rik tampak ringan, namun mungkin saja telah terjadi
kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada jantung,
otot atau otak. Arus listrik bisa memicu terjadinya
cedera melalui 3 cara :
• Henti jantung (cardiac arrest) akibat efek listrik
terhadap jantung.
• Perusakan otot, saraf dan jaringan dan sel oleh arus
listrik yang melewati tubuh (gagal nafas).
• Luka bakar termal/ panas tinggi akibat kontak dengan
sumber listrik.(17)
PEMERIKSAAN FORENSIK
A. TANDA-TANDA PADA TRAUMA LISTRIK
Titik kontak pada permukaan tubuh mungkin
meninggalkan lesi kulit, yang disebut ‘luka bakar elektrik’
atau ‘tanda elektrik’ walaupun istilah ‘luka bakar Joule’
mulai populer. Hal ini merupakan lokasi masuknya arus,
namun tanda lain juga mungkin didapatkan bila tubuh
menempel di tanah atau ‘grounded’.
Harus ditekankan di sini bahwa electrocution fatal
dapat terjadi tanpa tanda kulit apapun, memicu
diagnosis sepenuhnya tergantung pada keadaan sebelum
kematian. Contoh ekstrim electrocution yaitu kematian di
bak mandi (seperti telah disinggung pada hal 16), saat
ada area permukaan yang luas untuk masuknya arus
ditambah hambatan kulit yang rendah sebab air
menghilangkan kemungkinan luka bakar fokal.(18)
Tanda elektrik mungkin tidak begitu jelas terlihat
dari luar, sebab arus dapat pada daerah tubuh yang lembab
dan basah, seperti ditempelkan pada alat genitalia, anus
(pada beberapa kasus penyimpangan seksual) atau abdomen
(sebab mengandung banyak lemak) atau melalui mulut
(khususnya pada anak-anak bayi), dapat memasukkan alat
listrik yang menyala di antara bibir dan mengalami luka
bakar elektrik di lidah atau mukosa bukal, yang mungkin
tidak begitu jelas pada pemeriksaan luar sewaktu otopsi.(18)
saat arus melintas, mungkin ada atau tidak
ada lesi yang dapat dilihat, tergantung pada densitas
lintasan arus dalam hubungannya dengan area kulit, dan
konduktivitas yang biasanya bervariasi dengan muatan
lembab.(18)
B. TANDA PADA KULIT
Lesi kulit yaitu luka bakar termal sebab pemanasan
epidermis dan dermis saat arus melintas. Secara teoritis,
panas yang dihasilkan dapat ditentukan dari rumus GC =
C2R/ 4,187, dimana GC yaitu panas dalam gram kalori per
detik, C yaitu arus dalam ampere dan R hambatan dalam
ohm (sebagaimana telah diterangkan pada hal 9).
Bila elektron membanjiri area yang relatif luas, maka
hambatan per unit area kecil (khususnya bila kulit lembab)
dan efek pemanasan secara proporsional berkurang. Sebagai
contoh, seseorang yang meletakkan telapak tangannya pada
pelat logam datar yang dialiri listrik akan melewati arus
yang jauh lebih kecil per sentimeter persegi kulit
dibandingakn orang yang menyentuh pelat itu dengan
ujung jari. Yang pertama mungkin tidak memperlihatkan
lesi apapun, sedang yang kedua akan menunjukkan
lepuh luka bakar atau nodul berkeratin, tergantung eratnya
kontak.(18)
Temperatur jaringan tepat di bawah titik kontak
dapat dengan mudah mencapai 95° C. Kerusakan jaringan
dapat terjadi dalam 25 detik saat temperatur mencapai 50°
C. Tanda elektrik fokal sebagian besar merupakan luka
bakar elektrik dan bahkan beberapa gambaran histologis
yang akan dideskripsikan kemudian, yang pernah dianggap
aneh pada arus listrik, kini umumnya dikaitkan dengan efek
termal / panas. Bagaimanapun, ada beberapa
gambaran yang merupakan karakteristik dari pemicu
elektrik :(18)
1) saat kulit berkontak erat dengan konduktor elektrik,
lintasan arus melalui hambatan kulit tinggi
memanaskan cairan jaringan dan menghasilkan uap.
Hal ini dapat memisahkan lapisan-lapisan epidermis
atau taut epidermis-dermis dan menghasilkan lepuh
yang menonjol. Lepuh ini dapat pecah bila arus terus
mengalir atau bila areanya relatif luas.
saat arus berkurang, lepuh mendingin dan kolaps,
membentuk gambaran familiar saat otopsi. Lepuh
yang kolaps seringkali anular, menghasilkan cincin
kelabu atau putih yang menonjol dengan bagian
tengah yang mengalami umbilikasi. Tanda ini kadang-
kadang menyerupai bentuk konduktor, khususnya bila
konduktor yaitu kawat linear atau benda logam
berbentuk. Di mana ujung kawat atau kabel
membentuk sudut yang tepat dengan kulit, terbentuk
cekungan fokal, kadang-kadang menembus cukup
jauh ke dalam kulit.
2) Di mana kontak kurang erat, sehingga ada jarak
udara (walaupun sempit) antara kulit dan konduktor,
arus melompati jarak ini sebagai bunga api.
Dalam udara kering 1000 V akan meloncat beberapa
milimeter dan 100 kV sekitar 35 cm. Hal ini terjadi
pada temperatur sangat tinggi (sekitar 4000° C) seperti
pada loncatan bunga api mesin minyak dan
memicu keratin kulit bagian luar meleleh di area
yang sempit. Pada pendinginan, keratin bergabung
menjadi nodul keras kecoklatan, biasanya menonjol di
atas permukaan sekitarnya, yang disebut ‘spark lesion’
Benda bermuatan listrik yang mengenai tubuh, akan
meninggalkan bekas berupa luka masuk listrik, hanya
jika persentuhan ini menghasilkan cukup
panas. Luka demikian tampak sebagai bagian tengah
dan berwarna coklat kehitaman, kering, dan
mencekung dikelilingi oleh tepi yang meninggi.
Sekitar luka ada daerah pucat berbentuk halo
yang dikelilingi oleh kulit yang hiperemis. Namun
untuk memastikan bahwa luka tersbut benar-benar
disebabkan oleh benda bermuatan listrik, perlu hasil
pemeriksaan setempat yang menyokong akan hal
ini , mengingat kawat pijar juga dapat
memicu luka serupa. Pada kulit yang basah atau
bila tempat persentuhan luas, luka masuk listrik tidak
dapat terbentuk. Pada kasus kecelakaan tersentuh
benda bermuatan listrik, bagian tubuh yang sering
terkena yaitu bagian tubuh yang ’terbuka’, terutama
pada tangan. Tanda keluar arus listrik ada pada
bagian bawah yang menyentuh tanah dan bentuknya
dapat bermacam-macam, tapi yang terbanyak yaitu
berbentuk suatu celah (split) dengan pinggiran yang
menimbul.
C. TANDA PADA ORGAN DALAM
Dalam trauma listrik yang fatal, dapat tidak
ditemukan tanda-tanda pada organ dalam yang khas dan
perubahan histologis masih merupakan kontroversi para
ahli. Jaringan organ dalam sebagian besar berupa cairan dan
elektrolit yang bersifat konduktor listrik, sehingga arus listik
pada organ dalam terlalu menyebar untuk memicu
kerusakan termal. Tidak adanya kerusakan organ dalam
yang spesifik disebabkan sebab , terjadi abnormalitas fungsi
dan fisiologis pada jaringan otot dan saraf, biasanya
kematian akibat trauma listrik segera justru disebabkan oleh
aritmia jantung yang ditimbulkan akibat terjadi fibrilasi
ventrikel dan henti jantung.(18,21)
Petekhie epikardial dapat timbul akibat aritmia
jantung, tapi merupakan tanda yang tidak spesifik. Tubuh
jenazah biasanya berwarna pucat atau sedikit terjadi
kongesti, hal ini sangat berbeda dengan kematian yang
terjadi akibat kelumpuhan sistem pernafasan.(18,21)
Otot-otot pada sela iga dan sekat antara rongga
jantung dan dada dapat mengalami kelumpuhan atau
spasme, yang memicu terjadinya kongesti dan sianosis
pada wajah serta pada paru-paru. Pada selaput paru dapat
ditemukan petekie, yang merupakan tanda non spesifik
yang tidak terlalu berguna untuk menunjang diagnosa. Pada
otopsi biasanya ditemukan tanda kematian akibat kongesti
yaitu lebam mayat yang berwarna biru kemerahan
gelap.(18,21)
Tanda trauma listrik lain yaitu petekie intra serebral
yang kemungkinan bagian dari keadaan kongesti umum
akibat kelumpuhan pernafasan.(18,21)
D. GAMBARAN HISTOLOGIS(21)
Gambaran pada kulit berupa rongga-rongga pada
lapisan epidermis dan kadang pada dermis. Hal ini
disebabkan sebab adanya ruang udara yang berasal dari
pemisahan jaringan yang panas dari sel-sel ini . Bagian
terluar epidermis dapat terlepas. Sel-sel pada epidermis
menjadi panjang dengan nucleus terpusat dan menjadi
besar. Gambaran di atas dapat dikatakan sebagai akibat dari
pengaruh listrik. Meskipun demikian gambaran yang sama
juga akan didapatkan pada kasus-kasus luka bakar maupun
hipotermi.
Ditemukan adanya vakuola-vakuola kecil pada
stratum korneum, terutama pada jari-jari, telapak tangan
dan telapak kaki yang mengandung lapisan keratin yang
tebal. Vakuola berasal dari kelenjar keringat di tempat
masuk dan keluarnya arus listrik, sebagai akibat produksi
uap panas yang berlebih yang mengakibatkan pelebaran
kelenjar keringat ini , dikenal sebagai ”honeycomb atau
Swiss cheese-like apparance
Gambar 14: Swiss cheese appearance Dikutip dari
members.fortunecity.com
Gambaran sel epidermis seperti alur yang melingkar
(whorled). Pada beberapa kasus, epidermis dan lapisan sel
tanduk menjadi padat dan tertekan. jika diwarnai
dengan hematoxylin-eosin akan mengambil warna lilac
(ungu muda). Pada daerah yang lebih dalam pada epidermis
akan terjadi elongasi dan terbentuk palisade pada sel dan
inti sel. Sel-sel dan inti sel folikel rambut serta kelenjar
keringat juga akan memberi gambaran distorsi seperti
kumparan. Mikroskopik elektron memberi gambaran
yang berbeda-beda, khususnya pada nukleus dari sel-sel
kulit yang telah berubah bentuknya menjadi gumpalan
kromatin.
Perubahan pada otak berupa perdarahan petekiae dan
robekan pada substansia alba. Tidak ada gambaran yang
jelas akibat trauma listrik pada organ-organ dalam.
Gambaran ombak dan fragmentasi pada serat miokard
dapat diungkapkan, namun tidak memiliki arti diagnosis.
Kontraksi pita pada serat otot, khususnya gambaran ”bark-
like”, dapat kita temukan, namun sekali lagi hal ini tidaklah
spesifik, sebab hal ini dapat juga kita temukan pada
miokardium subepikardial sesudah dilakukannya resusitasi
dengan defibrilator. Gambaran mikroskopik luka bakar
akibat listrik yang terjadi intravital berbeda dengan
postmortem. Yang membedakan yaitu ada tidaknya
serbukan sel radang sebagai tanda intravital dari proses
inflamasi, sedang pada postmortem tidak ditemukan
sebukan sel radang. Pada pemeriksaan pembuluh darah
disekitar lesi dapat ditemukan trombus intravaskuler yang
sering dijumpai pada kasus trauma listrik intravital.(21)
ASPEK MEDIKOLEGAL
A. KECELAKAAN (20)
Kamar mandi merupakan tempat yang paling sering
mengakibatkan kematian sebab sengatan listrik.
Kecelakaan, bunuh diri atau pembunuhan sering terjadi di
sini, sebab sangat mudah memicu kejutan listrik.
Kamar mandi merupakan tempat yang paling berbahaya di
rumah, disebabkan sebab lingkungannya yang basah,
banyak ada air, benda-benda seperti keran air dan
pipanya, tubuh yang tidak memakai pakaian, dimana
semuanya itu dapat mendatangkan hambatan listrik yang
rendah, sehingga dapat mempercepat arus listrik masuk ke
tubuh (bahkan tanpa tanda khas).
Kecelakaan sering sekali terjadi, biasanya akibat dari
pemakaian alat-alat listrik seperti hairdryer dan alat
pemanas. Sebagian besar negara-negara Eropa memiliki
peraturan yang ketat tentang pemasangan arus listrik di
dalam kamar mandi sebab hal ini sangat berbahaya. Di
Inggris, pemakaian saklar dinding lampu pada tembok tidak
diperbolehkan, saklar pada langit-langit dioperasikan
dengan memakai kawat penyekat yang diperintahkan.
Tidak ada stop kontak yang disediakan kecuali untuk
keadaan dimana stop kontak dipakai untuk menaik
turunkan perpindahan dengan memakai arus keluar
yang sangat rendah. Kesal dengan hal ini, orang-orang
bodoh memakai perluasan timah ke dalam stop kontak
lampu untuk mengoperasikan berbagai macam alat-alat.
B. BUNUH DIRI(20)
Saat ini, angka kematian bunuh diri dengan
memakai arus listrik di dalam kamar mandi semakin
meningkat. Banyak rencana di buat pada kasus bunuh diri di
dalam kamar mandi, diantaranya dengan menarik alat-alat
listrik ke dalam air sehingga menghasilkan hubungan yang
kompleks ke tubuh kita.
C. PEMBUNUHAN(20)
Pembunuhan, kadang-kadang dilakukan dengan
listrik. Berikut ini merupakan contoh kasus pembunuhan
memakai listrik yang terjadi di kamar mandi. Seorang
wanita muda telah ditemukan tewas di dalam kamar
mandinya, dengan alat pemanas listrik dibenamkan di dekat
kakinya. Alat pemanas ini telah dihubungkan dengan
kabel panjang ke 240 V 13 amp stop kontak di dekat tempat
tidur. Ini sesuai dengan gambaran kematian yang terjadi
akibat kelumpuhan pada saluran pernafasan.
Otot-otot interkostal dan diapraghma mengalami
spasme atau paralisis, sehingga meninggalkan tanda berupa
pembendungan dan cyanosis pada wajah, perubahan yang
sama juga terjadi pada paru-paru. Di sini mungkin
ditemukan beberapa petekie pada pleura, walaupun hal ini
bukan merupakan tanda spesifik yang dapat membantu
diagnosa. Saat otopsi, tanda pembendungan biasanya
ditemukan, dengan (lebam mayat) hipotesis post mortem
dark blue-red (biru kemerahan gelap).
TRAUMA PETIR / LIGHTING
Gambar 15: Fenomena alam Petir
A. LATAR BELAKANG
Pada negara-negara tropis dan sub tropis kematian
akibat tersambar halilintar bukan yang umum bahkan pada
dataran tinggi. Tragedi kadang-kadang terjadi dimana
sejumlah orang terbunuh atau cedera pada kejadian tunggal.
Sebagai contoh pada pertemuan balap azcot tahun 1955.
Secara fisika serangan halilintar sulit dan tidak sepenuhnya
dapat dimengerti.(5) Petir terjadi sebab adanya loncatan arus
listrik di awan yang tegangannya dapat mencapai 10 mega
Volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A ke tanah
(sebagaimana telah diterangkan pada hal 3).(1)
Petir cenderung untuk mengalir pada permukaan
perambatan luar saja dan tidak melalui perambatan
dalamnya. Oleh sebab itu orang yang tinggal di dalam
rumah jarang tersambar petir. Loncatan listrik bisa
memicu luka terbakar yang biasanya agak superfisial.
Akibat ledakan akan mengoyakkan pakaian. Telah diketahui
bahwa cedera sebab halilintar sangat tidak terduga dan tak
bisa diprediksi.
Dua orang dapat berdiri berdampingan selama terjadi
halilintar dan salah satunya mungkin terpotong dan
terbunuh sementara yang lain tidak cedera. Kerusakan fisik
pada kasus yang fatal dapat bervariasi mulai dari nol hingga
terbakar seluruhnya, fraktur dan kerusakan jaringan. Tanda
pada kulit mungkin ada, yang disebut pola ‘gambaran
seperti pakis = fernlike atau tanaman menjalar = arborescent’
merupakan gambaran dari pelebaran pembuluh darah yang
mengalami proses radang (akibat adanya reaksi arus listrik
sangat tinggi/ panas yang melaluinya).
Tanda berwarna merah yang ireguler sering berupa
luka bakar derajat satu yang bergaris lurus dapat mengikuti
lipatan kulit, terutama jika lembab oleh keringat. Tanda ini
panjangnya mungkin beberapa inchi dan umumnya
mengikuti sumbu panjang tubuh terhadap tanah (efek gaya
tarik medan magnet bumi). Luka lepuh atau hangus juga
ada pada beberapa kasus.(20)
Kilat sebenarnya mengambil alur yang berbeda-beda,
arah kilat, arus yang langsung yaitu suatu pergatian yang
lengkap; pertama terbentuklah suatu tangga yang lengkap
dari awan ke bumi diikuti dengan pergantian dengan arah
yang berlawanan dengan kekuatan yang bervariasi antara
10.000-200.000 amp, dalam waktu 1 detik (kira-kira 1/1000
dalam 1 detik) dengan perbedaan potensial kira-kira 20 juta
volt.
Kilat ini semakin menuju ke bawah, memberi cabang-
cabang sekunder (setiap cabang berukuran 5.5 m diameter),
dalam segala arah dan memberi efek pada daerah
dengan diameter 30 meter. Orang yang disambar petir
umumnya di alam terbuka atau dalam rumah terutama
dekat pintu terbuka dan jendela gampang terkenak petir.
Petir tertarik ketempat-tempat yang tinggi maka
sangat berbahaya untuk berdiri di dekat pohon-pohon yang
tinggi pada waktu hujan petir, juga sangat berbahaya untuk
memakai material yang dapat menghasilkan aliran listrik,
seperti kancing logam, resletting, payung dan sebagainya
yang memiliki kemampuan untuk yang memiliki
kemampuan untuk arus listrik.pakaian yang basah dan kulit
yang basah yaitu bahan konduksi yang baik untuk listrik
sementara kulit yang kering dan pakain yang kering yaitu
konduksi listrik yang jelek.(7)
Dalam kasus tertentu seseorang mungkin mati akibat
disambar kilat namun pakaian yang dipakainya tidak
berbekas dan ada juga secara kontras, pakain mukin
terbakar dan terkoyak dari tubuh orang ini tanpa
berakibat cedera pada korban. Pakaian nilon akan mencair
dan berkelompok menjadi keras. Bahan-bahan kaca dan
metalik seperti kunci kereta atau tali pinggang yang dipakai
korban akan melengket, bahan-bahan logam akan
termagnetisir dan akan meninggalkan impresi di kulit.(7)
B. PENGOBATANNYA
Pada prinsipnya, mulailah dengan melakukan
pernafasan buatan selama 4 atau 5 jam dengan pemakaian
oksigen pada tekanan tinggi, memakai defribrillator
jika ada. Stimulant jantung diberikan jika pernafasan sudah
normal.(7)
C. PEMERIKSAAN POST MORTEM
1. Eksternal : Heat stifning (keadaan kaku tubuh akibat
suhu panas yang tinggi menyerupai kaku mayat) :
akan muncul sesudah kematian dan hilang dengan
cepat. Lesi yang dijelaskan diatas biasanya hadir di
permukaan tubuh, namun sangat sukar dijumpai dalam
suatu kasus.
2. Internal : Tidak begitu jelas. ada banyak
pendarahan ekstensif dalam otak yang kadangkala
terlaserasi. Perikardium menunjukkan pendarahan
petekhie dan jantung terdilatasi. Darah yang
seharusnya encer, sering dijumpai menggumpal
(akibat panas). Petekhie akan dijumpai dalam
permukaan paru-paru yang terkongesti. Pembuluh
darah akan dijumpai trombosit atau teruptur, dan
organ-organ internal terkoyak. Kongesti dari spleen,
supralenal dan ginjal dan nekrosis dalam pankreas
pernah dilaporkan. Pendarahan telinga tengah dan
rupturnya gendang telinga juga pernah dilaporkan.(7)
D. ASPEK MEDICO-LEGAL
Trauma akibat arus petir dapat diduga sebagai
kejahatan sebab dijumpai reaksi luka bakar, tulang-tulang
yang terfraktur, pakaian yang terkoyak, namun hal yang
sangat mendukung bahwa kematian disebabkan oleh kilat
seperti perkara-perkara di bawah :
1. ada nya kilat di lokasi kejadian.
2. ada nya bukti akibat kilat, contohnya kerusakan
rumah, pokok/ pohon, kematian hewan-hewan ternak,
pohon juga akan runtuh satu-dua minggu sesudah
disambar petir.
3. Penggabungan magnet atau magnetisasi unsur-unsur
logam.
4. Tidak adanya luka atau luka yang lain pemicu
kematian akibat pembunuhan.(7)
5. Selain itu, sering juga ditemui bau hangus atau panas
disekitar tubuh dan pakaiannya. Rambut mungkin
hangus dan sering ada cedera kepala, disebabkan
baik oleh sebab tersambar halilintar itu sendiri atau
oleh sebab jatuh ke tanah.(1)
Gambar 16: Metalisasi
Petir biasanya menangkap objek logam yang ada
pada tubuh korban seperti: rantai, cincin, gelang, jam
tangan, kaca mata, ikat pinggang. Logam titik masuk dan
keluar biasanya cair. Jika ada logam besi pada tubuh
korban mungkin bertukar menjadi magnet. Luka-luka
sebab sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-
luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan udara. Luka
akibat panas berupa luka bakardan luka akibat ledakan
udara berupa luka-luka yang mirip dengan luka akibat
persentuhan dengan benda tumpul.(1)
Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang
melumpuhkan susunan syaraf pusat, memicu fibrilasi
ventrikel. Kematian juga dapat terjadi sebab efek ledakan
atau efek dari gas panas yang ditimbulkannya. Pada korban
mati sering ditemukan adanya arborescent mark
(percabangan pembuluh darah terlihat seperti percabangan
pohon oleh sebab peradangan pembuluh darah akibat
aliran arus bertegangan tinggi yang melewati pembuluh
darah), metalisasi benda-benda dari logam yang dipakai,
magnetisasi benda-benda logam yang dipakai. Pakaian
korban terbakar atau robek-robek.(1)
Gambar 17: Arborescent mark
Gambar 18: Trauma petir
Gambar 19 : Arborescent mark
Dikutip dari Das RN, Kumar J. High Tension Electric
Gambar 20: Gambaran metalisasi
TRAUMA TEMBAK
Mempelajari trauma akibat tembakan oleh senjata dari
jenis apapun sama artinya dengan mempelajari balistik
terminal, yaitu suatu cabang balistik yang membahas
pengaruh anak peluru atau proyektil sesudah ditembakkan
terhadap bagian dari target yang menjadi sasaran, sampai
anak peluru atau proyektik ini berhenti. Dan
pemahaman ini akan lebih lengkap jika dibarengi
dengan mempelajari cabang dari ilmu balistik lain yang
terkait seperti misalnya balistik interior, balistik eksterior
serta balistik forensik yaitu mempelajari berbagai macam
pemeriksaan atau selongsong atau anak peluru bekas dari
suatu tembakan guna memastikan senjata mana yang telah
digunakannya.(1)
Pada saat ini korban sebab kekerasan luka tembak,
sangat sering didapati sebab semakin banyak anggota
warga sipil memiliki senjata api, baik untuk pertahanan
diri, maupun untuk tujuan lain. Pada prinsipnya
pemeriksaan korban luka tembak, sama dengan
pemeriksaan luka pada trauma lain, namun ada satu yang
spesifik yaitu, para dokter harus mengetahui dan memahami
tentang senjata api, amunisi dan peluru.
Tanpa memahami ini, akan sulit memberi bantuan
yang adekuat, sebab perlukaan pada tubuh akhirnya
berdasar ketiga unsur ini .(1,2) Dalam menghadapi
kasus kriminal yang melibatkan pemakaian senjata api
sebagai alat yang dimaksudkan untuk melukai atau
mematikan seseorang, maka dokter sebagai orang yang
melakukan pemeriksaan khususnya atas diri korban perlu
secara berhati-hati, cermat dan teliti dalam menafsirkan hasil
yang didapatnya, oleh sebab pemakaian senjata api untuk
maksud membunuh atau melukai membawa implikasi yang
luas, bahkan tidak jarang dapat memicu keresahan
dan kesulitan tersendiri bagi mereka yang terlibat.
Di dunia kriminalitas, senjata api yang biasa
dipakai yaitu senjata genggam yang beralur.
sedang senjata api dengan laras panjang dan senjata
yang biasa dipakai untuk olah raga berburu yang larasnya
tidak beralur, jarang dipakai untuk maksud maksud
kriminal. Menurut ilmu patologi forensik dari berbagai jenis
luka yang ada, tidak ada luka yang memiliki ciri yang
begitu rumit serta berbagai bentuk seperti yang dihasilkan
oleh luka akibat senjata api.
Luka tembak memiliki karektaristik sendiri.
Pengetahuan yang baik tentang berbagai luka akibat senjata
api memerlukan perhatian yang serius bagi seorang dokter
sebagai pemeriksa termasuk tentang senjata api secara
mendasar, hal-hal tentang jalannya anak peluru, tentang
pelatuk, jarak dan proses perjalanan anak peluru di dalam
tubuh dan sebagainya. (2)
Pada halaman berikutnya, akan lebih jauh penulis
jelaskan banyak hal mengenai segala yang berhubungan
dengan trauma tembak baik ditinjau dari aspek mekanik
maupun medis terutama yang berhubungan erat dengan
bantuan dokter dan ahli forensik dalam mengungkap kasus,
guna kepentingan hukum dan peradilan.
SENJATA API
Senjata api yaitu suatu senjata yang memakai
tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil
(anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya.
Atau dengan definisi lain yaitu suatu alat yang dapat
mengeluarkan peluncur atau proyektil (anak peluru) dengan
memakai daya pengembang/tekanan gas yang
dihasilkan oleh pembakaran bahan ledakan atau mesiu.(3,4)
sedang trauma atau luka tembak itu sendiri yaitu
luka yang disebabkan adanya penetrasi anak peluru atau
persentuhan anak peluru dengan tubuh akibat adanya factor
kecepatan, sehingga menembus kulit dan masuk ke dalam
tubuh serta merusak jaringan tubuh di dalamnya.(2,4,5,6) Ilmu
yang mempelajari senjata api disebut balistik. Ilmu ini
diazaskan kepada anggapan bahwa yaitu mustahil bagi
manusia untuk membuat dua objek yang betul-betul sama
secara mutlak. Hal ini dapat dimungkinkan jika dua
objek yang kelihatan sama, namun secara mikroskopik
terlihat perbandingannya.
Dalam ilmu balistik kita mengenal ada 2 kategori
dilihat dari pergerakan anak peluru :
1. Balistik internal
Yaitu mempelajari keadaan sejak anak peluru terlepas
dari selongsong, hingga sesaat sebelum keluar dari
laras.
2. Balistik eksternal
Yaitu mempelajari gerak anak peluru sejak terlepas
dari laras hingga kesasaran (gerak proyektil).
sedang balistik sasaran atau balistik luka, yaitu
mempelajari akibat anak peluru pada sasaran (tubuh
manusia) menjadi bagian balistik eksternal.(4,5,6)
Senjata api itu sendiri pada mulanya dikenal sebagai
senjata api lantak, bedil sundut (muzzle loader) atau
”dorgok, habis dor disogok”. Dimana larasnya terbuat dari
sepotong pipa, satu ujung ditutup dan diberi lubang kecil
untuk sumbu. Mesiu dituangkan ke dalam laras, kemudian
dipadatkan dengan pelantak sebuah batang besi, lalu peluru
timah bulat dimasukkan ke dalam laras dan didorong
masuk dengan pelantak. Untuk menembakkan senjata api
lantak, sumbu disulut atau disundut lalu laras dibidikkan
pada sasaran sampai mesiu meletus.
Kemajuan dalam pembuatan senjata api lantak yaitu
mengganti sumbu dengan picu, batu api dan plat baja.
Persentuhan antara batu api yang dipasang di ujung picu
dengan plat baja memicu bunga api yang diarahkan ke
lubang kecil dilaras untuk membakar mesiu. Dengan
ditemukan penggalak (primer, percussion cap) senjata api
lantak menjadi senjata api yang patrumnya diisi dari
belakang (breech loader) senapang kopak. Kemajuan lain
yaitu membuat senjata api yang sekali diisi patrum dapat
ditembakkan berturut-turut.
Pertama digunakan laras lebih dari sebuah senapan
dengan tujuh buah laras dan senapan mesin kuno dengan
lima puluh buah laras. Perkembangan selanjutnya membuat
senjata api dengan laras tunggal yang dapat menembakkan
lebih dari satu peluru berturut-turut. Untuk ini dikenal dua
sistem yakni, sistem revolver dan sistem pistol.(7)
Banyak hal yang perlu dipahami oleh seorang dokter
dalam membuat suatu laporan tertulis (visum) yang terkait
dengan kondisi korban akibat trauma tembak. Sehingga
sangatlah penting bila seorang dokter juga dapat
mengetahui dan memahami beberapa hal tentang, benda
atau alat yang memicu luka tembak ini , dalam
hal ini alat atau benda ini dikenal sebagai senjata. Yang
memiliki ciri-ciri khusus berdasar penilaian dari
beberapa unsur, seperti yang akan dijelaskan pada halaman
berikutnya.
Sebelum membahas tentang trauma/ luka tembak
pada tubuh manusia, maka sebaiknya perlu dipahami
beberapa hal penting dari alat (barang bukti) yang terkait
langsung dengan trauma atau luka tembak itu sendiri.
Senjata api memiliki banyak ragam, dan dapat dibedakan
atas beberapa penilaian pokok, seperti :
A. berdasar panjang laras dan cara
memakai nya :
1. Senjata api berlaras pendek (2,3)
Disebut juga senjata api genggam (hand gun) seperti
revolver dan pistol. Cara memakai nya dengan
mengenggam, cukup dengan satu tangan :
- Ciri-ciri revolver antara lain : Anak peluru terbuat
dari timah hitam dan tidak bermantel, terletak dalam 5-8
silinder yang berputar otomatis. Selongsongan tetap berada
di silinder pada waktu ditembakkan. Dipakai oleh aparat
keamanan/ polisi, sebab memiliki daya rusak yang
rendah (energi kinetiknya berbanding lurus dengan
besarnya masa dan kuadran kecepatan). Kecepatan rendah
ini dipicu adanya bocoran tekanan gas pada tempat di
antara sillinder dengan laras yang dapat mencapai 40%.
Revolver biasanya berkaliber 38 dengan alat penyimpan
patrum bersifat silinder yang dapat berputar dengan model
single action, dimana picu ditarik ke belakang sebelum
ditembak atau double action dengan langsung menarik
pelatuk.
Revolver
- Ciri-ciri pistol antara lain : Anak pelurunya bermantel
tembaga atau kuningan dan tersimpan dengan
magazine (senjata genggam biasanya memiliki 6
peluru atau mencapai 16 pada jenis FN yaitu pistol
High Power), selongsongannya terlempar pada waktu
ditembakkan, memiliki daya rusak yang hebat
sehingga dipakai oleh militer. Semakin tinggi
kecepatannya, semakin kecil masa anak peluru yang
dibutuhkan untuk mencapai energi kinetik yang sama
(menghemat biaya produksi). Pistol memiliki 3 model
yaitu, pistol repetir, semi automatis dan automatis.
2. Senjata api berlaras panjang (bedil / senapan) (2,3)
Seperti senjata api berburu dan senjata api militer.
Cara memakai nya senjata dari jenis ini ialah dengan
kedua tangan sambil memanfaatkan bahu, terdiri atas
senapan berlaras lebih dari 22 inchi (long barrel weapon)
dan senapan berlaras kurang dari 22 inchi (short barrel
weapon). Jenisnya seperti shotgun, senjata ini sebetulnya
termasuk senapan (shoulder weapon) yang dibuat untuk
kepentingan berburu. Namun yang membedakan dengan
senjata api lainnya yaitu anak pelurunya, yang biasanya
dibuat banyak agar kemungkinan mengenai sasaran lebih
besar. Larasnya rata dan kadang-kadang dibuat ganda
(double barreled shotgun) secara berdampingan atau
tumpang tindih, Jika diameter laras kurang dari setengah
inchi (1,25 cm) maka kalibernya biasa dinyatakan
berdasar ukuran diameter laras ini .
Kaliber four-teen berarti memiliki diameter laras
0,410 inchi. sedang pada senjata yang lebih besar,
kalibernya dinyatakan menurut diameternya atau menurut
banyaknya anak peluru (gotri) yang dibuat dari 1 pon timah
hitam. Senjata “12 bore shotgun” berarti dari 1 pon timah
hitam dibuat 12 anak peluru.
sebab anak peluru banyak, maka anak peluru itu
akan menyebar jika ditembakkan. Saat keluar dari ujung
laras anak peluru masih menunjukkan massa yang solid dan
pada jarak tertentu akan menyebar. Semakin jauh jaraknya,
semakin luas penyebarannya. Sering dilengkapi choke yang
dapat mengatur luas penyebaran. Sudah tentu, bentuk luka
yang ditimbulkannya tergantung dari kondisi anak peluru
saat mengenai tubuh.
Biasanya tidak ditemukan luka tembak keluar, kecuali
pada jarak tempel atau jarak yang sangat dekat sekali. Hal
ini disebabkan oleh daya tembus yang kurang, mengingat
berat massa dari masing-masing anak peluru yang tidak
begitu besar. Perlu diketahui bahwa daya tembus anak
peluru ditentukaan oleh berat massa serta kecepatan
(velocity). Sehingga bentuk luka keluar terkadang berupa
luka-luka kecil yang tersebar atau luka-luka yang tidak
teratur, di bawah kulit sering kali teraba adanya anak peluru
(gotri) yang tidak mampu keluar menembus kulit.
Shotgun
B. berdasar Dinding Dalam Laras (Inner Loop) :
1. Senjata api laras beralur (Riffle Bore, riffled weapon)
(2,3,4)
Senjata api laras beralur, ini memiliki sejumlah alur
yang biasanya 2-8 buah. Alur ini disebut grooves. Bagian
yang lebih tinggi permukaannya disebut ”pematang” atau
lands dan yang melekuk disebut parit. Pengadaan alur pada
senjata api dengan tujuan agar anak peluru melalui laras ini
akan terpengaruh alur ini sehingga memicu gerak
giroskopik. Gerakan anak peluru berputar berbentuk spiral.
Akibatnya peluru menjadi lebih stabil sehingga dapat
mencapai sasaran lebih jauh dan lebih tepat. Alur dan
penampang dalam “inner loop” penting dalam hal
identifikasi senjata api, sebab peluru yang ditembakkan
dari senjata api akan tergores waktu lewat diatas
penampang tadi dan meninggalkan goresan spesifik untuk
senjata api ini .
Senjata api laras beralur
2. Senjata api laras licin (Smooth Bore, smooth walled
weapon) (2,3,4)
Senjata api dengan laras bagian dalam yang licin atau
tidak beralur dari ujung ke ujung, dimana diameter ujung-
ujungnya bisa berbeda ukuran. Biasanya senjata ini
memakai peluru berbentuk bola-bola kecil atau pellete,
yang ada dalam kotak peluru. Senjata ini biasanya
digunakan untuk berburu dan berolah raga (senapan angin).
Bentuk laras licin itu sendiri yaitu :
• Berbentuk silinder : lobang pangkal laras sama dengan
lobang ujung laras.
• Berbentuk choke bore : lobang ujung laras lebih kecil
dari lobang pangkal laras seperti kerucut terpancung.
sedang bentuk dari ”choke bore” sendiri, ada 2
macam :
• Half choke bore : Bila perbedaan lubang laras di
pangkal dan ujung sebesar 0,02 inchi.
• Full choke bore : Bila perbedaan lobang laras
dipangkal dan ujung sebesar 0,04 inchi.
C. berdasar Arah Perputaran Alur (Senjata Riflle
Bore) :
1. Senjata api dengan alur ke kiri (2,3)
Dikenal senjata tipe COLT, kaliber senjata yang banyak
dipakai kaliber 0.36, 0.38, 0.45, dapat diketahui dari
anak peluru yang ada pada tubuh korban, yaitu
adanya goresan dan alur yang memutar ke arah kiri
bila dilihat dari bagian basis anak peluru.
2. Senjata api dengan alur ke kanan (2,3)
Dikenal sebagai senjata api tipe SMITH dan WESSON
(tipe SW), kaliber senjata yang banyak dipakai :
kaliber 0.22, 0.36, 0.38, 0.45, 0.46 dapat diketahui dari
anak peluru yang ada pada tubuh korban, yaitu
adanya goresan dan alur yang memutar kearah kanan
bila dilihat dari bagian basis anak peluru.
D. berdasar Kecepatan Anak Peluru (Senjata Riffle
Bore) :
1. Senjata api berlaras pendek (kecepatan rendah) (3)
Misal jenis revolver (tipe colt) dan jenis pistol
(otomatic atau mesin).
2. Senjata api berlaras panjang (kecepatan tinggi) (3)
Jenis senjata berburu, senjata militer, senjata api mesin
dan senapan.
E. berdasar Tenaga Pendorong Atau Pelontar :
1. Senjata api (1,3)
Yaitu senjata yang memakai mesiu sebagai
sumber energi kinetiknya, terdiri atas :
• Mesiu hitam (black powder atau smoke powder) :
terdiri atas belerang arang, sendawa. Yang memiliki
ciri-ciri antara lain : memicu banyak asap yang
berwarna hitam, serta sisa pembakaran, tenaga
lontarnya kurang kuat.
• Mesiu putih (white powder atau smokelles powder) :
terdiri atas nitrocellulose saja (single base powder).
Nitrocellulose dan nitroglycerine (double base
powder). Yang memiliki ciri-ciri antara lain :
memicu sedikit asap dengan sisa pembakaran
yang sedikit, tenaga lontarnya lebih kuat.
2. Senjata angin (1,3)
Yaitu jenis senjata yang memakai kompresi udara
atau cairan CO2 sebagai sumber energi untuk
melontarkan anak pelurunya. Dapat berbentuk senjata
laras panjang atau laras pendek yang menyerupai
pistol atau revolver. Beberapa jenis dari senjata angin
itu sangat berbahaya, bila ditembakkan dengan jarak
dekat. Pada luka ini tidak ditemukan sisa-sisa
mesiu.
Selain hal di atas, untuk identifikasi senjata api (bila
peluru dijumpai), pertama-tama perlu dicocokan
dengan :
a. Kaliber (2,4)
Kaliber dari anak peluru dapat ditentukan dengan
beberapa cara. Untuk jenis peluru bulat/ peluru penabur,
pengertian kaliber yaitu jumlah anak peluru yang dapat
dibuat dari satu pon timah (pound lead) dengan berat kira-
kira 450 gr. Dengan demikian kaliber 8 berarti dibuatnya 8
peluru bulat dengan ukuran yang sama dari satu pon timah,
jadi kaliber 8 lebih besar dari kaliber 10, 12, 14 dst.
Untuk jenis peluru tunggal/ lonjong kaliber
maksudnya garis tengah bahagian belakang anak peluru
atau jarak pematang ke pematang misalnya colt kaliber 45 =
garis tengah anak peluru dalam inchi, berarti : 0,45 = (450/
1000) x inchi = (450 x 26 mm) : 1000 = 11.7 mm. Kaliber =
inch (1 inchi = 25,4 mm = 26 mm).
Untuk senjata api berburu, kaliber ditentukan dari
jumlah peluru bulat (mimis) yang dapat dibuat dari satu
pound timah yang besarnya sesuai dengan diameter laras.
Kaliber yang lazim yaitu 12, 16 dan 20. Untuk peluru
tunggal, kaliber ditentukan dari penampang atau garis
tengah anak peluru yang dinyatakan dalam inci atau
milimeter. Kaliber 38 berarti penampang anak peluru
berdiameter 0.38 inchi dan ini sama dengan kaliber 9.65 mm
(0.38 x 25.4 mm). Alat yang digunakan untuk mengukur
kaliber disebut micrometer. Kaliber laras sama dengan
kaliber anak peluru, dimana jarak diameter pematang
dinyatakan dengan ukuran inchi atau milimeter. sebab
anak peluru meliwati bagian dalam laras, maka akan
memicu goresan pada badan anak peluru. Goresan ini
akan sama pada setiap anak peluru yang keluar dari laras
ini dan itu mirip dengan identifikasi pada sidik jari
manusia.
Kaliber
b. Jumlah Dan Arah Alur (2,3,4)
Jumlah dan arah alur pada senjata api laras beralur,
telah dijelaskan pada halaman sebelumnya. Dimana senjata
api laras beralur, umumnya memiliki 2-8 alur. sedang
arah alur lintasan peluru akan melingkar dari bagian
belakang ke arah kiri pada tipe colt dan ke arah kanan pada
tipe Smith dan Watson, sebagaimana telah dijelaskan pada
halaman sebelumnya, mengenai senjata.
c. Jenis Peluru (3,4)
Peluru terdiri dari selongsong, anak peluru mesiu dan
zat pematik. Peluru biasanya merupakan nitrosellulosa
dengan atau tanpa campuran unsur nitrogliserin yang hanya
sedikit memicu jelaga, sedang zat pematik terdiri
dari senyawa-senyawa yang mengandung unsur nitrat, Pb,
Ba dan Sb. Pada anak peluru senjata api beralur, akan
memicu jejas berupa garis sejajar memanjang yang
jumlahnya sesuai dengan jumlah alur pada laras. Dan dari
alur itu ditentukan jumlah dan arahnya untuk dicari
pentunjuk, jenis senjata apinya. Jejas ini pula yang nanti
dipakai untuk upaya identifikasi senjata api dengan
membandingkan anatara anak peluru yang ditemukan pada
korban dengan anak peluru hasil uji coba senjata tersangka.
Anak peluru yang ditembakkan, akan berjalan sesuai
dengan lintasan proyektil.
Kabut dan hujan akan memendekkan daya jangkau,
sedang kepadatan udara yang rendah (pada ketinggian)
sebaliknya dapat memanjangkan daya jangkau. Anak peluru
yang mengenai permukaan benda datar, dapat dipantulkan
(rikoset) dengan kehilangan sebagian energinya. Agar dapat
memantul sudut perkenaan haruslah kecil (7 derajat). Anak
peluru yang jatuh bebas sesudah ditembakkan ke atas, secara
teoritis akan memiliki daya kinetik (dalam hal ini daya
rusak) yang sama pada saat ditembakkan (Vo-Vt). Akan
namun kenyataannya haruslah diperhitungkan adanya
tahanan udara, baik pada saat naik maupun pada saat turun,
yang sangat mempengaruhi besarnya kecepatan akhir anak
peluru ini .
Pengaruh ini sangat kecil pada lintasan anak peluru
dengan sudut tembak < 90 derajat. Lintasan anak peluru
akan mencapai jarak terpanjan, jika ditembakkan dengan
sudut 30-33 derajat pada bidang horizontal (mendatar).
Kerusakan sasaran oleh anak peluru ditentukan oleh energi
kinetik anak peluru saat mengenai sasaran (berhubungan
dengan masa dan kecepatan), bentuk anak peluru (shape)
dan jenis sasarannya. Peluru berotasi dengan kecepatan
1000–2000 perdetik. Peluru untuk jenis senjata api beralur
berbeda dari peluru untuk senjata api berlaras licin.(4,5,6)
berdasar jenis senjatanya, jenis peluru dibagi
menjadi 2 yaitu :
• Peluru penabur (gotri) merupakan peluru khusus
untuk senjata panjang dengan lobang laras rata/ licin.
• Peluru tunggal merupakan jenis peluru untuk senjata
beralur, jenis pelurunya sama untuk laras pendek atau
laras panjang.
Ada pembagian lain dari jenis anak peluru
berdasar selubung pembungkusnya yaitu, berupa :
• Anak peluru timah bulat.
• Anak peluru timah lonjong.
• Anak peluru bulat lonjong berselubung tembaga
setengah (half jacket bullet).
• Peluru bulat lonjong berselubung tembaga penuh (full
jacket bullet).
• Peluru khusus (latihan, cahaya).
Pada peluru bermantel, anak peluru di bungkus
dengan logam campuran tembaga dan kuningan untuk
melindungi timahnya.(5,8)
d. Selongsong Peluru
yaitu tempat mesiu dan anak peluru. Pada bagian
pangkalnya terletak penggalak dimana pembakaran
dimulai. Pada senjata api revolver selongsong tetap tinggal
dalam revolving chamber, jadi tidak akan didapati di TKP
penembakan. namun senjata api tunggal lainnya akan keluar
dari magasin tercampak keluar. Oleh sebab itu biasanya
akan didapati di TKP penembakan.(2)
Selain hal yang tertera di atas, seorang dokter atau ahli
forensik juga hendaknya memahami beberapa hal di bawah
ini, seperti :
1. Mesiu
yaitu bahan padat yang bila dibakar akan
memicu gas yang bisa memicu dorongan
terhadap anak peluru. Macam-macam mesiu :
• Mesiu hitam (black powder) campuran belerang (S)
10%,arang (C) 15% dan sendawa (KN03) 75%, kalau
terbakar mengeluarkan banyak asap. 1 grain = 65 mg
menghasilkan gas sebanyak 200-300 mm3.
• Mesiu yang mengeluarkan sedikit asap (smokeless
powder) terdiri dari campuran nitrogliserin dan
nitrosellulosa. 1 grain campuran ini menghasilkan gas
sebanyak 800-900 mm3.
• Mesiu fullminating mercury yaitu jenis mesiu yang
mudah sekali terbakar sebab gesekan. Oleh sebab itu
dipakai sebagai pemicu dalam pembakaran dibagian
penggalak.(2,4)
2. Pegas Pelatuk
yaitu alat penarik pelatuk yang memiliki
berbagai ukuran trigger pull. Triger pull 1 kg, berarti
diperlukan 1 kg tenaga tarikan katrol anak timbangan. Hair
trigger berarti pelatuk sangat sensitif dengan sedikit tarikan
saja senjata sudah meletus.
3. Penggalak / pematik
Penggalak merupakan bagian dari peluru (dimana
pembakaran dimulai) letaknya dibagian belakang/ pantat
peluru. Ada tiga macam penggalak, yaitu :
• Penggalak yang letaknya ditengah dasar selongsong
(centre fire primer).
• Rim dasar selongsong merupakan penggalak, biasanya
untuk senjata api kaliber 22 (rim fire primer).
• Penggalak yang merupakan suatu pin dasar
selongsong (pin fire primer) penggalak macam ini
sudah merupakan barang antik.(7)
4. Kecepatan Anak Peluru
Kecepatan anak peluru atau bisa disebut dengan daya
tembus anak peluru sangat bergantung kepada faktor berat
peluru (massa) dan kecepatan gerak anak peluru (velocity).
• Pistol : Kecepatan peluru ringan biasanya rendah,
jarang lebih dari 1000 feet/ detik
• Revolver : Kecepatan pelurunya 600-900 feet/ detik.
• Pistol Otomatis (mauser kaliber 30) : Kecepatan
pelurunya bisa sampai 1400 feet/ detik. Penetrasi anak
peluru pistol lebih hebat di banding anak peluru
revolver.
• Senjata-senjata perang. Senapan mesin dan lainnya
yang modren, dapat mencapai lebih 2500 feet / detik.
Rumus (formula) kekuatan menembus ini yaitu : I =
(m.v 2) / 2
dimana : i = Kekuatan menembus
m = Massa = berat anak peluru
v = Kecepatan semula.(4)
5. Temperatur Peluru Waktu Ditembakkan
Peluru yang keluar dari senjata api waktu
ditembakkan memiliki hawa temperatur yang lebih
tinggi, sebab :
• Peluru dikeluarkan dari laras senjata api dengan bahan
peledak, yang terbakar dan memiliki temperatur
tinggi.
• Disamping itu peluru sendiri keluarnya dari laras
memiliki gesekan.
Oleh sebab itu dengan temperatur bahan peledak,
ditambah gesekan maka peluru keluar dari laras dapat
meninggi bila dilakukan penembakan cepat (senjata
otomatis) dimana peluru yang keluar dari satu lobang laras
berturut-turut.(4)
6. Mekanisme Kerja Senjata
Mekanisme keja senjata, baik senjata angin maupun
senjata api pada prinsipnya sama. Dengan memanfaatkan
tekanan tinggi dari udara dan gas untuk melontarkan anak
proyektil atau anak peluru keluar dari laras dengan
kecepatan yang tinggi.
Pada senjata angin, tekanan tinggi itu diperoleh
dengan cara memampatkan udara atau dengan cara
merubah CO2 cair menjadi gas dalam ruangan yang
volumenya tetap. sedang pada senjata api, tekanan yang
tinggi diperoleh dari pembakaran mesiu sehingga dalam
waktu sekejap berubah menjadi gas dengan volume yang
besar di dalam ruangan yang volumenya tetap. Dari 1 gram
mesiu dapat dihasilkan gas (CO2, CO, Hidro Sulfida dan
Methane) antara 200-900 mililiter dengan suhu yang sangat
panas.
Fungsi picu itu sendiri pada senjata angin sebetulnya
untuk melepaskan udara yang tekanannya telah dibuat
tinggi guna melontarkan proyektil, sedang pada senjata
api untuk membuat pin atau pemukul penggalak melakukan
tugasnya sehingga memicu percikan api pada
penggalak primer guna membakar mesiu.
Selanjutnya anak peluru atau proyektil yang telah
memiliki gaya kinetik itu, sesudah meninggalkan laras
jalannya amat dipengaruhi oleh banyak hal. Seperti
misalnya berat massa, bentuk dan diameternya, gravitasi
serta tahanan (resistensi) udara yang dilaluinya. Akibat dari
gravitasi itu maka arah anak peluru akan membentuk
seperti kurva. Dimana semakin jauh dari ujung laras senjata,
maka bentuk kurvanya semakin nyata. Mengenai daya
tembusnya pada target sangat dipengaruhi oleh kecepatan
(velocity).
LUKA TEMBAK
Luka Tembak ialah luka yang disebabkan adanya
penetrasi anak peluru dengan tubuh.(1) Jika anak peluru
mengenai tubuh, maka kelainan yang terjadi merupakan
resultante dari banyak faktor. Pada bagian tubuh tempat
masuknya anak peluru, bagian tubuh sebelah dalam dan
bagian tubuh tempat keluarnya anak peluru bentuk
kelainannya tidak sama, sebab faktor-faktor yang
mempengaruhinya berbeda-beda. Pada kasus luka tembak,
perlu sekali diperhatikan hal-hal :
A. Luka Tembak Masuk
Pada saat seseorang melepaskan tembakan dan
kebetulan mengenai sasaran yaitu tubuh korban, maka pada
tubuh korban ini akan akan didapatkan perubahan
yang di dipicu oleh berbagai unsur atau komponen
yang keluar dari laras senjata api ini .
berdasar jarak tambakan, luka tembak masuk dapat
dibedakan atas :
1) Luka tembak tempel (contact wound)
Terjadi bila laras senjata menempel pada kulit. Luka
masuk biasanya berbentuk bintang (stellate/ cruciform)
sebab tekanan gas yang tinggi waktu mencari jalan
keluarakan merobek jaringan. Tampak nyata terutama bila
di bawah kulit ada tulang. Pada luka didapati jejas laras
(memar) bekas ujung laras yang ditempelkan pada kulit,
berbentuk sirkuler akibat hentakan balik dari ujung laras
senjata. Gas dan mesiu yang tidak terbakar didapati dalam
jaringan luka (tatto). Didapati kadar CO yang tinggi, berupa
jelaga dalam jaringan luka. Luka tembak tempel biasanya
didapati pada kasus bunuh diri. Oleh sebab itu sering
didapati adanya kejang mayat (cadaveric spasme). Luka
tembak tempel sering didapati di pelipis, dahi atau dalam
mulut.(2,6,7)
2) Luka tembak sangat dekat (close wound)
Luka tembak masuk jarak sangat dekat (close wound)
sering disebabkan pembunuhan. Dengan jarak sangat dekat
(± 15 cm), maka akan didapati cincin memar, tanda-tanda
luka bakar, jelaga dan tattoo disekitar lubang masuk. Pada
daerah sasaran tembak didapati luka bakar sebab semburan
api dan gas panas, kelim jelaga (arang), kelim tattoo akibat
mesiu yang tidak terbakar dan luka tembus dengan cincin
memar di pinggir luka.(2,6,7)
Luka tembak sangat dekat
3) Luka tembak dekat (near wound)
Luka dengan jarak di bawah 70 cm (sekitar 2 kaki)
akan lubang luka, cincin memar dan tattoo di sekitar luka
masuk. Biasanya sebab pembunuhan. Pada luka tembak
penting sekali memeriksa baju korban. Harus dicocokkan
apakah lobang di tubuh korban setentang dengan lobang di
pakaian. Pakaian korban harus dikirim ke Laboratorium
Kriminal POLRI, untuk mendeteksi adanya partikel-partikel
mesiu yang tidak terbakar.
Dalam hal ini baik pada luka tembak dekat, sangat
dekat dan juga luka tembak tempel, perlu diperhatikan
kemungkinan tertinggalnya materi-materi asap dan tattoo di
pakaian korban, sebab pada prinsipnya jika tubuh korban
hanya didapati luka dengan cincin memar, memberi
gambaran luka tembak jauh. Oleh sebab itu bila korban
luka tembak tidak memakai pakaian, jangan menentukan
jarak luka tembak sebelum memeriksa pakaiannya.(2,6,7)
Luka tembak dekat
4) Luka tembak jauh (distant wound)
Disini tidak ada kelim tatto, hanya ada luka tembus
oleh peluru dan cincin memar. Terkadang diameter cincin
sedikit leebih kecil dari anak peluru. Jarak penembakan sulit
atau hampir tak mungkin ditentukan secara pasti. Tembakan
dari jarak lebih dari 70 cm dianggap sebagai tembakan jarak
jauh, sebab partikel mesiu biasanya tidak mencapai sasaran
lagi.(2,6,7)
Luka tembak jauh
Jenis
luka
tembak
Anak peluru
Mesi
u
utuh
Mesiu
yang
terbakar
Gas
pan
as
Luban
g
Keli
m
lecet
Keli
m
lema
k
Keli
m
tattoo
Kel
im
jel
aga
Keli
m
api
Jejak
laras
Jauh >70
cm
+ + + - - - -
Dekat <
70 cm
+ + + + - - -
Sangat
dekat <
20 cm
+ + + + + + -
Tempel + + + - - - ++
Luka-luka yang muncul pada tempat ini (Luka
Tembak Masuk), disebabkan oleh faktor-faktor seperti :
• Gaya kinetik anak peluru (proyektil).
• Suhu panas anak peluru (proyektil).
• Semburan api.
• Ledakan gas dari mesiu (pada kasus trauma tembak
tempel).
• Percikan mesiu yang tidak terbakar.
Bentuk cincin memar pada luka tembak masuk bisa
tidak teratur. Ini bisa dihubungkan dengan kemungkinan
peluru yang menembus kulit tidak bundar lagi. Misalnya
pada peluru rikoset, oleh sebab mengenai benda lain dulu
sehingga bentuk anak peluru tidak seperti semula atau
peluru yang ujungnya sudah dibelah 2 (jenis peluru dum-
dum).
Hal lain tentang luka tembak masuk :
a) Tembakan Richochette
Dimana sebelum peluru mengenai tubuh korban
mengenai barang-barang lainnya terlebih dahulu seperti
kayu, tembok, tegel dan sebagainya.sebab memantul, dari
benda keras, bentuk peluru menjadi berubah. Peluru yang
terbungkus sebagian atau seluruhnya, bungkusnya dapat
dipecah dan terlepas dari timahnya hingga dapat menjadi
dua atau lebih bagian yang pecah dan mengakibatkan dua
aau lebih luka tembak masuk pada tubuh.(3,4,5)
b) Tembakan Sipi
Menyebutkan suatu tembakan yang pelurunya
menyipi, yaitu peluru hanya mengenai tepi sasaran saja
(menyerempet kulit). Bentuk luka panjang dengan tepi
berwarna sebab kotoran-kotoran dari peluru. Pada luka ini
susah menentukan arah datangnya.(4,5)
c) Tembakan Yang Tidak Tembus
Disebut juga matte kogel, dimana peluru tidak
memiliki daya untuk keluar dari tubuh sesudah
menembus. Dapat disebab kan jarak dari mulut laras ke
korban yang jauh. Luka yang dipicu yaitu luka lecet
atau luka memar yang berubah warna sebab kotoran-
kotoran.(4,5)
d) Tembakan Kontra
Dalam luka tembak ada luka tembak masuk dan
keluar, juga ada saluran luka yang biasanya lurus antara
luka masuk dan keluar. namun dalam tembakan kontra
sasaran luka yang terjadi tidak lurus. Misalnya kalau peluru
ditembakan pada kepala sebagai sasarannya dan membuat
luka tembak masuk, di dalam terus mencari jalan yang
paling ringan tekanannya dan peluru menempuh jalan
didalam kepala antara otak dan tengkorak sebelah dalam
yaitu mengikuti bentuk dari tulang sebelah dalam.
Akibatnya ialah bahwa saluran luka tembak itu
jalannya mengikuti bentuk tulang kepala dari dalam,
selanjutnya sesudah peluru menempuh saluran luka tembak
itu lalu berhenti dalam kepala, hal ini terjadi pada tembakan
yang mengenai senapan model lama dengan peluru bulat
namun sekarang tidak pernah terjadi lagi.(1,4,5)
B. Saluran Luka Tembak / Saluran Anak Peluru
Bila peluru di dalam tubuh tidak terbentur dengan
organ yang keras (tulang) maka saluran luka tembak masuk
dan luka tembak keluar akan lurus. namun bila berbenturan
dengan organ yang keras seperti tulang maka saluran anak
peluru dapat berbelok. Kelainan yang terjadi di sini lebih
disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
• Gaya kinetik anak peluru atau proyektil.
• Penyebaran gaya kinetik ke jaringan sekitarnya.
• Gerakan giroskopik anak peluru.
Faktor-faktor ini di atas memicu terjadinya
kavitas (rongga) pada lintasan anak peluru, yang besarnya
melebihi ukuran anak peluru. Lintasan anak peluru yang
meliwati tulang akan meninggalkan bekas lintasan yang
terkadang berbentuk corong dan arahnya menunjukkan arah
jalannya anak peluru.(4,5)
C. Luka Tembak Keluar
Luka tembak keluar ini ialah bahwa sesudah peluru
membuat luka tembak masuk dan saluran luka tembakan
maka akhirnya peluru akan mengenai kulit lagi dari sebelah
dalam dan kulit terdorong ke luar. Kalau batas kekenyalan
kulit dilampaui, maka kulit dari dalam menjadi robek dan
akhirnya timbul suatu lubang luka baru lagi, dan luka baru
inilah yang dinamakan luka tembak keluar. Jika sebuah
peluru sesudah membuat lubang luka tembakan masuk dan
mengenai tulang (benda keras), maka bentuk dari pada
peluru tadi menjadi berubah. Tulang-tulang yang kena
peluru tadi akan menjadi patah pecah atau kadang-kadang
remuk.
Akibatnya waktu peluru menembus terus dan
membuat lubang luka tembak keluar, tidak hanya peluru
yang berubah bentuknya, tapi juga diikuti oleh pecahan-
pecahan tulang tadi oleh sebab ikut terlempar sebab
dorongan dari peluru. Tulang-tulang inipun kadang-kadang
memiliki kekuatan menembus juga. Kejadian inilah yang
mengakibatkan luka tembakan keluar yang besar dan lebar,
sedang bentuknya tidak tertentu. Sering kali besar luka
tembak keluar berlipat ganda dari pada besarnya luka
tembakan masuk. Misalnya saja luka tembakan masuk
beserta contusio ring sebesar kira-kira 8 mm dan luka
tembakan keluar sebesar uang logam (seringgit).
berdasar ukurannya maka ada beberapa
kemungkinan, yaitu:
Bila luka tembak keluar ukurannya lebih besar dari
luka tembak masuk, maka biasanya sebelum keluar anak
peluru telah mengenai tulang hingga berpecahan dan
beberapa serpihannya ikut keluar. Serpihan tulang ini bisa
menjadi peluru baru yang membuat luka keluar menjadi
lebih lebar. Bila luka tembak keluar ukurannya sama dengan
luka tembak masuk, maka hal ini didapatkan bila anak
peluru hanya mengenai jaringan lunak tubuh dan daya
tembus waktu keluar dari kulit masih cukup besar. Luka
yang terjadi pada tempat ini, disebabkan oleh faktor-faktor
sebagai berikut :
• Gaya kinetik anak peluru.
• Perubahan bentuk dan arah anak peluru, sesudah
membentur bagian keras tubuh (tulang).
• Serpihan tulang yang kemudian dapat berfungsi
sebagai anak peluru sekunder (secondary missiles).
Bila tidak ditemukan cincin memar disekitar lubang
luka, maka ini merupakan patokan sebagai luka keluar. Pada
luka keluar bisa didapati jaringan lemak menghadap keluar,
walaupun kadang-kadang sulit memastikannya. Bentuk dan
besar luka keluar beragam, tergantung posisi peluru keluar
dan kecepatan menembus kulit. Lebih mudah memastikan
bila didapati serpihan tulang, apalagi bila dibantu foto
rontgen.(2,3,5)
Luka tembak keluar
Ada 3 kemungkinan yang terjadi besarnya luka
tembak keluar (LTK) yaitu
1) Luka tembak masuk lebih kecil dari tembak keluar
Adapun faktor-faktor yang memicu LTK lebih
besar dari LTM yaitu perubahan luas peluru, oleh sebab
terjadi deformitas sewaktu peluru berada dalam tubuh dan
membentur tulang, peluru sewaktu berada dalam tubuh
mengalami perubahan gerak, misalnya sebab terbentur
bagian tubuh yang keras peluru bergerak berputar dari
ujung-ujung (end to end) keadaan ini disebut “tumbling “.
Pergerakan peluru yang lurus, menjadi tidak beraturan ini
disebut “yawing”. Peluru pecah menjadi beberap fragmen,
fragmen-fragmen ini akan memicu bertambah
besarnya LTK, bila peluru mengenai tulang dan fragmen
tulang ini turut terbawa keluar, maka fragmen tulang
ini akan membuat robekan tambahan, sehingga akan
memperbesar luka tembak keluarnya.
2) Luka tembak masuk sama dengan luka tembak
keluar
Hal ini terjadi kalau anak peluru mengenai bagian
yang lunak dari tubuh dan daya tembus anak peluru hampir
sama dengan w





















