Sabtu, 06 Juni 2026

forensik medikolegal 7

 











rik tampak ringan, namun  mungkin saja telah terjadi 

kerusakan organ dalam yang serius, terutama pada jantung, 

otot atau otak. Arus listrik bisa memicu  terjadinya 

cedera melalui 3 cara : 

• Henti jantung (cardiac arrest) akibat efek listrik 

terhadap jantung. 

• Perusakan otot, saraf dan jaringan dan sel oleh arus 

listrik yang melewati tubuh (gagal nafas). 

• Luka bakar termal/ panas tinggi akibat kontak dengan 

sumber listrik.(17) 

  

PEMERIKSAAN FORENSIK 

 

A. TANDA-TANDA PADA TRAUMA LISTRIK 

Titik kontak pada permukaan tubuh mungkin 

meninggalkan lesi kulit, yang disebut ‘luka bakar elektrik’ 

atau ‘tanda elektrik’ walaupun istilah ‘luka bakar Joule’ 

mulai populer. Hal ini merupakan lokasi masuknya arus, 

namun  tanda lain juga mungkin didapatkan bila tubuh 

menempel di tanah atau ‘grounded’.  

Harus ditekankan di sini bahwa electrocution fatal 

dapat terjadi tanpa tanda kulit apapun, memicu  

diagnosis sepenuhnya tergantung pada keadaan sebelum 

kematian. Contoh ekstrim electrocution yaitu  kematian di 

bak mandi (seperti telah disinggung pada hal 16), saat  

ada  area permukaan yang luas untuk masuknya arus 

ditambah hambatan kulit yang rendah sebab  air 

menghilangkan kemungkinan luka bakar fokal.(18) 

Tanda elektrik mungkin tidak begitu jelas terlihat 

dari luar, sebab  arus dapat pada daerah tubuh yang lembab 

dan basah, seperti ditempelkan pada alat genitalia, anus 

(pada beberapa kasus penyimpangan seksual) atau abdomen 

(sebab  mengandung banyak lemak) atau melalui mulut 

(khususnya pada anak-anak bayi), dapat memasukkan alat 

listrik yang menyala di antara bibir dan mengalami luka 

bakar elektrik di lidah atau mukosa bukal, yang mungkin 

tidak begitu jelas pada pemeriksaan luar sewaktu otopsi.(18) 

saat  arus melintas, mungkin ada  atau tidak 

ada  lesi yang dapat dilihat, tergantung pada densitas 

lintasan arus dalam hubungannya dengan area kulit, dan 

 

konduktivitas yang biasanya bervariasi dengan muatan 

lembab.(18) 

 

B. TANDA PADA KULIT 

Lesi kulit yaitu  luka bakar termal sebab  pemanasan 

epidermis dan dermis saat  arus melintas. Secara teoritis, 

panas yang dihasilkan dapat ditentukan dari rumus GC = 

C2R/ 4,187, dimana GC yaitu  panas dalam gram kalori per 

detik, C yaitu  arus dalam ampere dan R hambatan dalam 

ohm (sebagaimana telah diterangkan pada hal 9).  

Bila elektron membanjiri area yang relatif luas, maka 

hambatan per unit area kecil (khususnya bila kulit lembab) 

dan efek pemanasan secara proporsional berkurang. Sebagai 

contoh, seseorang yang meletakkan telapak tangannya pada 

pelat logam datar yang dialiri listrik akan melewati arus 

yang jauh lebih kecil per sentimeter persegi kulit 

dibandingakn orang yang menyentuh pelat itu dengan 

ujung jari. Yang pertama mungkin tidak memperlihatkan 

lesi apapun, sedang  yang kedua akan menunjukkan 

lepuh luka bakar atau nodul berkeratin, tergantung eratnya 

kontak.(18) 

Temperatur jaringan tepat di bawah titik kontak 

dapat dengan mudah mencapai 95° C. Kerusakan jaringan 

dapat terjadi dalam 25 detik saat  temperatur mencapai 50° 

C. Tanda elektrik fokal sebagian besar merupakan luka 

bakar elektrik dan bahkan beberapa gambaran histologis 

yang akan dideskripsikan kemudian, yang pernah dianggap 

aneh pada arus listrik, kini umumnya dikaitkan dengan efek 

termal / panas. Bagaimanapun, ada  beberapa 

gambaran yang merupakan karakteristik dari pemicu  

elektrik :(18) 

1) saat  kulit berkontak erat dengan konduktor elektrik, 

lintasan arus melalui hambatan kulit tinggi 

memanaskan cairan jaringan dan menghasilkan uap. 

Hal ini dapat memisahkan lapisan-lapisan epidermis 

atau taut epidermis-dermis dan menghasilkan lepuh 

 

yang menonjol. Lepuh ini dapat pecah bila arus terus 

mengalir atau bila areanya relatif luas. 

saat  arus berkurang, lepuh mendingin dan kolaps, 

membentuk gambaran familiar saat otopsi. Lepuh 

yang kolaps seringkali anular, menghasilkan cincin 

kelabu atau putih yang menonjol dengan bagian 

tengah yang mengalami umbilikasi. Tanda ini kadang-

kadang menyerupai bentuk konduktor, khususnya bila 

konduktor yaitu  kawat linear atau benda logam 

berbentuk. Di mana ujung kawat atau kabel 

membentuk sudut yang tepat dengan kulit, terbentuk 

cekungan fokal, kadang-kadang menembus cukup 

jauh ke dalam kulit. 

2) Di mana kontak kurang erat, sehingga ada  jarak 

udara (walaupun sempit) antara kulit dan konduktor, 

arus melompati jarak ini  sebagai bunga api. 

Dalam udara kering 1000 V akan meloncat beberapa 

milimeter dan 100 kV sekitar 35 cm. Hal ini terjadi 

pada temperatur sangat tinggi (sekitar 4000° C) seperti 

pada loncatan bunga api mesin minyak dan 

memicu  keratin kulit bagian luar meleleh di area 

yang sempit. Pada pendinginan, keratin bergabung 

menjadi nodul keras kecoklatan, biasanya menonjol di 

atas permukaan sekitarnya, yang disebut ‘spark lesion’ 

Benda bermuatan listrik yang mengenai tubuh, akan 

meninggalkan bekas berupa luka masuk listrik, hanya 

jika  persentuhan ini  menghasilkan cukup 

panas. Luka demikian tampak sebagai bagian tengah 

dan berwarna coklat kehitaman, kering, dan 

mencekung dikelilingi oleh tepi yang meninggi. 

Sekitar luka ada  daerah pucat berbentuk halo 

yang dikelilingi oleh kulit yang hiperemis. Namun 

untuk memastikan bahwa luka tersbut benar-benar 

disebabkan oleh benda bermuatan listrik, perlu hasil 

pemeriksaan setempat yang menyokong akan hal 

ini , mengingat kawat pijar juga dapat 

memicu  luka serupa. Pada kulit yang basah atau 

bila tempat persentuhan luas, luka masuk listrik tidak 

dapat terbentuk. Pada kasus kecelakaan tersentuh 

benda bermuatan listrik, bagian tubuh yang sering 

terkena yaitu  bagian tubuh yang ’terbuka’, terutama 

pada tangan. Tanda keluar arus listrik ada  pada 

bagian bawah yang menyentuh tanah dan bentuknya 

dapat bermacam-macam, tapi yang terbanyak yaitu  

berbentuk suatu celah (split) dengan pinggiran yang 

menimbul. 

 

C. TANDA PADA ORGAN DALAM 

Dalam trauma listrik yang fatal, dapat tidak 

ditemukan tanda-tanda pada organ dalam yang khas dan 

perubahan histologis masih merupakan kontroversi para 

ahli. Jaringan organ dalam sebagian besar berupa cairan dan 

elektrolit yang bersifat konduktor listrik, sehingga arus listik 

pada organ dalam terlalu menyebar untuk memicu  

kerusakan termal. Tidak adanya kerusakan organ dalam 

yang spesifik disebabkan sebab , terjadi abnormalitas fungsi 

dan fisiologis pada jaringan otot dan saraf, biasanya 

kematian akibat trauma listrik segera justru disebabkan oleh 

aritmia jantung yang ditimbulkan akibat terjadi fibrilasi 

ventrikel dan henti jantung.(18,21) 

Petekhie epikardial dapat timbul akibat aritmia 

jantung, tapi merupakan tanda yang tidak spesifik. Tubuh 

jenazah biasanya berwarna pucat atau sedikit terjadi 

kongesti, hal ini sangat berbeda dengan kematian yang 

terjadi akibat kelumpuhan sistem pernafasan.(18,21) 

Otot-otot pada sela iga dan sekat antara rongga 

jantung dan dada dapat mengalami kelumpuhan atau 

spasme, yang memicu  terjadinya kongesti dan sianosis 

pada wajah serta pada paru-paru. Pada selaput paru dapat 

ditemukan petekie, yang merupakan tanda non spesifik 

yang tidak terlalu berguna untuk menunjang diagnosa. Pada 

otopsi biasanya ditemukan tanda kematian akibat kongesti 

yaitu lebam mayat yang berwarna biru kemerahan 

gelap.(18,21) 

 

Tanda trauma listrik lain yaitu petekie intra serebral 

yang kemungkinan bagian dari keadaan kongesti umum 

akibat kelumpuhan pernafasan.(18,21) 

 

D. GAMBARAN HISTOLOGIS(21) 

Gambaran pada kulit berupa rongga-rongga pada 

lapisan epidermis dan kadang pada dermis. Hal ini 

disebabkan sebab  adanya ruang udara yang berasal dari 

pemisahan jaringan yang panas dari sel-sel ini . Bagian 

terluar epidermis dapat terlepas. Sel-sel pada epidermis 

menjadi panjang dengan nucleus terpusat dan menjadi 

besar. Gambaran di atas dapat dikatakan sebagai akibat dari 

pengaruh listrik. Meskipun demikian gambaran yang sama 

juga akan didapatkan pada kasus-kasus luka bakar maupun 

hipotermi. 

Ditemukan adanya vakuola-vakuola kecil pada 

stratum korneum, terutama pada jari-jari, telapak tangan 

dan telapak kaki yang mengandung lapisan keratin yang 

tebal. Vakuola berasal dari kelenjar keringat di tempat 

masuk dan keluarnya arus listrik, sebagai akibat produksi 

uap panas yang berlebih yang mengakibatkan pelebaran 

kelenjar keringat ini , dikenal sebagai ”honeycomb atau 

Swiss cheese-like apparance

 

 

Gambar 14: Swiss cheese appearance Dikutip dari 

members.fortunecity.com 

Gambaran sel epidermis seperti alur yang melingkar 

(whorled). Pada beberapa kasus, epidermis dan lapisan sel 

tanduk menjadi padat dan tertekan. jika  diwarnai 

dengan hematoxylin-eosin akan mengambil warna lilac 

(ungu muda). Pada daerah yang lebih dalam pada epidermis 

akan terjadi elongasi dan terbentuk palisade pada sel dan 

inti sel. Sel-sel dan inti sel folikel rambut serta kelenjar 

keringat juga akan memberi  gambaran distorsi seperti 

kumparan. Mikroskopik elektron memberi  gambaran 

yang berbeda-beda, khususnya pada nukleus dari sel-sel 

kulit yang telah berubah bentuknya menjadi gumpalan 

kromatin. 

Perubahan pada otak berupa perdarahan petekiae dan 

robekan pada substansia alba. Tidak ada gambaran yang 

jelas akibat trauma listrik pada organ-organ dalam. 

Gambaran ombak dan fragmentasi pada serat miokard 

dapat diungkapkan, namun  tidak memiliki  arti diagnosis. 

Kontraksi pita pada serat otot, khususnya gambaran ”bark-

like”, dapat kita temukan, namun  sekali lagi hal ini tidaklah 

spesifik, sebab hal ini dapat juga kita temukan pada 

miokardium subepikardial sesudah  dilakukannya resusitasi 

dengan defibrilator. Gambaran mikroskopik luka bakar 

akibat listrik yang terjadi intravital berbeda dengan 

postmortem. Yang membedakan yaitu  ada tidaknya 

serbukan sel radang sebagai tanda intravital dari proses 

inflamasi, sedang  pada postmortem tidak ditemukan 

sebukan sel radang. Pada pemeriksaan pembuluh darah 

disekitar lesi dapat ditemukan trombus intravaskuler yang 

sering dijumpai pada kasus trauma listrik intravital.(21) 

 

ASPEK MEDIKOLEGAL 

 

A. KECELAKAAN (20)             

Kamar mandi merupakan tempat yang paling sering 

mengakibatkan kematian sebab  sengatan listrik. 

Kecelakaan, bunuh diri atau  pembunuhan sering terjadi di 

sini, sebab  sangat mudah memicu  kejutan listrik. 

Kamar mandi merupakan tempat yang paling berbahaya di 

rumah, disebabkan sebab   lingkungannya yang basah, 

banyak ada  air, benda-benda seperti keran air dan 

pipanya, tubuh yang tidak memakai  pakaian, dimana 

semuanya itu dapat mendatangkan hambatan listrik yang 

rendah, sehingga dapat mempercepat arus listrik masuk ke 

tubuh (bahkan tanpa tanda khas).  

Kecelakaan sering sekali terjadi, biasanya akibat dari 

pemakaian alat-alat listrik seperti hairdryer dan alat 

pemanas. Sebagian besar negara-negara Eropa memiliki   

peraturan yang ketat tentang pemasangan arus listrik di 

dalam kamar mandi sebab hal ini sangat berbahaya. Di 

Inggris, pemakaian saklar dinding lampu pada tembok tidak 

diperbolehkan, saklar pada langit-langit dioperasikan 

dengan memakai  kawat penyekat yang diperintahkan. 

Tidak ada stop kontak yang disediakan kecuali untuk 

keadaan dimana stop kontak dipakai untuk menaik 

turunkan perpindahan dengan memakai  arus keluar 

yang sangat rendah. Kesal dengan hal ini, orang-orang 

bodoh  memakai  perluasan timah ke dalam stop kontak 

lampu untuk mengoperasikan berbagai macam alat-alat. 

 

B. BUNUH DIRI(20)   

Saat ini, angka kematian bunuh diri dengan 

memakai  arus listrik di dalam kamar mandi semakin 

meningkat. Banyak rencana di buat pada kasus bunuh diri di 

dalam kamar mandi, diantaranya dengan menarik alat-alat 

listrik ke dalam air sehingga menghasilkan hubungan yang 

kompleks ke tubuh kita. 

 

C. PEMBUNUHAN(20) 

Pembunuhan, kadang-kadang dilakukan dengan 

listrik. Berikut ini merupakan contoh kasus pembunuhan 

memakai  listrik yang terjadi di kamar mandi. Seorang 

wanita muda telah ditemukan tewas di dalam kamar 

mandinya, dengan alat pemanas listrik dibenamkan di dekat 

kakinya. Alat pemanas ini  telah dihubungkan dengan 

kabel panjang ke 240 V 13 amp stop kontak di dekat  tempat 

tidur. Ini sesuai dengan gambaran kematian yang terjadi 

akibat kelumpuhan pada saluran pernafasan. 

Otot-otot interkostal dan diapraghma mengalami 

spasme atau paralisis, sehingga meninggalkan tanda berupa 

pembendungan dan cyanosis pada wajah, perubahan yang 

sama juga terjadi  pada paru-paru. Di sini mungkin 

ditemukan  beberapa petekie pada pleura, walaupun hal ini 

bukan merupakan tanda spesifik yang dapat membantu 

diagnosa. Saat otopsi, tanda pembendungan biasanya 

ditemukan, dengan (lebam mayat) hipotesis post mortem 

dark blue-red (biru kemerahan gelap).  

TRAUMA PETIR / LIGHTING 

 

 

Gambar 15: Fenomena alam Petir 

 

A. LATAR BELAKANG 

Pada negara-negara tropis dan sub tropis kematian 

akibat tersambar halilintar bukan yang umum bahkan pada 

dataran tinggi. Tragedi kadang-kadang terjadi dimana 

sejumlah orang terbunuh atau cedera pada kejadian tunggal. 

Sebagai contoh pada pertemuan balap azcot tahun 1955. 

Secara fisika serangan halilintar sulit dan tidak sepenuhnya 

dapat dimengerti.(5) Petir terjadi sebab  adanya loncatan arus 

listrik di awan yang tegangannya dapat mencapai 10 mega 

 

 

Volt dengan kuat arus sekitar 100.000 A ke tanah 

(sebagaimana telah diterangkan pada hal 3).(1) 

 Petir cenderung untuk mengalir pada permukaan 

perambatan luar saja dan tidak melalui perambatan 

dalamnya. Oleh sebab  itu orang yang tinggal di dalam 

rumah jarang tersambar petir. Loncatan listrik bisa 

memicu  luka terbakar yang biasanya agak superfisial. 

Akibat ledakan akan mengoyakkan pakaian. Telah diketahui 

bahwa cedera sebab  halilintar sangat tidak terduga dan tak 

bisa diprediksi.  

Dua orang dapat berdiri berdampingan selama terjadi 

halilintar dan salah satunya mungkin terpotong dan 

terbunuh sementara yang lain tidak cedera. Kerusakan fisik 

pada kasus yang fatal dapat bervariasi mulai dari nol hingga 

terbakar seluruhnya, fraktur dan kerusakan jaringan. Tanda 

pada kulit mungkin ada, yang disebut pola ‘gambaran 

seperti pakis = fernlike atau tanaman menjalar = arborescent’ 

merupakan gambaran dari pelebaran pembuluh darah yang 

mengalami proses radang (akibat adanya reaksi arus listrik 

sangat tinggi/ panas yang melaluinya).  

Tanda berwarna merah yang ireguler sering berupa 

luka bakar derajat satu yang bergaris lurus dapat mengikuti 

lipatan kulit, terutama jika lembab oleh keringat. Tanda ini 

panjangnya mungkin beberapa inchi dan umumnya 

mengikuti sumbu panjang tubuh terhadap tanah (efek gaya 

tarik medan magnet bumi). Luka lepuh atau hangus juga 

ada  pada beberapa kasus.(20) 

Kilat sebenarnya mengambil alur yang berbeda-beda, 

arah kilat, arus yang langsung yaitu  suatu pergatian yang 

lengkap; pertama terbentuklah suatu tangga yang lengkap 

dari awan ke bumi diikuti dengan pergantian dengan arah 

yang berlawanan dengan kekuatan yang bervariasi antara 

10.000-200.000 amp, dalam waktu 1 detik (kira-kira 1/1000 

dalam 1 detik) dengan perbedaan potensial kira-kira 20 juta 

volt.  

Kilat ini semakin menuju ke bawah, memberi cabang-

cabang sekunder (setiap cabang berukuran 5.5 m diameter), 


dalam segala arah dan memberi  efek pada daerah 

dengan diameter 30 meter. Orang yang disambar petir 

umumnya di alam terbuka atau dalam rumah terutama 

dekat pintu terbuka dan jendela gampang terkenak petir.  

Petir tertarik ketempat-tempat yang tinggi maka 

sangat berbahaya untuk berdiri di dekat pohon-pohon yang 

tinggi pada waktu hujan petir, juga sangat berbahaya untuk 

memakai material yang dapat menghasilkan aliran listrik, 

seperti kancing logam, resletting, payung dan sebagainya 

yang memiliki  kemampuan untuk yang memiliki  

kemampuan untuk arus listrik.pakaian yang basah dan kulit 

yang basah yaitu  bahan konduksi yang baik untuk listrik 

sementara kulit yang kering dan pakain yang kering yaitu  

konduksi listrik yang jelek.(7) 

 Dalam kasus tertentu seseorang mungkin mati akibat 

disambar kilat namun  pakaian yang dipakainya tidak 

berbekas dan ada juga secara kontras, pakain mukin 

terbakar dan terkoyak dari tubuh orang ini  tanpa 

berakibat cedera pada korban. Pakaian nilon akan mencair 

dan berkelompok menjadi keras. Bahan-bahan kaca dan 

metalik seperti kunci kereta atau tali pinggang yang dipakai 

korban akan melengket, bahan-bahan logam akan 

termagnetisir dan akan meninggalkan impresi di kulit.(7) 

 

B. PENGOBATANNYA 

Pada prinsipnya, mulailah dengan melakukan 

pernafasan buatan selama 4 atau 5 jam dengan pemakaian 

oksigen pada tekanan tinggi, memakai  defribrillator 

jika ada. Stimulant jantung diberikan jika pernafasan sudah 

normal.(7) 

 

C. PEMERIKSAAN POST MORTEM 

1. Eksternal : Heat stifning (keadaan kaku tubuh akibat 

suhu panas yang tinggi menyerupai kaku mayat) : 

akan muncul sesudah  kematian dan hilang dengan 

cepat. Lesi yang dijelaskan diatas biasanya hadir di 

 

permukaan tubuh, namun  sangat sukar dijumpai dalam 

suatu kasus. 

2. Internal : Tidak begitu jelas. ada  banyak 

pendarahan ekstensif dalam otak yang kadangkala 

terlaserasi. Perikardium menunjukkan pendarahan 

petekhie dan jantung terdilatasi. Darah yang 

seharusnya encer, sering dijumpai menggumpal 

(akibat panas). Petekhie akan dijumpai dalam 

permukaan paru-paru yang terkongesti. Pembuluh 

darah akan dijumpai trombosit atau teruptur, dan 

organ-organ internal terkoyak. Kongesti dari spleen, 

supralenal dan ginjal dan  nekrosis dalam pankreas 

pernah dilaporkan. Pendarahan telinga tengah dan 

rupturnya gendang telinga juga pernah dilaporkan.(7)  

 

D. ASPEK MEDICO-LEGAL 

Trauma akibat arus petir dapat diduga sebagai 

kejahatan sebab  dijumpai reaksi luka bakar, tulang-tulang 

yang terfraktur, pakaian yang terkoyak, namun  hal yang 

sangat mendukung bahwa kematian disebabkan oleh kilat 

seperti perkara-perkara di bawah : 

1. ada nya kilat di lokasi kejadian. 

2. ada nya bukti akibat kilat, contohnya kerusakan 

rumah, pokok/ pohon, kematian hewan-hewan ternak, 

pohon juga akan runtuh satu-dua minggu sesudah  

disambar petir. 

3. Penggabungan magnet atau magnetisasi unsur-unsur 

logam. 

4. Tidak adanya luka atau luka yang lain pemicu  

kematian akibat pembunuhan.(7) 

5. Selain itu, sering juga ditemui bau hangus atau panas 

disekitar tubuh dan pakaiannya. Rambut mungkin 

hangus dan sering ada  cedera kepala, disebabkan 

baik oleh sebab  tersambar halilintar itu sendiri atau 

oleh sebab  jatuh ke tanah.(1) 

 

 

Gambar  16: Metalisasi 

Petir biasanya menangkap objek logam yang ada  

pada tubuh korban seperti: rantai, cincin, gelang, jam 

tangan, kaca mata, ikat pinggang. Logam titik masuk dan 

keluar biasanya cair. Jika ada  logam besi pada tubuh 

korban mungkin bertukar menjadi magnet. Luka-luka 

sebab  sambaran petir pada hakekatnya merupakan luka-

luka gabungan akibat listrik, panas dan ledakan udara. Luka 

akibat panas berupa luka bakardan luka akibat ledakan 

udara berupa luka-luka yang mirip dengan luka akibat 

persentuhan dengan benda tumpul.(1) 

Dapat terjadi kematian akibat efek arus listrik yang 

melumpuhkan susunan syaraf pusat, memicu  fibrilasi 

ventrikel. Kematian juga dapat terjadi sebab  efek ledakan 

atau efek dari gas panas yang ditimbulkannya. Pada korban 

mati sering ditemukan adanya arborescent mark 

(percabangan pembuluh darah terlihat seperti percabangan 

pohon oleh sebab  peradangan pembuluh darah akibat 

aliran arus bertegangan tinggi yang melewati pembuluh 

darah), metalisasi benda-benda dari logam yang dipakai, 

magnetisasi benda-benda logam yang dipakai. Pakaian 

korban terbakar atau robek-robek.(1)   

 

 

Gambar 17: Arborescent mark 

 

Gambar 18: Trauma petir 


 

Gambar 19 : Arborescent mark 

Dikutip dari Das RN, Kumar J. High Tension Electric 


Gambar 20: Gambaran metalisasi 


TRAUMA TEMBAK 

 

 

Mempelajari trauma akibat tembakan oleh senjata dari 

jenis apapun sama artinya dengan mempelajari balistik 

terminal, yaitu suatu cabang balistik yang membahas 

pengaruh anak peluru atau proyektil sesudah  ditembakkan 

terhadap bagian dari target yang menjadi sasaran, sampai 

anak peluru atau proyektik ini  berhenti. Dan 

pemahaman ini  akan lebih lengkap jika dibarengi 

dengan mempelajari cabang dari ilmu balistik lain yang 

terkait seperti misalnya balistik interior, balistik eksterior 

serta balistik forensik yaitu mempelajari berbagai macam 

pemeriksaan atau selongsong atau anak peluru bekas dari 

suatu tembakan guna memastikan senjata mana yang telah 

digunakannya.(1) 

Pada saat ini korban sebab  kekerasan luka tembak, 

sangat sering didapati sebab  semakin banyak anggota 

warga  sipil memiliki senjata api, baik untuk pertahanan 

diri, maupun untuk tujuan lain. Pada prinsipnya 

pemeriksaan korban luka tembak, sama dengan 

pemeriksaan luka pada trauma lain, namun ada satu yang 

spesifik yaitu, para dokter harus mengetahui dan memahami 

tentang senjata api, amunisi dan peluru. 

Tanpa memahami ini, akan sulit memberi  bantuan 

yang adekuat, sebab  perlukaan pada tubuh akhirnya 

berdasar  ketiga unsur ini .(1,2) Dalam menghadapi 

kasus kriminal yang melibatkan pemakaian senjata api 

sebagai alat yang dimaksudkan untuk melukai atau 

mematikan seseorang, maka dokter sebagai orang yang 

melakukan pemeriksaan khususnya atas diri korban perlu 

 

secara berhati-hati, cermat dan teliti dalam menafsirkan hasil 

yang didapatnya, oleh sebab  pemakaian senjata api untuk 

maksud membunuh atau melukai membawa implikasi yang 

luas, bahkan tidak jarang dapat  memicu  keresahan 

dan kesulitan tersendiri bagi mereka yang terlibat. 

Di dunia kriminalitas, senjata api yang biasa 

dipakai  yaitu  senjata genggam yang beralur. 

sedang  senjata api dengan laras panjang dan senjata 

yang biasa dipakai untuk olah raga berburu yang larasnya 

tidak beralur, jarang dipakai untuk maksud maksud 

kriminal. Menurut ilmu patologi forensik dari berbagai jenis 

luka yang ada, tidak ada luka yang memiliki  ciri yang 

begitu rumit serta berbagai bentuk seperti yang dihasilkan 

oleh luka akibat senjata api.  

Luka tembak memiliki  karektaristik sendiri. 

Pengetahuan yang baik tentang berbagai luka akibat senjata 

api memerlukan perhatian yang serius bagi seorang dokter 

sebagai pemeriksa termasuk tentang senjata api secara 

mendasar, hal-hal tentang jalannya anak peluru, tentang 

pelatuk, jarak dan proses perjalanan anak peluru di dalam 

tubuh dan sebagainya. (2) 

Pada halaman berikutnya, akan lebih jauh penulis 

jelaskan banyak hal mengenai segala yang berhubungan 

dengan trauma tembak baik ditinjau dari aspek mekanik 

maupun medis terutama yang berhubungan erat dengan 

bantuan dokter dan ahli forensik dalam mengungkap kasus, 

guna kepentingan hukum dan peradilan. 


SENJATA API 

 

Senjata api yaitu  suatu senjata yang memakai  

tenaga hasil peledakan mesiu, dapat melontarkan proyektil 

(anak peluru) yang berkecepatan tinggi melalui larasnya. 

Atau dengan definisi lain yaitu  suatu alat yang dapat 

mengeluarkan peluncur atau proyektil (anak peluru) dengan 

memakai  daya pengembang/tekanan gas yang 

dihasilkan oleh pembakaran bahan ledakan atau mesiu.(3,4)  

sedang  trauma atau luka tembak itu sendiri yaitu  

luka yang disebabkan adanya penetrasi anak peluru atau 

persentuhan anak peluru dengan tubuh akibat adanya factor 

kecepatan, sehingga menembus kulit dan masuk ke dalam 

tubuh serta merusak jaringan tubuh di dalamnya.(2,4,5,6) Ilmu 

yang mempelajari senjata api disebut balistik. Ilmu ini 

diazaskan kepada anggapan bahwa yaitu  mustahil bagi 

manusia untuk membuat dua objek yang betul-betul sama 

secara mutlak. Hal ini dapat dimungkinkan jika  dua 

objek yang kelihatan sama, namun secara mikroskopik 

terlihat perbandingannya. 

Dalam ilmu balistik kita mengenal ada 2 kategori 

dilihat dari pergerakan anak peluru : 

1. Balistik internal 

Yaitu mempelajari keadaan sejak anak peluru terlepas 

dari selongsong, hingga sesaat sebelum keluar dari  

laras. 

2. Balistik eksternal 


 

Yaitu mempelajari gerak anak peluru sejak terlepas 

dari laras hingga kesasaran (gerak proyektil). 

 

sedang  balistik sasaran atau balistik luka, yaitu 

mempelajari akibat anak peluru pada sasaran (tubuh 

manusia) menjadi bagian balistik eksternal.(4,5,6) 

Senjata api itu sendiri pada mulanya dikenal sebagai 

senjata api lantak, bedil sundut (muzzle loader) atau 

”dorgok, habis dor disogok”. Dimana larasnya terbuat dari 

sepotong pipa, satu ujung ditutup dan diberi lubang kecil 

untuk sumbu. Mesiu dituangkan ke dalam laras, kemudian 

dipadatkan dengan pelantak sebuah batang besi, lalu peluru 

timah bulat dimasukkan ke dalam laras dan didorong 

masuk dengan pelantak. Untuk menembakkan senjata api 

lantak, sumbu disulut atau disundut lalu laras dibidikkan 

pada sasaran sampai mesiu meletus.  

Kemajuan dalam pembuatan senjata api lantak yaitu 

mengganti sumbu dengan picu, batu api dan plat baja. 

Persentuhan antara batu api yang dipasang di ujung picu 

dengan plat baja memicu  bunga api yang diarahkan ke 

lubang kecil dilaras untuk membakar mesiu. Dengan 

ditemukan penggalak (primer, percussion cap) senjata api 

lantak menjadi senjata api yang patrumnya diisi dari 

belakang (breech loader) senapang kopak. Kemajuan lain 

yaitu  membuat senjata api yang sekali diisi patrum dapat 

ditembakkan berturut-turut.  

Pertama digunakan laras lebih dari sebuah senapan 

dengan tujuh buah laras dan senapan mesin kuno dengan 

lima puluh buah laras. Perkembangan selanjutnya membuat 

senjata api dengan laras tunggal yang dapat menembakkan 

lebih dari satu peluru berturut-turut. Untuk ini dikenal dua 

sistem yakni, sistem revolver dan sistem pistol.(7)  

Banyak hal yang perlu dipahami oleh seorang dokter 

dalam membuat suatu laporan tertulis (visum) yang terkait 

dengan kondisi korban akibat trauma tembak. Sehingga 

sangatlah penting bila seorang dokter juga dapat 

mengetahui dan memahami beberapa hal tentang, benda 


atau alat yang memicu  luka tembak ini , dalam 

hal ini alat atau benda ini  dikenal sebagai senjata. Yang 

memiliki ciri-ciri khusus berdasar  penilaian dari 

beberapa unsur, seperti yang akan dijelaskan pada halaman 

berikutnya. 

Sebelum membahas tentang trauma/ luka tembak 

pada tubuh manusia, maka sebaiknya perlu dipahami 

beberapa hal penting dari alat (barang bukti) yang terkait 

langsung dengan trauma atau luka tembak itu sendiri. 

Senjata api memiliki banyak ragam, dan dapat dibedakan 

atas beberapa penilaian pokok, seperti : 

A. berdasar  panjang laras dan cara 

memakai nya  : 

1. Senjata api berlaras pendek (2,3) 

Disebut juga senjata api genggam (hand gun) seperti 

revolver dan pistol. Cara memakai nya dengan 

mengenggam, cukup dengan satu tangan  : 

- Ciri-ciri revolver antara lain : Anak peluru terbuat 

dari timah hitam dan tidak bermantel, terletak dalam 5-8 

silinder yang berputar otomatis. Selongsongan tetap berada 

di silinder pada waktu ditembakkan. Dipakai oleh aparat 

keamanan/ polisi, sebab  memiliki  daya rusak yang 

rendah (energi kinetiknya berbanding lurus dengan 

besarnya masa dan kuadran kecepatan). Kecepatan rendah 

ini dipicu  adanya bocoran tekanan gas pada tempat di 

antara sillinder dengan laras yang dapat mencapai 40%. 

Revolver biasanya berkaliber 38 dengan alat penyimpan 

patrum bersifat silinder yang dapat berputar dengan model 

single action, dimana picu ditarik ke belakang sebelum 

ditembak atau double action dengan langsung menarik 

pelatuk. 

 

Revolver 

 

- Ciri-ciri pistol antara lain : Anak pelurunya bermantel 

tembaga atau kuningan dan tersimpan dengan 

magazine (senjata genggam biasanya memiliki  6 

peluru atau mencapai 16 pada jenis FN yaitu pistol 

High Power), selongsongannya terlempar pada waktu 

ditembakkan, memiliki daya rusak yang hebat 

sehingga dipakai oleh militer. Semakin tinggi 

kecepatannya, semakin kecil masa anak peluru yang 

dibutuhkan untuk mencapai energi kinetik yang sama 

(menghemat biaya produksi).  Pistol memiliki 3 model 

yaitu, pistol repetir, semi automatis dan automatis. 

 

 

 

2. Senjata api berlaras panjang (bedil / senapan) (2,3) 

Seperti senjata api berburu dan senjata api militer. 

Cara memakai nya senjata dari jenis ini ialah dengan 

kedua tangan sambil memanfaatkan bahu, terdiri atas 

senapan berlaras lebih dari 22 inchi (long barrel weapon) 

dan senapan berlaras kurang dari 22 inchi (short barrel 

weapon). Jenisnya seperti shotgun, senjata ini sebetulnya 

termasuk senapan (shoulder weapon) yang dibuat untuk 

kepentingan berburu. Namun yang membedakan dengan 

senjata api lainnya yaitu  anak pelurunya, yang biasanya 

dibuat banyak agar kemungkinan mengenai sasaran lebih 

besar. Larasnya rata dan kadang-kadang dibuat ganda 

(double barreled shotgun) secara berdampingan atau 

tumpang tindih, Jika diameter laras kurang dari setengah 

inchi (1,25 cm) maka kalibernya biasa dinyatakan 

berdasar  ukuran diameter laras ini .  

Kaliber four-teen berarti memiliki  diameter laras 

0,410 inchi. sedang  pada senjata yang lebih besar, 

kalibernya dinyatakan menurut diameternya atau menurut 

banyaknya anak peluru (gotri) yang dibuat dari 1 pon timah 

hitam. Senjata “12 bore shotgun” berarti dari 1 pon timah 

hitam dibuat 12 anak peluru. 

sebab  anak peluru banyak, maka anak peluru itu 

akan menyebar jika ditembakkan. Saat keluar dari ujung 

laras anak peluru masih menunjukkan massa yang solid dan 

pada jarak tertentu akan menyebar. Semakin jauh jaraknya, 

semakin luas penyebarannya. Sering dilengkapi choke yang 

dapat mengatur luas penyebaran. Sudah tentu, bentuk luka 

yang ditimbulkannya tergantung dari kondisi anak peluru 

saat  mengenai tubuh. 

Biasanya tidak ditemukan luka tembak keluar, kecuali 

pada jarak tempel atau jarak yang sangat dekat sekali. Hal 

ini disebabkan oleh daya tembus yang kurang, mengingat 

berat massa dari masing-masing anak peluru yang tidak 

begitu besar. Perlu diketahui bahwa daya tembus anak 

peluru ditentukaan oleh berat massa serta kecepatan 

(velocity). Sehingga bentuk luka keluar terkadang berupa 

luka-luka kecil yang tersebar atau luka-luka yang tidak 

 

teratur, di bawah kulit sering kali teraba adanya anak peluru 

(gotri) yang tidak mampu keluar menembus kulit. 

 

 

Shotgun 

 

B. berdasar  Dinding Dalam Laras (Inner Loop)  : 

1. Senjata api laras beralur (Riffle Bore, riffled weapon) 

(2,3,4) 

Senjata api laras beralur, ini memiliki sejumlah alur 

yang biasanya 2-8 buah. Alur ini disebut  grooves. Bagian 

yang lebih tinggi permukaannya disebut ”pematang” atau 

lands dan yang melekuk disebut parit. Pengadaan alur pada 

senjata api dengan tujuan agar anak peluru melalui laras ini 

akan terpengaruh alur ini sehingga memicu  gerak 

giroskopik. Gerakan anak peluru berputar berbentuk spiral. 

Akibatnya peluru menjadi lebih stabil sehingga dapat 

mencapai sasaran lebih jauh dan lebih tepat. Alur dan 

penampang  dalam “inner loop” penting dalam hal 

identifikasi senjata api, sebab  peluru yang ditembakkan 

dari senjata api akan tergores waktu lewat diatas 

penampang tadi dan meninggalkan goresan spesifik untuk 

senjata api ini . 

 

Senjata api laras beralur 

 

2. Senjata api laras licin (Smooth Bore, smooth walled 

weapon) (2,3,4) 

Senjata api dengan laras bagian dalam yang licin atau 

tidak beralur dari ujung ke ujung, dimana diameter ujung-

ujungnya bisa berbeda ukuran. Biasanya senjata ini 

memakai  peluru berbentuk bola-bola kecil atau pellete, 

yang ada  dalam kotak peluru. Senjata ini biasanya 

digunakan untuk berburu dan berolah raga (senapan angin). 

Bentuk laras licin itu sendiri yaitu  : 

• Berbentuk silinder : lobang pangkal laras sama dengan 

lobang ujung laras. 

• Berbentuk choke bore : lobang ujung laras lebih kecil 

dari lobang pangkal laras seperti kerucut terpancung. 

sedang  bentuk  dari ”choke bore” sendiri, ada 2 

macam : 

• Half choke bore : Bila perbedaan lubang laras di 

pangkal dan  ujung sebesar 0,02 inchi. 

• Full choke bore : Bila perbedaan lobang laras 

dipangkal dan ujung sebesar 0,04 inchi. 

 


 

C. berdasar  Arah Perputaran Alur (Senjata Riflle 

Bore)  : 

1. Senjata api dengan alur ke kiri (2,3)  

Dikenal senjata tipe COLT, kaliber senjata yang banyak 

dipakai kaliber 0.36, 0.38, 0.45, dapat diketahui dari 

anak peluru yang ada  pada tubuh korban, yaitu 

adanya goresan dan alur yang memutar ke arah kiri 

bila dilihat dari bagian basis anak peluru. 

2. Senjata api dengan alur ke kanan (2,3)  

Dikenal sebagai senjata api tipe SMITH dan WESSON 

(tipe SW), kaliber senjata yang banyak dipakai :  

kaliber 0.22, 0.36, 0.38, 0.45, 0.46 dapat diketahui dari 

anak peluru yang ada  pada tubuh korban, yaitu 

adanya goresan dan alur yang memutar kearah kanan 

bila dilihat dari bagian basis anak peluru. 

 

D. berdasar  Kecepatan Anak Peluru  (Senjata Riffle 

Bore) : 

1. Senjata api berlaras pendek (kecepatan rendah) (3)  

Misal jenis revolver (tipe colt) dan jenis pistol 

(otomatic atau mesin). 

2. Senjata api berlaras panjang (kecepatan tinggi) (3) 

Jenis senjata berburu, senjata militer, senjata api mesin 

dan senapan. 

 

E. berdasar  Tenaga Pendorong Atau Pelontar  : 

1. Senjata api (1,3) 

Yaitu senjata yang memakai  mesiu sebagai 

sumber energi kinetiknya, terdiri atas  : 

• Mesiu hitam (black powder atau smoke powder)  :   

terdiri atas belerang arang, sendawa. Yang memiliki 

ciri-ciri antara lain :  memicu  banyak asap yang 

berwarna hitam, serta sisa pembakaran, tenaga 

lontarnya kurang kuat. 

• Mesiu putih (white powder atau smokelles powder) : 

terdiri atas nitrocellulose saja (single base powder). 

 

Nitrocellulose dan nitroglycerine (double base 

powder). Yang memiliki ciri-ciri antara lain  :  

memicu  sedikit asap dengan sisa pembakaran 

yang sedikit, tenaga lontarnya lebih kuat.  

 

2. Senjata angin (1,3) 

Yaitu jenis senjata yang memakai  kompresi udara 

atau cairan CO2 sebagai sumber energi untuk 

melontarkan anak pelurunya. Dapat berbentuk senjata 

laras panjang atau laras pendek yang menyerupai 

pistol atau revolver. Beberapa jenis dari senjata angin 

itu sangat berbahaya, bila ditembakkan dengan jarak 

dekat. Pada luka ini  tidak ditemukan sisa-sisa 

mesiu. 

Selain hal di atas, untuk identifikasi senjata api (bila   

peluru dijumpai),  pertama-tama perlu dicocokan  

dengan : 

a. Kaliber (2,4) 

Kaliber dari anak peluru dapat ditentukan dengan 

beberapa cara. Untuk jenis peluru bulat/ peluru penabur, 

pengertian kaliber yaitu  jumlah anak peluru yang dapat 

dibuat dari satu pon timah (pound lead) dengan berat kira-

kira 450 gr. Dengan demikian kaliber 8 berarti dibuatnya 8 

peluru bulat dengan ukuran yang sama dari satu pon timah, 

jadi kaliber 8 lebih besar dari kaliber 10, 12, 14 dst.  

Untuk jenis peluru tunggal/ lonjong kaliber 

maksudnya garis tengah bahagian belakang anak peluru 

atau jarak pematang ke pematang misalnya colt kaliber 45 = 

garis tengah anak peluru dalam inchi, berarti : 0,45 = (450/ 

1000) x inchi = (450 x 26 mm) : 1000 = 11.7 mm. Kaliber = 

inch (1 inchi = 25,4 mm = 26 mm). 

Untuk senjata api  berburu, kaliber ditentukan dari 

jumlah peluru bulat (mimis) yang dapat dibuat dari satu 

pound timah yang besarnya sesuai dengan diameter laras. 

Kaliber yang lazim yaitu  12, 16 dan 20. Untuk peluru  

tunggal, kaliber ditentukan dari penampang atau garis 

tengah anak peluru yang dinyatakan dalam inci atau 

 

milimeter. Kaliber 38 berarti penampang anak peluru 

berdiameter 0.38 inchi dan ini sama dengan kaliber 9.65 mm 

(0.38 x 25.4 mm). Alat yang digunakan untuk mengukur 

kaliber disebut micrometer. Kaliber laras sama dengan 

kaliber anak peluru, dimana jarak diameter pematang 

dinyatakan dengan ukuran inchi atau milimeter. sebab  

anak peluru meliwati bagian dalam laras, maka akan 

memicu  goresan pada badan anak peluru. Goresan ini 

akan sama pada setiap anak peluru yang keluar dari laras 

ini  dan itu mirip dengan identifikasi pada sidik jari 

manusia. 

 

 

Kaliber 

 

b. Jumlah Dan Arah Alur (2,3,4) 

Jumlah dan arah alur pada senjata api laras beralur, 

telah dijelaskan pada halaman sebelumnya. Dimana senjata 

api laras beralur, umumnya memiliki 2-8 alur. sedang  

arah alur lintasan peluru akan melingkar dari bagian 

belakang ke arah kiri pada tipe colt dan ke arah kanan pada 

 

 

tipe Smith dan Watson, sebagaimana telah dijelaskan pada 

halaman sebelumnya, mengenai senjata. 

 

c. Jenis Peluru (3,4) 

Peluru terdiri dari selongsong, anak peluru mesiu dan 

zat pematik. Peluru biasanya merupakan nitrosellulosa 

dengan atau tanpa campuran unsur nitrogliserin yang hanya 

sedikit memicu  jelaga, sedang  zat pematik terdiri 

dari senyawa-senyawa yang mengandung unsur nitrat, Pb, 

Ba dan Sb. Pada anak peluru senjata api beralur, akan 

memicu  jejas berupa garis sejajar memanjang yang 

jumlahnya sesuai dengan jumlah alur pada laras. Dan dari 

alur itu ditentukan jumlah dan arahnya untuk dicari 

pentunjuk, jenis senjata apinya. Jejas ini pula yang nanti 

dipakai  untuk upaya identifikasi senjata api dengan 

membandingkan anatara anak peluru yang ditemukan pada 

korban dengan anak peluru hasil uji coba senjata tersangka. 

Anak peluru  yang ditembakkan, akan berjalan sesuai 

dengan lintasan proyektil.  

Kabut dan hujan akan memendekkan daya jangkau, 

sedang  kepadatan udara yang rendah (pada ketinggian) 

sebaliknya dapat memanjangkan daya jangkau. Anak peluru 

yang mengenai permukaan benda datar, dapat dipantulkan 

(rikoset) dengan kehilangan sebagian energinya. Agar dapat 

memantul sudut perkenaan haruslah kecil (7 derajat). Anak 

peluru yang jatuh bebas sesudah  ditembakkan ke atas, secara 

teoritis akan memiliki daya kinetik (dalam hal ini daya 

rusak) yang sama pada saat ditembakkan (Vo-Vt). Akan 

namun  kenyataannya haruslah diperhitungkan adanya 

tahanan udara, baik pada saat naik maupun pada saat turun, 

yang sangat mempengaruhi besarnya kecepatan akhir anak 

peluru ini .  

Pengaruh ini sangat kecil pada lintasan anak peluru 

dengan sudut tembak < 90 derajat. Lintasan anak peluru 

akan mencapai jarak terpanjan, jika  ditembakkan dengan 

sudut 30-33 derajat pada bidang horizontal (mendatar). 

Kerusakan sasaran oleh anak peluru ditentukan oleh energi 


 

kinetik anak peluru saat  mengenai sasaran (berhubungan 

dengan masa dan kecepatan), bentuk anak peluru (shape) 

dan jenis sasarannya. Peluru berotasi dengan kecepatan 

1000–2000 perdetik. Peluru untuk jenis senjata api beralur 

berbeda dari peluru untuk senjata api berlaras licin.(4,5,6) 

berdasar  jenis senjatanya, jenis peluru dibagi 

menjadi 2 yaitu : 

• Peluru penabur (gotri) merupakan peluru khusus 

untuk senjata panjang dengan lobang laras rata/ licin. 

• Peluru tunggal merupakan jenis peluru untuk senjata 

beralur, jenis pelurunya sama untuk laras pendek atau 

laras panjang. 

Ada pembagian lain dari jenis anak peluru 

berdasar  selubung pembungkusnya yaitu, berupa : 

• Anak peluru timah bulat. 

• Anak peluru timah lonjong.  

• Anak peluru bulat lonjong berselubung tembaga 

setengah (half jacket bullet). 

• Peluru bulat lonjong berselubung tembaga penuh (full 

jacket bullet). 

• Peluru khusus (latihan, cahaya). 

Pada peluru bermantel, anak peluru di bungkus 

dengan logam campuran tembaga dan kuningan untuk 

melindungi timahnya.(5,8)  

               

d. Selongsong Peluru  

yaitu  tempat mesiu dan anak peluru. Pada bagian 

pangkalnya terletak penggalak dimana pembakaran 

dimulai. Pada senjata api revolver selongsong tetap tinggal 

dalam revolving chamber, jadi tidak akan didapati di TKP 

penembakan. namun  senjata api tunggal lainnya akan keluar 

dari magasin tercampak keluar. Oleh sebab  itu biasanya 

akan didapati di TKP penembakan.(2) 

Selain hal yang tertera di atas, seorang dokter atau ahli 

forensik juga hendaknya memahami beberapa hal di bawah 

ini, seperti  : 

1. Mesiu 

yaitu  bahan padat yang bila dibakar akan 

memicu  gas yang bisa memicu  dorongan 

terhadap anak peluru. Macam-macam mesiu : 

• Mesiu hitam (black powder) campuran belerang (S) 

10%,arang (C) 15% dan sendawa (KN03) 75%, kalau 

terbakar mengeluarkan banyak asap. 1 grain = 65 mg 

menghasilkan gas sebanyak 200-300 mm3. 

• Mesiu yang mengeluarkan sedikit asap (smokeless 

powder) terdiri dari campuran nitrogliserin dan 

nitrosellulosa. 1 grain campuran ini menghasilkan gas 

sebanyak 800-900 mm3. 

• Mesiu fullminating mercury yaitu  jenis mesiu yang 

mudah sekali terbakar sebab  gesekan. Oleh sebab  itu 

dipakai sebagai pemicu dalam pembakaran dibagian 

penggalak.(2,4) 

 

2. Pegas Pelatuk 

yaitu  alat penarik pelatuk yang memiliki  

berbagai ukuran trigger pull. Triger pull 1 kg, berarti 

diperlukan 1 kg tenaga tarikan katrol anak timbangan. Hair 

trigger berarti pelatuk sangat sensitif dengan sedikit tarikan 

saja senjata sudah meletus. 

 


3. Penggalak / pematik 

Penggalak merupakan bagian dari peluru (dimana 

pembakaran dimulai) letaknya dibagian belakang/ pantat 

peluru. Ada tiga macam penggalak, yaitu : 

• Penggalak yang letaknya ditengah dasar selongsong 

(centre fire primer). 

• Rim dasar selongsong merupakan penggalak, biasanya 

untuk senjata api kaliber 22 (rim fire primer). 

• Penggalak yang merupakan suatu pin dasar 

selongsong (pin fire primer) penggalak macam ini 

sudah merupakan barang antik.(7) 

 


 

4. Kecepatan Anak Peluru 

Kecepatan anak peluru atau bisa disebut dengan daya 

tembus anak peluru sangat bergantung kepada faktor berat 

peluru (massa) dan kecepatan gerak anak peluru (velocity). 

• Pistol : Kecepatan peluru ringan biasanya rendah, 

jarang lebih dari 1000 feet/ detik 

• Revolver : Kecepatan pelurunya 600-900 feet/ detik. 

 

• Pistol Otomatis (mauser kaliber 30) : Kecepatan 

pelurunya bisa sampai 1400 feet/ detik. Penetrasi anak 

peluru pistol lebih hebat di banding anak peluru 

revolver. 

• Senjata-senjata perang. Senapan mesin dan lainnya 

yang modren, dapat mencapai lebih 2500 feet / detik. 

Rumus (formula) kekuatan menembus ini yaitu : I = 

(m.v 2) /  2    

dimana  :  i = Kekuatan menembus 

 m  =  Massa = berat anak peluru 

 v  =  Kecepatan semula.(4) 

 

5. Temperatur Peluru Waktu Ditembakkan 

Peluru yang keluar dari senjata api waktu 

ditembakkan memiliki  hawa temperatur yang lebih 

tinggi, sebab  : 

• Peluru dikeluarkan dari laras senjata api dengan bahan 

peledak, yang terbakar dan memiliki  temperatur 

tinggi. 

• Disamping itu peluru sendiri keluarnya dari laras 

memiliki  gesekan. 

Oleh sebab itu dengan temperatur bahan peledak, 

ditambah gesekan maka peluru keluar dari laras dapat 

meninggi bila dilakukan penembakan cepat (senjata 

otomatis) dimana peluru yang keluar dari satu lobang laras 

berturut-turut.(4) 

 

6. Mekanisme Kerja Senjata 

Mekanisme keja senjata, baik senjata angin maupun 

senjata api pada prinsipnya sama. Dengan memanfaatkan 

tekanan tinggi dari udara dan gas untuk melontarkan anak 

proyektil atau anak peluru keluar dari laras dengan 

kecepatan yang tinggi.  

Pada senjata angin, tekanan tinggi itu diperoleh 

dengan cara memampatkan udara atau dengan cara 

 

merubah CO2 cair menjadi gas dalam ruangan yang 

volumenya tetap. sedang  pada senjata api, tekanan yang 

tinggi diperoleh dari pembakaran mesiu sehingga dalam 

waktu sekejap berubah menjadi gas dengan volume yang 

besar di dalam ruangan yang volumenya tetap. Dari 1 gram 

mesiu dapat dihasilkan gas (CO2, CO, Hidro Sulfida dan 

Methane) antara 200-900 mililiter dengan suhu yang sangat 

panas.  

Fungsi picu itu sendiri pada senjata angin sebetulnya 

untuk melepaskan udara yang tekanannya telah dibuat 

tinggi guna melontarkan proyektil, sedang  pada senjata 

api untuk membuat pin atau pemukul penggalak melakukan 

tugasnya sehingga memicu  percikan api pada 

penggalak primer guna membakar mesiu. 

Selanjutnya anak peluru atau proyektil yang telah 

memiliki gaya kinetik itu, sesudah meninggalkan laras 

jalannya amat dipengaruhi oleh banyak hal. Seperti 

misalnya berat massa, bentuk dan diameternya, gravitasi 

serta tahanan (resistensi) udara yang dilaluinya. Akibat dari 

gravitasi itu maka arah anak peluru akan membentuk 

seperti kurva. Dimana semakin jauh dari ujung laras senjata, 

maka bentuk kurvanya semakin nyata. Mengenai daya 

tembusnya pada target sangat dipengaruhi oleh kecepatan 

(velocity). 

 


LUKA TEMBAK 

Luka Tembak ialah luka yang disebabkan adanya 

penetrasi anak peluru dengan tubuh.(1) Jika anak peluru 

mengenai tubuh, maka kelainan yang terjadi merupakan 

resultante dari banyak faktor. Pada bagian tubuh tempat 

masuknya anak peluru, bagian tubuh sebelah dalam dan 

bagian tubuh tempat keluarnya anak peluru bentuk 

kelainannya tidak sama, sebab  faktor-faktor yang 

mempengaruhinya berbeda-beda. Pada kasus luka tembak, 

perlu sekali diperhatikan hal-hal : 

A. Luka Tembak Masuk  

Pada saat seseorang melepaskan tembakan dan 

kebetulan mengenai sasaran yaitu tubuh korban, maka pada 

tubuh korban ini  akan akan didapatkan perubahan 

yang di dipicu  oleh berbagai unsur atau komponen 

yang keluar dari laras senjata api ini . 


berdasar  jarak tambakan, luka tembak masuk dapat 

dibedakan atas : 

1) Luka tembak  tempel (contact wound) 

Terjadi bila laras senjata menempel pada kulit. Luka 

masuk biasanya berbentuk bintang (stellate/ cruciform) 

sebab  tekanan gas yang tinggi waktu mencari jalan 

keluarakan merobek jaringan. Tampak nyata terutama bila 

di bawah kulit ada  tulang. Pada luka didapati jejas laras 

(memar)  bekas ujung laras yang ditempelkan pada kulit, 

berbentuk sirkuler akibat hentakan balik dari ujung laras 

senjata. Gas dan mesiu yang tidak terbakar didapati dalam 

jaringan luka (tatto). Didapati kadar CO yang tinggi, berupa 

jelaga dalam jaringan luka. Luka tembak tempel biasanya 

didapati pada kasus bunuh diri. Oleh sebab  itu sering 

didapati adanya kejang mayat (cadaveric spasme). Luka 

tembak tempel sering didapati di pelipis, dahi atau dalam 

mulut.(2,6,7) 

 

                                                                      

 

2) Luka tembak sangat dekat (close wound) 

Luka tembak masuk jarak sangat dekat (close wound) 

sering disebabkan pembunuhan. Dengan jarak sangat dekat 

(± 15 cm), maka akan didapati cincin memar, tanda-tanda 

luka bakar, jelaga dan tattoo disekitar lubang masuk. Pada 

daerah sasaran tembak didapati luka bakar sebab  semburan 

api dan gas panas, kelim jelaga (arang), kelim tattoo akibat 

mesiu yang tidak terbakar dan luka tembus dengan cincin 

memar di pinggir luka.(2,6,7) 

 

 

Luka tembak sangat dekat 

 

3) Luka tembak dekat (near wound) 

Luka dengan jarak di bawah 70 cm (sekitar 2 kaki) 

akan lubang luka, cincin memar dan tattoo di sekitar luka 

masuk. Biasanya sebab  pembunuhan. Pada luka tembak 

penting sekali memeriksa baju korban. Harus dicocokkan 

apakah lobang di tubuh korban setentang dengan lobang di 

pakaian. Pakaian korban harus dikirim ke Laboratorium 

Kriminal POLRI, untuk mendeteksi adanya partikel-partikel 

mesiu yang tidak terbakar.  

Dalam hal ini baik pada luka tembak dekat, sangat 

dekat dan juga  luka tembak tempel, perlu diperhatikan  

kemungkinan tertinggalnya materi-materi asap dan tattoo di 

pakaian korban, sebab  pada prinsipnya jika tubuh korban 

hanya didapati luka dengan cincin memar, memberi  

gambaran luka tembak jauh. Oleh sebab  itu bila korban 

 

 

luka tembak tidak memakai pakaian, jangan menentukan 

jarak luka tembak sebelum memeriksa pakaiannya.(2,6,7) 

 

 

 

Luka tembak dekat 

 

4) Luka tembak jauh (distant wound)  

Disini tidak ada kelim tatto, hanya ada luka tembus 

oleh peluru dan cincin memar. Terkadang diameter cincin 

sedikit leebih kecil dari anak peluru. Jarak penembakan sulit 

atau hampir tak mungkin ditentukan secara pasti. Tembakan 

dari jarak lebih dari 70 cm dianggap sebagai tembakan jarak 

jauh, sebab  partikel mesiu biasanya tidak mencapai sasaran 

lagi.(2,6,7) 

 

 

Luka tembak jauh 

 

 

 

 

Jenis 

luka 

tembak 

Anak peluru 

Mesi

utuh 

Mesiu 

yang 

terbakar 

Gas 

pan

as 

Luban

Keli

lecet 

Keli

lema

Keli

tattoo 

Kel

im 

jel

aga 

Keli

api 

Jejak 

laras 

Jauh >70 

cm 

+ + + - - - - 

Dekat < 

70 cm 

+ + + + - - - 

Sangat 

dekat < 

20 cm 

+ + + + + + - 

Tempel + + + - - - ++ 

 

Luka-luka yang muncul pada tempat ini (Luka 

Tembak Masuk), disebabkan oleh faktor-faktor seperti  : 

• Gaya kinetik anak peluru (proyektil). 

• Suhu panas anak peluru (proyektil). 

• Semburan api. 

• Ledakan gas dari mesiu (pada kasus trauma tembak 

tempel). 

• Percikan mesiu yang tidak terbakar. 

Bentuk cincin memar pada luka tembak masuk bisa 

tidak teratur. Ini bisa dihubungkan dengan kemungkinan 

peluru yang menembus kulit tidak bundar lagi. Misalnya 

pada peluru rikoset, oleh sebab  mengenai benda lain dulu 

sehingga bentuk anak peluru tidak seperti semula atau 

peluru yang ujungnya sudah dibelah 2 (jenis peluru dum-

dum).  

Hal lain tentang luka tembak masuk : 

a) Tembakan Richochette 

Dimana sebelum peluru mengenai tubuh korban 

mengenai barang-barang lainnya terlebih dahulu seperti 

kayu, tembok, tegel dan sebagainya.sebab  memantul, dari 

 

 

benda keras, bentuk peluru menjadi berubah. Peluru yang 

terbungkus sebagian atau seluruhnya, bungkusnya dapat 

dipecah dan terlepas dari timahnya hingga dapat menjadi 

dua atau lebih bagian yang pecah dan mengakibatkan dua 

aau lebih luka tembak masuk pada tubuh.(3,4,5) 

b) Tembakan Sipi 

Menyebutkan suatu tembakan yang pelurunya 

menyipi, yaitu peluru hanya mengenai tepi sasaran saja 

(menyerempet kulit). Bentuk luka panjang dengan tepi 

berwarna sebab  kotoran-kotoran dari peluru. Pada luka ini 

susah menentukan arah datangnya.(4,5) 

c) Tembakan Yang Tidak Tembus 

Disebut juga matte kogel, dimana peluru tidak 

memiliki  daya untuk keluar dari tubuh sesudah  

menembus. Dapat disebab kan jarak dari mulut laras ke 

korban yang jauh. Luka yang dipicu  yaitu  luka lecet 

atau luka memar yang berubah warna sebab  kotoran-

kotoran.(4,5) 

d) Tembakan Kontra 

Dalam luka tembak ada luka tembak masuk dan 

keluar, juga ada saluran luka yang biasanya lurus antara 

luka masuk dan keluar. namun  dalam tembakan kontra 

sasaran luka yang terjadi tidak lurus. Misalnya kalau peluru 

ditembakan pada kepala sebagai sasarannya dan membuat 

luka tembak masuk, di dalam terus mencari jalan yang 

paling ringan tekanannya dan peluru menempuh jalan 

didalam kepala antara otak dan tengkorak sebelah dalam 

yaitu mengikuti bentuk dari tulang sebelah dalam.  

Akibatnya ialah bahwa saluran luka tembak itu 

jalannya mengikuti bentuk tulang kepala dari dalam, 

selanjutnya sesudah peluru menempuh saluran luka tembak 

itu  lalu berhenti dalam kepala, hal ini terjadi pada tembakan 

yang mengenai senapan model lama dengan peluru bulat 

namun sekarang tidak pernah terjadi lagi.(1,4,5) 

 


 

B. Saluran Luka Tembak / Saluran Anak Peluru 

Bila peluru di dalam tubuh tidak terbentur dengan 

organ yang keras (tulang) maka saluran luka tembak masuk 

dan luka tembak keluar akan lurus. namun  bila berbenturan 

dengan organ yang keras seperti tulang maka saluran anak 

peluru dapat berbelok. Kelainan yang terjadi di sini lebih 

disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut  : 

• Gaya kinetik anak peluru atau proyektil. 

• Penyebaran gaya kinetik ke jaringan sekitarnya. 

• Gerakan giroskopik anak peluru. 

Faktor-faktor ini  di atas memicu  terjadinya 

kavitas (rongga) pada lintasan anak peluru, yang besarnya 

melebihi ukuran anak peluru. Lintasan anak peluru yang 

meliwati tulang akan meninggalkan bekas lintasan yang 

terkadang berbentuk corong dan arahnya menunjukkan arah 

jalannya anak peluru.(4,5) 

C. Luka Tembak Keluar 

Luka tembak keluar ini ialah bahwa sesudah  peluru 

membuat luka tembak masuk dan saluran luka tembakan 

maka akhirnya peluru akan mengenai kulit lagi dari sebelah 

dalam dan kulit terdorong ke luar. Kalau batas kekenyalan 

kulit dilampaui, maka kulit dari dalam menjadi robek dan 

akhirnya timbul suatu lubang luka baru lagi, dan luka baru 

inilah yang dinamakan luka tembak keluar. Jika sebuah 

peluru sesudah  membuat lubang luka tembakan masuk dan 

mengenai tulang (benda keras), maka bentuk dari pada 

peluru tadi menjadi berubah. Tulang-tulang yang kena 

peluru tadi akan menjadi patah pecah atau kadang-kadang 

remuk.  

Akibatnya waktu peluru menembus terus dan 

membuat lubang luka tembak keluar, tidak hanya peluru 

yang berubah bentuknya, tapi juga diikuti oleh pecahan-

pecahan tulang tadi oleh sebab  ikut terlempar sebab  

dorongan dari peluru. Tulang-tulang inipun kadang-kadang 

memiliki  kekuatan menembus juga. Kejadian inilah yang 

mengakibatkan luka tembakan keluar yang besar dan lebar, 

sedang  bentuknya tidak tertentu. Sering kali besar luka 

 

tembak keluar berlipat ganda dari pada besarnya luka 

tembakan masuk. Misalnya saja luka tembakan masuk 

beserta contusio ring sebesar kira-kira 8 mm dan luka 

tembakan keluar sebesar uang logam (seringgit). 

berdasar  ukurannya maka ada beberapa 

kemungkinan, yaitu: 

Bila luka tembak keluar ukurannya lebih besar dari 

luka tembak masuk, maka biasanya sebelum keluar anak 

peluru telah mengenai tulang hingga berpecahan dan 

beberapa serpihannya ikut keluar. Serpihan tulang ini bisa 

menjadi peluru baru yang membuat luka keluar menjadi 

lebih lebar. Bila luka tembak keluar ukurannya sama dengan 

luka tembak masuk, maka hal ini didapatkan bila anak 

peluru hanya mengenai jaringan lunak tubuh dan daya 

tembus waktu keluar dari kulit masih cukup besar. Luka 

yang terjadi pada tempat ini, disebabkan oleh faktor-faktor 

sebagai berikut  : 

• Gaya kinetik anak peluru. 

• Perubahan bentuk dan arah anak peluru, sesudah 

membentur bagian keras tubuh (tulang). 

• Serpihan tulang yang kemudian dapat berfungsi 

sebagai anak peluru sekunder (secondary missiles).  

Bila tidak ditemukan cincin memar disekitar lubang 

luka, maka ini merupakan patokan sebagai luka keluar. Pada 

luka keluar bisa didapati jaringan lemak menghadap  keluar, 

walaupun kadang-kadang sulit memastikannya. Bentuk dan 

besar luka keluar beragam, tergantung posisi peluru keluar 

dan kecepatan menembus kulit. Lebih mudah memastikan 

bila didapati serpihan tulang, apalagi bila dibantu foto 

rontgen.(2,3,5)  

                    

 

 

Luka tembak keluar 

Ada 3 kemungkinan yang terjadi besarnya luka 

tembak keluar (LTK) yaitu   

1) Luka tembak masuk lebih kecil dari tembak keluar 

Adapun faktor-faktor yang memicu  LTK lebih 

besar dari LTM yaitu  perubahan luas peluru, oleh sebab  

terjadi deformitas sewaktu peluru berada dalam tubuh dan 

membentur tulang, peluru sewaktu berada dalam tubuh 

mengalami perubahan gerak, misalnya sebab  terbentur 

bagian tubuh yang keras peluru bergerak berputar dari 

ujung-ujung (end to end) keadaan ini disebut “tumbling “. 

Pergerakan peluru yang lurus, menjadi tidak beraturan ini 

disebut “yawing”. Peluru pecah menjadi beberap fragmen, 

fragmen-fragmen ini akan memicu  bertambah 

besarnya LTK, bila peluru mengenai tulang dan fragmen 

tulang ini  turut terbawa keluar, maka fragmen tulang 

ini  akan membuat robekan tambahan, sehingga akan 

memperbesar luka tembak keluarnya. 

2) Luka tembak masuk sama dengan luka tembak 

keluar 

Hal ini terjadi kalau anak peluru mengenai bagian 

yang lunak dari tubuh dan daya tembus anak peluru hampir 

sama dengan w