fleks defekasi di poros usus (rektum).
3. Zat-zat pembesar volume: zat-zat lendir
(agar-agar, metilselulosa, CMC) dan zat-zat na-
bati Psyllium, gom Sterculia dan katul.
Semua senyawa polysakarida ini sukar
dipecah dalam usus dan tidak diserap
(dicernakan), a.l. serat-serat alamiah: selulosa,
hemiselulosa, pektin, lignin, gom-gom dan zat-
zat lendir. Zat-zat ini berdaya menahan air
sambil mengembang. Di samping itu pada
perombakan oleh kuman-kuman usus terben-
tuklah asam-asam organik dan gas-gas (CO2,
O2, H2, CH4), sedang massa bakteri juga
meningkat; semua ini turut memperbesar
volume chymus. Dengan demikian khasiat
mencaharnya berdasar rangsangan mekanis
dan kimiawi terhadap dinding usus ditambah
dengan pelunakan tinja. Selama pemakaian
zat-zat ini penting sekali untuk minum ba-
nyak air, sampai 3 liter sehari.
Sayur-mayur dan buah-buahan juga
mengandung banyak serat nabati yang terdiri
dari polisakarida itu di atas. Kombinasi
dari zat-zat pembesar volume ini dengan
laksansia kimia lainnya (mis. senyawa
antrakinon) tidak dianjurkan, sebab
kegiatannya akan dihambat.
4. Zat-zat pelicin dan emollientia: natrium-
docusat, natriumlauril-sulfo-asetat dan parafin
cair. Kedua zat pertama memiliki aktivitas
permukaan (detergensia) dan mempermudah
defekasi, sebab melunakkan tinja dengan
meningkatkan penetrasi air ke dalamnya.
Parafin melicinkan penerusan tinja dan be-
kerja sebagai bahan pelumas.
Efek samping umum
Laksansia kontak, zat-zat pembesar volume dan
laktulosa/laktitol dapat memicu perasaan
kembung dan banyak angin (flatulensi).Ge-
jala ini dapat dikurangi dengan pentakar-
an awal rendah yang berangsur-angsur
dinaikkan. Laksansia kontak bila dipakai
kronis melumpuhkan motilitas usus. Bila zat-
zat pembesar volume diminum dengan terlalu
sedikit air, obstipasi justru bisa memburuk
atau bahkan terjadi obstruksi usus! Minyak
kastor dan fenolftalein memicu sejumlah
efek samping buruk, maka kini jarang di-
gunakan lagi.
Kehamilan dan laktasi. Semua laksansia
boleh dipakai oleh wanita hamil, kecu-
ali minyak kastor, yang bisa memicu his. Se-
baiknya berhati-hati dengan bisakodil, kare-
na dapat memicu kejang-kejang. Laktu-
losa dianggap sebagai laksans paling aman
selama kehamilan. Senyawa antrakinon, mag-
nesiumsulfat dan fenolftalein masuk ke dalam
air susu ibu, sehingga tidak boleh diberikan
selama menyusui.
MONOGRAFI
1. LAKSANSIA KONTAK
1a. Tumbuhan yang mengandung glikosida
antrakinon
Laksansia ini juga dinamakan pencahar
emodin dan baru menjadi aktif sesudah gliko-
sida dihidrolisis dalam usus menjadi bentuk
aglukonnya. Efeknya tampak sesudah 6 jam
atau lebih, sebab hidrolisis berlangsung
lambat. Mekanisme kerjanya berdasar
stimulasi peristaltik usus besar.
Efek samping. Pada pemakaian Senna dan
Rhei Radix, ginjal akan mengeluarkan asam
krisofan yang memberikan warna kuning-
cokelat kepada air seni yang bereaksi asam
atau merah-ungu bila alkalis.
Kehamilan dan laktasi. pemakaian nya ti-
dak dianjurkan selama laktasi, sebab da-
pat mencapai air susu ibu. Untuk uraian
mengenai Rhamni Cortex (Cascara sagrada =
Lat. kulit pohon yang kudus) yang kini tidak
dipakai lagi, lihat Edisi IV.
1b. Sennae Foliolum
Daun-daun dari pohon Cassia angustifolia
ini mengandung sebagai zat aktif terpenting
a.l. dua senyawa glikosida isomer: sennosida
A dan B. Zat-zat ini memiliki daya laksatif
terkuat dari semua zat antrakinon alamiah
lainnya. Kacangnya (Sennae folliculum) juga
dapat dipakai sebagai obat pencahar yang
jarang memicu efek samping kejang-
kejang.
Sediaan yang dahulu dibuat dari tumbuhan
ini yaitu Infusum Sennae Compositum (‘Senna
tea’), yang pembuat annya harus menurut
suatu prosedur tertentu untuk menghindari
anthranol bebas yang dapat memicu
kejang-kejang dan sakit perut. Kini jarang
dipakai lagi
1c. Rhei Radix
Akar tinggal dari tumbuhan Rhei palmatum
(kelembak) yang berasal dari Cina merupakan
suatu obat pencahar yang dahulu dipakai
sebagai serbuk maupun sebagai ekstrak dan
sirop. Dewasa ini akar Rhei jarang dipakai
lagi dalam ilmu kedokteran resmi.
1d. Bisakodil: Dulcolax
Derivat difenilmetan ini yaitu laksans
kontak populer yang bekerja langsung ter-
hadap dinding usus besar (colon) de ngan
memperkuat peristaltiknya. Tinja pun menja-
di lunak. Di samping pemakaian nya sebagai
pencahar umum, juga sering dipakai
untuk mengosongkan usus besar sebelum
pembedahan atau pemeriksaan dengan sinar
Röntgen.
Resorpsi. Dalam usus halus bisakodil
diresorpsi sampai 50% dan sesudah desasetilasi
dalam hati sebagian dikeluarkan dengan
empedu dan mengalami siklus enterohepatik.
Metabolitnya juga aktif. Sisanya diekskresi
melalui ginjal. Bagian yang tidak diserap
berkhasiat terhadap dinding usus. Defekasi
terjadi sesudah ± 7 jam, pada pemakaian
rektal sesudah ± 30 menit. sebab resorpsi
tidak diperlukan bagi khasiat mencaharnya
dan supaya jangan membebankan hati, tablet
diberikan sebagai tablet e.c. tahan-asam yang
baru pecah di bagian bawah usus halus.
Dengan demikian resorpsi dibatasi sampai
sedikit mungkin, lagi pula iritasi terhadap
dinding lambung dihindari.
Efek samping jarang terjadi dan berupa
kejang-kejang perut; secara rektal obat ini
dapat merangsang selaput lendir rektum.
Tidak boleh dipakai bersamaan dengan
susu atau zat-zat yang bereaksi alkalis
(antasida) sebab bisa merusak lapisan
enteric-coating dari tablet.
Kehamilan. Obat ini dapat dipakai
selama kehamilan, walaupun harus berhati-
hati sebab dapat memicu kejang perut.
Dosis: sebelum tidur 1-2 tablet-salut dari
5 mg; suppositoria 10 mg (asetat) pada pagi
hari. Sebagai klisma: larutan 10 mg/5 ml
dalam polietilenglikol.
* Natriumpikosulfat (Laxoberon) yaitu
derivat sulfat sintetik dengan khasiat dan
sifat yang sama. Zat ini baru aktif sesudah
dihidrolisis oleh enzim hidrolase (dari bak-
teri) di dalam colon dan coecum menjadi
metabolit-metabolitnya. Daya kerjanya lam-
bat, sesudah 10-12 jam dan sering kali di-
gunakan sebagai laksans sebelum pembe-
dahan.
Resorpsinya di usus ringan sekali dan
dikeluarkan sebagai glukuronidanya melalui
kemih dan feses. Secara rektal tidak efektif.
Dosis: malam hari sebelum tidur 5-10 mg,
anak-anak dari 4-6 tahun 2,5-5 mg.
1e. Fenolftalein: *Agarol , *Laxadine
Serbuk yang berwarna putih ini yaitu
derivat difenilmetan yang kerja laksatifnya
berdasar terutama atas rangsangannya
terhadap usus besar. Zat ini sukar larut dalam
air, tidak ada rasanya dan tidak berbau.
Jarang dipakai lagi sebagai laksans umum
(bersama agar-agar). Dalam analisis kimia,
fenolftalein dipakai sebagai indikator pa-
da titrasi asam-basa.
Resorpsinya. Di dalam usus kecil, zat ini
dilarutkan oleh kegiatan garam-garam dan
empedu. Mulai kerjanya 4-8 jam sesudah
pemberian. Sebagian zat diserap dan ma-
suk ke dalam sirkulasi untuk kemudian
diekskresi dalam empedu. Disebabkan siklus
enterohepatik kerjanya bisa bertahan sampai
2-3 hari.
Efek sampingnya serius dan berupa kolik,
kolaps, lupus erythematodes dan reaksi kepe-
kaan pada kulit, juga pigmentasi yang dapat
bertahan selama beberapa waktu sesudah
pengobatan dihentikan. Zat ini bersifat
karsinogen pada tikus dan di banyak negara
telah dibatalkan registrasinya (1997).
Dosis: 50-200 mg (maks. 300 mg), diberikan
pada malam hari sebelum tidur.
*Laxadine = fenolftalein 55 + gliserin 378 mg
dalam paraff liq 1200 ml
1f. Oleum ricini: minyak kastor, minyak jarak.
Minyak kastor diperas dari biji pohon
jarak (Ricinus communis) dan mengandung
trigliserida dari asam risinoleat, suatu asam
lemak tak-jenuh. Di dalam usus halus se-
bagian zat ini diuraikan oleh enzim lipase dan
menghasilkan asam risinoleat yang memiliki
efek stimulasi terhadap usus halus. sesudah
2-8 jam timbul defekasi yang cair.
Efek sampingnya berupa kolik, mual dan
muntah. Oleum ricini tidak boleh dipakai
oleh wanita hamil.
Dosis: dewasa 15-30 ml; anak-anak 4-15 ml.
2. LAKSANSIA OSMOTIK
2a. Magnesiumsulfat: garam Inggris, garam
Epsom
Mekanisme kerjanya di dalam usus ber-
dasarkan penarikan air (osmosis) dari bahan
makanan sebab tigaperempat dari dosis oral
tidak diserap. Akibatnya yaitu pembesaran
volume usus dan meningkatnya peristaltik
di usus halus dan usus besar, di samping
melunakkan tinja.
Resorpsi. Antara 15-30% dari dosis diserap
oleh usus yang dapat meng akibatkan ka-
dar magnesium darah terlampau tinggi,
khususnya bila fungsi ginjal kurang baik
(lansia). Oleh sebab itu garam Inggris
hendaknya jangan dipakai untuk waktu
lama. Mulai kerjanya sesudah 1-3 jam. Boleh
dipakai selama kehamilan; obat ini masuk
ke dalam air susu ibu.
Dosis: 15-30 g sekaligus di dalam segelas
air hangat dan diminum pada perut kosong.
Daya kerjanya cepat (2-4 jam) dan efektif.
Catatan: magnesiumoksida (MgO) pada
dosis 2-5 g juga bekerja sebagai pencahar.
* Laxasium = suspensi Mg(OH)2 400 mg /
5ml
* Magnesiumsitrat dahulu dipakai seba-
gai sediaan Magnesii citras effervescens dan
Mixtura Magnesii Citratis (Limonade purgative)
yang terdiri dari campuran magnesium kar-
bonat dan asam sitrat. Efek samping: gangguan
fungsi ginjal serius.
2b. Natriumsulfat: garam Glauber
Dosis: 15 g dalam 150-500 ml air. Dosis lebih
besar dapat memicu muntah- muntah.
2c. Laktulosa: Duphalac
Derivat sintetik dari laktosa ini yaitu
suatu disakarida yang terdiri dari 1 molekul
fruktosa dan 1 molekul galaktosa. Di da-
lam usus halus laktulosa tidak diresorpsi
sebab tidak ada enzim yang tepat
untuk menghidrolisisnya. Baru di dalam
usus besar, zat ini diuraikan de ngan cepat
oleh bakteri-bakteri tertentu (Lactobacillus)
dan menghasilkan asam laktat dan asam ase-
tat. Asam-asam organik ini menahan air
berdasar proses osmosis dengan efek
stimulasi peristaltik, sehingga tinja menjadi
lunak dan defekasi distimulasi. Efeknya baru
tampak sesudah 24-48 jam.
pemakaian nya selain sebagai laksans
juga pada coma hepaticum yang sewaktu-
waktu terjadi pada penderita cirrhosis hati,
di mana amoniak dari usus masuk ke dalam
peredaran darah dan otak. Klisma de ngan
laktulosa ternyata sama efektifnya de ngan
neomisin, berdasar peng ikatan gas
NH3 dalam usus. Dalam keadaan normal,
pengubahan amoniak menjadi ureum di
dalam hati dapat terhambat bila fungsi hati
terganggu.
Efek sampingnya berupa perut kembung
dan banyak gas, terutama selama hari-hari
pertama. Pada overdosis terjadi nyeri perut
dan diare.
Dosis: permulaan 30 ml larutan 50% (pagi
hari), dosis pemeliharaan 15 ml. Pada coma
hepaticum: 3 dd 30 ml. Pada salmonellosis:
3 dd 15 ml minimal 14 hari, sampai hasil
pembiakan tinja tiga kali berturut-turut ne-
gatif.
* Laktitol (Importal) yaitu derivat sintetik
dari laktosa (1989) dengan daya kerja dan
pemakaian sama dengan laktulosa. Di sam-
ping itu, zat ini dipakai sebagai zat pemanis,
daya manisnya 40% dari sakarosa.
Dosis: 1 dd 20 g d.c. pagi atau malam hari.
2d. Gliserol
Gliserol dipakai sebagai sediaan rektal
untuk segera mengosongkan usus besar.
Secara rektal zat ini praktis tidak diserap
sedang daya kerjanya sudah tampak
sesudah 15-30 menit. Kadar yang tinggi dalam
suppositoria dapat memicu iritasi lokal.
Dosis: dewasa dan anak-anak usia 6 tahun
ke atas 3 g dalam suppositoria (70% dalam
gelatin) atau klisma (4-5 g untuk dewasa,
anak-anak 2-3 g).
2e. Sorbitol: *Microlax, *Klyx
Alkohol-gula ini (C6H14O6) dipakai se-
bagai laksan secara oral maupun dalam
klisma. Resorpsinya dari usus lambat dan
tidak menentu. Dalam hati sorbitol lambat
laun diubah menjadi fruktosa dan untuk
sebagian kecil langsung menjadi glukosa.
Daya manisnya 50% dari sakarosa; pasien
diabetes boleh memakai sorbitol sebagai
zat pemanis, maksimal 50 g sehari .
Efek samping pada dosis besar berupa diare
dan flatulensi. Hati-hati pada penderita gang-
guan fungsi ginjal. Kontra-indikasi pada
gangguan fungsi hati dan encok.
Dosis: 30-50 g; dalam klisma 120 ml dari
larutan 250-300 mg/ml.
3. ZAT-ZAT YANG MENGEMbANG
3a. Agar-agar: *Agarol
Agar-agar yaitu zat lendir yang dike-
ringkan dari tumbuhan genus Gelidium (Asia
Timur) dan terutama terdiri dari hemiselulosa
yang tidak dapat dicerna. Zat ini jarang
dipakai tunggal, umumnya dalam sediaan
kombinasi. Dalam industri juga dipakai
sebagai stabilisator emulsi. Mulai kerjanya
dalam waktu 24 jam.
Dosis: 1-2 dd 4-16 g dengan air namun
kebanyakan dalam sediaan kombinasi.
3b. Metilselulosa: Tylose, Methocel
Metilselulosa yaitu metileter dari selulosa
yang ada dengan berbagai derajat
viskositas. Zat ini banyak dipakai sebagai
zat ‘pengental’ dalam industri pangan dan
dalam sediaan farmasi, a.l. dalam tetes mata
dan liur buatan pada kekurangan air mata
dan liur, juga sebagai cairan untuk lensa
kontak keras. Begitu pula sebagai zat pelekat
untuk kertas dinding.
Efek sampingnya berupa kembung (flatulensi)
dan bila dipakai tanpa cukup air dapat
memicu obstruksi esofagus.
Dosis: 4 dd 1-1,5 g dalam segelas air.
* Carmellose (karboksimetilselulosa, C.M.C.)
yaitu derivat karboksi yang viskositasnya
tergantung dari tipenya. Di dalam tubuh
carmellose sama sekali tidak bereaksi (in-
differen). Efeknya tampak dalam waktu 24
jam. Kadangkala zat ini diguna kan pada
penanganan obesitas untuk menghilangkan
perasaan lapar namun efektivitasnya diragu-
kan.
Dosis: 4 dd 1-1,5 g (garam-Na) dalam se-
gelas air.
3c. Plantago: Psyllium, *Metamucil
Benih-benih ini diperoleh dari ber bagai jenis
tumbuhan Plantago ovata yang mengandung
hemiselulosa dan zat lendir (mucilago) dalam
jumlah besar dan dapat membentuk suatu gel
bila bersentuhan dengan air. Kulit benih juga
dipakai sebagai laksan. Bulk-nya tidak
dicernakan namun diekskresi dalam keadaan
utuh. Obat ini terutama berguna untuk
sembelit dengan tinja yang kering dan keras.
Selain itu plantago dipakai pada diare cair
kronis untuk memadatkan tinja. Efek samping:
reaksi alergi (rhinitis).
Dosis: 1-3 dd 4-10 g dalam air.
3d. Gom Sterculia: gom karaya, Normacol
Gom ini diperoleh dari a.l. tumbuhan
Sterculia urens dan terdiri dari suatu kompleks
polisakarida yang mulai kerjanya dalam
waktu 24 jam.
Dosis: 2 dd 5-10 g granulat (600 mg/g) p.c.
3e. Serat-serat nabati
Secara kimiawi serat-serat nabati meru-
pakan kompleks polimer dari hidratarang
dan terdiri atas selulosa, lignin dan/atau
pektin. Dalam tumbuh an, serat-serat khusus
ada sebagai dinding sel dari bebera-
pa jenis gandum, sayur-mayur dan buncis
(beans), juga dalam buah-buahan (terutama
sebagai pektin). Polisakarida itu tidak
dapat dicerna, sehingga tidak dapat diserap
oleh usus. Hemiselulosa untuk sebagian di-
fermentasi oleh kuman-kuman usus besar
dengan menghasilkan asam-asam organik
dan gas..
Khasiat mencaharnya berdasar struk-
turnya yang terdiri atas rantai-rantai selulosa
dan berupa bunga karang berlubang-lubang
lembut (porous), yang berdaya menyerap
dan mengikat molekul air dengan efek me-
ngembang. sebab nya, isi usus diperbesar
dan peristaltik distimulasi, sehingga defe-
kasi lancar. berdasar sifatnya yang da-
pat mengikat air dan zat-zat lainnya, selain
sebagai laksan, serat-serat nabati juga digu-
nakan untuk beberapa gangguan, yaitu:
– untuk menurunkan kadar kolesterol yang
meningkat, dianjurkan diet dengan ±200
g sayuran + 2-3 butir buah-buaha n sehari.
Menurut penelitian, diet itu dapat
menurunkan kolesterol sekitar 10%. Lihat
Bab 36, Antilipemika. Pengobatan hiperli-
pidemia.
– sebagai pencegah kanker usus besar berda-
sarkan kemampuan serat-serat untuk
mengikat metabolit-metabolit karsinogen
tertentu dari garam empedu dan koles-
terol. Zat-zat ini dibentuk oleh kuman-
kuman anaerob dari flora usus. Lihat Bab
14, Sitostatika, Makanan dan Kanker.
– sebagai zat pembantu pada kur meng uruskan
tubuh. Makanan yang kaya akan serat
mengandung kalori rendah dan harus
dikunyah lebih lama. Juga berdaya mem-
perbesar volume isi lambung, sehingga
lebih cepat memicu perasaan ke-
nyang dibandingkan zat-zat gizi yang
berkalori tinggi; dengan kata lain, serat-
serat memiliki nilai saturasi tinggi.
* Katul yaitu selaput luar dari butir-butir
beras (gandum) yang tertinggal pada proses
penggilingan. Di samping banyak vitamin
dan mineral, katul juga mengandung banyak
serat de ngan polisakarida itu di atas.
Efek sampingnya berupa perasaan lambung
penuh dan flatulensi. Efeknya tampak dalam
24 jam. Perlu minum minimal 1,5 liter air
sehari.
Dosis: 20-30 g sehari dalam 2-3 kali di-
campur dengan makanan.
4. ZAT PELICIN DAN EMOLLIENTIA
4a. Parafinum cair: Paraffinum liquidum (spi-
ssum), *Agarol
Parafinum terdiri atas campuran senyawa
hidrokarbon cair jenuh yang diperoleh dari
minyak bumi. Zat ini tidak dicerna dalam
saluran lambung-usus dan hanya bekerja
sebagai zat pelicin bagi isi usus dan tinja.
Gunanya untuk melunakkan tinja, teruta-
ma sesudah pembedahan rektal atau pada
penyakit wasir. pemakaian nya dapat me-
nimbulkan iritasi sekitar dubur. Zat ini di-
gunakan sebagai emulsi yang kadang-kadang
dikombinasi dengan fenolftaleine.
Keburukannya yaitu sifatnya yang me-
ngurangi penyerapan oleh tubuh dari zat-zat
gizi, a.l. vitamin yang larut dalam lemak (A,
D, E dan K). Bila diinhalasi (tersedak), zat ini
dapat memicu sejenis radang paru-
paru berbahaya (pneumonia lipoid). Penggu-
naannya selama kehamilan tidak dianjurkan.
Oleh sebab masalah ini parafin cair praktis
tidak dipakai lagi.
Dosis: 15-30 ml, diberikan pada malam hari
sebelum tidur.
4b. Natrium dokusinat: dioctyl-Na-sulfosu-
ccinate, *Klyx
Asam sulfonat yang berantai panjang (C21)
ini, memiliki aktivitas permukaan (detergens),
sehingga mempermudah pemasukan air ke
dalam chymus dan melunakkan tinja. Efek-
nya dimulai 1-3 hari sesudah pemakaian
peroral, secara rektal sangat cepat, sesudah
5-12 menit.
Efek samping jarang dan ringan, a.l. gang-
guan lambung-usus, ruam kulit dan iritasi
tenggorok.
Dosis: oral malam hari 50 -360 mg, rektal
100 mg dalam suppositoria.
* Natriumlaurylsulfoasetat (*Microlax) ada-
lah derivat dengan sifat yang sama dan peng-
gunaannya sebagai klisma (45 mg) bersama
PEG-400 625 mg/5 ml.
OBAT SUSUNAN
SARAF PUSAT
biasanya sistem saraf yang meng-
koordinasi sistem-sistem lainnya di dalam
tubuh dibagi dalam dua kelompok, yakni:
a. Susunan Saraf Pusat (SSP), yang terdiri
dari otak dan sumsum tulang belakang dan
b. Susunan Saraf Perifer yang dapat dibagi
lagi dalam dua bagian, yakni:
– saraf-saraf motoris atau saraf eferen yang
menghantarkan impuls (isyarat) listrik
dari SSP ke jaringan perifer melalui neu-
ron eferen (motorik);
– saraf-saraf sensoris atau sarat aferen yang
menghantarkan impuls dari periferi ke
SSP melalui neuron aferen (sensory).
Saraf eferen dapat dibagi pula dalam 2 sub-
sistem utama:
c. Sistem Saraf Otonom, yang mengendalikan
organ-organ dalam secara tidak sadar. Me-
nurut fungsinya SSO ini dibagi dalam dua
cabang, yakni Sistem (Orto) Simpatis dan
Sistem Parasimpatis ( SO dan SP)
d. Sistem Saraf Motoris, yang mengendalikan
fungsi-fungsi tubuh secara sadar.
Impuls eksogen diterima oleh sel-sel pene-
rima (reseptor) untuk kemudi an diteruskan
ke otak atau sumsum belakang. Rangsangan
dapat berupa perangsang (stimuli) nyeri,
suhu, perasaan, pengli hatan, pendengaran,
dan lain-lain. Yang khusus akan dibahas
dalam seksi ini yaitu impuls saraf yang ber-
hubungan dengan pusat nyeri (di otak), pusat
tidur (di hipothalamus) dan kapasitas mental,
yang menjadi fungsi kulit otak (corte x).
Kesadaran akan perasaan sakit terbentuk dari
dua proses, yakni penerimaan perang sang
nyeri di otak besar dan reaksi emosiona l da-
ri individu terhadapnya. Analgetika meme-
ngaruhi proses pertama melalui peningkatan
ambang kesadaran akan perasaa n sakit, se-
dang kan narkotika menekan reaksi psikis
yang diakibatkan oleh perangsang nyeri
itu .
Di pihak lain, fungsi SSP dapat ditekan se-
luruhnya secara tidak spesifik oleh zat-zat
pereda pusat seperti hipnotika dan seda-
tiva. Sebagai akibatnya kesadaran untuk
impuls eksogen diturunkan serta aktivitas
fisik dan mental dikurangi. Obat-obat ini
tidak memengaruhi tingkah laku (behaviour)
secara spesifik, sebagaimana halnya dengan
tranquilizers, yang di samping itu juga ber-
khasiat depresif terhadap SSP. Antagonis faali
dari obat-obat itu yaitu zat-zat yang
berkhasiat menstimulasi seluruh SSP, yaitu
analeptika (wekamin) dan antidepresiva.
Kedua jenis obat ini memengaruhi semanga t
dan suasana jiwa berdasar kegiatan
langsung terhadap otak.
Untuk praktisnya, obat yang bekerja terhadap
SSP dapat dibagi dalam beberapa golongan
besar, yang diuraikan di bab-bab tersen diri,
yakni:
1. psikofarmaka (psikotropika), yang me-
liputi:
a. psikoleptika: jenis obat yang pada
umumnya menekan dan/atau meng-
hambat fungsi-fungsi tertentu dari
SSP, yakni hipnotika, sedativa dan
tranquilizers (Bab 24), dan antipsi-
kotika (Bab 29).
b. psiko-analeptika: jenis obat yang men-
stimulisasi seluruh SSP, yakni anti-
depresiva dan psikostimulansia (we-
ka min) (Bab 30).
2. jenis obat untuk gangguan neurologi s,
seperti antiepileptika (Bab 27), MS (mul-
tiple sclerosis), penyakit Parkins on dan
demensia (Bab 28).
3. jenis obat yang menghalau atau mem-
blokir perasaan sakit: analge tika, antira-
dang/rematik dan narkotika anestetika umum dan lokal
4. jenis obat vertigo dan obat migrain
ANALGETIKA PERIFER
Analgetika atau obat penghalang nyeri ada-
lah zat-zat yang mengurangi atau menghalau
rasa nyeri tanpa menghilangkan kesadaran
(perbedaan dengan anestetika umum).
RASA NYERI DAN DEMAM
Definisi. Nyeri yaitu perasaan sensoris dan
emosional yang tidak nyaman, berkaitan
dengan ada nya atau ancaman timbul-
nya kerusakan jaringan. Keadaan psikis sa-
ngat memengaruhi nyeri, misalnya emosi
dapat memicu sakit (kepala) atau mem-
perhebatnya, namun dapat pula menghindari
sensasi rangsangan nyeri. Nyeri merupakan
suatu perasaan subyektif dan ambang
toleransi nyeri berbeda-beda bagi setiap
orang. Batas nyeri untuk suhu konstan, yaitu
pada 44-45°C.
Hubungan antara nyeri akut dengan ke-
rusakan jaringan mudah dideteksi, namun
pada nyeri kronis hubungan ini sering kali
kurang atau tidak jelas dan banyak dipe-
ngaruhi oleh aspek-aspek psikis dan sosial.
Nyeri kronis yaitu nyeri yang berlangsung
lebih lama dari 6 bulan, sedang nyeri
subakut bila berlangsung dari 2 sampai 6
bulan. Nyeri akut bila kurang dari 2 bulan.
Rasa nyeri dalam kebanyakan kasus hanya
merupakan suatu gejala yang berfungsi se-
bagai isyarat bahaya tentang adanya gang-
guan di jaringan, seperti peradangan (rema,
encok), infeksi mikroorganisme atau kejang
otot. Nyeri yang disebabkan oleh rangsangan
mekanik, kimiawi, atau fisik (kalor, listrik)
dapat memicu kerusakan pada jaringan.
Rangsangan itu memicu pelepasan zat-
zat tertentu yang disebut mediator nyeri,
antara lain histamin, bradikinin, leukotriën
dan prostaglandin.
Semua mediator nyeri itu merangsang
reseptor nyeri (nociceptor) di ujung-ujung
saraf bebas di kulit, mukosa serta jaringan
lain dan demikian memicu antara lain
reaksi radang dan kejang-kejang. Nosiseptor
ini juga ada di seluruh jaringan dan
organ tubuh, terkecuali di SSP. Dari tempat
ini rangsangan disalurkan ke otak melalui
jaringan lebat dari tajuk-tajuk neuron dengan
sangat banyak sinaps via sumsum belakang,
sumsum lanjutan dan otak tengah. Dari
thalamus impuls kemudian diteruskan ke
pusat nyeri di otak besar, di mana impuls
dirasakan sebagai nyeri.
Nyeri berdasar nosiseptor memberikan
respons baik terhadap analgetika seperti pa-
rasetamol, NSAID’s dan analgetik narkotik.
sedang nyeri non-nosiseptor seperti nyeri
neuropatik (saraf), kurang responsif terhadap
analgetika.
* Mediator nyeri penting yaitu amin his-
tamin yang bertanggung jawab untuk ke-
banyakan reaksi alergi (bronchokonstriksi,
pengembangan mukosa, pruritus) dan nyeri.
Bradikinin yaitu polipeptida (rangkaian
asam amino) yang dibentuk dari protein
plasma. Prostaglandin mirip strukturnya de-
ngan asam lemak dan terbentuk dari asam
arakidonat. Menurut penelitian zat-zat ini me-
ningkatkan kepekaan ujung saraf sensoris bagi
rangsangan nyeri yang diakibatkan oleh me-
diator lainnya. Zat-zat ini berefek vasodilatasi
kuat dan meningkatkan permeabilitas kapiler
yang memicu radang dan udema.
Berhubung kerja serta inaktivasi nya cepat
dan bersifat lokal, maka zat-zat ini juga di-
namakan hormon lokal. Mungkin sekali zat-
zat ini juga bekerja sebagai mediator demam.
Lihat juga Bab 21, Analge tika anti radang.
PROSTAGLANDIN (penemu Von Euler dan Goldblatt)
Nama prostaglandin (PG) diberikan pada sekelompok senyawa yang farmakologik sa ngat aktif
dan pertama kali diekstraksi dari kelenjar vesikular kambing, kemudian diisolasi dari cairan semen
manusia oleh Von Euler dan Goldblatt (1935). namun ternyata bahwa prostaglandin mencakup
suatu kelompok besar dari senyawa-senyawa yang secara kimiawi sangat dekat berkaitan dan
ada di berbagai jaringan dan bukan hanya di prostat
Prostaglandin, prostasiklin dan tromboksan merupakan kelompok asam lemak tidak-jenuh
terhidroksilasi dengan rangkaian panjang, yang dalam kadar sangat rendah dapat mencetuskan
sejumlah efek biologis yang sangat luas di berbagai jaringan. Dibentuk dari asam arachidon melalui
a.l. enzim siklo-oksigenase.
Prostaglandin berperan pada banyak proses-proses fisiologi seperti vasodilatasi, vasokonstriksi,
pengaturan suhu badan, agrgasi trombosit, kehamilan, proses peradangan, motilitas dan efek
sitoprotektif saluran gastro-intestinal, neurotransmis otonom dan fungsi endokrin dari ginjal.
Tromboksan berperan pada reaksi peradangan dan permeabilitas mukosa lambung,
mempertahankan tonus dari vena/arteri serta neurotransmisi.
Prostasiklin (PGI2; diketemukan tahun 1976) memiliki daya hambatan kuat terhadap vasokonstriksi
dan agregasi trombosit. Oleh sebab itu dipakai sebagai vasodilator dan untuk menghindari
agregasi trombosit.
Prostaglandin dibentuk dari precursor utamanya yaitu asam esensial arachidon sama seperti
leukotriën (dahulu disebut SRS-A atau Slow Reacting Substance of Anaphylaxis), yang berperan pada
pathogenesis penyakit alergi seperti asma.
Struktur kimia dan penamaan (nomenclatuur)
Semua prostaglandin dibentuk dari inti siklopentan dengan 2 cabang-sisi dari seluruhnya 20 atom
karbon sehingga membentuk struktur seperti jepit rambut (asam prostan). Senyawa-senyawa ini
dibagi dalam 2 golongan induk:
– prostaglandin E dengan gugusan satu -–OH-(hidroksi)- dan satu ==O-(okso)- ;
– prostaglandin F dengan 2 gugusan hidroksi pada cincin pentan.
Tiap tipe prostaglandin diberi huruf kelompok A, B, C, D, E atau F sesuai dengan struktur cincin
siklopentan. Huruf kelompok diikuti oleh suatu nomor (= jumlah ikatan ganda), lalu indeks klasifikasi
(alfa atau beta) berdasar konfigurasi stereo dari gugusa n C9-hidroksil.
Yang terutama ada dalam tubuh yaitu prostaglandin E2 dan F2α , yang disebut prostaglandin
klasik.
Prostasiklin ditandai dengan huruf I, sedang tromboksan disingkat sebagai TXA dan TXB.
Di bawah ini ikthtisar dari efek-efek fisiologi dan penerapan dari prostaglandin.
Efek terhadap organ-organ:
Otot licin (uterus, saluran darah, gastro-intestinal)
Trombosit: aggregasi
Hormon: produksi hormon
Susunan Saraf Pusat
Reaksi peradangan
Ginjal
* Ambang nyeri didefinisikan sebagai ting-
kat (level) pada saat nyeri dirasakan untuk
pertama kalinya. Dengan kata lain, intensitas
rangsangan yang terendah saat seseorang
merasakan nyeri. Untuk setiap orang ambang
nyerinya konstan.
Demam. biasanya demam yaitu su-
atu gejala dan bukan merupakan penyakit
tersendiri. Kini para ahli bersependapat bah-
wa demam yaitu suatu reaksi yang berguna
dari tubuh terhadap infeksi. Pada suhu di atas
37° C limfosit dan makrofag menjadi lebih
aktif. Bila suhu melampaui 40-41° C, barulah
terjadi situasi kritis yang bisa menjadi fatal,
sebab tidak terkendalikan lagi oleh tubuh.
PENGGOLONGAN
Atas dasar kerja farmakologisnya, analgetika
dibagi dalam dua kelompok besar, yakni:
a. Analgetika perifer (non-narkotik), yang
terdiri dari obat-obat yang tidak bersi-
fat narkotik dan tidak bekerja sentral.
Analgetika anti radang termasuk kelom-
pok ini.
b. Analgetika narkotik khusus dipakai
untuk menghalau rasa nyeri hebat, seperti
pada fraktur dan kanker. Obat-obat ini
dibahas di Bab 22.
PENANGANAN RASA NYERI
berdasar proses terjadinya, rasa nyeri da-
pat “dilawan” dengan beberapa cara, yakni
dengan:
a. Analgetika perifer, yang menghalangi
terbentuknya rangsangan pada reseptor
nyeri perifer
b. Anestetika lokal, yang menghalangi pe-
nyaluran rangsangan di saraf-saraf sen-
sori s
c. analgetika sentral (narkotika), yang
memblokir pusat nyeri di SSP dengan
anestesi umum
d. Antidepresif trisiklis, yang dipakai
pada nyeri kanker dan saraf, mekanisme
kerjanya belum diketahui, misalnya
amitriptili n
e. Antiepileptika, yang meningkatkan jum-
lah neurotransmitter di ruang sinaps pada
nyeri, mis. pregabalin, karbamazepin,
okskarbazepin, fenitoin dan valproat.
Pada pengobatan nyeri dengan analgetika,
faktor-faktor psikis turut memegang
peranan seperti sudah diuraikan di atas,
misalnya kesabaran individu dan daya
mengatasi nyerinya. Obat-obat di bawah ini
dapat dipakai sesuai jenis nyerinya.
Penanganan jenis-jenis nyeri
Nyeri ringan dapat ditangani dengan obat
perifer, seperti parasetamol, asetosal, asam mefe-
namat, propifenazon atau aminofenazon, begitu
pula rasa nyeri dengan demam. Untuk nyeri
sedang dapat ditambahkan kafein atau kodein.
Nyeri yang disertai pembengkakan atau
akibat trauma (jatuh, tendangan, tubrukan) se-
baiknya diobati dengan suatu analgetika anti
radang, seperti aminofenazon dan NSAID
(ibuprofen, asam mefenamat, dan lain-lain ). Nye-
ri hebat perlu ditanggulangi dengan morfin
atau opiat lainnya (Tramadol). Nyeri kepala
migrain dapat ditangani de ngan obat-obat
khusus, lihat Bab 52.
Nyeri pada kanker umumnya diobati me-
nurut suatu skema bertingkat empat, yaitu
pemberian:
Penerapan klinik:
Asma
Hipertensi
Trombosis
Penyakit pembuluh perifer
Sitoprotekti saluran gastro-intestinal
Ginekologi
Kehamilan (penghentian kehamilan, abortus)
1. Obat perifer (non-opioid) per oral atau
rektal: parasetamol, asetosal.
2. Obat perifer bersama kodein, atau tra-
madol
3. Obat sentral (opioid) per oral atau rektal
4. Obat opioid parenteral.
Untuk memperkuat efek analgetik dapat
ditambahkan suatu co-analgetikum, seperti
psikofarmaka (amitriptilin, levopromazin)
atau prednison.
Nyeri saraf kronis. Antara lain dikenal nyeri
saraf nosiseptif yang disebabkan oleh saraf
terluka atau terjepit, nyeri neuropati perifer dan
nyeri saraf yang berasal dari SSP.
Neuropati perifer yaitu suatu gangguan
saraf perifer dengan perasaan seperti ditusuk-
tusuk, lemah otot, mati rasa dan hilang
refleks yang diawali dari jari-jari, kemudian
memicu kelumpuhan pada kedua kaki
atau tangan. pemicu -pemicu nya yaitu :
1. diabetes, pemicu terpenting akibat ke-
rusakan sel saraf sebab kadar gula darah
yang tinggi; perasaan nyeri diawali dari
kaki kemudian ke tangan;
2. infeksi misalnya herpes zoster (neuralgi
postherpetik) dan HIV;
3. metabolisme, misalnya defisiensi vitamin
(B1, B6, B12);
4. gangguan imunologi (sindrom Guillain-
Barré, hilang refleks dan lumpuh otot);
5. berbagai jenis tumor (myeloma);
6. gangguan akibat keturunan;
7. saraf terjepit;
8. trauma;
9. minum alkohol berlebihan;
10. intoksikasi zat kimia dan logam berat;
11. obat-obat: sitostatika (senyawa platina
karboplatin, cisplatin), taksan (docetaxel,
paclitaxel), alkaloid vinca (vincristin), bor-
tezumib, talidomida dan lenalidomida,
antibiotika (nitrofurantoin, siprofloksasin,
doksisiklin), obat malaria (meflokuin),
antimikotika (itrakonazol), antiprotozoa
(metronidazol), obat antiretroviral (NRTI
didanosin), obat TB (isoniazida dapat me-
nyebabkan defisiensi vitamin B6), obat
antihipertensi (amlodipin, enalapril, lo-
sartan, metoprolol), statin (atorvastatin,
simvastatin), perintang TNF-alfa (eta-
nercept, infliksimab, adalimumab), anti-
depresiva (paroksetin, mirtazapin, ven-
lafaksin).
Dasar keluhan-keluhan ini sangat bervariasi
sebab berbagai sistem reseptor memegang
peranan. Oleh sebab itu umumnya digu-
nakan kombinasi dari dua atau lebih obat.
Nyeri ini sukar diatasi dengan analgetik
klasik (parasetamol, NSAIDs dan opioid)
sebab tidak bersifat nosiseptif. Yang ternyata
lebih efektif yaitu antidepresif trisiklis dan
antiepileptik, tunggal atau juga sebagai tam-
bahan pada zat opioid seperti tramadol dan
fentanil.
Dapat dibedakan antara polineuropati dan
mononeuropati. Pada mononeuropati terda-
pat kerusakan pada satu saraf, misalnya
akibat trauma, sedang polineuropati me-
rupakan gangguan menyeluruh simetris
dari saraf-saraf perifer termasuk saraf perifer
sensibel, motorik, otonom atau bersamaan.
Istilah perifer menyatakan bahwa Susunan
Saraf Pusat (SSP), seperti otak dan sumsum
tulang belakang, tidak termasuk dalam defi-
nisi ini.
Neuralgia postherpetik (sesudah sembuh dari
Herpes zoster) di sekitar bagian atas tubuh dan
neuralgia trigeminus di wajah juga merupakan
gangguan saraf perifer.
Untuk pengobatan umumnya diguna kan
amitriptilin, karbamazepin6,7 atau juga gaba-
penti n, fenitoin dan valproat.
Pada nyeri neuropati akut yang terasa
seperti tertusuk-tusuk jarum, karbamazepin
ternyata paling efektif, sedang pada nyeri
terus-menerus atau seperti perasaan terbakar,
amitriptilin dan gabapentin lebih ampuh .
Pada polineuropati yang bertalian de ngan
HIV, lamotrigin paling efektif, sedang kan
kebanyakan obat lainnya yang ampuh pada
polineuropati diabetes, tidak efektif.
* Pregabalin8. Obat ini (2004) telah dipa-
sarkan dengan indikasi khusus nyeri neu-
ropati. Rumus kimianya mirip GABA, te-
tapi mekanisme kerjanya tidak melalui pen-
dudukan reseptor GABA. Pregabalin me-
ngurangi jumlah noradrenalin, glutamat
dan substance-P di ruang sinaps, dengan efek
berkurangnya nyeri. Efektivitasnya belum
bisa dipastikan.
Efek samping utamanya yaitu perasaan pu-
sing hebat yang mirip keadaan mabuk dan
kejang kaki yang tidak hilang sesudah 4-5
hari seperti halnya pada obat-obat nyeri saraf
lain. Efek-efek ini membatasi pemakaian nya
sebagai obat tunggal. Keberatan lain yaitu
harganya yang sama tingginya dengan ga-
bapentin (yang patennya kini sudah kada-
luwarsa).
ANALGETIKA PERIFER
Penggolongan
Secara kimiawi, analgetika perifer dapat di-
bagi dalam beberapa kelompok, yakni:
a. Parasetamol
b. Salisilat: asetosal, salisilamida dan be-
norila t
c. Penghambat prostaglandin (NSAIDs):
ibuprofen, dan lain-lain
d. Derivat antranilat: mefenaminat, glafenin
e. Derivat pirazolinon: propifenazon, iso-
propilaminofenazon dan metamizol
f. Lainnya: benzidamin (Tantum)
Co-analgetika yaitu obat yang khasiat dan
indikasi utama nya bukan menghilangkan
perasaan nyeri, mis. antidepresif trisiklis
(amitriptilin) dan antiepileptik (karbamazepin,
pregabalin, fenitoin, valproat). Obat-Obat ini
dipakai tunggal atau terkombinasi de-
ngan analgetik lain pada keadaan-keadaan
tertentu, seperti pada nyeri neuropatik.
pemakaian
Obat-obat ini mampu meringankan atau
menghilangkan rasa nyeri tanpa memenga-
ruhi SSP atau menurunkan kesadaran, juga
tidak menim bulkan ketagihan. Kebanyakan
zat ini juga berdaya anti pi retik dan/atau
anti ra dang. Oleh sebab itu tidak hanya
dipakai sebagai obat anti nyeri, namun
juga pada demam (infeksi virus/kuman,
selesma, pilek) dan peradangan seperti re-
ma dan encok. Obat-obat ini sering kali
diberikan untuk nyeri ringan sampai sedang,
yang pemicu nya berane karagam, misal-
nya nyeri kepala, gigi, otot atau sendi (rema,
encok), perut, nyeri haid (dismenore), nyeri
akibat benturan atau kecela kaan (trau ma).
Untuk kedua nyeri terakhir, NSAID lebih
layak. Pada nyeri lebih berat mis. sesudah
pembedahan atau fraktur (tulang patah),
kerjanya kurang ampuh.
* Khasiat anti piretiknya berdasar rang-
sangan terhadap pusat pengatur kalor di
hipothalamus, yang memicu vasodi-
latasi perifer (di kulit) dengan bertambahnya
pengeluaran kalor yang disertai keluarnya
banyak keringat.
* Khasiat anti radang (anti flogistik). Ke-
banyakan analgetika memiliki daya anti-
radang, khususnya kelompok besar dari zat-
zat penghambat prostaglandin (NSAIDs,
terma suk asetosal), begitu pula benzidamin.
Zat-zat ini banyak dipakai untuk rasa
nyeri yang disertai peradangan dan akan
dibahas lebih mendalam di Bab 21, Obat-obat
Rema.
* Kombinasi dari dua atau lebih analgetik
sering kali diguna kan, sebab terjadi efek
potensiasi. Lagi pula efek sampingnya dapat
berkurang, sehingga dosis masing-masing
analgetik dapat diturunkan. Kombinasi anal-
getik dengan kofein dan kodein sering kali
dipakai , khusus nya dalam sediaan
dengan paraseta mol dan asetosal.
Efek samping
Yang paling umum terjadi yaitu gangguan
lambung usus (b,c,e), kerusa kan darah (a, b,
d, dan e), kerusakan hati dan ginjal (a,c) dan
juga reaksi alergi kulit. Efek-efek samping
ini terutama terjadi pada pemakaian lama
atau dalam dosis tinggi. Oleh sebab itu
pemakaian analgetika secara kontinu tidak
dianjurkan.
Interaksi. Kebanyakan analgetika memper-
kuat efek antikoagu lansia, kecuali parase-
tamol dan glafenin. Kedua obat ini pada dosis
biasa dapat dikombinasi dengan aman untuk
waktu maksimal dua minggu.
Kehamilan dan laktasi
Hanya parasetamol yang dianggap aman
bagi wanita hamil dan menyusui, walaupun
dapat dikeluarkan melalui air susu. Asetosal
dan salisilat, NSAIDs dan metamizol dapat
mengganggu perkembangan janin, sehingga
sebaiknya dihindari. Dari aminofenazon dan
propifenazon belum ada cukup data.
MONOGRAFI
1. Aminofenazon: aminopirin (F.I.), amidopirin,
Pyramidon
Derivat pirazolinon ini (1887) berkhasiat
analgetik, anti pire tik dan anti radang.
Resorpsi di usus cepat, mulai kerjanya sesudah
30-45 menit, plasma-t½ 2-7 jam. sebab efek
samping terhadap darah (agranulositosis,
leukopenia) sering kali fatal, obat berbahaya ini
sejak tahun 1980-an dilarang peredarannya
di banyak negara. Bila timbul borok-borok
kecil di mulut, nyeri tenggorok atau demam
(tanda-tanda agranulositosis), pengoba tan
harus segera dihentikan!
Kehamilan dan laktasi. Semua obat dari
kelompok pirazolinon tidak boleh digunaka n
selama kehamilan dan laktasi!
Dosis: 3 x sehari 300-600 mg, maksimal 3 g/
hari.
a. Isopropilaminofenazon (isopirin *Pehazon,
*Migran) yaitu derivat aminopi rin dengan
khasiat yang sama. Zat ini juga berefek sedatif
dan pada dosis tinggi hipnotik. Toksisitasnya
lebih ringan.
Dosis: oral, rektal atau i.v. 3 x sehari 400 mg
selama 1 minggu, kemudian 600 mg/hari.
b. Fenazon (F.I.) (antipirin) yaitu senya wa
induk dari obat-obat itu di atas tanpa
khasiat anti radang (1884). sebab berkhasiat
lebih lemah dan lebih sering menim bulkan
reaksi kulit, obat ini kini praktis sudah di-
tinggalkan. Adakalanya fenazon masih digu-
nakan dalam obat kumur pada nyeri teng-
gorok, berdasar efek anestetik lokal
(lemah) dan kerja vasokonstriksi.
c. Propifenazon (propilantipirin, *Saridon,) ada-
lah derivat fenazon (1951) tanpa khasiat
anti radang dengan sifat kurang lebih sama.
Plasma-t½ 90 menit. Risiko agranulositosis
lebih ringan.
Dosis: 1-3 x sehari 150-300 mg, biasanya
terkombinasi dengan analgeti k lain.
* Metamizol (antalgin, dipiron, novaminsulfon,
metampiron, *DoloNeurobion, Novalgin, *Unagen)
yaitu derivat sulfonat dari aminofena-
zon yang larut dalam air (1946). Khasiat
dan efek sampingnya sama. Obat tua ini
dapat secara mendadak dan tidak terduga
memicu kelainan darah yang adaka-
lanya fatal. sebab bahaya agranulositosis,
obat ini sudah lama dilarang peredarannya di
ba nyak negara, antara lain di Swedia, Inggris,
Jerman, Belanda dan India. Di Amerika dan
Inggris obat ini tidak pernah dipasarkan.
Walaupun berbahaya puluhan obat ini
masih beredar di negara kita sebagai zat
tunggal maupun dalam kombinasi dengan
obat lain misalnya dengan diazepam atau
vitamin-vitamin.
Dosis: oral 0,5-4 g sehari dalam 3-4 dosis.
2. Asam asetilsalisilat (F.I.): Asetosal, Aspirin,
Cafenol, Naspro.
Asam asetilsalisilat atauAspirin merupakan
salah satu obat analgetik tertua (Bayer, 1899)
dan sepanjang masa pa ling sukses, yang
sampai kini terbanyak dipakai di seluruh
dunia. Di tahun 2014 telah diproduksi di
seluruh dunia sekitar 35.000 ton aspirin dan
lebih dari 100 milyar tablet telah dikonsumsi.
Obat ini telah dikembangkan oleh ahli ki-
mia dari Bayer di tahun 1899, yaitu Felix
Hoffmann, Arthur Eichengrun dan ahli far-
makologi Heinrich Dreser.
Zat ini juga berkhasiat anti demam kuat dan
pada dosis rendah sekali (40 mg) berkhasiat
meng hambat agregasi trombosit. Efek anti
trombotik yang tidak reversibel ini bekerja ber-
dasarkan blokade enzim siklo-oksigenase (COX-
1) yang bertahan selama trombosit hidup.
Dengan demikian, sintesis tromboksan A2
(TxA2) – yang bersifat trombotik dan vaso-
konstriktif – dihindari (lihat Bab 21, Mekanis-
me kerja NSAID’s). Pada dosis lebih besar
dari normal (di atas 5 g sehari) obat ini juga
berkha siat anti radang akibat gagalnya
sintesis prostaglandin-E2 (PgE2).
pemakaian . Selain merupakan analgetik,
sekarang ini asetosal banyak dipakai se-
bagai alternatif dari antikoagulan pencegah
infark serangan kedua. Hal ini berkat khasiat
antitrombotiknya. Obat ini juga efektif untuk
profilaksis serang an stroke kedua sesudah
menderita TIA (Transient Ischaemic Attack,
serangan kekurangan darah sementara di
otak), teruta ma pada pria. Akhir-akhir ini
diberitakan kemungkinan pemakaian nya
untuk prevensi kanker usus dan prostat
(2014).
Resorpsinya cepat dan praktis lengkap, ter-
utama di bagian pertama duodenum. Na-
mun, sebab bersifat asam, sebagian zat di-
serap pula di lambung. BA-nya lebih rendah
akibat FPE dan hidrolisis selama resorp si.
Dimulai efek analgetik dan antipiretiknya
cepat, yakni sesudah 30 menit dan bertahan 3-6
jam; efek antiradang nya baru tampak sesudah
1-4 hari. Resorpsi dari rektum (supositoria)
lambat dan tidak menentu, sehingga dosisnya
perlu digandakan. Dalam hati, zat ini segera
dihidrolisis menjadi asam salisilat dengan efek
anti nyeri lebih ringan. PP 90-95%, plasma-t½
15-20 menit, masa paruh asam salisilat yaitu
2-3 jam pada dosis 1-3 g/hari.
Efek samping yang paling sering terjadi
yaitu iritasi mukosa lambung de ngan risi-
ko tukak lambung dan perdarahan samar
(occult blood) gastro-intestinal. pemicu nya
yaitu sifat asam dari asetosal, yang dapat
dikurangi melalui kombina si dengan suatu
antasid (MgO, aluminiumhidroksida, CaCO3)
atau dipakai garam kalsiumnya(carbasalat).
Pada dosis besar faktor lain memegang
peranan, yaitu hilangnya efek pelindung dari
prostasiklin (PgI2) terhadap mukosa lambung,
yang sintesis nya turut dirin tangi akibat
blokade siklo-oksigenase.
Selain itu asetosal memicu efek spe-
sifik seperti reaksi alergi kulit dan tinitus (te-
linga berdengung) pada dosis lebih ting-
gi. Efek yang lebih serius yaitu kejang-
kejang bronki hebat, yang pada pasien
asma dapat memicu serangan, walau-
pun dalam dosis rendah. Anak-anak kecil
yang menderita cacar air atau flu/selesma
sebaiknya jangan diberi asetosal (namun para-
setamol), sebab berisiko terkena Sindrom
Reye yang berbahaya. Sindroma ini ditandai
muntah hebat, melamun, gangguan perna-
pasan, konvul si, adakalanya koma dan ke-
matian.
Wanita hamil tidak dianjurkan menggu-
nakan asetosal dalam dosis tinggi, terutama
pada triwulan terakhir dan sebelum persali-
nan, sebab lama kehamilan dan persali nan
dapat diperpan jang, juga kecenderungan
perdarahan meningkat. Asetosal dikeluarkan
melalui air susu ibu, namun ibu dapat di-
berikan obat ini selama laktasi, walaupun
sebaiknya tidak terlalu sering.
Interaksi. Asetosal memperkuat daya ker-
ja antikoagulansia, anti diabetika oral dan
metotreksat. Efek obat encok probenesid dan
sulfinpirazon berkurang, begitu pula diure-
tika furose mid dan spiro nolakton. Kerja
analgetiknya diperkuat oleh antara lain ko-
dein dan d-propoksifen. Alkohol meningkat-
kan risiko perdar ahan lambung usus. sebab
efek anti trombotiknya yang memicu
risiko perdarahan, pemakaian asetosal perlu
dihentikan satu minggu sebelum misalnya
pencabutan gigi.
Dosis: pada nyeri dan demam oral 4 x sehari
0,5-1 g p.c., maksimal 4 g sehari, anak-anak
sampai 1 tahun 10 mg/kg 3-4 kali sehari, 1-12
thn 4-6 x sehari, di atas 12 thn 4 x sehari 320-
500 mg, maksimal 2 g/hari. Rektal dewasa 4
x sehari 0,5-1 g, anak-anak sampai 2 thn 2 x
sehari 20 mg/kg, di atas 2 thn 3 x sehari 20
mg/kg sesudah makan. Pada rema oral dan
rektal 6 x sehari 1 g, maksimal 8 g/hari, pada
serangan migrain dosis tunggal dari 1 g, 15-
30 menit sesudah minum domperi don atau
metoklopramid. Untuk prevensi sekunder
infark jantung 1 x sehari 100 mg dan sesudah
TIA 1 x sehari 40-100 mg de ngan dosis awal
100 mg.
* Bentuk-bentuk asetosal yang larut dalam
air:
– karbasalatkalsium (Ascal) yaitu garam
kalsium dari asetosa l, yang air kristalnya
diganti dengan urea (1951). Garam ini
tidak bereaksi asam dan kurang merang-
sang mukosa lambung (100 mg Ascal = 80
mg asetosal).
– lisin-asetosal yaitu senyawa yang se-
telah larut terurai dalam bentuk asam
amino lisin dan asetosal, yang kemudian
dihidro lisis menjadi salisilat. Kombinasi
(1620 mg) dengan metoklo pramid (10 mg)
dianjurkan terhadap migrain (Migrafin).
a. Diflunisal (Diflonid, Dolocid) yaitu derivat
difluorfenil (1980) dengan khasiat dan efek
samping lebih kurang sama. Khasiatnya
analgetik, anti radang dan urikosurik (me-
ngeluarkan asam urat). Daya menghambat
agregasi ringan dan baru tampak pada dosis
tinggi, yaitu di atas 2 g/hari. PP-nya lebih
tinggi (99%), t½-nya lebih panjang dan tergan-
tung dari dosis: 8 dan 15 jam pada masing-
masing 250 dan 1000 mg. Zat ini tidak dihi-
drolisis menjadi asam salisi lat. Ekskresinya
terutama melalui urin sebagai glukuronida .
Jarang memicu perdarahan lambung
usus.
Dosis: untuk nyeri, juga rema, permulaan
0,5-1 g, disusul dengan 2 x sehari 0,25-0,5 g,
maksimal 1,5 g/hari.
b. Benorilat (Bentum, Benortan) yaitu ester
asetosal dengan parasetamol (1972). sesudah
resorpsi segera dihidrolisis menjadi asam
salisilat dan parasetamol. Plasma-t½ ±1 jam.
Gangguan lambung usus lebih jarang terjadi
dibanding dengan asetosal.
Dosis: maksimal 4 x sehari 0,5-1 g.
c. Salisilamida (F.I.) (salamid, *Neozep, *Refa-
gan) yaitu derivat salisilat de ngan khasiat
lebih lemah di semua bidang. Efeknya ku-
rang dapat dipercaya. Di dinding usus meng-
alami FPE besar, sehingga dosisnya harus
tinggi. Zat ini sering mengganggu pencer-
naan; perdarahan samar jarang timbul diban-
dingkan dengan asetosal. Pada overdosis
dapat terjadi hipotensi, depresi SSS dan ter-
henti nya pernapasan. pemakaian nya sudah
dianggap kuno.
Dosis: 3-4 x sehari 0,5-1 g.
d. Natriumsalisilat (F.I.) (*Nephrolit, Entero-
salicyl) lebih lemah khasiatnya dibandingkan
dengan asetosal. Efek sampingnya lebih ku-
rang sama, kecuali tidak menghambat agre-
gasi trombosit.
Dosis: 4-6 x sehari 1-1,5 g, maksimal 12 g/
hari.
e. Metilsalisilat (Wintergreen oil, *Sloan’s lini-
ment) yaitu cairan berbau khas yang di-
peroleh dari daun dan akar tumbuhan akar
wangi (Gaultheria procumbens). Zat ini juga
dibuat sintetik. Khasiat analgetik pada peng-
gunaan lokal sama dengan senyawa salisilat
lainnya. Metilsalisilat diresorpsi baik oleh
kulit dan banyak dipakai dalam obat
gosok dan krem (3-10%) untuk nyeri otot,
sendi, dan lain-lain. Peng gun aan oral sebanyak
30 ml sudah fatal, terutama anak-anak sa ngat
peka terhadap obat ini.
* Glikolsalisilat (*Sloan’s balsem, Mentho-
neurin) yaitu ester lain dari asetosal yang
juga banyak dipakai dalam obat gosok
untuk nyeri otot (1-16%).
3. Fenilbutazon: Butazolidin, *New Skelan,
*Pehazon/forte.
Derivat pyrazolidin ini (1949) mirip rumus
intinya dengan fenazon. Khasiat anti ra-
dangnya lebih kuat daripada daya kerja
analgetiknya. Oleh sebab itu obat ini khusus
dipakai untuk jenis artritis tertentu, seperti
derivat nya oksifenilbuta zon (Tanderil). Lihat
selanjutnya Bab 21, Analgetika Anti radang.
Penyalahgunaan. Kadangkala fenilbutazon
dibubuhkan secara ilegal (tanpa dicantumkan
pada etiket) pada produk dari pabrik-pabrik
kecil asing (Hongkong) atau sering kali dalam
minuman tonik (dengan Ginseng) untuk
keadaan lesu, letih, nyeri otot dan perasaan
lemah. Adakalanya obat ini dikombinasi de-
ngan kortikosteroid, yang membuat obat-obat
demikian sangat berbahaya sebab efeknya
merusak sel-sel darah dan efek melemahkan
sistem imun.
Efek samping serius, antara lain terhadap
darah dan lambung, sehingga di banyak
negara Barat sudah ditarik dari peredaran
sejak akhir tahun 1980-an. Kadangkala fenil-
butazon masih dipakai untuk nyeri otot
dalam bentuk krem 5%.
Dosis: pada serangan rema atau encok oral
dan rektal 2-3 x sehari 200 mg.
4. Glafenin: Glaphen, Glifanan.
Glafenin yaitu suatu derivat 4-amino-
kinolin (seperti obat rema klorokuin), yang
terikat pada asam antranilat (1965). Pada
dosis biasa obat ini tidak berdaya antipiretik
atau anti radang; potensi kerja analgetiknya
dapat disamakan dengan asetosal.
Resorpsi di usus cepat; di dalam hati zat
ini dirombak menjadi asam glafeninat, yang
mungkin berperan utama bagi efek anti
nyerinya. Plasma-t½ 1-2 jam dan daya kerja-
nya ± 5 jam.
Efek sampingnya berupa gangguan lambung
usus, mengantuk dan pusing. Yang lebih
serius yaitu reaksi anafilaktik, kerusakan
hati dan anemia hemolitik, yang adakalanya
berakibat fatal. Oleh sebab itu sejak tahun
1992 di banyak negara Eropa, termasuk Be-
landa, glafenin sudah ditarik dari peredaran
oleh produsennya.
Dosis: permulaan 400 mg, lalu 3-4 x sehari
200 mg, maksimal 1 g sehari.
* Asam mefenamat (Ponstan) yaitu juga
derivat antranilat dengan khasiat analgetik,
antipiretik dan anti radang yang cukup
baik. Obat ini banyak sekali dipakai se-
bagai obat nyeri dan rema. Efek samping
yang paling sering terjadi yaitu gangguan
lambung usus.
Dosis: permulaan 500 mg, lalu 3-4 x sehari
250 mg sesudah makan.
5. Parasetamol: asetaminofen, Panadol, Tylenol,
Tempra, *Nipe, Dumin
Derivat asetanilida ini yaitu metabolit
dari fenasetin yang dulu banyak dipakai
sebagai analgetik, namun pada tahun 1978
telah ditarik dari peredaran sebab efek
sampingnya (nefrotoksik dan karsinogen).
Khasiatnya analge tik dan antipiretik, namun
tidak anti radang. Dewasa ini biasanya
dianggap sebagai zat antinyeri yang paling
aman, juga untuk swamedikasi (pengobatan
mandiri). Efek analgetiknya diperkuat oleh
kodein dan kofein dengan kira-kira 50%.
Dianjurkan untuk sebaiknya tidak meng-
gunakan parasetamol pada anak-anak yang
hanya menderita demam sebab menggang-
gu respons imun.
Resorpsi dari usus cepat dan praktis tuntas,
secara rektal lebih lambat. PP ±25%, plas-
ma-t1/2 1-4 jam. Antara kadar plasma dan
efek tidak ada hubungan. Dalam hati zat
ini diuraikan menjadi metabolit-metabolit
toksik yang diekskresi melalui urin sebagai
konyugat glukuronida dan sulfat.
Efek samping tak jarang terjadi, antara lain
reaksi hipersensitivi tas dan kelainan darah.
Pada pemakaian kronis dari 3-4 g sehari
dapat terjadi kerusakan hati dan pada dosis
di atas 6 g mengakibat kan nekrosis hati yang
tidak reversibel. Hepatotoksisitas ini dise-
babkan oleh metabolit-metabolitnya yang
pada dosis normal dapat ditangani oleh gluta-
thion (suatu tripeptida dengan gugus -SH).
Pada dosis di atas 10 g persediaan peptida
itu habis dan metabolit-metabolit meng-
ikat protein dengan gugusan-SH di sel-sel
hati dan terjadilah kerusakan irreversibel.
Dosis 20 g sudah berefek fatal. Overdosis
dapat memicu a.l. mual, muntah dan
anoreksia. Penanggulangannya dengan cuci
lambung, di samping perlu pemberian zat
penawar (asam amino N-asetilsistein atau
metionin) sedini mungkin, sebaiknya dalam
8-10 jam sesudah intoksi kasi.
Wanita hamil dapat memakai para-
setamol dengan aman, juga selama laktasi
walaupun dikeluarkan melalui air susu ibu.
Interaksi. Pada dosis tinggi dapat memperkuat
efek antikoagulans namun pada dosis biasa
tidak interaktif. Masa paruh kloramfenikol
dapat sangat diperpanjang. Kombinasi de-
ngan obat AIDS zidovudin meningkatkan
risiko neutropenia.
Dosis: untuk nyeri dan demam oral 2-3
x sehari 0,5-1 g, maksimal 4 g/hari, pada
pemakaian kronis maksimal 2,5 g/hari.
Anak-anak: 4-6 x sehari 10 mg/kg, yaitu rata-
rata usia 3-12 bulan 60 mg, 1-4 thn 120-180
mg, 4-6 thn 180 mg, 7-12 thn 240-360 mg, 4-6
x sehari. Rektal 20 mg/kg setiap kali, dewasa
4 x sehari 0,5-1 g, anak-anak usia 3-12 bulan
2-3 x sehari 120 mg, 1-4 thn 2-3 x sehari 240
mg, 4-6 thn 4 x sehari 240 mg dan 7-12 thn 2-3
x sehari 0,5 g.
* Saridon = parasetamol 250 mg + propi-
fenazon 150 mg + kofein 50 mg
* Sanalgin = parasetamol 250 + propifenazon
250 + kofein 46 mg
* Finimal = parasetamol 500 + vit C 100 +
kofein 50 + aspartam 10 mg
* Artrosan = parasetamol 500 + vit C 50 mg
+ sitrat Na 500 mg (sachet)
* Coldrex = parasetamol 500 + vit C 30 mg
+ sitrat Na 500 mg (sachet)
6. Tramadol: Tramal, Theradol
Analgetik opiat (1977) ini tidak menekan
pernapasan dan praktis tidak memengaruhi
sistem kardiovaskuler dan motilitas lambung
usus. sebab praktis tidak bersifat adiktif
di kebanyakan negara termasuk negara kita ,
obat ini tidak dimasukkan dalam Daftar
Narkotika. Efek analgetik dari 120 mg
tramadol oral setaraf dengan 30-60 mg morfin.
Obat ini dipakai untuk nyeri yang tidak
terlampau hebat bila kombinasi parasetamol,
kodein dan NSAIDs kurang efektif atau tidak
dapat dipakai . Untuk nyeri akut atau
pada kanker, morfin umumnya lebih ampuh.
Lihat selanjutnya Bab 22, Analgetik Narkotik.
Tramadol tidak dianjurkan selama kehamilan
dan laktasi.
Dosis: anak-anak 1-14 tahun 3-4 x sehari 1-2
mg/kg. Di atas 14 tahun 3-4 x sehari 50-100
mg, maksimal 400 mg sehari.
* Zaldiar, Ultracet* = tramadol HCl 37,5 +
parasetamol 325 mg
7. Levomepromazin: Nozinan
Derivat fenotiazin ini berkhasiat analgetik
pada nyeri sedang sampai hebat dan terutama
diberikan sebagai obat tambahan pada pa-
sien-pasien rawat, berefek antipsikotik, seda-
tif dan antikolinergik.
Absorpsi dari tablet 70-90% dan BA-nya
50% akibat FPE besar. Kadar maksimal dalam
darah dicapai sesudah 1-4 jam (per oral) dan
sesudah injeksi i.m 0,5-1,5 jam.
Dari dua metabolitnya hanya satu yang
berkhasiat antipsikotik. Waktu paruhnya
15-78 jam, ekskresi melalui urin dan tinja.
Efek sampingnya berkaitan dengan kerja
antipsikotik yaitu: hilang inisiatif dan emosi
datar. Sering kali juga melamun dan rasa
kantuk pada awal terapi, pada dosis lebih
tinggi hipotensi ortostatik. Juga mulut ke-
ring, gangguan penglihatan, retensi urin,
nausea dan muntah.
Dosis : nyeri hebat 2-5 x sehari 50 mg, bila
perlu berangsur-angsur dinaikkan sampai
300-500 mg sehari, parenteral i.m dalam 12,5-
25 mg, sesudah beberapa hari diganti dengan
tablet. Nyeri sedang : 4-6 x sehari 12,5 mg dan
i.m 3-4 x sehari 10-15mg.
ANALGETIKA ANTIRADANG
DAN OBAT-OBAT REMA
Artritis yaitu nama gabungan untuk lebih
dari seratus penyakit, yang semuanya ber-
cirikan rasa nyeri dan bengkak, serta kaku-
nya otot dengan terganggunya fungsi alat-
alat gerak (sendi dan otot). Yang paling ba-
nyak ditemukan yaitu artrose (arthritis de-
formans), umumnya tanpa peradangan, lalu
rematik (arthritis rheumatica) dengan pera-
dangan, spondylosis dengan radang tulang
punggu ng, sindroma Reiter (dengan radang
ginjal dan selaput mata) dan encok. Penyakit
lainnya yang jarang ditemukan, antara lain
rema akut (septicarthritis) dan rema jaringan
lembut yang menghinggapi jaringan otot.
ARTROSE
Artrose (arthritis deformans) (Yun. arthron =
sendi, Lat. deformare = cacat bentuk), disebut
juga osteoartrose atau osteoarthritis. Ber-
cirikan degenerasi tulang rawan yang meni-
pis sepanjang progres penyakit, dengan pem-
ben tukan tulang ba ru, hingga ruang di antara
sendi menyempit. Lazimnya peradangan
hanya sementara dan berbeda dengan rema,
bersifat lokal dan tidak sistemik. Artrose
terutama sering menghing gapi sendi dengan
pembebanan besar seperti lutut (pada orang
gemuk) dan pinggul, namun sering pula tangan
dan kaki berciri penonjolan-penonjolan keras
(tulang) yang umumnya tidak nyeri. Menurut
perkiraan, 20% penduduk suatu negara men-
deri ta artrose, termasuk 50% dari lansia di
atas usia 50 tahun (kebanyakan wanita).
pemicu nya dapat bermacam-macam, an-
tara lain sendi yang dibebani terlalu berat
dengan kerusa kan mikro yang berulang-
kali, seperti pada orang yang terlampau ge-
muk. Begitupula akibat artritis septis atau
artritis lain dan tumbuhnya pangkal paha
secara abnormal (dysplasia). ada faktor
keturunan kuat. Hanya sebagian kecil kasus
yang disebab kan keausan akibat pemakaian
terlalu lama dan berat.
Diagnosis. Berlainan dengan rema dan en-
cok, artrose tidak dapat didiagnosis dengan
jalan tes darah seperti laju endap eritro sit,
kadar hemoglo bin (Hb) dan faktor-faktor da-
rah tertentu, sebab nilai ini semuanya nor-
mal.
Terapi hanya berupa simtomatik dengan
analgetika antiradang (NSAIDs) untuk me-
lawan rasa nyeri, juga pemakaian kalor
setempat bekerja meredakan. Di samping itu
perlu terapi untuk mengendalikan berat ba-
dan dan sikap tubuh yang tepat, bergerak
secara teratur, makan sehat dan menghin-
dari cedera. Sejak beberapa tahun mulai di-
gunakan kombinasi glucosamin dan chon-
droitin untuk penanganan artrose, kerap
kali dengan tambahan MSM (metilsulfonil-
metan). Obat-obat ini ternyata efektif untuk
mengurangi rasa nyeri, memperbaiki fungsi
sendi yang terganggu dan menstimulasi
pembentukan tulang rawan baru. Vitamin
C dan elemen spura mangan meningkatkan
keampuhannya, juga antioksidansia lain se-
perti vitamin A, C, E dan selenium. Belum
ada data mengenai berapa lama obat-obat ini
harus diminum. Untuk pentakarannya lihat
di bawah (Monografi).
Selain pengobatan juga fisioterapi dengan
latihan gerak untuk memelihara tenaga otot
dan kondisi tulang rawan penting sekali.
Dewasa ini untuk kasus parah seperti sendi
yang rusak (pinggul, lutut) sering kali di-
ganti dengan protese buatan melalui pembe-
dahan.
SPONDILOSIS
Spondilosis (spondylitis ankylopoetica, penya-
kit Bechterew) yaitu artrose dari tulang
punggung. pemicu nya yaitu peradangan
dari urat-urat dan jaringan yang dibutuh-
kan untuk pergerakan punggung. Akibatnya
ruas-ruas (discs) melengkung dan tumbuhnya
tulang berlebihan, yang dapat memicu
pertumbuhan menyatu. Akhirnya penderita
menjadi bungkuk. Umumnya spondilosis di-
mulai antara usia 15-25 tahun dengan nyeri
pinggang (“low back pain”) dengan peradang-
an dan kekakuan pada pagi hari (morning
stiffness).Penyakit ini bersifat menurun dan
sering kali diawali dengan peradangan di
usus atau akibat infeksi veneris. Menurut
perkiraan suatu antigen mikrobial, mungkin
infeksi viral, disebarkan dari usus ke sendi-
sendi, yang mengakibat kan aktivasi granu-
losit, produksi sitokin dan peradangan.
Darah dari kebanyakan penderita spondi-
losis mengandung antigen lekosit tertentu,
yaitu HLA-B27, yang berperan melawan per-
adangan. Seperti diketahui HLA (Human
Leucocyte Antigen) penting bagi pengenalan
kelompok lekosit seseorang pada transplan-
tasi organ dan dapat disamakan dengan
golongan darah A, B, AB, dan O. Lihat Bab
49, Dasar-dasar imunologi.
Terapi ditujukan untuk mengurangi rasa
nyeri dan peradangan dengan NSAIDs. Yang
penting yaitu gerak badan dan perbaikan
sikap tubuh untuk meningkatkan kekuatan
Gambar 21-1: Sendi normal dan osteoartritis
dan kelenturan. Penderita dianjurkan tidur
tengkurap untuk menghindari tulang pung-
gung membengkok ke depan.
REMA JARINGAN LEMBUT
Rema “soft tissue“ juga termasuk kelompok
penyakit degeneratif seperti artrose, namun















