an
terjadi agak jarang (1 : 4.000--50.000), te-
tapi sering kali berakibat fatal.
Menurut perkiraan kerusakan sumsum tulang
ini disebabkan oleh metab olit kloramfeni-
kol toksik yang dibentuk oleh kuman usus.
Telah dipastikan bahwa obat diuraikan oleh
sinar-UV-A menjadi senyawa nitro(so) yang
toksik bagi sel-sel sumsum tulang. Foto degra-
dasi ini berlangsung baik dalam wadah gelap
(misalnya, botol berwarna cokelat), maupun
sesudah pemakaian di kulit dan mata.
Perhatian! Pada pengobatan lama de ngan do-
sis tinggi misalnya pada terapi tifus, gambaran
darah tepi perlu dimonitor.
Resistensi dapat timbul dengan agak
lamba t (tipe banyak tingkat), namun resis-
tensi ekstra-kromosomal melalui plasmid
juga terjadi, antara lain terhadap basil tifus
perut.
Interaksi. Kloramfenikol meningkatkan
daya kerja dari antikoagulan, fenitoin dan
antidiabetika oral. Lagi pula menghambat
metabolisme dari obat-obat lain, sehingga
dapat meningkatkan daya kerja dari mis. di-
fenilhidantoin, sulfonilurea dan warfarin.
Kehamilan dan laktasi. pemakaian nya
tidak dianjurkan, khususnya selama ming-
gu-minggu terakhir dari kehamilan, sebab
dapat memicu cyanosis dan hypothermia
pada neonati ("grey baby syndrome“), akibat
ketidakmampuannya untuk menkonyugasi
dan mengekskresi obat ini, sehingga sangat
meningkatkan kadarnya dalam darah.
Berhubung kemampuannya melintasi pla-
senta dan mencapai air susu ibu, maka tidak
boleh diberikan selama laktasi. Larangan ter-
sebut juga berlaku bagi tiamfenikol.
Dosis: pada tifus permulaan 1-2 g (pal-
mitat), lalu 4 dd 500-750 mg p.c. Neonati
maksimal 25 mg/kg/hari dalam 4 dosis,
anak-anak di atas 2 minggu 25-50 mg/kg/
hari dalam 2-3 dosis. Pada infeksi parah (me-
ningitis, abses otak) i.v. 4 dd 500-1500 mg
(Na-suksinat).
* Tiamfenikol (Urfamycin) yaitu derivat
p-metilsulfonil (-SO2CH3) dengan spek-
trum kerja dan sifat mirip kloram feni kol,
namun aktivitasnya agak lebih ringan.
Resorpsinya juga baik sekali, PP-nya lebih
ringan (±10%), plasma-t½-nya 2 jam, peng-
ikatan pada glukuronat dalam hati hanya
5-10%, sedang ekskresinya lewat kemih
dalam kadar tinggi sebagai zat utuh aktif
(±65%). Kadar tiamfenikol di dalam empedu
lebih tinggi daripada kloramfenikol. Maka,
selain pada infeksi tifus dan Salmonella,
juga dipakai pada infeksi salurankemih
dansaluranempedu oleh kuman yang resis-
ten terhadap antibiotika lain.Toksisitasnya
bagi sumsum tulang dan darah sama dengan
kloramfenikol!
Dosis: tifus perut 4 dd 250-500 mg selama
maksimal 8 hari, di atas 60 tahun 2 dd 500 mg,
anak-anak 20-30 mg/kg/hari. Gonore: 1 x 2,5 g.
2.Vankomisin: Ledervan, Vancocin.
Antibiotikum glikopeptida ini dihasilkan
oleh Streptomyces orientalis (1955). Berkhasiat
bakterisid terhadap kuman Gram-positif ae-
rob dan anaerob, termasuk Stafilokok yang
resisten terhadap metisi lin (MRSA).Daya
kerjanya berdasar penghindaran pemben-
tukan peptidoglikan. Penting sekali sebagai
antibiotik yang dipakai terakhir pada in-
feksi parah jika obat lain tidak sensitif (lagi)!
Obat ini juga dipakai bila ada alergi
terhadap penisilin/sefalospo rin. Peng gunaan
lainnya yaitu pada colitis tertentu akibat te-
rapi dengan antibio tika (antara lain linkomisin
dan klindamisin) dan pada radang mukosa
usus (enteritis) akibat stafilokok. Di AS sering
kali ditambahkan pada makanan ternak guna
menstimulisasi pertumbuhannya dengan aki-
bat timbulnya banyak kasus resistensi pada
manusia (N Engl J Med 1999;340: 556-7).
Resorpsinya dari usus sehat sangat buruk,
pada enteritis lebih baik. Kadar terapeutik
dicapai dalam cairan pleura (selaput dada),
cairan sendi (synovia) dan kemih. Plasma-t½-
nya 5-11 jam. Ekskresinya ber langsung 80%
melalui kemih.
Efek sampingnya berupa gangguan fungsi
ginjal, terutama pada pemakaian lama
dengan dosis tinggi, juga neuropati peri-
fer, reaksi alergi kulit, mual dan demam.
Kombinasinya dengan aminoglikosida me-
ningkatkan risiko nefro- dan ototoksisitas.
Kehamilan dan laktasi. Tidak ada cukup
data untuk pemakaian selama kehamilan.
Vankomisin mencapai air susu ibu.
Dosis: infeksi parah i.v. (infus) 1 g dalam
200 ml larutan NaCl 0,9% (atau glukosa 5%)
setiap 12 jam dengan jangka waktu minimal
2 jam. Oral pada colitis pseudomembr. 4 dd
125-500 mg selama 7-10 hari, pada enteritis 4
dd 500 mg selama 3-5 hari.
3.Spektinomisin: Trobicin.
Dihasilkan oleh Streptomycin spectabi-
lis (1961). Antibiotikum broad-spectrum ini
berkhasiat bakterisid terhadap sejumlah
kuman Gram-positif dan Gram-negatif, ter-
masuk Gonococ ci, Pseudom onas, Proteus,
dan Klebsiella. Khusus dipakai sebagai
obat pilihan ketiga pada gonore akut (ure-
thritis, proctitis, cervici tis) yang diakibatkan
oleh suku N. gonorroe yang membentuk pe-
nisilinase. sesudah injeksi i.m., zat ini dengan
cepat diserap, tidak diikat pada protein da-
rah dan diekskresikan secara utuh terutama
dengan kemih. Plasma-t½-nya ±2 jam.
Efek sampingnya berupa antara lain nyeri
di tempat injeksi, mual, pusing, urticaria dan
sukar tidur.Tidak ada data mengenai peng-
gunaannya selama kehamilan.
Dosis: i.m. pria single dose 3,2 g sebagai 2 in-
jeksi di kedua bokong (garam sulfat/diHCl).
4.Linezolid14 : Zyvox
Senyawa antimikrobial ini (2000) merupa-
kan yang pertama dari kelompok antibiotik
terbaru oxazolidinon, yang telah ditemu-
kan pada tahun 1980 dan baru dipakai
secara klinis dua dasawarsa kemudian.
Khasiatnyabakteriostatik berdasar titik
kerjanya yang unik, yaitu penghambatan
sintesis protein kuman pada taraf dini se-
kali. Oleh sebab nya tidak memperlihatkan
resistensi silang (cross-resistance) dengan
antibiotika lain, seperti makrolida, lin-
kosamida, tetrasiklin dan kloramfenikol.
Linezolid juga aktif terhadap stafilokok
dan pneumokok yang resisten terhadap
metisilin, begitu pula terhadap enterokok
yang resisten untuk vankomisin. Per oral
memiliki kesetaraan biologik yang sangat
tinggi (hampir100%), namun toksisitas dan
cepatnya timbul resistensi merupakan
hambatan. Lagi pula bersifatmenghambat
MAO secara tak-selektif reversibel, namun
dalam doses yang dipakai i, tidak beker-
ja antidepresif.
pemakaian nya terhadap pneumonia dan
infeksi rumit dari kulit serta jaringan lembut
akibat kuman Grampositif, yang selayaknya
juga dapat ditangani dengan antibiotika se-
perti flukloksasilin, amoksilin-klavulanat
dan makrolida. Juga dipakai pada tuber-
kulosa yang multiresisten dalam kombinasi
dengan tuberkulostatika lain.
Efek samping utamanya yaitu nyeri ke-
pala, mual, muntah, diare dan rasa logam
di mulut. Juga harus waspada terhadap
penekanan sumsum tulang, sifatnya seba-
gai penghambat MAO terutama pada dosis
tinggi dan timbulnya resistensi.yang pesat.
Dianjurkan untuk memonitor hematologi se-
tiap minggu, terutama bila dipakai lebih
lama dari 14 hari
Dosis: 2 dd 600 mg selama 10-14 hari, maks
28 hari.
5.Asamfusidat: *Fucidin.
Antibiotikum dengan rumus steroida
yang mirip dengan struktur asam empedu
ini dihasilkan oleh jamur Fusidi um coccineum
(Denmark, 1961). Spektrum kerjanya sempit
dan terbatas pada kuman Gram-positif, ter-
utama stafilokok, juga yang membentuk
penisilinase. Kuman Gram-negatif bersifat
resisten terkecuali Neisseria. Khasi atnya
bersifat bakteriostatik berdasar kan peng-
hambatan sintesis protein kuman.
pemakaian . Antibiotikum pilihan kedua
ini di gunakan oral atau intravena pada in-
feksi stafilokok, khususnya bila ada
resis tensi atau hipersensiti vitas terhadap
penisilin dan/atau obat lain. Secara topikal
pada infeksi stafilokok kulit (krem, salep 2%)
dan mata (gel 1%) (Fucit hal mic).
Daya penetrasinya ke dalam berbagai jaring-
an baik, antara lain jaringan lunak, tulang
(osteomyelitis), sendi, otot jantung (endocar-
ditis), mata, nanah dan sputum, sedang
ke dalam CCS buruk. PP-nya ±95%, plasma-
t½-nya 10-12 jam. Ekskresinya terutama
berlangsung melalui empedu dan tinja seba-
gai metabolit inaktif.
Efek sampingnya ringan dan berupa gang-
guan lambung-usus (mual, muntah, nyeri
perut), kadang-kadang reaksi kulit (eryte-
ma, iritasi). Resistensi dapat timbul dengan
cepat, maka biasanya dikombinasi dengan
penisilin atau eritromisin.
Kehamilan dan laktasi. pemakaian pada
akhir kehamilan dapat memicu an-
tara lain penyakit kuning (icterus) pada bayi.
Zat ini melin tasi plasenta dan timbul dalam
air susu ibu.
Dosis: oral 3 dd 500 mg p.c., anak-anak
di bawah 12 tahun 25-50 mg/kg/ hari, i.v.
(infus) 3 dd 500 mg selama 2-4 jam dalam la-
rutan garam/glukosa.
6.Mupirosin: Bactroban.
Dihasilkan oleh kuman Pseudomonas fluo-
rescens (1985), maka semula dinamakan
pseudomonic acid. Berkhasiat khusus ter-
hadap kumanGram-positif, a.l. St. aureu s,
Str. pyogenes dan Str. pneumoniae. Tidak
aktif terhadap kuman Gram-negatif,
terkecua li H. influenzae dan Neisseria go-
norrhoea. Bersifat bakterisid (salep 2%)
berdasar pengham batan RNA-sintetase
yang ber akibat penghentian sintesis pro-
tein kuman. Khusus dipakai topikal
sebagai salep kulit pada infeksi kuman
Gram-positif, juga dalam salep hidung
pada pembawa-MRSA untuk eliminasi
kuman resisten ini. Tidak dipakai siste-
mik, ka rena resorpsi oralnya buruk dengan
perombakan pesat. Kasus resistensi mulai
semakin banyak dilaporkan.
Tabel 5-2: Ikhtisar Antibiotika
A. Penisilin nama paten spektrum mekanisme kinetik
peka penisilinase
a. spektrum sempit
benzilpenisilin, Penicilline-G Gr.+, Neisseria Menghambat sintesis dinding sel kuman. parenteral
fenetisilin Broxil
fenoksimetilpenisilin Pen-V, Ospen oral
tahan laktamase
metisilin
kloksasilin Orbenin
flukloksasilin Floxapen
b. spektrum luas
Aminopenisilin:
ampisilin Penbritin Gr.+ dan Gr.- oral
amoksisilin Ospamox Gr.+ dan Gr.- oral
c. Anti-pseudomonas
tikarsilin Gr.-
piperasilin Tazocin
Penisil.+β-laktamase inhibitor Gr.+ dan Gr.-
amoksisilin+klavulanat Augmentin oral
tikarsilin+klavulanat Timentin i.v.
ampisilin+sulbaktam Unasyn oral/parent
piperasilin+tazobaktam Tazocin i.v.
Antibiotika laktam lainnya
aztreonam Azactam
B. SEFALOSPORIN (lih.Tab. ) Menghambat sintesis dinding sel
C. AMINOGLIKOSIDA bakterisid Menghambat biosintesis protein kuman. parenteral
streptomisin
kanamisin Kanoxin
amikasin Amukin
gentamisin Garamycin
netilmisin Netromisin
tobramisin Optosin
neomisin Neobiotic
framisetin *Sofradex
paromomisin Gabbroral
D. TETRASIKLIN bakteriostatis Menghambat sintesis protein kuman.
tetrasiklin Achromycin
oksitetrasiklin Terramycin
doksisiklin Vibramycin
minosiklin Minocin
E. MAKROLIDA bakteriostatis Merintangi sintesis protein kuman.
eritromisin Erithrocin i.v./oral
roksitromisin Rulid
azitromisin` Zithromax i.v./oral
spiramisin Rovamycine
linkomisin Lincocin
klindamisin Dalacin C i.v./oral
klaritromisin Abbotic oral
F. POLIPEPTIDA bakterisid Permeabilitas membran sel diperbesar..
polimiksin B *Otosporin
basitrasin *Nebacetin
G. ANTIBIOTIKA LAINNYA
kloramfenikol Kemicetine bakteriostatis/
sid
Merintangi sintesis polipeptida kuman. i.v./oral
tiamfenikol Urfamycin
vankomisin Vancocin bakterisid Menghindari biosintesis peptidoglikan. oral/i.v.
asam fusidat Fucidin bakteriostatis Menghambat sintesis protein kuman.
mepirosin Bactroban bakterisid Menghambat sintesis protein kuman.
spektinomisin Trobicin bakterisid parenteral
H. SULFONAMIDA bakteriostatis Menghambat sintesis asam folat. oral
sulfametoksazol * Bactrim
sulfadoksin *Fansidar
salazosulfapiridin (sulfasalazin) Salazopyrine
sultahap tamida Albucid
silverdiazin Flammazin
I. SENYAWA KUINOLON bakterisid Menghambat sintesis DNA. oral/i.v.
a. Gen-pertama
asamnalidiksat Negram
asam pipemidinat Pipram,Urixin
b. Gen-kedua :fluorkuinolon
norfloksasin Noroxin
pefloksasin Peflacine
siprofloksasin Ciproxin
ofloksasin Tarivid
lomefloksasin Omniquin
levofloksasin Tavanic
Levoxal
c. Gen-ketiga
sparfloksasin Zagam
trovafloksasin Trovan
J. ANTIMIKOBAKTERI
Tuberkulostatika Merintangi sintesis dinding sel kuman.
isoniazid INH
rifampisin Rimactane
pirazinamida Pezeta
etambutol ETH Ciba
streptomisin Menghindari sintesis protein
asam para-aminosalisilat PAS
SULFON . Menghindari sintesis DNA kuman
dapson DDS
klofazimin Lamprene Mengikat pada DNA
Efek sampingnya berupa gatal-gatal, nyeri,
rasa terbakar, kulit kering dan kemerah-
merahan. Di hidung: bersin, iritasi dan
gatal-gatal.
Dosis: salep 2% 2-3 dd dioleskan pada kulit
selama 6-14 hari, bil a perlu ditutup dengan
kasa; 2-3 dd di dalam kedua lubang hidung
selama 5-7 hari.
ANTIMIKOTIKA
Dari sekitar 200.000 species jamur yang
dikenal ada ±400 yang memicu
penyakit pada hewan dan di antaranya
ada jenis-jenis yang dapat memicu
penyakit serius pada manusia.
Pada dasawarsa terakhir, di seluruh du-
nia disinyalir adanya peningkatan luar
biasa kasus infeksi oleh jamur. Yang utama
yaitu mycosis kulit (Yun. mykes = jamur;
mycosis = penyakit jamur) yang disebabkan
oleh dermatofit dan infeksi mukosa mulut,
bronchia, usus, vagina dan lain-lain oleh
sejenis ragi Candida albicans. Penyebaran luas
infeksi sebab jamur (Lat. fungi) mungkin
disebabkan oleh sangat meningkatnya peng-
gunaan antibiotika berspektrum luas dan
hormon kelamin (pil antihamil) yang me-
rusak ke seimbangan normal dari biologi
flora kuman. Faktor risiko lain untuk tim-
bulnya mycosis yaitu daya tahan tubuh
yang menurun akibat a.l. infeksi HIV
(AIDS), kanker dan leukemi, radioterapi
dan kemoterapi (sitostatika). Begitu pula
kerusakan pada kulit (luka bakar) dan muko-
sa serta pemakaian untuk waktu lama
senyawa kortikosteroida, imunosupresiva
dan hormon kelamin (pil antihamil), yang
menstimulir infeksi dengan Candida (candi-
diasis). Akhirnya, faktor-faktor hygiene —
kolam renang, sauna dan sebagainya —
serta bertambahnya kontak internasional di
bidang kepariwisataan dan perdagangan
juga memegang peranan dalam penyebaran
infeksi itu .
bENTUK JAMUR
Jamur atau fungi merupakan tumbuhan
yang tidak memiliki klorofil sehingga tidak
mampu melakukan fotosintesis untuk meme-
lihara sendiri kehidupannya. Oleh sebab
itu jamur hanya bisa hidup sebagai parasit
pada organis me hidup lain atau sebagai
saprofit pada benda organik mati. Berlainan
dengan bentuk jamur yang lazim kita kenal,
yakni yang menyerupai payung, sebagian
besar jamur hanya terdiri dari benang-
benang halus sekali (hyphen) yang terdiri
dari rangkaian sel-sel. Sekelompok hyphen
kemudian membentuk suatu jaringan yang
disebut mycelium. Fungsi alami dari jamur
yaitu sebagai pembersih alam, yaitu untuk
melenyapkan benda-benda mati seperti
pohon mati, daun, sampah, dan sebagainya.
Untuk proses perbanyakannya, jamur
membentuk sel-sel yang disebut spora
(Yun. = benih), yang resisten terhadap ling-
kungan yang kurang menguntungkan bagi
kehidupannya. Bila keadaan membaik,
terutama suhu dan kelembapan, spora dapat
tumbuh lagi dan membentuk mycelium.
Lihat gambar jamur Penisilium.
Ragi (yeast) yaitu bentuk jamur yang
berlainan dengan fungi lainnya dan terdiri
dari hanya satu sel dan memperbanyak
diri melalui pertunasan. Ragi yang dapat
memicu dermatomikosis yaitu jenis-
jenis Candida dan Pytirosporum.
Dikenal lebih dari 100.000 jenis jamur
yang untuk sebagian besar tidak merugi-
kan manusia, bahkan dapat dimakan, mi-
salnya sampinyon dan jamur-jamur yang
tumbuh di atas makanan, seperti Rhizopus
oryzae (tempe), Monilia sitophilae (oncom) dan
Penicillum camemberti (keju Prancis). Semua
jamur ini tidak beracun dan dapat dimakan,
namun ada pula fungi yang bersifat racun
dan bisa mematikan bila dimakan, seperti
sampinyon merah Amanita muscaria dan
14108649_OBAT P(Bab 06)_T-098-111.indd 98 20/04/2015 20:14:05
Bab 6: Antimikotika 99
Aspergillus flavus dengan toksinnya masing-
masing muskarin dan aflatoksin.
Flora organisme normal dari kulit. Kulit dan
selaput lendir selalu dihuni oleh sejumlah
organisme yang dapat dibagi dalam 2 ke-
lompok.
1. Flora tetap (resident flora) yang terdiri dari
mikroorganisme tetap (kuman, jamur
dan ragi) biasanya ada pada
lokasi tertentu dan pada usia tertentu
pula. Bila susunan flora ini terganggu,
maka keseimbangan segera akan pulih
dengan sendirinya. Flora penting untuk
mempertahankan kesehatan dan fungsi
normal tubuh. Misalnya flora tetap di usus
mensintesis vitamin K, mengkonversi
asam empedu dan membantu penyerapan
gizi dari makanan. Flora tetap menjaga
terhadap serangan kuman-kuman pato-
gen seperti juga flora di kulit.
2. Flora selewat (transient flora) terdiri da-
ri mikroorganisme nonpatogen maupun
yang potensial patogen, namun tidak
memicu penyakit. Namun bila
flora tetap terganggu, kelompok flora
ini dapat berkembang biak dan menye-
babkan penyakit.
Flora normal pada vagina. Pada usia dewasa
sebagian besar flora ini terdiri dari lactoba-
cilli (Döderlein’s bacilli) yang mempertahan-
kan ling kungan asam dengan memproduksi
asam laktat dari karbohidrat (glikogen).
Suasana asam ini menghindari berkem-
bangnya mikroorganisme patogen di vagina.
Bila lactobacilli ini dihambat, mi salnya pada
pemakaian antibiotika, maka jumlah ragi
dan kuman lain yang memicu iritasi
dan peradangan akan meningkat.
Cara penularan. Spora dan serpih kulit
penderita infeksi fungi [(dermato) mycosi s]
merupakan sumber utama penularan. sesudah
terjadi infeksi, spora tumbuh dan membentuk
mycelium dengan memakai serpih kulit
sebagai bahan makanan. Enzim-enzim yang
diproduksi oleh jamur mampu menembus
kulit dan memicu peradangan.
Bila fungi ini tumbuh ke dalam tabung
rambut (folikel), maka rambut akan rontok.
Fungi yang menembus ke dalam kuku
meng akibatkan gangguan yang disebut ku-
ku kapur (onychomycosis) yang berwarna
keputih-putihan di samping kuku menjadi
regas.
Prevensi dan tindakan umum. Yang ter-
penting untuk menghindari infeksi jamur
yaitu memelihara kebersihan (hygiene)
tu-buh sebaik-baiknya, terutama di tempat
yang potensial merupakan sumber infeksi,
mi salnya kolam renang, kamar ganti pakaian
dan ruang olahraga. Di tempat-tempat ini
biasanya orang tidak mengenakan
alas kaki. Sumber infeksi lain yang perlu
dihindari yaitu hewan peliharaan yang se-
ring kali dipeluk oleh anak-anak. Kemudian
yang juga penting sekali untuk diwaspadai
yaitu kecenderung an beberapa jenis obat
yang memicu predisposisi untuk su-
perinfeksi jamur, liha t di atas.
Diagnosis. Gejala dermatomycosis tidak
jarang mirip dengan gangguan kulit lain,
terutama dapat dikelirukan dengan eksim.
Adakalanya ada pula bentuk-bentuk
campuran akibat infeksi bakteri.
Tes KOH. Untuk memastikan adanya in-
feksi fungi, perlu dilakukan tes KOH. Pada
serpihan kulit, kikisan kuku, atau sepotong
rambut diberikan beberapa tetes larutan
KOH 10-20%. Di bawah mikroskop fungi
dapat dikenali dari benang-benangnya yang
khas bercabang (hyphen) dan spora di se-
kitar rambut. Untuk penentuan jenis fungi
dapat dilakukan pembiakan pada suatu per-
semaian, yang dinamakan glukosa agar dari
Sabouraud.
ANTIMIKOTIKA
Infeksi dari kulit, rambut dan kuku oleh jamur
(dermatofyt) atau ragi, disebut dermatomycosis.
Gangguan ini biasanya ringan dan terbatas
pada lapisan kulit permukaan. Bila infeksi
jamur ini menjalar sampai di bawah stratum
corneum (aspergillosis) gangguan ini disebut
mycosis dalam yang bersifat sistemik dan
terutama timbul pada pasien dengan daya
tahan yang menurun. Selain daripada ragi,
pada kulit sehat biasanya tidak ter-
dapat dermatofit.
Dermatofit timbul sebab keseimbangan
kulit normal terganggu, antara lain dise-
babkan kelembapan kulit yang meningkat
(pakaian yang terlalu ketat) atau menurunnya
daya tahan tubuh.
Antimikotika yaitu obat-obat yang ber-
khasiat menghentikan pertumbuhan atau
mematikan jamur yang menghinggapi ma-
nusia. Mekanisme kerjanya antara lain berda-
sarkan efeknya terhadap sintesis komponen
membran dari dinding sel, permeabilitas
membran sel dan sintesis asam nukleat. Da-
lam garis besar antimikotika dibagi dalam
pemakaian topikal (setempat) atau sistemik,
walaupun pembagian ini tidak terlalu ketat.
Misalnya antimikotika imidazol, triazol dan
polyene dapat dipakai untuk kedua tujuan.
Untuk pengobatan infeksi jamur dapat di-
golongkan sebagai berikut.
a. antibiotika antimikotik: griseofulvin dan
senyawa polyen (amfoterisin B, nistatin)
yang biasanya bekerja fungista-
tik. Mekanisme kerjanya melalui peng-
ikatan diri pada zat-zat sterol di dinding
sel jamur. Akibatnya yaitu kerusakan
dari membran sel dan peningkatan per-
meabilitasnya, sehingga komponen intra-
seluler yang penting untuk kehidupan
sel me rembas keluar dan akhirnya sel-sel
mati. Griseofulvin sekarang ini jarang
dipakai lagi sebab antimikotika lain
lebih efektif dengan efek samping yang
lebih ringan.
b. derivat imidazol: mikonazol, ketoko na zo l,
klotrimazol, bifonazol, e konazol, isokonazol
dan tiokonazol (Trosyd, Vagistat). Mekanis-
me kerjanya berdasar peng ikatan
pada enzim sitokrom P450, sehingga sin-
tesis ergosterol yang perlu untuk pemeli-
haraan membran sel jamur, dirintangi
dan terjadi kerusakan membran. Pada
pemakaian sistemik, sistem enzim
manusia juga dapat dirintangi, yang
memicu efek-efek samping
tertentu. Bekerja fungistatik terhadap
dermatofit dan ragi, juga bakteriostatik
lemah terhadap kuman Gram-positif.
Obat ini terutama dipakai sebagai
obat topikal, kecuali ketokonazol yang juga
dapat dipakai secara sistemi k.
c. derivat triazol: flukonazol, vorikonazol dan
itrakonazol.
biasanya juga bekerja fungistatik
dengan mekanisme kerja seperti imidazol,
namun bersifat lebih selektif terhadap
sistem enzim jamur daripada terhadap
sistem enzim manusia, oleh sebab itu
kurang menghambat sintesis steroida.
Efektif terhadap dermatofit dan Candida,
itrakonazol juga terhadap Aspergillus.
Obat-obat ini khusus dipakai secara
sistemik.
Senyawa antifungal azol memiliki ber-
bagai interaksi dengan banyak jenis obat.
Misalnya dapat meningkatkan kadar
plasma dari obat yang diberikan ber-
samaan (misalnya alprazolam, astemizol,
karbamazepin, cisapride, digoksin dan
docetaxel). Sebaliknya beberapa jenis
obat yang diberikan bersamaan (misalnya
barbital, H2 antagonis, nevirapin, proton
pump inhibitor, fenitoin dan rifampisin)
dapat menurunkan kadar plasma dari
antimikotik azol.
berdasar ini banyak kombinasi dari
obat-obat tertentu dengan azol meru-
pakan kontra-indikasi seperti misal nya
kombinasi flukonazol dengan klopido-
grel, nisoldipin, kinin, salmeterol dan
simvastatin, atau kombinasi itrakonazol
dengan alfazosin, dabigatran, nisoldipin,
salmeterol, simvastatin dan topotekan.
d. echinokandin: terbinafin, flusitosin, kaspo-
fungin, anidulafungin dan mikafungin.
Echinokandin yaitu lipopeptida si-
klik dengan inti heksapeptida dan aktif
terhadap jenis-jenis Candida dan Asper-
gillus
Bennet JE. Echinocandins for candidemia
in adults without neutropenia. N Engl J
Med, 2006, 355:1154-1159.
Mekanisme kerjannya berdasar
penghambatan sintesis glikan di dindin g
sel fungi dan menurunkan kekuatan
strukturnya sehingga memicu in-
stabilitas osmolitas dan matinya sel.
Wiederhold and Lewis. The echinocandin
antifungals. Expert Opin Invest Drugs,
2003, 12:1313-1333.
e. asam-asam organik: asam benzoat, salisilat,
propionat, kaprilat dan undesilinat.
f. lainnya: terbinafin, flusitosin, tolnaftat, ha-
loprogin, naftifin, siklopiroks, selensulfida
dan pirition.
Khasiat
Pada hakikatnya semua antimikotika ter-
sebut berkhasiat fungistatik pada dosis yang
dipakai . Pengecualian yaitu itrakonazol
dan terbinafin, yang bekerja fungisid. Pada
dosis tinggi amfoteri sin dan nistatin juga
dapat berkhasiat fungisid.
Nistatin dan amfoterisin B sering kali
dipakai dalam kombinasi dengan tetra-
siklin untuk menghindari timbulnya candi-
diasis usus.
pemakaian
Antimikotika terutama dipakai pada
mycosis permukaan atau setempat (topi-
kal). Pada mycosis umum (sistemik) yang
meliputi organ dalam (misalnya candidiasis,
actinomy cosis dan aspergillo sis), sejum lah obat
(juga) diguna kan secara sistemis, yakni per
oral. Begitu pula lazimnya pada infeksi di
tubuh dan pityriasis versicolor yang luas (tinea
corporis), juga pada infeksi jamur di kepala
dan mycosis kuku.
Antimikotika oral yang dipakai meli-
puti a.l. griseofulvin, ketokona zol, itrakona zol,
flukona zol, terbina fin dan flusitosin. Keto ko-
na zol tidak dianjurkan berhubung risiko
necrosis hati yang dapat timbul dengan
akut. Itrakonazol dianjurkan pada infeksi
Pityrosporum danpada candidiasis, juga
flukonazol. Griseofulvin dan terbinafin da-
pat dipakai terhadap tinea capitis pada
anak-anak. Untuk pemakaian setempat di
dalam usus tersedia amfote ri sin B dan nistatin
yang buruk absorpsinya.
Terhadap infeksi kuku pada jari-jari kaki
dan tangan (onychomycosis) khusus diguna-
kan obat yang ditimbun dalam lapisan
tanduk (stratum corneum), yakni griseo fulvin,
ketokonazol, itrakonazol dan terbinafin.
FUNGI PATOGEN
Infeksi jamur pada manusia berlangsung
melalui sporanya dan dapat dibagi dalam
mycosis umum dan mycosis permukaan.
1. Mycosis umum (sistemik) Pada infeksi
umum, jamur atau ragi tersebar di tubuh
atau memicu infeksi dalam or-
gan tubuh, yang kadang-kadang dapat
membahayakan jiwa, terutama penderita
yang daya tahan imunnya menurun aki-
bat misalnya infeksi (AIDS) atau yang
memakai obat-obat yang menekan
daya imunitas. Contohnya yaitu actino-
mycosis, aspergillosis dan candidiasis
(infeksi Candida dari khusus saluran
cerna dan alat pernapasan).
2. Mycosis permukaan (Tinea). Infeksi ini
yang jauh lebih sering terjadi, terbatas
pada kulit, rambut, kuku dan mukosa.
Infeksi ini mencakup dermatomycosis,
candidiasis vaginal, candidiasis mulut
dan alat cerna. Mycosis kulit juga dina-
makan Tinea (Lat.= dimakan oleh nge-
ngat, “moth-eaten”) disusul dengan loka-
sinya, misalnya Tinea corporis, cruris,
capitis dan pedis, masing-masing berarti
infeksi di tubuh, lipat paha, kepala dan
kaki. pemicu nya sering kali yaitu
fungi berikut ini:
a. dermatofit (jamur permukaan) dari
suku Trichophyton (kulit, rambut,
kuku), Epidermophyton (kulit, kuku)
dan Microsporum (kulit, rambut).
Mikroorganisme ini hidup di lapis-
a n tanduk, kuku, serta rambut dan
memiliki enzim yang mampu mela-
rutkan keratin (bagian utama dari
jaringan tanduk). Infeksi berbentuk
bercak-bercak melingkar (“ringworm”)
di kulit dengan batas-batas tajam, yang
tertutup dengan sisik atau gelembung
kecil. Dermatofitosis (dermatomikosis)
yaitu infeksi jamur kronis dari kulit,
rambut dan kuku berdasar unsur
keratinnya. Jamur-jamur ini yang
juga dinamakan fungi “ringworm”,
memicu antara lain “kutu air”,
panu, kurap dan kuku kapur.
b. Candida albicans (dahulu disebut
Monilia) yaitu suatu jenis ragi yang
sering kali menghinggapi mukosa
mulut, bronchia dan vagina.
c. Pityrosporum ovale, yang berperan
pada ketombe dan Malassezia furfur,
pemicu panu.
beberapa dermatomikosis dan
pengobatannya
Di bawah ini diuraikan beberapa jenis der-
matomikosis yang paling sering ditemukan
dan cara pengobatannya.
1. Kutu air (athlete’s foot, Tinea pedis)
Kutu air disebabkan oleh jenis Trichofyton
dan merupakan dermatomikosis yang paling
banyak ada .
Gejalanya berupa gatal-gatal di antara jari
kaki, kemudian terbentuk gelembung yang
lalu pecah dan mengeluarkan caira n. Kulit
menjadi lunak (maserasi) dan terkelupas,
sehingga membuka pe luang bagi infeksi
sekunder oleh kuman. Penyebarannya me-
lalui pemakaian bersama kamar mandi
dan ruang ganti pakaian umum sedang
sumber infeksinya yaitu serpihan kulit
yang terkelupas. Pengobatan dengan krem
mikonazol atau Ung. Whitfield (benzoat
5%, salisilat 5% dalam lanolin-vaselin ana).
Untuk kasus-kasus sulit dapat dipakai
griseofulvin atau ketokonazol per oral.
2. Kuku kapur (‘ram’s horn nail’, onychomycosis)
Kuku kapur bercirikan kuku menebal,
mengeras, regas dan mudah patah, berwarna
keputih-putihan dan adakalanya tidak lurus.
Infeksi ini sering kali menular dari kuku ke
kuku. Para lansia lebih sering mendapatkan
infeksi jamur ini, terlebih pula bila sirkulasi
darah di jari-jari kaki kurang baik. Bila
seluruh kuku sudah terinfeksi, dokter dapat
mencabutnya dan disusul pengobatan dengan
terbinafin: oral 1 dd 250 mg atau itrakonazol.
Dahulu sering kali dipakai griseofulvin
perora l, namun pada mycosis kuku jempol
kaki tidak begitu ampuh. sebab sukar sekali
di sembuhkan, terapi membutuhkan waktu
yang lama, minimal 6-12 bulan dan infeksi
selalu bisa kambuh lagi.
Walaupun gangguan ini lebih meru pakan
masalah kosmetik (terutama kuku jari kaki),
namun kuku kapur dapat merupakan pintu
masuk (porte d’entrée) bagi infeksi lain, ter-
utama pasien diabetes dan yang daya ta han-
nya terganggu harus waspada.
3. Panu (pityriasis versicolor)
Infeksi permukaan ini banyak terjadi di
negara kita dan daerah tropik. Infeksi beru-
pa bercak-bercak putih kecokelatan-merah
di tengkuk, dada, punggung dan lengan.
Terutama hipopigmentasi di muka merupa-
kan suatu masalah kosmetik. pemicu nya
yaitu Malassezia furfur, suatu jamur yang
terdiri dari kelompok sel dengan hyphen
pendek. Pengobatan dapat dilakukan dengan
mengoleskan bercak-bercak dengan larutan
salisilat 5-10% dalam spiritus dilutus atau
krem mikonazol/ketokonazol selama 2-3
mingg u atau terbinafin. Untuk kasus-kasus
yang resisten dapat dipakai itrakonazol 2
dd 100 mg selama 1 minggu. Walaupn terapi
berhasil, namun repigmentasi baru timbul
sesudah beberapa bulan.
4. Ketombe (dandruff,pityriasis capitis)
Ketombe bercirikan terlepasnya serpih-
serpih berlebihan dari kulit kepala yang
biasanya disertai gatal-gatal. Menurut perki-
raan, penyerpihan meningkat disebabkan
oleh Pityrosporum ovale. Penghuni normal
kulit kepala ini sangat meningkat jumlahnya
dan menstimulir pembentukan lipase. Tri-
gliserida dirombak olehnya menjadi asam-
asam lemak, yang merangsang kulit dan
memicu hiperproliferasi sel-sel epider-
misnya. Akibatnya keratosit dilepaskan lebih
pesat, keratin mati yang melekat satu pada
yang lain, lalu dilepaskan sebagai gumpalan-
gumpalan serpih dan tidak berangsur-angsur
satu demi satu seperti pada keadaan normal.
Ketombe umumnya dianggap sebagai bentuk
ringan dari eczema seborois.Tidak diketahui
menga pa orang-orang tertentu dihinggapi
ketombe dan orang lain tidak. Sebagai faktor
pemicu disebut keadaan sistem imun
lemah, yang pada orang peka memicu
reaksi kulit abnormal terhadap Pityrosporum.
Selain itu, peningkatan derajat asam dan
kadar lemak dari kulit, susunan lemak dan
stres turut memicu perubahan fungi
itu menjadi patogen.
Pengobatan dapat dilakukan denga n sam-
po yang mengandung selensul fida 2,5%,
seng-pirithion 2% dan piroctone olamine
(octopirox). Pada kasus hebat (eczem a seborois),
dianjurkan gel ketokonazol 2%. Di samping
itu juga dipakai zat-zat yang ber khasiat
menghambat pembelahan sel (mitosi s), mi-
salnya ter (juga berkhasiat anti radang).
Selensulfida juga ber khasiat antimitotik dan
merintangi keluarnya palit berlebihan dari
kelenjar talg.
5. Candidiasis
Candida albicans (nama lama Monilia) yaitu
jamur yang terdiri dari sel-sel oval seperti
ragi dan sel-sel yang memanjan g sambung-
menyambung merupakan hyphae dan disebut
pseudomycelium. Jamur ini yaitu bagian
dari flora normal (komensal) selaput lendir
pada saluran pernapasan, saluran cerna dan
vagina.
a. Candidiasis mulut. Infeksi di mulut
bergejala luka perih dan bercak-berca k
putih pada mukosa mulut serta lidah,
yang dapat menjalar ke tenggorok dan
oesophagus. Ciri lainnya berupa cheilitis
(radang di sudut-sudut mulut).Infeksi
ini sering kali terjadi akibat pemakaian
antibiotika berspektrum luas, kortikos-
teroida dan sitostatika, selama terapi ra-
diasi, leukemia dan pada bayi yang
baru dilahirkan, juga pada pasien AIDS
dengan daya tahan lemah (CD4+ < 300
mm3). Diagnosis dapat dilakukan dengan
preparat KOH.
Pengobatan efektif dapat dilaku kan
dengan flukonazol oral. Pilihan kedua
yaitu itrakonazol dan ketokonazol oral
dan pilihan ketiga berupa peng obatan
lokal (suspensi nysta tin, tablet hisap
amfoteri sin). Pada pasien AIDS tidak
jarang terjadi resistensi akibat profilaksis
jangka panjang dengan antimikotika.
Dalam hal ini dosis perlu dinaikkan atau
dipakai kombinasi dari 2 antimikotika
(baru). Resistensi dapat dicegah dengan
cara peng obatan intermiten.
b. Candidiasis usus. Candidiasis di usus
bergejala diare, nyeri perut, obstipasi atau
terbentuknya banyak gas. Ditemukannya
Candida dalam jumlah banyak di sa-
luran cerna dapat diakibatkan oleh
pemakaian antibiotika broad-spectrum,
yang mengubah susunan normal dari
flora kuman. Selain faktor-faktor itu
di atas, penyakit diabetes juga dapat
menunjang terjadinya infeksi.
c. Candidiasis vagina (vaginitis). Infeksi
paling umum pada alat kelamin wanita
bergejala iritasi, keputihan, gatal- gatal
dan rasa terbakar. Gatal-gatal dapat
merupakan gejala dari penyakit kelamin
lain (trichomonas, chlamy dia , gonore, atau
herpes). Di samping faktor-faktor itu
di atas, kehamilan, hygiene yang tidak
memadai, pemakaian antibiotika ber-
spektrum luas dan pil antihamil mem-
bantu terjadi nya infeksi. Pengobatan dapat
dilakukan dengan senyawa imidazo l mi-
konazol, klotrimazol dan ketokonazol
dalam bentuk ovula (supp. vaginal)
selama 2-6 malam. Sama efektifnya yaitu
Gambar 6-2: Candida albicans.
pemakaian oral dari ketokonazol, itra-
konazol dan flukonazol sebagai single
dose atau 2 doses dengan jarak waktu 8
jam. Pasangan penderita perlu diobati
sebab biasanya juga dihinggapi infeksi
yang sama. Pada candidiasis yang terus-
menerus kambuh, terapi harus dilanjutkan
untuk rentang waktu panjang (lokal atau
oral) untuk memus nahkan semua spora
secara intermitten. Misalnya 6 malam
ovula, 2 minggu istirahat, 6 malam lagi
ovula, 2 minggu istir ahat dan seterusnya
selama 3 - 6 bulan.
d. Candidiasis kulit. Terutama timbul pada
bagian tubuh yang lembap dan hangat,
misalnya ketiak dan lipatan paha. Infeksi
kebanyakan ada pada orang gemuk
dan penderita diabetes. Gejalanya berupa
kulit memerah dan mengeluarkan caira n.
Pengobatan dapat dilakukan de ngan krem
mikonazol atau ketokonazo l.
e. Sistemik. Pada dekade terakhir semakin
banyak timbul candidiasis sistemik (umum)
yang bercirikan rasa penat dan lemah,
keletihan kronis, disertai perasaan me-
ngantuk, lemah ingatan, nyeri otot dan
persendian. Pada sindroma ini, sebab
berbagai sebab Candida menjadi ganas.
sesudah me nembus mukosa usus, ragi
ini melalui sirkulasi darah menyebar ke
semua organ, jaringan ikat dan sebagai-
nya. Diagnosis ragi tidak dapat dilakukan
dengan tes KOH, namun secara mikroskopis
dengan teknik pewarnaan dari preparat
darah. Cara ini tidak sempurna, oleh
sebab itu timbul keluhan bahwa sering
kali tidak dikenali sebagai candidiasis
umum dan tidak diobati semestinya. Cara
deteksi secara umum yaitu penelitian
darah dengan mikroskop tahap -contrast,
di mana ragi tampak jelas sebagai butir-
butir kecil. Pengobatan infeksi (parah)
dapat dilakukan sistemik dengan keto-
konazol atau itrakonazol, ditunjang de-
ngan diet ketat untuk menghambat
perbanyakan ragi, terutama gula dan
produk-produk yang mengandung ragi
dan jamur (roti, kue, sampinyon, tempe,
oncom) perlu dihindari, begitu juga buah-
buahan manis, alkohol, susu dan daging
babi. Obat alternatif yang mulai banyak
dipakai yaitu asam kaprilat (caprylic
acid, C7H15COOH) dengan dosis 2 dd
680 mg selama minimal 1 tahun. Asam
lemak yang terkandung dalam minyak
kelapa ini berkhasiat merusak membran
Candida.
MONOGRAFI
1. ANTIbIOTIKA ANTIMIKOTIK
1a. Griseofulvin: Fulcin, Griseofort
Griseofulvin dihasilkan oleh Penicillium
griseofulvum dan pada pemakaian oral
berkhasiat fungistatik terhadap banyak
dermatofit. namun zat ini tidak aktif terhadap
Candida, Pityriasis versicolor, ragi dan bakteri.
Mekanisme kerjanya diperkirakan melalui
penghambatan sintesis RNA (sama seperti
kolkisin). Resorpsinya di usus kurang baik,
sebab sukar sekali melarut, namun dapat
diperbaiki dengan memakai serbuk
yang sangat halus (microfine) atau diminum
ber samaan de ngan makanan berlemak. Se-
bagian besar dikeluarkan lewat feses dalam
keadaan utuh. Bagian yang diserap akan
mendifusi ke dalam lapisan tanduk (keratin)
dari kulit (stratum corneum), kuku dan akar
rambut. Oleh sebab itu griseofulvin efektif
untuk pengobatan infeksi kulit dan kuku
yang menahun, meskipun penyembuhannya
berlangsung sangat lambat, yaitu lebih ku-
rang 2-3 bulan, bahkan membutuhkan satu
tahun untuk menyembuhkan infeksi kuku.
Hal ini disebabkan waktu pe nyembuhan
tergantung pada jangka waktu penggantian
jaringan yang terinfeksi oleh jaringan baru.
Efek sam pingnya ringan, jarang terjadi dan
berupa sakit kepala, gatal-gatal (urtikaria) dan
kepekaan terhadap cahaya (fotosensitasi), juga
gangguan hati. Griseofulvin mengurangi ak-
tivitas antikoagulansia (Warfarin) dan mem-
perkuat daya kerja alkohol.
Kehamilan. Tidak boleh diberikan pada
wanita hamil, sebab risiko teratogen dan
keguguran. Zat ini dapat mengganggu pem-
bentukan kromosom pada waktu pembe-
lahan sel.
Dosis: oral 4 dd 125 mg serbuk microfine
(1-5 mikron) atau sekaligus 500 mg p.c.
1b. Amfoterisin B : *Talsutin, Fungizone.
Amfoterisin B dihasilkan oleh Strepto myces
nodosus bersama dengan derivat nya, yaitu
amfoterisin A yang kurang aktif. Zat ini ter-
masuk kelompok antibiotika polyen, sebab
rumus bangunnya mengandung banyak
ikatan tak-jenuh (poly = banyak, -en = akhiran
untuk zat tak-jenuh), seperti juga nistatin dan
pimarisin. Spektrum kerja dan pemakaian nya
mirip nistatin.
Zat ini (1959) dipakai sebagai obat
sistemik (oral dan i.v. sebagai infus) pilihan
pertama yang efektif terhadap infeksi jamur
invasif (aspergilosis) dan selama 4½ dekade
dianggap sebagai “golden standard” un-
tuk terapi antifungal, sebab pada saat
itu belum ditemukan obat-obat alternatif
(senyawa azol dan echinocandin) yang
lebih ampuh.
Mekanisme kerja. Zat polyen ini meng ikat
ergosterol dalam membran sel jamur dan
membentuk pori-pori yang memicu
bahan-bahan esensial dari sel jamur me-
rembas keluar. Amfoterisin memiliki toksi-
sitas selektif, sebab dalam sel manusia sterol
utamanya yaitu kolesterol dan bukannya
ergosterol. pemakaian nya semakin meluas
bagi penderita infeksi jamur sistemik dengan
daya tahan tubuh yang lemah (immuno-
compromised patients).
Efek samping terpenting yaitu toksisitasnya
(demam, merinding) dan terutama gangguan
fungsi ginjal (nefrotoksis; gagal ginjal), yang
membatasi dosis dan lamanya pemakaian .
Untuk mengurangi nefrotoksisitas, telah
dikembangkan formulasi yang dikaitkan
dengan lipida, yaitu amfoterisin B liposomal
(LamB, Ambisome), kompleks lipida dari
amfoterisin B (ABLC, Abelcet) dan dispersi
koloidal dari amfoterisin B (ABCD). Ternyata
bahwa efektivitas dari formulasi baru ini
tidak jauh berbeda dengan amfoterisin B
konvensional walaupun nefrotoksisitasnya
jelas ber kurang. 16,17
Dosis: oral maks. 1-1,5 mg/kg/hari amfo-
terisin B koloidal.
* Talsutin vaginal tab = amfoterisin B 50 mg +
tetrasiklin 100 mg .
1c. Nistatin: Mycostatin, *Flagystatin, *Naxogin
complex
Nistatin berasal dari Streptomyces noursei
yang namanya diambil dari New York State
Department of Health (1951) dan memiliki
struktur kimia yang menyerupai amfoterisin
B. Resorpsinya di usus praktis tidak terjadi,
begitu pula tidak diserap oleh kulit atau
mukosa. Sering kali zat ini dipakai pada
candidiasis usus atau untuk mencegahnya
pada terapi dengan antibiotika berspektrum
luas yang buruk resorpsinya (tetrasiklin)
atau sewaktu terapi dengan kortikosteroida,
juga pada candidiasis mulut (stomatitis)
atau vagina (vaginitis). Lokal dipakai se-
bagai salep atau krem namun berhubung de-
ngan toksisitasnya tidak dipakai secara
parenteral.
Efek sampingnya pada pengguna an oral
berupa mual dan muntah. Zat ini dapat di-
gunakan pada waktu hamil.
Dosis: oral 3 dd 0,5-1 MU (l juta unit);
vaginal: selama 14 hari 1 tablet dari 100.000 U;
salep atau bedak tabur dengan 100.000 U/g
2-3 kali sehari. 1 mg nistatin= 3.000 U.
2. SENYAWA IMIDAZOL
biasanya senyawa imidazol meru-
pakan pilihan pertama pada infeksi kulit
akibat jamur. Berkhasiat fungistatik, memi-
liki spektrum anti-fungal luas dan pada
dosis tinggi bekerja fungisid. Zat-zat ini
menghambat sintesis sterol di membran
sel fungi dan memicu peningkatan
permeabilitas dinding sel yang membuatnya
rentan terhadap tekanan osmotik. Terutama
dipakai secara lokal terhadap dermatofit
dan Candida; ketokonazol juga per oral,
namun bersifat toksik bagi hati.
Senyawa-senyawa turunan imidazol, mi-
salnya mikonazol, dapat memengaruhi me-
tabolisme senyawa kumarin (warfarin) mela-
lui blokade enzim CYP2C9 dengan akibat
meningkatnya kadar plasma dari antiko-
agulan. Hal ini sudah diuraikan dengan jelas
untuk pemakaian per oral maupun per
vaginal, namun ternyata bahwa pemakaian
topikal sesudah absorpsi melalui kulit juga
dapat memicu interaksi demikian.
Oleh sebab itu pasien yang memakai
antikoagulan harus waspada terhadap inter-
aksi demikian yang hanya timbul pada
absorpsi sistemik dari obat antimikotik.
2a. Mikonazol: Daktarin, Gyno-Daktarin, Mo-
nistat
Derivat imidazol ini (1971) berkhasiat
fungisid kuat dengan spektrum kerja lebar
sekali; lebih aktif dan efektif terhadap
dermatofit biasa dan Candida daripada
fungistatika lainnya, namun kurang berkhasiat
terhadap Aspergillus. Zat ini juga bekerja
bakterisid pada dosis terapi terhadap se-
jumlah kuman Gram-positif, kecuali basil-
basil Döderlein yang ada dalam vagina.
Resorpsi dari usus hanya ringan dengan BA
±25%, maka mikonazol terutama dipakai
untuk mengobati infeksi kulit dan kuku.
pemakaian nya juga sebagai krem/tablet
vaginal yang dapat dipakai oleh wanita
hamil.
Efek sampingnya berupa iritasi, reaksi alergi
dan rasa terbakar di kulit. Mikonazol dan
juga ketokonazol meningkatkan daya kerja
antikoagulan warfarin.
Dosis: infeksi kulit 1-2 dd salep 2% (garam
nitrat) selama 3-5 minggu, infeksi kuku 1-2
dd tingtur 2% selama 8 bulan atau lebih.
Krem vaginal 2% (Gyno-Daktarin) malam hari
selama 2 minggu.
* Isokonazol (Travogen) yaitu isomer dari
mikonazol dengan khasiat dan pemakaian
yang sama. Zat ini ter utama dipakai untuk
candidiasis vagina (keputihan) dalam bentuk
krem 1% dan dosis tunggal tablet vaginal dari
600 mg malam hari.
* Ekonazol (Pevaryl) yaitu derivat miko-
nazol, pada mana satu dari 4 atom klor digan-
ti oleh atom H (1974). Spektrum kerjanya
kurang lebih sama, hanya lebih aktif terhadap
Aspergillus. Zat ini terutama dipakai pada
candidiasis dengan dosis malam hari 1 ovula
selama 3 hari; pada infeksi kulit: salep atau
serbuk 1%. Ekonazol dapat dipakai pada
waktu hamil.
2b. Ketokonazol: Nizoral, Nizoral-SS
Ketokonazol yaitu fungistatikum imida-
zol pertama yang dipakai per oral (1981).
Spektrum kerjanya mirip dengan mikonazol
dan meliputi banyak fungi patogen (ragi,
dermatofit, termasuk Pityrosporum ovale). Zat
ini dipakai pada infeksi jamur sistemik
yang parah dan kronis; secara lokal pada
gangguan ketombe hebat. namun tidak efektif
terhadap infeksi oleh Aspergillus. Resorpsi
dari lambung-usus praktis lengkap pada pH
di bawah 3, namun mengalami first pass effect
yang besar. PP-nya tinggi, rata-rata 90%,
sedang plasma-t½-nya bersifat bifasis
2 dan 8 jam. Di dalam hati zat ini dirom-
bak menjadi metabolit tidak aktif; ekskresi
terutama melalui empedu dan feses. Pene-
trasinya ke dalam CCS hanya ringan.
Efek sampingnya berupa gangguan alat
cerna (mual, muntah, diare) nyeri kepala,
pusing, gatal-gatal dan exanthema. Yang le-
bih serius yaitu hepatotoksisitasnya, yang
dapat memicu hepatitis pada 1 per
2.000-10.000 pasien, terutama bila dipakai
lebih dari 14 hari. Oleh sebab itu dianjurkan
memantau fungsi hati setiap 14 hari pada
pasien-pasien tertentu.
Pada dosis tinggi (lebih dari 600 mg se-
hari) ketokonazol dapat menghambat sin-
tesis hormon testosteron, yang meng akibat-
kan terganggunya produksi sperma dan
impotensi. Oleh sebab itu dianjurkan untuk
memakai antimikotika lain, kecuali da-
lam kasus tertentu. Resistensi belum dila-
porkan. Wanita hamil dan yang menyusui tidak
dianjurkan memakai obat ini. Dosis:
oral 1 kali sehari 200 mg pada waktu makan
sampai 7 hari sesudah gejala hilang, bila perlu
maksimal 400 mg sehari; anak-anak 3 mg/kg
berat badan. Antasida, antikolinergika dan
H
2-blockers me ning katkan pH lambung, oleh
sebab itu menurunkan absorpsinya, maka
pemakaian nya harus 2 jam sesudah pembe-
rian ketokonazol. Pada vaginitis Candida: oral
2 dd 200 mg untuk 5 hari.
2c. Klotrimazol: Canesten, *Baycuten-N, Gyne/
Lotremin
Derivat imidazol ini (1973) memiliki
spektrum fungistatik yang relatif lebi h sempit
daripada mikonazol. Pada konsentrasi tinggi
zat ini juga berdaya bakteriostatik terhadap
kuman Gram-positif. Pada vaginitis Candida:
malam hari tablet vaginal 200 mg selama 3
hari atau single dose 1 tablet vaginal dari 500
mg; pada infeksi kulit (panu): krem atau
lotion 1% dengan catatan jangan dikenakan
pada selaput lendir atau mata. Klotrimazol
dapat dipakai pada waktu hamil.
Dosis: krem atau spray 1% 2x sehari selama
minimal 3-4 minggu.
* Bifonazol (Mycospor) yaitu derivat imida-
zol (1983) yang berkhasia t terhadap beberapa
jenis jamur (a.l. Malassezia furfur, pemicu
panu) dan ragi (jenis-jenis Candida) yang
patogen bagi manusia, serta terhadap bebe-
rapa kuman Gram-positif. Resorpsinya le-
mah, sedang daya kerjanya berlangsung
±48 jam. Wanita hamil dapat memakai
bifonazol sebagai obat luar. Dosis: mycosis
kaki krem 1%, di olesi malam hari; candidiasis
permukaan selama 4 minggu.
3. DERIVAT TRIAZOL
Strukturnya mirip dengan imidazol, namun
aktivitas antifungalnya lebih luas. Mekanis-
me kerjanya juga menghambat sintesis er-
gosterol.
Wanita hamil tidak dianjurkan minum
obat-obat ini, sebab pada hewan ternyat a
memberikan efek buruk bagi janin.
Efek sampingnya yang utama berupa gang-
guan lambung-usus, sakit kepala dan pusing-
pusing, gangguan haid dan reaksi alergi
kulit. Pada pemakaian lebih lama dari 1
bulan dilaporkan kasus rontok rambut dan
kerusakan hati.
3a. Itrakonazol: Sporanox, Trisporal
Sama dengan ketokonazol derivat triazol
ini (1988) juga dipakai per oral namun lebih
sedikit efek sampingnya, misalnya gangguan
fungsi hati dan ginjal. Zat ini berkhasiat
fungisid luas terhadap dermatofit dan ragi
patogen, juga terhadap Aspergillus, berlainan
dengan senyawa imidazol dan flukonazol.
Itrakonazol menghambat metabolisme dari
antihistaminika long-acting terfenadin dan
astemizol, maka jangan dipakai ber sa-
maan waktu untuk menghindarkan timbul-
nya gangguan ritme jantung.
Dosis: pada vaginitis Candida satu kali
sehari 200 mg selama 3 hari.
* Posakonazol (Noxafil)
Senyawa sintetik ini yaitu analo g struk-
tural dari itrakonazol dan memiliki khasiat
antifungal broad-spektrum yang juga sama.
3b. Flukonazol: Diflucan.
Derivat difluortriazol ini (1988) memiliki
sifat farmakologi baru. Efektif terhadap
candidiasis mulut, kerongkongan dan vagi-
na. Resorpsinya dari saluran pencernaan
baik dan cepat, dengan BA ±90%, PP-nya
±12% dan mudah sekali me rembas ke CCS.
Plasma-t½-nya ±30 jam. Zat ini hanya sedikit
dimetabolisir; ekskresinya lewat urin dan
80% dalam bentuk utuh.
Efek sampingnya umum. Berlainan dengan
ketokonazol, senyawa ini tidak hepatotoksik
dan tidak menekan sintesis steroid adrenal.
Harus waspada bila ada gangguan fungsi
ginjal.
Dosis: candidiasis mulut 1 dd 50-100 mg
selama 1-2 minggu, candidiasis vaginal 150
mg sebagai dosis tunggal. Pada candidiasis
sistemik, permulaan 400 mg, lalu 1 dd 200-
400 mg.
3c. Vorikonazol : Vfend
Derivat trifluortriazol ini (2002) berspek-
trum antifungal luas. Resorpsinya cepat
sesudah pemberian per oral dan puncak kadar
plasma sudah tercapai dalam waktu 2 jam.
Memiliki BA baik (96%) dengan t½ 6-9 jam,
sehingga pemberian dosis 2 kali sehari sudah
mencukupi.
Zat ini yaitu antifungal pertama yang
efektivitasnya terbukti terhadap aspergillosis
serebral. Juga merupakan antifungal pilihan
pertama (terapi standar) terhadap infeksi
Aspergillus invasif (aspergilosis) parah pada
penderita yang daya imunnya terganggu.
Efek sampingya (selewat) terutama terdiri
dari gangguan visual, seperti penglihatan ka-
bur, fotofobia dan penglihatan warna yang
berubah. Dengan beberapa obat tertentu,
misalnya siklosporin, barbiturat dan derivat
kumarin dapat terjadi interaksi berbahaya.
Dosis: i.v. 2 dd 4 mg/kg dan oral 2 dd 200
mg.
4. ASAM ORGANIK
4a. Asam salisilat: *Ung. Whitfield.
Asam organik ini berkhasiat fungisid ter-
hadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6%
dalam salep. Di samping itu, zat ini ber-
khasiat bakteriostatik lemah dan berdaya
keratolitik, yaitu dapat melarutkan lapisan
tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%. Asam
salisilat banyak dipakai dalam sediaan
obat luar ter hadap infeksi jamur ringan.
Sering kali asam ini dikombinasi dengan
asam benzoat (salep Whitfield) dan belerang
(sulfur precipitatum) yang keduanya memiliki
kerja fungistatik maupun bakteriostatik.
Bila dikombinasi dengan obat lain, misalnya
kortikosteroida, asam salisilat meningkatkan
penetrasinya ke dalam kulit. Tidak dapat
dikombinasi de ngan sengoksida sebab akan
terbentuk garam sengsalisilat yang tidak
aktif.
4b. Asam benzoat (F.I.):
Asam ini dan ester hidroksinya dalam
konsentrasi 0,1% berkhasiat fungistatik dan
bakteriostatik lemah. Biasanya zat ini digu-
nakan bersamaan dengan asam salisilat, juga
sebagai zat peng awet untuk bahan makanan,
minuman (0,5-1 mg/ml) dan krem (1-5 mg/
ml), sebagai asam maupun esternya Nipagin
dan Nipasol. Daya pengawetnya hanya efektif
pada pH di bawah 5.
* Ung Whitfield terdiri dari 5% asam benzoat
(sebagai fungistatik) dan 5% asam salisilat
(keratolitik) dengan perbandingan 2:1 (6:3%)
dalam lanolin-vaselin ana 90%. Khusus digu-
nakan terhadap tinea pedis.
* Nipagin= metiloksibenzoat; Nipasol =
propiloksibenzoat.
4c. Asam undesilenat (Desenex)
Asam lemak ini berwarna kuning de-
ngan baunya yang khas tengik. Berkhasiat
fungistatik terhadap banyak dermatofit dan
terutama dipakai terhadap kutu air (tinea
pedis) dalam konsentrasi 5-10%. Kegiatan-
nya paling kuat dalam lingkungan asam.
Garam sengnya dipakai untuk maksud
yang sama, dengan keuntungan bekerja
adstringens dan antiradang lemah.
4d. Asam lemak lainnya: asam propionat
dan asam kaprilat juga bersifat bakteriosta-
tik, sama dengan keringat manusia yang me-
ngandung asam-asam lemak tertentu. Asam
kaprilat dipakai per oral pada candidiasis
sistemik.
Sediaan: tingtur 5%, salep dan serbuk: asam
kaprilat 5% + sengundesilenat 20%.
5. ECHINOKANDIN
5a. Flusitosin: Ancobon
Derivat fluorpirimidon ini (1972) dalam
sel jamur diubah menjadi 5-FU (fluorourasil)
suatu antagonis pirimidin, yang melalui
perintangan pembentuka n RNA mengacau-
kan sintesis protein. Tergantung dari kadar-
nya dapat be kerja fungistatik atau fungisid.
Terutama aktif terhadap infeksi sistemik
oleh Cryptococcus dan Candida. sebab
cepat timbul resistensi biasanya dipakai
bersamaan dengan amfoterisin-B (sinerg i)
terhadap infeksi sistemik parah, seperti sep-
ticaemia, endocarditis, infeksi paru, saluran
kemih dan meningitis.
Efek sampingya yang umum yaitu mual,
muntah dan diare. Kadang-kadang timbul
efek samping yang lebih parah a.l. penekan-
an sumsum tulang, leukopenia dan trom-
bositopenia.
Dosis: terkombinasi dengan amfoterisin B,
anak-anak dan dewasa oral 25-50 mg per kg
berat badan sehari, pada candidiasis saluran
kemih 100 mg/kg.
5b. Terbinafin: Lamisil.
Derivat naftilamin ini (1991) bekerja fu-
ngisid, a.l. terhadap Malassezia furfur, penye-
bab panu, juga bekerja fungistatik terhadap
Candida. Zat ini dipakai lebih banyak
terhadap kuku kapur (onychomycosis) dari-
pada griseofulvin, sebab efeknya lebih kuat
dan waktu pengobatannya lebih singkat.
Zat ini juga dipakai sebagai obat luar
(krem 1%) untuk mengobati panu dan
Tinea capitis pada anak-anak. Mekanisme
kerjanya berdasar perintangan biosin-
tesis ergosterol di membran sel akibat peng-
hambatan enzim (bukan sitokrom P 450),
yang memicu sel mati.
Efek sampingnya pada pemakaian oral
yaitu gangguan saluran cerna, seperti pe-
rasaan mual dan diare. Belum ada data cukup
mengenai pemakaian nya oleh wanita hamil.
Dosis: oral 1-2 dd 250 mg dan per kutan 1-2
dd krem 10 mg/g.
5c. Anidulafungin: Ecalta, Eraxis
Berbentuk serbuk untuk infus i.v. 100 mg.
yaitu lipopeptida semi-sintetik (echino-
candin) dari hasil fermentasi Aspergillus
nidulans, menghambat sintesis dari glukan
synthetase, sehingga menghambat pemben-
tukan dinding sel jamur.
Bekerja fungisid terhadap jenis-jenis Can-
dida dan Aspergillus fumigatus. Ekskresi
melalui feses; t½-nya 40-50 jam.
Efek sampingnya sering kali diare, mual dan
muntah, juga sakit kepala, gangguan kulit,
hipokaliemia dan hipertensi.
Dosis: infus i.v. 200 mg pada hari pertama,
lalu 100 mg sehari selama 14 hari.
5d. Caspofungine: Cancidas
Merupakan lipopeptida semisintetik, sama
seperti anidulafungin dari kelompok echino-
candin. Mekanisme kerja dan indikasinya
sama seperti anidulafungin, yaitu meng-
hambat pembentukan dinding sel jamur dan
ragi. Bekerja fungisid terhadap Candida dan
Aspergillus. PP-nya ±97%, ekskresi melalui
urin (41%) dan via feses (34%). t½ -nya ±45 jam.
dipakai terhadap candidiasis dan as-
pergillosis invasif, bila antimikotika lain
(amfotericin B, itrakonazol) kurang efektif
atau tidak cocok bagi pasien.
Efek sampingnya sering kali (1-10%) demam,
sakit kepala, mual, muntah, diare dan gang-
guan kulit.
Dosis: infus i.v. 70 mg pada hari pertama,
kemudian 50 mg sehari.
5e. Micafungin: Mycamine14a
Semi-sintetik echinokandin yang dapat
melarut dalam air ini diperoleh dari jamur
Coleophoma empedri.
dipakai untuk pengobatan dan profi-
laksis terhadap infeksi Candidiasis sistemik
dan candidiasis oesofagus.
Dosis: i.v. 100 mg sehari.
6. LAINNYA
6a. Siklopiroks: Batrafen, Loprox
Senyawa hidroksipiridon ini (1993) ber-
spektrum luas dan berkhasiat fungisid
terhadap antara lain Candida albicans dan
Trichophyton rubrum, fungistatik terhadap
Malassezia furfur (panu), juga bakteriostatik
lemah. Walaupun struktur kimianya berbeda
de ngan zat-zat imidazol, namun mekanisme
kerjanya diperkirakan sama, yaitu terhadap
membran plasma dari sel jamur. Mungkin
juga mekanisme kerjanya berdasar perin-
tangan transpor dari asam-asam amino dan
ion-ion melalui membran sel. Daya kerjanya
diperkuat bila dibuat ester dengan olamin.
Siklopiroks khusus dipakai pada kulit.
Dosis: 2 kali sehari sebagai krem 1% selama
2-4 minggu.
6b. Tolnaftat: *Naftate.
Tolnaftat berkhasiat fungistatik terhadap
banyak dermatofit, antara lain pemicu
panu, namun tidak efektif terhadap Candida.
* Naftate : salep tolnaftat 2% + heksaklorofen
0,5%.
6c. Haloprogin: *Polik
Haloprogin berkhasiat fungisid ter hada p
berbagai jenis Epidermofiton, Pityros porum,
Trichophyton dan Can dida. Kadang-kadang
terjadi sensi tasi dengan timbulnya gatal-
gatal, perasaan terbakar dan iritasi kulit. Zat
ini dipakai sebagai krem atau larutan 1%
terhadap panu dan terutama kutu air (Tinea
pedis) dengan persentase penyembuhan
±80%, sama dengan tolnaftat.
6d. Naftifin: Exoderil
Senyawa alilamin ini dipakai sebagai
krem 1% terhadap a.l. panu dan infeksi kuku.
VIRUSTATIKA
Virus (Sansk. visham = racun) yaitu mikro-
organis me hidup yang terkecil (besar nya
20-300 mikron), kecuali prion, yaitu virus
pemicu penyakit-sapi gila BSE dan p.
Creutzfeldt-Jakob yang kurang lebih 100
kali lebih kecil. Virus hanya dapat dilihat de-
ngan mikroskop-elektron (dengan pembesaran
maksimal 200.000 kali) dan tidak dengan
mikroskop biasa (dengan pembesara n
maksimal 4.000 kali). Di luar tubuh manusia,
sering kali virus ber bentuk kristal tanpa tanda
hidup, sangat ulet, tahan asam dan basa,
serta resisten terhadap suhu renda h atau
tinggi sekali. Jika ke adaan lingkungannya
membaik —seperti di dalam tubuh manusia
atau hewan— kristal ter sebut ‘bernyawa’ lagi
dan mampu mem perbanyak diri.
Virus yaitu jasad biologis, bukan hewan,
bukan tanaman, tanpa struktur sel dan tidak
berdaya untuk hidup dan memperba nyak
diri secara mandiri. Mikroorganisme ini
harus memakai sistem enzim dari sel
tuan-ruma h untuk sintesis asam nukleat, pro-
tein dan berkembang biak. Oleh metabolisme
sel tuan rumah, maka sulit sekali untuk
membuat obat-obat dengan toksisitas selektif
untuk virus tanpa merugikan sel tuan rumah.
Oleh sebab itu vaksinasi merupakan cara
utama untuk mengendalikan infeksi virus
(polio, rabies, campak, mumps, rubella).
Disebabkan virus merupakan mikro orga-
nis me yang eksistensi nya mutlak tergantung
dari proses biosintesis tuan-rumah, maka
dahulu diragukan kemungkinan mengem-
bangkan obat-obat antiviral denga n toksisitas
selektif. Namun keraguan ini sudah lama ter-
hapus, terutama sejak ±2 dasawarsa terakhir
yakni dengan diketemukan dan dikembang-
kannya virus anti-herpes asiklovir. Senyawa
ini merupakan prototype dari sekelompok
zat-zat anti-viral yang di dalam sel di phos-
phorylated oleh viral kinase, kemudian oleh
enzim tuan-rumah menjad i penghambat
sintesis DNA dari virus.
Untuk penemuan ini, Gertrude Elion dan
George Hitchings memperoleh hadiah Nobel
1988. Sejak itu lebih banyak lagi obat-obat
antiviral dihasilkan dalam rangka pengem-
bangan kemoterapi antimikroba (misalnya
interferon) terhadap pelbagai jenis virus.
Perkembang-biakan virus dapat ditekan me-
lalui beberapa cara:
– memblokir masuknya virus ke dalam sel
(amantadin, gamma-globulin)
– menghindari sintesis asam inti (analoga
nukleosida, asiklovir, gansiklovir dan
obat-obat anti-retroviral zidovudin, ne-
virapin)
– inhibisi protease (saquinavir, ritonavir)
– inhibisi neuraminidase (oseltamivir,
zanamivir)
Struktur kimiawi virus sederhana; setiap
virion —bagian virus terkecil— mengandung
hanya satu dari dua asam inti DNA atau
RNA (viral genome). Hal ini berbedadengan
mikroorganisme lainnya dan manu sia yang
memiliki kedua jenis asam nukleat (Lat.
nucleus = inti). Inti virion dari DNA atau RNA
dikelilingi oleh selubung (salut pro tein),
yang disebut capsid dan spesifik bagi setiap
virus. Genome dan selubung protein inilah
yang disebut virion. Beberapa virus memiliki
dinding yang terdiri dari lemak (fosfolipid)
dan pro tein. Selain itu virion memiliki bebe-
rapa enzim.
INFEKSI VIRUS
Penularan virus diawali dengan pelekatan
virus pada dinding sel tuan-rumah yang
dihidrolisis oleh enzim-enzimnya. Lalu
DNA/RNA memasuki sel sehat, sedang-
kan salut proteinnya ditanggalkan di luar. Di
dalam sel, virus bertindak sebagai parasit
dan memakai proses-proses asimil asi
sel bersangkutan untuk membentuk virion-
virion baru. Dengan demikian perkembang-
biakan (replikasi) tidak berlangsung melalui
pembela han virion-induk seperti bakteri.
Pada proses ini sel-sel yang dimasukinya di-
rusak, namun gejala-gejala penyakit baru mu-
lai tampak bila perbanyakan virion sudah
mencapai puncakny a.
PENggoloNgAN
Virus yang paling sering memicu
penyakit pada manusia dapat dibagi dalam
dua kelompok besar, yakni virus DNA dan
virus RNA, dengan masing-masing DNA
atau RNA di dalam intinya.
a. Virus DNA meliputi antara lain kelom-
pok penyakit Herpes, yakni Herpes simplex (pe-
nyebab a.l. penya kit kelamin), Herpes zoster
(penye bab sinannaga atau “shingles”), Vari-
cel la zoster (cacar air). Juga sejumlah virus
lain termasuk kelompok virus DNA ini,
seperti virus Epstein-Barr (demam kelen-
jar/”kissing disease”/mono-nucleosis infectio-
sa), parvovirus, adenovi rus (gas troente ri tis),
variola (cacar, “smallpox”), cytomegalovi rus
= CMV (pada pasien AIDS), hepad







