Tampilkan postingan dengan label selpunca kardiovaskular. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label selpunca kardiovaskular. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

selpunca kardiovaskular

 




Penyakit kardiovaskuler (PKV) merupakan 

pemicu  morbiditas dan mortalitas utama 

baik pada laki-laki maupun wanita di seluruh 

dunia, termasuk Indonesia.1,2  sebab  itu, PKV 

merupakan suatu masalah kesehatan global, dengan 

beban utama pada negara sedang berkembang.3 

Angka mortalitas PKV pada negara dengan low 

income (low income artinya berpenghasilan US$825 

atau kurang per kapita, dan middle income (di antara 

low and high income) berkisar 80%.5 Pengetahuan 

mengenai faktor-faktor risiko penyakit jantung 

koroner (PJK) diperoleh dari negara dengan high 

income $10.066  atau lebih per kapita per tahun).1,5 

Sebagai negara dengan income tertinggi di dunia, 

penyakit jantung koroner merupakan pemicu  

sepertiga kematian pada tahun 60-an di Amerika 

Serikat, sedang  tahun 90-an angka kematian ini 

telah menurun hampir 50% dari tingkat 

sebelumnya.6 Hal ini berarti pencegahan dan 

pengobatan yang efektif dalam menurunkan PJK 

harus didasarkan pada pengetahuan berbagai faktor 

risiko penyakit kardiovaskuler. Indonesia termasuk 

negara dengan middle income, atau negara 

berkembang, dengan income sekitar US$3.533 per 

kapita tahun 2014, berdasar  data IMF yang 

dikeluarkan tahun 2015. 

 

      Studi epidemiologik berhasil mengemukakan 

beberapa  faktor risiko utama yang memicu  

perkembangan aterosklerotik PKV dan penelitian 

klinis acak juga telah memaparkan manfaat dalam 

mengurangi tingkat faktor risiko.1 Penelitian 

Framingham (Framingham Heart Study) pertama 

kali memelopori penelitian epidemiologik PKV 

sejak tahun 1948 dengan merekrut 5.209 orang di 

kota Framingham, Massachusetts, Amerika Serikat.8  

Studi Framingham dirancang khusus untuk meneliti 

insiden penyakit kardiovaskuler dan faktor-faktor 

yang berhubungan dengan perkembangannya.9 

 

       Hasil penelitian ini membuka tabir 4 faktor 

risiko utama PKV yakni hipertensi, 

hiperkolesterolemia, hipertrofi ventrikel kiri dan 

diabetes melitus.9  Studi Framingham selanjutnya 

mendapatkan 7 faktor risiko konvensional utama 10 

yaitu usia, jenis kelamin, tekanan darah, kolesterol 

total dan HDL, merokok, intoleransi glukosa, dan 

left ventricular hypertrophy (LVH). 11 berdasar  

faktor-faktor risiko ini, dikembangkan algoritma 

berisi beberapa  skor prediksi penyakit 

kardiovaskuler dari akumulasi faktor-faktor risiko 

ini , dikenal sebagai Framingham Risk Score 

(FRS) atau skor risiko Framingham,12  yang  

mengestimasi risiko mendapat PKV selama 10 tahun 

13  dan  akhir-akhir ini estimasi risiko dilakukan 

selama 30 tahun.8, 14, 15  Estimasi jangka pendek 

kejadian sindroma koroner akut (ACS, acute 

coronary syndrome) dan kematian mendadak 

(sudden cardiac death) dalam penilaian 1 tahun 

memerlukan faktor risiko baru, berupa beberapa  

biomarker seperti brain natriuretic protein (BNP), 

bone morphogenic protein (BMP), transforming 

growth factor-E (TGF-E) dan neuroprotein D1.16  

 

       Faktor-faktor risiko konvensional PKV menjadi 

target pengobatan untuk mengurangi risiko kejadian 

kardiovaskuler jangka panjang.17 Untuk mengetahui 

manfaat penurunan faktor risiko yang berhubungan 

dengan kejadian PKV, maka timbul berbagai 

pertanyaan, seberapa besar peran masing-masing 

faktor risiko dalam memicu  penyakit 

kardiovaskuler ? Bagaimana gambaran penurunan 

faktor risiko terhadap penurunan angka mortalitas 

PKV ? Faktor risiko mana yang paling berpengaruh 

terhadap penurunan angka mortalitas ?  

 

       Berbagai studi melaporkan bahwa stem cell, 

dalam hal ini endothelial progenitor cells (EPCs), 

suatu adult stem cell berperan penting dalam proses 

penyembuhan pembuluh darah akibat iskemia dan 

aterosklerosis.18 Bagaimana hubungan jumlah dan 

daya migrasi stem cell atau endothelial progenitor 

cell di dalam darah terhadap faktor risiko PKV ? 

Bagaimana pula hubungan antara EPC dengan 

proses aterosklerosis, yang mendasari kejadian 

PKV? Untuk itu, bab ini akan memaparkan hasil 

studi klinis tentang faktor-faktor risiko yang 

berkaitan dengan penyakit kardiovaskuler dan 

hubungannya dengan EPC serta peran EPC dalam 

sirkulasi terhadap sistem kardiovaskuler.  


HUBUNGAN ANTARA FAKTOR RISIKO 

DENGAN PENYAKIT KARDIOVASKULER 

 

Studi kasus kontrol terbesar sampai sekarang, 

dikenal sebagai studi INTERHEART, dimuat di 

Lancet 2004, merupakan suatu studi amat 

representatif dari populasi dengan infark miokard. 

Studi ini merekrut 15.152 kasus dan 14.820 kontrol 

dari 262 pusat medis di 52 negara, dari seluruh 

populasi yang tinggal di 5 benua meliputi : Asia, 

Eropa, Timur Tengah, Afrika,  Australia,  Amerika 

Utara, dan Amerika Selatan. Penelitian ini 

memfokuskan pada hubungan sembilan faktor risiko 

dengan kejadian infark miokard, yaitu merokok, 

lipid, hipertensi, diabetes, obesitas, diet, aktivitas 

fisik, alkohol, dan faktor psikososial. Hasil studi 

ini mendapatkan bahwa kesembilan faktor risiko 

ini  berhubungan dengan 90% population 

attributable risk (PAR) pada laki-laki dan 94% 

pada wanita,5 yang berarti bahwa lebih dari 90% 

proporsi infark miokard disebabkan oleh faktor-

faktor risiko ini . sedang  lima faktor 

risiko berikut berasosiasi dengan 80% PAR ; rasio 

apolipoprotein B dan A >(rasio kolesterol LDL 

dan HDL (odds rato 3.25)@, merokok (2.87), 

diabetes (2.37), riwayat hipertensi (1.91) dan 

obesitas abdomen diukur dari rasio pinggang-

panggul (1.12) (Gambar 1).5 Rasio ini 

berhubungan lebih kuat terhadap infark miokard 

daripada indeks massa tubuh. Faktor risiko 

obesitas abdomen dan stres berhubungan dengan 

kejadian infark miokard.

 

 

 

Gambar 1. Risiko infark miokard akut dan hubungannya dengan faktor risiko.  

Smk = smoking. DM=diabetes mellitus. HTN=hypertension. Obes=abdominal obesity. PS=psychosocial. RF=risk 

factors. Odds ratios didasarkan pada merokok sekarang vs tidak pernah, tertil atas vs bawah untuk obesitas abdomen, dan 

kuintil atas dan bawah untuk ApoB/ApoA1. Jika ketiga risiko digantikan dengan merokok sekarang atau sebelumnya, dua 

tertil atas untuk obesitas abdomen dan empat kuintil atas untuk ApoB/ApoA1, maka odds ratio kombinasi faktor risiko 

adalah 129.20 (99% CI 90·24–184·99). 


Faktor proteksi meliputi komsumsi buah-

buahan dan sayur-sayuran setiap hari (odds ratio 

0.70), aktivitas fisik teratur (0.86), dan alkohol 

moderat (0.91), dengan nilai p< 0.0001 (kecuali 

alkohol dengan p=0.03) dalam perbandingan tertil 

tertinggi dan terendah. Dengan konsumsi buah-

buahan, sayur-sayuran dan tidak merokok dapat 

mengurangi risiko relatif infark miokard sampai 

80%.5 Meskipun faktor-faktor ini diamati untuk 

infark miokard, secara logika semua faktor risiko 

juga  berlaku sama untuk angina stabil. Dalam 

praktek klinis, mungkin ditemukan sedikit faktor 

risiko mendasari kejadian PKV, hal ini menunjukkan 

bahwa perubahan genetik dalam enzim turut 

mengatur inflamasi dan stres oksidatif.19 Hal ini 

sesuai dengan hasil INTERHEART bahwa riwayat 

keluarga dengan infark miokard memiliki odds ratio 

1,5 kali lipat dan meningkatkan nilai PAR dari 

sembilan faktor risiko menjadi 91%. 5 

 

 

HUBUNGAN FAKTOR RISIKO DENGAN 

MORTALITAS KARDIOVASKULER 

 

Satu penelitian menilai sebanyak 60.343 laki-laki 

hipertensi dengan atau tanpa faktor risiko tambahan 

(FRT) dibandingkan dengan 29.640 subjek 

normotensif, dilaksanakan di Centre d’Investigations 

Préventives et Cliniques, Perancis  dari 1978 sampai 

1988. Penelitian mortalitas kardiovaskuler dilakukan 

secara prospektif selama 14 tahun. Faktor risiko 

tambahan berupa kolesterol total 2,5 g/L, riwayat 

diabetes, merokok, indek massa tubuh > 28 kg/m2, 

dan denyut jantung > 80 x/menit. Hasil penelitian 

menunjukkan bahwa pada kelompok muda (< 55 

tahun), probabilitas PKV antara isolated 

hypertension dengan subjek normotensif tidak jauh 

berbeda. Angka mortalitas PKV meningkat secara 

dramatis sampai 5 kali lipat dengan 1 sampai 2 

faktor risiko tambahan (FRT), dan 15 kali lipat pada 

kelompok dengan > 2 FRT (p < 0,001 vs subjek 

normotensif) (Gambar 2, atas). 20 

 

       Angka mortalitas PKV pada subjek lebih tua (> 

55 tahun), tiga kali lipat lebih tinggi pada kelompok 

isolated hypertension dengan 1-2 FRT (p<0,001 vs 

kelompok normotensif). Pada kelompok dengan > 

2FRT, kematian akibat PKV menunjukkan 

peningkatan 4,5 kali lipat dibandingkan dengan 

kelompok normotensif (p< 0.001) (Gambar 2, 

bawah). Subjek dengan isolated hypertension secara 

signifikan mempunyai survival (harapan hidup) 

lebih rendah daripada kelompok normotensif, 

sedang  subjek hipertensif dengan 1 atau 2 FRT 

tidak menunjukkan penurunan survival lebih lanjut. 

Hal ini berbeda dengan subjek hipertensif dengan > 

2FRT (Gambar 2, bawah). 20 

 

 

 

 

Gambar 2.  Probabilitas survival untuk mortalitas PKV 

pada laki-laki muda (atas) dan lebih tua (bawah) sesuai 

dengan adanya hipertensi dan faktor risiko tambahan 

(FRT).  Nt, normotensif; Ht 0, subjek hipertensi tanpa 

FRT; Ht 1-2, subjek hipertensif dengan 1 atau 2 FRT; dan 

Ht≥ 3, subjek hipertensif dengan ≥ 3FRT.  


HUBUNGAN PENURUNAN FAKTOR RISIKO 

DENGAN KEJADIAN PENYAKIT 

KARDIOVASKULER 

 

HIPERTENSI 

 

Uji klinis dengan terapi farmakologik telah 

menunjukkan bahwa reduksi faktor risiko dapat 

mengurangi risiko morbiditas dan mortalitas. 21 

Dalam beberapa dekade terakhir, pengobatan dengan 

obat antihipertensi, baik menggunakan diuretik, 


ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker (ARB), 

E-blocker maupun  calcium channel blocker, secara 

efektif menurunkan tekanan darah pada beberapa  

besar pasien, juga mengurangi angka morbiditas dan 

mortalitas PKV. 22,23 Terapi dengan obat 

antihipertensi terbukti mengurangi kejadian stroke 

30-40%, infark miokard 20-25%, dan gagal jantung 

>50%.24    

 

       Sejak dipublikasikan Studi VA (Veterans 

Affairs) Cooperative pertama tahun 1967, maka 

diuretik tiazid menjadi dasar pengobatan 

antihipertensi pada sebagian besar penelitian 

menggunakan kontrol plasebo dan terbukti terjadi 

penurunan outcome PKV, termasuk stroke, PJK, dan 

gagal jantung dengan penurunan tekanan darah.25,26 

Penggunaan obat tiazid memberikan efek penurunan 

tekanan darah dan mengurangi komplikasi 

hipertensi. Studi Systolic Hypertension in the 

Elderly (SHEP) mendapatkan bahwa pengobatan 

isolated systolic hypertension dengan klortalidon 

dengan dosis 12,5-25 mg /hari, mengurangi insiden 

stroke fatal dan non fatal selama 5 tahun secara 

signifikan sampai 36% (95% CI 18% - 50%), 

penyakit jantung koroner sebesar 27% dan gagal 

jantung kongestif 55%  dibandingkan dengan 

plasebo (p<0.0003),  pada pasien berusia 60 tahun 

atau  lebih. Isolated systolic hypertension adalah 

suatu kondisi kenaikan tekanan darah sistolik ≥ 

160mmHg dan dengan tekanan darah diastolik < 90 

mmHg, merupakan suatu bentuk hipertensi yang 

terjadi pada individu berusia lanjut dengan 

peningkatan risiko kejadian PKV. 27 Tekanan darah 

sistolik biasanya cenderung meningkat sedang  

tekanan darah diastolik menurun pada usia di atas 50 

tahun, sehingga isolated systolic hypertension 

dominan terjadi (Gambar 3).28 Hal ini disebabkan 

berkurangnya elastisitas dan compliance arteri besar 

akibat faktor usia dan aterosklerosis akibat 

akumulasi kalsium dan kolagen dan degradasi 

elastin arteri. 28 Kondisi ini menyebabkan 

peningkatan risiko penyakit kardiovaskuler dan renal 

lebih besar akibat kenaikan tekanan darah sistolik 

dibandingkan dengan tekanan darah diastolik.29  

  

      The Antihypertensive and Lipid Lowering to 

Prevent Heart Attack Trial (ALLHAT) melibatkan 

33.357 pasien hipertensi mengkonfirmasi manfaat 

terapi tiazid.30 Tidak ada perbedaan outcome PKV 

atau mortalitas antara klortalidon dengan ACEI 

lisinopril atau CCB amlodipine. Malah insiden gagal 

jantung lebih tinggi pada kelompok lisinopril dan 

amlodipine daripada kelompok yang mendapat 

klortalidon. Hasil metaanalisis melibatkan 147 uji 

klinis acak tersamar menggunakan obat tiazid 

dibandingkan dengan plasebo menunjukkan 

penurunan kejadian gagal jantung sebesar (41-49%), 

stroke (29038%), PJK (14-21%), dan kematian 

akibat berbagai sebab (10-11%).29 Analisis ini 

menunjukkan manfaat tiazid sama dengan obat 

antihipertensi lainnya dalam mengurangi risiko 

kejadian kardiovaskuler, pada semua golongan usia 

dan jenis kelamin. 31,32,33 

 

 

Gambar 3. Frekuensi hipertensi bergantung pada usia dan 

subtipe.  


 

       Studi lain melibatkan golongan antihipertensi 

seperti calcium channel blocker, ACE inhibitors, 

dan angiotensin receptor blocker (ARB). Studi the 

Hypertension Optimal Treatment (HOT) 

membuktikan bahwa pencapaian level tekanan darah 

optimal dan penggunaan lebih dari 1 jenis obat 

antihipertensi diperlukan untuk mengurangi 

komplikasi hipertensi. Penelitian acak ini merekrut > 

18.000 laki-laki dan wanita berusia 50-80 tahun 

dengan tekanan darah diastolik (100-115 mmHg) 

untuk mencapai satu dari 3 target penurunan tekanan 

darah diastolik:  ≤90 mm Hg, ≤85 mm Hg, dan ≤80 

mm Hg. Dengan menggunakan obat felodipine dosis 

awal 5 mg (CCB) dan dosis ditingkatkan untuk 

mencapai target penurunan tekanan darah dan 

penambahan jenis obat antihipertensi jika diperlukan 

selama 3.8 tahun, maka didapati bahwa kejadian 

PKV terendah terjadi pada tekanan darah rata-rata 

138.5/82.6 mm Hg. 34  

 

       Penelitian the Losartan Intervention For 

Endpoint reduction in hypertension (LIFE), suatu 

studi acak tersamar melibatkan 9193 subjek berusia 

55-80 tahun dengan hipertensi dan left ventricular 

hypertrophy (LVH), membandingkan  losartan 

(ARB) atau  atenolol (E-blocker) selama 4 tahun 

mendapatkan bahwa kelompok yang mendapat 

regimen dasar losartan memberikan reduksi 

mortalitas, infark miokard, dan stroke lebih besar 

daripada regimen dasar atenolol untuk penurunan 

tekanan darah yang sama. Reduksi ini lebih banyak 

disebabkan penurunan kejadian stroke dengan 

losartan. Efek proteksi losartan terhadap 


Stem Cell Kardiovaskuler ,

kardiovaskuler disebabkan oleh penurunan tekanan 

darah dan regresi terhadap LVH, sebab  mengurangi 

efek perburukan angiotensin II. 35  

 

 

HIPERLIPIDEMIA 

 

Satu metaanalisis melibatkan 58 uji klinis secara 

acak menunjukkan bahwa penurunan kadar 

kolesterol LDL baik dengan (fibrat, resin, niacin, 

statin, atau perubahan diet), sebesar 1.0 mmol/L 

berasosiasi dengan reduksi kejadian penyakit 

jantung sebesar 11% pada tahun pertama, 24% pada 

tahun  kedua, 33% pada tahun ke 3-5, dan 36% 

tahun berikutnya. Setelah beberapa tahun, reduksi 

kolesterol LDL sebesar 1.8 mmol (70 mg/dL) 

menurunkan kejadian kardiovaskuler sebesar 61%.36  

 

 

Pencegahan Primer 

 

Uji klinis untuk pencegahan primer dan sekunder 

menggunakan statin menunjukkan reduksi 

morbiditas dan mortalitas dari kejadian PKV.19  

Penelitian pencegahan primer seperti studi The West 

of Scotland Coronary Prevention Study 

(WOSCOPS) 37  menunjukkan bahwa terapi dengan 

pravastatin pada pasien dengan peningkatan 

kolesterol total (rata-rata 272 mg/dL) tanpa riwayat 

infark miokard secara efektif mengurangi risiko 

infark miokard nonfatal dan kematian akibat PKV, 

tanpa peningkatan kematian nonkardiovaskuler. 

Penelitian The Air Force/Texas Coronary 

Atherosclerosis Prevention Study 

(AFCAPS/TexCAPS) juga menunjukkan bahwa 

terapi dengan obat penurun kolesterol lovastatin 40 

mg/hari secara signifikan mereduksi risiko kejadian 

koroner pada subjek tanpa bukti klinis PKV. Studi in 

merupakan uji statin skala besar merekrut 6605 laki-

laki (45-73 tahun) dan wanita (55-73 tahun). Kriteria 

inklusi termasuk individu dengan kadar kolesterol 

total (180-264mg/dL) dan kolesterol LDL (130-190 

mg/dL) atau normal dan kadar HDL laki-laki (< 

45mg/dL) dan wanita (47 mg/dL) atau di bawah 

normal. Setelah kurang lebih 5 tahun pengobatan, 

lovastatin mengurangi risiko kejadian koroner 

pertama, yaitu infark miokard fatal dan nonfatal, 

angina tidak stabil, atau kematian mendadak sebesar 

37% dibandingkan dengan plasebo (p< 0.001 ; 95% 

CI 21% to 50%).38  

 

Pencegahan Sekunder 

 

Studi Scandinavian Simvastatin Survival Study 

(4S),39 merupakan uji pencegahan sekunder pertama 

mengevaluasi manfaat pengobatan dengan 

simvastatin. Risiko semua kematian menurun 30% 

(p<0.001; 95% CI 15%-42%) dan risiko kematian 

koroner menurun 42% (95% CI 27%- 54%) pada 

kelompok mendapat simvastatin dibandingkan 

dengan kelompok plasebo. 38 Uji the Cholesterol and 

Recurrent Events (CARE) menentukan apakah 

pasien pasca infark miokard dengan kadar kolesterol 

rata-rata normal memberikan manfaat terapi dengan 

obat penurun kolesterol pravastatin. Dengan inklusi 

kadar kolesterol total rata-rata 209 mg/dL dan 

kolesterol LDL 139 mg/dL dan diteliti selama 5 

tahun menunjukkan bahwa terjadi reduksi insiden 

infark miokard fatal dan nonfatal sebesar 24% pada 

pasien mendapat pengobatan pravastatin 

dibandingkan dengan plasebo  (p< 0.003; 95% CI 

9%-36%). Penelitian the Long-Term Intervention 

with Pravastatin in Ischemic Disease (LIPID)40 

menggunakan terapi pravastatin pada pasien dengan 

riwayat infark miokard atau angina tidak stabil 

dengan kadar kolesterol total (155 sampai 271 

mg/dL). Setelah follow-up kurang lebih 6 tahun, 

maka pengobatan pravastatin dapat mengurangi 

risiko relatif kematian akibat PKV sebesar 31% (p< 

0.001; 95% CI 12% -35%) dan mortalitas rata-rata 

sebesar 22% (p< 0.001; 95% CI 13%-31%) 

dibandingkan dengan kelompok plasebo.41  

  

 

Pencegahan Primer/ Sekunder 

 

Setelah memperoleh bukti nyata bahwa pengobatan 

dengan statin memberikan manfaat terhadap reduksi 

morbiditas dan mortalitas kejadian PKV untuk 

pencegahan primer dan sekunder, maka 

dilaksanakan studi the Heart Protection Study (HPS) 

yang lebih representatif terhadap “kenyataan dalam 

praktek” untuk populasi umum. Studi ini merekrut 

pasien berusia lanjut, wanita, dan pasien dengan 

hipertensi, diabetes melitus, atau aterosklerosis 

perifer. Selain itu, penelitian ini juga merekrut 

pasien dengan atau tanpa PKV, sehingga studi ini 

boleh dikatakan sebagai uji kombinasi primer dan 

sekunder. Hasil HPS menunjukkan bahwa 

pengobatan dengan simvastatin selama 5 tahun 

terhadap > 20.000 pasien secara signifikan 

menurunkan mortalitas (end point primer) sebesar 

13% (p< 0.0003;  95% CI 6% -19%) dan kematian 

vaskuler sebesar 17%  (p< 0.0001, 95% CI 9% -

25%). Yang menarik dalam studi ini adalah bahwa 

terapi dengan obat penurun kolesterol ini dapat 

mengurangi kejadian risiko kardiovaskuler sebesar 

25% pada kadar baseline kolesterol LDL < 116 

mg/dL. Sehingga menghasilkan suatu hipotesis 

bahwa kadar kolesterol “semakin rendah semakin 

baik.” 



       Studi ASCOT mempunyai 2 tujuan utama : 

pertama, menilai apakah terapi kombinasi obat 

antihipertensi baru (amlodipin plus ACE 

perindopril jika diperlukan untuk mencapai target 

penurunan tekanan darah) dapat mengurangi PKV 

(infark miokard nonfatal dan fatal) daripada terapi 

kombinasi tradisional (atenolol) dengan diuretik 

(bendroflumetiazid) jika diperlukan dan kedua 

adalah menilai apakah penambahan atorvastatin 

pada kombinasi ini dapat memberikan manfaat 

lebih besar pada pasien subgrup dengan kadar 

kolesterol normal atau sedikit meningkat ( ≤ 251 

mg/dL). Pasien yang direkrut mempunyai paling 

sedikit 3 faktor risiko, seperti merokok, LVH, 

diabetes tipe 2, atau penyakit vaskuler perifer). 

43,44 

 

       Dari jumlah 19.342 pasien yang diacak 

mendapat terapi antihipertensi pada studi ASCOT, 

sebanyak 10.305 pasien dievaluasi lebih lanjut 

sebagai kelompok mendapat obat penurun kolesterol 

dan difollow-up untuk mendapatkan atorvastatin 10 

mg/hari atau plasebo dalam studi ASCOT-LL (the 

Anglo-Scandinavian Cardiac Outcomes Trial– Lipid 

Lowering Arm). 45 Setelah 3,3 tahun, end point 

primer berupa infark miokard nonfatal, termasuk 

silent myocardial infarction, dan PKV fatal secara 

signifikan lebih rendah pada kelompok mendapat 

atorvastatin dibandingkan dengan kelompok plasebo 

(RR 36%, p<0.0005, 95% CI 17%-50%). Penurunan 

end point primer sebesar 36% ini juga diamati pada 

beberapa  end point sekunder termasuk kejadian 

kardiovaskuler total, prosedur revaskularisasi, 

kejadian koroner total dan infark miokard nonfatal 

(termasuk silent infark miokard) dan stroke fatal and 

nonfatal. Atorvastatin menyebabkan reduksi RR 

sebesar 27% (p< 0.024, 95% CI 4%-44%) pada 

stroke nonfatal dan fatal.45 

 

       Studi Greek Atorvastatin and Coronary Heart 

Disease Evaluation (GREACE) baru-baru ini di 

muat di Lancet menilai keamanan pemberian statin 

jangka panjang pada pasien penyakit jantung 

koroner dengan usia <75 tahun dengan melibatkan 

437 pasien dengan gangguan fungsi hati moderat 

(kadar alanine aminotransferase atau aspartate 

aminotransferase kurang dari tiga kali batas atas) 

akibat non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD). 

Hasil menunjukkan bahwa dari 227 pasien yang 

mendapat statin (atorvastatin 24 mg/hari) selama 3 

tahun menunjukkan perbaikan fungsi hati 

(p<0.0001) sedang  210 pasien yang tidak 

mendapat statin menunjukkan peningkatan enzim 

hati. Kejadian kardiovaskuler terjadi pada 22 (10%) 

pada 227 pasien dengan gangguan fungsi hati dan 63 

orang (30%) pada 210 pasien yang tidak mendapat 

statin (RR 68%, p< 0.0001) (Tabel 1). 46  Manfaat 

statin terhadap penyakit kardiovaskuler ini lebih 

besar daripada pasien tanpa gangguan fungsi hati. 

Dari studi ini disimpulkan bahwa terapi statin aman 

dilakukan dan memperbaiki fungsi hati serta 

mengurangi angka mortalitas pada pasien PJK 

dengan gangguan fungsi hati ringan sampai moderat 

yang disebabkan NAFLD. 46   

 


MEROKOK 

 

Berhenti merokok dapat mengurangi risiko kejadian 

kardiovaskuler. Seseorang yang telah berhenti 

merokok selama 1 tahun, risiko penyakit jantung 

koroner (PJK) berkurang sebesar  # 50%.47 Suatu 

tinjauan terhadap 20 penelitian pada orang yang 

telah berhenti merokok didapati reduksi risiko relatif 

(RR) sebesar 36% untuk seluruh pemicu  

mortalitas (95% CI, 29%-42%) dibandingkan 

dengan orang yang meneruskan merokok. RR 

nonfatal berkurang sebesar 32% (95% CI 18%-43%) 

pada mantan perokok versus orang yang meneruskan 

merokok. 48 

 

       Studi Organization to Assess Strategies in 

Acute Ischemic Syndromes (OASIS) ke-5 yang 

merekrut 18.809 pasien dengan acute coronary 

syndrome (ACS), untuk menilai hubungan 

berhenti merokok dengan kejadian kardiovaskuler 

(infark miokard, stroke kematian kardiovaskuler) 

dan semua pemicu  kematian dalam 30 hari 

setelah kejadian ACS untuk difollow up selama 6 

bulan. Dari 64,5% jumlah pasien yang berhenti 

merokok didapati penurunan kejadian infark 

miokard sebesar 43% (odds ratio, 0.57; 95% CI 

0.36-0.89) dibandingkan dengan yang tetap 

merokok.49 Sebaliknya,  terdapat peningkatan 

risiko kejadian kardiovaskuler sebesar 3,8 kali 

lipat pada orang yang tetap merokok dalam 6 

bulan. Berhenti merokok memberikan manfaat 

terhadap perubahan aktivasi platelet, spasme arteri 

koronaria dan aritmia ventrikel. 50 Hasil penelitian 

modifikasi perilaku; merokok, diet dan olahraga 

setelah infark miokard harus menjadi bagian dari 

upaya pencegahan sekunder pada kondisi akut ini, 

bersamaan dengan intervensi farmakologik. 51 

 

 

DIABETES  

 

Kurang lebih 50-70% seluruh kematian pada pasien 

diabetes melitus disebabkan PKV. DM tipe 2 

meningkatkan risiko kematian akibat PJK sebesar 2-

4 kali lipat. 52 Pasien dengan diabetes mempunyai 

kecendrungan mendapat beberapa  faktor risiko 

kardiovaskuler selain hiperglikemia, hipertensi dan 

dislipidemia. sebab  itu, pengontrolan faktor risiko 

secara agresif terhadap semua faktor risiko amat 

penting termasuk perubahan gaya hidup dan 

intervensi farmakologik. Uji klinis terhadap pasien 

diabetes melitus menunjukkan reduksi risiko 

kejadian kardiovaskuler dan pencegahan onset baru 

diabetes melitus pada pasien tanpa diabetes.  53,54,55,56 

       Studi pengontrolan intensif dengan metformin 

pada United Kingdom Prospective Diabetes Study 

(UKPDS) 34 mendapatkan penurunan semua pemicu  

mortalitas, terutama disebabkan kematian 

kardiovaskuler akibat infark miokard, pada subgrup 

dengan berat badan bertambah dan subjek dengan 

diabetes melitus tipe 2. Namun, studi The Action to 

Control Cardiovascular Risk in Diabetes (ACCORD), 

merekrut 10.251 pasien DM tipe II untuk mendapatkan 

terapi intensif untuk mencapai level glycated 

hemoglobin (HbA1c) di bawah 6,0%, atau terapi standar 

untuk mencapai target HbA1c 7,0-7,9%. Studi ini 

diterminasi lebih awal menjadi 3.5 tahun, dari rencana 

5 tahun sebab  mendapatkan tingkat mortalitas 22% 

lebih besar pada kelompok yang mendapat terapi 

intensif, juga tidak mengurangi kejadian kardiovaskuler 

mayor. 57 

 

       Satu metaanalisis yang melibatkan 5 uji acak 

tersamar yaitu UKPDS 33, UKPDS 34,  ADVANCE 

(Action in Diabetes and Vascular Disease: Preterax and 

Diamicron Modified Release Controlled Evaluation), 

ACCORD (The Action to Control Cardiovascular Risk 

in Diabetes) dan VADT ((Veterans Affairs Diabetes 

Trial), dengan jumlah total pasien dewasa sebanyak 

27.802 mendapatkan bahwa terapi intensif mengurangi 

outcome risiko penyakit kardiovaskuler seperti infark 

miokard nonfatal, tetapi tidak mengurangi risiko 

kematian kardiovaskuler atau semua pemicu  

mortalitas, dan meningkatkan hipoglikemia berat. 58 

 

 

OBESITAS DAN OVERWEIGHT 

(KELEBIHAN BERAT BADAN) 

 

Obesitas didefinisikan oleh kriteria WHO sebagai 

indek massa tubuh >(body mass index (BMI), berat 

dalam kilogram dibagi dengan tinggi kuadrat dalam 

meter)@ lebih atau sama dengan 30 kg/m2.59 sedang  

overweight (kelebihan berat badan) adalah BMI 25.0-

29.9, dan berat badan normal (BMI, 18.5-24.9).60 Studi 

observasional menunjukkan bahwa obesitas terjadi 

bersamaan dengan faktor risiko kardiovaskuler, seperti 

diabetes tipe 2 61,62 dan hipertensi 63,64  dan 

memicu  risiko kejadian kardiovaskuler lebih 

tinggi. 65,66 Penelitian Framingham yang merekrut 


pasien berusia 35-75 dengan pengamatan penelitian 

paling lama selama 44 tahun mendapatkan bahwa 

risiko relatif kejadian penyakit kardiovaskuler, meliputi  

angina pektoris, infark miokard, penyakit jantung 

koroner atau stroke pada pasien overweight >laki-laki : 

1,21 (1,05-1,40); wanita 1,20 (1,03-1,41)@ dan pada 

obesitas >laki-laki 1,46 (1,20-1,77); wanita 1,64 (1,37-

1,98)@. 60 

       Data INTERHEART dari penduduk di 5 benua 

mendapatkan bahwa obesitas abdomen berhubungan 

dengan risiko infark miokard akut dengan odds ratio 

sebesar 2,26 (1,90-2,68) pada wanita dan 2,24 (2,03-

2,47) pada laki-laki. Hal ini menunjukkan bahwa 

obesitas meningkatkan risiko kejadian kardiovaskuler 

dua kali lebih besar pada semua pasien tanpa 

membedakan suku di seluruh dunia. Obesitas abdomen 

dalam penelitian ini diambil dari rasio lingkar 

pinggang/ panggul, yang lebih menggambarkan risiko 

infark miokard daripada pengukuran BMI.5 Penelitian 

Framingham melakukan follow-up terhadap 5.881 

peserta selama 14,4 tahun mendapatkan bahwa subjek 

obes mempunyai risiko dua kali lipat mendapat gagal 

jantung. 67 Risiko kematian akibat obesitas juga lebih 

besar pada laki-laki dan wanita pada semua suku dan 

usia.68 

 

       Dalam penelitian prospektif Danish Diet, 

Cancer dan Health, dengan pasien wanita dan laki-

laki berusia 50-64 tahun sebanyak 54.783 orang, 

mulai tahun 1993-1997 pada baseline tanpa penyakit 

jantung koroner, dan difollow up selama 7,7 tahun 

mendapatkan kejadian sindroma koroner akut (ACS, 

acute coronary syndrome) sebanyak 1.127 kasus. 

Pasien dengan overweight dan obes mempunyai 

risiko ACS lebih tinggi. Setiap peningkatan satu unit 

BMI berhubungan dengan risiko ACS pada wanita 

dan laki-laki masing-masing sebesar 5% dan 7% (p< 

0,0001).  Namun, pasien obes yang melakukan 

aktivitas fisik selama 1-3,5 hari per minggu lebih 

kecil risiko ACS dibandingkan dengan obes tanpa 

aktivitas. Demikian juga obes tanpa merokok dan 

melakukan diet sehat dibandingkan dengan perokok 

tanpa diet.69 

 

       Nilai batas obes dan overweight untuk orang 

dewasa Asia lebih rendah daripada kriteria WHO. 

WHO menetapkan nilai batas obes t30 kg/m2 dan 

overweight t 25 kg/m2. 70 sedang  untuk orang 

Asia nilai batas obes ditetapkan 25-29.9 kg/m2 , dan 

overweight t 23 kg/m2. Penelitian pada orang 

Tionghoa di Hong Kong 71 dan Singapore 72 

mengkonfirmasi peningkatan risiko penyakit 

kardiovaskuler dan diabetes pada populasi orang 

Asia obes dengan IMT >23 kg/ m2. Namun, 

penentuan nilai batas IMT juga harus 

dipertimbangkan riwayat klinis pasien, lingkar 

pinggang dan faktor risiko terkait. 73,74 

 

       Pada pasien obesitas dikenal dengan istilah 

“obesity paradox”, yaitu penurunan angka mortalitas 

dan morbiditas dengan meningkatnya IMT. 75,76 

Penelitian Uretsky melibatkan 22.576 pasien 

hipertensi dengan penyakit jantung koromer, dan 

membagi IMT pasien atas normal (IMT <25 kg/m2, 

untuk orang Barat) dan overweight (IMT 25-30 

kg/m2), dan obes kelas I (IMT 30-35 kg/m2) dan 

obes kelas II-III dengan IMT >35 kg/m2 atau lebih) 

mendapatkan bahwa angka mortalitas dan 

morbiditas pada pasien overweight dan obes dengan 

hipertensi dan penyakit jantung koroner lebih rendah 

daripada pasien hipertensi dengan berat badan 

normal. 77 

 

 

HUBUNGAN PENURUNAN FAKTOR RISIKO 

DAN TERAPI BERBASIS BUKTI TERHADAP 

KEMATIAN PENYAKIT KARDIOVASKULER  

 

Penyakit jantung koroner sebagai salah satu penyakit 

kardiovaskuler telah mengalami penurunan yang 

nyata sebesar 40% antara tahun 1980-2000 di 

Amerika Serikat.78  Reduksi faktor risiko 

bertanggung jawab terhadap kurang lebih 50% 

penurunan kematian akibat PJK, termasuk reduksi 

kolesterol total (24%), tekanan darah sistolik (20%), 

prevalensi merokok (12%) dan tidak ada aktivitas 

fisik (5%). 47% penurunan kematian disebabkan 

tindakan pencegahan setelah infark miokard atau 

revaskularisasi (11%), terapi inisial infark miokard 

akut atau angina tidak stabil (10%), pengobatan 

terhadap gagal jantung (9%), revaskularisasi angina 

kronik (5%) dan terapi lainnya (12%). Di negara 

maju lainnya seperti Netherlands, New Zealand, 

Inggris, Scotlandia, Finlandia 79,80,81,82,83 juga 

memperlihatkan trend penurunan akibat pengobatan 

dan reduksi faktor-faktor risiko yang dapat dilihat 

pada Gambar 4.78 Pada tahun 2007, angka kematian 

disesuaikan dengan usia akibat penyakit jantung 

koroner telah menurun di bawah target 162 kematian 

per 100.000 penduduk – dari 203 per 100,000  tahun 

1999 menjadi 135 per 100.000. 84  


Gambar 4. Persentase penurunan kematian sebab  penyakit jantung koroner akibat pengobatan dan perubahan faktor 

risiko pada berbagai studi populasi di beberapa negara maju. 


 

 

 

Gambar 5. Mortalitas PJK di Beijing tahun 1984-1999. Kematian akibat faktor risiko dan kematian yang dicegah atau 

ditunda dengan pengobatan. BMI, body mass index, AMI, acute myocardial infraction.  


        Dapat disimpulkan bahwa angka mortalitas PJK 

di negara-negara maju sejak tahun 1980-an telah 

menurun sekitar 50%, tetapi di negara-negara 

berkembang seperti di China,85  justru terjadi 

kenaikan. Penelitian Critchley et al., mendapatkan 

bahwa peningkatan mortalitas PJK di Beijing dari 

tahun 1984-1999 disebabkan oleh kenaikan kadar 

kolesterol total sebesar 77%, sebab  adopsi terhadap 

diet Barat, diabetes dan obesitas. Pada tahun 1999, 

pengobatan dan tindakan pembedahan telah berhasil 

mencegah atau menunda kematian terutama pada 

infark miokard akut sebesar 41%, hipertensi 24%, 

angina (15%), pencegahan sekunder (11%), dan 

gagal jantung (10%) (Gambar 4).86PJK 

diproyeksikan sebagai pemicu  kematian global 

tahun 2020. 87 

 

 

HUBUNGAN STEM CELL ATAU 

PROGENITOR CELL DENGAN FAKTOR 

RISIKO PENYAKIT JANTUNG KORONER 

 

        Efek aterosklerosis koroner yang ditimbulkan 

oleh beberapa  faktor risiko, dikenal sebagai profil 

risiko global, memberikan nilai prediksi lebih baik 

daripada satu faktor risiko. 88  Paradigma klasik Ross 

menyatakan bahwa injuri sel endotel merupakan 

stimulus terhadap perkembangan plak aterosklerosis. 

89 Hal ini terjadi sebagai akibat akumulasi berbagai 

faktor risiko dalam memicu  injuri sel endotel. 

Kerusakan sel endotel dapat diperbaiki oleh 

endothelial progenitor cell (EPC), yang dapat berasal 

dari sumsum tulang atau limpa. 90 EPC yang berasal 

dari sumsum tulang dan beredar di dalam darah 

berperan penting dalam pembentukan pembuluh 

darah baru dan mempertahankan homeostasis 

vaskuler, 91sebab  EPC mampu berproliferasi dan 

berdiferensiasi menjadi sel endotel sehingga 

berfungsi untuk regenerasi vaskuler. 92,93  

 

       Ekspresi EPC semula diidentifikasi sebagai 

CD34+ (surface marker dari hematopoietic stem cell 

dan sel endotel matur) dan vascular endothelial cell 

growth-factor receptor 2 (VEGFR2 or kinase-

domain–related [KDR] receptor), selanjutnya 

ditemukan marker lain yaitu stem cell imatur 

CD133. 94 Peningkatan jumlah faktor risiko 

berhubungan dengan menurunnya jumlah dan fungsi 

EPC. Hill et al. melaporkan bahwa orang dengan 

faktor risiko tinggi berdasar  perhitungan 

Framingham Risk Score (rentang -6 sampai 19); 

score lebih tinggi, lebih besar risiko kardiovaskuler, 

mempunyai jumlah EPC yang lebih kecil 

dibandingkan dengan orang berisiko rendah 

(Gambar 6 ). 95 Demikian juga fungsi aktivitas 

migrasi EPC pada pasien dengan PJK lebih rendah 

daripada orang normal, terutama pada pasien dengan 

faktor risiko hipertensi, hyperlipidemia, riwayat 

keluarga dengan PJK dan usia lanjut (Gambar 7).94,96 

Dislipidemia terutama peningkatan kadar kolesterol 

LDL menyebabkan jumlah dan fungsi EPC 

menurun. 97  

 

 

Gambar 6. Hubungan antara faktor risiko kardiovaskuler dengan jumlah koloni endothelial progenitor cell (EPC). 

Jumlah colony-forming units berkorelasi kuat dengan Framingham Risk Score. Skor Framingham yang lebih tinggi 

menunjukkan risiko kardiovaskuler lebih besar.  


 

 

Gambar 7. Efek faktor risiko terhadap aktivitas migrasi EPC. A, EPC diisolasikan dari darah perifer  28 pasien dengan 

PJK dan 9 pasien kontrol. Migrasi dirangsang dengan VEGF, dan ditentukan dengan modifikasi Boyden chamber. B-E. 

Jumlah migrasi EPC dari 28 pasien dengan PJK dan 9 subjek kontrol dikorelasikan dengan jumlah faktor risiko (B) dan 

faktor risiko individu (C-E). 


 

 

       Werner et al. melakukan studi terhadap 519 pasien PJK yang dikonfirmasi dengan pemeriksaan 

angiografi, dan difollow-up selama 12 bulan, mendapatkan bahwa jumlah CD34+KDR+ EPC , juga CD133+ 

cell dan CFU-EC (colony forming unit-endothelial cell) merupakan prediksi terhadap kejadian 

kardiovaskuler mayor. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara peningkatan jumlah EPC 

dengan penurunan risiko kejadian kardiovaskuler mayor dan hospitalisasi pada pasien dengan penyakit 

jantung coroner (Gambar 8).


 

Gambar 8. Event-free survival kumulatif dari kejadian kardiovaskuler mayor (infark miokard, hospitalisasi, 

revaskularisasi, atau kematian kardiovaskuler) dalam 12 bulan, sesuai dengan kadar CD34+KDR+ EPC pada waktu 

rekrutmen.  


 

 

 

Gambar 9. Kurva survival disesuaikan dengan usia dan jenis kelamin, dengann end point primer kematian berdasar  

jumlah tertil CD34+ (atas) da CD34+/133+ (bawah). Hasil kohort 1 dan kohort 2 dibuatkan terpisah dan kombinasi 

kohort dalam pooled cohort. Garis berwarna menunjukkan jumlah sel progenitor (biru= tertil atas; hijau = tertil tengah ; 

merah = tertil bawah). Nilai p untuk perkiraan efek model Cox regression.  


       Dalam studi Patel et al. yang baru-baru dimuat 

di Circulation Research, dengam merekrut sebanyak 

905 orang yang terbagi atas 2 kohort dengan kohort 

1 (n=502) dan kohort 2 (n=403), dengan riwayat 

penyakit jantung koroner berdasar  angiogram 

koroner, dan masing-masing diteliti selama 2,7 

tahun dan 1,2 tahun, mendapatkan bahwa terdapat 

hubungan terbalik antara jumlah CD34+ dan 

CD34/CD133 yang rendah dengan risiko kematian 

pada kohort 1 (β =−0.92, p =0.043) dan (β = −1.64, 

p =0.019), dan dikonfirmasi dalam kohort 2 dengan 

masing-masing (β = −1.25, p =0.020 dan  β = −1.81, 

p =0.015).  Hasil covariate adjusted hazard ratios 

masing-masing adalah  sebesar 3.54 (1.67–7.50) dan 

2.46 (1.18–5.13) (Gambar 9). 99 Hasil penelitian 

prospektif  dengan jumlah subjek terbesar sampai 

sekarang mendapatkan bahwa jumlah CD34+ sel 

mononuclear mempunyai nilai prediktif terhadap 

semua pemicu  kematian, tidak bergantung pada 

faktor risiko jantung lainnya. Dengan demikian, 

jumlah total stem cell CD34+ dan CD34+/CD133+ 

menambah suatu nilai prediktif dalam berbagai 

faktor risiko klinis. Mekanisme yang mendasari 

dapat disebabkan gangguan kapasitas regenerasi dan 

reparatif endogen terhadap jantung dan pembuluh 

darah pada pasien dengan jumlah stem cell total 

CD34+ dan CD34+/CD133+ yang rendah.99 Sel 

CD34+ bersifat heterogen, namun dapat diperkaya 

untuk mengekpresikan gene marker endotel dan 

membentuk struktur endotel secara in vitro dan in 

vivo. 100,101 Stem cell CD34+ yang selektif memiliki 

potensi proangiogenik yang lebih baik dari sel 

mononuclear total.102 sebab  itu, dalam studi ini 

disimpulkan bahwa berdasar  pemahaman 

hubungan ini dalam diimplikasikan penggunaan 

terapi stem cell CD34+ pada pasien dengan penyakit 

kardiovaskuler. 99 

 

 

HUBUNGAN ENDOTHELIAL PROGENITOR 

CELL DENGAN ATEROSKEROSIS 

 

Dari pemaparan klinis di atas, dapat disimpulkan 

bahwa jumlah stem cell atau progenitor cell yang 

beredar di dalam sirkulasi darah berasosiasi dengan 

kejadian dan kematian kardiovaskuler. Timbul 

pertanyaan, mengapa hal ini dapat terjadi ? Schmidt-

Lucke et al mendapatkan bahwa jumlah EPC 

(CD34+ KDR+) yang rendah berhubungan dengan 

insiden kejadian kardiovaskuler tidak bergantung 

pada faktor risiko kardiovaskuler dengan hazard 

ratio sebesar 3,9, p<0.05, yang diteliti pada 120 

pasien (44 pasien dengan penyakit jantung koroner 

stabil, 33 dengan sindroma koroner akut dan 43 

sebagai control). 103 Hal ini menunjukkan bahwa 

jumlah EPC yang rendah dapat memprediksi 

progresivitas penyakit aterosklerotik, sehingga 

mendukung peran penting EPC dalam perbaikan 

vaskuler. Jumlah sel progenitor baik CD34+ atau 

EPC (CD34+KDR+) dapat membantu 

mengidentifikasi pasien dengan risiko tinggi 

terhadap kejadian kardiovaskuler dalam jangka 

pendek.104 Jumlah EPC yang rendah juga 

memprediksi kematian dan hospitalisasi 

kardiovaskuler pada pasien gagal jantung kronik.105 

Dari berbagai studi ini dapat disimpulkan bahwa 

EPC merepresentasikan suatu biomarker risiko 

kardiovaskuler sebab  perubahan kadar EPC 

menentukan seluruh proses aterosklerotik dalam 

berbagai tingkat kejadian penyakit kardiovaskuler 

(Gambar 10).106  

 

 

 

Gambar 10. EPC menggambarkan proses aterosklerosis. 

Kadar EPC mulai menurun pada pasien dengan risiko 

tinggi penyakit kardiovaskuler. EPC secara progresif 

menurun jumlahnya ketika terjadi remodeling vaskuler 

(intima media thickness) dan perkembangan plak. JUmlah 

EPC yang rendah memprediksi kejadian PKV mendatang. 

Ketika terjadi komplikasi (infakr miokard atau stroke), 

jumlah EPC meningkat sebab  mobilisasi sumsum tulang. 

Jika mekanisme ini terganggu, hasil akhir yang lebih 

buruk dapat diprediksi.  

Dikutip dari Fadini GP, Losordo D, Dimmeler S. Critical 

reevaluation of endothelial progenitor cell phenotypes for 

therapeutic and diagnostic use. Circ Res. 2012;110:624-637 

 

 

       Dalam pooled analysis, tidak ditemukan adanya 

perbedaan antara stem cell CD34+ dan EPC (CD34+ 

KDR+) dalam kapasitas prognostik terhadap 

kejadian kardiovaskuler.105 Pemeriksaan stem cell 

CD34+ yang lebih simple, telah terbukti memiliki 

nilai prognostik PKV yang valid. 106 Dalam suatu 

studi kohort, malah jumlah stem cell CD34+ 

mempunyai korelasi lebih tinggi terhadap 

Framingham Risk Score dibandingkan dengan sel 

CD34+ KDR+107 dalam follow up memprediksi 

kejadian PKV.108  

       Dalam analisis kadar CD34+ sumsum tulang 

terhadap 280 pasien penyakit jantung koroner  dan 

gangguan fungsi ventrikel kiri, Cogle et al., 

mendapatkan bahwa peningkatan persentase CD34+ 

sumsum tulang berkorelasi dengan peningkatan 

fraksi ejeksi (+9.9% versus +2.3%; p =0.03) pada 

pasien dengan infark miokard akut dan (+6.6% 

versus −0.02%; p =0.021) untuk pasien dengan 

penyakit jantung iskemik kronik (Gambar 11).109 Hal 

ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif 

antara persentase kadar stem cell CD34+ dengan 

perbaikan fungsi jantung setelah dilakukan terapi 

stem cell. Studi Cohen et al. yang melibatkan 1.786 

subjek dari Framingham Heart Study mendapatkan 

bahwa jumlah CD34+ berbanding terbalik dengan 

faktor usia dan merokok, dan meningkat dengan 

statin. Selain faktor lingkungan, faktor genetik amat 

menentukan kadar CD34+ (h2 =54%; p < 0.0001).110  

Gambar 11.  Persentase CD34+ sumsum tulang dan 

perubahan fraksi ejeksi ventrikel kiri (LVEF) dalam 6 

bulan. Aspirasi sumsum tulang dilakukan pada pasien 

dengan infark miokard akut dan disfungsi ventrikel kiri. A. 

Pasien dengan infark miokard akut dengan persentase 

CD34+ sumsum tulang yang tinggi (>2SD dari mean) 

menunjukkan peningkatan LVEF dalam follow-up selama 

6 bulan. B. Pasien dengan disfungsi ventrikel kiri kronik 

dan persentase CD34+ sumsum tulang yang tinggi juga 

menunjukkan peningkatan LVEF yang lebih tinggi.