dengan memakai
perhitungan regresi linier.
Syarat analisis memakai spektrofotometri UV-Vis:
1. Larutan yang dianalisis jernih (sampel UV) dan berwarna (sampel
Visibel)
2. Sinar harus monokromatis
3. Larutan yang dianalisis tidak keruh atau menganadung partikel
pengotor
4. Pelarut tidak bereaksi dengan sampel
Selain syarat-syarat ini dalam analisis spektrofotometri juga harus
memperhatikan pelarut yang dipakai . Pemilihan pelarut dalam analisis
spektrofotometri harus memperhatikan hal berikut,
1. Pelarut dapat melarutkan sampel dengan baik
2. Pelarut dapat meneruskan sinar sesuai panjang gelombang yang
dipakai
3. Pelarut tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkojugasi
4. Pelarut harus jernih
5. Pelarut tidak berinteraksi dengan sampel
6. Kemurniannya harus tinggi
7. Bersifat Like dissolved like
Tabel 4.3: Batas tembus sinar terendah untuk pelarut-pelarut di daerah sinar
UV-Vis
No. pelarut Lambda No. pelarut Lambda
1 Aseton 330 8 Isopropanol 215
2 95% etanol 205 9 Kloroform 245
3 Benzene 285 10 Methanol 215
4 Etil eter 205 11 Sikloheksan 215
5 Karbon tetraklorida 265 12 Piridin 305
6 Iso-oktana 215 13 Diklorometana 235
7 Karbon disulfida 375 14 Air 200
Beberapa istilah penting dalam interaksi molekul dengan pelarut atau reaktan
lain:
1. Kromofor
Gugus fungsi yang menyerap radiasi pada daerah ultraviolet, dari
ikatan π terkonjugasi yang mengalami transisi elektronik dari orbital
n ke π* dan π ke π*.
2. Auksokrom
Gugus fungsi yang mengandung pasangan elektron bebas berikatan
kovalen tunggal, yang terikat pada kromofor yang mengintensifkan
absorbsi sinar UV-Vis pada kromofor ini , baik panjang
gelombang maupun intensitasnya, misalnya gugus hidroksi, amina,
halida, alkoksi.
3. Pergeseran batokromik
Pergeseran panjang gelombang kea rah panjang gelombang yang
lebih besar (disebut pergeseran merah) akibat efek pelarut ataupun
pereaksi lain.
4. Pergeseran hipsokromik
Pergeseran panjang gelombang kearah panjang gelombang yang lebih
kecil (pergeseran biru) akibat efek pelarut ataupun pereaksi lain.
Pergeseran ini akibat dari penambahan ataupun hilangnya sistem
konjugasi sebab efek pelarut. Pelarut juga memungkinkan untuk
membentuk ikatan hidrogen yang memengaruhi konjugasi molekul.
4.3.2 Hal-hal yang harus Diperhatikan dalam Analisis
Spektrofotometri UV-Vis
Dalam analisis spektrofotometri ada beberapa hal yang harus diperhatikan
terutama pada saat kita menganalisis sampel berwarna atau berupa senyawa
kompleks. Senyawa berwarna merupakan senyawa sampel yang dapat
menyerap sinar pada daerah tampak (visibel). Pembentukan senyawa warna
sendiri dapat dilakukan dengan pengompleksan. Ketika kita mereaksikan
sampel yang awalnya jernih dengan reagen tertentu sehingga menghasilkan
senyawa kompleks, ada hal-hal yang harus diperhatikan salah satunya yaitu
waktu stabilnya reaksi.
Salah satu penerapannya yaitu pada saat kita melakukan pengukuran kadar
flavonoid, larutan baku dan sampel terlebih dahulu direaksikan dengan AlCl3
dalam kondisi asam (memakai asam asetat) dengan tujuan membentuk
senyawa kompleks berwarna kuning. Ketika sampel sudah stabil bereaksi,
sampel dapat diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada daerah sinar
tampak. Sebelum pengukuran dilakukan, kita juga harus memastikan panjang
gelombang yang dipakai merupakan panjang gelombang yang maksimal
dari senyawa yang akan dianalisis.
Gambar 4.8: Reaksi Pembentukan Kompleks Flavonoid-AlCl3
Berikut yaitu tahapan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis:
1. Pembentukan molekul yang menyerap sinar UV-Vis
Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap
pada daerah ini . Caranya dengan merubah menjadi senyawa lain
atau direaksikan dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang dipakai
harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu:
a. Reaksinya selektif dan sensitif
b. Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel
c. Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama. Keselektifan
dapat dinaikkan dengan mengatur pH, pemakaian masking agent,
atau pemakaian teknik ekstraksi.
2. Panjang gelombang maksimal
Panjang gelombang merupakan panjang gelombang yang memiliki
serapan atau absorbansi paling maksimal. Pemilihan panjang
gelombang maksimal dengan cara melakukan skrining pada rentang
200-400 nm atau 400-800 nm sampai didapatkan serapan yang paling
optimal. Adapun alasan memakai panjang gelombang maksimal
antara lain:
a. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaanya juga maksimal
sebab pada panjang gelombang maksimal ini , perubahan
absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi yaitu yang paling
besar.
b. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva
absorbansi datar dan pada kondisi ini hukum Lambert-Beer
akan terpenuhi.
c. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang
disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan
kecil sekali, ketika dipakai panjang gelombang maksimal.
3. Waktu operasional (operating time)
Cara ini biasa dipakai untuk pengukuran hasil reaksi atau
pembentukan warna. Tujuannya yaitu untuk mengetahui waktu
pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan
mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi
larutan.
4. Pembuatan kurva baku
Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis pada berbagai
konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai
konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan
hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). Bila hukum
Lambert-Beer terpenuhi, maka kurva baku berupa garis lurus.
Kemiringan atau slope yaitu a (absorptivitas).
5. Pembacaan absorbansi sampel
Absorbansi yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2
sampai 0,8 atau 15 % sampai 70 % jika dibaca sebagai transmitansi
Pemeliharaan dan Konservasi
Tumbuhan Obat
5.1 Tumbuhan Obat
Tumbuhan obat merupakan berbagai jenis tanaman yang dapat dipakai
untuk pengobatan suatu penyakit ataupun meningkatkan kesehatan. Tumbuhan
obat banyak dipakai warga untuk pengobatan secara tradisional secara
turun temurun. pemakaian tumbuhan obat oleh warga pada umumnya
tanpa takaran yang pasti, hanya berdasar pengalaman pemakaian dan
belum ada pengujian secara klinis di laboratorium . Definisi lain tentang tumbuhan obat yaitu suatu jenis tumbuhan yang
dipakai sebagian, seluruhnya atau eksudat dari tanaman yang dimanfaatkan
sebagai obat, bahan atau ramuan obat-obatan.
Tumbuhan obat dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu:
1. Tumbuhan obat tradisional, merupakan spesies tumbuhan yang
memiliki khasiat sebagai obat dan telah dimanfaatkan sebagai bahan
baku obat tradisional yang dipercayai oleh warga secara turun
temurun.
2. Tumbuhan obat modern, merupakan spesies tanaman berkhasiat obat
yang telah terbukti secara ilmiah mengandung senyawa bio aktif dan
dapat dipertanggungjawabkan secara medis.
3. Tumbuhan obat potensial, merupakan spesies tanaman berkhasiat
obat yang diperkirakan mengandung senyawa bio aktif namun belum
ada pembuktian secara ilmiah (Alqamari, Tarigan and Alridiwirsah,
2017).
Tumbuhan obat merupakan salah satu komponen penyusun obat tradisional.
Bagi warga yang tinggal di desa fungsi tumbuhan obat tradisional
sangatlah penting untuk menjaga kesehatan terutama daerah pedesaan yang
jauh dari fasilitas kesehatan. Di pedesaan tumbuhan obat banyak ditanam di
pekarangan rumah sehingga dapat dipakai sebagai pertolongan pertama saat
terjadi masalah kesehatan. Saat ini warga perkotaan juga banyak yang
memakai tumbuhan obat sebagai obat tradisional. Hal ini bukan sebab
jauh dari fasilitas kesehatan namun dipakai sebagai alternatif pengobatan
ataupun sebab harga obat modern atau obat sintesis relatif lebih mahal. Alasan
lain pemakaian obat tradisional juga disebab kan adanya pemikiran bahwa
lebih aman dengan efek samping yang lebih kecil (Dewoto, 2007).
Tumbuhan obat secara global merupakan sumber obat baru. Di negara
berkembang 80% warga sangat bergantung pada obat-obatan herbal
untuk layanan kesehatan warganya. Di negara maju lebih dari 25% obat herbal
yang diresepkan berasal dari spesies tumbuhan liar. Saat ini dengan
meningkatnya pemakaian obat herbal yang mengandung senyawa bio aktif,
menjadikan pemakaian tumbuhan obat berkembang pesat di seluruh dunia
(Chen et al., 2016).
Bagian dari tumbuhan obat yang biasanya dipakai sebagai obat tradisional
berupa daun, bunga, batang, akar, buah, biji, umbi, rimpang ataupun seluruh
bagian tanaman (herba). Bagian tumbuhan ini dapat berkhasiat dalam
pengobatan sebab mengandung senyawa aktif fitokimia hasil metabolisme
tanaman (Hakim, 2015). Contoh daun yang dapat dipakai dalam
pengobatan yaitu daun sirih (Piperis betle folium), daun kumis kucing
(Orthosiphonis staminei folium), daun kemuning (Murrayae paniculatae
folium), daun sirsak (Annonae muricatae folium). Bunga dapat juga
dimanfaatkan dalam pengobatan, contohnya bunga kesumba (Carthami
tinctorii flos), bunga rosela (Hibisci sabdariffae flos), bunga krisan
(Chrysanthemi morifolli flos), bunga sidowayah (Woodfordiae fruticosae flos).
Batang tumbuhan obat yang sering dipakai yaitu kayu kuning
(Arcangelisiae flavae caulis), batang brotowali (Tinosporae Crispae caulis),
kulit batang kayu rapat (Parameriae laevigatae cortex), kulit batang sintok
(Cinnamomi sintoc cortex), kulit batang pulasari (Alyxiae reinwardtii cortex).
Contoh bagian akar yang sering dimanfaatkan antara lain akar kucing
(Acalyphae indica radix), akar wangi (Vetiveriae zizanioidi radix), akar
kelembak (Rhei officinalis radix). Buah yang dapat dipakai sebagai obat
contohnya yaitu buah adas (Foeniculi vulgaris fructus), buah kapulaga
(Amomi compacti fructus), buah mengkudu (Morindae citrifoliae fructus),
buah cabe jawa (Piperis retrofracti fructus), buah pisang batu (Musae
balbisianae fructus) (Kemenkes RI, 2008). Biji juga dapat dipakai sebagai
obat contohnya biji pinang (Arecae catechi semen), biji wijen (Sesami
orientalis semen), biji pala (Myristicae fragransis semen), biji mahoni
(Swieteniae mahagoni semen). Contoh umbi yang dipakai dalam
pengobatan yaitu bawang putih (Allii sativi bulbus), dan kucai (Allii
schoenoprasi bulbus). Rimpang yang banyak dipakai dalam pengobatan
contohnya rimpang bengle (Zingiberis montani rhizoma), jahe merah
(Zingiberis officinalis var. Rubrum rhizoma), kencur (Kaempferiae galangae
rhizoma), kunci pepet (Kaempferiae angustifoliae rhizoma), kunyit (Curcuma
longae rhizoma), lengkuas (Alpiniae galangae rhizoma), temulawak (Curcuma
xanthorrhizae rhizoma). Contoh tumbuhan obat yang termasuk herba yaitu
herba bandotan (Agerati conyzoidi herba), herba benalu (Scurrulae
atropurpureae herba), herba patikan cina (Euphorbiae prostratae herba), herba
patikan kebo (Euphorbiae hirtae herba), dan herba pegagan (Centellae asiaticae
herba) (Kemenkes RI, 2017).
Beberapa tumbuhan obat yang telah disebutkan hanyalah sedikit contoh dari
ribuan jenis keanekaragaman hayati yang tumbuh di negara kita dan dapat
dipakai sebagai obat tradisional. Tumbuhan obat dengan ribuan jenis
ini diperlukan pemeliharaan yang baik agar tetap dapat tumbuh dengan
subur dan tidak mengalami kerusakan atau hilangnya sumber daya alam.
Setiap warga diharapkan dapat ikut serta melestarikan tumbuhan obat
yang banyak tumbuh disekitar rumah (pekarangan) menjadi apotek hidup
supaya dapat memberi manfaat untuk menjaga kesehatan keluarga.
5.2 Pemeliharaan Tumbuhan Obat
Pemeliharaan tumbuhan obat merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk
menjaga, merawat serta mengolah tumbuhan supaya dapat tumbuh dan
berproduksi dengan baik. Sumber daya alam yang banyak tumbuh di
negara kita perlu dipelihara dan dilestarikan agar tidak mengalami kepunahan.
Pertumbuhan tanaman obat termasuk rempah dan herba tergantung dari
kondisi tanah dan iklim. Kondisi tanah yang subur dan cuaca yang stabil
menjadikan rempah dan herba tumbuh dengan baik (Hakim, 2015).
Pemeliharaan suatu tumbuhan obat sangat diperlukan supaya tidak muncul
permasalahan setelah kegiatan penanaman. Permasalahan utama setelah proses
penanaman yaitu adanya kemungkinan kematian bibit dan adanya
pertumbuhan yang lambat atau abnormal.
Kematian bibit dapat terjadi beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah
proses penanaman. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi kematian bibit
yaitu keterampilan menanam atau kedalaman penanaman, kondisi tanah atau
tingkat kesuburan tanah, perubahan kondisi cuaca setelah penanaman, kondisi
bibit, kerusakan akar, serangga atau binatang, dan gulma. Kematian bibit yang
cukup banyak harus diatasi dengan dilakukan penyulaman. Penyulaman harus
dilakukan segera supaya variasi pertumbuhan tanaman yang tinggi dapat
dihindari. Bibit yang dipakai untuk penyulaman harus dalam kondisi yang
sehat, lebih besar sedikit dari rata-rata serta pertumbuhan akar yang baik
Pertumbuhan lambat atau abnormal pada tanaman dapat disebabkan sebab
kekurangan unsur hara, kondisi tanah yang sesuai, tidak adanya
mikroorganisme simbiotik dan kurangnya penyiangan. Pertumbuhan yang
lambat dapat diatasi dengan pemilihan lahan yang sesuai dengan jenis
tumbuhan obat yang akan ditanam, pemupukan untuk menambahkan unsur
hara sesuai kebutuhan, penyiangan dengan melakukan kontrol pertumbuhan
gulma di permukaan tanah sebab dapat menjadi kompetitor air tanah, hara
dan cahaya (Budi, 2006). Pemeliharaan tanaman dimulai dari pengairan,
pemupukan dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).
5.2.1 Pengairan
Pengairan merupakan bagian utama dari pemeliharaan tumbuhan. Proses
pengairan tergantung dari teknik, waktu dan cara pemberian air. Pemberian air
tergantung ketersediaan air, keadaan lahan pertanian, kebutuhan tanaman dan
metode pemberiannya. Proses pengairan dapat memakai teknik pengairan
gravitasi dan bawah permukaan jika ketersediaan air berlimpah. Apabila
jumlah air terbatas maka teknik pengairan siraman lebih menguntungkan.
Waktu dan cara pemberian air pada tumbuhan juga memengaruhi
pertumbuhan suatu tanaman. Ciri fisik tumbuhan, kondisi tanah dan iklim
dipakai sebagai pertimbangan untuk menentukan waktu pengairan.
Pertumbuhan optimal dari suatu tanaman dengan daun berwarna hijau segar,
mengkilap dan tumbuh tegak merupakan tanda bahwa kebutuhan airnya telah
cukup.
Tumbuhan yang kekurangan air akan terlihat layu sementara, yaitu pada siang
hari tampak layu dan saat sore hari terlihat segar kembali. Apabila tumbuhan
ini tidak diberi air atau tidak terkena air hujan maka akan mengalami layu
permanen, yang ditandai dengan layu pada siang dan sore hari. Kondisi layu
permanen pada tumbuhan tidak dapat diperbaiki walaupun diberikan
pengairan. Tumbuhan yang layu permanen akan mengalami kekeringan mulai
pucuk daun hingga seluruh bagiannya dan akhirnya mati. Tumbuhan yang
mengalami kelebihan air memicu tanah menjadi jenuh sehingga di dalam
tanah tidak tersedia udara dan akar tidak dapat bernapas. Kondisi seperti itu
akan memicu kendala pada pertumbuhan dan produksinya menurun
5.2.2 Pemupukan
Pupuk yaitu suatu bahan dengan kandungan unsur hara yang diberikan ke
dalam tanah atau tanaman. Pemupukan merupakan suatu upaya memberi
pupuk ke dalam tanah atau tumbuhan untuk menambah unsur hara yang belum
tersedia atau kurang dalam tanah. Pupuk yang dipakai dalam budidaya
tanaman terdiri dari 2 jenis yaitu pupuk yang berasal dari alam (pupuk organik)
dan pupuk buatan industri (pupuk organik).
Pupuk alam terbuat dari sampah atau tumbuhan yang telah mati, sisa makanan
serta kotoran hewan ternak. Contoh pupuk alam yaitu kompos, pupuk hijau
dan pupuk kandang. Pupuk organik mengandung unsur hara yang lengkap
namun jumlah setiap unsurnya kecil. Beberapa faktor yang dapat menentukan
kandungan unsur hara dalam pupuk alam antara lain umur dan jenis ternak,
makanan, jenis tumbuhan, teknik pengolahan, dan proses peruraian bahan
organik. Pupuk alam dapat berfungsi menggemburkan lapisan tanah
permukaan, menyediakan unsur hara secara lengkap, meningkatkan kesuburan
tanah, memperbaiki kelembapan tanah, meningkatkan kualitas aerasi,
memperbaiki kemampuan tanah untuk menyimpan air serta menaikkan nilai
pH tanah
Pupuk anorganik merupakan pupuk yang diproduksi suatu industri dengan
mencampur bahan kimia sehingga menghasilkan unsur hara dalam jumlah
besar yang diperlukan tumbuhan. Pupuk anorganik yang dipakai dengan
bijaksana dapat memperbaiki sifat kimia dari tanah. Kelebihan dari pupuk
anorganik antara lain jumlah pemberian dapat disesuaikan kebutuhan
tumbuhan, ketersediaan pupuk mudah diperoleh, pengangkutan lebih mudah,
harganya lebih murah. Kelemahan pupuk anorganik yaitu jika pemakaiannya
berlebihan dapat membahayakan pertumbuhan tanaman, membahayakan
manusia dan merusak tanah
Pemupukan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan berbagai teknik yaitu: (1)
disebarkan di antara tanaman secara merata diatas petakan/bedengan, (2)
diletakkan pada lubang tempat tanam, (3) diletakkan pada bagian luar
tanaman, (4) diletakkan di antara tanaman, dan (5) penyemprotan pupuk dalam
bentuk cair kebagian daun bagian bawah. Tumbuhan obat berupa umbi,
rimpang atau buah-buahan lebih sesuai memakai teknik kedua yaitu
pupuk diletakkan pada lubang benih atau bibit. Tumbuhan obat yang termasuk
tanaman tahunan atau buah-buahan dapat juga memakai teknik
pemupukan dengan diletakkan secara melingkar dibawah tajuk terluar atau
disekitar tanaman/bibit
5.2.3 Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman
(OPT)
berdasar Undang-Undang Nomor 13 tahun 2010 tentang Hortikultura yang
dimaksud dengan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yaitu semua
organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau memicu
kematian tumbuhan. Tumbuhan obat (bahan obat nabati) merupakan salah satu
tanaman hortikultura yang harus mendapatkan perlindungan dari OPT.
Organisme Pengganggu Tumbuhan dapat dikendalikan memakai bahan
kimia sintetik, bahan alami, ataupun predator (Pemerintah RI, 2010).
Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan cara: (1) identifikasi OPT
termasuk hama, penyakit atau gulma. Hama, penyakit dan gulma dapat
memicu pertumbuhan dan produksi tanaman terganggu serta gagal
panen. (2) identifikasi jenis hama dan kerusakan yang ditimbulkannya.
berdasar ukuran tubuhnya ada empat kelompok hama yaitu mamalia
(babi hutan, burung), rodentia (tikus, tupai), antropoda (serangga, hama
penggerek/ulat), nematoda (cacing, ulat tanah)
Kerusakan tumbuhan sebab hama memicu kondisi tanaman mengalami
kelainan yang berbeda dengan tanaman yang dirusak oleh hama. Ciri-ciri
tumbuhan yang mengalami kelainan yaitu terjadi perubahan warna pada
bagian tanaman, tumbuhan menjadi layu sebab sel jaringan dirusak oleh hama
hingga memicu kematian, tanaman kerdil sebab fungsi jaringan
terganggu, kerusakan bagian tumbuhan (daun sobek, berlubang, daun saling
melekat atau menggulung, hanya tertinggal tulang daunnya), muncul
cendawan jelaga atau bercak klorosis (kuning) atau bercak putih keperakan
pada bagian daun.
Kerusakan tumbuhan sebab penyakit memicu pertumbuhan tidak akan
normal, kegagalan pertumbuhan dan produksi tanaman. Gejala penyakit
tumbuhan meliputi:
1. Pada bagian kulit kayu dan daun mengalami kematian jaringan.
Bercak yang awalnya berwarna kuning, kemudian menjadi cokelat
atau hitam sebab terkena jamur, virus, bakteri, atau serangga.
2. Hipoplasia, pertumbuhan tanaman tidak mencapai ukuran normal
sebab kekurangan sel (kerdil).
3. Hiperplasia atau hipertropi, pertumbuhan tanaman luar biasa sebab
pembesaran sel.
4. Perubahan warna, daun menguning kemudian gugur, bercak kuning
sebab infeksi virus, merah dan merah keunguan sebab
pembentukan antosianin, daun keperak-perakan sebab sel epidermis
rusak sehingga sel kering dan terisi udara, bercak air sebab dinding
sel telah mati.
5. Kekeringan atau layu, daunnya gugur dan diikuti keringnya batang
daun tunas yang disebabkan sebab jamur nematoda.
Organisme yang memiliki potensi sebagai patogen atau penyebab penyakit
pada tumbuhan yaitu jamur, bakteri, virus, dan gulma. (1) Penyakit
tumbuhan sebab jamur antara lain penyakit bercak daun, penyakit karat,
penyakit busuk tongkol dan biji. Penyakit yang disebabkan oleh jamur dapat
terjadi sebab faktor suhu, angin, unsur hara, kelembapan dan curah hujan. (2)
Gejala penyakit tumbuhan sebab bakteri yaitu terjadi pembusukan, bercak
daun (bakteri berpenetrasi pada stomata daun), penyakit pada jaringan
pembuluh yang bersifat sistemik. (3) Gejala penyakit tumbuhan sebab virus
ialah penurunan laju pertumbuhan dari tanaman (kerdil), muncul perbedaan
warna pada daun, bunga atau buah, muncul warna kehijauan pada bunga dan
ring sport (adanya cincin klorosis atau bercak pada daun, buah atau batang).
(4) Gulma dapat mengganggu pertumbuhan tanaman sehingga dapat
menurunkan hasil produksi.
Keberadaan hama dapat dikendalikan dengan cara mengurangi populasi
organisme pengganggu serta menjaga keseimbangan ekosistem alami.
Pengendalian hama dapat dilakukan dengan cara:
1. Pengendalian secara fisik dapat dilakukan untuk mematikan hama,
mengganggu aktivitas fisiologi hama, mengubah lingkungan menjadi
tidak sesuai untuk kehidupan hama. Pengendalian fisik dapat
dilakukan dengan pemanasan > 45°C, pembakaran, pendinginan <
5°C, pengeringan dan lampu perangkap.
2. Pengendalian mekanik dilakukan untuk mematikan atau
memindahkan hama secara langsung dengan tangan atau bantuan
alat. Pengendalian mekanik dapat dilakukan dengan memasang
perangkap, dan pengusiran.
3. Kultur teknis dilakukan dengan cara mengelola lingkungan atau
ekosistem sehingga tidak cocok untuk kehidupan OPT. Teknik ini
dapat dilakukan dengan sanitasi (pembersihan), pengolahan lahan
sehingga dapat membunuh hama, gulma, telur, larva atau pupa yang
hidup dalam tanah.
4. Pengendalian biologi (hayati) dilakukan dengan memanfaatkan
parasitoid, predator dan patogen yang merupakan musuh alami.
5. Pengendalian kimiawi dengan memakai pestisida. pemakaian
pestisida harus tepat sesuai dengan jenis organisme pengganggu yang
akan dikendalikan serta tepat dosis supaya tidak merusak tumbuhan,
tidak membunuh musuh alami, tidak membahayakan manusia dan
hewan ternak.
5.3 Konservasi Tumbuhan Obat
Word Health Organization (WHO) memperkirakan 80% orang di seluruh
dunia tergantung pada sistem pengobatan tradisional untuk layanan kesehatan.
Menurut WHO ada sekitar 21.000 jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan
sebagai tumbuhan obat. Pengobatan dengan tanaman obat dinilai lebih aman
sebab menimbulkan efek samping yang minimal serta tidak bergantung pada
kelompok usia dan jenis kelamin (Kadam and Pawar, 2020).
Menurut International Union for Conservation of Nature and the Word
Wildlife Fund, ada 50.000 hingga 80.000 spesies tumbuhan yang
dimanfaatkan untuk pengobatan di seluruh dunia. Di antara spesies ini ,
kurang lebih 15.000 spesies terancam punah sebab adanya perusakan habitat
tempat tumbuh tanaman obat serta dilakukan pemanenan dalam jumlah besar.
Sebanyak 20% sumber daya hayati yang tumbuh liar hampir punah seiring
dengan meningkatnya jumlah manusia dan pemanfaatan tanaman. Banyaknya
spesies yang hilang dan perusakan habitat tumbuhan obat di seluruh dunia
dapat menimbulkan risiko kepunahan spesies tanaman obat
Meningkatnya permintaan tumbuhan obat memicu penebangan hutan
yang tidak rasional dan memicu menipisnya tanaman obat yang hidup di
alam liar. Adanya bencana alam ataupun bencana akibat ulah manusia
memicu semakin berkurangnya keanekaragaman tumbuhan obat. Hutan
hujan tropis yang merupakan habitat dari sekitar setengah tanaman di dunia
diperkirakan berkurang 16,8 juta hektar/tahun. Tumbuhan obat memiliki risiko
yang besar terjadi erosi genetik (hilangnya keanekaragaman genetik pada
tumbuhan) dan kepunahan akibat adanya eksploitasi . Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadi kepunahan tumbuhan
obat yaitu dengan konservasi tanaman
Konservasi merupakan suatu usaha pelestarian dan perlindungan secara cermat
terhadap sumber daya alam atau habitat tumbuhan obat melalui pengelolaan
yang terencana. Konservasi bertujuan untuk mendukung ke berlanjutan
sumber daya hayati dengan cara tidak merusak ekosistemnya dan tidak
menghabiskan keanekaragaman spesies tumbuhan obat (Kadam and Pawar,
2020). Langkah awal untuk melakukan konservasi tumbuhan obat yaitu
melakukan identifikasi spesies yang paling berisiko mengalami kepunahan.
Penyebab kelangkaan atau kepunahan tumbuhan obat yaitu adanya eksploitasi
yang berlebihan, pengumpulan tanaman secara sembarangan, penggundulan
hutan yang tidak terkendali, perusakan habitat serta karakter biologis setiap
spesies. Karakter biologis berkorelasi dengan risiko kepunahan tumbuhan obat
antara lain kekhususan habitat, jangkauan sebaran, ukuran populasi,
keanekaragaman spesies, laju pertumbuhan, dan sistem reproduksi
Konservasi tumbuhan obat dapat dilakukan melalui usaha pengumpulan
informasi, pengkajian konservasi dan perencanaan pengelolaan, kebijakan dan
peraturan, konservasi in situ, konservasi warga , konservasi ex situ,
praktek pertanian yang baik, pendidikan dan penelitian
5.3.1 Pengumpulan Informasi
Pengumpulan informasi bertujuan untuk melakukan identifikasi spesies
tumbuhan obat yang memiliki risiko mengalami kepunahan. Kepunahan
tumbuhan obat dapat dideteksi dari adanya kelangkaan spesies, sehingga perlu
upaya konservasi. Informasi tentang seberapa langka setiap spesies tumbuhan
obat penting diketahui untuk menentukan langkah konservasi
Tahap pengumpulan informasi dapat juga dilakukan dengan cara wawancara
untuk mendokumentasikan prevalensi perdagangan tumbuhan obat secara
komersial. Metode ini juga dipakai untuk melakukan penyelidikan dan
mengidentifikasikan keanekaragaman spesies tanaman obat yang dipanen
secara liar. Pada tahap ini dapat menghasilkan daftar nama spesies tumbuhan
obat yang paling sering dipanen, mahal, langka dan ketersediaan tanaman
ini . Tahap survey pasar dilakukan untuk mengidentifikasikan
keanekaragaman spesies yang diperdagangkan secara komersial dan
diprioritaskan untuk konservasi
5.3.2 Pengkajian Konservasi dan Perencanaan Pengelolaan
Pengkajian konservasi dan perencanaan pengelolaan tumbuhan obat dapat
dilakukan dengan melihat distribusi geografis dan karakteristik biologis spesies
tanaman untuk memandu kegiatan konservasi dan menentukan tempat
konservasinya di alam atau dipembibitan . Metode
pengkajian konservasi dan perencanaan pengelolaan dilakukan juga untuk
memprioritaskan spesies yang akan konservasi. Spesies yang akan
dikonservasi diidentifikasi memakai kriteria prioritas yang dapat
menunjukkan praktek etnobotani Etnobotani merupakan
ilmu yang mengkaji hubungan budaya manusia di suatu daerah dalam
memanfaatkan tumbuhan yang hidup disekitarnya. Etnobotani tidak dapat
dilepaskan dari cabang ilmu etnoekologi yaitu suatu pengelolaan sumber daya
alam atau lingkungan oleh warga secara berkelanjutan
Pada tahap pengkajian konservasi yang dihubungkan dengan etnobotani dari
spesies tumbuhan sehingga akan diketahui informasi tentang tumbuhan obat
yang dikaji, misalnya bagian tanaman yang dipakai . Pada tahap ini akan
diperoleh informasi tentang kelangkaan spesies tertentu di alam liar akibat
pemanenan berlebihan sebab permintaan lokal atau diekspor. Spesies yang
langka sering dimanfaatkan dan diperjualbelikan dengan harga yang tinggi,
sehinga akan dipanen dalam jumlah besar yang akan berimbas pada
ketersediaan spesies ini . Perlu mendapatkan perhatian lebih jika bagian
dari spesies ini yang dipakai yaitu akar atau kulit kayu sebab
berfungsi sebagai jalur makanan dalam suatu tanaman. Apabila spesies
ini memiliki kegunaan lain selain sebagai obat, misalnya kayu, maka
spesies ini akan dieksploitasi secara berlebihan sehingga dapat
meningkatkan laju kepunahan. Proses inventarisasi spesies tumbuhan obat
dipakai untuk mendapatkan gambaran mengenai jumlah spesies tumbuhan
obat yang terancam punah. Hasil pengkajian dapat dipakai sebagai
pertimbangan untuk melakukan konservasi pada spesies ini untuk
menjamin keseimbangan berkelanjutan antara ketersediaan dan permintaan
tumbuhan obat
5.3.3 Kebijakan dan Peraturan
Kebijakan dan peraturan pemerintah perlu ditegakkan sebagai cara untuk
melestarikan tumbuhan obat. Kebijakan dan peraturan pemerintah merupakan
upaya untuk mengatur pemanfaatan tumbuhan obat secara bertanggung jawab.
Pemerintah diharapkan terlibat langsung dalam pengawasan tumbuhan obat
dan melakukan penegakan hukum pada pihak yang memicu kepunahan
sumber daya alam dengan membuat dan menetapkan undang-undang atau
peraturan tentang konservasi.
Kebijakan dan peraturan yang dibuat mencakup pengelolaan sumber daya
spesies tumbuhan obat dengan memantau pemanenan. Untuk tumbuhan obat
dengan jumlah terbatas dan pertumbuhan lambat, pemanenan yang merusak
dapat mengakibatkan habisnya sumber daya dan kepunahan spesies.
Pemanenan akar dan seluruh tanaman, misalnya herba, semak atau pohon,
dapat merusak tumbuhan obat jika dibandingkan pemanenan daun, bunga atau
kuncupnya Pemanenan hanya boleh dilakukan oleh orang
yang telah terlatih dan memiliki izin, dengan sistem pemanenan bergilir.
Pemanenan hanya diberikan izin kepada orang yang terdaftar untuk memanen
spesies tumbuhan obat tertentu dengan pembatasan jumlah yang dipanen.
Membuat peraturan yang melarang orang asing memanen spesies tumbuhan
obat tanpa izin tertulis dari departemen yang berwenang. Orang harus
memiliki kartu identitas saat memanen untuk menunjukkan bahwa dirinya
telah terdaftar dan memiliki hak untuk memanen dalam jumlah yang sah di
suatu wilayah. Hal ini dapat menyeimbangkan jumlah permintaan dan
penawaran spesies tumbuhan obat. Kebijakan dan peraturan yang dibuat harus
juga mempertimbangkan hak atas tanah. Orang yang melakukan pemanenan
harus selalu memiliki hak untuk memanen tumbuhan obat secara
berkelanjutan di tanah yang dibeli, diwariskan atau disewakan. Kebijakan dan
peraturan yang dibuat harus dapat memastikan pengembangan spesies
tumbuhan obat secara berkelanjutan, menentukan biaya yang harus dibayarkan
atas perusakan habitat tumbuhan obat
5.3.4 Konservasi In situ
Sistem konservasi in situ merupakan pedoman untuk melestarikan sumber
daya alam hayati yang rentan di lingkungan habitat asalnya. Konservasi in situ
dapat juga mendorong proses evolusi dan adaptasi yang sedang berlangsung di
lingkungan tanpa campur tangan manusia. Konservasi in situ merupakan
bentuk konservasi terbaik dan efisien sebab tumbuhan obat akan
diperkenalkan kembali ke habitat aslinya. Sistem konservasi in situ supaya
berhasil maka pemanenan tumbuhan obat yang tidak berkelanjutan di kawasan
konservasi harus dihindari
Konservasi in situ memiliki tujuan untuk melindungi ekosistem tumbuhan
obat, menjaga keutuhan dan keaslian spesiesnya melalui proses evolusi.
Kawasan konservasi in situ perlu diperluas supaya dapat memelihara ekologi,
mempertahankan keanekaragaman genetik, menjadi penopang kehidupan,
menjamin kebermanfaatan tumbuhan obat, pelestarian dan keberlanjutannya.
Konservasi in situ dapat meningkatkan jumlah keanekaragaman tumbuhan
obat yang dapat dilestarikan dan pemanfaatan berkelanjutan. Upaya konservasi
in situ berfokus pada kawasan yang dilindungi dan berorientasi pada ekosistem
bukan pada spesies. Keberhasilan konservasi in situ bergantung juga pada
peraturan, regulasi, dan potensi pengembangan tumbuhan obat dalam habitat
pertumbuhannya
5.3.5 Konservasi warga
Konservasi warga didefinisikan sebagai ekosistem alami dan
termodifikasi dengan keanekaragaman hayati yang signifikan, nilai-nilai
ekologi dan budaya terkait. Cara ini menawarkan konservasi jangka panjang
terhadap spesies yang terancam punah. warga dengan sukarela
melestarikan spesies tumbuhan obat yang terancam punah. Konservasi
warga memiliki keuntungan dalam memberdayakan warga lokal
sebagai komunitas yang dapat berkontribusi terhadap pengelolaan konservasi
in situ spesies tumbuhan obat secara berkelanjutan. Konservasi spesies
tumbuhan obat yang efektif yaitu dengan memastikan bahwa nilai komersial
spesies tanaman obat di warga dapat memberi dampak pada
peningkatan perekonomian
5.3.6 Konservasi Ex situ
Konservasi ex situ merupakan usahan untuk melestarikan sumber daya alam di
luar habitat aslinya dengan tujuan menjaga dan mengembangbiakkan jenis
tumbuhan obat. Konservasi ex situ menjadi pelengkap yang efektif dari
konservasi in situ, terutama bagi tumbuhan obat yang dieksploitasi secara
berlebihan dan terancam punah dengan pertumbuhan lambat, ketersediaannya
di alam rendah dan rentan terhadap penyakit. Konservasi ex situ bertujuan
untuk membudidayakan dan menaturalisasikan spesies yang terancam punah
sehingga dapat menjamin keberlangsungan hidup tumbuhan obat dan
menghasilkan bahan baku pembuatan obat-obatan. Hal ini merupakan
upaya untuk melestarikan sumber daya tumbuhan obat
Konservasi ex situ dapat dilakukan melalui bank benih dan budidaya
(penangkaran). Kegiatan ini dapat dilakukan di kebun raya, kebun botani,
cagar alam, taman hutan atau taman kota. Konservasi tumbuhan ex situ lebih
menantang dan harus dipakai sebagai pelengkap konservasi in situ.
Menurut WHO bank benih merupakan sistem konservasi ex situ tanaman yang
unggul. Lahan yang diperlukan kecil namun mampu menampung spesies dalam
jumlah yang besar. Sistem konservasi bank benih supaya dapat efektif harus
ada perjanjian hukum antara negara asal dengan badan/organisasi asing yang
melakukan konservasi tumbuhan obat. Konservasi bank benih diutamakan
untuk tanaman yang tumbuh lambat dan terancam punah
Bank benih merupakan cara yang lebih baik untuk menyimpan
keanekaragaman genetik tumbuhan obat secara ex situ jika dibandingkan
dengan kebun raya, dan direkomendasikan untuk membantu melestarikan
keanekaragaman hayati dan genetik spesies tanaman liar. Bank benih
memungkinkan akses yang relatif cepat terhadap sampel tumbuhan untuk
mengevaluasi sifat-sifatnya sehingga dapat memberi informasi yang
bermanfaat untuk melestarikan populasi alami yang tersisa. Bank benih
memiliki tantangan yang besar dalam upaya mengembalikan spesies tanaman
ke alam liar dan secara aktif membantu pemulihan populasi di alam liar
Cara lain dari konservasi ex situ untuk melestarikan dan mengurangi
eksploitasi berlebihan pada tumbuhan obat yang langka di alam liar yaitu
dengan budidaya. Tanaman yang dapat dibudidayakan sebagian besar yaitu
spesies yang dapat tumbuh dengan cepat, memiliki banyak kegunaan dan
mendatangkan keuntungan. Tumbuhan obat dibudidayakan dalam jumlah
besar dan murah agar dapat bersaing dengan tumbuhan oba yang dipanen
secara liar. Apabila tumbuhan obat yang dibudidayakan dijual dengan harga
murah dan persediaan dipasaran meningkat maka jumlah orang yang
melakukan pemanenan secara liar akan berkurang sehingga dapat mengurangi
eksploitasi berlebihan terhadap tumbuhan obat.
Budidaya tidak dapat dilakukan pada tanaman obat yang tumbuh lambat.
Umumnya spesies tanaman obat yang tumbuh di habitat aslinya lebih kuat
dibandingkan yang ditanam di luar habitatnya. Hal ini sebab adanya
perbedaan jenis tanah, keanekaragaman hayati, iklim dan faktor yang lainnya.
Budidaya lokal yang dapat dilakukan oleh setiap warga yaitu menanam
tumbuhan obat di pekarangan rumah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk
menunjang kesehatan anggota keluarga. Contoh tumbuhan obat yang dapat
dibudayakan di pekarangan rumah yaitu Acacia senegalensis, Annona
squamosa, Ann. cherimola, lidah buaya
Keuntungan budidaya spesies tumbuhan obat yaitu: (1) dapat mengurangi
tekanan pemanenan terhadap spesies langka dan terancam punah, (2) genotipe
tumbuhan obat terjaga tetap terstandarisasi atau ditingkatkan, (3) dapat
menjamin pasokan bahan baku obat yang berkelanjutan, (4) volume produksi
dan harga dapat stabil untuk jangka waktu yang lebih lama. Kerugian budidaya
spesies tumbuhan obat yaitu dibutuhkan investasi besar sebelum dan selama
produksi serta dapat mempersempit keragaman genetik pada sumber daya liar
5.3.7 Praktek Pertanian yang Baik
Praktek pertanian yang baik pada penanaman tumbuhan obat dapat mengatur
hasil produksi, menjamin kualitas, dan memfasilitasi standarisasi obat herbal.
Praktek pertanian yang didukung dengan ilmu pengetahuan dapat mengatasi
berbagai masalah selama penanaman sehingga obat herbal yang dihasilkan
memiliki kualitas yang tinggi, aman dan bebas polusi. Praktek pertanian yang
baik meliputi aspek lingkungan ekologi tempat produksi, plasma nutfah,
budidaya, kualitas deteksi pestisida, identifikasi kimia senyawa bio aktif dan
inspeksi unsur logam. Pertanian organik merupakan contoh praktek pertanian
yang baik, yang bertujuan untuk menghasilkan bahan baku obat dengan
kualitas lebih baik dan produktivitas tinggi, serta memastikan konservasi dan
pemanfaatan tumbuhan obat secara berkelanjutan.
Pertanian organik tidak memakai pupuk sintesis, pestisida dan herbisida.
pemakaian pupuk organik secara terus menerus dapat menyuplai unsur hara
tanah dan meningkatkan stabilitas tanah, sehingga sangat memengaruhi
pertumbuhan tanaman obat dan senyawa aktif yang dihasilkan. Pertanian
organik tidak membahayakan lingkungan dan bergantung pada sumber daya
terbarukan untuk menjaga proses biologis tumbuhan obat dan keseimbangan
ekologi habitat. Pertanian organik tumbuhan obat menjadi sangat penting
dalam pengembangan jangka panjang dan ke berlanjutan tanaman obat
5.3.8 Pendidikan dan Penelitian
Pendidikan dan penelitian merupakan langkah penting dalam konservasi
tanaman obat. Pendidikan diperlukan bagi generasi muda agar memiliki
kesadaran penuh terhadap permasalahan lingkungan. Upaya lainnya yaitu
menciptakan dan meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya
tumbuhan obat bagi kehidupan warga . warga perlu mendapatkan
informasi pentingnya konservasi spesies tumbuhan obat dan praktek budidaya
untuk menghindari kepunahan tanaman obat. Penelitian tentang khasiat
tumbuhan obat juga perlu terus dilakukan yang akan berdampak pada
budidaya dan pemanenan tanaman obat untuk produksi farmasi
Penelitian pembuatan obat tradisional berbahan dasar tanaman hutan
(tumbuhan liar) atau bersifat etnobotani perlu dikembangkan sebab generasi
muda saat ini kurang berminat untuk mempelajari metode pengobatan
tradisional . Selain pengembangan penelitian warga juga
perlu dilibatkan secara penuh dalam usaha pelestarian sumber daya alam untuk
meningkatkan kepedulian dalam melestarikan alam. Wujud nyata kepedulian
warga pada pelestarian alam dapat terlibat aktif dalam kelompok pecinta
alam, kader konservasi ataupun kelompok wanita tani dan lain sebagainya.
Etnobotani: Menelusuri
Kearifan Lokal
negara kita memiliki wilayah yang strategis di garis khatulistiwa, di antara dua
benua dan dua samudera sehingga memiliki iklim tropis sepanjang tahun.
Keberuntungan eko geografis ini memberi peluang negara kita menjadi
pusat keanekaragaman biologi baik hewan maupun tumbuhan. Hutan hujan
tropis negara kita seluas lebih dari 120 juta hektar, merupakan tempat tumbuh
bagi 10 % tumbuhan berbunga dunia yang jumlahnya mencapai 30.000
spesies.
Salah satu hasil hutan hujan tropis yang memiliki banyak manfaat dan
memiliki potensi luar biasa yaitu tanaman obat. Tanaman obat yaitu
kekayaan sumberdaya hayati negara kita yang tinggi. Banyak spesies tanaman
obat negara kita bersifat endemik dan tidak ditemukan di wilayah lain di dunia.
Keunggulan lain yaitu tanaman obat negara kita tumbuh di wilayah tropis
dengan sinar matahari sepanjang tahun yang mampu menghasilkan kandungan
aktif berkualitas tinggi. Tidak diragukan lagi sejak dulu negara kita menjadi
negara penghasil rempah-rempah kelas dunia yang diincar oleh banyak negara.
Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi
keanekaragaman biologi ini sebagian telah dieksplorasi dan
dikembangkan menjadi produk unggulan yang bukan saja untuk warga
dalam negeri namun juga utk komoditi ekspor. Dalam dua dasawarsa terakhir,
telah terjadi perubahan gaya hidup penduduk dunia. warga dunia kembali
mencari keseimbangan dari alam untuk mendukung kehidupan. Mereka
percaya bahwa keseimbangan alam yaitu kunci keberlangsungan kehidupan
manusia. Pola kembali ke alam ini diterapkan hampir di setiap sisi kehidupan.
Pada saat ini warga semakin berminat memakai tanaman obat
sebagai jamu untuk memelihara kesehatan dan kebugaran serta sebagai
pengobatan. Salah satu upaya yaitu dengan mencari alternatif pengobatan
berbasis alam yakni dengan tanaman obat.
6.2 Etnobotani
Etnobotani yakni suatu pengetahuan yang mempelajari hubungan antara
manusia dengan tumbuhan. Hingga saat ini ruang lingkup kajian etnobotani
semakin berkembang dan meliputi sejumlah aspek botani dari berbagai bidang.
Enam bidang utama yang termasuk dalam penelitian etnobotani antara lain
etnoekologi, farmasi, kesehatan, pertanian tradisional, material budaya serta
etnobotani kognitif
Pengenalan etnobotani kepada warga dapat meningkatkan pengetahuan
warga tentang pemanfaatan tumbuhan yang berpotensi sebagai obat
secara maksimal. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat secara maksimal dapat
meningkatkan kesehatan dan ekonomi warga . Studi etnobotani tentang
tanaman obat sangatlah penting untuk dilakukan guna mengetahui
pemanfaatan tanaman obat dan sebagai upaya dalam melestarikan alam serta
kearifan lokal tentang pemanfaatan tanaman obat. Etnobotani dapat
dipergunakan sebagai salah satu alat untuk mendokumentasikan pengetahuan
warga tradisioal, warga awam yang telah memakai berbagai
macam tumbuhan untuk menunjang kehidupan. Etnobotani yang bertumpu
kehidupan manusia dalam pemanfaatan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar,
dapat meningkatkan daya hidup manusia.
Keunikan negara kita yang memiliki keanekaragaman biodiversitas terbesar
kedua setelah Brasil memiliki keunggulan komparatif dalam menumbuhkan
ilmu pengetahuan ini .
Keanekaragaman kultur negara kita yang tersebar dalam ribuan pulau
membentuk mozaik kehidupan yang tidak ada duanya di dunia.
6.2.1 Manfaat Tumbuhan dalam Etnobotani
Pengetahuan klasifikasi tumbuhan secara fungsional telah tertulis dalam Serat
Centhini yang ditulis pada 1814 M memakai candrasangkala Pakso Suci
Sabda Ji, yang artinya tahun Jawa 1742. Serat Centhini memuat berbagai
pengetahuan yang sangat lengkap. Pengetahuan warga Jawa yang
berkaitan dengan kedudukan dirinya di alam semesta yang dikenal dengan
Memayu Hayuning Bawono, yang bermakna menjaga bumi demi
kemakmuran dan kesejahteraan alam seisinya (Basuki, 2008). warga
Jawa memandang alam dan lingkungan secara holistik, sebagai satu sistem
yang terdiri atas alam makro dan alam mikro. Manusia dan makhluk seisinya
merupakan bagian dari sistem ini . Alam merupakan wadah bagi manusia
untuk hidup, membina hubungan vertikal dan horizontal dan mengelola
sumber daya yang tersedia. Manifestasi konsep ini antara lain
pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam dan menjalin hubungan secara
vertikal dalam bentuk berbagai ritual pemujaan dan pengkeramatan.
Serat Centhini juga membahas pengetahuan botani warga pada zaman
ini , terutama dalam pengenalan, dan penamaan. Penggolongan atau
klasifikasi dan penamaan tumbuhan didasarkan morfologis, habitus dan cara
penyebaran. Penggolongan buah buahan tidak hanya buah yang dimaksud
dalam bahasa umum dan bahasa lmiah. Kelompok umbi-umbian digolongkan
polo kapendhem, yang berarti terpendam dalam tanah. Timun dan semangka
digolongkan polo kasimpar, yaitu buah terserak atau terhampar. Mangga dan
pepaya digolongkan polo ganthung, yaitu buah tergantung. Biji-biji
digolongkan polowija, randu digolongkan polokirno, yaitu buah tersebar dan
kelapa sebagai polokucilo, yaitu buah terasing dan lainnya. Penggolongan jenis
tumbuhan berdasar keunikan ciri, merupakan salah satu kajian etnobotani
tentang persepsi, upaya kelompok warga tertentu dalam melakukan
upaya cepat mengenali jenis sumberdaya yang apat dimanfaatkan. Nilai guna
jenis jenis tumbuhan yang tercantum dalam Serat Centhini mencakup
kebutuhan hidup keseharian. Kebutuhan hidup keseharian mencakup; bahan
pangan, bahan obat-obatan, bahan bangunan, kayu bakar, bahan ritual, bahan
pewarna, bahan kosmetika dan lainnya, serta pengetahuan cara pemakaian .
6.3 Kearifan Lokal dalam Pengobatan
Bangsa negara kita merupakan bangsa yang majemuk. warga nya terdiri
dari berbagai macam suku bangsa yang tersebar di seluruh kawasan Nusantara.
Setiap suku di setiap daerah memiliki kebudayaan yang dikembangkan secara
turun-temurun. Kemajemukan budaya yang dimiliki setiap suku pada dasarnya
merupakan kekayaan bangsa negara kita . berdasar realitas, kekayaan
budaya yang dimiliki oleh bangsa negara kita banyak yang belum
dikembangkan secara proporsional. Dalam arti lain, belum sepenuhnya
menyentuh warga sebagai media penumbuhan jati diri bangsa dan
sebagai sumber potensi diri.
Keragaman budaya sejatinya dapat dijadikan modal untuk memperkuat
identitas kebangsaan. Di samping itu, keragaman budaya termasuk kesenian
dimungkinkan dapat dijadikan komoditas nasional yang dapat memberi
kontribusi bagi kesejahteraan warga . Bali misalnya, merupakan salah satu
contoh wilayah yang menjadikan produk budaya warga nya sebagai
komoditas yang laku dijual. Kontribusi produk budaya seperti kesenian
tradisional di Bali hendaknya dijadikan inspirasi bagi daerah-daerah lain di
Nusantara. Pelestarian budaya secara umum dapat didefinisikan segala
perilaku atau tindakan (upaya) yang bertujuan untuk mempertahankan keadaan
dan keberadaan suatu peninggalan generasi masa lampau melalui proses
inventarisasi, dokumentasi, dan revitalisasi. Salah satu prioritas dalam
pembangunan nasional yaitu pelestarian (perlindungan, pemanfaatan,
pemeliharaan, dan pengembangan) terhadap warisan budaya sebagai aset
bangsa yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan ekonomi.
Pelestarian budaya ini bermanfaat dalam upaya:
1. Mengetahui, memahami, dan menghargai prestasi-prestasi atau
pencapaian-pencapaian nenek moyang sebuah warga atau
bangsa.
2. Menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih
baik tanpa mengulangi kesalahan masa lalu.
3. Menjadikan deposit yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan
kesejahteraan warga sebab tinggalan budaya merupakan saksi
sejarah perjalanan bangsa negara kita dari zaman ke zaman dengan
berbagai kondisi perkembangan dunia.
Kebudayaan merupakan salah satu perwujudan jati diri bangsa yang
memiliki ciri khas dari gambaran kehidupan warga negara kita dari
berbagai etnik. Kelangsungan hidup sebuah bentuk tradisi kebudayaan
khususnya pengobatan tradisional agar tetap hidup dan berkembang sangat
ditentukan oleh peranan kebijakan pemerintah dan kepedulian warga .
Pengobatan tradisional merupakan salah satu wujud kearifan lokal di antaranya
berfungsi untuk menjaga keseimbangan hidup.
Obat tradisional yaitu obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun
temurun, berdasar resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau
kebiasaan setempat, baik bersifat magic maupun pengetahuan tradisional.
Menurut penelitian masa kini, obat-obatan tradisional memang bermanfaat
bagi kesehatan, dan kini digencarkan pemakaian nya sebab lebih mudah
dijangkau oleh warga , baik harga maupun ketersediaannya. Obat
tradisional pada saat ini banyak dipakai sebab menurut beberapa penelitian
tidak terlalu memicu efek samping dan masih bisa dicerna oleh tubuh.
Beberapa perusahaan mengolah obat-obatan tradisional yang dimodifikasi
lebih lanjut. Media dan bagian dari obat tradisional yang bisa dimanfaatkan
yaitu air putih, akar, rimpang, batang, buah, daun, dan bunga.
pemakaian bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung
meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis
berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli warga . Obat
tradisional dan tanaman obat banyak dipakai warga menengah
kebawah terutama dalam upaya preventif, promotif dan rehabilitatif.
Sementara ini banyak orang beranggapan bahwa pemakaian tanaman obat
atau obat tradisional relatif lebih aman dibandingkan obat sintesis. Walaupun
demikian bukan berarti tanaman obat atau obat tardisional tidak memiliki efek
samping yang merugikan, bila pemakaian nya kurang tepat. Agar
pemakaian nya optimal, perlu diketahui informasi yang memadai tentang
kelebihan dan kelemahan serta kemungkinan penyalahgunaan obat tradisional
dan tanaman obat. Dengan informasi yang cukup diharapkan warga lebih
cermat untuk memilih dan memakai suatu produk obat tradisional atau
tumbuhan obat dalam upaya kesehatan.
Efek samping obat tradisional relatif kecil jika dipakai secara tepat, yang
meliputi:
1. Kebenaran bahan, tanaman obat di negara kita terdiri dari beragam
spesies yang kadangkala sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain.
Kebenaran bahan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang
diinginkan
2. Ketepatan dosis, tanaman obat, seperti halnya obat sintesis juga tidak
dapat dikonsumsi sembarangan. Tetap ada dosis yang harus dipatuhi,
seperti halnya resep dokter. Buah mahkota dewa (Phaleria
macrocarpa), misalnya, hanya boleh dikonsumsi dengan
perbandingan 1 buah dalam 3 gelas air, sedangkan daun mindi (Melia
azedarach, L.) baru berkhasiat jika direbus sebanyak 7 lembar dalam
takaran air tertentu
3. Ketepatan waktu pemakaian , misalnya kunyit diketahui bermanfaat
mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam
ramuan jamu kunyit asam yang sangat baik dikonsumsi saat datang
bulan. Akan namun jika diminum pada awal masa kehamilan berisiko
memicu keguguran. Hal ini menunjukkan bahwa ketepatan
waktu pemakaian obat tradisional menentukan tercapai atau
tidaknya efek yang diharapkan
4. Ketepatan cara pemakaian , satu tanaman obat dapat memiliki
banyak zat aktif yang berkhasiat di dalamnya. Masing-masing zat
berkhasiat kemungkinan membutuhkan perlakuan yang berbeda
dalam pemakaian nya. Sebagai contoh yaitu daun kecubung
(Datura metel) jika dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan
dipakai sebagai obat asma. Akan namun , jika diseduh dan diminum
dapat memicu keracunan
5. Ketepatan telaah informasi, perkembangan teknologi informasi saat
ini mendorong derasnya arus informasi yang mudah untuk diakses.
Informasi yang tidak didukung oleh pengetahuan dasar yang
memadai dan telaah atau kajian yang cukup seringkali mendatangkan
hal yang menyesatkan. Ketidaktahuan dapat memicu obat
tradisional berbalik menjadi bahan membahayakan.
Peluang studi kekinian etnobotani dalam mengungkapkan nilai (ekologi,
ekonomi, etik, instrinsik) dan pembuktian ilmiah pengetahuan lokal, kearifan
lokal, dan kecerdasan lokal, secara terperinci yaitu sebagai berikut.
1. Pengungkapan potensi dan meningkatkan nilai sumber daya
tumbuhan dan ekosistem. Sebagai contoh, pengungkapan potensi
bambu aya (Gigantochloa aya) yang merupakan jenis tumbuhan
endemik Pulau Bali dipercaya dapat mengobati demam
2. Memperkuat warga lokal dalam pengelolaan sumber daya
tumbuhan dan ekosistem melalui penguatan kelembagaan dan peran
warga . Sebagai contoh, studi situs keramat alami dan tata guna
lahan warga Sasak meng-ungkapkan sistem pengelolaan sumber
daya tumbuhan dan ekosistemnya yang secara ekologis dapat
dipertanggungjawabkan keilmiahannya
3. Mendukung pelestarian sumber daya tumbuhan, ekosistem, dan
budaya. Sebagai contoh, pengungkapan sistem tata ruang Bali Tri
Mandala yang memiliki nilai pelestarian pada tingkat jenis,
ekosistem, dan sekaligus budaya warga Bali
4. Mengungkapkan dan membuktikan keilmiahan pengetahuan
etnobotani menjadi ilmu yang bermanfaat dan berharga. Sebagai
contoh, pengungkapan nilai-nilai warga Bali tentang Usada
yang terbukti hingga kini masih dipraktikkan dan bermanfaat dalam
menjaga kesehatan warga Bali seperti pemanfaatan pulai
(Alstonia scholaris), sembung (Blumea balsamifera), kayu manis
(Cinnamomum burmannii), dan sirih (Piper bettle) yang memiliki
nilai obat tinggi. Pulai memiliki lebih dari 400 senyawa berbeda yang
telah berhasil diisolasi, sangat kaya alkaloid, mengandung steroid,
flavonoid, dan triterpenoid serta memiliki aktivitas tervalidasi
terhadap Plasmodium berghei sebagai obat malaria. Sembung
memiliki aktivitas biologis senyawa obat, yaitu antimikroba,
antiinflamasi, hepatoprotektif dan aktivitas farmakologis lain.
pemakaian kayu manis untuk obat sudah sangat melegenda Tanaman ini telah dibudidayakan dan bahkan
produknya telah dikomersialisasikan secara luas. Orang Bali
memakai kayu manis untuk berbagai keperluan mulai dari
memasak hingga obat, sedangkan aren (Arenga pinnata) diidentifikasi
sebagai cultural keystone species sebab hampir semua organ
tubuhnya memiliki nilai guna bagi kehidupan warga Bali
5. Pengembangan iptek terapan (kesehatan, pertanian, bioteknologi,
ekologi dan ilmu terapan lain). Sebagai contoh, pengembangan loloh
(bahasa Bali untuk jamu), cemcem (nama dagang untuk kedondong
hutan, Spondias pinnata), semacam minuman penyegar (refreshment)
yang produknya sudah banyak dijual di berbagai pasar tradisional
hingga restoran di Bali
6. Mengungkapkan nilai ilmiah pengetahuan dan kearifan lokal
pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan sebagai bahan obat, pangan,
energi terbarukan, dan kebutuhan aktual bangsa
6.3.1 Tanaman Obat Tradisional dan Pengobatan di
negara kita
Tumbuhan obat tradisional memiliki peranan penting terutama bagi
warga desa. pemakaian tanaman sebagai obat menjadi salah satu pilihan
utama warga desa untuk mengobati suatu penyakit. Hal ini terjadi sebab
obat tradisional mudah didapat dan tidak memerlukan biaya yang mahal
dibanding obat-obatan modern serta tidak memiliki efek samping yang
membahayakan. Cara pengolahan juga masih sangat sederhana hanya
berdasar kebiasaan dan pengalaman sehari-hari yang diwariskan secara
turun temurun dari nenek moyang. Tumbuhan obat biasanya diambil langsung
dari hutan, namun sebagian besar diambil dari sekitar pekarangan rumah yang
sengaja ditanam sebab manfaat yang dikandungnya. Tumbuhan obat biasanya
sengaja ditanam selain manfaatnya sebagai obat juga disebab kan sebagian
tumbuhan obat ini dapat bermanfaat sebagai bumbu masak.
Daun merupakan organ tanaman obat yang lebih banyak dimanfaatkan sebab
dianggap cara pengolahannya mudah dan khasiatnya lebih besar dibanding
bagian tumbuhan yang lainnya. Selain itu, daun juga menjadi bagian yang
paling mudah diambil atau dipetik, keberadaanya selalu tersedia dan dapat
ditemukan kapan saja saat diperlukan. berdasar penelitian yang telah
dilakukan melaporkan bahwa daun memiliki kandungan air yang tinggi
(80%) dan mengandung minyak atsiri, fenol,















