsi tubuh. Proses pencernaan ini dibantu
oleh enzim-enzim pencernaan yang ada
pada ludah, getah lambung dan getah pankreas.
Produk-produk hasil pencernaan yang ber-
manfaat bagi tubuh beserta vitamin, mineral
dan cairan, melintasi selaput lendir usus un-
tuk masuk ke aliran darah dan sistem getah
bening.
A. STRUKTUR
LAMBUNG-USUS
1. Lambung
Lambung merupakan suatu tabung elastis,
yang lebar dan lunak dengan volume da-
lam keadaan kosong ±1,5 l. Sesudah makan,
lambung dapat membesar sampai 30 cm pan-
jangnya dengan volume 3-4 liter! Dindingnya
terdiri dari 3 lapisan otot yang dari dalam
diselubungi oleh selaput lendir dan dari luar
oleh selaput perut. Otot-otot ini berfungsi
menggerakkan peristaltik yang meremas ma-
kanan menjadi bubur.
Lambung dibagi dalam tiga bagian, yaitu
bagian atas (fundus), bagian tengah (corpus)
dan bagian bawah (antrum) yang meliputi
pelepasan lambung (pylorus). Selain otot pe-
nutup pylorus, di bagian atas lambung juga
ada otot melingkar lain, yakni sfingter
kerongkongan lambung (katup gastro-oeso-
phagus). Sfingter itu bekerja sebagai
katup dan berfungsi menyalurkan makanan
ke hanya satu jurusan, yaitu ke arah usus.
Dinding lambung terdiri dari tiga lapis, yang
luar bersifat membujur, yang tengah sirkuler
dan yang paling dalam otot polos. Sel-sel
mukosanya menghasilkan berbagai senyawa,
sebagai berikut:
– Sel-sel utama(chief cells) di mukosa fundus
mensekresi precursor enzim pepsinoge n;
– Sel-sel parietal ada di dinding
mukosa fundus dan corpus yang melalui
histamin melepaskan HCl (asam lambung)
dan hormon intrinsic factor. Sel-sel fundus
lainnya membentuk pula hormon lapar
ghrelin.
– Sel-sel G ada di mukosa antrum dan
mengeluarkan hormon lambung gastrin.
Di lokasi ini ada pula sel-sel mucus
yang mensekresi lendir.
Mucus terdiri dari glikoprotein (mucin) dan
berfungsi melindungi epitel lambung terha-
dap efek buruk dari asam empedu dan obat-
obat merangsang seperti mis. alkohol, aspirin
dan NSAIDs. Prostaglandin menstimulasi se-
kresi mucus, sedang somatostatin yang
diproduksi oleh sel-sel D dari pankreas meng-
hambat pelepasan gastrin dan histamin, se-
hingga sekresi asam lambung juga dihambat.
Fungsi lambung yaitu sebagai penampung
makanan dan di tempat inilah makanan
diaduk secara intensif dengan getah lambung
dan terjadi absorpsi (minimal) dari bahan
makanan tertentu.
Proses pencernaan dimulai dalam mulut,
tempat di mana makanan dihaluskan sam-
bil diaduk dengan ludah. Kelenjar liur men-
sekresi enzim amilase (ptyalin) yang dapat
menguraikan karbohidrat. Ludah juga me-
ngandung mucin, yang berfungsi “melu-
mas” makanan sehingga lebih mudah dite-
lan. Dalam kerongkongan (oesophagus), yang
panjangnya ±25 cm, makanan kemudian
didorong dengan gerakan peristaltik mela-
lui katup gastro-oesofagus (sfingter, otot ling-
kar) pada ujung oesophagus ke arah lam-
bung. Gerakan berombak yang terdiri dari
gerakan kontraksi dan relaksasi ini, ditim-
bulkan oleh otot-otot pada dinding esofagus.
* Getah lambung. Adukan makanan dalam
lambung diremas sampai sempurna menjadi
bubur (chymus) oleh gerakan peristaltik. Aki-
bat tekanan makanan pada dinding lambung,
mukosanya melepaskan hormon gastrin,
yang berfungsi merangsang sekresi getah
lambung, khususnya HCl dan pepsinogen,
lagi pula menstimulasi fungsi-fungsi motorik
lambung.
Mukosa lambung memiliki berjuta-juta
kelenjar kecil yang menghasilkan getah lam-
bung sebanyak ±3 l per hari dengan der-
jajat keasaman antara pH 0,9 - 1,5 . Getah ini
terdiri dari HCl, pepsin dan lendir. Sekresi
ini juga dipicu melalui stimulasi N. vagus dan
diprodusirnya asetilkolin pada saat orang
melihat atau mencium makanan. Alkohol dan
kopi juga dapat menstimulasi sekresi gastrin
melalui efek langsung terhadap mukosa
lambung. Hasilnya yaitu peningkatan nafsu
makan dan daya pencernaan.
Asam lambung terbentuk di sel-sel parieta l
dan berfungsi membantu pencernaan dan
mengaktivasi pepsin, yang hanya efektif da-
lam lingkungan asam. Fungsi lainnya yaitu
membunuh kuman yang masuk bersamaan
dengan makanan.
Pepsinogen merupakan prekursor dari
enzim proteolitik pepsin, yang disintesis oleh
sel-sel utama.
Lendir berfungsi sebagai suatu rintangan/
pelindung (barrier) mekanis (dengan kete-
balan ±500 mu) pada permukaan lambung
dan duodenum proksimal, tahan asam dan
tahan pepsin, yang kedua-duanya dapat me-
rusak jaringan lambung.
Glukokortikoida (lihat Bab 46, ACTH dan
Kortikosteroida) mengurangi sekresi mucus,
mengubah susunannya dan dengan mele-
mahkan barrier ini memicu predis-
posisi bagi tukak lambung. Hal ini yaitu
efek samping yang potensial berbahaya dari
pemakaian kortikoida untuk jangka waktu
lama.
Gambar Seksi III-1: Lambung dan duodenum, sel-sel sekresi getah lambung.
Intrinsic factor yaitu suatu glikoprotei n
dengan berat molekul 60.000, yang juga
dibentuk oleh sel-sel parietal. Zat ini mutla k
diperluka n untuk absorpsi vitamin B12 dari
usus halus. Caranya yaitu melalui pengi-
kata n vitamin B12 dan mengangkutnya ke
reseptor spesifik pada permukaan mukosa
ileum. sesudah diserap B12 langsung disalurkan
ke sumsum tulang oleh protein pengantar
transkobalamin II (TC II). Intrinsic factor
tidak diserap, namun tertinggal dalam rongga
usus (lumen). Di dalam darah vitamin B12
bersirkulasi terutama terikat pada TC I dan
TC III.
* Kecepatan pengosongan lambung ke duo-
denum tergantung pada jenis makana n.
Misalnya makanan yang mengandung ba-
nyak hidratarang meninggalkan lambung
dalam waktu beberapa jam. Makanan yang
terdiri dari banyak protein lebih lambat pe-
nerusannya ke usus, sedang yang paling
lambat yaitu bila ada banyak lemak.
Faktor-faktor psikis juga memengaruhi
sekresi getah lambung dan gerakannya.
Keadaan tegang dan marah memper-
cepat sedang perasaan cemas dan
depresi mengurangi sekresi getah lambung
dan memperlambat pengosongannya.
Efek “anti-mabuk” dari lemak. sebab
lemak memperlambat pengosongan isi lam-
bung, ada sementara orang yang terlebih
dahulu mengonsumsi makanan yang kaya
akan lemak sebelum menghadiri suatu ja-
muan cocktail. Dengan demikian alkohol yang
diminum akan diperlambat penyerap annya
dalam lambung, sehingga kenaikan drastis
dari kadar alkohol dalam darah de ngan efek
buruknya dapat dihindari.
Perjalanan chymus
sesudah chymus melewati pylorus, maka te-
rusan ini yang dikelilingi otot-otot melingkar,
menutup kembali secara reflektoris sebab
pengaruh keasaman. Di dalam usus chymus
dinetralisir oleh alkali (natriumbikarbonat) dari
getah pankreas dan empedu dari hati. Segera
sesudah netralisasi, pylorus terbuka lagi dan
sebagian chymus dapat lewat. Dengan demi-
kian seluruh isi lambung berangsur-angsur
disalurkan ke duodenum.
Getah pankreas. Dengan perantaraan enzim
pankreas (pankreatin), pencernaan chymus
diselesaikan. Enzim-enzimnya amilase, lipase
dan trypsin menguraikan masing-masing zat
hidratarang, lemak dan protein yang masih
utuh.
Empedu setiap hari dibuat ±0,5–1 liter
oleh hati, yang ditimbun secara berangsur di
kandung empedu dan dipekatkan sampai 5-10
kali. Sekitar 80-90% dari zat ini diabsorpsi
kembali di ujung usus halus, sehingga setiap
hari hanya sebagian kecil saja dari empedu
harus disintesis.
Empedu terdiri dari asam-asam empedu
(garam kolat dan desoksikolat), glisin, taurin dan
lesitin. Zat terakhir ini yaitu esensial bagi
proses emulsifikasi lemak dari chymu s untuk
diubah menjadi butir-butir kecil yang mudah
diserap. Empedu juga meningkatkan daya
kerja lipase yang penting sekali dalam proses
resorpsi vitamin yang larut dalam lemak,
seperti vitamin A D, E dan K. Kekurangan
empedu memperburuk absorpsi lemak de-
ngan terjadinya “diare lemak”. Di samping
ini empedu juga mengandung zat-zat warna
empedu yang terdiri dari produk penguraian
eritrosit, antara lain bilirubin.
2. USUS hALUS
Panjangnya ±6 m dan di tempat ini berlang-
sung hampir seluruh proses pencernaan.
Usus halus terdiri dari 3 bagian utama,
yakni duodenum (usus duabelas jari) yang
ber-bentuk huruf C, jejunum dan akhirnya
ileum (ujung usus halus), yakni bagian
tersempit dari usus halus.
a. Duodenum. Organ ini dibentuk dari otot-
otot luar membujur dan otot polos bagian
dalam, panjangnya ±25 cm. Ujungnya ter-
s-ambung dengan jejunum dan selanjutnya
dengan ileum. Penampang duodenum pada
permulaan ±5 cm dan menyusut sampai se-
kitar separonya. Struktur dasar usus halus
sama dengan lambung dan otot din dingnya
memicu gerakan peristaltik untuk
meneruskan chymus. Di mukosa duodenum
ada kelenjar yang mensekresi lendir
alkalis. Mucus ini menetralisasi asam lam-
bung bersamaan dengan getah pankreas dan
empedu, yang melalui suatu saluran kecil
(katup dari Oddi) masuk ke dalam duodenum.
Di bagian usus ini unsur-unsur makanan
mulai dicernakan dan diserap oleh villi.
Fungsi pada sistem imun. Di samping fung-
si mencernakan makanan, duodenum juga
memegang peranan penting pada sistem
imun tubuh. Pada mukosanya ada ke-
lompok sel yang disebut plak dari Peyer
yang melalui limfosit B berperan pada
pembentukan antibodi, khususnya imuno-
globulin A. IgA ini berperan penting pada
daya tangkis imun. Lihat selanjutnya Bab 49,
Dasar-Dasar Imunologi.
b. Jejunum dan ileum Jejunum yaitu bagi-
an kedua dari usus halus (2,5 m) disusu l oleh
bagian ketiga yaitu ileum yang panjangnya
±3,5 m. Permukaannya sangat diperluas
oleh lipatan-lipatan mukosa dan berjuta-juta
jonjot-jonjot laksana jari-jari tangan kecil
(villi). Tiap villi terdiri dari inti pembuluh
darah, pembuluh limfe dan sel-sel dengan
daya kerja absorpsi. Sel-sel ini berfungsi ha-
nya dua sampai tiga hari, lalu dilepaskan dan
dikeluarkan lewat tinja.
Fungsi dari usus halus yaitu :
– pencernaan karbohidrat, protein dan le-
mak dengan bantuan enzim-enzim pen-
cernaan (disaccharidase, protease) yang di-
hasilkan oleh usus halus dan lipase dari
pankreas;
– penyerapan dari bahan gizi (asam amino,
asam lemak dan glukosa), vitamin yang
melarut dalam air, mineral (kalsium, besi)
dan sebagian besar air.
Kebanyakan unsur gizi masuk ke dalam
sirkulasi darah dan melalui pembuluh besar
(vena portae) diangkut ke hati dan seterusnya
ke jantung dan sirkulasi besar. Asam lemak
dan zat lipida lainnya, termasuk vitamin
yang tidak melarut dalam air (vitamin A, D, E
dan K) diserap melalui sistem limfe di bagian
atas dari usus halus. Pencernaan berakhir
bila chymus mencapai usus buntu (coecum).
Di tempat ini zat-zat sampah yang tidak
bermanfaat untuk tubuh dikumpulkan dan
kemudian diteruskan ke usus besar.
3. USUS BESAR dAN
REKTUM
Bagian pertama dari colon atau usus besar
dinamakan coecum dengan umbai usus bun-
tu (appendix) pada dinding belakangnya.
Panjangnya usus besar ±1,5 m dan terdiri dari
bagian menaik (ascending), bagian mendatar
(transversal), bagian menurun dan bagian
sigmoid yang menghubungi usus besar de-
ngan bagian terakhirnya, yakni poros usus
(rectum). Lihat gambar III-1.
Usus besar yang mukosanya dilapisi de-
ngan sel-sel epitel tanpa villi memiliki daya
absorpsi kuat untuk cairan. Di tempat ini
kebanyakan air yang tertinggal dalam chy-
mus diserap kembali, sehingga sisanya di-
padatkan. Bersama air juga natrium dan
mineral diserap kembali. Dengan peragian
tanpa oksigen (fermentasi anaerob) pencernaan
diselesaikan dalam colon.
* Flora usus. Sejumlah besar kuman, sekitar
1014 menghuni usus halus dan colon. Flora
ini terdiri dari dua kelompok yang seimbang,
yaitu jenis Lactobacilli (batang Gram-positif)
yang membentuk asam laktat dan kuman
Gram-negatif, a.l. Escherichia coli, Enterobacter
aerogenes dan Enterococci. Fungsinya yaitu
membantu perncernaan dengan mempro-
duksi enzim dan sintesis vitamin K, biotin dan
B-kompleks. Selain itu juga membentuk lendir
(mucus) dan memegang peranan penting
pada sistem imun. Lihat selanjutnya Bab 49.
Dasar-Dasar imunologi.
Akhirnya, sisa yang mengandung zat-zat
yang tidak dapat dicernakan (serat-serat
makanan: hemi/selulosa, lignin, sel-sel jonjot
mati, kuman dan sedikit air) dikeluarkan
sebagai tinja melalui poros usus (rectum) dan
dubur (anus). Dubur memiliki katup internal
dan eksternal yang berfungsi pada proses
defekasi.
B. GANGGUAN SALURAN
CERNA
Di saluran lambung-usus dapat timbul ber-
bagai gangguan yang berkaitan dengan pro-
se s pencernaan, resorpsi bahan gizi, transpor
Seksi III: Obat-Obat Gangguan Saluran Cerna270
isi usus yang terlampau cepat (diare) atau
terlampau lambat (konstipasi), serta infeksi
usus oleh mikroorganisme.
Dalam bab-bab berikut akan dibahas se-
jumlah obat penting yang dipakai pada
Tabel Seksi III-1: Enzim-enzim pencernaan yang terpenting
pengobatan gangguan itu , yaitu anta-
sid a dan obat tukak lambung/usus, obat
pengua t cerna untuk memperbaiki pencerna-
an, obat antimual, obat diare dan obat pen-
cahar terhadap sembelit.
OBAT-OBAT LAMBUNG
A. PENYAKIT SALURAN
LAMBUNG-USUS
Penyakit saluran cerna yang paling sering
terjadi yaitu radang kerongkongan (reflux
oesophagitis), radang mukosa lambung (gas-
tritis), tukak lambung-usus (ulcus pepticum)
dan kanker lambung-usus. Gangguan usus
seperti penyakit Crohn, colitis, polip-polip,
divertikel, IBS dan wasir pada hakekatnya
tidak termasuk dalam bab ini dan hanya
sekadar disinggung untuk melengkapi. Sebe-
lum membahas obat-obat yang dipakai
untuk mengobati penyakit-penyakit itu ,
untuk lebih mendapatkan pengertian yang
baik, terlebih dahulu akan dibahas secara
singkat etiologi, gejala, sifat-sifat lain dan pe-
nanganannya.
1. Radang Kerongkongan (oesopha-
gitis)
Seperti telah diuraikan di atas, kerong kongan
tahan terhadap ludah, namun peka terhadap
getah lambung dan getah duodenum. Bila
otot penutup cardia (di permulaan lambung)
tidak menutup dengan sempurna dan pe-
ristaltik tidak bekerja dengan baik, dapat ter-
jadi aliran balik dari isi lambung ke oesofagus.
Bila reflux ini berlangsung sering atau untuk
jangka waktu yang cukup lama, mukosa
dapat dirusak oleh asam lambung-pepsin.
Luka (erosi) yang timbul berubah menjadi
peradangan (oesophagitis) dan akhir nya dapat
berkembang menjadi tukak.
Gejalanya berupa perasaan terbakar (pyro-
sis, heartburn) dan perih di belakang tulang
dada, yang disebabkan sebab luka-luka mu-
kosa bersentuhan dengan makanan atau mi-
numan yang merangsang (alkohol, sari buah,
minuman bersoda). Timbul pula rasa asam
atau pahit di mulut akibat mengalirnya kem-
bali isi lambung (reflux). Sebagai reaksi ter-
hadap rangsangan asam itu pada mukosa
oesofagus secara otomatis akan timbul se-
kresi ludah. Sifat alkalis dari ludah selan-
jutnya akan menetralisasi keasaman getah
lambung. namun bila refluxnya terlalu ba nyak
mekanisme perlindungan itu tidak
mencukupi.
Penderita dengan gejala reflux parah me-
miliki ±8 kali kemungkinan mendapatkan
kanker kerongkongan (adenokarsinoma) de-
ngan risiko yang tambah besar seirin g denga n
frekuensi dan parahnya gejala tersebu t.
Terapi. Tindakan umum yang perlu diamati
yaitu menaikkan bagian kepala tempat tidur
dengan 10-15 cm, juga jangan me ngenakan
pakaian ketat atau membungkukkan badan
ke depan. Pengobatan terdiri dari zat-zat
yang menetralisasi asam lambung (antasida),
obat penghambat produksi asam (H2-blockers
dan penghambat pompa-proton) atau obat yang
menstimulasi peristaltik lambung (prokinetika,
propulsiva). Antasida bekerja cepat, namun
efeknya hanya bertahan singkat.
2. Radang lambung (gastritis)
Bila mukosa lambung sering kali atau dalam
waktu cukup lama bersentuhan dengan alir-
an balik getah duodenum yang bersifat al-
kalis, peradangan sangat mungkin terjadi
dan akhirnya malah berubah menjadi tukak
lambung. Hal ini disebabkan mekanisme penu-
tupan pylorus tidak bekerja dengan sempurna,
sehingga terjadi refluks itu . Mukosa
lambung dikikis oleh garam-garam empedu dan
lysolesitin (dengan kerja detergens). Akibat-
nya timbul luka-luka mikro, sehingga getah
lambung dapat meresap ke jaringan-jaringan
dalam dan memicu keluhan-keluhan.
pemicu lain yaitu hipersekresi asam se-
hingga dinding lambung dirangsang secara
terus-menerus dan akhirnya dapat terjadi
gastritis dan tukak. Sekresi berlebihan dapat
merupakan efek samping dari suatu tukak
usus yang, agak jarang disebabkan oleh suatu
tumor di pankreas (gastrinom atau Sindrom
Zollinger-Ellison) dengan pembentukan gas-
trin yang menstimulasi produksi asam.
Akhirnya gastritis dapat pula disebabkan
oleh turunnya daya tahan mukosa, yang dalam
keadaan sehat sangat tahan terhadap sifat
agresif HCl-pepsin. Keutuhan dan daya-
regenerasi sel-sel mukosa dapat diperlemah
tidak saja oleh sekresi HCl berlebihan, namun
juga oleh obat-obat NSAIDs, lihat Bab 21,
Analgetika antiradang. Juga kortikosteroida
dan alkohol dalam kadar tinggi dapat me-
rusak barrier mucus lambung dan mengaki-
batkan perdarahan.
Gejala-gejala umumnya tidak ada atau ku-
rang nyata, kadangkala dapat berupa gang-
guan pada pencernaan (indigesti, dispepsia),
nyeri lambung dan muntah-muntah akibat
erosi kecil di selaput lendir. Adakalanya ter-
jadi perdarahan.
Penanganan hanya dengan menghindari
pemicu -pemicu itu di atas dan ma-
kanan yang merangsang (cabe, merica), juga
hindari makan terlalu banyak seka ligus. Pe-
ngobatan spesifik tidak diperlukan, kadang-
kadang hanya diberikan H2-blockers untuk
mengurangi sekresi asam.
3. Tukak lambung-usus
(ulcus pepticum)
Selain gastritis masih ada banyak fak-
to r lain yang memegang peranan pada
terjadinya tukak lambung usus. Hanya ±20%
dari semua tukak terjadi di lambung (ulcus
ventriculi), bagian terbesar (2-3 kali) terjadi
di usus duabelas jari (ulcus duodeni). Orang
berusia antara 20 dan 50 tahun (terutama juga
lansia) sering kali men derita tukak lambung/
usus dan empat kali lebih banyak pada pria
daripada wanita. Rata-rata 90% dari semua
tukak lambung diakibatkan oleh infeksi ku-
man H. pylori, dibandingkan dengan 100%
dari tukak usus.
a. Tukak lambung. Selain disebabkan oleh in-
feksi Helicobacter pylori dengan peradangan
dan kerusakan sel sebagai pemicu utama,
masih ada beberapa faktor ulcerogen yang
menstimulasi terjadinya tukak lambung.
* ada nya gastritis kronis seperti di urai-
kan diatas
* gangguan motilitas lambung, khususnya ter-
hambatnya peristaltik dan pengosongan
lambung
* stress, ketegangan psikis dan emosional
dengan produksi kortisol berlebihan dan
merokok
b. Tukak usus. Duodenum tahan terhada p
garam empedu, lisolesitin dan tripsin, namun
peka terhadap asam. Akibat hi per reaktivi-
tas lambung, gangguan motilitas dan/atau
gangguan fungsi pylorus, isi lambung yang
asam dapat diteruskan ke usus terlampau
cepat dan dalam jumlah berlebihan. Bila
mukosa duodenum untuk jangka waktu
lama bersentuhan dengan asam itu ,
timbullah radang usus halus (duodenitis) dan
kemudian tukak duodenum. Fungsi bikar-
bonat dari getah pankreas yaitu untuk
menetralisasi asam itu . Oleh sebab itu
pada patogenesis tukak usus, asam lambung
memegang peranan utama: lazimnya tukak
usus disertai hiperaciditas di bagian prok-
simal duodenum. Hal ini berlainan dengan
tukak lambung pada mana derajat asam yaitu
normal atau bahkan lebih rendah daripada
orang-orang sehat.
* Helicobacter pylori memproduksi urease,
berbentuk spiral dengan 4-6 benang cambuk,
yang mengikat diri pada bagian dalam
selaput lendir. Bila kuman memperbanyak
diri terbentuklah sa ngat banyak enzim dan
protein toksik yang merusak mukosa. Khu-
susnya urease, yang mengubah urea menjadi
amonia dan air. Amonia menetralisasi HCl,
yang juga toksik bagi mukosa. Bagian-ba-
gian yang rusak itu tidak dilindungi
lagi oleh barrier mucus dan dapat “dikikis”
oleh HCl (dan pepsin). Akibatnya yaitu
reaksi peradanga n mukosa kronis (gastritis,
duodenitis) yang biasanya berlangsung
tanpa gejala dan bertahan seumur hidup.
Hanya pada 10-20% dari pasien gastritis
berkembang menjadi tukak.
Pada tes napas urea, pasien diberi urea dalam
makanannya, yang oleh H. pylori dipecah
menjadi amoniak dan karbondioksida. Gas
ini dapat dideteksi dalam napasnya berda-
sarkan reaksi kimia yang berlangsung dalam
lambung sebagai berikut:
Tes ini mudah, cepat dan digunaka n se bagai
screening-test yang memiliki kepeka an tinggi
(98%) dan sangat spesifik (95%). Pemeriksaan
ini juga dilakukan untuk mendapatkan ke-
pastian bahwa kuman H.pylori telah dibe-
rantas dengan tunta s sesudah pengobatan
eradikasi (lihat di bawah).
Diagnosis baru ditetapkan dengan pasti me-
lalu i pemeriksaan gastroduodenoscopy dengan
penelitian mikroskopis dan biakan dari ja-
ringan (biopsi). Di samping itu, masih diper-
lukan tes-tes tambahan berupa tes terhadap
antibodies dalam darah terhadap H. pylori (tes
ELISA).
Gejala. Pada tukak lambung gejala per-
mulaan berupa perasaan terbakar dan pe-
rih di lambung 15-60 menit sesudah makan,
adakalanya memancar ke punggung. Pada
tukak usus rasa nyeri terbakar timbul lebih
lambat, yakni 1-4 jam sesudah makan, jadi
lazimnya pada perut agak kosong ataupun pada
waktu malam. Sebagai komplikasi dapat terjadi
perdarahan lambung dan perforasi (terjadinya
lubang di dinding lambung). Penderita akan
kehilangan darah yang tampak sebagai tinja
hitam (melaena), merasa letih dan timbulnya
anemia. Pengosongan isi lambung yang
lambat juga akan memicu perasaan
kembung dan mual.
NH2 – C = O – NH2 + H2O → 2 NH3 + CO2
urea urease
(H.pylori)
Tindakan umum terpenting yang harus di-
taati oleh penderita tukak lambung-usus
yaitu makan tiga kali sehari pada waktu-
waktu tertentu, agar obat dapat diminum
secara tertentu pula. Harus menghindari
makanan yang menstimulasi produksi asam,
seperti makanan pedas, alkohol dan kafein (ko-
pi, teh, cola); merokok mutlak harus dihen-
tikan sama sekali. Di sam ping itu pola hi-
dup harus tenang dengan menjauhkan ke-
sibukan, kegelisahan dan faktor stress seba-
nyak mungkin serta memper hatikan cukup
istirahat dan hiburan.
Penanganan. Dahulu sering kali dilakukan
pembedahan reseksi atau vagotomi untuk
menyembuhkan tukak. Pada vagotomi selektif
cabang-cabang saraf vagus (saraf otak ke-
Helicobacter pylori dan tukak lambung-usus.
H. pylori yaitu kuman Gram-negatif yang ditemukan di seluruh dunia pada hampir separuh dari
semua orang sehat, terutama pada lansia dan anak-anak kecil. Ternyata di negara-negara berkembang
banyak infeksi sudah terjadi pada usia kanak-kanak melalui fekal-oral. Antara insidensi infeksi dan
status sosial-ekonomi rendah ada hubungan erat, yang berkaitan dengan keadaan higiene yang
kurang baik.
Pada tahun 1982 dua dokter Australia R.Warren dan B.Marshall menemuka n, bahwa H.pylori yaitu
pemicu tukak lambung dan tukak usus. Pada permula an mereka tidak dipercaya oleh dunia
kedokteran, sebab saat itu dianggap tukak diperkirakan akibat produksi asam berlebihan ditambah
dengan kebiasa an makan yang keliru dan stres. Walaupun tersedia banyak zat baru penghambat asam
yang memang mampu menyembuhkan penyakit, namun tukak selalu kambuh kembali. Penemuan
baru ini merupakan “revolusi” dalam pengobat an tukak lambung-usus, sebab menunjuk kan bahwa
tukak sebetulnya yaitu suatu penyakit infeksi kuman yang dapat disembuhkan tuntas de ngan
antibiotika. Pada separuh orang H.pylori ada dalam lambung tanpa memicu keluhan.
Hanya pada 10-15% berkembang menjadi tukak.
Warren dan Marshall pada bulan Oktober 2005 dianugerahi hadiah Nobel ilmu kedokteran umtuk
penemuannya.
sepuluh) di bagian atas lambung yang mem-
berikan rangsangan untuk sekresi asam,
diputus secara selektif. Tukak sembuh de-
ngan persentase kambuh ringan sekali (2%
setahun). Keberatan vagotomi ini yaitu sifat
invasifnya bagi pasien dan biayanya yang
relatif tinggi.
Pengobatan lazimnya dilakukan dengan
sejumlah obat yang hanya bekerja simtomatis,
yaitu meringankan gejala-gejalanya dengan
jalan menurunkan keasaman isi lambung
(antasida, H2-blockers, penghambat pompa-pro-
ton, antikolinergika) atau obat yang menutupi
tukak dengan lapisan pelindung (bismut).
Pengobatan dengan penghambat sekresi
asam (H2-blockers dan proton-pump inhibitors)
dapat menyembuhkan tukak namun harus
dilakukan beberapa tahun untuk menghin-
dari kambuhnya penyakit. Namun persentase
residif berjumlah sampai 30% setahun.
Terapi eradikasi Helicobacter. Baru sejak
permulaan tahun 1990-an dikembangkan te-
rapi kombinasi dari tiga atau empat obat
untuk mengeluarkan Helicobacter dari lam-
bung secara definitif dan menyembuhkan
tukak praktis seluruhnya dalam waktu
singkat (1-2 minggu). sesudah eradikasi jarang
sekali timbul residif. Lagi pula biayanya
jauh lebih rendah daripada cara penanganan
lainnya. Oleh sebab itu kini cara ini
dianggap sebagai terapi pilihan pertama dan
semua penderita tukak lambung dan usus
dianjurkan untuk menjalani terapi ini.
Kombinasi dari hanya dua obat (dual the-
rapy) ternyata mencapai eradikasi yang lebih
rendah, misalnya klaritromisin + lansoprazol
selama 14 hari efektif untuk rata-rata 74%.
a. Triple therapy yang dewasa ini ba nyak
dipakai yaitu kombinasi dari 2 antibio-
tika dan suatu proton-inhibitor selama satu
minggu, misalnya metronidazole 400 mg +
klaritromisin 500 mg + omeprazole 20 mg.
Atau juga amoksisillin 1 g + klaritromisin
500 mg + omeprazole 20 mg 2 kali sehari
Kombinasi klasik terdiri dari amoksisilin atau
tetrasiklin + metronidazol + sediaan bismut.
b. Quadruple therapy biasanya dipakai
bila triple therapy kurang efektif dan men-
cakup 4 obat dari kedua kelompok itu .
Misalnya omeprazol 2x 20mg, bismutsubsalisilat
(BSS) 4x 120 mg, metronidazol 3x 500 mg dan
tetrasiklin 4x 500 mg selama 1-2 minggu.
Ikhtisar dari banyak kombinasi lain dengan
efektivitasnya dimuat dalam artikel dari
Wermeille. Eradikasi dari H. pylori pada pen-
derita yang tukak lambung/ususnya telah
sembuh ternyata bisa menghindari kambuh-
nya penyakit. Di samping itu juga dipakai
obat-obat yang memperkuat peristaltik (dom-
peridon, metoklopramida).
4. Kanker lambung
Kanker lambung yaitu sejenis kanker sa-
luran cerna dengan insidensi paling tinggi.
Menurut data 20% dari semua jenis kanker
terjadi di saluran lambung usus. Sekitar 10%
dari kanker lambung berupa limfoma (non-
Hodgkin), yakni terdiri dari jaringan-jaring-
a n limfoid (mirip jaringan kelenjar limfe)
yang tidak ada di lambung sehat.
Akhir tahun 1997 telah dibuktikan bahwa
Helicobacter pylori juga memegang peranan
kausal pada semua tumor ini ; banyak peng-
idap kanker lambung semula mende rita tukak
lambung. Kuman H. pylori melalui gastritis
kronis dan atrofia sel diperkirakan berang-
sur-angsur memicu berkembangnya
tumor ganas. Pembedahan dan radiasi kini
tidak diperlukan lagi sebab kuman dapat
dibasmi tuntas dengan antibiotika. Faktor
risiko akan kanker lambung meningkat de-
ngan a.l. merokok, alkohol dan makanan
yang mengandung banyak garam dan nitrat.
Lihat selanjutnya Bab 14, Sitostatika.
PENYAKIT SALURAN
PENCERNAAN LAINNYA
ada sejumlah gangguan saluran cerna
lain kh















