Tampilkan postingan dengan label kedokteran gigi forensik 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kedokteran gigi forensik 1. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

kedokteran gigi forensik 1

 





ANATOMI GIGI

Gigi merupakan bagian dari jaringan tubuh yang 

paling keras sebab  strukturnya berlapis-lapis yang 

terdiri atas email yang keras, dentin atau tulang gigi, pulpa 

yang berisi pembuluh darah, pembuluh syaraf, dan bagian 

lain yang memperkokoh gigi ,Pada dewasa 

gigi diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu gigi seri, gigi 

taring, gigi graham kecil, dan gigi graham besar. Sedangkan 

pada anak-anak, gigi susu hanya diklasifikan menjadi tiga 

jenis, yaitu gigi seri, gigi taring, dan gigi geraham. Setiap jenis 

gigi memiliki bentuk yang tidak sama. 

berdasar  usia seseorang, jenis gigi dilkasifikasikan 

menjadi dua, yakni: 

1. Gigi susu 

Gigi ini tumbuh pada anak usia 6 bulan hingga 8 tahun. 

Jumlah gigi susu pada anak sebanyak 20 buah, terdiri atas 8 

buah gigi seri, 4 buah gigi taring, dan 8 buah gigi geraham. 

Gigi susu ini satu per satu akan tanggal sejak usia 6 tahun 

hingga usia 14 tahun dan digantikan dengan gigi dewasa. 

2. Gigi dewasa atau gigi tetap 

Gigi ini merupakan gigi pada usia dewasa yang berjumlah 

32 buah, terdiri atas 8 buah gigi seri, 4 buah gigi taring, 

8 buah gigi geraham depan, dan 12 buah gigi geraham 

belakang.

Berikut uraian singkat mengenai masing-masing jenis 

gigi:

1. Gigi Seri 

Dinamakan gigi seri sebab  gigi ini yang langsung terlihat 

sama, sepasang (seri), dan berdampingan. Dalam istilah 

ilmiah gigi ini disebut gigi insisif. Berjumlah empat buah di 

gusi atas dan empat buah di gusi bawah. Gigi seri terletak 

pada bagian depan rahang sehingga langsung terlihat saat 

pertama kali seseorang tersenyum atau berbicara 

2. Gigi Taring

Gigi taring memiliki istilah ilmiah kaninus. Gigi ini yaitu  

gigi yang terakhir tumbuh di rongga mulut, sehingga sering 

mengalami kekurangan tempat, akibatnya posisinya lebih 

menonjol dibandingkan gigi yang lain. Dalam istilah 

awam, gigi ini dikenal sebagai gigi gingsul. Posisinya yang 

menonjol ini  dalam istilah medis disebut ektopik. 

Berjumlah  empat buah, masing-masing satu di kanan atas, 

satu di kiri atas, satu di kanan bawah, dan satu di kiri bawah. 


3. Gigi Geraham Kecil 

Dalam istilah medis disebut premolar. Kata pre berarti 

sebelum atau mendahului, sehingga premolar berarti 

mendahului molar. Yakni letaknya berada sebelum gigi 

molar (geraham). Jumlah gigi premolar ini sebanyak 

delapan buah, yakni dua di sebelah kanan atas, dua di 

sebelah kiri bawah, dua di sebelah kanan bawah, dan dua 

di sebelah kiri bawah. Bentuknya menyerupai gigi taring, 

tetapi memiliki bukit yang tajam di kedua sisi, bukan satu 

seperti taring. Penghubung dua sisi tajam membentuk 

dataran yang disebut dataran kunyah. Ini yaitu  jenis gigi 

yang hanya ada  dalam periode gigi tetap. Sehingga 

tidak ditemukan pada usia anak yang berada dalam tahap  

gigi susu 

4. Gigi Geraham 

Gigi ini yaitu  gigi dengan ukuran terbesar dibanding jenis 

gigi lainnya, dalam istilah ilmiah disebut sebagai gigi molar. 

Berjumlah dua belas buah, yakni tiga buah di kiri atas, tiga 

buah di kanan atas, tiga buah di kiri bawah dan tiga buah 

di kanan bawah. Gigi geraham atas memiliki tiga buah akar 

gigi dan lima buah bagian menonjol (bonjol), sedangkan 

geraham bawah rata-rata memiliki dua akar gigi dan empat 

bagian menonjol (bonjol) 

Gigi geraham pertama baik rahang atas maupun rahang 

bawah memiliki ciri-ciri tersendiri, adapun ciri-ciri ini  

yaitu  sebagai berikut: 2

a. Gigi molar pertama rahang atas memiliki ciri-ciri sebagai 

berikut: 

● Mempunyai lima cusp, 

termasuk tuberculum 

carabelli 

● Mempunyai tiga akar, 

akar palatal terpanjang 

dan terbesar 

● Pada pandangan 

oklusal tampak fissure 

berbentuk huruf “H” 

● Memiliki lima bidang 

pada mahkota, yaitu: 

bidang bukal, palatal, 

mesial, distal dan 

oklusal. 

b. Gigi molar pertama rahang bawah, ciri-cirinya: 

● Mempunyai lima cusp 

● Mempunyai dua akar, 

yaitu akar mesial dan 

distal 

● Pada pandangan oklusal 

tempat pit dan fissure, 

serta mempunyai empat 

groove. 

Secara anatomi, bagian-bagian gigi permanen terbagi 

menjadi tiga bagian, yakni: 

1. Mahkota gigi

Merupakan bagian gigi 

yang terlihat di dalam 

mulut dan berwarna putih. 

2. Leher gigi 

Merupakan bagian gigi 

yang terletak diantara 

mahkota gigi dan akar gigi. 

3. Akar gigi 

Merupakan bagian gigi 

yang tertanam di tulang 

rahang. 

Kemenkes dalam buku panduan pelatihan kader 

kesehatan gigi dan mulut menguraikan bagian-bagian anatomi 

gigi dengan lebih detail, yakni terdiri atas: 

1. Email 

Merupakan jaringan 

terkeras dari seluruh tubuh 

manusia dan bagian terluar 

dari gigi yang berfungsi 

untuk melindungi bagian-

bagian gigi di dalamnya 

dari rangsangan panas dan 

dingin. 

2. Dentin 

Merupakan bagian terusan 

dari email gigi dan 

berwarna lebih kuning 

daripada email gigi. Disini 

merupakan ujung-ujung 

syaraf yang berasal dari 

pulpa.

3

3. Pulpa 

Merupakan rongga yang 

berisi serabut saraf, 

pembuluh darah, dan 

pembuluh getah bening 

gigi yang memberi 

kehidupan pada gigi. 

4. Tulang rahang 

Disebut juga sebagai tulang 

alveolar dan merupakan 

tempat tertanamnya akar 

gigi. 

5. Cementum 

Merupakan bagian 

yang melapisi seluruh 

permukaan akar gigi. 

6. Jaringan periodontal (serat 

selubung akar gigi) 

Merupakan serabut-

serabut yang menyelubungi 

akar gigi yang melekat 

pada cementum dan 

alveolar sehingga menjadi 

penahan tekanan agar tidak 

langsung mengenai tulang.

Gambar 1. Anatomi gigi


Struktur gigi permanen terdiri atas dua jaringan, yaitu 

jaringan keras di luar mencakup email dan dentin serta jaringan 

lunak di dalamnya yaitu pulpa yang berisikan serabut saraf dan 

pembuluh darah.

1. Struktur jaringan keras 

Bagian ini terletak di 

rongga mulut yang dikenal 

dengan mahkota gigi. Pada 

mahkota gigi ada  

bagian yang menonjol 

yang disebut puncak gigi. 

Mahkota dan puncak gigi 

dilapisi oleh suatu lapisan 

yang disebut email gigi, di 

bagian bawahnya ada  

lapisan berwarna putih 

yang disebut dentin gigi.

4

2. Struktur jaringan lunak

Struktur jaringan 

lunak berfungsi untuk 

menyokong gigi sehingga 

disebut struktur jaringan 

penyokong. Jaringan 

penyokong gigi ini disebut 

gusi, di bagian bawahnya 

ada  rongga tempat 

melekatnya gigi yang 

disebut tulang gigi. Di 

bagian dalam gigi ada  

rongga disebut sebagai 

pulpa gigi, di dalamnya 

berisi serabut saraf dan 

pembuluh darah. 

Gigi permanen memiliki banyak fungsi, yakni sebagai 

berikut: 

1. Pengunyah 

Saat pertama kali makanan 

masuk ke dalam mulut, 

gigi memotong dan 

meremukkan makanan 

ini  dengan gerakan 

mengunyah, lalu ditelan. 

2. Penyangga 

Gigi dengan bantuan 

tulang rahang menjadi 

sandaran yang kuat pada 

struktur wajah. 

3. Perlindungan dan 

pengendalian

Gigi bersama bibir 

melindungi mulut dari 

debu, kuman, dan benda-

benda luar yang masuk ke 

dalam mulut. 

4. Pemegang 

Gigi berguna untuk 

memegang benda seperti 

sedotan dan lain-lain.

Gambar 2. Susunan gigi manusia dan waktu erupsinya

(Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/pengertian-gigi/)

5

Perkembangan gigi terbagi dalam 5 tahap, yakni sebagai 

berikut 

1. Inisiasi (bud stage)

Tahap awal terbentuknya benih gigi dari epitel mulut. 

Sel-sel di lapisan basal dari epitel mulut berproliferasi lebih 

cepat daripada sel sekitarnya, sehingga lapisan epitel di regio 

bukal lengkung gigi menjadi menebal dan meluas sampai 

seluruh bagian rahang atas dan bawah.

2. Proliferasi (cap stage) 

Lapisan sel-sel mesenkim yang berada di lapisan dalam 

akan mengalami proliferasi, memadat, dan bervaskularisasi 

menjadi papil gigi yang kemudian membentuk dentin dan pulpa 

pada tahap ini. Sel-sel mesenkim yang berada di sekeliling 

organ gigi dan papila gigi memadat dan menjadi fibrous yang 

disebut kantong gigi dan akan berubah menjadi sementum, 

membran periodontal, dan tulang alveolar. 

3. Histodiferensiasi (bell stage) 

Pada tahap ini terjadi diferensiasi seluler. Sel-sel epitel 

email dalam (inner email epithelium) semakin panjang dan 

berbentuk silindris yang disebut sebagai ameloblas dan 

kemudian berdiferensiasi menjadi email serta sel-sel bagian 

tepi dari papila gigi menjadi odontoblas hingga akhirnya terus 

berdiferensiasi menjadi dentin. 

4. Morfodiferensiasi 

Sel pembentuk gigi tersusun sedemikian rupa dan 

dipersiapkan untuk menghasilkan bentuk dan ukuran gigi 

selanjutnya. Proses ini terjadi sebelum deposisi matriks dimulai. 

Morfologi gigi dapat ditentukan bila epitel email bagian dalam 

tersusun sedemikian rupa sehingga batas antara epitel email 

dan odontoblas merupakan gambaran dentinoenamel junction 

yang akan terbentuk. Dentinoenamel junction mempunyai 

sifat khusus yaitu bertindak sebagai pola pembentuk setiap 

macam gigi. ada  deposit email dan matriks dentin pada 

daerah tempat sel-sel ameloblas dan odontoblas yang akan 

menyempurnakan gigi sesuai dengan bentuk dan zukurannya. 

6

5. Aposisi 

Terjadi pembentukan matriks keras gigi baik pada email, 

dentin, dan sementum. Matriks email terbentuk dari sel-sel 

ameloblas yang bergerak ke arah tepi dan telah terjadi proses 

kalsifikasi sekitar 25%-30%.

Namun, perkembangan dan pertumbuhan gigi tidak 

selalu sama persis pada setiap individu. sebab  ada faktor-

faktor lain yang juga mempengaruhi, beberapa diantaranya 

yaitu :

1. Ras 

Waktu dan urutan erupsi gigi permanen dapat berbeda-

beda tergantung rasnya. Waktu erupsi gigi orang Eropa dan 

campuran Amerika dengan Eropa lebih lambat daripada waktu 

erupsi orang Amerika berkulit hitam dan Amerika Indian (ras 

mongoloid) (Moyers, 2001). 

2. Faktor Jenis Kelamin 

Maturasi awal gigi 

terjadi lebih awal pada anak 

perempuan dibandingkan 

dengan pada anak laki-

laki. Hal ini menyebabkan 

gigi permanen pada anak 

perempuan mengalami erupsi 

lebih awal daripada anak laki-

laki.

Selain itu, growth spurt 

antara pada anak laki-laki 

dan perempuan juga berbeda. 

Growth spurt pertama 

normalnya terjadi sesudah 

lahir dan pada usia sekitar 

6-7 tahun yang berlangsung 

selama kurang lebih 3-4 bulan 

pada anak.  Kemudian terjadi 

kembali saat berusia 12 tahun 

pada anak perempuan dan 

kurang-lebih usia 12 tahun 

dan 14 tahun pada anak laki-

laki. Sehingga growth spurt 

pada perempuan terjadi lebih 

dulu daripada anak laki-laki. 

3. Faktor Penyakit 

Penyakit metabolik atau komorbid dapat 

menyebabkan gangguan pada erupsi gigi permanen, 

misalnya pada penyakit Cerebral Palsy, Dysosteosclerosis, 

Hypothyroidism, Hypopituitarism, Hypoparathyroidism, dan 

Pseudohypoparathyroidism 

4. Faktor Lingkungan 

Meskipun faktor utama yang mempengaruhi 

pertumbuhan dan perkembangan gigi yaitu  faktor genetik, 

namun lingkungan jika berkontribusi meskipun tidak banyak 

memberikan pengaruh terhadap waktu erupsi gigi, yakni hanya 

berperan sebesar 20% (Moyers, 2001). Beberapa aspek yang 

termasuk ke dalam faktor lingkungan antara lain: 

a. Sosial Ekonomi 

Pelayanan kesehatan dan nutrisi yang lebih baik pada 

anak dari kelas sosial-ekonomi tinggi akan mendukung 

pembentukan benih gigi lebih awal, sehingga juga akan 

mengalami erupsi gigi yang lebih cepat dibandingkan 

anak dengan tingkat sosial-ekonomi yang lebih rendah 


b. Nutrisi 

Proses erupsi dan kalsifikasi sekitar 1% diperngaruhi oleh 

asupan nutrisi sebagai faktor pertumbuhan. Defisiensi 

nutrisi misalnya kekurangan vitamin D dan gangguan 

kelenjar endokrin dapat menyebabkan keterlambatan waktu 

erupsi gigi 


ODONTOLOGI FORENSIK

Kedokteran gigi forensik yaitu  metode untuk 

menentukan identitas seseorang dengan tahapan 

proses yang meliputi pengumpulan, pemeriksaan, dan 

pemaparan dari benda bukti berupa gigi yang telah ditemukan 

 Oleh sebab  itu, dokter gigi memiliki peran 

penting dalam melakukan identifikasi gigi. Teknik identifikasi 

ini memiliki tingkat akurasi yang setara dengan teknik sidik 

jari, sehingga sudah sangat sering digunakan sejak sebelum 

Masehi. Bahkan dalam beberapa kasus teknik ini lebih unggul 

dibanding teknik sidik jari, sebab  gigi dan tulang yaitu  

bahan biologis berupa jaringan keras yang paling elastis 

dan terlindungi dari perubahan lingkungan sebab  memiliki 

ketahanan terhadap panas hingga suhu kurang-lebih 900℃, 

tidak mudah rusak selama penyimpanan, dan tidak mudah 

hilang sebab  melekat erat pada tulang rahang. Dalam beberapa 

kondisi, terkadang hanya gigi yang tersisa untuk digunakan 

dalam identifikasi seseorang, sehingga dijadikan untuk 

identifkasi forensic, salah satunya sebagai indikator penentuan 

estimasi usia seseorang 

Ilmu kedokteran gigi forensik atau yang disebut juga 

dengan istilah forensic dentistry dan odontology forensic 

yaitu  bagian dari ilmu kedokteran forensik, namun telah 

dianggap sebagai bidang sendiri seiring dengan perkembangan 

dan spesifitasnya. Ilmu kedokteran gigi forensik juga 

merupakan cabang ilmu kedokteran gigi yang mempelajari 

hal berkaitan dengan penanganan dan pemeriksaan bukti gigi, 

cara evaluasi, dan penyajian temuan gigi untuk kepentingan 

peradilan. Odontologi forensik merupakan ilmu kedokteran 

gigi berkaitan dengan kepentingan hukum. Untuk aparat 

penegak hukum dan pengadilan, bukti gigi yaitu  metode 

yang efektif dengan tingkat kepercayaan yang setara dengan 

pemeriksaan sidik jari dan  golongan darah. Kedokteran Gigi 

Forensik merupakan salah satu bagian dari ilmu kedokteran 

forensik untuk kepentingan keadilan yang dilakukan melalui 9

proses pemeriksaan bukti, evaluasi, dan presentasi temuan 

gigi-geligi yang tepat. Forensik sains mengacu pada proses 

pembuktian yang dapat digunakan dalam lingkungan peradilan 

dan diterima oleh pengadilan serta bidang keilmiahan untuk 

menentukan kebenaran.

Identifikasi forensik yaitu  upaya untuk mengidentifikasi 

individu memakai  hasil interpretasi  temuan secara medis, 

yakni dengan membandingkan ciri khas antemortem (sebelum 

meninggal) dan temuan postmortem (sesudah  meninggal). 

Jenis identifikasi forensik yang digunakan terbagi menjadi 2 

klasifikasi, yakni identifikasi primer seperti tulang, gigi, sidik 

jari, rambut, dan DNA; serta identifikasi sekunder yang meliputi 

data KTP, SIM, dan berkas lain milik orang ini . Ilmu 

dan teknik identifikasi forensik ini sangat penting mengingat 

Indonesia termasuk salah satu negara dengan kejadian bencana 

alam yang relatif sering sehingga menimbulkan banyak korban 

jiwa. Ribuan korban dapat diidentifikasi salah satunya dengan 

pemeriksaan gigi. Akan tetapi, dalam pelaksanaannya kita 

memerlukan data antemortem korban ini , misalnya data 

rekam medis, foto rongent gigi, cetakan gigi, prosthesis gigi, 

alat ortodonsi dan foto close up muka, atau profil daerah gigi 

dan mulut sehingga temuan pada korban dapat dicocokkan 

dengan data antemortem yang tersedia 

Penggunaan gigi sebagai objek pemeriksaan memiliki 

beberapa keunggulan dibandingkan bahan biologis lain, yakni:

1. Secara anatomis, antropologis, dan morfologis rangkaian 

lengkungan gigi-geligi terlindungi oleh otot-otot wajah 

terutama dibagian pipi, sehingga jika ada trauma tidak 

langsung mengenai gigi-geligi dan menyebabkan kerusakan. 

2. Gigi-geligi yaitu  bagian tubuh yang paling lambat 

mengalami kerusakan akibat proses pembusukan meskipun 

telah dikubur, kecuali jika gigi ini  memang telah 

mengalami nekrotik atau gangren. Terkadang tulang 

ditemukan telah hancur, namun gigi masih dalam kondisi 

utuh.

3. Gigi-geligi merupakan salah satu bagian tubuh yang khas 

pada setiap orang, sebab  menurut SIMS dan Furnes 10

kemungkinan gigi manusia memiliki kesamaan sangat 

kecil, yakni 1:1000000000.

4. Selain khas secara individualis, gigi-geligi antar ras 

juga memiliki ciri-ciri khusus. Meskipun perubahan 

dan hilangnya ciri khas ini  bisa terjadi akibat dari 

pekerjaan dan kebiasaan orang ini  yang berkaitan 

dengan giginya. 

5. Sebuah kasus pembunuhan terhadap korban bernama Haigh 

yang jasadnya yang direndam di dalam drum asam dengan 

konsentrasi tinggi. Namun, gigi-geliginya ditemukan utuh. 

Hal ini menunjukkan  bahwa gigi-geligi memiliki sifat tahan 

asam keras, sehingga menjadi odontology forensik menjadi 

satu-satunya teknik identifikasi yang dapat dilakukan saat 

bahan biologis lain telah hancur.

6. Selain tahan asam, gigi-geligi juga tahan terhadap panas 

bahkan tidak hancur meski dibakar pada suhu 400 derajat 

selsius. Pada 640 derajat selsius gigi mulai berubah menjadi 

abu, dan hancur lebur pada suhu di atas 1000 derajat selsius 

seperti pada proses kremasi. Penambalan gigi dengan 

amalgam menyebabkan suhu untuk meghancurkan gigi 

menjadi abu menjadi lebih tinggi, yakni di atas 871 derajat 

selsius. Penggunaan mahkota logam atau inlay alloy emas 

memerlukan suhu yang lebih tinggi lagi yakni kurang-lebih 

871-1093 derajat selsius. 

7. Retakan pada tulang rahang tidak menyebabkan gigi-

geligi menjadi tidak teridentifikasi secara roentgenografis. 

Keadaan anomali gigi dan komposisi tulang rahang yang 

khas dapat menjadi penanda dalam identifikasi.

8. Penggunaan jenis gigi palsu pada korban yang mengalami 

pencabutan gigi dapat diidentifikasi jenis dan model yang 

digunakan. Gigi palsu akrilik akan terbakar menjadi abu 

pada suhu 538 derajat selsius hingga 649 derajat selsius, 

sedangkan jika berbahan porselen akan menjadi abu pada 

suhu 1093 derajat selsius.

9. Gigi-geligi dapat menjadi pilihan dalam identifikasi jika  

bagian biologis lain tidak ditemukan atau telah mengalami 

kerusakan. 11

Topik yang tercakup dalam ilmu odontologi forensik 

sangat luas, diantaranya yaitu  sebagai berikut: 

1. Identifikasi Forensik Odontologi 

Pada kasus bencana atau kecelakaan, identifikasi korban 

dapat dilakukan salah satunya dengan metode identifikasi 

melalui gigi, rahang dan kraniofasial. Dari gigi dapat 

membantu untuk mengestimasikan usia, jenis kelamin, 

dan ras orang ini . Cara ini dapat dilakukan untuk 

membenarkan atau memperkuat identitas korban yang 

tidak dikenal.

2. Penentuan Usia 

sebab  gigi terus berkembang hingga usia 15 tahun, 

maka ciri khas disetiap tingkat perkembangannya dapat 

digunakan untuk mengidentifikasi estimasi usia seseorang. 

Dibandingkan antropologi lain di masa pertumbuhan, 

metode ini bahkan lebih baik untuk identifikasi. Embriologi 

gigi dimulai pada minggu ke 6 janin pada masa gestasi 

dengan adanya pertumbuhan gigi desidua, kemudian pada 

minggu ke 12 sampai dengan minggu ke 16 masa gestasi 

terjadi mineralisasi gigi, proses ini terus berlanjut sesudah  

bayi lahir. Normalnya, pertumbuhan gigi permanen diikuti 

dengan penyerapan kalsium, dimulai dari gigi molar 

pertama sampai akar, diikuti gigi molar kedua yang akan 

tumbuh lengkap saat seseorang berusia 14 hingga 16 tahun. 

Teori ini dapat digunakan untuk menentukan usia seseorang. 

Meskipun kadang perlu disertai dengan identifikasi secara 

klinis dan radiografi untuk penentuan perkembangan gigi. 

Dalam identifikasi mayat orok untuk mengetahui apakah 

pernah dilahirkan hidup sebelumnya yaitu  dengan melihat 

ada atau tidaknya garis tipis pemisah antara enamel dan 

dentin gigi yang disebut sebagai neonatal line. Neonatal line 

ini yaitu  hasil dari trauma pada bayi sehingga merangsang 

stress metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel 

gigi. Garis ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel dan 

dentin telah dibentuk. 

Gambar 3. Panoramic X ray pada anak-anak

Keterangan gambar:

(a) pola pertumbuhan 

dan perkembangan 

gigi usia 9 tahun 

(b) pertumbuhan gigi 

anak usia 9 tahun. 

3. Penentuan Jenis Kelamin 

Laki-laki dan perempuan memiliki caninus mandibula 

yang berbeda, hal ini dapat digunakan untuk mengidentifikasi 

jenis kelamin. Tercatat pada 75% kasus bahwa ukuran 

diameter mesio distal pria lebih lebar daripada wanita, 

yakni berturut-turut kurang dari 6,7 milimeter dan lebih 

dari 7 milimeter. Namun, seiring dengan kemajuan ilmu 

dan pemanfaatan teknologi, saat ini untuk membedakan 

jenis kelamin sering kali langsung dilakukan pemeriksaan 

DNA dari gigi. 

4. Penentuan Ras 

Setiap ras di dunia memiliki karakteristik gigi yang 

berbeda. Telah banyak penelitian yang dilakukan 

untuk mempelajari setiap perbedaannya. Hal ini dapat 

dimanfaatkan untuk mengidentifikasi ras. 

Pada ras Mongoloid, gambaran gigi yang ditemukan 

yaitu  sebagai berikut: 

a) Bentuk insisivus

Pada 85-89% kasus ras 

Mongoloid ditemukan 

insisivus yang berbentuk 

sekop. Meskipun 

gambaran ini juga 

ditemukan pada 2 hingga 

9% ras kaukasoid dan 

pada 12% ras negroid, 

namun gambaran yang 

muncul tidak sejelas 

pada ras Mongoloid. 13

b) Dens evaginatus. 

Aksesoris berbentuk 

tuberkel pada permukaan 

oklusal premolar bawah 

yang ditemukan pada 

1-4% ras mongoloid. 

c) Akar distal tambahan 

pada molar 1 mandibula 

ditemukan pada 20% 

mongoloid. 

d) Lengkungan palatum 

berbentuk elips. 

e) Batas bagian bawah 

mandibula berbentuk 

lurus.

Pada ras Kaukasoid, gambaran gigi yang ditemukan 

yaitu  sebagai berikut:

a) Cusp carabelli, yakni 

berupa tonjolan pada 

molar 1. 

b) Pendataran daerah sisi 

bucco-lingual pada gigi 

premolar kedua dari 

mandibula. 

c) Maloklusi pada gigi 

anterior. 

d) Palatum sempit, 

mengalami elongasi, 

berbentuk lengkungan 

parabola. 

e) Dagu menonjol. 

Pada ras Negroid, gambaran gigi yang ditemukan yaitu  

sebagai berikut:

a) Pada gigi premolar 1 dari 

mandibula ada  dua 

sampai tiga tonjolan. 

b) Sering ada  open 

bite. 

c) Palatum berbentuk lebar. 

d) Protrusi bimaksila. Di 

bawah ini merupakan 

contoh gambar open bite.

Secara singkat, peran dokter gigi dalam kedokteran gigi 

forensik dapat dirangkum dalam beberapa poin berikut ini 


a. Identifikasi mayat yang tidak dikenal melalui gigi, rahang, 

dan kraniofasial 

b. Penentuan umur dari gigi 

c. Penentuan ras dari gigi 

d. Analisis dari trauma orofasial yang berkaitan dengan 

tindakan kekerasan 

e. Dental jurisprudence berupa keterangan saksi ahli 14

f. Berperan dalam pemeriksaan DNA dari bahan gigi dalam 

identifikasi personal 

g. Pemeriksaan jejas gigi (bite mark) 

Dalam identifikasi bitemark, dapat dilakukan 

dokumentasi dengan mengambil gambar atau fotografi 

maupun dengan transfer ke kertas transparan atau lembar 

asetat. Bisa juga melakukan apusan pada luka gigitan untuk 

memulihkan bukti jejak. Untuk analisis DNA perlu dilakukan 

pemeriksaan noda air liur atau sel manusia yang tertinggal 

bila memungkinkan. Bitemark merupakan bagian odontology 

forensic yang perlu tanggapan segera dari dokter gigi forensik. 

(Wright dan Dailey 2001; Lessig dan Benthaus 2003). Dalam 

proses pengambilan barang bukti, dokumentasi, pencetakan 

bitemark, pemeriksaan mikroskopis elektrik, dan penanganan 

lainnya sangat memerlukan peran dokter gigi forensik sebagai 

pihak ahli yang paling mengerti prosedurnya sehingga 

keamanan bukti terjamin untuk digunakan dalam peradilan 

(Verma dkk,2014). 

Meskipun gigi sebagai bahan biologis dalam odontologi 

forensik memiliki akurasi yang tinggi dan memiliki banyak 

kelebihan dibandingkan metode lain, namun tetap memiliki 

keterbatasan. Beberapa diantaranya yaitu :

a. Rugae palatal tidak bisa digunakan pada:

- kasus edentulous,

- tidak ada data 

antemortem, 

- keadalaan patologis di 

palatal, 

- korban terbakar, 

- m e n g a l a m i 

dekomposisi, dan 

- mengalami skeletonisasi 

sebab  rugae sering 

hancur. 

b. Sidik bibir tidak bisa digunakan saat:

- 20 jam sesudah  kematian, 

- jika ada kondisi 

patologis di bibir, 

misalnya mukokel dan 

cleft, 

- jika ada perubahan 

postoperaso dari bibir, 

adascar, dan kondisi 

lainnya. 

15

c. Bite mark tidak bisa digunakan jika:

- sudah 3 hari sesudah  

kematian,

- sudah dekomposisi,

- korban terbakar. 

d. Bisa terjadi kesalahan ketika mengambil foto dan radiograf, 

baik saat pengambilan sampel, pemerosesan sampel, 

maupun saat interpretasinya. Faktor eksternal lain misalnya 

terjadi kontaminasi bakteri dan DNA dari orang lain juga 

akan mengubah interpretasi hasil identifikasi.


IDENTIFIKASI ODONTOLOGI FORENSIK

Identifikasi dalam forensik dapat dipahami sebagai suatu 

upaya untuk menentukan dan memastikan identitas 

seseorang. Hal ini tidak hanya untuk mayat, namun juga orang 

hidup. Tidak hanya untuk identifikasi forensik, namun juga 

non forensik. Identifikasi tidak hanya memakai  identitas 

biologis misalnya tulang belulang, gigi, darah, sidik jari, 

rambut, profil, DNA dan identitas pada bibir, namun juga non 

biologis, misalnya kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, 

pakaian, dan lain-lain. Semua dilakukan dengan mencocokkan 

ciri khas yang ada  pada orang ini  dengan temuan 

yang ada. Oleh sebab  itu, ruang lingkup identifikasi dalam 

kedokteran gigi forensik sebenarnya sangat luas. 

Identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan jika 

digunakan sebagai suatu metode identifikasi forensik, yakni 

sebagai berikut:

1. Gigi dan restorasinya merupakan jaringan keras yang 

resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan 

yang ekstrim, sehingga risiko kerusakan lebih minimal

2. Gigi memiliki karakteristik individual yang unik, baik dari 

segi susunan gigi geligi maupun restorasi gigi sehingga 

memungkinkan identifikasi dengan ketepatan yang tinggi. 

3. Kemungkinan tersedianya data antemorten gigi berupa 

catatan medis gigi (dental record) dan data radiologis, 

meskipun di Indonesia hal ini cukup jarang.

Untuk keperluan penyidikan dan membuat surat 

keterangan ahli dalam kepentingan umum maupun peradilan, 

dapat dilakukan beberapa jenis identifikasi gigi-geligi dan 

rongga mulut. Seluruh data hasil identifikasi ini  disebut 

sebagai data post mortem. Ditulis dalam lembaran berwarna 

merah formulir baku mutu nasional yang merupakan formulir 

korban tindak pidana. Jika korban hidup tetap, hasil identifikasi 

tetap ditulis ke dalam formulir yang sama. Sedangkan sebagai 

perbandingan digunakan data-data semasa hidup yang disebut 

sebagai data antemortem dan ditulis di lembar berwarna 

kuning. Data-data yang diidentifikasi ini  yaitu  sebagai 

berikut: 

1. Identifikasi ras korban maupun pelaku dari gigi-geligi dan 

antropologi tubuh. 

2. Identifikasi sex atau jenis kelamin korban melalui gigi-

geligi dan tulang rahang serta antropologi tubuh. 

3. Untuk korban janin, dilakukan identifikasi umur melalui 

benih gigi. 

4. Identifikasi umur korban melalui gigi sementara (decidual) 

5. Identifikasi umur korban melalui gigi campuran. 

6. Identifikasi umur korban melalui gigi tetap. 

7. Identifikasi korban melalui kebiasaan memakai  gigi. 

8. Identifikasi korban dari pekerjaan memakai  gigi. 

9. Identifikasi golongan darah korban melalui air liur. 

10. Identifikasi golongan darah korban melalui pulpa gigi. 

11. Identifikasi DNA korban dari analisa air liur dan jaringan 

dari sel dalam rongga mulut. 

12. Identifikasi korban melalui gigi palsu yang dipakainya. 

13. Identifikasi wajah korban dari rekonstruksi tulang rahang 

dan tulang facial. 

14. Identifikasi wajah korban. 

15. Identifikasi korban melalui pola gigitan pelaku. 

16. Identifikasi korban melalui eksklusi pada korban massal. 

17. Radiologi Ilmu Kedokteran Gigi Forensik. 

18. Fotografi Ilmu Kedokteran Gigi Forensik. 

19. Victim Identification Form. 

Secara rinci, data antemortem dan data postmortem 

dalam odontologi forensik meliputi sebagai berikut:

a. Data Antemortem 

Pencatatan data diri, informasi berkaitan gigi, dan rongga 

mulut semasa korban hidup yang meliputi: 

- Identitas pasien. 

- Keadaan umum pasien. 

- Odontogram (data gigi yang menjadi keluhan). 

- Data perawatan kedokteran gigi. 

- Nama dokter gigi yang merawat. 

- Informed consent18

Namun, di Indonesia sangat sedikit dokter gigi yang 

membuat informed consent baik di praktik pribadi maupun di 

rumah sakit. 

Aturan penulisan data gigi dan rongga mulut yang sesuai 

dengan buku DEPKES mengenai standar baku mutu nasional 

yaitu  sebagai berikut:

- Pencatatan identitas pasien.

Hal ini meliputi nomor file hingga alamat pekerjaan dan 

kontak pasien yang dapat dihubungi. 

- Keadaan umum pasien

Informasi ini berisi golongan darah, tekanan darah, 

kelainan-kelainan darah, serta penyakit akibat virus yang 

sedang dialami jika ada. 

- Odontogram.

Data gigi dicatat dalam formulir odontogram dengan 

denah dan nomenklatur yang sesuai dengan baku nasional 

secara lengkap. 

Gambar 4. Odontogram 

Gambar 5. Panduan Penulisan Odontogram


- Data perawatan kedokteran gigi

Informasi ini berisi keterangan waktu awal mulainya 

perawatan, runtut waktu kunjungan, keluhan yang dialami, 

diagnosis, informasi gigi yang dirawat, dan tindakan 

lain yang diterima orang ini  dari dokter gigi yang 

menangani. 

- Roentgenogram, baik intraoral maupun ekstraoral. 

- Pencatatan status gigi dengan kode tertentu sesuai dengan 

standar interpol. 

- Aturan Depkes bahwa formulir data antemortem ini ditulis 

di kertas berwarna kuning yang di dalamnya dilengkapi 

catatan data orang hilang. 

Data-data antemortem ini  bisa didapatkan melalui: 

(Budi, 2014)

- Klinik gigi rumah sakit 

pemerintah/TNIPolri

- dan swasta.

- Puskesmas.

- Rumah Sakit Pendidikan 

U n i v e r s i t a s / F a k u l t a s 

Kedokteran Gigi.

- Klinik gigi swasta.

- Praktik pribadi dokter gigi.

b. Data Postmortem 

Aturan Depkes bahwa formulir data antemortem ini 

ditulis di kertas berwarna merah. Langkah yang dilakukan 

untuk identifikasi mayat yaitu  

1. Melakukan fotografi

2. Proses pembukaan rahang untuk memperoleh data gigi dan 

rongga mulut. 

3. Pencetakan rahang atas dan rahang bawah. Dalam proses ini 

pengikatan dan penarikan lidah ke atas dapat dilakukan untuk 

membebaskan lengkung rahang sehingga memudahkan 

pencetakan pada mayat yang masih mengalami kondisi 

kaku mayat.

4. Pencatatan, yang meliputi:

a. pencatatan gigi pada formulir odontogram

b. pencatatan kelainan-kelainan rongga mulut pada kolom 

tertentu.

Catatan ini sebagai lampiran pada berkas visum et repertum 

korban. 

5. Lalu dilakukan pemeriksaan sementara memakai  

formulir baku mutu nasional dan internasional

6. Tuliskan surat rujukan untuk pemeriksaan laboratorium 

dengan formulir baku mutu nasional 

7. Pencatatan hasil ke dalam formulir lengkap baru sesudah  

hasil laboratorium diperoleh.

8. Selanjutnya dapat dibuatkan berita acara sesuai KUHAP 

untuk proses peradilan. 

Berkas visum yang lengkap beserta lampirannya ini  

kemudian diteruskan ke jaksa penuntut beserta barang bukti 

yang ditemukan untuk digunakan dalam sidang acara hukum 

pidana.

A. Metode Odontologi Forensik untuk Identifikasi Jenis

Kelamin

Identifikasi jenis kelamin mayat dapat dilakukan dengan 

melakukan pemeriksaan internal dan eksternal terhadap 

tulang-tulang tubuh. Termasuk diantaranya yaitu  tulang 

rahang. Aspek yang dinilai dalam pemeriksaan tulang rahang 

yaitu  sebagai berikut:

1. Identifikasi jenis kelamin melalui lengkung rahang atas 

- Lengkung rahang lebih besar pada pria daripada wanita. 

Hal ini sebab  jarak mesio distal pada gigi-geligi pria 

lebih panjang dibandingkan pada wanita. 

- Palatum pada pria lebih luas dengan berbentuk seperti 

huruf U, sedangkan pada wanita lebih kecil dan berbentuk 

parabola. 

2. Identifikasi jenis kelamin melalui lengkung rahang bawah 

- Sama seperti rahang atas, lengkung rahang bawah pada 

pria juga lebih besar daripada wanita. Hal ini sebab  

jarak mesio distal pada gigi-geligi pria lebih panjang 

dibandingkan pada wanita. 

Gambar 6. Lengkung rahang bawah pria dan wanita

3. Identifikasi jenis kelamin melalui tulang rahang 

Setiap sudut bagian anatomis dari tulang rahang memiliki 

ciri khas yang membedakan antara wanita dan pria, baik 

berbeda dari segi ukuran maupun bentuk. Adanya perbedaan 

ini dapat digunakan sebagai aspek yang dapat dinilai untuk 

membedakan jenis kelamin dalam identifikasi jenazah. 

Bagian anatomis ini  meliputi:

a. Identifikasi jenis kelamin melalui sudut gonion Sudut 

gonion pria lebih kecil dibandingkan sudut gonion 

wanita

b. Identifikasi jenis kelamin melalui tinggi Ramus 

Ascendens 

Ramus Ascendens pria lebih tinggi dan lebih besar 

daripada wanita. 

c. Identifikasi jenis kelamin melalui Inter Processus Jarak 

processus condyloideus dengan processus coronoideus 

pada pria lebih jauh dibandingkan pada wanita, sehingga 

dalam pengukuran jarak processus condyloideus dengan 

processus coronoideus pria lebih panjang dibandingkan 

pada wanita. 

d. Identifikasi jenis kelamin melalui lebar Ramus Ascendens 

Ramus Ascendens pada pria mempunyai jarak yang 

lebih besar dibandingkan dengan wanita. 

e. Identifikasi jenis kelamin melalui Tulang Menton (dagu) 

Tulang menton pria atau tulang dagu pria secara anatomis 

memiliki posisi lebih anterior dan berukuran lebih besar 

dibandingkan pada wanita. 

f. Identifikasi jenis kelamin melalui pars basalis mandibula 

Pars basalis mandibula pada pria lebih panjang 

dibandingkan pada wanita jika diukur dalam bidang 

horisontal. 

g. Identifikasi jenis kelamin melalui Processus Coronoideus 

Tinggi processus coronoideus pada pria lebih tinggi 

dibandingkan dengan wanita jika diukur dalam bidang 

vertikal. 

h. Identifikasi jenis kelamin melalui tebal tulang menton 

sebab  masa pertumbuhan dan perkembangan rahang 

pria lebih lama dibandingkan dengan wanita, sehingga 

dalam ukuran pabio tulang mento pria lebih tebal 

dibandingkan dengan wanita. Namun, patokan ketebalan 

ini tidak dapat dijadikan acuan pasti, sebab  sangat 

relatif tergantung dari ras dan sub ras, sehingga hanya 

dapat digunakan sebagai perbandingan pada etnik yang 

sama saja.

i. Identifikasi jenis kelamin melalui lebar dan tebal 

processus condyloideus 

Baik pada pria maupun wanita bentuk processus 

condyloideus sangat bervariasi antar setiap individu. 23

Namun, ketebalan dan lebarnya berbeda antara pria 

dan wanita. Pada pria ukuran diameter processusnya 

lebih besar dibandingkan dengan wanita, hal ini sebab  

jarak antero-posterior dan latero-medial lebih besar 

dibandingkan pada wanita.

B. Metode Odontologi Forensik untuk Identifikasi

Umur

Telah banyak penelitian dilakukan untuk menemukan 

metode dan cara memperkirakan usia seseorang sesuai 

dengan perubahan anatomis, struktur gigi, dan perbandingan 

gambaran radiografi panoramik gigi geligi dengan diagram 

perkembangan gigi. Dalam memperkirakan umur dari kondisi 

gigi secara tepat, perlu memakai  lebih dari satu metode 

dan pengukuran serta kalkulasi yang berulang-ulang.

Beberapa penelitian dan metode identifikasi umur 

berdasar  gigi yang telah dilakukan misalnya sebagai 

berikut: 

1. Schour-Massler (1941)

Peneliti menjelaskan bahwa estimasi usia gigi dapat 

diidentifikasi dalam 21 tahap perkembangan dan melibatkan 

gigi sulung serta gigi geligi pada rahang atas dan rahang 

bawah. Metode Schour-Massler ini memiliki kendala, 

yakni tidak ada  perbedaan perkembangan gigi antara 

jenis kelamin laki-laki dan perempuan 

2. Al-Qahtani

Peneliti menjelaskan bahwa perkembangan gigi dan 

tingkat erupsinya pada satu regio di rahang atas dan satu 

regio rahang bawah dapat terjadi dalam rentang usia 

6-23 tahun. Pada diagram yang digunakan dalam metode 

ini hanya melihat perkembangan gigi molar kedua dan 

ketiga saja, sehingga dapat mempengaruhi hasil usia dari 

penelitian sebab  keadaan perkembangan gigi molar ketiga 

tidak selalu sama 

3. Metode Blenkin-Taylor 

Metode ini mengamati perkembangan tujuh buah gigi 

dan mampu membedakan jenis kelamin antara laki-laki dan 

perempuan sehingga dapat melengkapi kekurangan dari 

metode-metode sebelumnya.

4. Metode Demirjian

Metode ini dilakukan berdasar  tahapan perkembangan 

gigi permanen pada rahang bawah kiri yang dilihat dari foto 

rontgen panoramik sesuai kriteria bentuk dan nilai relatif 

dan bukan pada panduan mutlak gigi. Dalam metode ini 

estimasi usia disederhanakan menjadi delapan tahapan 

yang mewakili kalsifikasi masing-masing gigi mulai dari 

kalsifikasi mahkota dan akar hingga penutupan apeks gigi. 

Masing-masing tahapan diberi skor dari A hingga H yang 

berasal dari metode Tanner untuk menggambarkan maturasi 

tulang 

Gambar 7. Tahap pembentukan gigi permanen

Dalam metode ini, penilaian gigi dikonversi ke dalam 

skor memakai  tabel, dimana untuk anak laki-laki dan 

anak perempuan terpisah. Semua skor untuk masing-masing 

gigi dijumlah dan analisis statistik skor maturasi digunakan 

untuk masing-masing gigi dari tubuh gigi dari tiap-tiap 

tahap dari 8 tahap perkembangan Skor maturasi kemudian 

dikonversi langsung ke dalam usia gigi dengan memakai  

tabel konversi 

Tabel 1. Tahapan pembentukan gigi oleh Demirjian 

(Demirjian, 1973)

Tahap Keterangan

A Untuk gigi akar tunggal maupun ganda, tahap kalsifikasi gigi 

dimulai dari bagian tertinggi dari crypt

B Ujung cusp yang mengalami kalsifikasi menyatu, yang mulai 

menunjukkan pola permukaan oklusal

C

a. Pembentukan enamel gigi selesai pada permukaan oklusal. 

Tampak perluasan dan pertemuan pada bagian servikal 

gigi 

b. Mulai terlihat deposit dentinal 

c. Pola kamar pulpa tampak berbentuk garis pada batas 

oklusal gigi 

D

a. Pembentukan mahkota gigi selesai, dan terjadi perluasan 

menuju cemento-enamel junction 

b. Tepi atas kamar pulpa pada gigi yang berakar tunggal 

menunjukkan batas yang jelas, dan proyeksi tanduk pulpa 

memberikan gambaran seperti payung serta berbentuk 

trapezium pada gigi molar 

c. Dimulainya pembentukan akar gigi 

E

Gigi berakar tunggal 

a. Dinding kamar pulpa tampak sebagai garis lurus yang 

kontinuitasnya terputus akibat adanya tanduk pulpa 

b. Panjang akar gigi kurang dari mahkota gigi 

Gigi Molar 

a.  Inisiasi pembentukan bifurkasi akar 

b.  Panjang akar gigi kurang dari mahkota gigi

F

Gigi berakar tunggal 

a. Dinding kamar pulpa tampak menyerupai segitiga sama 

kaki, dan ujung akar seperti corong 

b. Panjang akar gigi sama atau lebih panjang dari tinggi 

mahkota gigi 

Gigi Molar 

a. Kalsifikasi pada bifurkasi mengalami perluasan, bentuk 

akar lebih nyata dan ujung akar tampak seperti corong 

b. Panjang akar gigi sama atau lebih

G Dinding saluran akar gigi tampak sejajar namun ujung apikal 

gigi masih terbuka

H

a. Ujung apikal gigi sudah tertutup

b. Membran periodontal memiliki ketebalan yang sama di 

sekitar akar gigi26

5. Metode Nolla

Mirip dengan metode Dermijan yang juga memakai  

tabel konversi, namun dalam metode ini periode kalsifikasi 

gigi permanen dibagi menjadi 10 tahapan dan masing-masing 

diberi skor. Dimulai dari terbentuknya benih gigi sampai 

penutupan foramen apikal gigi. Pembentukan crypte hingga 

penutupan apeks akar gigi yang diamati dari foto radiografi 

diklasifikasikan sebagai tingkat 1, sampai penutupan apeks 

akar gigi merupakan tingkat 10. Gigi permanen rahang atas 

dan rahang bawah dianalisis, dicocokkan tahapannya dan 

diberi skor kemudian dilakukan pentotalan jumlah skor.

6. Metode Gustafson

Metode ini dilakukan berdasar  perubahan 

makrostruktural gigi yang dibagi menjadi 6 tahapan, yaitu:

a. Derajat atrisi

b. Jumlah dentin sekunder

c. Posisi ginggiva

d. Derajat resorpsi akar

e. Transparansi dentin 

akar

f. Ketebalan sementum

Skala nilai yang digunakan yaitu  0, 1, 2, dan 3. Sampel 

yang digunakan yaitu  gigi insisivus. Standard error 

sekitar 4,5 tahun (Gustafson, 1950). Nilai masing-masing 

perubahan dijumlah (X) dan kemudian dihitung dengan 

rumus berikut:

Y = 3.52X + 8.88

7. Metode Willems 

Metode ini yaitu  perbaikan dari sistem penilaian 

usia dental metode Demirjian sebab  penelitian yang 

memakai  metode Demirjian banyak yang menunjukkan 

hasil overestimasi usia kronologis pada populasi orang 

Belgia Kaukasian. 

Metode ini ditemukan oleh Willems pada tahun 2001 

yang melakukan penelitian terhadap populasi Belgia 

Kaukasian memakai  2523 foto panoramik anak usia 

2 tahun sampai 18 tahun (1265 anak laki-laki dan 1258 

anak perempuan). Pelaksanaan penelitian ini memakai  

tahapan kalsifikasi gigi permanen dari tahapan A sampai H 

pada 7 gigi permanen kiri rahang bawah. 

Willems memodifikasi tabel penilaian tahapan kalsifikasi 

masing-masing gigi permanen pada metode Demirjian 

hingga jumlah dari usia dental 7 gigi permanen dapat 

langsung mengidentifikasikan estimasi usia kronologis 

anak laki-laki dan perempuan 

Tabel 2. Penilaian tahapan kalsifikasi pada 7 gigi kiri rahang 

bawah pada anak laki-laki menurut Willems 

Tabel 3. Penilaian tahapan kalsifikasi pada 7 gigi kiri rahang 

bawah pada anak perempuan menurut Willems 


ANOMALI GIGI

Anomali gigi yaitu  kelainan perkembangan yang 

melenceng dari keadaan normal yang seharusnya 

dalam proses perkembangan dan differensiasi. Anomali gigi 

juga bisa merupakan kelainan kongenital akibat suatu sindrom. 

Faktor yang paling berpengaruh dalam terbentuknya anomaly 

gigi yaitu  faktor genetik sebab  bersifat herediter, di samping 

juga sebab  faktor lingkungan dan gangguan metabolism 

Anomali gigi yaitu  kelainan pada gigi dalam rongga 

mulut yang sering ditemukan di dalam dunia kedokteran gigi. 

Bagi orang awam gigi terlihat sama saja, namun sebenarnya 

gigi memiliki keunikan dengan bentuk, warna, posisi, pola 

keausan, karies, periodontitis, restorasi gigi, prostesa gigi, dan 

anomali gigi yang unik pada tingkat individualistik, seperti 

sidik jari (Budi, 2014). Anomali gigi dapat didefinisikan 

sebagai suatu abnormalitas morfologi gigi yang terjadi pada 

tahap pertumbuhan dan perkembangan gigi 

Anomali gigi meliputi kelainan dalam jumlah, ukuran, 

morfologi, struktur gigi, dan posisi  Berikut 

penjelasan setiap jenis anomali yang mungkin terjadi:

A. Anomali jumlah gigi

Anomali jumlah gigi misalnya kelebihan gigi 

(supernumerary teeth) dan kekurangan gigi. Supernumerary 

teeth terdiri dari:

1. mesiodens: keadaan dimana ada  gigi insisif yang 

berlebih. Gigi mesiodens dapat erupsi sempurna, namun 

bisa juga impaksi, baik itu berbentuk normal, peg shaped 

maupun konus. dan distodens yaitu  

2. peridens: gigi premolar berlebih dimana ada  peridens 

pada gigi 14

3. distodens: suatu kondisi dimana ada  gigi molar yang 

berlebih.

Kelebihan gigi terjadi pada 0,3% - 3,8% penduduk 

dan dapat erupsi sempurna, namun bisa juga impaksi, baik 

29

itu berbentuk normal, peg shaped maupun konus. Etiologi 

kelebihan gigi berasal dari lamina gigi yang terjadi sebab  

penyimpangan embriogenik dan proliferasi berlebihan sisa 

epitel dari lamina gigi selama proses perkembangan gigi. 

Kekurangan jumlah gigi yaitu  suatu kondisi akibat 

tidak adanya proses kalsifikasi mahkota di foto radiografi 

namun tidak ada tanda kehilangan gigi akibat karies, penyakit 

periodontal ataupun trauma  Kekurangan 

gigi diklasifikasikan menjadi:

1. hipodontia: kekurangan 1-6 gigi. Kondisi ini merupakan 

salah satu kelainan yang paling sering terjadi dan tidak 

adanya satu atau beberapa gigi dapat menyebabkan resorbsi 

tulang alveolar, menurunnya fungsi pengunyahan, dan juga 

menganggu estetika wajah  Hipodontia 

juga dapat terjadi pada seseorang dengan gangguan 

sistemik, misalnya ectodermal dysplasia, down syndrome, 

incontinentia pigmenti, hyalinosis kutis maupun mukosa, 

dan mandibulo-oculo-facial dyscephaly

2. oligodontia: kekurangan lebih dari 6 gigi 

3. anodontia: tidak ada benih gigi sama sekali pada rahang 

atas dan rahang bawah.

B. Anomali ukuran gigi

Anomali gigi yang terjadi pada ukuran gigi meliputi:

1. Makrodontia: suatu kondisi dimana ada  dua atau 

lebih gigi yang berukuran lebih besar daripada normal. 

Makrodontia dikalsifikasikan menjadi

a. true generalized macrodontia: kondisi seluruh gigi yang 

erupsi ukurannya lebih besar dari normal. Kondisi ini 

dapat terjadi pada pituitary gigantism 

b. relative generalized macrodontia: kondisi dimana gigi 

tampak lebih besar dari normalnya oleh sebab  ukuran 

rahang yang kecil 

2. Mikrodontia: ukuran gigi lebih kecil dari normal. 

Mikrodontia dapat diklasifikasikan menjadi: 

3. true generalized microdontia dimana ukuran gigi tampak 

lebih kecil pada semua gigi yang ditemukan pada pasien 

pituatary dwarfism dan relative generalized microdontia 

yang merupakan suatu kondisi dimana gigi nampak lebih 

kecil sebab  ukuran rahang yang lebih besar dari normal 


C. Anomali morfologi gigi

Anomali gigi yang berhubungan dengan morfologi gigi 

lebih banyak jenisnya, misalnya:

a. fusi: suatu anomali gigi dimana dua gigi yaitu  suatu 

anomali gigi dimana dua gigi bergabung menjadi satu, yang 

terjadi ketika dua gigi berdekatan mengalami tekanan fisik 

selama proses perkembangan menyebabkan kontak dari 

dua benih gigi ini  

b. geminasi: anomali perkembangan bentuk gigi akibat 

kegagalan usaha satu benih gigi tunggal untuk memisah, 

sehingga menghasilkan dua mahkota. Concresence 

merupakan Etiologi conceresence belum diketahui secara 

pasti, namun diperkirakan oleh sebab  akibat dari trauma 

atau kondisi gigi yang berdekatan saling mendesak sehingga 

memmungkinkan terjadi pengendapan di sementum kedua 

gigi ini  

c. taurodontia: anomali gigi pada suatu kondisi melebarnya 

kamar pulpa, mahkota terlihat memanjang dan saluran akar 

lebih pendek. Secara radiografis taurodontia mempunyai 

gambaran yang khas dimana ada  gambaran ruang pulpa 

yang lebih besar dan memanjang, saluran akar pendek dan 

furkasi yang lebih mengarah ke apikal. Gambaran ini  

seperti tanduk banteng atau disebut dengan “bull-like teeth 

appearance”. Taurodontia juga dapat dihubungkan dengan 

amelogenesis imperfect 

d. hipersementosis: deposisi sementum sekunder yang 

berlebihan dan dapat ditemukan pada bagian lateral, apikal 

atau pada seluruh permukaan akar dari satu atau beberapa 

gigi. Hipersementosis disebut juga hyperplasia sementum 

yang mempunyai arti perkembangan berlebihan dari 

jaringan yang disebabkan oleh peningkatan produksi sel-

selnya . Dapat terjadi sebab  dua faktor 

yaitu faktor lokal dan faktor umum yang termasuk faktor 

lokal seperti radang, trauma, dan gigi yang tidak berfungsi 

sedangkan yang termasuk faktor umum seperti Penyakit 

Paget’s, akromegali dan penyakit sistemik lainnya 

e. concresence: dua gigi yang menyatu di bagian sementum. 

jika  kelainan ini terjadi pada proses perkembangan maka 

disebut “true concrescence” dan jika  terjadi sesudah nya 

disebut “acquired concrescence” 

f. dilaseraesi: gangguan pada akar gigi yang menghasilkan 

pembentukan lengkungan tajam atau pembengkokan yang 

ekstrem. Dilaserasi pada umumnya tidak menimbulkan 

keluhan dan baru diketahui sesudah  melakukan foto 

radiografi 

g. dens evaginatus: anomali perkembangan gigi dimana 

ada  struktur tuberkel tambahan pada permukaan 

oklusal atau pada ridge bukal yang umumnya terjadi di gigi 

premolar. Dens evaginatus disebut juga Leong’s premolar, 

evaginated odontome dan occlusal tuberculated premolar. 

Etiologi dens evaginatus sebab  adanya abnormalitas pada 

proses proliferasi epitelium enamel kedalam retikulum inti 

enamel dan faktor genetik juga memepengaruhi terjadinya 

dens evaginatus 

h. dens invaginatus: kegagalan pertumbuhan internal enamel 

yang menyebabkan terjadi proliferasi di sekitar epitel 

normal 15. Ditandai dengan adanya invaginasi mahkota 

gigi dan akar pada saat sebelum kalsifikasi terjadi. Dikenal 

ada dua bentuk dens invaginatus, yaitu dens invaginatus 

koronal dan dens invaginatus radikuler. Pada gambaran 

radiografi dens invaginatus terlihat seperti gigi di dalam 

gigi, oleh sebab  itu kelainan ini dikenal juga sebagai dens 

in dente 

i. enamel pearl: deposit enamel berlebih berukuran 0,3 - 0,4 

mm yang umumnya berada di daerah furkasi atau cemento 

enamel – junction 

j. carabelli’s trait: kelainan morfologi yang terletak pada 

mesiopalatal cusp gigi molar pertama rahang atas 


D. Anomali struktur gigi

a. Amelogenesis imperfekta: penyakit herediter dengan 

gangguan pembentukan enamel gigi tanpa adanya 

manifestasi sistemik ). Etiologi 

amelogenesis imperfekta oleh sebab  adanya mutasi gen 

AMELX, ENAM dan MMP-20 yang merupakan gen 

yang menghasilkan protein penting untuk perkembangan 

gigi . Amelogenis imperfekta 

dibagi berdasar  adanya gangguan diakibatkan oleh 

berkurangnya jumlah email (hipoplasia), gangguan 

proses mineralisasi email (hipomaturasi), gangguan 

proses kalsifikasi (hipokalsifikasi), serta juga gabungan 

hipomaturasi-hipokalsifikasi disertai taurodontism. 

Pada gambaran radiografis didapatkan adanya densitas 

enamel yang rendah pada gigi amelogenesis imperfekta 

dibandingkan dengan gigi normal 

b. Dentinogenesis imperfekta: gangguan pertumbuhan dentin 

selama tahapan histodiferensiasi perkembangan gigi yang 

diturunkan secara herediter. Dentinogenesis imperfecta 

merupakan suatu kondisi kelainan yang diturunkan oleh 

gen autosomal dominan menyerang pada gigi sulung 

maupun gigi permanen. Dentinogenesis imperfekta 

termasuk kedalam localized mesodermal dysplasia dengan 

penampakan gigi yang transparan berwarna abuabu hingga 

kuning kecoklatan hingga disertai dengan pembentukan 

dentin yang ireguler atau undermineralized juga disertai 

menghilangnya kamar pulpa atau saluran akar 

E. Anomali posisi gigi

1. Transposisi: dua gigi saling bertukar posisi. Transposisi gigi 

yang sering terjadi yaitu  bertukarnya kaninus permanen 

dengan premolar pertama (Shapira dkk, 2019).

Anomali lain yaitu  impaksi, yakni gigi erupsi yang 

bentuknya normal tapi tidak dapat erupsi sempurna sebab  

terhalang oleh gigi lain, tulang atau jaringan lunak. Gigi 

yang paling sering mengalami impaksi yaitu  gigi molar 

ketiga. Etiologi impaksi salah satunya oleh sebab  adanya 

33

gigi berdekatan atau jaringan patologis yang menghalangi 

gigi ini  tidak erupsi sempurna 

Nutrisi juga berpengaruh. Makanan yang dikonsumsi manusia 

modern cenderung lebih lunak sehingga kurang merangsang 

pertumbuhan dan perkembangan lengkung rahang. Impaksi 

juga dapat terjadi sebab  benih gigi malposisi atau benih 

terbentuk dalam berbagai angulasi yaitu mesial, distal, vertikal, 

dan horisontal yang mengakibatkan jalur erupsi yang salah 

arah 

Perkembangan ilmu forensik saat ini sudah sangat pesat 

dengan tingkat akurasi, validasi dan teknik yang digunakan 

sangat tinggi. Proses identifikasi merupakan bagian dari 

ilmu forensik sebagai upaya yang dilakukan dengan tujuan 

membantu penyidik untuk menentukan identitas seseorang. 

Proses penentuan identitas seseorang ini sangat penting dan 

harus tepat sebab  jika  ada kekeliruan akan berakibat fatal 

dalam proses peradilan 

Identifikasi yaitu  penentuan dan pemastian identitas 

orang yang hidup maupun orang mati berdasar  ciri khas yang 

ada  pada orang ini . Tujuan utama dari pemeriksaan 

ini yaitu  untuk mengenali identitas jenazah yang selanjutnya 

dapat dilakukan upaya untuk merawat, mendoakan, dan 

menyerahkan kepada keluarga jenazah untuk dikebumikan 

sesuai dengan kepercayaan masingmasing. Pengenalan 

identitas jenazah juga bertujuan untuk memberikan ketenangan 

psikologis kepada keluarga jenazah dengan adanya kepastian 

identitas. Proses identifikasi merupakan hal yang kompleks, 

untuk mendapatkan identitas dari jenazah jenazah yang harus 

didukung oleh sejumlah data yang akurat .

Adanya ciri pola pertumbuhan tertentu dari gigi 

menunjukan ada  variasi populasi yang dapat digunakan 

untuk menentukan asal keturunan. Banyak kelainan gigi 

atau mulut secara genetik menunjukkan kelainan yang lebih 

kompleks dan terkait dengan sifat dan cacat yang diturunkan, 

atau akibat mutasi genetik spontan. Insiden anomali gigi dan 

tingkat ekspresi pada kelompok populasi yang berbeda dapat 

memberikan informasi yang berguna untuk studi filogenik dan 34

genetik, yang memungkinkan kita untuk memahami variasi 

intra dan antar-populasi. 

Berikut beberapa contoh kasus yang menunjukkan bahwa 

anomaly gigi membantu keberhasilan identifikasi jenazah.

1. Kasus di Brazil yakni jenazah wanita tidak dikenal 

yang diperkirakan berusia sekitar 18 - 30 tahun dengan 

kondisi pembusukan yang cukup parah namun berhasil 

teridentifikasi sebab  adanya anomali gigi. Dokter gigi 

spesialis odontologi forensik melakukan pemeriksaan 

gigi geligi pada jenazah ini  dan menemukan ada  

lima gigi yang hilang serta ada  anomali gigi berupa 

perubahan posisi dari gigi caninus kiri bawah. Dokter gigi 

spesialis odontologi forensik mencocokan dengan data ante 

mortem dan memang ada  perubahan posisi pada gigi 

caninus kiri bawah yang didukung pula oleh informasi dari 

pihak keluarga korban 

2. Kasus di New Zealand seorang anak laki-laki tewas akibat 

kebakaran, teridentifikasi melalu anomali gigi. Jenazah 

ini  berhasil diidentifikasi dengan cara mencocokan 

data post mortem dengan rekam medis gigi yang didapat 

dari pusat pelayanan keshatan gigi di sekolah korban. Hal 

yang menonjol dari kasus ini  adanya fusi pada gigi 82 

dengan 83, dimana kasus ini  jarang sekali ditemukan. 

Anomali gigi seperti mesiodens, makrodontia, 

mikrodontia, impaksi dan dilaserasi merupakan anomali 

gigi yang sering terjadi dan dapat membantu dalam proses 

identifikasi seseorang. Tingginya prevalensi kasus anomali gigi 

di berbagai populasi dan etnis menjadi kelebihan penggunaan 

anomali gigi untuk identifikasi (Jagmahender, 2019).

Pengetahuan dokter gigi tentang anomali gigi juga 

berperan penting terutama saat korban yaitu  anak-anak. 

Penelitian memakai  radiografi panoramik dari 4105 

pasien menunjukkan 1519 pasien (37,7%) memiliki setidaknya 

satu anomali gigi pada populasi orang Meksiko (Herrera 

dkk, 2014). Penelitian yang dilakukan pada 1100 orang pada 

tahun 2011 yang dilakukan di ditemukan bahwa dari total 

34.169 gigi yang diteliti, 500 subjek memiliki paling tidak 35

satu anomali gigi, 118 memiliki lebih dari satu anomali gigi. 

Impaksi merupakan anomali gigi dengan prevalensi tertinggi 

yaitu 26,2% (Bilge dkk, 2018).

Anomali gigi pada anak bekebutuhan khusus seperti anak 

dengan Down’s syndrome lebih sering terjadi dibandingkan 

anak normal, yakni sekitar 50.47-95.52% lebih banyak dengan 

kasus tersering yaitu  taurodontia dan anodontia, hal ini  

diduga berhubungan dengan mutasi kromosom dan juga 

keberisihan rongga mulut yang lebih rendah pada anak Down’s 

syndrome. Penelitian menunjukkan anomali tersering yaitu  

hipodontia dan mikrodontia, yakni dari 174 anak Down’s 

syndrome di Jakarta sebanyak 138 anak (79%) diantaranya 

mengalami anomali gigi (Anggraini dkk, 2019).

Beberapa variasi anomali gigi juga dikaitkan dengan 

determinasi ras, misalnya:

a. dens evaginatus sering ditemukan pada ras Mongoloid dan 

Neo asia dengan prevalensi 3% - 4,8% etnis Tionghoa dan 

populasi Eskimo, tetapi jarang terjadi pada populasi kulit 

putih. 

b. enamel pearl pada area bifurkasi gigi molar rahang bawah 

mempunyai prevalensi tinggi sekitar 1,8% - 4% pada ras 

Mongoloid. Prevalensi enamel pearl juga cukup tinggi 

pada ras mongoloid, berdasar  penelitian Loh H. 

(2015) melaporkan ada  enamel pearl pada 79% kasus 

pencabutan gigi molar pertama rahang bawah pada populasi 

Tionghoa-Hongkok 

c. Makrodontia dengan panjang mesiodistal pada gigi molar 

10% lebih besar sering ditemukan pada ras Aborogin 

australia, Melanesia dan Indian Amerika. 

d. Frekuensi carabelli’s trait di gigi molar permanen rahang 

atas jauh lebih tinggi pada ras caucasoid dibandingkan ras 

lainnya.50 Mikrodontia disertai multiple diastema memiliki 

keterkaitan dengan ras negroid dengan prevalensi sekitar 

4%-8% 



SIDIK BIBIR

Setiap manusia memiliki pola khas gambaran alur 

yang berbeda-beda pada mukosa bibir atas dan 

bawah, sama seperti pada pola sidik jari kita. sebab  kekhasan 

yang bersifat indiviudalis itulah, sidik bibir digunakan dalam 

identifikasi baik pada kasus forensik, misalnya identifikasi 

dalam kasus pembunuhan, maupun untuk tujuan non forensic, 

misalnya dalam mengidentifikasi usia, jenis kelamin, usia, 

jenis kelamin, hubungan darah, dan ras.

A. Anatomi bibir 

Bibir masih termasuk bagian dari cavum oris yang 

dimulai dari perbatasan vermilion-kulit dan disusun oleh tiga 

lapisan, yaitu kulit, vernilion, dan mukosa. Bibir terdiri atas 

dua lipatan otot seperti gerbang mulut, terdiri atas bibir atas 

dan bibir bawah. Bagian luarnya ditutupi oleh jaringan kulit, 

bagian dalamnya ditutupi oleh mukosa mulut 

Permukaan luar bibir ditutupi kulit dengan folikel 

rambut, kelenjar sebasea dan keringat. Tepi vermilion menjadi 

lokasi peralihan antara kulit dan membran mukosa, bibir 

berubah menjadi kulit yang sangat tipis tanpa rambut dan 

epidermis yang transparan  Sedangkan 

bagian dalam bibir tersusun atas mukosa dengan epitel berlapis 

gepeng tanpa lapisan tanduk, terletak di atas jaringan ikat 

lamina propria dengan papilla yang tinggi. Pada submukosa 

ada  serat elastin yang mengikat erat membran mukosa 

sehingga mencegah terbentuknya lipatan mukosa yang dapat 

tergigit saat gigi geligi atas dan bawah berkontak. Serat 

elastin ini kemudian melanjutkan diri di sekitar otot rangka di 

tengah bibir dan di dalam lamina propria 

Bagian epidermis dari tepian vermilion bibir yang transparan 

serta dermis yang memiliki banyak pleksus pembuluh darah 

membuat bibir berwarna merah 

Cuspid bow memberikan bentuk khas pada bibir sebagai 

proyeksi dari philtrum ke bawah. Proyeksi linier tipis yang 

memberi batas bibir atas dan bawah secara melingkar pada 

batas kutaneus dan vermilion disebut white roll. Bibir bagian 

bawah memiliki 1 unit yaitu bagian mental crease yang 

memisahkan bibir dengan dagu 

Gambar 8. Anatomi bibir 

a. Persarafan

Persarafan sensoris bibir atas berasal dari cabang syaraf 

kranialis V (N. trigeminus) dan N. infraorbitalis. Bibir bawah 

diinervasi sensoris oleh N. mentalis. Inervasi motorik bibir 

berasal dari syaraf kranialis VII (N. facialis). Ramus buccalis 

N. facialis mempersyarafi ms. orbicularis oris dan ms. levator 

labii. N. facialis ramus mandibularis menginervasi M. 

orbicularis oris dan M. depressor labii (Rensburg, 1995).

b. Otot

Otot bibir terdiri dari kelompok otot sfingter bibir (orbicularis 

oris) dan otot dilator yang terdiri dari satu seri otot kecil yang 

menyebar keluar dari bibir. Fungsi otot pada sfingter bibir 

yaitu  untuk merapatkan bibir, sedangkan fungsi otot dilator 

bibir yaitu  untuk membuka bibir (Rensburg, 1995).

B. dentifikasi forensik dengan sidik bibir

Penemuan sederhana dari bibir dalam kepentingan 

forensic misalnya bibir yang tertutup rapat menandakan korban 

meninggal sebelum api membakar tubuhnya, sedangkan temuan 

bibir terbuka lebar menandakan korban terbakar hidup-hidup. 

Temuan frenulum atas dalam kondisi robek sering ditemukan 

pada kasus kekerasan bayi 

Temuan yang lebih detail lagi dapat diperoleh dengan 

pemeriksaan pola sidik bibir. Penelitian sidik bibir tidak hanya 

untuk identifikasi forensik, namun juga untuk studi pewarisan 

sifat. Sidik bibir salah satu tanda khas yang berbeda pada 

setiap individu, sama seperti sidik jari. 12 Sidik bibir dikenal 

juga dengan istilah “figura linearum labiorum rubrorum”, 

merupakan gambaran alur pada mukosa bibir atas dan bawah 


Lekukan bibir diklasifikasikan menjadi 4 tipe yaitu: 


1) Garis lurus 

2) Garis bergelombang 

3) Garis bersudut 

4) Garis berbentuk sinus

Klasifikasi lain yang paling lengkap yaitu  dengan 

pembagian pola sidik bibir menjadi 10 tipe seperti pada gambar 

di bawah 

Gambar 9. Klasifikasi sidik bibir menurut Renaud


Tabel 4. Keterangan klasifikasi tipe sidik bibir


Pola sidik bibir bersifat stabil, tidak berubah akibat 

trauma, iklim, penyakit di sekitar mulut, tindakan pembedahan, 

maupun gerakan yang melibatkan bibir seperti mulut 

yang terbuka, tersenyum, atau mencucu. Meskipun masih 

kontroversi, pola sidik bibir masih dapat digunakan sebagai 

metode alternative identifikasi individu sebab  polanya sangat 

unik. Meskipun dalam praktiknya, penggunaan sidik bibir 

dalam identifikasi belum sering dilakukan. Metode pencetakan 

sidik bibir pun belum disepakati secara internasional sehingga 

belum baku dalam pelaksanaannya 

Perlu penelitian lebih lanjut terkait cara pencetakan dan 

penyimpanan cetakan sidik bibir agar dapat digunakan dengan 

hasil yang akurat 

Metode pencetakan sidik bibir yang telah dilakukan 

selama ini yaitu  dengan memakai  kertas karton tipis 

dan pewarna bibir, lateks, scotch tape, fotografi, bahan cetak 

gigi, kaca preparat, dan fingerprint hinge lifter. Pengambilan 

sidik bibir memakai  kertas karton tipis yaitu  metode 

yang paling mudah dengan hasil yang cukup jelas.  Pola sidik 

bibir antara pria dan wanita juga memiliki karateristik khasnya 

masing-masing, sehingga dapat digunakan untuk identifikasi 

jenis kelamin. Perempuan lebih sering memiliki pola garis 

vertikal, sedangkan pria lebih sering dengan pola berpotongan 

. Namun, perlu diketahui bahwa ukuran 

dan bentuk bibir dapat berubah akibat pertambahan usia yang 

menyebabkan pola sidik bibir juga berubah, sehingga metode 

identifikasi ini hanya disarankan untuk rentang usia 21-40 

tahun 

berdasar  klasifikasi pola sidik bibir menurut Suzuki, 

pola sidik bibir yang paling sering ditemukan pada pria yaitu  

tipe I dan yang paling jarang yaitu  tipe V, sedangkan pada 

wanita sering tipe IV dan yang paling jarang yaitu  tipe III 


40

Gambar 10. Klasifikasi sidik bibir menurut Suzuki


Keterangan:

Tipe I : terlihat pola alur vertical pada seluruh bagian bibir

Tipe II : terlihat mirip dengan tipe I, namun pola alur tidak

   pada seluruh bagian bibir

Tipe III : terlihat pola alur yang bercabang

Tipe IV : terlihat pola alur yang membentuk kotak-kotak

Tipe V : terlihat pola alur yang bukan salah satu dari tipe-tipe

   di atas atau pola alur bentuk lainnya.

Sidik bibir bersifat genetik dan individual. Sebagaimana 

sidik jari, sidik bibir juga bersifat menetap sejak lahir. Sidik 

bibir dapat diamati mulai anak berusia empat bulan, dan tidak 

akan berubah seiring pertambahan usia. Yang berubah hanyalah 

pengurangan volume dan kehilangan unsur penunjang seperti 

gigi atau terjadi resesi gusi. Anak-anak memiliki pola sidik 

bibir yang sama dengan orang tua mereka walaupun lokasinya 

berbeda (berada pada kuadran bibir yang berbeda) sehingga 

sidik bibir dari setiap orang bersifat unik, berbeda antara 

satu orang dengan orang lainnya. Menurut hipotesis Mendel, 

sifat-sifat seseorang ditentukan oleh sepasang unit, dan hanya 

sebuah unit yang diteruskan kepada keturunannya dari induk 

.  Gen setiap anak berhubungan dengan 

sifat yang diwariskan oleh kedua orangtuanya. Pola sidik bibir 

termasuk salah satu hal yang diturunkan secara genetik, baik 

bersifat dominan maupun resesif. Terkadang ada sifat yang 

terlihat jelas dalam sebuah keluarga, salah satunya bentuk 

bibir. 


ANALISIS JEJAS GIGITAN (BITE MARK)

Bite mark yaitu  bekas gigitan dari pelaku yang 

ditemukan di kulit korban dalam bentuk luka, 

dengan tingkat eksposur hingga jaringan kulit atau jaringan 

ikat di bawah kulit sebagai pola di kulit korban akibat dari 

permukaan gigi-gigi pelaku yang digunakan menggigit 


Bite mark juga didefinisikan sebagai perubahan fisik 

pada bagian tubuh akibat kontak atau interdigitasi antara gigi 

atas dengan gigi bawah baik oleh gigi manusia maupun hewan 

sehingga struktur jaringan terluka (Bowers dan Bell, 1995). 

Bite marks akibat hewan dan manusia dapat dibedakan satu 

sama lain sebab  secara anatomi gigi dan morfologi gigi serta 

rahang berbeda 

Pola permukaan kunyah dan hasil gigitan yang 

mengakibatkan putusnya jaringan kulit dan jaringan di bawah, 

baik pada kulit manusia maupun pada buah, yang sering 

misalnya buah apel, bengkuang, dan pir yang disebut sebagai 

apple bite mark 

Pemeriksaan odontologi forensik dengan bitemark 

perlu tanggapan cepat dari dokter gigi forensik untuk 

mendokumentasikan bitemark, baik memakai  fotografi 

dengan teknik khusus, transfer ke kertas transparan, atau 

lembaran asetat, pengambilan cetakan, dan pengamatan 

mikroskop elektrik. Noda liur atau sel yang tertinggal pada 

daerah bitemark dapat diambil sebagai sampel pemeriksaan 

DNA pelaku. Jika daerah bitemark kotor dapat dilakukan 

swabbing luka gigitan untuk memulihkan bukti jejak Melalui analisis 

bitemark, dokter gigi forensik kemudian berperan untuk 

mengidentifikasi apakah terdakwa merupakan pelaku yang 

menyebabkan kematian korban. 

Pemeriksaan bitemarks bisa dilakukan dalam kasus 

kekerasan baik secara seksual maupun non-seksual, dan 

pembunuhan. Barang bukti lain yang ditemukan di tempat 

kejadian perkara yang bersifat non biologis juga harus 

diamankan dan didokumentasikan. Prosedur pengambilan 

barang bukti biologis maupun non biologis membutuhkan 

penanganan material yang tepat untuk memastikan keamanan 

bukti agar sesuai dengan persyaratan hukum sehingga dapat 

diterima sebagai bukti di pengadilan, oleh sebab  itu dokter 

gigi ahli sangat berperan 

A. Metode analisis bitemarks

Tahap pertama dalam analisis bitemark yaitu  

menentukan apakah pola ini  merupakan gigitan manusia, 

gigitan binatang atau luka lain yang mirip dengan gigitan 

manusia. Setiap jenis peristiwa akan menghasilkan pola 

gambaran bekas gigitan manusia yang berbeda-beda (Dolinak 

dkk, 2005). Hasil analisis luka gigitan kemudian dibandingkan 

dengan dengan bukti tersangka untuk menentukan hasil 

identifikasi. ada  beberapa metode komparatif yang 

digunakan oleh dokter gigi forensik untuk analisis bukti 

bite mark, misalnya seperti perbandingan visual, life size 

overlays, test bites, digital bite mark overlays, scanning 

electron microscopy dan analisis metrik. Analisis yang sering 

digunakan yaitu teknik overlay dan analisis metrik.

Panduan analisis bitemark yang sesuai standar 

berdasar  American Board of Forensic Odontostomatology 

(ABFO) yaitu  sebagai berikut: 

a. Rekam medis gigi atau dental history

Dental history meliputi perawatan gigi yang pernah 

dilakukan oleh terduga pelaku sebelum bukti bitemark 

didapatkan. Data dental history dicatat pada formulir ante