at, namun merupakan
suplemen diet. Food supplements ini, juga
disebut “health food”, dapat dibeli bebas tan-
pa resep di semua negara, terkecuali sediaan
injeksinya.
Antioksidansia yang banyak dipakai
yaitu vitamin A, C dan E, mineral selenium
dan seng, flavon (kurkumin, genistein, ubi-
kuinon, lycopen) dan sejumlah enzim (pa-
pain, bromelain, pankreatin). Yang lebih
jarang dipakai yaitu ekstrak timus dan
ek strak Viscum album.
Di samping efek menstimulasi imunitas,
suplemen sering kali berefek menghilangkan
atau mengurangi gejala penyakit atau efek
samping obat, seperti rasa nyeri, mual dan
perasaan letih (efek paliatif). Kebaikan lain
yaitu senyawa-senyawa ini dalam dosis
yang dianjurkan hampir tidak memicu
efek samping.
Perhatian! Perlu digarisbawahi bahwa
terapi alternatif kanker dengan antioksidan-
sia tidak boleh dipakai tersendiri,namun
sebagai penanganan tamba han (suplemen)
di samping pengobatan regular oleh dokter
(onkolog/internis).
Juga dianjurkan untuk hanya memakai
suplemen dari pabrik terkenal, sebab tidak
jarang isi kemasan tidak sesuai dengan
deklarasinya di atas etiket, khusus mengenai
zat aktif atau kadarnya
* Diet. Di samping food supplement itu
di atas juga penting sekali bagi pasien kan-
ker untuk mengikuti suatu diet tertentu.
Diet ini semula dikembangkan oleh seorang
dokter Belanda (dr.Moerman) dan kemudian
dimutakhirkan oleh internis Dr Houtsmuller.
Dua aturan terpenting dari diet ini yaitu
larangan makan daging dan banyak makan
sayuran.
a. Daging semua hewan menyusui dan
unggas serta produk-produknya, juga
ikan (yang tidak berlemak) dilarang, ka-
rena mengandung asam arachidonat, lihat
di atas (Pencegahan). Ikan berlemak
(kembung, makril, bandeng, salem, sar-
dencis) tidak dilarang sebab mengan-
dung asam lemak tak-jenuh (omega3 =
n3). Kacang tanah dan minyaknya (oleum
arachidis) perlu dihindari sebab kandung-
an arachidonatnya.
b. Sayuran dan buah-buahan dalam jumlah
besar, masing-masing sampai 200 g seha-
ri dianjurkan. Juga makanan yang me-
ngandung zat-zat alamiah dengan sifat
antioksidan, seperti flavonoida, polifenol,
karotenoida, terpenoida, protease-inhibi-
tor dan enzim-enzim yang bekerja anti-
tumor kuat.
SEL-SEL bATANG DAN PENANGANAN REGENERATIF
Sel batang (stemcell) yaitu sel-sel muda (belum masak) yang ada dalam sumsum tulang dan
lain-lain organ/jaringan tubuh, juga ada dalam tali pusat. Sel-sel ini disebut adult stemcells (sel
batang dewasa) dan dapat dibedakan dengan embryonic stemcells yang diperoleh dari embryo. Sel
batang dewasa memiliki kemampuan terbatas, mis. sel batang otak dapat berkembang menjadi
sel-sel saraf, namun tidak menjadi misalnya sel hati, sedang sel-sel sumsum tulang hanya dapat
berkembang menjadi sel-sel darah.
Sebaliknya sel batang embrionik dapat diarahkan untuk berkembang menjadi hampir setiap tipe sel
(pluripotent). Proses pengarahan inilah yang menjadi tantangan besar bagi para ilmuwan, bagaimana
melalui kombinasi rumit dari faktor-faktor pertumbuhan, isyarat-isyarat kimia dan genetik,
mengarahkan diferensiasi dari sel-sel batang embrionik untuk berkembang menjadi misalnya sel
darah, sel otot jantung, tulang, jaringan hati atau kulit. Kesulitan besar yaitu kurang tersedianya
stemcells embrionik ini, yang sekarang hanya tersedia dari “sisa-sisa“ proses pembuahan tabung
reaksi (IVF, in vitro fertilization).
Penanganan regeneratif. Potensi dari sel-sel batang inilah yang merupakan dasar dari terapi
regeneratif, suatu revolusi medis, di mana organ dan jaringan yang sakit dapat direparasi atau diganti
dengan pengganti alamiah yang khusus dikembangkan untuk tujuannya (custommade), bukannya
dengan alat-alat mekanis seperti sendi-sendi dari logam titanium. Stemcells batang dapat membuka
era baru kedokteran di mana penyakit-penyakit yang mematikan dapat disembuhkan dengan
jaringan dan organ yang dibuat secara “sintetik”. Di kemudian hari sel-sel batang embrionik dapat
membantu para dokter untuk menangani misalnya diabetes tipe I dan kelumpuhan akibat cedera
tulang belakang (spina bifida).
Sumsum tulang dan darah dari tali pusat mengandung banyak sel batang yang dapat berkembang
menjadi sel-sel darah merah, sel-sel darah putih dan unsur-unsur sistem imun. Bila tranfusi
darah memberikan sel-sel darah yang hanya hidup untuk beberapa bulan, sel-sel batang ini dapat
“ditempatkan“ (settle) dalam tulang penderita yang membentuk sel-sel darah dan sel-sel imun untuk
sepanjang hidup. Sama halnya dengan implantasi organ, jaringan stemcell donor (patron) secara genetik
harus identik dengan sipenerima untuk menghindari penolakan oleh tubuh.
Terapi dengan sel batang di kemudi an hari dapat ditujukan untuk beberapa jenis penyakit seperti
berikut:
— penyakit jantung: sel batang dari sumsum tulang yang di-injeksikan ke dalam arteri jantung
diperkirakan dapat memperbaiki fungsi jantung penderita serangan jantung dan gagal jantung;
— leukemia dan kanker: sel batang dari sumsum tulang dan darah tali pusat dapat dipakai terhadap
leukemia dan limfoma non-Hodgkin, kanker pankreas dan kanker ovarium;
— rheumatoid arthritis: sel batang dapat membantu memperbaiki tulang rawan yang aus;
— penyakit Parkinson: sel batang saraf dari pasien dapat diarahkan untuk menjadi sel-sel dewasa
yang memproduksi dopamin yang dibutuhkan bagi penyakit ini.
— diabetes tipe I: riset ditujukan cara bagaimana mengarahkan sel-sel batang embrionik untuk
menjadi sel-sel pulau Langerhans di pankreas untuk memproduksi insulin.
Pengetahuan dan riset mengenai sel batang embrionik telah dipelopori di Amerika Serikat, namun
berdasar pertimbangan keagamaan, etik dan moral telah menghambat perkembangannya, a.l.
ditentang keras oleh Presiden Bush. Di negeri Belanda berlaku suatu Hukum Embryo sejak tahun
2002 yang memperbolehkan riset dengan stemcells embrionik manusia hanya bila diperkirakan ada
harapan besar untuk mencapai penemuan-penemuan baru di bidang ilmu kedokteran yang tidak
dapat dicapai melalui cara lain.
Sebaliknya negara-negara seperti Inggeris dan beberapa negara Asia termasuk China, Korea dan
terutama Singapura berlomba-lomba untuk menjadi epicenter utama dari riset mengenai sel batang.
Banyak cara penanganan gangguan di du-
nia kedokteran didasarkan atas kelentur an
dan daya pemulihan dari tubuh sendiri.
namun bila kerusakan suatu organ demikian
parahnya sehingga daya pemulihan sendiri
maupun obat-obat tidak dapat mengatasi-
nya, maka transplantasi organ dapat menjadi
solusinya. Walaupun teknik pencangkokan
dan cara mengatasi penolakan (rejection)
sudah banyak kemajuan, namun prosedur ini
masih tetap merupakan penanganan yang
penuh risiko di samping langkanya organ
untuk transplantasi.
Oleh sebab itu ditemukannya sel batang
(sel punca, stemcell) untuk dapat dipakai
dalam terapi membuat kita tidak lagi ter-
gantung pada regenerasi tubuh sendiri, namun
kita memiliki alat pemulihannya di tangan
sendiri. Bila sel-sel ini dapat diarahkan dan
dimanipulasi untuk terapi regeneratif, ba-
nyak gangguan yang dewasa ini tidak dapat
ditangani, sekarang mendapatkan solusinya.
b. SITOSTATIKA
Sitostatica atau onkolitica (Yun. kytos = sel,
sta sis = berhenti, ongkos = benjolan, lysis = me-
la rut) yaitu senyawa-senyawa yang dapat
menghentikan pertumbuhan yang pesat dari
sel-sel ganas (maligne).
Prinsip pemakaian nya yaitu untuk lang-
sung merusak DNA (dan RNA) dari sel.
Senyawa-senyawa ini mematikan sel-sel de-
ngan menstimulasi apoptosis.
Dosis dan jadwal kemoterapi terbatas pa-
da daya tahan jaringan normal, terutama
jaringan yang berkembang pesat seperti sum-
sum tulang dan mukosa saluran cerna. Juga
tergantung dari farmakokinetika obat yang
dipakai dan afinitasnya terhadap jaringan
tertentu. Mekanisme khasiat terapeutik dari
obat-obat ini yaitu mencari dan meman-
faatkan perbedaan antara sel normal dan
sel kanker serta khusus diarahkan pada
defek-defek genetik dari sel kanker (biologi
molekular). Dalam beberapa kasus sifat tok-
siknya terhadap sel normal dapat dikurangi
dengan misalnya pemberian faktor pertum-
buhan (growth factor) seperti granulocyte co-
lony-stimulating factor (G-CSF).
sebab kebanyakan tumor dengan cepat
memicu resistensi terhadap obat tung-
gal, maka dikembangkan prinsip kemote-
rapeutika intermiten dengan multi-drug, khu-
susnya obat dengan mekanisme kerja yang
berlainan tanpa toksisitas yang tumpang-
tindih.
Siklus kemoterapi. Obat-obat ini diberikan
selama beberapa hari dan diseling dengan
istirahat beberapa minggu untuk memberi
kesempatan bagi jaringan normal tumbuh
kembali. Dengan demikian ada jarak antara
dua siklus kemoterapi untuk memberi waktu
restorasi jaringan normal.
Kombinasi dari tiga atau lebih sitostatika
sering kali dipakai , biasanya obat
dengan mekanisme dan titik kerja pada siklus
pertumbuhan sel tu mor yang berlainan. De-
ngan demikian, mekanisme kerjanya sal ing
dipotensiasi dan timbulnya resis tensi dihin-
dari atau diperlambat. Begitu juga dosis ma-
sing-masing obat dapat dikurangi sehingga
efek tok sik seluruhnya menjadi kurang
parah.
Misalnya terapi dengan kombinasi obat
MOPP (lih. di bawah) menghasilkan remisi
pada 80% dari penderita penyakit Hodgkin
dibandingkan dengan kurang dari 40% bila
masing-masing obat dipakai tersendiri.
Beberapa kombinasi terkenal yaitu :
• MOPP = mustin, oncovin (=vinkristin), pro-
karbazin dan prednisolon pada limfoma
non-Hodgkin yang bermetastasis;
• VMCP = vinkristin, melfe lan, cisplatin dan
prednisolon pada myeloma;
• FAM = fluorurasil, adriamisin dan mitomisin
pada kanker lambung;
• CAF = siklofosfamida, adriamisin dan flu o-
rourasil pada kanker payudara yang sudah
menyebar. Dahulu sering kali dipakai
CMF, dengan metotreksat sebagai peng-
ganti adriamisin (= doksorubisin), namun
CAF ternyata lebih efektif;
• VAD = vinkristin , adriamisin dan deksame-
tason pada penyakit Kahler (multiple mye-
lo ma).
* Terapi intermitten (selang seling) dari kom -
binasi be berapa obat dengan dosis tinggi
kerap kali memberikan hasil yang lebih
baik daripada terapi terus-menerus dengan
hanya satu obat. Lagipula mengurangi efek
imuno supresif dan toksisitas. Antara dua
kur diadakan istirahat 2-3 minggu untuk
memungkinkan penyembuhan sel normal
dan sistem imun yang telah tertekan. Seba-
liknya, selama masa itu kebanyakan sel
tumor yang membelah agak lambat, belum
menjadi normal kembali.
Efek samping umum berupa gejala-gejala
akibat dihambatnya fungsi sel normal yang
tumbuh pesat, seperti juga kebanyakan jenis
sel tumor, yaitu:
a. myelosupresi, depresi sumsum tulang
dengan efek gangguan darah (leukopenia,
agranulositosis, anemia, trombo sitopenia dan
lain-lain). Penekanan pembentukan sel
darah merah, sel darah putih dan pelat
darah timbul sebagai efek samping dari
kebanyakan sitostatika yang juga tergan-
tung dari dosisnya, Transfusi darah
atau pelat darah dapat dilakukan untuk
mengatasi anemia dan trombositopenia,
walaupun transfusi lekosit belum berhasil
dengan baik.
b. mukositis, perusakan mukosa mulut
(luka-luka, stomati tis) dan lambung-usus
(mual, muntah, diare). Mual dan muntah
terutama timbul sebagai efek samping
dari sitostatika senyawa platina dan dok-
sorubisin. Untuk mengatasi efek-efek
ini dapat dipakai antiemetika seperti
metoklopramida, domperidon atau 5-HT3
antagonis-serotonin (ondansetron, grani-
setron), sering kali dikombinasi dengan
deksametason.
c. rontok rambut reversibel akibat peru sak-
an kandung/folikel rambut oleh keba-
nyak an sitostatika, yang sedapat mung-
kin dihindari dengan pemilihan obat
tertentu.
d. imunosupre si, penekanan sistem imun
yang berakibat peningkatan risiko bagi
berbagai jenis infeksi terutama bakteri
dan jamur yang sering kali bersumber
dari flora lambung-usus. Pada keadaan
gawat perlu segera ditangani intravena
dengan antibiotika berspektrum luas.
e. karsinogen, yaitu obat sendiri dapat
memicu kanker pada waktu jang-
ka panjang, akibat sifat mutagen terhadap
DNA, khususnya leukemia akut akibat
obat-obat alkilasi. Sifat mutagenik dari
sitostatika dapat memicu kanker
sekunder, terutama leukemia akut, wa-
lau pun efek samping jangka panjang
ini jarang timbul. Sitostatika yang dapat
memicu kanker sekunder yaitu
zat-zat alkilasi (siklofosfamida), peng-
hambat topoisomerase II (epipodofilotok-
sin-induced leukemia), antrasiklin (dokso-
rubisin) dan antrasendion (mitoksantron).
f. nefrotoksik, yaitu kerusakan ginjal aki-
bat pengendapan kristal asam urat. Pada
pemusnahan sel tumor dalam jumlah
besar dengan pesat, dibebaskan zat-zat
purin dan pirimidin yang dirombak men-
jadi asam urat. Pengendapan dapat di-
hindari dengan obat pencegah encok
alopurinol, yang menghambat pemben-
tukan asam urat, juga dengan membu-
at urin alkalis dengan natri umbikarbo-
nat di samping minum banyak air.
Nefrotoksisitas ini terutama dapat ditim-
bulkan oleh sitostatika senyawa platina
(terkecuali karboplatin), metotreksat dan
ifosfamida.
g. gonadotoksik, yaitu mengurangi jumlah
sel kelenjar ke lamin (gameto-genesis) de-
ngan akibat hilangnya libido, kemandul-
an permanen pada pria dan keguguran.
Sterilitas dengan kemungkinan perma-
nen dapat disebabkan oleh terutama zat-
zat alkilasi.
Oleh sebab efek-efek samping yang dahsyat
itu, selama terapi selalu di lakukan pemantauan
darah setiap minggu dan pasien harus waspada
terhadap infeksi.
Selainnya efek samping umum itu
di atas, ada juga efek samping yang
berkaitan dengan masing-masing obat (drug-
specific) yang akan dibicarakan pada zat-zat
tersendiri, namun secara singkat dapat di-
sebutkan sebagai berikut.
– kardiotoksik, mis. antrasiklin (doksoru-
bisin, daunorubisin)
– pulmonary toksik, misalnya bleomisin
– neurotoksik, misalnya senyawa platina,
alkaloid vinca, taksan (paklitaksel, dose-
taksel)
– dermatoksik, misalnya 5-fluorourasil da-
pat memicu dermatitis
Wanita hamil muda tidak boleh diberikan
sitostatika, sebab bersifat mutagen dan
teratogen.
Resistensi. Salah satu hambatan utama
dari terapi kanker dengan sitostatika yaitu
timbulnya resistensi. Beberapa jenis tumor,
seperti penyakit Hodgkin dan leukemia
akut anak-anak, memiliki kecenderungan
resistensi rendah terhadap sitostatika dan
biasanya dapat disembuhkan. namun ada
pula jenis kanker, seperti melanoma (kanker
kulit ganas) yang sejak semula sudah resisten
terhadap kemoterapi. Diperkirakan bahwa
kebanyakan timbulnya resistensi disebabkan
oleh mutasi genetik dan menjadi lebih nyata
dengan meningkatnya jumlah sel tumor.
Ternyata bahwa sitostatika sendiri dapat
meningkatkan kecenderungan resistensi
itu .
Seperti telah disinggung di atas, resistensi
dapat dihindari dengan memakai kom-
binasi dari 2 sampai 4 sitostatika.
Obat-obat tambahan. Untuk menunjang
efek sitostatika sering kali diberikan suatu
kortikoid, biasanya prednison atau deksame-
tason. Untuk menghindari efek samping
mual dan muntah yang sering kali menyer-
tai terapi, sebagai prosedur standar diberikan
juga suatu obat antiemetik.
Antiemetika digolongkan sesuai afinitas-
nya terhadap letaknya reseptor-reseptor dari
neurotransmitter. Misalnya metoklopramid
suatu antagonis dopamin, bermanfaat terha-
dap mual dan muntah akibat stasis di bagian
atas saluran pencernaan atau pada metastasis
kanker hati. namun obat ini harus dihindari
bila ada penyumbatan di usus sebab
akan memacu peristaltik.
Antiemetika pilihan pertama terhadap
muntah akibat obat-obat atau gangguan me-
tabolisme yaitu yang bekerja sentral seper-
ti senyawa fenotiazin (prokhlorperazin, sikli-
zin) atau antagonis dopamin (butirofenon,
haloperidol). Sebaiknya dan jauh lebih efektif
bila anti emetika (seperti juga analgetika)
diberikan sesuai jadwal tertentu, daripada
menurut kebutuhan.
Perkembangan baru
Dalam 25 tahun terakhir telah dicapai banyak
kemajuan dalam pengetahuan tentang proses
timbulnya kanker, khususnya mengenai dasar
molekular dari terbentuknya sel-sel kanker,
yang berkaitan dengan kerusakan-kerusakan
DNA. Pengetahuan baru mengenai biologi
kanker menjurus diketemukannya sasaran-
sasaran (targets) spesifik yang sama sekali
baru pada sel kanker, misalnya reseptor Fak-
tor Pertumbuhan, defek pada reparasi DNA
dan jalurnya kematian sel. Hal ini merupakan
dasar strategi pencarian dan pengembangan
obat-obat baru terhadap cancer-specific targets.
Walaupun obat yang diarahkan secara mo-
lekular (molecularly targeted drugs) ini mem-
berikan hasil memuaskan pada jenis-jenis
kanker tertentu, pemakaian kombinasi dari
obat-obat ini dan sitostatika masih diper-
lukan. Alasannya yaitu bahwa targeted drugs
yang merupakan antibodi monoklonal bila
diberikan sebagai obat tunggal memberikan
hasil kurang efektif terhadap solid tumors.
namun bila dikombinasi dengan obat-obat
sitotoksik dan diberikan pada tahap dini dari
penyakit, hasilnya sangat baik, misalnya
trastuzumab (Herceptin) dan bevacizumab
(Avastin) (Romond et al.)44. Alasan lain ia-
lah bahwa targeted drugs bantu mengatasi
resistensi terhadap sitostatika dengan mem-
perbaiki aliran darah melalui penghambat-
an angiogenesis dan menunjang apoptosis
(Batchelor et al.; 2007)45. Di Amerika sedang
dilakukan percobaan klinik terhadap ± 400
obat kanker dari 178 perusahaan farmasi.
Banyak obat baru di delapan tahun terakhir
telah dikembangkan antara lain temsiroli-
mus dan sunitinib terhadap kanker ginjal
terminal dan lapatinib terhadap kanker pa-
yudara lanjut(NTvG 2006;150:1473).
Akhir-akhir ini telah dikembangkan sis-
tem carrier koloidal bagi obat-obat tumor
untuk meningkatkan efektivitas sambil me-
ngurangi efek sampingnya, yang disebut
nano-medicines (nanobullets). Lain keun-
tungan dari nano-medicals yaitu dapat
melindungi jaringan sehat terhadap obat,
mengurangi interaksi dengan protein plasma
untuk memperbaiki waktu sirkulasi obat dan
kemungkinan untuk memberikan beberapa
obat pada saat yang bersamaan sebagai terapi
kombinasi dan dikembangkannya sistem
yang mengandung bahan kontras disamping
obat untuk dapat mengikuti jalannya obat
melalui teknik imaging (theranostics).
Jain RK et al., Delivering nanomedicines
to solid tumors. Nat Rev Clin Oncol. 2010
nov.7(11):653-4
Davis ME et al., Nanoparticle therapeutics: an
emerging treatment modality for cancer. Nat
Rev Drug Discov. 2008 sep.7(9):77182.
Bertrand M. et al., Cancer nanotechnology:The
impact of passive and active targeting in the
area of modern cancer biologyl. Adv Drug
Deliv Rev. 2014 feb.66C:2-25
“Targeted therapy” strategy
Untuk tujuan ini dikembangkan molekul-
molekul biologik besar yang dikenal sebagai
antibodi monoklonal atau Mabs-protein un-
tuk mengikat pada sasaran tertentu dengan
kekhususan (specificity) yang tinggi. Dengan
demikian sistem imun pasien akan dipicu
untuk menyerang kanker atau menghindari
perkembangan tumor melalui perintangan/
blokade reseptor–reseptor sel inti. Lihat Bab
21 Analgetika Antiradang, Boks Biologicals.
Obat pertama yang disintesis mela lui
bioengineering demikian yaitu Her cep tin
(trastuzumab, 1998) terhadap kanker buah da-
da yang bekerja melalui perintangan resep-
tor human epidermal growth factor (HER2)
yang mengatur pertumbuhan sel. Protein ini
menjadi biomarker penting bagi penyakit
itu .
Obat monoklonal antibodi manusia lain
yang mencapai “blockbuster status” yaitu
Humira (adalimumab) terhadap artritis rema-
toid.
Cara lain (komplementer) yaitu penggu-
naan senyawa-senyawa sintetik kecil yang
diarahkan terhadap protein spesifik penye-
bab kanker sebagai akibat dari gen yang me-
nyimpang (“oncogenes”). Se bagai contoh
dari molekul demikian yaitu Gleevec (ima-
tinib mesylate) terhadap kanker leukemia
myeloid kronik (CML) dan kanker gastro-
intestinal (GIST). Gleevec yaitu obat per-
tama (2001) dalam kelompoknya yang be-
kerja melalui perintangan enzim tertentu
yang memicu proliferasi sel.
Pengertian mengenai siklus hidup sel kan-
ker juga merupakan hal penting pada peng-
gunaan sitostatika yang rasional, khusus-
nya mengenai efek merusak DNA yang me-
rupakan mekanisme kerja dari kebanyakan
sitostatika. Stadium mitosis pada siklus
kehidupan sel merupakan saat yang paling
rentan terhadap kemoterapeutika, misalnya
limfoma dan leukemia memiliki persentase
tinggi dari sel-sel yang bermitosis dan oleh
sebab itu sangat peka terhadap sitostatika.
Hal yang sama berlaku bagi jaringan nor-
mal yang berproliferasi dengan cepat, se-
perti folikel rambut dan sumsum tulang.
Sebaliknya tumor yang tumbuh lambat ku-
rang responsif terhadap obat-obat yang cycle-
specific, misalnya kanker kolon dan non-small
cel lung cancer.
Banyak sitostatika baru telah dikem bang-
kan dengan mekanisme kerja yang berlain-
an, seperti topoisomerase-inhibitors (etopo-
sida, topotecan, irinotecan) dan zat antimeta-
bolit (gemsitabin, kapesitabin). Topoisomerase
yaitu enzim yang dibutuhkan untuk mem-
buka gulungan molekul DNA.
Sejak beberapa tahun telah diselidiki zat-
zat antiangiogenesik, yaitu zat-zat yang ber-
khasiat mencegah sel-sel tumor memben-
tuk pembuluh darah baru untuk memberi-
kannya oksigen dan zat gizi. Talidomida
berkhasiat demikian, namun terlampau toksik.
Dua obat alternatif yang juga memiliki sifat
ini yaitu genistein dari kedelai dan turahiu
(tulang rawan ikan hiu).
Juga diketemukan antiemetika yang lebih
efektif misalnya ondansetron dan epoietin
di samping faktor-faktor pertumbuhan
darah yang memungkinkan pentakaran
sitostatika lebih tinggi.namun sayang sekali
bahwa semua ikhtiar dari 25 tahun lalu tidak
meng hasilkan lebih banyak penyembuhan
dan penurunan mortalitas penyakit kanker,
berlainan dengan hasil penelitian terhadap
penya kit jantung.
Penggolongan
berdasar mekanisme kerjanya, obat-obat
anti tumor biasanya dibagi dalam
empat golongan besar sebagai berikut, yang
berturut-turut akan dibahas lebih mendalam.
A. Sitostatika
1. Zat alkilasi: nitrogen-mustard, prokar-
bazin, tiotepa, busulfan
2. Antimetabolit: antagonis folat, antagonis
pirimidin dan antagonis purin
3. Antimitotika: alkaloid vinka, taksan dan
epotilones
4. Antibiotika: derivat antrasiklin, bleomi-
sin, mitomisin
5. Topo-isomerase inhibitors: irinotekan
dan etoposida
6. Lainnya: asparaginase, cisplatin, hidrok-
sikarbamida
B. Imunomodulansia
C. Hormon dan antihormon
D. Obat alternatif (CAM)
A. SITOSTATIKA
A1. ZAT ALKILASI
Berkhasiat kuat terhadap sel-sel yang sedang
membelah. Efek ini berdasar gugus alkil,
yang sangat reaktif dan memicu cross-
linking (saling mengikat) antara rantai-ran-
tai DNA di dalam inti sel. Dengan demiki-
an penggandaan DNA terganggu dan pem-
belahan sel dihambat. Khasiat sitotoksik dan
mutagen ini terutama ditujukan terhadap sel
yang membelah dengan pesat, seperti sel-sel
kanker di sistem limfe. Namun, obat-obat ini
juga “merugikan” sumsum tulang, mukosa
dari saluran pencernaan, sel-sel kelamin (ste-
rilitas pria) dan janin muda (abortus). Sela-
in itu, obat-obat ini pada prin sipnya juga
bersifat karsinogen dan dapat mengaki bat-
kan leukemia (non-lymphocytic) akut!
Obat-obat terpenting dari golongan ini
yaitu klormetin (nitrogen-mustard) dan tu-
runannya klorambusil, melfelan, siklofosfa-
mida dan ifosfamida. Di dalam tubuh se-
muanya diubah menjadi senyawa etilen imin
(lihat rumus bangun), yang membentuk
ion-karbonium dengan muatan positif dan
mengalkilasi DNA. Busulfan dan thiotepa
(Ledertepa) juga termasuk kelompok ini.
A1a. Klormetin: mustin, nitrogen-mustard.
Sitostatikum pertama ini (1946) terutama
dipakai pada limfo ma akut (penyakit
Hodgkin) dengan efek cepat sekali. Kerjanya
sangat singkat sebab di dalam darah akan
terurai dalam beberapa menit.
Efek samping muntah-muntah hebat (lama-
nya sampai 8 jam) juga diare, pusing, nyeri
kepala dan pro duksi ludah berlebi han. Ka-
rena obat bersi fat sangat merangsang pada
tempat injeksi dapat ter jadi peradangan
hebat dengan lepuh-lepuh. Efek penekanan
pada sumsum tulang biasanya baru nyata
sesudah 2-3 minggu.
Dosis: i.v. 0,1-0,4 mg/kg bobot badan se-
lama 4 hari (garam HCl).
A1b. Klorambusil (Leukeran) yaitu derivat
aromatik dengan khasiat dan pemakaian
sama, namun dapat dipakai per oral. Efek-
nya lebih lambat dan efek samping lebih
ringan. Khusus dipakai terhadap Chronic
Lymfocytic Leukemia (CLL), namun penggu-
naannya sudah terdesak oleh fludarabin dan
siklofosfamid. Obat ini juga diguna kan pada
kanker payudara, ovarium dan testis, sering
kali dalam kombi nasi dengan sitostatika lain.
Dosis: oral 5 - 20 mg sehari selama 2-3 minggu
dan dis elang istirahat 4 minggu.
A1c. Melfalan (Alkeran) yaitu derivat fenil-
alanin yang efek kerjanya jauh lebih panjang,
±6 jam. Obat ini banyak dipakai pada
suatu jenis kanker sumsum (myeloma, penyakit
Kahler).
Efek samping terutama bersifat hematologik,
antara lain leukemia akut dan yang terpen-
ting yaitu depresi sumsum tulang. Mual
dan muntah lebih jarang terjadi, begitu juga
rontok rambut berkurang.
sebab absorpsinya pada pemakaian pe-
roral tidak konsisten, maka kebanyakan kali
diberikan melalui infus intravena.
Dosis: oral 0,2-10 mg/kg selama 4-6 hari,
sesudah 6 minggu kur diulang. Biasanya di-
kombinasi dengan deksamethason atau tali-
domid.
A1d. Siklofosfamid (Endoxan, Cytoxan) me-
rupakan turunan dengan cincin fosfat (1957)
yang baru menjadi aktif sesudah dioksidasi
di hati menjadi metabolitnya a.l. akrolein,
yang dapat memicu haemorrhagic
cystitis serius. Obat ini juga dipakai pada
myeloma dan leukemia limfatis, biasanya dalam
kombinasi dengan vinkristin dan prednisolon
(kur COP) atau bersama adriamisin/MTX
dan fluorurasil (kur CAF/CMF) pada kanker
payudara dan ovarium. Atau dapat juga
dikombinasi dengan cisplatin pada kanker
ovarium. Siklofosfamid juga merupakan
komponen penting dari kombinasi yang efek-
tif terhadap penyakit non-Hodgkin. Efeknya
mulai tampak sesudah beberapa minggu.
Siklofosfamid juga berkhasiat imunosupresif
kuat, artinya dapat menekan sistem imun
tubuh, antara lain pem bentukan antibo dies
(lihat Bab 50, Sera dan Vaksin). Oleh sebab
itu, obat ini juga dipakai pada trans-
plantasi organ untuk menghindari penolakan
oleh tubuh dan pada penyakit auto-imun
seperti rheumatoid arthritis. Pada pemakaian
terhadap penyakit-penyakit non-neoplastik
harus diwaspadai toksisitas akutnya serta
kemungkinan timbulnya sterilitas, efek tera-
togen dan leukemia.
Efek samping. Selain supresi sumsum, obat
ini hampir selalu menimbul kan rontoknya
rambut (reversibel). Kadang-kadang terjadi
radang mukosa kandung kemih dengan per-
darahan (akibat metabolitnya). Untuk meng-
hindari hal itu pasien perlu minum banyak
air pada pagi hari agar metabolit nefrotoksik
itu sudah diekskresi sebelum malam
hari, namun intoksikasi air harus diwaspadai
juga sebab hidratasi yang kuat ini.
Dosis: oral 50 - 200 mg sehari setiap 7-14
hari, i.v. 10-15 mg/kg/hari setiap 3-7 hari.
A1e. Ifosfamida (Holoxan, Ifex) yaitu analog
dari siklofos famida dengan khasiat dan
pemakaian sama (1970). Juga dipakai
terhadap kanker buah zakar.
Efek samping yang parah yaitu toksisitas
terhadap susunan saraf pusat (halusinasi,
koma) dan terhadap kandung kemih, sama
dengan siklofosfamida dengan penanggu-
langan yang juga sama.
Dosis: i.v. 50-60 mg/kg/hari selama 2-3
hari, kur diulang sesudah 3-4 minggu.
A1f. Busulfan (Myleran)
Senyawa alkilsulfonat ini berkhasiat
myelo-selektif (terhadap sel sumsum tu-
lang) dan sebelum adanya imatinib mesilat
(Gleevec) merupakan obat pilihan per tama
untuk menekan pro duksi lekosit pada leuke-
mia myeloid kronis (CML).Tercatat kasus
remisi 80-90%.
Efek samping terpentingnya supresi sum-
sum yang hebat dan berlangsung lama.
Dosis: oral 3-4 mg/hari selama 12-20 mi-
nggu, pemeli haraan 0,5-2 mg sehari.
A1g. Klorambusil
Khusus dipakai terhadap limfositik leu-
kemia kronis (CLL), namun sudah terdesak
oleh fludarabin dan siklofosfamida. Sitotok-
sisitasnya terhadap a.l. sumsum tulang sama
de ngan senyawa nitrogen mustard lainnya,
Dosis: permulaan sehari 0,1-0,2 mg/kg se-
lama 3-6 minggu.
A1h. Bendamustin
dipakai terhadap limfositik leukemia kro-
nis (CLL) dan limfoma non-Hodgkin.
A2. ANTI METAbOLIT
Dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:
– antagonis asam folat: metotreksat, mer-
kaptopurin
– antagonis pirimidin: 5-fluorourasil, sita-
rabin, gemsitabin dan kapesitabin
– antagonis purin: 6-merkaptopurin dan
6-tioguanin, yang kedua-duanya khusus
dipakai terhadap leukemia akut.
Obat-obat ini juga mengintervensi sintesis
DNA, namun dengan jalan antagonisme saing-
an. Rumus kimiawinya mirip sekali rumus
beberapa metab olit tertentu yang penting
bagi fisiologi sel, yaitu asam folat, purin
dan pirimidin. Dalam sistem enzim obat-
obat ini menduduki tempat metabolit ter-
sebut tanpa mengambil alih fungsinya, se-
hing ga sintesis DNA atau RNA gagal dan
perbanyakan sel terhen ti. Obatnya sendiri
tidak bersifat sitotoksik. Semua obat ini juga
berkhasiat imunosupresif dan khususnya
azatio p rin banyak dipakai pada trans-
plantasi organ (bersama sikloserin). Semua
obat ini merupakan pro-drugs, yang baru
menjadi metabolit aktif sesudah diubah di
dalam hati.
Gemsitabin (Gemzar, 1995) dipakai pa-
da kanker paru (non-sel kecil) dan pankreas
yang sudah menyebar. Kapesitabin (Xeloda,
1998) terutama dipakai intravena atau
oral pada kanker kolon, dikombinasi dengan
5-FU dan asam folinat. Juga per oral pada
kanker payudara dengan metastasis, sebagai
zat tunggal atau bersama docetaxol, dengan
dosis 2 dd 150 – 500 mg ½ jam a.c. selama
2 minggu dan istirahat 1 minggu (Ph Wkbl
2002;137:705,709). Obat tumor kolorektal
(i.v.) lainnya yaitu irinotekan.
A2a. Metotreksat: MTX, Farmitrexat, Leder-
trexat
Derivat pteridin ini (1954), suatu antagonis
folat, menghambat reduksi asam folat men-
jadi tetra hydrofo lic acid (THFA) melalui peng-
ikatan pada enzim reduktase. THFA penting
sekali bagi sintesis DNA dan pembelahan
sel. Metotreksat yaitu sitostatikum pertama
(antifolat kemoterapi) yang efektif pada leuke-
mia limfe akut dan kanker korion yang
sudah tersebar den gan sekitar 80% penyem-
buhan. Selain itu, metotreksat dalam dosis
tinggi juga banyak dipakai pada berba-
gai jenis kanker lainnya sebagai terapi kom-
binasi dengan asam folinat untuk menghin-
dari efek-efek sampingnya yang hebat (li-
hat Bab 39, Hemopoietika). sebab asam
folat dan turunannya bersifat polar, maka
sulit menembus sawar darah-otak (blood-
brain barrier). Oleh sebab itu telah disin-
tesis senyawa yang lipid soluble seperti
trimetreksat (Neutrexin) terhadap Pneumo-
cystis carinii, suatu penyakit infeksi hebat
pada penderita AIDS.
Mekanisme kerja dari antagonis folat ter-
utama efektif terhadap sel-sel yang berpro-
liferasi cepat, seperti epitel saluran cerna dan
sumsum tulang.Oleh sebab itu efektivitasnya
hanya parsial terhadap sel tumor, sama
seperti kebanyakan anti metabolit lainnya.
Antagonis folat bersifat toksik terhadap
janin yang sedang berkembang. Sangat efek-
tif sebagai abortivum pada trimester pertama
kehamilan, bila dipakai bersamaan dengan
misoprostol, suatu analog prostaglandin
(Hausknecht, 1995)46.
Di samping khasiat sitostatik, dalam do-
sis rendah MTX juga bersifat antiradang.
Oleh sebab itu obat ini dipakai pada
terapi psoriasis (kulit bersisik) yang ditandai
pertumbuhan abnormal pesat dari sel-sel epi-
dermis kulit. Juga dipakai pada rematik
parah yang tidak dapat dikendalikan oleh
obat slow-acting (lihat Bab 21, Analgetika anti
radang). Adakalanya obat ini juga diguna-
kan sebagai terapi pemeliharaan pada pe-
nyakit radang usus kronis, seperti colitis dan
penyakit Crohn.
Efek samping utamanya depresi sumsum
tulang (leukopenia, trombositopenia), yang ter-
uta ma hebat pada dosis di atas 25-30 mg.
Selain itu juga timbul kerusakan mukosa
mulut (stomati tis) dan saluran pencernaan,
namun jarang timbul perasaan lelah, rontok
rambut dan de mam. Efek toksiknya, terke-
cuali neurotoksisitas, dapat diatasi dengan
leukovorin, suatu koenzim folat.
Dosis: pada kanker tergantung dari jenisnya
dan keadaan pasien: oral 5-30 mg sehari
selama 5 hari. sesudah is tirahat 2-3 minggu
kur dapat diulang 3-5 kali. Tablet tidak boleh
diminum bersamaan dengan susu.
Psoriasis dan rema: oral, i.m. atau i.v. 15-25
mg seminggu. Imunosupresi pada dosis ren-
dah ini bersifat ringan, namun perlu monito-
ring darah secara teratur. pemakaian kronis
terhadap psoriasis atau rema dapat menim-
bulkan keracunan hati, sehingga pemberi-
annya harus dihentikan.
A2b. Merkaptopurin: Puri-Nethol.
Derivat thiol dari purin ini (1953) berkhasiat
sitostatik berdasar penghambatan sintesis
purin dan DNA di sel-sel yang tumbuh pesat.
Terutama dipakai terhadap leukemia akut
pada anak-anak, juga apabila MTX atau zat
alkilasi tidak aktif (lagi).
Resorpsi dari usus ±50% dengan BA 5-37%.
Di dalam sel merkaptopurin diubah menjadi
dua metabolit aktif, yang dalam hati sebagian
diuraikan oleh enzim ksantinok sidase menjadi
tiourat inaktif. Penguraian ini diperlambat
oleh perintang enzim obat encok allopurinol
sehingga daya kerjanya diperpanjang. Masa
paruhnya ±90 menit.
Efek sampingnya sama dengan MTX, juga
merusak hati (icterus). Monitoring darah juga
perlu dilakukan.
Dosis: anak-anak oral 2,5 mg/kg sehari.
* Azathiopri (Imuran) yaitu derivat imida-
zolil purin (1963) yang dalam tubuh dirombak
menjadi merkaptopurin. Obat ini banyak
dipakai sebagai obat imunosupresif pa-
da transplantasi organ untuk memper kecil
risiko penolakan oleh sistem imun penerima.
Begitu pula pada penyakit auto-imun, ketika
sistem imun kacau dan antibod i menyerang
jaringan dan organ sendiri. Contoh penyakit
ini antara lain re ma, diabetes pada anak-anak,
lupus erythematodes (LE), multi ple sclerosis
(MS), myasthenia gravis (MG), sindrom Syög ren,
sclerodermia, colitis dan M. Crohn.
Dosis: oral 1-4 mg/kg sehari, terhadap rema
1-3 mg/kg se hari.
A2c. Fluorurasil: 5-FU, Efudix.
Derivat pirimidin ini (1962) merintangi
sintesis DNA melalui proses saingan de-
ngan pirimidin. sebab absorpsinya pada
pemberian oral tidak lengkap, maka diberi-
kan parenteral. Banyak dipakai sebagai
antagonis pirimidin terhadap metastasis
tumor payudara, usus besar dan poros
usus (rektum), juga dari lambung, hati dan
pankreas. Efektivitas nya diperkuat (20-30%)
bila terapi dikombinasi dengan misalnya
siklofosfamid dan adriamisin/MTX (kur CAF/
CMF) atau dengan adriamisin dan mitomisin
(kurFAM). Kombinasi dengan leukovorin
dan oksaliplatin atau irinotekan bagi pende-
rita kanker kolorektal. pemakaian dermal
sebagai krem 5% pada kanker kulit dan
pertandukan abnormal (keratosis, Efudix).
Efek sampingnya hampir sama dengan MTX
dan merkaptop urin, bercirikan myelosupresi,
anoreksia, mual dan diare.
Dosis: 10-15 mg/kg intravena selama 4-6
hari.
* Cytarabine (Cytosar-U, Alexan, Ara-C) ada-
lah derivat obat virus idoksuridin yang ber-
khasiat virustatik di samping efek sitostatik
(1969).
Obat ini merupakan satu-satunya obat
terpenting dan paling efektif untuk meng-
induksi dan mempertahankan remisi pada
leukemia akut tertentu (AML). Kerjanya
hanja singkat ±20 menit (t1/2= 10 menit).
Efek samping terdiri dari depresi kuat
sumsum tulang yang berakibat leukopenia,
trombositopenia dan anemia serius akut.
Dosis: infus intravena 100-200 mg setiap
5 hari, bi asanya dikombinasi dengan suatu
antagonis pirimidin lain, misalnya tiogu-
anin(Lanvis).
* Capecitabine (Xeloda) merupakan prodrug
dari 5-FU dan diberikan peroral terhadap
kanker payudara dan kolorektal yang sudah
bermetastasis. Terapi kombinasi memberikan
hasil lebih efektif, misalnya dengan oksa-
liplatin atau irinotekan terhadap kanker
kolorektal dan merupakan terapi standar
pilihan pertama.
Efek samping khusus dari capecitabine di-
sebut “hand-foot” sindrom dan bercirikan eri-
tema, nyeri dan peka pada kaki tangan bila
disentuh, sehingga dosisnya harus dikurangi
atau pemakaian nya dihentikan. Efek
samping lainnya sama dengan 5-FU, yaitu
diare dan depresi sumsum tulang.
* Gemcitabine (Gemzar, dFdC) yaitu obat
kanker penting terhadap kanker pankreas,
paru, indung telur dan kandung kemih yang
telah bermetastasis. Diberikan sebagai infus
intravena.
Efek samping utamanya depresi sumsum
tulang.
A3. ANTIMITOTIKA
Zat-zat ini menghindari pembelahan sel pada
metafasis (tingkat kedua dari mitosis), berarti
merintangi pembelahan inti, seperti obat
encok kolkisin. Berlainan dengan zat alkilasi
–yang juga merintangi pembelahan inti me-
lalui gangguan pembelahan kromosom-anti-
mitotika mencegah masuknya belahan kro-
mosom itu ke dalam anak inti. Obat-obat yang
sekarang dipakai yaitu hasil tumbuhan,
yakni alkaloid Vinca (vinblastin, vinkristin
dan derivat semi sinte tiknya vindesin), po-
d ofilin (serta derivat-derivatnya etoposida dan
tenoposida) dan kelompok taksan(paklitaksel,
dosetaksel).
Alkaloid Vinca efektif terhadap kanker
darah (leukemia, limfoma), kanker payudara
dan paru, zat-zat taksan terhadap kanker
indung telur, payudara dan paru. Sejak
beberapa tahun ada kelompok senya-
wa baru yang dinamakan zat-zat epotilon
(iksabepilon), yang dipakai terhadap
kanker payudara yang telah bermetastasis.
A3a. Vinblastin: Erbablas, Velbe, Velban
Alkaloid ini, bersama derivatnya vinkris-
tin, diperoleh dari Vinca rosea (Catharanthus
roseus atau periwinkle, sejenis kembang ser-
dadu) (1960). Obat ini banyak diguna-
kan pada berbagai limfoma (M. Hodgkin
dan non-Hodgkin) dengan efektivitas tinggi
(sampai 80%) dan sering kali menghasilkan
penyembuhan tuntas. Sebagai terapi kombi-
nasi biasanya dengan bleomisin dan cispla-
tin terhadap tumor testis yang telah berme-
tastasis, atau dengan doksorubi sin dan/atau
pred nisolon terhadap penyakit Hodgkin).
Obat ini juga dipakai pada kanker payu-
dara (vinorelbine) dan Kaposi sarkoma.
Efek samping terutama berdasar mye-
losupresi kuat, terutama leukopenia yang bia-
sanya hilang sesudah satu minggu. Lagi pula
perasaan lelah, mual, muntah dan demam,
lebih jarang rontok rambut dan radang saraf
(neuritis) den gan kesemutan jari-jari tangan.
Dosis: i.v. 0,1-0,2 mg/kg (sebagai sulfat)
* Vinkristin (Krebin,Oncovin,Vincasar) (1963)
pada garis besarnya sama spek trum kerja dan
pemakaian nya dengan vin blastin, antara
kedua obat tidak ada resistensi silang.
Pada leukemia limfo blast obat ini lebih ampuh,
terutama bila dikombinasi dengan sitosta tika
lain. Juga banyak dipakai pada M. non-
Hodgkin dan leukemia anak-anak.
Efek sampingnya sama dengan vinblastin,
myelo supresi lebih ringan, namun neurotok-
sisitasnya lebih kuat. Rontok rambut (alopecia)
dapat timbul pada ±20% penderita, namun
selalu reversibel.
Dosis: 1x seminggu 0,05-0,15 mg/kg (sul-
fat).
* Vindesin (Eldisine) yaitu derivat semi-
sintetik dari vinblastin (1980) yang kurang
myelosupresif dan neurotoksik daripada
vinkristin. Obat ini hanya dipakai dalam
kombinasi dengan onkolitika lain.
Dosis: infus i.v. 3 mg/m2/hari setiap 7-10
hari.
* Vinorelbin (Navelbine) juga dipakai per
oral terhadap kanker paru.
Efek samping terutama granulositopenia dan
alergi sedang neurotoksisitasnya lebih
ringan dibanding alkaloid vinca lainnya.
A3b. Podofilin
Damar ini diperoleh dari akar tanaman
Amerika Podophyl lum peltatum yang a.l. me-
ngandung zat antimi totik podofilotoksin. Dua
glikosida semisintetiknya yaitu etoposi-
da dan teniposida (VM-26, Vumon), yang
berkhasiat merintangi mitosis, mungkin
melalui penghambatan enzim topoisome-
rase-2 sehingga terjadi pemecahan DNA, lihat
juga 7e, topotekan. pemakaian podofilin
sudah obsolet, namun larutannya 25% dalam
alkohol sewaktu-waktu masih dipakai
pada sejenis kutil yang berbentuk “kembang
kol“ pada alat kelamin (condyloma acuminata).
Lihat Bab 12, Penyakit Menular Seksual.
* Etoposida (VP-16-213, Vepesid) (1981) ter-
utama dipakai dalam kombi nasi dengan
bleomisin, karboplatin dan sisplatin pada
kanker testis dan paru, juga pada kanker
payudara dan non-Hodgkin. Daya kerjanya
menghambat topoisomerase II, sehingga
sintesis dari DNA dan RNA terganggu (lihat
doksorubisin). Efek samping utama yaitu
leukopenia (reversibel), lebih sering juga trom-
bositopenia. Begitu juga mual, muntah, hipo-
tensi (kadangkala), leukemia sekunder dan
rontok rambut.
Dosis: i.v. 35-100 mg/m2 sehari selama 4-5
hari, da pat juga per oral (kapsul) dengan
dosis 50-150 mg/hari. Kur diulang sesudah
3-4 minggu.
*Tenoposida (Vumon) yaitu zat induk eto-
posida (1971) dengan khasiat sama, namun
5-10 kali lebih toksik.
A3c. Paclitaxel: Taxol.
Obat baru (pertama kali disintesis 1994) dari
kelompok taksan ini ada dalam jumlah
kecil sekali (1 : 13.500) di kulit pohon cemara
Taxus brevifolia. Dengan cara semi sintetik
telah diperoleh zat pelopornya (baccatine) dari
jarum-jarum Taxus baccata (Ing „Yew“), yang
lebih banyak ada di Eropa dan Amerika.
Berkhasiat sitotoksik melalui penghambatan
mitosis dan mengikat pada suatu protein
yang menghalangi apoptosis. Obat ini diguna-
kan khusus pada kanker ovarium dan kanker
payudara yang bermetastasis, sesudah terapi
dengan cispla tin tidak memberikan hasil.
Ternyata sekarang bahwa efektivitasnya
tidak tinggi, ± 22%, dengan perpanjangan
hidup dari hanya ±3 bulan dibandingkan
dengan terapi standar. Kombinasi dengan
sisplatin atau karboplatin ternyata lebih
ampuh. Kombinasi dari kedua obat dengan
siklofosfamida ternyata juga lebih efektif dan
kini merupakan terapi pilihan pertama. Juga
kombinasi dengan obat baru penghambat
topo-isomerase-1 (topotekan) ternyata efek-
tif. Sebagai premedikasi dianjurkan pem-
berian glukokortikoid (deksametason 16 mg se-
hari) bersama antagonis histamin-H1 (difen-
hidramin) dan H2 (simetidin) untuk meng-
hindari retensi cairan, neurotoksisitas dan
reaksi hipersensitivitas serius. Sekarang ini
sedang dilakukan perco baan pada jenis kan-
ker lain, antara lain kanker paru yang tersebar.
Plasma-t½-nya bifasis: 6,4-12,7 jam.
Efek samping utama yaitu gejala myelo-
supresi hebat, terutama neutropenia (reversibel),
juga alopecia total, neu ropathie, reaksi hiper-
sensitivi tas, demam dan gejala-gejala umum
lainnya. Gejala mual dan muntah hanya
ringan.
Dosis: infus i.v. 135 mg/m2 sehari. Infus
ini terdiri dari larutan dalam campuran
etanol dan derivat minyak kastor (Cremophor-
solubilized paclitaxel).
* Nab-paclitaxel (Abraxane, 2005). sebab si-
fat lipofilnya, paklitaksel tidak larut dalam
air, maka telah disolubilisasikan dengan su-
atu teknik khusus. Formulasi yang larut da-
lam air ini dapat dipakai tanpa diper-
lukan premedikasi dengan senyawa steroid
atau antihistamin.
Efek sampingnya keluhan jantung dan hi-
persensivitas.
* Dosetaksel (Taxotere) yaitu derivat semi
sintetik (1995) dengan efek dan mekanisme
kerja yang sama dan 2 kali lebih aktif daripada
paklitaksel. Kedua obat bersifat sangat lipofil
dan tidak larut dalam air. Plasma-t½-nya
±11 jam. sebab risiko retensi air dan untuk
meringankan reaksi hipersensitivitas, terapi
diawali dengan premedikasi deksametason
16 mg/hari selama 4-5 hari.
Dosis: infus i.v. 100 mg/m2 permukaan ba-
dan dari larutan 0,3-0,9 g/l setiap 3 minggu.
A3d. Epothilon.
Zat sitotoksik ini pertama kali diisolasi dari
sejenis jamur tanah, Sorangium cellulosum, dari
tepi sungai Zambezi di Afrika Selatan (1996).
Epothilon A dan F disintesis (2008) sebagai
turunan baru zat anti kanker yang bekerja
atas dasar blokade mitosis. Toksisitasnya
(neutropenia, diare, asthenia) menyerupai
senyawa taksan, namun lebih ringan dan ker-
janya lebih efektif. Rumus kimianya lebih
sederhana, juga merupakan cincin besar
dengan gugus samping terdiri dari cincin
lima thiazol (dengan N dan S).
* Iksabepilon (Ixempra) merupakan analog
sintetik (2011) yang dipakai sebagai larutan
infus (pelarut etanol/senyawa minyak kastor,
Cremophor EL) terhadap kanker payudara
metastatik, dalam kombinasi dengan ka-
pesitabin. Diperlukan premedikasi dengan
kortikosteroid/antihistamin terhadap reaksi
samping yang diakibatkan oleh pelarut Cre-
mophor, sama halnya dengan paklitaksel.
Dosis: 40 mg/m2 tiap 3 minggu.
A3e. Camptothecin
Senyawa utama dari kelompok ini, camp-
tothecin, di-isolasi (1966) dari pohon Camp-
totheca acuminata di negara Cina dan meng-
hasilkan zat-zat dengan kegiatan anti-neo-
plastik kuat melalui penghambatan aktivitas
enzim topoisomerase I. Juga memiliki toksisitas
hebat, terutama penekanan terhadap sum-
sum tulang dan timbulnya hemorrhagic cys-
titis. Penelitian mengenai sifat-sifat fisiko-
kimianya telah menghasilkan analog-analog
yang lebih mudah larut dalam air dengan
tokisisitas lebih ringan.
Dua analognya yang dipakai dalam
pengobatan terhadap kanker kolorektal,
ovarium dan paru yaitu senyawa semi-
sintetik topotekan (Hycamtin) dan irinotekan
(Camptosar) yang merupakan suatu prodrug.
Irinotekan yaitu pilihan pertama terhadap
kanker colorectal, a.l. dalam kombinasi de-
ngan cetuximab.
Efek sampingnya terutama neutopenia serta
trombositopenia (topotekan) dan diare hebat
(irinotekan).
PRODRUG
Definisi: Prodrug yaitu suatu zat yang
didesign untuk mengatasi masalah-masalah
farmakokinetik atau farmakodinamik, yang
in vivo diubah menjadi molekul yang farma-
kologik aktif melalui cara enzimatik atau
kimiawi.
Prodrug dibuat melalui modifikasi kimiawi
dari suatu zat yang biologis aktif. Bagian aktif
itu baru dibebaskan dalam tubuh sesudah
penguraian enzimatik atau melalui suatu re-
aksi kimia.
Tujuan prodrug yaitu a.l.:
– untuk memperbaiki resorpsi dari zat-zat
yang sukar resorpsinya;
– untuk menghindari efek samping gastro-
intestinal, seperti rasa buruk, iritasi lokal;
– mengurangi rasa nyeri pada tempat injeksi;
– memperpanjang/mengubah efek depot;
– mempermudah transpor obat ke tempat
bekerjanya;
– memperbaiki stabilitas bagian aktifnya.
Obat-obat baru
* Regorafenib (Stivarga) yaitu suatu peng-
hambat multikinase bermolekul kecil yang
memblokir berbagai enzim pendorong per-
tumbuhan kanker dan telah disetujui FDA
untuk terapi kanker kolorektal yang telah
bermetastasis.
Efek samping terhadap hati sangat serius
dan fatal, di samping reaksi kulit, diare, hi-
perbilirubinemia dan hipertensi.
Dosis: oral 160 mg selama 3 minggu, lalu
istirahat 1 minggu.
Sebelumnya juga telah diberikan “lampu
hijau” oleh FDA untuk pemakaian afli-
bercept (Zaltrap) dalam kombinasi dengan
asam folinat, fluorourasil dan irinotekan
(Folfiri) sebagai kemoterapi kanker kolorektal
yang resisten terhadap terapi dengan oksa-
liplatin.
Aflibercept (Eylea) sebagai larutan injeksi
intra-okuler 40 mg/ml dipakai pada de-
generasi macula (bercak keruh pada selaput
bening mata)akibat usia.
A4. ANTIbIOTIKA (SITOTOKSIK)
Antibiotik pertama yang memiliki sifat si-
tostatik yaitu yang termasuk dalam kelom-
pok aktinomisin yang diketemukan oleh
Waksman di tahun 1940. Yang terpenting
di antaranya yaitu aktinomisin D (dakti-
nomisin, Cosmegen, Lyovac) yang dipakai
sebagai obat tunggal atau dikombinasi de-
ngan vinkristin atau siklofosfamida terha-
dap sejenis kanker pada anak dan choriocar-
cinoma pada wanita dewasa. Sifat sitotoksik-
nya berdasar pengikatannya pada DNA
menjadi suatu kompleks, sehingga trans-
kripsinya oleh RNA polimerase diblokir.
Beberapa antibiotik lain yang berasal dari
jenis jamur Streptomy ces termasuk dalam ke-
lompok antrasiklin dan juga berkhasiat sitos-
tatik dan antibakteri. Zat-zat ini juga dapat
mengikat DNA sebagai kompleks, sehingga
sintesis nya terhenti. Yang terpenting yaitu
doksoru bisin dan daunorubisinyang meru-
pakan produk alamiah, serta analognya epi-
ru bisin dan idarubisin, mitoksan tron, bleo-
misin dan mitomi sin. Obat terakhir terutama
berkhasiat alkilasi. Onkolitika ini tidak digu-
nakan sebagai antibiotika sebab terlalu tok-
sik.
A4a. Doksorubisin: Adriamycin RD, Adriblas-
tina
Derivat antrasiklin ini bersama dauno-
rubisin, diper oleh dari biakan Streptomyces
peuticus (1971). Zat ini menghambat sintesis
dari DNA dan RNA, mungkin melalui efeknya
terhadap topoisomerase II. Biasanya obat ini
di gunakan dalam kombinasi teruta ma pada
leuke mia akut dan limfoma (non)-Hodgkin,
juga pada banyak tumor lainnya, misalnya
kanker ovarium, bronchus dan pada kanker
payudara yang tersebar (kombinasi CAF =
cyclofosfamida + adriamycin + fluoruracil).
Obat ini berkhasiat imunosupresif. sebab
plasma-t½-nya tinggi, daya kerjanya lama se-
kali, begitu juga turu nan-turunannya. Meru-
pakan salah satu sitostatikum yang paling
banyak dipakai .
Efek samping. Semua sitostatika antranilat
itu di atas bersifat sangat kardiotoksik,
yaitu dapat merusak otot jantung (efek ku-
mulatif) dengan gagal jantung (dekompensasi
irreversibel!). Sifat ini mungkin diakibat-
kan oleh terbentuknya radikal bebas yang
di dalam jantung tidak diinaktivasi sebab
tidak adanya enzim katalase dengan khasiat
antioksidan. Juga bersifat myelotoksik, sering
rontok rambut total (reversibel), mual dan
muntah-muntah, amenorroea dan neutrope-
nia selewat. Selama terapi biasanya
dilakukan monitoring ECG dan darah. Urin
dapat berwarna merah, juga pada dauno-,
epi- dan idarubi sin, pada mitoksantron urin
berwarna biru-hijau.
Dosis: infus i.v. 50-75 mg/m2 sehari setiap 3
minggu.
* Daunorubisin (Daunoblastina) yaitu deri-
vat dengan khasiat dan efek samping sama
(1966). Obat ini terutama digu nakan pada
leukemia akut, resistensi silang dengan
doksorubisin dapat terjadi.
Dosis: 30-60 mg/m2 permukaan badan se-
hari sebagai infus cepat selama 3-5 hari setiap
4-6 minggu.
* Epirubisin (FarmorubicinRD, Ellence) yaitu
stereoisomer dari doksorubisin dengan
indikasi sama (1984). Obat ini bersifat kurang
toksik bagi jantung dan sumsum tulang, juga
nausea dan muntah berkurang. Efek samping
lainnya juga sama. Untuk khasiat yang sama
pada kanker payudara tersebar diperlukan
dosis yang ±30% lebih tinggi.
Dosis: setiap 3 minggu 75-90 mg/m2 infus
i.v.
* Idarubisin (Zavedos) bersifat lebih lipofil,
maka absorpsinya ke dalam sel lebih baik
(1990). Obat ini terutama dipakai pada
leukemia akut sebagai monoterapi atau tera-
pi kombinasi.
Dosis: selama 3 hari infus i.v. 12 mg/m2
permukaan badan.
* Valrubisin (Valstar) yaitu analog semi
sintetik dari doksorubisin dan khusus digu-
nakan setempat (intravesicular) pada kanker
kandung kemih. Kurang dari 10% diabsorpsi
sistemik.
* Mitoksantron (Novantrone) yaitu derivat
doksorubisin yang ku rang kardiotoksik
(1984), namun aktivitasnya juga lebih rendah.
Obat ini terutama dipakai pada kanker
prostat, kanker payudara yang tersebar dan
limfoma non-Hodgkin. Tidak ada resis-
tensi silang dengan adriamisin.
Dosis: infus i.v. 12 mg/m2 setiap 3 minggu.
A4b. Bleomisin: Bleocin, Bleomycin
Obat ini merupakan campuran dari dua
senyawa, bleomisin A2 dan B2, yang diha-
silkan oleh Streptomyces verticillus (1966).
Efektif sekali untuk kanker testis, kombinasi
dengan cisplatin dan vinblastin atau eto-
posida dapat menyembuhkan dengan tun-
tas sebagian besar penderita. Obat ini juga
dipakai dalam kombinasi dengan dok-
sorubisin dan vinblastin pada limfo ma
Hodgkin dan kanker lain, khususnya di
daerah kepala dan leher. Efek sitotoksiknya
diperkirakan berkat dibentuknya kompleks
dengan DNA yang menghasilkan radikal
bebas dan merusak DNA. dipakai paren-
teral (subkutan, intramuskular, intravena)
atau langsung dimasukkan ke dalam kan-
dung kemih terhadap kanker di daerah ini.
Efek samping yang paling serius yaitu tok-
sisitasnya bagi paru-paru (pneumotoksis): ba-
tuk, radang dan fibro sis (fatal 1%). Oleh kare-
na itu terapi perlu disertai monitor ing fungsi
paru. Juga sering kali merusak kulit dan
mukosa, dapat pula memicu reaksi
anafilaktik. Tidak bekerja imun osupresif dan
hanya myeolo toksis ringan.
Dosis: i.v. atau i.m. 1x seminggu 5-20 UI/
m2.
A4c. Mitomisin: Mutamicyn
Diisolasi dari sejenis basil Streptococcus
dan klinis dipakai terhadap kanker anal
dalam kombinasi dengan 5-FU dan sisplatin.
Off-label sebagai tetes mata pada kedokteran
mata.
A4d. Mitotane: Lysodren
Kimiawi menyerupai insektisid DDT dan
dipakai paliatif terhadap kanker adreno-
kortikal yang tidak dapat dibedah (inoperable).
Mekanisme kerjanya berdasar destruksi
selektif dari sel adrenocortex, sel normal
maupun sel kanker.
A4e. Trabectedin: Yondelis
Merupakan satu-satunya obat yang diper-
oleh dari hewan laut dan dipakai dalam
kombinasi dengan doksorubisin (Doxil) ter-
hadap kanker ovarium dan pankreas. Diberi-
kan sebagai infus yang didahului dengan
pemberian deksametason untuk mengurangi
risiko kerusakan pada hati.
A5. TOPOISOMERASE INHIbITOR
Topoisomerase yaitu enzim yang meng-
atur perubahan-perubahan pada struktur
DNA dengan melancarkan pembelahan dan
mengikat kembali fosfat selama siklus sel
normal. Sangat populer sebagai sasaran pada
sintesis obat kanker.Topoisomerase inhibitor
merintangi pengikatan kembali, sehingga
genom sel kanker dirusak dan musnah.
A5a. Topotekan: Hycamtin
Zat semi sintetik ini (1997) yaitu turun-
an dari camptothecine, suatu alkaloid pen-
tasiklis yang dihasilkan dari kayu tanaman
Camptotheca acuminata (Cina) dan Nothapodytes
foetida (India). Rumus kimiawinya rumit dan
berbentuk cincin lima. Berkhasiat meng-
hambat topoisomerase-1 (enzim yang terli-
bat pada multiplikasi sel dan replikasi DNA)
yang memicu musnahnya sel-sel
tumor yang sedang tumbuh. Di samping
itu topotekan juga berperan pada ekspresi
gen dan reparasi cacat pada DNA. Untuk
sementara obat ini hanya diregistrasi dan
dipakai terhadap kanker ovarium, yang dari
semua kanker ginekologi memiliki prognosis
terburuk. Topotekan sangat ampuh terhadap
a.l. kanker paru-paru (sel kecil), leukemia,
kanker rahim, cervix dan lain-lain. serta
mampu memperpanjang hidup penderita
dengan ±15 bulan.
Efek sampingnya relatif tidak begitu parah
dan paling sering berupa mual dan muntah,
juga rontok rambut akibat supresi fungsi
sumsum tulang belakang (E. Meyer.Ph Wkbl
1997; 132: 800-5).
Dosis: i.v. 1-1,5 mg/m2/hari selama 5 hari,
diulang minimal 3 x dengan seling waktu 3
minggu.
* Irinotecan (Campto) yaitu derivat dengan
khasiat dan cara kerja yang sama (1998).
Diregistrasi untuk kanker kolorektal yang
sudah menyebar dan fluorurasil tidak mem-
berikan efek.
Efek samping terpenting yaitu diare dan
neutropenia (E.Meyer. Ph Wkbl 1999; 134: 60-
65).
Dosis: infus i.v. 350 mg/m2 setiap 3 minggu
atau 100-125 mg/m2 permukaan badan se-
tiap minggu.
b. IMUNOMODULANSIA
Zat-zat ini sekarang dinamakan biologicals,
semula Biological Response Modifiers, yang me-
mengaruhi secara positif reaksi biolo gis tubuh
terha dap tumor. Fungsi sis tem imun dapat
distimulasi dengan baik (imunostimulasi)
maupun ditekan olehnya (imunosupresi).
Lihat Bab 21 Analgetika Antiradang, Boks
Biologicals.
B1. Imunostimulansia. Sistem imun pada
umumnya sudah sangat diperlemah oleh
kanker sendiri begitu juga akibat penangan-
annya dengan sitostatika, radiasi atau pembe-
dahan.
Imunostimulator secara tak langsung ber-
khasiat mereak tivasi sistem imun yang le-
mah dengan mening katkan re spon imun tak
spesifik terhadap sel tumor. Banyak reaksi
imun dicetuskan prosesnya, seperti stimulasi
per banyakan limfo-T4, NK-cells dan makro-
fag, sedang pelepasan interferon dan in-
terleu kin ditingkatkan. Sebagai efek akhir
dari berbagai reaksi kompleks itu, sel-sel
ganas dapat dike nali untuk kemudian dimus-
nahkan.
Yang sekarang dipakai yaitu sito kin-
sitokin dan levami sol, serta dalam terapi al-
ternatif sediaan-sediaan timus (kelenjar ka-
cangan) dan antioksidansia tertentu.
Sitokin atau limfokin (Yun. terbentuk oleh
masing-masing sel (cytos) dan lim fosit) ada-
lah protein kecil yang bertanggung jawab
atas efek berbagai reaksi imun seluler (lihat
juga Bab 49, Dasar-dasar Imunologi). Sebagai
contoh dapat disebut interfe ron (IFN), in-
terleukin (IL) dan tumor necrosis factor
(TNF). Hingga kini IFN-alfa dan IL-2 sudah
mendapatkan tempat pada terapi kanker dan
kombinasi dari kedua sitokin juga dipakai .
B1a. Interferon-alfa: IFN-alfa 2, Roferon-A(2a),
Intron-A(2b).
Interferon-alfa, -beta dan -gama yaitu lim-
fokin/sitoksin alamiah yang memicu respons
imunitas seluler serta humoral dan pada
umumnya dibentuk sebagai reaksi terhadap
infeksi viral. IFN-alfa terdiri dari 165 asam
amino yang melalui teknik rekom bi nan DNA
diperoleh dari kuman E. coli yang telah dimo-
difikasi (manipu lated) genetik. Tambahan ‚2a‘
dan ‚2b‘ menunjukkan asam-asam amino di
posisi masing-masing 23 dan 34. Lihat selan-
jutnya Bab 7, Virustatika.
Di samping bersifat imunostimulasi dan
virustatik IFN-alfa juga berkhasiat antitumor
berdasar pengikatan kompleks secara
khusus pada reseptor di membran sel dan
menginduksi serang kaian reaksi in tra sel.
sebab hambatan ini di berbagai stadia dari
replikasi virus, infeksi dihambat dan begi-
tu juga perbany akan sel tumor (aktivitas
antiproliferatif). Di lain pihak fagositosis dan
sitotoksisitas limfo sit terhadap sel tumor di-
tingkatkan.
pemakaian nya pada infeksi viral antara
lain pada leukemia tertentu, sarcoma Kaposi
(pada AIDS) dan beberapa jenis kanker lain,
juga pada infeksi viral seperti sejenis kutil
kelamin (condyloma acumi nata), hepatitis-B/C
dan beberapa jenis kanker a.l. melanoma,
kanker sel ginjal dan myeloid leukemia. Pada
kasus terakhir paling sedikit 50% dari pen-
derita mengalami penurunan dari jumlah
sel dalam mana ada Philadelphia (Ph)
kromosom dan eliminasi total pada 10%
penderita. Philadelphia (Ph) kromosom meru-
pakan kromosom abnormal yang ada
pada 97% penderita myeloid leukemia kronis
(CML). Walaupun jangka hidup penderita
dapat diperpanjang, namun interferon hanya
mempertahankan remisi dan tidak bersifat
menyembuhkan.
Efek samping diakibatkan oleh sifat inter-
feron sebagai protein asing dan kerap kali
selama minggu pertama timbul gejala mirip
influenza dengan sakit kepala dan otot, rasa
letih dan demam, juga gang guan alat pencer-
naan dan kadangkala gatal-gatal, mulut ke-
ring, tremor dan rontok rambut. Begitu juga
gangguan darah dan efek-efek sentral (agita-
si, mudah tersinggung, pikiran kacau). Ter-
catat efek psikiatris serius dengan depresi dan
psikosis, yang sembuh dengan sendirinya
sesudah pemberian IFN dihentikan (NTvG
1998; 142: 1618-21).
Obat ini harus diberikan sebagai injeksi s.c.
untuk jangka waktu lama yang frekuensinya
dapat dipersingkat bila dipakai dalam
bentuk senyawa konyugasi dengan polieti-
lenglikol (peginterferon) yang juga bersifat
mengurangi keparahan efek sampingnya.
Dosis: i.m. atau s.c. 3 MUI sehari selama
16-24 minggu, infeksi hepatitis-B/C s.k. 3 x
seminggu 10 MUI.
B1b. Interleukin-2: IL-2, aldesleukin, Proleukin
Zat-zat interleukin dalam tubuh dibentuk
oleh limfosit-T, monosit, makrofag dan sel-
sel endotel/epitel. Fung sinya sebagai mole-
kul pesu ruh (messen ger) antara lekosit dan
berbagai sistem sel dan sistem organ. Obat
ini juga memegang peranan penting pada
regulasi berbagai respons imun. IL-2 dibuat
oleh kuman E. coli melalui teknik rekom-
binan DNA (1989) dan merupakan faktor
pertumbuhan penting bagi limfo-T, juga
menginduksi produksi dan pelepasan si-
tokin-sitokin lain. Di samping itu, obat ini
meningkatkan aktivitas dan perbanyakan
limfosit sistem lainnya hingga sis tem imun
distimulasi dan sel-sel tumor dimusnahkan.
pemakaian nya sebagai lymphoki ne-activa-
ted killercells (LAK) pada imunterapi mela-
no ma dan kanker ginjal yang tersebar. LAK-
cells yaitu limfo-T tertentu (natural killer cells
= NKc) yang telah diaktivasi in vitro oleh IL-2.
Di samping terapi terarah (“targeted the-
rapy“) juga imunterapi sekarang ini diguna-
kan terhadap kanker, misalnya monoklonal
antibodi human ipilimumab (Yervoy) (2012)
yang memberikan harapan baik bagi pasien
melanoma bermetastasis, wala










