bran eritro-
sitnya. Gejalanya berupa anemia hemolitik,
trombosis, udema dan kelainan kulit. Kebu-
tuhan sehari-hari diperkirakan 12-15 mg dan
meningkat bila diet mengandung banyak
linolat (di atas 20 g), bagi bayi ±1 mg sehari.
Persediaan tubuh lebih kurang 3-8 g yang
tertimbun dalam jaringan lemak.
pemakaian nya. Selain pada keadaan
defisiensi vitamin E dipakai preventif
sesudah infark jantung sebagai zat pelindung
serangan berikutnya berdasar khasiat
hambatan agregasi trombosit dan anti-ateros-
klerotiknya. berdasar daya anti-trom-
botik itu dan efek antivitamin K (me-
rintangi pembekuan darah) juga dipakai
pada claudicatio (penyakit Buerger) untuk
memperpanjang jarak jalan. Lihat juga Bab
34, Vasodilatator, claudicatio intermittens.
Suatu studi menunjukkan bahwa vitamin
E (dan obat Parkinson selegelin) berkhasiat
memperlambat progres penyakit dementia
Alzheimer. Efek baik itu diperkirakan berkat
sifat antioksidan dari kedua senyawa
itu . Pada penyakit anak cystic fibrosis
(dengan dahak sangat liat), selain asetilsistein
juga vitamin E 100 mg sehari bermanfaat
untuk menghambat kemunduran fungsi
paru-paru.
Dalam pengobatan alternatif, vitamin
E cukup populer sebab berdasar sifat
antioksidannya dipakai sebagai obat anti-
menua kulit (sebagai krem antikerut) bagi
wanita di atas usia 50 tahun. Akhirnya vitamin
E pernah dipakai dalam megadose untuk
antara lain artrosis, hiperkolesterolemia dan
pada kemandulan (“vitamin fertilitas”, tokos=
buah; fero=membawa), yang semuanya ber-
sifat sangat spekulatif.
Efek samping yang dapat timbul pada
megadose di atas 300 U sehari berupa gang-
guan saluran cerna, sakit kepala, perasaan
lemah, gynecomastia, hambatan sembuhnya
borok, proteinuria dan dermatitis kontak
pada pemakaian lokal. Vitamin E dapat
meniadakan efek vitamin K dan memperkuat
daya antikoagulansia.
Dosis: pada defisiensi, anak-anak oral
1 UI/kg bb (asetat), bayi prematur 5-25 UI
sehari. Untuk prevensi dewasa 60-75 mg
sehari, dosis alternatif sebagai antioksidan
400-600 mg/hari. Lokal dalam salep 30-
140 mg/g. Perbandingan aktivitasnya: 1 UI
vitamin E = 1 mg dl-a-tokoferolasetat = 0,74
mg d-a-tokoferolasetat.
1 mg vitamin E = 1,5 UI dl-alfa-tokoferol.
7. Kelompok vitamin K
Dikenal beberapa senyawa dengan aktivitas
vitamin K (Jerm. Koagulation = pembekuan),
yakni derivat naftokinon: K1 = fitomenadion,
K2 = menakinon, K3 = menadion dan K4 =
menadiol. Vitamin K1 ada dalam sayur-
mayur hijau (kol, broccoli, bayem (1-8 mg/
kg), juga tomat dan banyak minyak nabati.
Vitamin ini terikat kuat pada sel chloroplast
yang mengandung klorofil. Vitamin K2
terutama ada dalam produk-produk
fermentasi (seperti yoghurt), juga disintesis
oleh kuman Gram-positif dalam flora usus;
untuk resorpsinya dari usus perlu tersedia
asam empedu. Vitamin K3 dan K4 yaitu zat-
zat sintetik yang kini jarang dipakai lagi.
Fungsi utama dalam tubuh yaitu sebagai
ko-enzim esensial dari sistem enzim yang
mensintesis faktor pembekuan darah, yaitu
faktor II (protrombin), VII (prokonvertin), IX
(Christmas factor) dan X (S.P. factor). Unsur-
unsur ini dibuat dari zat pelopor tak-aktif,
yang menjadi aktif sesudah bereaksi dengan
vitamin K. Sejak awal tahun 1990-an dite-
mukan bahwa vitamin K di samping perlu
untuk memproduksi faktor pembekuan ter-
sebut, juga berperan sebagai ko-enzim pada
metabolisme kalsium dan perkembangan
tulang. Melalui suatu mekanisme recycling
yang efektif, vitamin K dapat dipergunakan
berkali-kali.
Defisiensi tidak sering terjadi dan ber-
cirikan meningkatnya kecenderungan berda-
rah, dengan perdarahan pada awalnya da-
lam urin, kemudian di kulit dan mukosa,
akhirnya juga di saluran cerna dan di otak.
Luka kecil bisa berdarah tanpa henti. Risiko
tinggi terutama pada bayi prematur yang
flora ususnya belum berkembang, sebab
memiliki kurang dari 50% jumlah normal
faktor itu di atas.
pemicu lainnya yaitu malabsorpsi
usus (khusus dari lemak), gangguan pada
ekskresi empedu atau diet buruk selama
jangka panjang. Juga pemakaian antibiotik
broad-spectrum (antara lain tetrasiklin, am-
pisilin, sulfonamida) yang mengganggu siklus
enterohepatik vitamin K. (Dahulu diduga
akibat terganggunya flora usus dan sintesis
vitamin K2). pemakaian kronis fenobarbital,
fenitoin, fenilbutazon dan salisilat juga dapat
memicu kekurangan vitamin K, sebab
obat-obat ini meniadakan efeknya.
Kebutuhan sehari-hari yaitu ekstrem
rendah, yakni hanya ±1-2 mcg/kg bb berhu-
bung mekanisme recycling yang efektif; pada
bayi ±10 mcg/kg bb.
pemakaian khusus pada keadaan defi-
siensi dengan adanya bahaya perdarahan,
juga pada overdosis dengan antikoagulansia
untuk melawan efeknya. Di banyak negara
Barat, antara lain AS dan Belanda, vitamin
K1 diberikan secara profilaktik pada neonati
yang minum air susu ibu. Yang terutama
dipakai yaitu vitamin K1 yang larut
dalam lemak berhubung kerjanya lebih
pesat (sesudah 3-4 jam) dan agak singkat
dibandingkan dengan garam-garam vitamin
K3 dan K4 yang larut dalam air.
• Fitomenadion: vitamin K1, phylloquinone,
Ossovit, Konakion.
Vitamin pembekuan ini (1944) yaitu
vitamin K alamiah terpenting untuk tubuh.
Perlu diberikan khusus pada neonati yang
disusui ibunya dengan dosis 25 mcg sehari
dari minggu kedua sampai dengan bulan
ketiga.
Resorpsi dari usus tidak menentu dan ter-
gantung dari tersedianya lemak dan empedu.
BA 40-70% sebab sangat kuat ikatannya
pada membran kloroplas. Tergabung de-
ngan chylomikron vitamin K melalui limfe
memasuki sirkulasi darah. PP ±90% dan
plasma-t½ 1,5-3 jam. Ekskresi sebagai meta-
bolit lewat empedu dan urin. Efek samping
hanya terjadi pada dosis sangat tinggi dan
berupa nyeri dada dan perubahan warna
kulit. Dosis: oral dan i.m. pada perdarahan
ringan 5-10 mg, bila perlu diulang sesudah
8-12 jam; pada keadaan serius 10-20 mg i.v.
dengan perlahan (1 mg per menit). Profilaksis
neonati langsung sesudah lahir 1 mg, kemudian
pada bayi yang diberikan air susu ibu 1 mg
seminggu (atau 25 mcg sehari) selama 3
bulan.
B. MINERAL DAN
ELEMEN SPURA
Mineral. Dengan ini dimaksudkan zat-
zat anorganik, yang seperti vitamin dalam
jumlah kecil esensial bagi banyak proses
metabolisme dalam tubuh. Yang paling ba-
nyak dibutuhkan yaitu kalium (K) dan
natrium (Na) ±2-3 g, kalsium (Ca) ±1 g, dan
magnesium (Mg) ±0,3 g, juga fosfor (P) dan
klorida (Cl).
Elemen spura didefinisikan sebagai mineral
yang dibutuhkan kurang dari 20 mg sehari,
yaitu besi (Fe) dan seng (Zn) 10-15 mg,
selen (Se) 30 mcg, mangan (Mn) 2-5 mg,
molibden dan fluor (Mo, F) 1-2 mg, krom
(Cr) 0,2 mg, tembaga (Cu) 2-5 mg, iod (J) 60
mcg dan kobal (Co) ± 3 mcg. Sebelum tahun
1950-an, jumlah ini belum dapat ditentukan
secara kuantitatif. Beberapa elemen hanya
dibuktikan keberadaannya dengan reaksi
warna atau melalui spektroskopi terhadap
jumlah yang sangat kecil (spura). Oleh sebab
itu elemen itu dinamakan elemen spura.
Kemudian dengan teknik modern, seperti
spektroskopi dan absorpsi atom, spura logam
sudah bisa ditentukan sebanyak 1 mg dalam
10.000 kg bahan makanan, artinya 1:107
(pangkat 7)!
Fungsinya masing-masing dalam tubuh
sangat berbeda; Ca dan P untuk sebagian
besar bertanggungjawab bagi kekuatan
kerangka; K, Mg dan P terutama membentuk
sistem pendapar intraseluler (buffer). Na dan
Cl justru memegang peranan penting di ruang
ekstraseluler, antara lain sebagai pengatur
tekanan osmotik dan tekanan darah. Banyak
elemen spura merupakan ko-faktor (bagian
aktif) dari metallo-enzim, misalnya Fe, Zn,
Mg, Mo dan Cu, yang mengkatalisa proses
metabolisme penting. Fluor dan stronsium
(Sr) khususnya esensial bagi tulang gigi dan
emailnya, sedang iod merupakan bahan
pangkal bagi sintesis hormon tiroid.
Resorpsi dari usus sering kali tergantung
pada kebutuhan tubuh dan ekskresinya
melalui ginjal atau feses. Bila pengeluaran
ini terbatas, maka resorpsinya juga rendah,
seperti pada Fe dan Cr, walaupun diet me-
ngandung elemen itu dalam jumlah
besar. Zat-zat lain yang ekskresinya ber-
langsung baik, diserap dalam jumlah banyak
dan kelebihannya dikeluarkan lagi lewat
kemih atau empedu.
pemakaian mineral khususnya untuk
prevensi dan pengobatan keadaan defisiensi,
terutama garam K dan Ca. Begitu pula Na, Cl
dan fosfat yang dalam keadaan da-rurat juga
dipakai sebagai infus. Dari elemen spura
hanya Fe dan J (lihat Bab 39 Hemopoietika
dan Bab 48 Tiroksin dan Tiroistatika), Zn, F
dan Sr dipakai sebagai obat; kedua elemen
terakhir dipakai dalam ilmu kedokteran
gigi. Zat-zat lainnya hanya dipakai sebagai
komponen dari sediaan multivitamin atau
sebagai food supplement, juga untuk ternak
dan pada terapi alternatif. Sebetulnya semua
elemen spura, seperti vitamin, seharusnya
ada cukup banyak dalam makanan
sehari-hari yang susunannya bermutu baik,
artinya yang memenuhi ketentuan diet
referensi dari Dewan Nutrisi sesuatu negara.
namun dalam praktik sering terjadi bahwa
RDA-nya tidak terpenuhi sebab berbagai
sebab. Oleh sebab itu suplesi mineral dan
elemen spura bermanfaat bagi orang yang
tidak mungkin atau tidak mampu mengikuti
diet ideal itu . Misalnya selenium dan
seng yang bersifat antioksidan berperan
penting untuk memelihara sistem imun.
Defisiensi praktis tidak terjadi dan
gejalanya juga tidak diketahui dengan jelas.
Di bawah ini akan dibahas elemen spura
terpenting, yakni borium, iod, krom, kobal,
mangan, molybden, selen, strontium dan
tembaga.
Sediaan kombinasi vitamin dan
mineral
Walaupun tidak adanya basis rasional bagi
pemakaian dari kebanyakan kombinasi
demikian dan tidak pernah dibuktikan secara
gamblang, namun sering kali diberikan untuk
memperbaiki kesehatan biasanya dan
meningkatkan perasaan nyaman. Ataupun
diberikan sebagai terapeutika tidak-spesifik
dengan harapan/ tujuan untuk memperbaiki
daya tahan tubuh (misalnya pada infeksi),
pada keadaan keletihan, malaise umum,
hilang nafsu makan (anoreksia), sesudah pem-
bedahan dan persalinan, depresi dan bagi
lansia untuk menghambat proses penuaan.
namun sebaiknya bila timbul gangguan ter-
sebut di atas penderita diperiksa secara sak-
sama terhadap kemungkinan adanya gang-
guan yang lebih serius (anemia, diabetes,
kanker) atau disebabkan oleh faktor-faktor
psikosomatik.
Pada keadaan di mana jelas adanya
kekurangan dari suatu vitamin dan/atau
mineral, yaitu lebih baik untuk memberikan
sediaan tunggal dari vitamin/mineral ybs.
Lagipula harus diwaspadai terhadap risiko
efek samping dan/atau gejala toksik bila
memakai sediaan kombinasi.
a. Bor: borium, B
Elemen spura ini banyak ada da-
lam kol, daun sla (lettuce), kacang polong,
kedele dan alfalfa, juga dalam buah-buahan
(apel, prune, kismis, kurma) dan kacang-
kacangan (kacang tanah, hazelnut, badam).
Telah diketahui adanya hubungan antara
“kemiskinan” borium dalam tanah dan pre-
valensi artrosis (osteoarthritis). Atas dasar ini,
elemen ini dipakai secara alternatif pada
gangguan sendi itu dengan efek sangat
baik. Begitu pula pada osteoporosis sesudah
menopause, pada mana suplesi borium
dengan jelas menurunkan ekskresi kalsium
dan magnesium, sedang kadar estrogen
darah dinaikkan. Sifat ini penting untuk
menghambat lisutnya tulang.
Kebutuhan borium untuk manusia dan
toksisitasnya pada jangka panjang belum
dipastikan, maka dianjurkan untuk memper-
besar asupan borium dengan memperbanyak
jumlah borium dalam diet.
b. Iod: iodium
Elemen ini ada dalam makanan
sebagai iodida anorganik yang mudah di-
serap. Kebutuhan sehari-hari yaitu 150-
300 mcg, yang diperoleh dari makanan,
seperti ikan, kepiting, kerang dan lumut laut
(kelp). Penelitian menunjukkan bahwa ±10%
penduduk Eropa memperoleh kurang dari
100 mcg sehari. Penyakit gondok («krop»)
endemik biasanya akan timbul di
daerah di mana asupan per harinya hanya
70 mcg, yang memicu dilahirkannya
1-5% bayi dengan cretinism. Penyakit ini
dapat diberantas dengan mencampurkan
kaliumiodida pada tepung (untuk roti) dan
garam dapur (iodisasi). Penanggulangan ge-
jala defisiensi elemen ini merupakan salah
satu program prioritas WHO.
c. Kobal: cobalt, Co
Kobal ada sebagai logam pusat dari
molekul vitamin B12, juga merupakan kom-
ponen dari ±5 metallo-enzim. Kebutuhan
sehari-harinya diperkirakan hanya 3 mcg,
yang diperoleh dalam bentuk cyanokobalamin
dalam makanan. Manusia tidak mampu men-
sintesis vitamin B12, maka pemberian kobal
sebagai garam (CoCl2) untuk mensuplesi
vitamin B12 tidak ada gunanya. Oleh sebab
itu pemakaian Co pada anemia tertentu kini
sudah ditinggalkan.
d. Krom: chromium, Cr
Krom dibutuhkan untuk daya kerja in-
sulin yang optimal dalam bentuk aktifnya
GTF (Glucose Tolerance Factor), suatu
senyawa organik yang 20 kali lebih aktif
daripada garam krom anorganik. Untuk
khasiat GTF, lihat Bab 47, Antidiabetika
oral. Kebutuhan sehari-harinya 0,1-0,3 mg,
yang diperoleh dari makanan dan minuman,
terutama air jeruk (grape fruit), anggur (wine)
dan ragi bir, lebih sedikit dari gula yang tidak
dimurnikan, merica hitam, hati, keju dan
wheat germ. Efek baik dari minuman anggur
bagi penderita penyakit jantung sering kali
dilaporkan terutama di Prancis. Semula efek
baik ini diduga ada hubungannya dengan
kadar krom tinggi, yaitu ±100 mcg/gelas
dari 250 ml. namun kini diketahui bahwa
kandungan flavonoida dengan daya anti-
oksidannya, yang memicu efek baik ini.
Kekurangan krom pada tikus mengaki-
batkan hambatan pertumbuhan dan tergang-
gunya metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein yang mirip diabetes. Begitu pula lensa
mata menjadi keruh (cataract) dan terjadinya
arteriosklerosis distimulasi. Tidak diketahui
apakah efek ini juga terjadi pada manusia.
e. Mangan(Mn) dan Molybden(Mo)
Mineral ini merupakan bagian dari bebe-
rapa enzim yang penting bagi metabolisme
karbohidrat, protein dan lemak (glikolise,
sintesis muko-polisakarida, pembentukan
tulang rawan). Mn hanya sedikit ada
dalam tubuh, sebanyak 12-20 mg, antara lain
dalam mitokondria(= «pabrik» energi dalam
sel). Kebutuhan sehari diperkirakan 2-5 mg
untuk Mn dan 1 mg untuk Mo, yang diperoleh
dari makanan, antara lain banyak ada
dalam teh dan kakao, sedikit dalam sayuran
hijau, kacang-kacangan dan padi-padian
whole grain. ada indikasi mengenai efek
pelindung Mn terhadap kanker. Gejala
defisiensi atau efek toksik tidak diketahui.
f. Selenium:selen, Selsun
Selen yaitu elemen dari kelompok sama
dengan sulfur di Susunan Berkala (Periodic
System) dan juga bervalensi dua. Oleh kare-
na itu Se dapat menggantikan belerang
dalam molekul asam amino-sulfur, seperti
sistein, glutathion dan metionin menjadi
selenometionin dan sebagainya. Khasiat uta-
manya yaitu efek antioksidannya yang
sangat kuat, ±100 kali lebih aktif daripada
vitamin E. Sebagai ko-faktor dari sejumlah
enzim, khususnya dari glutationperoksidase
(GPx), selen menstimulasi perombakan ra-
dikal peroksida, yang selalu ada di
dalam jaringan. Dengan demikian, selen
melindungi sel dan eritrosit terhadap keru-
sakan oksidatif oleh H2O2 dan berperan
penting pada hambatan proses menua.
• Selen dan kanker. Banyak zat karbohidrat
bekerja karsinogen sesudah diubah menjadi
epoksida; selen dalam bentuk GPx mence-
gah pengubahan itu. Selain itu, selen men-
stimulasi sistem imun, menghambat pem-
belahan sel dan mendorong apoptosis dari
sel-sel cacat. berdasar sifat itu selen
berkhasiat antikarsinogen kuat. Ternyata
bahwa pada beberapa daerah di AS yang
tanahnya miskin selen ditemukan lebih ba-
nyak kasus kanker buah dada dan kanker usus
besar. Sebaliknya, di Asia jenis kanker itu
lebih jarang ditemukan dan keadaan ini
mungkin ada hubungannya dengan susunan
makanan orang Asia yang mengandung
2-4 kali lebih banyak selen. Ternyata pula
bahwa semakin tinggi kadar selen darah
dari orang sehat di daerah tertentu, semakin
kecil insidensi kanker. Penelitian ekstensif
mengenai efek preventifnya (bersama vitamin
E) telah dilakukan terhadap kanker prostat,
yang berlangsung sampai tahun 2013.
Selanjutnya, selen berperan pada meta-
bolisme vitamin E dan berkhasiat mengu-
rangi toksisitas logam berat dengan me-
ngikatnya menjadi selenida, misalnya cad-
mium-, thallium- dan merkuro-selenida.
Selen sering kali dipakai secara alternatif
sebagai antioksidan kuat untuk memperkuat
sistem imun pada prevensi dan penanganan
kanker.
Defisiensi selen jarang terjadi. Pada bi-
natang, kekurangan selen memicu
penyakit “otot putih” (white muscle disease)
yang bercirikan kelelahan umum dan susut
otot (atrofi). Pasien yang diberikan nutrisi
parenteral total melalui infus menunjukkan
sindroma tertentu (Keshan syndrome). sesudah
penambahan 1 mg natriumselenit (= 0,3 mg
Se) per kg makanan, gangguan ini dapat
dihindarkan. Sejak tahun 1974, FDA di AS
mengizinkan food supplement ini.
Kebutuhan diperkirakan hanya 30 mcg
Se/hari, yang terutama diperoleh dari padi-
padian whole grain, ikan, kepiting, daging,
hati, ginjal, ragi bir, ketimun, sampinyon,
bawang putih, wijen, kacang-kacangan (nuts)
dan asparagus.
pemakaian . Selain dalam sediaan mul-
tivitamin, selen belum dipakai dalam
obat-obat oral lainnya. Secara dermal, se-
lensulfida 2,5% (Selsun) efektif sebagai
shampoo antiketombe (dandruff) dan pada
dermatosis tertentu dengan kulit bersisik
mirip dedak (pityriasis). Selensulfida juga
berkhasiat antimitotik dan fungisid.
Interaksi. Efek selen dirintangi oleh zat-
zat antagonis, antara lain seng, Cu dan krom,
yang menghambat penyerapannya dari usus.
Efek samping dari SeS berupa iritasi kulit
kepala dan rambut berlemak, pemakaian
yang terlalu lama dapat memicu ron-
toknya rambut. SeS dapat diserap oleh kulit
yang tidak utuh dengan memicu
keracunan kronis berupa muntah-muntah,
anoreksia, anemia, bau bawang putih dan
degenerasi hati.
Dosis: sebagai suplemen 100-200 mcg se-
hari, sebaiknya sebagai senyawa organik
(selenometionin), sebab lebih baik penye-
rapannya daripada garam-garam anorga-
niknya (selenit, selenat).
g. Stronsium:Sr, Sensodyne
Elemen bervalensi dua ini dari kelompok
barium dan kalsium khusus dipakai dalam
pasta gigi 10% (Sr-klorida: Sensodyne) untuk
melindungi gigi terhadap pengaruh termis
(dingin dan panas) dan kimiawi (asam, gula),
yang disertai nyeri. Stronsium berkhasiat
mengurangi sensitivitas gigi terhadap rang-
sangan itu dengan membentuk lapisan
pelindung keras di luar dentin yang sudah
kehilangan emailnya sebab erosi atau pe-
ngendapan kalsium (plaque). Dengan de-
mikian rangsangan itu tidak lagi bisa
mencapai sumsum gigi (pulpa) dalam mana
ada saraf dan memicu nyeri.
Mengenai efektivitasnya belum ada per-
sesuaian faham di antara para ahli gigi.
h. Tembaga:cuprum, Cu
Cu merupakan ko-faktor bagi sejumlah
enzim, antara lain sitokrom-oksidase dan beta-
hidroksilase, yang mengubah dopamin men-
jadi noradrenalin. Lagi pula enzim itu
berperan pada sintesis darah (hemoglobin),
elastin dan myelin. Juga terlibat pada mobilisasi
Fe dari depotnya. Tubuh mengandung ±100
mg Cu.
Kebutuhan seharinya diperkirakan 2-3 mg,
yang diperoleh dari sayur-mayur dan hati.
Dalam kedokteran hewan, Cu dipakai
sebagai food supplement untuk merangsang
pertumbuhan, namun mekanisme kerjanya
belum diketahui. Pada penyakit anorexia
nervosa, di mana sering kali ada ka-
dar Cu darah yang rendah, suplesi Cu
memberikan hasil yang baik.
Resorpsi dari lambung dan usus untuk
±30%, kemudian disalurkan ke hati dalam
bentuk terikat pada cerulo-plasmin. Ekskresi
terutama melalui empedu dan sebagian
kecil langsung melalui dinding usus. Seng
mengurangi penyerapan dan efek Cu; dalam
enzim superoxide-dismutase (SOD), kedua
elemen diperlukan dalam perbandingan
yang tepat.
Defisiensi jarang sekali terjadi dan dapat
memicu demyelinisasi pada saraf, ane-
mia, dan kelainan darah lain, juga encefa-
lopati dengan kelambatan psikomotor, ke-
lambatan mental dan serangan epilepsi.
Gangguan pada metabolisme tembaga da-
pat memicu penyakit Wilson, yang
bercirikan penumpukan tembaga di ber-
bagai organ dan memicu cirrhosis dan
degenerasi ganglia basal dari otak. Oleh ka-
rena itu, semua pasien muda dengan cirrhosis
harus di-screen terhadap kondisi ini.
Overdosis dengan kadar Cu darah yang
tinggi memicu gangguan saluran cer-
na, malaise, gangguan ginjal, hati dan ekstra-
piramidal, juga anemia hemolitik. Zat-zat
penawar untuk melawan overdosis yaitu
penisilamin, Na-edetat (EDTA) dan sengsulfat.
Dosis: sebagai elemen spura 8-20 mg
sehari CuSO4.5aq.
1 g garam ini mengandung 255 mg Cu
elemen.
MONOGRAFI
1. Kaliumklorida:KCl, K durettes, Slow-K
Kalium merupakan kation (positif) yang
terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat
esensial untuk mengatur keseimbangan
asam-basa serta isotoni sel. Selain itu K juga
mengaktivasi banyak reaksi enzim dan proses
fisiologi, seperti transmisi impuls di saraf
dan otot, kontraksi otot dan metabolisme
karbohidrat.
Elemen ini praktis ada dalam semua
makanan, antara lain banyak dalam sayuran
(bit, bayem, tomat, kentang), buah-buahan
(avokad, jeruk, aprikot, pisang, ara, anggur/
kismis, plum), kacang tanah, kedele, badam,
biji labu manis (pumpkin) dan kopi. Plasma
hanya mengandung 1% dari kadar total dalam
tubuh (Kt), sedang antara kadar plasma
(Kp) dan Kt tidak ada korelasi baik. Oleh
sebab itu Kp rendah tidak berarti bahwa Kt
juga telah berkurang dan adanya defisiensi
kalium.
Selama terapi hipertensi dengan diuretika
sering kali Kp menurun, namun biasanya Kt
lebih kurang stabil. sebab itu suplesi kalium
tidaklah berguna, kecuali bila diuretika
diberikan dalam dosis tinggi sekali. Atau, bila
pasien juga menelan digoksin, yang membuat
jantung lebih peka terhadap kekurangan K.
Suplesi K barulah perlu bila Kt telah turun
dengan nyata, seperti pada gagal jantung
(dekompensasi), cirrhosis hati dan diabetes de-
ngan keto-acidosis. Risiko akan hipokaliëmia
lebih besar dengan meningkatnya dosis,
usia pasien dan lamanya pengobatan. Gejala
hipokaliëmia berupa otot lemah, rasa sangat
letih, gangguan konsentrasi dan ritme
jantung.
Efek samping dari overdosis berupa gang-
guan saluran cerna, nyeri setempat pada
injeksi dan radang vena (phlebitis). Gejala
hiperkaliëmia itu di atas juga dapat
terjadi bila K dipakai bersamaan dengan
diuretika penghemat-kalium. Juga sebagai
efek samping dari beberapa obat, seperti
kaptopril, indometasin, sitostatika dan digok-
sin (pada dosis tinggi).
Dosis: profilaksis 2 dd 0,6-1 g KCl (tablet
retard) p.c., pada hipokaliëmia dimulai de-
ngan 2 g sampai gejalanya hilang, kemudian
2 dd 1 g.
2. Natriumklorida:garam dapur, NaCl
Natrium merupakan kation utama dalam
cairan ekstraseluler dan memegang peranan
penting pada regulasi tekanan osmotiknya,
juga pada pembentukan perbedaan potensial
(listrik) yang perlu bagi kontraksi otot dan
penerusan impuls di saraf.
Dalam diet sehari-hari, rata-rata ada
6-12 g NaCl yang diserap baik dari usus.
Jumlah yang sama juga diekskresikan setiap
hari, terutama lewat urin dan sedikit lewat
keringat. Ginjal sehat mampu menyesuaikan
ekskresi garam dengan pemasukannya.
Defisiensi bisa terjadi akibat kerja fisik
yang terlampau berat dengan banyak ber-
keringat dan banyak minum air tanpa tam-
bahan garam ekstra. Gejalanya berupa mual,
muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang
otot betis, kemudian juga kejang otot lengan
dan perut. Selama melakukan olah raga
secara normal untuk beberapa jam tidak ada
bahaya hiponatriëmia.
Efek samping pada overdosis berupa ude-
ma dan naiknya tekanan darah berhubung
bertambahnya volume plasma akibat pengi-
katan air oleh Na. Efek ini juga dapat terjadi
sebab retensi Na pada pemakaian hormon
steroida, NSAID’s seperti indometasin dan
fenilbutazon, vasodilator dan succus liquiritiae
(gula “drop”).
pemakaian nya selain pada defisiensi
Na, juga dalam bilasan 0,9% (larutan garam
fisiologis) dan dalam infus dengan elektrolit
lain. Sebagai tetes mata 5% NaCl dipakai
pada udema kornea.
Dosis: untuk kompensasi kehilangan Na
akibat kerja berat dan terlalu banyak minum
air: 5-10 g NaCl, sebaiknya sebagai larutan 1
g per liter.
3. Kalsium: calcium, Ca
Kalsium ada sebanyak 99% dalam
tulang kerangka dan sisanya dalam cairan
antarsel dan plasma. Dalam bahan makanan
terutama ada dalam susu dan telur,
juga gandum dan sayur-mayur, antara lain
bayam. Resorpsinya dari usus memerlukan
adanya vitamin D dalam bentuk aktifnya,
yaitu kalsitriol.
Fungsinya selain sebagai bahan bangun
bagi kerangka, juga sebagai pemeran penting
pada regulasi daya rangsang dan kontraksi
otot serta penerusan impuls saraf. Lagi pula
Ca mengatur permeabilitas membran sel bagi
K dan Na dan mengaktivasi banyak reaksi
enzim, seperti pembekuan darah.
Pengaturan kadar Ca dalam darah dan di
jaringan tulang diregulasi oleh kerjasama
erat antara tiga hormon, yakni kalsitriol, para-
thormon dan kalsitonin. Kalsitriol (dihidrok-
siD3) meningkatkan Ca (dan P) darah dengan
meningkatkan perombakannya (“resorpsi”),
mobilisasi Ca dari tulang dan retensinya
(dan P) di ginjal. Parathormon (PTH) juga
Gambar 53-3: Regulasi kadar kalsium darah oleh kalsitonin, PTH dan vitamin D3
meningkatkan kadar Ca darah dengan men-
stimulasi sintesis kalsitriol. PTH ini disekresi
oleh paratiroid bila kadar darah Ca terlampau
rendah. Sebaliknya, kalsitonin menurunkan
Ca darah; hormon peptida ini disekresi oleh
tiroid bila kadar Ca terlampau tinggi. Sebagai
antagonis dari PTH zat ini merintangi
mobilisasi Ca dari tulang dan mendorong
ekskresinya (dan P) di ginjal dengan efek
menurunnya kadar Ca (dan P) darah. Lihat
skema dibawah.
Defisiensi kalsium memicu antara
lain melunaknya tulang (osteomalacia) serta
mudah terangsangnya saraf dan otot, de-
ngan akibat serangan kejang (tetania). Da-
lam kebanyakan kasus kekurangannya di-
sebabkan oleh defisiensi vitamin D dan ter-
hambatnya resorpsi Ca, atau sebab penyakit
hipoparatirosis dan insufisiensi ginjal.
Resorpsi dari usus berlangsung aktif da-
lam keadaan terikat pada CBP (Calcium
Binding Protein), yang sintesisnya distimulasi
oleh kalsitriol. Vitamin D yaitu esensial bagi
absorpsi yang baik! Dalam darah, unsur ini
terikat pada protein untuk ±45%. Ekskresi
tergantung pada banyak faktor dan terutama
melalui tinja dan hanya sedikit lewat urin.
Kebutuhan. Dalam rangka prevensi os-
teoporosis National Institute of Health AS
menganjurkan asupan kalsium (sebagai ele-
men) per harinya sesuai jumlah berikut, lihat
tabel di bawah ini.
pemakaian nya pertama-tama pada de-
fisiensi Ca tulang yang berkaitan dengan
terganggunya resorpsi, juga sesudah pembe-
Tabel 53-3: Kebutuhan kalsium bagi berbagai kelompok orang.
bayi 0-6 bulan : 400 mg dewasa 25-65 thn : 1.000 mg
6-12 bulan : 600 mg > 65 thn : 1.500 mg
anak-anak 1-5 tahun : 800 mg wanita (menopauze) : 1.500 mg
6-10 tahun :1.000 mg ” + estrogen : 1.000 mg
11-18 tahun :1.350 mg selama hamil/lakt : 1.200 mg
dahan tiroid dengan kerusakan pada para-
tiroid. Pada osteoporosis dan prevensinya
bagi wanita sesudah menopause, Ca diberikan
bersamaan dengan suatu bisfosfonat, vitamin
D dan estrogen. Lihat Bab 44, Estrogen.
Profilaktik Ca juga dipakai oleh wanita
selama kehamilan dan laktasi.
Efek samping pada pemakaian oral be-
rupa iritasi lambung-usus dan sembelit.
Hipercalciemia jarang terjadi dan bercirikan
endapan Ca di ginjal (batu) dan meningkatnya
ambang rangsang saraf dan otot. Gejalanya
berupa kelemahan otot, letargia, poliuria dan
perasaan dahaga, akhirnya timbul koma.
Untuk prevensi osteoporosis dianjurkan
memakai dosis lazim dari 600-1400
mg per hari. Dosis yang melebihi 1400 mg/
hari akibat asupan makanan dengan kadar
tinggi kalsium ditambah ekstra lagi dengan
suplemen kalsium, berrisiko terhadap gang-
guan jantung dan pembuluh.
Interaksi. Pemberian i.v. pada pasien yang
memakai digoksin harus berhati-hati,
sebab toksisitas digoksin diperkuat. Resorpsi
tetrasiklin dihambat akibat terbentuknya
kompleks dengan Ca; doksisiklin dan
minosiklin tidak terganggu resorpsinya.
Ca-glukonat.1 aq : 90 mg/g CaHPO4.2 aq : ca 233 mg/g
Ca-laktat.5 aq : 130 mg/g CaCl2.2 aq : ca 272 mg/g
Ca-sitrat.4 aq : 210 mg/g CaCO3 : 400 mg/g
Tabel 53-4: Garam-garam kalsium dengan kadarnya
Garam-garam kalsium. Berbagai garam
kalsium sering kali dipakai dengan kadar
kalsium per gram yang saling berbeda, lihat
tabel 53-1.
Dosis: Pada defisiensi, oral 2-2,5 g Ca
sehari dalam 3-4 dosis sewaktu makan.
Pada osteoporosis dan prevensinya 1-1,4 g
Ca malam hari, bersamaan dengan vitamin
D3 800 unit. Pada hipocalciemia parah, i.m.
atau i.v.(perlahan-lahan) Ca-glukonat 1-2 g
(larutan 10%).
4. Magnesium:Mg
Magnesium banyak ada dalam ke-
dele, padi-padian whole grain, cereals, ka-
cang-kacangan (nuts, amandel), buah (ara,
abrikos) dan sayuran hijau (molekul klorofil
mengandung atom Mg), serta sedikit dalam
susu, ikan dan daging. Tubuh manusia
mengandung ±25 g Mg, 50-60% daripadanya
dalam kerangka, sedang sisanya ada
dalam cairan intraseluler, juga sebagai ko-
faktor enzim yang menghasilkan energi
(pengoperan fosfat).
Fungsinya. Mg memegang peranan pen-
ting pada relaksasi otot, mungkin juga untuk
myocard (seperti K); pada otot jantung orang
yang meninggal akibat infark ditemukan
kadar Mg (dan K) yang rendah. Oleh sebab
itu Mg dipakai sebagai prevensi dan
terapi untuk infark jantung. Di samping
itu Mg berperan penting pada metabolisme
kalsium dan juga diperlukan untuk sintesis
protein dalam tulang. Penting pula bagi
absorpsi kalsium, kalium dan natrium. Ber-
dasarkan sifat ini, dianjurkan sebagai obat
tambahan pada osteoporosis. Akhirnya
Mg menstimulasi sistem-imun. Penelitian
epidemiologi menunjukkan bahwa di daerah
yang kaya magnesium lebih jarang ada
kanker, antara lain kanker lambung.
Kebutuhan seharinya diperkirakan 450-500
mg (WHO), yang diperoleh dari makanan,
lihat di atas.
Kekurangan dapat memicu jari-
jari tangan dingin, kejang betis dan restless
legs, juga yang lebih serius tekanan darah
meningkat, kejang pembuluh koroner
dan aritmia jantung yang berbahaya. Maka
dianjurkan suplesinya bagi orang yang telah
menderita infark. Pada hewan, dijumpai
efek teratogen dan berkurangnya pembentukan
antibodies serta menurunnya daya tangkis
umum.
Dosis: sebagai tambahan pada osteopo-
rosis 1-3 dd 250 mg Mg(OH)2 selama 2 ta-
hun. Juga dapat dipakai sebagai magne-
siumsitrat atau askorbat.
5. Besi:Ferrum, Fe
Senyawa besi khusus dipakai pada
keadaan anemia ferriprive, yaitu anemia
akibat kekurangan Fe.
• Ferofumarat (Ferumat, *Superton, *Hemo-
bion.
• Obimin-AF) dianggap sebagai pilihan uta-
ma untuk terapi oral berhubung dengan
efek sampingnya yang ringan. Dosis: 2-3
dd 200 mg (= 65 mg Fe) p.c.
• Feroglukonat(*Vitaton multi, *Sangobion)
juga bersifat kurang merangsang dan
sering kali dipakai dalam tonika
dikombinasi dengan vitamin B-kompleks.
Dosis: 3 dd 48 mg Fe.
• Ferosulfat (Ferro-Gradumet,*Iberet ) bersi-
fat sangat merangsang, sebab bereaksi
asam dan lebih sering memicu
mual dan muntah. Tablet slow-release
mengurangi kendala ini. Dosis: oral 2 dd
525 mg (=105 mg Fe) p.c. Lihat juga Bab
39, Hemopoietika.
6. Seng: zincum, Zn
Kadar seng dalam tubuh cukup tinggi
(1,5-2 g) dibandingkan elemen spura lainnya.
Sebagian besar ada dalam tulang, juga
agak banyak di prostat. Zn merupakan ko-
faktor bagi banyak enzim yang perlu bagi
antara lain sintesis dan perombakan protein,
karbohidrat dan lemak.
Kebutuhan seharinya yaitu 10-15 mg, se-
dangkan pada defisiensi sampai 50 mg sehari,
yang diperoleh dari daging, ikan, kerang,
kepiting, susu, produk whole grain, ragi dan
kacang-kacangan (beans). Resorpsinya dari
usus diperbesar oleh vitamin C dan asam-
asam amino, serta dikurangi oleh kalsium,
fosfor, Fe dan Cu. Lagi pula seng mendesak
Cu dari enzimnya dan juga meniadakan efek
pelindung Se terhadap kanker. Oleh sebab
itu pasien kanker sebaiknya jangan diberikan
suplesi Zn.
Fungsinya sebagai ko-faktor dari minimal
100 enzim yang terlibat dalam berbagai
proses metabolisme, juga esensial bagi sin-
tesis RNA dan DNA. Diperkirakan bah-
wa seng juga memegang peranan pada
gejala buta malam sebagai ko-faktor dari
alkoholdehidrogenase yang mengubah reti-
nol menjadi retinal, yang perlu bagi sintesis
rodopsin. Beberapa studi menunjukkan bah-
wa seng dapat memperbaiki fungsi sel-
sel otak, antara lain lemah ingatan (sering
lupa) pada lansia. Akhirnya seng berkhasiat
menstimulasi penyembuhan borok bila ter-
dapat kekurangan dan lokal memiliki efek
mengerutkan selaput lendir (adstringens),
antikeringat, dan antiseptik lemah. Lihat
juga Bab 15, Antiseptika.
Defisiensi jarang terjadi. Namun pernah
ada laporan dari Timur Tengah mengenai ciri-
ciri defisiensi, seperti terhambatnya pertum-
buhan dan infantilisme, berkurangnya daya
rasa dan penciuman, juga kelainan kulit dan
sukar sembuhnya luka. Pada separuh kasus
ulcus cruris (borok di tungkai akibat sirkulasi
buruk) ada kadar Zn yang rendah dalam
darah. pemakaian terbanyak yaitu dalam
dermatologi, khususnya ZnO dalam bedak
tabur dan salep, sebagai adstringens dan
antiseptikum lemah. Sengsulfat dipakai
sebagai tetes mata 2,5-5 mg/ml pada radang
selaput mata dan per oral pada borok yang
berkaitan dengan defisiensi Zn, lihat juga
Bab 15. Desinfektansia. Garam seng orga-
nik (sitrat, glukonat dan pikolinat) dignakan
sebagai antioksidan pada terapi alternatif,
juga sebagai obat tambahan pada gangguan
prostat membesar (BPH) berdasar sifat
seng yang dapat menghambat pembentuk-
an dihidrotestosteron. Lihat Bab 31, Anti-
adrenergika, alfa-blockers. Zn-glukonat seba-
gai tablet hisap ternyata bermanfaat pada
infeksi influenza untuk mempercepat pe-
nyembuhan dengan sekitar 40%. Resorpsi dari
usus rendah, antara 10 dan 40%, tergantung
pada kebutuhan. Seng ditimbun bersama
insulin dalam sel-sel-beta Langerhans di
pankreas.
Efek samping terutama terjadi pada over-
dosis (oral) dan berupa gangguan saluran
cerna, borok lambung, stomatitis dan
letargia. Pada pemakaian dalam dosis
tinggi (100-300 mg sehari) selama 5-6 ming-
gu, terjadi efek negatif terhadap sistem
imun, penurunan HDL-kolesterol dan defi-
siensi Cu. Suatu studi dengan asupan Zn
50 mg selama 6-10 minggu menurunkan
aktivitas enzim superoxide-dismutase. SOD
ini berfungsi sebagai ‘penangkap radikal’
dan mengandung Cu, yang ketersediaannya
dikurangi oleh Zn.
Dosis: pada defisiensi 3 dd 200 mg ZnSO4
(= 45 mg Zn), sebagai antioksidan 20-50 mg
Zn elemen. Pada influenza sedini mungkin
5-6 dd 1 tablet hisap dengan ± 92,5 mg Zn-
glukonat (= 13,3 mg Zn).
7. Fluor:Vinafluor
Fluor khusus ada dalam tulang gigi
(dentin) dan email, juga dalam kerangka.
Sayur-mayur mengandung sedikit fluor, se-
dangkan kadar yang tinggi ada dalam
daun teh.
Resorpsi dari usus baik dan cepat; garam-
garam Ca, Fe, Al dan Mg membentuk kom-
pleks dengan fluorida yang memicu
hambatan penyerapannya, maka tidak boleh
dimakan bersamaan waktu. Fluor terutama
ditimbun sebagai apatit dalam dentin dan
email, juga dalam tiroid dan ginjal. Eks-
kresi berlangsung lewat urin dan dapat
juga melalui keringat sewaktu transpirasi
berlebihan.
pemakaian paling banyak untuk prevensi
gigi berlubang (caries). Fluor diserap oleh plak
gigi, menghambat dekalsifikasi dan pelarutan
email, lagi pula menstimulasi remineralisasi
sehingga kerusakan bisa direparasi. Fluor
juga menghambat pembentukan asam oleh
kuman mulut, sehingga pelepasan asam
kurang kuat. Sifat ini berdasar reaksinya
dengan apatit, lihat skema reaksi di bawah.
Fluorapatit yang terbentuk bersifat lebih
padat dan tahan asam, juga menutupi pori-
pori kecil, sehingga email lebih sukar larut
dalam asam, yang setiap kali terbentuk
sesudah makan gula atau karbohidrat.
Ca10(PO4)6(OH)2 + 2 F_ ---- Ca10(PO4)6F2 + 2 OH–
apatit fluorapatit
* Dental caries terutama timbul di daerah
yang kadar fluorida dalam air minum lebih
rendah dari 1 ppm. Oleh sebab itu di banyak
negara telah diselenggarakan program pre-
vensi caries dengan fluorida (oral dan lo-
kal) pada anak-anak sampai usia 12 tahun
dengan sukses besar. Dewasa ini fluorida
merupakan komponen standar kebanyakan
pasta gigi. Fluorida dalam bentuk senyawa
organik aminfluorida (Elmex) diperkirakan
lebih baik absorpsinya oleh email daripada
natriumfluorida (NaF). Kebutuhan sehari bagi
orang di atas 6 tahun yaitu ±1 mg F (= 2,24
mg NaF).
Pada osteoporosis dahulu fluorida digu-
nakan dengan efektif dalam dosis tinggi
bersama Ca, vitamin D dan estrogen untuk
meningkatkan kepadatan tulang. Fluor men-
stimulasi osteoblast untuk membentuk ja-
ringan tulang baru. Namun tulang baru itu
ternyata memiliki struktur abnormal dan
kurang baik mineralisasinya. sebab re-
latif kurang kuat, regas dan mudah patah,
maka sudah banyak diganti dengan senyawa
bisfosfonat (alendronat, etidronat dan sebagai-
nya), yang berkhasiat menghambat pelarutan
tulang oleh osteoclast. Lihat juga Bab 44.
Estrogen.
Efek samping akibat dosis oral tinggi
yang dipakai pada osteoporosis dapat
memicu gangguan saluran cerna dan
keluhan rematik (sakit kaki dan pergelangan).
Juga bisa terjadi hipokalsiëmia, sebab Ca
“ditangkap” dan diinaktifkan oleh fluor.
Dosis profilaktis pada pemakaian lama juga
dapat memicu fluorosis pada ±10%
pemakai, yaitu berupa bintik-bintik gelap
pada email gigi (“mottled teeth”) atau garis-
garis putih (“gigi zebra”). pemakaian lokal
dapat memicu antara lain reaksi alergi,
sekresi ludah berlebihan dan udema lidah.
Dosis: prevensi caries, oral anak-anak 6-12
bulan: 1 dd 0,25 mg F (= 1 tablet NaF 0,56
mg), 1-2 tahun: 1-2 tb, 2-3 tahun: 2-3 tb, 4-6
tahun: 3-4 tb dan di atas 6 tahun: 4 tb. Tablet
dapat ditelan sekaligus, namun sebaiknya di-
hisap atau dikunyah dalam beberapa dosis
sehari sebelum makan. Tablet Vinafluor me-
ngandung NaF 2,27% = fluor 1 mg. Lokal
sebagai gel/larutan 20 mg/ml sekali seming-
gu dan diulang 3 kali.
Tabel 53-5: Kadar vitamin dalam beberapa jenis makanan.
14108649_OBAT P(Bab 53)_T-844-879.indd 878 25/04/2015 10:38:16
Bab 53: Vitamin dan Mineral 879
Pada osteoporosis 2 dd 76 mg mono-
fluorfosfat p.c., dalam kombinasi dengan
bisfosfonat atau estrogen.
Saran baru. Di negeri Belanda sejak
Oktober 1998 nasihat mengenai fluorida di
atas telah diganti berdasar data baru.
Anak-anak tidak perlu lagi minum tablet
fluorida bila giginya disikat dengan pasta gigi
anak-anak, yang mengandung kadar fluor
yang diperbesar: 500-700 ppm (semula 250
ppm). Anak-anak 1-2 tahun: 1 dd sikat gigi
dengan pasta anak, 2-4 tahun: 2 dd sikat gigi
dengan pasta anak, di atas 5 tahun: 2 dd sikat
gigi dengan pasta dewasa (kadar fluorida
2-3.000 ppm). Untuk absorpsi fluorida yang
optimal sikat gigi perlu minimal selama 2
menit!
DASAR-DASAR DIET SEHAT
Makanan dan kesehatan
Banyak orang tidak mengerti bahwa ma-
kanan dapat merupakan faktor risiko untuk
mendapatkan penjakit-penyakit kronis pa-
rah. Berbagai penelitian epidemiologi telah
dilakukan untuk meneliti hubungan antara
timbulnya penyakit diabetes tipe-2, infark
jantung, stroke dan kanker dengan 4 faktor
pola hidup, yaitu merokok, berat badan,
olah raga secara teratur dan pola makanan.
Misalnya konsumsi daging merah berkaitan
dengan peningkatan risiko kematian akibat
berbagai sebab dan juga peningkatan risiko
penyakit jantung dan pembuluh serta kanker.
Penggantian daging merah dengan sumber-
sumber protein lain seperti ikan, ayam dan
kacang-kacangan, berkaitan dengan risiko
kematian yang menurun. Hal ini disebabkan
daging merah mengandung lemak jenuh
sebagai faktor merusak, sedang protein
nabati mengandung a.l. antioksidansia yang
baik bagi kesehatan.
Diet yang sehat yaitu diet yang dapat
mencukupi kebutuhan akan semua zat gizi
yang diperlukan tubuh, sebab berperan
penting dalam mencegah berbagai penyakit.
Dewasa ini sudah terbukti bahwa insidensi
yang semakin meningkat dari banyak
penyakit “kesejahteraan” berhubungan de-
ngan diet yang tidak sempurna. Misalnya,
makanan yang mengandung terlampau
banyak lemak hewan diperkirakan turut
bertanggungjawab atas terjadinya kegemuk-
an,penyakit kardiovas kuler, diabe tes tipe-II dan
berbagai jenis kanker (usus besar, payudara,
prostat). Sebaliknya, makan ikan berlemak
secara teratur melindungi tubuh terhadap
PJP, seperti dibuktikan oleh orang-orang
Eskimo dan Jepang. Orang Korea dan Cina
yang makanannya kerapkali mengandung
tahu ternyata jauh lebih jarang dihinggapi
kanker payudara dan prostat dibandingkan
penduduk negara Barat. Kekuran gan vita-
min A dalam pangan dihubungkan dengan
kanker paru, sedang diet yang miskin
serat nabati berkaitan dengan obstipasi kronis
dan kanker kolon. Orang Afrika yang makanan
sehari-harinya mengandung banyak sayur-
mayur jarang sekali menderita kanker usus
besar.
Semua contoh ini menunjukkan adanya
hubungan kausal antara makanan dan
kesehatan. Pola diet dengan kecenderungan
mengonsumsi makanan “prefab”/siap saji
tanpa serat, berlemak dan manis, membuka
peluang untuk segala jenis penyakit.
Diet yang kaya akan “wholegrains”, buah-
buahan, sayur-mayur, kacang-kacangan dan
rendah akan “refined grains”, daging merah
dan minuman manis/bergula telah terbukti
dapat menurunkian risiko diabetes tipe-2
dan memperbaiki pengendalian glikemik
dan kadar lipida darah dari pasien diabetes.
Bahan-bahan penting bagi tubuh
Kebutuhan gizi manusia dapat dibagi dalam
lima kelompok besar, yaitu:
1. hidratarang sebagai bahan bakar dan
sumber energi. Dalam kea daan tertentu,
lemak (dan pro tein) juga dapat diper-
gunakan sebagai bahan-bakar;
2. lemak sebagai sumber bahan bangun ja-
ringan lemak (antara lain membran sel),
khususnya asam lemak esensial tak jenuh
dan juga berfungsi sebagai sumber energi;
3. protein sangat penting bagi asam amino
dari sel dan berfungsi sebagai sumber
bahan ban gun jaringan otot/organ dan
sel. Protein mengan dung elemen nitrogen
(N) dan belerang (S), yang tidak ada
dalam hidratarang dan lemak. Protein
hanya dipakai sebagai sumber-energi
oleh tubuh bila tidak ada cukup
hidratarang dan lemak dalam pangan;
4. vitamin dan mineral ada di semua
bahan makanan dalam jumlah kecil;
5. serat gizi yang khusus diperoleh dari
sayuran dan buah-buahan.
Pada lansia, semua proses tubuh berjalan
lebih lambat dan kurang sempurna, antara
lain proses pencernaan dan resorpsi zat
gizi (vitamin dan mineral) dari makanan,
terutama bila susunan diet sehari-hari kurang
sempur na.
Nilai energi (kalori)
Di dalam tubuh, energi yang diperoleh dari
pembakaran bahan makanan, sebagian diru-
bah langsung menjadi energi mekanis (proses
metabolisme, kerja otot) dan energi kimiawi,
seperti sintesis protein serta penimbunan
glikogen dan lemak. Sebagian energi ditim-
bun sebagai zat-zat yang sangat kaya energi,
seperti adenosintrifosfat (ATP) dan sekitar
sepertiga dibebaskan sebagai kalor. Sebagai
kesatuan energi, sejak dahulu dipakai
satuan termodinamik kalori (cal), yang pada
tahun 1978 secara resmi diganti sebagai
Joule(J). namun banyak negara masih meng-
gunakan satuan kalori. 1 kcal = 4,184 kJ.
1 g protein = 4,18 kcal(=17 kJ);
1 g gula = 4,18 kcal
1 g lemak = 9 kcal (= 38 kJ)
1 g serat < 0,1 kcal
1 g alkohol = 7 kca
Tabel 54-1: Nilai kalori dari beberapa
unsur makanan
Anjuran untuk diet sehat
Diet yang optimal sukar ditentukan, sebab
tergantung secara individual dari gaya hidup,
pekerjaan dan kebutuhan. Orang dengan
pekerjaan fisik berat membutuhkan lebih
banyak kalori daripada mereka yang bekerja
administratif atau di rumah tangga. Dengan
tabel 54-2 di bawah ini dapat dihitung nilai
energi individual, yaitu jumlah kalori yang
dibutuhkan sehari berdasar usia, jenis
kelamin dan aktivitas fisik. Dengan demikian
diperoleh jumlah kalori total (100%Energi,
En%) yang sebaiknya dibagi atas pangan
yang seimbang mengenai kandungan kalori
zat-zat gizinya.
Anjuran utama untuk diet yang menjamin
kesehatan yaitu sebagai berikut:
1. Makanlah secara bervariasi agar tubuh
memperoleh semua bahan gizi yang di-
perlukan sambil membatasi pemasukan
zat-zat yang merugi kan. Diet ini khu-
susnya penting bagi asupan vitamin dan
mineral spura, lihat dibawah nr 7.
2. Mencukupi asupan protein sampai 10-
15 En% (= per sentase dari jumlah ener-
gi total yang dibutuhkan sehari). Dian-
jurkan ±0,75 g/kg berat badan sehari,
olahragawan sampai 2 g/kg. Untuk me-
melihara balans nitrogen (BN) diperlukan
hanya 40-50 g sehari. Perlu diketahui pula
bahwa daging ayam/sapi dan ikan hanya
mengandung 16 – 30 % protein.
3. Makanlah minimal 2x seminggu ikan
berlemak (makril, tongkol, kembung, sar-
dencis, salem)dengan kandungan asam
lemak omega-3 yang dapat memperkecil
risiko PJP.
4. Membatasi asupan lemak (total) sampai
25-30 En% dengan maksimal 1/3 asam
lemak jenuh (hewan), ±1/3 asam lemak
cis-tak-jenuh-mono dan ±1/3 cis-tak-jenuh-
ganda (polyunsaturated fatty acids: PUFA).
Asam lemak tak jenuh ini hendaknya
mengandung sesedikit mungkin bentuk-
trans, yang seperti asam lemak jenuh,
dapat meningkatkan kadar kolesterol
darah.
5. Asupan hidratarang: 55-65 En%. Sebaik-
nya dalam bentuk polisakarida (nasi, roti,
kentang, singkong, tales, ubi, buncis dan
sayuran). Sebaliknya, perlu membatasi
asupan gula murni (putih/Jawa) dan
produk-produk yang mengandungnya
(limun, sirop, kola, kue, cake, permen, dan
sebagainya), sebab dapat berpengaruh
buruk terhadap regulasi metabolisme glu-
kosa dengan berakibat overweight (kele-
bihan berat badan).
6. Pembatasan pemasukan kolesterol sam-
pai 3-4 telur seminggu, terutama ku-
ning telur yang mengandung banyak
kolesterol. Pembatasan ini belum menda-
pat kesepakatan. Sejumlah penelitian me-
nunjukkan bahwa kadar kolesterol dalam
makanan hanya sedikit memengaruhi
kolesterol darah, sebab jumlah terbanyak
disinte sis oleh tubuh sendiri.
7. Makanlah sayuran dan buah-buahan
secukupnya, yakni ±200 g sayuran
sehari, sebaiknya dalam keadaan segar
(sebagai lalap) dan 1-3 butir buah.
Jumlah ini menjamin pe-masukan
30-35 g serat-serat nabati. Serat ini
di samping membantu memberikan
perasaan kenyang, juga memengaruhi
penyerapan zat-zat gizi secara teratur,
khususnya glukosa dan lemak, serta
memperlancar buang air besar. Sumber
serat lainnya yaitu beras merah/tum-
buk dan produk/roti whole grain. Se-
lain itu, sayuran dan buah-buahan me-
ngandung flavonoida, yang berkat sifat
antioksidannya melindungi tubuh terha-
dap penyakit jantung dan kanker. Dike-
tahui bahwa orang-orang vegetarian
umumnya mencapai usia lebih panjang
daripada orang yang “makan biasa”.
8. Makanlah vitamin dan mineral secukup-
nya, yang antara lain dapat dicapai mela-
lui variasi susunan makanan sehari-hari.
9. Pembatasan pemasukan garam sampai
3-6 g sehari, berhubung pengaruhnya atas
peningkatan tekanan darah.
10. Minum air (termasuk kopi, teh, limun
dan lain-lain) sekurang-kurangnya 2 liter
sehari untuk memelihara keseimbangan
cairan tubuh.
Catatan: Dengan whole grain dimaksudkan
cereal grain yang mengandung a.l. endosperm
dan serat, dibandingkan dengan refined grain
yang hanya mengandung endosperm tanpa
serat.
Contoh whole grain yaitu a.l.: gandum, oat,
jagung, beras merah, roti whole wheat dan
popcorn.
Non-whole grain atau refined grain yaitu
a.l. beras, terigu dan white bread.
Unsur-unsur gizi itu di atas akan di-
bahas lebih mendalam di bawah ini dengan
penjelasan lebih jauh mengenai latar belakang
dan alasan untuk berdiet sehat. Berturut-
turut akan dibicarakan hidratarang, protein,
lemak dan serat gizi, sedang vitamin dan
mineral sudah dibahas di Bab 53
A. HIDRATARANG
Hidratarang merupakan bahan bakar utama
bagi tubuh, yang di dalam pangan ada
sebagai monosaka rida, disakarida dan po-
lisakarida. Minimal 50-100 g karbohidrat
diperlukan agar eritrosit berfungsi baik.
Bila tidak tersedia, kebutuhan ini dipenuhi
dengan jalan mengubah protein otot menjadi
glukosa (gluconeogenesis). Semua jaringan
dapat membakar asam lemak dan senyawa
keton untuk mensuplai energi.
Sumber hidratarang utama yaitu beberapa
jenis gandum, seperti beras, wheat, rye dan
quinoa (pelafalan kinowa), juga kentang, ubi,
ketela, kacang-kacangan (kedelai, kacang
putih/merah), jagung dan tales.
* Quinoa berasal dari pergunungan Andes di
Amerika Selatan yang beriklim dingin dan
kering. Tanaman ini sudah dibudidayakan
selama ±5000 tahun oleh bangsa Indian (Inca).
Kini bahan makanan ini mulai dipakai
kembali, antara lain untuk makanan bayi,
sebab kaya akan arginin dan histidin, yaitu
dua asam amino semi-esensial, yang belum
dapat dibuat sendiri oleh bayi (lihat di bawah
B. Protein). Lagi pula tidak mengandung
gluten, yang penting bagi penderita sejenis
intoleransi makanan, yang disebut coeliakie.
Penggolongan
Tergantung pada ada-tidaknya satu, dua atau
lebih molekul gula tunggal, hidratarang dapat
dibagi dalam mono-, di- dan polisakarida.
Monosakarida: glukosa, fruktosa dan galaktosa
terutama ada dalam buah-buahan. Zat-
Tabel 54-2: Kandungan zat gizi utama dari sejumlah makanan
(per 100 g) dan kadar kalorinya
zat ini berkha siat osmotik (menarik air), maka
terlampau banyak monosakarida dalam
pangan dapat memicu diare. Glukosa
(dekstrosa, gula anggur) dan fruktosa
(levulose, gula buah) ada dalam madu
dengan daya manisnya masing-masing 0,5
dan 1,5 kali dari gula putih. Monosakarida
banyak dipakai sebagai zat pengganti
gula. Lihat selanjutnya Bab 47 C, Zat-zat
pemanis. Galaktosa merupakan komponen
dari laktosa dan dari banyak polisakarida.
Disakarida: sukrosa (sakarosa, gula putih)
terdiri dari 1 mol glukosa + 1 mol fruktosa.
Laktosa (gula susu) = 1 mol glukosa + 1
mol galaktosa, sedang maltosa (gula
malt) = 2 mol glukosa. Dalam usus zat-zat
ini dihidrolisis oleh enzim menjadi monosa-
karida, misalnya laktosa oleh laktase. Keku-
rangan enzim dapat memicu diare
fermentasi.
Polisakarida: pati (amylum, yang terdiri dari
rantai molekul glukosa) dan glikogen, meru-
pakan timbunan hewani dari glukosa. Begitu
pula serat nabati yang tidak dapat dicer nakan
oleh enzim usus: selulosa, hemise lulosa, lignin,
pektin dan gom (lihat di bawah Serat-serat).
* Pati merupakan komponen utama dari
produk-produk gandum, kentang, tales, ubi,
sagu, singkong, roti, bakmi, bihun dan makar-
oni. Dalam saluran cerna pati diuraikan oleh
maltase menjadi glukosa, lewat dekstrin dan
maltosa, sebagai berikut.
pati –––> dekstrin –––> maltosa –––> glukosa
* Glikogen ada terutama dalam hati
dan otot; fungsinya yaitu sebagai sumber
cadangan glukosa.
* Serat nabati: katul/dedek, bran, zemelen.
Secara kimiawi merupakan kompleks polisa-
karida dengan unit-unit glukosa, galaktosa
dan monosakarida lain, yaitu selulosa,
hemiselulosa, lignin dan pektin. Zat ini ada
khusus di dalam din ding sel dari padi-
padian, sayuran, buncis (beans) dan buah-
buahan (terutama pektin). Hemiselulosa
dan pektin (= rantai asam galakturon) tahan
terhadap enzim pencernaan, maka tidak
dapat diuraikan. Namun, sebagian dirombak
oleh kuman kolon dengan menghasilkan
gas dan asam lemak. Lignin sama sekali
tidak diuraikan. Serat yang berasal dari
padi, misalnya katul, mengan dung banyak
hemiselu losa dan dianggap terbaik sebab
kadar asam fitatnya tinggi, lihat di bawah.
* Lignin yaitu polimer dari fenilpropan yang
ada dalam semua tumbuhan. Lignin
merupakan komponen utama dari dinding
sel, bersama selulosa dan hemiselulosa.
Strukturnya terdiri dari rantai (hemi)selulosa,
yang merupakan bunga karang dan dapat
menyerap serta mengikat molekul air, sehing-
ga sangat mengembang. Oleh sebab itu isi
usus diperbesar, peristaltik distimulisasi dan
pengeluaran tinja diperlancar.
Khasiat serat
berdasar sifat-sifatnya serat memiliki
banyak khasiat, yaitu daya laksan, anti lipemik,
menghindarkan kanker kolon dan PJP.
a. Efek pencahar dipakai untuk mena-
ngani dan mencegah obstipasi serta bebe-
rapa gangguan usus lain yang bertalian
dengan kelambatan defekasi. Misalnya
pada diverticulosis, di mana terjadi ben-
jolan di kolon dan disebabkan oleh me-
ningkatnya tekanan tinja atas dinding
usus. Gangguan ini sering ada di
negara-negara Barat, terutama pada orang
berusia di atas 60 tahun. Serat dipakai
pula untuk kolon spastis (IBS = Irritable
Bowel Syndrome) yang dalam kebanyakan
hal disebabkan oleh diet yang keliru,
obstipasi dan stres . Wasir dan mungkin
batu empedu serta radang umbai usus
buntu(appendi citis) juga dapat dihindari.
b. Efek anti lipemik. Serat yang sudah
mengembang mampu menyerap dan
mengikat asam empedu (dan lemak)
yang lalu dikeluarkan dengan tinja. Tan-
pa asam empedu, resorpsi kolesterol sa-
ngat berkurang hingga kadarnya da-
lam plasma menurun, bandingkan meka-
nis me kerja zat penukar ion, Bab 36. Anti-
lipemika.
c. Membantu diet pengurus tubuh. Pa-
ngan yang kaya serat harus dikunyah
lebih lama agar bisa memperbesar volu-
me isi lambung. Efeknya lebih cepat
memicu perasaan kenyang diban-
dingkan makanan yang hanya berisi zat-
zat gizi dengan nilai kalori tinggi.
d. Prevensi kanker kolon. Serat dapat pula
menyerap metabolit tertentu dari garam
empedu dan kolesterol. Zat-zat toksik
ini dibentuk oleh kuman anaerob dalam
usus besar dan bersifat karsinogen. Lihat
juga Bab 14, Makanan dan kanker.
e. Prevensi PJP dan diabetes. Serat mem-
perlambat kenaikan drastis dari glukosa
darah dan respons insulin, sebab resorpsi
hidratarang tidak berlangsung sekaligus
namun secara berangsur. Penelitian me-
nunjukkan bahwa risiko akan infark
jantung dan kematian pada pria di atas 50
tahun diturunkan secara signifikan.
Berhubung dengan khasiatnya ini, suplesi
serat pada makanan sehari-hari sangat
dianjurkan dan sebaiknya dalam bentuk
sayuran segar (lalap) sebab daya menyerap
airnya lebih baik daripada bila sudah
dimasak, juga sebagai roti whole grain atau
katul (beras tumbuk).
RDA-nya(Recommended Daily Allowance:
kuantum yang dianjurkan sehari dalam diet)
25-30 g serat sehari.
Dosis: minimal 30 g sehari sebagai katul,
dicampur dengan bubur, havermout, dan
sebagainya. Atau dikonsumsi dari sayuran
(mentah) dan buah-buahan 200-400 g se-
hari. pemakaian katul perlu disertai ba-
nyak minum air, sebaiknya 2 liter sehari,
sebab justru bisa memicu obstipasi
sebab sifat mengembangnya. pemakaian
terlampau banyak serat, khususnya katul
padi-padian dapat mengurangi absorpsi
mineral dari bahan makanan (kalsium, Mg,
besi, seng, dan lain-lain), sebab diikat pada
asam fitat yang juga ada dalam serat
dan katul.
* Asam fitat: inositolheksafosfat, IP6
Inositol termasuk kelompok vitamin
B-kompleks dan berperan penting bagi
fungsi otak, sistem saraf dan organ kelamin,
juga berdaya menghambat pertumbuhan
tumor. Rumusnya mirip glukosa, senyawa-
heksafosfatnya banyak ada dalam mi-
nyak biji-bijian (nuts, seeds), sayuran dan
gandum (cereal grains). Dalam bahan-bahan
ini fitat terikat pada protein. Fitat berupa
cairan, seperti sirop, yang larut dalam air dan
bereaksi asam.
Fitat bersifat antioksidan kuat dengan
menghalangi oksidasi besi dan pembentukan
radikal bebas. Asam ini juga bekerja anti
tumor melalui penghambatan pembelahan
sel. Untuk itu fitat perlu dibe baskan dahulu
dari ikatannya dengan protein. Suatu pene-
litian menunjukkan efek melindungi dari
makanan dengan banyak gandum (kadar
fitat tinggi) terhadap kanker kolon.
Enzim fitase yang ada dalam makan-
an dan usus berdaya merombak dan mengin-
aktifkannya. Oleh sebab itu dianjurkan un-
tuk memakai zat murni IP6 yang lebih
cepat diserap di usus sebelum diinaktifkan
oleh fitase. Adakalanya dipakai dalam
terapi sebagai zat penurun kadar kalsium.
Efek samping. Efek samping dari terlalu
banyak fitat dalam makanan menurunkan
resorpsi Ca, Mg, Zn dan Fe, sebab fitat
berdaya mengikat melalui chelasi kation
bivalen dan trivalen itu dengan mem-
bentuk kom pleks yang tidak larut.
Dosis: preventif 2 dd 2 kaps a.c., pada
kanker 3 dd 4 kaps.
* Fitin = garam kalsium fitat yang tidak larut
dalam air
* Nitrat ada dalam banyak sayuran,
terlebih-lebih bila tanah diberi banyak pu-
puk nitrat. Nilai nitrat yang dianggap aman
di Belanda yaitu 50 mg/kg. Dalam usus,
nitrat diserap ke dalam sirkulasi darah dan
sebagian diedarkan kembali melalui liur.
Di mulut, 5% nitrat diubah oleh kuman
menjadi nitrit, yang dapat mengikat oksigen
sehingga kadar oksihemoglobin dalam da-
rah menurun. Di samping itu, nitrit dapat
bereaksi dengan berbagai amin atau asam
amino dan menghasilkan nitrosamin. Se-
nyawa ini bersifat karsinogen pada hewan,
tergantung dari derajat asam lambung dan
ada-tidaknya antioksidansia, seperti vitamin
A, C, E, selen dan flavonoida. Oleh sebab itu,
sesudah makan banyak sayuran dengan kadar
nitrat tinggi, dianjurkan minum 1 g vitamin
C sehari untuk menghindari pembentukan
nitrosamin.
Vegetarian
Penelitan menunjukkan bahwa vegetarian,
yang diet sehari-harinya mengandung ba-
nyak hidratarang kompleks dan serat gi-
zi, 50 persen dari mereka lebih jarang di-
hinggapi penyakit jantung ischemis dengan
angka kematian yang lebih rendah. Lagi
pula ada indikasi kuat mengenai efek
melindunginya terhadap penyakit kronis,
misalnya sembelit, diverticulosis dan kanker
paru, payudara dan kolon. Gangguan kese-
hatan lainnya, seperti hipertensi, diabetes
dan batu empedu juga menurun.
B. PROTEIN
Zat putih telur yaitu bahan bangun dari
tubuh, khususnya jaringan otot dan organ. Zat
ini juga diperlukan untuk beberapa sintesis,
antara lain hormon, enzim, neurotransmitter,
asam nukleinat (asam inti) dan zat tangkis
(antibodi). Peranannya pada suplai energi
yaitu sebagai cadangan, yang dapat diben-
tuk oleh tubuh, meski dalam kuantita sangat
kecil. Jika pemasukan hidratarang dan lemak
tidak mencukupi, protein dipakai sebagai
sumber energi.
Protein terdiri dari 20 lebih asam amino,
yang sebagian besar dapat disintesis oleh
tubuh melalui proses transaminasi. Pada
proses ini, sejumlah vitamin berperan pen-
ting, antara lain piridoksin. Asam amino
esensial mencakup 8 unsur yang tidak bisa
disintesis oleh tubuh, lihat di bawah Kimia.
Protein sempurna yang mengandung semua
asam amino esensial, memiliki nilai biologis
tinggi, seperti yang ada dalam daging,
telur dan susu. Protein nabati biasanya
bernilai biologis lebih rendah, seperti padi-
padian dan kacang-kacangan(kedele). Pada me-
tabolisme sel, selalu terjadi kehilangan pro-
tein, sehingga kekurangannya perlu di su-
plai oleh protein dalam pangan.
Kebutuhan sehari
Menurut perhitungan, orang dewasa mem-
butuhkan protein ±0,75 g/kg berat badan,
misalnya orang dengan bobot 60 kg mem-
butuhkan ±45 g protein sehari. Jumlah ini
Tabel 54-3: Zat-zat gizi per 100 g nasi,
kentang dan makaroni/spa geti.
zat-gizi per 100 g nasi kentang makaroni
hidratarang 15 g 34 g 24 g
protein 2 g 3 g 4 g
lemak – – 1 g
vit. B1 0,02 mg 0,1 mg 0,03 mg
vit. B2 0,01 mg 0,4 mg 0,01 mg
vit. C – 8 mg –
kalori 148 kcal 8 kcal 121 kcal
diperoleh dari terutama daging, telur, susu,
gandum dan kacang-kacangan (kedele, jogo,
kacang tanah dan sebagainya). Sebaiknya
diet mengandung minimal 10 En% protein.
Anak-anak dalam tahap pertumbuhan mem-
butuhkan lebih banyak, yaitu sampai 30 En%,
demikian juga olahragawan intensif, wanita
hamil dan yang menyusui. Selama menderita
penyakit tertentu, khususnya kanker dan
infeksi, pasien memerlukan lebih banyak
protein, sebab perombakan nya dalam tubuh
meningkat.
Orang Asia ternyata bisa hidup sehat dengan
asupan protein yang lebih rendah daripada
orang kulit putih (ras Kaukasus). Mungkin
sekali asupan protein yang lebih rendah
merupakan faktor bagi tingginya tubuh yang
lebih rendah dibanding















