Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 46. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 46. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 46

 





ml i.m.; suntikan pertama 

dan kedua dengan jarak antara 4-6 minggu, 

suntikan ketiga 6 bulan kemudian.

16. Vaksin Jerap Difteri-Pertussis (DP) digu-

nakan untuk imunisasi aktif secara simultan 

terhadap difteri dan batuk rejan. Vaksin ini 

mengandung toksoid difteria dari kuman B. 

pertussis. 

Dosis dan cara imunisasi: untuk imunisasi 

dasar 3 x 0,5 ml i.m. dengan jarak antara 4-6 

minggu. Booster 6 bulan kemudian dengan 

dosis 0,5 ml i.m. 

17. Vaksin Jerap Tetanus

Vaksin Jerap Tetanus mengandung tok-

soid tetanus yang telah dimurnikan dan 

teradsorpsi pada Al-fosfat. Diperoleh dengan 

cara yang sama seperti toksoid difteri dari 

perbenihan basil Clostridium tetani. Membe-

rikan kekebalan selama 5-10 tahun. Toksoid 

ini tidak efektif mencegah tetanus bila luka-

nya (infeksi) sudah timbul, sebab  bekerja 

terlampau lambat. Maka, dalam kasus demi-

kian harus dilakukan imunisasi pasif dengan 

tetanus immune globulin dan serentak 

diberikan juga injeksi pertama dari vaksin 

tetanus untuk imunisasi aktif. 

Dosis dan cara imunisasi: untuk imunisasi 

dasar 3 x 0,5 ml i.m.; suntikan pertama dan 

kedua dengan jarak antara 4-6 minggu, 

suntikan ketiga 6 bulan kemudian.

* Vaksin Jerap Difteri-Tetanus (DT): untuk 

imunisasi aktif secara simultan terhadap dif-

teri dan tetanus. Mengandung toksoid difteri 

dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan 

dan teradsorpsi pada Al-fosfat. Dosis dan cara 

imunisasi: sama dengan Vaksin Jerap Tetanus. 

Untuk usia sampai 8 tahun, dosis 0,5 ml i.m.

* Vaksin Jerap Difteri-Tetanus-Pertussis 

(DTP) (Tetract-HIB): untuk imunisasi aktif 

secara simultan terhadap difteri, tetanus dan 

batuk rejan. 

Dosis dan cara imunisasi: untuk imunisasi 

dasar 3 x 0,5 ml i.m. dengan jarak antara 4-6 

minggu. Booster 6 bulan kemudian dengan 

dosis 0,5 ml i.m.

*Pediacel: mengandung toksoid difteri, teta-

nus dan batuk rejan, serta vaksin polio dan 

haemophilus B.

*Tetraxim: mengandung toksoid difteri, teta-

nus dan batuk rejan, serta vaksin polio.

C. IMUNOGLOBULIN

Human serum immune globulin yaitu  serum 

polyclonal yang dibuat dari plasma darah 

donor sehat atau orang yang baru divaksinasi. 

Mengandung terutama ke-empat subklas 

dari IgG. 

Jarak kerjanya hanya terbatas dan bila di-

perlukan dapat diperpanjang dengan injek- 

si ulang. Sediaan ini harus diberikan intra-

muskuler dan mutlak tidak boleh intra-vena, 

sebab  gumpalan antibodi dapat mengak-

tivasi agregasi trombosit.

Efek samping jarang terjadi dan biasanya 

hanya peradangan ringan setempat dan nyeri 

di tempat injeksi. Imunoglobulin dikeluarkan 

melalui ASI dan membantu daya tangkis 

imun dari bayi yang baru dilahirkan.

1. Tetanus immune globulin

Basil tetanus (Clostridium Tetani, pertama 

kali diisolasi oleh Emil von Behring 1891) 

bersifat Gram-positif dan anaerob, artinya 

hanya dapat berkembang pada tempat di 

mana tidak ada oksigen/udara. Membentuk 

spora sangat resisten, yang tersebar di 

tanah dan juga ada  di dalam saluran 

cerna manusia dan herbivora (mis.kuda dan 

sapi). Spora ini musnah pada pemanasan 

selama 20 min pada 120° C. Tetanus, suatu 

penyakit akut, dapat timbul bila suatu luka 

bersentuhan dengan tanah, debu jalan atau 

pupuk kandang (sewaktu berkebun) dan 

demikian terinfeksi.Dalam lingkungan ana-

erob spora ini berkembang dan toksin yang 

terbentuk akan menjalar di dalam tubuh.

Vaksin pasif anti-tetanus biasanya dibuat 

dari plasma kuda dan mengandung anti-

bodies serta dipakai  untuk menetralkan 

toksin itu , tanpa memengaruhi basil 

tetanusnya. dipakai  terutama seba-

gai profilaksis pada luka yang dalam dan 

terinfeksi dengan basil tetanus. Lazim-nya 

pengobatan dikombinasi dengan kemotera-

peutika. Selama pemakaian  vaksin pasif ini 

harus diwaspadai timbulnya hipersensitivitas 

terhadap serum hewan (kuda atau kelinci). 

1 ml serum mengandung antitoksin tetanus 

1500 U.I. (untuk pencegahan) atau 5000 U.I. 

(untuk pengobatan)

 Dosis: untuk pencegahan i.m. 1500 U.I.; 

untuk pengobatan i.m. atau i.v. 5000–10.000 

U.I. 

2. Rabies immune globulin

Immunoglobulin ini diperoleh dari serum 

kuda yang telah dikebalkan dengan virus 

fixe rabies dan dipakai  tersendiri atau di-

kombinasi dengan vaksinnya untuk pengo-

batan terhadap gila anjing .

 Berhubung vaksinasi pasif ini hanya 

memberikan perlindungan yang tidak leng- 

kap, maka tidak dapat menggantikan imu-

nisasi aktif dengan vaksin rabies (lihat sub 

A9). Tujuan utama dari serum ini yaitu  

memperlambat menjalarnya virus dan mem-

perpanjang masa tunas (rata-rata 1-3 bulan), 

maka terutama dipakai  pada korban yang 

telah digigit, misalnya pada bagian muka atau 

leher dengan masa inkubasi lebih singkat. 

sesudah  gejala rabies timbul, imunoglobulin 

maupun vaksin tidak bermanfaat lagi.

Virus rabies memperbanyak diri di sel-sel 

otot yang berdekatan dengan luka gigitan 

anjing yang terinfeksi. Kemudian virus me-

nembus ujung-ujung saraf dan menjalar ke 

sumsum tulang belakang dan otak. sesudah  

berproliferasi lagi di SSP, virus menjalar 

ke kelenjar ludah, paru dan ginjal melalui 

saraf-saraf otonom. Pada 50% penderita 

timbul hydrophobia (takut air) disebabkan 

kejang farinx hebat bila berusaha minum 

atau makan. Penderita mengalami konvulsi, 

kejang alat pernapasan dan aritmia jantung 

yang akhirnya berakhir fatal.

Dosis: 0,5 ml (= 50 UI, Bio Farma) per kg 

berat badan, sebagian kecil diinfiltrasikan di 

sekitar luka gigitan dan selebihnya i.m.

3. Difteri immune globulin 

Vaksin pasif ini merupakan fraksi globulin 

yang dipekatkan dari serum kuda yang te- 

lah dikebalkan secara aktif terhadap (exo) 

toksin basil difteri (Corynebacterium diph-

theriae). dipakai  untuk pencegahan dan 

pengobatan difteri. 

1 ml mengandung 2.000 U.I. antitoksin 

difteri.

Dosis: untuk pencegahan, dewasa i.m. 

3.000-5.000 U.I.; untuk pengobatan i.m. atau 

i.v. 10.000 U.I. atau lebih.

4. Hepatitis B immune globulin:Engerix-B, 

Euvax B, Twinrix

dipakai  sebagai pencegahan terhadap 

timbulnya Hepatitis B, misalnya sesudah  in-

feksi dengan darah yang positif terhadap 

HBsAg (transfusi darah). Dibuat dari plasma 

darah manusia yang mengandung zat anti-

HBs dengan titer yang tinggi dan terutama 

terdiri dari imunoglobulin G (IgG).

5. Imunoglobulin anti-bisa ular polivalen

Vaksin pasif ini dipakai  untuk meng-

obati gigitan ular berbisa, yang berefek neu-

rotoksik dan hemolitik. Serum polivalen ini 

yang dimurnikan dan dipekatkan berasal 

dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap 

bisa ular. Ular yang kebanyakan ada  di 

negara kita  yaitu  ular kobra (Naya sputatrix), 

ular belang (Bungarus fasciatus) dan ular 

tanah (Ankystrodon rhodostoma).

Dosis: i.v. sangat perlahan atau melalui 

infus.


Perkembangan baru

a. Vaksin AIDS

Merebaknya penyakit AIDS secara drmatis 

pada tahun-tahun lalu sangat meresahkan 

para ahli di seluruh dunia. Setiap hari 

diperkirakan ±10.000 pasien baru terinfeksi 

HIV. Di Afrika, HIV memicu  suatu 

“pembantaian” massal, dengan 24,5 juta 

penderita atau lebih dari 60% penduduk 

yang terinfeksi. Kini dikhawatirkan bahwa 

Thailand dan Cina akan dilanda epidemi 

besar-besaran, sedang  insidensi di India, 

dan negara-negara Eropa Timur juga sangat 

meningkat. 

Menurut data awal tahun 2011 penderita 

HIV/AIDS di negara kita  berjumlah 310.000 

pasien dan tertinggi yaitu  di Irian Jaya 

yakni 1,4 per 10.000 penduduk. (data WHO/

UNICEF, 2013). Lihat selanjutnya Bab 7, 

Virustatika. 

Peningkatan penyebaran HIV/AIDS ter-

utama, disebabkan oleh maraknya penggu- 

naan bersama jarum suntik oleh para pe-

candu narkotika (Pengguna Napza Suntik), 

disusul oleh hubungan heteroseksual dan 

homoseksual. 

Daya upaya untuk menemukan vaksin 

yang mungkin dapat menolong jiwa berjuta-

juta orang diberikan prioritas tinggi oleh 

WHO. Namun sampai sekarang semua usa- 

ha untuk membuat vaksin AIDS yang efektif 

telah gagal, antara lain vaksin selubung protein, 

vaksin virus “tak-lengkap” dan vaksin DNA. 

Vaksin selubung protein. Vaksin ini telah 

dibuat dari satu protein selubung (gp120) 

yang ada  di bagian luar virus HIV. 

Vaksin ini ternyata efektif terhadap hepatitis 

B (HVB), lihat di bawah. namun , hasil kajian 

menunjukkan bahwa vaksin HIV dengan 

gp120 tidak memberikan perlindungan yang 

cukup efektif. 

Vaksin DNA mengandung sedikit bahan 

genetik virus, yang mencetuskan produksi 

protein virus dan kemudian antibodies 

terhadapnya. sesudah  1 dan 6 bulan diberikan 

injeksi booster kedua dan ketiga, sehingga 

dapat dicapai imunitas yang baik. Vaksin ini 

efektif namun  sangat mahal dan tidak praktis 

sebab  memerlukan tiga penyuntikan.

Berhubung dengan epidemi yang dewasa 

ini mengancam Thailand, maka WHO mela-

kukan percobaan klinis massal dengan 

vaksin gp120, yang dari ketiga vaksin ter-

sebut di atas perkembangannya paling maju. 

Semboyannya yaitu  „lebih baik vaksin yang 

kurang efektif daripada tiada vaksin sama 

sekali.“

* Imunitas alami. Di seluruh dunia ada  

beberapa ratus orang, yang walaupun ter-

infeksi dengan HIV, ternyata mampu me-

nangkis virus itu  dan tidak mengidap 

AIDS. Semua orang ini memperlihatkan 

daya tahan yang unik dari sel-sel CD8+nya 

terhadap infeksi (T-supressor cells). Berdasar-

kan penemuan ini, penyelidikan kini ditu-

jukan pada usaha untuk membangkitkan dan 

menstimulasi daya tangkis demikian secara 

buatan.

b. Vaksin malaria 

Sejak tahun 1976, WHO telah melancarkan 

penelitian besar-besaran mengenai cara ba-

ru untuk memberantas malaria dan yang 

terpenting yaitu  perkembangan sejenis vak-

sin untuk mengebalkan populasi. 

Sudah diketahui bahwa pada permukaan 

eritrosit manusia ada  sejenis reseptor 

yang merozoit Plasmodium tidak dapat me-

masukinya (lihat Bab 11, Obat-obat Malaria, 

Siklus hidup parasit). Infeksi oleh parasit 

menstimulasi sistem imunologi untuk mem-

bentuk imunitas seluler dan humoral. Inilah 

sebabnya mengapa penduduk di daerah 

malaria sesudah  menderita beberapa kali 

infeksi menjadi (agak) imun terhadap suku 

Plasmodium yang ada  setempat.

Dalam riset terhadap vaksin malaria, di-

ketemukan antara lain suatu protein khusus 

dari merozoit P. falciparum yang dapat 

melekat pada protein glikoforin yang ada  

pada membran eritrosit. Usaha untuk mem- 

buat suatu vaksin dengan protein ini sebagai 

antigen tidak memberikan hasil yang memu-

askan. 

Vaksin atas dasar sporozoit. Telah dibuk-

tikan bahwa pada percobaan terhadap ma-

nusia, orang dapat dikebalkan terhadap 

jenis Plasmodium khusus dengan jalan 

sengatan nyamuk yang telah diinfeksikan 

dengan parasit itu . Nyamuk demikian 

telah disinari dengan sinar Röntgen yang 

menginaktifkan sporozoit di dalam tubuhnya. 

Dari sporozoit ini juga telah diisolasi suatu 

protein khusus yang bersifat antigen. Namun 

vaksin yang dibuat dengan antigen itu  

ternyata juga mengecewakan.

Kini dilakukan penyelidikan dari suatu 

antigen khusus yang ada  pada permu-

kaan sporozoit, yakni circumsporozoite anti-

gen (CSA). Suatu vaksin dari CSA bersama 

antigen HBV (hepatitis-B-surface antigen) yang 

dibuat dengan teknik rekombinan, ditambah 

dengan dua imunostimulansia ternyata 

dapat memberikan perlindungan baik selama 

beberapa minggu. 

* Vaksin kanker cervix (Gardasil, Cervarix) 

yaitu  vaksin kanker pertama (2006) terhadap 

suatu jenis kanker. Mengandung antibodi 

terhadap Human Papillomavirus type 6,11,16 

dan 18 yaitu pemicu  kanker mulut rahim. 

Vaksin ini terutama dianjurkan bagi wanita 

dari 16-26 tahun.

Dosis: kur dari 3 injeksi a 0,5 ml sesuai 

jadwal 0 - 2 - 6 bulan.

* Vaksin pollinosis (Grazax). Vaksin perta-

ma terhadap pollen rumput ini telah dire-

gistrasi di negeri Belanda (2006). Tidak saja 

bekerja  simtomatis namun  juga kausal. Terapi 

terdiri dari tablet sublingual setiap hari 

selama 8 minggu, yang dimulai 8 minggu 

sebelum tibanya musim demam merang(„hay 

fever“) 


ANTIHISTAMINIKA

HISTAMIN

Histamin (suatu autacoid atau hormon lokal) 

yaitu  suatu amin nabati (bioamin) yang 

ditemukan oleh dr. Paul Ehrlich (1878) dan 

merupakan produk normal dari pertukaran 

zat histidin melalui dekarboksilasi enzimatik. 

Asam amino ini masuk ke dalam tubuh 

terutama melalui daging (protein) yang 

kemudian di jaringan (juga di usus halus) 

diubah secara enzimatik menjadi histamin 

(dekarboksil asi). 

ada nya. Hampir semua organ dan ja-

ringan memiliki histam in dalam keadaan 

terikat dan inaktif, terutama dalam sel-sel 

tertentu. ‘Mast cells’ ini (Ing. mast = menim-

bun) menyerupai bola-bola kecil berisi ge-

lem bung yang penuh dengan histam in dan 

zat-zat mediator lain (lihat di ba wah). Sel-sel 

ini banyak ditemu kan di bagian tubuh yang 

bersentuhan dengan dunia luar, yaitu di kulit, 

mukosa dari mata, hidung, saluran napas 

(bronchia, paru-paru) dan usus, juga dalam 

lekosit basofil darah. Dalam keadaan bebas 

aktif juga ada  dalam darah dan otak, di 

mana histamin bekerja sebagai neuro transmit-

ter. Di luar tubuh manusia histamin ada  

dalam bakteri, tanaman (bayam, tomat) dan 

makanan (keju tua).

Histamin dapat dibebaskan dari mast cells 

oleh berbagai unsur, misalnya oleh suatu 

reaksi alergi (penggabungan antigen-antibo dy, 

lihat di bawah), kecelakaan dengan cedera 

serius dan sinar UV dari matahari. Selain itu, 

dikenal pula zat-zat kimia dengan daya kerja 

membebaskan histamin (‘histamine liberators’) 

seperti racun ular dan tawon, enzim prote-

olitik dan obat-obat tertentu (morfin dan 

kodein, tubokurarin, klordiazepoksida).

Fungsi dan kegiatannya. Histamin meme-

gang peran utama pada proses pera dangan dan 

pada sistem daya tahan. Mekanisme kerjanya 

berlangsung melalui tiga jenis reseptor, ya-

itu reseptor-H1, -H2dan -H3. Reseptor-H1 

secara selektif diblok oleh antihistamini-

ka(H1-blockers), reseptor-H2 oleh peng hambat 

asam lambung(H2-blockers), lihat di bawah. 

Reseptor-H3 memegang peranan pada regu-

lasi tonus saraf simpatikus.

Aktivitas terpenting histamin yaitu :

-  kontraksi otot polos bronchi, usus dan 

rahim;

-  vasodilatasi semua pembuluh dengan 

penurunan tekanan darah;

-  memperbesar permeabilitas kapiler un-

tuk cairan dan protein, dengan akibat 

udema dan pengembangan mukosa;

-  hipersekresi ingus dan air mata, ludah, 

dahak dan asam lambung; 

-  stimulasi ujung saraf dengan eritema dan 

gatal-gatal.

Dalam keadaan normal, kadar histamin da-

lam darah hanya rendah, ±50 mcg/l, sehingga 

tidak memicu  efek. Baru bila mast 

cells dirusak membrannya sebagai akibat 

dari salah satu faktor itu  di atas, maka 

dibebaskanlah banyak histam in sehingga 

efeknya menjadi nyata. sesudah  melakukan 

kegia tannya, kelebihan histamin diuraikan 

oleh enzim histaminase yang juga terda pat 

dalam jaringan.

A. REAKSI ALERGI

Alergi (Lat. = berlaku berlainan). Istilah ini, 

yang juga disebut hipersensitivitas, pertama 

kali (1906) dicetuskan oleh Von Pirquet yang 


A. REAKSI ALERGI

Alergi (Lat. = berlaku berlainan). Istilah ini, 

yang juga disebut hipersensitivitas, pertama 

kali (1906) dicetuskan oleh Von Pirquet 

yang menggambarkan reaktivitas khusus 

dari tuan rumah (host) terhadap suatu unsur 

eksogen, yang timbul pada kontak kedua kali 

atau berikutnya. Reaksi hipersensitivitas ini 

meliputi sejumlah peristiwa auto-imun dan 

alergi serta merupakan  kepekaan berbe da ter-

hadap suatu antigen eksogen atas dasar proses 

imunologi. Pada hakekatnya reaksi  imun 

itu , walaupun bersifat “merusak“, 

berfungsi melindungi organis me terhadap 

zat-zat asing yang menyerang tubuh. Peris-

tiwa alergi dapat lebih diperjelas sbb.

Bila suatu protein asing (antigen) masuk 

berulangkali ke dalam aliran darah seorang 

yang berbakat hipersensitif, maka limfosit-B 

akan membentuk antibodies dari tipe IgE 

(di samping IgG dan IgM, lihat di bawah). 

IgE ini, yang juga disebut reagin, mengikat 

diri pada membran mast-cells tanpa menim-

bulkan geja la.

Apabila kemudian antigen (alergen) yang 

sama atau yang mirip rumus bangunnya 

memasuki darah lagi, maka IgE akan menge-

nali dan mengi kat padanya. Hasilnya yaitu  

suatu reaksi alergi akibat pecah nya mem-

bran mast-cells (degranul asi; lihat Gambar 

51-2). Sejumlah zat perantara (media tor) 

dilepas kan, yakni histamin bersama sero-

tonin, bradi ki nin dan asam arachido nat, yang 

kemudian diubah menjadi prostaglan din 

dan leukot riën). Zat-zat itu menarik makro fag 

dan neutro fil (= lek osit terten tu, lihat Bab 49, 

Dasar-dasar imunolo gi) ke tempat infek si 

untuk memusnahkan penyerbu. Di sam ping 

itu juga mengaki bat kan beberapa gejala, a.l. 

broncho konstrik si, vasodila tasi dan pem-

bengkakan jaringan sebagai reaksi terhadap 

masuk nya antigen. Mediator itu  secara 

langsung atau melalui susunan saraf otonom 

memicu  bermacam-macam penyakit 

alergi penting, seperti asma, rhinitis aller-

gica (hay fever) dan eksim.

Syukurlah bahwa kebanyakan orang tidak 

berbakat hipersen sitif sehingga reaksi alergi 

demikian tidak terjadi!

 

Antigen 

Antibiotika (beberapa) MASTCEL 

Kinin-kinin   SEL BASOFIL 

 

        

Sel-sel imun 

    Histamin 

 

       

 

   H1   H2 

reseptor  reseptor 

 

 

 

- Konstriksi otot licin bronchi - Sekresi zat asam dan pepsin naik 

- Vasodilatasi  - Vasodilatasi 

- Permeabilitas kapiler naik - AMP siklik distimulasi 

- Katecholamin dilepaskan - Kontraktilitas jantung naik   

- GMP siklik distimulasi 

- Kontraktilitas jantung naik 

 

Pengha mba t  

hi s t a mi n

H2 a nt a goni s  

Ant i hi s t a mi n 

Gambar 51-1: Daya kerja H1 dan H2.Ga bar 51-1: aya kerja 1 dan 2

menggambarkan reaktivitas khusus dari 

tuan rumah (host) terhadap suatu unsur 

eksogen, yang timbul pada kontak kedua kali 

atau berikutnya. Reaksi hipersensitivitas ini 

meliputi sejumlah peristiwa auto-imun dan 

merupakan kepekaan berbe da terhadap suatu 

antigen eksogen berdasar  proses imunologi. 

Pada hakikatnya reaksi imun itu , wa- 

laupun bersifat „merusak“, berfungsi melin-

dungi organis me terhadap zat-zat asing yang 

menyerang tubuh. Peristiwa alergi dapat 

lebih diperjelas sebagai berikut.

Bila suatu protein asing (antigen) masuk 

berulangkali ke dalam aliran darah seorang 

yang berbakat hipersensitif, maka limfosit-B 

akan membentuk antibodies dari tipe IgE (di 

samping IgG dan IgM, l hat di bawah). IgE ini,

yang ju a d sebut re gin, me gikat diri p da 

membran mast cells tanpa meni bulkan 

geja la.

Apabila kemudi  antigen(alergen) y ng 

sama atau yang mirip rumus bangunnya me-

masuki darah lagi, maka IgE ak  mengenali 

dan mengi kat padanya. Hasilnya yaitu  

uatu reaksi aler i ak bat pecah nya membran 

ast cells (degranul asi; lihat Gambar51-2). 

Sejumlah zat per ntara (media tor) dilep s kan, 

yaitu histamin bersama serotonin, br di ki nin 

dan asam arachido nat, y g kemudian diubah 

menjadi prostaglan din dan leukot riën. Zat-zat 

ini menarik m ro fag dan neutro fil (= lek osit 

ertentu, lihat Bab 49, Dasar-dasar imunolo-

gi) ke tempat infek si untuk memusnahkan 

pe y rbu. Di sam ping it  juga mengaki bat-

k  b berapa gejala, a.l. broncho konstrik si, 

vasodila tasi dan pembengkakan jaringan 

sebagai reaksi terh da  masuk nya antige . 

Mediator itu  secara langsung at u 

melalui susunan araf ot nom memicu  

rbag i penyakit alergi penting, seperti 

asma, rhinitis allergi ca (h y fever) dan eksim.

Syukurl h bahw  kebanyakan orang tidak 

berbakat hipersen sitif sehingg  reaksi alergi 

demikian tidak terlalu sering terjadi!

Gejala reaksi alergi tergantung pada lokasi 

di mana reaksi alergen-antibodi berlangsung, 

misalnya di hidung (rhinitis allergica), di kulit 

Antihistamin

en ha bat

hi a n

H2 antagonis


Gambar 51-2: Mastcell dan reaksi antigen-antibodi.

Drugs for Nurses p262

(eksim, urticaria = bid uran, kaligata), mukosa 

mata (conjunctivitis) atau di bronchi (seran-

gan asma). Gejala itu  juga dapat timbul 

bersamaan waktu di beberapa tempat, mis-

alnya pada asma, ‚demam merang‘ (hay fever, 

pollino sis) dan eksim.

Anafilaksis. Dalam keadaan gawat dapat 

timbul suatu reaksi anafilaktik (Yun. ana = 

tanpa, phylaxis = perlindungan). Pada syok 

anafilaktik, masuknya antigen pertama kali 

membuat tubuh tanpa perlindungan terhadap 

pemasukan antigen berikutnya. Kadar his-

tamin dapat meningkat dengan drastis, 

seperti pada peristiwa kecelakaan dengan 

banyak kehilangan darah atau cedera bakar 

hebat.

Pada kelompok orang tertentu yang telah 

disensibilisa si terhadap satu atau beberapa 

jenis alergen dapat timbul suatu reaksi 

anafilaktik hebat. Misalnya, alergen dalam 

makanan (ka cang-kacangan, buah kiwi, ar-

bai, dan lain-lain) atau obat-obat dari kelom-

pok penisilin.

Penggolongan

Reaksi alergi dapat digolongkan berdasar  

prinsip kerjanya menurut Gell & Coombs 

(1968) dalam 4 tipe hipersensitivitas, yaitu 

tipe I-IV.

–  Tipe I, reaksi segera berda sarkan reaksi 

antara alergen-antibody (IgE-dependant) de-

ngan degranulasi mast cells dan khu-

sus terjadi pada mereka yang berba-

kat genetik (keturunan). Tipe-I ini juga 

disebut alergi atopik atau reaksi ana-

filaktik dan terutama berlang sung di 

saluran napas (serangan pollinosis, rhini tis, 

asma) dan di kulit (eksim resam = dermatitis 

atopik), jarang di saluran cerna (alergi 

makanan) dan di pembu luh (syok anafilak-

sis). Mulai reaksinya cepat, dalam waktu 

5 sampai 20 menit sesudah  kontak dengan 

aler gen, maka sering kali disebut reaksi 

segera. Gejalanya bertahan ±1 jam.

–  Tipe II, autoimunitas (reaksi sitolitik). 

Antigen yang terikat pada membran sel 

bereaksi dengan IgG atau IgM dalam 

darah dan memicu  sel musnah 

(cytos = sel, lysis = melarut). Reaksi ini 

terutama berlangsung di sirkulasi darah. 

Contohnya yaitu  ganggu an auto-imun 

akibat obat, seperti anemia hemolitik 

(akibat penisi lin), agranulositosis (akibat 

sulfonamida), arthritis rheumatica, SLE 

(systemic lupus erythematodes), akibat hi-

dralazin atau prokaina mida. Reaksi auto- 

imun jenis ini umumnya sembuh dalam 

waktu beberapa bulan sesudah  peng-

gunaan obat dihen ti kan. 

Timbulnya penyakit autoimun ada-

lah bila sistem imun tidak “menge-

nali” jaringan tubuh sendiri dan me-

nyerangnya. Gangguan ini bercirikan 

ada nya auto-antibodies atau sel-

sel-T autoreaktif dan lazimnya dibagi 

dalam dua kelompok:

– auto-imunitas organ-spesifik (me-

nyangkut organ tunggal), mis. anemia 

pernicious, Addison’s disease, lih. Bab 46, 

ACTH dan Kortikosteroida.

– auto-imunitas non-organ spesifik (me-

nyangkut berbagai organ), mis. SLE, MS 

dan rema.

–  Tipe III, gangguan imun-kompleks (re-

aksi Arthus). Pada peristiwa ini antigen 

dalam sirkul asi bergabung dengan teru-

tama IgG menjadi suatu imun-kompleks, 

yang diendapkan pada endotel pembuluh. 

Sebagai respons timbul peradangan, yang 

disebut penyakit serum yang bercirikan 

urticaria, demam serta nyeri otot dan se-

ndi. Reaksinya dimulai 4-6 jam sesudah  

„terkena“ (exposure) dan lamanya 6-12 

hari. Obat-obat yang dapat menginduksi 

reaksi ini yaitu  sulfonami da, penisilin 

dan iodida. Imun-kompleks dapat terjadi 

di jaringan yang memicu  reaksi 

lokal (Arthus) atau dalam sirkulasi 

(gangguan sistemik).

–  Tipe IV (reaksi lambat,‘delayed’). Anti-

gen terdiri dari suatu kompleks hapten + 

protein, yang bereaksi dengan T-limfosit 

yang sudah disensitasi. Limfokin tertentu 

(= sitokin dari limfosit) dibebaskan, lalu 

menarik makrofag dan neutrofil, se-

hingga timbul reaksi peradangan. Proses 

penarikan itu disebut chemotaxis. Mulai 

reaksinya sesudah 24-48 jam dan bertahan 

beberapa hari. Contohnya yaitu  reaksi 

tuberku lin dan dermatitis kontak.

Bentuk alergi tipe I s/d III berkaitan 

dengan imunoglobu lin dan imunitas humoral 

(Lat. humor = cairan tubuh), artinya ada 

hubungan dengan plasma. Hanya tipe IV 

berdasar  imunitas seluler(limfosit-T).

Alergi atas dasar IgE

Diagnosis untuk alergi atopik dilakukan 

melalui tes kulit (intrakutan) dengan ekstrak 

alergen inhalasi. Reaksi dini ditentukan 

sesudah 15-20 menit dan reaksi lambat 

sesudah  6-10 jam. Tes kulit ini dilengkapi 

dengan penentu an laborato rium mengenai 

antibodies IgE dalam darah. Gangguan alergi 

atopik yang terpenting yaitu  asma, rhinitis, 

eksim resam dan alergi makanan.

a. Alergi makanan

Jenis alergi ini disebabkan oleh protein 

yang ada  dalam makanan dan berlang-

sung melalui IgE dan pelepasan media tor. 

Alergen makanan terkenal yaitu  ikan, udang, 

kerang, daging babi, putih telur, susu 

sapi, keju/mentega (diaries), juga gluten, 

suatu protein dari jenis gandum. Selain itu 

termasuk pula additiva, seperti zat penga-

wet (asam benzo at, asam sorbat, nipagin), 

zat warna(tartrazin kuning), zat rasa dan zat 

penyedap(monosodiumgluta mat/MSG, Vetsin). 

Gejalanya dapat berupa serangan asma, 

urticaria dan keluhan lambung-usus (mual, 

muntah, kejang perut, diare). Bila penye-

babnya dikeluarkan dari makanan, gejala 

akan hilang dalam waktu 1-2 hari. Alergi 

makanan dapat terjadi bersamaan waktu 

dengan intoleransi untuk makanan. Kedua-

nya dapat dideteksi dengan jalan mengelu-

arkan jenis pangan yang dicurigai dari diet 

atau menambah nambahkan nya lagi padanya.

* Intoleransi makanan yaitu  bentuk aler-

gi berda sarkan pembebasan mediator lang-

sung dari mastcells, jadi tanpa peranta raan 

reaksi alergen-antibodi. Oleh sebab  itu di-

sebut juga pseudo-alergi(pseudo = imitasi, 

mirip). Contohnya yaitu  makanan dengan 

kandungan amin vasoaktif, yang dapat 

memicu seran gan mi grain, misalnya histamin-

liberators (tomat, arbai, bayem), fenile ti lamin 

(cokelat) dan tiramin (keju Prancis masak, 

anggur merah). Intoleransi untuk obat-obat 

juga dapat terjadi, a.l. untuk asetosal dan zat-

zat kontras-iod.

b. Eksim atopik (= derma titis atopik) 

Alergen hanya memicu  reaksi IgE 

signyifikan pada individu yang berdasar  

keturunan terdisposisi, keadaan ini disebut 

atopik. Salah satu penyakit atopik yaitu  

eksim atopik yang juga disebut eksim 

endogen, yang timbul pada 10-15% anak-

anak atopik. Gangguan ini terutama timbul 

pada tahun-tahun pertama sejak kelahir-

an, yang umumnya akan membaik dengan 

meningkatnya usia. Eksim ini dapat diper-

hebat oleh alergi terhadap bahan makanan, 

sering kali putih telur, susu sapi dan kacang 

tanah. 

Gejalanya berupa bercak kemerah-merah-

an tanpa batasan tajam, benjolan dan gelem- 

bung kecil yang menggerisik dan gatal-ga-

tal. Lokasi eksim lazimnya di muka, juga di 

bagian dalam siku dan lutut, pergelangan 

tangan dan tengkuk. Kerapkali ada hubung- 

an dengan asma, pollinosis dan rhinitis. 

Lazimnya bentuk eksim ini hilang pada usia 

5-7 tahun namun  pada usia pubertas dapat 

muncul kembali dalam bentuk asma, rhinitis 

atau alergi makanan.

Pengobatannya dapat dimulai dengan salep/

krem yang mengandung ter (pix lithantracis, 

liquor carbonis detergens) yang berkhasiat 

a.l. antiradang dan antigatal. Bila efeknya 

tidak memuas kan, maka dapat dipakai  

krem kortikosteroida (hidrokortison 1-2%, 

triamsinolon 0,05-0,1%), lihat Bab 46, ACTH 

dan Kortikosteroida.

* Eksim kontak alergik yaitu  bentuk eksim 

yang juga berdasar  reaksi alergi lambat

(tipe IV). Zat-zat tertentu mampu menim-

bulkan sensibilisasi kuat pada kontak inten-

sif, namun  gejala hipersensitivitas baru dapat 

terjadi sesudah  bertahun-tahun. Biasanya 

berkaitan dengan pekerjaan, perhiasan 

atau benda yang dipakai . Contohnya 

yaitu  logam (nikel dalam gelang, an ting, 

senyawa krom dalam semen), zat-zat kimia 

formaldehida, p-fenilen diamin (dalam cat 

rambut), zat-zat warna, obat-obat (balsem 

Peru, neomi sin, kloramfenikol), minyak wangi 

dan zat pengawet dalam kosmetika.

Penanganannya terdiri dari menghindari 

alergen penye bab dan mengobati gejalanya 

dengan krem kortikosteroida.

c. Asma

Asma atau bengek sering kali timbul pada 

orang dengan resam (konstitusi) atopik 

yang dalam darah dan ludahnya terjadi 

peningkatan jumlah granulo sit eosinofil 

(eosinofilia). Pernapasan dipersu lit oleh pe-

nyempitan bronchia akibat reaksi antigen-

IgE dan terlepasnya mediator dengan efek 

vasokonstriksi. Ditambah pula den gan obs-

truksi bronchia akibat peradangan kronis, pem-

bengkakan mukosa serta banyaknya dahak 

dan ke jang-kejang, turut meng akibat kan se-

sak napas. Selanjut nya lihat Bab 40, Obat-

obat Asma. 

d. Demam merang(hay fever)

Rhinitis allergica yaitu  radang mukosa 

hidung (Yun. rhino = hidung), yang merupa-

kan ganggu an alergi (atopik) yang paling 

banyak terja di. Sering kali disertai radang 

selaput ikat mata (conjunctivitis).

Geja lanya a.l. selesma berat, banyak me-

ngeluarkan ingus dan air mata, bersin, hidung 

mampat dan gatal-gatal di sekitar mata dan 

hidung. Umumnya, gejala ini bertahan lebih 

dari empat minggu dan sering kali kambuh. 

Terutama diderita pada usia 5-45 tahun dan 

sesudah  masa ini dapat berkurang atau hilang 

dengan sendi rinya.

Rhinitis merupakan suatu reaksi tipe I, di 

mana IgE yang spesifik bagi alergen tertentu 

memegang peranan. Sistem imun membuat 

antibodies khas itu  dengan maksud 

„memerangi“ alergen dan memusnahkannya, 

juga memicu  suatu reaksi peradan gan. 

Lagi pula akibat chemotaxis, jumlah granulosit 

eosinofil setempat (sejenis lekosit, lihat Bab 

49, Dasar-dasar Imunologi) meningkat dan 

membentuk zat-zat yang diperkirakan meng-

akibatkan hiperreakti vi tas.


* Rhinitis hiperreaktif (non-alergik) yaitu  

suatu bentuk rhinitis yang disebabkan oleh 

kepe kaan berle bihan, pada mana terja di reaksi 

yang abnormal hebat nya. Dengan penger-

tian hiperreak tivitas dimaksud terjadi nya 

gejala akibat rangsan gan tak-spesifik (asap 

rokok, bau, uap, udara dingin dan lain-lain), 

yang pada orang sehat tidak memicu  

reaksi. Istilah ini khusus diguna kan untuk 

as ma/bron chitis kronis untuk melukiskan hi-

persensitivitas saluran napas terhadap rang-

sangan demikian. Efeknya yaitu  gejala di 

hidung, mata dan bronchia (batuk, sesak) 

seperti itu  di atas.

pemicu 

Rhini tis dapat diakibatkan oleh reaksi aler-

gi terha dap tepung sari (pollen), tungau debu 

rumah, spora jamur, serpihan kulit hewan atau 

bahan makanan. Dalam semua kasus ini pro-

tein sebagai salah satu zat kandungannya 

selalu merupakan alergen yang sebenar nya.

* Pollen yaitu  sel-sel perbanyakan jantan 

dari rumput dan pohon, yang penyerbukan-

nya dilakukan oleh angin. Di negara dingin 

dengan empat musim, pollen mempunyai 

peranan penting pada terjadinya rhinitis. 

Khususnya di musim semi dan musim panas, 

banyak sari bunga ada  di udara. Di 

Indone sia alergi pollen (pollinosis) berperan 

lebih ringan. 

Bila pollen diinhalasi bersama udara, maka 

dengan perantaraan makrofag dan limfosit T 

(helper cells,) sel-sel limfo-B membentuk IgE 

khas. IgE ini terutama mengikat diri pada 

reseptor di membran mast cells dan juga 

pada makrofag, eosinofil dan basofil yang 

disensitasi. Pollen yang kemudian memasu-

ki darah lagi ‚ditangkap‘ oleh IgE itu  

pada mast cells, yang disertai pelepasan 

mediator. Juga alergen yang terikat pada 

sel-sel tersen si tasi itu  mensintesis dan/

atau melepaskan mediator seperti histamin, 

prostaglandin dan leukotriën. Efeknya yaitu  

pollinosis, juga disebut ‚demam merang‘(hay 

fever), dengan gejala rhini tis alergik itu  

di atas.

* Debu rumah merupakan “cocktail” dari 

beragam produk: tungau, fungi (spora) dan 

bakteri, serpi han kulit, rambut orang dan 

binatang piaraan, sisa serangga mati pada 

pakaian, tanah dan lain-lain. 

–  Tungau debu rumah (Dermatophagoides 

farinae) yaitu  serangga transparan sebe-

sar 0,3 mm. Syarat hi dupnya yang optimal 

yaitu  suhu 25°C dan derajat kelembapan 

relatif di atas 75%. Ditemukan praktis 

pada semua benda di rumah, paling 

banyak di kasur kapuk dan kasur bulu 

burung, selimut serta karpet. Dalam satu 

gram debu kasur ada  sampai 15.000 

tungau yang hidup dari serpihan kulit. 

Gambar 51-3: Tungau


Tinjanya sebesar 2-10 micron bersifat aler-

gen dan memasuki saluran napas melalui 

pernapasan. Lihat Gambar 51-3.

–  Jamur dapat memperbanyak diri dengan 

sangat cepat pada suhu dan kelembapan 

tinggi. Terutama spora banyak ada  

di udara dan mudah dihirup ketika ber-

napas, namun  juga myceliumnya (be nang-

benang) dapat berperan sebagai alergen 

dan pemicu  rhinitis. Alergi untuk ja-

mur tidak sering terja di dan terutama 

jenis Aspergillus dan Penicillium.

 

Prevensi

Tindakan umum. Pada prinsipnya sedapat 

mungkin semua alergen inhalasi yang dapat 

menimbul kan reaksi alergi harus dijauhi. 

Untuk pollen, hal ini yaitu  sesuatu yang 

mustahil, namun  kontak dapat dikurangi de- 

ngan a.l. memakai  kaca mata atau menu-

tup jendela mobil dan ruang tidur pada 

malam hari. Rumah orang yang berbakat 

alergis dibuat bebas alergen semaksimal 

mungkin. Hal ini sukar sekali dicapai, namun  

risiko penghi rupan alergen dari debu rumah 

dapat diper kecil dengan men taati higiene 

di seluruh rumah. Kamar tidur perlu diber-

sihkan setiap hari dengan saksama, meski-

pun debunya tidak nampak. Lantai dipel atau 

disedot debunya dengan ‚vacuum cleaner‘, 

sprei (dan selimut) perlu dicuci secara teratur. 

Kasur sebaik nya dari polieter atau karet busa 

sebagai pengganti kapuk. Hewan piaraan 

hendaknya jangan masuk ke dalam rumah 

dan teruta ma tidak ke ruang tidur. Ventil-

asi yang baik yaitu  penting sekali untuk 

menjamin udara kering di dalam rumah.

Profilaksis terhadap serangan rhinitis dapat 

dilakukan dengan obat-obat yang pada reaksi 

alergen-IgE mencegah degranulasi mast cells, 

sehingga mediator peradangan tidak dibe-

bas kan. Tersedia natrium kromoglikat dan 

nedokromil (Tilade) dalam bentuk serbuk 

inhal asi (aerosol), tetes hidung dan tetes 

mata. Obat-obat ini efektif pula terhadap 

conjunctivitis alergis.

Hiposensibilisasi (desensitasi)

Cara ini dilakukan pada pengidap aler-

gi atopik untuk mengurangi kepekaan ter-

hadap suatu alergen dan dengan demi-

kian mengurangi parahnya keluhan. Meka-

nismenya yaitu  mengurangi respons da- 

ri IgE dan mengalihkannya menjadi IgG. 

Untuk ini pasien disuntik subkutan dengan 

larutan ekstrak alergen dalam kadar 

meningkat menurut suatu pola tertentu 

selama beberapa tahun. Hasil yang baik 

dicapai dengan ek strak pollen, tungau debu 

rumah, serpihan kulit binatang dan racun tawon. 

Hiposensibilisasi memperbaiki keadaan 

pasien dan meringankan reaksi kulit lambat, 

juga meningkatkan antibodies khas IgG.

Pada pelaksanaan desensitasi ini tetap 

harus waspada terhadap risiko reaksi ana-

filaktik, walaupun penyuntikan dimulai de-

ngan dosis alergen yang kecil sekali.

Pengobatan

Sebagai tindakan pertama perlu diusahakan 

identifika si dari alergen pemicu  alergi dan 

menyingkirkannya. Misalnya, bulu hewan 

piaraan (anjing, kucing dan sebagainya) serta 

debu rumah, lihat di atas. Obat-obat yang 

kemudian dapat dipakai  terhadap gejala 

rhinitis yaitu  antihistaminika, decongestiva 

dan kortikosteroida inhalasi.

*Antihistaminika-H1 (lihat di bawah) dapat 

menanggulangi gejalanya secara efektif, ter-

utama bersin dan gatal-gatal pada mata. 

Bila dipakai  pada waktunya, obat ini 

juga berkhasiat menekan produksi mediator 

dalam mastcells, dengan efek meringankan 

reaksi alergi lambat. Antihistaminika ge-

nerasi kedua lebih disukai sebab  long-

acting dan (hampir) tidak bekerja sedatif, 

yaitu astemizol, terfe nadin, cetirizin dan 

loratadin.

*Decongestiva dipakai  untuk membuka 

saluran yang tersumbat (hidung mampat) 

dengan mengurangi penumpukan mukosa 

(congestio). Untuk ini banyak dipakai  

adrenergika, seperti ksilometazolin dan 

oksimetazolin dalam bentuk tetes hidung 

atau spray, adakalanya juga secara oral. Lihat 

Bab 31 A, Adrenergika dan Adrenolitika.

* Kortikosteroida dalam dosis rendah se-

ring kali dipakai  sebagai spray dan 

sangat efektif terhadap hiperreaktivi tas 

dan semua gejala lambat. Tersedia beklo-

metason,budesoni da dan flutikason (Flixo-

tide).

B. ANTIHISTAMINIKA

Antihistaminika yaitu  zat-zat yang da-

pat mengurangi atau mengha langi efek 

histamin terhadap tubuh dengan memblok 

reseptor histamin (penghambatan saingan). 

Pada awalnya hanya dikenal satu tipe anti- 

histaminikum, namun  sesudah  ditemukan nya 

jenis reseptor khusus pada tahun 1972, yang 

disebut resep tor-H2, maka secara farmakologis 

reseptor histam in dapat dibagi dalam dua 

tipe, yaitu reseptor-H1 dan reseptor-H2. 

berdasar  penemuan ini, antihistaminika 

dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu anta-

gonis reseptor-H1 (singkatnya disebut H1-

blockers atau antihistaminika) dan antagonis 

reseptor-H2 (H2-blockers atau zat penghambat 

asam).

1. H1-blocker (antihistaminika klasik) me-

nentang histamin dengan memblok resep-

tor-H1 di otot licin dari dinding pembuluh, 

bronchi dan saluran cerna, kandung kemih 

dan rahim. Begitu pula melawan efek 

histamin di kapiler dan ujung saraf (gatal, 

flare reaction). Efeknya yaitu  simtomatis, 

antihistaminika tidak dapat menghindari 

timbulnya reaksi alergi.

Dahulu antihistaminika dibagi secara ki-

miawi dalam 7-8 kelompok, namun  kini digu- 

nakan penggolongan dalam 2 kelompok atas 

dasar kerjanya terhadap SSP, yaitu zat-zat 

generasi ke-1 dan ke-2.

a.   Antihistaminika generasi ke-1: prometa-

zin, oksomemazin, tripelennamin, (klor) 

feniramin, difenhidramin, klemastin (Ta-

vegil,) siproheptadin (Periactin), azelastin 

(Allergodil), sinarizin, meklozin, hidro-

ksizin, ketotifen (Zaditen) dan oksatomida 

(Tinset).

Obat-obat ini berkhasiat sedatif ter-

hadap SSS dan sebagian besar memiliki 

efek antikolinergik.

b.  Antihistaminika generasi ke-2: aste-

mizol, terfenadin dan fexofenadin, akri-

vastin (Semprex), setirizin, loratidin, 

levokabastin (Livocab) dan emedastin 

(Emadin). Zat-zat ini bersifat hidrofil 

dan sukar mencapai CCS (cairan cere-

brospinal), maka pada dosis terapeu-

tik tidak bekerja se datif. Keuntungan 

lainnya yaitu  plasma-t½-nya yang le-

bih panjang, sehingga dosisnya cukup 

dengan 1-2 kali sehari. Efek anti alerginya 

selain berdasar  khasiat antihistamin , 

juga berkat kemampuannya menghambat 

sintesis mediator radang, seperti prosta-

glandin, leukotriën dan kinin. Lihat Bab 

40, Obat-obat Asma, Antileukotriën.

2. H2-blocker (penghambat asam). Obat-obat 

ini secara selektif menghambat sekresi asam 

lambung yang meningkat akibat histamin, 

melalui persaingan terhadap reseptor-H2 

di lambung. Efeknya yaitu  berkurangnya 

hipersekresi asam klorida, juga mengurangi 

vasodila tasi dan menurunkan tekanan da- 

rah. Senyawa ini banyak dipakai  pada 

terapi tukak lam bung-usus untuk mengu-

rangi sekresi HCl dan pepsin, juga sebagai 

zat pelindung tambahan pada terapi de-

ngan kortikosteroida. Lagi pula sering kali 

dipakai  bersama suatu perangsang moti-

litas lambung (cisaprida) pada penderita 

reflux.

Pengham bat asam yang dewasa ini banyak 

dipakai  yaitu  simetidin, ranitidin, fa-

motidin, nizati din dan roksatidin yang me-

rupakan senyawa-senyawa heterosiklik dari 

histamin. Lihat selanjutnya Bab 16, Obat-obat 

Lambung. 

pemakaian 

Lazimnya dengan “antihistaminika” selalu 

dimaksud H1-blockers. Selain bersifat anti-

histamin, obat-obat ini juga memiliki ber-

bagai khasiat lain, yaitu antikolinergik, 

antiemetik dan efek menekan SSP (sedatif), 

sedang  beberapa di antaranya memiliki 

efek antiserotonin dan lokal anestetik (le-

mah).

berdasar  efek-efek ini, antihistaminika 

dipakai  secara sistemik (oral, injeksi) 

untuk mengobati gejala berbagai gangguan 

alergi yang disebabkan oleh pembeba san 

histamin. Di samping rhinitis, pollinosis dan 

alergi makanan/obat (lihat di atas) juga sering 

kali dipakai  pada sejumlah gangguan 

berikut:

a. Asma yang bersifat alergi, untuk me-

nanggulangi gejala bronchokonstriksi. 

Walaupun kerjanya baik, namun efek 

keseluruhannya hanya rendah sebab  

tidak berdaya terhadap mediator lain 

(leukotriën) yang juga memicu  

penciutan bronchi. ada  indikasi bah-

wa pemakaian  dalam bentuk sediaan 

inhalasi menghasilkan efek yang lebih 

baik. Obat-obat ketotifen dan oksatomida 

berkhasiat mencegah degranulasi dari 

mastcells dan efektif untuk mencegah 

serangan.

b. Sengatan serangga, khususnya tawon 

dan lebah, yang mengandung a.l. histamin 

dan suatu enzim yang memicu  

pembebasannya dari mastcells. Untuk 

memperoleh hasil yang memuaskan, obat 

perlu diberikan segera dan sebaiknya 

melalui injeksi. Dalam keadaan hebat 

biasanya diberikan injeksi adrena lin i.m. 

atau hidrokortison i.v.

c. Urticaria (kaligata, biduran). Pada umum-

nya ber man faat terhadap meningkatnya 

permeabilitas kapiler dan gatal-gatal, 

teruta ma zat-zat dengan kerja antisero-

tonin seperti alimemazin (Nedeltran), 

azatadin dan oksatomida. Khasiat antigatal 

mungkin berkaitan pula dengan efek 

sedatif dan efek anestetik lokalnya.

d. Stimulasi nafsu makan. Untuk men-

stimulasi nafsu makan dan meningkatkan 

berat badan, yaitu sipro heptadin (dan turu-

nannya pizotifen) dan oksato mida. Semua 

zat ini berefek antiserotonin.

e. Sebagai sedativum berdasar  efeknya 

menekan SSP, khususnya prometazin dan 

difenhidramin serta turunannya. Obat-obat 

ini juga berkhasiat meredakan rangsang-

an batuk, sehingga banyak dipakai  

dalam sedi aan obat batuk populer.

f. Penyakit Parkinson berdasar  efek 

antikolinergiknya, khusus difenhidramin 

dan turunan 4-metil(orfenadrin) yang juga 

berkhasiat spasmolitik.

g. Mabuk jalan (mual) dan pusing (ver-

tigo) berdasar  efek antiemetik nya 

yang juga berkaitan dengan khasiat 

antikolinergik, terutama siklizin, meklizin 

dan dimenhidrinat, sedang  sinarizin 

dipakai  terutama pada vertigo.

h. Syok anafilaktik, di samping pemberian 

adrenalin dan kortikosteroid.

Selain itu antihistaminika banyak diguna-

kan da lam sediaan kombinasi terhadap selesma 

dan flu.

* Pilihan obat hendaknya secara individual, 

tergan tung pada efek dan kerja sampingnya. 

Kadang-kadang terjadi tachyfylaxis (berku-

rangnya res pons) dan obat harus diganti 

dengan obat lain dari golongan kimiawi yang 

berlainan.

Efek samping

Kebanyakan antihistaminika tidak menye-

babkan efek samping se rius bila diberikan 

dalam dosis terapeutik. Yang paling sering 

terjadi yaitu :

– efek sedatif-hipnotik (mengantuk) akibat 

depresi SSP dan khasiat antikolinergik- 

nya. Efek ini paling nyata pada prometazin 

dan difenhidramin, namun  agak kurang 

pada d-klorfeniramin dan mebhidrolin, 

walaupun sifat ini sangat bervariasi 

secara individual. biasanya  da-

lam beberapa minggu terjadi toleransi 

terhadap efek sedatif-hipnotis ini. 

Efek sedatif ini tidak dimiliki oleh 

antihistaminika generasi kedua (lihat 

di bawah), misalnya astemizol dan ter-

fenadin, sehingga dengan aman dapat 

diberikan pada misalnya pengemudi 

kendaraan bermotor. Sebaliknya, kedua 

obat ini bila diminum serentak dengan 

suatu obat yang menghambat perom-

bakannya dalam hati, kadar histamin 

dalam plasma dapat meningkat kuat 

sehingga memicu  gangguan jan-

tung berbahaya (cardiac arrest, aritmia 

ventrikuler). Obat-obat induktor enzim 

demikian yaitu  ketokonazol, antibiotika 

makrolida (eritromisin) dan makanan (jus 

grapefruit). 

– efek sentral lainnya berupa pusing, ge-

lisah, rasa le tih, lesu dan tremor (tangan 

gemetar), sedang kan dosis berlebihan da-

pat memicu  konvulsi  dan koma;

– gangguan saluran cerna juga sering ter-

jadi dengan gejala mual, muntah dan 

diare sampai anoreksia dan sembelit. Efek 

ini dapat dikurangi bila obat dimi num 

sesudah  makan.

– efek antikolinergik (anti muskarin) dapat 

terjadi, seperti mulut kering, gangguan 

akomodasi dan saluran cerna, sembe lit 

dan retensi kemih. Berhubung sifatnya 

ini, antihis taminika jangan diberikan pa-

da pasien glauko ma dan hipertrofi prostat. 

– efek antiserotonin dapat meningkatkan 

nafsu makan dan berat badan. Bila efek 

ini tidak dikehendaki, maka untuk peng-

gunaan lama sebaiknya jangan diberi kan 

siprohep tadin atau oksatomida;

– sensibilisasi dapat terjadi pada pem-

berian oral, namun  terutama pada peng-

gunaan lokal. Obat-obat dengan efek 

menstabili sasi mastcells pada dosis ting-

gi mem perlihatkan efek paradok sal, yaitu 

justru menstimul asi pelepasan histamin 

(histamin liberator), bahkan tanpa adanya 

antigen. Efek ini mungkin dis ebabkan 

oleh mekanisme merusaknya terhadap 

membran sel;

– efek teratogen, mungkin pada derivat 

piperazin (meklizin, siklizin, hidroksizin 

dan setirizin).

* Wanita hamil dan menyusui. Hanya 

sinarizin, hid roksi zin, siklizin dan meklozin, 

ketoti fen, meb hid ro lin dan siproheptadin 

dianggap aman bagi janin. Dari obat-obat 

lainnya kurang tersedia data mengenai 

keamanannya selama keha milan dan lakta si. 

Terfe na din, cetirizin dan loratadin masuk ke 

dalam air susu.

Penggolongan

Sesuai struktur kimianya antihistaminika 

dapat dibagi dalam beberapa kelompok, 

yang di antaranya memiliki rumus dasar 

sebagai beri kut:     

             R1

R—X—C—C—N

R2

di mana X = atom O, N, atau C; R = gugus 

aromatik dan/atau heterosiklik; R1 dan R2 = 

gugus metil atau heterosiklik. Dapat dilihat 

bahwa inti molekul terdiri atas etilamin, 

yang juga ada  pada molekul histamin. 

Adakalanya gugus ini merupakan bagian 

dari suatu struktur siklik, misalnya pada 

antazolin dan klemastin.

MONOGRAFI

1. Derivat etanolamin (X=O)

Zat-zat ini memiliki khasiat antikolinergik 

dan sedatif yang agak kuat.

1a. Difenhidramin: Benadryl

Di samping efek antikolinergik dan sedatif 

yang kuat, antihistamin ini juga bersifat 

spasmolitik, anti-emetik dan antiverti go. 

dipakai  sebagai obat tambahan pada 

terapi penyakit Parkinson (lihat Bab 28, Obat-

obat Parkinson) dan sebagai obat antigatal 

pada urticaria akibat alergi (Caladryl).

Dosis: oral 4 dd 25-50 mg, i.v. 10-50 mg.

* Orfenadrin (2-metildifenhidramin, Disipal) 

memiliki khasiat antikolinergik dan sedatif 

ringan, sehingga lebih disukai sebagai obat 

tambahan pada pengobatan Parkinson dan 

terhadap gejala ekstrapiramidal pada terapi 

dengan antipsikotika. Dosis: oral 3 dd 50 mg.

* Dimenhidrinat (Dramamine) yaitu  senya-

wa klorteofilinat dari difenhidramin yang khu-

sus dipakai  terhadap mabuk jalan dan 

muntah kehamilan. Dosis: oral 4 dd 50-100 

mg, i.m. 50 mg.

* Klorfenoksamin(Systral) yaitu  derivat 

klor dan metil, yang kadang-kadang digu-

nakan sebagai obat tambahan pada terapi 

penyakit Parkinson. Dosis: oral 2-3 dd 20-40 

mg (klorida); dalam krem 1,5%. 

1b.Klemastin: Tavegyl

Zat ini memiliki struktur yang mirip 

klorfenoksamin, namun  dengan substituen 

siklik (piridil). Efek antihistaminnya sangat 

kuat; mulai bekerja cepat (dalam beberapa 

menit) dan bertahan lebih dari 10 jam. Me-

kanisme kerjanya yaitu  a.l. mengurangi 

permeabilitas kapiler dan efektif terhadap 

pruritus allergica (gatal-gatal).

Dosis: oral 2 dd 1 mg a.c. (fumarat), i.m. 2 

dd 2 mg.

2. Derivat Etilendiamin (X = N)

Obat-obat dari kelompok ini pada umum-

nya memiliki khasiat sedatif yang lebih 

ringan.

2a. Antazolin: Antistin

Efek antihistaminnya tidak begitu kuat 

namun  tidak merangsang selaput lendir, se-

hingga cocok dipakai  pada pengobatan 

gejala alergis pada mata dan hidung (selesma) 

sebagai sediaan kombinasi dengan nafazolin 

(Antistin-Privine).

Dosis: oral 2-4 dd 50-100 mg (sulfat).

* Tripelennamin (Tripel), kini hanya digu-

nakan sebagai krem 2% pada gatal-gatal aki-

bat alergi terhadap sinar matahari, sengatan 

serangga, dan lain-lain.

* Mepirin (piranisamin) yaitu  derivat me-

toksi dari tripelennamin yang dipakai  

dalam kombinasi dengan feniramin dan 

fenilpropanolamin (*Triaminic drops) terhadap 

hay fever.

* Klemizol yaitu  derivat klor yang sekarang 

hanya dipakai  dalam salep/suppositoria 

antiwasir (*Scheriproct, *Ultraproct).

3. Derivat Propilamin (X = C)

Obat-obat dari kelompok ini memiliki 

khasiat antihis tamin kuat.

3a.Feniramin: Avil

Feniramin memiliki khasiat antihistamin 

dan efek meredakan  batuk yang cukup 

baik, oleh sebab  itu juga dipakai  dalam 

ramuan obat batuk.

Dosis: oral 3 dd 12,5 - 25 mg (maleat) atau 1 

dd 50 mg tablet retard; i.v. 1-2 dd 50 mg; krem 

1,25%.

* Klorfeniramin (klorfenamin, klorfenon) ada-

lah derivat klor dengan khasiat 10 kali lebih 

kuat dan derajat toksisitas yang sama. Efek 

sampingnya sedatif ringan dan sering kali 

dipakai  dalam obat batuk.

* Deksklorfeniramin (Polaramine) yaitu  

bentuk dekstronya yang dua ka li lebih kuat 

daripada bentuk-dl (rasemis)-nya.

*Triprolidin (*Actifed, *Stop-Cold) yaitu  deri-

vat dengan rantai sisi pirolidin, yang kha-

siatnya agak kuat. Mulai kerjanya cepat dan 

bertahan lama, sampai 24 jam (tablet retard). 

Dosis: oral 1 dd 10 mg (klorida) pada malam 

hari sebab  efek sedatif nya.

4. Derivat Piperazin

Obat-obat dari kelompok ini tidak memiliki 

inti etilamin namun  inti piperazin dan pada 

umumnya bersifat long-acting (lebih dari 10 

jam).

4a. Siklizin: Marzine, *Migril

Mulai kerjanya cepat dan bertahan 4-6 jam. 

Terutama dipakai  sebagai obat antiemetik 

dan pencegah mabuk jalan. Pada hewan per-

cobaan siklizin dan derivatnya meklozin 

(Suprimal) bersifat teratogen. sebab  sifatnya 

ini, peredarannya di negara kita  dilarang 

sejak Januari 1963. namun  pada manusia efek 

teratogennya belum pernah terbukti dan di 

kebanyakan negara Barat masih dipasarkan. 

Meskipun demikian, obat-obat ini jangan 

diberikan pada wanita hamil, terutama sela-

ma trimester pertama.

Dosis: mabuk jalan 1 jam sebelum berangkat 

50 mg, bila perlu 3 kali sehari; untuk mual 

dan muntah 3-4 dd 50 mg, anak-anak 6-13 

tahun 3 dd 25 mg.

* Homoklorsiklizin (Homoclomin) yaitu  

derivat klor, pada mana cincin piperazin 

diganti dengan cincin 7-diazepin. Bersifat 

anti-serotonin dan dipakai  pada pruritus 

allergica (gatal-gatal). Dosis: oral 1-3 dd 10 mg.

4b. Sinarizin:Stugeron

Derivat cinnamyl dari siklizin ini di sam-

ping sifat antihistaminnya juga berkhasi-

at vasodilatasi perifer. Sifat ini berkaitan 

dengan efek relaksasinya terhadap arteriole 

perifer (betis, kaki-tangan) dan otak, sebab  

penghambatan masuknya ion kalsium ke 

dalam sel-sel otot polos. Lihat selanjutnya 

Bab 34, Vasodilator, antagonis kalsium. Di 

samping itu juga berkhasiat antipusing 

dan antiemetik serta sering kali dipakai  

sebagai obat vertigo, telinga berdengung 

(tinnitus) dan pada mabuk jalan. Mulai 

kerjanya agak cepat, bertahan selama 6-8 jam 

dengan efek sedatif ringan.

Dosis: oral 2-3 dd 25-50 mg.

* Flunarizin (Sibelium) yaitu  derivat di-

fluor dengan khasiat antihistamin lemah. 

namun  sebagai antagonis kalsium, sifat va-

sorelaksasinya kuat. dipakai  terhadap 

vertigo dan sebagai obat pencegah migrain 

(lihat Bab 52, Obat-obat Migrain dan Bab 34, 

Vasodila tor).

4c. Oksatomida: Tinset

Derivat siklizin ini (1982) memiliki khasiat 

antihistamin, antiserotonin, anti-leukotriën 

dan juga efek menstabilisasi mastcells. Ber-

dasarkan sifat-sifat ini, oksatomida diguna-

kan sebagai obat pencegah maupun pengo-

batan asma dan “hay fever”. Juga memiliki 

efek stimulasi nafsu makan. Lihat juga Bab 

40, Obat-obat Asma. 

Dosis: oral 2 dd 30 mg p.c.; untuk asma 120 

mg sehari.

4d. Hidroksizin:Iterax, Atarax

 Derivat klor ini yaitu  salah satu anti-

histamin perta ma (1957) dengan berbagai 

jenis khasiat, a.l. seda tif dan anksiolitik, 

spasmolitik, anti-emetik serta antikoli ner-

gik. Sangat efektif pada urticaria dan gatal-

gatal. 

Dosis : 1-2 dd 50 mg. Sebagai anksiolitik: 1-4 

dd 50 - 100 mg.

* Cetirizin (Riztec, Ryzen, Zyrtec) yaitu  

metabolit aktif dari hidroksizin (1987) de-

ngan efek kuat dan panjang (t½ 8-10 jam). 

Merupakan obat generasi kedua, bersifat 

hidrofil, sehingga tidak bekerja sedatif, juga 

tidak antikoliner gik. Menghambat migrasi 

dari granu losit eosinofil, yang berperan pa-

da reaksi alergi lambat. Diguna kan pada 

urticaria dan rhinitis/conjunctivi tis. Dosis: 1 

dd 10 mg malam hari.

5. Derivat Fenotiazin

Senyawa trisiklik ini memiliki khasiat 

antihistamin dan antikolinergik yang ti-

dak begitu kuat, namun  sering kali berefek 

sentral kuat dengan khasiat neuroleptik. 

berdasar  sifat ini, turunannya banyak 

dipakai  pada gangguan psikosis, lihat Bab 

29. Antipsikotika. Juga sering kali dipakai  

dalam obat batuk berdasar  efek sedatifnya 

di samping meredakan batuk.

5a. Prometazin:Phenergan

Antihistamin tertua ini (1949) dipakai  

pada reaksi alergi terhadap tumbuhan dan 

akibat gigitan serangga, juga sebagai anti-

emetikum terhadap mual dan mabuk jalan. 

Selain itu, prometazin dipakai  pada ver-

tigo dan sebagai sedativum pada batuk dan 

sukar tidur, terutama untuk anak-anak.

Efek samping bersifat umum, namun  ka-

dangkala dapat terjadi hipotensi, fotosen-

sibilisasi, hipothermia (suhu badan rendah) 

dan efek terhadap darah (leukopenia, agranu-

lositosis). Semua senyawa fenotiazin dapat 

memicu  reaksi ini.

Dosis: oral 3 dd 25-50 mg dan sebaiknya 

dimulai pada malam hari; i.m. 50 mg.

* Oksomemazin (Doxergan) yaitu  derivat 

dioksi (pada atom-S) dengan efek dan peng-

gunaan sama seperti prometazin, a.l. digu-

nakan dalam obat batuk (Toplexil). Dosis: oral 

2-3 dd 10 mg.

5b. Isotipendil:Andantol

Derivat azofenotiazin ini bekerja lebih 

singkat dari prometazin dengan efek sedatif 

yang lebih ringan. 

Dosis: oral 3-4 dd 4-8 mg; i.m./i.v. 10 mg.

6. Derivat Trisiklik lainnya

Sejumlah antihistaminika memiliki ru-

mus dasar yang terdiri atas satu cincin tu- 

juh yang terikat pada dua cincin enam di 

kanan dan kiri. Zat-zat ini memiliki khasiat 

antiserotonin kuat dengan menstimulasi 


nafsu makan. pemakaian nya terutama se-

bagai perangsang nafsu makan dan pada 

urticaria, juga sebagai obat interval pada 

migrain.

6a. Siproheptadin:Periactin, Pronicy

berdasar  efek stimulasinya terhadap 

pertumbuhan jaringan normal, dahulu obat 

ini banyak dipakai  untuk pa sien kurus 

dengan nafsu makan buruk. Lama kerjanya 

4-6 jam, efek antikoliner giknya rin gan. 

Efek sampingnya umum a.l. rasa kantuk 

yang biasanya lewat sesudah seminggu. Obat 

ini sekarang hanya dianjurkan sebagai anti-

histam inikum.

Dosis: oral 3 dd 4 mg (klorida).

6b. Pizotifen:Lysagor, Sandomigran

Zat ini berkhasiat antihistamin dan anti-

serotonin. Di samping sebagai stimulan nafsu 

makan, zat ini juga dipakai  pada terapi 

interval migrain, lihat Bab 52, Obat-obat Mi-

grain.

Dosis: oral semula 1 dd 0,5 mg (maleat), 

berangsur-angsur dinaikkan sampai 3 dd 0,5 

mg.

* Ketotifen (Zaditen) yaitu  derivat keto long-

acting tanpa efek antisero tonin. berdasar  

sifat menstabilisasi mast cells, obat ini digu-

nakan sebagai obat pencegah serangan asma. 

Dosis: oral 2 dd 1-2 mg (fumarat).

* Loratadin(*Clarinase, Claritin) yaitu  deri-

vat klor (1988) yang sebagai zat generasi 

kedua pada dosis biasa tidak berefek sedatif 

maupun antikoli nergik. Plasma-t½-nya lebih 

panjang: 12 jam, sedang  metabolit aktif-

nya 20 jam. dipakai  pada rhinitis dan 

conjunctivitis alergis, juga pada urticaria 

kronis. Dosis: 1 dd 10 mg.

6c. Azelastin:Alergodil

yaitu  obat generasi kedua (1991) yang 

berkhasiat antihistamin, antileukotriën dan 

antiserotonin dan juga menstabilisasi mast-

cells. Khusus dipakai  pada rhinitis alergis. 

Efeknya minimal 12 jam (t½ ±20 jam, dari 

metabolit aktifnya 50 jam!)

Dosis: oral 1-2 dd 2 mg. 

7. OBAT GENERASI KEDUA

Obat-obat generasi kedua memiliki 

khasiat antihistamin tanpa efek seda tif-

hipnotik. berdasar  sifat ini, layak seka-

li diberikan pada penderita alergi yang 

pekerjaannya memerlukan kewaspa daan, 

seperti pengemudi kendaraan bermotor dan 

mereka yang bekerja dengan mesin. Tersedia 

beberapa obat yaitu terfe nadin, astemi zol, 

levokabastin, loratadin, azelastin dan seti rizin. 

Ketiga obat terakhir sudah dibahas di atas, 

yang pada hakikatnya termasuk kelom-

pok ini sebab  efek sedatifnya relatif ringan 

diban dingkan obat-obat lain. Berhubung efek 

sampingnya terhadap jantung, walaupun 

jarang terjadi namun  bisa bersifat fatal, maka 

terfenadin dan astemizol sudah dihentikan 

peredarannya di AS dan banyak negara 

Eropa.

7a. Terfenadin: Nadane, Triludan

Derivat butilamin heterosiklik ini (1982) 

yaitu  suatu prodrug, dengan khasiat anti-

histamin (H1) yang menyerupai klorfeni-

ramin. Tidak dapat melintasi barrier liquor 

(CCS), maka tidak memiliki efek sentral 

(sedatif). dipakai  pada rhinitis allergica, 

urticaria dan reaksi alergi lainnya.

Resorpsi dari usus baik, mulai kerjanya 

sesudah 1 jam dan bertahan 12-24 jam. 

Dalam hati dengan cepat dan tuntas dirom-

bak oleh sistem enzim cytochrom P450 

menjadi a.l. metabolit aktifnya terfenadin kar-

boksilat dengan plasma-t½ ±17 jam. Ekskresi 

berlangsung lewat tinja (60%) dan urin (40%).

Efek samping jarang terjadi dan berupa 

gangguan saluran cerna, nyeri kepala dan 

berkeringat. Dengan beberapa obat (eritro-

misin, klaritromisin, ketoko nazol, itrakonazol) 

terjadi interaksi berbahaya dengan efek 

gangguan ritme dan terhentinya jantung, 

yang adakalanya fatal! Kelainan rit me ini 

juga dapat timbul pada dosis terlampau 

tinggi dan juga akibat grapefruit juice, yang 

bersifat menghambat enzim cytochrom 

P450 sehingga kadar terfenadin dalam 

darah meningkat. Oleh sebab  itu, pada 

awal tahun 1997, DepKes AS telah menarik 

dari peredaran semua sediaan terfenadin 

(Allergin, Fenalan).


Dosis: oral 2 dd 60 mg; anak-anak 3-6 thn 2 

dd 15 mg, 6-12 thn 2 dd 30 mg.

*Fexofenadin(Telfast) yaitu  suatu metabolit 

aktif dari terfenadin (1996) yang tidak perlu 

diaktivasi oleh hati. Sifat dan pemakaian nya 

sama. Dosis: oral 1 dd 120 mg.

7b. Astemizol: Hismanal

Senyawa fluor ini (1983) memiliki khasiat 

antihistamin kuat, juga tanpa efek sentral 

maupun antikolinergik. pemakaian  dan 

efek sampingnya sama dengan terfenadin. 

Begitu pula metabolit aktifnya, terutama 

desmetilastemizol, berperan bagi daya kerja-

nya. Jangka waktu kerjanya panjang sekali 

dengan plasma-t½ 20 jam sampai 10 hari. 

Juga dipakai  terhadap hay fever. namun  

efek optimalnya baru dicapai sesudah  2-3 hari, 

sehingga tidak layak untuk terapi serangan 

alergis akut.

Efek samping kurang lebih sama dengan 

terfenadin. Pertengahan tahun 1999 astemizol 

ditarik dari peredaran oleh pabriknya di 

banyak negara Eropa.

Interaksi. Pada dosis di atas 10 mg seha-

ri dan pemakaian  serentak dengan eri-

tromisin, ketokonazol dan itrakonazol ada 

kalanya menghambat metabolisme yang 

memicu  gangguan ritme serius, bah-

kan terhentinya kegiatan jantung (sama 

dengan terfenadin).

Dosis: 1 dd 10 mg sebelum makan; anak-

anak 6-12 tahun 1 dd 5 mg, di bawah 6 tahun 

1 dd 0,2 mg/kg.

7c. Levokabastin:Livostin, Livocab

Senyawa piperidinecarbonic acid ini (1991) 

berk hasiat antihistamin kuat dan praktis 

tidak bekerja sentral. Hanya dipakai  

topikal dalam tetes mata dan spray hi dung 

(0,05%).

* Ebastin(Kestine) yaitu  derivat (1995) yang 

sebagai prodrug dalam hati diubah menjadi 

zat aktif karebastin. Khusus dipakai  pada 

rhinitis alergis kronis dengan efektivitas 

sama seperti astemizol 10 mg, cetirizin 10 mg, 

loratadin 10 mg dan terfenadin (2 dd 60 mg).

Dosis: oral 1 dd 10-20 mg.

8. LAIN-LAIN

8a. Mebhidrolin (Interhistin, Incidal) diguna-

kan a.l. pada pruri tus dengan dosis 2-3 dd 50 

mg.

8b. Dimetinden (Fenistil) juga dipakai  

terhadap pruri tus dengan dosis 3 dd 1-2 mg 

(maleat).

8c. Kortikosteroida(lihat Bab 46. Kortikosteroi-

da). Gluk okortikoida dapat menekan daya 

tangkis seluler sehingga mengurangi reaksi 

alergi. dipakai  terhadap peradangan dan 

mengurangi pembentukan mediator-medi-

ator. Kortikosteroida dipakai  sebagai beri-

kut:

* lokal terutama 

-  terhadap asma dan hay fever: beklometason 

(Beconase, Becotide), budesonida (Pulmi-

cort, Symbicort) dan fluticason (Flixotide, 

Seretide), sebagai obat semprot hidung 

atau aerosol;

-  terhadap radang mata: deksametason, 

fluormeto lon (FML-Neo tetes ma ta), hi-

drokortison dan prednisolon; 

-  terhadap dermatoses (gangguan kulit).

* sistemik (bersamaan dengan adrenalin) 

pada syok anafilaktik, kejang bronchi sebab  

reaksi alergi dan status asthmaticus (lihat Bab 

40, Obat-obat Asma).

8d. Natrium kromoglikat:Intal, Rynacrom

Zat ini bukan suatu antihistamin, namun  

disinggung di sini berkat khasiat profi-

laksisnya terhadap hay fever. Meka nisme 

kerjanya melalui stabilisasi membran mast-

cells, sehingga menghambat pembebasan 

histamin dan mediator lain. Khasi at men-

stabilisasi ini juga diberikan oleh keto-

tifen, suatu obat profilak sis lain terhadap 

asma yang dapat diberikan per oral, lihat 

Bab 41, Obat-obat Batuk. Zat ini bermanfaat 

bila diberi kan sebelum terjadi granulasi 

mastcells dan hanya bekerja profil aksis 

terhadap reaksi alergi. sebab  absorpsi dari 

usus buruk, maka pada asma dipakai  

dalam bentuk aerosol atau inhalasi serbuk 

halus. Juga dalam tetes hidung pada rhinitis 


allerg