Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 19. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 19. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 19

 





el).

Dosis: 1 dd 500 mg d.c. selama 5-7 hari, di-

naikkan setiap 5-7 hari dengan 500 mg sam-

pai 2 g sehari, maksimal 3 g/hari.

C2. Klorokuin (F.I.) : Resochin, Nivaquin.

Selain pada rema, derivat 4-aminokuinolin 

ini (1934) dipakai  juga terhadap malaria 

(terapi dan profilaksis), amebiasis hati dan 

S.L.E. Mekanisme kerjanya berdasar  pe-

ngikatan pada DNA/RNA di inti sel, peng-

hambatan sintesis protein dan antibodies-

autoimun patologik. Obat ini ditimbun dalam 

kadar tinggi di hati, limpa, paru serta ginjal 

dan terikat pada sel-sel yang mengandung 

melanin (pigmen cokelat-hitam) seperti mata 

dan kulit. Lihat selan jutnya Bab 11, Obat-obat 

Malari a, Obat-obat tersendi ri.

Kinetik. Sifat farmakokinetiknya yang ter-

penting yaitu  plas ma-t½ yang sangat pan-

jang, antara 3-6 hari. Pada penggun aan kronis 

bahaya kumulasi besar sekali dan dianjurkan 

untuk menghentikan pengobatan 2 hari se-


tiap minggu. Sifat penting lainnya yaitu  

afinitasnya untuk retina dan berbagai jenis 

jaringan tubuh lain, antara lain sel-sel darah 

(granulosit, dan lain-lain).

Efek samping pada terapi lama berupa gang-

guan lambung-usus, reaksi kulit, sakit kepala 

dan pusing. Yang lebih serius yaitu  peng- 

lihatan menjadi guram akibat endapan di 

kornea (reversi bel), juga retinopati akibat 

penggeseran pigmen yang dapat mengaki- 

batkan kebutaan, ketulian irreversibel dan 

kelainan darah. Oleh sebab  itu kondisi mata 

dan gambaran darah harus selalu diawasi 

secara tera tur. Overdosis dapat mengakibat-

kan konvulsi, berhentinya pernapasan dan 

jantung.

Dosis: pada rema permulaan 150-300 mg 

d.c. sehari (garam difos fat/sulfat) selama 

7-10 hari, pemeliha raan 100-200 mg sehari.

* Hidroksiklorokuin (Plaquenil) yaitu  deri-

vat dengan khasiat sama namun  kurang toksik 

bagi mata, sehingga lebih banyak diguna kan 

untuk terapi jangka panjang.

Dosis: permulaan oral 2 dd 200 mg (garam-

sulfat), sesudah 1-3 bulan 1 dd 200 mg. 

C3. Kortikosteroid

Glukokortikoid berkhasiat antiradang kuat 

dengan efek agak cepat; pada dosis yang la-

zim dipakai  untuk A.R. tidak bekerja an-

ti-erosif. Mekanisme kerjanya sebagian ber-

dasarkan atas hambatan fosfolipase yang 

memicu  rintangan sintesis prosta-

glan din maupun leukotriën. Mungkin juga 

berdasar  stabilisasi lisosom lekosit 

dengan efek fagositosis dan berkurangnya 

aktivi tas cyclic GMP(lihat Gambar 46-1). Ke-

beratan obat-obat ini yaitu  bila dipakai  

kronis terjadi susut tulang (osteoporosis) aki-

bat perombakan tulang yang meningkat dan 

pembentukannya berkurang dengan akibat 

bertambahnya risiko fraktur. Lihat juga Bab 

46, Korti kosteroi d.

pemakaian  biasanya  peroral bersa-

ma suatu zat imunosupre sif atau sebagai 

injeksi di sendi. 

* Per oral terutama dipakai  deksametason, 

betameta son dan predniso lon, yang memiliki 

efek minera lokorti koid ringan (retensi garam 

dan air). Beberapa penelitian menunjukkan 

bahwa predni solon 7,5 mg/hari selama 6 bu-

lan mengurangi nyeri, memperbaiki fungsi 

jari-jari tangan dan sangat menghambat pro-

ses pembu rukan penyakit.

* Melalui intra-artikuler hanya digu nakan di 

sendi-sendi besar yang membengkak, nyeri 

dan kebal terhadap terapi lain. Efek baiknya 

dapat bertahan bulanan. Berhu bung dengan 

meningkatnya risiko infeksi dan kerusakan 

pada tulang rawan, injeksi intra-artikuler ti-

dak boleh dilakukan lebih dari dua kali pada 

satu sendi.

Efek samping yang dikhawatirkan pada 

pemakaian  prednison dalam dosis rendah 

untuk jangka waktu lama yaitu  penyusutan 

tulang, yaitu berkurang kepadatannya 

dengan risiko besar akan fraktur. Penyusutan 

ini dapat dihindari dengan kombi nasi 

vitamin D3 dengan kalsium 800UI/1000 

mg sehari atau dengan senyawa bisfosfonat 

(alendronat, risedronat).

Dosis lazimnya dibatasi sampai oral 5-10 

mg prednisolon sehari sebab  di atas 10 

mg timbul supresi sistem H-H-A. Di atas 20 

mg malah dapat timbul perubahan tulang 

(rawan). Deksametason (Oradexon) atau beta-

me tason (Benoson) oral 0,5-1 mg sehari. Intra-

artikuler triam si nolon 2,5-15 mg (fosfat: Ke-

nacort A) atau deksametason 4-12 mg (Na-

fos fat: Oradexon, Forte cortin).

C4. Penisilamin: Cuprimin, Kelatin, Gerodyl

Derivat penisilin ini yaitu  zat chelasi, 

yaitu dapat mengikat logam berat secara ki-

miawi (Cu, Pb, Hg) dan mempermudah pe-

ngeluarannya dari tubuh (1953). Berkhasiat 

antiradang serta antierosif dan dianggap se-

bagai obat slow-acting yang paling efektif. 

Mulai kerjanya baru tampak sesudah 4-8 

minggu. Plasma-t½ hanya ±1 jam. Selain pada 

A.R. zat ini juga dipakai  pada keracunan 

logam berat dan penyakit Wilson (degenerasi 

sel hati dengan endapan tembaga di kornea).

Efek samping sering terjadi dan berupa gang-

guan lambung-usus dan cita-rasa, reaksi 

alergi dan yang lebih serius yaitu  kelainan 

darah, ginjal, paru dan saraf mata. Sering 

kali terjadi defisiensi vitamin B

6, yang dapat 

diatasi dengan pemberian piridoksin 25 mg/

hari.


Dosis: 1 dd 125-250 mg a.c., bila perlu setiap 

1-3 bulan dapat dinaikkan dengan 125-250 

mg sehari, maks. 1,5 g sehari.

C5. Auranofin: Ridaura

Senyawa emas-glukosa ini (1982) berkha-

siat antiradang dan imunosupresif, juga 

menghambat produksi faktor rema (IgM). 

Dalam makrofag auranofin tidak mencegah 

pelepasan enzim-enzim lysosomal, namun  me-

rintangi efeknya. Efektivitasnya dapat disa- 

makan dengan klorokuin, namun  kurang am-

puh dibandingkan sediaan emas parenteral 

aurothioglukosa (Auromyose) dan aurothio-

maleat (Tauredon). Plasma-t½ panjang, 17-26 

hari. 

Efek samping hebat terutama pada sediaan 

i.m sering kali mengaki batkan penghentian 

dan gagalnya terapi. Sangat berbahaya ka-

rena tidak jarang memicu  kematian 

disebabkan aplasia sumsum tulang dengan 

kelainan darah (agranulositosis, leuk openi, ane-

mia aplastik) dan gangguan ginjal (proteinuria). 

Di samping itu timbul juga gangguan lam-

bung-usus, reaksi kulit, pruritus, stomatitis 

dan conjunctivitis.

Dosis: oral 2 dd 3 mg, sebaiknya 1 dd 6 mg, 

maks. 9 mg/hari. Bi la terjadi diare hebat 3 mg 

sehari. 

C6. Leflunomida: Arava

DMARD ini yaitu  suatu prodrug yang 

berkhasiat imunosupresif, antiproliferatif dan 

antiradang. dipakai  pada rema aktif dan 

psoriasis. Efeknya baru nyata sesudah  4-6 mi- 

nggu.

Absorpsinya baik, ±90%, keadaan stabil di-

capai sesudah 3 hari. Metabolisme berlang-

sung cepat di mukosa usus dan di hati me-

ngalami FPE, eliminasinya lambat, lewat urin 

dan feses.

Efek sampingnya berupa imunodefisiensi 

parah dengan kemunduran fungsi sumsum 

tulang, leukopenia dan trombopenia, juga a.l. 

insufisiensi ginjal, gangguan lambung-usus, 

rambut rontok dan eksem.

D. IMUNOSUPRESIVA

Untuk mencegah sendi-sendi cepat aus, si-

tostatika imunosupresif sekarang di diberi- 

kan pada stadium dini dari rema aktif. Seba-

gai pilihan pertama dipakai  metotrek-

sat (atau sulfasalazin). Di samping khasiat 

imunosupresifnya (menekan imunitas selu-

ler dan humoral) obat-obat ini juga berkha-

siat antira dang, yang mekanisme kerjanya 

belum diketahui dengan jelas. Semua sito-

statika bersifat teratogen dan karsinogen, 

maka pada dasarnya tidak boleh diberikan 

pada wanita di bawah usia 40-50 tahun.Lihat 

selanjutnya Bab 14. Sitostatika.

*Metotrexat: MTX, Farmitrexat, Ledertrexat

Metotrexat dapat merintangi radang sendi 

kronis dengan efek lebih cepat dan efektif 

daripada azatioprin. Efek samping terpenting 

yaitu  penurunan daya tahan tubuh sehingga 

sangat rentan terhadap infeksi, a.l. tbc. Obat 

ini juga toksik bagi hati.

Dosis: oral, i.m. atau i.v. 3 x seminggu 2,5-5 

mg dengan interval 12 jam, atau 1 x 10 mg. 

Bila perlu dinaikkan setiap 6 minggu dengan 

2,5 mg sampai maks. 25 mg seminggu.

*Azatioprin (Imuran) Dosis: oral 1 mg/kg/

hari dalam 1-2 dosis, bila perlu dinaikkan 

setiap 4 minggu dengan 0,5 mg/kg, maks. 2,5 

mg/kg/hari

*Siklofosfamida (Endoxan). Dosis: oral 1 

mg/kg/hari, sering kali bersama prednison.

D1. Etanercept: Enbrel

Protein reseptor-TNF human ini (1998) 

merintangi secara kompetitif pengikatan TNF 

pada reseptornya di permukaan sel. Dilapor- 

kan efektif pada rema parah untuk meng-

hentikan erosi (efek DMARD). Masa paruh 

±70 jam dan BA ±76%. Injeksi subkutan 

menghasilkan efek sesudah 2 minggu.

 Efek samping berupa a.l. infeksi saluran 

pernapasan dan sinusitis, gangguan lam-

bung-usus, sakit kepala dan pusing. Juga ke-

lainan darah (anemia, leukopenia) dan gang-

guan saraf (demyelinisasi seperti pada MS).

Dosis: s.k. 2 x seminggu 25 mg.

D2. Infliximab: Remicade

Antibodi monoklonal chimeric (human-ti-

kus) ini mengikat TNF dengan membentuk 

kompleks stabil (1998). Terjadi imunosupresi 

yang tidak lengkap, namun  infiltrasi lekosit ke 

bagian-bagian sendi yang meradang berku- 

rang. Pada penyakit Crohn kadar TNF di usus 

halus juga menurun. Biasanya dipakai  

sebagai obat tambahan pada MTX untuk 

mengurangi erosi sendi (efek DMARD) dan 

untuk memelihara remisi pada penyakit 

Crohn. Ternyata bahwa obat ini maupun 

etanercept  lebih efektif daripada MTX pada 

rema parah untuk menghentikan kerusakan 

sendi lebih lanjut. (Lipsky PE. Infliximab 

and MTX in the treatment of R.A. New Engl J 

Med 2000; 343: 1546-602). Dalam percobaan 

infliximab ternyata juga ampuh terhadap 

penyakit kulit  psoriasis dibanding etanercept 

(±76% versus 40%). Masa paruhnya panjang 

sekali 8-9 hari dan efeknya baru nampak 

sesudah  2-3 minggu. 

Efek samping berkaitan dengan supresi 

TNF endogen: pasien mudah terkena infeksi, 

khususnya TBC akut. Bila hal ini terjadi pe-

ngobatan harus dihentikan. Yang sering kali 

timbul yaitu  gangguan lambung-usus dan 

hati, sesak napas, demam dan sakit kepala.

Dosis: pada RA dalam kombinasi dengan 

MTX melalui infus i.v. 3 mg/kg bobot badan, 

diulang sesudah 2 dan 6 minggu, lalu setiap 

8 minggu. Pada penyakit Crohn hebat 5 mg/

kg, bila perlu diulang sesudah 14 minggu. 

Colitis: juga 5 mg/kg infus 2 jam, diulang 

sesudah  2 dan 6 minggu, kemudian setiap 8 

minggu.

Dosis: awal 1 dd 100 mg selama 3 hari, lalu 

pemeliharaan 1 dd 10-20 mg

II. OBAT-OBAT ENCOK

Arthritis urica

Encok (gout) yaitu  nama sekelompok gang-

guan pada metabolisme purin dan asam urat, 

pada mana kadar berlebihan dalam plasma 

memicu  pengendapan kristal natrium-

urat di sendi dan cairan synovialnya. Yang 

paling sering ada  yaitu  encok sendi 

(arthritis urica). Selain sendi gangguan ini 

terutama juga timbul pada jaringan ikat kulit 

(tophi, celluli tis) dan ginjal (nefropa thy, batu 

kalsium-urat/fosfat). Seperti rematik, encok ber-

lang sung bergelombang dan bila tidak segera 

diobati akhirnya terjadi artrose, sebab  tulang 

rawan berangsur-angsur diru sak.

Faktor risiko. Dahulu di Eropa encok 

dianggap sebagai penyakit orang kaya dan 

terutama orang gemuk. Diperkirakan encok 

disebabkan oleh makanan dan minum alko-

hol terlampau banyak. Pengidap encok ter-

masyhur yaitu  antara lain Iskandar Besar, 

Michel angelo, Luther dan Darwin. Sampai 

sekarang tidak diketahui dengan tepat pe-

nyebab encok, namun  kini diketahui bahwa 

memang terda pat sejumlah faktor risiko selain 

kadar urat yang meningkat (hiperurikemi-

a), yaitu keturunan, kelamin dan pola hidup 

dengan kurang aktivitas fisik. Ditemukan 

tanda-tanda kuat tentang adanya hubungan 

antara penyakit jantung (hipertensi, gagal 

jantung) dan encok. Penyelidikan kecil dalam 

suatu praktik dokter memperlihatkan bahwa 

pasien hipertensi lebih sering mengidap 

encok, masing-masing 43% dibanding 20% di 

kelompok kontrol. Anggapan umum bahwa 

diuretika dapat memicu serangan encok 

tidak dapat dibuktikan. 

Dianjurkan untuk menghindari jeroan, 

otak, kaldu daging, bayam, kacang-kacangan, 

duren, salmon, ikan sardencis dan herring 

sebab  kandungan purinnya yang tinggi, 

Juga untuk mengurangi asupan ikan salem, 

tongkol, kalkun, daging merah, asparagus 

dan jamur.

Juga alkohol harus dihindari, sebab  

walaupun tidak mengandung purin namun  

menghambat ekskresi asam urat.

Prevalen si nya di Eropa dan AS ditaksir 

2,6 per 1.000 orang sampai 10% pada pria 

Maori di New Zealand. Penderita encok pria 

±10 kali lebih besar daripada wanita. Mulai-

nya encok pada pria biasanya pada usia 

antara 40-60 tahun, sedang  pada wanita 

kebanyakan sesudah menopause. 

Pathogenesis. Serangan akut diprovokasi 

oleh endapan urat tinggi yang jarum-jarum 

kristalnya merusak sel dengan memicu  

nyeri hebat. Sendi membengkak, menjadi 

panas, merah dan sangat sakit bila disentuh 

(dolor, tumor, calor dan rubor), tersering di 

jempol kaki atau pergelangan kaki-tangan 

dan bahu. Sering kali juga demam tinggi 

dan pada stadium lanjut timbul tophi (Lat. 

tophus = batu gunung bera pi), yaitu ben jolan 

keras di cuping telinga, kaki atau tangan dan 

jempol kaki. 

Peradangan di sendi memicu  

pelepas an zat-zat chemotactic yang menarik 


neutrofi l ke cairan synovial. Granulosit ini 

«memakan» kristal urat melalui fagositosis, 

kemudian dengan sendirinya pun musnah 

sambil melepaskan beberapa zat, antara lain 

suatu glikoprotein, radikal oksigen dan enzim-

enzim lisosomal(protea se, fosfatase), yang ber sifat 

destruktif bagi tulang ra wan. Glikop rotein 

itu  bila diinjeksikan intra-artikuler da-

pat memicu  serangan encok! Selain itu 

terben tuk pula asam laktat yang sebab  sifat 

asamnya mempermu dah presipita si urat 

selanjutnya. Mungkin terjadi pula aktivasi 

sistem prostag landin. Dengan demikian pro-

ses peradan gan diperkuat dan terpelihara 

terus menerus. Bandingkan patolo gi rematik. 

Gambar 21-4: Pembengkakan jempol 

kaki sebab  encok

Fisiologi urat

Pada perombakan protein inti (DNA/RN A) 

terbentuk basa-basa purin adenin dan gua-

nin. Adenin dirom bak menjadi hy poxanthin, 

guanin menjadi xanthin. Hypoxanthin 

diuba h menjadi xanthin oleh enzim xanthi-

noxydase dan selan jutnya menjadi asam urat. 

Lihat skema reaksi berikut ini.

Seluruh asam urat dalam tubuh berjumlah 

±1 g, sedang  produksi dan ekskresinya 

seimbang. Sebagian kecil dari urat dipergu-

nakan kembali untuk sintesis protein inti, 

namun  sisanya diekskresi melalui ginjal (70%) 

dan usus (30%). Urat difil trasi oleh glome- 

ruli ginjal dan diresorpsi kembali oleh tubuli 

proximal (bagian pertama), akhirnya baru di-

ekskresi hingga 75% oleh tubuli distal (bagi-

an jauh). Diureti ka mengham bat ekskresi di 

tubuli distal, begitu pula alkohol dalam jum-

lah tinggi, yang di samping itu juga men-

stimulasi produksi urat.

Nilai urat dalam darah yang dianggap 

normal bagi pria yaitu  0,20-0,42 mmol/l, 

bagi wanita 0,15-0,36 mmol/l (Jacobs JWG. 

De standaard ‘Jicht’ van het NHG. NTvG 2002; 

146:295-6). Titik jenuh teoretis dari urat dalam 

plasma 37° C yaitu  0,42 mmol/l (= 7 mg/100 

ml). biasanya  bila nilai urat melebihi 

6 mg/100 ml, risiko terkena serangan encok 

besar sekali. Oleh sebab  itu hiperu rikemia 

di atas 0,55 mmol/l (= 9 mg/100 ml) sudah 

cukup serius untuk diobati. 

Hiperurikemia/encok primer dapat disebab-

kan oleh berku rangnya ekskresi (pada 80-

90% dari kasus) atau oleh produk si urat 

berlebihan (10-20%).

Hiperurikemia/encok sekunder dapat ter-

jadi antara lain oleh hiperpro duksi urat 

dengan perombakan masal dari protein inti, 

seperti selama terapi dengan sitostatika atau 

akibat berkurang nya ekskresi urat seperti pa- 

da insufisiensi ginjal, penggu naan lama dari 

diuretika dan sesudah  pembedahan. Obat TB 

(INH, pirazina mida dan ethionami da) juga 

dapat meningkatkan kadar urat dan mem-

provokasi encok. Menurut laporan rifabutin 

juga memicu  artritis.

Diagnosis. Kadar urat tinggi tidaklah spe-

sifik bagi encok dan tidak begitu sering me-

nimbulkan gejala. Penderita “tersembunyi” 

(dengan hiperuri kemiaasimto matik) memiliki 

risiko besar akan kerusakan ginjal. Kristal urat 

dapat mengen dap di jarin gan tanpa diketahui 

dan hanya ±30% dari mereka mende rita 

batu ginjal urat. Selama serangan pun, pada 

hampir separuh dari pasien, tidak ditemu- 

kan kadar urat tinggi. Oleh sebab  itu 

hiperuri kemia tidak selalu harus disertai 


Seluruh asam urat dalam tubuh berjumlah ±1 g,  sedang  produksi dan ekskresinya seimbang.

Sebagian kecil dari urat dipergunakan kembali untuk sintesis protein inti, namun  sisanya

diekskresi melalui ginjal (70%) dan usus (30%). Urat difiltrasi oleh glomeruli ginjal dan

diresorpsi kembali oleh tubuli proximal (bagian pertama), akhirnya baru diekskresi hingga 75%

oleh tubuli distal (bagian jauh). Diuretika menghambat ekskresi di tubuli distal, begitupula

alkohol dalam jumlah tinggi, yang di samping itu juga menstimulasiproduksi urat.

Nilai urat dalam darah yang dianggap normal bagi pria yaitu  0,20-0,42 mmol/l, bagi wanita

0,15-0,36 mmol/l (Jacobs JWG. De standaard ‘Jicht’ van het NHG. NTvG 2002;146:295-6).

Titik jenuh teoretis dari urat dalam plasma 37° C yaitu  0,42 mmol/l (= 7 mg/100 ml). Pada

umumnya bila nilai urat melebihi 6 mg/100 ml, risiko terkena serangan encok besar sekali. Oleh

sebab  itu hiperurikemia di atas 0,55 mmol/l (= 9 m /100 ml) sudah cukup serius untuk diobati.


Hiperurikemia/encok primer dapat disebabkan oleh berkurangnya ekskresi (pada 80-90% dari

kasus) atau oleh produksi urat berlebihan (10-20%).

Hiperurikemia/encok sekunder dapat terjadi antara lain oleh hiperproduksi urat dengan

perombakan masal dari protein inti, seperti selama terapi dengan sitostatika atau akibat

berkurangnya ekskresi urat seperti pada insufisiensi ginjal, pemakaian  lama dari diuretika dan

sesudah  pembedahan. Obat TB(INH, pirazinamida dan ethionamida) juga dapat meningkatkan

kadar urat dan memprovokasi encok.  Menurut laporan rifabutin juga memicu  artritis.

5

Diagnosis. Kadar urat tinggi tidaklah spesifik bagi encok dan tidak begitu sering memicu 

gejala. Penderita "tersembunyi" (dengan hiperurikemiaasimtomatik) memiliki risiko besar akan

kerusakan ginjal. Kristal urat dapat mengendap di jaringan tanpa diketahui dan hanya ±30% dari

mereka menderita batu ginjal urat. Selama serangan pun, pada hampir separuh dari pasien, tidak

ditemukan kadar urat tinggi. Oleh sebab  itu hiperurikemia tidak selalu harus disertai encok.

Namun, semakin tinggi kadar asam urat, semakin besar risiko akan gejalanya.

encok. Namun, semakin tinggi kadar asam 

urat, semakin besar risiko akan gejalanya. 

Artritis kronis atau sering kambuh, pada 

akhirnya dapat merusak tulang rawan. Foto 

Röntgen memperlihat kan ruang sendi yang 

menyempit akibat susutnya tulang rawan. 

Di gnosis dapat dipasti ka  dengan jalan 

pe entuan ristal urat dalam cairan sy ovial 

dan isi tofi melalui mikroskop polari sasi. 

Bila perlu juga dilakukan punctio sendi. Pada 

pseudo-encok tidak ditemukan kristal urat 

melainkan kristal kalsium-pyrofosfat (

 

Tindakan um m

U tuk prevensi kambuhnya ser ngan encok 

dapat dituruti suatu aturan hidup tertentu. 

Bila ada  over weight, perlu menjalani 

diet menguruskan tubuh, banyak minum 

(minimal 2 l sehari), membatasi asupan al-

kohol (bir), menghindari stres fisik dan men- 

tal serta diet purin (daging merah, ikan ter-

tentu). pemakaian  diuretika tiazida harus 

dihentikan dan diganti dengan obat (hiper-

tensi) lain.

* Diet yang miskin purin dengan hanya sedi-

kit daging atau ikan dan tanpa organ dalam 

seperti otak, hati, ginjal dan juga terubuk. 

namun  kini diketa hui bahwa kebanya kan 

purin menurunkan kadar urat dengan hanya 

10-15% dan tidaklah mencukupi untuk me- 

nurunkannya sampai kadar ideal < 6 mg/dl, 

sehingga tidak dapat mengu rangi timbulnya 

serangan encok, lagipula kesetiaan terapinya 

sulit. namun  diet ini bermanfaat sebagai tam-

bahan dari terapi terhadap batu ginjal (urat). 

Usahakan untuk menghindari alkohol dan 

kopi. 

Pengobatan

* Terapi serangan akut: kolkisin dan NSAID. 

Serangan encok dapat ditangani secara efek-

tif dengan kolkisin. Efek yang berhasil dari 

obat enco  tertua ini memberikan kepas-

tian menge nai tepatnya diagnosis. Obat ini 

bersifat kumulasi yang perlu diperhatikan.

Semua NSAID memiliki keampuhan yang 

sama, namun  daya kerjanya lebih cepat dan 

kurang toksik daripada kolkisin Yang sering 

kali dipakai  yaitu  diklofe nac, napro-

ksen, piroxicam dan indometa sin. Obat-

obat ini paling bermanfaat bila diminum 

sedini mungkin. Bila tidak berhasil biasanya 

diberikan kortikosteroid sampai gejalanya 

mereda. 


*Terapi prevensi dengan penghambat xan- 

tinoxidase. Pasien yang menderita 3 se-

rangan atau lebih dalam satu tahun, dapat 

melakukan terapi interval segera sesudah  

serangan terakhir lewat. Maksudnya ialah 

untuk mengurangi frekuensi dan hebatnya 

seran gan berikutnya serta mencegah keru-

sakan jangka panjang pada sendi dan ginjal. 

Terapi prevensi ini penting pula pada hiperu-

rikemia asimtoma tik dengan batu ginjal atau 

tofi bila kadar urat darah melebi hi 6 mgl/

dl. Obat-obat yang dipakai  untuk terapi 

prevensi yaitu :

a. alopurinol dan febuxostat bila ada  

overproduksi urat. Obat ini mengham bat 

sintesisnya dan menurunkan kadar urat da- 

rah. Sebaiknya dosis berangsur-angsur di-

tingkatkan sampai masing-masing maks. 800 

mg dan 120 mg sehari.

b. urikosurika (benzbromaron, probenesid) 

bila ada  ekskresi urat rendah tanpa 

produksi berlebihan. Obat ini menghindari 

resorpsi urat kembali di tubuli proksimal, 

sehing ga ekskresinya ditingkatkan dan kadar 

darahnya menurun. Peningkatan kadar urat 

dalam urin dapat memicu  batu ginjal 

(Ca-urat/fosfat). Untuk menghind arinya per-

lu minum minimal 2 l/hari termasuk 2 gelas 

larutan natriumsitrat/bikarbonat 1% untuk 

membuat kemih alkalis dan membantu 

pelarutan asam urat (pH ca 6,5).

Urikosurika memobilisasi urat dari depot-

nya di jaringan, sehingga dapat memicu se- 

rangan. Guna mencegah hal ini selama 6 

minggu pertama harus dipakai  zat anti- 

radang (NSAID) dalam dosis rendah. Penta-

karan juga perlu dimulai rendah dengan 

peningkatan berangsur-angsur, berdasar  

tuntu nan kadar urat darah. Tindakan ini 

berlaku pula bagi alopuri nol.

c. obat-obat alternatif: vitamin C, Ca-pan-

totenat dan EPA. Vitamin C (1-2 x 1 g p.c.) 

berkhasiat meningkatkan ekskresi asam urat; 

Ca-pantotenat (2 x 250 mg) perlu untuk pe- 

rombakan urat menjadi urea dan amoniak 

sedang  EPA/DHA (2 x 500 mg) berkhasiat 

menghambat peradangan. Senyawa-senyawa 

ini dapat dipakai  sebagai makanan tam-

bahan (foodsupplement) pada terapi regular.

Efek paradoksal. Pada dosis rendah alo-

purinol dan probenesid memperlihatkan 

efek kebalikannya, yaitu justru menghambat 

ekskresi urat dengan mekanisme yang belum 

jelas. Pengecualian yaitu  zat-zat benzofuran 

(benzbromaron).

Kehamilan dan laktasi. Berhubung ku-

rangnya data mengenai keamanan obat-obat 

prevensi ini, wanita hamil dan selama laktasi 

tidak dianjurkan memakai nya. 

Lamanya terapi. Pada dasarnya terapi pre-

vensi ini harus dilan jut kan seumur hidup. 

namun  sesudah satu tahun pemakaian  

alopuri nol dapat dihentikan dengan peng-

awasan saksama kadar urat darah. Bila 3-6 

bulan kemudian kadar naik lagi di atas 0,55 

mmol/l, terapi dapat diulang.

Pembedahan dapat dilakukan untuk me-

ngeluarkan tofi yang terlalu besar dan meng-

ganggu.

MONOGRAFI

1. Kolkisin (colchicine)

Alkaloid ini diperoleh dari kembang dan 

biji tumbuhan Colchicum autumnale(autumn 

crocus), yang berasal dari India, Afrika Uta ra, 

dan Eropa. Zat ini sudah dipakai  sebagai 

obat encok di abad ke-6 oleh dokter-dokter 

Arab.

Kolkisin berkhasiat antiradang lemah de-

ngan efek baik pada serangan akut (efekti-

vitas 90%) dan efeknya baru nyata sesudah  

12 jam. Tidak menurunkan kadar urat darah 

dan tidak berdaya analgetik. Mekanisme 

kerjanya diduga berda sarkan penghambatan 

sekresi zat-zat chemotactic dan/atau glikoprotein 

dari granulosit yang memegang peranan 

pada rangkai an proses peradangan, sehing-

ga siklusnya dihenti kan. Pengendapan urat 

berkurang, sebab  pemben tukan laktat dan 

fagositosis dihambat. Di samping itu, kolkisin 

juga berdaya antimito tik, yaitu mengham bat 

pembelahan sel (mitosis), namun  sebagai obat 

kanker tidak efektif.

pemakaian nya terutama untuk mengatasi 

serangan akut (sebaiknya dalam 2 jam), namun  

juga pada terapi prevensi bersama alopuri nol 

atau urikosurika untuk mencegah provokasi 

serangan (selama 6 minggu). Profilaksis de- 


ngan kolkisin tunggal tidak dianjurkan ber-

hubung kadar urat tetap tinggi dan penyakit 

dapat terus berlangsung. Obat ini tidak 

bermanfaat bagi gejala rema. 

Resorpsinya dari usus cepat dan hampir 

lengkap, PP 30%, plasma-t½ 30-60 menit. 

Kolkisin terutama menumpuk dalam le kosit 

dengan masa paruh panjang, ±60 jam.

Efek samping sering terjadi sebab  efek ter-

apeutiknya berdekatan dengan efek toksik 

dan berupa gangguan lambung-usus. Pada 

pemakaian  lama dapat terjadi rambut ron- 

tok, neuritis, depresi sumsum tulang (agra-

nulositosis, anemia aplastik) dan kerusakan 

ginjal. Bila timbul gejala intoksikasi (rasa ter-

bakar di leher, kejang perut, diare dengan 

perdarahan, mual hebat), penggun aannya 

harus segera dihentikan.

Wanita hamil dan menyusui tidak dianjurkan 

memakai  obat ini.

Dosis: pada serangan akut oral 1 mg, lalu 

0,5 mg setiap 2 jam sampai maksimal 8 mg 

atau timbul diare. Kur tidak boleh diulang 

dalam jangka waktu 3 hari. Profilaksis (terapi 

kombinasi): 0,5-1,5 mg malam hari setiap dua 

hari.

2. Alopurinol: Zyloric, Urica

Derivat pirimidin ini (1967) efektif sekali 

untuk menormalkan kadar urat darah dan 

urin yang meningkat. Berkhasiat menguran gi 

sintesis urat atas dasar persaingan sub-strat 

dengan zat-zat purin berlandasan peng-

hambatan enzim xanthinoxidase (XO). Purin 

seperti hipoxanthin dan xanthin dirombak oleh 

XO menjadi asam urat. Te tapi dengan adanya 

alopurinol, XO melakukan aktivitasnya ter-

hadap obat ini sebagai ganti purin. Akibatnya 

perombakan hipoxanthin dikuran gi dan 

sintesis urat menurun dengan ±50%. Kadar 

urat berangs ur turun, tofi menyusut dan batu 

urat tidak dibentuk lagi. sesudah  1-3 minggu 

kadar urat mencapai nilai normal. Untuk 

jelasnya lihat persamaan reaksi di atas. Guna 

menghindari tercetusnya serangan encok 

akut pada awal terapi dianjurkan untuk 

bersamaan dipakai  kolkisin per oral atau 

suatu NSAID dosis rendah. Selain pada terapi 

interval encok, alopurinol juga dipakai  

sebagai obat pencegah selama kur sitostatika 

untuk jangka waktu minimal 4 minggu, pada 

mana peromba kan cepat dari jaringan tumor 

dapat memicu  hiperurikemia sekunder.

Resorpsi dari usus baik (80%) dan cepat, ti-

dak terikat pada protein darah. Di dalam 

hati, obat ini dioksidasi oleh XO menjadi 

oksipurinol(= alloxanthine) aktif, yang teru-

tama diekskresi dengan urin. Plasma-t½ 2-8 

jam, pada oksipurinol melebihi 20 jam ber-

hubung adanya resorpsi kembali di tubuli.

Efek samping agak sering terjadi, terutama 

reaksi alergi kulit, juga gangguan lambung-

usus, nyeri kepala, pusing dan rambut ron-

tok. Adakalanya timbul pula demam dan 

kelainan darah. Kerusa kan hati dan ginjal 

pernah dilaporkan, begitu juga sindrom Ste-

vens-Johnson41 pada dosis di atas 200 mg. 

Untuk mewaspadai hipersensitivitas terha-

dap alopurinol dianjurkan untuk meng-

gunakan dosis awal rendah dan lambat la-

un ditingkatkan, singkatnya sesuai anjuran 

“Start Low, Go Slow With Allopurinol”. 

Interaksi. Alopurinol menghambat enzim 

XO, maka perombakan zat-zat yang diubah 

oleh XO juga dirintangi, sehingga efeknya 

diperku at. Contohnya yaitu  antagonis pu- 

rin azathioprin (Imuran) dan merkapto-

purin. Oleh sebab  itu, dosis sitostatika ter-

sebut perlu diturunkan sampai 25-30%. Daya 

kerja antikoa gulansia dan klorpropamida 

diperku at. Pada pemakaian  kombinasi 

salisilat dan urikosurika dosisnya perlu 

dinaikkan, sebab  ekskresi oksipurinol 

dipercepat oleh zat-zat itu .

Dosis: pada hiperurikemia 1 dd 100 mg p.c., 

bila perlu dinaik kan setiap minggu dengan 

100 mg sampai maksimum 10 mg/kg/hari. 

Profilaksis pada pemakaian  sitostatika: 600 

mg sehari dimulai 3 hari sebelum terapi.

* Febuxostat (Uloric).40 sesudah  jangka waktu 

40 tahun kini telah dikembangkan lagi suatu 

obat baru terhadap encok (2010), yaitu 

febuxostat (dosis 40,80 dan 120 mg) dengan 

mekanisme kerja serupa dengan alopurinol, 

yaitu menurunkan kadar asam urat melalui 

penghambatan selektif oleh ksantin-oxi-

dase. Penyelidikan lebih lanjut mengenai 

efektivitas dan keamanannya telah selesai 

dan sejak 2006 obat ini beredar di USA dan 

banyak negara lain. pemakaian nya agak 

jarang sebab  harganya hampir 3 kali lebih 


tinggi. Dosis dimulai rendah 1dd 40 mg dan 

berangsur-angsur dapat ditingkatkan sampai 

80-120 mg. Untuk menghindari timbulnya 

serangan sebaiknya seperti pada alopurinol, 

diberikan bersamaan kolkisin atau NSAID 

dengan dosis rendah selama 4-6 minggu.

* Pegloticase (Krystexxa) yaitu  rekatan ki-

mia dari PEG (polietilenglikol) dengan uri-

kase (peptida). Enzim ini dapat mengubah 

asam urat menjadi alantoin yang jauh le-

bih mudah melarut daripada asam urat, 

sehingga menghindari pengendapannya. 

Dengan demikian kadar urat diturunkan 

dan deposit kristal urat di sendi dan jaringan 

lunak dikurangi. Pada tahun 2010 FDA 

mengidzinkan peredaran obat baru ini untuk 

indikasi encok kronis parah yang tidak dapat 

diturunkan kadar asam uratnya dengan 

alopurinol. Obat ini memiliki t½ panjang, 

sekitar 10-12 hari, oleh sebab  itu cukup 

diberikan intravena 1 kali setiap minggu 

sampai 4 minggu. 

3. Benzbromaron: Narcaricin, Desuric

Derivat benzofuran ini (1970) bersifat 

urikosurik dengan merintangi penyerapan 

kembali urat di tubuli proximal. Ekskresinya 

ditingkatkan dan kadar urat darah menurun. 

Tidak memicu  efek paradoksal pada dosis 

rendah. Kerjanya pan jang, maka pada peng-

gunaan lama dapat dihentikan selama 2-3 

minggu.

Resorpsi dari usus hanya untuk 50%, PP 

99% dan t½ 12-24 jam. Dalam hati obat ini 

dirombak menjadi metabolit aktif broma ron 

dan brombenzaron, yang untuk 90% lebih 

diekskresi melalui empedu dan feses. Sisanya 

dikeluarkan lewat urin sebagai glukuronida.

Efek samping berupa gangguan lambung-

usus (diare), reaksi alergi kulit, nyeri kepala, 

kolik ginjal, sering berkemih dan provokasi 

serangan encok. Overdosis memicu  

mual dan muntah, hepatitis dan gangguan 

fungsi ginjal.

Dosis: oral permulaan 1 dd 50 mg d.c., 

berangsur dinaikkan sampai maksimal 300 

mg; pemeliharaan 50-200 mg sehari. Selama 

6 minggu pertama bersama kolkisin atau 

NSAID untuk menghindari serangan.

4. Probenesid:Probenid, Benemid, Benuryl

Derivat  asam benzoat ini (1951) juga bersi-

fat urikosurik dengan mekanisme sama 

seperti benzbromaron. Dengan meningkatnya 

kadar urat dalam urin, penderita harus 

banyak minum untuk mengurangi risiko 

timbulnya batu ginjal. Juga dianjurkan untuk 

pada awal terapi memakai  kolkisin atau 

obat NSAID untuk menghindari tercetusnya 

serangan encok, yang dapat timbul pada seki-

tar 20% penderita yang diobati hanya dengan 

probenesid saja.

Kini obat ini khusus dipakai  pada tera-

pi interval encok. Probenesid tidak efektif 

terhadap serangan akut. Pada dosis yang lebih 

rendah dari 500 mg/hari berefek paradoksal, 

yakni justru menghambat ekskresi. Semula 

zat ini dipasarkan berdasar  khasiat-

nya dapat menghambat ekskresi tubuler 

dari penisi lin, sehingga kadar darahnya 

meningkat dan efeknya diperpan jang. 

Obat ini juga merintangi ekskresi dari 

banyak obat lain, antara lain sefalosporin 

(kecuali sefaloridin), eritromisin, sulfona-

mida, diuretika thiazida dan furosemida, 

indometasin, naproksen dan PAS sehingga 

kadar plasma dari obat-obat ini meningkat. 

Oleh sebab  itu dosisnya sering kali harus 

dikurangi.

Resorpsi di usus cepat dan tuntas, efek 

urikosurik sudah dimulai sesudah  30 menit 

dan penghambatan ekskresi penisilin sesudah  

2 jam. PP ±90%. Ekskresi terutama sebagai 

metabolit melalui urin. Plasma-t½ 4-17 jam 

dan tergantung dosis.

Efek samping tidak begitu sering terjadi 

dan berupa gangguan lambung-usus, sakit 

kepala, reaksi alergi kulit, sering berke mih 

dan kolik ginjal. Juga dapat terbentuk batu 

urat, yang dapat dihindari dengan membuat 

kemih alkalis sampai pH 6,5 (dengan natri-

umsitrat atau -bikarbonat). Jarang sekali me-

nimbulkan kelainan darah atau nefritis.

Interaksi: Toksisitas MTX dapat meningkat, 

sehingga dosisnya harus diturunkan. Salisilat 

di atas 1,5 g/hari dapat mengurangi efeknya, 

oleh sebab  itu jangan dipakai  selama 

terapi.

Dosis: oral 2 dd 250 mg d.c. selama 1 minggu, 

lalu 2 dd 500 mg dan bila perlu berangsur-

angsur dinaikkan sampai maksimal 2 g se- 

hari. Untuk memperpanjang daya kerja pe-

nisilin: 4 dd 500 mg; sebagai adjuvans pada 

gonore single dose dari 1 g. 


ANALGETIKA NARKOTIK

Analgetika narkotik, kini disebut juga opi-

oida (= mirip opiat) yaitu  obat-obat yang 

mekanisme kerjanya meniru (mimic) opioid 

endogen dengan memperpanjang aktivasi 

dari reseptor-reseptor opioid (biasanya µ-re-

septor). Zat-zat ini bekerja terhadap reseptor 

opioid khas di SSP, hingga persepsi nyeri dan 

respons emosional terhadap nyeri berubah 

(dikurangi). Daya kerjanya dirintangi oleh a.l. 

nalokson. Minimal ada 4 jenis reseptor, yang 

pengikatan padanya memicu  analge sia. 

Tubuh dapat mensinte sis zat-zat opi oidnya 

sendiri, yaitu zat-zat endorfin, yang juga be-

kerja melalui resep tor opioid itu .

Endorfin (morfin endogen) yaitu  kelompok 

polipeptida yang ada  di CCS dan da-

pat memicu  efek yang menyerupai 

efek morfin. Zat-zat ini dapat dibedakan an-

tara ß-endorfin, dynorfin dan enkefalin (Yun. 

enkephalos = otak), yang menduduki reseptor-

reseptor berlainan. Secara kimiawi zat-zat ini 

berkaitan dengan hormon-hormon hipofisis 

dan berefek menstimulasi pelepa san kortiko-

tropin (ACTH), juga somatropin dan prolaktin. 

Sebalik nya, pelepa san LH dan FSH dihambat 

oleh zat ini. β-endorfin pada hewan berkhasi-

at menekan pernapasan, menu runkan suhu tubuh 

dan memicu  ketagihan. Lagipula berefek 

analgetik kuat, dalam arti tidak mengubah 

persepsi nyeri, melainkan memperbaiki “pe- 

nerimaannya”. Rangsangan listrik dari bagian-

bagian tertentu otak mengakibat kan pening- 

katan kadar endorfin dalam CCS. Mungkin 

hal ini menjelaskan efek analgesia yang 

timbul selama elektrostimul asi pada aku-

punktur atau pada stres, misalnya pada ce-

dera hebat. Peristiwa efek plasebo juga dihu-

bungkan dengan endorfin. 

Penggolongan

Atas dasar mekanisme kerjanya, obat-obat ini 

dapat dibagi dalam 3 kelompok, yaitu: 

1. agonis opiat, yang dapat dibagi dalam:

– alkaloida candu: morfin, kodein, heroin, 

nikomorfin

–  zat-zat sintetik: metadon dan derivatnya 

(dekstromoramida, propoksifen, bezitra-

mida), petidin dan derivatnya (fentanil, 

sufentanil) dan tramadol.

Mekanise kerja obat-obat ini sama dengan 

morfin, hanya berlainan mengenai potensi 

dan lama kerjanya, efek samping dan risiko 

akan kebiasaan dengan ketergantungan fisik. 

2. antagonis opiat: nalokson, nalorfin, penta-

zosin dan buprenorfin (Temgesic). Bila diguna-

kan sebagai analgetik, obat-obat ini dapat 

menduduki salah satu reseptor. 

3. campuran: nalorfin, nalbufin (Nubain). Zat-

zat ini dengan kerja campuran juga mengikat 

pada reseptor opioid, namun  tidak atau ha-

nya sedikit mengaktivasi daya kerjanya. Kur-

va dosis/efeknya memperlihatkan plafon 

yang berarti sesudah dosis tertentu, pening- 

katan dosis tidak memperbesar lagi efek 

analgetikya. Praktis tidak memicu  de-

presi pernapasan.

Potensi analgetik

Khasiat analgetik dari morfin oral 30-60 mg 

dapat disamakan dengan dekstromoramida 

5-10 mg, metadon 20 mg, dekstropropoksifen 

100 mg, tramadol 120 mg, pentazosin 100/180 

mg dan kodein 200 mg.

Khasiat analgetik dari morfin subkutan/

i.m. 10 mg yaitu  kurang lebih ekivalen de-

ngan fentanil 0,1 mg, heroin 5 mg, metadon 


10 mg, nalbufin 10 mg, petidin 75/100 mg, 

pentazosin 30/60 mg dan tramadol 100 mg.

Undang-Undang Narkotik. Di kebanyakan 

negara, beberapa unsur dari kelompok obat 

ini, seperti propoksifen, pentazosin dan trama-

dol, tidak termasuk dalam Undang-undang 

Narkotik, sebab  bahaya kebias aan dan 

adiksinya ringan sekali. Namun pengguna-

annya untuk jangka waktu lama tidak dian-

jurkan. Sejak tahun 1978 sediaan-sediaan 

dengan kandungan propok sifen di atas 135 

mg di negeri Belanda dima sukkan dalam 

Opiumwet (Undang-Undang opiat). Lihat se-

lanjutnya Bab 23, Drugs.

Mekanisme kerja

Endorfin bekerja dengan jalan menduduki 

reseptor-reseptor nyeri di SSP, hingga pera-

saan nyeri dapat diblokir. Khasiat analgetik 

opioida berdasar  kemampuannya untuk 

menduduki sisa-sisa reseptor nyeri yang 

belum ditempati endorfin. namun  bila anal-

geti ka itu  dipakai  terus-menerus, 

pembentukan reseptor-reseptor baru disti-

mulasi dan produksi endorfin di ujung saraf 

otak dirin tangi. Akibatnya terjadilah kebia-

saan dan ketagihan.

pemakaian  

Rasa nyeri hebat (seperti pada kanker)

Ada banyak penyakit yang disertai rasa 

nyeri, yang terkenal yaitu  influenza dan 

kejang-kejang (pada otot atau organ), artro-

se dan rema (pada sendi) dan migrain. Un- 

tuk gangguan-gangguan ini tersedia obat-

obat khas (a.l. parasetamol, NSAID’s, suma-

triptan). namun  yang paling hebat dan men-

cemaskan yaitu  rasa sakit pada kanker, 

walaupun sebetulnya hanya kurang lebih dua 

per tiga dari penderita yang mengalaminya. 

Begitu pula hanya ±70% disebabkan langsung 

oleh penyakit ganas ini, di luar ini perasaan 

sakit memiliki etiologi lain, mis. artritis. Oleh 

sebab  itu prinsip untuk menghilangkan 

atau mengurangi rasa sakit berupa penelitian 

dengan saksama pemicu nya, obat-obat apa 

yang layak dipakai  sesuai tangga analgetika 

(lih. di bawah) dan memantaunya secara 

periodik untuk mendapatkan cara pengen-

dalian rasa sakit yang optimal.

Rasa sakit merupakan suatu pengalaman 

yang rumit dan unik untuk tiap individu 

yang juga dipengaruhi oleh faktor-faktor psi-

kososial dan spiritual dari ybs. Oleh sebab  

itu untuk kasus-kasus perasaan nyeri yang 

tidak/sukar terkendalikan yaitu  penting 

untuk memperhitungkan faktor-faktor terse-

but. di atas.

Tangga analgetika (tiga tingkat). WHO telah 

menyusun suatu program pemakaian  anal-

getika untuk nyeri hebat, seperti pada kanker, 

yang menggolongkan obat dalam tiga kelas, 

yaitu:

a.  non-opioida: NSAID’s, termasuk asetosal, 

parasetamol dan kodein

b. opioida lemah: d-propoksifen, tramadol 

dan kodein, atau kombinasi parasetamol 

dengan kodein

c.  opioida kuat: morfin dan derivatnya 

(heroin) serta opioida sintetik

Menurut program pengobatan ini pertama-

tama diberikan 4 dd 1 g paracetamol, bila 

efeknya kurang, beralih ke 4-6 dd parase-

tamol-kodein 30-60 mg. Baru bila langkah 

kedua ini tidak menghasilkan analgesi yang 

memuaskan, dapat diberikan opioid kuat. 

Pilihan pertama dalam hal ini yaitu  morfin 

(oral, subkutan kontinu, intravena, epidural 

atau spinal). 

Tujuan utama dari program ini yaitu  

untuk menghindari risiko kebiasaan dan 

adiksi untuk opioida, bila diberikan tanpa 

aturan. 

Efek-efek samping umum

Morfin dan opioida lainnya memicu  

sejumlah besar efek samping yang tidak di-

inginkan, yaitu:

– supresi SSP, misalnya sedasi, menekan 

pernapasan dan batuk, miosis, hipothermia 

dan perubahan suasana jiwa (mood). Aki-

bat stimulasi langsung dari CTZ (Chemo 

Trigger Zone) timbul mual dan muntah. 

Pada dosis lebih tinggi memicu  

menurunnya aktivitas mental dan mo-

torik.

– saluran pernapasan: bronchokonstriksi, 

pernapasan menjadi lebih dangkal dan 

frekuensinya menurun

– sistem sirkulasi: vasodilatasi perifer, pa-

da dosis tinggi hipotensi dan bradycardia

– saluran cerna: motilitas berkurang (obs-

tipasi), kontraksi sfingter kandung empe-

du (kolik batu empedu), sekresi pankreas, usus 

dan empedu berkurang

– saluran urogenital: retensi urin (sebab  

naiknya tonus dari sfingter kandung ke-

mih), motilitas uterus berkurang (waktu 

persalinan di perpanjang)

– histamin liberator: urticaria dan gatal-

gatal, sebab  stimulasi pelepa san histamin 

– kebiasaan dengan risiko adiksi pada pe-

nggunaan lama. Bila terapi dihentikan da-

pat terjadi gejala abstinensi.

Kehamilan dan laktasi. Opioida dapat me-

lintasi plasenta, namun  boleh dipakai  sam-

pai beberapa waktu sebelum persalinan. 

Bila diminum terus menerus, zat ini dapat 

merusak janin akibat depresi pernapasan 

dan memperlambat persalinan. Bayi dari ibu 

yang ketagi han menderita gejala abstinensi. 

Selama laktasi ibu dapat memakai  opi-

oida sebab  hanya sedikit yang masuk ke 

dalam air susu ibu.

Kebiasaan dan ketergantungan

pemakaian  untuk jangka waktu lama pada 

sebagian pemakai menim bulkan kebiasaan 

dan ketergantungan. pemicu nya mungkin 

sebab  berkurangnya resorpsi opioid atau 

perombakan/eliminasinya yang diperce pat, 

atau bisa juga sebab  penurunan kepekaan 

jaringan. Obat menjadi kurang efektif, se-

hingga diperlukan dosis yang lebih tinggi 

untuk menca pai efek semula. Peristiwa ini 

disebut toleran si (menurunnya respons) dan 

bercirikan bahwa dosis tinggi dapat diterima 

tanpa menimbul kan efek intoksikasi.

Di samping ketergantungan fisik itu  

ada  pula ketergantun gan psikis, yaitu ke-

butuhan mental akan efek psikotrop (euforia, 

rasa nyaman dan segar) yang bisa menjadi 

sangat kuat, sehingga pasien seolah-olah ter-

paksa melanjutkan pemakaian  obat. Lihat 

juga Bab 23, Drugs.

Gejala abstinensi (withdrawal syndrome) se-

lalu timbul bila pemakaian  obat dihenti-

kan dengan mendadak dan pada awalnya 

bergejala menguap, berke ringat hebat dan 

air mata mengalir, tidur gelisah dan kedi-

nginan. Lalu timbul muntah-muntah, diare, 

tachycardia, mydriasis (pupil membesar), tre-

mor, kejang otot, peningkatan tensi, yang dapat 

disertai dengan reaksi psikis hebat (gelisah, 

mudah marah, kekhawatiran mati).

Efek-efek ini menjadi pemicu  mengapa 

penderita yang sudah ketagihan sukar seka-

li menghentikan pemakaian  opiat. Guna 

menghindari efek-efek tidak nyaman ini, me- 

reka “terpaksa” melanjutkan pemakaian nya.

Ketergantungan fisik lazimnya sudah hi-

lang dua minggu sesudah  pemakaian  obat 

dihentikan. Ketergantungan psikis sering 

kali sangat erat, oleh sebab  ittu pembebasan 

yang tuntas sukar sekali dicapai.

Antagonis morfin

Antagonis morfin yaitu  zat-zat yang dapat 

melawan efek-efek samping opioida tertentu 

tanpa mengurangi kerja analgetiknya. Yang 

paling terkenal yaitu  nalokson, naltrekson 

dan nalorfin. Obat-obat ini terutama digu-

nakan pada overdosis atau intoksikasi. Kha-

siat antagonisnya diperkirakan berda sar kan 

penggese ran opioda dari tem patnya di re-

septor-reseptor otak. Antagonis morfin ini 

sendiri juga berkhasiat analgetik, namun  tidak 

dipakai  dalam terapi sebab  khasiatnya 

lemah dan efek samping tertentu mirip mor-

fin (depresi pernapasan, reaksi psikotik).

MONOGRAFI

1. Morfin (F.I.): MSTcontinus, MS Contin, Ka-

panol

Candu atau opium yaitu  getah yang 

dikeringkan dan diperoleh dari tumbuhan 

Papaver somniferum (Lat., memicu  tidur). 

Morfin mengandung dua kelompok alkaloid 

yang secara kimiawi sangat berlainan. Ke-

lompok fenantren meliputi morfin, kodein 

dan tebain; kelompok kedua yaitu  kelompok 

isokinolin dengan struktur kimiawi dan 

khasiat sangat berlai nan (a.l. non-narkotik), 

yaitu papaverin, noskapin (= narkotin) dan 

narsein. Morfin berkhasiat analgetik sangat 

kuat, lagi pula memiliki banyak jenis efek 

pusat lainnya, a.l. sedatif dan hipnotik, 

menimbul kan euforia, menekan pernapasan 

dan menghi langkan refleks batuk, yang 

semuanya berdasar  supresi sususan saraf 

pusat (SSP). Morfin juga memicu  efek 

stimulasi SSP, mis. miosis (penciutan pupil 

mata), eksitasi dan konvulsi. Efek stimulasinya 

pada CTZ memicu  mual dan muntah-

muntah sedang  efek perifernya yang 

penting yaitu  obstipasi, retensi urin dan 

pelepasan histamin yang memicu  

vasodilatasi pembuluh kulit dan gatal-gatal 

(urticaria).

pemakaian nya khusus pada nyeri hebat 

akut dan kronis, seperti pasca-bedah dan 

sesudah  infark jan tung, juga pada tahap  terminal 

dari kanker. Banyak dipakai  sebagai tablet 

retard untuk memperpanjang efeknya .

Resorpsi di usus baik, namun  BA hanya ±25% 

akibat FPE besar. Mulai kerjanya sesudah  1-2 

jam dan bertahan sampai 7 jam. Resorpsi 

dari suppositoria umumnya sedikit lebih 

baik, secara s.c./i.m. baik sekali. PP-nya 35%; 

dalam hati 70% dari morfin dimetabolisasi 

melalui senyawa konyugasi dengan asam 

glukuronat menjadi morfin-3-glukuronida 

yang tidak aktif dan hanya sebagian kecil (3%) 

dari jumlah ini terbentuk morfin-6-gluku- 

ronida dengan daya kerja analgetik lebih kuat 

dari morfin sendiri. Ekskresinya melalui urin, 

empedu dengan siklus entero hepatik dan feses.

Antidota. Pada intoksikasi dipakai  anta-

gonis morfin sebagai antidotum, yaitu nalok-

son, lihat nr 6.

Dosis: dewasa oral 3-6 dd 10-20 mg garam-

HCl, s.c/i.m. 3-6 dd 5-20 mg. Anak-anak: oral 

2 dd 0,1-0,2 mg/kg.

Sediaan:

*  Pulv. Opii: 10% morfin

* Pulv. Doveri: 1% morfin + Radix Ipeca-

cuanhae + K2SO4.

*  Acidov II: pulvis Doveri 150 mg + salamid 

350 mg.

*  Heroin (diamorfin, diasetilmorfin) ada-

lah turunan semi-sinte tik (Bayer, 1897) de-

ngan kerja analgetik yang 2 x lebih kuat, 

namun  mengaki batkan adiksi yang cepat 

serta hebat sekali dan dianggap sebagai 

salah satu obat yang paling berbahaya di 

sejarah modern. Dengan alasan ini, heroin 

tidak dipakai  lagi dalam terapi, namun  

sangat diminati oleh para pecan du drugs, 

lihat Bab 23. Drugs. Kelarutannya dalam 

lipid lebih baik daripada morfin, oleh 

sebab  itu mulai bekerjanya juga lebih 

pesat bila diberikan per injeksi.

2. Kodein (F.I.): metilmorfin, *Codipront

Alkaloid candu ini memiliki khasiat yang 

sama dengan indukny a, namun  lebih lemah, 

misalnya efek analgetiknya 6-7 x kurang kuat. 

Efek samping dan risiko adiksinya lebih ri- 

ngan, sehingga sering kali dipakai  seba-

gai obat batuk, obat anti-diare dan obat an-

tinye ri, yang diperkuat melalui kombinasi 

dengan parasetamol/asetosal. Obstipasi dan 

mual dapat terjadi terutama pada dosis lebih 

tinggi (di atas 3 dd 20 mg). Resorpsi oral dan 

rektal baik; di dalam hati zat ini didemetilasi 

menjadi norkodein dan morfin (10%) yang 

memberikan sifat analgetiknya. 

Ekskre si lewat urin sebagai glukuronida 

dan 10% secara utuh. Plasma-t½ 3-4 jam.

Dosis: untuk nyeri, oral 3-6 dd 15-60 mg 

garam-HCl, anak-anak di atas 1 thn 3-6 dd 0,5 

mg/kg. Untuk batuk 4-6 dd 10-20 mg, maks. 

120 mg/hari, anak-anak 4-6 dd 1 mg/kg.

* Etilmorfin (Dionin) yaitu  derivat dengan 

khasiat analgetik dan hipnotik lebih lemah; 

penghambatannya terhadap pernapasan juga 

lebih ringan. Untuk menekan batuk, zat ini 

kurang efektif dibandingkan kodein, namun  

dahulu banyak dipakai  dalam sediaan 

obat batuk. 

* Noskapin (narkotin, Longatin, Mercotin, 

Neocodin) yaitu  alkaloid candu lain, tanpa 

sifat narkotik, yang lebih efektif sebagai 

obat batuk, lihat selanjutnya Bab 41, Obat-

obat Batuk. Noskapin tidak termasuk dalam 

Daftar Narkotik sebab  tidak memicu  

ketagihan. Dosis: pada batuk 2-3 dd 15-30 mg, 

maks. 200 mg/hari.

3. Fentanil: Fentanyl, Durogesic, *Thalamonal

Derivat piperidin ini (1963) merupakan turun- 

an dari petidin (Dolantin) yang jarang di-

gunakan lagi sebab  efek samping dan sifat 

adiksinya, lagi pula daya kerjanya singkat 

(3 jam) sehingga tidak layak untuk mereda-

kan rasa sakit jangka panjang. Efek analge-

tik agonis opiat ini 80 x lebih kuat daripada 

morfin. Mulai kerjanya cepat, yaitu dalam 

2-3 menit (i.v.), namun  singkat, hanya ±30 

menit. Zat ini dipakai  pada anestesi dan 

infark jantung. 

Efek sampingnya mirip morfin, termasuk 

depresi pernapasan, bronchospasme dan ke-

kakuan otot (thorax). Zat ini jarang menim-

bulkan penghambatan sirkulasi seperti penu-

runan cardiac output dan bradycardia. 

Dosis: pada infark i.v. 0,05 mg + 2,5 mg 

droperidol (Thalamonal), bila perlu diulang 

sesudah  ½ jam. Plester transdermal (Durogesic) 

melepaskan senyawa ini dengan konstan se-

lama 72 jam dan dipakai  pada nyeri parah 

kronik yang memerlukan zat opioid dan 

analgetika lain tidak dapat dipakai .

* Sufentanil (Sufenta/forte) yaitu  derivat 

(1982) dengan efek analgetik ±10x lebih kuat. 

Sifat dan efek sampingnya sama dengan 

fentanil. Zat ini terutama dipakai  pada 

anestesi dan pasca-bedah, juga pada waktu 

his dan persalinan (dikombinasi dengan sua-

tu anestetikum). 

Dosis: pada waktu his dan persalinan epi-

dural 10 mcg bersama bupivakain, bila perlu 

diulang dua kali.

4. Metadon: Amidon, Symoron

Zat sintetik ini (1947) yaitu  suatu cam-

puran rasemis, yang memiliki efek analgetik 

2x lebih kuat daripada morfin dan juga 

berkhasiat anestetik lokal. 

Resorpsi di usus baik, PP 90%, plasma-t½ 

rata-rata 25 jam dan efeknya dapat bertahan 

sampai 48 jam pada terapi pemeliha raan bagi 

para pecandu. Umumnya metadon tidak me-

nimbulkan euforia, sehingga banyak digu-

nakan untuk menghindari gejala abstinensi 

sesudah  penghentian pemakaian  opioida la- 

in. Khusus dipakai  bagi para pecandu 

sebagai obat pengganti heroin dan morfin 

pada terapi substitusi. 

Efek samping kurang hebat dari morfin, 

terutama efek hipnotik dan efek euforianya 

lemah, namun  bertahan lebih lama. Penggu-

naan lama juga memicu  adiksi yang 

lebih mudah disembuhkan. Lihat selanjutnya 

Bab 23, Drugs. Efek obstipasinya agak ringan, 

namun  pemakaian nya selama persalinan ha-

rus dengan berhati-hati sebab  dapat mene-

kan pernapasan.

Dosis: pada nyeri oral 4-6 dd 2,5-10 mg 

garam-HCl, maks. 150 mg/hari. Terapi peme-

liharaan bagi pecandu: permulaan 20-30 mg, 

sesudah  3-4 jam 20 mg, lalu 1 dd 50-100 mg 

selama 6 bulan.

Dekstromoramida (Palfium) yaitu  opioid 

sintetik (1956) yang rumusnya mirip meta-

don. Khasiat analgetiknya sedikit lebih kuat 

daripada morfin. Mulai kerjanya cepat, efek- 

nya sesudah  20-30 menit dan bertaha n lebih 

singkat, ±3 jam. Depresi pernapa san lebih 

kuat dibandingkan morfin (pada dosis biasa 

dapat terjadi apnoe), begitu pula efek adik-

sinya. Tidak cocok untuk pengobatan nyeri 

kronis. Efek sedasi dan obstipasinya lebih ri-

ngan. 

Dosis: oral, s.c. atau i.m. 3-4 dd 2,5-5 mg 

sebagai hidrogen tartrat. Dapat juga diberikan 

sublingual.

5. Tramadol: Tramal

Derivat sikloheksanol sintetik ini (1977) 

yaitu  campuran rasemis dari 2 isomer. Kha-

siat analgetiknya sedang dan berkhasiat 

menghambat reuptake noradrenalin dan be-

kerja antitussif (anti-batuk). Obat ini di se-

bagian negara dianggap sebagai analge-

tikum opiat sebab  bekerja sentral, yaitu 

melalui pendudukan reseptor µ-opioid oleh 

cis-isomernya. namun  zat ini tidak menekan 

pernapasan, praktis tidak memengaruhi sis-

tem kardiovaskuler atau motilitas lambung-

usus. Walaupun memiliki sifat adiksi ringan, 

dalam praktik ternyata risikonya hampir ni-

hil sehingga tidak termasuk Daftar Narko-

tika di kebanyakan negara (AS, GB, BRD, 

Belanda, Swis, Swedia dan Jepang) terma-

suk negara kita . Efek analgetik dari 120 mg 

tramadol oral setaraf dengan 30-60 mg 

morfin oral. pemakaian nya juga rektal 

dan parenteral untuk nyeri sedang sampai 

hebat, bila kombinasi parasetamol-kodein 

dan NSAIDs kurang efektif atau tidak dapat 

dipakai . Untuk nyeri akut atau kanker 

umumnya morfin lebih ampuh. 

Resorpsi di usus cepat dan tuntas dengan 

BA rata-rata 78%, PP 20%, plasma-t ½ 6 jam. 

Efeknya dimulai sesudah 1 jam dan dapat 

bertahan 6-8 jam. Dalam hati sebagian besar 

diuraikan menjadi a.l. o-desmetil, metabolit 

dengan daya kerja 6 kali lebih kuat melalui 

pengikatan pada reseptor µ-opioid. Ekskresi 

berlang sung lewat urin, untuk 10% secara 

utuh.

Efek samping tidak begitu serius dan paling 

sering berupa termangu-mangu, berkeringat, 

pusing, mulut kering, mual dan muntah, juga 

obstipasi, gatal-gatal, rash, nyeri kepala dan 

rasa letih. Risiko habituasi, ketergantungan 

dan adiksi ringan, namun  tidak dianjurkan 

pemakaian nya oleh penderita dengan seja-

rah penyalahgunaan drugs.

Catatan. Semua reseptor µ-opioid agonis 

memicu  gejala mual dan muntah me- 

lalui stimulasi langsung reseptor opioid di 

pusat muntah (lih. Bab 17, Antiemetika). Efek 

samping gastro-intestinal lainnya yaitu  obs-

tipasi yang juga terkait dengan sifat opioid 

yakni penurunan peristaltik dan peningkatan 

absorpsi air dari usus.7

Wanita hamil dan menyusui. Opioida dapat 

melintasi plasenta dan selama ini diketahui 

tidak merugikan janin bila dipakai  jauh 

sebelum partus. Hanya 0,1% dari dosis masuk 

ke dalam air susu ibu. Meskipun demikian 

tramadol tidak dianjurkan selama kehamilan 

dan laktasi.

Dosis: di atas 14 tahun 3-4 dd 50-100 mg, 

maks. 400 mg sehari. Anak-anak di atas 1 ta-

hun: 3-4 dd 1-2 mg/kg.

6. Nalokson: Narcan

Antagonis morfin ini memiliki rumus mor-

fin dengan gugus-alil pada atom-N (1969). 

Senyawa ini dapat meniadakan semua kha- 

siat morfin dan opioida lainnya, terutama 

depresi pernapasan tanpa mengurangi efek 

analgetiknya. Penekanan pernapasan dari 

obat-obat depresi SSP lain (barbital, siklopro-

pan, eter) tidak dihilang kan, namun  juga tidak 

diperkuat seperti halnya dengan nalor fin. 

Juga tidak memiliki kerja agonistis (analge-

tik). pemakaian nya sebagai antidotum pada 

overdosis opioida (dan barbital), pasca-bedah 

untuk meng atasi depresi pernapasan oleh 

opioida. Secara diagnostik untuk menentu kan 

adiksi sebelum dimulai dengan pemakaian  

naltrexon.

Kinetik. sesudah  injeksi i.v. sudah timbul 

efek sesudah  2 menit, yang bertahan 1-4 jam. 

Plasma-t½ hanya 45-90 menit, lama kerjanya 

lebih singkat dari opioida, maka biasanya 

perlu diulan g bebera pa kali. 

Efek samping dapat berupa tachycardia 

(sesudah  bedah jantung), jarang reaksi alergi 

dengan syok dan udema paru-paru.

Pada penangkalan efek opioida terlalu pe-

sat dapat terjadi mual, muntah, berkeringat, 

pusing-pusing, hipertensi, tremor, seran gan 

epilepsi dan terhentinya fungsi jantung.

Dosis: pada overdosis opioida, intravena per-

mulaan 0,4 mg, bila perlu diulang setiap 2-3 

menit.

* Nalorfin (alilnormorfin) yaitu  zat induk 

nalokson (1952) dengan khasiat sama, kecu- 

ali juga berkhasiat analgetik lemah di sam-

ping memperkuat depresi yang bersifat ri-

ngan. Zat ini mampu meniadakan depresi 

pernapasan yang hebat oleh opioida atau 

akibat opioida dengan kerja campuran (ago-

nistis dan antagonistis) dan zat-zat sentral 

lain. Zat ini hanya dipakai  pada overdosis 

opioida, bila nalokson tidak tersedia.

Dosis: pada overdosis s.c./i.m./i.v. 5-10 mg, 

bila perlu diulang sesudah  10-15 menit sampai 

maks. 40 mg sehari.

* Naltrekson (Nalorex) yaitu  juga derivat 

nalokson, pada mana gugus-alil diganti de-

ngan siklopropil (1985). Sifatnya antagonis 

murni yang tidak memicu  toleransi 

atau ketergantungan fisik dan psikis. Dalam 

hati zat ini diubah menjadi a.l. metabolit 

aktif 6β-naltreksol yang terutama diekskresi 

melalui urin. Naltrekson mengalami siklus 

enterohepatik dengan masa paruh 4-12 jam.

Pengunaannya terutama untuk meng-

hambat efek opioida berdasar  pengikatan 

kompetitif pada reseptor opioid dan sebagai 

obat anti-ketagihan heroin. Pada pecandu 

opiat memicu  gejala abstinensi hebat 

dalam waktu 5 menit, yang dapat bertahan 48 

jam. Obat ini hanya boleh diberikan sesudah  

penghentian heroin/morfin atau metadon 

minimal masing-masing 7 dan 10 hari. Dosis: 

permulaan 25 mg, bila tidak terjadi efek 

abstinensi sesudah  1 jam diulang dengan 25 

mg. Lalu 50 mg sehari selama 3 bulan atau 

lebih lama.

7. Pentazosin: Fortral

Zat sintetik ini merupakan turunan dari 

morfin (1964), pada mana cincin fenantren 

diganti oleh naftalen. Gugus-N-allil membe-

rikan efek antagonis terhadap opioida lain-

nya. Khasiatnya beragam, yaitu di samping 

antagonis lemah, juga merupakan agonis 

parsiil. Khasiat analge tik nya sedang sampai 

kuat, antara kodein dan petidin (3-6 x lebih 

lemah daripada morfin). Di AS sering kali 

disalahgunakan dalam kombinasi dengan 

antihistam inika dan nalokson.

Resorpsi di usus baik, namun  BA hanya ±20% 

akibat FPE besar. Mulai kerjanya cepat, sete-

lah 15-30 menit dan bertahan minimal 3 jam. 

Efek rektalnya sama dengan pemakaian  

oral. PP 60%, plasma-t½ 2-3 jam. Dalam 

hati zat ini diubah menjadi metabolit yang 

diekskresi terutama lewat urin. 

Dosis: pada nyeri sedang sampai kuat 3-4 

dd 50-100 mg, maks. 600 mg sehari.

8. Kanabis: marihuana, *hashiz, weed, grass

Pucuk dengan kembang dan buah-buah 

muda yang dikeringkan dari bentuk wani- 

ta tumbuhan Cannabis sativa (Asia Barat). 

Kandungannya 0,3% minyak atsiri dengan 

zat-zat terpen, terutama tetrahid ro kanabinol 

(THC). Zat ini banyak khasiat farmakologis-

nya, yang terpenting di antaranya yaitu  

sedatif, hipno tik dan analge tik, antimual 

dan spasmolitik.

Khasiat analgetik dari THC terjadi di batang 

otak, di mana juga ada  titik kerja dari 

opioida. Hanya mekanisme kerjanya yang 

berlainan, reseptor morfin tidak memegang 

peranan dan nalokson tidak melawan efek 

analgesiknya. Di samping itu, ambang nyeri 

diturunkan (Lancet 1998; 352: 1040). Dahulu 

(meskipun jarang) kanabis dipakai  seba-

gai obat tidur, sedativum dan spasmolitikum 

pada tetanus, umumnya dalam bentuk eks- 

trak 2-3 dd 30-50 mg. Sekarang kanabis 

banyak disalahgunakan sebagai zat penyegar 

narkotik (“drug”).

Penelitian akhir-akhir ini melaporkan efek-

tivitas dan pemakaian nya sebagai anti-

emetikum (dan analgetikum) pada kanker, 

stimulans nafsu makan pada penderita 

AIDS dan obat relaksasi kejang/otot pada 

MS. Lihat selanjutnya Bab 23, Drugs.

9. Alfentanil: Rapifen

berdasar  indikasinya senyawa ini pe-

nggunaannya di (poli) klinik terbatas. Ago-

nis opiat sintetik ini memiliki daya kerja 

analgetik kuat dan bekerja maks. sesudah  1 

menit dengan lama kerja 10-20 menit. PP 

92% dan dimetabolisasi dalam hati men-

jadi metabolit-metabolit tidak aktif yang di-

ekskresi terutama via urin.T1/2 di antara 80-

220 menit. dipakai  sebagai zat analgetik 

pada anestesi singkat.

Efek samping sering kali (>10%) nyeri pada 

lokasi injeksi, mual dan muntah, mengantuk, 

kaku otot, depresi pernapasan, pusing dan 

gangguan penglihatan. 

Dosis: untuk penanganan lebih singkat dari 

10 menit: i.v. 7-15 mcg/kg.

10. Buprenorfin: Transtec, Butrans, Temgesic

Agonis opiat semisintetik ini memiliki 

daya kerja analgetik kuat dan antara lain 

dipakai  dalam bentuk plester yang 

melepaskan senyawa ini dengan kecepatan 

yang relatif konstan.

Kecepatan kerja: i.v. sesudah  15-30 menit 

dan i.m./oromukosal sesudah  30-50 menit 

selama 6 jam. Resorpsi sesudah  injeksi i.m. 

cepat namun  lambat melalui oromukosal. PP 

95% dan dimetabolisasi dalam hati menjadi 

a.l. norbuprenorfin. 

Ekskresi 2/3 bagian utuh melalui feses dan 

sepertiga via urin. T1/2 dari tablet oromukosal 

3-4 jam dan dari plester ± 20 jam. dipakai  

terhadap nyeri pasca bedah dan nyeri akibat 

kanker. Jangan dipakai  oleh wanita hamil 

dan yang menyusui. 

Efek samping tergantung dari bentuk pem-

beriannya. Pada pemberian parenteral me-

ngantuk dan apathi. Melalui plester sering 

kali mual, eritem dan gatal di tempat injeksi, 

juga muntah, obstipasi, sakit perut, mulut 

kering, sakit kepala dan pusing.

Dosis: untuk nyeri pasca bedah permulaan 

i.m. 0,3-0,6 mg. Lansia 1-4 dd 0,2 mg. Nyeri 

sebab  kanker: oromukosal 3-4 dd 0,2-0,4 mg

11. Hidromorfon: Paladon

Merupakan alkaloid candu dengan khasiat 

analgetik kuat yang efektif dalam 5 menit 

sesudah  injeksi i.v., atau 5 – 10 menit sesudah  

injeksi s.k. dan 30 menit sesudah  pemberian 

per oral yang berlangsung untuk 4 jam. Da- 

ya kerjanya berlangsung selama 12 jam pada 

pemberian per oral dari sediaan time re-

leased.

Di dalam hati dimetamobilisasi melalui 

konyugasi menjadi terutama glukuronida. 

Ekskresi via urin terutama sebagai hidro-

morfon terkonyugasi. T1/2 2-4 jam. dipakai  

pada nyeri kanker hebat dan nyeri pasca 

bedah.

Dosis: untuk nyeri kanker permulaan 1,3-2,6 

mg tiap 4-6 jam dan tergantung dari hebatnya 

nyeri dosis dapat ditingkatkan 25-50% per 24 

jam. I.v. permulaan 1-1,5 mg tiap 3-4 jam. 

Injeksi s.k. 1-2 mg tiap 3-4 jam. Untuk lansia 

dosis awal dianjurkan untuk dikurangi.

12. Oksikodon: OxyContin, OxyNorm

Khasiat farmakologiknya tidak banyak ber-

beda dari morfin, yaitu analgetik, anksiolitik 

dan sedatif. Resorpsi tahap  cepat ±37 menit dan 

tahap  lambat ±6 jam. Di metabolisasi terutama 

menjadi metabolit senyawa noroksikodon 

dan senyawa oksimorfon. Sifat analgetik dari 

noroksikodon yaitu  ±1% dari oksikodon 

sedang  dari oksimorfon 14 kali lebih ku-

at. T1/2 ±3 jam (kapsul, tablet) dan 3,5 jam 

(larutan injeksi). dipakai  terhadap nyeri 

hebat a.l. pasca bedah. 

Efek samping sering kali (>10%) sedasi, obs-

tipasi, mual , muntah dan sakit kepala. Juga 

ano