n ji-
wanya. Pengobatan dapat dilakukan dengan
beta-blocker metoprolol atau flekainida yang
menghambat penerusann impuls melalui
simpul AV.
* Fibrilasi bilik (ventrikel) sering kali timbul
sesudah suatu infark dan bersifat sangat
membahayakan, sebab darah tidak dipompa
QT interval. Merupakan parameter pada ECG dan menunjukkan waktu antara awal depolarisasi (Q)
sampai akhirnya repolarisasi (T).
Lamanya repolarisasi dan panjangnya interval QT tergantung dari frekuensi jantung. Interval ini
pada bradikardi lebih panjang dan pada takikardi lebih pendek.
QT interval yang lebih panjang (Torsade de pointes) berkaitan dengan risiko aritmi ventrikular dan pada
keadaan tertentu dengan fibrilasi ventrikular, yang bisa fatal. Sejumlah besar obat dikaitkan dengan
perpanjangan QT-interval dan risiko Torsade de pointes. Misalnya
– psikofarmaka/antipsikotika: klorpromazin, sitalopram, haloperidol, pimozin;
– obat kardiovaskular: amiodaron, disopiramida, flekainida, kinidin, sotalol;
– antibiotika: azitromisin, klaritromisin, eritromisin, moksifloksasin, kotrimoksazol;
– anti-emetika: domperidon, ondansetron.
Obat-obat yang memperpanjang QT-interval sebaiknya jangan dipakai bersamaan (kombinasi)
sebab dapat meningkatkan risiko gangguan ritme jantung.
lagi ke organ tubuh dengan optimal. Bila
tidak diobati dengan segera (misalnya de-
ngan lidokain) biasanya berakhir fatal.
* Tachycardia dan bradycardia yaitu kerja
jantung yang abnormal cepat atau abnormal
lambat dengan frekuensi masing-masing di
atas 100 dan di bawah 60 denyu tan per me nit.
* Heartblock (AV block) yaitu sejenis arit-
mia, pada mana kontraksi bilik berlangsung
terlalu lambat atau hilang sama sekali, akibat
terganggunya penyaluran impuls listrik dari
serambi ke bilik. Keadaan ini antara lain
dapat terjadi pada infark jan tung. Terapinya
tidak dilakukan dengan obat, melainkan
dengan pacema ker, suatu alat kecil yang me-
ngirimkan impuls listrik ke jantung untuk
menormalisasi ritme kontraksiny a.
Penanganan aritmia dapat dengan cara
tanpa obat seperti pembedahan dan implan-
tasi pacemaker (alat pacu jantung yang mem-
berikan impuls ritmis buatan pada jantung).
Pengobatan gangguan ritme yang bertalian
dengan infark jantung harus dilakukan se-
gera dengan antiaritmika sebab sering- kali
berakibat fatal.
Antiaritmika
Gangguan irama jantung dapat ditimbulkan
oleh pembentukan impuls atau/dan penya-
lurannya yang abnormal. Antiaritmika da-
pat mence gah atau meniadakan gangguan
itu dengan jalan menormalisasi freku-
ensi dan ritme pukulan jantung.
Mekanismenya berdasar penurunan
frekuensi jantung (efek kronot rop negatif);
biasanya obat-obat ini sedikit banyak
juga mengurangi daya kontraksinya (efek
inotrop negatif). Perlu pula diperhatikan
bahwa obat-obat ini juga dapat memperparah
atau justru memicu aritmi (pro-arit-
mia). Oleh sebab itu sebelum dimulai pe-
ngobatan perlu dipertimbangkan dengan
saksama risiko timbulnya pro-aritmi untuk
menentukan obat mana yang paling aman
dan optimal. Atau beralih dari terapi obat
ke intervensi non-farmakologis, mis. pema-
sangan pacemaker.
Penggolongan antiaritmika dilakukan me-
nurut klasifikasi Vaughn Williams dalam
4 kelas atas dasar sifat elektrofisiologisnya
yang diukur di sel-sel myocard tertentu.
– Obat kelas I. Zat stabilisasi membran
dengan efek kinidin (= efek anestetik lokal).
Obat-obat ini sangat mengurangi kepekaan
membran sel jantung untuk rangsangan aki-
bat penghambatan pemasukan ion-Na ke
membran (sodium-channel blockers) dan per-
lambatan depolarisasinya. Lihat juga Bab 26,
Anestetika lokal. Efeknya yaitu frekuensi
jantung berkurang dan ritmenya menjadi
normal kembali. Dapat dibedakan 3 kelom-
pok:
Ia. kelompok kinidin : kinidin, disopiramida
dan prokainamida. Obat-obat ini antara
lain memperpanjang masa refrakter dan
aksipotensial sel-sel myocard.
Ib. kelompok lidokain: lidokain, meksiletin,
fenitoin, aprindin (Fiboran) dan tokainida
(Tonocard). Obat-obat ini mempersingkat
antara lain masa refrakter dan aksipo-
tensial sel-sel myocard; hanya efektif
pada aritmia bilik. Obat epilepsi fenitoin
khusus dipakai pada aritmia akibat
keracunan digoksin.
Ic. kelompok propafenon: propafenon dan
flekainida (Tambocor) sedikit memperpan-
jang masa refrakter dan aksipo tensial.
– Obat kelas II. β-blocker: atenolol, metoprolol,
asebutolol, bisoprolol, nadolol, karteolol, dan lain-
lain. (lihat tabel 35-2, Bab 35, Antihipertensiva)
mengurangi (hiper)aktivitas adrener gik di
myocard dengan penurunan frekuensi dan
daya kontraksiny a. Beberapa b-blocker (a.l.
propranolol, asebutolol, alpre nolol dan oksprenolol)
juga memiliki efek kelas Ia, sedang kan sotalol
terma suk kelas III. Propranolol, metoprolol dan
timolol diguna kan profilaktik sesudah infark
untuk mencegah infark kedua (menghindari
fibrilasi ventrikuler).
– Obat kelas III. K-channels blockers: amio-
daron,sotalol, ibutilide (Corvert) dan dofetilide
(Tikosyn). Akibat blokade saluran kalium,
masa refrakter dan lamanya aksipotensi al
diperpanjang. Amiodaron efektif terhadap
aritmia serambi dan bilik, sotalol hanya
terhadap aritmia bi lik.
– Obat kelas IV. Antagonis kalsium: verapamil
dan diltiazem. Akibat peng hambatan pema-
sukan ion Ca, penyaluran impuls AV diper-
lam bat dan masa refrakter diperpanjang.
– Obat lainnya: adenosin, digoksin
Efek samping umum yang dapat terjadi
yaitu
– dekompensasi, yang dapat diinduksi atau
diperburuk akibat efek inotrop negatif yang
sedikit banyak dimiliki kebanyakan anti-
a ritmika, khususnya kinidin dan disopi-
ramida;
– efek aritmogen, yaitu memicu atau
memperburuk aritmi a (bilik), khususnya
zat-zat kelas I dan III (flekainida);
– gangguan penerusan impuls (AV block) dan
bradycardia;
– gangguan lambung-usus: nausea, mual, di-
are, anoreksia;
– efek neurologik: neuropati perifer, tremor,
nyeri kepala, lelah, sukar tidur, impian
khayal.
biasanya obat-obat dari kelompok Ic
dipakai untuk terapi penderita dengan
struktur jantung normal, sedang kelom-
pok III bagi penderita dengan struktur jan-
tung abnormal.
Wanita hamil dan yang menyusui tidak
dianjurkan memakai antiaritmika, ka-
rena dalam kebanyakan hal belum diketahui
keamanannya. Pengecualian yaitu lidokain
yang dianggap aman selama masa hamil,
namun sedikit mencapai air susu ibu.
4. Gagal jantung (decompensatio
cordis)
Pada gangguan serius ini, jantung tidak mampu
lagi memeli hara peredaran darah selayaknya,
sehingga volume menit menurun dan arteri
mendapat darah terlalu sedikit. Sebagai akibat
kelemahan jantung ini, darah terbendung di
vena paru-paru dan kaki, yang menimbul-
kan sesak dada dan udema pergelangan kaki.
Pada keadaan parah, dapat terjadi udema
paru yang sangat berbahaya. Penyaluran
darah ke jaringan juga berkurang, sehingga
ginjal mengekskresi lebih sedikit natrium dan
air. Dalam keadaan demikian, pasien perlu
sesegera mungkin dirawat di rumah sakit!
pemicu penting dekompen sasi yaitu
a.l. infark, kerusa kan katup, gangguan ritme
dan hiper tensi.
Gejala terpenting berupa sesak napas(dysp noe),
yang awalnya pada waktu mengeluarkan
tenaga, namun dalam kasus yang lebih berat
juga pada saat istirahat (berbaring). Begitu
pula udema di pergelan gan kaki dengan
vena memuai, sebab darah-balik terhambat
kembali nya ke jantung. Sering kali juga pera-
saan sangat letih dan kurang tenaga.
Penanganan keadaan insufisiensi ini umum-
nya dilakukan dengan 3 tindakan untuk me-
niadakan kelebihan cairan, yakni banyak
istirahat untuk meringankan beban jantung,
pembatasan asupan garam dan pengobatan
dengan diuretika untuk memperbesar eks-
kresi cairan.Yang terakhir penting untuk
mengurangi pengeluaran tenaga berlebihan
yang memperkuat penyaluran darah ke otot,
sehingga mengurangi filtrasi glomeruler
dengan akibat retensi natrium.
Pengobatan.32,33 sebab penyembuhan fungsi
pompa jantung pada prinsipnya tidak bisa
dicapai, maka penanganan khususnya dituju-
kan pada prevensi memburuknya penyakit
dan meringankan gejalanya.
a. Diuretika mengeluarkan kelebihan cairan,
sehingga beban jantung berkurang. Un-
tuk ini banyak dipakai diuretikum
kuat furosemida (oral 3-4 dd 80-500 mg)
atau untuk efek cepat intravena 500 mg.
Bila furosemida tidak menghasilkan efek
secukupnya sebab ada resistensi
diuretika, dapat ditambahkan thiazida.
Pada keadaan tidak akut biasanya diberi-
kan suatu thiazida dengan efek lebih
berangsur-angsur, misalnya HCT. Lihat
juga Bab 33. Diuretika, pemakaian .
b. Glikosi da jantung (digoksin) memperku at
daya kontrak si otot jantung yang lemah,
sehingga memperkuat fungsi pompa,
berdasar peningkatan kadar kalsium.
Sering kali diuretika dikombinasi dengan
zat inotrop positif digoksin, yang ju-
ga berkhasiat mengatasi resistensi diu-
retika dengan memperbaiki volume-
menit jantung. Zat-zat inotrop positif
lainnya seperti dopaminer gika (dopamin,
ibopamin, dan lain-lain) tidak dianjur kan
sebab daya kerja nya terlampau kuat
tanpa memiliki efek kronotrop negatif,
lagipula cenderung memicu arit-
mi. Oleh sebab itu obat-obat ini hanya
dipakai i.v. pada keadaan akut (syok
jantung dan sebagainyanya). Pengham-
bat fosfodiësterase juga tidak dianjurkan
berhubung efek buruknya terhadap sel
jantung.
pemakaian nya harus dibatasi pada
gagal jantung serius, pada mana obat-
obat lain kurang efektif. Juga perlu pe-
ngawasan kontinu mengenai hemodi-
namika.
c. Penghambat ACE (ACE inhibitor: kapto-
pril, enalapril, lisinopril dan lain-lain) ba-
nyak dipakai pada gagal jantung
kronis, juga sesudah infark pada pasien
tertentu. Obat-obat ini merupakan vaso-
dilator paling cocok pada gagal jantung
dengan menghindari peningkatan angio-
tensin II yang sering kali timbul pada
penyakit ini. Pengobatan gagal jantung
(mild) biasanya dimulai dengan obat-
obat ini yang berkhasiat mengurangi
beban jantung yang sudah lemah, mem-
perlambat progress penyakit dan mem-
perpanjang harapan hidup pasien gagal
jantung kronis. Pada kasus yang lebih
parah pengobatan ditambah dengan su-
atu diuretik thiazida (mis. bendroflume-
tiazida) atau suatu “loop” diuretik (mis.
furosemida) yang memacu pengeluaran
natrium dan air sehingga “preload” dan
udema diperbaiki. Bagi penderita yang
tidak tahan terhadap obat-obat ini dapat
memakai vasodilator lain (mis. iso-
sorbidanitrat plus hidralazin).
d. AT-II-blockers (antagonis-angiotensin:
losartan, valsartan, irbesartan, dan lain-lain)
juga dapat dipakai . Obat-obat ini ber-
khasiat vasodilatasi perifer dan mengu-
rangi preload maupun afterload darah, yaitu
beban darah masing-masing sebelum dan
sesudah mencapai jantung.
e. Vasodilator koroner juga berkhasiat me-
ngurangi beban jantung, seperti nitro-
prusida (i.v.), prazosin dan hidralazin Obat-
obat ini menurunkan afterload melalui
vasodilatasi arteri. Nitrat sebagai dilator
vena mengurangi preload darah. Me-
ngenai pemakaian antagonis-Ca tidak
ada kesepakatan berhubung dengan
efek inotrop negatifnya!
5. Syok jantung
Komplikasi infark jantung ini sangat ditakuti,
sebab sering kali berakhir fatal. Kekurangan
pemasukan darah ke jaringan bergejala kulit
pucat dan dingin, perasaan takut dan gelisah,
denyut jantung cepat dan lemah, kemudian
pingsan. Syok dapat pula diakibatkan oleh
antara lain tachycar dia hebat dan radang otot
jantung (myocar ditis).
Pengobatan dilakukan dengan obat-obat va-
sopresor/inotrop (dopamin, dobuta min, ibopa-
min) yang menaikkan volume-menit jantung
dan tekanan darah. Adakalanya dianjurkan
pula pemberian kortison dalam dosis tinggi.
Penggolongan cardiaca
berdasar efeknya atas jantung, cardiaca
dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu:
1. kardiotonika dengan efek memperkuat
kontraksi jantung:
A. glikosida, B. dopaminergika dan C.
penghambat-fosfodiësterase
2. obat angina pectoris dengan daya vaso-
dilatasi atau memperlambat frekuensi
jantung : A.vasodilator koroner, B. beta-
blocker dan C. antagonis-Ca
3. antiaritmika dengan khasiat memperbaiki
kelainan ritme pukulan jantung.
MONOGRAFI
1. KARDIOTONIKA
Kardiotonika yaitu obat-obat dengan kha-
siat memperkuat kontraktilitas otot jantung
(efek inotrop positif). Terutama dipakai
pada gagal jantung (dekom pensasi) untuk
memperbaiki fungsi pompany a.
Kelompok kardiotonika terdiri dari :
A. glikosida jantung(digok sin, metildigoksin
dan digitoksin)
B. dopami nergika (dopa min, ibopamin dan
dobutamin)
C. pengham bat fosfo diësterase (amrinon
dan milrinon).
1A. GLIKOSIDA JANTUNG
Semua obat ini berasal dari tumbuhan dan
yang terpenting yaitu digitalis (‘fox glove’),
sedang strofantus (strofan tin) sudah ob-
solet. Dalam homeopati banyak dipakai
tumbuhan seperti Convallaria majalis (‘lilly-of-
the-valley’), Crataegus oxycantha (pohon ‘mei-
doorn’, ‘hawthorn’), Adonis verna lis (her fsttijloos,
‘pheasant’s eye’), Helleborus niger (‘Christ mas
rose’), dan Thevetia neriifolia, sejenis oleander.
Semua glikosida jantung memiliki rumus
steroid, seperti hormon kelamin dan anak
ginjal, kolesterol dan vitamin D.
Sediaan galenika seperti Tingtur digitalis dan
Tingtur Strofanti dahulu banyak dipakai ,
namun susunannya tidak konstan dan stan-
dardisasi biologisnya sulit. Lagi pula kotoran
seperti saponin dalam tingtur itu da-
pat memicu iritasi lambung-usus dan
memengaruhi resorpsi zat aktif. Oleh sebab
itu dengan tersedianya digoksin dan stro-
fantin secara murni, sediaan galenika kini
tidak dipakai lagi.
1Aa. Digoksin: Lanoxin
Digoksin dan digitoksin ada dalam
daun tumbuhan Digitalis purpu rea dan D. la-
nata sebagai aglukon dari glikosida. Rumus
kimianya terdiri dari inti steroid dengan
rantai samping cincin lakton tak-jenuh.
Khasiatnya bermacam-macam, yang ter-
penting yaitu efek inotrop positif, yakni
memperkuat kontraksi jantung, sehingga
volume puku lan, volume menit dan diuresis
diperbesar, serta jantung yang membesar
mengecil lagi. Frekuensi denyutan nya juga
diturun kan (efek kronotrop negatif) akibat
stimulasi nervus vagus (saraf “pengembara”).
Sifat ini bertentangan dengan banyak zat
inotrop positif (adrena lin, derivat ksantin,
glukagon dan ion Ca) yang juga memiliki
kerja kronotrop positif. Di samping itu zat ini
menghambat penyaluran impuls AV, yang
penting pada ganggu an ritme serambi (efek
dromotrop negatif).
pemakaian nya terutama pada dekompen-
sasi jantung dan fibril asi serambi dengan
ritme bilik pesat. Resorpsinya dari usus tidak
lengkap, ±70%, PP-nya ±25%, plasma-t½-nya
kira-kira 40 jam. Dalam hati hanya sebagian
kecil dirombak menjadi metabolit inaktif;
ekskresinya berlangsung lewat urin terutama
secara utuh. sesudah penghentian pengoba-
tan, khasiatnya dapat bertahan sampai 4 hari.
Efek sampingnya berupa gangguan lam-
bung-usus: anoreksia, mual, muntah, diare
dan nyeri perut. Efek lainnya berupa efek
sentral, seperti pu sing, berpenglihatan ku-
ning, letih, lemah otot, gelisah, perasaan ka-
cau dan konvulsi. Pada overdosis, 2-3 kali
dosis optimum, digoksin sering kali meng-
akibatkan aritmi jantung, khususnya ekstra-
sistole dan fibrilasi bilik berbahaya yang dapat
memicu syok fatal. Gejala ini lebih
cepat timbul bila ada kekurangan kalium
(hipokaliemia), sebab otot jantung menjadi
lebih peka bagi digoksin. Mekanismenya
berdasar kompetisi antara digoksin dan
ion-ion kalium untuk reseptor pada bagian
luar dari membran sel otot. Akibatnya daya
kerja digoksin dapat meningkat sampai taraf
yang berbahaya pada hipokaliemia akibat
misalnya diuretika yang memicu ke-
hilangan ion kalium. Oleh sebab itu pe-
nggunaannya harus berhati-hati pada pasien
yang sedang menjalani pengobatan dengan
diuretika dan kortikosteroi da.
Efek samping ini dapat diatasi dengan
pertama-tama penghentian pemberian
obat, memberikan suplemen kalium, obat-
obat anti-aritmi (fenitoin atau lidokain) atau
fragmen antibodi yang spesifik terhadap
digoksin pada kasus-kasus yang sangat
serius.
Wanita hamil dan yang menyusui boleh
memakai digoksin dalam dosis normal.
Interaksi. Kinidin memperlambat eliminasi
digoksin sampai ±45%, maka dosisnya (loa-
ding dan pemeliharaan) perlu dikurangi
separuh bila kedua obat dikombi nasi.
Dosis: digitalisasi oral 0,25-0,75 mg sehari
a.c. selama 1 minggu, pemeliharaan 1 dd
0,125-0,5 mg a.c.
* Metildigoksin (Lanitop) yaitu derivat me-
til semi-sintetik dengan resorpsi lebih baik,
melampaui 90%. Di hati zat ini dirombak
menjadi digoksin. Mulai kerjanya lebih cepat,
sesudah 20 menit dan berta han sampai 6 hari
(t½ 42 jam). Oleh sebab itu bahaya kumulasi
lebih besar.Dosis: pemeliharaan oral 2-3 dd
0,1 mg.
1B. DOPAMINERGIKA
Dopamin yaitu neurotransmitter sentral,
yang sebagai precursor adrenalin memiliki
khasiat farmakologi penting, lihat juga Bab
31, Adrenergika. Di jaringan perifer ada
dua jenis resep tor dopamin, yakni reseptor
DA1 dan DA2. Stimulasi reseptor ini oleh
dopaminer gika memicu efek yang sama
dengan khasiat dopamin.
* Reseptor DA1 terutama berada di otot
polos jantung, otak dan ginjal. Aktivasi me-
nimbulkan vasodilatasi, memperkuat kon-
trak tilitas jantung, menderaskan penyalu-
r-an darah, ekskresi Na dan diure sis. Dopa-
minergika DA1 yang menstimulasi reseptor
DA1 yaitu dopamin, dobutamin dan ibopa-
min, yang khusus dipakai pada dekom-
pensasi dan pada syok jantung.
* Reseptor DA2 ada di saraf dan ganglia
simpatik, juga dalam jantung dan kulit.
Aktivasi memicu penghambatan pele-
pasan adrenalin. Begitu pula di kulit anak
ginjal, yang pada stimulasi mengurangi pele-
pasan aldosteron. Stimulasi reseptor DA2
di masing-masing adenohipofisis dan chemo-
trigger zone (CTZ) menghambat pelepasan
prolaktin dan menginduksi muntah.
Dopaminergika DA2menstimulasi reseptor
DA2 dan meliputi bromokriptin (Parlodel) serta
kabergolin (Dostin ex), yang terutama diguna-
kan untuk menekan laktasi postpartum atau
sesudah abortus. Bromokriptin dibahas dalam
Bab 28, Obat-obat Parkinson.
1Ba. Dopamin: Dopac, Dopamin Giulini
Neurotransmitter ini (1983) merupakan
precursor langsung dari adrena lin dan nor-
adrenalin yang diinaktifkan oleh MAO,
sehingga secara oral tidak aktif. Pada dosis
rendah bekerja langsung terhadap reseptor DA1
dengan efek vasodilatasi dan penderasan
sirkulasi darah ginjal. Dosis sedang men-
stimulasi reseptor β1-adrenerg dengan efek
inotrop positif dan peningkatan volume
menit jan tung. Pada dosis tinggi, bekerja
secara tak-langsung terhadap reseptor a1-
adrenerg dengan efek vasokonstriksi dan
meningkatnya TD. Dengan demikian do-
pamin, berbeda dengan kate cholamin lain,
pada dosis rendah dan sedang tidak mening-
katkan frekuensi jantung atau TD.
Dopamin terutama dipakai pada kea-
daan syok, a.l. sesudah infark jantung dan
bedah jantung terbuka, juga pada dekom-
pensasi yang bertahan.
Efek sampingnya berupa gangguan ritme,
nyeri kepala , mual, muntah dan perasa-
an sesak. Dosis tinggi memicu vaso-
konstriksi dan hipertensi. Mengenai peng-
gunaan dopamin selama masa hamil dan
laktasi belum ada cukup data, begitu
pula dari dopaminergi ka lainnya.
Dosis: infus i.v. pada syok 1-5 mcg/kg/
menit, pada dekom pensa si semula 0,5-1
mcg/kg/menit. Kemudian secara bertahap
dinaikkan sampai dosis pemeliharaan 20
mcg/kg/menit.
*Quinagolide (Norprolac) yaitu juga sua-
tu non-ergot dopamin agonis dengan t1/2
(22 jam) yaitu di antara waktu paruh dari
bromokriptin dan kabergolin. Juga diguna-
kan seperti bromokriptin pada hiperprolak-
tinemia dengan menghambat sekresi pro-
laktin.
* Ibopamin: Inopamil
Prodrug ini (1991) dalam darah dihidrolisis
menjadi zat aktif epinin (= N-metil dopamin).
Khusus bekerja terhadap reseptor DA de-
ngan vasodilatasi perifer, sedang kerja
β-adrenergnya (peningkatan kontrak tilitas
jan tung) lemah. Pada dosis tinggi juga ber-
kha siat alfa-adrenerg. Plasma- t½-nya 45
menit. Ekskresinya berlangsung melalui urin,
terutama sebagai metabolit.
dipakai khusus pada dekompensasi
ringan dan dikombinasi dengan diuretikum.
Pada dekompensasi berat, obat ini tidak
dianjurkan sebab ada indikasi nyata
mengenai meningkatnya mortalitas.
Efek sampingnya a.l. debar jantung, tachy-
cardia, gangguan ritme dan lambung-usus,
nyeri kepala dan pusing, hipotensi dan hi-
pertensi.
Interaksi. Antagonis dopamin (metoklopra-
mida, domperidon) dapat memperlemah efek
ibopamin. Adrenolitika dapat memperkuat
vasokonstriksi alfa-adrenerg. Kombinasinya
dengan nifedipin dapat memicu hipo-
tensi hebat, sedang penghambat MAO
dapat mengurangi perombakan ibopamin
menjadi epinin. Dosis: oral 3 dd 100 mg a.c.
atau 2 dd 200 mg a.c. bersama tiazida.
1Bb. Dobutamin : (Inotrop, Dobutrex, Dobu-
tamin Giulini) yaitu derivat sintetik (1977)
yang primer memperkuat daya kontraksi
jantung akibat stimulasi β1-adrenoreseptor di
jantung. Juga berkhasiat vasodilatasi sebab
stimulasi β2-reseptor. Dengan peningkatan
volume pukulan, volume menit juga di-
perbaiki. Di samping itu, berkhasiat DA1,
β2- dan a1-adrenerg lemah. Berlainan dengan
dopamin, zat ini tidak mengin duksi pelepasan
adrena lin endogen. pemakaian nya sama
dengan dopamin.
Efek samping yang terpenting berupa tachy-
cardia dan gangguan ritme.
Dosis: pada gagal jantung parah akut infus
i.v. 2,5-10 mcg/kg/menit, sampai maks. 40
mcg.
1C. PENGHAMBAT FOSFODIëS-
TERASE
Obat-obat ini juga berkhasiat inotrop positif
dan vasodilatasi. Mekanisme kerjanya belum
diketahui seluruhnya, antara lain mengham-
bat phosphodiësterase type-3 (PDE-3) di myo-
card dan pembuluh, sehingga kadar cAMP
(cyclic Adenyl-Mono -Phosphate) intraseluler di-
naikkan. Hal ini memicu peningkatan
resorpsi kalsium dalam sel-sel myocard de-
ngan efek perbaikan kontrak tilitas jantung.
Di jaringan otot polos, kadar cAMP yang
meningkat dapat menurunkan penyerap-
an kalsium dengan efek vasodi latasi. Ban-
dingkan meka nisme kerja penghambat fos-
fodiësterase sildenafil (Via gra), lihat Bab 43,
Hormon-hormon Pria, boks Gangguan erek-
si. Zat ini juga berkhasiat menghambat agre-
gasi.
pemakaian nya terbatas hanya pada
klinik untuk terapi singkat dari bentuk hebat
dekompensasi (akut) bila obat-obat lain ku-
rang efektif. Yang sekarang dipakai ada-
lah antara lain amrinon dan milrinon. Di-
piridamol tidak dipakai pada dekom-
pensasi, namun pada angina pectoris, lihat di
bawah.
Dalam 25 tahun terakhir beberapa obat
tersedia untuk penanganan hipertensi pulmo-
nal, a.l. penghambat fosfodiësterase (Viagra)
dan analog prostasiklin.
1Ca. Amrinon: Inocor
Derivat bipiridin ini (1983) terutama un-
tuk penanga nan singkat (maks. 48 jam)
dekompensasi kronis yang sukar dikenda-
likan dengan obat-obat lain. Parenteral
efek maksimal timbul sesudah 10 menit dan
tergantung dosisnya bertahan antara 0,5-2
jam. Plasma-t½-nya lebih kurang 3,6 jam.
Efek samping berupa gangguan lambung-
usus, demam, hipoten si dan aritmia.
Dosis: infus i.v. 5-10 mcg/kg/menit.
* Milrinon (Coritrope, Corotrope, 1983) yaitu
derivat karbonitril (-CN) dengan khasiat dan
pemakaian sama. Dosisnya infus i.v. 0,375-
0,75 mcg/kg/menit.
1Cb. Enoksimon: Perfan
Merupakan suatu penghambat fosfodiës-
terase dengan daya kerja positif inotrop dan
vasodilatasi. Bekerja maksimal sesudah 10-30
menit selama 3-6 jam. Berkat perbaikan dari
volume menit jantung diurese meningkat
sehingga dosis dari diuretik dapat dikurangi.
Di metabolisasi menjadi senyawa sulfoksida
yang kurang aktif dan diekskresi melalui
ginjal. T1/2-nya 4 jam pada orang sehat dan 8
jam dengan infus kontinu pada gagal jantung.
pemakaian pada gagal jantung kronis
atau sesudah bedah jantung terbuka.
Efek samping berupa ekstrasistole, aritmi
supraventrikuler, hipotensi, sakit kepala dan
tidak dapat tidur. Di samping ini gangguan
saluran cerna seperti mual, muntah dan diare.
Dosis: permulaan i.v. 0,5-1 mg/kg berat
badan, kemudian tiap 30 menit 0,5 mg/kg
sampai dosis kumulatif total 3 mg/kg.
2. OBAT ANGINA PECTORIS
Keadaan ischemia jantung pada angina
pectoris dapat diobati dengan vasodilator
koroner yang merupakan obat pilihan per-
tama dan obat yang mengurangi kebutuhan
jantung akan oksigen (β-blocker dan antagonis-
kalsium).
A. Vasodilator koroner memperlebar arteri
jantung, memperlan car pemasukan da-
rah serta oksigen dan dengan demikian
meringankan beban jantung. Pada se-
rangan akut obat pilihan utama yaitu
nitrogliserin (sublingual) dengan kerja pe-
sat namun singkat. Sebagai terapi interval
untuk mengurangi frekuensi serangan
tersedia nitrat long-acting (isosorbide ni-
trat), antagonis Ca(diltiazem, verapamil) dan
dipiridamol.
B. β-blocker (penghemat pemakaian ok-
sigen) memperlambat pukulan jantung
(bradycardi a, efek kronotrop negatif), sehing-
ga mengu rangi kebutuhan myocard akan
oksigen. Juga dipakai pada terapi in-
terval.
2A. VASODILATOR KORONER
2Aa. Nitrogliserin: gliseriltrinitrat, trinitrin,
Nitrostat, Nitroderm TTS (plester)
Trinitrat dari gliserol ini (1952) - sebagai-
mana juga nitrat lainnya - berkha siat relaksa-
si otot pembuluh, bronchia, saluran empedu,
lambung-usus dan kemih. Berkhasiat vaso-
dilatasi berdasar terbentuk nya nitro-
genok sida (NO) dari nitrat di sel-sel dinding
pembuluh. NO berfungsi merelaksasi sel-sel
ototnya, sehingga pembuluh, terutama vena
mendilatasi dengan lang sung. Akibatnya,
TD turun dengan pesat dan aliran darah
vena yang kembali ke jantung (‘preload’)
berkurang. pemakaian oksigen oleh jantung
menurun dan bebannya dikurangi. Arteri
koroner juga diperle bar, namun tanpa efek
langsung terhadap myo card.
pemakaian nya per oral untuk mengatasi
serangan angina akut secara efektif, begitu
pula sebagai profilaksis jangka pendek, mi-
salnya sebelum melakukan aktivitas berte-
naga (exertion) atau menghadapi situasi yang
dapat menginduksi serangan. Intravena
dipakai pada dekompensasi tertentu se-
telah infark jantung, bila digoksin dan di-
uretika kurang memberikan hasil.
Resorpsi dari usus baik, namun mengalami
FPE amat tinggi sehingga hanya sedikit
obat mencapai sirkulasi besar. PP-nya
±60%, plasma-t½-nya 1-4 menit. Di dalam
hati dan eritrosit, zat ini cepat dirombak
menjadi metabolit kurang aktif dengan hasil
akhir gliserol dan CO2. Sebaliknya, absorpsi
sublingu al dan oromuk osal cepat sekali
sebab menghindari first pass metabolisme
(FPE). Efeknya sesudah 2 menit dan ber-
tahan selama 30 menit. Absorpsi dari kulit
(transkutan) juga baik, oleh sebab itu juga
diguna kan dalam bentuk salep dan plester
dengan pelepasan teratur.
Efek samping berupa nyeri kepala akibat
dilatasi arterial yang sering kali membatasi
dosisnya. Yang lebih serius yaitu hipotensi
ortostatik dan pingsan. Juga sering kali
timbul refleks tachycardia yang dapat dihindari
bila dikombinasi dengan β-blocker. Efek
samping lainnya terdiri dari pusing-pusing,
mual, “flushing”, disusul dengan muka
pucat. Bila efek terakhir timbul, pasien harus
mengeluarkan sisa tablet dari mulut dan
segera berbaring. Plester transdermal bekerja
lama (sampai ±24 jam) dan dapat menim-
bulkan iritasi kulit (merah) dengan rasa
terbakar dan gatal-gatal.
Toleransi untuk efek anti-anginanya da-
pat terjadi cepat pada pemakaian oral,
transkutan dan i.v. secara kontinu, serta pa-
da dosis lebih tinggi. Untuk menghindari
hendaknya diadakan masa bebas-nitrat ku-
rang lebih 10 jam/hari. Terapi sebaiknya
jangan dihentikan secara mendadak, namun
berangsur-angsur untuk mencegah reaksi
penarikan.
Kehamilan. pemakaian trinitrin selama ma-
sa hamil dan laktasi masih kurang diketa hui
efeknya, seperti juga nitrat lainnya.
Penyimpanan tablet/kapsul nitrogliserin
harus dalam wadah gelas yang tertutup baik,
sebab sangat mudah menguap, sedang kan
plastik (polistiren) dapat ditembus uap. Lagi
pula, dianjur kan agar pasien memperbaharui
persediaan obatnya setiap 2-3 bulan sebab
khasiatnya berkurang akibat penguapan
setiap kali wadah dibuka. Aktivitasnya dapat
dites dengan menaruh tablet di lidah: harus
menim bulkan perasaan ‘pedas.’
Dosis: pada serangan akut di bawah lidah
(sublingual) 0,4-1 mg sebagai tablet, spray
atau kapsul (harus digigit), jika perlu dapat
diulang sesudah 3-5 menit. Bila efek sudah
dicapai, obat harus dikelu arkan dari mulut.
Profilaksis: tablet retard (Nitro Mack) 2,5-
5 mg diletakkan antara gusi dan bibir atas
(oromukosal). Salep 2% (Nitro-bid): 3 dd 7,5-
30 mg pada dada, perut atau lengan. Plester
‘controlled release’(Deponit 5/10, Nitro derm
TTS): 1 dd 5-10 mg. Untuk meng hindari to-
leransi, sebai knya plester hanya dipakai
pada siang hari dan malam hari sewaktu
tidur dilepas.
2Ab. Isosorbida dinitrat: Isordil, Sorbidin,
Cedocard, Isoket
Derivat nitrat siklis ini (1946) sama ker-
janya dengan nitrogliserin, namun bersifat
long-acting. Di dinding pembuluh zat ini
diubah menjadi nitrogenoksida (NO), yang
mengaktivasi enzim guanilsiklase dan menye-
babkan peningkatan kadar cGMP (cyclo-
guanilmonophosphate) di sel otot polos dan
memicu vasodilatasi. Sublingual mulai
bekerja dalam 3 menit dan bertahan sampai
2 jam, melalui spray masing-masing 1 menit
dan 1 jam, sedang oral masing-masing 20
menit dan 4 jam (tablet retard 8-10 jam).
Resorpsi juga baik, namun sebab FPE besar,
BA-nya hanya ±29%. PP-nya ±30%, t½-nya
30-60 menit. Di dalam hati zat ini cepat dirom-
bak menjadi 2 metabolit aktif: isosorbida-5-
mononitrat dan isosorbida-2-mononitrat dalam
perbandingan ±4:1 dan t½ masing-masing
±4,5 dan 2 jam.
Dosis: pada serangan akut atau sebagai
profilaktik, sublingual tablet 5 mg, bila perlu
diulang sesudah beberapa menit. Interval:
oral 3 dd 20 mg d.c. atau tablet/kapsul retard
maks. 1-2 dd 80 mg. Spray 1,25-3,75 mg (1-3
semprotan).
* Isosorbida-5-mononitrat (Ismo, Imdur, Mo-
no-Cedocard) yaitu derivat (1981) dengan
khasiat dan pemakaian sama. Obat ini teru-
tama dipakai per oral sebagai profilaktik
menguran gi frekuensi serangan, juga secara
oromuk osal (tablet retard). Adakalanya juga
per oral pada dekompensasi yang dengan
obat-obat lazim kurang berhasil.
Resorpsi dari usus sangat baik tanpa FPE,
BA-nya praktis 100%. Mulai kerja sesudah
lebih kurang 15 menit dan bertahan ±8
jam. Plasma-t½-nya 4-5 jam. Di hati zat ini
separuh dirombak menjadi isosorbida, yang
diekskresi lewat urin. Sisanya dikeluarkan
sebagai glukuronida melalui tinja.
Toleransi dapat terjadi pada pemakaian
lama, dengan efek menurun. Dapat dihindari
dengan memakai dosis rendah (maks.
2 dd 20 mg) tablet biasa, jadi bukan tablet
retard. Dosis: oral semula 3 dd 10 mg p.c.,
sesudah beberapa hari 2-3 dd 20 mg. Tablet
retard: pagi hari 50–120 mg.
2Ac. Dipiridamol:Persantin, Cardial
Sebagai penghambat fosfodiësterase, deri-
vat dipiperidino ini (1959) berkhasiat inotrop
positif lemah tanpa menaikkan penggu-
naan oksigen dan vasodilatasi, juga terhadap
arteri jantung. Penggun aannya pada angina
sekarang dianggap obsolet, sebab kurang
efektif. Begitu pula sebagai obat pencegah
infark kedua (bersama aseto sal), berdasar
kerja antitrombotiknya. Khusus diguna kan
sebagai obat tambahan antikoagulansia pada
bedah penggan tian katup jantung untuk
mencegah penyumbatan sebab gumpalan
darah (tromboemboli).
Resorpsi dari usus bervariasi dengan BA
30-65%. PP-nya di atas 90%, t½-nya 11 jam; di
dalam hati zat ini dirombak dan metabolitnya
diekskresi lewat tinja sesudah peredaran
enterohepatik.
Efek samping: gangguan lambung-usus,
nyeri kepala, pusing dan palpitasi (semen-
tara).
Dosis: pada angina oral 3 dd 50 mg 1 jam
a.c., pada bedah katup jantung: 4 dd 75-100
mg a.c.
2B. BETA-BLOCKER
Zat-zat ini yang juga disebut antagonis
β-adrenoreceptor dipakai sebagai profilak-
tik terhadap angina, dengan pilihan utama
zat-zat kardioselektif atenolol dan meto-
prolol. Semua β-blocker harus dihindari oleh
penderita asma, sebab dapat memprovokasi
bronchospasm (kejang cabang tenggorok).
Obat-obat ini memperlambat pukulan
jantung (bradycardia, efek kronotrop negatif),
sehingga mengurangi kebutuhan oksigen
myocard. Juga dipakai pada terapi in-
terval. Di samping ini β-blocker juga dapat
meningkatkan peredaran (perfusion) darah
dari bagian yang kekurangan darah sebab
penurunan frekuensi pukulan jantung
(heart rate), memperpanjang waktu diastole
dan demikian waktu yang dibutuhkan
bagi penyaluran darah koroner. Lagi pula
mengikat diri secara reversibel pada reseptor
β-adrenerg dan dengan demikian memblok
reaksi atas impuls saraf simpa tik atau
katecholamin (nor/adrenalin, serotonin, dan
sebagainya) dari sirkulasi.
* Blokade reseptor β1 menurunkan frekuensi
jantung (efek kronotrop negatif), daya kon-
traksi (efek inotrop negatif) dan volume
menit jantung. Kecepatan penyaluran AV
diperlambat dan TD diturunkan.
* Blokade reseptor β2 dapat antara lain
memicu bronchokonstriksi dan me-
niadakan efek vasodilatasi dari katechola-
min terhadap pembuluh perifer.
pemakaian nya selain pada hipertensi (lihat
Bab 35, Antihipertensiva) juga pada:
a. angina stabil kronis, berdasar efek
kronotrop negatifnya yang memicu
dikuranginya kebutuhan oksigen jantung
pada saat mengeluarkan tenaga, hawa dingin
dan emosi. Secara sekunder juga penyalu ran
darah melalui pembuluh koroner berkurang.
Seperti dapat dilihat di tabel 35-2 (Bab 35)
praktis semua β-blocker dapat dipakai
pada angina, kecuali zat-zat dengan efek
blokade-a1 labetalol dan karvediol, juga
esmolol. Zat-zat dengan ISA, a.l. pindolol
dan alprenolol, kurang layak dipakai
pada angina berat berhu bung penurunan
frekuensi jantung dan efeknya dikuran gi oleh
aktivitas simpatik intrin siknya. Untuk obat-
obat tersendi ri, lihat Bab 35, Antihipertensiva.
Dapat dikombi nasi dengan obat-obat angina
lainnya.
Pada angina variant, kerjanya tidak kon-
stan, yaitu dapat positif dan negatif, oleh
sebab itu biasanya lebih disukai
antagonis kalsium.
b. gangguan ritme, antara lain fibrilasi dan
flutter serambi, tachy cardia supraventrikuler.
Terutama sebagai obat tambahan, bila gli-
kosida jantung tunggal kurang mengha-
silkan efek. β-blocker dianggap antiaritmika
kelas II, kecuali sotalol yang termasuk kelas
III.
2Ba. Sotalol: Sotacor
Derivat sulfonanilida ini (1974) yaitu
β-blocker sa tu-satunya yang berkhasiat anti
aritmia kelas III. sebab efek samping nya
lebih ringan daripada amiodaron, maka
zat ini lebih disukai untuk terapi aritmia
serambi dan bilik. Di samping itu, sotalol
juga dipakai pada hipertensi dan angina
pectoris. Tidak bersifat lokal anestetik, juga
tidak memiliki ISA atau sifat kardioselektif.
Lihat juga Bab 35, Antihipertensiva.
Resorpsi praktis lengkap, PP ringan sekali
sebab bersifat hidrofil, plasma-t½-nya rata-
rata 14 jam. Hampir tidak dirombak dalam
hati; ekskresi berlangsung secara utuh teruta-
ma lewat urin.
Dosis: aritmia, oral 2 dd 80 mg a.c., ber-
angsur-angsur dinaikkan sampai maks. 2 dd
160 mg. Hipertensi dan angina 1 dd 160 mg.
2C. ANTAGONIS CA
Banyak dipakai untuk terapi angina dan
memiliki lebih sedikit efek samping serius
dibandingkan dengan β-blocker. Obat-obat
ini memblokir calcium-channels di otot polos
arterial dan memicu relaksasi dan
vasodilatasi perifer. Tekanan darah arteri dan
frekuensi jantung menurun (efek kronotrop
negatif), demikian juga pemakaian oksigen
menurun pada saat mengeluarkan tenaga.
Selain itu pemasukan darah diperbesar
sebab vasodilatasi, sehingga efek inotrop
negatifnya hanya ringan atau hilang sama
sekali. Lihat selanjutnya Bab 35, Antihiper-
tensiva.
Senyawa dihidropiridin terutama dipakai
pada hipertensi. Pada angina variant ter-
nyata zat ini juga efektif, khusus nya nifedi-
pin, nikardipin, amlodipin dan felodi pin. Pa-
da angina instabil obat-obat ini hanya di-
gunakan sebagai tambahan pada β-blocker
yang meniadakan reflekstachycardia yang
mungkin terjadi. Pada angina stabil kronis
pilihan pertama yaitu β-blocker, hanya
bila efeknya kurang barulah ditambahkan
suatu antagonis-Ca. Mengenai efektivitas
dan keamanan kelompok piridin ini pernah
timbul keraguan, lihat selanjutnya Bab 35,
Antihipertensiva. Di luar kelompok ini juga
dipakai verapamil dan diltia zem.
2Ca Nifedipin: Adalat/Retard/Oros,*Nif-ten
Dihidropiridin pertama ini (1975) terutama
berkhasiat vasodila tasi kuat dengan hanya
kerja ringan terhadap jantung. Efek inotrop
negatifnya ditiadakan oleh vasodilatasi, bah-
kan frekuensi jantung serta cardiac output
justru dinaikkan sedikit akibat antara lain
turunnya afterload, yaitu volume darah yang
dipompa keluar jantung ke aorta.
Dosis: angina dan hipertensi, pagi hari 30
mg tablet retard, berangsur-angsur dinaikkan
sampai 1 dd 120 mg. *Nif-ten : nifedipin SR 20
+ atenolol 50 mg
2Cb. Verapamil: Isoptin/SR
Rumus kimia senyawa amin ini (1963)
mirip papaverin. Khasiat vasodilatasinya
tidak sekuat nifedipin dan derivatnya, namun
efek inotrop negatifnya lebih besar. Senyawa
ini jangan dipakai bersamaan dengan
β-blocker atau kinidin, sebab memicu
kumulasi efek inotrop negatif.
Bekerja kronotrop negatif ringan dan mem-
perlambat penyalu ran impuls AV. Diguna -
kan pada angina vari ant/sta bil, hipertensi
dan aritmia terten tu (a.l. tachycardia supra-
ventri kuler, fibrilasi seram bi).
Dosis: angina variant/stabil, aritmia dan
hipertensi: oral semula 3-4 dd 80 mg, peme-
liharaan 4 dd 80-120 mg; tablet SR (slow
release) 1-2 dd 240 mg.
2Cc. Diltiazem: Tildiem, Herbesser
Derivat benzotiazin ini (1973) berkhasiat
vasodilatasi lebih kuat daripada verapamil,
namun efek inotrop negatifnya lebih rin gan.
pemakaian nya sama dengan verapamil
pada angina variant/stabil, hipertensi dan
aritmia tertentu. Daya kerjanya terletak an-
tara nifedipin dan verapamil serta sering- kali
dipakai pada terapi angina, sebab tidak
memicu tachycardia.
Dosis: angina dan hipertensi semula oral
3-4 dd 60 mg, maks. 3 dd 120 mg. Aritmia: i.v.
1 dd 0,25-0,3 mg /kg dalam 2 menit.
2Cd. Ivabradine: Coralan,Procoralan
Menurunkan frekuensi jantung sesudah ±1
jam dan berkhasiat anti angina dalam waktu
± 3-4 minggu. Metabolisasi a.l. di hati menjadi
metabolit aktif yang diekskresi melalui urin
dan feces. T1/2 ±11 jam untuk ivabradin dan
metabolit aktifnya.
dipakai untuk penanganan simtomatik
dari angina stabil kronis bila pasien tidak
tahan atau ada kontra indikasi terhadap
β-blocker.
Efek samping yang paling sering, terutama
pada bulan-bulan pertama terapi, yaitu
gangguan penglihatan (cahaya), sering kali
bradikardi, ekstra sistole, hipotensi, sakit
kepala, pusing, mual, obstipasi dan diare.
Dosis: untuk angina pectoris stabil permu-
laan 2 dd 5 mg d.c. dan sesudah 3-4 minggu
dapat dinaikkan menjadi 2 dd 7,5 mg d.c.
Untuk gagal jantung: dosis awal 2 dd 5
mg dan sesudah 2 minggu dapat ditingkatkan
menjadi 2 dd 7,5 mg.
2Ce. Ranolazin: Ranexa, Menarini
Senyawa ini memiliki batas keamanan
terapeutik sempit dan banyak interaksi far-
makologik dengan obat-obat yang sering kali
diberikan pada kelompok pasien demikian.
Berkhasiat anti-angina lemah.
Metabolismenya cepat dan diekskresi
75% via urin dan 25% melalui feces sebagai
metabolit. T1/2 ±7 jam.
dipakai untuk penanganan simtomatik
pasien angina pectoris stabil yang kurang
mendapatkan manfaat atau tidak tahan ter-
hadap obat-obat anti angina pilihan pertama
seperti β-blocker dan antagonis Ca.
Efek sampng sering kali pusing, sakit kepala,
sembelit, mual, hipotensi dan dehidrasi.
Dosis: permulaan 2 dd 375 mg dan sesudah
2-4 minggu ditingkatkan menjadi 2 dd 500
mg.
3. ANTIARITMIKA
3a. Kinidin: Sulfas chinidin, Cardioquin, Ki-
nidin durette
Stereoisomer (dekstro) dari kinin ini ber-
khasiat antimalaria lemah dan antiaritmia
(kelas Ia) berdasar penurunan kepekaan
sel-sel jantung terhadap rangsangan (efek
stabilisasi membran). Frekuensi pukulan
dikurangi (kronotrop negatif) dan masa re-
frakter (kebal bagi rangsangan) diperpan-
jang, sedang penyaluran impuls diper-
lambat. Daya kontraksi (inotrop negatif)
juga dikurangi namun agak ringan. Memiliki
khasiat antikolinergik. Kinidin terutama
dipakai untuk profilaktik fibrilasi,fluttering
serambi dan terapi tachyaritmia supraventri-
kuler.
Resorpsi dari usus hampir lengkap, PP
rata-rata 85%, plasma-t½ 6-8 jam. Ekskresi
metabolitnya terutama melalui urin (15%
utuh) dan 5% lewat tinja.
Efek samping yang tersering berupa gang-
guan lambung-usus. Dapat terjadi pula re-
aksi alergi kulit (exanthema) dan gangguan
darah (anemia hemolitik, trombositopenia).
Lagi pula cinchonisme (keracunan akibat
pemakaian lama sediaan kina) dengan a.l.
nyeri kepala, telinga berdengung, pusing,
demam dan gangguan pengli hatan. Wanita
hamil dan menyusui tidak boleh diberikan
kinidin dan produk kina lainnya, sebab
bersifat teratogen.
Interaksi: Kinidin dapat meningkatkan
kadar digoksin dalam darah, juga khasiat
derivat kumarin dapat diperkuat. Enzim
induktor seperti fenitoin, fenobarbital dan
rifampisin, dapat mempercepat perombakan
kinidin.
Dosis:profilaktik aritmia serambi oral 3-4 dd
200-400 mg, tablet retard 2 dd 750 mg. Aritmia
bilik semula 200 mg, lalu setiap 3 jam 200 mg
sampai efek tercapai, tablet retard 2 dd 500-
1250 mg.
3b. Disopiramida: Norpace, Rythmodan
Derivat butiramida ini (1969) khasiatnya
mirip dengan kinidin. Efek stabilisasi mem-
bran ±3 kali lebih kuat, namun efek inotrop
negatifnya lebih lemah, dapat memicu
hipotensi dan memperburuk gagal jantung.
Obat ini juga memperpanjang masa refrakter
dan penyaluran impuls. pemakaian nya
juga untuk profilaktik aritmi a serambi dan
tachycardia supraventrikuler.
Resorpsi dari usus rata-rata 90% dengan
BA 40-80%. PP-nya 50-90%, t½-nya 4-9 jam.
Dalam hati sebagian zat dirombak menjadi
metabolit kurang aktif, namun dengan sifat
antikolinergik lebih kuat. Ekskresi dalam
keadaan utuh melalui kemih 60%, sedang
sisanya lewat feses.
Efek samping yang paling sering yaitu efek
antikoli nerg (mulut kering, obstipasi, gang-
guan pengli hatan, tachycardia, adakalanya
impotensi dan retensi urin). Kadang-kadang
gangguan lambung-usus, mual, muntah,
nyeri dan lemah otot, rasa lelah, pusing dan
exanthema.
Dosis: oral 4 dd 100-150 mg, maks. 1,2 g
sehari. Tablet retard 2 dd 125-375 mg. I.v.
sebagai fosfat 2mg/kg dalam 10 menit, di-
susul oleh infus 0,4 mg/kg/jam, maks. 800
mg sehari dengan pemantauan ECG.
3c. Prokainamida: Pronestyl
Derivat prokain ini (1950), sebagai anti-
aritmikum kelas Ia, memiliki pola kerja
mirip kinidin. Efek antikolinergik lebih le-
mah daripada kinidin dan disopiramida.
dipakai terutama untuk profilaktik dan
terapi aritmia ventrikuler.
Resorpsi dari usus rata-rata 80%, PP-nya
rendah 15-20% dan t½ rata-rata 3,5 jam. Da-
lam hati sebagian (16-33%) dirombak men-
jadi N-asetilprokainamida (= asekainida) aktif
dengan t½ ±7 jam. Ekskresi terutama melalui
urin, yaitu ±40% sebagai asekainida dan ±55%
dalam keadaan utuh.
Efek samping berupa gangguan penyaluran
impuls dengan AV-block dan tachycardia
bilik, kadang-kadang gangguan lambung-
usus, reaksi kulit, pusing, demam dan dep-
resi. Jarang sekali lupus dan kelainan darah.
Dosis: oral 250-1.000 mg setiap 3 jam (klo-
rida), i.v. 0,5-1 g setiap 4-8 jam.
3d. Lidokain: lignokain, Lidonest, Xylocard
Anestetikum lokal ini (lihat Bab 26 Anes-
tetika lokal) berkhasiat antiaritmia kelas Ib,
berdasar stabilisasi membran (1947). Ber-
beda dengan kinidin, masa refrakter dan
penyaluran impulsnya dipersing kat tanpa
mengurangi daya kontraksi jantung.
Terutama dipakai i.v. pada aritmia
ventrikuler akut, khususnya sesudah infark
jantung. Injeksi i.v. segera (dalam jam per-
tama) sesudah infark mengurangi kematian
sampai 20-30%.
sesudah injeksi, efek mulai tampak sesudah
beberapa menit dan bertahan ±1,5 jam. PP-
nya ±65%, t½-nya 1,5-2 jam. Dalam hati, 90%
dirombak menjadi 2 metabolit aktif, yang
diekskresi lewat urin.
Efek samping yang terpenting yaitu pera-
saan terlena, juga pada dosis biasa.
Dosis: i.m. 300 mg (klorida) atau i.v. 50-
100 mg dalam 1-2 menit, bila perlu diulang
sesudah 5-10 menit. Langsung dilan jutkan de-
ngan infus 200-300 mg/jam.
* Tokainida (Tonocard) yaitu derivat pro-
panamida (1981) dengan khasiat mirip lido-
kain, namun aktif secara oral. Khusus digu-
nakan pada aritmia ventrikuler yang tidak
dapat diatasi dengan antiaritmika lain. Efek
sampingnya yang terpenting yaitu mual,
muntah, efek sentral (tremor, perasaan kacau,
pusing, dan sebagainya) serta kelainan darah
serius.
Dosis: oral 3 dd 400 mg, i.v. 10 mg/kg
dalam 15-30 menit.
3e. Prajmalin: prajmalium, Neo-Gilurytmal
Prajmalin yaitu derivat-N-propil dari aj-
malin, salah satu alkaloid dari tumbuhan
Rauwolfia serpentina (pule pandak, lihat Obat
Hipertensi reserpin). Kerja antiaritmianya
lebih kuat dibandingkan dengan ajmalin
(yang tidak dipakai lagi) dan mirip kinidin.
Terutama dipakai pada tachycardia ven-
triku ler dan ekstrasistole. Berbeda dengan
alkaloid Rauwolfia lainnya, ajmalin tidak
berkhasiat hipotensif dan sedatif.
Efek samping berupa gangguan lambung-
usus, jarang kelai nan darah (leukopenia,
agranulositosis), terutama pada penggun aan
lama.
Dosis: permulaan oral 3-4 dd 20 mg, ber-
angsur-angsur dikurangi sampai 2-4 dd 10 mg.
3f. Meksiletin: Mexitec
Derivat etilamin ini (1976) secara kimiawi
mirip lidokain, begitu pula khasiatnya ham-
pir sama, namun dapat dipakai peroral.
Masa refrakter dan aksipotensial diperpan-
jang, kecepatan penyaluran impuls relatif
sedikit dipengaruhi. Juga berkhasiat anti-
konvulsif. Mexiletin terutama dipakai
pada aritmia ventrikuler, khususnya sesudah
infark dan aritmia akibat glikosida jantung.
Resorpsi dari usus hampir lengkap, PP
±55%, plasma-t½ 5-12 jam. Ekskresi ber-
langsung melalui urin, 10% secara utuh. Re-
sorpsi diperlambat selama infark jantung
akut dan oleh analgetika narkotik. T½ di-
perpanjang pada pasien jantung.
Efek samping berupa gangguan lambung-
usus, sedu, juga efek neurotoksik (ataksia,
tremor, perasaan kacau, penglihatan ber-
ganda, dan lain-lain). Overdosis dapat me-
nimbulkan fibrilasi, bradycardia dan hipo-
tensi. Oleh sebab itu kombinasinya dengan
antiaritmika lain tidak dianjurkan!
Dosis: oral 3-4 dd sehari 200-250 mg (HCl)
d.c., infus i.v. 300 mg dalam 30 menit, disusul
dengan 1 mg/menit selama 36-48 jam.
3g. Flekainida: Tambocor
Derivat bis(trifluor) benzamida ini (1982)
berkhasiat antiaritmik kelas Ic. Seperti an-
tiaritmika kelas Ia dan Ib, obat ini memper-
lambat depolarisasi, pada mana perbandingan
masa refrakter dan aksipotensial meningkat.
Berlainan dengan obat-obat itu , flekai-
nida memperlambat aktivasi sel otot jantung
tanpa memperpan jang (kelas Ia) atau mem-
persingkat (kelas Ib) aksipo tensial. Terutama
dipakai untuk profilaktik fibrilasi seram-
bi paroksismal (berupa serangan), namun
memiliki daya kerja inotrop negatif serta da-
pat memicu aritmia ventrikuler serius.
Resorpsi dari usus cepat dan lengkap, PP
±40%, plasma-t½ 11-14 jam. Dalam hati seba-
gian dirombak; metab olitnya diekskresi le-
wat urin, 30% secara utuh. Efek samping bersi-
fat umum, juga nyeri di dada, flushing dan
tremor.
Dosis: oral 2 dd 100-200 mg (asetat), i.v.
2mg/kg dalam 10 menit.
3h. Propafenon: Rytmonorm
Senyawa propiofenon ini (1979) berkhasiat
antiaritmik kelas Ic, juga memiliki khasiat
β-blocker, antagonis-Ca dan antikoliner gik.
Khusus dipakai pada aritmia (supra) ven-
trikuler yang kurang dapat dikendalikan
oleh obat-obat lain.
Resorpsi dari usus cepat dan hampir leng
kap, namun mengala mi FPE. Oleh sebab itu
BA-nya variabel dan tergantung pula dari
besarnya dosis. PP di atas 95%; t½ 2-10 jam,
kecuali pada orang dengan kekurangan en-
zim hidroksilase (7%) 12-32 jam. Dalam ha-
ti praktis dirombak seluruhnya dan meta
-bolitnya rata-rata 28% diekskresi lewat urin
dan 57% melalui empedu dan tinja.
Efek samping berupa gangguan lambung-
usus dan penglihatan, hilang rasa di mulut,
nyeri kepala, pusing dan letih. Begitu pula
sesak napas serius, memburuknya COPD dan
hipotensi ortostatik. Juga gangguan jantung,
seperti bradycardia dan gangguan penerusan
impuls (misalnya AV-block).
Dosis: oral semula 3 dd 150 mg p.c., bila
perlu berangsur-angsur dinaikkan sampai
maks. 900 mg sehari. I.v. secara individual.
3i. Amiodaron: Cordarone
Senyawa benzofuran ini (1962) berkhasiat
antiaritmik kelas III, namun juga memiliki
sifat antiaritmik kelas I, seperti peningkatan
ambang rangsang dan perlambatan pene-
rusan impuls. Efek inotrop negatif ringan.
Di samping itu, juga bersifat anti-adrenergik
dan vasodilatasi. Terutama dipakai pada
fibrilasi serambi yang resis ten dan pada
tachycardia (supra)ventrikuler yang tidak
dapat dikendalikan oleh obat-obat lain.
Resorpsi dari usus lambat dan tidak konstan
dengan BA 22-86%. Mulai kerjanya sesudah
2-21 hari, namun dapat bertahan sampai 60
hari sesudah pemberian obat dihentikan. PP
±96%, plasma-t½ panjang sekali 40-55 hari.
Dari sebagian zat dalam hati dibebaskan iod,
yang diekskresi sebagai iodida lewat urin.
Sisanya dikeluarkan oleh hati dan tinja.
Efek samping paling serius pada peng-
gunaan lama berupa ganggu an fungsi tiroid
dan toksi sitas paru-paru (penurunan fungsi,
pneumonitis, fibrosis, dan lain-lain) dengan
risiko kematian 10%. Efek lainnya berupa
enda pan di selaput tanduk mata tanpa gejala
(reversibel), ganggu an lambung-usus, reaksi
kulit yang dapat berwarna abu-abu biru
akibat fotosensibilisa si. Obat ini juga dapat
memperkuat efek antikoagulansia oral dan
digoksin.
Wanita hamil dan menyusui tidak boleh
memakai amiodaron, sebab dapat
memicu struma pada janin.
Dosis: oral permulaan 3 dd 200 mg (HCl)
d.c. selama 1-2 minggu, pemeliharaan 200-
400 mg sehari.
3j. Dronedaron: Multaq
Derivat benzofuran dari amiodaron ini
(2009) yaitu suatu multichannel blocker yang
merintangi aliran kalium, sehingga aksipo-
tensial jantung dan masa refrakter diper-
panjang. Juga menghambat aliran natrium
dan kalsium.Tekanan darah arterial menurun,
juga memiliki aktivitas vasodilatasi pada
arteri koroner dan perifer.
Efektivitas untuk memelihara ritme sinus
jauh lebih kurang dari pada amiodaron dan
juga memiliki lebih sedikit efek samping.
ada kontra indikasi untuk pasien dengan
gagal jantung. Efek anti adrenergiknya lebih
kuat daripada amiodaron.
PP 99,7% dan T1/2 13-19 jam. Diekskresi
teruama dalam bentuk metabolit 6% via urin
dan 84% melalui feses.
pemakaian pada pasien dengan fibrilasi
atrium yang berlanjut.
Efek samping sering sekali (>10%) gagal
jantung kongestif dan sering (1-10%) bradi-
kardi, diare, dispepsi, mual, muntah dan
gangguan kulit.
Dosis: 2 dd 400 mg pada waktu sarapan dan
pada saat makan malam.
3k. Ibutilide: Corvert
yaitu obat anti aritmik dengan sifat-sifat
kelas III. Memperpanjang masa refrakter
efektif di jaringan otot atrial dan ventrikuler.
Dapat segera mengkonversi fibrilasi serambi
ke ritme sinus.
Metabolisasi di hati dan diekskresi 82%
melalui urin dan 19% melalui feces. FPE
yang kuat ini memicu obat tidak dapat
dipakai per oral. T1/2 6 jam.
Efek samping paling sering dan serius
yaitu pro-aritmi yang timbul 40 menit sesudah
pemberian obat. Juga tachycardi serius.
Dosis: i.v. 1 mg bagi pasien dengan berat
badan > 60 kg selama minimal 10 menit.Bagi
pasien dengan berat badan <60 kg: 0.01 mg/
kg i.v. selama minimal 10 menit.
3l. Vernakelant: Brinavess, Kynapid
Senyawa ini yaitu obat anti aritmika
dengan sifat-sifat klas I dan III. Memper-
panjang masa refrakter atrial dan memper-
lambat penyaluran impuls. Bekerja sesudah
±10 menit selama ±24 jam. T1/2 ±3 jam.
dipakai untuk konversi cepat fibrilasi
serambi singkat ke ritme sinus (Roy D. et
al. Vernakalant hydrochloride for rapid
conversion of atrial fibrillation. Circulation,
2008, 117:1518-1525) namun tidak efektif untuk
fibrilasi serambi jangka panjang (>7 hari).
Efek samping sering kali hilang rasa, bersin,
bradikardi, hipotensi, pusing, sakit kepala,
mual dan muntah.
Dosis: i.v. infus 3 mg/kg selama 10 menit.
ANTITROMBOTIKA
Antitrombotika yaitu zat-zat yang digu-
nakan untuk pengobatan atau pencegahan
trombosis dan emboli. Pada trombosis terjadi
pembentukan trombus, yaitu bekuan darah
di dalam pembuluh. Pada emboli terjadi
penyumbatan arteri kecil atau kapiler akibat
embolus, yaitu bekuan darah atau sumbatan
lain (antara lain gelembung udara) yang
dibawa oleh aliran darah dan tersendat di
pembuluh dan menyumbatnya.
A. PROSES PEMBEKUAN
DARAH DAN TROMBOSIS
Trombosis dan emboli
a. Trombosis vena bisa terjadi di bagian da-
lam maupun permukaan sistem vena.
– Trombosis vena dalam (deep venous throm-
bosis, DVT), bercirikan terbentuknya
gumpalan darah beku (trombus/i) dalam
vena, yang menghambat atau menghen-
tikan sirkulasi darah (obstruksi). DVT
kerapkali memicu sirkulasi tersen-
dat di tungkai dan di paru-paru (emboli
paru). Gejalanya dapat berupa rasa sakit
setempat, adakalanya tachycardia, demam
(dan BSE meningkat).
Thrombosis vena dalam disebut sebagai
trombosis penjalanan bila memenuhi krite-
ria:
– Perjalanan dalam keadaan duduk
– Perjalanan lebih dari 5 jam
– Gejala baru timbul sekitar 2 minggu
sesudah perjalanan
Untuk menghindari trombosis demikian di-
anjurkan:
– Selama perjalanan banyak berdiri/ berge-
rak serta menghindari kopi dan alkohol
– Bagi pasien tertentu (dengan predispo-
sisi) dianjurkan pula pemakaian low
molecular heparin 2 jam sebelum kebe-
rangkatan, yang merupakan perlindungan
terhadap timbulnya thrombosis.
– Trombosis vena di permukaan oleh beku-
an darah, terutama bercirikan peradangan
dan umumnya disebut tromboflebitis.
Gejalanya berupa sakit, kemerah-merah-
an dan pengerasan setempat akibat
pembentukan jaringan-ikat sekitar vena
yang terkena, adakalanya juga demam.
Gangguan ini dapat terjadi spontan
sesudah persalinan, dapat pula sebab
adanya varices (pemekaran vena lokal,
«spatader») atau cedera (trauma).
Trombosis dapat pula terjadi pada pasien
yang harus berbaring untuk waktu lama
sebab aliran darah di vena tertentu terhen-
ti dan darah menggumpal. Tumor ganas,
kehamilan dan pil antihamil dapat menye-
babkan timbulnya tromboemboli vena.
*Emboli paru sering kali timbul akibat DVT,
padamana (sebagian) gumpalan darah ter-
lepas dan melalui sirkulasi diangkut ke
paru-paru. Gejalanya tergantung dari besar-
nya trombus yang tersendat di vena paru.
Sumbatan besar bisa fatal secara akut dengan
diawali oleh syok, sumbatan-sumbatan kecil
sering kali berlangsung tanpa gejala atau
dengan gejala tak nyata, misalnya kehabisan
napas bila mengeluarkan tenaga.
Terapi dan profilaksis trombosis (dan emboli
paru) lazimnya dimulai dengan antikoa-
gulansia parenteral h e p a r i n (UFH) atau
fraksi-fraksinya (LMWH). Kemudian dapat di-
lanjutkan dengan anti-koagulansia oral.
b. Trombi dalam arteri sering kali terjadi di
jantung dan otak, yang dapat memicu
matinya jaringan (infark jantung/otak) dan
dapat berakibat fatal.
*Infark jantung, gejala dan penanganannya
telah dibicarakan secara luas di Bab 37, Obat-
obat jantung. Di sini hanya akan disinggung
peranan yang dipegang oleh antitrombotika.
Terapi. Obat-obat utamanya yaitu trom-
bolitika untuk melarutkan trombus yang
menyumbat arteri koroner (streptokinase dan
lain-lain). Penanggulangan sedini mungkin
dapat menurunkan risiko kematian sampai
50%.
Prevensi sekunder, yaitu menghindari
terbentuknya lagi trombus baru, dapat dila-
kukan dengan memakai antikoagu-
lansia oral (warfarin) atau asetosal dalam
dosis rendah.
Warfarin telah dikembangkan sebagai ra-
cun membasmi tikus, namun sekarang juga
dipakai dalam kedokteran sebagai anti-
koagulan.
Di tahun 1955 warfarin diberikan kepada,
ketika itu Presiden Amerika Serikat, Jendral
Dwight Eisenhower sesudah mengalami in-
fark jantung. Saat itu timbul ungkapan bah-
wa “What was good for a war hero and the
president of the US must be good for all, despite a
being a rat poison.”
*Infark otak dapat disebabkan oleh trombosis
atau emboli dengan gejala kelumpuhan se-
belah badan (hemiplegia). Merupakan ±80%
dari semua kasus «beroerte», «stroke» atau
CVA (Cerebral Vascular Accident). Sisanya
(±20%) diakibatkan oleh perdarahan di otak
akibat pecahnya pembuluh otak, kerapkali
berhubungan dengan hipertensi.
berdasar meningkatnya kasus stroke
dari tahun ke tahun diperkirakan bahwa
lebih dari 1,5 juta penduduk negara kita ber-
risiko terserang penyakit itu dalam
rentang waktu 6 tahun mendatang. Stroke
merupakan kedua dari pemicu kematian
tersering pada wanita dan ketiga pada pria.
Vaartjes I, et al. Hart- en vaatziekten in Nederland
2011, cijfers over leefstijl en risicofactoren, ziekte
en sterfte. Den Haag: Hartstichting, 2011.
TIA (Transient Ischaemic Attack) terjadi secara
mendadak dengan memicu hilang kesa-
daran untuk waktu yang singkat, beberapa
detik sampai beberapa menit. Peristiwa ini
disebabkan oleh masuknya mikro-emboli
dalam pembuluh otak. Lazimnya, pasien
sembuh secara tuntas, namun TIA cenderung
kambuh lagi. Untuk menghindari residif atau
infark, umumnya dipakai asetosal dalam
dosis rendah (40-100 mg sehari).
Biokimia
Pada trombosis vena/arteri berulang ada
kadar homosistein, yang meningkat dalam
darah. Asam amino ini terbentuk sebagai
produk-antara pada reaksi pengubahan
metionin menjadi sistein, yakni:
metionin ——> homosistein ——> sistein
Kadar homosistein darah yang meningkat
ternyata merupakan faktor risiko PJP (pe-
nyakit jantung dan pembuluh: trombosis,
infark). Lihat juga Bab 37. Obat-obat jantung,
faktor-faktor risiko.
Asam folat, vitamin B6 dan vitamin B12 ber-
khasiat menurunkan kadar homosistein dan
dengan demikian meniadakan salah satu
faktor risiko PJP. Asam folat banyak ada
dalam gandum whole-grain dan makanan
yang kaya akan serat nabati, lihat selanjutnya
Bab 53, Vitamin dan Mineral.
Fibrin
Fibrinogen yaitu suatu globulin yang ter-
bentuk di dalam hati. Protein ini merupakan
zat utama dari bekuan darah dan keropeng
(kerak pada luka; crust) di luka terbuka.
namun , fibrin juga dapat membentuk trombi
yang menyumbat pembuluh darah, dengan
akibat memutuskan penyaluran oksigen ke
organ-organ penting. Fibrinogen diangkut
dalam darah dalam keadaan terlarut ke
tempat peradangan atau penyumbatan. Di
tempat ini fibrinogen diubah menjadi fibrin
yang memiliki struktur seperti serat (Lat
= fibra) dan tidak dapat larut. Serat-serat
yang panjang dari fibrin «memperangkap»
trombosit dan unsur-unsur darah lainnya,
lalu melekatkannya pada dinding pembuluh.
Fibrin dapat dianggap sebagai molekul repa-
rasi yang berperan penting pada penutupan
luka melalui pembentukan keropeng.
*Fibrinolisis. Gumpalan fibrin bersifat se-
mentara dan sesudah beberapa waktu dila-
rutkan lagi oleh plasmin. Enzim protease ini
berkhasiat menguraikan fibrin dan faktor-
faktor pembekuan V dan VIII. Dalam darah,
plasmin berada dalam bentuk pro-enzim
inaktif plasminogen, yang dapat diaktivasi
oleh zat-zat aktivator plasminogen (ZAP).
ZAP faal yaitu tPA, urokinase dan faktor
XII teraktivasi (lihat di bawah). Pembentukan
berlebihan plasmin dengan risiko perdarahan
dapat dihindari dengan zat-zat penghambat
aktivator plasminogen-1 dan -2 (PAI-1 dan
PAI-2).
Gambar 38-1: Skema sistem fibrinolisis
Aktivasi dicetuskan oleh faktor tertentu di
molekul fibrin. Dengan demikian, bertum-
puknya fibrin yang dapat menghalangi
aliran darah dan memicu trombosis
di pembuluh dapat dihindari. Antara pem-
bentukan dan pelarutan fibrin ada ke-
seimbangan. Pelarutan (degradasi) fibrin yang
terlalu cepat atau dini dapat memicu
perdarahan. Dalam plasma juga ada zat-
zat faal yang menginaktivasi plasmin untuk
mengendalikan fibrinolisis, misalnya alfa2-
antiplasmin (alfa2-AP).
Plasminogen dan fibrinogen terbentuk da-
lam hati, sedang ZAP diproduksi di ba-
nyak tempat, antara lain di endotel pembuluh
di seluruh tubuh dan ginjal (urokinase).
ZAP alamiah penting yang juga dipakai
dalam terapi sebagai zat pelaru















