Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 13. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 13. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 13

 





at, namun  merupakan 

suplemen diet. Food supplements ini, juga 

disebut “health food”, dapat dibeli bebas tan-

pa resep di semua negara, terkecuali sediaan 

injeksinya.

Antioksidansia yang banyak dipakai  

yaitu  vitamin A, C dan E, mineral selenium 

dan seng, flavon (kurkumin, genistein, ubi-

kuinon, lycopen) dan sejumlah enzim (pa-

pain, bromelain, pankreatin). Yang lebih 

jarang dipakai  yaitu  ekstrak timus dan 

ek strak Viscum album.

Di samping efek menstimulasi imunitas, 

suplemen sering kali berefek menghilangkan 

atau mengurangi gejala penyakit atau efek 

samping obat, seperti rasa nyeri, mual dan 

perasaan letih (efek paliatif). Kebaikan lain 

yaitu  senyawa-senyawa ini dalam dosis 

yang dianjurkan hampir tidak memicu  

efek samping. 

Perhatian! Perlu digarisbawahi bahwa 

terapi alternatif kanker dengan antioksidan-

sia tidak boleh dipakai  tersendiri,namun  

sebagai penanganan tamba han (suplemen) 

di samping pengobatan regular oleh dokter 

(onkolog/internis). 

Juga dianjurkan untuk hanya memakai  

suplemen dari pabrik terkenal, sebab  tidak 

jarang isi kemasan tidak sesuai dengan 

deklarasinya di atas etiket, khusus mengenai 

zat aktif atau kadarnya 

* Diet. Di samping food supplement itu  

di atas juga penting sekali bagi pasien kan-

ker untuk mengikuti suatu diet tertentu. 

Diet ini semula dikembangkan oleh seorang 

dokter Belanda (dr.Moerman) dan kemudian 

dimutakhirkan oleh internis Dr Houtsmuller. 

Dua aturan terpenting dari diet ini yaitu  

larangan makan daging dan banyak makan 

sayuran.

a. Daging semua hewan menyusui dan 

unggas serta produk-produknya, juga 

ikan (yang tidak berlemak) dilarang, ka- 

rena mengandung asam arachidonat, lihat 

di atas (Pencegahan). Ikan berlemak 

(kembung, makril, bandeng, salem, sar-

dencis) tidak dilarang sebab  mengan- 

dung asam lemak tak-jenuh (omega3 = 

n3). Kacang tanah dan minyaknya (oleum 

arachidis) perlu dihindari sebab  kandung-

an arachidonatnya.

b.  Sayuran dan buah-buahan dalam jumlah 

besar, masing-masing sampai 200 g seha- 

ri dianjurkan. Juga makanan yang me-

ngandung zat-zat alamiah dengan sifat 

antioksidan, seperti flavonoida, polifenol, 

karotenoida, terpenoida, protease-inhibi-

tor dan enzim-enzim yang bekerja anti-

tumor kuat.


SEL-SEL bATANG DAN PENANGANAN REGENERATIF

Sel batang (stemcell) yaitu  sel-sel muda (belum masak) yang ada  dalam sumsum tulang dan 

lain-lain organ/jaringan tubuh, juga ada  dalam tali pusat. Sel-sel ini disebut adult stemcells (sel 

batang dewasa) dan dapat dibedakan dengan embryonic stemcells yang diperoleh dari embryo. Sel 

batang dewasa memiliki kemampuan terbatas, mis. sel batang otak dapat berkembang menjadi 

sel-sel saraf, namun  tidak menjadi misalnya sel hati,  sedang  sel-sel sumsum tulang hanya dapat 

berkembang menjadi sel-sel darah. 

Sebaliknya sel batang embrionik dapat diarahkan untuk berkembang menjadi hampir setiap tipe sel 

(pluripotent). Proses pengarahan inilah yang menjadi tantangan besar bagi para ilmuwan, bagaimana 

melalui kombinasi rumit dari faktor-faktor pertumbuhan, isyarat-isyarat kimia dan genetik, 

mengarahkan  diferensiasi dari sel-sel batang embrionik untuk berkembang menjadi misalnya sel 

darah, sel otot jantung, tulang, jaringan hati atau kulit. Kesulitan besar yaitu  kurang tersedianya 

stemcells embrionik ini, yang sekarang hanya tersedia dari  “sisa-sisa“ proses  pembuahan tabung 

reaksi (IVF, in vitro fertilization).

Penanganan regeneratif.   Potensi dari sel-sel batang inilah yang merupakan dasar dari terapi 

regeneratif, suatu revolusi medis, di mana organ dan jaringan yang sakit dapat direparasi atau diganti 

dengan pengganti alamiah yang khusus dikembangkan untuk tujuannya (custommade), bukannya 

dengan alat-alat mekanis seperti sendi-sendi dari logam titanium. Stemcells batang dapat membuka 

era baru kedokteran di mana penyakit-penyakit yang mematikan dapat disembuhkan dengan 

jaringan dan organ yang dibuat secara “sintetik”. Di kemudian hari sel-sel batang embrionik dapat 

membantu para dokter untuk menangani misalnya  diabetes tipe I dan  kelumpuhan akibat cedera 

tulang belakang (spina bifida).

Sumsum tulang dan darah dari tali pusat mengandung banyak sel batang yang dapat berkembang 

menjadi sel-sel darah merah, sel-sel darah putih dan unsur-unsur sistem imun. Bila tranfusi 

darah memberikan sel-sel darah yang hanya hidup untuk beberapa bulan, sel-sel batang ini dapat 

“ditempatkan“ (settle) dalam tulang penderita yang membentuk sel-sel darah dan sel-sel imun untuk 

sepanjang hidup. Sama halnya dengan implantasi organ, jaringan stemcell donor (patron) secara genetik 

harus identik dengan sipenerima untuk menghindari penolakan oleh tubuh.

Terapi dengan sel batang  di kemudi an hari  dapat ditujukan untuk beberapa jenis penyakit  seperti 

berikut:

—   penyakit jantung: sel batang dari sumsum tulang yang di-injeksikan ke dalam arteri jantung 

diperkirakan dapat memperbaiki fungsi jantung penderita serangan jantung dan gagal jantung;

—    leukemia dan kanker: sel batang dari sumsum tulang dan darah tali pusat dapat dipakai  terhadap 

leukemia dan limfoma non-Hodgkin, kanker pankreas dan kanker ovarium;

—   rheumatoid arthritis: sel batang dapat membantu memperbaiki tulang rawan yang aus;

—   penyakit Parkinson: sel batang saraf dari pasien dapat diarahkan untuk menjadi sel-sel dewasa 

yang memproduksi dopamin yang dibutuhkan bagi penyakit ini.

—   diabetes tipe I: riset ditujukan cara bagaimana mengarahkan sel-sel batang embrionik untuk 

menjadi sel-sel pulau Langerhans di pankreas untuk memproduksi insulin.

Pengetahuan dan riset mengenai sel batang embrionik telah dipelopori di Amerika Serikat, namun  

berdasar  pertimbangan keagamaan, etik dan moral telah menghambat perkembangannya, a.l. 

ditentang keras oleh Presiden Bush. Di negeri Belanda  berlaku suatu  Hukum Embryo sejak tahun 

2002 yang memperbolehkan riset dengan stemcells embrionik manusia hanya  bila  diperkirakan ada 

harapan besar untuk mencapai penemuan-penemuan baru di bidang ilmu kedokteran yang tidak 

dapat dicapai melalui cara lain.

Sebaliknya  negara-negara seperti Inggeris dan beberapa negara Asia termasuk China, Korea dan 

terutama Singapura berlomba-lomba untuk menjadi epicenter utama dari riset mengenai sel batang.

Banyak cara penanganan gangguan di du-

nia kedokteran didasarkan atas kelentur an 

dan daya pemulihan dari tubuh sendiri.

namun  bila kerusakan suatu organ demikian 

parahnya sehingga daya pemulihan sendiri 

maupun obat-obat tidak dapat mengatasi-

nya, maka transplantasi organ dapat menjadi 

solusinya. Walaupun teknik pencangkokan 

dan cara mengatasi penolakan (rejection) 

sudah banyak kemajuan, namun  prosedur ini 

masih tetap merupakan penanganan yang 

penuh risiko di samping langkanya organ 

untuk transplantasi.

Oleh sebab  itu ditemukannya sel batang 

(sel punca, stemcell) untuk dapat dipakai  

dalam terapi membuat kita tidak lagi ter-

gantung pada regenerasi tubuh sendiri, namun  

kita memiliki alat pemulihannya di tangan 

sendiri. Bila sel-sel ini dapat diarahkan dan 

dimanipulasi untuk terapi regeneratif, ba-

nyak gangguan yang dewasa ini tidak dapat 

ditangani, sekarang mendapatkan solusinya. 


b. SITOSTATIKA

Sitostatica atau onkolitica (Yun. kytos = sel, 

sta sis = berhenti, ongkos = benjolan, lysis = me-

la rut) yaitu  senyawa-senyawa yang dapat 

menghentikan pertumbuhan yang pesat dari 

sel-sel ganas (maligne).

Prinsip pemakaian nya yaitu  untuk lang- 

sung merusak DNA (dan RNA) dari sel. 

Senyawa-senyawa ini mematikan sel-sel de-

ngan menstimulasi apoptosis. 

Dosis dan jadwal kemoterapi terbatas pa-

da daya tahan jaringan normal, terutama 

jaringan yang berkembang pesat seperti sum- 

sum tulang dan mukosa saluran cerna. Juga 

tergantung dari farmakokinetika obat yang 

dipakai  dan afinitasnya terhadap jaringan 

tertentu. Mekanisme khasiat terapeutik dari 

obat-obat ini yaitu  mencari dan meman-

faatkan perbedaan antara sel normal dan 

sel kanker serta khusus diarahkan pada 

defek-defek genetik dari sel kanker (biologi 

molekular). Dalam beberapa kasus sifat tok-

siknya terhadap sel normal dapat dikurangi 

dengan misalnya pemberian faktor pertum- 

buhan (growth factor) seperti granulocyte co-

lony-stimulating factor (G-CSF).

sebab  kebanyakan tumor dengan cepat 

memicu  resistensi terhadap obat tung- 

gal, maka dikembangkan prinsip kemote-

rapeutika intermiten dengan multi-drug, khu-

susnya obat dengan mekanisme kerja yang 

berlainan tanpa toksisitas yang tumpang-

tindih.

Siklus kemoterapi. Obat-obat ini diberikan 

selama beberapa hari dan diseling dengan 

istirahat beberapa minggu untuk memberi 

kesempatan bagi jaringan normal tumbuh 

kembali. Dengan demikian ada jarak antara 

dua siklus kemoterapi untuk memberi waktu 

restorasi jaringan normal. 

Kombinasi dari tiga atau lebih sitostatika 

sering kali dipakai , biasanya  obat 

dengan mekanisme dan titik kerja pada siklus 

pertumbuhan sel tu mor yang berlainan. De-

ngan demikian, mekanisme kerjanya sal ing 

dipotensiasi dan timbulnya resis tensi dihin- 

dari atau diperlambat. Begitu juga dosis ma-

sing-masing obat dapat dikurangi sehingga 

efek tok sik seluruhnya menjadi kurang 

parah.

Misalnya terapi dengan kombinasi obat 

MOPP (lih. di bawah) menghasilkan remisi 

pada 80% dari penderita penyakit Hodgkin 

dibandingkan dengan kurang dari 40% bila 

masing-masing obat dipakai  tersendiri. 

Beberapa kombinasi terkenal yaitu :

• MOPP = mustin, oncovin (=vinkristin), pro-

karbazin dan prednisolon pada limfoma 

non-Hodgkin yang bermetastasis;

• VMCP = vinkristin, melfe lan, cisplatin dan 

prednisolon pada myeloma; 

• FAM = fluorurasil, adriamisin dan mitomisin 

pada kanker lambung; 

• CAF = siklofosfamida, adriamisin dan flu o-

rourasil pada kanker payudara yang sudah 

menyebar. Dahulu sering kali dipakai  

CMF, dengan metotreksat sebagai peng-

ganti adriamisin (= doksorubisin), namun  

CAF ternyata lebih efektif;

• VAD = vinkristin , adriamisin dan deksame-

tason pada penyakit Kahler (multiple mye-

lo ma).


* Terapi intermitten (selang seling) dari kom -

binasi be berapa obat dengan dosis tinggi 

kerap kali memberikan hasil yang lebih 

baik daripada terapi terus-menerus dengan 

hanya satu obat. Lagipula mengurangi efek 

imuno supresif dan toksisitas. Antara dua 

kur diadakan istirahat 2-3 minggu untuk 

memungkinkan penyembuhan sel normal 

dan sistem imun yang telah tertekan. Seba-

liknya, selama masa itu kebanyakan sel 

tumor yang membelah agak lambat, belum 

menjadi normal kembali.

Efek samping umum berupa gejala-gejala 

akibat dihambatnya fungsi sel normal yang 

tumbuh pesat, seperti juga kebanyakan jenis 

sel tumor, yaitu:

a.  myelosupresi, depresi sumsum tulang 

dengan efek gangguan darah (leukopenia, 

agranulositosis, anemia, trombo sitopenia dan 

lain-lain). Penekanan pembentukan sel 

darah merah, sel darah putih dan pelat 

darah timbul sebagai efek samping dari 

kebanyakan sitostatika yang juga tergan-

tung dari dosisnya, Transfusi darah 

atau pelat darah dapat dilakukan untuk 

mengatasi anemia dan trombositopenia, 

walaupun transfusi lekosit belum berhasil 

dengan baik.

b.   mukositis, perusakan mukosa mulut 

(luka-luka, stomati tis) dan lambung-usus 

(mual, muntah, diare). Mual dan muntah 

terutama timbul sebagai efek samping 

dari sitostatika senyawa platina dan dok-

sorubisin. Untuk mengatasi efek-efek 

ini dapat dipakai  antiemetika seperti 

metoklopramida, domperidon atau 5-HT3 

antagonis-serotonin (ondansetron, grani-

setron), sering kali dikombinasi dengan 

deksametason. 

c. rontok rambut reversibel akibat peru sak-

an kandung/folikel rambut oleh keba-

nyak an sitostatika, yang sedapat mung-

kin dihindari dengan pemilihan obat 

tertentu.

d.  imunosupre si, penekanan sistem imun 

yang berakibat peningkatan risiko bagi 

berbagai jenis infeksi terutama bakteri 

dan jamur yang sering kali bersumber 

dari flora lambung-usus. Pada keadaan 

gawat perlu segera ditangani intravena 

dengan antibiotika berspektrum luas.

e. karsinogen, yaitu obat sendiri dapat 

memicu  kanker pada waktu jang-

ka panjang, akibat sifat mutagen terhadap 

DNA, khususnya leukemia akut akibat 

obat-obat alkilasi. Sifat mutagenik dari 

sitostatika dapat memicu  kanker 

sekunder, terutama leukemia akut, wa-

lau pun efek samping jangka panjang 

ini jarang timbul. Sitostatika yang dapat 

memicu  kanker sekunder yaitu  

zat-zat alkilasi (siklofosfamida), peng-

hambat topoisomerase II (epipodofilotok-

sin-induced leukemia), antrasiklin (dokso-

rubisin) dan antrasendion (mitoksantron).

f. nefrotoksik, yaitu kerusakan ginjal aki-

bat pengendapan kristal asam urat. Pada 

pemusnahan sel tumor dalam jumlah 

besar dengan pesat, dibebaskan zat-zat 

purin dan pirimidin yang dirombak men-

jadi asam urat. Pengendapan dapat di-

hindari dengan obat pencegah encok 

alopurinol, yang menghambat pemben-

tukan asam urat, juga dengan membu-

at urin alkalis dengan natri umbikarbo-

nat di samping minum banyak air. 

Nefrotoksisitas ini terutama dapat ditim-

bulkan oleh sitostatika senyawa platina 

(terkecuali karboplatin), metotreksat dan 

ifosfamida.

g. gonadotoksik, yaitu mengurangi jumlah 

sel kelenjar ke lamin (gameto-genesis) de-

ngan akibat hilangnya libido, kemandul-

an permanen pada pria dan keguguran. 

Sterilitas dengan kemungkinan perma-

nen dapat disebabkan oleh terutama zat-

zat alkilasi.

Oleh sebab  efek-efek samping yang dahsyat 

itu, selama terapi selalu di lakukan pemantauan 

darah setiap minggu dan pasien harus waspada 

terhadap infeksi. 

Selainnya efek samping umum itu  

di atas, ada  juga efek samping yang 

berkaitan dengan masing-masing obat (drug-

specific) yang akan dibicarakan pada zat-zat 

tersendiri, namun  secara singkat dapat di-

sebutkan sebagai berikut.

– kardiotoksik, mis. antrasiklin (doksoru-

bisin, daunorubisin)

– pulmonary toksik, misalnya bleomisin

– neurotoksik, misalnya senyawa platina, 

alkaloid vinca, taksan (paklitaksel, dose-

taksel)

– dermatoksik, misalnya 5-fluorourasil da-

pat memicu  dermatitis

Wanita hamil muda tidak boleh diberikan 

sitostatika, sebab  bersifat mutagen dan 

teratogen.

Resistensi. Salah satu hambatan utama 

dari terapi kanker dengan sitostatika yaitu  

timbulnya resistensi. Beberapa jenis tumor, 

seperti penyakit Hodgkin dan leukemia 

akut anak-anak, memiliki kecenderungan 

resistensi rendah terhadap sitostatika dan 

biasanya dapat disembuhkan. namun  ada 

pula jenis kanker, seperti melanoma (kanker 

kulit ganas) yang sejak semula sudah resisten 

terhadap kemoterapi. Diperkirakan bahwa 

kebanyakan timbulnya resistensi disebabkan 

oleh mutasi genetik dan menjadi lebih nyata 

dengan meningkatnya jumlah sel tumor. 

Ternyata bahwa sitostatika sendiri dapat 

meningkatkan kecenderungan resistensi 

itu .

Seperti telah disinggung di atas, resistensi 

dapat dihindari dengan memakai  kom-

binasi dari 2 sampai 4 sitostatika.

Obat-obat tambahan. Untuk menunjang 

efek sitostatika sering kali diberikan suatu 

kortikoid, biasanya prednison atau deksame-

tason. Untuk menghindari efek samping 

mual dan muntah yang sering kali menyer-

tai terapi, sebagai prosedur standar diberikan 

juga suatu obat antiemetik.

Antiemetika digolongkan sesuai afinitas-

nya terhadap letaknya reseptor-reseptor dari 

neurotransmitter. Misalnya metoklopramid 

suatu antagonis dopamin, bermanfaat terha-

dap mual dan muntah akibat stasis di bagian 

atas saluran pencernaan atau pada metastasis 

kanker hati. namun  obat ini harus dihindari 

bila ada  penyumbatan di usus sebab  

akan memacu peristaltik. 

Antiemetika pilihan pertama terhadap 

muntah akibat obat-obat atau gangguan me- 

tabolisme yaitu  yang bekerja sentral seper- 

ti senyawa fenotiazin (prokhlorperazin, sikli-

zin) atau antagonis dopamin (butirofenon, 

haloperidol). Sebaiknya dan jauh lebih efektif 

bila anti emetika (seperti juga analgetika) 

diberikan sesuai jadwal tertentu, daripada 

menurut kebutuhan.

Perkembangan baru

Dalam 25 tahun terakhir telah dicapai banyak 

kemajuan dalam pengetahuan tentang proses 

timbulnya kanker, khususnya mengenai dasar 

molekular dari terbentuknya sel-sel kanker, 

yang berkaitan dengan kerusakan-kerusakan 

DNA. Pengetahuan baru mengenai biologi 

kanker menjurus diketemukannya sasaran-

sasaran (targets) spesifik yang sama sekali 

baru pada sel kanker, misalnya reseptor Fak-

tor Pertumbuhan, defek pada reparasi DNA 

dan jalurnya kematian sel. Hal ini merupakan 

dasar strategi pencarian dan pengembangan 

obat-obat baru terhadap cancer-specific targets. 

Walaupun obat yang diarahkan secara mo-

lekular (molecularly targeted drugs) ini mem-

berikan hasil memuaskan pada jenis-jenis 

kanker tertentu, pemakaian  kombinasi dari 

obat-obat ini dan sitostatika masih diper-

lukan. Alasannya yaitu bahwa targeted drugs 

yang merupakan antibodi monoklonal bila 

diberikan sebagai obat tunggal memberikan 

hasil kurang efektif terhadap solid tumors. 

namun  bila dikombinasi dengan obat-obat 

sitotoksik dan diberikan pada tahap  dini dari 

penyakit, hasilnya sangat baik, misalnya 

trastuzumab (Herceptin) dan bevacizumab 

(Avastin) (Romond et al.)44. Alasan lain ia-

lah bahwa targeted drugs bantu mengatasi 

resistensi terhadap sitostatika dengan mem-

perbaiki aliran darah melalui penghambat-

an angiogenesis dan menunjang apoptosis 

(Batchelor et al.; 2007)45. Di Amerika sedang 

dilakukan percobaan klinik terhadap ± 400 

obat kanker dari 178 perusahaan farmasi. 

Banyak obat baru di delapan tahun terakhir 

telah dikembangkan antara lain temsiroli-

mus dan sunitinib terhadap kanker ginjal 

terminal dan lapatinib terhadap kanker pa-

yudara lanjut(NTvG 2006;150:1473).

Akhir-akhir ini telah dikembangkan sis- 

tem carrier koloidal bagi obat-obat tumor 

untuk meningkatkan efektivitas sambil me-

ngurangi efek sampingnya, yang disebut 

nano-medicines (nanobullets). Lain keun-

tungan dari nano-medicals yaitu  dapat 

melindungi jaringan sehat terhadap obat, 

mengurangi interaksi dengan protein plasma 

untuk memperbaiki waktu sirkulasi obat dan 

kemungkinan untuk memberikan beberapa 

obat pada saat yang bersamaan sebagai terapi 

kombinasi dan dikembangkannya sistem 

yang mengandung bahan kontras disamping 

obat untuk dapat mengikuti jalannya obat 

melalui teknik imaging (theranostics). 

Jain RK et al., Delivering nanomedicines 

to solid tumors. Nat Rev Clin Oncol. 2010 

nov.7(11):653-4

Davis ME et al., Nanoparticle therapeutics: an 

emerging treatment modality for cancer. Nat 

Rev Drug Discov. 2008 sep.7(9):77182.

Bertrand M. et al., Cancer nanotechnology:The 

impact of passive and active targeting in the 

area of modern cancer biologyl. Adv Drug 

Deliv Rev. 2014 feb.66C:2-25

“Targeted therapy” strategy

Untuk tujuan ini dikembangkan molekul-

molekul biologik besar yang dikenal sebagai 

antibodi monoklonal atau Mabs-protein un-

tuk mengikat pada sasaran tertentu dengan 

kekhususan (specificity) yang tinggi. Dengan 

demikian sistem imun pasien akan dipicu 

untuk menyerang kanker atau menghindari 

perkembangan tumor melalui perintangan/

blokade reseptor–reseptor sel inti. Lihat Bab 

21 Analgetika Antiradang, Boks Biologicals.

Obat pertama yang disintesis mela lui 

bioengineering demikian yaitu  Her cep tin 

(trastuzumab, 1998) terhadap kanker buah da-

da yang bekerja melalui perintangan resep-

tor human epidermal growth factor (HER2) 

yang mengatur pertumbuhan sel. Protein ini 

menjadi biomarker penting bagi penyakit 

itu .

Obat monoklonal antibodi manusia lain 

yang mencapai “blockbuster status” yaitu  

Humira (adalimumab) terhadap artritis rema-

toid.

Cara lain (komplementer) yaitu  penggu-

naan senyawa-senyawa sintetik kecil yang 

diarahkan terhadap protein spesifik penye- 

bab kanker sebagai akibat dari gen yang me-

nyimpang (“oncogenes”). Se bagai contoh 

dari molekul demikian yaitu  Gleevec (ima-

tinib mesylate) terhadap kanker leukemia 

myeloid kronik (CML) dan kanker gastro-

intestinal (GIST). Gleevec yaitu  obat per-

tama (2001) dalam kelompoknya yang be-

kerja melalui perintangan enzim tertentu 

yang memicu  proliferasi sel.

Pengertian mengenai siklus hidup sel kan- 

ker juga merupakan hal penting pada peng-

gunaan sitostatika yang rasional, khusus- 

nya mengenai efek merusak DNA yang me-

rupakan mekanisme kerja dari kebanyakan 

sitostatika. Stadium mitosis pada siklus 

kehidupan sel merupakan saat yang paling 

rentan terhadap kemoterapeutika, misalnya 

limfoma dan leukemia memiliki persentase 

tinggi dari sel-sel yang bermitosis dan oleh 

sebab  itu sangat peka terhadap sitostatika. 

Hal yang sama berlaku bagi jaringan nor-

mal yang berproliferasi dengan cepat, se-

perti folikel rambut dan sumsum tulang. 

Sebaliknya tumor yang tumbuh lambat ku-

rang responsif terhadap obat-obat yang cycle-

specific, misalnya kanker kolon dan non-small 

cel lung cancer.

Banyak sitostatika baru telah dikem bang- 

 kan dengan mekanisme kerja yang berlain-

an, seperti topoisomerase-inhibitors (etopo-

sida, topotecan, irinotecan) dan zat antimeta-

bolit (gemsitabin, kapesitabin). Topoisomerase 

yaitu  enzim yang dibutuhkan untuk mem-

buka gulungan molekul DNA. 

Sejak beberapa tahun telah diselidiki zat-

zat antiangiogenesik, yaitu zat-zat yang ber-

khasiat mencegah sel-sel tumor memben- 

tuk pembuluh darah baru untuk memberi-

kannya oksigen dan zat gizi. Talidomida 

berkhasiat demikian, namun  terlampau toksik. 

Dua obat alternatif yang juga memiliki sifat 

ini yaitu  genistein dari kedelai dan turahiu 

(tulang rawan ikan hiu). 

Juga diketemukan antiemetika yang lebih 

efektif misalnya ondansetron dan epoietin 

di samping faktor-faktor pertumbuhan 

darah yang memungkinkan pentakaran 

sitostatika lebih tinggi.namun  sayang sekali 

bahwa semua ikhtiar dari 25 tahun lalu tidak 

meng hasilkan lebih banyak penyembuhan 

dan penurunan mortalitas penyakit kanker, 

berlainan dengan hasil penelitian terhadap 

penya kit jantung.

Penggolongan

berdasar  mekanisme kerjanya, obat-obat 

anti tumor biasanya  dibagi dalam 

empat golongan besar sebagai berikut, yang 

berturut-turut akan dibahas lebih mendalam.

A. Sitostatika

1.  Zat alkilasi: nitrogen-mustard, prokar-

bazin, tiotepa, busulfan

2.  Antimetabolit: antagonis folat, antagonis 

pirimidin dan antagonis purin

3.  Antimitotika: alkaloid vinka, taksan dan 

epotilones

4.   Antibiotika: derivat antrasiklin, bleomi-

sin, mitomisin

5.   Topo-isomerase inhibitors: irinotekan 

dan etoposida

6.   Lainnya: asparaginase, cisplatin, hidrok-

sikarbamida

B. Imunomodulansia

C. Hormon dan antihormon

D. Obat alternatif (CAM)

A. SITOSTATIKA 

A1. ZAT ALKILASI

Berkhasiat kuat terhadap sel-sel yang sedang 

membelah. Efek ini berdasar  gugus alkil, 

yang sangat reaktif dan memicu  cross-

linking (saling mengikat) antara rantai-ran-

tai DNA di dalam inti sel. Dengan demiki-

an penggandaan DNA terganggu dan pem-

belahan sel dihambat. Khasiat sitotoksik dan 

mutagen ini terutama ditujukan terhadap sel 

yang membelah dengan pesat, seperti sel-sel 

kanker di sistem limfe. Namun, obat-obat ini 

juga “merugikan” sumsum tulang, mukosa 

dari saluran pencernaan, sel-sel kelamin (ste-

rilitas pria) dan janin muda (abortus). Sela-

in itu, obat-obat ini pada prin sipnya juga 

bersifat karsinogen dan dapat mengaki bat-

kan leukemia (non-lymphocytic) akut! 

Obat-obat terpenting dari golongan ini 

yaitu  klormetin (nitrogen-mustard) dan tu-

runannya klorambusil, melfelan, siklofosfa-

mida dan ifosfamida. Di dalam tubuh se-

muanya diubah menjadi senyawa etilen imin 

(lihat rumus bangun), yang membentuk 

ion-karbonium dengan muatan positif dan 

mengalkilasi DNA. Busulfan dan thiotepa 

(Ledertepa) juga termasuk kelompok ini. 

A1a. Klormetin: mustin, nitrogen-mustard.

Sitostatikum pertama ini (1946) terutama 

dipakai  pada limfo ma akut (penyakit 

Hodgkin) dengan efek cepat sekali. Kerjanya 

sangat singkat sebab  di dalam darah akan 

terurai dalam beberapa menit.

Efek samping muntah-muntah hebat (lama-

nya sampai 8 jam) juga diare, pusing, nyeri 

kepala dan pro duksi ludah berlebi han. Ka-

rena obat bersi fat sangat merangsang pada 

tempat injeksi dapat ter jadi peradangan 

hebat dengan lepuh-lepuh. Efek penekanan 

pada sumsum tulang biasanya baru nyata 

sesudah  2-3 minggu. 

Dosis: i.v. 0,1-0,4 mg/kg bobot badan se-

lama 4 hari (garam HCl).

A1b. Klorambusil (Leukeran) yaitu  derivat 

aromatik dengan khasiat dan pemakaian  

sama, namun  dapat dipakai  per oral. Efek- 

nya lebih lambat dan efek samping lebih 

ringan. Khusus dipakai  terhadap Chronic 

Lymfocytic Leukemia (CLL), namun  penggu-

naannya sudah terdesak oleh fludarabin dan 

siklofosfamid. Obat ini juga diguna kan pada 

kanker payudara, ovarium dan testis, sering 

kali dalam kombi nasi dengan sitostatika lain.

Dosis: oral 5 - 20 mg sehari selama 2-3 minggu 

dan dis elang istirahat 4 minggu.

A1c. Melfalan (Alkeran) yaitu  derivat fenil-

alanin yang efek kerjanya jauh lebih panjang, 

±6 jam. Obat ini banyak dipakai  pada 

suatu jenis kanker sumsum (myeloma, penyakit 

Kahler).

Efek samping terutama bersifat hematologik, 

antara lain leukemia akut dan yang terpen-

ting yaitu  depresi sumsum tulang. Mual 

dan muntah lebih jarang terjadi, begitu juga 

rontok rambut berkurang.

sebab  absorpsinya pada pemakaian  pe-

roral tidak konsisten, maka kebanyakan kali 

diberikan melalui infus intravena.

Dosis: oral 0,2-10 mg/kg selama 4-6 hari, 

sesudah  6 minggu kur diulang. Biasanya di- 

kombinasi dengan deksamethason atau tali-

domid. 

A1d. Siklofosfamid (Endoxan, Cytoxan) me-

rupakan turunan dengan cincin fosfat (1957) 

yang baru menjadi aktif sesudah  dioksidasi 

di hati menjadi metabolitnya a.l. akrolein, 

yang dapat memicu  haemorrhagic 

cystitis serius. Obat ini juga dipakai  pada 

myeloma dan leukemia limfatis, biasanya dalam 

kombinasi dengan vinkristin dan prednisolon 

(kur COP) atau bersama adriamisin/MTX 

dan fluorurasil (kur CAF/CMF) pada kanker 

payudara dan ovarium. Atau dapat juga 

dikombinasi dengan cisplatin pada kanker 

ovarium. Siklofosfamid juga merupakan 

komponen penting dari kombinasi yang efek-

tif terhadap penyakit non-Hodgkin. Efeknya 

mulai tampak sesudah  beberapa minggu. 

Siklofosfamid juga berkhasiat imunosupresif 

kuat, artinya dapat menekan sistem imun 

tubuh, antara lain pem bentukan antibo dies 

(lihat Bab 50, Sera dan Vaksin). Oleh sebab  

itu, obat ini juga dipakai  pada trans-

plantasi organ untuk menghindari penolakan 

oleh tubuh dan pada penyakit auto-imun 

seperti rheumatoid arthritis. Pada pemakaian  

terhadap penyakit-penyakit non-neoplastik 

harus diwaspadai toksisitas akutnya serta 

kemungkinan timbulnya sterilitas, efek tera-

togen dan leukemia.

Efek samping. Selain supresi sumsum, obat 

ini hampir selalu menimbul kan rontoknya 

rambut (reversibel). Kadang-kadang terjadi 

radang mukosa kandung kemih dengan per- 

darahan (akibat metabolitnya). Untuk meng-

hindari hal itu pasien perlu minum banyak 

air pada pagi hari agar metabolit nefrotoksik 

itu  sudah diekskresi sebelum malam 

hari, namun  intoksikasi air harus diwaspadai 

juga sebab  hidratasi yang kuat ini.

Dosis: oral 50 - 200 mg sehari setiap 7-14 

hari, i.v. 10-15 mg/kg/hari setiap 3-7 hari.

A1e. Ifosfamida (Holoxan, Ifex) yaitu  analog 

dari siklofos famida dengan khasiat dan 

pemakaian  sama (1970). Juga dipakai  

terhadap kanker buah zakar.

Efek samping yang parah yaitu  toksisitas 

terhadap susunan saraf pusat (halusinasi, 

koma) dan terhadap kandung kemih, sama 

dengan siklofosfamida dengan penanggu-

langan yang juga sama.

Dosis: i.v. 50-60 mg/kg/hari selama 2-3 

hari, kur diulang sesudah  3-4 minggu.

A1f. Busulfan (Myleran)

Senyawa alkilsulfonat ini berkhasiat 

myelo-selektif (terhadap sel sumsum tu-

lang) dan sebelum adanya imatinib mesilat 

(Gleevec) merupakan obat pilihan per tama 

untuk menekan pro duksi lekosit pada leuke-

mia myeloid kronis (CML).Tercatat kasus 

remisi 80-90%. 

Efek samping terpentingnya supresi sum-

sum yang hebat dan berlangsung lama.

Dosis: oral 3-4 mg/hari selama 12-20 mi-

nggu, pemeli haraan 0,5-2 mg sehari.

A1g. Klorambusil

Khusus dipakai  terhadap limfositik leu-

kemia kronis (CLL), namun  sudah terdesak 

oleh fludarabin dan siklofosfamida. Sitotok-

sisitasnya terhadap a.l. sumsum tulang sama 

de ngan senyawa nitrogen mustard lainnya,

Dosis: permulaan sehari 0,1-0,2 mg/kg se-

lama 3-6 minggu. 

A1h. Bendamustin

dipakai  terhadap limfositik leukemia kro-

nis (CLL) dan limfoma non-Hodgkin.

A2. ANTI METAbOLIT

Dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:

– antagonis asam folat: metotreksat, mer-

kaptopurin

– antagonis pirimidin: 5-fluorourasil, sita-

rabin, gemsitabin dan kapesitabin

–  antagonis purin: 6-merkaptopurin dan 

6-tioguanin, yang kedua-duanya khusus 

dipakai  terhadap leukemia akut.

Obat-obat ini juga mengintervensi sintesis 

DNA, namun  dengan jalan antagonisme saing-

an. Rumus kimiawinya mirip sekali rumus 

beberapa metab olit tertentu yang penting 

bagi fisiologi sel, yaitu asam folat, purin 

dan pirimidin. Dalam sistem enzim obat-

obat ini menduduki tempat metabolit ter-

sebut tanpa mengambil alih fungsinya, se-

hing ga sintesis DNA atau RNA gagal dan 

perbanyakan sel terhen ti. Obatnya sendiri 

tidak bersifat sitotoksik. Semua obat ini juga 

berkhasiat imunosupresif dan khususnya 

azatio p rin banyak dipakai  pada trans-

plantasi organ (bersama sikloserin). Semua 

obat ini merupakan pro-drugs, yang baru 

menjadi metabolit aktif sesudah  diubah di 

dalam hati. 

Gemsitabin (Gemzar, 1995) dipakai  pa-

da kanker paru (non-sel kecil) dan pankreas 

yang sudah menyebar. Kapesitabin (Xeloda, 

1998) terutama dipakai  intravena atau 

oral pada kanker kolon, dikombinasi dengan 

5-FU dan asam folinat. Juga per oral pada 

kanker payudara dengan metastasis, sebagai 

zat tunggal atau bersama docetaxol, dengan 

dosis 2 dd 150 – 500 mg ½ jam a.c. selama 

2 minggu dan istirahat 1 minggu (Ph Wkbl 

2002;137:705,709). Obat tumor kolorektal 

(i.v.) lainnya yaitu  irinotekan. 

A2a. Metotreksat: MTX, Farmitrexat, Leder-

trexat

Derivat pteridin ini (1954), suatu antagonis 

folat, menghambat reduksi asam folat men-

jadi tetra hydrofo lic acid (THFA) melalui peng-

ikatan pada enzim reduktase. THFA penting 

sekali bagi sintesis DNA dan pembelahan 

sel. Metotreksat yaitu  sitostatikum pertama 

(antifolat kemoterapi) yang efektif pada leuke-

mia limfe akut dan kanker korion yang 

sudah tersebar den gan sekitar 80% penyem- 

buhan. Selain itu, metotreksat dalam dosis 

tinggi juga banyak dipakai  pada berba-

gai jenis kanker lainnya sebagai terapi kom-

binasi dengan asam folinat untuk menghin-

dari efek-efek sampingnya yang hebat (li-

hat Bab 39, Hemopoietika). sebab  asam 

folat dan turunannya bersifat polar, maka 

sulit menembus sawar darah-otak (blood-

brain barrier). Oleh sebab  itu telah disin-

tesis senyawa yang lipid soluble seperti 

trimetreksat (Neutrexin) terhadap Pneumo-

cystis carinii, suatu penyakit infeksi hebat 

pada penderita AIDS.

Mekanisme kerja dari antagonis folat ter- 

utama efektif terhadap sel-sel yang berpro-

liferasi cepat, seperti epitel saluran cerna dan 

sumsum tulang.Oleh sebab  itu efektivitasnya 

hanya parsial terhadap sel tumor, sama 

seperti kebanyakan anti metabolit lainnya.

Antagonis folat bersifat toksik terhadap 

janin yang sedang berkembang. Sangat efek-

tif sebagai abortivum pada trimester pertama 

kehamilan, bila dipakai  bersamaan dengan 

misoprostol, suatu analog prostaglandin 

(Hausknecht, 1995)46.

Di samping khasiat sitostatik, dalam do-

sis rendah MTX juga bersifat antiradang.

Oleh sebab  itu obat ini dipakai  pada 

terapi psoriasis (kulit bersisik) yang ditandai 

pertumbuhan abnormal pesat dari sel-sel epi-

dermis kulit. Juga dipakai  pada rematik 

parah yang tidak dapat dikendalikan oleh 

obat slow-acting (lihat Bab 21, Analgetika anti 

radang). Adakalanya obat ini juga diguna-

kan sebagai terapi pemeliharaan pada pe-

nyakit radang usus kronis, seperti colitis dan 

penyakit Crohn. 

Efek samping utamanya depresi sumsum 

tulang (leukopenia, trombositopenia), yang ter-

uta ma hebat pada dosis di atas 25-30 mg. 

Selain itu juga timbul kerusakan mukosa 

mulut (stomati tis) dan saluran pencernaan, 

namun  jarang timbul perasaan lelah, rontok 

rambut dan de mam. Efek toksiknya, terke-

cuali neurotoksisitas, dapat diatasi dengan 

leukovorin, suatu koenzim folat.

Dosis: pada kanker tergantung dari jenisnya 

dan keadaan pasien: oral 5-30 mg sehari 

selama 5 hari. sesudah  is tirahat 2-3 minggu 

kur dapat diulang 3-5 kali. Tablet tidak boleh 

diminum bersamaan dengan susu. 

Psoriasis dan rema: oral, i.m. atau i.v. 15-25 

mg seminggu. Imunosupresi pada dosis ren-

dah ini bersifat ringan, namun  perlu monito-

ring darah secara teratur. pemakaian  kronis 

terhadap psoriasis atau rema dapat menim-

bulkan keracunan hati, sehingga pemberi-

annya harus dihentikan.

A2b. Merkaptopurin: Puri-Nethol.

Derivat thiol dari purin ini (1953) berkhasiat 

sitostatik berdasar  penghambatan sintesis 

purin dan DNA di sel-sel yang tumbuh pesat. 

Terutama dipakai  terhadap leukemia akut 

pada anak-anak, juga apabila MTX atau zat 

alkilasi tidak aktif (lagi). 

Resorpsi dari usus ±50% dengan BA 5-37%. 

Di dalam sel merkaptopurin diubah menjadi 

dua metabolit aktif, yang dalam hati sebagian 

diuraikan oleh enzim ksantinok sidase menjadi 

tiourat inaktif. Penguraian ini diperlambat 

oleh perintang enzim obat encok allopurinol 

sehingga daya kerjanya diperpanjang. Masa 

paruhnya ±90 menit. 

Efek sampingnya sama dengan MTX, juga 

merusak hati (icterus). Monitoring darah juga 

perlu dilakukan.

Dosis: anak-anak oral 2,5 mg/kg sehari.

* Azathiopri (Imuran) yaitu  derivat imida-

zolil purin (1963) yang dalam tubuh dirombak 

menjadi merkaptopurin. Obat ini banyak 

dipakai  sebagai obat imunosupresif pa-

da transplantasi organ untuk memper kecil 

risiko penolakan oleh sistem imun penerima. 

Begitu pula pada penyakit auto-imun, ketika 

sistem imun kacau dan antibod i menyerang 

jaringan dan organ sendiri. Contoh penyakit 

ini antara lain re ma, diabetes pada anak-anak, 

lupus erythematodes (LE), multi ple sclerosis 

(MS), myasthenia gravis (MG), sindrom Syög ren, 

sclerodermia, colitis dan M. Crohn.

Dosis: oral 1-4 mg/kg sehari, terhadap rema 

1-3 mg/kg se hari.

A2c. Fluorurasil: 5-FU, Efudix.

Derivat pirimidin ini (1962) merintangi 

sintesis DNA melalui proses saingan de-

ngan pirimidin. sebab  absorpsinya pada 

pemberian oral tidak lengkap, maka diberi-

kan parenteral. Banyak dipakai  sebagai 

antagonis pirimidin terhadap metastasis 

tumor payudara, usus besar dan poros 

usus (rektum), juga dari lambung, hati dan 

pankreas. Efektivitas nya diperkuat (20-30%) 

bila terapi dikombinasi dengan misalnya 

siklofosfamid dan adriamisin/MTX (kur CAF/

CMF) atau dengan adriamisin dan mitomisin 

(kurFAM). Kombinasi dengan leukovorin 

dan oksaliplatin atau irinotekan bagi pende-

rita kanker kolorektal. pemakaian  dermal 

sebagai krem 5% pada kanker kulit dan 

pertandukan abnormal (keratosis, Efudix).

Efek sampingnya hampir sama dengan MTX 

dan merkaptop urin, bercirikan myelosupresi, 

anoreksia, mual dan diare.

Dosis: 10-15 mg/kg intravena selama 4-6 

hari.

* Cytarabine (Cytosar-U, Alexan, Ara-C) ada-

lah derivat obat virus idoksuridin yang ber-

khasiat virustatik di samping efek sitostatik 

(1969).

Obat ini merupakan satu-satunya obat 

terpenting dan paling efektif untuk meng-

induksi dan mempertahankan remisi pada 

leukemia akut tertentu (AML). Kerjanya 

hanja singkat ±20 menit (t1/2= 10 menit).

Efek samping terdiri dari depresi kuat 

sumsum tulang yang berakibat leukopenia, 

trombositopenia dan anemia serius akut. 

Dosis: infus intravena 100-200 mg setiap 

5 hari, bi asanya dikombinasi dengan suatu 

antagonis pirimidin lain, misalnya tiogu-

anin(Lanvis).

* Capecitabine (Xeloda) merupakan prodrug 

dari 5-FU dan diberikan peroral terhadap 

kanker payudara dan kolorektal yang sudah 

bermetastasis. Terapi kombinasi memberikan 

hasil lebih efektif, misalnya dengan oksa-

liplatin atau irinotekan terhadap kanker 

kolorektal dan merupakan terapi standar 

pilihan pertama.

Efek samping khusus dari capecitabine di-

sebut “hand-foot” sindrom dan bercirikan eri-

tema, nyeri dan peka pada kaki tangan bila 

disentuh, sehingga dosisnya harus dikurangi 

atau pemakaian nya dihentikan. Efek 

samping lainnya sama dengan 5-FU, yaitu 

diare dan depresi sumsum tulang.

* Gemcitabine (Gemzar, dFdC) yaitu  obat 

kanker penting terhadap kanker pankreas, 

paru, indung telur dan kandung kemih yang 

telah bermetastasis. Diberikan sebagai infus 

intravena.

Efek samping utamanya depresi sumsum 

tulang. 

A3. ANTIMITOTIKA

Zat-zat ini menghindari pembelahan sel pada 

metafasis (tingkat kedua dari mitosis), berarti 

merintangi pembelahan inti, seperti obat 

encok kolkisin. Berlainan dengan zat alkilasi 

–yang juga merintangi pembelahan inti me- 

lalui gangguan pembelahan kromosom-anti- 

mitotika mencegah masuknya belahan kro-

mosom itu ke dalam anak inti. Obat-obat yang 

sekarang dipakai  yaitu  hasil tumbuhan, 

yakni alkaloid Vinca (vinblastin, vinkristin 

dan derivat semi sinte tiknya vindesin), po-

d ofilin (serta derivat-derivatnya etoposida dan 

tenoposida) dan kelompok taksan(paklitaksel, 

dosetaksel). 

Alkaloid Vinca efektif terhadap kanker 

darah (leukemia, limfoma), kanker payudara 

dan paru, zat-zat taksan terhadap kanker 

indung telur, payudara dan paru. Sejak 

beberapa tahun ada  kelompok senya-

wa baru yang dinamakan zat-zat epotilon 

(iksabepilon), yang dipakai  terhadap 

kanker payudara yang telah bermetastasis.

A3a. Vinblastin: Erbablas, Velbe, Velban

Alkaloid ini, bersama derivatnya vinkris-

tin, diperoleh dari Vinca rosea (Catharanthus 

roseus atau periwinkle, sejenis kembang ser-

dadu) (1960). Obat ini banyak diguna-

kan pada berbagai limfoma (M. Hodgkin 

dan non-Hodgkin) dengan efektivitas tinggi 

(sampai 80%) dan sering kali menghasilkan 

penyembuhan tuntas. Sebagai terapi kombi-

nasi biasanya dengan bleomisin dan cispla-

 tin terhadap tumor testis yang telah berme-

tastasis, atau dengan doksorubi sin dan/atau 

pred nisolon terhadap penyakit Hodgkin). 

Obat ini juga dipakai  pada kanker payu-

dara (vinorelbine) dan Kaposi sarkoma.

Efek samping terutama berdasar  mye-

losupresi kuat, terutama leukopenia yang bia-

sanya hilang sesudah  satu minggu. Lagi pula 

perasaan lelah, mual, muntah dan demam, 

lebih jarang rontok rambut dan radang saraf 

(neuritis) den gan kesemutan jari-jari tangan. 

Dosis: i.v. 0,1-0,2 mg/kg (sebagai sulfat)

* Vinkristin (Krebin,Oncovin,Vincasar) (1963) 

pada garis besarnya sama spek trum kerja dan 

pemakaian nya dengan vin blastin, antara 

kedua obat tidak ada  resistensi silang. 

Pada leukemia limfo blast obat ini lebih ampuh, 

terutama bila dikombinasi dengan sitosta tika 

lain. Juga banyak dipakai  pada M. non-

Hodgkin dan leukemia anak-anak.

Efek sampingnya sama dengan vinblastin, 

myelo supresi lebih ringan, namun  neurotok-

sisitasnya lebih kuat. Rontok rambut (alopecia) 

dapat timbul pada ±20% penderita, namun  

selalu reversibel.

Dosis: 1x seminggu 0,05-0,15 mg/kg (sul-

fat).

* Vindesin (Eldisine) yaitu  derivat semi-

sintetik dari vinblastin (1980) yang kurang 

myelosupresif dan neurotoksik daripada 

vinkristin. Obat ini hanya dipakai  dalam 

kombinasi dengan onkolitika lain. 

Dosis: infus i.v. 3 mg/m2/hari setiap 7-10 

hari.

* Vinorelbin (Navelbine) juga dipakai  per 

oral terhadap kanker paru.

Efek samping terutama granulositopenia dan 

alergi sedang  neurotoksisitasnya lebih 

ringan dibanding alkaloid vinca lainnya.

A3b. Podofilin

Damar ini diperoleh dari akar tanaman 

Amerika Podophyl lum peltatum yang a.l. me-

ngandung zat antimi totik podofilotoksin. Dua 

glikosida semisintetiknya yaitu  etoposi-

da dan teniposida (VM-26, Vumon), yang 

berkhasiat merintangi mitosis, mungkin 

melalui penghambatan enzim topoisome-

rase-2 sehingga terjadi pemecahan DNA, lihat 

juga 7e, topotekan. pemakaian  podofilin 

sudah obsolet, namun  larutannya 25% dalam 

alkohol sewaktu-waktu masih dipakai  

pada sejenis kutil yang berbentuk “kembang 

kol“ pada alat kelamin (condyloma acuminata). 

Lihat Bab 12, Penyakit Menular Seksual. 

* Etoposida (VP-16-213, Vepesid) (1981) ter-

utama dipakai  dalam kombi nasi dengan 

bleomisin, karboplatin dan sisplatin pada 

kanker testis dan paru, juga pada kanker 

payudara dan non-Hodgkin. Daya kerjanya 

menghambat topoisomerase II, sehingga 

sintesis dari DNA dan RNA terganggu (lihat 

doksorubisin). Efek samping utama yaitu  

leukopenia (reversibel), lebih sering juga trom-

bositopenia. Begitu juga mual, muntah, hipo-

tensi (kadangkala), leukemia sekunder dan 

rontok rambut. 

Dosis: i.v. 35-100 mg/m2 sehari selama 4-5 

hari, da pat juga per oral (kapsul) dengan 

dosis 50-150 mg/hari. Kur diulang sesudah  

3-4 minggu.

*Tenoposida (Vumon) yaitu  zat induk eto-

posida (1971) dengan khasiat sama, namun  

5-10 kali lebih toksik.

A3c. Paclitaxel: Taxol.

Obat baru (pertama kali disintesis 1994) dari 

kelompok taksan ini ada  dalam jumlah 

kecil sekali (1 : 13.500) di kulit pohon cemara 

Taxus brevifolia. Dengan cara semi sintetik 

telah diperoleh zat pelopornya (baccatine) dari 

jarum-jarum Taxus baccata (Ing „Yew“), yang 

lebih banyak ada  di Eropa dan Amerika. 

Berkhasiat sitotoksik melalui penghambatan 

mitosis dan mengikat pada suatu protein 

yang menghalangi apoptosis. Obat ini diguna-

kan khusus pada kanker ovarium dan kanker 

payudara yang bermetastasis, sesudah  terapi 

dengan cispla tin tidak memberikan hasil. 

Ternyata sekarang bahwa efektivitasnya 

tidak tinggi, ± 22%, dengan perpanjangan 

hidup dari hanya ±3 bulan dibandingkan 

dengan terapi standar. Kombinasi dengan 

sisplatin atau karboplatin ternyata lebih 

ampuh. Kombinasi dari kedua obat dengan 

siklofosfamida ternyata juga lebih efektif dan 

kini merupakan terapi pilihan pertama. Juga 

kombinasi dengan obat baru penghambat 

topo-isomerase-1 (topotekan) ternyata efek-

tif. Sebagai premedikasi dianjurkan pem-

berian glukokortikoid (deksametason 16 mg se-

hari) bersama antagonis histamin-H1 (difen-

hidramin) dan H2 (simetidin) untuk meng-

hindari retensi cairan, neurotoksisitas dan 

reaksi hipersensitivitas serius. Sekarang ini 

sedang dilakukan perco baan pada jenis kan- 

ker lain, antara lain kanker paru yang tersebar. 

Plasma-t½-nya bifasis: 6,4-12,7 jam.

Efek samping utama yaitu  gejala myelo-

supresi hebat, terutama neutropenia (reversibel), 

juga alopecia total, neu ropathie, reaksi hiper-

sensitivi tas, demam dan gejala-gejala umum 

lainnya. Gejala mual dan muntah hanya 

ringan.

Dosis: infus i.v. 135 mg/m2 sehari. Infus 

ini terdiri dari larutan dalam campuran 

etanol dan derivat minyak kastor (Cremophor-

solubilized paclitaxel).

* Nab-paclitaxel (Abraxane, 2005). sebab  si-

fat lipofilnya, paklitaksel tidak larut dalam 

air, maka telah disolubilisasikan dengan su- 

atu teknik khusus. Formulasi yang larut da-

lam air ini dapat dipakai  tanpa diper-

lukan premedikasi dengan senyawa steroid 

atau antihistamin. 

Efek sampingnya keluhan jantung dan hi-

persensivitas.

* Dosetaksel (Taxotere) yaitu  derivat semi 

sintetik (1995) dengan efek dan mekanisme 

kerja yang sama dan 2 kali lebih aktif daripada 

paklitaksel. Kedua obat bersifat sangat lipofil 

dan tidak larut dalam air. Plasma-t½-nya 

±11 jam. sebab  risiko retensi air dan untuk 

meringankan reaksi hipersensitivitas, terapi 

diawali dengan premedikasi deksametason 

16 mg/hari selama 4-5 hari.

Dosis: infus i.v. 100 mg/m2 permukaan ba-

dan dari larutan 0,3-0,9 g/l setiap 3 minggu.

A3d. Epothilon. 

Zat sitotoksik ini pertama kali diisolasi dari 

sejenis jamur tanah, Sorangium cellulosum, dari 

tepi sungai Zambezi di Afrika Selatan (1996). 

Epothilon A dan F disintesis (2008) sebagai 

turunan baru zat anti kanker yang bekerja 

atas dasar blokade mitosis. Toksisitasnya 

(neutropenia, diare, asthenia) menyerupai 

senyawa taksan, namun  lebih ringan dan ker-

janya lebih efektif. Rumus kimianya lebih 

sederhana, juga merupakan cincin besar 

dengan gugus samping terdiri dari cincin 

lima thiazol (dengan N dan S).

* Iksabepilon (Ixempra) merupakan analog 

sintetik (2011) yang dipakai  sebagai larutan 

infus (pelarut etanol/senyawa minyak kastor, 

Cremophor EL) terhadap kanker payudara 

metastatik, dalam kombinasi dengan ka-

pesitabin. Diperlukan premedikasi dengan 

kortikosteroid/antihistamin terhadap reaksi 

samping yang diakibatkan oleh pelarut Cre-

mophor, sama halnya dengan paklitaksel. 

Dosis: 40 mg/m2 tiap 3 minggu. 

A3e. Camptothecin

Senyawa utama dari kelompok ini, camp-

tothecin, di-isolasi (1966) dari pohon Camp-

totheca acuminata di negara Cina dan meng-

hasilkan zat-zat dengan kegiatan anti-neo-

plastik kuat melalui penghambatan aktivitas 

enzim topoisomerase I. Juga memiliki toksisitas 

hebat, terutama penekanan terhadap sum-

sum tulang dan timbulnya hemorrhagic cys-

titis. Penelitian mengenai sifat-sifat fisiko-

kimianya telah menghasilkan analog-analog 

yang lebih mudah larut dalam air dengan 

tokisisitas lebih ringan.

Dua analognya yang dipakai  dalam 

pengobatan terhadap kanker kolorektal, 

ovarium dan paru yaitu  senyawa semi-

sintetik topotekan (Hycamtin) dan irinotekan 

(Camptosar) yang merupakan suatu prodrug. 

Irinotekan yaitu  pilihan pertama terhadap 

kanker colorectal, a.l. dalam kombinasi de-

ngan cetuximab.

Efek sampingnya terutama neutopenia serta 

trombositopenia (topotekan) dan diare hebat 

(irinotekan).

PRODRUG

Definisi: Prodrug yaitu  suatu zat yang 

didesign untuk mengatasi masalah-masalah 

farmakokinetik atau farmakodinamik, yang 

in vivo diubah menjadi molekul yang farma-

kologik aktif melalui cara enzimatik atau 

kimiawi.

Prodrug dibuat melalui modifikasi kimiawi 

dari suatu zat yang biologis aktif. Bagian aktif 

itu  baru dibebaskan dalam tubuh sesudah  

penguraian enzimatik atau melalui suatu re-

aksi kimia. 

Tujuan prodrug yaitu  a.l.:

– untuk memperbaiki resorpsi dari zat-zat 

yang sukar resorpsinya; 

– untuk menghindari efek samping gastro-

intestinal, seperti rasa buruk, iritasi lokal;

– mengurangi rasa nyeri pada tempat injeksi;

– memperpanjang/mengubah efek depot;

– mempermudah transpor obat ke tempat 

bekerjanya;

– memperbaiki stabilitas bagian aktifnya.

Obat-obat baru 

* Regorafenib (Stivarga) yaitu  suatu peng-

hambat multikinase bermolekul kecil yang 

memblokir berbagai enzim pendorong per-

tumbuhan kanker dan telah disetujui FDA 

untuk terapi kanker kolorektal yang telah 

bermetastasis.

Efek samping terhadap hati sangat serius 

dan fatal, di samping reaksi kulit, diare, hi-

perbilirubinemia dan hipertensi.

Dosis: oral 160 mg selama 3 minggu, lalu 

istirahat 1 minggu.

Sebelumnya juga telah diberikan “lampu 

hijau” oleh FDA untuk pemakaian  afli-

bercept (Zaltrap) dalam kombinasi dengan 

asam folinat, fluorourasil dan irinotekan 

(Folfiri) sebagai kemoterapi kanker kolorektal 

yang resisten terhadap terapi dengan oksa-

liplatin.

Aflibercept (Eylea) sebagai larutan injeksi 

intra-okuler 40 mg/ml dipakai  pada de-

generasi macula (bercak keruh pada selaput 

bening mata)akibat usia.

A4. ANTIbIOTIKA (SITOTOKSIK)

Antibiotik pertama yang memiliki sifat si- 

tostatik yaitu  yang termasuk dalam kelom- 

pok aktinomisin yang diketemukan oleh 

Waksman di tahun 1940. Yang terpenting 

di antaranya yaitu  aktinomisin D (dakti-

nomisin, Cosmegen, Lyovac) yang dipakai  

sebagai obat tunggal atau dikombinasi de-

ngan vinkristin atau siklofosfamida terha-

dap sejenis kanker pada anak dan choriocar-

cinoma pada wanita dewasa. Sifat sitotoksik-

nya berdasar  pengikatannya pada DNA 

menjadi suatu kompleks, sehingga trans-

kripsinya oleh RNA polimerase diblokir. 

Beberapa antibiotik lain yang berasal dari 

jenis jamur Streptomy ces termasuk dalam ke-

lompok antrasiklin dan juga berkhasiat sitos-

tatik dan antibakteri. Zat-zat ini juga dapat 

mengikat DNA sebagai kompleks, sehingga 

sintesis nya terhenti. Yang terpenting yaitu  

doksoru bisin dan daunorubisinyang meru-

pakan produk alamiah, serta analognya epi-

ru bisin dan idarubisin, mitoksan tron, bleo-

misin dan mitomi sin. Obat terakhir terutama 

berkhasiat alkilasi. Onkolitika ini tidak digu-

nakan sebagai antibiotika sebab  terlalu tok-

sik.

A4a. Doksorubisin: Adriamycin RD, Adriblas-

tina

Derivat antrasiklin ini bersama dauno-

rubisin, diper oleh dari biakan Streptomyces 

peuticus (1971). Zat ini menghambat sintesis 

dari DNA dan RNA, mungkin melalui efeknya 

terhadap topoisomerase II. Biasanya obat ini 

di gunakan dalam kombinasi teruta ma pada 

leuke mia akut dan limfoma (non)-Hodgkin, 

juga pada banyak tumor lainnya, misalnya 

kanker ovarium, bronchus dan pada kanker 

payudara yang tersebar (kombinasi CAF = 

cyclofosfamida + adriamycin + fluoruracil). 

Obat ini berkhasiat imunosupresif. sebab  

plasma-t½-nya tinggi, daya kerjanya lama se-

kali, begitu juga turu nan-turunannya. Meru-

pakan salah satu sitostatikum yang paling 

banyak dipakai .

Efek samping. Semua sitostatika antranilat 

itu  di atas bersifat sangat kardiotoksik, 

yaitu dapat merusak otot jantung (efek ku-

mulatif) dengan gagal jantung (dekompensasi 

irreversibel!). Sifat ini mungkin diakibat-

kan oleh terbentuknya radikal bebas yang 

di dalam jantung tidak diinaktivasi sebab  

tidak adanya enzim katalase dengan khasiat 

antioksidan. Juga bersifat myelotoksik, sering 

rontok rambut total (reversibel), mual dan 

muntah-muntah, amenorroea dan neutrope-

nia selewat. Selama terapi biasanya  

dilakukan monitoring ECG dan darah. Urin 

dapat berwarna merah, juga pada dauno-, 

epi- dan idarubi sin, pada mitoksantron urin 

berwarna biru-hijau.

Dosis: infus i.v. 50-75 mg/m2 sehari setiap 3 

minggu.

* Daunorubisin (Daunoblastina) yaitu  deri-

vat dengan khasiat dan efek samping sama 

(1966). Obat ini terutama digu nakan pada 

leukemia akut, resistensi silang dengan 

doksorubisin dapat terjadi. 

Dosis: 30-60 mg/m2 permukaan badan se-

hari sebagai infus cepat selama 3-5 hari setiap 

4-6 minggu.

* Epirubisin (FarmorubicinRD, Ellence) yaitu  

stereoisomer dari doksorubisin dengan 

indikasi sama (1984). Obat ini bersifat kurang 

toksik bagi jantung dan sumsum tulang, juga 

nausea dan muntah berkurang. Efek samping 

lainnya juga sama. Untuk khasiat yang sama 

pada kanker payudara tersebar diperlukan 

dosis yang ±30% lebih tinggi.

Dosis: setiap 3 minggu 75-90 mg/m2 infus 

i.v.

* Idarubisin (Zavedos) bersifat lebih lipofil, 

maka absorpsinya ke dalam sel lebih baik 

(1990). Obat ini terutama dipakai  pada 

leukemia akut sebagai monoterapi atau tera-

pi kombinasi. 

Dosis: selama 3 hari infus i.v. 12 mg/m2 

permukaan badan.

* Valrubisin (Valstar) yaitu  analog semi 

sintetik dari doksorubisin dan khusus digu-

nakan setempat (intravesicular) pada kanker 

kandung kemih. Kurang dari 10% diabsorpsi 

sistemik.

* Mitoksantron (Novantrone) yaitu  derivat 

doksorubisin yang ku rang kardiotoksik 

(1984), namun  aktivitasnya juga lebih rendah. 

Obat ini terutama dipakai  pada kanker 

prostat, kanker payudara yang tersebar dan 

limfoma non-Hodgkin. Tidak ada  resis-

tensi silang dengan adriamisin. 

Dosis: infus i.v. 12 mg/m2 setiap 3 minggu.

A4b. Bleomisin: Bleocin, Bleomycin

Obat ini merupakan campuran dari dua 

senyawa, bleomisin A2 dan B2, yang diha-

silkan oleh Streptomyces verticillus (1966). 

Efektif sekali untuk kanker testis, kombinasi 

dengan cisplatin dan vinblastin atau eto-

posida dapat menyembuhkan dengan tun-

tas sebagian besar penderita. Obat ini juga 

dipakai  dalam kombinasi dengan dok-

sorubisin dan vinblastin pada limfo ma 

Hodgkin dan kanker lain, khususnya di 

daerah kepala dan leher. Efek sitotoksiknya 

diperkirakan berkat dibentuknya kompleks 

dengan DNA yang menghasilkan radikal 

bebas dan merusak DNA. dipakai  paren-

teral (subkutan, intramuskular, intravena) 

atau langsung dimasukkan ke dalam kan-

dung kemih terhadap kanker di daerah ini.

Efek samping yang paling serius yaitu  tok-

sisitasnya bagi paru-paru (pneumotoksis): ba-

tuk, radang dan fibro sis (fatal 1%). Oleh kare-

na itu terapi perlu disertai monitor ing fungsi 

paru. Juga sering kali merusak kulit dan 

mukosa, dapat pula memicu  reaksi 

anafilaktik. Tidak bekerja imun osupresif dan 

hanya myeolo toksis ringan.

Dosis: i.v. atau i.m. 1x seminggu 5-20 UI/

m2.

A4c. Mitomisin: Mutamicyn

Diisolasi dari sejenis basil Streptococcus 

dan klinis dipakai  terhadap kanker anal 

dalam kombinasi dengan 5-FU dan sisplatin. 

Off-label sebagai tetes mata pada kedokteran 

mata.

A4d. Mitotane: Lysodren

Kimiawi menyerupai insektisid DDT dan 

dipakai  paliatif terhadap kanker adreno-

kortikal yang tidak dapat dibedah (inoperable). 

Mekanisme kerjanya berdasar  destruksi 

selektif dari sel adrenocortex, sel normal 

maupun sel kanker. 

A4e. Trabectedin: Yondelis

Merupakan satu-satunya obat yang diper-

oleh dari hewan laut dan dipakai  dalam 

kombinasi dengan doksorubisin (Doxil) ter-

hadap kanker ovarium dan pankreas. Diberi- 

kan sebagai infus yang didahului dengan 

pemberian deksametason untuk mengurangi 

risiko kerusakan pada hati.

A5. TOPOISOMERASE INHIbITOR

 Topoisomerase yaitu  enzim yang meng-

atur perubahan-perubahan pada struktur 

DNA dengan melancarkan pembelahan dan 

mengikat kembali fosfat selama siklus sel 

normal. Sangat populer sebagai sasaran pada 

sintesis obat kanker.Topoisomerase inhibitor 

merintangi pengikatan kembali, sehingga 

genom sel kanker dirusak dan musnah.

A5a. Topotekan: Hycamtin

Zat semi sintetik ini (1997) yaitu  turun-

an dari camptothecine, suatu alkaloid pen-

tasiklis yang dihasilkan dari kayu tanaman 

Camptotheca acuminata (Cina) dan Nothapodytes 

foetida (India). Rumus kimiawinya rumit dan 

berbentuk cincin lima. Berkhasiat meng-

hambat topoisomerase-1 (enzim yang terli-

bat pada multiplikasi sel dan replikasi DNA) 

yang memicu  musnahnya sel-sel 

tumor yang sedang tumbuh. Di samping 

itu topotekan juga berperan pada ekspresi 

gen dan reparasi cacat pada DNA. Untuk 

sementara obat ini hanya diregistrasi dan 

dipakai  terhadap kanker ovarium, yang dari 

semua kanker ginekologi memiliki prognosis 

terburuk. Topotekan sangat ampuh terhadap 

a.l. kanker paru-paru (sel kecil), leukemia, 

kanker rahim, cervix dan lain-lain. serta 

mampu memperpanjang hidup penderita 

dengan ±15 bulan.

Efek sampingnya relatif tidak begitu parah 

dan paling sering berupa mual dan muntah, 

juga rontok rambut akibat supresi fungsi 

sumsum tulang belakang (E. Meyer.Ph Wkbl 

1997; 132: 800-5).

Dosis: i.v. 1-1,5 mg/m2/hari selama 5 hari, 

diulang minimal 3 x dengan seling waktu 3 

minggu.

* Irinotecan (Campto) yaitu  derivat dengan 

khasiat dan cara kerja yang sama (1998). 

Diregistrasi untuk kanker kolorektal yang 

sudah menyebar dan fluorurasil tidak mem-

berikan efek. 

Efek samping terpenting yaitu  diare dan 

neutropenia (E.Meyer. Ph Wkbl 1999; 134: 60-

65).

Dosis: infus i.v. 350 mg/m2 setiap 3 minggu 

atau 100-125 mg/m2 permukaan badan se-

tiap minggu.

 b. IMUNOMODULANSIA

Zat-zat ini sekarang dinamakan biologicals, 

semula Biological Response Modifiers, yang me-

mengaruhi secara positif reaksi biolo gis tubuh 

terha dap tumor. Fungsi sis tem imun dapat 

distimulasi dengan baik (imunostimulasi) 

maupun ditekan olehnya (imunosupresi).

Lihat Bab 21 Analgetika Antiradang, Boks 

Biologicals.

B1. Imunostimulansia. Sistem imun pada 

umumnya sudah sangat diperlemah oleh 

kanker sendiri begitu juga akibat penangan-

annya dengan sitostatika, radiasi atau pembe-

dahan.

Imunostimulator secara tak langsung ber- 

khasiat mereak tivasi sistem imun yang le-

mah dengan mening katkan re spon imun tak 

spesifik terhadap sel tumor. Banyak reaksi 

imun dicetuskan prosesnya, seperti stimulasi 

per banyakan limfo-T4, NK-cells dan makro-

fag, sedang  pelepasan interferon dan in-

terleu kin ditingkatkan. Sebagai efek akhir 

dari berbagai reaksi kompleks itu, sel-sel 

ganas dapat dike nali untuk kemudian dimus-

nahkan. 

Yang sekarang dipakai  yaitu  sito kin-

sitokin dan levami sol, serta dalam terapi al-

ternatif sediaan-sediaan timus (kelenjar ka-

cangan) dan antioksidansia tertentu.

Sitokin atau limfokin (Yun. terbentuk oleh 

masing-masing sel (cytos) dan lim fosit) ada-

lah protein kecil yang bertanggung jawab 

atas efek berbagai reaksi imun seluler (lihat 

juga Bab 49, Dasar-dasar Imunologi). Sebagai 

contoh dapat disebut interfe ron (IFN), in-

terleukin (IL) dan tumor necrosis factor 

(TNF). Hingga kini IFN-alfa dan IL-2 sudah 

mendapatkan tempat pada terapi kanker dan 

kombinasi dari kedua sitokin juga dipakai .

B1a. Interferon-alfa: IFN-alfa 2, Roferon-A(2a), 

Intron-A(2b).

Interferon-alfa, -beta dan -gama yaitu  lim-

fokin/sitoksin alamiah yang memicu respons 

imunitas seluler serta humoral dan pada 

umumnya dibentuk sebagai reaksi terhadap 

infeksi viral. IFN-alfa terdiri dari 165 asam 

amino yang melalui teknik rekom bi nan DNA 

diperoleh dari kuman E. coli yang telah dimo-

difikasi (manipu lated) genetik. Tambahan ‚2a‘ 

dan ‚2b‘ menunjukkan asam-asam amino di 

posisi masing-masing 23 dan 34. Lihat selan-

jutnya Bab 7, Virustatika.

Di samping bersifat imunostimulasi dan 

virustatik IFN-alfa juga berkhasiat antitumor 

berdasar  pengikatan kompleks secara 

khusus pada reseptor di membran sel dan 

menginduksi serang kaian reaksi in tra sel. 

sebab  hambatan ini di berbagai stadia dari 

replikasi virus, infeksi dihambat dan begi-

tu juga perbany akan sel tumor (aktivitas 

antiproliferatif). Di lain pihak fagositosis dan 

sitotoksisitas limfo sit terhadap sel tumor di-

tingkatkan. 

pemakaian nya pada infeksi viral antara 

lain pada leukemia tertentu, sarcoma Kaposi 

(pada AIDS) dan beberapa jenis kanker lain, 

juga pada infeksi viral seperti sejenis kutil 

kelamin (condyloma acumi nata), hepatitis-B/C 

dan beberapa jenis kanker a.l. melanoma, 

kanker sel ginjal dan myeloid leukemia. Pada 

kasus terakhir paling sedikit 50% dari pen-

derita mengalami penurunan dari jumlah 

sel dalam mana ada  Philadelphia (Ph) 

kromosom dan eliminasi total pada 10% 

penderita. Philadelphia (Ph) kromosom meru-

pakan kromosom abnormal yang ada  

pada 97% penderita myeloid leukemia kronis 

(CML). Walaupun jangka hidup penderita 

dapat diperpanjang, namun  interferon hanya 

mempertahankan remisi dan tidak bersifat 

menyembuhkan. 

Efek samping diakibatkan oleh sifat inter-

feron sebagai protein asing dan kerap kali 

selama minggu pertama timbul gejala mirip 

influenza dengan sakit kepala dan otot, rasa 

letih dan demam, juga gang guan alat pencer- 

naan dan kadangkala gatal-gatal, mulut ke-

ring, tremor dan rontok rambut. Begitu juga 

gangguan darah dan efek-efek sentral (agita- 

si, mudah tersinggung, pikiran kacau). Ter-

catat efek psikiatris serius dengan depresi dan 

psikosis, yang sembuh dengan sendirinya 

sesudah  pemberian IFN dihentikan (NTvG 

1998; 142: 1618-21).

Obat ini harus diberikan sebagai injeksi s.c. 

untuk jangka waktu lama yang frekuensinya 

dapat dipersingkat bila dipakai  dalam 

bentuk senyawa konyugasi dengan polieti-

lenglikol (peginterferon) yang juga bersifat 

mengurangi keparahan efek sampingnya.

Dosis: i.m. atau s.c. 3 MUI sehari selama 

16-24 minggu, infeksi hepatitis-B/C s.k. 3 x 

seminggu 10 MUI. 

B1b. Interleukin-2: IL-2, aldesleukin, Proleukin

Zat-zat interleukin dalam tubuh dibentuk 

oleh limfosit-T, monosit, makrofag dan sel-

sel endotel/epitel. Fung sinya sebagai mole-

kul pesu ruh (messen ger) antara lekosit dan 

berbagai sistem sel dan sistem organ. Obat 

ini juga memegang peranan penting pada 

regulasi berbagai respons imun. IL-2 dibuat 

oleh kuman E. coli melalui teknik rekom-

binan DNA (1989) dan merupakan faktor 

pertumbuhan penting bagi limfo-T, juga 

menginduksi produksi dan pelepasan si-

tokin-sitokin lain. Di samping itu, obat ini 

meningkatkan aktivitas dan perbanyakan 

limfosit sistem lainnya hingga sis tem imun 

distimulasi dan sel-sel tumor dimusnahkan. 

pemakaian nya sebagai lymphoki ne-activa-

ted killercells (LAK) pada imunterapi mela-

no ma dan kanker ginjal yang tersebar. LAK-

cells yaitu  limfo-T tertentu (natural killer cells 

= NKc) yang telah diaktivasi in vitro oleh IL-2.

Di samping terapi terarah (“targeted the-

rapy“) juga imunterapi sekarang ini diguna-

kan terhadap kanker, misalnya monoklonal 

antibodi human ipilimumab (Yervoy) (2012) 

yang memberikan harapan baik bagi pasien 

melanoma bermetastasis, wala