Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 14. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 14. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 14

 





upun harga-

nya sangat tinggi (sekitar 80.000 Euro untuk 

terapi lengkap). 

Efek samping yang sering terjadi yaitu  

gejala in fluenza dan gangguan saluran cerna. 

Adakalanya juga efek sentral (pikiran kacau, 

halusinasi, desorientasi, termangu-mangu, 

kon vulsi) dan depresi sumsum tulang.

Dosis: infus i.v. 1 ml = 18 juta UI /m2 sehari 

se lama 5 hari. Kur diulang sesudah  2-6 hari.

B1c. Vaksin BCG: Oncotice

Sistem imun seluler yang merupakan sen-

jata ampuh terhadap kanker dapat distimulasi 

oleh vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin). 

Misalnya untuk kanker kandung kemih 

aktivasi sistem imun ini telah memberikan 

respons pada 60% dari penderita.

Vaksin ini dibuat dari basil hidup TB 

sapi Mycobacterium bovis. Selain berkhasiat 

imunstimul asi spesifik terhadap TB dan 

kusta (lihat Bab 50, Sera dan Vaksin), juga 

menstimulasi sistem imun secara tidak spe- 

sifik. Oleh sebab  itu dipakai  sebagai 

terapi tambahan sesudah  pembedahan atau 

radiasi untuk memusnahkan microme tastasis 

dan meniadakan imunosupresi akibat pena-

nganan penyakit. sebab  eksperimen terha-

dap banyak jenis kanker tidak menghasil- 

kan efek yang memuaskan, kini hanya digu-

nakan intravesikal pada kanker kan dung 

kemih.

Akhir-akhir ini imunoterapi telah lebih di-

kembangkan dengan memanfaatkan antigen 

yang spesifik terhadap jenis kanker tertentu 

sebagai vaksin tumor.

* Vaksin „BCG-human“ yang dibuat dari 

basil TB human (Mycobacterium tuberculosis) 

dipakai  di Jepang seba gai obat tidak res-

mi dengan khasiat yang cukup baik untuk 

memperpanjang jangka hidup penderita se-

jumlah jenis tumor. Vaksin ini terkenal seba-

gai vaksin Prof. Maruyama (Nippon Medical 

School, Tokyo).

B1d. Levamisol: tetramisol, Ascaridil, Ergami-

sol, Ketrax

Obat cacing ini (1969, lihat Bab 13) berkha- 

siat menstimulasi sistem imun seluler, yaitu 

meningkatkan perbanyakan dan migrasi 

limfo-T dan memperkuat fagositosis dan 

kemotaksis dari makrofag. dipakai  seca-

ra selang-seling terkom binasi dengan 5-FU 

pada kanker usus besar sesudah  pembedahan. 

Ada indikasi bahwa levamisol dapat mem-

perpanjang hidup dan mengurangi risiko 

residif.

Efek samping berupa gangguan lambung 

dan saraf. Jarang terjadi gangguan darah.

Dosis: bersama 5-FU oral 3 dd 50 mg sela-

ma 3 hari setiap 10 hari, total maksimal 52 

minggu.

b2 IMUNOSUPRESIVA

Imunosupresiva yaitu  zat-zat yang jus-

tru menekan aktivitas sistem imun seperti 

kebanyakan zat antitumor (kecuali aspara-

ginase, bleomisin dan hormon-hormon). Pada 

penyakit auto-imun, fungsi sistem imun 

terganggu dengan adanya auto-antibodies, 

sedang  limfo-T dan NK-cells menyerang 

jaringan/organ sendiri. Dalam keadaan ini 

sering kali digu na kan imunosupresiva un-

tuk mengurangi aktivitas penya kit. Misalnya 

pada rema dan penyakit radang usus (colitis 

ulcero sa, M. Crohn) dipakai  sito statika 

MTX, merkap topurin dan azatioprin. Imu-

nosupresiva lain yaitu  siklosporin, tali-

domida dan sulfasalazin (lihat Bab 8, Sul-

fonamida).

Struktur imunoglobulin

Antibodi monoklonal yaitu  imunoglo-

bulin dan memiliki struktur molekul ber-

bentuk huruf Y yang terdiri dari 2 pasang 

Tyrosin kinase dan Tyrosin kinase Inhibitors

Banyak obat anti kanker berkhasiat memblokir mutasi-mutasi pada gen yang dapat memicu timbulnya 

kanker, misalnya pada kanker usus seperti reseptor Growth Factor, jalur-jalur isyarat intrasel yang 

defek, proses reparasi DNA yang rusak dan apoptosis, juga angiogenesis tumor. Senyawa-senyawa 

untuk menghambat sasaran-sasaran baru ini yaitu  monoclonal antibodies (MOABs) dan tirosin 

kinase inhibitors (TKIs)

a. MOABs mematikan sel tumor melalui blokade fungsi satu reseptor spesifik dan mengikat pada 

antigen-antibodi kompleks yang bersifat sitotoksik. Banyak dipakai  sebagai obat rema dan 

penyakit radang usus kronis. Lihat juga Bab 21 Analgetika Antiradang, Boks Biologicals.

Kebanyakan dari senyawa-senyawa ini diberi nama dengan akhiran –umab/imab. Misalnya 

trastuzumab yaitu  obat MOAB pertama yang dipakai  terhadap kanker payudara (1978), disusul 

oleh banyak senyawa lain seperti bevacizumab dan cetuximab untuk kanker kolorektal, alemtuzu-

mab dan ofatumumab untuk CLL, rituximab untuk non-Hodgkin limfoma, lalu certolizumab, 

adalimumab dan infliximab pada rema. Zat terakhir yaitu  antagonis TNF-alfa, lihat di bawah.

b. TKIs bekerja dengan cara yang sama, namun  juga melalui penetrasi ke dalam sel dan menghambat 

terutama fungsi enzim tirosin kinase. Bersifat broadspectrum dan condong menjadi substrat bagi 

enzim hati oksidatif cytochrom P 450. Masa paruhnya panjang, t 1/2 12-24 jam dan diberikan oral 

setiap hari. Disebut dengan akhiran -tinib, misalnya zat pertama yang disintesis sebagai molekul 

sasaran/bidikan TKI yaitu  imatinib (Gleevec), yang dipakai  terhadap sejenis kanker darah lekosit 

kronis CML (Chronic Myelogenic Leukemia). Lalu disusul oleh banyak TKIs lain, seperti dasatinib dan 

nilotinib juga untuk CML, serta sorafenib dan sunitinib untuk kanker ginjal sesudah  terapi dengan 

IFN-alfa dan IL-2 tidak memberikan hasil.

*Tirosin kinase (TK) yaitu  bagian dari kelompok besar protein kinase dengan kandungan asam 

amino seperti treonin dan serin. TK mampu mentransfer gugus fosfat dari ATP kepada –OH dari 

tirosin yang tertinggal di molekul-molekul isyarat. TK berfungsi sebagai on or off switch pada 

banyak fungsi sel. Fosforilasi dari protein kinase merupakan mekanisme penting pada pemberian 

isyarat dalam sel dan mengatur aktivitasnya, seperti pembelahan sel. Fungsinya dapat mudah 

terhenti pada posisi ON yang berakibat pertumbuhan tak terkendali dan sel menjadi sangat besar. 

Proses ini merupakan hanya suatu langkah pada terjadinya kanker. Perkembangan modern pada 

sintesis sitostatika baru yaitu  mencari obat dengan tirosin sebagai sasaran, yaitu tirosin kinase 

inhibitor yang berkhasiat menghambat pertumbuhan sel tumor.

Genom manusia mengandung ±550 proteinkinase dan 130 fosfoprotein fosfatase, yang spesifik 

melakukan fosforilasi dari sisa-sisa protein di molekul isyarat.

Di dekade yll banyak senyawa tirosin kinase inhibitor telah dilansir pada onkologi dan hemato-

onkologi. Dengan meningkatnya pemakaian  kelompok obat baru ini, masalah interaksi antara 

obat merupakan risiko meningkat dan kebanyakan berhubungan dengan perubahan bioavailabilitas 

akibat perubahan pH lambung, metabolisme oleh isoenzim cytochrom P450 dan perpanjangan QT 

interval. 

* Tumor necrosis factor (TNF-alfa). Sitokin ini dibebaskan oleh berbagai sel dari sistem imun 

(makrofag, monosit, limfosit dan NKc) sebagai reaksi terhadap antara lain infeksi kuman dan rangsangan 

peradangan. Lalu TNF sendiri menstimulasi pelepasan se jumlah besar zat peran tara (mediator) lain, 

di antaranya IL-1 dan IL-6, prostaglandin, leukotri ën-leukotri ën, dan kor tikotrofin. Dengan demikian 

TNF sebagai pro-inflammatory cytokin bertanggung-jawab un tuk banyak efek dari suatu infeksi atau 

peradangan auto-imun kronis. Misalnya TNF merupakan mediator penting pada pathogenesis rema 

* Zat anti-TNF-alfa termasuk kelompok monoklonal antibodies human(MOABs) yang disintesis 

melalui teknik DNA-rekombinan. Sekarang ada  trastuzumab, adalimumab, etanercept (Enbrel) 

dan infliximab, dengan kedua obat terakhir khusus dipakai  pada terapi rema. 

Breedveld FC. Antagonisten van tumornecrosisfactor: infliximab, adalimumab en etanercept. NTvG 

2005;149:2273-7.

Efek samping merupakan peningkatan risiko kanker kulit non-melanoma, oleh sebab  itu pasien 

dianjurkan untuk memeriksakan kulit secara teratur pada terapi dengan obat-obat perintang TNF-

alfa.

rangkaian panjang dan rangkaian pendek 

protein yang identik (lihat gambar 14-1): 

– Sepasang dengan rangkaian panjang 

(“heavy chain” atau H-chain), dan

– Sepasang dengan rangkaian yang lebih 

pendek (“light chain atau L-chain)

Rangkaian ini terikat melalui jembatan 

sulfur (S).

Kedua “tangan” dari model ini terdiri dari 

masing-masing rangkaian L dan sebagian 

dari rangkaian H;

Sisa dari kedua rangkaian H membentuk 

“kaki” dari molekul imunoglobulin.

Sifat-sifat pengikatan antigen (Fab) terletak 

di “tangan”.

B2a. Siklosporin (Sandimmun, Neoral)

Polipeptida siklis ini yang diisolasi dari 

jamur Tolypocladium inflatum (1983) merupa-

kan suatu imunosupresan kuat. Berkhasiat 

menghambat secara selektif perbanyakan 

T-helper dan T-killercells yang tergantung 

dari IL-2. Selain itu, obat ini menstimulasi 

produksiT-suppressorcells sehingga peno-

lakan transplantat dihalangi. Tidak berkha-

siat myelosupresif. Selain pemakaian  uta-

ma ini, siklosporin juga dipakai  pada 

psoriasis dan colitis parah. Untuk mengurangi 

nefrotoksisitasnya sering kali dikombinasi de-

ngan imunosupresiva lain (azatioprin, pred-

nisolon) atau dengan zat-zat yang mening-

katkan kadarnya dalam darah, sehingga 

dosisnya dapat dikurangi.

Efek sampingnya banyak, antara lain rasa 

terbakar di kaki-tangan (selama minggu per-

tama), gangguan saluran cerna, hipertensi, 

sakit kepala, tremor, hipertrichosis, parestesia 

dan udema muka. Efek samping yang lebih 

serius yaitu  kelainan fungsi ginjal, hati 

dan darah (reversibel), yang tergantung dari 

dosis. Pada pemakaian  lama risiko akan 

kanker kulit dan limfoma sangat meningkat.

Dosis: oral permulaan 10-15 mg/kg sela-

ma 1-2 minggu, lalu berangsur-angsur ditu-

runkan sampai 2-6 mg/kg sehari dalam 2 

dosis.

B2b. Talidomida (Synovir) yaitu  obat tidur 

dengan efek terato gen sangat kuat (peristiwa 

Softenon, 1962) yang juga berkhasiat imuno-

su pre sif, antiangiogenesis dan antiradang. 

Sekarang ini obat itu  hanya digu nakan 

antara lain untuk menekan reaksi lepra dan 

pada aphtae hebat di mulut pasien AIDS 

B2c. Trastuzumab (Herceptin, 1999), suatu 

MOAB yang dipakai  pada terapi kanker 

payudara tersebar untuk memperpanjang 

dan memperbaiki kualitas hidup. Hanya 

efektif pada tipe tumor tertentu, di mana 

faktor pertumbuhan (human epidermal growth-

factor receptor type 2) HER-2 berperan. Fak-

tor ini yaitu  suatu peptida dari tipe tiro-

sinkinase di permukaan sel tumor dan tras- 

tuzumab bekerja dengan menduduki re-

septor HER-2 ini, sehingga pertumbuhan sel 

tumor terganggu. Antibodi ini juga mampu 

menandai sel kanker untuk dimusnahkan 

oleh sistem imun tubuh, namun  praktis tidak 

memengaruhi sel normal, sehingga efek sam-

pingnya relatif ringan, seperti panas dingin 

pada awal pengobatan di samping sakit ke-

pala dan mual. 

Sekarang telah dipastikan bahwa terapi 

dengan trastuzumab dapat menurunkan 

mortalitas dengan 50%. Keberatannya yaitu  

harganya yang sangat tinggi, ± $ 20.000 untuk 

satu kur dari 4 kali infus. Namun demikian di 

negeri Belanda trastuzumab akan dijadikan 

terapi standar untuk kanker payudara.

dipakai  sebagai infus i.v. 4 mg/kg berat 

badan; biayanya sangat tinggi (±USD 600-

1200 sekalinya). 

B2d. Bevacizumab: Avastin

 MOAB ini (2004) terikat pada suatu faktor 

pertumbuhan (growth factor) dan menghambat 

pembentukan dan pertumbuhan pembuluh 

dalam tumor. dipakai  dalam kombinasi 

dengan 5-FU atau folinat pada kanker ko-

lon atau rektum yang sudah menyebar. 

Juga dalam kombinasi dengan paclitaxel 

atau carboplatin terhadap kanker payudara 

bermetastasis.

Dalam kombinasi dengan paclitaxel, topo-

tecan atau doksorubisin dipakai  pada kan-

ker ovarium atau saluran telur yang resisten 

terhadap sitostatikum platina.

Dosis: kanker kolon/rektum 1x per 2 

minggu 7,5 /kg; kanker payudara 10 mg/kg 

1x per 2 minggu; kanker ginjal 10 mg/kg 1x 

per 2 minggu

B2e Rituximab: Mabthera

MOAB chimeris dari human-tikus (2004) 

ini diberikan pada penderita limfoma non-

Hodgkin, juga pada rematik bersama MTX , 

bila DMARDs lain tidak efektif. T1/2 panjang, 

pada pasien rema rata-rata 22 hari. 

Efek samping demam, dingin dan kaku, 

sering kali bronchospasme dan hipotensi, 

nausea dan muntah, nyeri kepala dan tumor. 

Pada gravida dan selama laktasi sebaiknya 

jangan dipakai .

Dosis: per infus semula dengan kecepatan 

50 mg/jam, sesudah  30 menit ditingkatkan 

dengan 50 mg/jam setiap 30 menit.

B2f. Cetuximab: Erbitux

MOAB chimeris ini dipakai  dalam 

kombinasi dengan irinotekan pada kanker 

kolorektal lanjut, sesudah  terapi dengan iri-

notekan gagal. Efek sampingnya sering kali 

reaksi kulit serius, dispneu khusus pada lan-

sia. Juga radang konjunctiva mata dan reaksi 

hipersensivitas sedang sampai hebat.

Dosis: Pada hipersensitivitas kecepatan in-

fus sebaiknya dikurangi. Terhadap kanker 

kolorektal lanjut irinotekan baru diberikan 1 

jam sesudah  infus cetuximab.

B2g. Alemtuzumab: MabCampath

MOAB human ini mengikat diri pada 

limfosit sehingga sel darah ini dimusnahkan. 

dipakai  pada CLL, bila terapi dengan zat 

alkilasi (fludarabin) tidak efektif.

Efek samping sangat sering terjadi pada 

minggu pertama, seperti demam, hipotensi, 

nyeri kepala, nausea dan muntah, rasa penat 

dan malaise.

Dosis: per infus 2 jam dengan dosis me-

ningkat, mulai dengan 3 mg pada hari per-

tama, 10 mg pada hari kedua dan 30 mg pada 

hari ketiga.

B2h. Imatinib: Glivec, Gleevec

Proteinkinase inhibitor yang secara selektif 

menghambat proliferasi dan memicu apop-


tosis pada CML dan ALL (Acute Lymfatic Leu-

kemia). PPP 95%, t1/2 18 jam, ekskresi dengan 

feses 63% dan via urin 13 %. 

Efek samping: depresi sumsum tulang dan 

gangguan saluran cerna. 

Dosis: pada kanker sangat individual.

B2i. Panitutumab: Vectibix

Monoklonal antibodi IgG2 mengikat de-

ngan kuat dan spesifik pada reseptor faktor 

pertumbuhan epidermal, memicu  

penghambatan pertumbuhan sel, induksi 

apoptosis dan pengurangan produksi inter-

leukin-8. dipakai  terhadap kanker colo-

rektal yang sudah bermetastasis dalam kom-

binasi dengan FU, asam folat dan oksaliplatin 

(FOLFOX) atau kombinasi dengan FU, asam 

folat dan irinotecan (FOLFIRI).

Efek samping: sangat sering anemi, conjunc-

tivitis, mual, muntah dan gangguan kulit. 

Dosis: i.v. 6 mg/kg sekali dalam 2 minggu.

B2j. Dasatinib: Sprycel

Tirosin kinase inhibitor ini yaitu  substrat 

dan penghambat dari CYP 3A4, enzim ok-

sidatif hati dari seri P450. dipakai  pada 

CML dalam tahap  kronis dan tahap  lain, yang 

resisten terhadap imatinib 800 mg/hari.

Efek samping: sangat sering depresi sum-

sum tulang, anemi, trombopeni dan neutro-

peni, biasanya reversibel, juga udema paru, 

nyeri kepala, diare, perasaan penat dan pen-

darahan.

Dosis: CML di tahap  kronis 1 dd 300 mg pagi 

atau malam.

B2k. Erlotinib: Tarceva

HER 1-tirosinkinase inhibitor, mengham-

bat fosforilasi intrasel dari reseptor faktor 

pertumbuhan. dipakai  pada kanker paru 

non-sel kecil sebagai pilihan kedua sesudah  

sitostika lain tidak memberikan hasil.

Tidak dianjurkan pada kehamilan dan se-

lama laktasi, sebab  tidak ada data mengenai 

keamanannya. Efek samping paling sering 

yaitu  ruam kulit.

Dosis: individual.

B2l. Lapatinib: Tyverb

Proteinkinase inhibitor yang menghambat 

dua jenis aktivitas tirosinkinase dari HER 2 

dan faktor pertumbuhan lain. dipakai  (se-

jak 2007) pada kanker payudara tersebar 

dengan overexpresi-HER 2, bersama kapesi-

tabin sebagai pilihan kedua, sesudah  terapi 

dengan suatu antrasiklin, taksan dan tras-

tuzumab tidak memberikan hasil. 

Wanita hamil dan selama laktasi tidak di-

anjurkan memakai  zat ini sebab  ber-

khasiat teratogen.

Dosis: 1 dd 1250 mg bersama kapesitabine 

selama 21 hari.

B2m. Sorafenib: Nexavar

Tirosinkinase inhibitor, dengan khasiat 

anti proliferasi dan anti angiogenesis. Meng-

hambat berbagai kinase dalam sel tumor. 

dipakai  pada kanker ginjal lanjut, sesudah  

terapi dengan interleukin-2 atau interferon-

alfa tidak berhasil, juga pada kanker hati.

Efek samping: paling sering depresi sum-

sum tulang dan retensi air. Wanita hamil dan 

selama laktasi tidak dianjurkan mengguna-

kan obat ini.

Dosis: individual.

C. HORMON  

DAN ANTIHORMON

Kortikosteroida (hidrokortison, prednison 

dan sebagainya) berkha siat antara lain me-

larutkan limfosit (limfolitis) dan menekan 

mitosis di lekosit. Oleh sebab  itu, obat ini 

sangat penting pada terapi limfoma dan 

leukemia akut pada anak-anak. Untuk pem-

bahasan lebih lanjut, lihat Bab 46, Kortikoste-

roida.

Hormon kelamin. Pertumbuhan dari se-

jumlah tumor yang bersifat estrogen/andro-

gen dependent, sebagian tergantung dari hor-

mon-hormon kelamin, mis. kanker payudara 

dan prostat yang masing-masing memiliki 

reseptor estrogen/progesteron dan reseptor 

testosteron. Proses pertumbuhan ini dapat 

dihambat dengan pemberian hormon yang 

berlawanan atau dengan mengeluarkan ke-

lenjar yang memproduksi hormon bersang- 

kutan, mis orchidectomy pada kanker prostat. 

namun  daya kerja hormon biasanya hanya 

temporer (selewat) sebab  sel-sel yang ti-

dak tergantung pada hormon (hormone-


independent cells) memegang peranan lebih 

besar. 

Zat-zat estrogen (etinilestradiol, fosfestrol) 

dipakai  pada kanker prostat yang ber-

metastasis. Pro gestativa (megestrol, medroksi-

progesteron) dan zat-zat androgen (testosteron, 

nandrolon) dapat dipakai  pada kanker 

payudara dan kanker endometrium yang 

sudah tersebar.

Antihormon kelamin yaitu  senyawa-se-

nyawa yang merintangi hormon di jaringan 

tujuan dan dengan demikian menghalangi 

kerjanya. Yang dipakai  yaitu  zat anti es-

trogen dan zat anti androgen.

*Anti estrogen (oestrogen antagonis) seperti 

tamoksi fen (Nolvadex) bekerja melalui pe-

nempatan reseptor estrogen pada tumor 

payudara yang bersifat estrogen-dependent. 

Zat-zat penghambat aromatase aminoglu-

tetimida (Orimeten) dan anastrozol (Arimi-

dex) mengurangi kadar estrogen yang ber-

edar dan menghambat sintesisnya dalam sel 

tumor. Antihormon ini khusus dipakai  

pada kanker payudara yang tersebar pada 

wanita post-menopause dan akhir-akhir ini 

ternyata bahwa khasiatnya lebih baik di-

bandingkan dengan tamoksifen. Lih. selan-

jutnya Bab 44, Hormon-hormon wanita. 

 Kanker endometrium memiliki reseptor 

bagi estrogen maupun progesteron. Pem-

berian progestagen sintetik medroksipro-

gesteronasetat (lih. Bab 45, Antikonseptiva) 

menghentikan (regress) ± 20% dari metastasis 

dengan reseptor positif untuk jangka waktu 

20 bulan, sedang  tamoksifen praktis tidak 

bermanfaat. 

* Anti-androgen yang banyak dipakai  

yaitu  siproteron (Androcur), flu tami da (Fu-

ge rel), bikalutamida (Casodex) dan niluta-

mida (Anan dron) yang menghalangi pe-

ngikatan DHT (= dihidrotestosteron) aktif pa-

da reseptornya dalam sel prostat sehingga 

DHT tidak dapat berfungsi. Senyawa ini ter- 

utama dipakai  pada kanker prostat yang 

bermeta stasis. Lihat selanjutnya Bab 43, Hor- 

mon-hormon Pria. Tidak tersedianya hormon 

androgen pada kanker prostat yang berlanjut, 

dapat memicu  regresi pada ±70% 

dari kasus selama 24 bulan. Efek yang sama 

dapat ditimbulkan oleh agonis GnRH seperti 

goserilin, namun  perintang reseptor androgen 

seperti flutamida tidak begitu efektif. Wa-

laupun pada permulaan terapi kombinasi 

dari flutamida dan goserilin dapat dipakai  

untuk menghindari flare up dari penyakit 

akibat efek agonis GnRH. namun  ternyata 

bahwa pemakaian  kombinasi ini dalam 

jangka waktu panjang tidak lebih bermanfaat 

daripada terapi tunggal dengan goserilin. 

* Derivat-derivat LH-RH. LH-RH dibentuk 

oleh hipotalamus yang mengatur pelepasan 

hormon hipofisis FSH dan LH. Senyawa ini 

dipakai   pada terapi paliatif kanker pros-

tat yang bermetastasis untuk memicu  

kastrasi hormonal/kimiawi, yakni menghen-

tikan prod uksi testosteron dan androsteron 

oleh tes tis. Mekanisme kerjanya melalui sti-

mulasi sementara dari hipofisis dan testis, 

kemudian meng ham batnya sehingga kadar 

testosteron darah menurun dengan ± 90%. 

Sisanya masih diproduksi oleh anak ginjal. 

Untuk merintangi produksi ini, sering kali 

dilakukan terapi kombinasi dengan zat-zat anti 

andro gen flutamida dan nilutamida.

FDA Amerika telah mengidzinkan peng-

gunaan derivat lain enzalutamida untuk 

kanker prostat yang resisten terhadap kas-

trasi dan telah diobati dengan docetaxel. De-

rivat-derivat yang sekarang dipakai  ada-

lah goserilin (Zoladex), leuprorelin (Tapros, 

Lucrin), buserelin (Suprefact) dan triptore-

lin (Decapeptyl). Lihat selan jutnya Bab 42, 

Hormon-hormon. Hipofisis.

D. ObAT–ObAT LAINNyA

Sitostatika lain yang dipakai  pada kanker 

yaitu  enzim asparaginase, senyawa-senyawa 

platina sisplatin dan karboplatin, hidroksiurea 

dan prokarbazin.. 

D1. l-Asparaginase: crisantaspase, Leunase, 

Paronal, Erwinase

Enzim yang diperoleh dari pembiakan 

bakteri E. coli ini (1969) mengkatalisasi pe-

rombakan hidrolisis levo-as paragin menjadi 

asam aspartat dan amoniak. Dengan demikian 

sel-sel tumor tidak mendapati lagi asam 

amino asparagin yang esensiil bagi sintesis 

proteinnya dan terhenti perkembangannya. 

Obat ini berkhasiat imunosupresif dan praktis 

tidak myelosupresif atau merusak mukosa.

Terutama dipakai  terhadap Acute Lym-

fatic Leukemia (ALL) pada anak-anak bila 

obat-obat lain tidak efektif lagi. Biasanya 

dikombi nasi dengan MTX atau sitarabin, 

yang memperkuat khasi atnya bila diberikan 

7-14 hari sesudah  pemberian asparaginase.

Efek samping: sering kali gangguan saluran 

pencernaan, anoreksi, mual, muntah, juga 

reaksi alergi urticaria, bronchospasme dan 

hipotensi.

Dosis: i.m. 100-400 U/kg atau i.v. 200-2000 

U/kg se hari selama 2-4 minggu.

D2. Cisplatin: Platamine RTU, Platinol

Senyawa diaminodiklor dari platina ini 

(1979) bekerja sitosta tik dengan menghambat 

sintesis DNA dan RNA. Mirip dengan me-

kanisme kerja zat-zat alkilasi, rantai-rantai 

DNA saling disambung dengan jembatan-

jembatan platina (cross-linking). Obat ini 

ter-utama dipakai  terhadap kanker testis 

dan ovarium yang sudah tersebar, biasanya 

dikombinasi dengan bleomisin dan vinblas-

tin/etoposida. Pada kanker ovarium, sekarang 

ini kombinasi dari sisplatin + siklofosamida 

+ paklitaksel dianggap sebagai pilihan per-

tama. Juga dipakai  pada jenis-jenis tumor 

lain, misalnya dari kepala dan leher, prostat 

dan kandung kemih.

Efek samping yang sering terjadi yaitu  

nausea dan muntah-muntah hebat, juga dapat 

merusak fungsi ginjal dan telinga (nefro- dan 

ototoksik). Oleh sebab itu, senyawa ini tidak 

dapat dikombinasi dengan aminoglikosida.

Dosis: infus i.v. 50-200 mg/m2 setiap 3-4 

minggu atau 15-20 mg/m2 selama 5 hari de-

ngan istirahat 3-4 minggu.

* Karboplatin (Paraplatin) yaitu  derivat 

(1986) dengan cara kerja yang hampir sama; 

pemakaian ya terutama pada kanker ovari-

um yang bermetastasis. 

Efek samp ingnya terhadap ginjal, telinga dan 

lambung lebih ringan, namun  depresi sumsum 

tulang dengan risiko trombocytopenia.

Dosis: infus i.v. 300-400 mg/m2 sehari 

setiap 4 minggu.

* Oxaliplatin (Eloxatin) yaitu  derivat siklo-

heksan (1996) yang dipakai  dalam kom-

binasi dengan 5 -FU dan folinat pada kanker 

kolorektal yang tersebar.Mengikat pada eri-

trosit dan dari ikatan ini dibebaskan dengan 

sangat lambat. Dimetabolisasi kuat menjadi 

metabolit aktif dan inaktif, sebagian besar 

diekskresi melalui urin. 

Efek samping berupa depresi sumsum tu-

lang dan reaksi saraf. 

Dosis: infus intravena 85 mg/m2 permu-

kaan tubuh setiap 2 minggu selama 2-6 jam, 

sebelum pemberian 5-FU.

D3. Hidroksikarbamida: hidroksiurea, Hydrea

Derivat urea ini (1964) bekerja anti tumor 

dengan merusak reduktase yang penting bagi 

sintesis DNA. dipakai  terhadap leukemia 

kronis dan kanker di daerah kepala. Pada 

Congres AIDS (Chicago, Januari 1998, dr F. 

Lori) telah dilaporkan efektivitas kombinasi 

Hydrea dengan triple therapy pada penderita 

HIV positif: Pada 24 pasien percobaan virus 

HIV hilang dari darah semua pasien dalam 

beberapa bulan.

Efek sam pingnya terutama berupa myelo-

supresi dan gangguan neurologik, sebab  

luas terapinya sangat sempit pada dosis 

efektif. 

Dosis: oral 1 dd 80 mg/kg setiap 3 hari.

D4. Prokarbazin: Natulan

Derivat metilhidrazin ini (1965) berkhasiat 

sitostatik dengan mekanis me kerja yang 

mirip zat-zat alkilasi. Khusus dipakai  

pada limfoma Hodgkin bersama klormetin, 

vinkristin dan prednison (kur MOPP). Obat 

ini merupakan perintang enzim MAO lemah, 

oleh sebab  itu tidak dapat dikombinasi 

dengan antidepresiva trisiklis, juga tidak 

dengan alkohol sebab  efek disulfiram (lihat 

juga metronidazol, Bab 12, Obat-obat Amebi-

asis). .

Efek samping terpenting yaitu  myelo-

supresi, hemolisis dan pendarahan, juga 

gangguan saluran cerna dan reaksi neuro-

logik. Bersifat karsinogen (leukemia).

Dosis: oral dalam skema MOPP, 100 mg/

m2 sehari se lama 14 hari dengan istirahat 4 

minggu.

E. ObAT–ObAT ALTERNATIF

E1. Antioksidansia dan Free Radicals

Pada semua proses metabolisme tubuh, 

terutama reaksi dengan oksigen, terbentuk 

molekul-molekul dengan kehilangan elek-

tron (tak berpasang, unpaired) di kulit luarnya. 

Zat-zat ini yang dinamakan radikal bebas 

(FR, Free Radicals), bersifat sangat reaktif 

dan cenderung ‘menye rang‘ molekul-mole-

kul yang dapat menyerahkan elektron pa- 

danya. Syukurlah tubuh memiliki suatu ja-

ringan pelindung dari antioksi dansia (AO) 

alamiah yang mudah diok sidasi (menye-

rahkan elektron) dan dengan demikian me-

netralkan sebagian besar FR itu . Yang 

terpenting yaitu  vitamin A, C dan E, serta en-

zim-enzim alamiah glutationperoksidase (GPx), 

superoksida dismutase (SOD) dan katalase.

Bila sebab  sesuatu sebab tubuh keku-

rangan AO alamiah, mem bran sel dan/atau 

inti sel dapat dirusak oleh FR. Akibatnya 

proses menua dari jarin gan dipercepat di 

samping ter jadi cacat pada DNA. Bila tidak 

direparasi atau dimusnahkan oleh sistem 

imun, sel dapat memperbanyak diri menjadi 

sel-sel ganas. Selain itu FR juga dianggap 

turut bertanggung jawab untuk sejumlah 

gangguan lain, seperti pengeruhan lensa mata 

(staar, ca taract) dan pengendapan oksi-LDL ko-

lesterol pada dind ing pembuluh dengan ter-

jadinya aterosklerosis.

FR penting dalam tubuh yaitu  radikal 

hidrok sil (OH-), superoksida (O2

-) dan peroksida 

(H2O2

-). Lingkungan kita juga meng hasilkan 

FR, a.l. sinar UV dari matahari, asap rokok, 

gas buangan kendaraan bermotor dan pabrik, 

smog dan sebagainya. Pembebanan FR (stress 

oksidatif) akibat polusi lingkungan tidak selalu 

bisa dihindari dan sampai derajat tertentu 

dapat ditanggu langi oleh orang sehat. namun  

bila pembebanan terlam pau berat atau daya 

tahan imun kurang baik, maka zat itu  

dapat merugikan kesehatan.

Food supplement. Antioksidansia yang ba-

nyak dipakai  sebagai food -supplement ada-

lah vita min A, C dan E, mineral selen (Se) dan 

seng (Zn), kurkumin, genistein, quercetin, 

ubikuinon (coenzim Q10), piknogenol (OPC) 

dan asam-asam amino sistein dan metionin. 

Semua sediaan ini dapat dibeli bebas se bagai 

suplemen diet. Teoretis AO sebagai suplemen 

mampu mematikan sel-sel tumor melalui 

berbagai cara, namun  dalam praktik sering 

mengecewakan. Kegunaannya terutama me- 

ningkatkan daya tahan tubuh agar lebih 

bertahan terhadap terapi dengan sitostatika. 

Lihat juga Bab 53, Vitamin dan Mineral, 

Radikal bebas dan antioksidansia.

* Vitamin E dalam membran sel memegang 

peranan khusus, yaitu pada perlindungan 

terhadap kerusakan otot pada waktu gerakan 

tubuh dan olahraga. Vitamin A, C dan E, juga 

AO enzimatik itu  di atas melindungi 

paru-paru terhadap oksidasi dan kerusakan 

akibat FR. Bila perlindungan kurang sem- 

purna, dapat terjadi kerusa kan pada epitel 

gelembung paru-paru yang memicu  

beberapa penyakit seperti bronchitis dan emfi-

sema (COPD, lihat Bab 40, Obat Asma).

E2. Genistein

Genistein dengan metabolitnya daidzein 

dan glisitein, yaitu  isoflavon yang ada  

dalam kedele (soya) dan produknya (tahu, tem-

pe) sebagai aglukon dari gliko sida genistin, 

daidzin dan glisitin. 

Fito-estrogen (Yun. Phyto- = tanaman). Se-

cara kimiawi genistein merupakan derivat 

dari masing-masing dihidro- dan monohid ro-

benzo piran,yang dalam usus diubah oleh flora 

usus menjadi senyawa yang mirip estrogen 

(Gnm Bull 2000;34:100-1). Zat-zat ini ada  

dalam banyak tumbuhan dan memiliki 

kurang lebih khasiat estrogen.

Zat-zat ini dapat dibagi dalam 3 kelompok 

yaitu isoflavon (dalam kedele), coumestan 

(dalam linseed/Semen Lini dan biji-bijian ber-

minyak lain) dan lignan (dalam alfalfa, sejenis 

tauge). 

Mekanisme kerjanya melalui penempatan 

reseptor estrogen. namun  efek estrogennya 

hanya ±1000 kali lebih lemah. Pada dosis 

rendah ternyata melindungi terhadap os-

teoporosis, namun  menurut berita terakhir 

isoflavon tidak berfungsi pada kehilangan 

unsur tulang pada wanita pasca menopause.

Bijl, Isoflavonen niet werkzaam bij postme-

nopauzaal botverlies en overgangsklachten; 

Ned Tijdschr Geneesk 11, 131-132; 2011

Dalam usus aglukon itu  dibebaskan 

dari glikosidanya dan diserap ke dalam da-

rah. Zat-zat ini berkhasiat antitumor berda-

sarkan sifat antioksidan dan stimulasi sistem 

imun secara aspesifik dan di samping itu juga 

melalui beberapa mekanisme lain, yaitu: 

*  menghambat reseptor estrogenyang terutama 

penting pada sejumlah kanker yang me-

miliki ‘estrogen-dependent receptors’, misal-

nya kanker payudara, uterus dan prostat ;

*  mencegah pembentukan pembuluh-pembuluh 

darah baru(angiogenesis), lihat di bawah 9c. 

Turahiu ;

*  menghambat enzim tyrosinkinase dan topoi-

somerase-2 yang menstimulasi pertum-

buhan sel tumor.

 

Sifat inhibisi enzim ini sangat kuat.

• menstimulasi pulihnya sel-sel tumor menjadi 

sel normal yang sehat pada a.l. leukemia, 

kanker kolon dan kanker paru-paru;

• menstimulasi apoptosis, yang mungkin juga 

memegang peranan.

Pada Symposi um soya Internasional ke-2, 

tanggal 15-19 September 1996 di Brussel, 

dilaporkan bahwa di negara-negara di mana 

penduduk mengonsumsi banyak produk 

kedele (tahu), seperti Korea Selatan dan Cina, 

angka kematian akibat kanker payudara, 

uterus dan prostat lebih rendah 8 kali 

dibandingkan dengan negara-negara Barat.

pemakaian  nya dian jurkan untuk prevensi 

dan pengobatan beberapa jenis kanker yang 

estrogen-dependent dan juga efektif terhadap 

kanker paru-paru, usus besar, kulit dan leu-

kemia. Dewasa ini juga dipakai  untuk 

menanggulangi keluhan klimakterium dan 

osteoporosis. 

Efek samping serius tidak diketahui, laporan 

mengenai efek negatifnya terhadap fungsi 

otak ternyata secara ilmiah tidak dapat di-

benarkan.

Dosis: sebagai obat tambahan pada kanker 

3 dd 2-4 caps Extr. Genistin 250 mg, untuk 

prevensi 1 dd 250-500 mg, pada keluhan ma-

sa peralihan 2 dd 250 mg. Sebaiknya zat ini 

diminum bersamaan dengan yoghurt atau 

bubur.

E3. Lycopen (pseudo-karoten, E 160 d) memiliki 

daya kerja antioksidan yang 3 kali lebih 

kuat daripada beta-karoten. Banyak studi 

menyatakan efek anti tumornya pada kanker 

paru, payudara dan endometrium serta 

merintangi proliferasi sel, juga memperkecil 

risiko timbulnya tumor. Lihat selanjutnya 

Bab 53, Vitamin dan mineral.

* Quercetin. Senyawa flavon ini ada  di 

banyak sayuran, buah-buahan dan sumber 

terpenting yaitu  teh, bawang, buah apel dan 

anggur merah. Dalam jumlah lebih sedikit 

juga ada  dalam andevi, brokoli, prei 

dan kacang panjang. Berkha siat antitumor 

melalui stimulasi apoptosis, menghambat proli-

ferasi sel dan mencegah pembentukan prosta-

glan din (PgE2) dalam tumor. Di samping itu 

juga menghambat agregasi trombosit dan 

mungkin juga mencegah trombosis. Juga ber-

sifat antioksidan dan meng hambat oksidasi 

LDL-kolesterol. Berkat kedua sifat terakhir, 

senyawa ini dianjurkan pemakaian nya un-

tuk prevensi penyakit jantung.

Efek samping tidak tesedia data.

Dosis: pada kanker 3 dd 400-600 mg; untuk 

prevensi PJP 1-2 dd 100 mg.

E4.  Ekstrak teh hijau, Epi Gallo Catechin 

Gallat (EGCG)

Teh hijau terdiri dari daun Camellia sinensis 

kering yang tidak difermentasi, sehingga 

mengandung banyak flavonoida katechin ka-

rena oksidasi enzimatik menjadi tanin sa- 

ngat dihambat. Selain epigallo-catechingallat, 

teh hijau juga mengandung zat-zat polife-

nol lain, a.l. coffeic acid, cholic acid dan sy-

ringic acid, juga vitamin K dan sedikit ko-

fein. Lihat juga Bab 23, Drugs, kofein dan 

Bab 53, Vitamin dan Mineral,. Bioflavono- 

ida. Telah dibuktikan bahwa teh hijau 


memiliki sejumlah sifat berdasar  kha-

siat antioksidan sangat kuat, yang tidak 

dimiliki teh hitam. Yang terpenting yaitu  

efek anti tumor, anti lipidemia dan anti 

aterosklerosis, anti bakteriil kuat dan efek 

thermogen akibat stimulasi pembakaran le-

mak. Efek anti tumornya diperkirakan ber- 

dasarkan penghambatan pembentukan se-

nyawa nitroso (dari nitrit dan asam-asam 

amino) serta merintangi efek mutagen dari 

banyak zat karsinogen. 

pemakaian . Dianjurkan pemakaian nya 

pada terapi alternatif dari berbagai jenis 

kanker dan pada prevensi serta pena-

nganan aterosklerosis. dipakai  sebagai 

ekstrak dengan 50% polifenol atau sebagai 

minuman teh pada penanganan tambahan 

dari semua jenis kanker, juga pada prevensi 

dan penanganan hiperlipidemia dan ateros-

klerosis.

Efek sampingnya tidak diketahui. Namun 

bila diminum sebagai teh dalam jumlah 

besar, penyerapan mineral-mineral penting 

dari usus dapat dihambat sebab  diikat pada 

tanin yang selalu masih ada  dalam 

jumlah kecil. Ekstraknya telah dibuat bebas 

tanin.

Dosis: 3 dd 250 mg (kapsul) d.c.

E5. Ubikinon: ubiquinon, Co-enzym Q10.

Derivat dimetoksikinon ini yaitu  zat 

alamiah yang ada  dalam setiap sel tubuh 

manusia. (Lat. ubique = berada di mana-

mana, everywhere). Dalam makanan ada  

agak banyak Q10, terutama minyak kedele, 

ikan berlemak (makrel, sardencis), daging 

sapi dan ayam, produk gandum total (whole 

grain), kacang-kacangan, bayem dan broc-

coli. Di samping Q10 juga ada  Q1 - Q9 

yang tidak dapat dipakai  secara lang-

sung oleh mitochondria, namun  perlu diubah 

dahulu dalam hati menjadi Q10. Selain kha-

siat stimulasi pembentukan energi dan 

memperkuat kontraksi jantung, Q10 juga 

memiliki kerja antioksidan kuat.

Proses bio-energetik berlangsung dalam ra-

tusan mitochondria, yakni unsur-unsur kecil 

berbentuk kacang (bean) yang ada  dalam 

setiap sel dan dianggap sebagai pusat energi. 

Mitochondria ini sangat banyak ada  

dalam sel-sel yang memerlukan banyak 

energi, seperti sel-sel jantung, otot dan hati. 

Dalam pusat energi ini, karbohidrat dan 

lemak dari makanan dibakar (= oksidasi) 

dengan menghasilkan energi + CO2 + H2O + 

urea). Energi ini diperlukan untuk pertum- 

buhan, produksi kalor, kerja otot, mengak-

tifkan sistem imun dan proses fisiologi 

lainnya. Lalu energi pembakaran ini secara 

enzimatik (dengan Q10) diikat sebagai ener-

gi kimiawi melalui pembentukan molekul 

ATP (Adenosine Tri Phosphate). Bila sel me-

merlukan energi untuk misalnya kontraksi 

otot, ATP ini diuraikan menjadi cAMP (cyclic 

Adenosine Mono Phosphate) dengan membe-

baskan energi. Kemudian cAMP dalam mi-

tochondria diregenerasi menjadi ATP mela-

lui pengikatan pada energi pembakaran, di 

mana Q10 berperan secara aktif. Lihat juga 

Bab 40, Obat-obat asma, mekanisme kerja 

adrenergika.

glukosa + O2  H2O + CO2 + En

      ATP  cAMP + En

Q10

    

Pada lansia proses sintesis Q10 dari pre-

cursornya dalam hati sudah berkurang, se-

hingga sel kekurangan energi. Hal ini dihu-

bungkan dengan terganggunya sistem imun, 

jantung, pernapasan, anak ginjal, hipertensi 

dan kegemukan. Menurut para ilmuwan 

menurunnya kadar Q10 dalam tubuh dengan 

25% dapat memicu  sejumlah penyakit 

parah, bahkan fatal bila penurunannya mele-

bihi 75%. Produksi Q10 dalam hati menurun 

akibat antara lain kekurangan vitamin-B.

pemakaian nya sebagai obat tambahan 

pada gangguan jantung berdasar  pening-

katan pembentukan energi melalui produk-

si lebih tinggi dari senyawa ATP yang kaya 

energi. 

Q10 memperkuat kerja pompa dari jan-

tung, yang memerlukan banyak energi. Mi-

salnya pada angina pectoris dosis tinggi dari 

Q10 membantu mitochondria di dalam sel-sel 

jantung untuk mempergunakan oksigen lebih 

baik yang ketersediaannya berkurang akibat 

aterosklerosis. 

Q10 ternyata sangat berguna sebagai unsur 

tambahan pada terapi dengan obat jantung 

(digoksin, diuretika, Ca-blocker, ACE-inhi-

bitor dan beta-blocker). 

berdasar  sifat antioksidannya Q10 ber-

peran pada pencegahan oksidasi LDL-ko-

lesterol oleh vitamin E yang menetralkan 

radikal bebas. Pada proses netralisasi itu 

vitamin E sendiri dioksidasi menjadi suatu 

zat toksik, yang dapat diregenerasi (reduksi) 

kembali oleh Q10 (dan vitamin C). Dengan 

demikian Q10 bersama vitamin E dan C 

dapat dipakai  untuk melindungi tubuh 

terhadap aterosklerosis dan prevensi PJP. 

pemakaian  lain yaitu  untuk memperkuat 

sistem imun.pada penderita kanker. Menurut 

penelitian kadar antioksidansia dalam tubuh 

penderita kanker rendah. Jumlah limfo-T 

berkurang bila sistem imun lemah, sehingga 

lebih mudah terjadi infeksi. Sistem imun tidak 

lagi memusnahkan sel-sel cacat yang telah 

dirusak kode genetiknya (DNA) sehingga 

membelah secara liar. Akhirnya dapat timbul 

kanker.

Dosis: oral 1-2 dd 30-100 mg.

 

E6. Kurkumin

Antioksidan polifenol ini ada  sebagai 

zat warna kuning di berbagai jenis Curcuma 

(temulawak/C. longa, kunir). Berkhasiat anti 

radang kuat, anti agregasi dan dapat menu-

runkan kolesterol.

Lihat selanjutnya Bab 16, Obat-obat Lam-

bung.

E7. Turahiu: tulang rawan hiu, Cartilade.

Tulang rawan hiu mengandung polipep-

tida dengan daya kerja menghambat angio-

genesis yaitu pembentukan pembuluh da-

rah baru yang berfungsi menyalurkan zat 

gizi dan oksigen ke sel tumor. Tulang rawan 

hiu juga mengandung mukopolisakarida (nama 

baru: glukosaminoglikan) yang berkhasiat men-

stimulasi sistem imun. berdasar  sifat-sifat 

ini, sejak awal tahun 1990 telah dipakai  

untuk prevensi dan penanganan berbagai 

jenis kanker (Dr William Lane). Dilaporkan 

sejumlah penyembuhan dramatis, a.l. dari 

pasien kanker paru pada stadium akhir. FDA 

Amerika telah mensponsori dua penelitian 

besar pada pasien kanker payudara dan 

prostat. 

Protein-protein aktif ternyata sangat mu-

dah diinaktifkan selama pembuatan, a.l. oleh 

kalor yang timbul sewaktu penggilingan tu-

lang. Lagi pula sukar sekali ditentukan efek-

tivitasnya terhadap angiogenesis, sedang  

harga preparat asli (Cartilade) sangat mahal 

(± $200 per kg, cukup untuk 15-20 hari). 

Oleh sebab  itu waspyaitu  terhadap pre-

parat murah di pasaran, yang tidak atau 

kurang aktif sebab  dicampur dengan tulang 

ayam yang digiling halus, atau terdiri dari 

turahiu yang diproduksi kurang saksama. 

Keberatan lain yaitu  biayanya yang sangat 

mahal berhubung dengan dosis besar yang 

diperlukan.

Efek samping hanya berupa sukar buang air 

besar akibat kadar kalsium yang tinggi dalam 

serbuk turahiu. Keluhan ini dapat diatasi 

dengan minum laktulosa setiap hari 15-30 ml.

Dosis: 1 g/kg/hari dalam 2-3 dosis, tersus-

pensi dalam setengah cangkir air, pada perut 

kosong, sebab  protein-protein aktif diinak-

tifkan oleh enzim lambung. Bau amis dapat 

diselubungi dengan beberapa tetes essence 

vanili, arbai dan sebagainya. 

E8. Ekstrak Viscum album: mistletoe, Iscador

Tumbuhan semi parasit yang termasuk 

famili Loranthaceae tumbuh dalam bentuk bola 

pada beberapa jenis pohon Eropa, antara lain 

pohon oak dan pohon apel. Kandungannya 

antara lain alka loid dan polipeptida visko-

toksin, yang berkhasiat sitotok sik pada dosis 

sangat tinggi. Juga protein-protein khusus 

(lektin-lektin) dengan efek imunsti mulasi 

pada dosis rendah, yang mengaktivasi lim-

fosit dan NK cells, men stimulasi fagosito-

sis oleh monosit dan pelepasan IL-1, IL-6 

dan TNF dari makro fag. Pemanasan di atas 

900C meniadakan aktivitasnya. Juga tersedia 

sebagai tingtur untuk pemakaian  oral, 

namun  dianggap kurang efektif.

Obat ini dipakai  sejak ±1922 (dr Rudolf 

Steiner, antro posof) dengan hasil tidak menentu 

pada terapi alter natif kanker berdasar kan 

peng obatan rakyat tradi sional. Baru pada 

tahun 1960 diketahui secara ilmiah zat-zat 

yang dikandung dan aktivitas anti tumornya. 

Zat ini banyak dipakai  di Jerman dan 

Swiss, paling efektif sebagai injeksi i.m. 

(Iscador)

* Benalu (Loranthus parasiticus) yaitu  pa-

silan dari famili Lorantha ceae, yang hidup 

pada tanaman teh, mangga dan sebagainya. 

Belum diketa hui zat kandungannya. Obat 

ini juga dipakai  di negara kita  sebagai obat 

kanker tradisio nal atas dasar pengala m- 

an rakyat, biasanya sebagai seduhan (teh) 

dikombinasi dengan beberapa ramuan lain 

(jenis Usnea, Smilax dan Curcu ma). Dalam ke-

pustakaan ilmiah efektivi tasnya belum per-

nah dilaporkan. 

E9. Sediaan enzim

Di antara ratusan jenis enzim di dalam 

tubuh, ada sejumlah protease (pengurai 

protein) yang penting untuk daya tahan 

tubuh terhadap kanker, di  antaranya enzim-

enzim yang juga ada  dalam getah pan-

kreas. Sel tumor, yang jauh lebih besar 

daripada sel normal, memiliki permukaan 

kasar dan lengket, pada mana mengikat diri 

fibrin (serat darah yang diperlukan untuk 

pembekuan). Selubung fibrin ini melindungi 

sel-sel tumor ter hadap serangan limfosit 

dan enzim. Menurut teori, protease mampu 

menguraikan selubung fibrin ini (efek fibri-

noli tis), sehingga sel-sel sistem imun men-

dapat ke sem patan untuk memus nahkan sel- 

sel ganas yang diselubunginya. Protease juga 

mampu memasuki langsung sel-sel (pre- 

tumor) dan melarutkannya dari dalam (efek 

sitolitis). Di samping itu zat ini bekerja me-

rombak imun kom pleks (senya wa antigen-

antibody-komplemen), yang dapat mem-

blokir efek sitotoksik dari limfosit. 

sesudah  pembedahan, radiasi atau kur si-

tostatika terbentuk banyak fibrin untuk mem-

batasi perdarahan, yang juga menyelubungi 

dan melindungi sel-sel tumor yang lolos 

dan tersebar via darah dan limfe. Lihat Bab 

39, Hemopoietika, Fibrin. sebab  itu sel-sel 

itu  dapat memperbanyak diri dengan 

pesat. Proliferasi dapat dihambat oleh enzim-

enzim yang sangat berguna untuk meng-

hambat metastasis sesudah  cara prosedur 

itu  di atas.

Yang dipakai  yaitu  a.l. kombinasi 

dari protease tripsin, chymotripsin, papain 

dan bromelain (Wobemugos-E). sebab  ab-

sorpsi dari usus agak lemah (bioavailability 

masing-masing: 28, 16, 7 dan 39%), maka dosis 

harus cukup tinggi untuk menghasilkan efek. 

Menurut laporan kombinasi enzim ini juga 

berguna untuk menghambat progres penya-

kit autoimun tertentu, seperti SLE(systemic 

lupus erythematodes) dan MS(multiple sclerosis).

Efek samping pada dosis tinggi berupa 

mual, rasa kem bung, besendawa, peruba han 

warna/bentuk tinja dan jarang reaksi alergi.

Dosis: oral 3x sehari 3-5 tablet e.c. pada 

perut kosong selama 6 minggu, kemu dian 

diku rangi sampai 3 dd 1 tablet dalam waktu 

4 minggu dan seterusnya setiap bulan selama 

1 minggu 1 tablet sehari. 

E10. Ekstrak timus: Thymex-L, Zellmedin 

Timus yaitu  sebuah organ di belakang 

tulang dada, sebesar buah dukuh pada masa 

pubertas dan selama proses menua sema-

kin men ciut (atrofi) sampai sekecil butir 

jagung. Timus membentuk sejumlah hormon 

polipeptida (timo sin) yang penting pada 

pemasa kan dan diferen siasi semua limfosit-T 

(T = timus). Lansia dan pasien kanker pada 

umumnya kekurangan timosin akibat atrofia 

timus. Untuk menstimulasi sistem imun se-

luler itu  (limfo-T, NK-cells) yang pada 

pasien kanker ternyata sangat rendah, sediaan 

timus banyak diguna kan sebagai obat tam-

bahan di Eropa Barat, antara lain Jerman, 

Swis, Belanda dan Swedia. pemakaian  i.m. 

lebih efektif daripada per oral berhubung 

tidak ada kepastian mengenai ab sorpsinya 

dari usus. namun  dunia ilmiah masih sangat 

meragukan efekti vitasnya. 

Efek samping berupa reaksi kulit pada 

tempat in jeksi, kadang-kadang demam dan 

menggigil.

Dosis: 2-3x seminggu 150 mg ekstrak i.m./

s.c. selama maksimal 10 minggu, lalu oral 2 

dd 300-600 mg (tablet e.c.) pada perut kosong 

selama 3 bulan, untuk pemeli haraan 1 dd 300 

mg.

E11. Terapi dr. Moerman (1893-1988)

Pada tahun 1950, dokter Belanda C.Moer-

man mengem bangkan cara pengobatan de-

ngan terutama vitamin dan mineral dalam 

dosis sangat tinggi yang ditunjang oleh 

suatu diet. Maksudnya yaitu  untuk me-

normalisasi per tukaran zat yang terganggu, 

hingga sistem imun mampu memusna hkan 

sel-sel tumor. Terapinya terdiri dari kom-

binasi vitamin A, B kompleks, C dan E, asam 

sitrat, iod, belerang dan besi.

* Diet Moerman yang asli banyak larangan-

nya, yang kemudian dimodifikasi oleh dr 

Houtsmuller (1997) atas dasar data ilmiah 

mutakhir. Daftar diet yang di-updated terdiri 

dari tiga kelompok dengan unsur-unsur ter-

penting sebagai berikut:

a. yang dilarang meliputi se mua daging/

organ dan lemak hewan, semua minyak 

dengan asam lemak jenuh, marga rin, 

goren gan, gula, kacang tanah dan kelwa. 

Juga semua makanan yang diasap kan, 

diaweti (kaleng, pot) atau difermentasi 

(tem pe, oncom);

b. yang diperbolehkan beras merah/tum-

buk, roti “whole grain“, telur 2-3 x se-

minggu, banyak buah-buahan dan sayur- 

mayur (sebaiknya sebagai lalap atau 

sebagai perasan), kopi dan teh hijau 

(tidak difermentasi);

c. yang diperbolehkan secara terbatas 

yaitu  madu, mentega, minyak kembang 

matahari, minyak jagung, minyak zaitun, 

ikan berlemak (ban deng, makrel India, 

kem bung), hati (ayam), susu rendah 

lemak (low fat), keju dan kwark tanpa 

lemak.

Dalam praktik ternyata, bahwa diet dengan 

banyak peraturan ini sukar sekali dipatuhi 

dengan tuntas dan konsekuen, oleh sebab  

itu sering kali diseder hanakan dan dibatasi 

sampai larangan yang terpenting.

Walaupun metoda Moerman banyak dike-

cam oleh para dokter regular sebab  tidak 

didukung oleh riset ilmiah, namun  di negeri 

Belanda sering kali dipakai . Suatu ko-

misi mandiri dari DepKes Belanda yang 

pada tahun 1991 menye lidiki efektivitas-

nya secara retro spektif telah meny im pul kan 

bahwa terapi Moerman betul-betul mampu 

menyembuhkan kanker (regresi dalam ±20% 

kasus) atau setidaknya meringankan gejala-

gejalanya dan memperpanjang hidup. 

Perkumpulan dr Moerman pada tahun 

2013 masih cukup banyak anggotanya de-

ngan penerbitan majalah bulanan “Uitzicht“. 

Filosofinya tentang pengobatan kanker seca-

ra alamiah untuk sebagian besar telah di 

ambil alih oleh para dokter yang terhimpun 

dalam kelompok Non Toxic Tumor Therapy 

(NTTT).

Riset pada tahun-tahun terakhir semaki n 

banyak menghasilkan bukti tentang adany a 

hubungan langsung dan jelas antar a keku-

rang an zat-zat gizi dalam makanan dan ber-

bagai jenis penyakit, termasuk jenis kanker 

tertentu. Misalnya vitamin A dengan kanker 

paru-paru, lambung dan leher rahim (cervi x); 

vita min B2 dan Fe dengan kanker saluran 

pencernaan bagian atas; vitamin B6 dengan 

kanker hati serta iod dengan kanker tiroid.


makanan. Yang banyak dipakai  yaitu  

asam benzoat, nipagin/nipasol dan asam 

sorbat.

Sejarah

Pada tahun 1847 seorang ginekolog Wina, 

Ignaz Semmelweis untuk pertama kalinya me-

ng anjurkan pemakaian  zat-zat kimia untuk 

membersihkan tangan sebelum melakukan 

‘pemeriksaan dalam’ pada wanita hamil. Tu- 

juannya yaitu  untuk menghindarkan in- 

feksi yang dapat memicu  demam hamil, 

yang saat itu sering kali menghantui ibu-ibu 

hamil. Dua dasawarsa kemudian bakteriolog 

Prancis Louis Pasteur menemukan mikroba 

sebagai pemicu  infeksi. Lalu ahli bedah 

Inggris Joseph Lister memperkenalkan prinsip-

prinsip pembedahan antiseptik. Untuk meng-

hindari timbulnya infeksi pada luka, Lister 

memakai  larutan fenol 5% dalam air 

untuk mensucihamakan tangan, daerah yang 

akan dibedah dan alat/instrumen bedah.

Ignaz Semmelweis (1818-1865)

ANTISepTIKA DAN  

DeSINFeKTANSIA


Joseph Lister (1827-1912)

Desinfektansia yaitu  zat-zat kimiawi yang 

dipakai  untuk mengurangi jumlah mikro-

organisme di berbagai macam permukaan 

jaringan hidup atau benda mati dengan me-

matikan atau menghentikan pertumbuhan 

hama patogen yang ada  padanya. Di ne-

gara berbahasa Inggris desinfektansia sering 

disebut antiseptics (Yun. sepsis = busuk) atau 

germicides (germ = hama patogen). Perbeda-

an yang dahulu sering dipakai , yaitu de-

sinfektansia untuk pemakaian  pada benda 

mati dan antiseptika bagi jaring an hidup, 

sekarang ini dianggap obsolet dan kedua 

istilah ini dapat dipakai  tanpa perbedaan 

lagi.

Konservansia, zat-zat preservatif atau pe-

ngawet yaitu  zat kimiawi dengan sifat 

membunuh atau menghambat pertumbuhan 

mikroorganisme. Zat-zat ini mempertahan-

kan jumlah hama pada taraf rendah untuk 

waktu yang cukup lama. Dengan demikian 

zat pengawet dapat mencegah pembusukan 

dari sediaan farmasi, kosmetika atau bahan 


pemakaian 

a. Pada jaringan hidup. 

Tujuan pemakaian  antiseptika pada kulit 

yaitu  untuk membasmi mikroorganisme 

yang kebetulan berada di permukaan kulit, 

namun  tidak memperbanyak diri di tempat 

itu dan biasanya  akan mati sendiri 

(transient flora). namun  lebih penting yaitu  

untuk membasmi resident flora, yakni jasad-

jasad renik yang merupakan penghuni alamiah 

di kulit dan terutama terdiri dari mikrokok 

patoge n, seperti Staphylococus epidermidis, Cory-

nebacteri, Propionibacteri dan kadang-kadang 

Staphylococus aureus. Flora permanen ini ter-

dapat pada lokasi yang lebih dalam dan lebih 

sukar dihilangkan daripada flora transien t.

Dalam rangka ini yang perlu mendapat-

kan perhatian yaitu  pekerja di rumah sakit 

yang melalui tangannya dapat meneruskan 

kuman/virus patogen antar-pasien. Flora ini 

terutama berada pada permukaan kulit, se-

hingga dapat dihilang kan secara mekanis, 

misalnya mencuci secara intensif dengan 

sabun. Lebih baik lagi yaitu  dengan cara 

desinfeksi, ter utama bila diperkirakan ada-

nya kuman-kuman patogen. Misalnya se-

be lumnya melakukan pembedahan dokter 

beda h mencuci tangannya dengan sabun 

antiseptik selama minimal 2 menit.

Keberatan. Tidak jarang antiseptika bersifat 

toksik bagi jaringan, menghambat penyembuhan 

luka dan memicu  kepekaan. Selain itu 

sering kali antiseptika juga sukar mendifusi 

ke dalam kulit, a.l. sebab  terendap oleh pro-

tein, misalnya iod, garam merkuri dan perak. 

Khasiatnya sering kali ditiadakan atau 

dikurangi oleh cairan tubuh, seperti serum, 

nanah dan protein, misalnya pada povidon-

iod, klorheksidin, heksaklorofen, fenol dan 

hipoklorit, juga kaliumpermanganat dan 

zat-zat warna tertentu. sebab  bersifat toksik 

dan merangsang bagi sel, beberapa zat tidak 

tepat untuk dipakai  pada borok/luka 

terbuka, misalnya alkohol, iod dan quats (a.l. 

cetrimida).

Oleh sebab  itu antiseptika dipakai  ha-

nya untuk kulit utuh, misalnya desinfeksi 

pra-bedah dari kulit (povidon-iod, klorhek-

sidin dalam alkohol) dan sebagai prevensi 

terhadap bisul (furunkel).

Desinfektansia berbeda dari kemoterapeu-

tika sistemik (antibiotika), yang sudah dibica-

rakan dalam bab-bab sebelumnya, khusus 

mengenai toksisitasnya yang kurang atau 

tidak selektif. Artinya, antiseptika sama tok-

siknya bagi jaringan hidup maupun bagi 

kuman. Pada dosis normal praktis tidak ber- 

sifat merangsang kulit, misalnya iod, klor-

heksidin dan cetrimida.

Oleh sebab  itu desinfektansia tidak dapat 

dipakai  secara sistemik dan pengguna-

annya hanya terbatas pada pemakaian  lo-

kal, yaitu pada kulit dan selaput lendir (mu-

kosa) sebagai berikut:

• untuk membersihkan luka dan lokasi in-

feksi, atau sebelumnya penyuntikan;

• pada infeksi kulit di mukosa (mulut, te-

nggorok, telinga);

• pada infeksi kulit untuk melengkapi obat 

sistemik yang sering kali sukar melintasi 

lapis tanduk untuk men capai pusat infek-

si di permukaan; 

• pra bedah untuk mendesinfeksi tanga n 

dokter dan lokasi operasi pada kulit pa-

sien: senyawa iod atau klorheksidin da-

lam alkohol.

b. Pada benda mati. Desinfektansia juga ba-

nyak dipakai  untuk mensterilisasi alat- 

alat medis yang tidak tahan terhadap cara 

sterilisasi suhu tinggi, begitu pula untuk 

desinfeksi lantai dan air minum atau kolam 

renang. Juga untuk desinfeksi wadah pe-

nampung urin, ludah dan tinja, atau permu-

kaan yang terinfeksi dengan darah atau 

ludah penderita, mis ludah pasien tbc. Untuk 

desinfeksi material yang tercemar darah 

pasien HIV atau hepatitis B dipakai  klor 

(1000 ppm), glutaral dan alkohol 70%. Lantai 

terinfeksi sebaiknya didesinfeksi dengan la-

rutan klor atau natriumhidroksida.

Syarat ideal

Persyaratan ideal bagi desinfektansia dapat 

dirumuskan sebagai berikut.

–  berkhasiat mikrobisid luas terhadap kuman, 

jamur dan spuranya, ragi, virus serta 

protozoa (broad spectrum);

–  mulai kerjanya cepat dan bertahan lama (long-

acting);

–  toksisitasnya rendah dan begitu pula daya 

absorpsinya melalui kulit dan mukosa;

–  tidak merangsang kulit maupun mukosa, 

baunya pun tidak merangsang; 

–  khasiatnya tidak dikurangi oleh zat-zat 

organik, seperti nanah dan darah;

–  daya adsorpsinya rendah pada karet, zat-zat 

sintetik dan bahan lain;

–  tidak korosif (bereaksi secara kimiawi) 

terhadap alat yang didesinfeksi.

Jelaslah bahwa kedua syarat terakhir berlaku 

hanya untuk desinfektansia benda.

Khasiat

biasanya  desinfektansia memiliki 

khasiat bakterisid dengan spektrum kerja 

luas, yang meliputi bakteri Gram-positif 

dan Gram-negatif, virus dan fungi. namun  

antara efeknya masing-masing ada  

perbedaan besar. Spura kuman sukar di-

matikan dan hanya beberapa jenis desin-

fektan memiliki sifat sporisid yang cukup 

kuat, misalnya senyawa klor, iod, aldehida 

dan asam per-(misalnya asam perklorat).

Spura jamur dan ragi peka bagi keba-

nyakan desinfektansia, namun  pada konsen-

trasi yang lebih besar dan/atau waktu yang 

lebih lama. 

Banyak faktor lain dapat memengaruhi 

khasiat antiseptikum, yang dapat dirangkum 

sebagai berikut.: 

a. Spektrum kerja. Bakteri Gram–negatif 

seperti Pseudomonas, Stafilokok MRSA dan 

Mycobacteriae (basil TBC dan lepra) kurang 

peka terhadap klorheksidin dan quats, 

begitu pula spuranya. Terhadap spura 

senyawa klor dan peroksida paling efektif. 

Kepekaan virus sangat tergantung dari 

besarnya dan lipofilitasnya, yaitu lebih 

kecil, lebih resisten.

Begitu pula virus hidrofil (entero-, polio-, 

hepatitis-A, -coxsackie) lebih resisten dari 

pada virus lipofil (adeno-, herpes-, influenza, 

HIV, virus bof dan measles).

b. Konsentrasi. Umumnya untuk khasiat 

fungisid diperlukan konsentrasi yang sedi-

kit lebih tinggi daripada kadar untuk kerja 

bakterisid. Sebaliknya untuk efek bakteriostatik 

dibutuhkan kadar yang lebih rendah lagi. 

Misalnya larutan fenol di bawah 1% bekerja 

bakteriostatik, namun  di atas 1,5% bersifat 

bakterisid. 

c. Kebersihan permukaan yang akan dide-

sinfeksi. ada nya zat-zat organik (lemak, 

sabun, protein, darah, nanah, dan sebagainya. 

dapat meniadakan atau mengurangi efek-

tivitas desinfektans.

d. Waktu exposure. Larutan iod 4% mem-

bunuh kuman dalam 1 menit, sedang  

larutan 1% memerlukan 4 menit, spura baru 

musnah sesudah  2-3 jam. 

d. pH dan suhu. Khasiat klor 10 kali lebih kuat 

pada pH 6 daripada pH 9, juga asam benzoat 

dan ester-esternya lebih aktif pada pH asam. 

Pada suhu tinggi kerjany a lebih cepat.

e. Zat pelarut. Klorheksidin dalam larutan 

alkohol bekerja fungisid, sedang  larut-

annya dalam air hanya berkhasiat fungistatik 

lemah. Efek antiseptik tingtur klorheksidin 

pada awalnya yang bekerja yaitu  alkohol 

70%, dan klorheksidin baru aktif sesudahnya. 

Begitu juga de ngan iodium pada tingtur 

iodium.

Mekanisme Kerja

Desinfektansia bekerja berdasar  ber bagai 

proses kimiawi atau fisika dengan tujuan 

meniadakan risiko transmisi dari jasad renik. 

Proses-proses ini yaitu :

• denaturasi protein mikroorganisme, yaitu 

perubahan strukturnya sehingga sifat-si-

fat khasnya hilang; 

• pengendapan protein dalam protoplasma 

(zat-zat halogen, fenol, alkohol dan garam 

logam);

• oksidasi protein (oksidansia);

• mengganggu sistem dan proses enzim (zat-

zat halogen, alkohol dan garam-garam 

logam); 

• modifikasi dinding sel dan/atau membran 

sitoplasma (desinfektansia dengan aktivi-

tas permukaan).

penggolongan

Desinfektansia dapat digolongkan dalam be-

berapa kelompok, yaitu:

1. senyawa halogen: povidon-iod, iodo-

form, Ca-hipoklorit, Na-hipoklorit (Eusol, 

Dakin), tosilkloramida, klorheksidin, klio-

kinol, heksaklorofen, triklokarban, klor-

ksilenol dan triklosan; 

2. derivat fenol: fenol, kresol, resorsinol dan 

timol;

3. zat-zat dengan aktivitas permukaan (ba-

sa amonium kuaterner, quats): setri mi-

da, setilpiridinium, benzalkonium dan 

dekualinium; 

4. senyawa alkohol, aldehida dan asam: 

etanol dan isopropanol, formaldehida 

dan glutaral, asam asetat dan borat; 

5. senyawa logam: merkuriklorida, fenil-

mer kurinitrat dan merbromin, perak- 

nitrat dan silverdiazin, sengoksida; 

6. oksidansia: hidrogenperoksida, seng pe-

roksida, Na-perborat, kaliumpermanga-

nat dan kaliumklorat; 

7. lainnya: heksetidin dan heksamidin, ni-

trofural, belerang, ichtammon, etilenok-

sida, oksikinolin (Superol) dan akriflavin.

MONOGRAFI

1. HALOGeN DAN SeNYAWANYA

1a. Iod (F.I.): iodium

Elemen iod merupakan salah satu zat bak-

terisid terkuat (sudah efektif pada kadar 2-4 

mcg/ml air = 2-4 ppm), dengan daya kerja 

cepat. Hampir semua kuman patogen, ter-

masuk fungi dan virus, dimatikan olehnya. 

Begitu pula spora, walaupun diperlukan 

waktu lebih lama: larutan 2% memerlukan 

2-3 jam. Iod merupakan antiseptikum yang 

sangat efektif untuk kulit utuh, maka tingtur 

iod banyak dipakai  untuk desinfeksi ku-

lit sebelum injeksi atau pembedahan, juga 

untuk mengobati infeksi sebab  fungi (der-

matomikosis). 

Efek samping. Keberatannya yaitu  sifatnya 

yang merangsang (nyeri bila dipakai  pada 

luka terbuka), warnanya cokelat dan kadang-

kadang terjadi dermatitis (alergi kulit). 

Kekurangan ini memicu  dikem-

bangkannya zat-zat iodofor yang tidak atau 

jauh lebih sedikit memiliki efek-efek samping 

itu  di atas. Iodofor yaitu  senyawa kom-

pleks dari iodium dengan polimer yang melarut 

dalam air, misalnya povidon-iod.

Tingtur iod (F.I.) yaitu  larutan iod 2% + 

NaJ 2,5% dalam etanol 50%. sebab  adanya 

alkohol dan sejumlah kecil asam iodida (HJ), 

tingtur ini memicu  rasa nyeri dan iritasi 

yang memperlambat penyembuhan bila 

dipakai  pada luka terbuka.

* Povidon-iod (Betadine) yaitu  kompleks 

dari iod dengan polivinil-pirolidon yang tidak 

merangsang dan dalam larutan air berang-

sur-angsur membebaskan iodium. Seperti 

heksaklorofen (lihat di bawah), terutama bila 

dipakai  berulang kali, zat ini berkumulasi 

di kulit dan memicu  efek antiseptik 

yang bertahan lama. Lagi pula kompleks iodofor 

mudah larut dalam air dan mudah dicuci 

dari kulit atau pakaian, bersifat lebih stabil 

sebab  tidak menguap dan khasiatnya lebih 

panjang daripada iod. sebab  sifat-sifatnya 

ini tingtur povidon-iod 10% dengan kadar 

iod bebas 1% telah menggantikan tingtur 

iodium konvensional. 

pemakaian nya terutama untuk desinfeksi 

kulit dalam bentuk tingtur, sabun cair, salep, 

krem, lotion dan bedak tabur. dipakai  pula 

sebagai obat kumur dan untuk tenggorok. 

Kadarnya yang biasa dipakai  yaitu  7,5% 

povidon-iod, yang ekivalen dengan ±10% 

iod. 

Efek samping. Hati-hati bila dipakai  pada 

permukaan kulit cedera yang luas (misalnya 

luka bakar), sebab  iodium dapat diresorpsi 

dan meningkatkan kadarnya dalam serum 

sehingga dapat memicu  asidosis, 

neutropeni dan hipotirosis (selewat).

1b. Kliokinol: vioform, iodokloroksikinolin (F.I.).

Derivat oksikinolin ini berkhasiat bakte-

risid (terhadap cocci, E. coli dan Salmo-

nella), fungisid dan amebisid. Selain per oral 

(dahulu) pada infeksi usus, kliokinol juga 

banyak dipakai  sebagai antiseptikum 

kulit (salep (2-10%) sebab  efektif, tidak 

merangsang dan jarang memicu  reaksi 

alergi kontak. Keberatannya yaitu  warna 

kuningnya yang dapat menodai pakaian. 

Obat ini juga ampuh untuk mengeringkan 

borok bernanah. Lihat selanjutnya Bab 12. 

Obat-obat Amebiasis dan Bab 18. Obat-Obat 

Diare. 

* Derivat oksikinolin lainnya dengan kha-

siat bakterisid yang dipakai  sebagai 

antiseptika lokal yaitu  oksikinolinsulfat 

(Superol). Begitu pula dequalinium(Degirol), 

yang bersifat amonium kwaterner (lihat di 

bawah). Obat-obat ini terutama dipakai  

sebagai antiseptika tenggorok dalam sediaan 

tablet hisap atau obat kumur.

1c. Klor

Elemen berbentuk gas ini berkhasiat 

bakterisid kuat yang dalam konsentrasi 

kecil dapat dengan cepat membunuh 

kebanyakan bakteri, spura, fungi dan virus. 

Misalnya pada kadar 0,5 ppm pada pH 

7 sudah efektif dalam 30 detik! Pada pH 

basa aktivitasnya menurun, begitu pula 

dengan adanya zat-zat organik. sebab  

larutan klor sangat tidak stabil, biasanya 

dipakai  senyawanya yang dalam la-

rutan berangsur-angsur menghasilkan asam 

hipoklorit (HClO). Contohnya yaitu  la-

rutan NaClO 0,5% (Solutio Dakin), kaporit 

[bleaching powder, Ca(O