ANATOMI GIGI
Gigi merupakan bagian dari jaringan tubuh yang
paling keras sebab strukturnya berlapis-lapis yang
terdiri atas email yang keras, dentin atau tulang gigi, pulpa
yang berisi pembuluh darah, pembuluh syaraf, dan bagian
lain yang memperkokoh gigi ,Pada dewasa
gigi diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu gigi seri, gigi
taring, gigi graham kecil, dan gigi graham besar. Sedangkan
pada anak-anak, gigi susu hanya diklasifikan menjadi tiga
jenis, yaitu gigi seri, gigi taring, dan gigi geraham. Setiap jenis
gigi memiliki bentuk yang tidak sama.
berdasar usia seseorang, jenis gigi dilkasifikasikan
menjadi dua, yakni:
1. Gigi susu
Gigi ini tumbuh pada anak usia 6 bulan hingga 8 tahun.
Jumlah gigi susu pada anak sebanyak 20 buah, terdiri atas 8
buah gigi seri, 4 buah gigi taring, dan 8 buah gigi geraham.
Gigi susu ini satu per satu akan tanggal sejak usia 6 tahun
hingga usia 14 tahun dan digantikan dengan gigi dewasa.
2. Gigi dewasa atau gigi tetap
Gigi ini merupakan gigi pada usia dewasa yang berjumlah
32 buah, terdiri atas 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring,
8 buah gigi geraham depan, dan 12 buah gigi geraham
belakang.
Berikut uraian singkat mengenai masing-masing jenis
gigi:
1. Gigi Seri
Dinamakan gigi seri sebab gigi ini yang langsung terlihat
sama, sepasang (seri), dan berdampingan. Dalam istilah
ilmiah gigi ini disebut gigi insisif. Berjumlah empat buah di
gusi atas dan empat buah di gusi bawah. Gigi seri terletak
pada bagian depan rahang sehingga langsung terlihat saat
pertama kali seseorang tersenyum atau berbicara
2. Gigi Taring
Gigi taring memiliki istilah ilmiah kaninus. Gigi ini yaitu
gigi yang terakhir tumbuh di rongga mulut, sehingga sering
mengalami kekurangan tempat, akibatnya posisinya lebih
menonjol dibandingkan gigi yang lain. Dalam istilah
awam, gigi ini dikenal sebagai gigi gingsul. Posisinya yang
menonjol ini dalam istilah medis disebut ektopik.
Berjumlah empat buah, masing-masing satu di kanan atas,
satu di kiri atas, satu di kanan bawah, dan satu di kiri bawah.
3. Gigi Geraham Kecil
Dalam istilah medis disebut premolar. Kata pre berarti
sebelum atau mendahului, sehingga premolar berarti
mendahului molar. Yakni letaknya berada sebelum gigi
molar (geraham). Jumlah gigi premolar ini sebanyak
delapan buah, yakni dua di sebelah kanan atas, dua di
sebelah kiri bawah, dua di sebelah kanan bawah, dan dua
di sebelah kiri bawah. Bentuknya menyerupai gigi taring,
tetapi memiliki bukit yang tajam di kedua sisi, bukan satu
seperti taring. Penghubung dua sisi tajam membentuk
dataran yang disebut dataran kunyah. Ini yaitu jenis gigi
yang hanya ada dalam periode gigi tetap. Sehingga
tidak ditemukan pada usia anak yang berada dalam tahap
gigi susu
4. Gigi Geraham
Gigi ini yaitu gigi dengan ukuran terbesar dibanding jenis
gigi lainnya, dalam istilah ilmiah disebut sebagai gigi molar.
Berjumlah dua belas buah, yakni tiga buah di kiri atas, tiga
buah di kanan atas, tiga buah di kiri bawah dan tiga buah
di kanan bawah. Gigi geraham atas memiliki tiga buah akar
gigi dan lima buah bagian menonjol (bonjol), sedangkan
geraham bawah rata-rata memiliki dua akar gigi dan empat
bagian menonjol (bonjol)
Gigi geraham pertama baik rahang atas maupun rahang
bawah memiliki ciri-ciri tersendiri, adapun ciri-ciri ini
yaitu sebagai berikut: 2
a. Gigi molar pertama rahang atas memiliki ciri-ciri sebagai
berikut:
● Mempunyai lima cusp,
termasuk tuberculum
carabelli
● Mempunyai tiga akar,
akar palatal terpanjang
dan terbesar
● Pada pandangan
oklusal tampak fissure
berbentuk huruf “H”
● Memiliki lima bidang
pada mahkota, yaitu:
bidang bukal, palatal,
mesial, distal dan
oklusal.
b. Gigi molar pertama rahang bawah, ciri-cirinya:
● Mempunyai lima cusp
● Mempunyai dua akar,
yaitu akar mesial dan
distal
● Pada pandangan oklusal
tempat pit dan fissure,
serta mempunyai empat
groove.
Secara anatomi, bagian-bagian gigi permanen terbagi
menjadi tiga bagian, yakni:
1. Mahkota gigi
Merupakan bagian gigi
yang terlihat di dalam
mulut dan berwarna putih.
2. Leher gigi
Merupakan bagian gigi
yang terletak diantara
mahkota gigi dan akar gigi.
3. Akar gigi
Merupakan bagian gigi
yang tertanam di tulang
rahang.
Kemenkes dalam buku panduan pelatihan kader
kesehatan gigi dan mulut menguraikan bagian-bagian anatomi
gigi dengan lebih detail, yakni terdiri atas:
1. Email
Merupakan jaringan
terkeras dari seluruh tubuh
manusia dan bagian terluar
dari gigi yang berfungsi
untuk melindungi bagian-
bagian gigi di dalamnya
dari rangsangan panas dan
dingin.
2. Dentin
Merupakan bagian terusan
dari email gigi dan
berwarna lebih kuning
daripada email gigi. Disini
merupakan ujung-ujung
syaraf yang berasal dari
pulpa.
3
3. Pulpa
Merupakan rongga yang
berisi serabut saraf,
pembuluh darah, dan
pembuluh getah bening
gigi yang memberi
kehidupan pada gigi.
4. Tulang rahang
Disebut juga sebagai tulang
alveolar dan merupakan
tempat tertanamnya akar
gigi.
5. Cementum
Merupakan bagian
yang melapisi seluruh
permukaan akar gigi.
6. Jaringan periodontal (serat
selubung akar gigi)
Merupakan serabut-
serabut yang menyelubungi
akar gigi yang melekat
pada cementum dan
alveolar sehingga menjadi
penahan tekanan agar tidak
langsung mengenai tulang.
Gambar 1. Anatomi gigi
Struktur gigi permanen terdiri atas dua jaringan, yaitu
jaringan keras di luar mencakup email dan dentin serta jaringan
lunak di dalamnya yaitu pulpa yang berisikan serabut saraf dan
pembuluh darah.
1. Struktur jaringan keras
Bagian ini terletak di
rongga mulut yang dikenal
dengan mahkota gigi. Pada
mahkota gigi ada
bagian yang menonjol
yang disebut puncak gigi.
Mahkota dan puncak gigi
dilapisi oleh suatu lapisan
yang disebut email gigi, di
bagian bawahnya ada
lapisan berwarna putih
yang disebut dentin gigi.
4
2. Struktur jaringan lunak
Struktur jaringan
lunak berfungsi untuk
menyokong gigi sehingga
disebut struktur jaringan
penyokong. Jaringan
penyokong gigi ini disebut
gusi, di bagian bawahnya
ada rongga tempat
melekatnya gigi yang
disebut tulang gigi. Di
bagian dalam gigi ada
rongga disebut sebagai
pulpa gigi, di dalamnya
berisi serabut saraf dan
pembuluh darah.
Gigi permanen memiliki banyak fungsi, yakni sebagai
berikut:
1. Pengunyah
Saat pertama kali makanan
masuk ke dalam mulut,
gigi memotong dan
meremukkan makanan
ini dengan gerakan
mengunyah, lalu ditelan.
2. Penyangga
Gigi dengan bantuan
tulang rahang menjadi
sandaran yang kuat pada
struktur wajah.
3. Perlindungan dan
pengendalian
Gigi bersama bibir
melindungi mulut dari
debu, kuman, dan benda-
benda luar yang masuk ke
dalam mulut.
4. Pemegang
Gigi berguna untuk
memegang benda seperti
sedotan dan lain-lain.
Gambar 2. Susunan gigi manusia dan waktu erupsinya
(Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-gigi/)
5
Perkembangan gigi terbagi dalam 5 tahap, yakni sebagai
berikut
1. Inisiasi (bud stage)
Tahap awal terbentuknya benih gigi dari epitel mulut.
Sel-sel di lapisan basal dari epitel mulut berproliferasi lebih
cepat daripada sel sekitarnya, sehingga lapisan epitel di regio
bukal lengkung gigi menjadi menebal dan meluas sampai
seluruh bagian rahang atas dan bawah.
2. Proliferasi (cap stage)
Lapisan sel-sel mesenkim yang berada di lapisan dalam
akan mengalami proliferasi, memadat, dan bervaskularisasi
menjadi papil gigi yang kemudian membentuk dentin dan pulpa
pada tahap ini. Sel-sel mesenkim yang berada di sekeliling
organ gigi dan papila gigi memadat dan menjadi fibrous yang
disebut kantong gigi dan akan berubah menjadi sementum,
membran periodontal, dan tulang alveolar.
3. Histodiferensiasi (bell stage)
Pada tahap ini terjadi diferensiasi seluler. Sel-sel epitel
email dalam (inner email epithelium) semakin panjang dan
berbentuk silindris yang disebut sebagai ameloblas dan
kemudian berdiferensiasi menjadi email serta sel-sel bagian
tepi dari papila gigi menjadi odontoblas hingga akhirnya terus
berdiferensiasi menjadi dentin.
4. Morfodiferensiasi
Sel pembentuk gigi tersusun sedemikian rupa dan
dipersiapkan untuk menghasilkan bentuk dan ukuran gigi
selanjutnya. Proses ini terjadi sebelum deposisi matriks dimulai.
Morfologi gigi dapat ditentukan bila epitel email bagian dalam
tersusun sedemikian rupa sehingga batas antara epitel email
dan odontoblas merupakan gambaran dentinoenamel junction
yang akan terbentuk. Dentinoenamel junction mempunyai
sifat khusus yaitu bertindak sebagai pola pembentuk setiap
macam gigi. ada deposit email dan matriks dentin pada
daerah tempat sel-sel ameloblas dan odontoblas yang akan
menyempurnakan gigi sesuai dengan bentuk dan zukurannya.
6
5. Aposisi
Terjadi pembentukan matriks keras gigi baik pada email,
dentin, dan sementum. Matriks email terbentuk dari sel-sel
ameloblas yang bergerak ke arah tepi dan telah terjadi proses
kalsifikasi sekitar 25%-30%.
Namun, perkembangan dan pertumbuhan gigi tidak
selalu sama persis pada setiap individu. sebab ada faktor-
faktor lain yang juga mempengaruhi, beberapa diantaranya
yaitu :
1. Ras
Waktu dan urutan erupsi gigi permanen dapat berbeda-
beda tergantung rasnya. Waktu erupsi gigi orang Eropa dan
campuran Amerika dengan Eropa lebih lambat daripada waktu
erupsi orang Amerika berkulit hitam dan Amerika Indian (ras
mongoloid) (Moyers, 2001).
2. Faktor Jenis Kelamin
Maturasi awal gigi
terjadi lebih awal pada anak
perempuan dibandingkan
dengan pada anak laki-
laki. Hal ini menyebabkan
gigi permanen pada anak
perempuan mengalami erupsi
lebih awal daripada anak laki-
laki.
Selain itu, growth spurt
antara pada anak laki-laki
dan perempuan juga berbeda.
Growth spurt pertama
normalnya terjadi sesudah
lahir dan pada usia sekitar
6-7 tahun yang berlangsung
selama kurang lebih 3-4 bulan
pada anak. Kemudian terjadi
kembali saat berusia 12 tahun
pada anak perempuan dan
kurang-lebih usia 12 tahun
dan 14 tahun pada anak laki-
laki. Sehingga growth spurt
pada perempuan terjadi lebih
dulu daripada anak laki-laki.
3. Faktor Penyakit
Penyakit metabolik atau komorbid dapat
menyebabkan gangguan pada erupsi gigi permanen,
misalnya pada penyakit Cerebral Palsy, Dysosteosclerosis,
Hypothyroidism, Hypopituitarism, Hypoparathyroidism, dan
Pseudohypoparathyroidism
4. Faktor Lingkungan
Meskipun faktor utama yang mempengaruhi
pertumbuhan dan perkembangan gigi yaitu faktor genetik,
namun lingkungan jika berkontribusi meskipun tidak banyak
memberikan pengaruh terhadap waktu erupsi gigi, yakni hanya
berperan sebesar 20% (Moyers, 2001). Beberapa aspek yang
termasuk ke dalam faktor lingkungan antara lain:
a. Sosial Ekonomi
Pelayanan kesehatan dan nutrisi yang lebih baik pada
anak dari kelas sosial-ekonomi tinggi akan mendukung
pembentukan benih gigi lebih awal, sehingga juga akan
mengalami erupsi gigi yang lebih cepat dibandingkan
anak dengan tingkat sosial-ekonomi yang lebih rendah
b. Nutrisi
Proses erupsi dan kalsifikasi sekitar 1% diperngaruhi oleh
asupan nutrisi sebagai faktor pertumbuhan. Defisiensi
nutrisi misalnya kekurangan vitamin D dan gangguan
kelenjar endokrin dapat menyebabkan keterlambatan waktu
erupsi gigi
ODONTOLOGI FORENSIK
Kedokteran gigi forensik yaitu metode untuk
menentukan identitas seseorang dengan tahapan
proses yang meliputi pengumpulan, pemeriksaan, dan
pemaparan dari benda bukti berupa gigi yang telah ditemukan
Oleh sebab itu, dokter gigi memiliki peran
penting dalam melakukan identifikasi gigi. Teknik identifikasi
ini memiliki tingkat akurasi yang setara dengan teknik sidik
jari, sehingga sudah sangat sering digunakan sejak sebelum
Masehi. Bahkan dalam beberapa kasus teknik ini lebih unggul
dibanding teknik sidik jari, sebab gigi dan tulang yaitu
bahan biologis berupa jaringan keras yang paling elastis
dan terlindungi dari perubahan lingkungan sebab memiliki
ketahanan terhadap panas hingga suhu kurang-lebih 900℃,
tidak mudah rusak selama penyimpanan, dan tidak mudah
hilang sebab melekat erat pada tulang rahang. Dalam beberapa
kondisi, terkadang hanya gigi yang tersisa untuk digunakan
dalam identifikasi seseorang, sehingga dijadikan untuk
identifkasi forensic, salah satunya sebagai indikator penentuan
estimasi usia seseorang
Ilmu kedokteran gigi forensik atau yang disebut juga
dengan istilah forensic dentistry dan odontology forensic
yaitu bagian dari ilmu kedokteran forensik, namun telah
dianggap sebagai bidang sendiri seiring dengan perkembangan
dan spesifitasnya. Ilmu kedokteran gigi forensik juga
merupakan cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari
hal berkaitan dengan penanganan dan pemeriksaan bukti gigi,
cara evaluasi, dan penyajian temuan gigi untuk kepentingan
peradilan. Odontologi forensik merupakan ilmu kedokteran
gigi berkaitan dengan kepentingan hukum. Untuk aparat
penegak hukum dan pengadilan, bukti gigi yaitu metode
yang efektif dengan tingkat kepercayaan yang setara dengan
pemeriksaan sidik jari dan golongan darah. Kedokteran Gigi
Forensik merupakan salah satu bagian dari ilmu kedokteran
forensik untuk kepentingan keadilan yang dilakukan melalui 9
proses pemeriksaan bukti, evaluasi, dan presentasi temuan
gigi-geligi yang tepat. Forensik sains mengacu pada proses
pembuktian yang dapat digunakan dalam lingkungan peradilan
dan diterima oleh pengadilan serta bidang keilmiahan untuk
menentukan kebenaran.
Identifikasi forensik yaitu upaya untuk mengidentifikasi
individu memakai hasil interpretasi temuan secara medis,
yakni dengan membandingkan ciri khas antemortem (sebelum
meninggal) dan temuan postmortem (sesudah meninggal).
Jenis identifikasi forensik yang digunakan terbagi menjadi 2
klasifikasi, yakni identifikasi primer seperti tulang, gigi, sidik
jari, rambut, dan DNA; serta identifikasi sekunder yang meliputi
data KTP, SIM, dan berkas lain milik orang ini . Ilmu
dan teknik identifikasi forensik ini sangat penting mengingat
Indonesia termasuk salah satu negara dengan kejadian bencana
alam yang relatif sering sehingga menimbulkan banyak korban
jiwa. Ribuan korban dapat diidentifikasi salah satunya dengan
pemeriksaan gigi. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya kita
memerlukan data antemortem korban ini , misalnya data
rekam medis, foto rongent gigi, cetakan gigi, prosthesis gigi,
alat ortodonsi dan foto close up muka, atau profil daerah gigi
dan mulut sehingga temuan pada korban dapat dicocokkan
dengan data antemortem yang tersedia
Penggunaan gigi sebagai objek pemeriksaan memiliki
beberapa keunggulan dibandingkan bahan biologis lain, yakni:
1. Secara anatomis, antropologis, dan morfologis rangkaian
lengkungan gigi-geligi terlindungi oleh otot-otot wajah
terutama dibagian pipi, sehingga jika ada trauma tidak
langsung mengenai gigi-geligi dan menyebabkan kerusakan.
2. Gigi-geligi yaitu bagian tubuh yang paling lambat
mengalami kerusakan akibat proses pembusukan meskipun
telah dikubur, kecuali jika gigi ini memang telah
mengalami nekrotik atau gangren. Terkadang tulang
ditemukan telah hancur, namun gigi masih dalam kondisi
utuh.
3. Gigi-geligi merupakan salah satu bagian tubuh yang khas
pada setiap orang, sebab menurut SIMS dan Furnes 10
kemungkinan gigi manusia memiliki kesamaan sangat
kecil, yakni 1:1000000000.
4. Selain khas secara individualis, gigi-geligi antar ras
juga memiliki ciri-ciri khusus. Meskipun perubahan
dan hilangnya ciri khas ini bisa terjadi akibat dari
pekerjaan dan kebiasaan orang ini yang berkaitan
dengan giginya.
5. Sebuah kasus pembunuhan terhadap korban bernama Haigh
yang jasadnya yang direndam di dalam drum asam dengan
konsentrasi tinggi. Namun, gigi-geliginya ditemukan utuh.
Hal ini menunjukkan bahwa gigi-geligi memiliki sifat tahan
asam keras, sehingga menjadi odontology forensik menjadi
satu-satunya teknik identifikasi yang dapat dilakukan saat
bahan biologis lain telah hancur.
6. Selain tahan asam, gigi-geligi juga tahan terhadap panas
bahkan tidak hancur meski dibakar pada suhu 400 derajat
selsius. Pada 640 derajat selsius gigi mulai berubah menjadi
abu, dan hancur lebur pada suhu di atas 1000 derajat selsius
seperti pada proses kremasi. Penambalan gigi dengan
amalgam menyebabkan suhu untuk meghancurkan gigi
menjadi abu menjadi lebih tinggi, yakni di atas 871 derajat
selsius. Penggunaan mahkota logam atau inlay alloy emas
memerlukan suhu yang lebih tinggi lagi yakni kurang-lebih
871-1093 derajat selsius.
7. Retakan pada tulang rahang tidak menyebabkan gigi-
geligi menjadi tidak teridentifikasi secara roentgenografis.
Keadaan anomali gigi dan komposisi tulang rahang yang
khas dapat menjadi penanda dalam identifikasi.
8. Penggunaan jenis gigi palsu pada korban yang mengalami
pencabutan gigi dapat diidentifikasi jenis dan model yang
digunakan. Gigi palsu akrilik akan terbakar menjadi abu
pada suhu 538 derajat selsius hingga 649 derajat selsius,
sedangkan jika berbahan porselen akan menjadi abu pada
suhu 1093 derajat selsius.
9. Gigi-geligi dapat menjadi pilihan dalam identifikasi jika
bagian biologis lain tidak ditemukan atau telah mengalami
kerusakan. 11
Topik yang tercakup dalam ilmu odontologi forensik
sangat luas, diantaranya yaitu sebagai berikut:
1. Identifikasi Forensik Odontologi
Pada kasus bencana atau kecelakaan, identifikasi korban
dapat dilakukan salah satunya dengan metode identifikasi
melalui gigi, rahang dan kraniofasial. Dari gigi dapat
membantu untuk mengestimasikan usia, jenis kelamin,
dan ras orang ini . Cara ini dapat dilakukan untuk
membenarkan atau memperkuat identitas korban yang
tidak dikenal.
2. Penentuan Usia
sebab gigi terus berkembang hingga usia 15 tahun,
maka ciri khas disetiap tingkat perkembangannya dapat
digunakan untuk mengidentifikasi estimasi usia seseorang.
Dibandingkan antropologi lain di masa pertumbuhan,
metode ini bahkan lebih baik untuk identifikasi. Embriologi
gigi dimulai pada minggu ke 6 janin pada masa gestasi
dengan adanya pertumbuhan gigi desidua, kemudian pada
minggu ke 12 sampai dengan minggu ke 16 masa gestasi
terjadi mineralisasi gigi, proses ini terus berlanjut sesudah
bayi lahir. Normalnya, pertumbuhan gigi permanen diikuti
dengan penyerapan kalsium, dimulai dari gigi molar
pertama sampai akar, diikuti gigi molar kedua yang akan
tumbuh lengkap saat seseorang berusia 14 hingga 16 tahun.
Teori ini dapat digunakan untuk menentukan usia seseorang.
Meskipun kadang perlu disertai dengan identifikasi secara
klinis dan radiografi untuk penentuan perkembangan gigi.
Dalam identifikasi mayat orok untuk mengetahui apakah
pernah dilahirkan hidup sebelumnya yaitu dengan melihat
ada atau tidaknya garis tipis pemisah antara enamel dan
dentin gigi yang disebut sebagai neonatal line. Neonatal line
ini yaitu hasil dari trauma pada bayi sehingga merangsang
stress metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel
gigi. Garis ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel dan
dentin telah dibentuk.
Gambar 3. Panoramic X ray pada anak-anak
Keterangan gambar:
(a) pola pertumbuhan
dan perkembangan
gigi usia 9 tahun
(b) pertumbuhan gigi
anak usia 9 tahun.
3. Penentuan Jenis Kelamin
Laki-laki dan perempuan memiliki caninus mandibula
yang berbeda, hal ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi
jenis kelamin. Tercatat pada 75% kasus bahwa ukuran
diameter mesio distal pria lebih lebar daripada wanita,
yakni berturut-turut kurang dari 6,7 milimeter dan lebih
dari 7 milimeter. Namun, seiring dengan kemajuan ilmu
dan pemanfaatan teknologi, saat ini untuk membedakan
jenis kelamin sering kali langsung dilakukan pemeriksaan
DNA dari gigi.
4. Penentuan Ras
Setiap ras di dunia memiliki karakteristik gigi yang
berbeda. Telah banyak penelitian yang dilakukan
untuk mempelajari setiap perbedaannya. Hal ini dapat
dimanfaatkan untuk mengidentifikasi ras.
Pada ras Mongoloid, gambaran gigi yang ditemukan
yaitu sebagai berikut:
a) Bentuk insisivus
Pada 85-89% kasus ras
Mongoloid ditemukan
insisivus yang berbentuk
sekop. Meskipun
gambaran ini juga
ditemukan pada 2 hingga
9% ras kaukasoid dan
pada 12% ras negroid,
namun gambaran yang
muncul tidak sejelas
pada ras Mongoloid. 13
b) Dens evaginatus.
Aksesoris berbentuk
tuberkel pada permukaan
oklusal premolar bawah
yang ditemukan pada
1-4% ras mongoloid.
c) Akar distal tambahan
pada molar 1 mandibula
ditemukan pada 20%
mongoloid.
d) Lengkungan palatum
berbentuk elips.
e) Batas bagian bawah
mandibula berbentuk
lurus.
Pada ras Kaukasoid, gambaran gigi yang ditemukan
yaitu sebagai berikut:
a) Cusp carabelli, yakni
berupa tonjolan pada
molar 1.
b) Pendataran daerah sisi
bucco-lingual pada gigi
premolar kedua dari
mandibula.
c) Maloklusi pada gigi
anterior.
d) Palatum sempit,
mengalami elongasi,
berbentuk lengkungan
parabola.
e) Dagu menonjol.
Pada ras Negroid, gambaran gigi yang ditemukan yaitu
sebagai berikut:
a) Pada gigi premolar 1 dari
mandibula ada dua
sampai tiga tonjolan.
b) Sering ada open
bite.
c) Palatum berbentuk lebar.
d) Protrusi bimaksila. Di
bawah ini merupakan
contoh gambar open bite.
Secara singkat, peran dokter gigi dalam kedokteran gigi
forensik dapat dirangkum dalam beberapa poin berikut ini
a. Identifikasi mayat yang tidak dikenal melalui gigi, rahang,
dan kraniofasial
b. Penentuan umur dari gigi
c. Penentuan ras dari gigi
d. Analisis dari trauma orofasial yang berkaitan dengan
tindakan kekerasan
e. Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli 14
f. Berperan dalam pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam
identifikasi personal
g. Pemeriksaan jejas gigi (bite mark)
Dalam identifikasi bitemark, dapat dilakukan
dokumentasi dengan mengambil gambar atau fotografi
maupun dengan transfer ke kertas transparan atau lembar
asetat. Bisa juga melakukan apusan pada luka gigitan untuk
memulihkan bukti jejak. Untuk analisis DNA perlu dilakukan
pemeriksaan noda air liur atau sel manusia yang tertinggal
bila memungkinkan. Bitemark merupakan bagian odontology
forensic yang perlu tanggapan segera dari dokter gigi forensik.
(Wright dan Dailey 2001; Lessig dan Benthaus 2003). Dalam
proses pengambilan barang bukti, dokumentasi, pencetakan
bitemark, pemeriksaan mikroskopis elektrik, dan penanganan
lainnya sangat memerlukan peran dokter gigi forensik sebagai
pihak ahli yang paling mengerti prosedurnya sehingga
keamanan bukti terjamin untuk digunakan dalam peradilan
(Verma dkk,2014).
Meskipun gigi sebagai bahan biologis dalam odontologi
forensik memiliki akurasi yang tinggi dan memiliki banyak
kelebihan dibandingkan metode lain, namun tetap memiliki
keterbatasan. Beberapa diantaranya yaitu :
a. Rugae palatal tidak bisa digunakan pada:
- kasus edentulous,
- tidak ada data
antemortem,
- keadalaan patologis di
palatal,
- korban terbakar,
- m e n g a l a m i
dekomposisi, dan
- mengalami skeletonisasi
sebab rugae sering
hancur.
b. Sidik bibir tidak bisa digunakan saat:
- 20 jam sesudah kematian,
- jika ada kondisi
patologis di bibir,
misalnya mukokel dan
cleft,
- jika ada perubahan
postoperaso dari bibir,
adascar, dan kondisi
lainnya.
15
c. Bite mark tidak bisa digunakan jika:
- sudah 3 hari sesudah
kematian,
- sudah dekomposisi,
- korban terbakar.
d. Bisa terjadi kesalahan ketika mengambil foto dan radiograf,
baik saat pengambilan sampel, pemerosesan sampel,
maupun saat interpretasinya. Faktor eksternal lain misalnya
terjadi kontaminasi bakteri dan DNA dari orang lain juga
akan mengubah interpretasi hasil identifikasi.
IDENTIFIKASI ODONTOLOGI FORENSIK
Identifikasi dalam forensik dapat dipahami sebagai suatu
upaya untuk menentukan dan memastikan identitas
seseorang. Hal ini tidak hanya untuk mayat, namun juga orang
hidup. Tidak hanya untuk identifikasi forensik, namun juga
non forensik. Identifikasi tidak hanya memakai identitas
biologis misalnya tulang belulang, gigi, darah, sidik jari,
rambut, profil, DNA dan identitas pada bibir, namun juga non
biologis, misalnya kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi,
pakaian, dan lain-lain. Semua dilakukan dengan mencocokkan
ciri khas yang ada pada orang ini dengan temuan
yang ada. Oleh sebab itu, ruang lingkup identifikasi dalam
kedokteran gigi forensik sebenarnya sangat luas.
Identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan jika
digunakan sebagai suatu metode identifikasi forensik, yakni
sebagai berikut:
1. Gigi dan restorasinya merupakan jaringan keras yang
resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan
yang ekstrim, sehingga risiko kerusakan lebih minimal
2. Gigi memiliki karakteristik individual yang unik, baik dari
segi susunan gigi geligi maupun restorasi gigi sehingga
memungkinkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.
3. Kemungkinan tersedianya data antemorten gigi berupa
catatan medis gigi (dental record) dan data radiologis,
meskipun di Indonesia hal ini cukup jarang.
Untuk keperluan penyidikan dan membuat surat
keterangan ahli dalam kepentingan umum maupun peradilan,
dapat dilakukan beberapa jenis identifikasi gigi-geligi dan
rongga mulut. Seluruh data hasil identifikasi ini disebut
sebagai data post mortem. Ditulis dalam lembaran berwarna
merah formulir baku mutu nasional yang merupakan formulir
korban tindak pidana. Jika korban hidup tetap, hasil identifikasi
tetap ditulis ke dalam formulir yang sama. Sedangkan sebagai
perbandingan digunakan data-data semasa hidup yang disebut
sebagai data antemortem dan ditulis di lembar berwarna
kuning. Data-data yang diidentifikasi ini yaitu sebagai
berikut:
1. Identifikasi ras korban maupun pelaku dari gigi-geligi dan
antropologi tubuh.
2. Identifikasi sex atau jenis kelamin korban melalui gigi-
geligi dan tulang rahang serta antropologi tubuh.
3. Untuk korban janin, dilakukan identifikasi umur melalui
benih gigi.
4. Identifikasi umur korban melalui gigi sementara (decidual)
5. Identifikasi umur korban melalui gigi campuran.
6. Identifikasi umur korban melalui gigi tetap.
7. Identifikasi korban melalui kebiasaan memakai gigi.
8. Identifikasi korban dari pekerjaan memakai gigi.
9. Identifikasi golongan darah korban melalui air liur.
10. Identifikasi golongan darah korban melalui pulpa gigi.
11. Identifikasi DNA korban dari analisa air liur dan jaringan
dari sel dalam rongga mulut.
12. Identifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya.
13. Identifikasi wajah korban dari rekonstruksi tulang rahang
dan tulang facial.
14. Identifikasi wajah korban.
15. Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku.
16. Identifikasi korban melalui eksklusi pada korban massal.
17. Radiologi Ilmu Kedokteran Gigi Forensik.
18. Fotografi Ilmu Kedokteran Gigi Forensik.
19. Victim Identification Form.
Secara rinci, data antemortem dan data postmortem
dalam odontologi forensik meliputi sebagai berikut:
a. Data Antemortem
Pencatatan data diri, informasi berkaitan gigi, dan rongga
mulut semasa korban hidup yang meliputi:
- Identitas pasien.
- Keadaan umum pasien.
- Odontogram (data gigi yang menjadi keluhan).
- Data perawatan kedokteran gigi.
- Nama dokter gigi yang merawat.
- Informed consent18
Namun, di Indonesia sangat sedikit dokter gigi yang
membuat informed consent baik di praktik pribadi maupun di
rumah sakit.
Aturan penulisan data gigi dan rongga mulut yang sesuai
dengan buku DEPKES mengenai standar baku mutu nasional
yaitu sebagai berikut:
- Pencatatan identitas pasien.
Hal ini meliputi nomor file hingga alamat pekerjaan dan
kontak pasien yang dapat dihubungi.
- Keadaan umum pasien
Informasi ini berisi golongan darah, tekanan darah,
kelainan-kelainan darah, serta penyakit akibat virus yang
sedang dialami jika ada.
- Odontogram.
Data gigi dicatat dalam formulir odontogram dengan
denah dan nomenklatur yang sesuai dengan baku nasional
secara lengkap.
Gambar 4. Odontogram
Gambar 5. Panduan Penulisan Odontogram
- Data perawatan kedokteran gigi
Informasi ini berisi keterangan waktu awal mulainya
perawatan, runtut waktu kunjungan, keluhan yang dialami,
diagnosis, informasi gigi yang dirawat, dan tindakan
lain yang diterima orang ini dari dokter gigi yang
menangani.
- Roentgenogram, baik intraoral maupun ekstraoral.
- Pencatatan status gigi dengan kode tertentu sesuai dengan
standar interpol.
- Aturan Depkes bahwa formulir data antemortem ini ditulis
di kertas berwarna kuning yang di dalamnya dilengkapi
catatan data orang hilang.
Data-data antemortem ini bisa didapatkan melalui:
(Budi, 2014)
- Klinik gigi rumah sakit
pemerintah/TNIPolri
- dan swasta.
- Puskesmas.
- Rumah Sakit Pendidikan
U n i v e r s i t a s / F a k u l t a s
Kedokteran Gigi.
- Klinik gigi swasta.
- Praktik pribadi dokter gigi.
b. Data Postmortem
Aturan Depkes bahwa formulir data antemortem ini
ditulis di kertas berwarna merah. Langkah yang dilakukan
untuk identifikasi mayat yaitu
1. Melakukan fotografi
2. Proses pembukaan rahang untuk memperoleh data gigi dan
rongga mulut.
3. Pencetakan rahang atas dan rahang bawah. Dalam proses ini
pengikatan dan penarikan lidah ke atas dapat dilakukan untuk
membebaskan lengkung rahang sehingga memudahkan
pencetakan pada mayat yang masih mengalami kondisi
kaku mayat.
4. Pencatatan, yang meliputi:
a. pencatatan gigi pada formulir odontogram
b. pencatatan kelainan-kelainan rongga mulut pada kolom
tertentu.
Catatan ini sebagai lampiran pada berkas visum et repertum
korban.
5. Lalu dilakukan pemeriksaan sementara memakai
formulir baku mutu nasional dan internasional
6. Tuliskan surat rujukan untuk pemeriksaan laboratorium
dengan formulir baku mutu nasional
7. Pencatatan hasil ke dalam formulir lengkap baru sesudah
hasil laboratorium diperoleh.
8. Selanjutnya dapat dibuatkan berita acara sesuai KUHAP
untuk proses peradilan.
Berkas visum yang lengkap beserta lampirannya ini
kemudian diteruskan ke jaksa penuntut beserta barang bukti
yang ditemukan untuk digunakan dalam sidang acara hukum
pidana.
A. Metode Odontologi Forensik untuk Identifikasi Jenis
Kelamin
Identifikasi jenis kelamin mayat dapat dilakukan dengan
melakukan pemeriksaan internal dan eksternal terhadap
tulang-tulang tubuh. Termasuk diantaranya yaitu tulang
rahang. Aspek yang dinilai dalam pemeriksaan tulang rahang
yaitu sebagai berikut:
1. Identifikasi jenis kelamin melalui lengkung rahang atas
- Lengkung rahang lebih besar pada pria daripada wanita.
Hal ini sebab jarak mesio distal pada gigi-geligi pria
lebih panjang dibandingkan pada wanita.
- Palatum pada pria lebih luas dengan berbentuk seperti
huruf U, sedangkan pada wanita lebih kecil dan berbentuk
parabola.
2. Identifikasi jenis kelamin melalui lengkung rahang bawah
- Sama seperti rahang atas, lengkung rahang bawah pada
pria juga lebih besar daripada wanita. Hal ini sebab
jarak mesio distal pada gigi-geligi pria lebih panjang
dibandingkan pada wanita.
Gambar 6. Lengkung rahang bawah pria dan wanita
3. Identifikasi jenis kelamin melalui tulang rahang
Setiap sudut bagian anatomis dari tulang rahang memiliki
ciri khas yang membedakan antara wanita dan pria, baik
berbeda dari segi ukuran maupun bentuk. Adanya perbedaan
ini dapat digunakan sebagai aspek yang dapat dinilai untuk
membedakan jenis kelamin dalam identifikasi jenazah.
Bagian anatomis ini meliputi:
a. Identifikasi jenis kelamin melalui sudut gonion Sudut
gonion pria lebih kecil dibandingkan sudut gonion
wanita
b. Identifikasi jenis kelamin melalui tinggi Ramus
Ascendens
Ramus Ascendens pria lebih tinggi dan lebih besar
daripada wanita.
c. Identifikasi jenis kelamin melalui Inter Processus Jarak
processus condyloideus dengan processus coronoideus
pada pria lebih jauh dibandingkan pada wanita, sehingga
dalam pengukuran jarak processus condyloideus dengan
processus coronoideus pria lebih panjang dibandingkan
pada wanita.
d. Identifikasi jenis kelamin melalui lebar Ramus Ascendens
Ramus Ascendens pada pria mempunyai jarak yang
lebih besar dibandingkan dengan wanita.
e. Identifikasi jenis kelamin melalui Tulang Menton (dagu)
Tulang menton pria atau tulang dagu pria secara anatomis
memiliki posisi lebih anterior dan berukuran lebih besar
dibandingkan pada wanita.
f. Identifikasi jenis kelamin melalui pars basalis mandibula
Pars basalis mandibula pada pria lebih panjang
dibandingkan pada wanita jika diukur dalam bidang
horisontal.
g. Identifikasi jenis kelamin melalui Processus Coronoideus
Tinggi processus coronoideus pada pria lebih tinggi
dibandingkan dengan wanita jika diukur dalam bidang
vertikal.
h. Identifikasi jenis kelamin melalui tebal tulang menton
sebab masa pertumbuhan dan perkembangan rahang
pria lebih lama dibandingkan dengan wanita, sehingga
dalam ukuran pabio tulang mento pria lebih tebal
dibandingkan dengan wanita. Namun, patokan ketebalan
ini tidak dapat dijadikan acuan pasti, sebab sangat
relatif tergantung dari ras dan sub ras, sehingga hanya
dapat digunakan sebagai perbandingan pada etnik yang
sama saja.
i. Identifikasi jenis kelamin melalui lebar dan tebal
processus condyloideus
Baik pada pria maupun wanita bentuk processus
condyloideus sangat bervariasi antar setiap individu. 23
Namun, ketebalan dan lebarnya berbeda antara pria
dan wanita. Pada pria ukuran diameter processusnya
lebih besar dibandingkan dengan wanita, hal ini sebab
jarak antero-posterior dan latero-medial lebih besar
dibandingkan pada wanita.
B. Metode Odontologi Forensik untuk Identifikasi
Umur
Telah banyak penelitian dilakukan untuk menemukan
metode dan cara memperkirakan usia seseorang sesuai
dengan perubahan anatomis, struktur gigi, dan perbandingan
gambaran radiografi panoramik gigi geligi dengan diagram
perkembangan gigi. Dalam memperkirakan umur dari kondisi
gigi secara tepat, perlu memakai lebih dari satu metode
dan pengukuran serta kalkulasi yang berulang-ulang.
Beberapa penelitian dan metode identifikasi umur
berdasar gigi yang telah dilakukan misalnya sebagai
berikut:
1. Schour-Massler (1941)
Peneliti menjelaskan bahwa estimasi usia gigi dapat
diidentifikasi dalam 21 tahap perkembangan dan melibatkan
gigi sulung serta gigi geligi pada rahang atas dan rahang
bawah. Metode Schour-Massler ini memiliki kendala,
yakni tidak ada perbedaan perkembangan gigi antara
jenis kelamin laki-laki dan perempuan
2. Al-Qahtani
Peneliti menjelaskan bahwa perkembangan gigi dan
tingkat erupsinya pada satu regio di rahang atas dan satu
regio rahang bawah dapat terjadi dalam rentang usia
6-23 tahun. Pada diagram yang digunakan dalam metode
ini hanya melihat perkembangan gigi molar kedua dan
ketiga saja, sehingga dapat mempengaruhi hasil usia dari
penelitian sebab keadaan perkembangan gigi molar ketiga
tidak selalu sama
3. Metode Blenkin-Taylor
Metode ini mengamati perkembangan tujuh buah gigi
dan mampu membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan
perempuan sehingga dapat melengkapi kekurangan dari
metode-metode sebelumnya.
4. Metode Demirjian
Metode ini dilakukan berdasar tahapan perkembangan
gigi permanen pada rahang bawah kiri yang dilihat dari foto
rontgen panoramik sesuai kriteria bentuk dan nilai relatif
dan bukan pada panduan mutlak gigi. Dalam metode ini
estimasi usia disederhanakan menjadi delapan tahapan
yang mewakili kalsifikasi masing-masing gigi mulai dari
kalsifikasi mahkota dan akar hingga penutupan apeks gigi.
Masing-masing tahapan diberi skor dari A hingga H yang
berasal dari metode Tanner untuk menggambarkan maturasi
tulang
Gambar 7. Tahap pembentukan gigi permanen
Dalam metode ini, penilaian gigi dikonversi ke dalam
skor memakai tabel, dimana untuk anak laki-laki dan
anak perempuan terpisah. Semua skor untuk masing-masing
gigi dijumlah dan analisis statistik skor maturasi digunakan
untuk masing-masing gigi dari tubuh gigi dari tiap-tiap
tahap dari 8 tahap perkembangan Skor maturasi kemudian
dikonversi langsung ke dalam usia gigi dengan memakai
tabel konversi
Tabel 1. Tahapan pembentukan gigi oleh Demirjian
(Demirjian, 1973)
Tahap Keterangan
A Untuk gigi akar tunggal maupun ganda, tahap kalsifikasi gigi
dimulai dari bagian tertinggi dari crypt
B Ujung cusp yang mengalami kalsifikasi menyatu, yang mulai
menunjukkan pola permukaan oklusal
C
a. Pembentukan enamel gigi selesai pada permukaan oklusal.
Tampak perluasan dan pertemuan pada bagian servikal
gigi
b. Mulai terlihat deposit dentinal
c. Pola kamar pulpa tampak berbentuk garis pada batas
oklusal gigi
D
a. Pembentukan mahkota gigi selesai, dan terjadi perluasan
menuju cemento-enamel junction
b. Tepi atas kamar pulpa pada gigi yang berakar tunggal
menunjukkan batas yang jelas, dan proyeksi tanduk pulpa
memberikan gambaran seperti payung serta berbentuk
trapezium pada gigi molar
c. Dimulainya pembentukan akar gigi
E
Gigi berakar tunggal
a. Dinding kamar pulpa tampak sebagai garis lurus yang
kontinuitasnya terputus akibat adanya tanduk pulpa
b. Panjang akar gigi kurang dari mahkota gigi
Gigi Molar
a. Inisiasi pembentukan bifurkasi akar
b. Panjang akar gigi kurang dari mahkota gigi
F
Gigi berakar tunggal
a. Dinding kamar pulpa tampak menyerupai segitiga sama
kaki, dan ujung akar seperti corong
b. Panjang akar gigi sama atau lebih panjang dari tinggi
mahkota gigi
Gigi Molar
a. Kalsifikasi pada bifurkasi mengalami perluasan, bentuk
akar lebih nyata dan ujung akar tampak seperti corong
b. Panjang akar gigi sama atau lebih
G Dinding saluran akar gigi tampak sejajar namun ujung apikal
gigi masih terbuka
H
a. Ujung apikal gigi sudah tertutup
b. Membran periodontal memiliki ketebalan yang sama di
sekitar akar gigi26
5. Metode Nolla
Mirip dengan metode Dermijan yang juga memakai
tabel konversi, namun dalam metode ini periode kalsifikasi
gigi permanen dibagi menjadi 10 tahapan dan masing-masing
diberi skor. Dimulai dari terbentuknya benih gigi sampai
penutupan foramen apikal gigi. Pembentukan crypte hingga
penutupan apeks akar gigi yang diamati dari foto radiografi
diklasifikasikan sebagai tingkat 1, sampai penutupan apeks
akar gigi merupakan tingkat 10. Gigi permanen rahang atas
dan rahang bawah dianalisis, dicocokkan tahapannya dan
diberi skor kemudian dilakukan pentotalan jumlah skor.
6. Metode Gustafson
Metode ini dilakukan berdasar perubahan
makrostruktural gigi yang dibagi menjadi 6 tahapan, yaitu:
a. Derajat atrisi
b. Jumlah dentin sekunder
c. Posisi ginggiva
d. Derajat resorpsi akar
e. Transparansi dentin
akar
f. Ketebalan sementum
Skala nilai yang digunakan yaitu 0, 1, 2, dan 3. Sampel
yang digunakan yaitu gigi insisivus. Standard error
sekitar 4,5 tahun (Gustafson, 1950). Nilai masing-masing
perubahan dijumlah (X) dan kemudian dihitung dengan
rumus berikut:
Y = 3.52X + 8.88
7. Metode Willems
Metode ini yaitu perbaikan dari sistem penilaian
usia dental metode Demirjian sebab penelitian yang
memakai metode Demirjian banyak yang menunjukkan
hasil overestimasi usia kronologis pada populasi orang
Belgia Kaukasian.
Metode ini ditemukan oleh Willems pada tahun 2001
yang melakukan penelitian terhadap populasi Belgia
Kaukasian memakai 2523 foto panoramik anak usia
2 tahun sampai 18 tahun (1265 anak laki-laki dan 1258
anak perempuan). Pelaksanaan penelitian ini memakai
tahapan kalsifikasi gigi permanen dari tahapan A sampai H
pada 7 gigi permanen kiri rahang bawah.
Willems memodifikasi tabel penilaian tahapan kalsifikasi
masing-masing gigi permanen pada metode Demirjian
hingga jumlah dari usia dental 7 gigi permanen dapat
langsung mengidentifikasikan estimasi usia kronologis
anak laki-laki dan perempuan
Tabel 2. Penilaian tahapan kalsifikasi pada 7 gigi kiri rahang
bawah pada anak laki-laki menurut Willems
Tabel 3. Penilaian tahapan kalsifikasi pada 7 gigi kiri rahang
bawah pada anak perempuan menurut Willems
ANOMALI GIGI
Anomali gigi yaitu kelainan perkembangan yang
melenceng dari keadaan normal yang seharusnya
dalam proses perkembangan dan differensiasi. Anomali gigi
juga bisa merupakan kelainan kongenital akibat suatu sindrom.
Faktor yang paling berpengaruh dalam terbentuknya anomaly
gigi yaitu faktor genetik sebab bersifat herediter, di samping
juga sebab faktor lingkungan dan gangguan metabolism
Anomali gigi yaitu kelainan pada gigi dalam rongga
mulut yang sering ditemukan di dalam dunia kedokteran gigi.
Bagi orang awam gigi terlihat sama saja, namun sebenarnya
gigi memiliki keunikan dengan bentuk, warna, posisi, pola
keausan, karies, periodontitis, restorasi gigi, prostesa gigi, dan
anomali gigi yang unik pada tingkat individualistik, seperti
sidik jari (Budi, 2014). Anomali gigi dapat didefinisikan
sebagai suatu abnormalitas morfologi gigi yang terjadi pada
tahap pertumbuhan dan perkembangan gigi
Anomali gigi meliputi kelainan dalam jumlah, ukuran,
morfologi, struktur gigi, dan posisi Berikut
penjelasan setiap jenis anomali yang mungkin terjadi:
A. Anomali jumlah gigi
Anomali jumlah gigi misalnya kelebihan gigi
(supernumerary teeth) dan kekurangan gigi. Supernumerary
teeth terdiri dari:
1. mesiodens: keadaan dimana ada gigi insisif yang
berlebih. Gigi mesiodens dapat erupsi sempurna, namun
bisa juga impaksi, baik itu berbentuk normal, peg shaped
maupun konus. dan distodens yaitu
2. peridens: gigi premolar berlebih dimana ada peridens
pada gigi 14
3. distodens: suatu kondisi dimana ada gigi molar yang
berlebih.
Kelebihan gigi terjadi pada 0,3% - 3,8% penduduk
dan dapat erupsi sempurna, namun bisa juga impaksi, baik
29
itu berbentuk normal, peg shaped maupun konus. Etiologi
kelebihan gigi berasal dari lamina gigi yang terjadi sebab
penyimpangan embriogenik dan proliferasi berlebihan sisa
epitel dari lamina gigi selama proses perkembangan gigi.
Kekurangan jumlah gigi yaitu suatu kondisi akibat
tidak adanya proses kalsifikasi mahkota di foto radiografi
namun tidak ada tanda kehilangan gigi akibat karies, penyakit
periodontal ataupun trauma Kekurangan
gigi diklasifikasikan menjadi:
1. hipodontia: kekurangan 1-6 gigi. Kondisi ini merupakan
salah satu kelainan yang paling sering terjadi dan tidak
adanya satu atau beberapa gigi dapat menyebabkan resorbsi
tulang alveolar, menurunnya fungsi pengunyahan, dan juga
menganggu estetika wajah Hipodontia
juga dapat terjadi pada seseorang dengan gangguan
sistemik, misalnya ectodermal dysplasia, down syndrome,
incontinentia pigmenti, hyalinosis kutis maupun mukosa,
dan mandibulo-oculo-facial dyscephaly
2. oligodontia: kekurangan lebih dari 6 gigi
3. anodontia: tidak ada benih gigi sama sekali pada rahang
atas dan rahang bawah.
B. Anomali ukuran gigi
Anomali gigi yang terjadi pada ukuran gigi meliputi:
1. Makrodontia: suatu kondisi dimana ada dua atau
lebih gigi yang berukuran lebih besar daripada normal.
Makrodontia dikalsifikasikan menjadi
a. true generalized macrodontia: kondisi seluruh gigi yang
erupsi ukurannya lebih besar dari normal. Kondisi ini
dapat terjadi pada pituitary gigantism
b. relative generalized macrodontia: kondisi dimana gigi
tampak lebih besar dari normalnya oleh sebab ukuran
rahang yang kecil
2. Mikrodontia: ukuran gigi lebih kecil dari normal.
Mikrodontia dapat diklasifikasikan menjadi:
3. true generalized microdontia dimana ukuran gigi tampak
lebih kecil pada semua gigi yang ditemukan pada pasien
pituatary dwarfism dan relative generalized microdontia
yang merupakan suatu kondisi dimana gigi nampak lebih
kecil sebab ukuran rahang yang lebih besar dari normal
C. Anomali morfologi gigi
Anomali gigi yang berhubungan dengan morfologi gigi
lebih banyak jenisnya, misalnya:
a. fusi: suatu anomali gigi dimana dua gigi yaitu suatu
anomali gigi dimana dua gigi bergabung menjadi satu, yang
terjadi ketika dua gigi berdekatan mengalami tekanan fisik
selama proses perkembangan menyebabkan kontak dari
dua benih gigi ini
b. geminasi: anomali perkembangan bentuk gigi akibat
kegagalan usaha satu benih gigi tunggal untuk memisah,
sehingga menghasilkan dua mahkota. Concresence
merupakan Etiologi conceresence belum diketahui secara
pasti, namun diperkirakan oleh sebab akibat dari trauma
atau kondisi gigi yang berdekatan saling mendesak sehingga
memmungkinkan terjadi pengendapan di sementum kedua
gigi ini
c. taurodontia: anomali gigi pada suatu kondisi melebarnya
kamar pulpa, mahkota terlihat memanjang dan saluran akar
lebih pendek. Secara radiografis taurodontia mempunyai
gambaran yang khas dimana ada gambaran ruang pulpa
yang lebih besar dan memanjang, saluran akar pendek dan
furkasi yang lebih mengarah ke apikal. Gambaran ini
seperti tanduk banteng atau disebut dengan “bull-like teeth
appearance”. Taurodontia juga dapat dihubungkan dengan
amelogenesis imperfect
d. hipersementosis: deposisi sementum sekunder yang
berlebihan dan dapat ditemukan pada bagian lateral, apikal
atau pada seluruh permukaan akar dari satu atau beberapa
gigi. Hipersementosis disebut juga hyperplasia sementum
yang mempunyai arti perkembangan berlebihan dari
jaringan yang disebabkan oleh peningkatan produksi sel-
selnya . Dapat terjadi sebab dua faktor
yaitu faktor lokal dan faktor umum yang termasuk faktor
lokal seperti radang, trauma, dan gigi yang tidak berfungsi
sedangkan yang termasuk faktor umum seperti Penyakit
Paget’s, akromegali dan penyakit sistemik lainnya
e. concresence: dua gigi yang menyatu di bagian sementum.
jika kelainan ini terjadi pada proses perkembangan maka
disebut “true concrescence” dan jika terjadi sesudah nya
disebut “acquired concrescence”
f. dilaseraesi: gangguan pada akar gigi yang menghasilkan
pembentukan lengkungan tajam atau pembengkokan yang
ekstrem. Dilaserasi pada umumnya tidak menimbulkan
keluhan dan baru diketahui sesudah melakukan foto
radiografi
g. dens evaginatus: anomali perkembangan gigi dimana
ada struktur tuberkel tambahan pada permukaan
oklusal atau pada ridge bukal yang umumnya terjadi di gigi
premolar. Dens evaginatus disebut juga Leong’s premolar,
evaginated odontome dan occlusal tuberculated premolar.
Etiologi dens evaginatus sebab adanya abnormalitas pada
proses proliferasi epitelium enamel kedalam retikulum inti
enamel dan faktor genetik juga memepengaruhi terjadinya
dens evaginatus
h. dens invaginatus: kegagalan pertumbuhan internal enamel
yang menyebabkan terjadi proliferasi di sekitar epitel
normal 15. Ditandai dengan adanya invaginasi mahkota
gigi dan akar pada saat sebelum kalsifikasi terjadi. Dikenal
ada dua bentuk dens invaginatus, yaitu dens invaginatus
koronal dan dens invaginatus radikuler. Pada gambaran
radiografi dens invaginatus terlihat seperti gigi di dalam
gigi, oleh sebab itu kelainan ini dikenal juga sebagai dens
in dente
i. enamel pearl: deposit enamel berlebih berukuran 0,3 - 0,4
mm yang umumnya berada di daerah furkasi atau cemento
enamel – junction
j. carabelli’s trait: kelainan morfologi yang terletak pada
mesiopalatal cusp gigi molar pertama rahang atas
D. Anomali struktur gigi
a. Amelogenesis imperfekta: penyakit herediter dengan
gangguan pembentukan enamel gigi tanpa adanya
manifestasi sistemik ). Etiologi
amelogenesis imperfekta oleh sebab adanya mutasi gen
AMELX, ENAM dan MMP-20 yang merupakan gen
yang menghasilkan protein penting untuk perkembangan
gigi . Amelogenis imperfekta
dibagi berdasar adanya gangguan diakibatkan oleh
berkurangnya jumlah email (hipoplasia), gangguan
proses mineralisasi email (hipomaturasi), gangguan
proses kalsifikasi (hipokalsifikasi), serta juga gabungan
hipomaturasi-hipokalsifikasi disertai taurodontism.
Pada gambaran radiografis didapatkan adanya densitas
enamel yang rendah pada gigi amelogenesis imperfekta
dibandingkan dengan gigi normal
b. Dentinogenesis imperfekta: gangguan pertumbuhan dentin
selama tahapan histodiferensiasi perkembangan gigi yang
diturunkan secara herediter. Dentinogenesis imperfecta
merupakan suatu kondisi kelainan yang diturunkan oleh
gen autosomal dominan menyerang pada gigi sulung
maupun gigi permanen. Dentinogenesis imperfekta
termasuk kedalam localized mesodermal dysplasia dengan
penampakan gigi yang transparan berwarna abuabu hingga
kuning kecoklatan hingga disertai dengan pembentukan
dentin yang ireguler atau undermineralized juga disertai
menghilangnya kamar pulpa atau saluran akar
E. Anomali posisi gigi
1. Transposisi: dua gigi saling bertukar posisi. Transposisi gigi
yang sering terjadi yaitu bertukarnya kaninus permanen
dengan premolar pertama (Shapira dkk, 2019).
Anomali lain yaitu impaksi, yakni gigi erupsi yang
bentuknya normal tapi tidak dapat erupsi sempurna sebab
terhalang oleh gigi lain, tulang atau jaringan lunak. Gigi
yang paling sering mengalami impaksi yaitu gigi molar
ketiga. Etiologi impaksi salah satunya oleh sebab adanya
33
gigi berdekatan atau jaringan patologis yang menghalangi
gigi ini tidak erupsi sempurna
Nutrisi juga berpengaruh. Makanan yang dikonsumsi manusia
modern cenderung lebih lunak sehingga kurang merangsang
pertumbuhan dan perkembangan lengkung rahang. Impaksi
juga dapat terjadi sebab benih gigi malposisi atau benih
terbentuk dalam berbagai angulasi yaitu mesial, distal, vertikal,
dan horisontal yang mengakibatkan jalur erupsi yang salah
arah
Perkembangan ilmu forensik saat ini sudah sangat pesat
dengan tingkat akurasi, validasi dan teknik yang digunakan
sangat tinggi. Proses identifikasi merupakan bagian dari
ilmu forensik sebagai upaya yang dilakukan dengan tujuan
membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang.
Proses penentuan identitas seseorang ini sangat penting dan
harus tepat sebab jika ada kekeliruan akan berakibat fatal
dalam proses peradilan
Identifikasi yaitu penentuan dan pemastian identitas
orang yang hidup maupun orang mati berdasar ciri khas yang
ada pada orang ini . Tujuan utama dari pemeriksaan
ini yaitu untuk mengenali identitas jenazah yang selanjutnya
dapat dilakukan upaya untuk merawat, mendoakan, dan
menyerahkan kepada keluarga jenazah untuk dikebumikan
sesuai dengan kepercayaan masingmasing. Pengenalan
identitas jenazah juga bertujuan untuk memberikan ketenangan
psikologis kepada keluarga jenazah dengan adanya kepastian
identitas. Proses identifikasi merupakan hal yang kompleks,
untuk mendapatkan identitas dari jenazah jenazah yang harus
didukung oleh sejumlah data yang akurat .
Adanya ciri pola pertumbuhan tertentu dari gigi
menunjukan ada variasi populasi yang dapat digunakan
untuk menentukan asal keturunan. Banyak kelainan gigi
atau mulut secara genetik menunjukkan kelainan yang lebih
kompleks dan terkait dengan sifat dan cacat yang diturunkan,
atau akibat mutasi genetik spontan. Insiden anomali gigi dan
tingkat ekspresi pada kelompok populasi yang berbeda dapat
memberikan informasi yang berguna untuk studi filogenik dan 34
genetik, yang memungkinkan kita untuk memahami variasi
intra dan antar-populasi.
Berikut beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa
anomaly gigi membantu keberhasilan identifikasi jenazah.
1. Kasus di Brazil yakni jenazah wanita tidak dikenal
yang diperkirakan berusia sekitar 18 - 30 tahun dengan
kondisi pembusukan yang cukup parah namun berhasil
teridentifikasi sebab adanya anomali gigi. Dokter gigi
spesialis odontologi forensik melakukan pemeriksaan
gigi geligi pada jenazah ini dan menemukan ada
lima gigi yang hilang serta ada anomali gigi berupa
perubahan posisi dari gigi caninus kiri bawah. Dokter gigi
spesialis odontologi forensik mencocokan dengan data ante
mortem dan memang ada perubahan posisi pada gigi
caninus kiri bawah yang didukung pula oleh informasi dari
pihak keluarga korban
2. Kasus di New Zealand seorang anak laki-laki tewas akibat
kebakaran, teridentifikasi melalu anomali gigi. Jenazah
ini berhasil diidentifikasi dengan cara mencocokan
data post mortem dengan rekam medis gigi yang didapat
dari pusat pelayanan keshatan gigi di sekolah korban. Hal
yang menonjol dari kasus ini adanya fusi pada gigi 82
dengan 83, dimana kasus ini jarang sekali ditemukan.
Anomali gigi seperti mesiodens, makrodontia,
mikrodontia, impaksi dan dilaserasi merupakan anomali
gigi yang sering terjadi dan dapat membantu dalam proses
identifikasi seseorang. Tingginya prevalensi kasus anomali gigi
di berbagai populasi dan etnis menjadi kelebihan penggunaan
anomali gigi untuk identifikasi (Jagmahender, 2019).
Pengetahuan dokter gigi tentang anomali gigi juga
berperan penting terutama saat korban yaitu anak-anak.
Penelitian memakai radiografi panoramik dari 4105
pasien menunjukkan 1519 pasien (37,7%) memiliki setidaknya
satu anomali gigi pada populasi orang Meksiko (Herrera
dkk, 2014). Penelitian yang dilakukan pada 1100 orang pada
tahun 2011 yang dilakukan di ditemukan bahwa dari total
34.169 gigi yang diteliti, 500 subjek memiliki paling tidak 35
satu anomali gigi, 118 memiliki lebih dari satu anomali gigi.
Impaksi merupakan anomali gigi dengan prevalensi tertinggi
yaitu 26,2% (Bilge dkk, 2018).
Anomali gigi pada anak bekebutuhan khusus seperti anak
dengan Down’s syndrome lebih sering terjadi dibandingkan
anak normal, yakni sekitar 50.47-95.52% lebih banyak dengan
kasus tersering yaitu taurodontia dan anodontia, hal ini
diduga berhubungan dengan mutasi kromosom dan juga
keberisihan rongga mulut yang lebih rendah pada anak Down’s
syndrome. Penelitian menunjukkan anomali tersering yaitu
hipodontia dan mikrodontia, yakni dari 174 anak Down’s
syndrome di Jakarta sebanyak 138 anak (79%) diantaranya
mengalami anomali gigi (Anggraini dkk, 2019).
Beberapa variasi anomali gigi juga dikaitkan dengan
determinasi ras, misalnya:
a. dens evaginatus sering ditemukan pada ras Mongoloid dan
Neo asia dengan prevalensi 3% - 4,8% etnis Tionghoa dan
populasi Eskimo, tetapi jarang terjadi pada populasi kulit
putih.
b. enamel pearl pada area bifurkasi gigi molar rahang bawah
mempunyai prevalensi tinggi sekitar 1,8% - 4% pada ras
Mongoloid. Prevalensi enamel pearl juga cukup tinggi
pada ras mongoloid, berdasar penelitian Loh H.
(2015) melaporkan ada enamel pearl pada 79% kasus
pencabutan gigi molar pertama rahang bawah pada populasi
Tionghoa-Hongkok
c. Makrodontia dengan panjang mesiodistal pada gigi molar
10% lebih besar sering ditemukan pada ras Aborogin
australia, Melanesia dan Indian Amerika.
d. Frekuensi carabelli’s trait di gigi molar permanen rahang
atas jauh lebih tinggi pada ras caucasoid dibandingkan ras
lainnya.50 Mikrodontia disertai multiple diastema memiliki
keterkaitan dengan ras negroid dengan prevalensi sekitar
4%-8%
SIDIK BIBIR
Setiap manusia memiliki pola khas gambaran alur
yang berbeda-beda pada mukosa bibir atas dan
bawah, sama seperti pada pola sidik jari kita. sebab kekhasan
yang bersifat indiviudalis itulah, sidik bibir digunakan dalam
identifikasi baik pada kasus forensik, misalnya identifikasi
dalam kasus pembunuhan, maupun untuk tujuan non forensic,
misalnya dalam mengidentifikasi usia, jenis kelamin, usia,
jenis kelamin, hubungan darah, dan ras.
A. Anatomi bibir
Bibir masih termasuk bagian dari cavum oris yang
dimulai dari perbatasan vermilion-kulit dan disusun oleh tiga
lapisan, yaitu kulit, vernilion, dan mukosa. Bibir terdiri atas
dua lipatan otot seperti gerbang mulut, terdiri atas bibir atas
dan bibir bawah. Bagian luarnya ditutupi oleh jaringan kulit,
bagian dalamnya ditutupi oleh mukosa mulut
Permukaan luar bibir ditutupi kulit dengan folikel
rambut, kelenjar sebasea dan keringat. Tepi vermilion menjadi
lokasi peralihan antara kulit dan membran mukosa, bibir
berubah menjadi kulit yang sangat tipis tanpa rambut dan
epidermis yang transparan Sedangkan
bagian dalam bibir tersusun atas mukosa dengan epitel berlapis
gepeng tanpa lapisan tanduk, terletak di atas jaringan ikat
lamina propria dengan papilla yang tinggi. Pada submukosa
ada serat elastin yang mengikat erat membran mukosa
sehingga mencegah terbentuknya lipatan mukosa yang dapat
tergigit saat gigi geligi atas dan bawah berkontak. Serat
elastin ini kemudian melanjutkan diri di sekitar otot rangka di
tengah bibir dan di dalam lamina propria
Bagian epidermis dari tepian vermilion bibir yang transparan
serta dermis yang memiliki banyak pleksus pembuluh darah
membuat bibir berwarna merah
Cuspid bow memberikan bentuk khas pada bibir sebagai
proyeksi dari philtrum ke bawah. Proyeksi linier tipis yang
memberi batas bibir atas dan bawah secara melingkar pada
batas kutaneus dan vermilion disebut white roll. Bibir bagian
bawah memiliki 1 unit yaitu bagian mental crease yang
memisahkan bibir dengan dagu
Gambar 8. Anatomi bibir
a. Persarafan
Persarafan sensoris bibir atas berasal dari cabang syaraf
kranialis V (N. trigeminus) dan N. infraorbitalis. Bibir bawah
diinervasi sensoris oleh N. mentalis. Inervasi motorik bibir
berasal dari syaraf kranialis VII (N. facialis). Ramus buccalis
N. facialis mempersyarafi ms. orbicularis oris dan ms. levator
labii. N. facialis ramus mandibularis menginervasi M.
orbicularis oris dan M. depressor labii (Rensburg, 1995).
b. Otot
Otot bibir terdiri dari kelompok otot sfingter bibir (orbicularis
oris) dan otot dilator yang terdiri dari satu seri otot kecil yang
menyebar keluar dari bibir. Fungsi otot pada sfingter bibir
yaitu untuk merapatkan bibir, sedangkan fungsi otot dilator
bibir yaitu untuk membuka bibir (Rensburg, 1995).
B. dentifikasi forensik dengan sidik bibir
Penemuan sederhana dari bibir dalam kepentingan
forensic misalnya bibir yang tertutup rapat menandakan korban
meninggal sebelum api membakar tubuhnya, sedangkan temuan
bibir terbuka lebar menandakan korban terbakar hidup-hidup.
Temuan frenulum atas dalam kondisi robek sering ditemukan
pada kasus kekerasan bayi
Temuan yang lebih detail lagi dapat diperoleh dengan
pemeriksaan pola sidik bibir. Penelitian sidik bibir tidak hanya
untuk identifikasi forensik, namun juga untuk studi pewarisan
sifat. Sidik bibir salah satu tanda khas yang berbeda pada
setiap individu, sama seperti sidik jari. 12 Sidik bibir dikenal
juga dengan istilah “figura linearum labiorum rubrorum”,
merupakan gambaran alur pada mukosa bibir atas dan bawah
Lekukan bibir diklasifikasikan menjadi 4 tipe yaitu:
1) Garis lurus
2) Garis bergelombang
3) Garis bersudut
4) Garis berbentuk sinus
Klasifikasi lain yang paling lengkap yaitu dengan
pembagian pola sidik bibir menjadi 10 tipe seperti pada gambar
di bawah
Gambar 9. Klasifikasi sidik bibir menurut Renaud
Tabel 4. Keterangan klasifikasi tipe sidik bibir
Pola sidik bibir bersifat stabil, tidak berubah akibat
trauma, iklim, penyakit di sekitar mulut, tindakan pembedahan,
maupun gerakan yang melibatkan bibir seperti mulut
yang terbuka, tersenyum, atau mencucu. Meskipun masih
kontroversi, pola sidik bibir masih dapat digunakan sebagai
metode alternative identifikasi individu sebab polanya sangat
unik. Meskipun dalam praktiknya, penggunaan sidik bibir
dalam identifikasi belum sering dilakukan. Metode pencetakan
sidik bibir pun belum disepakati secara internasional sehingga
belum baku dalam pelaksanaannya
Perlu penelitian lebih lanjut terkait cara pencetakan dan
penyimpanan cetakan sidik bibir agar dapat digunakan dengan
hasil yang akurat
Metode pencetakan sidik bibir yang telah dilakukan
selama ini yaitu dengan memakai kertas karton tipis
dan pewarna bibir, lateks, scotch tape, fotografi, bahan cetak
gigi, kaca preparat, dan fingerprint hinge lifter. Pengambilan
sidik bibir memakai kertas karton tipis yaitu metode
yang paling mudah dengan hasil yang cukup jelas. Pola sidik
bibir antara pria dan wanita juga memiliki karateristik khasnya
masing-masing, sehingga dapat digunakan untuk identifikasi
jenis kelamin. Perempuan lebih sering memiliki pola garis
vertikal, sedangkan pria lebih sering dengan pola berpotongan
. Namun, perlu diketahui bahwa ukuran
dan bentuk bibir dapat berubah akibat pertambahan usia yang
menyebabkan pola sidik bibir juga berubah, sehingga metode
identifikasi ini hanya disarankan untuk rentang usia 21-40
tahun
berdasar klasifikasi pola sidik bibir menurut Suzuki,
pola sidik bibir yang paling sering ditemukan pada pria yaitu
tipe I dan yang paling jarang yaitu tipe V, sedangkan pada
wanita sering tipe IV dan yang paling jarang yaitu tipe III
40
Gambar 10. Klasifikasi sidik bibir menurut Suzuki
Keterangan:
Tipe I : terlihat pola alur vertical pada seluruh bagian bibir
Tipe II : terlihat mirip dengan tipe I, namun pola alur tidak
pada seluruh bagian bibir
Tipe III : terlihat pola alur yang bercabang
Tipe IV : terlihat pola alur yang membentuk kotak-kotak
Tipe V : terlihat pola alur yang bukan salah satu dari tipe-tipe
di atas atau pola alur bentuk lainnya.
Sidik bibir bersifat genetik dan individual. Sebagaimana
sidik jari, sidik bibir juga bersifat menetap sejak lahir. Sidik
bibir dapat diamati mulai anak berusia empat bulan, dan tidak
akan berubah seiring pertambahan usia. Yang berubah hanyalah
pengurangan volume dan kehilangan unsur penunjang seperti
gigi atau terjadi resesi gusi. Anak-anak memiliki pola sidik
bibir yang sama dengan orang tua mereka walaupun lokasinya
berbeda (berada pada kuadran bibir yang berbeda) sehingga
sidik bibir dari setiap orang bersifat unik, berbeda antara
satu orang dengan orang lainnya. Menurut hipotesis Mendel,
sifat-sifat seseorang ditentukan oleh sepasang unit, dan hanya
sebuah unit yang diteruskan kepada keturunannya dari induk
. Gen setiap anak berhubungan dengan
sifat yang diwariskan oleh kedua orangtuanya. Pola sidik bibir
termasuk salah satu hal yang diturunkan secara genetik, baik
bersifat dominan maupun resesif. Terkadang ada sifat yang
terlihat jelas dalam sebuah keluarga, salah satunya bentuk
bibir.
ANALISIS JEJAS GIGITAN (BITE MARK)
Bite mark yaitu bekas gigitan dari pelaku yang
ditemukan di kulit korban dalam bentuk luka,
dengan tingkat eksposur hingga jaringan kulit atau jaringan
ikat di bawah kulit sebagai pola di kulit korban akibat dari
permukaan gigi-gigi pelaku yang digunakan menggigit
Bite mark juga didefinisikan sebagai perubahan fisik
pada bagian tubuh akibat kontak atau interdigitasi antara gigi
atas dengan gigi bawah baik oleh gigi manusia maupun hewan
sehingga struktur jaringan terluka (Bowers dan Bell, 1995).
Bite marks akibat hewan dan manusia dapat dibedakan satu
sama lain sebab secara anatomi gigi dan morfologi gigi serta
rahang berbeda
Pola permukaan kunyah dan hasil gigitan yang
mengakibatkan putusnya jaringan kulit dan jaringan di bawah,
baik pada kulit manusia maupun pada buah, yang sering
misalnya buah apel, bengkuang, dan pir yang disebut sebagai
apple bite mark
Pemeriksaan odontologi forensik dengan bitemark
perlu tanggapan cepat dari dokter gigi forensik untuk
mendokumentasikan bitemark, baik memakai fotografi
dengan teknik khusus, transfer ke kertas transparan, atau
lembaran asetat, pengambilan cetakan, dan pengamatan
mikroskop elektrik. Noda liur atau sel yang tertinggal pada
daerah bitemark dapat diambil sebagai sampel pemeriksaan
DNA pelaku. Jika daerah bitemark kotor dapat dilakukan
swabbing luka gigitan untuk memulihkan bukti jejak Melalui analisis
bitemark, dokter gigi forensik kemudian berperan untuk
mengidentifikasi apakah terdakwa merupakan pelaku yang
menyebabkan kematian korban.
Pemeriksaan bitemarks bisa dilakukan dalam kasus
kekerasan baik secara seksual maupun non-seksual, dan
pembunuhan. Barang bukti lain yang ditemukan di tempat
kejadian perkara yang bersifat non biologis juga harus
diamankan dan didokumentasikan. Prosedur pengambilan
barang bukti biologis maupun non biologis membutuhkan
penanganan material yang tepat untuk memastikan keamanan
bukti agar sesuai dengan persyaratan hukum sehingga dapat
diterima sebagai bukti di pengadilan, oleh sebab itu dokter
gigi ahli sangat berperan
A. Metode analisis bitemarks
Tahap pertama dalam analisis bitemark yaitu
menentukan apakah pola ini merupakan gigitan manusia,
gigitan binatang atau luka lain yang mirip dengan gigitan
manusia. Setiap jenis peristiwa akan menghasilkan pola
gambaran bekas gigitan manusia yang berbeda-beda (Dolinak
dkk, 2005). Hasil analisis luka gigitan kemudian dibandingkan
dengan dengan bukti tersangka untuk menentukan hasil
identifikasi. ada beberapa metode komparatif yang
digunakan oleh dokter gigi forensik untuk analisis bukti
bite mark, misalnya seperti perbandingan visual, life size
overlays, test bites, digital bite mark overlays, scanning
electron microscopy dan analisis metrik. Analisis yang sering
digunakan yaitu teknik overlay dan analisis metrik.
Panduan analisis bitemark yang sesuai standar
berdasar American Board of Forensic Odontostomatology
(ABFO) yaitu sebagai berikut:
a. Rekam medis gigi atau dental history
Dental history meliputi perawatan gigi yang pernah
dilakukan oleh terduga pelaku sebelum bukti bitemark
didapatkan. Data dental history dicatat pada formulir ante















