Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 23. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 23. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 23


  










juga dihubungkan de-

ngan reaksi paradoksal dan psikis yang hebat.

* Afinitas untuk reseptor turut menentu-

kan lama kerjanya suatu benzodiazepin, mi-

salnya lormetazepam, flunitrazepam, diazepam 

dan flurazepam; obat ini berafinitas lebih ku-

at pada reseptor daripada nitrazepam dan 

Gambar 24-2: Biotransformasi beberapa senyawa benzodiazepin

dengan demikian akan lebih lama ada  

dalam cairan serebro-spinal. Lama kerjanya 

bisa lebih panjang pula daripada yang di-

perkirakan atas dasar plasma- t½-nya.

Antara kadar plasma dan efek sedatif-

hipnotik dari benzodiazepin tidak ada  

hubungan langsung. Ternyata bahwa pada 

umumnya sesudah 6-8 jam rasa kantuk 

praktis hilang sama sekali meskipun kadar 

plasma belum atau hanya sedikit menurun. 

Hal ini mungkin disebabkan terjadinya tole-

ransi yang pesat, sebab  kepekaan reseptor 

menurun. 

Antagonis benzodiazepin

Pada tahun 1987 dipasarkan flumazenil 

(Anexate), yang berkhasiat meniadakan efek 

sentral dari benzodiazepin dengan jalan 

mendesaknya secara bersaingan dari resep- 

tornya di otak. Obat ini juga bersifat anta-

gonis terhadap daya kerja obat-obat lain 

yang menstimulasi transmisi impuls GABA-

erg via reseptor benzodiazepin, misalnya 

zopiklon. Flumazenil a.l. dipakai  pada 

intoksikasi oleh benzodiazepin dan untuk 

mempersingkat efek benzodiazepin sesudah  

pembedahan selesai.


Efek samping

Pada permulaan terapi dapat terjadi efek 

samping, namun  biasanya hilang dengan sen-

dirinya sesudah  beberapa waktu. 

Yang sering terjadi yaitu  rasa kantuk, 

ataksia, letih-lesu dan reaksi psikis (pikiran ka-

cau, daya reaksi diperlambat). Efek samping 

lainnya yaitu  pusing-pusing dan nyeri 

kepala, mulut kering, rasa pahit di mulut, 

gangguan lambung-usus dan penglihatan 

berganda sebab  otot mata mengendur. Pu- 

sing dan kelemahan otot dapat menyebab-

kan jalan kurang stabil, terjatuh dan patah 

tulang, khususnya pada lansia. Adakalanya 

berat badan bertambah sebab  meningkatnya 

selera makan, juga hilangnya libido. 

Efek samping penting lainnya berupa:

a. hangover sebagai akibat sisa-sisa metabolit 

di dalam darah dengan kerja panjang, yang 

diperkuat oleh kumulasi pada pemakaian  

yang berulang. Gejalanya yaitu  termangu-

mangu dan berkurangnya daya konsentrasi, 

daya reaksi, kewaspadaan serta koordinasi 

antara mata dan tangan, terutama pada lan-

sia. Pengemudi kendaraan bermotor yang 

memakai  benzodiazepin mempunyai 

risiko 5 kali lebih besar untuk mengalami 

kecelakaan.

b. amnesia anterograde yaitu  hilangnya 

ingatan (sementara) pada hal-hal yang ter-

jadi sesudah  menderita penyakit pemicu  

amnesia, khusus pada lansia, serta berku- 

rangnya fungsi belajar dan daya mema-

hami sesuatu. Obat long-acting seperti diaze-

pam dan flunitrazepam, lebih sering menim-

bulkan efek ini daripada derivatnya dengan 

kerja singkat, kecuali triazolam, midazo-

lam dan lorazepam, yang juga dapat meng-

akibatkannya!

c. gejala paradoksal adakala dapat terjadi 

pada anak-anak serta lansia dan dapat beru-

pa eksitasi, gelisah, marah-marah, mudah 

terangsang dan kejang-kejang. Kadangkala 

timbul pada nitrazepam dan flurazepam.

d. toleransi dan ketergantungan. Pada u-

mumnya benzodiazepin kurang menimbul-

kan induksi-enzim, meskipun demikian tole-

ransi untuk efek hipnotis sudah timbul se-

telah 1-2 minggu. Toleransi untuk efek ank-

siolitisnya mungkin baru terjadi sesudah  be-

berapa bulan dan bersifat lebih ringan.

e. sindrom abstinensi (gejala penarikan). Pada 

pemakaian  benzodiazepin diperkirakan pro- 

duksi endogen dari zat-zat yang mirip benzo-

diazepin - yang biasanya menempati reseptor-

reseptor di otak - akan tertekan, seperti yang 

terjadi pada pemakaian  hormon. Bila peng-

gunaannya dihentikan dengan mendadak, maka 

produksi endogen tidak dapat memenuhi 

dengan sekaligus kekurangan yang terjadi 

sampai tingkat semula. Pada derivat short-

acting, kadar plasma menurun lebih cepat di-

bandingkan senyawa efek-panjang, yang me-

tabolit aktifnya masih bersirkulasi selama 3-5 

hari. Akibatnya yaitu  timbul efek penarikan 

(“withdrawal effects”) 1-5 hari sesudah  penghen-

tian obat, tergantung pada besarnya dosis dan 

jangka waktu pemakaian . Inilah sebabnya 

mengapa efek abstinensi lebih mudah timbul 

pada obat-obat short-acting.

Gejala abstinensi berupa keluhan yang mi-

rip sebelum obat diberikan, namun  bersifat 

lebih kuat, misalnya sukar tidur dengan ber- 

mimpi buruk (“nightmares”), perasaan takut, 

cemas dan ketegangan yang hebat, sedang- 

kan tidur-REM dapat meningkat. Di samping 

“rebound insomnia” ini dapat terjadi gejala 

somatis ringan selewat, misalnya berkeringat, 

gemetar dan jantung berdebar. sebab  efek 

inilah pasien cenderung meneruskan medi-

kasi tanpa bisa menghentikannya, sehingga 

timbul ketergantungan. Ada beberapa indi-

kasi bahwa gejala abstinensi bersifat lebih 

hebat pada triazolam, midazolam, loraze-

pam dan flunitrazepam. 

Kehamilan dan laktasi

pemakaian  kronis selama kehamilan dapat 

memicu  sindroma “floppy infant” yang 

bergejala hipotonia, hipothermia dan gang-

guan pernapasan, juga ketergantungan fisik 

dan efek penarikan pada neonatus. Oleh 

sebab  itu, obat ini jangan diberikan secara 

kontinu, melainkan dengan selang-seling dan 

sebaiknya dipilih obat dengan masa paruh 

singkat, bersifat lipofil ringan dan tanpa 

metabolit aktif, misalnya oksazepam. Begitu 

pula agar dihindarkan selama laktasi, sebab  

obat-obat lipofil kuat (diazepam)mencapai 

kadar tinggi dalam air susu ibu.

Interaksi. Pil antihamil dan simetidin me-

rintangi enzim-enzim hati, sehingga perom- 

bakan diazepam dan derivat long-acting 

lainnya diperlambat dan efeknya berlang-

sung lebih lama. Sebaliknya sebab  induksi 

enzim, bio-transformasinya berjalan lebih 

cepat pada orang yang banyak merokok. 

Diazepam juga mengurangi atau meniadakan 

efek disulfiram, suatu obat anti-alkohol yang 

menghentikan perombakan alkohol pada 

tingkat asetaldehida. Zat-zat short-acting tan- 

pa perombakan enzimatik tidak memper-

lihatkan interaksi itu .

Akhirnya semua benzodiazepin memper-

kuat efek barbiturat, alkohol, opiat dan zat-

zat lain yang menekan SSP, sehingga peng-

gunaan kombinasi dengan zat-zat demikian 

harus dilakukan dengan hati-hati.

Pilihan hipnotikum

Obat penidur. Pilihan utama yaitu  zat short-

acting yang resorpsi dan mulai kerjanya cepat, 

antara 20 menit dan 1 jam, yaitu estazolam, 

triazolam dan temazepam (sebagai larutan 

dalam kapsul lunak). Obat medium-acting 

nitrazepam, flurazepam, lorazepam dan lor-

metazepam dapat dipakai  untuk waktu 

singkat, maksimal 2 minggu. Pada keesokan 

harinya separuh dari kadar di dalam plasma 

sudah diekskresikan. Sisanya mencegah 

kemungkinan akan efek penarikan, namun  

kadarnya terlalu rendah untuk memicu  

kumulasi dan hang-over.

Obat memperpanjang tidur. Untuk mem-

perpanjang dan memperdalam masa tidur, 

tersedia oksazepam dan lorazepam. Obat-

obat ini lebih lambat resorpsinya dan hanya 

cocok untuk memperpanjang masa tidur, 

tidak untuk mempercepatnya.

pemakaian 

Pentakaran. Lansia dan anak-anak adaka-

lanya sangat peka terhadap dosis rendah 

sekali, sehingga sebagai obat tidur sebaiknya 

dimulai dengan dosis serendah mungkin 

dan hendaknya untuk maksimal 2 minggu. 

Bila dipakai  sebagai tranquillizer, sebaiknya 

jangan diberikan 3 x sehari berhubung sifat 

long-acting dari banyak obat. biasanya  

1 atau 2 x sehari sudah bisa memberikan efek 

baik dan maksimal untuk 1-2 bulan lamanya.

Penghentian. Untuk menurunkan risiko akan 

sindrom abstinensi, sebaiknya terapi jangan 

dihentikan mendadak sesudah  pemakaian  

lama, namun  dengan mengurangi dosisnya 

sedikit demi sedikit selama 1-2 minggu. Bagi 

pasien baru dianjurkan agar benzodiazepin 

sebagai obat tidur jangan diberikan lebih lama 

dari 2 minggu, sebagai tranquillizer maksimal 

selama 8 minggu. sesudah  masa-masa terse-

but, sebaiknya pengobatan dilanjutkan secara 

intermiten (selang-seling) bila masih diperlu-

kan.

Kontra-indikasi. Benzodiazepin tidak bo-

leh diberikan pada pasien myasthenia gravis 

(MS, penyakit lemah otot). Walaupun (prak-

tis) tidak mendepresi pernapasan, pasien 

CARA (asma, bronchitis dan sebagainya) 

hendaknya memakai  obat-obat ini de-

ngan hati-hati. Efek hang-over disebabkan 

oleh pembentukan metabolit dengan kerja 

panjang, sedang  pemakaian  yang ber-

ulang dapat memicu  efek kumulatif.

Di bawah ini diberikan beberapa data dari 

zat-zat benzodiazepin yang dipakai  seba-

gai obat tidur.

MONOGRAFI

A. SENYAWA BENZODIAZEPIN

1. Nitrazepam: Mogadon, Dumolid

Senyawa nitro ini (1965) di samping ber-

khasiat hipnotik-sedatif, juga memiliki kerja 

antikonvulsif (anti-kejang) dan meredakan 

otot (relaksans) yang baik, sehingga berguna 

sebagai obat epilepsi, lihat Bab 27.

Nitrazepam memicu  perintangan ti- 

dur-REM dan REM-rebound yang ringan, 

sedang  efektivitasnya agak berkurang 

sesudah  dipakai  beberapa minggu. Pada 

pemakaian  lama dapat terjadi kumulasi 

dengan efek sisa (hang-over) dan efek sam-


ping sentral seperti gangguan koordinasi 

dan melantur, yang terutama sering kali 

terjadi pada orang-orang di atas 65 tahun. 

Pada beberapa pasien, secara paradoksal dapat 

terjadi ketegangan dan agresi. Tidur dapat 

timbul dalam waktu 30 menit, plasma- t½-nya 

panjang (30 - 40 jam), namun pada gangguan 

tidur efeknya hanya selama 6-8 jam. Pada 

dosis rendah (2,5-5 mg) dan pemakaian  

sesekali, zat ini tidak mengganggu kewas-

padaan dan daya konsentrasi pada keesokan 

harinya. Untuk lansia dosis dari 2,5 mg sering 

kali sudah mencukupi.

Dosis: 2,5-10 mg setengah jam sebelum 

tidur, pada epilepsi dimulai dengan 1 dd 5 

mg, lambat-laun dinaikkan sampai 10-30 mg 

sehari.

* Flunitrazepam (Rohypnol) yaitu  derivat 

fluor dan -metil yang berkhasiat hipnotik 

sangat kuat (1974), afinitasnya terhadap re-

septor benzodiazepin hampir sekuat lorme-

tazepam. Mulai kerjanya juga sama cepatnya, 

kurang dari 1/2 jam. Pada dosis biasa praktis 

tidak mengganggu tidur-REM dan tidak hi-

lang efektivitasnya sesudah  dipakai  bebe-

rapa minggu. Walaupun t½-nya panjang 

(16-35 jam), distribusi dan ekskresinya cepat 

sekali, sehingga kumulasi dapat diabaikan. 

Pada dosis lebih dari 2 mg sering kali timbul 

amnesia anterograde, yakni hilangnya ingatan 

mengenai hal-hal dan peristiwa yang terjadi 

sesudah  minum obat. 

Senyawa ini sering kali disalahgunakan 

oleh pecandu narkotika (drug addicts) dan 

keracunan serius telah dilaporkan bila dikom-

binasi dengan alkohol atau obat psikotrop 

lainnya yang meningkatkan efek sedatifnya. 

Dosis sebagai obat tidur 1-2 mg 1/2 jam a.n.

2. Flurazepam: Dalmadorm

Derivat klor-fluor ini (1968) juga tidak 

memengaruhi tidur-REM dan masih aktif 

sesudah beberapa minggu. Plasma- t½-nya 

sangat singkat (1 jam), namun  dari metabolit 

aktifnya sangat panjang, yaitu 40-100 jam. 

Oleh sebab  ini, risiko kumulasi dan efek 

hang-overnya besar sekali. Lama kerjanya 

7-8 jam. Sebaliknya pada penghentian terapi 

jarang memicu  rebound insomnia. Sebaik-

nya jangan dipakai  secara terus-menerus, 

namun  secara intermiten. sebab  efeknya yang 

panjang, sebaiknya jangan diberikan pada 

pasien non-ambulan atau lansia.

Dosis: 15-30 mg 1 jam sebelum tidur.

3. Triazolam: Halcion

Derivat triazolo ini (1978) mungkin memi-

liki daya hipnotik yang terkuat dari semua 

benzodiazepin dan kerjanya paling singkat 

(t½ 3-4 jam), dari metabolitnya lebih kurang 

8 jam, namun  aktivitasnya sangat lemah. 

Oleh sebab  itu tidak berkumulasi dan tidak 

memicu  efek-sisa, seperti menurunnya 

daya prestasi dan kewaspadaan. Terapi hen-

daknya dihentikan sesudah  pemakaian  2 

minggu dan sebaiknya dosis diturunkan se-

cara bertahap untuk menghindari efek re-

bound.

Dosis: 0,25-1 mg sebelum tidur.

* Estazolam (Esilgan) yaitu  juga derivat 

triazolo yang relatif lebih lemah khasiatnya, 

sebab  hilangnya atom klor dan gugusan 

metil. Sifat-sifat lainnya mirip triazolam. 

Dosis: 1-2 mg sebelum tidur.

* Midazolam (Dormicum) yaitu  derivat 

dengan gugusan triazolo diganti oleh gugusan 

oksi-imidazol (1982). Mulai kerjanya cepat, 

yaitu dalam 30 menit dan bertahan sampai 

5-7 jam. Plasma- t½-nya sangat singkat, ±2 

jam, dari derivat aktifnya 60-80 menit. Zat ini 

berguna sebagai premedikasi pada operasi-

THT kecil yang singkat berhubung timbulnya 

sedasi, anksiolysis dan amnesia anterograde 

yang menguntungkan.

Dosis: sebagai obat tidur 7,5-15 mg (maleat) 

a.n.; premedikasi anestesia lokal oral 25 mg 45 

menit sebelumnya, i.m. 5 mg (klorida). Lihat 

selanjutnya Bab 25, Anestetika Umum.

* Loprazolam (Dormonoct) yaitu  juga deri-

vat imidazol (1983). Khasiat hipnotiknya 

kuat dengan afinitas besar untuk reseptor 

benzodiazepin di otak. Efeknya singkat (t½ 

7 jam), sehingga tidak berkumulasi dan ke-

mungkinan timbulnya hang-over juga ber-

kurang. Dosis: malam hari 1 mg (mesilat).

4. Oksazepam: desmetilhidroksidiazepam, Se-

resta

Metabolit diazepam ini (1964) bersifat agak 

poler (hidrofil), maka resorpsinya di usus 

agak lambat. Puncak plasma baru tercapai 

sesudah  2-4 jam, sehingga tidak begitu cocok 

sebagai obat penidur. Senyawa ini banyak 

dipakai  sebagai tranquillizer sebab  efek 

anksiolitiknya yang baik. Plasma-t½ relatif 

singkat, rata-rata 10 jam, sebab  enzimatik 

tidak dirombak seperti derivat-derivat terse- 

but di atas. Risiko kumulasi dan hang-over 

hampir tidak ada, namun  risiko efek rebound-

nya lebih besar, seperti pada zat-zat short-

acting lainnya.

Dosis: malam hari 20-30 mg; sebagai tran-

quillizer 2-3 dd 10-50 mg. 

* Temazepam (metiloksazepam, Normison) ada-

lah turunan metil (1969), yang resorpsi dan 

mulai kerjanya cepat sekali (kurang dari 30 

menit) bila diberikan sebagai larutan dalam 

kapsul lunak. Sebagai serbuk dalam kapsul 

keras (Levanxol), mulai kerjanya lebih lambat 

dan dipakai  untuk efek anksiolitiknya. 

Dosis: 10-30 mg sebelum tidur; sebagai 

tranquillizer 3 dd 5-10 mg. Dosis untuk lansia 

separuhnya.

* Lorazepam (kloroksazepam, Ativan, Temesta) 

lebih kuat daya kerjanya sebab  adanya 

atom klor yang meningkatkan afinitasnya 

untuk reseptor otak. Zat ini bersifat kurang 

lipofil, sehingga resorpsinya agak lambat 

dan kecepatan melintasi membran juga 

berkurang. Oleh sebab  itu mulai kerjanya 

baru sesudah  ±1 jam. Khasiat anksiolitiknya 

setaraf dengan diazepam dan lebih kuat 

daripada benzodiazepin lainnya. Plasma-t½ 

rata-rata 14 jam. 

Dosis: sebagai tranquillizer 2-3 dd 0,5-1 mg, 

sebagai obat tidur malam hari 1-2,5 mg a.n. 

Dosis untuk lansia separonya.

* Lormetazepam (metillorazepam, Loramet, 

Noctamid) lebih kuat lagi aktivitasnya berkat 

masuknya gugusan metil pada posisi N1 

(1980). Zat ini juga lebih lipofil dengan re-

sorpsi dan mulai kerja yang cepat sekali 

(kurang dari 30 menit). Pada dosis di atas 2,5 

mg dapat timbul efek rebound. Plasma- t½ 

±10 jam. Dosis: 1-2 mg ½ jam sebelum tidur, 

lansia 0,5-1 mg.

* Medazepam (Nobrium) yaitu  derivat yang 

masa paruhnya singkat (±2 jam) dengan 

banyak metabolit aktif, a.l. diazepam dan 

oksazepam (1968). 

Dosis: 2-3 dd 5-10 mg

5.  Klordiazepoksid: Cetabrium, Librium, *Li-

brax

Khasiat anksiolitik benzodiazepin tertua ini 

(1961) tidak sekuat diazepam, kurang lebih 

setaraf dengan oksazepam. namun  khasiat 

sedatifnya lemah, hingga bahaya efek sisanya 

juga ringan. Zat ini termasuk tranquillizer 

yang paling banyak dipakai  di seluruh 

dunia. pemakaian nya selain pada keadaan 


takut dan tegang, juga pada keadaan eksitasi 

akut dan terhadap efek abstinensi alkohol.

Resorpsi di usus baik dan cepat dengan 

mencapai kadar darah maksimal sesudah  1 

jam. PP ±95%, plasma-t½ 5-30 jam. Dalam 

hati diubah menjadi metabolit desmetil dan 

demoksepam aktif dengan masa paruh pajang, 

sampai 200 jam.

Dosis: 3-4 dd 5-10 mg, pada kasus serius 

sampai 100 mg sehari.

B. OBAT LAINNYA

6. Kloralhidrat

Secara kimiawi zat ini (1869) yaitu  alde-

hida (kloral) yang di dalam tubuh terikat de-

ngan air dan membentuk trikloretanol yang 

merupakan obat tidur sintetik pertama yang 

efektif, sesuai persamaan reaksi berikut:

Efektif bagi pasien yang gelisah, juga se-

bagai obat pereda pada penyakit saraf hys-

teria. Berhubung cepat terjadinya toleran-

si dan risiko akan ketergantungan fisik dan 

psikis (serupa barbital), obat ini hanya digu-

nakan untuk waktu singkat (1-2 minggu). Pe-

nggunaannya kini sudah sangat berkurang.

Resorpsi di usus cepat, mulai kerjanya pesat 

dan bertahan agak singkat, ±5-6 jam. Dalam 

darah dan hati zat ini diubah oleh enzim 

alkoholdehidrogenase menjadi a.l. trikloretanol 

aktif. Metabolit ini berkhasiat hipnotik pan-

jang (t½ 8 jam) dan akhirnya dirombak da-

lam hati dan ginjal menjadi triklorasetat in-

aktif dan diekskresi melalui ginjal sebagai 

glukuronida. [alkoholdehidrogenase yaitu  

enzim yang memegang peranan pada perom-

bakan alkohol menjadi asetaldehida].

Efek samping ringan, a.l. reaksi kulit alergi, 

ataksia dan eksitasi. Hampir tidak merintangi 

tidur-REM dan tidak memicu  REM-

rebound, juga efek sisa pada keesokan hari-

nya (hang-over) tidak parah. Keberatannya 

yaitu  sifat merangsangnya terhadap muko-

 H adh

  |

 Cl3-C-C=O + H2O ––––––––––> Cl3-C-CH2(OH) –––––––––––> Cl3-C–COOH

  trikloretanol  asam triklorasetat

 adh = alkoholdehidrogenase

sa saluran cerna serta rasanya yang sangat 

buruk. Obat ini memperkuat efek antiko-

agulansia berdasar  penggeseran ikatan 

proteinnya.

Dosis: oral 0,25-1 g sebelum tidur sebagai 

larutan (zat padat bersifat terbang!), atau 

rektal dalam basis hidrofil (misalnya Carbo-

wax). Sebagai sedativum 3 dd 250 mg. Hati-

hati terhadap overdosis, 10 g sudah bisa fatal!

7. Zopiclon: Imovane

Derivat cyclopyrrolon ini (1985) yaitu  

hipnotikum yang berkhasiat anksiolitik, anti-

agresi, antikonvulsif dan merelaksasi otot.

Zat ini terikat pada reseptor benzodiazepin 

dengan memperlancar neurotransmisi oleh 

GABA, namun  mekanisme kerjanya berlainan 

dengan benzodiazepin. Praktis tidak meme-

ngaruhi tidur-REM atau kedalaman tidur. 

Plasma -t½-nya singkat, ±5 jam. Rasa obat ini 

pahit sekali.

Efek samping yang paling serius berupa 

sejumlah reaksi neuropsikiatrik yang agak 

hebat (halusinasi, hilang ingatan dan ganggu-

an perilaku). Risiko akan amnesia dan efek 

rebound lebih ringan daripada benzodiazepin 

(Fava GA. Eur J Clin Pharmacol 1996; 50: 509). 

Harus diperhatikan bahwa obat ini dapat 

memengaruhi kewaspadaan berkendaraan 

sampai 14 jam (efek residual). 

Dosis: 7,5 mg malam hari, maks. 15 mg


8. Prometazin: Phenergan

Antihistaminikum ini memiliki khasiat 

sedatif dan hipnotik dan sering kali digu-

nakan sebagai pereda bagi anak-anak yang 

gelisah dan batuk. Efek sampingnya a.l. mu-

lut kering dan penglihatan kabur. Lihat juga 

Bab 51, Antihistaminika.

Dosis: 15-20 mg untuk anak-anak dari 1-5 

tahun.


9. Meprobamat

Derivat propandiol ini (1955) merupakan 

tranquillizer pertama yang dipakai  dalam 

terapi. Zat ini berkhasiat anksiolitik, sedatif 

dan antikonvulsif; khasiat hipnotik dan 

merelaksasi ototnya ringan sekali. Plasma-t½ 

rata-rata 10 jam, pada pemakaian  kronis 

dapat meningkat sampai 24-48 jam. Sering 

kali memicu  efek samping umum dan 

ketergantungan, serta koma pada overdosis, 

sehingga tidak banyak dipakai  lagi pada 

ketegangan dan perasaan takut.

Dosis: 3-4 dd 200 -400 mg, maks. 2,4 g sehari 

dengan minum banyak air.

10. Buspiron: Buspar

Derivat piperazinil ini (1985) memiliki kha-

siat anksiolitik selektif tanpa kegiatan se-

datif, hipnotik, antikonvulsif atau merelak-

sasi otot. Mekanisme kerjanya belum dike- 

tahui, obat tidak terikat pada reseptor ben-

zodiazepin, namun  pada reseptor serotonin 

(5HT) di otak, juga bersifat anti dopamin . 

Obat ini untuk jangka waktu agak singkat 

khusus dipakai  terhadap kecemasan, teta-

pi efek anksiolitiknya lambat, baru sesudah  2- 

4 minggu.

Resorpsi di usus cepat dan tuntas, namun  BA-

nya hanya 5% akibat FPE tinggi. PP ±95%, t½ 

antara 2 - 33 jam. Dalam hati dirombak oleh 

enzim CYP3A4 menjadi a.l. metabolit aktif 

pirimidinil-piperazin dengan t½ rata-rata 8 jam. 

Ekskresi melalui urin dan feses, terutama 

dalam bentuk metabolitnya.

Efek samping dapat berupa pusing, sakit 

kepala, mual, nervositas dan eksitasi, pada 

dosis lebih tinggi juga sedasi, perasaan tidak 

nyaman dan peningkatan kadar prolaktin dan 

GH dalam darah. Bila dipakai  bersama 

obat yang juga dirombak oleh CYP3A4, kadar 

darah buspiron bisa meningkat dengan kuat. 

Oleh sebab  itu pada pemakaian  serentak 

dengan ketokonazol, eritromisin, protease inhi-

bitor atau zat penghambat CYP3A4 lain-nya, 

dianjurkan untuk menurunkan dosis bus-

piron. Kombinasi dengan (sari) grapefruit ha-

rus dihindari, sebab  merintangai enzim CYP. 

Dosis: permulaan 3 dd 5 mg, bila perlu 

dinaikkan setiap 2-3 hari dengan 5 mg, maks. 

50 mg sehari.

11. Brotizolam: Lendormin

Memiliki efek sama seperti benzodiazepin 

dengan sifat anksiolitik, sedatif dan relak-

sansia otot. PP 90%, T1/2 3-8 jam dan dimeta-

bolisasi dalam hati menjadi metabolit dengan 

aktivitas lemah. Ekskresi 2/3 via urin dan 

sisanya melalui feses.

pemakaian  sebagai obat tidur singkat.

Efek samping pada permulaan terapi me-

ngantuk pada siang hari, kelemahan otot, 

pusing, bingung, perasaan letih dan gang-

guan penglihatan. Juga gangguan alat pen-

cernaan, sakit kepala dan gangguan fungsi 

hati. Pada anak-anak dan lansia timbul reaksi 

paradoksal seperti kegelisahan dan perasaan 

kacau. Untuk menghindari gejala penarikan 

atau rebound, dosis harus dikurangi secara 

bertahap pada waktu penghentian pengo-

batan. 

Dosis: 0,25 mg sehari sebelum tidur.

12. Zolpidem: Stilnoct

Senyawa imidazolpiridin ini mirip benzo-

diazepin dan memiliki khasiat sedatif pada 

dosis rendah. Efeknya cepat dan selama 6 

jam.

PP 92% dan dimetabolisasi menjadi meta- 

bolit tidak aktif. Ekskresi 56% melalui urin 

dan 37% via feses. T1/2 sampai 10 jam. Diguna-

kan sebagai obat tidur dengan efek singkat.

Efek samping pada awal terapi mengantuk, 

lalu sakit kepala, lemah otot, gangguan koor-

dinasi gerakan (ataksia), pusing, gangguan 

penglihatan dan alat cerna, serta gangguan 

kulit. Gejala paradoksal sama seperti brota-

zolam. Lansia harus hati-hati jangan sampai 

terjatuh bila minum obat ini. Dalam 8 jam 

sesudah  minum obat ini dianjurkan untuk 

tidak mengendarai mobil atau melakukan 

kegiatan yang memerlukan perhatian mental.

Dosis: maks. 10 mg sehari sebelum tidur 

dan dosis agar dikurangi sampai 5 mg sehari 

bagi lansia dan yang fungsi hatinya menurun.

Dianjurkan untuk memakai  dosis pa-

ling rendah yang masih efektif sekali sehari 

sebelum tidur.

13. Valerian: Valdispert, Nerviplant

Merupakan ekstrak kering dari akar tum-

buhan valerian dengan sifat menenang-kan, 

dapat memperbaiki waktu menidurkan dan 


kwalitas tidur. Bekerja dalam waktu 30 menit 

selama 4 jam. 

dipakai  terhadap nervositas, ketegang-

an dan gangguan tidur.

Jangan dipakai  oleh wanita hamil dan 

yang menyusui maupun oleh anak-anak di 

bawah usia 12 tahun. 

Efek samping: mual dan kejang perut.

Dosis: untuk gejala ketegangan 3 dd 1-3 

tablet Valdispert; untuk gangguan tidur 1 

tablet Nerviplant ½-1 jam sebelum tidur. 

maks. 4 tablet sehari.

14. Melatonin: Circadin 

Hanya memiliki efek terbatas pada lansia 

di atas 55 tahun.

Lihat Bab 30 Antidepresiva, Bab 42 Hor-

mon-hormon hipofisis dan Bab 54 Dasar-

dasar diet sehat.


ANESTETIKA UMUM

PUTTING PATIENS TO SLEEP. 

“Oh, what delight to every feeling heart to find 

the new year ushered in with the announcement 

of this noble discovery of the power to still the 

sense of pain, and veil the eye and memory from 

all the horors of an operation.” WE HAVE 

CONQUERED PAIN. The people’s Journal of 

London, 1847.

Anestetika umum yaitu  obat-obat yang 

dapat memicu  anestesia atau narkosa 

(Yun. an = tanpa, aisthesis = perasaan), yakni 

suatu keadaan depresi umum dari berbagai 

pusat di SSP yang bersifat reversibel, pada-

mana seluruh perasaan dan kesadaran ditia-

dakan, sehingga mirip keadaan pingsan.

Anestetika dipakai  pada pembedahan 

dengan maksud mencapai keadaan pingsan, 

merintangi rangsangan nyeri (analgesia), mem-

blokir reaksi refleks terhadap manipulasi pem-

bedahan serta memicu  pelemasan otot 

(relaksasi). Anestetika umum yang kini terse-

dia tidak dapat memenuhi tujuan ini seca-

ra keseluruhan, maka pada anestesia untuk 

pembedahan umumnya dipakai  kombi-

nasi hipnotika, analgetika dan relaksansia 

otot.

Istilah narkotikum yang dahulu dipakai  

untuk anestetika umum, sudah lama diti-

nggalkan sebab  dapat memicu  keke-

liruan dengan istilah hukum ‘narcotic drug’ 

(= obat narkotik, yang dulu disebut obat bius).

Taraf-taraf narkosa

Anestetika umum dapat menekan SSP secara 

bertingkat dan berturut-turut menghentikan 

aktivitas bagiannya. Ada 4 taraf narkosa, 

yaitu:

a. analgesia: kesadaran berkurang, rasa 

nyeri hilang dan terjadi euforia (rasa nya-

man) yang disertai impian yang mirip 

halusinasi. Eter dan nitrogenmonoksida 

memberikan analgesia baik pada taraf ini, 

sedang  halotan dan tiopental baru pada 

taraf berikut

b. eksitasi: kesadaran hilang dan timbul 

kegelisahan. Kedua taraf ini juga disebut 

taraf induksi

c. anestesia: pernapasan menjadi dangkal, 

cepat dan teratur, seperti pada keadaan 

tidur (pernapasan perut), gerakan mata 

dan refleks mata hilang, sedang  otot 

menjadi lemas

d. kelumpuhan sumsum: kegiatan jantung 

dan pernapasan terhenti. Taraf ini sedapat 

mungkin dihindarkan. 

Pada hakikatnya, kembalinya kesadaran 

atau siuman (recovery) berlangsung dalam 

urutan terbalik, dari d ke a.

Premedikasi dan posmedikasi 

Kriteria analgetika yang baik yaitu  a.l. 

mulai kerja cepat tanpa efek samping (seperti 

kegelisahan) dan tidak merangsang mukosa. 

Begitu pula pemulihannya harus cepat tanpa 

efek sisa, seperti perasaan kacau, mual dan 

muntah, juga tidak boleh meningkatkan per-

darahan kapiler selama pembedahan. sebab  

tidak dikenal obat yang memiliki semua si-

fat ini, biasanya anestetikum dikombinasi 

dengan obat-obat pembantu yang diberikan 

pada pasien sebagai premedikasi, lebih kurang 

1 jam sebelum induksi dimulai. 

Premedikasi dilakukan dengan maksud:

meniadakan kegelisahan: sering diguna-

kan morfin atau petidin, juga sedativa se-

perti klorpromazin, diazepam atau tio-

pental


menghentikan sekresi ludah dan dahak 

yang dapat memicu  kejang-kejang 

berbahaya di tenggorok. Yang banyak di-

gunakan yaitu  atropin dan skopolamin 

(bersama morfin)

memperkuat efek anestetik, sehingga 

anestetikum bekerja lebih “dalam” dan/

atau dosisnya dapat diturunkan

– memperkuat relaksasi otot selama nar-

kosa dapat dicapai dengan pemberian 

relaksansia otot, seperti tubokurarin dan 

galamin (Flaxedil).

Posmedikasi diberikan untuk menghilangkan 

efek samping, seperti perasaan gelisah dan 

mual. Untuk maksud ini dipakai  klor-

promazin atau anti-emetikum lain, misalnya 

ondansetron, lihat Bab 29, Antipsikotika.

Penggolongan

berdasar  cara pemakaian nya, anestetika 

umum dapat dibagi dalam lima kelompok 

dan di sini hanya dibicarakan dua yang 

terpenting, yaitu:

1. Anestetika inhalasi: gas “tertawa”(N2O), 

halotan, enfluran, isofluran dan sevofluran.

Obat-obat ini diberikan sebagai uap me-

lalui saluran napas. Keuntungannya yaitu  

resorpsi yang cepat melalui paru-paru se-

perti juga ekskresinya melalui gelembung 

paru (alveoli) dan biasanya dalam keadaan 

utuh. Pemberiannya mudah dipantau dan 

bila perlu setiap waktu dapat dihentikan. 

Obat-obat ini terutama dipakai  untuk 

memelihara/mempertahankan anestesi. De- 

wasa ini senyawa kuno eter, kloroform, 

trikloretilen dan siklopropan praktis tidak 

dipakai  lagi sebab  efek sampingnya.

2. Anestetika intravena: tiopental, diazepam 

dan midazolam, ketamin dan propofol. 

Obat-obat ini juga dapat diberikan dalam 

sediaan suppositoria secara rektal, namun  

resorpsinya kurang teratur. Terutama digu-

nakan untuk mendahului (induksi) anestesi 

total, atau memeliharanya, juga sebagai anes-

tesi pada pembedahan singkat. 

Mekanisme kerja

Sebagai anestetika inhalasi dipakai  gas 

dan cairan terbang yang masing-masing sa-

ngat berbeda dalam kecepatan induksi, akti-

vitas, sifat melemaskan otot maupun meng-

hilangkan rasa sakit. Untuk mendapatkan 

reaksi yang secepat-cepatnya, obat ini pada 

permulaan harus diberikan dalam dosis 

tinggi, yang kemudian diturunkan sampai 

hanya sekadar memelihara kesimbangan an- 

tara pemberian dan pengeluaran (ekshalasi). 

Keuntungan anestetika inhalasi dibanding-

kan dengan anestetika intravena yaitu  ke-

mungkinan untuk dapat lebih cepat meng-

ubah kedalaman anestesi dengan mengurangi 

konsentrasi dari gas/uap yang diinhalasi.

Kebanyakan anestetika umum tidak dime-

tabolisasi oleh tubuh, sebab  tidak bereaksi 

secara kimiawi dengan zat-zat faali. Oleh 

sebab  itu teori yang menjelaskan khasiatnya 

selalu didasarkan atas sifat fisikanya, mi-

salnya tekanan parsial dalam udara yang 

diinhalasi, daya difusi dan kelarutannya 

dalam air, darah dan lemak. Semakin besar 

kelarutan suatu zat dalam lemak, semakin 

cepat difusinya ke jaringan lemak dan sema-

kin cepat tercapainya kadar yang diingin- 

kan dalam SSP.

Mekanisme kerjanya berdasar  perki-

raan bahwa anestetika umum di bawah 

pengaruh protein SSP dapat membentuk 

hidrat dengan air yang bersifat stabil. Hidrat 

gas ini mungkin dapat merintangi transmisi 

rangsangan di sinaps dan dengan demikian 

memicu  anestesia.

Efek samping

Hampir semua anestetika inhalasi meng-

akibatkan sejumlah efek samping dan yang 

terpenting yaitu :

menekan pernapasan yang pada anestesi 

dalam terutama ditimbulkan oleh halo-

tan, enfluran dan isofluran. Efek ini paling 

ringan pada N20 dan eter 

menekan sistem kardiovaskuler, terutama 

oleh halotan, enfluran dan isofluran. Efek 

ini juga ditimbulkan oleh eter, namun  ka-

rena eter juga merangsang SS simpatis, 

maka efek keseluruhannya menjadi ri-

ngan

merusak hati (dan ginjal), terutama se-

nyawa klor, misalnya kloroform


oliguri(reversibel) sebab  berkurangnya 

pengaliran darah di ginjal, sehingga pa-

sien perlu dihidratasi secukupnya

menekan sistem regulasi suhu, sehingga 

timbul perasaan kedinginan (menggigil) 

pasca bedah

Teknik pemberian obat inhalasi

Di antara banyak cara pemberian anestetika 

inhalasi, ada beberapa cara yang paling se-

ring dipakai , yaitu:

a. sistem terbuka. Cairan terbang (eter, klo-

roform, trikloretilen) diteteskan tetes demi 

tetes ke atas sehelai kain kasa di bawah 

suatu kap dari kawat yang menutupi 

mulut dan hidung pasien. Ekshalasinya 

langsung ke luar, sehingga banyak zat 

inhalasi ini terbuang. Di samping ku-

rang ekonomis, gas yang diekshalasi juga 

mengganggu lingkungan, antara lain 

dapat memicu  abortus pada pera-

wat hamil yang bekerja di ruang bedah.

b. sistem tertutup. Suatu mesin khusus me-

nyalurkan campuran gas dengan oksigen 

ke dalam suatu kap, di mana sejumlah 

C02 dari ekshalasi dimasukkan kembali. 

Fungsinya yaitu  untuk mengisi kemba-

li kebutuhan oksigen basal, sedang  

fungsi C02 yaitu  untuk memperdalam 

per-napasan dan mencegah timbulnya 

apnoea (terhentinya pernapasan), seperti 

dapat terjadi pada sistem terbuka. Untuk 

menghindarkan meningkatnya kadar CO2 

berlebihan, perlu diinstalasi suatu “soda-

lime absorber” yang terdiri dari campuran 

Ca(OH)2 + KOH atau KOH + NaOH. Sis-

tem ini memungkinkan pentakaran yang 

lebih tepat dan pengawasan jalannya 

anestesia yang lebih baik. N20, siklopropan 

dan halotan biasanya diberikan dengan 

cara ini.

c. insuflasi. Gas atau uap ditiupkan ke da-

lam mulut atau tenggorok dengan peran- 

taraan suatu mesin. Cara ini berguna pada 

pembedahan yang tidak memakai  

kap, misalnya pada pembedahan penge-

luaran amandel (tonsillectomia).

MONOGRAFI

1. Eter (F.I.): diethylether, Ether ad narcosin.

Cairan dengan bau khas yang sangat mudah 

menguap, menyala dan juga eksplosif (1842). 

Khasiat analgesia dan anestetiknya kuat de-

ngan relaksasi otot baik. Eter dipakai  pada 

berbagai jenis pembedahan, terutama bila 

diperlukan relaksasi otot. Sebagian besar eter 

yang diinhalasi, dikeluarkan melalui paru-

paru dan sebagian kecil dimetabolisasi di 

hati. Batas keamanannya (indeks terapi) lebar. 

Eter mudah melewati plasenta.

Efek samping. Keberatannya di samping 

mudah menyala yaitu  merangsang mukosa 

saluran napas, hingga perlu diberikan pre-

medikasi berupa morfin-atropin 10-0,25 mg. 

Berhubung dengan kelarutannya yang baik 

dalam darah, induksi berjalan dengan lam-

bat dan sering kali disertai ketegangan. 

Efek samping lain yaitu  meningkatnya 

sekresi ludah dan sekret bronchi, sedang  

pengeluaran urin berkurang. Pemulihannya 

lambat dan disertai efek tidak nyaman. 

Biasanya dipakai  campuran 6-7% dengan 

udara melalui sistem terbuka atau tertutup.

2. Trikloretilen: Trilene, Cl2C=CCl.

Cairan dengan bau dan rasa seperti kloro-

form (CHCl3), tidak berwarna atau berwar-

na biru muda (diberi zat warna guna iden-

tifikasi), tidak dapat menyala dan tidak 

eksplosif (1911). Khasiat anestetiknya lemah 

dan lebih ringan daripada kloroform dan 

kerjanya lebih lambat. namun  sifat analge-

tiknya lebih kuat dan toksisitasnya lebih 

ringan. Sekarang obat ini tidak banyak 

dipakai  lagi, kecuali sebagai anestetikum 

bantuan pada pembedahan singkat di ke-

dokteran gigi dan kebidanan. Lazimnya 

dikombinasi dengan gas tertawa dan oksigen 

dengan sistem terbuka, sebab  dengan C02 

bereaksi menjadi fosgen yang sangat beracun 

(Cl2C=0).

Efek samping berupa bradycardia dan peng-

hambatan fungsi hati dan ginjal. sesudah  

siuman sering kali timbul mual, muntah, 

sakit kepala dan pikiran kacau. Obat ini juga 

melewati plasenta.


3. Nitrogenoksida: gas tertawa.

N20 yaitu  gas tak berwarna dengan bau 

yang khas, rasanya kemanis-manisan dan 

ca 1,5 kali lebih berat dari pada udara. Tidak 

bersifat merangsang dan tidak dapat menyala 

(1844). Induksinya cepat sesudah  melewati ta-

raf eksitasi (tertawa, “the end of pain”), begitu 

pula pemulihannya. Khasiat analgetiknya 

kuat, namun  khasiat anestetiknya lemah 

dan tidak memiliki sifat merelaksasi otot, 

maka hanya kadang-kadang dipakai  un- 

tuk anestesi singkat dalam obstetri dan ilmu 

kedokteran gigi, atau juga sebagai aneste-

tikum lanjutan sesudah  induksi dengan anes-

tetikum injeksi. 

Resorpsi sesudah  inhalasi cepat dan sebagian 

besar diekskresi dengan cepat pula dalam 

keadaan utuh melalui paru-paru. Obat ini 

dipakai  sebagai campuran dengan 30% 

oksigen dan disimpan dalam silinder hitam 

dan biru.

Efek samping yang terpenting yaitu  tim-

bulnya hipoksia dan sesudah  pemakaian  

lama dapat timbul anemia megaloblaster, aki-

bat oksidasi dari atom kobal dalam vita- 

min B12. Dibandingkan dengan anestetika 

lainnya, obat ini bekerja jauh lebih kurang 

depresif terhadap pernapasan dan sistem 

kardiovaskuler, di samping tidak memenga-

ruhi SSP. Pasca bedah timbul mual dan 

muntah pada ±15% dari pasien. 

Dosis: tracheal 50-66 v% bersama oksigen

4. Halotan: Fluothane

Cairan dengan sifat-sifat fisika, seperti 

kloroform, lebih kurang sama berat jenis, bau 

dan rasanya, juga tidak dapat menyala dan 

tidak eksplosif (1956). Khasiat anestetiknya 

sangat kuat (2 kali kloroform dan 4 kali 

eter), namun  khasiat analgetiknya rendah dan 

daya relaksasi ototnya ringan, yang baru 

memadai pada anestesi dalam. Sebaiknya 

halotan dipakai  dalam dosis rendah dan 

dikombinasi dengan suatu relaksan otot, 

seperti galamin atau suksametonium. Kela-

rutannya dalam darah relatif rendah, maka 

induksinya lambat, juga mudah dipakai  

dan tidak merangsang mukosa saluran napas, 

bahkan bersifat menekan refleks dari pharynx 

(tekak) dan larynx (pangkal tenggorok), mele-

barkan bronchioli dan mengurangi sekresi 

ludah dan sekresi bronchi. Pemulihannya 

juga lancar, sehingga banyak dipakai  seba-

gai anestetikum pokok atau anestetikum 

pembantu pada narkosa dengan obat yang 

bekerja lemah atau short-acting, seperti N20. 

Halotan dipakai  dengan sistem tertutup 

dalam kadar 1,5-3% tercampur dengan oksi-

gen. Cairan mengandung timol 0,01% sebagai 

stabilisator, sama dengan trikloretilen.

Kinetik. Sebagian dimetabolisasi dalam ha-

ti menjadi antara lain bromida dan klorida 

anorganik serta asam trifluoasetat. Ekskresi da-

lam keadaan utuh melalui paru-paru 60-80%, 

rata-rata 24 jam sesudah  pemberian. 

Efek samping yang penting yaitu  menekan 

pernapasan dan kegiatan jantung (aritmia), 

juga hipotensi. Seperti senyawa klor lainnya 

halotan membuat jantung lebih peka terhadap 

adrenalin dan toksik bagi hati berdasar  

suatu reaksi hipersensitasi. Pada pemakaian  

berulang dilaporkan kerusakan hati.

Dosis: tracheal 0,5-3 v%.

5. Enfluran: Enthrane, Alyrane

Senyawa klor-pentafluor ini (1972) yaitu  

anestetikum inhalasi kuat, yang dipakai  

pada berbagai jenis pembedahan, juga seba-

gai analgetikum pada persalinan. Berda-

sarkan struktur eternya senyawa ini memi-

liki daya relaksasi otot dan analgetik baik, 

disamping menidurkan. Dibandingkan de-

ngan halotan zat ini tidak begitu menekan 

SSP. 

Resorpsi sesudah  inhalasi cepat dengan 

waktu induksi 2-3 menit. Sebagian besar (80-

90%) diekskresi melalui paru-paru dalam 

keadaan utuh dan hanya 2,5-10% diubah 

menjadi ion fluorida bebas, di samping me-

tabolit organik.

Efek sampingnya berupa hipotensi, menekan 

pernapasan, aritmi dan merangsang SSP. Pasca 

bedah dapat timbul hipotermi (menggigil) 

serta mual dan muntah. berdasar  efeknya 

yang melemaskan otot uterus, zat ini dapat 

meningkatkan pendarahan pada saat persa-

linan, sectio caesarea dan abortus.

Dosis: tracheal 0,5-4 v%.

* Isofluran (Forane, Aerrane) yaitu  isomer 

(1971) dari enfluran yang baunya tidak enak 

dan juga merupakan anestetikum inhalasi 


kuat dengan sifat analgetik dan relaksasi 

otot baik. Kebanyakan dipakai  dalam 

kombinasi dengan anestetika intravena un-

tuk menginduksi anestesi. Daya kerja dan 

penekanannya terhadap SSP sama dengan 

enfluran. Tidak menyala dan tidak eksplosif. 

Walaupun molekulnya mengandung 5 atom 

fluor, kadar fluorida dalam ginjal sangat ren-

dah, sehingga tidak memicu  gangguan 

terhadap fungsi ginjal.

Efek samping berupa hipotensi, aritmi, meng-

gigil, konstriksi bronchi dan meningkatnya 

jumlah lekosit. Pasca bedah dapat timbul mu-

al, muntah dan keadaan tegang pada ±10% 

pasien. 

Dosis: tracheal 0,5-3v% dalam oksigen atau 

bersama oksigen dan N2O.

6. Propofol: Diprivan

Derivat isopropilfenol ini (1987) dipakai  

untuk induksi dan melanjutkan anestesi 

umum. sesudah  injeksi i.v., propofol dengan 

cepat disalurkan ke otak, jantung, hati dan 

ginjal, yang kemudian disusul dengan redis-

tribusi yang sangat cepat ke otot, kulit, tulang 

dan lemak. Redistribusi ini memicu  

kadar dalam otak menurun dengan cepat. Di 

hati, propofol dirombak menjadi metabolit-

metabolit inaktif yang diekskresi melalui 

urin.

Efek samping agak serius, antara lain se-

sak napas (apnoe) dan depresi sistem kardio-

vaskuler (hipotensi, bradycardia), eksitasi 

ringan dan tromboflebitis. sesudah  siuman tim-

bul mual, muntah dan nyeri kepala.

Dosis: i.v./infus 2-12 mg/kg bobot badan.

7. Ketamin: Ketalar, “special K”, “street K”

Derivat sikloheksanon ini (1966) diguna-

kan pada pembedahan singkat yang menim-

bulkan perasaan sakit, untuk penenang dan 

induksi anestesi.

Ketamin terdiri yaitu  campuran rasemis 

dari S(+)-ketamin (efek analgetik) dan R(-)-ke-

tamin (efek halusinogen). Untuk pengobatan 

hanya S(+)-ketamin yang dipakai  (nama 

generik esketamin), misalnya sebagai pere-

da rasa sakit untuk menggantikan opiat. Me-

miliki efek simpatikomimetik tidak langsung 

dengan peningkatan tekanan darah dan 

frekuensi jantung. 

Metabolismenya melalui konyugasi di hati 

dan diekskresi melalui urin. Metabolitnya 

memiliki efek analgetik (t½ ±2 jam) yang 

berlangsung lebih lama daripada efek hip-

notiknya. Ketamin memicu  analgesi 

yang dalam, pada saat mana pasien “tertutup” 

bagi rangsangan yang mencapai otak. Sejak 

beberapa tahun ketamin disalahgunakan se- 

bagai drug (special/street K), yang dapat me-

nimbulkan halusinasi dan penglihatan ka-

cau. Efek ini disebabkan oleh blokade dari 

beberapa neurotransmitter tertentu di otak. 

Lihat juga Bab 23, Drugs.

Efek samping berupa hipertensi, kejang-

kejang, banyak sekresi ludah dan peningkatan 

tekanan intrakranial dan intraokuler, juga 

mengurangi kegiatan jantung dan paru-paru. 

Gangguan psikis (halusinasi) dapat timbul 

pada periode pemulihan.

Dosis: i.m. 10 mg/kg, i.v. 2 mg/kg bobot 

badan.

8.  Tiopental (F.I.): thiopentone, penthiobarbital, 

Pentothal

Ultra-shortacting barbital ini (1948) digu-

nakan sebagai anestetikum injeksi; efeknya 

baik, namun  sangat singkat (t½ ±5 menit), lihat 

juga Bab 24, Hipnotika dan Sedativa. Mulai 

kerjanya cepat (tanpa taraf eksitasi), begitu 

pula pemulihannya, namun  efek analgetik 

dan relaksasi ototnya tidak cukup kuat. Oleh 

sebab  itu hanya dipakai  untuk induksi 

dan narkosa singkat pada pembedahan kecil 

(antara lain di mulut) atau sebagai aneste-

tikum pokok bersamaan dengan suatu anes-

tetikum lanjutan dan suatu zat relaksans otot.

Kinetik. Tiopental terikat pada protein plas-

ma sebanyak 80%. Di dalam hati. zat ini di-

rombak dengan sangat lambat menjadi 3-5% 

pentobarbital dan sisanya menjadi metabolit 

tidak aktif yang diekskresi melalui urin. Ka-

darnya dalam jaringan lemak yaitu  6-12 kali 

lebih besar daripada kadar dalam plasma.

Efek samping terpenting yaitu  depresi per-

napasan (apnoea), terutama saat injeksi yang 

terlampau cepat dan dosis berlebihan. Zat 

ini tidak dapat dipakai  pada insufisiensi 

sirkulasi, jantung atau hipertensi. Tiopental 

juga memicu  sering menguap, batuk 

dan kejang pangkal tenggorok (larynx) pada 


taraf awal anestesi. Hipotensi dapat timbul 

pada pasien tertentu. Zat ini dapat menembus 

plasenta dan juga masuk ke dalam air susu 

ibu. 

Dosis: i.v. 100-150 mg larutan 2,5-5% 

(perlahan-lahan), rektal 40 mg/kg maksimal 

2 g. 

9. Midazolam: Dormicum

Derivat benzodiazepin ini (1982) berkhasi-

at hipnotik, anksiolitik, relaksasi otot dan 

antikonvulsi. Selain sebagai obat tidur, zat 

ini juga dipakai  pada taraf induksi dan 

untuk mempertahankan anestesi. Per oral 

resorpsimya agak cepat, BA 40-50% sebab  

FPE. Melalui injeksi i.m. BA-nya 90%, diikat 

pada protein plasma sebanyak 96%. Perom-

bakannya cepat dan sempurna, untuk 60-

80% menjadi metabolit aktif 1-hidroksimetil-

midazolam yang diekskresi melalui urin 

dalam bentuk glukuronida. Masa paruhnya 

1,5-2,5 jam, sedang  metabolit hidroksinya 

60-80 menit.

Efek samping pada dosis di atas 0,1-0,15 mg/

kg berat badan berupa hambatan pernapasan 

yang bisa fatal. Nyeri dan tromboflebitis dapat 

timbul pada tempat injeksi. 

Dosis: sebagai premedikasi oral 25 mg 

45 menit sebelum pembedahan, i.v. 2,5 mg 

(HCl). Lihat juga Bab 24, Hipnotika.

10. Droperidol: *Thalamonal

Derivat benzimidazolinon ini (1963) ber-

khasiat antidopamin kuat dan antisero-

tonin lemah. Droperidol dipakai  seba-

gai antipsikotikum dan untuk premedikasi 

atau induksi anestesi. Biasanya dikombina-

si dengan analgetikum opioid fentanil (*Tha-

lamonal). Dalam darah sebagian besar zat 

terikat pada protein plasma. Perombakan 

terjadi di hati dan diekskresi melalui urin 

(10%) dan feses dalam keadaan utuh dan 

metabolitnya. 

Efek samping berupa eksitasi, hipotensi 

ringan dan pada dosis tinggi timbul gejala 

ekstrapiramidal dengan kaku otot. Drope-

ridol juga dapat melewati plasenta.

Dosis: oral pada nyeri kronis 2,5-20 mg 

sehari, pada keadaan eksitasi hebat 

i.v. 25-50 mg, untuk induksi anestesi i.v. 15-

20 mg.


ANESTETIKA LOKAL

Anestetika lokal atau zat penghilang rasa 

setempat yaitu  obat yang pada pemakaian  

lokal merintangi secara reversibel penerusan 

impuls saraf ke SSP dan dengan demikian 

menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri, 

gatal-gatal, rasa panas atau dingin. Banyak 

persenyawaan lain juga memiliki daya kerja 

demikian, namun  efeknya tidak reversibel dan 

memicu  kerusakan permanen pada 

sel-sel saraf. Misalnya cara mematikan rasa 

setempat juga dapat dicapai dengan pendi-

nginan yang kuat (freezing anaesthesia) atau 

melalui keracunan protoplasma (fenol).

Anestetika lokal pertama yaitu  kokain, 

yaitu suatu alkaloid yang diperoleh dari daun 

suatu tumbuhan alang-alang di pegunungan 

Andes (Peru). Sejak berabad-abad penduduk 

aslinya mempunyai kebiasaan mengunyah 

daun ini yang memberikan suatu perasaan 

nyaman dan meningkatkan daya tahan 

tubuh (lihat juga Bab 23, Drugs). Alkaloid ini 

pertama kali dipakai  sebagai penghilang 

rasa nyeri pada pengobatan mata, kemu-

dian pada kedokteran gigi (Hall, 1884). Ber-

dasarkan kemampuannya merintangi trans-

misi dalam batang saraf (nerve trunk), kokain 

juga dipakai  untuk anestesia blokade 

saraf pada pembedahan (Halstad, 1885) mau-

pun pada anestesia spinal (lihat Bab 25, 

Anestetika umum).

Sejak tahun 1892 dikembangkan pembu-

atan anestetika lokal secara sintetik dan yang 

pertama yaitu  prokain dan benzokain 

pada tahun 1905, yang disusul oleh banyak 

derivat lain seperti tetrakain dan cinchokain. 

Kemudian muncul anestetika modern se-

perti lidokain (1947), mepivakain (1957), 

prilokain (1963) dan bupivakain (1967).

Persyaratan

Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi 

untuk suatu jenis obat yang dipakai  seba-

gai anestetikum lokal, antara lain:

a. tidak merangsang jaringan

b. tidak memicu  kerusakan perma-

nen terhadap susunan saraf

c. toksisitas sistemik yang rendah

d. efektif dengan jalan injeksi atau penggu-

naan setempat pada selaput lendir

e. mulai kerjanya sesingkat mungkin, namun  

bertahan cukup lama

f. dapat larut dalam air dan menghasilkan 

larutan yang stabil, juga terhadap pema-

nasan (sterilisasi)

Penggolongan

Struktur dasar anestetika lokal pada umum-

nya terdiri dari tiga bagian, yakni suatu 

gugus amino hidrofil (sekunder atau tersier) 

yang dihubungkan oleh suatu ikatan ester 

(alkohol) atau amida dengan suatu gugus 

aromatik lipofil. Semakin panjang gugus 

alkohol-nya, semakin besar efek anestetiknya, 

namun  toksisitasnya juga meningkat.

Anestetika lokal dapat digolongkan secara 

kimiawi dalam beberapa kelompok sebagai 

berikut.

a. Senyawa ester: kokain dan ester PABA 

(benzokain, prokain, oksibuprokain, te-

trakain)

b. Senyawa amida: lidokain dan prilokain, 

mepivakain, bupivakain dan cinchokain

c. lainnya: fenol, benzilalkohol dan etilklo-

rida 

Semua obat itu  di atas yaitu  sintetik, 

kecuali kokain yang alamiah.


Mekanisme kerja

Anestetika lokal memicu  kehilangan 

rasa melalui beberapa cara. Antara lain de-

ngan menghindari sementara pembentukan 

dan transmisi impuls melalui sel saraf dan 

ujungnya.

Pusat mekanisme kerjanya terletak di 

membran sel. Seperti juga alkohol dan bar-

bital, anestetika lokal menghambat penerus-

an impuls dengan menurunkan permeabili-

tas membran sel saraf untuk ion natrium, 

yang perlu bagi fungsi saraf yang layak. Hal 

ini disebabkan adanya persaingan dengan 

ion kalsium yang berada berdekatan dengan 

saluran-saluran natrium di membran neuron. 

Pada waktu bersamaan, akibat turunnya laju 

depolarisasi, ambang kepekaan terhadap 

rangsangan listrik lambat-laun meningkat, 

sehingga akhirnya terjadi kehilangan rasa 

setempat secara reversibel.

Diperkirakan bahwa pada proses stabi-

lisasi membran itu , ion kalsium me-

megang peranan penting, yaitu molekul 

lipofil besar dari anestetika lokal mungkin 

mendesak sebagian ion kalsium di dalam 

membran sel tanpa mengambil alih fung-

sinya. Dengan demikian membran sel men-

jadi lebih padat dan stabil, serta dapat lebih 

baik menghadapi segala sesuatu perubahan 

mengenai permeabilitasnya.

Penghambatan penerusan impuls dapat 

pula dicapai dengan pendinginan kuat (etil-

klorida) atau dengan meracuni protoplasma 

sel (fenol).

Efek-efek lain

Selain khasiat anestetik, anestetika lokal me-

miliki sejumlah efek seperti mengganggu 

fungsi semua organ di mana terjadi kon-

duksi/transmisi dari beberapa impuls, mis. 

terhadap ganglia otonom, cabang-cabang 

neuromuskular dan semua jaringan otot, la-

gipula yang lebih penting menekan SSP dan 

sistem jantung serta vasodilatasi.

a. Menekan SSP. sesudah  resorpsi pertama-

tama timbul stimulasi, kemudian eksitasi, 

gemetar dan konvulsi. Stimulasi pusat ini 

disusul oleh depresi dan terhambatnya per-

napasan, yang dapat memicu  kema-

tian. Dibandingkan kokain, anestetika lokal 

sintetik kurang kuat sifat merangsangnya 

terhadap pusat-pusat kegiatan di otak, di 

samping tidak bisa memicu  adiksi.

b. Menekan sistem kardiovaskuler. Pem-

berian sistemik anestetika lokal pada kadar 

tinggi terutama memengaruhi otot jantung 

dan memicu  antara lain penurun-

an kepekaan untuk rangsangan listrik, ke-

cepatan penerusan impuls dan daya kon-

traksi jantung. Sifat-sifat ini menyerupai 

kinidin. Kekurangannya yaitu  cepatnya pe-

rombakan oleh metabolisme tubuh. Berda-

sarkan kerja kardiodepresif ini, lidokain dan 

prokainamida dipakai  sebagai obat anti-

aritmia, lihat Bab 37. Obat-obat Jantung.

c. Vasodilatasi. Pada dosis agak besar anes-

tetika mencapai peredaran darah dan me-

nimbulkan vasodilatasi umum sebagai akibat 

langsung dari blokade saraf adrenergik. Si-

fat ini nyata sekali pada prokain, tetrakain, 

cinchokain dan bupivakain, sertameningkatkan 

risiko efek toksik. Pengecualian yaitu  ko-

kain yang justru berkhasiat vasokonstriksi.

Kinetik

Resorpsi dari kulit dan selaput lendir da-

pat berlangsung sangat cepat dan baik, 

misalnya pada kokain, lidokain, prilokain 

dan tetrakain. Distribusi juga berlangsung 

dengan pesat ke semua organ dan jaringan. 

Sebaliknya, resorpsi prokain di kulit buruk, 

sehingga tidak berguna dalam sediaan lokal. 

Kecepatan daya kerja dan lamanya ditentukan 

oleh lipofilitas, pKa, derajat pengikatan pada 

protein dan derajat vasodilatasi.

Perombakan. Kebanyakan anestetika lokal 

kelompok ester didegradasi di dalam hati 

(sebagian kecil) melalui hidrolisis oleh enzim 

esterase dan di dalam plasma oleh enzim 

kolinesterase. Zat-zat amida dirombak dengan 

lambat oleh amidase di hati dan diekskresi 

terutama melalui ginjal. Oleh sebab  itu perlu 

dihindari pemakaian  anestetika lokal pada 

penderita kerusakan hati.

Toksisitas anestetika lokal tergantung pada 

keseimbangan antara kecepatan resorpsi dan 

kecepatan degradasi. Kecepatan resorpsi dan 


juga toksisitasnya dapat sangat diperkecil 

dengan pemberian suatu vasokonstriktor 

pada waktu bersamaan. Keuntungan lain 

dari penambahan ini yaitu  diperpanjangnya 

daya kerja dan berkurangnya kehilangan 

darah di tempat luka bedah. Vasokonstriktor 

yang sering dipakai  yaitu  epinefrin 

1:200.000 atau norepinefrin 1:100.000 yang 

memberikan lebih sedikit efek samping. 

Namun perlu diperhatikan bahwa kombinasi 

demikian tidak boleh dipakai  pada bagian-

bagian tubuh tertentu (jari tangan atau kaki, 

hidung, telinga, penis), sebab  kemungkinan 

timbulnya ischemia dan gangrena (jaringan 

mati).

Efek samping

Efek sampingnya yaitu  akibat efek depresi 

terhadap SSP dan efek kardio-depresifnya 

(menekan fungsi jantung) dengan gejala 

penghambatan pernapasan dan sirkulasi da-

rah. Anestetika lokal dapat pula mengaki-

batkan reaksi hipersensitasi yang sering kali 

berupa eksantema, urtikaria dan bronchospasme 

alergik sampai adakalanya syok anafilaktik yang 

dapat mematikan. Yang terkenal dalam hal 

ini yaitu  zat-zat kelompok ester prokain dan 

tetrakain, yang sebab  itu tidak dipakai  lagi 

dalam sediaan lokal. Reaksi hipersensitasi 

itu  diakibatkan oleh PABA (para-amino-

benzoic acid), yang terbentuk melalui hidrolisis. 

PABA dapat meniadakan efek antibakteriil 

dari sulfonamida, berdasar  antagonisme 

persaingan (lihat Bab 8. Sulfonamida). Oleh 

sebab  itu terapi dengan sulfa tidak boleh 

dikombinasi dengan pemakaian  ester-ester 

itu .

pemakaian 

1. Secara parenteral anestetika lokal sering 

kali dipakai  pada pembedahan untuk 

mana anestesia umum tidak perlu atau tidak 

diinginkan. Jenis anestesia lokal yang paling 

banyak dipakai  melalui injeksi yaitu  

sebagai berikut.

a.  Anestesia infiltrasi. Di sini beberapa in-

jeksi diberikan pada atau sekitar jaringan 

yang akan dianestetisir (patirasa), se-

hingga memicu  hilangnya rasa 

di kulit dan di jaringan yang terletak 

lebih dalam, misalnya pada praktik THT 

(Telinga, Hidung, Tenggorok) atau gusi 

(pada pencabutan gigi);

b.  Anestesia konduksi (juga disebut blo-

kade saraf perifer), yaitu injeksi di tulang 

belakang pada lokasi terkumpulnya ba-

nyak saraf, hingga tercapai anestesia dari 

suatu daerah yang lebih luas, terutama 

pada operasi lengan atau kaki, juga bahu. 

Lagi pula dipakai  terhadap rasa nyeri 

hebat.

c.  Anestesia spinal (intrathecal), yang dise-

but juga injeksi punggung (“ruggenprik”). 

Obat disuntikkan di tulang punggung 

yang berisi cairan otak. Dengan demikian 

injeksi melintasi selaput luar dari sumsum 

belakang (dura mater), biasanya antara 

ruas lumbal ketiga dan keempat (L3-L4), 

sehingga dalam beberapa menit dapat 

dicapai pembiusan dari bagian bawah 

tubuh, dari kaki sampai tulang dada. 

Kesadaran penderita tidak hilang dan 

seusai pembedahan kurang memicu  

perasaan mual.

d.  Anestesi epidural, juga termasuk in-

jeksi punggung. Obat disuntikkan di 

ruang epidural, yakni ruang antara ke-

dua selaput luar sumsum belakang. 

Anestesia dicapai sesudah  sekitar sete-

ngah jam. Tergantung pada efek yang 

dikehendaki, injeksi diberikan di lokasi 

yang berbeda-beda, misalnya secara lum-

bal untuk persalinan (sectio caesarea), 

obstetri dan pembedahan perut bagian 

bawah. Secara cervical untuk mencapai 

hilang rasa di daerah tengkuk; secara 

thoracal untuk pemotongan di paru-paru 

dan perut bagian atas. Bila dipakai  

melalui kateter, cara ini layak pula untuk 

pembedahan yang memakan waktu lama 

atau pasca-bedah untuk penanganan rasa 

nyeri.

e. Anestesia permukaan melalui suntikan 

banyak dipakai  sebagai penghilang 

rasa oleh dokter gigi untuk mencabut 

gigi geraham atau oleh dokter keluarga 

untuk pembedahan kecil seperti menjahit 

luka pada kulit. Anestesia permukaan 

juga dipakai  sebagai persiapan untuk 

prosedur diagnostik, seperti bronkoskopi, 

gastroskopi dan sitoskopi.

2. Cara pemakaian  lain. Per oral anestetika 

lokal dipakai  dalam bentuk larutan untuk 

nyeri di mulut atau dalam sediaan tablet 

isap (sakit tenggorok). Juga sebagai tetes 

mata untuk mengukur tekanan intraokuler 

atau mengeluarkan benda asing, begitu pula 

sebagai salep untuk gatal-gatal atau nyeri 

luka bakar dan dalam suppositoria terhadap 

wasir. 

Senyawa ester sering kali memicu  

reaksi alergi kulit, oleh sebab  itu sebaiknya 

dipakai  suatu senyawa amida yang lebih 

jarang memicu  hipersensitasi.

Catatan: anestetika lokal dianggap sebagai 

obat «doping», sehingga dikenakan restriksi 

tertentu. Misalnya, kokain merupakan obat 

doping yang merangsang.

Pengaruh pH. sebab  basa bebasnya sukar 

larut dan tidak stabil, biasanya  digu-

nakan garam klorida yang mudah larut dalam 

air. Garam-garam ini yang bersifat asam, 

di dalam jaringan tidak aktif dan sesudah  

dinetralisasi barulah bentuk basanya yang 

bersifat lipofil dapat menembus jaringan dan 

memicu  efek anestetiknya. 

Penambahan vasokonstriktor. Untuk 

memperpanjang efek anestetika lokal, se-

ring kali ditambahkan suatu obat yang men- 

ciutkan pembuluh, seperti adrenalin (1 : 

2-400.000). Keuntungan lainnya yaitu  re- 

sorpsi anestetikum diperlambat dan tok-

sisitasnya berkurang, mulai kerjanya lebih 

cepat dan lebih kuat, sedang  lokasi 

pembedahan praktis tidak berdarah. Lih. 

juga di atas Kinetik.

MONOGRAFI

A. SENYAWA ESTER

1. Kokain: benzoylmetilekgonin

Derivat tropan ini (1884) dengan struktur 

atropin ada  secara alamiah di daun 

tumbuhan Erythroxylon coca (Peru, Bolivia) 

dengan kadar 0,8-1,5%. Berbeda dengan 

anestetika lain, anestetikum dari kelompok 

ester ini berkhasiat vasokonstriksi dan be-

kerjanya lebih lama, mungkin sebab  me-

rintangi re-uptake noradrenalin di ujung 

neuron adrenergik sehingga kadarnya di 

daerah reseptor meningkat. Selain itu, kokain 

juga memiliki efek simpatomimetik sentral 

dan perifer. Efek stimulasinya terhadap SSP 

(cortex) memicu  beberapa gejala, se-

perti gelisah, ketegangan, konvulsi, eufori, 

di samping meningkatkan kapasitas dan te-

naga, sehingga mampu bekerja lama sebab  

hilangnya perasaan lelah. berdasar  efek 

sentral ini, kokain sering kali disalahgunakan 

sebagai drug, yang memicu  toleransi 

dan ketergantungan psikis hebat, lihat Bab 23, 

Drugs, adiksi kokain. Stimulasi sentral yang 

kuat kemudian disusul dengan depresi dan 

berhentinya pernapasan (pada dosis tinggi). 

Kokain juga berefek melebarkan pupil mata 

(midriasis).

pemakaian nya hanya untuk anestesia per-

mukaan pada pembedahan di hidung, te-

nggorok, telinga atau mata. Sebagai tetes 

mata tidak dipakai  lagi sebab  risiko 

cacat cornea dan sifat midriasisnya. Untuk 

pemakaian  sistemik, kokain terlalu toksik, 

sebab  dapat memicu  angina pectoris 

dan infark jantung. pemakaian nya yang 

terlalu sering dengan konsentrasi tinggi da-

pat memicu  necrosis (mati jaringan) 

akibat vasokonstriksi setempat. Misalnya, 

necrosis mukosa hidung para pecandu ko-

kain, yang menyedotnya dalam bentuk ser- 

buk yang dewasa ini sangat populer di ka-

langan junkies. 

Resorpsi dari selaput lendir baik dan efek-

nya sudah nampak sesudah  1 menit dan dapat 

berlangsung selama ± 1 jam. Daya kerjanya 

relatif singkat dengan t1/2 50 menit. Zat ini 

dirombak oleh kolinesterase di hati dan di-

ekskresi terutama lewat urin. 

Kehamilan. Kokain dapat meningkatkan 

risiko abortus dan cacat pada janin, terutama 

pada saluran urin.

Dosis: kedokteran mata: larutan (HCl) 

1-4%; anestesia hidung, telinga dan tenggo-

rok 1-10%.

2.  Benzokain: anestesin, etilaminobenzoat, 

*Benzomid, *Rako.

Ester PABA ini (1900) merupakan derivat 

dari asam p-aminobenzoat yang resorpsinya 

14108649_OBAT P(Bab 26)_T-410-417.indd   413 21/04/2015   16:34:37

Seksi IV: Obat Susunan Saraf Pusat414

lambat. Khasiat anestetik lemah, sehingga 

hanya dipakai  pada anestesi permukaan 

untuk menghilangkan rasa nyeri dan gatal-

gatal (pruritus). Benzokain dipakai  dalam 

suppositoria (250-500 mg, *Rako) atau salep 

(2%) anti wasir (*Borraginol), juga dalam 

salep kulit, bedak tabur 5-20% dan lotion anti 

sunburn (3%, *Benzomid). 

sebab  kemungkinan besar timbulnya sen-

sibilisasi, sebaiknya sediaan demikian jangan 

dipakai . Adakalanya juga secara oral un-

tuk mematikan rasa di mukosa lambung, 

misalnya bersamaan dengan sediaan antasida 

pada borok lambung.

3. Prokain: Novocaine, etokain 

Derivat benzoat ini yang disintesis pada 

tahun 1905 (Einhorn) tidak begitu toksik di-

bandingkan kokain. Anestetik lokal dari ke-

lompok ester ini bekerja singkat. Dalam tubuh 

dengan cepat dan sempurna dihidrolisis 

oleh kolinesterase menjadi dietilaminoetanol 

dan PABA (asam para-aminobenzoat), yang 

merupakan antagonis dari sulfonamida. Re-

sorpsi di kulit buruk, maka hanya diguna-

kan sebagai injeksi dan sering kali bersamaan 

dengan adrenalin untuk memperpanjang 

efeknya. Sebagai anestetik lokal, prokain su-

dah banyak digantikan oleh lidokain dengan 

efek samping lebih ringan.

Efek samping yang serius yaitu  hiper-

sensitasi, yang kadang-kadang pada dosis 

rendah sudah dapat memicu  kolaps 

dan kematian. Efek samping yang juga harus 

diperhatikan yaitu  reaksi alergi terhadap 

sediaan kombinasi prokain-penisilin. Berla-

inan dengan kokain zat ini tidak mengaki-

batkan adiksi.

Dosis: anestesia infiltrasi 0,25-0,5%, blokade 

saraf 1-2%. 

* Oksibuprokain (benoksinat, Novesine) ada-

lah derivat oksibutil (1954) yang tidak ber-

sifat merangsang dan terutama dipakai  

pada kedokteran THT dan mata. namun  peng-

gunaannya harus berhati-hati bila ada  

selaput lendir yang rusak atau adanya pe-

radangan setempat. Mulai kerjanya cepat 

dan kuat (dalam 1 menit) dan bertahan ±10 

menit. Toksisitasnya ringan dan menurut 

laporan tidak memicu  reaksi alergi. 

Dibandingkan tetes mata tetrakain, kurang 

merangsang namun  efeknya lebih lemah. Juga 

memiliki khasiat bakteriostatik lemah. Dosis: 

tetes mata 0,1-0,4%, untuk THT 10 mg/ml 

dan dalam salep 1%. 

* Tetrakain (ametokain) yaitu  derivat ben-

zoat dengan gugus metil pada atom-H 

(1941). Khasiatnya ±10 kali lebih kuat dari-

pada prokain, namun  juga beberapa kali le-

bih toksik. Mulai kerjanya cepat dan