bukan merupakan otot polos,
namun otot lurik. Dengan demikian, SS0 ter-
sebar luas di seluruh tubuh dan fungsi nya
yaitu mengatur secara otomatis unsur-
unsur fisiologi yang konstan, seperti suhu
badan, tekanan dan peredaran darah, serta
pernapasan.
SS0 dapat dipecah lagi dalam dua cabang,
yakni Sistem (Orto) sim patis (SO) dan
Sistem Parasimpatis (SP). biasanya
dapat dikata kan bahwa kedua susunan ini
bekerja antagonistis: bila satu sistem merin-
tangi fungsi tertentu, sistem lainnya justru
menstimulasinya. namun , dalam beberapa
hal, khasiatnya berlainan sama sekali atau
bahkan bersifat siner gistik. Untuk jelasnya,
percabangan sistem itu dapat digambar-
kan sebagai berikut:
Efek perangsangan Sistem Saraf Otonom
Pada ikhtisar yang disederhanakan di ba-
wah ini, dimuat efek-efek terpenting dari
perangsangan SO dan SP terhadap berbagai
organ tu buh.
Dari tabel ini dapat disimpulkan bahwa
stimulasi Sistem Adrenergik memicu
reaksi untuk meningkatkan pemakaian zat
oleh tubuh, misalnya bila berada dalam kea-
daan aktif dan memerlukan enersi. Sebalik-
nya bila saraf Sistem Kolinergik dirangsang,
akan timbul efek penghematan pemakaian
zat dan pengumpulan enersi. Hal ini terjadi
bila tubuh berada dalam keadaan istirahat
atau sewaktu tidur. Dalam tubuh yang
sehat ada keseimbangan antara kedua
kelompok saraf itu .
Penerusan impuls oleh neurotransmitter
Sistem Saraf Motoris mengatur otot-otot lurik
melalui impuls listrik (rangsangan) yang se-
cara langsung dikirim dari SSP melalui saraf
motorik ke otot itu .
Pada SSO, impuls disalurkan ke organ
tujuan (efektor, organ ujung) secara tidak
langsung. Di beberapa tempat saraf otonom
terkumpul di sel-sel ganglion pada mana
ada sinaps, yaitu sela di antara dua
neuron (sel saraf). Saraf yang meneruskan
impuls dari SSP ke ganglia dinamakan neu-
ron preganglioner(a), sedang saraf antara
ganglia dan organ ujung disebut neuron
post-ganglioner (b), lihat Gambar Seksi V-2.
Impuls listrik dari SSP dalam sinaps di-
alihkan dari satu neuron kepada yang lain
secara kimiawi melalui neurotransmitter (juga
disebut neurohormon). Bila dalam suatu
neuron impuls tiba di sinaps, maka pada
saat itu juga neuron itu membebaskan
suatu neurohormon di ujungnya, yang me-
lintasi sinaps dan merangsang neuron ber-
ikutnya. Di neuron ini impuls secara elektris
diteruskan lagi. Pada ujungnya dibebaskan
pula neurohormon itu untuk secara ki-
miawi melintasi sinaps dan seterusnya hing-
ga impuls tiba di organ efektor.
Saraf kolinergik. Semua neuron pregang-
lioner, baik dari SO maupun dari SP, meng-
hasil kan neurohormon asetilkolin (ACh),
begitupula neuron postganglioner dari SP.
Saraf-saraf ini disebut saraf kolinergik.
Asetilkolin merupakan transmitter untuk
saraf motorik pada penerusan impuls ke otot-
otot lurik.
Saraf adrenergik. Sebaliknya, neuron post-
ganglioner dari SO meneruskan impuls
dari SSP dengan melepaskan neurohormon
adrenalin dan/atau noradrenalin (NA)
pada ujungnya. Neuron ini dinamakan saraf
adrenergik. Adrenalin juga dihasilkan oleh
bagian dalam (medulla) dari anak-ginjal.
Metabolisme neurohormon
Untuk menghindari kumulasi neurohormon
dan terangsangnya saraf secara kontinu,
maka ada suatu mekanisme inaktivasi.
sesudah meneruskan impuls, transmitter diu-
raikan oleh enzim yang terda pat dalam darah
dan jaringan. Asetilkolin diuraikan oleh sepa-
sang enzim kolinesterase. (Nor) adrenalin
dalam darah menga lami demetilasi oleh
metiltransferase (COMT) dan deaminasi oleh
mono amin-oksidase (MAO) dalam hati serta
di ujung neuron (sesudah diresorpsi kembali).
Enzim MAO ini juga bertanggung-jawa b
atas penguraian neurohormon lain dari kel-
ompok kimiawi catecholamin yang aktif
da lam SSP, misalnya serotonin dan dopa-
min, lihat juga Bab 28, Obat-obat Parkinson.
Reaksi penguraian berlangsung sebagai
berikut:
Obat otonom
Obat-obat otonom yaitu obat yang dapat
memengaruhi penerusan impuls dalam SS0
dengan cara mengganggu sintesis, penim-
bunan, pem bebasan, atau penguraian neu-
rotransmitter atau memengaruhi kerjanya
atas reseptor khusus. Akibatnya yaitu di-
pengaruhinya fungsi otot polos dan organ,
jantung dan kelenjar. Sesuai khasiatnya, obat
otonom dapat digolongkan sebagai berikut:
1. zat-zat yang bekerja terhadap SO,yaitu:
a. simpatikomimetika (adrenergika), yang me-
niru efek perangsangan SO oleh misal nya
noradrenalin, efedrin, isoprenalin dan amfeta-
min.
b. simpatikolitika (adrenolitika), yang justru
menekan saraf simpatis atau melawan
efek adrenergika, misalnya alkaloida sekale
dan pro pranolol.
2. zat-zat yang bekerja terhadap SP, yaitu:
a. parasimpatikomimetika (kolinergika) yang
merangsang organ-organ yang dilayani
saraf parasimpatis dan meniru efek pe-
rangsangan oleh asetilkolin, misalnya
pilokarpin dan fisostigmin;
b. parasimpatikolitika (antikolinergika) yang
justru melawan efek-efek kolinergika,
misal nya alkaloida Belladonna dan pro-
pantelin.
3. Zat-zat perintang ganglion yang me-
rintangi penerusan impuls dalam sel-sel
ganglio n sim patis dan parasimpatis. Efek dari
perintangan ini dampaknya luas, antara lain
vasodilatasi akibat blokade susunan simpati s
dan sebab itu dipakai pada hipertensi
tertentu, lihatBab 35, Antihipertensiva. Zat-
zat ini biasanya tidak dipakai
lagi sebagai obat hipertensi sebab efek sam-
pingnya yang juga memicu blokade
dari SP (gangguan penglihatan, obstipasi
dan berkurangnya sekresi berbagai kelenjar).
Kebanyakan obat ini yaitu senyawa amonium
kwaterner.
Khasiat terhadap SSP
Pada SSP ada beberapa pusat yang
mengendalikan saraf simpatis dan para sim-
patis, yang disebut sentra otonom. Beberapa
obat hipertensi bekerja terhadap pusat ini,
misalnya adrenolitikum codergocrin dengan
H
|
R-C-C-NH2 → R-C-C=O + NH3
MAO
katekolamin aldehida
efek penurunan tekanan darah dan kegiatan
jantung (bradycardia). Di samping itu dikenal
pula sejumlah obat otonom perifer yang juga
dapat memengaruhi fungsi SSP, misalnya:
– adrenergika (efedrin dan amfetamin):
menstimulasi SSP
– antikolinergika (atropin dan derivatnya)
menekan SSP dengan efek sedatif, mung-
kin berdasar antagonisme dengan
ACh pada pe nerusan impuls antara sel-
sel saraf otak
– fenotiazin memblokir reseptor untuk
(nor) adrenalin di otak dengan efek sedatif
– reserpin menghabiskan persediaan (nor)
adrenalin dalam jaringan perifer dan juga
memberikan efek sedatif
– zat perintang MAO merintangi peng-
uraian dari antara lain (nor) adrenalin dan
serotonin, sehingga memicu efek
stimulasi SSP (antidepresi)
– klonidin, suatu derivat imidazolin yang
mirip dengan adrenergikum nafazolin,
juga bekerja terhadap sentra di SSP de-
ngan efek meredakan tonus (kete gangan)
pembuluh SO dan menurunkan tekanan
darah.
Semua obat dengan kerja pusat ini bersifat
lipofil dan dapat mudah melintasi membran
otak. Zat-zat yang terionisasi baik dan kurang
lipofil, seperti zat-zat amonium kwaterner
(ACh, neostigmin dan piridostigmin) tidak
memiliki efek pusat sebab tidak dapat
memasuki CCS.
Dalam dua bab berikut akan dibahas obat-
obat yang berkhasiat terhadap Sistem saraf
simpatis (adrenergika dan adrenolitika) serta
obat-obat yang memengaruhi Sistem saraf
parasimpatis (kolinergika dan antikoliner-
gika).
ADRENERGIKA, DAN
ADRENOLITIKA, ANOREKSANSIA
A. ADRENERGIKA
Adrenergika atau simpatomimetika yaitu
zat-zat yang dapat memicu (sebagian)
efek yang sama dengan stimulasi Susun-
an Simpaticus (SS) dan melepas kan nora-
drenalin (NA) di ujung-ujung saraf nya. Zat-
zat dengan efek-a2 sentral yang justru meng-
hambat sistem adrenergik, misalnya kloni-
din, tidak termasuk adrenergika. Untuk me-
ka nisme penerusan impuls, lihat Gambar
31-1. Telah dijelaskan bahwa SS berfungsi
meningkatkan pemakaian zat oleh tubuh
dan menyiapkannya untuk proses disimilasi.
Organisme disiapkan agar dengan cepat
dapat menghasilkan banyak energi, yaitu siap
untuk suatu reaksi “fight, fright, or flight”
(berkelahi, merasa takut, atau melarikan diri).
Oleh sebab itu, adrenergika memiliki efek
yang bertujuan mencapai keadaan waspada
itu .
Reseptor alfa dan beta
Adrenergika dapat dibagi dalam dua kelom-
pok menurut titik kerjanya di sel-sel efektor
dari organ ujung, yaitu reseptor-alfa dan
reseptor-beta (Ahlquist 1948). Perbedaan anta-
ra kedua jenis reseptor didasarkan atas kepe-
kaannya bagi adrenalin, noradrenalin (NA)
dan isopre nalin. Reseptor alfa lebih peka bagi
NA, sedang reseptor beta lebih sensitif
bagi isoprenalin.
Diferensiasi lebih lanjut dapat dilakukan
menurut efek fisiolo ginya, yaitu dalam alfa-1
dan alfa-2, serta beta-1 dan beta-2. Pada umum-
nya, stimulasi dari masing-masing reseptor
itu menghasilkan e fek-efek sebagai berikut:
– alfa-1: memicu vasokonstriksi dari
otot polos dan menstimu lasi sel-sel ke-
lenjar dengan bertambahnya antara lain
sekresi liur dan keringat.
– alfa-2: menghambat pelepasan NA pada
saraf-saraf adrenergik dengan turunnya
tekanan darah. Mungkin pelepasan ACh
di saraf koli nergik dalam usus pun ter-
hambat sehingga antara lain peristaltik
menurun.
– beta-1: memperkuat daya dan frekuensi
kontraksi jantung (efek inotrop dan krono-
trop).
– beta-2: bronchodilatasi dan stimulasi meta-
bolisme glikogen dan lemak.
Lokasi reseptor ini umumnya yaitu sebagai
berikut:
– alfa-1 dan beta-1: postsinaptis, artinya le-
wat sinaps di organ efektor;
– alfa-2 dan beta-2: presinaptis dan eks-
trasinaptis, yaitu di depan sinaps atau di
luarnya, antara lain di kulit otak, rahim
dan trombosit. Reseptor-a-1 juga ada
presi naptis.
Efek rangsangan. Bila di suatu organ ter-
dapat kedua jenis reseptor, maka responsnya
terhadap stimulasi oleh katecholamin (adre-
nalin, NA, dopamin, serotonin) agak tergan-
tung dari pembagian dan jumlah reseptor-
alfa dan reseptor-beta di jaringan itu .
Contohnya bronchi di mana ada banyak
reseptor beta-2. Di sini NA hanya berefek
ringan, sedang adrena lin dan isoprenalin
memicu bronchodilatasi kuat. Begitu
pu la di otot polos dinding pembuluh ter-
dapat reseptor-alfa dan reseptor-beta: sedikit
NA sudah bisa merangsang reseptor-beta-2
dengan efek vasodilatasi, sedang lebih
banyak NA diperlukan untuk merangsang
reseptor-alfa dengan efek vasokon striksi.
Pembuluh kulit memiliki banyak reseptor-
alfa, oleh sebab itu adrena lin dan NA meng-
akibatkan vasokon striksi, sedang isopre-
nalin hanya berefek sangat ringan.
Dalam tabel di bawah ini diikhtisarkan
efek adrenergik yang terpenting.
Mekanisme kerja
Katecholamin bekerja sebagai “pesuruh”
(transmitter) dan mengikat diri pada resep-
tor yang berada di bagian luar mem bran sel.
Penggabungan ini meng ak tifkan suatu en-
zim di bagian dalam membran sel (adenilsi-
klase) untuk meningkatkan pengubahan ade-
nosintriphosphate (ATP) yang kaya akan ener-
gi, menjadi cAMP (cyclic adenosinemo nophos-
p hate). Peningkatan kadar cAMP di dalam
sel, memicu bermacam-macam efek
adrenergik seperti tertera di atas. Skematis
reaksi ini dapat digambarkan sebagai berikut:
cAMP ditemukan dan dikembangkan peran-
annya bagi berbagai proses metabolisme
Tabel 31-1: Efek stimulasi reseptor-a dan -b
oleh F.M. Sutherland, guru besar fisiologi
(Vanderbilt University-USA) dan pemenang
hadiah Nobel tahun 1971 untuk bidang
kedokteran.
Tidak semua adrenergika menghasilkan
efek yang tertera dalam ikhtisar dengan po-
tensi yang sama, namun perbedaan antara
masing-masing zat hanya bersifat kuantitatif.
Ada obat dengan efek jantung kuat, namun
dengan efek bronchi hanya ringan dan
dikenal pula obat yang khusus berefek bron-
chodilatasi dengan sedikit efek lainnya.
Penggolongan
Adrenergika dapat dibagi dalam dua kelom-
pok, yaitu:
a. Zat-zat yang bekerja langsung. Keba-
nyakan katechola min bekerja langsung
terhadap reseptor dari organ tujuan, an-
tara lain adrenalin, NA dan isoprena lin.
Dikenal pula sejumlah zat yang bekerja
menurut kedua prinsip, seperti efedrin
dan dopa min.
b. Zat-zat dengan kerja tak-langsung. Nor-
adrenalin disintesis dan disimpan di
ujung-ujung saraf adrenergik dan dapat
dibebaskan dari depotnya dengan me-
rangsang saraf ber sangkutan atau dapat
juga dengan peranta raan obat-obat se-
perti efedrin, amfetamin, guanetidin dan
reserpin.
Penggolongan dapat pula dilakukan menurut
jenis reseptor yang khusus distimulasi oleh
obat, sebagai berikut:
– efek-α + β : adrenalin, efedrin dan do-
pamin
– efek-α: NA, fenilefrin, nafazolin dan tu-
runan
– efek-α2 : metildopa, klonidin, guanfasin,
mungkin juga reserpin, dengan efek
hipotensif
– efek-β1+β2: adrenalin, efedrin, isopre-
nalin, isoksuprin
– efek-β1: NA, oksifedrin dan dobutamin,
dengan efek utama terhadap jantung
(inotrop/kronotrop positif)
– efek-β2: salbutamol, terbutalin, fenoterol
dan turunannya, juga ritodrin dengan
khusus efek bronchodilatasi dan relaksasi
rahim
* Penggolongan kimiawi. Secara kimiawi,
adrenergika dapat dibagi dalam dua kelom-
pok, yaitu derivat feniletilamin dan derivat
imidazolin.
a. derivat feniletilamin (C6H5-C-C-NH2) yang
bisa didiferensi a si lagi dalam 3 kelompok,
yang menurut urutan ke bawah berkurang
sifat adrenergik namun efeknya lebih panjang.
Efek stimulasinya terhadap SSP bertambah
kuat dan terkuat pada amfetamin.
– katecholamin: adrenalin, NA serta isopre-
nalin dan turunannya, yang memiliki 2
gugus-OH pada cincin-benzen
– zat-zat dengan 1 gugus-OH (posisi meta):
fenilefrin
– zat-zat tanpa gugus-OH: efedrin, amfe-
tamin dan turunannya
b. derivat imidazolin: ksilometazolin, nafa-
zolin dan turunan nya, yang berkhasiat de-
kongestif (menciutkan) lebih lama terhadap
mukosa hidung namun dengan efek sentral
ringan sekali.
Selektivitas bagi suatu jenis reseptor pada
umumnya berkurang bila dosis semakin di-
naikkan dan pada dosis tinggi bahkan praktis
hilang seluruhnya. Dalam tabel di bawah ini
diberikan ringkasan dari adrenergika dengan
efek utamanya (x).
Tabel 31-2: Adrenergika dengan efek-
efek utamanya
pemakaian
berdasar khasiatnya adrenergika digu-
nakan pada bermacam-macam penyakit dan
gangguan dan yang terpenting di antaranya
yaitu :
– pada syok untuk memperkuat daya kerja
jantung (β1) dan melawan hipotensi (α1),
khususnya adrenalin dan NA
– pada asma untuk mencapai broncho-
dilatasi (β2), terutama salbutamol dan
turunannya, juga adrenalin dan efedrin,
lihat Bab 40, Obat-obat Asma dan COPD
– pada hipertensi untuk menurunkan daya
tahan perifer dari dinding pembuluh
melalui penghambatan pelepasan NA
(α2). Di samping itu juga melalui bloka-
de reseptor α1 dan β (prazo sin/propra-
nolol dan turunan). Lihat Bab 35, Anti-
hipertensiva.
– sebagai vasodilator perifer (β2) pada va-
sokonstriksi di betis dan tungkai (clau-
dicatio intermittens), lihat Bab 34, Vasodila-
tansia.
– pada pilek (rhinitis) untuk menciutkan
mukosa yang bengkak (α), terutama zat-
zat imidazolin, juga kadangkala efedrin
dan adrenalin
– sebagai midriatikum untuk melebarkan
pupil (α), antara lain fenilef rin dan nafa-
zolin
– pada obesitas untuk menekan nafsu
makan dan menunjang diet menguruskan
badan, khususnya fenfluramin dan ma-
zindol, lihat B.Anoreksansia.
– sebagai penghambat his dan pada nyeri
haid (dysmenorrhoea) berkat daya relak-
sasinya atas otot rahim (α2), misalnya rito-
drin.
Efek samping
Pada dosis biasa, adrenergika dapat menim-
bulkan efek samping terhadap jantung dan
SSP, yaitu tachycardia dan jantung berdebar,
nyeri kepala, gelisah dan sebagainya. Oleh
sebab itu adrenergika harus dipakai de-
ngan hati-hati pada pasien infark jan tung,
hipertensi dan hipertirosis.
* Tachyfylaxis. Bila dipakai untuk waktu
lama seperti pada asma, adrener gika dapat
memicu tachyfylaxis, semacam resis-
tensi yang terjadi dengan cepat bila obat
diberikan berulang kali dalam waktu singkat.
Terkenal yaitu efedrin dan obat-obat de-
ngan kerja tak langsung akibat habisnya per-
sediaan NA. Oleh sebab itu obat-obat ini
jangan dipakai terus-menerus, namun dise-
ling dengan obat-obat asma lainnya. Lihat
juga Bab 4, sub Toleransi.
MONOGRAFI
1. Epinefrin: adrenalin, Epipen ,*Ultracain,
*Lidonest 2%
Bentuk levo dari neurohormon SS ini bersama
turunannya NA dibebas kan pada ujung-
ujung saraf adrenergik yang dirangsang.
Zat ini dihasil kan juga oleh anak gin jal dan
berperan pada metabolisme hidratarang dan
lemak. Adrenalin memiliki semua khasiat
adre ner gik-alfa dan -beta, namun efek beta-
nya relatif lebih kuat (stimulasi jantung dan
bronchodilatasi).
Efek utamanya terhadap organ dan proses-
proses tubuh penting dapat diikhtisarkan
sebagai berikut:
– jantung: daya kontraksi diperkuat (ino-
trop positif), frekuensi ditingkatkan (chro-
notrop positif) dan sering kali ritmenya di-
rubah;
– pembuluh: vasokonstriksi dengan naik-
nya tekanan darah;
– pernapasan: bronchodilatasi kuat teruta-
ma pada keadaan konstriksi seperti pada
asma atau akibat obat;
– metabolisme ditingkatkan dengan naik-
nya konsumsi O2 dengan ±25%, berda-
sarkan stimulasi pembakaran glikogen
(glycogenoly sis) dan lipolysis. Sekresi insu-
lin dihambat, kadar glukosa dan asam
lemak darah dinaikkan.
pemakaian nya terutama sebagai analep-
tikum, yaitu obat stimulans jantung yang
aktif sekali pada keadaan darurat, seperti ko-
laps, syok anafilaktik, atau henti jantung. Obat ini
sangat efektif pada serangan asma akut, namun
harus melalui injeksi sebab per oral diuraikan
oleh getah lambung. Atas dasar efek vasokon-
striksinya sering kali ditambahkan pada injeksi
anestetika lokal untuk memperpanjang daya
kerjanya. Atau di dalam tetes hidung bila
tersumbat sebab pilek, kerjanya pesat namun
singkat. Pada glaukoma tertentu dipakai
untuk menurunkan tekanan intraoku ler. Efek
ini sebetulnya sangat paradoksal, sebab
antagonis adrenalin (beta-blocker seperti timo-
lol) banyak dipakai untuk indikasi yang
sama.
Efek samping yang penting pada dosis tinggi
yaitu necro sis jari-jari akibat vasokonstriksi
dan akhirnya kolaps.
Dosis: pada asma akut s.c. 0,2-0,5 mg, bi-
la perlu diulang dua kali setiap 20 menit,
maks. 1 mg tiap kali. Pada henti jantung atau
bradycardia i.v./intracardial, syok anafilaktik
i.m. 0,5 mg, disusul dengan i.v. 0,5-1,0 mg,
bila perlu diulang setiap 2-5 menit. Glaukoma
terbuka 1 tetes 2-5 mg/ml. Dalam tetes mata/
hidung 0,05-0,2%.
* l-Norepinefrin (noradrenalin, levarterenol)
yaitu derivat tanpa gugus metil pada
atom-N (Jerm. NOR = N ohne Radikal). Neuro-
hormon ini khusus berkhasiat langsung ter-
hadap resep tor-alfa dengan efek vasokons-
triksi dan meningkatnya tensi. Efek beta
hanya ringan kecuali efek jantung (β1).
Bentuk dekstro seperti pada epinefrin, tidak
dipakai sebab ±50 kali kurang aktif.
Efek samping terutama terjadi pada dosis
tinggi dan berupa efek jantung (tachycardia,
jantung berdebar) dan efek sentral (gelisah,
eksitasi, rasa takut, sukar tidur), juga gemetar
dan flushing.
Dosis: infus i.v. permulaan 8-12 mcg/menit
dari 4 mg/l larutan glukosa 5%.
2. Isoprenalin: isoproterenol, Isuprel, *Lomudal
cp.
Homolog adrenalin ini (1949) memiliki ter-
utama efek β (stimul asi jantung dan bron-
chodilatasi), maka kini khusus dipakai
pada kejang bronchi (asma) dan sebagai
stimulans sirkulasi darah. Mulai kerja lebih
cepat dari efedrin, namun bertahan lebih
singkat. Tidak mening katkan tekanan darah.
Resorpsi dari usus tidak teratur, oleh sebab
itu sebaiknya dipakai secara oromukosal
(lewat selaput lendir mulut). Pentakaran le-
bih saksama dicapai melalui aerosol (spray)
dengan lama kerja ±1 jam. Spray ini tidak
boleh diulang terlalu sering untuk menghin-
dari overdosis.
Efek samping terutama terjadi pada dosis
tinggi dan berupa efek jantung (tachycardia,
jantung berdebar) dan efek sentral (geli sah,
eksitasi, rasa takut, sukar tidur), juga gemetar
dan flushing.
Dosis: pada bronchospasme 0,08-0,4 mg,
maksimal 8 inhalasi larutan sulfat 1% sehari,
untuk memperbaiki sirkulasi darah i.v. per-
mulaan 0,02 mg, disusul dengan 0,01-0,2 mg.
* Orsiprenalin (metaproterenol, Alupent, *Silo-
mat) yaitu isomer dengan kedua gugus-OH
dalam posisi ortho. Khasiatnya sama dengan
isoprenalin, namun mulai kerjanya lambat
dengan efek yang lebih lama, sampai 4 jam.
Resorpsi dari usus baik. Efek samping terha-
dap jantung tidak begitu nyata seperti pada
isoprenalin. Dengan tersedianya β2-mimetika
yang lebih selektif dan aman (seperti salbu-
tamol), obat ini dan isoprena lin sudah sangat
berkurang pemakaian nya pada asma.
Dosis: oral 4 dd 10-20 mg (sulfat) atau
sebagai inhalasi larutan 5%.
3. Fenilefrin: Prefrin, *Benadryl DMP, *Vibro-
cil.
Derivat adrenalin ini (1933) hanya memi-
liki 1 OH pada cincin benzen. Obat ini teru-
tama berefek alfa-adrenergik secara tak lang-
sung melalui pembebasan NA dari ujung
saraf. Efeknya ±10 kali lebih lemah dari
adrenalin, namun bertahan lebih lama. Ti-
dak menstimulasi SSP, efek jantungnya ri-
ngan sekali. Berkhasiat vasokonstriksif perifer
dengan meningkatkan tensi, oleh sebab itu
dipakai pada keadaan hipotensi (kolaps).
pemakaian lain yaitu sebagai midriatikum
pada pemeriksaan mata (larutan klorida
5-10%) yang mulai bekerja sesudah 20 menit
dan dapat bertahan sampai 7 jam. Juga
dipakai sebagai dekongestivum hidung
dan mata (larutan 0,125-0,5%) dan dalam
banyak sediaan kombinasi anti-flu bersama
analgetika, antihistaminika dan antitussiva.
Sebagai efek samping tercatat a.l. lensa kontak
lembut dapat berubah warna dan menjadi
cokelat tua. sebab masuk ke dalam ASI
dengan memicu hipertensi pada bayi,
maka ibu yang menyusui tidak dianjurkan
memakai tetes mata dengan zat ini.
*Etilefrin (etafedrin, *Decolsin) yaitu homo-
log dengan gugus etil sebagai ganti metil pada
atom-N. Daya kerjanya sama, namun lebih
kuat dan lebih lama dibanding fenilefrin.
Obat ini juga diguna kan sebagai obat pe-
lancar sirkulasi, terutama bagi lansia untuk
meningkatkan prestasi fisik dan mental, juga
dalam sediaan kombinasi antiflu. Dosis: oral
3 dd 5 mg.
*Decolsin = parasetamol 325 + etilefrin
HCl 12,5 + fenilpropilamin HCl 12,5 + klor-
feniraminmaleat 1 + dekstrometorfan HBr 5 +
guaifenesin 50 mg.
4. l-Efedrin (F.I.): *Asmasolon, *Bronchicum
Alkaloida dari tumbuhan Ephedra vulgaris
ini (1887) sudah diguna kan di Cina lebih
dari 5.000 tahun (Ma Huang) dan kini dibuat
secara sintetik. Dalam molekulnya tidak
ada lagi gugus-OH fenolis, larutannya
dalam air lebih stabil dari adrenalin.
Daya kerja senyawa levo ini sama dengan
adrenalin (efek-a dan -β), namun lebih lemah.
Efeknya terhadap SSP relatif lebih kuat
daripada terhadap jantung dan bertahan
lebih lama. Lagi pula selain bekerja lang-
sung terhadap reseptor di otot polos dan
jantung, juga secara tidak langsung dapat
membebaskan NA dari depot nya. Penggu-
naan utamanya yaitu pada asma berda-
sarkan efek broncho dilatasi kuat (β2), juga
sebagai decongestivum dan midriati kum
yang kurang merangsang dibandingkan de-
ngan adrenalin. Banyak sediaan asma OTC
mengandung efedrin, yang pada orang-
orang peka atau penta karan terlampau
tinggi dapat menimbul kan efek pusat dan
jantung (aritmia) yang tidak diinginkan. Oleh
sebab itu efedrin di sejumlah negara, a.l.
Belanda, dilarang dalam sediaan bebas (food
supplements OTC), lagi pula dimasukkan ke
dalam Doping List Komite Olimpik.
Resorpsi dari usus baik, bronchodilatasi
sudah nampak dalam 15-60 menit dan ber-
tahan 2-5 jam. Plasma-t½ 3-6 jam tergan tung
dari pH. Dalam hati sebagian zat dirombak;
ekskresi berlang sung lewat urin secara utuh.
Efek samping. Pada dosis biasa sudah bisa
terjadi efek pusat, seperti gelisah, nyeri kepala,
cemas dan sukar tidur, sedang pada
overdosis timbul tremor dan tachycardia,
aritmia serta debar jantung. Berhubung de-
ngan risiko tachyfylaxis sebaiknya jangan
dipakai secara kontinu, namun diseling
dengan obat asma lain. Wanita hamil boleh
memakai efedrin.
Dosis: pada asma 3-4 dd 25-50 mg (-HCl),
anak-anak 2-3 mg/kg sehari dalam 4-6 dosis.
Tetes hidung larutan sulfat 0,5-2%, dalam
tetes mata 3-4%.
* Pseudo-efedrin (d-efedrin, iso-efedrin, *Ac-
tifed, *Sinutab, *Sudafed, *Polaramin exp.) ada-
lah isomer dekstro (1956) dengan khasiat sa-
ma. Khasiat bronchodilatasinya lebih lemah,
namun efek sampingnya terhadap SSP dan
jantung juga sedikit lebih ringan. Plasma-t½
±7 jam, namun lebih singkat dalam urin asam.
Obat ini juga banyak dipakai dalam
sediaan kombinasi untuk flu. Dosis: oral 3-4
dd 60 mg (HCl, sulfat).
*Fenilpropanolamin(norefedrin, *Rhinotussal,
*Sinutab, *Triaminic) yaitu derivat tanpa gu-
gus-CH pada atom-N dengan khasiat yang
menyerupai efedrin. Efeknya lebih panjang;
efek sentral dan efek terhadap jantung lebih
ringan. namun pada ±20% pengguna tekanan
darahnya meningkat dengan nyata. Banyak
sekali sediaan kombinasi OTC anti-flu den-
gan obat ini beredar di pasaran.
berdasar hasil penelitian (Yale Univer-
sity School of Medicine: Phenylpropanola-
mine & Risk of Hemorrhagic Stroke) bahwa
ada korelasi antara fenilpropanolamin dan
perdarahan otak (stroke), oleh sebab itu
dalam bulan April 2001 peredaran produk-
produk (khususnya obat-obat flu) yang
mengandung bahan aktif ini di atas 15 mg
per dosis telah ditarik dari peredaran. Walau-
pun risiko hemorrhagic stroke sangat rendah,
namun Food and Drug Administration Ame-
rika (FDA) menganjurkan untuk tidak meng-
gunakan produk yang mengandung fenil-
propanolamin (updated December 2005). Dosis:
oral 3-4 dd 15-25 mg.
5. Derivat imidazolin1
Senyawa ini memiliki efek a-adrene rgik
langsung dengan vasokon striksi tanpa sti-
mulasi SSP. Khusus dipakai sebagai de-
kongestivum pada selaput lendir hidung
dan mata, selesma (rhinitis, coryza), hay fever,
sinusitis dan sebagainya. Efeknya lebih pan-
jang dari pada efedrin.
pemakaian nya sebagai tetes hidung ja-
ngan lebih lama dari 3-5 hari, sebab dapat
memicu kebiasaan (ringan), lagi pula
dapat memicu pilek kronis dengan
hidung mampat akibat vasodilatasi (rebound
effect).
Efek samping. Bayi dan anak kecil sebaiknya
jangan diberikan obat ini, sebab dapat
diabsorpsi dari mukosa dengan memicu
depresi SSP. Gejalanya berupa mengantuk,
pening, hipotermi dan bradycardia, bahkan
juga koma pada overdosis. Sifat ini ber-
tentangan dengan kebany akan adrenergi-
ka yang justru mensti mulasi SSP. Yang pa-
ling banyak dipakai yaitu nafazo lin,
ksilometazolin, oksimetazolin dan tetrizolin (Vi-
sine). Oksimetazolin dan ksilometazolin ter-
nyata memiliki sifat antioksidan baik yang
mungkin meningkatkan efektivitasnya pada
terapi lokal dari infeksi saluran napas bagian
atas dengan peradangan.
5a. Oksimetazolin: Afrin, Iliadin = Nasivin.
Derivat imidazolin ini (1961) bekerja
langsung terhadap resep tor-alfa tanpa
efek atas reseptor-beta. sesudah diteteskan
di hidung, dalam waktu 5-10 menit terjadi
vasokonstriksi mukosa yang bengkak dan
mampatnya hilang. Efeknya bertahan ±5
jam.
Efek samping dapat berupa rasa terbakar
dan iritasi pada selaput lendir hidung
dengan memicu bersin.
Dosis: anak-anak di atas 12 tahun dan
dewasa 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,05%
(HCl) di setiap lubang hidung; anak-anak
2-10 tahun larutan 0,025%.
5b. Ksilometazolin (Otrivin) yaitu derivat
(1959) dengan efek dan pemakaian sa-
ma.
Dosis: nasal 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,1%
(HCl), maks 6 x sehari. Anak-anak 2-6 thn
larutan 0,05%.
5c. Nafazolin (Albalon, Privine, Vasacon) ada-
lah derivat paling tua (1941) dengan
sifat sama, namun efeknya lebih singkat
rata-rata 3 jam, sehingga risiko rebound
kongesti lebih besar.
Dosis: okuler 1-4 dd 1-2 tetes larutan
0,05-0,1% (HCl)
6. Amfetamin
Psikostimulansia. Amfetamin termasuk
kelompok psikostimulansia yang bercirikan
stimulasi SSP dan memperkuat pernapasan
yang dihambat oleh obat-obat sentral lain.
Aktivitas mental dan fisik meningkat, begitu
pula inisiatif dan kelincahan, kepercayaan diri
sendiri dan prestasi diperbesar, sedang
rasa kantuk dan letih dihilangkan(sementara).
Amfetamin juga memicu rasa nyaman
(eufori), maka berdasar sifat psikis ini
dahulu dipakai sebagai obat antidepresi.
sebab adakalanya bisa membuat suasana
jiwa memburuk dan timbul depresi, bersifat
adiksi dan memicu risiko besar bunuh
diri, pemakaian ya sebagai antidepresivum
sudah lama dianggap obso let. Lihat Bab 30,
Antidepresiva. Di samping itu, amfetamin
juga memiliki efek adre ner gik yang meliputi
vasokonstrik si, bron chodilatasi (agak lemah),
midria sis dan kon traksi otot lingkar (sfincter)
kandung kemih.
Kelompok amfetamin juga disebut ‘wek-
amin’ dan meliputi (deks) am fe ta min, metam-
fetamin, ecstasy (XTC) dan metilfenidat.
Berhubung dengan sifat adiksinya, di ba-
nyak negara, terma suk Belan da, obat-obat
ini hanya dijual atas resep dan diatur secara
hukum dalam Undang-undang Narkotika
(Opium wet).
6a. Deksamfetamin: desoksinorefedrin, Dexe-
drin
Isomer dekstro dari amfetamin ini (1935)
memiliki khasiat terhadap SSP yang 2x
lebih kuat daripada bentuk-rasemisnya (-dl)
(benze drin) dan ±4x lebih kuat daripada
bentuk levony a. pemakaian nya khusus pa-
da penyakit narkolepsi (rasa kantuk tidak
tertahan pada siang hari) dan ADHD pada
anak-anak yang hiperaktif (sebagai pilihan
kedua sesudah metil fenidat).2 Amfetamin
juga sering kali diguna kan sebagai doping
untuk meningkatkan presta si olahraga.3
Resorpsi dari usus baik, efeknya bertahan
4-24 jam. Dalam hati, zat ini sebagian dime-
tabolisasi dan bagian terbesar diekskresi le-
wat urin secara utuh.
Efek samping berupa efek pusat, seperti
gelisah, rasa takut, sukar tidur dan kecen-
derungan berbicara tanpa henti. pemakaian
untuk jangka waktu lama, terutama dengan
dosis tinggi, dapat memicu psikosis dan
depresi hebat, juga efek adrenergik seperti
tachycardia, naiknya tensi, aritmia, mulut
kering dan midriasis. Gangguan lambung
usus dan reaksi kulit serta berkurangnya
libido dapat terjadi.
Dosis: pada narkolepsi 2 dd 5 mg, dinaikkan
setiap minggu dengan 10 mg sampai dicapai
respons optimal, maksimal 60 mg/hari.
Pada ADHD (bila metilfenidat kurang
menghasilkan efek) permulaan 2,5 mg (3-5
thn) atau 5-10 mg (di atas 6 thn) sehari, bila
perlu dinaikkan setiap 7 hari sampai rata-rata
20-40 mg sehari.
* Ecstacy (XTC, metilendioksimetamfetamin,
MDMA) termasuk kelompok Drugs yang
efeknya “membebaskan jiwa” (halusinogen)
dengan berturut-turut timbul desorientasi,
perasaan senang dan nyaman (euforia) yang
bertahan ±4 jam. Toleransi muncul dengan
cepat. Kombina si dengan alkohol mening-
katkan risiko kerusakan otot jantung. Lihat
selanjutnya Bab 23, Drugs.
6b. Metilfenidat: Ritalin, Equasym, Medikinet
Derivat piperidil ini (1954) berbeda struk-
turnya dari amfeta min, namun sifatnya mirip.
Bekerja menstimulasi SSP hingga batas ke-
lelahan faal dapat dilampaui. Selain itu, obat
ini memicu euforia dan perilaku ‘tanpa-
kendali’. Mekanisme kerjanya berdasar
penghamba tan re-uptake dopamin dan nor-
adrenalin. Kebiasaan terhadap efek psiko-
aktivasinya terjadi secara berang sur-ang-
sur. Metilfenidat terutama dipakai seba-
gai pilihan pertama pada narkolepsi. Sejak
tahun 1993, di AS obat ini sering kali dibe-
rikan pada anak-anak dengan sindroma hiper-
kinetik ADHD, lihat boks. Di negeri Belanda
metilfenidat dimasukkan dalam Daftar Nar-
kotika (Opiumwet).
Resorpsi dari usus cepat dan praktis leng-
kap, BA hanya 30% sebab FPE besar, PP
rata 21%, plasma-t½ singkat, 2 jam. Ekskresi
berlangsung dengan urin.
Efek samping dapat berupa nervositas,
tachycardia, sukar tidur dan anoreksi a,
nyeri perut, lebih sering pada anak-anak.
Efek lainnya pusing, gangguan penglihatan,
dyskinesia dan kejang otot. Efek sentralnya
(euforia, eksitasi, gelisah) menyerupai efek
kokain, namun bertahan 4 kali lebih lama.
Ketergantungan psikis dapat terjadi, seperti
amfetamin pada orang yang peka, namun
ketergantungan fisik seperti akibat narkotika
tidak terjadi. Wanita hamil tidak boleh minum
obat ini, sebab dapat merusak janin.
Dosis: pada narkolepsi oral 2-3 dd 10 mg
½ jam a.c. Pada ADHD anak-anak 6 thn atau
lebih permulaan 0,25 mg/kg/hari dalam 2
dosis, lalu dinaikkan setiap minggu sampai 2
mg/kg, maksimal 60 mg sehari.
ADHD (= Attention Deficit & Hyperacti vity Disor der)
ADHD yang dahulu disebut Minimum Brain Damage (MBD), merupakan gangguan psikiatris
tersering pada anak-anak dengan prevalensi 3-5%. Bercirikan kesulitan serius untuk konsentrasi,
hiperaktivitas dan impulsivitas. Juga orang dewasa dapat mengidap penyakit ini dengan gangguan
perilaku dan memori serta berfungsi kurang baik dalam pekerjaan dan penghidupan sosial. Perlu
dicatat bahwa tidak semua anak yang sangat sibuk, bandel dan sukar dikendalikan, menderita
ADHD. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan MRI, pada mana tampak kelainan-kelainan khas di
otak. Penanganan terdiri dari psiko-edukasi dan/atau saran-saran yang bersifat mendidik, ditunjang
dengan pengobatan. Obat pilihan pertama yaitu psikostimulan metilfenidat, yang sebab efeknya
singkat perlu diberikan 3-4 kali sehari. Tablet controlled release juga tersedia, yaitu metilfenidat Oros
(Concerta), namun harganya 5 kali lebih tinggi. Obat relatif baru atomoksetin yang sama efektifnya
dengan dosis tungal telah disambut dengan baik. Alternatif dipakai minyak ikan (EPD/DHA)
dengan dosis 2 dd 300 – 500 mg EPA/DHA dengan efek baik.
*Atomoksetin (Strattera) yaitu derivat propilamin (2002) yang berkhasiat memperbaiki gejala
ADHD dan perilaku psikososial. Khasiatnya berdasar penghambatan penyerapan kembali NA
(NA reuptake blocker). Tidak bersifat psikostimulan, maka tidak termasuk dalam Daftar Narkotika.
Efek samping berupa gangguan lambung-usus (a.l. anoreksia), pusing, mengantuk, reaksi kulit,
peningkatan tekanan darah dan meningkatnya frekwensi jantung. Zat ini dirombak oleh sistem
oksidatif P450 (enzim CYP2D6), oleh sebab itu interaksi dengan zat-zat penghambat enzim ini
dapat terjadi. Dianjurkan untuk memantau tensi, frekwensi jantung dan pertumbuhan
Dosis: dewasa 40-80 mg sehari dalam 1 -2 dosis, anak-anak 0,5-1,2 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis,
maks 1,8 mg/kg/hari.
B. ANOREKSANSIA
Anoreksansia yaitu zat-zat yang berkhasiat
menekan nafsu makan dan dipakai un-
tuk menunjang diet pada penanganan ke-
gemukan (overweight, obesitas).
Penurunan berat badan hanya dapat ter-
realisasi dengan membatasi asupan makanan.
Kegemukan
Overweight atau kegemukan merupakan su-
atu gabungan dari faktor keturunan (± 70%)
dan sisanya yaitu faktor-faktor lingkungan
seperti susunan makanan dan pola hidup
(kegiatan fisik).
Meningkatnya berat badan juga dapat
disebabkan bila berhenti merokok (melalui
susunan saraf otonom), sesudah persalinan
(hormonal) dan obat-obat tertentu seperti
hormon-hormon, beberapa antidepresiva, an-
tipsikotika dan anti-epileptika.
Overweight, obesitas atau adipositas dide-
finisikan sebagai ada nya lemak tubuh
dalam jumlah abnormal, yang mengakibat-
kan kegemukan dan overweight pada keadaan
tinggi badan dan jumlah otot tertentu (Ing.
obese = amat gemuk). Obesitas merupakan
suatu penyakit kronis dengan penumpukan
lemak dalam tubuh yang demikian besar
sehingga memicu risiko kesehatan.
Di banyak negara makmur (Jerman, Be-
landa, AS) ada banyak orang gemuk;
30% lebih dari populasi mengidap obesitas.
Bahkan dikuatirkan akan menjadi suatu epi-
demi sedunia (BMJ 1998; 317: 1607-8). Pada
orang gemuk umumnya ada kadar ko-
lesterol total yang meningkat, terutama
LDL-kolesterol, sedang HDL-kolesterol
menurun. Begitu pula kadar trigliserida
naik, yang diperkuat oleh penumpu kan le-
mak di rongga perut.1 kg over weight menaik-
kan tekanan darah dengan ±1,3 mm Hg,
sebab volume darah naik dan volume-
menit (cardiac output) meningkat. Obesi tas
dapat mencetuskan resistensi insulin dan
hiper insulinemia, yang pada akhirnya dapat
memicu diabetes dan meningkatkan
risiko akan hipertensi dan PJP, lihat Bab 47,
Insulin dan Antidiabeti ka oral.
Obesitas meningkatkan risiko mendapatkan
diabetes tipe 2 dengan faktor 500-1000%.
Relasi antara diabetes dan kelebihan berat
badan yaitu kausal, sebab penelitian telah
membuktikan pengaruh menguruskan badan
dan lebih banyak bergerak terhadap insidensi
penyakit gula.
Faktor risiko untuk berbagai penyakit.
Selain faktor risiko untuk diabetes dan PJP,
over weight juga meningkatkan risiko akan
timbul nya batu empedu, hernia, varices dan
artrose pada lutut dan kaki.
Oleh sebab itu, penan ga nan diabetes
dan hipertensi pada orang gemuk selalu
dimulai dengan usaha mengu rangi berat tu-
buh dengan kur pelangsin gan, sebelum dila-
kukan pengobatan spesifik, lihat bab-bab
bersangkutan.
Metabolisme
Semua bahan gizi yang diasup (protein, hi-
dratarang dan lemak) tubuh dipakai untuk
memelihara jaringan serta mempro duksi
kalor dan energi. Kelebihan hidratarang
yang tidak langsung ‘dibakar’ atau diubah
menjadi glikogen, diubah menjadi lemak
(triglise rida) yang ditimbun dalam jaringan
lemak. Lemak persediaan ini tidak dapat
diubah kembali menjadi protein atau gula.
Hanya dalam keadaan ‘daru rat’, lemak ini
dipakai sebagai bahan bakar, misalnya
sesudah pantang makan untuk jangka waktu
lama.
Menurut perkiraan, jumlahsel-sel lemak (adi-
pocyt) dalam tubuh sudah ditentukan pada
masa kanak-kanak dan sekali terbentuk
dalam jumlah besar tidak akan berkurang
lagi. Semakin besar asupan makanan, sema-
kin banyak pula lemak memasu ki adipocyt,
yang sebab itu akan terisi penuh dan me-
ngembang. Keadaan ini dapat disama kan
dengan balon yang dalam keadaan biasa
kempis, namun volumenya membesar bila
diisi gas (diti up). Penum pukan lemak terjadi
khusus di sekitar organ dan di bawah kulit,
yang memicu tubuh menjadi gemuk.
Pathogenesis
Hanya sedikit, ±10%, obesitas disebabkan
oleh kelainan organik, misalnya hipotirosis.
Faktor lainnya yaitu faktor keturunan
dan resam tubuh yang berperan melalui
mekanisme yang belum diketahui. Di
samping itu, pe-ranan utama kegemukan
ditentukan oleh gaya hidup, yaitu kebiasaan
makan terlalu banyak tanpa ‘membakar’ semua
energi yang diasup, di samping kekurangan
aktivitas/gerak badan.
pemicu obesitas pada manusia belum
diketahui dengan jelas. Pada tikus gemuk
telah ditemukan suatu gen termutasi, yang
homolognya juga dideteksi dalam jaringan
lemak manusia. Diketa hui bahwa gen-ob
(obese) ini mengarah ke obesitas dan resistensi
insulin. Ada korelasi positif antara BMI (lihat
di bawah) dan adanya gen-ob. Ditemukan
pula suatu faktor yang membuat kenyang
(leptin) yang berperan untuk berkembangnya
obesitas pada tikus dengan gen-ob. Faktor
ini juga ada dalam darah orang ‘biasa’
(tidak gemuk). Selain itu ada pula suatu
faktor lapar(ghrelin).
Bobot badan biasanya kurang lebih stabil.
Penimbunan energi sebagai trigliserida da-
lam jaringan lemak terjadi bila asupan ener-
gi lebih besar daripada pemakaian nya. Ke-
seimbangan diregulasi oleh hipotalamus (se-
perti juga suhu tubuh dan osmolaritas cairan
tubuh), pada mana kedua faktor, ghrelin
maupun leptin, memegang peranan penting.
* Ghrelin yaitu hormon lapar (appetite sti-
mulating hormone) yang ditemukan oleh kar-
diolog Jepang Kojima (1999, Yun ghre = per-
tumbuhan). Diproduksi terutama di lam-
bung akibat rangsangan dari hipotalamus.
Hormon peptida ini melalui stimulasi pe-
lepasan GH (Growth Hormone) menimbul-
kan perasaan lapar. Bila kadar ghrelin darah
menurun, kadar GH juga berkurang, nafsu
makan tidak dihambat dan BMI meningkat.
Ghrelin menghemat pemakaian energi
oleh tubuh dan menstimulasi penimbunan
lemak. Bila bobot badan turun, sekresi GH
meningkat namun kadar ghrelin tidak beru-
bah. Hal ini menunjukkan, bahwa sebetulnya
obesitas bercirikan defisiensi GH, yang
tidak berhubungan kausal dengan kadar
ghrelin rendah.
Selama berpuasa ghrelin akan disekresi dan
kadarnya meningkat, namun segera menurun
lagi sebab hipotalamus mencetuskan pera-
saan lapar. (Obes.Res 2002; 10: 1161-66)
* Leptin (”faktor saturasi”) yaitu suatu hor-
mon peptida yang ditemukan pada tahun
1994 dan terdiri dari 167 asam a mi no de-
ngan BM 16.000 (Yun. leptos = kurus). Zat
ini diproduksi oleh sel-sel lemak di bawah
penga ruh gen-ob, juga dalam lambung dan
organ kelamin. Leptin beredar dalam darah
dan berperan pada asupan makanan, metabo-
lisme dasar dan fertili tas. Bila kadar leptin
naik, rasa lapar turun. Faktor ini bersama
ghrelin merupa kan anak rantai penting
pada sistem feed-back yang mengatur kese-
imbangan antara perasaan lapar dan asupan
pangan.
Leptin sebagai faktor mengenyang kan (‘sa-
turation factor’) hanya aktif di sel lemak dan
membantu mengendalikan nafsu makan
di hipotalamus. Pada orang gemuk leptin
tidak atau kurang terbentuk akibat defek
pada gen-ob atau pada reseptornya. Efeknya
yaitu timbulnya polyfa gie (makan terlalu
banyak), suhu badan abnormal rendah (hi-
pot hermie) dan resistensi terhadap insulin dan
leptin. Oleh sebab itu pada obesitas meski-
pun masa lemak meningkat dan jumlah
leptin sekadar naik, namun nafsu makan
tidak berkurang dan pertukaran zat tidak
meningkat. Selama kur menguruskan tubuh,
berat badan menurun dan terjadi kekurangan
leptin sehingga nafsu makan bertambah
dan pemakaian energi berkurang. Untuk
mengkompensasi kekurangan pemakaian
energi ini kadar ghrelin justru meningkat
(NTvG 2003;147:1168-72) Bila kadar leptin
dalam darah terlampau tinggi, maka hipo-
thalamus memberi isyarat pada tubuh untuk
berhenti makan dan supaya lebih aktif untuk
mengurangi jumlah lemak.
Penentuan kelebihan berat badan
Ada sejumlah metode untuk menilai taraf
kelebihan berat badan dan memprediksi risi-
konya bagi kesehatan pada kelebihan be-
rat badan. Penelitian ilmiah memakai
metode lain, seperti densitometri (penen-
tuan berat jenis tubuh dengan jalan me-
nimbang di bawah air) dan teknik-teknik
canggih (CT-scan dan MRI), yang sangat
efektif untuk menentukan jumlah LTT (le-
mak tubuh total) dan pembagiannya dalam
tubuh. Cara-cara ini terlampau sulit dan ma-
hal untuk dilakukan secara besar-besaran.
Cara-cara praktis. Ada beberapa cara yang
lebih praktis dan murah, seperti pengu-
kuran lipatan kulit, yang memberi kesan
mengenai lemak di bawah kulit dan jumlah
LTT, namun tidak memberi kesan mengenai
jumlah lemak di rongga perut (LRP).
Body Mass Index (BMI) kini paling banyak
diguna kan untuk menentukan besarnya masa
lemak, namun tidak menerang kan pembagian
lemak dalam tubuh. Sebetulnya suatu studi
(Univ. Glasgow, 1998) telah memasti kan bah-
wa lokasi lemak, khususnya jumlah lemak
di rongga perut (LRP), berperan penting:
semakin banyak LRP, semakin besar risiko akan
ganggu an keseha tan. Penentuan waist-hip
ratio dan lingkaran pinggang memberikan
informasi lebih jelas mengenai jumlah LRP.
Berat dan tinggi badan sesudah usia 60
tahun biasanya menurun disebabkan
oleh kehilangan jaringan otot dan tulang,
Juga pada usia lanjut terjadi redistribusi
lemak yang meningkat ke bagian perut. Oleh
sebab itu BMI sebagai indeks jumlah lemak
kurang tepat bagi lansia. Walaupun demikian
BMI yang tinggi tetap berkaitan dengan
memburuknya kesehatan dan menurunnya
kualitas hidup.
1. BMI (Body Mass Index) atau IMT(Indeks
Masa Tubuh) yaitu kuosien dari perbandin g-
an berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat ting-
gi badan (m2). BMI merupakan suatu ukuran
yang dapat diper caya, murah dan praktis
untuk menilai apakah ada kelebihan berat ba-
dan. Antara BMI dan persentase lemak dalam
tubuh ada korel asi baik, namun distribusi
lemak dalam tubuh tidak dijelaskan. BMI
juga dinamakan Quételet Index (Q.I.).
berat badan (kg)
BMI = —————————
tinggi badan (m2)
Di samping itu BMI ternyata berguna
pula untuk meramalkan risiko PJP serta risiko
kematian sebagai akibat.
WHO telah menentukan pembagian orang
overweight atas dasar BMI-nya. Lihat tabel
di bawah ini dan untuk praktis nya juga di-
muat risiko yang dihadapi oleh kelompok-
kelompok itu , yang khusus berlaku bagi
orang di bawah usia 50 tahun. Untuk mem-
permudah penentuannya tersedia grafik ber-
dasarkan berat dan tinggi badan seseorang,
sehingga BMI-nya dapat dilihat dengan mu-
dah. Lihat nomogram di bawah.
WHO mendefinisikan sebagai berikut.
– Kegemukan atau overweight didefini-
sikan sebagai BMI dari 25-29,9 kg/m2;
– Adipositas/obesitas menunjukkan BMI
sama dengan atau melampaui 30 kg/m2
(lebih dari 150% berat ideal);
– BMI > 40 kg/m2 disebut adipositas mor-
bid (sakit).
WHO Physical status: the use and inter-
pretation of anthropometry, Geneve, 1995.
Terutama pada obesitas, risiko akan mor-
biditas dan mortalitas meningkat dengan
kuat.
2. ‘Waist-hip Ratio’. Selain derajat over-
weight, juga pembagian lemak di tubuh pen-
ting untuk menilai risiko kesehatan.
Adolphe Quételet (1796-1874) Ahli
matematika dan astronom Belgia
Nomogram untuk penentuan BMI (kg/m2)
atas dasar berat badan (kg) dan tinggi
badan (m2)
WHR = perbandingan antara lingkar ping-
gang dan pangkal paha (pinggul) dapat digu-
nakan sebagai ukuran untuk pembagian
lemak. Perbandingan ini menunjukkan de-
ngan baik jumlah lemak di perut (LRP), sema-
kin tinggi ratio, semakin banyak lemak. Walau-
pun WHR tidak memberikan informasi me-
ngenai jumlah lemak total dalam tubuh (LTT),
namun ternyata berkorelasi baik dengan risiko
keseha tan. Penumpu kan lemak di rongga
perut, pada pria umumnya berbentuk bu-
ah apel dan merupakan faktor negatif. Pada
wanita lazimnya lemak bertumpuk di seki-
tar pinggul (berbentuk buah pear), yang di-
hubungkan dengan risiko PJP.
3. Lingkar ping gang (LP). Penelitian baru
telah memastikan bahwa lingkar pinggang
Body Mass Index risiko PJP
terlampau kurus < 19 –
normal 18,5 - 24,9 kg/m2 normal
gemuk, overweight 25,0 - 29,9 “ meningkat
gemuk, obesitas 30,0 - 34,0 “ amat meningkat
obesitas hebat > 40 “ risiko maut >
Tabel 31-3: Pembagian overweight atas dasar BMI menurut WHO
dan risiko akan PJP dan kematian
memberi indikasi baik dari LTT dan LRP,
serta risiko bagi kesehatan. Semakin besar
LP, semakin besar pula risiko akan diabetes,
kolesterol tinggi, hiper tensi dan sesak na-
pas. LP mudah diukur dengan otot perut
kendur (relak sasi) antara bagian bawah dari
iga terendah dan bagian atas dari panggul
(pelvis). LP dengan risiko meningkat tergan-
tung dari antara lain jenis kelamin dan
keturunan (etnis). Untuk orang kulit putih
(Caucasi an) dari 20-60 tahun berla ku:
– pria : LP > 94 dan > 102 cm, masing-
masing risiko tinggi dan sangat tinggi
– wanita :LP > 80 dan > 88 cm, masing-
masing risiko tinggi dan sangat tinggi
Dalam garis besar pembagian ini sesuai
dengan angka-angka BMI, teta pi LP lebih
jelas menunjukkan risiko bagi orang dengan
BMI rendah dan pembagian lemak kurang
baik.
* Perokok menunjukkan lebih banyak pe-
numpukan lemak di rongga perut dan la-
zimnya BMI rendah. namun sesudah berhenti
merokok, BMI meningkat sebab metabo-
lisme dasar yang selama merokok naik, seka-
rang menurun. Oleh sebab itu mereka lebih
banyak menyamil, yang memicu be-
rat badan meningkat.
Indeks glikemik(IG)
Indeks glikemis yaitu ukuran kecepatan
pengubahan hidratarang dalam usus men-
jadi glukosa dan penyerapannya ke dalam
darah (1981). Pangan dengan IG tinggi mem-
perlihatkan peningkatan cepat dan tinggi
dari kadar glukosa darah, dengan risiko me-
ningkat untuk DM2. Semakin kuat kenaikan
kadar glukosa oleh suatu hidratarang, sema-
kin tinggi IG-nya.
IG didefinisikan sebagaiperbandingan (%)
antara permukaan di bawah kurva respons
gluk osa-darah (AUC) sesudah asupan 50 g
makanan hidratarang dan AUC sesudah asup-
an 50 g glukosa. Bertolak dari IG glukosa
= 100, dapat dihitung IG dari hidratarang
lainnya dengan formula di bawah ini.
AUC usai asupan 50 g hidratarang
IG ———————————————— x 100
AUC usai asupan 50 g glukosa
Indeks glikemik sering kali dipakai
untuk menentu kan bahan makanan yang
layak selama menjalani kur menurunkan
berat badan. Pangan dengan IG rendah
dianggap lebih sehat sebab memicu
sekresi insulin dan peningkatan kadar glu-
kosa darah lebih ringan daripada sumber
hidratarang dengan IG tinggi. namun di sam-
ping karbohid rat masih ada banyak faktor
lain yang dapat memengaruhi respons insu-
lin, misalnya cara mengolah dan memasak
makanan serta banyaknya serat gizi. Protein
juga bisa meningkatkan sekresi insulin, se-
dang kan lemak dapat menurun kannya ka-
rena mengham bat pengoson gan lambung.
Oleh sebab itu sementara ahli menganggap
indeks glikemis tidak begitu berguna bagi
praktik.
glukosa 100 (9) pisang 62
beras putih 72 (9) gula 59
roti wholegrain 72 (6) chips 51
kentang 70 (8) buah appel 39
roti putih 69 (5) kacang jogo 29
Mars (cokelat) 68 (12) beans 29
beras tumbuk 66 (5) fruktosa 20
kismis (raisin) 64 (11) kedele 15
Tabel 31-4: Indeks glikemik (%) dari be-
berapa bahan makanan
Penanganan
Penanganan kegemukan dapat dilaksanakan
melalui 2 cara.
Tanpa pengobatan: penderita dianjurkan
untuk meningkatan kegiatan fisik, diet hi-
pokalori dengan menghindarkan atau me-
ngurangi asupan lemak.
Dengan pengobatan: hanya bermanfaat
bila dipertahankan, sebab bila pemakaian
obat-obat penurun berat badan dihentikan,
biasanya berat badan akan meningkat lagi.
Semua cara untuk melawan kegemukan
pada azasnya berdasar diet dan gerak
badan, yaitu pembatasan/pengurangan as-
upan kalori (lazimnya 1.000-1.500 kcal se-
hari) serta peningkatan pemakaian energi.
namun bila pemakaian energi lebih besar
daripada asupan kalori, akan terjadi mobi-
lisasi dari depot lemak (energi potensial) un-
tuk diubah menjadi energi.
Pengobatan dapat dilakukan sebagai ikh-
tiar tambahan untuk menunjang penangan-
an bagi penderita dengan BMI>30 atau
BMI>27 bila ada faktor risiko lain (DM2,
hipertensi, hiperlipidemia). Dengan menu-
runnya berat badan 5 – 10% sudah dapat
menurunkan risiko kesehatan.
Suatu kur pelangsing umumnya dimulai
dengan menurunnya berat badan dengan
pesat, namun ini terutama disebabkan hilang-
nya cairan, bukannya lemak. Baru sesudah
rata-rata seminggu, lemak akan dibakar se-
bagai sumber energi dan susutnya bobot
badan berlangsung lebih lambat. Tiroid me-
nyesuai kan diri dan bekerja semakin lam-
bat, sehingga metabolisme basal (konsumsi
energi dari tubuh dalam keadaan istirahat)
menurun.
yaitu lebih baik makan 5 kali sehari
dengan porsi kecil daripada dua kali namun
banyak sekali. sebab selama kur, selain
lemak (untuk dinding sel), juga protein di-
rombak, maka diet perlu mengandung se-
jumlah tertentu protein. Karbohidrat juga
harus ada, sebab merupakan sumber energi
mutlak bagi sel-sel otak dan sel-sel darah.
Agar jangan sampai kekuran gan vita min
dan mineral, diet harus divariasi sebany ak
mungkin. Akhirnya yaitu penting untuk mi-
num banyak air (2-3 liter sehari) untuk
mengeluarkan zat-zat sampah yang mening-
kat selama kur.
Tindakan tambahan. Diet hendaknya didu-
kung oleh beberapa tindakan pembantu,
yaitu:
a. gerak badan teratur meningkatkan penge-
luaran energi dan memperlancar perombak-
an lemak. Para olahragawan ternyata le-
bih mudah mengimbangi asupan dan pe-
nggunaan energi, lagi pula pada umum-
nya lebih mudah mempertahankan suatu
diet. Para ahli menganjurkan olahraga,
seperti jogging, berenang, fitness, berse-
peda (juga dengan hometrainer) ataupun
berjalan cepat dengan tera tur, 3-5 kali
seminggu 0,5 jam. Sebaiknya jangan di-
mulai terlalu intensif namun secara ber-
angsur-angsur ditingkatkan.
b. terapi perilaku, kebiasaan makan pasien
diubah secara positif, seperti mengunyah
lebih halus, makan lebih pelan dan hanya
secukupnya, juga jangan menyamil di
antara jam-jam makan.
c. terapi dengan anoreksansia. Dewasa ini
tersedia sejumlah obat untuk membantu
kur melangsingkan tubuh, yang berkha-
siat menghambat nafsu makan, lihat di
bawah.
Dalam sediaan populer untuk mengu-
ruskan tubuh sering kali dimasukkan diu-
r eti ka untuk mengu rangi cairan tubuh
dan laksansia untuk mengu rangi resorpsi
bahan-bahan makanan dalam usus, juga
hormon tiroid tiroksin untuk menstimu-
lir pertukaran zat. Sediaan-sediaan ini tidak
dianjurkan, sebab kurang efektif dan dapat
memicu efek samping yang sangat
serius.
Kombinasi dari diet berkalori terbatas dan
tindakan pembantu itu yang dijalankan
dengan teratur, motivasi tinggi dan tuntunan
dari seorang dokter sering kali menghasilkan
penyusutan bobot tubuh hingga 0,5 kg se-
minggu.
Anoreksansia
Anoreksansia (Yun orexi = nafsu makan) ber-
khasiat menekan nafsu makan secara efek-
tif selama 4-6 minggu. namun sesudah di-
guna kan 3-6 bulan, efeknya akan sangat
berkurang akibat terjadinya toleransi. Obat-
obat ini dipakai untuk menunjang dan
mempermudah terapi diet kalori terbatas
dengan mengurangi nafsu makan.
Atas rekomendasi WHO di kebanyakan
negara, semua anoreksansia turunan senyawa
amfetamin berada di bawah pengawasan
internasional. Pengecualian yaitu (dex)
fenfluramin, (klor)fentermin dan mazindol. Di
AS masih beredar pula fentermin (Mirapront)
dan amfepramon. Berhubung dengan sejum lah
laporan mengenai timbulnya kelainan pada
katup jantung pemakai obat-obat tertentu,
pada bulan Agustus 1997 di AS, Belanda
dan banyak negara Barat lainnya,fentermin,
fenfluramin dan dexfen flura min telah ditarik
dari peredaran.
Obat-obat baru. Dalam usaha mencari ano-
reksansia baru yang efektif dan aman, telah
dilakukan kajian terhadap hormon kenyang
leptin. namun sebab orang gemuk (obese)
kurang atau tidak peka untuk leptin, hormon
ini tidak memberikan hasil baik.
Mekanisme kerja. Dewasa ini tersedia a.l.
tiga obat untuk menguruskan badan, yaitu
sibutramin, rimonabant dan ekstrak kaktus
Hoodia, di samping obat-obat yang sudah ada
(amfepramon dan orlistat). Mekanisme kerja-
nya berlainan, yaitu:
a. menekan nafsu makan dan rasa lapar:
amfepramon, sibutramin, rimonabant
dan hoodia. Sibutramin menghambat re-
uptake serotonin, yang di otak bersama
NA mengendalikan perasaan kenyang.
Rimonabant memblok reseptor cannabinoid
yang bila diduduki endocannabinoida me-
nimbulkan rasa lapar. Hoodia mengan-
dung zat aktif yang bersaing dengan glu-
kosa untuk reseptor yang sama, sehing-
ga hipotalamus “dikelabui” dan tidak
memicu isyarat lapar. HCA dan krom
(pikolinat) yaitu zat-zat penekan nafsu
makan yang khusus dipakai dalam
kedokteran alternatif. Belum diterima
oleh kedokteran regular sebab secara
ilmiah efeknya belum terbukti dengan
tuntas.
b. menghambat penyerapan lemak: orlistat.
Lemak baru dapat diabsorpsi sesudah
dirombak oleh lipase menjadi asam lemak
bebas dan gliserol. Orlistat merintangi
lipase, sehingga sebagian lemak tidak
diserap usus.
c. meningkatkan pengeluaran energi: sibu-
tramin, mungkin melalui aktivitas adre-
nergik perifer. sesudah pemakaian 6 bu-
lan, dapat dicapai penurunan berat badan
rata-rata 11 kg (Ph Wkbl 1998; 133: 1590).
Kehamilan dan adipositas
Gangguan-gangguan reproduksi juga ber-
kaitan dengan adipositas, misalnya hiper-
androgenisme dan hiperinsulinisme
Gangguan pada metabolisme gula meng-
akibatkan diabetes gravidarum 3 kali lebih
sering pada pasien dengan berat badan
berlebihan.
Juga hipertensi lebih sering ada pada
wanita hamil dengan overgewicht.
Kans terhadap penyimpangan-penyim-
pangan kongenital juga sangat meningkat
pada ibu-ibu dengan adipositas.
sebab adipositas dapat memicu
risiko pada kehamilan, dianjurkan untuk usa-
ha menurunkan berat badan dilakukan se-
belum kehamilan (prekonsepsi).
Wanita hamil tidak dianjurkan memakai
anoreksansia sebab tidak ada gunanya
mengontrol berat badan selama kehamilan.
Juga perlu diperhatikan bahwa selama
mengandung dianjurkan untuk tidak menu-
runkan berat badan, sebab pertumbuhan
janin dapat terganggu. Hanya boleh diusa-
hakan untuk selama kehamilan, berat badan
sedapat mungkin dibatasi.
Efek yoyo. Dalam praktik ternyata bahwa
sesudah mencapai penurunan berat badan
yang diinginkan, sukar sekali mempertahankan
berat badan yang rendah demikian. Bila pola
makan dan gaya hidup tidak diubah secara
drastis dan konsekuen, maka dalam waktu
singkat hasil kur akan hilang lagi. Efek
turun-naik ini disebut efek yoyo. sesudah setiap
kur selesai, berat badan semula akan pulih
kembali semakin cepat. Efek jangka panjang
sering kali mengecewakan; turun-naiknya
berat badan lebih buruk daripada bila terus-
menerus gemuk. sesudah dua tahun ternyata
bahwa kurang dari 25% pasien mampu
mempertahankan berat badan yang rendah.
Efek yoyo hanya dapat diputus bila disertai
program diet dengan gerak badan dan
kegiatan otot teratur.
“Most obese persons will not stay in treatment
for obesity, of those who stay most will not lose
weight, and of those who do lose weight, most will
regain it.” A.J. Stunkard
Diet mode
Di samping diet energi terbatas, dikenal pula
banyak jenis diet lainnya, yang dipromosikan
oleh berbagai ‘pakar pelangsingan tubuh’.
Yang terkenal yaitu antara lain diet Mayo,
diet dr Atkin dan diet dr Linn, yang terdiri atas
masing-masing khusus sherry, lemak dan
protein. Diet-diet ini sudah dianggap kuno,
sebab efek sampingnya sering berbahaya,
seperti terbukti oleh misalnya banyak korban
dengan aritmia jantung pada penganut diet
dr Linn. Diet ‘the Zone’ dari dr Sears (yang
pernah diikuti oleh presiden Clinton) kini
juga sudah ditinggalkan, sebab dihubung-
kan dengan osteoporosis, gangguan hati dan
kanker usus besar.
* Diet Montignac. Diet Montignac (Prancis)
sangat populer di Eropa, sebab ternyata
efektif dan aman, juga pada jangka panjang.
Diet ini berda sarkan aturan diet bijaksa-
na dengan banyak mengonsumsi sayuran
dan buah-buahan, membatasi asupan lemak
(jenuh) dan menjauhi gula serta monosa-
karida (yang memili ki indeks glikemik tinggi),
lihat juga Bab 54, Dasar-dasar diet se hat.
Garis besar dari diet ini yaitu sederha na,
yaitu:
a. makan boleh sampai kenyang tanpa ada
larangan mengenai jumlah kalori;
b. buah-buahan selalu harus dimakan tersen-
diri (pada perut kos ong);
c. protein boleh dikombinasi dengan lemak
dan hidrata rang, dengan syarat selalu di-
makan bersama serat-serat gizi (sayuran,
beans, dan sebagainya);
d. hidratarang sedapat mungkin harus digu-
nakan, terutama yang memiliki indeks
glikemik rendah;
e. hidratarang tidak boleh dimakan bersa-
maan dengan lemak.
Menurut Montignac pada banyak orang
yang kegemukan ada hiperaktivitas
dari pankreasnya; bila hidratarang dimakan
bersama lemak, maka insulin tidak disekre-
sikan secu kup nya, namun berlebihan. Akibat
hiperinsulinemia ini, sebagian lemak yang
pada keadaan normal dikeluar kan akan
ditimbun sebagai lemak cadangan, yang
berefek membuat gemuk. Hiperinsulinemia
juga menimbul kan kecen derungan hipogli-
kemia, yang mencetuskan rasa lapar dan
disusul oleh asupan hidratarang lagi dengan
stimulasi baru dari pankreas. Dengan demiki-
an, terjadi suatu lingkaran setan dengan
terjadinya pembentukan jaringan lemak
berlebihan (adipogenesis).
Penilaian. Ternyata bahwa den gan diet 1.800
kcal sehari bobot badan dapat ditu runkan
rata-rata 10 kg dalam waktu 6 minggu. Mes-
kipun memerlukan cukup banyak penyesu-
aian kebias aan makan, namun dengan sedikit
motivasi, diet ini mudah dijalankan untuk
waktu yang lama. Keberhasilan metode ini
sudah dipastikan oleh banyak sekali penga-
nut, namun kebanyakan ahli gizi tetap skeptis
dan meno laknya, sebab men ganggap dasar-
dasar ilmiahnya kurang teguh. Sebaliknya
mereka tidak dapat menjelaskan sukses besar
dari diet ini.
MONOGRAFI
1. Amfepramon: dietilpropion, *Apisate
Derivat amfetamin ini (1957) seperti semua
zat dari kelompok “wekamin” berkhasiat
menghambat nafsu makan. Frekuensi efek
samping















