Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 6. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 6. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 6


 an 

terjadi agak jarang (1 : 4.000--50.000), te-

tapi sering kali berakibat fatal.

 

Menurut perkiraan kerusakan sumsum tulang 

ini disebabkan oleh metab olit kloramfeni-

kol toksik yang dibentuk oleh kuman usus. 

Telah dipastikan bahwa obat diuraikan oleh 

sinar-UV-A menjadi senyawa nitro(so) yang 

toksik bagi sel-sel sumsum tulang. Foto degra-

dasi ini berlangsung baik dalam wadah gelap 

(misalnya, botol berwarna cokelat), maupun 

sesudah  pemakaian  di kulit dan mata. 

Perhatian! Pada pengobatan lama de ngan do-

sis tinggi misalnya pada terapi tifus, gambaran 

darah tepi perlu dimonitor. 

Resistensi dapat timbul dengan agak 

lamba t (tipe banyak tingkat), namun  resis-

tensi ekstra-kromosomal melalui plasmid 

juga terjadi, antara lain terhadap basil tifus 

perut.

Interaksi. Kloramfenikol meningkatkan 

daya kerja dari antikoagulan, fenitoin dan 

antidiabetika oral. Lagi pula menghambat 

metabolisme dari obat-obat lain, sehingga 

dapat meningkatkan daya kerja dari mis. di-

fenilhidantoin, sulfonilurea dan warfarin.

Kehamilan dan laktasi. pemakaian nya 

tidak dianjurkan, khususnya selama ming-

gu-minggu terakhir dari kehamilan, sebab  

dapat memicu  cyanosis dan hypothermia 

pada neonati ("grey baby syndrome“), akibat 

ketidakmampuannya untuk menkonyugasi 

dan mengekskresi obat ini, sehingga sangat 

meningkatkan kadarnya dalam darah. 

Berhubung kemampuannya melintasi pla-

senta dan mencapai air susu ibu, maka tidak 

boleh diberikan selama laktasi. Larangan ter-

sebut juga berlaku bagi tiamfenikol.

Dosis: pada tifus permulaan 1-2 g (pal-

mitat), lalu 4 dd 500-750 mg p.c. Neonati 

maksimal 25 mg/kg/hari dalam 4 dosis, 

anak-anak di atas 2 minggu 25-50 mg/kg/

hari dalam 2-3 dosis. Pada infeksi parah (me-

ningitis, abses otak) i.v. 4 dd 500-1500 mg 

(Na-suksinat).

*­ Tiamfenikol­ (Urfamycin) yaitu  derivat 

p-metilsulfonil (-SO2CH3) dengan spek-

trum kerja dan sifat mirip kloram feni kol, 

namun  aktivitasnya agak lebih ringan. 

Resorpsinya juga baik sekali, PP-nya lebih 

ringan (±10%), plasma-t½-nya 2 jam, peng-

ikatan pada glukuronat dalam hati hanya 

5-10%, sedang  ekskresinya lewat kemih 

dalam kadar tinggi sebagai zat utuh aktif 

(±65%). Kadar tiamfenikol di dalam empedu 

lebih tinggi daripada kloramfenikol. Maka, 

selain pada infeksi­ tifus­ dan­ Salmonella,­

juga dipakai  pada infeksi saluran­kemih­

dan­saluran­empedu oleh kuman yang resis-

ten terhadap antibiotika lain.Toksisitasnya 

bagi sumsum tulang dan darah sama dengan 

kloramfenikol!

Dosis: tifus perut 4 dd 250-500 mg selama 

maksimal 8 hari, di atas 60 tahun 2 dd 500 mg, 

anak-anak 20-30 mg/kg/hari. Gonore: 1 x 2,5 g.

2.­Vankomisin: Ledervan, Vancocin.

Antibiotikum glikopeptida ini dihasilkan 

oleh Streptomyces orientalis (1955). Berkhasiat­

bakterisid­ terhadap kuman Gram-positif ae-

rob dan anaerob, termasuk Stafilokok yang 

resisten terhadap metisi lin (MRSA).Daya 

kerjanya berdasar  penghindaran pemben-

tukan peptidoglikan. Penting sekali sebagai 

antibiotik yang dipakai  terakhir pada in-

feksi parah jika obat lain tidak sensitif (lagi)! 

Obat ini juga dipakai  bila ada  alergi 

terhadap penisilin/sefalospo rin. Peng gunaan 

lainnya yaitu  pada colitis tertentu akibat te-

rapi dengan antibio tika (antara lain linkomisin 

dan klindamisin) dan pada radang mukosa 

usus (enteritis) akibat stafilokok. Di AS sering 

kali ditambahkan pada makanan ternak guna 

menstimulisasi pertumbuhannya dengan aki-

bat timbulnya banyak kasus resistensi pada 

manusia (N Engl J Med 1999;340: 556-7). 

Resorpsinya dari usus sehat sangat buruk, 

pada enteritis lebih baik. Kadar terapeutik 

dicapai dalam cairan pleura (selaput dada), 

cairan sendi (synovia) dan kemih. Plasma-t½-

nya 5-11 jam. Ekskresinya ber langsung 80% 

melalui kemih.

Efek sampingnya berupa gangguan fungsi 

ginjal, terutama pada pemakaian  lama 

dengan dosis tinggi, juga neuropati peri-

fer, reaksi alergi kulit, mual dan demam. 

Kombinasinya dengan aminoglikosida me-

ningkatkan risiko nefro- dan ototoksisitas.

Kehamilan dan laktasi. Tidak ada  cukup 

data untuk pemakaian  selama kehamilan. 

Vankomisin mencapai air susu ibu.

Dosis: infeksi parah i.v. (infus) 1 g dalam 

200 ml larutan NaCl 0,9% (atau glukosa 5%) 

setiap 12 jam dengan jangka waktu minimal 

2 jam. Oral pada colitis pseudomembr. 4 dd 

125-500 mg selama 7-10 hari, pada enteritis 4 

dd 500 mg selama 3-5 hari.

3.­­Spektinomisin: Trobicin.

Dihasilkan oleh Streptomycin spectabi-

lis (1961). Antibiotikum broad-spectrum ini 

berkhasiat­ bakterisid­ terhadap sejumlah 

kuman Gram-positif dan Gram-negatif, ter-

masuk Gonococ ci, Pseudom onas, Proteus, 

dan Klebsiella. Khusus dipakai  sebagai 

obat pilihan ketiga pada­ gonore akut (ure-

thritis, proctitis, cervici tis) yang diakibatkan 

oleh suku N. gonorroe yang membentuk pe-

nisilinase. sesudah  injeksi i.m., zat ini dengan 

cepat diserap, tidak diikat pada protein da-

rah dan diekskresikan secara utuh terutama 

dengan kemih. Plasma-t½-nya ±2 jam.

Efek sampingnya berupa antara lain nyeri 

di tempat injeksi, mual, pusing, urticaria dan 

sukar tidur.Tidak ada data mengenai peng-

gunaannya selama kehamilan.

 Dosis: i.m. pria single dose 3,2 g sebagai 2 in-

jeksi di kedua bokong (garam sulfat/diHCl).

4.­­Linezolid14 : Zyvox

Senyawa antimikrobial ini (2000) merupa-

kan yang pertama dari kelompok antibiotik 

terbaru oxazolidinon, yang telah ditemu-

kan pada tahun 1980 dan baru dipakai  

secara klinis dua dasawarsa kemudian. 

Khasiatnya­bakteriostatik berdasar  titik 

kerjanya yang unik, yaitu penghambatan 

sintesis protein kuman pada taraf dini se-

kali. Oleh sebab nya tidak memperlihatkan 

resistensi silang (cross-resistance) dengan 

antibiotika lain, seperti makrolida, lin-

kosamida, tetrasiklin dan kloramfenikol. 

Linezolid juga aktif terhadap stafilokok 

dan pneumokok yang resisten terhadap 

metisilin, begitu pula terhadap enterokok 

yang resisten untuk vankomisin. Per oral 

memiliki kesetaraan biologik yang sangat 

tinggi (hampir100%), namun  toksisitas dan 

cepatnya timbul resistensi merupakan 

hambatan. Lagi pula bersifat­menghambat­

MAO secara tak-selektif reversibel, namun  

dalam doses yang dipakai i, tidak beker-

ja antidepresif.

pemakaian nya terhadap pneumonia dan 

infeksi rumit dari kulit serta jaringan lembut 

akibat kuman Grampositif, yang selayaknya 

juga dapat ditangani dengan antibiotika se-

perti flukloksasilin, amoksilin-klavulanat 

dan makrolida. Juga dipakai  pada tuber-

kulosa yang multiresisten dalam kombinasi 

dengan tuberkulostatika lain.

Efek samping utamanya yaitu  nyeri ke-

pala, mual, muntah, diare dan rasa logam 

di mulut. Juga harus waspada terhadap 

penekanan sumsum tulang, sifatnya seba-

gai penghambat MAO terutama pada dosis 

tinggi dan timbulnya resistensi.yang pesat. 

Dianjurkan untuk memonitor hematologi se-

tiap minggu, terutama bila dipakai  lebih 

lama dari 14 hari

Dosis: 2 dd 600 mg selama 10-14 hari, maks 

28 hari.

5.­­Asam­fusidat: *Fucidin.

Antibiotikum dengan­ rumus­ steroida­

yang mirip dengan struktur asam empedu 

ini dihasilkan oleh jamur Fusidi um coccineum 

(Denmark, 1961). Spektrum kerjanya sempit 

dan terbatas pada kuman Gram-positif, ter-

utama­ stafilokok, juga yang membentuk 

penisilinase. Kuman Gram-negatif bersifat 

resisten terkecuali Neisseria. Khasi atnya 

bersifat bakte­ri­o­statik­ berdasar kan peng-

hambatan sintesis protein kuman. 

pemakaian . Antibiotikum pilihan kedua 

ini di gunakan oral atau intravena pada­ in-

feksi­ stafi­lokok, khususnya bila ada  

resis tensi atau hipersensiti vitas terhadap 

penisilin dan/atau obat lain. Secara topikal 

pada infeksi stafilokok kulit (krem, salep 2%) 

dan mata (gel 1%) (Fucit hal mic).

Daya penetrasinya ke dalam berbagai jaring-

an baik, antara lain jaringan lunak, tulang 

(osteomyelitis), sendi, otot jantung (endocar-

ditis), mata, nanah dan sputum, sedang  

ke dalam CCS buruk. PP-nya ±95%, plasma-

t½-nya 10-12 jam. Ekskresinya terutama 

berlangsung melalui empedu dan tinja seba-

gai metabolit inaktif.

Efek sampingnya ringan dan berupa gang-

guan lambung-usus (mual, muntah, nyeri 

perut), kadang-kadang reaksi kulit (eryte-

ma, iritasi). Resistensi dapat timbul dengan 

cepat, maka biasanya dikombinasi dengan 

penisilin atau eritromisin.

Kehamilan dan laktasi. pemakaian  pada 

akhir kehamilan dapat memicu  an-

tara lain penyakit kuning (icterus) pada bayi. 

Zat ini melin tasi plasenta dan timbul dalam 

air susu ibu.

Dosis: oral 3 dd 500 mg p.c., anak-anak 

di bawah 12 tahun 25-50 mg/kg/ hari, i.v. 

(infus) 3 dd 500 mg selama 2-4 jam dalam la-

rutan garam/glukosa.

6.­­Mupirosin: Bactroban.

Dihasilkan oleh kuman Pseudomonas fluo-

rescens (1985), maka semula dinamakan 

pseudomonic acid. Berkhasiat khusus ter-

hadap kuman­Gram-positif, a.l. St. aureu s, 

Str. pyogenes dan Str. pneumoniae. Tidak 

aktif terhadap kuman Gram-negatif, 

terkecua li H. influenzae dan Neisseria go-

norrhoea. Bersifat bakterisid­ (salep 2%) 

berdasar  pengham batan RNA-sintetase 

yang ber akibat penghentian sintesis pro-

tein kuman. Khusus dipakai  topikal 

sebagai salep kulit pada infeksi kuman 

Gram-positif, juga dalam salep hidung 

pada pembawa-MRSA untuk eliminasi 

kuman resisten ini. Tidak dipakai  siste-

mik, ka rena resorpsi oralnya buruk dengan 

perombakan pesat. Kasus resistensi mulai 

semakin banyak dilaporkan.

Tabel 5-2: Ikhtisar Antibiotika

A. Penisilin nama paten spektrum mekanisme kinetik

peka penisilinase

a. spektrum sempit

benzilpenisilin, Penicilline-G Gr.+, Neisseria Menghambat sintesis dinding sel kuman. parenteral

fenetisilin Broxil

fenoksimetilpenisilin Pen-V, Ospen oral

tahan laktamase

metisilin

kloksasilin Orbenin

flukloksasilin Floxapen

b. spektrum luas

Aminopenisilin:

ampisilin Penbritin Gr.+ dan Gr.- oral

amoksisilin Ospamox Gr.+ dan Gr.- oral

c. Anti-pseudomonas

tikarsilin Gr.-

piperasilin Tazocin

Penisil.+β-laktamase inhibitor Gr.+ dan Gr.-

amoksisilin+klavulanat Augmentin oral

tikarsilin+klavulanat Timentin i.v.

ampisilin+sulbaktam Unasyn oral/parent

piperasilin+tazobaktam Tazocin i.v.

Antibiotika laktam lainnya

aztreonam Azactam

B. SEFALOSPORIN (lih.Tab.    ) Menghambat  sintesis dinding sel

C. AMINOGLIKOSIDA bakterisid Menghambat biosintesis protein kuman. parenteral

streptomisin

kanamisin Kanoxin

   amikasin Amukin

   gentamisin Garamycin

   netilmisin Netromisin

   tobramisin Optosin

neomisin Neobiotic

framisetin *Sofradex

paromomisin Gabbroral

D. TETRASIKLIN bakteriostatis Menghambat sintesis protein kuman.

tetrasiklin Achromycin

oksitetrasiklin Terramycin

doksisiklin Vibramycin

minosiklin Minocin

E. MAKROLIDA bakteriostatis Merintangi sintesis protein kuman.

eritromisin Erithrocin i.v./oral

   roksitromisin Rulid

azitromisin` Zithromax i.v./oral

spiramisin Rovamycine

linkomisin Lincocin

   klindamisin Dalacin C i.v./oral

klaritromisin Abbotic oral

F. POLIPEPTIDA bakterisid Permeabilitas membran sel diperbesar..

polimiksin B *Otosporin

basitrasin *Nebacetin

G. ANTIBIOTIKA LAINNYA

kloramfenikol Kemicetine bakteriostatis/

sid

Merintangi sintesis polipeptida kuman. i.v./oral

   tiamfenikol Urfamycin

vankomisin Vancocin bakterisid Menghindari  biosintesis peptidoglikan. oral/i.v.

asam fusidat Fucidin bakteriostatis Menghambat sintesis protein kuman.

mepirosin Bactroban bakterisid Menghambat sintesis protein kuman.

spektinomisin Trobicin bakterisid parenteral

H. SULFONAMIDA bakteriostatis Menghambat sintesis asam folat. oral

sulfametoksazol * Bactrim

sulfadoksin *Fansidar

salazosulfapiridin (sulfasalazin) Salazopyrine


sultahap tamida Albucid

silverdiazin Flammazin

I. SENYAWA KUINOLON bakterisid Menghambat sintesis DNA. oral/i.v.

a. Gen-pertama

asamnalidiksat Negram

asam pipemidinat Pipram,Urixin

b. Gen-kedua :fluorkuinolon

norfloksasin Noroxin

pefloksasin Peflacine

siprofloksasin Ciproxin

ofloksasin Tarivid

lomefloksasin Omniquin

levofloksasin Tavanic

Levoxal

c. Gen-ketiga

sparfloksasin Zagam

trovafloksasin Trovan

J. ANTIMIKOBAKTERI

Tuberkulostatika Merintangi sintesis dinding sel kuman.

isoniazid INH

rifampisin Rimactane

pirazinamida Pezeta

etambutol ETH Ciba

streptomisin Menghindari sintesis protein

asam para-aminosalisilat PAS

SULFON . Menghindari sintesis DNA kuman

dapson DDS

klofazimin Lamprene Mengikat pada DNA

Efek sampingnya berupa gatal-gatal, nyeri, 

rasa terbakar, kulit kering dan kemerah-

merahan. Di hidung: bersin, iritasi dan 

gatal-gatal. 

Dosis: salep 2% 2-3 dd dioleskan pada kulit 

selama 6-14 hari, bil a perlu ditutup dengan 

kasa; 2-3 dd di dalam kedua lubang hidung 

selama 5-7 hari.


ANTIMIKOTIKA


Dari sekitar 200.000 species jamur yang 

dikenal ada  ±400 yang memicu  

penyakit pada hewan dan di antaranya 

ada  jenis-jenis yang dapat memicu  

penyakit serius pada manusia.

Pada dasawarsa terakhir, di seluruh du-

nia disinyalir adanya peningkatan luar 

biasa kasus infeksi oleh jamur. Yang utama 

yaitu  mycosis kulit (Yun. mykes = jamur; 

mycosis = penyakit jamur) yang disebabkan 

oleh dermatofit dan infeksi mukosa mulut, 

bronchia, usus, vagina dan lain-lain oleh 

sejenis ragi Candida albicans. Penyebaran luas 

infeksi sebab  jamur (Lat. fungi) mungkin 

disebabkan oleh sangat meningkatnya peng- 

gunaan antibiotika berspektrum luas dan 

hormon kelamin (pil antihamil) yang me-

rusak ke seimbangan normal dari biologi 

flora kuman. Faktor risiko lain untuk tim-

bulnya mycosis yaitu  daya tahan tubuh 

yang menurun akibat a.l. infeksi HIV 

(AIDS), kanker dan leukemi, radioterapi 

dan kemoterapi (sitostatika). Begitu pula 

kerusakan pada kulit (luka bakar) dan muko-

sa serta pemakaian  untuk waktu lama 

senyawa kortikosteroida, imunosupresiva 

dan hormon kelamin (pil antihamil), yang 

menstimulir infeksi dengan Candida (candi-

diasis). Akhirnya, faktor-faktor hygiene — 

kolam renang, sauna dan sebagainya — 

serta bertambahnya kontak internasional di 

bidang kepariwisataan dan perdagangan 

juga memegang peranan dalam penyebaran 

infeksi itu .

bENTUK JAMUR

Jamur atau fungi merupakan tumbuhan 

yang tidak memiliki klorofil sehingga tidak 

mampu melakukan fotosintesis untuk meme-

lihara sendiri kehidupannya. Oleh sebab  

itu jamur hanya bisa hidup sebagai parasit 

pada organis me hidup lain atau sebagai 

saprofit pada benda organik mati. Berlainan 

dengan bentuk jamur yang lazim kita kenal, 

yakni yang menyerupai payung, sebagian 

besar jamur hanya terdiri dari benang-

benang halus sekali (hyphen) yang terdiri 

dari rangkaian sel-sel. Sekelompok hyphen 

kemudian membentuk suatu jaringan yang 

disebut mycelium. Fungsi alami dari jamur 

yaitu  sebagai pembersih alam, yaitu untuk 

melenyapkan benda-benda mati seperti 

pohon mati, daun, sampah, dan sebagainya.

Untuk proses perbanyakannya, jamur 

membentuk sel-sel yang disebut spora 

(Yun. = benih), yang resisten terhadap ling-

kungan yang kurang menguntungkan bagi 

kehidupannya. Bila keadaan membaik, 

terutama suhu dan kelembapan, spora dapat 

tumbuh lagi dan membentuk mycelium. 

Lihat gambar jamur Penisilium.

Ragi (yeast) yaitu  bentuk jamur yang 

berlainan dengan fungi lainnya dan terdiri 

dari hanya satu sel dan memperbanyak 

diri melalui pertunasan. Ragi yang dapat 

memicu  dermatomikosis yaitu  jenis-

jenis Candida dan Pytirosporum.

Dikenal lebih dari 100.000 jenis jamur 

yang untuk sebagian besar tidak merugi-

kan manusia, bahkan dapat dimakan, mi-

salnya sampinyon dan jamur-jamur yang 

tumbuh di atas makanan, seperti Rhizopus 

oryzae (tempe), Monilia sitophilae (oncom) dan 

Penicillum camemberti (keju Prancis). Semua 

jamur ini tidak beracun dan dapat dimakan, 

namun  ada  pula fungi yang bersifat racun 

dan bisa mematikan bila dimakan, seperti 

sampinyon merah Amanita muscaria dan 

14108649_OBAT P(Bab 06)_T-098-111.indd   98 20/04/2015   20:14:05

Bab 6: Antimikotika 99

Aspergillus flavus dengan toksinnya masing- 

masing muskarin dan aflatoksin.

Flora organisme normal dari kulit. Kulit dan 

selaput lendir selalu dihuni oleh sejumlah 

organisme yang dapat dibagi dalam 2 ke-

lompok.

1. Flora tetap (resident flora) yang terdiri dari 

mikroorganisme tetap (kuman, jamur 

dan ragi) biasanya  ada  pada 

lokasi tertentu dan pada usia tertentu 

pula. Bila susunan flora ini terganggu, 

maka keseimbangan segera akan pulih 

dengan sendirinya. Flora penting untuk 

mempertahankan kesehatan dan fungsi 

normal tubuh. Misalnya flora tetap di usus 

mensintesis vitamin K, mengkonversi 

asam empedu dan membantu penyerapan 

gizi dari makanan. Flora tetap menjaga 

terhadap serangan kuman-kuman pato-

gen seperti juga flora di kulit. 

2.  Flora selewat (transient flora) terdiri da-

ri mikroorganisme nonpatogen maupun 

yang potensial patogen, namun  tidak 

memicu  penyakit. Namun bila 

flora tetap terganggu, kelompok flora 

ini dapat berkembang biak dan menye-

babkan penyakit.

Flora normal pada vagina. Pada usia dewasa 

sebagian besar flora ini terdiri dari lactoba-

cilli (Döderlein’s bacilli) yang mempertahan-

kan ling kungan asam dengan memproduksi 

asam laktat dari karbohidrat (glikogen). 

Suasana asam ini menghindari berkem-

bangnya mikroorganisme patogen di vagina. 

Bila lactobacilli ini dihambat, mi salnya pada 

pemakaian  antibiotika, maka jumlah ragi 


dan kuman lain yang memicu  iritasi 

dan peradangan akan meningkat.

Cara penularan. Spora dan serpih kulit 

penderita infeksi fungi [(dermato) mycosi s] 

merupakan sumber utama penularan. sesudah  

terjadi infeksi, spora tumbuh dan membentuk 

mycelium dengan memakai  serpih kulit 

sebagai bahan makanan. Enzim-enzim yang 

diproduksi oleh jamur mampu menembus 

kulit dan memicu  peradangan.

Bila fungi ini tumbuh ke dalam tabung 

rambut (folikel), maka rambut akan rontok. 

Fungi yang menembus ke dalam kuku 

meng akibatkan gangguan yang disebut ku-

ku kapur (onychomycosis) yang berwarna 

keputih-putihan di samping kuku menjadi 

regas.

Prevensi dan tindakan umum. Yang ter-

penting untuk menghindari infeksi jamur 

yaitu  memelihara kebersihan (hygiene) 

tu-buh sebaik-baiknya, terutama di tempat 

yang potensial merupakan sumber infeksi, 

mi salnya kolam renang, kamar ganti pakaian 

dan ruang olahraga. Di tempat-tempat ini 

biasanya  orang tidak mengenakan 

alas kaki. Sumber infeksi lain yang perlu 

dihindari yaitu  hewan peliharaan yang se-

ring kali dipeluk oleh anak-anak. Kemudian 

yang juga penting sekali untuk diwaspadai 

yaitu  kecenderung an beberapa jenis obat 

yang memicu  predisposisi untuk su-

perinfeksi jamur, liha t di atas. 

Diagnosis. Gejala dermatomycosis tidak 

jarang mirip dengan gangguan kulit lain, 

terutama dapat dikelirukan dengan eksim. 

Adakalanya ada  pula bentuk-bentuk 

campuran akibat infeksi bakteri.

Tes KOH. Untuk memastikan adanya in-

feksi fungi, perlu dilakukan tes KOH. Pada 

serpihan kulit, kikisan kuku, atau sepotong 

rambut diberikan beberapa tetes larutan 

KOH 10-20%. Di bawah mikroskop fungi 

dapat dikenali dari benang-benangnya yang 

khas bercabang (hyphen) dan spora di se-

kitar rambut. Untuk penentuan jenis fungi 

dapat dilakukan pembiakan pada suatu per-

semaian, yang dinamakan glukosa agar dari 

Sabouraud.

ANTIMIKOTIKA

Infeksi dari kulit, rambut dan kuku oleh jamur 

(dermatofyt) atau ragi, disebut dermatomycosis. 

Gangguan ini biasanya ringan dan terbatas 

pada lapisan kulit permukaan. Bila infeksi 

jamur ini menjalar sampai di bawah stratum 

corneum (aspergillosis) gangguan ini disebut 

mycosis dalam yang bersifat sistemik dan 

terutama timbul pada pasien dengan daya 

tahan yang menurun. Selain daripada ragi, 

pada kulit sehat biasanya  tidak ter-

dapat dermatofit.

Dermatofit timbul sebab  keseimbangan 

kulit normal terganggu, antara lain dise-

babkan kelembapan kulit yang meningkat 

(pakaian yang terlalu ketat) atau menurunnya 

daya tahan tubuh.

Antimikotika yaitu  obat-obat yang ber-

khasiat menghentikan pertumbuhan atau 

mematikan jamur yang menghinggapi ma-

nusia. Mekanisme kerjanya antara lain berda-

sarkan efeknya terhadap sintesis komponen 

membran dari dinding sel, permeabilitas 

membran sel dan sintesis asam nukleat. Da-

lam garis besar antimikotika dibagi dalam 

pemakaian  topikal (setempat) atau sistemik, 

walaupun pembagian ini tidak terlalu ketat. 

Misalnya antimikotika imidazol, triazol dan 

polyene dapat dipakai  untuk kedua tujuan.

Untuk pengobatan infeksi jamur dapat di-

golongkan sebagai berikut.

a. antibiotika antimikotik: griseofulvin dan 

senyawa polyen (amfoterisin B, nistatin) 

yang biasanya  bekerja fungista- 

tik. Mekanisme kerjanya melalui peng-

ikatan diri pada zat-zat sterol di dinding 

sel jamur. Akibatnya yaitu  kerusakan 

dari membran sel dan peningkatan per-

meabilitasnya, sehingga komponen intra-

seluler yang penting untuk kehidupan 

sel me rembas keluar dan akhirnya sel-sel 

mati. Griseofulvin sekarang ini jarang 

dipakai  lagi sebab  antimikotika lain 

lebih efektif dengan efek samping yang 

lebih ringan.

b. derivat imidazol: mikonazol, ketoko na zo l, 

klotrimazol, bifonazol, e konazol, isokonazol 


dan tiokonazol (Trosyd, Vagistat). Mekanis-

me kerjanya berdasar  peng ikatan 

pada enzim sitokrom P450, sehingga sin-

tesis ergosterol yang perlu untuk pemeli-

haraan membran sel jamur, dirintangi 

dan terjadi kerusakan membran. Pada 

pemakaian  sistemik, sistem enzim 

manusia juga dapat dirintangi, yang 

memicu  efek-efek samping 

tertentu. Bekerja fungistatik terhadap 

dermatofit dan ragi, juga bakteriostatik 

lemah terhadap kuman Gram-positif. 

Obat ini terutama dipakai  sebagai 

obat topikal, kecuali ketokonazol yang juga 

dapat dipakai  secara sistemi k.

c. derivat triazol: flukonazol, vorikonazol dan 

itrakonazol.

 biasanya  juga bekerja fungistatik 

dengan mekanisme kerja seperti imidazol, 

namun  bersifat lebih selektif terhadap 

sistem enzim jamur daripada terhadap 

sistem enzim manusia, oleh sebab  itu 

kurang menghambat sintesis steroida. 

Efektif terhadap dermatofit dan Candida, 

itrakonazol juga terhadap Aspergillus. 

Obat-obat ini khusus dipakai  secara 

sistemik.

Senyawa antifungal azol memiliki ber-

bagai interaksi dengan banyak jenis obat. 

Misalnya dapat meningkatkan kadar 

plasma dari obat yang diberikan ber-

samaan (misalnya alprazolam, astemizol, 

karbamazepin, cisapride, digoksin dan 

docetaxel). Sebaliknya beberapa jenis 

obat yang diberikan bersamaan (misalnya 

barbital, H2 antagonis, nevirapin, proton 

pump inhibitor, fenitoin dan rifampisin) 

dapat menurunkan kadar plasma dari 

antimikotik azol.

berdasar  ini banyak kombinasi dari 

obat-obat tertentu dengan azol meru-

pakan kontra-indikasi seperti misal nya 

kombinasi flukonazol dengan klopido-

grel, nisoldipin, kinin, salmeterol dan 

simvastatin, atau kombinasi itrakonazol 

dengan alfazosin, dabigatran, nisoldipin, 

salmeterol, simvastatin dan topotekan. 

d. echinokandin: terbinafin, flusitosin, kaspo-

fungin, anidulafungin dan mikafungin.

Echinokandin yaitu  lipopeptida si-

klik dengan inti heksapeptida dan aktif 

terhadap jenis-jenis Candida dan Asper-

gillus 

Bennet JE. Echinocandins for candidemia 

in adults without neutropenia. N Engl J 

Med, 2006, 355:1154-1159.

Mekanisme kerjannya berdasar  

penghambatan sintesis glikan di dindin g 

sel fungi dan menurunkan kekuatan 

strukturnya sehingga memicu  in-

stabilitas osmolitas dan matinya sel. 

Wiederhold and Lewis. The echinocandin 

antifungals. Expert Opin Invest Drugs, 

2003, 12:1313-1333.

e. asam-asam organik: asam benzoat, salisilat, 

propionat, kaprilat dan undesilinat.

f. lainnya: terbinafin, flusitosin, tolnaftat, ha-

loprogin, naftifin, siklopiroks, selensulfida 

dan pirition.

Khasiat

Pada hakikatnya semua antimikotika ter-

sebut berkhasiat fungistatik pada dosis yang 

dipakai . Pengecualian yaitu  itrakonazol 

dan terbinafin, yang bekerja fungisid. Pada 

dosis tinggi amfoteri sin dan nistatin juga 

dapat berkhasiat fungisid.

Nistatin dan amfoterisin B sering kali 

dipakai  dalam kombinasi dengan tetra- 

siklin untuk menghindari timbulnya candi-

diasis usus.

pemakaian 

Antimikotika terutama dipakai  pada 

mycosis permukaan atau setempat (topi-

kal). Pada mycosis umum (sistemik) yang 

meliputi organ dalam (misalnya candidiasis, 

actinomy cosis dan aspergillo sis), sejum lah obat 

(juga) diguna kan secara sistemis, yakni per 

oral. Begitu pula lazimnya pada infeksi di 

tubuh dan pityriasis versicolor yang luas (tinea 

corporis), juga pada infeksi jamur di kepala 

dan mycosis kuku.

Antimikotika oral yang dipakai  meli-

puti a.l. griseofulvin, ketokona zol, itrakona zol, 

flukona zol, terbina fin dan flusitosin. Keto ko-

na zol tidak dianjurkan berhubung risiko 

necrosis hati yang dapat timbul dengan 

akut. Itrakonazol dianjurkan pada infeksi 

Pityrosporum danpada candidiasis, juga 

flukonazol. Griseofulvin dan terbinafin da-

pat dipakai  terhadap tinea capitis pada 

anak-anak. Untuk pemakaian  setempat di 

dalam usus tersedia amfote ri sin B dan nistatin 

yang buruk absorpsinya. 

Terhadap infeksi kuku pada jari-jari kaki 

dan tangan (onychomycosis) khusus diguna-

kan obat yang ditimbun dalam lapisan 

tanduk (stratum corneum), yakni griseo fulvin, 

ketokonazol, itrakonazol dan terbinafin.

FUNGI PATOGEN

Infeksi jamur pada manusia berlangsung 

melalui sporanya dan dapat dibagi dalam 

mycosis umum dan mycosis permukaan.

1. Mycosis umum (sistemik) Pada infeksi 

umum, jamur atau ragi tersebar di tubuh 

atau memicu  infeksi dalam or- 

gan tubuh, yang kadang-kadang dapat 

membahayakan jiwa, terutama penderita 

yang daya tahan imunnya menurun aki- 

bat misalnya infeksi (AIDS) atau yang 

memakai  obat-obat yang menekan 

daya imunitas. Contohnya yaitu  actino-

mycosis, aspergillosis dan candidiasis 

(infeksi Candida dari khusus saluran 

cerna dan alat pernapasan). 

2. Mycosis permukaan (Tinea). Infeksi ini 

yang jauh lebih sering terjadi, terbatas 

pada kulit, rambut, kuku dan mukosa. 

Infeksi ini mencakup dermatomycosis, 

candidiasis vaginal, candidiasis mulut 

dan alat cerna. Mycosis kulit juga dina-

makan Tinea (Lat.= dimakan oleh nge-

ngat, “moth-eaten”) disusul dengan loka-

sinya, misalnya Tinea corporis, cruris, 

capitis dan pedis, masing-masing berarti 

infeksi di tubuh, lipat paha, kepala dan 

kaki. pemicu nya sering kali yaitu  

fungi berikut ini:

a. dermatofit (jamur permukaan) dari 

suku Trichophyton (kulit, rambut, 

kuku), Epidermophyton (kulit, kuku) 

dan Microsporum (kulit, rambut). 

Mikroorganisme ini hidup di lapis-

a n tanduk, kuku, serta rambut dan 

memiliki enzim yang mampu mela-

rutkan keratin (bagian utama dari 

jaringan tanduk). Infeksi berbentuk 

bercak-bercak melingkar (“ringworm”) 

di kulit dengan batas-batas tajam, yang 

tertutup dengan sisik atau gelembung 

kecil. Dermatofitosis (dermatomikosis) 

yaitu  infeksi jamur kronis dari kulit, 

rambut dan kuku berdasar  unsur 

keratinnya. Jamur-jamur ini yang 

juga dinamakan fungi “ringworm”, 

memicu  antara lain “kutu air”, 

panu, kurap dan kuku kapur.

b. Candida albicans (dahulu disebut 

Monilia) yaitu  suatu jenis ragi yang 

sering kali menghinggapi mukosa 

mulut, bronchia dan vagina. 

c. Pityrosporum ovale, yang berperan 

pada ketombe dan Malassezia furfur, 

pemicu  panu.

beberapa dermatomikosis dan 

pengobatannya

Di bawah ini diuraikan beberapa jenis der-

matomikosis yang paling sering ditemukan 

dan cara pengobatannya.

1.  Kutu air (athlete’s foot, Tinea pedis)

Kutu air disebabkan oleh jenis Trichofyton 

dan merupakan dermatomikosis yang paling 

banyak ada .

Gejalanya berupa gatal-gatal di antara jari 

kaki, kemudian terbentuk gelembung yang 

lalu pecah dan mengeluarkan caira n. Kulit 

menjadi lunak (maserasi) dan terkelupas, 

sehingga membuka pe luang bagi infeksi 

sekunder oleh kuman. Penyebarannya me-

lalui pemakaian  bersama kamar mandi 

dan ruang ganti pakaian umum sedang  

sumber infeksinya yaitu  serpihan kulit 

yang terkelupas. Pengobatan dengan krem 

mikonazol atau Ung. Whitfield (benzoat 

5%, salisilat 5% dalam lanolin-vaselin ana). 

Untuk kasus-kasus sulit dapat dipakai  

griseofulvin atau ketokonazol per oral.

2. Kuku kapur (‘ram’s horn nail’,  onychomycosis)

Kuku kapur bercirikan kuku menebal, 

mengeras, regas dan mudah patah, berwarna 

keputih-putihan dan adakalanya tidak lurus. 

Infeksi ini sering kali menular dari kuku ke 

kuku. Para lansia lebih sering mendapatkan 

infeksi jamur ini, terlebih pula bila sirkulasi 

darah di jari-jari kaki kurang baik. Bila 

seluruh kuku sudah terinfeksi, dokter dapat 

mencabutnya dan disusul pengobatan dengan 

terbinafin: oral 1 dd 250 mg atau itrakonazol. 

Dahulu sering kali dipakai  griseofulvin 

perora l, namun  pada mycosis kuku jempol 

kaki tidak begitu ampuh. sebab  sukar sekali 

di sembuhkan, terapi membutuhkan waktu 

yang lama, minimal 6-12 bulan dan infeksi 

selalu bisa kambuh lagi.

Walaupun gangguan ini lebih meru pakan 

masalah kosmetik (terutama kuku jari kaki), 

namun  kuku kapur dapat merupakan pintu 

masuk (porte d’entrée) bagi infeksi lain, ter-

utama pasien diabetes dan yang daya ta han-

nya terganggu harus waspada.

3. Panu (pityriasis versicolor)

Infeksi permukaan ini banyak terjadi di 

negara kita  dan daerah tropik. Infeksi beru- 

pa bercak-bercak putih kecokelatan-merah 

di tengkuk, dada, punggung dan lengan. 

Terutama hipopigmentasi di muka merupa-

kan suatu masalah kosmetik. pemicu nya 

yaitu  Malassezia furfur, suatu jamur yang 

terdiri dari kelompok sel dengan hyphen 

pendek. Pengobatan dapat dilakukan dengan 

mengoleskan bercak-bercak dengan larutan 

salisilat 5-10% dalam spiritus dilutus atau 

krem mikonazol/ketokonazol selama 2-3 

mingg u atau terbinafin. Untuk kasus-kasus 

yang resisten dapat dipakai  itrakonazol 2 

dd 100 mg selama 1 minggu. Walaupn terapi 

berhasil, namun  repigmentasi baru timbul 

sesudah  beberapa bulan.

4. Ketombe (dandruff,pityriasis capitis)

Ketombe bercirikan terlepasnya serpih-

serpih berlebihan dari kulit kepala yang 

biasanya disertai gatal-gatal. Menurut perki-

raan, penyerpihan meningkat disebabkan 

oleh Pityrosporum ovale. Penghuni normal 

kulit kepala ini sangat meningkat jumlahnya 

dan menstimulir pembentukan lipase. Tri-

gliserida dirombak olehnya menjadi asam-

asam lemak, yang merangsang kulit dan 

memicu  hiperproliferasi sel-sel epider-

misnya. Akibatnya keratosit dilepaskan lebih 

pesat, keratin mati yang melekat satu pada 

yang lain, lalu dilepaskan sebagai gumpalan-

gumpalan serpih dan tidak berangsur-angsur 

satu demi satu seperti pada keadaan normal. 

Ketombe umumnya dianggap sebagai bentuk 

ringan dari eczema seborois.Tidak diketahui 

menga pa orang-orang tertentu dihinggapi 

ketombe dan orang lain tidak. Sebagai faktor 

pemicu  disebut keadaan sistem imun 

lemah, yang pada orang peka memicu  

reaksi kulit abnormal terhadap Pityrosporum. 

Selain itu, peningkatan derajat asam dan 

kadar lemak dari kulit, susunan lemak dan 

stres turut memicu  perubahan fungi 

itu  menjadi patogen.

Pengobatan dapat dilakukan denga n sam-

po yang mengandung selensul fida 2,5%, 

seng-pirithion 2% dan piroctone olamine 

(octopirox). Pada kasus hebat (eczem a seborois), 

dianjurkan gel ketokonazol 2%. Di samping 

itu juga dipakai  zat-zat yang ber khasiat 

menghambat pembelahan sel (mitosi s), mi-

salnya ter (juga berkhasiat anti radang). 

Selensulfida juga ber khasiat antimitotik dan 

merintangi keluarnya palit berlebihan dari 

kelenjar talg.

5. Candidiasis

Candida albicans (nama lama Monilia) yaitu  

jamur yang terdiri dari sel-sel oval seperti 

ragi dan sel-sel yang memanjan g sambung-

menyambung merupakan hyphae dan disebut 

pseudomycelium. Jamur ini yaitu  bagian 

dari flora normal (komensal) selaput lendir 

pada saluran pernapasan, saluran cerna dan 

vagina.

a. Candidiasis mulut. Infeksi di mulut 

bergejala luka perih dan bercak-berca k 

putih pada mukosa mulut serta lidah, 

yang dapat menjalar ke tenggorok dan 

oesophagus. Ciri lainnya berupa cheilitis 

(radang di sudut-sudut mulut).Infeksi 

ini sering kali terjadi akibat pemakaian  

antibiotika berspektrum luas, kortikos-

teroida dan sitostatika, selama terapi ra- 

diasi, leukemia dan pada bayi yang 

baru dilahirkan, juga pada pasien AIDS 

dengan daya tahan lemah (CD4+ < 300 

mm3). Diagnosis dapat dilakukan dengan 

preparat KOH.

Pengobatan efektif dapat dilaku kan 

dengan flukonazol oral. Pilihan kedua 

yaitu  itrakonazol dan ketokonazol oral 

dan pilihan ketiga berupa peng obatan 

lokal (suspensi nysta tin, tablet hisap 

amfoteri sin). Pada pasien AIDS tidak 

jarang terjadi resistensi akibat profilaksis 

jangka panjang dengan antimikotika. 

Dalam hal ini dosis perlu dinaikkan atau 

dipakai  kombinasi dari 2 antimikotika 

(baru). Resistensi dapat dicegah dengan 

cara peng obatan intermiten. 

b. Candidiasis usus. Candidiasis di usus 

bergejala diare, nyeri perut, obstipasi atau 

terbentuknya banyak gas. Ditemukannya 

Candida dalam jumlah banyak di sa-

luran cerna dapat diakibatkan oleh 

pemakaian  antibiotika broad-spectrum, 

yang mengubah susunan normal dari 

flora kuman. Selain faktor-faktor itu  

di atas, penyakit diabetes juga dapat 

menunjang terjadinya infeksi.

c. Candidiasis vagina (vaginitis). Infeksi 

paling umum pada alat kelamin wanita 

bergejala iritasi, keputihan, gatal- gatal 

dan rasa terbakar. Gatal-gatal dapat 

merupakan gejala dari penyakit kelamin 

lain (trichomonas, chlamy dia , gonore, atau 

herpes). Di samping faktor-faktor itu  

di atas, kehamilan, hygiene yang tidak 

memadai, pemakaian  antibiotika ber-

spektrum luas dan pil antihamil mem-

bantu terjadi nya infeksi. Pengobatan dapat 

dilakukan dengan senyawa imidazo l mi-

konazol, klotrimazol dan ketokonazol 

dalam bentuk ovula (supp. vaginal) 

selama 2-6 malam. Sama efektifnya yaitu  

Gambar 6-2: Candida albicans.

pemakaian  oral dari ketokonazol, itra-

konazol dan flukonazol sebagai single 

dose atau 2 doses dengan jarak waktu 8 

jam. Pasangan penderita perlu diobati 

sebab  biasanya juga dihinggapi infeksi 

yang sama. Pada candidiasis yang terus-

menerus kambuh, terapi harus dilanjutkan 

untuk rentang waktu panjang (lokal atau 

oral) untuk memus nahkan semua spora 

secara intermitten. Misalnya 6 malam 

ovula, 2 minggu istirahat, 6 malam lagi 

ovula, 2 minggu istir ahat dan seterusnya 

selama 3 - 6 bulan.

d. Candidiasis kulit. Terutama timbul pada 

bagian tubuh yang lembap dan hangat, 

misalnya ketiak dan lipatan paha. Infeksi 

kebanyakan ada  pada orang gemuk 

dan penderita diabetes. Gejalanya berupa 

kulit memerah dan mengeluarkan caira n. 

Pengobatan dapat dilakukan de ngan krem 

mikonazol atau ketokonazo l.

e. Sistemik. Pada dekade terakhir semakin 

banyak timbul candidiasis sistemik (umum) 

yang bercirikan rasa penat dan lemah, 

keletihan kronis, disertai perasaan me- 

ngantuk, lemah ingatan, nyeri otot dan 

persendian. Pada sindroma ini, sebab  

berbagai sebab Candida menjadi ganas. 

sesudah  me nembus mukosa usus, ragi 

ini melalui sirkulasi darah menyebar ke 

semua organ, jaringan ikat dan sebagai-

nya. Diagnosis ragi tidak dapat dilakukan 

dengan tes KOH, namun  secara mikroskopis 

dengan teknik pewarnaan dari preparat 

darah. Cara ini tidak sempurna, oleh 

sebab  itu timbul keluhan bahwa sering 

kali tidak dikenali sebagai candidiasis 

umum dan tidak diobati semestinya. Cara 

deteksi secara umum yaitu  penelitian 

darah dengan mikroskop tahap -contrast, 

di mana ragi tampak jelas sebagai butir-

butir kecil. Pengobatan infeksi (parah) 

dapat dilakukan sistemik dengan keto-

konazol atau itrakonazol, ditunjang de-

ngan diet ketat untuk menghambat 

perbanyakan ragi, terutama gula dan 

produk-produk yang mengandung ragi 

dan jamur (roti, kue, sampinyon, tempe, 

oncom) perlu dihindari, begitu juga buah-

buahan manis, alkohol, susu dan daging 

babi. Obat alternatif yang mulai banyak 

dipakai  yaitu  asam kaprilat (caprylic 

acid, C7H15COOH) dengan dosis 2 dd 

680 mg selama minimal 1 tahun. Asam 

lemak yang terkandung dalam minyak 

kelapa ini berkhasiat merusak membran 

Candida.

MONOGRAFI

1. ANTIbIOTIKA ANTIMIKOTIK

1a. Griseofulvin: Fulcin, Griseofort

Griseofulvin dihasilkan oleh Penicillium 

griseofulvum dan pada pemakaian  oral 

berkhasiat fungistatik terhadap banyak 

dermatofit. namun  zat ini tidak aktif terhadap 

Candida, Pityriasis versicolor, ragi dan bakteri. 

Mekanisme kerjanya diperkirakan melalui 

penghambatan sintesis RNA (sama seperti 

kolkisin). Resorpsinya di usus kurang baik, 

sebab  sukar sekali melarut, namun  dapat 

diperbaiki dengan memakai  serbuk 

yang sangat halus (microfine) atau diminum 

ber samaan de ngan makanan berlemak. Se-

bagian besar dikeluarkan lewat feses dalam 

keadaan utuh. Bagian yang diserap akan 

mendifusi ke dalam lapisan tanduk (keratin) 

dari kulit (stratum corneum), kuku dan akar 

rambut. Oleh sebab  itu griseofulvin efektif 

untuk pengobatan infeksi kulit dan kuku 

yang menahun, meskipun penyembuhannya 

berlangsung sangat lambat, yaitu lebih ku-

rang 2-3 bulan, bahkan membutuhkan satu 

tahun untuk menyembuhkan infeksi kuku. 

Hal ini disebabkan waktu pe nyembuhan 

tergantung pada jangka waktu penggantian 

jaringan yang terinfeksi oleh jaringan baru. 

Efek sam pingnya ringan, jarang terjadi dan 

berupa sakit kepala, gatal-gatal (urtikaria) dan 

kepekaan terhadap cahaya (fotosensitasi), juga 

gangguan hati. Griseofulvin mengurangi ak-

tivitas antikoagulansia (Warfarin) dan mem-

perkuat daya kerja alkohol. 

Kehamilan. Tidak boleh diberikan pada 

wanita hamil, sebab  risiko teratogen dan 

keguguran. Zat ini dapat mengganggu pem-

bentukan kromosom pada waktu pembe-

lahan sel. 


Dosis: oral 4 dd 125 mg serbuk microfine 

(1-5 mikron) atau sekaligus 500 mg p.c.

1b. Amfoterisin B : *Talsutin, Fungizone.

Amfoterisin B dihasilkan oleh Strepto myces 

nodosus bersama dengan derivat nya, yaitu 

amfoterisin A yang kurang aktif. Zat ini ter-

masuk kelompok antibiotika polyen, sebab  

rumus bangunnya mengandung banyak 

ikatan tak-jenuh (poly = banyak, -en = akhiran 

untuk zat tak-jenuh), seperti juga nistatin dan 

pimarisin. Spektrum kerja dan pemakaian nya 

mirip nistatin. 

Zat ini (1959) dipakai  sebagai obat 

sistemik (oral dan i.v. sebagai infus) pilihan 

pertama yang efektif terhadap infeksi jamur 

invasif (aspergilosis) dan selama 4½ dekade 

dianggap sebagai “golden standard” un-

tuk terapi antifungal, sebab  pada saat 

itu belum ditemukan obat-obat alternatif 

(senyawa azol dan echinocandin) yang 

lebih ampuh.

Mekanisme kerja. Zat polyen ini meng ikat 

ergosterol dalam membran sel jamur dan 

membentuk pori-pori yang memicu  

bahan-bahan esensial dari sel jamur me-

rembas keluar. Amfoterisin memiliki toksi-

sitas selektif, sebab  dalam sel manusia sterol 

utamanya yaitu  kolesterol dan bukannya 

ergosterol. pemakaian nya semakin meluas 

bagi penderita infeksi jamur sistemik dengan 

daya tahan tubuh yang lemah (immuno-

compromised patients).

Efek samping terpenting yaitu  toksisitasnya 

(demam, merinding) dan terutama gangguan 

fungsi ginjal (nefrotoksis; gagal ginjal), yang 

membatasi dosis dan lamanya pemakaian . 

Untuk mengurangi nefrotoksisitas, telah 

dikembangkan formulasi yang dikaitkan 

dengan lipida, yaitu amfoterisin B liposomal 

(LamB, Ambisome), kompleks lipida dari 

amfoterisin B (ABLC, Abelcet) dan dispersi 

koloidal dari amfoterisin B (ABCD). Ternyata 

bahwa efektivitas dari formulasi baru ini 

tidak jauh berbeda dengan amfoterisin B 

konvensional walaupun nefrotoksisitasnya 

jelas ber kurang. 16,17

Dosis: oral maks. 1-1,5 mg/kg/hari amfo-

terisin B koloidal.

* Talsutin vaginal tab = amfoterisin B 50 mg + 

tetrasiklin 100 mg .

1c. Nistatin: Mycostatin, *Flagystatin, *Naxogin 

complex

Nistatin berasal dari Streptomyces noursei 

yang namanya diambil dari New York State 

Department of Health (1951) dan memiliki 

struktur kimia yang menyerupai amfoterisin 

B. Resorpsinya di usus praktis tidak terjadi, 

begitu pula tidak diserap oleh kulit atau 

mukosa. Sering kali zat ini dipakai  pada 

candidiasis usus atau untuk mencegahnya 

pada terapi dengan antibiotika berspektrum 

luas yang buruk resorpsinya (tetrasiklin) 

atau sewaktu terapi dengan kortikosteroida, 

juga pada candidiasis mulut (stomatitis) 

atau vagina (vaginitis). Lokal dipakai  se-

bagai salep atau krem namun  berhubung de-

ngan toksisitasnya tidak dipakai  secara 

parenteral. 

Efek sampingnya pada pengguna an oral 

berupa mual dan muntah. Zat ini dapat di-

gunakan pada waktu hamil.

Dosis: oral 3 dd 0,5-1 MU (l juta unit); 

vaginal: selama 14 hari 1 tablet dari 100.000 U; 

salep atau bedak tabur dengan 100.000 U/g 

2-3 kali sehari. 1 mg nistatin= 3.000 U. 

2. SENYAWA IMIDAZOL

biasanya  senyawa imidazol meru-

pakan pilihan pertama pada infeksi kulit 

akibat jamur. Berkhasiat fungistatik, memi-

liki spektrum anti-fungal luas dan pada 

dosis tinggi bekerja fungisid. Zat-zat ini 

menghambat sintesis sterol di membran 

sel fungi dan memicu  peningkatan 

permeabilitas dinding sel yang membuatnya 

rentan terhadap tekanan osmotik. Terutama 

dipakai  secara lokal terhadap dermatofit 

dan Candida; ketokonazol juga per oral, 

namun  bersifat toksik bagi hati.

Senyawa-senyawa turunan imidazol, mi- 

salnya mikonazol, dapat memengaruhi me- 

tabolisme senyawa kumarin (warfarin) mela-

lui blokade enzim CYP2C9 dengan akibat 

meningkatnya kadar plasma dari antiko-

agulan. Hal ini sudah diuraikan dengan jelas 

untuk pemakaian  per oral maupun per 

vaginal, namun  ternyata bahwa pemakaian  

topikal sesudah  absorpsi melalui kulit juga 

dapat memicu  interaksi demikian. 

Oleh sebab  itu pasien yang memakai  

antikoagulan harus waspada terhadap inter-

aksi demikian yang hanya timbul pada 

absorpsi sistemik dari obat antimikotik.


2a. Mikonazol: Daktarin, Gyno-Daktarin, Mo-

nistat

Derivat imidazol ini (1971) berkhasiat 

fungisid kuat dengan spektrum kerja lebar 

sekali; lebih aktif dan efektif terhadap 

dermatofit biasa dan Candida daripada 

fungistatika lainnya, namun  kurang berkhasiat 

terhadap Aspergillus. Zat ini juga bekerja 

bakterisid pada dosis terapi terhadap se-

jumlah kuman Gram-positif, kecuali basil-

basil Döderlein yang ada  dalam vagina. 

Resorpsi dari usus hanya ringan dengan BA 

±25%, maka mikonazol terutama dipakai  

untuk mengobati infeksi kulit dan kuku. 

pemakaian nya juga sebagai krem/tablet 

vaginal yang dapat dipakai  oleh wanita 

hamil.

Efek sampingnya berupa iritasi, reaksi alergi 

dan rasa terbakar di kulit. Mikonazol dan 

juga ketokonazol meningkatkan daya kerja 

antikoagulan warfarin.

Dosis: infeksi kulit 1-2 dd salep 2% (garam 

nitrat) selama 3-5 minggu, infeksi kuku 1-2 

dd tingtur 2% selama 8 bulan atau lebih. 

Krem vaginal 2% (Gyno-Daktarin) malam hari 

selama 2 minggu.

* Isokonazol (Travogen) yaitu  isomer dari 

mikonazol dengan khasiat dan pemakaian  

yang sama. Zat ini ter utama dipakai  untuk 

candidiasis vagina (keputihan) dalam bentuk 

krem 1% dan dosis tunggal tablet vaginal dari 

600 mg malam hari.

* Ekonazol (Pevaryl) yaitu  derivat miko-

nazol, pada mana satu dari 4 atom klor digan-

ti oleh atom H (1974). Spektrum kerjanya 

kurang lebih sama, hanya lebih aktif terhadap 

Aspergillus. Zat ini terutama dipakai  pada 

candidiasis dengan dosis malam hari 1 ovula 

selama 3 hari; pada infeksi kulit: salep atau 

serbuk 1%. Ekonazol dapat dipakai  pada 

waktu hamil.

2b. Ketokonazol: Nizoral, Nizoral-SS

Ketokonazol yaitu  fungistatikum imida-

zol pertama yang dipakai  per oral (1981). 

Spektrum kerjanya mirip dengan mikonazol 

dan meliputi banyak fungi patogen (ragi, 

dermatofit, termasuk Pityrosporum ovale). Zat 

ini dipakai  pada infeksi jamur sistemik 

yang parah dan kronis; secara lokal pada 

gangguan ketombe hebat. namun  tidak efektif 

terhadap infeksi oleh Aspergillus. Resorpsi 

dari lambung-usus praktis lengkap pada pH 

di bawah 3, namun  mengalami first pass effect 

yang besar. PP-nya tinggi, rata-rata 90%, 

sedang  plasma-t½-nya bersifat bifasis 

2 dan 8 jam. Di dalam hati zat ini dirom- 

bak menjadi metabolit tidak aktif; ekskresi 

terutama melalui empedu dan feses. Pene-

trasinya ke dalam CCS hanya ringan.

Efek sampingnya berupa gangguan alat 

cerna (mual, muntah, diare) nyeri kepala, 

pusing, gatal-gatal dan exanthema. Yang le-

bih serius yaitu  hepatotoksisitasnya, yang 

dapat memicu  hepatitis pada 1 per 

2.000-10.000 pasien, terutama bila dipakai  

lebih dari 14 hari. Oleh sebab  itu dianjurkan 

memantau fungsi hati setiap 14 hari pada 

pasien-pasien tertentu.

Pada dosis tinggi (lebih dari 600 mg se-

hari) ketokonazol dapat menghambat sin-

tesis hormon testosteron, yang meng akibat- 

kan terganggunya produksi sperma dan 

impotensi. Oleh sebab  itu dianjurkan untuk 

memakai  antimikotika lain, kecuali da-

lam kasus tertentu. Resistensi belum dila-

porkan. Wanita hamil dan yang menyusui tidak 

dianjurkan memakai  obat ini. Dosis: 

oral 1 kali sehari 200 mg pada waktu makan 

sampai 7 hari sesudah  gejala hilang, bila perlu 

maksimal 400 mg sehari; anak-anak 3 mg/kg 

berat badan. Antasida, antikolinergika dan 

H

2-blockers me ning katkan pH lambung, oleh 

sebab  itu menurunkan absorpsinya, maka 

pemakaian nya harus 2 jam sesudah  pembe-

rian ketokonazol. Pada vaginitis Candida: oral 

2 dd 200 mg untuk 5 hari. 

2c. Klotrimazol: Canesten, *Baycuten-N, Gyne/

Lotremin

Derivat imidazol ini (1973) memiliki 

spektrum fungistatik yang relatif lebi h sempit 

daripada mikonazol. Pada konsentrasi tinggi 

zat ini juga berdaya bakteriostatik terhadap 

kuman Gram-positif. Pada vaginitis Candida: 

malam hari tablet vaginal 200 mg selama 3 

hari atau single dose 1 tablet vaginal dari 500 

mg; pada infeksi kulit (panu): krem atau 

lotion 1% dengan catatan jangan dikenakan 

pada selaput lendir atau mata. Klotrimazol 

dapat dipakai  pada waktu hamil. 

Dosis: krem atau spray 1% 2x sehari selama 

minimal 3-4 minggu.

* Bifonazol (Mycospor) yaitu  derivat imida-

zol (1983) yang berkhasia t terhadap beberapa 

jenis jamur (a.l. Malassezia furfur, pemicu  

panu) dan ragi (jenis-jenis Candida) yang 

patogen bagi manusia, serta terhadap bebe-

rapa kuman Gram-positif. Resorpsinya le-

mah, sedang  daya kerjanya berlangsung 

±48 jam. Wanita hamil dapat memakai  

bifonazol sebagai obat luar. Dosis: mycosis 

kaki krem 1%, di olesi malam hari; candidiasis 

permukaan selama 4 minggu.

3. DERIVAT TRIAZOL 

Strukturnya mirip dengan imidazol, namun  

aktivitas antifungalnya lebih luas. Mekanis-

me kerjanya juga menghambat sintesis er-

gosterol.

Wanita hamil tidak dianjurkan minum 

obat-obat ini, sebab  pada hewan ternyat a 

memberikan efek buruk bagi janin. 

Efek sampingnya yang utama berupa gang-

guan lambung-usus, sakit kepala dan pusing- 

pusing, gangguan haid dan reaksi alergi 

kulit. Pada pemakaian  lebih lama dari 1 

bulan dilaporkan kasus rontok rambut dan 

kerusakan hati. 

3a. Itrakonazol: Sporanox, Trisporal

Sama dengan ketokonazol derivat triazol 

ini (1988) juga dipakai  per oral namun  lebih 

sedikit efek sampingnya, misalnya gangguan 

fungsi hati dan ginjal. Zat ini berkhasiat 

fungisid luas terhadap dermatofit dan ragi 

patogen, juga terhadap Aspergillus, berlainan 

dengan senyawa imidazol dan flukonazol. 

Itrakonazol menghambat metabolisme dari 

antihistaminika long-acting terfenadin dan 

astemizol, maka jangan dipakai  ber sa-

maan waktu untuk menghindarkan timbul-

nya gangguan ritme jantung.

Dosis: pada vaginitis Candida satu kali 

sehari 200 mg selama 3 hari.

* Posakonazol (Noxafil)

Senyawa sintetik ini yaitu  analo g struk-

tural dari itrakonazol dan memiliki khasiat 

antifungal broad-spektrum yang juga sama. 

3b. Flukonazol: Diflucan.

Derivat difluortriazol ini (1988) memiliki 

sifat farmakologi baru. Efektif terhadap 

candidiasis mulut, kerongkongan dan vagi-

na. Resorpsinya dari saluran pencernaan 

baik dan cepat, dengan BA ±90%, PP-nya 

±12% dan mudah sekali me rembas ke CCS. 

Plasma-t½-nya ±30 jam. Zat ini hanya sedikit 

dimetabolisir; ekskresinya lewat urin dan 

80% dalam bentuk utuh. 

Efek sampingnya umum. Berlainan dengan 

ketokonazol, senyawa ini tidak hepatotoksik 

dan tidak menekan sintesis steroid adrenal. 

Harus waspada bila ada gangguan fungsi 

ginjal.

Dosis: candidiasis mulut 1 dd 50-100 mg 

selama 1-2 minggu, candidiasis vaginal 150 

mg sebagai dosis tunggal. Pada candidiasis 

sistemik, permulaan 400 mg, lalu 1 dd 200-

400 mg.

3c.  Vorikonazol : Vfend

Derivat trifluortriazol ini (2002) berspek-

trum antifungal luas. Resorpsinya cepat 

sesudah  pemberian per oral dan puncak kadar 

plasma sudah tercapai dalam waktu 2 jam. 

Memiliki BA baik (96%) dengan t½ 6-9 jam, 

sehingga pemberian dosis 2 kali sehari sudah 

mencukupi.

Zat ini yaitu  antifungal pertama yang 

efektivitasnya terbukti terhadap aspergillosis 

serebral. Juga merupakan antifungal pilihan 

pertama (terapi standar) terhadap infeksi 

Aspergillus invasif (aspergilosis) parah pada 

penderita yang daya imunnya terganggu. 

Efek sampingya (selewat) terutama terdiri 

dari gangguan visual, seperti penglihatan ka-

bur, fotofobia dan penglihatan warna yang 

berubah. Dengan beberapa obat tertentu, 

misalnya siklosporin, barbiturat dan derivat 

kumarin dapat terjadi interaksi berbahaya.

Dosis: i.v. 2 dd 4 mg/kg dan oral 2 dd 200 

mg.

4. ASAM ORGANIK

4a. Asam salisilat: *Ung. Whitfield.

Asam organik ini berkhasiat fungisid ter-

hadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6% 

dalam salep. Di samping itu, zat ini ber-

khasiat bakteriostatik lemah dan berdaya 

keratolitik, yaitu dapat melarutkan lapisan 

tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%. Asam 

salisilat banyak dipakai  dalam sediaan 

obat luar ter hadap infeksi jamur ringan. 

Sering kali asam ini dikombinasi dengan 

asam benzoat (salep Whitfield) dan belerang 

(sulfur precipitatum) yang keduanya memiliki 

kerja fungistatik maupun bakteriostatik. 

Bila dikombinasi dengan obat lain, misalnya 

kortikosteroida, asam salisilat meningkatkan 

penetrasinya ke dalam kulit. Tidak dapat 

dikombinasi de ngan sengoksida sebab  akan 

terbentuk garam sengsalisilat yang tidak 

aktif. 

4b. Asam benzoat (F.I.): 

Asam ini dan ester hidroksinya dalam 

konsentrasi 0,1% berkhasiat fungistatik dan 

bakteriostatik lemah. Biasanya zat ini digu-

nakan bersamaan dengan asam salisilat, juga 

sebagai zat peng awet untuk bahan makanan, 

minuman (0,5-1 mg/ml) dan krem (1-5 mg/

ml), sebagai asam maupun esternya Nipagin 

dan Nipasol. Daya pengawetnya hanya efektif 

pada pH di bawah 5.

* Ung Whitfield terdiri dari 5% asam benzoat 

(sebagai fungistatik) dan 5% asam salisilat 

(keratolitik) dengan perbandingan 2:1 (6:3%) 

dalam lanolin-vaselin ana 90%. Khusus digu-

nakan terhadap tinea pedis.

* Nipagin= metiloksibenzoat; Nipasol = 

propiloksibenzoat.

4c. Asam undesilenat (Desenex)

Asam lemak ini berwarna kuning de-

ngan baunya yang khas tengik. Berkhasiat 

fungistatik terhadap banyak dermatofit dan 

terutama dipakai  terhadap kutu air (tinea 

pedis) dalam konsentrasi 5-10%. Kegiatan-

nya paling kuat dalam lingkungan asam. 

Garam sengnya dipakai  untuk maksud 

yang sama, dengan keuntungan bekerja 

adstringens dan antiradang lemah.

4d. Asam lemak lainnya: asam propionat 

dan asam kaprilat juga bersifat bakteriosta-

tik, sama dengan keringat manusia yang me-

ngandung asam-asam lemak tertentu. Asam 

kaprilat dipakai  per oral pada candidiasis 

sistemik. 

Sediaan: tingtur 5%, salep dan serbuk: asam 

kaprilat 5% + sengundesilenat 20%.

5. ECHINOKANDIN

5a. Flusitosin: Ancobon

Derivat fluorpirimidon ini (1972) dalam 

sel jamur diubah menjadi 5-FU (fluorourasil) 

suatu antagonis pirimidin, yang melalui 

perintangan pembentuka n RNA mengacau-

kan sintesis protein. Tergantung dari kadar-

nya dapat be kerja fungistatik atau fungisid. 

Terutama aktif terhadap infeksi sistemik 

oleh Cryptococcus dan Candida. sebab  

cepat timbul resistensi biasanya dipakai  

bersamaan dengan amfoterisin-B (sinerg i) 

terhadap infeksi sistemik parah, seperti sep-

ticaemia, endocarditis, infeksi paru, saluran 

kemih dan meningitis.

Efek sampingya yang umum yaitu  mual, 

muntah dan diare. Kadang-kadang timbul 

efek samping yang lebih parah a.l. penekan-

an sumsum tulang, leukopenia dan trom-

bositopenia.

Dosis: terkombinasi dengan amfoterisin B, 

anak-anak dan dewasa oral 25-50 mg per kg 

berat badan sehari, pada candidiasis saluran 

kemih  100 mg/kg.

5b. Terbinafin: Lamisil.

Derivat naftilamin ini (1991) bekerja fu-

ngisid, a.l. terhadap Malassezia furfur, penye-

bab panu, juga bekerja fungistatik terhadap 

Candida. Zat ini dipakai  lebih banyak 

terhadap kuku kapur (onychomycosis) dari-

pada griseofulvin, sebab  efeknya lebih kuat 

dan waktu pengobatannya lebih singkat.

Zat ini juga dipakai  sebagai obat luar 

(krem 1%) untuk mengobati panu dan 

Tinea capitis pada anak-anak. Mekanisme 

kerjanya berdasar  perintangan biosin-

tesis ergosterol di membran sel akibat peng-

hambatan enzim (bukan sitokrom P 450), 

yang memicu  sel mati.

Efek sampingnya pada pemakaian  oral 

yaitu  gangguan saluran cerna, seperti pe-

rasaan mual dan diare. Belum ada data cukup 

mengenai pemakaian nya oleh wanita hamil.

Dosis: oral 1-2 dd 250 mg dan per kutan 1-2 

dd krem 10 mg/g.

5c. Anidulafungin: Ecalta, Eraxis

Berbentuk serbuk untuk infus i.v. 100 mg. 

yaitu  lipopeptida semi-sintetik (echino-

candin) dari hasil fermentasi Aspergillus 

nidulans, menghambat sintesis dari glukan 

synthetase, sehingga menghambat pemben-

tukan dinding sel jamur.

Bekerja fungisid terhadap jenis-jenis Can-

dida dan Aspergillus fumigatus. Ekskresi 

melalui feses; t½-nya 40-50 jam.

Efek sampingnya sering kali diare, mual dan 

muntah, juga sakit kepala, gangguan kulit, 

hipokaliemia dan hipertensi.

Dosis: infus i.v. 200 mg pada hari pertama, 

lalu 100 mg sehari selama 14 hari.

5d. Caspofungine: Cancidas

Merupakan lipopeptida semisintetik, sama 

seperti anidulafungin dari kelompok echino-

candin. Mekanisme kerja dan indikasinya 

sama seperti anidulafungin, yaitu meng-

hambat pembentukan dinding sel jamur dan 

ragi. Bekerja fungisid terhadap Candida dan 

Aspergillus. PP-nya ±97%, ekskresi melalui 

urin (41%) dan via feses (34%). t½ -nya ±45 jam.

dipakai  terhadap candidiasis dan as-

pergillosis invasif, bila antimikotika lain 

(amfotericin B, itrakonazol) kurang efektif 

atau tidak cocok bagi pasien.

Efek sampingnya sering kali (1-10%) demam, 

sakit kepala, mual, muntah, diare dan gang-

guan kulit.

Dosis: infus i.v. 70 mg pada hari pertama, 

kemudian 50 mg sehari.

5e. Micafungin: Mycamine14a

Semi-sintetik echinokandin yang dapat 

melarut dalam air ini diperoleh dari jamur 

Coleophoma empedri.

dipakai  untuk pengobatan dan profi-

laksis terhadap infeksi Candidiasis sistemik 

dan candidiasis oesofagus.

Dosis: i.v. 100 mg sehari.

6. LAINNYA

6a. Siklopiroks: Batrafen, Loprox

Senyawa hidroksipiridon ini (1993) ber-

spektrum luas dan berkhasiat fungisid 

terhadap antara lain Candida albicans dan 

Trichophyton rubrum, fungistatik terhadap 

Malassezia furfur (panu), juga bakteriostatik 

lemah. Walaupun struktur kimianya berbeda 

de ngan zat-zat imidazol, namun  mekanisme 

kerjanya diperkirakan sama, yaitu terhadap 

membran plasma dari sel jamur. Mungkin 

juga mekanisme kerjanya berdasar  perin-

tangan transpor dari asam-asam amino dan 

ion-ion melalui membran sel. Daya kerjanya 

diperkuat bila dibuat ester dengan olamin. 

Siklopiroks khusus dipakai  pada kulit.

Dosis: 2 kali sehari sebagai krem 1% selama 

2-4 minggu.

6b. Tolnaftat: *Naftate.

Tolnaftat berkhasiat fungistatik terhadap 

banyak dermatofit, antara lain pemicu  

panu, namun  tidak efektif terhadap Candida. 

* Naftate : salep tolnaftat 2% + heksaklorofen 

0,5%.

6c. Haloprogin: *Polik

Haloprogin berkhasiat fungisid ter hada p 

berbagai jenis Epidermofiton, Pityros porum, 

Trichophyton dan Can dida. Kadang-kadang 

terjadi sensi tasi dengan timbulnya gatal-

gatal, perasaan terbakar dan iritasi kulit. Zat 

ini dipakai  sebagai krem atau larutan 1% 

terhadap panu dan terutama kutu air (Tinea 

pedis) dengan persentase penyembuhan 

±80%, sama dengan tolnaftat. 

6d. Naftifin: Exoderil

Senyawa alilamin ini dipakai  sebagai 

krem 1% terhadap a.l. panu dan infeksi kuku.




VIRUSTATIKA


Virus (Sansk. visham = racun) yaitu  mikro-

organis me hidup yang terkecil (besar nya 

20-300 mikron), kecuali prion, yaitu virus 

pemicu  penyakit-sapi gila BSE dan p. 

Creutzfeldt-Jakob yang kurang lebih 100 

kali lebih kecil. Virus hanya dapat dilihat de-

ngan mikroskop-elektron (dengan pembesaran 

maksimal 200.000 kali) dan tidak dengan 

mikroskop biasa (dengan pembesara n 

maksimal 4.000 kali). Di luar tubuh manusia, 

sering kali virus ber bentuk kristal tanpa tanda 

hidup, sangat ulet, tahan asam dan basa, 

serta resisten terhadap suhu renda h atau 

tinggi sekali. Jika ke adaan lingkungannya 

membaik —seperti di dalam tubuh manusia 

atau hewan— kristal ter sebut ‘bernyawa’ lagi 

dan mampu mem perbanyak diri. 

Virus yaitu  jasad biologis, bukan hewan, 

bukan tanaman, tanpa struktur sel dan tidak 

berdaya untuk hidup dan memperba nyak 

diri secara mandiri. Mikroorganisme ini 

harus memakai  sistem enzim dari sel 

tuan-ruma h untuk sintesis asam nukleat, pro-

tein dan berkembang biak. Oleh metabolisme 

sel tuan rumah, maka sulit sekali untuk 

membuat obat-obat dengan toksisitas selektif 

untuk virus tanpa merugikan sel tuan rumah. 

Oleh sebab  itu vaksinasi merupakan cara 

utama untuk mengendalikan infeksi virus 

(polio, rabies, campak, mumps, rubella).

Disebabkan virus merupakan mikro orga-

nis me yang eksistensi nya mutlak tergantung 

dari proses biosintesis tuan-rumah, maka 

dahulu diragukan kemungkinan mengem-

bangkan obat-obat antiviral denga n toksisitas 

selektif. Namun keraguan ini sudah lama ter-

hapus, terutama sejak ±2 dasawarsa terakhir 

yakni dengan diketemukan dan dikembang- 

kannya virus anti-herpes asiklovir. Senyawa 

ini merupakan prototype dari sekelompok 

zat-zat anti-viral yang di dalam sel di phos-

phorylated oleh viral kinase, kemudian oleh 

enzim tuan-rumah menjad i penghambat 

sintesis DNA dari virus.

Untuk penemuan ini, Gertrude Elion dan 

George Hitchings memperoleh hadiah Nobel 

1988. Sejak itu lebih banyak lagi obat-obat 

antiviral dihasilkan dalam rangka pengem-

bangan kemoterapi antimikroba (misalnya 

interferon) terhadap pelbagai jenis virus.

Perkembang-biakan virus dapat ditekan me-

lalui beberapa cara: 

– memblokir masuknya virus ke dalam sel 

(amantadin, gamma-globulin)

– menghindari sintesis asam inti (analoga 

nukleosida, asiklovir, gansiklovir dan 

obat-obat anti-retroviral zidovudin, ne-

virapin) 

– inhibisi protease (saquinavir, ritonavir)

– inhibisi neuraminidase (oseltamivir, 

zanamivir)

Struktur kimiawi virus sederhana; setiap 

virion —bagian virus terkecil— mengandung 

hanya satu dari dua asam inti DNA atau 

RNA (viral genome). Hal ini berbedadengan 

mikroorganisme lainnya dan manu sia yang 

memiliki kedua jenis asam nukleat (Lat. 

nucleus = inti). Inti virion dari DNA atau RNA 

dikelilingi oleh selubung (salut pro tein), 

yang disebut capsid dan spesifik bagi setiap 

virus. Genome dan selubung protein inilah 

yang disebut virion. Beberapa virus memiliki 

dinding yang terdiri dari lemak (fosfolipid) 

dan pro tein. Selain itu virion memiliki bebe-

rapa enzim.

INFEKSI VIRUS

Penularan virus diawali dengan pelekatan 

virus pada dinding sel tuan-rumah yang 


dihidrolisis oleh enzim-enzimnya. Lalu 

DNA/RNA memasuki sel sehat, sedang-

kan salut proteinnya ditanggalkan di luar. Di 

dalam sel, virus bertindak sebagai parasit 

dan memakai  proses-proses asimil asi 

sel bersangkutan untuk membentuk virion- 

virion baru. Dengan demikian perkembang-

biakan (replikasi) tidak berlangsung melalui 

pembela han virion-induk seperti bakteri. 

Pada proses ini sel-sel yang dimasukinya di-

rusak, namun  gejala-gejala penyakit baru mu-

lai tampak bila perbanyakan virion sudah 

mencapai puncakny a.

PENggoloNgAN

Virus yang paling sering memicu  

penyakit pada manusia dapat dibagi dalam 

dua kelompok besar, yakni virus DNA dan 

virus RNA, dengan masing-masing DNA 

atau RNA di dalam intinya. 

a. Virus DNA meliputi antara lain kelom-

pok penyakit Herpes, yakni Herpes simplex (pe-

nyebab a.l. penya kit kelamin), Herpes zoster 

(penye bab sinannaga atau “shingles”), Vari-

cel la zoster (cacar air). Juga sejumlah virus 

lain termasuk kelompok virus DNA ini, 

seperti virus Epstein-Barr (demam kelen-

 jar/”kissing disease”/mono-nucleosis infectio-

sa), parvovirus, adenovi rus (gas troente ri tis), 

variola (cacar, “smallpox”), cytomegalovi rus 

= CMV (pada pasien AIDS), hepad