upun harga-
nya sangat tinggi (sekitar 80.000 Euro untuk
terapi lengkap).
Efek samping yang sering terjadi yaitu
gejala in fluenza dan gangguan saluran cerna.
Adakalanya juga efek sentral (pikiran kacau,
halusinasi, desorientasi, termangu-mangu,
kon vulsi) dan depresi sumsum tulang.
Dosis: infus i.v. 1 ml = 18 juta UI /m2 sehari
se lama 5 hari. Kur diulang sesudah 2-6 hari.
B1c. Vaksin BCG: Oncotice
Sistem imun seluler yang merupakan sen-
jata ampuh terhadap kanker dapat distimulasi
oleh vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin).
Misalnya untuk kanker kandung kemih
aktivasi sistem imun ini telah memberikan
respons pada 60% dari penderita.
Vaksin ini dibuat dari basil hidup TB
sapi Mycobacterium bovis. Selain berkhasiat
imunstimul asi spesifik terhadap TB dan
kusta (lihat Bab 50, Sera dan Vaksin), juga
menstimulasi sistem imun secara tidak spe-
sifik. Oleh sebab itu dipakai sebagai
terapi tambahan sesudah pembedahan atau
radiasi untuk memusnahkan microme tastasis
dan meniadakan imunosupresi akibat pena-
nganan penyakit. sebab eksperimen terha-
dap banyak jenis kanker tidak menghasil-
kan efek yang memuaskan, kini hanya digu-
nakan intravesikal pada kanker kan dung
kemih.
Akhir-akhir ini imunoterapi telah lebih di-
kembangkan dengan memanfaatkan antigen
yang spesifik terhadap jenis kanker tertentu
sebagai vaksin tumor.
* Vaksin „BCG-human“ yang dibuat dari
basil TB human (Mycobacterium tuberculosis)
dipakai di Jepang seba gai obat tidak res-
mi dengan khasiat yang cukup baik untuk
memperpanjang jangka hidup penderita se-
jumlah jenis tumor. Vaksin ini terkenal seba-
gai vaksin Prof. Maruyama (Nippon Medical
School, Tokyo).
B1d. Levamisol: tetramisol, Ascaridil, Ergami-
sol, Ketrax
Obat cacing ini (1969, lihat Bab 13) berkha-
siat menstimulasi sistem imun seluler, yaitu
meningkatkan perbanyakan dan migrasi
limfo-T dan memperkuat fagositosis dan
kemotaksis dari makrofag. dipakai seca-
ra selang-seling terkom binasi dengan 5-FU
pada kanker usus besar sesudah pembedahan.
Ada indikasi bahwa levamisol dapat mem-
perpanjang hidup dan mengurangi risiko
residif.
Efek samping berupa gangguan lambung
dan saraf. Jarang terjadi gangguan darah.
Dosis: bersama 5-FU oral 3 dd 50 mg sela-
ma 3 hari setiap 10 hari, total maksimal 52
minggu.
b2 IMUNOSUPRESIVA
Imunosupresiva yaitu zat-zat yang jus-
tru menekan aktivitas sistem imun seperti
kebanyakan zat antitumor (kecuali aspara-
ginase, bleomisin dan hormon-hormon). Pada
penyakit auto-imun, fungsi sistem imun
terganggu dengan adanya auto-antibodies,
sedang limfo-T dan NK-cells menyerang
jaringan/organ sendiri. Dalam keadaan ini
sering kali digu na kan imunosupresiva un-
tuk mengurangi aktivitas penya kit. Misalnya
pada rema dan penyakit radang usus (colitis
ulcero sa, M. Crohn) dipakai sito statika
MTX, merkap topurin dan azatioprin. Imu-
nosupresiva lain yaitu siklosporin, tali-
domida dan sulfasalazin (lihat Bab 8, Sul-
fonamida).
Struktur imunoglobulin
Antibodi monoklonal yaitu imunoglo-
bulin dan memiliki struktur molekul ber-
bentuk huruf Y yang terdiri dari 2 pasang
Tyrosin kinase dan Tyrosin kinase Inhibitors
Banyak obat anti kanker berkhasiat memblokir mutasi-mutasi pada gen yang dapat memicu timbulnya
kanker, misalnya pada kanker usus seperti reseptor Growth Factor, jalur-jalur isyarat intrasel yang
defek, proses reparasi DNA yang rusak dan apoptosis, juga angiogenesis tumor. Senyawa-senyawa
untuk menghambat sasaran-sasaran baru ini yaitu monoclonal antibodies (MOABs) dan tirosin
kinase inhibitors (TKIs)
a. MOABs mematikan sel tumor melalui blokade fungsi satu reseptor spesifik dan mengikat pada
antigen-antibodi kompleks yang bersifat sitotoksik. Banyak dipakai sebagai obat rema dan
penyakit radang usus kronis. Lihat juga Bab 21 Analgetika Antiradang, Boks Biologicals.
Kebanyakan dari senyawa-senyawa ini diberi nama dengan akhiran –umab/imab. Misalnya
trastuzumab yaitu obat MOAB pertama yang dipakai terhadap kanker payudara (1978), disusul
oleh banyak senyawa lain seperti bevacizumab dan cetuximab untuk kanker kolorektal, alemtuzu-
mab dan ofatumumab untuk CLL, rituximab untuk non-Hodgkin limfoma, lalu certolizumab,
adalimumab dan infliximab pada rema. Zat terakhir yaitu antagonis TNF-alfa, lihat di bawah.
b. TKIs bekerja dengan cara yang sama, namun juga melalui penetrasi ke dalam sel dan menghambat
terutama fungsi enzim tirosin kinase. Bersifat broadspectrum dan condong menjadi substrat bagi
enzim hati oksidatif cytochrom P 450. Masa paruhnya panjang, t 1/2 12-24 jam dan diberikan oral
setiap hari. Disebut dengan akhiran -tinib, misalnya zat pertama yang disintesis sebagai molekul
sasaran/bidikan TKI yaitu imatinib (Gleevec), yang dipakai terhadap sejenis kanker darah lekosit
kronis CML (Chronic Myelogenic Leukemia). Lalu disusul oleh banyak TKIs lain, seperti dasatinib dan
nilotinib juga untuk CML, serta sorafenib dan sunitinib untuk kanker ginjal sesudah terapi dengan
IFN-alfa dan IL-2 tidak memberikan hasil.
*Tirosin kinase (TK) yaitu bagian dari kelompok besar protein kinase dengan kandungan asam
amino seperti treonin dan serin. TK mampu mentransfer gugus fosfat dari ATP kepada –OH dari
tirosin yang tertinggal di molekul-molekul isyarat. TK berfungsi sebagai on or off switch pada
banyak fungsi sel. Fosforilasi dari protein kinase merupakan mekanisme penting pada pemberian
isyarat dalam sel dan mengatur aktivitasnya, seperti pembelahan sel. Fungsinya dapat mudah
terhenti pada posisi ON yang berakibat pertumbuhan tak terkendali dan sel menjadi sangat besar.
Proses ini merupakan hanya suatu langkah pada terjadinya kanker. Perkembangan modern pada
sintesis sitostatika baru yaitu mencari obat dengan tirosin sebagai sasaran, yaitu tirosin kinase
inhibitor yang berkhasiat menghambat pertumbuhan sel tumor.
Genom manusia mengandung ±550 proteinkinase dan 130 fosfoprotein fosfatase, yang spesifik
melakukan fosforilasi dari sisa-sisa protein di molekul isyarat.
Di dekade yll banyak senyawa tirosin kinase inhibitor telah dilansir pada onkologi dan hemato-
onkologi. Dengan meningkatnya pemakaian kelompok obat baru ini, masalah interaksi antara
obat merupakan risiko meningkat dan kebanyakan berhubungan dengan perubahan bioavailabilitas
akibat perubahan pH lambung, metabolisme oleh isoenzim cytochrom P450 dan perpanjangan QT
interval.
* Tumor necrosis factor (TNF-alfa). Sitokin ini dibebaskan oleh berbagai sel dari sistem imun
(makrofag, monosit, limfosit dan NKc) sebagai reaksi terhadap antara lain infeksi kuman dan rangsangan
peradangan. Lalu TNF sendiri menstimulasi pelepasan se jumlah besar zat peran tara (mediator) lain,
di antaranya IL-1 dan IL-6, prostaglandin, leukotri ën-leukotri ën, dan kor tikotrofin. Dengan demikian
TNF sebagai pro-inflammatory cytokin bertanggung-jawab un tuk banyak efek dari suatu infeksi atau
peradangan auto-imun kronis. Misalnya TNF merupakan mediator penting pada pathogenesis rema
* Zat anti-TNF-alfa termasuk kelompok monoklonal antibodies human(MOABs) yang disintesis
melalui teknik DNA-rekombinan. Sekarang ada trastuzumab, adalimumab, etanercept (Enbrel)
dan infliximab, dengan kedua obat terakhir khusus dipakai pada terapi rema.
Breedveld FC. Antagonisten van tumornecrosisfactor: infliximab, adalimumab en etanercept. NTvG
2005;149:2273-7.
Efek samping merupakan peningkatan risiko kanker kulit non-melanoma, oleh sebab itu pasien
dianjurkan untuk memeriksakan kulit secara teratur pada terapi dengan obat-obat perintang TNF-
alfa.
rangkaian panjang dan rangkaian pendek
protein yang identik (lihat gambar 14-1):
– Sepasang dengan rangkaian panjang
(“heavy chain” atau H-chain), dan
– Sepasang dengan rangkaian yang lebih
pendek (“light chain atau L-chain)
Rangkaian ini terikat melalui jembatan
sulfur (S).
Kedua “tangan” dari model ini terdiri dari
masing-masing rangkaian L dan sebagian
dari rangkaian H;
Sisa dari kedua rangkaian H membentuk
“kaki” dari molekul imunoglobulin.
Sifat-sifat pengikatan antigen (Fab) terletak
di “tangan”.
B2a. Siklosporin (Sandimmun, Neoral)
Polipeptida siklis ini yang diisolasi dari
jamur Tolypocladium inflatum (1983) merupa-
kan suatu imunosupresan kuat. Berkhasiat
menghambat secara selektif perbanyakan
T-helper dan T-killercells yang tergantung
dari IL-2. Selain itu, obat ini menstimulasi
produksiT-suppressorcells sehingga peno-
lakan transplantat dihalangi. Tidak berkha-
siat myelosupresif. Selain pemakaian uta-
ma ini, siklosporin juga dipakai pada
psoriasis dan colitis parah. Untuk mengurangi
nefrotoksisitasnya sering kali dikombinasi de-
ngan imunosupresiva lain (azatioprin, pred-
nisolon) atau dengan zat-zat yang mening-
katkan kadarnya dalam darah, sehingga
dosisnya dapat dikurangi.
Efek sampingnya banyak, antara lain rasa
terbakar di kaki-tangan (selama minggu per-
tama), gangguan saluran cerna, hipertensi,
sakit kepala, tremor, hipertrichosis, parestesia
dan udema muka. Efek samping yang lebih
serius yaitu kelainan fungsi ginjal, hati
dan darah (reversibel), yang tergantung dari
dosis. Pada pemakaian lama risiko akan
kanker kulit dan limfoma sangat meningkat.
Dosis: oral permulaan 10-15 mg/kg sela-
ma 1-2 minggu, lalu berangsur-angsur ditu-
runkan sampai 2-6 mg/kg sehari dalam 2
dosis.
B2b. Talidomida (Synovir) yaitu obat tidur
dengan efek terato gen sangat kuat (peristiwa
Softenon, 1962) yang juga berkhasiat imuno-
su pre sif, antiangiogenesis dan antiradang.
Sekarang ini obat itu hanya digu nakan
antara lain untuk menekan reaksi lepra dan
pada aphtae hebat di mulut pasien AIDS
B2c. Trastuzumab (Herceptin, 1999), suatu
MOAB yang dipakai pada terapi kanker
payudara tersebar untuk memperpanjang
dan memperbaiki kualitas hidup. Hanya
efektif pada tipe tumor tertentu, di mana
faktor pertumbuhan (human epidermal growth-
factor receptor type 2) HER-2 berperan. Fak-
tor ini yaitu suatu peptida dari tipe tiro-
sinkinase di permukaan sel tumor dan tras-
tuzumab bekerja dengan menduduki re-
septor HER-2 ini, sehingga pertumbuhan sel
tumor terganggu. Antibodi ini juga mampu
menandai sel kanker untuk dimusnahkan
oleh sistem imun tubuh, namun praktis tidak
memengaruhi sel normal, sehingga efek sam-
pingnya relatif ringan, seperti panas dingin
pada awal pengobatan di samping sakit ke-
pala dan mual.
Sekarang telah dipastikan bahwa terapi
dengan trastuzumab dapat menurunkan
mortalitas dengan 50%. Keberatannya yaitu
harganya yang sangat tinggi, ± $ 20.000 untuk
satu kur dari 4 kali infus. Namun demikian di
negeri Belanda trastuzumab akan dijadikan
terapi standar untuk kanker payudara.
dipakai sebagai infus i.v. 4 mg/kg berat
badan; biayanya sangat tinggi (±USD 600-
1200 sekalinya).
B2d. Bevacizumab: Avastin
MOAB ini (2004) terikat pada suatu faktor
pertumbuhan (growth factor) dan menghambat
pembentukan dan pertumbuhan pembuluh
dalam tumor. dipakai dalam kombinasi
dengan 5-FU atau folinat pada kanker ko-
lon atau rektum yang sudah menyebar.
Juga dalam kombinasi dengan paclitaxel
atau carboplatin terhadap kanker payudara
bermetastasis.
Dalam kombinasi dengan paclitaxel, topo-
tecan atau doksorubisin dipakai pada kan-
ker ovarium atau saluran telur yang resisten
terhadap sitostatikum platina.
Dosis: kanker kolon/rektum 1x per 2
minggu 7,5 /kg; kanker payudara 10 mg/kg
1x per 2 minggu; kanker ginjal 10 mg/kg 1x
per 2 minggu
B2e Rituximab: Mabthera
MOAB chimeris dari human-tikus (2004)
ini diberikan pada penderita limfoma non-
Hodgkin, juga pada rematik bersama MTX ,
bila DMARDs lain tidak efektif. T1/2 panjang,
pada pasien rema rata-rata 22 hari.
Efek samping demam, dingin dan kaku,
sering kali bronchospasme dan hipotensi,
nausea dan muntah, nyeri kepala dan tumor.
Pada gravida dan selama laktasi sebaiknya
jangan dipakai .
Dosis: per infus semula dengan kecepatan
50 mg/jam, sesudah 30 menit ditingkatkan
dengan 50 mg/jam setiap 30 menit.
B2f. Cetuximab: Erbitux
MOAB chimeris ini dipakai dalam
kombinasi dengan irinotekan pada kanker
kolorektal lanjut, sesudah terapi dengan iri-
notekan gagal. Efek sampingnya sering kali
reaksi kulit serius, dispneu khusus pada lan-
sia. Juga radang konjunctiva mata dan reaksi
hipersensivitas sedang sampai hebat.
Dosis: Pada hipersensitivitas kecepatan in-
fus sebaiknya dikurangi. Terhadap kanker
kolorektal lanjut irinotekan baru diberikan 1
jam sesudah infus cetuximab.
B2g. Alemtuzumab: MabCampath
MOAB human ini mengikat diri pada
limfosit sehingga sel darah ini dimusnahkan.
dipakai pada CLL, bila terapi dengan zat
alkilasi (fludarabin) tidak efektif.
Efek samping sangat sering terjadi pada
minggu pertama, seperti demam, hipotensi,
nyeri kepala, nausea dan muntah, rasa penat
dan malaise.
Dosis: per infus 2 jam dengan dosis me-
ningkat, mulai dengan 3 mg pada hari per-
tama, 10 mg pada hari kedua dan 30 mg pada
hari ketiga.
B2h. Imatinib: Glivec, Gleevec
Proteinkinase inhibitor yang secara selektif
menghambat proliferasi dan memicu apop-
tosis pada CML dan ALL (Acute Lymfatic Leu-
kemia). PPP 95%, t1/2 18 jam, ekskresi dengan
feses 63% dan via urin 13 %.
Efek samping: depresi sumsum tulang dan
gangguan saluran cerna.
Dosis: pada kanker sangat individual.
B2i. Panitutumab: Vectibix
Monoklonal antibodi IgG2 mengikat de-
ngan kuat dan spesifik pada reseptor faktor
pertumbuhan epidermal, memicu
penghambatan pertumbuhan sel, induksi
apoptosis dan pengurangan produksi inter-
leukin-8. dipakai terhadap kanker colo-
rektal yang sudah bermetastasis dalam kom-
binasi dengan FU, asam folat dan oksaliplatin
(FOLFOX) atau kombinasi dengan FU, asam
folat dan irinotecan (FOLFIRI).
Efek samping: sangat sering anemi, conjunc-
tivitis, mual, muntah dan gangguan kulit.
Dosis: i.v. 6 mg/kg sekali dalam 2 minggu.
B2j. Dasatinib: Sprycel
Tirosin kinase inhibitor ini yaitu substrat
dan penghambat dari CYP 3A4, enzim ok-
sidatif hati dari seri P450. dipakai pada
CML dalam tahap kronis dan tahap lain, yang
resisten terhadap imatinib 800 mg/hari.
Efek samping: sangat sering depresi sum-
sum tulang, anemi, trombopeni dan neutro-
peni, biasanya reversibel, juga udema paru,
nyeri kepala, diare, perasaan penat dan pen-
darahan.
Dosis: CML di tahap kronis 1 dd 300 mg pagi
atau malam.
B2k. Erlotinib: Tarceva
HER 1-tirosinkinase inhibitor, mengham-
bat fosforilasi intrasel dari reseptor faktor
pertumbuhan. dipakai pada kanker paru
non-sel kecil sebagai pilihan kedua sesudah
sitostika lain tidak memberikan hasil.
Tidak dianjurkan pada kehamilan dan se-
lama laktasi, sebab tidak ada data mengenai
keamanannya. Efek samping paling sering
yaitu ruam kulit.
Dosis: individual.
B2l. Lapatinib: Tyverb
Proteinkinase inhibitor yang menghambat
dua jenis aktivitas tirosinkinase dari HER 2
dan faktor pertumbuhan lain. dipakai (se-
jak 2007) pada kanker payudara tersebar
dengan overexpresi-HER 2, bersama kapesi-
tabin sebagai pilihan kedua, sesudah terapi
dengan suatu antrasiklin, taksan dan tras-
tuzumab tidak memberikan hasil.
Wanita hamil dan selama laktasi tidak di-
anjurkan memakai zat ini sebab ber-
khasiat teratogen.
Dosis: 1 dd 1250 mg bersama kapesitabine
selama 21 hari.
B2m. Sorafenib: Nexavar
Tirosinkinase inhibitor, dengan khasiat
anti proliferasi dan anti angiogenesis. Meng-
hambat berbagai kinase dalam sel tumor.
dipakai pada kanker ginjal lanjut, sesudah
terapi dengan interleukin-2 atau interferon-
alfa tidak berhasil, juga pada kanker hati.
Efek samping: paling sering depresi sum-
sum tulang dan retensi air. Wanita hamil dan
selama laktasi tidak dianjurkan mengguna-
kan obat ini.
Dosis: individual.
C. HORMON
DAN ANTIHORMON
Kortikosteroida (hidrokortison, prednison
dan sebagainya) berkha siat antara lain me-
larutkan limfosit (limfolitis) dan menekan
mitosis di lekosit. Oleh sebab itu, obat ini
sangat penting pada terapi limfoma dan
leukemia akut pada anak-anak. Untuk pem-
bahasan lebih lanjut, lihat Bab 46, Kortikoste-
roida.
Hormon kelamin. Pertumbuhan dari se-
jumlah tumor yang bersifat estrogen/andro-
gen dependent, sebagian tergantung dari hor-
mon-hormon kelamin, mis. kanker payudara
dan prostat yang masing-masing memiliki
reseptor estrogen/progesteron dan reseptor
testosteron. Proses pertumbuhan ini dapat
dihambat dengan pemberian hormon yang
berlawanan atau dengan mengeluarkan ke-
lenjar yang memproduksi hormon bersang-
kutan, mis orchidectomy pada kanker prostat.
namun daya kerja hormon biasanya hanya
temporer (selewat) sebab sel-sel yang ti-
dak tergantung pada hormon (hormone-
independent cells) memegang peranan lebih
besar.
Zat-zat estrogen (etinilestradiol, fosfestrol)
dipakai pada kanker prostat yang ber-
metastasis. Pro gestativa (megestrol, medroksi-
progesteron) dan zat-zat androgen (testosteron,
nandrolon) dapat dipakai pada kanker
payudara dan kanker endometrium yang
sudah tersebar.
Antihormon kelamin yaitu senyawa-se-
nyawa yang merintangi hormon di jaringan
tujuan dan dengan demikian menghalangi
kerjanya. Yang dipakai yaitu zat anti es-
trogen dan zat anti androgen.
*Anti estrogen (oestrogen antagonis) seperti
tamoksi fen (Nolvadex) bekerja melalui pe-
nempatan reseptor estrogen pada tumor
payudara yang bersifat estrogen-dependent.
Zat-zat penghambat aromatase aminoglu-
tetimida (Orimeten) dan anastrozol (Arimi-
dex) mengurangi kadar estrogen yang ber-
edar dan menghambat sintesisnya dalam sel
tumor. Antihormon ini khusus dipakai
pada kanker payudara yang tersebar pada
wanita post-menopause dan akhir-akhir ini
ternyata bahwa khasiatnya lebih baik di-
bandingkan dengan tamoksifen. Lih. selan-
jutnya Bab 44, Hormon-hormon wanita.
Kanker endometrium memiliki reseptor
bagi estrogen maupun progesteron. Pem-
berian progestagen sintetik medroksipro-
gesteronasetat (lih. Bab 45, Antikonseptiva)
menghentikan (regress) ± 20% dari metastasis
dengan reseptor positif untuk jangka waktu
20 bulan, sedang tamoksifen praktis tidak
bermanfaat.
* Anti-androgen yang banyak dipakai
yaitu siproteron (Androcur), flu tami da (Fu-
ge rel), bikalutamida (Casodex) dan niluta-
mida (Anan dron) yang menghalangi pe-
ngikatan DHT (= dihidrotestosteron) aktif pa-
da reseptornya dalam sel prostat sehingga
DHT tidak dapat berfungsi. Senyawa ini ter-
utama dipakai pada kanker prostat yang
bermeta stasis. Lihat selanjutnya Bab 43, Hor-
mon-hormon Pria. Tidak tersedianya hormon
androgen pada kanker prostat yang berlanjut,
dapat memicu regresi pada ±70%
dari kasus selama 24 bulan. Efek yang sama
dapat ditimbulkan oleh agonis GnRH seperti
goserilin, namun perintang reseptor androgen
seperti flutamida tidak begitu efektif. Wa-
laupun pada permulaan terapi kombinasi
dari flutamida dan goserilin dapat dipakai
untuk menghindari flare up dari penyakit
akibat efek agonis GnRH. namun ternyata
bahwa pemakaian kombinasi ini dalam
jangka waktu panjang tidak lebih bermanfaat
daripada terapi tunggal dengan goserilin.
* Derivat-derivat LH-RH. LH-RH dibentuk
oleh hipotalamus yang mengatur pelepasan
hormon hipofisis FSH dan LH. Senyawa ini
dipakai pada terapi paliatif kanker pros-
tat yang bermetastasis untuk memicu
kastrasi hormonal/kimiawi, yakni menghen-
tikan prod uksi testosteron dan androsteron
oleh tes tis. Mekanisme kerjanya melalui sti-
mulasi sementara dari hipofisis dan testis,
kemudian meng ham batnya sehingga kadar
testosteron darah menurun dengan ± 90%.
Sisanya masih diproduksi oleh anak ginjal.
Untuk merintangi produksi ini, sering kali
dilakukan terapi kombinasi dengan zat-zat anti
andro gen flutamida dan nilutamida.
FDA Amerika telah mengidzinkan peng-
gunaan derivat lain enzalutamida untuk
kanker prostat yang resisten terhadap kas-
trasi dan telah diobati dengan docetaxel. De-
rivat-derivat yang sekarang dipakai ada-
lah goserilin (Zoladex), leuprorelin (Tapros,
Lucrin), buserelin (Suprefact) dan triptore-
lin (Decapeptyl). Lihat selan jutnya Bab 42,
Hormon-hormon. Hipofisis.
D. ObAT–ObAT LAINNyA
Sitostatika lain yang dipakai pada kanker
yaitu enzim asparaginase, senyawa-senyawa
platina sisplatin dan karboplatin, hidroksiurea
dan prokarbazin..
D1. l-Asparaginase: crisantaspase, Leunase,
Paronal, Erwinase
Enzim yang diperoleh dari pembiakan
bakteri E. coli ini (1969) mengkatalisasi pe-
rombakan hidrolisis levo-as paragin menjadi
asam aspartat dan amoniak. Dengan demikian
sel-sel tumor tidak mendapati lagi asam
amino asparagin yang esensiil bagi sintesis
proteinnya dan terhenti perkembangannya.
Obat ini berkhasiat imunosupresif dan praktis
tidak myelosupresif atau merusak mukosa.
Terutama dipakai terhadap Acute Lym-
fatic Leukemia (ALL) pada anak-anak bila
obat-obat lain tidak efektif lagi. Biasanya
dikombi nasi dengan MTX atau sitarabin,
yang memperkuat khasi atnya bila diberikan
7-14 hari sesudah pemberian asparaginase.
Efek samping: sering kali gangguan saluran
pencernaan, anoreksi, mual, muntah, juga
reaksi alergi urticaria, bronchospasme dan
hipotensi.
Dosis: i.m. 100-400 U/kg atau i.v. 200-2000
U/kg se hari selama 2-4 minggu.
D2. Cisplatin: Platamine RTU, Platinol
Senyawa diaminodiklor dari platina ini
(1979) bekerja sitosta tik dengan menghambat
sintesis DNA dan RNA. Mirip dengan me-
kanisme kerja zat-zat alkilasi, rantai-rantai
DNA saling disambung dengan jembatan-
jembatan platina (cross-linking). Obat ini
ter-utama dipakai terhadap kanker testis
dan ovarium yang sudah tersebar, biasanya
dikombinasi dengan bleomisin dan vinblas-
tin/etoposida. Pada kanker ovarium, sekarang
ini kombinasi dari sisplatin + siklofosamida
+ paklitaksel dianggap sebagai pilihan per-
tama. Juga dipakai pada jenis-jenis tumor
lain, misalnya dari kepala dan leher, prostat
dan kandung kemih.
Efek samping yang sering terjadi yaitu
nausea dan muntah-muntah hebat, juga dapat
merusak fungsi ginjal dan telinga (nefro- dan
ototoksik). Oleh sebab itu, senyawa ini tidak
dapat dikombinasi dengan aminoglikosida.
Dosis: infus i.v. 50-200 mg/m2 setiap 3-4
minggu atau 15-20 mg/m2 selama 5 hari de-
ngan istirahat 3-4 minggu.
* Karboplatin (Paraplatin) yaitu derivat
(1986) dengan cara kerja yang hampir sama;
pemakaian ya terutama pada kanker ovari-
um yang bermetastasis.
Efek samp ingnya terhadap ginjal, telinga dan
lambung lebih ringan, namun depresi sumsum
tulang dengan risiko trombocytopenia.
Dosis: infus i.v. 300-400 mg/m2 sehari
setiap 4 minggu.
* Oxaliplatin (Eloxatin) yaitu derivat siklo-
heksan (1996) yang dipakai dalam kom-
binasi dengan 5 -FU dan folinat pada kanker
kolorektal yang tersebar.Mengikat pada eri-
trosit dan dari ikatan ini dibebaskan dengan
sangat lambat. Dimetabolisasi kuat menjadi
metabolit aktif dan inaktif, sebagian besar
diekskresi melalui urin.
Efek samping berupa depresi sumsum tu-
lang dan reaksi saraf.
Dosis: infus intravena 85 mg/m2 permu-
kaan tubuh setiap 2 minggu selama 2-6 jam,
sebelum pemberian 5-FU.
D3. Hidroksikarbamida: hidroksiurea, Hydrea
Derivat urea ini (1964) bekerja anti tumor
dengan merusak reduktase yang penting bagi
sintesis DNA. dipakai terhadap leukemia
kronis dan kanker di daerah kepala. Pada
Congres AIDS (Chicago, Januari 1998, dr F.
Lori) telah dilaporkan efektivitas kombinasi
Hydrea dengan triple therapy pada penderita
HIV positif: Pada 24 pasien percobaan virus
HIV hilang dari darah semua pasien dalam
beberapa bulan.
Efek sam pingnya terutama berupa myelo-
supresi dan gangguan neurologik, sebab
luas terapinya sangat sempit pada dosis
efektif.
Dosis: oral 1 dd 80 mg/kg setiap 3 hari.
D4. Prokarbazin: Natulan
Derivat metilhidrazin ini (1965) berkhasiat
sitostatik dengan mekanis me kerja yang
mirip zat-zat alkilasi. Khusus dipakai
pada limfoma Hodgkin bersama klormetin,
vinkristin dan prednison (kur MOPP). Obat
ini merupakan perintang enzim MAO lemah,
oleh sebab itu tidak dapat dikombinasi
dengan antidepresiva trisiklis, juga tidak
dengan alkohol sebab efek disulfiram (lihat
juga metronidazol, Bab 12, Obat-obat Amebi-
asis). .
Efek samping terpenting yaitu myelo-
supresi, hemolisis dan pendarahan, juga
gangguan saluran cerna dan reaksi neuro-
logik. Bersifat karsinogen (leukemia).
Dosis: oral dalam skema MOPP, 100 mg/
m2 sehari se lama 14 hari dengan istirahat 4
minggu.
E. ObAT–ObAT ALTERNATIF
E1. Antioksidansia dan Free Radicals
Pada semua proses metabolisme tubuh,
terutama reaksi dengan oksigen, terbentuk
molekul-molekul dengan kehilangan elek-
tron (tak berpasang, unpaired) di kulit luarnya.
Zat-zat ini yang dinamakan radikal bebas
(FR, Free Radicals), bersifat sangat reaktif
dan cenderung ‘menye rang‘ molekul-mole-
kul yang dapat menyerahkan elektron pa-
danya. Syukurlah tubuh memiliki suatu ja-
ringan pelindung dari antioksi dansia (AO)
alamiah yang mudah diok sidasi (menye-
rahkan elektron) dan dengan demikian me-
netralkan sebagian besar FR itu . Yang
terpenting yaitu vitamin A, C dan E, serta en-
zim-enzim alamiah glutationperoksidase (GPx),
superoksida dismutase (SOD) dan katalase.
Bila sebab sesuatu sebab tubuh keku-
rangan AO alamiah, mem bran sel dan/atau
inti sel dapat dirusak oleh FR. Akibatnya
proses menua dari jarin gan dipercepat di
samping ter jadi cacat pada DNA. Bila tidak
direparasi atau dimusnahkan oleh sistem
imun, sel dapat memperbanyak diri menjadi
sel-sel ganas. Selain itu FR juga dianggap
turut bertanggung jawab untuk sejumlah
gangguan lain, seperti pengeruhan lensa mata
(staar, ca taract) dan pengendapan oksi-LDL ko-
lesterol pada dind ing pembuluh dengan ter-
jadinya aterosklerosis.
FR penting dalam tubuh yaitu radikal
hidrok sil (OH-), superoksida (O2
-) dan peroksida
(H2O2
-). Lingkungan kita juga meng hasilkan
FR, a.l. sinar UV dari matahari, asap rokok,
gas buangan kendaraan bermotor dan pabrik,
smog dan sebagainya. Pembebanan FR (stress
oksidatif) akibat polusi lingkungan tidak selalu
bisa dihindari dan sampai derajat tertentu
dapat ditanggu langi oleh orang sehat. namun
bila pembebanan terlam pau berat atau daya
tahan imun kurang baik, maka zat itu
dapat merugikan kesehatan.
Food supplement. Antioksidansia yang ba-
nyak dipakai sebagai food -supplement ada-
lah vita min A, C dan E, mineral selen (Se) dan
seng (Zn), kurkumin, genistein, quercetin,
ubikuinon (coenzim Q10), piknogenol (OPC)
dan asam-asam amino sistein dan metionin.
Semua sediaan ini dapat dibeli bebas se bagai
suplemen diet. Teoretis AO sebagai suplemen
mampu mematikan sel-sel tumor melalui
berbagai cara, namun dalam praktik sering
mengecewakan. Kegunaannya terutama me-
ningkatkan daya tahan tubuh agar lebih
bertahan terhadap terapi dengan sitostatika.
Lihat juga Bab 53, Vitamin dan Mineral,
Radikal bebas dan antioksidansia.
* Vitamin E dalam membran sel memegang
peranan khusus, yaitu pada perlindungan
terhadap kerusakan otot pada waktu gerakan
tubuh dan olahraga. Vitamin A, C dan E, juga
AO enzimatik itu di atas melindungi
paru-paru terhadap oksidasi dan kerusakan
akibat FR. Bila perlindungan kurang sem-
purna, dapat terjadi kerusa kan pada epitel
gelembung paru-paru yang memicu
beberapa penyakit seperti bronchitis dan emfi-
sema (COPD, lihat Bab 40, Obat Asma).
E2. Genistein
Genistein dengan metabolitnya daidzein
dan glisitein, yaitu isoflavon yang ada
dalam kedele (soya) dan produknya (tahu, tem-
pe) sebagai aglukon dari gliko sida genistin,
daidzin dan glisitin.
Fito-estrogen (Yun. Phyto- = tanaman). Se-
cara kimiawi genistein merupakan derivat
dari masing-masing dihidro- dan monohid ro-
benzo piran,yang dalam usus diubah oleh flora
usus menjadi senyawa yang mirip estrogen
(Gnm Bull 2000;34:100-1). Zat-zat ini ada
dalam banyak tumbuhan dan memiliki
kurang lebih khasiat estrogen.
Zat-zat ini dapat dibagi dalam 3 kelompok
yaitu isoflavon (dalam kedele), coumestan
(dalam linseed/Semen Lini dan biji-bijian ber-
minyak lain) dan lignan (dalam alfalfa, sejenis
tauge).
Mekanisme kerjanya melalui penempatan
reseptor estrogen. namun efek estrogennya
hanya ±1000 kali lebih lemah. Pada dosis
rendah ternyata melindungi terhadap os-
teoporosis, namun menurut berita terakhir
isoflavon tidak berfungsi pada kehilangan
unsur tulang pada wanita pasca menopause.
Bijl, Isoflavonen niet werkzaam bij postme-
nopauzaal botverlies en overgangsklachten;
Ned Tijdschr Geneesk 11, 131-132; 2011
Dalam usus aglukon itu dibebaskan
dari glikosidanya dan diserap ke dalam da-
rah. Zat-zat ini berkhasiat antitumor berda-
sarkan sifat antioksidan dan stimulasi sistem
imun secara aspesifik dan di samping itu juga
melalui beberapa mekanisme lain, yaitu:
* menghambat reseptor estrogenyang terutama
penting pada sejumlah kanker yang me-
miliki ‘estrogen-dependent receptors’, misal-
nya kanker payudara, uterus dan prostat ;
* mencegah pembentukan pembuluh-pembuluh
darah baru(angiogenesis), lihat di bawah 9c.
Turahiu ;
* menghambat enzim tyrosinkinase dan topoi-
somerase-2 yang menstimulasi pertum-
buhan sel tumor.
Sifat inhibisi enzim ini sangat kuat.
• menstimulasi pulihnya sel-sel tumor menjadi
sel normal yang sehat pada a.l. leukemia,
kanker kolon dan kanker paru-paru;
• menstimulasi apoptosis, yang mungkin juga
memegang peranan.
Pada Symposi um soya Internasional ke-2,
tanggal 15-19 September 1996 di Brussel,
dilaporkan bahwa di negara-negara di mana
penduduk mengonsumsi banyak produk
kedele (tahu), seperti Korea Selatan dan Cina,
angka kematian akibat kanker payudara,
uterus dan prostat lebih rendah 8 kali
dibandingkan dengan negara-negara Barat.
pemakaian nya dian jurkan untuk prevensi
dan pengobatan beberapa jenis kanker yang
estrogen-dependent dan juga efektif terhadap
kanker paru-paru, usus besar, kulit dan leu-
kemia. Dewasa ini juga dipakai untuk
menanggulangi keluhan klimakterium dan
osteoporosis.
Efek samping serius tidak diketahui, laporan
mengenai efek negatifnya terhadap fungsi
otak ternyata secara ilmiah tidak dapat di-
benarkan.
Dosis: sebagai obat tambahan pada kanker
3 dd 2-4 caps Extr. Genistin 250 mg, untuk
prevensi 1 dd 250-500 mg, pada keluhan ma-
sa peralihan 2 dd 250 mg. Sebaiknya zat ini
diminum bersamaan dengan yoghurt atau
bubur.
E3. Lycopen (pseudo-karoten, E 160 d) memiliki
daya kerja antioksidan yang 3 kali lebih
kuat daripada beta-karoten. Banyak studi
menyatakan efek anti tumornya pada kanker
paru, payudara dan endometrium serta
merintangi proliferasi sel, juga memperkecil
risiko timbulnya tumor. Lihat selanjutnya
Bab 53, Vitamin dan mineral.
* Quercetin. Senyawa flavon ini ada di
banyak sayuran, buah-buahan dan sumber
terpenting yaitu teh, bawang, buah apel dan
anggur merah. Dalam jumlah lebih sedikit
juga ada dalam andevi, brokoli, prei
dan kacang panjang. Berkha siat antitumor
melalui stimulasi apoptosis, menghambat proli-
ferasi sel dan mencegah pembentukan prosta-
glan din (PgE2) dalam tumor. Di samping itu
juga menghambat agregasi trombosit dan
mungkin juga mencegah trombosis. Juga ber-
sifat antioksidan dan meng hambat oksidasi
LDL-kolesterol. Berkat kedua sifat terakhir,
senyawa ini dianjurkan pemakaian nya un-
tuk prevensi penyakit jantung.
Efek samping tidak tesedia data.
Dosis: pada kanker 3 dd 400-600 mg; untuk
prevensi PJP 1-2 dd 100 mg.
E4. Ekstrak teh hijau, Epi Gallo Catechin
Gallat (EGCG)
Teh hijau terdiri dari daun Camellia sinensis
kering yang tidak difermentasi, sehingga
mengandung banyak flavonoida katechin ka-
rena oksidasi enzimatik menjadi tanin sa-
ngat dihambat. Selain epigallo-catechingallat,
teh hijau juga mengandung zat-zat polife-
nol lain, a.l. coffeic acid, cholic acid dan sy-
ringic acid, juga vitamin K dan sedikit ko-
fein. Lihat juga Bab 23, Drugs, kofein dan
Bab 53, Vitamin dan Mineral,. Bioflavono-
ida. Telah dibuktikan bahwa teh hijau
memiliki sejumlah sifat berdasar kha-
siat antioksidan sangat kuat, yang tidak
dimiliki teh hitam. Yang terpenting yaitu
efek anti tumor, anti lipidemia dan anti
aterosklerosis, anti bakteriil kuat dan efek
thermogen akibat stimulasi pembakaran le-
mak. Efek anti tumornya diperkirakan ber-
dasarkan penghambatan pembentukan se-
nyawa nitroso (dari nitrit dan asam-asam
amino) serta merintangi efek mutagen dari
banyak zat karsinogen.
pemakaian . Dianjurkan pemakaian nya
pada terapi alternatif dari berbagai jenis
kanker dan pada prevensi serta pena-
nganan aterosklerosis. dipakai sebagai
ekstrak dengan 50% polifenol atau sebagai
minuman teh pada penanganan tambahan
dari semua jenis kanker, juga pada prevensi
dan penanganan hiperlipidemia dan ateros-
klerosis.
Efek sampingnya tidak diketahui. Namun
bila diminum sebagai teh dalam jumlah
besar, penyerapan mineral-mineral penting
dari usus dapat dihambat sebab diikat pada
tanin yang selalu masih ada dalam
jumlah kecil. Ekstraknya telah dibuat bebas
tanin.
Dosis: 3 dd 250 mg (kapsul) d.c.
E5. Ubikinon: ubiquinon, Co-enzym Q10.
Derivat dimetoksikinon ini yaitu zat
alamiah yang ada dalam setiap sel tubuh
manusia. (Lat. ubique = berada di mana-
mana, everywhere). Dalam makanan ada
agak banyak Q10, terutama minyak kedele,
ikan berlemak (makrel, sardencis), daging
sapi dan ayam, produk gandum total (whole
grain), kacang-kacangan, bayem dan broc-
coli. Di samping Q10 juga ada Q1 - Q9
yang tidak dapat dipakai secara lang-
sung oleh mitochondria, namun perlu diubah
dahulu dalam hati menjadi Q10. Selain kha-
siat stimulasi pembentukan energi dan
memperkuat kontraksi jantung, Q10 juga
memiliki kerja antioksidan kuat.
Proses bio-energetik berlangsung dalam ra-
tusan mitochondria, yakni unsur-unsur kecil
berbentuk kacang (bean) yang ada dalam
setiap sel dan dianggap sebagai pusat energi.
Mitochondria ini sangat banyak ada
dalam sel-sel yang memerlukan banyak
energi, seperti sel-sel jantung, otot dan hati.
Dalam pusat energi ini, karbohidrat dan
lemak dari makanan dibakar (= oksidasi)
dengan menghasilkan energi + CO2 + H2O +
urea). Energi ini diperlukan untuk pertum-
buhan, produksi kalor, kerja otot, mengak-
tifkan sistem imun dan proses fisiologi
lainnya. Lalu energi pembakaran ini secara
enzimatik (dengan Q10) diikat sebagai ener-
gi kimiawi melalui pembentukan molekul
ATP (Adenosine Tri Phosphate). Bila sel me-
merlukan energi untuk misalnya kontraksi
otot, ATP ini diuraikan menjadi cAMP (cyclic
Adenosine Mono Phosphate) dengan membe-
baskan energi. Kemudian cAMP dalam mi-
tochondria diregenerasi menjadi ATP mela-
lui pengikatan pada energi pembakaran, di
mana Q10 berperan secara aktif. Lihat juga
Bab 40, Obat-obat asma, mekanisme kerja
adrenergika.
glukosa + O2 H2O + CO2 + En
ATP cAMP + En
Q10
Pada lansia proses sintesis Q10 dari pre-
cursornya dalam hati sudah berkurang, se-
hingga sel kekurangan energi. Hal ini dihu-
bungkan dengan terganggunya sistem imun,
jantung, pernapasan, anak ginjal, hipertensi
dan kegemukan. Menurut para ilmuwan
menurunnya kadar Q10 dalam tubuh dengan
25% dapat memicu sejumlah penyakit
parah, bahkan fatal bila penurunannya mele-
bihi 75%. Produksi Q10 dalam hati menurun
akibat antara lain kekurangan vitamin-B.
pemakaian nya sebagai obat tambahan
pada gangguan jantung berdasar pening-
katan pembentukan energi melalui produk-
si lebih tinggi dari senyawa ATP yang kaya
energi.
Q10 memperkuat kerja pompa dari jan-
tung, yang memerlukan banyak energi. Mi-
salnya pada angina pectoris dosis tinggi dari
Q10 membantu mitochondria di dalam sel-sel
jantung untuk mempergunakan oksigen lebih
baik yang ketersediaannya berkurang akibat
aterosklerosis.
Q10 ternyata sangat berguna sebagai unsur
tambahan pada terapi dengan obat jantung
(digoksin, diuretika, Ca-blocker, ACE-inhi-
bitor dan beta-blocker).
berdasar sifat antioksidannya Q10 ber-
peran pada pencegahan oksidasi LDL-ko-
lesterol oleh vitamin E yang menetralkan
radikal bebas. Pada proses netralisasi itu
vitamin E sendiri dioksidasi menjadi suatu
zat toksik, yang dapat diregenerasi (reduksi)
kembali oleh Q10 (dan vitamin C). Dengan
demikian Q10 bersama vitamin E dan C
dapat dipakai untuk melindungi tubuh
terhadap aterosklerosis dan prevensi PJP.
pemakaian lain yaitu untuk memperkuat
sistem imun.pada penderita kanker. Menurut
penelitian kadar antioksidansia dalam tubuh
penderita kanker rendah. Jumlah limfo-T
berkurang bila sistem imun lemah, sehingga
lebih mudah terjadi infeksi. Sistem imun tidak
lagi memusnahkan sel-sel cacat yang telah
dirusak kode genetiknya (DNA) sehingga
membelah secara liar. Akhirnya dapat timbul
kanker.
Dosis: oral 1-2 dd 30-100 mg.
E6. Kurkumin
Antioksidan polifenol ini ada sebagai
zat warna kuning di berbagai jenis Curcuma
(temulawak/C. longa, kunir). Berkhasiat anti
radang kuat, anti agregasi dan dapat menu-
runkan kolesterol.
Lihat selanjutnya Bab 16, Obat-obat Lam-
bung.
E7. Turahiu: tulang rawan hiu, Cartilade.
Tulang rawan hiu mengandung polipep-
tida dengan daya kerja menghambat angio-
genesis yaitu pembentukan pembuluh da-
rah baru yang berfungsi menyalurkan zat
gizi dan oksigen ke sel tumor. Tulang rawan
hiu juga mengandung mukopolisakarida (nama
baru: glukosaminoglikan) yang berkhasiat men-
stimulasi sistem imun. berdasar sifat-sifat
ini, sejak awal tahun 1990 telah dipakai
untuk prevensi dan penanganan berbagai
jenis kanker (Dr William Lane). Dilaporkan
sejumlah penyembuhan dramatis, a.l. dari
pasien kanker paru pada stadium akhir. FDA
Amerika telah mensponsori dua penelitian
besar pada pasien kanker payudara dan
prostat.
Protein-protein aktif ternyata sangat mu-
dah diinaktifkan selama pembuatan, a.l. oleh
kalor yang timbul sewaktu penggilingan tu-
lang. Lagi pula sukar sekali ditentukan efek-
tivitasnya terhadap angiogenesis, sedang
harga preparat asli (Cartilade) sangat mahal
(± $200 per kg, cukup untuk 15-20 hari).
Oleh sebab itu waspyaitu terhadap pre-
parat murah di pasaran, yang tidak atau
kurang aktif sebab dicampur dengan tulang
ayam yang digiling halus, atau terdiri dari
turahiu yang diproduksi kurang saksama.
Keberatan lain yaitu biayanya yang sangat
mahal berhubung dengan dosis besar yang
diperlukan.
Efek samping hanya berupa sukar buang air
besar akibat kadar kalsium yang tinggi dalam
serbuk turahiu. Keluhan ini dapat diatasi
dengan minum laktulosa setiap hari 15-30 ml.
Dosis: 1 g/kg/hari dalam 2-3 dosis, tersus-
pensi dalam setengah cangkir air, pada perut
kosong, sebab protein-protein aktif diinak-
tifkan oleh enzim lambung. Bau amis dapat
diselubungi dengan beberapa tetes essence
vanili, arbai dan sebagainya.
E8. Ekstrak Viscum album: mistletoe, Iscador
Tumbuhan semi parasit yang termasuk
famili Loranthaceae tumbuh dalam bentuk bola
pada beberapa jenis pohon Eropa, antara lain
pohon oak dan pohon apel. Kandungannya
antara lain alka loid dan polipeptida visko-
toksin, yang berkhasiat sitotok sik pada dosis
sangat tinggi. Juga protein-protein khusus
(lektin-lektin) dengan efek imunsti mulasi
pada dosis rendah, yang mengaktivasi lim-
fosit dan NK cells, men stimulasi fagosito-
sis oleh monosit dan pelepasan IL-1, IL-6
dan TNF dari makro fag. Pemanasan di atas
900C meniadakan aktivitasnya. Juga tersedia
sebagai tingtur untuk pemakaian oral,
namun dianggap kurang efektif.
Obat ini dipakai sejak ±1922 (dr Rudolf
Steiner, antro posof) dengan hasil tidak menentu
pada terapi alter natif kanker berdasar kan
peng obatan rakyat tradi sional. Baru pada
tahun 1960 diketahui secara ilmiah zat-zat
yang dikandung dan aktivitas anti tumornya.
Zat ini banyak dipakai di Jerman dan
Swiss, paling efektif sebagai injeksi i.m.
(Iscador)
* Benalu (Loranthus parasiticus) yaitu pa-
silan dari famili Lorantha ceae, yang hidup
pada tanaman teh, mangga dan sebagainya.
Belum diketa hui zat kandungannya. Obat
ini juga dipakai di negara kita sebagai obat
kanker tradisio nal atas dasar pengala m-
an rakyat, biasanya sebagai seduhan (teh)
dikombinasi dengan beberapa ramuan lain
(jenis Usnea, Smilax dan Curcu ma). Dalam ke-
pustakaan ilmiah efektivi tasnya belum per-
nah dilaporkan.
E9. Sediaan enzim
Di antara ratusan jenis enzim di dalam
tubuh, ada sejumlah protease (pengurai
protein) yang penting untuk daya tahan
tubuh terhadap kanker, di antaranya enzim-
enzim yang juga ada dalam getah pan-
kreas. Sel tumor, yang jauh lebih besar
daripada sel normal, memiliki permukaan
kasar dan lengket, pada mana mengikat diri
fibrin (serat darah yang diperlukan untuk
pembekuan). Selubung fibrin ini melindungi
sel-sel tumor ter hadap serangan limfosit
dan enzim. Menurut teori, protease mampu
menguraikan selubung fibrin ini (efek fibri-
noli tis), sehingga sel-sel sistem imun men-
dapat ke sem patan untuk memus nahkan sel-
sel ganas yang diselubunginya. Protease juga
mampu memasuki langsung sel-sel (pre-
tumor) dan melarutkannya dari dalam (efek
sitolitis). Di samping itu zat ini bekerja me-
rombak imun kom pleks (senya wa antigen-
antibody-komplemen), yang dapat mem-
blokir efek sitotoksik dari limfosit.
sesudah pembedahan, radiasi atau kur si-
tostatika terbentuk banyak fibrin untuk mem-
batasi perdarahan, yang juga menyelubungi
dan melindungi sel-sel tumor yang lolos
dan tersebar via darah dan limfe. Lihat Bab
39, Hemopoietika, Fibrin. sebab itu sel-sel
itu dapat memperbanyak diri dengan
pesat. Proliferasi dapat dihambat oleh enzim-
enzim yang sangat berguna untuk meng-
hambat metastasis sesudah cara prosedur
itu di atas.
Yang dipakai yaitu a.l. kombinasi
dari protease tripsin, chymotripsin, papain
dan bromelain (Wobemugos-E). sebab ab-
sorpsi dari usus agak lemah (bioavailability
masing-masing: 28, 16, 7 dan 39%), maka dosis
harus cukup tinggi untuk menghasilkan efek.
Menurut laporan kombinasi enzim ini juga
berguna untuk menghambat progres penya-
kit autoimun tertentu, seperti SLE(systemic
lupus erythematodes) dan MS(multiple sclerosis).
Efek samping pada dosis tinggi berupa
mual, rasa kem bung, besendawa, peruba han
warna/bentuk tinja dan jarang reaksi alergi.
Dosis: oral 3x sehari 3-5 tablet e.c. pada
perut kosong selama 6 minggu, kemu dian
diku rangi sampai 3 dd 1 tablet dalam waktu
4 minggu dan seterusnya setiap bulan selama
1 minggu 1 tablet sehari.
E10. Ekstrak timus: Thymex-L, Zellmedin
Timus yaitu sebuah organ di belakang
tulang dada, sebesar buah dukuh pada masa
pubertas dan selama proses menua sema-
kin men ciut (atrofi) sampai sekecil butir
jagung. Timus membentuk sejumlah hormon
polipeptida (timo sin) yang penting pada
pemasa kan dan diferen siasi semua limfosit-T
(T = timus). Lansia dan pasien kanker pada
umumnya kekurangan timosin akibat atrofia
timus. Untuk menstimulasi sistem imun se-
luler itu (limfo-T, NK-cells) yang pada
pasien kanker ternyata sangat rendah, sediaan
timus banyak diguna kan sebagai obat tam-
bahan di Eropa Barat, antara lain Jerman,
Swis, Belanda dan Swedia. pemakaian i.m.
lebih efektif daripada per oral berhubung
tidak ada kepastian mengenai ab sorpsinya
dari usus. namun dunia ilmiah masih sangat
meragukan efekti vitasnya.
Efek samping berupa reaksi kulit pada
tempat in jeksi, kadang-kadang demam dan
menggigil.
Dosis: 2-3x seminggu 150 mg ekstrak i.m./
s.c. selama maksimal 10 minggu, lalu oral 2
dd 300-600 mg (tablet e.c.) pada perut kosong
selama 3 bulan, untuk pemeli haraan 1 dd 300
mg.
E11. Terapi dr. Moerman (1893-1988)
Pada tahun 1950, dokter Belanda C.Moer-
man mengem bangkan cara pengobatan de-
ngan terutama vitamin dan mineral dalam
dosis sangat tinggi yang ditunjang oleh
suatu diet. Maksudnya yaitu untuk me-
normalisasi per tukaran zat yang terganggu,
hingga sistem imun mampu memusna hkan
sel-sel tumor. Terapinya terdiri dari kom-
binasi vitamin A, B kompleks, C dan E, asam
sitrat, iod, belerang dan besi.
* Diet Moerman yang asli banyak larangan-
nya, yang kemudian dimodifikasi oleh dr
Houtsmuller (1997) atas dasar data ilmiah
mutakhir. Daftar diet yang di-updated terdiri
dari tiga kelompok dengan unsur-unsur ter-
penting sebagai berikut:
a. yang dilarang meliputi se mua daging/
organ dan lemak hewan, semua minyak
dengan asam lemak jenuh, marga rin,
goren gan, gula, kacang tanah dan kelwa.
Juga semua makanan yang diasap kan,
diaweti (kaleng, pot) atau difermentasi
(tem pe, oncom);
b. yang diperbolehkan beras merah/tum-
buk, roti “whole grain“, telur 2-3 x se-
minggu, banyak buah-buahan dan sayur-
mayur (sebaiknya sebagai lalap atau
sebagai perasan), kopi dan teh hijau
(tidak difermentasi);
c. yang diperbolehkan secara terbatas
yaitu madu, mentega, minyak kembang
matahari, minyak jagung, minyak zaitun,
ikan berlemak (ban deng, makrel India,
kem bung), hati (ayam), susu rendah
lemak (low fat), keju dan kwark tanpa
lemak.
Dalam praktik ternyata, bahwa diet dengan
banyak peraturan ini sukar sekali dipatuhi
dengan tuntas dan konsekuen, oleh sebab
itu sering kali diseder hanakan dan dibatasi
sampai larangan yang terpenting.
Walaupun metoda Moerman banyak dike-
cam oleh para dokter regular sebab tidak
didukung oleh riset ilmiah, namun di negeri
Belanda sering kali dipakai . Suatu ko-
misi mandiri dari DepKes Belanda yang
pada tahun 1991 menye lidiki efektivitas-
nya secara retro spektif telah meny im pul kan
bahwa terapi Moerman betul-betul mampu
menyembuhkan kanker (regresi dalam ±20%
kasus) atau setidaknya meringankan gejala-
gejalanya dan memperpanjang hidup.
Perkumpulan dr Moerman pada tahun
2013 masih cukup banyak anggotanya de-
ngan penerbitan majalah bulanan “Uitzicht“.
Filosofinya tentang pengobatan kanker seca-
ra alamiah untuk sebagian besar telah di
ambil alih oleh para dokter yang terhimpun
dalam kelompok Non Toxic Tumor Therapy
(NTTT).
Riset pada tahun-tahun terakhir semaki n
banyak menghasilkan bukti tentang adany a
hubungan langsung dan jelas antar a keku-
rang an zat-zat gizi dalam makanan dan ber-
bagai jenis penyakit, termasuk jenis kanker
tertentu. Misalnya vitamin A dengan kanker
paru-paru, lambung dan leher rahim (cervi x);
vita min B2 dan Fe dengan kanker saluran
pencernaan bagian atas; vitamin B6 dengan
kanker hati serta iod dengan kanker tiroid.
makanan. Yang banyak dipakai yaitu
asam benzoat, nipagin/nipasol dan asam
sorbat.
Sejarah
Pada tahun 1847 seorang ginekolog Wina,
Ignaz Semmelweis untuk pertama kalinya me-
ng anjurkan pemakaian zat-zat kimia untuk
membersihkan tangan sebelum melakukan
‘pemeriksaan dalam’ pada wanita hamil. Tu-
juannya yaitu untuk menghindarkan in-
feksi yang dapat memicu demam hamil,
yang saat itu sering kali menghantui ibu-ibu
hamil. Dua dasawarsa kemudian bakteriolog
Prancis Louis Pasteur menemukan mikroba
sebagai pemicu infeksi. Lalu ahli bedah
Inggris Joseph Lister memperkenalkan prinsip-
prinsip pembedahan antiseptik. Untuk meng-
hindari timbulnya infeksi pada luka, Lister
memakai larutan fenol 5% dalam air
untuk mensucihamakan tangan, daerah yang
akan dibedah dan alat/instrumen bedah.
Ignaz Semmelweis (1818-1865)
ANTISepTIKA DAN
DeSINFeKTANSIA
Joseph Lister (1827-1912)
Desinfektansia yaitu zat-zat kimiawi yang
dipakai untuk mengurangi jumlah mikro-
organisme di berbagai macam permukaan
jaringan hidup atau benda mati dengan me-
matikan atau menghentikan pertumbuhan
hama patogen yang ada padanya. Di ne-
gara berbahasa Inggris desinfektansia sering
disebut antiseptics (Yun. sepsis = busuk) atau
germicides (germ = hama patogen). Perbeda-
an yang dahulu sering dipakai , yaitu de-
sinfektansia untuk pemakaian pada benda
mati dan antiseptika bagi jaring an hidup,
sekarang ini dianggap obsolet dan kedua
istilah ini dapat dipakai tanpa perbedaan
lagi.
Konservansia, zat-zat preservatif atau pe-
ngawet yaitu zat kimiawi dengan sifat
membunuh atau menghambat pertumbuhan
mikroorganisme. Zat-zat ini mempertahan-
kan jumlah hama pada taraf rendah untuk
waktu yang cukup lama. Dengan demikian
zat pengawet dapat mencegah pembusukan
dari sediaan farmasi, kosmetika atau bahan
pemakaian
a. Pada jaringan hidup.
Tujuan pemakaian antiseptika pada kulit
yaitu untuk membasmi mikroorganisme
yang kebetulan berada di permukaan kulit,
namun tidak memperbanyak diri di tempat
itu dan biasanya akan mati sendiri
(transient flora). namun lebih penting yaitu
untuk membasmi resident flora, yakni jasad-
jasad renik yang merupakan penghuni alamiah
di kulit dan terutama terdiri dari mikrokok
patoge n, seperti Staphylococus epidermidis, Cory-
nebacteri, Propionibacteri dan kadang-kadang
Staphylococus aureus. Flora permanen ini ter-
dapat pada lokasi yang lebih dalam dan lebih
sukar dihilangkan daripada flora transien t.
Dalam rangka ini yang perlu mendapat-
kan perhatian yaitu pekerja di rumah sakit
yang melalui tangannya dapat meneruskan
kuman/virus patogen antar-pasien. Flora ini
terutama berada pada permukaan kulit, se-
hingga dapat dihilang kan secara mekanis,
misalnya mencuci secara intensif dengan
sabun. Lebih baik lagi yaitu dengan cara
desinfeksi, ter utama bila diperkirakan ada-
nya kuman-kuman patogen. Misalnya se-
be lumnya melakukan pembedahan dokter
beda h mencuci tangannya dengan sabun
antiseptik selama minimal 2 menit.
Keberatan. Tidak jarang antiseptika bersifat
toksik bagi jaringan, menghambat penyembuhan
luka dan memicu kepekaan. Selain itu
sering kali antiseptika juga sukar mendifusi
ke dalam kulit, a.l. sebab terendap oleh pro-
tein, misalnya iod, garam merkuri dan perak.
Khasiatnya sering kali ditiadakan atau
dikurangi oleh cairan tubuh, seperti serum,
nanah dan protein, misalnya pada povidon-
iod, klorheksidin, heksaklorofen, fenol dan
hipoklorit, juga kaliumpermanganat dan
zat-zat warna tertentu. sebab bersifat toksik
dan merangsang bagi sel, beberapa zat tidak
tepat untuk dipakai pada borok/luka
terbuka, misalnya alkohol, iod dan quats (a.l.
cetrimida).
Oleh sebab itu antiseptika dipakai ha-
nya untuk kulit utuh, misalnya desinfeksi
pra-bedah dari kulit (povidon-iod, klorhek-
sidin dalam alkohol) dan sebagai prevensi
terhadap bisul (furunkel).
Desinfektansia berbeda dari kemoterapeu-
tika sistemik (antibiotika), yang sudah dibica-
rakan dalam bab-bab sebelumnya, khusus
mengenai toksisitasnya yang kurang atau
tidak selektif. Artinya, antiseptika sama tok-
siknya bagi jaringan hidup maupun bagi
kuman. Pada dosis normal praktis tidak ber-
sifat merangsang kulit, misalnya iod, klor-
heksidin dan cetrimida.
Oleh sebab itu desinfektansia tidak dapat
dipakai secara sistemik dan pengguna-
annya hanya terbatas pada pemakaian lo-
kal, yaitu pada kulit dan selaput lendir (mu-
kosa) sebagai berikut:
• untuk membersihkan luka dan lokasi in-
feksi, atau sebelumnya penyuntikan;
• pada infeksi kulit di mukosa (mulut, te-
nggorok, telinga);
• pada infeksi kulit untuk melengkapi obat
sistemik yang sering kali sukar melintasi
lapis tanduk untuk men capai pusat infek-
si di permukaan;
• pra bedah untuk mendesinfeksi tanga n
dokter dan lokasi operasi pada kulit pa-
sien: senyawa iod atau klorheksidin da-
lam alkohol.
b. Pada benda mati. Desinfektansia juga ba-
nyak dipakai untuk mensterilisasi alat-
alat medis yang tidak tahan terhadap cara
sterilisasi suhu tinggi, begitu pula untuk
desinfeksi lantai dan air minum atau kolam
renang. Juga untuk desinfeksi wadah pe-
nampung urin, ludah dan tinja, atau permu-
kaan yang terinfeksi dengan darah atau
ludah penderita, mis ludah pasien tbc. Untuk
desinfeksi material yang tercemar darah
pasien HIV atau hepatitis B dipakai klor
(1000 ppm), glutaral dan alkohol 70%. Lantai
terinfeksi sebaiknya didesinfeksi dengan la-
rutan klor atau natriumhidroksida.
Syarat ideal
Persyaratan ideal bagi desinfektansia dapat
dirumuskan sebagai berikut.
– berkhasiat mikrobisid luas terhadap kuman,
jamur dan spuranya, ragi, virus serta
protozoa (broad spectrum);
– mulai kerjanya cepat dan bertahan lama (long-
acting);
– toksisitasnya rendah dan begitu pula daya
absorpsinya melalui kulit dan mukosa;
– tidak merangsang kulit maupun mukosa,
baunya pun tidak merangsang;
– khasiatnya tidak dikurangi oleh zat-zat
organik, seperti nanah dan darah;
– daya adsorpsinya rendah pada karet, zat-zat
sintetik dan bahan lain;
– tidak korosif (bereaksi secara kimiawi)
terhadap alat yang didesinfeksi.
Jelaslah bahwa kedua syarat terakhir berlaku
hanya untuk desinfektansia benda.
Khasiat
biasanya desinfektansia memiliki
khasiat bakterisid dengan spektrum kerja
luas, yang meliputi bakteri Gram-positif
dan Gram-negatif, virus dan fungi. namun
antara efeknya masing-masing ada
perbedaan besar. Spura kuman sukar di-
matikan dan hanya beberapa jenis desin-
fektan memiliki sifat sporisid yang cukup
kuat, misalnya senyawa klor, iod, aldehida
dan asam per-(misalnya asam perklorat).
Spura jamur dan ragi peka bagi keba-
nyakan desinfektansia, namun pada konsen-
trasi yang lebih besar dan/atau waktu yang
lebih lama.
Banyak faktor lain dapat memengaruhi
khasiat antiseptikum, yang dapat dirangkum
sebagai berikut.:
a. Spektrum kerja. Bakteri Gram–negatif
seperti Pseudomonas, Stafilokok MRSA dan
Mycobacteriae (basil TBC dan lepra) kurang
peka terhadap klorheksidin dan quats,
begitu pula spuranya. Terhadap spura
senyawa klor dan peroksida paling efektif.
Kepekaan virus sangat tergantung dari
besarnya dan lipofilitasnya, yaitu lebih
kecil, lebih resisten.
Begitu pula virus hidrofil (entero-, polio-,
hepatitis-A, -coxsackie) lebih resisten dari
pada virus lipofil (adeno-, herpes-, influenza,
HIV, virus bof dan measles).
b. Konsentrasi. Umumnya untuk khasiat
fungisid diperlukan konsentrasi yang sedi-
kit lebih tinggi daripada kadar untuk kerja
bakterisid. Sebaliknya untuk efek bakteriostatik
dibutuhkan kadar yang lebih rendah lagi.
Misalnya larutan fenol di bawah 1% bekerja
bakteriostatik, namun di atas 1,5% bersifat
bakterisid.
c. Kebersihan permukaan yang akan dide-
sinfeksi. ada nya zat-zat organik (lemak,
sabun, protein, darah, nanah, dan sebagainya.
dapat meniadakan atau mengurangi efek-
tivitas desinfektans.
d. Waktu exposure. Larutan iod 4% mem-
bunuh kuman dalam 1 menit, sedang
larutan 1% memerlukan 4 menit, spura baru
musnah sesudah 2-3 jam.
d. pH dan suhu. Khasiat klor 10 kali lebih kuat
pada pH 6 daripada pH 9, juga asam benzoat
dan ester-esternya lebih aktif pada pH asam.
Pada suhu tinggi kerjany a lebih cepat.
e. Zat pelarut. Klorheksidin dalam larutan
alkohol bekerja fungisid, sedang larut-
annya dalam air hanya berkhasiat fungistatik
lemah. Efek antiseptik tingtur klorheksidin
pada awalnya yang bekerja yaitu alkohol
70%, dan klorheksidin baru aktif sesudahnya.
Begitu juga de ngan iodium pada tingtur
iodium.
Mekanisme Kerja
Desinfektansia bekerja berdasar ber bagai
proses kimiawi atau fisika dengan tujuan
meniadakan risiko transmisi dari jasad renik.
Proses-proses ini yaitu :
• denaturasi protein mikroorganisme, yaitu
perubahan strukturnya sehingga sifat-si-
fat khasnya hilang;
• pengendapan protein dalam protoplasma
(zat-zat halogen, fenol, alkohol dan garam
logam);
• oksidasi protein (oksidansia);
• mengganggu sistem dan proses enzim (zat-
zat halogen, alkohol dan garam-garam
logam);
• modifikasi dinding sel dan/atau membran
sitoplasma (desinfektansia dengan aktivi-
tas permukaan).
penggolongan
Desinfektansia dapat digolongkan dalam be-
berapa kelompok, yaitu:
1. senyawa halogen: povidon-iod, iodo-
form, Ca-hipoklorit, Na-hipoklorit (Eusol,
Dakin), tosilkloramida, klorheksidin, klio-
kinol, heksaklorofen, triklokarban, klor-
ksilenol dan triklosan;
2. derivat fenol: fenol, kresol, resorsinol dan
timol;
3. zat-zat dengan aktivitas permukaan (ba-
sa amonium kuaterner, quats): setri mi-
da, setilpiridinium, benzalkonium dan
dekualinium;
4. senyawa alkohol, aldehida dan asam:
etanol dan isopropanol, formaldehida
dan glutaral, asam asetat dan borat;
5. senyawa logam: merkuriklorida, fenil-
mer kurinitrat dan merbromin, perak-
nitrat dan silverdiazin, sengoksida;
6. oksidansia: hidrogenperoksida, seng pe-
roksida, Na-perborat, kaliumpermanga-
nat dan kaliumklorat;
7. lainnya: heksetidin dan heksamidin, ni-
trofural, belerang, ichtammon, etilenok-
sida, oksikinolin (Superol) dan akriflavin.
MONOGRAFI
1. HALOGeN DAN SeNYAWANYA
1a. Iod (F.I.): iodium
Elemen iod merupakan salah satu zat bak-
terisid terkuat (sudah efektif pada kadar 2-4
mcg/ml air = 2-4 ppm), dengan daya kerja
cepat. Hampir semua kuman patogen, ter-
masuk fungi dan virus, dimatikan olehnya.
Begitu pula spora, walaupun diperlukan
waktu lebih lama: larutan 2% memerlukan
2-3 jam. Iod merupakan antiseptikum yang
sangat efektif untuk kulit utuh, maka tingtur
iod banyak dipakai untuk desinfeksi ku-
lit sebelum injeksi atau pembedahan, juga
untuk mengobati infeksi sebab fungi (der-
matomikosis).
Efek samping. Keberatannya yaitu sifatnya
yang merangsang (nyeri bila dipakai pada
luka terbuka), warnanya cokelat dan kadang-
kadang terjadi dermatitis (alergi kulit).
Kekurangan ini memicu dikem-
bangkannya zat-zat iodofor yang tidak atau
jauh lebih sedikit memiliki efek-efek samping
itu di atas. Iodofor yaitu senyawa kom-
pleks dari iodium dengan polimer yang melarut
dalam air, misalnya povidon-iod.
Tingtur iod (F.I.) yaitu larutan iod 2% +
NaJ 2,5% dalam etanol 50%. sebab adanya
alkohol dan sejumlah kecil asam iodida (HJ),
tingtur ini memicu rasa nyeri dan iritasi
yang memperlambat penyembuhan bila
dipakai pada luka terbuka.
* Povidon-iod (Betadine) yaitu kompleks
dari iod dengan polivinil-pirolidon yang tidak
merangsang dan dalam larutan air berang-
sur-angsur membebaskan iodium. Seperti
heksaklorofen (lihat di bawah), terutama bila
dipakai berulang kali, zat ini berkumulasi
di kulit dan memicu efek antiseptik
yang bertahan lama. Lagi pula kompleks iodofor
mudah larut dalam air dan mudah dicuci
dari kulit atau pakaian, bersifat lebih stabil
sebab tidak menguap dan khasiatnya lebih
panjang daripada iod. sebab sifat-sifatnya
ini tingtur povidon-iod 10% dengan kadar
iod bebas 1% telah menggantikan tingtur
iodium konvensional.
pemakaian nya terutama untuk desinfeksi
kulit dalam bentuk tingtur, sabun cair, salep,
krem, lotion dan bedak tabur. dipakai pula
sebagai obat kumur dan untuk tenggorok.
Kadarnya yang biasa dipakai yaitu 7,5%
povidon-iod, yang ekivalen dengan ±10%
iod.
Efek samping. Hati-hati bila dipakai pada
permukaan kulit cedera yang luas (misalnya
luka bakar), sebab iodium dapat diresorpsi
dan meningkatkan kadarnya dalam serum
sehingga dapat memicu asidosis,
neutropeni dan hipotirosis (selewat).
1b. Kliokinol: vioform, iodokloroksikinolin (F.I.).
Derivat oksikinolin ini berkhasiat bakte-
risid (terhadap cocci, E. coli dan Salmo-
nella), fungisid dan amebisid. Selain per oral
(dahulu) pada infeksi usus, kliokinol juga
banyak dipakai sebagai antiseptikum
kulit (salep (2-10%) sebab efektif, tidak
merangsang dan jarang memicu reaksi
alergi kontak. Keberatannya yaitu warna
kuningnya yang dapat menodai pakaian.
Obat ini juga ampuh untuk mengeringkan
borok bernanah. Lihat selanjutnya Bab 12.
Obat-obat Amebiasis dan Bab 18. Obat-Obat
Diare.
* Derivat oksikinolin lainnya dengan kha-
siat bakterisid yang dipakai sebagai
antiseptika lokal yaitu oksikinolinsulfat
(Superol). Begitu pula dequalinium(Degirol),
yang bersifat amonium kwaterner (lihat di
bawah). Obat-obat ini terutama dipakai
sebagai antiseptika tenggorok dalam sediaan
tablet hisap atau obat kumur.
1c. Klor
Elemen berbentuk gas ini berkhasiat
bakterisid kuat yang dalam konsentrasi
kecil dapat dengan cepat membunuh
kebanyakan bakteri, spura, fungi dan virus.
Misalnya pada kadar 0,5 ppm pada pH
7 sudah efektif dalam 30 detik! Pada pH
basa aktivitasnya menurun, begitu pula
dengan adanya zat-zat organik. sebab
larutan klor sangat tidak stabil, biasanya
dipakai senyawanya yang dalam la-
rutan berangsur-angsur menghasilkan asam
hipoklorit (HClO). Contohnya yaitu la-
rutan NaClO 0,5% (Solutio Dakin), kaporit
[bleaching powder, Ca(O










