Tampilkan postingan dengan label farmakognosi obat 3. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label farmakognosi obat 3. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

farmakognosi obat 3

 





dengan memakai  

perhitungan regresi linier.  

Syarat analisis memakai  spektrofotometri UV-Vis: 

1. Larutan yang dianalisis jernih (sampel UV) dan berwarna (sampel 

Visibel)  

2. Sinar harus monokromatis  

3. Larutan yang dianalisis tidak keruh atau menganadung partikel 

pengotor 


 

4. Pelarut tidak bereaksi dengan sampel 

Selain syarat-syarat ini  dalam analisis spektrofotometri juga harus 

memperhatikan pelarut yang dipakai . Pemilihan pelarut dalam analisis 

spektrofotometri harus memperhatikan hal berikut, 

1. Pelarut dapat melarutkan sampel dengan baik 

2. Pelarut dapat meneruskan sinar sesuai panjang gelombang yang 

dipakai  

3. Pelarut tidak mengandung sistem ikatan rangkap terkojugasi 

4. Pelarut harus jernih 

5. Pelarut tidak berinteraksi dengan sampel 

6. Kemurniannya harus tinggi  

7. Bersifat Like dissolved like 

Tabel 4.3: Batas tembus sinar terendah untuk pelarut-pelarut di daerah sinar 

UV-Vis 

No. pelarut Lambda No. pelarut Lambda 

1 Aseton 330 8 Isopropanol 215 

2 95% etanol  205 9 Kloroform 245 

3 Benzene 285 10 Methanol 215 

4 Etil eter  205 11 Sikloheksan 215 

5 Karbon tetraklorida  265 12 Piridin  305 

6 Iso-oktana  215 13 Diklorometana 235 

7 Karbon disulfida 375 14 Air 200 

Beberapa istilah penting dalam interaksi molekul dengan pelarut atau reaktan 

lain:  

1. Kromofor 

Gugus fungsi yang menyerap radiasi pada daerah ultraviolet, dari 

ikatan Ï€ terkonjugasi yang mengalami transisi elektronik dari orbital 

n ke Ï€* dan Ï€ ke Ï€*. 

2. Auksokrom 

Gugus fungsi yang mengandung pasangan elektron bebas berikatan 

kovalen tunggal, yang terikat pada kromofor yang mengintensifkan 

absorbsi sinar UV-Vis pada kromofor ini , baik panjang 

gelombang maupun intensitasnya, misalnya gugus hidroksi, amina, 

halida, alkoksi. 

3. Pergeseran batokromik 

Pergeseran panjang gelombang kea rah panjang gelombang yang 

lebih besar (disebut pergeseran merah) akibat efek pelarut ataupun 

pereaksi lain. 

4. Pergeseran hipsokromik 

Pergeseran panjang gelombang kearah panjang gelombang yang lebih 

kecil (pergeseran biru) akibat efek pelarut ataupun pereaksi lain. 

Pergeseran ini akibat dari penambahan ataupun hilangnya sistem 

konjugasi sebab  efek pelarut. Pelarut juga memungkinkan untuk 

membentuk ikatan hidrogen yang memengaruhi konjugasi molekul. 

4.3.2 Hal-hal yang harus Diperhatikan dalam Analisis 

Spektrofotometri UV-Vis  

Dalam analisis spektrofotometri ada beberapa hal yang harus diperhatikan 

terutama pada saat kita menganalisis sampel berwarna atau berupa senyawa 

kompleks. Senyawa berwarna merupakan senyawa sampel yang dapat 

menyerap sinar pada daerah tampak (visibel). Pembentukan senyawa warna 

sendiri dapat dilakukan dengan pengompleksan. Ketika kita mereaksikan 

sampel yang awalnya jernih dengan reagen tertentu sehingga menghasilkan 

senyawa kompleks, ada hal-hal yang harus diperhatikan salah satunya yaitu  

waktu stabilnya reaksi. 

Salah satu penerapannya yaitu  pada saat kita melakukan pengukuran kadar 

flavonoid, larutan baku dan sampel terlebih dahulu direaksikan dengan AlCl3 

dalam kondisi asam (memakai  asam asetat) dengan tujuan membentuk 

senyawa kompleks berwarna kuning. Ketika sampel sudah stabil bereaksi, 

sampel dapat diukur dengan spektrofotometer UV-Vis pada daerah sinar 

tampak. Sebelum pengukuran dilakukan, kita juga harus memastikan panjang 

gelombang yang dipakai  merupakan panjang gelombang yang maksimal 

dari senyawa yang akan dianalisis. 


 

Gambar 4.8: Reaksi Pembentukan Kompleks Flavonoid-AlCl3 

Berikut yaitu  tahapan dalam analisis spektrofotometri UV-Vis: 

1. Pembentukan molekul yang menyerap sinar UV-Vis 

Hal ini perlu dilakukan jika senyawa yang dianalisis tidak menyerap 

pada daerah ini . Caranya dengan merubah menjadi senyawa lain 

atau direaksikan dengan pereaksi tertentu. Pereaksi yang dipakai  

harus memenuhi beberapa persyaratan yaitu: 

a. Reaksinya selektif dan sensitif 

b. Reaksinya cepat, kuantitatif, dan reprodusibel 

c. Hasil reaksi stabil dalam jangka waktu yang lama. Keselektifan 

dapat dinaikkan dengan mengatur pH, pemakaian masking agent, 

atau pemakaian  teknik ekstraksi.  

2. Panjang gelombang maksimal 

Panjang gelombang merupakan panjang gelombang yang memiliki 

serapan atau absorbansi paling maksimal. Pemilihan panjang 

gelombang maksimal dengan cara melakukan skrining pada rentang 

200-400 nm atau 400-800 nm sampai didapatkan serapan yang paling 

optimal. Adapun alasan memakai  panjang gelombang maksimal 

antara lain: 

a. Pada panjang gelombang maksimal, kepekaanya juga maksimal 

sebab  pada panjang gelombang maksimal ini , perubahan 

absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi yaitu  yang paling 

besar. 


 

b. Di sekitar panjang gelombang maksimal, bentuk kurva 

absorbansi datar dan pada kondisi ini  hukum Lambert-Beer 

akan terpenuhi.  

c. Jika dilakukan pengukuran ulang maka kesalahan yang 

disebabkan oleh pemasangan ulang panjang gelombang akan 

kecil sekali, ketika dipakai  panjang gelombang maksimal. 

3. Waktu operasional (operating time) 

Cara ini biasa dipakai  untuk pengukuran hasil reaksi atau 

pembentukan warna. Tujuannya yaitu  untuk mengetahui waktu 

pengukuran yang stabil. Waktu operasional ditentukan dengan 

mengukur hubungan antara waktu pengukuran dengan absorbansi 

larutan. 

4. Pembuatan kurva baku  

Dibuat seri larutan baku dari zat yang akan dianalisis pada berbagai 

konsentrasi. Masing-masing absorbansi larutan dengan berbagai 

konsentrasi diukur, kemudian dibuat kurva yang merupakan 

hubungan antara absorbansi (y) dengan konsentrasi (x). Bila hukum 

Lambert-Beer terpenuhi, maka kurva baku berupa garis lurus. 

Kemiringan atau slope yaitu  a (absorptivitas).  

5. Pembacaan absorbansi sampel  

Absorbansi yang terbaca pada spektrofotometer hendaknya antara 0,2 

sampai 0,8 atau 15 % sampai 70 % jika dibaca sebagai transmitansi 


Pemeliharaan dan Konservasi 

Tumbuhan Obat 

 

 

 

5.1 Tumbuhan Obat 

Tumbuhan obat merupakan berbagai jenis tanaman yang dapat dipakai  

untuk pengobatan suatu penyakit ataupun meningkatkan kesehatan. Tumbuhan 

obat banyak dipakai  warga  untuk pengobatan secara tradisional secara 

turun temurun. pemakaian  tumbuhan obat oleh warga  pada umumnya 

tanpa takaran yang pasti, hanya berdasar  pengalaman pemakaian  dan 

belum ada pengujian secara klinis di laboratorium . Definisi lain tentang tumbuhan obat yaitu suatu jenis tumbuhan yang 

dipakai  sebagian, seluruhnya atau eksudat dari tanaman yang dimanfaatkan 

sebagai obat, bahan atau ramuan obat-obatan.  

Tumbuhan obat dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu: 

1. Tumbuhan obat tradisional, merupakan spesies tumbuhan yang 

memiliki khasiat sebagai obat dan telah dimanfaatkan sebagai bahan 

baku obat tradisional yang dipercayai oleh warga  secara turun 

temurun. 

 

2. Tumbuhan obat modern, merupakan spesies tanaman berkhasiat obat 

yang telah terbukti secara ilmiah mengandung senyawa bio aktif dan 

dapat dipertanggungjawabkan secara medis. 

3. Tumbuhan obat potensial, merupakan spesies tanaman berkhasiat 

obat yang diperkirakan mengandung senyawa bio aktif namun  belum 

ada pembuktian secara ilmiah (Alqamari, Tarigan and Alridiwirsah, 

2017). 

Tumbuhan obat merupakan salah satu komponen penyusun obat tradisional. 

Bagi warga  yang tinggal di desa fungsi tumbuhan obat tradisional 

sangatlah penting untuk menjaga kesehatan terutama daerah pedesaan yang 

jauh dari fasilitas kesehatan. Di pedesaan tumbuhan obat banyak ditanam di 

pekarangan rumah sehingga dapat dipakai  sebagai pertolongan pertama saat 

terjadi masalah kesehatan. Saat ini warga  perkotaan juga banyak yang 

memakai  tumbuhan obat sebagai obat tradisional. Hal ini bukan sebab  

jauh dari fasilitas kesehatan namun  dipakai  sebagai alternatif pengobatan 

ataupun sebab  harga obat modern atau obat sintesis relatif lebih mahal. Alasan 

lain pemakaian  obat tradisional juga disebab kan adanya pemikiran bahwa 

lebih aman dengan efek samping yang lebih kecil (Dewoto, 2007).  

Tumbuhan obat secara global merupakan sumber obat baru. Di negara 

berkembang 80% warga  sangat bergantung pada obat-obatan herbal 

untuk layanan kesehatan warganya. Di negara maju lebih dari 25% obat herbal 

yang diresepkan berasal dari spesies tumbuhan liar. Saat ini dengan 

meningkatnya pemakaian  obat herbal yang mengandung senyawa bio aktif, 

menjadikan pemakaian  tumbuhan obat berkembang pesat di seluruh dunia 

(Chen et al., 2016).  

Bagian dari tumbuhan obat yang biasanya dipakai  sebagai obat tradisional 

berupa daun, bunga, batang, akar, buah, biji, umbi, rimpang ataupun seluruh 

bagian tanaman (herba). Bagian tumbuhan ini  dapat berkhasiat dalam 

pengobatan sebab  mengandung senyawa aktif fitokimia hasil metabolisme 

tanaman (Hakim, 2015). Contoh daun yang dapat dipakai  dalam 

pengobatan yaitu  daun sirih (Piperis betle folium), daun kumis kucing 

(Orthosiphonis staminei folium), daun kemuning (Murrayae paniculatae 

folium), daun sirsak (Annonae muricatae folium). Bunga dapat juga 

dimanfaatkan dalam pengobatan, contohnya bunga kesumba (Carthami 

tinctorii flos), bunga rosela (Hibisci sabdariffae flos), bunga krisan 

(Chrysanthemi morifolli flos), bunga sidowayah (Woodfordiae fruticosae flos). 


Batang tumbuhan obat yang sering dipakai  yaitu  kayu kuning 

(Arcangelisiae flavae caulis), batang brotowali (Tinosporae Crispae caulis), 

kulit batang kayu rapat (Parameriae laevigatae cortex), kulit batang sintok 

(Cinnamomi sintoc cortex), kulit batang pulasari (Alyxiae reinwardtii cortex). 

Contoh bagian akar yang sering dimanfaatkan antara lain akar kucing 

(Acalyphae indica radix), akar wangi (Vetiveriae zizanioidi radix), akar 

kelembak (Rhei officinalis radix). Buah yang dapat dipakai  sebagai obat 

contohnya yaitu buah adas (Foeniculi vulgaris fructus), buah kapulaga 

(Amomi compacti fructus), buah mengkudu (Morindae citrifoliae fructus), 

buah cabe jawa (Piperis retrofracti fructus), buah pisang batu (Musae 

balbisianae fructus) (Kemenkes RI, 2008). Biji juga dapat dipakai  sebagai 

obat contohnya biji pinang (Arecae catechi semen), biji wijen (Sesami 

orientalis semen), biji pala (Myristicae fragransis semen), biji mahoni 

(Swieteniae mahagoni semen). Contoh umbi yang dipakai  dalam 

pengobatan yaitu bawang putih (Allii sativi bulbus), dan kucai (Allii 

schoenoprasi bulbus). Rimpang yang banyak dipakai  dalam pengobatan 

contohnya rimpang bengle (Zingiberis montani rhizoma), jahe merah 

(Zingiberis officinalis var. Rubrum rhizoma), kencur (Kaempferiae galangae 

rhizoma), kunci pepet (Kaempferiae angustifoliae rhizoma), kunyit (Curcuma 

longae rhizoma), lengkuas (Alpiniae galangae rhizoma), temulawak (Curcuma 

xanthorrhizae rhizoma). Contoh tumbuhan obat yang termasuk herba yaitu 

herba bandotan (Agerati conyzoidi herba), herba benalu (Scurrulae 

atropurpureae herba), herba patikan cina (Euphorbiae prostratae herba), herba 

patikan kebo (Euphorbiae hirtae herba), dan herba pegagan (Centellae asiaticae 

herba) (Kemenkes RI, 2017).  

Beberapa tumbuhan obat yang telah disebutkan hanyalah sedikit contoh dari 

ribuan jenis keanekaragaman hayati yang tumbuh di negara kita  dan dapat 

dipakai  sebagai obat tradisional. Tumbuhan obat dengan ribuan jenis 

ini  diperlukan pemeliharaan yang baik agar tetap dapat tumbuh dengan 

subur dan tidak mengalami kerusakan atau hilangnya sumber daya alam. 

Setiap warga  diharapkan dapat ikut serta melestarikan tumbuhan obat 

yang banyak tumbuh disekitar rumah (pekarangan) menjadi apotek hidup 

supaya dapat memberi  manfaat untuk menjaga kesehatan keluarga. 


 

5.2 Pemeliharaan Tumbuhan Obat 

Pemeliharaan tumbuhan obat merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk 

menjaga, merawat serta mengolah tumbuhan supaya dapat tumbuh dan 

berproduksi dengan baik. Sumber daya alam yang banyak tumbuh di 

negara kita  perlu dipelihara dan dilestarikan agar tidak mengalami kepunahan. 

Pertumbuhan tanaman obat termasuk rempah dan herba tergantung dari 

kondisi tanah dan iklim. Kondisi tanah yang subur dan cuaca yang stabil 

menjadikan rempah dan herba tumbuh dengan baik (Hakim, 2015). 

Pemeliharaan suatu tumbuhan obat sangat diperlukan supaya tidak muncul 

permasalahan setelah kegiatan penanaman. Permasalahan utama setelah proses 

penanaman yaitu adanya kemungkinan kematian bibit dan adanya 

pertumbuhan yang lambat atau abnormal.  

Kematian bibit dapat terjadi beberapa minggu hingga beberapa bulan setelah 

proses penanaman. Faktor-faktor yang dapat memengaruhi kematian bibit 

yaitu keterampilan menanam atau kedalaman penanaman, kondisi tanah atau 

tingkat kesuburan tanah, perubahan kondisi cuaca setelah penanaman, kondisi 

bibit, kerusakan akar, serangga atau binatang, dan gulma. Kematian bibit yang 

cukup banyak harus diatasi dengan dilakukan penyulaman. Penyulaman harus 

dilakukan segera supaya variasi pertumbuhan tanaman yang tinggi dapat 

dihindari. Bibit yang dipakai  untuk penyulaman harus dalam kondisi yang 

sehat, lebih besar sedikit dari rata-rata serta pertumbuhan akar yang baik 

Pertumbuhan lambat atau abnormal pada tanaman dapat disebabkan sebab  

kekurangan unsur hara, kondisi tanah yang sesuai, tidak adanya 

mikroorganisme simbiotik dan kurangnya penyiangan. Pertumbuhan yang 

lambat dapat diatasi dengan pemilihan lahan yang sesuai dengan jenis 

tumbuhan obat yang akan ditanam, pemupukan untuk menambahkan unsur 

hara sesuai kebutuhan, penyiangan dengan melakukan kontrol pertumbuhan 

gulma di permukaan tanah sebab  dapat menjadi kompetitor air tanah, hara 

dan cahaya (Budi, 2006). Pemeliharaan tanaman dimulai dari pengairan, 

pemupukan dan pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT).  

5.2.1 Pengairan 

Pengairan merupakan bagian utama dari pemeliharaan tumbuhan. Proses 

pengairan tergantung dari teknik, waktu dan cara pemberian air. Pemberian air 

tergantung ketersediaan air, keadaan lahan pertanian, kebutuhan tanaman dan 

metode pemberiannya. Proses pengairan dapat memakai  teknik pengairan 

gravitasi dan bawah permukaan jika ketersediaan air berlimpah. Apabila 

jumlah air terbatas maka teknik pengairan siraman lebih menguntungkan. 

Waktu dan cara pemberian air pada tumbuhan juga memengaruhi 

pertumbuhan suatu tanaman. Ciri fisik tumbuhan, kondisi tanah dan iklim 

dipakai  sebagai pertimbangan untuk menentukan waktu pengairan. 

Pertumbuhan optimal dari suatu tanaman dengan daun berwarna hijau segar, 

mengkilap dan tumbuh tegak merupakan tanda bahwa kebutuhan airnya telah 

cukup.  

Tumbuhan yang kekurangan air akan terlihat layu sementara, yaitu pada siang 

hari tampak layu dan saat sore hari terlihat segar kembali. Apabila tumbuhan 

ini  tidak diberi air atau tidak terkena air hujan maka akan mengalami layu 

permanen, yang ditandai dengan layu pada siang dan sore hari. Kondisi layu 

permanen pada tumbuhan tidak dapat diperbaiki walaupun diberikan 

pengairan. Tumbuhan yang layu permanen akan mengalami kekeringan mulai 

pucuk daun hingga seluruh bagiannya dan akhirnya mati. Tumbuhan yang 

mengalami kelebihan air memicu  tanah menjadi jenuh sehingga di dalam 

tanah tidak tersedia udara dan akar tidak dapat bernapas. Kondisi seperti itu 

akan memicu  kendala pada pertumbuhan dan produksinya menurun 


5.2.2 Pemupukan 

Pupuk yaitu  suatu bahan dengan kandungan unsur hara yang diberikan ke 

dalam tanah atau tanaman. Pemupukan merupakan suatu upaya memberi  

pupuk ke dalam tanah atau tumbuhan untuk menambah unsur hara yang belum 

tersedia atau kurang dalam tanah. Pupuk yang dipakai  dalam budidaya 

tanaman terdiri dari 2 jenis yaitu pupuk yang berasal dari alam (pupuk organik) 

dan pupuk buatan industri (pupuk organik).  

Pupuk alam terbuat dari sampah atau tumbuhan yang telah mati, sisa makanan 

serta kotoran hewan ternak. Contoh pupuk alam yaitu kompos, pupuk hijau 

dan pupuk kandang. Pupuk organik mengandung unsur hara yang lengkap 

namun  jumlah setiap unsurnya kecil. Beberapa faktor yang dapat menentukan 

kandungan unsur hara dalam pupuk alam antara lain umur dan jenis ternak, 

makanan, jenis tumbuhan, teknik pengolahan, dan proses peruraian bahan 

organik. Pupuk alam dapat berfungsi menggemburkan lapisan tanah 

permukaan, menyediakan unsur hara secara lengkap, meningkatkan kesuburan 

tanah, memperbaiki kelembapan tanah, meningkatkan kualitas aerasi, 

memperbaiki kemampuan tanah untuk menyimpan air serta menaikkan nilai 

pH tanah

Pupuk anorganik merupakan pupuk yang diproduksi suatu industri dengan 

mencampur bahan kimia sehingga menghasilkan unsur hara dalam jumlah 

besar yang diperlukan tumbuhan. Pupuk anorganik yang dipakai  dengan 

bijaksana dapat memperbaiki sifat kimia dari tanah. Kelebihan dari pupuk 

anorganik antara lain jumlah pemberian dapat disesuaikan kebutuhan 

tumbuhan, ketersediaan pupuk mudah diperoleh, pengangkutan lebih mudah, 

harganya lebih murah. Kelemahan pupuk anorganik yaitu jika pemakaiannya 

berlebihan dapat membahayakan pertumbuhan tanaman, membahayakan 

manusia dan merusak tanah 

Pemupukan tumbuhan obat dapat dilakukan dengan berbagai teknik yaitu: (1) 

disebarkan di antara tanaman secara merata diatas petakan/bedengan, (2) 

diletakkan pada lubang tempat tanam, (3) diletakkan pada bagian luar 

tanaman, (4) diletakkan di antara tanaman, dan (5) penyemprotan pupuk dalam 

bentuk cair kebagian daun bagian bawah. Tumbuhan obat berupa umbi, 

rimpang atau buah-buahan lebih sesuai memakai  teknik kedua yaitu 

pupuk diletakkan pada lubang benih atau bibit. Tumbuhan obat yang termasuk 

tanaman tahunan atau buah-buahan dapat juga memakai  teknik 

pemupukan dengan diletakkan secara melingkar dibawah tajuk terluar atau 

disekitar tanaman/bibit   

5.2.3 Pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman 

(OPT) 

berdasar  Undang-Undang Nomor 13 tahun 2010 tentang Hortikultura yang 

dimaksud dengan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yaitu semua 

organisme yang dapat merusak, mengganggu kehidupan, atau memicu  

kematian tumbuhan. Tumbuhan obat (bahan obat nabati) merupakan salah satu 

tanaman hortikultura yang harus mendapatkan perlindungan dari OPT. 

Organisme Pengganggu Tumbuhan dapat dikendalikan memakai  bahan 

kimia sintetik, bahan alami, ataupun predator (Pemerintah RI, 2010).  

Pengendalian OPT dapat dilakukan dengan cara: (1) identifikasi OPT 

termasuk hama, penyakit atau gulma. Hama, penyakit dan gulma dapat 

memicu  pertumbuhan dan produksi tanaman terganggu serta gagal 

panen. (2) identifikasi jenis hama dan kerusakan yang ditimbulkannya. 

berdasar  ukuran tubuhnya ada  empat kelompok hama yaitu mamalia 

(babi hutan, burung), rodentia (tikus, tupai), antropoda (serangga, hama 

penggerek/ulat), nematoda (cacing, ulat tanah)

Kerusakan tumbuhan sebab  hama memicu  kondisi tanaman mengalami 

kelainan yang berbeda dengan tanaman yang dirusak oleh hama. Ciri-ciri 

tumbuhan yang mengalami kelainan yaitu terjadi perubahan warna pada 

bagian tanaman, tumbuhan menjadi layu sebab  sel jaringan dirusak oleh hama 

hingga memicu  kematian, tanaman kerdil sebab fungsi jaringan 

terganggu, kerusakan bagian tumbuhan (daun sobek, berlubang, daun saling 

melekat atau menggulung, hanya tertinggal tulang daunnya), muncul 

cendawan jelaga atau bercak klorosis (kuning) atau bercak putih keperakan 

pada bagian daun. 

Kerusakan tumbuhan sebab  penyakit memicu  pertumbuhan tidak akan 

normal, kegagalan pertumbuhan dan produksi tanaman. Gejala penyakit 

tumbuhan meliputi: 

1. Pada bagian kulit kayu dan daun mengalami kematian jaringan. 

Bercak yang awalnya berwarna kuning, kemudian menjadi cokelat 

atau hitam sebab  terkena jamur, virus, bakteri, atau serangga. 

2. Hipoplasia, pertumbuhan tanaman tidak mencapai ukuran normal 

sebab  kekurangan sel (kerdil).  

3. Hiperplasia atau hipertropi, pertumbuhan tanaman luar biasa sebab  

pembesaran sel. 

4. Perubahan warna, daun menguning kemudian gugur, bercak kuning 

sebab  infeksi virus, merah dan merah keunguan sebab  

pembentukan antosianin, daun keperak-perakan sebab  sel epidermis 

rusak sehingga sel kering dan terisi udara, bercak air sebab  dinding 

sel telah mati. 

5. Kekeringan atau layu, daunnya gugur dan diikuti keringnya batang 

daun tunas yang disebabkan sebab  jamur nematoda. 

Organisme yang memiliki potensi sebagai patogen atau penyebab penyakit 

pada tumbuhan yaitu  jamur, bakteri, virus, dan gulma. (1) Penyakit 

tumbuhan sebab  jamur antara lain penyakit bercak daun, penyakit karat, 

penyakit busuk tongkol dan biji. Penyakit yang disebabkan oleh jamur dapat 

terjadi sebab  faktor suhu, angin, unsur hara, kelembapan dan curah hujan. (2) 


 

Gejala penyakit tumbuhan sebab  bakteri yaitu terjadi pembusukan, bercak 

daun (bakteri berpenetrasi pada stomata daun), penyakit pada jaringan 

pembuluh yang bersifat sistemik. (3) Gejala penyakit tumbuhan sebab  virus 

ialah penurunan laju pertumbuhan dari tanaman (kerdil), muncul perbedaan 

warna pada daun, bunga atau buah, muncul warna kehijauan pada bunga dan 

ring sport (adanya cincin klorosis atau bercak pada daun, buah atau batang). 

(4) Gulma dapat mengganggu pertumbuhan tanaman sehingga dapat 

menurunkan hasil produksi.  

Keberadaan hama dapat dikendalikan dengan cara mengurangi populasi 

organisme pengganggu serta menjaga keseimbangan ekosistem alami. 

Pengendalian hama dapat dilakukan dengan cara: 

1. Pengendalian secara fisik dapat dilakukan untuk mematikan hama, 

mengganggu aktivitas fisiologi hama, mengubah lingkungan menjadi 

tidak sesuai untuk kehidupan hama. Pengendalian fisik dapat 

dilakukan dengan pemanasan > 45°C, pembakaran, pendinginan < 

5°C, pengeringan dan lampu perangkap.  

2. Pengendalian mekanik dilakukan untuk mematikan atau 

memindahkan hama secara langsung dengan tangan atau bantuan 

alat. Pengendalian mekanik dapat dilakukan dengan memasang 

perangkap, dan pengusiran. 

3. Kultur teknis dilakukan dengan cara mengelola lingkungan atau 

ekosistem sehingga tidak cocok untuk kehidupan OPT. Teknik ini 

dapat dilakukan dengan sanitasi (pembersihan), pengolahan lahan 

sehingga dapat membunuh hama, gulma, telur, larva atau pupa yang 

hidup dalam tanah. 

4. Pengendalian biologi (hayati) dilakukan dengan memanfaatkan 

parasitoid, predator dan patogen yang merupakan musuh alami. 

5. Pengendalian kimiawi dengan memakai  pestisida. pemakaian  

pestisida harus tepat sesuai dengan jenis organisme pengganggu yang 

akan dikendalikan serta tepat dosis supaya tidak merusak tumbuhan, 

tidak membunuh musuh alami, tidak membahayakan manusia dan 

hewan ternak. 

5.3 Konservasi Tumbuhan Obat 

Word Health Organization (WHO) memperkirakan 80% orang di seluruh 

dunia tergantung pada sistem pengobatan tradisional untuk layanan kesehatan. 

Menurut WHO ada  sekitar 21.000 jenis tanaman yang dapat dimanfaatkan 

sebagai tumbuhan obat. Pengobatan dengan tanaman obat dinilai lebih aman 

sebab  menimbulkan efek samping yang minimal serta tidak bergantung pada 

kelompok usia dan jenis kelamin (Kadam and Pawar, 2020). 

Menurut International Union for Conservation of Nature and the Word 

Wildlife Fund, ada  50.000 hingga 80.000 spesies tumbuhan yang 

dimanfaatkan untuk pengobatan di seluruh dunia. Di antara spesies ini , 

kurang lebih 15.000 spesies terancam punah sebab  adanya perusakan habitat 

tempat tumbuh tanaman obat serta dilakukan pemanenan dalam jumlah besar. 

Sebanyak 20% sumber daya hayati yang tumbuh liar hampir punah seiring 

dengan meningkatnya jumlah manusia dan pemanfaatan tanaman. Banyaknya 

spesies yang hilang dan perusakan habitat tumbuhan obat di seluruh dunia 

dapat menimbulkan risiko kepunahan spesies tanaman obat 

Meningkatnya permintaan tumbuhan obat memicu  penebangan hutan 

yang tidak rasional dan memicu  menipisnya tanaman obat yang hidup di 

alam liar. Adanya bencana alam ataupun bencana akibat ulah manusia 

memicu  semakin berkurangnya keanekaragaman tumbuhan obat. Hutan 

hujan tropis yang merupakan habitat dari sekitar setengah tanaman di dunia 

diperkirakan berkurang 16,8 juta hektar/tahun. Tumbuhan obat memiliki risiko 

yang besar terjadi erosi genetik (hilangnya keanekaragaman genetik pada 

tumbuhan) dan kepunahan akibat adanya eksploitasi . Hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadi kepunahan tumbuhan 

obat yaitu dengan konservasi tanaman 

Konservasi merupakan suatu usaha pelestarian dan perlindungan secara cermat 

terhadap sumber daya alam atau habitat tumbuhan obat melalui pengelolaan 

yang terencana. Konservasi bertujuan untuk mendukung ke berlanjutan 

sumber daya hayati dengan cara tidak merusak ekosistemnya dan tidak 

menghabiskan keanekaragaman spesies tumbuhan obat (Kadam and Pawar, 

2020). Langkah awal untuk melakukan konservasi tumbuhan obat yaitu  

melakukan identifikasi spesies yang paling berisiko mengalami kepunahan. 

Penyebab kelangkaan atau kepunahan tumbuhan obat yaitu adanya eksploitasi 

yang berlebihan, pengumpulan tanaman secara sembarangan, penggundulan 


 

hutan yang tidak terkendali, perusakan habitat serta karakter biologis setiap 

spesies. Karakter biologis berkorelasi dengan risiko kepunahan tumbuhan obat 

antara lain kekhususan habitat, jangkauan sebaran, ukuran populasi, 

keanekaragaman spesies, laju pertumbuhan, dan sistem reproduksi 

Konservasi tumbuhan obat dapat dilakukan melalui usaha pengumpulan 

informasi, pengkajian konservasi dan perencanaan pengelolaan, kebijakan dan 

peraturan, konservasi in situ, konservasi warga , konservasi ex situ, 

praktek pertanian yang baik, pendidikan dan penelitian 

5.3.1 Pengumpulan Informasi 

Pengumpulan informasi bertujuan untuk melakukan identifikasi spesies 

tumbuhan obat yang memiliki risiko mengalami kepunahan. Kepunahan 

tumbuhan obat dapat dideteksi dari adanya kelangkaan spesies, sehingga perlu 

upaya konservasi. Informasi tentang seberapa langka setiap spesies tumbuhan 

obat penting diketahui untuk menentukan langkah konservasi 

Tahap pengumpulan informasi dapat juga dilakukan dengan cara wawancara 

untuk mendokumentasikan prevalensi perdagangan tumbuhan obat secara 

komersial. Metode ini juga dipakai  untuk melakukan penyelidikan dan 

mengidentifikasikan keanekaragaman spesies tanaman obat yang dipanen 

secara liar. Pada tahap ini dapat menghasilkan daftar nama spesies tumbuhan 

obat yang paling sering dipanen, mahal, langka dan ketersediaan tanaman 

ini . Tahap survey pasar dilakukan untuk mengidentifikasikan 

keanekaragaman spesies yang diperdagangkan secara komersial dan 

diprioritaskan untuk konservasi 

5.3.2 Pengkajian Konservasi dan Perencanaan Pengelolaan 

Pengkajian konservasi dan perencanaan pengelolaan tumbuhan obat dapat 

dilakukan dengan melihat distribusi geografis dan karakteristik biologis spesies 

tanaman untuk memandu kegiatan konservasi dan menentukan tempat 

konservasinya di alam atau dipembibitan . Metode 

pengkajian konservasi dan perencanaan pengelolaan dilakukan juga untuk 

memprioritaskan spesies yang akan konservasi. Spesies yang akan 

dikonservasi diidentifikasi memakai  kriteria prioritas yang dapat 


 

menunjukkan praktek etnobotani  Etnobotani merupakan 

ilmu yang mengkaji hubungan budaya manusia di suatu daerah dalam 

memanfaatkan tumbuhan yang hidup disekitarnya. Etnobotani tidak dapat 

dilepaskan dari cabang ilmu etnoekologi yaitu suatu pengelolaan sumber daya 

alam atau lingkungan oleh warga  secara berkelanjutan 

Pada tahap pengkajian konservasi yang dihubungkan dengan etnobotani dari 

spesies tumbuhan sehingga akan diketahui informasi tentang tumbuhan obat 

yang dikaji, misalnya bagian tanaman yang dipakai . Pada tahap ini akan 

diperoleh informasi tentang kelangkaan spesies tertentu di alam liar akibat 

pemanenan berlebihan sebab  permintaan lokal atau diekspor. Spesies yang 

langka sering dimanfaatkan dan diperjualbelikan dengan harga yang tinggi, 

sehinga akan dipanen dalam jumlah besar yang akan berimbas pada 

ketersediaan spesies ini . Perlu mendapatkan perhatian lebih jika bagian 

dari spesies ini  yang dipakai  yaitu  akar atau kulit kayu sebab  

berfungsi sebagai jalur makanan dalam suatu tanaman. Apabila spesies 

ini  memiliki kegunaan lain selain sebagai obat, misalnya kayu, maka 

spesies ini  akan dieksploitasi secara berlebihan sehingga dapat 

meningkatkan laju kepunahan. Proses inventarisasi spesies tumbuhan obat 

dipakai  untuk mendapatkan gambaran mengenai jumlah spesies tumbuhan 

obat yang terancam punah. Hasil pengkajian dapat dipakai  sebagai 

pertimbangan untuk melakukan konservasi pada spesies ini  untuk 

menjamin keseimbangan berkelanjutan antara ketersediaan dan permintaan 

tumbuhan obat 

5.3.3 Kebijakan dan Peraturan  

Kebijakan dan peraturan pemerintah perlu ditegakkan sebagai cara untuk 

melestarikan tumbuhan obat. Kebijakan dan peraturan pemerintah merupakan 

upaya untuk mengatur pemanfaatan tumbuhan obat secara bertanggung jawab. 

Pemerintah diharapkan terlibat langsung dalam pengawasan tumbuhan obat 

dan melakukan penegakan hukum pada pihak yang memicu  kepunahan 

sumber daya alam dengan membuat dan menetapkan undang-undang atau 

peraturan tentang konservasi.  

Kebijakan dan peraturan yang dibuat mencakup pengelolaan sumber daya 

spesies tumbuhan obat dengan memantau pemanenan. Untuk tumbuhan obat 

dengan jumlah terbatas dan pertumbuhan lambat, pemanenan yang merusak 

dapat mengakibatkan habisnya sumber daya dan kepunahan spesies. 

Pemanenan akar dan seluruh tanaman, misalnya herba, semak atau pohon, 


dapat merusak tumbuhan obat jika dibandingkan pemanenan daun, bunga atau 

kuncupnya Pemanenan hanya boleh dilakukan oleh orang 

yang telah terlatih dan memiliki izin, dengan sistem pemanenan bergilir. 

Pemanenan hanya diberikan izin kepada orang yang terdaftar untuk memanen 

spesies tumbuhan obat tertentu dengan pembatasan jumlah yang dipanen.  

Membuat peraturan yang melarang orang asing memanen spesies tumbuhan 

obat tanpa izin tertulis dari departemen yang berwenang. Orang harus 

memiliki kartu identitas saat memanen untuk menunjukkan bahwa dirinya 

telah terdaftar dan memiliki  hak untuk memanen dalam jumlah yang sah di 

suatu wilayah. Hal ini  dapat menyeimbangkan jumlah permintaan dan 

penawaran spesies tumbuhan obat. Kebijakan dan peraturan yang dibuat harus 

juga mempertimbangkan hak atas tanah. Orang yang melakukan pemanenan 

harus selalu memiliki  hak untuk memanen tumbuhan obat secara 

berkelanjutan di tanah yang dibeli, diwariskan atau disewakan. Kebijakan dan 

peraturan yang dibuat harus dapat memastikan pengembangan spesies 

tumbuhan obat secara berkelanjutan, menentukan biaya yang harus dibayarkan 

atas perusakan habitat tumbuhan obat 

5.3.4 Konservasi In situ  

Sistem konservasi in situ merupakan pedoman untuk melestarikan sumber 

daya alam hayati yang rentan di lingkungan habitat asalnya. Konservasi in situ 

dapat juga mendorong proses evolusi dan adaptasi yang sedang berlangsung di 

lingkungan tanpa campur tangan manusia. Konservasi in situ merupakan 

bentuk konservasi terbaik dan efisien sebab  tumbuhan obat akan 

diperkenalkan kembali ke habitat aslinya. Sistem konservasi in situ supaya 

berhasil maka pemanenan tumbuhan obat yang tidak berkelanjutan di kawasan 

konservasi harus dihindari

Konservasi in situ memiliki tujuan untuk melindungi ekosistem tumbuhan 

obat, menjaga keutuhan dan keaslian spesiesnya melalui proses evolusi. 

Kawasan konservasi in situ perlu diperluas supaya dapat memelihara ekologi, 

mempertahankan keanekaragaman genetik, menjadi penopang kehidupan, 

menjamin kebermanfaatan tumbuhan obat, pelestarian dan keberlanjutannya. 

Konservasi in situ dapat meningkatkan jumlah keanekaragaman tumbuhan 

obat yang dapat dilestarikan dan pemanfaatan berkelanjutan. Upaya konservasi 

in situ berfokus pada kawasan yang dilindungi dan berorientasi pada ekosistem 

bukan pada spesies. Keberhasilan konservasi in situ bergantung juga pada 

peraturan, regulasi, dan potensi pengembangan tumbuhan obat dalam habitat 

pertumbuhannya 

5.3.5 Konservasi warga   

Konservasi warga  didefinisikan sebagai ekosistem alami dan 

termodifikasi dengan keanekaragaman hayati yang signifikan, nilai-nilai 

ekologi dan budaya terkait. Cara ini menawarkan konservasi jangka panjang 

terhadap spesies yang terancam punah. warga  dengan sukarela 

melestarikan spesies tumbuhan obat yang terancam punah. Konservasi 

warga  memiliki keuntungan dalam memberdayakan warga  lokal 

sebagai komunitas yang dapat berkontribusi terhadap pengelolaan konservasi 

in situ spesies tumbuhan obat secara berkelanjutan. Konservasi spesies 

tumbuhan obat yang efektif yaitu  dengan memastikan bahwa nilai komersial 

spesies tanaman obat di warga  dapat memberi  dampak pada 

peningkatan perekonomian 

5.3.6 Konservasi Ex situ  

Konservasi ex situ merupakan usahan untuk melestarikan sumber daya alam di 

luar habitat aslinya dengan tujuan menjaga dan mengembangbiakkan jenis 

tumbuhan obat. Konservasi ex situ menjadi pelengkap yang efektif dari 

konservasi in situ, terutama bagi tumbuhan obat yang dieksploitasi secara 

berlebihan dan terancam punah dengan pertumbuhan lambat, ketersediaannya 

di alam rendah dan rentan terhadap penyakit. Konservasi ex situ bertujuan 

untuk membudidayakan dan menaturalisasikan spesies yang terancam punah 

sehingga dapat menjamin keberlangsungan hidup tumbuhan obat dan 

menghasilkan bahan baku pembuatan obat-obatan. Hal ini  merupakan 

upaya untuk melestarikan sumber daya tumbuhan obat 

Konservasi ex situ dapat dilakukan melalui bank benih dan budidaya 

(penangkaran). Kegiatan ini  dapat dilakukan di kebun raya, kebun botani, 

cagar alam, taman hutan atau taman kota. Konservasi tumbuhan ex situ lebih 

menantang dan harus dipakai  sebagai pelengkap konservasi in situ. 

Menurut WHO bank benih merupakan sistem konservasi ex situ tanaman yang 

unggul. Lahan yang diperlukan kecil namun  mampu menampung spesies dalam 

jumlah yang besar. Sistem konservasi bank benih supaya dapat efektif harus 

ada perjanjian hukum antara negara asal dengan badan/organisasi asing yang 

melakukan konservasi tumbuhan obat. Konservasi bank benih diutamakan 

untuk tanaman yang tumbuh lambat dan terancam punah 

 

Bank benih merupakan cara yang lebih baik untuk menyimpan 

keanekaragaman genetik tumbuhan obat secara ex situ jika dibandingkan 

dengan kebun raya, dan direkomendasikan untuk membantu melestarikan 

keanekaragaman hayati dan genetik spesies tanaman liar. Bank benih 

memungkinkan akses yang relatif cepat terhadap sampel tumbuhan untuk 

mengevaluasi sifat-sifatnya sehingga dapat memberi  informasi yang 

bermanfaat untuk melestarikan populasi alami yang tersisa. Bank benih 

memiliki tantangan yang besar dalam upaya mengembalikan spesies tanaman 

ke alam liar dan secara aktif membantu pemulihan populasi di alam liar 

Cara lain dari konservasi ex situ untuk melestarikan dan mengurangi 

eksploitasi berlebihan pada tumbuhan obat yang langka di alam liar yaitu 

dengan budidaya. Tanaman yang dapat dibudidayakan sebagian besar yaitu  

spesies yang dapat tumbuh dengan cepat, memiliki banyak kegunaan dan 

mendatangkan keuntungan. Tumbuhan obat dibudidayakan dalam jumlah 

besar dan murah agar dapat bersaing dengan tumbuhan oba yang dipanen 

secara liar. Apabila tumbuhan obat yang dibudidayakan dijual dengan harga 

murah dan persediaan dipasaran meningkat maka jumlah orang yang 

melakukan pemanenan secara liar akan berkurang sehingga dapat mengurangi 

eksploitasi berlebihan terhadap tumbuhan obat. 

Budidaya tidak dapat dilakukan pada tanaman obat yang tumbuh lambat. 

Umumnya spesies tanaman obat yang tumbuh di habitat aslinya lebih kuat 

dibandingkan yang ditanam di luar habitatnya. Hal ini  sebab  adanya 

perbedaan jenis tanah, keanekaragaman hayati, iklim dan faktor yang lainnya. 

Budidaya lokal yang dapat dilakukan oleh setiap warga  yaitu  menanam 

tumbuhan obat di pekarangan rumah, sehingga dapat dimanfaatkan untuk 

menunjang kesehatan anggota keluarga. Contoh tumbuhan obat yang dapat 

dibudayakan di pekarangan rumah yaitu Acacia senegalensis, Annona 

squamosa, Ann. cherimola, lidah buaya 

Keuntungan budidaya spesies tumbuhan obat yaitu: (1) dapat mengurangi 

tekanan pemanenan terhadap spesies langka dan terancam punah, (2) genotipe 

tumbuhan obat terjaga tetap terstandarisasi atau ditingkatkan, (3) dapat 

menjamin pasokan bahan baku obat yang berkelanjutan, (4) volume produksi 

dan harga dapat stabil untuk jangka waktu yang lebih lama. Kerugian budidaya 

spesies tumbuhan obat yaitu dibutuhkan investasi besar sebelum dan selama 

produksi serta dapat mempersempit keragaman genetik pada sumber daya liar 


5.3.7 Praktek Pertanian yang Baik  

Praktek pertanian yang baik pada penanaman tumbuhan obat dapat mengatur 

hasil produksi, menjamin kualitas, dan memfasilitasi standarisasi obat herbal. 

Praktek pertanian yang didukung dengan ilmu pengetahuan dapat mengatasi 

berbagai masalah selama penanaman sehingga obat herbal yang dihasilkan 

memiliki kualitas yang tinggi, aman dan bebas polusi. Praktek pertanian yang 

baik meliputi aspek lingkungan ekologi tempat produksi, plasma nutfah, 

budidaya, kualitas deteksi pestisida, identifikasi kimia senyawa bio aktif dan 

inspeksi unsur logam. Pertanian organik merupakan contoh praktek pertanian 

yang baik, yang bertujuan untuk menghasilkan bahan baku obat dengan 

kualitas lebih baik dan produktivitas tinggi, serta memastikan konservasi dan 

pemanfaatan tumbuhan obat secara berkelanjutan. 

Pertanian organik tidak memakai  pupuk sintesis, pestisida dan herbisida. 

pemakaian  pupuk organik secara terus menerus dapat menyuplai unsur hara 

tanah dan meningkatkan stabilitas tanah, sehingga sangat memengaruhi 

pertumbuhan tanaman obat dan senyawa aktif yang dihasilkan. Pertanian 

organik tidak membahayakan lingkungan dan bergantung pada sumber daya 

terbarukan untuk menjaga proses biologis tumbuhan obat dan keseimbangan 

ekologi habitat. Pertanian organik tumbuhan obat menjadi sangat penting 

dalam pengembangan jangka panjang dan ke berlanjutan tanaman obat 

5.3.8 Pendidikan dan Penelitian  

Pendidikan dan penelitian merupakan langkah penting dalam konservasi 

tanaman obat. Pendidikan diperlukan bagi generasi muda agar memiliki 

kesadaran penuh terhadap permasalahan lingkungan. Upaya lainnya yaitu 

menciptakan dan meningkatkan kesadaran warga  akan pentingnya 

tumbuhan obat bagi kehidupan warga . warga  perlu mendapatkan 

informasi pentingnya konservasi spesies tumbuhan obat dan praktek budidaya 

untuk menghindari kepunahan tanaman obat. Penelitian tentang khasiat 

tumbuhan obat juga perlu terus dilakukan yang akan berdampak pada 

budidaya dan pemanenan tanaman obat untuk produksi farmasi 

Penelitian pembuatan obat tradisional berbahan dasar tanaman hutan 

(tumbuhan liar) atau bersifat etnobotani perlu dikembangkan sebab  generasi 

muda saat ini kurang berminat untuk mempelajari metode pengobatan 


 

tradisional . Selain pengembangan penelitian warga  juga 

perlu dilibatkan secara penuh dalam usaha pelestarian sumber daya alam untuk 

meningkatkan kepedulian dalam melestarikan alam. Wujud nyata kepedulian 

warga  pada pelestarian alam dapat terlibat aktif dalam kelompok pecinta 

alam, kader konservasi ataupun kelompok wanita tani dan lain sebagainya. 

 

 

 

Etnobotani: Menelusuri 

Kearifan Lokal 

 

 

negara kita  memiliki wilayah yang strategis di garis khatulistiwa, di antara dua 

benua dan dua samudera sehingga memiliki iklim tropis sepanjang tahun. 

Keberuntungan eko geografis ini  memberi  peluang negara kita  menjadi 

pusat keanekaragaman biologi baik hewan maupun tumbuhan. Hutan hujan 

tropis negara kita  seluas lebih dari 120 juta hektar, merupakan tempat tumbuh 

bagi 10 % tumbuhan berbunga dunia yang jumlahnya mencapai 30.000 

spesies. 

Salah satu hasil hutan hujan tropis yang memiliki banyak manfaat dan 

memiliki potensi luar biasa yaitu  tanaman obat. Tanaman obat yaitu  

kekayaan sumberdaya hayati negara kita  yang tinggi. Banyak spesies tanaman 

obat negara kita  bersifat endemik dan tidak ditemukan di wilayah lain di dunia. 

Keunggulan lain yaitu  tanaman obat negara kita  tumbuh di wilayah tropis 

dengan sinar matahari sepanjang tahun yang mampu menghasilkan kandungan 

aktif berkualitas tinggi. Tidak diragukan lagi sejak dulu negara kita  menjadi 

negara penghasil rempah-rempah kelas dunia yang diincar oleh banyak negara. 

 

Seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi 

keanekaragaman biologi ini  sebagian telah dieksplorasi dan 

dikembangkan menjadi produk unggulan yang bukan saja untuk warga  

dalam negeri namun juga utk komoditi ekspor. Dalam dua dasawarsa terakhir, 

telah terjadi perubahan gaya hidup penduduk dunia. warga  dunia kembali 

mencari keseimbangan dari alam untuk mendukung kehidupan. Mereka 

percaya bahwa keseimbangan alam yaitu  kunci keberlangsungan kehidupan 

manusia. Pola kembali ke alam ini diterapkan hampir di setiap sisi kehidupan.  

Pada saat ini warga  semakin berminat memakai  tanaman obat 

sebagai jamu untuk memelihara kesehatan dan kebugaran serta sebagai 

pengobatan. Salah satu upaya yaitu  dengan mencari alternatif pengobatan 

berbasis alam yakni dengan tanaman obat. 

 

6.2 Etnobotani 

Etnobotani yakni suatu pengetahuan yang mempelajari hubungan antara 

manusia dengan tumbuhan. Hingga saat ini ruang lingkup kajian etnobotani 

semakin berkembang dan meliputi sejumlah aspek botani dari berbagai bidang. 

Enam bidang utama yang termasuk dalam penelitian etnobotani antara lain 

etnoekologi, farmasi, kesehatan, pertanian tradisional, material budaya serta 

etnobotani kognitif 

Pengenalan etnobotani kepada warga  dapat meningkatkan pengetahuan 

warga  tentang pemanfaatan tumbuhan yang berpotensi sebagai obat 

secara maksimal. Pemanfaatan tumbuhan sebagai obat secara maksimal dapat 

meningkatkan kesehatan dan ekonomi warga . Studi etnobotani tentang 

tanaman obat sangatlah penting untuk dilakukan guna mengetahui 

pemanfaatan tanaman obat dan sebagai upaya dalam melestarikan alam serta 

kearifan lokal tentang pemanfaatan tanaman obat. Etnobotani dapat 

dipergunakan sebagai salah satu alat untuk mendokumentasikan pengetahuan 

warga  tradisioal, warga  awam yang telah memakai  berbagai 

macam tumbuhan untuk menunjang kehidupan. Etnobotani yang bertumpu 

kehidupan manusia dalam pemanfaatan tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar, 

dapat meningkatkan daya hidup manusia.  

Keunikan negara kita  yang memiliki keanekaragaman biodiversitas terbesar 

kedua setelah Brasil memiliki keunggulan komparatif dalam menumbuhkan 

ilmu pengetahuan ini . 

Keanekaragaman kultur negara kita  yang tersebar dalam ribuan pulau 

membentuk mozaik kehidupan yang tidak ada duanya di dunia. 

6.2.1 Manfaat Tumbuhan dalam Etnobotani 

Pengetahuan klasifikasi tumbuhan secara fungsional telah tertulis dalam Serat 

Centhini yang ditulis pada 1814 M memakai  candrasangkala Pakso Suci 

Sabda Ji, yang artinya tahun Jawa 1742. Serat Centhini memuat berbagai 

pengetahuan yang sangat lengkap. Pengetahuan warga  Jawa yang 

berkaitan dengan kedudukan dirinya di alam semesta yang dikenal dengan 

Memayu Hayuning Bawono, yang bermakna menjaga bumi demi 

kemakmuran dan kesejahteraan alam seisinya (Basuki, 2008). warga  

Jawa memandang alam dan lingkungan secara holistik, sebagai satu sistem 

yang terdiri atas alam makro dan alam mikro. Manusia dan makhluk seisinya 

merupakan bagian dari sistem ini . Alam merupakan wadah bagi manusia 

untuk hidup, membina hubungan vertikal dan horizontal dan mengelola 

sumber daya yang tersedia. Manifestasi konsep ini  antara lain 

pemanfaatan dan pelestarian sumber daya alam dan menjalin hubungan secara 

vertikal dalam bentuk berbagai ritual pemujaan dan pengkeramatan. 

Serat Centhini juga membahas pengetahuan botani warga  pada zaman 

ini , terutama dalam pengenalan, dan penamaan. Penggolongan atau 

klasifikasi dan penamaan tumbuhan didasarkan morfologis, habitus dan cara 

penyebaran. Penggolongan buah buahan tidak hanya buah yang dimaksud 

dalam bahasa umum dan bahasa lmiah. Kelompok umbi-umbian digolongkan 

polo kapendhem, yang berarti terpendam dalam tanah. Timun dan semangka 

digolongkan polo kasimpar, yaitu buah terserak atau terhampar. Mangga dan 

pepaya digolongkan polo ganthung, yaitu buah tergantung. Biji-biji 

digolongkan polowija, randu digolongkan polokirno, yaitu buah tersebar dan 

kelapa sebagai polokucilo, yaitu buah terasing dan lainnya. Penggolongan jenis 

tumbuhan berdasar  keunikan ciri, merupakan salah satu kajian etnobotani 

tentang persepsi, upaya kelompok warga  tertentu dalam melakukan 

upaya cepat mengenali jenis sumberdaya yang apat dimanfaatkan. Nilai guna 

jenis jenis tumbuhan yang tercantum dalam Serat Centhini mencakup 

kebutuhan hidup keseharian. Kebutuhan hidup keseharian mencakup; bahan 

pangan, bahan obat-obatan, bahan bangunan, kayu bakar, bahan ritual, bahan 

pewarna, bahan kosmetika dan lainnya, serta pengetahuan cara pemakaian . 

 

6.3 Kearifan Lokal dalam Pengobatan  

Bangsa negara kita  merupakan bangsa yang majemuk. warga nya terdiri 

dari berbagai macam suku bangsa yang tersebar di seluruh kawasan Nusantara. 

Setiap suku di setiap daerah memiliki kebudayaan yang dikembangkan secara 

turun-temurun. Kemajemukan budaya yang dimiliki setiap suku pada dasarnya 

merupakan kekayaan bangsa negara kita . berdasar  realitas, kekayaan 

budaya yang dimiliki oleh bangsa negara kita  banyak yang belum 

dikembangkan secara proporsional. Dalam arti lain, belum sepenuhnya 

menyentuh warga  sebagai media penumbuhan jati diri bangsa dan 

sebagai sumber potensi diri. 

Keragaman budaya sejatinya dapat dijadikan modal untuk memperkuat 

identitas kebangsaan. Di samping itu, keragaman budaya termasuk kesenian 

dimungkinkan dapat dijadikan komoditas nasional yang dapat memberi  

kontribusi bagi kesejahteraan warga . Bali misalnya, merupakan salah satu 

contoh wilayah yang menjadikan produk budaya warga nya sebagai 

komoditas yang laku dijual. Kontribusi produk budaya seperti kesenian 

tradisional di Bali hendaknya dijadikan inspirasi bagi daerah-daerah lain di 

Nusantara. Pelestarian budaya secara umum dapat didefinisikan segala 

perilaku atau tindakan (upaya) yang bertujuan untuk mempertahankan keadaan 

dan keberadaan suatu peninggalan generasi masa lampau melalui proses 

inventarisasi, dokumentasi, dan revitalisasi. Salah satu prioritas dalam 

pembangunan nasional yaitu  pelestarian (perlindungan, pemanfaatan, 

pemeliharaan, dan pengembangan) terhadap warisan budaya sebagai aset 

bangsa yang memiliki nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan ekonomi. 

Pelestarian budaya ini  bermanfaat dalam upaya: 

1. Mengetahui, memahami, dan menghargai prestasi-prestasi atau 

pencapaian-pencapaian nenek moyang sebuah warga  atau 

bangsa. 

2. Menjadi sumber inspirasi untuk membangun masa depan yang lebih 

baik tanpa mengulangi kesalahan masa lalu. 

3. Menjadikan deposit yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan 

kesejahteraan warga  sebab  tinggalan budaya merupakan saksi 

sejarah perjalanan bangsa negara kita  dari zaman ke zaman dengan 

berbagai kondisi perkembangan dunia. 

 

Kebudayaan merupakan salah satu perwujudan jati diri bangsa yang 

memiliki  ciri khas dari gambaran kehidupan warga  negara kita  dari 

berbagai etnik. Kelangsungan hidup sebuah bentuk tradisi kebudayaan 

khususnya pengobatan tradisional agar tetap hidup dan berkembang sangat 

ditentukan oleh peranan kebijakan pemerintah dan kepedulian warga . 

Pengobatan tradisional merupakan salah satu wujud kearifan lokal di antaranya 

berfungsi untuk menjaga keseimbangan hidup. 

Obat tradisional yaitu  obat-obatan yang diolah secara tradisional, turun 

temurun, berdasar  resep nenek moyang, adat-istiadat, kepercayaan, atau 

kebiasaan setempat, baik bersifat magic maupun pengetahuan tradisional. 

Menurut penelitian masa kini, obat-obatan tradisional memang bermanfaat 

bagi kesehatan, dan kini digencarkan pemakaian nya sebab  lebih mudah 

dijangkau oleh warga , baik harga maupun ketersediaannya. Obat 

tradisional pada saat ini banyak dipakai  sebab  menurut beberapa penelitian 

tidak terlalu memicu  efek samping dan masih bisa dicerna oleh tubuh. 

Beberapa perusahaan mengolah obat-obatan tradisional yang dimodifikasi 

lebih lanjut. Media dan bagian dari obat tradisional yang bisa dimanfaatkan 

yaitu  air putih, akar, rimpang, batang, buah, daun, dan bunga. 

pemakaian  bahan alam, baik sebagai obat maupun tujuan lain cenderung 

meningkat, terlebih dengan adanya isu back to nature serta krisis 

berkepanjangan yang mengakibatkan turunnya daya beli warga . Obat 

tradisional dan tanaman obat banyak dipakai  warga  menengah 

kebawah terutama dalam upaya preventif, promotif dan rehabilitatif. 

Sementara ini banyak orang beranggapan bahwa pemakaian  tanaman obat 

atau obat tradisional relatif lebih aman dibandingkan obat sintesis. Walaupun 

demikian bukan berarti tanaman obat atau obat tardisional tidak memiliki efek 

samping yang merugikan, bila pemakaian nya kurang tepat. Agar 

pemakaian nya optimal, perlu diketahui informasi yang memadai tentang 

kelebihan dan kelemahan serta kemungkinan penyalahgunaan obat tradisional 

dan tanaman obat. Dengan informasi yang cukup diharapkan warga  lebih 

cermat untuk memilih dan memakai  suatu produk obat tradisional atau 

tumbuhan obat dalam upaya kesehatan. 

Efek samping obat tradisional relatif kecil jika dipakai  secara tepat, yang 

meliputi: 

1. Kebenaran bahan, tanaman obat di negara kita  terdiri dari beragam 

spesies yang kadangkala sulit untuk dibedakan satu dengan yang lain. 


 

Kebenaran bahan menentukan tercapai atau tidaknya efek terapi yang 

diinginkan  

2. Ketepatan dosis, tanaman obat, seperti halnya obat sintesis juga tidak 

dapat dikonsumsi sembarangan. Tetap ada dosis yang harus dipatuhi, 

seperti halnya resep dokter. Buah mahkota dewa (Phaleria 

macrocarpa), misalnya, hanya boleh dikonsumsi dengan 

perbandingan 1 buah dalam 3 gelas air, sedangkan daun mindi (Melia 

azedarach, L.) baru berkhasiat jika direbus sebanyak 7 lembar dalam 

takaran air tertentu 

3. Ketepatan waktu pemakaian , misalnya kunyit diketahui bermanfaat 

mengurangi nyeri haid dan sudah turun-temurun dikonsumsi dalam 

ramuan jamu kunyit asam yang sangat baik dikonsumsi saat datang 

bulan. Akan namun  jika diminum pada awal masa kehamilan berisiko 

memicu  keguguran. Hal ini menunjukkan bahwa ketepatan 

waktu pemakaian  obat tradisional menentukan tercapai atau 

tidaknya efek yang diharapkan  

4. Ketepatan cara pemakaian , satu tanaman obat dapat memiliki 

banyak zat aktif yang berkhasiat di dalamnya. Masing-masing zat 

berkhasiat kemungkinan membutuhkan perlakuan yang berbeda 

dalam pemakaian nya. Sebagai contoh yaitu  daun kecubung 

(Datura metel) jika dihisap seperti rokok bersifat bronkodilator dan 

dipakai  sebagai obat asma. Akan namun , jika diseduh dan diminum 

dapat memicu  keracunan  

5. Ketepatan telaah informasi, perkembangan teknologi informasi saat 

ini mendorong derasnya arus informasi yang mudah untuk diakses. 

Informasi yang tidak didukung oleh pengetahuan dasar yang 

memadai dan telaah atau kajian yang cukup seringkali mendatangkan 

hal yang menyesatkan. Ketidaktahuan dapat memicu  obat 

tradisional berbalik menjadi bahan membahayakan. 

 

 

Peluang studi kekinian etnobotani dalam mengungkapkan nilai (ekologi, 

ekonomi, etik, instrinsik) dan pembuktian ilmiah pengetahuan lokal, kearifan 

lokal, dan kecerdasan lokal, secara terperinci yaitu  sebagai berikut.  

1. Pengungkapan potensi dan meningkatkan nilai sumber daya 

tumbuhan dan ekosistem. Sebagai contoh, pengungkapan potensi 

bambu aya (Gigantochloa aya) yang merupakan jenis tumbuhan 

endemik Pulau Bali dipercaya dapat mengobati demam 

2. Memperkuat warga  lokal dalam pengelolaan sumber daya 

tumbuhan dan ekosistem melalui penguatan kelembagaan dan peran 

warga . Sebagai contoh, studi situs keramat alami dan tata guna 

lahan warga  Sasak meng-ungkapkan sistem pengelolaan sumber 

daya tumbuhan dan ekosistemnya yang secara ekologis dapat 

dipertanggungjawabkan keilmiahannya 

3. Mendukung pelestarian sumber daya tumbuhan, ekosistem, dan 

budaya. Sebagai contoh, pengungkapan sistem tata ruang Bali Tri 

Mandala yang memiliki nilai pelestarian pada tingkat jenis, 

ekosistem, dan sekaligus budaya warga  Bali 

4. Mengungkapkan dan membuktikan keilmiahan pengetahuan 

etnobotani menjadi ilmu yang bermanfaat dan berharga. Sebagai 

contoh, pengungkapan nilai-nilai warga  Bali tentang Usada 

yang terbukti hingga kini masih dipraktikkan dan bermanfaat dalam 

menjaga kesehatan warga  Bali seperti pemanfaatan pulai 

(Alstonia scholaris), sembung (Blumea balsamifera), kayu manis 

(Cinnamomum burmannii), dan sirih (Piper bettle) yang memiliki 

nilai obat tinggi. Pulai memiliki lebih dari 400 senyawa berbeda yang 

telah berhasil diisolasi, sangat kaya alkaloid, mengandung steroid, 

flavonoid, dan triterpenoid serta memiliki aktivitas tervalidasi 

terhadap Plasmodium berghei sebagai obat malaria. Sembung 

memiliki aktivitas biologis senyawa obat, yaitu antimikroba, 

antiinflamasi, hepatoprotektif dan aktivitas farmakologis lain. 

pemakaian  kayu manis untuk obat sudah sangat melegenda  Tanaman ini telah dibudidayakan dan bahkan 

produknya telah dikomersialisasikan secara luas. Orang Bali 

memakai  kayu manis untuk berbagai keperluan mulai dari 

memasak hingga obat, sedangkan aren (Arenga pinnata) diidentifikasi 

sebagai cultural keystone species sebab  hampir semua organ 

tubuhnya memiliki nilai guna bagi kehidupan warga  Bali 


5. Pengembangan iptek terapan (kesehatan, pertanian, bioteknologi, 

ekologi dan ilmu terapan lain). Sebagai contoh, pengembangan loloh 

(bahasa Bali untuk jamu), cemcem (nama dagang untuk kedondong 

hutan, Spondias pinnata), semacam minuman penyegar (refreshment) 

yang produknya sudah banyak dijual di berbagai pasar tradisional 

hingga restoran di Bali 

6. Mengungkapkan nilai ilmiah pengetahuan dan kearifan lokal 

pemanfaatan keanekaragaman tumbuhan sebagai bahan obat, pangan, 

energi terbarukan, dan kebutuhan aktual bangsa 

6.3.1 Tanaman Obat Tradisional dan Pengobatan di 

negara kita  

Tumbuhan obat tradisional memiliki  peranan penting terutama bagi 

warga  desa. pemakaian  tanaman sebagai obat menjadi salah satu pilihan 

utama warga  desa untuk mengobati suatu penyakit. Hal ini terjadi sebab  

obat tradisional mudah didapat dan tidak memerlukan biaya yang mahal 

dibanding obat-obatan modern serta tidak memiliki efek samping yang 

membahayakan. Cara pengolahan juga masih sangat sederhana hanya 

berdasar  kebiasaan dan pengalaman sehari-hari yang diwariskan secara 

turun temurun dari nenek moyang. Tumbuhan obat biasanya diambil langsung 

dari hutan, namun sebagian besar diambil dari sekitar pekarangan rumah yang 

sengaja ditanam sebab  manfaat yang dikandungnya. Tumbuhan obat biasanya 

sengaja ditanam selain manfaatnya sebagai obat juga disebab kan sebagian 

tumbuhan obat ini  dapat bermanfaat sebagai bumbu masak. 

Daun merupakan organ tanaman obat yang lebih banyak dimanfaatkan sebab  

dianggap cara pengolahannya mudah dan khasiatnya lebih besar dibanding  

 

bagian tumbuhan yang lainnya. Selain itu, daun juga menjadi bagian yang 

paling mudah diambil atau dipetik, keberadaanya selalu tersedia dan dapat 

ditemukan kapan saja saat diperlukan. berdasar  penelitian yang telah 

dilakukan melaporkan bahwa daun memiliki  kandungan air yang tinggi 

(80%) dan mengandung minyak atsiri, fenol,