Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 17. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 17. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 17

 





ioterapi dan 

pasca-bedah

Dengan membagi secara merata (fraksionasi) 

dosis total dari penyinaran, maka frekuensi 

mual dan muntah dapat dikurangi. Pena-

nganan preventif lebih efektif daripada pe-

nanganan gejala pasca bedah. Untuk ini 

dianjurkan memakai  suatu antagonis 

5-HT3 dengan penambahan selang-seling 

deksametason atau droperidol.

Daerah lambung yaitu  paling sensitif 

dan radiasinya masih sering memicu  

muntah yang tidak begitu hebat. Penanganan 

dapat dilakukan de ngan metoklopramida i.v./

i.m. 2-3 x sehari 10-20 mg atau secara rektal 

dengan dosis ganda. Deksametason dapat di-

tambahkan untuk memperkuat efeknya. Bila 

kur ini tidak memberikan efek, biasanya sua-

tu antagonis serotonin lebih ampuh.

Muntah pasca bedah terjadi untuk seba-

gian besar tergantung dari anestetika yang 

dipakai  dan jenis pembedahan. Yang 

dipakai  yaitu  terutama zat-zat antagonis 

DA dan antagonis serotonin (metoklopramida 

atau droperidol). Muntah pasca bedah lebih 

banyak terjadi dan lebih parah pada wanita 

dibanding pria, mungkin disebabkan kadar 

gonadotrofin wanita lebih tinggi. Obat-obat 

anestetika yang sekarang dipakai  pada 

umumnya kurang memicu  gejala 

mual. 

5. Muntah anak-anak

Sering kali disebabkan oleh a.l. intoleransi 

atau alergi terhadap makanan, infeksi (sa-

luran pencernaan, radang telinga te ngah) 

cedera kepala. Di samping terapi kausal 

dan pemberian anti-emetika, juga penting 

rehidrasi oral (Oralit). 

Antiemetikum domperidon sebaiknya 

tidak diberikan untuk menghindari efek 

samping ekstra-piramidal. 

MoNogRAFI

1. Skopolamin: hyoscine, Scopoderm TTS (trans-

dermal)

Alkaloid Belladonna ini dipakai  sebagai 

spasmolitikum pada kejang-kejang saluran 

cerna dan urogenital, juga untuk premedikasi 

pada narkosa (lihat Bab 32, Kolinergika dan 

antikolinergika). Zat ini dianggap sebagai 

obat yang paling efektif untuk profilaksis dan 

penanganan mabuk darat. Sejak tahun 1960-

an obat ini jarang dipakai  lagi sebab  efek 

sampingnya. Sekitar tahun 1985, skopolamin 

telah dipasarkan kembali dalam bentuk ples-

ter (Scopoderm TTS) yang mengandung 1,5 

mg skopolamin. Lama kerjanya selama 3 hari. 

Efek samping tersering yaitu  gejala anti-

kolinergik umum: mulut kering, lebih jarang 

rasa kantuk, gangguan peng lihatan, obstipasi 

dan iritasi kulit. Sampai 3 hari sesudah  pe-

nggunaan juga timbul mual dan muntah, 

nyeri kepala dan gangguan keseimbangan. 

Dosis: 6 -15 jam sebelum berangkat ples-

ter dilekatkan di belakang telinga (pada 

kulit tanpa rambut). Plester secara teratur 

melepaskan ± 0,5 mg obat selama 72 jam yang 

diserap baik oleh kulit. sebab  pelepasan obat 

lambat, tidak akan terjadi efek-efek samping 

itu  di atas. Bila perlu sesudah 3 hari 

dapat dilekatkan lagi 1 plester di belakang 

telinga lainnya.

2. Antihistaminika (lihat Bab 51, Antihi-

staminika)

Obat ini terutama dipakai  untuk men-

cegah dan mengobati mual dan muntah 

akibat mabuk darat, pada gangguan “tujuh-

keliling” (vertigo) dan pada kehamilan. Untuk 

jenis-jenis lain kurang efektif.

pemakaian  kombinasi dari beberapa an-

tihistaminika tidak diperlukan sebab  tidak 

memberikan nilai tambah. 

Siklizin dan dimenhidrinat diresorpsi baik, 

kerjanya cepat dan dapat bertahan 4-5 jam. 

Meklizin baru mulai bekerja sesudah  1-2 jam, 

namun  efeknya lebih lama, antara 12 dan 24 

jam. 

Efek sampingnya berupa perasaan me-

ngantuk dan efek antikolinergik yang agak 

sering dilaporkan pada dimen hidrinat, ja-

rang pada siklizin dan meklizin. Anak-anak 

di bawah usia 3 tahun sangat peka terhadap 

efek samping dimenhidrinat.

Dosis masing-masing obat yaitu  sebagai 

berikut:

siklizin (Marzin): profilaksis 1-2 jam se-

belum berangkat 50 mg, bila perlu di-

ulang 5 jam kemudian.

meklizin (Suprimal): profilaksis 1-2 jam 

sebelum berangkat 25-50 mg, bila perlu 

diulang sesudah  12 jam.

dimenhidrinat (difenhidramin, Dramamine, 

Antimo): profilaksis 1 jam sebelum be-

rangkat 50-100 mg, bila perlu diulang 8 

jam kemudian.

prometazin (Phenergan): dewasa dan 

anak-anak >8 tahun: 25 mg 0,5-1 jam 

sebelum perjalanan, bila perlu diulang 

sesudah  6-8 jam. Anak-anak 1-3 tahun 

2,5 mg dan anak-anak 3-5 tahun 15 mg. 

Harus waspada terhadapt prometazin 

yang bersifat sedasi kuat.

• Mediamer–B6: pirathiazin theoklat + vit B6

3. Antipsikotika (lihat juga Bab 29).

Di samping kerja antipsikotiknya, sejumlah 

neuroleptika juga berdaya anti-emetik, khu-

susnya derivat fenotiazin, seperti perfenazin, 

proklorperazin dan tiëtilperazin, begitu pula 

derivat butirofenon (haloperidol). Pada pro-

klorperazin dan terlebih pada tiëtilperazin, 

efek anti-emetisnya yang menonjol, sehingga 

dipakai  khusus sebagai antiemetika pada 

kemo- dan radioterapi. Pada mabuk darat 

tidak efektif.

Efek samping yang terpenting yaitu  gejala 

ekstrapiramidal, efek antikolinergik dan seda-

si, paling ringan pada tiëtilperazin. 

Dosis masing-masing yaitu  sebagai beri-

kut:

• haloperidol (Haldol): 2-3 x sehari 0,5-1 mg 

• perfenazin (Trilafon): 3 x sehari 4-8 mg 

i.m. 5 mg

• proklorperazin(Stemetil): 2-4 x sehari 5-10 

mg, rektal 1-2 x sehari 25 mg

• tiëtilperazin (Torecan): oral dan rektal 2-4 

x sehari 6,5 mg, s.c./i.m. satu kali 6,5 mg 

4. Metoklopramida: Primperan, Opram, Vo-

mitrol

Derivat aminoklorbenzamida ini (1964) ber- 

khasiat anti-emetik kuat berdasar  perta-

ma-tama blokade reseptor dopamin di CTZ. 

Di samping itu, zat ini juga memperkuat 

pergerakan dan pengosongan lambung (pro-

pulsivum). Efektif pada semua jenis muntah, 

termasuk akibat radio-/kemoterapi dan mi- 

grain; pada mabuk darat obat ini tidak am-

puh. Lihat juga Bab 16, Obat-Obat lambung, 

Propulsiva.

Resorpsi dari usus cepat, mulai kerjanya 

dalam 20 menit, PP 20%, dan plasma-t½ 

±4 jam. Ekskresi berlangsung 80% dalam 

keadaan utuh melalui urin.

Efek samping yang terpenting yaitu  sedasi 

dan gelisah sebab  metoklopramida dapat 

melintasi sawar (barrier) darah-otak. Efek 

samping lainnya berupa gangguan lambung-

usus serta gangguan ekstrapiramidal, teru-

tama pada anak-anak kecil. Gangguan eks-

trapiramidal sering kali timbul pada usia di 

bawah 20 tahun, namun  juga pada usia lebih 

lanjut dan terutama pada wanita, maka ke-

lompok ini cenderung memakai  dom-

peridon.

Interaksi. Obat-Obat seperti digoksin, yang 

terutama diserap di lambung, dikurangi re-

sorpsinya bila diberikan bersamaan dengan 

metoklopramida. Resorpsi dari obat yang 

diserap di usus halus justru dapat dipercepat, 

a.l. alkohol, asetosal, diazepam dan levodopa.

Dosis: 3-4 x sehari 5-10 mg, anak-anak maks. 

0,5 mg/kg/sehari. Rektal 2-3 x sehari 20 mg.

5. Domperidon: Motilium

Senyawa benzimidazolinon ini (1979) 

yaitu  propulsivum yang berkhasiat mensti-

mulasi peristaltik dan pengosongan lambung. 

Di samping itu juga berdaya anti emetik. Di-

gunakan pada refluks esofagitis dan pada 

mual dan muntah akibat kemoterapi dan 

pada migrain. Lihat juga Bab 16, Obat-Obat 

Lambung. Tidak melintasi sawar darah-otak 

dan jarang memicu  sedasi atau efek 

ekstrapiramidal.

Dosis: 3-4 x sehari 10-20 mg a.c.; anak-anak 

3-4 x sehari 0,3 mg/kg; rektal anak-anak 

sampai 2 tahun 2-4 x sehari 10 mg; i.m./i.v. 

0,1-0,2 mg per kg berat badan dengan maks. 

1 mg/kg berat badan sehari. Lih. Bab 16, 

Domperidon dan QT interval.

6. Ondansetron: Zofran,Dantroxal

Senyawa carbazol ini (1990) yaitu  anta-

gonis reseptor serotonin-3 selektif (dari resep-

tor-5HT3). Bekerja anti-emetik kuat dengan me-

nentang refleks muntah dari usus halus dan 

stimulasi CTZ, yang keduanya diakibatkan 

oleh serotonin. Efeknya dapat diperkuat 

dengan pemberian dosis tunggal deksametason 

(20 mg per infus) sebelum kemoterapi dimulai.

Selain pada kemo- dan radioterapi juga 

sering diberikan untuk profilaksis sesudah  

pembedahan ginekologi.

Resorpsi dari usus agak baik dengan BA 

rata-rata 75%, PP 73% dan plasma-t½ 3-5 jam. 

Sebagian besar zat ini dimetabolisasi di da-

lam hati dan metabolitnya diekskresi lewat 

feses dan urin. 

Efek samping berupa nyeri kepala, obstipasi, 

rasa panas di muka (flushes) dan perut bagian 

atas, jarang sekali gangguan ekstra-piramidal 

dan reaksi hipersensitivitas.

Kehamilan dan laktasi. Menurut laporan 

terakhir ondansetron tidak berisiko terha-

dap abortus, kelainan kongenital, kelahiran 

prematur atau penyimpangan pertumbuhan 

anak.

1. NEJM, (2013; 368:814-23).

2. Maillette de Buy Wenniger; Ondansetron veilig 

bij zwangerschapsmisselijkheid; Ned Tijdschr 

Geneeskd 2013;157:C1656 

Selama menyusui tidak dianjurkan, sebab  

zat ini masuk ke dalam air susu ibu.

Dosis: 1-2 jam sebelum menjalani kemo-

terapi 8 mg (garam HCl.2 aq), lalu tiap 12 jam 

8 mg selama 5 hari. I.v. 4-8 mg (perlahan).

* Granisetron (Kytril) yaitu  derivat indazol 

(1991) dan juga antagonis reseptor-5HT3 de-

ngan khasiat anti-emetik kuat long-acting. 

Efektivitas, pemakaian  dan efek samping 

sama dengan ondansetron. Antara kadar 

darah dan efek antiemetik tidak ada korelasi 

jelas.

Dosis: profilaksis 1 mg (garam HCl) dalam 

1 jam sebelum kemoterapi dimulai, 12 jam 

kemudian 1 mg lagi.

* Tropisetron (Navoban) yaitu  juga derivat 

(1992) long-acting (t½ 8-45 jam) dengan kha-

siat dan pemakaian  sama. Obat ini ternya- 

ta lebih efektif daripada kombinasi metoklo-

pramida dengan deksametason.

Dosis: i.v. 5 mg (garam HCl) sebelum 

kemoterapi, disusul dengan oral 5 mg 1 jam 

sebelum makan pagi selama 5 hari.


OBAT-OBAT DIARE


Diare yaitu  keadaan buang-buang air de-

ngan banyak cairan (mencret) dan merupa-

kan gejala dari penyakit-penyakit tertentu 

atau gangguan lain, seperti diuraikan di 

bawah ini ( Yun diarrea = mengalir melalui).

Kasus ini banyak ada  di negara-

negara berkembang dengan standar hidup 

yang rendah, di mana dehidrasi akibat diare 

merupakan salah satu pemicu  kematian 

penting pada anak-anak. 

FIsIOlOgI 

Dalam lambung makanan dicerna menjadi 

“bubur” (chymus), kemudian diteruskan ke 

usus halus untuk diuraikan lebih lanjut oleh 

enzim-enzim pencernaan. sesudah  zat-zat gi-

zi diresorpsi oleh villi ke dalam darah, sisa 

chymus yang terdiri dari 90% air dan sisa 

makanan yang sukar dicernakan, diterus- 

kan ke usus besar (colon). Bakteri-bakteri yang 

biasanya selalu berada di sini (flora) mencer-

nakan lagi sisa-sisa (serat-serat) itu , 

sehingga sebagian besar daripadanya dapat 

diserap lagi selama perjalanan melalui usus 

besar. Air juga diresorpsi kembali, sehingga 

lambat laun isi usus menjadi lebih padat dan 

dikeluarkan dari tubuh sebagai tinja.

pemicu  diare

Pada diare ada  gangguan dari resorpsi, 

sedang  sekresi getah lambung-usus dan 

motilitas usus meningkat.

Menurut teori klasik diare disebabkan oleh 

meningkatnya peristaltik usus sehingga pe-

lintasan chymus sangat dipercepat dan ma-

sih mengandung banyak air pada saat me- 

ninggalkan tubuh sebagai tinja. Penelitian 

dalam tahun-tahun terakhir menunjukkan 

bahwa pemicu  utamanya yaitu  bertum-

puknya cairan di usus akibat terganggunya 

resorpsi air atau/dan terjadinya hipersekresi. 

Pada keadaan normal proses resorpsi dan 

sekresi air dan elektrolit-elektrolit berlang-

sung pada waktu yang sama di sel-sel epitel 

mukosa. Proses ini diatur oleh beberapa hor-

mon, yaitu resor psi oleh enkefalin (morfin 

endogen, lihat Bab 22, Analgetika Narkotika) 

sedang  sekresi diatur oleh prostaglandin 

dan neurohormon V.I.P. (Vasoactive Intestinal 

Peptide). Biasanya resorpsi melebihi sekresi, 

namun  sebab  sesuatu sebab sekresi menjadi 

lebih besar daripada resorpsi maka terjadilah 

diare. Keadaan ini sering kali terjadi pada 

gastroenteritis (radang lambung-usus) yang 

disebabkan oleh virus, kuman dan toksinnya. 

Di samping masalah resorpsi, diare juga 

dapat disebabkan oleh perubahan per gerak-

an (motilitas) usus, atau kombinasi dari kedua-

duanya.

Penggolongan mekanisme diare

ada  4 kelompok sebagai berikut.

–  diare osmotik: isi usus yang hipertonik 

memicu  air ditarik ke rongga usus;

–  diare sekretik: sekresi air dan elektrolit di 

usus (oleh toksin kuman);

–  diare yang disebabkan oleh gangguan 

motilitas usus yang disertai peningkatan 

kontraksi otot;

– diare yang disebabkan oleh peradangan 

mukosa usus yang memicu  pe- 

ningkatan permeabilitas (mis. colitis 

ulcerosa).

Jenis-jenisnya

berdasar  pemicu nya dapat dibedakan 

beberapa jenis gastroenteritis dan diare se-

bagai berikut:

a.- diare akibat virus, misalnya ‘influenza 

perut’ dan ‘travellers diarrhoea’ yang dise-

babkan antara lain oleh rotavirus dan 

adenovirus. Virus melekat pada sel-sel 

mukosa usus yang menjadi rusak se-

hingga kapasitas resorpsi menurun dan 

sekresi air dan elektrolit memegang 

peranan. Diare yang terjadi bertahan 

terus sampai beberapa hari sesudah virus 

lenyap dengan sendirinya, biasanya 

dalam 3-6 hari. Menurut taksiran 90% dari 

semua diare wisatawan disebabkan oleh 

virus atau kuman E. coli spec. (tak ganas) 

dari makanan. pemicu  lain yaitu  

perubahan pola makan dan psikologis 

(stres, kekhawatiran).

b.- diare bakterial invasif (bersifat me nyerbu) 

agak sering terjadi, namun  mulai berku-

rang berhubung semakin meningkatnya 

kesadaran mengenai higiene dari ma-

syarakat. Kuman pada keadaan tertentu 

menjadi invasif dan menyerbu ke dalam 

mukosa, di mana terjadi perbanyakan diri 

sambil membentuk toksin. Enterotoksin 

ini dapat diresorpsi ke dalam darah 

dan me nimbulkan gejala hebat, seperti 

demam tinggi, nyeri kepala dan kejang-

kejang. Selain itu mukosa usus yang telah 

dirusak memicu  mencret berda-

rah dan berlendir. pemicu  terkenal da-

ri pembentuk enterotoksin yaitu  bak- 

teri E. coli spec., Shigella, Salmonella dan 

Campylobacter. Diare ini bersifat “selfli-

miting”, artinya akan sembuh dengan sen-

dirinya dalam ±5 hari tanpa pengobatan, 

sesudah  sel-sel yang rusak diganti dengan 

sel-sel mukosa baru.

c. diare parasiter akibat protozoa seperti 

Entamoeba histolytica dan Giardia lamblia, 

yang terutama terjadi di daerah (sub)

tropis.Yang pertama juga membentuk 

enterotoksin. Diare akibat parasit ini bi-

asanya bercirikan mencret cairan yang 

intermiten dan bertahan lebih lama 

dari satu minggu. Gejala lainnya dapat 

berupa nyeri perut, demam, anoreksia, 

nausea, muntah-muntah dan rasa letih 

umum (malaise). Untuk amebiasis, lihat-

Bab 12, Obat-Obat Amebiasis.

d. akibat penyakit, misalnya colitis ulcerosa, 

penyakit Crohn, Irritable Bowel Syndrome 

(IBS), kanker kolon dan infeksi-HIV. Juga 

akibat gangguan–gangguan seperti aler-

gi terhadap makanan/minuman, pro-

tein susu sapi dan gluten (coeliakie) serta 

intoleransi untuk laktosa sebab  defi-

siensi enzim laktase. 

e. akibat obat, yaitu digoksin, kinidin, ga-

ram Mg dan garam litium, sorbitol, beta- 

blocker, perintang ACE, reserpin, sitos-

tatika dan antibiotik berspektrum luas 

(ampisilin, amoksisilin, sefalosporin, klin- 

damisin, tetrasiklin). Semua obat ini 

dapat memicu  diare “baik” tanpa 

kejang perut dan perdarahan. Adakala- 

nya juga akibat penyalahgunaan lak-

sansia dan penyinaran dengan sinar-X 

(radioterapi).

f. akibat keracunan makanan sering ter-

jadi, misalnya pada waktu perhelatan 

anak-anak sekolah atau karyawan peru- 

sahaan dan biasanya disertai pula de-

ngan muntah-muntah. Keracunan ma-

kanan didefinisikan sebagai penyakit 

yang bersifat infeksi atau toksik dan 

diperkirakan atau disebabkan oleh me-

ngonsumsi makanan atau minuman yang 

tercemar. pemicu  utamanya yaitu  

tidak memadainya kebersihan pada wak- 

tu pengolahan, penyimpanan dan dis-

tribusi makanan/minuman de ngan aki- 

bat pencemaran meluas. Kuman-kuman 

Gram-negatif yang biasanya menyebab-

kan keracunan makanan dengan tok-

sinnya yaitu  seperti yang tercantum da-

lam tabel berikut ini. 

Dehidrasi

Pada diare hebat yang sering kali disertai 

muntah-muntah, tubuh kehilangan banyak 

air dengan garam-garamnya, terutama na-

trium dan kalium. Hal ini memicu  

tubuh kekeringan (dehidrasi), kekurangan 

kalium (hipokaliemia) dan adakalanya acidosis 

(darah menjadi asam). yang tidak jarang 

berakhir dengan shock dan kematian. Bahaya 

ini sangat besar khususnya bagi bayi dan 

anak-anak sebab  organismenya memiliki 

cadangan cairan intra-sel yang hanya kecil 

sedang  cairan ekstra-selnya lebih mudah 

dilepaskan dibanding tubuh orang dewasa.

Gejala pertama dari dehidrasi yaitu  pera-

saan haus, mulut dan bibir kering, kulit 

menjadi keriput (hilang kekenyalannya), ber-

kurangnya air seni dan menurunnya berat 

badan, gelisah, asidosis, hipokalemia dan 

kolaps. Kekurangan kalium terutama meme-

ngaruhi sistem neuromuskuler dengan gejala 

mengantuk (letargi), lemah otot dan sesak 

napas (dyspnoea).

Pencegahan, tindakan umum

Pencegahan diare pada dasarnya harus di-

tujukan pada tindakan higiene yang cermat 

mengenai kebersihan, khususnya cuci tangan 

dengan bersih sebelum makan atau mengolah 

makanan. Begitu pula dengan alat-alat dapur 

(talenan, handuk) dan bahan-bahan makanan, 

misalnya sayuran/lalap supaya dicuci de-

ngan baik. Daging/ikan, bistik/barbecue 

hendaknya dimasak sampai matang dan 

hidangan perlu disimpan tertutup (lalat!) 

serta pada suhu rendah (lemari es, di bawah 

7°C) untuk mencegah tumbuhnya kuman. 

Air minum di lokasi yang meragukan penting 

sekali untuk dimasak terlebih dahulu. 

* Diare wisatawan (travellers’ diarrhoea), Ma-

salah medis yang paling sering (insidensi 

±30%) dijumpai oleh wisatawan ke 

daerah tropik yaitu  diare untuk jangka 

waktu singkat atau lebih lama.16 Biasanya 

disebabkan oleh infeksi (a.l. oleh sejenis E. coli 

atau giardiasis) dari makanan atau minuman 

dan terutama menyerang anak-anak.

Diare jenis ini pada dasarnya dapat di-

cegah dengan tindakan-tindakan preventif 

yang sama. Semboyan untuk wisatawan ke 

negara-negara berkembang harus berbunyi: 

“Boil it, cook it, peel it or forget it”. Jadi, segala 

sesuatu yang tidak dimasak (air minum, 

makanan) atau dikupas (buah-buahan) ja-

nganlah dimakan!

biasanya  gangguan ini tidak seri-

us dan akan sembuh dengan spontan (2-5 

hari; self-limiting). Bila juga timbul demam 

perlu diobati dengan antibiotika (mis. si- 

profloksasin, kotrimoksazol), untuk meri- 

Kuman Sumber Masa 

inkubasi

Gejala Pemulihan 

(recovery)

Bacillus cereus makanan 1-6 jam muntaber, dehidrasi cepat

Clostrid. perfring. makanan 8-22 jam diare, nyeri, kejang 2-3 hari

E.coli daging sapi, susu 12-48 jam diare darah 10-12 hari

Campylob. jejuni daging sapi/unggas, susu 48-96 jam diare dg darah, demam, 

nyeri perut

3-5 hari

Clostrid. botulin. makanan dl kaleng/botol 18-24 jam diare dan gangguan 

saraf

10-14 hari

Salmon. daging sapi/unggas, susu 12-48 jam muntaber, demam 3-6 hari sp  

2 minggu

Shigella. makanan/air 24-48 jam diare dg darah 7-10 hari

Staphyl. aur. makanan/air 2-4 jam muntaber, dehidrasi kurang dari  

24 jam

Sumber Gejala

Ikan tuna, makerel keracunan ikan (histamin) 

Ikan snapper diare, paresthesia

Shellfish toksis bagi saraf

Jamur macam-macam

Tabel18-1:  Kuman-kuman pemicu  keracunan makanan

Tabel 18-2: Racun organik pemicu  

keracunan makanan

ngankan gejala dan mempercepat penyem-

buhan. Bila tidak ada  pemicu -pe-

nyebab infeksi lainnya (lih. di atas), gangguan 

ini mungkin disebabkan oleh gangguan yang 

disebut “tropical sprue.” Penyakit diare kronis 

ini didefinisikan sebagai gangguan yang 

diperoleh di daerah tropik (khususnya Asia) 

tanpa diketahui dengan jelas pemicu nya.19

Gejalanya yaitu  kejang-kejang perut dan 

diare, kadangkala dengan demam dan ma-

laise, malabsorpsi dan timbulnya kelainan-

kelainan mukosa selaput lendir usus halus 

yang memicu  berbagai kekurangan 

seperti defisiensi vitamin B12 dan asam folat. 

Akibat selanjutnya yaitu  turunnya berat 

badan, timbulnya glossitis (radang lidah), 

stomatitis aphthosa (radang seriawan rongga 

mulut) dan anemi. Pengobatannya terdiri 

dari pemberian vitamin B12, asam folat dan 

sediaan besi, juga antibiotik.

* Profilaksis. Pencegahan dengan antibiotika 

pada prinsipnya tidak dianjurkan berhubung 

risiko terjadinya resistensi. Pengecualian 

yaitu  bagi wisatawan-wisatawan di daerah 

berisiko infeksi tinggi, di mana makanan 

dan minuman yang “aman” tidak terjamin, 

juga bagi lansia atau orang yang kekurangan 

produksi asam lambung serta pasien jantung, 

bronchitis dan penyakit berisiko tinggi lain-

nya. Obat yang layak dipakai  yaitu  

doksisiklin 100 mg, yang harus diminum 

setiap hari selama berada di daerah rawan.

Vaksinasi dapat dilakukan untuk tifus 

dengan vaksin oral (Vivotif, yang mengandung 

basil hidup yang tidak patogen lagi dan 

memberikan imunitas selama minimal 3 

tahun) atau parenteral (Typhim Vi, dari basil 

mati). Untuk kolera tidak dianjurkan (lagi) 

sebab  menghasilkan imunitas ringan pada 

hanya 50% dari orang yang disuntik, lagi 

pula efektivitasnya sangat singkat. Hal yang 

sama berlaku bagi vaksin disentri. Lihat juga 

Bab 50, Sera dan Vaksin.

Pengobatan

Rehidrasi oral. Setiap tahun lebih kurang 5 

juta anak-anak di bawah usia 5 tahun mening-

gal akibat diare, ± 65% di antaranya sebab  

dehidrasi, terutama di negara-negara dengan 

iklim panas. Oleh sebab  itu pen ting sekali 

untuk pertama-tama melakukan tindakan 

untuk mencegah atau mengatasi keadaan 

dehidrasi dan kehilangan garam, terutama 

pada bayi dan anak-anak (sampai usia lebih 

kurang 3 tahun) dan lansia (di atas 65 tahun). 

Untuk tujuan ini WHO menganjurkan ORS 

(= oral rehydration solution) yang berfungsi 

mengatasi kehilangan cairan dan elektrolit 

pada diare akut.

* Garam rehidrasi oral. ORS yaitu  suatu 

larutan dari campuran NaCl 3,5 g, KCl 1,5 

g, Na-trisitrat 2,5 g dan glukosa 20 g dalam 

1 liter air matang (Oralit). Dasar ilmiah dari 

pemakaian  ORS ini yaitu  penemuan ± 

25 tahun lalu bahwa glukosa menstimulasi 

secara aktif transpor Na dan air melalui 

dinding usus. Dengan demikian resorpsi air 

dalam usus halus meningkat dengan 25 kali 

(Sladen & Dawson). Begitu pula bahan gizi 

lainnya (asam amino, peptida) memperlancar 

penyerapan air.

* ORS beras. Beberapa tahun lalu telah 

ditemukan bahwa tepung beras (atau tepung 

jagung, sorghum dan kentang) sebagai peng-

ganti glukosa dalam campuran ORS mem-

berikan beberapa keuntungan penting. Da-

lam usus tepung beras yang terutama berisi 

pati dicernakan dan menghasilkan dua kali 

lebih banyak glukosa daripada dalam ORS 

biasa. 

Efeknya ialah bertambahnya penyerapan 

(kembali) air dan elektrolit. Mungkin asam 

amino dari protein beras memegang peranan 

aditif pada resorpsi Na dan air itu . 

sebab  osmolaritasnya lebih rendah (hipotonis) 

daripada darah (masing-masing 220 dan 290 

mmol/l), maka air dari ORS akan diabsorpsi 

dengan pesat sampai osmolaritas cairan usus 

sama dengan darah. Hal ini tidak terjadi 

dengan ORS biasa yang bersifat hipertonis 

ringan (331 mmol/l). Selain itu rasanya 

lebih enak dan kerjanya lebih cepat, ORS-

beras juga mengurangi kuantitas tinja dan 

lamanya tahap  diare dengan rata-rata 20%, 

pada kolera malah sampai 30% lebih.

 Kendala ORS beras yaitu  bahwa laruta n 

ini harus dimasak (lebih kurang 7-10 menit) 


yang membutuhkan waktu dan biaya lagi. 

Stabilitasnya juga terbatas berhubung ke-

mungkinan timbulnya fermentasi dan kon-

taminasi kuman sesudah  12-24 jam, terutama di 

daerah tropik. Lagipula anak-anak di bawah 

usia 3 bulan tidak dapat mencernakan pati 

beras dengan sempurna sebab  pankreasnya 

belum membentuk cukup enzim amilase. 

Namun berkat khasiat baik itu  di atas, 

ORS beras dapat dianggap sebagai obat 

diare efektif yang berdaya mencegah mem-

buruknya diare dan kematian.

Pembuatan sendiri. Dalam keadaan da-

rurat ORS beras dapat dibuat sendiri de-

ngan bahan-bahan yang ada di setiap rumah 

tangga. Tepung beras 50 g dimasak dengan 

lebih kurang satu liter air selama 7-10 menit, 

kemudian disaring, larutkan garam dapur 

3,5 gram (= lebih kurang 1 sendok teh rata) 

dan tambahkan air matang lagi sampai 

volume 1 liter tepat. KCl dan sitrat dalam 

hal ini jauh kurang penting daripada garam 

dan pati yang esensil bagi penyerapan air. 

Kemungkinan lain yang dilaporkan sama 

efektifnya yaitu  larutan garam dapur 3,5 g 

dengan gula putih 20 g (= ± 1 sendok makan 

muncung) dalam 1 liter air matang.

Pentakaran ORS beras. Dosis untuk orang 

dewasa pada dehidrasi ringan yaitu  50 

ml/kg berat badan dalam 4 jam pertama, 

kemudian untuk pemeliharaan 100 ml/kg 

setiap hari sampai diare berhenti. Pada kasus 

dehidrasi lebih berat: 100 ml/kg dalam 4 

jam pertama, disusul dengan 10-15 ml/kg 

tiap jam. Untuk anak-anak 20 ml/kg dalam 

4 jam pertama dan seterusnya 10 ml/kg tiap 

jam hingga total mencapai 200 ml/kg sehari. 

Rehidrasi lengkap baru tercapai bila pasien 

mulai berkemih normal kembali.

Pada anak-anak larutan ORS sebaiknya 

diberikan sendok demi sendok (teh) sepanjang 

hari untuk mencegah mual dan muntah. Air 

susu ibu biasanya tidak memperburuk diare 

dan dapat diberikan bersamaan dengan ORS. 

Pasien dengan dehidrasi berat yang disertai 

muntah-muntah hebat perlu diberikan la-

rutan elektrolit secara intravena (larutan laktat 

Ringer, WHO).

susunan ORS-WHO ORS-beras

per liter per liter

NaCl 3,5 g 3,5 g

KCl 1,5 g 1,5 g

Na-trisitrat 2,5 g 2,5 g

Glukosa 20 g  -

Tepung beras  - 50 g

Osmolaritas 331 mmol/l 220  mmol/l

Tabel 18-3: Susunan larutan ORS 

Tindakan umum

Untuk mencegah terbukanya luka pada usus 

dan perdarahan, sebaiknya pasien diare ha-

rus istirahat lengkap (bedrest). Perlu pula 

dilakukan diet dengan bahan makanan yang 

tidak merangsang dan mudah dicerna. Diet 

yang baik yaitu  sebagai berikut: pada hari 

pertama bubur encer dengan beberapa tetes 

kecap dan minuman air teh agak pekat, 

pada hari 2-5 nasi tim dengan kaldu ayam, 

sayur yang dihaluskan, garam dan beberapa 

tetes kecap. Menurut laporan diet ini dapat 

mempercepat penyembuhan diare.

Penanganan

Diare akut merupakan mekanisme pelin -

dungan alamiah dari tubuh untuk menge-

luarkan zat-zat yang merugikan dari saluran 

pencernaan dan kebanyakan berlangsung 

selewat (maksimal 1-2 minggu). Bila gejala ini 

disertai demam dan/atau darah dalam feses 

janganlah ditangani dengan obat diare.

biasanya  diare akut disebabkan 

oleh infeksi virus atau kuman, atau dapat 

pula akibat efek samping obat atau gejala 

dari gangguan saluran cerna (perubahan 

pola makan) dan bisa juga disebabkan oleh 

aktivitas fisik berlebihan. Umumnya gang- 

guan ini bersifat self-limiting dan bila tanpa 

komplikasi tidak perlu ditangani dengan 

obat, kecuali rehidrasi oral bila ada bahaya 

dehidrasi. Hanya pada bentuk diare bak-

teriil yang sangat serius perlu dilakukan 

terapi dengan antibiotik. Pilihan utama ada-

lah amoksisilin, kotrimoksazol dan senyawa 

fluorkinolon. Loperamida banyak dipakai  

untuk mengurangi frekuensi defekasi pada 

diare viral dan akut tanpa demam atau tanpa 

darah dalam tinja. 


Diare akut pada balita selain dapat dise-

babkan oleh gastro-enteritis, dapat pula di-

akibatkan oleh infeksi non-enteral, misalnya 

infeksi telinga tengah (otitis media) atau me-

ningitis. Bisa juga disebabkan oleh peng-

gunaan antibiotika.

Diare kronis. Diare yang bertahan lebih 

dari 2 minggu (terus-menerus atau berse-

lang-seling) umumnya disebut kronis dan 

harus selalu diselidiki pemicu nya a.l. me- 

lalui sigmoidoscopy dan biopsi rektal sebab  

kemungkinan adanya tumor di usus besar 

atau penyakit usus beradang kronis (Crohn, 

colitis ulcerosa). pemicu  lain yaitu  into-

leransi laktosa, radioterapi, penyakit infeksi, 

insufisiensi pankreas (diare lemak), Irritable 

Bowel syndrome (IBS) dan pemakaian  lak-

sansia yang berkelanjutan.

Untuk diare kronis ringan tanpa infeksi 

atau peradangan usus yang parah, dapat 

dipakai  loperamida, terkecuali bila ter-

dapat infeksi oleh mikroba invasif atau pe-

radang an usus parah (darah dalam feses, 

demam). 

Diare kronis pada anak-anak dapat pula 

diakibatkan oleh intoleransi atau alergi ter-

hadap bahan makanan (misalnya susu sapi, 

gluten), cystic fibrosis dan IBS. 

Diare pada bayi dan anak-anak kecil pada 

umumnya tidak ditangani dengan obat, te-

tapi yang utama yaitu  pemberian cairan 

dan elektrolit disertai diet.

Obat-obat diare

Diare viral dan diare akibat enterotoksin 

pada hakikatnya sembuh dengan sendirinya 

sesudah lebih kurang 5 hari, sesudah  sel-sel 

epitel mukosa yang rusak diganti oleh sel-

sel baru. Maka pada dasarnya tidak perlu 

diberikan obat, hanya bila mencretnya hebat 

dapat dipakai  obat (simtomatik) untuk 

mengu ranginya, misalnya dengan asam sa-

mak (tannalbin), aluminiumhidroksida dan 

karbo adsorbens (arang halus yang sudah 

diaktifkan). Zat-zat yang menekan peristal- 

tik sebetulnya tidak begitu layak untuk di-

gunakan sebab  pada waktu diare perge-

rakan usus sudah banyak berkurang, lagi 

pula virus dan toksin perlu dikeluarkan 

secepat mungkin dari tubuh. Dari zat-zat ini 

mungkin loperamida yaitu  pengecualian 

sebab  berfungsi menormalisasi keseimbangan 

resorpsi-sekresi dari sel-sel mukosa. Antibiotik 

pada diare jenis ini tidak berguna, sebab  

tidak mempercepat sembuhnya penyakit.

Hanya pada infeksi oleh bakteri invasif 

perlu diberikan suatu obat kemoterapeutik 

yang bersifat mempenetrasi baik ke dalam ja-

ringan, seperti amoksisiklin, tetrasiklin dan 

sulfa usus. Obat-obat ini sebaiknya jangan 

diberikan lebih dari 7-10 hari, kecuali bila se- 

telah sembuh diarenya, pasien masih tetap 

mengeluarkan bakteri dalam tinja. Pembawa 

basil demikian perlu terus diobati hingga 

tinjanya bebas kuman pada dua penelitian 

berturut-turut, terutama bilamana yang ber-

sangkutan bekerja di rumah makan, industri 

bahan makanan atau sebagai tukang daging! 

Zat pencahar laktulosa dapat mempersingkat 

jangka waktu “membawa” basil dengan be-

berapa minggu.

Kontra-indikasi

Penekanan diare dapat merugikan penderita 

bila diare disebabkan oleh zat beracun sebab  

penghambatan pengeluaran zat itu . 

dapat memperparah penyakit.

Penggolongan

Kelompok obat yang sering kali dipakai  

pada diare yaitu :

1. kemoterapeutika untuk terapi kausal, 

yaitu memberantas bakteri pemicu  diare, 

seperti antibiotika, sulfonamida dan senyawa 

kinolon.

2. obstipansia untuk terapi simtomatis, yang 

dapat menghentikan diare dengan beberapa 

cara, yaitu:

a. zat-zat penekan peristaltik sehingga membe-

rikan lebih banyak waktu untuk resorpsi 

air dan elektrolit oleh mukosa usus, yaitu 

candu dan alkaloidanya, derivat petidin 

(loperamida) dan antikolinergika (atropin, 

ekstrak belladonna).

b. adstringensia, yang menciutkan selaput 

lendir usus, misalnya asam samak (tanin) 

dan tannalbumin, garam-garam bismut dan 

aluminium.


c. adsorbensia, misalnya karbo adsorbens yang 

pada permukaannya dapat menyerap 

(adsorpsi) zat-zat beracun yang dihasilkan 

oleh bakteri atau yang adakalanya berasal 

dari makanan (udang, ikan). Termasuk 

di sini yaitu  juga mucilagines, zat-zat 

lendir yang menutupi selaput lendir usus 

dan luka-lukanya dengan suatu lapisan 

pelindung, misalnya kaolin, pektin (suatu 

karbohidrat yang ada  a.l. dalam bu-

ah apel) dan garam-garam bismut serta 

aluminium.

3. spasmolitika, yaitu zat-zat yang dapat me-

lepaskan kejang-kejang otot yang sering kali 

memicu  nyeri perut pada diare, a.l. 

papaverin.

Di bawah ini akan dibicarakan obat-obat 

khusus untuk mengobati penyakit infeksi 

usus terpenting yang sering kali menyebab-

kan diare, yaitu obat kolera, disentri basiler, 

tifus, paratifus dan campylobacteriosis.Begitu 

pula pengobatan dari infeksi protozoa pen-

ting, yaitu Giardiasis.

Pengobatan disentri amuba telah dibicara-

kan tersendiri dalam Bab 12, Obat-Obat Ame-

biasis. Selanjutnya akan dibahas obat-obat 

untuk menghentikan diare secara simtomatis 

(obstipansia).

1. Obat kolera

Kolera (Yun. chole=empedu dan rhein= meng a-

lir) disebabkan oleh basil Gram-negatif Vibrio 

cholerae, yang berbentuk koma dan berge-

rak dengan benang cambuk (flagellat). Biotipe 

El Tor (= suatu tempat karantina di Saudi 

Arabia) telah mendesak suku klasik (asiaticae) 

sebagai pemicu  utama dari epidemi kolera. 

Sebabnya ialah sebab  El Tor lebih ulet, se-

dangkan infeksinya sering berlangsung tak 

kentara berhubung gejalanya lebih lunak. 

Infeksi terutama terjadi melalui air yang ter-

kontaminasi dengan tinja, terutama pada 

orang yang produksi asam lambungnya ter-

ganggu (lihat Seksi III, Obat-Obat Gangguan 

Saluran Cerna). Masa inkubasinya beberapa 

jam sampai 6 hari.

Gejalanya sering kali demikian ringan 

dan umum sehingga tidak dapat dibedakan 

dari infeksi lainnya. Yang khas yaitu  diare 

‘air beras’ (ricewater stool; adanya jonjot-jon-

jot lendir yang mengambang dalam feses 

cair), yang disertai muntah-muntah hebat. 

Bila tidak diobati akan timbul apati, ganggu-

an sirkulasi (kulit dingin dan lengket, tachy-

cardi a, hipotensi dan cyanosis), juga dehidrasi 

(pengeluaran kemih berkurang, kulit hilang 

kelenturannya) dan kejang-kejang otot (he-

bat). Akhirnya terjadi gagal ginjal fatal.

Pengobatan. Rehidrasi pada kolera sa-

ngat penting. sebab  tubuh kehilangan ba-

nyak cairan, maka pasien harus selalu diberi 

larutan ORS (-beras) sampai diare berhenti. 

Dengan rehidrasi layak angka kematian ki-

ni sudah menurun sampai 1%. Antibiotik 

sangat efektif untuk memusnahkan kuman, 

mengurangi diare dan mempersingkat lama-

nya keluhan. Yang dapat dipakai  yaitu  

tetrasiklin 4 dd 250 mg atau doksisiklin 2 dd 

100 mg selama 3 hari. Sebagai profilaksis da-

pat pula dipakai  tetrasiklin 2 dd 500 mg 

selama 3 hari, sedang  vaksin kolera tidak 

dianjurkan sebab  kurang efektif.

2. Obat disentri basiler

Disentri basiler atau shigellosis (enteritis Shi-

gella) yaitu  penyakit infeksi usus yang di-

akibatkan oleh beberapa jenis basil Gram- 

negatif dari genus Shigella (Yun. dys = buruk, 

dikacau; enteron = usus; -itis = radang). Penye-

baran diperlancar sebab  banyak infeksi 

sering berlangsung ringan dan tak kentara, 

lagi pula sesudahnya pasien menjadi pem-

bawa-basil untuk jangka waktu lama dan tetap 

mengekskresi kuman. Masa inkubasinya 1-7 

hari. 

Gejalanya yaitu  demam sampai 39-40o C, 

menggigil, radang mukosa, terutama dari 

usus besar, dengan kejang-kejang dan nyeri 

perut, mulas hajat (tenesmus) serta diare ber-

lendir dengan darah. 

Terapi. Kebanyakan disentri bersifat self-

limiting dan sembuh dengan sendirinya se-

sudah 2-7 hari. Pada anak-anak di bawah 

usia 2 tahun dan lansia infeksi dapat berakhir 

fatal bila terjadi dehidrasi. Tanpa pengobatan 

infeksi tidak jarang kambuh lagi (pada ± 10% 

dari penderita). Obat yang dipakai  yaitu  

tetrasiklin 4 dd 250 mg, kotrimoksazol 2 


dd 960 mg atau siprofloksazin 2 dd 500 mg, 

semuanya selama 3-5 hari.  

3. Obat tifus

Tifus perut (Typhus abdominalis,‘typhoid fever’) 

disebabkan oleh a.l. Salmonella typhi, yang 

sering kali ditularkan pada manusia oleh basil 

ternak (telur itik). Tifus sebetulnya termasuk 

dalam golongan penyakit demam berhubung 

adanya beberapa gejala, seperti demam 

tinggi (dengan bradycardia) dan kepala sangat 

nyeri. namun  penyakit ini dibicarakan juga di 

sini sebab  infeksi pertama terjadi di usus. 

Kuman-kuman memperbanyak diri di situ, 

lalu menyebar melalui limfe dan darah ke 

sirkulasi besar dan hati. Melalui saluran 

empedu basil tiba lagi dalam usus, dengan 

demikian infeksi dipertahankan. Diagnosis 

dilakukan melalui persemaian darah.

Gejalanya dapat sangat bervariasi. Semula 

terjadi demam dengan kenaikan suhu secara 

bertahap dalam tiga hari pertama, nyeri ke-

pala terus-menerus yang menghebat, perut 

kembung dan nyeri, anoreksia, mual dan 

obstipasi. Kemudian sering kali disusul de-

ngan diare sangat cair, juga bronchitis, per- 

darahan hidung, apati dan gejala psikis. 

Komplikasi berbahaya dapat terjadi, misal-

nya perdarahan usus dan perforasi usus 

akibat peritonitis.

Terapi. Sebagai pilihan pertama dipakai  

kotrimoksazol 2 dd 3 tablet (1440 mg), pi-

lihan kedua yaitu  amoksisilin 6 dd 1 g 

selama 2 minggu, juga kloramfenikol 4 dd 

750 mg sampai demam hilang, lalu 4 dd 500 

mg, total juga 2 minggu. Pada kasus yang 

parah dengan shock dan kegelisahan dianjur- 

kan penambahan prednisolon untuk mem-

bantu turunnya demam lebih cepat serta 

memberikan perasaan segar dan sembuh 

pada pasien. Pemberian ini maksimal selama 

3 hari agar jangan memperbesar risiko per-

darahan usus. Pada obstipasi tidak boleh 

diberikan laksansia berhubung bahaya per-

forasi dan perdarahan. 

* Pembawa-basil. Meskipun semua gejala 

infeksi sudah lenyap, namun pasien baru 

dinyatakan sembuh tuntas bila selama tiga 

minggu tinjanya bebas basil. Bila sesudah 

enam bulan tinja masih tetap positif, pasien 

dianggap sebagai pembawa basil kronis. 

Orang demikian tidak boleh bekerja di dapur 

maupun industri makanan. Menurut laporan 

pengobatan dengan jangka waktu yang cu-

kup lama dengan kotrimoksazol atau sipro-

floksasin yaitu  efektif untuk membuat pen-

derita bebas basil.

* Paratifus (salmonellosis). Paratifus yaitu  

nama kuno untuk suatu bentuk gastro-en-

teritis akibat infeksi dengan salah satu dari 

ratusan jenis Salmonella lain, a.l. 

S. paratyphi B. Bersifat kurang ganas dari 

tifus (yang pada hakikatnya merupakan 

peracunan darah masal dengan Salmonella), 

namun  jauh lebih sering terjadi, ± 80% dari 

semua infeksi Salmonella. Penularan terjadi 

lewat makanan yang terinfeksi seperti 

daging, makanan hewani lainnya atau oleh 

orang pembawa basil. Masa inkubasinya 8-48 

jam. Perbanyakan juga terjadi dalam usus 

dengan siklus enterohepatik.

Gejala akibat radang mukosa usus yang 

dimulai akut dengan nausea, muntah, nyeri 

perut mirip kolik, diare dan jarang demam. 

Biasanya penyakit ini sembuh dengan 

spontan (self-limiting) sesudah 2-5 hari, jarang 

diare dan demam ringan yang bertahan 

sampai dua minggu. 

Terapi cukup dengan pantangan makan 

dan hanya minum teh (atau ORS pada bayi 

dan lansia), pada diare hebat dapat diberikan 

loperamida. Pada kasus parah perlu 

diberikan antibiotik: kotrimoksazol, amoksisilin 

atau kloramfenikol, lihat di atas.

4. Obat infeksi campylobacter

Campylobacter jejuni yaitu  kuman Gram-

negatif yang ditemukan di Inggris pada 

tahun 1976 dan khusus ditularkan melalui 

daging (ayam, kalkun) yang tidak dimasak 

cukup matang. Di negara-negara Barat infek-

si ini terjadi tiga kali lebih sering daripada 

salmonellosis. Di negara-negara berkembang 

anak-anak kecil sering kali merupakan pem-

bawa kuman asimtomatik. Masa inkubasinya 

1-7 hari. 

Gejalanya lebih hebat daripada infeks i Sal-

monella dan berupa demam tinggi, nyeri 

kepala dan perut, diare berkolik de ngan sering 

kali ada  darah dalam tinja. Khusus- 

nya anak-anak kecil dan lansia peka terhadap 

basil ini.

Pengobatan. Campylobacteriosis juga ber-

sifat “self-limiting” dan sembuh sendiri da-

lam 5-7 hari. Maka pengobatannya hanya 

simtomatis dengan tanin/tannalbumin atau 

adsorbensia. Sebaiknya jangan memakai  

loperamida. Hanya pada kasus yang parah 

atau yang berlangsung lama, ataupun pada 

anak-anak kecil sekali dan orang-orang yang 

sangat tua dapat diberikan antibiotik. Pilihan 

pertama yaitu  eritromisin 2 dd 500 mg, 

pilihan kedua doksisiklin 2 dd 100 mg atau 

kotrimoksazol 2 dd 960 mg selama 6-10 hari.

sesudah  gejala infeksi sembuh, ekskresi 

basil dalam tinja masih bisa berlangsung 

terus selama tiga minggu sampai tiga bulan.

5. Obat infeksi protozoa

Giardiasis

Giardia lamblia yaitu  protozoa dari kelom-

pok Flagellata (memiliki benang-cambuk) se-

perti pemicu  infeksi vaginal Trichomonas, 

pemicu  penyakit tidur Trypanosoma dan 

Leishmania (Kala-azar). Paling sering menim-

bulkan infeksi di daerah tropik, terutama 

pada anak-anak melalui makanan dan tangan 

yang kotor. Berhubung dengan berkem-

bangnya kepariwisataan dan transmigrasi 

global dari banyak orang Asia-Afrika, kini 

di banyak negara Barat juga sudah sering 

ada  penyakit ini dan di beberapa negara 

bahkan sudah menjadi endemis, a.l. di negeri 

Belanda. Penyakit ini merupakan pemicu  

penting dari ‘traveller’s diarrhoea’. Di AS bi-

natang liar beaver yaitu  pembawa kista 

(cyste) dari Giardia.

Seperti juga Entamoeba histolytica, parasit 

ini ada  dalam bentuk-bentuk trofozoit 

dan kista. Penyebaran terjadi melalui kista, 

yang dapat dideteksi dalam tinja dengan 

cara pewarnaan khusus. Dalam usus halus 

protozoa memperbanyak diri dan dapat 

bermukim di lokasi ini tanpa memicu  

gejala. Akhirnya jonjot-jonjot mukosa usus 

(villi) dirusak olehnya dengan berakibat diare 

dan malabsorpsi, yaitu terganggunya pen-

cernaan dan penyerapan bahan-bahan gizi. 

Gejala-gejala lain yaitu  anoreksia, nyeri 

perut dengan banyak gas, perasaan seperti 

terserang flu dengan lemah/nyeri otot dan 

keluhan kelenjar limfe. Pada tahap  lanjut 

timbul keletihan kronis dan menurunnya berat 

badan, sedang  pertumbuhan anak-anak 

dapat terhambat.

Terapi. Paling efektif yaitu  mepakrin 3 dd 

100 mg selama 5 hari, sebagai alternatif juga 

dapat dipakai  metronidazol (Flagyl) 1 dd 

2 g selama 3 hari berturut-turut atau dosis 

tunggal tinidazol (Fasigyn) 1 dd 2 g. Bila tinja 

belum bebas parasit maka kur harus diulang. 

Untuk uraian kedua obat itu , lihat Bab 

12, Obat-Obat Amebiasis dan Trichomoniasis.

MONOgRAFI

1. ZAT PENgHAMBAT 

PERIsTAlTIK

1a. Candu: opium, Pulvis opii

Candu bekerja melalui otot-otot licin dan 

menekan peristaltik. Oleh sebab  itu berguna 

sebagai obstipan pada pengobatan di sen-

tri dan kolera. Berhubung daya kerjanya 

terhadap SSP dan risiko adiksi, candu tidak 

boleh dipakai  sembarangan (lihat Bab 22, 

Analgetika Narkotika).

Dosis lazim: 3 dd 50-100 mg. 

1b. Loperamida: Imodium

Zat ini (1974) memiliki kesamaan menge-

nai rumus kimianya dengan opiat petidin 

dan berkhasiat obstipasi kuat dengan me-

ngurangi peristaltik. Berbeda dengan peti-

din, loperamida tidak bekerja terhadap SSP, 

sehingga tidak memicu  ketergantung- 

an. Lagi pula zat ini mampu menormalisasi 

keseimbangan resorpsi-sekresi dari sel-

sel mukosa, yaitu memulihkan sel-sel yang 

berada dalam keadaan hipersekresi ke ke- 

adaan resorpsi normal kembali. Maka ba-

nyak dipakai  pada diare akut dan diare 

wisatawan bila tidak ada demam atau darah 

dalam tinja. Secara oral diabsorpsi untuk 

65%, namun  sebab  FPE besar BA-nya hanya 

± 1 %, masa paruhnya 7-15 jam. Dalam hati 

dirombak hampir tuntas melalui proses ko-

nyugasi, metabolitnya diekskresi dengan em-

pedu, secara utuh melalui feses. 

Efek sampingnya berupa mual, muntah, pu-

sing, mulut kering dan eksantem kulit. 

Dosis: pada diare akut dan kronis per-

mulaan 2 tablet dari 2 mg, lalu setiap 2 jam 1 

tablet sampai maks. 8 tablet seharinya. Anak-

anak sampai 8 tahun: 2-3 dd 0,1 mg setiap kg 

bobot badan, anak-anak 8-12 tahun: pertama 

kali 2 mg, maks. 8-12 mg sehari. Tidak boleh 

diberikan pada anak di bawah usia 2 tahun, 

sebab  fungsi hatinya, khusus kemampuan 

konyugasi, belum berkembang dengan sem-

purna untuk dapat menguraikan obat ini. 

* Loperamida-oksida (Arestal) yaitu  pro-

drug (1996) yang dalam usus besar dirombak 

oleh kuman menjadi loperamida. Dalam usus 

hanya diserap untuk 20% (loperamida untuk 

65%), t½-nya 1 jam. memicu  lebih 

jarang konstipasi (Kok-Visser AS. Pharma 

Selecta 1998; 14: 8-10). Dosisnya: permulaan 2 

mg, lalu 1 mg sesudah  setiap buang air encer, 

maks. 8 mg sehari.

2. ANTIBIOTIKA

Disini hanya dibicarakan secara singkat zat-

zat yang dapat dipakai  pada diare parah. 

Untuk data lebih lanjut lihat Bab 5, Anti-

biotika.

2a. Ampisilin dan amoksisilin 

Bekerja agak lambat; sesudah  5-6 hari de-

mam hilang dibandingkan rata-rata 3 hari 

dengan kloramfenikol, juga menghasilkan 

“pembawa-basil“.

Dosis: oral 3-4 dd 1 g.

2b. Kotrimoksazol: Bactrim, lihat Bab 8, Sul-

fonamida.

Mampu menghilangkan demam dalam 4 

hari. sesudah  terapi tinja tidak me ngandung 

basil tifus, sehingga juga efektif untuk me-

ngobati pembawa basil. Berhubung baha- 

ya gangguan darah sebaiknya jangan digu-

nakan lebih dari dua minggu.

Dosis: 2 dd 3 tablet à 480 mg sampai bebas 

demam, kemudian 2 dd 2 tablet selama 7 hari. 

2c. Kloramfenikol

Obat ini merupakan obat yang paling 

unggul terhadap basil tifus. Keberatannya 

yaitu  tidak berkhasiat mematikan kuman, 

sehingga sering kali timbul “pembawa basil”, 

juga dapat memicu  anemia aplastis fa-

tal. Resistensi sudah sering kali dilaporkan. 

Dosis biasa yaitu  50 mg setiap kg bobot 

badan sehari. sesudah  demam hilang (3-4 

hari), pengobatan dilanjutkan selama 8-10 

hari dengan dosis yang lebih rendah untuk 

menghindari kambuhnya penya kit. Pengo-

batan maksimal 14 hari atau total 30 g 

kloramfenikol.

2d. Tetrasiklin dan turunannya

Obat ini kurang berkhasiat terhadap Sal-

monella; walaupun basil itu  akan hi-

lang dari darah dan tinja, namun pe nyakit 

berlangsung terus tanpa perubah an. Obat 

ini juga tidak begitu efektif ter hadap disentri 

basiler.

Dosis: 4-6 dd 250-500 mg.

3. OBAT lAINNYA

3a. Tanin (F.I.): asam samak, acidum tannicum

Tanin bersifat mengendapkan zat putih 

telur dan berkhasiat adstringens, yaitu dapat 

meringankan diare dengan menciutkan sela-

put lendir usus.

Oleh sebab  merangsang lambung (rasa 

mual, muntah-muntah), maka tanin hanya 

dipakai  sebagai senyawanya yang tidak 

melarut, yaitu tannalbumin. Zat ini lebih 

efektif dan tidak memberikan efek-efek sam-

ping itu  di atas.

* Tannalbumin (Tannalbin) yaitu  persenya-

waan sukar-larut antara tanin dan albumin 

yang dalam saluran lambung-usus secara 

berangsur-angsur melepaskan tanin. Sering 

kali obat ini diberikan pada anak-anak seba-

gai obat tambahan pada pengobatan infeksi 

usus. 

Dosis: 3 dd 0,5-1 g, anak-anak sesuai berat 

badan.

3b. Karbo adsorbens (F.I.): arang aktif, Norit, 

Bekarbon

Karbo yaitu  arang halus (nabati atau 

hewani) yang telah diaktifkan melalui suatu 

proses tertentu. Obat ini memiliki daya serap 

pada permukaannya (adsorpsi) yang kuat, 

terutama terhadap zat-zat yang molekulnya 

besar, seperti alkaloida, toksin bakteri atau 

zat-zat beracun yang berasal dari makanan. 

Begitu pula banyak obat dapat diadsorpsi 

pada karbo in vivo, a.l. asetosal, parasetamol, 

fenobarbital, glutetimida, fenotiazin, antide-

presiva trisiklis, digoksin, amfetamin, fero-

sulfat, propantelin dan alkohol. Oleh sebab  

itu obat-obat ini jangan diberikan bersama-

an waktu, namun  2-3 jam sesudah  pemberian 

karbo.

Dosis biasa: 3-4 dd 0,5-1 g.

3c. Kaolin: Bolus alba (F.I.), argilla, *Kaopectate

Kaolin (Cina: kao ling = bukit tinggi) ada-

lah sebetulnya bahan untuk membuat por-

selin. Sejak dahulu aluminiumsilikat yang 

mengandung air ini, sudah dipakai  seba-

gai adsorbens toksin pada diare. 

Dosis biasa: 3 dd 50-100 g sebagai suspensi 

dalam air, biasanya dikombinasi de ngan kar-

bo adsorbens atau dengan pektin.

3d. Attapulgit: Biodiar

Attapulgit berbentuk sebagai serbuk ta-

nah lempung dan terdiri dari magnesium- 

aluminiumsilikat. dipakai  dalam bentuk 

tablet atau suspensi sebaga i absorbens ku-

man dan toksin yang menyebab kan diare, 

berfungsi mengurang i kehilangan cairan tu-

buh, mengurangi frekuensi diare dan mem-

perbaiki konsistensi feses. 

Wanita hamil dan selama laktasi dapat 

memakai  obat ini sebab  tidak diabsor-

bsi. 

Efek sampingnya yang umum yaitu  sem-

belit. 

Dosis: 1,2-1,5 g sesudah  tiap kali buang air 

dengan maks. 9 g sehari.

*Entrostop: attapulgit 650 + pektin 50 mg

3e. Bismut subkarbonat

Selain berkhasiat obstipasi, juga dapat 

membentuk suatu lapisan pelindung untuk 

menutupi luka-luka di dinding usus akibat 

peradangan. Senyawa bismut lainnya juga 

dipakai  dalam pengobatan, misalnya bis-

mut subsalisilat. Lihat juga Bab 16, Obat-

obat Lambung, Antasida.

Dosis biasa: 3 dd 0,5-1 g.


LAKSANSIA


Obat pencahar atau laksansia yaitu  zat-zat 

yang dapat menstimulasi gerakan peristaltik 

usus sebagai refleks dari rangsangan lang-

sung terhadap dinding usus dan dengan 

demikian memicu  atau mempermudah 

buang air besar (defekasi) dan meredakan 

sembelit.

Menurut definisi ini, zat-zat yang menye-

babkan efek defekasi sebab  memengaruhi su-

sunan saraf pusat (kolinergika misalnya nikotin 

dan asetilkolin) atau obat spasmolitik (papa-

verin) tidak termasuk obat pencahar sejati. 

Adakalanya obat pencahar digunaka n se- 

cara berlebihan tanpa melihat kebutuhan 

yang sesungguhnya atau sebab  salah pe-

ngertian mengenai frekuensi defekasi. namun  

sekarang kebiasaan demikian telah berkurang 

berdasar  pemakaian  yang lebih rasional.

ObSTIPASI

Sembelit atau obstipasi yaitu  suatu gejala 

proses defekasi yang bermasalah dan dapat 

didefinisikan sebagai berikut.

–  defekasi tidak lancar dan tidak teratur 

(kurang dari 2 kali seminggu)

–  mengedan, lebih dari 25% kasus

–  defekasi keras dan tidak tuntas

berdasar  definisi ini, obstipasi dialam i 

oleh lebih dari 20% penduduk. 

biasanya  obstipasi terdiri dari dua 

tipe, yaitu

– tipe transit lambat: jarang timbul hasrat 

defekasi pada penderita;

– tipe obstruktif: penderita tidak ber defekasi 

dengan tuntas sebab  sebab-sebab penya-

kit/gangguan anorektal organik/fungsi- 

onal, misalnya penyumbatan jalannya fe- 

ses sebab  mis. prolaps, yaitu penjembul-

an selaput lendir dubur ke luar. Penge-

luaran feses juga dapat dihambat secara 

paradoksal oleh kontraksi dan bukannya 

oleh relaksasi normal dari sfingter (otot 

melingkar) dubur pada saat mengedan.

Banyak orang, terutama lansia, meng-

anggap dirinya menderita sembelit bila tidak 

buang air beberapa hari atau paling sedikit 

satu kali sehari. Mereka mulai memakai  

obat pencahar dan tidak jarang secara ber-

lebihan. Sebetulnya keadaan demikian dapat 

dianggap masih cukup wajar sebab  ada 

orang yang buang air 2-3 kali sehari, namun  

ada pula yang hanya tiga kali seminggu.

Gejala lainnya berupa perasaan penuh 

di bagian lambung, mual, tinja keras serta 

defekasi sulit, sakit perut, kurang nafsu ma-

kan (anoreksia), juga sakit kepala, malaise 

dan perasaan tidak nyaman di mulut. 

Diagnosis. Oleh sebab nya, orang-orang 

dengan gejala sembelit yang bertahan perlu 

diperiksa dokter (memakai  klisma-ba-

rium, colonoscopy) terhadap kemungkinan 

sebab-sebab organik, lihat di bawah. Begitu 

pula mereka yang mengalami perubahan 

dalam pola buang air (frekuensinya) dengan 

tinja terlalu sedikit atau terlalu keras (ke-

mungkinan adanya tumor colorectal). sesudah  

dipastikan pemicu  obstipasi, dokter bisa 

menentukan apakah obat pencahar betul-

betul diperlukan. Untuk fisiologi dari proses 

defekasi, lihat Seksi III, Obat-obat Gangguan 

Saluran Cerna dan Bab 18, Obat-Obat Diare.

pemicu 

Ada berbagai pemicu  sembelit, yang ter-

penting di antaranya yaitu : 

a. kurang mengonsumsi serat gizi dan/

atau kurang minum air. Serat dari sayur-


sayuran dan buah-buahan memperbesar 

isi usus, sehingga meningkatkan peris-

taltik. Juga sebab  kurang bergerak.

b. adanya penyakit organik, gangguan me-

tabolik/endokrin, misalnya:

- obstruksi dari usus (penyumbatan) 

akibat adanya divertikel, penyempita n, 

tumor, diabetes dan penyakit Parkin-

son; 

- gangguan motilitas, seperti terjadi 

pada penyakit-penyakit tertentu, a.l. 

hiperkalsiemia, hipotirosis, colitis, 

penyakit Crohn, diverticulosis, luka 

pada anus (fisura) dan IBS. IBS (Irri-

table Bowel Syndrome) bercirikan obs-

tipasi dan diare berselang-seling de-

ngan kejang-kejang dan sakit perut, 

kembung dan lambung berbunyi. 

Umumnya dapat ditangani dengan 

makanan yang kaya serat, bila perlu 

obat antikejang dan suatu sedativum.

c. sebagai efek samping dari pemakaian  

obat-obat tertentu, seperti morfin dan 

derivat-derivatnya, antikolinergika (a.l. 

atropin), Ca-channel blockers, antidepre-

siva dan beberapa garam logam (bismut, 

besi, kalsium), juga diuretika kuat dapat 

mencetuskan sembelit sebab  menarik air 

dan mengeringkan tinja. 

d. ketegangan saraf dan emosi (“stress”), 

sebab  misalnya orang yang marah atau 

cemas mengalami kejang pada ususnya. 

Peristaltik usus terhenti dan usus besar 

dapat kesempatan untuk menyerap kem- 

bali terlalu banyak air dari isi usus. 

e. kehamilan, di mana kadar progesteron 

yang meningkat menghambat kontraksi 

dari otot polos usus, sehingga peristaltik 

berkurang.

Penanganan 

Prevensi. Sembelit lebih banyak terjadi pada 

lansia, terutama kaum wanita, disebabkan 

kurangnya pergerakan badan dan susunan 

diet yang kurang seimbang atau kurang 

minum. Tindakan pencegahan umum yang 

dapat dilakukan berupa minum lebih ba-

nyak (1-2 gelas air hangat sebelum sarapan 

pagi), makan lebih banyak sayuran (se-

baiknya sebagai lalap, ±200 g sehari) dan 

olahraga secara teratur, misalnya berjalan-

cepat ½-1 jam sehari. Penting pula untuk 

jangan mengabaikan dorongan alamiah untuk 

buang air.

Dahulu obat pencahar sering dipakai  

untuk berbagai jenis penyakit dan yang 

paling terkenal yaitu  minyak kastor sebagai 

obat ‘pencuci perut’. Ketika itu terutama anak-

anak, meskipun dengan sangat segan, diha-

ruskan secara periodik minum minyak kastor 

dengan tujuan untuk memelihara kesehatan. 

Dewasa ini di sementara kalangan alternatif 

pencucian usus masih dipakai  pada gang-

guan-gangguan tertentu.

Pengobatan. biasanya  pengobata n 

sembelit diarahkan pada pemicu nya, mis. 

perbaikan susunan diet sehari-hari seperti 

diuraikan di atas, gerak badan yang cukup, 

a.l. pada masa penyembuhan (rekuperasi) 

sesudah  mengalami pembedahan dan jangan 

menekan refleks defekasi. Bila diperlukan 

pemakaian  suatu obat pencahar, umumnya 

diberikan dengan dosis efektif yang serendah- 

rendahnya untuk jangka waktu singkat. 

* Obstipasi insidentil yang disebab kan 

oleh tinja keras sebaiknya ditangani de-

ngan memakai  suatu laksans dengan 

daya melunakkan dalam bentuk suppositoria, 

yakni gliserol atau bisakodil. Sembelit aki-

bat sebab-sebab lain dapat diobati de ngan 

bisakodil per oral untuk beberapa hari.

* Obstipasi kronis dapat diatasi de ngan lak-

sansia yang memperbesar isi usus (laktulosa, 

Psyllium). Sebagai pilih an kedua dapat di-

gunakan garam-garam anorganik, khususnya 

garam magnesium seperti MgSO4 dan Mg-

oksida. Obat ini yaitu  paling aman untuk 

dipakai  selama waktu yang panjang. 

Baru sesudah  obat ini tidak memberikan hasil 

yang diinginkan, zat-zat perangsang peristaltik 

dapat diberikan, misalnya bisakodil. Bila 

obstipasi kronis tidak ditangani, akhirnya 

dapat memicu  tinja “membatu”, wa-

sir, kerusakan di anus (fisura) dan bahkan 

inkontinensi tinja dan urin.

*Obstipasi kehamilan sebaiknya ditangani 

dengan laktulosa, begitu pula sembelit pada 

lansia dan anak-anak.


LAKSANSIA

Obat-obat pencahar dapat menstimulasi 

proses defekasi dengan menjaga agar supaya 

feses tidak mengeras, menghindari mengedan 

terutama lansia dan pasien penyakit jantung 

atau penderita hernia. Tujuannya yaitu  

untuk memulihkan proses defekasi normal 

dan menghindari terjadinya ketergantungan 

pada obat pencahar.

Di samping sembelit, laksansia juga di-

gunakan pada sejumlah keadaan tertentu, 

yaitu: 

– gangguan usus teriritasi (IBS), dengan ke-

luhan sakit di bagian bawah perut tanpa 

adanya kelainan organik

– untuk mengosongkan usus(diagnostis) sebe-

lum menjalani pembedahan atau sebelum 

pemeriksaan dengan sinar Röntgen dari 

saluran lambung-usus, kandung empedu 

dan sebagainya

– pada peristiwa keracunan oral akut, untuk 

mengeluarkan zat racunnya dari tubuh 

secepat mungkin. Dalam hal ini terutama 

dipakai  sebagai pencahar garam- 

garam anorganik seperti MgSO4 (= garam 

Inggeris, 30 g) dan natriumsulfat (16 g). 

Obat pencahar yang merangsang harus 

dihindari.

– terapi obat cacing, sebelum atau sesudah 

pemakaian  obat cacing, untuk meng-

ekspose parasit-parasit terhadap obat ca- 

cing atau untuk mengeluarkan cacing 

dan sisa-sisa obat cacing bila diberikan 

sesudahnya.

bahayanya

Sering kali obat pencahar dianggap sebagai 

obat yang tidak berbahaya dan dapat digu-

nakan setiap waktu. pemakaian  yang 

ter lalu sering dari obat-obat ini, pada haki-

katnya akan merugikan kesehatan sebab  

laksansia memicu  masalah-masalah 

berikut :

a. mengganggu absorpsi normal dari bahan-

bahan gizi di usus kecil. Sintesis vitamin K 

dan B-kompleks oleh flora usus besar juga 

akan dihambat. Elemen-elemen spura 

dan mineral-mineral penting, seperti ka-

lium dan natrium, tidak diserap kemba-

li dalam usus besar, sehingga keseim-

bangan air dan elektrolit (Na dan K) 

maupun susunan flora usus akan kacau. 

Akibatnya yaitu  kemungkinan timbul-

nya kelemahan otot, kejang perut dan 

diare.

b. memicu  berbagai gangguan saluran 

cerna, misalnya usus besar berkejang 

(spastic colon). Terutama laksansia kontak 

bila dipakai  terus-menerus dapat men-

cetuskan diare cair dengan kehilangan air 

dan elektrolit, juga kerusakan jaringan 

saraf usus sehingga motoriknya menjadi 

lumpuh.

c. memicu  ketergantungan, sehingga obat, 

terutama laksansia kontak, harus diminum 

terus menerus. Dosisnya pun harus terus 

ditingkatkan untuk mendapatkan hasil 

yang sama sebab  kepekaan usus telah 

menurun dan tidak lagi bereaksi terhadap 

rangsangan normal. Akibat rangsangan 

yang kontinu dan rusaknya saraf-saraf 

dinding usus, akhirnya timbul gejala yang 

lazim disebut ‘usus malas’.

sebab  bahaya-bahaya itu, pemakaian  

obat pencahar secara terus-menerus harus 

dihindari, terutama senyawa antrakinon dan 

parafin.

Penyalahgunaan. Harus diwaspadai pula 

bahwa ada ‘obat’ pengurus badan yang 

mengandung pencahar. Jelas bahwa sediaan 

demikian membahayakan kesehatan sebab  

di samping efek buruk itu  di atas, juga 

dapat terjadi defisiensi vitamin dan elemen-

elemen spura yang tidak diabsorpsi.

Kontra indikasi. Semua jenis laksansia 

tidak boleh diberikan kepada orang yang 

mendadak nyeri perut sebab  misalnya ileus, 

radang usus atau radang usus buntu (appen-

dicitis; appendix bisa pecah). Begitu pula 

kepada mereka yang sakit perut hebat tanpa 

sebab yang jelas atau mereka yang menderita 

kejang, kolik, mual dan muntah-muntah. 

Wanita hamil pada hakikatnya jangan meng-

gunakannya sebab  risiko keguguran.

Kepada penderita penyakit kandung empedu 

tidak boleh diberikan obat pencahar MgSO4, 

sebab  garam ini dapat memicu  kon-

traksi hebat dari organ itu .


Penggolongan

Pada masa lalu obat pencahar digolongkan 

berdasar  intensitas dari efeknya sesuai 

dengan urutan daya kerjanya yang meningkat 

sebagai berikut: laksansia, katarktika, purgativa 

dan drastika. Ketiga kelompok obat terakhir 

bekerja sangat drastis dan sekarang sudah 

tidak dipakai  lagi (obsolet). Lebih 

tepat dan rasional bila penggolongan obat 

pencahar didasarkan atas farmakologi dan 

sifat kimiawinya yaitu:

1.  laksansia kontak (zat perangsang).

2.  laksansia osmotik

3.  zat-zat pembesar volume

4.  zat-zat pelicin dan emollientia (pelembut)

Ketiga kelompok terakhir meningkatkan 

jumlah air dalam rongga usus dengan 

memengaruhi keseimbangan antara absorpsi 

dan sekresi. Beberapa faktor memegang 

peranan dalam proses ini, yaitu daya osmotik, 

daya mengikat air dan efek langsung terhadap 

sel-sel mukosa. Mekanisme yang terlibat pa-

da peningkatan cairan usus yang berefek 

pembesaran volume dan pelunakan chymus 

diperkirakan berdasar  stimulasi sistem 

adenilsiklase, penghambatan enzim natrium-

ATP-ase dan perubahan permeabilitas sel-sel 

mukosa.

1. Laksansia kontak: derivat antrakinon 

(Rhamnus = Cascara sagrada, Senna, Rhei), 

derivat-derivat difenilmetan(bisakodil, pikosulfat, 

fenolftalein) dan minyak kastor.

Zat-zat ini merangsang secara langsung 

dinding usus dengan akibat peningkatan 

peristaltik dan pengeluaran isi usus dengan 

cepat. Mekanisme kerjanya yang tepat tidak 

diketahui, walaupun ter dapat perubahan 

morfologi dari epitel dinding usus dan 

perubahan transpor dari air dan elektrolit. 

Senna, Rhei, fenolftalein dan minyak kastor tidak 

begitu sering lagi pemakaian nya. Pada 

akhir 1997 fenolftalein ditarik dari peredaran, 

sebab  percobaan pada tikus dengan dosis 

sangat tinggi menunjukkan sifat karsinoge n.

2. Laksansia osmotik:magnesium sulfat/sitrat 

dan natriumsulfat, gliserol, manitol dan  sorbitol, 

juga laktulosa dan laktitol.

Garam-garam anorganik dari ion-ion di-

valen, senyawa polialkohol dan disakarida 

ini berkhasiat mencahar berdasar  lambat 

absorpsinya oleh usus, sehingga menarik air 

dari “luar” usus melalui dinding ke dalam 

usus via proses osmosa. Tinja menjadi lebih 

lunak dan volumenya diperbesar yang me-

rupakan suatu rangsangan mekanis atas 

dinding usus. Peristaltik diperkuat yang 

mempermudah pengeluaran isi usus. Pada 

disakarida terbentuknya asam-asam yang 

merangsang dinding usus juga memegang 

peranan. Gliserol dipakai  dalam bentuk 

suppositoria, sebab  dapat memicu  re-