Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 34. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 34. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 34

 





n ji-

wanya. Pengobatan dapat dilakukan dengan 

beta-blocker metoprolol atau flekainida yang 

menghambat penerusann impuls melalui 

simpul AV. 

* Fibrilasi bilik (ventrikel) sering kali timbul 

sesudah suatu infark dan bersifat sangat 

membahayakan, sebab  darah tidak dipompa 

QT interval. Merupakan parameter pada ECG dan menunjukkan waktu antara awal depolarisasi (Q) 

sampai akhirnya repolarisasi (T). 

Lamanya repolarisasi dan panjangnya interval QT tergantung dari frekuensi jantung. Interval ini 

pada bradikardi lebih panjang dan pada takikardi lebih pendek.

QT interval yang lebih panjang (Torsade de pointes) berkaitan dengan risiko aritmi ventrikular dan pada 

keadaan tertentu dengan fibrilasi ventrikular, yang bisa fatal. Sejumlah besar obat dikaitkan dengan 

perpanjangan QT-interval dan risiko Torsade de pointes. Misalnya 

– psikofarmaka/antipsikotika: klorpromazin, sitalopram, haloperidol, pimozin; 

– obat kardiovaskular: amiodaron, disopiramida, flekainida, kinidin, sotalol; 

– antibiotika: azitromisin, klaritromisin, eritromisin, moksifloksasin, kotrimoksazol;

– anti-emetika: domperidon, ondansetron.

Obat-obat yang memperpanjang QT-interval sebaiknya jangan dipakai  bersamaan (kombinasi) 

sebab  dapat meningkatkan risiko gangguan ritme jantung.

lagi ke organ tubuh dengan optimal. Bila 

tidak diobati dengan segera (misalnya de-

ngan lidokain) biasanya  berakhir fatal.

* Tachycardia dan bradycardia yaitu  kerja 

jantung yang abnormal cepat atau abnormal 

lambat dengan frekuensi masing-masing di 

atas 100 dan di bawah 60 denyu tan per me nit. 

* Heartblock (AV block) yaitu  sejenis arit-

mia, pada mana kontraksi bilik berlangsung 

terlalu lambat atau hilang sama sekali, akibat 

terganggunya penyaluran impuls listrik dari 

serambi ke bilik. Keadaan ini antara lain 

dapat terjadi pada infark jan tung. Terapinya 

tidak dilakukan dengan obat, melainkan 

dengan pacema ker, suatu alat kecil yang me-

ngirimkan impuls listrik ke jantung untuk 

menormalisasi ritme kontraksiny a.

Penanganan aritmia dapat dengan cara 

tanpa obat seperti pembedahan dan implan-

tasi pacemaker (alat pacu jantung yang mem-

berikan impuls ritmis buatan pada jantung). 

Pengobatan gangguan ritme yang bertalian 

dengan infark jantung harus dilakukan se-

gera dengan antiaritmika sebab  sering- kali 

berakibat fatal.

Antiaritmika

Gangguan irama jantung dapat ditimbulkan 

oleh pembentukan impuls atau/dan penya-

lurannya yang abnormal. Antiaritmika da-

pat mence gah atau meniadakan gangguan 

itu  dengan jalan menormalisasi freku-

ensi dan ritme pukulan jantung.

Mekanismenya berdasar  penurunan 

frekuensi jantung (efek kronot rop negatif); 

biasanya  obat-obat ini sedikit banyak 

juga mengurangi daya kontraksinya (efek 

inotrop negatif). Perlu pula diperhatikan 

bahwa obat-obat ini juga dapat memperparah 

atau justru memicu  aritmi (pro-arit-

mia). Oleh sebab  itu sebelum dimulai pe-

ngobatan perlu dipertimbangkan dengan 

saksama risiko timbulnya pro-aritmi untuk 

menentukan obat mana yang paling aman 

dan optimal. Atau beralih dari terapi obat 

ke intervensi non-farmakologis, mis. pema-

sangan pacemaker.

Penggolongan antiaritmika dilakukan me-

nurut klasifikasi Vaughn Williams dalam 

4 kelas atas dasar sifat elektrofisiologisnya 

yang diukur di sel-sel myocard tertentu.

– Obat kelas I. Zat stabilisasi membran 

dengan efek kinidin (= efek anestetik lokal).

Obat-obat ini sangat mengurangi kepekaan 

membran sel jantung untuk rangsangan aki-

bat penghambatan pemasukan ion-Na ke 

membran (sodium-channel blockers) dan per-

lambatan depolarisasinya. Lihat juga Bab 26, 

Anestetika lokal. Efeknya yaitu  frekuensi 

jantung berkurang dan ritmenya menjadi 

normal kembali. Dapat dibedakan 3 kelom-

pok:

Ia. kelompok kinidin : kinidin, disopiramida 

dan prokainamida. Obat-obat ini antara 

lain memperpanjang masa refrakter dan 

aksipotensial sel-sel myocard.

Ib. kelompok lidokain: lidokain, meksiletin, 

fenitoin, aprindin (Fiboran) dan tokainida 

(Tonocard). Obat-obat ini mempersingkat 

antara lain masa refrakter dan aksipo-

tensial sel-sel myocard; hanya efektif 

pada aritmia bilik. Obat epilepsi fenitoin 

khusus dipakai  pada aritmia akibat 

keracunan digoksin.

Ic. kelompok propafenon: propafenon dan 

flekainida (Tambocor) sedikit memperpan-

jang masa refrakter dan aksipo tensial.

– Obat kelas II. β-blocker: atenolol, metoprolol, 

asebutolol, bisoprolol, nadolol, karteolol, dan lain-

lain. (lihat tabel 35-2, Bab 35, Antihipertensiva) 

mengurangi (hiper)aktivitas adrener gik di 

myocard dengan penurunan frekuensi dan 

daya kontraksiny a. Beberapa b-blocker (a.l. 

propranolol, asebutolol, alpre nolol dan oksprenolol) 

juga memiliki efek kelas Ia, sedang kan sotalol 

terma suk kelas III. Propranolol, metoprolol dan 

timolol diguna kan profilaktik sesudah  infark 

untuk mencegah infark kedua (menghindari 

fibrilasi ventrikuler).

– Obat kelas III. K-channels blockers: amio-

daron,sotalol, ibutilide (Corvert) dan dofetilide 

(Tikosyn). Akibat blokade saluran kalium, 

masa refrakter dan lamanya aksipotensi al 

diperpanjang. Amiodaron efektif terhadap 

aritmia serambi dan bilik, sotalol hanya 

terhadap aritmia bi lik.

– Obat kelas IV. Antagonis kalsium: verapamil 

dan diltiazem. Akibat peng hambatan pema-

sukan ion Ca, penyaluran impuls AV diper-

lam bat dan masa refrakter diperpanjang.

– Obat lainnya: adenosin, digoksin 

Efek samping umum yang dapat terjadi 

yaitu 

– dekompensasi, yang dapat diinduksi atau 

diperburuk akibat efek inotrop negatif yang 

sedikit banyak dimiliki kebanyakan anti- 

a ritmika, khususnya kinidin dan disopi-

ramida;

– efek aritmogen, yaitu memicu  atau 

memperburuk aritmi a (bilik), khususnya 

zat-zat kelas I dan III (flekainida); 

– gangguan penerusan impuls (AV block) dan 

bradycardia;

– gangguan lambung-usus: nausea, mual, di-

are, anoreksia;

– efek neurologik: neuropati perifer, tremor, 

nyeri kepala, lelah, sukar tidur, impian 

khayal.

biasanya  obat-obat dari kelompok Ic 

dipakai  untuk terapi penderita dengan 

struktur jantung normal, sedang  kelom-

pok III bagi penderita dengan struktur jan-

tung abnormal.

Wanita hamil dan yang menyusui tidak 

dianjurkan memakai  antiaritmika, ka-

rena dalam kebanyakan hal belum diketahui 

keamanannya. Pengecualian yaitu  lidokain 

yang dianggap aman selama masa hamil, 

namun  sedikit mencapai air susu ibu.

4. Gagal jantung (decompensatio 

cordis)

Pada gangguan serius ini, jantung tidak mampu 

lagi memeli hara peredaran darah selayaknya, 

sehingga volume menit menurun dan arteri 

mendapat darah terlalu sedikit. Sebagai akibat 

kelemahan jantung ini, darah terbendung di 

vena paru-paru dan kaki, yang menimbul-

kan sesak dada dan udema pergelangan kaki. 

Pada keadaan parah, dapat terjadi udema 

paru yang sangat berbahaya. Penyaluran 

darah ke jaringan juga berkurang, sehingga 

ginjal mengekskresi lebih sedikit natrium dan 

air. Dalam keadaan demikian, pasien perlu 

sesegera mungkin dirawat di rumah sakit! 

pemicu  penting dekompen sasi yaitu  

a.l. infark, kerusa kan katup, gangguan ritme 

dan hiper tensi.

Gejala terpenting berupa sesak napas(dysp noe), 

yang awalnya pada waktu mengeluarkan 

tenaga, namun  dalam kasus yang lebih berat 

juga pada saat istirahat (berbaring). Begitu 

pula udema di pergelan gan kaki dengan 

vena memuai, sebab  darah-balik terhambat 

kembali nya ke jantung. Sering kali juga pera-

saan sangat letih dan kurang tenaga. 

Penanganan keadaan insufisiensi ini umum-

nya dilakukan dengan 3 tindakan untuk me- 

niadakan kelebihan cairan, yakni banyak 

istirahat untuk meringankan beban jantung, 

pembatasan asupan garam dan pengobatan 

dengan diuretika untuk memperbesar eks-

kresi cairan.Yang terakhir penting untuk 

mengurangi pengeluaran tenaga berlebihan 

yang memperkuat penyaluran darah ke otot, 

sehingga mengurangi filtrasi glomeruler 

dengan akibat retensi natrium. 

Pengobatan.32,33 sebab  penyembuhan fungsi 

pompa jantung pada prinsipnya tidak bisa 

dicapai, maka penanganan khususnya dituju-

kan pada prevensi memburuknya penyakit 

dan meringankan gejalanya. 

a.  Diuretika mengeluarkan kelebihan cairan, 

sehingga beban jantung berkurang. Un-

tuk ini banyak dipakai  diuretikum 

kuat furosemida (oral 3-4 dd 80-500 mg) 

atau untuk efek cepat intravena 500 mg. 

Bila furosemida tidak menghasilkan efek 

secukupnya sebab  ada  resistensi 

diuretika, dapat ditambahkan thiazida. 

Pada keadaan tidak akut biasanya diberi-

kan suatu thiazida dengan efek lebih 

berangsur-angsur, misalnya HCT. Lihat 

juga Bab 33. Diuretika, pemakaian .

b.  Glikosi da jantung (digoksin) memperku at 

daya kontrak si otot jantung yang lemah, 

sehingga memperkuat fungsi pompa, 

berdasar  peningkatan kadar kalsium. 

Sering kali diuretika dikombinasi dengan 

zat inotrop positif digoksin, yang ju-

ga berkhasiat mengatasi resistensi diu-

retika dengan memperbaiki volume-

menit jantung. Zat-zat inotrop positif 

lainnya seperti dopaminer gika (dopamin, 

ibopamin, dan lain-lain) tidak dianjur kan 

sebab  daya kerja nya terlampau kuat 

tanpa memiliki efek kronotrop negatif, 

lagipula cenderung memicu  arit- 

mi. Oleh sebab  itu obat-obat ini hanya 

dipakai  i.v. pada keadaan akut (syok 

jantung dan sebagainyanya). Pengham-

bat fosfodiësterase juga tidak dianjurkan 

berhubung efek buruknya terhadap sel 

jantung.

pemakaian nya harus dibatasi pada 

gagal jantung serius, pada mana obat-

obat lain kurang efektif. Juga perlu pe-

ngawasan kontinu mengenai hemodi-

namika.

c.  Penghambat ACE (ACE inhibitor: kapto-

pril, enalapril, lisinopril dan lain-lain) ba-

nyak dipakai  pada gagal jantung 

kronis, juga sesudah  infark pada pasien 

tertentu. Obat-obat ini merupakan vaso-

dilator paling cocok pada gagal jantung 

dengan menghindari peningkatan angio-

tensin II yang sering kali timbul pada 

penyakit ini. Pengobatan gagal jantung 

(mild) biasanya dimulai dengan obat-

obat ini yang berkhasiat mengurangi 

beban jantung yang sudah lemah, mem- 

perlambat progress penyakit dan mem-

perpanjang harapan hidup pasien gagal 

jantung kronis. Pada kasus yang lebih 

parah pengobatan ditambah dengan su- 

atu diuretik thiazida (mis. bendroflume-

tiazida) atau suatu “loop” diuretik (mis. 

furosemida) yang memacu pengeluaran 

natrium dan air sehingga “preload” dan 

udema diperbaiki. Bagi penderita yang 

tidak tahan terhadap obat-obat ini dapat 

memakai  vasodilator lain (mis. iso-

sorbidanitrat plus hidralazin).

d. AT-II-blockers (antagonis-angiotensin: 

losartan, valsartan, irbesartan, dan lain-lain) 

juga dapat dipakai . Obat-obat ini ber-

khasiat vasodilatasi perifer dan mengu- 

rangi preload maupun afterload darah, yaitu 

beban darah masing-masing sebelum dan 

sesudah mencapai jantung. 

e. Vasodilator koroner juga berkhasiat me-

ngurangi beban jantung, seperti nitro-

prusida (i.v.), prazosin dan hidralazin Obat-

obat ini menurunkan afterload melalui 

vasodilatasi arteri. Nitrat sebagai dilator 

vena mengurangi preload darah. Me-

ngenai pemakaian  antagonis-Ca tidak 

ada  kesepakatan berhubung dengan 

efek inotrop negatifnya! 

5. Syok jantung

Komplikasi infark jantung ini sangat ditakuti, 

sebab  sering kali berakhir fatal. Kekurangan 

pemasukan darah ke jaringan bergejala kulit 

pucat dan dingin, perasaan takut dan gelisah, 

denyut jantung cepat dan lemah, kemudian 

pingsan. Syok dapat pula diakibatkan oleh 

antara lain tachycar dia hebat dan radang otot 

jantung (myocar ditis). 

Pengobatan dilakukan dengan obat-obat va-

sopresor/inotrop (dopamin, dobuta min, ibopa-

min) yang menaikkan volume-menit jantung 

dan tekanan darah. Adakalanya dianjurkan 

pula pemberian kortison dalam dosis tinggi.

Penggolongan cardiaca

berdasar  efeknya atas jantung, cardiaca 

dapat dibagi dalam tiga golongan, yaitu:

1. kardiotonika dengan efek memperkuat 

kontraksi jantung: 

 A. glikosida, B. dopaminergika dan C. 

penghambat-fosfodiësterase

2. obat angina pectoris dengan daya vaso-

dilatasi atau memperlambat frekuensi 

jantung : A.vasodilator koroner, B. beta-

blocker dan C. antagonis-Ca

3.  antiaritmika dengan khasiat memperbaiki 

kelainan ritme pukulan jantung.

MONOGRAFI

1. KARDIOTONIKA

Kardiotonika yaitu  obat-obat dengan kha-

siat memperkuat kontraktilitas otot jantung 

(efek inotrop positif). Terutama dipakai  

pada gagal jantung (dekom pensasi) untuk 

memperbaiki fungsi pompany a. 

Kelompok kardiotonika terdiri dari : 

A. glikosida jantung(digok sin, metildigoksin 

dan digitoksin)

B. dopami nergika (dopa min, ibopamin dan 

dobutamin)

C.  pengham bat fosfo diësterase (amrinon 

dan milrinon). 

1A. GLIKOSIDA JANTUNG

Semua obat ini berasal dari tumbuhan dan 

yang terpenting yaitu  digitalis (‘fox glove’), 

sedang  strofantus (strofan tin) sudah ob-

solet. Dalam homeopati banyak dipakai  

tumbuhan seperti Convallaria majalis (‘lilly-of-

the-valley’), Crataegus oxycantha (pohon ‘mei-

doorn’, ‘hawthorn’), Adonis verna lis (her fsttijloos, 

‘pheasant’s eye’), Helleborus niger (‘Christ mas 

rose’), dan Thevetia neriifolia, sejenis oleander. 

Semua glikosida jantung memiliki rumus 

steroid, seperti hormon kelamin dan anak 

ginjal, kolesterol dan vitamin D.

Sediaan galenika seperti Tingtur digitalis dan 

Tingtur Strofanti dahulu banyak dipakai , 

namun  susunannya tidak konstan dan stan-

dardisasi biologisnya sulit. Lagi pula kotoran 

seperti saponin dalam tingtur itu  da-

pat memicu  iritasi lambung-usus dan 

memengaruhi resorpsi zat aktif. Oleh sebab  

itu dengan tersedianya digoksin dan stro-

fantin secara murni, sediaan galenika kini 

tidak dipakai  lagi. 

1Aa. Digoksin: Lanoxin

Digoksin dan digitoksin ada  dalam 

daun tumbuhan Digitalis purpu rea dan D. la-

nata sebagai aglukon dari glikosida. Rumus 

kimianya terdiri dari inti steroid dengan 

rantai samping cincin lakton tak-jenuh.

Khasiatnya bermacam-macam, yang ter-

penting yaitu  efek inotrop positif, yakni 

memperkuat kontraksi jantung, sehingga 

volume puku lan, volume menit dan diuresis 

diperbesar, serta jantung yang membesar 

mengecil lagi. Frekuensi denyutan nya juga 

diturun kan (efek kronotrop negatif) akibat 

stimulasi nervus vagus (saraf “pengembara”). 

Sifat ini bertentangan dengan banyak zat 

inotrop positif (adrena lin, derivat ksantin, 

glukagon dan ion Ca) yang juga memiliki 

kerja kronotrop positif. Di samping itu zat ini 

menghambat penyaluran impuls AV, yang 

penting pada ganggu an ritme serambi (efek 

dromotrop negatif). 

pemakaian nya terutama pada dekompen-

sasi jantung dan fibril asi serambi dengan 

ritme bilik pesat. Resorpsinya dari usus tidak 

lengkap, ±70%, PP-nya ±25%, plasma-t½-nya 

kira-kira 40 jam. Dalam hati hanya sebagian 

kecil dirombak menjadi metabolit inaktif; 

ekskresinya berlangsung lewat urin terutama 

secara utuh. sesudah  penghentian pengoba-

tan, khasiatnya dapat bertahan sampai 4 hari.

Efek sampingnya berupa gangguan lam-

bung-usus: anoreksia, mual, muntah, diare 

dan nyeri perut. Efek lainnya berupa efek 

sentral, seperti pu sing, berpenglihatan ku-

ning, letih, lemah otot, gelisah, perasaan ka-

cau dan konvulsi. Pada overdosis, 2-3 kali 

dosis optimum, digoksin sering kali meng- 

akibatkan aritmi jantung, khususnya ekstra-

sistole dan fibrilasi bilik berbahaya yang dapat 

memicu  syok fatal. Gejala ini lebih 

cepat timbul bila ada  kekurangan kalium 

(hipokaliemia), sebab  otot jantung menjadi 

lebih peka bagi digoksin. Mekanismenya 

berdasar  kompetisi antara digoksin dan 

ion-ion kalium untuk reseptor pada bagian 

luar dari membran sel otot. Akibatnya daya 

kerja digoksin dapat meningkat sampai taraf 

yang berbahaya pada hipokaliemia akibat 

misalnya diuretika yang memicu  ke-

hilangan ion kalium. Oleh sebab  itu pe-

nggunaannya harus berhati-hati pada pasien 

yang sedang menjalani pengobatan dengan 

diuretika dan kortikosteroi da.

Efek samping ini dapat diatasi dengan 

pertama-tama penghentian pemberian 

obat, memberikan suplemen kalium, obat-

obat anti-aritmi (fenitoin atau lidokain) atau 

fragmen antibodi yang spesifik terhadap 

digoksin pada kasus-kasus yang sangat 

serius. 

Wanita hamil dan yang menyusui boleh 

memakai  digoksin dalam dosis normal.

Interaksi. Kinidin memperlambat eliminasi 

digoksin sampai ±45%, maka dosisnya (loa-

ding dan pemeliharaan) perlu dikurangi 

separuh bila kedua obat dikombi nasi.

Dosis: digitalisasi oral 0,25-0,75 mg sehari 

a.c. selama 1 minggu, pemeliharaan 1 dd 

0,125-0,5 mg a.c.

* Metildigoksin (Lanitop) yaitu  derivat me-

til semi-sintetik dengan resorpsi lebih baik, 

melampaui 90%. Di hati zat ini dirombak 

menjadi digoksin. Mulai kerjanya lebih cepat, 

sesudah  20 menit dan berta han sampai 6 hari 

(t½ 42 jam). Oleh sebab  itu bahaya kumulasi 

lebih besar.Dosis: pemeliharaan oral 2-3 dd 

0,1 mg.

1B. DOPAMINERGIKA

Dopamin yaitu  neurotransmitter sentral, 

yang sebagai precursor adrenalin memiliki 

khasiat farmakologi penting, lihat juga Bab 

31, Adrenergika. Di jaringan perifer ada  

dua jenis resep tor dopamin, yakni reseptor 

DA1 dan DA2. Stimulasi reseptor ini oleh 

dopaminer gika memicu  efek yang sama 

dengan khasiat dopamin.

* Reseptor DA1 terutama berada di otot 

polos jantung, otak dan ginjal. Aktivasi me-

nimbulkan vasodilatasi, memperkuat kon- 

trak tilitas jantung, menderaskan penyalu-

r-an darah, ekskresi Na dan diure sis. Dopa-

minergika DA1 yang menstimulasi reseptor 

DA1 yaitu  dopamin, dobutamin dan ibopa-

min, yang khusus dipakai  pada dekom-

pensasi dan pada syok jantung.

* Reseptor DA2 ada  di saraf dan ganglia 

simpatik, juga dalam jantung dan kulit. 

Aktivasi memicu  penghambatan pele-

pasan adrenalin. Begitu pula di kulit anak 

ginjal, yang pada stimulasi mengurangi pele-

pasan aldosteron. Stimulasi reseptor DA2 

di masing-masing adenohipofisis dan chemo-

trigger zone (CTZ) menghambat pelepasan 

prolaktin dan menginduksi muntah. 

Dopaminergika DA2menstimulasi reseptor 

DA2 dan meliputi bromokriptin (Parlodel) serta 

kabergolin (Dostin ex), yang terutama diguna-

kan untuk menekan laktasi postpartum atau 

sesudah  abortus. Bromokriptin dibahas dalam 

Bab 28, Obat-obat Parkinson.

1Ba. Dopamin: Dopac, Dopamin Giulini

Neurotransmitter ini (1983) merupakan 

precursor langsung dari adrena lin dan nor-

adrenalin yang diinaktifkan oleh MAO, 

sehingga secara oral tidak aktif. Pada dosis 

rendah bekerja langsung terhadap reseptor DA1 

dengan efek vasodilatasi dan penderasan 

sirkulasi darah ginjal. Dosis sedang men-

stimulasi reseptor β1-adrenerg dengan efek 

inotrop positif dan peningkatan volume 

menit jan tung. Pada dosis tinggi, bekerja 

secara tak-langsung terhadap reseptor a1-

adrenerg dengan efek vasokonstriksi dan 

meningkatnya TD. Dengan demikian do-

pamin, berbeda dengan kate cholamin lain, 

pada dosis rendah dan sedang tidak mening-

katkan  frekuensi jantung atau TD. 

Dopamin terutama dipakai  pada kea-

daan syok, a.l. sesudah infark jantung dan 

bedah jantung terbuka, juga pada dekom-

pensasi yang bertahan.

Efek sampingnya berupa gangguan ritme, 

nyeri kepala , mual, muntah dan perasa-

an sesak. Dosis tinggi memicu  vaso-

konstriksi dan hipertensi. Mengenai peng- 

gunaan dopamin selama masa hamil dan 

laktasi belum ada  cukup data, begitu 

pula dari dopaminergi ka lainnya.

Dosis: infus i.v. pada syok 1-5 mcg/kg/

menit, pada dekom pensa si semula 0,5-1 

mcg/kg/menit. Kemudian secara bertahap 

dinaikkan sampai dosis pemeliharaan 20 

mcg/kg/menit.

*Quinagolide (Norprolac) yaitu  juga sua-

tu non-ergot dopamin agonis dengan t1/2 

(22 jam) yaitu di antara waktu paruh dari 

bromokriptin dan kabergolin. Juga diguna-

kan seperti bromokriptin pada hiperprolak- 

tinemia dengan menghambat sekresi pro-

laktin.

* Ibopamin: Inopamil

Prodrug ini (1991) dalam darah dihidrolisis 

menjadi zat aktif epinin (= N-metil dopamin). 

Khusus bekerja terhadap reseptor DA de-

ngan vasodilatasi perifer, sedang  kerja 

β-adrenergnya (peningkatan kontrak tilitas 

jan tung) lemah. Pada dosis tinggi juga ber-

kha siat alfa-adrenerg. Plasma- t½-nya 45 

menit. Ekskresinya berlangsung melalui urin, 

terutama sebagai metabolit. 

dipakai  khusus pada dekompensasi 

ringan dan dikombinasi dengan diuretikum. 

Pada dekompensasi berat, obat ini tidak 

dianjurkan sebab  ada  indikasi nyata 

mengenai meningkatnya mortalitas. 

Efek sampingnya a.l. debar jantung, tachy-

cardia, gangguan ritme dan lambung-usus, 

nyeri kepala dan pusing, hipotensi dan hi-

pertensi. 

Interaksi. Antagonis dopamin (metoklopra-

mida, domperidon) dapat memperlemah efek 

ibopamin. Adrenolitika dapat memperkuat 

vasokonstriksi alfa-adrenerg. Kombinasinya 

dengan nifedipin dapat memicu  hipo-

tensi hebat, sedang  penghambat MAO 

dapat mengurangi perombakan ibopamin 

menjadi epinin. Dosis: oral 3 dd 100 mg a.c. 

atau 2 dd 200 mg a.c. bersama tiazida.

1Bb. Dobutamin : (Inotrop, Dobutrex, Dobu-

tamin Giulini) yaitu  derivat sintetik (1977) 

yang primer memperkuat daya kontraksi 

jantung akibat stimulasi β1-adrenoreseptor di 

jantung. Juga berkhasiat vasodilatasi sebab  

stimulasi β2-reseptor. Dengan peningkatan 

volume pukulan, volume menit juga di-

perbaiki. Di samping itu, berkhasiat DA1, 

β2- dan a1-adrenerg lemah. Berlainan dengan 

dopamin, zat ini tidak mengin duksi pelepasan 

adrena lin endogen. pemakaian nya sama 

dengan dopamin.

Efek samping yang terpenting berupa tachy-

cardia dan gangguan ritme.

Dosis: pada gagal jantung parah akut infus 

i.v. 2,5-10 mcg/kg/menit, sampai maks. 40 

mcg.

1C. PENGHAMBAT FOSFODIëS-

TERASE

Obat-obat ini juga berkhasiat inotrop positif 

dan vasodilatasi. Mekanisme kerjanya belum 

diketahui seluruhnya, antara lain mengham-

bat phosphodiësterase type-3 (PDE-3) di myo-

card dan pembuluh, sehingga kadar cAMP 

(cyclic Adenyl-Mono -Phosphate) intraseluler di-

naikkan. Hal ini memicu  peningkatan 

resorpsi kalsium dalam sel-sel myocard de-

ngan efek perbaikan kontrak tilitas jantung. 

Di jaringan otot polos, kadar cAMP yang 

meningkat dapat menurunkan penyerap-

an kalsium dengan efek vasodi latasi. Ban-

dingkan meka nisme kerja penghambat fos- 

fodiësterase sildenafil (Via gra), lihat Bab 43, 

Hormon-hormon Pria, boks Gangguan erek- 

si. Zat ini juga berkhasiat menghambat agre-

gasi.

pemakaian nya terbatas hanya pada 

klinik untuk terapi singkat dari bentuk hebat 

dekompensasi (akut) bila obat-obat lain ku-

rang efektif. Yang sekarang dipakai  ada- 

lah antara lain amrinon dan milrinon. Di-

piridamol tidak dipakai  pada dekom-

pensasi, namun  pada angina pectoris, lihat di 

bawah.

Dalam 25 tahun terakhir beberapa obat 

tersedia untuk penanganan hipertensi pulmo-

nal, a.l. penghambat fosfodiësterase (Viagra) 

dan analog prostasiklin.

1Ca. Amrinon: Inocor

Derivat bipiridin ini (1983) terutama un-

tuk penanga nan singkat (maks. 48 jam) 

dekompensasi kronis yang sukar dikenda-

likan dengan obat-obat lain. Parenteral 

efek maksimal timbul sesudah  10 menit dan 

tergantung dosisnya bertahan antara 0,5-2 

jam. Plasma-t½-nya lebih kurang 3,6 jam. 

Efek samping berupa gangguan lambung-

usus, demam, hipoten si dan aritmia.

Dosis: infus i.v. 5-10 mcg/kg/menit.

* Milrinon (Coritrope, Corotrope, 1983) yaitu  

derivat karbonitril (-CN) dengan khasiat dan 

pemakaian  sama. Dosisnya infus i.v. 0,375-

0,75 mcg/kg/menit.

1Cb. Enoksimon: Perfan

Merupakan suatu penghambat fosfodiës-

terase dengan daya kerja positif inotrop dan 

vasodilatasi. Bekerja maksimal sesudah  10-30 

menit selama 3-6 jam. Berkat perbaikan dari 

volume menit jantung diurese meningkat 

sehingga dosis dari diuretik dapat dikurangi.

Di metabolisasi menjadi senyawa sulfoksida 

yang kurang aktif dan diekskresi melalui 

ginjal. T1/2-nya 4 jam pada orang sehat dan 8 

jam dengan infus kontinu pada gagal jantung. 

pemakaian  pada gagal jantung kronis 

atau sesudah  bedah jantung terbuka.

Efek samping berupa ekstrasistole, aritmi 

supraventrikuler, hipotensi, sakit kepala dan 

tidak dapat tidur. Di samping ini gangguan 

saluran cerna seperti mual, muntah dan diare.

Dosis: permulaan i.v. 0,5-1 mg/kg berat 

badan, kemudian tiap 30 menit 0,5 mg/kg 

sampai dosis kumulatif total 3 mg/kg.

2. OBAT ANGINA PECTORIS

Keadaan ischemia jantung pada angina 

pectoris dapat diobati dengan vasodilator 

koroner yang merupakan obat pilihan per-

tama dan obat yang mengurangi kebutuhan 

jantung akan oksigen (β-blocker dan antagonis-

kalsium).

A. Vasodilator koroner memperlebar arteri 

jantung, memperlan car pemasukan da-

rah serta oksigen dan dengan demikian 

meringankan beban jantung. Pada se-

rangan akut obat pilihan utama yaitu  

nitrogliserin (sublingual) dengan kerja pe-

sat namun  singkat. Sebagai terapi interval 

untuk mengurangi frekuensi serangan 

tersedia nitrat long-acting (isosorbide ni-

trat), antagonis Ca(diltiazem, verapamil) dan 

dipiridamol.

B. β-blocker (penghemat pemakaian  ok-

sigen) memperlambat pukulan jantung 

(bradycardi a, efek kronotrop negatif), sehing-

ga mengu rangi kebutuhan myocard akan 

oksigen. Juga dipakai  pada terapi in-

terval.

2A. VASODILATOR KORONER

2Aa. Nitrogliserin: gliseriltrinitrat, trinitrin, 

Nitrostat, Nitroderm TTS (plester)

Trinitrat dari gliserol ini (1952) - sebagai-

mana juga nitrat lainnya - berkha siat relaksa-

si otot pembuluh, bronchia, saluran empedu, 

lambung-usus dan kemih. Berkhasiat vaso-

dilatasi berdasar  terbentuk nya nitro-

genok sida (NO) dari nitrat di sel-sel dinding 

pembuluh. NO berfungsi merelaksasi sel-sel 

ototnya, sehingga pembuluh, terutama vena 

mendilatasi dengan lang sung. Akibatnya, 

TD turun dengan pesat dan aliran darah 

vena yang kembali ke jantung (‘preload’) 

berkurang. pemakaian  oksigen oleh jantung 

menurun dan bebannya dikurangi. Arteri 

koroner juga diperle bar, namun  tanpa efek 

langsung terhadap myo card. 

pemakaian nya per oral untuk mengatasi 

serangan angina akut secara efektif, begitu 

pula sebagai profilaksis jangka pendek, mi-

salnya sebelum melakukan aktivitas berte-

naga (exertion) atau menghadapi situasi yang 

dapat menginduksi serangan. Intravena 

dipakai  pada dekompensasi tertentu se-

telah infark jantung, bila digoksin dan di-

uretika kurang memberikan hasil. 

Resorpsi dari usus baik, namun  mengalami 

FPE amat tinggi sehingga hanya sedikit 

obat mencapai sirkulasi besar. PP-nya 

±60%, plasma-t½-nya 1-4 menit. Di dalam 

hati dan eritrosit, zat ini cepat dirombak 

menjadi metabolit kurang aktif dengan hasil 

akhir gliserol dan CO2. Sebaliknya, absorpsi 

sublingu al dan oromuk osal cepat sekali 

sebab  menghindari first pass metabolisme 

(FPE). Efeknya sesudah 2 menit dan ber-

tahan selama 30 menit. Absorpsi dari kulit 

(transkutan) juga baik, oleh sebab  itu juga 

diguna kan dalam bentuk salep dan plester 

dengan pelepasan teratur. 

Efek samping berupa nyeri kepala akibat 

dilatasi arterial yang sering kali membatasi 

dosisnya. Yang lebih serius yaitu  hipotensi 

ortostatik dan pingsan. Juga sering kali 

timbul refleks tachycardia yang dapat dihindari 

bila dikombinasi dengan β-blocker. Efek 

samping lainnya terdiri dari pusing-pusing, 

mual, “flushing”, disusul dengan muka 

pucat. Bila efek terakhir timbul, pasien harus 

mengeluarkan sisa tablet dari mulut dan 

segera berbaring. Plester transdermal bekerja 

lama (sampai ±24 jam) dan dapat menim-

bulkan iritasi kulit (merah) dengan rasa 

terbakar dan gatal-gatal.

Toleransi untuk efek anti-anginanya da-

pat terjadi cepat pada pemakaian  oral, 

transkutan dan i.v. secara kontinu, serta pa-

da dosis lebih tinggi. Untuk menghindari 

hendaknya diadakan masa bebas-nitrat ku-

rang lebih 10 jam/hari. Terapi sebaiknya 

jangan dihentikan secara mendadak, namun  

berangsur-angsur untuk mencegah reaksi 

penarikan.

Kehamilan. pemakaian  trinitrin selama ma-

sa hamil dan laktasi masih kurang diketa hui 

efeknya, seperti juga nitrat lainnya.

Penyimpanan tablet/kapsul nitrogliserin 

harus dalam wadah gelas yang tertutup baik, 

sebab  sangat mudah menguap, sedang kan 

plastik (polistiren) dapat ditembus uap. Lagi 

pula, dianjur kan agar pasien memperbaharui 

persediaan obatnya setiap 2-3 bulan sebab  

khasiatnya berkurang akibat penguapan 

setiap kali wadah dibuka. Aktivitasnya dapat 

dites dengan menaruh tablet di lidah: harus 

menim bulkan perasaan ‘pedas.’ 

Dosis: pada serangan akut di bawah lidah 

(sublingual) 0,4-1 mg sebagai tablet, spray 

atau kapsul (harus digigit), jika perlu dapat 

diulang sesudah 3-5 menit. Bila efek sudah 

dicapai, obat harus dikelu arkan dari mulut. 

Profilaksis: tablet retard (Nitro Mack) 2,5-

5 mg diletakkan antara gusi dan bibir atas 

(oromukosal). Salep 2% (Nitro-bid): 3 dd 7,5-

30 mg pada dada, perut atau lengan. Plester 

‘controlled release’(Deponit 5/10, Nitro derm 

TTS): 1 dd 5-10 mg. Untuk meng hindari to-

leransi, sebai knya plester hanya dipakai  

pada siang hari dan malam hari sewaktu 

tidur dilepas.

2Ab. Isosorbida dinitrat: Isordil, Sorbidin, 

Cedocard, Isoket

Derivat nitrat siklis ini (1946) sama ker-

janya dengan nitrogliserin, namun  bersifat 

long-acting. Di dinding pembuluh zat ini 

diubah menjadi nitrogenoksida (NO), yang 

mengaktivasi enzim guanilsiklase dan menye-

babkan peningkatan kadar cGMP (cyclo-

guanilmonophosphate) di sel otot polos dan 

memicu  vasodilatasi. Sublingual mulai 

bekerja dalam 3 menit dan bertahan sampai 

2 jam, melalui spray masing-masing 1 menit 

dan 1 jam, sedang  oral masing-masing 20 

menit dan 4 jam (tablet retard 8-10 jam).

Resorpsi juga baik, namun  sebab  FPE besar, 

BA-nya hanya ±29%. PP-nya ±30%, t½-nya 

30-60 menit. Di dalam hati zat ini cepat dirom-

bak menjadi 2 metabolit aktif: isosorbida-5-

mononitrat dan isosorbida-2-mononitrat dalam 

perbandingan ±4:1 dan t½ masing-masing 

±4,5 dan 2 jam.

Dosis: pada serangan akut atau sebagai 

profilaktik, sublingual tablet 5 mg, bila perlu 

diulang sesudah beberapa menit. Interval: 

oral 3 dd 20 mg d.c. atau tablet/kapsul retard 

maks. 1-2 dd 80 mg. Spray 1,25-3,75 mg (1-3 

semprotan).

* Isosorbida-5-mononitrat (Ismo, Imdur, Mo-

no-Cedocard) yaitu  derivat (1981) dengan 

khasiat dan pemakaian  sama. Obat ini teru-

tama dipakai  per oral sebagai profilaktik 

menguran gi frekuensi serangan, juga secara 

oromuk osal (tablet retard). Adakalanya juga 

per oral pada dekompensasi yang dengan 

obat-obat lazim kurang berhasil.

Resorpsi dari usus sangat baik tanpa FPE, 

BA-nya praktis 100%. Mulai kerja sesudah  

lebih kurang 15 menit dan bertahan ±8 

jam. Plasma-t½-nya 4-5 jam. Di hati zat ini 

separuh dirombak menjadi isosorbida, yang 

diekskresi lewat urin. Sisanya dikeluarkan 

sebagai glukuronida melalui tinja.

Toleransi dapat terjadi pada pemakaian  

lama, dengan efek menurun. Dapat dihindari 

dengan memakai  dosis rendah (maks. 

2 dd 20 mg) tablet biasa, jadi bukan tablet 

retard. Dosis: oral semula 3 dd 10 mg p.c., 

sesudah beberapa hari 2-3 dd 20 mg. Tablet 

retard: pagi hari 50–120 mg.

2Ac. Dipiridamol:Persantin, Cardial

Sebagai penghambat fosfodiësterase, deri-

vat dipiperidino ini (1959) berkhasiat inotrop 

positif lemah tanpa menaikkan penggu-

naan oksigen dan vasodilatasi, juga terhadap 

arteri jantung. Penggun aannya pada angina 

sekarang dianggap obsolet, sebab  kurang 

efektif. Begitu pula sebagai obat pencegah 

infark kedua (bersama aseto sal), berdasar  

kerja antitrombotiknya. Khusus diguna kan 

sebagai obat tambahan antikoagulansia pada 

bedah penggan tian katup jantung untuk 

mencegah penyumbatan sebab  gumpalan 

darah (tromboemboli).

Resorpsi dari usus bervariasi dengan BA 

30-65%. PP-nya di atas 90%, t½-nya 11 jam; di 

dalam hati zat ini dirombak dan metabolitnya 

diekskresi lewat tinja sesudah  peredaran 

enterohepatik.

Efek samping: gangguan lambung-usus, 

nyeri kepala, pusing dan palpitasi (semen-

tara).

Dosis: pada angina oral 3 dd 50 mg 1 jam 

a.c., pada bedah katup jantung: 4 dd 75-100 

mg a.c.

2B. BETA-BLOCKER

Zat-zat ini yang juga disebut antagonis 

β-adrenoreceptor dipakai  sebagai profilak-

tik terhadap angina, dengan pilihan utama 

zat-zat kardioselektif atenolol dan meto-

prolol. Semua β-blocker harus dihindari oleh 

penderita asma, sebab  dapat memprovokasi 

bronchospasm (kejang cabang tenggorok). 

Obat-obat ini memperlambat pukulan 

jantung (bradycardia, efek kronotrop negatif), 

sehingga mengurangi kebutuhan oksigen 

myocard. Juga dipakai  pada terapi in-

terval. Di samping ini β-blocker juga dapat 

meningkatkan peredaran (perfusion) darah 

dari bagian yang kekurangan darah sebab  

penurunan frekuensi pukulan jantung 

(heart rate), memperpanjang waktu diastole 

dan demikian waktu yang dibutuhkan 

bagi penyaluran darah koroner. Lagi pula 

mengikat diri secara reversibel pada reseptor 

β-adrenerg dan dengan demikian memblok 

reaksi atas impuls saraf simpa tik atau 

katecholamin (nor/adrenalin, serotonin, dan 

sebagainya) dari sirkulasi. 

* Blokade reseptor β1 menurunkan frekuensi 

jantung (efek kronotrop negatif), daya kon-

traksi (efek inotrop negatif) dan volume 

menit jantung. Kecepatan penyaluran AV 

diperlambat dan TD diturunkan.

* Blokade reseptor β2 dapat antara lain 

memicu  bronchokonstriksi dan me-

niadakan efek vasodilatasi dari katechola-

min terhadap pembuluh perifer.

pemakaian nya selain pada hipertensi (lihat 

Bab 35, Antihipertensiva) juga pada:

a. angina stabil kronis, berdasar  efek 

kronotrop negatifnya yang memicu  

dikuranginya kebutuhan oksigen jantung 

pada saat mengeluarkan tenaga, hawa dingin 

dan emosi. Secara sekunder juga penyalu ran 

darah melalui pembuluh koroner berkurang. 

Seperti dapat dilihat di tabel 35-2 (Bab 35) 

praktis semua β-blocker dapat dipakai  

pada angina, kecuali zat-zat dengan efek 

blokade-a1 labetalol dan karvediol, juga 

esmolol. Zat-zat dengan ISA, a.l. pindolol 

dan alprenolol, kurang layak dipakai  

pada angina berat berhu bung penurunan 

frekuensi jantung dan efeknya dikuran gi oleh 

aktivitas simpatik intrin siknya. Untuk obat-

obat tersendi ri, lihat Bab 35, Antihipertensiva. 

Dapat dikombi nasi dengan obat-obat angina 

lainnya.

Pada angina variant, kerjanya tidak kon-

stan, yaitu dapat positif dan negatif, oleh 

sebab  itu biasanya  lebih disukai 

antagonis kalsium.

b. gangguan ritme, antara lain fibrilasi dan 

flutter serambi, tachy cardia supraventrikuler. 

Terutama sebagai obat tambahan, bila gli-

kosida jantung tunggal kurang mengha-

silkan efek. β-blocker dianggap antiaritmika 

kelas II, kecuali sotalol yang termasuk kelas 

III. 

2Ba. Sotalol: Sotacor

Derivat sulfonanilida ini (1974) yaitu  

β-blocker sa tu-satunya yang berkhasiat anti 

aritmia kelas III. sebab  efek samping nya 

lebih ringan daripada amiodaron, maka 

zat ini lebih disukai untuk terapi aritmia 

serambi dan bilik. Di samping itu, sotalol 

juga dipakai  pada hipertensi dan angina 

pectoris. Tidak bersifat lokal anestetik, juga 

tidak memiliki ISA atau sifat kardioselektif. 

Lihat juga Bab 35, Antihipertensiva.

Resorpsi praktis lengkap, PP ringan sekali 

sebab  bersifat hidrofil, plasma-t½-nya rata-

rata 14 jam. Hampir tidak dirombak dalam 

hati; ekskresi berlangsung secara utuh teruta-

ma lewat urin. 

Dosis: aritmia, oral 2 dd 80 mg a.c., ber-

angsur-angsur dinaikkan sampai maks. 2 dd 

160 mg. Hipertensi dan angina 1 dd 160 mg.

2C. ANTAGONIS CA

Banyak dipakai  untuk terapi angina dan 

memiliki lebih sedikit efek samping serius 

dibandingkan dengan β-blocker. Obat-obat 

ini memblokir calcium-channels di otot polos 

arterial dan memicu  relaksasi dan 

vasodilatasi perifer. Tekanan darah arteri dan 

frekuensi jantung menurun (efek kronotrop 

negatif), demikian juga pemakaian  oksigen 

menurun pada saat mengeluarkan tenaga. 

Selain itu pemasukan darah diperbesar 

sebab  vasodilatasi, sehingga efek inotrop 

negatifnya hanya ringan atau hilang sama 

sekali. Lihat selanjutnya Bab 35, Antihiper-

tensiva.

Senyawa dihidropiridin terutama dipakai  

pada hipertensi. Pada angina variant ter-

nyata zat ini juga efektif, khusus nya nifedi-

pin, nikardipin, amlodipin dan felodi pin. Pa-

da angina instabil obat-obat ini hanya di-

gunakan sebagai tambahan pada β-blocker 

yang meniadakan reflekstachycardia yang 

mungkin terjadi. Pada angina stabil kronis 

pilihan pertama yaitu  β-blocker, hanya 

bila efeknya kurang barulah ditambahkan 

suatu antagonis-Ca. Mengenai efektivitas 

dan keamanan kelompok piridin ini pernah 

timbul keraguan, lihat selanjutnya Bab 35, 

Antihipertensiva. Di luar kelompok ini juga 

dipakai  verapamil dan diltia zem.

2Ca Nifedipin: Adalat/Retard/Oros,*Nif-ten

Dihidropiridin pertama ini (1975) terutama 

berkhasiat vasodila tasi kuat dengan hanya 

kerja ringan terhadap jantung. Efek inotrop 

negatifnya ditiadakan oleh vasodilatasi, bah-

kan frekuensi jantung serta cardiac output 

justru dinaikkan sedikit akibat antara lain 

turunnya afterload, yaitu volume darah yang 

dipompa keluar jantung ke aorta.

Dosis: angina dan hipertensi, pagi hari 30 

mg tablet retard, berangsur-angsur dinaikkan 

sampai 1 dd 120 mg. *Nif-ten : nifedipin SR 20 

+ atenolol 50 mg 

2Cb. Verapamil: Isoptin/SR

Rumus kimia senyawa amin ini (1963) 

mirip papaverin. Khasiat vasodilatasinya 

tidak sekuat nifedipin dan derivatnya, namun  

efek inotrop negatifnya lebih besar. Senyawa 

ini jangan dipakai  bersamaan dengan 

β-blocker atau kinidin, sebab  memicu  

kumulasi efek inotrop negatif. 

Bekerja kronotrop negatif ringan dan mem-

perlambat penyalu ran impuls AV. Diguna -

kan pada angina vari ant/sta bil, hipertensi 

dan aritmia terten tu (a.l. tachycardia supra-

ventri kuler, fibrilasi seram bi).

Dosis: angina variant/stabil, aritmia dan 

hipertensi: oral semula 3-4 dd 80 mg, peme-

liharaan 4 dd 80-120 mg; tablet SR (slow 

release) 1-2 dd 240 mg. 

2Cc. Diltiazem: Tildiem, Herbesser

Derivat benzotiazin ini (1973) berkhasiat 

vasodilatasi lebih kuat daripada verapamil, 

namun  efek inotrop negatifnya lebih rin gan. 

pemakaian nya sama dengan verapamil 

pada angina variant/stabil, hipertensi dan 

aritmia tertentu. Daya kerjanya terletak an-

tara nifedipin dan verapamil serta sering- kali 

dipakai  pada terapi angina, sebab  tidak 

memicu  tachycardia.

Dosis: angina dan hipertensi semula oral 

3-4 dd 60 mg, maks. 3 dd 120 mg. Aritmia: i.v. 

1 dd 0,25-0,3 mg /kg dalam 2 menit.

2Cd. Ivabradine: Coralan,Procoralan

Menurunkan frekuensi jantung sesudah  ±1 

jam dan berkhasiat anti angina dalam waktu 

± 3-4 minggu. Metabolisasi a.l. di hati menjadi 

metabolit aktif yang diekskresi melalui urin 

dan feces. T1/2 ±11 jam untuk ivabradin dan 

metabolit aktifnya. 

dipakai  untuk penanganan simtomatik 

dari angina stabil kronis bila pasien tidak 

tahan atau ada  kontra indikasi terhadap 

β-blocker.

Efek samping yang paling sering, terutama 

pada bulan-bulan pertama terapi, yaitu  

gangguan penglihatan (cahaya), sering kali 

bradikardi, ekstra sistole, hipotensi, sakit 

kepala, pusing, mual, obstipasi dan diare. 

Dosis: untuk angina pectoris stabil permu-

laan 2 dd 5 mg d.c. dan sesudah  3-4 minggu 

dapat dinaikkan menjadi 2 dd 7,5 mg d.c. 

Untuk gagal jantung: dosis awal 2 dd 5 

mg dan sesudah  2 minggu dapat ditingkatkan 

menjadi 2 dd 7,5 mg.

2Ce. Ranolazin: Ranexa, Menarini

Senyawa ini memiliki batas keamanan 

terapeutik sempit dan banyak interaksi far-

makologik dengan obat-obat yang sering kali 

diberikan pada kelompok pasien demikian. 

Berkhasiat anti-angina lemah.

Metabolismenya cepat dan diekskresi 

75% via urin dan 25% melalui feces sebagai 

metabolit. T1/2 ±7 jam.

dipakai  untuk penanganan simtomatik 

pasien angina pectoris stabil yang kurang 

mendapatkan manfaat atau tidak tahan ter-

hadap obat-obat anti angina pilihan pertama 

seperti β-blocker dan antagonis Ca.

Efek sampng sering kali pusing, sakit kepala, 

sembelit, mual, hipotensi dan dehidrasi. 

Dosis: permulaan 2 dd 375 mg dan sesudah  

2-4 minggu ditingkatkan menjadi 2 dd 500 

mg.

3. ANTIARITMIKA

3a. Kinidin: Sulfas chinidin, Cardioquin, Ki-

nidin durette

Stereoisomer (dekstro) dari kinin ini ber-

khasiat antimalaria lemah dan antiaritmia 

(kelas Ia) berdasar  penurunan kepekaan 

sel-sel jantung terhadap rangsangan (efek 

stabilisasi membran). Frekuensi pukulan 

dikurangi (kronotrop negatif) dan masa re-

frakter (kebal bagi rangsangan) diperpan-

jang, sedang  penyaluran impuls diper- 

lambat. Daya kontraksi (inotrop negatif) 

juga dikurangi namun  agak ringan. Memiliki 

khasiat antikolinergik. Kinidin terutama 

dipakai  untuk profilaktik fibrilasi,fluttering 

serambi dan terapi tachyaritmia supraventri-

kuler.

Resorpsi dari usus hampir lengkap, PP 

rata-rata 85%, plasma-t½ 6-8 jam. Ekskresi 

metabolitnya terutama melalui urin (15% 

utuh) dan 5% lewat tinja.

Efek samping yang tersering berupa gang-

guan lambung-usus. Dapat terjadi pula re-

aksi alergi kulit (exanthema) dan gangguan 

darah (anemia hemolitik, trombositopenia). 

Lagi pula cinchonisme (keracunan akibat 

pemakaian  lama sediaan kina) dengan a.l. 

nyeri kepala, telinga berdengung, pusing, 

demam dan gangguan pengli hatan. Wanita 

hamil dan menyusui tidak boleh diberikan 

kinidin dan produk kina lainnya, sebab  

bersifat teratogen.

Interaksi: Kinidin dapat meningkatkan 

kadar digoksin dalam darah, juga khasiat 

derivat kumarin dapat diperkuat. Enzim 

induktor seperti fenitoin, fenobarbital dan 

rifampisin, dapat mempercepat perombakan 

kinidin.

Dosis:profilaktik aritmia serambi oral 3-4 dd 

200-400 mg, tablet retard 2 dd 750 mg. Aritmia 

bilik semula 200 mg, lalu setiap 3 jam 200 mg 

sampai efek tercapai, tablet retard 2 dd 500- 

1250 mg.

3b. Disopiramida: Norpace, Rythmodan

Derivat butiramida ini (1969) khasiatnya 

mirip dengan kinidin. Efek stabilisasi mem-

bran ±3 kali lebih kuat, namun  efek inotrop 

negatifnya lebih lemah, dapat memicu  

hipotensi dan memperburuk gagal jantung.

Obat ini juga memperpanjang masa refrakter 

dan penyaluran impuls. pemakaian nya 

juga untuk profilaktik aritmi a serambi dan 

tachycardia supraventrikuler.

Resorpsi dari usus rata-rata 90% dengan 

BA 40-80%. PP-nya 50-90%, t½-nya 4-9 jam. 

Dalam hati sebagian zat dirombak menjadi 

metabolit kurang aktif, namun  dengan sifat 

antikolinergik lebih kuat. Ekskresi dalam 

keadaan utuh melalui kemih 60%, sedang  

sisanya lewat feses. 

Efek samping yang paling sering yaitu  efek 

antikoli nerg (mulut kering, obstipasi, gang-

guan pengli hatan, tachycardia, adakalanya 

impotensi dan retensi urin). Kadang-kadang 

gangguan lambung-usus, mual, muntah, 

nyeri dan lemah otot, rasa lelah, pusing dan 

exanthema.

Dosis: oral 4 dd 100-150 mg, maks. 1,2 g 

sehari. Tablet retard 2 dd 125-375 mg. I.v. 

sebagai fosfat 2mg/kg dalam 10 menit, di-

susul oleh infus 0,4 mg/kg/jam, maks. 800 

mg sehari dengan pemantauan ECG.

3c. Prokainamida: Pronestyl

Derivat prokain ini (1950), sebagai anti-

aritmikum kelas Ia, memiliki pola kerja 

mirip kinidin. Efek antikolinergik lebih le-

mah daripada kinidin dan disopiramida. 

dipakai  terutama untuk profilaktik dan 

terapi aritmia ventrikuler.

Resorpsi dari usus rata-rata 80%, PP-nya 

rendah 15-20% dan t½ rata-rata 3,5 jam. Da-

lam hati sebagian (16-33%) dirombak men-

jadi N-asetilprokainamida (= asekainida) aktif 

dengan t½ ±7 jam. Ekskresi terutama melalui 

urin, yaitu ±40% sebagai asekainida dan ±55% 

dalam keadaan utuh. 

Efek samping berupa gangguan penyaluran 

impuls dengan AV-block dan tachycardia 

bilik, kadang-kadang gangguan lambung-

usus, reaksi kulit, pusing, demam dan dep-

resi. Jarang sekali lupus dan kelainan darah.

Dosis: oral 250-1.000 mg setiap 3 jam (klo-

rida), i.v. 0,5-1 g setiap 4-8 jam.

3d. Lidokain: lignokain, Lidonest, Xylocard

Anestetikum lokal ini (lihat Bab 26 Anes-

tetika lokal) berkhasiat antiaritmia kelas Ib, 

berdasar  stabilisasi membran (1947). Ber- 

beda dengan kinidin, masa refrakter dan 

penyaluran impulsnya dipersing kat tanpa 

mengurangi daya kontraksi jantung.

Terutama dipakai  i.v. pada aritmia 

ventrikuler akut, khususnya sesudah  infark 

jantung. Injeksi i.v. segera (dalam jam per-

tama) sesudah  infark mengurangi kematian 

sampai 20-30%. 

sesudah  injeksi, efek mulai tampak sesudah 

beberapa menit dan bertahan ±1,5 jam. PP-

nya ±65%, t½-nya 1,5-2 jam. Dalam hati, 90% 

dirombak menjadi 2 metabolit aktif, yang 

diekskresi lewat urin.

Efek samping yang terpenting yaitu  pera-

saan terlena, juga pada dosis biasa.

Dosis: i.m. 300 mg (klorida) atau i.v. 50-

100 mg dalam 1-2 menit, bila perlu diulang 

sesudah  5-10 menit. Langsung dilan jutkan de-

ngan infus 200-300 mg/jam.

* Tokainida (Tonocard) yaitu  derivat pro-

panamida (1981) dengan khasiat mirip lido- 

kain, namun  aktif secara oral. Khusus digu-

nakan pada aritmia ventrikuler yang tidak 

dapat diatasi dengan antiaritmika lain. Efek 

sampingnya yang terpenting yaitu  mual, 

muntah, efek sentral (tremor, perasaan kacau, 

pusing, dan sebagainya) serta kelainan darah 

serius.

Dosis: oral 3 dd 400 mg, i.v. 10 mg/kg 

dalam 15-30 menit.

3e. Prajmalin: prajmalium, Neo-Gilurytmal

Prajmalin yaitu  derivat-N-propil dari aj-

malin, salah satu alkaloid dari tumbuhan 

Rauwolfia serpentina (pule pandak, lihat Obat 

Hipertensi reserpin). Kerja antiaritmianya 

lebih kuat dibandingkan dengan ajmalin 

(yang tidak dipakai  lagi) dan mirip kinidin. 

Terutama dipakai  pada tachycardia ven-

triku ler dan ekstrasistole. Berbeda dengan 

alkaloid Rauwolfia lainnya, ajmalin tidak 

berkhasiat hipotensif dan sedatif.

Efek samping berupa gangguan lambung-

usus, jarang kelai nan darah (leukopenia, 

agranulositosis), terutama pada penggun aan 

lama.

Dosis: permulaan oral 3-4 dd 20 mg, ber-

angsur-angsur dikurangi sampai 2-4 dd 10 mg.

3f. Meksiletin: Mexitec

Derivat etilamin ini (1976) secara kimiawi 

mirip lidokain, begitu pula khasiatnya ham- 

pir sama, namun  dapat dipakai  peroral. 

Masa refrakter dan aksipotensial diperpan-

jang, kecepatan penyaluran impuls relatif 

sedikit dipengaruhi. Juga berkhasiat anti-

konvulsif. Mexiletin terutama dipakai  

pada aritmia ventrikuler, khususnya sesudah  

infark dan aritmia akibat glikosida jantung.

Resorpsi dari usus hampir lengkap, PP 

±55%, plasma-t½ 5-12 jam. Ekskresi ber-

langsung melalui urin, 10% secara utuh. Re-

sorpsi diperlambat selama infark jantung 

akut dan oleh analgetika narkotik. T½ di-

perpanjang pada pasien jantung.

Efek samping berupa gangguan lambung-

usus, sedu, juga efek neurotoksik (ataksia, 

tremor, perasaan kacau, penglihatan ber-

ganda, dan lain-lain). Overdosis dapat me- 

nimbulkan fibrilasi, bradycardia dan hipo-

tensi. Oleh sebab  itu kombinasinya dengan 

antiaritmika lain tidak dianjurkan!

Dosis: oral 3-4 dd sehari 200-250 mg (HCl) 

d.c., infus i.v. 300 mg dalam 30 menit, disusul 

dengan 1 mg/menit selama 36-48 jam.

3g. Flekainida: Tambocor

Derivat bis(trifluor) benzamida ini (1982) 

berkhasiat antiaritmik kelas Ic. Seperti an-

tiaritmika kelas Ia dan Ib, obat ini memper-

lambat depolarisasi, pada mana perbandingan 

masa refrakter dan aksipotensial meningkat. 

Berlainan dengan obat-obat itu , flekai- 

nida memperlambat aktivasi sel otot jantung 

tanpa memperpan jang (kelas Ia) atau mem-

persingkat (kelas Ib) aksipo tensial. Terutama 

dipakai  untuk profilaktik fibrilasi seram-

bi paroksismal (berupa serangan), namun  

memiliki daya kerja inotrop negatif serta da-

pat memicu  aritmia ventrikuler serius.

Resorpsi dari usus cepat dan lengkap, PP 

±40%, plasma-t½ 11-14 jam. Dalam hati seba-

gian dirombak; metab olitnya diekskresi le-

wat urin, 30% secara utuh. Efek samping bersi-

fat umum, juga nyeri di dada, flushing dan 

tremor.

Dosis: oral 2 dd 100-200 mg (asetat), i.v. 

2mg/kg dalam 10 menit.

3h. Propafenon: Rytmonorm

Senyawa propiofenon ini (1979) berkhasiat 

antiaritmik kelas Ic, juga memiliki khasiat 

β-blocker, antagonis-Ca dan antikoliner gik. 

Khusus dipakai  pada aritmia (supra) ven-

trikuler yang kurang dapat dikendalikan 

oleh obat-obat lain.

Resorpsi dari usus cepat dan hampir leng 

kap, namun  mengala mi FPE. Oleh sebab  itu 

BA-nya variabel dan tergantung pula dari 

besarnya dosis. PP di atas 95%; t½ 2-10 jam, 

kecuali pada orang dengan kekurangan en-

zim hidroksilase (7%) 12-32 jam. Dalam ha-

ti praktis dirombak seluruhnya dan meta 

-bolitnya rata-rata 28% diekskresi lewat urin 

dan 57% melalui empedu dan tinja. 

Efek samping berupa gangguan lambung-

usus dan penglihatan, hilang rasa di mulut, 

nyeri kepala, pusing dan letih. Begitu pula 

sesak napas serius, memburuknya COPD dan 

hipotensi ortostatik. Juga gangguan jantung, 

seperti bradycardia dan gangguan penerusan 

impuls (misalnya AV-block).

Dosis: oral semula 3 dd 150 mg p.c., bila 

perlu berangsur-angsur dinaikkan sampai 

maks. 900 mg sehari. I.v. secara individual.

3i. Amiodaron: Cordarone

Senyawa benzofuran ini (1962) berkhasiat 

antiaritmik kelas III, namun  juga memiliki 

sifat antiaritmik kelas I, seperti peningkatan 

ambang rangsang dan perlambatan pene-

rusan impuls. Efek inotrop negatif ringan. 

Di samping itu, juga bersifat anti-adrenergik 

dan vasodilatasi. Terutama dipakai  pada 

fibrilasi serambi yang resis ten dan pada 

tachycardia (supra)ventrikuler yang tidak 

dapat dikendalikan oleh obat-obat lain.

Resorpsi dari usus lambat dan tidak konstan 

dengan BA 22-86%. Mulai kerjanya sesudah  

2-21 hari, namun  dapat bertahan sampai 60 

hari sesudah  pemberian obat dihentikan. PP 

±96%, plasma-t½ panjang sekali 40-55 hari. 

Dari sebagian zat dalam hati dibebaskan iod, 

yang diekskresi sebagai iodida lewat urin. 

Sisanya dikeluarkan oleh hati dan tinja.

Efek samping paling serius pada peng-

gunaan lama berupa ganggu an fungsi tiroid 

dan toksi sitas paru-paru (penurunan fungsi, 

pneumonitis, fibrosis, dan lain-lain) dengan 

risiko kematian 10%. Efek lainnya berupa 

enda pan di selaput tanduk mata tanpa gejala 

(reversibel), ganggu an lambung-usus, reaksi 

kulit yang dapat berwarna abu-abu biru 

akibat fotosensibilisa si. Obat ini juga dapat 

memperkuat efek antikoagulansia oral dan 

digoksin.

Wanita hamil dan menyusui tidak boleh 

memakai  amiodaron, sebab  dapat 

memicu  struma pada janin.

Dosis: oral permulaan 3 dd 200 mg (HCl) 

d.c. selama 1-2 minggu, pemeliharaan 200-

400 mg sehari.

3j. Dronedaron: Multaq

Derivat benzofuran dari amiodaron ini 

(2009) yaitu  suatu multichannel blocker yang 

merintangi aliran kalium, sehingga aksipo- 

tensial jantung dan masa refrakter diper-

panjang. Juga menghambat aliran natrium 

dan kalsium.Tekanan darah arterial menurun, 

juga memiliki aktivitas vasodilatasi pada 

arteri koroner dan perifer.

Efektivitas untuk memelihara ritme sinus 

jauh lebih kurang dari pada amiodaron dan 

juga memiliki lebih sedikit efek samping. 

ada  kontra indikasi untuk pasien dengan 

gagal jantung. Efek anti adrenergiknya lebih 

kuat daripada amiodaron.

PP 99,7% dan T1/2 13-19 jam. Diekskresi 

teruama dalam bentuk metabolit 6% via urin 

dan 84% melalui feses.

pemakaian  pada pasien dengan fibrilasi 

atrium yang berlanjut.

Efek samping sering sekali (>10%) gagal 

jantung kongestif dan sering (1-10%) bradi-

kardi, diare, dispepsi, mual, muntah dan 

gangguan kulit.

Dosis: 2 dd 400 mg pada waktu sarapan dan 

pada saat makan malam. 

3k. Ibutilide: Corvert

yaitu  obat anti aritmik dengan sifat-sifat 

kelas III. Memperpanjang masa refrakter 

efektif di jaringan otot atrial dan ventrikuler. 

Dapat segera mengkonversi fibrilasi serambi 

ke ritme sinus.

Metabolisasi di hati dan diekskresi 82% 

melalui urin dan 19% melalui feces. FPE 

yang kuat ini memicu  obat tidak dapat 

dipakai  per oral. T1/2 6 jam.

Efek samping paling sering dan serius 

yaitu  pro-aritmi yang timbul 40 menit sesudah  

pemberian obat. Juga tachycardi serius.

Dosis: i.v. 1 mg bagi pasien dengan berat 

badan > 60 kg selama minimal 10 menit.Bagi 

pasien dengan berat badan <60 kg: 0.01 mg/

kg i.v. selama minimal 10 menit.

3l. Vernakelant: Brinavess, Kynapid

Senyawa ini yaitu  obat anti aritmika 

dengan sifat-sifat klas I dan III. Memper-

panjang masa refrakter atrial dan memper-

lambat penyaluran impuls. Bekerja sesudah  

±10 menit selama ±24 jam. T1/2 ±3 jam.

dipakai  untuk konversi cepat fibrilasi 

serambi singkat ke ritme sinus (Roy D. et 

al. Vernakalant hydrochloride for rapid 

conversion of atrial fibrillation. Circulation, 

2008, 117:1518-1525) namun  tidak efektif untuk 

fibrilasi serambi jangka panjang (>7 hari).

Efek samping sering kali hilang rasa, bersin, 

bradikardi, hipotensi, pusing, sakit kepala, 

mual dan muntah.

Dosis: i.v. infus 3 mg/kg selama 10 menit. 


ANTITROMBOTIKA

Antitrombotika yaitu  zat-zat yang digu-

nakan untuk pengobatan atau pencegahan 

trombosis dan emboli. Pada trombosis terjadi 

pembentukan trombus, yaitu bekuan darah 

di dalam pembuluh. Pada emboli terjadi 

penyumbatan arteri kecil atau kapiler akibat 

embolus, yaitu bekuan darah atau sumbatan 

lain (antara lain gelembung udara) yang 

dibawa oleh aliran darah dan tersendat di 

pembuluh dan menyumbatnya.

A. PROSES PEMBEKUAN 

DARAH DAN TROMBOSIS

Trombosis dan emboli 

a. Trombosis vena bisa terjadi di bagian da-

lam maupun permukaan sistem vena. 

Trombosis vena dalam (deep venous throm-

bosis, DVT), bercirikan terbentuknya 

gumpalan darah beku (trombus/i) dalam 

vena, yang menghambat atau menghen- 

tikan sirkulasi darah (obstruksi). DVT 

kerapkali memicu  sirkulasi tersen-

dat di tungkai dan di paru-paru (emboli 

paru). Gejalanya dapat berupa rasa sakit 

setempat, adakalanya tachycardia, demam 

(dan BSE meningkat). 

Thrombosis vena dalam disebut sebagai 

trombosis penjalanan bila memenuhi krite-

ria:

– Perjalanan dalam keadaan duduk

– Perjalanan lebih dari 5 jam

– Gejala baru timbul sekitar 2 minggu 

sesudah  perjalanan

Untuk menghindari trombosis demikian di-

anjurkan:

– Selama perjalanan banyak berdiri/ berge-

rak serta menghindari kopi dan alkohol

– Bagi pasien tertentu (dengan predispo-

sisi) dianjurkan pula pemakaian  low 

molecular heparin 2 jam sebelum kebe- 

rangkatan, yang merupakan perlindungan 

terhadap timbulnya thrombosis. 

Trombosis vena di permukaan oleh beku-

an darah, terutama bercirikan peradangan 

dan umumnya disebut tromboflebitis. 

Gejalanya berupa sakit, kemerah-merah-

an dan pengerasan setempat akibat 

pembentukan jaringan-ikat sekitar vena 

yang terkena, adakalanya juga demam. 

Gangguan ini dapat terjadi spontan 

sesudah  persalinan, dapat pula sebab  

adanya varices (pemekaran vena lokal, 

«spatader») atau cedera (trauma). 

Trombosis dapat pula terjadi pada pasien 

yang harus berbaring untuk waktu lama 

sebab  aliran darah di vena tertentu terhen-

ti dan darah menggumpal. Tumor ganas, 

kehamilan dan pil antihamil dapat menye-

babkan timbulnya tromboemboli vena. 

*Emboli paru sering kali timbul akibat DVT, 

padamana (sebagian) gumpalan darah ter-

lepas dan melalui sirkulasi diangkut ke 

paru-paru. Gejalanya tergantung dari besar-

nya trombus yang tersendat di vena paru. 

Sumbatan besar bisa fatal secara akut dengan 

diawali oleh syok, sumbatan-sumbatan kecil 

sering kali berlangsung tanpa gejala atau 

dengan gejala tak nyata, misalnya kehabisan 

napas bila mengeluarkan tenaga.

Terapi dan profilaksis trombosis (dan emboli 

paru) lazimnya dimulai dengan antikoa-

gulansia parenteral h e p a r i n (UFH) atau 

fraksi-fraksinya (LMWH). Kemudian dapat di-

lanjutkan dengan anti-koagulansia oral.

b. Trombi dalam arteri sering kali terjadi di 

jantung dan otak, yang dapat memicu  

matinya jaringan (infark jantung/otak) dan 

dapat berakibat fatal. 

*Infark jantung, gejala dan penanganannya 

telah dibicarakan secara luas di Bab 37, Obat-

obat jantung. Di sini hanya akan disinggung 

peranan yang dipegang oleh antitrombotika.

Terapi. Obat-obat utamanya yaitu  trom-

bolitika untuk melarutkan trombus yang 

menyumbat arteri koroner (streptokinase dan 

lain-lain). Penanggulangan sedini mungkin 

dapat menurunkan risiko kematian sampai 

50%. 

Prevensi sekunder, yaitu menghindari 

terbentuknya lagi trombus baru, dapat dila- 

kukan dengan memakai  antikoagu-

lansia oral (warfarin) atau asetosal dalam 

dosis rendah.

Warfarin telah dikembangkan sebagai ra-

cun membasmi tikus, namun  sekarang juga 

dipakai  dalam kedokteran sebagai anti-

koagulan.

Di tahun 1955 warfarin diberikan kepada, 

ketika itu Presiden Amerika Serikat, Jendral 

Dwight Eisenhower sesudah  mengalami in- 

fark jantung. Saat itu timbul ungkapan bah- 

wa “What was good for a war hero and the 

president of the US must be good for all, despite a 

being a rat poison.”

*Infark otak dapat disebabkan oleh trombosis 

atau emboli dengan gejala kelumpuhan se-

belah badan (hemiplegia). Merupakan ±80% 

dari semua kasus «beroerte», «stroke» atau 

CVA (Cerebral Vascular Accident). Sisanya 

(±20%) diakibatkan oleh perdarahan di otak 

akibat pecahnya pembuluh otak, kerapkali 

berhubungan dengan hipertensi. 

berdasar  meningkatnya kasus stroke 

dari tahun ke tahun diperkirakan bahwa 

lebih dari 1,5 juta penduduk negara kita  ber-

risiko terserang penyakit itu  dalam 

rentang waktu 6 tahun mendatang. Stroke 

merupakan kedua dari pemicu  kematian 

tersering pada wanita dan ketiga pada pria.

Vaartjes I, et al. Hart- en vaatziekten in Nederland 

2011, cijfers over leefstijl en risicofactoren, ziekte 

en sterfte. Den Haag: Hartstichting, 2011. 

TIA (Transient Ischaemic Attack) terjadi secara 

mendadak dengan memicu  hilang kesa-

daran untuk waktu yang singkat, beberapa 

detik sampai beberapa menit. Peristiwa ini 

disebabkan oleh masuknya mikro-emboli 

dalam pembuluh otak. Lazimnya, pasien 

sembuh secara tuntas, namun  TIA cenderung 

kambuh lagi. Untuk menghindari residif atau 

infark, umumnya dipakai  asetosal dalam 

dosis rendah (40-100 mg sehari).

Biokimia

Pada trombosis vena/arteri berulang ada  

kadar homosistein, yang meningkat dalam 

darah. Asam amino ini terbentuk sebagai 

produk-antara pada reaksi pengubahan 

metionin menjadi sistein, yakni: 

metionin ——> homosistein ——> sistein

Kadar homosistein darah yang meningkat 

ternyata merupakan faktor risiko PJP (pe-

nyakit jantung dan pembuluh: trombosis, 

infark). Lihat juga Bab 37. Obat-obat jantung, 

faktor-faktor risiko.

Asam folat, vitamin B6 dan vitamin B12 ber-

khasiat menurunkan kadar homosistein dan 

dengan demikian meniadakan salah satu 

faktor risiko PJP. Asam folat banyak ada  

dalam gandum whole-grain dan makanan 

yang kaya akan serat nabati, lihat selanjutnya 

Bab 53, Vitamin dan Mineral.

Fibrin

Fibrinogen yaitu  suatu globulin yang ter-

bentuk di dalam hati. Protein ini merupakan 

zat utama dari bekuan darah dan keropeng 

(kerak pada luka; crust) di luka terbuka. 

namun , fibrin juga dapat membentuk trombi 

yang menyumbat pembuluh darah, dengan 

akibat memutuskan penyaluran oksigen ke 

organ-organ penting. Fibrinogen diangkut 

dalam darah dalam keadaan terlarut ke 

tempat peradangan atau penyumbatan. Di 

tempat ini fibrinogen diubah menjadi fibrin 

yang memiliki struktur seperti serat (Lat 

= fibra) dan tidak dapat larut. Serat-serat 

yang panjang dari fibrin «memperangkap» 

trombosit dan unsur-unsur darah lainnya, 

lalu melekatkannya pada dinding pembuluh. 

Fibrin dapat dianggap sebagai molekul repa-

rasi yang berperan penting pada penutupan 

luka melalui pembentukan keropeng. 

*Fibrinolisis. Gumpalan fibrin bersifat se-

mentara dan sesudah  beberapa waktu dila-

rutkan lagi oleh plasmin. Enzim protease ini 

berkhasiat menguraikan fibrin dan faktor-

faktor pembekuan V dan VIII. Dalam darah, 

plasmin berada dalam bentuk pro-enzim 

inaktif plasminogen, yang dapat diaktivasi 

oleh zat-zat aktivator plasminogen (ZAP).

ZAP faal yaitu  tPA, urokinase dan faktor 

XII teraktivasi (lihat di bawah). Pembentukan 

berlebihan plasmin dengan risiko perdarahan 

dapat dihindari dengan zat-zat penghambat 

aktivator plasminogen-1 dan -2 (PAI-1 dan 

PAI-2). 

Gambar 38-1: Skema sistem fibrinolisis

Aktivasi dicetuskan oleh faktor tertentu di 

molekul fibrin. Dengan demikian, bertum-

puknya fibrin yang dapat menghalangi 

aliran darah dan memicu  trombosis 

di pembuluh dapat dihindari. Antara pem-

bentukan dan pelarutan fibrin ada  ke-

seimbangan. Pelarutan (degradasi) fibrin yang 

terlalu cepat atau dini dapat memicu  

perdarahan. Dalam plasma juga ada  zat-

zat faal yang menginaktivasi plasmin untuk 

mengendalikan fibrinolisis, misalnya alfa2-

antiplasmin (alfa2-AP).

Plasminogen dan fibrinogen terbentuk da- 

lam hati, sedang  ZAP diproduksi di ba-

nyak tempat, antara lain di endotel pembuluh 

di seluruh tubuh dan ginjal (urokinase). 

ZAP alamiah penting yang juga dipakai  

dalam terapi sebagai zat pelaru