senyawa kalium dan klorofil
yang mampu menyembuhkan penyakit
Pemanfaatan daun juga dianggap lebih lestari sebab tidak memerlukan
pengambilan secara utuh seperti penebangan atau pencabutan, sehingga
tumbuhan yang dipakai tetap bisa dilestarikan. Sama halnya dengan
pemanfaatan daun, buah yang dimanfaatkan juga tidak memerlukan
penebangan atau pencabutan keseluruhan tumbuhan serta mudah diambil
Namun, meskipun buah menjadi salah satu
bagian yang paling mudah diambil namun tidak mudah ditemukan kapan saja
saat diperlukan, sebab biasanya keberadaan buah tergantung pada musim
seperti halnya bunga pemakaian bagian tumbuhan lain
seperti batang, rimpang, umbi dan akar lebih sulit pengambilannya sebab
memerlukan tindakan pencabutan dan penebangan untuk pemanfaatannya
sehingga secara ekologi memengaruhi jumlahnya di alam ,. Pengolahan tumbuhan obat umumnya dilakukan dengan cara
yang cukup sederhana.
Beberapa cara pengolahan tumbuhan obat yang sering dipakai oleh
warga yaitu dengan cara direbus, diparut, ditumbuk, diperas dan dikupas.
Cara pengobatan untuk penyakit dalam umumnya bagian dari tumbuhan obat
direbus, sedangkan pada penyakit luar bagian tumbuhan obat di tempel atau
digosok. Selain itu, pengolahan dengan cara direbus sangat mudah dan hemat
sebab proses perebusan dapat dilakukan berulang kali. berdasar penelitian
yang pernah dilakukan dilaporkan bahwa melalui teknik perebusan dapat
membuat kandungan aktif di dalam daun seperti flavonoid menjadi larut di
dalam air sehingga mudah dicerna di dalam tubuh
pemakaian tumbuhan obat dapat dilakukan dengan beberapa cara seperti
diminum, dimakan, dioleskan, ditempelkan, diurutkan, diteteskan, ditaburkan
dan digosokkan. Menurut (Efremila., 2015) untuk mengobati penyakit dalam,
bagian tumbuhan obat yang dipakai direbus terlebih dahulu dan kemudian
diminum. warga meyakini bahwa pemakaian tumbuhan obat dengan
cara diminum memiliki efek dan reaksi yang lebih cepat jika dibandingkan
dengan cara pemakaian tumbuhan obat yang lainnya. Penelitian menyebutkan bahwa jamu dapat segera diminum dan segera
beredar diseluruh tubuh sehingga diharapkan efek dan reaksinya lebih cepat
untuk mengobati suatu penyakit.
Tumbuhan obat yang diolah dalam bentuk ramuan umumnya yaitu berupa
jamu yang diracik dengan tumbuhan obat sebagai bahan dasarnya dan
ditambah dengan bahan pendukung lain yang ada di alam pemakaian bahan dasar tumbuhan obat untuk meramu atau meracik
jamu disesuaikan dengan fungsinya dalam mengobati suatu penyakit.
Contohnya jamu perut kembung yang diramu memakai bahan-bahan di
antaranya jahe, lengkuas, kelapa, temu kunci, sirih, merica, gula merah, kunyit
putih, kesembukan, kencur dan daun bawang. Jamu keset diramu dengan
bahan-bahan di antaranya kayu gading, kunyit putih, kunci pepet, temulawak
hitam, mengkudu dan delima warga negara kita
sudah sejak lama memakai tumbuhan dari familia Zingiberaceae sebagai
obat (jamu) sebab keberadaannya yang tumbuh subur didaerah tropis. Hasil
penelitian Lavenia et al. (2019) juga menunjukkan jenis tumbuhan yang sering
dipakai sebagai bahan dasar pembuatan ramuan jamu yaitu dari familia
Zingiberaceae, organ tumbuhan yang sering dipakai sebagai bahan dasar
pembuatan jamu yaitu rimpang.
Beberapa tanaman lain yang telah dipergunakan sebagai obat tradisional oleh
warga negara kita sebagai berikut.
1. Pala (Myristica Fragrans Houtt)
Bagian yang dipakai biji.
Khasiat dan manfaat:
a. Mengobati penyakit disentri, maag, mencret, menghentikan
muntah, mual, mulas, perut kembung dan rematik.
Cara pemakaian bagi penyakit di atas:
Biji pala (serbuk) 1 gram, buah pisang batu (serbuk) 6 gram, air
100 ml diseduh lalu diminum satu kali sehari 100 ml, diulang
selama 30 hari/sampai sembuh
b. Suara parau
Cara pemakaiannya: Biji pala (serbuk) 2 butir, rimpang jahe
(diukur) 3 rimpang, bunga kuncup cengkeh (serbuk) 7 biji, air 50
ml diseduh lalu diborehkan pada leher, bila perlu ditambah
minyak kayu putih sedikit, diperbarui setiap 3 jam.
c. Vitalitas/stamina
Cara pemakaian: Pala dibelah diambil bijinya lalu direbus
dicampur dengan pinten, jahe dan kapolaga, diminum atau bisa
dicampur air susu dan gula merah dimimun seperlunya
d. Pala dapat dibuat bumbu/rempah-rempah
Adapun manfaat lainnya, pala muda untuk manisan dan pala
yang tua dapat dipakai untuk rempah-rempah.
2. Lengkuas/Laja (Alpinia Galanga, Linn)
Bagian yang dipakai rimpang.
Khasiat dan manfaat:
a. Mengobati rematik, sakit limpa, gairah seks, nafsu makan
Cara pemakaian untuk penyakit di atas: 2 Rimpang laja diparut
dan diperas untuk diambil airnya, telur ayam kampung mentah
diambil kuningnya lalu dicampur sampai merata, diminum1 kali
sehari.
b. Bronkhitis, morbili, panu, kadas kurap
Cara pemakaiannya: 2 Rimpang laja sebesar ibu jari, 3 rimpang
umbi temulawak sebesar ibu jari dan 1 genggam daun meniran,
bahan-bahan ini direbus ditambah tiga gelas air sampai
mendidih, diminum 2 kali sehari 1 cangkir (pagi dan sore).
c. Menurunkan kolesterol
Cara pemakaiannya: daun sirih, salam dan lengkuas/laja
dicampur direbus dalam masakan agar berkhasiat menurunkan
kolesterol yang ada pada masakan.
3. Jahe (Zingiber officinale Rosc)
Bagian yang dipakai rimpang.
Khasiat dan manfaat:
a. Mengobati batuk, membangkitkan nafsu makan.
Cara pemakaiannya: Jahe diparut 3 rimpang, diperas lalu
diminum 3 kali sehari 1 sendok teh diulang selama 3 hari.
b. Mulas, perut kembung, gatal, luka, dan sakit kepala
Cara pemakaian: Jahe diparut 3 rimpang, pindahkan ramuan ke
kain bersih dan ikat dengan tali, kemudian masukkan ke dalam
cuka hangat dan oleskan ke seluruh badan agar mempercepat
keluarnya keringat.
c. Pegal linu dan rheumatik
Cara pemakaian: jahe diparut 3 rimpang lalu ditempel ke badan
yag pegal secukupnya.
4. Daun sirsak (Annona Muricata)
Bagian yang dipakai daun dan buah.
Khasiat dan manfaat:
a. Mengobati ambeien
Cara pemakaian: Buah sirsak yang sudah masak, diperas untuk
diambil airnya sebanyak 1 gelas, diminum 2 kali sehari.
b. Sakit kandung air seni
Cara pemakaian: Buah sirsak setengah masak, gula dan garam
secukupnya, semua bahan ini dimasak dibuat kolak,
dimakan biasa dan dilakukan secara rutin setiap hari selama
seminggu berturut-turut.
c. Bayi mencret
Cara pemakaian: Buah sirsak yag sudah masak diperas dan
disaring untuk diambil airnya, diminumkan pada bayi yang
mencret sebanyak 2-3 sendok makan.
d. Sakit Pinggang
Cara pemakaian: 20 lembar daun sirsak direbus dengan 5 gelas
air sampai mendidih hingga tinggal 3 gelas, diminum 1 kali
sehari ¾ gelas.
e. Bisul
Cara pemakaian: Daun sirsak yang masih muda secukupnya
ditumbuk halus dan ditambah ½ sendok air, diaduk sampai
merata, ditempelken pada bagian bisul.
5. Daun Jambu (Psidium Guajava)
Bagian yang dipakai daun.
Khasiat dan manfaat:
a. Disentri
Cara pemakaian: Daun jambu biji 6 gram, kayu secang 1 gram,
rasuk angin 1 gram, daun patikan cina 5 gram, daun pegagan 7
gram, kayu ules 2 buah, kayu ules 2 buah, bawang merah 1 umbi,
air 120 ml. Dibuat Infus diminum 2 kali sehari (pagi dan sore)
tiap kali minum 100 ml diulang selama 4 hari.
b. Mencret
Cara pemakaian: Daun biji jambu muda 9 helai, kunyit 1 jari, biji
kedawung (disangrai) 4 butir, rasuk angis 4 gram, air 100 ml,
dibuat infus, diminum 2 kali sehari, tiap kali minum 100 ml
diulang selama 4 hari.
6. Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus (B1) Miq.)
Khasiat dan manfaat: Kencing batu, peluruh air seni, infeksi ginjal
dan infeksi kandung kemih.
Cara pemakaian: 30-60 gr (kering) atau 90-120 (basah) direbus, atau
yang kering/basah diseduh sebagai teh, diminum 2 kali sehari pagi
dan sore.
7. Daun Sembung (Blumea Balsamifera)
Khasiat dan manfaat:
a. Meningkatkan empedu
Cara pemakaian: Daun sembung 4 helai, air 110 ml direbus
sampai mendidih diminum 1 kali sehari 100 ml.
b. Salesma
Cara pemakaian: Daun sembung 5 helai, daun sembukan 1
genggam, air 110 ml, dibuat infus atau dipipis, diminum 2 kali
sehari, tiap kali minum 100 ml apabila dipipis diminum 2 kali
sehari dan tiap kali minum ¼ cangkir.
c. Demam
Cara pemakaian: Daun sembung secukupnya, air 1 panci, direbus
sampai mendidih lalu basahi handuk dengan ramuan ini
kemudian gunakan untuk membasuh badanm muka, kaki dan
tangan.
100
8. Kencur (Kaemferia Galanga)
Bagian yang dipakai : rimpang/akar Khasiat dan manfaat:
a. Masuk angin/sakit kepala/radang lambung
2 rimpang kencur sebesar ibu jari dikuliti sampai bersih dan
dikunyah; ditelan airnya dan dibuang ampasnya kemudian
minum segelas air putih lalu diulangi sampai sembuh.
b. Batuk/menghilangkan darah kotor/diare
1 rimpang kencur sebesar ibu jari dan garam secukupnya, kencur
diparut kemudian ditambah 1 cangkir air hangat, diperas dan
disaring. Diminum dengan ditambah garam secukupnya.
c. sp
2 rimpang kencur digerus/ditumbuk sampai halus lalu ditempel
ke bagian tubuh yang keseleo.
9. Katuk (Sauropus Androgynus)
Bagian yang dipakai daun.
Khasiat dan manfaat:
a. Memperlancar ASI
Untuk memperlancar ASI, 200 gram daun katuk direbus dengan
1,5 gelas air selama 15 menit, setelah dingin disaring lalu
diminum, bisa juga dibuat sayur lalu dimakan.
b. Obat bisul
Untuk bisul, daun segar dilumatkan, tempelkan ke bagian yang
sakit.
10. Meniran (Pyillanthus Niruri)
Bagian yang dipakai seluruh tanaman.
Khasiat dan manfaat:
a. Peluruh dahak dan penambah nafsu makan.
Caranya yaitu : 30-60 gram meniran direbus dalam 3 gelas air
hingga tersisa 1 gelas. Setelah dingin disaring lalu diminum.
b. Mengobati luka dalam setelah melahirkan/pendarahan dan
mengobati kista Cara pemakaian: 3 tangkai daun meniran yang
tinggi/sudah besar direbus dengan akarnya lalu diminum airnya.
Farmakognosi Berbasis
Teknologi
7.1 Perkembangan Farmakognosi
Penerapan farmakognosi deskriptif dan mikroskopis berkembang pada abad ke
19 dan ke 20 dan memberi dasar untuk mengatur pemakaian tanaman
dalam sistem pelayanan kesehatan berdasar definisi farmakope. Namun,
selama tahun 1960an dan 1970an, farmakognosi mulai beralih dari studi botani
deskriptif menjadi kimia yang lebih terintegrasi dan berfokus pada biologis
Pada akhir tahun 1960an, farmakognosi sebagai ilmu pendidikan farmasi
terutama dikaitkan dengan botani. Pada tahap ini, sebagian besar berkaitan
dengan identifikasi makro dan mikroskopis, deskripsi, dan otentikasi obat.
Bidang farmakognosi ini disebut sebagai farmakognosi klasik dan secara
keseluruhan masih memiliki kepentingan mendasar terutama untuk tujuan
standardisasi awal dan proses pengendalian mutu yang membantu dalam
pengembangan standar farmakope. Pada identifikasi mikroskopis bahan
tanaman dan penentuan data kuantitatif diberi perhatian khusus seperti benda
asing, nilai abu dan kadar air. Selanjutnya, sidik jari kromatografi, khususnya
KLT dipakai untuk tujuan identifikasi dan standardisasi. Farmakognosi
klasik ini, yang awalnya berfokus pada evaluasi kognostik farmasi tanaman,
telah diperluas hingga mencakup bentuk-bentuk alami lainnya, seperti
berbagai jenis mikroba dan organisme laut
Seiring berjalannya waktu, farmakognosi klasik berkembang menuju disiplin
kimia dan biologi yang lebih terspesialisasi yang berkaitan dengan isolasi dan
karakterisasi prinsip aktif biologi dari sumber alami serta evaluasi hubungan
aktivitas struktur isolat untuk tujuan mengoptimalkan pengembangannya
menjadi agen obat untuk pemakaian klinis. Identifikasi DNA produk alami
sebagai standar peraturan juga menjadi fokus saat ini dalam Farmakognosi
Saat ini, farmakognosi sebagai departemen akademis yang sudah mapan di
beberapa sekolah farmasi di seluruh dunia, meskipun namanya mungkin telah
digantikan oleh istilah-istilah seperti biologi farmasi, fitokimia, dan penelitian
produk alami di negara-negara tertentu. Bidang penelitian yang melibatkan
ahli farmakognosi, termasuk kimia analitik, pengembangan metode penilaian
bioaktivitas, biokatalisis, biosintesis, bioteknologi, biologi sel, kemotaksonomi,
studi klinis, budidaya tanaman obat, etnobotani, genetika, kimia kelautan,
biotransformasi mikroba, biologi molekuler, modifikasi sintetik bahan alam,
farmakologi, fitokimia, fitoterapi, standardisasi obat tradisional, taksonomi,
kultur jaringan, dan zoofarmakognosi
Ruang lingkup farmakognosi telah mengalami perubahan dan perkembangan
sesuai dengan jamannya. Farmakognosi ini merupakan pengetahuan tentang
obat. Dengan masuknya bioteknologi ke dalam farmakognosi, kemampuan
farmakognosi akan meningkat dari mode deskripsi dan pengenalan menjadi
model pengendalian dan rancangan produk yang dinamakan
Farmakobioteknologi.
7.2 Bioteknologi Tanaman
Saat ini populasi penduduk di negara kita diprediksi akan meningkat.
Peningkatan jumlah penduduk tidak diimbangi dengan peningkatan
ketersedian produksi pertanian, khususnya tanaman pangan. Selain masalah
peningkatan jumlah penduduk, masalah lain seperti berubahnya iklim,
meningkatnya emisi gas rumah kaca dan peningkatan lahan marginal juga
menjadi kendala dalam bidang pertanian. Masalah-masalah ini bisa
diatasi dengan dibutuhkan pendekatan teknologi, salah satunya yaitu
bioteknologi. Pemanfaatan bioteknologi ini akan mampu dalam peningkatan
ketahanan pangan, penghasil pangan yang sehat dan pengurangan dampak
negatif terhadap lingkungan produksi pertanian
Bioteknologi tanaman yaitu penerapan teknologi baik bioteknologi
konvensional maupun bioteknologi modern dengan memfokuskan pada
perbaikan sifat tanaman secara spesifik, sehingga menghasilkan varietas
unggul demi pemenuhan kebutuhan manusia
Bioteknologi tanaman ini bertujuan merekayasa genetik tanaman, sehingga
diperoleh sifat tanaman lebih unggul dari sebelumnya. Hal ini bisa
didapatkan dengan pemuliaan tanaman konvensional melalui persilangan-
persilangan tetua yang memiliki sifat yang dikehendaki. Kemudian dilakukan
penyeleksian yang bertujuan dalam penggabungan sifat baik dari tetua-tetua
pada keturunannya, sehingga diperoleh varietas unggul baru
Namun pemuliaan tanaman konvensional memiliki beberapa kelemahan yaitu
perbaikan sifat tidak terarah, memerlukan waktu cukup lama untuk
menghasilkan varietas unggul baru dan sulit untuk dilakukan penggabungan
sifat tanaman yang berasal dari tanaman tidak sejenis. Hal ini dapat dilakukan
dengan bioteknologi modern yaitu melibatkan rekayasa genetika . Metode bioteknologi tanaman ini meliputi
teknologi kultur in vitro dan rekayasa genetika. Pengerjaan kultur in vitro ini
berhubungan dengan rekayasa genetika, sebab teknologi rekayasa genetika
juga memerlukan kultur in vitro
7.2.1 Teknologi Kultur In Vitro Tanaman
Kultur in vitro disebut juga dengan kultur jaringan (tissue culture). Teknologi
kultur in vitro tanaman (kultur jaringan) didefinisikan sebagai metode maupun
teknik dalam mengisolasi sel, jaringan dan organ pada tanaman yang
menginduksi bagian ini pada media yang mengandung banyak nutrisi dan
zat pengatur tumbuh yang dilakukan dalam suatu tempat dengan kondisi serba
terkendali yang menyangkut pencahayaan, pengaturan suhu dan dalam kondisi
aseptic Teknologi kultur in vitro
tanaman juga dapat di definisikan suatu metode teknologi yang dilakukan
dalam memproduksi benih tanaman dan juga bisa menghasilkan metabolit
sekunder jika dibutuhkan oleh konsumen atau industri
Metode teknologi kultur in vitro ini bertujuan untuk menghasilkan tanaman
dengan pembiakan yang cepat , untuk memperoleh keragaman genetik dalam
kultur in vitro ada beberapa teknologi yang dapat dipakai di antaranya
sebagai berikut:
1. Teknologi Haploid
Teknologi haploid merupakan suatu teknologi berpotensi dalam
peningkatan efektivitas dan efisiensi untuk pengembangan benih
hibrida. Dengan teknologi haploid ini, calon tetua pada bentuk
inbrida homozigot dipakai dalam pengembangan dan produksi
benih hibrida yang hanya bisa diproduksi pada satu generasi yang
berbentuk tanaman haploid ganda homozigot dalam karakter yang
seragam, sedangkan jika dibandingkan pemuliaan tanaman secara
umum atau konvensional dalam penyerbukan sendiri, dibutuhkan
lima sampai tujuh generasi untuk menghasilkan tanaman homozigot
baru dan tidak seragam untuk semua karakter
Teknik embriogenesis mikrospora, baik melalui kultur anther atau
kultur mikrospora merupakan salah satu cara untuk meregenerasikan
tanaman haploid. Tanaman haploid ini dapat diregenerasikan melalui
kultur in vitro secara langsung, baik dari sel jantan atau dari sel
betina dengan tidak dilakukan proses fertilisasi. Dibanding dengan
tanaman diploid, tanaman haploid lebih bersifat steril Induk haploid dengan tanaman hasil penggandaan (double-
haploid) bersifat sama yaitu bersifat homozigot. Namun untuk
individu double-haploid bersifat fertile. Oleh sebab itu, individu
double-haploid dapat diperbanyak secara seksual
2. Teknologi Kultur Protoplas
Kultur protoplas (fusi protoplas) yaitu suatu teknik kultur jaringan
yang telah banyak dibutuhkan dalam program pemuliaan tanaman
pada waktu yang sangat singkat. Metode ini dipergunakan untuk
mengatasi masalah tanaman yang sulit atau tidak mungkin
disilangkan secara konvensional serta dipakai untuk perbaikan
spesies dengan mentransfer suatu gen yang dikehendaki dari tanaman
donor ke tanaman target melalui fusi protoplas. Fusi protoplas
memungkinkan dihasilkannya tanaman yang tahan terhadap suatu
penyakit dan berbagai cekaman abiotik, laju pertumbuhan yang cepat
serta memiliki kuantitas dan kualitas metabolit yang lebih baik
dibandingkan induknya. Keberhasilan peleburan dan regenerasi
protoplas menjadi tanaman utuh yang memengaruhi berbagai faktor,
meliputi sumber eksplan, komposisi larutan enzim dan lama inkubasi,
jenis fusogen, dan media kultur untuk regenerasi
Adanya fusi protoplas memungkinkan untuk melakukan hibridisasi
somatik antar spesies yang tidak kompatibel secara seksual,
menghasilkan galur tanaman heterozigot yang berasal dari satu
spesies tanaman normal yang hanya bisa dikembangbiakan secara
vegetatif, mentransfer Sebagian gen dari spesies tanaman yang
berbeda dengan cara penghilangan kromosom (chromosome
elimination), dan mentransfer informasi gen yang ada pada
sitoplasma dari galur atau spesies yang berbeda. Ada dua
kemungkinan yang akan dihasilkan dari fusi protoplas yaitu hybrid
(kedua nukleus dari dua spesies benar-benar menyatu) dan cybrid
atau heteroplasma (hanya sitoplasma dari kedua spesies yang
menyatu, sedangkan salah satu nukleus dari kedua spesies hilang)
Kultur protoplas juga dikenal sebagai hibridisasi somatic yaitu suatu
teknik kultur jaringan untuk peningkatan keragaman genetik tanaman
dengan penggabungan dua spesies materi genetik tanaman berbeda
dalam pembuatan tanaman hibrida
Fusi protoplas dari hasil dua tetua akan memiliki variabilitas genetik
tinggi untuk ketahanan pada infeksi penyakit, dari mulai kategori
rentan sampai resistansi pada infeksi (Armita, 2020). Keberhasilan
suatu kultur atau fusi protoplas akan memengaruhi sumber eksplan,
kandungan larutan enzim, waktu selama inkubasi jenis fusogen serta
pemakaian media kultur dalam meregenerasikan protoplas dengan
organogenesis maupun embriogenesis dalam suatu pembentukan
kalus
Teknologi isolasi protoplas semakin maju pesat dan tahun 1972
penelitian-penelitian terkait kultur protoplas terus dikembangkan.
Protoplas dapat diinduksi untuk membelah diri dan beregenerasi
membentuk dinding sel Kembali, selanjutnya sel akan mengalami
pembelahan dan akhirnya akan membentuk kalus. Kemudian kalus
ini disubkulturkan dan ditumbuhkan dalam medium untuk
proses embriogenesis. Embrio yang dihasilkan dari proses
embriogenesis akan berkembang lebih lanjut menjadi kecambah
hingga menjadi tanaman lengkap
3. Variasi Somaklonal
Variasi somaklonal merupakan bentuk perubahan genetik, epigenetik,
ataupun perubahan fenotipe, kariotipe, fisiologi, biokimia atau jenis
pada tingkat molekuler pada populasi tanaman dengan kultur jaringan
atau sel yang terjadi baik pada sel somatik yaitu sel daun, sel akar, sel
batang, serta sel induk ,Teknik ini berasal dari suatu perubahan pada eksplan tanaman
yang berasal dari penginduksian kultur secara in vitro dari suatu
media dan lingkungan. Variasi somaklonal dipengaruhi oleh
penghilangan sebab adanya proses kultur yang menginisiasi
munculnya variasi genetik yang begitu penting dalam pengembangan
basis genetik untuk suatu program pemuliaan dan konservasi pada
tanaman
Variasi somaklonal bisa berubah namun bukan akibat dari segregasi
atau rekombinasi gen, seperti mengalami proses persilangan, namun
akibat adanya mutasi genetik pada eksplan yang ditanam pada suatu
kondisi in vitro. Variasi somaklonal dari tanaman akan mengalami
mutasi atau penyimpangan sitologi, sehingga dapat muncul
perubahan struktur kromosom, kerusakan kromosom (delesi,
duplikasi, inversi dan translokasi), perubahan metilasi kromatin dan
jumlah kromosom Variasi somaklonal
diwariskan secara seksual ke generasi seterusnya atau turunannya
yang bersifat stabil, akan namun variasi somaklonal yang bersifat
epigenetik akan kehilangan jika dilakukan penurunan secara seksual.
Teknologi pada kultur jaringan ini diinisiasi oleh penambahan zat
pengatur tumbuh, seperti pemakaian auksin 2,4-D dan 2,4,5-T,
konsentrasi pemakaian ZPT (zat pengatur tumbuh), waktu tahap
pertumbuhan kalus, dan pemakaian jenis kultur (sel, protoplasma
atau kalus), cahaya, kelembaban dan transpirasi. Penyusunan
tanaman dengan teknologi ini telah diterapkan dalam memperoleh
tanaman yang toleran pada kekeringan, salinitas atau kadar tinggi, pH
rendah atau tinggi serta ketahanan pada penyakit (. Faktor yang menimbulkan terjadinya variasi
somaklonal yaitu: (1) Organisasi sel dari sumber eksplan yang
dipakai , (2) Variasi jaringan yang dipakai sebagai sumber
eksplan, (3) Akibat ketidaknormalan pembelahan sel selama proses
regenerasi
4. Mutagenesis In Vitro
Mutagenesis merupakan induksi perubahan gen melalui kultur sel in
vitro dengan perlakuan mutagenik kimia atau fisika yang selanjutnya
dilakukan pemeliharaan sel mutan dan meregenerasi tanaman mutan
. Prinsip pada mutagenesis in vitro ini yaitu
mengatasi kerusakan DNA genom pada populasi di sel tertentu dan
memungkinkan sel yang rusak ini berkembang biak secara
cepat, sehingga kerusakan yang ditimbulkan relatif kecil pada urutan
nukleotida DNA. Pada akhirnya, hanya populasi sel yang dipilih
dengan mutasi di gen tertentu yang berhasil beregenerasi menjadi
galur tanaman mutan. Tanaman mutan yang diperoleh melalui
mutagenesis kemudian dilakukan pengujian dan seleksi lebih lanjut.
Namun cara ini jarang dipakai sebab mutasi diakibatkan mutagen
kimia atau fisika merusak komponen DNA genom tanaman yang
pada akhirnya dapat menimbulkan sifat-sifat yang tidak diinginkan.
Kerusakan DNA yang terjadi sebab hilangnya atau rekayasa
nukleotida atau translokasi fragmen DNA yang berubah menjadi
kromosom. Fenotipe suatu tanaman tidak akan terjadi perubahan
apabila mengalami hilangnya atau substitusi yang berbasis pasangan,
sebagai contoh misalnya tiga basis kodon dalam satu gen
. Metoda mutagenesis memberi keuntungan
yaitu meliputi material tanaman dengan memperbanyak sangat cepat
sampai mencapai populasi cukup besar sebelum dilakukan perlakuan,
peningkatan frekuensi variasi somaklonal, potensi pemulihan sel
bermutasi akan meningkat seiring menurunnya kompetisi somatik
sebab terjadi perubahan kondisi pada kultur, termasuk penambahan
sitokinin pada media, dan meningkatkan efisiensi yang ditimbulkan
dari mempercepat produksi mutant oleh peningkatan kecepatan
perkembangbiakan dan generasi dengan jumlah yang lebih banyak
. Keberhasilan mutagenesis secara in vitro salah
satunya ditentukan oleh kesesuaian dalam teknik perbanyakan pada
tanaman secara in vitro.
7.2.2 Teknologi Rekayasa Genetika
Teknologi rekayasa genetika yaitu sebagai suatu teknik memanipulasi atau
merubah susunan suatu asam nukleat dari DNA (gen) atau dengan
menyelipkan suatu gen yang baru pada struktur DNA organisme penerima.
Penyelipan ini bisa berasal dari organisme manapun. Contohnya, suatu
gen berasal dari bakteri dilakukan penyelipan ke kromosom tanaman, dan
begitu juga gen dari tanaman bisa diselipkan di kromosom bakteri. Gen pada
serangga bisa diselipkan di tanaman atau gen pada babi bisa diselipkan di
bakteri, atau gen pada manusia diselipkan di kromosom bakteri. Tanaman
lebih mudah direkayasa secara genetik dari pada sebagian besar hewan. Bagi
banyak spesies tanaman, satu sel jaringan yang ditemukan dalam kultur dapat
berkembang menjadi tanaman dewasa (sifat totipotensi), sehingga manipulasi
genetik dapat dilakukan pada sel somatik dan sel ini selanjutnya
dipergunakan dalam memproduksi organisme yang memiliki sifat baru
Teknologi rekayasa genetika merupakan metode pemuliaan yang secara
konvensional dipakai untuk meningkatkan karakteristik organisme.
Misalnya saja pada suatu tanaman, teknologi ini dapat dipakai dalam
peningkatan ketahanan tanaman daricekaman biotik dan abiotik, 2 faktor yang
menurunkan produktivitas tanaman. Selain itu juga bisa dipakai untuk
meningkatkan kandungan atau kadar nutrisi tanaman dan memproduksi vaksin
tanaman
Prinsip dasar suatu pemuliaan tanaman yaitu memasukkan gen yang
membawa sifat baik dengan diperoleh dari kerabat jauh atau spesies liar pada
suatu kromosom tanaman. Untuk melakukan hal ini, dibutuhkan banyak waktu
melalui pembiakan selektif. Dengan memakai teknologi DNA
rekombinan dan bantuan peralatan modern, pemulia tanaman dapat
memasukkan gen yang bersumber dari organisme apa pun ke dalam tanaman.
Selain itu, teknologi DNA rekombinan dapat dilaukan penggabungan dengan
biologi molekuler dalam kloning gen dapat membantu program pemuliaan
tanaman dalam mengidentifikasi gen yang memberi sifat tertentu, misal
tahan hama dan penyakit yang terkena tekanan pada abiotik. Pemuliaan pada
molekuler yaitu istilah untuk penggambaran penerapan atau pengaplikasian
teknologi genetika molekuler untuk memperkenalkan sifat baru yang
diinginkan ke suatu program pemuliaan tanaman Tanaman
hasil dari rekayasa genetika disebut tanaman transgenik yang dikenal dengan
istilah “genetically modified organism” atau GMO
7.3 Contoh Penerapan Bioteknologi
Tanaman
7.3.1 Contoh Penerapan Teknologi Kultur In Vitro
Tanaman
Teknologi kultur in vitro tanaman sebagai suatu metode yang meliputi
langkah-langkah sebagai berikut: (1) menyiapkan sarana dan prasarana dalam
kondisi benar-benar steril (aseptis), termasuk lokasi, bahan dan peralatan, (2)
menyiapkan media dasar yang dipilih sesuai dengan kultivar yang akan
diproduksi, (3) melakukan kultur benih dan teknik untuk memperoleh
metabolit sekunder
Contoh penerapan teknologi kultur in vitro yaitu salah satunya untuk
mengatasi permasalahan pemenuhan sumber benih anggrek yang cukup.
Setiap tahapan untuk produksi anggrek sering kali memerlukan input atau
masukan teknologi, khususnya teknologi kultur in vitro atau kultur jaringan
(tissue culture) yang diketahui sudah efektif. Kultur in vitro ini dipakai
untuk perbanyakan anggrek (mikropropagasi) atau untuk perkecambahan
benih anggrek . Berikut beberapa contoh teknologi
kultur in vitro tanaman yang telah dilakukan.
Tabel 7.1: Teknologi Kultur In Vitro Tanaman
Tanaman Macam teknologi Kultur in
vitro
Pustaka
Cabai Haploid (Supena, 2018)
Padi Protoplas (Sukmadjaja et al., 2007)
Ubi kayu Variasi Somaklonal (Ramadanti, Putri and Hartati,
2020) Porang Mutagenesis (Poerba et al., 2016)
7.3.2 Contoh Penerapan Teknologi Rekayasa Genetik
Tanaman
Teknologi rekayasa genetika sebagai suatu bentuk dari bioteknologi modern
dengan memakai pendekatan teknologi DNA rekombinan yang
dipadukan dengan genetika molekuler (Ningsih et al., 2021). Tanaman pada
pertanian yang dihasilkan dengan rekayasa genetika dikategorikan mengikuti
suatu struktur dan strategi yang telah dipakai untuk memperbanyak
tanaman transgenik, diklasifikasikan dalam empat generasi (Prianto and
Yudhasasmita, 2017). Pada generasi yang pertama atau sifatnya tunggal, sering
dipakai tumbuhan yang mengandung unsur transgenik. Pada generasi
kedua, tanaman umumnya sebagai hasil mutasi atau persilangan antara
generasi komersial yang pertama. Generasi yang ketiga, tanaman ini disebut
dengan near-intragenics di mana unsur transgeniknya tidak dapat dipakai
pada tanaman transgenik lainnya dan generasi yang keempat merupakan
tanaman tergolong gen intragenik ataupun cisgenik. Beberapa contoh
keberhasilan dari penerapan teknologi rekayasa genetika yaitu Padi atau beras
Bt yang kebal atau kuat terhadap hama batang, papaya kebal terhadap
penyakit, papaya tahan terhadap ringspot virus, jagung Bt dan kapas Bt kebal
terhadap hama Lepidoptera, kedelai yang toleran herbisida, tomat Flavr Savr
yang masak terlambat, beta carotene yang dikandung Golden rice pada
endosperma dan pisang sebagai penghasil vaksin
Standardisasi dan Sertifikasi
Produk Herbal
8.1 Produk Herbal
negara kita memiliki keanekaragaman hayati tanaman sehingga memiliki
potensi untuk dikembangkan menjadi sebuah produk yang dapat dikonsumsi
warga . Sejak jaman dahulu kala manfaat dari berbagai tumbuhan sudah
dilakukan oleh warga dengan kepercayaan bahwa sumber bahan dapat
menyembuhkan penyakit atau gejala tertentu meskipun belum ada
pemeriksaan secara ilmiah yang menjadi dasar pemakaian tanaman.
Pengertian dari produk herbal yaitu produk yang memiliki sumber dari alam,
mengalami proses tertentu atau dalam bentuk aslinya. Sumber bisa berupa
tumbuhan, berasal dari hewan atau sumber mineral tertentu. Proses pembuatan
bahan kering dengan panas alami yaitu sinar matahari atau memakai alat
tertentu seperti oven. Produk herbal yang ada di negara kita dapat berupa Jamu,
OHT, dan Fitofarmaka. Dengan adanya kasus pandemi seperti Covid-19,
warga memiliki pola pikir dan pola hidup kembali kepada alam atau back
to nature, hal ini juga memengaruhi segmentasi dan pangsa pasar produk
herbal menjadi meningkat seiring bertambahnya daya beli konsumen terhadap
pemakaian bahan-bahan alami yang bertujuan untuk menjaga kesehatan
tubuh.
Produk herbal yang ada di negara kita sangat beragam dan dapat diproduksi
dalam skala kecil maupun besar sehingga mudah ditemukan di tempat resmi
yang memiliki izin, toko, atau kedai makanan. warga sebagai konsumen
produk herbal mempertimbangkan kemudahan dalam mendapatkan produk
disertai dengan khasiat yang didapatkan dan harga yang terjangkau, selain itu
aspek kehalalan, varian rasa, serta adanya koneksi dan komunikasi dengan
penjual menjadi pertimbangan dalam pembelian produk herbal. Konsumen
memperoleh informasi mengenai produk dari teman, keluarga, media
elektronik, atau brosur
Produk herbal yang tersebar sangat beragam dari merek yang sudah terkenal
dan diingat oleh warga maupun produk yang dibuat secara sederhana
oleh usaha kecil atau usaha mikro obat tradisional. Produk herbal yang dijual
di kalangan warga antara lain yaitu jamu tradisional dalam kemasan
serbuk maupun bentuk minuman, racikan bahan-bahan secara langsung seperti
racikan wedang uwuh dalam kemasan sederhana, madu, obat herbal terstandar,
atau fitofarmaka yang di mana produk ini menyebutkan khasiat sebagai
suplemen yang dapat meningkatkan kesehatan atau menyembuhkan penyakit-
penyakit tertentu.
warga memiliki kecenderungan untuk mengkonsumsi produk herbal
dibandingkan produk sintesis, padahal tidak semua produk herbal yang dapat
dikonsumsi warga sudah mengantongi ijin edar dan BPOM, banyak juga
yang tidak memiliki legalitas produk. Hal ini menjadi perhatian khusus di
mana warga harus lebih jeli dan teliti pada saat membeli produk herbal.
Oleh sebab itu perlu adanya sebuah standar yang dipenuhi oleh pelaku usaha
produk herbal agar manfaat dan khasiat yang disebutkan dalam produk disertai
dengan kepercayaan terhadap kualitas produk yang baik.
8.2 Standardisasi Produk Herbal
Produk herbal atau obat tradisional disebut dengan jamu, dengan sumber
bahan yang dikeringkan tidak melalui proses pengolahan lebih lanjut,
pemakaian nya didasarkan pada pengalaman dan belum memakai bahan
baku yang terstandar, oleh sebab itu jamu kemudian diteliti khasiat,
komposisi, maupun cara pembuatan yang optimal sehingga didapatkan sediaan
berupa obat herbal terstandar yang sudah melewati uji khasiat dan keamanan
melalui uji pra-klinik sedangkan khasiat fitofarmaka sudah dibuktikan melalui
uji klinik dengan bahan baku yang telah terstandar (BPOM, 2019). Logo dari
ketiga jenis obat tradisional negara kita dapat dilihat pada Gambar 1.
Pelaku usaha obat tradisional perlu untuk yaitu dalam hal pemenuhan kualitas
bahan baku atau produk yang sudah jadi, persyaratan ini sesuai dengan
ketentuan dalam Farmakope Herbal negara kita , Materia Medika, atau data
ilmiah yang dapat dipercaya. Bahan baku atau produk jadi yang sudah beredar
di pasaran di antaranya jamu, obat tradisional baik lokal maupun impor yang
berlisesi, obat herbal terstandar, dan fitofarmaka. Bentuk dari produk dapat
berupa serbuk, serbuk instan, bahan yang dirajang, pil, kapsul, atau tablet yang
dipakai sebagai obat dalam, dan obat yang dipakai selain diminum dapat
berupa sediaan cair, padat seperti parem padat, tapel, atau semipadat seperti
krim, gel.
Gambar 8.1: Logo Jamu, OHT, dan Fitofarmaka
Persyaratan keamanan yang wajib dipenuhi dilakukan dengan cara
standardisasi produk herbal meliputi dua parameter, di mana kedua nya secara
garis besar menggambarkan karakteristik bahan herbal secara umum atau biasa
disebut non spesifik maupun secara khusus atau spesifik. Produk herbal seperti
jamu yang memakai bahan baku baik dalam bentuk serbuk atau simplisia
perlu dilakukan standardisasi agar kualitas produk baik, sesuai ketentuan, dan
aman untuk dipakai oleh warga secara luas.
8.2.1 Standardisasi sebagai jaminan mutu produk
Dalam memenuhi mutu kefarmasian, ada sebuah parameter prosedur yang
dapat dilakukan dengan cara pengukuran tertentu atau biasa disebut dengan
Standardisasi. Dalam hal standardisasi produk herbal, pelaku usaha perlu
melakukan beberapa pengujian kimia, biologis, dan farmasi sesuai persyaratan.
Standardisasi yang telah dilakukan sebagai jaminan pembuatan produk melalui
metode ilmiah dan memenuhi parameter tertentu yang harus dipenuhi.
Standardisasi perlu dilakukan untuk mencapai derajat kualitas yang sama baik
dari bahan baku produk dalam bentuk simplisia, ekstrak, maupun produk
ekstrak. Tujuan standardisasi berkaitan dengan keseragaman bahan baku
maupun produk yang dihasilkan oleh pelaku usaha disebab kan faktor biologi
dan kimia yang memengaruhi kualitas bahan baku. Faktor biologi seperti
lingkungan tempat tumbuh, kondisi lingkungan (kandungan tanah, kandungan
air) serta cuaca dan kelembapan menghasilkan karakter bahan tertentu antara
satu daerah dengan daerah yang lainnya dapat dihasilkan karakter maupun
kandungan metabolit sekunder yang sedikit berbeda.
Standardisasi secara farmasetika contohnya yaitu standardisasi pada bahan
kering atau simplisia, proses pembuatan produk herbal dan jika dibuat dalam
bentuk cairan termasuk pelarut produk, standardisasi ekstrak, standardisasi
sediaan jadi, di mana parameter yang dilihat dibagi menjadi parameter umum
dan parameter khusus. Selain itu, dapat dilakukan pengujian pra-klinik baik
sekala laboratorium maupun dengan memakai hewan atau makhluk
hidup, pengujian klinik ke manusia jika akan membuat produk fitofarmaka
Parameter khusus akan menjelaskan mengenai karakteristik bahan yang khas
atau ada hanya dalam bahan itu sedangkan parameter umum melihat
karakteristik kimia seperti berat jenis, kadar air maupun aspek mikrobiologi.
Pemenuhan parameter ini menjadi tolak ukur kualitas bahan, apakah bahan
ini aman untuk dijadikan produk herbal. Standardisasi produk herbal
dimulai dari pemenuhan bahan baku yang standar atau produk dan bisa
dilakukan untuk proses baik proses produksi maupun peralatan yang
dipakai untuk memproduksi produk herbal. Standardisasi produksi meliputi
pemilihan pengolahan bahan awal atau bahan baku, pengemasan produk,
pengawasan mutu selama proses produksi, dan produk jadi sedangkan
standardisasi peralatan mencakup rancang bangun dan konstruksi, pemasangan
alat, prosedur pengujian dan produksi, penempatan alat, jenis peralatan yang
dipakai .
Semua proses standardisasi ini memberi keuntungan tidak hanya bagi
produsen atau pelaku usaha maupun konsumen. Pada pelaku usaha, jaminan
bahwa produk yang dihasilkan telah melewati standardisasi akan
meningkatkan kepercayaan warga sebab produk yang dihasilkan sesuai
standar dan bermutu, sejalan dengan itu warga mendapatkan rasa aman
atau jaminan produk herbal memiliki mutu yang baik. Dalam produksi produk
herbal dan kosmetik herbal, pada kenyataannya masih ada pelaku usaha yang
belum menerapkan standardisasi meskipun produknya sudah banyak
dikonsumsi di warga . Hal ini dapat didukung dengan adanya pemberian
edukasi proses standardisasi yang dilakukan oleh apoteker dengan kompetensi
di bidang kesehatan khususnya produk herbal
8.2.2 Parameter Umum
Parameter umum bisa disebut juga dengan parameter non spesifik, seperti
pengujian berat jenis, kadar air, dan susut pengeringan melihat secara fisik
bahan atau produk, kadar abu dan kadar abu tidak larut asam berkaitan dengan
kandungan kimia produk, pelarut organik yang mungkin ada dalam
produk herbal, jumlah cemaran seperti logam dan mikrobiologi termasuk juga
sisa pesitisida yang didapatkan selama proses penanaman hingga pemanenan.
Penjelasan mengenai parameter ini dapat dilihat pada tabel 8.1.
Tabel 8.1: Parameter Non Spesifik dalam Standardisasi produk herbal
No Paramater
umum Penjelesan
1 Berat Jenis Berat jenis yaitu massa per volume, pada kondisi suhu 25°C
dilakukan pengujian untuk melihat nilai dari BJ sebuah bahan
atau produk. nilai dari bobot jenis yang didapatkan
memberi informasi yang berkaitan dengan kekentalan dari
bahan. Produk yang terlalu kental seperti ekstrak pekat akan
sulit untuk dituang dari wadah.
Proses pengujian dengan piknometer dan air dengan kondisi
suhu 25°C. perhitungan antara bobot bahan (simplisia atau
ekstrak) yang diperoleh kemudian dibagi dengan bobot air
yang dipakai akan menunjukkan nilai BJ dari bahan atau
produk ini
2 Susut
Pengeringan
Senyawa tertentu dapat hilang pada saat bahan dikeringkan,
hilangnya senyawa dapat dilihat dari pengujian ini. Jika bahan
yang diuji tidak ada kandungan minyak atsiri atau
memakai pelarut organik tertentu maka dapat disamakan
dengan pengujian kadar air
Proses pengujian memakai alat botol timbang dangkal
bertutup, proses pemanasan dilakukan pada suhu 105°C
dengan waktu 30 menit. Jika bobot sudah tetap proses
dihentikan dan jika ekstrak sulit kering dapat ditambahkan
silika. Nilai susut pengeringan didapatkan dengan
No Paramater
umum Penjelesan
mengurangi berat sebelum dan sesudah pemanasan dalam
bentuk persen (%).
3 Kadar air Kadar air berkaitan dengan stabilitas dan penyimpanan bahan
dan juga pada kualitas bahan. Mikroorganisme seperti jamur,
bakteri dapat hidup di air dan cemaran akan memengaruhi
kandungan produk. Produk dikatakan memenuhi aspek ini
jika diperoleh nilai kurang dari sama dengan sepuluh persen
(%).
Pengujian dilakukan dengan memakai metode
gravimetri, destilasi, maupun titrasi di mana prosedur uji dari
ketiga metode ini berbeda-beda. Nilai persen kadar air
dapat diperoleh dari pengurangan bobot awal dan akhir pada
metode gravimetri sedangkan pada metode destilasi dihitung
dengan volume air hasil destilasi dibagi berat sampel.
4 Kadar abu dan
kadar abu tidak
larut asam
Senyawa non organik seperti mineral yang ada di dalam
bahan termasuk dalam cemaran pada produk. Prinsip
pengujian dengan pemanasan sehingga senyawa organik
menguap dan senyawa anorganik serta mineral dapat
dihitung. Berbeda dengan kada abu, cemaran logam pada
bahan dapat diketahui dengan melakukan uji kadar abu tidak
larut asam
Pengujian dilakukan dengan memakai krus silikat dan
proses pemijaran hingga arang habis pada suhu hingga 600C.
tahap lanjutan dari perolehan kadar abu yaitu abu tidak larut
asam di mana abu yang diperoleh ditambahkan asam sulfat
encer. Nilai kadar abu dalam persen diperoleh dari hasil bobot
yang tetap dibagi dengan berat bahan yang diuji
6 Kadar Sisa
Pelarut
Ekstrak kental yang diperoleh dari hasil ekstraksi
memakai pelarut organik akan mungkin terjadi sisa
pelarut tertinggal di dalam ekstrak sehingga parameter ini
bertujuan untuk menentukan kadar sisa pelarut di dalam
ekstrak.
Penentuan kadar sisa pelarut dapat dilakukan dengan metode
destilasi atau kromatografi gas-cair. Metode disesuaikan
dengan yang tertera di monografi bahan. Jumlah sisa pelarut
No
Paramater
umum Penjelesan
harus dapat terdeteksi dalam jumlah yang sedikit sebab
berkaitan dengan keamanan, pelarut organik yang terkandung
dalam jumlah yang besar tidak baik dan dapat
membahayakan kesehatan
7 Cemaran
Logam Berat
Jumlah logam dalam ekstrak akan berbahaya bagi kesehatan.
Pengujian dengan metode spektroskopi serapan atom
memakai larutan baku logam yang akan diuji. Nilai
cemaran logam berat timbal ≤ 10 ppm, kadmium ≤ 0,3 ppm,
arsen ≤5 ppm, dan raksa ≤ 0,5 ppm
8 Cemaran
mikrobiologi
atau mikroba
Mikroba patogen dan mikroba non patogen tidak boleh
ada dalam bahan atau ekstrak dengan nilai batas yang
sudah ditentukan. Mikroba akan berbaya bagi kesehatan dan
juga akan mengganggu stabilitas serta khasiat dari bahan.
Aspek cemaran mikroba yaitu angka lempeng total dengan
nilai ≤ 5 x 107 koloni/g yaitu standar yang harus dipenuhi,
bahan juga tidak mengandung bakteri clostridia, salmonella,
shigella di mana batas untuk bakteri escherichia coli ≤ 102
koloni/g
9 Cemaran
kapang, khamir,
dan aflatoksin
total
Prinsip pengujian ini yaitu cemaran jamur, kapang, dan
khamir dilakukan dengan mengambil cuplikan ekstrak
kemudian dilakukan inokulasi dan inkubasi pada media
tertntu. Pada uji aflatoksin dapat dilakukan pemisahan isolat
aflatoksin dengan metode kromatografi lapis tipis. Nilai
angka kapang khamir ≤ 5 x 107 koloni/g, nilai aflatoksin total
≤ 20 μg/kg di mana nilai aflatoksin B1 kurang dari sama
dengan 5 μg/kg
10 Residu atau sisa
pestisida
Tumbuhan yang akan dipakai sebagai bahan baku dapat
mengandung pestisida, baik ekstrak maupun simplisia tidak
boleh ada kandungan pestisida dengan batas tertentu
sebab pestisida akan membahayakan kesehatan
Metode kromatografi, seperti kromatografi lapis tipis (KLT)
atau kromatografi gas dapat dilakukan dalam pengujian
residu pestisida. jika tidak ada unsur nitrogen di dalam
ekstrak dapat dipakai metode kromatografi gas
Standardisasi ektrak kayu sanrego (Lunasia amara Blanco) memakai
pelarut etil asetat, hasil pengujian menunjukkan karakteristik warna coklat tua,
rasa sepat, dan bau khas, senyawa yang larut dalam etanol lebih besar dari
senyawa yang dapat larut dalam pelarut air, dengan kadar air yang
menunjukkan hasil dibawah 10 %, pengujian lain yang dilakukan yaitu kadar
abu, kadar abu tidak larut asam, berat jenis ekstrak, total cemaran bakteri dan
kapang, serta kadar logam timbal yang mana keseluruhan hasil menunjukkan
memenuji syarat uji aspek dalam standardisasi
8.2.3 Parameter Khusus
Aspek dalam parameter ini memberi gambaran pada simplisia atau ekstrak
yang khusus atau khas pada bahan tertentu. Parameter ini mencakup identitas,
organoleptik, senyawa terlarut dalam pelarut air atau pelarut organik,
kandungan kimia ekstrak melihat pola kromatogram dan atau kadar total
golongan kandungan kimia. Parameter ini akan memberi gambaran antara
satu bahan dengan bahan lainnya meskipun bahan ini berasal dari famili
yang sama. Identitas bahan meliputi penjelasan mengenai nama bahan seperti
nama ekstrak, nama ilmiah bahan, bagian dari tumbuhan yang dipakai , serta
nama khas yang ada di negara kita dari bahan ini , selain itu ada pula
informasi mengenai senyawa identitas pada ekstrak. Senyawa identitas yaitu
senyawa kimia dalam tumbuhan yang dapat dipakai dalam analisa senyawa
yang dapat bertujuan untuk kontrol kualitas. Selain senyawa identitas, perlu
ada nya senyawa penciri (marker) sebagai kontrol kualitas lebih lanjut.
Senyawa dengan aktivitas tertentu, senyawa yang menjadi kandungan utama
dalam bahan, senyawa ciri dalam bahan, atau senyawa aktual merupakan
empat kelompok kriteria senyawa penciri. Marker berfungsi sebagai standar
spesifik saat tanaman mengalami komersialisasi atau pemakaian sebagai
bahan baku dalam produk herbal
Pengamatan secara langsung memakai panca indera dapat disebut dengan
pengamatan organoleptik yaitu dilihat dari bentuk, warna, bau, dan rasa yang
dapat mendeskripsikan produk atau bahan baku. Dalam hal bentuk, dapat
dijelaskan sebagai bentuk padat, serbuk kering, kental, atau cair dan ragam
jenis bau dapat ditulis dengan bau khas aromatik atau tidak memiliki bau. Uji
organoleptis juga menjadi tolak ukur kesamaan produk yang dihasilkan dari
suatu tanaman baik dalam bentuk simplisia kering atau ekstrak. Tanaman
mengandung senyawa metabolit sekunder di mana masing-masing senyawa
seperti alkaloid, flavonoid dan golongan senyawa fenol, minyak atsiri,
golongan terpen, antrakinon. Senyawa metabolit sekunder di dalam tanaman
dapat dilihat dengan memakai parameter senyawa terlarut atau kadar sari
larut dalam pelarut tertentu seperti air, etanol, heksana, diklorometan, metanol
dengan memakai metode gravimetri.
Kandungan metabolit sekunder juga dapat diketahui dengan metode pola
kromatogram untuk melihat gambaran mengenai komponen yang ada di
bahan dengan memakai Kromatografi Lapis Tipis (KLT), kromatografi
gas, atau Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT). Selain dengan
memakai metode kromatografi, beberapa metode yang dapat dilakukan
untuk mengetahui kadar total golongan metabolit sekunder yaitu
spektrofotometri, titrimetri, volumetri, gravimetri, atau metode lain yang sesuai
untuk masing-masing senyawa. Validasi terhadap metode pengujian dapat
dilakukan untuk menjamin bahwa metode yang dilakukan sudah betul atau
sesuai, parameter validasi yang dapat dilakukan seperti linearitas, selektivitas,
spesifisitas, dan lainnya.
8.3 Sertifikasi Produk Herbal
Produk herbal yang sudah dilakukan standardisasi akan memberi
kepercayaan pada warga mengenai keamanan serta khasiatnya. Proses
jaminan kualitas dapat dilihat dari berbagai aspek seperti perizinan, sertifikasi
produk oleh lembaga yang bersangkutan seperti lembaga pengawasan obat dan
makanan, Kementerian, atau Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan
Kosmetika (LPPOM) MUI. Lembaga-lembaga ini memiliki peran dalam
justifikasi produk dari segi keamanan maupun kehalalan produk.
Konsumen produk herbal baik lokal maupun impor sangatlah besar, perilaku
konsumen terhadap keputusan pembelian obat herbal dapat ditentukan oleh
beberapa faktor seperti keputusan pembelian, budaya, persepsi, dan
kepercayaan. Konsumen mengaku pernah memakai produk herbal
meskipun tidak begitu banyak mengenal merek produk herbal, dengan
mengkonsumsi obat herbal dianggap dapat memperoleh kesembuhan dan akan
mungkin menyarankan produk ini kepada orang lain. Selain itu, persepsi
mengenai obat herbal lebih aman, terjamin, dan dapat berkhasiat dengan
kandungan dalam produk yang bagus membuat warga semakin tertarik
dan mengkonsumsi obat herbal
Pelaku usaha perlu memahami pentingnya aturan perizinan termasuk
pemenuhan terhadap sertifikasi cara pembuatan obat tradisional yang baik.
Pada dasarnya, proses perizinan dapat dilakukan setelah pelaku usaha
mendapatkan nomer izin berdagang (NIB) dengan mendaftarkan usahanya
melalui sistem daring yang saat ini memudahkan warga untuk lebih taat
dalam hal peraturan yang berlaku demi terjaminnya kualitas sebuah produk
8.3.1 Sertifikat CPOTB
Cara Pembuatan Obat Tradisional yang baik (CPOTB) yaitu pedoman yang
menjelaskan mengenai aspek kegiatan pembuatan obat tradisional, CPOTB
dipakai oleh industri obat tradisional, selain itu pedoman ini dipakai
untuk indutri yang memproduksi ekstrak, juga termasuk Usaha Mikro Kecil
(UMK) yang berfokus pada produk herbal. Kegiatan yang dimaksud dalam
pembuatan obat tradisional yaitu cara memperoleh bahan, proses pengolahan
sampai didapatkan produk jadi, pengemasan, proses pemberian label maupun
label ulang, pengawasan mutu, produk yang lolos dalam standar tertentu
sehingga dapat dipasarkan, tahap penyimpanan produk yang sudah jadi, dan
proses penyebaran produk di warga yakni sistem distribusi produk herbal.
Aspek yang dinilai dalam CPOTB mirip dengan CPOB atau pedoman
pembuatan obat seperti sistem mutu, personal yang terlibat, bangunan dan
fasilitas, peralatan, produksi, penyimpanan & pengiriman OT, kontrol kualitas,
dan lain lain. Sistem mutu berfungsi dalam pengaturan prosedur, penjaminan
kualitas produk yang dihasilkan maupun jika akan dikembangkan lebih lanjut.
Pelaksanaan CPOTB dan pengendalian secara menyeluruh dari proses
pembuatan produk herbal sangat penting. Hal ini dilakukan agar produk
memiliki kualitas yang baik serta telah sesuai dengan syarat tertentu untuk
diedarkan. Penerapan CPOTB dibuktikan dengan diperolehnya sertifikat
CPOTB yang menajadi bukti bahwa pelaku usaha memenuhi segala aspek di
dalam pedoman sehingga dihasilkan jaminan kepada warga bahwa semua
produk dalam keadaan baik dari segitu kualitas, khasiat, termasuk proses
produksi.
Pemenuhan aspek CPOTB hingga diperoleh sertifikat CPOTB sangat penting
bagi pelaku usaha di bidang produk herbal. Mudahnya perizinan dan produksi
serta bahan baku memicu maraknya usaha mikro dan usaha kecil produk
herbal di negara kita , hal ini menjadi perhatian terkait dengan kesiapan dan
kesanggupan UMOT dan UKOT dalam pemenuhan CPOTB. Oleh sebab itu
ada cara perolehan sertifikat pemenuhan aspek CPOTB secara bertahap.
Pelaku usaha kecil maupun mikro dalam bidang obat tradisional dapat
mendaftarkan usahanya untuk dapat mengajukan proses perijinan ini
melalui website e-sertifikasi pom kemudian balai besar POM akan melakukan
verifikasi dokumen serta penerapan aspek CPOTB seperti sanitasi higiene,
penyimpanan, pengawasan dan sistem manajemen mutu, dokumentasi, dan
aspek mengenai personalia dan bangunan fasilitas dengan melakukan audit
secara langsung dan hasil inspeksi akan diterbitkan.
Hasil inspeksi dapat berupa perbaikan yang perlu dipenuhi oleh pelaku usaha
dalam hal ini apoteker atau pelaku usaha perlu melakukan tindakan
pencegahan dan tindakan korektif (corrective action and preventive action,
CAPA). BBPOM atau BPOM akan menyetujui laporan inspeksi yang
diberikan pelaku usaha setelah proses penyelesaian CAPA dilakukan.
Sertifikat CPOTB tahap I/II/III akan diterbitkan setelah evaluasi rekomendasi
pemenuhan CPOTB dan berkas sudah dinyatakan lengkap.
8.3.2 Sertifikasi Halal Produk Herbal
Di negara kita , keragaman penduduk dalam beragama sangat terlihat jelas di
mana mayoritas warga beragama islam. Dalam agama islam ada
kewajiban untuk membuat serta mengkonsumsi bahan-bahan dalam bentuk
makanan yang halal, hal ini ada dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat
168. Halal merupakan aspek yang sesuai atau dapat dikatakan sesuai syari’at,
produk halal menjadi perhatian sebab akan pasti aman untuk dikonsumsi
warga . Kehalalan suatu produk menjadi suatu komponen yang penting
dalam produk herbal sebab akan meningkatkan nilai jual dari produk ini .
Produk herbal secara keseluruhan dibuat dengan memakai bahan yang
tidak haram namun tidak ada bukti bahwa produk ini tidak memiliki
komponen atau unsur haram yang terlibat di dalamnya. Pemahaman mengenai
regulasi tentang jaminan produk halal, yaitu kepastian hukum bahwa produk
ini yaitu halal di mana bukti bahwa produk halal yaitu sertifikat halal
oleh LPPOM
Pengelolaan sertifikasi halal dilakukan oleh pemerintah melalui badan
penyelenggara jaminan produk halal (BPJPH) dibawah kementerian agama.
LPPOM MUI yaitu salah satu lembaga dengan tugas memeriksa produk
halal melalui audit lapangan oleh auditor halal. Kajian dari pemeriksaan akan
dikoordinasikan BPJPH dengan MUI melalui sidang fatwa halal, keputusan
ini akan menjadi landasan BPJPH untuk menerbitkan sertifikat halal bagi
perusahaan atau pelaku usaha yang mendaftarkan produknya. Aspek kehalalan
tidak hanya berfokus pada produk namun seluruh aspek yang terlibat seperti
industri obat herbal (IOT) di mana yang dapat dikatakan menjalankan aspek
kehalalan yaitu industri yang pada proses produksi hingga supply chain
produk memerhatikan ketentuan jaminan produk herbal sesuai syariat Islam
Pengelompokan jenis produk jamu dan obat tradisional (herbal) yaitu jamu
seduh, jamu yang dibuat dengan menggodog bahan tumbuhan, jamu yang
dibuat menjadi obat, jamu untuk dipakai di luar tubuh, produk herbal, jamu
dalam bentuk minuman, maupun sediaan obat yang telah mengalami uji klinis
yaitu fitofarmaka. Produk produk ini kemudian akan dilakukan evaluasi dari
segi kehalalan produk baik dalam hal dengan titik kritis tertentu di mana
mungkin ada komponen yang melibatkan unsur yang bersifat haram di
dalamnya. Produk herbal yang telah mengantongi sertifikat CPOTB dan
sertifikat halal dapat menjadi kelebihan di mana konsumen dalam hal ini
warga muslim akan cenderung memilih produk ini .
Pangsa pasar produk herbal akan semakin meningkat seiring dengan
perubahan pola pikir dan pola konsumsi warga yang semakin memilih
produk alami yang halal dan memiliki efek samping yang tidak sama dengan
produk sintesis. Meskipun begitu, produk herbal tidak boleh secara langsung
mengatakan bahwa produknya dapat dipakai sebagai pengganti obat
sintesis, di mana produk herbal dapat dipakai sebagai suplemen yaitu
pendamping dari pengobatan yang berfungsi sebagai peningkat imunitas
Toksikologi Tumbuhan Obat
Tumbuhan menyediakan oksigen yang dibutuhkan untuk pemeliharaan
kehidupan manusia. Mereka penting bagi kehidupan manusia dalam hal
makanan dan kesehatan. Ribuan tahun yang lalu, manusia telah
mengeksplorasi kekuatan terapeutik dari tanaman dan lebih memilih untuk
mendapatkan manfaat dari tanaman ini untuk hidup sehat. Penelitian
yang dilakukan di seluruh dunia selama beberapa tahun terakhir menyatakan
bahwa hampir 72.000 (setara dengan sekitar 17%) dari 422.000 tanaman
berbunga yang tersebar di seluruh dunia memiliki nilai terapeutik. Sedangkan
data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), mengatakan jumlah tanaman yang
dipakai untuk tujuan terapeutik yaitu sekitar 20.000. Sejak awal
pemanfaatan tumbuhan untuk kesehatan manusia, karakteristik bioaktivitas
tumbuhan telah dipelajari di laboratorium (Özaslan and Oguzkan,
















