Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 28. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 28. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 28





  bukan merupakan otot polos, 

namun  otot lurik. Dengan demikian, SS0 ter-

sebar luas di seluruh tubuh dan fungsi nya 

yaitu  mengatur secara otomatis unsur-

unsur fisiologi yang konstan, seperti suhu 

badan, tekanan dan peredaran darah, serta 

pernapasan.

SS0 dapat dipecah lagi dalam dua cabang, 

yakni Sistem (Orto) sim patis (SO) dan 

Sistem Parasimpatis (SP). biasanya  

dapat dikata kan bahwa kedua susunan ini 

bekerja antagonistis: bila satu sistem merin-

tangi fungsi tertentu, sistem lainnya justru 

menstimulasinya. namun , dalam beberapa 

hal, khasiatnya berlainan sama sekali atau 

bahkan bersifat siner gistik. Untuk jelasnya, 

percabangan sistem itu  dapat digambar-

kan sebagai berikut:

Efek perangsangan Sistem Saraf Otonom

Pada ikhtisar yang disederhanakan di ba-

wah ini, dimuat efek-efek terpenting dari 

perangsangan SO dan SP terhadap berbagai 

organ tu buh.

Dari tabel ini dapat disimpulkan bahwa 

stimulasi Sistem Adrenergik memicu  

reaksi untuk meningkatkan pemakaian  zat 

oleh tubuh, misalnya bila berada dalam kea- 

daan aktif dan memerlukan enersi. Sebalik-

nya bila saraf Sistem Kolinergik dirangsang, 

akan timbul efek penghematan pemakaian  

zat dan pengumpulan   enersi. Hal ini terjadi 

bila tubuh berada dalam keadaan istirahat 

atau sewaktu tidur. Dalam tubuh yang 

sehat ada  keseimbangan antara kedua 

kelompok saraf itu .

Penerusan impuls oleh neurotransmitter

Sistem Saraf Motoris mengatur otot-otot lurik 

melalui impuls listrik (rangsangan) yang se-

cara langsung dikirim dari SSP melalui saraf 

motorik ke otot itu .


Pada SSO, impuls disalurkan ke organ 

tujuan (efektor, organ ujung) secara tidak 

langsung. Di beberapa tempat  saraf otonom 

terkumpul di sel-sel ganglion pada mana 

ada  sinaps, yaitu sela di antara dua 

neuron (sel saraf). Saraf yang meneruskan 

impuls dari SSP ke ganglia dinamakan neu-

ron preganglioner(a), sedang  saraf antara 

ganglia dan organ ujung disebut neuron 

post-ganglioner (b), lihat Gambar Seksi V-2.

Impuls listrik dari SSP dalam sinaps di-

alihkan dari satu neuron kepada yang lain 

secara kimiawi melalui neurotransmitter (juga 

disebut neurohormon). Bila dalam suatu 

neuron impuls tiba di sinaps, maka pada 

saat itu juga neuron itu  membebaskan 

suatu neurohormon di ujungnya, yang me-

lintasi sinaps dan merangsang neuron ber-

ikutnya. Di neuron ini impuls secara elektris 

diteruskan lagi. Pada ujungnya dibebaskan 


pula neurohormon itu  untuk secara ki-

miawi melintasi sinaps dan seterusnya hing-

ga impuls tiba di organ efektor.

Saraf kolinergik. Semua neuron pregang-

lioner, baik dari SO maupun dari SP, meng-

hasil kan neurohormon asetilkolin (ACh), 

begitupula neuron postganglioner dari SP. 

Saraf-saraf ini disebut saraf kolinergik. 

Asetilkolin merupakan transmitter untuk 

saraf motorik pada penerusan impuls ke otot-

otot lurik.

Saraf adrenergik. Sebaliknya, neuron post-

ganglioner dari SO meneruskan impuls 

dari SSP dengan melepaskan neurohormon 

adrenalin dan/atau noradrenalin (NA) 

pada ujungnya. Neuron ini dinamakan saraf 

adrenergik. Adrenalin juga dihasilkan oleh 

bagian dalam (medulla) dari anak-ginjal.

Metabolisme neurohormon

Untuk menghindari kumulasi neurohormon 

dan terangsangnya saraf secara kontinu, 

maka ada  suatu mekanisme inaktivasi. 

sesudah  meneruskan impuls, transmitter diu-

raikan oleh enzim yang terda pat dalam darah 

dan jaringan. Asetilkolin diuraikan oleh sepa-

sang enzim kolinesterase. (Nor) adrenalin 

dalam darah menga lami demetilasi oleh 

metiltransferase (COMT) dan deaminasi oleh 

mono amin-oksidase (MAO) dalam hati serta 

di ujung neuron (sesudah  diresorpsi kembali).

Enzim MAO ini juga bertanggung-jawa b 

atas penguraian neurohormon lain dari kel-

ompok kimiawi catecholamin yang aktif 

da lam SSP, misalnya serotonin dan dopa-

min, lihat juga Bab 28, Obat-obat Parkinson.

Reaksi penguraian berlangsung sebagai 

berikut:

Obat otonom

Obat-obat otonom yaitu  obat yang dapat 

memengaruhi penerusan impuls dalam SS0 

dengan cara mengganggu sintesis, penim-

bunan, pem bebasan, atau penguraian neu-

rotransmitter atau memengaruhi kerjanya 

atas reseptor khusus. Akibatnya yaitu  di-

pengaruhinya fungsi otot polos dan organ, 

jantung dan kelenjar. Sesuai khasiatnya, obat 

otonom dapat digolongkan sebagai berikut:

1. zat-zat yang bekerja terhadap SO,yaitu:

a. simpatikomimetika (adrenergika), yang me-

niru efek perangsangan SO oleh misal nya 

noradrenalin, efedrin, isoprenalin dan amfeta-

min.

b. simpatikolitika (adrenolitika), yang justru 

menekan saraf simpatis atau melawan 

efek adrenergika, misalnya alkaloida sekale 

dan pro pranolol.

2. zat-zat yang bekerja terhadap SP, yaitu:

a. parasimpatikomimetika (kolinergika) yang 

merangsang organ-organ yang dilayani 

saraf parasimpatis dan meniru efek pe-

rangsangan oleh asetilkolin, misalnya 

pilokarpin dan fisostigmin;

b. parasimpatikolitika (antikolinergika) yang 

justru melawan efek-efek kolinergika, 

misal nya alkaloida Belladonna dan pro-

pantelin. 

3. Zat-zat perintang ganglion yang me-

rintangi penerusan impuls dalam sel-sel 

ganglio n sim patis dan parasimpatis. Efek dari 

perintangan ini dampaknya luas, antara lain 

vasodilatasi akibat blokade susunan simpati s 

dan sebab  itu dipakai  pada hipertensi 

tertentu, lihatBab 35, Antihipertensiva. Zat-

zat ini biasanya  tidak dipakai  

lagi sebagai obat hipertensi sebab  efek sam-

pingnya yang juga memicu  blokade 

dari SP (gangguan penglihatan, obstipasi 

dan berkurangnya sekresi berbagai kelenjar). 

Kebanyakan obat ini yaitu  senyawa amonium 

kwaterner.

Khasiat terhadap SSP

Pada SSP ada  beberapa pusat yang 

mengendalikan saraf simpatis dan para sim-

patis, yang disebut sentra otonom. Beberapa 

obat hipertensi bekerja terhadap pusat ini, 

misalnya adrenolitikum codergocrin dengan 

   H

|

R-C-C-NH2 → R-C-C=O + NH3

 MAO

katekolamin aldehida

efek penurunan tekanan darah dan kegiatan 

jantung (bradycardia). Di samping itu dikenal 

pula sejumlah obat otonom perifer yang juga 

dapat memengaruhi fungsi SSP, misalnya:

– adrenergika (efedrin dan amfetamin): 

menstimulasi SSP

– antikolinergika (atropin dan derivatnya) 

menekan SSP dengan efek sedatif, mung-

kin berdasar  antagonisme dengan 

ACh pada pe nerusan impuls antara sel-

sel saraf otak

– fenotiazin memblokir reseptor untuk 

(nor) adrenalin di otak dengan efek sedatif

– reserpin menghabiskan persediaan (nor)

adrenalin dalam jaringan perifer dan juga 

memberikan efek sedatif 

–  zat perintang MAO merintangi peng-

uraian dari antara lain (nor) adrenalin dan 

serotonin, sehingga memicu  efek 

stimulasi SSP (antidepresi)

–  klonidin, suatu derivat imidazolin yang 

mirip dengan adrenergikum nafazolin, 

juga bekerja terhadap sentra di SSP de-

ngan efek meredakan tonus (kete gangan) 

pembuluh SO dan menurunkan tekanan 

darah.

Semua obat dengan kerja pusat ini bersifat 

lipofil dan dapat mudah melintasi membran 

otak. Zat-zat yang terionisasi baik dan kurang 

lipofil, seperti zat-zat amonium kwaterner 

(ACh, neostigmin dan piridostigmin) tidak 

memiliki efek pusat sebab  tidak dapat 

memasuki CCS.

Dalam dua bab berikut akan dibahas obat-

obat yang berkhasiat terhadap Sistem saraf 

simpatis (adrenergika dan adrenolitika) serta 

obat-obat yang memengaruhi Sistem saraf 

parasimpatis (kolinergika dan antikoliner-

gika).


ADRENERGIKA, DAN  

ADRENOLITIKA, ANOREKSANSIA

A. ADRENERGIKA

Adrenergika atau simpatomimetika yaitu  

zat-zat yang dapat memicu  (sebagian) 

efek yang sama dengan stimulasi Susun- 

an Simpaticus (SS) dan melepas kan nora-

drenalin (NA) di ujung-ujung saraf nya. Zat-

zat dengan efek-a2 sentral yang justru meng-

hambat sistem adrenergik, misalnya kloni-

din, tidak termasuk adrenergika. Untuk me-

ka nisme penerusan impuls, lihat Gambar 

31-1. Telah dijelaskan bahwa SS berfungsi 

meningkatkan pemakaian  zat oleh tubuh 

dan menyiapkannya untuk proses disimilasi. 

Organisme disiapkan agar dengan cepat 

dapat menghasilkan banyak energi, yaitu siap 

untuk suatu reaksi “fight, fright, or flight” 

(berkelahi, merasa takut, atau melarikan diri). 

Oleh sebab  itu, adrenergika memiliki efek 

yang bertujuan mencapai keadaan waspada 

itu .

Reseptor alfa dan beta

Adrenergika dapat dibagi dalam dua kelom-

pok menurut titik kerjanya di sel-sel efektor 

dari organ ujung, yaitu reseptor-alfa dan 

reseptor-beta (Ahlquist 1948). Perbedaan anta-

ra kedua jenis reseptor didasarkan atas kepe-

kaannya bagi adrenalin, noradrenalin (NA) 

dan isopre nalin. Reseptor alfa lebih peka bagi 

NA, sedang  reseptor beta lebih sensitif 

bagi isoprenalin.

Diferensiasi lebih lanjut dapat dilakukan 

menurut efek fisiolo ginya, yaitu dalam alfa-1 

dan alfa-2, serta beta-1 dan beta-2. Pada umum-

nya, stimulasi dari masing-masing reseptor 

itu menghasilkan e fek-efek sebagai berikut:

– alfa-1: memicu  vasokonstriksi dari 

otot polos dan menstimu lasi sel-sel ke-

lenjar dengan bertambahnya antara lain 

sekresi liur dan keringat.

– alfa-2: menghambat pelepasan NA pada 

saraf-saraf adrenergik dengan turunnya 

tekanan darah. Mungkin pelepasan ACh 

di saraf koli nergik dalam usus pun ter-

hambat sehingga antara lain peristaltik 

menurun.

– beta-1: memperkuat daya dan frekuensi 

kontraksi jantung (efek inotrop dan krono-

trop).

– beta-2: bronchodilatasi dan stimulasi meta-

bolisme glikogen dan lemak.

Lokasi reseptor ini umumnya yaitu  sebagai 

berikut:

– alfa-1 dan beta-1: postsinaptis, artinya le-

wat sinaps di organ efektor;

– alfa-2 dan beta-2: presinaptis dan eks-

trasinaptis, yaitu di depan sinaps atau di 

luarnya, antara lain di kulit otak, rahim 

dan trombosit. Reseptor-a-1 juga ada  

presi naptis. 

Efek rangsangan. Bila di suatu organ ter-

dapat kedua jenis reseptor, maka responsnya 

terhadap stimulasi oleh katecholamin (adre-

nalin, NA, dopamin, serotonin) agak tergan-

tung dari pembagian dan jumlah reseptor-

alfa dan reseptor-beta di jaringan itu . 

Contohnya bronchi di mana ada  banyak 

reseptor beta-2. Di sini NA hanya berefek 

ringan, sedang  adrena lin dan isoprenalin 

memicu  bronchodilatasi kuat. Begitu 

pu la di otot polos dinding pembuluh ter-

dapat reseptor-alfa dan reseptor-beta: sedikit 

NA sudah bisa merangsang reseptor-beta-2 

dengan efek vasodilatasi, sedang  lebih 

banyak NA diperlukan untuk merangsang 

reseptor-alfa dengan efek vasokon striksi. 


Pembuluh kulit memiliki banyak reseptor-

alfa, oleh sebab  itu adrena lin dan NA meng- 

akibatkan vasokon striksi, sedang  isopre-

nalin hanya berefek sangat ringan. 

Dalam tabel di bawah ini diikhtisarkan 

efek adrenergik yang terpenting.

Mekanisme kerja

Katecholamin bekerja sebagai “pesuruh” 

(transmitter) dan mengikat diri pada resep-

tor yang berada di bagian luar mem bran sel. 

Penggabungan ini meng ak tifkan suatu en- 

zim di bagian dalam membran sel (adenilsi-

klase) untuk meningkatkan pengubahan ade-

nosintriphosphate (ATP) yang kaya akan ener-

gi, menjadi cAMP (cyclic adenosinemo nophos-

p hate). Peningkatan kadar cAMP di dalam 

sel, memicu  bermacam-macam efek 

adrenergik seperti tertera di atas. Skematis 

reaksi ini dapat digambarkan sebagai berikut:

cAMP ditemukan dan dikembangkan peran-

annya bagi berbagai proses metabolisme 

Tabel 31-1: Efek stimulasi reseptor-a dan -b

oleh F.M. Sutherland, guru besar fisiologi 

(Vanderbilt University-USA) dan pemenang 

hadiah Nobel tahun 1971 untuk bidang 

kedokteran.

Tidak semua adrenergika menghasilkan 

efek yang tertera dalam ikhtisar dengan po-

tensi yang sama, namun  perbedaan antara 

masing-masing zat hanya bersifat kuantitatif. 

Ada obat dengan efek jantung kuat, namun  

dengan efek bronchi hanya ringan dan 

dikenal pula obat yang khusus berefek bron-

chodilatasi dengan sedikit efek lainnya. 

Penggolongan

Adrenergika dapat dibagi dalam dua kelom-

pok, yaitu: 

a.  Zat-zat yang bekerja langsung. Keba-

nyakan katechola min bekerja langsung 

terhadap reseptor dari organ tujuan, an-

tara lain adrenalin, NA dan isoprena lin. 

Dikenal pula sejumlah zat yang bekerja 

menurut kedua prinsip, seperti efedrin 

dan dopa min.

b. Zat-zat dengan kerja tak-langsung. Nor-

adrenalin disintesis dan disimpan di 

ujung-ujung saraf adrenergik dan dapat 

dibebaskan dari depotnya dengan me-

rangsang saraf ber sangkutan atau dapat 

juga dengan peranta raan obat-obat se-

perti efedrin, amfetamin, guanetidin dan 

reserpin.


Penggolongan dapat pula dilakukan menurut 

jenis reseptor yang khusus distimulasi oleh 

obat, sebagai berikut:

– efek-α + β : adrenalin, efedrin dan do-

pamin

– efek-α: NA, fenilefrin, nafazolin dan tu-

runan

– efek-α2 : metildopa, klonidin, guanfasin, 

mungkin juga reserpin, dengan efek 

hipotensif

– efek-β1+β2: adrenalin, efedrin, isopre-

nalin, isoksuprin

– efek-β1: NA, oksifedrin dan dobutamin, 

dengan efek utama terhadap jantung 

(inotrop/kronotrop positif)

– efek-β2: salbutamol, terbutalin, fenoterol 

dan turunannya, juga ritodrin dengan 

khusus efek bronchodilatasi dan relaksasi 

rahim

* Penggolongan kimiawi. Secara kimiawi, 

adrenergika dapat dibagi dalam dua kelom-

pok, yaitu derivat feniletilamin dan derivat 

imidazolin.

a. derivat feniletilamin (C6H5-C-C-NH2) yang 

bisa didiferensi a si lagi dalam 3 kelompok, 

yang menurut urutan ke bawah berkurang 

sifat adrenergik namun  efeknya lebih panjang. 

Efek stimulasinya terhadap SSP bertambah 

kuat dan terkuat pada amfetamin.

– katecholamin: adrenalin, NA serta isopre-

nalin dan turunannya, yang memiliki 2 

gugus-OH pada cincin-benzen

– zat-zat dengan 1 gugus-OH (posisi meta): 

fenilefrin

– zat-zat tanpa gugus-OH: efedrin, amfe-

tamin dan turunannya

b. derivat imidazolin: ksilometazolin, nafa-

zolin dan turunan nya, yang berkhasiat de-

kongestif (menciutkan) lebih lama terhadap 

mukosa hidung namun  dengan efek sentral 

ringan sekali.

Selektivitas bagi suatu jenis reseptor pada 

umumnya berkurang bila dosis semakin di-

naikkan dan pada dosis tinggi bahkan praktis 

hilang seluruhnya. Dalam tabel di bawah ini 

diberikan ringkasan dari adrenergika dengan 

efek utamanya (x).

Tabel 31-2: Adrenergika dengan efek-

efek utamanya

pemakaian 

berdasar  khasiatnya adrenergika digu-

nakan pada bermacam-macam penyakit dan 

gangguan dan yang terpenting di antaranya 

yaitu :

– pada syok untuk memperkuat daya kerja 

jantung (β1) dan melawan hipotensi (α1), 

khususnya adrenalin dan NA

– pada asma untuk mencapai broncho-

dilatasi (β2), terutama salbutamol dan 

turunannya, juga adrenalin dan efedrin, 

lihat Bab 40, Obat-obat Asma dan COPD

– pada hipertensi untuk menurunkan daya 

tahan perifer dari dinding pembuluh 

melalui penghambatan pelepasan NA 

(α2). Di samping itu juga melalui bloka-

de reseptor α1 dan β (prazo sin/propra-

nolol dan turunan). Lihat Bab 35, Anti-

hipertensiva.

– sebagai vasodilator perifer (β2) pada va-

sokonstriksi di betis dan tungkai (clau-

dicatio intermittens), lihat Bab 34, Vasodila-

tansia. 

– pada pilek (rhinitis) untuk menciutkan 

mukosa yang bengkak (α), terutama zat-

zat imidazolin, juga kadangkala efedrin 

dan adrenalin


– sebagai midriatikum untuk melebarkan 

pupil (α), antara lain fenilef rin dan nafa-

zolin

– pada obesitas untuk menekan nafsu 

makan dan menunjang diet menguruskan 

badan, khususnya fenfluramin dan ma-

zindol, lihat B.Anoreksansia.

– sebagai penghambat his dan pada nyeri 

haid (dysmenorrhoea) berkat daya relak-

sasinya atas otot rahim (α2), misalnya rito-

drin.

Efek samping

Pada dosis biasa, adrenergika dapat menim-

bulkan efek samping terhadap jantung dan 

SSP, yaitu tachycardia dan jantung berdebar, 

nyeri kepala, gelisah dan sebagainya. Oleh 

sebab  itu adrenergika harus dipakai  de-

ngan hati-hati pada pasien infark jan tung, 

hipertensi dan hipertirosis.

* Tachyfylaxis. Bila dipakai  untuk waktu 

lama seperti pada asma, adrener gika dapat 

memicu  tachyfylaxis, semacam resis-

tensi yang terjadi dengan cepat bila obat 

diberikan berulang kali dalam waktu singkat. 

Terkenal yaitu  efedrin dan obat-obat de-

ngan kerja tak langsung akibat habisnya per- 

sediaan NA. Oleh sebab  itu obat-obat ini 

jangan dipakai  terus-menerus, namun  dise-

ling dengan obat-obat asma lainnya. Lihat 

juga Bab 4, sub Toleransi.

MONOGRAFI

1. Epinefrin: adrenalin, Epipen ,*Ultracain, 

*Lidonest 2% 

Bentuk levo dari neurohormon SS ini bersama 

turunannya NA dibebas kan pada ujung-

ujung saraf adrenergik yang dirangsang. 

Zat ini dihasil kan juga oleh anak gin jal dan 

berperan pada metabolisme hidratarang dan 

lemak. Adrenalin memiliki semua khasiat 

adre ner gik-alfa dan -beta, namun  efek beta-

nya relatif lebih kuat (stimulasi jantung dan 

bronchodilatasi).

Efek utamanya terhadap organ dan proses-

proses tubuh penting dapat diikhtisarkan 

sebagai berikut:

– jantung: daya kontraksi diperkuat (ino-

trop positif), frekuensi ditingkatkan (chro-

notrop positif) dan sering kali ritmenya di-

rubah;

– pembuluh: vasokonstriksi dengan naik-

nya tekanan darah; 

– pernapasan: bronchodilatasi kuat teruta-

ma pada keadaan konstriksi seperti pada 

asma atau akibat obat;

– metabolisme ditingkatkan dengan naik-

nya konsumsi O2 dengan ±25%, berda-

sarkan stimulasi pembakaran glikogen 

(glycogenoly sis) dan lipolysis. Sekresi insu-

lin dihambat, kadar glukosa dan asam 

lemak darah dinaikkan. 

pemakaian nya terutama sebagai analep-

tikum, yaitu obat stimulans jantung yang 

aktif sekali pada keadaan darurat, seperti ko-

laps, syok anafilaktik, atau henti jantung. Obat ini 

sangat efektif pada serangan asma akut, namun  

harus melalui injeksi sebab  per oral diuraikan 

oleh getah lambung. Atas dasar efek vasokon-

striksinya sering kali ditambahkan pada injeksi 

anestetika lokal untuk memperpanjang daya 

kerjanya. Atau di dalam tetes hidung bila 

tersumbat sebab  pilek, kerjanya pesat namun  

singkat. Pada glaukoma tertentu dipakai  

untuk menurunkan tekanan intraoku ler. Efek 

ini sebetulnya sangat paradoksal, sebab  

antagonis adrenalin (beta-blocker seperti timo-

lol) banyak dipakai  untuk indikasi yang 

sama.

Efek samping yang penting pada dosis tinggi 

yaitu  necro sis jari-jari akibat vasokonstriksi 

dan akhirnya kolaps.

Dosis: pada asma akut s.c. 0,2-0,5 mg, bi-

la perlu diulang dua kali setiap 20 menit, 

maks. 1 mg tiap kali. Pada henti jantung atau 

bradycardia i.v./intracardial, syok anafilaktik 

i.m. 0,5 mg, disusul dengan i.v. 0,5-1,0 mg, 

bila perlu diulang setiap 2-5 menit. Glaukoma 

terbuka 1 tetes 2-5 mg/ml. Dalam tetes mata/

hidung 0,05-0,2%. 

* l-Norepinefrin (noradrenalin, levarterenol) 

yaitu  derivat tanpa gugus metil pada 

atom-N (Jerm. NOR = N ohne Radikal). Neuro-

hormon ini khusus berkhasiat langsung ter-

hadap resep tor-alfa dengan efek vasokons-

triksi dan meningkatnya tensi. Efek beta 


hanya ringan kecuali efek jantung (β1). 

Bentuk dekstro seperti pada epinefrin, tidak 

dipakai  sebab  ±50 kali kurang aktif. 

Efek samping terutama terjadi pada dosis 

tinggi dan berupa efek jantung (tachycardia, 

jantung berdebar) dan efek sentral (gelisah, 

eksitasi, rasa takut, sukar tidur), juga gemetar 

dan flushing.

Dosis: infus i.v. permulaan 8-12 mcg/menit 

dari 4 mg/l larutan glukosa 5%.

2. Isoprenalin: isoproterenol, Isuprel, *Lomudal 

cp. 

Homolog adrenalin ini (1949) memiliki ter-

utama efek β (stimul asi jantung dan bron-

chodilatasi), maka kini khusus dipakai  

pada kejang bronchi (asma) dan sebagai 

stimulans sirkulasi darah. Mulai kerja lebih 

cepat dari efedrin, namun  bertahan lebih 

singkat. Tidak mening katkan tekanan darah. 

Resorpsi dari usus tidak teratur, oleh sebab  

itu sebaiknya dipakai  secara oromukosal 

(lewat selaput lendir mulut). Pentakaran le-

bih saksama dicapai melalui aerosol (spray) 

dengan lama kerja ±1 jam. Spray ini tidak 

boleh diulang terlalu sering untuk menghin-

dari overdosis.

Efek samping terutama terjadi pada dosis 

tinggi dan berupa efek jantung (tachycardia, 

jantung berdebar) dan efek sentral (geli sah, 

eksitasi, rasa takut, sukar tidur), juga gemetar 

dan flushing.

Dosis: pada bronchospasme 0,08-0,4 mg, 

maksimal 8 inhalasi larutan sulfat 1% sehari, 

untuk memperbaiki sirkulasi darah i.v. per-

mulaan 0,02 mg, disusul dengan 0,01-0,2 mg.

* Orsiprenalin (metaproterenol, Alupent, *Silo-

mat) yaitu  isomer dengan kedua gugus-OH 

dalam posisi ortho. Khasiatnya sama dengan 

isoprenalin, namun  mulai kerjanya lambat 

dengan efek yang lebih lama, sampai 4 jam. 

Resorpsi dari usus baik. Efek samping terha- 

dap jantung tidak begitu nyata seperti pada 

isoprenalin. Dengan tersedianya β2-mimetika 

yang lebih selektif dan aman (seperti salbu-

tamol), obat ini dan isoprena lin sudah sangat 

berkurang pemakaian nya pada asma. 

Dosis: oral 4 dd 10-20 mg (sulfat) atau 

sebagai inhalasi larutan 5%.

3. Fenilefrin: Prefrin, *Benadryl DMP, *Vibro-

cil.

Derivat adrenalin ini (1933) hanya memi-

liki 1 OH pada cincin benzen. Obat ini teru- 

tama berefek alfa-adrenergik secara tak lang-

sung melalui pembebasan NA dari ujung 

saraf. Efeknya ±10 kali lebih lemah dari 

adrenalin, namun  bertahan lebih lama. Ti-

dak menstimulasi SSP, efek jantungnya ri-

ngan sekali. Berkhasiat vasokonstriksif perifer 

dengan meningkatkan tensi, oleh sebab  itu 

dipakai  pada keadaan hipotensi (kolaps). 

pemakaian  lain yaitu  sebagai midriatikum 

pada pemeriksaan mata (larutan klorida 

5-10%) yang mulai bekerja sesudah  20 menit 

dan dapat bertahan sampai 7 jam. Juga 

dipakai  sebagai dekongestivum hidung 

dan mata (larutan 0,125-0,5%) dan dalam 

banyak sediaan kombinasi anti-flu bersama 

analgetika, antihistaminika dan antitussiva. 

Sebagai efek samping tercatat a.l. lensa kontak 

lembut dapat berubah warna dan menjadi 

cokelat tua. sebab  masuk ke dalam ASI 

dengan memicu  hipertensi pada bayi, 

maka ibu yang menyusui tidak dianjurkan 

memakai  tetes mata dengan zat ini.

*Etilefrin (etafedrin, *Decolsin) yaitu  homo-

log dengan gugus etil sebagai ganti metil pada 

atom-N. Daya kerjanya sama, namun  lebih 

kuat dan lebih lama dibanding fenilefrin. 

Obat ini juga diguna kan sebagai obat pe-

lancar sirkulasi, terutama bagi lansia untuk 

meningkatkan prestasi fisik dan mental, juga 

dalam sediaan kombinasi antiflu. Dosis: oral 

3 dd 5 mg.

*Decolsin = parasetamol 325 + etilefrin 

HCl 12,5 + fenilpropilamin HCl 12,5 + klor-

feniraminmaleat 1 + dekstrometorfan HBr 5 + 

guaifenesin 50 mg.

4. l-Efedrin (F.I.): *Asmasolon, *Bronchicum

Alkaloida dari tumbuhan Ephedra vulgaris 

ini (1887) sudah diguna kan di Cina lebih 

dari 5.000 tahun (Ma Huang) dan kini dibuat 

secara sintetik. Dalam molekulnya tidak 

ada  lagi gugus-OH fenolis, larutannya 

dalam air lebih stabil dari adrenalin.

Daya kerja senyawa levo ini sama dengan 

adrenalin (efek-a dan -β), namun  lebih lemah. 


Efeknya terhadap SSP relatif lebih kuat 

daripada terhadap jantung dan bertahan 

lebih lama. Lagi pula selain bekerja lang-

sung terhadap reseptor di otot polos dan 

jantung, juga secara tidak langsung dapat 

membebaskan NA dari depot nya. Penggu- 

naan utamanya yaitu  pada asma berda-

sarkan efek broncho dilatasi kuat (β2), juga 

sebagai decongestivum dan midriati kum 

yang kurang merangsang dibandingkan de-

ngan adrenalin. Banyak sediaan asma OTC 

mengandung efedrin, yang pada orang-

orang peka atau penta karan terlampau 

tinggi dapat menimbul kan efek pusat dan 

jantung (aritmia) yang tidak diinginkan. Oleh 

sebab  itu efedrin di sejumlah negara, a.l. 

Belanda, dilarang dalam sediaan bebas (food 

supplements OTC), lagi pula dimasukkan ke 

dalam Doping List Komite Olimpik.

Resorpsi dari usus baik, bronchodilatasi 

sudah nampak dalam 15-60 menit dan ber-

tahan 2-5 jam. Plasma-t½ 3-6 jam tergan tung 

dari pH. Dalam hati sebagian zat dirombak; 

ekskresi berlang sung lewat urin secara utuh.

Efek samping. Pada dosis biasa sudah bisa 

terjadi efek pusat, seperti gelisah, nyeri kepala, 

cemas dan sukar tidur, sedang  pada 

overdosis timbul tremor dan tachycardia, 

aritmia serta debar jantung. Berhubung de-

ngan risiko tachyfylaxis sebaiknya jangan 

dipakai  secara kontinu, namun  diseling 

dengan obat asma lain. Wanita hamil boleh 

memakai  efedrin.

Dosis: pada asma 3-4 dd 25-50 mg (-HCl), 

anak-anak 2-3 mg/kg sehari dalam 4-6 dosis. 

Tetes hidung larutan sulfat 0,5-2%, dalam 

tetes mata 3-4%.

* Pseudo-efedrin (d-efedrin, iso-efedrin, *Ac-

tifed, *Sinutab, *Sudafed, *Polaramin exp.) ada-

lah isomer dekstro (1956) dengan khasiat sa-

ma. Khasiat bronchodilatasinya lebih lemah, 

namun  efek sampingnya terhadap SSP dan 

jantung juga sedikit lebih ringan. Plasma-t½ 

±7 jam, namun  lebih singkat dalam urin asam. 

Obat ini juga banyak dipakai  dalam 

sediaan kombinasi untuk flu. Dosis: oral 3-4 

dd 60 mg (HCl, sulfat).

*Fenilpropanolamin(norefedrin, *Rhinotussal, 

*Sinutab, *Triaminic) yaitu  derivat tanpa gu-

gus-CH pada atom-N dengan khasiat yang 

menyerupai efedrin. Efeknya lebih panjang; 

efek sentral dan efek terhadap jantung lebih 

ringan. namun  pada ±20% pengguna tekanan 

darahnya meningkat dengan nyata. Banyak 

sekali sediaan kombinasi OTC anti-flu den-

gan obat ini beredar di pasaran. 

berdasar   hasil  penelitian (Yale Univer-

sity  School of Medicine: Phenylpropanola-

mine & Risk of Hemorrhagic Stroke) bahwa 

ada korelasi antara fenilpropanolamin dan 

perdarahan otak (stroke), oleh sebab  itu 

dalam bulan April 2001 peredaran produk-

produk (khususnya obat-obat flu) yang 

mengandung bahan aktif ini di atas 15 mg 

per dosis telah ditarik dari peredaran. Walau- 

pun risiko hemorrhagic stroke sangat rendah, 

namun  Food and Drug Administration Ame-

rika (FDA) menganjurkan untuk tidak meng- 

gunakan produk yang mengandung fenil-

propanolamin (updated December 2005). Dosis: 

oral 3-4 dd 15-25 mg.

5. Derivat imidazolin1

Senyawa ini memiliki efek a-adrene rgik 

langsung dengan vasokon striksi tanpa sti-

mulasi SSP. Khusus dipakai  sebagai de-

kongestivum pada selaput lendir hidung 

dan mata, selesma (rhinitis, coryza), hay fever, 

sinusitis dan sebagainya. Efeknya lebih pan-

jang dari pada efedrin.

pemakaian nya sebagai tetes hidung ja-

ngan lebih lama dari 3-5 hari, sebab  dapat 

memicu  kebiasaan (ringan), lagi pula 

dapat memicu  pilek kronis dengan 

hidung mampat akibat vasodilatasi (rebound 

effect). 

Efek samping. Bayi dan anak kecil sebaiknya 

jangan diberikan obat ini, sebab  dapat 

diabsorpsi dari mukosa dengan memicu  

depresi SSP. Gejalanya berupa mengantuk, 

pening, hipotermi dan bradycardia, bahkan 

juga koma pada overdosis. Sifat ini ber-

tentangan dengan kebany akan adrenergi-

ka yang justru mensti mulasi SSP. Yang pa-

ling banyak dipakai  yaitu  nafazo lin, 

ksilometazolin, oksimetazolin dan tetrizolin (Vi-

sine). Oksimetazolin dan ksilometazolin ter-

nyata memiliki sifat antioksidan baik yang 

mungkin meningkatkan efektivitasnya pada 

terapi lokal dari infeksi saluran napas bagian 

atas dengan peradangan.

5a.  Oksimetazolin: Afrin, Iliadin = Nasivin.

Derivat imidazolin ini (1961) bekerja 

langsung terhadap resep tor-alfa tanpa 

efek atas reseptor-beta. sesudah  diteteskan 

di hidung, dalam waktu 5-10 menit terjadi 

vasokonstriksi mukosa yang bengkak dan 

mampatnya hilang. Efeknya bertahan ±5 

jam. 

Efek samping dapat berupa rasa terbakar 

dan iritasi pada selaput lendir hidung 

dengan memicu  bersin.

Dosis: anak-anak di atas 12 tahun dan 

dewasa 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,05% 

(HCl) di setiap lubang hidung; anak-anak 

2-10 tahun larutan 0,025%.

5b. Ksilometazolin (Otrivin) yaitu  derivat 

(1959) dengan efek dan pemakaian  sa-

ma. 

Dosis: nasal 1-3 dd 2-3 tetes larutan 0,1% 

(HCl), maks 6 x sehari. Anak-anak 2-6 thn 

larutan 0,05%.

5c. Nafazolin (Albalon, Privine, Vasacon) ada-

lah derivat paling tua (1941) dengan 

sifat sama, namun  efeknya lebih singkat 

rata-rata 3 jam, sehingga risiko rebound 

kongesti lebih besar. 

Dosis: okuler 1-4 dd 1-2 tetes larutan 

0,05-0,1% (HCl)

6. Amfetamin

Psikostimulansia. Amfetamin termasuk 

kelompok psikostimulansia yang bercirikan 

stimulasi SSP dan memperkuat pernapasan 

yang dihambat oleh obat-obat sentral lain. 

Aktivitas mental dan fisik meningkat, begitu 

pula inisiatif dan kelincahan, kepercayaan diri 

sendiri dan prestasi diperbesar, sedang  

rasa kantuk dan letih dihilangkan(sementara). 

Amfetamin juga memicu  rasa nyaman 

(eufori), maka berdasar  sifat psikis ini 

dahulu dipakai  sebagai obat antidepresi. 

sebab  adakalanya bisa membuat suasana 

jiwa memburuk dan timbul depresi, bersifat 

adiksi dan memicu  risiko besar bunuh 

diri, pemakaian ya sebagai antidepresivum 

sudah lama dianggap obso let. Lihat Bab 30, 

Antidepresiva. Di samping itu, amfetamin 

juga memiliki efek adre ner gik yang meliputi 

vasokonstrik si, bron chodilatasi (agak lemah), 

midria sis dan kon traksi otot lingkar (sfincter) 

kandung kemih.

Kelompok amfetamin juga disebut ‘wek-

amin’ dan meliputi (deks) am fe ta min, metam-

fetamin, ecstasy (XTC) dan metilfenidat. 

Berhubung dengan sifat adiksinya, di ba-

nyak negara, terma suk Belan da, obat-obat 

ini hanya dijual atas resep dan diatur secara 

hukum dalam Undang-undang Narkotika 

(Opium wet). 

6a. Deksamfetamin: desoksinorefedrin, Dexe-

drin

Isomer dekstro dari amfetamin ini (1935) 

memiliki khasiat terhadap SSP yang 2x 

lebih kuat daripada bentuk-rasemisnya (-dl)

(benze drin) dan ±4x lebih kuat daripada 

bentuk levony a. pemakaian  nya khusus pa-

da penyakit narkolepsi (rasa kantuk tidak 

tertahan pada siang hari) dan ADHD pada 

anak-anak yang hiperaktif (sebagai pilihan 

kedua sesudah metil fenidat).2 Amfetamin 

juga sering kali diguna kan sebagai doping 

untuk meningkatkan presta si olahraga.3

Resorpsi dari usus baik, efeknya bertahan 

4-24 jam. Dalam hati, zat ini sebagian dime-

tabolisasi dan bagian terbesar diekskresi le-

wat urin secara utuh.

Efek samping berupa efek pusat, seperti 

gelisah, rasa takut, sukar tidur dan kecen-

derungan berbicara tanpa henti. pemakaian  

untuk jangka waktu lama, terutama dengan 

dosis tinggi, dapat memicu  psikosis dan 

depresi hebat, juga efek adrenergik seperti 

tachycardia, naiknya tensi, aritmia, mulut 

kering dan midriasis. Gangguan lambung 

usus dan reaksi kulit serta berkurangnya 

libido dapat terjadi.

Dosis: pada narkolepsi 2 dd 5 mg, dinaikkan 

setiap minggu dengan 10 mg sampai dicapai 

respons optimal, maksimal 60 mg/hari.

Pada ADHD (bila metilfenidat kurang 

menghasilkan efek) permulaan 2,5 mg (3-5 

thn) atau 5-10 mg (di atas 6 thn) sehari, bila 

perlu dinaikkan setiap 7 hari sampai rata-rata 

20-40 mg sehari.

* Ecstacy (XTC, metilendioksimetamfetamin, 

MDMA) termasuk kelompok Drugs yang 

efeknya “membebaskan jiwa” (halusinogen) 

dengan berturut-turut timbul desorientasi, 


perasaan senang dan nyaman (euforia) yang 

bertahan ±4 jam. Toleransi muncul dengan 

cepat. Kombina si dengan alkohol mening-

katkan risiko kerusakan otot jantung. Lihat 

selanjutnya Bab 23, Drugs.

6b. Metilfenidat: Ritalin, Equasym, Medikinet

Derivat piperidil ini (1954) berbeda struk-

turnya dari amfeta min, namun  sifatnya mirip. 

Bekerja menstimulasi SSP hingga batas ke-

lelahan faal dapat dilampaui. Selain itu, obat 

ini memicu  euforia dan perilaku ‘tanpa-

kendali’. Mekanisme kerjanya berdasar  

penghamba tan re-uptake dopamin dan nor-

adrenalin. Kebiasaan terhadap efek psiko-

aktivasinya terjadi secara berang sur-ang-

sur. Metilfenidat terutama dipakai  seba- 

gai pilihan pertama pada narkolepsi. Sejak 

tahun 1993, di AS obat ini sering kali dibe-

rikan pada anak-anak dengan sindroma hiper-

kinetik ADHD, lihat boks. Di negeri Belanda 

metilfenidat dimasukkan dalam Daftar Nar-

kotika (Opiumwet).

Resorpsi dari usus cepat dan praktis leng-

kap, BA hanya 30% sebab  FPE besar, PP 

rata 21%, plasma-t½ singkat, 2 jam. Ekskresi 

berlangsung dengan urin.

Efek samping dapat berupa nervositas, 

tachycardia, sukar tidur dan anoreksi a, 

nyeri perut, lebih sering pada anak-anak. 

Efek lainnya pusing, gangguan penglihatan, 

dyskinesia dan kejang otot. Efek sentralnya 

(euforia, eksitasi, gelisah) menyerupai efek 

kokain, namun  bertahan 4 kali lebih lama.

Ketergantungan psikis dapat terjadi, seperti 

amfetamin pada orang yang peka, namun  

ketergantungan fisik seperti akibat narkotika 

tidak terjadi. Wanita hamil tidak boleh minum 

obat ini, sebab  dapat merusak janin.

Dosis: pada narkolepsi oral 2-3 dd 10 mg 

½ jam a.c. Pada ADHD anak-anak 6 thn atau 

lebih permulaan 0,25 mg/kg/hari dalam 2 

dosis, lalu dinaikkan setiap minggu sampai 2 

mg/kg, maksimal 60 mg sehari. 

ADHD (= Attention Deficit & Hyperacti vity Disor der)

ADHD yang dahulu disebut Minimum Brain Damage (MBD), merupakan gangguan psikiatris 

tersering pada anak-anak dengan prevalensi 3-5%. Bercirikan kesulitan serius untuk konsentrasi, 

hiperaktivitas dan impulsivitas. Juga orang dewasa dapat mengidap penyakit ini dengan gangguan 

perilaku dan memori serta berfungsi  kurang baik dalam pekerjaan dan penghidupan sosial. Perlu 

dicatat bahwa tidak semua anak yang sangat sibuk, bandel dan sukar dikendalikan, menderita 

ADHD. Diagnosis dapat dikonfirmasi dengan MRI, pada mana tampak kelainan-kelainan khas di 

otak. Penanganan terdiri dari psiko-edukasi dan/atau  saran-saran yang bersifat mendidik, ditunjang 

dengan pengobatan. Obat pilihan pertama yaitu  psikostimulan metilfenidat, yang  sebab  efeknya 

singkat perlu diberikan 3-4 kali sehari. Tablet controlled release juga tersedia, yaitu metilfenidat Oros 

(Concerta), namun  harganya 5 kali lebih tinggi.  Obat relatif baru  atomoksetin yang sama efektifnya 

dengan dosis tungal telah disambut dengan baik. Alternatif  dipakai  minyak ikan (EPD/DHA) 

dengan dosis 2 dd 300 – 500 mg EPA/DHA dengan efek baik.

*Atomoksetin (Strattera) yaitu  derivat propilamin (2002) yang berkhasiat memperbaiki gejala 

ADHD dan perilaku psikososial. Khasiatnya berdasar  penghambatan penyerapan kembali NA 

(NA reuptake blocker). Tidak bersifat psikostimulan, maka tidak termasuk dalam Daftar Narkotika. 

Efek samping berupa gangguan lambung-usus (a.l. anoreksia), pusing, mengantuk, reaksi kulit, 

peningkatan tekanan darah dan meningkatnya frekwensi jantung.  Zat ini dirombak oleh sistem 

oksidatif  P450 (enzim CYP2D6), oleh sebab  itu interaksi dengan  zat-zat penghambat enzim ini 

dapat terjadi. Dianjurkan  untuk memantau tensi, frekwensi jantung  dan  pertumbuhan   

Dosis: dewasa 40-80 mg sehari dalam 1 -2 dosis, anak-anak 0,5-1,2 mg/kg/hari dalam 1-2 dosis, 

maks 1,8 mg/kg/hari.


 B. ANOREKSANSIA

Anoreksansia yaitu zat-zat yang berkhasiat

menekan nafsu makan dan dipakai un-

tuk menunjang diet pada penanganan ke-

gemukan (overweight, obesitas).

Penurunan berat badan hanya dapat ter-

realisasi dengan membatasi asupan makanan.

Kegemukan

Overweight atau kegemukan merupakan su-

atu gabungan dari faktor keturunan 70%)

dan sisanya yaitu faktor-faktor lingkungan

seperti susunan makanan dan pola hidup

(kegiatan fisik).

Meningkatnya berat badan juga dapat

disebabkan bila berhenti merokok (melalui

susunan saraf otonom), sesudah persalinan

(hormonal) dan obat-obat tertentu seperti

hormon-hormon, beberapa antidepresiva, an-

tipsikotika dan anti-epileptika.

Overweight, obesitas atau adipositas dide-

finisikan sebagai ada nya lemak tubuh

dalam jumlah abnormal, yang mengakibat-

kan kegemukan dan overweight pada keadaan

tinggi badan dan jumlah otot tertentu (Ing.

obese = amat gemuk). Obesitas merupakan

suatu penyakit kronis dengan penumpukan

lemak dalam tubuh yang demikian besar

sehingga memicu risiko kesehatan.

Di banyak negara makmur (Jerman, Be-

landa, AS) ada banyak orang gemuk;

30% lebih dari populasi mengidap obesitas.

Bahkan dikuatirkan akan menjadi suatu epi-

demi sedunia (BMJ 1998; 317: 1607-8). Pada

orang gemuk umumnya ada kadar ko-

lesterol total yang meningkat, terutama

LDL-kolesterol, sedang HDL-kolesterol 

menurun. Begitu pula kadar trigliserida 

naik, yang diperkuat oleh penumpu kan le-

mak di rongga perut.1 kg over weight menaik-

kan tekanan darah dengan ±1,3 mm Hg,

sebab volume darah naik dan volume-

menit (cardiac output) meningkat. Obesi tas

dapat mencetuskan resistensi insulin dan

hiper insulinemia, yang pada akhirnya dapat

memicu diabetes dan meningkatkan

risiko akan hipertensi dan PJP, lihat Bab 47,

Insulin dan Antidiabeti ka oral. 

Obesitas meningkatkan risiko mendapatkan

diabetes tipe 2 dengan faktor 500-1000%.

Relasi antara diabetes dan kelebihan berat

badan yaitu kausal, sebab penelitian telah

membuktikan pengaruh menguruskan badan

dan lebih banyak bergerak terhadap insidensi

penyakit gula.


Faktor risiko untuk berbagai penyakit. 

Selain faktor risiko untuk diabetes dan PJP, 

over weight juga meningkatkan risiko akan 

timbul nya batu empedu, hernia, varices dan 

artrose pada lutut dan kaki.

Oleh sebab  itu, penan ga nan diabetes 

dan hipertensi pada orang gemuk selalu 

dimulai dengan usaha mengu rangi berat tu-

buh dengan kur pelangsin gan, sebelum dila-

kukan pengobatan spesifik, lihat bab-bab 

bersangkutan.

Metabolisme

Semua bahan gizi yang diasup (protein, hi-

dratarang dan lemak) tubuh dipakai  untuk 

memelihara jaringan serta mempro duksi 

kalor dan energi. Kelebihan hidratarang 

yang tidak langsung ‘dibakar’ atau diubah 

menjadi glikogen, diubah menjadi lemak 

(triglise rida) yang ditimbun dalam jaringan 

lemak. Lemak persediaan ini tidak dapat 

diubah kembali menjadi protein atau gula. 

Hanya dalam keadaan ‘daru rat’, lemak ini 

dipakai  sebagai bahan bakar, misalnya 

sesudah  pantang makan untuk jangka waktu 

lama.

Menurut perkiraan, jumlahsel-sel lemak (adi-

pocyt) dalam tubuh sudah ditentukan pada 

masa kanak-kanak dan sekali terbentuk 

dalam jumlah besar tidak akan berkurang 

lagi. Semakin besar asupan makanan, sema-

kin banyak pula lemak memasu ki adipocyt, 

yang sebab  itu akan terisi penuh dan me-

ngembang. Keadaan ini dapat disama kan 

dengan balon yang dalam keadaan biasa 

kempis, namun  volumenya membesar bila 

diisi gas (diti up). Penum pukan lemak terjadi 

khusus di sekitar organ dan di bawah kulit, 

yang memicu  tubuh menjadi gemuk.

Pathogenesis

Hanya sedikit, ±10%, obesitas disebabkan 

oleh kelainan organik, misalnya hipotirosis. 

Faktor lainnya yaitu  faktor keturunan 

dan resam tubuh yang berperan melalui 

mekanisme yang belum diketahui. Di 

samping itu, pe-ranan utama kegemukan 

ditentukan oleh gaya hidup, yaitu kebiasaan 

makan terlalu banyak tanpa ‘membakar’ semua 

energi yang diasup, di samping kekurangan 

aktivitas/gerak badan.

pemicu  obesitas pada manusia belum 

diketahui dengan jelas. Pada tikus gemuk 

telah ditemukan suatu gen termutasi, yang 

homolognya juga dideteksi dalam jaringan 

lemak manusia. Diketa hui bahwa gen-ob 

(obese) ini mengarah ke obesitas dan resistensi 

insulin. Ada korelasi positif antara BMI (lihat 

di bawah) dan adanya gen-ob. Ditemukan 

pula suatu faktor yang membuat kenyang 

(leptin) yang berperan untuk berkembangnya 

obesitas pada tikus dengan gen-ob. Faktor 

ini juga ada  dalam darah orang ‘biasa’ 

(tidak gemuk). Selain itu ada  pula suatu 

faktor lapar(ghrelin).

Bobot badan biasanya kurang lebih stabil. 

Penimbunan energi sebagai trigliserida da-

lam jaringan lemak terjadi bila asupan ener- 

gi lebih besar daripada pemakaian nya. Ke- 

seimbangan diregulasi oleh hipotalamus (se-

perti juga suhu tubuh dan osmolaritas cairan 

tubuh), pada mana kedua faktor, ghrelin 

maupun leptin, memegang peranan penting.

* Ghrelin yaitu  hormon lapar (appetite sti-

mulating hormone) yang ditemukan oleh kar-

diolog Jepang Kojima (1999, Yun ghre = per-

tumbuhan). Diproduksi terutama di lam-

bung akibat rangsangan dari hipotalamus. 

Hormon peptida ini melalui stimulasi pe-

lepasan GH (Growth Hormone) menimbul-

kan perasaan lapar. Bila kadar ghrelin darah 

menurun, kadar GH juga berkurang, nafsu 

makan tidak dihambat dan BMI meningkat. 

Ghrelin menghemat pemakaian  energi 

oleh tubuh dan menstimulasi penimbunan 

lemak. Bila bobot badan turun, sekresi GH 

meningkat namun  kadar ghrelin tidak beru-

bah. Hal ini menunjukkan, bahwa sebetulnya 

obesitas bercirikan defisiensi GH, yang 

tidak berhubungan kausal dengan kadar 

ghrelin rendah. 

Selama berpuasa ghrelin akan disekresi dan 

kadarnya meningkat, namun  segera menurun 

lagi sebab  hipotalamus mencetuskan pera-

saan lapar. (Obes.Res 2002; 10: 1161-66)

* Leptin (”faktor saturasi”) yaitu  suatu hor-

mon peptida yang ditemukan pada tahun 


1994 dan terdiri dari 167 asam a mi no de-

ngan BM 16.000 (Yun. leptos = kurus). Zat 

ini diproduksi oleh sel-sel lemak di bawah 

penga ruh gen-ob, juga dalam lambung dan 

organ kelamin. Leptin beredar dalam darah 

dan berperan pada asupan makanan, metabo-

lisme dasar dan fertili tas. Bila kadar leptin 

naik, rasa lapar turun. Faktor ini bersama 

ghrelin merupa kan anak rantai penting 

pada sistem feed-back yang mengatur kese-

imbangan antara  perasaan lapar dan asupan 

pangan. 

Leptin sebagai faktor mengenyang kan (‘sa-

turation factor’) hanya aktif di sel lemak dan 

membantu mengendalikan nafsu makan 

di hipotalamus. Pada orang gemuk leptin 

tidak atau kurang terbentuk akibat defek 

pada gen-ob atau pada reseptornya. Efeknya 

yaitu  timbulnya polyfa gie (makan terlalu 

banyak), suhu badan abnormal rendah (hi-

pot hermie) dan resistensi terhadap insulin dan 

leptin. Oleh sebab  itu pada obesitas meski-

pun masa lemak meningkat dan jumlah 

leptin sekadar naik, namun nafsu makan 

tidak berkurang dan pertukaran zat tidak 

meningkat. Selama kur menguruskan tubuh, 

berat badan menurun dan terjadi kekurangan 

leptin sehingga nafsu makan bertambah 

dan pemakaian  energi berkurang. Untuk 

mengkompensasi kekurangan pemakaian  

energi ini kadar ghrelin justru meningkat 

(NTvG 2003;147:1168-72) Bila kadar leptin 

dalam darah terlampau tinggi, maka hipo-

thalamus memberi isyarat pada tubuh untuk 

berhenti makan dan supaya lebih aktif untuk 

mengurangi jumlah lemak. 

 

Penentuan kelebihan berat badan

Ada sejumlah metode untuk menilai taraf 

kelebihan berat badan dan memprediksi risi-

konya bagi kesehatan pada kelebihan be-

rat badan. Penelitian ilmiah memakai  

metode lain, seperti densitometri (penen-

tuan berat jenis tubuh dengan jalan me-

nimbang di bawah air) dan teknik-teknik 

canggih (CT-scan dan MRI), yang sangat 

efektif untuk menentukan jumlah LTT (le-

mak tubuh total) dan pembagiannya dalam 

tubuh. Cara-cara ini terlampau sulit dan ma-

hal untuk dilakukan secara besar-besaran. 

Cara-cara praktis. Ada beberapa cara yang 

lebih praktis dan murah, seperti pengu-

kuran lipatan kulit, yang memberi kesan 

mengenai lemak di bawah kulit dan jumlah 

LTT, namun  tidak memberi kesan mengenai 

jumlah lemak di rongga perut (LRP). 

Body Mass Index (BMI) kini paling banyak 

diguna kan untuk menentukan besarnya masa 

lemak, namun  tidak menerang kan pembagian 

lemak dalam tubuh. Sebetulnya suatu studi 

(Univ. Glasgow, 1998) telah memasti kan bah-

wa lokasi lemak, khususnya jumlah lemak 

di rongga perut (LRP), berperan penting: 

semakin banyak LRP, semakin besar risiko akan 

ganggu an keseha tan. Penentuan waist-hip 

ratio dan lingkaran pinggang memberikan 

informasi lebih jelas mengenai jumlah LRP.

Berat dan tinggi badan sesudah  usia 60 

tahun biasanya  menurun disebabkan 

oleh kehilangan jaringan otot dan tulang, 

Juga pada usia lanjut terjadi redistribusi 

lemak yang meningkat ke bagian perut. Oleh 

sebab  itu BMI sebagai indeks jumlah lemak 

kurang tepat bagi lansia. Walaupun demikian 

BMI yang tinggi tetap berkaitan dengan 

memburuknya kesehatan dan menurunnya 

kualitas hidup. 

1. BMI (Body Mass Index) atau IMT(Indeks 

Masa Tubuh) yaitu  kuosien dari perbandin g-

an berat badan (kg) dibagi dengan kuadrat ting-

gi badan (m2). BMI merupakan suatu ukuran

yang dapat diper caya, murah dan praktis 

untuk menilai apakah ada kelebihan berat ba-

dan. Antara BMI dan persentase lemak dalam 

tubuh ada  korel asi baik, namun  distribusi 

lemak dalam tubuh tidak dijelaskan. BMI 

juga dinamakan Quételet Index (Q.I.).

   

berat badan (kg)

BMI = —————————

tinggi badan (m2)

Di samping itu BMI ternyata berguna 

pula untuk meramalkan risiko PJP serta risiko 

kematian sebagai akibat. 

WHO telah menentukan pembagian orang 

overweight atas dasar BMI-nya. Lihat tabel 

di bawah ini dan untuk praktis nya juga di-

muat risiko yang dihadapi oleh kelompok-


kelompok itu , yang khusus berlaku bagi 

orang di bawah usia 50 tahun. Untuk mem-

permudah penentuannya tersedia grafik ber- 

dasarkan berat dan tinggi badan seseorang, 

sehingga BMI-nya dapat dilihat dengan mu-

dah. Lihat nomogram di bawah.

WHO mendefinisikan sebagai berikut.

– Kegemukan atau overweight didefini-

sikan sebagai BMI dari 25-29,9 kg/m2;

– Adipositas/obesitas menunjukkan BMI 

sama dengan atau melampaui 30 kg/m2 

(lebih dari 150% berat ideal);

– BMI > 40 kg/m2 disebut adipositas mor-

bid (sakit).

WHO Physical status: the use and inter-

pretation of anthropometry, Geneve, 1995.

Terutama pada obesitas, risiko akan mor-

biditas dan mortalitas meningkat dengan 

kuat.

2. ‘Waist-hip Ratio’. Selain derajat over-

weight, juga pembagian lemak di tubuh pen-

ting untuk menilai risiko kesehatan. 

Adolphe Quételet (1796-1874) Ahli 

matematika dan astronom Belgia

Nomogram untuk penentuan BMI (kg/m2) 

atas dasar berat badan (kg) dan tinggi 

badan (m2)

WHR = perbandingan antara lingkar ping-

gang dan pangkal paha (pinggul) dapat digu-

nakan sebagai ukuran untuk pembagian 

lemak. Perbandingan ini menunjukkan de-

ngan baik jumlah lemak di perut (LRP), sema- 

kin tinggi ratio, semakin banyak lemak. Walau- 

pun WHR tidak memberikan informasi me-

ngenai jumlah lemak total dalam tubuh (LTT), 

namun  ternyata berkorelasi baik dengan risiko 

keseha tan. Penumpu kan lemak di rongga 

perut, pada pria umumnya berbentuk bu-

ah apel dan merupakan faktor negatif. Pada 

wanita lazimnya lemak bertumpuk di seki-

tar pinggul (berbentuk buah pear), yang di-

hubungkan dengan risiko PJP.

3. Lingkar ping gang (LP). Penelitian baru 

telah memastikan bahwa lingkar pinggang 


Body Mass Index risiko PJP

terlampau kurus < 19

normal 18,5 - 24,9 kg/m2 normal

gemuk, overweight 25,0 - 29,9 meningkat

gemuk, obesitas 30,0 - 34,0 amat meningkat

obesitas hebat > 40 risiko maut

Tabel 31-3: Pembagian overweight atas dasar BMI menurut WHO 

dan risiko akan PJP dan kematian

memberi indikasi baik dari LTT dan LRP, 

serta risiko bagi kesehatan. Semakin besar 

LP, semakin besar pula risiko akan diabetes, 

kolesterol tinggi, hiper tensi dan sesak na-

pas. LP mudah diukur dengan otot perut 

kendur (relak sasi) antara bagian bawah dari 

iga terendah dan bagian atas dari panggul 

(pelvis). LP dengan risiko meningkat tergan-

tung dari antara lain jenis kelamin dan 

keturunan (etnis). Untuk orang kulit putih 

(Caucasi an) dari 20-60 tahun berla ku:

– pria : LP > 94 dan > 102 cm, masing-

masing risiko tinggi dan sangat tinggi

– wanita :LP > 80 dan > 88 cm, masing-

masing risiko tinggi dan sangat tinggi

Dalam garis besar pembagian ini sesuai 

dengan angka-angka BMI, teta pi LP lebih 

jelas menunjukkan risiko bagi orang dengan 

BMI rendah dan pembagian lemak kurang 

baik.

* Perokok menunjukkan lebih banyak pe-

numpukan lemak di rongga perut dan la-

zimnya BMI rendah. namun  sesudah  berhenti 

merokok, BMI meningkat sebab  metabo-

lisme dasar yang selama merokok naik, seka-

rang menurun. Oleh sebab  itu mereka lebih 

banyak menyamil, yang memicu  be-

rat badan meningkat.

Indeks glikemik(IG)

Indeks glikemis yaitu  ukuran kecepatan 

pengubahan hidratarang dalam usus men-

jadi glukosa dan penyerapannya ke dalam 

darah (1981). Pangan dengan IG tinggi mem- 

perlihatkan peningkatan cepat dan tinggi 

dari kadar glukosa darah, dengan risiko me-

ningkat untuk DM2. Semakin kuat kenaikan 

kadar glukosa oleh suatu hidratarang, sema-

kin tinggi IG-nya. 

IG didefinisikan sebagaiperbandingan (%) 

antara permukaan di bawah kurva respons 

gluk osa-darah (AUC) sesudah  asupan 50 g 

makanan hidratarang dan AUC sesudah  asup-

an 50 g glukosa. Bertolak dari IG glukosa 

= 100, dapat dihitung IG dari hidratarang 

lainnya dengan formula di bawah ini.

AUC usai asupan 50 g hidratarang

IG ———————————————— x 100

AUC usai asupan 50 g glukosa

Indeks glikemik sering kali dipakai  

untuk menentu kan bahan makanan yang 

layak selama menjalani kur menurunkan 

berat badan. Pangan dengan IG rendah 

dianggap lebih sehat sebab  memicu  

sekresi insulin dan peningkatan kadar glu-

kosa darah lebih ringan daripada sumber 

hidratarang dengan IG tinggi. namun  di sam- 

ping karbohid rat masih ada banyak faktor 

lain yang dapat memengaruhi respons insu-

lin, misalnya cara mengolah dan memasak 

makanan serta banyaknya serat gizi. Protein 

juga bisa meningkatkan sekresi insulin, se-

dang kan lemak dapat menurun kannya ka-

rena mengham bat pengoson gan lambung. 

Oleh sebab  itu sementara ahli menganggap 

indeks glikemis tidak begitu berguna bagi 

praktik. 

glukosa 100 (9) pisang 62

beras putih 72 (9) gula 59

roti wholegrain 72 (6) chips 51

kentang 70 (8) buah appel 39

roti putih 69 (5) kacang jogo 29

Mars (cokelat) 68 (12) beans 29

beras tumbuk 66 (5) fruktosa 20

kismis (raisin) 64 (11) kedele 15

Tabel 31-4: Indeks glikemik (%) dari be-

berapa bahan makanan

Penanganan

Penanganan kegemukan dapat dilaksanakan 

melalui 2 cara.

Tanpa pengobatan: penderita dianjurkan 

untuk meningkatan kegiatan fisik, diet hi-

pokalori dengan menghindarkan atau me-

ngurangi asupan lemak.

Dengan pengobatan: hanya bermanfaat 

bila dipertahankan, sebab  bila pemakaian  

obat-obat penurun berat badan dihentikan, 

biasanya berat badan akan meningkat lagi.

Semua cara untuk melawan kegemukan 

pada azasnya berdasar  diet dan gerak 

badan, yaitu pembatasan/pengurangan as-

upan kalori (lazimnya 1.000-1.500 kcal se-

hari) serta peningkatan pemakaian  energi.

namun  bila pemakaian  energi lebih besar 

daripada asupan kalori, akan terjadi mobi-

lisasi dari depot lemak (energi potensial) un-

tuk diubah menjadi energi.

Pengobatan dapat dilakukan sebagai ikh- 

tiar tambahan untuk menunjang penangan-

an bagi penderita dengan BMI>30 atau 

BMI>27 bila ada  faktor risiko lain (DM2, 

hipertensi, hiperlipidemia). Dengan menu-

runnya berat badan 5 – 10% sudah dapat 

menurunkan risiko kesehatan.

Suatu kur pelangsing umumnya dimulai 

dengan menurunnya berat badan dengan 

pesat, namun  ini terutama disebabkan hilang-

nya cairan, bukannya lemak. Baru sesudah 

rata-rata seminggu, lemak akan dibakar se-

bagai sumber energi dan susutnya bobot 

badan berlangsung lebih lambat. Tiroid me-

nyesuai kan diri dan bekerja semakin lam-

bat, sehingga metabolisme basal (konsumsi 

energi dari tubuh dalam keadaan istirahat) 

menurun.

yaitu  lebih baik makan 5 kali sehari 

dengan porsi kecil daripada dua kali namun  

banyak sekali. sebab  selama kur, selain 

lemak (untuk dinding sel), juga protein di-

rombak, maka diet perlu mengandung se-

jumlah tertentu protein. Karbohidrat juga 

harus ada, sebab  merupakan sumber energi 

mutlak bagi sel-sel otak dan sel-sel darah. 

Agar jangan sampai kekuran gan vita min 

dan mineral, diet harus divariasi sebany ak 

mungkin. Akhirnya yaitu  penting untuk mi-

num banyak air (2-3 liter sehari) untuk 

mengeluarkan zat-zat sampah yang mening-

kat selama kur. 

Tindakan tambahan. Diet hendaknya didu-

kung oleh beberapa tindakan pembantu, 

yaitu:

a. gerak badan teratur meningkatkan penge-

luaran energi dan memperlancar perombak-

an lemak. Para olahragawan ternyata le-

bih mudah mengimbangi asupan dan pe- 

nggunaan energi, lagi pula pada umum-

nya lebih mudah mempertahankan suatu 

diet. Para ahli menganjurkan olahraga, 

seperti jogging, berenang, fitness, berse-

peda (juga dengan hometrainer) ataupun 

berjalan cepat dengan tera tur, 3-5 kali 

seminggu 0,5 jam. Sebaiknya jangan di-

mulai terlalu intensif namun  secara ber-

angsur-angsur ditingkatkan.

b. terapi perilaku, kebiasaan makan pasien 

diubah secara positif, seperti mengunyah 

lebih halus, makan lebih pelan dan hanya 

secukupnya, juga jangan menyamil di 

antara jam-jam makan. 

c. terapi dengan anoreksansia. Dewasa ini 

tersedia sejumlah obat untuk membantu 

kur melangsingkan tubuh, yang berkha-

siat menghambat nafsu makan, lihat di 

bawah. 

Dalam sediaan populer untuk mengu-

ruskan tubuh sering kali dimasukkan diu-

r eti ka untuk mengu rangi cairan tubuh 

dan laksansia untuk mengu rangi resorpsi 

bahan-bahan makanan dalam usus, juga 

hormon tiroid tiroksin untuk menstimu-

lir pertukaran zat. Sediaan-sediaan ini tidak 

dianjurkan, sebab  kurang efektif dan dapat 

memicu  efek samping yang sangat 

serius.

Kombinasi dari diet berkalori terbatas dan 

tindakan pembantu itu  yang dijalankan 

dengan teratur, motivasi tinggi dan tuntunan 

dari seorang dokter sering kali menghasilkan 

penyusutan bobot tubuh hingga 0,5 kg se-

minggu. 

Anoreksansia 

Anoreksansia (Yun orexi = nafsu makan) ber-

khasiat menekan nafsu makan secara efek-

tif selama 4-6 minggu. namun  sesudah di-

guna kan 3-6 bulan, efeknya akan sangat 

berkurang akibat terjadinya toleransi. Obat-

obat ini dipakai  untuk menunjang dan 

mempermudah terapi diet kalori terbatas 

dengan mengurangi nafsu makan.

Atas rekomendasi WHO di kebanyakan 

negara, semua anoreksansia turunan senyawa 

amfetamin berada di bawah pengawasan 

internasional. Pengecualian yaitu  (dex)

fenfluramin, (klor)fentermin dan mazindol. Di 

AS masih beredar pula fentermin (Mirapront) 

dan amfepramon. Berhubung dengan sejum lah 

laporan mengenai timbulnya kelainan pada 

katup jantung pemakai obat-obat tertentu, 

pada bulan Agustus 1997 di AS, Belanda 

dan banyak negara Barat lainnya,fentermin, 

fenfluramin dan dexfen flura min telah ditarik 

dari peredaran. 

Obat-obat baru. Dalam usaha mencari ano-

reksansia baru yang efektif dan aman, telah 

dilakukan kajian terhadap hormon kenyang 

leptin. namun  sebab  orang gemuk (obese) 

kurang atau tidak peka untuk leptin, hormon 

ini tidak memberikan hasil baik. 

Mekanisme kerja. Dewasa ini tersedia a.l. 

tiga obat untuk menguruskan badan, yaitu 

sibutramin, rimonabant dan ekstrak kaktus 

Hoodia, di samping obat-obat yang sudah ada 

(amfepramon dan orlistat). Mekanisme kerja-

nya berlainan, yaitu:

a. menekan nafsu makan dan rasa lapar: 

amfepramon, sibutramin, rimonabant 

dan hoodia. Sibutramin menghambat re-

uptake serotonin, yang di otak bersama 

NA mengendalikan perasaan kenyang. 

Rimonabant memblok reseptor cannabinoid 

yang bila diduduki endocannabinoida me-

nimbulkan rasa lapar. Hoodia mengan-

dung zat aktif yang bersaing dengan glu- 

kosa untuk reseptor yang sama, sehing- 

ga hipotalamus “dikelabui” dan tidak 

memicu isyarat lapar. HCA dan krom 

(pikolinat) yaitu  zat-zat penekan nafsu 

makan yang khusus dipakai  dalam 

kedokteran alternatif. Belum diterima 

oleh kedokteran regular sebab  secara 

ilmiah efeknya belum terbukti dengan 

tuntas. 

b.  menghambat penyerapan lemak: orlistat. 

Lemak baru dapat diabsorpsi sesudah  

dirombak oleh lipase menjadi asam lemak 

bebas dan gliserol. Orlistat merintangi 

lipase, sehingga sebagian lemak tidak 

diserap usus.

c. meningkatkan pengeluaran energi: sibu-

tramin, mungkin melalui aktivitas adre-

nergik perifer. sesudah  pemakaian  6 bu-

lan, dapat dicapai penurunan berat badan 

rata-rata 11 kg (Ph Wkbl 1998; 133: 1590).

Kehamilan dan adipositas

Gangguan-gangguan reproduksi juga ber-

kaitan dengan adipositas, misalnya hiper-

androgenisme dan hiperinsulinisme 

Gangguan pada metabolisme gula meng-

akibatkan diabetes gravidarum 3 kali lebih 

sering pada pasien dengan berat badan 

berlebihan. 

Juga hipertensi lebih sering ada  pada 

wanita hamil dengan overgewicht.

Kans terhadap penyimpangan-penyim-

pangan kongenital juga sangat meningkat 

pada ibu-ibu dengan adipositas. 

sebab  adipositas dapat memicu  

risiko pada kehamilan, dianjurkan untuk usa- 

ha menurunkan berat badan dilakukan se-

belum kehamilan (prekonsepsi).

Wanita hamil tidak dianjurkan memakai  

anoreksansia sebab  tidak ada gunanya 

mengontrol berat badan selama kehamilan.

Juga perlu diperhatikan bahwa selama 

mengandung dianjurkan untuk tidak menu-

runkan berat badan, sebab  pertumbuhan 

janin dapat terganggu. Hanya boleh diusa-

hakan untuk selama kehamilan, berat badan 

sedapat mungkin dibatasi. 

Efek yoyo. Dalam praktik ternyata bahwa 

sesudah  mencapai penurunan berat badan 

yang diinginkan, sukar sekali mempertahankan 

berat badan yang rendah demikian. Bila pola 

makan dan gaya hidup tidak diubah secara 

drastis dan konsekuen, maka dalam waktu 

singkat hasil kur akan hilang lagi. Efek 

turun-naik ini disebut efek yoyo. sesudah  setiap 

kur selesai, berat badan semula akan pulih 

kembali semakin cepat. Efek jangka panjang 

sering kali mengecewakan; turun-naiknya 

berat badan lebih buruk daripada bila terus-

menerus gemuk. sesudah  dua tahun ternyata 

bahwa kurang dari 25% pasien mampu 

mempertahankan berat badan yang rendah. 

Efek yoyo hanya dapat diputus bila disertai 

program diet dengan gerak badan dan 

kegiatan otot teratur. 

“Most obese persons will not stay in treatment 

for obesity, of those who stay most will not lose 

weight, and of those who do lose weight, most will 

regain it.” A.J. Stunkard

Diet mode

Di samping diet energi terbatas, dikenal pula 

banyak jenis diet lainnya, yang dipromosikan 

oleh berbagai ‘pakar pelangsingan tubuh’. 

Yang terkenal yaitu  antara lain diet Mayo, 

diet dr Atkin dan diet dr Linn, yang terdiri atas 

masing-masing khusus sherry, lemak dan 

protein. Diet-diet ini sudah dianggap kuno, 

sebab  efek sampingnya sering berbahaya, 

seperti terbukti oleh misalnya banyak korban 

dengan aritmia jantung pada penganut diet 

dr Linn. Diet ‘the Zone’ dari dr Sears (yang 

pernah diikuti oleh presiden Clinton) kini 

juga sudah ditinggalkan, sebab  dihubung-

kan dengan osteoporosis, gangguan hati dan 

kanker usus besar. 

* Diet Montignac. Diet Montignac (Prancis) 

sangat populer di Eropa, sebab  ternyata 

efektif dan aman, juga pada jangka panjang. 

Diet ini berda sarkan aturan diet bijaksa-

na dengan banyak mengonsumsi sayuran 

dan buah-buahan, membatasi asupan lemak 

(jenuh) dan menjauhi gula serta monosa-

karida (yang memili ki indeks glikemik tinggi), 

lihat juga Bab 54, Dasar-dasar diet se hat. 

Garis besar dari diet ini yaitu  sederha na, 

yaitu:

a. makan boleh sampai kenyang tanpa ada 

larangan mengenai jumlah kalori;

b. buah-buahan selalu harus dimakan tersen-

diri (pada perut kos ong); 

c. protein boleh dikombinasi dengan lemak 

dan hidrata rang, dengan syarat selalu di-

makan bersama serat-serat gizi (sayuran, 

beans, dan sebagainya);

d. hidratarang sedapat mungkin harus digu-

nakan, terutama yang memiliki indeks 

glikemik rendah; 

e. hidratarang tidak  boleh dimakan bersa-

maan dengan lemak.

Menurut Montignac pada banyak orang 

yang kegemukan ada  hiperaktivitas 

dari pankreasnya; bila hidratarang dimakan 

bersama lemak, maka insulin tidak disekre-

sikan secu kup nya, namun  berlebihan. Akibat 

hiperinsulinemia ini, sebagian lemak yang 

pada keadaan normal dikeluar kan akan 

ditimbun sebagai lemak cadangan, yang 

berefek membuat gemuk. Hiperinsulinemia 

juga menimbul kan kecen derungan hipogli-

kemia, yang mencetuskan rasa lapar dan 

disusul oleh asupan hidratarang lagi dengan 

stimulasi baru dari pankreas. Dengan demiki-

an, terjadi suatu lingkaran setan dengan 

terjadinya pembentukan jaringan lemak 

berlebihan (adipogenesis).

Penilaian. Ternyata bahwa den gan diet 1.800 

kcal sehari bobot badan dapat ditu runkan 

rata-rata 10 kg dalam waktu 6 minggu. Mes-

kipun memerlukan cukup banyak penyesu-

aian kebias aan makan, namun dengan sedikit 

motivasi, diet ini mudah dijalankan untuk 

waktu yang lama. Keberhasilan metode ini 

sudah dipastikan oleh banyak sekali penga-

nut, namun  kebanyakan ahli gizi tetap skeptis 

dan meno laknya, sebab  men ganggap dasar-

dasar ilmiahnya kurang teguh. Sebaliknya 

mereka tidak dapat menjelaskan sukses besar 

dari diet ini.

MONOGRAFI

1. Amfepramon: dietilpropion, *Apisate

Derivat amfetamin ini (1957) seperti semua 

zat dari kelompok “wekamin” berkhasiat 

menghambat nafsu makan. Frekuensi efek 

samping