kolestipol (sequestrant
asam empedu) yang merupakanobat-obat
penurun kolesterol tertua.
Berkhasiat mengikat asam empedu se-
hingga sekresi kolesterol ditingkatkan. Khu-
susnya menurunkan LDL-kolesterol (tipe
IIA) dan kolesterol total dengan 8-15%, ber-
sama nikotinat sampai 40% dan bekerja
sinergistik dengan penghambat-HMG-CoA re-
duktase. Kombinasi terakhir mampu menu-
runkan kadar LDL-kolesterol dengan 50-
60%! Penelitian telah menunjukkan bahwa
kolestiramin menurunkan insidensi gang-
guan kardiovaskuler pada penderita hiper-
kolesterolemia (Lipid Research Clinic trial). Zat
ini tidak di-absorpsi dari saluran cerna dan
aman dalam pemakaian jangka lama. Tidak
bekerja terhadap HDL, sedang TG dan
VLDL dapat meningkat!
Juga telah dilansir colesvelam (WelChol)
suatu sekwestran asam empedu yang efektif
dengan dosis 4-6 dd 625 mg.
b. Asam nikotinat (niacin) dan acipimox ter-
utama menurunkan TG dan VLDL, efeknya
terhadap kolesterol total dan LDL lebih ri-
ngan. Berhu bung efek sampingnya yang ti-
dak nyaman (vasodilatasi pembuluh muka,
flushing) khusus dipakai sebagai obat
tambahan pada damar dan fibrat.
c. fibrat: klofibrat, simfibrat, fenofi brat dan be-
zafibrat. Berkhasiat menurunkan TG dan
VLDL dengan kuat, koles terol total hanya
sedikit. LDL dapat diturun kan pula, sedang-
kan HDL dinaik kan sedikit, kecuali gemfi-
brozil yang menaikkan HDL dengan kuat.
(Helsinki Heart Study). Obat-obat ini dapat
menurunkan secara efektif terutama kadar
TG yang tinggi (±30%) berdasar peng-
ham batan pemasukan chylomi kron dari
usus ke darah dan aktivasi lipoprotein li-
pase yang meningkatkan katabolisme dari
lipoprotein yang kaya akan TG. Juga diguna
-kan pada HLD campuran. Singkatnya fi-
brat meningkatkan kadar HDL (±10%) dan
menurunkan kadar LDL dengan 10-15%.
d. statin:lovastatin, simvastatin, pravastatin,
atorvastatin dan rosuvastatin.
Obat yang paling ampuh dan “best-tole-
rated” untuk pengobatan dislipidemia yaitu
statin, yang termasuk dalam kelompok obat-
obat penghalang kompetitif dari HMG-CoA
reduktase.
Dosis tinggi dari statin yang lebih ampuh
seperti atorvastatin, simvastatin dan rosu-
vastatin juga dapat menurunkan kadar tri-
gliserida tinggi (akibat kadar VLDL yang
meningkat).
Pertama kali statin di isolasi dari mold
Penicillium citrinum di tahun 1976 oleh Endo
c.s. dan merupakan senyawa yang merupakan
penghalang dari sintesis kolesterol. Meka-
nismenya sebagai penghalang HMG-CoA
reduktase di temukan berdasar penelitian
oleh Brown dan Goldstein.
Statin pertama yang disetujui penggu-
naannya bagi manusia yaitu lovastatin yang
kemudian disusul oleh derivat lovastatin
yaitu pravastatin dan simvastatin, sedang
atorvastatin, fluvastatin, rosuvastatin dan pita-
vastatin yaitu senyawa sintetik.
Senyawa penghambat-reduktase (HMG-
CoA-reductase-inhibitors) ini berkhasiat menu-
runkan sintesis kolesterol endogen dalam
hati dan dengan demikian terjadi penurunan
kolesterol total dengan kuat, LDL (±30-40%),
TG dan VLDL lebih ringan, sedang HDL
dinaikkan. Dapat dikombinasi dengan damar
untuk pengobatan hiperlipidemia yang pa-
rah. Statin juga berkhasiat antitrombotik,
anti-aritmia dan antiradang dengan meng-
hambat sitokin-sitokin tertentu.
Efek samping biasanya ringan, a.l.
nyeri otot (2-11%, myopathie) reversibel, yang
adakalanya menjadi gangguan otot parah
yang disebut (statin-induced) rhabdomyolysis.26
Risiko myopathy dan rhabdomyolysis me-
ningkat dengan meningkatnya dosis statin
dan kadar plasma. Risiko ini juga meningkat
pada usia lanjut, disfungsi hati/ginjal dan
diabetes. Juga beberapa obat yang dipakai
bersamaan dapat meningkatkan risiko akan
myopathy, seperti fibrat-fibrat (gemfibrozil),
digoksin, warfarin dan antibiotika makro-
lida.
Pada tahun 2001 cerivastatin (Lipobay)
telah ditarik dari peredaran oleh Bayer, kare-
na kombinasinya dengan gemfibrozil me-
ningkatkan risiko akan gangguan fatal ini.
Juga terapi kombinasi senyawa statin lain
dan fibrat (mis. fenofibrat-pravastatin) dapat
memicu gangguan ini yang ditandai
nyeri dan lemah otot mendadak, gejala flu dan
urin berwarna gelap.18 19 Efek samping yang
paling sering terjadi dan berupa rasa letih
dan nyeri otot, terutama dari bokong dan
tungkai atas, disebabkan oleh berkurang-
nya kadar ko-enzim Q10(ubikinon) yang
pembentukannya turut dirintangi oleh sta-
tin. Semakin tinggi dosis statin, semakin be-
sar defisiensi Q10, yang merupakan antiok-
sidan terpenting yang melindungi LDL
terhadap oksidasi. Sekitar 5-10% dari peng-
guna statin (manula dan penderita gagal
jantung, Corona study, 2003-6) menghentikan
terapinya sebab efek itu di atas. Oleh
sebab itu untuk menghindarinya kalangan
komplementer menganjurkan untuk selalu
menambah nambahkan Q10 pada terapi dengan statin;
dosisnya 1-3 dd 100 mg.
Kolesterol tubuh disintesis dalam hati
maksimal menjelang tengah malam sampai
pukul 02.00 subuh. Oleh sebab itu statin
dengan t1/2< 4 jam harus diminum pada
malam hari, terkecuali atorvastatin (Lipitor)
dan rosuvastatin (Crestor).
Wanita hamil tidak boleh memakai nya
sebab statin berefek teratogen, lagipula ko-
lesterol mutlak dibutuhkan bagi pengem-
bangan janin.
pemakaian statin juga dihubungkan de-
ngan meningkatnya risiko diabetes (Journal
of the American College of Cardiology), namun
benefit dari statin lebih diutamakan pada
pasien dengan risiko gangguan kardiovas-
kuler.
Risiko diabetes ini lebih jelas pada sta-
tin yang berefek kuat (rosuvastatin ≥10 mg,
atorvastatin ≥20 mg dan simvastatin ≥40
mg) terutama pada 4 bulan pertama digu-
nakannya.
e. Obat lainnya. Neomisin sebagai monote-
rapi atau dikombinasi dengan damar, ba-
wang putih, minyak ikan dan sterol serta sta-
nol nabati. Kedua zat terakhir termasuk kelom-
Tabel 36-4: Antilipemika dan daya kerjanya
pok penghambat absorpsi kolesterol yang
berkhasiat menurunkan LDL kolesterol.
Bawang putih memiliki a.l. khasiat anti-
aterogen, menurunkan LDL, menghambat
agregasi trombosit dan menurunkan tekanan
darah. Maka sangat berguna sebagai obat
tambahan pada penanganan dan pencegahan
atherosclerosis dan PJP.
Minyak ikanmengandung dua jenis asam
lemak omega-3 dengan 5/6 ikatan tak-jenuh
(poly-unsaturated fatty acids, PUFA), yaitu
EPA (eicospentaenic acid) dan DHA (docosa-
hexaenic acid). Kedua PUFA ini memiliki
banyak khasiat, a.l. menurunkan kadar TG
darah namun efeknya terhadap HLD belum
dipastikan. Lihat selanjutnya Bab 54. Dasar-
dasar Diet Sehat.
MONOGRAFI
1. DAMAR PENGIKAT ASAM
EMPEDU
1a. Kolestiramin:Questran
Secara kimiawi damar penukar ion ini
(1961) yaitu polistiren dengan gugusan
-NH4 kwaterner, yang tidak diresorpsi oleh
usus. Berkhasiat menurunkan LDL dan
kolesterol total, berdasar pengikatan asam
empedu dalam usus halus menjadi kompleks
yang dikelu arkan melalui tinja. Tanpa asam
empedu, kolesterol tidak diserap lagi. Kadar
asam empedu dalam plasma menurun dan
hati distimul asi untuk meningkatkan sintesis
asam ini dari koles terol. Efeknya yaitu
turunnya LDL rata-rata dengan 25%.
pemakaian nya pada hiperkolesterolemia
tertentu sedang pada tipe lain biasanya
dikombinasi dengan klofibrat atau nikotinat
sebab tidak efektif terhadap VLDL. Bila
dalam waktu 2-3 bulan hasil nya kurang baik,
terapi hendaknya dihentikan. pemakaian
lainnya yaitu pada penyakit kuning
tertentu (hepatitis) dengan gatal-gatal hebat
akibat terhambatnya ekskre si asam empedu
oleh hati. Juga pada diare yang disebabkan
ada nya terlalu banyak garam empedu di
usus besar.
Efek sampingnya berupa gangguan lam-
bung-usus, terutama obstipa si. Rasanya tidak
enak. Resorpsi dari vita min A, D, E dan K
dapat berkurang, begitu pula obat-obat lain
yang diminum bersamaan waktu, maka se-
baiknya obat-obat demikian diminum 1 jam
sebelum kolestiramin. Pada pemakaian la-
ma, dianjurkan suplesi vitamin-vitamin ter-
sebut.
Dosis: permulaan 4 g ½ jam a.c. dicampur
dengan ±150 ml air (jangan diminum sebagai
zat padat), berangsur-angsur dinaikkan sam-
pai 1-2 dd 8 g. Pada gatal-gatal: permulaan 12-
16 g, lalu 4-8 g sehari, pada diare: 4 dd 4 g.
1b. Kolestipol: Colestid
Penukar ion ini dengan rumus kopolimer
triamin (1969) memiliki khasi at dan efek
samping yang sama dengan kolestiramin;
perbedaannya yaitu tidak berbau dan tanpa
rasa. dipakai pada hiper kolesterolemia dan
pada intoksi kasi digitoksin. Kombinasinya de-
ngan nikotinat dapat menurunkan koles te rol
sampai 45%.
Dosis: permulaan 1-2 dd 5 g d.c. dicampur
dengan air atau jus, untuk pemeliharaan 5-30
g sehari.
Catatan: Pada penggun aan terus-menerus,
kadar kolesterol bisa meningkat.
2. DERIVAT NIKOTINAT
2a. Asam nikotinat: niacin
Asam piridin-3-karbonat ini (1913) ber-
khasiat menurunkan LDL dan VLDL, se-
dangkan HDL dinaikkan. Mekanisme ker-
janya diperkira kan yaitu dihambatnya sin-
tesis LDL dan VLDL. Pembebasan asam
lemak (lipolysis) dari TG jaringan dihambat
pula, sehingga dalam hati tidak tersedia cu-
kup asam lemak bebas untuk sintesis lipida
dan lipoprotein. Dalam tubuh zat ini diubah
menjadi nikotinamida.
pemakaian nya pada hiperlipidemia jenis-
jenis tertentu dan juga dapat dikombinasi
dengan obat-obat lain. Adakalanya juga pada
ganggu an pembuluh perifer berkat khasiat
vasodilatasinya, lihat Bab 34. Vasodilator sub
8.
Efek sampingnya muka memerah (‘flushing’)
dan rasa panas disebabkan oleh efek vaso-
dilatasi, nyeri kepala, gatal-gatal dan iritasi
kulit, juga penglihatan berkurang.
Dosis: 3 dd 100 mg d.c., bila perlu berangsur-
angsur dinaikkan sampai 2-9 g sehari dalam
3-4 doses. Pada kejang pembuluh: 100-800 mg
sehari d.c.
2b. Acipimox: Olbetam, Nedios
Derivat pirazinkarbonat ini yaitu ana-
logon dari nikotinat (1990) dengan khasiat
dan efek samping sama. Selain itu, berkhasiat
menghambat pembebasan asam lemak dari
trigliserida, juga menstimulasi li poproteinlipase
di jaringan lemak, yang beraki bat percepatan
perombakan VLDL dan TG. Acipimox teru-
tama dipakai pada hiperlipide mia jenis-
jenis tertentu. Dianjurkan pengawasan tera-
tur dari fungsi hati, ginjal dan kadar urat.
Dosis: permulaan 2 dd 250 mg p.c., bila
perlu dinaikkan sampai 3 dd 250 mg.
3. FIBRAT
3a. Klofibrat: Arterol, *Liposol
Ester butirat ini (1963) berkhasiat menu-
runkan kadar VLDL dan TG berdasar
stimulasi aktivitas lipoproteinlipase, sehingga
perombakan dan ekskresi TG dan kolesterol
lewat tinja diperce pat. Oleh sebab itu zat ini
sangat efektif untuk menurunkan kadar TG,
namun kerjanya terhadap kolesterol (LDL)
lebih ringan, sebab umumnya penurunan
VLDL disertai kenaikan LDL. dipakai
pada TG yang meningkat (tipe III, adakalanya
tipe IIB dan IV). Bila sesudah 3 bulan efeknya
tidak memuaskan, pengobatan hendaknya
dihenti kan.
Resorpsi dari usus lambat namun lengkap;
di dalam hati segera dihidrolisir menjadi
metabolit aktif dengan PP ±95% dan t½ rata-
rata 15 jam. Ekskresi melalui urin sebagai
glukuronida.
Efek samping yang paling sering berupa
gangguan (sementara) saluran cerna, ka-
dangkala nyeri kepala, perasaan kantuk,
eksantema, stimul asi nafsu makan, rambut
rontok dan impotensi. Risiko batu empedu
dan radang kandung empedu meningkat.
Semua senyawa fibrat dapat memicu
suatu sindroma myositis (radang otot) yang
insidensinya lebih meningkat bila pada sa-
at bersamaan dipakai zat penghambat
reduktase.
Interaksi. Efek derivat kumarin diperkuat,
begitu pula efek furosemida dan antidiabetika
oral berdasar pendesakan dari ikatan
proteinnya.
Dosis: permulaan 500 mg sehari, berangsur-
angsur dinaikkan sampai 3-4 dd 500 mg d.c./
p.c.
* Simfibrat (Cholesolvin) merupakan senyawa
dari 2 molekul klofi brat dengan khasiat, sifat
dan pemakaian yang sama. Dosis: 3 dd 250-
500 mg d.c.
* Fenofibrat (Lipanthyl) yaitu derivat dengan
sifat dan pemakaian sama, namun khasiatnya
lebih kuat. Dosis: 3 dd 100 mg d.c.
* Bezafibrat (Bezalip/retard) (1978) yaitu de-
rivat dengan sifat dan pemakaian sama
pula. Dosis: 2-3 dd 200 mg.
3b. Gemfibrozil: Lopid, Lipozil
Derivat asam pentan ini (1982) terutama
berkhasiat menurun kan kadar TG (VLDL)
dan kolesterol (LDL), sedang HDL di-
naikkan. Mekanisme kerjanya diperkirakan
berdasar penghambatan produksi VLDL
dan stimulasi lipase untuk merombak TG.
dipakai pada terutama hipertrigliseride-
mia, juga pada hiperlipidemia tipe tertentu,
adakalanya bersamaan obat lain.
Resorpsi dari usus pesat dan lengkap, PP-
nya tinggi (95%), t½ ±1,5 jam. Dalam hati obat
ini sebagian dirombak dalam 4 metab olit dan
mengalami siklus enterohepatik. Ekskresi
berlang sung lewat urin (70%) dan feses (6%).
Efek samping dan interaksinya serupa dengan
klofibrat.
Dosis: 2 dd 600 mg 1/2 jam a.c., peme-
liharaan 900-1500 mg sehari.
4. STATIN (PENGHAMBAT
REDUKTASE)
Senyawa penghambat-Co-enzim-A reduktase
berkha siat menurun kan koleste rol total,
LDL, VLDL dan triglise rida, sedang kan HDL
sedikit meningkat. Efeknya yaitu pening-
katan kuosien HDL : koleste rol total dan
LDL diturunkan dengan 30-50%, padamana
khasiat atorvastatin dan rosuvastatin dengan
masa paruh panjang (t½ ±14-19 jam) lebih
kuat daripada simvastatin, pravastatin dan
fluvastatin (t½ 2-3 jam). Di samping blokade
sintesis kolesterol, statin juga meningkatkan
jumlah reseptor-LDL.
ada indikasi bahwa statin menurun-
kan risiko akan kanker,trombosis(NTvG
2002;146: 45), demensia Alzheimer (BMJ
2002; 324: 936) dan infeksi dengan HIV (Ph.
Wkbl 2004; 139 : 1243).
Meka nisme kerjanya berdasar kan peng ham-
batan enzim HMG-CoA-reduk tase yang da-
lam hati berperan esensial untuk penguba-
han HMG-CoA (hidroxi metil glutaril-coenzim A)
menjadi asam mevalo nat. Melalui langkah lain
akhirnya terbentuk kolesterol. Mevalonat
selainnya merupakan precursor kolesterol
yaitu juga precursor dari coenzym Q10
(ubiquinon, lihat Bab 14. Sitostatika dan Bab
49. Dasar-dasar Imunologi.), pemeran pen-
ting pada produksi enersi dalam sel. Oleh
sebab itu penghambatan pembentukannya
oleh statin memicu masalah bagi pro-
duksi enersi tubuh. Hal ini mungkin ada
hubungannya dengan kerusakan otot terten-
tu (rhabdomyolysis) yang pada tahun 2001
memicu penarikan cerivastatin (Lipo-
bay) dari peredaran.
HMG-CoA-
reduktase
↓
asetil-CoA → HMG-CoA → mevalonat → kolesterol
Gambar 36-2: Biosintesis kolesterol
(disederhanakan)
pemakaian . Bila menjalani diet tidak berhasil
cukup baik, statin merupakan obat pilihan
pertama untuk menurunkan total- dan LDL-
kolesterol pada hiperkolesterolemia pri-
mer maupun familial dan demikian dapat
mengurangi insidensi gangguan koroner dan
kematian. Juga untuk prevensi sekunder
sesudah infark, TIA, stroke, bedah bypass dan
pada angina stabil. Atau juga untuk prevensi
primer pada penderita berisiko tinggi.24,25
Mengingat peranan penting kolesterol pada
sintesis hormon, peng gunaannya pada anak-
anak tidak dianjurkan.
Di samping merintangi sintesis enzim
HMG-coenzim-A, statin juga menurunkan
kadar coenzim Q10, vitamin E dan beta-karo-
ten dalam darah. Q10 dan vitamin E merupa-
kan antioksidansia utama yang melindungi
LDL terhadap oksidasi menjadi oksi-LDL
dan timbulnya aterosklerosis. Penurunan
kadar Q10 ada hubungannya dengan keluhan
otot, kanker (carcinogenicity) dan fungsi
jantung (cardiomyopathy) Berhubung dengan
efek samping ini dianjurkan agar terapi statin
disertai pemberian vitamin E dan Q10. (JAMA
2002;287:598-605) sebagai prevensi kanker
dan lemah jantung.
Efek sampingnya berupa gangguan ringan
saluran cerna (nausea, obstipasi, flatulensi),
adakalanya nyeri kepala dan otot, reaksi kulit
dan rasa letih. Nyeri otot serta kejang-kejang
(myopathy) dapat terjadi, begitupula gangguan
mata dan fungsi hati (meningkatnya enzim
transaminase).
Lebih serius yaitu efek melemahkan otot
lurik akibat degradasi secara spontan dari
jaringan ini, yang disebut rhabdomyolysis
(Lat. rhabdomyo- : otot lurik, lysis: melarutkan).
Walaupun jarang terjadi, namun sangat
berbahaya sebab bisa fatal, terutama bila
dipakai terkombinasi dengan fibrat atau
nikotinat. Pada prinsipnya semua statin dapat
memicu efek samping ini yang diperkirakan
ada hubungannya dengan defisiensi coenzim Q10.
sesudah peristiwa penarikan cerivastatin, pa-
da awal 2005 atorvastatin telah memicu
heboh sebab juga dilaporkan beberapa
kasus rhabdomyolysis dan myopati pada
pemakaian bersamaan dengan gemfibrozil.
Mungkin dengan dosis rendah dari statin
efek buruk ini dapat dihindari. Bila sudah
terjadi, selain minum Q10 200 mg sehari, di
kalangan alternatif juga dianjurkan untuk
memakai suatu preparat kreatin. [Kre-
atin yaitu suatu senyawa amino yang ter-
utama ada di jaringan otot (dan darah)
bersama metabolit akhirnya kreatinin. Kreatin
disintesis di ginjal dan hati.] Berhubung de-
ngan hepato-toksisitasnya dianjurkan untuk
memantau fungsi hati setiap 4-6 minggu,
mengingat terapi dengan statin yaitu untuk
jangka panjang. Namun biasanya
senyawa statin memiliki indeks terapi (safety
margin) yang cukup besar.
Kontra-indikasi. Risiko akan myopati di-
perbesar bila dipakai bersamaan dengan
obat yang menghambat enzim cytochrom P450
(CYP 3A4) dengan efek meningkatkan kadar
plasma, terutama pada dosis agak tinggi (di
atas 20 mg simvastatin atau atorvastatin).
Misalnya eritromisin dan klaritromisin, ke-
tokonazol dan itrakonazol, diltiazem dan
verapamil, serta penghambat protease, juga
(sari) grapefruit. Pengecualian yaitu pravas-
tatin yang perombakannya tidak melalui
enzim CYP3A4.
Wanita hamil tidak dianjurkan meng-
gunakannya sebab senyawa statin dapat
memicu cacat pada bayi (bersifat
teratogen).
4a. Simvastatin: Zocor, *Inegy
Ester naftil dari asam butirat ini (1988)
dibentuk dari produk fermentasi jamur ter-
tentu dan dapat menurunkan kadar LDL
dan kolesterol total dalam 2-4 minggu.
Kadar VLDL dan TG juga dapat diturunkan,
sedang HDL dinaikkan sedikit. Diguna-
kan tersendiri atau dikombinasi dengan da-
mar. biasanya , efeknya sudah nyata
sesudah 2 minggu dan maksimal sesudah 1
bulan. Khasiat menurunkan LDL kuat, namun
lebih lemah daripada atorvastatin. Dosis dari
10 mg simvastatin per hari mampu menu-
runkan kadar LDL-kolesterol dengan 27%.23
Resorpsi dari usus baik, namun mengalami
FPE besar, PP tinggi. Di dalam hati simvastatin
inaktif segera diubah menjadi suatu metabolit
aktif. Ekskresinya berlangsung 69% melalui
empedu dan feses serta 13% lewat urin.
Efek samping. Selain efek umum juga ram-
but rontok (rever si bel), gangguan psikis (de-
presi, ketakutan, kecenderungan bunuh diri)
dan kerusakan hati (hepatitis).
Risiko untuk myopati pada dosis 20-40 mg
sehari rendah (kira-kira satu per 10000 pasien
per tahun), namun meningkat sampai kira-kira
sepuluh kali (sekitar satu per 1000 pasien per
tahun) pada dosis 80 mg sehari.
Berhubung dengan meningkatnya risiko
akan myopathy FDA menganjurkan dosis
simvastatin tidak lebih dari 80 mg.
Disebabkan dapat meningkatkan kadar
simvastatin beberapa jenis obat juga tidak
boleh dipakai bersamaan yakni itraco-
nazole, ketoconazole, posaconazole, erythro-
mycin, clarithromycin, telithromycin, HIV
protease inhibitors, nefazodone, gemfibrozil,
cyclosporine, danazol.
Lagipula pada dosis simvastatin melebihi
10 mg jangan memakai obat-obat amio-
darone, verapamil dan diltiazem. Amlodipin
dan ranolazin jangan dipakai pada dosis
simvasttin yang melebihi 20 mg.
Dosis: permulaan 10 mg malam hari, bila
perlu dinaikkan dengan interval 4 minggu
sampai maks. 40 mg.
* Inegy = simvastatin + ezetimibe
* Pravastatin (Pravachol, Selektin, Mevalotin)
yaitu derivat naftalen (1990), juga hasil fer-
mentasi jamur dengan khasiat, efek samping
dan pemakaian yang sama. Khasiatnya
separuh lebih lemah dari pada simvastatin.
Menurut laporan fungsi hati tidak terlalu
diganggu. Resorpsi pesat ±34%, mengalami
FPE tinggi sehingga BA-nya hanya 17%. PP-
nya ±50%, t½ 1,5-2 jam. Metabolitnya aktif
lemah; ekskresi melalui empedu dan feses
(70%) serta urin (20%).
Dosis: permulaan oral 10 mg malam hari,
bila perlu sesudah 4 minggu dinaikkan sampai
maks. 1 dd 40 mg.
* Fluvastatin (Lescol, Canef) yaitu derivat
indol sintetik dengan fluor (1994) yang pro-
fil kerja dan pemakaian nya sama pula.
Khasiatnya lebih lemah dari pravastatin. BA
hanya 24% akibat FPE tinggi, PP-nya lebih
dari 98%, t½ 1,4-3,2 jam. Dirombak menjadi
berbagai metabolit inaktif yang diekskresi
lewat feses (93%) dan urin (6%). Dosis: oral
20-40 mg malam hari.
4b. Atorvastatin: Lipitor
Derivat pyrrol sintetik ini (1997) memiliki
khasiat lebih kuat dari ketiga statin lainnya.
Dengan dosis rata-rata 20 mg/hari, LDL
dan TG diturunkan masing-masing 42%-
44% dan 32% Pada HLD „campuran“ dapat
dikombinasi dengan damar. Resorpsi dari
usus cepat, BA hanya 11% akibat FPE besar,
PP di atas 98%. Di dalam hati atorvastatin
dirombak menjadi metabolit aktif. Masa
paruhnya 14 jam. Dosis: permulaan 1 dd 10
mg (garam-Ca), bila perlu dinaikkan sampai
1 dd 80 mg.
Catatan: Atorvastatin juga memiliki sifat
antiradang dan dapat mengurangi keluhan
batuk pada pasien dengan bronchiektasis
(pelebaran bronkus setempat).
Lancet Respir Med 2014, epub
* Rosuvastatin (Crestor) yaitu derivat sin-
tetik (2001) yang khasiatnya terkuat dari
semua statin dengan penurunan kadar
kolesterol dan TG dari masing-masing 50%
dan 9-22%. Oleh sebab itu juga disebut
Superstatin. BA ±20% akibat FPE besar,
PP 90%. Dalam hati dimetabolisasi untuk
10% dan diekskresi secara utuh untuk 90%
melalui feses. Masa paruhnya 19 jam. Zat ini
bersifat relatif hidrofil, yang diperkirakan
yaitu pemicu bagi myotoksisitasnya yang
lebih ringan. Dosis: 1 dd 10 mg (garam-Ca),
pemeliharaan 10-80 mg.
4c. Ezetimibe: Zetia, Ezetrol
Obat ini (2003) selektif menghambat ab-
sorpsi kolesterol tanpa mengganggu absorpsi
vitamin-vitamin yang melarut dalam minyak.
Terapi kombinasi dengan atorvastatin dan
simvastatin memperkuat khasiatnya menu-
runkan kadar trigliserida, LDL dan total
kolesterol. Mekanisme kerjanya berdasar
penghindaran absorpsi kolesterol oleh en-
trosit di usus halus.
Bila dipakai sebagai monoterapi efektif
bagi pasien yang intoleran terhadap senyawa
statin, namun hanya dapat menurunkan kadar
kolesterol dengan ±15-20%, sama atau lebih
rendah daripada yang diperoleh dengan
kebanyakan statin. Kombinasi dengan statin
dapat menurunkan kadar LDL sampai rata-
rata 60%, lebih tinggi daripada monoterapi
dengan statin. (Feldman et al. Treatment of
high risk patients with ezetimibe plus sim-
vastatin co-administration versus simvas-
tatin alone. Am J Cardiol 2004, 93:1481-1486).
namun benefit klinis dari kombinasi ini tetap
kontroversial bila dibandingkan dengan efek
dari pemakaian statin saja. (Kastelein JJ et
al. Simvastatin with or without ezetimibe in
familial hypercholesterolaemia).
Resorpsinya cepat, terikat pada protein
plasma 88-93% sebagai metabolit aktif dan
99,7% sebagai ezetimibe. T1/2 ± 22 jam dan di
eliminasi 78% via feses dan 11% melalui urin.
Efek samping. Pernah terjadi rabdomyolisis
Sebagai monoterapi sering kali sakit perut,
diare, perasaan lelah, gangguan saluran pen-
cernaan. Juga trombositopeni, sembelit, pu-
sing-pusing dan depresi.
Bila dikombinasi dengan statin, sering kali
sakit kepala dan nyeri otot. Juga mulut kering
dan gatal-gatal.
Dosis: dewasa dan anak > 10 tahun 1 dd 10
mg.
5. OBAT LAINNYA
5a.Sterol nabati22,23: stigmastanol, sitostanol,
sitosterol
Senyawa-senyawa ini dengan struktur mi-
rip kolesterol yaitu bagian dari membran
sel tumbuhan dan merupakan bahan bangun
bagi hormon-hormon tumbuhan. Sumber
terpenting dalam makanan yaitu minyak
nabati, kacang-kacangan dan gandum (wheat
germ oil), namun jumlahnya kecil sekali. Juga
ada pada pohon cemara. Berkhasiat
menurunkan resorpsi kolesterol dari ±50%
menjadi 20%, dengan mengikatnya dalam
usus, sehingga kadar kolesterol darah juga
menurun. Sterol nabati terpenting beta-
sitosterol (etilkolesterol, dengan ikatan tak-
jenuh antara C5-C6) tidak diresorpsi dan
dalam usus dibebaskan dari esternya. Pa-
da tahun 1957 perusahaan Lilly sudah me-
lansir sitosterol sebagai obat penurun kadar
kolesterol, namun tidak berhasil dalam pema-
sarannya sebab dibutuhkan dosis dari 6
sampai 18 g seharinya yang tidak menarik
bagi pemakai. Dewasa ini sitosterol sudah
dipakai sebagai suplemen dalam bahan
makanan seperti margarin, halvarin dan
yoghurt. Bahan makanan yang diperkaya
ini (mis. Benecol, Becel Pro-Activ) dinamakan
„novel atau functional foods”(nutraceuticals).
Bila margarin yang diperkaya itu
dipakai ±20 g setiap hari, kadar kolesterol
dapat menurun dengan ±8%.
* Serat nabati terdiri dari polisakarida yang
tidak dapat dicerna oleh flora usus dan
tidak diserap. Yang terpenting yaitu selu-
losa, hemiselulosa, lignin, pektin dan sejenis
gom. Banyak ada sebagai dinding sel
dari gandum, sayuran dan buah-buahan.
Berkhasiat antilipemik sebab menyerap
asam empedu, yang dikeluarkan lewat feses.
Tanpa asam ini resorpsi kolesterol (dan li-
pida lainnya) sangat berkurang, sehingga
kadarnya dalam plasma menurun. Ban-
dingkan dengan mekanisme kerja damar.
Lihat selanjutnya Bab 54. Dasar-dasar diet
sehat, A. Hidratarang.
5b. Bawang putih: Allium sativum, Nature
Garlic, Kyolic
Umbi ini dari family Liliaceae berasal da-
ri kawasan Himalaya dan mengandung
minyak atsiri dengan senyawa sulfur orga-
nik. Kandungan terpentingnya yaitu aliin
(S-allyl-L-cysteinsulfoxide, tanpa bau) yang
oleh enzim aliinase diubah menjadi zat aktif
allicin (diallyl-dithio-sulfoxide) dengan bau
khasnya. Allicin secara spontan dapat beru-
bah menjadi dialilsulfida. Zat kandungan
aktif lainnya yaitu alkilpolisulfida ajuen,
glutaminpeptida, peptidaglikosida dan
adenosin.
Khasiatnya. Bawang putih bersifat anti-
aterogen dan penting bagi penurunan risiko
PJP berhubung berbagai daya kerjanya yaitu:
– antilipemik (ekstrak dan allicin) dengan
menurunkan kadar kolesterol (LDL) dan
trigliserida, sedang HDL dinaikkan
sedikit; 13
– hipotensif, zat aktifnya belum diketahui;
– antitrombotik (perasan, ajuen dan alli-
cin) menghambat agregasi trombosit,
sehingga aktivitas fibrinolitik dari da-
rah menurun dan waktu pembekuan
diperpanjang.
Di samping ini bawang putih memiliki
pula beberapa khasiat lainnya, yaitu:
– daya hipoglikemik: diperkirakan allicin
mengaktifkan sekresi insulin dan sintesis
glikogen hati;
– bakteriostatik dan virustatik lemah ter-
hadap banyak kuman Gram-positif dan
Gram-negatif, Candida, Aspergillus dan
Trichophyton (ekstrak dan allicin);melalui
aktivasi NKc (Neutral Killer cells) dari
sistem imun. Orang yang mengonsumsi 2
siung bawang putih sehari ternyata lebih
jarang dihinggapi kanker. Bawang biasa
(Allium cepa) mungkin juga memiliki
khasiat ini.
pemakaian . berdasar sifat baiknya, ba-
wang putih banyak dipakai sebagai zat
tambahan pada penanganan dan prevensi
aterosklerosis, juga pada keadaan kolesterol
tinggi. Di Nepal dan Cina, sejak zaman
purbakala bawang putih dipakai untuk
gangguan lambung-usus (enteritis, rasa kem-
bung, kejang perut/usus). Adakalanya juga
sebagai obat rakyat pada infeksi kulit. Sedia-
an yang diminum harus terstandardisasi
dengan mendeklarasi kadar allicin-nya.
Efek samping yang jarang terjadi berupa
alergi seperti dermatitis kontak dan serangan
asma.
Dosis: bawang putih segar 5 g sehari, yaitu
2 dd 1 siung atau 2 dd 1 g serbuk kering
dengan kadar allicin yang diketahui.
5c. Neomisin
Antibiotik ini yaitu campuran dari neo-
misin A, B dan C, yang dibentuk oleh ja-
mur Streptomyces fradiae (1949). Zat-zat A
dan B merupakan stereoisomer, sedang
C yaitu hasil perombakan dari A dan B.
Berkhasiat menurunkan kolesterol dan
LDL dengan mengubah micel dalam rongga
usus. Mekanisme kerja nya mungkin sama
dengan damar, yaitu mengi kat asam kolat
di duodenum sehingga absorpsi kolesterol
menurun. Ekskresi asam empedu meningkat
3-5 kali, memicu depot kolesterol total
menurun. Efeknya terhadap TG, VLDL dan
HDL bervariasi. Neomisin tidak diabsorpsi
dalam usus. dipakai pada hiperlipidemia
primer, mis. tipe IIa. Adakalanya pada hi-
perkolesterolemia familiar bersamaan de-
ngan damar bila efek neomisin kurang ber-
hasil.
Efek samping berupa a.l. enterocolitis, sebab
terganggu nya flora bakteri. Juga nausea,
diare dan malabsorpsi. Pada dosis tinggi
timbul gangguan darah, hati dan pendenga-
ran.
Dosis: oral 0,5-2 g p.c. dalam 2-3 dosis.
Untuk penggun aan lainnya lihat Bab 5.
Antibiotika.
5d. Minyak ikan
Kandungan asam lemak omega-3 (n-3) EPA
dan DHA berkhasiat antilipemik, antitrom-
botik dan antihipertensif ringan, serta
bermanfaat pula sebagai zat tambahan pada
pengobatan dan prevensi PJP. Dari banyak
studi dengan hasil bertentangan dapat
disimpulkan bahwa EPA dapat menurunkan
kadar TG dengan ±25%, sedang kadar
LDL dan HDL dinaikkan 1-3%, sehingga
kadar kolesterol total tidak berubah. Di
samping itu EPA juga berkhasiat antiradang
dan berguna pada penyakit peradangan,
seperti rema dan p.Crohn. Pada eczema
konstitusional dan SLE(Systemic Lupus ery-
thematosus) juga dilaporkan efek baiknya.
Akhirnya EPA dan juga asam lemak n-6 asam
gammalinolenat (GLA) berkhasiat antitu-
mor. Mekanisme kerjanya berdasar pen-
desakan asam arachidonat dari membran sel,
sehingga prostaglandin-E2yang memiliki efek
stimulasi terhadap pertumbuhan tumor tidak
terbentuk lagi. Bermanfaat pada gangguan
ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Syn-
drome, lihat Bab 31) pada anak-anak. Lihat
selanjutnya Bab 54. Dasar-dasar diet sehat, C.
Lemak.
OBAT JANTUNG
Obat-obat jantung atau cardiaca (Lat. cor =
jantung) yaitu obat-obat yang secara lang-
sung dapat memulihkan fungsi otot jantung
yang terganggu ke keadaan normal. Obat-
obat lain, yang di samping sifat khususnya
juga bekerja terhadap jantung, tidak termasuk
definisi ini dan telah dibahas di bab-bab lain,
misalnya adrenalin di Bab 31A dan neostigmin
di Bab 32A.
FISIOLOGI JANTUNG
Jantung dapat diibaratkan suatu pompa ber-
ganda, yang terdiri dari bagian kanan dan
kiri. Bagian kanan memompa darah dari tu-
buh ke paru-paru, sedang bagian kiri
memompa darah dari paru-paru ke tubuh.
Setiap bagian terdiri dari 2 kompartimen:
di atas serambi (atrium) dan di bawah bi-
lik (ventriculus). Antara serambi dan bilik
ada katup, begitu pula antara bilik dan
aorta (arteri besar). Fungsi keempat katup ini
yaitu untuk menjamin darah mengalir ke
hanya satu jurusan. Lihat Gambar 37-1.
Sirkulasi darah. Fungsi utama peredaran
darah yaitu penyaluran oksigen dan zat-
zat-gizi yang dibutuhkan untuk metabo lisme
ke jaringan dan organ. Darah yang miskin-O2
dan kaya-CO2 melalui vena masuk kembali
Gambar 37-1: Kerja jantung
ke jantung di serambi kanan dan mengalir
ke bilik kanan. Dari sini darah dite ruskan
ke paru-paru, di mana darah melepas kan
karbondioksi danya dan menye rap oksigen
(sirkulasi kecil). Darah kaya-O2 lalu mengalir
kembali ke serambi kiri dan melalui bilik kiri
dipompa ke aorta dan organ tubuh (sirkulasi
besar). Di dinding serambi kanan ada
‘pace-maker’ jantung alamiah (simpul sinus),
yang menentukan irama jantung.
Volume menit(cardiac output) yaitu jumlah
darah yang setiap menit dipompa oleh jan-
tung ke dalam arteri besar. Volume-menit
ini yaitu rata-rata 5 l/menit pada frekuensi
jantung rata-rata 70-80 detak/menit dan da-
pat diperbesar atau diperke cil sesuai kebu-
tuhan. Misalnya, selama pengeluaran tenaga
besar, seperti pada olahraga, volume-menit
orang muda bisa meningkat sampai 25 l/
menit, sebab jantung mendetak sampai 180
kali per menit. Orang dewasa memiliki 4,5-5
l darah.
Diastole-sistole. Pada setiap denyutan dapat
dibedakan dua tahap , yaitu diastole, pada
mana otot jantung melepaskan diri dan bi-
Gambar 37-2: Diagram sirkulasi darah
liknya terpenuhi darah vena. Kemudian
menyusul sistole, pada mana otot jantung
menguncup (kontraksi) sebagai reaksi terha-
dap diastole, sehingga darah dipompa ke
luar jantung ke dalam arteri. Volume darah
yang pada setiap kontraksi dipompa ke luar
bilik jantung disebut volume pukulan (stroke
volume), yang pada orang dewasa berjum lah
±60 ml.
Bila aliran darah ke jantung meningkat,
artinya TD vena menguat, maka frekuensi pu-
kulan jantung pun harus dinaikkan. Dengan
lain kata, volume menitnya harus diperbesar,
sesuai dengan persamaan: volume pukulan x
frekuensi = volume menit.
ATEROSKLEROSIS (AS)
Gangguan ini bercirikan adanya “sarang”
pada endotel arteri sebab penumpukan
kolesterol, polisakarida, endapan kalsium,
fibrinogen, produk darah lain dan jaringan
ikat. Plak ini (plaques) memicu penge-
rasan pembuluh arteri dan menyempitkan
liangnya, bahkan dapat menyumbatnya
hingga memicu terhambat atau ter-
hentinya penyaluran darah ke organ pen-
ting, misalnya ke jantung (angina, infark).
Lihat juga Bab 36, Antilipemika, Atheros-
clerosis.
pemicu nya. ada indikasi bahwa
suatu proses peradangan berperan pada
terjadinya gangguan ini, pada mana infeksi
kuman terlibat pada timbulnya luka ateros-
klerotis di dinding arteri. pemicu nya di-
duga Chlamydia pneumoniae, kuman Gram-
negatif yang dapat memicu pneumonia
atipis. Membran luarnya–seperti pada semua
kuman Gram-negatif– untuk sebagian besar
terdiri dari liposakarida (endotoksin) dengan
sifat meradang kuat. Kuman ditularkan me-
lalui infeksi tetes (droplet infection) dari
saluran pernapasan, dengan masa inkubasi
beberapa minggu. Infeksi mendorong pem-
bentukan antibodies,yaitu IgA, IgM dan
IgG. Dari saluran pernapasan kuman me-
nyebar melalui lekosit ke berbagai organ dan
toksinnya diangkut ke antara lain dinding
pembuluh. Di tempat ini dimulailah proses
peradangan setempat yang bercirikan re-
kruting limfo-T, perombakan kolagen dan
proliferasi otot polos. Peradangan menjadi
kronis dan dengan demikian tercetuslah
proses aterosklerosis dari dinding pembuluh,
di mana juga berperan LDL-kolesterol yang
teroksidasi (oksi-LDL).
Infeksi saluran pernapasan akut umum-
nya dimulai pada masa kanak-kanak dan
berlangsung asimtomatis. Hanya jarang tam-
pil sebagai bronchitis atau pneumonia yang
berlangsung lambat. Aterosklerosis meru-
pakan faktor risiko bagi infark di jantung
maupun di otak. Mikroorganisme lain yang
juga dihubungkan dengan infeksi dinding
pembuluh dan terjadinya aterosklerosis ada-
lah Helicobacter pylori (pemicu tukak lam-
bung/usus) dan Cytomegalovirus/Herpes.
Di samping penyakit jantung, infeksi
Chlamydia juga dihubungkan dengan ba-
nyak gangguan lain, khususnya asma dan
demensia Alzheimer. Penanganan efektif
dapat dilakukan dengan antibiotik broad-
spectrum.
Faktor risiko
Penyakit jantung dan pembuluh (PJP) meru-
pakan pemicu kematian utama di negara-
negara Barat, misalnya di negeri Belanda
±35% dari seluruh kematian disebabkan oleh
penyakit ini. Hampir selalu pemicu nya
yaitu proses aterosklerosis yang dipercepat
bila ada faktor-faktor risiko dan bahkan
lebih dipercepat lagi bila ada beberapa faktor
risiko bersamaan. Dapat dikenali faktor-
faktor klasik dan non-klasik atau baru.
Faktor klasik mencakup usia, jenis kelamin
(pria), merokok, tekanan darah sistolis tinggi
dan hiperko les terolemia. Di samping itu juga
kegemukan, inakti vitas fisik, diabe tes, bentuk
stres tertentu dan faktor genetik atau predisposisi
familial meningkatkan risikonya.
Faktor non-klasik / baru untuk aterosklerosis
prematur (sebelum waktunya) yaitu hipertri-
gli seridemia dengan HDL rendah (<0,9 mmol/l)
dan kadar homosistein tinggi (hyperhomocys-
teinemia)21 dalam darah dan mungkin juga
infeksi kuman.
* Kadar homosistein tinggi. Asam amino
ini terbentuk sebagai produk-antara pada
reaksi pengubahan methionin menjadi sistein,
sebagai berikut:
methionin –––> homosistein –––> sistein
Minum kopi terlalu banyak (lebih dari 3-4
cangkir sehari) ternyata meningkatkan ka-
dar homosistein, terutama bila bers amaan
dengan kebiasaan merokok. Sebaliknya, kopi
tanpa kofein (“decaf”) tidak memperlihatkan
efek buruk ini, minum teh malahan bisa me-
nurunkan kadar homosistein (The Hordalund
Homosisteine Study. Am J Clin Nutr 1997; 65:
136-43).
* Homosistein (HC) dan aterosklerosis. Se-
cara oksidatif kadar HC tinggi mungkin se-
kali memberikan efek negatif pada endotel
pembuluh yang lalu disusul oleh penggum-
palan trombosit dan pembentukan trombus.
HC mengalami auto-oksidasi cepat, pada
mana terbentuk radikal bebas (superoxide-
anion, peroksida). Radikal ini memicu
antara lain oksidasi LDL dan merusak endo-
tel sehingga jaringan otot di bawahnya “ter-
buka”. sebab itu, leukosit dan trombosit
yang telah diaktifkan mendorong jaringan
otot untuk berproliferasi dan demikianlah
proses AS dimulai. Aspek lain yaitu ber-
kurangnya produksi nitrogenoksida (NO)
oleh endotel yang rusak. NO bekerja vaso-
dilatasi dan dapat bereaksi dengan HC di
samping meniadakan efek buruknya.
* Pengobatan. Kadar homosistein tinggi da-
pat diatasi secara efektif dengan asam folat
(0,4-1 mg/hari), vitamin B6 (20-50 mg), vitamin
B12 (0,5-1 mg) dan/atau betain. Lihat juga Bab
39. Hematopoëtika, Asam folat.
– Makanan yang kaya akan protein me-
ngandung asam amino metionin, yang
dirubah menjadi homosistein.
– Kadar homosistein yang tinggi merusak
endotel arteri.
– Kolesterol melekat dan menumpuk di
endotel yang rusak dan dapat menjurus
ke blokade fatal.
Lokasi atherosclerosis
AS terutama timbul di bagian arteri dengan
arus darah kuat dan paling sering di arteri
koroner, otak dan tungkai.
– AS di jantung memicu serangan
angina pectoris atau pada penyumbat-
an lengkap dari arteri koroner infark
jantung dengan kemungkinan kematian
mendadak;
– AS di otak. Biasanya tanpa keluhan atau
dengan serangan keku rangan darah se-
mentara (TIA = transient ischaemic attack ).
Pada penyum batan total terjadi infark
Gambar 37-2a: Homosistein dan aterosklerosis
otak (CVA = Cerebral Vascular Acci-
dent), yang tidak jarang berakhir fatal.
Perdarahan otak (stroke,beroerte) akibat
pecahnya kapiler (aneurysma) merupakan
bentuk CVA kedua;
- AS di tungkai dengan ‘penyakit etalase’
(claudicatio inter mit tens ), yang geja lanya
jalan pincang berkala dengan kejang dan
rasa nyeri hebat di tungkai.Pada kasus
parah dapat terjadi matinya jaringan
(necrosis) dan amputasi kaki. Lihat Bab 34,
Vasodila tor.
Pencegahan AS
Terjadinya pengapuran, hiperlipidemia dan
PJP dapat dihindari secara efektif dengan diet
sehat dan mence gah overweight. Begitu pula
menjauhkan faktor risiko seperti mero kok dan
mengobati hipertensi dan diabe tes. Juga aktivi-
tas fi sik secara teratur yaitu sangat penting.
Terbukti bahwa intervensi melalui pola diet
sehat dan aktivitas fi sik sama efektifnya
dengan intervensi melalui obat-obat untuk
prevensi PJP. 22,29
* Diet sehat meliputi pemba ta san kalori
total, artinya makan secukup nya namun
jangan terlampau banyak dan pembatasan
lemak total, lemak jenuh (lemak hewan,
mentega, margarin biasa, minyak kelapa),
kolesterol, garam dan gula. Di samping itu
dian jurkan untuk meningkatkan asupan serat
nabati (buah-buahan dan sayur-mayur)23,
lemak tak-jenuh (PUFA) yang ada an-
tara lain dalam minyak kedele, jagung dan
kembang matahari serta banyak minum air
putih (minimal 1,5 L per hari). Lemak tak-
jenuh memberi efek melindungi terhadap
ateroskle rosis dan PJP. Diet sehari-ha ri dari
orang yang hidup di sekitar Lautan Tengah
(Medi terranean diet) mengandung terutama
ikan dan minyak zaitun, dengan kadar tinggi
asam lemak tak-jenuh (De Longeril M et al.
Mediterranean diet. Circulation 1999; 99:
779-85). Angka kemati an rakyat di daerah
itu akibat PJP ternyata 2-3 kali lebih
rendah dibandingkan angka rata-rata di
dunia Barat. Dianjurkan pula makan ikan
berlemak 1-2 kali seminggu dan banyak
sayur-mayur segar serta buah-buahan, yang
mengandung banyak serat nabati dan flavonoi-
da dengan khasiat antioksidans kuat. Zat-zat
ini, terutama querce tin, antara lain berkhasiat
merintangi oksidasi LDL menjadi oksi-
LDL yang bersifat aterogen dan memegang
peranan penting pada terben tuknya plak
aterosklero tik. Dari beberapa penyelidikan
telah ternyata dengan jelas bahwa diet
Mediterranean dapat memperpanjang usia.31
Lihat selanjutnya Bab 54, Dasar-dasar diet
sehat.
Minum alkohol dalam jumlah kecil (mi-
salnya 1-3 gelas bir sehari) juga memper-
lihatkan efek pelindung.
* Aktivitas fisik juga sangat penting. Ternyata
bahwa berja lan (agak cepat) atau berlari
santai 3-5 kali seminggu dapat menurunkan
risiko PJP .
GANGGUAN JANTUNG
PENTING DAN TERAPINYA
Penyakit jantung terpenting yang dapat
diobati dengan cardiaca yaitu infark jantung
(serangan jantung, heart attack), angina pectoris,
aritmia, dekompensasi (gagal jantung, heart
failure) dan syok jantung. Keempat gangguan
terakhir dapat terjadi sebagai akibat infark,
namun tidak selalu demikian. Penyakit jantung
akan dibahas agak mendalam di bawah ini.
1. Infark jantung
Arteri koroner yang mensuplai darah ke
jantung menjalar di seluruh bagi an luar otot
jantung dan dapat tersumbat oleh endap-
an kolesterol dan kapur (atherosclero sis).
Sekitar tempat penyempitan, yaitu bagian
dalam pembuluh, dapat robek yang meng-
akibatkan pembekuan darah setempat. Bi-
la suatu gumpalan darah beku (trombus)
menyumbat aliran darah jantung (trombo-
sis koroner), maka terjadilah infark jantung
yang umumnya disebut seran gan jantung
(heart attack). Akibatnya, bagian jantung
Gambar 37-3: Deposit lemak di arteri koroner dan infark jantung
bersangkutan tidak menerima lagi darah, zat-
zat gizi serta oksigen dan dalam waktu 6-12
jam berangsur-angsur mati (lihat Gambar
37-4). Di jaringan mati terben tuk parut dan
terutama parut besar dapat mengganggu
fungsi pompa jantung.
Bila daerah infark kecil, sisa otot jantung
yang sehat memili ki cukup tenaga cadangan
untuk menang gulangi kehilangan itu .
Sebaliknya, bila infark terlalu luas, maka
detak jantung akan berhen ti total.
Gejalanya berupa nyeri mendadak yang
hebat sekali di bela kang tulang dada yang
sering kali menyebar ke dua sisi dada dan
lamanya lebih dari setengah jam. Biasanya,
namun tidak selalu, disertai mual (dan mun-
tah), berkeringat hebat, sesak napas dan
muka membiru, rasa gelisah dan takut mati,
debar jantung (tachy cardia), di samping tidak
mampu mengge rakkan kaki-tangan. Lihat
Gambar 37-4.
Gambar 37-4: Tanda-tanda dini infark
jantung
Berlainan dengan angina pectoris (lihat sub
2), serangan nyeri pada infark sering kali
timbul dalam keadaan istirahat dan bertahan
lebih lama (sampai beberapa jam), juga ber-
sifat lebih hebat dan tidak dapat diatasi de-
ngan nitrogliserin.
Diagnosis. Dikenal beberapa penyakit yang
gejalanya sangat mirip infark jantung dan
sering kali dikelirukan dengannya, misalnya
tukak dan perforasi lambung, peradangan
mukosa lambung, juga seran gan hiperventilasi
(akibat kekurangan karbondioksida dalam
darah sebab pernapasan terlalu cepat).
Di samping elektrocardiogram (ECG) ada
beberapa tes darah untuk memastikan betul
adanya infark jantung. Tes-tes ini berda-
sarkan meningkatnya (sementara) kadar en-
zim dan zat-zat lain yang dilepaskan oleh
sel-sel jantung yang mati. Pertanda infark
penting yaitu kadar creatinekinase (CK-MB)
dan myoglobin (juga tropo nin T) yang ±6 dan 3
jam sesudah infark masing-masing mencapai
ketinggian maksimalnya. Semakin besar
infark, semakin tinggi kadar itu .
Komplika si gawat sering kali menyusul
infark, a.l. aritmi a, dekompensasi dan syok.
Sangat penting yaitu ganggu an irama jantung,
terutama fibrilasi bilik,yang bila tidak segera
ditangani dapat meng akibat kan terhenti nya
jantung yang fatal. Gagal jantung(dekom pen-
sasi) terjadi bila jantung kurang mampu lagi
memompa darah ke seluruh tubuh sebab
sebagian besar terkena infark dan mati. Bila
volume menit turun di bawah ±50% dapat
terjadi syok jantung, sebab semua jaringan
menerima terlampau sedikit darah.
Kurang lebih 65% pasien infark mening-
gal akibat aritmi a pada hari pertama. Maka
pencegahan komplika si itu yaitu sa-
ngat penting.
Prevensi. ada sejumlah indikasi bahwa
makan banyak zat alamiah flavonoida dapat
menurunkan risiko (sampai separuh) infark
jantung. Flavonoida yaitu antioksidansia
alamiah yang banyak terkandung dalam
sayur-mayur segar dan buah-buahan. Yang
terpenting yaitu quercetin dan apigen-
in, kempferol, luteolin dan myrice tin.
Teruta-ma ada dalam bawang dan buah
apel, juga dalam teh hijau dan anggur merah
Begitu pula vitamin E dalam dosis tinggi,
400-800 UI sehari, dapat mengu rangi risiko
infark. Lihat juga Bab 36, Antilipemika,
Prevensi atherosclerosis. Hal ini berdasar
sifat vitamin E sebagai antioksidans yang
mampu “menangkap” radikal oksigen bebas
dan menghindari terbentuknya modifikasi-
oksidasi dari LDL26 sehingga memperlambat
pembentukan plak aterosklerotik. namun
beberapa penelitian menunjukkan bahwa
untuk prevensi penyakit jantung koroner
dibutuhkan tidak hanya satu antioksidans
namun suatu kombinasi dari antioksidansia
yang melarut maupun yang tidak melarut
dalam air. Misalnya vitamin C yang dapat
merecycle vitamin E dan membentuk kembali
radikal vitamin ini.27,28
Efek pelindung flavonoida terhadap PJP ber-
dasarkan kha siat antioksidans seperti diu-
raikan di atas, flavonoida juga menghambat
agre gasi trombo sit dan pembentukan trom-
bus. (Lancet 1993; 342: 1007-11). Oleh sebab
itu senyawa-senyawa ini memegang peranan
penting pada pencegahan proses atheroscle-
rosis dan terja dinya infark jantung serta PJP
lainnya. Lihat selanjutnya Bab 53, Vitamin
dan mine ral. Radikal bebas dan antioksi-
dans ia.
Tindakan umum yang dapat dilakukan sen-
diri untuk mencegah infark kedua yaitu
dengan menjalani pola hidup yang sama
seperti pada angina pectoris, lihat di bawah.
Pengobatan. Infark akut perlu diobati di
rumah sakit sedini mungkin (dalam waktu 6
jam) agar memperkecil risiko maut. Kelom-
pok obat yang umum dipakai yaitu :
a. Trombolitika untuk melarutkan trombus
yang menyumbat arteri koroner, antara
lain streptokinase, alteplase, urokinase dan
retep lase. Injeksi intra vena pada waktunya
dapat meniada kan penyumbatan dan
membuka lagi arteri koroner sehingga
besar nya infark dibata si. Dengan demi-
kian risiko kemati an dapat diperkecil
sampai ±50%. Di samping itu sering kali
diberikan antitrombotikum (heparin) un-
tuk mencegah pembentukan trombus ba-
ru. Lihat juga Bab 38, Antitrombotika.
b. Antiaritmika (lidokain, amiodaron, sotalol)
dahulu sering kali diberi kan untuk me-
ncegah aritmi a, khususnya fibril asi bilik
yang berbaha ya. namun kini ternyata
bahwa obat-obat ini tidak mengurangi
risiko kematian sehingga hanya digu-
nakan dalam kasus tertentu.
c. Analgetika narko tika (mor fin, pe tidin atau
fentanil) dan suatu tranquilli zer (diazepam,
drope ridoldan sebagainya) dapat diberikan
kemudian untuk melawan nyeri dan rasa
takut.
Semua medikasi diberikan parenteral agar
menjamin efek yang cepat. Penanganan se-
gera sesudah infark —yang selalu terjadi
secara mendadak— yaitu masalah hidup
atau mati!
Posmedikasi (pengobatan selanjutnya) di-
langsungkan segera sesudah infark dengan
maksud menghindari infark kedua. Untuk ini
dipakai :
– antiko agulansia antara lain aseno ku ma-
rol, warfarin dan penghambat trombin xime-
lagatran30.
– antitrom botika: asetosal (dosis rendah),
indobufen (Ibustrin) yang dapat merin-
tan gi peng gum palan trombosit dan
pembentukan trombus. Obat-obat anti-
agregasi ini dapat mengurangi infark
jantung dengan ±50%. Lihat Bab 38,
Antitrombotika.
– β-blocker tertentu (proprano lol, metopro-
lol dan timo lol), yang ternyata dapat me-
ngurangi rein fark dan kematian sampai
±25%. Perlu diminum selama 1-2 tahun.
Pindolol (dengan ISA) tidak dianjurkan.
– penghambat-ACE dahulu merupakan
kontraindikasi, namun sejak bebera pa ta-
hun dianjurkan bagi pasien dengan risiko
reinfark yang meningkat.
– antilipemika(atorvastatin, simvastatin, dan
sebagainya) menguran gi komplikasi dan
mortalitas, oleh sebab itu dianjurkan
bagi pasien dengan kadar kolesterol
tinggi (di atas 8 mmol/l).
Catatan. Beberapa tahun sesudah dilahirkan,
sel-sel otot jantung (cardiomyocyt) kehilangan
kemampuannya untuk membentuk sel baru.
Oleh sebab itu kerusakan jaringan otot
jantung akibat infark tidak dapat direge-
nerasi. Para ilmuwan Amerika menyelidiki
kemungkinan pemakaian stem cells (sel
punca) dari sumsum tulang untuk men-
ciptakan jaringan cardiomyocyt baru dan
memperbaiki fungsi myocard yang rusak.24,25
(lihat juga Bab 14, Sitostatika).
2. Angina pectoris
Gejala angina berupa serangan nyeri he-
bat di bawah tulang dada (regio jantung)
yang sering kali menjalar ke kedua bahu,
adakalanya ke leher dan rahang atau ke
lengan yang dirasakan sangat berat. Terutama
timbul bila berjalan (naik tangga, bukit) atau
mengeluarkan tenaga segera sesu dah makan.
Lamanya serangan umumnya antara 5 dan 30
menit.
Gangguan ini terjadi sebagai akibat ke-
kurangan oksigen otot jantung (hipok sia)
pada pembebanan fisik atau emosional
yang meningkatkan konsumsi oksigen oleh
jantung, juga sebab pengaruh hawa dingin.
pemicu nya yang terpenting yaitu pen-
ciutan satu atau lebih arteri koroner, hingga
penyaluran darah ke otot jantung berku rang.
Akibatnya yaitu timbulnya gejala-gejala
khas dari angina pectoris, sebab produk-
produk sampah yang dilepaskan pada proses
kontraksi otot jantung, menumpuk di jaringan
yang kekurangan peredaran darah. Situasi ini
masih mencukupi dalam keadaan istirahat,
namun tidak lagi bila jantung dibebani lebih
berat dan timbullah kekuran gan darah akut.
Komplikasiyang dapat terjadi -secara tidak
kentara- berupa kerusa kan pada otot jantung,
yang dapat memengaruhi pembentukan
impuls listrik dalam jantung dan terjadinya
gangguan ritme (lihat sub 3). Misalnya jantung
dapat berdetak demikian cepat sehingga
selama beberapa detik darah praktis tidak
dipompa lagi ke dalam aorta. Akibatnya
yaitu turunnya TD secara menda dak!
Jenis-jenis angina yang dikenal yaitu :
angina stabil akibat penciutan arteri jan-
tung (stenosis) atau juga akibat kejang yang
terjadi selama atau sesudah mengelu arkan
tenaga (exertion) atau emosi. Juga ada
pola tertentu mengenai sakit dan frekuensi
serangannya.
angina instabil, yaitu angina stabil yang
mendadak sangat memperbu ruk dan dapat
timbul pada pengeluaran tenaga atau sewak-
tu istirahat dan dapat merupakan indikasi
akan timbulnya infark (‘infark mengan cam’).
Jenis angina ini memiliki patologi berla--
inan, yang disebabkan erosi dari plak-plak
pembuluh dan memicu agregasi pe-
lat-pelat darah. Penderita demikian perlu
diberikan β-blocker bersamaan dengan obat-
obat penghindar agregasi trombosit dan
heparin untuk mengurangi risiko trombosis.
Bila gejala-gejala ini tidak dapat dikuasai,
perlu segera dipertimbangkan tindakan re-
vaskularisasi.
angina variant atau angina Prinzmetal aki-
bat kejang sementa ra arteri jantung. Serangan
nyeri timbul spontan dalam keadaan istira hat
dan kebanyakan terjadi pada malam hari.
Bentuk ini jarang ada .
Tindakan umum yang perlu sekali dilakukan
untuk mengurangi serangan angina (dan
akhirnya menghindari infark jantung) yaitu
menurunkan kegiatan jantung dan dengan
demikian kebutuhannya akan oksigen. Tin-
dakan dan cara hidup itu di bawah
ini juga berlaku bagi calon/pa sien infark
jantung, yaitu:
– berhenti merokok.Nikotin dari tembakau
memicu vasokonstriksi dengan pe-
ningkatan TD dan frekuensi denyutan
jantung (heart rate) yang meningkatkan
kebutuhan jantung akan oksigen. Lagi-
pula asap rokok mengandung karbon mo-
nok sida yang memperkecil penyerapan
oksigen di paru-paru. Juga ada ter
yang selain bersifat karsinogen (kanker
paru-paru!) pada jangka panjang dapat
pula merusak dinding pembuluh dengan
efek aterosklerosis. Juga pembentukan kar-
boksihemoglobin menurunkan kemampuan
darah untuk mengangkut oksigen. Oleh
sebab efek-efek buruk ini, berhenti me-
rokok yaitu jauh lebih penting dari
pada semua tindakan yang diuraikan
selanjutnya. Lihat juga Bab 35, Tindakan
umum pada hipertensi.
– membatasi minum kopi dan alkohol sam-
pai masing-masing 2-3 cangkir dan 2-3
konsumsi. Lihat Bab 36, Prevensi athe-
rosclerosis.
– menurunkan overweight (diet lemak dan
kolesterol). Lihat Bab 31C. Anoreksansia.
– menghindari beban berat, baik mental
(stress, emosi) maupun fisik, terutama
sesudah makan
– berjalan cepat 0,5-1 jam sehari atau 3-5
kali seminggu, atau berlari santai untuk
memperbaiki sirkulasi
– mengobati hipertensibila ada, sebab TD
tinggi memperburuk keadaan pembuluh
(diet garam, dan lain-lain, lihat Bab 35,
Antihipertensiva)
Pengobatan. Masalah kekurangan darah
(ischemia) pada angina dapat diatasi dengan
sejumlah obat, yakni:
– nitrogliserin untuk menanggulangi se-
rangan akut, bila perlu bersama suatu
analgetikum narkotik (morfin, fentanil) un-
tuk mengatasi nyeri dan sedasi;
– β-blocker (penghemat pemakaian oksi-
gen) pada angina stabil/instabil untuk
mengurangi kebutuhan akan oksigen;
– vasodilator koroner, antara lain nitrat long-
acting (isosorbidani trat) dan antagonis Ca
(diltiazem dan verapamil) untuk memper-
lancar sirkulasi darah dan oksigen. Nife-
dipin short-acting tidak dianjurkan ber-
hubung adanya laporan mengenai efek
karsinogen pada jangka panjang.
Penghematan pemakaian oksigen dapat
dicapai pula dengan cara menghindari atau
mengurangi aktivitas fisik, yang membebani
jantung (seperti kerja terlampau keras),
menghindari perubahan suhu drastis atau
berjalan (bertenaga) dengan lambung penuh.
Penanganan lain
Pada sindrom koroner akut dan angina
pecto ris stabil yang tidak dapat diatasi de-
ngan obat-obat itu di atas sering kali
dilakukan prosedur khas untuk menang-
gulangi penyempi tan di suatu arteri jantung
dengan cara:
a. Metode dr Dotter (‘dottering’) (Dotter
dan Judkins, 1964) yang beberapa tahun
kemudian disusul dengan introduksi
dari dilatasi balon (koronerangioplastik)
oleh Andreas Gruentzig di tahun 1977
(lihat Bab Bab 34, Vasodilator) dengan
mengguna kan sebuah kateter dengan
balon di ujungnya yang dapat digelem-
bung kan, oleh sebab itu juga dinamakan
balondilatasi atau rekanalisissi (percu-
taneous transarterial coronary angioplasty;
PTCA), lihat Gambar 37-5. Dengan de-
mikian, ather oma diratakan pada dinding
pembuluh dan lubang diperlebar.
Pada sebagian besar pasien timbul kom-
plikasi dengan sobekan-sobekan di lapis-
an dalam dari arteri koronaria yang
memicu timbulnya trombose, se-
hingga perlu penanganan ulang. Perkem-
bangan selanjutnya yaitu pemasangan
stent pertama (Julio Palmaz, 1985) yang
terdiri dari frame logam (mesh tube) yang
kaku dan dapat menghindari penutupan
akut dari pembuluh.
Ternyata bahwa pada sebagian pasien
masih timbul penyumbatan pembuluh
akut, yang memicu perlunya di-
gunakan obat-obat perintang agregasi
trombosit dan antikoagulansia dengan
risiko perdarahan (14%). Juga timbul
peradangan lokal di dinding pembu-
luh dengan parut dan re-stenosis (pe-
nyumbatan kembali). Untuk menga-
tasi masalah serius ini pada tahun
2002 diluncurkan “drug-eluting stent”
pertama yang terdiri dari stent yang
dilapisi dengan suatu zat polimer yang
melepaskan obat dengan lambat laun dan
kontinu selama 1-12 bulan dan berfungsi
menghindari re-stenosis.
Perkembangan yang lebih baru dituju-
kan pembuatan stent yang dapat melarut
dan dapat menghindari masalah-masalah
yang ada pada drug-eluting stents
generasi terbaru (ketiga).
b. Bedah bypass atau bedah pintas jan-
tung koroner (coronary artery bypass
grafting; CABG) hampir selalu dilakukan
bila dottering tidak mungkin dilakukan
lagi, misalnya sebab ada stenosis
pada lebih dari 2-3 arteri. Pada pembe-
dahan ini dibuat jalan pintas di segmen
arteri jantung yang tersumbat (bypass)
dengan memakai sepotong vena
dari lengan atau tungkai pasien sendiri.
Dinding vena lebih tipis daripada dinding
arteri dan akibat tekanan darah yang
lebih tinggi dalam fungsi barunya, sel-sel
endotel vena mulai memperbanyak diri,
yang dalam beberapa tahun (±7 tahun)
akan memicu stenosis lagi pada
sekitar separuh dari kasus.
c. Terapi gen . Perkembangan terbaru meng-
gunakan keping DNA, yang mengan-
dung gen untuk VEGF (Vascular Endo-
thelial Growth Factor). Gen ini pada pe-
ngembangan embryo berfungsi bagi
pembentukan sistem pembuluh, namun ke-
mudian tidak aktif lagi. Bila gen ini di-
suntikkan ke dalam arteri koroner, maka
pertumbuhan cabang pembuluh baru
sekitar jantung akan distimulasi. Metode
ini, yang tidak memicu masalah
seperti akibat dottering maupun bedah
bypass, sekarang ini secara eksperimental
sudah dilaksanakan dengan sukses dan
telah disempurnakan untuk pemakaian
secara umum.
3. Aritmia
Jantung dapat diibaratkan suatu organ
dengan empat rongga. Di sebelah kanan,
darah masuk dari pembuluh tubuh ke dalam
serambi (atrium), dipompa ke bilik kanan
(ventrikel) dan lalu ke paru-paru (sirkulasi
kecil). Dari paru-paru, darah yang kaya
oksigen dikembalikan ke serambi kiri, yang
memompanya ke dalam bilik kiri dan sete-
rusnya melalui aorta ke semua organ tubuh
(sirkulasi besar).
Kontraksi otot jantung (myocard) diatur
oleh suatu aliran listrik kecil. Di dinding
serambi kanan ada suatu “pacemaker”
alami (simpul sinus ), yang secara teratur
melepaskan arus listrik. Impuls ini menjalar
melalui kedua serambi, namun tidak bisa
mencapai bilik, sebab antara kedua serambi
dan kedua bilik ada suatu lapisan isolasi.
Impuls dapat melalui batas ini ke bilik hanya
di satu tempat, yakni di simpul AV (atrio-
ventrikuler). Di sini arus ditahan sekadar
sampai bilik terisi penuh darah secara op-
timal, sehingga dicapai fungsi pompa yang Gambar 37-5: Bedah bypass
seefisien mungkin.Impuls lalu menjalar de-
ngan cepat melalui saraf Bundle dari HIS
ke kedua bilik. Lihat Gambar 37-2. Dengan
demikian, setiap kali sesudah serambi meng-
uncup, segera (sesudah ±0,18 detik) bilik akan
berkontraksi. Ritme normal terletak antara 70
dan 80 denyut per menit.
Gangguan ritme dapat berupa kelainan da-
lam frekuensi denyut jantung, padamana
serambi atau bilik berdenyut lebih cepat atau
lebih lambat dari normal (tachycardia [supra]
ventrikuler, extrasysto le dan lain-lain). Begitu
pula penyaluran impuls dapat terganggu,
sebab hipertensi atau kebocoran katup
jantung dengan antara lain kemungkinan
terjadinya A.V.-block. Oleh sebab itu impuls
tidak menyebar dengan baik sehingga dapat
saling berlawanan dan juga di tempat lain
dapat terjadi impuls abnormal yang dapat
memicu kekacauan. Aritmia sering-
kali berlang sung dengan selang-seling (inter-
mit tent) dan tidak selalu disadari oleh pasien.
Untuk diagnosisnya selalu diperlu kan ana-
lisis ECG (elek trocardio gram).
Elektrokardiogram
Aktivitas listrik dari jantung yang secara gra-
fik tertera pada elektrokardiogram terbagi
dalam 2 tahap , yaitu tahap depolarisasi dan tahap
repolarisasi.
Depolarisasi merupakan hasil pengaliran
masuk (instroom) dari ion-ion positif Na+
dan Ca++ via saluran (channel) natrium dan
kalsium melalui membran sel dalam sel otot
jantung. Akibatnya kontraksi otot jantung
distimulasi (kompleks QRS pada ECG).
Gambar 37-5a: Elektrokardiogram
normal
Repolarisasi merupakan hasil dari penga-
liran keluar (uitstroom, efflux) dari terutama
ion K+ via saluran kalium dari sel-sel otot
jantung (segmen ST pada ECG, gelombang T
dan gelombang U).
* Fibrilasi serambi (atrium) bercirikan kon-
traksi secara tidak teratur, sehingga pengisian
bilik dengan darah kurang baik dan terjadi
sekadar pembendungan darah. Pada umum-
nya bilik tidak dipengaruhi banyak oleh
“kekacauan” di serambi dan hanya berdenyut
sedikit kurang teratur dengan setiap denyut
jumlah darah yang dipompanya tidak sama.
Keadaan ini dirasakan sangat tidak nyaman
oleh pasien, namun tidak membahayaka















