Tampilkan postingan dengan label farmakognosi obat 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label farmakognosi obat 2. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

farmakognosi obat 2

 







mplisia merupakan hal yang sangat 

penting. Label yang melekat pada kemasan harus menunjukkan 

informasi simplisia dengan jelas, meliputi: nama ilmiah tanaman 

obat. asal bahan, tanggal panen dan tanggal simpan, berat simplisia, 

dan status kualitas bahan 

8. Penyimpanan 

Simplisia yang sudah dikemas dan diberi label, kemudian dapat 

disimpan di dalam gudang yang telah disiapkan. Tujuan dilakukan 

proses penyimpanan yaitu  agar simplisia yang sudah dibuat dapat 

mempertahankan kualitasnya, baik kualitas fisik maupun kestabilan 

kandungan senyawa aktif, sehingga tetap memenuhi persyaratan 

mutu yang telah ditetapkan. 

Hal-hal yang perlu diperhatikan mengenai tempat penyimpan 

simplisia yaitu : 

a. Gudang harus terpisah dari tempat penyimpanan bahan lainnya 

ataupun penyimpanan alat dan dipelihara dengan baik 

b. Ventilasi udara cukup baik dan bebas dari kebocoran atau 

kemungkinan masuknya air hujan 

c. Suhu gudang tidak melebihi 30oC 

d. Kelembaban udara sebaiknya diusahakan serendah mungkin 

(sekitar 65%) unutk mencegah terjadinya penyerapan air 

e. Kelembaban udara yang tinggi dapat memacu pertumbuhan 

mikroorganisme sehingga menurunkan mutu simplisia, baik 

dalam bentuk segar ataupun kering. 

f. Sinar matahari tidak boleh langsung mengenai simplisia 

g. Mencegah masuknya hewan baik serangga maupun tikus atau 

hewan pengerat lainnya yang dapat memakan simplisia 

Selama dalam masa penyimpanan, simplisia dapat mengalami 

kerusakan dan penurunan kualitas disebab kan beberapa faktor, yaitu:  

a. Cahaya 

Cahaya sinar dengan panjang gelombang tertentu dapat 

memengaruhi mutu simplisia secara fisik dan kimiawi, misalnya 

adanya proses isomerase dan polimerasi. 

b. Reaksi kimia internal 

Proses fermentasi, reaksi polimerisasi, atau reaksi autooksidasi 

dapat memicu  perubahan kimia simplisia 

c. Oksidasi 

Oksigen dari udara atau yang ada  di sekitar simplisia dapat 

memicu  teroksidasinya senyawa aktif simplisia, sehingga 

kualitas simplisia dapat menurun 

d. Dehidrasi 

Bila kondisi kelembaban di luar lebih rendah daripada di dalam 

simplisia, maka akan terjadi proses kehilangan air. 


 

e. Absorpsi air 

Pada simplisia yang higroskopis dapat menyerap air di 

lingkungan sekitarnya. Sehingga simplisia dapat menjadi lembab, 

dan dalam masa penyimpanan, simplisia dapat mengalami 

kerusakan 

f. Kontaminasi 

Sumber kontaminan utama yaitu debu, pasir, kotoran bahan asing 

g. Serangga 

Serangga dapat menimbulkan kerusakan dan pengotoran 

simplisia, misalnya dalam bentuk larva, imago, dan sisa-sisa 

metamorfosisnya (kulit telur, kerangka yang telah using, dan 

lain-lain) 

h. Kapang 

Jika simplisia masih dalam kondisi memiliki kadar air yang 

cukup tinggi, maka akan mudah ditumbuhi kapang selama masa 

penyimpanan. Jamur, ragi, serta jasad renik lain dapat 

menguraikan senyawa aktif atau menghasilkan senyawa beracun 

yang membahayakan konsumen (B2P2TOOT, 2011). 

Cara penyimpanan simplisia sejenis juga harus mengikuti konsep “first in first 

out”, artinya simplisia yang disimpan lebih awal harus dipakai  terlebih 

dahulu. Dengan melakukan pengelolaan pascapanen pada tanaman obat secara 

tepat dan benar, diharapkan simplisia yang disimpan dapat terjaga kestabilan 

dan mutunya 

 

3.3 Ekstraksi 

Senyawa metabolit sekunder yang terkandung dalam tanaman obat biasanya 

dalam jumlah yang sangat sedikit. Seperti yang sudah diketahui, bahwa 

senyawa pada tanaman obat yang memiliki aktivitas biologis tertentu yang 

dapat membantu mengobati penyakit pada manusia yaitu  metabolit sekunder. 

Salah satu cara yang dapat dipakai  untuk mendapatkan manfaat dari 

metabolit sekunder yaitu  dengan menarik dan atau mengambil sari atau 


 

memisahkan kandungan metabolit sekunder yang ada  dalam tanaman 

obat. Cara yang paling umum dipakai  yaitu  dengan metode ekstraksi. 

Metode ekstraksi dapat dipilih berdasar  pada sifat metabolit sekunder yang 

akan diekstraksi. Sebelum memilih suatu metode, harus menentukan terlebih 

dahulu apa yang akan menjadi target ekstraksi.  

Ada beberapa yang merupakan target ekstraksi (Mukhtarini, 2014), di 

antaranya yaitu : 

1. Senyawa bioaktif yang tidak diketahui 

2. Senyawa yang diketahui ada pada suatu organisme 

3. Sekelompok senyawa dalam suatu organisme yang berhubungan 

secara struktural. 

Adapun langkah-langkah dari proses ekstraksi di antaranya yaitu  pembuatan 

serbuk simplisia terlebih dahulu. Tujuan dari pembuatan serbuk yaitu 

memperluas permukaan serbuk. Ekstraksi akan semakin baik bila permukaan 

serbuk simplisia yang bersentuhan dengan pelarut semakin luas, serta semakin 

pendek jarak difusi pelarut sehingga kecepatan esktraksi lebih besar, maka 

semakin halus serbuk simplisia maka akan semakin baik hasil ekstraksinya. 

namun  perlu diperhatikan pada bahan simplisia yang mengandung minyak 

atsiri, jika serbuk terlalu kecil maka dinding sel dapat pecah, dan minyak atsiri 

akan keluar. Langkah selanjutnya yaitu  pembahasan, yang bertujuan untuk 

memberi  kesempatan pelarut memasuki pori-pori simplisia sehingga 

memudahkan penyarian. Selanjutnya yaitu  penyarian, pada tahapan ini 

system yang bekerja yaitu  osmosis dan difusi.  

Pada proses penyarian ini, lama waktu ekstraksi juga merupakan faktor yang 

berpengaruh pada hasil ekstraksi. Waktu ekstraksi yang terlalu singkat 

mengakibatkan tidak semua senyawa larut dalam pelarut yang dipakai , dan 

apabila waktu ekstraksinya terlalu lama, maka tidak akan mengakibatkan 

peningkatan berat zat aktif yang terekstrak sebab  pelarut yang dipakai  

sudah terlalu jenuh, sehingga tidak mampu lagi untuk menarik zat aktif pada 

tanaman. Langkah terakhir pada proses ekstraksi yaitu  pemekatan, yang 

bertujuan untuk mengurangi pelarut yang dipakai  pada proses penyarian. 

Pemekatan ekstrak dapat dilakukan dengan beberapa metode yaitu: 

memakai  waterbath, diuapkan dengan rotary evaporator, dan 

memakai  freeze dryer. 


 

Definisi Ekstraksi 

Ekstraksi yaitu  proses penarikan komponen atau zat aktif dari suatu 

campuran padatan dan/atau cairan dengan memakai  pelarut tertentu yang 

sesuai. Proses ekstraksi merupakan langkah awal yang penting dalam suatu 

penelitian tanaman obat, disebab kan proses ini akan menghasilkan produk 

ekstrak kasar yang merupakan titik awal untuk isolasi dan pemurnian 

komponen kimia yang ada  pada tanaman. Ekstraksi dinyatakan selesai 

ketika konsentrasi senyawa dalam pelarut dan konsentrasi dalam simplisia 

telah terjadi tercapai kesetimbangannya. 

 

 Metode Ekstraksi 

Metode yang dipakai  untuk melakukan ekstraksi, masing-masing memiliki 

kelebihan dan kekurangan. Pemilihan metode dilakukan dengan 

memperhatikan sifat senyawa, alat yang tersedia, dan pelarut yang dipakai . 

Selain itu saat akan melakukan proses ekstraksi, ada beberapa hal yang harus 

menjadi pertimbangan, di antaranya yaitu  zat yang akan diekstraksi, pelarut 

yang dipakai  dan metode yang akan dipakai. Metode ekstraksi yang 

dipakai  tergantung pada sifat fisika dan kimia zat aktif yang akan 

diekstraksi. Penarikan zat aktif ini  didasarkan pada prinsip distribusi 

komponen zat aktif ke dalam suatu pelarut yang dikenal dengan istilah like 

dissolve like yang artinya senyawa yang polar akan larut dalam pelarut polar 

dan senyawa non polar akan larut dalam pelarut non polar, maka zat aktif atau 

senyawa target yang diinginkan dapat dipisahkan dari campurannya secara 

selektif dalam pelarut yang dipakai . Pemilihan pelarut harus 

mempertimbangkan banyak faktor, dintaranya harus mempu melarutkan zat 

aktif, stabil secara fisika dan kimia, bersifat inert, dan tidak memengaruhi zat 

aktif. 

Hal yang menjadi pertimbangan selanjutnya pada proses ekstraksi yaitu  di 

dalam tanaman obat biasanya mengandung berbagai macam senyawa kimia, 

maka diperlukan metode ekstraksi yang mutakhir, yang dapat menyari 

senyawa dalam jumlah kecil. Secara umum metode ekstraksi dibedakan 

berdasar  ada atau tidaknya proses pemanasan. Pemanasan ini sangat 

berpengaruh terhadap efektivitas proses ekstraksi dan tergantung juga pada 

senyawa target yang akan diekstraksi. Ekstraksi dingin pada prinsipnya tidak 


 

membutuhkan pemanasan selama proses ekstraksi, cocok dipakai  untuk 

senyawa aktif yang tidak tahan terhadap pemanasan yang bertujuan untuk 

menghindari kerusakan senyawa. Sedangkan pada ekstraksi panas 

membutuhkan pemanasan pada proses ekstraksi agar mengoptimalkan 

senyawa target untuk dapat terlarut dalam pelarut yang dipakai  sehingga 

proses ekstraksi dapat berjalan dengan cepat. Tentunya suhu dan tekanan yang 

dipakai  saat proses ekstraksi yaitu  hal-hal yang perlu menjadi perhatian 

juga. Beberapa metode yang umum dipakai  yaitu  ekstraksi dingin 

(maserasi dan perkolasi), ekstraksi panas (digesti, dekokta, infundasi, sokletasi, 

refluks, destilasi), lawan arah (countercurrent, ultrasonic, microwave assisted 

extraction), dan ekstraksi gas superkritis (supercritical gas extraction) 


Maserasi 

Maserasi merupakan salah satu metode ekstraksi yang paling sering dipakai  

yaitu dengan cara memasukkan serbuk simplisia dan pelarut yang sesuai ke 

dalam suatu wadah inert yang ditutup rapat pada suhu ruang sekitar 20-30oC 

agar mencegah penguapan pelarut selama waktu ekstraksi. Prinsip metode 

maserasi yaitu perendaman, di mana cairan penyari akan menembus dinding 

sel simplisia dan masuk ke dalam rongga sel yang banyak mengandung zat 

aktif, kemudian zat aktif akan melarut sebab  adanya perbedaan konsentrasi 

antara larutan zat aktif di dalam sel dan di luar sel, memicu  larutan 

terpekat didesak keluar. Peristiwa ini akan terjadi secara berulang, sehingga 

terjadilah kesetimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel 


Metode maserasi biasanya dilakukan selama beberapa hari, yaitu berkisar 2-14 

hari, maka perlu diperhatikan bahwa semakin lama proses perendaman 

memicu  pelarut mudah terjadi kejenuhan sehingga pelarut tidak mampu 

lagi untuk menarik metabolit sekunder yang masih tertinggal pada simplisia. 

Metode maserasi dapat dioptimalkan dengan pengadukan, remaserasi, dan 

pemanasan. Pengadukan yang dilakukan secara berkala dapat membantu 

menghomogenkan senyawa kontak dengan pelarut dan membantu kelarutan 

zat aktif ke dalam pelarut sehingga dapat mengoptimalkan hasil ekstraksi. 

Sedangkan remaserasi merupakan salah satu metode modifikasi dari maserasi.  

Remaserasi merupakan metode ekstraksi yang terjadi pengulangan 

penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan maserat yang pertama, dan 

seterusnya. Pelarut kedua ditambahkan sebanyak penambahan pelarut pertama. 


 

Penambahan pelarut baru pada proses remaserasi dapat membantu melarutkan 

metabolit sekunder yang masih tertinggal pada simplisia. Ekstraksi dihentikan 

ketika tidak ada perubahan warna pada pelarut. Kondisi ini menunjukkan 

bahwa metabolit sekunder pada simplisia sudah terekstrak secara keseluruhan 

(Widiyantoro dan Harlia, 2020). 

Keuntungan metode maserasi yaitu  dapat juga menghindari risiko rusaknya 

senyawa-senyawa dalam tanaman yang bersifat termolabil. Selain beberapa 

keuntungan yang dipunyai pada metode maserasi, ada pula kerugian dari 

metode maserasi ini, yaitu membutuhkan proses yang lama, pelarut yang 

dipakai  cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa senyawa dapat 

hilang, disebab kan beberapa senyawa mungkin akan sulit diekstraksi pada 

suhu kamar 


 Perkolasi 

Perkolasi yaitu  proses ekstraksi di mana simplisia yang sudah diserbuk, 

diekstraksi dengan pelarut yang cocok dengan cara dilewatkan secara 

perlahan-lahan pada suatu kolom atau alat perkolator (wadah silinder yang 

dilengkapi dengan kran pada bagian bawahnya) (Hujjatusnaini et al, 2021). 

Perkolasi merupakan ekstraksi dengan memakai  pelarut yang selalu baru 

yang dilakukan pada suhu ruangan. Perkolasi bertujuan supaya zat aktif 

tertarik secara keseluruhan dan biasanya dilakukan untuk zat aktif khususmya 

yang tidak tahan pemanasan. Prinsip perkolasi yaitu serbuk simplisia 

diletakkan pada suatu perkolator, yang bagian bawahnya diberi sekat berpori.  

Pelarut dialirkan dari atas ke bawah melalui serbuk simplisia, maka pelarut 

akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui sampai mencapai keadaan jenuh 

dan dibiarkan menetes perlahan pada bagian bawah. Gerakan ke bawah 

disebabkan oleh kekuatan gaya beratnya sendiri dan cairan yang ada di 

atasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung untuk menahan. 

Kekuatan yang berperan pada metode perkolasi antara lain: gaya berat, 

kekentalan, daya larut, tegangan permukaan, difusi, osmosis, adesi, daya 

kapiler dan daya geseran. Cara ini memerlukan waktu lebih lama, pelarut yang 

lebih banyak, dan jika sampel dalam perkolator tidak homogen maka pelarut 

akan sulit menjangkau seluruh area. Untuk meyakinkan perlokasi sudah 

sempurna, perkolat dapat diuji untuk membuktikan ada atau tidaknya 

metabolit sekunder dengan memakai  pereaksi yang spesifik 

 

 Refluk 

Metode refluk merupakan salah satu metode ekstraksi panas dengan 

memakai  pelarut yang bersifat volatil. Pada kondisi ini jika proses 

ekstraksi dilakukan pemanasan biasa, maka pelarut akan menguap sebelum 

reaksi berjalan sampai selesai. Prinsip metode ini yaitu  sampel dimasukkan 

bersama pelarut ke dalam labu yang dihubungkan dengan kondensor. Pelarut 

dipanaskan hingga mencapai titik didih. Uap akan masuk ke dalam kondensor, 

pelarut yang awalnya berbentuk uap akan mengembun pada kondensor dan 

turun lagi ke dalam wadah reaksi atau Labu Alas Bulat (LAB) sehingga 

pelarut tetap ada selama reaksi berlangsung. Untuk mengoptimalkan hasil 

penyarian, maka refluks umumnya dilakukan berulang-ulang (3-6 kali) 

terhadap residu pertama. Cara ini memungkinkan terjadinya penguraian 

senyawa yang tidak tahan panas 


Sokletasi 

Sokletasi merupakan metode atau proses pemisahan zat aktif yang ada  

dalam simplisia dengan cara penyaringan berulang-ulang dengan 

memakai  pelarut tertentu, sehingga zat aktif yang diinginkan akan 

terisolasi. Metode ini dilakukan dengan menempatkan serbuk simplisia ke 

dalam sarung selulosa (dapat dipakai  kertas saring) atau yang disebut 

klonsong, kemudian ditempatkan di atas labu dan di bawah kondensor. 

Metode ini dilakukan pemanasan, sehingga uap yang timbul setelah masuk ke 

dalam kondensor akan turun kembali yang secara kontinyu akan membasahi 

sampel, secara teratur pelarut ini  dimasukkan kembali ke dalam labu 

dengan membawa zat aktif yang akan diisolasi. Keuntungan dari metode ini 

yaitu  proses ekstraksi dilakukan secara kontinyu, sampel terekstraksi oleh 

pelarut hasil kondensasi sehingga tidak membutuhkan banyak pelarut dan 

tidak membutuhkan banyak waktu. Di samping itu, metode ini juga memiliki 

kerugian yaitu senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi sebab  

ekstrak yang diperoleh terus-menerus berada pada titik didih 


 Infundasi 

Infundasi yaitu  sediaan cair yang dibuat dengan cara mengekstraksi simplisia 

nabati dengan pelarut air memakai  suhu 90oC selama 15 menit 

 

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan apabila akan memakai  metode 

infundasi, di antaranya yaitu : 

1. Adanya penambahan air ekstra, umumnya diperlukan penambahan air 

sebanyak 2 kali berat simplisia 

2. Penyaringan dilakukan saat panas, kecuali untuk simplisia yang 

mengandung minyak atsiri, sebab  jika disaring saat panas, maka 

minyak atsiri yang terkandung dapat menguap dan berkurang 

kadarnya 

3. Penyaringan pada simplisia yang mengandung lendir tidak boleh 

diperas. 


Dekoktasi 

Dekoktasi memiliki prinsip yang hamper sama dengan infundasi, 

perbedaannya terletak pada lama waktu ekstraksinya. Dekoktasi merupakan 

ekstraksi dengan cara perebusan memakai  pelarut air, pada temperature 

90-95°C selama 30 menit . 

3.5.7 Destilasi 

Destilasi merupakan suatu proses ekstraksi untuk memisahkan zat aktif dari 

suatu campuran dua atau lebih cairan berdasar  titik didih dari zat-zat 

penyusunannya. Senyawa yang memiliki titik didih lebih rendah akan 

menguap terlebih dahulu. Ada beberapa metode destilasi yaitu destilasi air, 

uap, dan uap air. Destilasi biasanya dipakai  untuk mengekstraksi minyak 

esensial (campuran berbagai senyawa yang bersifat volatil). Selama 

pemanasan, uap akan terkondensasi dan destilat (terpisah sebagai 2 bagian 

yang tidak saling bercampur) ditampung dalam wadah yang terhubung dengan 

kondensor. Kerugian dari kedua metode ini yaitu  senyawa yang bersifat 

termolabil dapat terdegradasi dan rusak, sebab  adanya pemanasan dengan 

suhu tinggi 


Lawan Arah (Counter Current) 

Cara ekstraksi ini serupa dengan cara perkolasi pada metode ekstraksi dingin, 

namun  simplisia bergerak berlawanan arah dengan pelarut yang dipakai . 

Cara ini banyak dipakai  untuk ekstraksi herbal dalam alat dan skala besar 


 

 Ultrasonik 

Ekstraksi dengan metode ultrasonik memakai  gelombang ultrasonik 

dengan frekuensi 20-2000 KHz, sehingga memicu  permeabilitas dinding 

sel meningkat dan isi sel keluar. Frekuensi getaran dapat memengaruhi hasil 

ekstraksi. Faktor ini yang memicu  proses ekstraksi dengan memakai  

gelombang ultrasonik menjadi lebih cepat dari metode konvensional. Medium 

yang dilewati akan mengalami getaran yang disebabkan oleh gelombang 

elektronik. Getaran yang diberikan gelombang ultrasonik otomatis akan 

memberi  pengadukan yang intensif terhadap proses ekstraksi 


Gelombang Mikro (Microwave Assisted Extraction, 

MAE) 

Ekstraksi dengan memakai  gelombang mikro (2450 MHz) merupakan 

salah satu metode ekstraksi yang selektif dan dipakai  untuk senyawa yang 

dimiliki dipol polar. Keuntungan pemakaian  ekstraksi dengan gelombang 

mikro yaitu dapat menghemat waktu ekstraksi dibandingkan dengan cara 

konvensional seperti maserasi, serta menghemat pelarut yang dipakai . 

Keuntungan yang lainnya yaitu gelombang mikro yang ada  di microwave 

dapat meningkatkan suhu pelarut pada bahan, sehingga memicu  dinding 

sel pecah dan zat-zat yang terkandung di dalam sel keluar melarut pada 

pelarut, maka rendemen yang dihasilkanpun dapat meningkat 


Ekstraksi Gas Superkritis (Supercritical Gas 

Extraction, SGE) 

Metode ekstraksi ini dilakukan dengan memakai  karbondioksida (CO2) 

bertekanan tinggi. Metode ini banyak dipakai  untuk mengekstraksi minyak 

atsiri atau senyawa yang bersifat volatil atau termolabil. pemakaian  CO2 

lebih disukai sebab  bersifat inert dan toksisitasnya yang rendah. Teknologi 

superkritis CO2 memakan waktu yang relatif cepat, efisien, dan selektivitas 

ekstraksi dapat dikontrol dengan densitas pelarut, biaya rendah, serta 

memberi  hasil ekstraksi yang lebih baik 

 

Metode Isolasi dan Pemurnian 

Metabolit Sekunder  

Isolasi metabolit sekunder merupakan tahapan yang dipakai  untuk 

menemukan bahan alam dari tumbuhan yang memiliki aktivitas farmakologis. 

Isolasi merupakan proses pengambilan atau pemisahan senyawa bahan alam 

memakai  pelarut yang sesuai. Beberapa tahapan yang perlu diperhatikan 

dalam isolasi metabolit sekunder yaitu tahapan pemisahan senyawa berupa 

ekstraksi, fraksinasi dengan metode tertentu, pemurnian senyawa, dan 

identifikasi senyawa. Metode isolasi dan pemurnian senyawa metabolit 

sekunder dari tumbuhan yaitu  teknik yang telah mengalami perkembangan 

dalam beberapa tahun terakhir. Tujuan isolasi dan pemurnian metabolit 

sekunder yaitu  menemukan metode yang tepat yang dapat menarik senyawa 

yang memiliki aktivitas seperti antioksidan, antibakteri, atau sitotoksisitas. 

Metode in vitro merupakan metode yang lebih banyak dipakai  daripada in 

vivo sebab  penelitian memakai  hewan coba relatif mahal, membutuhkan 

lebih banyak waktu, dan adanya kontroversi etis terhadap hewan coba.  


 Fraksinasi 

Frakasinasi yaitu  proses pemisahan metabolit sekunder dalam bentuk ekstrak 

menjadi fraksi-fraksi, atau dapat juga didefinisikan sebagai proses pemisahan 

senyawa melibatkan pembagian campuran menjadi beberapa fraksi. Beberapa 

fraksi dapat digolongkan berdasar  dari kelarutan senyawa terhadap pelarut 

dengan tingkat kepolaran yang sama atau berdekatan. Fraksinasi senyawa 

dapat dilakukan memakai  metode kromatografi. Metode kromatografi 

memiliki prinsip kerja di mana distribusi dari komponen-komponen campuran 

ini  antara tahap  gerak berupa pelarut yang berfungsi membawa senyawa 

dengan kepolarannya sama melewati tahap  diam yang berfungsi sebagai 

adsorben. Syarat bahan dapat dipakai  menjadi adsorben yaitu  bahan 

bersifat inert dan tidak bereaksi dengan sampel atau tahap  gerak dan tidak larut 

dalam tahap  gerak contohnya silika, selulosa, stirena, divinilbenzena, alumina, 

dan karbon 

Tahapan fraksinasi umumnya memakai  metode kromatografi kolom 

(KKG), kromatografi lapis tipis (KLT), High Pressure Liquid 

Chromatography (HPLC), dan Gas Chromatography (GC). Pemurnian dan 

identifikasi senyawa merupakan tahapan akhir dalam teknik isolasi dan efektif 

 

untuk pemurnian senyawa metabolit sekunder yaitu kristalisasi dan 

rekristalisasi. Teknik kromatografi kolom dipakai  untuk proses isolasi dan 

pemurnian senyawa bioaktif. Adapula instrumen yang telah dikembangkan 

seperti High Pressure Liquid Chromatography (HPLC) yang dipakai  untuk 

mempercepat proses pemurnian molekul bioaktif. Dilanjutkan dengan 

identifikasi senyawa yang telah dimurnikan dapat memakai  teknik 

spektroskopi seperti UV-visible, Infrared (IR), Nuclear Magnetic Resonance 

(NMR), dan spektroskopi massa. Banyak molekul bioaktif yang telah diisolasi 

dan dimurnikan memakai  metode Kromatografi lapis tipis (KLT) dan 

kromatografi kolom. 


Kromatografi Lapis Tipis 

Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan metode analisa yang dipakai  

untuk memisahkan campuran senyawa dengan tepat dan sederhana. Pemisahan 

yang terjadi pada KLT berdasar  prinsip adsorpsi, partisi atau kombinasi, 

tergantung pada jenis lempeng (tahap  diam) dan gerak yang dipakai . Pada 

umumnya, KLT dipakai  dengan tujuan untuk identifikasi senyawa sebab  

metode ini sederhana dan mudah, serta memberi  pilihan tahap  gerak yang 

lebih beragam. Manfaat lainnya yaitu  untuk analisa kuantitatif dan isolasi 

skala kecil. Lempeng kaca atau aluminium dipakai  sebagai tahap  diam. tahap  

gerak akan bergerak di sepanjang tahap  diam dan terbentuklah kromatogram, 

yang dikenal juga sebagai kromatografi kolom terbuka.  

Pada tahap  diam pada dasarnya jenis padatan yang dipakai  yaitu: 

1. Silica gel: asam amino, alkaloid, asam lemak dan lain-lain, 

2. Alumina: alkaloid, zat warna, fenol dan lainnya, 

3. Selulosa: asam amino, alkanoid dan lain-lain. 

Komponen KLT yaitu tahap  diam dan tahap  gerak selalu dipakai  secara 

bersama ketika proses kromatografi sedang berjalan melalui kesetimbangan 

yang melibatkan lapisan adsorben, pelarut, dan uap pelarut.  

Syarat pelarut yang dapat dipakai  dalam KLT yaitu: 

1. Pelarut harus dalam bentuk yang sangat murni dan harganya 

terjangkau 

2. Inert dan tidak bereaksi dengan komponen dalam sampel maupun 

material pada tahap  diam 


 

3. Memiliki viskositas dan tegangan permukaan sesuai kriteria 

4. Memiliki titik didih yang rendah untuk memudahkan pengeringan 

setelah selesai proses KLT 

5. memiliki  kelarutan yang baik pada berbagai campuran solvent 

6. Tidak beracun dan mudah penanganan limbahnya 

Bagian-bagian dari alat kromatografi lapis tipis antara lain: 

1. Lempengan kromatologi,  

Lempeng terbuat dari aluminium atau kaca dengan ukuran standar 20 

x 20 cm, tebal lapisan 0,10-0,25 mm. Lempeng yang siap dipakai  

banyak tersedia di pasaran, atau dapat disiapkan sendiri. Untuk 

keperluan preparatif, lempeng yang dipakai atau dipakai  memiliki 

ketebalan lappisan hingga 1 mm. 

2. Rak penyimpanan 

Rak penyimpanan berfungsi untuk meletakkan tahap  diam apabila 

memerlukan pemanasan untuk mengaktifkan tahap  diam. 

3. Bejana Kromatografi.  

Bejana ini diperuntukkan meletakkan tahap  diam dalam posisi tegak, 

bagian bawahnya datar, tempat sejumlah tahap  gerak, sedangkan 

bagian atasnya dapat ditutup dengan rapat. Ukuran bejana yang akan 

dipakai  disesuaikan dengan ukuran lempeng yang dipakai . 

Sebelum proses KLT dilakukan, memerlukan penjenuhan bejana 

terlebih dahulu yang bertujuan untuk memperoleh pemisahan yang 

baik. 

4. Mikro pipet (micro-syrige).  

Mikro pipet dipakai  untuk menotolkan larutan sampel dan larutan 

pembanding dalam jumlah yang dihendaki, contohnya 10 atau 20 µl, 

dan volume lainnya. 

5. Alat penyemprot larutan deteksi.  

Alat ini umumnya terbuat dari kaca dan dipakai  untuk 

menyemprotkan pereaksi atau larutan deteksi ke lempeng atau tahap  

diam. Larutan yang keluar dalam bentuk butir-butir halus. 

 

6. Lampu UV  

Lampu UV dipakai  untuk melakukan pengamatan hasil KLT pada 

panjang gelombang 254 nm dan atau 366 nm 

3.6.3 Kromatografi Kolom 

Kromatografi kolom merupakan salah satu metode pemisahan senyawa yang 

masih sering dipakai . Senyawa yang dipisahkan memakai  

kromatografi kolom memiliki prinsip kerja yang sama dengan metode 

kromatografi lainnya yaitu berkaitan dengan perbedaan antara gaya-gaya antar 

molekul dalam sampel dengan tahap  gerak dan antara komponen dengan tahap  

diam. Kromatografi kolom dilakukan berdasar  adsorbsi senyawa pada 

suatu campuran yang memiliki anfinitas berbeda-beda pada permukaan tahap  

diam atau penjerap. tahap  gerak yang dialirkan akan melarutkan dan membawa 

komponen-komponen dalam campuran dengan kecepatan yang berbeda sesuai 

dengan afinitas masing-masing komponen terhadap penjerat.  

Kromatografi kolom biasanya dipakai  untuk memisahkan suatu campuran 

senyawa dalm jumlah relatif banyak, tergantung diameter dan panjang kolom 

yang dipakai . Hal yang dapat memengaruhi keberhasilan pemisahan 

dengan memakai  kromatografi kolom yaitu  pemilihan adsorben dan 

eluen atau pelarut yang tepat, dimensi kolom yang dipakai  serta kecepatan 

elusinya. Kecepatan laju alir atau elusi sebaiknya dibuat konstan. Kecepatan 

laju alir ini  harus cukup lambat agar senyawa berada dalam 

keseimbangan antara tahap  diam dan tahap  gerak. Kolom konsentrasi pada tahap  

gerak dan tahap  diam akan menyebar secara homogen walau masih bergantung 

pada sifat fiika dan kimia masing-masing komponen. 

Peralatan yang dipakai  dalam kromatografi kolom, antara lain: 

1. Tabung atau kolom kaca yang memiliki  ukuran tertentu dan 

lubang untuk keluarnya tahap  gerak setelah melewati tahap  diam. 

Kecepatan alir tahap  gerak dapat diatur menyesuaikan dengan 

kebutuhan. Kolom berisi tahap  diam yang sudah siap dipakai  dan 

terendam dalam suatu pelarut organik. 

2. Besar dan volume tempat penampungan tahap  gerak yang keluar yang 

dipakai  harus disesuaikan dengan setiap volume yang 

dikehendaki. 

 

3. Alat kromatografi lapis tipis (KLT) yang dipakai  untuk 

mendeteksi senyawa harus berada dalam tempat penampung 

3.6.4 Kromatografi Gas-Cair 

Kromatografi gas merupakan metode yang dipakai  untuk pemisahan 

campuran berdasar  perbedaan koefisien partisi dari senyawa yang diuapkan 

antara tahap  cair dan tahap  gas yang dilewatkan dalam kolom dengan bantuan 

gas. Kromatografi gas-cair (gas liquid chromatography) memakai  tahap  

diam berupa lapisan tipis zat cair pada zat padat yang inert, sedangkan 

kromatografi gas-padat (gas solid chromatography) memakai  tahap  diam 

berupa zat padat yang aktif, seperti alumina dan silika gel. Senyawa yang 

mudah menguap akan masuk ke dalam kolom, kemudian terdistribusi pada 

tahap  gas dan tahap  cair atau padat, resolusi pada kromatografi gas ditentukan 

oleh efisiensi kolom dan tahap  gerak. Kolom memengaruhi lebar puncak, dan 

pelarut menentukan letak puncak kromatogram. pemakaian  kromatografi gas 

untuk identifikasi suatu senyawa harus disertai dengan larutan pembanding 

yang memiliki waktu retensi yang sama dengan senyawa yang dianalisis. 

Analisa kuantitatif dilakukan dengan memakai  ukuran luas puncak.  

Peralatan yang dipakai  pada kromatografi gas dan cair, antara lain:  

1. Silender.  

Merupakan tempat gas pembawa atau tahap  gerak, yang dilengkapi 

dengan katup pengatur tekanan, seperti helium, nitrogen atau gas 

inert lain. 

2. Injektor atau alat suntik 

dipakai  untuk memasukkan sampel ke dalam kolom. Supaya 

sampel berbentuk uap, maka tempat penyuntikan harus dipanaskan 

terlebih dahulu dengan suhu yang cukup tinggi agar cepat terjadi 

penguapan, namun  jangan memakai  suhu yang terlalu tinggi 

sehingga tidak memicu  bahan terurai. 

3. Kolom 

Terbuat dari kaca atau logam yang tahan karat, ditempatkan pada 

kotak pemanas yang suhunya dapat diatur dan dipertahankan dalam 

waktu tertentu. Pengaturan suhu bertujuan agar eluasi senyawa 


berjalan dengan efisien sehingga komponen senyawa dapat keluar 

dari kolom secara terpisah. 

4. Alat alir gas 

Alat ini difungsikan untuk mengatur laju alir tahap  gerak. Laju alir gas 

yang keluar dari kolom dihitung, dan umumnya dinyatakan dalam 

ml/menit pada tekanan atmosfer dan suhu kamar. 

5. Detektor 

Detektor haruslah dipilih yang memiliki kepekaan tinggi dan selektif. 

Umumnya dipakai  detektor ionisasi nyala dengan gas tahap  gerak 

helium atau nitrogen 


High Perfomance Liquid Chromatography (HPLC) 

High Perfomance Liquid Chromatography (HPLC) atau Kromatografi cair 

kinerja tinggi (KCKT) yaitu alat yang dipakai  dalam pemisahan, sebagai 

hasil proses partisi, adsorpsi, atau penukaran ion, tergantung pada jenis tahap  

diam yang dipakai . HPLC merupakan alat yang memiliki kepekaan tinggi, 

serta dapat dipakai  untuk analisa kualitatif dan kuantitatif secara bersamaan. 

Teknologi kolom ini memerlukan sistem pompa tekanan tinggi yang mampu 

mengalirkan tahap  gerak pada tekanan tinggi hingga 300 atmosfer. Jumlah 

sampel yang akan dipisahkan dengan kromatografi hanya memerlukan sekitar 

20 µg. Prinsip identifikasi senyawa memakai  KCKT pada dasarnya sama 

dengan yang dipakai  pada kromatografi gas. Pada KCKT diperlukan tahap  

gerak berkualitas tinggi dan sebaiknya sebelum dipakai, harus dihilangkan 

terlebih dahulu kandungan gas yang mungkin terkandung di dalamnya. Jenis 

dan komposisi tahap  gerak memengaruhi kinerja kromatografi dan resolusi 

senyawa dalam camuran bahan uji.  

Selama proses pemisahan berlangsung, komposisi pelarut dapat diubah secara 

berkesinambungan atau yang disebut juga dengan eluasi gradien atau 

pengaturan pelarut. Kelebihan dari metode HPLC yaitu  mampu memisahkan 

suatu senyawa dari suatu campuran, mudah dalam pengerjaannya, kecepatan 

analisa dan kepekaan yang tinggi, dapat menghindari terjadiya dekomposisi 

atau kerusakan sampel yang akan dianalisis, resolusinya baik, dapat 

memakai  bermacam-macam detektor, kolom dapat dipakai  kembali, 

dan mudah melakukan “sample recorvery”.  


 

Peralatan yang dipakai  dalam kromatografi cair kinerja tinggi , antara lain: 

1. Pompa 

dipakai  ntuk mengalirkan fese gerak dari tempatnya ke dalam 

kolom dengan pipa yang memiliki tekanan tinggi. Umumnya tekanan 

hingga 5000 psi dengan laju alir yang dapat disesuaikan, kurang lebih 

10 ml/menit. 

2. Injektor 

Alat ini merupakan tempat untuk memasukkan larutan sampel, dapat 

dioperasikan secara manual atau otomatis. Larutan sampel harus 

disaring terlebih dahulu sebelum disuntukkan ke injektor. 

3. Kolom 

Kolom memiliki ukuran diameter 2-5 mm dan berisi tahap  diam. Ada 

dua jenis fae diam yaitu tahap  diam bersifat polar (tahap  normal) dan 

non polar (tahap  terbalik). tahap  gerak merupakan campuran pelarut 

dengan polaritas tertentu yang dapat diatur sesuai keperluan, dengan 

cara mengubah komposisinya. Untuk tujuan preparatif, kolom yang 

dipakai  memiliki  diameter lebih besar. 

4. Detektor.  

Spektrofotometer merupakan alat detektor yang umum dipakai . 

Alat ini ada  pada bagian akhir kolom. Radiasi sinar uv akan 

melewati suatu sel menuju detektor. Sampel yang dianalisis setelah 

melewati kolom masuk ke dalam sel untuk menyerap radiasi, dan 

menghailkan perubahan tingkat energi yang dapat diukur. 

5. Pengumpul data.  

Alat ini dipakai  untuk mengumpulkan data yang merupakan 

kromatografi lengkap dengan tinggi dan luas puncak, identifikasi 

bahan uji dan variabel metode. 

 

 

Rekristalisasi 

Rekristalisasi merupakan senyawa organik yang berupa padatan hasil dari 

isolasi bahan alam dengan kemurnian yang relatif rendah. Umumnya senyawa 

ini masih mengandung senyawa lain yang jumlahnya lebih sedikit, yang 

dihasilkan selama proses isolasi. Proses pemurnian senyawa biasanya melalui 

tahapan rekristalisasi dari pelarut yang sesuai atau campuran beberapa pelarut. 

Pemurnian senyawa padatan berdasar  perbedaan kelarutan pada pelarut 

maupun campuran pelarut.  

Proses rekristalisasi (J.P. Cannell, 1998) terdiri dari beberapa tahap di 

antaranya yaitu: 

1. Melarutkan bahan dalam pelarut yang sesuai hingga larut sempurna, 

dapat juga dibantu dengan pemanasan. 

2. Dinginkan atau ditetesi dengan pelarut yang tidak melarutkan 

senyawa agar mendapatkan kristal kembali yang terpisah dari larutan 

induk. Proses ini dilakukan berulang-ulang memakai  pelarut 

baru sampai didapatkan senyawa dalam keadaan murni.  

Jika bahan tidak dapat melarut dalam satu pelarut maupun beberapa pelarut, 

maka campuran beberapa pelarut dengan komposisi tertentu dapat dipakai  

dengan catatan pelarut ini harus saling larut. Selanjutnya padatan hasil 

rekristalisasi dikeringkan dan dilakukan uji kemurnian memakai  

penentuan titik leleh, uji KLT dengan 3 campuran eluen yang berbeda, 

kemudian dilakukan penentuan struktur dengan metode spektroskopi. 

 

Analisis Metabolit Sekunder 

 

 

  Penapisan Fitokimia 

Penapisan fitokimia dengan metode kualitatif merupakan metode penapisan 

fitokimia yang dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna dengan 

memakai  suatu pereaksi warna. Menurut Yuhernita dan Juniarti (2011), 

hal utama yang berperan penting dalam penapisan fitokimia yaitu  pemilihan 

pelarut dan metode ekstraksi. Penapisan fitokimia dapat dilakukan terhadap 

beberapa senyawa metabolit sekunder sesuai dengan tujuan pengujian. 

4.1.1 Identifikasi Flavonoid 

Identifikasi flavonoid senyawa metabolit sekunder dapat dilakukan 

memakai  beberapa pengujian, antara lain uji reagen alkalin dan uji 

Shinoda. Uji Alkalin dilakukan dengan menambahkan larutan NaOH dan HCl, 

sednagkan uji Sinoda dilakukan dengan menambahkan alkohol, logam 

magnesium, dan larutan HCl. Uji reagen alkalin dan Shinoda akan 

menghasilkan perubahan warna yang spesifik untuk menunjukkan keberadaan 

senyawa ini . 

 


 

Reaksi 1: 

 

Gambar 4.1: Mekanisme Reaksi Uji Shinoda Senyawa Flavonoid (Goud and 

Poornima, 2018) 

Reaksi 2: 

 

Gambar 4.2: Mekanisme Reaksi Flavonol pada Uji Shinoda (Tandi et al., 

2020) 

4.1.2 Identifikasi Tanin 

Identifikasi tanin dilakukan dengan penambahan reagen ferri klorida dan 

pengujian dengan reagen NaOH. Pada penambahan reagen ferri klorida akan 

menghasilkan tanin terhidrolisa yang berwarna warna biru atau biru hitam, 

sedangkan reagen NaOH akan menghasilkan pembentukan emulsi dari tanin 

terhidrolisa ini . 

Reaksi: 

 

Gambar 4.3: Reaksi uji FeCl3 senyawa Tanin 

Bab 4 Analisis Metabolit Sekunder 53 

 

4.1.3 Identifikasi Fenolik 

Identifikasi fenolik juga dapat dilakukan dengan penambahan reagen ferri 

klorida. Hasil positif adanya senyawa fenolik akan memberi  warna hijau 

tua atau biru kehitaman. 

Reaksi: 

 

Gambar 4.4: Reaksi uji FeCl3 senyawa fenolik (Goud and Poornima, 2018) 

4.1.4 Identifikasi Alkaloid 

Identifikasi alkaloid senyawa metabolit sekunder dapat dilakukan 

memakai  beberapa pengujian, antara lain uji Dragendorf, uji Mayer, uji 

Hager, uji Wagner, uji Iodin, uji Asam Pikrat, uji Asam Tanat. Masing-masing 

pengujian menghasilkan perubahan warna yang spesifik sesuai reagen yang 

dipakai  

Reaksi: 

 

Gambar 4.5: Reaksi senyawa alkaloid dengan Reagen Mayer (a), Wagner (b), 

Dragendorf (c) 

 


 Identifikasi Terpenoid  

Identifikasi senyawa terpenoid dengan uji Salkowski dilakukan dengan 

menambahkan pelarut kloroform dan reagen asam sulfat. Adanya senyawa 

terpenoid ditandai dengan pembentukan endapan berwarna merah kecoklatan 


 Identifikasi Saponin 

Identifikasi saponin dilakukan dengan menambahkan air pada ekstrak, 

kemudian digojok beberapa saat sampai menghasilkan busa homogen. 

Pengujian lain senyawa saponin dapat ditambahkan dengan olive oil yang 

ditandai dengan pembentukan emulsi (


 Kromatografi Lapis Tipis dan Kertas  

 Pengertian Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan 

Kromatografi Kertas (KK) 

Kromatografi Lapis Tipis dan Kromatografi Kertas merupakan salah satu jenis 

kromatografi yang masih banyak dipakai , merupakan suatu teknik 

pemisahan secara fisika komponen-komponen berdasar  dua tahap , yaitu tahap  

gerak (mobile phase) dan tahap  diam (stationary phase). Kromatografi Lapis 

Tipis dan Kromatografi Kertas merupakan jenis kromatografi planar, yang 

dipakai  untuk mengidentifikasi suatu sampel. Prinsip pemisahan yang 

terjadi pada teknik KLT dan KK memiliki  persamaan yaitu  adanya 

distribusi differential komponen sampel di antara tahap  diam dan tahap  gerak, 

berdasar  sifat kepolaran dari sampel ini .  


tahap  Diam dan tahap  Gerak yang dipakai  

1. tahap  Diam 

Pemilihan tahap  diam pada KLT didasarkan pada sifat fisika kimia 

komponen sampel yang akan dipisahkan meliputi polaritas, kelarutan, 

kemampuan mengion, berat molekul, bentuk dan ukuran analit. Sifat 

fisika kimia ini  berperan penting dalam menentukan mekanisme 

pemisahan dalam KLT. Sorben tahap  diam pada KLT dapat berupa 

senyawa anorganik maupun organik. Sorben anorganik misalnya 

alumunium oksida, silikon oksida, magnesium karbonat, kalsium 

karbonat, dan lain-lain. Sedangkan sorben organik misalnya pati dan 

selulosa. Partikel-partikel sorben berbentuk butiran halus ini  

dilapiskan pada penyangga padat seperti pelat kaca, plastik atau 

alumunium. Silika gel yaitu  sorben yang paling populer (64%), 

diikuti oleh selulosa (9%), dan alumina (3%). tahap  diam pada 

Kromatografi Kertas memakai  air yang terikat pada selulosa 

kertas.  

2. tahap  Gerak 

Pemilihan tahap  gerak yang dipakai  pada KLT dan KK memiliki  

prinsip yang sama, yaitu memakai  campuran 2 atau lebih pelarut 


yang memiliki  tingkat kepolaran yang berbeda-beda. Eluen juga 

harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:  

a. Memiliki kemurnian yang tinggi  

b. Stabil 

c. Memiliki viskositas rendah,  

d. Memiliki partisi isotermal yang linier,  

e. Tekanan uap yang tidak terlalu rendah atau tidak terlalu tinggi,  

f. Toksisitas serendah mungkin 

Dalam pemilihan tahap  gerak bisa dipilih berdasar  pustaka, bisa juga dengan 

dilakukan optimasi, mencoba-coba dua pelarut yang berbeda-beda 

kepolarannya, sehingga didapatkan hasil Rf berkisar antara 0,2-0,8. Beberapa 

jenis pelarut yang sering dipakai  sebagai tahap  gerak pada KLT dan KK 

yaitu : Heksana, Isobutanol, Etanol, etilasetat, kloform, toluene, isopropanol. 

Sistem tahap  gerak dalam KLT biasanya memakai  dua pelarut atau lebih, 

seperti BAA (n-Butanol:Asam asetat: Air) untuk pemisahan senyawa 

flavonoid pada crude ekstrak 


Tahapan Prosedur pada Analisis dengan KLT dan KK  

Pada metode analisis KLT, beberapa persiapan harus dipenuhi untuk 

mendapatkan hasil pemisahan sampel yang baik meliputi preparasi sampel, 

penanganan lempeng KLT, penanganan eluen, penanganan chamber tempat 

elusi, aplikasi sampel, proses pengembangan sampel dan evaluasi noda. 

1. Preparasi Sampel 

Sebelum melakukan preparasi sampel terlebih dahulu ditentukan 

jenis sampel dan sifat fisika kimia analit yang akan dianalisis. Prinsip 

dari preparasi yang dilakukan yaitu  agar diperoleh smpel dalam 

keadaan terlarut dan jernih. Pelarut yang dipakai  diusahakan 

merupakan pelarut yang mudah menguap, agar setelah penotolan 

akan segera kering. Jika sampel yang dipakai  belum dalam 

keadaan terlarut, maka dapat dilakukan penggojokan sehingga 

terpisah filtrat dan residunya, sedangkan untuk mendapatkan sampel 

yang jernih maka perlu dilakukan proses penyaringan.  

  

 

2. Penanganan Lempeng KLT dan Kertas KK 

Sebelum memakai  lempeng KLT, pastikan dulu jenis lempeng 

yang dipakai , sehingga tidak terjadi kesalahan penanganan 

lempeng. Lempeng KLT bersifat rapuh dan harus ditangani dengan 

benar mulai dari pembukaan kemasan sampai ke tahap dokumentasi. 

Pendukung sorben yang paling umum dipakai  pada lempeng KLT 

yaitu  aluminium foil, film plastik dan piring kaca. Lempeng 

ini  dipakai  untuk berbagai tujuan dan penanganan masing-

masing jenis pendukung sorben berbeda-beda. Film plastik jarang 

dipakai  sebab  tidak tahan pemanasan. Pendukung sorben yang 

banyak dipakai  yaitu  aluminium foil. Sebelum dipakai , 

lempeng KLT harus dilakukan proses pencucian, pengaktivasian, 

pengkondisian serta impregnansi (tergantung dari jenis sampel yang 

dianalisis). Pemotongan lempeng KLT dan Kertas Saring untuk KK, 

dapat memakai  gunting. Pada saat menggunting, jangan 

memegang bagian atas (sorben), sebab  akan memicu  

kontaminasi pada lempeng KLT. Ukuran lempeng yang dipakai  

disesuiakan dengan ukuran chamber yang akan dipakai . Lempeng 

KLT dan kertas yang dipakai  diberikan tanda batas bawah, sebagai 

titik penotolan sampel dan batas atas sebagai batas pengembangan 

(elusi) tahap  gerajk.  

3. Penanganan tahap  Gerak 

Pemilihan tahap  gerak yang tepat dapat dilakukan melalui optimasi, 

terhadap beberapa pelarut yang akan dipakai . Setelah ditemukan 

tahap  gerak yang sesuai, yang menghasilkan nilai Rf 0,2-0,8, serta 

dapat memisahkan sampel yang terdiri lebih dari satu dengan baik 

(yang ditandai efisiensi kromatogram yang dihasilkan), maka langkah 

selanjutnya yaitu  melakukan penjenuhan chamber dengan tahap  

gerak yang telah ditentukan. Penjenuhan chamber bertujuan untuk 

menyamaratakan tekanan uap dari tahap  gerak yang dipakai  

sehingga pemisahan dapat berjalan dengan baik.  

Penjenuhan chamber dilakukan dengan melapisi dinding bagian 

dalam chamber kromatografi dengan kertas saring, sekurang-

kurangnya setengah keliling chamber dan kertas saring hampir 

mencapai bagian atas bejana. Hal lain yang harus diperhatikan 

didalam penyiapan tahap  gerak ini yaitu  menyiapkan chamber yang 

dipakai , harus dalam keadaan kering (bebas dari air) dan bersih 

(bebas dari kotoran). Adanya pengotor dan air dalam chamber akan 

menggangu kromatogram yang dihasilkan dan memengaruhi 

reprodusibilitas pemisahan KLT. 

4. Penotolan Sampel 

Penotolan sampel sangat berpengaruh terhadap hasil KLT. Pemisahan 

pada kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika 

menotolkan sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit 

mungkin. jika sampel yang dipakai  terlalu banyak maka akan 

menurunkan resolusi dan akan memicu  tailing (bercak yang 

berekor). Aplikasi sampel pada sorben lempeng KLT dapat dilakukan 

secara manual dengan peralatan sederhana dan dapat juga dengan 

peralatan otomatis. Semakin tepat posisi penotolan dan kecepatan 

penotolan semakin baik kromatogram yang dihasilkan. Aplikasi 

sampel secara otomatis dapat memperbaiki kualitas penotolan 

sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penotolan sampel 

secara otomatis lebih dipilih daripada penotolan secara manual 

terutama jika sampel yang akan ditotolkan lebih dari 15 µl. Penotolan 

sampel yang tidak tepat akan memicu  bercak menyebar dan 

puncak ganda. Volume sampel yang ditotolkan paling sedikit 0,5 µl 

untuk memperoleh reprodusibilitas. Jika volume sampel yang 

ditotolkan lebih dari 2-10 µl maka penotolan harus dilakukan secara 

bertahap dengan pengeringan antar totolan. 

5. Elusi (Pengembangan) 

Elusi atau pengembangan KLT dipengaruhi oleh chamber yang 

dipakai  dan kejenuhan dalam bejana (chamber). Metode 

pengembangan yang dipilih tergantung tujuan analisis yang ingin 

dicapai dan ketersediaan alat di laboratorium. Metode elusi yang 

paling banyak dipakai  yaitu  metode pengembangan satu dimensi 

linier. Metode pengembangan linier yang paling sering dipakai   

 

yaitu  metode pengembangan menaik (ascending). Metode ini 

ilakukan dengan cara memasukkan eluen dalam chamber, setelah 

chamber jenuh, ujung lempeng bagian bawah direndam ke dalam 

eluen dalam chamber. Eluen bermigrasi dari bawah lempeng menuju 

keatas dengan gaya kapilaritas.  

Beberapa hal yang perlu diperhatikan didalam melakukan elusi secara 

menaik: 

a. Selama pengembangan, chamber harus berada diatas bidang yang 

datar, permukaan chamber juga harus sejajar (tidak miring), dan 

pastikan selama pengembangan tidak terganggu oleh hal-hal yang 

tidak diinginkan.  

b. Selama pengembangan, dalam keadaan apapun tidak 

diperkenankan menggerakkan chamber untuk mengamati proses 

pengembangan  

c. Selama pengembangan juga tidak diperkenankan membuka tutup 

chamber untuk melihat garis depan eluen 

 

Gambar 4.6: Elusi senyawa metabolit pada KLT 

6. Deteksi Bercak 

Hasil yang diperoleh pada metode KLT dan KK setelah proses elusi 

yaitu  berupa bercak pada Lempeng KLT dan Kertas yang 

dipakai . Bercak yang didapatkan dapat berupa bercak yang 

berwarna maupun tidak berwarna sesuai dengan sampel yang 

dianalisis. Pada deteksi bercak yang berwarna, dapat langsung 

diketahui secara visualisasi langsung, sedangkan pada deteksi bercak 

yang tidak berwarna, deteksi bercak dapat dilakukan dengan dua 

cara, yaitu:  


 

a. memakai  bahan ber-fluoresensi 

Lempeng KLT biasanya ditambahkan bahan yang dapat 

menghasilkan fluoresensi (pendaran). Ketika lempeng disinari 

dengan lampu UV (ultraviolet) akan memicu  lempeng 

ini  berpendar. Pada saat lempeng ini  berpendar, 

bercak-bercak terlihat gelap dan selanjutnya bercak-bercak 

ini  dapat ditandai sebagai hasil elusi KLT. Sinar UV yang 

dipakai  pada analisis bercak yaitu  UV254 dan UV366 nm. 

b. Penunjukkan bercak secara kimia  

Langkah lain yang dapat dilakukan untuk menegaskan bercak 

hasil elusi dapat memakai  penampak bercak dari reagen 

kimia. Reagen kimia ini sering dipakai  untuk menegaskan 

bercak hasil KLT senyawa metabolit sekunder secara spesifik 

seperti flavonoid, alkaloid, fenolik, steroid, antrakinon. Setelah 

proses elusi selesai, plat KLT dikeringkan kemudian disemprot 

dengan reagen kimia yang sesuai dengan senyawa metabolit 

sekunder yang diamati. Salah satu aplikasi pemakaian  reagen 

kimia pada penegasan bercak yaitu  pemakaian  sitoborat, 

H2SO4, dan uap amoniak untuk flavonoid.  

Reagen sitroborat dipakai  untuk mendeteksi adanya senyawa 

flavonoid pada suatu sampel. Warna kuning yang terdeteksi pada 

ekstrak kasar, fraksi larut etanol, dan fraksi n-heksan yaitu diduga 

merupakan flavonoid jenis flavanon dan flavon yang ada  

pada rimpang temu kunci. Flavonoid menghasilkan peredaman 

fluorosensi pada sinar UV254 nm dan menunjukkan fluorosensi 

kuning, hijau, atau biru. 

Penampakan noda lainnya memakai  pereaksi semprot H2SO4 

yang menghasilkan bercak berwarna coklat kehitaman. Hal 

ini  berdasar  kemampuan asam sulfat yang bersifat 

reduktor dalam merusak gugus kromofor dari zat aktif simplisia 

sehingga panjang gelombangnya akan bergeser ke arah yang 

lebih panjang (UV menjadi Vis) sehingga noda menjadi tampak 

oleh mata. Selain reagen sitoborat dan H2SO4 penampak noda 

pada flavonoid dapar memakai  uap amonika. Hal ini sesuai 

dengan teori bahwa noda yang tampak setelah diberi perlakuan 

diuapi dengan amoniak akan terbentuk noda dengan fluoresensi 

kuning, biru lembayung, kuning redup, kuning pucat, hijau 

kehitaman, jingga, dan merah. 

Tabel 4.2: Pereaksi bercak beberapa senyawa metabolit sekunder 

No. Jenis Pereaksi Senyawa 

1 Dragendrof Alkaloid 

2 Liebarman Burchard Steroid 

3 KOH 10% metanolik Antrakinon 

4 Sitoborat Flavonoid 

5 AlCl3 Fenolik 

7. Interpretasi Hasil Analisis dengan Metode KLT dan KK 

Analsis dengan metode KLT dan KK dapat dipakai  untuk tujuan 

analisis kualitatif maupun analisis kuantitatif. Interpretasi hasil 

analisis memakai  bercak yang diperoleh setelah proses elusi. 

Bercak yang diperoleh diolah lebih lanjut, berdasar  tujuan analisis 

yang diinginkan.  

 

Gambar 4.7: Interpretasi Hasil Spotting Sampel yang Dianalisis 

8. Analisis Kualitatif 

Pada analisis kualitatif, bercak yang diperoleh dilakukan perhitungan 

lebih lanjut yang dinamakan dengan nilai Rf (Retardation Factor). 

Nilai Rf ini dipakai  sebagai nilai perbandingan relatif antar 

sampel. Selain itu, nilai Rf juga dipakai  sebagai derajat resisten 

62  

 

sebuah komponen dalam tahap  diam sehingga nilai Rf juga sering 

disebut dengan faktor retensi. Rumus menghitung nilai Rf yaitu: 

 

Semakin besar nilai Rf sampel maka semakin besar jarak gerak 

senyawa pada plat kromatografi lapis tipis. Ketika membandingkan 

dua sampel berbeda di kondisi kromatografi yang sama, nilai Rf akan 

besar jika senayaea kurang polar dan berinteraksi dengan adsorben 

polar dari plat kromatografi ini . Faktor-faktor yang 

memicu  nilai Rf bervariasi meliputi dimensi dan jenis ruang, 

sifat dan ukuran lempeng, arah aliran tahap  gerak, volume dan 

komposisi tahap  gerak, kondisi kesetimbangan, kelembaban, dan 

metode persiapan sampel KLT sebelumnya. 

Setelah didapatkan hasil Rf, maka kesimpulan adanya kandungan 

suatu senyawa dalam sampel dilakukan dengan cara: 

a. Analisis memakai  Larutan Baku 

Analisis ini dilakukan dengan membandingkan nilai Rf sampel, 

dibandingkan dengan nilai Rf baku yang dipakai . Nilai Rf bisa 

dijadikan bukti untuk mengidentifikasi senyawa. Jika identifikasi 

Rf sampel dan baku bernilai sama maka senyawa ini  

dikatakan memiliki  karakteristik yng sama/mirip. Sebaliknya, 

jika nilai Rf berbeda berarti senyawa yang berbeda. 

b. Analisis tidak memakai  Larutan Baku 

Analisis ini dilakukan dengan membandingkan nilai Rf sampel, 

dibandingkan dengan Rf yang ada  pada pustaka (Jurnal atau 

Handbook) sebagai acuan. Nilai Rf yang dihasilkan harus sama 

atau mendekati dengan Rf yang ada  pada pustaka ini . 

Syarat untuk memakai  pustaka sebagai acuan Rf, maka 

kondisi percobaan (jenis tahap  gerak, volume chamber), harus 

sama dengan yang ada pada pustaka ini .  

c. Analisis Kuantitatif 

Beberapa metode yang dipakai  untuk tujuan analisis 

kuantitatif yaitu  sebagai berikut: 


 

1) Metode langsung  

Untuk analisa kuantitatif yang sederhana berupa 

perbandingan visual intensitas noda jumlah sampel dengan 

noda standar yang dikembangkan secara bersamaan. 

2) Metode Ekstraksi Noda 

Metode ini meliputi tahapan pengeringan lempeng, 

penandaan noda analit, memotong bagian lempeng yang 

mengandung analit, mengumpulkan sorben, ekstraksi analit 

dari sorben, dan pengukuran dengan dibandingkan standar 

secara mikroanalitikal, seperti absorpsi larutan atau 

spektrofotometri fluoresensi. 

3) Metode KLT-Densitometri 

Pada metode ini, lempeng KLT yang sudah dielusi langsung 

dianalisis memakai  instrument Densitometer atau TLC 

scanner. Penentuan kualitatif analit KLT-Densitometri 

dilakukan dengan cara membandingkan Rf analit dan standar. 

Adapun parameter kuantitatif yang dipakai  yaitu  tinggi 

puncak kurva densitometri dan area di bawah puncak kurva 

densitometri dari bercak yang didapatkan pada metode KLT.  

Densitometri merupakan analisis instrumental yang 

didasarkan pada interaksi radiasi elektromagnetik dengan 

analit berupa bercak hasil KLT. Interaksi radiasi 

elektromagnetik dengan noda KLT yang ditentukan yaitu  

absorpsi, transmisi, pantulan (refleksi) pendar fluor atau 

pemadaman pendar fluor dari radiasi semula. Densitometri 

juga merupakan metode penetapan kadar suatu senyawa pada 

lempeng kromatografi yang pengukurannya dilakukan 

dengan cara mengukur serapan analit di mana cahaya yang 

diukur dapat berupa cahaya yang dipantulkan atau 

diteruskan, pemadaman fluoresensi analit atau hasil reaksi 

analit 

4.3 Analisis Kuantitatif 

4.3.1 Analisis Kuantitatif secara Spektrofotometri 

Analisis spektrofotometri merupakan analisis kimia yang didasarkan pada 

pengukuran intensitas warna larutan yang akan ditentukan konsentrasinya 

dibandingkan dengan larutan standar, yaitu larutan yang telah diketahui 

konsentrasinya. Penentuan konsentrasi didasarkan pada absorpsimetri, yaitu 

metode analisis kimia yang didasarkan pada pengukuran absorpsi (serapan) 

radiasi gelombang elektromagnetik. Metode spektrofotometri didasarkan pada 

absorpsi radiasi elektromagnet. Cahaya ini merupakan radiasi yang sesuai 

dengan kepekaan mata manusia. akan menyusun cahaya putih. Cahaya putih 

akan meliputi seluruh spetrkum ultraviolet sampai tampak pada panjang 

gelombang 200-800 nm. 

Pada teknik spektrofotometri, cahaya dari sumber cahaya diuraikan dengan 

memakai  prisma sehingga diperoleh cahaya monokromatis (cahaya 

dengan satu warna dan satu panjang gelombang) yang diserap oleh zat yang 

diserap oleh larutan dapat diukur. Hubungan antara konsentrasi dengan cahaya 

yang diserap dinyatakn dengan hokum Lambert-Beer yang menyatakan 

“Pengurangan intensitas cahaya monokromatis yang melalui suatu larutan 

berwarna berlangsung secara eksponensial dan bergantung pada panjang 

larutan yang dilalui cahaya dan kadar zat dalam larutan. Teknik 

spektrofotometri telah lama dipakai  sebagai suatu teknik yang handal untuk 

mendeteksi, identifikasi dan pengukuran kadar suatu senyawa kimia dalam 

larutan tertentu. Teknik ini didasarkan pada bahan kimia dapat menyerap dan 

menghantarkan cahaya. Suatu larutan memiliki  warna tertentu sebab  

larutan ini dapat menyerap semua warna kecuali warna yang dapat ditangkap 

oleh mata. 

Spektrofotometer UV-Vis yaitu  pengukuran panjang gelombang dan 

intensitas sinar ultraviolet dan cahaya tampak yang diabsorbsi oleh sampel. 

Sinar ultraviolet dan cahaya tampak memiliki energi yang cukup untuk 

mempromosikan elektron pada kulit terluar ke tingkat energi yang lebih tinggi. 

Spektrofotometer UV-Vis biasanya dipakai  untuk molekul dan ion 

anorganik atau kompleks di dalam larutan. Spektrum UV-Vis memiliki  

bentuk yang lebar dan hanya sedikit informasi tentang struktur yang bisa 

didapatkan dari spektrum ini. namun  spektrum ini sangat berguna untuk 

pengukuran secara kuantitatif. Konsentrasi dari analit di dalam larutan bisa 


ditentukan dengan mengukur absorban pada panjang gelombang tertentu 

dengan memakai  hukum Lambert-Beer. 

Hukum Lambert-Beer akan menghasilkan persamaan sebagai berikut: 

 

Keterangan: 

I: Intensitas cahaya keluar  

I0: Intensitas cahaya masuk  

k: Konstanta yang didasarkan pada sifat zat dalam larutan  

c: Konsentrasi zat ini   

l: Panjang larutan yang dilalui cahaya 

Pada alat spektrofotometer UV-Vis, sinar yang datang benar-benar diusahakan 

berupa sinar monokromatis dengan cara mempersiapkan kuvet sedemikian 

rupa, sehingga tidak ada sinar yang tertahan. Jika jalur sinar pada setiap bagian 

kuvet sama, maka nilai k untuk berbagai senyawa dalam berbagai larutan dan 

berbagai panjang gelombang dpat dihitung. Bila konsentrasi dalam mol/L, 

jarak tempuh cahaya dalam cm, maka nilai k disebut koefisien ekstinsi molar. 

Koefisien ekstinsi pada masing-masing alat dapat dihitung pada tabel indeks. 

Kadar suatu zat dengan membuat satu atau rangkaian larutan standar dapat 

diperiksa. Sampel dengan jumlah sedikit dipakai  satu larutan standar dan 

kadar zat ditentukan dengan cara membandingkan absorbansi standar (larutan 

baku) dengan absorbansi sampel. Sedangkan sampel dengan jumlah banyak 

ditentukan dengan membuat serangkaian larutan standar sehingga dapat dibaut 

suatu kurva kalibrasi standar. Dengan demikian, kadar sampel yang tidak 

diketahui dapat ditentukan dari kurva standar ini