Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 22. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 22. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 22

 





disebabkan narkotika itu  

dapat melintasi plasenta untuk kemudian 

masuk ke dalam peredaran darah bayi. 

Gejala khas sindrom ini meliputi eksitasi 

SSP (85-100%), rangsangan saluran cerna 

(50%) dan pernapasan (10%), diiringi dengan 

konvulsi.26Abortus dapat terjadi pada ibu-

ibu yang sedang hamil dan saraf janin dapat 

terganggu perkembangannya, sebab  kokain 

mudah memasuki peredaran darahnya. 

Dosis: tracheal, tetes hidung/telinga: 0,1-1% 

larutan HCl, dalam tetes mata 0,1-0,4%.

6. Tembakau dan nikotin

Bahaya merokok sudah banyak sekali ditulis 

dan lambat laun mulai disadari oleh sebagian 

besar orang. Meskipun demikian di beberapa 

negara seperti Jepang dan juga negara kita , 

kebiasaan merokok masih merupakan feno-

mena yang umum sekali. Beberapa negara 

(a.l. AS, Belanda, Spanyol, Singapura dan 

juga negara kita ) sudah melarang merokok di 

tempat-tempat umum, seperti di restoran, 

toko dan kantor-kantor umum. Maskapai 

penerbangan juga sudah tidak mengizinkan 

penumpangnya merokok. Hal ini didasarkan 

atas penelitian bahwa asap rokok bukan saja 

berbahaya bagi perokoknya sendiri, namun  

mengisap rokok sekunder (“merokok secara pa-

sif“) juga merupakan bahaya bagi orang-

orang yang berada di sekitarnya. Terutama 

bagi anak-anak17 dan ibu-ibu yang sedang 

mengandung, sebab  dapat memicu  

penurunan berat badan bayi yang dilahirkan 

dan meningkatkan mortalitas prenatal.

Efek-efek negatif dari menghisap asap ro-

kok oleh non-smoker terdiri dari penurunan 

fungsi endotel18 dan meningkatkan kadar 

fibrinogen darah yang memicu  naik-

nya daya pembekuan darah. Besar kemung-

kinan bahwa merokok pasif memicu  

lebih banyak kematian akibat penyakit jan-

tung koroner dibandingkan dengan kanker 

paru.19

Absorpsi dan eliminasi. Asap rokok mengan-

dung banyak sekali unsur kimia dan salah 

satu yang terpenting yaitu  senyawa ni-

kotin dan ter yang bersifat karsinogen. Da-

lam asap sigaret nikotin ini tersuspendir 

pada partikel-partikel ter untuk kemudian 

diserap dari paru ke dalam darah dengan 

cepat sekali. Daya absorpsi ini hampir sa-

ma efektifnya seperti pemberian injeksi i.v. 

Dalam hati nikotin dioksidasi menjadi meta-

bolit utamanya, yaitu kotinin, dengan t½ ±19 

jam. sesudah  diserap nikotin mencapai otak 

dalam waktu hanya 8 detik sesudah  inhalasi 

dan merupakan unsur yang bersifat sangat 

adiktif.

Nikotin dari asap sigaret bersifat agak asam 

dan tidak diabsorpsi dengan baik di mulut, 

berlainan dengan asap pipa dan cerutu yang 

lebih alkalis (pH 8,5) dan mungkin lebih baik 

absorpsinya. namun  kadar nikotin dalam 

plasma dari mereka yang tidak menginhalasi 

(cerutu) lebih rendah dibandingkan mereka 

yang menginhalasi asapnya. Perbedaan anta-

ra penghisap sigaret, pipa dan cerutu terletak 

pada tidak/kurangnya inhalasi pada pipa 

dan cerutu, sehingga memicu  lebih 

kecil risikonya terhadap kandungan asap.

Merokok sigaret merupakan pemicu  

timbulnya gangguan COPD (80-90%) yang 

menempatkannya di posisi ke-empat sebagai 

pemicu  kematian di dunia.20

Ada peribahasa Prancis yang mengatakan 

“Au bout de chaque cigarette, toujours le meme 

filtre: vos poumons”, berarti di ujung setiap 

rokok selalu ada  filter yang sama, ialah 

paru-paru Anda.

Efeknya terhadap SSP. Nikotin meningkatkan 

tekanan darah (singkat) dan frekuensi jan-

tung, merangsang agregasi trombosit dan 

menurunkan produksi prostasiklin oleh en-

dotel.

Nikotin yang diabsorpsi dapat menim-

bulkan tremor tangan dan kenaikan kadar 

berbagai hormon dan dopamin di dalam 

plasma. berdasar  rangsangannya terha-

dap “chemoreceptor trigger zone“ (CTZ) dari 

sumsum tulang (medulla oblongata) dan sti-

mulasinya dari refleks vagal, nikotin menye-

babkan mual dan muntah. Di lain pihak 

nikotin meningkatkan daya ingat, perhatian 

dan kewaspadaan, mengurangi sifat mudah 

tersinggung dan agresi, serta menurunkan 

berat badan akibat penekanan nafsu makan 

dan meningkatnya pengeluaran energi.

Toksisitas kronis. Merokok dikaitkan dengan 

berbagai penyakit serius, dari gangguan arteri 

koroner dan penyakit vaskular perifer sampai 

kanker paru. Kecenderungan mendapatkan 

penyakit-penyakit ini meningkat dengan de-

rajat exposurenya, yang diukur dari jumlah 

sigaret yang dihisap sehari atau diekspresikan 

dalam “pack years“. Perbandingan mortalitas 

keseluruhan dari perokok pria terhadap non-

perokok yaitu  ±1,7:1. Ratio ini menjadi 2,0 

bagi mereka yang menghisap 2 pak sehari 

dan lebih tinggi lagi pada mereka yang 

menginhalasi dibandingkan dengan yang 

non-inhalasi. Mortalitas juga meningkat bila 

menghisap cerutu, namun  tidak demikian 

tinggi dibandingkan yang menghisap siga-

ret. Perokok wanita yang menghisap satu 

pak sehari mempunyai risiko mendapatkan 

penyakit jantung koroner fatal yang lima kali 

lebih tinggi. 

Penghentian merokok memicu  sua-

tu sindrom yang berlangsung selama 2-3 

minggu dan terdiri dari keinginan keras 

untuk kembali merokok, mudah tersinggung, 

perasaan lapar dan sering kali bertambahnya 

berat badan. Masalah withdrawal ini dapat di 

atasi dengan pemberian wejangan mengenai 

bahayanya merokok, di samping terapi peng-

gantian nikotin (nicotine replacement therapy 

atau NRT) dengan mis. mengunyah permen 

(karet) atau pemberian obat anti-depresi amfe-

butamon (bupropion) kepada pencandu rokok 

berat. Juga dapat dicoba obat pembantu 

menghentikan merokok (vareniklin, lihat di 

bawah).Intervensi farmakologi mempunyai 

efek samping mulut kering, obstipasi dan 

sukar tidur. 

Interaksi dengan obat-obat. Perokok memeta-

bolisasi berbagai jenis obat lebih cepat dari-

pada non-perokok, yang disebabkan oleh 

induksi enzim-enzim di mukosa usus atau 

hati oleh komponen dalam asap tembakau. 

Dengan demikian, efek obat-obat itu  

berkurang, misalnya teofilin, imipramin dan 

kofein. Para perokok membutuhkan dosis 

yang lebih tinggi dari analgetika (opioida), 

anksiolitika (oksazepam) dan obat-obat anti-

angina (nifedipin, atenolol, propranolol dan 

lain-lain).

*Vareniklin (Champix) tablet 0,5 dan 1 mg. 

Obat ini dipakai  untuk membantu berhen-

ti merokok. Dosis awal 1 dd 0,5 mg selama 3 

hari, kemudian 2 dd 0,5 mg selama 4 hari; 

pemeliharaan 2 dd 1 mg selama 12 minggu. 

Penanganan dengan vareniklin merupakan 

alternatif ketiga sesudah  bupropion dan nor-

triptilin.

7. Kofein: trimetilksantin

a.  K o p i. Kofein yaitu  alkaloid yang 

ada  dalam biji kopi (Coffea arabica/

robusta) yang berasal dari Arab dan 

Etiopia. Sekitar tahun 1.000, orang-orang 

Arab menemukan rahasia cara mengolah 

biji kopi dan memakai nya sebagai 

minuman yang menyegarkan. Di Eropa 

kebiasaan minum kopi diintroduksi ± ta-

hun 1615, ketika muatan kopi pertama dari 

Turki tiba di pelabuan Venezia. Kemudian 

tumbuhan kopi diselundupkan ke Brasilia 

yang kini menjadi produsen kopi terbesar 

di dunia. 

Kopi mengandung ±24 zat, yang ter-

penting yaitu  kofein (1-2,5%), hidrat 

arang (7%), zat-zat asam (chlorogenic 

acid, caffeic acid), tannin, zat-zat pahit, 

lemak (±10%) dan minyak terbang (zat-

zat aroma). Minum kopi terlalu banyak 

meningkatkan risiko penyakit jantung, 

sebab  meningkatkan kadar homosistein 

darah, lihat Bab 37, Obat-obat Jantung, 

Faktor-faktor risiko.

b.  T e h. Kofein juga ada  dalam daun 

dari tanaman teh (Thea sinensis) dari Ci-

na Selatan, yang kini dibudidayakan di 

Jawa, Sri Lanka, Rusia Selatan, Brasilia 

dan Pulau Natal. 

* Teh hitam dibuat dengan jalan memfer-

mentasi daun-daun yang telah digiling, 

pada mana enzim-enzim dibebaskan dan 

mengubah secara oksidatif flavonoida (poli- 

fenol) dari tipe katechin menjadi tanin (thea-

rubigin) yang memberikan warna hitam pa-

danya. Teh hitam mengandung rata-rata 3% 

kofein, derivat-derivat ksantin lainnya, yaitu 

teofilin dan teobromin, antara 7-15% tannin, 

polifenol, flavonoida (katechin, dan lain-lain) 

dan 0,5-1% zat-zat aroma (minyak terbang, 

a.l. geraniol). 

Kadar kofein. 1 cangkir kopi (±100 ml) me-

ngandung 80-100 mg kofein, tergantung dari 

banyaknya kopi yang dipakai ; 100 ml teh 

±60 mg dan 100 ml cola ±20 mg kofein. 

* Teh hijau terdiri atas daun dari Camellia 

sinensis yang tidak difermentasi dan dipa-

naskan dengan uap panas sebelum digiling. 

Oleh sebab nya, enzim yang mengubah fla- 

vonoida diinaktifkan, sehingga pembentuk-

an thearubigin dihindari. Teh hijau mengan-

dung relatif sedikit kofein dan banyak ka-

techin yang, antara lain berefek antitumor 

dan anti-aterosklerosis. Teh hijau banyak 

diminum di Jepang (“Japan green sencha”) 

dan juga di Asia Tenggara. Sekarang ini 

dipakai  sebagai ekstrak pada penanganan 

alternatif semua jenis kanker, juga pada 

prevensi dan penanganan aterosklerosis. 

Lihat selanjutnya Bab 14, Sitostatika, Ekstrak 

teh hijau dan Bab 53, Vitamin dan Mineral, 4. 

Bioflavonoida.

Khasiatnya. Kofein berkhasiat menstimu-

lasi SSP, dengan efek menghilangkan rasa 

letih, lapar dan mengantuk, juga daya kon- 

sentrasi dan kecepatan reaksi ditingkat-

kan serta prestasi otak dan suasana jiwa 

diperbaiki. Kerjanya terhadap kulit otak lebih 

ringan dan singkat daripada amfetamin. 

Kofein juga berefek inotrop positif terhadap 

jantung (memperkuat daya kontraksi), vaso-

dilatasi perifer dan diuretik. Juga bersifat 

menghambat enzim fosfodiësterase.

pemakaian nya sebagai zat penyegar yang 

bila dipakai  terlampau banyak (lebih 

dari 20 cangkir sehari) dapat bekerja adik- 

tif. Minum kopi lebih dari 4-5 cangkir se-

hari meningkatkan kadar homosistein dalam 

darah dan dengan demikian juga risiko akan 

PJP. Bila dihentikan sekaligus dapat meng- 

akibatkan sakit kepala sebagai gejala pena-

rikan. Kofein sering dikombinasi dengan 

parasetamol atau asetosal untuk memper-

kuat efek analgetiknya, juga dengan ergo-

tamin untuk memperlancar absorpsinya.

Resorpsinya di usus baik, PP-nya ±17%, plas-

ma-t½ 3-5 jam. Dalam hati kofein diuraikan 

hampir tuntas dan dikeluarkan lewat urin.

Efek samping. Minum lebih dari 10 cangkir 

kopi sehari dapat memicu  debar jan-

tung, gangguan lambung, tangan gemetar, 

gelisah, ingatan berkurang dan sukar tidur. 

Sebaiknya jangan minum lebih dari 3-4 

cangkir kopi sehari.

Dosis: pada keadaan letih 1-3 dd 100-200 

mg, sebagai adjuvans bersama analgetika 50 

mg sekali, bersama ergotamin pada migrain 

100 mg.

C. ZAT-ZAT HALUSINOGEN

8. LSD: lysergic acid diethylamide

LSD yaitu  suatu alkaloid ergot semi-sin-

tetik (Hoffmann, 1943) dengan asam lisergat 

sebagai inti molekul, sama dengan ergotamin 

(lihat Bab 31, Adrenergika dan Adrenolitika). 

LSD bekerja sebagai anti-serotonin dan anti-

kolinesterase. Efek halusinogennya terhadap 

otak mungkin sebagian berdasar  sifat 

ini, yaitu timbulnya persepsi lingkungan 

yang berubah secara dramatis dan perasaan 

luar biasa yang menggairahkan (extasy). Ka-

dangkala timbul efek-efek yang tidak di-

inginkan seperti perasaan ketakutan dan pa-

nik (”bad trip”). T½ ±3 jam dan daya kerja dari 

1 dosis ±8 jam.

Ketergantungan psikis dan tachyfylaxia (li-

hat Bab 4, Prinsip-prinsip Farmakodinami-

ka) dapat terjadi, namun  tidak timbul keter-

gantungan fisik. Efeknya diperkuat oleh am-

fetamin.

Efek samping yang serius yaitu  antara lain 

reaksi psikotik (kadang-kadang terlambat 

timbulnya) dengan kecenderungan bunuh 

diri. Mungkin juga bersifat teratogen dan 

mutagen.

Dosis: oral ±30 mg sudah efektif untuk 

memicu  halusinasi.

9. Ecstasy: XTC, MDMA (3,4-metilendioksi-

metamfetamin)

Derivat fenilisopropilamin semisintetik ini 

memiliki sifat-sifat halusinogen dan stimulasi. 

Dipasarkan pada tahun 1914 sebagai obat 

penekan nafsu makan dan pada tahun 1970-

an, obat ini dipakai  di AS sebagai obat 

tambahan pada psikoterapi yang kemudian 

dilarang pada tahun 1985. Ecstasy (nama 

“jalanan” bagi MDMA) sekarang banyak 

dipakai  oleh para pencandu di banyak 

negara, juga di negara kita  untuk sifat stimulasi 

dan halusinogennya akibat pembebasan 5-HT. 

pemakaian  lama dari MDMA merusak 

saraf terminal 5-HT dan meningkatkan risiko 

gangguan kejiwaan. Sering kali drug ini 

dalam berbagai bentuk tablet diselundupkan 

dari Eropa, terutama Belanda, ke wilayah 

negara kita  yang kemudian melalui saluran-

saluran tertentu diperdagangkan di disko 

dan klub-klub malam. Akhir-akhir ini (2005) 

secara ilegal diproduksi dalam jumlah besar 

di negara kita , sampai kegiatan ini dihentikan 

oleh aparat negara. 

Drug ini juga disebut partydrug atau dan-

cedrug, sebab  memungkinkan si pengguna 

berjoget sepanjang malam tanpa merasakan 

dirinya letih. 

Efek awalnya berupa simpatomimetik dan 

dapat terjadi tachyaritmia serta peningkatan 

suhu tubuh (hiperpireksia, hipertermi), gerakan 

klonis dan konvulsi. Efeknya agak singkat 

(4-6 jam). Mekanisme kerjanya berdasar  

gangguan re-uptake serotonin di otak, yang 

sebagai neurotransmitter berperan penting 

pada suasana jiwa (mood), proses berpikir, 

makan dan tidur. Tidak memicu  keter-

gantungan fisik atau ketagihan. Merupakan 

agonis serotonin indirek dan juga memiliki 

efek-efek dopaminerg dan noradrenerg.

Efek buruk yang terpenting yaitu  gagal 

hati dan gagal ginjal akut, serta kerusakan 

irreversibel pada saraf-saraf yang melepaskan 

serotonin (neurotoksik) akibat pembentukan 

radikal bebas yang merusak membran sel. 

pemakaian nya dapat memicu  kom-

plikasi potensial serius yang mengancam 

jiwa. Adakalanya tablet-tablet XTC dicampur 

dengan obat lain dengan tujuan memperkuat 

efeknya, misalnya atropin. Hal ini sangat ber-

bahaya sebab  toksisitasnya juga meningkat. 

Pengobatan intoksikasi terdiri dari cuci lam-

bung, pemberian klorpromazin dan α/β-

blocker secara intravena. Dosis sebagai drug: 

oral 75-150 mg.

*METAMFETAMIN (shabu-shabu, SS, Ice) be-

kerja lebih lama dibanding MDMA (dapat 

mencapai 12 jam) dan efek halusinasinya le-

bih kuat. 

*MDA (metilendioksiamfetamin) seperti ju-

ga MDMA, yaitu  senyawa feniletilamin 

yang memiliki efek stimulan dan psikedelik.

* MDEA (metilendioksietilamfetamin, “Eve“) 

yaitu  derivat dengan sifat-sifat yang sama 

dengan XTC dan juga sangat populer di house 

parties.

Akhir-akhir ini di negeri Belanda telah disi-

nyalir 2 obat psikotropik yang mirip sekali 

dengan ecstasy.27 Pertama yaitu  methylon 

dengan zat aktif metilendioksimethkathinon 

dan terkenal di pasaran sebagai “eksplosi”. 

Yang kedua yaitu  mCCP dengan zat aktif 

metaklorofenilpiperazin. Kedua obat ini me me-

ngaruhi sistem monoaminerg.   

10. Kanabis: ganja, marihuana

Kanabis yaitu  pucuk-pucuk berbunga 

dari tumbuhan „hennep“ Cannabis L. sativa 

(Asia Tenggara) dan mengandung ±420 zat 

yang termasuk dalam 18 kelompok. Yang ter-

penting yaitu  antara lain, minyak terbang 

dengan 103 jenis senyawa terpen (kanabi-

noid), seperti kanabidiol, kanabinol dan tetra-

hidrokanabinol (THC). THC ada  dalam 

berbagai bentuk dan yang paling aktif yaitu  

delta-9-THC yang terutama memberikan 

efek farmakologi khusus dari marijuana. 

Zat-zat lainnya termasuk kelompok gliko-

sida, flavonoida, protein dan asam amino, 

karbohidrat, steroida dan vitamin K. Efek- 

nya terdiri dari penekanan kegiatan otak 

dengan memicu  situasi seperti bermim- 

pi, meredakan dan memberikan perasaan 

nyaman. Di samping itu kanabis berdaya 

analgetik berdasar  mekanisme yang me-

nyerupai efek antinyeri dari morfin di otak, 

namun  tanpa kaitan dengan reseptor opiat 

(Ph Wkbl 1998, 133: 1624). Daya komunikatif 

dan mobilitas menurun, sehingga mengope-

rasikan peralatan berat maupun mengendarai 

kendaraan bermotor dapat memicu  

bahaya, seperti juga semua drugs lainnya.

Sifat psikotrop. Efek pertamanya yaitu  

euforia yang kemudian disusul dengan rasa 

kantuk (drowsiness) dan tidur. Mulut menjadi 

kering, konjungtiva menjadi merah dan pupil 

membesar. Efek ini terutama disebabkan oleh 

THC (juga dibuat sintetik, 1965), namun  sifat 

halusinogennya lebih lemah daripada LSD. 

Efek psikisnya tergantung pada dosis, cara 

pemakaian , pengalaman dari pemakai dan 

kepekaan individual. Sifat-sifat farmakologi 

lainnya yaitu  terutama terhadap SSP dan 

sistem kardiovaskuler misalnya:

– meredakan SSP, sama seperti barbital

– terhadap jantung: permulaan tachycardia, 

sesudah  pemakaian  lama justru brady-

cardia dengan penurunan tekanan darah

– terhadap mata: penurunan tekanan dalam 

bola mata dan perlebaran pembuluh 

konjungtiva

– terhadap pertukaran zat: membangkitkan 

nafsu makan, terutama makanan manis

Gejala withdrawal berupa meningkatnya 

aktivitas otot dan sukar tidur. Berhubung 

marihuana lambat ekskresinya dari tubuh 

(sampai beberapa minggu), gejala ini ringan 

dan hampir tidak terasa.

pemakaian . Di Amerika tumbuhan ini ju-

ga dinamakan “grass, weed, pot” dan meru-

pakan narkotika yang paling umum digu-

nakan, biasanya dalam bentuk rokok yang 

dibuat dari batang, daun dan pucuk berbu-

nga dari tumbuhan yang dipotong halus-

halus dan dikeringkan. Atau, kanabis juga 

dipakai  sebagai hashish, yaitu getah 

yang dikeringkan dari pucuk berbunga dan 

yang mengandung konsentrasi kanabinoid 

terbesar. Sering kali kanabis juga dimakan, 

namun  diperlukan dosis oral THC yang 3x 

lebih tinggi daripada bila dipakai  sebagai 

rokok (hashish atau marihuana) untuk men-

capai efek psikotropik yang sama. 

Secara terapeutik zat ini dipakai  sebagai 

analgetikum (pada rema) dan anti emetikum 

pada terapi dengan sitostatika (kemoterapi) untuk 

menghindari mual dan muntah bila anti-

emetika lain kurang efektif. Untuk ini tersedia 

zat sintetik dronabinol(delta-9-THC, Marinol). 

THC ternyata juga efektif terhadap anoreksi 

pada pasien AIDS untuk menstimulasi naf-

su makan. Lihat juga Bab 22, Analgetika 

Narkotika. Pada multiple sclerosis (MS) se-

ring kali berguna untuk meringankan kejang- 

kejang otot dan rasa nyeri. Suatu ekstrak 

terstandarisasi dari kanabis telah diregistrasi 

di Canada dengan nama Sativex untuk pena-

nganan simtomatik dari nyeri neuropatik 

pada multiple sclerosis.23,24 Juga mampu me-

nurunkan tekanan intraokular yang mening-

kat pada glaukoma.

Suatu penelitian pada 12 pasien Alzheimer 

menunjukkan THC berkhasiat meningkatkan 

nafsu makan serta memperbaiki suasana 

jiwa (mood) dan masalah-masalah perilaku. 

Marihuana sebagai rokok berguna untuk me-

redakan serangan migrain sesudah  20 menit. 

namun  disebabkan efek-efek psikoaktifnya, 

tidak ada benefit medis nyata dari penggu-

naan marijuana bagi indikasi-indikasi terse-

but dibandingkan dengan penanganan kon-

vensional. 

Efek samping dapat berupa efek sentral (rasa 

‚high‘, pusing, melantur dan rasa kan-tuk) 

yang lewat sesudah  1-3 hari. Bila efek ini tidak 

lalu, sebaiknya jangan diminum sebelum 

makan, namun  sebelum tidur. Pada lansia 

kanabis dapat memicu halusinasi dan gejala 

paranoid. Zat ini tidak memicu  efek 

adiktif yang membahayakan, namun  dapat 

memicu  toleransi dan suatu ketergan- 

tungan yang tidak begitu kuat. namun  sejak 

beberapa waktu diketahui bahwa ada hu-

bungan antara pemakaian  kanabis dan 

timbul nya schizofreni. pemakaian  kronis 

dapat memicu  suatu sindrom yang 

terdiri dari muntah-muntah tanpa henti, 

mual dan nyeri kolik lambung.

Kehamilan. Ibu hamil yang memakai  

marihuana biasanya  akan melahirkan 

bayi-bayi yang lebih kecil dari normal. 

sebab  zat aktif dari marihuana, yaitu delta-

9-THC, menembus plasenta dan masuk ke 

dalam air susu ibu, maka bayi pun akan turut 

terpengaruh oleh drug ini.

Dosis: untuk stimulasi nafsu makan 2 dd 

2,5-5 mg sebelum makan pagi dan makan 

siang (atau a.n.), antinausea 3-4 dd 5 mg THC 

dalam minyak wijen (Oleum sesami).


11.  Fensiklidin: PCP, HOG, Angel dust, “su-

perweed“

Drug ini sekelompok dengan petidin dan 

memiliki khasiat analgetik yang baik (1957). 

Efek psikotropiknya kuat; dosis yang sangat 

rendah sudah mencetuskan suatu keadaan 

„high“, yang menyerupai psikosis dan ber-

langsung 4-6 jam. Pada dosis tinggi, fensikli-

din memicu  konvulsi, sedang  do-

sis yang lebih rendah bersifat meredakan. 

Sebagai injeksi (1-5 mg) bekerja anestetik, 

walaupun tidak dipakai  lagi berhubung 

efek sampingnya (delirium) yang bertahan 

lama.

Fensiklidin dipakai  sebagai rokok 50-100 

mg (dicampur dengan daun peterselie, mint, 

tembakau atau marihuana) dan sebagai obat 

hisap (5 mg zat murni) atau oral sebagai tablet 

(2-6 mg). Di banyak negara, a.l. Belanda, 

fensiklidin termasuk dalam Undang-undang 

Narkotika.

Efek overdosis. Dosis yang terlampau tinggi 

dapat memicu  keracunan serius de-

ngan koma yang berlangsung lama (sampai 

5 hari!). Lagi pula depresi kuat dari perna- 

pasan, meningkatnya tekanan darah dengan 

kemungkinan timbulnya stroke, konvulsi dan 

hiperthermia yang sering kali memicu  

kematian. Zat penawarnya yaitu  fenotiazin 

(sama halnya pada intoksikasi-LSD), juga 

dapat dipakai  fisostigmin atau haloperidol, 

serta obat-obat antikonvulsif dan penurun 

tekanan darah.

* Ketamin (Ketalar, Ketaset, “special K“, vita-

min K) yaitu  derivat sikloheksil (1966) yang 

rumusnya mirip dengan fensiklidin. Dikem-

bangkan dan diregistrasi sebagai obat anestesi 

kerja singkat, bila relaksasi otot tidak diper- 

lukan. Berguna untuk meringankan nyeri 

saraf seperti nyeri wajah (trigeminus neuralgia) 

dan nyeri postherpetik (sesudah  penyembuhan 

sinnanaga), lihat juga Bab 25, Anestetika U-

mum. Sejak tahun 1997 anestetikum umum 

ini mulai banyak dipakai  sebagai „obat 

rekreasi“ drug-disco terbaru di “pop culture“ 

AS berkat daya halusinogennya yang kuat, 

bahkan beberapa minggu sesudah  dielimi- 

nasi dari tubuh masih dapat memicu  

“flashbacks.“ pemakaian  ketamin menim-

bulkan keadaan seperti mabuk berat (alko-

hol) dengan impian dan khayalan. Intok-

sikasi berat memicu  a.l. kejang epilepsi, 

depresi pernapasan dan berhentinya jantung. 

biasanya  ketamin dianggap tidak ber- 

sifat adiktif, walaupun dapat memicu  

habituasi kuat. Mekanisme kerjanya ber-

dasarkan blokade dari neurohormon tertentu 

di otak yang meneruskan impuls-impuls di 

neuron indra. Lihat juga Bab 25, Anestetika 

Umum.

12. Peyote: peyotl

Peyote yaitu  sejenis kaktus (Peyote), yang 

pucuk-pucuk keringnya dipakai  sebagai 

obat suci pada upacara keagamaan di Mek-

siko. Peyote mengandung alkaloid meskalin 

dengan efek halusinogen lebih lemah dari 

LSD dan dapat dimakan atau diminum se-

perti teh. Zat ini menghasilkan efek “trip“ 

visual hebat, yang dapat bersifat baik atau 

buruk, tergantung pada suasana jiwa dan 

lingkungan. Meskalin dapat memicu  

suatu ketergantungan lemah dan tercantum 

di Daftar Narkotik kebanyakan negara, teta-

pi kaktusnya tidak.

Dosis: halusinasi 400-700 mg. 

13. Miristisin: trimyristin, glyceryl trimyristate

Zat lemak ini ada  sampai 25% dalam 

minyak terbang (Oleum myristicae, myristicin) 

yang diekstrak dari biji pala (Myristica fra-

grans). Juga ada  dalam kadar rendah di 

daun peterseli (sejenis selderi, parsley: Petro-

selinium hortense) dan wortel. Miristisin dapat 

memicu  halusinasi, suasana ketakutan 

dan ketegangan. Lama kerjanya 48-60 jam.


Dosis halusinasi: 14 g serbuk (memicu  

dahaga yang sangat kuat).

D. INHALANSIA

14. Amil- dan butilnitrit: “poppers“

Cairan ini dengan bau tajam dahulu di-

gunakan pada angina pectoris berkat khasiat 

vasodilatasi dan relaksasi ototnya yang kuat, 

juga berefek hipotensif. Banyak dipakai  

di kalangan homoseksual sebagai obat hisap 

yang memicu  keadaan mabuk yang 

hanya singkat. Poppers memicu  nyeri 

kepala hebat dan pingsan; pemakaian  ber-

lebihan memicu  anemia dan memper-

lemah sistem imun. Ketagihan belum pernah 

dilaporkan.

15. Gas tertawa: dinitrogenmonoksida, N2O

Pada mulanya gas “tertawa” dipakai  

sebagai obat anestesi, antara lain oleh dokter 

gigi, juga dalam industri makanan, dalam 

botol semprotan sebagai gas pendorong 

(drijfgas). Sebagai drug dijual dalam balon 

berisi gas ini. sesudah  diinhalasi, dalam 30 

detik sudah menghasilkan euforia yang 

hebat, namun  sangat singkat (±2 menit), yang 

dapat disamakan dengan trip LSD, sehingga 

sangat populer pada pesta, festival dan disco. 

Risikonya berupa pusing-pusing dan terjatuh. 

Bila dipakai  intensif ada risiko gangguan 

neurologik, impotensi dan kemandulan. Gas 

in tidak bersifat adiktif.


SEDATIVA DAN HIPNOTIKA

Hipnotika atau obat tidur (Yun: hypnos =

tidur) yaitu  zat-zat yang dalam dosis terapi 

dipakai  untuk meningkatkan keingin-

an tidur normal dan mempermudah atau 

memicu  tidur. Lazimnya obat ini dibe-

rikan pada malam hari. Bilamana zat-zat ini 

diberikan pada siang hari dalam dosis yang 

lebih rendah untuk tujuan menenangkan, 

maka dinamakan sedativa (obat-obat pereda). 

Oleh sebab  itu, tidak ada perbedaan yang 

tajam antara kedua kelompok obat ini.

Hipnotika memicu  rasa kantuk (drow-

siness), mempercepat tidur dan sepanjang 

malam mempertahankan keadaan tidur yang 

menyerupai tidur alamiah berdasar  sifat-

sifat EEG-nya. Selain sifat-sifat ini, secara 

ideal obat tidur tidak memiliki aktivitas sisa 

pada keesokan harinya.

Hipnotika/sedativa, seperti juga antipsiko-

tika termasuk dalam kelompok psikode-

presiva yang mencakup obat-obat yang me-

nekan atau menghambat fungsi-fungsi SSP 

tertentu.

Sedativa berfungsi menurunkan aktivitas, 

mengurangi ketegangan dan menenangkan 

penggunanya. Sedasi dapat didefinisikan se-

bagai keadaan yang diciptakan oleh sedativa 

yang menurunkan kesadaran dan refleks-

refleks. Keadaan ini, dengan atau tanpa pe-

nambahan analgetika, dipakai  pada pro- 

sedur-prosedur diagnostik atau terapi sing-

kat yang nyeri dan pada pasien-pasien yang 

ketakutan atau tidak cukup kooperatif. Tuju-

annya yaitu  untuk mengurangi nyeri dan 

ketidak nyamanan dan menciptakan seka-

dar amnesi, sehingga prosedur dapat dilaku-

kan dengan aman dan tanpa masalah. Yang 

penting yaitu  bahwa fungsi-fungsi vital te-

tap terpelihara, seperti pernapasan, sirkulasi 

dan refleks-refleks yang melindungi saluran 

pernapasan.

Keadaan sedasi juga merupakan efek sam-

ping dari banyak obat yang khasiat utamanya 

tidak menekan SSP, misalnya antikolinergika.

Sejarah 

Sedativa-hipnotika telah dipakai  sejak ta-

hun 1853 dengan diintroduksinya bromida 

dan pada dasawarsa berikutnya disusul 

oleh a.l. kloralhidrat dan paraldehida. Di tahun 

1903, barbital (Veronal) dipasarkan sebagai 

obat pereda dan obat tidur pertama dari 

kelompok barbiturat. Fenobarbital menyusul 

di tahun 1912 dan sekitar limapuluh barbi-

turat lainnya sampai tahun 1950-an. Awal 

tahun 1950 klorpromazin dan meprobamat 

te-lah diintroduksi sebagai obat penenang 

jiwa yang baru. Pada tahun 1957 klordi-

azepoksida disintesis sebagai zat pertama 

dari kelompok sedativa canggih, yaitu se-

nyawa benzodiazepin. Derivat lainnya se-

perti diazepam dan lorazepam, segera menyu-

sul, juga nitrazepam sebagai obat tidur di 

tahun 1973. Pada tahun 1975 klonazepam di-

perkenalkan sebagai zat anti-konvulsi untuk 

mengobati epilepsi dan disusul oleh banyak 

turunan lainnya. Hingga kini tersedia lebih 

dari 35 senyawa benzodiazepin. Kelompok 

obat ini disebut (minor) tranquillizers se-

dangkan antipsikotika termasuk golongan 

major tranquillizers.

Perbedaan  

sedativa-tranquillizers

Pengertian mengenai kedua kelompok obat 

itu  sering kali dicampurbaurkan, teru- 

tama sebagai akibat promosi, sebab  sebe-

tulnya ada beberapa perbedaan prinsipiil, 

yaitu:


a. Sedativa-hipnotika berkhasiat menekan 

SSP. Bila dipakai  dalam dosis yang 

meningkat, suatu sedativum, misalnya 

barbiturat, akan memicu  efek se-

cara berturut-turut peredaan, tidur dan 

pembiusan total (anestesia). Pada dosis 

yang lebih besar lagi terjadi koma, depresi 

pernapasan dan kematian. Bila diberikan 

berulang kali untuk jangka waktu yang 

lama, senyawa ini lazimnya memicu  

ketergantungan dan ketagihan, lihat juga 

Bab 23. Drugs.

* Tranquillizers, disebut juga ataraktika atau 

anksiolitika, khususnya zat-zat benzodia-

zepin, juga dapat menekan SSP dengan 

khasiat sedatif dan hipnotik, namun  selain itu 

juga berkhasiat anksiolitik, antikonvulsif dan 

relaksasi otot. Khasiat anksolitik (menghalau 

rasa takut dan kegelisahan) tidak tergantung 

dari efek sedatif, bahkan tranquillizer yang 

ideal hendaknya berefek sedatif seringan 

mungkin. Pada pemakaian  jangka panjang 

benzodiazepin juga dapat memicu  kebi-

asaan dan ketergantungan, namun  lebih ringan 

daripada hipnotika lainnya. Pada overdosis 

(besar) jarang sekali memicu  depresi 

pernapasan dan kardiovaskuler atau koma 

fatal, jika tidak dikombinasi dengan obat 

lain yang menekan SSP (misalnya alkohol). 

sebab  keamanannya yang tinggi, maka 

obat-obat ini praktis sudah mendesak dengan 

tuntas barbiturat sebagai obat tidur dan 

penenang pada keadaan neurotik, seperti 

gelisah, takut dan stress (Lat. tranquillus 

= tenang, anxios = kuatir/cemas, lysis = 

mengurai kan, menghilang kan; Yun. ataraktos 

= ketenangan).

1. Fisiologi tidur

Kebutuhan akan tidur dapat dianggap sebagai 

suatu perlindungan dari organisme untuk 

menghindari pengaruh yang merugikan tu-

buh sebab  kurang tidur. Tidur yang baik, 

cukup dalam dan lama, yaitu  mutlak untuk 

regenerasi sel-sel tubuh dan memungkinkan 

pelaksanaan aktivitas pada siang hari dengan 

baik. Efek terpenting yang memengaruhi 

kualitas tidur yaitu  penyingkatan waktu 

menidurkan, perpanjangan masa tidur dan 

pengurangan jumlah periode terbangun. Pu-

sat tidur di otak (sumsum lanjutan) menga-

tur fungsi fisiologi ini yang sangat penting 

bagi kesehatan tubuh.

Pada waktu tidur, aktivitas saraf parasim-

patis meningkat, dengan efek penyempitan 

pupil (myosis), perlambatan pernapasan dan 

sirkulasi darah (bronchokonstriksi dan me-

nurunnya kegiatan jantung) serta stimulasi 

aktivitas saluran cerna dengan penguatan 

peristaltik dan sekresi getah lambung-usus. 

Singkatnya, proses-proses pengumpulan e-

nersi dan pemulihan tenaga dari organisme 

diperkuat, lihat juga Bab 32, Kolinergika dan 

Antikolinergika. 

* Stadia tidur. biasanya  selama satu 

malam dapat dibedakan 4 sampai 5 siklus 

tidur dari kira-kira 1,5 jam. Setiap siklus 

terdiri dari dua stadia, yakni tidur non-REM 

dan tidur-REM.

a. Tidur non-REM, juga disebut Slow 

wave sleep (SWS), berdasar  registrasi 

aktivitas listrik otak (EEG = elektro-ence-

falogram). Non-REM bercirikan denyutan 

jantung, tekanan darah dan pernapasan 

yang teratur serta relaksasi otot tanpa 

gerakan otot muka atau mata. SWS ini 

berlangsung lebih kurang satu jam lama- 

nya dan meliputi berturut-turut 4 tahap , 

di mana tahap  3 dan 4 merupakan ben-

tuk tidur yang terdalam, dengan mele-

paskan hormon-hormon anabolik dan 

sitokin. Peristiwa ini penting untuk daya 

tahan tubuh, metabolisme dan reparasi 

alamiah sel-sel tubuh. berdasar  hal 

ini SWS menjadi lebih panjang pada 

keadaan-keadaan yang membutuhkan 

pertumbuhan atau konservasi, mis. pada 

kehamilan, pertumbuhan dan thyroto-

xicosis. Kemudian tahap  ini disusul oleh 

stadium tidur-REM.

b.  Tidur-REM (Rapid Eye Movement) atau 

tidur paradoksal, dengan aktivitas EEG 

yang mirip keadaan sadar dan aktif, 

bercirikan gerakan mata cepat ke satu arah. 

Di samping itu, jantung, tekanan darah 

dan pernapasan turun-naik, aliran darah 

ke otak bertambah dan otot-otot sangat 

relaks. Selama tidur REM yang pada 

kedua siklus pertama berlangsung 5-15 


menit lamanya, timbul banyak impian, 

sehingga disebut juga tidur mimpi. Ber-

angsur-angsur tahap  mimpi ini menja- 

di lebih panjang, hingga pada siklus ter-

akhir (pada pagi hari) dapat berlangsung 

rata-rata antara 20-30 menit lamanya.

*4-5 siklus-tidur. Siklus pertama ini secara 

bergiliran disusul oleh 3-4 siklus lainnya 

dengan tahap  tidur-delta dari kira-kira 60 menit 

dan tahap  tidur-REM dari kira-kira 15 menit. 

Dalamnya dan nyenyaknya tidur pada jam-

jam pertama bersifat paling lelap yang lam-

bat-laun menjadi lebih dangkal, lihat gambar 

di bawah ini. 

Lansia juga mengalami perubahan demi-

kian, tidur menjadi lebih dangkal dengan 

hilangnya “tidur dalam” (stadia 3 dan 4), se-

dangkan tidur-mimpi menjadi lebih panjang.

Bayi yang baru lahir memerlukan tidur 16 

jam, orang dewasa lebih kurang 8 jam, sedang-

kan di atas usia 50 tahun rata-rata 6 jam sudah 

cukup. Tidur-REM pada bayi merupakan 50% 

dari tidur seluruhnya dan menurun sampai 

20-25% pada usia 6 tahun, yang selanjutnya 

kurang lebih konstan untuk seumur hidup. 

Bila tidur-REM dirintangi dan menjadi le-

bih singkat, misalnya akibat obat tidur, pasien 

akan mengalaminya sebagai tidur tidak nye-

nyak dan merasa tidak segar-sehat. Hal ini 

akhirnya dapat memicu  gangguan psi-

kis dan gangguan kesehatan.

Pelepasan hormon  

sewaktu tidur

Hormon pertumbuhan (growth hormone, GH) 

penting sekali bagi pertumbuhan tubuh, 

sintesis protein dan stimulasi resorpsi asam 

amino oleh jaringan. Ternyata bahwa sekresi 

GH terutama terjadi sewaktu tidur, yaitu 

pada tahap  3 dan 4 dari SWS dan sewaktu tidur-

REM. Sebaliknya, banyak hormon katabol 

yang menstimulasi proses perombakan da-

lam tubuh - justru dibentuk terutama pada 

siang hari, a.l. adrenalin, noradrenalin dan 

kortikosteroida. Telah dibuktikan bahwa pe-

rasaan takut, ketegangan dan kegelisahan 

memperbesar sekresi hormon katabol ini, se-

hingga metabolisme tubuh juga ditingkatkan.

tahap  non-REM memegang peranan penting 

dalam pertumbuhan dan restorasi jaringan 

tubuh, sedang  tahap  REMberkaitan dengan 

kegiatan restorasi jaringan otak.

Obat tidur biasanya  menekan tahap  

3 dan 4 dari SWS serta tidur-REM, sehingga 

sekresi GH menurun. Walaupun pada pe- 

nggunaan kronis, penekanan tidur-REM ber- 

sifat sementara, namun  bila terapi dihen-tikan 

akan terjadi REM-rebound sebagai kom-

pensasi. Senyawa benzodiazepin ternyata 

hanya menekan tahap  4 dari SWS tanpa me-

ngganggu sekresi GH dan proses rehabilitasi, 

sedang  tidur-REM juga praktis tidak 

diganggu.

Gambar 24-1: EEG tidur dengan tahap  tidur-REM dan non-REM


2. Insomnia

Insomnia atau sukar tidur dapat diakibatkan 

oleh banyak gangguan fisik, misalnya ba-

tuk, rasa nyeri (rematik, keseleo, encok), mi- 

grain, restless legs, dan sebagainya) atau se-

sak napas (asma, bronkitis). Insomnia juga 

dapat disebabkan oleh pemakaian  alko- 

hol berlebihan dan terutama kofein yang ter-

dapat dalam kopi, teh, cokelat dan minuman 

kola. Juga beberapa jenis obat bisa meng- 

ganggu fisiologi tidur, mis. analgetika (yang 

mengandung kofein), anoreksansia, gluko- 

kortikoida, agonis dopamin, beta-blocker dan 

beberapa obat psikotropik (fluoksetin, rispe-

ridon, sindrom penarikan benzodiazepin). 

Sepertiga dari orang dewasa mengalami pe-

ristiwa insomnia. Gangguan tidur ini dapat 

lebih diperinci lagi sebagai berikut.

– insomnia awal (kesulitan masuk tidur) di-

sebabkan a.l. oleh faktor-faktor kejiwaan 

seperti emosi, kecemasan, ketegangan 

dan depresi;

– insomnia menengah (terjaga di tengah ma-

lam) timbul pada peristiwa-peristiwa me-

dik seperti penghentian pernapasan se- 

mentara selama tidur (sleepapnoe) dan 

gangguan prostat (nocturia);

– insomnia terlambat (late insomnia) terba-

nyak di waktu subuh, disebabkan a.l. oleh 

depresi dan malnutrisi (anoreksia nervosa).

Penanganan

Tindakan umum. Di samping meniadakan 

faktor-faktor pemicu  insomnia itu  

di atas, juga perlu diperbaiki cara hidup 

yang keliru, misalnya melakukan kegiatan 

psikis yang melelahkan sebelum tidur. Dian-

jurkan pula untuk melakukan gerak badan 

secara teratur, jangan merokok dan minum 

kopi atau alkohol pada malam hari, sebab  

dapat mengganggu pola tidur. Obat-obat 

tertentu, kualitas kasur dan bantal yang 

buruk, ruangan yang berisik, cahaya yang 

terang-benderang, ventilasi yang jelek serta 

suhu kamar yang tidak nyaman juga dapat 

menyulitkan tidur. Gerak jalan, melakukan 

kegiatan yang rileks, masuk tidur secara 

rutin pada waktu tertentu, mandi air panas, 

minum segelas susu hangat dengan cereal 

sebelum tidur, ternyata dapat mempermudah 

dan memperdalam tidur yang normal. 

Di samping itu, pasien dianjurkan mengem-

bangkan kebiasaan tidur yang tetap dengan a.l. 

waktu tidur yang tertentu setiap malam. Perlu 

juga menghilangkan kekhawatiran pasien 

tertentu yang hanya mampu tidur 4-6 jam 

sehari. Mereka perlu diyakinkan bahwa hal 

ini sama sekali tidak merugikan kesehatan. 

Lagi pula kebutuhan tidur setiap orang ber- 

variasi sesuai dengan "lonceng biologi“ indi-

vidualnya. Lansia biasanya  membu-

tuhkan waktu tidur ±4-5 jam dalam semalam, 

namun  hal ini sangat individuil.

Pengobatan. Dalam usaha mengatasi in-

somnia, pertama-tama pemicu  utamanya 

di-tanggulangi dengan obat yang layak serta 

tepat dan bukan ditangani dengan obat tidur. 

Misalnya dengan obat batuk, analgetika (obat 

rema atau encok), relaksans otot, vasodilator, 

antidepresiva atau tranquillizer. 

Obat tidur baru dipakai  bila semua 

tindakan itu tidak berhasil dan sebaiknya 

hanya secara insidentil atau untuk waktu 

singkat selama maks. 2 minggu. Lazimnya 

diberikan suatu benzodiazepin dengan masa 

paruh singkat dan dengan dosis serendah 

mungkin. Obat tidur juga dapat dibenarkan 

pemakaian nya pada insomnia yang selewat, 

misalnya pada keadaan stres ringan, seperti 

perubahan status pekerjaan, meninggalnya 

anggota keluarga dan bila perlu juga pada 

jet-lag. pemakaian nya hendaknya dibatasi 

sampai 1-3 malam dan tidak lebih lama da-

ri 1-2 minggu untuk memperkecil risiko tole-

ransi dan ketergantungan. Pemberian obat 

secara bertahap dihentikan sesudah  pasien 

dapat tidur kembali dengan nyenyak. Sering 

kali pemakaian  yang intermittent (tidak 

lebih sering dari tiap malam ketiga) sudah 

mencukupi.

Akhir tahun 1980-an telah dipasarkan obat 

tidur non-benzodiazepin (zopiclon, zolpidem) 

yang juga bekerja terhadap reseptor benzo- 

diazepin, namun  diperkirakan tidak menimbul-

kan toleransi dan ketagihan.

Beberapa jenis antihistamin (mis. prome-

tazin) dan obat anti-depresif (mis. amitriptilin, 

imipramin, trazodon) tidak memicu  

ketagihan dan dalam dosis rendah dapat 


dipakai  sebagai obat tidur yang juga da-

pat memperpanjang SWS. 

Sekarang ini pilihan pertama yaitu  obat 

tidur dengan efek singkat seperti temazepam, 

zolpidem, lormetazepam dan zopiklon dalam 

dosis rendah. 

Kadang kala pemberian suatu plasebo 

("obat-tipu“) berguna untuk menidurkan pa-

sien insomnia.

Plasebo didefinisikan sebagai suatu obat 

tanpa daya kerja farmakologi dan diberi- 

kan untuk menyenangkan pasien. Dalam hal 

demikian plasebo seolah-olah berfungsi se-

bagai vehiculum (pembawa) efek psikoterapi.

3. Hipnotika-sedativa

Kriteria. Pada penilaian kualitatif dari obat 

tidur, perlu diperhatikan faktor-faktor kinetik 

berikut ini:

a. lamanya bekerja obat dan berapa lama 

tertinggalnya di dalam tubuh (masa pa-

ruh), yang berkaitan erat dengan butir b.

b. pengaruhnya pada kegiatan keesokan 

harinya

c. kecepatan mulai bekerjanya

d. bahaya timbulnya ketergantungan (keta-

gihan)

e. efek “rebound” insomnia bila pemberian 

obat dihentikan dengan mendadak

f. pengaruhnya terhadap kualitas tidur

g. interaksi dengan obat-obat lain

h. toksisitas, terutama pada dosis berlebihan 

(«suicide- proofness»)

Pilihan obat tidur

Hipnotikum yang ideal sebetulnya tidak 

ada, namun  obat-obat yang paling layak digu-

nakan yaitu  suatu obat dari kelompok ben-

zodiazepin. Prometazin 50 mg sering kali 

efektif, lihat Bab 51, Antihistaminika.

Benzodiazepin hendaknya jangan diberi-

kan pada anak-anak untuk periode panjang, 

sebab  dapat memengaruhi perkembangan 

psikisnya. Obat ini efektif untuk mempercepat 

tidur, memperpanjang waktu tidur dengan 

mengurangi frekuensi terbangun, serta mem- 

perbaiki kualitas (dalamnya) tidur. Di pihak 

lain, obat itu  memiliki keberatan-kebe-

ratan yang paling ringan dibandingkan 

hipnotika lainnya (lihat di bawah).

Lansia. biasanya  lansia mengguna-

kan relatif banyak obat tidur. Malam hari 

mereka sering dan mudah terbangun dan 

tidurnya lebih singkat, namun  siang hari lebih 

sering terangguk-angguk. Kadangkala obat 

tidur memicu  efek paradoksal pada 

mereka, yaitu bukan menjadi mengantuk 

namun  menjadi gelisah dan tegang, lihat di 

bawah Keberatan-keberatan. Di samping ini, 

ada bahaya potensial, misalnya terjatuh de-

ngan kemungkinan fraktur ketika turun 

dari pembaringan untuk (sering) buang air 

kecil bila di bawah pengaruh obat tidur pada 

malam hari. 

Para lansia dianjurkan untuk lebih banyak 

bergerak yang lebih aman untuk menga- 

tasi kesulitan tidur daripada minum obat-

obat tidur yang dapat memicu  keter-

gantungan dan toleransi.

Efek samping umum

Industri obat telah menghasilkan ribuan 

jenis zat kimia dengan berbagai sifat kimiawi 

dan farmakologi yang mampu menekan SSP 

secara tidak-spesifik dan reversibel. Berhubung 

dengan efek sampingnya, hanya sebagian 

kecil dari obat-obat ini telah disalurkan seba-

gai obat tidur. 

Efek samping umum hipnotika mirip dengan 

efek samping morfin, yaitu:

a.  depresi pernapasan, terutama pada dosis 

tinggi (hati-hati pada pasien asma!). Sifat 

ini paling ringan pada flurazepam dan 

benzodiazepin lainnya, demikian pula 

pada kloralhidrat dan paraldehida.

b.  tekanan darah menurun, terutama oleh 

barbiturat

c.  sembelit pada pemakaian  lama, teruta-

ma barbiturat

d.  «hang-over», yaitu efek-sisa pada keesok-

an harinya berupa mual, perasaan ringan 

di kepala dan termangu-mangu. Hal ini 

disebabkan sebab  banyak hipnotika be-

kerja panjang (plasma-t½ panjang), ter-

masuk juga zat benzodiazepin dan bar-

biturat yang disebut short-acting (lihat di 

bawah). Kebanyakan obat tidur bersifat 

lipofil, mudah melarut dan berkumulasi 

di jaringan lemak.


Gejala abstinensi

Gejala penarikan (withdrawal symptoms) da-

pat berupa menghebatnya keluhan semula 

(insomnia, rasa takut), juga tangan gemetar, 

pusing, berkeringat, mual-muntah, anorek-

sia, debar-jantung, sesak napas dan gangguan 

penglihatan. Kadang kala gejalanya sangat 

menyesatkan, sebab  menyerupai perasaan 

takut yang semula diderita pasien. Gejala ini 

terutama timbul bila obat dengan kerja-sing-

kat dihentikan dengan mendadak, misalnya 

lormetazepam, zopiklon dan zolpidem (Stilnoct). 

Begitupula pada obat ultra-short acting mi-

dazolam, triazolam dan brotizolam (Lendormin). 

Gejala abstinensi dapat ditangani dengan pro-

pranolol (3 dd 20 mg), namun  sering kali hanya 

efektif untuk sebagian. 

* REM-rebound. Kebanyakan hipnotika ber-

khasiat memperpanjang waktu tidur, namun  

mempersingkat tahap  tidur-REM, misalnya bar-

biturat, juga meprobamat, alkohol, morfin dan 

antidepresiva. Selain itu, zat-zat ini meng-

hasilkan tidur dengan aktivitas listrik yang 

berlainan sekali dari EEG tidur normal. Bila 

pemakaian  jangka panjang dihentikan, se-

lain gejala abstinensi sering kali timbul gang-

guan pola tidur. Seolah-olah sebagai kompen-

sasi dari kekurangan tidur REM selama terapi, 

tahap  tidur ini diperpanjang dengan gejala 

yang tidak nyaman. Tidur menjadi gelisah 

dan tidak tenang, timbul perasaan takut, ter- 

tekan dan sering kali dipenuhi dengan im-

pian-impian buruk yang hebat. Efek ini sering 

kali keliru diinterpretasikan sebagai gejala 

semula pada saat terapi diberikan. Hipnotika 

yang paling sedikit atau tidak memengaruhi 

tidur REM yaitu  senyawa benzodiazepin, zo-

piklon dan kloralhidrat.

* Efek paradoksal yaitu  efek yang berlainan 

sekali dengan yang diinginkan, yang sewak-

tu-waktu dapat terjadi pada anak-anak dan 

lansia. Gejalanya bisa berupa night-mare, ha-

lusinasi, agitasi dan agresi, yang agak sering 

timbul pada nitrazepam (selama minggu per-

tama), juga pada flurazepam. 

Toleransi dan ketergantungan

sesudah  dipakai  selama ±2 minggu, sering 

kali hipnotika tidak efektif lagi mengenai 

kecepatan menidurkannya, sebab  terjadinya 

toleransi dan ketergantungan. Sifat ini sama 

dengan obat narkotika, walaupun tidak begi-

tu hebat. Akibatnya yaitu  diperlukan dosis 

yang lebih besar untuk mencapai efek yang 

sama. Pengecualian yaitu  benzodiazepin yang 

tidak kehilangan efektivitasnya sesudah  peng-

gunaan beberapa minggu. Namun dalam 

praktiknya, sesudah 4-8 minggu sering kali 

obat tidak bekerja lagi dan jika dihentikan 

dapat memicu  gejala penarikan, lihat di 

bawah.

Ketergantungan (dependence) didefinisikan 

oleh WHO sebagai "desakan batin menggu-

nakan suatu obat untuk mencapai efek psikis 

atau sebab  terjadi efek tidak nyaman bila obat 

tidak diminum lagi“. Dapat pula dibedakan 

ketergantungan fisik dan ketergantungan psikis. 

a.  Ketergantungan fisik. Bila pemakaian  

(lama) obat dihentikan, biasanya timbul 

gejala abstinensi, misalnya kambuhnya 

keluhan semula namun  dengan lebih he-

bat (rebound insomnia,nightmares, dan lain-

lain). Tubuh seolah-olah memprotes de-

ngan jelas terhadap penghentian. Gejala- 

gejala ini dapat dihindari dengan mengu-

rangi dosis obat secara berangsur dan 

umumnya akan hilang sesudah  beberapa 

hari. 

Efek ini mungkin disebabkan oleh ke-

kurangan zat-zat endogen (misalnya en-

dorfin dan zat-zat yang mirip benzodiaze-

pin) untuk menempati reseptor bagi zat 

ini di otak. Pada ketergantungan kronis, 

diperkirakan obat berfungsi memenuhi 

kekurangan akan zat endogen itu .

b.  Ketergantungan psikis. Lazimnya gejala 

itu  di atas disertai gejala psikis, 

seperti perasaan takut dan gelisah, depresi 

atau reaksi psikotis. Untuk melawan 

perasaan buruk itu, pasien terdorong oleh 

keinginan untuk mempertahankan pera-

saan nyaman yang diberikan oleh obat.

* Ketagihan (adiksi) yaitu  bentuk ketergan-

tungan, pada mana pasien merasa tidak 

nyaman tanpa zat-zat tertentu yang memiliki 

kegiatan psikis, dapat memicu  euforia (ke-

adaan gembira berlebihan) dan dapat mela-

wan perasaan tidak nyaman. Zat-zat yang dapat 

memicu  adiksi yaitu  a l. kofein, ni- 

kotin, alkohol, marihuana, amfetamin, koka-

in, morfin, heroin, LSD dan XTC. Lihat selan-

jutnya Bab 23, Drugs.

Dalam daftar di bawah ini, sifat-sifat ter-

penting dari hipnotika dibandingkan satu 

dengan yang lain.

Interaksi

biasanya , alkohol memperkuat efek 

hipnotika, tranquillizer dan psikofarmaka la- 

innya. Efek antikoagulansia diperkuat oleh 

obat tidur berdasar  penggeseran dari 

tempat-tempat ikatannya pada protein darah, 

kecuali senyawa barbiturat yang justru mem-

perlemah khasiatnya sebab  induksi enzim. 

Senyawa benzodiazepin tidak memengaruhi 

efek antikoagulansia.

Barbiturat memperlemah khasiat kortikos-

teroid, tetrasiklin, antidepresiva trisiklis dan ki-

nidin, juga berdasar  dipercepatnya pe-

rombakan enzimatik.

Kloralhidrat tidak dapat dikombinasi de-

ngan furosemida, sebab  akan terjadi vasodi-

latasi atau konstriksi.

Sticker peringatan

Selama pengobatan dengan hipnotika-seda-

tiva, pasien sebaiknya jangan mengemudi-

kan kendaraan bermotor atau menjalankan 

mesin, sama halnya bila memakai  tran- 

barbitu-

rat


Tabel 24-1: Sifat-sifat terpenting hipnotika

quillizer dan obat-obat lain dengan sifat 

sedatif, seperti psikofarmaka dan antihista-

minika. Sebabnya yaitu  sebab  obat-obat 

ini dapat membuat termangu-mangu serta 

mengurangi kecepatan reaksi (refleks) mau-

pun daya perkiraan. Di Belanda, pemberian 

obat-obat demikian oleh apotik harus disertai 

sticker kuning dengan peringatan: "Obat ini 

dapat mengurangi keterampilan mengemudi ke-

ndaraan“. 

Penggolongan hipnotika-sedativa

Hipnotika dapat dibagi dalam beberapa ke-

lompok, yaitu senyawa barbiturat dan benzo-

diazepin, obat-obat lainnya dan obat kuno.

a. Barbiturat: fenobarbital, butobarbital, siklo-

barb dan lain-lain. pemakaian nya sebagai 

sedativa-hipnotika kini praktis sudah di-

tinggalkan berhubung tersedianya senyawa 

benzodiazepin yang jauh lebih aman. De-

wasa ini hanya beberapa barbiturat masih 

dipakai  untuk indikasi tertentu, misalnya 

fenobarb dan mefobarb sebagai anti-epi-

leptika dan pentotal sebagai anestetikum. 

b. Benzodiazepin: temazepam, nitrazepam, flu-

razepam, flunitrazepam,triazolam, estazolam dan 

midazolam. Obat-obat ini biasanya  kini 

dianggap sebagai obat tidur pilihan pertama 

sebab  toksisitas dan efek sampingnya yang 

relatif paling ringan. Obat ini juga menim-

bulkan lebih sedikit interaksi dengan obat 

lain, lebih ringan menekan pernapasan dan 

kecenderungan penyalahgunaan yang lebih 

sedikit. 

Sejumlah benzodiazepin lain khusus digu-

nakan sebagai tranquillizer, yakni klordia-

zepoksid, klorazepat (Tranxene), bromazepam (Le- 

xotan), diazepam, lorazepam, prazepam, meda- 

zepam, oksazepam dan oksazolam (Serenal).

c. Lain-lain: Morfin juga berkhasiat hipnotik 

kuat, namun  terlalu berbahaya untuk digu-

nakan sebagai obat tidur, begitu pula alkohol. 

Meprobamat, opipramol, buspiron (Buspar) dan 

zopiklon (Imovane) dipakai  sebagai tran-

quillizer. Kloralhidrat termasuk obat tidur 

yang paling tua dan kadangkala masih di-

gunakan dalam pediatri dan geriatri untuk 

jangka waktu singkat.

d. Obat-obat kuno: senyawa brom K/Na/

NH4Br serta turunan-turunan urea karbromal 

dan bromisoval. Obat-obat ini hanya ber-

khasiat hipnotik lemah dan dahulu hanya 

dipakai  sebagai obat pereda (Sol. Charcot). 

Bahaya kumulasi dan toksisitasnya besar 

(bromisme), sehingga tidak dipakai  lagi 

dalam terapi modern. Lihat Obat-obat Pen-

ting, Edisi 4, halaman 266. 

* Meprobamat (*Deparon) yaitu  tranquillizer 

pertama (1955) yang dahulu sering diguna-

kan. Namun sebab  efek sampingnya banyak 

dan agak sering terjadi tentamen suicidi (per-

cobaan bunuh diri) dan intoksikasi, kini obat 

ini tidak dianjurkan lagi bagi pasien baru.

* Opipramol (Insidon) yaitu  senyawa tri-

sklik seperti antidepresivum amitriptilin 

(1962), namun  tidak menghambat reuptake 

serotonin. Opipramol berkhasiat hipnotik dan 

anksiolitik lemah yang mulai kerjanya lambat, 

sehingga dianjurkan sebagai obat tambah- 

an pada keadaan ketegangan dengan pera-

saan takut. Berhubung ratio efektivitas dan 

efek sampingnya relatif lebih buruk, kini 

pemakaian nya sudah berkurang. 

Mekanisme kerja

Di tahun 1977 ditemukan reseptor benzodiaze-

pin spesifik di permukaan membran neuron, 

terutama di kulit otak dan lebih sedikit di 

otak kecil dan sistem limbis. Barbiturat dan 

benzodiazepin pada dosis terapi terutama be-

kerja dengan jalan pengikatan pada reseptor 

itu . Efeknya yaitu  potensiasi peng-

hambatan neurotransmisi oleh GABA (ga-

mma-aminobutyric acid) di sinaps semua saraf 

otak dan blokade pelepasan muatan listrik. 

GABA yaitu  salah satu neurotransmitter-

inhibisi otak, yang juga berperan pada tim-

bulnya serangan epilepsi, lihat Bab 27, Anti-

epileptika. 

Neurodepresi oleh benzodiazepin bersifat 

self-limiting, sebab  tergantung pada pelepas-

an GABA endogen. Sebaliknya, pada dosis 

lebih besar, barbiturat berefek meniru efek 

inhibisi dari GABA dan dengan demikian 

dapat memicu  depresi SSP kuat. Per-

bedaan ini bertanggungjawab atas keamanan 

benzodiazepin pada overdosis. Lagipula efek 

barbiturat lebih umum, yaitu merintangi 

proses-proses lain di otak hingga lebih cepat 

memicu  penurunan kesadaran.

Meprobamat, senyawa alkohol, aldehida dan 

sedativa lainnya tidak bekerja melalui pendu-

dukan reseptor spesifik, namun  langsung ter-

hadap membran sel.

*Peristiwa talidomid (Softenon)

Pada awal tahun 1960-an timbul keheboh-

an besar yang diakibatkan oleh suatu obat 

tidur baru (akhir 1950), yaitu talidomid. 

Obat tidur ini yang semula dianggap tidak 

toksik, dipakai  oleh ribuan wanita dari 

lebih dari 40 negara pada permulaan masa 

kehamilannya terhadap morning sickness 

dan sebagai obat penenang. Namun ternyata 

obat ini yang terburu-buru dipasarkan tanpa 

testing yang adekuat, bersifat teratogen (Yun. 

teratos = monster; genesis = produksi) akibat 

khasiat anti-angiogenesis, yaitu merintangi 

pembentukan pembuluh baru (Yun. angio = 

pembuluh). Akibatnya yaitu  lahirnya di 

seluruh dunia 8000 sampai 12000 bayi cacat, 

terutama pada tangan dan kaki, yang disebut 

phocomelia atau seal extremities (kaki tangan 

singa laut).

Di Amerika obat ini dihindari penyalur-

annya berkat tindakan ketat dari F.O. Kelsey, 

pejabat FDA.

Peristiwa tragik ini memberikan pelajaran 

betapa kita harus berhati-hati dalam peng-

gunaan obat-obat (paten) baru, walaupun 

pihak fabrik menyatakan obatnya „tidak 

toksik“ dan aman. Dengan S.K. Menteri Ke-

sehatan R.I. No. 682/Ph/63/b per 1 Januari 

1963 obat-obat yang mengandung talidomid, 

meklizin (Travel-on, Postafene) dan fenmetrazin 

(Preludin) dilarang pemakaian nya di selu-

ruh wilayah negara kita . Obat-obat yang me-

ngandung siklizin dan buklizin (S.K. Men. 

Kes. R.I. No. 4890/Dir.Jen/SK/68) juga telah 

dilarang. Namun di banyak negara lain, ter-

masuk Belanda, siklizin dan meklizin di-

anggap aman dan masih tetap dipakai .

Sejak tahun 1990-an talidomid telah terse-

dia lagi namun  untuk indikasi lain, yaitu gang- 

guan kulit tertentu berkat khasiat imuno-

supresif dan antiradangnya, antara lain pa-

da reaksi lepra, sindroma dari Behcet dan 

penyakit auto-imun S.L.E., lihat juga Bab 10. 

Obat-obat lepra.

1. BARBITURAT

Barbiturat sejak lama dipakai  sebagai 

hipnotika dan sedativa, namun  pemakaian -

nya sejak tahun 1980-an telah sangat menu- 

run sebab  tesedianya obat-obat dari kelom- 

pok benzodiazepin yang lebih aman. Yang 

merupakan pengecualian yaitu  fenobarbi-

tal, yang memiliki sifat antikonvulsif dan 

tiopental, yang masih banyak dipakai  se-

bagai anestetikum i.v. 

Dosis sedativa-hipnotika. Barbital diguna-

kan sebagai obat pereda untuk siang hari 

dalam dosis yang lebih rendah dari dosisnya 

sebagai obat tidur, yakni ½ - 1/6 kalinya. 

Misalnya fenobarbital dalam dosis 15-30 mg 

bekerja sebagai sedativum dan 100 mg atau 

lebih sebagai obat tidur.

Keberatan. Faktor-faktor yang membatasi 

pemakaian  barbiturat dan memicu  

pemakaian nya terdesak oleh benzodiazepin, 

yaitu :

– toleransi dan ketergantungan yang cepat 

timbul; bila pemakaian  dilanjutkan un-

tuk jangka waktu panjang, sifat toleran-

sinya diperkuat oleh induksi-enzim

– stadium REM (dengan mimpi) dipersing-

kat, yang berefek pasien mengalami tidur 

kurang nyaman

– efek paradoksal dapat terjadi dengan dosis 

rendah pada keadaan nyeri; yaitu justru 

eksitasi dan kegelisahan 

– overdosis barbital memicu  depresi 

sentral, dengan penghambatan pernapas-

an yang berbahaya, koma dan kematian.

Interaksi. Akibat induksi-enzim barbital ju-

ga mempercepat perombakan obat-obat la-

in, yang metabolisasinya berlangsung oleh 

sistem enzim yang sama, misalnya derivat 

kumarin, antikonseptiva oral dan siklosporin. 

Sebaliknya, efek barbital diperkuat oleh asam 

valproat, lihat Bab 27. Antiepileptika. 

Selanjutnya dapat dibaca Obat-obat Pen-

ting, Edisi ke-4, p 254-7. 

2. BENZODIAZEPIN

Pada hakikatnya, semua senyawa benzo-

diazepin memiliki empat daya kerja itu  

di atas, yaitu khasiat anksiolitik, sedatif-

hipnotik, antikonvulsif dan relaksasi otot. 

Setiap efek ini dapat berbeda-beda kekuat- 

annya pada setiap derivat, yang juga mem-

perlihatkan perbedaan jelas mengenai kece-

patan resorpsi dan eliminasinya. 

pemakaian . biasanya  benzodia-

zepin memicu  hasrat tidur bila dibe-

rikan dalam dosis tinggi pada malam hari 

dan memberikan efek menenangkan (sedasi) 

dan mengurangi kecemasan pada pemberian 

dalam dosis rendah pada siang hari. Empat 

jenis daya kerja benzodiazepin berdasar  

pengaruh GABA pada SSP.

Zat-zat yang bersifat sedatif-hipnotik relatif 

lebih kuat dibandingkan sifat-sifat lainnya, 

dipakai  terutama sebagai obat tidur. Seba-

liknya, zat-zat yang sifat anksiolitiknya me- 

nonjol lebih cocok dipakai  sebagai tran-

quillizer pada keadaan takut dan tegang. 

pemakaian  lainnya yaitu  sebagai spasmo-

litikum (zat pelepas kejang), misalnya pada 

tetanus (khususnya klonazepam dan diaze-

pam) dan sebagai premedikasi sebelum pembe-

dahan (khususnya midazolam), di mana sifat 

amnesianya bermanfaat sekali (lihat Efek 

samping), sebab  pasien tidak mengingat 

lagi kesan-kesan mencemaskan sewaktu 

pembedahan. Beberapa zat dengan efek 

antikonvulsif kuat dipakai  pada epilepsi, 

khususnya klonazepam, juga diazepam dan 

nitrazepam. Benzodiazepin juga bermanfaat 

pada pengobatan alkoholisme yaitu terhadap 

gejala abstinensi. 

Keuntungan obat-obat ini dibandingkan 

dengan barbital dan obat tidur lainnya yaitu  

tidak atau hampir tidak merintangi tidur-

REM. Dahulu obat ini diperkirakan tidak 

memicu  toleransi, namun  ternyata bahwa 

efek hipnotiknya semakin berkurang sesudah  

pemakaian 1-2 minggu, seperti kecepatan 

menidurkan, juga panjang dan dalamnya 

tidur berkurang. Lagi pula toksisitasnya rendah 

sekali (dosis letal sangat tinggi), hingga sukar 

sekali disalahgunakan untuk bunuh diri. 

Namun jika dipakai  terus-menerus untuk 

jangka waktu lama (lebih dari 2-4 minggu) 

dapat pula memicu  ketergantungan 

fisik dan psikis, bahkan adiksi. Oleh sebab  

itu, di beberapa negara, termasuk Belanda, 

semua senyawa benzodiazepin dimasukkan 

ke dalam Undang-undang Narkotik (Opium 

Wet).

Namun demikian benzodiazepin bila digu-

nakan untuk hanya beberapa minggu, oleh ba-

nyak ahli dianggap sebagai obat tidur yang 

relatif aman dan merupakan hipnotika pilih-

an pertama.

Farmakokinetik. Berkat sifat lipofilnya, re-

sorpsi di usus berlangsung baik (80-90%) 

dan cepat, sedang  kadar maksimal dalam 

plasma tercapai dalam waktu 1/2 - 2 jam. 

Klordiazepoksida, oksazepam dan lorazepam ber-

sifat kurang lipofil, sehingga baru mencapai 

puncaknya dalam plasma sesudah  1-4 jam. 

Distribusi dalam tubuh juga baik, terutama 

di otak, hati, otot jantung dan lemak. PP 

tinggi (80-90%) dan beberapa di antaranya 

mengalami siklus enterohepatik, misalnya dia-

zepam, nitrazepam dan bromazepam. Resorpsi 

melalui suppositoria agak lambat, misalnya 

baru sesudah  2 jam (oral ±1/2 jam). namun  

bila diberikan sebagai larutan dalam bentuk 

rektal khusus (rektiole), penyerapannya ce-

pat sekali, yaitu ±10 menit. Oleh sebab  itu 

rektiole banyak dipakai  untuk keadaan 

darurat, misalnya pada kejang anak (stuip, 

fever seizures), lihat Bab 27. Antiepileptika. 

Penggolongan benzodiazepin

berdasar  kecepatan metabolismenya da-

pat dibedakan tiga kelompok, yaitu zat-zat 

long-acting, short-acting dan ultra short-acting.

a. Zat long-acting: a.l. klordiazepoksida, dia-

zepam, nitrazepam dan flurazepam, dengan t1/2 

masing-masing 5-30 (-200), 20-54 (42-120), 

18-34 dan (47-100) jam (dalam kurung yaitu  

t1/2 dari metabolit-metabolit aktifnya). Obat-

obat ini dirombak a.l. dengan jalan demetilasi 

dan hidroksilasi menjadi metabolit aktif 

desmetildiazepam dan hidroksidiazepam. Kedua 

metabolit kemudian dirombak lagi menjadi 

oksazepam yang akhirnya dikonyugasi dan 

menghasilkan glukuronida tak aktif. Zat ini 

mudah melarut dan diekskresi lewat urin. Li-

hat Gambar Skema biotransformasi benzodiazepin. 

Diazepam memiliki plasma-t½ dari 20-54 jam, 

sedang  t½ derivat desmetilnya sampai 120 

jam, sehingga efeknya sangat diperpanjang. 

Oleh sebab  itu zat ini lebih layak dipakai  

sebagai obat anksiolitik daripada sebagai 

obat tidur. Pertimbangan ini juga berlaku 

bagi klordiazepoksida. Ternyata bahwa pa-

da umumnya semua derivat desmetil khu- 

sus bersifat anksiolitik, walaupun pada zat 

induknya khasiat sedatif-hipnotik yang ber-

kuasa. Bahaya kumulasi juga sangat diper- 

besar olehnya. 

* Nitrazepam (Mogadon) dan flurazepam (Dal

madorm), meskipun masa paruhnya panjang, 

lama kerjanya hanja 6-8 jam. Flurazepam 

lebih sering memicu  hang-over. 

* Flunitrazepam (Rohypnol), lama kerjanya 

juga hanya ±8 jam. Hal ini dapat dijelaskan 

oleh distribusinya yang berlangsung pesat 

sekali, sedang  pada pemakaian  berturut-

turut hanya berkumulasi secara tidak berarti. 

Namun obat ini tidak dianjurkan berhubung 

risiko besar akan penyalahgunaan sebagai 

‚drug‘, serta efek psikiatris dan intoksikasi 

hebat pada overdosis.

b. Zat short-acting: oksazepam (t½: 5-15 jam), 

lorazepam (12-16), lormetazepam (10), temaze-

pam (7-11), loprazolam(Dormonoct, 12-16) dan 

zopiclon (5 jam). Obat-obat ini dimetabolisasi 

tanpa menghasilkan metabolit aktif yang 

memiliki kerja panjang. Obat ini layak digu- 

nakan sebagai obat tidur sebab  tidak ber-

kumulasi saat pemakaian  berulang kali dan 

jarang memicu  efek-sisa (hang-over). Se-

baliknya, risiko yang lebih besar yaitu  re-

bound-insomnia serta lebih cepat menim-

bulkan gejala abstinensi.

c. Zat ultra-short acting: triazolam (t½: 1,5-

5,5 jam), midazolam (Dormicum, 2,1-3,5) dan 

estazolam. Risiko akan efek abstinensi dan 

rebound-insomnia lebih besar lagi pada obat-

obat ini, sehingga sebaiknya jangan diguna-

kan lebih lama dari 2 minggu. Lagi pula 

triazolam dan midazolam lebih condong 

memicu  amnesia anterograde, lihat Efek 

samping. Triazolam