Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 44. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 44. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 44

 





ibodi oleh sel-sel plasma.

lalui pengaturan aktivitas sel-sel lain dari 

sistem imun. Sel-sel sitotoksik dan Natural 

Killercells (NK-cells) yaitu  sel pelaksana 

(effector) yang dapat langsung memus nahkan 

semua zat asing, termasuk organ transplan-

tasi.

– T-helpercells (T4, CD4+) yang “menge-

nali” zat asing (antigen) atas dasar HLA, 

mendorong limfo-B untuk memproduksi 

antibodi, mengak tivasi sel-sel sitotoksik, 

juga menstimulasi makrofag untuk mem- 

bentuk sitokinnya. Jumlahnya dalam da- 

rah perifer yaitu  ±50% dari seluruh 

jumlah limfosit, ±1000/mm3. Berkurang-

nya sel ini memicu  penyusu tan 

daya tangkis dengan drastis, seperti pada 

AIDS.

Sel-T4 memiliki pada membrannya su-

atu reseptor unik untuk mengikat antigen. 

Untuk dapat mengenalinya, antigen terse- 

but harus disajikan (presentasi) oleh 

14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd   781 21/04/2015   20:45:19

Seksi IX: Lain-lain782

suatu APC (Anti gen Presenting Cells) ber-

sama molekul MHC/HLA (Major Histo- 

compatibility Complex/Human Leuko-

cyte Antigen-complex), lihat di bawah. 

T-helper cells bisa memproliferasi men-

jadi T-memory cells, yang pada kontak 

kedua kali dengan antigen yang sama 

memungkinkan respons imun yang lebih 

pesat, sama halnya dengan B-memory 

cells, lihat di bawah.

– T-supressorcells (T8, CD8+) yang bila 

perlu menekan T4 dan reaksi tangkis. 

Juga mendorong pembentukan sejum- 

lah limfokin terten tu yang mencetuskan 

sintesis CRH (Corticotrop hin Releasing 

Hormo ne), ACTH dan hidrokortison, yang 

menghambat menjadi masaknya (matu-

rasi) limfo-T di thymus. Jumlahnya da-

lam darah perifer yaitu  ±30% dari jum- 

lah limfosit perifer. Sel-T8 ini berfung- 

si membatasi res pons imun agar jangan 

berlangsung berlebihan, dengan meng-

hambat T4-cells.

– Cytotoxic T-cells(= toksik bagi sel) di ba-

wah pengaruh limfokin memproduksi 

granul sitotoksik. Bila zat toksik ini 

« disemprotkan » ke dalam antigen (virus), 

zat asing itu langsung dimusnah kan 

Gambar 49-2: Imunitas Seluler dan Humoral.

14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd   782 21/04/2015   20:45:19

Bab 49: Dasar-dasar Imunologi 783

tanpa perantara antibodies. Hanya virus 

yang dipresentasikan sebagai kompleks 

dengan MHC diserang demikian, lihat di 

bawah.

– Natural Killer Cells (NKc) dapat me-

nanggulangi sel tumor dan sel yang ter-

infeksi virus. 

NKc termasuk kelompok limfo sit gra-

nuler besar yang dapat melarut kan zat 

asing tanpa antibodies atau pengenalan 

antigen. Oleh sebab  itu cara kerjanya 

langsung tanpa diaktivasi terlebih dahu-

lu oleh antigen, seperti halnya dengan 

sitotoksik T-cells. Dianggap sebagai sel 

pelaksana (effector cell) penting pada per-

tahanan imun terhadap tumor. Jum lah-

nya 8-20% dari semua limfo sit. 

* LAK-cells (Lymphokin Activated Killercells) 

yaitu  NK-cells yang diaktivasi in vitro. 

NKc dari darah pasien dibiakkan dengan 

interleukin-2 selama beberapa hari. LAK-

cells yang terbentuk menjadi sangat sitotoksik 

dan dikembalikan ke sirkul asi. Terutama 

diguna kan pada kanker ginjal dan melanoma 

dengan efektivitas ±30%.

1b. Limfosit-B(B-cells, Bursa dependent cells, 

limfo-B)

Sel-sel ini menjadi masak di tempat lain dari 

thymus. Pada anak ayam telah diketemukan 

bahwa B-cells dibentuk di suatu kelenjar 

khusus: bursa dari Fabricius (bursa = ruang 

berbentuk kantong). namun  organ limfoid 

ini belum pernah ditemukan pada manusia. 

Jumlahnya ±25% dari jumlah total limfosit. 

Pada membran B-cells ada  reseptor khas 

untuk mengikat antigen, seperti pada T-cells, 

yaitu molekul antibodi. Segera sesudah  suatu 

antigen masuk ke dalam aliran darah, B-cell 

dapat mengenali dan berafiliasi dengannya. 

Sebagai akibat terjadi lah pembelahan sel 

dengan cepat, disusul maturasi menjadi sel 

plasma atau memory cell-B di bawah pengaruh 

makrofag. 

Sel-sel plasma berbeda dengan B-cells, ti-

dak memiliki antibodi yang terikat pada 

membran, namun  dengan bantuan T-helper-

cells dapat memproduksi banyak antibo dies. 

Tergantung dari jenis antigennya, dapat di-

sintesis dan disalurkan 5 tipe antibodi atau 

imunoglobu lin, yakni tipe A, D, E, G dan M, 

yang disingkat menjadi IgA, IgD, IgE, IgG 

dan IgM.

Setiap antibodi memiliki sifat spesifiknya. 

Misalnya IgA khusus ada  di cairan 

tubuh, seperti liur, air mata dan getah usus. 

IgD diduga berperan pada pengenalan 

antigen oleh limfo-T. IgE atau reagin hanya 

terbentuk pada suatu reaksi alergi yang 

disebut reaksi atopik (lihat juga Bab 51, 

Antihis taminika). IgG (dan IgM) terutama 

dibentuk sesudah  infeksi dengan kuman atau 

virus.

Memory cells yaitu  sel pengingat imuno-

logik, yang termasuk dalam sel-plasma dan 

juga dapat memben tuk antibodies. namun  

berbeda dengan sel plasma biasa, jangka 

hidupnya jauh lebih panjang. Sel-sel ini dapat 

bersirkul asi dalam tubuh selama bertahun-

tahun dan pada kontak berikutnya dengan 

Gambar 49-3: Perkembangan stemcell menjadi T- dan B-cell

14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd   783 21/04/2015   20:45:20

Seksi IX: Lain-lain784

antigen yang identik mampu “mengingat” 

bahwa antigen itu  sudah pernah me-

masuki tubuh. Pada invasi pertama sesudah 

kontak antara makrofag-antigen dan B-cell, 

reaksi rantai yang akhirnya memben tuk 

antibodies, baru berlangsung sesudah  bebera pa 

jam sampai beberapa hari. Pada kontak kedua 

dengan antigen yang sama, sistem tangkis-

berkat sel-sel memori- dapat bereaksi lebih 

cepat dengan segera memproduksi antibo-

dies khas dalam jumlah lebih banyak daripada 

pertama kali. Efeknya yaitu  “penyerbu” 

dimusnah kan jauh lebih cepat. 

Pada vaksinasi penya kit anak tertentu 

(morbilli, rubeo la, dan lain-lain), sel memori 

“bermukim” seumur hidup dalam tubuh de- 

ngan efek melindun gi seumur hidup. Da-

lam kasus lain, perlindun gan hanya singkat, 

maka sesudah  beberapa tahun vaksina si perlu 

diulang (booster) untuk membangun ingatan 

imunologik yang cukup kuat. Sebagai contoh 

dapat disebutkan vaksinasi batuk rejan (per-

tussis), tetanus dan polio. Lihat juga Bab 50.

A2. Granu losit

Granulosit yaitu  lekosit dengan butir (gra-

nula) di permukaannya, yang memili ki be-

berapa inti (polynucleair). Dikenal 3 kelom-

pok granulosit, yakni: sel neutrofil,sel basofil 

dan sel eosinofil, yang juga disebut mikro fag 

(Lat. sel kecil yang melahap) sebagai kontras 

dengan makrofag yang lebih besar (lihat di 

bawah).

2a. Sel neu trofil yaitu  sel kecil dengan 

inti dan butir-butir kecil yang di dalamnya 

ada  dua enzim lysozyme dan colla-

genase serta lactofer rin, suatu protein anti-

bakterial. Jangka waktu pemasakannya da- 

lam sumsum tulang yaitu  10 hari, namun  

dalam darah hanya beredar selama 6-8 jam. 

Fungsi utama nya yaitu  mencari/mende-

teksi dan memusnahkan kuman, fungi dan sel-

sel cacat/mati, yang dilarutkan olehnya melalui 

fagositosis. Neutrofil ditarik ke lokasi infeksi 

atau peradangan melalui proses kemotaksis. 

Pada proses fagositosis, neutro filnya sendiri 

mati dengan melepas kan zat-zat limfokin, 

yang mengaktiva si makrofag. 

* Laktoferin (dalam granula) yang dibentuk 

oleh neutrofil, yaitu  suatu glikop rotein 

yang bekerja bakte ri sid melalui pengikatan 

besi yang diper lukan kuman untuk pertum-

buhannya. Lakto ferin ada  dalam air 

mata, li ur, lendir bronchi, air susu ibu dan 

empedu dengan fungsi mencegah infeksi 

kuman.

* Agranulositosis yaitu  gangguan pada 

mana jumlah granulosit, khususnya neutrofil, 

menurun sampai praktis nihil. Pada neutro-

peni jumlah neutrofil yaitu  kurang dari 1,5 

milyar/liter. Kedua gangguan berdasar  

supresi sumsum tulang, yang dapat disebab-

kan antara lain oleh infeksi kuman atau virus, 

secara auto-imun atau bawaan (congenital), 

misalnya pada orang kulit hitam. Begitu 

pula obat-obat tertentu dapat meng akibatkan 

efek berbahaya ini, antara lain sulfonamida, 

sitosta tika, obat anti nyeri metamizol, psiko-

farma ka klozapin dan mianserin. Bila geja-

lanya seperti sakit tenggorok, demam dan 

stomatitis timbul, pemakaian  obat harus 

segera dihenti kan.

2b. Sel eosinofil yaitu  sedikit lebih besar 

dibandingkan sel neutrofil dan mengandung 

butir-butir besar dengan enzim dan asam 

amino arginin. Sel-sel ini berperan pada 

respons alergi atopik (reaksi IgE-antigen) dan 

pada pemusnahan parasit (cacing, protozo a). Ter-

utama ada  di jaringan yang berdeka tan 

dengan proses peradangan dan hanya sedikit 

dalam darah. 

* Eosinofilia yaitu  gangguan, pada mana 

jumlah sel eosinofil melebihi 0,4 milyar/liter. 

Peningkatan ini dapat disebabkan antara lain 

oleh infeksi cacing, alergi (hay fever) dan 

gangguan kulit (eksem, urticaria). Bisa juga 

oleh penyakit paru (asma, COPD) atau kan-

ker (leukemia, Hodgkin).

2c. Sel basofil memiliki inti yang sama de-

ngan eosinofil, namun  granulanya berwarna 

hitam. Sel ini ada  dalam darah dan 

sebagai mast cells (masto cyt) di banyak ja-

ringan. Dalam butirnya ada  histamin, 

serotonin, heparin dan enzim-enzim yang 

14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd   784 21/04/2015   20:45:20

Bab 49: Dasar-dasar Imunologi 785

dilepaskan bila IgE (reagi n) bereaksi dengan 

antigen khas. Sel basofil berperan pada reaksi 

peradangan.

A3. Sel-sel fagositer mononuklear

Fagosit mononuklear yaitu  sel berinti tung-

gal yang berkhasi at fagositer, yaitu dapat 

“memakan” zat-zat asing. Pada dasarnya sel 

itu  yaitu  promonosit yang dapat tum-

buh menjadi monosit dan makro fag, mungkin 

juga menjadi dendrosit dan sel Langerhans. 

Semua sel ini berkhasiat “menyajikan” anti-

gen pada limfosit, lihat di bawah C2, Antigen 

Presenting Cells.

3a. Monosit merupakan precursor dari ma-

krofag jaringan. Monosit hanya “bermukim” 

di dalam darah selama beberapa jam dan 

selanjutnya berkembang biak dan hidup 

bertahun-tahun di jaringan. Sedikit lebih be-

sar dari neutrofil, namun  sitoplasmanya berisi 

lebih sedikit granula; diameternya 10-15 mu.

3b. Makrofag (Lat. sel-sel besar yang mela-

hap) memiliki diameter 15-20 mu. Berbeda 

dengan neutrofil (mikrofag) yang lebih kecil, 

hidupnya lebih lama sebab  tidak mati se-

telah fagositosis. Kerjanya tidak spesifik dan 

tanpa “memori”. ada  di organ-organ 

limfoid, alveo li, hati dan pada proses pera-

dan gan, juga di jaringan sebagai makro fag 

dalam keadaan inaktif. Makrofag mensintesis 

sejumlah sitokin, antara lain TNF-alfa dan 

IL-8.

3c. Dendrosit atau sel dendrit (Yun. dendron 

= pohon) yaitu  sel dengan beberapa tenta-

kel panjang (dendrit). Tidak berkhasiat fagosi-

ter, walaupun diduga juga berasal dari 

promonosit. Banyak ada  di kelen jar 

limfa, dikelilingi oleh limfo-B, di mana sel-sel 

itu  menyajikan anti gen. Biasanya terikat 

sebagai kompleks dengan antibodi pada per-

mukaan dendritnya. Khasiat mengenali dan 

presentasi anti gennya jauh lebih kuat daripada 

sel-sel APC (Anti gen Presenting Cells ) lainnya, 

lihat di bawah C. 

3d. Sel Langerhans (jangan dikelirukan de-

ngan pulau Langerhansdalam pankreas yang 

memproduksi insulin). Sel dendrit ini ter-

dapat di epidermis kulit dan juga berasal 

dari promonosit. Bercirikan adanya banyak 

molekul MHC kelas II yang terikat pada 

membrannya dan juga berperan penting 

pada presentasi antigen pada sistem T-cell.

B. SItOKIN

Sitokin yaitu  protein kecil yang dibentuk 

oleh sel tubuh dengan fungsi utamanya 

berkomunikasi antar berbagai bagian dari 

sistem imun. Terutama dibentuk oleh monosit 

dan makrofag, namun  limfosit, granulosit, 

hepatosit, keratinosit, fibroblast dan sel-sel 

epitel dapat membentuknya juga. Bila sitokin 

sudah menca pai sel tujuannya, timbul-

lah efek biologis terten tu, seperti aktivasi, 

pembiakan atau pemindahan ke tempat lain 

dari tubuh. Contoh lainnya yaitu  interfe-

ron dengan aktivitas anti viral, anti tu mor dan 

stimul asi sistem imun. Sitokin khusus yaitu  

limfokin dan mono kin, yang diben tuk oleh 

masing-masing limfo sit dan monosit. Sel-

sel ini berper an penting pada aktivasi dan 

pemasakan (maturasi) dari B-cells menjadi 

sel plasma dan sel memori. Begitu pula pada 

aktivasi sitotoksik T-cells. 

* Sitokin pro-radang dan anti-radang. Fung-

si normal yaitu  koordinasi dari proses-

proses pada reaksi peradangan lokal. Dapat 

dibedakan sitokin yang menstimulasi dan 

yang menghambat pera dangan.

– Sitokin pro-radang: TNF-alfa, interleu-

kin-1 (IL-1), IL-6, IL-12, dan interferon-

gama. Produksi zat-zat ini diatur oleh 

antara lain sitokin anti-radang, peng-

hambat lainnya (lihat di bawah) dan 

kortisol.

– Sitokin anti-radang: IL-10 dan IL-6. Zat-

zat ini berkhasiat menghambat langsung 

reaksi peradangan, lagi pula menurunkan 

produksi sitokin pro-radang. Juga zat-zat 

penghambat sitokin pro-radang lainnya, 

seperti reseptor-TNF dan antagonis 

reseptor-IL-1.

Limfokin yaitu  polipeptida yang dibentuk 

oleh limfosit pada reaksi antara limfo-T ter-

14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd   785 21/04/2015   20:45:20

Seksi IX: Lain-lain786

sensitasi dengan anti gen. Ber fungsi sebagai 

mediator imunologi, yang antara lain mendo-

rong makro fag untuk memproduksi enzim-

enzim hidrolitik dan unsur-unsur komplemen 

yang ditujukan terhadap antigen. Semua lim-

fokin bertanggung-jawab bersamaan bagi 

efek reaksi imun seluler (reaksi tipe-IV). Lim- 

fokin yang terkenal yaitu  interferon, in-

terleukin dan MIF (Migration Inhibting Fac-

tor: zat yang dibentuk oleh limfo-T dan meng-

hambat migrasi dari makrofag).

B1. Interferon (IFN)

IFN yaitu  glikoprotein yang termasuk da-

lam defensi tubuh terhadap virus. Dipro duksi 

oleh lekosit, terutama T-cells dan NK-cells, 

sebagai reaksi pertama terhadap berbagai 

rangsangan, seperti infeksi virus.

Fungsi utamanya yaitu  sebagai zat isyarat 

antar sel untuk meregulasi reaksi imun, yaitu 

mengatur fungsi sel dan perbanya kannya 

ketika terjadi infeksi, misalnya IFN-gama 

berkhasiat mensti mulasi peradangan. Selain 

itu, interferon memperkuat ekspre si anti gen-

MHC pada permu kaan makrofag, monosit, 

B-cells dan T-cells, juga pada endotel. 

Khasiat antiviralnya yaitu  secara tak 

langsung dan berdasar  interaksi dengan 

reseptor di sel-sel lain, yang menginduksi 

protein tertentu. Protein-efektor ini berkhasiat 

menghambat translasi, transkripsi, sintesis 

protein dan maturasi virus, sehingga sel 

menjadi resisten terhadap infeksi virus. Di 

lain fihak berbagai sel dari sistem imun, 

seperti NK-cells dan sitotoksik T-cells diaktivasi 

oleh interferon. Khasiat antitumornya ber-

dasarkan dihambatnya pertumbuhan akibat 

perlambatan dari seluruh siklus sel. Meka-

nisme ini hanya efektif terhadap bentuk 

tumor tertentu.

Penggolongan. Ada 3 kelompok interferon: 

IFN-alfa, -beta dan -gama. IFN-alfa dan -beta 

dapat dibentuk oleh hampir semua sel berinti. 

IFN-a terutama oleh limfosit, yaitu IFN-alfa-

2a, -2b, dan -2c yang berbeda mengenai dua 

posisi asam amino. Lihat selanjut nya Bab 7, 

Virustatika. Obat-obat antivi ral IFN-β-1a dan 

IFN-β-1b dibentuk terutama oleh fibroblast, 

sel-sel epitel dan makrofag. 

B2. Interleukin (IL) 

Interleukin ada  minimal dalam 13 tipe 

dan yang terpenting yaitu  IL-1, IL-2, IL-4 

dan IL-6, yang dibentuk oleh lekosit (ter-

utama limfosit dan monosit), juga oleh se-

jumlah besar sel lain, antara lain enterosit, 

yaitu sel-sel epitel dari jonjot usus (villi). 

Fungsi nya yaitu  sebagai zat komunikasi 

(messen ger) antara berbagai sistem sel/organ 

dan lekosit, juga berperan penting pada 

regulasi respons imun. 

– IL-1 dibentuk oleh makrofag/monosit 

dan berbagai sel endotel (antara lain dari 

epitel usus). Berkhasiat menstimulasi 

perbanyakan T- dan B-cells, mendorong 

T-helpercells untuk produksi IL-2 dan 

menstimulasi peradangan pada infeksi 

bakterial. IL-1 juga mengatur pertum-

buhan sel dan aktivitas sel-sel endokrin. 

–  IL-2 (dahulu disebut T-cell growth factor) 

dibentuk oleh limfo-T4 yang diaktivasi 

dan berkhasiat menstimulasi perbanyak-

an NK-cells dan limfo-T yang disensitasi. 

IL-2 perlu sekali untuk proliferasi dan 

diferensiasi T-cells. Bila produksi atau 

aktivitas nya terganggu dapat terjadi pe-

nyakit autoimun, AIDS dan tumor ganas. 

Kini IL-2 dipakai  pada antara lain 

kanker ginjal. 

– IL-4 dan IL-5 juga dibentuk oleh limfo-T4 

dan berfungsi menstimulasi pertum buh-

a n dan aktivitas limfo-B serta sel eosinofil. 

Berperan pada reaksi IgE, sedang kan 

pada asma aktivitas IL-5 me ning kat.

– IL-6 dibentuk oleh fibroblast (sel yang 

menjadi serat jaringan ikat). Mendo-

rong pertumbuhan B-cells dan produksi 

antibodies. pemakaian  eksperimental-

nya pada kanker tertentu ternyata menge-

cewakan. Dapat menstimulasi maupun 

menghambat peradangan.

– IL-8 terutama dibentuk oleh makrofag 

dan berkhasiat kemotaktis, yaitu menarik 

secara kimiawi sel-sel tangkis ke tempat 

tertentu (chemotaxis). Pada asma hebat 

aktivitas IL-8 dalam darah dan mukosa 

bronchi sangat meningkat.

– IL-10 berperan pada penghambatan pera-

dangan infeksi bakterial.

14108649_OBAT P(Bab 49)_T-779-801.indd   786 21/04/2015   20:45:20

Bab 49: Dasar-dasar Imunologi 787

– IL-12 mengaktivasi T-cells dan juga be-

kerja anti-angiogene sis, yaitu mengham-

bat pembentukan pembuluh baru (kan- 

ke r). IL-12 juga berkhasiat menstimu- 

lasi peradangan.

– IL-13 memegang peranan penting pada 

terjadinya asma. Obat-obat yang mem-

blokir IL-13 pada tikus berefek mencegah 

timbulnya ganggu an pernapasan.

B3. tumor Necrosis Factor (tNF-a/β)

TNF yaitu  polipeptida  yang dibentuk oleh 

monosit, makrofag dan limfosit, sebagai re-

aksi terhadap antara lain infeksi kuman atau 

stimuli peradangan lain. ada  2 bentuk 

yaitu TNF pro-radang dan anti-radang, lihat di 

atas. TNF berkhasiat mematikan langsun g 

sel tumor dan sendirinya men dorong pele-

pas an mediator lain, seperti inter leukin (IL- 

1 , IL-6), prostaglandin dan leukot riën. De ngan 

demikian TNF berperan sentral pada proses 

peradangan dan aktivasi limfo-T dan -B. 

* Produksi TNF berlebihan. Bila produksi 

TNF terlampau banyak seperti pada kanker, 

AIDS, lepra dan tbc, kondisi tubuh menjadi 

lebih buruk. Pada pasien kanker TNF meru-

pakan pemicu  dari perasaan sangat le lah, 

tidak bertenaga dan kondisi tubuh buruk 

(cachexi a). Pada lepra ganas diperkirakan 

TNF berperan pada terja di nya luka yang 

sa ngat nyeri, namun  dapat ditanggulangi de-

nga n zat-zat yang memblo kir produksi TNF 

(misalnya talidomida). Pada proses pera-

dangan akibat rematik (RA) akut, TNF-alfa 

berperan penting, yang inaktivasinya dengan 

antibodies-TNF dapat menghasilkan per-

baikan nyata dari keluhan. 

tNF-blocker

Pada penyakit Crohn (radang kronis usus 

halus) ada  produksi berlebihan dari 

TNF. Obat-obat baru infliximab (Remicade)

dan adalimumab (Humera) yaitu  antibodies 

monoclonal, yang dihasilkan di laboratorium 

dengan jalan perse maian (“cloning”) dari 

hanya satu sel antibody tunggal. Zat-zat ini 

berkhasiat mengikat dan menginaktifkan 

TNF-alfa. Efektivitasnya ±80%; bahkan pada 

sepertiga pasien, semua gejala hilang (N Engl 

Med J, 9 Oktober 1997).

pemakaian  TNF-blocker meningkatkan 

risiko atau reaktivasi dari Mycobacterium 

tuberculosis. 

Oleh sebab  itu dianjurkan untuk memo-

nitor pasien rema yang memakai  obat 

ini secara teratur terhadap masalah ini. Lihat 

Bab 21 Analgetika antiradang dan obat-obat 

rema.

C. MEKANISME  

SIStEM tANGKIS

Sistem tangkis tubuh bekerja melalui dua 

cara, yaitu: 

– defensi aspesifik yang turut serta pada 

semua reaksi tangkis 

– defensi spesifik yang diarahkan terha-

dap suatu zat asing tertentu.

C1. tangkisan aspesifik

Tangkisan aspesifik bersifat umum dan tidak 

diarahkan terhadap suatu zat asing tertentu 

atau perlu diaktivasi terlebih dahulu seperti 

pada tangkisan spesifik.

Pemeran utama pada sistem tangkis ini 

yaitu  makrofag, dibantu oleh neutrofil dan 

monosit. Sel-sel ini membuat kontak per-

tama dengan zat asing (antigen), seperti 

kuman, virus dan juga sel tumor. Fungsi nya 

yaitu  membasminya melalui fagositosis (= 

melahap/melarutkan sel) dan melontarkan 

sejum lah proses tangkis, seperti reaksi pera-

dangan, pelepasan mediator dan demam.

* Reaksi peradangan dan fagositosis. Kulit 

yang terluka merupa kan pintu masuk bagi 

kuman yang menim bulkan suatu reaksi pera-

dan gan dengan pembengkakan, nyeri dan 

kemerah-merahan. Serentak sel-sel defensif 

seperti makrofag dan monosit, dimobili sasi un-

tuk menyingkirkan zat asing itu  melalui 

fagositosis. Makrofag bersentuhan de ngan 

virus atau kuman, melekat padanya dan lalu 

mengurun gnya. 

* Pelepasan mediator. Di samping itu juga 

sel-sel lain (granulo sit, mastcell) turut berperan 

dengan membentuk sitokin dan media tor lain 

yang mempermu dah reaksi tangkis. Seba-

gai contoh dapat disebut histamin yang 

memicu  dilatasi pembuluh setem pat dan 

peningkatan permeabilitas dindingnya. sebab  

itu, leko sit dapat lebih mudah bergerak ke 

lokasi infeksi untuk melakukan kerjanya. 

Catatan: bila histamin terben tuk berlebih-

an, maka timbullah reaksi hipersensitasi dan 

alergi, lihat Bab 51).

* Demam. Reaksi tangkis aspesifik lain 

yaitu  demam yang sering kali timbul pada 

infeksi dengan mikroorganisme. Makrofag 

antara lain mem bentuk interleukin-1 yang 

menstimulasi pusat suhu di otak. Pada ke-

naikan suhu tubuh dengan beberapa dera- 

ja t di atas normal (37° C), perbanyak an mi-

kroorganisme sangat menurun, se dangka n 

aktivitas sel-sel tangkis justru ditingkat kan. 

Oleh kaena itu bila suhu badan tidak me-

ningkat terlampau tinggi, demam sebetulnya 

lebih baik jangan ditekan dengan obat 

(antipiretika).

C2. tangkisan spesifik

Tangkisan khas ini dilakukan oleh limfosit-T 

dan -B yang bekerjasa ma secara erat, pada 

mana limfo-T4 merupakan poros dari imu-

nitas spesifik. Makrofag merombak antigen 

(protein) yang telah “ditangkapnya” menjadi 

peptida. Kemudian peptida diikat sebagai 

kompleks dengan molekul MHC pada mem-

brannya (lihat di bawah ini). 

Presentasi dari antigen. Kompleks-MHC 

yang terbentuk disaji kan pada limfo-B dan 

limfo-T yang dapat “mengenali” anti gen. 

T-helper cells diaktivasi dan melalui khusus- 

nya IL-1 mendorong pemben tukan antibodies 

oleh B-cells. Bila antigen yang dipresen tasi-

kan yaitu  virus, sel-sel sitotok sik diaktivas i. 

Kuman ditan ga ni terutama melalui rute 

MHC-II dan antibo dies.

*Antigen Presenting Cells (APC). Selain ma-

krofag, juga monosit, dendrosit dan sel-

Langerhans berkhasiat mengikat antigen 

pada MHC-nya. Bila perlu sel-sel ini me-

nguraikan antigen menjadi peptida kecil, yang 

kemudia n bersama molekul-HLA disajikan 

pada T4-helpercells dan B-cells. Sebagai 

akibat limfo-T dan limfo-B memperbany ak 

diri yang disusul oleh maturasi selanjutnya.

* Major Histocompatibility Complex (MHC) 

yaitu  kelompok protein pada permukaan 

semua sel berinti dari manusia dan hewan 

yang unik bagi sesuatu individu. Eritrosi t 

tidak memiliki inti dan tidak pula antigen 

MHC, melainkan sejenis antigen lain. Atas 

dasar anti gen khas itu , eritrosit diba-

g i dalam kelompok darah A, B, AB,dan O 

(Landsteiner, Nobel-prize 1930).

Fungsi sebagai ‘marker’. MHC yaitu  

spesifik bagi setiap orang dan berdasar  

pada sistem tangkis dapat membedakan sel-

sel sendiri dan sel-sel a sing. sebab  tidak ada 

dua orang dengan MHC identik, sedang-

kan ada  berjuta-juta antigen-HLA yang 

berbeda, maka hal ini menjadi masalah 

sangat besar pada trans plan tasi organ. Bila 

MHC pasien dan MHC donor berbeda terlalu 

ba nyak menge nai antigen trans plan tasiny a, ya-

itu molekul-molekul HLA-nya, maka akan 

terjadi penola kan trans plantat. MHC juga 

dinamakan cell marker (penanda sel) spesifik.

Human Leukocyte Antigen-complex (HLA) 

yaitu  istilah yang dipakai  bagi MHC 

manusia, sebab  pertama kali ditemukan 

pada lekosit. Sistem-HLA terdiri dari berjuta-

juta jenis antigen, yang ada  di berbagai sel 

dari tubuh manusia. Setiap individu memiliki 

antigen-HLA-nya sendiri yang spesifik. HLA 

yaitu  esensial bagi pengenalan imunologis 

dan reaksi tangkis beri kutnya. Bila sel ter-

infeksi, molekul HLA yang ada  di bagian 

luar sel mempertunjukkan fragmen peptida 

yang dapat dikenali oleh T-killercells dan 

antibodies. 

* Kelas HLA/MHC. HLA ada  dalam dua 

kelas, yakni kelas-1 dan kelas-2.

–  Antigen HLA kelas-1 ada  (‘dieks-

presikan’) pada membran luar semua sel 

berin ti (termasuk trombosit, terkecuali 

eritrosit), juga pada sel-sel tumor. Berperan 

pada pengenalan sel yang terinfek si. Sel 

sitotoksik hanya dapat memusnahkan 

zat asing, bila disajikan serentak dengan 

antigen HLA-1 dari tubuh sendiri. 

– Antigen HLA kelas-2 hanya ada  

(‘diekspresikan) terbatas, yaitu hanya 

pada membran dari sel-sel APC. Terutama 

berfungsi untuk memungkinkan penge-

nalan antigen oleh T-helpercell, yang lalu 

disusul oleh proliferasi dan diferen siasi; 

dengan demikian reaksi tangkis dipacu. 

Juga efektif terhadap mikro organisme 

yang lebih besar (kuman ). sesudah  me-

nang kap dan mengikat antigen, makro-

fag menyajikannya pada limfo-T4, yang 

mendorong sin tesis dari banyak sel si-

totok sik untuk memusnah kan kuman 

itu .

Penolakan transplantasi. sesudah  suatu organ 

ditransplantasikan, penolakan dapat terjadi 

dengan antigen HLA memegang perana n 

penting. Pada penolakan akut, T-cells yang 

bekerja terhadap antigen HLA-2 dari donor 

menginfiltrasi ke dalam transplantat. Peno- 

lakan dapat dihindari denga n pemberian 

segera suatu imunosupresivum. Pada peno-

lakan kronis imunitas humoral denga n 

B-cells berperan penting. Fungsi organ yang 

ditransplanta si kan lambat-laun memburuk, 

sehingga perlu disingkirkan kare na tidak 

dapat ditanggulang i lagi oleh imunosupre-

siv a.

Limfo-B dapat mengenali berbagai jenis 

antigen (protein, lipida, polisakarida) yang 

terikat sebagai MHC pada membran atau juga 

yang terlarut dalam darah. sesudah  antigen 

disajikan, limfo-B akan mengikat diri pada 

kompleks makrofag-antigen dan melalu i 

sejumlah isyarat kimiawi diubah menjadi 

sel-sel plasma. Sel-sel ini dapat mensintesis 

antibo dies (imunoglobu lin) khas yang meng-

ikat antigen dan selanjutnya meng aktivasi 

siste m komplemen (lihat di bawah D). 

Sistem ini kemudian mendatangkan sel-sel 

neutrofil untuk memusnahkan antigen ber-

sama dengan makrofag yang diaktivasi oleh 

limfokin. Pada saat sistem imun mendeteksi 

zat asing, maka sistem lain dapat diberikan 

informasi, khususnya otak dan sistem neuro-

endokrin. Dengan demikian, suatu infeksi 

selalu disusu l oleh meningkatnya sekresi 

hormon hipofisis dan anak-ginjal.

Limfo-T melalui reseptornya mengenali 

kompleks antigen dalam hubungannya de-

ngan struktur molekul-MHC-nya sendiri. 

Oleh sebab  itu antigen yang tidak terikat 

dengan MHC pada permukaan APC, tidak 

dapat dikenalinya. Lihat gambar.

C3. Pengenalan antigen asing

Penting sekali bahwa sistem tangkis spesifik 

tubuh dapat membedakan antara sel-sel 

sendiri dengan sel-sel asing. Bila tidak, sel 

tangkis dapat menyerang dan merusak 

Gambar 49-4: Lukisan skematis dari makrofag yang melalui HLA-nya 

menyajikan antigen pada T-cell (CD4 atau CD8).

organ tubuh sendiri. Limfo-T4 bersifat virus-

spesifi k, artiny a dapat mengenali secara khas 

suatu virus. Pengenalan terjadi pada waktu 

T-cell bersentuhan dengan suatu sel terin fek-

si (bukan sel asli sendiri) yang mengandung 

antigen virus, dalam kombi nasi dengan antigen 

HLA sendiri pada permukaannya (Zinker-

nagel & Doherty, pemenang Nobel-prize Ilmu 

Kedok teran 1996). 

D. SIStEM tANGKIS USUS

Di samping kedua sistem defensif itu  di 

atas, tubuh juga masih memiliki berbagai alat 

tangkis alamiah untuk mencegah infeksi oleh 

mikroorganisme, yaitu:

a.  kulit merupakan barrier mekanis ter-

hada p infeksi. Lagi pula sel-sel kelenjar 

tertentu dalam kulit memproduksi asam 

laktat dan asam lemak yang dapat mema-

tikan kuman.

b. paru-paru. Lendir yang terbentuk di 

paru- paru dapat menangkap jasad renik. 

Pergerakan bulu getar (cilia) mengang-

kutnya ke bagian atas alat pernapasan 

dan kemudian menyingkirkannya lewat 

bersin atau batuk.

c. liur dan air mata mengandung enzim 

bakterisid (lysozym) yang berkhasiat 

melarutkan dinding kuman.

d. usus dan flora komensal.

Flora usus dan fungsinya

Sejak beberapa tahun para ahli imunologi 

mulai menyadari bahwa selain organ dari 

sistem reticulo-endothelial (RES: amandel, ke-

lenjar limfa, thymus, limpa), saluran usus 

juga merupa kan organ imunologi yang sa-

ngat penting bagi daya tahan tubuh. Di 

samping fungsinya untuk pencernaan dan 

sintesi s vitamin B/K, usus dengan luas 

permu kaan total dari ±400 m2 sebetulnya 

merupakan organ imun terbesar dari tubuh. 

Di sini terjadi ±80% imunitas-perolehan, maka 

sistem imun usus yang berfungsi baik adala h 

esensia l bagi daya tahan tubuh. Untuk ini 

keseimbangan mikroflora usus yang hidup 

bersama (symbiosis) memegang peranan pen-

ting.

Mikroflora, dysbiose dan usus “bocor”. 

Flora dalam usus besar terdiri dari 400-500 

jenis kuman, yang seluruhnya bisa berjum- 

lah sampai 100 milyar jasad renik dengan 

berat total lebih dari 200 g! Flora dapat digo-

longkan dalam kelompok jasad renik “baik” 

yang tidak merugikan tuan rumah dan 

jasad renik “buruk” yang potensial bersifat 

patogen. Antara kedua jenis jasad renik ini 

ada  keseimbangan. Bila flora “baik” di-

sing kirkan, misalnya akibat antibiotik broad- 

spectrum, kuman atau fungi patogen men-

jadi dominan (kolonisasi), yang a.l. dapat me-

nimbulkan diare atau kandidiasis. Sistem 

imun usus (GALT) tidak dapat menang-

gulangi lagi invasi zat-zat asing, dengan aki-

bat efek buruk terhadap daya tahan tubuh.

GALT (Gut Associated Lymphoid Tissue) atau 

MIS (Mucosa Immune System) terdiri dari 

seluruh selaput lendir usus. Tersebar di se- 

panjang usus ada  banyak kelompok ja-

ringan limfa (pelat Peyer) dan simpul limfa. 

GALT termasuk sistem ketaha nan setempat 

yang menjadi bagian dari ketahanan sistemik 

total dan merupakan barrier imunologik 

terhadap zat-zat asing.

Dinding usus secara kontinu bersentuhan 

dengan antigen potensial, yaitu molekul ma-

kanan, kuman, toksin, parasit dan bermacam-

macam alergen. Antigen itu  tidak dapat 

menembus lapisan epitel dari mukosa yang 

utuh. Namun, akibat kerusakan kecil atau 

adanya celah di antara sel-selnya, antigen 

dapat masuk ke lapisan di bawah epitel 

(lamina propria), di mana ada  jaringan 

limfoid. Masuknya selalu diiringi sel-sel 

transpor khusus, yaitu M-cells, yang da-

lam membrannya memiliki molekul MHC 

kelas-II. Dengan demikian, M-cells dapat 

melakukan presentasi antigen, artinya be-

berapa partikel daripadanya dipindahkan 

ke permukaan sel antigen dan “diletakkan 

di atas semacam tempat penyajian” (= mo-

lekul MHC-II). Akibat presentasi ini, sel-

sel-T dapat mengenali antigen itu  dan 

mencetuskan sejumlah reaksi imun untuk 

memusnahkannya. Respons imun GALT 

ini mencakup reaksi seluler dan humoral 

(pembentukan IgA), namun  juga beberapa 

mekanisme tangkis non-spesifik lainnya. Di 

samping limfo-T, sel lain dari GALT (den-

drit dan makrofag) dapat berfungsi sebagai 

Antigen Presenting Cells.

Bila ada  banyak “lubang” pada epitel 

mukosa (permeabilitasnya meningkat), ma ka 

banyak molekul sampah besar dapat melin-

tasi dinding. sebab  sistem Galt tidak mampu 

menahannya lagi, zat-zat ini mencapai sirku-

lasi dan dapat memicu  reaksi alergi.

Probiotika yaitu  kuman hidup non-pato-

gen yang diasup sebagai suplemen makan-

an dan berkhasiat memperbaiki keseim- 

bangan mikro biologi dalam saluran cerna 

tuan-rumah, terutama keseimbangan antara 

jumlah kuman “baik” (khususnya Lacto-

bacillus = basil laktat) dan kuman patogen 

(E. coli, Enterokok, stafilokok, dan lain-lain). 

Kuman aerob membutuhkan oksigen yang 

mendifusi dari darah ke usus, sedang  

basil laktat termasuk kuman anaerob, dapat 

hidup tanpa oksigen. 

Kuman “baik”terdiri dari terutama Lacto-

bacillus dan Bifidobacte rium. Kuman ini 

hidup dari lendir usus dan dari serat nabati 

(selulosa, pektin, dan lain-lain) yang sampai 

di usus besar sebagai sampah yang tidak 

dapat dicernakan oleh enzim. Basil anaerob ini 

membentuk asam laktat (dan asam asetat), 

yang menstimulasi peristaltik dan penting 

sekali bagi penyerapan Ca dari makanan. 

Lagi pula, dalam lingkungan asam, kuman 

dan fungi patogen tidak dapat memperba-

nyak diri. Mikroba ini juga melepaskan asam 

lemak, yang merupakan “makanan” bagi 

sel epitel dari dinding usus. Oleh sebab  itu 

selaput lendir dan GALT dapat berfungsi 

baik untuk melawan masuknya antigen ke 

dalam tubuh (darah), antara lain dengan 

membentuk imunoglobulin (IgA). 

Khasiatnya. Probiotika berkhasiat memper-

kuat sistem imun dengan meningkatka n 

jum la h limfo-B dalam pelat Peyer, yang 

merupakan pusat dari sistem ketahanan di 

usus halus. Juga dengan meningkatkan pro-

duksi gama-interfe ron (IF-γ ) oleh limfo- T 

dengan efek pembentukan NK-cells juga 

mening kat.

Efek lainnya yaitu  antidiare dan menu-

runkan kadar kolesterol darah. Juga ber-

khasiat antitumor pada hewan percobaan 

(kanker usus besar) dengan mencegah pem-

bentukan nitrosamin yang bersifat karsi-

nogen.

pemakaian nya dianjurkan untuk mensti-

mulasi sistem imun umum, menurunka n 

kadar kolesterol yang tinggi dan memper-

singkat proses diare (gastro-enteritis Sal-

monella). Bersama antibiotika broad-spectru m 

diguna kan untuk prevensi ganggua n saluran 

pencer naan, juga untuk mencega h infeksi 

Candida. dipakai  sebagai zat tambaha n 

yoghurt (Yakult, Vivit) atau dalam bentuk 

kapsul yang mengandung 2-4 milyar kuman.

Kuman-kuman 

a. L. acidophilus terutama melekat pada 

dinding usus halus, vagina, serviks dan 

uretra. Kuman ini membentuk asam laktat 

(racemis), yang menciptakan ling kung an 

asam ringan, yang tidak cocok bagi kuman 

patogen. Selain itu, bakteri ini membentuk 

enzim laktase dan meningkatkan resorpsi 

mineral, a.l. kalsiu m. Sejumlah varietas 

kuman dapat membentuk vitamin B dan 

antibiotika yang menghambat pertumbuhan 

jasad renik patogen.

b. Bifidobacterium bifidum ada  di se-

lu ruh saluran cerna, namun  paling banyak 

pada dinding usus besar. Juga mem-

bentuk asam laktat berotasi kanan dan 

vitami n B (biotin, B3, asam folat), juga 

menghambat perbanyakan kuman pato-

gen, a.l. Salmonella. Menurut perkiraan 

juga berkhasiat menurunkan kadar koles-

terol, antiviral dan antifungi.

c. L. bulgaricus alamiah tidak ada  

da lam tubuh, berlainan dengan a dan 

b. Bakteri ini tidak mengikat diri pada 

dinding usus, namun  melintasi seluruh 

saluran cerna. sesudah  perjalanan rata-rata 

dua minggu, bakteri ini meninggalkan 

tubuh lewat tinja. Juga membentuk lakta t 

dan laktase. 

d. Streptococcus thermophilus sama sifat-

nya dengan L. acidophilus, juga memben-

tuk laktat berotasi kanan.

e. Lactobacillus casei GG.

Asam laktat ada  dalam usus sebagai 

dua stereoisomer, yaitu yang berotasi kanan 

dan yang berotasi kiri. Yogurt dibuat dari 

susu dengan jalan fermentasi laktosa dengan 

bantuan 2 jenis kuman, yakni Streptococcus 

thermophilus dan L. acidophilus, yang mem-

bentuk laktat racemis. L. bifidus (juga L. plan-

tarum dan L. casei) hanya membentuk laktat 

berotasi kanan. Lactobacillus bulgaricus dari 

saluran lambung-usus mendesak kuman 

laktat lainnya yang penting bagi tubuh.

– L(+) Lactic acid yang berotasi kanan (+) 

menunjukkan ke arah mana suatu berkas 

cahaya terpolarisasi dibiaskan. Gugus 

OH-nya pada C-tengah terletak di sebelah 

kiri (Lat. laevus= L). Ini yaitu  bentuk 

faal yang ada  dalam jumlah kecil 

dalam darah dan jaringan otot, terutama 

sesudah  mengeluarkan tenaga. Dalam tu-

buh, asam ini diubah menjadi glukosa 

dan glikogen. Bentuk ini diproduksi oleh 

L. bifidus dan Str. thermophilus (yoghurt 

“Biogarde”). Dalam usus bentuk kanan ini 

berjumlah lebih banyak daripada bentuk 

kiri.

– D (–) Lactic acid yang berotasi kiri (–) 

dengan gugus-OH di sebelah kanan 

(Lat. dexter= D) dari atom-C tengah, lihat 

rumus bangun. Diproduksi oleh antara 

lain L. bulgaricus (yoghurt “biasa”). Ben-

tuk ini walaupun tidak bersifat merugi-

ka n, namun  tidak dapat dipergunakan 

dalam proses fisiologi tubuh. Olleh kare-

na itu sebagian besar dikeluarkan dalam 

bentuk utuh lewat urin.

 COOH COOH 

 | | 

 H – C – OH HO – C – H

  | | 

 CH3 CH3

 

  asam laktat

 berotasi kiri  kanan (aktif)

 

Gambar 49-5: Kedua stereoisomer 

asam laktat

Prebiotika yaitu  zat-zat (bukan kuman) 

dalam pangan yang tidak dicernakan oleh 

enzim-enzim saluran cerna dan berkhasiat 

menstimulasi pertumbuhan dan aktivitas 

flora kuman di usus besar. Misalnya oligo-

fruktosa, inulin dan laktulosa yang secara 

selektif memacu perbanyakan Bifidobacteria. 

Sebaliknya, pertumbuhan kuman patogen 

dihambat olehnya melalui sekresi suatu zat 

penghambat. 

* Inulin yaitu  polisakarida yang terdiri 

dari 3 molekul fruktosa + 1 molekul glukosa. 

Inulin merupakan zat sampah yang dapat 

larut. Khasiatnya memperbaiki pen cernaan 

dan mendukung flora usus alamiah. Dosis: 15 

g/hari dengan makanan. 

Synbiotika merupakan kombinasi dari pre- 

dan probiotika, yang sekarang sudah digu-

na kan dalam produk-produk susu (dairy) 

terfermentasi seperti yoghurt. Prebiotikum 

dapat memperbaiki penerusan (passage, tran-

sit) probiotikum dari lambung-usus. 

Di samping prebiotika dan probiotika, juga 

zat-zat bioaktif lain dapat memperkaya bahan 

pangan fungsional, yaitu:

* asam lemak esensial, seperti EPA dan 

DHA, memiliki banyak manfaat bagi 

kesehatan (kadar kolesterol, tensi, penyakit 

radang, fungsi otak). Asam-asam ini dapat 

pula ditambahkan pada bahan makanan, 

misalnya susu, yoghurt, margarin dan keju.

* sterol nabati (sitosterol, stigmastanol) ber-

khasiat menurunkan kadar kolesterol darah 

dengan mengikat dan menurunkan absorpsi-

nya dalam usus. Sejak beberapa tahun fitos- 

terol ditambahkan pada “functional food“ 

seperti margarin, yoghurt dan susu (Benecol, 

Becel pro-aktif) dan demikian bantu menu-

runkan risiko PJP.

Lih. selanjutnya Bab 36, Antlipemika, 5a. Sterol 

nabati.

E. MEKANISME SIStEM 

IMUN MELAWAN INFEKSI

E1. tangkisan terhadap kuman

Kuman yang memasuki tubuh segera 

dikelilingi dan diikat pada antibodies yang 

dibentuk oleh B-cells dalam waktu dua 

hari sesudah  infeksi. Hal ini mempermudah 

makrofag untuk memusnah kan semua 

kuman, termasuk kuman yang membentuk 

toksin dan menghambat aktivitas makrofag.

E1a. Opsonisasi yaitu  proses pada mana 

zat-zat asing dikelilingi dan dilekatkan 

pada imunoglobulin dan komplemen, de-

ngan efek memper kuat dan memperlancar 

fagositosis oleh makrofag. 

E1b. Sistem komple men. Komplemen (zat 

peleng kap) yaitu  serangkaian protein yang 

melalui suatu reaksi rantai memperkuat daya 

tahan dan dapat membasmi zat-zat asing. 

Komplemen perlu sekali bagi sistem imunitas 

humoral (antibo dies). 

Sistem ini terdiri atas minimal 20 glikopro-

tein (C1 sampai C20), yang untuk sebagian 

dibentuk oleh makrofag. Aktivasi terjadi 

akibat pengika tan dengan antara lain kom-

pleks imun pada permukaannya, yang me-

nimbul kan serang kaian reaksi rantai. Efek 

akhir dari reaksi itu  yaitu : 

– kuman dan sel tumor dimusnahkan sebab  

dirusak dindingnya; 

– permeabi litas pembuluh darah diper besar, 

sehingga sel-sel tangkis dari darah dapat 

lebih cepat mencapai “tempat bencana” 

untuk memusna hkan “penyerbu”; 

– proses kemotaksis dimulai, dengan ditarik-

nya lekosit secara aktif ke tempat bencana 

dengan bantuan sitokin; 

– kom pleks imun dising kirkan melalui opsoni-

sasi atau solubi li sasi berdasar  sifat 

lytis nya dari beberapa komplemen (C5 -

C9) atau mence gah pen gendapannya di 

jaringan, lihat 1c.

Defi siensi komplemen meningkatkan ke - 

pe kaan seseorang terhadap bermacam- 

macam infeksi kuman.

E1c. Kompleks imun (KI) yaitu  kompleks 

dari molekul antigen dan molekul antibo dy 

yang pada konsentrasi rendah menstimulasi 

makrofag/monosit. namun  bila kadar KI 

terlalu besar justru memblok aktivi tasnya, lagi 

pula KI dapat mengendap di jarin gan. En-

da pan ini mengakibat kan reaksi peradang-

an dan kerusakan dalam berba gai organ, 

misalnya endapan di glomeruli ginjal dan 

di otot jan tung. Pengikatan KI pada eritrosit 

mengaktivasi komplemen dan merusak sel 

darah dengan timbulnya anemia hemoli tik, 

seperti yang terjadi akibat kinin. Pengendapan 

di pembuluh kulit berperan penting pada 

terjadinya berbagai jenis erythema.

*Kompleks imun beredar (KIB). Bila ada  

antigen berlebi han, maka dapat terbentuk KI 

yang sukar “diolah” oleh tubuh dan beredar 

dalam darah. KIB ini dapat memicu  

reaksi peradan gan lokal di dinding pembu-

luh (vasculitis alergis, penyakit serum). Reaksi 

ini dinamakan reaksi Arthus, lihat Bab 51. 

Antihistam inika, reaksi aler gi. KIB juga ter-

dapat dalam darah pada penyakit auto-imun, 

seperti rema dan SLE (lihat di bawah). Bisa 

juga ada  pada infeksi dan pertumbuh-

an tumor dengan efek menghambat daya 

tangki s terhadap mikroorganisme dan sel 

tumor. Oleh sebab  itu deteksi dan identifi-

kasinya yaitu  penting untuk mendiagnosis 

penyakit-penyakit itu . Lazimnya kom-

pleks imun disingkirkan dari tubuh oleh sel-

sel fagositer dan sistem komplemen.

E2. tangkisan terhadap virus

Virus yaitu  parasit yang hanya dapat hidup 

di dalam sel-sel yang dimasukinya. Di situ 

virus memperbanyak diri dengan mengambil 

alih seluruh metabolisme sel-sel itu . 

yang akhirnya akan mati. Virus hanya dapat 

ditanggulangi oleh antibodies selama masih 

berada dalam darah. Sekali masuk ke dalam 

sel-sel tuan-rumah, antibodies tidak berdaya 

lagi. Vaksin virus bekerja berdasar  prinsip 

ini dengan mengikat virus oleh antibodies 

sebelum melakukan kerja merusaknya.

Bila virus sudah masuk ke dalam sel, dalam 

waktu beberapa jam sesudah  dimulainya 

infeksi, sistem interferon dengan khasiat 

antiviral melakukan fungsinya. Interfe ron 

yaitu  protein yang dibentuk oleh sel-sel 

terinfeksi virus dengan tujuan melin dungi 

sel-sel lain terhadap penyebaran infeksi. 

Virus tidak bisa membiak lagi dalam sel-sel 

yang telah berkontak dengan interferon. Di 

samping itu, interfe ron juga menstimulasi 

aktivitas makro fag dan limfo-T serta mening-

katkan produk si antibodies oleh limfo-B.

Akhirnya T-cells memusnahkan sel-sel 

yang terinfeksi virus sesudah  mengenali nya 

melalui antigen virus yang timbul pada din-

ding luar sel-sel itu . 

F. IMUNOMODULAtOR

Imunomodulator, juga disebut Biological 

Response Modifiers, yaitu  zat-zat yang 

memengaruhi reaksi biologis tubuh terha-

dap zat-zat asing. Fungsi sistem imun dapat 

distimulasi (imunostimulator) maupun disu-

presi (imunosupresi va).

F1. Imunostimulator

Pada beberapa jenis penyakit, sistem imun 

tubuh sangat menurun, misalnya pada 

AIDS akibat pemusnahan limfosit (T4-cells), 

sehingga pasien akhirnya meninggal akibat 

suatu infeksi parah. Begitu pula penderita 

kanke r biasanya  memiliki sistem 

tangkis lemah akibat toksin tumor dan 

Ilmu kedokteran komplementer

Ilmu kedokteran komplementer (= tambahan), juga disebut alternatif, didefinisikan sebagai cara terapi 

dengan zat-zat alamiah (terutama berasal tumbuhan) berda sarkan pengobata n tra disional dan peng-

alaman rakyat selama berabad-abad. pemakaian  obat komplementer itu  dalam kebanyakan 

hal manfaatnya tidak/belum dibukti kan secara ilmiah menuru t syarat-syarat tertentu. Oleh sebab  

itu obat-obat ini sering kali memicu  prasangka, kurang pengertian, bahkan ejekan dari para 

sarjana kedokteran regular. 

Obat-obat alternatif terdiri atas banyak golongan dengan titik kerja pada sistem imun yang berbeda-

beda. Yang terpen ting di antara nya yaitu  obat homeopati, fitoter apeutika, food supplements dan 

sediaan thymus.

a. Obat homeopati yaitu  obat-obat yang telah ‘diperkuat’ (dipo ten si a si) melalui suatu proses 

pengenceran khusus. Homeopati yaitu  suatu cara pengobatan yang meng gunakan kadar rendah 

sekali dari bahan-bahan tertentu, yang pada orang sehat justru memicu  gejala penyakit yang 

sama dengan apa yang hendak diobati. (Lat. homeo = homo = sejenis, sama). Patokan dasarnya 

berbunyi «Similia similibus curantur», yang berarti «yang sejenis disembuhkan oleh yang sama». 

Sebagai bahan dasar sering kali diguna kan ek strak alkohol dari tumbuhan atau larutan dari garam-

garam, yang telah diencerkan ratusan sampai jutaan kali. Misalnya, preparat Chamomilla D3 berarti 

ekstrak kamomila yang di encerkan 103 = 1000 kali dan Calcium carbo nicum D12 berarti CaCO3 yang 

diencerkan (dengan laktosa) 1012 kali! Berhubung dengan kadar minimal yang diguna kan itu dan 

belum ada nya penelitian ilmiah yang layak menge nai keampu hannya, maka manfaatnya sangat 

dira gukan. Walaupun demikian, di Eropa, terutama di Inggris, Jer man, Swis, Belanda dan Italia, obat-

obat homeopati cukup populer. 

b. Fitoterapeuti ka (Lat. phyto = tumbuhan) berasal dari tumbuhan, termasuk ramuan jamu. Pada 

dasarnya dalam ilmu kedokteran regular sejak puluhan tahun sudah dipakai  tumbuhan yang 

dikeringkan, yang dinama kan simplicia (bentuk jamak dari simplex). Misalnya Folia orthisiphon 

(daun kumis kucing), Folia hyoscyami (sejenis daun kecubung) dan Folia digitalis dengan ekstrak serta 

tingturnya. Simplicia ini yang bertahun-tahun ada  dalam farmakope Belanda dan Eropa, telah 

diterima oleh dunia ilmiah. Baru pada edisi tahun 1970-an, monografi simplicia seluruh nya telah 

dikeluar kan sebab  dianggap obsolet. 

c. Food supplements yaitu  zat-zat yang dipasarkan sebagai makanan tambahan (tidak sebagai obat) 

dan dapat dibeli bebas (tanpa resep dokter). Sediaan ini dapat mengandung berbagai macam bahan, 

dari vitamin dan mineral (dalam dosis tinggi) sampai ekstrak tiram dan tulang rawan ikan hiu. Terhadap 

banyak ‘obat tambahan’ ini, biasanya  telah dilakukakan banyak penelitian dengan sering kali 

hasil yang baik. Walaupun demikian hasil itu  tidak/belum diterima resmi oleh para sarjana 

regular, sebab  dianggap tidak memenuhi persyaratan cara penelitian ilmiah (placebo-controlled, double 

blind, randomi zed, cross-over dan populasi besar).

penanganan dengan sitosta tika, radiasi atau 

pembedaha n. Lagi pula, sel-sel tumor ter-

nyata memilik i hanya sedikit sekali antigen 

HLA-I pada membrannya, dengan lain kata 

‘ekspresi HLA-nya sangat diturunkan’. Oleh 

sebab  itu limfo-T (sel-sel sitotok sik/NK-cells) 

tidak menge nalinya sebagai sel-sel sendiri.

Imunostimulator secara tidak langsung ber-

khasiat mereaktivasi sistem imun yang 

lemah dengan mening katkan res pons imun tak-

spesi fik. Antara lain perbanya kan limfo-T4, 

NK-cells dan makrofag distimulasi, begitu 

juga pelepa san interferon dan interleu kin. 

Sebagai efek akhir dari reaksi kompleks ini, zat 

asing dapat dikenali dan dimusnahkan. Pada 

sel-sel tumor, ekspresi antigen transplantasi 

diperkuat olehnya, sehingga lebih mudah 

dikenali oleh TNF dan sel-sel sitotoksik. 

Zat-zat imunostimulator yang kini 

dipakai  yaitu  vaksin BCG, limfo kin 

(interfero n, inter leukin) dan levami sol.

Imunostimulator pada terapi 

komplementer

Terapi komplementer untuk menstimulasi 

daya tahan tubuh banyak memakai  

sediaan nabati seperti Echinacea, Ginseng, 

bawang putih, flavonoida (genistein, quer-

cetin) dan ubiquinon, juga sediaan thymus 

(kelenjar kacangan). 

a. Echinacea yaitu  tumbuhan pertama yang 

dibuk tikan secara ilmiah khasiat stimulasinya 

terhadap sistem imun. Peneliti an dari dekade 

terakhir menghasilkan penemu an bahwa 

masih ada  banyak tumbuhan yang 

mengandung zat-zat alamiah bersifat stimulasi 

sistem tangkis aspesifik.

b. Bioflavonoida. Banyak imunostimulato r 

alamiah termasuk dalam kelompok (iso)

flavon, yang ada  di kebanyakan sayur-

mayur dan buah-buahan. Flavon penting 

yaitu  genistein (dalam kedele) dan querce-

tin dengan efek antitumor dan antioksidan 

kuat. Lihat Bab 14.

Zat-zat alamiah lain dengan khasiat mem-

perkuat sistem imun yaitu  ubiquinon 

(co-enzym Q10), thymus, akar ginseng 

dan bawang putih. Vitamin C juga 

berkhasiat sebagai imunostimulator melalui 

peningkatan aktivitas dan perbanyakan 

limfo-T dan makrofa g.

MONOGRAFI

1a. Vaksin BCG: Oncotice

Vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) di-

buat dari basil TBC (sapi) hidup, yang tidak 

virulen (ganas). Berkhasiat imunosti mul ator 

tak-spesifik umum dan imunostimulator 

spesifik terhadap lepra (dan tbc) (lihat Bab 

9 dan 10), juga bekerja anti tumor. Banyak 

dipakai  untuk preven si TBC dan lepra 

di daerah-daerah berisiko tinggi. Imuni sasi 

memberikan perlindungan selama minimal 

10-15 tahun. Berkat sifat antitumor dan 

imunosti mulasinya, vaksin BCG juga diguna-

kan intra vesikal pada kanker kan dung ke-

mih. Lihat selan jutnya Bab 14.

1b. Interferon-alfa: IFN-alfa-2, Roferon-A(2a), 

Intron-A(2b)

Interferon-alfa, -beta dan -gama yaitu  

limfokin alamiah yang biasanya  di-

bentuk sebagai reaksi terhadap infeksi viral.

IFN-alfa terdiri dari 165 asam amino yang 

diperoleh melalui teknik rekom bi nan-DNA 

dari kuman E. coli yang telah dimanipulasi 

secara genetik. Pada tipe-2a ada  gugusan 

lysin pada posisi 23, sedang  pada tipe-2b 

gugusan arginin. Lihat selanjut nya Bab 7 dan 

Bab 14.

Dosis: i.m. atau s.c. 3 juta UI sehari selama 

16-24 minggu.

* Interferon-gama (IFN-g-1b, Immukine) ada-

lah derivat yang terdiri dari 140 asam amino, 

juga diperoleh dengan teknik rekombi-

nan-DNA. Berkhasiat mengaktivasi fagosit 

mononucleair (makro fag/monosit) dengan 

membentuk radikal oksigen yang berkhasiat 

bakteri sid. Khusus dipakai  sebagai obat 

pembantu untuk prevensi infeksi berat pada 

penya kit kronis tertentu pada mana sito tok-

sisitas makrofag sangat terganggu. Dosis: 

IFN-g-1b, s.c. 3x seminggu 1,5 mcg/m2.

1c. Interleukin-2: IL-2, aldesleukin, Proleukin

yaitu  glikoprotein yang dibuat oleh 

kuman E. coli dengan teknik rekombinan-

DNA. Berkhasiat menstimulasi pertumbu-

han dan aktivitas T-cells, NK-cells dan lim-

fosit lainnya, juga mengin duksi produksi 

dan pelepa san sitokin lain. Dengan demiki an 

sistem imun diaktivasi dengan kuat dan sel-

sel tumor dapat dimus nah kan.

pemakaian nya dalam bentuk LAK-cells pa-

da imunterapi melanoma dan kanker ginjal 

yang tersebar, lihat di atas.

Dosis: infus i.v. 1 ml = 18 million UI/m2 

sehari selama 5 hari. Kur diulang sesudah  2-6 

hari. 

1d. Levamisol: tetramisol, Ascaridil, Ergamisol

Obat cacing ini berkhasiat menstimulasi 

sistem imun seluler, namun  juga dapat 

mensupresi sistem imun, tergantung dari 

dosis. Meningkatkan perbanyakan dan 

migrasi limfo-T, serta memperkuat fagositosis 

dan kemotaksis makro fag. Berguna pada 

terapi kanker dengan sitostatika dan predni-

son. Lihat selanjut nya Bab 14. 

Dosis: oral 3 dd 50 mg selama 3 hari (ber-

sama 5-FU) setiap 10 hari, total maksimal 52 

minggu.

1e. Tingtur Echinacea: Echinaforce

Dibuat dari semua bagian tanaman segar 

Echinacea purpurea (Rudbeckia) yang berasal 

dari Amerika Utara. Varietas pallida dan 

angustifolia juga dipakai  untuk produk-

sinya. Berkhasiat memperkuat fagositosis 

dengan meningkatkan aktivitas makrofag 

dan limfo-T, serta memperlancar kemotaksis. 

Selain itu meningkatkan pelepasan interferon 

dan menghambat enzim hyaluronidase, 

sehingga sel-sel sekitarnya sukar ditembusi 

virus lagi. Tanaman ini telah menerima 

pengakuan resmi dengan dimasukkannya 

dalam buku homeopati resmi German (Homö-

opathisches Arznei Buch), sejenis farmakope 

sediaan homeopati.

Mengandung antara lain minyak atsiri, 

alkilamida, asam-asam amino, asam-asam 

lemak, vitamin C, fitosterol dan polisakarida. 

Ketiga zat terakhir terutama bertanggung-

jawab atas efek imunostimulasinya.

Penggun aan. Kini tingtur Herba Echinacea 

(dalam alkohol 70%) banyak diguna kan di 

Eropa untuk meningkatkan daya tahan 

imun sebagai prevensi infeksi kuman dan 

virus (selesma, in fluenza). Atau pada situasi 

daya tahan tubuh rendah, seperti pasca 

bedah, radiasi atau sesudah  menderita pe-

nyakit berat. Bila dipakai  pada serangan 

flu, lamanya penyakit dipersingkat sampai 

2-3 hari. pemakaian  sebaiknya jangan 

kontinu, namun  sesudah  2-3 bulan diselingi 

dengan istirahat 1-2 bulan. Pemakaian seba-

gai obat luar yaitu  untuk mempercepat 

penyembuhan luka kulit berkat sifatnya yang 

dapat mendo rong granulasi, yaitu pemben-

tukan jaringan baru pada permukaan luka.

Efek samping hingga kini belum ada  

data. Tidak dianjurkan pemakaian nya pada 

penyakit ganas seperti tbc, MS dan SLE.

Dosis: dimulai dengan 40 tetes, disusul 

de ngan 3 dd 20 tetes 0,5 jam a.c, dilarutkan 

dalam sedikit air dan dibiar kan dalam mulut 

beberapa menit sebelum ditelan.

1f. Ubiquinon: co-enzym Q10 , Ubi-Q

Benzokinon ini yaitu  food supplement yang 

juga banyak dipakai  dalam kalangan 

alternatif (complementary medicine). Zat ini 

ada  dalam kebanya kan organisme 

aerob (bakteri, tanaman dan hewan). Rumus 

bangunnya mirip vitamin K2, lihat Bab 53, 

Vitamin dan Mineral. Tubuh manusia juga 

memiliki zat ini (±2 g pada usia muda) 

yang berasal dari makanan (daging, kacang-

kacangan, bayem) dan juga membentuknya 

sendiri. 

Khasiat utamanya yaitu  sebagai pemeran 

esensial pada fosforilasi oksidatif, yaitu 

pembakaran glukosa, lemak dan protein. 

Produksi enersi ini berlangsung di mitochon-

dri a (“pabrik” enersi kecil), yaitu butir-

butir bundar atau lonjong yang ada  

dalam plasma sel. Ubiquinon melakukan 

transpor elektron antara sederet kompleks 

enzim pada oksidasi itu  yang berakhir 

dengan produksi enersi (ATP) melalui enzim 

ATP-sintetase. Di sam ping itu Q10 bersifat 

antiok sidan kuat dengan efek “menangkap” 

radikal bebas. Juga memper kuat sistem 

imun dengan meningkatkan aktivi tas bio-

energetikny a, stimulasi perba nyakan limfo-T, 

meningkatkan produksi IgG dan aktivitasi 

makro fag. 

dipakai  sebagai obat penguat jantung 

dengan meningkatkan volume pukulan 

sampai ±20% (cardiac output naik), sehingga 

daya prestasi meningkat. Terutama dianjur-

kan bagi olahraga wan dan manula yang 

kekurangan energi. Pada kanker ubiquinon 

dipakai  sebagai obat tambahan untuk 

merangsang daya tahan tubuh.

Dosis: pada keadaan lesu dan kurang 

energi 2 dd 30 mg p.c., pada kanker 3x 100 mg 

dicampur dengan sedikit minyak jagung/

kedele (untuk memperbaiki resorpsinya).

1g. Ginseng

Akar dari tanaman Panax Ginseng (Aralia-

ceae) berasal dari pegunungan antar a Nepal 

– Manchuria dan Siberia Utara sampai 

Korea. Di samping Ginseng Korea “sejati” 

ini juga tersedia Ginseng Jepang (P.pseudo-

ginseng japonicus), Ginseng Amerika Utara 

(P. quinquefolium) dan Ginseng Siberia 

(Eleutherococcus senticosus Maxim.) Ketiga 

akar terakhir ini lebih rendah harganya. 

Nama Ginseng diturunkan dari bahasa 

Cina (gin = orang, seng = mirip), berhubung 

bentuk akarnya mirip tubuh manusia. Dalam 

cara pengobatan tradisional Cina, Ginseng 

dipakai  sebagai obat ampuh pada a.l. 

keadahan lemah dan kurang enersi serta stres 

fisik, juga pada disfungsi ereksi (impotensi). 

Ginseng mengandung minjak atsiri, zat 

pahit, vitamin B1, B2 dan 10 zat ginsenosida 

(triterpenglikosida) yang bertanggungjawab 

untuk khasiat adaptogennya (anti stres, 

anti letih, anti lemah, peningkatan daya 

tahan tubuh). Selain itu juga berkhasiat 

antioksidans kuat dan melindungi organ. 

Kini banyak dipakai  oleh terutama lansia 

sebagai stimulans umum (roborans) untuk 

meningkatkan sistem tangkis dan daya ta-

han fisik, misalnya untuk revitalisasi sesudah  

meng idap penyakit berat. Orang muda di 

bawah ±50 tahun tidak dianjurkan mimum 

sediaan Ginseng (ekstrak, tingtur).

Mekanisme kerjanya belum jelas walaupun 

ada  banyak teori. Mungkin khasiat 

antioksidannya disebabkan oleh sintesis NO 

(nitrogenoksida) yang ditingkatkan di endo-

tel paru-paru, jantung, ginjal dan corpus-

cavernosum. NO sebagai antioksidan ampuh 

memicu  vasodilatasi dan dengan 

demikian menginduksi ereksi. Bandingkan 

mekanisme kerja sildenafil dan apomorfin di 


F2. Imunosupresiva

Imunosupresiva yaitu  zat-zat yang jus-

tru menekan aktivitas sistem imun melalui 

interaksi di berbagai titik dari sistem terse-

but. Cara kerjanya dalam proses imun berupa 

penghambatan transkripsi dari sitokin, 

sehingga mata rantai penting dalam respons 

imun diperlemah. Khususnya IL-2 yaitu  

esensial bagi perbanyakan dan dife-rensiasi 

limfosit, yang dapat dihambat pula oleh efek 

sitostatik langsung. Lagi pula T-cells dapat 

diinaktifkan atau dimusnahkan dengan 

pemberian antibodies terhadap limfosit.

pemakaian . Imunosupresiva banyak digu-

nakan untuk mencegah reaksi penolakan 

sesudah  transplantasi organ, akibat tubuh 

memben tuk antibo dies terhadap sel-sel 

asing yang diterimany a. Untuk ini sampai 

tahun 1995 selalu diberi kan kortikosteroid a, 

azati oprin, siklos porin dan kombina sinya. 

Introduksi dari obat calcineurinblockers (si-

klosporin dan takrolimus) dapat me nu-

runkan secara drastis penolakan akut dan 

meningkatkan persentase survival, begit u juga 

mikofenolat-mofetil. Risiko ini menuru n lagi 

dengan tibanya obat kelom pok terbaru IL2-

receptorblockers daklizumab (Zenapax), ba-

siliksimab (Simulect) dan sirolimus (Rapa-

mune), yang bekerja long-acting dan mem-

berikan lebih sedikit efek sam ping. Obat-obat 

ini dipakai  ber samaan dengan predni-

solon dan siklosporin atau takrolimu s. 

Sebagai profilaksis terhadap penolakan 

organ juga dipakai  everolimus (Certi-

can) dalam kadar rendah. Penghambat pro-

teinkinase ini dengan nama paten Afinitor 

juga diindikasikan terhadap kanker ginjal 

yang sudah progresif. Dari kelompok ini 

juga ada  temsirolimus (Torisel) untuk 

penyakit sama yang sudah bermetastasis.

Walaupun insidensi penolakan akut sudah 

menurun dengan drastis, namun  masa hidup 

organ transplantat pada dasawarsa terakhir 

tidak begitu meningkat. pemicu nya yaitu  

terjadinya disfungsi kronis, padamana fungsi 

organ lambat laun mengalami kemunduran. 

Ph Wkbl 2002 ; 137 : 1030-4 ; 1055

Imunosupresiva yang dipakai  sesudah  

transplantasi sel punca (stem-cell) mengaki-

batkan pasien mudah mendapatkan infek- 

si oportunistik dan yang terpenting yaitu  

infeksi oleh sitomegalovirus (CMV), yang 

disebut sebagai “troll of transplantation” (“pe-

nyihir” transplantasi). Efek klinik dari in-

feksi CMV dapat dikurangi dengan terapi 

profilaksis dan tersedianya obat-obat anti- 

virus yang efektif. Kadar dari CMV DNA 

di dalam darah (viremia) dimonitor melalui 

polymerase-chain-reaction (PCR) dan bila di-

deteksi viremia, pasien diberikan gansiklovir 

atau prodrugnya valgansiklovir sampai DNA 

viral tidak lagi terdeteksi.

Imunosupre siva juga sering diguna kan un-

tuk menekan aktivitas penya kit auto-imu n. 

Misalnya pada rematik dan penyakit radang 

usus (colitis ulcero sa, M. Crohn) diberikan 

sulfasa lazin dan sito sta tika (MTX, merkap-

topurin dan azatio prin) dengan efek baik. 

Penyakit auto-imun

Ciri dari penyakit ini yaitu  produksi (berlebihan) dari imunoglobulin yang sebagian diarah kan 

terhadap antigen dari tubuh sendiri dan biasanya  disertai hipersensitivitas.

Imunoglobulin dibentuk dari sel-sel plasma yang akibat rangsangan oleh antigen terbentuk dari 

limfosit dalam sistem limfatik. Limfosit ini memiliki “daya ingat” terhadap suatu antigen yang 

memicu  produksi dari antibodi dalam jumlah besar.

Antigen eksogen yaitu :

–  protein, lemak dan karbohidrat yang asing bagi tubuh dan sebagian terikat pada polisakarida;

– sel-sel asing bagi tubuh;

– bakteri dan virus

Pada keadaan normal tidak akan terbentuk antibodi terhadap protein dan sel-sel tubuh sendiri 

berdasar  suatu sifat yang disebut toleransi pada mana organ timus memegang peranan.

Timbulnya auto-imunitas dapat disebabkan oleh hilangnya sifat toleransi atau sebab  perubahan-

perubahan pada protein atau sel-sel tubuh akibat rangsangan tertentu, terutama infeksi virus.

Hipersensitivitas yang diiringi dengan pembentukan auto-antibodi misalnya terjadi pada penyakit 

lupus erythematodes disseminatus (LED). Sebagai akibat dari terutama obat-obat tertentu, juga eritrosit, 

lekosit dan trombosit dapat berfungsi sebagai antigen bagi tubuh sendiri, dengan akibat timbulnya 

trombositopeni dan lekopeni.

Peranan auto-antibodi juga ada  pada gangguan tiroid (penyakit Hashimoto), anemia perniciosa, 

RA (rheunatoid arthritis), multiple sclerosis (MS), colitis ulcerosa dan myasthenia gravis.

Pembentukan auto-antibodi dapat dicegah a.l. oleh obat-obat kortikosteroid, terutama prednison. 

Bila kortikoida tidak berhasil cukup baik, dapat juga dipakai  sitostatika, misalnya anti-metabolit 

6-merkaptopurin dan azatioprin (Imuran) yang memblokir metabolisme purin dan mult