rut, juga mengantuk
dan udema pada kaki. Seperti pada semua
agonis-DA adakalanya muncul rasa kantuk
pada siang hari yang tak tertahan dan pasien
tiba-tiba bisa jatuh tertidur.
Kombinasinya dengan levodopa juga me-
nyebabkan diskinesia, halusinasi dan berbi-
cara rancu.
Dosis: minggu pertama 3 dd 0,25 mg, mi-
nggu kedua 3 dd 0,5 mg, minggu ketiga 3
dd 0,75 mg dan minggu keempat 3 dd 1 mg.
Bila perlu berangsur-angsur dapat dinaikkan
sampai maksimal 3 dd 3 mg.
B2. Tacrin: tetrahydroaminoacridine, THA, Ari-
cept, Cognex
Derivat acridin ini (1993) berkhasiat meng-
hambat secara reversibel kolinesterase di
SSP. Tacrin dipakai pada bentuk ringan
atau sedang dari demensia Alzheimer, ber-
dasarkan penemuan bahwa pada pasien
demikian ada kehilangan selektif dari
neuron kolinergik di otak. Penurunan dosis
atau penghentian pengobatan harus secara
berangsur berhubung risiko timbulnya gang-
guan perilaku dan fungsi kognitif. Efekti-
vitasnya rendah., maka tidak banyak digu-
nakan lagi.
Pada pasien Alzheimer masa paruhnya
3 jam. Obat ini juga dipakai sebagai sti-
mulans pernapasan dan antidotum kurare.
Efek samping berupa gangguan saluran
cerna, pusing, nyeri sendi, konvulsi dan gang-
guan serius fungsi hati.
Dosis: permulaan oral 40 mg/hari selama 6
minggu, lalu dinaikkan dengan 40 mg setiap
6 minggu, maksimal 160 mg.
B3. Donepezil: Aricept
Obat ini (1997) yaitu enzim inhibitor ber-
dasarkan pembentukan suatu kompleks stabil
dengan asetilkolinesterase, yang dihidrolisis
dalam beberapa menit. Donepezil hanya
dipakai pada kasus ringan sampai sedang
demensia Alzheimer dengan efek terbatas
pada fungsi kognitif otak.
Resorpsi dari usus lengkap (hampir 100%),
PP 94%, t½ 70-100 jam. Donepezil dimetabo-
lisasi di hati untuk kemudian diekskresi
lewat urin.
Efek samping berupa gangguan saluran
cerna (mual, muntah, diare, anoreksia, dis-
pepsi, konstipasi), kejang otot dan tidak bisa
tidur.
Dosis: 1 dd 5 mg a.n. (sebelum tidur), sesu-
dah 4 minggu 1 dd 10 mg.
B4. Rivastigmin: Exelon
Obat ini (1997) menghambat kolinesterase
selama lebih dari 10 jam sesudah mengikatnya.
Pada Alzheimer ringan hanya memperbaiki
fungsi kognitif pada hanya sejumlah kecil
pasien, kurang dari 10% (NTvG 2002;146:24-
27). Resorpsi dari usus cepat dan lengkap,
namun BA hanya ±35% akibat FPE besar.
PP 40%, plasma-t½ ±1 jam. Di dalam hati
senyawa ini dirombak total dengan cepat.
Efek samping berupa perasaan lemah dan
malaise, pusing, gangguan saluran cerna dan
mengantuk. Begitu pula efek pusat (agitasi,
perasaan kacau, tremor dan depresi), berke-
ringat dan menurunnya berat badan.
Dosis: permulaan 2 dd 1,5 mg d.c, sesudah
itu setiap 2 minggu dapat dinaikkan sampai
2 dd 3 - 6 mg.
B5. Asam liponat: alpha-lipoic acid, thioctic acid
Derivat dithiolan (cincin-lima dengan 2
atom S) dari asam valerat ini berkhasiat
antioksidan broad-spectrum kuat, sebagai
faktor pertumbuhan untuk banyak kuman
dan protozoa. Fungsinya di dalam sel yaitu
sebagai pelindung mitochondria terhadap
kerusakan oksidatif, juga berperan penting
pada produksi energi aerob, sebab meru-
pakan ko-faktor dalam sistem enzim di siklus
asam sitrat (Krebs‘ cyclus).
Dalam mitochondria (pusat energi dari
sel), liponat diubah menjadi dihidroliponat
(DHL) yang juga aktif sebagai antioksidan
terhadap berbagai radikal oksigen reaktif.
DHL mampu memulihkan sifat antioksidan
asli dari molekul vitamin C dan vitamin E
yang sudah dipakai , sehingga mampu
mereduksi kembali (regenerasi) antioksi-
dansia yang sudah dioksidasi. Begitu juga
DHL dapat meregenerasi antioksidan intra-
seluler penting glutathion. DHL bekerja
baik di lingkungan intraseluler maupun
ekstraseluler. Lagi pula obat ini mampu
mengchelasi (mengikat) Fe, yang mensti-
mulasi pembentukan radikal hidroksil yang
berbahaya.
pemakaian . Di kalangan alternatif liponat
kini dipakai untuk menangani gangguan
sistem saraf, antara lain pada penyakit Par-
kinson dan Alzheimer, serta infark otak (beroerte).
Liponat juga dipakai untuk meringan-
kan gejala neuropati diabetes (Diab Care
1995;18: 1160-7). Mekanisme kerja dari kha-
siat neuroprotektif itu tidak diketahui
dengan pasti, namun diduga berdasar daya
antioksidannya yang kuat. Liponat bersifat
lipofil, maka dengan mudah melintasi rin-
tangan darah-otak. Dalam otak dan saraf
ada banyak asam lemak ganda tak je-
nuh (PUFA), oleh sebab itu bersifat sangat
peka bagi kerusakan oksidatif oleh radikal
bebas (FR), yang terbentuk akibat aktivi-
tas neurotransmitter tertentu. Khasiat anti-
oksidan dari liponat sangat bermanfaat da-
lam hal ini. Liponat juga terkenal sebagai
antidotum terhadap intoksikasi jamur bera-
cun Amanita muscaria, alkohol (berkat efek
menghambatnya terhadap pembentukan ase-
taldehida), logam-logam (Hg) dan zat pelarut
(tetraklor dan sebagainya). Lihat juga Bab 47,
Insulin, 6.Asam Liponat.
Dosis: 3 dd 100 mg.
C. MULTIPLE SCLEROSIS
C1. Interferon beta-1b: IFN-β1b, Betaferon
Protein ini dengan 165 asam amino yang
dibuat berdasar teknik DNA-rekombinan
oleh E. coli (1993), mengandung serin pada
C17 sebagai pengganti sistein (pada IFN-β1
alamiah). Obat ini berkhasiat antiviral dan
imunomodulator, antara lain menstimulasi
T-supressor cell (CD8+) yang jumlahnya
ternyata sangat rendah dan bersama pening-
katan produksi kortisol menghasilkan pe-
nurunan aktivitas proses imun. Senyawa
ini juga menekan efek imunologi dari IFN-
gamma, yang dihubungkan dengan pembu-
rukan gejala penyakit MS. namun belum
diketahui jelas mekanisme mana yang me-
miliki peranan terpenting bagi daya kerjanya
pada MS. Berkhasiat mengurangi frekuensi
serangan (dengan 30%), mengurangi hebat-
nya residif serta jumlah kerusakan myelin
pada gambaran-MRI dari bentuk MS ter-
tentu. Lagipula progres penyakit dapat di-
perlambat (Lancet 1998 ;352 :1491-7). Masa
paruhnya ±5 jam dan hanya dapat diberikan
parenteral.
Efek sampingnya berupa gejala flu dengan
demam menggigil, nyeri otot, berkeringat
dan malaise umum, juga reaksi alergi serius
dengan kadangkala urticaria, bronchospasme
dan anafilaksis, serta efek sentral (rasa takut,
kekacauan dan depresi).
Dosis: s.c. 8 MIU (= 250 mcg/ml) setiap 2
hari. Lihat juga interferon-alfa dan inter-
feron-gamma di masing-masing Bab 14, Si-
tostatika dan Bab 49, Imunomodulansia, juga
Bab 7, Virustatika.
*Interferon beta-1a (IFN-ß1a, Avonex) yaitu
suatu protein terglikolisasi yang terdiri dari 166
asam amino, identik dengan IFN-β human.
Pembuatan, khasiat dan pemakaian nya sa-
ma dengan IFN-β1b. Progres penyakit dapat
dipengaruhi secara positif.
Dosis: i.m. 6 MIU (= 30 mcg/ml) 1-3 kali
seminggu.
C2. Natalizumab: Tysabri
Merupakan monoklonal antibody (MOAB)
recombinant sebagai perintang integrin yang
di-ekspresikan dengan kuat pada permukaan
semua lekosit, kecuali neutrofil. Pengikatan
pada integrin mencegah migrasi lekosit ke
jaringan yang beradang dan mungkin juga
menekan reaksi peradangan. dipakai se-
bagai monoterapi pada tahap awal ‘relapsing
remitting’MS (RRMS). Masa paruhnya pan-
jang 6 jam dan dapat diperpanjang lagi tiga
kali bila ada antibodi yang bertahan.
Wanita hamil dan yang menyusui tidak
boleh diberikan obat ini.
Dosis: infus intravena selama 1 jam 300 mg
setiap 4 minggu
ANTIPSIKOTIKA
PSIKOFARMAKA
Obat penyakit jiwa yaitu obat-obat yang be-
kerja terhadap SSP dengan memengaruhi
fungsi-fungsi psikis dan proses-proses men-
tal. Dari banyak kelompok obat yang meme-
nuhi definisi ini, hanya psiko farmaka sejati
yang akan dibicarakan di bab ini, khususnya
antipsikotika (dan antidepresiva di Bab 30).
Yang lainnya seperti sedativa, tranquilli zers,
hipnotika dan anti-epilepti ka, telah dibahas
di Bab-bab tersendiri.
Sejarah. Di masa lampau penyakit jiwa dio-
bati dengan sedativa seperti candu, bromida
dan skopolamin, kemudian dengan barbi tal.
Pengobatan ini sering kali dilengkapi dengan
beberapa cara lain, misalnya kerja krea-
tif, kur tidur (1922) atau cara-cara yang agak
drastis (shock insulin, 1933 dan shock/kejang
listrik, 1937). Pada schizofrenia parah bah-
kan dilakukan operasi otak (leukoto mia, 1935)
untuk mengeluarkan sebagian otak. Cara-ca-
ra ini menghasilkan efek yang cukup baik,
terutama electros hock (Electro Convulsive Thera
py, ECT), namun pelaksanaannya dengan geja-
la yang hebat (serangan epilepsi, kerusakan
otak, hilangnya ingatan), telah menemui per-
lawa nan dari baik pasien maupun perawat.
Revolusi dalam farmakoterapi psikosis telah
dimulai dengan introduksi klorpromazin
pada tahun 1952. Antipsikotikum pertama
ini disusul oleh alkaloida Rauwolfia reserpin
(1954), yaitu suatu obat hipertensi yang de-
wasa ini dianggap kuno. Kemudi an banyak
antipsikotika lain dipasarkan yang efektif
dalam menanggulangi banyak gejala psikosis.
Kemaju an selanjutnya dicapai di akhir tahun
1980-an dengan ditemu kannya antipsikotika
baru yang mampu menyem buhkan gejala-
gejala nega tif, yang kebal terhadap obat-obat
terdahulu.
Obat generasi kedua itu tidak mampu me-
nyembuhkan 100% gangguan jiwa, namun
banyak gejalanya dapat dihilangkan atau
dikurangi. Keadaan pasien dapat diperbaiki,
hingga dapat melanjut kan kehidupannya
secara bebas dengan kuali tas hidup yang ba-
ik. Lagi pula obat-obat ini tidak saja lebih
efektif daripada obat-obat dan cara-cara la-
ma, melainkan mengubah drastis dan mem-
per mudah perawatan pasien di rumah sakit
gangguan jiwa. Mereka menjadi lebih ter-
buka dan bersedia berkomunikasi dengan
para dokter, perawat dan terapisnya. Masa
perawatannya di rumah sakit pun dapat
dipersingkat, sebab sering kali pengobat-
annya dapat secara ambulan, artinya poliklinis,
di rumahnya sendiri. Resosia lisasinya dalam
masyarakat juga berlangsung lebih lancar.
Meskipun demikian, psikofarmaka ternyata
tidak dapat menggantikan seluruhnya terapi
klasik, seperti ECT pada keadaan depresi
tertentu.
Penggolongan
Psikofarmaka dalam arti sempit, yang ter-
utama dipakai untuk penanganan gang-
guan jiwa, dapat digolongkan dalam dua
kelompok besar, yakni:
a. antipsikotika (dahulu disebut neurolep-
tika atau major tran quillizers) yang be-
kerja antipsikotik dan sedatif. Obat ini
dipakai khusus untuk berbagai jenis
psikosis (a.l. schizofrenia) dan mania;
b. antidepresiva, yang berdaya memper-
baiki suasana murung dan putus asa
yang terutama dipakai pada keadaan
depresi, panik dan fobia. Lihat selanjutnya
Bab 30, Antidepresiva.
Neurotransmitter
Di otak ada ±30 neurotransmitter atau
neurohormon yang ber tang gungjawab atas
penerusan impuls listrik antara sel-sel saraf
secara kimiawi. Dari tajuk (neurit, axon) di
ujung suatu neuron, neurohormon melintasi
sinaps (celah di antara dua sel saraf) ke tajuk
(dendrit) di bagian depan neuron berikutnya
(saraf postsinap tis). Ada sejum lah sistem neu-
rotrans mitter, antara lain sistem adrenergik dan
sistem koliner gik dengan zat-zatnya tersen diri,
lihat juga Seksi V, Penerusan impuls.
a. Sistem adrenergik. Neurohormon terpen-
ting di otak yaitu zat-zat monoamin nora-
drenalin (NA), serotonin (5-HT = 5hidrok
sit ripta min) dan dopamin (DA), yang menen-
tukan kegiatan otak dengan antar-keseim-
bangannya. Zat-zat ini khusus ada da-
lam gelem bunggelembung kecil di ujung axon
(presinaptis), yang letaknya dekat sinaps. Se-
telah impuls listrik mencapai axon, gelem-
bung depot melepas kan neurohormonnya.
Sebagian besar neurohormon segera diserap
kembali secara aktif oleh gelembung terse-
but (reupta ke), sisanya melintasi sinaps dan
mencapai reseptor-reseptor di ujung dendrit
di seberangnya. Setibanya di situ neurohor-
mon menstimulasi reseptor untuk melepas-
kan suatu impuls kedua, yang mengakibat-
kan “melompatnya” impuls asli melalui si-
naps. Enzim MAO (monoaminoksida se), yang
juga ada di ujung-ujung neuron, ber-
fungsi menguraikan monoamin sesudah
aktivi tasnya selesai.
Obat-obat yang mengurangi kadar dopa-
min di sel-sel saraf otak memiliki daya kerja
antipsikotik, sedang obat-obat yang me
ningkatkan kadar DA dipakai pada penya-
kit Parkinson. Obat-obat yang memperbesar
kadar seroto nin dan noradrenalin di celah
sinaptis dengan jalan menghambat re-upta-
kenya memiliki daya kerja antidepresi.
Gambar 29-1: Proses transmisi impuls saraf secara kimiawi
melalui sinaps di otak
b. Sistem kolinergik. Neurohormon asetil-
kolin (Ach) dari sistem kolinergik tidak
diresorpsi kembali, melainkan langsung diu-
rai kan oleh kolines terase. Obat-obat antiko-
linesterase yang meningkatkan kadar ACh
di otak, antara lain tacrin, dipakai untuk
demensia Alzheimer, lihat Bab 28 C, Obat-obat
demensia.
Antipsikotika
Antipsikotika (major tranquillizers) yaitu
obat-obat yang dapat menekan fungsi-fungsi
psikis tertentu tanpa memengaruhi fungsi
umum seperti berpikir dan berkelakuan nor-
mal. Obat ini dapat meredakan emosi dan
agresi dan dapat pula menghi langkan atau
mengurangi gangguan jiwa seperti impian
buruk dan pikiran khayali (halusinasi) ser-
ta menormalisasikan perilaku yang tidak
normal. Oleh sebab itu antipsikotika teruta-
ma dipakai pada psikosis, penyakit jiwa
hebat tanpa keinsafan sakit oleh pasien, mi-
salnya penyakit schizofrenia («gila») dan psi
kosis maniadepresif.
* Minor tranquillizers yaitu anksiolitika
yang dipakai pada gangguan kecemasan
dan pada gangguan tidur, seperti hipnotika.
Lihat Bab 24, Sedativa dan Hipnotika.
Gangguan jiwa
Klasifikasi. Ada ratusan penyakit jiwa dan
gangguan perilaku, yang tidak mudah di-
diagnosis. Untuk memudahkan dan menstan-
dardisasi diagnosis, lazimnya dipakai kla-
sifikasi dari APA (American Psychi atric Asso
ciation) dalam buku pedoman nya DSM-5
(Diagnostic and Statis ti cal Manual of Mental
Disor ders, edisi ke5, 2013), yang merupakan
otoritas universal mengenai diagnosis psiki-
atri. Dalam pedoman ini diberikan definisi
dan kriteria saksama dari semua gangguan
psikiatri dan rekomendasi untuk terapi.
Di bawah ini diberikan ringkasan singkat
dari sejumlah gangguan jiwa terpen ting
yang berkaitan dengan psikosis. Gangguan
depresi dan gangguan makan akan dibica-
rakan di Bab 30 dan Bab 31, sedang keta-
gihan/drugs telah dibahas dalam Bab 23,
Drugs.
a. Psikosis didefinisikan sebagai gangguan
jiwa yang sangat merusak akal budi dan
pengertian (insight), timbulnya pandangan
yang tidak realistik atau bizar (aneh), meme-
ngaruhi kepribadian dan mengurangi ber-
fung sinya penderita. Gejala psikotis mencakup
waham (pikiran khayal, delusio), halusi nasi
dan gangguan berpikir formal (tidak dapat
berpikir riil), yang sering kali disebabkan
oleh schizofre nia. Psikosis dapat diobati de-
ngan antip sikotika.
b. Neurosis termasuk gangguan konstitusi
jiwa tanpa kerusakan organik dan tanpa ge-
jala psiko tis. Kepribadian pasien relatif ku-
rang terganggu dan kontak dengan realitas
juga tidak terganggu. Gangguan jiwa ini (ter-
masuk histeria dan neurastenia) dapat diang-
gap sebagai bentuk berlebihan dari reaksi
normal terhadap situasi dan kejadi aan de-
ngan penuh stress. Gejalanya dapat berupa
kegelisahan, kecemasan, murung, mudah ter-
singgung dan berbagai perasaan tidak nya-
man pada tubuh. Pasien neurosis dapat dita-
ngani dengan tranquillizers.
c. Sindroma Borderline, lengkapnya Border-
line Personality Disorder (BPD), yang ge-
jalanya terletak antara neurosis, psikosis dan
depresi. Sejak tahun 1987 sindroma ini diakui
sebagai penyakit jiwa dan dalam DSM 1996
dimuat kriteria untuk diagnosisnya. Gejala-
nya banyak sekali dan yang utama yaitu
impulsivitas (minuman keras /narkotika, pe-
nyalahgunaan, mengendarai mobil secara
membahayakan, hasrat kuat untuk membeli),
instabilitas emosional dengan perubahan suasana
secara mendadak dan percobaan bunuh diri,
kesulitan bersosialisasi sebab menganggap
segala sesuatu sebagai hitam-putih. Ciri-ciri
lainnya yaitu ketakutan ditinggalkan dan
sukar hidup sendiri, juga kecurigaan kuat
dengan hilangnya hubungan antara daya ber-
pikir dan perasaan (disosiasi), masa-masa
psikosis singkat dan masa-masa depresi.
Akibat gejala-gejala ini penderita BDP menga-
lami banyak kesulitan dalam pergaulan dan
cenderung menarik diri dari kehidupan
sosial.
Pengobatan dilakukan poliklinis dengan
kombinasi dari suatu bentuk psikoterapi
khusus dan psikofarmaka (antipsikotika, anti-
depresiva atau obat-obat yang meregulasi
suasana, seperti litium).
d. Mania didefinisikan sebagai kecende-
rungan patologis untuk suatu aktivitas ter-
tentu yang tidak dapat dikendalikan, misal-nya
mengutil (klep tomania). Suasana jiwa pasien
riang namun seolah-olah ada paksaan untuk
bertindak/melakukan aktivitas berlebihan,
kegelisahan dan perilaku tak terkendali. Bila
masa-masa mania diselingi masa-masa depre-
si, gangguan ini disebut depresi manis, lihat
Bab 30, Antidepresiva. Penanganan mania
dilakukan dengan antipsiko ti ka, khususnya
klorpromazin, haloperidol dan pimozida.
Schizofrenia
Schizofrenia merupakan gangguan jiwa yang
dalam kebany akan kasus bersifat sangat se-
rius, berkelanjutan dan dapat mengakibat-
kan kendala sosial, emosio nal dan kognitif
(penge nalan, pengeta huan, daya membeda-
kan; Lat. cognitus = dikenali). namun ada pula
banyak varian yang kurang serius. Schizo-
frenia yaitu pemicu terpenting gangguan
psikotik, pada mana periode psikotik dise-
lingi dengan periode ‘normal’, saat pasien
dapat berfungsi baik. Sering kali penyakit
diawali secara « menyelinap », adakalanya
juga dengan mendadak. Pada pria biasanya
timbul antara usia 15-25 tahun, jarang di atas
30 tahun, sedang pada wanita antara 25-
35 tahun.
pemicu nya masih belum diketahui,
mungkin berkaitan dengan terganggunya ke
seimbangan sistem kimiawi yang rumit di bagian
otak. Sekarang ini hanya ditetapkan adanya
faktor keturunan dengan faktor lingkungan se-
bagai pemeran penting. Menurut suatu teori
infeksi virus selama perkem bangan janin pada
kehamilan telah menghambat pertumbuhan
dari antara lain neuron dopaminerg ke
bagian-bagian tertentu dari otak.
Teori dopamin mengatakan bahwa schi-
zofrenia disebabkan oleh hiperaktivitas sis-
tem dopamin di bagian limbis otak. Hal ini
yang memicu gejala psikotik positif.
Di bagian lain dari otak (cortex frontal) ak-
tivitas dopamin justru berku rang, yang me-
nimbulkan gejala negatif. Sejumlah obat ju-
ga dapat memicu psikosis, misalnya
drugs (LSD, XTC dan meskalin), juga metro
nidazol, fenitoin, karbamazepin dan glikosida
digitalis.
* Dopamin. Dapat dibedakan minimal 5 re-
septor-dopamin: D1 s/d D5, yang dapat dibagi
dalam 2 kelompok, yaitu kelompok D1(= D1 +
D5) dan kelompok D2 (= D2, D3, dan D4). Obat-
obat klasik terutama menghambat kelompok
D2, sedang obat-obat atypis menghambat
kelompok D1.
Gejalanya berupa simtomsimtom positif dan
simtomsimtom negatif, yang selalu ada
bersamaan, namun dengan aksen berlainan
pada berbagai pasien.
a. Simtom positif berupa waham-waham
(seolah-olah mendengar suara orang yang
memerintahkannya berbuat sesuatu), halu-
sina si (keinsafan realitas terganggu), pikiran
janggal dan desor ganisasi kognitif (daya
asosiasi terganggu, tidak dapat berpikir je-
las). Prognosa dari pasien dengan gejala-
gejala dominan ini, dianggap agak baik.
b. Simtom negatif berupa kemiskinan psiko
motorik (berkurangnya bicara dan pergerak-
an, pemerataan emosional). Pasien menge-
lak hubungan sosial, menjadi apatis dan ke-
hilangan enersi serta inisia tif. Simtom-sim-
tom ini menunjukkan bahwa pasien berfungsi
sosial buruk, prognosanya kurang baik.
Diagnosisnya diterapkan berdasar
gejala dan petunjuk sejumlah kriteria yang
berlaku universal.
Progresnya penyakit. tahap akut (psikosis)
dengan simtom positif bertahan minimal satu
bulan dan adakalanya diawali oleh tahap
prodromal, yaitu menurunnya fungsi pasien
di bidang sosial dan komunikasi. Kemudian
tahap ini disusul oleh tahap dengan terutama
simtom negatif, yang mirip tahap prodromal.
Dengan pengobatan khusus di rumah sakit
jiwa, tahap akut ini sesudah 1-2 bulan umumnya
disusul oleh masa remisi (gejala penyakit
hilang atau sangat berkurang).
Sekitar 25% dari pasien tidak mengalami
residif lagi dan dianggap sembuh. Kira-kira
50% pasien hanya sembuh sebagi an (besar)
dan terkadang kambuhnya masa psikosis,
yang dapat diselingi periode panjang di mana
pasien dapat berfungsi lebih kurang normal
dengan kualitas hidup baik. Sisa 25%-nya
membutuhkan pengobatan jangka panjang,
sebab penyakit cenderung sering kambuh
lagi. Sekitar 10% dari kelom pok terakhir me-
ninggal sebab bunuh diri.
Antipsikotika
Antipsikotika biasanya dibagi dalam dua
kelompok besar, yaitu obat typis atau klasik
dan obat atypis.
A. Antipsikotika klasik, terutama efektif
mengatasi simtom positif; biasanya di-
bagi lagi dalam sejumlah kelompok kimiawi
sebagai berikut:
a. derivat fenotiazin: klorpromazin, levome-
promazin dan triflupromazin (Siquil), thi-
orida zin dan periciazin, perfe na zin dan
flufe na zin, perazin (Taxilan), trifluo per-
azin , proklor per azin (Steme til) dan thiëtil-
perazin (Tore can)
b. derivat thioxanthen: klorprotixen (Truxal)
dan zuklopen tixol (Cisor dinol)
c. derivat butirofenon: haloperidol, brompe-
ridol, pipamperon dan droperidol
d. derivat butilpiperidin: pimozida, fluspirilen
dan penflu ridol
B. Antipsikotika atypis (sulpirida, klozapin,
risperi don, olanza pin dan quetiapin) bekerja
efektif melawan simtom negatif, yang praktis
kebal terhadap obat klasik. Lagi pu la efek
sam ping nya lebih ringan, khusus nya gang-
guan ekstrapi ra midal dan dyskine sia tarda.
namun lansia sebaiknya menghindari peng-
gunaan antipsikotika atypis sebab risiko
kerusakan ginjal akut.
Sertindol (Serd olect) sesudah dipasarkan ha-
nya satu tahun lebih, akhir 1998 ditarik dari
peredaran di Eropa, sebab beberapa kali
dilaporkan terja di nya aritmia dan kematian
mendadak. Obat atypis lainnya yang sudah
tersedia di negara lain sejak 1988 yaitu zote-
pin (Zoleptil) dan ziprasidon (Zeldox).
Khasiat dan pemakaian
Antipsikotika memiliki sejumlah kegiatan
fisiologi, yakni:
a. antipsikotik. Obat-obat ini dipakai un-
tuk gangguan jiwa dengan gejala psikotis,
seperti schizofrenia, mania dan depresi psi
kotik. Di samping itu, antipsikotika digu-
nakan untuk menangani ganggu an perilaku
serius pada pasien dengan handikap ro-
hani dan pasien demensia, juga untuk
keadaan gelisah akut (excitatio) dan pe-
nyakit lata (penyakit Gilles de la Touret te);
b. anksiolitik, yaitu mampu meniadakan
rasa bimbang, takut, kegelisahan dan
agresi yang hebat. Oleh sebab itu ada-
kalanya obat ini dipakai dalam dosis
rendah sebagai minor tranquillizer pada
kasus-kasus serius, di mana benzodi aze-
pin kurang efektif, misalnya pimozida dan
thioridiazin. Disebabkan efek sampingnya,
penggun aan antipsikotika dalam dosis
rendah sebagai anksioli tika tidak dian-
jurkan.
c. antiemetik berdasar perintangan neu-
rotransmisi dari CTZ (Chemo Trigger
Zone) ke pusat muntah dengan jalan
blokade reseptor dopamin, lihat Bab 17,
Antiemetika. sebab sifat inilah obat ini
sering dipakai terhadap mual dan
muntah hebat seperti pada terapi de-
ngan sitostatika; namun terhadap mabuk
jalan tidak efek tif. Obat dengan daya anti-
emetik kuat yaitu proklorper azin dan thi
ëtilperazin. Obat lain dengan daya anti-
mual yang baik dalam dosis rendah yaitu
klorpromazin, perfenazin, trifluproma zin, flu
fenazin, haloperidol (dan metoklopramida).
d. analgetik. Beberapa antipsikotika memi-
liki khasiat analgetik kuat, antara lain
levomepromazin, haloperidol dan droperidol
(*Thala mo nal). namun obat ini jarang digu-
nakan sebagai obat antinyeri, kecuali
droperidol. Obat lainnya dapat memper-
kuat efek analge tika dengan jalan me-
ningkatkan ambang-nyeri, misalnya klor-
proma zin.
Klorpromazin dan haloperidol adakalanya
juga dipakai pada sedu (hiccup) yang
tak hentihenti dan gangguan keseimbangan
bila obat lain tidak ampuh.
Mekanisme kerja
Semua psikofarmaka bersifat lipofil dan
mudah masuk ke dalam CCS (cairan sere
brospinal), memungkinkan obat-obat ini me-
lakukan kegiatannya secara langsung terha-
dap saraf otak. Mekanisme kerjanya pada
taraf biokimiawi belum diketahui dengan
pasti, namun ada petunjuk kuat bahwa me-
kanisme ini berhubungan erat dengan kadar
neurotransmitter di otak atau antar-keseim-
bangannya.
Antipsikotika menghambat (agak) kuat
resep tor dopamin (D2) di sistem limbis otak dan
di samping itu juga menghambat reseptor D1/
D4,, α1(dan α2)adrenerg, serotonin, muskarin
dan histam in. namun pada pasien yang kebal
terhadap obat-obat klasik juga ditemukan
blokade tuntas dari resep tor D2. Riset ba-
ru mengenai otak menunjukkan bahwa
blokade-D2 saja tidak selalu cukup untuk
menanggulangi schizofre nia secara efektif.
Untuk ini neurohormon lainnya seperti sero-
tonin (5HT2), glutamat dan GABA (gamma
butyric acid), juga perlu dilibatkan.
Mulai kerjanyablokade-D2 cepat, begitu
pula efeknya pada keadaan gelisah. Sebalik-
nya efek terhadap gejala psikosis lain, se-
perti waham, halusinasi dan gangguan pi-
kiran baru nyata sesudah beberapa minggu.
Mungkin efek lambat ini (masa latensi) dise-
babkan sistem resep tor-dopamin menjadi
kurang peka.
* Antipsikotika atypis memiliki afinitas lebih
besar untuk resep tor-D1 dan D2, sehingga le-
bih efektif daripada obat-obat klasik untuk
melawan simtom negatif. Lagi pula obat ini
lebih jarang menimbul kan GEP dan dyskinesia
tarda.
a. Sulpirida terutama menghambat resep-
tor-D2 dan praktis tanpa afinitas bagi reseptor
lain. Pada dosis rendah (di bawah 600 mg/
hari) terutama bekerja antagonistik terhadap
reseptor presinaptis, dan pada dosis lebih
tinggi (di atas 800 mg/hari) juga terhadap
resep tor-D2 postsinaptis, seperti halnya obat-
obat klasik. Efek antipsikotik terutama dica-
pai pada dosis lebih tinggi sedang dosis
rendah bermanfaat pada psikosis dengan
terutama simtom negatif.
b. Klozapin: ikatannya pada reseptor-D2
agak ringan (± 20%) diban dingkan obat-obat
klasik (60-75%). namun efek antipsikotik nya
kuat, yang dapat dianggap paradoksal. Juga
afini tas nya bagi reseptor lain dengan efek
antihistamin, antisero tonin, antikolinergik
dan antiadrener gik relatif tinggi. Menurut
perkiraan efek baiknya dapat dijelaskan oleh
blokade kuat dari reseptor-D2, -D4, dan -5HT2.
Blokade reseptor muskarin dan reseptor-D4
diperkirakan mengu rangi GEP, sedang
blokade 5HT2 meningkatkan sintesis dan
pelepasan dopamin di otak. Hal ini meniada-
kan sebagian blokade D2, namun mengurangi
risiko GEP.
c. Risperidon juga teruta ma menghambat
reseptor-D2 dan -5HT2, dengan perbandingan
afini tas 1 : 10, juga dari reseptor-α1, -α2, dan
-H1. Blokade α1 dan α2 dapat memicu
masing-masing hipotensi dan depresi, se-
dangkan blokade H1 berkaitan dengan se-
dasi.
d. Olanzapin menghambat semua reseptor
dopamin (D1 s/d D5) dan reseptor H1, -5HT2,
-adrenergik dan -kolinergik, dengan afinitas
lebih tinggi bagi reseptor 5-HT2 dibandingkan
D2.
e. Rebokse tin (Edronax) yang dipasarkan
di Inggris pada tahun 1997, secara selektif
menghambat reuptake noradre nalin (SNRI).
Efek samping
Sejumlah efek samping serius dapat mem-
batasi pemakaian antipsikotika dan yang
paling sering terjadi yaitu :
a. gejala ekstrapiramidal (GEP), yang ber-
talian dengan daya antidopamin dan bersifat
lebih ringan pada senyawa butiro fenon, bu
tilpiperidin dan obat atypis. GEP terdiri dari
beberapa bentuk, yaitu sebagai:
– parkinsonisme (gejala penyakit Parkinson),
yaitu hipokinesia (daya gerak berkurang,
berjalan langkah demi langkah) dan ang-
gota tubuh kaku, kadang-kadang tremor
tangan dan keluar liur berlebi han. Gejala
lainnya “rabbitsyndrome” (mulut membu-
at gerakan mengunyah, mirip kelinci),
y ang dapat muncul sesudah beberapa
minggu atau bulan. Terutama pada dosis
tinggi dan lebih jarang pada obat dengan
kerja antikolinergik. Insidensinya 2-10%.
– distonia akut, yakni kontraksi otot-otot
muka dan tengkuk, kepala miring, gang-
gu an menelan, sukar bicara dan kejang
rahang. Guna menghindarinya dosis ha-
rus dinaikkan dengan perlahan, atau di-
berikan antikolinergika sebagai profil-
aksis;
– akathisia, yaitu selalu ingin bergerak,
tidak mampu duduk diam tanpa meng-
gerak kan kaki, tangan atau tubuh (Yun.
kathisis = duduk, a = tidak, tanpa). Gejala
ketiga GEP di atas dapat dikuran gi dengan
menurunkan dosis dan dapat ditangani
dengan antikoli nergika. Akathisia juga
dapat diatasi dengan proprano lol atau ben
zodiaze pin;
– dyskinesia tarda, yaitu gerakan abnormal
tidak-sengaja, khususnya otot-otot muka
dan mulut (menjulurkan lidah), yang
dapat menjadi permanen. Gejala ini sering
muncul sesudah 0,5-3 tahun dan berkaitan
antara lain dengan dosis kumulatif (total)
yang telah diberikan. Risiko efek samping
ini meningkat pada pemakaian lama dan
tidak tergantung dari dosis, juga lebih se-
ring terjadi pada lansia; insidensinya
tinggi (10-15%). Gejala ini hilang dengan
menaikkan dosis, namun kemudian timbul
kembali dengan lebih hebat. Antik oliner-
gika juga dapat memperhe bat gejala ter-
sebut. Pemberian vitamin E dapat mengu-
rangi efek samping ini.
– sindroma neuroleptika maligne berupa
demam, otot kaku dan GEP lain, kesa-
daran menurun dan kelainan-kelainan
SSO (tachycardia, berkeringat, fluktuasi
tekanan darah, inkontinensi). Gejala ini
tidak tergantung pada dosis dan teruta-
ma timbul pada pria muda dalam waktu
2 minggu dengan insidensi 1%. Diag-
nosisnya sukar, namun bila tidak ditangani
dapat berakhir fatal.
b. galaktorrea (banyak keluar air susu), juga
akibat blokade dopamin, yang identik dengan
PIF(= Prolactine Inhibiting Factor). Sekresi
prolaktin tidak dirintangi lagi, kadarnya
meningkat dan produksi air susu bertambah
banyak. Lihat Bab 42, Hormon Hipofisis.
c. sedasi yang bertalian dengan khasiat anti
histamin, khusus nya klorproma zin, thioridazin
dan klozapin. Efek samping ini ringan pada
zat-zat difenilbutilamin.
d. hipotensi ortostatik akibat blokade resep-
tor α1-adrenergik, misalnya klorpromazin, thio
ridazin dan klozapin.
e. efek antikolinergik akibat blokade reseptor
muskarin, yang bercirikan antara lain mulut
kering, penglihatan guram, obstipasi, retensi
kemih dan tachy cardia, terutama pada lansia.
Efeknya terutama kuat pada klorpromazin,
thiorida zin dan kloza pin.
f. efek antiserotonin akibat blokade resep-
tor-5HT, yang merupakan stimulasi nafsu
makan dengan akibat naiknya berat badan
dan hiperglike mia.
g. gejala penarikan dapat timbul, walaupun
obat-obat ini tidak bersifat adiktif. Bila peng-
gunaannya menda dak dihentikan dapat ter-
jadi sakit kepala, sukar tidur, mual, muntah,
anoreksia dan perasaan takut. Efek ini teru-
tama timbul pada obat-obat dengan kerja
antikolinergik. Oleh sebab itu penghentian-
nya selalu perlu secara berangsur.
h. efek lainnya. Akhirnya masih ada bebe-
rapa efek samping yang khas bagi obat-obat
tertentu, yaitu:
– fenotiazin: sering kali reaksi imunologis,
seperti fotosensi bilisasi, hepatitis, kelain-
an darah dan dermatitis alergis, namun
jarang pada senyawa thioksanten. Efek
lainnya berupa kelainan mata dengan
enda pan pigmen di lensa dan kornea,
serta retinopati pada thiorida zin (dosis di
atas 800 mg/hari);
– klozapin: dapat memicu agranulo-
sitosis (1-2%), juga bradycardia, hipotensi
ortostatik dan berhentinya jantung;
– olanzapin dan risperidon pada lansia yang
menderita Alzheimer dapat mengakibat-
kan kerusakan serebrovaskuler, yang
meningkatkan mortalitas dengan lebih
dari dua kali dan tidak tergantung dari
lama dan besarnya dosis pemakaian . W.
Garenfeld, Pharm.Wkbl. 2004;139:1021-3
Kehamilan dan laktasi. pemakaian obat-
obat ini selama kehamilan dan laktasi se-
dapat mungkin harus dihindari berhubung
toksisi tasnya bagi janin dan bayi. sebab
psikosis yang tidak ditangani dengan tepat
dapat sangat merusak kesehatan ibu dan
janin, risiko penggun aan antipsikotika bagi
tiap pasien perlu dipertimbangankan secara
indivi dual. Bila sangat perlu hendaknya dibe-
rikan dalam dosis serendah mungkin untuk
waktu singkat. Periode kehamilan dengan
risiko tinggi yaitu minggu ke-4 sampai ke-
10 dan 2-4 minggu terakhir; selama periode
itu , hendaknya jangan diberikan medi-
kasi. Obat pilihan per tama untuk keadaan
darurat yaitu haloperidol.
Interaksi. Betablocker dan antidepresiva trisiklis
dapat saling memper kuat efek antipsikotika
dengan menghambat metabo lisme masing-
masing. Levodopa dan bromokriptin dapat di-
kurangi kerja dopaminergnya. Barbital menu-
runkan kadar darah antipsikotika berda-
sarkan induksi enzim.
Klorpromazin dan garam litium masing-ma-
sing saling menurunkan kadarnya dalam
darah.
Obat-obat tambahan
Bila pemakaian antipsikotika kurang mem-
berikan hasil yang diinginkan adakalanya
ditambahkan adjuvansia, misalnya suatu ben-
zo diazepin, garam litium, antidepresiva atau
karbamazepin.
* Benzodiazepin dengan kerja agak panjang
seperti diazepam, dapat untuk sementara
ditambahkan pada antip sikotika dengan
efek sedatif ringan untuk menanggulangi
rasa takut dan gelisah. pemakaian nya tidak
boleh dihentikan dengan mendadak, namun
harus secara berangsur untuk menghindari
psikosis dan konvul si reaktif (rebound).
* Litium berguna sebagai obat tambahan bila
ada komponen mania. Efeknya yang
baik berupa berkurangnya gejala psiko sis,
kegelisahan dan perbaikan hubungan sosial
dapat tercapai sesudah 2-4 minggu. Dosis
antipsikotikum biasanya dapat dikurangi.
* Antidepresiva trisiklis, misalnya ami-
triptilin, adakalanya dapat ditambahkan
pada depresi yang timbul sesudah psikosis.
Berhubung kombinasi saling memperkuat
daya kerja dan toksisitas kedua obat, harus
diwaspadai meningkatnya efek antikoliner-
gik, seperti ileus paralytis dan delirium.
* Karbamazepin adakalanya bermanfaat se-
bagai adjuvans bila ada kegelisahan
dan gangguan kelakuan parah. Obat epilepsi
ini menurunkan kadar antipsikotika dalam
darah.
Penanganan schizofrenia
Kesulitan utama pada penanganan semua
gangguan jiwa yaitu tidak adanya keinsafan
sakit pada kebanyakan pasien. Mereka meng-
anggap halusinasi dan pikiran khayalnya
sebagai sesuatu yang sejati/ri il dan selalu
berpikir dirinya tidak sakit, sehingga se-
ring kali menolak minum obat. Lagi pula
undang-undang yang ketat di banyak ne-
gara tidak memungkinkan pengobatan/pe-
rawatan dipaksakan bagi seseorang tanpa
persetujuannya. Pemaksaan hanya diperbo-
lehkan bila pasien membahayakan dirinya
sendiri atau orang lain. Dengan demikian
tidak jarang penderita psikotis parah tidak
bisa ditolong. Penderita umumnya tidak bisa
memelihara kebutuhan dasar dirinya dan
berakhir sebagai gelandangan di jalan-jalan
kota.
Jelaslah bahwa sesudah masa psikosis le-
wat, juga kesetiaan terapinya (drug compliance)
kurang besar, yang tidak jarang mengakibat-
kan gagalnya pengoba tan.
Schizofrenia tidak dapat disembuhkan,
penanganannya bersifat simtomatis, yaitu
meniada kan gejalanya dan kemudian men-
cegah kambuhnya lagi. Di samping itu re-
habilitasi psikososial sangat penting untuk
reintegrasi pasien dalam masyara kat.
Psikoterapi. Dewasa ini para ilmiawan se-
paham bahwa penanga nan schizo frenia pa-
ling efektif terdiri atas kombinasi dari far-
makoterapi bersama psikoterapi, termasuk
terapi kelakuan kognitif, yang juga disebut
“terapi wicara”. Dok ter/psi kia ter berusa ha
membangun hubungan baik dengan pasien-
nya dan memperoleh kepercayaan mereka,
juga mencoba membantu mengatasi problema
psikis mereka, serta memberikan petunjuk
bagaimana menghadapi masalah. Di sam-
ping itu penting sekali untuk secara moril
juga menunjang keluarganya yang lazimnya
sangat berfrustasi mengenai hubungannya
yang sering kali sangat sulit dengan pasien.
* Obat-obat klasik. Umumnya dimulai de-
ngan suatu obat klasik, teruta ma klorproma
zin bila diperlukan efek sedatif, triflu oper azin
bila sedasi tidak dikehendaki atau pimo
zida jika pasien justru perlu diaktifkan. Efek
antipsikotika baru menjadi nyata sesudah
terapi 2-3 minggu. Bila sesudah masa laten,
obat itu kurang efektif, perlu dicoba
obat lain dari kelom pok kimiawi lain. Flufe
nazin dekanoat diguna kan sebagai profi lak-
sis untuk mencegah kambuhnya penyakit.
Thiorida zin bermanfaat bagi lansia untuk
mengu rangi GEP dan gejala antikoli nergik.
Obat klasik terutama efektif untuk meniada-
kan gejala posi tif yang efeknya baru nampak
sesudah beberapa bulan. Pengobatan perlu
dilanjut kan dengan dosis pemeliharaan le-
bih rendah untuk mencegah residif, selama
minimal 2 tahun dan tidak jarang seumur
hidup.
* Obat-obat atypis. Obat atypis lebih ampuh
untuk simtom negatif kronis, mungkin sebab
pengikatannya pada reseptor -D1 dan -D2 lebih
kuat. Sulpirida, risperidon dan olanzapin dian-
jurkan bila obat klasik tidak efektif (lagi)
atau bila terjadi terlalu banyak efek samping.
sebab klozapin dapat memicu agranu-
locytosis hebat (1-2% dari kasus), selama te-
rapi perlu dilakukan penghitungan lek osit
setiap minggu.
* Obat-obat tambahan, yaitu antikolinergika
(triheksifenidil, orfenadrin) dan beta-blocker (pro
pranolol). Obat ini sering ditambahkan untuk
menanggu langi efek samping antipsi ko tika,
terutama gejala extrapira midal (GEP). Ben
zodiazepin diberikan untuk mengatasi kege-
lisahan dan kecemasan.
Penanganan alternatif
Sejumlah psikiater (C.Pfeiffer, A.Hoffer) telah
berhasil baik dengan mengkombinasi vitamin
dan mineral tertentu dalam megadose seba-
gai terapi. Penanganan ortomolekuler ini
berdasar penemuan bahwa pasien schi-
zofreni mengalami defisiensi nu trien-nutrien
ber sangkutan. Cara ini terdiri dari pemberian
nutrien tepat dengan antarperbandingan yang
tepat ke selsel tubuh (Yun. Orthos = lurus,
tepat, sehat), lihat selanjutnya boks di Bab 53,
Vitamin.Yang diberikan yaitu vitamin C (3
x 1 g), niasina mi da (3 x 1-2 g), piridoksin (2-3
x 250 mg) dan vitamin E (1x 400 mg). Pilihan
ini didasarkan pada sering ditemukannya
kekurangan vitamin-vitamin itu di otak
penderita schizofrenia.
Mekanisme kerja. Menurut perkiraan hal ini
disebabkan oleh terhambatnya pengubahan
asam amino triptofan menjadi niasinamida
dalam otak, sehingga terjadi kekurangan
vitamin B3 dan kelebihan triptofan bebas.
Lihat Bab 54, Dasar-dasar diet sehat: asam
amino, triptofan dan Bab 53, Vitamin. Trip-
tofan berlebihan dapat mendorong pemben-
tukan zat-zat halusinogen tertentu (yang me-
nimbulkan khayalan) dan dapat menimbul-
kan kelainan pada suasana jiwa dan penga-
matan. Halusinogen ini dapat dirombak oleh
enzim MAO (monoaminooksidase) yang jus-
tru memerlukan niasinamida (dan vitamin C)
untuk kerjanya. Lagi pula pada schizofrenia
ada kekurangan coenzim NAD (nicoti
namideadeninedinucleotide) di otak yang di-
bentuk di bawah pengaruh niasinamida dan
berperan penting pada reaksi redoks (reduksi
dan oksidasi) di dalam sel. Vitamin B3 ini dan
piridoksin mutlak diperlukan untuk reaksi
pengubahan triptofan sebab merupakan ko-
enzim bagi hidroksilase.
Zatzat tambahan. Di samping vitamin itu
diberikan pula sejumlah elemen tertentu,
yaitu magnesi um (250 mg), zinc (50 mg), sele
nium (220 mcg) dan mangan (25 mg) sehari.
Lihat juga Bab 53, Vitamin. Dianjurkan pula
diet tanpa bahan makanan yang mengandung
asam amino, yang dapat meningkatkan ka-
dar atau aktivitas dopamin di otak, yaitu
kacangkacangan (dari genus Flava), gluten
(suatu protein dalam gandum) dan kacang tanah
(mengandung banyak glisin dan serine).
Dengan pemberian kombinasi ini gejala
penya kit ternyata dapat sangat dikuran-
gi, sehingga banyak pasien dapat berfungsi
sosial lebih baik bahkan dapat bekerja secara
lebih kurang normal.
MONOGRAFI
1. Klorpromazin (F.I.): Largactil
Antipsikotikum tertua ini (1951) merupakan
turunan dari prometazin dan memiliki rantai
sisi alifatis. Khasiat antipsikotiknya lemah,
sedang efek antihistamin dan alfa-adre-
nergnya lebih kuat. Obat ini mem perkuat
efek analgetika, sehingga membuat pasien
lebih tak-acuh pada rasa nyeri. Selain pada
keadaan psikosis dan sebagai obat tambahan
pada analgetika, klorpromazin juga digu-
nakan untuk mengobati sedu yang tak henti-
henti (singultus, hiccup).
Resorpsi di usus baik, namun BA hanya ±30%
akibat FPE besar. PP tinggi, sekitar 95%, t1/2
16-37 jam. Zat ini mudah melintasi barrier
darah-CCS; kadarnya dalam cairan otak lebih
tinggi daripada dalam darah. Ekskresi lewat
urin sebagai metabolitnya.
Efek samping yang terpenting yaitu ter-
hadap hati dan darah, mungkin akibat suatu
reaksi alergi. Zat ini dapat menyumbat saluran
empedu sesudah 2-4 minggu dan kerusakan
ini tidak selalu rever sibel. Kelainan darah
(agranulositosis, 1:300) agaksering dilaporkan.
Efek samping umum lainnya yaitu efek
sedatif yang kuat dan GEP yang sering kali
terjadi.
Dosis: pada psikosis oral, i.m. atau i.v. 3 dd
25 mg garam-HCl selama 3-4 hari, bila perlu
dinaikkan sampai 1 g sehari. Pada sedu: 3-4
dd 25-50 mg, sebagai adjuvans pada nyeri
sedang/hebat 2-4 dd 25 mg.
* Levomepromazin (Nozinan) yaitu deri-
vat yang atom klornya digantikan dengan
-OCH3. Khasiat antipsikotiknya sama dngan
klorpromazin. Khasiat analgetiknya lebih ku-
at, ±60% dari morfin, sehingga bermanfaat
terhadap nyeri hebat, antara lain pada kanker
dan sinannaga (herpes zoster). Plasma-t½ lebih
panjang, sampai 78 jam. Efek samping penting
lainnya yaitu hipotensi dan mengantuk.
Dosis: pada nyeri hebat i.m. 12,5-25 mg, oral
4-6 dd 12,5-50 mg (garam-hidro genmale at).
2. Thioridazin: Melleril
Salah satu fenothiazin pertama ini dengan
rantai sisi piperidin (1958) memiliki khasiat
antipsikotik dan sedatif yang baik, sehingga
sering kali dipakai pada pasien yang
sukar tidur. Obat ini dipakai pula pada
neurosis hebat dengan depresi, rasa takut
dan ketegangan, serta depresi dengan kege-
lisahan. Efek anti-adrenergiknya lebih kuat,
juga efek antihistamin, antikolinergik dan
antiserotonin.
Resorpsi di usus baik dan lengkap, namun
BA hanya 65% akibat FPE besar. PP di atas
95%, t½ 10-24 jam. Ekskre si sebagai metabolit
lewat feses (50%) dan urin (30%).
Efek samping yang terpenting yaitu gejala
antikolinergik kuat dan hipotensi ortostatik,
GEP dan hepatitis jarang terjadi.
Dosis: oral 2-4 dd 25-75 mg (garam-HCl),
maksimal 800 mg sehari, sebagai tranquillizer
2-3 dd 15-30 mg.
* Periciazin (Neuleptil) yaitu derivat pipe-
ridin dengan efek antipsikotik agak ringan
dan efek antiadrenergik dan antiserotonin
kuat. Dosis: oral 2-3 dd 10-20 mg (garam-
tartrat), maksimal 90 mg/hari, pada manula
dimulai dengan 5 mg/hari, yang berangsur-
angsur dinaikkan sampai 20-30 mg/hari.
3. Perfenazin: Trilafon, *MutabonD/M
Derivat fenotiazin dengan rantai sisi
piperazin ini (1957) berkhasiat antipsikotik
kuat dengan efek antiadrenergik dan anti-
s erotonin relatif lemah. Efek antikolinergiknya
ringan sekali. Obat ini juga berkhasiat anti-
emetik kuat. GEP sering timbul.
Resorpsi di usus baik, BA hanya ±35% ka-
rena FPE tinggi. PP di atas 90%, t½ ±9 jam.
Dalam hati zat ini dirombak menjadi meta-
bolit yang kurang aktif. Perfenazin meng-
alami siklus enterohepatik.
Dosis: oral 2-3 dd 2-4 mg, maks 24 mg se-
hari, i.m. 100 mg (dekanoat/enanthat, prepa-
rat depot) setiap 2-4 minggu.
* Trifluoperazin (Stelazin, Terfluzin) yaitu
derivat pada mana atom-Cl digantikan -CF3
dengan efek yang lebih kurang sama dengan
perfe nazin (1958). Dosis: oral permulaan 5
mg sehari, dinaikkan setiap 2-3 hari dengan
5 mg sampai maksimal 90 mg. Sebagai obat
antimual dan tranquillizer 2 dd 1-3 mg.
*Flufenazin (Modecate, Moditen) yaitu tu-
runan -CH2OH dari trifluoperazin (1959) de-
ngan sifat hampir sama. Khasiat antimual
dan sedatifnya ringan. Flufenazin terutama
dipakai sebagai injeksi kerja panjang un-
tuk menjamin pengobatan. Plasma-t½ dari
senyawa -HCl, -enantat dan -dekanoat ma-
sing-masing rata-rata 8 jam, 3,6 hari dan 8
hari. GEP sering kali terjadi, efek anti-koli-
nergik dan sedatifnya ringan. Esternya dapat
memicu depresi serius.
Dosis: pada psikosis akut i.m. 1,25 mg
(HCl), lalu setiap 4-8 jam 2-5 mg sampai geja-
la terkendali, pemeliharaan 25 mg enantat
setiap 2 minggu, atau 25 mg dekanoat setiap
3-4 minggu.
4. Haloperidol: Haldol, Serenace
Senyawa butirofenon yaitu suatu antagonis
D2 selektif yang memiliki khasiat antipsikotik
dan anti-emetik kuat (1959) dan hingga kini
dipakai sebagai obat referensi untuk anti-
psikotika baru. Efeknya terhadap reseptor
lain relatif lemah. Obat ini dipakai pada
schizofrenia dan pada berbagai bentuk ge-
rakan spontan dari otot kecil (“tic”) yang
diperkira kan akibat hiperaktivitas sistem
dopamin di otak. Merupakan pilihan pertama
untuk delier, namun dianjurkan dosisnya se-
rendah mungkin dan untuk waktu sesing-
katnya, 0,5-1,5 mg maksimal selama 1 minggu.
Pada pemakaian lebih lama dapat timbul
efek samping serius seperti Parkinsonisme
dan diskinesi tardif.
Lansia khususnya peka sekali terhadap
obat ini, sehingga pentakarannya harus hati-
hati. Dystonia dan akathisia sering kali ter-
jadi dan pada dosis tinggi memicu ke-
jang-kejang. Efek antikolinergiknya jarang
dilaporkan.
Bila perlu obat ini dapat diberikan pada
wanita hamil dengan persyaratan-persya-
ratan tertentu, lihat di atas.
Resorpsi di usus baik, BA ±60% akibat FPE
besar. PP 92%, plasma-t½ ± 20 jam. Ekskresi
sebagai metabolit dan secara utuh melalui
urin (40%) dan feses (15%).
Dosis: psikosis oral 2-4 dd 1,5-5 mg, manula
(pemeliha raan) 2-4 mg sehari. Pada sedu 5-10
mg sehari, untuk muntah-muntah 2 dd 0,5-1
mg, sebagai adjuvans pada nyeri sedang-
hebat 2-4 dd 0,5 mg.
.......................Pharm Weekbl 2014,149-17.
* Bromperidol (Impromen) yaitu turunan
brom sebagai ganti klor (1981) dengan khasiat
khusus terhadap halusinasi dan pikiran kha-
yal. Bromperidol kurang efektif terhadap
kegelisahan dan mania. Plasma-t½ panjang,
kira-kira 24 jam.
Dosis: oral, i.m., i.v. 1 dd 1,5 mg, bila perlu
berangsur dinaikkan sampai maks. 15 mg
sehari, peme liharaan 5-10 mg/hari. Di atas 8
mg sehari selalu timbul GEP!
* Droperidol (dehidrobenzperidol, *Thalamonal)
yaitu derivat dengan khasiat analgetik kuat
(1963). dipakai sebagai antip sikotikum pa-
da keadaan gelisah akut, sebagai premedikasi
pada induksi aneste sia dan sebagai adjuvans
pada nyeri infark jantung (bersama zat nar-
kotik fentanyl).
Dosis: kegelisahan akut i.m./i.v. 5-10 mg,
pada infark i.v. perlahan 2,5 mg (bersama
fentanyl 0,05 mg).
5. Pimozida: Orap
Derivat difenilbutilpiperidin ini merupakan
turunan dari droperidol (1969) dan memiliki
khasiat antipsikotik kuat dan panjang. Efek
terapi baru nyata sesudah beberapa waktu,
namun bertahan agak lama (1-2 hari). Obat ini
tidak layak diberikan pada keadaan eksitasi
dan kegelisahan akut, yang memerlukan
sedasi langsung. Lagi pula efek sedasinya
lebih ringan dibandingkan obat lain. Pimo-
zida khusus dipakai pada psikosis kronis
jangka panjang.
Resorpsi di usus lambat dan variabel.
Plasma-t½ panjang: 55-150 jam; pada pasien
schizofrenia rata-rata 55 jam. Sifatnya sangat
lipofil dan hanya sedikit dirombak dalam
hati. Ekskresi sangat lambat sebab selalu
diresorp si kembali oleh tubuli. Akhirnya
±40% dikelu arkan lewat urin terutama seba-
gai metabolit dan 15% secara utuh dengan
feses.
Efek samping berupa umum, GEP sering
terjadi, adakalanya nampak peruba han jan-
tung (ECG) dan aritmia.
Dosis: oral 1 dd 1-2 mg, dinaikkan secara
berangsur setiap 2 minggu sampai maks. 6
mg sehari.
* Penfluridol (Semap) yaitu juga derivat
piperidin (1971) dengan kerja sangat panjang
(±7 hari) dan terutama berkhasiat antidopa-
mi nerg kuat. Efeknya dimulai relatif cepat,
sesudah 1-2 hari. GEP sering terjadi. Dosis: 1
x seminggu 10-20 mg, ber angsur dinaikkan
sampai maksimal 60 mg seminggu.
* Fluspirilen (Imap) yaitu derivat piperidin
long-acting, yang harus diberikan parenteral
i.m. 1 x seminggu 1-10 mg.
6. Sulpirida: Dogmatil
Derivat sulfamoyl ini dianggap sebagai
obat atypis pertama (1968) dan khusus me-
miliki khasiat antidopamin. Resorpsi per
oral dalam waktu 5 jam, BA 25-35%, PP
kurang dari 40%. Dalam hati hampir tidak
dirombak, ekskresi secara utuh untuk 92%
melalui urin. Plasma-t½ 7 jam. Efek samping
adakalanya dilapor kan galaktorre a, amenor-
roea dan perintangan ovulasi, lebih jarang
memicu GEP dan sedasi.
Dosis: pada psikosis oral permulaan 1 dd
200 mg, sesudah 3 hari berangsur dinaikkan
sampai 3-4 dd 200 mg, pemeliharaan 100-200
mg sehari. Pada pusing-pusing (vertigo) 150-
300 mg sehari. I.m. 200-300 mg sehari selama
10 hari.
7. Klozapin: Leponex, Clozaril
Senyawa dibenzodiazepin ini (1969) juga
termasuk kelompok obat atypis. Khasiat anti-
psikotiknya lemah dan bekerja noradreno-
litik, antikolinergik dan anti-histamin ku-
at. Efek sedatif cepat dimulainya, efek anti-
psikotiknya sesudah 1-6 bulan. Plasma-t½
6-14 jam. Efektivitasnya terhadap simtom
positif dan negatif dari psikosis akut lebih
baik daripada obat lain. Lagi pula tidak
memicu GEP dan dyskinesia, jarang
sekali akathisia dan dystonia. namun peng-
gun aannya dibatasi oleh risiko agranulositosis
berbahaya (1-2%). Oleh sebab itu gambaran
darah/hematologi harus dimonitor selama
5-6 bulan pertama dari terapi.
Dosis: oral, i.m. 25-50 mg sehari, berangsur
dinaikkan sampai maks. 600 mg sehari.
Pemeliharaan 1 dd 200 mg malam hari.
* Olanzapin (Zyprexa) yaitu derivat long-
acting (1995) dengan khasiat menghambat
reseptor D1 s/d D5 dan reseptor neurotrans-
mitter lainnya. Plasma-t½ ±30 jam. Olanzapin
terutama dipakai pada schizofrenia dan
sama ampuhnya dengan haloperidol namun
kurang memicu GEP. Efek samping
tersering (>10%) yaitu mengantuk dan
naiknya berat badan. Agranulositosis belum
dilapor kan.
Dosis: permulaan 1 dd 10 mg, pemeliharaan
7,5-17,5 mg sehari.
8. Risperidon: Risperdal
Derivat benzisoksazol ini (1993) berkhasiat
antipsikotik dan antiserotonin (5-HT2) kuat,
efek blokade-α1-nya cukup baik. Dalam hati
zat atypis ini diubah menjadi antara lain
metabolit aktif hidroksirisperi don dengan plas-
ma-t½ ±24 jam (t½ zat induk 3 jam). Pada
dosis rendah (4-8 mg/hari) GEP lebih jarang
terjadi, sedang pada dosis lebih tinggi
sama frekuensinya dengan obat klasik. Dian-
jurkan untuk psikosis schizofrenia kronis
untuk menangani simtom negatif, khususnya
bila obat lain kurang efektif. Suatu penelitian
telah mengungkapkan bahwa dibandingkan
dengan haloperidol, risperidon menghasilkan
±2 kali lebih sedikit residif dalam masa 1
tahun
Efek samping bersifat umum dan yang pa-
ling sering terjadi yaitu sukar tidur, gelisah,
rasa takut dan nyeri kepala.
Dosis: oral 2 dd 1 mg, maks. 2 dd 5 mg
9. Quetiapin: Seroquel
Derivat thiazepin ini (1997) bekerja antido-
paminerg terhadap reseptor-D1 dan -D2, yang
dapat disamakan dengan khasiat klozapin.
Juga memiliki khasiat antiserotonin dan anti-
histamin, tidak bersifat antikolinerg. Efektif
terhadap gejala positif dan negatif. Risiko
terhadap efek samping ekstrapiramidal tam-
paknya lebih ringan dari pada obat-obat
klasik. Resorpsi dari usus baik, PP ±83%., dalam
hati didegradasi dan menghasilkan banyak
metabolit inaktif, yang diekskresi melalui
urin dan feses. Masa paruh eliminasinya ±7
jam. Efek samping utama berupa mengantuk
(selama 2 minggu pertama), rasa penat, pu-
sing , hipotensi ortostatik dan peningkatan
berat badan.
Dosis: hari pertama 2 dd 25 mg, hari kedua
2 dd 50 mg, hari ketiga 2 dd 100 mg, hari ke-
empat 2 dd 150 mg, lalu bila perlu dinaikkan
lagi sampai dosis pemeliharaan maks 450 mg
seharinya.
10. Aripiprazol: Abilify
Merupakan obat antipsikotik atipis dan
agonis parsial bagi reseptor dopamin (-D2)
dan serotonin (-5-HT 1a), serta memiliki aktivi-
tas antiserotoninerg (5-HT2).
Resorpsi baik dengan PP >99% dan dimeta-
bolisasi di hati menjadi metabolit aktif de-
hidro-aripiprazol. Ekskresi via urin (25%)
dan feses (60%). T1/2 ± 75 jam. dipakai un-
tuk schizofreni pasien dewasa dan yang
meningkat dewasa (>15 tahun ).
Efek samping sering kali (1-10%) gangguan
tidur, pusing, gangguan ekstrapiramidal, ge-
metar, mual dan muntah.
Dosis: untuk agitasi dan perilaku terganggu,
parenteral 9,75 mg i.m. yang dapat diulang
sesudah 2 jam, maks. 3 injeksi dalam 24 jam,
atau maks 30 mg aripiprazol sehari. Untuk
schizofreni oral permulaan dan sebagai dosis
pemeliharaan 15 mg sekali sehari dan maks 30
mg sehari. Bagi lansia dosis awal dikurangi.
11. Paliperidon: Invega, Xeplion
yaitu metabolit aktif dari risperidon
dan merupakan antipsikotika atypis dengan
khasiat antiserotoninerg (5-HT2) dan anti-
dopaminerg (-D2) kuat. Memiliki khasiat
memblokir alfa-1 dan alfa-2 dan daya kerja
antihistaminerg (-H1) lemah. Ekskresi teru-
tama melalui ginjal (utuh 59%) dan t1/2 dari
23 jam (oral); sesudah injeksi i.m. 25-49 hari!
berdasar kerja panjang pada pemakaian
parenteral, obat ini dipakai sebagai terapi
pemelihaan sesudah pasien distabilisasi mela-
lui pengobatan per oral dengan paliperidon
atau risperidon.
Efek samping sering kali sakit kepala (>10%)
dan infeksi saluran napas bagian atas, berat
badan meningkat, gejala ekstrapiramidal, pu-
sing, sedasi, mengantuk, mual, munah dan
retensi urin. Pada pemakaian parenteral
sering kali timbul insomnia, hiperlipidemia,
hipertensi, vertigo dan diare.
Dapat mengurangi daya reaksi dan kon-
sentrasi (hati-hati mengendarai mobil) dan
pada pemakaian lama dapat memicu
gangguan daya gerak lambat (diskinesia tar
dif).
Jangan diberikan kepada pasien demensi
dengan riwayat CVA, TIA, hipertensi atau
diabetes, sebab risiko besar untuk efek sam-
ping kardiovaskuler.
Dosis: 1 dd 6 mg dengan jarak dari 3-12 mg
12. Lurasidon: Latuda
Antagonis dari reseptor alfa-adrenergik ini
dipakai sebagai monoterapi atau bersa-
maan dengan litium atau valproat untuk
penanganan schizofreni dan depresi bipolar.
Metabolisasi dalam hati melalui enzim
CYP3A4, oleh sebab itu tidak boleh diguna-
kan bersamaan dengan perintang enzim
ini (ketokonazol atau jus grapefruit) sebab
dapat meningkatkan kadar obat dalam plas-
ma dan bertambahnya efek samping.
Efek samping umum berupa hipotensi ortos-
tatik, pusing, mual, otot kaku dan akathisia
(bergerak-gerak).
Dosis: per oral 1 dd 20-40 mg dan tidak me-
lebihi 120 mg sehari.
ANTIDEPRESIVA
Antidepresiva atau obat antimurung ada-
lah obat-obat yang mampu memperbaiki
susasana jiwa (“mood”) dengan menghi-
langkan atau meringankan gejala murung,
yang tidak disebabkan oleh kesulitan sosial-
ekonomi, obat-obatan atau penyakit. Antide-
presiva tidak bekerja terhadap orang sehat
dan efek baiknya tidak bertambah dengan
meningkatkan dosisnya melewati nilai opti-
mal. Depresi yaitu gangguan jiwa yang
paling umum di dunia dan menurut taksiran
ada 340 juta penderitanya. Prevalensi-
nya antara wanita yaitu rata-rata 25%, pria
10% dan remaja 5%.
Gangguan ini dapat terjadi pada segala
usia dan merupakan suatu reaksi emosional
normal yang paling sering timbul pada usia
dewasa muda, dewasa dan lansia. Pada lansia
gejala depresi yaitu kronis dan ternyata
hanya 25-50% dapat sembuh sesudah jangka
waktu lama.
Pada sekitar 75% dari penderita lansia tim-
bulnya depresi lambat (late onset), yaitu ge-
jala pertama baru timbul pada usia lanjut
(55 tahun) dengan gejala utama seperti apa-
thie, hilangnya perhatian dan energi serta
pelambatan psikomotor.
pemicu nya. Teori/hipotesis monoamin me-
nunjukkan sebagai pemicu depresi ada-
lah terganggunya keseimbangan antara neu-
rotransmitter di otak. Terutama akibat ke-
kurangan serotonin (= 5HT) dan/atau no-
radre nalin di saraf-saraf otak. Beberapa
gangguan psikiatri lain yang mempunyai
hubungan dengan kadar serotonin rendah,
yaitu a.l. penyakit demensia Alzheimer,
penyakit Parkin son dan juga migrain. Pada
demensia di samping kekurangan ACh, juga
ada penyusutan resep tor 5HT. Begitu
pula pada Parkin son yang selain kekurangan
DA, juga ada penurunan fungsi
serotoninerg. Selain faktor neurotransmitter
juga keturunan merupa kan pemeran penting
pada terja di nya depresi.
Di samping ini kadar sitokin juga
memegang peranan pada depresi yaitu
meningkat pada depresi. Sitokin merupakan
zat isyarat yang dapat memperparah reaksi
peradangan (pro-inflamasi) atau mengurangi
(anti-inflamasi) (hipotesa peradangan pada
depresi).
Serotonin
Serotonin atau 5-hidroksitriptamin (5HT) ber-
fungsi sebagai neuro transmit ter pada ko-
munikasi antara neuron-neuron otak, lihat
juga Bab 31, Adrenergika. Zat ini a.l. berkha-
siat memper baiki suasana jiwa, meng ham-
bat nafsu makan, juga meningkatkan rasa
mengantuk dan ambang nyeri, sehingga rasa
sakit lebih mudah diatasi. Banyak karbo hid-
rat dalam makanan meningkatkan produksi
insulin dan juga sekresi seroto nin, yang ber-
efek turunnya nafsu makan dan timbulnya
rasa kantuk. Bila kadar 5HT di otak menurun
seperti sesudah penggun aan zat antiserotonin,
nafsu makan pun bertambah, lihat di bawah.
Kinetik Serotonin disintesis secara enzimatik
dari tripto fan, terutama di sel-sel tertentu
dari saluran cerna. Di samping itu dalam
jumlah ringan juga di saraf otak dan saraf pe-
rifer, mastcells dan jaringan ginjal. Dari usus
serotonin diserap ke dalam darah dan untuk
sebagian besar dirombak di dalam hati. Si-
sanya yang sedikit diserap oleh sel-sel en-
dotel paru-paru dan diinaktifkan oleh metil-
transferase dan MAO-A (monoaminoksidase-A)
menjadi 5-hy droxy-indolea cetaldehyde. Zat
ini dioksidasi menjadi teruta ma asam 5-HIAA
(= hydroxyindoleacetic acid), yang diekskresi le-
wat urin sebagai konyugatnya. Kadar normal
dalam urin yaitu 2-10 mg 5-HIAA sehari.
Nilai lebih tinggi merupakan indikasi adanya
tumor yang mensekresinya! Trans pornya
dalam darah berlang sung di dalam granula
dari trombo sit. Dengan demikian hanya se-
dikit 5HT beredar bebas dalam darah. namun
bila trombosit menggum pal, banyak 5HT
dibe baskan. Serotonin tidak dapat melintasi
sawar darah-otak (blood-brain barriere) dan
harus disin tesis di dalam otak dari triptofan.
Untuk sintesis ini mutlak diperlu kan pirid-
oksin, lihat di bawah nr 7. Triptofan.
Reseptor serotonin dapat dibagi dalam 3
kelompok utama, yaitu reseptor serotoninerg
5HT1, 5HT2 dan 5HT3, yang dapat dibagi lagi
dalam sejumlah sub-tipe, misalnya 5HT1A..
Reseptor 5HT1terda pat a.l. di sel-sel endotel
dinding pembuluh dan mungkin sekali juga
di sel-sel otot polos dalam arteriole kecil.
Reseptor 5HT2 ada di trombosit dan sel-sel
otot polos dari arteri, arteriole besar, kapiler
dan vena. Tergantung dari tipe reseptor yang
berada di pembuluh, 5HT menimbul kan
vasodi la tasi atau konstriksi.
*Reseptor 5HT1 berkaitan dengan vasodi-
latasi (dan turunnya tensi), juga dengan ab-
sorpsi 5HT oleh trombo sit. Untuk arteri dan
arteriole besar konstrik si yaitu lebih do-
minan daripada dilatasi. Untuk penurunan
tensi dengan efektif perlu dikombinasi de-
ngan blokade reseptor-a1. Lihat juga Bab 31,
Adrenergika.
*Reseptor 5HT2 bertanggungjawab atas vaso-
konstriksi serta agre ga si trombosit dan dapat
dihambat oleh ketanserin dan antago nis selek-
tif lain dari 5HT2.
Agonis serotonin dapat memengaruhi neu-
rotransmisi serotoninerg dan yang terpenting
yaitu a.l. senyawa amfetamin (dengan me-
ningkatkan pelepasan 5HT dalam sela sinaps),
triptofan (dengan memperbesar produksi-
nya di neuron presinaptis), penghambat-MAO
(dengan merintangi perombakan presinap-
tis), sumatriptan dan metoklopramida (dengan
stimulasi reseptor 5HT post-sinaptis), litium
(dengan peningkatan respons reseptor post-
sinaptis) dan SSRIs (dengan menghambat
penyerapan kembali dari 5HT yang telah
dilepaskan).
Antagonis serotonin yaitu zat-zat yang
melawan efek serotonin, terutama terhadap
otot polos. Berkhasiat antara lain mening-
katkan nafsu makan dengan memengaruhi
pusat-pusat tertentu di hipota lamus. Obat
dengan khasiat ini yaitu antihistamin
siprohepta din (Periactin, Ennamax) dan obat
mi

















