Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 26. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 26. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 26

 







rut, juga mengantuk 

dan udema pada kaki. Seperti pada semua 

agonis-DA adakalanya muncul rasa kantuk 

pada siang hari yang tak tertahan dan pasien 

tiba-tiba bisa jatuh tertidur.

Kombinasinya dengan levodopa juga me-

nyebabkan diskinesia, halusinasi dan berbi- 

cara rancu.

Dosis: minggu pertama 3 dd 0,25 mg, mi-

nggu kedua 3 dd 0,5 mg, minggu ketiga 3 

dd 0,75 mg dan minggu keempat 3 dd 1 mg. 

Bila perlu berangsur-angsur dapat dinaikkan 

sampai maksimal 3 dd 3 mg.

B2. Tacrin: tetrahydroaminoacridine, THA, Ari-

cept, Cognex

Derivat acridin ini (1993) berkhasiat meng-

hambat secara reversibel kolinesterase di 

SSP. Tacrin dipakai  pada bentuk ringan 

atau sedang dari demensia Alzheimer, ber-

dasarkan penemuan bahwa pada pasien 

demikian ada  kehilangan selektif dari 

neuron kolinergik di otak. Penurunan dosis 

atau penghentian pengobatan harus secara 

berangsur berhubung risiko timbulnya gang- 

guan perilaku dan fungsi kognitif. Efekti-

vitasnya rendah., maka tidak banyak digu-

nakan lagi.

Pada pasien Alzheimer masa paruhnya 

3 jam. Obat ini juga dipakai  sebagai sti-

mulans pernapasan dan antidotum kurare.

Efek samping berupa gangguan saluran 

cerna, pusing, nyeri sendi, konvulsi dan gang-

guan serius fungsi hati. 

Dosis: permulaan oral 40 mg/hari selama 6 

minggu, lalu dinaikkan dengan 40 mg setiap 

6 minggu, maksimal 160 mg.

B3. Donepezil: Aricept

Obat ini (1997) yaitu  enzim inhibitor ber-

dasarkan pembentukan suatu kompleks stabil 

dengan asetilkolinesterase, yang dihidrolisis 

dalam beberapa menit. Donepezil hanya 

dipakai  pada kasus ringan sampai sedang 

demensia Alzheimer dengan efek terbatas 

pada fungsi kognitif otak.

Resorpsi dari usus lengkap (hampir 100%), 

PP 94%, t½ 70-100 jam. Donepezil dimetabo-

lisasi di hati untuk kemudian diekskresi 

lewat urin. 

Efek samping berupa gangguan saluran 

cerna (mual, muntah, diare, anoreksia, dis-

pepsi, konstipasi), kejang otot dan tidak bisa 

tidur.

Dosis: 1 dd 5 mg a.n. (sebelum tidur), sesu-

dah 4 minggu 1 dd 10 mg.

B4. Rivastigmin: Exelon

Obat ini (1997) menghambat kolinesterase 

selama lebih dari 10 jam sesudah  mengikatnya. 

Pada Alzheimer ringan hanya memperbaiki 

fungsi kognitif pada hanya sejumlah kecil 

pasien, kurang dari 10% (NTvG 2002;146:24-

27). Resorpsi dari usus cepat dan lengkap, 

namun  BA hanya ±35% akibat FPE besar. 

PP 40%, plasma-t½ ±1 jam. Di dalam hati 

senyawa ini dirombak total dengan cepat.

Efek samping berupa perasaan lemah dan 

malaise, pusing, gangguan saluran cerna dan 

mengantuk. Begitu pula efek pusat (agitasi, 

perasaan kacau, tremor dan depresi), berke-

ringat dan menurunnya berat badan.

Dosis: permulaan 2 dd 1,5 mg d.c, sesudah  

itu setiap 2 minggu dapat dinaikkan sampai 

2 dd 3 - 6 mg. 

B5. Asam liponat: alpha-lipoic acid, thioctic acid

Derivat dithiolan (cincin-lima dengan 2 

atom S) dari asam valerat ini berkhasiat 

antioksidan broad-spectrum kuat, sebagai 

faktor pertumbuhan untuk banyak kuman 

dan protozoa. Fungsinya di dalam sel yaitu  

sebagai pelindung mitochondria terhadap 

kerusakan oksidatif, juga berperan penting 

pada produksi energi aerob, sebab  meru-

pakan ko-faktor dalam sistem enzim di siklus 

asam sitrat (Krebs‘ cyclus). 

Dalam mitochondria (pusat energi dari 

sel), liponat diubah menjadi dihidroliponat 

(DHL) yang juga aktif sebagai antioksidan 

terhadap berbagai radikal oksigen reaktif. 

DHL mampu memulihkan sifat antioksidan 

asli dari molekul vitamin C dan vitamin E 

yang sudah dipakai , sehingga mampu 

mereduksi kembali (regenerasi) antioksi-

dansia yang sudah dioksidasi. Begitu juga 

DHL dapat meregenerasi antioksidan intra-

seluler penting glutathion. DHL bekerja 

baik di lingkungan intraseluler maupun 

ekstraseluler. Lagi pula obat ini mampu 

mengchelasi (mengikat) Fe, yang mensti-

mulasi pembentukan radikal hidroksil yang 

berbahaya.

pemakaian . Di kalangan alternatif liponat 

kini dipakai  untuk menangani gangguan 

sistem saraf, antara lain pada penyakit Par-

kinson dan Alzheimer, serta infark otak (beroerte). 

Liponat juga dipakai  untuk meringan- 

kan gejala neuropati diabetes (Diab Care 

1995;18: 1160-7). Mekanisme kerja dari kha-

siat neuroprotektif itu  tidak diketahui 

dengan pasti, namun  diduga berdasar  daya 

antioksidannya yang kuat. Liponat bersifat 

lipofil, maka dengan mudah melintasi rin- 

tangan darah-otak. Dalam otak dan saraf 

ada  banyak asam lemak ganda tak je-

nuh (PUFA), oleh sebab  itu bersifat sangat 

peka bagi kerusakan oksidatif oleh radikal 

bebas (FR), yang terbentuk akibat aktivi-

tas neurotransmitter tertentu. Khasiat anti-

oksidan dari liponat sangat bermanfaat da-

lam hal ini. Liponat juga terkenal sebagai 

antidotum terhadap intoksikasi jamur bera-

cun Amanita muscaria, alkohol (berkat efek 

menghambatnya terhadap pembentukan ase-

taldehida), logam-logam (Hg) dan zat pelarut 

(tetraklor dan sebagainya). Lihat juga Bab 47, 

Insulin, 6.Asam Liponat.

Dosis: 3 dd 100 mg.

C. MULTIPLE SCLEROSIS

C1. Interferon beta-1b: IFN-β1b, Betaferon

Protein ini dengan 165 asam amino yang 

dibuat berdasar  teknik DNA-rekombinan 

oleh E. coli (1993), mengandung serin pada 

C17 sebagai pengganti sistein (pada IFN-β1 

alamiah). Obat ini berkhasiat antiviral dan 

imunomodulator, antara lain menstimulasi 

T-supressor cell (CD8+) yang jumlahnya 

ternyata sangat rendah dan bersama pening-

katan produksi kortisol menghasilkan pe-

nurunan aktivitas proses imun. Senyawa 

ini juga menekan efek imunologi dari IFN-

gamma, yang dihubungkan dengan pembu-

rukan gejala penyakit MS. namun  belum 

diketahui jelas mekanisme mana yang me-

miliki peranan terpenting bagi daya kerjanya 

pada MS. Berkhasiat mengurangi frekuensi 

serangan (dengan 30%), mengurangi hebat-

nya residif serta jumlah kerusakan myelin 

pada gambaran-MRI dari bentuk MS ter-

tentu. Lagipula progres penyakit dapat di-

perlambat (Lancet 1998 ;352 :1491-7). Masa 

paruhnya ±5 jam dan hanya dapat diberikan 

parenteral. 

Efek sampingnya berupa gejala flu dengan 

demam menggigil, nyeri otot, berkeringat 

dan malaise umum, juga reaksi alergi serius 

dengan kadangkala urticaria, bronchospasme 

dan anafilaksis, serta efek sentral (rasa takut, 

kekacauan dan depresi).

Dosis: s.c. 8 MIU (= 250 mcg/ml) setiap 2 

hari. Lihat juga interferon-alfa dan inter-

feron-gamma di masing-masing Bab 14, Si-

tostatika dan Bab 49, Imunomodulansia, juga 

Bab 7, Virustatika.

*Interferon beta-1a (IFN-ß1a, Avonex) yaitu  

suatu protein terglikolisasi yang terdiri dari 166 

asam amino, identik dengan IFN-β human. 

Pembuatan, khasiat dan pemakaian nya sa-

ma dengan IFN-β1b. Progres penyakit dapat 

dipengaruhi secara positif.

Dosis: i.m. 6 MIU (= 30 mcg/ml) 1-3 kali 

seminggu.

C2. Natalizumab: Tysabri

Merupakan monoklonal antibody (MOAB) 

recombinant sebagai perintang integrin yang 

di-ekspresikan dengan kuat pada permukaan 

semua lekosit, kecuali neutrofil. Pengikatan 

pada integrin mencegah migrasi lekosit ke 

jaringan yang beradang dan mungkin juga 

menekan reaksi peradangan. dipakai  se-

bagai monoterapi pada tahap  awal ‘relapsing 

remitting’MS (RRMS). Masa paruhnya pan-

jang 6 jam dan dapat diperpanjang lagi tiga 

kali bila ada  antibodi yang bertahan. 

Wanita hamil dan yang menyusui tidak 

boleh diberikan obat ini.

Dosis: infus intravena selama 1 jam 300 mg 

setiap 4 minggu


ANTIPSIKOTIKA

PSIKOFARMAKA

Obat penyakit jiwa yaitu  obat-obat yang be-

kerja terhadap SSP dengan memengaruhi 

fungsi-fungsi psikis dan proses-proses men- 

tal. Dari banyak kelompok obat yang meme-

nuhi definisi ini, hanya psiko farmaka sejati 

yang akan dibicarakan di bab ini, khususnya 

antipsikotika (dan antidepresiva di Bab 30). 

Yang lainnya seperti sedativa, tranquilli zers, 

hipnotika dan anti-epilepti ka, telah dibahas 

di Bab-bab tersendiri.

Sejarah. Di masa lampau penyakit jiwa dio-

bati dengan sedativa seperti candu, bromida 

dan skopolamin, kemudian dengan barbi tal. 

Pengobatan ini sering kali dilengkapi dengan 

beberapa cara lain, misalnya kerja krea- 

tif, kur tidur (1922) atau cara-cara yang agak 

drastis (shock insulin, 1933 dan shock/kejang 

listrik, 1937). Pada schizofrenia parah bah-

kan dilakukan operasi otak (leukoto mia, 1935) 

untuk mengeluarkan sebagian otak. Cara-ca-

ra ini menghasilkan efek yang cukup baik, 

terutama electros hock (Electro Convulsive Thera­

py, ECT), namun  pelaksanaannya dengan geja-

la yang hebat (serangan epilepsi, kerusakan 

otak, hilangnya ingatan), telah menemui per-

lawa nan dari baik pasien maupun perawat. 

Revolusi dalam farmakoterapi psikosis telah 

dimulai dengan introduksi klorpromazin 

pada tahun 1952. Antipsikotikum pertama 

ini disusul oleh alkaloida Rauwolfia reserpin 

(1954), yaitu suatu obat hipertensi yang de-

wasa ini dianggap kuno. Kemudi an banyak 

antipsikotika lain dipasarkan yang efektif 

dalam menanggulangi banyak gejala psikosis. 

Kemaju an selanjutnya dicapai di akhir tahun 

1980-an dengan ditemu kannya antipsikotika 

baru yang mampu menyem buhkan gejala-

gejala nega tif, yang kebal terhadap obat-obat 

terdahulu. 

Obat generasi kedua itu tidak mampu me- 

nyembuhkan 100% gangguan jiwa, namun 

banyak gejalanya dapat dihilangkan atau 

dikurangi. Keadaan pasien dapat diperbaiki, 

hingga dapat melanjut kan kehidupannya 

secara bebas dengan kuali tas hidup yang ba- 

ik. Lagi pula obat-obat ini tidak saja lebih 

efektif daripada obat-obat dan cara-cara la-

ma, melainkan mengubah drastis dan mem- 

per mudah perawatan pasien di rumah sakit 

gangguan jiwa. Mereka menjadi lebih ter-

buka dan bersedia berkomunikasi dengan 

para dokter, perawat dan terapisnya. Masa 

perawatannya di rumah sakit pun dapat 

dipersingkat, sebab  sering kali pengobat-

annya dapat secara ambulan, artinya poliklinis, 

di rumahnya sendiri. Resosia lisasinya dalam 

masyarakat juga berlangsung lebih lancar. 

Meskipun demikian, psikofarmaka ternyata 

tidak dapat menggantikan seluruhnya terapi 

klasik, seperti ECT pada keadaan depresi 

tertentu.

Penggolongan

Psikofarmaka dalam arti sempit, yang ter- 

utama dipakai  untuk penanganan gang- 

guan jiwa, dapat digolongkan dalam dua 

kelompok besar, yakni:

a. antipsikotika (dahulu disebut neurolep-

tika atau major tran quillizers) yang be-

kerja antipsikotik dan sedatif. Obat ini 

dipakai  khusus untuk berbagai jenis 

psikosis (a.l. schizofrenia) dan mania;

b. antidepresiva, yang berdaya memper-

baiki suasana murung dan putus asa 

yang terutama dipakai  pada keadaan 

depresi, panik dan fobia. Lihat selanjutnya 

Bab 30, Antidepresiva.

Neurotransmitter

Di otak ada  ±30 neurotransmitter atau 

neurohormon yang ber tang gungjawab atas 

penerusan impuls listrik antara sel-sel saraf 

secara kimiawi. Dari tajuk (neurit, axon) di 

ujung suatu neuron, neurohormon melintasi 

sinaps (celah di antara dua sel saraf) ke tajuk 

(dendrit) di bagian depan neuron berikutnya 

(saraf post­sinap tis). Ada sejum lah sistem neu-

rotrans mitter, antara lain sistem adrenergik dan 

sistem koliner gik dengan zat-zatnya tersen diri, 

lihat juga Seksi V, Penerusan impuls.

a. Sistem adrenergik. Neurohormon terpen-

ting di otak yaitu  zat-zat monoamin nora-

drenalin (NA), serotonin (5-HT = 5­hidrok­

sit ripta min) dan dopamin (DA), yang menen-

tukan kegiatan otak dengan antar-keseim-

bangannya. Zat-zat ini khusus ada  da- 

lam gelem bung­gelembung kecil di ujung axon 

(presinaptis), yang letaknya dekat sinaps. Se-

telah impuls listrik mencapai axon, gelem-

bung depot melepas kan neurohormonnya. 

Sebagian besar neurohormon segera diserap 

kembali secara aktif oleh gelembung terse-

but (re­upta ke), sisanya melintasi sinaps dan 

mencapai reseptor-reseptor di ujung dendrit 

di seberangnya. Setibanya di situ neurohor- 

mon menstimulasi reseptor untuk melepas-

kan suatu impuls kedua, yang mengakibat-

kan “melompatnya” impuls asli melalui si- 

naps. Enzim MAO (monoaminoksida se), yang 

juga ada  di ujung-ujung neuron, ber-

fungsi menguraikan monoamin sesudah 

aktivi tasnya selesai. 

Obat-obat yang mengurangi kadar dopa-

min di sel-sel saraf otak memiliki daya kerja 

antipsikotik, sedang  obat-obat yang me­

ningkatkan kadar DA dipakai  pada penya-

kit Parkinson. Obat-obat yang memperbesar 

kadar seroto nin dan noradrenalin di celah 

sinaptis dengan jalan menghambat re-upta-

kenya memiliki daya kerja antidepresi.

Gambar 29-1: Proses transmisi impuls saraf secara kimiawi 

melalui sinaps di otak

b. Sistem kolinergik. Neurohormon asetil-

kolin (Ach) dari sistem kolinergik tidak 

diresorpsi kembali, melainkan langsung diu-

rai kan oleh kolines terase. Obat-obat antiko-

linesterase yang meningkatkan kadar ACh 

di otak, antara lain tacrin, dipakai  untuk 

demensia Alzheimer, lihat Bab 28 C, Obat-obat 

demensia.

Antipsikotika

Antipsikotika (major tranquillizers) yaitu  

obat-obat yang dapat menekan fungsi-fungsi 

psikis tertentu tanpa memengaruhi fungsi 

umum seperti berpikir dan berkelakuan nor-

mal. Obat ini dapat meredakan emosi dan 

agresi dan dapat pula menghi langkan atau 

mengurangi gangguan jiwa seperti impian 

buruk dan pikiran khayali (halusinasi) ser-

ta menormalisasikan perilaku yang tidak 

normal. Oleh sebab  itu antipsikotika teruta-

ma dipakai  pada psikosis, penyakit jiwa 

hebat tanpa keinsafan sakit oleh pasien, mi-

salnya penyakit schizofrenia («gila») dan psi­

kosis mania­depresif.

* Minor tranquillizers yaitu  anksiolitika 

yang dipakai  pada gangguan kecemasan 

dan pada gangguan tidur, seperti hipnotika. 

Lihat Bab 24, Sedativa dan Hipnotika.

Gangguan jiwa

Klasifikasi. Ada ratusan penyakit jiwa dan 

gangguan perilaku, yang tidak mudah di- 

diagnosis. Untuk memudahkan dan menstan-

dardisasi diagnosis, lazimnya dipakai  kla- 

sifikasi dari APA (American Psychi atric Asso­

ciation) dalam buku pedoman nya DSM-5 

(Diagnostic and Statis ti cal Manual of Mental 

Disor ders, edisi ke­5, 2013), yang merupakan 

otoritas universal mengenai diagnosis psiki-

atri. Dalam pedoman ini diberikan definisi 

dan kriteria saksama dari semua gangguan 

psikiatri dan rekomendasi untuk terapi. 

Di bawah ini diberikan ringkasan singkat 

dari sejumlah gangguan jiwa terpen ting 

yang berkaitan dengan psikosis. Gangguan 

depresi dan gangguan makan akan dibica-

rakan di Bab 30 dan Bab 31, sedang  keta-

gihan/drugs telah dibahas dalam Bab 23, 

Drugs.

a. Psikosis didefinisikan sebagai gangguan 

jiwa yang sangat merusak akal budi dan 

pengertian (insight), timbulnya pandangan 

yang tidak realistik atau bizar (aneh), meme-

ngaruhi kepribadian dan mengurangi ber-

fung sinya penderita. Gejala psikotis mencakup 

waham (pikiran khayal, delusio), halusi nasi 

dan gangguan berpikir formal (tidak dapat 

berpikir riil), yang sering kali disebabkan 

oleh schizofre nia. Psikosis dapat diobati de-

ngan antip sikotika.

b. Neurosis termasuk gangguan konstitusi 

jiwa tanpa kerusakan organik dan tanpa ge- 

jala psiko tis. Kepribadian pasien relatif ku-

rang terganggu dan kontak dengan realitas 

juga tidak terganggu. Gangguan jiwa ini (ter- 

masuk histeria dan neurastenia) dapat diang-

gap sebagai bentuk berlebihan dari reaksi 

normal terhadap situasi dan kejadi aan de-

ngan penuh stress. Gejalanya dapat berupa 

kegelisahan, kecemasan, murung, mudah ter- 

singgung dan berbagai perasaan tidak nya-

man pada tubuh. Pasien neurosis dapat dita-

ngani dengan tranquillizers.

c. Sindroma Borderline, lengkapnya Border-

line Personality Disorder (BPD), yang ge-

jalanya terletak antara neurosis, psikosis dan 

depresi. Sejak tahun 1987 sindroma ini diakui 

sebagai penyakit jiwa dan dalam DSM 1996 

dimuat kriteria untuk diagnosisnya. Gejala-

nya banyak sekali dan yang utama yaitu  

impulsivitas (minuman keras /narkotika, pe-

nyalahgunaan, mengendarai mobil secara 

membahayakan, hasrat kuat untuk membeli), 

instabilitas emosional dengan perubahan suasana 

secara mendadak dan percobaan bunuh diri, 

kesulitan bersosialisasi sebab  menganggap 

segala sesuatu sebagai hitam-putih. Ciri-ciri 

lainnya yaitu  ketakutan ditinggalkan dan 

sukar hidup sendiri, juga kecurigaan kuat 

dengan hilangnya hubungan antara daya ber- 

pikir dan perasaan (disosiasi), masa-masa 

psikosis singkat dan masa-masa depresi. 

Akibat gejala-gejala ini penderita BDP menga-

lami banyak kesulitan dalam pergaulan dan 

cenderung menarik diri dari kehidupan 

sosial.

Pengobatan dilakukan poliklinis dengan 

kombinasi dari suatu bentuk psikoterapi 

khusus dan psikofarmaka (antipsikotika, anti-

depresiva atau obat-obat yang meregulasi 

suasana, seperti litium).

d. Mania didefinisikan sebagai kecende-

rungan patologis untuk suatu aktivitas ter- 

tentu yang tidak dapat dikendalikan, misal-nya 

mengutil (klep tomania). Suasana jiwa pasien 

riang namun  seolah-olah ada paksaan untuk 

bertindak/melakukan aktivitas berlebihan, 

kegelisahan dan perilaku tak terkendali. Bila 

masa-masa mania diselingi masa-masa depre-

si, gangguan ini disebut depresi manis, lihat 

Bab 30, Antidepresiva. Penanganan mania 

dilakukan dengan antipsiko ti ka, khususnya 

klorpromazin, halo­peridol dan pimozida.

Schizofrenia

Schizofrenia merupakan gangguan jiwa yang 

dalam kebany akan kasus bersifat sangat se- 

rius, berkelanjutan dan dapat mengakibat-

kan kendala sosial, emosio nal dan kognitif 

(penge nalan, pengeta huan, daya membeda-

kan; Lat. cognitus = dikenali). namun  ada pula 

banyak varian yang kurang serius. Schizo-

frenia yaitu  pemicu  terpenting gangguan 

psikotik, pada mana periode psikotik dise-

lingi dengan periode ‘normal’, saat pasien 

dapat berfungsi baik. Sering kali penyakit 

diawali secara « menyelinap », adakalanya 

juga dengan mendadak. Pada pria biasanya 

timbul antara usia 15-25 tahun, jarang di atas 

30 tahun, sedang  pada wanita antara 25-

35 tahun. 

pemicu nya masih belum diketahui, 

mungkin berkaitan dengan terganggunya ke­

seimbangan sistem kimiawi yang rumit di bagian 

otak. Sekarang ini hanya ditetapkan adanya 

faktor keturunan dengan faktor lingkungan se-

bagai pemeran penting. Menurut suatu teori 

infeksi virus selama perkem bangan janin pada 

kehamilan telah menghambat pertumbuhan 

dari antara lain neuron dopaminerg ke 

bagian-bagian tertentu dari otak.

Teori dopamin mengatakan bahwa schi-

zofrenia disebabkan oleh hiperaktivitas sis-

tem dopamin di bagian limbis otak. Hal ini 

yang memicu  gejala psikotik positif. 

Di bagian lain dari otak (cortex frontal) ak-

tivitas dopamin justru berku rang, yang me- 

nimbulkan gejala negatif. Sejumlah obat ju-

ga dapat memicu  psikosis, misalnya 

drugs (LSD, XTC dan meskalin), juga metro­

nidazol, fenitoin, karbamazepin dan glikosida 

digitalis.

* Dopamin. Dapat dibedakan minimal 5 re-

septor-dopamin: D1 s/d D5, yang dapat dibagi 

dalam 2 kelompok, yaitu kelompok D1(= D1 + 

D5) dan kelompok D2 (= D2, D3, dan D4). Obat-

obat klasik terutama menghambat kelompok 

D2, sedang  obat-obat atypis menghambat 

kelompok D1. 

Gejalanya berupa simtom­simtom positif dan 

simtom­simtom negatif, yang selalu ada  

bersamaan, namun  dengan aksen berlainan 

pada berbagai pasien.

a. Simtom positif berupa waham-waham 

(seolah-olah mendengar suara orang yang 

memerintahkannya berbuat sesuatu), halu-

sina si (keinsafan realitas terganggu), pikiran 

janggal dan desor ganisasi kognitif (daya 

asosiasi terganggu, tidak dapat berpikir je-

las). Prognosa dari pasien dengan gejala-

gejala dominan ini, dianggap agak baik.

b. Simtom negatif berupa kemiskinan psiko­

motorik (berkurangnya bicara dan pergerak-

an, pemerataan emosional). Pasien menge-

lak hubungan sosial, menjadi apatis dan ke- 

hilangan enersi serta inisia tif. Simtom-sim-

tom ini menunjukkan bahwa pasien berfungsi 

sosial buruk, prognosanya kurang baik.

Diagnosisnya diterapkan berdasar  

gejala dan petunjuk sejumlah kriteria yang 

berlaku universal.

Progresnya penyakit. tahap  akut (psikosis) 

dengan simtom positif bertahan minimal satu 

bulan dan adakalanya diawali oleh tahap  

prodromal, yaitu menurunnya fungsi pasien 

di bidang sosial dan komunikasi. Kemudian 

tahap  ini disusul oleh tahap  dengan terutama 

simtom negatif, yang mirip tahap  prodromal. 

Dengan pengobatan khusus di rumah sakit 

jiwa, tahap  akut ini sesudah  1-2 bulan umumnya 

disusul oleh masa remisi (gejala penyakit 

hilang atau sangat berkurang). 

Sekitar 25% dari pasien tidak mengalami 

residif lagi dan dianggap sembuh. Kira-kira 

50% pasien hanya sembuh sebagi an (besar) 

dan terkadang kambuhnya masa psikosis, 

yang dapat diselingi periode panjang di mana 

pasien dapat berfungsi lebih kurang normal 

dengan kualitas hidup baik. Sisa 25%-nya 

membutuhkan pengobatan jangka panjang, 

sebab  penyakit cenderung sering kambuh 

lagi. Sekitar 10% dari kelom pok terakhir me-

ninggal sebab  bunuh diri.

Antipsikotika 

Antipsikotika biasanya dibagi dalam dua 

kelompok besar, yaitu obat typis atau klasik 

dan obat atypis.

A. Antipsikotika klasik, terutama efektif 

mengatasi simtom positif; biasanya  di-

bagi lagi dalam sejumlah kelompok kimiawi 

sebagai berikut:

a. derivat fenotiazin: klorpromazin, levome-

promazin dan triflupromazin (Siquil), thi-

orida zin dan periciazin, perfe na zin dan 

flufe na zin, perazin (Taxilan), trifluo per-

azin , proklor per azin (Steme til) dan thiëtil-

perazin (Tore can)

b. derivat thioxanthen: klorprotixen (Truxal) 

dan zuklopen tixol (Cisor dinol)

c. derivat butirofenon: haloperidol, brompe-

ridol, pipamperon dan droperidol

d. derivat butilpiperidin: pimozida, fluspirilen 

dan penflu ridol

B. Antipsikotika atypis (sulpirida, klozapin, 

risperi don, olanza pin dan quetiapin) bekerja 

efektif melawan simtom negatif, yang praktis 

kebal terhadap obat klasik. Lagi pu la efek 

sam ping nya lebih ringan, khusus nya gang- 

guan ekstrapi ra midal dan dyskine sia tarda. 

namun  lansia sebaiknya menghindari peng-

gunaan antipsikotika atypis sebab  risiko 

kerusakan ginjal akut.

Sertindol (Serd olect) sesudah  dipasarkan ha-

nya satu tahun lebih, akhir 1998 ditarik dari 

peredaran di Eropa, sebab  beberapa kali 

dilaporkan terja di nya aritmia dan kematian 

mendadak. Obat atypis lainnya yang sudah 

tersedia di negara lain sejak 1988 yaitu  zote-

pin (Zoleptil) dan ziprasidon (Zeldox).

Khasiat dan pemakaian 

Antipsikotika memiliki sejumlah kegiatan 

fisiologi, yakni:

a. antipsikotik. Obat-obat ini dipakai  un-

tuk gangguan jiwa dengan gejala psikotis, 

seperti schizofrenia, mania dan depresi psi­

kotik. Di samping itu, antipsikotika digu-

nakan untuk menangani ganggu an perilaku 

serius pada pasien dengan handikap ro-

hani dan pasien demensia, juga untuk 

keadaan gelisah akut (excitatio) dan pe-

nyakit lata (penyakit Gilles de la Touret te);

b. anksiolitik, yaitu mampu meniadakan 

rasa bimbang, takut, kegelisahan dan 

agresi yang hebat. Oleh sebab  itu ada-

kalanya obat ini dipakai  dalam dosis 

rendah sebagai minor tranquillizer pada 

kasus-kasus serius, di mana benzodi aze-

pin kurang efektif, misalnya pimozida dan 

thioridiazin. Disebabkan efek sampingnya, 

penggun aan antipsikotika dalam dosis 

rendah sebagai anksioli tika tidak dian-

jurkan. 

c. antiemetik berdasar  perintangan neu-

rotransmisi dari CTZ (Chemo Trigger 

Zone) ke pusat muntah dengan jalan 

blokade reseptor dopamin, lihat Bab 17, 

Antiemetika. sebab  sifat inilah obat ini 

sering dipakai  terhadap mual dan 

muntah hebat seperti pada terapi de- 

ngan sitostatika; namun  terhadap mabuk 

jalan tidak efek tif. Obat dengan daya anti- 

emetik kuat yaitu  proklorper azin dan thi­

ëtilperazin. Obat lain dengan daya anti-

mual yang baik dalam dosis rendah yaitu  

klorpromazin, perfenazin, trifluproma zin, flu­

fenazin, haloperidol (dan metoklopramida).

d. analgetik. Beberapa antipsikotika memi-

liki khasiat analgetik kuat, antara lain 

levomepromazin, haloperidol dan droperidol 

(*Thala mo nal). namun  obat ini jarang digu-

nakan sebagai obat antinyeri, kecuali 

droperidol. Obat lainnya dapat memper-

kuat efek analge tika dengan jalan me-

ningkatkan ambang-nyeri, misalnya klor-

proma zin.

Klorpromazin dan haloperidol adakalanya 

juga dipakai  pada sedu (hiccup) yang 

tak henti­henti dan gangguan keseimbangan 

bila obat lain tidak ampuh.

Mekanisme kerja

Semua psikofarmaka bersifat lipofil dan 

mudah masuk ke dalam CCS (cairan sere­

brospinal), memungkinkan obat-obat ini me-

lakukan kegiatannya secara langsung terha-

dap saraf otak. Mekanisme kerjanya pada 

taraf biokimiawi belum diketahui dengan 

pasti, namun  ada petunjuk kuat bahwa me-

kanisme ini berhubungan erat dengan kadar 

neurotransmitter di otak atau antar-keseim-

bangannya.

Antipsikotika menghambat (agak) kuat 

resep tor dopamin (D2) di sistem limbis otak dan 

di samping itu juga menghambat reseptor D1/

D4,, α1(dan α2)­adrenerg, serotonin, muskarin 

dan histam in. namun  pada pasien yang kebal 

terhadap obat-obat klasik juga ditemukan 

blokade tuntas dari resep tor D2. Riset ba-

ru mengenai otak menunjukkan bahwa 

blokade-D2 saja tidak selalu cukup untuk 

menanggulangi schizofre nia secara efektif. 

Untuk ini neurohormon lainnya seperti sero-

tonin (5HT2), glutamat dan GABA (gamma­

butyric acid), juga perlu dilibatkan. 

Mulai kerjanyablokade-D2 cepat, begitu 

pula efeknya pada keadaan gelisah. Sebalik-

nya efek terhadap gejala psikosis lain, se-

perti waham, halusinasi dan gangguan pi-

kiran baru nyata sesudah  beberapa minggu. 

Mungkin efek lambat ini (masa latensi) dise-

babkan sistem resep tor-dopamin menjadi 

kurang peka. 

* Antipsikotika atypis memiliki afinitas lebih 

besar untuk resep tor-D1 dan D2, sehingga le-

bih efektif daripada obat-obat klasik untuk 

melawan simtom negatif. Lagi pula obat ini 

lebih jarang menimbul kan GEP dan dyskinesia 

tarda.

a. Sulpirida terutama menghambat resep-

tor-D2 dan praktis tanpa afinitas bagi reseptor 

lain. Pada dosis rendah (di bawah 600 mg/

hari) terutama bekerja antagonistik terhadap 

reseptor presinaptis, dan pada dosis lebih 

tinggi (di atas 800 mg/hari) juga terhadap 

resep tor-D2 postsinaptis, seperti halnya obat-

obat klasik. Efek antipsikotik terutama dica-

pai pada dosis lebih tinggi sedang  dosis 

rendah bermanfaat pada psikosis dengan 

terutama simtom negatif. 

b. Klozapin: ikatannya pada reseptor-D2 

agak ringan (± 20%) diban dingkan obat-obat 

klasik (60-75%). namun  efek antipsikotik nya 

kuat, yang dapat dianggap paradoksal. Juga 

afini tas nya bagi reseptor lain dengan efek 

antihistamin, antisero tonin, antikolinergik 

dan antiadrener gik relatif tinggi. Menurut 

perkiraan efek baiknya dapat dijelaskan oleh 

blokade kuat dari reseptor-D2, -D4, dan -5HT2. 

Blokade reseptor muskarin dan reseptor-D4 

diperkirakan mengu rangi GEP, sedang  

blokade 5HT2 meningkatkan sintesis dan 

pelepasan dopamin di otak. Hal ini meniada-

kan sebagian blokade D2, namun  mengurangi 

risiko GEP. 

c. Risperidon juga teruta ma menghambat 

reseptor-D2 dan -5HT2, dengan perbandingan 

afini tas 1 : 10, juga dari reseptor-α1, -α2, dan 

-H1. Blokade α1 dan α2 dapat memicu  

masing-masing hipotensi dan depresi, se-

dangkan blokade H1 berkaitan dengan se-

dasi.

d. Olanzapin menghambat semua reseptor 

dopamin (D1 s/d D5) dan reseptor H1, -5HT2, 

-adrenergik dan -kolinergik, dengan afinitas 

lebih tinggi bagi reseptor 5-HT2 dibandingkan 

D2.

e. Rebokse tin (Edronax) yang dipasarkan 

di Inggris pada tahun 1997, secara selektif 

menghambat reuptake noradre nalin (SNRI). 

Efek samping

Sejumlah efek samping serius dapat mem-

batasi pemakaian  antipsikotika dan yang 

paling sering terjadi yaitu :

a. gejala ekstrapiramidal (GEP), yang ber-

talian dengan daya antidopamin dan bersifat 

lebih ringan pada senyawa butiro fenon, bu­

tilpiperidin dan obat atypis. GEP terdiri dari 

beberapa bentuk, yaitu sebagai:

–  parkinsonisme (gejala penyakit Parkinson), 

yaitu hipokinesia (daya gerak berkurang, 

berjalan langkah demi langkah) dan ang- 

gota tubuh kaku, kadang-kadang tremor 

tangan dan keluar liur berlebi han. Gejala 

lainnya “rabbit­syndrome” (mulut membu-

at gerakan mengunyah, mirip kelinci), 

y ang dapat muncul sesudah  beberapa 

minggu atau bulan. Terutama pada dosis 

tinggi dan lebih jarang pada obat dengan 

kerja antikolinergik. Insidensinya 2-10%.

–  distonia akut, yakni kontraksi otot-otot 

muka dan tengkuk, kepala miring, gang- 

gu an menelan, sukar bicara dan kejang 

rahang. Guna menghindarinya dosis ha- 

rus dinaikkan dengan perlahan, atau di-

berikan antikolinergika sebagai profil-

aksis; 

–  akathisia, yaitu selalu ingin bergerak, 

tidak mampu duduk diam tanpa meng-

gerak kan kaki, tangan atau tubuh (Yun. 

kathisis = duduk, a = tidak, tanpa). Gejala 

ketiga GEP di atas dapat dikuran gi dengan 

menurunkan dosis dan dapat ditangani 

dengan antikoli nergika. Akathisia juga 

dapat diatasi dengan proprano lol atau ben­

zodiaze pin;

– dyskinesia tarda, yaitu gerakan abnormal 

tidak-sengaja, khususnya otot-otot muka 

dan mulut (menjulurkan lidah), yang 

dapat menjadi permanen. Gejala ini sering 

muncul sesudah  0,5-3 tahun dan berkaitan 

antara lain dengan dosis kumulatif (total) 

yang telah diberikan. Risiko efek samping 

ini meningkat pada pemakaian  lama dan 

tidak tergantung dari dosis, juga lebih se-

ring terjadi pada lansia; insidensinya 

tinggi (10-15%). Gejala ini hilang dengan 

menaikkan dosis, namun  kemudian timbul 

kembali dengan lebih hebat. Antik oliner-

gika juga dapat memperhe bat gejala ter- 

sebut. Pemberian vitamin E dapat mengu-

rangi efek samping ini.

– sindroma neuroleptika maligne berupa 

demam, otot kaku dan GEP lain, kesa-

daran menurun dan kelainan-kelainan 

SSO (tachycardia, berkeringat, fluktuasi 

tekanan darah, inkontinensi). Gejala ini 

tidak tergantung pada dosis dan teruta- 

ma timbul pada pria muda dalam waktu 

2 minggu dengan insidensi 1%. Diag-

nosisnya sukar, namun   bila tidak ditangani 

dapat berakhir fatal. 

b. galaktorrea (banyak keluar air susu), juga 

akibat blokade dopamin, yang identik dengan 

PIF(= Prolactine Inhibiting Factor). Sekresi 

prolaktin tidak dirintangi lagi, kadarnya 

meningkat dan produksi air susu bertambah 

banyak. Lihat Bab 42, Hormon Hipofisis.

c. sedasi yang bertalian dengan khasiat anti­

histamin, khusus nya klorproma zin, thioridazin 

dan klozapin. Efek samping ini ringan pada 

zat-zat difenilbutilamin.

d. hipotensi ortostatik akibat blokade resep-

tor α1-adrenergik, misalnya klorpromazin, thio­

ridazin dan klozapin.

e. efek antikolinergik akibat blokade reseptor 

muskarin, yang bercirikan antara lain mulut 

kering, penglihatan guram, obstipasi, retensi 

kemih dan tachy cardia, terutama pada lansia. 

Efeknya terutama kuat pada klorpromazin, 

thiorida zin dan kloza pin.

f. efek antiserotonin akibat blokade resep-

tor-5HT, yang merupakan stimulasi nafsu 

makan dengan akibat naiknya berat badan 

dan hiperglike mia.

g. gejala penarikan dapat timbul, walaupun 

obat-obat ini tidak bersifat adiktif. Bila peng- 

gunaannya menda dak dihentikan dapat ter-

jadi sakit kepala, sukar tidur, mual, muntah, 

anoreksia dan perasaan takut. Efek ini teru- 

tama timbul pada obat-obat dengan kerja 

antikolinergik. Oleh sebab  itu penghentian-

nya selalu perlu secara berangsur. 

h. efek lainnya. Akhirnya masih ada bebe-

rapa efek samping yang khas bagi obat-obat 

tertentu, yaitu:

–  fenotiazin: sering kali reaksi imunologis, 

seperti fotosensi bilisasi, hepatitis, kelain-

an darah dan dermatitis alergis, namun  

jarang pada senyawa thioksanten. Efek 

lainnya berupa kelainan mata dengan 

enda pan pigmen di lensa dan kornea, 

serta retinopati pada thiorida zin (dosis di 

atas 800 mg/hari);

–  klozapin: dapat memicu  agranulo-

sitosis (1-2%), juga bradycardia, hipotensi 

ortostatik dan berhentinya jantung;

– olanzapin dan risperidon pada lansia yang 

menderita Alzheimer dapat mengakibat-

kan kerusakan serebrovaskuler, yang 

meningkatkan mortalitas dengan lebih 

dari dua kali dan tidak tergantung dari 

lama dan besarnya dosis pemakaian . W. 

Garenfeld, Pharm.Wkbl. 2004;139:1021-3

Kehamilan dan laktasi. pemakaian  obat-

obat ini selama kehamilan dan laktasi se-

dapat mungkin harus dihindari berhubung 

toksisi tasnya bagi janin dan bayi. sebab  

psikosis yang tidak ditangani dengan tepat 

dapat sangat merusak kesehatan ibu dan 

janin, risiko penggun aan antipsikotika bagi 

tiap pasien perlu dipertimbangankan secara 

indivi dual. Bila sangat perlu hendaknya dibe- 

rikan dalam dosis serendah mungkin untuk 

waktu singkat. Periode kehamilan dengan 

risiko tinggi yaitu  minggu ke-4 sampai ke-

10 dan 2-4 minggu terakhir; selama periode 

itu , hendaknya jangan diberikan medi-

kasi. Obat pilihan per tama untuk keadaan 

darurat yaitu  haloperidol. 

Interaksi. Beta­blocker dan antidepresiva trisiklis 

dapat saling memper kuat efek antipsikotika 

dengan menghambat metabo lisme masing-

masing. Levodopa dan bromokriptin dapat di-

kurangi kerja dopaminergnya. Barbital menu-

runkan kadar darah antipsikotika berda-

sarkan induksi enzim. 

Klorpromazin dan garam litium masing-ma-

sing saling menurunkan kadarnya dalam 

darah.

Obat-obat tambahan

Bila pemakaian  antipsikotika kurang mem-

berikan hasil yang diinginkan adakalanya 

ditambahkan adjuvansia, misalnya suatu ben-

zo diazepin, garam litium, antidepresiva atau 

karbamazepin.

* Benzodiazepin dengan kerja agak panjang 

seperti diazepam, dapat untuk sementara 

ditambahkan pada antip sikotika dengan 

efek sedatif ringan untuk menanggulangi 

rasa takut dan gelisah. pemakaian nya tidak 

boleh dihentikan dengan mendadak, namun  

harus secara berangsur untuk menghindari 

psikosis dan konvul si reaktif (rebound). 

* Litium berguna sebagai obat tambahan bila 

ada  komponen mania. Efeknya yang 

baik berupa berkurangnya gejala psiko sis, 

kegelisahan dan perbaikan hubungan sosial 

dapat tercapai sesudah  2-4 minggu. Dosis 

antipsikotikum biasanya dapat dikurangi.

* Antidepresiva trisiklis, misalnya ami-

triptilin, adakalanya dapat ditambahkan 

pada depresi yang timbul sesudah psikosis. 

Berhubung kombinasi saling memperkuat 

daya kerja dan toksisitas kedua obat, harus 

diwaspadai meningkatnya efek antikoliner-

gik, seperti ileus paralytis dan delirium.

* Karbamazepin adakalanya bermanfaat se-

bagai adjuvans bila ada  kegelisahan 

dan gangguan kelakuan parah. Obat epilepsi 

ini menurunkan kadar antipsikotika dalam 

darah.

Penanganan schizofrenia

Kesulitan utama pada penanganan semua 

gangguan jiwa yaitu  tidak adanya keinsafan 

sakit pada kebanyakan pasien. Mereka meng-

anggap halusinasi dan pikiran khayalnya 

sebagai sesuatu yang sejati/ri il dan selalu 

berpikir dirinya tidak sakit, sehingga se-

ring kali menolak minum obat. Lagi pula 

undang-undang yang ketat di banyak ne-

gara tidak memungkinkan pengobatan/pe-

rawatan dipaksakan bagi seseorang tanpa 

persetujuannya. Pemaksaan hanya diperbo-

lehkan bila pasien membahayakan dirinya 

sendiri atau orang lain. Dengan demikian 

tidak jarang penderita psikotis parah tidak 

bisa ditolong. Penderita umumnya tidak bisa 

memelihara kebutuhan dasar dirinya dan 

berakhir sebagai gelandangan di jalan-jalan 

kota.

Jelaslah bahwa sesudah  masa psikosis le-

wat, juga kesetiaan terapinya (drug compliance) 

kurang besar, yang tidak jarang mengakibat-

kan gagalnya pengoba tan. 

Schizofrenia tidak dapat disembuhkan, 

penanganannya bersifat simtomatis, yaitu 

meniada kan gejalanya dan kemudian men-

cegah kambuhnya lagi. Di samping itu re-

habilitasi psikososial sangat penting untuk 

reintegrasi pasien dalam masyara kat. 

Psikoterapi. Dewasa ini para ilmiawan se-

paham bahwa penanga nan schizo frenia pa- 

ling efektif terdiri atas kombinasi dari far-

makoterapi bersama psikoterapi, termasuk 

terapi kelakuan kognitif, yang juga disebut 

“terapi wicara”. Dok ter/psi kia ter berusa ha 

membangun hubungan baik dengan pasien- 

nya dan memperoleh kepercayaan mereka, 

juga mencoba membantu mengatasi problema 

psikis mereka, serta memberikan petunjuk 

bagaimana menghadapi masalah. Di sam-

ping itu penting sekali untuk secara moril 

juga menunjang keluarganya yang lazimnya 

sangat berfrustasi mengenai hubungannya 

yang sering kali sangat sulit dengan pasien.

* Obat-obat klasik. Umumnya dimulai de-

ngan suatu obat klasik, teruta ma klorproma­

zin bila diperlukan efek sedatif, triflu oper azin 

bila sedasi tidak dikehendaki atau pimo­

zida jika pasien justru  perlu diaktifkan. Efek 

antipsikotika baru menjadi nyata sesudah  

terapi 2-3 minggu. Bila sesudah masa laten, 

obat itu  kurang efektif, perlu dicoba 

obat lain dari kelom pok kimiawi lain. Flufe­

nazin dekanoat diguna kan sebagai profi lak-

sis untuk mencegah kambuhnya penyakit. 

Thiorida zin bermanfaat bagi lansia untuk 

mengu rangi GEP dan gejala antikoli nergik. 

Obat klasik terutama efektif untuk meniada-

kan gejala posi tif yang efeknya baru nampak 

sesudah  beberapa bulan. Pengobatan perlu 

dilanjut kan dengan dosis pemeliharaan le-

bih rendah untuk mencegah residif, selama 

minimal 2 tahun dan tidak jarang seumur 

hidup. 

* Obat-obat atypis. Obat atypis lebih ampuh 

untuk simtom negatif kronis, mungkin sebab  

pengikatannya pada reseptor -D1 dan -D2 lebih 

kuat. Sulpirida, risperidon dan olanzapin dian-

jurkan bila obat klasik tidak efektif (lagi) 

atau bila terjadi terlalu banyak efek samping. 

sebab  klozapin dapat memicu  agranu-

locytosis hebat (1-2% dari kasus), selama te-

rapi perlu dilakukan penghitungan lek osit 

setiap minggu.

* Obat-obat tambahan, yaitu antikolinergika 

(triheksifenidil, orfenadrin) dan beta-blocker (pro­

pranolol). Obat ini sering ditambahkan untuk 

menanggu langi efek samping antipsi ko tika, 

terutama gejala extrapira midal (GEP). Ben­

zodiazepin diberikan untuk mengatasi kege-

lisahan dan kecemasan.

Penanganan alternatif

Sejumlah psikiater (C.Pfeiffer, A.Hoffer) telah 

berhasil baik dengan mengkombinasi vitamin 

dan mineral tertentu dalam megadose seba-

gai terapi. Penanganan ortomolekuler ini 

berdasar  penemuan bahwa pasien schi-

zofreni mengalami defisiensi nu trien-nutrien 

ber sangkutan. Cara ini terdiri dari pemberian 

nutrien tepat dengan antar­perbandingan yang 

tepat ke sel­sel tubuh (Yun. Orthos = lurus, 

tepat, sehat), lihat selanjutnya boks di Bab 53, 

Vitamin.Yang diberikan yaitu  vitamin C (3 

x 1 g), niasina mi da (3 x 1-2 g), piridoksin (2-3 

x 250 mg) dan vitamin E (1x 400 mg). Pilihan 

ini didasarkan pada sering ditemukannya 

kekurangan vitamin-vitamin itu  di otak 

penderita schizofrenia.

Mekanisme kerja. Menurut perkiraan hal ini 

disebabkan oleh terhambatnya pengubahan 

asam amino triptofan menjadi niasinamida 

dalam otak, sehingga terjadi kekurangan 

vitamin B3 dan kelebihan triptofan bebas. 

Lihat Bab 54, Dasar-dasar diet sehat: asam 

amino, triptofan dan Bab 53, Vitamin. Trip- 

tofan berlebihan dapat mendorong pemben- 

tukan zat-zat halusinogen tertentu (yang me- 

nimbulkan khayalan) dan dapat menimbul- 

kan kelainan pada suasana jiwa dan penga-

matan. Halusinogen ini dapat dirombak oleh 

enzim MAO (monoaminooksidase) yang jus-

tru memerlukan niasinamida (dan vitamin C) 

untuk kerjanya. Lagi pula pada schizofrenia 

ada  kekurangan co­enzim NAD (nicoti­

namide­adenine­dinucleotide) di otak yang di-

bentuk di bawah pengaruh niasinamida dan 

berperan penting pada reaksi redoks (reduksi 

dan oksidasi) di dalam sel. Vitamin B3 ini dan 

piridoksin mutlak diperlukan untuk reaksi 

pengubahan triptofan sebab  merupakan ko-

enzim bagi hidroksilase.

Zat­zat tambahan. Di samping vitamin itu 

diberikan pula sejumlah elemen tertentu, 

yaitu magnesi um (250 mg), zinc (50 mg), sele­

nium (220 mcg) dan mangan (25 mg) sehari. 

Lihat juga Bab 53, Vitamin. Dianjurkan pula 

diet tanpa bahan makanan yang mengandung 

asam amino, yang dapat meningkatkan ka-

dar atau aktivitas dopamin di otak, yaitu 

kacang­kacangan (dari genus Flava), gluten 

(suatu protein dalam gandum) dan kacang tanah 

(mengandung banyak glisin dan serine).

Dengan pemberian kombinasi ini gejala 

penya kit ternyata dapat sangat dikuran-

gi, sehingga banyak pasien dapat berfungsi 

sosial lebih baik bahkan dapat bekerja secara 

lebih kurang normal.

MONOGRAFI

1. Klorpromazin (F.I.): Largactil

Antipsikotikum tertua ini (1951) merupakan 

turunan dari prometazin dan memiliki rantai 

sisi alifatis. Khasiat antipsikotiknya lemah, 

sedang  efek antihistamin dan alfa-adre-

nergnya lebih kuat. Obat ini mem perkuat 

efek analgetika, sehingga membuat pasien 

lebih tak-acuh pada rasa nyeri. Selain pada 

keadaan psikosis dan sebagai obat tambahan 

pada analgetika, klorpromazin juga digu-

nakan untuk mengobati sedu yang tak henti-

henti (singultus, hiccup).

Resorpsi di usus baik, namun  BA hanya ±30% 

akibat FPE besar. PP tinggi, sekitar 95%, t1/2 

16-37 jam. Zat ini mudah melintasi barrier 

darah-CCS; kadarnya dalam cairan otak lebih 

tinggi daripada dalam darah. Ekskresi lewat 

urin sebagai metabolitnya.

Efek samping yang terpenting yaitu  ter-

hadap hati dan darah, mungkin akibat suatu 

reaksi alergi. Zat ini dapat menyumbat saluran 

empedu sesudah 2-4 minggu dan kerusakan 

ini tidak selalu rever sibel. Kelainan darah 

(agranulositosis, 1:300) agaksering dilaporkan. 

Efek samping umum lainnya yaitu  efek 

sedatif yang kuat dan GEP yang sering kali 

terjadi.

Dosis: pada psikosis oral, i.m. atau i.v. 3 dd 

25 mg garam-HCl selama 3-4 hari, bila perlu 

dinaikkan sampai 1 g sehari. Pada sedu: 3-4 

dd 25-50 mg, sebagai adjuvans pada nyeri 

sedang/hebat 2-4 dd 25 mg.

* Levomepromazin (Nozinan) yaitu  deri-

vat yang atom klornya digantikan dengan 

-OCH3. Khasiat antipsikotiknya sama dngan 

klorpromazin. Khasiat analgetiknya lebih ku-

at, ±60% dari morfin, sehingga bermanfaat 

terhadap nyeri hebat, antara lain pada kanker 

dan sinannaga (herpes zoster). Plasma-t½ lebih 

panjang, sampai 78 jam. Efek samping penting 

lainnya yaitu  hipotensi dan mengantuk. 

Dosis: pada nyeri hebat i.m. 12,5-25 mg, oral 

4-6 dd 12,5-50 mg (garam-hidro genmale at).

2. Thioridazin: Melleril

Salah satu fenothiazin pertama ini dengan 

rantai sisi piperidin (1958) memiliki khasiat 

antipsikotik dan sedatif yang baik, sehingga 

sering kali dipakai  pada pasien yang 

sukar tidur. Obat ini dipakai  pula pada 

neurosis hebat dengan depresi, rasa takut 

dan ketegangan, serta depresi dengan kege-

lisahan. Efek anti-adrenergiknya lebih kuat, 

juga efek antihistamin, antikolinergik dan 

antiserotonin.

Resorpsi di usus baik dan lengkap, namun  

BA hanya 65% akibat FPE besar. PP di atas 

95%, t½ 10-24 jam. Ekskre si sebagai metabolit 

lewat feses (50%) dan urin (30%).

Efek samping yang terpenting yaitu  gejala 

antikolinergik kuat dan hipotensi ortostatik, 

GEP dan hepatitis jarang terjadi.

Dosis: oral 2-4 dd 25-75 mg (garam-HCl), 

maksimal 800 mg sehari, sebagai tranquillizer 

2-3 dd 15-30 mg.

* Periciazin (Neuleptil) yaitu  derivat pipe-

ridin dengan efek antipsikotik agak ringan 

dan efek antiadrenergik dan antiserotonin 

kuat. Dosis: oral 2-3 dd 10-20 mg (garam-

tartrat), maksimal 90 mg/hari, pada manula 

dimulai dengan 5 mg/hari, yang berangsur-

angsur dinaikkan sampai 20-30 mg/hari.

3. Perfenazin: Trilafon, *Mutabon­D/M

Derivat fenotiazin dengan rantai sisi 

piperazin ini (1957) berkhasiat antipsikotik 

kuat dengan efek antiadrenergik dan anti- 

s erotonin relatif lemah. Efek antikolinergiknya 

ringan sekali. Obat ini juga berkhasiat anti-

emetik kuat. GEP sering timbul.

Resorpsi di usus baik, BA hanya ±35% ka-

rena FPE tinggi. PP di atas 90%, t½ ±9 jam. 

Dalam hati zat ini dirombak menjadi meta- 

bolit yang kurang aktif. Perfenazin meng-

alami siklus enterohepatik.

Dosis: oral 2-3 dd 2-4 mg, maks 24 mg se-

hari, i.m. 100 mg (dekanoat/enanthat, prepa-

rat depot) setiap 2-4 minggu.

* Trifluoperazin (Stelazin, Terfluzin) yaitu  

derivat pada mana atom-Cl digantikan -CF3 

dengan efek yang lebih kurang sama dengan 

perfe nazin (1958). Dosis: oral permulaan 5 

mg sehari, dinaikkan setiap 2-3 hari dengan 

5 mg sampai maksimal 90 mg. Sebagai obat 

antimual dan tranquillizer 2 dd 1-3 mg.

*Flufenazin (Modecate, Moditen) yaitu  tu-

runan -CH2OH dari trifluoperazin (1959) de- 

ngan sifat hampir sama. Khasiat antimual 

dan sedatifnya ringan. Flufenazin terutama 

dipakai  sebagai injeksi kerja panjang un-

tuk menjamin pengobatan. Plasma-t½ dari 

senyawa -HCl, -enantat dan -dekanoat ma- 

sing-masing rata-rata 8 jam, 3,6 hari dan 8 

hari. GEP sering kali terjadi, efek anti-koli-

nergik dan sedatifnya ringan. Esternya dapat 

memicu  depresi serius. 

Dosis: pada psikosis akut i.m. 1,25 mg 

(HCl), lalu setiap 4-8 jam 2-5 mg sampai geja-

la terkendali, pemeliharaan 25 mg enantat 

setiap 2 minggu, atau 25 mg dekanoat setiap 

3-4 minggu.

4. Haloperidol: Haldol, Serenace

Senyawa butirofenon yaitu  suatu antagonis 

D2 selektif yang memiliki khasiat antipsikotik 

dan anti-emetik kuat (1959) dan hingga kini 

dipakai  sebagai obat referensi untuk anti-

psikotika baru. Efeknya terhadap reseptor 

lain relatif lemah. Obat ini dipakai  pada 

schizofrenia dan pada berbagai bentuk ge-

rakan spontan dari otot kecil (“tic”) yang 

diperkira kan akibat hiperaktivitas sistem 

dopamin di otak. Merupakan pilihan pertama 

untuk delier, namun  dianjurkan dosisnya se-

rendah mungkin dan untuk waktu sesing- 

katnya, 0,5-1,5 mg maksimal selama 1 minggu. 

Pada pemakaian  lebih lama dapat timbul 

efek samping serius seperti Parkinsonisme 

dan diskinesi tardif.

Lansia khususnya peka sekali terhadap 

obat ini, sehingga pentakarannya harus hati- 

hati. Dystonia dan akathisia sering kali ter-

jadi dan pada dosis tinggi memicu  ke-

jang-kejang. Efek antikolinergiknya jarang 

dilaporkan. 

Bila perlu obat ini dapat diberikan pada 

wanita hamil dengan persyaratan-persya-

ratan tertentu, lihat di atas.

Resorpsi di usus baik, BA ±60% akibat FPE 

besar. PP 92%, plasma-t½ ± 20 jam. Ekskresi 

sebagai metabolit dan secara utuh melalui 

urin (40%) dan feses (15%).

Dosis: psikosis oral 2-4 dd 1,5-5 mg, manula 

(pemeliha raan) 2-4 mg sehari. Pada sedu 5-10 

mg sehari, untuk muntah-muntah 2 dd 0,5-1 

mg, sebagai adjuvans pada nyeri sedang-

hebat 2-4 dd 0,5 mg.

.......................Pharm Weekbl 2014,149-17.

* Bromperidol (Impromen) yaitu  turunan 

brom sebagai ganti klor (1981) dengan khasiat 

khusus terhadap halusinasi dan pikiran kha-

yal. Bromperidol kurang efektif terhadap 

kegelisahan dan mania. Plasma-t½ panjang, 

kira-kira 24 jam. 

Dosis: oral, i.m., i.v. 1 dd 1,5 mg, bila perlu 

berangsur dinaikkan sampai maks. 15 mg 

sehari, peme liharaan 5-10 mg/hari. Di atas 8 

mg sehari selalu timbul GEP!

* Droperidol (dehidrobenzperidol, *Thalamonal) 

yaitu  derivat dengan khasiat analgetik kuat 

(1963). dipakai  sebagai antip sikotikum pa-

da keadaan gelisah akut, sebagai premedikasi 

pada induksi aneste sia dan sebagai adjuvans 

pada nyeri infark jantung (bersama zat nar-

kotik fentanyl). 

Dosis: kegelisahan akut i.m./i.v. 5-10 mg, 

pada infark i.v. perlahan 2,5 mg (bersama 

fentanyl 0,05 mg).

5. Pimozida: Orap

Derivat difenilbutilpiperidin ini merupakan 

turunan dari droperidol (1969) dan memiliki 

khasiat antipsikotik kuat dan panjang. Efek 

terapi baru nyata sesudah beberapa waktu, 

namun  bertahan agak lama (1-2 hari). Obat ini 

tidak layak diberikan pada keadaan eksitasi 

dan kegelisahan akut, yang memerlukan 

sedasi langsung. Lagi pula efek sedasinya 

lebih ringan dibandingkan obat lain. Pimo-

zida khusus dipakai  pada psikosis kronis 

jangka panjang.

Resorpsi di usus lambat dan variabel. 

Plasma-t½ panjang: 55-150 jam; pada pasien 

schizofrenia rata-rata 55 jam. Sifatnya sangat 

lipofil dan hanya sedikit dirombak dalam 

hati. Ekskresi sangat lambat sebab  selalu 

diresorp si kembali oleh tubuli. Akhirnya 

±40% dikelu arkan lewat urin terutama seba-

gai metabolit dan 15% secara utuh dengan 

feses.

Efek samping berupa umum, GEP sering 

terjadi, adakalanya nampak peruba han jan-

tung (ECG) dan aritmia. 

Dosis: oral 1 dd 1-2 mg, dinaikkan secara 

berangsur setiap 2 minggu sampai maks. 6 

mg sehari.

* Penfluridol (Semap) yaitu  juga derivat 

piperidin (1971) dengan kerja sangat panjang 

(±7 hari) dan terutama berkhasiat antidopa-

mi nerg kuat. Efeknya dimulai relatif cepat, 

sesudah 1-2 hari. GEP sering terjadi. Dosis: 1 

x seminggu 10-20 mg, ber angsur dinaikkan 

sampai maksimal 60 mg seminggu.

* Fluspirilen (Imap) yaitu  derivat piperidin 

long-acting, yang harus diberikan parenteral 

i.m. 1 x seminggu 1-10 mg.

6. Sulpirida: Dogmatil

Derivat sulfamoyl ini dianggap sebagai 

obat atypis pertama (1968) dan khusus me-

miliki khasiat antidopamin. Resorpsi per 

oral dalam waktu 5 jam, BA 25-35%, PP 

kurang dari 40%. Dalam hati hampir tidak 

dirombak, ekskresi secara utuh untuk 92% 

melalui urin. Plasma-t½ 7 jam. Efek samping 

adakalanya dilapor kan galaktorre a, amenor-

roea dan perintangan ovulasi, lebih jarang 

memicu  GEP dan sedasi.

Dosis: pada psikosis oral permulaan 1 dd 

200 mg, sesudah 3 hari berangsur dinaikkan 

sampai 3-4 dd 200 mg, pemeliharaan 100-200 

mg sehari. Pada pusing-pusing (vertigo) 150-

300 mg sehari. I.m. 200-300 mg sehari selama 

10 hari.

7. Klozapin: Leponex, Clozaril

Senyawa dibenzodiazepin ini (1969) juga 

termasuk kelompok obat atypis. Khasiat anti- 

psikotiknya lemah dan bekerja noradreno-

litik, antikolinergik dan anti-histamin ku- 

at. Efek sedatif cepat dimulainya, efek anti-

psikotiknya sesudah  1-6 bulan. Plasma-t½ 

6-14 jam. Efektivitasnya terhadap simtom 

positif dan negatif dari psikosis akut lebih 

baik daripada obat lain. Lagi pula tidak 

memicu  GEP dan dyskinesia, jarang 

sekali akathisia dan dystonia. namun  peng-

gun aannya dibatasi oleh risiko agranulositosis 

berbahaya (1-2%). Oleh sebab  itu gambaran 

darah/hematologi harus dimonitor selama 

5-6 bulan pertama dari terapi. 

Dosis: oral, i.m. 25-50 mg sehari, berangsur 

dinaikkan sampai maks. 600 mg sehari. 

Pemeliharaan 1 dd 200 mg malam hari.

* Olanzapin (Zyprexa) yaitu  derivat long-

acting (1995) dengan khasiat menghambat 

reseptor D1 s/d D5 dan reseptor neurotrans-

mitter lainnya. Plasma-t½ ±30 jam. Olanzapin 

terutama dipakai  pada schizofrenia dan 

sama ampuhnya dengan haloperidol namun  

kurang memicu  GEP. Efek samping 

tersering (>10%) yaitu  mengantuk dan 

naiknya berat badan. Agranulositosis belum 

dilapor kan. 

Dosis: permulaan 1 dd 10 mg, pemeliharaan 

7,5-17,5 mg sehari.

8. Risperidon: Risperdal

Derivat benzisoksazol ini (1993) berkhasiat 

antipsikotik dan antiserotonin (5-HT2) kuat, 

efek blokade-α1-nya cukup baik. Dalam hati 

zat atypis ini diubah menjadi antara lain 

metabolit aktif hidroksi­risperi don dengan plas-

ma-t½ ±24 jam (t½ zat induk 3 jam). Pada 

dosis rendah (4-8 mg/hari) GEP lebih jarang 

terjadi, sedang  pada dosis lebih tinggi 

sama frekuensinya dengan obat klasik. Dian- 

jurkan untuk psikosis schizofrenia kronis 

untuk menangani simtom negatif, khususnya 

bila obat lain kurang efektif. Suatu penelitian 

telah mengungkapkan bahwa dibandingkan 

dengan haloperidol, risperidon menghasilkan 

±2 kali lebih sedikit residif dalam masa 1 

tahun 

Efek samping bersifat umum dan yang pa-

ling sering terjadi yaitu  sukar tidur, gelisah, 

rasa takut dan nyeri kepala.

Dosis: oral 2 dd 1 mg, maks. 2 dd 5 mg 

9. Quetiapin: Seroquel

Derivat thiazepin ini (1997) bekerja antido- 

paminerg terhadap reseptor-D1 dan -D2, yang 

dapat disamakan dengan khasiat klozapin. 

Juga memiliki khasiat antiserotonin dan anti-

histamin, tidak bersifat antikolinerg. Efektif 

terhadap gejala positif dan negatif. Risiko 

terhadap efek samping ekstrapiramidal tam-

paknya lebih ringan dari pada obat-obat 

klasik. Resorpsi dari usus baik, PP ±83%., dalam 

hati didegradasi dan menghasilkan banyak 

metabolit inaktif, yang diekskresi melalui 

urin dan feses. Masa paruh eliminasinya ±7 

jam. Efek samping utama berupa mengantuk 

(selama 2 minggu pertama), rasa penat, pu-

sing , hipotensi ortostatik dan peningkatan 

berat badan.

Dosis: hari pertama 2 dd 25 mg, hari kedua 

2 dd 50 mg, hari ketiga 2 dd 100 mg, hari ke-

empat 2 dd 150 mg, lalu bila perlu dinaikkan 

lagi sampai dosis pemeliharaan maks 450 mg 

seharinya.

10. Aripiprazol: Abilify

Merupakan obat antipsikotik atipis dan 

agonis parsial bagi reseptor dopamin (-D2) 

dan serotonin (-5-HT 1a), serta memiliki aktivi-

tas antiserotoninerg (5-HT2).

Resorpsi baik dengan PP >99% dan dimeta-

bolisasi di hati menjadi metabolit aktif de-

hidro-aripiprazol. Ekskresi via urin (25%) 

dan feses (60%). T1/2 ± 75 jam. dipakai  un-

tuk schizofreni pasien dewasa dan yang 

meningkat dewasa (>15 tahun ). 

Efek samping sering kali (1-10%) gangguan 

tidur, pusing, gangguan ekstrapiramidal, ge-

metar, mual dan muntah.

Dosis: untuk agitasi dan perilaku terganggu, 

parenteral 9,75 mg i.m. yang dapat diulang 

sesudah  2 jam, maks. 3 injeksi dalam 24 jam, 

atau maks 30 mg aripiprazol sehari. Untuk 

schizofreni oral permulaan dan sebagai dosis 

pemeliharaan 15 mg sekali sehari dan maks 30 

mg sehari. Bagi lansia dosis awal dikurangi.

11. Paliperidon: Invega, Xeplion

yaitu  metabolit aktif dari risperidon 

dan merupakan antipsikotika atypis dengan 

khasiat antiserotoninerg (5-HT2) dan anti-

dopaminerg (-D2) kuat. Memiliki khasiat 

memblokir alfa-1 dan alfa-2 dan daya kerja 

antihistaminerg (-H1) lemah. Ekskresi teru-

tama melalui ginjal (utuh 59%) dan t1/2 dari 

23 jam (oral); sesudah  injeksi i.m. 25-49 hari! 

berdasar  kerja panjang pada pemakaian  

parenteral, obat ini dipakai  sebagai terapi 

pemelihaan sesudah  pasien distabilisasi mela-

lui pengobatan per oral dengan paliperidon 

atau risperidon. 

Efek samping sering kali sakit kepala (>10%) 

dan infeksi saluran napas bagian atas, berat 

badan meningkat, gejala ekstrapiramidal, pu-

sing, sedasi, mengantuk, mual, munah dan 

retensi urin. Pada pemakaian  parenteral 

sering kali timbul insomnia, hiperlipidemia, 

hipertensi, vertigo dan diare. 

Dapat mengurangi daya reaksi dan kon-

sentrasi (hati-hati mengendarai mobil) dan 

pada pemakaian  lama dapat memicu  

gangguan daya gerak lambat (diskinesia tar­

dif).

Jangan diberikan kepada pasien demensi 

dengan riwayat CVA, TIA, hipertensi atau 

diabetes, sebab  risiko besar untuk efek sam-

ping kardiovaskuler.

Dosis: 1 dd 6 mg dengan jarak dari 3-12 mg

12. Lurasidon: Latuda

Antagonis dari reseptor alfa-adrenergik ini 

dipakai  sebagai monoterapi atau bersa-

maan dengan litium atau valproat untuk 

penanganan schizofreni dan depresi bipolar.

Metabolisasi dalam hati melalui enzim 

CYP3A4, oleh sebab  itu tidak boleh diguna-

kan bersamaan dengan perintang enzim 

ini (ketokonazol atau jus grapefruit) sebab  

dapat meningkatkan kadar obat dalam plas-

ma dan bertambahnya efek samping.

Efek samping umum berupa hipotensi ortos-

tatik, pusing, mual, otot kaku dan akathisia 

(bergerak-gerak).

Dosis: per oral 1 dd 20-40 mg dan tidak me-

lebihi 120 mg sehari.



ANTIDEPRESIVA

Antidepresiva atau obat antimurung ada-

lah obat-obat yang mampu memperbaiki 

susasana jiwa (“mood”) dengan menghi-

langkan atau meringankan gejala murung, 

yang tidak disebabkan oleh kesulitan sosial-

ekonomi, obat-obatan atau penyakit. Antide-

presiva tidak bekerja terhadap orang sehat 

dan efek baiknya tidak bertambah dengan 

meningkatkan dosisnya melewati nilai opti-

mal. Depresi yaitu  gangguan jiwa yang 

paling umum di dunia dan menurut taksiran 

ada  340 juta penderitanya. Prevalensi-

nya antara wanita yaitu  rata-rata 25%, pria 

10% dan remaja 5%. 

Gangguan ini dapat terjadi pada segala 

usia dan merupakan suatu reaksi emosional 

normal yang paling sering timbul pada usia 

dewasa muda, dewasa dan lansia. Pada lansia 

gejala depresi yaitu  kronis dan ternyata 

hanya 25-50% dapat sembuh sesudah  jangka 

waktu lama.

Pada sekitar 75% dari penderita lansia tim- 

bulnya depresi lambat (late onset), yaitu ge-

jala pertama baru timbul pada usia lanjut 

(55 tahun) dengan gejala utama seperti apa-

thie, hilangnya perhatian dan energi serta 

pelambatan psikomotor.

pemicu nya. Teori/hipotesis monoamin me-

nunjukkan sebagai pemicu  depresi ada-

lah terganggunya keseimbangan antara neu- 

rotransmitter di otak. Terutama akibat ke-

kurangan serotonin (= 5HT) dan/atau no-

radre nalin di saraf-saraf otak. Beberapa 

gangguan psikiatri lain yang mempunyai 

hubungan dengan kadar serotonin rendah, 

yaitu  a.l. penyakit demensia Alzheimer, 

penyakit Parkin son dan juga migrain. Pada 

demensia di samping kekurangan ACh, juga 

ada  penyusutan resep tor 5HT. Begitu 

pula pada Parkin son yang selain kekurangan 

DA, juga ada  penurunan fungsi 

serotoninerg. Selain faktor neurotransmitter 

juga keturunan merupa kan pemeran penting 

pada terja di nya depresi. 

Di samping ini kadar sitokin juga 

memegang peranan pada depresi yaitu 

meningkat pada depresi. Sitokin merupakan 

zat isyarat yang dapat memperparah reaksi 

peradangan (pro-inflamasi) atau mengurangi 

(anti-inflamasi) (hipotesa peradangan pada 

depresi). 

Serotonin

Serotonin atau 5-hidroksitriptamin (5HT) ber-

fungsi sebagai neuro transmit ter pada ko-

munikasi antara neuron-neuron otak, lihat 

juga Bab 31, Adrenergika. Zat ini a.l. berkha-

siat memper baiki suasana jiwa, meng ham-

bat nafsu makan, juga meningkatkan rasa 

mengantuk dan ambang nyeri, sehingga rasa 

sakit lebih mudah diatasi. Banyak karbo hid-

rat dalam makanan meningkatkan produksi 

insulin dan juga sekresi seroto nin, yang ber-

efek turunnya nafsu makan dan timbulnya 

rasa kantuk. Bila kadar 5HT di otak menurun 

seperti sesudah  penggun aan zat antiserotonin, 

nafsu makan pun bertambah, lihat di bawah.

Kinetik Serotonin disintesis secara enzimatik 

dari tripto fan, terutama di sel-sel tertentu 

dari saluran cerna. Di samping itu dalam 

jumlah ringan juga di saraf otak dan saraf pe-

rifer, mastcells dan jaringan ginjal. Dari usus 

serotonin diserap ke dalam darah dan untuk 

sebagian besar dirombak di dalam hati. Si-

sanya yang sedikit diserap oleh sel-sel en-

dotel paru-paru dan diinaktifkan oleh metil-

transferase dan MAO-A (monoaminoksidase-A) 


menjadi 5-hy droxy-indolea cetaldehyde. Zat 

ini dioksidasi menjadi teruta ma asam 5-HIAA 

(= hydroxyindoleacetic acid), yang diekskresi le-

wat urin sebagai konyugatnya. Kadar normal 

dalam urin yaitu  2-10 mg 5-HIAA sehari. 

Nilai lebih tinggi merupakan indikasi adanya 

tumor yang mensekresinya! Trans pornya 

dalam darah berlang sung di dalam granula 

dari trombo sit. Dengan demikian hanya se-

dikit 5HT beredar bebas dalam darah. namun  

bila trombosit menggum pal, banyak 5HT 

dibe baskan. Serotonin tidak dapat melintasi 

sawar darah-otak (blood-brain barriere) dan 

harus disin tesis di dalam otak dari triptofan. 

Untuk sintesis ini mutlak diperlu kan pirid-

oksin, lihat di bawah nr 7. Triptofan.

Reseptor serotonin dapat dibagi dalam 3 

kelompok utama, yaitu reseptor serotoninerg 

5HT1, 5HT2 dan 5HT3, yang dapat dibagi lagi 

dalam sejumlah sub-tipe, misalnya 5HT1A..

Reseptor 5HT1terda pat a.l. di sel-sel endotel 

dinding pembuluh dan mungkin sekali juga 

di sel-sel otot polos dalam arteriole kecil. 

Reseptor 5HT2 ada  di trombosit dan sel-sel 

otot polos dari arteri, arteriole besar, kapiler 

dan vena. Tergantung dari tipe reseptor yang 

berada di pembuluh, 5HT menimbul kan 

vasodi la tasi atau konstriksi.

*Reseptor 5HT1 berkaitan dengan vasodi-

latasi (dan turunnya tensi), juga dengan ab-

sorpsi 5HT oleh trombo sit. Untuk arteri dan 

arteriole besar konstrik si yaitu  lebih do-

minan daripada dilatasi. Untuk penurunan 

tensi dengan efektif perlu dikombinasi de-

ngan blokade reseptor-a1. Lihat juga Bab 31, 

Adrenergika.

*Reseptor 5HT2 bertanggungjawab atas vaso-

konstriksi serta agre ga si trombosit dan dapat 

dihambat oleh ketanserin dan antago nis selek-

tif lain dari 5HT2.

Agonis serotonin dapat memengaruhi neu-

rotransmisi serotoninerg dan yang terpenting 

yaitu  a.l. senyawa amfetamin (dengan me-

ningkatkan pelepasan 5HT dalam sela sinaps), 

triptofan (dengan memperbesar produksi-

nya di neuron presinaptis), penghambat-MAO 

(dengan merintangi perombakan presinap-

tis), sumatriptan dan metoklopramida (dengan 

stimulasi reseptor 5HT post-sinaptis), litium 

(dengan peningkatan respons reseptor post-

sinaptis) dan SSRIs (dengan menghambat 

penyerapan kembali dari 5HT yang telah 

dilepaskan).

Antagonis serotonin yaitu  zat-zat yang 

melawan efek serotonin, terutama terhadap 

otot polos. Berkhasiat antara lain mening-

katkan nafsu makan dengan memengaruhi 

pusat-pusat tertentu di hipota lamus. Obat 

dengan khasiat ini yaitu  antihistamin 

siprohepta din (Periactin, Ennamax) dan obat 

mi