Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 25. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Efek pakai obat 25. Tampilkan semua postingan

Minggu, 07 Juni 2026

Efek pakai obat 25





 kipun 

belum ada obatnya—sebab  merupakan isu 

hangat. 

 A. PENYAKIT PARKINSON

Penyakit Parkinson (PD) yaitu  suatu pe-

nyakit neurodegeneratif progresif yang me-

mengaruhi kemampuan motorik dan non-

motorik.

Penyakit gemetar (‘palsy’) ini merupakan 

suatu sindrom penyakit yang disebabkan 

terganggunya keseimbangan neurohormon 

di sistem ekstrapiramidal otak.Sistem ini me-

ngendalikan dua sistem berseimbang yang 

bekerja dengan masing-masing neurohor- 

mon asetilkolin (ACh) dan dopamin (DA), 

suatu zat-antara pada sintesis noradrenalin 

(NA). Pada penyakit ini ada  kekurangan 

do-pamin (dan glutathion = GSH) di ganglia 

otak, terutama di ‘sel-sel hitam’ (substantia 

nigra). Diagnosis dapat dipastikan dengan 

mendeteksi secara mikroskopis unsur-unsur 

tertentu dalam sel-sel inti hitam, yaitu badan 

dari Lewy, yang merupakan ciri khas pula 

dari suatu bentuk demensia.

Penyakit Parkinson (dari nama seorang 

dokter Inggris James Parkinson, 1817) me-

rupakan suatu penyakit yang umum dan 

ada  di seluruh dunia. Jumlah pende-

ritanya meningkat dengan drastis sesuai 

usia sampai kira-kira 1 per 200 pada usia 

di atas 70 tahun. biasanya , penyakit 

berlangsung progresif (memburuk) secara 

berangsur selama bertahun-tahun dan pada 

40-70% dari penderita disusul dengan ke-

runtuhan mental dan suatu bentuk demen-

sia yang agak berlainan dengan Alzheimer, 

lihat di bawah. sesudah  rata-rata 10-15 tahun, 

penyakit selalu berakhir dengan kematian. 

pemicu nya yaitu  degenerasi progresif 

dari sel-sel saraf dopaminerg di otak, sehin-

gga produksi DA berkurang dan keseimban-

gan dalam ganglia basal terganggu sebab  

sistem ACh berkuasa. Peningkatan aktivi-

tas kolinergik ini memperkuat rangsangan 

berlebihan pada SSP yang memicu  

gerakan-gerakan yang tidak terkendali (tre-

mor). Di samping itu, terjadi pula kelisutan 

sel-sel yang membentuk neurohormon lain, 

sehingga berkurangnya noradrenalin dan 

serotonin (5HT). Apa yang memicu  

kerusakan sel-sel saraf itu  sampai kini 

belum diketahui.

Diperkirakan bahwa faktor keturunan me-

megang peranan penting pada terjadinya 

penyakit Parkinson. Risikonya 3 kali lebih 

besar bila salah satu orang tua atau saudara 

menderita penyakit ini.


* Parkinsonisme yaitu  semua keadaan 

yang menyerupai penyakit Parkinson ter-

masuk penyakit itu sendiri dan didefinisikan 

sebagai kombinasi dari bradikinesi (lambat 

gerakan), kekakuan dan gemetar (tremor). 

Dengan lain kata parkinsonisme atau ge-

jala ekstrapiramidal yaitu  istilah yang 

dipakai  bagi sindrom kekakuan hipokinetik 

dengan ciri-ciri penyakit Parkinson, yang 

diakibatkan oleh kelainan di sistem eks-

trapiramidal. Gejala ini dapat timbul akibat 

pemakaian  obat (antagonis-DA) yang ma-

suk ke dalam SSP, seperti psikofarmaka 

dalam dosis tinggi, terutama fenotiazin, 

butirofenon, haloperidol, thorazine, antide-

presiva trisiklis, reserpin dan juga obat-

obat anti-emetik seperti proklorperazin dan 

metoklopamida. Sebabnya yaitu  blokade 

dari dopamin, begitu pula sesudah  stroke, 

gangguan neurologik serta intoksikasi CO, Hg, 

Mn, HCN dan barbital. Parkinsonisme dapat 

ditanggulangi secara efektif oleh antiko-

linergika, namun  tidak oleh levodopa atau 

amantadin. 

Faktor-faktor risiko bagi parkinsonisme 

yang dicetuskan oleh efek samping meto-

klopramida yaitu  jenis kelamin (wanita), usia 

lanjut, polifarmasi dan diabetes. Oleh sebab  

itu alternatif pemakaian  metoklopramida 

sebagai anti-emetikum bagi pasien yang 

menderita mual dan muntah-muntah yaitu  

domperidon. Perbedaan antara parkinson-

isme yang diinduksi oleh obat sebagai efek 

samping dan penyakit Parkinson yaitu  an-

tara lain awalnya yang subakut pada par-

kinsonisme.

Mekanisme kerja dari metoklopramida 

yaitu  kompleks dan berdasar  blokade 

dari reseptor dopaminerg D2 yang berada 

di pusat muntah (chemoreceptor triggerzone) 

dan di lambung-usus. Blokade dari reseptor-

reseptor ini di bagian lain dari otak, teruta-

ma di corpus striatum, dapat memicu  

gangguan gerakan seperti parkinsonisme.

Sebetulnya domperidon juga merupakan 

suatu penghambat dopaminerg D2, namun  

hanya sedikit sekali yang dapat menembus 

barriere darah-otak, sehingga gangguan ter-

hadap gerakan jauh berkurang.

Empat gejala utama penyakit Parkinson ada-

lah kakunya anggota gerak (rigor, hipertonia), 

mobilitas hilang atau berkurang secara ab-

normal (bradykinesia), gemetar (tremor) dan 

gangguan keseimbangan tubuh. Bradykinesia 

yaitu  menjadi lambatnya semua gerakan, 

sukar bangun dari posisi duduk dan sukar 

naik-turun dari pembaringan. Pasien juga ber-

jalan setindak-demi-setindak (shuffle) yang 

dapat diperbaiki melalui fisioterapi. Ciri- 

ciri lainnya yaitu  sikap tubuh bongkok, 

kejang otot, tulisan tangan menjadi halus 

(micrographia) dan seperti laba-laba (spidery). 

Sebagai akibat dari kakunya otot muka, pen-

derita berwajah seperti topeng (mask face). 

Bicaranya menjadi monoton dan tidak jelas, 

juga sekresi air liur (salivatio) berlebihan 

dan muka berlemak. Gejala pada saluran 

cerna berupa rasa terbakar dalam lambung 

(heartburn), kesulitan menelan (dysphagia), 

sembelit dan menurunnya berat badan. 

Gejala-gejala ini baru menjadi nyata pada 

stadium lanjut, yaitu pada waktu ±80% dari 

sel-sel dopaminerg telah dirusak. Sebetulnya 

kehilangan neuron dopaminerg yaitu  

ge-jala normal dari usia lanjut, namun  pada 

umumnya kehilangan ini tidak sampai 70-

80%. Tanpa pengobatan sesudah  5-10 tahun 

PD memicu  penderita tidak berdaya 

(akinetic state), pada saat penderita tidak 

dapat lagi merawat diri sendiri. Akibat turut 

lisutnya pula sel-sel serotoninerg di otak dan 

berkurangnya serotonin penyakit ini juga 

meme ngaruhi banyak bagian dari struktur 

otak (Braak and Del Tredici, 2008)35, yang 

memicu  gejala PD “non-motor”, ter- 

masuk depresi, gangguan tidur dan ganggu-

an daya ingat. Gejala “non-motor” ini sukar 

diobati dengan antidepresiva sebab  dapat 

memicu  efek samping ekstrapiramidal 

dan merupakan pemicu  disability penting 

dari penderita (Langston, 2006)36

Banyak penderita penyakit Parkinson me-

ngalami rasa kaku berkurang dan juga lebih 

mobil sesudah  bangun tidur dibandingkan 

siang hari. Mekanisme manfaat tidur ini 


mungkin disebabkan oleh sebab  mening-

katnya penimbunan dopamin selama tidur 


Penggolongan

Obat-obat Parkinson pada garis besarnya 

dapat dibagi dalam empat golongan, yaitu 

agonis-DA (dopaminergika), yang menstimulasi 

pelepasan dopamin dan antikolinergika, yang 

memblokir transmisi kolinergik. 

1. Agonis-DA (dopaminergika): levodopa, 

ropinirol, pramipeksol, bromokriptin, lisurida, 

pergolida, apomorfin dan amantadin. Obat-obat 

ini meningkatkan kadar DA di otak atau 

meningkatkan transmisinya dan dengan de- 

mikian berefek meringankan hipokinesia 

dan kekakuan, namun  jarang sekali mengu-

rangi tremor. Dopaminergika dipakai  se- 

bagai monoterapi atau juga terkombinasi 

dengan antikolinergika. Cara kerja obat-obat 

ini berdasar  beberapa mekanisme, yakni:

a.  meningkatkan sintesis/kadar DA di SSP , 

misalnya levodopa dan apomorfin;

b.  stimulasi reseptor DA secara langsung dan 

selektif ropirinol, pramipeksol dan alkaloid 

ergot semisintetik bromokriptin, kabergolin, 

lisurida, pergolida dan juga apomorfin;

c.  menghentikan penguraian DA oleh enzim 

monoaminoksidase B (MAO-B): selegelin;

d.  stimulasi pelepasan DA di ujung saraf dan 

menghambat penarikan kembalinya (re-

uptake inhibition) di ujung saraf: aman-

tadin.

2. Inhibitor MAO-B: rasagilin, selegilin. 

Zat-zat ini menghambat secara selektif en-

zim MAO-B, sehingga penguraian DA di 

otak dihalangi. Biasanya dipakai  pada 

awal penyakit, sehingga pemakaian  dopa 

dapat diundur. Ditambahkan pada dopa 

memperkuat dan memperpanjang daya kerja 

dopa.

3. Penghambat-COMT (catechol-o-methyl-

transferase): antara lain entakapon (1998) 

dan tolkapon. Enzim ini menghambat pe-

rombakan levodopa, maka menghasilkan 

peningkatan resorpsi dan masa paruhnya. 

Sering kali ditambahkan pada kombinasi 

dopa dengan karbidopa atau benserazida.

4. Antikolinergika (parasimpatolitika): amin 

tersier sintetik triheksifenidil, biperiden, 

prosiklidin, deksetimida dan orfenadrin.

Obat-obat pengganti sintetik dari alkaloid 

Belladonna ini terutama efektif terhadap 

semua bentuk parkinsonisme dengan gejala 

tremor, kekakuan ringan dan salivasi (ber-

liur berlebihan), namun  terhadap hipokinesia 

ku-rang ampuh. Obat ini bekerja langsung di 

SSP. Untuk bentuk penyakit yang lebih serius, 

perlu dikombinasikan dengan levodopa.

Terapi

Penanganan non-obat ditujukan pada mem-

perbaiki atau memelihara keadaan fisik 

agar pasien dapat berfungsi mandiri selama 

mungkin. Untuk ini perlu dilakukan latihan 

fisioterapi yang berperan penting dalam 

mendukung medikasi. Di samping itu, ban-

tuan psikis juga sangat berguna.

Pengobatan hanya bersifat simtomatis, ka-

rena sel-sel otak yang sudah rusak tidak bisa 

diperbaiki lagi dan progres penyakit pun ti-

dak bisa dihentikan. Terapi diarahkan pada 

pemulihan kembali keseimbangan hormon 

yang terganggu. Hal ini dapat dilakukan 

dengan cara mengurangi ACh dengan anti-

kolinergika, atau dengan cara meningkat-

kan jumlah dopamin dengan dopaminergika. 

Tujuan akhir dari terapi ini, di samping 

memungkinkan penderita berfungsi seop-

timal mungkin, yaitu  untuk mengurangi 

atau memperlambat komplikasi-komplikasi 

jangka panjang yang sukar ditanggulangi (a.l. 

diskinesia).

Terapi standar bagi Parkinson tidak ada, 

pengobatan harus ditentukan secara indi-

vidual bagi setiap pasien atas dasar gejala 

dan faktor lainnya. 

Harapan baru bagi penderita penyakit 

ini yaitu  sedang diselidikinya terapi gen 

untuk memacu produksi dari dopamin se-

cara kontinu dalam otak. Obat untuk terapi 

dopamin ini yaitu  ProSavin yang masih 

dalam taraf penelitian mengenai keamanan, 

efektivitas dan toleransinya.

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   434 21/04/2015   16:55:43

Bab 28: Obat-obat Parkinson dan Demensia 435

......................................... Okun M.S.; A new Gene Therapy for 

Parkinson Disease; Lancet 2014 Jan 10.

1 Agonis dopamin (dopaminergika) meru-

pakan pilihan pertama sebab  bekerja lebih 

lama (t½ panjang) dan lebih ampuh terhadap 

komplikasi jangka panjang. Lazimnya pa-

da pasien di bawah 65 tahun di stadium 

dini pengobatan dimulai dengan suatu 

agonis-DA (amantadin atau selegelin) sebagai 

monoterapi. Bila kurang efektif, obat dapat 

diganti atau ditambahkan dengan agonis-

DA lain, misalnya ropinirol, pramipeksol atau 

bromokriptin. Levodopa baru ditambahkan, 

bila efek kliniknya belum memuaskan, wa- 

laupun pentakaran agonis-DA sudah opti-

mal. Sebabnya ialah pada orang muda ter-

dapat risiko lebih besar untuk berkembang 

komplikasi jangka panjang itu . Pada 

penderita di atas 65 tahun umumnya justru 

dimulai dengan levodopa tunggal; risiko 

mereka akan komplikasi lebih rendah dan 

secara teoretis lebih mudah memicu  

kekacauan bila fungsi kognitifnya berkurang. 

Kombinasi dari dua obat, misalnya kombi-

nasi dari levodopa dengan amantadin, selegelin 

atau pergolida menghasilkan efek lebih baik 

dan lebih panjang daripada monoterapi, ter-

utama bila ada komplikasi motorik.

* Levodopa merupakan obat yang paling 

efektif terhadap gejala Parkinson, teruta-

ma terhadap bradykinesia dan rigiditas, 

sedang  agonis-DA lainnya kurang efek- 

tif dan efek sampingnya seperti rasa kan-

tuk dan halusinasi lebih sering timbul. 

Lama kerjanya dopa dapat diperpanjang 

dengan meningkatkan frekuensi pentaka-

rannya, memakai  sediaan retard atau 

penambahan penghambat-COMT entaka-

pon.

* Apomorfin yaitu  obat Parkinson ter tua 

dan agonis-DA paling kuat. Dapat diguna-

kan pada kasus dengan ‘on-off effect’ yang 

resisten terhadap levodopa (infus s.c. atau 

rektal) dan pada distonia pagi hari pada waktu 

bangun tidur (injeksi s.c.). Apomorfin juga 

menstimulasi reseptor DA perifer dan pusat 

muntah, maka perlu dikombinasi dengan 

domperidon sebagai obat antimual. 

Perhatian: Awal 2013 dilaporkan kehebohan 

di Prancis dan Belanda mengenai domperidon 

sebab  menurut sementara penyelidik telah 

terjadi sejumlah (sebelas) kematian mendadak 

akibat gagal jantung pada penderita jantung, 

terutama yang memakai  dosis tinggi (30 

mg). Efek samping ini telah “didiamkan” oleh 

produsen sebab  kekhawatiran menurunnya 

penjualan.

Berhubung dengan kekhwatiran mengenai 

kemungkinan efek samping terhadap jantung 

(gangguan ritme jantung) terutama pada pa- 

sien dengan QT-interval meningkat atau 

bila dipakai  bersamaan dengan obat-obat 

tertentu, sejak tahun 2014 di negeri Belanda 

sediaan-sediaan yang mengandung dompe-

ridon hanya dapat diberikan atas resep.

2. Antikolinergika seperti triheksifenidil dan 

biperiden atau klozapin dalam dosis rendah 

ternyata kurang efektif dan hanya dianjurkan 

untuk tremor hebat pada pasien muda.Untuk 

tremor ringan dapat ditambahkan suatu beta-

blocker (propranolol).

Penderita lansia atau tanpa gejala tremor 

dan pada demensia,sebaiknya jangan dibe-

rikan antikolinergika sebab  efek-efek pusat-

nya, seperti memburuknya fungsi kognitif, 

kekacauan dan hilang ingatan.

Terapi eksperimental yaitu  dengan injeksi 

i.v. glutathion (2 dd 600 mg) untuk melin-

dungi neuron di substantia nigra terhadap 

kerusakan oksidatif oleh radikal bebas. Glu-

tathion (GSH), suatu tripeptida yang mengan-

dung belerang, yaitu  antioksidans alamiah 

kuat yang ketersediaannya berkurang pada 

pasien Parkinson. 

Pentakaran obat. Berhubung dengan efek 

sampingnya, obat-obat ini harus ditakarkan 

secara berangsur, begitu pula terapi tidak 

boleh dihentikan dengan mendadak sebab  

dapat memperburuk penyakit (exacerbatio).

Toleransi dapat terjadi pada kebanyakan obat 

sesudah beberapa waktu.

Efek samping

Gejala ekstrapiramidal (Parkinsonisme) da-

pat ditangani sama seperti penyakit Par-

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   435 21/04/2015   16:55:43

Seksi IV: Obat Susunan Saraf Pusat436

kinson, bila neuron dopamin post-sinaptik 

masih utuh. Bila saraf-saraf ini sudah mem-

perlihatkan kerusakan, maka obat-obat Par-

kinson tidak berkhasiat lagi. Parkinsonisme 

sebagai efek samping pada pemakaian  

antipsikotika lazimnya dapat ditanggulangi 

secara efektif dengan antikolinergika, misal-

nya triheksifenidil, biperiden dan orfenadrin.

Agonis-dopamin dapat memicu  ke-

sulitan tidur akibat eksitasi, sebab  naiknya 

kadar DA di otak. Untuk meringankan efek ini, 

sebaiknya dosis terakhir diminum sebelum 

tidur. Efek kejiwaan juga dapat terjadi pada 

overdosis, seperti rasa takut, depresi dan 

gejala psikosis. Obat-obat ini juga bekerja 

terhadap hipotalamus dan hipofisis, oleh 

sebab  itu menghambat produksi prolaktin. 

Risiko akan efek samping itu  dapat 

dikurangi dengan pentakaran berangsur, ar- 

tinya dimulai dengan dosis rendah yang 

kemudian dinaikkan secara perlahan-lahan.

Antikolinergika. Efek samping terutama 

diakibatkan oleh blokade sistem kolinerg 

dan berupa efek perifer umum, seperti mu-

lut kering, retensi urin, tachycardia, mual, 

muntah dan sembelit. Begitu pula efek sentral 

seperti kekacauan, agitasi, halusinasi, gang- 

guan daya ingat dan konsentrasi, terlebih-

lebih pada manula.

Kehamilan dan laktasi Kebanyakan obat 

Parkinson belum memiliki cukup data me-

ngenai keamanannya selama kehamilan dan 

laktasi. Diketahui efek buruk amantadin 

terhadap janin, di samping dikeluarkannya 

melalui air susu ibu. Levodopa juga mencapai 

air susu, sedang  bromokriptin, lisurgida 

dan pergolida menghambat laktasi. sebab  

penyakit Parkinson kebanyakan dimulai 

sesudah  usia 45 tahun, maka masalah ini se-

betulnya kurang penting.

Interaksi. Obat Parkinson dapat melawan 

atau meniadakan efek antipsikotika dan dapat 

mencetuskan gejala psikosis pada pasien 

yang ditangani dengan kedua jenis obat. Oleh 

sebab  itu dianjurkan untuk menurunkan 

dosis obat Parkinson. Sebaliknya, antipsikotika 

dapat memperburuk gejala Parkinson, se-

dangkan antidepresiva dapat memperkuat 

efek kognitif dari antikolinergika.

B. DEMENSIA ALZHEIMER

“Everyone with Alzheimer’s will get dementia; 

not everyone with dementia has Alzheimer’s.” 

Betty Weiss “Alzheimer’s & Dementia: Through 

the Looking Glass.”

Alois Alzheimer (1864-1915)

Demensia29,30

Demensia yaitu  satu gejala, sedang  

Alzheimer’s yaitu  suatu penyakit. 

Dewasa ini demensia dianggap sebagai 

suatu gangguan terpenting dari manula. 

Berkat perbaikan keadaan hidup dan kese-

hatan populasi sedunia yang semakin menua 

(the greying of the world), menurut dugaan 

demensia akan meningkat dengan drastis 

di masa depan terutama di negara Barat. 

Prevalensinya pada orang di atas 65 tahun 

yaitu  ±5% dan menurut taksiran akan ber-

tambah sekitar 10% setahunnya. Orang yang 

lebih muda lebih jarang menderita demensia, 

dalam hal ini faktor keturunan sering kali 

berperan.

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   436 21/04/2015   16:55:43

Bab 28: Obat-obat Parkinson dan Demensia 437

Bentuk. Demensia yaitu  gangguan neu-

rodegeneratif dari cortex otak yang bercirikan 

pemburukan berangsur-angsur dan progresif 

dari fungsi kognitifk, seperti pengenalan, 

ingatan, disorientasi mengenai lingkungan 

dan waktu, menurunnya daya membedakan, 

ketidakmampuan mengerjakan tugas rutin 

sehari-hari, tidak dapat merawat diri sendiri 

dan akhirnya keruntuhan mental total. Pe-

nyebab demensia bermacam-macam a.l. 

tumor otak, stroke, cedera di kepala, infeksi, 

reaksi terhadap obat, kurangnya penyaluran 

oksigen ke otak, defisiensi nutrisi, dan lain-

lain. yaitu  penting untuk mencari tau apa 

yang penjadi pemicu nya sebab  sebagian 

dari gejala ini dapat di-balikkan (reversed) 

sedang  penyakit Alzheimer tidak dapat 

di-balikkan. 

Dikenal beberapa jenis demensia, lebih 

dari 50% dari kasus berdasar  penyakit 

Alzheimer yang belum diketahui penye-

babnya, lihat di bawah. 

Suatu bentuk penting lain yaitu  demen-

sia vaskuler (VD), yang diakibatkan oleh 

gangguan sirkulasi darah di otak dengan 

musnahnya sel-sel otak, misalnya sesudah  

mengidap CVA (cerebrovascular accident = 

infark atau perdarahan otak, ‘stroke’). Di 

samping bentuk campuran dari kedua jenis 

masih ada  suatu bentuk langka yang 

bercirikan badan-badan berwarna di otak, 

yang disebut Lewy bodies. Lewy bodies 

disease (LBD) ini sukar diagnosisnya sebab  

gejalanya mirip Alzheimer, namun  dengan 

gangguan kekakuan hebat sejak dini dan 

pemburukannya yang cepat. Demensia bisa 

juga timbul akibat penyakit lain, antara lain 

penyakit Parkinson (demensia Parkinson, 

PD), bahkan sebab  sebab-sebab di luar otak 

seperti AIDS, sifilis, penyalahgunaan alkohol, 

depresi, gangguan tiroid dan kekurangan 

vitamin B12. 

* Bentuk demensia akibat defisiensi vita- 

min B12. Pada manula sering kali terjadi 

kekurangan vitamin B12 sebab  konsumsi 

pangan yang tidak memadai atau absorp-

sinya dari usus terganggu. Hal ini dapat 

memicu  suatu bentuk demensia yang 

reversibel. Kadar kobalamin dapat ditentukan 

di laboratorium, sebaiknya dengan cara 

mikrobiologis. Melalui pengobatan suplesi 

dengan hidroksokobalamin per injeksi i.m. 

2 x seminggu 1000 mcg selama beberapa 

minggu, sindroma defisiensi B12 ini dapat 

disembuhkan dengan tuntas. 

Defisiensi vitamin B3 dan folat dapat pula 

memicu  sejenis demensia, namun  hanya 

lebih jarang terjadi. 

.........................................Werbach MR. Vitamin B-complex en 

dementie, Orthomol Koerier 2005;20:3132).

Alzheimer

Penyakit ini dapat menyerang orang pada 

usia di antara 30 sampai 50 tahun, namun  

kebanyakan penderita berusia di atas 65 

tahun.

Pada awal gejalanya berupa apati, hi-

langnya inisiatif, konsentrasi lemah, kelam-

batan berpikir dan bergerak. Sering kali juga 

dimulai dengan depresi yang berlangsung 

lebih dari 2 minggu, juga gejala psikis lain 

(psikosis). Ingatan jangka singkat hilang 

total dan muncul perubahan perilaku de-

ngan timbulnya perasaan curiga. sesudah  

beberapa tahun terjadi defek ingatan lainnya, 

desorientasi dan hilangnya daya abstraksi. 

Dalam jangka waktu 5-10 tahun, penyakit 

memburuk dan berakhir dengan kehilangan 

kesopanan (decorum), hipokinesia, kekakuan 

motorik, tidak mengenali orang lagi dan 

menjadi invalid total. 

Pada demensia vaskuler, penyakit mem-

buruk tidak dengan berangsur-angsur, namun  

secara melonjak.

pemicu nya. Menurut perkiraan, demen-

sia Alzheimer diakibatkan oleh gangguan 

neurotransmisi pada sistem kolinergik di otak 

akibat kerusakan saraf. Dengan membu-

ruknya penyakit pada pasien Alzheimer, 

kadar asetilkolin (ACh) di otak semakin 

menurun. Begitu pula pada pasien ditemukan 

kehilangan sel-sel otak dan timbulnya ba-

nyak plak(plaque) di sel-sel saraf, yang terdiri 

dari endapan zat-zat protein. Amiloid ini 

berasal dari perombakan protein dinding sel 

otak, berbentuk serat dan sebab  struktur 

khasnya tidak dapat dilarutkan oleh enzim 

(proteolisis). Di samping itu juga ditemukan 

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   437 21/04/2015   16:55:43

Seksi IV: Obat Susunan Saraf Pusat438

suatu zat putih telur Apo-E4(apolipoprotein) 

dalam jumlah yang kira-kira 3 kali lebih 

banyak daripada orang sehat (lihat juga 

Bab 36, Antilipemika). Diperkirakan bahwa 

Apo-E4 ini menstimulasi penggumpalan 

amiloid yang merusak neuron. Namun se-

bab-musabab tepat dari proses ini belum 

diketahui.

Di samping terganggunya metabolisme 

amiloid yang memicu  endapan plak-

plak amiloid di otak, juga faktor-faktor vas-

kuler memegang peranan pada terjadinya 

Alzheimer. Ditemukan bahwa hipertensi, 

diabetes, kadar kolesterol dan homosistein 

yang tinggi (sama dengan faktor-faktor 

risiko untuk PJP) meningkatkan risiko akan 

demensia dengan dua kali.33. Terapi hipertensi 

dapat mengurangi risiko ini dan pemakaian  

atorvastatin secara sekunder (sesudah  infark 

primer) ternyata juga bermanfaat.34 ada  

indikasi bahwa kadar homosistein darah 

yang tinggi juga meningkatkan risiko akan 

Alzheimer.26 Ada kemungkinan bahwa risiko 

ini dapat dihindari dengan asam folat + 

vitamin B6. Oleh sebab  itu ternyata bahwa 

faktor risiko bagi Alzheimer juga sama 

dengan faktor risiko untuk PJP.

Teori lain menghubungkannya dengan in-

toksikasi aluminium, infeksi dengan suatu 

‘slow virus’, atau suatu proses autoimun. 

Pencegahan. Suatu riset (diss. dr Sandra Kal-

mijn, Rotterdam, November 1997) menunjukkan 

efek pelindung dari diet dengan ikan : lansia 

yang 1-2 kali/minggu mengonsumsi ikan 

menurunkan risikonya akan demensia vasku-

ler dengan 70% berkat kandungan minyak 

dengan asam lemak omega-3(PUFA). Efek 

baik ini berkaitan dengan khasiat antiradang 

dari asam lemak itu. Sebaliknya diet dengan 

banyak lemak jenuh meningkatkan risiko 

dengan 3 kali. Senyawa antiradang NSAIDs, 

bila dipakai  untuk jangka waktu panjang, 

melindungi terhadap Alzheimer.25 Begitupula 

pemakaian  obat penurun kolesterol seny-

awa statin ternyata menurunkan risiko den-

gan ±79% ! (BMJ 2002; 324:926). Dilaporkan 

bahwa Curcumin (ekstrak kunir) mampu 

melindungi terhadap demensia dan meng-

hambat progresnya, lihat Bab 16.

Penanganan. Demensia akibat gangguan di 

luar otak dapat disembuhkan atau dihenti-

kan progresnya, bila ditangani sedini mung-

kin. namun  demensia Alzheimer yaitu  pe-

nyakit yang pemicu nya dewasa ini belum 

diketahui (sebagian sebab  keturunan) dan 

juga belum dapat ditanggulangi serta pem-

burukannya juga belum dapat dihentikan.

Catatan: Sejak lama diperkirakan bahwa 

pada usia lanjut orang kehilangan neuron 

(sel otak) sehingga mengalami kemunduran 

fungsi mental dan kognitif. Penelitian baru 

mengenai fungsi otak mengungkapkan bah-

wa kemunduran mental dari lansia bukan-

nya tidak dapat dihindari. Disimpulkan bah-

wa orang dengan pola hidup aktif kurang 

berrisiko menderita Alzheimer pada usia 

lanjutnya. Bahkan peneliti dari Universitas 

Princeton di US melaporkan bahwa neuron 

sebetulnya dapat diregenerasi, bertentangan 

dengan pendapat selama seabad yll.

Semboyannya yaitu  “Use it, or you will 

lose it.”  yang merupakan suatu “hukum” 

universal. Agar supaya otak tetap aktif dibu-

tuhkan latihan fisik dan mental selama hidup 

sehingga penurunan daya ingat dan kognitif 

sedapat mungkin diminimalisir. “Brain exer-

cise to maintain brain fitness”.

Obat-obat demensia

Kebanyakan obat yang dipakai  pada 

demensia termasuk golongan parasimpa-

tikomimetika (kolinergika) yang bekerja me-

lalui perintangan enzim kolinesterase untuk 

menghambat degradasi asetilkolin di otak. 

Di samping ini tersedia hanya satu obat lain, 

yakni memantin.

a. Kolinesterase inhibitor: galantamin, tak-

rin, donepezil dan rivastigmin. berdasar  

penemuan bahwa kadar ACh di otak ber-

kurang pada penderita demensia, terapi 

ditujukan untuk meningkatkan ACh dengan 

cara mencegah penguraiannya. Obat-obat ini 

agak terbatas efeknya terhadap pemburukan 

penyakit. Obat pertama takrin efeknya ha-

nya lemah dan sangat toksik bagi hati, oleh 

sebab  itu sekarang jarang dipakai  lagi. 

Obat lainnya menunjukkan efektivitas yang 

juga tidak begitu besar, misalnya donepezil, 

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   438 21/04/2015   16:55:43

Bab 28: Obat-obat Parkinson dan Demensia 439

sedang  rivastigmin mampu memper- 

lambat progres penyakit dengan ±6 bulan, 

namun  hanya pada kasus yang ringan sampai 

sedang, dengan efek samping lebih serius 

dari pada memantin (The Times, 28 Maret 

1997). 

Akhir-akhir ini dilaporkan bahwa peng- 

gunaan kolinesterase inhibitor (a.l. galan-

tamin) dapat meningkatkan risiko efek sam-

ping serius seperti aritmia dan infark jantung. 

Oleh sebab  ini diperlukan kewaspadaan 

bagi penderita yang mulai memakai  

obat-obat ini melalui screening terhadap 

peningkatan risiko gangguan ritme jantung. 

Lagi pula efek terapi dari kelompok obat ini 

rendah.  

b. NMDA-reseptor antagonis: memantin 

merupakan obat satu-satunya yang agak 

efektif terhadap bentuk Alzheimer sedang 

dan hebat dengan profil efek samping relatif 

ringan.32 Khasiatnya berdasar  peniadaan 

rangsangan berlebihan oleh glutamat dari 

reseptor NMDA. (N-metil-D-aspartat). Gluta-

mat yaitu  neurotransmitter terpenting di 

bagian otak yang berperan pada kognisi dan 

ingatan. ada  indikasi bahwa gangguan-

gangguan neurodegeneratif mungkin mem-

punyai pemicu  yang sama, yaitu stimulasi 

kronis berlebihan dari reseptor NMDA.

Oleh sebab  itu pemasukan kalsium ke da-

lam saraf otak meningkat, yang akhirnya 

memicu  matinya neuron itu .

c. Obat-obat alternatif yang menurut laporan 

mampu menghambat pemburukan demensia 

Alzheimer yaitu  asam liponat, vitamin E dan 

Gingko biloba. 

– Asam liponat (lipoic acid) di kalangan 

alternatif dilaporkan dapat menghasilkan 

efek baik pada penyakit neurodegeneratif, 

a.l. Parkinson dan Alzheimer, juga pada 

polineuropati diabetes, lihat Bab 47.

– Vitamin E dalam dosis sangat tinggi (2000 

IE/hari) selama dua tahun ternyata dapat 

menghambat progres penyakit. Lihat Bab 

53. 

– Ekstrak Gingko biloba(EGb 761, Tebokan, 

Tebonin forte) dilaporkan juga mampu 

memperbaiki gejala-gejala kognitif dan 

fungsi sosial dari penderita Alzheimer. 

Kajian resen memakai  3 x 40 mg EGb 

terstandardisasi selama 1 tahun. Lihat 

Bab 35.

namun  penyelidikan akhir-akhir ini (Lancet 

Neurology, September, 2011) melaporkan bah-

wa ekstrak Ginkgo biloba tidak memiliki 

efek protektif terhadap progres penyakit Al-

zheimer selama 5 tahun pada lansia dengan 

keluhan memori. Juga tidak menghindari 

demensia pada lansia dengan atau tanpa ke-

luhan memori. 

 C. MULTIPLE SCLEROSIS 

(MS)

MS (Lat. multiple = banyak, sclerosis = pe-

ngerasan) yaitu  suatu penyakit autoimun 

dengan peradangan di jaringan saraf otak dan 

sumsum lanjutan. Sistem imun menyerang 

dan merusak secara reversibel myelin, yakni 

lapisan pelindung dari lipoprotein yang 

mengisolasi saraf itu . Kerusakan itu 

tampak pada foto scan sebagai daerah yang 

penuh dengan parut/bercak (plak) keras. Aki-

bat terjadinya plak ini, transmisi dari impuls 

saraf diperlambat atau dihambat, yang me-

ngakibatkan gejala penyakit. pemicu nya 

tidak diketahui, mungkin sekali akibat in-

feksi slow-virus pada usia anak-anak. Dalam 

darah ada  kadar antibodi (IgG) yang 

meningkat, khususnya terhadap campak 

(measles, Morbilli). Penyelidik DeJager dan 

Hafler (2007)37 telah menyusun suatu ikhtisar 

mengenai etiologi, perkembangan dan terapi 

dari MS.

Telah diketahui bahwa di negara-negara 

Utara prevalensi MS jauh lebih besar diban-

ding dengan daerah tropik, semakin jauh 

dari katulistiwa semakin banyak kasusnya..  

Dewasa ini ada  sejumlah indikasi, bah-

wa cahaya matahari dan vitamin D beker-

ja melindungi terhadap risiko MS dan juga 

terhadap penyakit jantung dan pembuluh.  Di 

kawasan Utara matahari bersinar lebih sing- 

kat daripada di negara tropik dan dapat 

memicu  kekurangan vitamin D. Defi-

siensi ini memicu produksi suatu zat yang 

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   439 21/04/2015   16:55:43

Seksi IV: Obat Susunan Saraf Pusat440

meningkatkan tekanan darah serta  risiko 

PJP.27,28 Penyakit dimulai antara usia 20-40 

tahun, sekitar tiga kali lebih sering pada 

wanita daripada pria. Faktor keturunan juga 

memegang peranan pada MS yang meru-

pakan suatu penyakit genetik kompleks.

Gejalanya beraneka ragam yang tergantung 

dari lokalisasi sumber penyakit, antara lain 

jalan limbung, berbicara gagap, lesu dan 

rasa penat pada kaki-tangan, neuritis dengan 

gangguan penglihatan (melihat dobel) dan 

nystagmus. Juga kesemutan (paresthesia), hiper-

tonia (kejang di tungkai), gangguan berkemih 

dan efek psikis, antara lain euforia. Penyakit 

kronis ini berlangsung progresif selama 10 

tahun atau lebih dan selalu berakhir dengan 

kelumpuhan dan kematian.

Prevensi. Kebanyakan penderita MS  tidak 

menyukai panas matahari dan menghindari 

cahayanya, sehingga memungkinkan keku- 

rangan vit D3. Menurut perkiraan vitamin 

D, selain berefek melindungi terhadap tim-

bulnya MS, juga menghambat memburuknya 

penyakit. pemakaian  alternatif setiap hari 

dari 400-4000 U vit D3 dapat menurunkan 

risiko bagi MS dengan 40%.29

Penanganannya berupa menghindari stress 

fisik dan psikis, dalam tahap  akut istirahat 

total (bedrest), kemudian fisioterapi. Pengobat-

an kausal tidak ada, pada saat eksaserbasi 

umumnya diberikan prednison (metilpred-

nisolon 1 g sehari secara i.v. selama 3-5 hari), 

yang untuk sementara efektif meringankan 

gejala. Terhadap bentuk MS tertentu (RR dan 

SP) dapat diberikan terapi imunomoduler 

dengan ß-1 interferon (Betaferon) yang ber-

khasiat mengurangi frekwensi dan hebatnya 

serangan. Obat-obat yang ternyata juga mem-

berikan efek positif yaitu  copolymer-1 

dan imunoglobulin (Lancet 1997; 349: 586, 

589-93), begitupula imunosupresiva seper-

ti mitoksantron, azatioprin dan siklofos-

famida.

Terapi imunomoduler lainnya yang digu-

nakan terhadap MS yaitu :

* Glatiramer asetat (copolymer 1, Copaxone) 

yaitu  polipeptida sintetik dari 4 asam ami-

no (alanin, glutamat, lysin dan tyrosin) yang 

bekerja imunosupresif. Zat ini a.l. memblokir 

secara spesifik sifat merusak dari limfo-T ter-

hadap protein myelin. Oleh sebab  itu efek 

sampingnya ringan. Mekanisme kerjanya 

yang tepat tidak diketahui. Dosis: 1 dd 20 mg 

s.c. sebagai asetat.

* Mitoxantron (Novantrone) yaitu  sitosta-

tikum yang dipakai  off-label pada MS be-

rat. Berkhasiat memperlambat progres invali-

ditas dengan nyata dan mengurangi frekuensi 

eksaserbasi. Efek sampingnya neutropeni, 

kecenderungan infeksi dan alopecia.

pemakaian  obat-obat itu  dibatasi 

oleh efek sampingnya, a.l. bila ada infeksi 

(glukokortikoid), penyakit jantung (mitoxan- 

tron), hipersensitivitas dan kehamilan. Untuk 

meningkatkan efektivitas dari obat-obat ini 

terhadap kambuhnya penyakit, dianjurkan 

untuk memakai nya sedini mungkin.

D. PENYAKIT PRION 

P r i o n

Prion (proteinaceous infectious particle) yaitu  

partikel protein abnormal (prion protein) 

tanpa DNA/RNA yang dibentuk oleh setiap 

hewan menyusui di berbagai jaringannya, 

terutama dalam otak dan sumsum belakang. 

Penemu dari unsur infeksi yang sama sekali 

baru ini yaitu  dr. Stanley Prusiner (Science, 

1982), seorang biolog Amerika. Fungsi fisio-

loginya belum jelas, mungkin turut berperan 

pada komunikasi antar-sel. Prion bersifat 

menular dan resisten terhadap penyinaran 

sinar-X dan UV, juga tahan terhadap suhu 

100° C dan desinfektansia, oleh sebab  itu 

sangat sukar dimusnahkan.

Bentuk prion. Molekul prion ada  dalam 

2 bentuk ruang, yaitu bentuk prion-baik dan 

bentuk prion-salah, yang dapat saling berubah 

secara spontan.

Pada otak sehat, protein prion hanya ber-

ada dalam satu bentuk (baik), struktural se- 

bagai alfa-helix. Akibat mutasi pada suatu 

gen tertentu timbul perubahan dalam urut-

an asam aminonya dan terjadi  struktur ru-

ang berlainan (bentuk abnormal betahelix). 

Bila diinfeksi oleh suatu prion-salah, ber-

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   440 21/04/2015   16:55:43

Bab 28: Obat-obat Parkinson dan Demensia 441

angsur-angsur prion-baik ditransformasi 

menjadi bentuk prion-salah. 

Penyakit-penyakit prion ditimbulkan oleh 

prion-prion yang berbentuk salah demi-

kian. Pada manusia dan hewan tampak 

gangguan-gangguan di otak, demensia de-

ngan kontraksi otot hebat (myoclonus). Pada he-

wan sapi timbul gangguan koordinasi dan 

penurunan berat badannya. 

Penyakit prion (spongiform encefalopathy). Pri-

on memicu  sejumlah penyakit neuro-

degeneratif otak fatal pada ternak maupun 

manusia yang bersifat menular, yaitu scrapie, 

BSE, kuru dan CJD. Penyakit-penyakit ini 

semuanya ditandai oleh penimbunan protein 

prion yang memicu  matinya neuron-

neuron otak dan terjadinya banyak ruang 

kosong (vakuolisasi,lubang) antara sel-sel 

otak, mirip bunga karang (sponge, spongiform), 

yang dapat ditentukan pada otopsi. Hingga 

kini belum tersedia obat untuk mengobati 

atau menghambat progres penyakit ini. 

* Scrapie sudah dikenal sejak abad ke-18 

dan khusus menyerang domba yang sesudah  

infeksi menderita gatal-gatal hebat, gang-

guan gerakan dan akhirnya mati. Dapat 

ditularkan pada binatang lain (tikus, kera, 

babi dan mungkin juga sapi), namun  tidak 

kepada manusia. 

* Penyakit sapi gila (Bovine Spongiform En-

cefalopathy, BSE) khusus ada  pada sapi. 

Pertama kali terdeteksi di Inggris pada 

tahun 1986 dan terjadi epidemi di tahun 

1992, yang menurut perkiraan disebabkan 

oleh makanan yang mengandung sisa-sisa 

pembantaian dari domba yang terinfeksi 

dengan scrapie. Penyakit ini dapat ditularkan 

pada hewan lain dan semula dikira tidak bisa 

ditularkan kepada manusia. Kini diketahui 

bahwa manusia juga dapat terinfeksi dengan 

memakan daging yang tercemar.

* Kuru (bah. Papua = mati tertawa) yaitu  

penyakit prion pada manusia, yang khusus 

ada  pada suku Fore di Irian Jaya. Penya - 

kit ini bercirikan gangguan keseimbangan, 

kaki-tangan gemetar dan serangan tertawa 

tak terkontrol. Penyakit disebarkan oleh 

ritual kanibalisme, di mana otak orang mati 

dimakan oleh sanak-saudaranya. Kuru ke-

mudian ternyata identik dengan penyakit 

Creutzfeldt-Jakob. 

* Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD) diuraikan 

di tahun 1920 oleh dua neurolog Creutzfeldt 

dan Jacobs. CJD muncul untuk pertama 

kalinya di Eropa pada awal tahun 1980-an, 

terutama pada orang berusia di atas 60 tahun 

yang umumnya meninggal dalam waktu 

8 bulan. sebab  diduga ada hubungannya 

dengan BSE, ±160.000 ekor sapi yang di-

curigai terinfeksi telah dimusnahkan dan 

penjualan otak serta sumsum sapi dilarang. 

Namun, pada tahun 1996, di Inggris terjadi 

lagi lebih dari 20 kematian akibat CJD, juga 

pada orang muda yang sejak 1985 makan 

secara vegetaris. Hal ini memberikan indikasi 

kuat bahwa BSE dapat ditularkan pada 

manusia dengan mengonsumsi daging, otak, 

sumsum (dan mungkin organ lainnya) dari 

sapi yang sudah terinfeksi BSE, namun  belum 

memperlihatkan gejala penyakit. Untuk men-

cegah penyebaran infeksi BSE, lebih dari 1 

juta sapi dimusnahkan, termasuk di Belanda, 

Belgia, dan Prancis.

Di bulan Oktober 2006 dilaporkan korban 

BSE kedua (16 tahun) di negeri.Belanda, 4 

bulan sesudah  didiagnosis melalui scan otak. 

Sampai sekarang jumlah korban sedunia 

berjumlah 170 orang dan kebanyakan orang 

muda sekitar 30 tahun, yang kerap kali 

meninggal dalam 2 tahun sesudah  diagnosis. 

Masa tunas CJD panjang sekali, antara 10 - 20 

tahun. 

Varian baru vCJD. Jenis semula yang di-

sebut bentuk sporadis (sCJD) hanya dapat 

ditularkan pada hewan percobaan dan khu- 

susnya oleh sel-sel otak atau sumsum be-

lakang yang disuntikkan langsung ke da-

lam otak. Varian baru (vCJD) dapat ditular- 

kan melalui darah, sehingga organ-organ 

lainnya (antara lain tonsil) juga mudah 

terinfeksi. Varian ini yang ditemukan pada 

tahun 1996 memliki gejala klinik dan neuro-

patologi berbeda dengan sCJD, namun  ter-

nyata berkaitan dengan BSE dan dapat di-

tulari kepada manusia melalui transmisi 

daging sapi yang tercemar BSE. Penyakit 

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   441 21/04/2015   16:55:43

Seksi IV: Obat Susunan Saraf Pusat442

ini dapat menyerang orang lebih muda (±30 

tahun) dan jangka waktu penyakit lebih 

lama, rata-rata 14 bulan. 

Gejala vCJD mirip demensia Alzheimer 

(lihat di atas), namun  berlangsung lebih cepat 

akibat pemusnahan neuron di otak yang juga 

relatif cepat. Pada awalnya terjadi gangguan 

ingatan dan perilaku (fungsi kognitif mun-

dur), gangguan pusat (rasa takut, halusi-

nasi), lalu kesulitan koordinasi (sukar jalan 

dan berbicara) dan akhirnya kejang-kejang 

hebat dan invaliditas. Umumnya pasien me-

ninggal dalam waktu 8 bulan. 

Diagnosisnya dipersulit oleh masa inkubasi 

yang panjang sekali, 10-20 tahun. Infeksi 

mungkin sekali terjadi sebab  makan daging 

sapi yang sudah terinfeksi, namun  belum 

memperlihatkan gejala penyakit. Variant baru 

dapat didiagnosis dengan pemeriksaan tonsil 

(amandel), di mana ada  penumpukan pri-

on, juga melalui scan otak. Dalam otak dapat 

dilihat penumpukan protein-prion yang ter-

lihat seperti bunga karang (sponge). 

Pengobatan. Pada saat ini belum tersedia 

obat terhadap vCJD. Obat demikian mutlak 

harus dapat melintasi CCS untuk masuk ke 

otak, oleh sebab  itu harus bersifat lipofil. 

Sampai sekarang telah diselidiki hanya tiga 

obat, yaitu obat malaria mepakrin, pento-

sanpolisulfat dan flupirtin, suatu  analgeti-

kum eksperimental. 

......................................... Weissman C et al. Approaches to therapy 

of prion diseases. Ann Rev Med 2005;56:321-

44.  

Dari ketiga obat ini hanya mepakrin yang 

memberikan harapan terbaik. Pada percobaan 

dengan tikus  ternyata mepakrin  mampu 

menghindari perubahan prion sehat menjadi 

prion cacat. Penelitian masih berlangsung 

dan belum lengkap. Suatu penelitian lain 

akan dilakukan dengan kombinasi mepakrin 

dan flupirtin.

MONOGRAFI

A. OBAT PARKINSON

A1. Levo-dopa28: l-dopa, Larodopa, *Madopar, 

*Sinemet, *Stalevo

Zat pelopor (precursor) dari dopamin ini 

(1969) bersama dengan suatu zat penghalang 

dekarboksilase ekstra-serebral selektif (karbi-

dopa atau benserazida) merupakan terapi 

paling efektif bagi kebanyakan penderita 

penyakit Parkinson. Bila levodopa dipakai  

sebagai obat tunggal, sebagian besar dari 

obat ini diuraikan oleh enzim dekarboksilase, 

sehingga hanya sebagian kecil obat utuh 

dapat memasuki sirkulasi otak dan kurang 

dari 1% menembus susunan saraf sentral. 

Penghambatan oleh enzim ini meningkatkan 

jumlah levodopa yang tidak terurai dan 

dapat menembus barrier darah-otak. Lihat 

selanjutnya di bawah.

Levodopa terutama berkhasiat mening-

katkan kadar DA di otak, dengan efek me-

ngurangi gejala kekakuan dan hipokinesia. 

Kurang atau tidak efektif terhadap tremor 

dibandingkan dengan antikolinergika, yang 

dapat dikombinasi dengannya (efek aditif). 

Efek terapi baru nyata sesudah 6-8 minggu. 

Levodopa yaitu  obat Parkinson yang paling 

efektif, namun  tidak berkhasiat terhadap gang-

guan ekstra-piramidal yang disebabkan oleh 

obat.

Penghambat-COMT entakapon, yang sen-

dirinya tidak memiliki khasiat anti-Parkinson, 

memperlambat eliminasi levodopa dan de-

ngan demikian memperpanjang dan mem-

perkuat daya kerjanya. Juga mengurangi 

waktu “off” pada taraf lanjut dari penyakit.

Resorpsi di usus kurang teratur dan di-

kurangi oleh makanan, terutama oleh asam-

asam amino (persaingan absorpsi dari sa-

luran cerna). Masa paruhnya singkat ±30 

menit, dan lama kerjanya hanya 2-4 jam, 

sehingga perlu diberikan 5 kali sehari atau 

lebih. Ekskresi terutama berlangsung lewat 

urin dalam bentuk metabolitnya. 

Kombinasi dengan dekarboksilase-bloc-

ker menghambat perombakan-DA perifer. 

Terapi sulih ganti (replacement therapy) de- 

ngan dopamin pada penyakit Parkinson ti- 

dak mungkin, sebab zat ini tidak dapat me- 

nembus rintangan darah otak. Berbeda de-

ngan dopamin, levo-dopa mudah menembus 

rintangan CCS dan memasuki SSP. Di otak 

dopa didekarboksilasi oleh enzim-enzim dan 

menjadi dopamin aktif; dengan demikian 

14108649_OBAT P(Bab 28)_T-432-450.indd   442 21/04/2015   16:55:43

Bab 28: Obat-obat Parkinson dan Demensia 443

seolah-olah menggantikan dopamin yang 

hilang. 

Dari suatu dosis oral hanya 5% tiba di otak 

sebab  di saluran cerna dan darah sudah 

diubah oleh enzim dekarboksilase menjadi 

dopamin yang tidak bisa memasuki otak. 

Guna mencegah pengubahan itu  di luar 

otak, maka ditambahkan suatu penghambat-

dekarboksilase perifer, yang sendirinya ti-

dak memasuki SSP. Dengan demikian, lebih 

banyak levodopa mencapai otak sehingga 

dosisnya dapat dikurangi sampai 25%, se-

dangkan efek sampingnya juga berkurang. 

Dekarboksilase-blockers yang dipakai  un- 

tuk maksud itu yaitu  benserazida dan kar-

bidopa.

Kombinasi dengan selegilin, yang merin-

tangi perombakan dopamin oleh MAO-B di 

otak (lihat di bawah) memperkuat efeknya, 

begitu pula kombinasi dengan lisurgida atau 

pergolida. Efek samping perifernya (mual) 

dikurangi. 

Toleransi. sesudah  3-5 tahun, efek pengobatan 

dengan levo-dopa akan menurun, sebab  pe-

nyakit bertambah buruk dan reseptor dopa- 

min berkurang kepekaannya, atau sebab  

adanya fluktuasi kuat dari kadar levodopa di 

otak.

Efek samping yang paling sering terjadi 

yaitu  mual, muntah dan anoreksia, yang 

disebabkan oleh dopamin yang sudah ter-

bentuk di lambung-usus (15% dari pasien). 

Pada permulaan terapi juga dapat timbul 

hipotensi ortostatik dan gangguan pusat ri-

ngan, seperti gelisah, rasa takut, bingung, 

halusinasi dan pikiran kacau. Pada dosis 

tinggi gejala pusat ini meningkat, di samping 

mendadak timbul rasa kantuk..Efek samping 

psikis ini merupakan faktor terutama yang 

membatasi terapi dengan levodopa. Mual dan 

muntah, sebagai akibat rangsangan terhadap 

Gambar 28-1: Hubungan antara dopa, dopamin dan noradrenalin

CTZ yang memiliki reseptor-reseptor DA, 

dapat efektif diatasi dengan domperidon, 

yaitu antagonis dopamin yang memiliki kha-

siat antiemetik dan secara selektif menduduki 

reseptor dopamin di saluran cerna. Efek 

samping ini juga dapat dikurangi dengan 

mempersingkat interval pemberian levodopa 

dan penurunan dosisnya. 

‘On-off effect’. Pada pemakaian  lama 

timbul diskinesia dengan gerakan abnormal 

tidak teratur. Sindrom levodopa ini juga 

ditandai efek pengobatan yang sangat tidak 

menentu, turun-naik, bahkan adakalanya 

dalam waktu beberapa menit, oleh sebab  itu 

disebut efek ‘on-off’. 

Interaksi. Piridoksin, sebagai ko-enzim, 

walaupun dalam dosis kecil mempercepat 

perombakan perifer levodopa (di luar otak) 

melalui peningkatan daya kerja dekarbok-

silase. Oleh sebab  itu, levodopa tidak bo-

leh dikombinasi dengan multivitamin, buah 

avokad, ubi rambat dan hati, yang semua-

nya mengandung banyak vitamin B6. Anta-

gonis dopamin mengurangi efek levodopa, 

misalnya antipsikotika (fenotiazin, butirofe- 

non), fenitoin, papaverin, reserpin, metoklo-

pramida dan senyawa benzodiazepin.

Dosis: oral semula 2-3 dd 125 mg d.c. dan 

dinaikkan setiap 2-4 hari dengan 125-250 

mg sampai tercapai dosis pemeliharaan dari 

2,5-7 g sehari. Untuk mengurangi kemung- 

kinan fluktuasi ‘on-off’ dianjurkan obat dimi-

num sebelum makan (Contin M. Eur J Clin 

Pharmacol 1998; 54:303-8).

* Madopar = levodopa 200 mg + benserazida 

50 mg; 

* Sinemet = levodopa 250 mg + karbidopa 

25 mg.

* S talevo = levodopa 100 + karbidopa 25 + 

entakapon 200 mg


A2 Apomorfin: Uprima, Apokyn 

Derivat morfin ini bekerja sentral, namun  

tidak memiliki sifat opiat (misalnya analge-

tik, obstipasi, depresi pernapasan, adiksi). 

Berkhasiat emetik (memicu  mual) dan 

dopaminerg. Oleh sebab  itu senyawa ini 

efektif terhadap Parkinson yang tidak mem- 

pan terhadap obat-obat lain atau dengan 

fluktuasi ‘on-off’. Apomorfin dapat dikombi-

nasi dengan dopa, yang dosisnya dapat di-

kurangi. pemakaian nya perlu diawali de-

ngan pemberian antagonis-DA domperidon 

sebagai antiemetikum dengan dosis 3 dd 20 

mg (Editorial. BMJ 1998; 316: 641). 

Resorpsi dari usus rendah disebabkan FPE 

yang besar. Melalui injeksi subkutan efeknya 

tampak sesudah  ±10 menit dan rektal sesudah  

20 menit. Efeknya bertahan 20-40 menit dan 

secara nasal lebih lama 0,5 –1 jam. Plasma-t½ 

rata-rata 25 menit.

Efek samping berupa mual, muntah, hipo-

tensi, bradycardi dan mengantuk, adakalanya 

gangguan psikis (halusinasi, agitasi dan pera-

saan kacau). 

Dosis: s.c.(infus) 25-40 mg sehari atau 6 dd 

1-7 mg, disusul pemberian nasal spray (sem-

protan hidung) 2-4 dd 1-10 mg (HCl). Lihat 

juga Bab 43, hormon pria, boks Disfungsi 

ereksi.

A3. Pramipeksol: Sifrol, Mirapexin

D2-dopamin-agonis ini 1997 absorpsinya 

cepat serta tuntas dan mencapai kadar mak-

simalnya dalam waktu 3 jam. Ekskresi utuh 

dengan urin, t½ 8 jam pada orang muda dan 

12 jam pada orang lebih tua. Sebagai mono-

terapi pada awal penyakit Parkinson atau 

bersamaan dengan dopa pada taraf lebih 

lanjut. Juga dipakai  terhadap Restless Leg 

Syndrome (RLS) dengan mekanisme kerja 

yang tidak diketahui (lihat boks dibawah)

Efek samping tersering nausea, muntah dan 

hipotensi ortostatik, juga sering kali obstipasi, 

rasa kantuk, lelah, gatal dan ruam. Wanita 

hamil dan yang menyusui tidak dianjurkan 

minum obat ini

Interaksi dengan obat yang menghambat 

atau diekskresi melalui sistem ini dapat me- 

mengaruhi efek pramipeksol, misalnya aman- 

tadin, verapamil, ranitidin, digoksin dan tri- 

metoprim. Alkohol dan sedativa lain me-

ningkatkan terjadinya serangan kantuk men-

dadak.

Dosis: minggu pertama 3 dd 0,125 mg dc, 

minggu ke-2 3 dd 0.25mg, minggu ke-3 3 dd 

0,5 mg dari garam diHCl-monohidrat. Bila 

perlu ditingkatkan dengan 0,75 mg sampai 

maks. 4,5 mg , namun  risiko mengantuk akan 

meningkat. Dosis pemeliharaan : 0,375 – 4,5 

mg sehari. 

RLS: 1 dd 0,125 mg 2-3 jam sebelum tidur, bila 

perlu ditingkatkan dengan 0.125mg setiap 4-7 

hari.

A4. Selegilin: Deprenaline, Eldepryl

Derivat fenetilamin ini (1989) yaitu  peng-

hambat-MAO-B selektif di otak sehingga pe-

rombakan dopamin dihalangi. Kadar dopa- 

min di otak meningkat, khasiat levodopa 

diperpanjang dan diperkuat sehingga dosis-

nya dapat diturunkan dengan sepertiganya, 

begitu pula dengan efek sampingnya. Pada 

dosis tinggi juga merintangi penguraian 

serotonin dengan efek antidepresi. namun  

selegilin tidak dipakai  sebagai antide-

presivum berhubung risiko akan efek sam-

pingnya. Senyawa ini dipakai  sebagai 

monoterapi pada awal penyakit Parkinson. 

Kombinasi obat ini dengan levodopa men-

jadi kurang efektif. Selegilin berkhasiat 

menghambat progres demensia Alzheimer 

berdasar  sifat antioksidansnya, Lihat di 

atas.

Resorpsi berlangsung cepat dan sempurna 

dengan PP 94% dan plasma-t½ 39 jam. Se-

nyawa ini mengalami FPE (first pass effect) 

besar dan diuraikan menjadi amfetamin, me-

tamfetamin dan N-desmetilselegilin. Ekskresi 

melalui urin.

Efek samping berupa kesulitan tidur (akibat 

efek amfetamin), mulut kering dan pusing. 

Kombinasi dengan levodopa memicu  

beberapa gejala, seperti sakit kepala, pusing, 

perasaan cemas, diskinesia, hipotoni, udema 

dan sembelit. Kombinasi dengan meperidin 

dapat memicu  reaksi fatal.

Dosis: sebagai monoterapi 1-2 dd 5 mg 

(HCl); bila dikombinasi dengan levodopa 1-2 

dd 5-10 mg p.c.

* Rasagilin (Azilect) juga suatu inhibitor 

MAO-B dan derivat fenil, seperti selegilin 

menghambat penguraian dari dopamin di 

otak berdasar  penghambatan enzim mo-

noaminoksidase-B. Dapat dipakai  sebagai 

monoterapi pada stadium awal dengan efek 

terbatas atau bersamaan dengan levodopa 

meningkatkan khasiatnya. Hasil penguraian 

dalam hati sebagai metabolit aktif diekskresi 

via urin 63% dan via feses 22%. T1/2 0,6-2 jam.

Efek samping sering kali sakit kepala (>10%) 

pada monoterapi. Juga rhinitis, conjunctivitis, 

demam, malaise, sakit otot dan artritis, alergi, 

kanker kulit, depresi dan halusinasi. Efek 

samping levodopa diperkuat oleh rasagilin 

dan sangat sering (>10%) juga gangguan 

gerakan (diskinesia), gangguan saluran cerna 

dan keseimbangan.

Tidak boleh dipakai  oleh pasien de-

ngan gangguan hati, sebab  rasagilin dime-

tabolisasi di dalam hati oleh enzim CYP 1A2 

(cytochrom P 450). Daya kerja enzim ini juga 

dihambat oleh antara lain siprofloksasin, si-

metidin atau fluvoksamin. Oleh sebab  itu 

obat-obat ini tidak boleh dipakai  bersa-

maan dengan rasagilin. Dosis: 1 mg sehari, 

bersama atau tanpa levodopa.

A5. Bromokriptin: Parlodel

Alkaloid ergot semi-sintetik dari kelompok 

ergotoksin ini (1975) memiliki khasiat sti-

mulasi langsung terhadap reseptor dopa- 

min di otak. Peningkatan sekresi dopamin, 

yang identik dengan hormon PIF (Prolactin 

Inhibiting Factor), memicu  berkurang-

nya sekresi prolaktin. Oleh sebab  itu bro-

mokriptin dipakai  untuk mencegah lak-

tasi secara primer (pada abortus) dan pada 

galaktorroea (keluar air susu berlebihan se-

telah persalinan). Pada akromegalia (ujung- 

ujung anggota badan membesar), zat ini di-

gunakan untuk menghambat sekresi hormon 

pertumbuhan somatropin. 

Sebagai agonis-DA2 kuat (dan agonis-DA1 

lemah), obat ini pada awalnya diberikan pa-

da pasien Parkinson yang sesudah  beberapa 

tahun menjadi semakin kurang peka terha-

dap dopa, sedang  efek sampingnya me-

ningkat (diskinesia). namun  sejak beberapa ta-

hun obat ini juga dipakai  sebagai mono-

terapi pada pasien ‘baru’. Bila dalam waktu 

3-6 bulan efeknya belum memuaskan, baru-

lah diberi tambahan dopa yang dosisnya 

berangsur-angsur dinaikkan. Keuntungan 

terapi kombinasi ini ialah bahwa dosis dari 

masing-masing obat dapat lebih rendah, se-

hingga efek sampingnya berkurang.

Resorpsi dari usus ±28%; plasma-t½ singkat, 

hanya ±3 jam; PP 90-96%. sebab  mengalami 

FPE besar, maka BA rendah: hanya 6% men-

capai sirkulasi dalam keadaan utuh. Efeknya 

lebih konstan daripada levodopa. Di dalam 

hati, senyawa ini mengalami biotransformasi. 

Ekskresi terutama melalui empedu dan hanya 

±7% melalui urin. 

Efek samping yang sering terjadi yaitu  

gangguan saluran cerna, namun  hanya pada 

permulaan terapi. Efek lainnya terjadi hipo-

tensi ortostatik, udema pergelangan kaki dan 

pigmentasi jari-jari tangan. Pada dosis yang 

lebih tinggi dapat timbul gangguan pusat 

berupa psikosis, halusinasi, bicara tanpa arah 

dan diskinesia. Antipsikotika dan metoklo-

pramida sebagai antagonis dopamin dapat 

mengurangi efeknya, sedang  alkohol da-

pat memicu  efek disulfiram.

Dosis: permulaan oral 1-2 dd 1,25 mg 

(mesilat) d.c., berangsur-angsur dinaikkan 

sampai 20-40 mg sehari. Untuk menekan 

laktasi 2 dd 2,5 mg selama 2-3 minggu. 

*Kabergolin (Dostinex) yaitu  juga derivat 

ergot dengan khasiat dan pemakaian  sama 

dengan bromokriptin, yaitu menekan atau 

menghindari laktasi post partum atau sesudah  

keguguran. Juga pada penyakit Parkinson 

dikombinasi dengan levodopa untuk mem-

perbaiki mobilitas dalam dosis 1 dd 1 mg, 

yang berangsur ditingkatkan sampai 1 dd 2-6 

mg.

A6. Lisurida: Dopergin

Derivat ergolin ini (1979) memiliki struktur 

inti alkaloid ergot (lihat Bab 52, Obat mi-

grain) dan sifatnya mirip bromokriptin. Lisu- 

rida bekerja langsung terhadap reseptor 

dopamin (DA2) dan sebagai agonis-DA2 kuat 

dapat menghambat sekresi prolaktin. Peng-

gunaannya juga mirip dengan bromokriptin, 

yaitu sebagai obat Parkinson dan pada galak-

torroea dan akromegali. Adakalanya obat ini 

juga dipakai  sebagai profilaktik migrain, 

berdasar  efek antihistamin mau-pun anti-

serotoninnya.

Resorpsi cepat dan sempurna. Sesuai de-

ngan bromokriptin, zat ini juga mengalami 

FPE besar sehingga BA-nya hanya 10-20%. 

Plasma-t½ 3-4 jam.

Efek samping pada awal pengobatan beru-

pa pusing, rasa letih, sakit kepala, mual dan 

sembelit, jarang timbul muntah atau hipo-

tensi ortostatik. Pada dosis tinggi obat ini 

dapat memicu  gangguan pusat, seperti 

halusinasi, diskinesia, mulut kering, kejang 

otot kaki dan tampilan jari-jari tangan/kaki 

menjadi pucat.

Dosis: minggu pertama malam hari 0,1 mg, 

kemudian tiap minggu dosis dinaikkan 0,1 

mg sampai tercapai dosis optimal 0,6-2 mg 

seharinya. Untuk menekan laktasi 2-3 dd 0,2 

mg selama 14 hari.

* Pergolida (Permax) yaitu  juga derivat 

ergolin dengan khasiat agonis-dopamin kuat 

(1991). Pergolida dipakai  dalam kombi- 

nasi dengan levodopa pada penyakit Par- 

kinson. Obat ini berkhasiat menurunkan 

kadar prolaktin dalam darah dan mening-

katkan kadar somatropin (GH). Resorpsi 

praktis sempurna dengan PP sebesar 90%. 

Ekskresi dalam bentuk metabolitnya melalui 

urin (55%) dan feses. Efek samping berupa 

mual, sembelit, diare, hipotensi ortostatik, 

diskinesia, halusinasi, pusing dan udema 

perifer. Dosis: permulaan oral 1 dd 0,05 mg, 

berangsur dinaikkan sampai 3 dd 0,5 mg 

(mesilat) dalam waktu 30 hari. Juga dapat 

dikombinasi dengan levodopa.

A7. Amantadin: Symmetrel

Obat antiviral dan anti-influenza-A ini 

(1964, lihat Bab 7, Virustatika) secara kebe-

tulan ditemukan khasiat anti-Parkinsonnya, 

yang menurut perkiraan di dasarkan atas 

stimulasi pelepasan DA dari ujung saraf 

atau blokade dari re-uptake DA di ujung 

saraf presinaptis. Khasiatnya menyerupai 

levodopa, namun  jauh lebih lemah. sebab  

Restless Legs Syndrome (RLS) yaitu  gangguan dengan kegelisahan motorik, yang ditandai perasaan 

tidak nyaman di tungkai dalam keadaan sadar maupun sewaktu istirahat. Gejalanya mencakup 

rasa seperti terbakar, gatal-gatal, nyeri atau kejang-kejang di tungkai, kadangkala juga di tubuh dan 

lengan. Gejala ini umumnya timbul segera bila penderita duduk atau berbaring dan memburuk 

pada malam hari sehingga dapat mengganggu pola tidur. RLS dapat menyerang orang dari semua 

usia, bahkan anak-anak, namun  tersering manula dan lebih sering wanita daripada pria. Sering kali 

RLS diakibatkan oleh penyakit lain (diabetes, hipotireoidi, uremia), atau akibat pemakaian  obat. 

ada  indikasi bahwa ada kaitan dengan perubahan fungsi dopaminerg di SSP. Juga berkurangnya 

penyerapan unsur besi di otak (anemia ferriprive) dihubungkan dengan RLS, misalnya pada ±19% dari 

wanita hamil dalam trimester terakhir. 

Penanganan yang dianjurkan pada serangan akut terdiri dari masase, bergerak-gerak, melakukan 

latihan meregang dan relaksasi, seperti yoga dan biofeedback. 

Pengobatan. Banyak obat dipakai  terhadap gangguan ini, a.l. levodopa + inhibitor dekarboksilase, 

agonis dopamin (ropinirol, pramipeksol, pergolida), anti-epileptika(karbamazepin, fenitoin, 

gabapentin), benzodiazepin (klonazepam), derivat kinin (kinidin, hidrokinin = Inhibin). Telah 

dilakukan banyak penelitian mengenai efektivitas dari obat-obat ini dan ternyata bahwa kebanyakan 

tidak bermanfaat. Hanya dari agonis-DA dapat dipastikan secara ilmiah (untuk sebagian 

efektivitasnya), khususnya ropinirol yang di beberapa negara sudah resmi diregistrasi untuk 

pengobatan RLS, a.l. di Prancis.

pemakaian  “off-label”

Obat-obat itu  sebetulnya dipakai  secara “off-label” terhadap RLS,artinya di luar indikasi 

resmi yang telah diregistrasi oleh pemiliknya (pabrik farmasi) dan atas tanggung-jawab dokter yang 

mempreskripsinya. Pada kasus penyakit berat lazimnya dokter memberitahukan hal ini pada pasien, 

yang perlu memberikan persetujuan tertulis untuk memakai  obat bersangkutan (“ïnformed 

consent”). Pada kasus RSL dan gangguan-gangguan lain yang relatif ringan protokol resmi ini 

umumnya tidak dilakukan.

efeknya lebih cepat, yaitu sesudah 2-3 hari, 

obat ini dipakai  bila diperlukan efek 

yang segera. Amantadin memperkuat kha-

siat levodopa dan antikolinergika (adisi). Di-

gunakan sebagai monoterapi atau dikombi- 

nasi dengan obat-obat Parkinson lainnya. 

Resorpsi di usus berlangsung cepat dengan 

kadar maksimal dalam darah dicapai sesudah 

1-4 jam dan masa paruhnya ±15 jam. Ekskresi 

berlangsung melalui urin dalam keadaan 

utuh.

Efek samping lebih ringan daripada levo-

dopa dan pada dosis biasa jarang terjadi. Oleh 

sebab  itu obat ini bermanfaat bagi penderita 

yang tidak tahan terhadap dosis penuh dari 

levodopa. Amantadin dapat memicu  

rasa letih, mulut kering, gangguan peng-

lihatan, gangguan buang air kecil, hipotensi 

ortostatik dan juga efek sentral, seperti pu-

sing, insomnia dan halusinasi. Kadang-ka-

dang timbul pula udema pada pergelangan 

kaki dan pigmentasi kelabu pada jari-jari 

tangan. Toleransi dapat timbul sesudah 3-6 

bulan, pada saat mana peningkatan dosis 

tidak efektif lagi.

Dosis: permulaan oral 1 dd 100 mg (HCl 

atau sulfat) sesudah makan pagi; sesudah  1 

minggu 2 dd 100 mg dan maksimal 400 mg 

sehari. 

*Memantin (Ebixa) yaitu  derivat amantadin 

(1983) yang berkhasiat memblokir stimulasi 

berlebihan dari glutamat, sehingga pema-

sukan kalsium berlebihan ke dalam sel di-

hindari (dapat mematikan sel). Resorpsinya 

dari usus baik dengan BA ±100%, PP 45% 

dan dalam hati dirombak menjadi 2 metabolit 

inaktif., yang untuk 75-90% diekskresi me-

lalui urin. Masa paruhnya panjang, 60-100 

jam. Efektif pada ±29% dari kasus Alzheimer 

hebat dan sangat parah, untuk memperbaiki 

atau menstabilisasi fungsi kognitif, aktivitas 

sehari-hari dan keadaan umumnya. Juga 

dipakai  pada penyakit Parkinson. Efek 

samping yang paling sering dilaporkan yaitu  

halusinasi, perasaan kacau, pusing dan sakit 

kepala. 

Dosis: permulaan 1dd 5 mg, berangsur-

angsur ditingkatkan dalam waktu 4 minggu 

sampai 2 dd 10 mg.

A8. Triheksifenidil: benzheksol, Artane, Arkine

Senyawa piperidin ini yaitu  prototipe dari 

antikolinergika sintetik, yang dipakai  

sebagai obat Parkinson (1949). Khasiat anti-

kolinergik dan efek pusatnya menyerupai 

atropin, namun  lebih lemah; efek sampingnya 

pun lebih ringan. Seperti antikolinergika 

lainnya obat ini dapat memperbaiki tremor, 

namun  kurang efektif terhadap akinesia dan 

kekakuan. Triheksifenidil berkhasiat terha-

dap salivatio (keluar air liur berlebihan). To-

leransi dapat terjadi dan bila dikombinasi 

dengan levodopa sering kali bermanfaat. 

Resorpsi dari usus cepat, lama kerjanya 6-12 

jam. Ekskresi melalui urin dan kemungkinan 

dalam keadaan utuh. 

Efek samping jarang terjadi dan berupa 

umum, yaitu gangguan saluran cerna, mulut 

kering, gangguan penglihatan dan efek pusat 

(gelisah, pikiran kacau, sukar tidur dan 

halusinasi).

Dosis: permulaan oral 1 dd 1 mg d.c., bila 

perlu berangsur-angsur dinaikkan sampai 

dosis pemeliharaan 6-12 mg sehari dan mak-

simal 15 mg sehari. Pada gejala ekstrapira-

midal maksimal 15 mg sehari. 

*Biperiden (Akineton) yaitu  derivat (1954) 

yang terutama efektif terhadap akinesia dan 

kekakuan namun  kurang efektif terhadap 

tremor. 

Resorpsi cepat dan praktis sempurna, eks-

kresi melalui urin sebagai metabolit. Plas-

ma-t½ 18 jam. 

Efek samping kurang lebih sama. 

Dosis: oral 2 dd 1 mg d.c. yang berangsur-

angsur dapat dinaikkan sampai 3-4 dd 1-4 

mg. Pada gejala ekstrapiramidal 1-3 dd 2-6 

mg. 

B. OBAT ALZHEIMER

B1. Ropinirol: Requip

Derivat indolinon ini (1995) bekerja selektif 

terhadap reseptor dopamin (D2) postsinap-

tik. Sama dengan lisurida dan pergolida, 

ropinirol juga menghambat sekresi prolak-

tin. Dianjurkan pemakaian nya pada awal 

penyakit atau pada tahap  lebih lanjut bersa- 

ma levodopa untuk memperkuat efeknya. 

Ropinirol, seperti juga DA-agonis lain pra-

mipeksoldan pergolida, dapat dipakai  

dengan efektif untuk pengobatan “restless legs 

sindrom”27 yang mungkin ada hubungannya 

dengan kekurangan DA, lihat boks. Peng-

hentian pemakaian  obat ini harus secara 

berangsur-angsur dikurangi dosisnya dalam 

waktu 1 minggu.

Efek samping yang sering terjadi mual 

dan muntah, nyeri pe