yang teren dah terjadi pada malam hari
sewaktu tidur. Pagi hari sesudah bangun ti-
dur, TD berangsur-angsur naik dan biasanya
mencapai puncaknya pada siang hari selama
bertugas dengan banyak kemungkinan akan
situasi penuh stres . Oleh sebab itu, untuk
menen tukan dengan pasti adanya hipertensi
diperlukan minimal 3 penguku ran pada saat
berlainan (berselang minimal 1 minggu).
Pengulangan ini perlu untuk meniadakan
faktor yang dapat meningkatkan tensi, se-
perti stres, emosi, rasa letih dan sebagainya.
Pada tahun 2003 dua Komisi Hipertensi di
AS dan Europa telah memberikan petunjuk
bagi diagnosis dan terapi hipertensi, yang
dalam garis besar diterima oleh WHO. Dalam
saran ini dikemukakan beberapa perubahan
terhadap pengertian hipertensi dibandingkan
dengan kebijakan lama, antara lain mengenai
nilai-nilai TD tujuan. Tensi dapat dibagi
dalam beberapa stadia dengan nilai-nilainya
tersendiri, lihat selanjutnya Tabel 35-1 untuk
klasifikasi tekanan darah.
Bila juga ada suatu faktor risiko kar-
diovaskuler, seperti diabetes tipe-2, maka
nilai TD tujuan diturunkan sampai <130/80
mmHg. TD juga meningkat sesuai usia aki-
bat bertambahnya pengapu ran/pengerasan
pembuluh, sehingga sukar dikatakan dengan
pasti kapan betul-betul ada hipertensi.
Namun tidak jarang pada lansia di atas 65
tahun tanpa faktor risiko, TD sampai 150-160/
80-90 mmHg masih dianggap akseptabel oleh
sebagian dokter.
Klasifikasi
Sistolis Diastolis
mm/Hg mm/Hg
normal <120 dan <80
normal tinggi 130-139 atau 85-89
hipertensi 140-159 atau 90-99
tingkat I
hipertensi ≥160 atau ≥100
tingkat II
Tabel 35-1: Klasifikasi tekanan darah
orang dewasa.
Sesuai pedoman hipertensi terakhir dari
Amerika istilah “normal tinggi” diganti de-
ngan “prehipertensi” untuk menunjukkan
bahwa tekanan darah demikian merupakan
stadium awal dari hipertensi
* Faktor risiko PJP. Hipertensi sebetulnya
bukan penyakit, melainkan merupakan salah
satu faktor risiko untuk terjadinya penyakit
jantung dan pembuluh (PJP), khususnya
CVA (cerebrovascularaccident, infark atau pen-
darahan di otak). Di samping hipertensi fak-
tor-faktor risiko lain yaitu merokok, kdar
koles terol dan homosistein yang meningkat,
kegemukan (overweight,BMI>27), jenis kela-
min(pria,wanitasesudahmenopauze),diabe tes
mellitus serta keturunan (bawaan).
TD diastolis dan sistolis. Tradisional TD
diastolis umumnya dianggap lebih penting
daripada TD sistolis sebagai faktor risiko
PJP. Namun penelitian baru menunjukkan
bahwa tensi sistolis sama pentingnya untuk
meramalkan berbagai komplikasi hipertensi
(stroke, PJP, gagal jantung). Bahkan pada
orang di atas 50 tahun TD sistolis mungkin
lebih penting dari pada TD diastolis.Terutama
lansia dapat menderita hipertensi sistolis
tunggal yang sering kali sukar diturunkan
dengan pengobatan.28
* Regulasi tekanan darah. Ginjal memegang
peranan utama pada pengaturan tingginya
TD, yang berlangsung melalui suatu sistem
khusus, yaitu Sistem Renin-Angioten sin-
Aldosteron, disingkat RAAS. Dua jenis en-
zim memegang peranan pada daya kerja
sistem ini, yaitu renin dan Angiotensin Con-
verting Enzyme (ACE. Kininase II, dipepti-
dylkarboksi-peptidase).
Bila volume darah yang mengalir melalui
ginjal berku rang dan TD di glomeruli ginjal
menurun, misalnya sebab penyempi tan
arteri setempat, maka ginjal dapat memben-
tuk dan melepaskan enzim proteolitik renin
(Tiegerstedt dan Bergman, 1898). Dalam plas-
ma renin menghidrolisis gliko-protein angio-
tensinogen (yang terbentuk di dalam hati
dan merupakan substrat bagi renin) menjadi
angio tensin I (AT I) suatu docapeptida.
Zat ini diubah oleh enzim ACE (Angiotensin
ConvertingEnzyme,yang disintesis antara lain
di paru-paru) menjadi zat aktif angio tensin
II, suatu octapep-tida, yang jauh lebih aktif.
AT II ini antara lain berefek vasokonstriktif
kuat dan menstimulasi sekresi hormon al-
dosteron oleh anak-ginjal dengan sifat retensi
garam dan air. Akibatnya volume-darah dan
TD naik lagi menjadi normal.
Gambar 35-1: Sistem Renin-Angiotensin-
Aldosteron (RAAS)
Penghambat renin langsung yaitu aliski-
ren yang dipakai sebagai obat antihiper-
tensi.
Penghambat RAS (Sistem Renin-Angiotensin)
yang dipakai dalam terapi, terdiri dari 3
tipe:
• penghambat ACE (kaptopril, 1999; enal-
april): menghambat konversi dari Ang.-I
menjadi Ang.-II
• perintang reseptor angiotensin (AT-II-
reseptor-blockers atau antagonis AT-II))
• penghambat renin langsung (betablocker)
Di samping regulasi hormonal melalui RAAS,
masih ada beberapa faktor fisiologi yang
dapat memengaruhi TD, yakni:
a. volume pukulan jantung. Ini yaitu
jumlah darah yang pada setiap kontraksi
dipompa keluar jantung. Semakin besar
volume ini, semakin tinggi TD. Beberapa
zat, misalnya garam dapur (NaCl) da-
pat mengikat air, sehingga volume da-
rah total meningkat. Sebagai efeknya,
tekanan atas dinding arteri meningkat
pula dan jantung harus memompa lebih
keras untuk menyalurkan volume darah
yang bertambah. Hasilnya TD akan naik.
b. kelenturan dinding arteri. Pembuluh
yang dindingnya sudah mengeras sebab
endapan kolesterol dan kapur (atheroma)
memicu TD lebih tinggi diban-
dingkan dinding yang masih lentur.
c. pelepasan neurohormon adrenalin dan
noradrenalin, yang antara lain berkha-
siat menciutkan arteri perifer hingga
TD naik. Keadaan ini terutama terjadi
pada waktu emosi hebat (gelisah, takut,
marah dan sebagainya) atau selama olah-
raga bertenaga, sistem saraf adrenergik
terangsang dan melepaskan neurohor-
mon itu (lihat Bab 31, Adrener-
gika). Peningkatan noradrenalin juga
dapat disebabkan oleh situasi stres dan
merokok.
Hipertensi
Hipertensi yaitu suatu kelainan, suatu geja-
la dari gangguan pada mekanisme regulasi
TD yang diuraikan di atas dan merupa-
kan faktor risiko yang sangat umum bagi
penyakit jantung dan pembuluh. Diperki-
rakan bahwa± 25% dari penduduk dunia
menderita gangguan ini. Di samping peru-
bahan pola hidup penanganannya terdiri dari
pengobatan, sering kali seumur hidup, untuk
menurunkan tekanan darah dengan tujuan
menghindari komplikasi yang dapat timbul.
pemicu nya hanya lebih kurang 10% dari
semua kasus yang diketahui, antara lain
akibat penyakit ginjal dan penciutan aorta/
arteri ginjal, juga akibat tumor di anak-ginjal
dengan efek overpro duksi hormon-hormon
tertentu yang berkhasiat meningkatkan TD
(feochromcytoma). Dalam kebany akan kasus
pemicu nya tidak diketahui dan bentuk
umum ini disebut hipertensi esensial. Faktor
keturunan berperan penting pada timbulnya
jenis hipertensi ini.
Risiko hipertensi yang tidak diobati besar
sekali dan dapat memicu kerusakan
pada a.l. jantung, otak dan mata. TD yang
terlampau tinggi memicu jantung me-
mompa lebih keras, yang akhirnya dapat
memicu gagal jantung (decompensa-
tio) dengan rasa sesak dan udema di kaki.
Pembuluh juga akan lebih mengeras un-
tuk menahan TD yang meningkat. Pada
umumnya risiko terpenting yaitu serangan
otak (stroke, beroerte, dengan kelumpuhan
separo tubuh) akibat pecahnya suatu kapiler
dan mungkin juga infark jantung. Begitu
pula cacat pada ginjal dan pembu luh mata,
yang dapat meng akibatkan kemunduran
pengli ha tan. Komplikasi otak dan jantung
itu sering kali bersi fat fatal, misalnya di
negara-negara Barat 30% lebih dari seluruh
kemati an disebab kan oleh hipertensi!
Gejala stroke
• kelemahan mendadak atau hilang rasa
dari muka, tangan dan kaki, biasanya
satu sisi dari tubuh;
• bicara tidak jelas atau sama sekali tidak
bisa bicara;
Gambar 35-1a: Obstruksi penyaluran
darah ke sebagian dari otak akibat
stroke biasanya memengaruhi fungsi
dari satu bagian spesifik dari tubuh.
Sumber: Home Health Fact File, Heart,
Blood & Respiratory System.
• penglihatan kabur;
• pusing, hilang keseimbangan atau ter-
jatuh;
• mendadak sakit kepala hebat.
Faktor peningkatan Td
Ada beberapa faktor yang dapat mening-
katkan TD secara reversibel, antara lain:
a. garam. Ion natrium memicu re-
tensi air, sehingga volume darah bertam-
bah dan memicu daya tahan pem-
buluh meningkat. Juga memper kuat
efek vasokonstriksi noradrenalin. Secara
statistik ternya ta bahwa pada kelompok
penduduk yang mengonsumsi terlalu
banyak garam ada lebih banyak
hipertensi daripada orang-orang yang
memakan hanya sedikit garam.
b. merokok. Nikotin dalam rokok berefek
vasokonstriktif dan meningkatkan TD.
Merokok memperkuat efek buruk dari
hiper tensi terhadap sistem pembuluh.
c. pil antihamil mengandung hormon wa-
nita estrogen, yang juga bersifat retensi
garam dan air. Wanita yang peka seba-
iknya menerapkan suatu cara pemba-
tasan kelahiran lain.
d. stres (ketegangan emosional) dapat me-
ningkat kan TD untuk sementara akibat
pelepasan adrenalin dan noradre nalin
(hormon stress), yang bersifat vasokon-
striktif. TD meningkat pula pada waktu
ketegangan fi sik (pengeluaran tenaga,
olahraga). Bila stres hilang, TD menurun
lagi.
e. drop (liquorice), sejenis gula-gula yang di-
buat dari Succus liquiritiae mengandung
asam glizirinat dengan khasiat retensi air
pula, yang dapat meningkatkan TD bila
dimakan dalam jumlah besar.
f. hormon pria dan kortikosteroida juga
berkhasiat retensi air. sesudah pengguna-
an hormon ini dihentikan biasanya
TD menurun dan menjadi normal kem-
bali.
g. kehamilan. Yang terkenal yaitu kena-
ikan TD yang dapat terjadi selama keha-
milan. Mekanisme hipertensi ini serupa
dengan proses di ginjal; bila uterus dire-
gangkan terlampau banyak (oleh janin)
dan menerima kurang darah, maka
dilepaskannya zat-zat yang meningkat-
kan TD.
Gejala hipertensi
Hipertensi tidak memberikan gejala khas,
baru sesudah beberapa tahun adakalanya
pasien merasakan nyeri kepala pada pagi
hari sebelum bangun tidur dan rasa nyeri ini
biasanya hilang sesudah bangun.
Hipertensi hanya dapat dikenali dengan
penguku ran tensi dan ada kalanya melalui
peme riksaan tambahan terhadap ginjal dan
pembuluh.
Pencegahan
Walaupun faktor keturunan memegang pe-
ranan penting, namun cara dan pola hidup
sangat esensial dalam pencegahan hipertensi.
Misalnya, makan berlebihan dengan terlalu
banyak lemak serta garam (dan gula), ter-
lampau sedikit gerak badan dan merokok,
dapat mendorong terja dinya hipertensi. Lihat
‘Tindakan-tindakan umum’ .
* Kontrol teratur. Mengingat hipertensi
sering kali tidak memberikan ge jala dan
hebatnya risiko untuk jangka panjang (bila
tidak ditan gani), maka perlu sekali untuk
mengenali penyakit “tersembunyi” ini sedini
mungkin.
Oleh sebab itu dianjurkan pengontrolan
TD berkala, misalnya setiap 1 atau 2 tahun
sekali, terlebih-lebih pula bagi mereka di atas
usia 45 tahun atau yang memiliki orang tua
atau saudara yang menderita hiper tensi.
Dari data klinis ternyata bahwa terapi pe-
nurunan TD dapat mengurangi insidensi
stroke dengan 35-40%; infark jantung dengan
20-25%; gagal jantung dengan >50%.26
Tindakan umum
Penderita TD tinggi tanpa adanya sebab-
sebab organik yang jelas dapat menerapkan
sendiri sejumlah aturan hidup untuk menu-
run kan tensinya. Pola hidup yang baik juga
meningkatkan efektivitas obat-obat antihi-
pertensi dan mengurangi risiko PJP.
a. Menguruskan badan (Horvath et al.
2008)34. Berat badan berlebihan (kege-
mukan) memicu bertambahnya vo-
lume darah dan perluasan sistem sirku-
lasi. Bila bobot ekstra dihilangkan TD
dapat turun kurang lebih 0,7/0,5 mm Hg
setiap kg penurunan. Dianjurkan BMI
antara 18,5-24,9 kg/m2.
b. Mengurangi garam dalam diet (Cham-
pagne, 2006)35 dahulu dianggap sebagai
tinda kan umum terpenting berdasar
perkiraan berikut. Bila kadar Na di filtrat
glomeruli rendah, maka lebih banyak air
akan dikelu arkan untuk menormalisasi
kadar garam dalam darah. Akibat pe-
ngeluaran ekstra air itu , TD akan
turun. namun dalam praktik ternyata
mengurangi konsumsi garam sulit sekali
direali sasikan. Setiap hari umumnya kita
makan lebih dari 10 g garam dan lebih
dari separuhnya ada dalam berbagai
makanan (ikan asin, sayur, daging, snack
dan sebagainya). Pengurangan setiap
gram garam sehari dapat berefek penu-
runan tensi 1 mm Hg. Oleh sebab itu
untuk mencapai penurunan TD yang
nyata, konsumsi garam harus dibatasi
sampai < 6 g sehari , walaupun pelaksa-
naannya sulit sekali.
c. Membatasi kolesterol bermanfaat untuk
membatasi risiko atherosclerosis, lihat Bab
36, Antili pemika, antara lain dengan me-
ngurangi/menghindari asupan lemak je-
nuh (saturated dan total fat). Konsumsi
serat-serat nabati justru hendaknya di-
perbanyak, sebab terbukti bahwa serat
dalam makanan dapat membantu menu-
runkan TD. Diketa hui pula bahwa orang-
orang vegetarir, yakni yang pantang da-
ging dan makan banyak sayur dan buah-
buahan (mengandung banyak serat), ra-
ta-rata memiliki tensi yang lebih rendah
daripada orang ‘bia sa’.
d. Berhenti merokok. Tembakau mengan-
dung nikotin yang memper kuat kerja
jantung dan menciutkan arteri kecil hing-
ga sirkul asi darah berkurang dan TD
meningkat. Lagi pula karbon mo noksida
(CO) dalam asap mengikat hemoglo-
bin lebih cepat dan lebih kuat daripada
oksigen, hingga penyerapan O2 di paru-
paru sangat dikuran gi. Selain itu ter
dalam asap bersifat karsinogen dan pada
jangka panjang dapat merusak dinding
pembu luh dengan efek atherosklerosis.
Berhu bung banyak nya efek buruk, se-
mua tindakan ini jauh lebih penting dari-
pada tindakan-tindakan yang berikut.
e. Membatasi minum kopi sampai maksi-
mal 3 cangkir sehari. Kofein dalam ko-pi
berkhasiat menciutkan pembuluh yang
secara akut dapat meningkatkan TD de-
ngan terjadi nya gangguan ritme (semen-
tara). Kopi tubruk ternyata dapat mening-
katkan koleste rol darah akibat kandungan
lemak jenuhnya. Kopi ek strak/larut tan-
pa lemak tidak memperlihatkan efek
buruk ini. Minum lebih dari 5 cangkir
sehari meningkatkan risiko infark sam-
pai 70%, terutama pada wanita dengan
angina pectoris atau hiperten si. Pada
jangka lama minum terlalu banyak kopi
juga memicu me ningkatnya LDL.
f. Membatasi minum alkohol sampai 2-3
konsumsi (bir, anggur) sehari. Alkohol
memiliki banyak khasiat, antara lain vaso-
dilatasi, peningkatan HDL-kolesterol, fibri-
nolitis dan mengurangi kecondongan beku
darah. namun minum lebih dari 40 g
sehari untuk jangka waktu panjang dapat
mening katkan tensi diasto lis sampai 0,5
mm per 10 g alkohol. Lihat juga Bab 36,
Faktor-faktor baik atherosclerosis.
Menurut penelitian anggur merah yang
tidak beralkohol dapat menurunkan te-
kanan darah lebih baik daripada anggur
merah biasa. Disarankan bahwa tiap hari
minum dealcoholized red wine bermanfaat
untuk menghindari hipertensi (Circulation
ResearchonSeptember6,2012).
g. Cukup istirahat dan tidur yaitu pen-
ting, sebab selama periode ini TD me-
nurun. Juga mengurangi stres dan latih-
an relaksasi mental (yoga, meditasi tran-
sendental, chi kung, biofeedback *) ternyata
berguna sekali untuk menurunkan TD.
h. Gerak badan yang cukup bertenaga. Wa-
laupun TD meningkat pada waktu me-
ngeluarkan tenaga akut, namun olahraga
secara teratur dapat menurunkan TD
yang tinggi, sebab saraf parasimpatik
(dengan efek vasodilatasinya, lihat Seksi
VI) akan relatif lebih aktif daripada sistem
simpatik dengan kerja vasokon striksinya.
Telah dibuktikan bahwa jalan (agak ce-
pat) setiap hari (minimal 3x seminggu)
selama sekurang-kurangnya ½ jam cukup
untuk memberikan hasil baik.
Pengobatan dan pilihan obat
Penanganan dasar hipertensi terdiri dari pe-
nanggulangan overweight (bila ada) dengan
diet, pembatasan garam serta peningkatan akti-
vitas fisik. Selain tindakan umum ini, pada
hipertensi lebih berat perlu dipakai obat-
obat hipertensi untuk menorma lisasikan TD.
* Pengobatan pada instansi pertama ditujukan
pada penurunan TD, namun tujuan akhir ada-
lah untuk menghindari komplikasi lambat,
memperbaiki kualitas dan memperpanjang
hidup. Hal ini dapat dicapai dengan prevensi
efek buruk jangka panjang, seperti infark
*Bio-feedback yaitu suatu cara modern untuk mengendalikan proses-proses tak-sadar (otonom)
dalam tubuh. Pasien dihubungi m elalui elektrode denga n alat-alat ukur yang memperlihatkan
berbagai fungsi tubuh, antara lain aktivitas otak, ritme jantung dan tekanan darah. Melalui konsentrasi
dan latihan, fungsi-fungsi ini dapat dipengaruhi.
otak (stroke), gangguan aterosklerotis dan hi-
pertrofi jantung, yang akhirnya dapat me-
nimbulkan aritmia dan dekompensasi.
Pengobatan dengan antihipertensiva harus
selalu dimulai dengan dosis rendah agar TD
jangan menurun terlampau drastis dengan
mendadak. Kemudian setiap 1-2 minggu do-
sis berangsur-angsur dinaikkan sampai ter-
capai efek yang diinginkan (metode‚ start
low,go slow‘). Begitu pula penghentian tera-
pi harus secara berangsur pula, lihat Efek
samping.
Antihi perten siva hanya menghi langkan
gejala TD tinggi dan tidak pemicu nya.
Oleh sebab itu obat pada hakikatnya harus
diminum seumur hidup, namun sesudah be-
berapa waktu biasanya dapat diturun-
kan (dosis pemeliharaan).
* Pilihan obat. Hal ini merupakan suatu
masalah yang kompleks bagi sebagian pen-
derita dengan ada nya beberapa faktor
yang menentukan pilihan itu , misalnya
penyakit yang juga dideritanya misalnya
diabetes, efek samping dan harga obat. Ba-
gi penderita dengan tekanan darah tidak
terlalu parah (90-140) tanpa komplikasi lain
dan yang tidak responsif terhadap tindakan
nonfarmakologis seperti itu di atas,
dianjurkan sebagai pilihan pertama yaitu
diuretika (Chobanian et al., 2003)36 atau kom-
binasi dari suatu diuretikum dan salah satu
obat anti-hipertensi bagi penderita dengan
tekanan darah lebih tinggi (100-160). Juga
dosis merupakan faktor dalam pemilihan
obat.
Faktor lain yaitu gangguan lain yang
diderita pasien, misalnya BPH untuk ini da-
pat dipilih suatu alfa-blokker yang efektif
bagi kedua jenis penyakit. Contoh lain yaitu
penderita migrain yang dapat memanfaatkan
efek dari suatu beta-blokker yang dapat
menghindari serangan migrain.
Amjuran itu yaitu untuk pengobatan
hipertensi jangka waktu panjang dan
bukannya bagi penderita hipertensi sangat
parah yang mengancam jiwa, misalnya hiper-
tensiensefalopati.
WHO28 menganjurkan lima jenis obat dengan
daya hipotensif dan efektivitas kurang lebih
sama, yaitu diuretika tiazida, beta-blocker,
antagonis-Ca, ACE-inhibitor dan ATII-re-
septorblocker. Efek melindungi dari semua
obat ini terletak pada efek penurunan TD
dan tidak pada sifat-sifat lain dari obat-obat
itu . Oleh sebab itu pilihan (jenis) obat
terutama tergantung dari penyakit-penyakit
tambahan yang sering kali menyertai hi-
pertensi. Beberapa contoh lain tertera dalam
tabel berikut ini.
Terapi kombinasi kini dianggap sangat
penting dan ternyata efektif, sebab dengan
dosis masing-masing obat yang lebih rendah
juga efek sampingnya berkurang. Lagi pula
kesetiaan terapi ditingkatkan misalnya bila
suatu sediaan mengandung kombinasi dari 2
atau 3 obat yang hanya harus diminum satu
kali seharinya. Dianjurkan untuk langsung
dimulai dengan kombinasi dua obat pada
penderita dengan TD lebih tinggi dari nilai/
tujuan 140/90 mmHg.
* Hipertensi tunggal. Kini banyak ahli se-
pendapat bahwa diuretika atau beta-block-
er, atau kombinasinya, merupakan pilih-
an pertama. Dari banyak studi ternya ta bah-
wa pada jangka panjang kedua kelompok
obat ini dapat menurunkan angka penya kit
Bila hipertensi disertai obat yang dianjurkan
– diabetes tipe-2 : ACE-inhibitor + beta-blocker
– gagal-jantung : diuretika, beta-blockers atau ACE- inhibitors;
– angina pectoris : beta-blockers atau antagonis-Ca
– retinopati diabetes : ACE-inhibitors atau ATII-reseptor-blockers
– sesudah infark jantung : beta-blockers atau ACE-inhibitors
– lansia dg TD sistolis tinggi : terapi standar sama, namun dengan dosis awal
lebih rendah (menghindari efek samping)
Kombinasi obat yg dianjurkan :
– diuretikum tiazida + beta-blocker, ACE-inhibitor atau ATII-reseptor-blocker
– antagonis-Ca (dihidropiridin) + beta-blocker, ACE-inhibitor atau ATII-reseptor-blocker
Tabel 35-2: Pilihan obat hipertensi pada penderita dengan gangguan lain dan bebe-
rapa kombinasi yang dianjurkan.27
(morbiditas) dan angka kemati an (mortalitas).
Pilihan kedua yaitu ACE-inhibitors.
* Hipertensi dengan diabetes. Kombinasi
di atas memiliki kendala sebab dapat
mencetus kan resistensi insulin, lihat Bab 47,
Insulin. Dalam hal ini sebaiknya dipakai
suatu penghambat-ACE atau suatu b-blocker
selektif. Hanya bila ada kontrain dikasi,
dian jurkan obat-obat lain seperti alfa-
blockers dan antagonis-Ca long-acting.
* Krisis hipertensi bercirikan kenaikan tensi
mendadak dengan gejala encefalopati akut
(sakit kepala hebat, gangguan kesadaran,
serangan epilepsi). Pengobatan sebaiknya
dilakukan dengan injeksi intravena, antara
lain nifedipin, enalapril, labetalol, fentolamin
(alfa-blocker) dan ketanserin(Ketensin), suatu
antagonis-serotonin dari reseptor-5HT2.
Penggolongan
Obat-obat yang dewasa ini dipakai un-tuk
terapi hipertensi dapat dibagi dalam bebe-
rapa kelompok, yang berturut-turut akan di-
bicarakan lebih mendetail di bawah ini.
1. Diuretika
2. Alfa-receptor blocker
3. Beta-receptor blocker
4. Obat-obat SSP
5. Antagonis kalsium
6. Penghambat ACE
7. Vasodilator
8. AT-II-receptor blocker (antagonis-ATII)
Mekanisme kerja
Obat hipertensi berbagai macam dan cara
kerjanya dapat dibagi dalam beberapa jenis,
yaitu:
* meningkatkan pengeluaran air dari tu-
buh: diuretika
* memperlambat kerja jantung: beta-blocker
* memperlebar pembuluh: vasodilator lang-
sung (di/hidra lazin, minoksidil), antago-
nis kalsium,penghambat ACE dan AT II-
reseptorblocker
* menstimulasi SSP: agonisalfa-2sentral se-
perti klonidin dan moksonidin, metil-
dopa, guanfasin dan reserpin
* mengurangi pengaruh SSO terha dap jan-
tung dan pembuluh, yakni
– alfa-1-blockers: derivat quinazolin (pra-
zosin, doksazosin, alfuzosin, tamsu-
losin), ketanserin (Ketensin);
– alfa-1danalfa-2-blocker: fentolamin;
– beta-blocker: propranolol, atenolol, me-
toprolol, pindolol, bisoprolol, timolol
– alfa/beta-blockers: labetalol dan karve-
dilol.
Efek samping
Umum. Praktis semua antihipertensiva me-
nimbulkan efek samping umum, seperti hi-
dung mampat (akibat vasodilatasi mukosa)
dan mulut kering, bradycardia (kecuali vaso-
dilator lang sung: justru tachycardia), rasa
letih dan lesu, gangguan penglihatan dan lam-
bung-usus (mual, diare), adakalanya impoten-
si (terutama obat-obat sentral). Efek-efek
samping ini sering kali bersifat sementara dan
akan hilang dalam waktu 1-2 minggu. Dapat
dikurangi atau dihindari dengan peningkatan
dosis secara lambat laun, artinya dimulai
dengan dosis rendah yang berangsur-angsur
dinaikkan. Dengan demikian penurunan TD
mendadak dapat dihindari. Begitu pu la obat
sebaik nya diminum sesudah makan agar
kadar obat dalam plasma jangan mendadak
mencapai puncak tinggi (dengan akibat hi-
potensi kuat). Penghentian terapi pun tidak
boleh secara mendadak, melainkan ber-
angsur-angsur untuk mencegah bahaya me-
ningkatnya TD dengan kuat (reboundeffect).
Khusus. Lebih serius yaitu sejumlah besar
efek samping khusus, antara lain:
– hipotensi ortostatik (OH), yakni turun-
nya TD lebih kuat bila tubuh tegak (=
ortho,Lat.) daripada dalam keadaan ber-
baring. Prevalensinya pada lansia berki-
sar antara 5 sampai 60% (Drugs Aging,
2005;22:55-68). Dapat juga terjadi pada
pemakaian terutama simpatolitika, an-
tidepresiva trisiklik, penghambat MAO,
antipsikotika, obat anti-Parkinson dan
obat kardiovaskular (nitrat, antihiperten-
siva).
– depresi, terutama pada obat yang bekerja
sentral, khususnya reserpindan metildopa,
juga pada beta-blocker yang bersifat lipofil,
antara lain propranolol, alprenolol dan
metoprolol.
– retensi garam dan air, dengan bertam-
bahnya berat badan atau terjadinya ude-
ma, antara lain antagonis-Ca,reserpin,me-
tildopa dan hidralazin. Efek samping ini
dapat diatasi dengan kombinasi bersama
suatu diuretikum.
– penurunan ratio HDL: LDL. Sejumlah
obat memengaruhi metabo lisme lipida
secara buruk, yaitu menurunkan kadar
kolesterol-HDL plasma yang dianggap
sebagai faktor-pelindung terhadap penya-
kit jantung-pembuluh (PJP). Atau juga
meningkatkan kolesterol-LDL yang di-
anggap sebagai faktor risiko bagi PJP. Si-
fat ini telah dipastikan pada diuretika
(kelompok thiazida dan klorta lidon) dan
pada beta-blocker, khususnya obat-obat
yang tak kardio selektif atau tak memiliki
ISA. Lihat di bawah dan juga Bab 36,
Antilipemi ka.
1. dIURETIkA
Diuretika meningkatkan pengeluaran garam
dan air oleh ginjal hingga volume darah dan
TD menurun. Di samping itu diperkirakan
berpengaruh langsung terhadap dinding
pembuluh, yaitu penurunan kadar-Na mem-
buat dinding lebih kebal terhadap nora-
drenalin, hingga daya tahannya berkurang.
Efek hipotensifnya relatif ringan dan tidak
meningkat dengan memperbesar dosis (seba-
gaimana halnya dengan reserpin).
Diuretika thiazida dianggap sebagai obat
hipertensi pilihan utama dan seyogyanya
dipakai sebagai terapi awal bagi keba-
nyakan penderita TD tinggi. Diberikan seba-
gai obat tunggal atau dikombinasi dengan
antihipertensiva golongan lain, yang dinaik-
kan efektivitasnya.Yang terutama dipakai
yaitu obat-obat long-acting sebab sebagai
single-dose pentakarannya praktis, sehingga
meningkatkan kesetiaan pasien pada obat
(drug compliance). Khusus dipakai hidro-
klorothiazida (HCT) yang sering kali di-
kombinasi dengan diuretika penghemat ka-
lium (spironolakton, amilorida, triamte ren).
Lihat selanjutnya Bab 33, Diuretika.
2. ALFA-BLOCkER
Obat-obat ini merintangi reseptor-alfa adre-
nerg yang ada di otot polos pembu-
luh (dinding), khususnya di pembuluh ku-
lit dan mukosa. Dapat dibedakan 2 jenis
reseptor: a1 dan a2, yang berada post-synap-
tis, a2 juga pre-sinaptis. Bila reseptor itu
diduduki (akti vasi) oleh (nor)adrenalin, otot
polos akan menciut. Alfa-blocker “melawan”
vasokonstrik si akibat aktivasi itu dan
dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:
a. alfa-blocker tak-selektif: fentolamin (Re-
gitine), yang hanya dipakai i.v. pada
krisis hipertensi tertentu, pada dekompen-
sasi tertentu sesudah infark jantung dan
pada tumor tertentu sumsum, anak-gin-
jal;
b. alfa-1-blocker selektif: memblok hanya
reseptor-a1-adrenerg secara selektif, an-
tara lain prazosin, doksazosin, terazosin,
alfuzosindantamsulosin. Labetaloldan kar-
vedilol memblok terutama reseptor-b1 dan
- b2 (lihat nr 1, Beta-bloc ker)
c. alfa-2-blocker selektif: yohimbin(lihat Bab
31 C. Adrenoliti ka)
pemakaian alfa-1-blocker semula dipakai
hanya untuk pengobatan hipertensi berda-
sarkan blokade reseptor-a dan vasodilatasi
semua pembu luh perifer dengan akibat
menurunnya TD. Pada zat-zat tak-selektif
penurunan TD disertai reflekstachycardia. Wa-
laupun bukan merupakan pilihan pertama
prazosin dan doksazosin banyak diguna-
kan untuk hipertensi ringan sampai sedang,
bila diuretika dan b-blocker kurang efektif.
Kombinasi dengan kedua jenis obat ini meng-
hasilkan efek aditif.
Sejak awal tahun 1990-an alfa-blocker ju-
ga dipakai pada hiper plasi prostat tak-
ganas (Benign Prostatic Hyperplasia, BPH).
Terutama obat-obat yang memblok resep tor
alfa-1 secara lebih selektif diguna kan untuk
ini, yakni alfuzosin, terazosin dan tamsulo-
sin. Dengan mengendurkan ketegangan di
dinding saluran kemih, kelu han BPH dapat
dikurangi, lihat Bab 31 C, Adrenoli ti ka.
Efek samping. Semua alfa-1-blocker mem-
berikan efek samping yang sama, yakni hi-
potensi ortostatis (reaksi‚firstdose‘), yang ter-
jadi khusus pada permulaan terapi dan sesudah
peningkatan dosis. Efek samping ini dapat
dihindari bila dimulai dengan dosis rendah
dan berangsur-ang sur menaikkannya, juga
dengan minum dosis pertama sebe lum tidur.
Efek lain yang dapat terjadi berupa perasaan
pusing, nyeri kepala, hidung mampat, pilek,
gangguan tidur, udema, debar jantung, pera-
saan lemah dan gangguan potensi.
Kombinasi dengan b-blocker dan antagonis-
Ca meningkatkan risiko hipotensi, sedang
kombinasi dengan diuretika dan penghambat
ACE lebih sering memicu rasa pusing.
Kehamilandanlaktasi Mengenai pemakaian
obat-obat ini oleh wanita hamil dan yang
menyu sui belum tersedia cukup data.
MONOGRAFI
2a. Prazosin: Minipress
Derivat chinazolin-piperazinil ini (1974)
berefek hipotensif kuat berdasar vaso-
dilatasi arteri melalui blokade resep tor-alfa-1
secara selektif. Efek hipotensifnya dimulai
sesudah 2-3 hari. Juga dipakai pada de-
kompensasi jantung atas dasar vasodilata-
si vena dan pen gurangan preload darah, ter-
utama bila diuretika dan digoksin kurang
efektif. pemakaian lainnya yaitu pada S.
Raynaud dan pembesaran prostat (BPH)
untuk sementara memper baiki aliran urin
bila belum waktunya untuk pembedahan.
Resorpsinya dari usus sampai 80%, PP-
nya tinggi (97%) dan t½ 2-3 jam, namun daya
kerjanya lebih panjang, sampai 12 jam. Eks-
kresi terutama melalui empedu dan feses
sebagai metabolit dan ±10% secara utuh le-
wat urin.
Efek samping terpenting yaitu hipotensi
ortostatis akut, terlebih-lebih bila disertai
terapi dengan b-blocker dan antagonis-Ca.
Juga efek sentral (rasa kantuk, halusinasi,
depre si), ganggu an lambung-usus, reaksi ku-
lit (gatal-gatal, ruam, kesemutan), gangguan
seksual, udema, tachycardia dan mulut ke-
ring. Koles terol-HDL sedikit dinaikkan, se-
dang kan LDL dan triglise rida diturun kan,
sehingga ratio HDL:LDL diperbesar sampai
30%. Kadar lipida total hanya menurun
sampai 3-5%. Pada pemakaian lama dapat
terjadi toleransi (bandingkan dengan hidral-
azin), mungkin sebab terjadi nya vasokon-
striksi akibat stimul asi SS simpatik atau
RAAS, yang meniadakan efek vasodila tasi.
Dosis. Hipertensi: oral permulaan 0,25-0,5
mg malam hari, dengan berangsur-angsur
dinaikkan sampai 2-3 dd 0,5-2 mg, maksimal
3 dd 6 mg.Dekompensasi: 2-4 dd 0,5 mg, mak-
simal 20 mg sehari.
S.RaynauddanBPH: dosis pertama 0,5 mg
malam hari, lalu 2 dd sehari 0,5 mg selama
3-7 hari, pemeliharaan 2 dd 1-2 mg.
* Doksazosin (Cardura) yaitu derivat long-
acting (1987) t½ 9-12 jam dengan khasiat
sama, namun lebih jarang memicu
hipotensi ortostatik berbahaya. Khusus digu-
nakan pada hiperten si dan BPH. namun untuk
BPH lebih disukai generasi kedua dari alfa-
1-blockers, yakni alfuzosin dan tamsulosin
sebab efek sampingnya yang lebih ringan.
Dosis: permulaan oral malam hari 1 mg
(mesilat) selama 1-2 minggu, bila perlu di-
naikkan sampai 1 dd 2-8 mg.
* Terazosin (Hytrin) yaitu juga derivat long-
acting (1987) dengan t½ 8-13 jam, yang juga
dipakai pada BPH dan hipertensi. Khasiat
antihipertensifnya tidak sekuat prazosin. Per-
bai kan geja la BPH baru tampak sesudah lebih
kurang 2 minggu.
Resorpsinya dari usus ±90%, PP-nya lebih
dari 90% dan dalam hati dirombak menjadi
beberapa metabolit, antara lain turunan pi-
per azin aktif. Ekskresi melalui urin dan feses.
Efek samping yang paling sering terjadi
yaitu perasaan pusing, nyeri kepala dan
impotensi.
Dosis: BPH oral selama 3 hari 1 mg ma-
lam hari, lalu selama 11 hari 1 dd 2 mg, pe-
meliharaan 1 dd 5-10 mg. Hipertensi: malam
hari 1 mg selama 1 minggu, lalu 1 dd 2 mg.
2b. Alfuzosin: XatralXL
Derivat furamida ini (1990) juga khusus
dipakai sebagai obat BPH dengan efek
samping lebih ringan.
Dosis: 1dd 10 mg tablet sustained release;
dosis pertama harus diminum ma lam hari.
* Tamsulosin (Omnic,Harnal) yaitu derivat
sulfonamida long-acting, t½ ±12 jam (1995)
yang khusus disalurkan sebagai obat BPH
dengan mekanisme pengenduran otot-otot
licin di prostat dan leher kandung kemih
melalui rintangan sistemis dari reseptor a1a-
adrenerg. Reseptor-reseptor ini juga ada
dalam otot-otot yang mendilatasi iris mata.
Bila pasien telah memakai tamsulosin
dan kemudian menjalani bedah katarak,
midriasis dihindari sehingga iris menjadi
„floppy“ (FloppyIrisSyndrome) dan lensa arti-
fisial yang telah dimasukkan dapat berubah
tempat.
sebab BPH dan bedah katarak sering
kali dialami para lansia, maka efek samping
serius pasca bedah ini perlu diwaspadai.
Oleh sebab itu penting untuk sebelum pem-
bedahan diminta keterangan pada pasien
apakah pernah memakai tamsulosin
atau salah satu alfa-1 blocker di waktu yang
lalu, sebab masalah ini masih dapat timbul
walaupun sudah cukup lama dihentikan
pemakaian nya.
Efek samping lainnya yaitu kemungkinan
timbulnya hipotensi dan sinkope (kehilangan
kesadaran sementara), namun belum jelas
apakah masalah ini hanya timbul pada awal
terapi (first dose effect) atau selama terapi.
Oleh sebab itu pasien tetap harus waspada
terhadap kemungkinan terjatuh.
Bird ST, et al. Tamsulosin treatment for benign
prostatic hyperplasia and risk of severe
hypotension in men aged 40-85 years in the
United States: risk window analyses using
between and within patient methodology.
BMJ 2013;347:f6320.
Sebagai efek samping lain tercatat gangguan
ejakulasi.
Dosis: 1 dd 0,4 mg (kapsul slowrelease) se-
sudah makan pagi.
3. BETA-BLOCkER
Zat-zat ini memiliki sifat kimia yang sangat
mirip dengan zat b-adrener gik isoprenalin.
Khasiat utamanya yaitu anti-adrenergik
dengan menempati secara bersaing resep-
tor b-adrenergik. Blokade reseptor ini meng-
akibatkan peniadaan atau penurunan kuat
aktivitas adrenalin dan noradrenalin (NA).
Resep tor-b terda pat dalam 2 jenis, yakni b1
dan b2.
– Reseptor b1 di jantung (juga di SSP dan
ginjal). Blokade reseptor ini mengaki-
batkan pelemahan daya kontraksi (efek
inotrop negatif), penurunan frekuensi
jantung (efek kronotrop nega tif, brady-
cardia) dan penurunan volume-menitnya.
Juga perlamba tan penya luran impuls di
jantung (simpul AV = atrioventrikuler).
Efek ini hanya lemah pada pindolol.
– Reseptor b2 di bronchia (juga di dinding
pembuluh dan usus). Blokade reseptor
ini memicu penciutan bronchia dan
vasokonstriksi perifer agak ringan yang
bersifat sementara (beberapa minggu),
juga mengganggu mekanisme homeostasis
pemeliharaan kadar glukosa dalam darah
(efek hipoglikemik).
Sifat-sifat khusus. Beta-blocker memiliki
sifat-sifat khusus sebagai berikut:
a. kardioselektivitas, yaitu menghambat
terutama reseptor-b1 dengan penurunan
TD tanpa memicu penciutan bron-
chia dan pembuluh perifer. Sifat ini ber-
kaitan dengan dosis; selektivitas ber-
kurang dengan dosis meningkat. Pasien
asma, bronchitis dan diabetes sebaik-
nya memakai (dengan berhati-hati)
obat-obat kardiose lektif seperti asebutolol,
atenolol, betaksolol (Kerlon), bisoprolol, se-
liprolol,esmolol danmetoprolol.
b. efek adrenergik intrinsik (ISA = Intrin-
sicSympathicomimeticActivity), yang dimi-
liki oleh antara lain pindolol, asebutolol,
alprenolol, seliprolol dan oksprenolol. Sifat
ini berhubungan dengan kesamaan struk-
tur kimianya dengan b-adrenergika. Wa-
lau pun efek ini agak lemah, namun me-
ngurangi khasiat utama dari obat-obat
itu , yang dalam bebera pa hal meng-
un tungkan. Misalnya fungsi jantung ku-
rang diperlemah, hingga risiko efek sam-
ping berba haya (seperti dekompensasi)
menurun. Begitu pula dayakontraksikurang
ditekandansirkulasiperiferrelatiflebihbaik,
hingga lebih jarang terjadi jari-jari kaki-
tangan menjadi dingin. Bradycardia ber-
lebihan dalam keadaan istirahat pun di-
kurangi dengan efek menurunnya keluh-
an rasa letih. Begitu pula penyaluran-AV
kurangdiperlambat. Pada angina berat efek
ISA dapat merugikan.
c. efek stabilisasi membran, juga disebut
efek lokal anestetik, yang timbul pada
dosis tinggi oleh antara lain propranolol,
alprenolol, oksprenolol dan asebutolol. Pada
dosis biasa sifat ini tidak ada artinya.
Dengan sendirinya b-blocker dengan kha-
siat lokal anestetik tidak layak dipakai
topikal pada mata.
pemakaian . Semula beta-blocker diintro-
duksi sebagai obat angina pectoris dan anti-
aritmia (propranolol, 1964). Baru ±10 tahun
kemudian, obat ini dipakai sebagai obat
hipertensi, yang kini menjadi pemakaian
utamanya. Untuk lengkapnya di bawah ini
ikhtisar indikasi nya pada penyakit kardio-
vaskuler dan gangguan lain.
a. Angina pectoris. pemakaian nya berda-
sarkan penurunan frekuensi pukulan
jantung (efek kronotrop negatif). Dengan
demikian keperluan oksigen dari myo-
card dikurangi pada pengera han tenaga
(exertion), hawa dingin dan emosi. Ter-
utama berguna pada terapi interval untuk
mencegah serangan angina stabil kronis,
adakalanya dikombinasi dengan obat-
obat lain. Pada angina variant hanya
efektif sebagai obat tambahan bersama
suatu antagonis-Ca, khususnya nifedipin.
Lihat selanjutnya Bab 37, Obat-obat jan-
tung.
b. Aritmia jantung yang disertai tachycardia,
berda sar kan perlambatan penyaluran-
AV dan penurunan frekuensi pukulan
jantung. Obat-obat dengan ISA kurang
efektif untuk melawan tachycardia; obat-
obat dengan khasiat lokal-anestetik tidak
lebih efektif, sebab efeknya terlalu lemah
pada dosis biasa. dipakai untuk terapi
maupun profilaksis serangan.
c. Hipertensi, berdasar penurunan vo-
lumemenitjantung akibatefekinotropnega-
tif dan kronotrop negatif, juga penurunan
daya tahan dinding-pembuluh perifer
(DTP) sesudah beberapa minggu, yang
semula justru meningkat. Lagi pula pe-
ngurangan sekresi renin oleh ginjal kare-
na blokade resep tor-beta setempat me-
megang peran-an. Ternyata bahwa te-
rapi dengan beta-blocker kardioselektif pa-
da jangka panjang dapat mengu rangi
morbiditas dan morta litas.
d. Infark jantung. Juga telah dibuktikan
bahwa beta-blocker dapat menurunkan
sampai ±25% risiko akan infark kedua
dan kematian, bila diberikan segera se-
sudah infark pertama (dalam waktu 3
minggu). Mekanisme kerjanya diperki-
rakan berkaitan dengan efek anti-arit-
mianya, sebab infark selalu disertai stres
hebat dan naiknya sekresi NA dengan
peningkatan risiko akan aritmia fatal.
Obat-obat yang terbukti efektif yaitu
timolol(2 dd 10 mg), propranolol (2 dd 80
mg) danmetoprolol(2 dd 100 mg).
e. Gagal jantung (decompensatio). Penggu-
naan terbaru dari metoprololdanbisoprolol
yaitu sebagai obat tambahan pada di-
uretika dan ACE-blocker terhadap de-
kompensasi ringan. Obat-obat itu
dapat mencegah memburuknya kondi-
si, serta meringankan gejala dan mem-
perbaiki keadaan fungsional. Efek ini
berten tangan dengan khasiat inotrop
negatifnya, sehingga perlu dipakai de-
ngan hati-hati.
f. Lainnya. Di samping ini beta-blocker
telah memperoleh tempat pula pada pe-
ngobatan berbagai gangguan lain dan
yang terpenting di antaranya yaitu :
– glaukoma. Beberapa beta-blocker di-
gunakan dalam tetes mata sebagai obat
pilihan pertama pada glaukoma (jenis
simplex)un tuk menurunkan tekanan cair-
an mata intraokuler yang meningkat.
Produksi cairan mata diku rangi, mung-
kin akibat bloka de-b2. Mekanisme kerja-
nya yang tepat belum diketahui, kare-
na stimul asi resep tor-b2 dengan misal-nya
isoprenalin juga menurunkan tekanan
intrao kuler! Tersedia tetes mata dengan
timolol (Nyolol),betaxolol (Betoptima), levo-
bunolol (Betagan), metipranolol (Beta-ophti-
ole) dan carteolol (Teoptic). Obat-obat de-
ngan efek lokal aneste tik tidak dapat
dipakai sebab pada pemakaian lama
dapat merusak epitel kornea.
– migrain. Propranolol dipakai pada
profilaksis migrain untuk mencegah se-
rangan. Atenolol, metoprolol, timolol dan
nadololsama efektifitasnya.
– tremor esensial, yaitu gemetaran yang
pemicu nya tidak diketahui, teru tama
pada lansia. Propranolol ternyata efektif,
mungkin juga metoprolol. Mekanisme
kerjanya tidak jelas.
– kegelisahan dan rasa cemas. Propra-
nolol dan atenolol ternyata memiliki si-
fat anksiolitik (meniadakan rasa cemas)
tertentu, mungkin berdasar penekan-
an tachycardia dan debar jantung yang
timbul pada keadaan gelisah dan takut.
sebab menurunkan frekuensi jantung
sehingga bersifat meredakan namun tidak
membuat mengantuk, propranolol di ne-
geri Belanda banyak dipakai oleh ma-
hasiswa dan artis sebelum ujian atau naik
pentas (takut ujian, ‘demam panggung’).
Begitu pula oleh atlet (sebagai doping)
pada perlombaan olahraga di mana
tachycardia dapat merugikan presta si, mi-
salnya pada olahraga menembak.
Penghentian terapi beta-blocker pada pasien
jantung tidak boleh dengan mendadak, ka-
rena dapat memprovokasi infark dan mem-
perburuk angina. Sebaiknya dosis ditu-
runkan berangsur-angsur selama periode 2
minggu. Pada pasien hipertensi dapat timbul
‘efek penarikan, seperti rasa tegang, takut,
tachycardia dan berkeringat hebat dalam 1
minggu sesudah penghentian terapi.
Efek samping. Blokade reseptor-beta meng-
akibatkan sejumlah efek samping tak di-
inginkan, yang biasanya bersifat
ringan dan terjadi pada ±10% pengguna,
antara lain:
a. dekompensasi jantung (reseptor-b1) aki-
bat bradycardia dengan gejala udema
kaki dan sesak napas yang dapat me-
nimbulkan interpretasi keliru dengan
bronchokonstriksi
b. bronchokonstriksi (reseptor-b2) dengan
sesak napas dan serangan mirip asma,
yang terutama disebabkan oleh obat-
obat tak-selektif. namun obat-obat kardio-
selektif juga dapat memprovokasi se-
rangan itu sebab selektivitasnya
tidak sempurna, terutama pada dosis
lebih tinggi
c. rasa dingin di jari-jari kaki-tangan dan
tidak mampu melakukan kerja fisik be-
rat (rasa lemah) akibat berkurangnya sir-
kulasi perifer dan berkurangnya oksigen
di otot. Obat-obat selektif dan dengan ISA
lebih jarang memicu efek ini.
d. toleransi glukosa pada penderita diabe-
tes ID (insulin dependent) dapat diturun-
kan oleh obat-obat tak-selektif yang me-
nyelubungi (maskingeffect) pertanda pen-
ting dari hipoglikemia, seperti tachycar-
dia dan tremor. Penyembuhan dari suatu
periode hipoglikemia juga dihambat.
Selain efek-efek itu yang berkaitan
dengan blokade beta, masih dikenal pula
beberapa efek samping lain yang sering
dilapor kan, antara lain:
e. efek sentral, yang meliputi gangguan
tidur dengan mimpi buruk (nightmare),
rasa lesu, kadang-kadang juga depresi
dan halusi nasi. Tidak jarang terjadi pula
gangguan seksual dan impotensi.
Obat-obat hidrofil seperti atenolol, na-
dololdansotalolsukar melintasi rintangan
darah-otak, maka lebih jarang menim-
bulkan efek itu .
f. gangguan lambung-usus berupa mual,
muntah dan diare yang sering dilapor-
kan pada antara lain propranolol, namun
biasanya hilang dalam waktu dua ming-
gu.
g. penurunan kolesterol-HDL, sedang
kadar trigliserida dan kolesterol total
justru meningkat. Obat-obat selektif dan
dengan ISA mungkin lebih ringan efeknya
terhadap lipida itu . Obat dengan
efek alfa-blokade (labetalol, carvedilol) ti-
dak memengaruhi lipida darah. sebab
pengaruh buruk terhadap perbandingan
HDL: kolesterol total, maka pemakaian
jangka panjang diuretika thiazida dan
kebanyakanbeta-blocker disang sikan. namun .
sekarang telah dipasti kan bahwa kedua
kelompok obat itu justru memengaruhi
dengan baik risiko kematian.
Kontra-indikasi. sebab efek samping ter-
sebut, beta-bloc ker tidak boleh dipakai
oleh pasien dengan AV-block, terutama para
lansia. Begitu pula tidak boleh bagi penderita
asma, bronkitis dan emfise ma paru. Peng-
gunaannya pada diabetes dan gangguan
jantung hendak nya dengan berhati-hati.
Wanita hamil tidak boleh memakai be-
ta-blocker, sebab penyalu ran darah mela-
lui plasenta dikurangi hingga dapat meru-
gikan perkembangan janin. sebab keba-
nyakan obat ini bisa mencapai air susu ibu,
khususnya zat-zat lipofil, maka selama terapi
sebaiknya bayi diberikan susu kaleng.
Kinetik. Resorpsinya dari usus pada umum-
nya cepat dan baik, kecuali zat-zat hidrofil
(antara lain atenolol dan sotalol) yang hanya
diserap untuk 50 sampai 30%. Beberapa zat
mengalami FPE (firstpasseffect) kuat, hingga
BA-nya agak rendah, misalnya BA alpreno lol
hanya 10% dan propranolol 30%, lihat tabel.
Distribusinya ke jaringan baik, terutama
zat-zat lipofil seperti propranolol, alprenolol,
oksprenolol, metoprolol, pindolol dan timolol.
Obat-obat ini juga mudah mencapai CCS
(cairan cerebro-spinal), sehingga lebih sering
memicu efek samping sentral. Ekskresi
zat-zat lipofil melalui urin berlangsung
sebagai metab olit dengan aktivitas lemah.
Zat-zat hidrofil praktis tidak dimetabolisasi
dalam hati dan hampir seluruhnya dike-
luarkan secara utuh.
Pengikatannyapadaprotein (PP) sangat ber-
beda-beda dan tidak berhubungan dengan
sifat lipofilnya, misalnya propranolol ±90%
dan metoprolol hanya 12%. Plasma-t½-nya
pun bervariasi besar, antara 2 dan 26 jam,
namun ternyata bahwa tidak ada korelasi
antara t½ dan efek hipotensifnya yang ma-
sih bertahan terus sesudah obat hilang dari
peredaran darah.
Relasi kadar darah dan efek. Antara kadar
darah beta-blocker dan efek hipoten sifnya
tidak ada korelasi baik, kecuali pada
labetalol (berkat efek alfa-blokade).
Masa laten. Pada permulaan terapi TD tidak
segera tu run, namun sesudah masa laten,artinya
baru turun sesudah beberapa waktu. Hal ini
disebabkan daya tahan perifer (DTP) semula
naik sebab efek vasokonstriksi dari reseptor-
alfa tidak ditentang oleh stimulasi reseptor-
beta (vasodilatasi) sebab beta-blokade. Oleh
sebab itu TD semula tidak berubah. Baru
sesudah beberapa waktu terjadi adaptasi dan
berangsur-angsur DTP pulih ke normal dan
TD menurun. Pada zat-zat kardioselektif
dan dengan ISA, pada mana b2-blokade
sangat ringan dan DTP tidak meningkat, wak-
tu laten hanya 2-6 minggu lamanya. Pada
zat-zat tak-selektif dapat sampai 2-3 bulan
(misalnya propranolol). Pengecualian yaitu
labetalol, yang tidak menunjukkan waktu la-
ten berkat efek vasodilatasi langsung. Seba-
liknya, sesudah terapi dihentikan dan plas-
ma tidak mengan dung obat lagi, efeknya
masih bertahan selama beberapa minggu.
Pilihan obat. Semua beta-blocker sesudah ma-
sa latennya lewat, memiliki efek hipotensif
(dan anti-aritmia) yang sama kuatnya bila
dosisnya diatur secara individual. namun efek
sampingnya dapat banyak berbeda sebab
sifatnya masing-masing. Risiko akan efek
Tabel 35-3: Beta-blocker dan beberapa sifatnya
labetalol*
samping buruk ternyata lebih ringan pada
zat-zat selektif dan zat-zat dengan ISA. Ada
pula petun juk mengenai mortali tas lebih
besar (pada perokok) yang diobati dengan
zat-zat tak-selektif. Oleh sebab itu lebih
banyak diguna kan obat-obat selektif, seperti
atenolol (hidrofil), celiprolol (ISA), asebutolol
(ISA ringan) dan pindololdengan ISA terku at.
Interaksi. Dengan sejumlah obat lain dapat
terjadi interaksi bila diguna kan bersamaan,
antara lain:
* efeknya diperkuat oleh antagonis-Ca, ter-
utama verapamil(i.v.) dan diltiazem (brady-
car dia, AV block, hipotensi); nifedipin dan
derivatdihidropiridin lainnya (hipotensi). Juga
oleh zat-zat inotrop/kronotrop negatif lain,
seperti lidokain, fenothiazin, glafenin dan
floktafenin (hipotensi berat), serta simetidin
(mengham bat perombakan hati dari zat-zat
lipofil).
* efeknya diperlemah oleh barbital, rifam-
pisin (perombakan oleh hati dipercepat),
NSAID (indome tasin dan lain-lain) dan an-
tasida (menurun kan absorpsi, sebaiknya di-
minum sesudah 2 jam).
* b-blocker memperkuat efek teofilin (meng-
hambat perombakan)
* klonidin memperbesar risiko ‘rebound’ hi-
pertensi, oleh sebab itu terapi dengan beta-
blocker perlu dihentikan sebelum menggu-
nakan klonidin.
Kombinasi. Beta-blocker ternyata efektif pa-
da 50-70% pasien dengan hipertensi ringan
sampai sedang (95-105 mm Hg diast.), se-
dangkan pada lansia efektivitasnya lebih
rendah. Bila suatu beta-blocker tidak berdaya
menurunkan TD pada dosis layak, mencoba
b-blocker lainnya tidak ada gunanya. Dalam
hal ini sebaiknya ditambahkan diuretikum
dan/atau vasodilator (misalnya nifedipin).
Kombinasi dengan antagonis-Ca lain bukan
dihidropiridin (verapamil, diltiazem) tidak
dianjurkan.
MONOGRAFI
3a. Acebutolol: Sectral,*Sectrazide
Beta-blocker selektif ini (1973) bersifat lokal
anestetik dengan ISA ringan. Kombinasi sifat
ini menguntungkan sebab efek sampingnya
yang agak ringan.
Resorpsi dari usus ±70%; akibat FPE tinggi,
BA-nya hanya ±40%. PP-nya 11-25%, plas-
ma-t½ 2-11 jam. Dalam hati, zat ini dirom-bak
menjadi metabolit yang sama aktifnya dengan
diasetolol. Ekskre si berlangsung lewat urin
dan feses. Asebutolol dan diasetolol bersifat
lipofil, sehingga dapat memicu efek
samping sentral.
Dosis: angina dan hipertensi: oral 1 dd 400
mg pagi hari, bila perlu sesudah 2 minggu
dinaikkan sampai 2 dd 400 mg. Tachy-aritmia:
2-3 dd 200-400 mg. *Sectrazide = asebutolol
400 + HCT 25 mg.
* Celiprolol (Dilanorm) yaitu juga derivat
selektif dengan ISA (1987), namun tanpa efek
lokal anestetik dan bersifat lipofil. BA-nya
30-75% tergantung dari dosis, PP-nya ±25%,
t½ 4-6 jam. Ekskresi praktis secara utuh lewat
urin dan feses.
Dosis:anginadanhipertensi oral 1-2 dd 200
mg
3b. Karvedilol: Dilbloc,Eucardic
Derivat karbazolil ini (1992) bersifat tidak
selektif tanpa ISA, namun berefek blokade-
alfa yang memicu penurunan daya
tahan perifer. Sangat lipofil. Resorpsi dari
usus baik, namun BA-nya hanya 22% akibat
FPE tinggi. PP-nya 95%. Dalam hati sebagian
dirombak menjadi glucuronida inaktif dan 2
metabolit aktif yang diekskresi dengan urin
untuk 16% dan lewat empedu serta feses
untuk 60%. Masa paruhnya 6 jam.
Dosis: hipertensi dan angina 1 dd 12,5 mg
selama 2 hari, lalu 1 dd 25 mg, maks. 50 mg.
3c. Atenolol:Tenormin,*Tenoret/Tenoretic
Zat kardioselektif ini tanpa ISA atau efek
lokal anestetik (1975) ber sifat hidrofil kuat,
oleh sebab itu tidak melintasi rintan gan
darah-otak sehingga efek sentral minimal.
Resorpsi dari usus hanya 50%; PP 3% de-
ngan plasma-t ½ 6-9 jam, namun efek blokade
reseptor-b bertahan jauh lebih lama, ±24 jam.
Hal ini khususnya penting bagi terapi angina
(dan aritmia). Tidak dimeta bolisasi oleh hati
dan diekskresi lewat urin praktis dalam kea-
daan utuh.
Dosis:anginadanhipertensi oral 1-2 dd 100
mg; aritmia: 2 dd 50-100 mg.
*Tenoret/Tenoretic = atenolol 50/100 mg +
klortali don 12,5/50 mg.
* Metoprolol (Seloken,Selozok) yaitu derivat
atenolol yang juga selektif, tidak memiliki
ISA atau efek lokal anestetik, namun bersifat
lipofil (1975).
Resorpsi cepat dan praktis lengkap, BA 40-
50% akibat FPE agak tinggi. Efek hipotensif
biasanya agak cepat, dalam 1 minggu dan
dapat bertahan sampai 4 minggu. PP ±12%,
plasma-t½ 3-4 jam. Ekskresi melalui ginjal
sebagai metabolit inaktif. Dosis. Hipertensi:
oral pagi hari 50 mg, bila perlu dinaik kan
sampai 1 dd 100-200 mg. Angina: pagi hari
100 mg, maks. 400 mg. Aritmia: 1-2 dd 100 mg
(sesudah dimulai dengan 5 mg i.v.)
Gagaljantungringan: 2 dd 5 mg, bila perlu
dosis berangsur-angsur dinaikkan. Migrain
(profilaksis): 1-2 dd 100 mg.
*SelokenComp = metoprolol 100 + HCT 12,5
mg
* Bisoprolol (Concor, Emcor) yaitu derivat
selektif lipofil tanpa ISA dengan sifat lokal
anestetik (1986). BA-nya tinggi, ± 90% sebab
FPE ringan, PP ± 30%, plasma-t½ 10-12 jam.
Ekskresi berlangsung melalui urin, separuh
sebagai metabolit inaktif. Dosis: angina dan
hipertensi oral 1 dd 5-10 mg.
* Esmolol (Brevibloc) yaitu derivat selektif
hidrofil tanpa ISA (1990), yang khusus di-
gunakan melalui i.v pada aritmia dengan
tachycar dia.
3d. Alprenolol:Alpresol,Aptine
Zat tidak selektif ini (1967) bersifat ISA dan
lokal aneste tik, juga lipofil kuat. Dengan
mudah alprenolol melintasi rintangan darah-
otak. Resorpsi dari usus baik, namun BA-nya
ringan, hanya ±10%, sebab FPE besar. PP
85%, t½ 3 jam. Ekskresi berlang sung lewat
urin sebagai metabolit aktif.
Dosis:anginadanhipertensi oral 4 dd 50 mg,
aritmia: 4 dd 25-100 mg .
* Oksprenolol (Trasicor) yaitu derivat de-
ngan khasiat dan sifat mirip alprenolol (1968).
Dosis:anginadanhipertensi: 2 dd 40-80 mg;
aritmia: 2-3 dd 20 mg.
*Trasentin=oxprenolol 80 + klortalidon 10
mg.
3e. Pindolol: Visken,*Viskaldix.
Derivat indol ini (1970) memiliki efek beta-
blokade terkuat, ±6 kali efek propranolol.
Tidak selektif dan efek lokal anestetik nya
ringan. Begitu pula efek ISA-nya terbesar,
berkat sifatnya ini pindolol jarang menim-
bulkan efek samping seperti bradycardia,
kardiodepresi, bronchokon striksi dan vaso-
kon striksi perifer. Bersifat lipofil, sehingga
agak sering memicu efek samping
sentral. Berlainan dengan beta-blocker lain-
nya, pindolol meningkatkan kadar reninplas-
ma dan praktis tidak menurunkan frekuen si
jantung dalam keadaan istirahat, juga tidak
menaikkan daya-tahan pembuluh perifer se-
lama minggu-minggu pertama terapi. Penu-
ru nan kolesterol-HDL hanya terbatas.
Resorpsi dari usus lengkap, BA 50-95%, PP
45% dengan t½ 3-4 jam. Ekskresi melalui urin
sebagian dalam bentuk metab olit inaktif.
Dosis:angina oral 3 dd 5 mg;hipertensi: pagi
hari 10 mg, maksimal 30 mg sehari; aritmia: 3
dd 5-10 mg.
*Viskaldix = pindolol 10 + klopamida 5 mg.
3f. Propranolol: Inderal,*Inderetic.
Beta-blocker pertama ini (1964) memiliki
efek lokal aneste tik kuat, namun tidak kardio-
selektif dan tak memiliki ISA. Meski pun
banyak sekali derivat lain telah dipasarkan
dengan sifat farmakologi lebih baik, namun
propranolol masih merupa kan beta-blocker
penting dan menjadi salah satu obat best-
seller dunia.
Resorpsi dari usus baik, namun FPE besar,
hingga hanya 30% mencapai sirkulasi besar.
Sebagian besar diubah dalam hati menja-
di derivat hidroksi yang aktif. PP 90%,
plasma-t½ 3-6 jam. Bersifat sangat lipofil,
sehingga distribusinya di jaringan dan otak
baik dengan sering kali memicu efek
sentral, lihat efek samping umum.
Dosis: hipertensi, angina dan aritmia: oral
2-3 dd 40 mg d.c., bila perlu dosis dinaikkan
dengan interval 1 minggu sampai 320 mg
sehari.Profilaksisre-infark 3 dd 40 mg selama
2-4 minggu dalam waktu 3 minggu sesudah
infark pertama, pemeliharaan 2-3 dd 80 mg
selama minimal 2 tahun.
*Inderetic = propranolol HCl 80 + bendro-
flumethiazide 2,5 mg
3g. Labetalol: Trandate
Beta-blocker tidak selektif ini (1977) juga
bersifat a1-blocker, dalam perbandingan ke-
kuatan blokade kurang lebih 3:1. Memiliki
ISA ringan dan efek lokal anestetik hanya
pada dosis tinggi. Berlainan dengan beta-
blocker lain, labetalol tidak berdaya inotrop
negatif atau memper lihatkan waktu laten,
sebab alfa-1-blokade memicu vasodi-
la tasi langsung cepat. Mulai kerjanya dalam
2-4 jam. dipakai pada hiper tensi sedang
dan berat; antara dosis dan efeknya ada
korelasi baik (berlainan pula dengan obat-
obat lain).
Resorpsidari usus baik dengan FPE besar,
BA hanya 25%. PP 50%, t½ 2,5-8 jam. Ekskresi
melalui urin terutama sebagai metabolit dan
30% lewat feses.
Efek samping terpenting berupa hipotensi
ortostatis, hidung tersumbat, gangguan lam-
bung-usus, adakalanya letih, lemah dan ke-
jang. Berbeda dengan beta-blocker lain, labe-
talol tidak memengaruhi kadar kolesterol
dan trigliserida darah.
Dosis:hipertensi oral 2 dd 100 mg, bila perlu
sesudah 1-2 minggu 2 dd 200 mg.
4. ZAT-ZAT dENGAN
EFEk PUSAT
Agonis a2-adrenerg menstimulasi reseptor
a2-adrenerg yang banyak sekali ada di
Susunan Saraf Pusat (otak dan medulla).
Akibat rangsan gan ini melalui suatu meka-
nisme feedback negatif, aktivitas saraf adre-
nerg perifer dikurangi.
Pelepasan NA menurun dengan efek me-
nurunnya daya tahan pembuluh perifer dan
TD. Efek ini sebetulnya paradoksal, sebab
banyak pembuluh memiliki reseptor-a2 yang
justru memicu vasokonstriksi. Meka-
nisme efek hipotensifnya yang tepat belum
dipahami secara menyeluruh, hanya
diketahui bahwa aktivitas SSP ditekan oleh
aktivasi reseptor itu .
Di samping itu ditemukan bahwa pengi-
katan pada reseptor-imidazolin-1 (Im1) di
otak berefek menurunkan aktivitas saraf
simpatik. Klonidin dan moksonidin juga be-
kerja via pengikatan pada resep tor Im1 ini.
Metildopadanguanfasin mengikat diri hanya
pada resep tor-a2. Volume menit jantung dan
frekuensinya praktis tidak dipengaru hi.
pemakaian nya khusus pada semua bentuk
hipertensi, biasanya dikombinasi dengan
diuretikum. sebab banyak efek sam pingya,
zat ini bukanmerupakanpilihanpertama, namun
hanya sebagai obat cadangan bila obat-obat
hipertensi lain kurang efektif. Klonidin juga
dipakai pada migrain dan terhadap gejala
climacterium.
Efek samping yang tersering berupa efek
sentral, antara lain sedasi, mulut kering, sukar
tidur, hidung mampat, pusing, penglihatan
guram, bradycardia, impotensi, depre si dan
geli sah. biasanya efek ini sering kali
dan hebat pada klonidin dan jarang pada
moksonidin, metildopa dan guanfasin. Hiper-
tensi ‘rebound’ pada penghentian pengobat-
an secara menda dak dapat terjadi, terutama
pada kloni din dan reserpin serta lebih jarang
pada obat-obat lain.
Kehamilan. Metildopa dapat dipakai oleh
wanita hamil dengan hipertensi, sedang
obat-obat lain belum memiliki cukup data.
Klonidin, moksonidin dan metildopa masuk
ke dalam air susu ibu.
4a. Klonidin: Catapres,Dixarit
Derivat imidazolin ini (1966) berkhasiat
hipotensif kuat berdasar efek adrenerg
sentralnya. Mengikat diri pada resep tor-a2.
dipakai pada hipertensi sedang sampai
berat. Penggun aannya pada terapi interval
migrain berkat khasiat vasokonstriksi perifer-
nya (1/16 dari dosis hipoten sif, lihat Bab 52,
Obat-obat migrain), dewasa ini diang gap tak
terbukti dan obsolet. Antara kadar plasma
dan efek hipo tensif nya ada korelasi baik.
Resorpsinya dari usus lengkap dengan
BA hampir 100%, efek hipotensif maksimal
dicapai dalam waktu 4 jam dan bertahan 8
jam. Plasma-t½ 6-20 jam, ekskresi lewat urin
(60%) dan feses (20%) sebagian dalam bentuk
metabolit.
Efeksamping berupa umum; sedasi terutama
terjadi pada permulaan terapi. Penghentian
pengobatan tidak boleh mendadak, namun ber-
angsur-angsur dalam 2-4 hari untuk meng-
hindari hipertensi‘rebound.’
Dosis: oral semula 3 dd 0,075 mg, berangsur-
angsur dinaikkan sampai 0,15-0,6 mg dalam
2-3 dosis. Profilaksis migrain: 2 dd 0,025 mg,
sesudah 2 minggu bila perlu dinaikkan sampai
maksimal 2 dd 0,05-0,075 mg.
* Moksonidin (Normatens) yaitu derivat
pirimidin (1992) dengan afinitas lebih kuat
untuk reseptor-Im1 daripada reseptor-a2
(yang terutama bertang gungjawab untuk
efek sentral). Kerjanya lebih lama, sampai 12
jam meskipun t½ hanya 2-3 jam. Efek samping
sama, kecuali sedasi dan hipertensi ‘rebound’
yang jarang terjadi. Dosis: permulaan 0,2 mg
pagi hari, bila perlu berangsur-angsur dinaik-
kan sampai 0,6 m sehari.
4b. Metildopa: Dopamet,Aldomet
Derivat alanin ini (1963) dalam saraf adre-
nerg diubah secara enzimatis menjadi zat
aktifnya alfa -metilnoradrenalin (MNA) dan
metildopamin. Semula dikira bahwa MNA
mendesak NA dari resep tornya di ujung
saraf dan dengan demikian bekerja sebagai
transmitterpalsu. namun MNA ternyata ham-
pir sama aktifnya dengan NA, sehingga
tidak dapat dijelaskan menurunnya aktivitas
adrenerg dan TD. Kemudian ditemukan bah-
wa pembentukan ‘false transmitter’ itu
juga terjadi dalam otak dan kini efek hipo-
ten sif itu diperki rakan akibat aktivasi
reseptor-a2 sentral. Metildopa terutama digu-
nakan pada hipertensi sedang sampai berat,
sering kali dikombinasi dengan thiazida.
Resorpsi dari usus antara 30-70%; kadar
plasma maksimal dicapai sesudah ±5 jam dan
bertahan ±24 jam. Selain di otak, di dalam hati
zat ini diubah menjadi metildopamin dan
MNA. Ekskresi terutama melalui urin secara
utuh dan g















