ica dan tetes/salep mata (Opticrom),
pada radang selaput mata alergis
(conjunctivitis).
Efek samping lemah, a.l. iritasi setempat.
Dosis: 4 dd 20 mg serbuk halus kering un-
tuk inhalasi (garam dinatrium).
* Nedokromil(Tilade) yaitu suatu senyawa
kuinolin (1986) dengan khasiat sama dengan
kromoglikat. dipakai untuk prevensi se-
rangan asma, juga yang diprovokasi oleh
pengeluaran tenaga (‚exerti on‘). Dosis: dosis
aerosol 4 dd 4 mg.
OBAT-OBAT MIGRAIN
Migrain (Yun. hemicrania = nyeri sebelah
kepala; hemi = seten gah, cranium = tengkorak)
yaitu penyakit yang bercirikan seran gan
nyeri hebat dari satu sisi kepala (unilate
ral) yang datang secara berkala, disertai
gangguan saluran cerna seperti mual dan
muntah. Serangan dapat terjadi beberapa
kali setahun sampai beberapa kali seminggu,
sedang lama serangan umumnya 1-2 jam,
yang bisa disusul oleh sakit kepala tersebar
selama beberapa hari. Sakit kepala kronis ini
merupakan suatu masalah sosial-ekonomis
besar yang memengaruhi kebahagiaan hidup
dan memicu kehilangan ratusan ribu
hari kerja setahunnya.
JeNIs NyeRI kepAlA
lAINNyA
Sindroma sakit kepala yang sejak berabad-
abad menjadi keluhan banyak orang, tidak
semuanya sama. Di samping migrain
yang diakibatkan oleh pembuluh darah
yang secara bergiliran berkon traksi dan
berelaksasi, masih dikenal dua bentuk sakit
kepala yang agak sering terjadi.
* Sakit kepala tegang (tension headache), yang
paling mudah diobati dan disebabkan oleh
otot-otot yang menegang di bagian kepala
dan tengkuk. Kerapkali sakit kepala ini
disebabkan oleh stres dalam berbagai bentuk,
seperti kerja di bawah tekanan dan hubungan
buruk di rumah atau di pekerjaan. Jenis sakit
kepala ini dapat muncul selama masa dengan
penuh kekhawatiran dan perasaan murung.
Gejalanya berupa sakit terus-menerus di
sebagian atau di seluruh kepala dan ada-
kalanya dirasakan seperti bando yang diikat
ketat di sekitar kepala, namun tanpa denyutan
seperti pada migrain. Nyeri kerapkali sudah
terasa bila kulit kepala disen tuh, yang dapat
bertahan berbulan-bulan.
Penanganan dapat dilakukan secara
efektif dengan jalan masase kulit kepala
dan latihan-latihan tertentu untuk meng-
hilangkan ketegangan otot. Bila stres meru-
pakan pemicu terjadi nya sakit kepala,
‘terapi wicara’ dengan petunjuk bagai-
mana menanggulangi dan menghadapi ke-
tegangan, sering kali ampuh (stress mana
gement). Pengobatan dengan analgetika hanya
efektif untuk sementara.
* Sakit kepala cluster (cluster headache)
terhitung sakit kepala vaskuler pula (seperti
migrain), yang disebabkan oleh pembuluh
darah yang hiperreaktif (Ing. cluster = ke-
lompok). Meskipun gejalanya mirip, bahkan
bersifat lebih parah, namun tidak termasuk
penyakit migrain. Gejalanya berupa sakit
sebelah kepala yang sangat hebat dan ber-
pusat di sekitar satu mata, disertai keluarnya
air mata dan hidung mampat, juga muntah.
Ciri khas jenis sakit kepala ini yaitu se-
rangannya timbul dalam siklus-siklus ter-
tentu, kadang-kadang 2-3 gelombang seha-
rinya, terutama pada tengah malam. La-
manya serangan beberapa jam. Masa bebas
serangan bisa sampai 1 tahun. Gangguan ini
lebih sering diderita kaum pria (antara usia
30-50 tahun) daripada wanita.
Pengobatan dilakukan dengan sumatriptan
subkutan, sedang efek pengobatan de-
ngan ergotamin hasilnya kurang optimal
atau tidak menentu. Untuk memutuskan
siklus, dapat dipakai metisergida, pizotifen
atau antidepresivum litiumkarbonat sebagai
profilaksis dan obat interval.
* Diagnosis. Kadang-kadang timbul kesulitan
untuk mengetahui jenis sakit kepala guna
menentukan apakah penderita memerlukan
pengobatan atau harus menjalani terapi
“stress management”.
Akhir-akhir ini telah dikembangkan su-
atu screening test 15 menit (Ohio Univer
sity) untuk memperoleh informasi di mana
letaknya nyeri, keparahan dan faktor penye-
babnya.
Gejala-gejalanya
Fasa prodromal. Sekitar 25% penderita mi-
grain mendapat serangan sesudah didahu-
lui oleh suatu fasa pertanda, umumnya ½ - 2
jam sebelum nyeri kepala muncul. Fasa ini
bercirikan tanda-tanda pertama (aura) yang
berupa gejala neurologik, seperti fonofobia dan
fotofobia, yaitu kepekaan berlebihan terhadap
bunyi-bunyian yang keras, bau yang tajam,
maupun cahaya yang tampak seperti kilat
(teichopsia), bintik-bintik hitam atau warna-
warni (scotomata). Gejala ini disertai pera-
saan gelisah, mudah tersinggung, pusing
dan termenung-menung. Umumnya terja-
di gangguan lambung-usus (mual, mun-
tah), pengosongan lambung dihambat, sehi-
ngga absorpsi obat yang diberikan diper-
lambat. Oleh sebab itu pengobatan de-
ngan analgetika sebaiknya disertai suatu
prokinetikum (domperidon atau cisaprida).
Lamanya fasa ini ±½ - 1 jam lebih.
Serangan. Aura dihubungkan dengan
ischemia (tak menerima darah) dari arteri
otak yang menciut kuat (vasokonstrik si)
selama kira-kira 15 menit sampai 1 jam.
Kemudian disusul oleh vasodilatasi,udema
dari pembuluh darah dan sakit kepala yang
berdenyut-denyut. Penyaluran darah ke ba-
gian kepala meningkat dan denyutan arteri
(pulsasi) diperkuat sehingga tampak jelas
di permukaan pelipis (sebelah atau kedua
pelipis). Gejala ini memicu nyeri hebat,
seolah-olah kepala mau « pecah ». Perasaan
mual meningkat, timbul muntah dan pasien
cenderung tiduran di tempat yang gelap.
sesudah beberapa jam, serangan migrain
ini berhenti, kemudian dapat timbul diare
dan pasien cenderung banyak kencing dan
mengantuk.
Jenis-jenis migrain
Bila ditemukan semua gejala itu di atas,
penyakit disebut migrain cum aura (dahulu
disebut migrain klasik), dengan insidensi 10-
15%. Pada migrain biasa tanpa aura, serangan
berlangsung tanpa gejala neurologik. Migrain
biasa paling sering terjadi dengan gejala sakit
kepala yang timbul-hilang, perasaan mual
serta malaise.
* Insidensi. Migrain terhitung penyakit ketu-
runan dan banyak orang menderita gangguan
ini; wanita dua sampai tiga kali lebih sering
terserang migrain daripada pria, terutama
menjelang haid atau saat menopause. Freku-
ensi dan intensitas serangan kadang-kadang
meningkat saat pemakaian pil antihamil,
selama hamil dan ketika timbul hipertensi.
Di atas usia 55 tahun, insidensinya lebih
rendah dan terus menurun. Serangan mi-
grain biasanya tidak lebih dari 6
kali sebulan, namun bila lebih sering dapat
disebabkan oleh sebab-sebab lain, misalnya
sakit kepala tegang (tension headache) atau
sakit kepala yang dicetuskan oleh obat-obat
(medicamenteus, misalnya oleh ergotamin
dan analgetika).
patogenesis
pemicu migrain belum diketahui dengan
pasti, walaupun dikenal beberapa teori, lihat
di bawah. Hanya jarang sekali diakibatkan
oleh suatu penyakit organik, seperti tumor
otak atau cedera kepala. Namun sudah
dipastikan bahwa migrain yaitu suatu
gangguan sirkulasi darah, yang memicu
vasodi latasi dan penyaluran darah berlebihan
ke selaput otak (menin ges)dengan efek nyeri
hebat di sebelah kepala.
Keturunan memegang peranan pada kepe-
kaan seseorang untuk migrain. Para peneliti
di Edinburg (1997) telah menemukan suatu
gen yang terlibat pada kambuhnya mi grain.
Gen yang dapat ditu runkan ini menghambat
kemampuan sel-sel tubuh mengguna kan kal
sium agar dapat berkomunika si satu dengan
yang lain. namun faktor keturunan ini tidak
selalu menentukan. Ada juga orang-orang
yang mempunyai predisposisi demikian,
namun baru mendapat serangan migrain
bila ada faktor-faktor lain yang memicunya,
misalnya faktor lingkungan.
Teori. Ada sejumlah teori tentang terjadinya
migrain, yang terpenting yaitu teori neuro
vaskuler dan teori agregasi trombo sit.
a. Teori neurovaskuler. Pada keadaan terten-
tu, misalnya stres, terjadi hiperaktivitas saraf
adrenergik, yang melepaskan NA dan 5-HT
berlebihan dengan efek vasokonstriksi kuat.
Akibatnya ialah kekurangan penyaluran da-
rah setempat di dalam otak (intracranial) dan
timbul kekurangan oksigen. Hipoksia ini
memicu tahap prodromal dan aura, juga
mendorong sel-sel otak untuk mensekre si
neurokinin. Zat mediator ini memicu
vasodilatasi dari arteri extracranial, antara
lain arteri leher. Oleh sebab itu, penyaluran
darah ke otak bertambah dengan terjadinya
udema. Membran dari sel-sel dengan hipo-
ksia menjadi lebih permeabel bagi ion kalsium,
yang kemudian menginvasi sel-sel itu de-
ngan memicu vasospasme. Dengan
demikian keadaan hipoksia ditunjang terus
dan prosesnya seperti lingkaran setan (vicious
circle) dengan serangan-serangan yang ber-
langsung terus pula.
b. Teori agregasi trombosit. Seperti telah di-
bicarakan di Bab 31 Adrenergika dan Bab
30 Antidepresiva, praktis semua serotonin
dalam darah diangkut oleh trombosit. Pelat-
pelat darah ini bergumpal di bawah pe-
ngaruh induktor, seperti adrenalin (stress)
dan tiramin (keju) pada orang yang peka.
Pada proses agregasi ini, serotonin dilepaskan
ke dalam darah, yang membuat trombosit
lain lebih peka terhadap induktor itu .
Dengan demikian pada migrain proses
agregasi dipercepat dan juga berlangsung
lebih cepat daripada keadaan normal. Oleh
sebab itu pada permulaan serangan, kadar
serotonin (dan NA) dalam darah naik sedikit,
namun kemudian menurun, sedang kan dalam
urin kadar metabolitnya (5HIAA) meningkat.
Serotonin memicu vasodilatasi atau
konstriksi, tergantung dari tipe reseptor-5HT
yang berada di pembuluh terten tu. Pada
arteri besar serotonin berefek vasokonstriksi
kuat, namun pada arteriole berefek dilatasi, se-
dangkan kapiler antara arteri-vena (anastomose
arteriovena) ditutup (konstriksi). Penurunan
kadar serotonin memicu efek keba-
likannya, antara lain mendilatasi arteri otak,
juga dapat menurunkan ambang nyeri.
Pada migrain, khususnya reseptor 5-HT1D
dan 5-HT2 memegang peranan. Reseptor
5-HT2A antara lain bertanggung jawab atas
Gambar 52-1: Skema patogenesis migrain menurut teori neurovaskuler dengan
titik-titik kerja berbagai obat pencegah.
kontraksi otot polos pembuluh, sedang
reseptor 5HT meningkatkan nafsu makan.
Obatobat antiagregasi trombosit, seperti
asetosal dan propra nolol, ternyata efektif pa-
da penanganan jenis migrain ini.
Faktor-faktor pencetus serangan
Ada sejumlah faktor yang dapat memicu
serangan migrain, yang untuk setiap pende-
rita harus ditentukan secara individual.
a. Stress fisik dan mental, misalnya terlalu
letih, sibuk atau kurang tidur, serta emosi
berlebihan dan ketegangan, memicu anak-
ginjal melepaskan noradrenalin (NA). Yang
terkenal yaitu migrain yang muncul justru
sesudah ketegangan reda dan stres sudah
lewat (‘weekend migraine’, “letdown headache”).
b. Diet yang mengandung amin vasoaktif,
artinya yang dapat memicu vaso-
konstriksi, seperti tiramin dalam keju masak
(terutama jenis keju dari Prancis, seperti brie,
camembert, dan sebagainya), anggur merah
(wine) dan feniletilamin dalam cokelat pahit.
Bahan makanan lain yang diketahui dapat
menginduksi serangan yaitu ikan, telur,
susu, mentega, pisang, tomat dan berbagai
jenis buncis, juga alkohol dalam minuman,
mungkin sebab meningkatkan resorpsi
amin itu dari saluran cerna.
c. Alergen, yaitu zat-zat yang dapat me-
nimbulkan reaksi alergi, misalnya bau-bauan
(bensin, ter, aspal) dan wangi-wangian (par-
fum, khususnya muskus), juga sinar matahari
kuat (silau) dan perubahan suhu yang men-
dadak.
d. Perubahan hormonal. Sejak lama diduga
bahwa ada hubungan antara hormon seks
tertentu dan migrain.
* Masa haid. Sebagian wanita menderita
sakit kepala sewaktu haid, sebab turunnya
kadar estrogen dan progesteron pada akhir si-
klus, atau juga sebab naiknya kadar-kadar
itu.
* Selama minum pil antihamil kadar hormon-
hormon itu meningkat, yang juga dapat
mencetuskan serangan.
* Gangguan ginekologi. Wanita dengan ma-
salah ginekologi mempunyai kecenderungan
dua kali lipat untuk serangan sakit kepala
berat kronis dibandingkan dengan wanita
lainnya. Misalnya wanita dengan siklus haid
yang tidak teratur, adanya kista di indung
telur, atau sesudah menjalani pembedahan
hysterectomia (pengangkatan rahim).
* Selama masa kehamilan sering kali migrain
tidak timbul, juga sesudah masa peralihan
(klimacterium), yang berkaitan pula dengan
perubahan kadar hormon dalam darah.
e. Hipoglikemia, kadar gula darah terlampau
rendah, misalnya sebab puasa atau lapar
sebab makan terlambat.
pencegahan
Pertama-tama penderita perlu menentukan
faktor mana dari daftar di atas yang men-
cetuskan serangan dan menghinda rinya se-
jauh mungkin. Pencegahan itu termasuk
menghentikan pemakaian pil antihamil
atau mengganti jenisnya. Di samping ini,
penderita harus berusa ha menjalani pola
hidup yang tenang dan teratur. Makan dan
tidur tepat pada waktunya, jangan melampaui
kemampuan diri sendiri, baik fisik maupun
psikis dan menjauhi sedapat mungkin segala
jenis stres dan emosi berlebihan. Selain itu,
psikoterapi (‘terapi wicara’) bermanfaat un-
tuk meningkatkan semangat penderita serta
menghilangkan kegelisahan.
pengobatan serangan akut
a. Kombinasi antiemetikum/prokinetikum-
analgetikum. Untuk melawan dengan efek-
tif serangan akut yang ringan sampai se-
dang, pilihan pertama terdiri atas kombinasi
dari obat antimual dan analgetik. Sedini
mungkin, sebaik nya di fasa prodromal,
penderita diberi domperidon (20 mg) atau
metoklopramida (10 mg) terhadap mual
dan meniada kan terhambatnya peris taltik
yang biasanya menyertai serangan. Cara ini
memperbaiki resorpsi obat antinyeri yang
diminum ½ jam kemudian. Pilihan utama
yaitu parasetamol (1 g), yang bila kurang
memberikan efek dapat diulang sesudah 4
jam. Bilamana obat itu belum juga efektif,
dapat diberikan asetosal atau suatu NSAID
dengan dosis tinggi, misalnya asetosal 1200
mg, ibuprofen 600 mg atau naproksen 1 g.
Kofein dengan khasiat vasokonstriktif se-
ring kali ditambahkan pada parasetamol dan
asetosal untuk memperkuat daya kerjanya.
Indometasin dapat pula dipakai , yang di
samping bekerja analge tik juga berkhasiat
vasokonstriktif terhadap arteri otak cukup
baik.
*Suppositoria. Penderita yang sudah mual
dan tidak dapat minum obat-obat itu ,
dapat memakai kedua jenis obat secara
rektal dalam bentuk suppositoria.
b. Vasokonstriktiva. Bila penanganan di atas
tidak menghasil kan efek, barulah dipakai
obat klasik ergotamin dan suatu triptan,
misalnya sumatriptan. Kedua zat ini ini
yaitu obat migrain spesifik yang mampu
menghentikan serangan secara lebih efektif,
namun efek sampingnya juga lebih banyak.
Sebagai agonis serotonin obat ini menstimulir
reseptor 5HT1D, yang menurut perkiraan
memicu konstriksi kuat arteri otak yang
telah mendilatasi, mengurangi peradangan
neurogen sekitarnya dan meningkatkan ambang
nyeri di SSP.
* Ergotamin dapat diberikan oral, namun
sebaiknya rektal dengan dosis 1 mg, yang
bila perlu dapat diulang maksimal 3 kali
sehari dengan interval 30-60 menit. Sering
kali ergotamin dikombinasi dengan kofein
untuk meningkatkan resorpsi (oral dan rek-
tal) dan memper kuat efeknya. Keberatan
ergotamin ialah efek sampingnya yang
berupa sakit kepala dan mual, yang dapat
disalahtafsirkan sebagai gejala migrain de-
ngan bahaya overdosis dan keracunan. Oleh
sebab itu, sebaiknya obat ini dicadang-
kan untuk kasus yang parah saja. Dihidro-
ergotamin yaitu derivat dihidronya dengan
khasiat sama, yang sewaktu juga dipakai
untuk menghentikan serangan.
* Sumatriptan. Sama efektifnya dengan
ergotamin untuk menanggulangi serangan
yang belum begitu hebat (oral 100 mg). Boleh
diulang sesudah setiap 1 jam sampai maksi-
mal 300 mg per 24 jam. Pada serangan hebat,
sumatriptan lebih baik diberikan subkutan
6 mg, jika perlu sesudah 1 jam diulang satu
kali.
Senyawa triptan lain yang tersedia yaitu
zolmitrip tan, naratriptan, rizat rip tan dan yang
lebih baru almot riptan serta elet rip tan. Semua
derivat ini bekerja lebih lama dan lebih
sedikit efek sampingnya dibanding dengan
sumatriptan.
Efektivitas pengobatan. Sejumlah penelitian
menentu kan bahwa perbandingan efektivitas
dari ergotamin dan sumatriptan yaitu 50 : 75%.
namun sesudah terapi dengan sumatriptan, ba-
nyak penderita migrain kambuh lagi serang-
annya sesudah beberapa jam. Sumatriptan
oral mulai bekerja sesudah 30 menit, secara
intranasal dan injeksi subkutan lebih cepat
efeknya (sesudah 10-15 menit).
c. Obat-obat tambahan. Di samping kofein
yang memperkuat efek parasetamol, asetosal
dan ergotamin, adakalanya juga ditambah-
kan diazepam (5 mg) terhadap perasaan
gelisah dan takut serta merelaksasi otot-otot
yang tegang.
Singkatnya pengobatan serangan akut yaitu
sebagai berikut.:
Step 1: prokinetikum + 1000 mg parasetamol
atau 1200 mg karbasalat-Ca; Bila kurang
bermanfaat atau sebab efek samping:
Step 2: prokinetikum + 600 mg ibuprofen
atau 500 mg naproksen atau 50-100 mg
diklofenak. Bila kurang bermanfaat atau
sebab efek samping:
Step 3: untuk serangan berlangsung lama
(2-3 hari): prokinetikum + 1-2 mg ergotamin
(maks. 4 mg dan 1x seminggu) (+ kofein)
Terapi interval (terapi prevensi) pada umum-
nya baru dilakukan bila pasien mende rita lebih
dari dua serangan sebulannya. Maksudnya ialah
untuk mengurangi frekuensi dan intensitas/
lamanya serangan serta memperkecil risiko
akan kelai nan otak akibat terlalu sering
terjadi hipoksia, seperti atrofia, udema dan
infark.
Obat-obat yang dipakai untuk profil-
aksis ini semuanya secara langsung atau
tak langsung berkhasiat vasodilatasi. Yang
dipakai yaitu ß-blocker metoprolol dan
proprano lol, antagonis serotonin pizotifen
dan metisergi da, obat hipertensi kloni din dan
antagonis-Ca flunarizin. Semua obat itu tidak
efektif untuk menanggulangi serangan akut!
* Propranolol dan metoprolol. ß-blocker
tanpa sifat ISA ternyata paling efektif un-
tuk prevensi jangka panjang, lagi pula efek
sampingnya relatif ringan. Obat-obat ini
mengurangi aktivitas serotonin dan NA de-
ngan menempati reseptor-ß di otak. Ternyata
bahwa ß-bloc kers lain (antara lain dengan
ISA) tidak efektif, sehingga diperkirakan
bahwa kejanggalan ini disebabkan oleh
mekanisme lain yang belum diketahui.
* Klonidin yaitu zat a2-adrenergik yang
mencegah vasokonstriksi perifer dengan
menstimulir reseptor-a2 di otak
*Antagonis-serotonin mengurangi aktivitas
serotonin melalui persaingan reseptornya.
– Pizotifen yaitu suatu antihistaminikum,
yang dalam dosis rendah justru memperkuat
efek serotonin dan sebab ini mungkin
juga merin tangi transmisi isyarat nyeri di
otak, hingga ambang nyeri dinaikkan.
– Metisergida yaitu derivat ergotamin
yang tidak begitu dianjurkan, sebab
dapat memicu efek samping kuat.
* Flunarizin yaitu antagonis kalsium se-
lektif yang berkhasiat anti-vasokonstriktif
dengan menghambat pemasukan ion-ion
kalsium ke dalam sel dinding pembuluh.
Obat ini terutama dianjurkan pada penderita
migrain dengan gangguan vena (penyakit
Raynaud).
Singkatnya profilaksis terhadap serangan
migrain dengan frekuensi 2 kali atau lebih
sebulan: 100-200 mg metoprolol sehari atau
dibagi dalam dua dosis; atau 80-160 mg
propranolol sehari atau dibagi dalam 2 dosis;
atau 1,5 mg pizotifen atau valproat-Na 500-
1000 mg sekali gus atau dibagi dalam 2 dosis.
sesudah 3 bulan hasilnya dimonitor dan bila
cukup baik (50% pengurangan frekuensi),
profilaksis dihentikan.
Catatan: propranolol memperkuat efek vaso-
konstriksi dari ergotamin.
Obat-obat prevensi lainnya. Di samping
obat-obat khas itu di atas sering kali juga
dipakai obat-obat tambahan yang ternyata
efektif sebagai obat prevensi serangan.
* Antidepresiva. Amitriptilin dengan efek
anksiolitik terutama diberikan pada pasien
dengan gejala depresi sekunder, yang umum-
nya timbul sesudah bangun tidur pada
akhir serangan. Beberapa SSRI (fluvoksamin
dan fluoksetin) ternyata juga efektif. Semua
zat itu bersifat seroto ninerg kuat, artinya
meningkatkan kadar serotonin dalam otak,
sehingga justru kebalikan dari efek obat-
obat profilaktis lainnya. Mekanisme kerjanya
belum dapat dijelaskan, mungkin seperti
pizotifen berdasar peningkatan ambang
nyeri dengan memperkuat efek serotonin.
Lihat juga Bab 30, Antide presiva.
* Tranquillizer: diazepam, klobazam dan oksa
zepam. Kedua obat pertama juga bersifat
antikonvulsif, yang menguntungkan bagi
pasien dengan EEG abnormal selama se-
rangan (EEG = electroencephalogram, foto otak).
Benzodiazepin bermanfaat untuk meng-
hilangkan faktor provokasi, seperti kete-
gangan, kegelisahan dan rasa cemas, yang
umumnya menghebat pada hari-hari sebe-
lum serangan.
* Asam valproat ternyata efektif sebagai
profilaktikum dan telah diregistrasi di AS
untuk indikasi ini. Mekanisme kerja obat
epilep si ini tidak diketahui.
* Ekstrak Tanacetum (feverfew, moederkruid).
Daun tanaman kompo sit Tanacetum par
thenium ini sejak lama dipakai dalam ilmu
pengobatan tradisional sebagai pencegah
migrain. Kandungan aktif utamanya yaitu
parthenolida, suatu sesquiterpenlac ton, yang
sebagian bekerja melalui blokade resep-
tor 5HT2A. Zat-zat kandun gan lainnya juga
berperan meningkatkan efeknya.
Mekanisme kerja obatobat prevensi. Untuk
penanganan serangan diperlukan agonisme
dari 5HT1D (ergotamin dan sumatriptan).
Titik-titik kerja dari profilaktika kurang jelas,
diperkirakan bahwa blokade dari reseptor
5HT2A dan/atau 5HT2C bertanggung jawab atas
efeknya, seperti juga pada metisergida. Selain
itu, mekanisme lain dapat memicu efek
antimigrain, seperti ternyata pada beberapa
antidepresiva (SSRIs).
Pentakaran obat prevensi hendaknya se-
rendah mungkin yang masih efektif. Pengo-
batan umumnya perlu dilanjutkan minimal
6 bulan, kemudian dosis dengan berangsur-
angsur diturunkan untuk mencegah tim-
bulnya serangan «rebound». Adakalanya obat
dapat dihen tikan seluruh nya, namun lebih
sering perlu dilanjutkan dengan dosis yang
lebih rendah.
Efek plasebo ternyata cukup besar pada
migrain. ‘Tablet kosong’ pada lebih dari 50%
ternyata efektif, walaupun frekuensi serangan
hanya berkurang lebih sedikit dibandingkan
obat-obat interval sejati.
MONOGRAFI
1. Ergotamin: *Cafergot, *Bellapheen
Alkaloid sekale ini mirip struktur kimia-
winya dengan LSD (lihat Bab 23, Drugs).
Ergotamin menstimulasi maupun memblo-
kir reseptor alfa-adrenerg dan serotoninerg.
Misalnya menstimulir reseptor 5HT1, khu-
susnya 5HT1D (tidak begitu selektif diban-
dingkan sumatriptan) dan memblokir re-
septor-alfa (alfa-blocker) dengan efek vasodi-
latasi ringan. Sifat ini didominasi oleh khasiat
vasokonstriksi kuat dari arteri otak dan
perifer berdasar daya antiserotoninnya
(blokade-5HT1). Berkat sifat vasokonstriktif
itu, ergotamin banyak dipakai sebagai
obat khas terhadap serangan migrain, yang
hanya efektif (walaupun tidak selalu) bila
dipakai pada tahap permulaan. Biasanya
obat ini dikombina si dengan kofein dan
obat antimual, terutama siklizin, terhadap
muntah-muntah. Ergota min juga dipakai
pada sakit kepala cluster. Efek oksitosiknya
(merangsang otot rahim) lebih ringan daripada
ergometrin.
Resorpsi dari usus tidak teratur dan sangat
bervariasi, dengan BA hanya ±2%, maka
sebaiknya dipakai sebagai injeksi i.m.
atau secara rektal (BA 1-5%) dan sublingual.
Kofein meningkatkan resorpsi (oral, rektal)
dan memperkuat efeknya. PP 98%, plasma-t½
panjang sekali, sampai 21 jam, sehingga dapat
memicu kumulasi. Ekskresi berupa
metab olit, terutama lewat empedu dan tinja.
Efek samping berupa mual, muntah dan
sakit kepala mirip gejala migrain. Bila
diminum lebih banyak, gejala bertahan dan
terjadilah lingkaran setan. Akibat kumulasi
dapat timbul efek toksik, seperti kejang otot
kaki, kelumpuhan, vasospasme dengan jari-
jari tangan menjadi dingin, akhirnya terjadi
gangrena (mati-jaringan). sebab sifat-sifat
itu, ergotamin tidak boleh diberikan pada
pasien jantung dan hipertensi. Wanita hamil
tidak boleh diberikan obat ini, berhu bung
efek oksitosiknya.
Dosis: oral/rektal 3-4 dd 1 mg, maksimal 4 mg
per serangan dan 8 mg seminggu. Sebaiknya
dikunyah halus sebelum ditelan untuk mem-
permudah resorpsi atau diletakkan di ba-
wah lidah (sublin gual). Sebagai aerosol 360
mikrogram, injeksi i.m. atau s.k. 0,25-0,5 mg,
semuanya sebagai garam tartrat.
Sediaan kombinasi:
* Cafergot = E. 1 mg + kofein 100 mg;
* Bellargal Retard = E. 0,6 mg + fenobarb 20
mg + alkal. Belladon. 0,1 mg;
* Bellapheen = E. 0,3 mg + fenobarb 20 mg +
alkal. Belladon 0,1 mg.
* Dihidroergotamin (Dihydergot) yaitu de-
rivat dihidro dengan sifat-sifat yang le-
bih kurang sama. Adakalanya dipakai
pula pada serangan migrain, namun indikasi
utamanya yaitu pada tekanan darah yang
terlalu rendah (hipotensi ortostatik) berda-
sarkan efek adrener giknya (ISA = intrinsic
sympathomimetic activity) yang terutama tam-
pak pada vena perifer dengan efek pening-
katan tonusnya. Juga dipakai pada nyeri
kepala cluster. Dosis: oral permulaan 1-2 mg
(mesilat = metanosulfat), bila perlu sesudah 30-
60 menit diulang, maksimal 3 mg.
2. Sumatriptan: Imigran, Imitrex
Derivat indolmethansulfonamida ini (1991)
merupakan agonis serotonin selektif da-
ri reseptor 5HT1 dan khusus dari resep tor
5HT1D. Sumatriptan sangat ampuh meng-
hentikan serangan hebat dalam waktu 0,5-2
jam (injeksi/tablet). namun pada 40% pasien,
migrain kambuh lagi dalam 24-48 jam. Me-
nurut perkiraan meka nisme kerjanya berda-
sarkan penurunan pelepasan neuropepti da pera
dangan (substansiP), yang berdampak peng-
hambatan reaksi radang dari selaput otak luar
(dura mater), sehingga sakit kepala di-atasi. Di
samping itu, terjadi vasokonstriksi di otak di mana
ada reseptor 5-HT1, yang meniadakan
dilata si pemicu sakit kepala. Sumatriptan
tidak bekerja terhadap gejala aura, namun
juga efektif terhadap sakit kepala “cluster”.
pemakaian nya secara oral, subkutan atau
spray hidung bagi pasien yang mual.
Resorpsi sesudah pemakaian oral cepat,
namun tidak lengkap, dengan BA hanya ±14%
akibat FPE besar. Mulai kerjanya sesudah
30 menit (s.k. 10-15 menit), kadar plasma
mencapai maksimum sesudah lebih kurang
25 menit. Sumatriptan praktis tidak melintasi
barier darah-otak. PP 14-21% dan t½ 2 jam.
Zat ini diuraikan di dalam hati menjadi
metabolit indolasam asetat yang diekskresi
melalui urin.
Efek samping berupa perasaan panas dan
tertekan di leher dan dada, perasaan letih/
lemah. mengantuk, juga pusing-pusing dan
flushing. Pada pemakaian subkutan nyeri di
tempat injeksi. Jarang sekali infark jantung.
Kontraindikasi yaitu gangguan jantung,
hipertensi dan gangguan fungsi hati dan
ginjal. Tidak dianjurkan bagi manula dan
jangan dikombinasi dengan ergotamin sebab
ada kemungkinan timbul kejang pembuluh.
Kehamilan dan laktasi. Keamanan bagi janin
dari semua zat triptan belum dipasti kan
sebab datanya belum lengkap. Obat-obat
ini mencapai air susu ibu, maka sebaiknya
jangan diguna kan selama laktasi.
Dosis: oral 1 dd 100 mg (garam suksinat),
maksimal 300 mg dalam 24 jam. Subkutan 6
mg, maksimal 12 mg/24 jam.
* Zolmitrip tan (Zomig), naratriptan (Nara
mig) dan rizatriptan (Maxalt). Derivat-deri-
vat ini (1996) diserap lebih baik daripada
sumatriptan dengan BA masing-masing
40, 70 dan 40%. Mulai kerjanya lebih cepat,
efeknya bertahan lebih lama dengan masa
paruh 3, 6 dan 3 jam. Zolmitriptan dan nara-
triptan dibandingkan dengan suma trip tan
lebih mudah melin tasi barier darah-otak.
Obat ini kurang efektif untuk seran gan hebat,
maka dianjurkan hanya untuk serangan
ringan-sedang. Pentakaran ketiga obat itu
lebih rendah, yaitu masing-masing 1-2 dd 2,5,
2,5 dan 10 mg.
*Almotriptan (Almogran) dan eletriptan (Rel
pax) yaitu derivat terakhir (2000) dengan
resorpsi baik dan BA 70 dan 50%, plasma-t1/2
3.5 dan 4,5 jam.Dosis masing-masing 12,5
dan 40 mg, yang bila perlu diulang sesudah
minimal 2 jam.
3. Metisergida: Deseril
Derivat ergotamin ini (1960) yaitu suatu
antagonis serotonin tidak selektif melalui
blokade dari reseptor 5HT1 dan 5HT2. sebab
sifat ini, metisergida dipakai sebagai obat
pencegah migrain untuk maksimal 6 bulan.
Resorpsi di usus kurang baik, BA 13%
akibat FPE besar. Dalam hati zat ini dirombak
menjadi metilergometrin yang terutama dieks-
kresi lewat urin. Plasma-t½ 1-4 jam.
Efek samping berupa gangguan saluran cerna
yang bersi fat sementara, juga efek psikisnya
menyerupai LSD (halusinasi, gelisah, pu-
sing), kadang-kadang rambut rontok dan
kejang pembuluh. Pada pemakaian lama
dapat terjadi fibrosis bera dang parah di paru,
ginjal dan organ-organ lainnya. Oleh sebab
itu pemakaian metisergida dianjurkan ha-
nya pada keadaan parah dan hanya selama
maksimal 6 bulan berturut-turut. Pengobatan
juga jangan dihentikan dengan mendadak
sebab risiko serangan “rebound”.
Dosis: oral permulaan 1 mg (maleat) p.c.
sebelum tidur, berangsur-angsur dinaikkan
sampai 2-3 dd 1-2 mg selama maksimal 6
bulan.
4. Pizotifen: Mosegor, Sandomigran, Lysagor
Senyawa trisiklik ini (1968) memiliki struk-
tur dan sifat yang mirip antihistamin si-
proheptadin (Periactin). Keduanya memiliki
khasiat antihistamin dan antiserotonin ber-
dasarkan blokade reseptor 5HT2 di arteri
dan saraf otak. Di samping ini, pizotifen juga
berkhasiat antikolinergik dan sedatif lemah.
Berkat kerja antiserotoninnya yang panjang
(t½ = 23 jam), pizotifen banyak dipakai
pada terapi interval mi grain. Sama dengan
siprohepta din, adakalanya zat ini dipakai
untuk menstimulir nafsu makan.
Efek samping yang paling sering terjadi
yaitu rasa letih dan mengantuk yang ber-
sifat sementara (sekitar 2 minggu), jarang
pusing, mulut kering, mual dan obstipasi.
Berkat efek antiserotoninnya, di samping
efek hipoglikemik ringan, nafsu makan dan
berat badan dapat meningkat.
Dosis: permulaan 0,5 mg sebelum tidur,
berangsur-angsur dinaikkan dalam waktu 5
minggu sampai 3 dd 0,5 mg, atau sekaligus 1,5
mg sebelum tidur untuk menghindarkan rasa
kantuk pada siang hari. Sebagai stimulans
nafsu makan 3 dd 0,5 mg.
5. Flunarizin: Sibelium
Derivat difluor dari sinarizin ini (1982) ada-
lah antagonis-Ca selektif terhadap pembuluh
otak dengan efek anti-vasokonstrik si, me-
lindungi sel-sel dan saraf otak terha dap
hipoksia akibat vasospasme. Berkat sifat-
sifat ini, dianjurkan pemakaian nya pada
terapi interval migrain. Sama efektifnya
dengan propranolol dan pizotifen mengenai
pengurangan frekuensi dan intensitas se-
rangan, namun lamanya serangan kurang
dipen garuhi. Efeknya panjang (t½ 18 jam),
namun baru tampak sesudah kirakira 3 bulan.
Berlai nan dengan Ca-blockers lainnya, obat
ini tidak bekerja terhadap jantung, arte-
riole dan vena perifer (lih. Bab 37, Obat
jantung, Antagonis kalsium). Di samping itu,
flunarizin juga dipakai pada profilaksis
pusing-pusing (vertigo) berkat efek sedatif-
nya terhadap organ keseimbangan, lihat
selanjutnya Bab 34, Vasodilator.
Efek samping jarang terjadi dan berupa
mengantuk dan gangguan saluran cerna,
terutama selama 2 minggu pertama. Pada
overdosis dapat terjadi gejala ekstrapiramidal
dan depresif, terutama pada manula.
Dosis: profilaksis migrain dan vertigo: oral
malam hari 10 mg, manula di atas 65 tahun
5 mg. sebab masa paruh panjang ( t½ =18
hari!), sesudah 2 bulan dosis pemeliharaan
sebaiknya diturunkan sampai 10 mg setiap 2
hari. Sesudah 6 bulan dianjurkan penghentian
medikasi dengan mempertimbangkan apa-
kah terapi masih perlu dilanjutkan.
6. Propranolol: Inderal
Obat jantung dan hipertensi ini yaitu
salah satu ß-blocker (reseptor-ß1 dan -ß2)
tanpa efek ISA, yang efektif sebaga i pencega h
serangan migrain. Khasiat ini mungkin
berda sarkan daya kerja antiserotoni n,
anksioliti k dan antitrombotiknya, juga
sebab berkhasiat mencegah dilatasi arter i dan
menghamba t lipolysis yang diinduksi oleh
katecholamin (NA, 5HT, DA) sehingga sin-
tesis prostaglandin dikurangi. Obat-obat
dengan khasiat kardioselektif (ß1blockers)
sama efektifnya, seperti metopro lol dan
atenolol. Obat-obat ini tidak dapat dikombi-
nasi dengan ergotami n, sebab sebagai salah
satu efek samping ß-blocker secara tidak
langsung (melalui ß2-blokade) juga menim-
bulkan vaso-konstriksi (kaki dan tangan
dingin).
Dosis: oral permulaan 2-3 dd 40 mg, bila
perlu berangsur-angsur dinaikkan sampai
2-3 dd 80 mg.
sebagai bahan-pangkal untuk pigmen re-
tina rodopsin, yang esensial bagi proses
penglihatan dalam keadaan kurang cahaya.
Vitamin C berfungsi pada sistem reduksi-
oksidasi yang memegang peranan penting
pada banyak proses redoks, sedang vita-
min D dalam bentuk aktifnya penting bagi
regulasi kadar Ca dan P dalam jaringan
tubuh.
Vitamin C ditemukan oleh peneliti Ho-
ngaria, A.von Szent-Gyorgyi (1893-1986),
penerima hadiah Nobel di tahun 1937.
Enzim dan ko-enzim
Enzim yaitu protein yang bekerja sebagai
katalisator untuk mencetuskan suatu reaksi
kimiawi tanpa dirinya mengambil bagian
pada reaksi itu . Daya kerja suatu enzim
bersifat spesifik, misalnya lipase hanya ber-
daya merombak lemak, protease meme-
cahkan hanya protein dan amylase hanya
dapat mengubah amilum (pati).
Enzim terdiri dari kompleks suatu protein
(apo-enzim) dan suatu zat non-protein (gugus
prostetik), yang berfungsi sebagai ko-enzim
(aktivator). Apo-enzim tidak bisa melakukan
kerjanya sebelum diaktivasi oleh ko-enzim ini.
Banyak vitamin dari kelompok-B berfungsi
sebagai ko-enzim bagi enzim-enzim penting.
Suatu ko-enzim metabolisme penting yaitu
ko-enzim A, yang berfungsi mentransfer
gugus asetil (transasetilasi) dalam siklus asam
sitrat (siklus Krebs).
Gangguan yang berkaitan dengan kebu-
tuhan untuk vitamin dapat di bagi dalam 3
kelompok:
1. Hipovitaminosis: kekurangan dari satu
atau lebih vitamin;
2. Avitaminosis: persediaan dari suatu
VITAMIN DAN MINERAL
A. VITAMIN
Vitamin yaitu zat kimia organik dengan
komposisi beraneka-ragam, yang dalam
jumlah kecil dibutuhkan oleh tubuh
manusia untuk memelihara metabolisme,
pertumbuhan dan pemeliharaan normal.
Vitamin bukan merupakan ‘bahan bakar’
atau bahan untuk membangun tubuh.
Kebutuhannya berkisar dari beberapa mcg
(mikrogram), misalnya vitamin B12, sampai
ratusan mg (vitamin C dan E). Tubuh ma-
nusia memiliki persediaan tertentu, yang
tergantung dari jenisnya yaitu cukup
untuk kebutuhan beberapa minggu sampai
beberapa tahun.
Istilah ‘vitamin’ diberikan atas dasar
perkiraan semula bahwa semua zat ini
memiliki struktur amin (Lat. vita = kehi-
dupan), namun ternyata hanya tepat bagi
beberapa zat saja, antara lain tiamin (vitamin
B1). Kebanyakan vitamin atau zat pelopornya
yang disebut provitamin, diperoleh dari
bahan makanan dan hanya beberapa saja
dapat disintesis sendiri dalam usus oleh
tubuh, yaitu vitamin B2, B5, K2 serta biotin.
Vitamin A dan D3 juga dapat disintesis dalam
tubuh dengan masing-masing karoten dan
kolesterol sebagai bahan pangkalnya.
Fungsinya sangat bervariasi. Banyak
vitamin secara biologis tidak aktif, namun
membutuhkan pengubahan kimia dalam
tubuh, misalnya proses fosforilasi (vitamin
B1, B2, B3 dan B6). Vitamin B2 dan B3 perlu
penggabungan pada nukleotida purin atau
piridin. Banyak vitamin berfungsi sebagai
ko-enzim bagi enzim tertentu, misalnya
vitamin dari kelompok B bekerja sebagai ko-
enzim, yang aktif pada proses metabolisme
dan pembentukan energi. Vitamin A bekerja
vitamin praktis kosong (misalnya vita-
min B12 pada anemia perniciosa);
3. Hipervitaminosis: kelebihan dari sua-
tu vitamin, sering kali disebabkan over-
dosis yang memicu gejala-gejala
intoksikasi serius.
Hipovitaminosis. Dapat timbul akibat gene-
tik dari proses metabolisme vitamin. Sering
kali sebabnya yaitu ketidakmampuan
ko-enzim dari vitamin yang bersangkutan
(walaupun tersedia dalam jumlah cukup)
untuk mengikat diri pada apo-enzim dengan
efek yang sama seperti tidak tersedianya
vitamin itu . Contohnya yaitu antara
lain penyakit rachitis akibat resistensi vita-
min D.
Hipervitaminosis. Jarang sekali disebabkan
asupan makanan, namun kebanyakan akibat
pemakaian suplemen (multi)vitamin yang
tidak rasional.
Defisiensi. Sejak dahulu dikenal gangguan
akibat defisiensi vitamin yang memicu
gejala khas, seperti buta malam (vitamin A),
beri-beri (vitamin B1), radang lidah dan bibir
(cheilosis, vitamin B2), pelagra (vitamin B6),
skorbut (vitamin C) dan penyakit Inggris
rachitis (vitamin D). Dalam semua kasus di
atas, pemberian vitamin bersangkutan dalam
dosis yang 5-10 kali lipat dari kebutuhan
normal berkhasiat menghilangkan gejala
defisiensi secara cepat dan efektif.
Defisiensi vitamin D terutama dapat timbul
pada bayi dan balita. Sediaan kombinasi
A/D diberikan untuk menghindari penya-
kit rachitis bila juga ada kemungkinan ke-
kurangan vitamin A. namun perlu diingat
bahwa bayi sehat tidak memerlukan tambah-
an vitamin A. Di samping ini harus juga
diwaspadai bahaya intoksikasi dari vitamin
A bila diperlukan dosis tinggi pada terapi
rachitis dengan kombinasi A/D.
Vitamin B-kompleks dapat dberikan pada
keadaan resorpsi buruk (misalnya sebab
gangguan serius pada usus halus) atau
diet yang tidak sempurna sehingga timbul
defisiensi dari vitamin kelompok B. namun
dianjurkan bahwa kombinasi demikian tidak
mengandung vitamin B12 (tidak bermanfaat
pada dosis rendah yang lazim dalam sediaan
demikian) atau asam folat (cave: anemia
megaloblaster yang tidak terdeteksi).
Kebutuhan akan berbagai vitamin tergan-
tung dari usia, kelamin dan susunan ma-
kanan sehari-hari. Misalnya, bila diet kaya
protein, maka kebutuhan akan riboflavin
dan piridoksin, yang berperan sebagai ko-
enzim dalam metabolisme asam amino,
ternyata meningkat. Pada diet dengan banyak
karbohidrat dibutuhkan lebih banyak vitamin
yang berperan pada metabolisme gula,
seperti aneurin dan niasinamida (vitamin B3).
Lihat tabel di bawah ini untuk kebutuhan
vitamin sehari-hari.
RDA (Recommended Daily
Allowance)
Banyak negara memiliki panitia ilmiahnya
yang secara periodik meneliti kebutuhan
gizi (nutrient) sehari-hari dari penduduknya.
Misalnya di AS ada Food & Nutrition Board
yang memberikan rekomendasi mengenai
jumlah kebutuhan sehari-hari (RDA) yang
mutlak untuk memelihara kesehatan dan
sebagai dasar penyusunan pola konsumsi
makanan. RDA dipublikasikan pertama kali
dalam tahun 1941, yang kemudian secara
periodik direvisi setiap 5 sampai 10 tahun.
Rekomendasi mencakup kebutuhan akan
unsur gizi yang penting, termasuk fat-soluble
vitamins, water-soluble vitamins dan mineral
bagi bayi, anak-anak, pria, wanita serta
wanita hamil dan yang menyusui.
Diet referensi. RDA didasarkan atas diet
referensi bagi kelompok penduduk itu ,
di mana untuk setiap komponen ditetapkan
jumlah yang sebaiknya dimakan setiap
hari. Untuk susunannya lihat Bab 54, Dasar-
dasar diet sehat. Menurut pendapat ini bi-
la seseorang mengonsumsi diet itu
dalam jumlah yang ditetapkan, maka ia
akan menerima semua (mikro)nutrien yang
diperlukan untuk memelihara kesehatannya,
khususnya untuk prevensi gangguan akibat
defisiensi vitamin. Artinya, menerima cukup
zat-zat gizi utama berupa karbohidrat, pro-
tein, lemak, vitamin, mineral, elemen spura
dan enzim. Oleh sebab itu para ahli gizi
menganggap bahwa pada hakikatnya suplesi
nutrien sama sekali tidak diperlukan.
• RDA baru di AS. Awal tahun 1999 Dewan
Nutrisi USA telah mempertimbangkan kem-
bali RDA bagi semua mikronutrien. Untuk
pertama kali rekomendasi juga memberikan
perhatian pada asupan optimal dari zat-zat
gizi itu untuk meminimalkan risiko
penyakit kronis, seperti kanker dan PJP.
Dalam dua laporan pertama (dari seluruhnya
tujuh laporan) RDA untuk antara lain kalsium
dan asam folat sudah dinaikkan sampai
masing-masing 1000 mg (sebelumnya: 700-
900 mg) dan 400 mcg (sebelumnya: 200-300
mcg). Sangat mencolok yaitu nasihat bagi
orang di atas usia 50 tahun untuk mensuplesi
vitamin B12 ekstra, sebab pemakaian nya
pada 10-30% dari lansia itu ternyata
tidak memadai (Food & Nutrition Board
USA, 1998).
pemakaian
Dari sudut pandang medis regular, peng-
gunaan vitamin tambahan hanya dibenarkan
pada keadaan kekurangan, bila kebutuh-
annya meningkat atau selama minum obat-
obat tertentu. Beberapa keadaan itu
yaitu sebagai berikut.
a. Pada defisiensi akibat kelainan metabolisme
bawaan yang sangat jarang ada . Juga
pada malabsorpsi, antara lain pada pecandu
alkohol (vitamin B-kompleks), anoreksia (asam
folat), diet ketat untuk melangsingkan tubuh
(multivitamin), juga bagi lansia (multivit) dan
bayi “botol”.Sindrom malabsorpsi bisa terjadi
pada penyakit usus kronis, seperti gastritis
(vitamin B12), penyakit hati dan pankreas,
Tabel 53-1: RDA dan dosis alternatif dari vitamin dan mineral
diare lemak, sariawan, begitu pula pada
hipertirosis dan anemia perniciosa.
b. Lansia. Pada orang di atas usia 60 tahun,
semua proses faali dalam tubuh mulai mundur
dan berlangsung lebih lambat. Sel-sel sistem
imun bekerja kurang efisien dan kurang
mampu lagi mereparasi kerusakan. Jaringan
hilang kelenturannya akibat cross-linking
non-enzimatik dari glukosa dengan protein.
Misalnya, paru-paru dan otot jantung lebih
sukar bekerjanya, pembuluh darah berangsur
bertambah kaku dan urat mengeras. Fungsi
kognitif dari otak (konsentrasi, ingatan,
kreativitas, daya belajar) kerapkali mulai
berkurang akibat proses menua dari sel otak
dan kemunduran transmisi impuls antar sel-
sel saraf. Akibat perubahan dalam mukosa
dan jonjot usus (villi) resorpsi vitamin dan
elemen dari makanan ke dalam darah sering
kali berkurang dan tidak optimal lagi. Dengan
demikian dapat terjadi defisiensi mikronu-
trien penting. sebab sukar menentukan
zat-zat mana yang pada seseorang yaitu
defisien, maka lansia dianjurkan untuk
minum tablet multivitamin (yang juga berisi
mineral) secara teratur. Untuk memelihara
fungsi otak terutama diperlukan vitamin
dari kelompok B-kompleks, beberapa
di antaranya meru-pakan prekursor dari
neurotransmitter di otak.
Walaupun biasanya tidak ada
bukti jelas terhadap indikasi yang rasional
untuk pemakaian multivitamin sebagai
profilaksis, namun yaitu kebiasaan untuk
meresepkan kombinasi-kombinasi tertentu,
misalnya vitamin A/D dan vitamin B-kom-
pleks.
c. Bila kebutuhannya meningkat, seperti
sebelum dan selama kehamilan (asam folat,
multivitamin), selama menyusui, pada anak-
anak sampai 6 tahun yang sedang tumbuh
(vitamin A, D) dan bayi sampai 3 bulan
(vitamin K, yang belum dibentuk oleh kuman
usus dan kurang tersedia dalam air susu ibu).
Begitu pula pada vegetarir (vitamin B12, yang
hanya ada dalam produk hewani), orang
yang mengikuti diet melangsingkan tubuh
(multivitamin), perokok dan olahragawan
berat (vitamin B-kompleks, vitamin A, C
dan E akibat stres oksidatif berhubung
pemakaian O2 lebih tinggi). Akhirnya juga
sesudah pembedahan, radiasi X-ray dan pada
berbagai keadaan stres lain (vitamin A, C, E).
d. Pasien kronis dan pengguna obat. Dewasa
ini diketahui bahwa berbagai penyakit kronis,
seperti diabetes, COPD dan Parkinson disertai
stres oksidatif berlebihan. Kelebihan radikal
bebas dapat merusak jaringan dan sebab
itu memperburuk progresnya penyakit.
Pemberian vitamin yang optimal, khususnya
yang bersifat antioksidans (vitamin A,
C dan E) menurunkan risiko komplikasi
dan memburuknya penyakit. Obat-obat
tertentu yang dipakai menahun dapat
mengganggu resorpsi, sintesis, penimbunan
atau ekskresi vitamin tertentu. Yang terkenal
yaitu zat-zat antagonis-piridoksin (INH,
hidralazin dan penisilamin) serta tetrasiklin
yang menghambat flora usus, sehingga
sintesis vitamin B2, B5, biotin dan vitamin K3
terhenti. Obat-obat lainnya yaitu laksansia,
antikonvulsiva, kemoterapeutika, analgetika,
sedativa dan diuretika. Di samping itu
banyak obat mengurangi nafsu makan atau
memicu mual, nyeri lambung, diare
atau obstipasi, yang berakibat berkurangnya
pemasukan vitamin dengan makanan.
* Preventif. Telah ditemukan semakin
banyak indikasi bahwa berbagai vitamin
dan mineral dengan sifat antioksidan
(vitamin A, C, E, magnesium, seng dan
selen) dalam pangan berfungsi melindungi
terhadap PJP dan kanker. Penelitian populasi
telah menunjukkan, bahwa orang yang
mengonsumsi banyak vitamin melalui
makanannya memiliki risiko lebih kecil
untuk mengidap kanker. Risiko akan
infark jantung dikurangi oleh vitamin E,
magnesium, begitu pula asam folat11 tunggal
atau terkombinasi dengan vitamin B6 dan
B12, sebab menurunkan kadar homosistein
yang meningkat (lihat juga Bab 37, Obat-obat
Jantung, Faktor risiko). Suatu studi besar-
besaran (Select study) telah dilangsungkan
untuk memastikan efek melindungi dari
selenium dan vitamin E terhadap kanker
prostat. Asam folat diperkirakan menu-
runkan risiko akan kanker usus dan bekerja
preventif terhadap PJP, selain khasiatnya
dapat menghindari spina bifida pada bayi.
Asam lemak omega, juga disebut vitamin
F (dari Fatty acid) juga bekerja preventif
terhadap PJP; suatu penelitian dari 20 tahun
menyatakan bahwa pria yang makan ikan
berlemak dua kali seminggu mengurangi
risiko infark jantung dengan 50% diban-
dingkan pria yang jarang mengonsumsi
ikan. Menurut studi lain, hal ini juga berlaku
bagi wanita. Di samping itu juga ditentukan
bahwa EPA & DHA melindungi terhadap
penyakit-penyakit peradangan, seperti rema
dan dermatitis, lagi pula menginaktivasi
enzim-enzim tertentu yang memegang pe-
ranan pada berkembangnya kanker usus
besar, lihat selanjutnya Bab 36,Antilipemika,
EPA dan Bab 54, Dasar-dasar Diet Sehat.
Suplesi vitamin
Jumlah nutrien yang terkandung dalam di-
et referensi itu di atas sukar sekali
diimplementasikan dengan tuntas oleh
sebagian besar orang sebab berbagai se-
bab. Misalnya banyak orang tidak dapat
“mengikuti”komposisi ideal dari diet itu
sehingga asupan mikronutrien tertentu
berada di bawah RDA. Bahkan, walaupun
bisa memenuhi seluruhnya, namun kom-
ponen dietnya tidak sesuai dengan RDA
yang ditetapkan untuk vitamin dan mineral,
antara lain vitamin B6, iodium dan selen.
pemicu nya ialah sebab kandungan nu-
trien itu dalam bahan makanan sangat
bervariasi dan tergantung dari tanah tempat
tumbuhnya tanaman. Bila tanah miskin akan
elemen spura seperti selenium, molybden,
borium dan iodium, maka tanamannya juga
akan mengandung sedikit elemen-elemen
penting itu .
berdasar pertimbangan ini para ahli
ortomolekuler (lihat boks) menyimpulkan
bahwa selain pada keadaan yang telah
diuraikan di atas, suplesi nutrien berguna
sekali bagi orang yang tidak mungkin atau
tidak mampu mengikuti diet ideal itu .
Terutama bagi orang yang sering menderita
gangguan kesehatan (ringan) dan selalu
merasakan badannya kurang sehat. Bagi
orang sehat tanpa keluhan biasanya
suplesi nutrien bermanfaat untuk memelihara
daya tahan dan kesehatan yang optimal.
Bahan makanan yang diperkaya. Di banyak
negara antara lain di Belanda (sejak 1996),
Dewan Kesehatan telah memberikan izin
untuk menambah nambahkan vitamin dan mineral
pada bahan makanan. Kini sudah beredar
produk susu, cornflakes dan minuman (soft
drinks) yang diperkaya dengan zat-zat
demikian sampai maksimal 100% ADH.
Pengecualian yaitu vitamin A, D dan asam
folat serta mineral spura Se, Cu dan Zn
berhubung ADH dan letak dosis toksiknya
berdekatan. Di AS dan Kanada pembubuhan
asam folat pada tepung roti diwajibkan sejak
Januari 1998 12,12c. Keharusan demikian tidak
berlaku bagi Eropa.
Dari berbagai survey ternyata bahwa
dalam praktik sudah banyak orang di lu-
ar kelompok yang disebut di atas secara
teratur mengonsumsi vitamin dengan dosis
Linus C. Pauling (1901-1994)
Pemenang hadiah Nobel ganda(Kimia
1954 dan Perdamaian 1962)
TERAPI ORTOMOLEKULER
Istilah ini dilontarkan pada tahun 1968 oleh ahli kimia dan pemenang hadiah Nobel ganda Dr.
Linus Pauling (1901-1994) dan dimaksudkan sebagai penanganan penyakit melalui pemakaian
zat-zat pangan yang tepat dalam dosis optimal (Yun. orthos = tepat, lurus, baik). Pentakaran yang
dipakai nya yaitu jauh lebih besar dari pada dosis yang direkomendasi (RDA). Dengan kata lain,
makanan yang optimal menciptakan lingkungan optimal pada mana proses reparasi seluler dalam
tubuh bisa berlangsung sebaik-baiknya.
Ahli ortomolekuler umumnya menganggap RDA yang ditetapkan oleh Dewan Nutrisi dari
kebanyakan negara terlampau rendah untuk mempertahankan kesehatan pada jangka panjang.
Misalnya RDA vitamin C di kebanyakan negara yaitu 60-70 mg, sedang menurut mereka
seharusnya 500-1.000 mg sehari. Jumlah tinggi ini dibutuhkan untuk melakukan fungsinya sebagai
antioksidan, yaitu melindungi jaringan terhadap kerusakan oksidatif oleh radikal bebas, yang akhirnya
dapat merugikan jaringan tubuh, antara lain membran sel dan inti DNA-nya.
Antioksidansia (AO)
Radikal bebas. Pada semua proses metabolisme tubuh, terutama reaksi dengan oksigen, terbentuk
molekul dengan kekurangan elektron (tak berpasang, unpaired) di kulit luarnya. Radikal bebas (FR,
Free Radicals) ini memegang peranan esensial pada misalnya regulasi tekanan darah, pencegahan
infeksi kuman dan eliminasi zat-zat asing. Daya kerja ini berdasar reaktivitas tinggi FR berkat
elektron bebasnya dengan kecenderungan ‘mencuri’ elektron dari praktis semua molekul dari
lingkungannya.
Pembentukan FR dalam tubuh pada hakikatnya yaitu suatu hal yang normal, bahkan dibentuk
secara kontinu sebab dibutuhkan untuk proses tertentu, antara lain oksidasi lipida. Tanpa produksi
FR kehidupan tidaklah mungkin. Misalnya FR berperan penting pada ketahanan terhadap jasad
renik. FR dibentuk di dalam hati secara enzimatik dengan maksud memanfaatkan toksisitasnya
untuk merombak obat-obat dan zat-zat asing beracun lainnya.
Beruntung tubuh memiliki suatu sistem pelindung ampuh dari antioksidansia alamiah yang
berfungsi mengendalikan reaksi radikal itu agar jangan sampai merugikan organ tubuh. Bila
pengendalian ini gagal, sebab pembentukan FR terlalu banyak sehingga ada kelebihan FR dan
kekurangan relatif dari antioksidansia, dapat terjadi stres oksidatif dengan kemungkinan kerusakan
sel dan organ.
Antioksidansia (AO) dengan demikian merupakan perlindungan terhadap kelebihan FR, yang
selanjutnya dapat terbentuk pula pada pembakaran tak-lengkap dari zat-zat gizi dan pada aktivasi
berlebihan dari enzim yang menstimulasi pembentukan FR normal. Mekanisme kerjanya berdasar
sifatnya, yaitu mudah dioksidasi(menyerahkan elektron) dan dengan demikian menetralkan sebagian
besar FR berlebihan itu . Yang terpenting yaitu antioksidansia vitamin A, C dan E, asam liponat
serta enzim alamiah [glutathion-peroxydase (GPx), superoxide-dismutase (SOD) dan katalase].
Gangguan yang dihubungkan dengan FR. Bila sebab sesuatu sebab tubuh kekurangan AO, maka
membran sel dan inti sel dapat dicederai dengan akibat dipercepatnya proses menua dari jaringan
serta terjadinya cacat DNA dan sel-sel tumor. Selain itu FR juga dianggap turut bertanggungjawab atas
sejumlah gangguan lain, seperti pengeruhan lensa mata (staar, catarct) dan pengendapan oksi-LDL
kolesterol pada dinding pembuluh (aterosklerosis). Pada penyakit Parkinson di samping kekurangan
dopamin, juga ada persediaan glutathion (GS) rendah di otak, yang melindungi saraf terhadap
kerusakan oksidatif.
FR alamiah. Contoh penting dari FR tubuh yaitu radikal hidroksil (OH-), superoksida dan peroxyl
(ROO-). Begitu pula oksigen singlet (O2
-), yang terdiri dari 2 atom-O tanpa elektron tak-berpasang
(unpaired). Walaupun bukan FR sejati, O2 singlet bersifat sangat reaktif sebab berada dalam keadaan
energetik meningkat dan mampu “merugikan” protein, juga menginisiasi peroksidasi lipida
berbahaya dari asam lemak tak-jenuh. Peroksidasi lipida dicurigai terlibat pada timbulnya tumor di
prostat, mamma dan kulit.
Lingkungan kita juga menghasilkan FR, antara lain sinar UV dari matahari, asap rokok, gas
buangan kendaraan bermotor dan pabrik, smog dan sebagainya. Pembebanan FR (stress oksidatif)
oleh pengotoran lingkungan (polusi) tidak selalu bisa dihindari dan sampai derajat tertentu dapat
ditanggulangi oleh orang sehat. namun bila pembebanan terlampau tinggi atau daya tahan tubuh
tidak optimal, keadaan ini dapat merugikan kesehatan.
Proses yang dapat membebaskan radikal bebas yaitu :
- pembentukan energi tubuh - obat-obat
- pembelahan sel - operasi dan radiasi
- oksidasi lemak/protein - stres mental & fisik
- proses sistem imun - merokok
- detoksifikasi di hati - polusi, ozon
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
a. proses menua
Radikal bebas –––––––> kerusakan –––––––> b. kanker dan penyakit lain
(jantung, pembuluh, mata,
paru, lambung dan
antioksidansia sistem imun)
Gambar 53-1: Sebab-sebab pembentukan FR dan akibatnya bagi tubuh
Antioksidansia yang banyak dipakai sebagai food supplement yaitu vitamin A (karoten,
lycopen), C dan E, flavonoida (quercetin, genistein), senyawa selen (Se) dan seng (Zn), ubiquinon
(co-enzim Q10), pycnogenol (OPC) dan asam amino mengandung belerang: asetil/sistein, metionin
dan taurin. Zat-zat yang juga ditemukan sifat antioksidannya yaitu asam liponat,melatonin dan
curcumin. Di kebanyakan negara semua senyawa ini dapat dibeli bebas tanpa resep sebagai suplemen
gizi.
Kombinasi AO dalam dosis tepat dari beberapa antioksidansia dapat saling memperkuat efeknya
(synergisme). Misalnya kombinasi dari vitamin E, vitamin C + glutation (GSH) + asam liponat
merupakan suatu rentetan antioksidans (‘cascade’). Seusai penyerahan elektron pada radikal bebas,
vitamin E yang telah teroksidasi dapat direduksi kembali oleh vitamin C. Kemudian vitamin C yang
teroksidasi pada gilirannya direduksi kembali oleh glutation, lalu oksiglutation dikembalikan lagi
pada keadaan aslinya oleh asam liponat. Dengan demikian ketiga antioksidansia pertama direaktivasi
lagi (recycled) dan dapat melanjutkan fungsinya, sehingga efektivitasnya sangat ditingkatkan.
• Vitamin A yaitu lipofil, maka berperan penting untuk melindungi asam lemak tak-jenuh dalam
membran sel terhadap oksidasi. Kerusakan yang terjadi pada lipid peroxidation itu dapat mencetuskan
suatu reaksi rantai yang akhirnya dapat memusnahkan seluruh membran.
ß-karoten juga berfungsi menetralisasi radikal bebas karsinogen, oleh sebab itu bekerja preventif
terhadap kanker. Begitupula karoten dalam dosis tinggi berdaya melindungi lansia terhadap infark
jantung.
• Vitamin C bersifat hidrofil dan melindungi membran sel dari luar, sebab terutama bekerja dalam
cairan di luar sel. Di sini bisa ada FR yang lolos dari proses fagositosis oleh fagosit. Sel tangkis
ini terutama aktif selama aktivitas sistem ketahanan tubuh meningkat. Limfo-T juga membutuhkan
banyak vitamin C dan bila jumlahnya cukup (di atas 2,5 g sehari) menjadi sangat aktif. Di samping
mengaktivasi fagosit vitamin C juga menstimulir produksi interferon dengan khasiat antiviral.
Oleh sebab itu dalam keadaan stres kontinu dan pembebanan ketahanan berlebihan, asupan vitamin
C dalam dosis tinggi sangat bermanfaat.
• Vitamin E dalam membran sel memegang peranan khusus untuk melindungi otot terhadap
kerusakan selama gerakan tubuh dan olahraga. Vitamin A, C dan E, bersama AO enzimatik itu
di atas, melindungi paru-paru terhadap oksidasi dan kerusakan oleh FR. Bila efek melindungi kurang
sempurna, dapat terjadi kerusakan pada epitel gelembung paru yang memicu penyakit, seperti
bronchitis dan emfisema (lihat Bab 40, COPD).
{
yang jauh melampaui RDA. Hal ini terlihat
jelas dari sangat meningkatnya penjualan
vitamin pada dasawarsa terakhir, tidak
hanya secara bebas, namun juga atas resep
dokter dari kelompok ilmu pengobatan
alternatif (“complementary medicine”) yang
kini mulai diakui oleh sebagian kecil dunia
ilmiah. Kelompok ini terutama aliran orto-
molekuler, semakin bertambah banyak pe-
nganutnya. Lihat juga Bab 14, Onkolitika,
terapi alternatif.
pemakaian alternatif. Sejumlah penyakit
sering kali diobati secara komplementer dengan
suplesi vitamin. Antara lain selesma dan
penciutan pembuluh di kaki (vitamin C dan
D) namun juga penyakit jantung dan saluran
napas (vitamin E dan C), schizofrenia (antara
lain vitamin B3, B6 dan C), serta kanker
(antara lain vitamin A, C, E, selen, dan ge-
nistein). Beberapa indikasi di antaranya
sudah diterima dunia ilmiah dan menjadi
lazim di kalangan regular, seperti vitamin
B-kompleks dan multivitamin (Supradyn)
pada keadaan lemah dan letih sesudah
pembedahan atau penyakit berat. Begitu pula
terapi megadose untuk jenis neuralgia (nyeri
urat saraf) dengan kombinasi vitamin B1,
B6dan B12 (Neurobion).
Banyak ahli ilmu kedokteran biasa
(«regular medicine») hingga kini sangat mera-
gukan kegunaan suplesi vitamin secara
komplementer diluar indikasi itu di atas.
Mereka menganggap penelitiannya masih
kurang bersifat ilmiah. Namun dalam praktik
tidak jarang para dokter ortomolekuler ter-
nyata melakukan terapi lebih dini daripada
kedokteran regular. Sebagai contoh nyata
dapat disebut pemakaian asam folat pada
wanita hamil muda untuk menghindari
cacat hebat pada bayi (spina bifida, neural tube
defect), yang sekarang sudah menjadi rutin.
Sebenarnya asam folat sudah dianjurkan oleh
ahli ortomolekuler sejak awal tahun 1990-an.
Contoh lain yaitu peristiwa free radicals
(FR) dan pemakaian antioksidansia untuk
menetralkan efek merusaknya terhadap jari-
ngan. Misalnya peranan FR pada banyak
penyakit, seperti pada timbulnya plak oksi-
LDL kolesterol dan aterosklerosis, keru-
sakan membran dari sel-sel alveoli paru-
paru pada emfisem. Akhirnya, sejak bebe-
rapa tahun dokter ‘biasa’ juga mengan-
jurkan antioksidansia (vitamin E, selenium)
untuk prevensi oksidasi LDL dan PJP serta
asetilsistein pada emfisem untuk meng-
hambat progres penyakit paru-paru (COPD).
Keamanan pemakaian vitamin
Sudah menjadi lazim untuk menyatakan
keamanan vitamin sebagai kelipatan dari
ADH, meskipun antara kedua unsur tidak
ada hubungan. Dalam tabel di bawah ini
tertera persentase ADH global dari vitamin
yang oleh ahli regular dianggap masih aman.
Vitamin C dalam dosis tinggi (di atas 1 g/
hari) diperkirakan dapat memicu
batu ginjal pada sekelompok kecil orang
yang membentuk asam oksalat berlebihan.
namun hal ini belum pernah dilaporkan
dalam kepustakaan, bahkan juga tidak pada
pemakaian jangka waktu lama dari 10 g (!)
sehari pada terapi kanker.
Penggolongan
berdasar daya larutnya dalam air atau
lemak, vitamin biasanya dibagi dalam dua
kelompok, yaitu zat hidrofil dan zat lipofil.
a. Vitamin larut air (hidrofil): vitamin B, C
dan flavonoida
Semua senyawa ini melarut dalam air.
Vitamin B-kompleks secara resmi meliputi
11 zat, yaitu B1, B2, B3, B5, B6, B11, B12, biotin,
cholin, inositol dan asam para-amino-
benzoat (PABA). Dikenal pula beberapa
vitamin A B kompl. C D E-K
- dewasa 15 X ADH 50 x ADH 30 x ADH 5 x ADH 50 x ADH
- wan.hamil 3-4 x ADH
Gambar 53-2: Kadar vitamin yang dianggap aman.
vitamin tak-resmi yang sebetulnya bukan
vitamin dan hanya dipakai pada terapi
alternatif, yaitu vitamin B15 dan «vitamin B17».
PABA pada hakikatnya juga bukan vitamin
sejati bagi manusia, namun merupakan faktor
pertumbuhan bagi kuman tertentu. Fung-
sinya yaitu sebagai precursor untuk sintesis
asam folat. Pada dasarnya, cholin dan inositol
tidak termasuk golongan vitamin.
*Sediaan vitamin B-kompleks dapat ber-
manfaat, sebab kebanyakan komponen
vitamin B biasanya ada dalam makanan
yang sejenis sehingga timbul defisiensi multi-
pel. Asam folat jangan diberikan langsung
dalam sediaan demikian, sebab mempersulit
(masking) diagnosis anemia perniciosa, se-
dangkan terlambatnya pemberian vitamin
B12 dapat memicu gangguan saraf yang
irreversibel. Asam folat dapat memperbaiki
anemi megaloblaster, namun tidak bermanfaat
terhadap kerusakan saraf akibat defisiensi
vitamin B12.
12d
Banyak jenis vitamin B alamiah ada















