Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 32. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 32. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 32





 lukonat. Plasma-t½ 7-16 jam dan 

tidak berkorelasi dengan efek hipo tensifnya.

Efek­samping berupa umum, terutama efek 

sentral. Di samping itu kelainan darah serius 

antara lain anemia dan leukope nia, juga 

hepatitis dalam masa 2 bulan. Oleh sebab  

itu dian jurkan monitor darah dan hati secara 

teratur selama pemakaian.

Dosis: oral permulaan 2 dd 250 mg selama 

beberapa hari, lalu perlahan-lahan dinaikkan 

sampai 3-4 dd 500 mg

5. ANTAGONIS kALSIUM

Kalsium merupakan elemen esensial bagi 

pembentukan tulang dan fungsi­otot­kerangka­

dan­otot­polos­ jantung/dinding­arteri­ole; untuk 

kontraksi semua sel otot itu  diperlukan 

ion Ca intrasel bebas. Kalsium bebas juga 

perlu untuk pembentukan dan penyaluran 

impuls-AV jantung. Kadar ion Ca di luar 

sel yaitu  beberapa ribu kali lebih besar 

daripa da di dalam-sel. Pada hal-hal tertentu, 

misalnya akibat rangsangan, terjadilah depo- 

larisasi membran sel, yang menjadi perme-

abel bagi ion Ca, sehingga banyak ion ini 

melintasi membran dan masuk ke dalam sel. 

Pada kadar Ca intrasel tertentu, sel mulai 

berkon traksi dan otot jantung serta arteriole 

menciut­(kon striksi).

Antagonis-Ca menghambat pemasukan 

ion Ca ekstrasel ke dalam sel dan dengan 

demikian dapat mengurangi penyaluran 

impuls dan kon traksi myocard serta dinding 

pembuluh. Senyawa ini tidak memengaruhi 

kadar-Ca di plasma. Dapat dibedaken dua 

kelompok, yaitu: 

a. Ca overload-blocker, yang menentang 

kenaikan kadar Ca berlebihan di dalam 

sel. Misalnya flunari zin yang dipakai  

pada vertigo dan profilaksis migrain. 

b. Ca entry-blocker, yang menghambat pe-

masukan kalsium ke dalam sel myocard 

dan otot polos dinding arteriole yang 

terang sang dan dengan demikian men-

cegah kontraksi dan vasokonstriksi. Da-

lam bab ini dan seterusnya dengan istilah 

‘antagonis kalsium’ selalu­ dimaksud­ Ca­

entry-blocker­ini.

Efek terpenting dari antagonis kalsium ada-

lah sebagai berikut:

a. vasodilatasi koroner dengan perbaikan 

penyaluran darah dan “penyerahan” ok- 

sigen ke otot jantung, terutama bila ter-

dapat kejang seperti pada angina­variant

b. vasodilatasi perifer dengan menurunnya 

daya tahan dinding pembuluh (DTP) dan 

tekanan darah, hingga ‘afterload’ darah 

berku rang (= beban­ sesudahnya, yaitu be-

ban yang dialami di aorta oleh darah 

yang dipompa dari jantung).

c. menekan kerja jantung dengan berku-

rangnya daya dan frekuen si pukulan 

jantung, sehingga kebutuhan oksigen 

pada pembebanan fisik dan emosional 

menurun. Efek inotrop negatif tidak be-

gitu besar, sebab  dikompensasi oleh 

vasodilatasi, pada nifedipin bahkan terjadi 

reflekstachycardia sementara yang nyata 

sekali pada verapamil. Efek kronotrop ne-

gatif pun paling menco lok pada­ verapa-

mil (dan­ diltiazem), paling ringan pada 

nifedi­pin.

d. menghindari pembekuan eritrosit, se-

hingga kelenturannya terpelihara dan 

bentuknya tetap bisa berubah untuk dapat 

memasuki kapiler kecil dari jaringan 

yang mengalami hipoksia. Pada keadaan 

kekurangan oksigen ini, sel membran 

eritrosit dapat ditembusi pula oleh ion 

Ca, yang langsung bereaksi dengan lipo-

protein membran dan memicu  

pembekuannya.

Penggolongan. Antagonis-Ca secara kimiawi 

dapat dibagi dalam 2 kelompok, yaitu:

a. derivat dihidropiridin: efek vasodilata-

sinya sangat kuat, maka terutama digu-

nakan sebagai obat hipertensi. Kini ter- 

sedia antara lain nifedipin dan nisoldipin,­

amlodipin dan felodi­pin,­ nicar­dipin,­ nimo-

dipin,­nitrendipin­dan­lerkanidipin­(Zanidip,­

Lerdip),­lasidi­pin­(Motens)­dan­isradipin­(Lo-

mir)­

b. obat-obat lain: verapamil,­ diltiazem­ dan­

bepridil­ (Cordium). Verapamil bekerja ter-

hadap jantung (menurunkan frekuensi 

dan daya kontraksi, memperlambat pe- 

nyaluran-AV) dan terhadap sistem pem-

buluh (vasodilatasi). Diltiazem dapat 

disamakan khasiatnya dengan verapamil, 

namun  efek inotrop negatifnya lebih ringan. 

Efek vasodilatasi kedua zat ini lebih le-

mah daripada senyawa dihidropiridin, 

maka lebih banyak dipakai  pada 

angina daripada sebagai obat hipertensi. 

Bepridil tidak bekerja antihipertensif dan 

khusus dipakai  pada angina stabil.

pemakaian  yang terpenting yaitu  sebagai 

berikut:

a.  Hipertensi. berdasar  efek itu  

di atas, terutama derivat-dihidropiridin 

kini terutama diguna kan pada hipertensi, 

hanya bila diuretika, beta-blocker dan 

zat penghambat ACE tidak atau kurang 

efektif. Sebaiknya pemakaian  dikom-

binasi dengan suatu beta-blocker. Sedia- 

an nifedipin dengan kerja singkat hen-

daknya jangan dipakai . Verapamil 

dan diltiazem tidak dianjurkan pada 

hipertensi, begitu juga kombi nasinya 

dengan beta-blocker berhubung efek 

negatif-nya saling diperkuat, yaitu atas 

penya-luran-AV dan atas daya kontraksi 

jantung.

b.  Angina pectoris

– angina stabil kronis. Untuk penyakit 

ini beta-bloc ker merupakan obat primer, 

namun  bila efeknya kurang memuaskan 

baru dapat ditambah kan antago nis-Ca. 

Obat ini juga diguna kan bila ada  

kontraindikasi bagi beta-blocker, misal-

nya pasien asma, bronchitis dan emfisem. 

Mekanismenya berdasar kan dikurangi 

pemakaian  oksigen oleh myocard pada­

waktu­mengeluarkan­tenaga(exertion) akibat 

turun nya frekuensi jantung dan TD arteri 

(sebab  vasodi latasi perifer). Vasodi latasi 

juga memperbesar penyalu ran oksigen ke 

myocard.

– angina variant (Prinzmetal) yaitu  jenis 

angina dengan­ kejang­ pembuluh yang ja-

rang ada . Antagonis-Ca dianggap 

sebagai pilihan utama pada jenis angina 

ini. Mekanismenya berdasar  pence-

gahan kejang otot koroner dalam­keadaan­

istirahat dengan efek bertambahnya 

penyaluran darah ke jantung.

c.  aritmia tertentu. Khusus verapamil efektif 

sekali pada tachycardia supraventrikuler. 

Diltiazem dan derivat nifedipin tidak 

begitu efektif, bahkan dapat memper-

buruk aritmia. 

d.  indikasi lainnya. Untuk prevensi se-

rangan kedua sesudah  infark jantung, 

hanya bila beta-blocker atau pengham-

bat-ACE (pilihan utama) tidak dapat di- 

berikan dan bila pasien tidak menderita 

gagal jantung. Antagonis-Ca tidak mem-

berikan efek baik terhadap morbiditas 

dan mortalitas sesudah  infark jantung.

Verapamil menurunkan risiko rein-

fark, namun  belum terbukti dapat mem-

perpanjang hidup. 

Nifedipin juga dipakai  pada penya-

kit Raynaud.

Efek samping umum. Dibandingkan dengan 

antihipertensiva lain, obat-obat ini lebih se-

ring memicu  efek samping dan yang 

terpenting yaitu  pusing, nyeri kepala, rasa 

panas di muka (flushing).­Terutama pada de-

rivat piridin tachycardia dan udema perge-

lan gan-kaki (akibat vasodi latasi perifer). Pa-

da umumnya efek-efek ini bersifat sementara. 

Bradycardia, AV block, hipotensi dan ob-

stipasi terutama terjadi pada obat-obat bukan 

derivat piridin. Obat-obat ini juga mengham-

bat agregasi trombosit dan memicu  

kelainan darah, gangguan pengli hatan, reaksi 

kulit alergis, nervositas dan perasaan tidak 

bertena ga.

Kehamilan­dan­laktasi. Wanita hamil dan yang 

menyusui tidak dianjurkan memakai  

antagonis-Ca, sebab  hipotensi dapat meng-

akibatkan hypoxia pada janin. Semua obat 

dapat mencapai air susu ibu. 

Obat-obat short-acting (nifedipin,­ verapamil,­

diltiazem). Pada tahun 1995 dilaporkan hasil 

pengamatan yang meresahkan bahwa terapi 

hipertensi dengan antago nis-Ca disertai pe-

ningkatan risiko infark jantung dan kema-

tian. Efek buruk ini khusus dinyatakan un-

tuk nifedipin pada dosis tinggi. Penelitian 

memastikan bahwa amlodipin dengan kerja 

panjang yaitu  obat hipertensi efektif dan 

aman. 

Risiko kanker dari antara lain colon, pros-

tat dan buah dada meningkat pada lansia 

sesudah pemakaian  lama. Efek karsinogen 

ini diduga berda sarkan peng hambatan apop-

tosis (kematian sel yang terprogra m), se-

hing ga sel-sel cacat genetik dan sel-sel tumor 

tidak mati dan dapat terus berproliferasi. 

namun  penelitian lain tidak menegaskan efek 

karsinogen ini. pemakaian  obat-obat ini 

juga dihu bungkan dengan meningkatnya ri-

siko pendarahan lambung-usus.

MONOGRAFI

5a. Nifedipin : Adalat/Retard/Oros

Nifedipin yaitu  zat pertama (1975) da-ri 

kelompok­ dihidropiridin dengan gugus fenil 

pada posisi para. Khasiat utamanya ada-

lah vasodilatasi, oleh sebab  itu teruta ma 

dipakai  pada hiperten si esensial (rin gan/

sedang), juga pada angina variant berda-

sarkan efeknya yang relatif ringan terhadap 

jantung, maka tidak berkhasiat inotrop ne-

gatif. Pada angina stabil hanya dipakai  

bila beta-blocker dikontra-indikasi atau 

kurang efektif. Dalam keadaan ini khusus 

dianjurkan tablet long-acting­ Oros (=­ sistem 

osmotis yang mele paskan obat secara teratur 

untuk waktu lama,­lihat Bab 4, sub 2). 

Tablet biasa (kerja singkat) dalam dosis 

tinggi sesudah infark ternyata memper-

singkat hidup. Lembaga Jantung AS pada 1 

September 1995 menganjur kan untuk “sangat 

berhati-hati memakai  nifedi pin short-

acting, terutama pada dosis tinggi untuk 

terapi hiper ten si, angina dan infark jantung”.

Agar efeknya cepat tablet dapat dikunyah 

dan diletakkan di bawah lidah (pada­ krisis­

hiperten­si). Obat ini juga bermanfaat pada 

penyakit­Raynaud dan seran­gan­sedu­(hiccup).

Resorpsi dari usus baik (90%), namun  BA 

hanya rata-rata 60% sebab  FPE tinggi. Mulai 

kerja kapsul dalam 20 menit dan bertahan 1-2 

jam, tablet Oros masing-masing 2-4 jam dan 

16-18 jam. PP di atas 90%, plasma-t½ 2-5 jam 

(±11 jam pada tablet retard). Dalam hati zat 

ini dirombak menjadi metab olit inaktif yang 

diekskresi lewat urin (90%) dan feses (10%).

Efek­ samping yang sering terjadi yaitu  

udema pergelangan kaki (10%). Dosis awal 

yang terlampau tinggi dapat memprovokasi 

serangan angina akibat hipotensi kuat men-

dadak, kadang-kadang ischemia dan infark 

akibat refleks-tachycardia, terutama pada 

lansia. Beberapa penelitian memberikan indi-

kasi mengenai peningkatan risiko penyakit 

jantung17  dan kanker.

Dosis: pada hiper­tensi 3 dd 10-20 mg atau 2 

dd 20-40 mg retard d.c.; angina oral 3-4 dd 10 

mg tablet (ditelan utuh), berang sur-angsur 

dinaikkan sampai maksimal 6 dd 20 mg. 

Atau 1 dd 30-120 mg tablet retard pagi hari 

d.c. Pada Sindrom­ Raynaud: 2 dd 10-20 mg 

tablet retard d.c.

5b. Nicardipin: Perdipine,­Cardene/SR

Derivat 3-nitrofenil ini bersifat lipofil (1986) 

dengan BA 30%, PP ±98%, dan t½ 1-12 jam. 

Diekskresi sebagai metabolit inaktif lewat 

urin (60%) dan feses (35%).

Dosis.­Hipertensi: 2 dd 40 mg tablet retard, 

maksimal 2 dd 60 mg. Angina­variant/stabil: 3 

dd 20 mg, bila perlu dinaik kan sampai 2 dd 

30-40 mg. 

* Nimodipin (Nimotop) yaitu  derivat 3-ni-

trofenil yang juga lipofil (1985) dengan kha-

siat utama terhadap pembuluh otak. Oleh 

sebab  itu khusus dipakai  sesudah  perda- 

rahan otak (beroerte) untuk profilaksis gejala 

ischemia akibat kejang kapiler otak.

Khasiat memperkuat ingatan. Selain itu 

nimodipin dilaporkan (Perugia­ Nimodipin­

Study­Group,­1993) dapat memperbaiki daya 

ingat pada lansia yang menderita gejala de-

mentia. Mekanisme kerjanya berdasar  

teori bahwa proses metabolisme kalsium ter- 

ganggu pada sel yang menua. “Pintu” kal-

sium selalu terbuka sedikit, sehingga ion Ca 

dapat terus-menurus ‘membo cor’ ke dalam 

sel-sel saraf. Nimodi pin mencegah pembo-

coran ion-Ca itu .

Dosis: oral 6 dd 60 mg selama 7 hari.

* Lercanidipin (Zanidip,Lerdip)­ yaitu  juga 

derivat-3-nitrofenil (1997) dengan kerja pan-

jang.(24 jam) berkat pengikatan kuat pada 

membran sel. Dosis:­1 dd 15 mg 1/2 jam a.c., 

bila perlu sesudah 2 minggu dinaikkan sam-

pai 20 mg.

5c. Amlodipin: Norvask,­Norvasc

Derivat klor long-acting ini (1990) memiliki 

BA 60%, PP di atas 95% dan t½ 35-50 jam. 

Diekskresi 60% lewat urin terutama sebagai 

metabolit inaktif.

Dosis:­ hipertensi dan angina­ variant/stabil 1 

dd 5 mg (besilat = benzensulfonat), maks.10 

mg.

* Felodipin (Plendil) yaitu  derivat diklor 

(1987) juga dengan kerja panjang (t½ 25 

jam). BA hanya 15%, sebab  FPE tinggi; PP 

99%. Felodipin dirombak dalam hati menjadi 

metabolit inaktif, yang diekskresi melalui 

urin (±70%) dan tinja (30%). dipakai  pada 

hipertensi dan angina­ variant/stabil dengan 

dosis 1 dd 5-20 mg.

5d. Verapamil: Isoptin/SR

Senyawa amin alifatis ini (1963) dengan 

gugus nitril (-CN) diguna kan pada angina 

variant dan stabil, juga pada aritmia (tachy-

aritmia­supraventrikuler). Verapamil juga efek-

tif pada hiper tensi ringan sampai sedang 

dan dapat mencegah rein fark sesudah  serang- 

an jantung jika ada kontraindikasi bagi 

beta-blocker. Kombinasi dengan obat-obat 

lain yang bekerja kardiosupresif atau meng- 

hambat pembentukan/penyaluran rang-

sangan harus dihindari. Misalnya kombinasi 

dengan beta-blocker dan anti-aritmika dapat 

memicu  gangguan penya luran AV ku-

at, hipotensi atau gagal jantung.

Resorpsi dari usus ±90% dengan BA lebih 

kurang 43% berhubung FPE besar, PP-nya 

±90%, plasma-t½ 4,5-12 jam. Di dalam hati, 

zat ini dirombak menjadi lebih kurang 12 

metabolit (termasuk norverapamil aktif), 

yang diekskresikan lewat kemih (70%) dan 

feses (15%).

Efek­ samping yang tersering yaitu  hipo-

tensi, bradycar dia dan insufisiensi jantung, 

serta obstipasi. Jarang AV-blokade, nyeri 

kepala, udema kaki dan efek umum lainnya.

Dosis: pada angina­stabil/variant: 1-2 dd 240 

mg tablet SR (Slow­ Release), pada hipertensi,­

aritmia: 3-4 dd 80 mg, maks. 720 mg sehari 

untuk beberapa minggu.

5e. Diltiazem: Herbesser, Cordizem,­Tildiem

Derivat 1,5-benzothiazepin ini (1973) 

—bandingkan dengan rumus tranqui lizer 

klobazepam)— sama pemakaian nya dengan 

verapamil, adakalanya juga melalui injeksi 

pada angina instabil. Diltiazem merupakan 

obat primer untuk angina variant dan obat 

pilihan kedua untuk angina stabil. Juga 

dipakai  sebagai obat antiaritmia kelas 

IV. Permulaan dan penghentian pengobatan 

harus secara berang sur untuk meng hindar i 

efek samping yang tidak dinginkan.

Resorpsi­ dari usus lebih dari 90%, namun  

BA hanya ±40% sebab  FPE tinggi. PP ±80%, 

plasma-t½ 4-8 jam, ekskresi lewat feses 

(65%) sebagai metabolit (termasuk desasetil-

diltiazem aktif) dan secara utuh lewat urin 

(1-4%). Efek sampingnya mirip verapamil.

Dosis:­angina­variant/stabil oral 3-4 dd 60 mg, 

maks. 3 dd 120 mg, hipertensi 3 dd 60 mg, bila 

perlu dinaikkan sampai 3 dd 120 mg. Aritmia 

i.v. 1 dd 0,25-0,3 mg/kg dalam 2 menit.

 6. ZAT PENGHAMBAT 

RAAS

Ada beberapa obat yang dapat menurunkan 

TD dengan mencegah pengubahan enzimatis 

dari angiotensin­(AT)­I­menjadi angiotensin­II. 

ATII merupakan hormon aktif dari Sistem 

Renin-Angiotensin-Aldosteron (RAAS). Pe-

ngikatan ATII pada reseptor AT (antara lain 

di ginjal, dinding pembuluh dan jantung) 

memicu beberapa meka nisme biologis, khu- 

susnya efek­ vasokonstriksi­ kuat­ (dengan pe-

ningkatan TD) dan pelepasan­aldoste­ron.

Zat penghambat RAAS menurunkan TD 

dengan mengurangi daya tahan pembuluh 

perifer dan vasodilatasi tanpa memicu  

refleks-tachycardia atau retensi garam. Anta-

ra frekuensi pentakaran, plasma-t½ dan efek 

hipotensif tidak ada korelasi yang nyata. 

Penghentian terapi secara mendadak tidak 

memicu  peningkatan TD yang pesat.

Kebanyakan dari zat ini merupakan pro-

drug inaktif, yang di dalam hati akan dihi-

drolisis menjadi zat aktifnya, kecuali kaptopril­

dan­lisino­pril.

pemakaian . Penghambat ACE (lihat di ba-

wah) dapat dipakai  sebagai monoterapi 

pada­ hiper­tensi­ esensial dan­ hipertensi­ reno-

vaskuler­ (antara lain kaptopril, enalapril dan 

lisinopril). Pada gagal jantung kronis (decom-

pensatio), sebagai tambahan pada diuretika 

atau digoksin, obat-obat ini dapat mengu-

rangi gejala (sesak napas, rasa letih dan 

sebagainya) serta membata si morbiditas dan 

mortalitas. Begitu pula bermanfaat sesudah  

infark jantung (antara lain kaptopril dan 

ramipril). Indikasi baru yaitu  penyakit­ginjal­

akibat­diabetes­(nefropathia­diabetica), antara lain 

kaptopril.  

Efek samping. Penghambat ACE dapat 

memicu  batuk kering menggelitik yang 

menjemukan dan bertahan selama medika si. 

pemicu nya mungkin bradikinin­dan­prostag-

lan­din­di saluran napas dan paru-paru, yang 

sebetulnya juga dirombak oleh ACE, namun  

akibat penghambatan berakumulasi di situ. 

Batuk “bandel” ini tidak dapat diobati oleh 

obat-obat pereda batuk seperti kodein, namun  

menurut laporan ilmiawan Seoul (Samsung­

Medical­Centre) dapat diatasi dengan minum 

1 tablet ferrosulfat 256 mg setiap pagi (Ph 

Wkbl 2001;136:1453). Kasus yang lebih hebat 

dapat juga diringankan dengan inhalasi­ kro-

moglikat­ (Intal)­ atau pengobatan diganti de-

ngan suatu ATII-blocker. Biasanya batuk 

ini hilang beberapa minggu sesudah  terapi 

dihentikan. Efek samping lainnya yang agak 

sering terjadi yaitu :

a.  gangguan fungsi ginjal dan hiperkaliemia, 

terutama pada pasien gagal jantung;

b. hipotensi ortostatik dapat terjadi pada 

permulaan terapi atau sesudah  pening-

katan dosis, lebih sering pada pengobat-

an dekompensasi. Untuk memperkecil 

risiko ini, sebaiknya dimulai dengan do-

sis rendah yang dengan berhati-hati di-

naikkan;

c.  sesak napas dengan memicu  atau 

memperburuk gejala pada pasien asma;

d.  hilang rasa oleh terutama kaptopril 

e. reaksi kulit alergis kadang-kadang dapat 

terjadi (exanthema, gatal-gatal) dengan de-

mam dan nyeri sendi

f. keluhan lambung-usus,­ pusing­ dan­ nyeri­

kepala yang sering kali bersifat sementara.

Interaksi. Kombinasi dengan diuretika sebai-

knya dihindari, sebab  dapat memicu  

hipotensi secara mendadak. Terapi dengan 

penghambat-ACE sebaiknya baru dimulai 

2-3 hari sesudah  pemakaian  diuretikum di-

hentikan.

Diuretika penghemat kalium(spironolakton,­

amilorida­ dan­ triamteren).­ Penghambat ACE 

bersifat mengurangi ekskresi kalium, maka 

tidak boleh dikombinasi dengan obat-obat 

ini sebab  risiko hiper ka liemia hebat. Juga 

harus berhati-hati bila dikombinasi dengan 

NSAID’s. 

Kehamilan dan laktasi. Wanita hamil tidak 

boleh memakai  ACE-inhibitor maupun 

AT­ I-blocker, sebab  bersifat teratogen ter-

utama pada 6 bulan terakhir.29 Kaptopril dan 

enalapril dalam jumlah kecil mencapai air 

susu ibu, sedang  dari obat-obat lain-nya 

belum ada data.

Penggolongan. Menurut titik kerjanya, 

penghambat RAAS dapat dibagi dalam dua 

kelompok, yaitu ACE-inhibitors dan AT­ II-

blockers­(AT­II-antago­nis).

a. Penghambat ACE merintangi enzim ACE­

(Angiotensin­ Converting­ Enzyme) meng-

ubah AT I ––> AT II (Angiotensin­II). namun  

supresi pembentu kan AT II tidak tuntas, 

sebab  jalur pembentukan AT II lainnya, 

yaitu melalui enzim chymase, masih ter-

buka, lihat Gambar 2. 

Obat-obat dari kelompok ini dapat menor-

malisasi tekanan darah pada sekitar 50% 

penderita hipertensi ringan dan 90% bila 

dikombinasi dengan suatu Ca-channel-bloc-

ker, suatu beta- blocker atau suatu diuretik.

Untuk terapi hipertensi tersedia kombinasi 

tetap (fixed­combination) dengan suatu diuretik 

tiazida atau suatu Ca-channel-blocker.

berdasar  rumus kimiawinya peng-

hambat ACE terdiri dari 3 kelompok:

1. Derivat sulfhidril: kaptopril dan turun-

annya

2. Derivat dikarboksil: enalapril dan turun-

annya

3. Derivat mengandung fosfor: fosinopril

Terkecuali fosinopril semua senyawa peng-

hambat ACE sebagian besar diekskresi me-

lalui ginjal. Oleh sebab  itu dosis dari obat-

obat ini harus disesuaikan/di-kurangi bagi 

penderita gangguan ginjal.

b. AT II-reseptor-blockers (ARB) atau an-

tagonis-Angiotensin II menduduki re-

septor-AT II yang ada  di berbagai 

lokasi tubuh, antara lain di myocard, 

dinding pembu luh, Susunan Saraf Pusat, 

ginjal, anak ginjal dan hati. Zat-zat ini 

lebih efektif daripada penghambat-ACE, 

sebab  jalur kedua melalui enzim chy-

mase­ juga dihalangi. Dengan demikian 

efek angiotensin II diblokir antara lain 

peningkatan TD dan ekskresi kalium, 

retensi natrium dan air. Zat-zat ini me-

nimbulkan vasodilatasi (terutama dari 

pembuluh nadi), yang tidak disertai 

peningkatan kuat volume menit jantung 

dan reflextachycardi. Efek lain dari pe-

nekanan aktivitas RAAS yaitu  penu-

runan produksi aldosteron, yang meng-

akibatkan bertambahnya ekskresi natri-

um dan air serta berkurangnya ekskresi 

kalium. Kombinasi dari kedua jenis obat 

kini dipakai  untuk lebih efektif menu- 

runkan tensi [efek aditif ringan]. Kelom-

pok baru ini terdiri dari losar­tan,­ valsar-

tan,­ irbesar­tan,­ kandesartan, eprosar­tan,­ tel-

misartan­dan­olmesartan.

Bagi penderita gagal jantung valsartan mau-

pun kandesartan dapat mengurangi angka 

kematian dan morbiditas.31a,b

Dianjurkan untuk memakai  peng- 

hambat ACE sebagai pengobatan first­ line 

bagi penderita gagal jantung dan Angiotensin 

II reseptor blocker (ARB) bagi penderita yang 

tidak tahan terhadap penghambat ACE atau 

tidak mendapatkan efek yang dikehendaki.

Penderita diabetes mendapatkan lebih 

banyak manfaat dari pemakaian  peng-

hambat ACE daripada Angiotensin II resep-

tor blocker. 

Efek samping. Juga memicu  batuk 

dan angio-udema namun  tidak separah peng-

hambat ACE.

sebab  dua kelompok obat ini memiliki 

efek teratogenik, pemakaian nya sewaktu 

kehamilan harus dihindari.

Juga harus diperhatikan bahwa ARB 

dapat memicu  hiperkalemia pada 

penderita gangguan ginjal atau mereka yang 

memakai  K-suplemen atau diuretik 

penghemat ion kalium.

Blokade dari RAAS yang lebih intensif me-

lalui kombinasi dari ARB (penghambatan 

sesudah  angiotensi II terbentuk) dan perin-

tang renin aliskiren (penghambatan sebelum 

angioteni II terbentuk) tidak memberikan 

efek positif, namun  bahkan komplikasi serius 

dalam bentuk hiperkalemia dan gagal ginjal. 

Pada pasien diabetes atau penderita gang-

guan fungsi ginjal, kombinasi aliskiren de-

ngan ATII-antagonis atau penghambat ACE 

merupakan kontraindikasi.

Sering kali terlupa bahwa beta-blocker 

juga merupakan perintang RAAS, sebab  

menurunkan nilai renin dan dengan demi-

kian aktivitas RAAS dihambat. Hal ini 

perlu diwaspadai pada pasien yang juga 

memakai  beta-blocker, dalam rangka 

perintangan RAAS berlipat ganda (ACE-

blocker dan ARB).

A. PENGHAMBAT ACE 

(ACE Inhibitors)

6a. Kaptopril: Capoten,­*Capozide

Derivat prolin ini yaitu  penghambat ACE 

pertama yang dipakai  (1979). Efek bloka-

de pembentukan AT II yaitu  vasodilatasi 

dan berkurangnya retensi garam dan air. 

Oleh sebab  itu berbeda dengan vasodilator 

lainnya, zat ini tidak memicu  udema 

atau refleks-tachycardia. Kaptopril diguna- 

kan pada hipertensi ringan sampai berat 

dan pada dekompensasi jantung. Diureti-

ka memperkuat efeknya, sedang  kom-

binasinya dengan beta-blocker hanya meng-

hasilkan adisi.

Resorpsi dari usus cepat ±75%, efeknya 

sudah maksi mal sesudah  1,5 jam dan bertahan 

12-24 jam tergan tung pada dosis. PP 25-30%, 

plasma-t½ 2-3 jam. Ekskre si lewat urin, sepa-

ruhnya sebagai metabolit inaktif dan separuh 

utuh.

Efek­ samping yang tersering yaitu  hilang 

rasa (kadang-kadang juga daya pencium), 

batuk kering dan exanthema. Efek ini dapat 

ditiadakan oleh indometasin dan NSAID 

lainnya. 

Dosis.­ Hipertensi: oral 1-2 dd 25 mg, bila 

perlu sesudah  2-3 minggu 1-2 dd 50 mg; 

dekompensasi: 3 dd 6,25-12,5 mg, berangsur-

angsur dinaikkan sampai 3 dd 25-50 mg. 

sesudah ­ infark­ jantung: semula 6,25 mg, ber-

angsur-angsur dinaikkan sampai 2-3 dd 50 

mg.

Gambar 35-2: Titik-titik kerja penghambat RAAS 

*Capozide­= kaptopril 50 + HCT 25 mg 

* Enalapril (Vasotec,­Renitec,­Tenace,­*Tenazide) 

yaitu  juga derivat prolin (1984), namun  tanpa 

gugusan CS. Khasiat dan pemakaian  sama 

dengan kaptopril. 

Resorpsi prodrug ini dari usus cepat sampai 

± 65%; di dalam hati dihidrolisis menjadi 

enalaprilat aktif dengan PP ±55% dan t½ 

±11 jam. Efeknya maksimal sesudah  4-6 jam 

dan bertahan lebih kurang 24 jam. Ekskresi 

melalui urin dan sebagian dalam bentuk 

utuh. Efek­ samping berupa umum dan tidak 

memicu  hilangnya rasa (tanpa -CS); 

efeknya tidak dipengaruhi oleh NSAID. 

Dosis:­hipertensi oral 1-2 dd 5-10 mg (maleat)­

a.c./p.c, pemeliha raan 20-40 mg sehari; de-

kompen­sasi­ 1 dd 2,5 mg, maksimal 20 mg 

sehari. Untuk injeksi i.v. dipakai  larutan 

enalaprilat 1 mg/ml. 

*Tenazide­=­enalapril 10 + HCT 25 mg

*Lisinopril(Prinivil,­Zestril,*Zestoretic) yaitu  

juga derivat long-acting (1988) dengan khasi-

at dan pemakaian  sama dengan enalapril 

(t½ 12 jam). Dosis:­hipertensi oral 1 dd 10 mg, 

maksimal 80 mg; dekompen­sa­si­ 1 dd 2,5 mg, 

maksimal 20 mg sehari.

*Zestoretic­=­lisinopril 20 + HCT 12,5 mg

* Fosinopril (Monopril,­ Acenor-M,­ Newace) 

yaitu  derivat prolin (1992) dengan atom 

fosfor dalam rumusnya dan khusus digu-

nakan pada hiper tensi. Di dalam tubuh 

zat ini dihidrolisis menjadi metabolit aktif 

fosinoprilat. Dosis:­pada hipertensi oral 1 dd 

10 mg, sesudah 4 minggu bila perlu dinaikkan 

sampai 20-40 mg.

6b. Perindopril: Prexum,­Coversyl,­Aceon

Derivat indolkarboksilat (1989) ini yaitu  

prodrug yang di dalam hati dihidrolisis 

menjadi zat aktif perindoprilat. dipakai  

pada hipertensi dan gagal jantung, bersifat 

long-acting berhubung pengikatan kuat pada 

ACE, walaupun t½-nya hanya ±4 jam.

Dosis:hipertensi oral 1 dd 4 mg, maksimal 8 

mg;­dekompensa­si­cordis­1 dd 2-4 mg.

* Quinapril (Accupril) yaitu  derivat isochi-

nolin (1989) yang di dalam hati dihidrolisis 

menjadi quinaprilat, juga bersifat long-acting 

akibat pengikatan kuat pada ACE (t½ 2,5 jam). 

Penggun aannya sama dengan perindopril.

Dosis:­hipertensi oral 1 dd 10 mg, maksimal 

80 mg; dekompen­sa­si 1 dd 2,5-5 mg, maks 2 dd 

20 mg.

* Ramipril (Triatec,­Tritace,­Altace) yaitu  de-

rivat pyrrolkarboxilat (1989) yang dalam hati 

dihidrolisis menjadi ramiprilat aktif, yang 

juga bersifat long-acting. Dosis:hipertensi­ oral 

1 dd 2,5 mg, maksimal 10 mg; sesudah ­ infark­

jantung 2 dd 2,5 mg, maksimal 10 mg sehari. 

*Triatec­Plus­=ramipril 2,5 + HCT 12,5 mg

6c. Benazepril: Lotensin,­Cibacen,­*Cibadrex

Derivat benzazepin ini (1991) yaitu  pro- 

drug yang di dalam tubuh dihidrolisis men-

jadi metabolit aktif benazeprilat. Diguna kan 

pada hipertensi dan gagal jantung.

Resorpsi­dari usus ±37%, efek maksimalnya 

tercapai sesudah  2-4 jam dan bertahan minimal 

24 jam. PP-nya 95%, plasma-t½ ±23 jam, eks-

kresinya lewat urin secara utuh.

Dosis:hipertensi oral 1x sehari 10 mg, mak-

simal 1-2x 20 mg; dekompensasi 1 dd 2,5 mg, 

maksimal 1-2 dd 10 mg. 

*Cibadrex = benaze pril 10 + HCT 12,5 mg.

6d. Cilazapril: Vascase

Derivat diazepin long-acting ini (1990) di 

dalam hati dihidrolisis menjadi zat aktif cila-

zaprilat dengan t½ rata-rata 40 jam. Khusus 

dipakai  pada hipertensi.

Dosis: 1 dd 1,25 mg selama 2 hari, lalu 1 dd 

2,5-5 mg.

6e. Trandolapril: Mavik

sesudah  absorpsi terbentuk trandolapril (BA 

10%) dan trandolaprilat (BA 70%) yang 8 kali 

lebih kuat dari trandolapril dan mencapai 

kadar darah maksimal dalam 4-10 jam.

Dosis:­sehari 1-8 mg sebagai dosis tunggal 

atau terbagi. Untuk penderita yang meng-

gunakan diuretik atau penderita gangguan 

ginjal, dosis pertamanya 0,5 mg.

6f. Moexipril: Univasc

Merupakan suatu prodrug yang daya ker-

janya sebagai obat antihipertensi khusus 

berdasar  metabolitnya moexiprilat. Ab-

sorpsinya lengkap dengan BA sekitar 13%, 

namun  makanan menurunkannya dengan 

kuat. Kadar darah maksimal tercapai dalam 

hampir 1,5 jam dengan t½ berkisar antara 

2-12 jam.

Dosis:­ sehari 7,5-30 mg (tunggal atau ter-

bagi). Untuk penderita yang memakai  

diuretik atau gangguan ginjal, dosis sepa-

ruhnya.

B. AT-II RECEPTOR BLOCkERS

6e. Losartan:­Cozaar,­*Hyzaar

Senyawa imidazol-tetrazol ini yaitu  AT 

II-blocker pertama yang dikembangkan 

(Timmermans et al. 1993)30 dan merupakan 

yang pertama kali dipasarkan (1995). Berla-

inan dengan penghambat ACE, zat ini tidak 

mengham bat enzim ACE yang merombak 

angiotensin­ I menjadi AT­ II, namun  memblok 

reseptor-AT II dengan efek vasodi lata si. 

Efek maksimalnya baru nyata sesudah  bebe-

rapa minggu, seperti juga halnya dengan 

antihipertensiva lain. Studi besar-besaran di 

A.S. dan U.K.menunjukkan keampuhan yang 

sama dengan atenolol terhadap hipertensi, 

terutama pada pasien diabetes. Efek melin-

dunginya terhadap stroke dan infark jan-

tung ditingkatkan dengan masing-masing 25 

dan 13%.


Losartan juga merupakan antagonis dari 

reseptor thromboksan A2 dan berkhasiat me-

ngurangi agregasi pelat darah.

Resorpsinya­ dari usus baik, namun  BA-nya 

hanya 33% berhu bung FPE besar. Kadar 

puncak dalam darah dicapai sesudah 3-4 

jam. PP 99%, plasma-t½ 2 jam, dari metabolit 

aktifnya 6-9 jam. Ekskresi melalui urin (35%) 

dan feses (±58%).

Efek­ samping­ yang paling sering yaitu  

pusing, jarang terjadi hipotensi ortostatik 

dan hiperkaliemia. Batuk kering dapat ter- 

jadi, namun  lebih jarang dibandingkan de-

ngan ACE-inhibitors. Kombina sinya dengan 

diuretika thiazida memperkuat efek hipoten-

sif nya. 

Dosis: oral 1 dd 50 mg, bila perlu dinaikkan 

sesudah 3-6 minggu sampai 1 dd 100 mg.

Dosis harian total berkisar antara 25-100 

mg. 

*Hyzaar­=­losartan 50 + HCT 12,5 mg.

Obat-obat lainnya dari kelompok sartan yang 

tersedia yaitu : 

* Valsartan (Diovan*,­Co-Diovan) 1996, ada-

lah derivat dengan sifat yang lebih kurang 

sama, t½ 9 jam -­1 dd 80-160 mg. 

*  Irbesartan (Aprovel,­ *CoAprovel)22, 1997,t½ 

11-15 jam - 1 dd 150- 300 mg

*­ Candesartan (Atacand,­ *Atacand­ Plus) 

1997, t½ 9 jam -­1 dd 4 - 16 mg

*  Eprosartan (Teveten) 1997, t½5-9 jam - 1 dd 

600-800 mg

*  Telmisartan­(Micardis)­1998. t½> 20 jam - 1 

dd 40-80 mg

*­­ Olmesartan (Olmetec,­Benicar)­2001 - 1 dd 

20-40 mg    

 

Bagi lansia di atas 75 tahun sebaiknya 

dimulai dengan setengah dosis biasa.

Zat-zat ini berefek melindungi ginjal ter-

hadap kerusakan lebih lanjut pada pasien 

diabetes type-2 dan memperlambat terja-

dinya albuminuria pada penderita. 


PENGHAMBAT RENIN 

LANGSUNG

Memblokir pengubahan angiotensinogen 

(yang merupakan substrat dari renin) men-

jadi Ang I yang seterusnya mengurangi pem-

bentukan Ang II. 

Satu-satunya obat dari kelompok ini yang 

klinis dipakai  terhadap hipertensi yaitu  

aliskiren (Tekturna,­Rasilez­2007) yang meru-

pakan inhibitor renin generasi kedua. Wa-

laupun bioavailability-nya rendah (±2,5%), 

hal ini dapat diimbangi dengan daya ker-

janya yang kuat. Kadar puncaknya dalam 

plasma sudah tercapai dalam waktu 3-6 jam 

dengan t1/2 20-45 jam, yang memicu  

efek antihipertensifnya masih berlangsung 

beberapa hari sesudah  obat dihentikan 

Absorpi oleh tubuh dikurangi oleh ma-

kanan berlemak. Obat ini dapat dipakai  

oleh lansia, penderita gangguan hati dan 

ginjal, serta bagi penderita diabetes tipe II 

(Vaidyanathan et al, 2008)33.

Aliskiren merupakan obat antihipertensi 

efektif dan dapat dipakai  sebagai mono-

terapi atau dikombinasi dengan a.l. ACE 

inhibitors, ARB dan HCT dengan hasil aditif 

dan memiliki efek kardio- dan renoprotektif. 

Juga dianjurkan sebagai pilihan alternatif bila 

penderita tidak berhasil ditangani dengan 

obat antihipertensi lain.

Efek samping. biasanya  ringan dan 

terdiri a.l. dari diare (pada dosis tinggi), nyeri 

perut, sakit kepala dan pusing, batu ginjal 

dan gout, juga batuk, namun  jauh lebih kurang 

daripada efek samping obat-obat penghalang 

ACE. Seperti juga semua penghalang RAS 

lainnya, aliskiren tidak boleh diberikan pada 

wanita hamil.

7. VASOdILATOR

Vasodilator yaitu  zat-zat yang berkhasiat 

vasodilatasi­ lang­sung terhadap arteriole dan 

dengan demikian menurunkan TD tinggi. 

Kelompok 1 s/d 6 yang telah dibahas di atas 

juga menim bulkan vasodilatasi, namun  secara 

tidak­ langung melalui blokade SSP, aktivasi 

SSP di otak dan lain-lain. Vasodi lator perifer 

yang khusus dipakai  pada gangguan 

sirkulasi perifer, telah dibahas di bab yang 

lalu (Bab 34, Vasodilator). Vasodi la tor koro-

ner, yang khusus mendila tasi pembu luh jan-

tung, akan dibica ra kan di bab berikut.

pemakaian nya khusus sebagai obat-obat 

pilihan ketiga, terutama bersama dengan 

beta-blocker dan diureti kum, bila kombinasi 

kedua obat terakhir kurang memberikan 

hasil. Kombinasi itu  menguntungkan 

sebab  efek samping vasodilator berupa ta-

chycardia dan retensi garam dan air ditiada-

kan oleh masing-masing b-blocker dan di-

uretika. Kini, “triple­ therapy’ itu  sudah 

banyak diganti dengan obat-obat hipertensi 

baru (antagonis Ca, pengham bat ACE, ATII-

blockers).

Efek­ samping­ lainnya yaitu  pusing, nyeri 

kepala, muka mer ah, hidung mampat, de-

bar jantung dan gangguan lambung-usus. 

Biasanya efek ini bersifat sementara.

Kehamilan. Hanya hidralazin dapat digu-

nakan oleh wanita hamil dengan aman, 

sedang  dari dihidralazin dan minoksidil 

belum tersedia cukup data. Ketiga obat men-

capai air susu ibu.

MONOGRAFI

7a. Hidralazin: Apresolin,­*Ser-ap-es

Derivat-hidrazin ini yaitu  salah satu 

obat hipertensi pertama (1952). Tidak layak 

diguna kan sebagai monoterapi berhu bung 

efek sampingnya tachycardia (perhatian bagi 

para lansia) dan tachyfilaksis. Efek samping 

lainnya terdiri dari sakit kepala, pusing, mual 

dan sindrom lupus yang biasanya timbul 

sesudah  pemakaian  6 bulan terus menerus.

Pengobatan kombinasi dengan b-blocker 

dan thiazida lebih efektif, namun  sekarang 

sudah terdesak oleh obat-obat antihipertensi 

baru.

Resorpsi dari usus pesat dan lengkap, PP 

±85%, plasma-t½ ditentukan secara genetik, 

tergantung pada kecepa tan biotransformasi 

dalam hati melalui asetilasi 2-4 jam pada 

slow­ acetylators dan ±45 menit pada fast­ ace-

tyla­tors. Kadar tertinggi dalam plasma dan 

efek hipotensif maksimal tercapai 30-120 

menit sesudah  diminum. Efek hipotensif nya 

berlangsung lama, 8-12 jam akibat pengikatan 

kuat pada dinding pembuluh.

Dosis: oral semula 2-3 dd 10-25 mg p.c., bila 

perlu berangsur-angsur dinaikkan sampai 

maksimal 200 mg sehari dalam 3-4 dosis.

*Ser-ap-es: hidralazin 25 + reserpin 0,1 + 

HCT 15 mg

* Dihidralazin (Nepresol,­ *Dellasidrex,­ *Adel-

phane) yaitu  derivat (1953) dengan sifat dan 

efek samping sama; di dalam tubuh zat ini 

diubah 10% menjadi hidralazin. Plasma-t½ 

4-5 jam tanpa perbedaan antara slow­dan­fast­

acetylators.­ Dosis: oral permulaan 3 dd 12,5 

mg, pemeliharaan 2 dd 25 mg, maksimal 200 

mg sehari.

*Adelphane = dihidralazin sulfat 10 + 

reserpin 0,1 mg.

* Dellasidrex­=­dihidralazin 10 + reserpin 0,1 

+ HCT 10 mg

GOLONGAN NAMA OBAT

DOSIS LAZIM FREKUENSI

mg/hari  /HARI

DIURETIKA :

thiazida hidroklorothiazida (HCT) 12,5-50 1

klorothiazida (Diuril) 125-500 1-2

klortalidon 12,5-25 1

indapamida (Lozol) 1,25-2,5 1

polithiazida (Renese) 2-4 1

diuretika lengkungan bumetanida 0,5-2 2

furosemida (Lasix) 20-80 2

penghemat kalium amilorida (Midamor) 5-10 1-2

triamterene 50-100 1-2

aldosteron reseptor blocker spironolakton (Aldactone) 25-50 1

BETA-BLOCKER asebutolol (Sectral) 200-800 2

atenolol (Tenormin) 25-100 1

bisoprolol (Concor) 2,5-10 1

*karvedilol (Dilbloc) 12,5-50 2

*labetalol (Trandate) 100-200 2

metoprolol (Seloken) 50-100 1-2

nadolol (Corgard) 40-120 1

pindolol (Visken) 10-30 1

propranolol (Indral) 40-160 2

timolol (Blocadren) 20-40 2

ALFA-BLOCKER doksazosin (Cardura) 1-16 1

prazosin (Minipress) 2-20 2-3

tetrazosin (Hytrin) 1-20 1-2

alfuzosin (Xatral XL) 10 1

tamsulosin (Omnic) 0,4 1

CA CHANNEL BLOCKERS diltiazem (Herbesser) 60-120 1-3

(non-dihidropiridin) verapamil (Isoptin) 80 3-4

(dihidropiridin) amlodipin (Norvask) 2,5-10 1

felodipin (Plendil) 2,5-20 1

nikardipin SR (Cardene) 40-60 2

nifedipin LA (Adalat CC) 30-60 1

nimodipin (Nimotop) 60 3

nisoldipin (Syscor) 5-20 2

lercanidipin (Zanidip) 15-20 1

nitrendipin (Baypress) 5-20 2

Tabel 35-4: Ikhtisar Antihipertensiva

7b. Minoksidil: Lonnoten,­Rogaine

There­ is­ only­ one­ cure­ for­ grey­ hair­ and­ baldness.­

It­ was­ invented­ by­ a­ Frenchman.­ It­ is­ called­ the­

guillotine.­

PG Wodehouse, 1881-1975; revised.

Derivat pirimidin ini (1965) yaitu  vasodi-

lator kuat dengan kerja langsung terhadap 

dinding arteriole. Mekanisma kerjanya ber-

dasarkan aktivasi K+ channel di otot licin 

dan merelaksasinya. Mulai kerjanya cepat, 

yaitu dalam 30 menit dan mencapai puncak 

sesudah  rata-rata 5 jam; efeknya bertahan 2-5 

hari. dipakai  hanya pada hipertensi hebat 

yang resisten terhadap antihipertensiva lain, 

terutama pada penderita pria dengan gang- 

guan ginjal. Harus selalu dikombinasi de-

ngan diuretikum terhadap retensi cairan 

dan b-blocker untuk meniadakan efek kar-

diovaskular (mirip hidralazin). Antara dosis 

dan efek ada  korelasi baik (kurva curam).

ACE BLOCKERS cilazapril (Vascase) 1,25-5 1

benazepril (Cibacen) 10-40 1

enalapril (Tenace) 5-40 1

fosinopril (Acenor-M) 10-40 1

kaptopril (Capoten) 25-50 1-2

kuinapril (Accupril) 10-80 1

lisinopril (Zestril) 10-40 1

perindopril (Prexum) 4-8 1

ramipril (Triatec) 2.5-10 1

AT II ANTAGONIS eprosartan (Teveten) 400-800 1-2

irbesartan (Aprovel) 150-300 1

kandesartan (Atacand) 4-16 1

losartan (Cozaar) 50-100 1

olmesartan (Olmetec) 20-40 1

telmisartan (Micardis) 40-80 1

valsartan (Diovan) 80-160 1

AGONIS a2-ADRENERG guanfasin (Estulic) 0,5-2 1

klonidin (Catapres) 0,075 3

metildopa (Aldomet) 250-1000 2

reserpin (Serpasil) 0,1-0,25 1

VASODILATOR (langsung) hidralazin (Apresoline) 25-50 2

dihidralazin (*Adelphane) 12,5-25 2-3

minoksidil (Rogaine) 5-25 1-2

Minoksidil juga merupakan perangsang 

ekskresi kuat dari renin dan aldosteron.

pemakaian nya sebagai perangsang per-

tumbuhan rambut pada kebotakan tertentu 

berdasar  hipertrichosis (tumbuh rambut 

berlebihan) yang nampak sebagai efek sam- 

ping akibat aktivasi dari K+ channel terse-

but di atas. Senyawa ini merangsang DNA 

sintesis di foliker rambut, sehingga pertum-

buhan rambut diperbaiki. Minoksidil hanya 

efektif pada alopecia­ androge­netica pada pria 

(botak bundar di ubun-ubun dan ‘teluk’ di 

sisi depan: ‘Jezuits­ crown’, ‘Geheimrats­ ecke’). 

Pada bentuk kebota kan lain (akibat menua, 

keturunan) tidak ampuh. Juga pada wanita 

dilaporkan efektif­ (­Ph.­Wkbl.­2001:­137:373). 

Efeknya baru nyata sesudah  ±4 bulan pada 

hanya ±30% dari pemakai. Bila peng guna-

annya dihentikan, pertumbuhan rambut baru 

juga berhenti dalam masa 4 bulan.

Senyawa-senyawa lain yang dapat mem-

perbaiki pertumbuhan rambut yaitu  perin-

tang 5-alfa-reduktase seperti finasterida dan 

dutasterida, sedang  bagi wanita yaitu  

siproteron yang memblokir reseptor andro-

gen.

Efek­ sampingnya selain hipertrichosis rever-

sibel, juga tachy cardia dan udema (retensi 

garam dan air), yang adakalanya tidak da- 

pat diatasi dengan diuretika kuat (loop di-

uretika), seperti furosemida.

Dosis: oral semula 1 dd 5 mg, bila perlu 

berang sur-angsur dinaikkan sampai mak-

simal 2 dd 25 mg. 

Alopecia: larutan 2% dalam propilen glikol/

alkohol (Rogaine) dimasase 2 kali sehari 1 

ml pada kepala yang kering. Adakalanya 

pemakaian  topikal ini pada sebagian orang 

memicu  efek kardiovaskular minimal.


ANTILIPEMIKA

KOLESTEROL 

Kolesterol (Yun.: chole = empedu, stereos = 

padat) yaitu  zat alamiah dengan sifat fisik 

serupa lemak namun  berumus steroi da, seperti 

banyak senyawa alamiah lainnya. Kolesterol 

merupakan bahan bangun esensial bagi 

tubuh untuk sintesis zat-zat penting, seperti 

membran sel dan bahan isolasi sekitar serat 

saraf, begitu pula hormon kelamin dan anak-

ginjal, vitamin D serta asam empedu.Koleste rol 

ada  pula dalam lemak hewani, kuning 

telur dan batu empedu. 

Resorpsinya dari usus hanya terjadi bila ada 

cukup asam empedu untuk mengemulsinya. 

Tergantung dari susunan makanan, a.l. 

jumlah kandungan kolesterol, lemak hewani 

dan serat nabati setiap hari dapat diserap 

sebanyak 200-600 mg kolesterol. Di samping 

itu tubuh, terutama hati, memben tuk 700-

1.000 mg kolesterol sehari untuk memenuhi 

kebutuhannya.

Sintesis. Dalam keadaan normal hati mele-

paskan kolesterol ke darah sesuai kebutuhan. 

namun  bila diet mengandung terlampau ba-

nyak kolesterol atau lemak hewani jenuh 

maka kadar kolesterol darah akan meningkat.

sesudah  diserap tubuh, sebagian lemak dan 

minyak dalam bahan pangan dipakai  

sebagai sumber energi, melalui reaksi pe-

nguraian: CO2 + H2O + kalori. Zat-zat perom-

bakan lainnya di dalam hati diguna kan lagi 

untuk sintesis kolesterol dan lemak lain. 

Sintesis endogen ini disesuaikan dengan ke-

butuhan, misalnya selama berpua sa atau 

bila ada  banyak kolesterol dalam pa-

ngan, maka pembentukan nya berkurang. 

Sebaliknya, bila kadar asam empedu me- 

nu run, sintesisnya meningkat untuk dibio- 

transformasikan menjadi asam empedu lagi. 

Lazimnya, ±2/3 dari kolesterol tubuh disinte-

sis secara endogen, hanya 1/3 berasal dari 

pangan (eksogen). Sebagian orang yang genetik 

cenderung memben tuk banyak kolesterol 

endogen, terlepas dari dietnya, merupakan 

pasien hiperkoles terole mia familial.

Kolesterol dan telur. Sejak lama telah di-

curigai bahwa telur dapat meningkatkan 

kadar kolesterol darah, maka asupannya 

harus dibatasi sampai 1 butir telur seminggu. 

Sekarang ini diketahui bahwa orang sehat 

dapat setiap hari mengonsumsi telur tanpa 

meningkatkan risiko PJP atau stroke (JAMA 

1999; 281: 1387-94 dan BMJ 1999; 318: 1094). 

Mungkin sekali kadar asam lemak jenuh 

yang tinggi dalam telur juga memegang 

peranan dalam kasus ini. Lihat selanjutnya 

Bab 54, Dasar-dasar diet sehat; Kolesterol.

LIPOPROTEIN 

Lipida darah terutama terdiri atas kolesterol, 

trigliserida (minyak), asam lemak bebas dan 

fosfolipida, yang semuanya tidak dapat larut 

dalam darah (> 50% terdiri dari air). 

Oleh sebab  itu lipida diangkut melalui 

plasma darah dalam inti partikel-partikel 

yang memiliki kulit (shell) hidrofil yang ter-

diri atas fosfolipida dan kolesterol bebas. 

Lapisan permukaan ini juga terdiri atas pro-

tein yang disebut apolipoprotein atau apoprotein 

yang berfungsi sebagai “etiket” (label) untuk 

reseptor-reseptor sel. Senyawa kompleks de-

ngan protein transpor ini disebut lipoprotein, 

suatu makromolekul yang dapat bercampur 

baik dengan darah. Sekitar dua per tiga dari 

plasma lipoprotein disintesis dalam hati. 

Low-density lipoprotein

The Lancet Vol 376 November 13, 

2010

Ada beberapa jenis lipoprotein yang sesuai 

kandungan lipidanya dibagi dalam beberapa 

komponen sebagai berikut.:

– chylomicron yang dibentuk di dinding 

usus dari trigliderida dan kolesterol ber-

asal dari makanan. Kemudian TG ini 

dihidrolisis oleh lipoproteinlipase dan 

sisanya diekskresi oleh hati

– VLDL (very low density lipoprotein) dari 

hati, yang bersama chylomicron meng-

angkut sebagian besar TG dan asam 

lemak bebas ke jaringan otot dan lemak. 

Berat jenis VLDL rendah sekali, memiliki 

diameter dari 40-100 nm dan cukup besar 

untuk mengeruhkan larutan plasma. 

Hampir seluruh partikel LDL dibentuk 

dari VLDL.

– LDL(low density lipoprotein) mengangkut 

sebagian besar (±70%) kolesterol darah 

dari hati yang memiliki reseptor-reseptor 

LDL ke jaringan. Proses penarikan LDL 

dari plasma melalui reseptor-reseptor 

ini merupakan mekanisme utama dalam 

pengendalian nilai LDL. Dalam hal ter-

tentu, oksi-LDL, yakni koleste rol yang 

telah dioksidasi oleh radi kal bebas, dapat 

mengendap pada dinding pembu luh dan 

memicu  atherosclerosis, lihat di 

bawah. 

– HDL (High Density Lipoprotein) meng-

angkut kelebihan koleste rol (dan asam 

lemak) - yang tidak dapat dipakai  

oleh jarin gan perifer- kembali ke hati 

untuk diubah menjadi asam empedu. 

Dengan bantuan enzim LCAT (= lecithine 

cholesterol acyl-transferase), oksi-LDL yang 

telah terendap pada dinding pembu-

luh „dilarutkan“ (secara kimiawi: pem-

bentukan ester dengan lesitin) dan juga 

diangkut ke hati. HDL memiliki berat 

jenis terting gi.

HDL juga disebut sebagai lipoprotein 

yang melindungi terhadap CHD, oleh 

sebab  itu sebaiknya nilai kadar HDL 

tinggi. Mekanisme perlindungan dari 

HDL terdiri dari apa yang disebut reverse 

cholesterol transport, yaitu suatu proses 

pa-damana kelebihan kolesterol dari sel-

sel di transpor ke hati untuk selanjutanya 

diekskresi. HDL juga melindungi terha-

Tabel 36-1: Jenis lipoprotein, diameter, berat jenis dan komposisinya

dap atherogenesis melalui mekanisme lain, 

yaitu yang berhubungan dengan proses 

anti-peradangan, anti-oksidatif, anti-agre-

gasi dari pelat darah dan antikoagulan.

Partikel-partikel lipoprotein (chylomi-

cron dan VLDL) tidak bersifat aterogen 

sebab  ukurannya yang besar (diameter 

30-500 nm) tidak memungkinkan menem- 

bus dinding saluran darah. Sebaliknya 

partikel LDL (diameter 18-25 nm) dapat 

dengan mudah menembus dinding ar- 

teri dan menjadi pemicu  utama dari 

atherosclerosis. HDL yang memiliki par-

tikel terkecil (diameter 5-12 nm) mampu 

mengangkut kolesterol dari dinding ar-

teri, yang merupakan dasar dari sifat anti-

aterogennya.

* Apolipoprotein (apo) yaitu  komponen 

protein penting dari pelbagai lipop ro tein, di 

samping fraksi lipida itu  di atas. Apo ini 

berfungsi a.l. sebagai ligand (‚label‘, etiket) bagi 

pengika tan pada reseptor LDL. Ada lima 

jenis, yakni apo-A, B, C, D dan E, dengan 

sub -kelasnya. Selain fraksi-fraksi lipida, juga 

apo-B dan apo-AI (protein dalam masing-

masing VLDL/LDL dan HDL) ternyata 

bersifat aterogen kuat dan juga merupakan 

indikator risiko bagi PJP.

HIPERLIPIDEMIA (HLD)

Hiperlipidemia (lebih tepat hiperlipoproteinemia) 

yaitu  keadaan, pada mana kadar lipoprotein 

darah meningkat akibat predisposisi genetik 

(keturunan) (hiperlipidaemia primer) dan/

atau yang berhubungan pula dengan diet 

individual (diet berkalori tinggi, lemak jenuh 

dan kolesterol).

Untuk hiperlipidemia primer dapat dibeda-

kan dua jenis, yaitu:

- hiperkolesterolemia dengan peningkatan 

kadar LDL (dan koleste rol total).

Gangguan pada metabolisme lemak ini 

merupakan gangguan yang paling umum dan 

±5% dari kasus yaitu  familial (keturunan), 

namun  dalam 95% dari kasus tidak diketahui 

pemicu nya.

- hipertrigliseridemia, pada mana kadar TG 

meningkat.

Chylomikron dibentuk dari asam lemak 

berasalkan trigliserida dan kolesterol asupan 

makanan yang diabsorpsi di usus kecil oleh 

sel-sel epitel di dinding usus dan terdiri 

untuk ±85% dari TG dan hanya ±4 % dari 

kolesterol. Dalam kapiler jaringan otot dan 

jaringan lemak, TG dirombak di bawah 

pengaruh lipoproteinlipase menjadi produk 

yang masih mengandung banyak TG dan 

kolesterol. Pro duk ini lazimnya diolah lebih 

lanjut oleh hati. namun  bila sebab  sesuatu 

sebab pengolahan tidak sempurna, maka 

sisanya sesudah  makan masih bersirkulasi 

dalam darah untuk jangka waktu lama. De-

Tabel 36-2: Nilai kolesterol dan TG normal untuk

negara kita  dan negara Barat

mikian terjadinya hipertrigliseridemia. Jenis 

HLD ini dapat diten tukan dengan naiknya 

kadar chylomikron segera sesudah  makan. 

biasanya  gangguan ini jauh hari sudah 

memicu  bentuk athero sclero sis serius 

dan timbulnya masalah sekitar usia 30 tahun.

Kadar trigliserida yang meningkat di antara 

150-400 mg/dl cukup memprihatinkan kare-

na sering kali merupakan bagian dari gejala 

metabolisme yang berhubungan dengan 

resistensi insulin, kegemukan, tekanan darah 

tinggi dan meningkatnya risiko akan CVD. 

Oleh sebab  itu penderita dengan resistensi 

insulin harus diwaspadai mengenai kadar 

trigliseridanya, walaupun kadar kolesterol 

totalnya normal.

Hipertrigliseridaemia hebat (kadar triglise-

rid >1000 mg/dl) perlu diobati untuk meng-

hindari pankreatitis.

Nilai normal dan yang meningkat

Nilai kolesterol normal sangat bervariasi se-

cara geografis. Di negara-negara Asia-Afrika, 

makanan sehari-hari umumnya mengandung 

lebih sedikit kalori, lemak hewani dan pro tein. 

Dengan demikian nilai itu  umumnya 

lebih rendah dibandingkan dengan negara-

negara Barat, misalnya kadar koles te rol total 

masing-masing ±3,9 mmol/l (= 150 mg%) 

dan ±5,2 mmol/l (= 200 mg%). Pada tabel 

36-2 diberikan angka-angka yang dianggap 

normal bagi Indone sia dan negara-negara 

Barat, serta nilai yang meningkat. 

Semua bayi dilahirkan dengan kadar ko-

lesterol rata-rata 80-100 mg% (2-2,6 mmol/l) 

yang selama pertumbuhan berangsur-angsur 

naik sampai ±150 mg% (3,9 mmol/l). Di 

negara berkembang, biasanya  kadar 

menetap di tingkat ini, sedang  di negara 

Barat nilainya terus meningkat sampai rata- 

rata 220 mg% (5,8 mmol/l). Kenaikan terse- 

but secara fisiolo gis tidak normal dan di-

perkirakan ada hubungan kausal dengan 

susunan makanan yang tidak tepat, khu-

susnya mengan dung terlampau banyak 

lemak jenuh. 

Penggolongan 

Sejak 1967 dipakai  klasifikasi menurut 

Fredrickson untuk membedakan jenis-jenis 

hiper lipide mia. Klasifikasi ini memper li-

hatkan 5 tipe berdasar  kelainan lipop-

ro tein (kecuali HDL). Tipe I dan III sangat 

jarang ditemukan, tipe II dan IV paling 

sering ada . Kegunaan klasifikasi ini 

agak terbatas, sebab  dikenal juga bentuk 

campuran; lagi pula hanya menggambarkan 

peta lipopro tein yang ada  dalam plasma 

dan bukan penyakit atau mekanisme patoge-

nesisnya. Maka sekarang ini penggolongan 

itu  sudah banyak terdesak oleh pem-

bagian atas dasar sebab terjadinya hiper-

lipidemia (fungsional/genetik) yang klinis di-

anggap lebih penting. Klasifikasi dari Gold-

stein ini memungkinkan pembagian gang-

guan-gangguan familial berdasar  kelain-

an komponen lipida yang mudah ditentukan 

dalam laboratotium, sebagai berikut:

a. kelainan dari VLDL dan chylomicron - 

hipertrigliseridemia tersendiri

b. kelainan dari LDL-hiperkolesterolemia 

tersendiri

c. kelainan dari HDL

d. hiperlipidemia campuran a + b

Jenis-jenis hiperlipidemia yang dapat terjadi 

yaitu :

Tabel 36-3: Jenis hiperlipidemia menurut Fredrickson (WHO) dan terapinya

a. HLD keturunan. Dalam jumlah kecil 

(2-3% dari pendu duk), HLD bersifat fa-

mili al akibat kelainan genetik yang me-

mengaruhi langsung metabolisme lipi-

da. Misalnya, pembentukan LDL di-

tingkatkan atau kekurangan reseptor LDL 

yang berakibat LDL tidak diserap oleh 

sel. Tipe IIa yaitu  sama dengan hiperko-

lesterolemia familial, yang kerapkali 

sudah ada sejak lahir. Hipertrigliseri-

demia familial dan bentuk kombinasinya 

adakalanya terjadi.

b. HLD akibat susunan pangan (terlampau 

banyak lemak jenuh dan terlampau sedikit 

sayur-mayur) biasanya memicu  

HLD tipe II dan IV dengan kenaikan LDL 

dan/atau VLDL. Bentuk ini dapat diatasi 

dengan diet kalori rendah, yang miskin 

kolesterol-TG dan kaya akan asam lemak 

poly-unsaturated (lihat Bab 54. Dasar-dasar 

diet sehat). Bila diet ini tidak memberikan 

hasil, baru lah dipakai  obat-obat sesuai 

tabel.

c. HLD sekunder akibat penyakit, misal-

nya diabetes, hipotiro sis, insufisiensi gin- 

jal menahun, obesitas, penyakit hati ter- 

tentu. Atau akibat pengobatan dengan 

misalnya hormon (obat-obat KB), kor-

tikosteroida, diuretika tiazida dan beta- 

blocker. Lazimnya gangguan ini akan 

sembuh sesudah  pemicu nya dihilang- 

 kan. Antilipemika biasanya tidak digu-

nakan, kecuali mungkin pada penderita 

diabetes, yang risiko atherosclero sisnya 

sangat besar sebab  sistem pembuluhnya 

kurang kuat.

Gejala

Sering kali HLD tidak memperlihatkan 

gejala nyata, adakalanya xanthomata, yaitu 

lapisan kuning (Yun. xanthos) pada kulit, 

khususnya pada kelopak mata dan siku. 

Hiperkolesterol emia familial biasanya 

sudah menjadi manifes pada usia muda, 

antara 20 - 40 tahun, dalam bentuk angina 

pectoris dan infark jan tung.

Faktor risiko

Hiperkolesterolemia dan hipertrigliseride mia me-

rupakan faktor risiko bagi atherosclerosis dan 

akhirnya penyakit jantung dan pembuluh 

(PJP), khususnya angina dan infark jantung. 

Faktor-faktor risiko terpenting dari CHD 

yaitu  kadar LDl yang tinggi, kadar HDL 

yang rendah, merokok, adipositas, tekanan 

darah tinggi, diabetes tipe 2, usia yang me-

ningkat dan riwayat CHD dari keluarga. 

Petunjuk-petunjuk utk mengurangi faktor 

risiko terdiri dari a.l. olah raga (berjalan ka- 

ki cepat 20-30 menit sehari atau 150 menit 

dalam seminggu), pola makan sehat yang 

terdiri dari mengurangi konsumsi le-mak, 

menghindari trans-fat, makan ikan berlemak 

2 kali atau lebih dalam seminggu dan kom-

sumsi makanan yang kaya akan asam alfa- 

linolenik seperti minyak kanola dan minyak 

kacang kedele, serta mengurangi minum- 

an bergula. Anak-anak juga harus dibekali 

petunjuk-petunjuk demikian sebab  kelaku- 

an/kebiasaan mengenai kesehatan yang 

buruk diperoleh pada waktu anak-anak. 

– Stres juga memegang peranan nyata, 

terutama pada orang dengan struktur 

kepribadian tipe A. Menurut peneliti Fried-

man & Rosenman, orang tipe A bersifat 

sangat ambisius dan berseman gat ber-

lebihan, tidak sabaran, bekerja keras 

dan cepat. Mereka lebih besar risikonya 

mengidap PJP daripada orang tipe B 

yang lebih santai dan tenang, tidak selalu 

sibuk dan tidak tergesa-gesa.

– LDL tinggi (>175 mg%) yaitu  faktor 

risiko terpen ting, terlebih pula bila TG 

meningkat (>310 mg%). LDL dapat ditu-

runkan dengan a.l. penurunan berat ba-

dan dan diet dengan mengu rangi lemak 

jenuh dan koles terol serta peningkatan 

asupan lemak tak-jenuh, serat dan protein 

nabati. 

– HDL rendah (<35 mg%) dapat disebabkan 

oleh merokok, obesitas dan kurang 

gerak badan, juga akibat obat-obat se-

perti diuretika dan β-blocker, hormon 

kelamin (anabolika) dan hormon stres 

(adre nalin dan kortisol). 

Faktor-faktor baik

Banyak studi membuktikan bahwa HDL 

tinggi (> 60 mg%) memiliki fungsi pelindung 

terhadap PJP, mungkin sebab  khasiatnya 

dapat ‚melarutkan‘ endapan koleste rol pada 

dinding pembu luh sehingga meng hindar i 

pembentu kan atheroma. 

Peningkatan HDL dapat dicapai dengan 

melakukan olahraga inten sif, menurunkan berat 

badan dan berhenti merokok. HDL yang me-

ningkat juga ditemukan pada mereka yang 

sekali-kali minum alkohol dalam jumlah ke-

cil dan bila kadar vitamin C di lekosit tinggi. 

HDL dinamakan juga ‘kolesterol baik’, 

sedang  nama julukan LDL yaitu  ‘ko-

lesterol buruk’.

*Alkohol. Efek pelindung dari minum al-

kohol dalam jumlah kecil (bir, anggur 1-3 

konsumsi sehari) terhadap PJP dan risiko 

meninggal teruta ma didasarkan atas pe-

ningkatan HDL (dengan 10-20%). Sifat al-

kohol lainnya yang juga memegang pe-

ranan yaitu  peleba ran pembu luh, efek fibri-

nolitis (melarutkan fibrin) dan penguran gan 

kecenderungan beku darah. Dalam anggur 

merah pemeran penting yaitu  kandun gan 

bioflavonoida (polife nol) yang berkhasiat anti-

oksidans dan menghambat oksidasi LDL.

* Perbandingan kolesterol total : HDL. 

Telah ditentukan bahwa kadar HDL sangat 

penting untuk memperkirakan risiko PJP, 

misalnya bila kadar HDL < 35 mg%, maka 

risiko itu  akan sangat meningkat. Hen- 

daknya kadar HDL setinggi mungkin agar 

atheroma dapat dilarutkan, dengan diban-

tu oleh penurunan kadar LDL. Para ahli 

sependapat bahwa kuosien kolesterol total 

(= HDL + LDL + VLDL + kolesterol bebas) : 

HDL-kol merupakan peramal risiko PJP yang 

lebih baik. Kuosien sebaiknya < 4,5; semakin 

rendah kuosien ini, semakin kecil risiko 

itu . 

* Antihipertensiva. Sejumlah obat hipertensi, 

yakni diuretika tiazida dan kebanyakan beta-

blocker memengaruhi kuosien itu  se-

cara buruk, maka pemakaian  jangka pan- 

jangnya disang sikan. namun  pada tahun 

1990-an telah dipastikan bahwa obat-obat itu 

justru memperkecil risiko meninggal akibat 

PJP; mengenai obat hipertensi lainnya hal ini 

belum ditentukan dengan jelas.

ATHEROSCLEROSIS (AS)

Atherosclerosis (Yun. athere = bubur, skleros 

= keras), juga disebut pengapuran dinding 

pembuluh, yaitu  gangguan arteri besar dan 

sedang yang bercirikan bengkak lokal pada 

lapisan-dalam (intima) dan pengerasan pada 

lapisan-tengah (media) dinding pembuluh. 

Bengkak itu terdiri dari oksi-LDL yang telah 

mempene trasi sel-sel intima, endapan kapur, 

fibrinogen serta jaringa n ikat dan disebut 

atheroma(beng kak berisi zat lunak seperti 

bubur). 

Etiologi. Di negara-negara Barat kasus athe-

rosclerosis (AS) sering ditemukan, hingga 

banyak orang menganggapnya sebagai proses 

menua normal. Proses terjadinya ganggu an 

ini kebanyakan sudah dimu lai pada orang 

dewasa muda usia 20-30 tahun dengan mun-

culnya ‘fatty streaks’ pada intima. Fatty streaks 

yaitu  bercak-bercak yang terdiri dari sel-

sel busa berisi lemak yang menumpuk di 

intima. Pada tahap  selanjutnya oksi-LDL dan 

garam kalsium, sel-sel radang dan jaringan ikat 

tertimbun pada streaks itu  yang lalu 

diselubungi dengan jaringan otot-polos. tahap  

ini dapat ber langsung selama puluhan tahun 

tanpa ge ja la, padamana streaks menebal 

sampai 2-3% setahun. Akhirnya antara 

usia 50-60 tahun terjadi plaq ues aterosklero-

tik, plak/lem peng tebal yang menyumbat 

pembuluh hingga lubangnya menyem pit 

sampai 30% dan penyalu ran darah sangat 

terhambat. Lagipula kelenturannya sangat 

berkurang. Baru pada saat itu muncullah 

gangguan serius dan tergantung dari lokasi 

penyum ba tannya dapat timbul beberapa ge-

jala mis. angina, infark jantung dan stroke. 

Insidensi dan parahnya gangguan-gangguan 

ini diperhebat oleh faktor-faktor risiko lain 

seperti merokok, hipertensi, diabetes, riwayat 

keluarga atau riwayat kesehatan sendiri bila 

pernah mengidap penyakit jantung atau 

pembesaran bilik jantung kiri. 

Peradangan dinding pembuluh ternyata ber-

peran penting pada komplikasi AS. Lihat 

juga Bab 37. Infark jantung.

Penanganan hiperlipidemia. Atherosclerosis 

yang sudah terbentuk pada hakikatnya tidak 

bisa ditia dakan dengan pengobatan. namun  

riset menunjukkan bahwa penurunan kolesterol 

total dengan antili pe mika dapat “melarutkan” 

plak ateroskle rotik (‘regression’). Untuk ini pe-

ningkatan HDL yaitu  lebih esensi al dari-

pada penurunan LDL. Selain kombinasi da-

mar (resin) dengan asam nikotinat, teruta ma 

penghambat redukta se (sta tin ), dapat me-

nimbulkan regresi itu .

Dalam situasi gawat tertentu dapat dila-

kukan rekanalisissi dari arteri yang telah 

tersumbat oleh atheroma (metode dr Dotter, 

‘dottering’- stent), atau dalam kasus berat 

bedah bypass. Lihat selanjutnya Bab 37, sub 2, 

Angina pectoris.

Bagi kebanyakan orang penyesuaian pola 

hidup dan diet sehat lebih bermanfaat untuk 

menurunkan kadar kolesterol yang tinggi 

dan mengurangi risiko gangguan vascular 

daripada pemakaian  obat-obat dan juga 

lebih murah.

* Diet penurunan lipid. Unsur-unsur utama 

yang berkaitan dengan cara ini yaitu :

– kurangi pemasukan lemak (sampai ±30% 

dari energi total) ;

– misalnya kurangi asupan produk-produk 

dari susu (dairy) dan daging (susis, kor-

net) yang merupakan sumber utama 

lemak jenuh untuk diganti dengan ikan 

dan unggas

– substitusi minyak jenuh dengan minyak 

mono/poly-unsaturated (minyak olive, 

kembang matahari, jagung atau kedele)

– kurangi asupan kolesterol dengan meng-

hindari a.l. jeroan, hati, otak dan lain-lain.

– tingkatkan asupan serat, mis. sayuran, buah-

buahan, sereal murni dan lain-lain.

– kurangi asupan alkohol, sebab  bila ber-

lebihan merupakan sebab penting dari 

hiperlipidemia sekunder dan mengaki-

batkan parahnya gangguan primer

– kurangi berat badan. Obesitas yang 

sendirinya sudah merupakan faktor 

risiko gangguan kardiovaskuler, juga 

memicu  lebih parahnya gangguan 

hiperlipidemia

– gunakan makanan yang mengandung 

ester stanol. Stanol tumbuhan, seperti 

margarin khusus (Benecol), mengurangi 

absorpsi kolesterol dari saluran cerna. 

Mekanismenya yaitu  stanol menempati 

titik-titik dalam misel yang mengantar 

lipid ke sel-sel mukosa lambung-usus.

PENGOBATAN HLD

* HLD ringan (dengan nilai kolesterol ±240 

mg% atau TG ±310 mg%) akibat susunan 

makanan yang keliru, bia sanya dimulai de-

ngan diet. Bahan makanan hendaknya miskin 

lemak jenuh dan kolesterol serta kaya serat nabati 

(±200 g sayuran + 2-3 butir buah-buahan 

sehari). Dengan diet itu  dapat dicapai 

penuru nan koles te rol ±10%.

* HLD berat. Bila hasilnya belum memuaskan 

atau bila kadar kolesterol > 310 mg% perlu 

diberi kan suatu obat antilipemik, yaitu damar, 

statin atau kombinasi nya. Derivat nikotinat 

juga dapat dipakai . Pada hiperlipide mia 

jenis famili al dianjurkan suatu statin. 

* Hipertrigliseridemia (> 310 mg%) dapat 

efektif diobati dengan fibrat yang meng-

hambat masuknya chylomikron dari usus 

ke darah dan mengaktivasi proteinlipase. 

Damar tidak dianjur kan sebab  peningkatan 

produksi VLDL memicu  kenaikan 

kadar TG.

ANTILIPEMIKA

Antilipemika yaitu  obat-obat yang dapat 

menurunkan kadar koleste rol dan/atau TG 

darah yang tinggi. Obat-obat itu  terse-

dia dalam 4 kelompok utama:

a. Damar penukar anion/pengikat asam em-

pedu: kolestiramin dan