ml i.m.; suntikan pertama
dan kedua dengan jarak antara 4-6 minggu,
suntikan ketiga 6 bulan kemudian.
16. Vaksin Jerap Difteri-Pertussis (DP) digu-
nakan untuk imunisasi aktif secara simultan
terhadap difteri dan batuk rejan. Vaksin ini
mengandung toksoid difteria dari kuman B.
pertussis.
Dosis dan cara imunisasi: untuk imunisasi
dasar 3 x 0,5 ml i.m. dengan jarak antara 4-6
minggu. Booster 6 bulan kemudian dengan
dosis 0,5 ml i.m.
17. Vaksin Jerap Tetanus
Vaksin Jerap Tetanus mengandung tok-
soid tetanus yang telah dimurnikan dan
teradsorpsi pada Al-fosfat. Diperoleh dengan
cara yang sama seperti toksoid difteri dari
perbenihan basil Clostridium tetani. Membe-
rikan kekebalan selama 5-10 tahun. Toksoid
ini tidak efektif mencegah tetanus bila luka-
nya (infeksi) sudah timbul, sebab bekerja
terlampau lambat. Maka, dalam kasus demi-
kian harus dilakukan imunisasi pasif dengan
tetanus immune globulin dan serentak
diberikan juga injeksi pertama dari vaksin
tetanus untuk imunisasi aktif.
Dosis dan cara imunisasi: untuk imunisasi
dasar 3 x 0,5 ml i.m.; suntikan pertama dan
kedua dengan jarak antara 4-6 minggu,
suntikan ketiga 6 bulan kemudian.
* Vaksin Jerap Difteri-Tetanus (DT): untuk
imunisasi aktif secara simultan terhadap dif-
teri dan tetanus. Mengandung toksoid difteri
dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan
dan teradsorpsi pada Al-fosfat. Dosis dan cara
imunisasi: sama dengan Vaksin Jerap Tetanus.
Untuk usia sampai 8 tahun, dosis 0,5 ml i.m.
* Vaksin Jerap Difteri-Tetanus-Pertussis
(DTP) (Tetract-HIB): untuk imunisasi aktif
secara simultan terhadap difteri, tetanus dan
batuk rejan.
Dosis dan cara imunisasi: untuk imunisasi
dasar 3 x 0,5 ml i.m. dengan jarak antara 4-6
minggu. Booster 6 bulan kemudian dengan
dosis 0,5 ml i.m.
*Pediacel: mengandung toksoid difteri, teta-
nus dan batuk rejan, serta vaksin polio dan
haemophilus B.
*Tetraxim: mengandung toksoid difteri, teta-
nus dan batuk rejan, serta vaksin polio.
C. IMUNOGLOBULIN
Human serum immune globulin yaitu serum
polyclonal yang dibuat dari plasma darah
donor sehat atau orang yang baru divaksinasi.
Mengandung terutama ke-empat subklas
dari IgG.
Jarak kerjanya hanya terbatas dan bila di-
perlukan dapat diperpanjang dengan injek-
si ulang. Sediaan ini harus diberikan intra-
muskuler dan mutlak tidak boleh intra-vena,
sebab gumpalan antibodi dapat mengak-
tivasi agregasi trombosit.
Efek samping jarang terjadi dan biasanya
hanya peradangan ringan setempat dan nyeri
di tempat injeksi. Imunoglobulin dikeluarkan
melalui ASI dan membantu daya tangkis
imun dari bayi yang baru dilahirkan.
1. Tetanus immune globulin
Basil tetanus (Clostridium Tetani, pertama
kali diisolasi oleh Emil von Behring 1891)
bersifat Gram-positif dan anaerob, artinya
hanya dapat berkembang pada tempat di
mana tidak ada oksigen/udara. Membentuk
spora sangat resisten, yang tersebar di
tanah dan juga ada di dalam saluran
cerna manusia dan herbivora (mis.kuda dan
sapi). Spora ini musnah pada pemanasan
selama 20 min pada 120° C. Tetanus, suatu
penyakit akut, dapat timbul bila suatu luka
bersentuhan dengan tanah, debu jalan atau
pupuk kandang (sewaktu berkebun) dan
demikian terinfeksi.Dalam lingkungan ana-
erob spora ini berkembang dan toksin yang
terbentuk akan menjalar di dalam tubuh.
Vaksin pasif anti-tetanus biasanya dibuat
dari plasma kuda dan mengandung anti-
bodies serta dipakai untuk menetralkan
toksin itu , tanpa memengaruhi basil
tetanusnya. dipakai terutama seba-
gai profilaksis pada luka yang dalam dan
terinfeksi dengan basil tetanus. Lazim-nya
pengobatan dikombinasi dengan kemotera-
peutika. Selama pemakaian vaksin pasif ini
harus diwaspadai timbulnya hipersensitivitas
terhadap serum hewan (kuda atau kelinci).
1 ml serum mengandung antitoksin tetanus
1500 U.I. (untuk pencegahan) atau 5000 U.I.
(untuk pengobatan)
Dosis: untuk pencegahan i.m. 1500 U.I.;
untuk pengobatan i.m. atau i.v. 5000–10.000
U.I.
2. Rabies immune globulin
Immunoglobulin ini diperoleh dari serum
kuda yang telah dikebalkan dengan virus
fixe rabies dan dipakai tersendiri atau di-
kombinasi dengan vaksinnya untuk pengo-
batan terhadap gila anjing .
Berhubung vaksinasi pasif ini hanya
memberikan perlindungan yang tidak leng-
kap, maka tidak dapat menggantikan imu-
nisasi aktif dengan vaksin rabies (lihat sub
A9). Tujuan utama dari serum ini yaitu
memperlambat menjalarnya virus dan mem-
perpanjang masa tunas (rata-rata 1-3 bulan),
maka terutama dipakai pada korban yang
telah digigit, misalnya pada bagian muka atau
leher dengan masa inkubasi lebih singkat.
sesudah gejala rabies timbul, imunoglobulin
maupun vaksin tidak bermanfaat lagi.
Virus rabies memperbanyak diri di sel-sel
otot yang berdekatan dengan luka gigitan
anjing yang terinfeksi. Kemudian virus me-
nembus ujung-ujung saraf dan menjalar ke
sumsum tulang belakang dan otak. sesudah
berproliferasi lagi di SSP, virus menjalar
ke kelenjar ludah, paru dan ginjal melalui
saraf-saraf otonom. Pada 50% penderita
timbul hydrophobia (takut air) disebabkan
kejang farinx hebat bila berusaha minum
atau makan. Penderita mengalami konvulsi,
kejang alat pernapasan dan aritmia jantung
yang akhirnya berakhir fatal.
Dosis: 0,5 ml (= 50 UI, Bio Farma) per kg
berat badan, sebagian kecil diinfiltrasikan di
sekitar luka gigitan dan selebihnya i.m.
3. Difteri immune globulin
Vaksin pasif ini merupakan fraksi globulin
yang dipekatkan dari serum kuda yang te-
lah dikebalkan secara aktif terhadap (exo)
toksin basil difteri (Corynebacterium diph-
theriae). dipakai untuk pencegahan dan
pengobatan difteri.
1 ml mengandung 2.000 U.I. antitoksin
difteri.
Dosis: untuk pencegahan, dewasa i.m.
3.000-5.000 U.I.; untuk pengobatan i.m. atau
i.v. 10.000 U.I. atau lebih.
4. Hepatitis B immune globulin:Engerix-B,
Euvax B, Twinrix
dipakai sebagai pencegahan terhadap
timbulnya Hepatitis B, misalnya sesudah in-
feksi dengan darah yang positif terhadap
HBsAg (transfusi darah). Dibuat dari plasma
darah manusia yang mengandung zat anti-
HBs dengan titer yang tinggi dan terutama
terdiri dari imunoglobulin G (IgG).
5. Imunoglobulin anti-bisa ular polivalen
Vaksin pasif ini dipakai untuk meng-
obati gigitan ular berbisa, yang berefek neu-
rotoksik dan hemolitik. Serum polivalen ini
yang dimurnikan dan dipekatkan berasal
dari plasma kuda yang dikebalkan terhadap
bisa ular. Ular yang kebanyakan ada di
negara kita yaitu ular kobra (Naya sputatrix),
ular belang (Bungarus fasciatus) dan ular
tanah (Ankystrodon rhodostoma).
Dosis: i.v. sangat perlahan atau melalui
infus.
Perkembangan baru
a. Vaksin AIDS
Merebaknya penyakit AIDS secara drmatis
pada tahun-tahun lalu sangat meresahkan
para ahli di seluruh dunia. Setiap hari
diperkirakan ±10.000 pasien baru terinfeksi
HIV. Di Afrika, HIV memicu suatu
“pembantaian” massal, dengan 24,5 juta
penderita atau lebih dari 60% penduduk
yang terinfeksi. Kini dikhawatirkan bahwa
Thailand dan Cina akan dilanda epidemi
besar-besaran, sedang insidensi di India,
dan negara-negara Eropa Timur juga sangat
meningkat.
Menurut data awal tahun 2011 penderita
HIV/AIDS di negara kita berjumlah 310.000
pasien dan tertinggi yaitu di Irian Jaya
yakni 1,4 per 10.000 penduduk. (data WHO/
UNICEF, 2013). Lihat selanjutnya Bab 7,
Virustatika.
Peningkatan penyebaran HIV/AIDS ter-
utama, disebabkan oleh maraknya penggu-
naan bersama jarum suntik oleh para pe-
candu narkotika (Pengguna Napza Suntik),
disusul oleh hubungan heteroseksual dan
homoseksual.
Daya upaya untuk menemukan vaksin
yang mungkin dapat menolong jiwa berjuta-
juta orang diberikan prioritas tinggi oleh
WHO. Namun sampai sekarang semua usa-
ha untuk membuat vaksin AIDS yang efektif
telah gagal, antara lain vaksin selubung protein,
vaksin virus “tak-lengkap” dan vaksin DNA.
Vaksin selubung protein. Vaksin ini telah
dibuat dari satu protein selubung (gp120)
yang ada di bagian luar virus HIV.
Vaksin ini ternyata efektif terhadap hepatitis
B (HVB), lihat di bawah. namun , hasil kajian
menunjukkan bahwa vaksin HIV dengan
gp120 tidak memberikan perlindungan yang
cukup efektif.
Vaksin DNA mengandung sedikit bahan
genetik virus, yang mencetuskan produksi
protein virus dan kemudian antibodies
terhadapnya. sesudah 1 dan 6 bulan diberikan
injeksi booster kedua dan ketiga, sehingga
dapat dicapai imunitas yang baik. Vaksin ini
efektif namun sangat mahal dan tidak praktis
sebab memerlukan tiga penyuntikan.
Berhubung dengan epidemi yang dewasa
ini mengancam Thailand, maka WHO mela-
kukan percobaan klinis massal dengan
vaksin gp120, yang dari ketiga vaksin ter-
sebut di atas perkembangannya paling maju.
Semboyannya yaitu „lebih baik vaksin yang
kurang efektif daripada tiada vaksin sama
sekali.“
* Imunitas alami. Di seluruh dunia ada
beberapa ratus orang, yang walaupun ter-
infeksi dengan HIV, ternyata mampu me-
nangkis virus itu dan tidak mengidap
AIDS. Semua orang ini memperlihatkan
daya tahan yang unik dari sel-sel CD8+nya
terhadap infeksi (T-supressor cells). Berdasar-
kan penemuan ini, penyelidikan kini ditu-
jukan pada usaha untuk membangkitkan dan
menstimulasi daya tangkis demikian secara
buatan.
b. Vaksin malaria
Sejak tahun 1976, WHO telah melancarkan
penelitian besar-besaran mengenai cara ba-
ru untuk memberantas malaria dan yang
terpenting yaitu perkembangan sejenis vak-
sin untuk mengebalkan populasi.
Sudah diketahui bahwa pada permukaan
eritrosit manusia ada sejenis reseptor
yang merozoit Plasmodium tidak dapat me-
masukinya (lihat Bab 11, Obat-obat Malaria,
Siklus hidup parasit). Infeksi oleh parasit
menstimulasi sistem imunologi untuk mem-
bentuk imunitas seluler dan humoral. Inilah
sebabnya mengapa penduduk di daerah
malaria sesudah menderita beberapa kali
infeksi menjadi (agak) imun terhadap suku
Plasmodium yang ada setempat.
Dalam riset terhadap vaksin malaria, di-
ketemukan antara lain suatu protein khusus
dari merozoit P. falciparum yang dapat
melekat pada protein glikoforin yang ada
pada membran eritrosit. Usaha untuk mem-
buat suatu vaksin dengan protein ini sebagai
antigen tidak memberikan hasil yang memu-
askan.
Vaksin atas dasar sporozoit. Telah dibuk-
tikan bahwa pada percobaan terhadap ma-
nusia, orang dapat dikebalkan terhadap
jenis Plasmodium khusus dengan jalan
sengatan nyamuk yang telah diinfeksikan
dengan parasit itu . Nyamuk demikian
telah disinari dengan sinar Röntgen yang
menginaktifkan sporozoit di dalam tubuhnya.
Dari sporozoit ini juga telah diisolasi suatu
protein khusus yang bersifat antigen. Namun
vaksin yang dibuat dengan antigen itu
ternyata juga mengecewakan.
Kini dilakukan penyelidikan dari suatu
antigen khusus yang ada pada permu-
kaan sporozoit, yakni circumsporozoite anti-
gen (CSA). Suatu vaksin dari CSA bersama
antigen HBV (hepatitis-B-surface antigen) yang
dibuat dengan teknik rekombinan, ditambah
dengan dua imunostimulansia ternyata
dapat memberikan perlindungan baik selama
beberapa minggu.
* Vaksin kanker cervix (Gardasil, Cervarix)
yaitu vaksin kanker pertama (2006) terhadap
suatu jenis kanker. Mengandung antibodi
terhadap Human Papillomavirus type 6,11,16
dan 18 yaitu pemicu kanker mulut rahim.
Vaksin ini terutama dianjurkan bagi wanita
dari 16-26 tahun.
Dosis: kur dari 3 injeksi a 0,5 ml sesuai
jadwal 0 - 2 - 6 bulan.
* Vaksin pollinosis (Grazax). Vaksin perta-
ma terhadap pollen rumput ini telah dire-
gistrasi di negeri Belanda (2006). Tidak saja
bekerja simtomatis namun juga kausal. Terapi
terdiri dari tablet sublingual setiap hari
selama 8 minggu, yang dimulai 8 minggu
sebelum tibanya musim demam merang(„hay
fever“)
ANTIHISTAMINIKA
HISTAMIN
Histamin (suatu autacoid atau hormon lokal)
yaitu suatu amin nabati (bioamin) yang
ditemukan oleh dr. Paul Ehrlich (1878) dan
merupakan produk normal dari pertukaran
zat histidin melalui dekarboksilasi enzimatik.
Asam amino ini masuk ke dalam tubuh
terutama melalui daging (protein) yang
kemudian di jaringan (juga di usus halus)
diubah secara enzimatik menjadi histamin
(dekarboksil asi).
ada nya. Hampir semua organ dan ja-
ringan memiliki histam in dalam keadaan
terikat dan inaktif, terutama dalam sel-sel
tertentu. ‘Mast cells’ ini (Ing. mast = menim-
bun) menyerupai bola-bola kecil berisi ge-
lem bung yang penuh dengan histam in dan
zat-zat mediator lain (lihat di ba wah). Sel-sel
ini banyak ditemu kan di bagian tubuh yang
bersentuhan dengan dunia luar, yaitu di kulit,
mukosa dari mata, hidung, saluran napas
(bronchia, paru-paru) dan usus, juga dalam
lekosit basofil darah. Dalam keadaan bebas
aktif juga ada dalam darah dan otak, di
mana histamin bekerja sebagai neuro transmit-
ter. Di luar tubuh manusia histamin ada
dalam bakteri, tanaman (bayam, tomat) dan
makanan (keju tua).
Histamin dapat dibebaskan dari mast cells
oleh berbagai unsur, misalnya oleh suatu
reaksi alergi (penggabungan antigen-antibo dy,
lihat di bawah), kecelakaan dengan cedera
serius dan sinar UV dari matahari. Selain itu,
dikenal pula zat-zat kimia dengan daya kerja
membebaskan histamin (‘histamine liberators’)
seperti racun ular dan tawon, enzim prote-
olitik dan obat-obat tertentu (morfin dan
kodein, tubokurarin, klordiazepoksida).
Fungsi dan kegiatannya. Histamin meme-
gang peran utama pada proses pera dangan dan
pada sistem daya tahan. Mekanisme kerjanya
berlangsung melalui tiga jenis reseptor, ya-
itu reseptor-H1, -H2dan -H3. Reseptor-H1
secara selektif diblok oleh antihistamini-
ka(H1-blockers), reseptor-H2 oleh peng hambat
asam lambung(H2-blockers), lihat di bawah.
Reseptor-H3 memegang peranan pada regu-
lasi tonus saraf simpatikus.
Aktivitas terpenting histamin yaitu :
- kontraksi otot polos bronchi, usus dan
rahim;
- vasodilatasi semua pembuluh dengan
penurunan tekanan darah;
- memperbesar permeabilitas kapiler un-
tuk cairan dan protein, dengan akibat
udema dan pengembangan mukosa;
- hipersekresi ingus dan air mata, ludah,
dahak dan asam lambung;
- stimulasi ujung saraf dengan eritema dan
gatal-gatal.
Dalam keadaan normal, kadar histamin da-
lam darah hanya rendah, ±50 mcg/l, sehingga
tidak memicu efek. Baru bila mast
cells dirusak membrannya sebagai akibat
dari salah satu faktor itu di atas, maka
dibebaskanlah banyak histam in sehingga
efeknya menjadi nyata. sesudah melakukan
kegia tannya, kelebihan histamin diuraikan
oleh enzim histaminase yang juga terda pat
dalam jaringan.
A. REAKSI ALERGI
Alergi (Lat. = berlaku berlainan). Istilah ini,
yang juga disebut hipersensitivitas, pertama
kali (1906) dicetuskan oleh Von Pirquet yang
A. REAKSI ALERGI
Alergi (Lat. = berlaku berlainan). Istilah ini,
yang juga disebut hipersensitivitas, pertama
kali (1906) dicetuskan oleh Von Pirquet
yang menggambarkan reaktivitas khusus
dari tuan rumah (host) terhadap suatu unsur
eksogen, yang timbul pada kontak kedua kali
atau berikutnya. Reaksi hipersensitivitas ini
meliputi sejumlah peristiwa auto-imun dan
alergi serta merupakan kepekaan berbe da ter-
hadap suatu antigen eksogen atas dasar proses
imunologi. Pada hakekatnya reaksi imun
itu , walaupun bersifat “merusak“,
berfungsi melindungi organis me terhadap
zat-zat asing yang menyerang tubuh. Peris-
tiwa alergi dapat lebih diperjelas sbb.
Bila suatu protein asing (antigen) masuk
berulangkali ke dalam aliran darah seorang
yang berbakat hipersensitif, maka limfosit-B
akan membentuk antibodies dari tipe IgE
(di samping IgG dan IgM, lihat di bawah).
IgE ini, yang juga disebut reagin, mengikat
diri pada membran mast-cells tanpa menim-
bulkan geja la.
Apabila kemudian antigen (alergen) yang
sama atau yang mirip rumus bangunnya
memasuki darah lagi, maka IgE akan menge-
nali dan mengi kat padanya. Hasilnya yaitu
suatu reaksi alergi akibat pecah nya mem-
bran mast-cells (degranul asi; lihat Gambar
51-2). Sejumlah zat perantara (media tor)
dilepas kan, yakni histamin bersama sero-
tonin, bradi ki nin dan asam arachido nat, yang
kemudian diubah menjadi prostaglan din
dan leukot riën). Zat-zat itu menarik makro fag
dan neutro fil (= lek osit terten tu, lihat Bab 49,
Dasar-dasar imunolo gi) ke tempat infek si
untuk memusnahkan penyerbu. Di sam ping
itu juga mengaki bat kan beberapa gejala, a.l.
broncho konstrik si, vasodila tasi dan pem-
bengkakan jaringan sebagai reaksi terhadap
masuk nya antigen. Mediator itu secara
langsung atau melalui susunan saraf otonom
memicu bermacam-macam penyakit
alergi penting, seperti asma, rhinitis aller-
gica (hay fever) dan eksim.
Syukurlah bahwa kebanyakan orang tidak
berbakat hipersen sitif sehingga reaksi alergi
demikian tidak terjadi!
Antigen
Antibiotika (beberapa) MASTCEL
Kinin-kinin SEL BASOFIL
Sel-sel imun
Histamin
H1 H2
reseptor reseptor
- Konstriksi otot licin bronchi - Sekresi zat asam dan pepsin naik
- Vasodilatasi - Vasodilatasi
- Permeabilitas kapiler naik - AMP siklik distimulasi
- Katecholamin dilepaskan - Kontraktilitas jantung naik
- GMP siklik distimulasi
- Kontraktilitas jantung naik
Pengha mba t
hi s t a mi n
H2 a nt a goni s
Ant i hi s t a mi n
Gambar 51-1: Daya kerja H1 dan H2.Ga bar 51-1: aya kerja 1 dan 2
menggambarkan reaktivitas khusus dari
tuan rumah (host) terhadap suatu unsur
eksogen, yang timbul pada kontak kedua kali
atau berikutnya. Reaksi hipersensitivitas ini
meliputi sejumlah peristiwa auto-imun dan
merupakan kepekaan berbe da terhadap suatu
antigen eksogen berdasar proses imunologi.
Pada hakikatnya reaksi imun itu , wa-
laupun bersifat „merusak“, berfungsi melin-
dungi organis me terhadap zat-zat asing yang
menyerang tubuh. Peristiwa alergi dapat
lebih diperjelas sebagai berikut.
Bila suatu protein asing (antigen) masuk
berulangkali ke dalam aliran darah seorang
yang berbakat hipersensitif, maka limfosit-B
akan membentuk antibodies dari tipe IgE (di
samping IgG dan IgM, l hat di bawah). IgE ini,
yang ju a d sebut re gin, me gikat diri p da
membran mast cells tanpa meni bulkan
geja la.
Apabila kemudi antigen(alergen) y ng
sama atau yang mirip rumus bangunnya me-
masuki darah lagi, maka IgE ak mengenali
dan mengi kat padanya. Hasilnya yaitu
uatu reaksi aler i ak bat pecah nya membran
ast cells (degranul asi; lihat Gambar51-2).
Sejumlah zat per ntara (media tor) dilep s kan,
yaitu histamin bersama serotonin, br di ki nin
dan asam arachido nat, y g kemudian diubah
menjadi prostaglan din dan leukot riën. Zat-zat
ini menarik m ro fag dan neutro fil (= lek osit
ertentu, lihat Bab 49, Dasar-dasar imunolo-
gi) ke tempat infek si untuk memusnahkan
pe y rbu. Di sam ping it juga mengaki bat-
k b berapa gejala, a.l. broncho konstrik si,
vasodila tasi dan pembengkakan jaringan
sebagai reaksi terh da masuk nya antige .
Mediator itu secara langsung at u
melalui susunan araf ot nom memicu
rbag i penyakit alergi penting, seperti
asma, rhinitis allergi ca (h y fever) dan eksim.
Syukurl h bahw kebanyakan orang tidak
berbakat hipersen sitif sehingg reaksi alergi
demikian tidak terlalu sering terjadi!
Gejala reaksi alergi tergantung pada lokasi
di mana reaksi alergen-antibodi berlangsung,
misalnya di hidung (rhinitis allergica), di kulit
Antihistamin
en ha bat
hi a n
H2 antagonis
Gambar 51-2: Mastcell dan reaksi antigen-antibodi.
Drugs for Nurses p262
(eksim, urticaria = bid uran, kaligata), mukosa
mata (conjunctivitis) atau di bronchi (seran-
gan asma). Gejala itu juga dapat timbul
bersamaan waktu di beberapa tempat, mis-
alnya pada asma, ‚demam merang‘ (hay fever,
pollino sis) dan eksim.
Anafilaksis. Dalam keadaan gawat dapat
timbul suatu reaksi anafilaktik (Yun. ana =
tanpa, phylaxis = perlindungan). Pada syok
anafilaktik, masuknya antigen pertama kali
membuat tubuh tanpa perlindungan terhadap
pemasukan antigen berikutnya. Kadar his-
tamin dapat meningkat dengan drastis,
seperti pada peristiwa kecelakaan dengan
banyak kehilangan darah atau cedera bakar
hebat.
Pada kelompok orang tertentu yang telah
disensibilisa si terhadap satu atau beberapa
jenis alergen dapat timbul suatu reaksi
anafilaktik hebat. Misalnya, alergen dalam
makanan (ka cang-kacangan, buah kiwi, ar-
bai, dan lain-lain) atau obat-obat dari kelom-
pok penisilin.
Penggolongan
Reaksi alergi dapat digolongkan berdasar
prinsip kerjanya menurut Gell & Coombs
(1968) dalam 4 tipe hipersensitivitas, yaitu
tipe I-IV.
– Tipe I, reaksi segera berda sarkan reaksi
antara alergen-antibody (IgE-dependant) de-
ngan degranulasi mast cells dan khu-
sus terjadi pada mereka yang berba-
kat genetik (keturunan). Tipe-I ini juga
disebut alergi atopik atau reaksi ana-
filaktik dan terutama berlang sung di
saluran napas (serangan pollinosis, rhini tis,
asma) dan di kulit (eksim resam = dermatitis
atopik), jarang di saluran cerna (alergi
makanan) dan di pembu luh (syok anafilak-
sis). Mulai reaksinya cepat, dalam waktu
5 sampai 20 menit sesudah kontak dengan
aler gen, maka sering kali disebut reaksi
segera. Gejalanya bertahan ±1 jam.
– Tipe II, autoimunitas (reaksi sitolitik).
Antigen yang terikat pada membran sel
bereaksi dengan IgG atau IgM dalam
darah dan memicu sel musnah
(cytos = sel, lysis = melarut). Reaksi ini
terutama berlangsung di sirkulasi darah.
Contohnya yaitu ganggu an auto-imun
akibat obat, seperti anemia hemolitik
(akibat penisi lin), agranulositosis (akibat
sulfonamida), arthritis rheumatica, SLE
(systemic lupus erythematodes), akibat hi-
dralazin atau prokaina mida. Reaksi auto-
imun jenis ini umumnya sembuh dalam
waktu beberapa bulan sesudah peng-
gunaan obat dihen ti kan.
Timbulnya penyakit autoimun ada-
lah bila sistem imun tidak “menge-
nali” jaringan tubuh sendiri dan me-
nyerangnya. Gangguan ini bercirikan
ada nya auto-antibodies atau sel-
sel-T autoreaktif dan lazimnya dibagi
dalam dua kelompok:
– auto-imunitas organ-spesifik (me-
nyangkut organ tunggal), mis. anemia
pernicious, Addison’s disease, lih. Bab 46,
ACTH dan Kortikosteroida.
– auto-imunitas non-organ spesifik (me-
nyangkut berbagai organ), mis. SLE, MS
dan rema.
– Tipe III, gangguan imun-kompleks (re-
aksi Arthus). Pada peristiwa ini antigen
dalam sirkul asi bergabung dengan teru-
tama IgG menjadi suatu imun-kompleks,
yang diendapkan pada endotel pembuluh.
Sebagai respons timbul peradangan, yang
disebut penyakit serum yang bercirikan
urticaria, demam serta nyeri otot dan se-
ndi. Reaksinya dimulai 4-6 jam sesudah
„terkena“ (exposure) dan lamanya 6-12
hari. Obat-obat yang dapat menginduksi
reaksi ini yaitu sulfonami da, penisilin
dan iodida. Imun-kompleks dapat terjadi
di jaringan yang memicu reaksi
lokal (Arthus) atau dalam sirkulasi
(gangguan sistemik).
– Tipe IV (reaksi lambat,‘delayed’). Anti-
gen terdiri dari suatu kompleks hapten +
protein, yang bereaksi dengan T-limfosit
yang sudah disensitasi. Limfokin tertentu
(= sitokin dari limfosit) dibebaskan, lalu
menarik makrofag dan neutrofil, se-
hingga timbul reaksi peradangan. Proses
penarikan itu disebut chemotaxis. Mulai
reaksinya sesudah 24-48 jam dan bertahan
beberapa hari. Contohnya yaitu reaksi
tuberku lin dan dermatitis kontak.
Bentuk alergi tipe I s/d III berkaitan
dengan imunoglobu lin dan imunitas humoral
(Lat. humor = cairan tubuh), artinya ada
hubungan dengan plasma. Hanya tipe IV
berdasar imunitas seluler(limfosit-T).
Alergi atas dasar IgE
Diagnosis untuk alergi atopik dilakukan
melalui tes kulit (intrakutan) dengan ekstrak
alergen inhalasi. Reaksi dini ditentukan
sesudah 15-20 menit dan reaksi lambat
sesudah 6-10 jam. Tes kulit ini dilengkapi
dengan penentu an laborato rium mengenai
antibodies IgE dalam darah. Gangguan alergi
atopik yang terpenting yaitu asma, rhinitis,
eksim resam dan alergi makanan.
a. Alergi makanan
Jenis alergi ini disebabkan oleh protein
yang ada dalam makanan dan berlang-
sung melalui IgE dan pelepasan media tor.
Alergen makanan terkenal yaitu ikan, udang,
kerang, daging babi, putih telur, susu
sapi, keju/mentega (diaries), juga gluten,
suatu protein dari jenis gandum. Selain itu
termasuk pula additiva, seperti zat penga-
wet (asam benzo at, asam sorbat, nipagin),
zat warna(tartrazin kuning), zat rasa dan zat
penyedap(monosodiumgluta mat/MSG, Vetsin).
Gejalanya dapat berupa serangan asma,
urticaria dan keluhan lambung-usus (mual,
muntah, kejang perut, diare). Bila penye-
babnya dikeluarkan dari makanan, gejala
akan hilang dalam waktu 1-2 hari. Alergi
makanan dapat terjadi bersamaan waktu
dengan intoleransi untuk makanan. Kedua-
nya dapat dideteksi dengan jalan mengelu-
arkan jenis pangan yang dicurigai dari diet
atau menambah nambahkan nya lagi padanya.
* Intoleransi makanan yaitu bentuk aler-
gi berda sarkan pembebasan mediator lang-
sung dari mastcells, jadi tanpa peranta raan
reaksi alergen-antibodi. Oleh sebab itu di-
sebut juga pseudo-alergi(pseudo = imitasi,
mirip). Contohnya yaitu makanan dengan
kandungan amin vasoaktif, yang dapat
memicu seran gan mi grain, misalnya histamin-
liberators (tomat, arbai, bayem), fenile ti lamin
(cokelat) dan tiramin (keju Prancis masak,
anggur merah). Intoleransi untuk obat-obat
juga dapat terjadi, a.l. untuk asetosal dan zat-
zat kontras-iod.
b. Eksim atopik (= derma titis atopik)
Alergen hanya memicu reaksi IgE
signyifikan pada individu yang berdasar
keturunan terdisposisi, keadaan ini disebut
atopik. Salah satu penyakit atopik yaitu
eksim atopik yang juga disebut eksim
endogen, yang timbul pada 10-15% anak-
anak atopik. Gangguan ini terutama timbul
pada tahun-tahun pertama sejak kelahir-
an, yang umumnya akan membaik dengan
meningkatnya usia. Eksim ini dapat diper-
hebat oleh alergi terhadap bahan makanan,
sering kali putih telur, susu sapi dan kacang
tanah.
Gejalanya berupa bercak kemerah-merah-
an tanpa batasan tajam, benjolan dan gelem-
bung kecil yang menggerisik dan gatal-ga-
tal. Lokasi eksim lazimnya di muka, juga di
bagian dalam siku dan lutut, pergelangan
tangan dan tengkuk. Kerapkali ada hubung-
an dengan asma, pollinosis dan rhinitis.
Lazimnya bentuk eksim ini hilang pada usia
5-7 tahun namun pada usia pubertas dapat
muncul kembali dalam bentuk asma, rhinitis
atau alergi makanan.
Pengobatannya dapat dimulai dengan salep/
krem yang mengandung ter (pix lithantracis,
liquor carbonis detergens) yang berkhasiat
a.l. antiradang dan antigatal. Bila efeknya
tidak memuas kan, maka dapat dipakai
krem kortikosteroida (hidrokortison 1-2%,
triamsinolon 0,05-0,1%), lihat Bab 46, ACTH
dan Kortikosteroida.
* Eksim kontak alergik yaitu bentuk eksim
yang juga berdasar reaksi alergi lambat
(tipe IV). Zat-zat tertentu mampu menim-
bulkan sensibilisasi kuat pada kontak inten-
sif, namun gejala hipersensitivitas baru dapat
terjadi sesudah bertahun-tahun. Biasanya
berkaitan dengan pekerjaan, perhiasan
atau benda yang dipakai . Contohnya
yaitu logam (nikel dalam gelang, an ting,
senyawa krom dalam semen), zat-zat kimia
formaldehida, p-fenilen diamin (dalam cat
rambut), zat-zat warna, obat-obat (balsem
Peru, neomi sin, kloramfenikol), minyak wangi
dan zat pengawet dalam kosmetika.
Penanganannya terdiri dari menghindari
alergen penye bab dan mengobati gejalanya
dengan krem kortikosteroida.
c. Asma
Asma atau bengek sering kali timbul pada
orang dengan resam (konstitusi) atopik
yang dalam darah dan ludahnya terjadi
peningkatan jumlah granulo sit eosinofil
(eosinofilia). Pernapasan dipersu lit oleh pe-
nyempitan bronchia akibat reaksi antigen-
IgE dan terlepasnya mediator dengan efek
vasokonstriksi. Ditambah pula den gan obs-
truksi bronchia akibat peradangan kronis, pem-
bengkakan mukosa serta banyaknya dahak
dan ke jang-kejang, turut meng akibat kan se-
sak napas. Selanjut nya lihat Bab 40, Obat-
obat Asma.
d. Demam merang(hay fever)
Rhinitis allergica yaitu radang mukosa
hidung (Yun. rhino = hidung), yang merupa-
kan ganggu an alergi (atopik) yang paling
banyak terja di. Sering kali disertai radang
selaput ikat mata (conjunctivitis).
Geja lanya a.l. selesma berat, banyak me-
ngeluarkan ingus dan air mata, bersin, hidung
mampat dan gatal-gatal di sekitar mata dan
hidung. Umumnya, gejala ini bertahan lebih
dari empat minggu dan sering kali kambuh.
Terutama diderita pada usia 5-45 tahun dan
sesudah masa ini dapat berkurang atau hilang
dengan sendi rinya.
Rhinitis merupakan suatu reaksi tipe I, di
mana IgE yang spesifik bagi alergen tertentu
memegang peranan. Sistem imun membuat
antibodies khas itu dengan maksud
„memerangi“ alergen dan memusnahkannya,
juga memicu suatu reaksi peradan gan.
Lagi pula akibat chemotaxis, jumlah granulosit
eosinofil setempat (sejenis lekosit, lihat Bab
49, Dasar-dasar Imunologi) meningkat dan
membentuk zat-zat yang diperkirakan meng-
akibatkan hiperreakti vi tas.
* Rhinitis hiperreaktif (non-alergik) yaitu
suatu bentuk rhinitis yang disebabkan oleh
kepe kaan berle bihan, pada mana terja di reaksi
yang abnormal hebat nya. Dengan penger-
tian hiperreak tivitas dimaksud terjadi nya
gejala akibat rangsan gan tak-spesifik (asap
rokok, bau, uap, udara dingin dan lain-lain),
yang pada orang sehat tidak memicu
reaksi. Istilah ini khusus diguna kan untuk
as ma/bron chitis kronis untuk melukiskan hi-
persensitivitas saluran napas terhadap rang-
sangan demikian. Efeknya yaitu gejala di
hidung, mata dan bronchia (batuk, sesak)
seperti itu di atas.
pemicu
Rhini tis dapat diakibatkan oleh reaksi aler-
gi terha dap tepung sari (pollen), tungau debu
rumah, spora jamur, serpihan kulit hewan atau
bahan makanan. Dalam semua kasus ini pro-
tein sebagai salah satu zat kandungannya
selalu merupakan alergen yang sebenar nya.
* Pollen yaitu sel-sel perbanyakan jantan
dari rumput dan pohon, yang penyerbukan-
nya dilakukan oleh angin. Di negara dingin
dengan empat musim, pollen mempunyai
peranan penting pada terjadinya rhinitis.
Khususnya di musim semi dan musim panas,
banyak sari bunga ada di udara. Di
Indone sia alergi pollen (pollinosis) berperan
lebih ringan.
Bila pollen diinhalasi bersama udara, maka
dengan perantaraan makrofag dan limfosit T
(helper cells,) sel-sel limfo-B membentuk IgE
khas. IgE ini terutama mengikat diri pada
reseptor di membran mast cells dan juga
pada makrofag, eosinofil dan basofil yang
disensitasi. Pollen yang kemudian memasu-
ki darah lagi ‚ditangkap‘ oleh IgE itu
pada mast cells, yang disertai pelepasan
mediator. Juga alergen yang terikat pada
sel-sel tersen si tasi itu mensintesis dan/
atau melepaskan mediator seperti histamin,
prostaglandin dan leukotriën. Efeknya yaitu
pollinosis, juga disebut ‚demam merang‘(hay
fever), dengan gejala rhini tis alergik itu
di atas.
* Debu rumah merupakan “cocktail” dari
beragam produk: tungau, fungi (spora) dan
bakteri, serpi han kulit, rambut orang dan
binatang piaraan, sisa serangga mati pada
pakaian, tanah dan lain-lain.
– Tungau debu rumah (Dermatophagoides
farinae) yaitu serangga transparan sebe-
sar 0,3 mm. Syarat hi dupnya yang optimal
yaitu suhu 25°C dan derajat kelembapan
relatif di atas 75%. Ditemukan praktis
pada semua benda di rumah, paling
banyak di kasur kapuk dan kasur bulu
burung, selimut serta karpet. Dalam satu
gram debu kasur ada sampai 15.000
tungau yang hidup dari serpihan kulit.
Gambar 51-3: Tungau
Tinjanya sebesar 2-10 micron bersifat aler-
gen dan memasuki saluran napas melalui
pernapasan. Lihat Gambar 51-3.
– Jamur dapat memperbanyak diri dengan
sangat cepat pada suhu dan kelembapan
tinggi. Terutama spora banyak ada
di udara dan mudah dihirup ketika ber-
napas, namun juga myceliumnya (be nang-
benang) dapat berperan sebagai alergen
dan pemicu rhinitis. Alergi untuk ja-
mur tidak sering terja di dan terutama
jenis Aspergillus dan Penicillium.
Prevensi
Tindakan umum. Pada prinsipnya sedapat
mungkin semua alergen inhalasi yang dapat
menimbul kan reaksi alergi harus dijauhi.
Untuk pollen, hal ini yaitu sesuatu yang
mustahil, namun kontak dapat dikurangi de-
ngan a.l. memakai kaca mata atau menu-
tup jendela mobil dan ruang tidur pada
malam hari. Rumah orang yang berbakat
alergis dibuat bebas alergen semaksimal
mungkin. Hal ini sukar sekali dicapai, namun
risiko penghi rupan alergen dari debu rumah
dapat diper kecil dengan men taati higiene
di seluruh rumah. Kamar tidur perlu diber-
sihkan setiap hari dengan saksama, meski-
pun debunya tidak nampak. Lantai dipel atau
disedot debunya dengan ‚vacuum cleaner‘,
sprei (dan selimut) perlu dicuci secara teratur.
Kasur sebaik nya dari polieter atau karet busa
sebagai pengganti kapuk. Hewan piaraan
hendaknya jangan masuk ke dalam rumah
dan teruta ma tidak ke ruang tidur. Ventil-
asi yang baik yaitu penting sekali untuk
menjamin udara kering di dalam rumah.
Profilaksis terhadap serangan rhinitis dapat
dilakukan dengan obat-obat yang pada reaksi
alergen-IgE mencegah degranulasi mast cells,
sehingga mediator peradangan tidak dibe-
bas kan. Tersedia natrium kromoglikat dan
nedokromil (Tilade) dalam bentuk serbuk
inhal asi (aerosol), tetes hidung dan tetes
mata. Obat-obat ini efektif pula terhadap
conjunctivitis alergis.
Hiposensibilisasi (desensitasi)
Cara ini dilakukan pada pengidap aler-
gi atopik untuk mengurangi kepekaan ter-
hadap suatu alergen dan dengan demi-
kian mengurangi parahnya keluhan. Meka-
nismenya yaitu mengurangi respons da-
ri IgE dan mengalihkannya menjadi IgG.
Untuk ini pasien disuntik subkutan dengan
larutan ekstrak alergen dalam kadar
meningkat menurut suatu pola tertentu
selama beberapa tahun. Hasil yang baik
dicapai dengan ek strak pollen, tungau debu
rumah, serpihan kulit binatang dan racun tawon.
Hiposensibilisasi memperbaiki keadaan
pasien dan meringankan reaksi kulit lambat,
juga meningkatkan antibodies khas IgG.
Pada pelaksanaan desensitasi ini tetap
harus waspada terhadap risiko reaksi ana-
filaktik, walaupun penyuntikan dimulai de-
ngan dosis alergen yang kecil sekali.
Pengobatan
Sebagai tindakan pertama perlu diusahakan
identifika si dari alergen pemicu alergi dan
menyingkirkannya. Misalnya, bulu hewan
piaraan (anjing, kucing dan sebagainya) serta
debu rumah, lihat di atas. Obat-obat yang
kemudian dapat dipakai terhadap gejala
rhinitis yaitu antihistaminika, decongestiva
dan kortikosteroida inhalasi.
*Antihistaminika-H1 (lihat di bawah) dapat
menanggulangi gejalanya secara efektif, ter-
utama bersin dan gatal-gatal pada mata.
Bila dipakai pada waktunya, obat ini
juga berkhasiat menekan produksi mediator
dalam mastcells, dengan efek meringankan
reaksi alergi lambat. Antihistaminika ge-
nerasi kedua lebih disukai sebab long-
acting dan (hampir) tidak bekerja sedatif,
yaitu astemizol, terfe nadin, cetirizin dan
loratadin.
*Decongestiva dipakai untuk membuka
saluran yang tersumbat (hidung mampat)
dengan mengurangi penumpukan mukosa
(congestio). Untuk ini banyak dipakai
adrenergika, seperti ksilometazolin dan
oksimetazolin dalam bentuk tetes hidung
atau spray, adakalanya juga secara oral. Lihat
Bab 31 A, Adrenergika dan Adrenolitika.
* Kortikosteroida dalam dosis rendah se-
ring kali dipakai sebagai spray dan
sangat efektif terhadap hiperreaktivi tas
dan semua gejala lambat. Tersedia beklo-
metason,budesoni da dan flutikason (Flixo-
tide).
B. ANTIHISTAMINIKA
Antihistaminika yaitu zat-zat yang da-
pat mengurangi atau mengha langi efek
histamin terhadap tubuh dengan memblok
reseptor histamin (penghambatan saingan).
Pada awalnya hanya dikenal satu tipe anti-
histaminikum, namun sesudah ditemukan nya
jenis reseptor khusus pada tahun 1972, yang
disebut resep tor-H2, maka secara farmakologis
reseptor histam in dapat dibagi dalam dua
tipe, yaitu reseptor-H1 dan reseptor-H2.
berdasar penemuan ini, antihistaminika
dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu anta-
gonis reseptor-H1 (singkatnya disebut H1-
blockers atau antihistaminika) dan antagonis
reseptor-H2 (H2-blockers atau zat penghambat
asam).
1. H1-blocker (antihistaminika klasik) me-
nentang histamin dengan memblok resep-
tor-H1 di otot licin dari dinding pembuluh,
bronchi dan saluran cerna, kandung kemih
dan rahim. Begitu pula melawan efek
histamin di kapiler dan ujung saraf (gatal,
flare reaction). Efeknya yaitu simtomatis,
antihistaminika tidak dapat menghindari
timbulnya reaksi alergi.
Dahulu antihistaminika dibagi secara ki-
miawi dalam 7-8 kelompok, namun kini digu-
nakan penggolongan dalam 2 kelompok atas
dasar kerjanya terhadap SSP, yaitu zat-zat
generasi ke-1 dan ke-2.
a. Antihistaminika generasi ke-1: prometa-
zin, oksomemazin, tripelennamin, (klor)
feniramin, difenhidramin, klemastin (Ta-
vegil,) siproheptadin (Periactin), azelastin
(Allergodil), sinarizin, meklozin, hidro-
ksizin, ketotifen (Zaditen) dan oksatomida
(Tinset).
Obat-obat ini berkhasiat sedatif ter-
hadap SSS dan sebagian besar memiliki
efek antikolinergik.
b. Antihistaminika generasi ke-2: aste-
mizol, terfenadin dan fexofenadin, akri-
vastin (Semprex), setirizin, loratidin,
levokabastin (Livocab) dan emedastin
(Emadin). Zat-zat ini bersifat hidrofil
dan sukar mencapai CCS (cairan cere-
brospinal), maka pada dosis terapeu-
tik tidak bekerja se datif. Keuntungan
lainnya yaitu plasma-t½-nya yang le-
bih panjang, sehingga dosisnya cukup
dengan 1-2 kali sehari. Efek anti alerginya
selain berdasar khasiat antihistamin ,
juga berkat kemampuannya menghambat
sintesis mediator radang, seperti prosta-
glandin, leukotriën dan kinin. Lihat Bab
40, Obat-obat Asma, Antileukotriën.
2. H2-blocker (penghambat asam). Obat-obat
ini secara selektif menghambat sekresi asam
lambung yang meningkat akibat histamin,
melalui persaingan terhadap reseptor-H2
di lambung. Efeknya yaitu berkurangnya
hipersekresi asam klorida, juga mengurangi
vasodila tasi dan menurunkan tekanan da-
rah. Senyawa ini banyak dipakai pada
terapi tukak lam bung-usus untuk mengu-
rangi sekresi HCl dan pepsin, juga sebagai
zat pelindung tambahan pada terapi de-
ngan kortikosteroida. Lagi pula sering kali
dipakai bersama suatu perangsang moti-
litas lambung (cisaprida) pada penderita
reflux.
Pengham bat asam yang dewasa ini banyak
dipakai yaitu simetidin, ranitidin, fa-
motidin, nizati din dan roksatidin yang me-
rupakan senyawa-senyawa heterosiklik dari
histamin. Lihat selanjutnya Bab 16, Obat-obat
Lambung.
pemakaian
Lazimnya dengan “antihistaminika” selalu
dimaksud H1-blockers. Selain bersifat anti-
histamin, obat-obat ini juga memiliki ber-
bagai khasiat lain, yaitu antikolinergik,
antiemetik dan efek menekan SSP (sedatif),
sedang beberapa di antaranya memiliki
efek antiserotonin dan lokal anestetik (le-
mah).
berdasar efek-efek ini, antihistaminika
dipakai secara sistemik (oral, injeksi)
untuk mengobati gejala berbagai gangguan
alergi yang disebabkan oleh pembeba san
histamin. Di samping rhinitis, pollinosis dan
alergi makanan/obat (lihat di atas) juga sering
kali dipakai pada sejumlah gangguan
berikut:
a. Asma yang bersifat alergi, untuk me-
nanggulangi gejala bronchokonstriksi.
Walaupun kerjanya baik, namun efek
keseluruhannya hanya rendah sebab
tidak berdaya terhadap mediator lain
(leukotriën) yang juga memicu
penciutan bronchi. ada indikasi bah-
wa pemakaian dalam bentuk sediaan
inhalasi menghasilkan efek yang lebih
baik. Obat-obat ketotifen dan oksatomida
berkhasiat mencegah degranulasi dari
mastcells dan efektif untuk mencegah
serangan.
b. Sengatan serangga, khususnya tawon
dan lebah, yang mengandung a.l. histamin
dan suatu enzim yang memicu
pembebasannya dari mastcells. Untuk
memperoleh hasil yang memuaskan, obat
perlu diberikan segera dan sebaiknya
melalui injeksi. Dalam keadaan hebat
biasanya diberikan injeksi adrena lin i.m.
atau hidrokortison i.v.
c. Urticaria (kaligata, biduran). Pada umum-
nya ber man faat terhadap meningkatnya
permeabilitas kapiler dan gatal-gatal,
teruta ma zat-zat dengan kerja antisero-
tonin seperti alimemazin (Nedeltran),
azatadin dan oksatomida. Khasiat antigatal
mungkin berkaitan pula dengan efek
sedatif dan efek anestetik lokalnya.
d. Stimulasi nafsu makan. Untuk men-
stimulasi nafsu makan dan meningkatkan
berat badan, yaitu sipro heptadin (dan turu-
nannya pizotifen) dan oksato mida. Semua
zat ini berefek antiserotonin.
e. Sebagai sedativum berdasar efeknya
menekan SSP, khususnya prometazin dan
difenhidramin serta turunannya. Obat-obat
ini juga berkhasiat meredakan rangsang-
an batuk, sehingga banyak dipakai
dalam sedi aan obat batuk populer.
f. Penyakit Parkinson berdasar efek
antikolinergiknya, khusus difenhidramin
dan turunan 4-metil(orfenadrin) yang juga
berkhasiat spasmolitik.
g. Mabuk jalan (mual) dan pusing (ver-
tigo) berdasar efek antiemetik nya
yang juga berkaitan dengan khasiat
antikolinergik, terutama siklizin, meklizin
dan dimenhidrinat, sedang sinarizin
dipakai terutama pada vertigo.
h. Syok anafilaktik, di samping pemberian
adrenalin dan kortikosteroid.
Selain itu antihistaminika banyak diguna-
kan da lam sediaan kombinasi terhadap selesma
dan flu.
* Pilihan obat hendaknya secara individual,
tergan tung pada efek dan kerja sampingnya.
Kadang-kadang terjadi tachyfylaxis (berku-
rangnya res pons) dan obat harus diganti
dengan obat lain dari golongan kimiawi yang
berlainan.
Efek samping
Kebanyakan antihistaminika tidak menye-
babkan efek samping se rius bila diberikan
dalam dosis terapeutik. Yang paling sering
terjadi yaitu :
– efek sedatif-hipnotik (mengantuk) akibat
depresi SSP dan khasiat antikolinergik-
nya. Efek ini paling nyata pada prometazin
dan difenhidramin, namun agak kurang
pada d-klorfeniramin dan mebhidrolin,
walaupun sifat ini sangat bervariasi
secara individual. biasanya da-
lam beberapa minggu terjadi toleransi
terhadap efek sedatif-hipnotis ini.
Efek sedatif ini tidak dimiliki oleh
antihistaminika generasi kedua (lihat
di bawah), misalnya astemizol dan ter-
fenadin, sehingga dengan aman dapat
diberikan pada misalnya pengemudi
kendaraan bermotor. Sebaliknya, kedua
obat ini bila diminum serentak dengan
suatu obat yang menghambat perom-
bakannya dalam hati, kadar histamin
dalam plasma dapat meningkat kuat
sehingga memicu gangguan jan-
tung berbahaya (cardiac arrest, aritmia
ventrikuler). Obat-obat induktor enzim
demikian yaitu ketokonazol, antibiotika
makrolida (eritromisin) dan makanan (jus
grapefruit).
– efek sentral lainnya berupa pusing, ge-
lisah, rasa le tih, lesu dan tremor (tangan
gemetar), sedang kan dosis berlebihan da-
pat memicu konvulsi dan koma;
– gangguan saluran cerna juga sering ter-
jadi dengan gejala mual, muntah dan
diare sampai anoreksia dan sembelit. Efek
ini dapat dikurangi bila obat dimi num
sesudah makan.
– efek antikolinergik (anti muskarin) dapat
terjadi, seperti mulut kering, gangguan
akomodasi dan saluran cerna, sembe lit
dan retensi kemih. Berhubung sifatnya
ini, antihis taminika jangan diberikan pa-
da pasien glauko ma dan hipertrofi prostat.
– efek antiserotonin dapat meningkatkan
nafsu makan dan berat badan. Bila efek
ini tidak dikehendaki, maka untuk peng-
gunaan lama sebaiknya jangan diberi kan
siprohep tadin atau oksatomida;
– sensibilisasi dapat terjadi pada pem-
berian oral, namun terutama pada peng-
gunaan lokal. Obat-obat dengan efek
menstabili sasi mastcells pada dosis ting-
gi mem perlihatkan efek paradok sal, yaitu
justru menstimul asi pelepasan histamin
(histamin liberator), bahkan tanpa adanya
antigen. Efek ini mungkin dis ebabkan
oleh mekanisme merusaknya terhadap
membran sel;
– efek teratogen, mungkin pada derivat
piperazin (meklizin, siklizin, hidroksizin
dan setirizin).
* Wanita hamil dan menyusui. Hanya
sinarizin, hid roksi zin, siklizin dan meklozin,
ketoti fen, meb hid ro lin dan siproheptadin
dianggap aman bagi janin. Dari obat-obat
lainnya kurang tersedia data mengenai
keamanannya selama keha milan dan lakta si.
Terfe na din, cetirizin dan loratadin masuk ke
dalam air susu.
Penggolongan
Sesuai struktur kimianya antihistaminika
dapat dibagi dalam beberapa kelompok,
yang di antaranya memiliki rumus dasar
sebagai beri kut:
R1
R—X—C—C—N
R2
di mana X = atom O, N, atau C; R = gugus
aromatik dan/atau heterosiklik; R1 dan R2 =
gugus metil atau heterosiklik. Dapat dilihat
bahwa inti molekul terdiri atas etilamin,
yang juga ada pada molekul histamin.
Adakalanya gugus ini merupakan bagian
dari suatu struktur siklik, misalnya pada
antazolin dan klemastin.
MONOGRAFI
1. Derivat etanolamin (X=O)
Zat-zat ini memiliki khasiat antikolinergik
dan sedatif yang agak kuat.
1a. Difenhidramin: Benadryl
Di samping efek antikolinergik dan sedatif
yang kuat, antihistamin ini juga bersifat
spasmolitik, anti-emetik dan antiverti go.
dipakai sebagai obat tambahan pada
terapi penyakit Parkinson (lihat Bab 28, Obat-
obat Parkinson) dan sebagai obat antigatal
pada urticaria akibat alergi (Caladryl).
Dosis: oral 4 dd 25-50 mg, i.v. 10-50 mg.
* Orfenadrin (2-metildifenhidramin, Disipal)
memiliki khasiat antikolinergik dan sedatif
ringan, sehingga lebih disukai sebagai obat
tambahan pada pengobatan Parkinson dan
terhadap gejala ekstrapiramidal pada terapi
dengan antipsikotika. Dosis: oral 3 dd 50 mg.
* Dimenhidrinat (Dramamine) yaitu senya-
wa klorteofilinat dari difenhidramin yang khu-
sus dipakai terhadap mabuk jalan dan
muntah kehamilan. Dosis: oral 4 dd 50-100
mg, i.m. 50 mg.
* Klorfenoksamin(Systral) yaitu derivat
klor dan metil, yang kadang-kadang digu-
nakan sebagai obat tambahan pada terapi
penyakit Parkinson. Dosis: oral 2-3 dd 20-40
mg (klorida); dalam krem 1,5%.
1b.Klemastin: Tavegyl
Zat ini memiliki struktur yang mirip
klorfenoksamin, namun dengan substituen
siklik (piridil). Efek antihistaminnya sangat
kuat; mulai bekerja cepat (dalam beberapa
menit) dan bertahan lebih dari 10 jam. Me-
kanisme kerjanya yaitu a.l. mengurangi
permeabilitas kapiler dan efektif terhadap
pruritus allergica (gatal-gatal).
Dosis: oral 2 dd 1 mg a.c. (fumarat), i.m. 2
dd 2 mg.
2. Derivat Etilendiamin (X = N)
Obat-obat dari kelompok ini pada umum-
nya memiliki khasiat sedatif yang lebih
ringan.
2a. Antazolin: Antistin
Efek antihistaminnya tidak begitu kuat
namun tidak merangsang selaput lendir, se-
hingga cocok dipakai pada pengobatan
gejala alergis pada mata dan hidung (selesma)
sebagai sediaan kombinasi dengan nafazolin
(Antistin-Privine).
Dosis: oral 2-4 dd 50-100 mg (sulfat).
* Tripelennamin (Tripel), kini hanya digu-
nakan sebagai krem 2% pada gatal-gatal aki-
bat alergi terhadap sinar matahari, sengatan
serangga, dan lain-lain.
* Mepirin (piranisamin) yaitu derivat me-
toksi dari tripelennamin yang dipakai
dalam kombinasi dengan feniramin dan
fenilpropanolamin (*Triaminic drops) terhadap
hay fever.
* Klemizol yaitu derivat klor yang sekarang
hanya dipakai dalam salep/suppositoria
antiwasir (*Scheriproct, *Ultraproct).
3. Derivat Propilamin (X = C)
Obat-obat dari kelompok ini memiliki
khasiat antihis tamin kuat.
3a.Feniramin: Avil
Feniramin memiliki khasiat antihistamin
dan efek meredakan batuk yang cukup
baik, oleh sebab itu juga dipakai dalam
ramuan obat batuk.
Dosis: oral 3 dd 12,5 - 25 mg (maleat) atau 1
dd 50 mg tablet retard; i.v. 1-2 dd 50 mg; krem
1,25%.
* Klorfeniramin (klorfenamin, klorfenon) ada-
lah derivat klor dengan khasiat 10 kali lebih
kuat dan derajat toksisitas yang sama. Efek
sampingnya sedatif ringan dan sering kali
dipakai dalam obat batuk.
* Deksklorfeniramin (Polaramine) yaitu
bentuk dekstronya yang dua ka li lebih kuat
daripada bentuk-dl (rasemis)-nya.
*Triprolidin (*Actifed, *Stop-Cold) yaitu deri-
vat dengan rantai sisi pirolidin, yang kha-
siatnya agak kuat. Mulai kerjanya cepat dan
bertahan lama, sampai 24 jam (tablet retard).
Dosis: oral 1 dd 10 mg (klorida) pada malam
hari sebab efek sedatif nya.
4. Derivat Piperazin
Obat-obat dari kelompok ini tidak memiliki
inti etilamin namun inti piperazin dan pada
umumnya bersifat long-acting (lebih dari 10
jam).
4a. Siklizin: Marzine, *Migril
Mulai kerjanya cepat dan bertahan 4-6 jam.
Terutama dipakai sebagai obat antiemetik
dan pencegah mabuk jalan. Pada hewan per-
cobaan siklizin dan derivatnya meklozin
(Suprimal) bersifat teratogen. sebab sifatnya
ini, peredarannya di negara kita dilarang
sejak Januari 1963. namun pada manusia efek
teratogennya belum pernah terbukti dan di
kebanyakan negara Barat masih dipasarkan.
Meskipun demikian, obat-obat ini jangan
diberikan pada wanita hamil, terutama sela-
ma trimester pertama.
Dosis: mabuk jalan 1 jam sebelum berangkat
50 mg, bila perlu 3 kali sehari; untuk mual
dan muntah 3-4 dd 50 mg, anak-anak 6-13
tahun 3 dd 25 mg.
* Homoklorsiklizin (Homoclomin) yaitu
derivat klor, pada mana cincin piperazin
diganti dengan cincin 7-diazepin. Bersifat
anti-serotonin dan dipakai pada pruritus
allergica (gatal-gatal). Dosis: oral 1-3 dd 10 mg.
4b. Sinarizin:Stugeron
Derivat cinnamyl dari siklizin ini di sam-
ping sifat antihistaminnya juga berkhasi-
at vasodilatasi perifer. Sifat ini berkaitan
dengan efek relaksasinya terhadap arteriole
perifer (betis, kaki-tangan) dan otak, sebab
penghambatan masuknya ion kalsium ke
dalam sel-sel otot polos. Lihat selanjutnya
Bab 34, Vasodilator, antagonis kalsium. Di
samping itu juga berkhasiat antipusing
dan antiemetik serta sering kali dipakai
sebagai obat vertigo, telinga berdengung
(tinnitus) dan pada mabuk jalan. Mulai
kerjanya agak cepat, bertahan selama 6-8 jam
dengan efek sedatif ringan.
Dosis: oral 2-3 dd 25-50 mg.
* Flunarizin (Sibelium) yaitu derivat di-
fluor dengan khasiat antihistamin lemah.
namun sebagai antagonis kalsium, sifat va-
sorelaksasinya kuat. dipakai terhadap
vertigo dan sebagai obat pencegah migrain
(lihat Bab 52, Obat-obat Migrain dan Bab 34,
Vasodila tor).
4c. Oksatomida: Tinset
Derivat siklizin ini (1982) memiliki khasiat
antihistamin, antiserotonin, anti-leukotriën
dan juga efek menstabilisasi mastcells. Ber-
dasarkan sifat-sifat ini, oksatomida diguna-
kan sebagai obat pencegah maupun pengo-
batan asma dan “hay fever”. Juga memiliki
efek stimulasi nafsu makan. Lihat juga Bab
40, Obat-obat Asma.
Dosis: oral 2 dd 30 mg p.c.; untuk asma 120
mg sehari.
4d. Hidroksizin:Iterax, Atarax
Derivat klor ini yaitu salah satu anti-
histamin perta ma (1957) dengan berbagai
jenis khasiat, a.l. seda tif dan anksiolitik,
spasmolitik, anti-emetik serta antikoli ner-
gik. Sangat efektif pada urticaria dan gatal-
gatal.
Dosis : 1-2 dd 50 mg. Sebagai anksiolitik: 1-4
dd 50 - 100 mg.
* Cetirizin (Riztec, Ryzen, Zyrtec) yaitu
metabolit aktif dari hidroksizin (1987) de-
ngan efek kuat dan panjang (t½ 8-10 jam).
Merupakan obat generasi kedua, bersifat
hidrofil, sehingga tidak bekerja sedatif, juga
tidak antikoliner gik. Menghambat migrasi
dari granu losit eosinofil, yang berperan pa-
da reaksi alergi lambat. Diguna kan pada
urticaria dan rhinitis/conjunctivi tis. Dosis: 1
dd 10 mg malam hari.
5. Derivat Fenotiazin
Senyawa trisiklik ini memiliki khasiat
antihistamin dan antikolinergik yang ti-
dak begitu kuat, namun sering kali berefek
sentral kuat dengan khasiat neuroleptik.
berdasar sifat ini, turunannya banyak
dipakai pada gangguan psikosis, lihat Bab
29. Antipsikotika. Juga sering kali dipakai
dalam obat batuk berdasar efek sedatifnya
di samping meredakan batuk.
5a. Prometazin:Phenergan
Antihistamin tertua ini (1949) dipakai
pada reaksi alergi terhadap tumbuhan dan
akibat gigitan serangga, juga sebagai anti-
emetikum terhadap mual dan mabuk jalan.
Selain itu, prometazin dipakai pada ver-
tigo dan sebagai sedativum pada batuk dan
sukar tidur, terutama untuk anak-anak.
Efek samping bersifat umum, namun ka-
dangkala dapat terjadi hipotensi, fotosen-
sibilisasi, hipothermia (suhu badan rendah)
dan efek terhadap darah (leukopenia, agranu-
lositosis). Semua senyawa fenotiazin dapat
memicu reaksi ini.
Dosis: oral 3 dd 25-50 mg dan sebaiknya
dimulai pada malam hari; i.m. 50 mg.
* Oksomemazin (Doxergan) yaitu derivat
dioksi (pada atom-S) dengan efek dan peng-
gunaan sama seperti prometazin, a.l. digu-
nakan dalam obat batuk (Toplexil). Dosis: oral
2-3 dd 10 mg.
5b. Isotipendil:Andantol
Derivat azofenotiazin ini bekerja lebih
singkat dari prometazin dengan efek sedatif
yang lebih ringan.
Dosis: oral 3-4 dd 4-8 mg; i.m./i.v. 10 mg.
6. Derivat Trisiklik lainnya
Sejumlah antihistaminika memiliki ru-
mus dasar yang terdiri atas satu cincin tu-
juh yang terikat pada dua cincin enam di
kanan dan kiri. Zat-zat ini memiliki khasiat
antiserotonin kuat dengan menstimulasi
nafsu makan. pemakaian nya terutama se-
bagai perangsang nafsu makan dan pada
urticaria, juga sebagai obat interval pada
migrain.
6a. Siproheptadin:Periactin, Pronicy
berdasar efek stimulasinya terhadap
pertumbuhan jaringan normal, dahulu obat
ini banyak dipakai untuk pa sien kurus
dengan nafsu makan buruk. Lama kerjanya
4-6 jam, efek antikoliner giknya rin gan.
Efek sampingnya umum a.l. rasa kantuk
yang biasanya lewat sesudah seminggu. Obat
ini sekarang hanya dianjurkan sebagai anti-
histam inikum.
Dosis: oral 3 dd 4 mg (klorida).
6b. Pizotifen:Lysagor, Sandomigran
Zat ini berkhasiat antihistamin dan anti-
serotonin. Di samping sebagai stimulan nafsu
makan, zat ini juga dipakai pada terapi
interval migrain, lihat Bab 52, Obat-obat Mi-
grain.
Dosis: oral semula 1 dd 0,5 mg (maleat),
berangsur-angsur dinaikkan sampai 3 dd 0,5
mg.
* Ketotifen (Zaditen) yaitu derivat keto long-
acting tanpa efek antisero tonin. berdasar
sifat menstabilisasi mast cells, obat ini digu-
nakan sebagai obat pencegah serangan asma.
Dosis: oral 2 dd 1-2 mg (fumarat).
* Loratadin(*Clarinase, Claritin) yaitu deri-
vat klor (1988) yang sebagai zat generasi
kedua pada dosis biasa tidak berefek sedatif
maupun antikoli nergik. Plasma-t½-nya lebih
panjang: 12 jam, sedang metabolit aktif-
nya 20 jam. dipakai pada rhinitis dan
conjunctivitis alergis, juga pada urticaria
kronis. Dosis: 1 dd 10 mg.
6c. Azelastin:Alergodil
yaitu obat generasi kedua (1991) yang
berkhasiat antihistamin, antileukotriën dan
antiserotonin dan juga menstabilisasi mast-
cells. Khusus dipakai pada rhinitis alergis.
Efeknya minimal 12 jam (t½ ±20 jam, dari
metabolit aktifnya 50 jam!)
Dosis: oral 1-2 dd 2 mg.
7. OBAT GENERASI KEDUA
Obat-obat generasi kedua memiliki
khasiat antihistamin tanpa efek seda tif-
hipnotik. berdasar sifat ini, layak seka-
li diberikan pada penderita alergi yang
pekerjaannya memerlukan kewaspa daan,
seperti pengemudi kendaraan bermotor dan
mereka yang bekerja dengan mesin. Tersedia
beberapa obat yaitu terfe nadin, astemi zol,
levokabastin, loratadin, azelastin dan seti rizin.
Ketiga obat terakhir sudah dibahas di atas,
yang pada hakikatnya termasuk kelom-
pok ini sebab efek sedatifnya relatif ringan
diban dingkan obat-obat lain. Berhubung efek
sampingnya terhadap jantung, walaupun
jarang terjadi namun bisa bersifat fatal, maka
terfenadin dan astemizol sudah dihentikan
peredarannya di AS dan banyak negara
Eropa.
7a. Terfenadin: Nadane, Triludan
Derivat butilamin heterosiklik ini (1982)
yaitu suatu prodrug, dengan khasiat anti-
histamin (H1) yang menyerupai klorfeni-
ramin. Tidak dapat melintasi barrier liquor
(CCS), maka tidak memiliki efek sentral
(sedatif). dipakai pada rhinitis allergica,
urticaria dan reaksi alergi lainnya.
Resorpsi dari usus baik, mulai kerjanya
sesudah 1 jam dan bertahan 12-24 jam.
Dalam hati dengan cepat dan tuntas dirom-
bak oleh sistem enzim cytochrom P450
menjadi a.l. metabolit aktifnya terfenadin kar-
boksilat dengan plasma-t½ ±17 jam. Ekskresi
berlangsung lewat tinja (60%) dan urin (40%).
Efek samping jarang terjadi dan berupa
gangguan saluran cerna, nyeri kepala dan
berkeringat. Dengan beberapa obat (eritro-
misin, klaritromisin, ketoko nazol, itrakonazol)
terjadi interaksi berbahaya dengan efek
gangguan ritme dan terhentinya jantung,
yang adakalanya fatal! Kelainan rit me ini
juga dapat timbul pada dosis terlampau
tinggi dan juga akibat grapefruit juice, yang
bersifat menghambat enzim cytochrom
P450 sehingga kadar terfenadin dalam
darah meningkat. Oleh sebab itu, pada
awal tahun 1997, DepKes AS telah menarik
dari peredaran semua sediaan terfenadin
(Allergin, Fenalan).
Dosis: oral 2 dd 60 mg; anak-anak 3-6 thn 2
dd 15 mg, 6-12 thn 2 dd 30 mg.
*Fexofenadin(Telfast) yaitu suatu metabolit
aktif dari terfenadin (1996) yang tidak perlu
diaktivasi oleh hati. Sifat dan pemakaian nya
sama. Dosis: oral 1 dd 120 mg.
7b. Astemizol: Hismanal
Senyawa fluor ini (1983) memiliki khasiat
antihistamin kuat, juga tanpa efek sentral
maupun antikolinergik. pemakaian dan
efek sampingnya sama dengan terfenadin.
Begitu pula metabolit aktifnya, terutama
desmetilastemizol, berperan bagi daya kerja-
nya. Jangka waktu kerjanya panjang sekali
dengan plasma-t½ 20 jam sampai 10 hari.
Juga dipakai terhadap hay fever. namun
efek optimalnya baru dicapai sesudah 2-3 hari,
sehingga tidak layak untuk terapi serangan
alergis akut.
Efek samping kurang lebih sama dengan
terfenadin. Pertengahan tahun 1999 astemizol
ditarik dari peredaran oleh pabriknya di
banyak negara Eropa.
Interaksi. Pada dosis di atas 10 mg seha-
ri dan pemakaian serentak dengan eri-
tromisin, ketokonazol dan itrakonazol ada
kalanya menghambat metabolisme yang
memicu gangguan ritme serius, bah-
kan terhentinya kegiatan jantung (sama
dengan terfenadin).
Dosis: 1 dd 10 mg sebelum makan; anak-
anak 6-12 tahun 1 dd 5 mg, di bawah 6 tahun
1 dd 0,2 mg/kg.
7c. Levokabastin:Livostin, Livocab
Senyawa piperidinecarbonic acid ini (1991)
berk hasiat antihistamin kuat dan praktis
tidak bekerja sentral. Hanya dipakai
topikal dalam tetes mata dan spray hi dung
(0,05%).
* Ebastin(Kestine) yaitu derivat (1995) yang
sebagai prodrug dalam hati diubah menjadi
zat aktif karebastin. Khusus dipakai pada
rhinitis alergis kronis dengan efektivitas
sama seperti astemizol 10 mg, cetirizin 10 mg,
loratadin 10 mg dan terfenadin (2 dd 60 mg).
Dosis: oral 1 dd 10-20 mg.
8. LAIN-LAIN
8a. Mebhidrolin (Interhistin, Incidal) diguna-
kan a.l. pada pruri tus dengan dosis 2-3 dd 50
mg.
8b. Dimetinden (Fenistil) juga dipakai
terhadap pruri tus dengan dosis 3 dd 1-2 mg
(maleat).
8c. Kortikosteroida(lihat Bab 46. Kortikosteroi-
da). Gluk okortikoida dapat menekan daya
tangkis seluler sehingga mengurangi reaksi
alergi. dipakai terhadap peradangan dan
mengurangi pembentukan mediator-medi-
ator. Kortikosteroida dipakai sebagai beri-
kut:
* lokal terutama
- terhadap asma dan hay fever: beklometason
(Beconase, Becotide), budesonida (Pulmi-
cort, Symbicort) dan fluticason (Flixotide,
Seretide), sebagai obat semprot hidung
atau aerosol;
- terhadap radang mata: deksametason,
fluormeto lon (FML-Neo tetes ma ta), hi-
drokortison dan prednisolon;
- terhadap dermatoses (gangguan kulit).
* sistemik (bersamaan dengan adrenalin)
pada syok anafilaktik, kejang bronchi sebab
reaksi alergi dan status asthmaticus (lihat Bab
40, Obat-obat Asma).
8d. Natrium kromoglikat:Intal, Rynacrom
Zat ini bukan suatu antihistamin, namun
disinggung di sini berkat khasiat profi-
laksisnya terhadap hay fever. Meka nisme
kerjanya melalui stabilisasi membran mast-
cells, sehingga menghambat pembebasan
histamin dan mediator lain. Khasi at men-
stabilisasi ini juga diberikan oleh keto-
tifen, suatu obat profilak sis lain terhadap
asma yang dapat diberikan per oral, lihat
Bab 41, Obat-obat Batuk. Zat ini bermanfaat
bila diberi kan sebelum terjadi granulasi
mastcells dan hanya bekerja profil aksis
terhadap reaksi alergi. sebab absorpsi dari
usus buruk, maka pada asma dipakai
dalam bentuk aerosol atau inhalasi serbuk
halus. Juga dalam tetes hidung pada rhinitis
allerg















