Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 49

 





bran eritro-

sitnya. Gejalanya berupa anemia hemolitik, 

trombosis, udema dan kelainan kulit. Kebu-

tuhan sehari-hari diperkirakan 12-15 mg dan 

meningkat bila diet mengandung banyak 

linolat (di atas 20 g), bagi bayi ±1 mg sehari. 

Persediaan tubuh lebih kurang 3-8 g yang 

tertimbun dalam jaringan lemak.

pemakaian nya. Selain pada keadaan 

defisiensi vitamin E dipakai  preventif 

sesudah  infark jantung sebagai zat pelindung 

serangan berikutnya berdasar  khasiat 

hambatan agregasi trombosit dan anti-ateros-

klerotiknya. berdasar  daya anti-trom-

botik itu  dan efek antivitamin K (me-

rintangi pembekuan darah) juga dipakai  

pada claudicatio (penyakit Buerger) untuk 

memperpanjang jarak jalan. Lihat juga Bab 

34, Vasodilatator, claudicatio intermittens. 

Suatu studi menunjukkan bahwa vitamin 

E (dan obat Parkinson selegelin) berkhasiat 

memperlambat progres penyakit dementia 

Alzheimer. Efek baik itu diperkirakan berkat 

sifat antioksidan dari kedua senyawa 

itu . Pada penyakit anak cystic fibrosis 

(dengan dahak sangat liat), selain asetilsistein 

juga vitamin E 100 mg sehari bermanfaat 

untuk menghambat kemunduran fungsi 

paru-paru.

Dalam pengobatan alternatif, vitamin 

E cukup populer sebab  berdasar  sifat 

antioksidannya dipakai  sebagai obat anti-

menua kulit (sebagai krem antikerut) bagi 

wanita di atas usia 50 tahun. Akhirnya vitamin 

E pernah dipakai  dalam megadose untuk 

antara lain artrosis, hiperkolesterolemia dan 

pada kemandulan (“vitamin fertilitas”, tokos= 

buah; fero=membawa), yang semuanya ber-

sifat sangat spekulatif. 

Efek samping yang dapat timbul pada 

megadose di atas 300 U sehari berupa gang-

guan saluran cerna, sakit kepala, perasaan 

lemah, gynecomastia, hambatan sembuhnya 

borok, proteinuria dan dermatitis kontak 

pada pemakaian  lokal. Vitamin E dapat 

meniadakan efek vitamin K dan memperkuat 

daya antikoagulansia.

Dosis: pada defisiensi, anak-anak oral 

1 UI/kg bb (asetat), bayi prematur 5-25 UI 

sehari. Untuk prevensi dewasa 60-75 mg 

sehari, dosis alternatif sebagai antioksidan 

400-600 mg/hari. Lokal dalam salep 30-

140 mg/g. Perbandingan aktivitasnya: 1 UI 

vitamin E = 1 mg dl-a-tokoferolasetat = 0,74 

mg d-a-tokoferolasetat.

1 mg vitamin E = 1,5 UI dl-alfa-tokoferol.

7. Kelompok vitamin K

Dikenal beberapa senyawa dengan aktivitas 

vitamin K (Jerm. Koagulation = pembekuan), 

yakni derivat naftokinon: K1 = fitomenadion, 

K2 = menakinon, K3 = menadion dan K4 = 

menadiol. Vitamin K1 ada  dalam sayur-

mayur hijau (kol, broccoli, bayem (1-8 mg/

kg), juga tomat dan banyak minyak nabati. 

Vitamin ini terikat kuat pada sel chloroplast 

yang mengandung klorofil. Vitamin K2 

terutama ada  dalam produk-produk 

fermentasi (seperti yoghurt), juga disintesis 

oleh kuman Gram-positif dalam flora usus; 

untuk resorpsinya dari usus perlu tersedia 

asam empedu. Vitamin K3 dan K4 yaitu  zat-

zat sintetik yang kini jarang dipakai  lagi.

Fungsi utama dalam tubuh yaitu  sebagai 

ko-enzim esensial dari sistem enzim yang 

mensintesis faktor pembekuan darah, yaitu 

faktor II (protrombin), VII (prokonvertin), IX 

(Christmas factor) dan X (S.P. factor). Unsur-

unsur ini dibuat dari zat pelopor tak-aktif, 

yang menjadi aktif sesudah  bereaksi dengan 

vitamin K. Sejak awal tahun 1990-an dite-

mukan bahwa vitamin K di samping perlu 

untuk memproduksi faktor pembekuan ter-

sebut, juga berperan sebagai ko-enzim pada 

metabolisme kalsium dan perkembangan 

tulang. Melalui suatu mekanisme recycling 

yang efektif, vitamin K dapat dipergunakan 

berkali-kali. 

Defisiensi tidak sering terjadi dan ber-

cirikan meningkatnya kecenderungan berda-

rah, dengan perdarahan pada awalnya da-

lam urin, kemudian di kulit dan mukosa, 

akhirnya juga di saluran cerna dan di otak. 

Luka kecil bisa berdarah tanpa henti. Risiko 

tinggi terutama pada bayi prematur yang 

flora ususnya belum berkembang, sebab  

memiliki kurang dari 50% jumlah normal 

faktor itu  di atas. 

pemicu  lainnya yaitu  malabsorpsi 

usus (khusus dari lemak), gangguan pada 

ekskresi empedu atau diet buruk selama 

jangka panjang. Juga pemakaian  antibiotik 

broad-spectrum (antara lain tetrasiklin, am-

pisilin, sulfonamida) yang mengganggu siklus 

enterohepatik vitamin K. (Dahulu diduga 

akibat terganggunya flora usus dan sintesis 

vitamin K2). pemakaian  kronis fenobarbital, 

fenitoin, fenilbutazon dan salisilat juga dapat 

memicu  kekurangan vitamin K, sebab  

obat-obat ini meniadakan efeknya. 

Kebutuhan sehari-hari yaitu  ekstrem 

rendah, yakni hanya ±1-2 mcg/kg bb berhu-

bung mekanisme recycling yang efektif; pada 

bayi ±10 mcg/kg bb.

pemakaian  khusus pada keadaan defi-

siensi dengan adanya bahaya perdarahan, 

juga pada overdosis dengan antikoagulansia 

untuk melawan efeknya. Di banyak negara 

Barat, antara lain AS dan Belanda, vitamin 

K1 diberikan secara profilaktik pada neonati 

yang minum air susu ibu. Yang terutama 

dipakai  yaitu  vitamin K1 yang larut 

dalam lemak berhubung kerjanya lebih 

pesat (sesudah 3-4 jam) dan agak singkat 

dibandingkan dengan garam-garam vitamin 

K3 dan K4 yang larut dalam air.

• Fitomenadion: vitamin K1, phylloquinone, 

Ossovit, Konakion.

Vitamin pembekuan ini (1944) yaitu  

vitamin K alamiah terpenting untuk tubuh. 

Perlu diberikan khusus pada neonati yang 

disusui ibunya dengan dosis 25 mcg sehari 

dari minggu kedua sampai dengan bulan 

ketiga.

Resorpsi dari usus tidak menentu dan ter-

gantung dari tersedianya lemak dan empedu. 

BA 40-70% sebab  sangat kuat ikatannya 

pada membran kloroplas. Tergabung de-

ngan chylomikron vitamin K melalui limfe 

memasuki sirkulasi darah. PP ±90% dan 

plasma-t½ 1,5-3 jam. Ekskresi sebagai meta-

bolit lewat empedu dan urin. Efek samping 

hanya terjadi pada dosis sangat tinggi dan 

berupa nyeri dada dan perubahan warna 

kulit. Dosis: oral dan i.m. pada perdarahan 

ringan 5-10 mg, bila perlu diulang sesudah 

8-12 jam; pada keadaan serius 10-20 mg i.v. 

dengan perlahan (1 mg per menit). Profilaksis 

neonati langsung sesudah  lahir 1 mg, kemudian 

pada bayi yang diberikan air susu ibu 1 mg 

seminggu (atau 25 mcg sehari) selama 3 

bulan.

B. MINERAL DAN  

ELEMEN SPURA

Mineral. Dengan ini dimaksudkan zat-

zat anorganik, yang seperti vitamin dalam 

jumlah kecil esensial bagi banyak proses 

metabolisme dalam tubuh. Yang paling ba-

nyak dibutuhkan yaitu  kalium (K) dan 

natrium (Na) ±2-3 g, kalsium (Ca) ±1 g, dan 

magnesium (Mg) ±0,3 g, juga fosfor (P) dan 

klorida (Cl).

Elemen spura didefinisikan sebagai mineral 

yang dibutuhkan kurang dari 20 mg sehari, 

yaitu besi (Fe) dan seng (Zn) 10-15 mg, 

selen (Se) 30 mcg, mangan (Mn) 2-5 mg, 

molibden dan fluor (Mo, F) 1-2 mg, krom 

(Cr) 0,2 mg, tembaga (Cu) 2-5 mg, iod (J) 60 

mcg dan kobal (Co) ± 3 mcg. Sebelum tahun 

1950-an, jumlah ini belum dapat ditentukan 

secara kuantitatif. Beberapa elemen hanya 

dibuktikan keberadaannya dengan reaksi 

warna atau melalui spektroskopi terhadap 

jumlah yang sangat kecil (spura). Oleh sebab  

itu elemen itu  dinamakan elemen spura. 

Kemudian dengan teknik modern, seperti 

spektroskopi dan absorpsi atom, spura logam 

sudah bisa ditentukan sebanyak 1 mg dalam 

10.000 kg bahan makanan, artinya 1:107 

(pangkat 7)! 

Fungsinya masing-masing dalam tubuh 

sangat berbeda; Ca dan P untuk sebagian 

besar bertanggungjawab bagi kekuatan 

kerangka; K, Mg dan P terutama membentuk 

sistem pendapar intraseluler (buffer). Na dan 

Cl justru memegang peranan penting di ruang 

ekstraseluler, antara lain sebagai pengatur 

tekanan osmotik dan tekanan darah. Banyak 

elemen spura merupakan ko-faktor (bagian 

aktif) dari metallo-enzim, misalnya Fe, Zn, 

Mg, Mo dan Cu, yang mengkatalisa proses 

metabolisme penting. Fluor dan stronsium 

(Sr) khususnya esensial bagi tulang gigi dan 

emailnya, sedang  iod merupakan bahan 

pangkal bagi sintesis hormon tiroid.

Resorpsi dari usus sering kali tergantung 

pada kebutuhan tubuh dan ekskresinya 

melalui ginjal atau feses. Bila pengeluaran 

ini terbatas, maka resorpsinya juga rendah, 

seperti pada Fe dan Cr, walaupun diet me-

ngandung elemen itu  dalam jumlah 

besar. Zat-zat lain yang ekskresinya ber-

langsung baik, diserap dalam jumlah banyak 

dan kelebihannya dikeluarkan lagi lewat 

kemih atau empedu.

pemakaian  mineral khususnya untuk 

prevensi dan pengobatan keadaan defisiensi, 

terutama garam K dan Ca. Begitu pula Na, Cl 

dan fosfat yang dalam keadaan da-rurat juga 

dipakai  sebagai infus. Dari elemen spura 

hanya Fe dan J (lihat Bab 39 Hemopoietika 

dan Bab 48 Tiroksin dan Tiroistatika), Zn, F 

dan Sr dipakai  sebagai obat; kedua elemen 

terakhir dipakai  dalam ilmu kedokteran 

gigi. Zat-zat lainnya hanya dipakai  sebagai 

komponen dari sediaan multivitamin atau 

sebagai food supplement, juga untuk ternak 

dan pada terapi alternatif. Sebetulnya semua 

elemen spura, seperti vitamin, seharusnya 

ada  cukup banyak dalam makanan 

sehari-hari yang susunannya bermutu baik, 

artinya yang memenuhi ketentuan diet 

referensi dari Dewan Nutrisi sesuatu negara. 

namun  dalam praktik sering terjadi bahwa 

RDA-nya tidak terpenuhi sebab  berbagai 

sebab. Oleh sebab  itu suplesi mineral dan 

elemen spura bermanfaat bagi orang yang 

tidak mungkin atau tidak mampu mengikuti 

diet ideal itu . Misalnya selenium dan 

seng yang bersifat antioksidan berperan 

penting untuk memelihara sistem imun.

Defisiensi praktis tidak terjadi dan 

gejalanya juga tidak diketahui dengan jelas. 

Di bawah ini akan dibahas elemen spura 

terpenting, yakni borium, iod, krom, kobal, 

mangan, molybden, selen, strontium dan 

tembaga.

Sediaan kombinasi vitamin dan 

mineral

Walaupun tidak adanya basis rasional bagi 

pemakaian  dari kebanyakan kombinasi 

demikian dan tidak pernah dibuktikan secara 

gamblang, namun  sering kali diberikan untuk 

memperbaiki kesehatan biasanya  dan 

meningkatkan perasaan nyaman. Ataupun 

diberikan sebagai terapeutika tidak-spesifik 

dengan harapan/ tujuan untuk memperbaiki 

daya tahan tubuh (misalnya pada infeksi), 

pada keadaan keletihan, malaise umum, 

hilang nafsu makan (anoreksia), sesudah  pem-

bedahan dan persalinan, depresi dan bagi 

lansia untuk menghambat proses penuaan. 

namun  sebaiknya bila timbul gangguan ter-

sebut di atas penderita diperiksa secara sak- 

sama terhadap kemungkinan adanya gang-

guan yang lebih serius (anemia, diabetes, 

kanker) atau disebabkan oleh faktor-faktor 

psikosomatik.

Pada keadaan di mana jelas adanya 

kekurangan dari suatu vitamin dan/atau 

mineral, yaitu  lebih baik untuk memberikan 

sediaan tunggal dari vitamin/mineral ybs. 

Lagipula harus diwaspadai terhadap risiko 

efek samping dan/atau gejala toksik bila 

memakai  sediaan kombinasi.

a. Bor: borium, B

Elemen spura ini banyak ada  da-

lam kol, daun sla (lettuce), kacang polong, 

kedele dan alfalfa, juga dalam buah-buahan 

(apel, prune, kismis, kurma) dan kacang-

kacangan (kacang tanah, hazelnut, badam). 

Telah diketahui adanya hubungan antara 

“kemiskinan” borium dalam tanah dan pre-

valensi artrosis (osteoarthritis). Atas dasar ini, 

elemen ini dipakai  secara alternatif pada 

gangguan sendi itu  dengan efek sangat 

baik. Begitu pula pada osteoporosis sesudah 

menopause, pada mana suplesi borium 

dengan jelas menurunkan ekskresi kalsium 

dan magnesium, sedang  kadar estrogen 

darah dinaikkan. Sifat ini penting untuk 

menghambat lisutnya tulang. 

Kebutuhan borium untuk manusia dan 

toksisitasnya pada jangka panjang belum 

dipastikan, maka dianjurkan untuk memper-

besar asupan borium dengan memperbanyak 

jumlah borium dalam diet.

b. Iod: iodium

Elemen ini ada  dalam makanan 

sebagai iodida anorganik yang mudah di-

serap. Kebutuhan sehari-hari yaitu  150-

300 mcg, yang diperoleh dari makanan, 

seperti ikan, kepiting, kerang dan lumut laut 

(kelp). Penelitian menunjukkan bahwa ±10% 

penduduk Eropa memperoleh kurang dari 

100 mcg sehari. Penyakit gondok («krop») 

endemik biasanya  akan timbul di 

daerah di mana asupan per harinya hanya 

70 mcg, yang memicu  dilahirkannya 

1-5% bayi dengan cretinism. Penyakit ini 

dapat diberantas dengan mencampurkan 

kaliumiodida pada tepung (untuk roti) dan 

garam dapur (iodisasi). Penanggulangan ge-

jala defisiensi elemen ini merupakan salah 

satu program prioritas WHO.

c. Kobal: cobalt, Co

Kobal ada  sebagai logam pusat dari 

molekul vitamin B12, juga merupakan kom-

ponen dari ±5 metallo-enzim. Kebutuhan 

sehari-harinya diperkirakan hanya 3 mcg, 

yang diperoleh dalam bentuk cyanokobalamin 

dalam makanan. Manusia tidak mampu men-

sintesis vitamin B12, maka pemberian kobal 

sebagai garam (CoCl2) untuk mensuplesi 

vitamin B12 tidak ada gunanya. Oleh sebab  

itu pemakaian  Co pada anemia tertentu kini 

sudah ditinggalkan.

d. Krom: chromium, Cr

Krom dibutuhkan untuk daya kerja in-

sulin yang optimal dalam bentuk aktifnya 

GTF (Glucose Tolerance Factor), suatu 

senyawa organik yang 20 kali lebih aktif 

daripada garam krom anorganik. Untuk 

khasiat GTF, lihat Bab 47, Antidiabetika 

oral. Kebutuhan sehari-harinya 0,1-0,3 mg, 

yang diperoleh dari makanan dan minuman, 

terutama air jeruk (grape fruit), anggur (wine) 

dan ragi bir, lebih sedikit dari gula yang tidak 

dimurnikan, merica hitam, hati, keju dan 

wheat germ. Efek baik dari minuman anggur 

bagi penderita penyakit jantung sering kali 

dilaporkan terutama di Prancis. Semula efek 

baik ini diduga ada hubungannya dengan 

kadar krom tinggi, yaitu ±100 mcg/gelas 

dari 250 ml. namun  kini diketahui bahwa 

kandungan flavonoida dengan daya anti-

oksidannya, yang memicu  efek baik ini.

Kekurangan krom pada tikus mengaki-

batkan hambatan pertumbuhan dan tergang-

gunya metabolisme karbohidrat, lemak dan 

protein yang mirip diabetes. Begitu pula lensa 

mata menjadi keruh (cataract) dan terjadinya 

arteriosklerosis distimulasi. Tidak diketahui 

apakah efek ini juga terjadi pada manusia.

e. Mangan(Mn) dan Molybden(Mo)

Mineral ini merupakan bagian dari bebe-

rapa enzim yang penting bagi metabolisme 

karbohidrat, protein dan lemak (glikolise, 

sintesis muko-polisakarida, pembentukan 

tulang rawan). Mn hanya sedikit ada  

dalam tubuh, sebanyak 12-20 mg, antara lain 

dalam mitokondria(= «pabrik» energi dalam 

sel). Kebutuhan sehari diperkirakan 2-5 mg 

untuk Mn dan 1 mg untuk Mo, yang diperoleh 

dari makanan, antara lain banyak ada  

dalam teh dan kakao, sedikit dalam sayuran 

hijau, kacang-kacangan dan padi-padian 

whole grain. ada  indikasi mengenai efek 

pelindung Mn terhadap kanker. Gejala 

defisiensi atau efek toksik tidak diketahui.

f. Selenium:selen, Selsun

Selen yaitu  elemen dari kelompok sama 

dengan sulfur di Susunan Berkala (Periodic 

System) dan juga bervalensi dua. Oleh kare-

na itu Se dapat menggantikan belerang 

dalam molekul asam amino-sulfur, seperti 

sistein, glutathion dan metionin menjadi 

selenometionin dan sebagainya. Khasiat uta-

manya yaitu  efek antioksidannya yang 

sangat kuat, ±100 kali lebih aktif daripada 

vitamin E. Sebagai ko-faktor dari sejumlah 

enzim, khususnya dari glutationperoksidase 

(GPx), selen menstimulasi perombakan ra-

dikal peroksida, yang selalu ada  di 

dalam jaringan. Dengan demikian, selen 

melindungi sel dan eritrosit terhadap keru-

sakan oksidatif oleh H2O2 dan berperan 

penting pada hambatan proses menua. 

• Selen dan kanker. Banyak zat karbohidrat 

bekerja karsinogen sesudah  diubah menjadi 

epoksida; selen dalam bentuk GPx mence-

gah pengubahan itu. Selain itu, selen men-

stimulasi sistem imun, menghambat pem-

belahan sel dan mendorong apoptosis dari 

sel-sel cacat. berdasar  sifat itu  selen 

berkhasiat antikarsinogen kuat. Ternyata 

bahwa pada beberapa daerah di AS yang 

tanahnya miskin selen ditemukan lebih ba-

nyak kasus kanker buah dada dan kanker usus 

besar. Sebaliknya, di Asia jenis kanker itu  

lebih jarang ditemukan dan keadaan ini 

mungkin ada hubungannya dengan susunan 

makanan orang Asia yang mengandung 

2-4 kali lebih banyak selen. Ternyata pula 

bahwa semakin tinggi kadar selen darah 

dari orang sehat di daerah tertentu, semakin 

kecil insidensi kanker. Penelitian ekstensif 

mengenai efek preventifnya (bersama vitamin 

E) telah dilakukan terhadap kanker prostat, 

yang berlangsung sampai tahun 2013.

Selanjutnya, selen berperan pada meta-

bolisme vitamin E dan berkhasiat mengu-

rangi toksisitas logam berat dengan me-

ngikatnya menjadi selenida, misalnya cad-

mium-, thallium- dan merkuro-selenida. 

Selen sering kali dipakai  secara alternatif 

sebagai antioksidan kuat untuk memperkuat 

sistem imun pada prevensi dan penanganan 

kanker.

Defisiensi selen jarang terjadi. Pada bi-

natang, kekurangan selen memicu  

penyakit “otot putih” (white muscle disease) 

yang bercirikan kelelahan umum dan susut 

otot (atrofi). Pasien yang diberikan nutrisi 

parenteral total melalui infus menunjukkan 

sindroma tertentu (Keshan syndrome). sesudah  

penambahan 1 mg natriumselenit (= 0,3 mg 

Se) per kg makanan, gangguan ini dapat 

dihindarkan. Sejak tahun 1974, FDA di AS 

mengizinkan food supplement ini.

Kebutuhan diperkirakan hanya 30 mcg 

Se/hari, yang terutama diperoleh dari padi-

padian whole grain, ikan, kepiting, daging, 

hati, ginjal, ragi bir, ketimun, sampinyon, 

bawang putih, wijen, kacang-kacangan (nuts) 

dan asparagus. 

pemakaian . Selain dalam sediaan mul-

tivitamin, selen belum dipakai  dalam 

obat-obat oral lainnya. Secara dermal, se-

lensulfida 2,5% (Selsun) efektif sebagai 

shampoo antiketombe (dandruff) dan pada 

dermatosis tertentu dengan kulit bersisik 

mirip dedak (pityriasis). Selensulfida juga 

berkhasiat antimitotik dan fungisid.

Interaksi. Efek selen dirintangi oleh zat-

zat antagonis, antara lain seng, Cu dan krom, 

yang menghambat penyerapannya dari usus.

Efek samping dari SeS berupa iritasi kulit 

kepala dan rambut berlemak, pemakaian  

yang terlalu lama dapat memicu  ron-

toknya rambut. SeS dapat diserap oleh kulit 

yang tidak utuh dengan memicu  

keracunan kronis berupa muntah-muntah, 

anoreksia, anemia, bau bawang putih dan 

degenerasi hati.

Dosis: sebagai suplemen 100-200 mcg se-

hari, sebaiknya sebagai senyawa organik 

(selenometionin), sebab  lebih baik penye-

rapannya daripada garam-garam anorga-

niknya (selenit, selenat).

g. Stronsium:Sr, Sensodyne

Elemen bervalensi dua ini dari kelompok 

barium dan kalsium khusus dipakai  dalam 

pasta gigi 10% (Sr-klorida: Sensodyne) untuk 

melindungi gigi terhadap pengaruh termis 

(dingin dan panas) dan kimiawi (asam, gula), 

yang disertai nyeri. Stronsium berkhasiat 

mengurangi sensitivitas gigi terhadap rang- 

sangan itu  dengan membentuk lapisan 

pelindung keras di luar dentin yang sudah 

kehilangan emailnya sebab  erosi atau pe-

ngendapan kalsium (plaque). Dengan de-

mikian rangsangan itu  tidak lagi bisa 

mencapai sumsum gigi (pulpa) dalam mana 

ada  saraf dan memicu  nyeri. 

Mengenai efektivitasnya belum ada  per-

sesuaian faham di antara para ahli gigi.

h. Tembaga:cuprum, Cu

Cu merupakan ko-faktor bagi sejumlah 

enzim, antara lain sitokrom-oksidase dan beta-

hidroksilase, yang mengubah dopamin men-

jadi noradrenalin. Lagi pula enzim itu  

berperan pada sintesis darah (hemoglobin), 

elastin dan myelin. Juga terlibat pada mobilisasi 

Fe dari depotnya. Tubuh mengandung ±100 

mg Cu. 

Kebutuhan seharinya diperkirakan 2-3 mg, 

yang diperoleh dari sayur-mayur dan hati. 

Dalam kedokteran hewan, Cu dipakai  

sebagai food supplement untuk merangsang 

pertumbuhan, namun  mekanisme kerjanya 

belum diketahui. Pada penyakit anorexia 

nervosa, di mana sering kali ada  ka-

dar Cu darah yang rendah, suplesi Cu 

memberikan hasil yang baik.

Resorpsi dari lambung dan usus untuk 

±30%, kemudian disalurkan ke hati dalam 

bentuk terikat pada cerulo-plasmin. Ekskresi 

terutama melalui empedu dan sebagian 

kecil langsung melalui dinding usus. Seng 

mengurangi penyerapan dan efek Cu; dalam 

enzim superoxide-dismutase (SOD), kedua 

elemen diperlukan dalam perbandingan 

yang tepat. 

Defisiensi jarang sekali terjadi dan dapat 

memicu  demyelinisasi pada saraf, ane-

mia, dan kelainan darah lain, juga encefa-

lopati dengan kelambatan psikomotor, ke-

lambatan mental dan serangan epilepsi. 

Gangguan pada metabolisme tembaga da- 

pat memicu  penyakit Wilson, yang 

bercirikan penumpukan tembaga di ber-

bagai organ dan memicu  cirrhosis dan 

degenerasi ganglia basal dari otak. Oleh ka-

rena itu, semua pasien muda dengan cirrhosis 

harus di-screen terhadap kondisi ini.

Overdosis dengan kadar Cu darah yang 

tinggi memicu  gangguan saluran cer- 

na, malaise, gangguan ginjal, hati dan ekstra-

piramidal, juga anemia hemolitik. Zat-zat 

penawar untuk melawan overdosis yaitu  

penisilamin, Na-edetat (EDTA) dan sengsulfat.

Dosis: sebagai elemen spura 8-20 mg 

sehari CuSO4.5aq. 

1 g garam ini mengandung 255 mg Cu 

elemen. 

MONOGRAFI

1. Kaliumklorida:KCl, K durettes, Slow-K

Kalium merupakan kation (positif) yang 

terpenting dalam cairan intraseluler dan sangat 

esensial untuk mengatur keseimbangan 

asam-basa serta isotoni sel. Selain itu K juga 

mengaktivasi banyak reaksi enzim dan proses 

fisiologi, seperti transmisi impuls di saraf 

dan otot, kontraksi otot dan metabolisme 

karbohidrat.

Elemen ini praktis ada  dalam semua 

makanan, antara lain banyak dalam sayuran 

(bit, bayem, tomat, kentang), buah-buahan 

(avokad, jeruk, aprikot, pisang, ara, anggur/

kismis, plum), kacang tanah, kedele, badam, 

biji labu manis (pumpkin) dan kopi. Plasma 

hanya mengandung 1% dari kadar total dalam 

tubuh (Kt), sedang  antara kadar plasma 

(Kp) dan Kt tidak ada  korelasi baik. Oleh 

sebab  itu Kp rendah tidak berarti bahwa Kt 

juga telah berkurang dan adanya defisiensi 

kalium.

Selama terapi hipertensi dengan diuretika 

sering kali Kp menurun, namun  biasanya Kt 

lebih kurang stabil. sebab  itu suplesi kalium 

tidaklah berguna, kecuali bila diuretika 

diberikan dalam dosis tinggi sekali. Atau, bila 

pasien juga menelan digoksin, yang membuat 

jantung lebih peka terhadap kekurangan K. 

Suplesi K barulah perlu bila Kt telah turun 

dengan nyata, seperti pada gagal jantung 

(dekompensasi), cirrhosis hati dan diabetes de-

ngan keto-acidosis. Risiko akan hipokaliëmia 

lebih besar dengan meningkatnya dosis, 

usia pasien dan lamanya pengobatan. Gejala 

hipokaliëmia berupa otot lemah, rasa sangat 

letih, gangguan konsentrasi dan ritme 

jantung.

Efek samping dari overdosis berupa gang-

guan saluran cerna, nyeri setempat pada 

injeksi dan radang vena (phlebitis). Gejala 

hiperkaliëmia itu  di atas juga dapat 

terjadi bila K dipakai  bersamaan dengan 

diuretika penghemat-kalium. Juga sebagai 

efek samping dari beberapa obat, seperti 

kaptopril, indometasin, sitostatika dan digok-

sin (pada dosis tinggi).

Dosis: profilaksis 2 dd 0,6-1 g KCl (tablet 

retard) p.c., pada hipokaliëmia dimulai de-

ngan 2 g sampai gejalanya hilang, kemudian 

2 dd 1 g.

2. Natriumklorida:garam dapur, NaCl

Natrium merupakan kation utama dalam 

cairan ekstraseluler dan memegang peranan 

penting pada regulasi tekanan osmotiknya, 

juga pada pembentukan perbedaan potensial 

(listrik) yang perlu bagi kontraksi otot dan 

penerusan impuls di saraf.

Dalam diet sehari-hari, rata-rata ada  

6-12 g NaCl yang diserap baik dari usus. 

Jumlah yang sama juga diekskresikan setiap 

hari, terutama lewat urin dan sedikit lewat 

keringat. Ginjal sehat mampu menyesuaikan 

ekskresi garam dengan pemasukannya.

Defisiensi bisa terjadi akibat kerja fisik 

yang terlampau berat dengan banyak ber-

keringat dan banyak minum air tanpa tam-

bahan garam ekstra. Gejalanya berupa mual, 

muntah, sangat lelah, nyeri kepala, kejang 

otot betis, kemudian juga kejang otot lengan 

dan perut. Selama melakukan olah raga 

secara normal untuk beberapa jam tidak ada 

bahaya hiponatriëmia.

Efek samping pada overdosis berupa ude-

ma dan naiknya tekanan darah berhubung 

bertambahnya volume plasma akibat pengi-

katan air oleh Na. Efek ini juga dapat terjadi 

sebab  retensi Na pada pemakaian  hormon 

steroida, NSAID’s seperti indometasin dan 

fenilbutazon, vasodilator dan succus liquiritiae 

(gula “drop”).

pemakaian nya selain pada defisiensi 

Na, juga dalam bilasan 0,9% (larutan garam 

fisiologis) dan dalam infus dengan elektrolit 

lain. Sebagai tetes mata 5% NaCl dipakai  

pada udema kornea.

Dosis: untuk kompensasi kehilangan Na 

akibat kerja berat dan terlalu banyak minum 

air: 5-10 g NaCl, sebaiknya sebagai larutan 1 

g per liter.

3. Kalsium: calcium, Ca

Kalsium ada  sebanyak 99% dalam 

tulang kerangka dan sisanya dalam cairan 

antarsel dan plasma. Dalam bahan makanan 

terutama ada  dalam susu dan telur, 

juga gandum dan sayur-mayur, antara lain 

bayam. Resorpsinya dari usus memerlukan 

adanya vitamin D dalam bentuk aktifnya, 

yaitu kalsitriol.

Fungsinya selain sebagai bahan bangun 

bagi kerangka, juga sebagai pemeran penting 

pada regulasi daya rangsang dan kontraksi 

otot serta penerusan impuls saraf. Lagi pula 

Ca mengatur permeabilitas membran sel bagi 

K dan Na dan mengaktivasi banyak reaksi 

enzim, seperti pembekuan darah. 

Pengaturan kadar Ca dalam darah dan di 

jaringan tulang diregulasi oleh kerjasama 

erat antara tiga hormon, yakni kalsitriol, para-

thormon dan kalsitonin. Kalsitriol (dihidrok-

siD3) meningkatkan Ca (dan P) darah dengan 

meningkatkan perombakannya (“resorpsi”), 

mobilisasi Ca dari tulang dan retensinya 

(dan P) di ginjal. Parathormon (PTH) juga 

Gambar 53-3: Regulasi kadar kalsium darah oleh kalsitonin, PTH dan vitamin D3


meningkatkan kadar Ca darah dengan men-

stimulasi sintesis kalsitriol. PTH ini disekresi 

oleh paratiroid bila kadar darah Ca terlampau 

rendah. Sebaliknya, kalsitonin menurunkan 

Ca darah; hormon peptida ini disekresi oleh 

tiroid bila kadar Ca terlampau tinggi. Sebagai 

antagonis dari PTH zat ini merintangi 

mobilisasi Ca dari tulang dan mendorong 

ekskresinya (dan P) di ginjal dengan efek 

menurunnya kadar Ca (dan P) darah. Lihat 

skema dibawah. 

Defisiensi kalsium memicu  antara 

lain melunaknya tulang (osteomalacia) serta 

mudah terangsangnya saraf dan otot, de-

ngan akibat serangan kejang (tetania). Da-

lam kebanyakan kasus kekurangannya di- 

sebabkan oleh defisiensi vitamin D dan ter-

hambatnya resorpsi Ca, atau sebab  penyakit 

hipoparatirosis dan insufisiensi ginjal.

Resorpsi dari usus berlangsung aktif da-

lam keadaan terikat pada CBP (Calcium 

Binding Protein), yang sintesisnya distimulasi 

oleh kalsitriol. Vitamin D yaitu  esensial bagi 

absorpsi yang baik! Dalam darah, unsur ini 

terikat pada protein untuk ±45%. Ekskresi 

tergantung pada banyak faktor dan terutama 

melalui tinja dan hanya sedikit lewat urin.

Kebutuhan. Dalam rangka prevensi os-

teoporosis National Institute of Health AS 

menganjurkan asupan kalsium (sebagai ele-

men) per harinya sesuai jumlah berikut, lihat 

tabel di bawah ini. 

pemakaian nya pertama-tama pada de-

fisiensi Ca tulang yang berkaitan dengan 

terganggunya resorpsi, juga sesudah  pembe- 

Tabel 53-3: Kebutuhan kalsium bagi berbagai kelompok orang.

bayi 0-6 bulan : 400 mg dewasa 25-65 thn : 1.000 mg

6-12 bulan : 600 mg > 65 thn : 1.500 mg

anak-anak 1-5 tahun : 800 mg wanita (menopauze) : 1.500 mg

6-10 tahun :1.000 mg + estrogen : 1.000 mg

11-18 tahun :1.350 mg selama hamil/lakt : 1.200 mg

dahan tiroid dengan kerusakan pada para-

tiroid. Pada osteoporosis dan prevensinya 

bagi wanita sesudah  menopause, Ca diberikan 

bersamaan dengan suatu bisfosfonat, vitamin 

D dan estrogen. Lihat Bab 44, Estrogen. 

Profilaktik Ca juga dipakai  oleh wanita 

selama kehamilan dan laktasi.

Efek samping pada pemakaian  oral be-

rupa iritasi lambung-usus dan sembelit. 

Hipercalciemia jarang terjadi dan bercirikan 

endapan Ca di ginjal (batu) dan meningkatnya 

ambang rangsang saraf dan otot. Gejalanya 

berupa kelemahan otot, letargia, poliuria dan 

perasaan dahaga, akhirnya timbul koma.

Untuk prevensi osteoporosis dianjurkan 

memakai  dosis lazim dari 600-1400 

mg per hari. Dosis yang melebihi 1400 mg/

hari akibat asupan makanan dengan kadar 

tinggi kalsium ditambah ekstra lagi dengan 

suplemen kalsium, berrisiko terhadap gang-

guan jantung dan pembuluh.


Interaksi. Pemberian i.v. pada pasien yang 

memakai  digoksin harus berhati-hati, 

sebab  toksisitas digoksin diperkuat. Resorpsi 

tetrasiklin dihambat akibat terbentuknya 

kompleks dengan Ca; doksisiklin dan 

minosiklin tidak terganggu resorpsinya.

Ca-glukonat.1 aq : 90 mg/g CaHPO4.2 aq : ca 233 mg/g

Ca-laktat.5 aq : 130 mg/g CaCl2.2 aq : ca 272 mg/g

Ca-sitrat.4 aq : 210 mg/g CaCO3 : 400 mg/g

Tabel 53-4: Garam-garam kalsium dengan kadarnya 


Garam-garam kalsium. Berbagai garam 

kalsium sering kali dipakai  dengan kadar 

kalsium per gram yang saling berbeda, lihat 

tabel 53-1. 

Dosis: Pada defisiensi, oral 2-2,5 g Ca 

sehari dalam 3-4 dosis sewaktu makan. 

Pada osteoporosis dan prevensinya 1-1,4 g 

Ca malam hari, bersamaan dengan vitamin 

D3 800 unit. Pada hipocalciemia parah, i.m. 

atau i.v.(perlahan-lahan) Ca-glukonat 1-2 g 

(larutan 10%).

4. Magnesium:Mg

Magnesium banyak ada  dalam ke-

dele, padi-padian whole grain, cereals, ka-

cang-kacangan (nuts, amandel), buah (ara, 

abrikos) dan sayuran hijau (molekul klorofil 

mengandung atom Mg), serta sedikit dalam 

susu, ikan dan daging. Tubuh manusia 

mengandung ±25 g Mg, 50-60% daripadanya 

dalam kerangka, sedang  sisanya ada  

dalam cairan intraseluler, juga sebagai ko-

faktor enzim yang menghasilkan energi 

(pengoperan fosfat). 

Fungsinya. Mg memegang peranan pen-

ting pada relaksasi otot, mungkin juga untuk 

myocard (seperti K); pada otot jantung orang 

yang meninggal akibat infark ditemukan 

kadar Mg (dan K) yang rendah. Oleh sebab  

itu Mg dipakai  sebagai prevensi dan 

terapi untuk infark jantung. Di samping 

itu Mg berperan penting pada metabolisme 

kalsium dan juga diperlukan untuk sintesis 

protein dalam tulang. Penting pula bagi 

absorpsi kalsium, kalium dan natrium. Ber-

dasarkan sifat ini, dianjurkan sebagai obat 

tambahan pada osteoporosis. Akhirnya 

Mg menstimulasi sistem-imun. Penelitian 

epidemiologi menunjukkan bahwa di daerah 

yang kaya magnesium lebih jarang ada  

kanker, antara lain kanker lambung.

Kebutuhan seharinya diperkirakan 450-500 

mg (WHO), yang diperoleh dari makanan, 

lihat di atas. 

Kekurangan dapat memicu  jari-

jari tangan dingin, kejang betis dan restless 

legs, juga yang lebih serius tekanan darah 

meningkat, kejang pembuluh koroner 

dan aritmia jantung yang berbahaya. Maka 

dianjurkan suplesinya bagi orang yang telah 

menderita infark. Pada hewan, dijumpai 

efek teratogen dan berkurangnya pembentukan 

antibodies serta menurunnya daya tangkis 

umum.

Dosis: sebagai tambahan pada osteopo-

rosis 1-3 dd 250 mg Mg(OH)2 selama 2 ta-

hun. Juga dapat dipakai  sebagai magne-

siumsitrat atau askorbat.

5. Besi:Ferrum, Fe

Senyawa besi khusus dipakai  pada 

keadaan anemia ferriprive, yaitu anemia 

akibat kekurangan Fe.

•  Ferofumarat (Ferumat, *Superton, *Hemo-

bion. 

•  Obimin-AF) dianggap sebagai pilihan uta-

ma untuk terapi oral berhubung dengan 

efek sampingnya yang ringan. Dosis: 2-3 

dd 200 mg (= 65 mg Fe) p.c.

•  Feroglukonat(*Vitaton multi, *Sangobion) 

juga bersifat kurang merangsang dan 

sering kali dipakai  dalam tonika 

dikombinasi dengan vitamin B-kompleks. 

Dosis: 3 dd 48 mg Fe.

•  Ferosulfat (Ferro-Gradumet,*Iberet ) bersi-

fat sangat merangsang, sebab  bereaksi 

asam dan lebih sering memicu  

mual dan muntah. Tablet slow-release 

mengurangi kendala ini. Dosis: oral 2 dd 

525 mg (=105 mg Fe) p.c. Lihat juga Bab 

39, Hemopoietika.

6. Seng: zincum, Zn

Kadar seng dalam tubuh cukup tinggi 

(1,5-2 g) dibandingkan elemen spura lainnya. 

Sebagian besar ada  dalam tulang, juga 

agak banyak di prostat. Zn merupakan ko-

faktor bagi banyak enzim yang perlu bagi 

antara lain sintesis dan perombakan protein, 

karbohidrat dan lemak. 

Kebutuhan seharinya yaitu  10-15 mg, se-

dangkan pada defisiensi sampai 50 mg sehari, 

yang diperoleh dari daging, ikan, kerang, 

kepiting, susu, produk whole grain, ragi dan 

kacang-kacangan (beans). Resorpsinya dari 

usus diperbesar oleh vitamin C dan asam-

asam amino, serta dikurangi oleh kalsium, 

fosfor, Fe dan Cu. Lagi pula seng mendesak 

Cu dari enzimnya dan juga meniadakan efek 

pelindung Se terhadap kanker. Oleh sebab  

itu pasien kanker sebaiknya jangan diberikan 

suplesi Zn.

Fungsinya sebagai ko-faktor dari minimal 

100 enzim yang terlibat dalam berbagai 

proses metabolisme, juga esensial bagi sin-

tesis RNA dan DNA. Diperkirakan bah-

wa seng juga memegang peranan pada 

gejala buta malam sebagai ko-faktor dari 

alkoholdehidrogenase yang mengubah reti-

nol menjadi retinal, yang perlu bagi sintesis 

rodopsin. Beberapa studi menunjukkan bah-

wa seng dapat memperbaiki fungsi sel-

sel otak, antara lain lemah ingatan (sering 

lupa) pada lansia. Akhirnya seng berkhasiat 

menstimulasi penyembuhan borok bila ter-

dapat kekurangan dan lokal memiliki efek 

mengerutkan selaput lendir (adstringens), 

antikeringat, dan antiseptik lemah. Lihat 

juga Bab 15, Antiseptika.

Defisiensi jarang terjadi. Namun pernah 

ada laporan dari Timur Tengah mengenai ciri-

ciri defisiensi, seperti terhambatnya pertum-

buhan dan infantilisme, berkurangnya daya 

rasa dan penciuman, juga kelainan kulit dan 

sukar sembuhnya luka. Pada separuh kasus 

ulcus cruris (borok di tungkai akibat sirkulasi 

buruk) ada  kadar Zn yang rendah dalam 

darah. pemakaian  terbanyak yaitu  dalam 

dermatologi, khususnya ZnO dalam bedak 

tabur dan salep, sebagai adstringens dan 

antiseptikum lemah. Sengsulfat dipakai  

sebagai tetes mata 2,5-5 mg/ml pada radang 

selaput mata dan per oral pada borok yang 

berkaitan dengan defisiensi Zn, lihat juga 

Bab 15. Desinfektansia. Garam seng orga- 

nik (sitrat, glukonat dan pikolinat) dignakan 

sebagai antioksidan pada terapi alternatif, 

juga sebagai obat tambahan pada gangguan 

prostat membesar (BPH) berdasar  sifat 

seng yang dapat menghambat pembentuk-

an dihidrotestosteron. Lihat Bab 31, Anti-

adrenergika, alfa-blockers. Zn-glukonat seba-

gai tablet hisap ternyata bermanfaat pada 

infeksi influenza untuk mempercepat pe-

nyembuhan dengan sekitar 40%. Resorpsi dari 

usus rendah, antara 10 dan 40%, tergantung 

pada kebutuhan. Seng ditimbun bersama 

insulin dalam sel-sel-beta Langerhans di 

pankreas.

Efek samping terutama terjadi pada over-

dosis (oral) dan berupa gangguan saluran 

cerna, borok lambung, stomatitis dan 

letargia. Pada pemakaian  dalam dosis 

tinggi (100-300 mg sehari) selama 5-6 ming-

gu, terjadi efek negatif terhadap sistem 

imun, penurunan HDL-kolesterol dan defi-

siensi Cu. Suatu studi dengan asupan Zn 

50 mg selama 6-10 minggu menurunkan 

aktivitas enzim superoxide-dismutase. SOD 

ini berfungsi sebagai ‘penangkap radikal’ 

dan mengandung Cu, yang ketersediaannya 

dikurangi oleh Zn. 

Dosis: pada defisiensi 3 dd 200 mg ZnSO4 

(= 45 mg Zn), sebagai antioksidan 20-50 mg 

Zn elemen. Pada influenza sedini mungkin 

5-6 dd 1 tablet hisap dengan ± 92,5 mg Zn-

glukonat (= 13,3 mg Zn).

7. Fluor:Vinafluor

Fluor khusus ada  dalam tulang gigi 

(dentin) dan email, juga dalam kerangka. 

Sayur-mayur mengandung sedikit fluor, se-

dangkan kadar yang tinggi ada  dalam 

daun teh.

Resorpsi dari usus baik dan cepat; garam-

garam Ca, Fe, Al dan Mg membentuk kom-

pleks dengan fluorida yang memicu  

hambatan penyerapannya, maka tidak boleh 

dimakan bersamaan waktu. Fluor terutama 

ditimbun sebagai apatit dalam dentin dan 

email, juga dalam tiroid dan ginjal. Eks-

kresi berlangsung lewat urin dan dapat 

juga melalui keringat sewaktu transpirasi 

berlebihan.

pemakaian  paling banyak untuk prevensi 

gigi berlubang (caries). Fluor diserap oleh plak 

gigi, menghambat dekalsifikasi dan pelarutan 

email, lagi pula menstimulasi remineralisasi 

sehingga kerusakan bisa direparasi. Fluor 

juga menghambat pembentukan asam oleh 

kuman mulut, sehingga pelepasan asam 

kurang kuat. Sifat ini berdasar  reaksinya 

dengan apatit, lihat skema reaksi di bawah. 

Fluorapatit yang terbentuk bersifat lebih 

padat dan tahan asam, juga menutupi pori-

pori kecil, sehingga email lebih sukar larut 

dalam asam, yang setiap kali terbentuk 

sesudah makan gula atau karbohidrat.

Ca10(PO4)6(OH)2 + 2 F_ ---- Ca10(PO4)6F2 + 2 OH–

apatit fluorapatit

* Dental caries terutama timbul di daerah 

yang kadar fluorida dalam air minum lebih 

rendah dari 1 ppm. Oleh sebab  itu di banyak 

negara telah diselenggarakan program pre-

vensi caries dengan fluorida (oral dan lo-

kal) pada anak-anak sampai usia 12 tahun 

dengan sukses besar. Dewasa ini fluorida 

merupakan komponen standar kebanyakan 

pasta gigi. Fluorida dalam bentuk senyawa 

organik aminfluorida (Elmex) diperkirakan 

lebih baik absorpsinya oleh email daripada 

natriumfluorida (NaF). Kebutuhan sehari bagi 

orang di atas 6 tahun yaitu  ±1 mg F (= 2,24 

mg NaF). 

Pada osteoporosis dahulu fluorida digu-

nakan dengan efektif dalam dosis tinggi 

bersama Ca, vitamin D dan estrogen untuk 

meningkatkan kepadatan tulang. Fluor men- 

stimulasi osteoblast untuk membentuk ja-

ringan tulang baru. Namun tulang baru itu 

ternyata memiliki struktur abnormal dan 

kurang baik mineralisasinya. sebab  re- 

latif kurang kuat, regas dan mudah patah, 

maka sudah banyak diganti dengan senyawa 

bisfosfonat (alendronat, etidronat dan sebagai-

nya), yang berkhasiat menghambat pelarutan 

tulang oleh osteoclast. Lihat juga Bab 44. 

Estrogen. 

Efek samping akibat dosis oral tinggi 

yang dipakai  pada osteoporosis dapat 

memicu  gangguan saluran cerna dan 

keluhan rematik (sakit kaki dan pergelangan). 

Juga bisa terjadi hipokalsiëmia, sebab  Ca 

“ditangkap” dan diinaktifkan oleh fluor. 

Dosis profilaktis pada pemakaian  lama juga 

dapat memicu  fluorosis pada ±10% 

pemakai, yaitu berupa bintik-bintik gelap 

pada email gigi (“mottled teeth”) atau garis-

garis putih (“gigi zebra”). pemakaian  lokal 

dapat memicu  antara lain reaksi alergi, 

sekresi ludah berlebihan dan udema lidah.

Dosis: prevensi caries, oral anak-anak 6-12 

bulan: 1 dd 0,25 mg F (= 1 tablet NaF 0,56 

mg), 1-2 tahun: 1-2 tb, 2-3 tahun: 2-3 tb, 4-6 

tahun: 3-4 tb dan di atas 6 tahun: 4 tb. Tablet 

dapat ditelan sekaligus, namun  sebaiknya di-

hisap atau dikunyah dalam beberapa dosis 

sehari sebelum makan. Tablet Vinafluor me-

ngandung NaF 2,27% = fluor 1 mg. Lokal 

sebagai gel/larutan 20 mg/ml sekali seming-

gu dan diulang 3 kali.

Tabel 53-5: Kadar vitamin dalam beberapa jenis makanan.

14108649_OBAT P(Bab 53)_T-844-879.indd 878 25/04/2015 10:38:16

Bab 53: Vitamin dan Mineral 879

Pada osteoporosis 2 dd 76 mg mono-

fluorfosfat p.c., dalam kombinasi dengan 

bisfosfonat atau estrogen.

Saran baru. Di negeri Belanda sejak 

Oktober 1998 nasihat mengenai fluorida di 

atas telah diganti berdasar  data baru. 

Anak-anak tidak perlu lagi minum tablet 

fluorida bila giginya disikat dengan pasta gigi 

anak-anak, yang mengandung kadar fluor 

yang diperbesar: 500-700 ppm (semula 250 

ppm). Anak-anak 1-2 tahun: 1 dd sikat gigi 

dengan pasta anak, 2-4 tahun: 2 dd sikat gigi 

dengan pasta anak, di atas 5 tahun: 2 dd sikat 

gigi dengan pasta dewasa (kadar fluorida 

2-3.000 ppm). Untuk absorpsi fluorida yang 

optimal sikat gigi perlu minimal selama 2 

menit!


DASAR-DASAR DIET SEHAT

Makanan dan kesehatan 

Banyak orang tidak mengerti bahwa ma-

kanan dapat merupakan faktor risiko untuk 

mendapatkan penjakit-penyakit kronis pa-

rah. Berbagai penelitian epidemiologi telah 

dilakukan untuk meneliti hubungan antara 

timbulnya penyakit diabetes tipe-2, infark 

jantung, stroke dan kanker dengan 4 faktor 

pola hidup, yaitu merokok, berat badan, 

olah raga secara teratur dan pola makanan. 

Misalnya konsumsi daging merah berkaitan 

dengan peningkatan risiko kematian akibat 

berbagai sebab dan juga peningkatan risiko 

penyakit jantung dan pembuluh serta kanker. 

Penggantian daging merah dengan sumber-

sumber protein lain seperti ikan, ayam dan 

kacang-kacangan, berkaitan dengan risiko 

kematian yang menurun. Hal ini disebabkan 

daging merah mengandung lemak jenuh 

sebagai faktor merusak, sedang  protein 

nabati mengandung a.l. antioksidansia yang 

baik bagi kesehatan.

Diet yang sehat yaitu  diet yang dapat 

mencukupi kebutuhan akan semua zat gizi 

yang diperlukan tubuh, sebab  berperan 

penting dalam mencegah berbagai penyakit. 

Dewasa ini sudah terbukti bahwa insidensi 

yang semakin meningkat dari banyak 

penyakit “kesejahteraan” berhubungan de-

ngan diet yang tidak sempurna. Misalnya, 

makanan yang mengandung terlampau 

banyak lemak hewan diperkirakan turut 

bertanggungjawab atas terjadinya kegemuk-

an,penyakit kardiovas kuler, diabe tes tipe-II dan 

berbagai jenis kanker (usus besar, payudara, 

prostat). Sebaliknya, makan ikan berlemak 

secara teratur melindungi tubuh terhadap 

PJP, seperti dibuktikan oleh orang-orang 

Eskimo dan Jepang. Orang Korea dan Cina 

yang makanannya kerapkali mengandung 

tahu ternyata jauh lebih jarang dihinggapi 

kanker payudara dan prostat dibandingkan 

penduduk negara Barat. Kekuran gan vita-

min A dalam pangan dihubungkan dengan 

kanker paru, sedang  diet yang miskin 

serat nabati berkaitan dengan obstipasi kronis 

dan kanker kolon. Orang Afrika yang makanan 

sehari-harinya mengandung banyak sayur-

mayur jarang sekali menderita kanker usus 

besar. 

Semua contoh ini menunjukkan adanya 

hubungan kausal antara makanan dan 

kesehatan. Pola diet dengan kecenderungan 

mengonsumsi makanan “prefab”/siap saji 

tanpa serat, berlemak dan manis, membuka 

peluang untuk segala jenis penyakit.

Diet yang kaya akan “wholegrains”, buah-

buahan, sayur-mayur, kacang-kacangan dan 

rendah akan “refined grains”, daging merah 

dan minuman manis/bergula telah terbukti 

dapat menurunkian risiko diabetes tipe-2 

dan memperbaiki pengendalian glikemik 

dan kadar lipida darah dari pasien diabetes.


Bahan-bahan penting bagi tubuh

Kebutuhan gizi manusia dapat dibagi dalam 

lima kelompok besar, yaitu:

1. hidratarang sebagai bahan bakar dan 

sumber energi. Dalam kea daan tertentu, 

lemak (dan pro tein) juga dapat diper-

gunakan sebagai bahan-bakar;

2. lemak sebagai sumber bahan bangun ja-

ringan lemak (antara lain membran sel), 

khususnya asam lemak esensial tak jenuh 

dan juga berfungsi sebagai sumber energi;

3. protein sangat penting bagi asam amino 

dari sel dan berfungsi sebagai sumber 

bahan ban gun jaringan otot/organ dan 

sel. Protein mengan dung elemen nitrogen 

(N) dan belerang (S), yang tidak ada  

dalam hidratarang dan lemak. Protein 

hanya dipakai  sebagai sumber-energi 

oleh tubuh bila tidak ada  cukup 

hidratarang dan lemak dalam pangan; 

4. vitamin dan mineral ada  di semua 

bahan makanan dalam jumlah kecil;

5. serat gizi yang khusus diperoleh dari 

sayuran dan buah-buahan. 

Pada lansia, semua proses tubuh berjalan 

lebih lambat dan kurang sempurna, antara 

lain proses pencernaan dan resorpsi zat 

gizi (vitamin dan mineral) dari makanan, 

terutama bila susunan diet sehari-hari kurang 

sempur na. 

Nilai energi (kalori)

Di dalam tubuh, energi yang diperoleh dari 

pembakaran bahan makanan, sebagian diru-

bah langsung menjadi energi mekanis (proses 

metabolisme, kerja otot) dan energi kimiawi, 

seperti sintesis protein serta penimbunan 

glikogen dan lemak. Sebagian energi ditim-

bun sebagai zat-zat yang sangat kaya energi, 

seperti adenosintrifosfat (ATP) dan sekitar 

sepertiga dibebaskan sebagai kalor. Sebagai 

kesatuan energi, sejak dahulu dipakai  

satuan termodinamik kalori (cal), yang pada 

tahun 1978 secara resmi diganti sebagai 

Joule(J). namun  banyak negara masih meng-

gunakan satuan kalori. 1 kcal = 4,184 kJ.

1 g protein = 4,18 kcal(=17 kJ); 

1 g gula = 4,18 kcal

1 g lemak = 9 kcal (= 38 kJ)

1 g serat < 0,1 kcal 

1 g alkohol = 7 kca 

Tabel 54-1:  Nilai kalori dari beberapa 

unsur makanan

Anjuran untuk diet sehat

Diet yang optimal sukar ditentukan, sebab  

tergantung secara individual dari gaya hidup, 

pekerjaan dan kebutuhan. Orang dengan 

pekerjaan fisik berat membutuhkan lebih 

banyak kalori daripada mereka yang bekerja 

administratif atau di rumah tangga. Dengan 

tabel 54-2 di bawah ini dapat dihitung nilai 

energi individual, yaitu jumlah kalori yang 

dibutuhkan sehari berdasar  usia, jenis 

kelamin dan aktivitas fisik. Dengan demikian 

diperoleh jumlah kalori total (100%Energi, 

En%) yang sebaiknya dibagi atas pangan 

yang seimbang mengenai kandungan kalori 

zat-zat gizinya. 

Anjuran utama untuk diet yang menjamin 

kesehatan yaitu  sebagai berikut:

1. Makanlah secara bervariasi agar tubuh 

memperoleh semua bahan gizi yang di- 

perlukan sambil membatasi pemasukan 

zat-zat yang merugi kan. Diet ini khu-

susnya penting bagi asupan vitamin dan 

mineral spura, lihat dibawah nr 7.

2. Mencukupi asupan protein sampai 10- 

15 En% (= per sentase dari jumlah ener- 

gi total yang dibutuhkan sehari). Dian- 

jurkan ±0,75 g/kg berat badan sehari, 

olahragawan sampai 2 g/kg. Untuk me-

melihara balans nitrogen (BN) diperlukan 

hanya 40-50 g sehari. Perlu diketahui pula 

bahwa daging ayam/sapi dan ikan hanya 

mengandung 16 – 30 % protein.

3. Makanlah minimal 2x seminggu ikan 

berlemak (makril, tongkol, kembung, sar-

dencis, salem)dengan kandungan asam 

lemak omega-3 yang dapat memperkecil 

risiko PJP. 

4. Membatasi asupan lemak (total) sampai 

25-30 En% dengan maksimal 1/3 asam 

lemak jenuh (hewan), ±1/3 asam lemak 

cis-tak-jenuh-mono dan ±1/3 cis-tak-jenuh-

ganda (polyunsaturated fatty acids: PUFA). 

Asam lemak tak jenuh ini hendaknya 

mengandung sesedikit mungkin bentuk-

trans, yang seperti asam lemak jenuh, 

dapat meningkatkan kadar kolesterol 

darah.

5. Asupan hidratarang: 55-65 En%. Sebaik-

nya dalam bentuk polisakarida (nasi, roti, 

kentang, singkong, tales, ubi, buncis dan 

sayuran). Sebaliknya, perlu membatasi 

asupan gula murni (putih/Jawa) dan 

produk-produk yang mengandungnya 

(limun, sirop, kola, kue, cake, permen, dan 

sebagainya), sebab  dapat berpengaruh 

buruk terhadap regulasi metabolisme glu- 

kosa dengan berakibat overweight (kele-

bihan berat badan).

6. Pembatasan pemasukan kolesterol sam-

pai 3-4 telur seminggu, terutama ku-

ning telur yang mengandung banyak 

kolesterol. Pembatasan ini belum menda- 

pat kesepakatan. Sejumlah penelitian me- 

nunjukkan bahwa kadar kolesterol dalam 

makanan hanya sedikit memengaruhi 

kolesterol darah, sebab  jumlah terbanyak 

disinte sis oleh tubuh sendiri.

7. Makanlah sayuran dan buah-buahan 

secukupnya, yakni ±200 g sayuran 

sehari, sebaiknya dalam keadaan segar 

(sebagai lalap) dan 1-3 butir buah. 

Jumlah ini menjamin pe-masukan 

30-35 g serat-serat nabati. Serat ini 

di samping membantu memberikan 

perasaan kenyang, juga memengaruhi 

penyerapan zat-zat gizi secara teratur, 

khususnya glukosa dan lemak, serta 

memperlancar buang air besar. Sumber 

serat lainnya yaitu  beras merah/tum- 

buk dan produk/roti whole grain. Se-

lain itu, sayuran dan buah-buahan me- 

ngandung flavonoida, yang berkat sifat 

antioksidannya melindungi tubuh terha-

dap penyakit jantung dan kanker. Dike-

tahui bahwa orang-orang vegetarian 

umumnya mencapai usia lebih panjang 

daripada orang yang “makan biasa”.

8. Makanlah vitamin dan mineral secukup-

nya, yang antara lain dapat dicapai mela-

lui variasi susunan makanan sehari-hari.

9. Pembatasan pemasukan garam sampai 

3-6 g sehari, berhubung pengaruhnya atas 

peningkatan tekanan darah.

10. Minum air (termasuk kopi, teh, limun 

dan lain-lain) sekurang-kurangnya 2 liter 

sehari untuk memelihara keseimbangan 

cairan tubuh.

Catatan: Dengan whole grain dimaksudkan 

cereal grain yang mengandung a.l. endosperm 

dan serat, dibandingkan dengan refined grain 

yang hanya mengandung endosperm tanpa 

serat.

Contoh whole grain yaitu  a.l.: gandum, oat, 

jagung, beras merah, roti whole wheat dan 

popcorn.

Non-whole grain atau refined grain yaitu  

a.l. beras, terigu dan white bread.

Unsur-unsur gizi itu  di atas akan di-

bahas lebih mendalam di bawah ini dengan 

penjelasan lebih jauh mengenai latar belakang 

dan alasan untuk berdiet sehat. Berturut-

turut akan dibicarakan hidratarang, protein, 

lemak dan serat gizi, sedang  vitamin dan 

mineral sudah dibahas di Bab 53

A. HIDRATARANG

Hidratarang merupakan bahan bakar utama 

bagi tubuh, yang di dalam pangan ada  

sebagai monosaka rida, disakarida dan po-

lisakarida. Minimal 50-100 g karbohidrat 

diperlukan agar eritrosit berfungsi baik. 

Bila tidak tersedia, kebutuhan ini dipenuhi 

dengan jalan mengubah protein otot menjadi 

glukosa (gluconeogenesis). Semua jaringan 

dapat membakar asam lemak dan senyawa 

keton untuk mensuplai energi.

Sumber hidratarang utama yaitu  beberapa 

jenis gandum, seperti beras, wheat, rye dan 

quinoa (pelafalan kinowa), juga kentang, ubi, 

ketela, kacang-kacangan (kedelai, kacang 

putih/merah), jagung dan tales.

* Quinoa berasal dari pergunungan Andes di 

Amerika Selatan yang beriklim dingin dan 

kering. Tanaman ini sudah dibudidayakan 

selama ±5000 tahun oleh bangsa Indian (Inca). 

Kini bahan makanan ini mulai dipakai  

kembali, antara lain untuk makanan bayi, 

sebab  kaya akan arginin dan histidin, yaitu 

dua asam amino semi-esensial, yang belum 

dapat dibuat sendiri oleh bayi (lihat di bawah 

B. Protein). Lagi pula tidak mengandung 

gluten, yang penting bagi penderita sejenis 

intoleransi makanan, yang disebut coeliakie.

Penggolongan

Tergantung pada ada-tidaknya satu, dua atau 

lebih molekul gula tunggal, hidratarang dapat 

dibagi dalam mono-, di- dan polisakarida.

Monosakarida: glukosa, fruktosa dan galaktosa 

terutama ada  dalam buah-buahan. Zat-

Tabel 54-2: Kandungan zat gizi utama dari sejumlah makanan

(per 100 g) dan kadar kalorinya

zat ini berkha siat osmotik (menarik air), maka 

terlampau banyak monosakarida dalam 

pangan dapat memicu  diare. Glukosa 

(dekstrosa, gula anggur) dan fruktosa 

(levulose, gula buah) ada  dalam madu 

dengan daya manisnya masing-masing 0,5 

dan 1,5 kali dari gula putih. Monosakarida 

banyak dipakai  sebagai zat pengganti 

gula. Lihat selanjutnya Bab 47 C, Zat-zat 

pemanis. Galaktosa merupakan komponen 

dari laktosa dan dari banyak polisakarida. 

Disakarida: sukrosa (sakarosa, gula putih) 

terdiri dari 1 mol glukosa + 1 mol fruktosa. 

Laktosa (gula susu) = 1 mol glukosa + 1 

mol galaktosa, sedang  maltosa (gula 

malt) = 2 mol glukosa. Dalam usus zat-zat 

ini dihidrolisis oleh enzim menjadi monosa-

karida, misalnya laktosa oleh laktase. Keku-

rangan enzim dapat memicu  diare 

fermentasi.

Polisakarida: pati (amylum, yang terdiri dari 

rantai molekul glukosa) dan glikogen, meru-

pakan timbunan hewani dari glukosa. Begitu 

pula serat nabati yang tidak dapat dicer nakan 

oleh enzim usus: selulosa, hemise lulosa, lignin, 

pektin dan gom (lihat di bawah Serat-serat). 

* Pati merupakan komponen utama dari 

produk-produk gandum, kentang, tales, ubi, 

sagu, singkong, roti, bakmi, bihun dan makar-

oni. Dalam saluran cerna pati diuraikan oleh 

maltase menjadi glukosa, lewat dekstrin dan 

maltosa, sebagai berikut. 

pati –––> dekstrin –––> maltosa –––> glukosa

* Glikogen ada  terutama dalam hati 

dan otot; fungsinya yaitu  sebagai sumber 

cadangan glukosa. 

* Serat nabati: katul/dedek, bran, zemelen. 

Secara kimiawi merupakan kompleks polisa-

karida dengan unit-unit glukosa, galaktosa 

dan monosakarida lain, yaitu selulosa, 

hemiselulosa, lignin dan pektin. Zat ini ada  

khusus di dalam din ding sel dari padi-

padian, sayuran, buncis (beans) dan buah-

buahan (terutama pektin). Hemiselulosa 

dan pektin (= rantai asam galakturon) tahan 

terhadap enzim pencernaan, maka tidak 

dapat diuraikan. Namun, sebagian dirombak 

oleh kuman kolon dengan menghasilkan 

gas dan asam lemak. Lignin sama sekali 

tidak diuraikan. Serat yang berasal dari 

padi, misalnya katul, mengan dung banyak 

hemiselu losa dan dianggap terbaik sebab  

kadar asam fitatnya tinggi, lihat di bawah. 

* Lignin yaitu  polimer dari fenilpropan yang 

ada  dalam semua tumbuhan. Lignin 

merupakan komponen utama dari dinding 

sel, bersama selulosa dan hemiselulosa. 

Strukturnya terdiri dari rantai (hemi)selulosa, 

yang merupakan bunga karang dan dapat 

menyerap serta mengikat molekul air, sehing-

ga sangat mengembang. Oleh sebab  itu isi 

usus diperbesar, peristaltik distimulisasi dan 

pengeluaran tinja diperlancar. 

Khasiat serat

berdasar  sifat-sifatnya serat memiliki 

banyak khasiat, yaitu daya laksan, anti lipemik, 

menghindarkan kanker kolon dan PJP.

a. Efek pencahar dipakai  untuk mena-

ngani dan mencegah obstipasi serta bebe-

rapa gangguan usus lain yang bertalian 

dengan kelambatan defekasi. Misalnya 

pada diverticulosis, di mana terjadi ben-

jolan di kolon dan disebabkan oleh me-

ningkatnya tekanan tinja atas dinding 

usus. Gangguan ini sering ada  di 

negara-negara Barat, terutama pada orang 

berusia di atas 60 tahun. Serat dipakai  

pula untuk kolon spastis (IBS = Irritable 

Bowel Syndrome) yang dalam kebanyakan 

hal disebabkan oleh diet yang keliru, 

obstipasi dan stres . Wasir dan mungkin 

batu empedu serta radang umbai usus 

buntu(appendi citis) juga dapat dihindari.

b. Efek anti lipemik. Serat yang sudah 

mengembang mampu menyerap dan 

mengikat asam empedu (dan lemak) 

yang lalu dikeluarkan dengan tinja. Tan-

pa asam empedu, resorpsi kolesterol sa- 

ngat berkurang hingga kadarnya da- 

lam plasma menurun, bandingkan meka-

nis me kerja zat penukar ion, Bab 36. Anti-

lipemika.

c. Membantu diet pengurus tubuh. Pa-

ngan yang kaya serat harus dikunyah 

lebih lama agar bisa memperbesar volu- 

me isi lambung. Efeknya lebih cepat 

memicu  perasaan kenyang diban-

dingkan makanan yang hanya berisi zat-

zat gizi dengan nilai kalori tinggi.

d. Prevensi kanker kolon. Serat dapat pula 

menyerap metabolit tertentu dari garam 

empedu dan kolesterol. Zat-zat toksik 

ini dibentuk oleh kuman anaerob dalam 

usus besar dan bersifat karsinogen. Lihat 

juga Bab 14, Makanan dan kanker.

e. Prevensi PJP dan diabetes. Serat mem-

perlambat kenaikan drastis dari glukosa 

darah dan respons insulin, sebab  resorpsi 

hidratarang tidak berlangsung sekaligus 

namun  secara berangsur. Penelitian me-

nunjukkan bahwa risiko akan infark 

jantung dan kematian pada pria di atas 50 

tahun diturunkan secara signifikan.

Berhubung dengan khasiatnya ini, suplesi 

serat pada makanan sehari-hari sangat 

dianjurkan dan sebaiknya dalam bentuk 

sayuran segar (lalap) sebab  daya menyerap 

airnya lebih baik daripada bila sudah 

dimasak, juga sebagai roti whole grain atau 

katul (beras tumbuk).

RDA-nya(Recommended Daily Allowance: 

kuantum yang dianjurkan sehari dalam diet) 

25-30 g serat sehari.

Dosis: minimal 30 g sehari sebagai katul, 

dicampur dengan bubur, havermout, dan 

sebagainya. Atau dikonsumsi dari sayuran 

(mentah) dan buah-buahan 200-400 g se-

hari. pemakaian  katul perlu disertai ba-

nyak minum air, sebaiknya 2 liter sehari, 

sebab  justru bisa memicu  obstipasi 

sebab  sifat mengembangnya. pemakaian  

terlampau banyak serat, khususnya katul 

padi-padian dapat mengurangi absorpsi 

mineral dari bahan makanan (kalsium, Mg, 

besi, seng, dan lain-lain), sebab  diikat pada 

asam fitat yang juga ada  dalam serat 

dan katul.

* Asam fitat: inositolheksafosfat, IP6

Inositol termasuk kelompok vitamin 

B-kompleks dan berperan penting bagi 

fungsi otak, sistem saraf dan organ kelamin, 

juga berdaya menghambat pertumbuhan 

tumor. Rumusnya mirip glukosa, senyawa-

heksafosfatnya banyak ada  dalam mi-

nyak biji-bijian (nuts, seeds), sayuran dan 

gandum (cereal grains). Dalam bahan-bahan 

ini fitat terikat pada protein. Fitat berupa 

cairan, seperti sirop, yang larut dalam air dan 

bereaksi asam.

Fitat bersifat antioksidan kuat dengan 

menghalangi oksidasi besi dan pembentukan 

radikal bebas. Asam ini juga bekerja anti 

tumor melalui penghambatan pembelahan 

sel. Untuk itu fitat perlu dibe baskan dahulu 

dari ikatannya dengan protein. Suatu pene-

litian menunjukkan efek melindungi dari 

makanan dengan banyak gandum (kadar 

fitat tinggi) terhadap kanker kolon.

Enzim fitase yang ada  dalam makan-

an dan usus berdaya merombak dan mengin-

aktifkannya. Oleh sebab  itu dianjurkan un-

tuk memakai  zat murni IP6 yang lebih 

cepat diserap di usus sebelum diinaktifkan 

oleh fitase. Adakalanya dipakai  dalam 

terapi sebagai zat penurun kadar kalsium. 

Efek samping. Efek samping dari terlalu 

banyak fitat dalam makanan menurunkan 

resorpsi Ca, Mg, Zn dan Fe, sebab  fitat 

berdaya mengikat melalui chelasi kation 

bivalen dan trivalen itu  dengan mem-

bentuk kom pleks yang tidak larut. 

Dosis: preventif 2 dd 2 kaps a.c., pada 

kanker 3 dd 4 kaps.

* Fitin = garam kalsium fitat yang tidak larut 

dalam air

* Nitrat ada  dalam banyak sayuran, 

terlebih-lebih bila tanah diberi banyak pu-

puk nitrat. Nilai nitrat yang dianggap aman 

di Belanda yaitu  50 mg/kg. Dalam usus, 

nitrat diserap ke dalam sirkulasi darah dan 

sebagian diedarkan kembali melalui liur. 

Di mulut, 5% nitrat diubah oleh kuman 

menjadi nitrit, yang dapat mengikat oksigen 

sehingga kadar oksihemoglobin dalam da-

rah menurun. Di samping itu, nitrit dapat 

bereaksi dengan berbagai amin atau asam 

amino dan menghasilkan nitrosamin. Se-

nyawa ini bersifat karsinogen pada hewan, 

tergantung dari derajat asam lambung dan 

ada-tidaknya antioksidansia, seperti vitamin 

A, C, E, selen dan flavonoida. Oleh sebab  itu, 

sesudah  makan banyak sayuran dengan kadar 

nitrat tinggi, dianjurkan minum 1 g vitamin 

C sehari untuk menghindari pembentukan 

nitrosamin. 

Vegetarian

Penelitan menunjukkan bahwa vegetarian, 

yang diet sehari-harinya mengandung ba- 

nyak hidratarang kompleks dan serat gi-

zi, 50 persen dari mereka lebih jarang di-

hinggapi penyakit jantung ischemis dengan 

angka kematian yang lebih rendah. Lagi 

pula ada  indikasi kuat mengenai efek 

melindunginya terhadap penyakit kronis, 

misalnya sembelit, diverticulosis dan kanker 

paru, payudara dan kolon. Gangguan kese-

hatan lainnya, seperti hipertensi, diabetes 

dan batu empedu juga menurun.

B. PROTEIN

Zat putih telur yaitu  bahan bangun dari 

tubuh, khususnya jaringan otot dan organ. Zat 

ini juga diperlukan untuk beberapa sintesis, 

antara lain hormon, enzim, neurotransmitter, 

asam nukleinat (asam inti) dan zat tangkis 

(antibodi). Peranannya pada suplai energi 

yaitu  sebagai cadangan, yang dapat diben-

tuk oleh tubuh, meski dalam kuantita sangat 

kecil. Jika pemasukan hidratarang dan lemak 

tidak mencukupi, protein dipakai  sebagai 

sumber energi.

Protein terdiri dari 20 lebih asam amino, 

yang sebagian besar dapat disintesis oleh 

tubuh melalui proses transaminasi. Pada 

proses ini, sejumlah vitamin berperan pen-

ting, antara lain piridoksin. Asam amino 

esensial mencakup 8 unsur yang tidak bisa 

disintesis oleh tubuh, lihat di bawah Kimia. 

Protein sempurna yang mengandung semua 

asam amino esensial, memiliki nilai biologis 

tinggi, seperti yang ada  dalam daging, 

telur dan susu. Protein nabati biasanya  

bernilai biologis lebih rendah, seperti padi-

padian dan kacang-kacangan(kedele). Pada me-

tabolisme sel, selalu terjadi kehilangan pro-

tein, sehingga kekurangannya perlu di su-

plai oleh protein dalam pangan.

Kebutuhan sehari

Menurut perhitungan, orang dewasa mem- 

butuhkan protein ±0,75 g/kg berat badan, 

misalnya orang dengan bobot 60 kg mem-

butuhkan ±45 g protein sehari. Jumlah ini 

Tabel 54-3: Zat-zat gizi per 100 g nasi, 

kentang dan makaroni/spa geti.

 zat-gizi per 100 g  nasi  kentang  makaroni 

  hidratarang  15 g  34 g  24 g 

  protein  2 g  3 g  4 g 

  lemak  –  –  1 g

  vit. B1  0,02 mg  0,1 mg  0,03 mg 

  vit. B2  0,01 mg  0,4 mg  0,01 mg 

  vit. C  –  8 mg  – 

  kalori  148 kcal  8 kcal  121 kcal 

diperoleh dari terutama daging, telur, susu, 

gandum dan kacang-kacangan (kedele, jogo, 

kacang tanah dan sebagainya). Sebaiknya 

diet mengandung minimal 10 En% protein. 

Anak-anak dalam tahap  pertumbuhan mem-

butuhkan lebih banyak, yaitu sampai 30 En%, 

demikian juga olahragawan intensif, wanita 

hamil dan yang menyusui. Selama menderita 

penyakit tertentu, khususnya kanker dan 

infeksi, pasien memerlukan lebih banyak 

protein, sebab  perombakan nya dalam tubuh 

meningkat. 

Orang Asia ternyata bisa hidup sehat dengan 

asupan protein yang lebih rendah daripada 

orang kulit putih (ras Kaukasus). Mungkin 

sekali asupan protein yang lebih rendah 

merupakan faktor bagi tingginya tubuh yang 

lebih rendah dibanding