Tampilkan postingan dengan label Penyakit kronis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Penyakit kronis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Penyakit kronis

  



Penyakit kronis merupakan penyakit yang 

berdurasi lama, memiliki kecenderungan dapat 

menyebabkan  kerusakan yang bersifat 

permanen dan ketidakmampuan serta tidak 

dapat disembuhkan secara sempurna. Penyakit 

kronis untuk saat ini lebih banyak disebabkan 

salah satunya oleh gaya hidup  yang berkaitan 

dengan masyarakat modern. Factor perilaku 

dan genetic meningkatkan ketahanan 

seseorang terhadap penyakit kronis 

 

Penyakit kronis memiliki beberapa tahap. tahap 

yang ditemukan pada saat di rumah yaitu  

tahap stabil , tahap pulih dan tahap penurunan.  

Pada tahap stabil ditandai dengan tanda dan 

gejala terkontrol dan aktivitas sehari hari 

tertangani. tahap pulih yaitu  keadaan pulih 

dan cara hidu yang diterima sesuai batasan 

dari penyakit. tahap penurunan yaitu   

 

 

  effektif 

perjalanan penyakit berkembang 

 

Penyakit kronis memiliki beberapa kategori , 

salah satunya yaitu  at risk illnesses. Penyakit 

ini lebih ditekankan pada resiko penyakitnya. 

Penyakit kronis yang merupakan at risk 

illnesses yaitu  hipertensi.  Hipertensi 

merupakan penyakit yang juga berhubungan 

dengan hereditas 

 

Penyakit hipertensi merupakan masalah 

kesehatan yang cukup serius. Angka kejadian 

hipertensi menurut World Health Assosiation 

di dunia memcapai 22 % dan di asia tenggara 

mencapai 36 %. berdasar  Riskesdas, pada 

tahun 2018 angka hipertensi di Indonesia 34,1 

% dari jumlah penduduk di Indonesia dan  ini 

meningkat jika dibandingkan dengan data dari 

Riskesdas tahun 2014. 

 

Penelitian oleh Tirtasari (2019) menghasilkan 

informasi bahwa pada kelompok usia 

produktif atau dewasa semakin bertambah usia 

remakin bertambah resikonya terjadi 

hipertensi. Pad usia dewasa   (35-44) mencapai 

21,35 persen dan prosentase hipertensi pada 

usia dewasa muda lebih kecil. Tingginya 

angka kejadian hipertensi memerlukan 

perhatian dalam penatalaksanaannya. 

 

Penatalaksanaan pada penyakit kronis  

memiliki prinsip teratur untuk menjaga agar 

terkontrol. Penatalaksanaan tidak lepas dari 

manajemen diri. Manajemen diri yang 

dimaksud yaitu  kemampuan individu 

bekerjasama dengankeluarga , komunitas dan 

pemberi pelayanan kesehatan untuk 

melakukan manajemen penyakit, terapi,  dan 

perubahan gaya hidup (Richard & Shea, 2011). 

Masalah keperawatan manajemen kesehatan 

tidak effektif merupakan salah satu yang dapat 

muncul pada klien dengan penyakit kronis. 

Manajenen kesehatan tidak effektif yaitu  

pola pengaturan dan pengintergrasian 

penanganan masalah kesehatan kedalam 

kebiasaan hidup sehari-hari tidak memuaskan 

untuk mencapai status kesehatan yang 

diharapkan. Masalah ini dapat disebabkan oleh 

kompleksitas program perawatan dan konflik  

pengambilan keputusan serta ketidakeffektifan 

pola perawatan kesehatan keluarga 


 

Penyelesaian masalah manajemen kesehatan 

tidak effektif dapat melalui pengelolaan 

keperawatan  memakai  metode asuhan 

keperawatan yang terdiri dari pengkajian, 

diagnose, intervensi dan implementasi serta 

evaluasi. Pada masalah manajemen kesehatan 

salah satu intervensi yang dapat diberikan 

yaitu  dukungan pengambilan keputusan. 

 

Dukungan pengambilan keputusan merupakan 

suatu perencanaan yang didalammya 

memberikan informasi dan dukungan saat 

pembuatan keputusan kesehatan. Dukungan 

pengambilan keputusan terdiri dari 1 

intervensi observasi, 8 intervensi terapeutik, 

 

Hasil wawancara dengan pihak puskesmas di 

dapatkan informasi  cukup tingginya angka 

hipertensi di wilayah A.mbarawa. penderita 

hipertensi banyak terjadi pada kelompok usia 

produktif atau dewasa. Angka kunjungan 

kontrol rutin dari penderita sangat kecil, 

mereka hanya akan memeriksakan kesehatan 

jika ada keluhan saja yang dirasa mengganggu. 

berdasar  uraian ditas peneliti ingin 

mengetahui pengaruh tindakan dukungan 

pengambilan keputusan terhadap masalah 

manajemen kesehatan tidak effektif pada 

keluarga dengan anggota keluarga dengan 

riwayat penyakit kronis dengan pendekatan 

asuhan keperawan.  

  

Subjek study kasus ini 2 keluarga yang 

memenuhi criteria. Studi kasus ini dilakukan 

pada bulan januari 2020. Kriteria lain yang 

mendasar dari subjek studi kasus yaitu  

keluarga telah menyetujui bekerjasama serta 

menyetujui  inform consent. Penelitian ini 

tetap  memperhatikan etika penelitian dengan 

menerapkan anonimty dan confidentiality. 

 

Analisa yang dipakai  yaitu  analisis 

deskriptif dari tahap persiapan, pelaksanaan 

hingga tahap akhir. Urutan dalam proses 

analisis yaitu  pengumpulan data ( 

wawancara, observasi dan dokumentasi), 

mereduksi data, penyajian data ( pengkajian, 

diagnose, intervensi, implementasi dan 

evaluasi)  hingga kesimpulan. 

 

Hasil penelitian dari penelitian studi kasus ini 

merupakan hasil selama pengelolaan 

memakai  pendekatan proses keperawatan 

yang terdiri dari pengkajian, diagnose 

keperawatan, intervensi keperawatan, 

implementasi keperawatan dan evaluasi 

 

Pada pengkajian melalui wawancara, observasi 

dan dokumentasi didapatkan data bahwa kedua 

keluarga memiliki masing masing satu anggota 

keluarga yang memiliki riwayat hipertensi. 

Keluarga 1 mengatakan bahwa suaminya 

mengalami hipertensi sejak 2 tahun yang lalu, 

hanya akan kontrol kalau merasakan pusing 

atau nyeri dan kaku di bagian tengkuk, sang 

suami tidak mau rutin control maupun berobat, 

suami mengatakan banyak program yang 


  

dianjurkan tenaga kesehatan sulit untuk 

dijalani seperti kurangi makanan yang 

berlemak, kurangi rokok, olahraga dan 

gorengan), dan keluarga tidak bisa untuk 

memaksa bapaknya ini untuk menjalan 

perawatan. Semua kebiasaan yang dilakukan 

sang suami susah di hilangkan karena 

dilakukan pada saat bekerja , yaitu saat nyopir. 

Rokok dianggap dapat mengurangi rasa kantuk 

dan gorengan serta makanan bersantan yaitu  

makanan kesekaan sedangkan olahraga tidak 

dilakukan karena tidak ada waktu. 

 

Pada pengkajian keluarga ke 2 didapatkan 

sang kepala keluarga menderita hipertensi 

sudah sejak 3 tahun yang lalu dan keluhan 

pusing dan kaku di tengkuknya semakin 

sering. Keluarga mengatakan obat yang sering 

dikonsumsi yaitu  obat pusing yang dibeli 

diwarung. Keluarga mengatakan anjuran yang 

disarankan oleh pihak puskesmas sulit 

dilakukan, dan yang sakit juga susah untuk 

diajak kontrol. Beberapa kali periksa TD 

selalu meningkat dari hasil sebelumnya. 

Kepala keluarga mengatakan jika yang sakit 

memiliki kebiasaan merokok saat nuking. 

 

Data hasil pengkajian dari kedua keluarga 

dialkukan analisa dan berdasar  gejala dan 

tanda mayor baik itu subjektif maupun 

objektif, maka masalah keperawatan atau 

diagnosa yang muncul pada kedua keluarga 

tersebut yaitu  manajemen kesehatan tidak 

effektif.  

 

Diangnosa atau masalah keperawatan 

manajemen kesehatan tidak effektif 

memerlukan intervensi atau perencanaan yang 

tepat untuk mengatasinya. Salah satu 

intervensi yan ditetapka dalam penelitaian ini 

yaitu  dukungan pengambilan keputusan. 

Intervensi ini terdiri dari tindakan observasi, 

terapeutik, edukasi dan kolaborasi. Intervensi 

yang disusun yaitu  identifikasi persepsi 

mengenai masalah, fasilitasi nilai dan harapan 

yang membantu membuat pilihan, fasilitasi 

melihat situasi secara realistik, motivasi 

ungkapan harapan akan perawatan, fasilitasi 

hubungan antar angora keluarga, fasilitasi 

pengambilan keputusan kolaboratif, berikan 

informasi yang diminta dan kolaborasi dengan 

tenaga kesehatan lain. 

 

Perencanaan keperawatan atau intervensi yang 

telah disusun disepakati oleh tim dan keluarga 

dan akan di implementasikan atau lakukan 

selama 3 hari. Implementasi dilakukan sesuai 

perencanaan dan melibatkan anggota keluarga. 

Pemberian informasi dilakukan melalui 

promosi kesehatan sesuai kebutuhan keluarga. 

Pereawat menempatkan diri sebagai rekan 

sehingga pada sesi fasilitasi keluarga berhak 

mengungkapkan apa yang dirasakan. 

Implementasi berfokus pada keluarga dank 

lien bukan berfokus pada perawat. Peneliti 

menjalin kerjasama denga bidan desa selaku 

penanggungjawab masalah kesehatan di 

wilayah klien dan menyampaikan hasil 

kelolaan dan permasalahan  klien ke 

puskesmas. 


 

   

 

Evaluasi keperawatan yang dilakukan terdiri 

dari evaluasi formatif dan evaluasi sumatif.  

Evaluasi terdiri dari subjektif, objektif, analisa 

dan planning. Evaluasi pengelolaan 

menunjukkan hasil dimana manajemen 

kesehatan keluarga meningkat dengan adanya 

cukup meningkatnya menerapkan program 

perawatan, cukup meningkatnya aktivitas 

sehari hari  untuk memenuhi kesehatan, cukup 

meningkatnya tindakan mengurangi factor 

resiko dan cukup menurun ungkapan kesulitan 

program perawatan. 

 

  

Ungkapan kesulitan dalam program 

keperawatan sering disampaikan oleh klien 

dan keluarga dengan penyakit kronis. Keluarga 

ikut mengungkapkan kesulitan program 

perawatan karena keluarga terlibat dalam 

perawatan baik secara langsung maupun tidak 

langsung. Dalam perawatan keluarga 

merupakan support system. 

 

Ungkapan yaitu  kata yang diucapkan yang 

dipakai  seseorang dalam situasi tertentu 

untuk megkiaskan suatu hal yang dirasakan 

dalam kondisi tertentu (Wikibook). Ungkapan 

kesulitan perawatan diucapkan oleh individu 

dan keluarga yang mendapatkan informasi 

tentang cara perawatan yang dirasakan banyak 

oleh seseorang dan keluarga dan sulit untuk 

diterapkan dengan berbagai alasan individu. 

Kegagalan melakukan tindakan untuk 

mengurangi resiko merupakan salah satu data 

yang harus ada sebelum menegakkan masalah 

manajemen kesehatan tidak effektif. Berbagai 

situasi dapat memperlihatkan  adanya 

kegagalan melakukan tindakan untuk 

mengurangi factor resiko. Pada individu 

hipertensi tindakan yang dapat mengurangi 

factor resiko dari hipertensi yaitu  kebiasaan 

merokok, kebiasaan konsumsi garan berlebih, 

diet rendah serat, kurang aktivitas, berat badan 

berlebih dan konsumsi alkohol  

(P2PTM,Kemenkes). 

 

Gagal melakukan tindakan untuk mengurangi 

resiko pada seseorang dengan hipertensi 

disampaikan berbagain alasan. Hasil 

wawancara yang dilakukan dari pertanyaan 

kenapa tidak mengurangi rokok, hasilnya  

yaitu  rokok mendukung pekerjaan karena 

mengurangi rasa kantuk dan membuat santai di 

sela kesibuakan. Utuk aktivitas disampaikan 

meluangkan waktu khusus untuk olahraga itu 

susah, kita kerja kan sudah aktivitas, pekerjaan 

menjadikan kita harus duduk.  

 

Kurangi garam , merupakan sesuatu yang 

susah karena kalau kurang itu ndak enak, 

kurang berasa, kurang mantap. Berbagai 

alasan disampaikan dalam melakukan cara 

mengurangi factor resiko. Pola hidup sehat 

masih susah diterapkan dalam kehidupan 

sehari- hari. 

 


Salah satu prinsip pada penatalaksanaan 

penyakit kronis yaitu  penatalaksanaan yang 

teratur. Tujuan dari penatalaksanaan yang 

teratur yaitu  agar kondisi tetap terkontrol dan 

terpantau 

Penatalaksanaan yang teratur pada pasien 

hipertensi yaitu  teratur untun melakukan 

pengecekan tekanan darah ( TD), 

mengkonsumsi obat secara rutin sesuai anjuran 

dokter dan sesuai kondisi. 

 

Aktivitas hidup sehari hari tidak efektif juga 

merupakan data yang harus ada sebagai syarat 

ditegakkannya  diagnosa manajemen 

kesehatan tidak effektif. Aktivitas hidup 

sehari-hari tidak effektif untuk memenuhi 

tujuan kesehatan yaitu  Mager ( malas gerak), 

kondisi ini terlihat dalam perilaku sehari hari, 

seperti kalau sudah menonton televise maka 

untu kebutuhan lain meminta tolong orang 

lain. Kegiatan duduk lama saat bekerja juga 

merupakan hal yang kurang bagus. 

 

Uraian yang disampaikan akan ditemukan 

pada saat pengkajian. Dan ini ditemukan pada 

2 keluarga yang menjadi kelolaan atau  2 

subjek studi penelitian. Hasil pengkajian 

berupa data , dilanjukkan dilakukan analisa 

data. Hasil analisa menunjukkan memenuhi 

syarat batasab gejala dan tanda mayor baik itu 

subjektif maupun objektif. 

Diangnosa sudah ditegakkan maka langkah 

selanjutnya yaitu  menentukan intervensi 

yang telap untuk mengatasi masalag tersebut. 

Penentuan intervensi juga harus mengacu pada 

tujuan yang diharapkan. Tujuan memiliki 

criteria yang tetap harus diperhatikan yaitu 

tujuan harus bersifat spesifik, measurable, 

acciefable, rasional dan time frame atau ada 

batasan waktunya. 

 

Intervensi keperawatan untuk mengatasi 

masalah keperawatan atau mengatasi diagnose 

keperawatan ada 2 yaitu intervensi utama dan 

intervensi pendukung. Intervensi pendukung 

dapat di aplikasikan jika dirasakan dengan 

intervensi utama , masalah belum teratasi  atau 

teratasi tapi belum sesuai tujuan (

Pada masalah  manajemen kesehatan tidak 

efektif ada 4 intervensi utama yaitu dukungan 

pengambilan keputusan, dukungan 

tanggungjawab pada diri sendiri, edukasi 

kesehatan dan perlibatan keluarga. Pada 

intervensi pendukung ada 19 intervensi 

pendukung dianataranya yaitu  bimbingan 

antisipasig, bimbingan system kesehatan, dan 

dukungan keluarga merencanakan perwatan. 

 

Intervensi secara teori cukup banyak, hal ini 

disesuaikan dengan kondisi dari masing 

masing klien atau subjek yang di kelola. 

Peneliti mencoba menentukan 1 intervensi 

utama dalam mengatasi masalah keperawatan 

yang terjadi. , dengan pertmbangan peneliti 

yaitu dalam 1 intervensi utama saja sudah 

terdiri dari berbagai sub intervensi dan sudan 

berupa tindakan observasi, tindakan mandiri 

perawat, tindakan berupa edukasi dan tindakan 

kolaboratif. 

 

Intervensi telah ditentukan maka dilanjukkan 

dengan impementasi atau melakukan tindakan 

keperawatan sesuai perencanaan. 

Implementasi keperawatan dilakukan selama  

3x24 jam sesuai perencanaan waktu. 

Implementasi keperawatan berupa tindakan 

observasi dengan melihat keseharian dari klien 

dan keluarga dalam menjalankan pola hidup 

dan perilaku. Tindakan mandii perawat berupa  

perawat sebagai fasilitator dengan kegiatan 

memvasilitasi permasalahan yang dihadapi 

oleh keluarga. Tindakan lainnya berupa  

memberikan pendidikan kesehatan  dan 

disesuaikan kebutuhan informasidari klien 

kelolaan. Tindakan keperawatan terakhir 

yaitu  kolaborasi. Peneliti atau pemberi 

asuhan keperawatan menyampaikan hasil 

pengelolaan kepada pihak puskesmas setempat 

dan penanggung jawab kesehatan di wilayah 

tempat tinggal pasien. Perawat menyampaikan 

permasalahan yang ada pada subjek penelitian 

da menyampaikan tindakan yang sudah 

dilakukan kepada subjek study penelitian atau 

keluarga kelolaan. Selain itu peneliti atau 

pengelola asuhan perawatan menyampaikan 

hasil akhir dari pengelolaan yang telah 

dilakukan. 

 

Proses terakhir dari asuhan keperawatan 

yaitu  evaluasi. Evaluasi  terdiri dari  

komponen evaluasi subjektif,  evaluasi 

objektif, analisa dan planning. Semua 

komponen evaluasi tersebut harus ada baik 

pada evaluasi formatif maupun evaluasi 

sumatif. Evaluasi formatif dilakukan oleh 

pemberi asuhan keperawatan setiap kali 

setelah melakukan implementasi keperawatan, 

sedangkan evaluasi sumatif dilakukan pada 

akhir pengelolaan. 

 

Hasil dari pengelolaan menunjukkan bahwa  

pengelolaan berhasil. Hal ini menunjukkan 

bahwa ada pengaruh positif dari dukungan 

pengambilan keputusan  terhadap masalah 

manajemen kesehatan tidak effektif. Bukti 

adanya pengaruh posifif ini yaitu  dari skor 1 

meningkat menjadi 4 dari tiap tiap tujuan atau 

criteria hasil, dati kurang menjadi cukup 

meningkat. 

 

Keterbatasan  dalam kegaitan penelitaian  ini  

yang dirasakan oleh peneliti yaitu  pada tahap 

awal kegiatan dalam membangun hubungan 

saling percaya dan perasaan terbuka serta 

saling membutuhkan antara peneliti dengan 

subjek study kasus, tetapi berkan intens 

komunikasi dan penguasaan tehnik 

komunikasi serta dukungan pihak puskesmas 

berupa perijinan maka keterbatasan ini dapat 

diatasi. 

 

  

 

Dukungan pengambilan keputusan merupakan 

intervensi yang dapat diberikan untuk 

mengatasi masalah keperawatan manajemen 

kesehatan tidak effektif. Dalam pelaksanaan 

implementasi libatkan sebisa mungkin seluruh 

angota keluarga atau orang yang menjadi 

support pendukung dari klien. Peneliti atau 

pemberi perawatan dapat menempatkan diri 

sebagai rekan. Inform consent, bukti perijinan, 

tehnik komunikasi, memahami karakter klien 

merupakan hal penting dalam pengelolaan. 

Dalam pemberian atau pengelolaan asuhan 

keperawatan, penelitian perlu mempersiapkan 

lebih banyak materi promosi kesehatan karena 

dalam tiap keluarga atau klien kelolaan 

mempunyai perbedaan tingkat pengetahuan 

dan perbedaan kebutuhan jenis informasi.   

Prevalensi penyakit kronis menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 mendapatkan 

hipertensi sebesar sebesar 34,11%, diabetes melitus sebesar 8,5%, kanker sebesar 1,8%, stroke sebesar 

10,9% dan gagal ginjal kronik sebesar 3,8%. Tujuan penelitian ini yaitu  menganalisis hubungan 

pengetahuan tentang pencegahan penyakit kronis dengan kualitas hidup. Penelitian ini merupakan 

analitik observasional dengan pendekatan studi cross sectional. Populasi penelitian ini yaitu  seluruh 

rumah tangga di Desa Marga Agung sebanyak 4.395 rumah tangga dengan jumlah sampel sebanyak 404 

orang memakai  simple random sampling. Variabel bebas dalam penelitian ini yaitu  umur, jenis 

kelamin, pendidikan, pekerjaan, status pernikahan dan lama menderita penyakit kronis. sedang  

variabel terikat dalam penelitian ini yaitu  kualitas hidup. Alat pengumpul data memakai  kuesioner 

WHOQOL-BREF yang sudah terstandar dan valid serta reliabel. Data yang telah terkumpul lalu  

dilakukan editing, coding, processing dan cleaning. Analisis data penelitian ini meliputi analisis 

univariat dan bivariat. Ada hubungan antara pengetahuan tentang pencegahan penyakit kronis dengan 

kualitas hidup petani. 

Penyakit kronis merupakan penyakit dengan durasi panjang, berkembang lambat terjadi 

akibat faktor genetik, fisiologis, lingkungan dan perilaku . Penyakit 

kronis dapat menyerang seseorang sejak usia muda . Penyakit kronis 

diantaranya yaitu  hipertensi, stroke, diabetes, asma, gagal jantung, gagal ginjal dan kanker 

. Riskesdas tahun 2018 mendapatkan prevalensi hipertensi sebesar 

sebesar 34,11%, diabetes melitus sebesar 8,5%, kanker sebesar 1,8%, stroke sebesar 10,9% 

dan gagal ginjal kronik sebesar 3,8% 

 

Penyakit kronis dapat terjadi akibat perubahan gaya hidup modern yang semakin tidak sehat 

Penyakit kronis mengganggu aktivitas hidup sehari-hari dan dapat 

berpengaruh pada kualitas hidup seseorang , Kualitas hidup yaitu  

pandangan subjektif individu pada kehidupannya dalam konteks nilai dan budaya yang 

dianut oleh individu, yang hubungannya dengan tujuan personal, harapan, standar hidup 

serta perhatian yang mempengaruhi kemampuan fisik, psikologis, tingkat kemandirian, 

hubungan sosial dan lingkungan 

 

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas hidup seseorang antara lain yaitu  

sosiodemografi, gaya hidup, nutrisi, latihan fisik, pengalaman keluarga dengan penyakit 

kronis, asuransi kesehatan, dukungan sosial, kepatuhan pengobatan penyakit kronis, 

keterpaparan informasi tentang penyakit kronis dan pendidikan kesehatan , Kualitas hidup berdampak pada kehidupan seseorang. Dampak dari kualitas 

hidup yang baik berupa keadaan sejahtera pada seseorang. sedang  dampak  kualitas 

hidup yang buruk yaitu  frustasi, kecemasan, ketakutan, kesal, dan khawatir yang panjang 

sehingga membuat seseorang untuk menyerah atau hilangnya antusiasme untuk masa depan 

 Penilaian kualitas hidup dapat memakai  kuesioner 

WHOQOL-BREF yang berisikan 26 pertanyaan dan dikelompokkan menjadi empat domain 

yaitu kesehatan fisik, psikologis, dukungan sosial, dan lingkungan keluarga , Hasil ini dapat digunakan untuk membantu menilai aspek yang terganggu akibat 

penyakit kronis dan membantu untuk menentukan rencana pengobatan yang tepat 

 

Studi pendahuluan yang dilakukan di Desa Marga Agung, didapatkan masih tingginya angka 

kejadian penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, asma dan gaangguan ginjal. 

Wawancara pada 10 orang yang mengalami hipertensi dan diabetes, didapatkan data bahwa 

8 orang menyatakan kualitas hidup yang buruk. Mereka mengatakan bahwa tidak puas 

dengan kesehatan dan merasa kurang dukungan dari keluarga. sedang  2 orang 

menyatakan cukup puas dengan kesehatan dan mempunyai kualitas hidup yang masih baik. 

Hal ini tentunya akan berdampak pada kehidupan di masa yang akan datang, sehingga perlu 

dilakukan penelitian tentang kualitas hidup terkait kesehatan pada masyarakat agrikultur 

yang mengalami penyakit kronis. Tujuan penelitian ini yaitu  menganalisis hubungan 

pengetahuan dengan kualitas hidup.  

 

 

Analisis data menyajikan analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat menyajikan 

persentase dari masing-masing variabel. Analisis bivariat menyajikan hubungan antara 

variabel independen (pengetahuan) dan dependen (kualitas hidup).  

Analisis univariat menyajikan persentase dari variabel pengetahuan dan kualitas hidup yang 

disajikan dalam tabel 1. 

 

Tabel 1.  

Distribusi Frekuensi Pengetahuan dan Kualitas Hidup  

Variabel  Kategori   F % 

Umur  20-35 tahun  118 48,0 

 >35 tahun  128 52,0 

Jenis Kelamin  Laki-laki  172 69,9 

 Perempuan  74 30,1 

Pengetahuan  Baik  128 52,0 

 Kurang Baik  118 48,0 

Kualitas hidup Sangat baik 17 6,9 

 Baik 172 69,9 

 Biasa 55 22,4 

 Buruk 2 0,8 

Total  246 100,0 

 

Analisis mendapatkan bahwa umur paling banyak yaitu  >35 tahun sebanyak 128 orang 

(52,0%), laki-laki sebanyak 172 orang (69,9%), pengetahuan paling banyak yaitu  baik 

sebanyak 128 orang (52,0%) dan sebagian besar kualitas hidup  dalam kategori baik sebanyak 

172 orang (69,9%).  

 

Analisis Bivariat 

Analisis bivariat menyajikan hubungan antara variabel pengetahuan dengan kualitas hidup  

yang disajikan dalam tabel 2. 

 

Tabel 2. 

 Hubungan Antara Pengetahuan dengan Kualitas Hidup 

Pengetahuan  Kualitas Hidup Total  p 

Sangat Baik  Baik  Biasa  Buruk  

Baik  3 88 35 2 128 0,005 

2,3% 68,8% 27,3% 1,6% 100,0%  

Kurang Baik 14 84 20 0 118  

11,9% 71,2% 16,9% 0,0% 100,0%  

 

Analisis lanjut mendapatkan p=0,005 yang berarti bahwa ada hubungan antara pengetahuan 

dengan kualitas hidup.  

 

 

Analisis mendapatkan bahwa umur paling banyak yaitu  >35 tahun sebanyak 128 orang 

(52,0%), laki-laki sebanyak 172 orang (69,9%), pengetahuan paling banyak yaitu  baik 

sebanyak 128 orang (52,0%) dan sebagian besar kualitas hidup  dalam kategori baik sebanyak 

172 orang (69,9%). Pengetahuan  merupakan  domain  yang  sangat penting  untuk 

terbentuknya  suatu tindakan pada seseorang. Perilaku  yang  didasari  oleh pengetahuan akan 

lebih baik daripada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Perilaku terjadi yang 

sebelumnya terjadi proses yang berurutan, diantaranya kesadaran,  ketertarikan   terhadap 

ransangan, menimbang-nimbang pada baik dan tidaknya stimulus ini , lalu  mulai  

mencoba  melakukan  sesuatu  sesuai  dengan  apa yang dikehendaki   oleh   stimulus,   subjek   

telah   berperilaku   baru   sesuai   dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap 

stimulus 

 

Penilaian terhadap kualitas hidup pada penderita penyakit kronis sangat penting untuk 

dilakukan, karena kualitas hidup yaitu  mencerminkan status kesehatan dan kesejahteraan 

seseorang. Kualitas hidup selalu dihubungkan dengan kondisi kesehatan, baik secara fisik 

maupun psikologis. Semakin sehat kondisi seseorang, maka kualitas hidupnya semakin baik, 

sebaliknya, semakin tidak sehat kondisi seseorang, maka kualitas hidupnya semakin buruk 


Analisis lanjut mendapatkan p=0,005 yang berarti bahwa ada hubungan antara pengetahuan 

dengan kualitas hidup. Pengetahuan dapat terbentuk oleh tingkat pendidikan, informasi, dan 

pengalaman. Kualitas hidup dapat dipengaruhi oleh faktor medis diantaranya lamanya 

menderita penyakit, kondisi penyakit yang dialami saat ini, control tekanan darah dan kadar 

gula darah, serta adanya komplikasi penyakit. Selain itu, kualitas hidup dapat juga 

dipengaruhi oleh kecemasan, stress, depresi dan adanya dukungan keluarga. Kemungkinan 

lain yang dapat menyebabkan kualitas hidup yang masih buruk antara lain yaitu  faktor 

penyakit, seperti tingginya angka kejadian penyakit degeneratif, dimana semakin tinggi 

angka kesakitan maka menurunkan kualitas hidup. Seseorang yang mengalami penyakit 

kronis, harus ditangani dengan baik sehingga akan menurunkan morbiditas yang berdampak 

baik pada kualitas hidup seseorang yang akhirnya pada penurunan angka kesakitan dan 

kematian. 

 mendapatkan bahwa pengetahuan seseorang 

berhubungan dengan kualitas hidup.juga hampir sama 

yang mendapatkan bahwa pengetahuan rendah mempunyai risiko 4,4 kali lebih banyak untuk 

mempunyai kualitas hidup yang buruk. makin tinggi 

pengetahuan seseorang, maka semakin tinggi kualitas hidupnya. Penemuan itu didukung 

penelitian  yang menyatakan kualitas hidup seseorang akan baik, jika 

didukung pengetahuan yang baik pula. 

 , bahwa pengetahuan merupakan ranah yang sangat penting 

untuk terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan erat kaitannya dengan pendidikan 

seseorang, dimana seseorang dengan pendidikan tinggi, diharapkan akan semakin luas 

pengetahuannya. Peningkatan kualitas hidup harus diimbangi dengan pengetahuan yang baik 

mengenai penyakit dan cara perawatannya. Sehingga seseorang yang memiliki pengetahuan 

yang tinggi memiliki kualitas hidup yang baik tetapi seseorang yang berpengetahuan rendah 

berisiko untuk memiliki kualitas hidup yang buruk.   

Penelitian ini mendapatkan bahwa pengetahuan dan kualitas hidup paling banyak yaitu  

dalam kategori baik. Analisis lanjut mendapatkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan 

dengan kualitas hidup.  

 


negara kita  menjadi salah satu negara berkembang dengan banyaknya penyakit yang 

mengancam kesehatan. berdasar  data Kemenkes Tahun 2017, negara kita  mengalami transisi 

epidemiologi pada perubahan beban penyakit dari Tahun 1990 ke Tahun 2017. Beban penyakit 

yang dulu disebabkan oleh berbagai penyakit menular menjadi penyakit tidak menular. Penyakit 

tidak menular (non-communicable diseases) penyakit kronis merupakan penyakit yang tidak dapat 

ditularkan antara manusia namun menyerang kesehatan individu secara terus menerus dalam 

waktu yang lebih lama dan berdampak pada kondisi kesehatan pada masa yang akan datang . Penyakit kronis menjadi penyebab kematian dini, dimana prevalensinya cenderung 

meningkat seiring dengan bertambahnya usia . berdasar  data 

Kemenkes Tahun 2017, diperkirakan sedikitnya ada 1,4 juta orang meninggal setiap tahunnya 

akibat penyakit kronis. Selain itu berdasar  data WHO Tahun 2018, penyakit kronis 

menyebabkan kematian sekitar 41 juta orang sehingga menyumbang kematian hampir 71 persen 

dari total kematian di dunia. Kematian akibat penyakit kronis paling sedikitnya 80 persen berasal 

dari negara berkembang (Wang, et.al, 2015). 

Salah satu penyakit kronis yang dihadapi oleh sebagian besar masyarakat negara kita  yaitu  

penyakit hipertensi. Hipertensi menjadi salah satu penyakit kronis utama penyebab morbiditas dan 

mortalitas yang paling mematikan di dunia. Hal ini dikarenakan hipertensi menjadi peluang 

pembuka dalam memicu terjadinya faktor risiko penyakit lain seperti jantung, gagal ginjal, 

diabetes maupun stroke  Institute for Health Metrics and Evaluation 

(IHME) juga merilis data pada Tahun 2017 dimana dari 1,7 juta kematian di negara kita  disumbang 

dari kasus hipertensi yaitu sebesar 23,7%, hiperglikemia sebesar 18,4%, merokok sebesar 12,7% 

dan obesitas sebesar 7,7%.  

Penyakit hipertensi juga membawa masalah seperti beban ekonomi, ketergantungan hidup 

dan kemiskinan bagi rumah tangga. Chen dan Lin (2017) menjelaskan bahwa penyakit kronis 

menyebabkan beban keuangan yang berat pada pengeluaran medis nasional. Di Taiwan 7 dari 10 

item pengeluaran obat teratas yang ditanggung oleh asuransi kesehatan nasional, salah satunya 

untuk penyakit hipertensi. Hal yang senada di negara kita , berdasar  data dari Badan 

Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan menyebutkan bahwa biaya penanganan untuk 

pengobatan hipertensi mengalami kenaikan setiap tahunnya, pada Tahun 2016 sebesar 2,8 Triliun 

rupiah dan meningkat sebesar 3 Triliun rupiah pada Tahun 2018. Pada sisi ketergantungan hidup, 

data IFLS Tahun 2014 menunjukkan sebanyak 32,06 persen penderita hipertensi sangat terganggu 

dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan mempunyai rata rata pengeluaran biaya kesehatan 

sebesar 125.215 Rupiah lebih tinggi daripada bukan penderita yang sebesar 90.039 Rupiah. 

juga menjelaskan bahwa pengeluaran untuk biaya rumah sakit di 

Cina akibat hipertensi mencapai sebesar 60,3 persen dari total pengeluaran kesehatan langsung. 

Selain itu adanya pengeluaran intangible cost atau biaya kerugian akibat financial loss sebesar 

45,7 persen dari total cost akibat penyakit hipertensi. Penyakit hipertensi juga berdampak terhadap 

kemiskinan bagi rumah tangga, penelitian dari  menjelaskan bahwa 

kasus hipertensi di Amerika Latin memberikan beban yang signifikan bagi sistem kesehatan 

dimana pengeluaran biaya kesehatan akibat penyakit akan berdampak terhadap financial loss 

rumah tangga dan hilangnya human capital akibat ketidak mampuan untuk berobat. Dalam 

prosesnya penyakit kronis akan signifikan dalam menurunkan kualitas hidup individu dan secara 

tidak proporsional akan memengaruhi populasi miskin dan rentan di negara berkembang. 

Studi terdahulu yang membahas penyakit kronis yaitu meneliti 

tentang seluruh penyakit kronis terhadap penurunan aktivitas produksi, dimana hasilnya yaitu  

penyakit kronis akan berdampak negatif terhadap partisipasi kerja pada usia angkatan kerja Hal ini 

diakibatkan probabilitas produktivitas bekerja akan menurun sebesar 33,4 persen jika memiliki 

penyakit kronis dibandingkan dengan kelompok yang sehat. 

bahwa konsekuensi ekonomi dari suatu penyakit kronis akan berdampak pada sisi makro dan 

mikro. Pada sisi makro yaitu  kesehatan penduduk yang buruk berdampak terhadap penurunan 

pertumbuhan ekonomi bagi negaranya. Sedangkan pada sisi mikro yaitu terjadinya penurunan 

pendapatan rumah tangga dan menyebabkan kemungkinan crowding-out dari konsumsi rumah 

tangga sehingga berdampak terhadap penurunan quality of life dari rumah tangga, penurunan 

supply dan produktivitas tenaga kerja dan penurunan tenaga kerja. Sehingga akan berdampak 

terhadap kerentanan rumah tangga. 

Penelitian yang membahas tentang hubungan kesehatan terhadap kerentanan rumah tangga 

cenderung fokus kepada health condition. Penelitian meneliti tentang variabel health shock terhadap kerentanan rumah 

tangga. Variabel yang digunakan yaitu  jumlah hari rawat inap maupun proporsi jumlah art yang 

sakit dan dirawat di rumah sakit dibandingkan total jumlah anggota rumah tangganya. Hasilnya 

yaitu  health shock akan berpengaruh negatif terhadap pengeluaran rumah tangga.  

Berbeda dengan penelitian sebelumnya, kontribusi penelitian ini yaitu, pertama fokus 

dalam penelitian ini yaitu  melihat dampak kesehatan terhadap kerentanan melalui penyakit 

kronis dan secara umum tanpa merinci jenis dan karakteristik penyakitnya. Kedua, penelitian ini 

menggunakan penyakit kronis yang lebih spesifik lagi yaitu hipertensi, dimana hipertensi 

merupakan penyebab mortalitas dan morbiditas yang paling mematikan di seluruh dunia. Ketiga 

penelitian ini juga bertujuan untuk melihat pengaruh hipertensi sebagai penyebab transisi 

perpindahan kemiskinan pada rumah tangga yang sama antar kedua tahun yaitu Tahun 2007 dan 

Tahun 2014. 

 

Tabel 2 menyajikan statistik deskriptif karakteristik rumah tangga. Pada periode 2007 dan 

2014, terjadi peningkatan pengeluaran konsumsi perkapita. Secara rata-rata pengeluaran konsumsi 

perkapita pada Tahun 2007 yaitu  506.143 Rupiah dan Tahun 2014 sebesar 614.644,8 Rupiah. 

Sehingga terjadi peningkatan sebesar 21,43 persen pada Tahun 2014 jika dibandingkan Tahun 

2007. Pada Variabel dummy hipertensi secara rata-rata terjadi peningkatan sebesar 33,33 persen 

pada Tahun 2014.  

 

Pengelompokkan Status Kemiskinan Rumah Tangga 

 Setelah diperoleh nilai estimasi parameter dari pengeluaran konsumsi perkapita rumah 

tangga, selanjutnya dilakukan penghitungan nilai peluang setiap rumah tangga untuk jatuh miskin 

pada masa mendatang. Pada Tabel 4 dan Tabel 5 menunjukkan peningkatan rumah tangga sangat 

miskin, miskin, rentan miskin pada Tahun 2007 sebesar 14,22 persen menjadi 42,55 persen pada 

Tahun 2014. Hal ini berarti adanya penurunan persentase rumah tangga yang tidak miskin pada 

Tahun 2014.  

 

Tabel 4 Kerentanan Rumah Tangga Akibat Hipertensi Pada Tahun 2007  

 

  

 

Tabel 5 Kerentanan Rumah Tangga Akibat Hipertensi Pada Tahun 2014  

 

 

 

 Robustness Dengan Data Panel 

Pada penelitian juga turut melakukan uji robustness dengan model data panel. Robustness 

yang digunakan yaitu  dengan menggunakan metode panel random effect. Hasil estimasi dengan 

RE yang disajikan pada Tabel 6, secara umum tanda koefisien tidak jauh berbeda dengan estimasi 

menggunakan FGLS. Variabel hipertensi juga berdampak negatif terhadap pengeluaran konsumsi 

perkapita (ex-ante mean consumption). Jika didalam rumah tangga ada satu art yang terkena 

penyakit hipertensi maka akan membawa beban terhadap rumah tangga dan berpengaruh terhadap 

konsumsi rumah tangga. Hasil estimasi variabel hipertensi pada Tabel 16 kolom 1 sebesar negatif 

0,228 (β1) menunjukkan ruta yang memiliki art yang terkena hipertensi akan memiliki selisih nilai 

konsumsi perkapita yang lebih rendah sebesar 0,228 poin dibandingkan rumah tangga yang tidak 

terkena hipertensi atau median pengeluaran konsumsi perkapita penderita hipertensi lebih rendah 

sebesar 20,38 persen dibandingkan bukan penderita hipertensi Hasil estimasi tidak berbeda jauh 

dengan hasil pada kolom 2 ketika turut memasukkan variabel kontrol yaitu sebesar negatif 0,213 

(β1) yang menunjukkan perbedaan konsumsi perkapita antara rumah tangga yang memiliki art 

yang terkena hipertensi yaitu 0,213 poin lebih rendah dibanding rumah tangga yang tidak 

memiliki art yang terkena hipertensi atau median pengeluaran konsumsi perkapita penderita 

hipertensi lebih rendah sebesar 19,18 persen dibandingkan bukan penderita hipertensi Sedangkan 

pada kolom 3 dan 4 memuat variability atau fluktuasi dari expected variance consumption. 

Sehingga dengan menggunakan metode panel hipertensi secara signifikan menyebabkan 

kerentanan rumah tangga pada masa yang akan datang. Tanda koefisien dari variabel interest 

tanpa maupun dengan memasukkan variabel kontrol sudah sesuai dengan hipotesis. 

 

Hasil estimasi menunjukkan rumah tangga yang terkena hipertensi akan cenderung 

memiliki konsumsi yang lebih rendah dibandingkan rumah tangga yang tidak terkena hipertensi. 

Pada hasil estimasi Tahun 2014 memiliki nilai koefisien yang lebih rendah dibandingkan Tahun 

2007 yang berarti memiliki tingkat kerentanan lebih rendah daripada Tahun 2007. Secara umum 

hasil pada kedua tahun menunjukkan bahwa rumah tangga yang terkena hipertensi akan memiliki 

probabilita pengeluaran perkapita yang lebih rendah dan juga median yang lebih rendah 

dibandingkan ruta tanpa hipertensi. Sehingga akan beresiko menjadikan rumah tangga lebih rentan 

dan berpeluang jatuh kedalam jurang kemiskinan yang lebih besar. Hasil ini sesuai dengan Falkner 

(2010) yang menjelaskan bahwa resiko kematian dini akibat penyakit hipertensi turut memberikan 

beban substansial pada sistem perawatan kesehatan, keluarga, pengasuh, dan masyarakat secara 

keseluruhan dan menjadi beban baik mental dan ekonomi yang berat pada keluarga terlebih jika 

penderita yaitu  seorang kepala keluarga. Senada dengan Atake (2018) penelitian yang 

menjelaskan bahwa gangguan kesehatan akan meningkatkan kerentanan rumah tangga akibat 

ketidakmampuan dalam mempertahankan konsumsi dasar akibat adanya pengeluaran kesehatan. 

Selain itu koefisien variability konsumsi menunjukkan tanda positif pada kedua tahun. Hasil ini 

sesuai dengan penelitian Ouadika (2020) yang menjelaskan kerentanan rumah tangga juga 

dipengaruhi oleh variasi pengeluaran konsumsi yang tidak stabil dan cenderung meningkat. 

berdasar  hasil pengelompokkan kemiskinan rumah tangga, penyakit hipertensi 

signifikan memengaruhi peluang terjadinya kerentanan rumah tangga. Kelompok rumah tangga 

sangat miskin, miskin dan rentan miskin mengalami peningkatan dari 1624 ruta Tahun 2007 

menjadi 4859 ruta Tahun 2014, sehingga terjadi peningkatan sebesar 199,2 persen.  

Saran pada penelitian selanjutnya yaitu  dengan menggunakan metode pengukuran 

kerentanan yang lain yaitu Vulnerability of Expected Utility (VEU). Pada metode VEU juga 

melihat resiko yang dihadapi terutama rumah tangga miskin (Ligon dan Schecter, 2003). Sehingga 

ketika rumah tangga terkena shock dan berdampak terjadinya penurunan pendapatan juga dapat 

dielaborasi dengan faktor resiko yang dihadapi oleh rumah tangga tersebut. Selain itu strategi 

penanggulangan hipertensi perlu ditingkatkan seperti sosialisasi bahwa penyakit hipertensi bersifat 

heterogeneouse group of disease yang dapat mengancam kesehatan siapapun dan pada kelompok 

sosial ekonomi manapun. Selain itu pencegahan terhadap penyakit ini perlu dilakukan karena 

hipertensi signifikan berdampak terhadap peningkatan kerentanan kemiskinan. Salah satu upaya 

untuk mengurangi dampak hipertensi yaitu  dengan peningkatan kepemilikan asuransi oleh rumah 

tangga karena asuransi terbukti memiliki efek ekonomi yang dapat membantu rumah tangga dalam 

upaya mengurangi kerentanan rumah tangga akibat pendapatan yang tidak stabil.