Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 31. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 31. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 31

 





yang teren dah terjadi pada malam hari 

sewaktu tidur. Pagi hari sesudah  bangun ti-

dur, TD berangsur-angsur naik dan biasanya 

mencapai puncaknya pada siang hari selama 

bertugas dengan banyak kemungkinan akan 

situasi penuh stres . Oleh sebab  itu, untuk 

menen tukan dengan pasti adanya hipertensi 

diperlukan minimal 3 penguku ran pada saat 

berlainan (berselang minimal 1 minggu). 

Pengulangan ini perlu untuk meniadakan 

faktor yang dapat meningkatkan tensi, se-

perti stres, emosi, rasa letih dan sebagainya.

Pada tahun 2003 dua Komisi Hipertensi di 

AS dan Europa telah memberikan petunjuk 

bagi diagnosis dan terapi hipertensi, yang 

dalam garis besar diterima oleh WHO. Dalam 

saran ini dikemukakan beberapa perubahan 

terhadap pengertian hipertensi dibandingkan 

dengan kebijakan lama, antara lain mengenai 

nilai-nilai TD­ tujuan. Tensi dapat dibagi 

dalam beberapa stadia dengan nilai-nilainya 

tersendiri, lihat selanjutnya Tabel 35-1 untuk 

klasifikasi tekanan darah. 

Bila juga ada  suatu faktor risiko kar-

diovaskuler, seperti diabetes tipe-2, maka 

nilai TD tujuan diturunkan sampai <130/80 

mmHg. TD juga meningkat sesuai usia aki-

bat bertambahnya pengapu ran/pengerasan 

pembuluh, sehingga sukar dikatakan dengan 

pasti kapan betul-betul ada  hipertensi. 

Namun tidak jarang pada lansia di atas 65 

tahun tanpa faktor risiko, TD sampai 150-160/ 

80-90 mmHg masih dianggap akseptabel oleh 

sebagian dokter. 

Klasifikasi

Sistolis Diastolis

mm/Hg mm/Hg

normal <120 dan <80

normal tinggi 130-139 atau 85-89

hipertensi 140-159 atau 90-99

tingkat I

hipertensi ≥160 atau ≥100

tingkat II

Tabel 35-1: Klasifikasi tekanan darah 

orang dewasa.


Sesuai pedoman hipertensi terakhir dari 

Amerika istilah “normal tinggi” diganti de-

ngan “prehipertensi” untuk menunjukkan 

bahwa tekanan darah demikian merupakan 

stadium awal dari hipertensi

* Faktor risiko PJP. Hipertensi sebetulnya 

bukan penyakit, melainkan merupakan salah 

satu faktor risiko untuk terjadinya penyakit 

jantung dan pembuluh (PJP), khususnya 

CVA (cerebrovascular­accident, infark atau pen-

darahan di otak). Di samping hipertensi fak-

tor-faktor risiko lain yaitu  merokok, kdar 

koles terol dan homosistein yang meningkat, 

kegemukan (overweight,­BMI>­27), jenis kela-

min­(pria,­wanita­sesudah­menopauze),­diabe tes 

mellitus serta keturunan (bawaan).

TD diastolis dan sistolis. Tradisional TD 

diastolis umumnya dianggap lebih penting 

daripada TD sistolis sebagai faktor risiko 

PJP. Namun penelitian baru menunjukkan 

bahwa tensi sistolis sama pentingnya untuk 

meramalkan berbagai komplikasi hipertensi 

(stroke, PJP, gagal jantung). Bahkan pada 

orang di atas 50 tahun TD sistolis mungkin 

lebih penting dari pada TD diastolis.Terutama 

lansia dapat menderita hipertensi sistolis 

tunggal yang sering kali sukar diturunkan 

dengan pengobatan.28

* Regulasi tekanan darah. Ginjal memegang 

peranan utama pada pengaturan tingginya 

TD, yang berlangsung melalui suatu sistem 

khusus, yaitu Sistem Renin-Angioten sin-

Aldosteron, disingkat RAAS. Dua jenis en-

zim memegang peranan pada daya kerja 

sistem ini, yaitu renin dan Angiotensin­ Con-

verting­ Enzyme (ACE. Kininase II, dipepti-

dylkarboksi-peptidase).

Bila volume darah yang mengalir melalui 

ginjal berku rang dan TD di glomeruli ginjal 

menurun, misalnya sebab  penyempi tan 

arteri setempat, maka ginjal dapat memben-

tuk dan melepaskan enzim­ proteolitik renin 

(Tiegerstedt dan Bergman, 1898). Dalam plas- 

ma renin menghidrolisis gliko-protein angio-

tensinogen (yang terbentuk di dalam hati 

dan merupakan substrat bagi renin) menjadi 

angio tensin I (AT I) suatu docapeptida. 

Zat ini diubah oleh enzim ACE (Angioten­sin­

Conver­ting­Enzyme,­yang disintesis antara lain 

di paru-paru) menjadi zat aktif angio tensin 

II, suatu octapep-tida, yang jauh lebih aktif. 

AT II ini antara lain berefek vasokonstriktif 

kuat dan menstimulasi sekresi hormon al-

dosteron oleh anak-ginjal dengan sifat retensi 

garam dan air. Akibatnya volume-darah dan 

TD naik lagi menjadi normal.

Gambar 35-1: Sistem Renin-Angiotensin-

Aldosteron (RAAS)


Penghambat renin langsung yaitu  aliski-

ren yang dipakai  sebagai obat antihiper-

tensi.

Penghambat RAS (Sistem Renin-Angiotensin) 

yang dipakai  dalam terapi, terdiri dari 3 

tipe:

• penghambat ACE (kaptopril, 1999; enal-

april): menghambat konversi dari Ang.-I 

menjadi Ang.-II

• perintang reseptor angiotensin (AT-II-

reseptor-blockers atau antagonis AT-II))

• penghambat renin langsung (betablocker)

Di samping regulasi hormonal melalui RAAS, 

masih ada  beberapa faktor fisiologi yang 

dapat memengaruhi TD, yakni:

a. volume pukulan jantung. Ini yaitu  

jumlah darah yang pada setiap kontraksi 

dipompa keluar jantung. Semakin besar 

volume ini, semakin tinggi TD. Beberapa 

zat, misalnya garam dapur (NaCl) da-

pat mengikat air, sehingga volume da-

rah total meningkat. Sebagai efeknya, 

tekanan atas dinding arteri meningkat 

pula dan jantung harus memompa lebih 

keras untuk menyalurkan volume darah 

yang bertambah. Hasilnya TD akan naik.

b. kelenturan dinding arteri. Pembuluh 

yang dindingnya sudah mengeras sebab  

endapan kolesterol dan kapur (atheroma) 

memicu  TD lebih tinggi diban-

dingkan dinding yang masih lentur. 

c. pelepasan neurohormon adrenalin dan 

noradrenalin, yang antara lain berkha- 

siat menciutkan arteri perifer hingga 

TD naik. Keadaan ini terutama terjadi 

pada waktu emosi hebat (gelisah, takut, 

marah dan sebagainya) atau selama olah-

raga bertenaga, sistem saraf adrenergik 

terangsang dan melepaskan neurohor- 

mon itu  (lihat Bab 31, Adrener-

gika). Peningkatan noradrenalin juga 

dapat disebabkan oleh situasi stres dan 

merokok.

Hipertensi

Hipertensi yaitu  suatu kelainan, suatu geja-

la dari gangguan pada mekanisme regulasi 

TD yang diuraikan di atas dan merupa- 

kan faktor risiko yang sangat umum bagi 

penyakit jantung dan pembuluh. Diperki-

rakan bahwa± 25% dari penduduk dunia 

menderita gangguan ini. Di samping peru-

bahan pola hidup penanganannya terdiri dari 

pengobatan, sering kali seumur hidup, untuk 

menurunkan tekanan darah dengan tujuan 

menghindari komplikasi yang dapat timbul.

pemicu nya hanya lebih kurang 10% dari 

semua kasus yang diketahui, antara lain 

akibat penyakit­ ginjal dan penciutan­ aorta/

arteri­ ginjal, juga akibat tumor di anak-ginjal 

dengan efek overpro duksi hormon-hormon 

tertentu yang berkhasiat meningkatkan TD 

(feo­chromcyto­ma). Dalam kebany akan kasus 

pemicu nya tidak diketahui dan bentuk 

umum ini disebut hipertensi esensial. Faktor 

keturunan berperan penting pada timbulnya 

jenis hipertensi ini.

Risiko hipertensi yang tidak diobati besar 

sekali dan dapat memicu  kerusakan 

pada a.l. jantung, otak dan mata. TD yang 

terlampau tinggi memicu  jantung me- 

mompa lebih keras, yang akhirnya dapat 

memicu  gagal jantung (decom­pensa-

tio) dengan rasa sesak dan udema di kaki. 

Pembuluh juga akan lebih mengeras un-

tuk menahan TD yang meningkat. Pada 

umumnya risiko terpenting yaitu  serangan 

otak (stroke,­ beroerte, dengan kelumpuhan 

separo tubuh) akibat pecahnya suatu kapiler 

dan mungkin juga infark jantung. Begitu 

pula cacat pada ginjal dan pembu luh mata, 

yang dapat meng akibatkan kemunduran 

pengli ha tan. Komplikasi otak dan jantung 

itu  sering kali bersi fat fatal, misalnya di 

negara-negara Barat 30% lebih dari seluruh 

kemati an disebab kan oleh hipertensi!

Gejala stroke

• kelemahan mendadak atau hilang rasa 

dari muka, tangan dan kaki, biasanya 

satu sisi dari tubuh;

• bicara tidak jelas atau sama sekali tidak 

bisa bicara;


Gambar 35-1a: Obstruksi penyaluran 

darah ke sebagian dari otak akibat 

stroke biasanya memengaruhi fungsi 

dari satu bagian spesifik dari tubuh.

Sumber: Home Health Fact File, Heart, 

Blood & Respiratory System.

• penglihatan kabur;

• pusing, hilang keseimbangan atau ter-

jatuh;

• mendadak sakit kepala hebat.

Faktor peningkatan Td 

Ada beberapa faktor yang dapat mening-

katkan TD secara reversibel, antara lain:

a. garam. Ion natrium memicu  re-

tensi air, sehingga volume darah bertam-

bah dan memicu  daya tahan pem-

buluh meningkat. Juga memper kuat 

efek vasokonstriksi noradrenalin. Secara 

statistik ternya ta bahwa pada kelompok 

penduduk yang mengonsumsi terlalu 

banyak garam ada  lebih banyak 

hipertensi daripada orang-orang yang 

memakan hanya sedikit garam. 

b.  merokok. Nikotin dalam rokok berefek 

vasokonstriktif dan meningkatkan TD. 

Merokok memperkuat efek buruk dari 

hiper tensi terhadap sistem pembuluh.

c.  pil antihamil mengandung hormon wa-

nita estrogen, yang juga bersifat retensi 

garam dan air. Wanita yang peka seba-

iknya menerapkan suatu cara pemba-

tasan kelahiran lain. 

d. stres (ketegangan emosional) dapat me-

ningkat kan TD untuk sementara akibat 

pelepasan adrenalin dan noradre nalin 

(hormon­ stress), yang bersifat vasokon-

striktif. TD meningkat pula pada waktu 

ketegangan fi sik (pengeluaran tenaga, 

olahraga). Bila stres hilang, TD menurun 

lagi.

e.  drop (liquorice), sejenis gula-gula yang di-

buat dari Succus­ liquiritiae mengandung 

asam­ glizirinat dengan khasiat retensi air 

pula, yang dapat meningkatkan TD bila 

dimakan dalam jumlah besar. 

f.  hormon pria dan kortikosteroida juga 

berkhasiat retensi air. sesudah  pengguna-

an hormon ini dihentikan biasanya  

TD menurun dan menjadi normal kem-

bali.

g.  kehamilan. Yang terkenal yaitu  kena-

ikan TD yang dapat terjadi selama­ keha-

mi­lan. Mekanisme hipertensi ini serupa 

dengan proses di ginjal; bila uterus dire-

gangkan terlampau banyak (oleh janin) 

dan menerima kurang darah, maka 

dilepaskannya zat-zat yang meningkat-

kan TD.

Gejala hipertensi 

Hipertensi tidak memberikan gejala khas, 

baru sesudah  beberapa tahun adakalanya 

pasien merasakan nyeri kepala pada pagi 

hari sebelum bangun tidur dan rasa nyeri ini 

biasanya hilang sesudah  bangun. 

Hipertensi hanya dapat dikenali dengan 

penguku ran tensi dan ada kalanya melalui 

peme riksaan tambahan terhadap ginjal dan 

pembuluh.

Pencegahan

Walaupun faktor keturunan memegang pe-

ranan penting, namun cara dan pola hidup 

sangat esensial dalam pencegahan hipertensi. 

Misalnya, makan berlebihan dengan terlalu 

banyak lemak serta garam (dan gula), ter-

lampau sedikit gerak badan dan merokok, 

dapat mendorong terja dinya hipertensi. Lihat 

‘Tindakan-tindakan umum’ .

* Kontrol teratur. Mengingat hipertensi 

sering kali tidak memberikan ge jala dan 


hebatnya risiko untuk jangka panjang (bila 

tidak ditan gani), maka perlu sekali untuk 

mengenali penyakit “tersembunyi” ini sedini 

mungkin.

Oleh sebab  itu dianjurkan pengontrolan 

TD berkala, misalnya setiap 1 atau 2 tahun 

sekali, terlebih-lebih pula bagi mereka di atas 

usia 45 tahun atau yang memiliki orang tua 

atau saudara yang menderita hiper tensi. 

Dari data klinis ternyata bahwa terapi pe-

nurunan TD dapat mengurangi insidensi 

stroke dengan 35-40%; infark jantung dengan 

20-25%; gagal jantung dengan >50%.26 

Tindakan umum

Penderita TD tinggi tanpa adanya sebab-

sebab organik yang jelas dapat menerapkan 

sendiri sejumlah aturan hidup untuk menu-

run kan tensinya. Pola hidup yang baik juga 

meningkatkan efektivitas obat-obat antihi-

pertensi dan mengurangi risiko PJP.

a. Menguruskan badan (Horvath­ et­ al.­

2008)34. Berat badan berlebihan (kege-

mukan) memicu  bertambahnya vo-

lume darah dan perluasan sistem sirku- 

lasi. Bila bobot ekstra dihilangkan TD 

dapat turun kurang lebih 0,7/0,5 mm Hg 

setiap kg penurunan. Dianjurkan BMI 

antara 18,5-24,9 kg/m2.

b. Mengurangi garam dalam diet (Cham-

pagne, 2006)35 dahulu dianggap sebagai 

tinda kan umum terpenting berdasar  

perkiraan berikut. Bila kadar Na di filtrat 

glomeruli rendah, maka lebih banyak air 

akan dikelu arkan untuk menormalisasi 

kadar garam dalam darah. Akibat pe-

ngeluaran ekstra air itu , TD akan 

turun. namun  dalam praktik ternyata 

mengurangi konsumsi garam sulit sekali 

direali sasikan. Setiap hari umumnya kita 

makan lebih dari 10 g garam dan lebih 

dari separuhnya ada  dalam berbagai 

makanan (ikan asin, sayur, daging, snack 

dan sebagainya). Pengurangan setiap 

gram garam sehari dapat berefek penu- 

runan tensi 1 mm Hg. Oleh sebab  itu 

untuk mencapai penurunan TD yang 

nyata, konsumsi garam harus dibatasi 

sampai < 6 g sehari , walaupun pelaksa-

naannya sulit sekali.

c.  Membatasi kolesterol bermanfaat untuk 

membatasi risiko atherosclerosis, lihat Bab 

36, Antili pemika, antara lain dengan me-

ngurangi/menghindari asupan lemak je-

nuh (saturated dan total fat). Konsumsi 

serat-serat nabati justru hendaknya di-

perbanyak, sebab  terbukti bahwa serat 

dalam makanan dapat membantu menu-

runkan TD. Diketa hui pula bahwa orang-

orang vegetarir, yakni yang pantang da-

ging dan makan banyak sayur dan buah-

buahan (mengandung banyak serat), ra-

ta-rata memiliki tensi yang lebih rendah 

daripada orang ‘bia sa’.

d. Berhenti merokok. Tembakau mengan-

dung nikotin yang memper kuat kerja 

jantung dan menciutkan arteri kecil hing-

ga sirkul asi darah berkurang dan TD 

meningkat. Lagi pula karbon mo noksida 

(CO) dalam asap mengikat hemoglo-

bin lebih cepat dan lebih kuat daripada 

oksigen, hingga penyerapan O2 di paru-

paru sangat dikuran gi. Selain itu ter 

dalam asap bersifat karsinogen dan pada 

jangka panjang dapat merusak dinding 

pembu luh dengan efek atheroskle­rosis. 

Berhu bung banyak nya efek buruk, se- 

mua tindakan ini jauh lebih penting dari-

pada tindakan-tindakan yang berikut.

e.  Membatasi minum kopi sampai maksi-

mal 3 cangkir sehari. Kofein dalam ko-pi 

berkhasiat menciutkan pembuluh yang 

secara akut dapat meningkatkan TD de-

ngan terjadi nya gangguan ritme (semen- 

 tara). Kopi tubruk ternyata dapat mening-

katkan koleste rol darah akibat kandungan 

lemak jenuhnya. Kopi ek strak/larut tan-

pa lemak tidak memperlihatkan efek 

buruk ini. Minum lebih dari 5 cangkir 

sehari meningkatkan risiko infark sam-

pai 70%, terutama pada wanita dengan 

angina pectoris atau hiperten si. Pada 

jangka lama minum terlalu banyak kopi 

juga memicu  me ningkatnya LDL.

f.  Membatasi minum alkohol sampai 2-3 

konsumsi (bir, anggur) sehari. Alkohol 

memiliki banyak khasiat, antara lain vaso-

dilatasi,­ peningkatan­ HDL-kolesterol,­ fibri-­

nolitis­ dan mengurangi­ kecondongan­ beku­

darah. namun  minum lebih dari 40 g 


sehari untuk jangka waktu panjang dapat 

mening katkan tensi diasto lis sampai 0,5 

mm per 10 g alkohol. Lihat juga Bab 36, 

Faktor-faktor baik atherosclerosis.

Menurut penelitian anggur merah yang 

tidak beralkohol dapat menurunkan te-

kanan darah lebih baik daripada anggur 

merah biasa. Disarankan bahwa tiap hari 

minum dealcoholized red wine bermanfaat 

untuk menghindari hipertensi (Circulation­

Research­on­September­6,­2012).­

g. Cukup istirahat dan tidur yaitu  pen-

ting, sebab  selama periode ini TD me- 

nurun. Juga mengurangi stres dan latih-

an relaksasi mental (yoga,­ meditasi­ tran-

sendental,­ chi­ kung,­ biofeedback­ *) ternyata 

berguna sekali untuk menurunkan TD. 

h. Gerak badan yang cukup bertenaga. Wa-

laupun TD meningkat pada waktu me-

ngeluarkan tenaga akut, namun olahraga 

secara teratur dapat menurunkan TD 

yang tinggi, sebab  saraf parasimpatik 

(dengan efek vasodilatasinya, lihat Seksi 

VI) akan relatif lebih aktif daripada sistem 

simpatik dengan kerja vasokon striksinya. 

Telah dibuktikan bahwa jalan (agak ce-

pat) setiap hari (minimal 3x seminggu) 

selama sekurang-kurangnya ½ jam cukup 

untuk memberikan hasil baik. 

Pengobatan dan pilihan obat

Penanganan dasar hipertensi terdiri dari pe-

nang­gulangan­ overweight (bila ada) dengan 

diet, pemba­ta­san­ garam serta­ peningkatan­ akti-

vitas­ fisik. Selain tindakan umum ini, pada 

hipertensi lebih berat perlu dipakai  obat-

obat hipertensi untuk menorma lisasikan TD. 

* Pengobatan pada instansi pertama ditujukan 

pada penurunan TD, namun  tujuan akhir ada-

lah untuk menghindari komplikasi­ lambat, 

memperbaiki kualitas dan memperpanjang 

hidup. Hal ini dapat dicapai dengan prevensi 

efek buruk jangka panjang, seperti infark 

*­Bio-feedback yaitu  suatu cara modern untuk mengendalikan proses-proses tak-sadar (otonom) 

dalam tubuh. Pasien dihubungi m elalui elektrode denga n alat-alat ukur yang memperlihatkan 

berbagai fungsi tubuh, antara lain aktivitas otak, ritme jantung dan tekanan darah. Melalui konsentrasi 

dan latihan, fungsi-fungsi ini dapat dipengaruhi.

otak (stroke), gangguan aterosklerotis dan hi-

pertrofi jantung, yang akhirnya dapat me-

nimbulkan aritmia dan dekompensasi.

Pengobatan dengan antihipertensiva harus 

selalu dimulai dengan dosis rendah agar TD 

jangan menurun terlampau drastis dengan 

mendadak. Kemudian setiap 1-2 minggu do- 

sis berangsur-angsur dinaikkan sampai ter-

capai efek yang diinginkan (metode‚­ start­

low,­go­ slow‘). Begitu pula penghentian tera-

pi  harus secara berangsur pula, lihat Efek­

samping.

Antihi perten siva hanya menghi langkan 

gejala TD tinggi dan tidak pemicu nya. 

Oleh sebab  itu obat pada hakikatnya harus 

diminum seumur hidup, namun  sesudah  be-

berapa waktu biasanya  dapat diturun-

kan (dosis pemeliharaan).

* Pilihan obat. Hal ini merupakan suatu 

masalah yang kompleks bagi sebagian pen-

derita dengan ada nya beberapa faktor 

yang menentukan pilihan itu , misalnya 

penyakit yang juga dideritanya misalnya 

diabetes, efek samping dan harga obat. Ba-

gi penderita dengan tekanan darah tidak 

terlalu parah (90-140) tanpa komplikasi lain 

dan yang tidak responsif terhadap tindakan 

nonfarmakologis seperti itu  di atas, 

dianjurkan sebagai pilihan pertama yaitu  

diuretika (Chobanian et al., 2003)36 atau kom-

binasi dari suatu diuretikum dan salah satu 

obat anti-hipertensi bagi penderita dengan 

tekanan darah lebih tinggi (100-160). Juga 

dosis merupakan faktor dalam pemilihan 

obat.

Faktor lain yaitu  gangguan lain yang 

diderita pasien, misalnya BPH untuk ini da-

pat dipilih suatu alfa-blokker yang efektif 

bagi kedua jenis penyakit. Contoh lain yaitu  

penderita migrain yang dapat memanfaatkan 

efek dari suatu beta-blokker yang dapat 

menghindari serangan migrain.

Amjuran itu  yaitu  untuk pengobatan 

hipertensi jangka waktu panjang dan 


bukannya bagi penderita hipertensi sangat 

parah yang mengancam jiwa, misalnya hiper-

tensi­ensefalopati.

WHO28 menganjurkan lima jenis obat dengan 

daya hipotensif dan efektivitas kurang lebih 

sama, yaitu diuretika tiazida, beta-blocker, 

antagonis-Ca, ACE-inhibitor dan ATII-re-

septorblocker. Efek melindungi dari semua 

obat ini terletak pada efek penurunan TD 

dan tidak pada sifat-sifat lain dari obat-obat 

itu . Oleh sebab  itu pilihan (jenis) obat 

terutama tergantung dari penyakit-penyakit 

tambahan yang sering kali menyertai hi-

pertensi. Beberapa contoh lain tertera dalam 

tabel berikut ini.

Terapi kombinasi kini dianggap sangat 

penting dan ternyata efektif, sebab  dengan 

dosis masing-masing obat yang lebih rendah 

juga efek sampingnya berkurang. Lagi pula 

kesetiaan­ terapi ditingkatkan misalnya bila 

suatu sediaan mengandung kombinasi dari 2 

atau 3 obat yang hanya harus diminum satu 

kali seharinya. Dianjurkan untuk langsung 

dimulai dengan kombinasi dua obat pada 

penderita dengan TD lebih tinggi dari nilai/

tujuan 140/90 mmHg.

* Hipertensi tunggal. Kini banyak ahli se-

pendapat bahwa diuretika atau beta-block-

er, atau kombinasinya, merupakan pilih-

an pertama. Dari banyak studi ternya ta bah-

wa pada jangka panjang kedua kelompok 

obat ini dapat menurunkan angka penya kit­

Bila hipertensi disertai  obat yang dianjurkan

diabetes tipe-2 : ACE-inhibitor + beta-blocker

gagal-jantung : diuretika, beta-blockers atau ACE- inhibitors;

angina pectoris : beta-blockers atau antagonis-Ca

retinopati diabetes : ACE-inhibitors atau ATII-reseptor-blockers

sesudah infark jantung : beta-blockers atau ACE-inhibitors

lansia dg TD sistolis tinggi : terapi standar sama, namun dengan dosis awal

lebih rendah (menghindari efek samping)

Kombinasi obat yg dianjurkan : 

diuretikum tiazida + beta-blocker, ACE-inhibitor atau ATII-reseptor-blocker

antagonis-Ca (dihidropiridin) + beta-blocker, ACE-inhibitor atau ATII-reseptor-blocker

Tabel 35-2: Pilihan obat hipertensi pada penderita dengan gangguan lain dan bebe-

rapa kombinasi yang dianjurkan.27

(morbiditas) dan angka kemati an (mortali­tas). 

Pilihan kedua yaitu  ACE-inhibitors. 

* Hipertensi dengan diabetes. Kombinasi 

di atas memiliki kendala sebab  dapat 

mencetus kan resis­tensi­ insulin, lihat Bab 47, 

Insulin. Dalam hal ini sebaiknya dipakai  

suatu penghambat-ACE atau suatu b-blocker 

selektif. Hanya bila ada  kontrain dikasi, 

dian jurkan obat-obat lain seperti alfa-

blockers dan antagonis-Ca long-acting.

* Krisis hipertensi bercirikan kenaikan tensi 

mendadak dengan gejala encefalopati akut 

(sakit kepala hebat, gangguan kesadaran, 

serangan epilepsi). Pengobatan sebaiknya 

dilakukan dengan injeksi intravena, antara 

lain nifedipin, enalapril, labetalol, fentolamin 

(alfa-blocker) dan ketanserin­(Ketensin), suatu 

antagonis-serotonin dari reseptor-5HT2.

Penggolongan

Obat-obat yang dewasa ini dipakai  un-tuk 

terapi hipertensi dapat dibagi dalam bebe-

rapa kelompok, yang berturut-turut akan di-

bicarakan lebih mendetail di bawah ini.

1. Diuretika 

2. Alfa-receptor blocker 

3. Beta-receptor blocker 

4. Obat-obat SSP

5. Antagonis kalsium 

6. Penghambat ACE

7. Vasodilator 

8. AT-II-receptor blocker (antagonis-ATII)


Mekanisme kerja

Obat hipertensi berbagai macam dan cara 

kerjanya dapat dibagi dalam beberapa jenis, 

yaitu: 

*  meningkatkan pengeluaran air dari tu-

buh: diuretika

*  memperlambat kerja jantung: beta-blocker

* memperlebar pembuluh: vasodilator­ lang-

sung (di/hidra lazin, minoksidil), antago-

nis­ kalsium,penghambat­ ACE­ dan­ AT­ II-

reseptor­blocker

*  menstimulasi SSP: agonis­alfa-2­sentral se-

perti klonidin dan moksonidin, metil-

dopa, guanfasin dan reserpin

*  mengurangi pengaruh SSO terha dap jan-

tung dan pembuluh, yakni 

– alfa-1-blockers: derivat quinazolin (pra-

zosin, doksazosin, alfuzosin, tamsu-

losin), ketanserin (Ketensin);

– alfa-1­dan­alfa-2-blocker: fentolamin;

– beta-blocker: propranolol, atenolol, me-

toprolol, pindolol, bisoprolol, timolol 

– alfa/beta-blockers: labetalol dan karve-

dilol.

Efek samping

Umum. Praktis semua antihipertensiva me-

nimbulkan efek samping umum, seperti hi-

dung­ mampat (akibat vasodilatasi mukosa) 

dan mulut­ kering,­ bradycardia (kecuali vaso-

dilator lang sung: justru tachycardia),­ rasa­

letih­ dan­ lesu,­ gangguan­ penglihatan­ dan­ lam-

bung-usus (mual, diare), adakalanya impoten-

si (terutama obat-obat sentral). Efek-efek 

samping ini sering kali bersifat sementara dan 

akan hilang dalam waktu 1-2 minggu. Dapat 

dikurangi atau dihindari dengan peningkatan 

dosis secara lambat laun, artinya dimulai 

dengan dosis rendah yang berangsur-angsur 

dinaikkan. Dengan demikian penurunan TD 

mendadak dapat dihindari. Begitu pu la obat 

sebaik nya diminum sesudah  makan agar 

kadar obat dalam plasma jangan mendadak 

mencapai puncak tinggi (dengan akibat hi-

potensi kuat). Penghentian terapi pun tidak 

boleh secara mendadak, melainkan ber- 

angsur-angsur untuk mencegah bahaya me-

ningkatnya TD dengan kuat (rebound­effect).

Khusus. Lebih serius yaitu  sejumlah besar 

efek samping khusus, antara lain:

– hipotensi ortostatik (OH), yakni turun-

nya TD lebih kuat bila tubuh tegak (=­

ortho,­Lat.) daripada dalam keadaan ber-

baring. Prevalensinya pada lansia berki-

sar antara 5 sampai 60% (Drugs­ Aging,­

2005;22:55-68). Dapat juga terjadi pada 

pemakaian  terutama simpatolitika, an-

tidepresiva trisiklik, penghambat MAO, 

antipsikotika, obat anti-Parkinson dan 

obat kardiovaskular (nitrat, antihiperten-

siva).

– depresi, terutama pada obat yang bekerja 

sentral, khususnya reserpin­dan metildopa, 

juga pada beta-blocker yang bersifat lipofil, 

antara lain propranolol, alprenolol dan 

metoprolol.

– retensi garam dan air, dengan bertam-

bahnya berat badan atau terjadinya ude-

ma, antara lain antagonis-Ca,­reserpin,­me-

tildopa­ dan­ hidralazin. Efek samping ini 

dapat diatasi dengan kombinasi bersama 

suatu diuretikum.

– penurunan ratio HDL: LDL. Sejumlah 

obat memengaruhi metabo lisme lipida 

secara buruk, yaitu menurunkan kadar 

kolesterol-HDL plasma yang dianggap 

sebagai faktor-pelindung terhadap penya-

kit jantung-pembuluh (PJP). Atau juga 

meningkatkan kolesterol-LDL yang di- 

anggap sebagai faktor­ risiko­ bagi­ PJP. Si-

fat ini telah dipastikan pada diuretika­

(kelompok thiazida dan klorta lidon) dan 

pada beta-blocker, khususnya obat-obat 

yang tak kardio selektif atau tak memiliki 

ISA. Lihat di bawah dan juga Bab 36, 

Antilipemi ka.

1. dIURETIkA

Diuretika meningkatkan pengeluaran garam 

dan air oleh ginjal hingga volume darah dan 

TD menurun. Di samping itu diperkirakan 

berpengaruh langsung terhadap dinding 

pembuluh, yaitu penurunan kadar-Na mem-

buat dinding lebih kebal terhadap nora- 

drenalin, hingga daya tahannya berkurang. 

Efek hipotensifnya relatif ringan dan tidak 

meningkat dengan memperbesar dosis (seba-

gaimana halnya dengan reserpin).


Diuretika thiazida dianggap sebagai obat 

hipertensi pilihan utama dan seyogyanya 

dipakai  sebagai terapi awal bagi keba-

nyakan penderita TD tinggi. Diberikan seba- 

gai obat tunggal atau dikombinasi dengan 

antihipertensiva golongan lain, yang dinaik-

kan efektivitasnya.Yang terutama dipakai  

yaitu  obat-obat long-acting sebab  sebagai 

single-dose pentakarannya praktis, sehingga 

meningkatkan kesetiaan pasien pada obat 

(drug­ compliance). Khusus dipakai  hidro-

 klorothiazida (HCT) yang sering kali di-

kombinasi dengan diuretika penghemat ka-

lium (spironolakton, amilorida, triamte ren). 

Lihat selanjutnya Bab 33, Diuretika. 

 2. ALFA-BLOCkER

Obat-obat ini merintangi reseptor-alfa adre-

nerg yang ada  di otot polos pembu-

luh (dinding), khususnya di pembuluh ku- 

lit dan mukosa. Dapat dibedakan 2 jenis 

reseptor: a1 dan a2, yang berada post-synap-

tis, a2 juga pre-sinaptis. Bila reseptor itu  

diduduki (akti vasi) oleh (nor)adrenalin, otot 

polos akan menciut. Alfa-blocker “melawan” 

vasokonstrik si akibat aktivasi itu  dan 

dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu:

a. alfa-blocker tak-selektif: fentolamin­ (Re-

gitine), yang hanya dipakai  i.v. pada 

krisis hipertensi tertentu, pada dekompen-

sasi tertentu sesudah infark jantung dan 

pada tumor tertentu sumsum, anak-gin-

jal;

b. alfa-1-blocker selektif: memblok hanya 

reseptor-a1-adrenerg secara selektif, an-

tara lain prazosin,­ doksazosin,­ terazo­sin,­

alfuzo­sin­dan­tamsulosin. Labetalol­dan kar-

ve­dilol memblok terutama reseptor-b1 dan 

- b2 (lihat nr 1, Beta-bloc ker)

c.  alfa-2-blocker selektif: yohimbin(lihat Bab 

31 C. Adrenoliti ka)

pemakaian ­alfa-1-blocker semula dipakai  

hanya untuk pengobatan hipertensi berda-

sarkan blokade reseptor-a dan vasodilatasi 

semua pembu luh perifer dengan akibat 

menurunnya TD. Pada zat-zat tak-selektif 

penurunan TD disertai refleks­tachy­cardia. Wa-

laupun bukan merupakan pilihan pertama 

prazosin dan doksazosin banyak diguna-

kan untuk hipertensi ringan sampai sedang, 

bila diuretika dan b-blocker kurang efektif. 

Kombinasi dengan kedua jenis obat ini meng-

hasilkan efek aditif.

Sejak awal tahun 1990-an alfa-blocker ju-

ga dipakai  pada hiper plasi prostat tak-

ganas (Benign­ Prostatic­ Hyperplasia,­ BPH). 

Terutama obat-obat yang memblok resep tor 

alfa-1 secara lebih selektif diguna kan untuk 

ini, yakni alfuzosin, terazosin dan tamsulo-

sin.­ Dengan mengendurkan ketegangan di 

dinding saluran kemih, kelu han BPH dapat 

dikurangi, lihat Bab 31 C, Adrenoli ti ka.­

Efek­ samping.­ Semua alfa-1-blocker mem-

berikan efek samping yang sama, yakni hi-

potensi ortostatis (reaksi‚­first­dose‘), yang ter-

jadi khusus pada permulaan terapi dan sesudah  

peningkatan dosis. Efek samping ini dapat 

dihindari bila dimulai dengan dosis rendah 

dan berangsur-ang sur menaikkannya, juga 

dengan minum dosis pertama sebe lum tidur. 

Efek lain yang dapat terjadi berupa perasaan 

pusing, nyeri kepala, hidung mampat, pilek, 

gangguan tidur, udema, debar jantung, pera-

saan lemah dan gangguan potensi.

Kom­binasi dengan b-blocker dan antagonis-

Ca meningkatkan risiko hipotensi, sedang  

kombinasi dengan diuretika dan penghambat 

ACE lebih sering memicu  rasa pusing.

Kehamilan­dan­laktasi Mengenai pemakaian  

obat-obat ini oleh wanita hamil dan yang 

menyu sui belum tersedia cukup data.

MONOGRAFI

2a. Prazosin: Minipress

Derivat chinazolin-piperazinil ini (1974) 

berefek hipotensif kuat berdasar  vaso-

dilatasi arteri melalui blokade resep tor-alfa-1 

secara selektif. Efek hipotensifnya dimulai 

sesudah  2-3 hari. Juga dipakai  pada de-

kompensasi jantung atas dasar vasodilata-

si vena dan pen gurangan preload­ darah, ter-

utama bila diuretika dan digoksin kurang 

efektif. pemakaian  lainnya yaitu  pada S. 

Raynaud dan pembesaran prostat (BPH) 

untuk sementara memper baiki aliran urin 

bila belum waktunya untuk pembedahan.


Resorpsinya­ dari usus sampai 80%, PP-

nya tinggi (97%) dan t½ 2-3 jam, namun  daya 

kerjanya lebih panjang, sampai 12 jam. Eks-

kresi terutama melalui empedu dan feses 

sebagai metabolit dan ±10% secara utuh le-

wat urin.

Efek­ samping­ terpenting yaitu  hipotensi 

ortostatis akut, terlebih-lebih bila disertai 

terapi dengan b-blocker dan antagonis-Ca. 

Juga efek sentral (rasa kantuk, halusinasi, 

depre si), ganggu an lambung-usus, reaksi ku-

lit (gatal-gatal, ruam, kesemutan), gangguan 

seksual, udema, tachycardia dan mulut ke-

ring. Koles terol-HDL sedikit dinaikkan, se-

dang kan LDL dan triglise rida diturun kan, 

sehingga ratio HDL:LDL diperbesar sampai 

30%. Kadar lipida total hanya menurun 

sampai 3-5%. Pada pemakaian  lama dapat 

terjadi tole­ransi­ (bandingkan dengan hidral-

azin), mungkin sebab  terjadi nya vasokon-

striksi akibat stimul asi SS simpatik atau 

RAAS, yang meniadakan efek vasodila tasi.

Dosis.­ Hipertensi: oral permulaan 0,25-0,5 

mg malam hari, dengan berangsur-angsur 

dinaikkan sampai 2-3 dd 0,5-2 mg, maksimal 

3 dd 6 mg.­Dekompensasi: 2-4 dd 0,5 mg, mak-

simal 20 mg sehari. 

S.­Raynaud­dan­BPH: dosis pertama 0,5 mg 

malam hari, lalu 2 dd sehari 0,5 mg selama 

3-7 hari, pemeliharaan 2 dd 1-2 mg.

* Doksazosin (Cardura) yaitu  derivat long-

acting (1987) t½ 9-12 jam dengan khasiat 

sama, namun  lebih jarang memicu  

hipotensi ortostatik berbahaya. Khusus digu-

nakan pada hiperten si dan BPH. namun  untuk 

BPH lebih disukai generasi kedua dari alfa-

1-blockers, yakni alfuzosin dan tamsulosin 

sebab  efek sampingnya yang lebih ringan.

Dosis: permulaan oral malam hari 1 mg 

(mesilat) selama 1-2 minggu, bila perlu di-

naikkan sampai 1 dd 2-8 mg. 

* Terazosin (Hytrin) yaitu  juga derivat long-

acting (1987) dengan t½ 8-13 jam, yang juga 

dipakai  pada BPH dan hipertensi. Khasiat 

antihipertensifnya tidak sekuat prazosin. Per-

bai kan geja la BPH baru tampak sesudah  lebih 

kurang 2 minggu.

Resorpsinya dari usus ±90%, PP-nya lebih 

dari 90% dan dalam hati dirombak menjadi 

beberapa metabolit, antara lain turunan pi-

per azin aktif. Ekskresi melalui urin dan feses. 

Efek­ samping yang paling sering terjadi 

yaitu  perasaan pusing, nyeri kepala dan 

impotensi. 

Dosis:­ BPH oral selama 3 hari 1 mg ma-

lam hari, lalu selama 11 hari 1 dd 2 mg, pe-

meliharaan 1 dd 5-10 mg. Hipertensi: malam 

hari 1 mg selama 1 minggu, lalu 1 dd 2 mg.

2b. Alfuzosin: Xatral­XL

Derivat furamida ini (1990) juga khusus 

dipakai  sebagai obat BPH dengan efek 

samping lebih ringan. 

Dosis:­ 1dd 10 mg tablet sustained release; 

dosis pertama harus diminum ma lam hari.

* Tamsulosin (Omnic,­Harnal) yaitu  derivat 

sulfonamida long-acting, t½ ±12 jam (1995) 

yang khusus disalurkan sebagai obat BPH 

dengan mekanisme pengenduran otot-otot 

licin di prostat dan leher kandung kemih 

melalui rintangan sistemis dari reseptor a1a- 

adrenerg. Reseptor-reseptor ini juga ada  

dalam otot-otot yang mendilatasi iris mata. 

Bila pasien telah memakai  tamsulosin 

dan kemudian menjalani bedah katarak, 

midriasis dihindari sehingga iris menjadi 

„floppy“ (Floppy­Iris­Syndrome) dan lensa arti-

fisial yang telah dimasukkan dapat berubah 

tempat.

sebab  BPH dan bedah katarak sering 

kali dialami para lansia, maka efek samping 

serius pasca bedah ini perlu diwaspadai. 

Oleh sebab  itu penting untuk sebelum pem-

bedahan diminta keterangan pada pasien 

apakah pernah memakai  tamsulosin 

atau salah satu alfa-1 blocker di waktu yang 

lalu, sebab  masalah ini masih dapat timbul 

walaupun sudah cukup lama dihentikan 

pemakaian nya.


Efek samping lainnya yaitu  kemungkinan 

timbulnya hipotensi dan sinkope (kehilangan 

kesadaran sementara), namun  belum jelas 

apakah masalah ini hanya timbul pada awal 

terapi (first­ dose­ effect) atau selama terapi. 

Oleh sebab  itu pasien tetap harus waspada 

terhadap kemungkinan terjatuh.

Bird ST, et al. Tamsulosin treatment for benign 

prostatic hyperplasia and risk of severe 

hypotension in men aged 40-85 years in the 

United States: risk window analyses using 

between and within patient methodology. 

BMJ 2013;347:f6320.

Sebagai efek samping lain tercatat gangguan 

ejakulasi. 

Dosis­: 1 dd 0,4 mg (kapsul slow­release) se-

sudah makan pagi.

 3. BETA-BLOCkER

Zat-zat ini memiliki sifat kimia yang sangat 

mirip dengan zat b-adrener gik isoprenalin. 

Khasiat utamanya yaitu  anti-adrenergik 

dengan menempati secara bersaing resep-

tor b-adrenergik. Blokade reseptor ini meng-

akibatkan peniadaan atau penurunan kuat 

aktivitas adrenalin dan noradrenalin (NA). 

Resep tor-b terda pat dalam 2 jenis, yakni b1 

dan b2.

– Reseptor b1 di jantung (juga di SSP dan 

ginjal). Blokade reseptor ini mengaki-

batkan pelemahan daya kontraksi (efek 

inotrop negatif), penurunan frekuensi 

jantung (efek kronotrop nega tif, brady-

cardia) dan penurunan volume-menitnya. 

Juga perlamba tan penya luran impuls di 

jantung (simpul AV = atrio­ven­triku­ler). 

Efek ini hanya lemah pada pindolol. 

– Reseptor b2 di bronchia (juga di dinding 

pembuluh dan usus). Blokade reseptor 

ini memicu  penciutan bronchia dan 

vasokonstriksi perifer agak ringan yang 

bersifat sementara (beberapa minggu), 

juga mengganggu mekanisme homeostasis 

pemeliharaan kadar glukosa dalam darah 

(efek hipoglikemik).

Sifat-sifat khusus. Beta-blocker memiliki 

sifat-sifat khusus sebagai berikut:

a. kardioselektivitas, yaitu menghambat 

terutama reseptor-b1 dengan penurunan 

TD tanpa memicu  penciutan bron-

chia dan pembuluh perifer. Sifat ini ber-

kaitan dengan dosis; selektivitas ber-

kurang dengan dosis meningkat. Pasien 

asma, bronchitis dan diabetes sebaik-

nya memakai  (dengan berhati-hati) 

obat-obat kardiose lektif seperti asebutolol,­

atenolol,­ betaksolol­ (Kerlon),­ bisop­rolol,­ se-

liprolol,­esmolol dan­metoprolol.

b.  efek adrenergik intrinsik (ISA­ =­ Intrin-

sic­Sympathicomimetic­Activity), yang dimi-

liki oleh antara lain pindolol,­ asebutolol,­

alprenolol,­ seliprolol­ dan­ oksprenolol. Sifat 

ini berhubungan dengan kesamaan struk-

tur kimianya dengan b-adrenergika. Wa-

lau pun efek ini agak lemah, namun me- 

ngurangi khasiat utama dari obat-obat 

itu , yang dalam bebera pa hal meng- 

un tungkan. Misalnya fungsi­ jantung­ ku-

rang­ diperlemah, hingga risiko efek sam-

ping berba haya (seperti dekompensasi) 

menurun. Begitu pula daya­kontraksi­kurang­

ditekan­dan­sirkulasi­perifer­relatif­lebih­baik, 

hingga lebih jarang terjadi jari-jari kaki-

tangan menjadi dingin. Bradycardia ber- 

lebihan dalam keadaan istirahat pun di- 

kurangi dengan efek menurunnya keluh-

an rasa letih. Begitu pula penyalu­ran-AV­

kurang­diperlambat. Pada angina berat efek 

ISA dapat merugikan.

c.  efek stabilisasi membran, juga disebut 

efek lokal anestetik, yang timbul pada 

dosis tinggi oleh antara lain­ propranolol,­

alprenolol,­ oksprenolol dan­ asebutolol. Pada 

dosis biasa sifat ini tidak ada artinya. 

Dengan sendirinya b-blocker dengan kha-

siat lokal anestetik tidak layak dipakai  

topikal pada mata. 

pemakaian . Semula beta-blocker diintro-

duksi sebagai obat angina pectoris dan anti-

aritmia (propranolol, 1964). Baru ±10 tahun 

kemudian, obat ini dipakai  sebagai obat 

hipertensi, yang kini menjadi pemakaian  

utamanya. Untuk lengkapnya di bawah ini 

ikhtisar indikasi nya pada penyakit kardio-

vaskuler dan gangguan lain.

a. Angina pectoris. pemakaian nya berda-

sarkan penurunan frekuensi pukulan 

jantung (efek­ kronotrop­ negatif).­ Dengan 

demikian keperluan oksigen dari myo-

card dikurangi pada pengera han tenaga 

(exerti­on), hawa dingin dan emosi. Ter-

utama berguna pada terapi interval untuk 

mencegah serangan angina stabil kronis, 

adakalanya dikombinasi dengan obat-

obat lain. Pada angina variant hanya 

efektif sebagai obat tambahan bersama 

suatu antagonis-Ca, khususnya nifedipin. 

Lihat selanjutnya Bab 37, Obat-obat jan-

tung.

b.  Aritmia jantung yang disertai tachycardia, 

berda sar kan perlambatan penyaluran-

AV dan penurunan frekuensi pukulan 

jantung. Obat-obat dengan ISA kurang 

efektif untuk melawan tachycardia; obat-

obat dengan khasiat lokal-anestetik tidak 

lebih efektif, sebab  efeknya terlalu lemah 

pada dosis biasa. dipakai  untuk terapi 

maupun profilaksis serangan.

c.  Hipertensi, berdasar  penurunan­ vo-

lume­menit­jantung akibat­efek­inotrop­nega-

tif­ dan­ kro­notrop­ negatif, juga penurunan 

daya tahan dinding-pembuluh perifer 

(DTP) sesudah  beberapa minggu, yang 

semula justru meningkat. Lagi pula pe-

ngu­rangan­ sekresi­ renin­ oleh ginjal kare-

na blokade resep tor-beta setempat me- 

megang peran-an. Ternyata bahwa te-

rapi dengan­ beta-blocker­ kardioselek­tif pa-

da jangka panjang dapat mengu rangi 

morbiditas dan morta litas. 

d. Infark jantung. Juga telah dibuktikan 

bahwa beta-blocker dapat menurunkan 

sampai ±25% risiko akan infark kedua 

dan kematian, bila diberikan segera se-

sudah infark pertama (dalam waktu 3 

minggu). Mekanisme kerjanya diperki-

rakan berkaitan dengan efek anti-arit-

mianya, sebab  infark selalu disertai stres 

hebat dan naiknya sekresi NA dengan 

peningkatan risiko akan aritmia fatal. 

Obat-obat yang terbukti efektif yaitu  

timolol(2 dd 10 mg), propranolol­ (2 dd 80 

mg) dan­metoprolol­(2 dd 100 mg). 

e.  Gagal jantung (decompensatio). Penggu-

naan terbaru dari metoprolol­dan­bisoprolol 

yaitu  sebagai obat tambahan pada di- 

uretika dan ACE-blocker terhadap de-

kompensasi ringan. Obat-obat itu  

dapat mencegah memburuknya kondi- 

si, serta meringankan gejala dan mem-

perbaiki keadaan fungsional. Efek ini 

berten tangan dengan khasiat inotrop 

negatifnya, sehingga perlu dipakai  de-

ngan hati-hati.

f.  Lainnya. Di samping ini beta-blocker 

telah memperoleh tempat pula pada pe-

ngobatan berbagai gangguan lain dan 

yang terpenting di antaranya yaitu :

– glaukoma. Beberapa beta-blocker di-

gunakan dalam tetes mata sebagai obat 

pilihan pertama pada glaukoma (jenis 

simplex)­un tuk menurunkan tekanan cair-

an mata intraokuler yang meningkat. 

Produksi cairan mata diku rangi, mung-

kin akibat bloka de-b2. Mekanisme kerja-

nya yang tepat belum diketahui, kare- 

na stimul asi resep tor-b2 dengan misal-nya 

isoprenalin juga menurunkan tekanan 

intrao kuler! Tersedia tetes mata dengan 

timolol­ (Nyolol),­betaxolol­ (Betoptima),­ levo-­

buno­lol­ (Beta­gan), metip­ranolol­ (Beta-ophti-

ole)­ dan carteo­lol­ (Teop­tic). Obat-obat de-

ngan efek lokal aneste tik tidak dapat 

dipakai sebab  pada pemakaian  lama 

dapat merusak epitel kornea.

– migrain. Propranolol dipakai  pada 

profilaksis migrain untuk mencegah se-

rangan. Atenolol,­ metoprolol,­ timolol­ dan­

nadolol­sama efektifitasnya.

– tremor esensial, yaitu gemetaran yang 

pemicu nya tidak diketahui, teru tama 

pada lansia. Propranolol ternyata efektif, 

mungkin juga metoprolol. Mekanisme 

kerjanya tidak jelas.

– kegelisahan dan rasa cemas. Propra-

nolol­ dan­ atenolol ternyata memiliki si-

fat anksiolitik (meniadakan rasa cemas) 

tertentu, mungkin berdasar  penekan-

an tachycardia dan debar jantung yang 

timbul pada keadaan gelisah dan takut. 

sebab  menurunkan frekuensi jantung 

sehingga bersifat meredakan namun  tidak 

membuat mengantuk, propranolol di ne- 

geri Belanda banyak dipakai  oleh ma-

hasiswa dan artis sebelum ujian atau naik 

pentas (takut­ ujian,­ ‘demam­ panggung’). 

Begitu pula oleh atlet (sebagai doping) 

pada perlombaan olahraga di mana 

tachycardia dapat merugikan presta si, mi- 

salnya pada olahraga menembak.

Penghentian terapi beta-blocker pada pasien 

jantung tidak boleh dengan mendadak, ka-

rena dapat memprovokasi infark dan mem- 

perburuk angina. Sebaiknya dosis ditu-

runkan berangsur-angsur selama periode 2 

minggu. Pada pasien hipertensi dapat timbul 

‘efek­ penarikan, seperti rasa tegang, takut, 

tachycardia dan berkeringat hebat dalam 1 

minggu sesudah  penghentian terapi.

Efek samping. Blokade reseptor-beta meng-

akibatkan sejumlah efek samping tak di-

inginkan, yang biasanya  bersifat 

ringan dan terjadi pada ±10% pengguna, 

antara lain:

a. dekompensasi jantung (reseptor-b1) aki-

bat bradycardia dengan gejala udema 

kaki dan sesak napas yang dapat me-

nimbulkan interpretasi keliru dengan 

bronchokonstriksi

b.  bronchokonstriksi (reseptor-b2) dengan 

sesak napas dan serangan mirip asma, 

yang terutama disebabkan oleh obat-

obat tak-selektif. namun  obat-obat kardio-

selektif juga dapat memprovokasi se-

rangan itu  sebab  selektivitasnya 

tidak sempurna, terutama pada dosis 

lebih tinggi

c.  rasa dingin di jari-jari kaki-tangan dan 

tidak mampu melakukan kerja fisik be-

rat (rasa lemah) akibat berkurangnya sir-

kulasi perifer dan berkurangnya oksigen 

di otot. Obat-obat selektif dan dengan ISA 

lebih jarang memicu  efek ini.

d.  toleransi glukosa pada penderita diabe-

tes ID (insulin­ dependent) dapat diturun-

kan oleh obat-obat tak-selektif yang me- 

nyelubungi (masking­effect) pertanda pen-

ting dari hipoglikemia, seperti tachycar-

dia dan tremor. Penyembuhan dari suatu 

periode hipoglikemia juga dihambat. 

Selain efek-efek itu  yang berkaitan 

dengan blokade beta, masih dikenal pula 

beberapa efek samping lain yang sering 

dilapor kan, antara lain:

e.  efek sentral, yang meliputi gangguan 

tidur dengan mimpi buruk (nightmare), 

rasa lesu, kadang-kadang juga depresi 

dan halusi nasi. Tidak jarang terjadi pula 

gangguan seksual dan impotensi.

Obat-obat hidrofil seperti atenolol,­ na-

dolol­dan­sotalol­sukar melintasi rintangan 

darah-otak, maka lebih jarang menim-

bulkan efek itu .

f.  gangguan lambung-usus berupa mual, 

muntah dan diare yang sering dilapor-

kan pada antara lain propranolol, namun  

biasanya hilang dalam waktu dua ming-

gu.

g.  penurunan kolesterol-HDL, sedang  

kadar trigliserida dan kolesterol total 

justru meningkat. Obat-obat selektif dan 

dengan ISA mungkin lebih ringan efeknya 

terhadap lipida itu . Obat dengan 

efek alfa-blokade (labetalol,­ carvedilol) ti-

dak memengaruhi lipida darah. sebab  

pengaruh buruk terhadap perbandingan 

HDL: kolesterol total, maka pemakaian  

jangka panjang diuretika­ thiazida dan 

kebanya­kan­beta-blocker disang sikan. namun . 

sekarang telah dipasti kan bahwa kedua 

kelompok obat itu justru memengaruhi 

dengan baik risiko kematian.

Kontra-indikasi. sebab  efek samping ter-

sebut, beta-bloc ker tidak boleh dipakai  

oleh pasien dengan AV-block, terutama para 

lansia. Begitu pula tidak boleh bagi penderita 

asma, bronkitis dan emfise ma paru. Peng-

gunaannya pada diabetes dan gangguan 

jantung hendak nya dengan berhati-hati.

Wanita hamil tidak boleh memakai  be-

ta-blocker, sebab  penyalu ran darah mela- 

lui plasenta dikurangi hingga dapat meru- 

gikan perkembangan janin. sebab  keba-

nyakan obat ini bisa mencapai air susu ibu, 

khususnya zat-zat lipofil, maka selama terapi 

sebaiknya bayi diberikan susu kaleng.

Kinetik. Resorpsinya dari usus pada umum-

nya cepat dan baik, kecuali zat-zat hidrofil 

(antara lain atenolol dan sotalol) yang hanya 

diserap untuk 50 sampai 30%. Beberapa zat 

mengalami FPE (first­pass­effect) kuat, hingga 

BA-nya agak rendah, misalnya BA alpreno lol 

hanya 10% dan propranolol 30%, lihat tabel.

Distribusinya ke jaringan baik, terutama 

zat-zat lipofil seperti propranolol,­ alprenolol,­

oksprenolol,­ metoprolol,­ pindolol­ dan­ timolol. 

Obat-obat ini juga mudah mencapai CCS 

(cairan cerebro-spinal), sehingga lebih sering 

memicu  efek samping sentral. Ekskresi­

zat-zat lipofil melalui urin berlangsung 

sebagai metab olit dengan aktivitas lemah. 

Zat-zat hidrofil praktis tidak dimetabolisasi 

dalam hati dan hampir seluruhnya dike-

luarkan secara utuh.

Pengikatannya­pada­protein (PP) sangat ber-

beda-beda dan tidak berhubungan dengan 

sifat lipofilnya, misalnya propranolol ±90% 

dan metoprolol hanya 12%. Plasma-t½-nya 

pun bervariasi besar, antara 2 dan 26 jam, 

namun  ternyata bahwa tidak ada korelasi 

antara t½­ dan efek hipotensifnya yang ma-

sih bertahan terus sesudah  obat hilang dari 

peredaran darah.

Relasi kadar darah dan efek. Antara kadar 

darah beta-blocker dan efek hipoten sifnya 

tidak ada  korelasi baik, kecuali pada 

labetalol (berkat efek alfa-blokade).

Masa laten. Pada permulaan terapi TD tidak 

segera tu run, namun  sesudah  masa laten,artinya 

baru turun sesudah beberapa waktu. Hal ini 

disebabkan daya tahan perifer (DTP) semula 

naik sebab  efek vasokonstriksi dari reseptor-

alfa tidak ditentang oleh stimulasi reseptor-

beta (vasodilatasi) sebab  beta-blokade. Oleh 

sebab  itu TD semula tidak berubah. Baru 

sesudah beberapa waktu terjadi adaptasi dan 

berangsur-angsur DTP pulih ke normal dan 

TD menurun. Pada zat-zat kardioselektif 

dan dengan ISA, pada mana b2-blokade 

sangat ringan dan DTP tidak meningkat, wak- 

tu laten hanya 2-6 minggu lamanya. Pada 

zat-zat tak-selektif dapat sampai 2-3 bulan 

(misalnya propranolol). Pengecualian yaitu  

labetalol, yang tidak menunjukkan waktu la-

ten berkat efek vasodilatasi langsung. Seba-

liknya, sesudah  terapi dihentikan dan plas- 

ma tidak mengan dung obat lagi, efeknya 

masih bertahan selama beberapa minggu.

Pilihan obat. Semua beta-blocker sesudah  ma-

sa latennya lewat, memiliki efek hipotensif 

(dan anti-aritmia) yang sama kuatnya bila 

dosisnya diatur secara individual. namun  efek 

sampingnya dapat banyak berbeda sebab  

sifatnya masing-masing. Risiko akan efek 

Tabel 35-3: Beta-blocker dan beberapa sifatnya

labetalol*

samping buruk ternyata lebih ringan pada­

zat-zat­ selektif dan­ zat-zat­ dengan­ ISA. Ada 

pula petun juk mengenai mortali tas lebih 

besar (pada perokok) yang diobati dengan 

zat-zat tak-selektif. Oleh sebab  itu lebih 

banyak diguna kan obat-obat selektif, seperti 

atenolol (hidrofil), celiprolol­ (ISA), asebu­tolol 

(ISA ringan) dan pindolol­dengan ISA terku at.

Interaksi. Dengan sejumlah obat lain dapat 

terjadi interaksi bila diguna kan bersamaan, 

antara lain:

* efeknya diperkuat oleh antagonis-Ca, ter-

utama verapa­mil(i.v.) dan diltiazem­ (brady-

car dia, AV block, hipotensi); nifedipin­ dan 

derivat­dihidropi­ri­din lainnya (hipotensi). Juga 

oleh zat-zat inotrop/kronotrop negatif lain, 

seperti lidokain, fenothiazin, glafenin dan 

floktafenin (hipotensi berat), serta simetidin 

(mengham bat perombakan hati dari zat-zat 

lipofil). 

* efeknya diperlemah oleh barbital, rifam-

pisin (perombakan oleh hati dipercepat), 

NSAID (indome tasin dan lain-lain) dan an-

tasida (menurun kan absorpsi, sebaiknya di-

minum sesudah  2 jam).

* b-blocker memperkuat efek teofilin (meng-

hambat perombakan)

* klonidin memperbesar risiko ‘rebound’­ hi-

pertensi, oleh sebab  itu terapi dengan beta-

blocker perlu dihentikan sebelum menggu-

nakan klonidin.

Kombinasi. Beta-blocker ternyata efektif pa-

da 50-70% pasien dengan hipertensi ringan 

sampai sedang (95-105 mm Hg diast.), se-

dangkan pada lansia efektivitasnya lebih 

rendah. Bila suatu beta-blocker tidak berdaya 

menurunkan TD pada dosis layak, mencoba 

b-blocker lainnya tidak ada gunanya. Dalam 

hal ini sebaiknya ditambahkan diuretikum 

dan/atau vasodilator (misalnya nifedipin). 

Kombinasi dengan antagonis-Ca lain bukan 

dihidropiridin (verapamil, diltiazem) tidak 

dianjurkan.

MONOGRAFI

3a. Acebutolol: Sectral,­*Sectrazide

Beta-blocker selektif ini (1973) bersifat lokal 

anestetik dengan ISA ringan. Kombinasi sifat 

ini menguntungkan sebab  efek sampingnya 

yang agak ringan.

Resorpsi dari usus ±70%; akibat FPE tinggi, 

BA-nya hanya ±40%. PP-nya 11-25%, plas-

ma-t½ 2-11 jam. Dalam hati, zat ini dirom-bak 

menjadi metabolit yang sama aktifnya dengan 

diasetolol. Ekskre si berlangsung lewat urin 

dan feses. Asebutolol dan diasetolol bersifat 

lipofil, sehingga dapat memicu  efek 

samping sentral.

Dosis:­ angina­ dan­ hipertensi: oral 1 dd 400 

mg pagi hari, bila perlu sesudah 2 minggu 

dinaikkan sampai 2 dd 400 mg. Tachy-aritmia: 

2-3 dd 200-400 mg. *Sectrazide = asebutolol 

400 + HCT 25 mg.

* Celiprolol (Dilanorm) yaitu  juga derivat 

selektif dengan ISA (1987), namun  tanpa efek 

lokal anestetik dan bersifat lipofil. BA-nya 

30-75% tergantung dari dosis, PP-nya ±25%, 

t½ 4-6 jam. Ekskresi praktis secara utuh lewat 

urin dan feses.

Dosis:­angina­dan­hipertensi oral 1-2 dd 200 

mg

3b. Karvedilol: Dilbloc,Eucardic

Derivat karbazolil ini (1992) bersifat tidak 

selektif tanpa ISA, namun  berefek blokade-

alfa yang memicu  penurunan daya 

tahan perifer. Sangat lipofil. Resorpsi dari 

usus baik, namun  BA-nya hanya 22% akibat 

FPE tinggi. PP-nya 95%. Dalam hati sebagian 

dirombak menjadi glucuronida inaktif dan 2 

metabolit aktif yang diekskresi dengan urin 

untuk 16% dan lewat empedu serta feses 

untuk 60%. Masa paruhnya 6 jam.

Dosis:­ hipertensi­ dan­ angina­ 1 dd 12,5 mg 

selama 2 hari, lalu 1 dd 25 mg, maks. 50 mg.

3c. Atenolol:Tenormin,­*Tenoret/Tenoretic

Zat kardioselektif ini tanpa ISA atau efek 

lokal anestetik (1975) ber sifat hidrofil kuat, 

oleh sebab  itu tidak melintasi rintan gan 

darah-otak sehingga efek sentral minimal. 

Resorpsi­ dari usus hanya 50%; PP 3% de-

ngan plasma-t ½ 6-9 jam, namun efek blokade 

reseptor-b bertahan jauh lebih lama, ±24 jam. 

Hal ini khususnya penting bagi terapi angina 

(dan aritmia). Tidak dimeta bolisasi oleh hati 

dan diekskresi lewat urin praktis dalam kea-

daan utuh.

Dosis:­angina­dan­hipertensi oral 1-2 dd 100 

mg; aritmia: 2 dd 50-100 mg. 

*Tenoret/Tenoretic = atenolol 50/100 mg + 

klortali don 12,5/50 mg.

* Metoprolol (Seloken,­Selozok) yaitu  derivat 

atenolol yang juga selektif, tidak memiliki 

ISA atau efek lokal anestetik, namun  bersifat 

lipofil (1975).

Resorp­si cepat dan praktis lengkap, BA 40-

50% akibat FPE agak tinggi. Efek hipotensif 

biasanya agak cepat, dalam 1 minggu dan 

dapat bertahan sampai 4 minggu. PP ±12%, 

plasma-t½ 3-4 jam. Ekskresi melalui ginjal 

sebagai metabolit inaktif. Dosis.­ Hiper­tensi: 

oral pagi hari 50 mg, bila perlu dinaik kan 

sampai 1 dd 100-200 mg.­ Angina: pagi hari 

100 mg, maks. 400 mg. Aritmia: 1-2 dd 100 mg 

(sesudah  dimulai dengan 5 mg i.v.)

Gagal­jantung­ringan: 2 dd 5 mg, bila perlu 

dosis berangsur-angsur dinaikkan.­ Migrain­

(profilaksis): 1-2 dd 100 mg. 

*Seloken­Comp = metoprolol 100 + HCT 12,5 

mg

* Bisoprolol (Concor,­ Emcor) yaitu  derivat 

selektif lipofil tanpa ISA dengan sifat lokal 

anestetik (1986). BA-nya tinggi, ± 90% sebab  

FPE ringan, PP ± 30%, plasma-t½ 10-12 jam. 

Ekskresi berlangsung melalui urin, separuh 

sebagai metabolit inaktif. Dosis:­ angina­ dan­

hipertensi oral 1 dd 5-10 mg.

* Esmolol (Brevibloc) yaitu  derivat selektif 

hidrofil tanpa ISA (1990), yang khusus di-

gunakan melalui i.v pada aritmia dengan 

tachycar dia.

3d. Alprenolol:­Alpresol,­Aptine

Zat tidak selektif ini (1967) bersifat ISA dan 

lokal aneste tik, juga lipofil kuat. Dengan 

mudah alprenolol melintasi rintangan darah-

otak. Resorpsi­ dari usus baik, namun  BA-nya 

ringan, hanya ±10%, sebab  FPE besar. PP 

85%, t½ 3 jam. Ekskresi berlang sung lewat 

urin sebagai metabolit aktif.

Dosis:­angina­dan­hipertensi oral 4 dd 50 mg,­

aritmia: 4 dd 25-100 mg .

* Oksprenolol (Trasicor) yaitu  derivat de-

ngan khasiat dan sifat mirip alprenolol (1968). 

Dosis:­angina­dan­hiper­ten­si: 2 dd 40-80 mg; 

aritmia: 2-3 dd 20 mg. 

*Trasentin­=­oxprenolol 80 + klortalidon 10 

mg. 

3e. Pindolol: Visken,­*Viskaldix.

Derivat indol ini (1970) memiliki efek beta-

blokade terkuat, ±6 kali efek propranolol. 

Tidak selektif dan efek lokal anestetik nya 

ringan. Begitu pula efek ISA-nya terbesar, 

berkat sifatnya ini pindolol jarang menim- 

bulkan efek samping seperti bradycardia, 

kardiodepresi, bronchokon striksi dan vaso-

kon striksi perifer. Bersifat lipofil, sehingga 

agak sering memicu  efek samping 

sentral. Berlainan dengan beta-blocker lain-

nya, pindolol meningkatkan kadar renin­plas-

ma dan praktis tidak menurunkan frekuen si 

jantung dalam keadaan istirahat, juga tidak 

menaikkan daya-tahan pembuluh perifer se- 

lama minggu-minggu pertama terapi. Penu-

ru nan kolesterol-HDL hanya terbatas.

Resorpsi dari usus lengkap, BA 50-95%, PP 

45% dengan t½ 3-4 jam. Ekskresi melalui urin 

sebagian dalam bentuk metab olit inaktif.

Dosis:­angina oral 3 dd 5 mg;­hiper­tensi: pagi 

hari 10 mg, maksimal 30 mg sehari; aritmia: 3 

dd 5-10 mg.

*Viskaldix = pindolol 10 + klopamida 5 mg.

3f. Propranolol: Inderal,­*Inderetic.

Beta-blocker pertama ini (1964) memiliki 

efek lokal aneste tik kuat, namun  tidak kardio-

selektif dan tak memiliki ISA. Meski pun 

banyak sekali derivat lain telah dipasarkan 

dengan sifat farmakologi lebih baik, namun 

propranolol masih merupa kan beta-blocker 

penting dan menjadi salah satu obat best-

seller dunia.

Resorpsi dari usus baik, namun  FPE besar, 

hingga hanya 30% mencapai sirkulasi besar. 

Sebagian besar diubah dalam hati menja-

di derivat hidroksi yang aktif. PP 90%, 

plasma-t½ 3-6 jam. Bersifat sangat lipofil, 

sehingga distribusinya di jaringan dan otak 

baik dengan sering kali memicu  efek 

sentral, lihat efek samping umum.

Dosis:­ hipertensi,­ angina­ dan­ aritmia: oral 

2-3 dd 40 mg d.c., bila perlu dosis dinaikkan 

dengan interval 1 minggu sampai 320 mg 

sehari.­Profilaksis­re-infark 3 dd 40 mg selama 

2-4 minggu dalam waktu 3 minggu sesudah  

infark pertama, pemeliharaan 2-3 dd 80 mg 

selama minimal 2 tahun. 

*Inderetic = propranolol HCl 80 + bendro-

flumethiazide 2,5 mg

3g. Labetalol: Trandate

Beta-blocker tidak selektif ini (1977) juga 

bersifat a1-blocker, dalam perbandingan ke-

kuatan blokade kurang lebih 3:1. Memiliki 

ISA ringan dan efek lokal anestetik hanya 

pada dosis tinggi. Berlainan dengan beta-

blocker lain, labetalol tidak berdaya inotrop 

negatif atau memper lihatkan waktu laten, 

sebab  alfa-1-blokade memicu  vasodi-

la tasi langsung cepat. Mulai kerjanya dalam 

2-4 jam. dipakai  pada hiper tensi sedang 

dan berat; antara dosis dan efeknya ada  

korelasi baik (berlainan pula dengan obat-

obat lain).

Resorpsi­dari usus baik dengan FPE besar, 

BA hanya 25%. PP 50%, t½ 2,5-8 jam. Ekskresi 

melalui urin terutama sebagai metabolit dan 

30% lewat feses.

Efek­ samping terpenting berupa hipotensi 

ortostatis, hidung tersumbat, gangguan lam- 

bung-usus, adakalanya letih, lemah dan ke-

jang. Berbeda dengan beta-blocker lain, labe- 

talol tidak memengaruhi kadar kolesterol 

dan trigliserida darah.

Dosis:­hipertensi oral 2 dd 100 mg, bila perlu 

sesudah 1-2 minggu 2 dd 200 mg.

4. ZAT-ZAT dENGAN  

EFEk PUSAT

Agonis a2-adrenerg menstimulasi reseptor­

a2-adrenerg yang banyak sekali ada  di 

Susunan Saraf Pusat (otak dan medulla). 

Akibat rangsan gan ini melalui suatu meka-

nisme feedback negatif, aktivitas saraf adre-

nerg perifer dikurangi.

Pelepasan NA menurun dengan efek me-

nurunnya daya tahan pembuluh perifer dan 

TD. Efek ini sebetulnya paradoksal, sebab  

banyak pembuluh memiliki reseptor-a2 yang 

justru memicu  vasokonstriksi. Meka-

nisme efek hipotensifnya yang tepat belum 

dipahami secara menyeluruh, hanya 

diketahui bahwa aktivitas SSP ditekan oleh 

aktivasi reseptor itu . 

Di samping itu ditemukan bahwa pengi-

katan pada reseptor-imidazolin-1­ (Im1) di 

otak berefek menurunkan aktivitas saraf 

simpatik.­ Klonidin­ dan­ moksonidin juga be-

kerja via pengikatan pada resep tor Im1 ini. 

Metil­do­pa­dan­guanfasin mengikat diri hanya 

pada resep tor-a2. Volume menit jantung dan 

frekuensinya praktis tidak dipengaru hi. 

pemakaian nya khusus pada semua bentuk 

hipertensi, biasanya dikombinasi dengan 

diuretikum. sebab  banyak efek sam pingya, 

zat ini bukan­merupakan­pilihan­pertama, namun  

hanya sebagai obat cadangan bila obat-obat 

hipertensi lain kurang efektif.­ Klonidin­ juga 

dipakai  pada migrain dan terhadap gejala 

climac­terium.

Efek­ samping yang tersering berupa efek 

sentral, antara lain sedasi, mulut kering, sukar 

tidur, hidung mampat, pusing, penglihatan 

guram, bradycardia, impotensi, depre si dan 

geli sah. biasanya  efek ini sering kali 

dan hebat pada klonidin dan jarang pada 

moksonidin,­ metildo­pa­ dan­ guanfasin. Hiper-

tensi ‘rebound’ pada penghentian pengobat-

an secara menda dak dapat terjadi, terutama 

pada kloni din dan reserpin serta lebih jarang 

pada obat-obat lain.

Kehamilan. Metildopa dapat dipakai  oleh 

wanita hamil dengan hipertensi, sedang  

obat-obat lain belum memiliki cukup data. 

Klonidin, moksonidin dan metildopa masuk 

ke dalam air susu ibu. 

4a. Klonidin: Catapres,­Dixarit

Derivat imidazolin ini (1966) berkhasiat 

hipotensif kuat berdasar  efek adrenerg 

sentralnya. Mengikat diri pada resep tor-a2. 

dipakai  pada hipertensi sedang sampai 

berat. Penggun aannya pada terapi interval 

migrain berkat khasiat vasokonstriksi­ perifer-

nya (1/16 dari dosis hipoten sif, lihat Bab 52, 

Obat-obat migrain), dewasa ini diang gap tak 

terbukti dan obsolet. Antara kadar plasma 

dan efek hipo tensif nya ada  korelasi baik.

Resorpsinya dari usus lengkap dengan 

BA hampir 100%, efek hipotensif maksimal 

dicapai dalam waktu 4 jam dan bertahan 8 

jam. Plasma-t½ 6-20 jam, ekskresi lewat urin 

(60%) dan feses (20%) sebagian dalam bentuk 

metabolit.

Efek­samping berupa umum; sedasi terutama 

terjadi pada permulaan terapi. Penghentian 

pengobatan tidak boleh mendadak, namun  ber-

angsur-angsur dalam 2-4 hari untuk meng- 

hindari hiper­ten­si­‘rebound.’

Dosis: oral semula 3 dd 0,075 mg, berangsur-

angsur dinaikkan sampai 0,15-0,6 mg dalam 

2-3 dosis. Profilaksis migrain: 2 dd 0,025 mg, 

sesudah  2 minggu bila perlu dinaikkan sampai 

maksimal 2 dd 0,05-0,075 mg.

* Moksonidin (Normatens) yaitu  derivat 

pirimidin (1992) dengan afinitas lebih kuat 

untuk reseptor-Im1 daripada reseptor-a2 

(yang terutama bertang gungjawab untuk 

efek sentral). Kerjanya lebih lama, sampai 12 

jam meskipun t½ hanya 2-3 jam. Efek samping 

sama, kecuali sedasi dan hipertensi ‘rebound’ 

yang jarang terjadi. Dosis: permulaan 0,2 mg 

pagi hari, bila perlu berangsur-angsur dinaik-

kan sampai 0,6 m sehari.

4b. Metildopa: Dopamet,­Aldomet

Derivat alanin ini (1963) dalam saraf adre-

nerg diubah secara enzimatis menjadi zat 

aktifnya alfa -metilnoradrenalin (MNA) dan 

metildopamin. Semula dikira bahwa MNA 

mendesak NA dari resep tornya di ujung 

saraf dan dengan demikian bekerja sebagai 

transmit­ter­palsu. namun  MNA ternyata ham-

pir sama aktifnya dengan NA, sehingga 

tidak dapat dijelaskan menurunnya aktivitas 

adrenerg dan TD. Kemudian ditemukan bah-

wa pembentukan ‘false­ transmitter’ itu  

juga terjadi dalam otak dan kini efek hipo-

ten sif itu  diperki rakan akibat aktivasi 

reseptor-a2 sentral. Metildopa terutama digu-

nakan pada hipertensi sedang sampai berat, 

sering kali dikombinasi dengan thiazida. 

Resorpsi­ dari usus antara 30-70%; kadar 

plasma maksimal dicapai sesudah  ±5 jam dan 

bertahan ±24 jam. Selain di otak, di dalam hati 

zat ini diubah menjadi metildopamin dan 

MNA. Ekskresi terutama melalui urin secara 

utuh dan g