Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 18. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 18. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 18

 





fleks defekasi di poros usus (rektum). 

3. Zat-zat pembesar volume: zat-zat lendir 

(agar-agar, metilselulosa, CMC) dan zat-zat na-

bati Psyllium, gom Sterculia dan katul.

Semua senyawa polysakarida ini sukar 

dipecah dalam usus dan tidak diserap 

(dicernakan), a.l. serat-serat alamiah: selulosa, 

hemiselulosa, pektin, lignin, gom-gom dan zat-

zat lendir. Zat-zat ini berdaya menahan air 

sambil mengembang. Di samping itu pada 

perombakan oleh kuman-kuman usus terben-

tuklah asam-asam organik dan gas-gas (CO2, 

O2, H2, CH4), sedang  massa bakteri juga 

meningkat; semua ini turut memperbesar 

volume chymus. Dengan demikian khasiat 

mencaharnya berdasar  rangsangan mekanis 

dan kimiawi terhadap dinding usus ditambah 

dengan pelunakan tinja. Selama pemakaian  

zat-zat ini penting sekali untuk minum ba-

nyak air, sampai 3 liter sehari.

Sayur-mayur dan buah-buahan juga 

mengandung banyak serat nabati yang terdiri 

dari polisakarida itu  di atas. Kombinasi 

dari zat-zat pembesar volume ini dengan 

laksansia kimia lainnya (mis. senyawa 

antrakinon) tidak dianjurkan, sebab  

kegiatannya akan dihambat. 

4. Zat-zat pelicin dan emollientia: natrium-

docusat, natriumlauril-sulfo-asetat dan parafin 

cair. Kedua zat pertama memiliki aktivitas 

permukaan (detergensia) dan mempermudah 

defekasi, sebab  melunakkan tinja dengan 

meningkatkan penetrasi air ke dalamnya. 

Parafin melicinkan penerusan tinja dan be-

kerja sebagai bahan pelumas. 


Efek samping umum

Laksansia kontak, zat-zat pembesar volume dan 

laktulosa/laktitol dapat memicu  perasaan 

kembung dan banyak angin (flatulensi).Ge-

jala ini dapat dikurangi dengan pentakar-

an awal rendah yang berangsur-angsur 

dinaikkan. Laksansia kontak bila dipakai  

kronis melumpuhkan motilitas usus. Bila zat-

zat pembesar volume diminum dengan terlalu 

sedikit air, obstipasi justru bisa memburuk 

atau bahkan terjadi obstruksi usus! Minyak 

kastor dan fenolftalein memicu  sejumlah 

efek samping buruk, maka kini jarang di-

gunakan lagi.

Kehamilan dan laktasi. Semua laksansia 

boleh dipakai  oleh wanita hamil, kecu-

ali minyak kastor, yang bisa memicu his. Se-

baiknya berhati-hati dengan bisakodil, kare-

na dapat memicu  kejang-kejang. Laktu-

losa dianggap sebagai laksans paling aman 

selama kehamilan. Senyawa antrakinon, mag-

nesiumsulfat dan fenolftalein masuk ke dalam 

air susu ibu, sehingga tidak boleh diberikan 

selama menyusui.

MONOGRAFI

1. LAKSANSIA KONTAK

1a. Tumbuhan yang mengandung glikosida 

antrakinon

Laksansia ini juga dinamakan pencahar 

emodin dan baru menjadi aktif sesudah  gliko-

sida dihidrolisis dalam usus menjadi bentuk 

aglukonnya. Efeknya tampak sesudah  6 jam 

atau lebih, sebab  hidrolisis berlangsung 

lambat. Mekanisme kerjanya berdasar  

stimulasi peristaltik usus besar.

Efek samping. Pada pemakaian  Senna dan 

Rhei Radix, ginjal akan mengeluarkan asam 

krisofan yang memberikan warna kuning-

cokelat kepada air seni yang bereaksi asam 

atau merah-ungu bila alkalis.

Kehamilan dan laktasi. pemakaian nya ti-

dak dianjurkan selama laktasi, sebab  da-

pat mencapai air susu ibu. Untuk uraian 

mengenai Rhamni Cortex (Cascara sagrada = 

Lat. kulit pohon yang kudus) yang kini tidak 

dipakai  lagi, lihat Edisi IV.

1b. Sennae Foliolum

Daun-daun dari pohon Cassia angustifolia 

ini mengandung sebagai zat aktif terpenting 

a.l. dua senyawa glikosida isomer: sennosida 

A dan B. Zat-zat ini memiliki daya laksatif 

terkuat dari semua zat antrakinon alamiah 

lainnya. Kacangnya (Sennae folliculum) juga 

dapat dipakai  sebagai obat pencahar yang 

jarang memicu  efek samping kejang-

kejang.

Sediaan yang dahulu dibuat dari tumbuhan 

ini yaitu  Infusum Sennae Compositum (‘Senna 

tea’), yang pembuat annya harus menurut 

suatu prosedur tertentu untuk menghindari 

anthranol bebas yang dapat memicu  

kejang-kejang dan sakit perut. Kini jarang 

dipakai  lagi 

1c. Rhei Radix

Akar tinggal dari tumbuhan Rhei palmatum 

(kelembak) yang berasal dari Cina merupakan 

suatu obat pencahar yang dahulu dipakai  

sebagai serbuk maupun sebagai ekstrak dan 

sirop. Dewasa ini akar Rhei jarang dipakai  

lagi dalam ilmu kedokteran resmi.

1d. Bisakodil: Dulcolax

Derivat difenilmetan ini yaitu  laksans 

kontak populer yang bekerja langsung ter- 

hadap dinding usus besar (colon) de ngan 

memperkuat peristaltiknya. Tinja pun menja-

di lunak. Di samping pemakaian nya sebagai 

pencahar umum, juga sering dipakai  

untuk mengosongkan usus besar sebelum 

pembedahan atau pemeriksaan dengan sinar 

Röntgen.

Resorpsi. Dalam usus halus bisakodil 

diresorpsi sampai 50% dan sesudah  desasetilasi 

dalam hati sebagian dikeluarkan dengan 

empedu dan mengalami siklus enterohepatik. 

Metabolitnya juga aktif. Sisanya diekskresi 

melalui ginjal. Bagian yang tidak diserap 

berkhasiat terhadap dinding usus. Defekasi 

terjadi sesudah  ± 7 jam, pada pemakaian  

rektal sesudah  ± 30 menit. sebab  resorpsi 

tidak diperlukan bagi khasiat mencaharnya 

dan supaya jangan membebankan hati, tablet 

diberikan sebagai tablet e.c. tahan-asam yang 

baru pecah di bagian bawah usus halus. 

Dengan demikian resorpsi dibatasi sampai 


sedikit mungkin, lagi pula iritasi terhadap 

dinding lambung dihindari.

Efek samping jarang terjadi dan berupa 

kejang-kejang perut; secara rektal obat ini 

dapat merangsang selaput lendir rektum. 

Tidak boleh dipakai  bersamaan dengan 

susu atau zat-zat yang bereaksi alkalis 

(antasida) sebab  bisa merusak lapisan 

enteric-coating dari tablet. 

Kehamilan. Obat ini dapat dipakai  

selama kehamilan, walaupun harus berhati-

hati sebab  dapat memicu  kejang perut.

Dosis: sebelum tidur 1-2 tablet-salut dari 

5 mg; suppositoria 10 mg (asetat) pada pagi 

hari. Sebagai klisma: larutan 10 mg/5 ml 

dalam polietilenglikol.

* Natriumpikosulfat (Laxoberon) yaitu  

derivat sulfat sintetik dengan khasiat dan 

sifat yang sama. Zat ini baru aktif sesudah  

dihidrolisis oleh enzim hidrolase (dari bak-

teri) di dalam colon dan coecum menjadi 

metabolit-metabolitnya. Daya kerjanya lam-

bat, sesudah 10-12 jam dan sering kali di- 

gunakan sebagai laksans sebelum pembe-

dahan. 

Resorpsinya di usus ringan sekali dan 

dikeluarkan sebagai glukuronidanya melalui 

kemih dan feses. Secara rektal tidak efektif. 

Dosis: malam hari sebelum tidur 5-10 mg, 

anak-anak dari 4-6 tahun 2,5-5 mg.

1e. Fenolftalein: *Agarol , *Laxadine

Serbuk yang berwarna putih ini yaitu  

derivat difenilmetan yang kerja laksatifnya 

berdasar  terutama atas rangsangannya 

terhadap usus besar. Zat ini sukar larut dalam 

air, tidak ada rasanya dan tidak berbau. 

Jarang dipakai  lagi sebagai laksans umum 

(bersama agar-agar). Dalam analisis kimia, 

fenolftalein dipakai  sebagai indikator pa-

da titrasi asam-basa. 

Resorpsinya. Di dalam usus kecil, zat ini 

dilarutkan oleh kegiatan garam-garam dan 

empedu. Mulai kerjanya 4-8 jam sesudah  

pemberian. Sebagian zat diserap dan ma-

suk ke dalam sirkulasi untuk kemudian 

diekskresi dalam empedu. Disebabkan siklus 

enterohepatik kerjanya bisa bertahan sampai 

2-3 hari.

Efek sampingnya serius dan berupa kolik, 

kolaps, lupus erythematodes dan reaksi kepe-

kaan pada kulit, juga pigmentasi yang dapat 

bertahan selama beberapa waktu sesudah  

pengobatan dihentikan. Zat ini bersifat 

karsinogen pada tikus dan di banyak negara 

telah dibatalkan registrasinya (1997).

Dosis: 50-200 mg (maks. 300 mg), diberikan 

pada malam hari sebelum tidur.

*Laxadine = fenolftalein 55 + gliserin 378 mg 

dalam paraff liq 1200 ml

1f. Oleum ricini: minyak kastor, minyak jarak.

Minyak kastor diperas dari biji pohon 

jarak (Ricinus communis) dan mengandung 

trigliserida dari asam risinoleat, suatu asam 

lemak tak-jenuh. Di dalam usus halus se-

bagian zat ini diuraikan oleh enzim lipase dan 

menghasilkan asam risinoleat yang memiliki 

efek stimulasi terhadap usus halus. sesudah  

2-8 jam timbul defekasi yang cair.

Efek sampingnya berupa kolik, mual dan 

muntah. Oleum ricini tidak boleh dipakai  

oleh wanita hamil.

Dosis: dewasa 15-30 ml; anak-anak 4-15 ml.

2. LAKSANSIA OSMOTIK

2a. Magnesiumsulfat: garam Inggris, garam 

Epsom

Mekanisme kerjanya di dalam usus ber-

dasarkan penarikan air (osmosis) dari bahan 

makanan sebab  tigaperempat dari dosis oral 

tidak diserap. Akibatnya yaitu  pembesaran 

volume usus dan meningkatnya peristaltik 

di usus halus dan usus besar, di samping 

melunakkan tinja.

Resorpsi. Antara 15-30% dari dosis diserap 

oleh usus yang dapat meng akibatkan ka-

dar magnesium darah terlampau tinggi, 

khususnya bila fungsi ginjal kurang baik 

(lansia). Oleh sebab  itu garam Inggris 

hendaknya jangan dipakai  untuk waktu 

lama. Mulai kerjanya sesudah  1-3 jam. Boleh 

dipakai  selama kehamilan; obat ini masuk 

ke dalam air susu ibu.

Dosis: 15-30 g sekaligus di dalam segelas 

air hangat dan diminum pada perut kosong. 

Daya kerjanya cepat (2-4 jam) dan efektif.

Catatan: magnesiumoksida (MgO) pada 

dosis 2-5 g juga bekerja sebagai pencahar.


* Laxasium = suspensi Mg(OH)2 400 mg / 

5ml

* Magnesiumsitrat dahulu dipakai  seba-

gai sediaan Magnesii citras effervescens dan 

Mixtura Magnesii Citratis (Limonade purgative) 

yang terdiri dari campuran magnesium kar-

bonat dan asam sitrat. Efek samping: gangguan 

fungsi ginjal serius.

2b. Natriumsulfat: garam Glauber

Dosis: 15 g dalam 150-500 ml air. Dosis lebih 

besar dapat memicu  muntah- muntah.

2c. Laktulosa: Duphalac

Derivat sintetik dari laktosa ini yaitu  

suatu disakarida yang terdiri dari 1 molekul 

fruktosa dan 1 molekul galaktosa. Di da-

lam usus halus laktulosa tidak diresorpsi 

sebab  tidak ada  enzim yang tepat 

untuk menghidrolisisnya. Baru di dalam 

usus besar, zat ini diuraikan de ngan cepat 

oleh bakteri-bakteri tertentu (Lactobacillus) 

dan menghasilkan asam laktat dan asam ase-

tat. Asam-asam organik ini menahan air 

berdasar  proses osmosis dengan efek 

stimulasi peristaltik, sehingga tinja menjadi 

lunak dan defekasi distimulasi. Efeknya baru 

tampak sesudah  24-48 jam.

pemakaian nya selain sebagai laksans 

juga pada coma hepaticum yang sewaktu-

waktu terjadi pada penderita cirrhosis hati, 

di mana amoniak dari usus masuk ke dalam 

peredaran darah dan otak. Klisma de ngan 

laktulosa ternyata sama efektifnya de ngan 

neomisin, berdasar  peng ikatan gas 

NH3 dalam usus. Dalam keadaan normal, 

pengubahan amoniak menjadi ureum di 

dalam hati dapat terhambat bila fungsi hati 

terganggu.

Efek sampingnya berupa perut kembung 

dan banyak gas, terutama selama hari-hari 

pertama. Pada overdosis terjadi nyeri perut 

dan diare. 

Dosis: permulaan 30 ml larutan 50% (pagi 

hari), dosis pemeliharaan 15 ml. Pada coma 

hepaticum: 3 dd 30 ml. Pada salmonellosis: 

3 dd 15 ml minimal 14 hari, sampai hasil 

pembiakan tinja tiga kali berturut-turut ne-

gatif.

* Laktitol (Importal) yaitu  derivat sintetik 

dari laktosa (1989) dengan daya kerja dan 

pemakaian  sama dengan laktulosa. Di sam- 

ping itu, zat ini dipakai  sebagai zat pemanis, 

daya manisnya 40% dari sakarosa. 

Dosis: 1 dd 20 g d.c. pagi atau malam hari.

2d. Gliserol

Gliserol dipakai  sebagai sediaan rektal 

untuk segera mengosongkan usus besar. 

Secara rektal zat ini praktis tidak diserap 

sedang  daya kerjanya sudah tampak 

sesudah  15-30 menit. Kadar yang tinggi dalam 

suppositoria dapat memicu  iritasi lokal.

Dosis: dewasa dan anak-anak usia 6 tahun 

ke atas 3 g dalam suppositoria (70% dalam 

gelatin) atau klisma (4-5 g untuk dewasa, 

anak-anak 2-3 g). 

2e. Sorbitol: *Microlax, *Klyx

Alkohol-gula ini (C6H14O6) dipakai  se-

bagai laksan secara oral maupun dalam 

klisma. Resorpsinya dari usus lambat dan 

tidak menentu. Dalam hati sorbitol lambat 

laun diubah menjadi fruktosa dan untuk 

sebagian kecil langsung menjadi glukosa. 

Daya manisnya 50% dari sakarosa; pasien 

diabetes boleh memakai  sorbitol sebagai 

zat pemanis, maksimal 50 g sehari .

Efek samping pada dosis besar berupa diare 

dan flatulensi. Hati-hati pada penderita gang-

guan fungsi ginjal. Kontra-indikasi pada 

gangguan fungsi hati dan encok. 

Dosis: 30-50 g; dalam klisma 120 ml dari 

larutan 250-300 mg/ml.

3. ZAT-ZAT YANG MENGEMbANG

3a. Agar-agar: *Agarol

Agar-agar yaitu  zat lendir yang dike-

ringkan dari tumbuhan genus Gelidium (Asia 

Timur) dan terutama terdiri dari hemiselulosa 

yang tidak dapat dicerna. Zat ini jarang 

dipakai  tunggal, umumnya dalam sediaan 

kombinasi. Dalam industri juga dipakai  

sebagai stabilisator emulsi. Mulai kerjanya 

dalam waktu 24 jam.

Dosis: 1-2 dd 4-16 g dengan air namun  

kebanyakan dalam sediaan kombinasi.


3b. Metilselulosa: Tylose, Methocel

Metilselulosa yaitu  metileter dari selulosa 

yang ada  dengan berbagai derajat 

viskositas. Zat ini banyak dipakai  sebagai 

zat ‘pengental’ dalam industri pangan dan 

dalam sediaan farmasi, a.l. dalam tetes mata 

dan liur buatan pada kekurangan air mata 

dan liur, juga sebagai cairan untuk lensa 

kontak keras. Begitu pula sebagai zat pelekat 

untuk kertas dinding.

Efek sampingnya berupa kembung (flatulensi) 

dan bila dipakai  tanpa cukup air dapat 

memicu  obstruksi esofagus. 

Dosis: 4 dd 1-1,5 g dalam segelas air.

* Carmellose (karboksimetilselulosa, C.M.C.) 

yaitu  derivat karboksi yang viskositasnya 

tergantung dari tipenya. Di dalam tubuh 

carmellose sama sekali tidak bereaksi (in-

differen). Efeknya tampak dalam waktu 24 

jam. Kadangkala zat ini diguna kan pada 

penanganan obesitas untuk menghilangkan 

perasaan lapar namun  efektivitasnya diragu-

kan. 

Dosis: 4 dd 1-1,5 g (garam-Na) dalam se-

gelas air.

3c. Plantago: Psyllium, *Metamucil

Benih-benih ini diperoleh dari ber bagai jenis 

tumbuhan Plantago ovata yang mengandung 

hemiselulosa dan zat lendir (mucilago) dalam 

jumlah besar dan dapat membentuk suatu gel 

bila bersentuhan dengan air. Kulit benih juga 

dipakai  sebagai laksan. Bulk-nya tidak 

dicernakan namun  diekskresi dalam keadaan 

utuh. Obat ini terutama berguna untuk 

sembelit dengan tinja yang kering dan keras. 

Selain itu plantago dipakai  pada diare cair 

kronis untuk memadatkan tinja. Efek samping: 

reaksi alergi (rhinitis). 

Dosis: 1-3 dd 4-10 g dalam air.

3d. Gom Sterculia: gom karaya, Normacol

Gom ini diperoleh dari a.l. tumbuhan 

Sterculia urens dan terdiri dari suatu kompleks 

polisakarida yang mulai kerjanya dalam 

waktu 24 jam. 

Dosis: 2 dd 5-10 g granulat (600 mg/g) p.c.

3e. Serat-serat nabati

Secara kimiawi serat-serat nabati meru- 

pakan kompleks polimer dari hidratarang 

dan terdiri atas selulosa, lignin dan/atau 

pektin. Dalam tumbuh an, serat-serat khusus 

ada  sebagai dinding sel dari bebera-

pa jenis gandum, sayur-mayur dan buncis 

(beans), juga dalam buah-buahan (terutama 

sebagai pektin). Polisakarida itu  tidak 

dapat dicerna, sehingga tidak dapat diserap 

oleh usus. Hemiselulosa untuk sebagian di-

fermentasi oleh kuman-kuman usus besar 

dengan menghasilkan asam-asam organik 

dan gas..

Khasiat mencaharnya berdasar  struk-

turnya yang terdiri atas rantai-rantai selulosa 

dan berupa bunga karang berlubang-lubang 

lembut (porous), yang berdaya menyerap 

dan mengikat molekul air dengan efek me-

ngembang. sebab nya, isi usus diperbesar 

dan peristaltik distimulasi, sehingga defe-

kasi lancar. berdasar  sifatnya yang da- 

pat mengikat air dan zat-zat lainnya, selain 

sebagai laksan, serat-serat nabati juga digu-

nakan untuk beberapa gangguan, yaitu:

– untuk menurunkan kadar kolesterol yang 

meningkat, dianjurkan diet dengan ±200 

g sayuran + 2-3 butir buah-buaha n sehari. 

Menurut penelitian, diet itu  dapat 

menurunkan kolesterol sekitar 10%. Lihat 

Bab 36, Antilipemika. Pengobatan hiperli-

pidemia.

– sebagai pencegah kanker usus besar berda-

sarkan kemampuan serat-serat untuk 

mengikat metabolit-metabolit karsinogen 

tertentu dari garam empedu dan koles-

terol. Zat-zat ini dibentuk oleh kuman-

kuman anaerob dari flora usus. Lihat Bab 

14, Sitostatika, Makanan dan Kanker.

– sebagai zat pembantu pada kur meng uruskan 

tubuh. Makanan yang kaya akan serat 

mengandung kalori rendah dan harus 

dikunyah lebih lama. Juga berdaya mem-

perbesar volume isi lambung, sehingga 

lebih cepat memicu  perasaan ke-

nyang dibandingkan zat-zat gizi yang 

berkalori tinggi; dengan kata lain, serat-

serat memiliki nilai saturasi tinggi.

* Katul yaitu  selaput luar dari butir-butir 

beras (gandum) yang tertinggal pada proses 

penggilingan. Di samping banyak vitamin 

dan mineral, katul juga mengandung banyak 

serat de ngan polisakarida itu  di atas. 


Efek sampingnya berupa perasaan lambung 

penuh dan flatulensi. Efeknya tampak dalam 

24 jam. Perlu minum minimal 1,5 liter air 

sehari. 

Dosis: 20-30 g sehari dalam 2-3 kali di-

campur dengan makanan.

4. ZAT PELICIN DAN EMOLLIENTIA

4a. Parafinum cair: Paraffinum liquidum (spi-

ssum), *Agarol

Parafinum terdiri atas campuran senyawa 

hidrokarbon cair jenuh yang diperoleh dari 

minyak bumi. Zat ini tidak dicerna dalam 

saluran lambung-usus dan hanya bekerja 

sebagai zat pelicin bagi isi usus dan tinja. 

Gunanya untuk melunakkan tinja, teruta-

ma sesudah  pembedahan rektal atau pada 

penyakit wasir. pemakaian nya dapat me-

nimbulkan iritasi sekitar dubur. Zat ini di-

gunakan sebagai emulsi yang kadang-kadang 

dikombinasi dengan fenolftaleine.

Keburukannya yaitu  sifatnya yang me-

ngurangi penyerapan oleh tubuh dari zat-zat 

gizi, a.l. vitamin yang larut dalam lemak (A, 

D, E dan K). Bila diinhalasi (tersedak), zat ini 

dapat memicu  sejenis radang paru-

paru berbahaya (pneumonia lipoid). Penggu-

naannya selama kehamilan tidak dianjurkan. 

Oleh sebab  masalah ini parafin cair praktis 

tidak dipakai  lagi.

Dosis: 15-30 ml, diberikan pada malam hari 

sebelum tidur.

4b. Natrium dokusinat: dioctyl-Na-sulfosu-

ccinate, *Klyx

Asam sulfonat yang berantai panjang (C21) 

ini, memiliki aktivitas permukaan (detergens), 

sehingga mempermudah pemasukan air ke 

dalam chymus dan melunakkan tinja. Efek-

nya dimulai 1-3 hari sesudah  pemakaian  

peroral, secara rektal sangat cepat, sesudah 

5-12 menit. 

Efek samping jarang dan ringan, a.l. gang-

guan lambung-usus, ruam kulit dan iritasi 

tenggorok. 

Dosis: oral malam hari 50 -360 mg, rektal 

100 mg dalam suppositoria.

* Natriumlaurylsulfoasetat (*Microlax) ada-

lah derivat dengan sifat yang sama dan peng-

gunaannya sebagai klisma (45 mg) bersama 

PEG-400 625 mg/5 ml.


OBAT SUSUNAN 

SARAF PUSAT


biasanya   sistem saraf yang meng-

koordinasi sistem-sistem lainnya di dalam 

tubuh dibagi dalam dua kelompok, yakni:

a. Susunan Saraf  Pusat (SSP), yang terdiri 

dari otak dan sumsum tulang belakang dan

b. Susunan Saraf  Perifer yang dapat dibagi 

lagi dalam  dua bagian, yakni:

saraf-saraf motoris atau saraf eferen yang 

menghantarkan impuls (isyarat) listrik 

dari SSP ke jaringan perifer melalui neu-

ron eferen (motorik);

saraf-saraf sensoris atau sarat aferen yang 

menghantarkan impuls dari periferi ke 

SSP melalui neuron aferen (sensory).

Saraf eferen dapat dibagi pula dalam 2 sub-

sistem utama:

c. Sistem Saraf Otonom, yang mengendalikan 

organ-organ dalam secara tidak sadar. Me-

nurut fungsinya  SSO ini dibagi dalam dua 

cabang, yakni  Sistem  (Orto) Simpatis dan 

Sistem Parasimpatis ( SO dan SP)

d. Sistem Saraf Motoris, yang mengendalikan 

fungsi-fungsi tubuh secara sadar.

Impuls eksogen diterima oleh sel-sel pene-

rima (reseptor) untuk kemudi an diteruskan 

ke otak atau sumsum belakang. Rangsangan 

dapat berupa perangsang (stimuli) nyeri, 

suhu, perasaan, pengli hatan, pendengaran, 

dan lain-lain. Yang khusus akan dibahas 

dalam seksi ini yaitu  impuls saraf yang ber-

hubungan dengan pusat nyeri (di otak), pusat 

tidur (di hipothalamus) dan kapasitas mental, 

yang menjadi fungsi kulit otak (corte x).

Kesadaran akan perasaan sakit terbentuk dari 

dua proses, yakni penerimaan perang sang 

nyeri di otak besar dan reaksi emosiona l da-

ri individu terhadapnya. Analgetika meme-

ngaruhi proses pertama melalui peningkatan 

ambang  kesadaran akan  perasaa n sakit, se-

dang kan narkotika menekan reaksi psikis 

yang diakibatkan oleh perangsang nyeri 

itu .

Di pihak lain, fungsi SSP dapat ditekan se-

luruhnya secara tidak spesifik oleh zat-zat 

pereda pusat seperti hipnotika dan seda-

tiva. Sebagai akibatnya kesadaran untuk 

impuls eksogen diturunkan serta aktivitas 

fisik dan mental dikurangi. Obat-obat ini 

tidak memengaruhi tingkah laku (behaviour) 

secara spesifik, sebagaimana halnya dengan 

tranquilizers,  yang di samping itu juga ber-

khasiat depresif terhadap SSP. Antagonis faali 

dari obat-obat itu  yaitu  zat-zat yang 

berkhasiat menstimulasi seluruh SSP, yaitu 

analeptika (wekamin) dan antidepresiva. 

Kedua jenis obat ini memengaruhi semanga t 

dan suasana jiwa berdasar  kegiatan 

langsung terhadap otak.

Untuk praktisnya, obat yang bekerja terhadap 

SSP  dapat dibagi dalam beberapa golongan 

besar, yang diuraikan di bab-bab tersen diri, 

yakni:

1. psikofarmaka (psikotropika), yang me-

liputi:

a. psikoleptika: jenis obat yang  pada 

umumnya menekan dan/atau meng-

hambat fungsi-fungsi tertentu dari 

SSP, yakni hipnotika, sedativa dan 

tranquilizers (Bab 24), dan antipsi-

kotika (Bab 29).

b. psiko-analeptika: jenis obat yang men-

stimulisasi seluruh SSP, yakni anti-

depresiva dan psikostimulansia (we-

ka min) (Bab 30).

2. jenis obat untuk gangguan neurologi s, 

seperti antiepileptika (Bab 27), MS (mul-

tiple sclerosis), penyakit Parkins on  dan 

demensia (Bab 28).

3. jenis obat yang  menghalau atau mem-

blokir perasaan sakit: analge tika, antira-

dang/rematik  dan  narkotika anestetika umum dan lokal 

4. jenis obat vertigo dan obat migrain 


ANALGETIKA PERIFER


Analgetika atau obat penghalang nyeri ada-

lah zat-zat yang mengurangi atau menghalau 

rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran 

(perbedaan dengan anestetika umum).

RASA NYERI DAN DEMAM

Definisi. Nyeri yaitu  perasaan sensoris dan 

emosional yang tidak nyaman, berkaitan 

dengan ada nya atau ancaman timbul-

nya kerusakan jaringan. Keadaan psikis sa-

ngat memengaruhi nyeri, misalnya emosi 

dapat memicu  sakit (kepala) atau mem-

perhebatnya, namun  dapat pula menghindari 

sensasi rangsangan nyeri. Nyeri merupakan 

suatu perasaan subyektif dan ambang 

toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap 

orang. Batas nyeri untuk suhu konstan, yaitu 

pada 44-45°C.

Hubungan antara nyeri akut dengan ke-

rusakan jaringan mudah dideteksi, namun  

pada nyeri kronis hubungan ini sering kali 

kurang atau tidak jelas dan banyak dipe-

ngaruhi oleh aspek-aspek psikis dan sosial.

Nyeri kronis yaitu  nyeri yang berlangsung 

lebih lama dari 6 bulan, sedang  nyeri 

subakut bila berlangsung dari 2 sampai 6 

bulan. Nyeri akut bila kurang dari 2 bulan.

Rasa nyeri dalam kebanyakan kasus hanya 

merupakan suatu gejala yang berfungsi se-

bagai isyarat bahaya tentang adanya gang-

guan di jaringan, seperti peradangan (rema, 

encok), infeksi mikroorganisme atau kejang 

otot. Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan 

mekanik, kimiawi, atau fisik (kalor, listrik) 

dapat memicu  kerusakan pada jaringan. 

Rangsangan itu  memicu pelepasan zat-

zat tertentu yang disebut mediator nyeri, 

antara lain histamin, bradikinin, leukotriën 

dan prostaglandin.

Semua mediator nyeri itu merangsang 

reseptor nyeri (nociceptor) di ujung-ujung 

saraf bebas di kulit, mukosa serta jaringan 

lain dan demikian memicu  antara lain 

reaksi radang dan kejang-kejang. Nosiseptor 

ini juga ada  di seluruh jaringan dan 

organ tubuh, terkecuali di SSP. Dari tempat 

ini rangsangan disalurkan ke otak melalui 

jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan 

sangat banyak sinaps via sumsum belakang, 

sumsum lanjutan dan otak tengah. Dari 

thalamus impuls kemudian diteruskan ke 

pusat nyeri di otak besar, di mana impuls 

dirasakan sebagai nyeri.

Nyeri berdasar  nosiseptor memberikan 

respons baik terhadap analgetika seperti pa-

rasetamol, NSAID’s dan analgetik narkotik. 

sedang  nyeri non-nosiseptor seperti nyeri 

neuropatik (saraf), kurang responsif terhadap 

analgetika.

* Mediator nyeri penting yaitu  amin his-

tamin yang bertanggung jawab untuk ke-

banyakan reaksi alergi (bronchokonstriksi, 

pengembangan mukosa, pruritus) dan nyeri. 

Bradikinin yaitu  polipeptida (rangkaian 

asam amino) yang dibentuk dari protein 

plasma. Prostaglandin mirip strukturnya de-

ngan asam lemak dan terbentuk dari asam

arakidonat. Menurut penelitian zat-zat ini me-

ningkatkan kepekaan ujung saraf sensoris bagi

rangsangan nyeri yang diakibatkan oleh me-

diator lainnya. Zat-zat ini berefek vasodilatasi 

kuat dan meningkatkan permeabilitas kapiler 

yang memicu  radang dan udema. 

Berhubung kerja serta inaktivasi nya cepat 

dan bersifat lokal, maka zat-zat ini juga di-

namakan hormon lokal. Mungkin sekali zat-

zat ini juga bekerja sebagai mediator demam. 

Lihat juga Bab 21, Analge tika anti radang. 


PROSTAGLANDIN (penemu Von Euler dan Goldblatt)

Nama prostaglandin (PG) diberikan pada sekelompok senyawa yang farmakologik sa ngat aktif 

dan pertama kali diekstraksi dari kelenjar vesikular kambing, kemudian diisolasi dari cairan semen 

manusia oleh Von Euler dan Goldblatt (1935). namun  ternyata bahwa prostaglandin mencakup 

suatu kelompok besar dari senyawa-senyawa yang secara kimiawi sangat dekat berkaitan dan 

ada  di berbagai jaringan dan bukan hanya di prostat 

Prostaglandin, prostasiklin dan tromboksan merupakan kelompok asam lemak tidak-jenuh 

terhidroksilasi dengan rangkaian panjang, yang dalam kadar sangat rendah dapat mencetuskan 

sejumlah efek biologis yang sangat luas di berbagai jaringan. Dibentuk dari asam arachidon melalui 

a.l. enzim siklo-oksigenase.

Prostaglandin berperan pada banyak proses-proses fisiologi seperti vasodilatasi, vasokonstriksi, 

pengaturan suhu badan, agrgasi trombosit, kehamilan, proses peradangan, motilitas dan efek 

sitoprotektif saluran gastro-intestinal, neurotransmis otonom dan fungsi endokrin dari ginjal.

Tromboksan berperan pada reaksi peradangan dan permeabilitas mukosa lambung, 

mempertahankan tonus dari vena/arteri serta neurotransmisi.

Prostasiklin (PGI2; diketemukan tahun 1976) memiliki daya hambatan kuat terhadap vasokonstriksi 

dan agregasi trombosit. Oleh sebab  itu dipakai  sebagai vasodilator dan untuk menghindari 

agregasi trombosit.

Prostaglandin dibentuk dari precursor utamanya yaitu asam esensial arachidon sama seperti 

leukotriën (dahulu disebut SRS-A atau Slow Reacting Substance of Anaphylaxis), yang berperan pada 

pathogenesis penyakit alergi seperti asma.

Struktur kimia dan penamaan (nomenclatuur)

Semua prostaglandin dibentuk dari inti siklopentan dengan 2 cabang-sisi dari seluruhnya 20 atom 

karbon sehingga membentuk struktur seperti jepit rambut (asam prostan). Senyawa-senyawa ini 

dibagi dalam 2 golongan induk: 

– prostaglandin E dengan gugusan satu -–OH-(hidroksi)- dan satu ==O-(okso)- ;

– prostaglandin F dengan 2 gugusan hidroksi pada cincin pentan.

Tiap tipe prostaglandin diberi huruf kelompok A, B, C, D, E atau F sesuai dengan struktur cincin 

siklopentan. Huruf kelompok diikuti oleh suatu nomor (= jumlah ikatan ganda), lalu indeks klasifikasi 

(alfa atau beta) berdasar  konfigurasi stereo dari gugusa n C9-hidroksil.

Yang terutama ada  dalam tubuh yaitu  prostaglandin E2 dan F2α , yang disebut prostaglandin 

klasik. 

Prostasiklin ditandai dengan huruf I, sedang  tromboksan disingkat sebagai TXA dan TXB.

Di bawah ini ikthtisar dari efek-efek fisiologi dan penerapan dari prostaglandin.

Efek terhadap organ-organ:

Otot licin (uterus, saluran darah, gastro-intestinal)

Trombosit: aggregasi

Hormon: produksi hormon

Susunan Saraf Pusat

Reaksi peradangan

Ginjal


* Ambang nyeri didefinisikan sebagai ting-

kat (level) pada saat nyeri dirasakan untuk 

pertama kalinya. Dengan kata lain, intensitas 

rangsangan yang terendah saat seseorang 

merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang 

nyerinya konstan.

Demam. biasanya  demam yaitu  su-

atu gejala dan bukan merupakan penyakit 

tersendiri. Kini para ahli bersependapat bah-

wa demam yaitu  suatu reaksi yang berguna 

dari tubuh terhadap infeksi. Pada suhu di atas 

37° C limfosit dan makrofag menjadi lebih 

aktif. Bila suhu melampaui 40-41° C, barulah 

terjadi situasi kritis yang bisa menjadi fatal, 

sebab  tidak terkendalikan lagi oleh tubuh.

PENGGOLONGAN

Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika 

dibagi dalam dua kelompok besar, yakni:

a. Analgetika perifer (non-narkotik), yang 

terdiri dari obat-obat yang tidak bersi- 

fat narkotik dan tidak bekerja sentral. 

Analgetika anti radang termasuk kelom-

pok ini.

b. Analgetika narkotik khusus dipakai  

untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti 

pada fraktur dan kanker. Obat-obat ini 

dibahas di Bab 22.

PENANGANAN RASA NYERI

berdasar  proses terjadinya, rasa nyeri da-

pat “dilawan” dengan beberapa cara, yakni 

dengan:

a. Analgetika perifer, yang menghalangi 

terbentuknya rangsangan pada reseptor 

nyeri perifer 

b. Anestetika lokal, yang menghalangi pe-

nyaluran rangsangan di saraf-saraf sen-

sori s

c. analgetika sentral (narkotika), yang 

memblokir pusat nyeri di SSP dengan 

anestesi umum

d. Antidepresif trisiklis, yang dipakai  

pada nyeri kanker dan saraf, mekanisme 

kerjanya belum diketahui, misalnya 

amitriptili n

e. Antiepileptika, yang meningkatkan jum-

lah neurotransmitter di ruang sinaps pada 

nyeri, mis. pregabalin, karbamazepin, 

okskarbazepin, fenitoin dan valproat.

Pada pengobatan nyeri dengan analgetika, 

faktor-faktor psikis turut memegang 

peranan seperti sudah diuraikan di atas, 

misalnya kesabaran individu dan daya 

mengatasi nyerinya. Obat-obat di bawah ini 

dapat dipakai  sesuai jenis nyerinya.

Penanganan jenis-jenis nyeri

Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat 

perifer, seperti parasetamol, asetosal, asam mefe-

namat, propifenazon atau aminofenazon, begitu 

pula rasa nyeri dengan demam. Untuk nyeri 

sedang dapat ditambahkan kafein atau kodein.

Nyeri yang disertai pembengkakan atau 

akibat trauma (jatuh, tendangan, tubrukan) se- 

baiknya diobati dengan suatu analgetika anti 

radang, seperti aminofenazon dan NSAID 

(ibuprofen, asam mefenamat, dan lain-lain ). Nye-

ri hebat perlu ditanggulangi dengan morfin 

atau opiat lainnya (Tramadol). Nyeri kepala 

migrain dapat ditangani de ngan obat-obat 

khusus, lihat Bab 52.

Nyeri pada kanker umumnya diobati me-

nurut suatu skema bertingkat empat, yaitu 

pemberian:

Penerapan klinik:

Asma 

Hipertensi

Trombosis

Penyakit pembuluh perifer

Sitoprotekti saluran gastro-intestinal

Ginekologi

Kehamilan (penghentian kehamilan, abortus)


1. Obat perifer (non-opioid) per oral atau 

rektal: parasetamol, asetosal.

2. Obat perifer bersama kodein, atau tra-

madol

3. Obat sentral (opioid) per oral atau rektal

4. Obat opioid parenteral.

Untuk memperkuat efek analgetik dapat 

ditambahkan suatu co-analgetikum, seperti 

psikofarmaka (amitriptilin, levopromazin) 

atau prednison.

Nyeri saraf kronis. Antara lain dikenal nyeri

saraf nosiseptif yang disebabkan oleh saraf 

terluka atau terjepit, nyeri neuropati perifer dan 

nyeri saraf yang berasal dari SSP.

Neuropati perifer yaitu  suatu gangguan 

saraf perifer dengan perasaan seperti ditusuk-

tusuk, lemah otot, mati rasa dan hilang 

refleks yang diawali dari jari-jari, kemudian 

memicu  kelumpuhan pada kedua kaki 

atau tangan. pemicu -pemicu nya yaitu :

1. diabetes, pemicu  terpenting akibat ke-

rusakan sel saraf sebab  kadar gula darah 

yang tinggi; perasaan nyeri diawali dari 

kaki kemudian ke tangan;

2. infeksi misalnya herpes zoster (neuralgi

postherpetik) dan HIV;

3. metabolisme, misalnya defisiensi vitamin 

(B1, B6, B12);

4. gangguan imunologi (sindrom Guillain-

Barré, hilang refleks dan lumpuh otot);

5. berbagai jenis tumor (myeloma);

6. gangguan akibat keturunan;

7. saraf terjepit;

8. trauma;

9. minum alkohol berlebihan;

10. intoksikasi zat kimia dan logam berat;

11. obat-obat: sitostatika (senyawa platina 

karboplatin, cisplatin), taksan (docetaxel, 

paclitaxel), alkaloid vinca (vincristin), bor-

tezumib, talidomida dan lenalidomida, 

antibiotika (nitrofurantoin, siprofloksasin, 

doksisiklin), obat malaria (meflokuin), 

antimikotika (itrakonazol), antiprotozoa 

(metronidazol), obat antiretroviral (NRTI 

didanosin), obat TB (isoniazida dapat me- 

nyebabkan defisiensi vitamin B6), obat 

antihipertensi (amlodipin, enalapril, lo-

sartan, metoprolol), statin (atorvastatin, 

simvastatin), perintang TNF-alfa (eta-

nercept, infliksimab, adalimumab), anti-

depresiva (paroksetin, mirtazapin, ven-

lafaksin).

Dasar keluhan-keluhan ini sangat bervariasi 

sebab  berbagai sistem reseptor memegang 

peranan. Oleh sebab itu umumnya digu-

nakan kombinasi dari dua atau lebih obat. 

Nyeri ini sukar diatasi dengan analgetik 

klasik (parasetamol, NSAIDs dan opioid) 

sebab  tidak bersifat nosiseptif. Yang ternyata 

lebih efektif yaitu  antidepresif trisiklis dan

antiepileptik, tunggal atau juga sebagai tam-

bahan pada zat opioid seperti tramadol dan 

fentanil.

Dapat dibedakan antara polineuropati dan 

mononeuropati. Pada mononeuropati terda-

pat kerusakan pada satu saraf, misalnya 

akibat trauma, sedang  polineuropati me- 

rupakan gangguan menyeluruh simetris 

dari saraf-saraf perifer termasuk saraf perifer 

sensibel, motorik, otonom atau bersamaan. 

Istilah perifer menyatakan bahwa Susunan 

Saraf Pusat (SSP), seperti otak dan sumsum 

tulang belakang, tidak termasuk dalam defi-

nisi ini.

Neuralgia postherpetik (sesudah  sembuh dari 

Herpes zoster) di sekitar bagian atas tubuh dan 

neuralgia trigeminus di wajah juga merupakan 

gangguan saraf perifer. 

Untuk pengobatan umumnya diguna kan 

amitriptilin, karbamazepin6,7 atau juga gaba-

penti n, fenitoin dan valproat.

Pada nyeri neuropati akut yang terasa 

seperti tertusuk-tusuk jarum, karbamazepin 

ternyata paling efektif, sedang  pada nyeri 

terus-menerus atau seperti perasaan terbakar, 

amitriptilin dan gabapentin lebih ampuh .

Pada polineuropati yang bertalian de ngan 

HIV, lamotrigin paling efektif, sedang kan 

kebanyakan obat lainnya yang ampuh pada 

polineuropati diabetes, tidak efektif.

* Pregabalin8. Obat ini (2004) telah dipa-

sarkan dengan indikasi khusus nyeri neu-


ropati. Rumus kimianya mirip GABA, te-

tapi mekanisme kerjanya tidak melalui pen-

dudukan reseptor GABA. Pregabalin me- 

ngurangi jumlah noradrenalin, glutamat 

dan substance-P di ruang sinaps, dengan efek 

berkurangnya nyeri. Efektivitasnya belum 

bisa dipastikan. 

Efek samping utamanya yaitu  perasaan pu-

sing hebat yang mirip keadaan mabuk dan 

kejang kaki yang tidak hilang sesudah 4-5 

hari seperti halnya pada obat-obat nyeri saraf 

lain. Efek-efek ini membatasi pemakaian nya 

sebagai obat tunggal. Keberatan lain yaitu  

harganya yang sama tingginya dengan ga-

bapentin (yang patennya kini sudah kada-

luwarsa).

ANALGETIKA PERIFER

Penggolongan

Secara kimiawi, analgetika perifer dapat di-

bagi dalam beberapa kelompok, yakni:

a. Parasetamol

b. Salisilat: asetosal, salisilamida dan be-

norila t

c. Penghambat prostaglandin (NSAIDs): 

ibuprofen, dan lain-lain

d. Derivat antranilat: mefenaminat, glafenin

e. Derivat pirazolinon: propifenazon, iso-

propilaminofenazon dan metamizol

f. Lainnya: benzidamin (Tantum)

Co-analgetika yaitu  obat yang khasiat dan 

indikasi utama nya bukan menghilangkan 

perasaan nyeri, mis. antidepresif trisiklis 

(amitriptilin) dan antiepileptik (karbamazepin,

pregabalin, fenitoin, valproat). Obat-Obat ini 

dipakai  tunggal atau terkombinasi de-

ngan analgetik lain pada keadaan-keadaan 

tertentu, seperti pada nyeri neuropatik.

pemakaian 

Obat-obat ini mampu meringankan atau 

menghilangkan rasa nyeri tanpa memenga-

ruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga 

tidak menim bulkan ketagihan. Kebanyakan 

zat ini juga berdaya anti pi retik dan/atau 

anti ra dang. Oleh sebab  itu tidak hanya 

dipakai  sebagai obat anti nyeri, namun  

juga pada demam (infeksi virus/kuman, 

selesma, pilek) dan peradangan seperti re-

ma dan encok. Obat-obat ini sering kali 

diberikan untuk nyeri ringan sampai sedang, 

yang pemicu nya berane karagam, misal-

nya nyeri kepala, gigi, otot atau sendi (rema, 

encok), perut, nyeri haid (dismenore), nyeri 

akibat benturan atau kecela kaan (trau ma). 

Untuk kedua nyeri terakhir, NSAID lebih 

layak. Pada nyeri lebih berat mis. sesudah  

pembedahan atau fraktur (tulang patah), 

kerjanya kurang ampuh.

* Khasiat anti piretiknya berdasar  rang-

sangan terhadap pusat pengatur kalor di 

hipothalamus, yang memicu  vasodi-

latasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya 

pengeluaran kalor yang disertai keluarnya 

banyak keringat. 

* Khasiat anti radang (anti flogistik). Ke-

banyakan analgetika memiliki daya anti-

radang, khususnya kelompok besar dari zat-

zat penghambat prostaglandin (NSAIDs, 

terma suk asetosal), begitu pula benzidamin. 

Zat-zat ini banyak dipakai  untuk rasa 

nyeri yang disertai peradangan dan akan 

dibahas lebih mendalam di Bab 21, Obat-obat 

Rema.

* Kombinasi dari dua atau lebih analgetik 

sering kali diguna kan, sebab  terjadi efek 

potensiasi. Lagi pula efek sampingnya dapat 

berkurang, sehingga dosis masing-masing 

analgetik dapat diturunkan. Kombinasi anal- 

getik dengan kofein dan kodein sering kali 

dipakai , khusus nya dalam sediaan 

dengan paraseta mol dan asetosal.

Efek samping

Yang paling umum terjadi yaitu  gangguan 

lambung usus (b,c,e), kerusa kan darah (a, b, 

d, dan e), kerusakan hati dan ginjal (a,c) dan 

juga reaksi alergi kulit. Efek-efek samping 

ini terutama terjadi pada pemakaian  lama 

atau dalam dosis tinggi. Oleh sebab  itu 

pemakaian  analgetika secara kontinu tidak 

dianjurkan.


Interaksi. Kebanyakan analgetika memper-

kuat efek antikoagu lansia, kecuali parase-

tamol dan glafenin. Kedua obat ini pada dosis 

biasa dapat dikombinasi dengan aman untuk 

waktu maksimal dua minggu.

Kehamilan dan laktasi

Hanya parasetamol yang dianggap aman 

bagi wanita hamil dan menyusui, walaupun 

dapat dikeluarkan melalui air susu. Asetosal 

dan salisilat, NSAIDs dan metamizol dapat 

mengganggu perkembangan janin, sehingga 

sebaiknya dihindari. Dari aminofenazon dan 

propifenazon belum ada  cukup data.

MONOGRAFI

1. Aminofenazon: aminopirin (F.I.), amidopirin,

Pyramidon

Derivat pirazolinon ini (1887) berkhasiat 

analgetik, anti pire tik dan anti radang. 

Resorpsi di usus cepat, mulai kerjanya sesudah 

30-45 menit, plasma-t½ 2-7 jam. sebab  efek 

samping terhadap darah (agranulositosis,

leukopenia) sering kali fatal, obat berbahaya ini 

sejak tahun 1980-an dilarang peredarannya 

di banyak negara. Bila timbul borok-borok 

kecil di mulut, nyeri tenggorok atau demam 

(tanda-tanda agranulositosis), pengoba tan 

harus segera dihentikan!

Kehamilan dan laktasi. Semua obat dari 

kelompok pirazolinon tidak boleh digunaka n 

selama kehamilan dan laktasi!

Dosis: 3 x sehari 300-600 mg, maksimal 3 g/

hari.

a. Isopropilaminofenazon (isopirin *Pehazon,

*Migran) yaitu  derivat aminopi rin dengan 

khasiat yang sama. Zat ini juga berefek sedatif 

dan pada dosis tinggi hipnotik. Toksisitasnya 

lebih ringan. 

Dosis: oral, rektal atau i.v. 3 x sehari 400 mg 

selama 1 minggu, kemudian 600 mg/hari.

b. Fenazon (F.I.) (antipirin) yaitu  senya wa 

induk dari obat-obat itu  di atas tanpa 

khasiat anti radang (1884). sebab  berkhasiat 

lebih lemah dan lebih sering menim bulkan 

reaksi kulit, obat ini kini praktis sudah di-

tinggalkan. Adakalanya fenazon masih digu- 

nakan dalam obat kumur pada nyeri teng-

gorok, berdasar  efek anestetik lokal 

(lemah) dan kerja vasokonstriksi.

c. Propifenazon (propilantipirin, *Saridon,) ada-

lah derivat fenazon (1951) tanpa khasiat 

anti radang dengan sifat kurang lebih sama. 

Plasma-t½ 90 menit. Risiko agranulositosis 

lebih ringan.

Dosis: 1-3 x sehari 150-300 mg, biasanya 

terkombinasi dengan analgeti k lain.

* Metamizol (antalgin, dipiron, novaminsulfon,

metampiron, *DoloNeurobion, Novalgin, *Unagen) 

yaitu  derivat sulfonat dari aminofena- 

zon yang larut dalam air (1946). Khasiat 

dan efek sampingnya sama. Obat tua ini 

dapat secara mendadak dan tidak terduga 

memicu  kelainan darah yang adaka-

lanya fatal. sebab  bahaya agranulositosis, 

obat ini sudah lama dilarang peredarannya di 

ba nyak negara, antara lain di Swedia, Inggris, 

Jerman, Belanda dan India. Di Amerika dan 

Inggris obat ini tidak pernah dipasarkan.

Walaupun berbahaya puluhan obat ini 

masih beredar di negara kita  sebagai zat 

tunggal maupun dalam kombinasi dengan 

obat lain misalnya dengan diazepam atau 

vitamin-vitamin.

Dosis: oral 0,5-4 g sehari dalam 3-4 dosis.

2. Asam asetilsalisilat (F.I.): Asetosal, Aspirin,

Cafenol, Naspro.

Asam asetilsalisilat atauAspirin merupakan 

salah satu obat analgetik tertua (Bayer, 1899) 

dan sepanjang masa pa ling sukses, yang 

sampai kini terbanyak dipakai  di seluruh 

dunia. Di tahun 2014 telah diproduksi di 

seluruh dunia sekitar 35.000 ton aspirin dan 

lebih dari 100 milyar tablet telah dikonsumsi. 

Obat ini telah dikembangkan oleh ahli ki-

mia dari Bayer di tahun 1899, yaitu Felix 

Hoffmann, Arthur Eichengrun dan ahli far-

makologi Heinrich Dreser. 

Zat ini juga berkhasiat anti demam kuat dan 

pada dosis rendah sekali (40 mg) berkhasiat 

meng hambat agregasi trombosit. Efek anti

trombotik yang tidak reversibel ini bekerja ber-

dasarkan blokade enzim siklo-oksigenase (COX-

1) yang bertahan selama trombosit hidup. 

Dengan demikian, sintesis tromboksan A2


(TxA2) yang bersifat trombotik dan vaso-

konstriktif – dihindari (lihat Bab 21, Mekanis-

me kerja NSAID’s). Pada dosis lebih besar 

dari normal (di atas 5 g sehari) obat ini juga 

berkha siat anti radang akibat gagalnya 

sintesis prostaglandin-E2 (PgE2). 

pemakaian . Selain merupakan analgetik, 

sekarang ini asetosal banyak dipakai  se-

bagai alternatif dari antikoagulan pencegah

infark serangan kedua. Hal ini berkat khasiat 

antitrombotiknya. Obat ini juga efektif untuk 

profilaksis serang an stroke kedua sesudah  

menderita TIA (Transient Ischaemic Attack, 

serangan kekurangan darah sementara di 

otak), teruta ma pada pria. Akhir-akhir ini 

diberitakan kemungkinan pemakaian nya 

untuk prevensi kanker usus dan prostat 

(2014).

Resorpsinya cepat dan praktis lengkap, ter-

utama di bagian pertama duodenum. Na-

mun, sebab  bersifat asam, sebagian zat di-

serap pula di lambung. BA-nya lebih rendah 

akibat FPE dan hidrolisis selama resorp si. 

Dimulai efek analgetik dan antipiretiknya 

cepat, yakni sesudah  30 menit dan bertahan 3-6 

jam; efek antiradang nya baru tampak sesudah  

1-4 hari. Resorpsi dari rektum (supositoria) 

lambat dan tidak menentu, sehingga dosisnya 

perlu digandakan. Dalam hati, zat ini segera 

dihidrolisis menjadi asam salisilat dengan efek 

anti nyeri lebih ringan. PP 90-95%, plasma-t½ 

15-20 menit, masa paruh asam salisilat yaitu  

2-3 jam pada dosis 1-3 g/hari.

Efek samping yang paling sering terjadi 

yaitu  iritasi mukosa lambung de ngan risi-

ko tukak lambung dan perdarahan samar 

(occult blood) gastro-intestinal. pemicu nya 

yaitu  sifat asam dari asetosal, yang dapat 

dikurangi melalui kombina si dengan suatu 

antasid (MgO, aluminiumhidroksida, CaCO3) 

atau dipakai  garam kalsiumnya(carbasalat). 

Pada dosis besar faktor lain memegang 

peranan, yaitu hilangnya efek pelindung dari 

prostasiklin (PgI2) terhadap mukosa lambung, 

yang sintesis nya turut dirin tangi akibat 

blokade siklo-oksigenase. 

Selain itu asetosal memicu  efek spe- 

sifik seperti reaksi alergi kulit dan tinitus (te-

linga berdengung) pada dosis lebih ting-

gi. Efek yang lebih serius yaitu  kejang-

kejang bronki hebat, yang pada pasien 

asma dapat memicu  serangan, walau-

pun dalam dosis rendah. Anak-anak kecil 

yang menderita cacar air atau flu/selesma 

sebaiknya jangan diberi asetosal (namun  para- 

setamol), sebab  berisiko terkena Sindrom 

Reye yang berbahaya. Sindroma ini ditandai 

muntah hebat, melamun, gangguan perna-

pasan, konvul si, adakalanya koma dan ke-

matian. 

Wanita hamil tidak dianjurkan menggu-

nakan asetosal dalam dosis tinggi, terutama 

pada triwulan terakhir dan sebelum persali-

nan, sebab  lama kehamilan dan persali nan 

dapat diperpan jang, juga kecenderungan 

perdarahan meningkat. Asetosal dikeluarkan 

melalui air susu ibu, namun  ibu dapat di-

berikan obat ini selama laktasi, walaupun 

sebaiknya tidak terlalu sering.

Interaksi. Asetosal memperkuat daya ker-

ja antikoagulansia, anti diabetika oral dan 

metotreksat. Efek obat encok probenesid dan

sulfinpirazon berkurang, begitu pula diure-

tika furose mid dan spiro nolakton. Kerja 

analgetiknya diperkuat oleh antara lain ko-

dein dan d-propoksifen. Alkohol meningkat-

kan risiko perdar ahan lambung usus. sebab  

efek anti trombotiknya yang memicu  

risiko perdarahan, pemakaian  asetosal perlu 

dihentikan satu minggu sebelum misalnya 

pencabutan gigi. 

Dosis: pada nyeri dan demam oral 4 x sehari 

0,5-1 g p.c., maksimal 4 g sehari, anak-anak 

sampai 1 tahun 10 mg/kg 3-4 kali sehari, 1-12 

thn 4-6 x sehari, di atas 12 thn 4 x sehari 320-

500 mg, maksimal 2 g/hari. Rektal dewasa 4 

x sehari 0,5-1 g, anak-anak sampai 2 thn 2 x 

sehari 20 mg/kg, di atas 2 thn 3 x sehari 20 

mg/kg sesudah makan. Pada rema oral dan 

rektal 6 x sehari 1 g, maksimal 8 g/hari, pada

serangan migrain dosis tunggal dari 1 g, 15-

30 menit sesudah minum domperi don atau 

metoklopramid. Untuk prevensi sekunder 

infark jantung 1 x sehari 100 mg dan sesudah  

TIA 1 x sehari 40-100 mg de ngan dosis awal 

100 mg.

* Bentuk-bentuk asetosal yang larut dalam 

air:

– karbasalatkalsium (Ascal) yaitu  garam 

kalsium dari asetosa l, yang air kristalnya 


diganti dengan urea (1951). Garam ini 

tidak bereaksi asam dan kurang merang-

sang mukosa lambung (100 mg Ascal = 80 

mg asetosal).

– lisin-asetosal yaitu  senyawa yang se-

telah larut terurai dalam bentuk asam 

amino lisin dan asetosal, yang kemudian 

dihidro lisis menjadi salisilat. Kombinasi 

(1620 mg) dengan metoklo pramid (10 mg) 

dianjurkan terhadap migrain (Migrafin).

a. Diflunisal (Diflonid, Dolocid) yaitu  derivat 

difluorfenil (1980) dengan khasiat dan efek 

samping lebih kurang sama. Khasiatnya 

analgetik, anti radang dan urikosurik (me-

ngeluarkan asam urat). Daya menghambat 

agregasi ringan dan baru tampak pada dosis 

tinggi, yaitu di atas 2 g/hari. PP-nya lebih 

tinggi (99%), t½-nya lebih panjang dan tergan-

tung dari dosis: 8 dan 15 jam pada masing-

masing 250 dan 1000 mg. Zat ini tidak dihi-

drolisis menjadi asam salisi lat. Ekskresinya 

terutama melalui urin sebagai glukuronida . 

Jarang memicu  perdarahan lambung 

usus. 

Dosis: untuk nyeri, juga rema, permulaan 

0,5-1 g, disusul dengan 2 x sehari 0,25-0,5 g, 

maksimal 1,5 g/hari. 

b. Benorilat (Bentum, Benortan) yaitu  ester 

asetosal dengan parasetamol (1972). sesudah  

resorpsi segera dihidrolisis menjadi asam 

salisilat dan parasetamol. Plasma-t½ ±1 jam. 

Gangguan lambung usus lebih jarang terjadi 

dibanding dengan asetosal.

Dosis: maksimal 4 x sehari 0,5-1 g.

c. Salisilamida (F.I.) (salamid, *Neozep, *Refa-

gan) yaitu  derivat salisilat de ngan khasiat 

lebih lemah di semua bidang. Efeknya ku-

rang dapat dipercaya. Di dinding usus meng- 

alami FPE besar, sehingga dosisnya harus 

tinggi. Zat ini sering mengganggu pencer-

naan; perdarahan samar jarang timbul diban-

dingkan dengan asetosal. Pada overdosis 

dapat terjadi hipotensi, depresi SSS dan ter-

henti nya pernapasan. pemakaian nya sudah 

dianggap kuno. 

Dosis: 3-4 x sehari 0,5-1 g.

d. Natriumsalisilat (F.I.) (*Nephrolit, Entero-

salicyl) lebih lemah khasiatnya dibandingkan 

dengan asetosal. Efek sampingnya lebih ku-

rang sama, kecuali tidak menghambat agre-

gasi trombosit. 

Dosis: 4-6 x sehari 1-1,5 g, maksimal 12 g/

hari.

e. Metilsalisilat (Wintergreen oil, *Sloan’s lini-

ment) yaitu  cairan berbau khas yang di-

peroleh dari daun dan akar tumbuhan akar 

wangi (Gaultheria procumbens). Zat ini juga 

dibuat sintetik. Khasiat analgetik pada peng-

gunaan lokal sama dengan senyawa salisilat 

lainnya. Metilsalisilat diresorpsi baik oleh 

kulit dan banyak dipakai  dalam obat 

gosok dan krem (3-10%) untuk nyeri otot,

sendi, dan lain-lain. Peng gun aan oral sebanyak 

30 ml sudah fatal, terutama anak-anak sa ngat 

peka terhadap obat ini.

* Glikolsalisilat (*Sloan’s balsem, Mentho-

neurin) yaitu  ester lain dari asetosal yang 

juga banyak dipakai  dalam obat gosok 

untuk nyeri otot (1-16%).

3. Fenilbutazon: Butazolidin, *New Skelan, 

*Pehazon/forte.

Derivat pyrazolidin ini (1949) mirip rumus 

intinya dengan fenazon. Khasiat anti ra-

dangnya lebih kuat daripada daya kerja 

analgetiknya. Oleh sebab  itu obat ini khusus 

dipakai  untuk jenis artritis tertentu, seperti 

derivat nya oksifenilbuta zon (Tanderil). Lihat 

selanjutnya Bab 21, Analgetika Anti radang.

Penyalahgunaan. Kadangkala fenilbutazon 

dibubuhkan secara ilegal (tanpa dicantumkan 

pada etiket) pada produk dari pabrik-pabrik 

kecil asing (Hongkong) atau sering kali dalam 

minuman tonik (dengan Ginseng) untuk 

keadaan lesu, letih, nyeri otot dan perasaan 

lemah. Adakalanya obat ini dikombinasi de-

ngan kortikosteroid, yang membuat obat-obat 

demikian sangat berbahaya sebab  efeknya 

merusak sel-sel darah dan efek melemahkan 

sistem imun.

Efek samping serius, antara lain terhadap 

darah dan lambung, sehingga di banyak 

negara Barat sudah ditarik dari peredaran 

sejak akhir tahun 1980-an. Kadangkala fenil-

butazon masih dipakai  untuk nyeri otot 

dalam bentuk krem 5%. 


Dosis: pada serangan rema atau encok oral 

dan rektal 2-3 x sehari 200 mg.

4. Glafenin: Glaphen, Glifanan.

Glafenin yaitu  suatu derivat 4-amino-

kinolin (seperti obat rema klorokuin), yang 

terikat pada asam antranilat (1965). Pada 

dosis biasa obat ini tidak berdaya antipiretik 

atau anti radang; potensi kerja analgetiknya 

dapat disamakan dengan asetosal.

Resorpsi di usus cepat; di dalam hati zat 

ini dirombak menjadi asam glafeninat, yang 

mungkin berperan utama bagi efek anti 

nyerinya. Plasma-t½ 1-2 jam dan daya kerja-

nya ± 5 jam.

Efek sampingnya berupa gangguan lambung 

usus, mengantuk dan pusing. Yang lebih 

serius yaitu  reaksi anafilaktik, kerusakan 

hati dan anemia hemolitik, yang adakalanya 

berakibat fatal. Oleh sebab  itu sejak tahun 

1992 di banyak negara Eropa, termasuk Be-

landa, glafenin sudah ditarik dari peredaran 

oleh produsennya.

Dosis: permulaan 400 mg, lalu 3-4 x sehari 

200 mg, maksimal 1 g sehari.

* Asam mefenamat (Ponstan) yaitu  juga 

derivat antranilat dengan khasiat analgetik, 

antipiretik dan anti radang yang cukup 

baik. Obat ini banyak sekali dipakai  se-

bagai obat nyeri dan rema. Efek samping 

yang paling sering terjadi yaitu  gangguan 

lambung usus. 

Dosis: permulaan 500 mg, lalu 3-4 x sehari 

250 mg sesudah makan.

5. Parasetamol: asetaminofen, Panadol, Tylenol,

Tempra, *Nipe, Dumin

Derivat asetanilida ini yaitu  metabolit 

dari fenasetin yang dulu banyak dipakai  

sebagai analgetik, namun  pada tahun 1978 

telah ditarik dari peredaran sebab  efek 

sampingnya (nefrotoksik dan karsinogen). 

Khasiatnya analge tik dan antipiretik, namun  

tidak anti radang. Dewasa ini biasanya  

dianggap sebagai zat antinyeri yang paling 

aman, juga untuk swamedikasi (pengobatan 

mandiri). Efek analgetiknya diperkuat oleh 

kodein dan kofein dengan kira-kira 50%.

Dianjurkan untuk sebaiknya tidak meng-

gunakan parasetamol pada anak-anak yang 

hanya menderita demam sebab  menggang-

gu respons imun. 

Resorpsi dari usus cepat dan praktis tuntas, 

secara rektal lebih lambat. PP ±25%, plas-

ma-t1/2 1-4 jam. Antara kadar plasma dan 

efek tidak ada hubungan. Dalam hati zat 

ini diuraikan menjadi metabolit-metabolit 

toksik yang diekskresi melalui urin sebagai 

konyugat glukuronida dan sulfat. 

Efek samping tak jarang terjadi, antara lain 

reaksi hipersensitivi tas dan kelainan darah. 

Pada pemakaian  kronis dari 3-4 g sehari 

dapat terjadi kerusakan hati dan pada dosis 

di atas 6 g mengakibat kan nekrosis hati yang 

tidak reversibel. Hepatotoksisitas ini dise-

babkan oleh metabolit-metabolitnya yang 

pada dosis normal dapat ditangani oleh gluta-

thion (suatu tripeptida dengan gugus -SH). 

Pada dosis di atas 10 g persediaan peptida 

itu  habis dan metabolit-metabolit meng-

ikat protein dengan gugusan-SH di sel-sel 

hati dan terjadilah kerusakan irreversibel. 

Dosis 20 g sudah berefek fatal. Overdosis 

dapat memicu  a.l. mual, muntah dan 

anoreksia. Penanggulangannya dengan cuci 

lambung, di samping perlu pemberian zat 

penawar (asam amino N-asetilsistein atau 

metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam 

8-10 jam sesudah  intoksi kasi. 

Wanita hamil dapat memakai  para-

setamol dengan aman, juga selama laktasi 

walaupun dikeluarkan melalui air susu ibu.

Interaksi. Pada dosis tinggi dapat memperkuat 

efek antikoagulans namun  pada dosis biasa 

tidak interaktif. Masa paruh kloramfenikol 

dapat sangat diperpanjang. Kombinasi de-

ngan obat AIDS zidovudin meningkatkan 

risiko neutropenia.

Dosis: untuk nyeri dan demam oral 2-3 

x sehari 0,5-1 g, maksimal 4 g/hari, pada 

pemakaian  kronis maksimal 2,5 g/hari. 

Anak-anak: 4-6 x sehari 10 mg/kg, yaitu rata-

rata usia 3-12 bulan 60 mg, 1-4 thn 120-180 

mg, 4-6 thn 180 mg, 7-12 thn 240-360 mg, 4-6 

x sehari. Rektal 20 mg/kg setiap kali, dewasa 

4 x sehari 0,5-1 g, anak-anak usia 3-12 bulan 

2-3 x sehari 120 mg, 1-4 thn 2-3 x sehari 240 

mg, 4-6 thn 4 x sehari 240 mg dan 7-12 thn 2-3 

x sehari 0,5 g.

* Saridon = parasetamol 250 mg + propi-

fenazon 150 mg + kofein 50 mg

* Sanalgin = parasetamol 250 + propifenazon 

250 + kofein 46 mg

* Finimal = parasetamol 500 + vit C 100 + 

kofein 50 + aspartam 10 mg

* Artrosan = parasetamol  500 + vit C 50 mg 

+ sitrat Na 500 mg (sachet)

* Coldrex  =  parasetamol  500 + vit C 30 mg 

+ sitrat Na 500 mg (sachet)

 

6. Tramadol: Tramal, Theradol

Analgetik opiat (1977) ini tidak menekan 

pernapasan dan praktis tidak memengaruhi 

sistem kardiovaskuler dan motilitas lambung 

usus. sebab  praktis tidak bersifat adiktif 

di kebanyakan negara termasuk negara kita , 

obat ini tidak dimasukkan dalam Daftar 

Narkotika. Efek analgetik dari 120 mg 

tramadol oral setaraf dengan 30-60 mg morfin. 

Obat ini dipakai  untuk nyeri yang tidak 

terlampau hebat bila kombinasi parasetamol, 

kodein dan NSAIDs kurang efektif atau tidak 

dapat dipakai . Untuk nyeri akut atau 

pada kanker, morfin umumnya lebih ampuh. 

Lihat selanjutnya Bab 22, Analgetik Narkotik. 

Tramadol tidak dianjurkan selama kehamilan 

dan laktasi.

Dosis: anak-anak 1-14 tahun 3-4 x sehari 1-2 

mg/kg. Di atas 14 tahun 3-4 x sehari 50-100 

mg, maksimal 400 mg sehari. 

* Zaldiar, Ultracet* = tramadol HCl 37,5  + 

parasetamol 325 mg

7. Levomepromazin: Nozinan

Derivat fenotiazin ini berkhasiat analgetik 

pada nyeri sedang sampai hebat  dan terutama 

diberikan sebagai obat tambahan pada pa-

sien-pasien rawat, berefek antipsikotik, seda-

tif dan antikolinergik.

Absorpsi dari tablet 70-90% dan BA-nya 

50% akibat FPE besar. Kadar maksimal dalam 

darah dicapai sesudah  1-4 jam (per oral) dan 

sesudah  injeksi i.m 0,5-1,5 jam.

Dari dua metabolitnya hanya satu yang 

berkhasiat antipsikotik. Waktu paruhnya 

15-78 jam, ekskresi melalui urin dan tinja.

Efek sampingnya berkaitan dengan kerja 

antipsikotik yaitu: hilang inisiatif dan emosi 

datar. Sering kali juga  melamun dan rasa 

kantuk pada awal terapi, pada dosis lebih 

tinggi hipotensi ortostatik. Juga mulut ke-

ring, gangguan penglihatan, retensi urin, 

nausea dan muntah.

Dosis : nyeri hebat 2-5 x sehari 50 mg, bila 

perlu berangsur-angsur dinaikkan sampai 

300-500 mg sehari, parenteral i.m dalam 12,5-

25 mg, sesudah  beberapa hari  diganti dengan 

tablet. Nyeri sedang : 4-6 x sehari 12,5 mg dan 

i.m 3-4 x sehari 10-15mg.


ANALGETIKA ANTIRADANG 

DAN OBAT-OBAT REMA

Artritis yaitu  nama gabungan untuk lebih 

dari seratus penyakit, yang semuanya ber- 

cirikan rasa nyeri dan bengkak, serta kaku-

nya otot dengan terganggunya fungsi alat-

alat gerak (sendi dan otot). Yang paling ba- 

nyak ditemukan yaitu  artrose (arthritis de-

formans), umumnya tanpa peradangan, lalu 

rematik (arthritis rheumatica) dengan pera-

dangan, spondylosis dengan radang tulang 

punggu ng, sindroma Reiter (dengan radang 

ginjal dan selaput mata) dan encok. Penyakit 

lainnya yang jarang ditemukan, antara lain 

rema akut (septicarthritis) dan rema jaringan 

lembut yang menghinggapi jaringan otot.

ARTROSE

Artrose (arthritis deformans) (Yun. arthron = 

sendi, Lat. deformare = cacat bentuk), disebut 

juga osteoartrose atau osteoarthritis. Ber-

cirikan degenerasi tulang rawan yang meni-

pis sepanjang progres penyakit, dengan pem-

ben tukan tulang ba ru, hingga ruang di antara 

sendi menyempit. Lazimnya peradangan 

hanya sementara dan berbeda dengan rema, 

bersifat lokal dan tidak sistemik. Artrose 

terutama sering menghing gapi sendi dengan 

pembebanan besar seperti lutut (pada orang 

gemuk) dan pinggul, namun  sering pula tangan 

dan kaki berciri penonjolan-penonjolan keras 

(tulang) yang umumnya tidak nyeri. Menurut 

perkiraan, 20% penduduk suatu negara men-

deri ta artrose, termasuk 50% dari lansia di 

atas usia 50 tahun (kebanyakan wanita). 

pemicu nya dapat bermacam-macam, an-

tara lain sendi yang dibebani terlalu berat 

dengan kerusa kan mikro yang berulang-

kali, seperti pada orang yang terlampau ge-

muk. Begitupula akibat artritis septis atau 

artritis lain dan tumbuhnya pangkal paha 

secara abnormal (dysplasia). ada  faktor 

keturunan kuat. Hanya sebagian kecil kasus 

yang disebab kan keausan akibat pemakaian  

terlalu lama dan berat. 

Diagnosis. Berlainan dengan rema dan en-

cok, artrose tidak dapat didiagnosis dengan 

jalan tes darah seperti laju endap eritro sit, 

kadar hemoglo bin (Hb) dan faktor-faktor da- 

rah tertentu, sebab  nilai ini semuanya nor-

mal.

Terapi hanya berupa simtomatik dengan 

analgetika antiradang (NSAIDs) untuk me-

lawan rasa nyeri, juga pemakaian  kalor 

setempat bekerja meredakan. Di samping itu 

perlu terapi untuk mengendalikan berat ba- 

dan dan sikap tubuh yang tepat, bergerak 

secara teratur, makan sehat dan menghin-

dari cedera. Sejak beberapa tahun mulai di-

gunakan kombinasi glucosamin dan chon-

droitin untuk penanganan artrose, kerap 

kali dengan tambahan MSM (metilsulfonil-

metan). Obat-obat ini ternyata efektif untuk 

mengurangi rasa nyeri, memperbaiki fungsi 

sendi yang terganggu dan menstimulasi 

pembentukan tulang rawan baru. Vitamin 

C dan elemen spura mangan meningkatkan 

keampuhannya, juga antioksidansia lain se-

perti vitamin A, C, E dan selenium. Belum 

ada data mengenai berapa lama obat-obat ini 

harus diminum. Untuk pentakarannya lihat 

di bawah (Monografi).

Selain pengobatan juga fisioterapi dengan 

latihan gerak untuk memelihara tenaga otot 

dan kondisi tulang rawan penting sekali. 

Dewasa ini untuk kasus parah seperti sendi 

yang rusak (pinggul, lutut) sering kali di- 

ganti dengan protese buatan melalui pembe-

dahan.


SPONDILOSIS

Spondilosis (spondylitis ankylopoetica, penya-

kit Bechterew) yaitu  artrose dari tulang 

punggung. pemicu nya yaitu  peradangan 

dari urat-urat dan jaringan yang dibutuh-

kan untuk pergerakan punggung. Akibatnya 

ruas-ruas (discs) melengkung dan tumbuhnya 

tulang berlebihan, yang dapat memicu  

pertumbuhan menyatu. Akhirnya penderita 

menjadi bungkuk. Umumnya spondilosis di-

mulai antara usia 15-25 tahun dengan nyeri 

pinggang (“low back pain”) dengan peradang-

an dan kekakuan pada pagi hari (morning 

stiffness).Penyakit ini bersifat menurun dan 

sering kali diawali dengan peradangan di 

usus atau akibat infeksi veneris. Menurut 

perkiraan suatu antigen mikrobial, mungkin 

infeksi viral, disebarkan dari usus ke sendi-

sendi, yang mengakibat kan aktivasi granu-

losit, produksi sitokin dan peradangan. 

Darah dari kebanyakan penderita spondi-

losis mengandung antigen lekosit tertentu, 

yaitu HLA-B27, yang berperan melawan per-

adangan. Seperti diketahui HLA (Human 

Leucocyte Antigen) penting bagi pengenalan 

kelompok lekosit seseorang pada transplan-

tasi organ dan dapat disamakan dengan 

golongan darah A, B, AB, dan O. Lihat Bab 

49, Dasar-dasar imunologi.

Terapi ditujukan untuk mengurangi rasa 

nyeri dan peradangan dengan NSAIDs. Yang 

penting yaitu  gerak badan dan perbaikan 

sikap tubuh untuk meningkatkan kekuatan 

Gambar 21-1: Sendi normal dan osteoartritis

dan kelenturan. Penderita dianjurkan tidur 

tengkurap untuk menghindari tulang pung-

gung membengkok ke depan.

REMA JARINGAN LEMBUT

Rema “soft tissue“ juga termasuk kelompok 

penyakit degeneratif seperti artrose, namun