ah satu lokasinya di bagian leher belakang telinga. Itu
sebabnya, pasien tua harus waspada jika si upik atau si buyung
punya benjolan di leher bagian belakang telinga.
Selain itu, pasien tua juga bisa mengamati gejala-gejala yang
lain. Di antaranya, batuk yang tak kunjung sembuh, gampang
sakit, nafsu makan hilang, berat badan yang tidak naik-naik atau
bahkan turun, serta demam berulang-ulang tanpa sebab yang jelas.
Namun, gejala-gejala ini bersifat subjektif sehingga tidak
selalu menjamin diagnosis yang tepat. Sebagai contoh, batuk bisa
saja disebabkan oleh alergi, radang tenggorok, asma, atau radang
paru (pneumonia). Demam yang berulang-ulang bisa saja sebab
infeksi virus. Pembesaran kelenjar getah bening pun bisa
disebabkan kuman yang lain. Gejala-gejala ini hanya sebagai salah
satu pertimbangan untuk segera berkonsultasi ke dokter ahli anak
atau ahli paru-paru.
Jika sesudah melakukan berbagai pemeriksaan di atas,
dokter menyimpulkan bahwa si anak menderita TB, itu berarti
pasien tua harus siap-siap untuk meminumkan obat kepada
anaknya secara disiplin setiap hari selama paling tidak enam
bulan. Mungkin lebih lama dari itu, tergantung resep dokter.
260
Intinya, pasien tua perlu memastikan bahwa vonis itu
dijatuhkan sesudah dokter melakukan pemeriksaan yang
menyeluruh terhadap si anak. Bukan sekadar pemeriksaan foto
rontgen. pasien tua perlu memastikan hal ini sebab vonis TB pada
anak yaitu sebuah vonis berat yang akan membawa konsekuensi
yang juga berat.
Minum Obat 6-8 Bulan
Jika sepasien anak dinyatakan menderita TB, ia harus minum
beberapa jenis obat setiap hari selama paling tidak enam bulan. Ini
bukan perkara enteng mengingat organ lever dan ginjal anak
belum berkembang sempurna.
Dalam kondisi normal, anak-anak sebetulnya sangat
dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari minum obat. Tapi
dalam kondisi TB yang sudah pasti, memang tak ada pilihan lain.
Minum obat mungkin akan membawa mudarat bagi si anak. Akan
namun jika ia tidak minum obat, mudaratnya akan jauh lebih besar
lagi. TB bisa menjadi semakin parah, semakin sulit disembuhkan,
dan mungkin akan membuat anak lebih menderita lagi. TB parah
bisa membuat paru-paru rusak dan penderita meninggal dunia.
pasien tua harus memastikan bahwa vonis dokter dilakukan
dengan akurat. Jangan sampai si anak, yang sebetulnya tidak
menderita TB, divonis menderita TB. Ini bisa saja terjadi
mengingat batuk grok-grok atau badan kurus dan tidak doyan
261
makan bisa saja disebabkan oleh penyakit lain. Jika vonis dokter
ternyata salah, maka yang akan menanggung akibatnya yaitu si
anak sebab ia harus minum sesuatu yang tidak ia perlukan selama
setengah tahun.
Disiplin, Disiplin, Disiplin
sesudah vonis TB dijatuhkan, hal terpenting berikutnya yaitu
kedisiplinan. Minum obat selama minimal enam bulan yaitu
kewajiban yang tak boleh dilupakan satu kali pun. Satu kali saja
tidak boleh lupa, apalagi satu hari atau bahkan beberapa hari.
Kuman TB yaitu salah satu kuman paling bandel dan
paling kuat di dunia. Untuk membasminya, kita perlu beberapa
macam antibiotik, tidak cukup hanya satu. Pengobatannya pun
tidak cukup beberapa hari tapi setidaknya harus enam bulan.
Selama waktu itu, pasien tua harus memastikan si anak
minum obat sesuai aturan dokter. Ini sangat penting sebab
biasanya anak-anak susah diajak kompromi untuk minum obat.
sebab itulah, pasien tua harus telaten dan disiplin. Telaten dan
disiplin. Telaten dan disiplin.
Hal ini perlu ditegaskan sebab banyak pasien tua yang,
sebab kasihan pada anaknya atau sebab tidak telaten
meninumkan obat, lantas menghentikan konsumsi obat begitu
gejala sakit si anak sudah hilang. Padahal, hilangnya gejala sakit
262
TB bukan petunjuk bahwa kuman telah terbasmi semuanya. Sekali
lagi, kuman ini dikenal sebagai kuman yang sangat bandel.
Jika pengobatan
dihentikan di tengah jalan,
maka suatu saat kuman-
kuman yang tidur itu akan
bangun lagi dan
menggerogoti tubuh si anak
di kemudian hari. Jika ini
sampai terjadi, pengobatan
berikutnya menjadi lebih
sukar. Waktu terapi pun menjadi lebih lama, bisa sampai dua
tahun tanpa henti, obatnya pun dipastikan akan lebih mahal.
Pasalnya, kuman generasi kedua ini dipastikan akan lebih
bandel dan lebih tahan terhadap obat yang terdahulu. Akibatnya,
pemilihan obat menjadi lebih sulit. pasien tua harus menyiapkan
lebih banyak duit. Masalah yang timbul pun menjadi lebih rumit.
Soalnya, semakin banyak si anak minum obat, semakin besar
kemungkinan fungsi hati dan ginjalnya terganggu.
Cegah TB dari pasien Dewasa
Sebagaimana penyakit infeksi lainnya, hal terpenting dalam
pencegahan TB yaitu menghindari penularan. pasien tua harus
Dalam kondisi digempur habis-
habisan, kuman TB akan
berusaha “mengawetkan diri”
dengan membentuk lapisan
pelindung dan tidur tanpa
makanan. Ia bisa bertahan dalam
kondisi itu dalam jangka berbulan-
bulan. Itulah sebabnya,
pengobatan TB membutuhkan
kedisiplinan ekstra.
263
memastikan tidak ada anggota keluarga atau pembantu yang
menderita TB. Jika ada, itu yaitu lampu merah buat seisi rumah.
Kalau ada anggota rumah yang menderita TB, ia harus
segera diobati agar tidak menulari anggota keluarga yang lain,
terutama anak-anak. Mereka yaitu kelompok yang paling rentan
tertular sebab daya tahan tubuh mereka relatif masih lemah.
Selain vaksin BCG, pencegahan TB pada anak harus
dimulai dengan pemberantasan TB pada pasien dewasa. Merekalah
sumber penularan. Anak-anak hanyalah korban.
Di negara kita , penyakit ini masih merupakan ancaman
serius. Pemberantasan TB yaitu tanggung jawab bersama. Semua
pasien yang dicurigai mengidapnya, harus segera pergi ke dokter.
Jika positif TB, ia harus menjalani pengobatan sampai tuntas tas!
Semua pasien di sekitarnya juga harus ikut mengingatkan agar obat
diminum dengan disiplin! Tak boleh kurang satu kali pun pun. Ini
harga pas, tak bisa ditawar!
Obat Harus Jadi Satu
Ada lima jenis obat TB yang biasa digunakan, yaitu isoniazida
(INH), rifampisin, pirazinamida, streptomisin, dan etambutol.
Sepasien pasien biasanya mendapatkan kombinasi beberapa jenis
obat ini.
Satu dekade lalu, masing-masing obat di atas dibuat dalam
tablet atau kapsul yang terpisah-pisah. Sehingga saat pasien pulang
264
dari klinik, ia biasanya membawa satu kresek obat-obatan yang
berisi beberapa jenis, dalam jumlah belasan strip.
Ini biasanya
menimbulkan masalah bagi
pasien maupun tenaga
kesehatan. Tiap hari, pasien
harus minum banyak sekali
obat. Dosis satu obat
berbeda dari obat yang lain
sehingga cara pakainya
cukup membingungkan.
Kadang, satu obat sudah
habis tapi obat yang lain
masih tersisa banyak. Padahal jika pasien keliru minum atau salah
dosis, pengobatan bisa gagal dan kuman malah menjadi kebal.
Untuk mengatasi ini, Depkes beberapa tahun yang lalu
telah membuat aturan bahwa obat TB harus diberikan dalam
bentuk kombinasi supaya memudahkan pasien dan tenaga
kesehatan. Jadi, satu tablet obat anti-TB (Depkes menyebutnya
OAT) yang sesuai standar Depkes sudah berisi beberapa macam
obat yang digabung jadi satu. Pasien hanya perlu menelan satu
obat saja dalam satu dosis. Ia tidak perlu dipusingkan dengan
empat macam obat.
Banyak Makan Protein
Selama minum obat TB, pasien
dianjurkan banyak mengonsumsi
makanan dan minuman yang
banyak mengandung protein seperti
ikan, telur, daging, ayam, tempe,
tahu, susu, dan sebagainya. Protein
ini diperlukan untuk menjaga daya
tahan tubuhnya terhadap kuman TB
sekaligus terhadap gempuran obat
yang ia minum berbulan-bulan.
265
Jadi, kalau Anda mendapatkan obat TB tapi dalam
sediaan yang terpisah-pisah, itu berarti obat tersebut mungkin
tidak sesuai standar Kementerian Kesehatan. Tapi ini tidak berarti
bahwa obat tersebut tidak efektif. Keduanya sama-sama efektif
asalkan diminum dengan disiplin. Disiplin yaitu kata kuncinya.
Meski begitu, obat yang digabung memang lebih memudahkan
pasien dan meminimalkan timbulnya masalah kepatuhan.
Kalau kita menginginkan obat yang digabung, kita bisa
pergi ke layanan kesehatan pemerintah seperti Puskesmas atau
rumah sakit umum daerah (RSUD). Di sini biasanya kita akan
mendapatkan obat standar.
Pemerintah memang sengaja membuat program
penggabungan obat TB sebab belajar dari pengalaman. Pada satu
dekade lalu pemberantasan TB kurang berhasil sebab pasien tidak
patuh minum obat. Padahal, ketidakpatuhan yaitu masalah
utama dalam terapi TB.
Biasanya, sesudah minum obat selama dua bulan, pasien
merasa sehat lalu berhenti minum obat. Padahal, kondisi sehat itu
tidak berarti bahwa kuman TB sudah terbasmi secara sempurna.
Pasien memang sudah sehat, tapi kuman masih bersembunyi di
dalam tubuh. Pengobatan hanya dianggap tuntas kalau pasien
minum obat selama 6–8 bulan.
266
Ketidakpatuh
an minum obat ini
merupakan masalah
besar dalam
penanggulangan TB.
Jika pasien tidak
patuh, kuman TB bisa
menjadi kebal dan
lebih ganas. Jika itu
terjadi, pengobatan
selanjutnya akan
menjadi lebih rumit,
pemilihan obat jadi
lebih sulit, waktu
pengobatan lebih
lama, biayanya pun
lebih mahal. Lebih
dari itu, pasien juga
akan menjadi sumber
penularan yang
berbahaya. Ia tidak
sekadar menularkan kuman TB biasa, tapi kuman TB yang kebal
dan ganas.
“Malaikat”
Pengawas Minum Obat
Ketidakpatuhan minum obat
merupakan masalah sangat serius yang
menghambat pemberantasan TB. sebab
itu, dalam pedoman Kemenkes, semua
penderita TB harus diawasi oleh
pasien yang melakukan tugas
waskat—pengawasan melekat. Setiap
pasien TB harus punya sepasien
pendamping yang disebut sebagai
Pengawas Menelan Obat (PMO).
Persyaratan ini tidak boleh ditawar.
Pengawas ini umumnya anggota
keluarga yang tinggal serumah dengan
pasien. Ia dilatih secara khusus, tugasnya
memastikan pasien minum obat secara
disiplin dalam waktu yang telah
ditentukan. Tugas pengawas ini tidak
sekadar seperti jam weker yang
mengingatkan pasien agar mimun obat. Ia
harus mengawasi dan memastikan pasien
benar-benar menelan obatnya. Ia harus
benar-benar “hakulyakin” dan dengan
matanya sendiri melihat si pasien
menelan obatnya.
267
Lebih Baik ke Puskesmas
Pemberantasan TB menuntut komitmen dari semua pihak. Bukan
hanya pasien yang dituntut disiplin minum obat, pemerintah dan
sarana pelayanan kesehatan pun dituntut disiplin memastikan obat
TB gabungan selalu tersedia. Jangan sampai pasien putus obat
hanya sebab ia tidak mendapatkannya di sarana pelayanan
kesehatan.
Sayangnya, sampai saat ini mungkin belum semua
pelayanan kesehatan mengikuti cara standar Pemerintah. Belum
semua apotek atau klinik memiliki obat TB gabungan sesuai
standar.
Jika begitu, apa yang bisa dilakukan pasien TB agar bisa
mendapatkan pelayanan standar? Jawabannya mungkin terdengar
mengherankan bagi sebagian kalangan: dibandingkan ke rumah sakit
swasta, lebih baik datanglah ke Puskesmas! Ya, datanglah ke Pusat
Kesehatan Masyarakat yang selama ini sering dianggap sebagai
sarana pelayanan kesehatan kelas bawah itu.
Dalam urusan penanggulangan TB, Puskesmas secara
umum lebih bisa diandalkan dibandingkan rumah sakit swasta. Hampir
seluruh Puskesmas sudah menerapkan standar yang ditetapkan
Pemerintah. Sementara, mungkin belum semua layanan kesehatan
swasta menerapkannya.
268
Kalau pasien datang ke layanan swasta, ada kemungkinan
ia mendapatkan obat yang tidak standar. Sebaliknya, kalau ia
datang ke Puskesmas, kemungkinan besar ia akan mendapatkan
pelayanan standar. Dalam urusan penyakit lain, mungkin rumah
sakit swasta lebih unggul. Tapi dalam perkara TB ini, Puskesmas
lebih bisa diandalkan.
Tak perlu khawatir jika, misalnya, ternyata penderita
memerlukan perawatan yang fasilitasnya tidak dimiliki oleh
Puskesmas. Jika itu terjadi, Puskesmas akan merujuk pasien ke
rumah sakit yang memang telah memakai standar Kemenkes.
Keuntungan lain buat pasien, di Puskesmas, obat TB
standar ini sama sekali gratis. Pasien tidak perlu membayar sebab
memang tanggung jawab penyediaan obat ini ada di tangan
pemerintah. Dengan datang ke Puskesmas, pasien secara tidak
langsung telah membantu program Pemerintah memberantas TB.
Di Puskesmas, semua data penderita TB tercatat secara nasional.
Ini akan memudahkan pemerintah dalam memantau keberhasilan
program pemberantasan TB.
Dokumentasi ini merupakan salah satu strategi penting
dalam pemberantasan TB. Puskesmas memang mendapat amanat
untuk memantau perkembangan pasien sampai ia sembuh. Jika,
misalnya, pasien tidak kembali ke Puskesmas sebelum dinyatakan
sembuh, maka pihak Puskesmas akan melacaknya untuk
269
memastikan bahwa pasien tidak putus obat sesuai amanat
Pemerintah.
Sebagian
Puskesmas tertentu
bahkan menerapkan
strategi yang lebih ketat.
Semua pasien dan
pengawas minum obat
harus menandatangani
semacam surat
perjanjian kontrak yang
menyatakan bahwa
pasien akan menjalani
pengobatan sampai
tuntas.
TB memang
bukan penyakit yang
bisa diremehkan.
Penyakit ini mudah
menular melalui
percikan batuk
penderita. Di tahun
2012, jumlah
PENCEGAHAN
Agar terhindari dari TB, kita bisa
melakukan upaya pencegahan sbb:
Pastikan anak mendapat vaksinasi
BCG.
Perkecil kemungkinan kontak dengan
penderita.
Atur jendela rumah supaya sinar
matahari bisa masuk ke dalam rumah
sebab kuman TB bisa mati jika
terkena sinar matahari.
Terapkan pola hidup sehat, jaga daya
tahan tubuh. Sebagian besar kita
mungkin pernah terpapar kuman ini.
Meski terpapar, kita tidak lantas
menjadi sakit TB jika daya tahan
tubuh kita baik.
Jika ada yang sakit, ia harus segera
diobati. sesudah dua bulan
pengobatan, ia tidak lagi menularkan
penyakitnya meskipun penyakitnya
belum sembuh total. Saat batuk, ia
harus menutup mulutnya.
270
penderitanya di negara kita diperkirakan masih 450 ribu pasien .
Padahal, tiap satu pasien penderita TB yang aktif bisa menularkan
kuman ini kepada 10–15 pasien lain. Itu sebabnya, penyakit ini
harus diberantas dengan gerakan terpadu secara nasional.
271
24
OBAT ASAM URAT
Apa beda antara rematik, linu, encok, dan asam urat?
Dalam kamus bahasa awam, keempat istilah ini biasa dianggap
sekupang dua ringgit alias tak ada bedanya. Dan sebab dianggap
tak ada bedanya, obat untuk semua keluhan di atas pun dianggap
sama.
Dalam pandangan medis, ini jelas keliru. Menurut ilmu
kedokteran, sebuah penyakit harus disebut dengan nama yang
jelas, khas, spesifik agar obatnya tidak tertukar dengan obat
penyakit lainnya. sebab itu, untuk menyamakan pengertian di
buku ini, mari kita sepakati dulu pengertian istilah-istilah
“perematikan”.
272
Rematik. Ini bukanlah nama sebuah penyakit, melainkan nama
umum untuk penyakit-penyakit yang ditandai dengan gejala
nyeri/encok/linu di sendi, tulang, dan otot. Total ada sekitar dua
ratusan jenis penyakit rematik. Asam urat hanya salah satunya.
Asam urat. Ini merupakan salah satu jenis penyakit rematik.
Dalam bahasa medis, disebut artritis gout. Penyebabnya yaitu
endapan kristal asam urat yang menyerang persendian. Asam urat
ini berasal dari makanan tertentu seperti jeroan, seafood, daging
merah, dsb. Yang diserang yaitu persendian (engsel tulang),
misalnya ruas-ruas jari, terutama jari kaki, tumit, lutut, dan
pergelangan tangan.
Cirinya, sakit ini dipicu oleh makanan tertentu dan terjadi
pada persendian, biasanya diawali dari sendi jempol kaki. Kalau
tidak dipicu oleh makanan, atau tidak terjadi di persendian, itu
biasanya bukan penyakit asam urat. Jadi, kalau rasa nyerinya di
paha, belikat, punggung, pinggang, biasanya itu bukan asam urat.
Obat asam urat berbeda dari obat rematik jenis lainnya. Jadi,
jangan sampai keliru. Sebagian obat asam urat bekerja dengan
cara membantu tubuh menurunkan kadar asam urat. Kalau
diminum penderita rematik jenis lain tentu mubazir.
273
Pengapuran sendi. Penyakit ini sering disalah sangka sebagai
asam urat padahal sama sekali berbeda. Dalam istilah medis,
pengapuran sendi disebut osteoartritis. Osteo- berati tulang, artritis
berarti radang sendi.
Penyakit ini biasanya terjadi pada pasien lanjut usia sebab
bantalan sendi mengalami kerusakan, biasanya terjadi di lutut,
bukan di sendi jari atau tangan. Kerusakan jaringan sendi
disebabkan oleh pengaruh beban yang terus-menerus.
Kemungkinan timbulnya penyakit ini makin besar pada pasien
gemuk atau pasien yang sehari-hari bekerja mengangkat beban.
Beban berat ini akan menyebabkan bantalan sendi di lutut aus
sehingga bagian saraf di tulang akan tertekan saat sendi
digerakkan. Kadang sendi itu sampai mengeluarkan suara
gemeretak saat digerakkan.
Yang jelas, penyebab utamanya bukan makanan seperti
jeroan, seafood, daging, atau sejenisnya. Rasa nyeri timbul sebab
bantalan sendi yang melindungi saraf sudah aus.
Rheumatoid arthritis. Belum ada istilah awam untuk jenis penyakit
ini. Yang jelas, ini jenis rematik bawaan yang disebabkan oleh
gangguan sistem imun (pertahanan tubuh). Sistem imun yang
mestinya bertugas melindungi tubuh malah menyerang tubuh
sendiri dan menyebabkan nyeri di sendi-sendi.
274
Gejalanya bisa jadi mirip dengan asam urat sebab sama-
sama menyerang persendian. Tapi penyebabnya bukan endapan
kristal asam urat dan sebab itu obatnya pun berbeda dari obat
asam urat. Sebagai pasien awam, kita sulit membedakannya dari
rematik jenis lain. Ini sepenuhnya wilayah dokter.
Pegel linu. Biasanya sebutan ini digunakan untuk pegal-pegal dan
nyeri di sekujur otot akibat kerja fisik yang keras (bukan sebab
makanan). Kalau penyebabnya yaitu kerja fisik yang keras, tentu
ini jauh berbeda dari asam urat. Jadi, kalau dilawan dengan obat
asam urat tentu muspra alias sia-sia.
Nyeri pada pegel linu terjadi sebab otot kecapekan bekerja,
bisa juga sebab otot keseleo. Keluhan pegal linu biasanya terjadi
tidak seketika sesudah bekerja keras melainkan sekitar semalam
sesudahnya. Dan biasanya akan pelan-pelan menghilang jika otot
diistirahatkan. Jadi, kalau nyeri bisa hilang dengan pijat, balsem,
atau mandi air hangat, kemungkinan kecil itu gangguan asam urat.
Selain beberapa contoh di atas, nyeri mirip rematik bisa juga
disebabkan oleh masalah saraf. Ini juga tak ada kaitannya dengan
asam urat. Di bab ini kita akan fokus membahas masalah asam
urat.
275
Biang Asam Urat
Kata urat dalam asam urat tidak berkaitan dengan kata urat dalam
bahasa negara kita yang berarti otot atau pembuluh. Asam urat yaitu
terjemahan dari uric acid. Urat di sini berasal dari kata yang sama
dengan urine (air kemih).
Asam urat memang seharusnya dibuang lewat air kemih.
Tapi sebab metabolisme tubuh terganggu, proses pembuangan
tidak berjalan dengan baik. Akibatnya, asam urat akan menumpuk
dan mengkristal. Bentuk kristalnya serupa jarum-jarum kecil.
“Jarum-jarum neraka” ini menyebabkan terjadinya radang
(inflamasi) yang menyebabkan nyeri hebat pada sendi yang
terkena, disertai dengan bengkak, kemerahan, dan rasa panas.
Nyeri akibat asam urat memang juga bisa terjadi di lutut
seperti pada pengapuran sendi, tapi pada umumnya organ yang
pertama diserang yaitu ruas jari kaki, utamanya ruas jempol.
Hingga sekarang, para ahli belum bisa memastikan kenapa
pasien menderita gangguan asam urat. Yang pasti, ada faktor
keturunan. pasien yang lahir dari pasien tua penderita asam urat
akan punya kecenderungan menderita penyakit yang sama.
Kemungkinan menderita juga lebih tinggi pada pasien gemuk,
punya darah tinggi, dan banyak makan jeroan, seafood, atau
daging.
276
Kebanyakan penderita asam urat yaitu pria berusia
lanjut. Kabar buruknya, para ilmuwan sampai sekarang belum
bisa menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Tapi
kabar baiknya, penyakit ini bisa dikendalikan dengan baik
sehingga penderitanya bisa sehat tanpa gangguan berarti.
Asam urat terbuat dari satu zat yang disebut purin. Zat
purin ini banyak terdapat di makanan kita sehari-hari. Oleh sebab
purin berasal dari makanan, maka pengendalian penyakit asam
urat pun harus dilakukan lewat makanan.
Ada banyak sekali makanan yang mengandung purin. Tapi
tidak semua jenis makanan berpurin akan mencetuskan nyeri.
Masing-masing pasien memiliki kepekaan yang berbeda terhadap
makanan-makanan itu.
Secara umum, bahan-bahan di tabel berikut bisa menjadi
pencetus asam urat, tergantung kepekaan masing-masing pasien .
Tapi ini hanya pedoman kasar. Sebagai contoh, pada sebagian
pasien , melinjo atau kacang bisa mencetuskan asam urat tapi pada
pasien lain tidak. Itu sebabnya, setiap penderita harus punya daftar
sendiri jenis makanan yang memicu nyeri pada dirinya.
Kelompok Contoh makanan
Jeroan otak, jantung, ginjal, paru, hati, limpa, usus, dsj
Alkohol minuman beralkohol, tape, durian, bir
277
Seafood kerang, kepiting, udang, cumi-cumi, ikan teri,
sarden, ikan asin, ikan pindang
Daging/kaldu babi, bebek, entok, sapi, kambing, ayam
Kacang kacang tanah, kedelai, dsj
Sayuran jamur, asparagus, kembang kol, bayam
Lain-lain melinjo, makanan yang mengandung ragi
Dari tabel di atas, yang paling perlu dijauhi yaitu
golongan jeroan, alkohol, dan seafood. Sebagian besar ikan (selain
yang disebut di atas), daging ayam, tahu, tempe, kacang-kacangan,
dan sayuran biasanya masih bisa dikonsumsi secara wajar.
Purin Bukan Satu-Satunya Kambing Hitam
Melihat daftar makanan di atas, kita mungkin akan bertanya-
tanya: kalau semua makanan di atas harus dihindari, lantas apa
yang boleh dimakan penderita asam urat?
Sekali lagi, daftar di atas hanya perkiraan kasar makanan
yang harus diwaspadai. Reaksi masing-masing pasien terhadap
makanan-makanan tersebut bisa saja berbeda. Jenis dan jumlah
makanan bisa sangat mempengaruhi. pasien mungkin bisa
terserang asam urat kalau makan gulai daging tapi tidak apa-apa
saat makan bakso daging.
278
Purin, biang asam urat itu, sebetulnya merupakan zat yang
secara alami ada di dalam tubuh kita dan terkandung di dalam
hampir semua jenis makanan berprotein, dalam kadar yang
berbeda-beda. Kita tidak mungkin menghindari purin. Yang perlu
dilakukan hanyalah membatasi konsumsinya supaya tidak terlalu
banyak.
Tinggi rendahnya kandungan purin suatu makanan atau
minuman tidak selalu berbanding lurus dengan kemungkinan
serangan asam urat. Kopi, misalnya. Minuman ini banyak
mengandung kafein. Kafein sendiri merupakan salah satu bentuk
purin. Tapi yang unik, sebagian penelitian malah menunjukkan
bahwa kopi bisa bermanfaat bagi penderita asam urat.
Tentu saja kita tidak lantas bisa mengonsumsinya banyak-
banyak sebab kopi bisa membuat jantung berdebar-debar dan
mungkin akan membuat kita mengantuk kalau tidak
meminumnya. Satu cangkir sehari mungkin bisa memberi manfaat
untuk mencegah serangan asam urat tanpa banyak menimbulkan
mudarat.
Pencegahan Lain
Selain dianjurkan untuk sebisa mungkin menghindari makanan-
makanan di atas, penderita asam urat juga dianjurkan untuk:
279
Banyak minum air putih. Penderita asam urat sebaiknya minum
air putih lebih banyak dibandingkan pasien kebanyakan. Pada saat
terkena serangan, penderita harus minum air lebih banyak lagi
dibandingkan hari-hari biasa. Air sangat diperlukan untuk membantu
pengeluaran asam urat dari dalam tubuh.
Perbanyak makan buah yang banyak mengandung vitamin C.
Vitamin ini menurut penelitian bisa menurunkan kadar asam urat
dan memperkecil kemungkinan terkena serangannya.
Kurangi makan lemak. Selain mempertinggi kemungkinan
penyakit jantung, lemak tinggi juga akan membuat asam urat lebih
sulit dikeluarkan dari dalam tubuh.
Ganti sumber protein hewani ke protein nabati. Sebetulnya
sumber protein nabati seperti tahu dan tempe pun mengandung
purin. Tapi jika dibandingkan dengan daging hewan,
kemungkiannya menjadi pencetus nyeri jauh lebih kecil. Secara
umum, penderita asam urat dianjurkan lebih banyak
mengonsumsi makanan nabati dibandingkan makanan-makanan
hewani. Bukan berarti penderita asam urat tidak boleh makan
protein hewani sama sekali. Boleh saja tapi jumlahnya dibatasi
sesuai batas amannya.
Lakukan olahraga secara rutin. Olahraga bisa membuat
metabolisme tubuh lebih lancar. Jika metabolisme lancar,
pengeluaran asam urat pun akan lebih lancar.
280
Hindari stres dan kelelahan fisik. Ketegangan mental maupun
ketegangan fisik harus dihindari sebab keduanya bisa
mempertinggi kemungkinan serangan asam urat.
Usahakan langsing. Kegemukan merupakan salah satu faktor
yang bisa meningkatkan kemungkinan menderita gangguan asam
urat. Meski dianjurkan langsing, penderita asam urat sangat tidak
dianjurkan melakukan diet tinggi protein seperti yang kini banyak
dilakukan di pusat-pusat kebugaran. Sebab, diet tinggi protein
justru akan meningkatkan kemungkinan gangguan asam urat.
Obat Asam Urat
Asam urat termasuk penyakit yang berada di wilayah dokter.
Pasien sebaiknya tidak melakukan pengobatan sendiri. Begitu
terkena serangan asam urat, pasien sebaiknya langsung ke dokter.
Jika pasien sudah pernah terkena serangan asam urat,
sebaiknya ia punya persediaan obatnya di kotak P3K, paling tidak
untuk pertolongan pertama pereda nyeri.
Berdasarkan tujuannya, obat asam urat dibedakan menjadi
dua, yaitu obat pertolongan pertama dan obat untuk pencegahan.
1. Pertolongan pertama
a. Antinyeri (analgesik). Untuk mengatasi rasa nyeri, pasien
memerlukan obat antinyeri yang cukup kuat. Pereda nyeri
281
sekelas parasetamol biasanya tidak cukup kuat untuk
melawan nyeri akibat asam urat. sebab cara kerjanya
hanya meredakan nyeri dan radang, obat kelompok ini
sama sekali tidak berurusan dengan kristal asam uratnya.
Dan sebab khasiatnya meredakan nyeri, obat-obat ini
biasa juga diresepkan untuk rematik jenis lain.
Hampir semua antinyeri kuat yaitu obat resep, bukan
obat bebas. Antinyeri agak kuat yang masih bisa dibeli
tanpa resep misalnya ibuprofen. Adapun sebagian besar
lainnya termasuk obat resep, misalnya diklofenak,
piroksikam, meloksikam, ketoprofen, tinoridin.
Obat-obat di atas termasuk pereda nyeri “kelas berat”
dan bisa mengiritasi lambung. Oleh sebab itu obat-obat
ini sebaiknya diminum bersama makanan, dan digunakan
dengan sangat hati-hati pada penderita sakit mag.
Selain itu, obat golongan ini juga bisa meningkatkan
kemungkinan masalah jantung dan pembuluh darah.
sebab itu, jangan gunakan obat-obat di atas kecuali atas
petunjuk dokter.
Begitu nyeri sudah hilang, pemakaian obat pereda
nyeri sebaiknya dihentikan untuk menghindari efek
buruknya.
282
Untuk mengurangi efek iritasi lambung, tablet obat-
obat ini biasanya dilapisi selaput tipis yang menjaga obat
bisa melewati lambung dalam keadaan utuh dan baru
pecah saat di usus. Sebagai konsumen awam, kita
mungkin sulit membedakan tablet yang berselaput dan
yang tidak. Gampangnya, kita harus menelan obat-obat di
atas dalam keadaan utuh, jangan sampai dibelah atau
dikunyah.
Obat Contoh merek dagang
Diklofenak Cataflam®, Voltaren®, Abdiflam®, Aclonac®, Alflam®,
Anuva®, Araclof®, Atranac®, Catanac®, Deflamat®,
Dicloflam®, Diflam®, Divoltar®, Eflagen®, Elithris 50®,
Exaflam®, Fenavel®, Flamar®, Flamic®, Flamigra®,
Flamsy®, Flazen 50®, Galtaren®, Gratheos®, Inflam®,
Kadiflam®, Kaditic®, Kaflam®, Kamaflam®, Klotaren®,
Laflanac®, Linac SR®, Matsunaflam®, Merflam®,
Mirax®, Nacoflar®, Nadifen®, Neurofenac®,
Nichoflam®, Nilaren®, Proklaf®, Provoltar®, Raost®,
Reclofen®, Renadinac®, Renvol®, Scanaflam®,
Tirmaclo®, Troflam®, Valto®, Volmatik®, Voltadex®,
Voren®, Xepathritis®, X-Flam®, Yariflam®, Zegren®
Piroksikam Feldene®, Campain®, Felcam®, Feldco®, Grazeo®,
Infeld®, Kifadene®, Lanareuma®, Licofel®, Pirocam®,
Pirofel®, Rexicam®, Rexil®, Roxidene®, Scandene®,
Tropidene®, Xicalom®
283
Meloksikam Movi-Cox®, Arimed®, Artrilox®, Atrocox®, Cameloc®,
Denilox®, Flamoxi®, Flasicox®, Futamel®, Hexcam®,
Loxil®, Loximei®, Loxinic®, Mecox®, Meflam®,
Melogra®, Meloxin®, Mevilox®, Mexpharm®,
Mobiflex®, Movix®, Moxam®, Moxic®, Nulox®,
Ostelox®, Paxicam®, Relox®, Remacam®, Remelox®,
Rhemacox®, Velcox®, X-Cam®
Ketoprofen Profenid®, Altofen®, Anrema®, Fetik®, Gatofen®,
Hextrofen®, Kaltrofen®, Ketros®, Lantiflam®,
Molaflam®, Nasaflam®, Nazovel®, Noflam®, Ovurila
E®, Profecom®, Profika®, Pronalges®, Protofen®,
Remapro®, Rhetoflam®, Rofiden®, Suprafenid®
Tinoridin Nonflamin®
b. Kortikosteroid. Untuk menghilangkan radang, dokter
mungkin akan meresepkan kortikosteroid seperti
prednisolon, deksametason, dsb. Obat ini memiliki
banyak efek samping. sebab itu pastikan Anda
mengonsumsinya sesuai dengan petunjuk dokter. Baca
juga Bab Kortikosteroid.
c. Kolcisin. Obat ini bukan golongan pereda nyeri melainkan
antiradang. Termasuk obat “sangat keras” sebab punya
banyak efek buruk misalnya muntah dan diare. Batas
keamanannya juga sangat sempit, kelebihan dosis sedikit
284
saja bisa berefek fatal. sebab itu, gunakan hanya sesuai
petunjuk dokter. Contoh merek dagang: Recolfar®.
2. Obat untuk pencegahan. Obat kelompok ini bekerja
menurunkan kadar asam urat, tidak menghilangkan nyeri,
sehingga tidak cocok untuk pertolongan pertama. Dan
memang sebaiknya obat kelompok ini tidak diminum saat
P3K Non-Obat
Sembari menunggu obat-obat di atas bekerja, kita
bisa mengurangi radang dengan memakai es batu.
Caranya:
Masukkan es batu ke dalam plastik (atau gunakan
kantong es jika punya).
Lapisi kantong es dengan handuk lalu tempelkan ke
bagian sendi yang meradang.
Tahan sekitar beberapa belas menit sesudah itu angkat.
Biarkan bagian yang radang itu kembali ke suhu normal.
sesudah suhunya kembali normal, kita bisa
menempelkan kantong es berlapis handuk itu lagi. Yang
penting, kalau mau mengulangi lagi, pastikan suhu
bagian yang radang itu sudah kembali ke suhu normal.
Jangan menempelkan kantong es langsung ke kulit
tanpa lapisan handuk sebab suhu yang terlalu dingin
bisa merusak jaringan yang sakit.
285
terjadi serangan asam urat, melainkan diminum pada saat
serangan sudah mereda.
Akan namun jika memang sebelumnya pasien sudah minum
obat ini secara rutin, maka ia tidak perlu menghentikannya
saat terkena serangan asam urat.
Tujuan minum obat ini bukan untuk meredakan radang
melainkan untuk mencegah terjadinya serangan berikutnya.
Semua obat di kelompok ini tergolong obat keras. Di
kelompok ini, obat masih dibagi lagi menjadi dua
subkelompok berdasarkan cara kerjanya.
a. Obat yang menurukan produksi asam urat. Contoh
alopurinol. Ini obat penurun asam urat yang paling
banyak beredar di negara kita . Biasanya pasien asam urat
akan pulang dari dokter dan apotek membawa obat ini.
Sekali lagi, obat ini sebaiknya tidak diminum pada saat
terjadinya serangan asam urat. Pasalnya, pada saat awal
kita minum alopurinol, kadar asam urat mungkin justru
akan meningkatkan sebentar sebelum kemudian turun.
Jadi, obat ini sebaiknya hanya diminum sesudah
serangannya reda. Ini sesuai dengan fungsinya sebagai
obat pencegahan, bukan untuk P3K. Selain itu, minum
alopurinol pada saat serangan justru mungkin membuat
kristal asam urat berpindah ke jaringan lain.
286
Obat Contoh merek dagang
Alopurinol Zyloric®, Algut®, Alluric®, Alodan®, Alofar®,
Benoxuric®, Decasurik®, Hycemia®, Isoric®,
Kemorinol®, Licoric®, Linogra®, Mediuric®, Nilapur®,
Omeric®, Ponuric®, Pritanol®, Puricemia®, Purinic,
Reucid®, Rinolic®, Selespurin®, Sinoric®, Tylonic®,
Urica®, Uricnol®, Uroquad®, Xanturic®
b. Obat yang membantu pengeluaran asam urat lewat urine.
Contoh probenesid. Dibandingkan alopurinol, obat ini
lebih jarang digunakan. Contoh merek dagang: Probenid®.
Seperti alopurinol, obat ini hanya untuk diminum pada
saat serangan nyeri sudah mereda. Jika diminum pada saat
serangan asam urat terjadi, dikhawatirkan akan
menyebabkan kristal asam urat justru akan menyebar ke
jaringan tubuh lainnya.
Jamu dan Obat Herbal
Hingga saat ini gangguan asam urat memang masih termasuk
penyakit yang belum bisa disembuhkan. Maka tidak
mengherankan banyak penderita yang kemudian berpaling ke obat
tradisional.
287
Banyak bahan herbal yang menurut penelitian atau
berdasarkan pengalaman memang bisa menurunkan kemungkinan
serangan asam urat. Tapi, harap dicatat, hingga sekarang tidak ada
satu pun obat tradisional maupun obat modern yang terbukti
benar-benar bisa menyembuhkan asam urat. Jadi, jangan mudah
percaya kepada iklan obat herbal yang mengklaim produk itu bisa
menyembuhkan asam urat.
Di pasar banyak sekali jenis jamu yang diklaim sebagai
obat asam urat. Jika Anda yakin jamu itu seratus persen herbal,
silakan mengonsumsinya sesuai aturan. Beberapa perusahaan
farmasi nasional memang memproduksi jamu/obat herbal seperti
ini. Prouric® dan sejenisnya termasuk kategori ini.
Namun, sebagai konsumen kita harus hati-hati memilih
jamu. Jangan sampai kita mengonsumsi jamu yang sudah
dicampur dengan bahan kimia. Di pasaran masih banyak
produsen jamu rematik yang dicampur dengan kortikosteroid dan
fenilbutazon.
Fenilbutazon yaitu salah satu pereda nyeri kuat yang
memiliki banyak efek samping. Termasuk obat “keras sekali”, obat
ini di beberapa negara tidak boleh lagi digunakan pada manusia
sebab bisa merusak sumsum tulang belakang. Hanya boleh
digunakan pada hewan yang dagingnya tidak dikonsumsi seperti
288
kuda atau anjing—ya, kedua hewan ini memang bisa juga terkena
encok!
Di negara kita , obat ini masih boleh beredar dan digunakan
untuk manusia tapi kini sudah jarang diresepkan, dan justru
banyak dimanfaatkan oleh produsen jamu nakal.
Jamu-jamu seperti ini memang bisa cespleng sekali. Begitu
kita minum, nyeri langsung hilang sebab memang isinya obat-
obat kelas berat yang kita tidak tahu apa saja isinya dan berapa
dosisnya.
Jamu/obat herbal asam urat yang baik mestinya berfungsi
untuk pencegahan, bukan pertolongan pertama. Kalau sebuah
produk jamu diklaim bisa menghilangkan rasa nyeri saat serangan
terjadi, hampir bisa dipastikan obat itu berisi obat kimia sintetis.
Bagaimanapun, minum obat herbal yaitu hak pasien.
Tapi pasien yang cerdas tak mudah dikibuli pabrik jamu.
Penyakti asam urat memang termasuk salah satu penyakit
yang tak mudah diobati. Jika tidak dikendalikan dengan baik,
gangguan asam urat bisa menjadi kronis. Ini harus dihindari.
Gangguan asam urat sebisa mungkin harus dikendalikan
dengan baik, entah dengan obat modern atau obat tradisional.
Kalau tidak, maka penderita akan sering minum obat pereda nyeri
jangka panjang.
Padahal jika diminum jangka panjang, obat-obat ini bisa
menyebabkan sakit mag. Ini yang repot. Kalau sudah terkena
289
asam urat ditambah sakit mag, pengobatan kedua penyakit ini
akan lebih sulit. Asam uratnya lebih sulit ditangani. Sakit magnya
akan makin sering kambuh lagi.
290
25
OBAT GENERIK
Setali pembeli kemenyan, sekupang pembeli ketaya
Sekali lancung keujian, seumur hidup pasien tak percaya
------
Pantun Melayu lawas di atas barangkali masih bisa memberi
gambaran yang pas terhadap masalah sosialisasi obat generik di
negara kita saat ini. Sekalipun sudah lebih dari dua dasawarsa
kebijakan ini diterapkan di negara kita , masih saja banyak kalangan
yang enggan memakai nya. Alasannya klasik: harga obat
generik memang murah tapi khasiatnya masih diragukan.
291
Bukan hanya masyarakat awam yang berpandangan seperti
ini. Sebagian dokter pun berpandangan serupa dan enggan
meresepkan obat generik. Kalau dokter saja menganggap obat
generik tidak efektif, tentu ini sebuah masalah serius sebab tenaga
kesehatan yaitu ujung tombak sosialisi program ini. Laporan
dokter tentang obat generik yang tidak ampuh bukan satu atau dua
tapi cukup banyak. Kalau mau tahu pendapat langsung para
dokter tentang obat generik, silakan lihat arsip milis Dokter
negara kita . (Milis ini hanya khusus untuk dokter tapi arsipnya bisa
diakses siapa saja.)
Kita memang tidak bisa membuat sebuah kesimpulan umum
berdasarkan testimoni pasien per pasien . Akan namun , banyaknya
laporan tersebut setidaknya membuat kita layak bertanya: jangan-
jangan memang benar bahwa di pasaran ada banyak produk obat
generik yang tidak ampuh. Bagaimanapun, ketidakpercayaan
sebagian dokter dan masyarakat tentu harus dijadikan bahan
introspeksi oleh Pemerintah dan industri farmasi, bukannya
sekadar dianggap angin lalu atau dicela sebagai alasan yang
mengada-ada.
Mengapa dokter tidak percaya? Pertanyaan ini perlu dijawab
lebih dulu sebelum mencari jawaban dari pertanyaan berikutnya:
Mengapa dokter enggan meresepkannya? Dua pertanyaan ini bisa
saja memberi jawaban yang berbeda. Untuk menjawab pertanyaan
292
pertama, kita harus melihat dulu sejarah penerapan kebijakan obat
generik di negara kita .
Kebijakan ini diterapkan Pemerintah tahun 1989 dengan
tujuan mulia, yaitu ingin melindungi masyarakat dari biaya obat
yang dianggap terlalu tinggi. Harga obat paten dan obat bermerek
dianggap terlalu mahal sehingga menyebabkan biaya kesehatan
menjadi tidak terjangkau oleh banyak pasien . Motif industri
farmasi untuk mengeruk keuntungan besar telah membuat harga
obat tidak berpihak kepada konsumen.
Untuk menurunkan harga, Pemerintah kemudian
menerapkan kebijakan Obat Generik Berlogo (OGB, yang dalam
bahasa sehari-hari kita sebut “obat generik” saja). Perusahaan-
perusahaan farmasi dalam negeri didorong untuk memproduksi
obat-obatan yang isinya sama dengan obat paten, efektivitasnya
sama, tapi harganya jauh lebih murah. Pada saat yang sama, para
dokter, terutama di rumah sakit pemerintah, pun diinstruksikan
untuk meresepkan obat generik buat pasien.
Tapi usaha ini ternyata tak mudah. Sebagian masyarakat—
pihak yang hendak dilindungi itu—ternyata justru merupakah
pihak yang paling sulit diyakinkan. Begitu juga sebagian kalangan
dokter. Mereka beralasan, obat generik tidak ampuh.
Benarkah klaim itu?
Sebelum bicara tentang perbedaan jenis obatnya, kita
mungkin perlu bersikap kritis lebih dulu terhadap klaim ampuh
293
atau tidak ampuh. Sebagai contoh, mari kita perhatikan ilustrasi
berikut: Pasien minum obat “G” di hari pertama dan kedua tapi
gejala sakitnya tidak berkurang. Lalu ia minum obat “P” di hari
ketiga dan keempat, dan gejala sakitnya berkurang. Ia merasa
sembuh lalu menyimpulkan bahwa obat “G” tidak ampuh dan
obat “P” ampuh.
Secara metodologis, kesimpulan seperti ini mungkin saja
tidak tepat. Sebab, kita tidak tahu, mungkin saja proses
pengobatan sudah dimulai di hari pertama atau kedua saat ia
minum obat “G”. Lalu progres itu mencapai puncaknya di hari
ketiga dan keempat ketika ia minum obat “P”. Kesimpulan yang
paling tepat yaitu bahwa kita tidak bisa membuat kesimpulan
sebab kita tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi di dalam tubuh.
Kita hanya bisa menduga-duga.
Akan namun , jika banyak sekali pasien mengalami hal yang
sama dan membuat dugaan yang sama, apalagi mereka yaitu
para dokter yang tahu konsep evidence-based medicine, artinya
kita memang layak bertanya tentang efektivitas obat “G” itu.
Efektivitas obat generik memang masalah klasik yang
banyak diperdebatkan. Bukan hanya di negara kita tapi juga hampir
di seluruh dunia. Bahkan, negara dengan regulasi farmasi yang
ketat seperti Amerika Serikat pun sempat menghadapi masalah
serupa sampai di tahun 1990-an.
294
Lalu apa yang dilakukan oleh Pemerintah Amerika? Selain
kampanye gencar kepada pengguna, Pemerintah Amerika juga
meningkatkan pengawasan kepada produsen. Sebagai bentuk
quality assurance, sejak tahun 1999 Food and Drug
Administration (FDA, Badan Pengawas Makanan dan Obat
Amerika) mewajibkan semua produsen obat generik melakukan
uji bioekivalensi. (Baca publikasi FDA “From Test Tube to Patient:
Improving Health Through Human Drugs”.)
Dalam uji ini, obat generik dibandingkan langsung dengan
obat paten. Keduanya sama-sama diperiksa kandungan dan
kualitasnya di laboratorium. sesudah itu, kedua obat tersebut juga
diminumkan kepada sukarelawan, lalu kadar obat di dalam darah
mereka diperiksa. Jika keduanya setara, barulah obat generik itu
dinyatakan layak beredar di pasar.
Audit terhadap industri farmasi juga diperketat. FDA
tercatat beberapa kali memberi peringatan bahkan penarikan
produk obat generik perusahan-perusahaan multinasional seperti
Ranbaxy, Apotex, dan Teva. Di pasar internasional, perusahaan-
perusahaan ini terkenal sebagai pemasok obat generik dengan
harga murah. Pabrik-pabrik farmasi negara kita pun banyak yang
mengimpor dari mereka.
Kewajiban uji bioekivalensi dan kontrol ketat terhadap
industri farmasi ini terbukti bisa membuat reputasi obat generik
meningkat. Para dokter tak lagi ragu-ragu meresepkannya sebab
295
memang obat ini telah menjalani uji bioekivalensi. Uji ini
memastikan bahwa obat generik memang sama efektifnya
dibandingkan obat paten. Memang, obat generik tetap tidak bisa
100% sama dengan obat paten. Berdasarkan review FDA terhadap
2.070 hasil uji bioekivalensi sampai tahun 2007, obat generik
berbeda sekitar 3,5% dari obat paten. Sekalipun ada perbedaan,
kedua jenis obat ini secara terapetik dianggap sama sebab sama-
sama efektif.
Dengan adanya uji bioekivalensi ini, sekarang di negara
"Uak Sam" itu, sekitar 70-80% isi resep dokter yaitu obat generik.
Padahal, Amerika yaitu negara yang memiliki paling banyak
perusahaan farmasi penemu obat paten seperti Pfizer, Abbott
Labs, Merck & Co, Wyeth, Eli Lilly, Bristol-Myers Squib, dll.
Bagaimana dengan di negara kita ?
Pada masa dasawarsa pertama penerapan kebijakan obat
generik, harus diakui bahwa kualitas sebagian (bukan sebagian
besar) obat generik memang masih diragukan. Pemerintah
sebetulnya sudah mewajibkan semua produsen obat generik untuk
mematuhi aturan Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB).
Namun, tak bisa diingkari bahwa di pasaran masih dijumpai obat
generik yang kualitasnya di bawah standar.
Di internet, kita masih bisa menemukan arsip penelitian-
penelitian tentang obat generik yang kualitasnya tidak sebanding
dengan obat paten. Dua di antaranya di sini dan di sini. Sebagian
296
besar produk generik sebetulnya sudah memiliki kualitas yang
setara dengan dengan obat paten. Akan namun , dalam hal reputasi,
selalu berlaku peribahasa Minangkabau, “Dek nilo satitiak, rusak
susu sabalango.” Beberapa produk obat generik yang kualitasnya
buruk itu telah merusak citra keseluruhan obat generik.
Bagaimanapun, obat yaitu produk dagang, dan industri
farmasi punya orientasi terhadap laba. Sementara, harga eceran
tertinggi obat generik ditentukan oleh Pemerintah sehingga
perusahaan-perusahaan farmasi itu tidak bisa menentukan harga
jual sesuai kalkulator mereka. Untuk menyiasati margin
keuntungan yang lebih tipis ini, pabrik-pabrik farmasi harus
berhemat dalam produksi. Mungkin saja dalam penghematan itu
ada sebagian unsur kualitas obat yang dikorbankan tanpa sengaja,
misalnya membeli bahan baku obat dari pemasok yang kurang
menjamin kualitasnya.
Dalam hal ini, Pemerintah tentu tak bisa mengawasi semua
hal yang terkait produksi obat, mulai dari pembelian bahan baku,
produksi, pengendalian mutu, dan seterusnya. Yang bisa
dilakukan oleh Pemerintah sebatas sertifikasi CPOB dan pengujian
produk jadi.
Apalagi saat itu Pemerintah juga belum mewajibkan uji
bioekivalensi buat produk obat generik sebab biayanya yang
cukup mahal. Yang diwajibkan saat itu baru sebatas uji-uji yang
297
murah dan mudah dilakukan di laboratorium tanpa memakai
sukarelawan, seperti uji disolusi terbanding.
Dalam uji disolusi ini, obat generik diperiksa kecepatannya
terlarut di dalam larutan simulasi mirip cairan lambung. Tapi uji
ini hanya dilakukan di dalam tabung kaca di laboratorium, tidak
dengan cara diminumkan kepada sukarelawan. Jadi, tidak bisa
menggambarkan keadaan sesungguhnya ketika obat diminum oleh
pasien.
sebab kontrol kualitas obat generik saat itu masih belum
begitu bagus, mudah dipahami jika dokter masih menemukan obat
generik yang tidak efektif. Inilah yang kemudian membuat mereka
sangsi terhadap slogan iklan OGB, “Kita ‘kan tidak makan
mereknya”.
Sekalipun semua produsen obat generik sudah memperoleh
sertifikat CPOB, kemampuan masing-masing pabrik itu dalam
membuat formula yang bagus tentu saja tidak sama. Walaupun
kandungan dua produk sama-sama amoksisilin 500 mg, bisa saja
keduanya memiliki sifat pelarutan dan penyerapan yang berbeda
jika formulasinya berbeda, jenis kristal zat aktifnya berbeda, atau
proses produksinya berbeda.
Untuk memperbaiki kekurangan ini, Pemerintah kemudian
menerapkan kebijakan seperti yang dilakukan oleh FDA, yakni
kewajiban uji bioekivalensi. Uji disolusi di dalam tabung saja tidak
cukup. Obat generik harus diuji pada manusia. Maka sejak tahun
298
2005, Pemerintah mewajibkan para produsen obat-obat generik
untuk melakukan uji bioekivalensi pada produk-produk yang
memang harus dibandingkan bioekivalensinya.
Sejak kebijakan uji bioekivalensi ini diterapkan, sebetulnya
keseragaman kualitas obat generik di pasaran menjadi semakin
baik. Pelaksanaan kebijakan ini memang tidak bisa seketika.
Hingga saat ini pun belum semua produk obat generik dilengkapi
uji bioekivalensi. Tapi secara umum keseragaman kualitas obat
generik dalam lima tahun terakhir sudah jauh lebih baik dibandingkan
dasawarsa yang lalu.
Sayangnya, mindset bahwa obat generik yaitu obat murah
dan murahan yang sudah telanjur tertanam belasan tahun
memang tidak mudah untuk diubah. Ini bukti bahwa jika
Pemerintah dan industri farmasi “lancung keujian” dan gagal
menjamin efektivitas obat generik, bisa jadi seumur hidup
masyarakat akan sulit percaya.
Perlu usaha keras dan sungguh-sungguh untuk membuat
pasien yang tidak percaya menjadi percaya. Maka jika selama ini
kampanye obat generik lebih menekankan logika harga murah,
sudah saatnya kampanye sekarang lebih menekankan pada bukti
uji bioekivalensi.
Para dokter dan tenaga kesehatan yaitu pasien -pasien
terdidik yang terbiasa berpikir rasional dengan landasan bukti
ilmiah. Logika harga murah saja tidak cukup kalau tidak disertai
299
dengan bukti ilmiah bahwa obat generik memang sungguh-
sungguh sama efektifnya dengan obat paten. Jika bukti ilmiah dari
laboratorium independen yang terakreditasi sudah ada, tapi tenaga
kesehatan masih tetap enggan memakai nya, barangkali
memang masalahnya bukan kepercayaan.
Sebagian tenaga kesehatan mungkin lebih suka
memakai obat bermerek sebab alasan keuntungan yang
didapat dari produsennya. Ini tentu bukan bab obat generik tapi
bab kode etik. Yang jadi persoalan yaitu ketika tenaga kesehatan
meragukan efektivitas obat generik. Sebab, mereka yaitu pihak
yang bersentuhan langsung dengan pasien. Mereka lebih tahu
fakta di lapangan. Sekalipun Pemerintah mengampanyekan obat
generik dijamin efektif, mereka tak akan mudah percaya jika
ternyata di lapangan mereka menjumpai fakta yang sebaliknya.
Ketidakpercayaan yaitu masalah persepsi. Dan, seperti
kata para psikolog, persepsi bisa saja berangkat dari fakta,
sekalipun bisa juga hanya berdasarkan syakwasangka. Apa pun
penyebabnya, fakta ataupun prasangka, keduanya bisa dilawan
dengan satu senjata, yaitu bukti ilmiah uji bioekivalensi.
Obat Generik Sejati vs. Semu
Jika kita melihat sejarah perkembangan obat di dunia, sebetulnya
kita akan lebih mudah memahami kenapa kebijakan obat generik
300
yaitu sebuah keharusan, lebih-lebih di negara kita , negara dengan
penduduk seperempat miliar yang sebagian besar dari mereka
belum dilindungi asuransi kesehatan.
Bagaimanapun juga, produk obat yaitu produk dagang.
Medicine is business. Big business. Hukum dagang berlaku di sini.
Perusahaan-perusahaan besar farmasi dunia berinvestasi miliaran
dolar, melakukan riset bertahun-tahun untuk menemukan obat
baru. Begitu obat ini ditemukan, mereka akan memanen investasi
dari penjualan obat tersebut.
Sebagai penghargaan terhadap kekayaan intelektual,
perusahaan penemu obat akan memegang hak paten yang
membuatnya bisa memonopoli penjualan obat tersebut di seluruh
dunia. Selama masa paten itu belum kedaluwarsa, tak ada
perusahaan lain yang boleh memproduksi dan menjual obat itu.
Contoh gampang yaitu amoksisilin. Antibiotik ini
ditemukan tahun 1972 oleh Beecham, perusahaan farmasi Inggris
yang sekarang menjadi GlaxoSmithKline. Beecham memberi
nama dagang obat ini Amoxil®. Amoxil® inilah yang dalam ilmu
farmasi disebut sebagai obat paten (kadang disebut inovator,
originator, atau pioner). Selama sepuluh tahun, Beecham
menangguk keuntungan dari monopoli penjualan amoksisilin di
seluruh dunia.
301
Baru ketika masa patennya kedaluwarsa di tahun 1982,
perusahaan-perusahaan farmasi lainnya berlomba-lomba membuat
versi generiknya. Dalam terminologi ilmu farmasi, semua produk
yang mengandung amoksisilin selain Amoxil® dianggap sebagai
obat generik. Jadi, yang namanya obat paten sebetulnya hanya
satu merek, yaitu Amoxil® saja. Semua produk amoksisilin selain
Amoxil® yaitu obat generik (biasa disebut juga me-too product).
Di negara kita terdapat banyak sekali merek dagang obat
yang mengandung amoksisilin. Jumlahnya sekitar dua ratus
merek! Maklum, amoksisilin termasuk antibiotik yang paling laris
sehingga semua industri farmasi berlomba-lomba
memproduksinya. Oleh pasien negara kita , obat-obat generik
bermerek ini sering disebut sebagai “obat paten”. Jelas sekali
penyebutan ini mengaburkan definisi obat paten sebab sejatinya
produk-produk itu yaitu obat generik. Hanya saja, produk
generik itu diberi merek dagang. Obat generik semu!
Harga obat-obat generik bermerek ini lebih murah dibandingkan
obat paten sebab memang pabrik-pabrik obat generik ini tidak
perlu berinvestasi miliaran dolar untuk melakukan penelitian
sendiri. Meski sudah cukup murah, tetap saja harga ini masih
belum berpihak kepada konsumen.
Produksi obat generik bermerek ini masih melupakan esensi
kebijakan paten, yaitu bahwa sesudah masa paten kedaluwarsa,
obat itu menjadi milik masyarakat luas. Dalam produk obat
302
bermerk, masih banyak komponen harga yang mestinya bisa
dipangkas sehingga tidak perlu dibebankan kepada konsumen,
misalnya biaya promosi, biaya kemasan yang hanya berfungsi
“pencitraan” tanpa nilai fungsional, atau bahkan margin
keuntungan yang terlalu besar.
Atas alasan inilah Pemerintah kemudian membuat
kebijakan Obat Generik Berlogo (OGB, produk obat tanpa merek
dagang yang diberi nama sesuai dengan kandungan generiknya).
OGB inilah yang biasa kita sebut sehari-hari sebagai obat generik—
tanpa embel-embel. Harga OGB ini bisa amat sangat jauh lebih
murah sampai sepersepuluh bahkan seperdua puluh dari harga
obat paten maupun obat generik bermerek! Lewat kebijakan OGB
ini, perusahaan farmasi tetap bisa memperoleh keuntungan wajar
tanpa membebani konsumen dengan biaya-biaya yang tidak perlu.
Jadi, dari latar belakang ini kita bisa melihat bahwa
kebijakan OGB yaitu upaya untuk melindungi masyarakat dari
biaya kesehatan yang mahal. Sungguh sayang jika konsumen yang
hendak dilindungi itu justru merupakan pihak yang paling kuat
menolak OGB hanya sebab mereka tidak percaya dengan
kualitasnya.
Di dasawarsa ketiga ini, kebijakan OGB di negara kita
menjadi lebih penting lagi mengingat negara kita akan
menerapkan sistem jaminan sosial nasional. Penggunaan obat
generik sejati (OGB) jelas akan menghemat banyak anggaran.
303
Sebagai gambaran pembanding, penggunaan obat generik di
Amerika diperkirakan bisa menghemat anggaran hingga US$ 200
miliar (sekitar Rp 2.000 triliun) dalam setahun.
Di negara kita saat ini, penggunaan OGB baru mencapai
10%. Porsi terbesar masih ditempati oleh obat generik bermerek.
Sukses tidaknya kebijakan obat generik sangat ditentukan oleh
semua pihak, mulai dari Pemerintah, industri farmasi, tenaga
kesehatan, hingga masyarakat luas. sebab sebagian produk obat
generik selama ini telanjur dianggap “lancung keujian”, maka
yaitu tugas Pemerintah dan industri farmasi untuk benar-benar
memastikan bahwa dengan kewajiban uji bioekivalensi, semua
produk obat generik yang beredar di pasar memiliki efektivitas
yang sama dengan produk obat paten.
Pengawasan terhadap produsen obat generik harus lebih
ditingkatkan. Jika perlu, Badan POM harus proaktif melakukan
sampling obat generik di pasaran kemudian melakukan semua uji
yang diperlukan secara independen, terutama untuk produk-
produk yang dicurigai tidak memenuhi standar. Dengan begitu,
masyarakat tidak hanya mendapat informasi dari perusahaan
farmasi tapi juga dari lembaga pengawas.
Pada saat yang sama, para tenaga kesehatan harus
mendapat akses mudah untuk melihat hasil uji bioekivalensi obat
generik itu sehingga mereka tidak ragu lagi meresepkannya. Dan
konsumen, sebagai pihak yang paling berhak menentukan pilihan,
304
harus mendapat refreshing pemahaman baru tentang OGB.
Bagaimanapun, konsumen yaitu pihak yang paling berkuasa.
Meskipun dokter meresepkan obat paten yang mahal, pada
akhirnya konsumenlah yang paling berhak menentukan pilihan.
Permenkes tentang Obat Generik menyebutkan dengan
jelas: “Apoteker dapat mengganti obat merek dagang/obat paten dengan
obat generik yang sama komponen aktifnya atau obat merek dagang lain
atas persetujuan dokter dan/atau pasien.” Walaupun dokter
meresepkan obat paten atau obat bermerek, pasien berhak
meminta versi generiknya di apotek. Generik sejati alias OGB.
OGB yang sesuai standar yaitu obat yang memenuhi
semua kriteria obat sejati, yaitu aman, ampuh, dan... murah.
Selisih harga yang jauh antara OGB terhadap obat paten atau obat
generik bermerek bukan sekadar soal mampu atau tidak mampu
bayar. Masyarakat Amerika saja, yang daya belinya lebih tinggi
dari masyarakat negara kita , lebih banyak memakai obat
generik. Ini soal kepercayaan masyarakat dan kewajiban negara
menyediakan pelayanan kesehatan yang terjangkau.
Kalaupun toh, andaikata, umpamanya, misalkan... sampai
hari ini masih ada produk OGB yang dicurigai berkualitas rendah
di pasaran, mestinya nila setitik itu tidak menjadi alasan untuk
menolak obat generik sebelanga. Sebagai konsumen yang kritis,
kita bisa mengomunikasikan temuan kita ke dokter atau apoteker
yang akan meneruskannya ke organisasi profesi, atau bisa juga
305
langsung ke Badan POM (http://ulpk.pom












