Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 47. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 47. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 47





 ica dan tetes/salep mata (Opticrom), 

pada radang selaput mata alergis 

(conjunctivitis).

Efek samping lemah, a.l. iritasi setempat.

Dosis: 4 dd 20 mg serbuk halus kering un-

tuk inhalasi (garam dinatrium).

* Nedokromil(Tilade) yaitu  suatu senyawa 

kuinolin (1986) dengan khasiat sama dengan 

kromoglikat. dipakai  untuk prevensi se-

rangan asma, juga yang diprovokasi oleh 

pengeluaran tenaga (‚exerti on‘). Dosis: dosis 

aerosol 4 dd 4 mg.


OBAT-OBAT MIGRAIN

Migrain (Yun. hemicrania = nyeri sebelah 

kepala; hemi = seten gah, cranium = tengkorak) 

yaitu  penyakit yang bercirikan seran gan 

nyeri hebat dari satu sisi kepala (unilate­

ral) yang datang secara berkala, disertai 

gangguan saluran cerna seperti mual dan 

muntah. Serangan dapat terjadi beberapa 

kali setahun sampai beberapa kali seminggu, 

sedang  lama serangan umumnya 1-2 jam, 

yang bisa disusul oleh sakit kepala tersebar 

selama beberapa hari. Sakit kepala kronis ini 

merupakan suatu masalah sosial-ekonomis 

besar yang memengaruhi kebahagiaan hidup 

dan memicu  kehilangan ratusan ribu 

hari kerja setahunnya.

JeNIs NyeRI kepAlA 

lAINNyA

Sindroma sakit kepala yang sejak berabad-

abad menjadi keluhan banyak orang, tidak 

semuanya sama. Di samping migrain 

yang diakibatkan oleh pembuluh darah 

yang secara bergiliran berkon traksi dan 

berelaksasi, masih dikenal dua bentuk sakit 

kepala yang agak sering terjadi. 

* Sakit kepala tegang (tension headache), yang 

paling mudah diobati dan disebabkan oleh 

otot-otot yang menegang di bagian kepala 

dan tengkuk. Kerapkali sakit kepala ini 

disebabkan oleh stres dalam berbagai bentuk, 

seperti kerja di bawah tekanan dan hubungan 

buruk di rumah atau di pekerjaan. Jenis sakit 

kepala ini dapat muncul selama masa dengan 

penuh kekhawatiran dan perasaan murung. 

Gejalanya berupa sakit terus-menerus di 

sebagian atau di seluruh kepala dan ada-

kalanya dirasakan seperti bando yang diikat 

ketat di sekitar kepala, namun  tanpa denyutan 

seperti pada migrain. Nyeri kerapkali sudah 

terasa bila kulit kepala disen tuh, yang dapat 

bertahan berbulan-bulan. 

Penanganan dapat dilakukan secara 

efektif dengan jalan masase kulit kepala 

dan latihan-latihan tertentu untuk meng-

hilangkan ketegangan otot. Bila stres meru-

pakan pemicu  terjadi nya sakit kepala, 

‘terapi wicara’ dengan petunjuk bagai-

mana menanggulangi dan menghadapi ke-

tegangan, sering kali ampuh (stress mana­

gement). Pengobatan dengan analgetika hanya 

efektif untuk sementara.

* Sakit kepala cluster (cluster headache) 

terhitung sakit kepala vaskuler pula (seperti 

migrain), yang disebabkan oleh pembuluh 

darah yang hiperreaktif (Ing. cluster = ke-

lompok). Meskipun gejalanya mirip, bahkan 

bersifat lebih parah, namun tidak termasuk 

penyakit migrain. Gejalanya berupa sakit 

sebelah kepala yang sangat hebat dan ber-

pusat di sekitar satu mata, disertai keluarnya 

air mata dan hidung mampat, juga muntah. 

Ciri khas jenis sakit kepala ini yaitu  se-

rangannya timbul dalam siklus-siklus ter- 

tentu, kadang-kadang 2-3 gelombang seha- 

rinya, terutama pada tengah malam. La-

manya serangan beberapa jam. Masa bebas 

serangan bisa sampai 1 tahun. Gangguan ini 

lebih sering diderita kaum pria (antara usia 

30-50 tahun) daripada wanita. 

Pengobatan dilakukan dengan sumatriptan 

subkutan, sedang  efek pengobatan de-

ngan ergotamin hasilnya kurang optimal 

atau tidak menentu. Untuk memutuskan 

siklus, dapat dipakai  metisergida, pizotifen 

atau antidepresivum litiumkarbonat sebagai 

profilaksis dan obat interval. 

* Diagnosis. Kadang-kadang timbul kesulitan 

untuk mengetahui jenis sakit kepala guna 

menentukan apakah penderita memerlukan 

pengobatan atau harus menjalani terapi 

“stress management”. 

Akhir-akhir ini telah dikembangkan su-

atu screening test 15 menit (Ohio Univer­

sity) untuk memperoleh informasi di mana 

letaknya nyeri, keparahan dan faktor penye-

babnya. 

Gejala-gejalanya

Fasa prodromal. Sekitar 25% penderita mi-

grain mendapat serangan sesudah  didahu-

lui oleh suatu fasa pertanda, umumnya ½ - 2 

jam sebelum nyeri kepala muncul. Fasa ini 

bercirikan tanda-tanda pertama (aura) yang 

berupa gejala neurologik, seperti fonofobia dan 

fotofobia, yaitu kepekaan berlebihan terhadap 

bunyi-bunyian yang keras, bau yang tajam, 

maupun cahaya yang tampak seperti kilat 

(teichopsia), bintik-bintik hitam atau warna-

warni (scotomata). Gejala ini disertai pera-

saan gelisah, mudah tersinggung, pusing 

dan termenung-menung. Umumnya terja- 

di gangguan lambung-usus (mual, mun-

tah), pengosongan lambung dihambat, sehi- 

ngga absorpsi obat yang diberikan diper-

lambat. Oleh sebab  itu pengobatan de-

ngan analgetika sebaiknya disertai suatu 

prokinetikum (domperidon atau cisaprida). 

Lamanya fasa ini ±½ - 1 jam lebih.

Serangan. Aura dihubungkan dengan 

ischemia (tak menerima darah) dari arteri 

otak yang menciut kuat (vasokonstrik si) 

selama kira-kira 15 menit sampai 1 jam. 

Kemudian disusul oleh vasodilatasi,udema 

dari pembuluh darah dan sakit kepala yang 

berdenyut-denyut. Penyaluran darah ke ba-

gian kepala meningkat dan denyutan arteri 

(pulsasi) diperkuat sehingga tampak jelas 

di permukaan pelipis (sebelah atau kedua 

pelipis). Gejala ini memicu  nyeri hebat, 

seolah-olah kepala mau « pecah ». Perasaan 

mual meningkat, timbul muntah dan pasien 

cenderung tiduran di tempat yang gelap. 

sesudah  beberapa jam, serangan migrain 

ini berhenti, kemudian dapat timbul diare 

dan pasien cenderung banyak kencing dan 

mengantuk.

Jenis-jenis migrain

Bila ditemukan semua gejala itu  di atas, 

penyakit disebut migrain cum aura (dahulu 

disebut migrain klasik), dengan insidensi 10-

15%. Pada migrain biasa tanpa aura, serangan 

berlangsung tanpa gejala neurologik. Migrain 

biasa paling sering terjadi dengan gejala sakit 

kepala yang timbul-hilang, perasaan mual 

serta malaise. 

* Insidensi. Migrain terhitung penyakit ketu-

runan dan banyak orang menderita gangguan 

ini; wanita dua sampai tiga kali lebih sering 

terserang migrain daripada pria, terutama 

menjelang haid atau saat menopause. Freku-

ensi dan intensitas serangan kadang-kadang 

meningkat saat pemakaian  pil antihamil, 

selama hamil dan ketika timbul hipertensi. 

Di atas usia 55 tahun, insidensinya lebih 

rendah dan terus menurun. Serangan mi-

grain biasanya  tidak lebih dari 6 

kali sebulan, namun  bila lebih sering dapat 

disebabkan oleh sebab-sebab lain, misalnya 

sakit kepala tegang (tension headache) atau 

sakit kepala yang dicetuskan oleh obat-obat 

(medicamenteus, misalnya oleh ergotamin 

dan analgetika).

patogenesis

pemicu  migrain belum diketahui dengan 

pasti, walaupun dikenal beberapa teori, lihat 

di bawah. Hanya jarang sekali diakibatkan 

oleh suatu penyakit organik, seperti tumor 

otak atau cedera kepala. Namun sudah 

dipastikan bahwa migrain yaitu  suatu 

gangguan sirkulasi darah, yang memicu  

vasodi latasi dan penyaluran darah berlebihan 

ke selaput otak (menin ges)dengan efek nyeri 

hebat di sebelah kepala.

Keturunan memegang peranan pada kepe-

kaan seseorang untuk migrain. Para peneliti 

di Edinburg (1997) telah menemukan suatu 

gen  yang terlibat pada kambuhnya mi grain. 

Gen yang dapat ditu runkan ini menghambat 

kemampuan sel-sel tubuh mengguna kan kal­

sium agar dapat berkomunika si satu dengan 

yang lain. namun  faktor keturunan ini tidak 

selalu menentukan. Ada juga orang-orang 

yang mempunyai predisposisi demikian, 

namun  baru mendapat serangan migrain 

bila ada faktor-faktor lain yang memicunya, 

misalnya faktor lingkungan.

Teori. Ada sejumlah teori tentang terjadinya 

migrain, yang terpenting yaitu  teori neuro­

vaskuler dan teori agregasi trombo sit.

a. Teori neurovaskuler. Pada keadaan terten-

tu, misalnya stres, terjadi hiperaktivitas saraf 

adrenergik, yang melepaskan NA dan 5-HT 

berlebihan dengan efek vasokonstriksi kuat. 

Akibatnya ialah kekurangan penyaluran da-

rah setempat di dalam otak (intracranial) dan 

timbul kekurangan oksigen. Hipoksia ini 

memicu  tahap  prodromal dan aura, juga 

mendorong sel-sel otak untuk mensekre si 

neurokinin. Zat mediator ini memicu  

vasodilatasi dari arteri extracranial, antara 

lain arteri leher. Oleh sebab  itu, penyaluran 

darah ke otak bertambah dengan terjadinya 

udema. Membran dari sel-sel dengan hipo-

ksia menjadi lebih permeabel bagi ion kalsium, 

yang kemudian menginvasi sel-sel itu de-

ngan memicu  vasospasme. Dengan 

demikian keadaan hipoksia ditunjang terus 

dan prosesnya seperti lingkaran setan (vicious 

circle) dengan serangan-serangan yang ber-

langsung terus pula. 

b. Teori agregasi trombosit. Seperti telah di-

bicarakan di Bab 31 Adrenergika dan Bab 

30 Antidepresiva, praktis semua serotonin 

dalam darah diangkut oleh trombosit. Pelat-

pelat darah ini bergumpal di bawah pe-

ngaruh induktor, seperti adrenalin (stress) 

dan tiramin (keju) pada orang yang peka. 

Pada proses agregasi ini, serotonin dilepaskan 

ke dalam darah, yang membuat trombosit 

lain lebih peka terhadap induktor itu . 

Dengan demikian pada migrain proses 

agregasi dipercepat dan juga berlangsung 

lebih cepat daripada keadaan normal. Oleh 

sebab  itu pada permulaan serangan, kadar 

serotonin (dan NA) dalam darah naik sedikit, 

namun  kemudian menurun, sedang kan dalam 

urin kadar metabolitnya (5HIAA) meningkat. 

Serotonin memicu  vasodilatasi atau 

konstriksi, tergantung dari tipe reseptor-5HT 

yang berada di pembuluh terten tu. Pada 

arteri besar serotonin berefek vasokonstriksi 

kuat, namun  pada arteriole berefek dilatasi, se-

dangkan kapiler antara arteri-vena (anastomose 

arteriovena) ditutup (konstriksi). Penurunan 

kadar serotonin memicu  efek keba-

likannya, antara lain mendilatasi arteri otak, 

juga dapat menurunkan ambang nyeri. 

Pada migrain, khususnya reseptor 5-HT1D 

dan 5-HT2 memegang peranan. Reseptor 

5-HT2A antara lain bertanggung jawab atas 

Gambar 52-1: Skema patogenesis migrain menurut teori neurovaskuler dengan 

titik-titik kerja berbagai obat pencegah.

kontraksi otot polos pembuluh, sedang  

reseptor 5HT meningkatkan nafsu makan. 

Obat­obat anti­agregasi trombosit, seperti 

asetosal dan propra nolol, ternyata efektif pa-

da penanganan jenis migrain ini.

Faktor-faktor pencetus serangan

Ada sejumlah faktor yang dapat memicu 

serangan migrain, yang untuk setiap pende-

rita harus ditentukan secara individual. 

a. Stress fisik dan mental, misalnya terlalu 

letih, sibuk atau kurang tidur, serta emosi 

berlebihan dan ketegangan, memicu anak-

ginjal melepaskan noradrenalin (NA). Yang 

terkenal yaitu  migrain yang muncul justru 

sesudah  ketegangan reda dan stres sudah 

lewat (‘weekend migraine’, “let­down headache”).

b. Diet yang mengandung amin vasoaktif, 

artinya yang dapat memicu  vaso-

konstriksi, seperti tiramin dalam keju masak 

(terutama jenis keju dari Prancis, seperti brie, 

camembert, dan sebagainya), anggur merah 

(wine) dan feniletilamin dalam cokelat pahit. 

Bahan makanan lain yang diketahui dapat 

menginduksi serangan yaitu  ikan, telur, 

susu, mentega, pisang, tomat dan berbagai 

jenis buncis, juga alkohol dalam minuman, 

mungkin sebab  meningkatkan resorpsi 

amin itu  dari saluran cerna.

c. Alergen, yaitu zat-zat yang dapat me-

nimbulkan reaksi alergi, misalnya bau-bauan 

(bensin, ter, aspal) dan wangi-wangian (par- 

fum, khususnya muskus), juga sinar matahari 

kuat (silau) dan perubahan suhu yang men-

dadak.

d. Perubahan hormonal. Sejak lama diduga 

bahwa ada hubungan antara hormon seks 

tertentu dan migrain. 

* Masa haid. Sebagian wanita menderita 

sakit kepala sewaktu haid, sebab  turunnya 

kadar estrogen dan progesteron pada akhir si-

klus, atau juga sebab  naiknya kadar-kadar 

itu. 

* Selama minum pil antihamil kadar hormon-

hormon itu  meningkat, yang juga dapat 

mencetuskan serangan.

* Gangguan ginekologi. Wanita dengan ma-

salah ginekologi mempunyai kecenderungan 

dua kali lipat untuk serangan sakit kepala 

berat kronis dibandingkan dengan wanita 

lainnya. Misalnya wanita dengan siklus haid 

yang tidak teratur, adanya kista di indung 

telur, atau sesudah  menjalani pembedahan 

hysterectomia (pengangkatan rahim). 

* Selama masa kehamilan sering kali migrain 

tidak timbul, juga sesudah  masa peralihan 

(klimacterium), yang berkaitan pula dengan 

perubahan kadar hormon dalam darah.

e. Hipoglikemia, kadar gula darah terlampau 

rendah, misalnya  sebab  puasa atau lapar 

sebab  makan terlambat.

pencegahan 

Pertama-tama penderita perlu menentukan 

faktor mana dari daftar di atas yang men-

cetuskan serangan dan menghinda rinya se-

jauh mungkin. Pencegahan itu  termasuk 

menghentikan pemakaian  pil antihamil 

atau mengganti jenisnya. Di samping ini, 

penderita harus berusa ha menjalani pola 

hidup yang tenang dan teratur. Makan dan 

tidur tepat pada waktunya, jangan melampaui 

kemampuan diri sendiri, baik fisik maupun 

psikis dan menjauhi sedapat mungkin segala 

jenis stres dan emosi berlebihan. Selain itu, 

psikoterapi (‘terapi wicara’) bermanfaat un-

tuk meningkatkan semangat penderita serta 

menghilangkan kegelisahan.

pengobatan serangan akut

a. Kombinasi antiemetikum/prokinetikum-

analgetikum. Untuk melawan dengan efek-

tif serangan akut yang ringan sampai se-

dang, pilihan pertama terdiri atas kombinasi 

dari obat antimual dan analgetik. Sedini 

mungkin, sebaik nya di fasa prodromal, 

penderita diberi domperidon (20 mg) atau 

metoklopramida (10 mg) terhadap mual 

dan meniada kan terhambatnya peris taltik 

yang biasanya menyertai serangan. Cara ini 

memperbaiki resorpsi obat antinyeri yang 

diminum ½ jam kemudian. Pilihan utama 

yaitu  parasetamol (1 g), yang bila kurang 

memberikan efek dapat diulang sesudah  4 

jam. Bilamana obat itu belum juga efektif, 

dapat diberikan asetosal atau suatu NSAID 

dengan dosis tinggi, misalnya asetosal 1200 

mg, ibuprofen 600 mg atau naproksen 1 g. 

Kofein dengan khasiat vasokonstriktif se-

ring kali ditambahkan pada parasetamol dan 

asetosal untuk memperkuat daya kerjanya. 

Indometasin dapat pula dipakai , yang di 

samping bekerja analge tik juga berkhasiat 

vasokonstriktif terhadap arteri otak cukup 

baik. 

*Suppositoria. Penderita yang sudah mual 

dan tidak dapat minum obat-obat itu , 

dapat memakai  kedua jenis obat secara 

rektal dalam bentuk suppositoria.

b. Vasokonstriktiva. Bila penanganan di atas 

tidak menghasil kan efek, barulah dipakai  

obat klasik ergotamin dan suatu triptan, 

misalnya sumatriptan. Kedua zat ini ini 

yaitu  obat migrain spesifik yang mampu 

menghentikan serangan secara lebih efektif, 

namun  efek sampingnya juga lebih banyak. 

Sebagai agonis serotonin obat ini menstimulir 

reseptor 5HT1D, yang menurut perkiraan 

memicu  konstriksi kuat arteri otak yang 

telah mendilatasi, mengurangi peradangan 

neurogen sekitarnya dan meningkatkan ambang 

nyeri di SSP. 

* Ergotamin dapat diberikan oral, namun  

sebaiknya rektal dengan dosis 1 mg, yang 

bila perlu dapat diulang maksimal 3 kali 

sehari dengan interval 30-60 menit. Sering 

kali ergotamin dikombinasi dengan kofein 

untuk meningkatkan resorpsi (oral dan rek-

tal) dan memper kuat efeknya. Keberatan 

ergotamin ialah efek sampingnya yang 

berupa sakit kepala dan mual, yang dapat 

disalahtafsirkan sebagai gejala migrain de-

ngan bahaya overdosis dan keracunan. Oleh 

sebab  itu, sebaiknya obat ini dicadang-

kan untuk kasus yang parah saja. Dihidro-

ergotamin yaitu  derivat dihidronya dengan 

khasiat sama, yang sewaktu juga dipakai  

untuk menghentikan serangan.

 

* Sumatriptan. Sama efektifnya dengan 

ergotamin untuk menanggulangi serangan 

yang belum begitu hebat (oral 100 mg). Boleh 

diulang sesudah  setiap 1 jam sampai maksi-

mal 300 mg per 24 jam. Pada serangan hebat, 

sumatriptan lebih baik diberikan subkutan 

6 mg, jika perlu sesudah  1 jam diulang satu 

kali. 

Senyawa triptan lain yang tersedia yaitu  

zolmitrip tan, naratriptan, rizat rip tan dan yang 

lebih baru almot riptan serta elet rip tan. Semua 

derivat ini bekerja lebih lama dan lebih 

sedikit efek sampingnya dibanding dengan 

sumatriptan.

Efektivitas pengobatan. Sejumlah penelitian 

menentu kan bahwa perbandingan efektivitas 

dari ergotamin dan sumatriptan yaitu  50 : 75%. 

namun  sesudah  terapi dengan sumatriptan, ba-

nyak penderita migrain kambuh lagi serang-

annya sesudah beberapa jam. Sumatriptan 

oral mulai bekerja sesudah 30 menit, secara 

intranasal dan injeksi subkutan lebih cepat 

efeknya (sesudah 10-15 menit).

c. Obat-obat tambahan. Di samping kofein 

yang memperkuat efek parasetamol, asetosal 

dan ergotamin, adakalanya juga ditambah-

kan diazepam (5 mg) terhadap perasaan 

gelisah dan takut serta merelaksasi otot-otot 

yang tegang.

Singkatnya pengobatan serangan akut yaitu  

sebagai berikut.: 

Step 1: prokinetikum + 1000 mg parasetamol 

atau 1200 mg karbasalat-Ca; Bila kurang 

bermanfaat atau sebab  efek samping:

Step 2: prokinetikum + 600 mg ibuprofen 

atau 500 mg naproksen atau 50-100 mg 

diklofenak. Bila kurang bermanfaat atau 

sebab  efek samping:

Step 3: untuk serangan berlangsung lama 

(2-3 hari): prokinetikum + 1-2 mg ergotamin 

(maks. 4 mg dan 1x seminggu) (+ kofein)


Terapi interval (terapi prevensi) pada umum-

nya baru dilakukan bila pasien mende rita lebih 

dari dua serangan sebulannya. Maksudnya ialah 

untuk mengurangi frekuensi dan intensitas/

lamanya serangan serta memperkecil risiko 

akan kelai nan otak akibat terlalu sering 

terjadi hipoksia, seperti atrofia, udema dan 

infark.

Obat-obat yang dipakai  untuk profil-

aksis ini semuanya secara langsung atau 

tak langsung berkhasiat vasodilatasi. Yang 

dipakai  yaitu  ß-blocker metoprolol dan 


proprano lol, antagonis serotonin pizotifen 

dan metisergi da, obat hipertensi kloni din dan 

antagonis-Ca flunarizin. Semua obat itu tidak 

efektif untuk menanggulangi serangan akut! 


* Propranolol dan metoprolol. ß-blocker 

tanpa sifat ISA ternyata paling efektif un-

tuk prevensi jangka panjang, lagi pula efek 

sampingnya relatif ringan. Obat-obat ini 

mengurangi aktivitas serotonin dan NA de-

ngan menempati reseptor-ß di otak. Ternyata 

bahwa ß-bloc kers lain (antara lain dengan 

ISA) tidak efektif, sehingga diperkirakan 

bahwa kejanggalan ini disebabkan oleh 

mekanisme lain yang belum diketahui. 

* Klonidin yaitu  zat a2-adrenergik yang 

mencegah vasokonstriksi perifer dengan 

menstimulir reseptor-a2 di otak

*Antagonis-serotonin mengurangi aktivitas 

serotonin melalui persaingan reseptornya. 

–  Pizotifen yaitu  suatu antihistaminikum, 

yang dalam dosis rendah justru memperkuat 

efek serotonin dan sebab  ini mungkin 

juga merin tangi transmisi isyarat nyeri di 

otak, hingga ambang nyeri dinaikkan. 

–  Metisergida yaitu  derivat ergotamin 

yang tidak begitu dianjurkan, sebab  

dapat memicu  efek samping kuat.

* Flunarizin yaitu  antagonis kalsium se-

lektif yang berkhasiat anti-vasokonstriktif 

dengan menghambat pemasukan ion-ion 

kalsium ke dalam sel dinding pembuluh. 

Obat ini terutama dianjurkan pada penderita 

migrain dengan gangguan vena (penyakit 

Raynaud).

Singkatnya profilaksis terhadap serangan 

migrain dengan frekuensi 2 kali atau lebih 

sebulan: 100-200 mg metoprolol sehari atau 

dibagi dalam dua dosis; atau 80-160 mg 

propranolol sehari atau dibagi dalam 2 dosis; 

atau 1,5 mg pizotifen atau valproat-Na 500-

1000 mg sekali gus atau dibagi dalam 2 dosis.

sesudah  3 bulan hasilnya dimonitor dan bila 

cukup baik (50% pengurangan frekuensi), 

profilaksis dihentikan.

Catatan: propranolol memperkuat efek vaso-

konstriksi dari ergotamin.


Obat-obat prevensi lainnya. Di samping 

obat-obat khas itu  di atas sering kali juga 

dipakai  obat-obat tambahan yang ternyata 

efektif sebagai obat prevensi serangan. 

* Antidepresiva. Amitriptilin dengan efek 

anksiolitik terutama diberikan pada pasien 

dengan gejala depresi sekunder, yang umum-

nya timbul sesudah bangun tidur pada 

akhir serangan. Beberapa SSRI (fluvoksamin 

dan fluoksetin) ternyata juga efektif. Semua 

zat itu bersifat seroto ninerg kuat, artinya 

meningkatkan kadar serotonin dalam otak, 

sehingga justru kebalikan dari efek obat-

obat profilaktis lainnya. Mekanisme kerjanya 

belum dapat dijelaskan, mungkin seperti 

pizotifen berdasar  peningkatan ambang 

nyeri dengan memperkuat efek serotonin. 

Lihat juga Bab 30, Antide presiva.

* Tranquillizer: diazepam, klobazam dan oksa­

zepam. Kedua obat pertama juga bersifat 

antikonvulsif, yang menguntungkan bagi 

pasien dengan EEG abnormal selama se-

rangan (EEG = electro­encephalogram, foto otak). 

Benzodiazepin bermanfaat untuk meng- 

hilangkan faktor provokasi, seperti kete-

gangan, kegelisahan dan rasa cemas, yang 

umumnya menghebat pada hari-hari sebe-

lum serangan. 

* Asam valproat ternyata efektif sebagai 

profilaktikum dan telah diregistrasi di AS 

untuk indikasi ini. Mekanisme kerja obat 

epilep si ini tidak diketahui.

* Ekstrak Tanacetum (feverfew, moederkruid). 

Daun tanaman kompo sit Tanacetum par­

thenium ini sejak lama dipakai  dalam ilmu 

pengobatan tradisional sebagai pencegah 

migrain. Kandungan aktif utamanya yaitu  

parthenolida, suatu sesquiterpenlac ton, yang 

sebagian bekerja melalui blokade resep-

tor 5HT2A. Zat-zat kandun gan lainnya juga 

berperan meningkatkan efeknya.

Mekanisme kerja obat­obat prevensi. Untuk 


penanganan serangan diperlukan agonisme 

dari 5HT1D (ergotamin dan sumatriptan). 

Titik-titik kerja dari profilaktika kurang jelas, 

diperkirakan bahwa blokade dari reseptor 

5HT2A dan/atau 5HT2C bertanggung jawab atas 

efeknya, seperti juga pada metisergida. Selain 

itu, mekanisme lain dapat memicu  efek 

antimigrain, seperti ternyata pada beberapa 

antidepresiva (SSRIs).

Pentakaran obat prevensi hendaknya se-

rendah mungkin yang masih efektif. Pengo-

batan umumnya perlu dilanjutkan minimal 

6 bulan, kemudian dosis dengan berangsur-

angsur diturunkan untuk mencegah tim-

bulnya serangan «rebound». Adakalanya obat 

dapat dihen tikan seluruh nya, namun  lebih 

sering perlu dilanjutkan dengan dosis yang 

lebih rendah.

Efek plasebo ternyata cukup besar pada 

migrain. ‘Tablet kosong’ pada lebih dari 50% 

ternyata efektif, walaupun frekuensi serangan 

hanya berkurang lebih sedikit dibandingkan 

obat-obat interval sejati.

MONOGRAFI

1. Ergotamin: *Cafergot, *Bellapheen

Alkaloid sekale ini mirip struktur kimia- 

winya dengan LSD (lihat Bab 23, Drugs). 

Ergotamin menstimulasi maupun memblo-

kir reseptor alfa-adrenerg dan serotoninerg. 

Misalnya menstimulir reseptor 5HT1, khu-

susnya 5HT1D (tidak begitu selektif diban-

dingkan sumatriptan) dan memblokir re- 

septor-alfa (alfa-blocker) dengan efek vasodi-

latasi ringan. Sifat ini didominasi oleh khasiat 

vasokonstriksi kuat dari arteri otak dan 

perifer berdasar  daya antiserotoninnya 

(blokade-5HT1). Berkat sifat vasokonstriktif 

itu, ergotamin banyak dipakai  sebagai 

obat khas terhadap serangan migrain, yang 

hanya efektif (walaupun tidak selalu) bila 

dipakai  pada tahap  permulaan. Biasanya 

obat ini dikombina si dengan kofein dan 

obat antimual, terutama siklizin, terhadap 

muntah-muntah. Ergota min juga dipakai  

pada sakit kepala cluster. Efek oksitosiknya 

(merangsang otot rahim) lebih ringan daripada 

ergometrin.

Resorpsi dari usus tidak teratur dan sangat 

bervariasi, dengan BA hanya ±2%, maka 

sebaiknya dipakai  sebagai injeksi i.m. 

atau secara rektal (BA 1-5%) dan sublingual. 

Kofein meningkatkan resorpsi (oral, rektal) 

dan memperkuat efeknya. PP 98%, plasma-t½ 

panjang sekali, sampai 21 jam, sehingga dapat 

memicu  kumulasi. Ekskresi berupa 

metab olit, terutama lewat empedu dan tinja. 

Efek samping berupa mual, muntah dan 

sakit kepala mirip gejala migrain. Bila 

diminum lebih banyak, gejala bertahan dan 

terjadilah lingkaran setan. Akibat kumulasi 

dapat timbul efek toksik, seperti kejang otot 

kaki, kelumpuhan, vasospasme dengan jari-

jari tangan menjadi dingin, akhirnya terjadi 

gangrena (mati-jaringan). sebab  sifat-sifat 

itu, ergotamin tidak boleh diberikan pada 

pasien jantung dan hipertensi. Wanita hamil 

tidak boleh diberikan obat ini, berhu bung 

efek oksitosiknya. 

Dosis: oral/rektal 3-4 dd 1 mg, maksimal 4 mg 

per serangan dan 8 mg seminggu. Sebaiknya 

dikunyah halus sebelum ditelan untuk mem- 

permudah resorpsi atau diletakkan di ba-

wah lidah (sublin gual). Sebagai aerosol 360 

mikrogram, injeksi i.m. atau s.k. 0,25-0,5 mg, 

semuanya sebagai garam tartrat.

Sediaan kombinasi: 

* Cafergot = E. 1 mg + kofein 100 mg; 

* Bellargal Retard = E. 0,6 mg + fenobarb 20 

mg + alkal. Belladon. 0,1 mg; 

* Bellapheen = E. 0,3 mg + fenobarb 20 mg + 

alkal. Belladon 0,1 mg.

* Dihidroergotamin (Dihydergot) yaitu  de-

rivat dihidro dengan sifat-sifat yang le-

bih kurang sama. Adakalanya dipakai  

pula pada serangan migrain, namun  indikasi 

utamanya yaitu  pada tekanan darah yang 

terlalu rendah (hipotensi ortostatik) berda-

sarkan efek adrener giknya (ISA = intrinsic 

sympathomimetic activity) yang terutama tam-

pak pada vena perifer dengan efek pening-

katan tonusnya. Juga dipakai  pada nyeri 

kepala cluster. Dosis: oral permulaan 1-2 mg 

(mesilat = metanosulfat), bila perlu sesudah  30-

60 menit diulang, maksimal 3 mg.

2. Sumatriptan: Imigran, Imitrex


Derivat indolmethansulfonamida ini (1991) 

merupakan agonis serotonin selektif da-

ri reseptor 5HT1 dan khusus dari resep tor 

5HT1D. Sumatriptan sangat ampuh meng-

hentikan serangan hebat dalam waktu 0,5-2 

jam (injeksi/tablet). namun  pada 40% pasien, 

migrain kambuh lagi dalam 24-48 jam. Me- 

nurut perkiraan meka nisme kerjanya berda-

sarkan penurunan pelepasan neuropepti da pera­

dangan (substansi­P), yang berdampak peng-

hambatan reaksi radang dari selaput otak luar 

(dura mater), sehingga sakit kepala di-atasi. Di 

samping itu, terjadi vasokonstriksi di otak di mana 

ada  reseptor 5-HT1, yang meniadakan 

dilata si pemicu  sakit kepala. Sumatriptan 

tidak bekerja terhadap gejala aura, namun  

juga efektif terhadap sakit kepala “cluster”. 

pemakaian nya secara oral, subkutan atau 

spray hidung bagi pasien yang mual.

Resorpsi sesudah  pemakaian  oral cepat, 

namun  tidak lengkap, dengan BA hanya ±14% 

akibat FPE besar. Mulai kerjanya sesudah  

30 menit (s.k. 10-15 menit), kadar plasma 

mencapai maksimum sesudah  lebih kurang 

25 menit. Sumatriptan praktis tidak melintasi 

barier darah-otak. PP 14-21% dan t½ 2 jam. 

Zat ini diuraikan di dalam hati menjadi 

metabolit indol­asam asetat yang diekskresi 

melalui urin.

Efek samping berupa perasaan panas dan 

tertekan di leher dan dada, perasaan letih/

lemah. mengantuk, juga pusing-pusing dan 

flushing. Pada pemakaian  subkutan nyeri di 

tempat injeksi. Jarang sekali infark jantung.

Kontra­indikasi yaitu  gangguan jantung, 

hipertensi dan gangguan fungsi hati dan 

ginjal. Tidak dianjurkan bagi manula dan 

jangan dikombinasi dengan ergotamin sebab  

ada kemungkinan timbul kejang pembuluh. 

Kehamilan dan laktasi. Keamanan bagi janin 

dari semua zat triptan belum dipasti kan 

sebab  datanya belum lengkap. Obat-obat 

ini mencapai air susu ibu, maka sebaiknya 

jangan diguna kan selama laktasi.

Dosis: oral 1 dd 100 mg (garam suksinat), 

maksimal 300 mg dalam 24 jam. Subkutan 6 

mg, maksimal 12 mg/24 jam.

* Zolmitrip tan (Zomig), naratriptan (Nara­

mig) dan rizatriptan (Maxalt). Derivat-deri-

vat ini (1996) diserap lebih baik daripada 

sumatriptan dengan BA masing-masing 

40, 70 dan 40%. Mulai kerjanya lebih cepat, 

efeknya bertahan lebih lama dengan masa 

paruh 3, 6 dan 3 jam. Zolmitriptan dan nara-

triptan dibandingkan dengan suma trip tan 

lebih mudah melin tasi barier darah-otak. 

Obat ini kurang efektif untuk seran gan hebat, 

maka dianjurkan hanya untuk serangan 

ringan-sedang. Pentakaran ketiga obat itu 

lebih rendah, yaitu masing-masing 1-2 dd 2,5, 

2,5 dan 10 mg.

*Almotriptan (Almogran) dan eletriptan (Rel­

pax) yaitu  derivat terakhir (2000) dengan 

resorpsi baik dan BA 70 dan 50%, plasma-t1/2 

3.5 dan 4,5 jam.Dosis masing-masing 12,5 

dan 40 mg, yang bila perlu diulang sesudah  

minimal 2 jam.

3. Metisergida: Deseril

Derivat ergotamin ini (1960) yaitu  suatu 

antagonis serotonin tidak selektif melalui 

blokade dari reseptor 5HT1 dan 5HT2. sebab  

sifat ini, metisergida dipakai  sebagai obat 

pencegah migrain untuk maksimal 6 bulan. 

Resorpsi di usus kurang baik, BA 13% 

akibat FPE besar. Dalam hati zat ini dirombak 

menjadi metilergometrin yang terutama dieks-

kresi lewat urin. Plasma-t½ 1-4 jam.

Efek samping berupa gangguan saluran cerna 

yang bersi fat sementara, juga efek psikisnya 

menyerupai LSD (halusinasi, gelisah, pu-

sing), kadang-kadang rambut rontok dan 

kejang pembuluh. Pada pemakaian  lama 

dapat terjadi fibrosis bera dang parah di paru, 

ginjal dan organ-organ lainnya. Oleh sebab  

itu pemakaian  metisergida dianjurkan ha-

nya pada keadaan parah dan hanya selama 

maksimal 6 bulan berturut-turut. Pengobatan 

juga jangan dihentikan dengan mendadak 

sebab  risiko serangan “rebound”.

Dosis: oral permulaan 1 mg (maleat) p.c. 

sebelum tidur, berangsur-angsur dinaikkan 

sampai 2-3 dd 1-2 mg selama maksimal 6 

bulan.

4. Pizotifen: Mosegor, Sandomigran, Lysagor

Senyawa trisiklik ini (1968) memiliki struk- 

tur dan sifat yang mirip antihistamin si-

proheptadin (Periactin). Keduanya memiliki 

khasiat antihistamin dan antiserotonin ber-


dasarkan blokade reseptor 5HT2 di arteri 

dan saraf otak. Di samping ini, pizotifen juga 

berkhasiat antikolinergik dan sedatif lemah. 

Berkat kerja antiserotoninnya yang panjang 

(t½ = 23 jam), pizotifen banyak dipakai  

pada terapi interval mi grain. Sama dengan 

siprohepta din, adakalanya zat ini dipakai  

untuk menstimulir nafsu makan.

Efek samping yang paling sering terjadi 

yaitu  rasa letih dan mengantuk yang ber-

sifat sementara (sekitar 2 minggu), jarang 

pusing, mulut kering, mual dan obstipasi. 

Berkat efek antiserotoninnya, di samping 

efek hipoglikemik ringan, nafsu makan dan 

berat badan dapat meningkat.

Dosis: permulaan 0,5 mg sebelum tidur, 

berangsur-angsur dinaikkan dalam waktu 5 

minggu sampai 3 dd 0,5 mg, atau sekaligus 1,5 

mg sebelum tidur untuk menghindarkan rasa 

kantuk pada siang hari. Sebagai stimulans 

nafsu makan 3 dd 0,5 mg.

5. Flunarizin: Sibelium

Derivat difluor dari sinarizin ini (1982) ada-

lah antagonis-Ca selektif terhadap pembuluh 

otak dengan efek anti-vasokonstrik si, me-

lindungi sel-sel dan saraf otak terha dap 

hipoksia akibat vasospasme. Berkat sifat-

sifat ini, dianjurkan pemakaian nya pada 

terapi interval migrain. Sama efektifnya 

dengan propranolol dan pizotifen mengenai 

pengurangan frekuensi dan intensitas se-

rangan, namun  lamanya serangan kurang 

dipen garuhi. Efeknya panjang (t½ 18 jam), 

namun  baru tampak sesudah  kira­kira 3 bulan. 

Berlai nan dengan Ca-blockers lainnya, obat 

ini tidak bekerja terhadap jantung, arte-

riole dan vena perifer (lih. Bab 37, Obat 

jantung, Antagonis kalsium). Di samping itu, 

flunarizin juga dipakai  pada profilaksis 

pusing-pusing (vertigo) berkat efek sedatif-

nya terhadap organ keseimbangan, lihat 

selanjutnya Bab 34, Vasodilator.

Efek samping jarang terjadi dan berupa 

mengantuk dan gangguan saluran cerna, 

terutama selama 2 minggu pertama. Pada 

overdosis dapat terjadi gejala ekstrapiramidal 

dan depresif, terutama pada manula.

Dosis: profilaksis migrain dan vertigo: oral 

malam hari 10 mg, manula di atas 65 tahun 

5 mg. sebab  masa paruh panjang ( t½ =18 

hari!), sesudah  2 bulan dosis pemeliharaan 

sebaiknya diturunkan sampai 10 mg setiap 2 

hari. Sesudah 6 bulan dianjurkan penghentian 

medikasi dengan mempertimbangkan apa-

kah terapi masih perlu dilanjutkan.

6. Propranolol: Inderal

Obat jantung dan hipertensi ini yaitu  

salah satu ß-blocker (reseptor-ß1 dan -ß2) 

tanpa efek ISA, yang efektif sebaga i pencega h 

serangan migrain. Khasiat ini mungkin 

berda sarkan daya kerja antiserotoni n, 

anksioliti k dan antitrombotiknya, juga 

sebab  berkhasiat mencegah dilatasi arter i dan 

menghamba t lipolysis yang diinduksi oleh 

katecholamin (NA, 5HT, DA) sehingga sin-

tesis prostaglandin dikurangi. Obat-obat 

dengan khasiat kardioselektif (ß1­blockers) 

sama efektifnya, seperti metopro lol dan 

atenolol. Obat-obat ini tidak dapat dikombi-

nasi dengan ergotami n, sebab  sebagai salah 

satu efek samping ß-blocker secara tidak 

langsung (melalui ß2-blokade) juga menim-

bulkan vaso-konstriksi (kaki dan tangan 

dingin).

Dosis: oral permulaan 2-3 dd 40 mg, bila 

perlu berangsur-angsur dinaikkan sampai 

2-3 dd 80 mg. 


sebagai bahan-pangkal untuk pigmen re-

tina rodopsin, yang esensial bagi proses 

penglihatan dalam keadaan kurang cahaya. 

Vitamin C berfungsi pada sistem reduksi-

oksidasi yang memegang peranan penting 

pada banyak proses redoks, sedang  vita-

min D dalam bentuk aktifnya penting bagi 

regulasi kadar Ca dan P dalam jaringan 

tubuh.

Vitamin C ditemukan oleh peneliti Ho-

ngaria, A.von Szent-Gyorgyi (1893-1986), 

penerima hadiah Nobel di tahun 1937.

Enzim dan ko-enzim 

Enzim yaitu  protein yang bekerja sebagai 

katalisator untuk mencetuskan suatu reaksi 

kimiawi tanpa dirinya mengambil bagian 

pada reaksi itu . Daya kerja suatu enzim 

bersifat spesifik, misalnya lipase hanya ber-

daya merombak lemak, protease meme-

cahkan hanya protein dan amylase hanya 

dapat mengubah amilum (pati). 

Enzim terdiri dari kompleks suatu protein 

(apo-enzim) dan suatu zat non-protein (gugus 

prostetik), yang berfungsi sebagai ko-enzim 

(aktivator). Apo-enzim tidak bisa melakukan 

kerjanya sebelum diaktivasi oleh ko-enzim ini. 

Banyak vitamin dari kelompok-B berfungsi 

sebagai ko-enzim bagi enzim-enzim penting. 

Suatu ko-enzim metabolisme penting yaitu  

ko-enzim A, yang berfungsi mentransfer 

gugus asetil (transasetilasi) dalam siklus asam 

sitrat (siklus Krebs).

Gangguan yang berkaitan dengan kebu-

tuhan untuk vitamin dapat di bagi dalam 3 

kelompok:

1. Hipovitaminosis: kekurangan dari satu 

atau lebih vitamin;

2. Avitaminosis: persediaan dari suatu 

 

VITAMIN DAN MINERAL

A. VITAMIN

Vitamin yaitu  zat kimia organik dengan 

komposisi beraneka-ragam, yang dalam 

jumlah kecil dibutuhkan oleh tubuh 

manusia untuk memelihara metabolisme, 

pertumbuhan dan pemeliharaan normal. 

Vitamin bukan merupakan ‘bahan bakar’ 

atau bahan untuk membangun tubuh. 

Kebutuhannya berkisar dari beberapa mcg 

(mikrogram), misalnya vitamin B12, sampai 

ratusan mg (vitamin C dan E). Tubuh ma-

nusia memiliki persediaan tertentu, yang 

tergantung dari jenisnya yaitu  cukup 

untuk kebutuhan beberapa minggu sampai 

beberapa tahun.

Istilah ‘vitamin’ diberikan atas dasar 

perkiraan semula bahwa semua zat ini 

memiliki struktur amin (Lat. vita = kehi-

dupan), namun  ternyata hanya tepat bagi 

beberapa zat saja, antara lain tiamin (vitamin 

B1). Kebanyakan vitamin atau zat pelopornya 

yang disebut provitamin, diperoleh dari 

bahan makanan dan hanya beberapa saja 

dapat disintesis sendiri dalam usus oleh 

tubuh, yaitu vitamin B2, B5, K2 serta biotin. 

Vitamin A dan D3 juga dapat disintesis dalam 

tubuh dengan masing-masing karoten dan 

kolesterol sebagai bahan pangkalnya.

Fungsinya sangat bervariasi. Banyak 

vitamin secara biologis tidak aktif, namun  

membutuhkan pengubahan kimia dalam 

tubuh, misalnya proses fosforilasi (vitamin 

B1, B2, B3 dan B6). Vitamin B2 dan B3 perlu 

penggabungan pada nukleotida purin atau 

piridin. Banyak vitamin berfungsi sebagai 

ko-enzim bagi enzim tertentu, misalnya 

vitamin dari kelompok B bekerja sebagai ko-

enzim, yang aktif pada proses metabolisme 

dan pembentukan energi. Vitamin A bekerja 

vitamin praktis kosong (misalnya vita-

min B12 pada anemia perniciosa);

3. Hipervitaminosis: kelebihan dari sua-

tu vitamin, sering kali disebabkan over-

dosis yang memicu  gejala-gejala 

intoksikasi serius.

Hipovitaminosis. Dapat timbul akibat gene-

tik dari proses metabolisme vitamin. Sering 

kali sebabnya yaitu  ketidakmampuan 

ko-enzim dari vitamin yang bersangkutan 

(walaupun tersedia dalam jumlah cukup) 

untuk mengikat diri pada apo-enzim dengan 

efek yang sama seperti tidak tersedianya 

vitamin itu . Contohnya yaitu  antara 

lain penyakit rachitis akibat resistensi vita-

min D.

Hipervitaminosis. Jarang sekali disebabkan 

asupan makanan, namun  kebanyakan akibat 

pemakaian  suplemen (multi)vitamin yang 

tidak rasional.

Defisiensi. Sejak dahulu dikenal gangguan 

akibat defisiensi vitamin yang memicu  

gejala khas, seperti buta malam (vitamin A), 

beri-beri (vitamin B1), radang lidah dan bibir 

(cheilosis, vitamin B2), pelagra (vitamin B6), 

skorbut (vitamin C) dan penyakit Inggris 

rachitis (vitamin D). Dalam semua kasus di 

atas, pemberian vitamin bersangkutan dalam 

dosis yang 5-10 kali lipat dari kebutuhan 

normal berkhasiat menghilangkan gejala 

defisiensi secara cepat dan efektif.

Defisiensi vitamin D terutama dapat timbul 

pada bayi dan balita. Sediaan kombinasi 

A/D diberikan untuk menghindari penya-

kit rachitis bila juga ada kemungkinan ke-

kurangan vitamin A. namun  perlu diingat 

bahwa bayi sehat tidak memerlukan tambah-

an vitamin A. Di samping ini harus juga 

diwaspadai bahaya intoksikasi dari vitamin 

A bila diperlukan dosis tinggi pada terapi 

rachitis dengan kombinasi A/D.

Vitamin B-kompleks dapat dberikan pada 

keadaan resorpsi buruk (misalnya sebab  

gangguan serius pada usus halus) atau 

diet yang tidak sempurna sehingga timbul 

defisiensi dari vitamin kelompok B. namun  

dianjurkan bahwa kombinasi demikian tidak 

mengandung vitamin B12 (tidak bermanfaat 

pada dosis rendah yang lazim dalam sediaan 

demikian) atau asam folat (cave: anemia 

megaloblaster yang tidak terdeteksi).

Kebutuhan akan berbagai vitamin tergan-

tung dari usia, kelamin dan susunan ma-

kanan sehari-hari. Misalnya, bila diet kaya 

protein, maka kebutuhan akan riboflavin 

dan piridoksin, yang berperan sebagai ko-

enzim dalam metabolisme asam amino, 

ternyata meningkat. Pada diet dengan banyak 

karbohidrat dibutuhkan lebih banyak vitamin 

yang berperan pada metabolisme gula, 

seperti aneurin dan niasinamida (vitamin B3). 

Lihat tabel di bawah ini untuk kebutuhan 

vitamin sehari-hari. 

RDA (Recommended Daily 

Allowance) 

Banyak negara memiliki panitia ilmiahnya 

yang secara periodik meneliti kebutuhan 

gizi (nutrient) sehari-hari dari penduduknya. 

Misalnya di AS ada Food & Nutrition Board 

yang memberikan rekomendasi mengenai 

jumlah kebutuhan sehari-hari (RDA) yang 

mutlak untuk memelihara kesehatan dan 

sebagai dasar penyusunan pola konsumsi 

makanan. RDA dipublikasikan pertama kali 

dalam tahun 1941, yang kemudian secara 

periodik direvisi setiap 5 sampai 10 tahun. 

Rekomendasi mencakup kebutuhan akan 

unsur gizi yang penting, termasuk fat-soluble 

vitamins, water-soluble vitamins dan mineral 

bagi bayi, anak-anak, pria, wanita serta 

wanita hamil dan yang menyusui. 

Diet referensi. RDA didasarkan atas diet 

referensi bagi kelompok penduduk itu , 

di mana untuk setiap komponen ditetapkan 

jumlah yang sebaiknya dimakan setiap 

hari. Untuk susunannya lihat Bab 54, Dasar-

dasar diet sehat. Menurut pendapat ini bi-

la seseorang mengonsumsi diet itu  

dalam jumlah yang ditetapkan, maka ia 

akan menerima semua (mikro)nutrien yang 

diperlukan untuk memelihara kesehatannya, 

khususnya untuk prevensi gangguan akibat 

defisiensi vitamin. Artinya, menerima cukup 


zat-zat gizi utama berupa karbohidrat, pro-

tein, lemak, vitamin, mineral, elemen spura 

dan enzim. Oleh sebab  itu para ahli gizi 

menganggap bahwa pada hakikatnya suplesi 

nutrien sama sekali tidak diperlukan.

• RDA baru di AS. Awal tahun 1999 Dewan 

Nutrisi USA telah mempertimbangkan kem-

bali RDA bagi semua mikronutrien. Untuk 

pertama kali rekomendasi juga memberikan 

perhatian pada asupan optimal dari zat-zat 

gizi itu  untuk meminimalkan risiko 

penyakit kronis, seperti kanker dan PJP. 

Dalam dua laporan pertama (dari seluruhnya 

tujuh laporan) RDA untuk antara lain kalsium 

dan asam folat sudah dinaikkan sampai 

masing-masing 1000 mg (sebelumnya: 700-

900 mg) dan 400 mcg (sebelumnya: 200-300 

mcg). Sangat mencolok yaitu  nasihat bagi 

orang di atas usia 50 tahun untuk mensuplesi 

vitamin B12 ekstra, sebab  pemakaian nya 

pada 10-30% dari lansia itu  ternyata 

tidak memadai (Food & Nutrition Board 

USA, 1998). 

pemakaian 

Dari sudut pandang medis regular, peng-

gunaan vitamin tambahan hanya dibenarkan 

pada keadaan kekurangan, bila kebutuh-

annya meningkat atau selama minum obat-

obat tertentu. Beberapa keadaan itu  

yaitu  sebagai berikut.

a. Pada defisiensi akibat kelainan metabolisme 

bawaan yang sangat jarang ada . Juga 

pada malabsorpsi, antara lain pada pecandu 

alkohol (vitamin B-kompleks), anoreksia (asam 

folat), diet ketat untuk melangsingkan tubuh 

(multivitamin), juga bagi lansia (multivit) dan 

bayi “botol”.Sindrom malabsorpsi bisa terjadi 

pada penyakit usus kronis, seperti gastritis 

(vitamin B12), penyakit hati dan pankreas, 

Tabel 53-1: RDA dan dosis alternatif dari vitamin dan mineral

diare lemak, sariawan, begitu pula pada 

hipertirosis dan anemia perniciosa.

b. Lansia. Pada orang di atas usia 60 tahun, 

semua proses faali dalam tubuh mulai mundur 

dan berlangsung lebih lambat. Sel-sel sistem 

imun bekerja kurang efisien dan kurang 

mampu lagi mereparasi kerusakan. Jaringan 

hilang kelenturannya akibat cross-linking 

non-enzimatik dari glukosa dengan protein. 

Misalnya, paru-paru dan otot jantung lebih 

sukar bekerjanya, pembuluh darah berangsur 

bertambah kaku dan urat mengeras. Fungsi 

kognitif dari otak (konsentrasi, ingatan, 

kreativitas, daya belajar) kerapkali mulai 

berkurang akibat proses menua dari sel otak 

dan kemunduran transmisi impuls antar sel-

sel saraf. Akibat perubahan dalam mukosa 

dan jonjot usus (villi) resorpsi vitamin dan 

elemen dari makanan ke dalam darah sering 

kali berkurang dan tidak optimal lagi. Dengan 

demikian dapat  terjadi defisiensi mikronu-

trien penting. sebab  sukar menentukan 

zat-zat mana yang pada seseorang yaitu  

defisien, maka lansia dianjurkan untuk 

minum tablet multivitamin (yang juga berisi 

mineral) secara teratur. Untuk memelihara 

fungsi otak terutama diperlukan vitamin 

dari kelompok B-kompleks, beberapa 

di antaranya meru-pakan prekursor dari 

neurotransmitter di otak.

Walaupun biasanya  tidak ada 

bukti jelas terhadap indikasi yang rasional 

untuk pemakaian  multivitamin sebagai 

profilaksis, namun  yaitu  kebiasaan untuk 

meresepkan kombinasi-kombinasi tertentu, 

misalnya vitamin A/D dan vitamin B-kom-

pleks.

c. Bila kebutuhannya meningkat, seperti 

sebelum dan selama kehamilan (asam folat, 

multivitamin), selama menyusui, pada anak-

anak sampai 6 tahun yang sedang tumbuh 

(vitamin A, D) dan bayi sampai 3 bulan 

(vitamin K, yang belum dibentuk oleh kuman 

usus dan kurang tersedia dalam air susu ibu). 

Begitu pula pada vegetarir (vitamin B12, yang 

hanya ada  dalam produk hewani), orang 

yang mengikuti diet melangsingkan tubuh 

(multivitamin), perokok dan olahragawan 

berat (vitamin B-kompleks, vitamin A, C 

dan E akibat stres oksidatif berhubung 

pemakaian  O2 lebih tinggi). Akhirnya juga 

sesudah pembedahan, radiasi X-ray dan pada 

berbagai keadaan stres lain (vitamin A, C, E). 

d. Pasien kronis dan pengguna obat. Dewasa 

ini diketahui bahwa berbagai penyakit kronis, 

seperti diabetes, COPD dan Parkinson disertai 

stres oksidatif berlebihan. Kelebihan radikal 

bebas dapat merusak jaringan dan sebab  

itu memperburuk progresnya penyakit. 

Pemberian vitamin yang optimal, khususnya 

yang bersifat antioksidans (vitamin A, 

C dan E) menurunkan risiko komplikasi 

dan memburuknya penyakit. Obat-obat 

tertentu yang dipakai  menahun dapat 

mengganggu resorpsi, sintesis, penimbunan 

atau ekskresi vitamin tertentu. Yang terkenal 

yaitu  zat-zat antagonis-piridoksin (INH, 

hidralazin dan penisilamin) serta tetrasiklin 

yang menghambat flora usus, sehingga 

sintesis vitamin B2, B5, biotin dan vitamin K3 

terhenti. Obat-obat lainnya yaitu  laksansia, 

antikonvulsiva, kemoterapeutika, analgetika, 

sedativa dan diuretika. Di samping itu 

banyak obat mengurangi nafsu makan atau 

memicu  mual, nyeri lambung, diare 

atau obstipasi, yang berakibat berkurangnya 

pemasukan vitamin dengan makanan. 

* Preventif. Telah ditemukan semakin 

banyak indikasi bahwa berbagai vitamin 

dan mineral dengan sifat antioksidan 

(vitamin A, C, E, magnesium, seng dan 

selen) dalam pangan berfungsi melindungi 

terhadap PJP dan kanker. Penelitian populasi 

telah menunjukkan, bahwa orang yang 

mengonsumsi banyak vitamin melalui 

makanannya memiliki risiko lebih kecil 

untuk mengidap kanker. Risiko akan 

infark jantung dikurangi oleh vitamin E, 

magnesium, begitu pula asam folat11 tunggal 

atau terkombinasi dengan vitamin B6 dan 

B12, sebab  menurunkan kadar homosistein 

yang meningkat (lihat juga Bab 37, Obat-obat 

Jantung, Faktor risiko). Suatu studi besar-

besaran (Select study) telah dilangsungkan 

untuk memastikan efek melindungi dari 

selenium dan vitamin E terhadap kanker 

prostat. Asam folat diperkirakan menu-

runkan risiko akan kanker usus dan bekerja 

preventif terhadap PJP, selain khasiatnya 

dapat menghindari spina bifida pada bayi. 

Asam lemak omega, juga disebut vitamin 

F (dari Fatty acid) juga bekerja preventif 

terhadap PJP; suatu penelitian dari 20 tahun 

menyatakan bahwa pria yang makan ikan 

berlemak dua kali seminggu mengurangi 

risiko infark jantung dengan 50% diban-

dingkan pria yang jarang mengonsumsi 

ikan. Menurut studi lain, hal ini juga berlaku 

bagi wanita. Di samping itu juga ditentukan 

bahwa EPA & DHA melindungi terhadap 

penyakit-penyakit peradangan, seperti rema 

dan dermatitis, lagi pula menginaktivasi 

enzim-enzim tertentu yang memegang pe-

ranan pada berkembangnya kanker usus 

besar, lihat selanjutnya Bab 36,Antilipemika, 

EPA dan Bab 54, Dasar-dasar Diet Sehat.

Suplesi vitamin

Jumlah nutrien yang terkandung dalam di-

et referensi itu  di atas sukar sekali 

diimplementasikan dengan tuntas oleh 

sebagian besar orang sebab  berbagai se-

bab. Misalnya banyak orang tidak dapat 

“mengikuti”komposisi ideal dari diet itu  

sehingga asupan mikronutrien tertentu 

berada di bawah RDA. Bahkan, walaupun 

bisa memenuhi seluruhnya, namun kom-

ponen dietnya tidak sesuai dengan RDA 

yang ditetapkan untuk vitamin dan mineral, 

antara lain vitamin B6, iodium dan selen. 

pemicu nya ialah sebab  kandungan nu-

trien itu  dalam bahan makanan sangat 

bervariasi dan tergantung dari tanah tempat 

tumbuhnya tanaman. Bila tanah miskin akan 

elemen spura seperti selenium, molybden, 

borium dan iodium, maka tanamannya juga 

akan mengandung sedikit elemen-elemen 

penting itu .

berdasar  pertimbangan ini para ahli 

ortomolekuler (lihat boks) menyimpulkan 

bahwa selain pada keadaan yang telah 

diuraikan di atas, suplesi nutrien berguna 

sekali bagi orang yang tidak mungkin atau 

tidak mampu mengikuti diet ideal itu . 

Terutama bagi orang yang sering menderita 

gangguan kesehatan (ringan) dan selalu 

merasakan badannya kurang sehat. Bagi 

orang sehat tanpa keluhan biasanya  

suplesi nutrien bermanfaat untuk memelihara 

daya tahan dan kesehatan yang optimal.

Bahan makanan yang diperkaya. Di banyak 

negara antara lain di Belanda (sejak 1996), 

Dewan Kesehatan telah memberikan izin 

untuk menambah nambahkan  vitamin dan mineral 

pada bahan makanan. Kini sudah beredar 

produk susu, cornflakes dan minuman (soft 

drinks) yang diperkaya dengan zat-zat 

demikian sampai maksimal 100% ADH. 

Pengecualian yaitu  vitamin A, D dan asam 

folat serta mineral spura Se, Cu dan Zn 

berhubung ADH dan letak dosis toksiknya 

berdekatan. Di AS dan Kanada pembubuhan 

asam folat pada tepung roti diwajibkan sejak 

Januari 1998 12,12c. Keharusan demikian tidak 

berlaku bagi Eropa.

Dari berbagai survey ternyata bahwa 

dalam praktik sudah banyak orang di lu-

ar kelompok yang disebut di atas secara 

teratur mengonsumsi vitamin dengan dosis 

Linus C. Pauling (1901-1994)

Pemenang hadiah Nobel ganda(Kimia 

1954 dan Perdamaian 1962)

 

TERAPI ORTOMOLEKULER

Istilah ini dilontarkan pada tahun 1968 oleh ahli kimia dan pemenang hadiah Nobel ganda Dr. 

Linus Pauling (1901-1994) dan dimaksudkan sebagai penanganan penyakit melalui pemakaian  

zat-zat pangan yang tepat dalam dosis optimal (Yun. orthos = tepat, lurus, baik). Pentakaran yang 

dipakai nya yaitu  jauh lebih besar dari pada dosis yang direkomendasi (RDA). Dengan kata lain, 

makanan yang optimal menciptakan lingkungan optimal pada mana proses reparasi seluler dalam 

tubuh bisa berlangsung sebaik-baiknya.

Ahli ortomolekuler umumnya menganggap RDA yang ditetapkan oleh Dewan Nutrisi dari 

kebanyakan negara terlampau rendah untuk mempertahankan kesehatan pada jangka panjang. 

Misalnya RDA vitamin C di kebanyakan negara yaitu  60-70 mg, sedang  menurut mereka 

seharusnya 500-1.000 mg sehari. Jumlah tinggi ini dibutuhkan untuk melakukan fungsinya sebagai 

antioksidan, yaitu melindungi jaringan terhadap kerusakan oksidatif oleh radikal bebas, yang akhirnya 

dapat merugikan jaringan tubuh, antara lain membran sel dan inti DNA-nya.

Antioksidansia (AO)

Radikal bebas. Pada semua proses metabolisme tubuh, terutama reaksi dengan oksigen, terbentuk 

molekul dengan kekurangan elektron (tak berpasang, unpaired) di kulit luarnya. Radikal bebas (FR, 

Free Radicals) ini memegang peranan esensial pada misalnya regulasi tekanan darah, pencegahan 

infeksi kuman dan eliminasi zat-zat asing. Daya kerja ini berdasar  reaktivitas tinggi FR berkat 

elektron bebasnya dengan kecenderungan ‘mencuri’ elektron dari praktis semua molekul dari 

lingkungannya.

Pembentukan FR dalam tubuh pada hakikatnya yaitu  suatu hal yang normal, bahkan dibentuk 

secara kontinu sebab  dibutuhkan untuk proses tertentu, antara lain oksidasi lipida. Tanpa produksi 

FR kehidupan tidaklah mungkin. Misalnya FR berperan penting pada ketahanan terhadap jasad 

renik. FR dibentuk di dalam hati secara enzimatik dengan maksud memanfaatkan toksisitasnya 

untuk merombak obat-obat dan zat-zat asing beracun lainnya. 

Beruntung tubuh memiliki suatu sistem pelindung ampuh dari antioksidansia alamiah yang 

berfungsi mengendalikan reaksi radikal itu  agar jangan sampai merugikan organ tubuh. Bila 

pengendalian ini gagal, sebab  pembentukan FR terlalu banyak sehingga ada  kelebihan FR dan 

kekurangan relatif dari antioksidansia, dapat terjadi stres oksidatif dengan kemungkinan kerusakan 

sel dan organ. 

Antioksidansia (AO) dengan demikian merupakan perlindungan terhadap kelebihan FR, yang 

selanjutnya dapat terbentuk pula pada pembakaran tak-lengkap dari zat-zat gizi dan pada aktivasi 

berlebihan dari enzim yang menstimulasi pembentukan FR normal. Mekanisme kerjanya berdasar  

sifatnya, yaitu mudah dioksidasi(menyerahkan elektron) dan dengan demikian menetralkan sebagian 

besar FR berlebihan itu . Yang terpenting yaitu  antioksidansia vitamin A, C dan E, asam liponat 

serta enzim alamiah [glutathion-peroxydase (GPx), superoxide-dismutase (SOD) dan katalase].

Gangguan yang dihubungkan dengan FR. Bila sebab  sesuatu sebab tubuh kekurangan AO, maka 

membran sel dan inti sel dapat dicederai dengan akibat dipercepatnya proses menua dari jaringan 

serta terjadinya cacat DNA dan sel-sel tumor. Selain itu FR juga dianggap turut bertanggungjawab atas 

sejumlah gangguan lain, seperti pengeruhan lensa mata (staar, catarct) dan pengendapan oksi-LDL 

kolesterol pada dinding pembuluh (aterosklerosis). Pada penyakit Parkinson di samping kekurangan 

dopamin, juga ada  persediaan glutathion (GS) rendah di otak, yang melindungi saraf terhadap 

kerusakan oksidatif. 

FR alamiah. Contoh penting dari FR tubuh yaitu  radikal hidroksil (OH-), superoksida dan peroxyl 

(ROO-). Begitu pula oksigen singlet (O2

-), yang terdiri dari 2 atom-O tanpa elektron tak-berpasang 

(unpaired). Walaupun bukan FR sejati, O2 singlet bersifat sangat reaktif sebab  berada dalam keadaan 

energetik meningkat dan mampu “merugikan” protein, juga menginisiasi peroksidasi lipida 

berbahaya dari asam lemak tak-jenuh. Peroksidasi lipida dicurigai terlibat pada timbulnya tumor di 

prostat, mamma dan kulit. 

Lingkungan kita juga menghasilkan FR, antara lain sinar UV dari matahari, asap rokok, gas 

buangan kendaraan bermotor dan pabrik, smog dan sebagainya. Pembebanan FR (stress oksidatif) 

oleh pengotoran lingkungan (polusi) tidak selalu bisa dihindari dan sampai derajat tertentu dapat 

ditanggulangi oleh orang sehat. namun  bila pembebanan terlampau tinggi atau daya tahan tubuh 

tidak optimal, keadaan ini dapat merugikan kesehatan. 

Proses yang dapat membebaskan radikal bebas yaitu :

- pembentukan energi tubuh  - obat-obat

- pembelahan sel  - operasi dan radiasi

- oksidasi lemak/protein  - stres mental & fisik

- proses sistem imun  - merokok

- detoksifikasi di hati  - polusi, ozon

---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

a. proses menua

Radikal bebas –––––––> kerusakan –––––––> b. kanker dan penyakit lain

(jantung, pembuluh, mata,

paru, lambung dan

antioksidansia sistem imun)

Gambar 53-1: Sebab-sebab pembentukan FR dan akibatnya bagi tubuh

Antioksidansia yang banyak dipakai  sebagai food supplement yaitu  vitamin A (karoten, 

lycopen), C dan E, flavonoida (quercetin, genistein), senyawa selen (Se) dan seng (Zn), ubiquinon 

(co-enzim Q10), pycnogenol (OPC) dan asam amino mengandung belerang: asetil/sistein, metionin 

dan taurin. Zat-zat yang juga ditemukan sifat antioksidannya yaitu  asam liponat,melatonin dan 

curcumin. Di kebanyakan negara semua senyawa ini dapat dibeli bebas tanpa resep sebagai suplemen 

gizi. 

Kombinasi AO dalam dosis tepat dari beberapa antioksidansia dapat saling memperkuat efeknya 

(synergisme). Misalnya kombinasi dari vitamin E, vitamin C + glutation (GSH) + asam liponat 

merupakan suatu rentetan antioksidans (‘cascade’). Seusai penyerahan elektron pada radikal bebas, 

vitamin E yang telah teroksidasi dapat direduksi kembali oleh vitamin C. Kemudian vitamin C yang 

teroksidasi pada gilirannya direduksi kembali oleh glutation, lalu oksiglutation dikembalikan lagi 

pada keadaan aslinya oleh asam liponat. Dengan demikian ketiga antioksidansia pertama direaktivasi 

lagi (recycled) dan dapat melanjutkan fungsinya, sehingga efektivitasnya sangat ditingkatkan. 

• Vitamin A yaitu  lipofil, maka berperan penting untuk melindungi asam lemak tak-jenuh dalam 

membran sel terhadap oksidasi. Kerusakan yang terjadi pada lipid peroxidation itu dapat mencetuskan 

suatu reaksi rantai yang akhirnya dapat memusnahkan seluruh membran. 

ß-karoten juga berfungsi menetralisasi radikal bebas karsinogen, oleh sebab  itu bekerja preventif 

terhadap kanker. Begitupula karoten dalam dosis tinggi berdaya melindungi lansia terhadap infark 

jantung. 

• Vitamin C bersifat hidrofil dan melindungi membran sel dari luar, sebab  terutama bekerja dalam 

cairan di luar sel. Di sini bisa ada  FR yang lolos dari proses fagositosis oleh fagosit. Sel tangkis 

ini terutama aktif selama aktivitas sistem ketahanan tubuh meningkat. Limfo-T juga membutuhkan 

banyak vitamin C dan bila jumlahnya cukup (di atas 2,5 g sehari) menjadi sangat aktif. Di samping 

mengaktivasi fagosit vitamin C juga menstimulir produksi interferon dengan khasiat antiviral. 

Oleh sebab  itu dalam keadaan stres kontinu dan pembebanan ketahanan berlebihan, asupan vitamin 

C dalam dosis tinggi sangat bermanfaat.

• Vitamin E dalam membran sel memegang peranan khusus untuk melindungi otot terhadap 

kerusakan selama gerakan tubuh dan olahraga. Vitamin A, C dan E, bersama AO enzimatik itu  

di atas, melindungi paru-paru terhadap oksidasi dan kerusakan oleh FR. Bila efek melindungi kurang 

sempurna, dapat terjadi kerusakan pada epitel gelembung paru yang memicu  penyakit, seperti 

bronchitis dan emfisema (lihat Bab 40, COPD).

{

yang jauh melampaui RDA. Hal ini terlihat 

jelas dari sangat meningkatnya penjualan 

vitamin pada dasawarsa terakhir, tidak 

hanya secara bebas, namun  juga atas resep 

dokter dari kelompok ilmu pengobatan 

alternatif (“complementary medicine”) yang 

kini mulai diakui oleh sebagian kecil dunia 

ilmiah. Kelompok ini terutama aliran orto-

molekuler, semakin bertambah banyak pe-

nganutnya. Lihat juga Bab 14, Onkolitika, 

terapi alternatif. 

pemakaian  alternatif. Sejumlah penyakit 

sering kali diobati secara komplementer dengan 

suplesi vitamin. Antara lain selesma dan 

penciutan pembuluh di kaki (vitamin C dan 

D) namun  juga penyakit jantung dan saluran 

napas (vitamin E dan C), schizofrenia (antara 

lain vitamin B3, B6 dan C), serta kanker 

(antara lain vitamin A, C, E, selen, dan ge-

nistein). Beberapa indikasi di antaranya 

sudah diterima dunia ilmiah dan menjadi 

lazim di kalangan regular, seperti vitamin 

B-kompleks dan multivitamin (Supradyn) 

pada keadaan lemah dan letih sesudah 

pembedahan atau penyakit berat. Begitu pula 

terapi megadose untuk jenis neuralgia (nyeri 

urat saraf) dengan kombinasi vitamin B1, 

B6dan B12 (Neurobion). 

Banyak ahli ilmu kedokteran biasa 

(«regular medicine») hingga kini sangat mera-

gukan kegunaan suplesi vitamin secara 

komplementer diluar indikasi itu  di atas. 

Mereka menganggap penelitiannya masih 

kurang bersifat ilmiah. Namun dalam praktik 

tidak jarang para dokter ortomolekuler ter-

nyata melakukan terapi lebih dini daripada 

kedokteran regular. Sebagai contoh nyata 

dapat disebut pemakaian  asam folat pada 

wanita hamil muda untuk menghindari 

cacat hebat pada bayi (spina bifida, neural tube 

defect), yang sekarang sudah menjadi rutin. 

Sebenarnya asam folat sudah dianjurkan oleh 

ahli ortomolekuler sejak awal tahun 1990-an. 

Contoh lain yaitu  peristiwa free radicals 

(FR) dan pemakaian  antioksidansia untuk 

menetralkan efek merusaknya terhadap jari-

ngan. Misalnya peranan FR pada banyak 

penyakit, seperti pada timbulnya plak oksi-

LDL kolesterol dan aterosklerosis, keru- 

sakan membran dari sel-sel alveoli paru-

paru pada emfisem. Akhirnya, sejak bebe-

rapa tahun dokter ‘biasa’ juga mengan-

jurkan antioksidansia (vitamin E, selenium) 

untuk prevensi oksidasi LDL dan PJP serta 

asetilsistein pada emfisem untuk meng-

hambat progres penyakit paru-paru (COPD). 

Keamanan pemakaian  vitamin

Sudah menjadi lazim untuk menyatakan 

keamanan vitamin sebagai kelipatan dari 

ADH, meskipun antara kedua unsur tidak 

ada hubungan. Dalam tabel di bawah ini 

tertera persentase ADH global dari vitamin 

yang oleh ahli regular dianggap masih aman. 

Vitamin C dalam dosis tinggi (di atas 1 g/

hari) diperkirakan dapat memicu  

batu ginjal pada sekelompok kecil orang 

yang membentuk asam oksalat berlebihan. 

namun  hal ini belum pernah dilaporkan 

dalam kepustakaan, bahkan juga tidak pada 

pemakaian  jangka waktu lama dari 10 g (!) 

sehari pada terapi kanker.

Penggolongan

berdasar  daya larutnya dalam air atau 

lemak, vitamin biasanya dibagi dalam dua 

kelompok, yaitu zat hidrofil dan zat lipofil.

a. Vitamin larut air (hidrofil): vitamin B, C 

dan flavonoida 

Semua senyawa ini melarut dalam air. 

Vitamin B-kompleks secara resmi meliputi 

11 zat, yaitu B1, B2, B3, B5, B6, B11, B12, biotin, 

cholin, inositol dan asam para-amino-

benzoat (PABA). Dikenal pula beberapa 

vitamin A B kompl. C D E-K

- dewasa 15 X ADH 50 x ADH 30 x ADH 5 x ADH 50 x ADH

- wan.hamil 3-4 x ADH

Gambar 53-2: Kadar vitamin yang dianggap aman.


vitamin tak-resmi yang sebetulnya bukan 

vitamin dan hanya dipakai  pada terapi 

alternatif, yaitu vitamin B15 dan «vitamin B17». 

PABA pada hakikatnya juga bukan vitamin 

sejati bagi manusia, namun  merupakan faktor 

pertumbuhan bagi kuman tertentu. Fung-

sinya yaitu  sebagai precursor untuk sintesis 

asam folat. Pada dasarnya, cholin dan inositol 

tidak termasuk golongan vitamin.

*Sediaan vitamin B-kompleks dapat ber-

manfaat, sebab  kebanyakan komponen 

vitamin B biasanya ada  dalam makanan 

yang sejenis sehingga timbul defisiensi multi-

pel. Asam folat jangan diberikan langsung 

dalam sediaan demikian, sebab  mempersulit 

(masking) diagnosis anemia perniciosa, se-

dangkan terlambatnya pemberian vitamin 

B12 dapat memicu  gangguan saraf yang 

irreversibel. Asam folat dapat memperbaiki 

anemi megaloblaster, namun  tidak bermanfaat 

terhadap kerusakan saraf akibat defisiensi 

vitamin B12.

12d

Banyak jenis vitamin B alamiah ada