Tampilkan postingan dengan label kasus obstetri 1. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kasus obstetri 1. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 Juni 2026

kasus obstetri 1

 

















Kehamilan yaitu  suatu proses fisiologis yang normal. 

Mayoritas dari kehamilan diterima oleh ibu sebagai hal 

yang memang harus dijalaninya. Dengan demikian 

intervensi pada proses ini seharusnya diyakini memberi 

manfaat dan dapat diterima oleh setiap ibu hamil. 

Konsep dasar dari ini yaitu  20 minggu 

pertama kehamilan, merupakan fase kritis yang 

menentukan kelangsungan kehamilan selanjutnya2. 

Pengasuhan selama kehamilan yang baik akan 

berhubungan dengan kualitas manusia yang dilahirkan.

yaitu  asuhan yang diberikan kepada ibu 

hamil dengan tujuan menyelaraskan ibu dan janin agar 

terhindar dari komplikasi dan menurunkan insiden 

morbiditas/ mortalitas perinatal dan maternal. Asuhan ini 

terdiri atas promosi kesehatan, penilaian risiko, dan 

intervensi atas keadaan ibu hamil. dimulai 

sejak konsepsi yang berhasil sampai dimulainya 

persalinan1. 

 

Catatan Pranatal 

Harus tersedia catatan medis yang formal dan terstruktur 

disesuaikan dengan kondisi tempat pelayanannya untuk 

mendokumentasikan asuhan yang diberikan kepada ibu 

hamil. Ibu hamil harus diizinkan membawa salinan catatan 

pranatal miliknya. Ini berhubungan dengan kemungkinan 

ibu hamil perlu mendapat pelayanan darurat/ tidak darurat 

di tempat dimana ia tidak mendapatkan asuhan rutinnya1. 

 

Ibu hamil yang kemungkinan memerlukan asuhan 

khusus4 

• Dengan penyakit jantung, termasuk hipertensi 

• Dengan penyakit ginjal 

• Dengan kelainan endokrin atau riwayat diabetes 

• Dengan kelainan psikiatri 

• Dengan kelainan hematologi 

• Dengan kelainan autoimun 

• Mendapat terapi farmakologi (antidepresan, 

antikonvulsi, dsb) 

• Riwayat infertilitas atau mendapat teknologi 

reproduksi berbantu 

• Kehamilan ganda 

• Preeklamsia 

• Diabetes gestasional yang memerlukan insulin 

• Pengguna NAPZA (termasuk perokok, alkohol, 

heroin, marijuana, kokain, ekstasi, dan amfetamin) 

• Obesitas (IMT >30) 

• Kurus (IMT <18.5) 


 

 

 

• Ibu hamil yang rentan ( seperti remaja, miskin, 

hambatan bahasa) yang tidak mendapat dukungan 

sosial 

• Ibu hamil yang terpapar kekerasan rumah tangga 

• Dengan keganasan 

• Dengan infeksi kronik (HIV, Hep C, HSV, Hep B, 

dsb) 

• Dengan kelainan medis/ operatif kronik (epilepsi, 

asma berat, lupus, dsb) 

• Usia > 40 tahun 

• Keadaan lain yang ditentukan oleh tenaga 

kesehatan 

Ibu hamil dengan riwayat penyakit berikut pada 

kehamilan sebelumnya kemungkinan memerlukan 

asuhan khusus4 

• Keguguran berulang 

• Persalinan preterm 

• Preeklamsia, eklampsia, atau sindrom HELLP 

• Isoimunisasi rhesus atau grup antibodi darah 

lainnya yang bermakna 

• DMG yang memerlukan insulin 

• Psikosis puerperalis 

• Grandemultipara (> 6 kali) 

• Stillbirth atau kematian neonatus 

• BBLR (< persentil 10) 

• Besar masa kehamilan (> persentil 90) 

• Riwayat bayi dengan kelainan kongenital (struktural 

atau kromosomal) 

Operasi di uterus (misal : seksio sesaria, miomektomi, 

biopsi konisasi atau LEEP) 

• Perdarahan antepartum atau postpartum 

• Keadaan lain yang ditentukan oleh tenaga 

kesehatan 

Jadwal 

Tidak cukup bukti untuk merekomendasikan jadwal asuhan 

pranatal yang ideal untuk seluruh ibu hamil. Harus 

diketahui bahwa untuk mengoptimalkan luaran kehamilan 

yaitu  persiapan sebelum kehamilan itu sendiri. 

Jadwal berbeda-beda di setiap daerah/ 

negara. Rata-rata kunjungan 7-12 kali per kehamilan. 

Namun disepakati bahwa pada multipara tanpa komplikasi 

jumlah kunjungan dapat lebih sedikit daripada nulipara 

tanpa komplikasi. Berapa kali jumlah kunjungan bersifat 

individual tergantung dari faktor risiko yang dikenali sejak 

kunjungan pertama atau pada kunjungan berikutnya. 

Jumlah kunjungan antenatal yang rendah tidak 

berhubungan dengan luaran maternal dan perinatal yang 

buruk. namun  pada daerah dengan sarana terbatas, yang 

kunjungan pranatalnya sudah rendah, penurunan jumlah 

kunjungan pranatal (<5) meningkatkan risiko mortalitas 

perinatal. Untuk daerah dengan sarana yang baik, 

rendahnya kunjungan pranatal (<8) berhubungan dengan 

ketidakpuasan/ ketidaknyamanan ibu hamil. Jadwal 

kunjungan pranatal ditentukan oleh tujuan dari kunjungan 

ini . Kunjungan minimal yang harus dilakukan yaitu  

4 kali, bahkan untuk daerah terpencil 1,4,5. 

 

 

 

Tabel 1. Anjuran Konseling, Skrining, dan Intervensi pada 

pada kunjungan awal < 14 minggu1 

 

Penilaian/Prosedur 

• Anamnesis lengkap dan identifikasi risiko 

• Penghitungan taksiran persalinan berdasar  hari 

pertama haid terakhir 

• Skrining tekanan darah dasar 

• Berat badan dan BMI 

• Skrining kekerasan domestik 

• Vaksinasi sesuai dengan kebutuhan 

• Rujukan untuk asuhan khusus berdasar  anamnesis 

• Ditawarkan untuk skrining USG aneuploidi pada 11-13 

6/7 minggu 

Pemeriksaan laborartorium 

• Pemeriksaan darah lengkap; golongan darah dan 

rhesus; IgG rubela; RPR; HbsAg; HIV 

• Pemeriksaan urin dipstik untuk protein dan glukosa 

• Urinalisis dan kultur urin 

• Gonore / Klamidia * 

• Pap smear * 

• Skrining pertanda ganda aneuploidi 

• Skrining tambahan sesuai dengan riwayat penyakit dan 

preeklamsia 

Edukasi/ Konseling 

• Menghentikan bahan berbahaya 

• Olahraga / aktivitas 

• Nutrisi 

o Pertambahan berat badan 

o Suplemen 

o Makanan yang aman 

• Pemberian ASI 

Edukasi/ Konseling tidak terbatas pada usia kehamilan 

• Tanda bahaya 

• Perawatan gigi 

• Keluarga Berencana 

*

 Pada keadaan khusus 

 

 


 

Tabel 2. Anjuran Konseling, Skrining, dan Intervensi pada 

pada kunjungan 14 – 24 minggu1 

 

Penilaian/Prosedur 

• Denyut jantung janin 

• Tinggi fundus 

• Gerakan janin 

• Tekanan darah 

• Berat badan 

• Skrining USG untuk anatomi 

Pemeriksaan laborartorium 

• Skrining pertanda ganda aneuploidi 

• Proteinurin dipstik bila diperlukan 

Edukasi/ Konseling 

• Memeriksa dan mendiskusikan hasil pemeriksaan 

Edukasi/ Konseling tidak terbatas pada usia kehamilan 

• Tanda bahaya 

• Perawatan gigi 

• Keluarga Berencana 

 

Tabel 3. Anjuran Konseling, Skrining, dan Intervensi pada 

pada kunjungan 24-28 minggu1 

 

Penilaian/Prosedur 

• Denyut jantung janin 

• Tinggi fundus 

• Gerakan janin 

• Tekanan darah 

• Berat badan 

• Immunoglobulin Rh bila perlu 

• Skrining untuk kekerasan domestik 

Pemeriksaan laborartorium 

• Pemeriksaan diabetes gestational; ulang CBC 

• Skrining antibodi bila diperlukan 

• Proteinuria dipstik bila diperlukan 

Edukasi/ Konseling 

• Gejala dan tanda persalinan preterm 

Edukasi/ Konseling tidak terbatas pada usia kehamilan 

• Persiapan, pilihan, gejala dan tanda persalinan 

• Perjalanan 

• Persalinan percobaan sesudah  seksio sesarea (P2S3) 


 

   

Tabel 4. Anjuran Konseling, Skrining, dan Intervensi pada 

pada kunjungan awal 28-34 minggu1 

 

Penilaian/Prosedur 

• Denyut jantung janin 

• Tinggi fundus 

• Gerakan janin 

• Tekanan darah 

• Berat badan 

Pemeriksaan laborartorium 

• Proteinuria dipstik bila diperlukan 

Edukasi/ Konseling 

• Gejala dan tanda persalinan preterm 

• Gejala dan tanda preeklamsia 

Edukasi/ Konseling tidak terbatas pada usia kehamilan 

• Persiapan, pilihan, gejala dan tanda persalinan 

• Perjalanan 

• Persalinan percobaan sesudah  seksio sesarea (P2S3) 

 

Tabel 5 . Anjuran Konseling, Skrining, dan Intervensi pada 

pranatal pranatal pada kunjungan 34-41 minggu1 

Penilaian/Prosedur 

• Denyut jantung janin 

• Tinggi fundus/ taksiran berat janin 

• Gerakan janin 

• Presentasi janin 

• Tekanan darah 

• Berat badan 

Pemeriksaan laborartorium 

• Proteinuria dipstik bila diperlukan 

• HIV 

Edukasi / Konseling 

• Tanda persalinan / kapan harus menelepon 

• Tanda dan gejala preeklamsia 

• Manajemen lewat waktu 

• Pemberian ASI 

Edukasi / Konseling tidak terbatas pada usia kehamilan 

• Persiapan, pilihan, gejala dan tanda persalinan 

• Perjalanan 

• Persalinan percobaan sesudah  seksio sesaria (P2S3) 


 

 

• ANC s/d 12 minggu : skrining awal (deteksi dini 

kelainan ibu dan bayi)  

• ANC kehamilan awal – 20 minggu : 3 x pertemuan 

(jika tidak ada kelainan) 

• ANC kehamilan > 20 minggu :  follow up tumbuh 

kembang janin 

• Dilakukan pada kehamilan yang tidak ada penyulit 

pada ibu dan janin 

• Bila terdapat penyulit dilakukan kolaborasi dengan 

bagian fetomaternal 

• Ibu hamil diberikan suplementasi yang sesuai 

dengan angka kebutuhan vitamin dan mineral 

menurut standar WHO.  

 

PROSEDUR ASUHAN 

 

Kunjungan pertama 

Kunjungan pertama yang optimal dilakukan sebelum hamil 

12 minggu. Pada kunjungan pertama ibu hamil sebaiknya 

mendapatkan informasi tentang bagaimana asuhan 

kehamilan akan diberikan, tujuan pemberian asuhan, tes 

skrining yang ditawarkan, anjuran untuk pola hidup sehat, 

termasuk nutrisi dan olahraga1 .  

 

Riwayat Penyakit 

Harus dilakukan evaluasi riwayat penyakit dengan 

seksama, khususnya untuk mengevaluasi risiko kehamilan. 

Pada bagian ini harus dapat diidentifikasi ibu hamil yang 

berisiko tinggi yang perlu mendapat perhatian khusus. 

Harus dilakukan pemeriksaan USG untuk menentukan 

taksiran persalinan apabila hari pertama haid terakhir tidak 

diyakini.  

 

Pemeriksaan fisik 

Harus dilakukan pemeriksaan fisik menyeluruh  (lihat tabel) 

dan terarah sesuai identifikasi risiko. 


 

Pada kunjungan pertama ini tinggi badan dan berat 

badan wajib diukur untuk untuk indeks massa tubuh {IMT= 

berat (kg)/ tinggi kuadrat (m2)}. Penentuan IMT harus 

dilakukan pada berat badan saat konsepsi  atau awal 

kehamilan. Penentuan IMT ini berhubungan dengan risiko 

kehamilan seperti diabetes dan persalinan preterm, serta 

risiko persalinan seperti distosia bahu, seksio sesaria, 

BBLR. 

 

 

Pengukuran tekanan darah dilakukan pada setiap 

kunjungan asuhan pranatal. Tujuan pengukuran tekanan 

darah untuk mengidentifikasi ibu hamil dengan hipertensi 

kronik. Tekanan darah diastolik > 80 berhubungan dengan 

risiko preeklamsia6. Tekanan darah diukur dengan posisi 

lengan ibu hamil setinggi jantung, dalam keadaan duduk 

atau berbaring setengah duduk, dengan menggunakan cuff 

yang sesuai (panjangnya 1.5 x lingkar lengan atas dan 

lebarnya menutupi > 80% lengan atas)1. 

 

Periksa dalam 

Periksa dalam tidak akurat untuk menentukan usia 

kehamilan dan bukan cara memprediksi persalinan preterm 

atau kemungkinan disproporsi sefalo pelvik di kehamilan 

lanjut yang dapat dipercaya. Tidak dianjurkan untuk 

melakukan pemeriksaan ini. namun  pemeriksaan ini dapat 

dilakuan untuk menilai patologi ginekologi. 

 

Pemeriksaan laboratorium 

Pemeriksaan laboratorium yang dianjurkan lihat tabel 9 

 


 

Kunjungan berikut1 

Kunjungan berikut harus memberikan: 

• Pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium 

lanjutan dan pemeriksaan atas indikasi 

• Penilaian tentang faktor risiko dan rencana 

intervensi bila ada 

• Edukasi dan promosi kesehatan khusus untuk ibu 

hamil ini  

• Kesempatan untuk berdiskusi dan tanya jawab 

Pemeriksaan fisik lanjutan 

Berat badan 

Penambahan berat badan yang optimal berhubungan 

dengan luaran kehamilan yang lebih baik. 

 

 

Tekanan darah 

Harus diperiksa dan dicatat pada setiap kunjungan 

 

Denyut jantung janin 

Harus diperiksa dan dicatat pada setiap kunjungan 

 

Pengukuran tinggi fundus uteri (simfisis-fundus) 

Dapat dilakukan bila usia kehamilan lebih dari 24 minggu 

sampai 41 minggu. Dapat mendeteksi pertumbuhan janin 

terhambat dan makrosomia, namun  ada faktor kesalahan 

intra- dan inter- pemeriksa. Tidak cukup data bahwa 

pemeriksaan ini memberikan manfaat  atau tidak 

bermanfaat untuk luaran kehamilan. 

 

 

 

Pemeriksaan dalam 

Pemeriksaan dalam untuk menilai serviks tidak 

direkomendasikan untuk menskrining persalinan preterm. 

 

Gerakan janin 

Tidak ada bukti bahwa penghitungan gerak janin (fetal kick 

counts) menurunkan risiko kematian janin pada kehamilan 

tunggal sehat7. namun  ibu hamil dapat dianjurkan untuk 

memperhatikan gerak janin sejak usia kehamilan  atau 

sekitar 28 minggu. 

 

Pemeriksaan Leopold 

Dilakukan sejak usia kehamilan 34 minggu untuk menilai 

taksiran berat janin dan presentasi. Dapat ditawarkan 

pemeriksaan USG untuk konfirmasi dan kemungkinan 

intervensi 

 

Pemeriksaan pelvimetri 

Tidak cukup data bahwa pemeriksaan ini terbukti dapat 

memprediksi distosia saat persalinan. 

Pemeriksaan edema rutin: tidak sensitif dan spesifik untuk 

mengevaluasi preeklamsia 


 

  

 

Tabel 8. Rekomendasi untuk Rutin4,5 

Komponen 

Pemeriksaan 

Rekomendasi Level Keterangan 

Palpasi 

Abdomen 

Palpasi abdomen harus 

dilakukan untuk menilai 

presentasi janin sejak 

minggu ke-36 kehamilan 

 

B Palpasi abdomen tidak 

perlu dilakukan 

sebelum 36 minggu, 

sebab  potensial tidak 

akurat dan tidak 

nyaman untuk pasien 

Pengukuran 

tekanan darah 

Tidak diketahui berapa 

sering tekanan darah 

harus diukur, namun  

banyak yang menyatakan 

harus diukur setiap 

kunjungan antenatal 

 


 

Evaluasi edema Edema terjadi pada 80% 

ibu hamil. Tidak 

mempunyai spesifitas dan 

sensitivitas untuk 

mendiagnosis preeklamsia 

 

C Edema didefinisikan 

sebagai  pitting edema 

> +1 sesudah  bed rest 

12 jam, atau 

penambahan berat 

badan 2.3 kg/ minggu 

Denyut jantung 

janin 

Auskultasi denyut jantung 

janin dianjurkan dilakukan 

setiap kunjungan 

antenatal. Bunyi jantung 

janin sebagai konfirmasi 

janin hidup, namun  tidak 

ada bukti bermanfaat 

untuk hal klinik lain atau 

mempunyai nilai prediktif 

 

C Bunyi denyut jantung 

janin memberikan efek 

psikologis pada ibu, 

namun  potensi 

manfaatnya belum 

pernah diteliti 

Hitung gerak 

janin 

Penghitungan gerak janin 

rutin tidak perlu dilakukan 

 

Pada ibu hamil tanpa 

faktor risiko untuk luaran 

perinatal yang buruk harus 

waspada terhadap gerak 

janin sejak 26-32 minggu 

dan melakukan hitung 

gerak janin bila terasa 

gerakannya berkurang 

 

Pada ibu hamil dengan 

faktor risiko, dilakukan 

hitung gerak janin harian 

pada 26-32 minggu dan 

mendatangi RS segera 

bila gerakan janin kurang 

dari 6 dalam interval 2 jam 


Komponen 

Pemeriksaan 

Rekomendasi Level Keterangan 

Pengukuran 

tinggi simfisis-

fundus 

Pengukuran tinggi simfisis 

fundus dilakukan setiap 

kunjungan antenatal 

dalam sentimeter. 

Menggambarnya pada 

grafik pertambahan tinggi 

fundus bermanfaat untuk 

pemantauan 

B Pengukuran tinggi 

simfisis-fundus 

mempunyai efek 

kesalahan 

interpemeriksa dan 

intrapemeriksa. namun  

pemeriksaan ini 

mudah dan murah  

Urinalisis Semua ibu hamil diperiksa 

proteinuria pada 

kehamilan dini untuk 

menskrining adanya 

kelainan ginjal  

 

Urinalisis dipstik tidak 

meyakinkan untuk 

mendeteksi preeklamsia  

dini.  

 

 

 

Pengukuran protein pada 

urin 24 jam, lebih dapat 

dipercaya, merupakan 

baku emas, namun  tidak 

praktis. Glukosuria trace 

tidak dapat memastikan 

kelainan, namun  bila tinggi 

dapat bermanfaat 


Pemeriksaan 

proteinuria dengan 

dipstik bermak -na bila 

nilainya +3 atau +4 

 

 

Beberapa guideline 

menganjurkan untuk 

menghentikan pemerik 

-saan ini secara rutin, 

namun  yang lain tetap 

mempertahankan 

 

Untuk konfirmasi 

proteinuria lebih baik 

menghitung ratio 

protein kreatinin 

Penimbangan 

berat badan 

Berat badan dan tinggi 

badan ibu hamil harus 

diukur pada kunjungan 

pertama, untuk 

menentukan IMT, sebagai 

dasar rekomendasi 

pertambahan berat badan 

 

Berat badan ibu hamil 

harus ditimbang setiap 

kunjungan 

 

Pertimbangkan untuk 

penambahan berat badan 

sedikit atau tidak sama 

sekali pada ibu hamil 

dengan obesitas 


Untuk mengetahui 

risiko pada ibu hamil 

kurus dan gemuk.  

Penambahan berat 

badan tidak 

berhbungan dengan 

hipertensi sebab  

kehamilan 

 

 

 

Pemeriksaan lanjutan laboratorium (Lihat tabel 9) 

Pada kehamilan 24-28 minggu: ibu hamil dengan faktor 

risiko DMG harus diskrining dengan menilai gula darah 

puasa dan tes toleransi glukosa oral (TTGO) 75g. 

 

Tabel 9. Rekomendasi Skrining Laboratorium Asuhan 

Pranatal4,5 

 

Tes skrining Rekomendasi Level Keterangan 

Hb, MCV Diperiksa B Skrining untuk defisiensi Fe 

dan hemoglobinopati 

Bila darah lengkap abnormal, 

periksa anemia defisiensi besi 

(ferritin) dan hemoglobinopati 

(Hb elektroforesis) 

Golongan 

darah, 

rhesus D 

Diperiksa setiap 

kehamilan pada 

trimester I  

C Skrining untuk mencegah 

penyakit hemolitik pada bayi 

baru lahir (misal dari 

isoimunisasi resus) 

HIV Diperiksa  A Skrining HIV untuk mencegah 

transmisi ke bayi 

Titer 

antibodi 

rubella 

Diperiksa bila tidak 

diketahui riwayat 

sebelumnya atau 

imunisasi 

B Untuk melihat ibu hamil dini 

yang terpapar dan tidak imun, 

dan sebagai petunjuk 

rekomendasi vaksinasi 

pascamelahirkan untuk 

kehamilan berikutnya 

Hepatitis C Diperiksa pada ibu 

hamil dengan: 

• Pengguna 

narkoba 

• Hemodialisis 

• Peningkatan 

AST persisten 

• Pernah 

transfusi 

• Risiko tinggi 

terpapar 

produk darah 

• HIV positif 

• Tattoo di 

tubuh 

A  

Sifilis Diperiksa setiap 

kehamilan 

A Skrining untuk diagnosis dan 

terapi/ pencegahan 

HbsAg Diperiksa A Skrining untuk petunjuk 

investigasi pada ibu dengan 

kelainan hati dan untuk 

kepentingan bayi (vaksinasi 

saat lahir) 

 


 

Tes skrining Rekomendasi Level Keterangan 

Pemeriksaan 

lain seperti: 

serologi B19, 

mumps, 

CMV 

Pemeriksaan rutin untuk 

toxoplasmosis, B19, mumps 

tidak perlu dilakukan 

Ditawarkan untuk 

pemeriksaan serologi pada 

perempuan yang terpapar 

atau dengan gejala 

parvovirus, mumps, CMV  

untuk menentukan infeksi 

lama (IgG) atau infeksi akut 

(IgM) 

 

 

 

Skrining 

Klamidia 

Ditawarkan pada semua ibu 

hamil 

Diperiksa pada ibu hamil 

dengan risiko tinggi 

B  

Skrining 

Gonore 

Ditawarkan pada semua ibu 

hamil 

 

Diperiksa pada ibu hamil 

dengan risiko tinggi 

 

 

 

Urin tengah Diperiksa untuk bakteriuria 

asimtomatik pada kehamilan 

dini dan skrining tiap 

trimester pada ibu hamil 

dengan riwayat ISK 

berulang 

C  

Tes toleransi 

glukosa dan 

gula darah 

puasa 

Ditawarkan untuk diagnosis 

(case finding) 

Diabetes tipe II untuk pasien 

dengan faktor risiko: 

obesitas dan/ atau riwayat 

DM di keluarga 

A Pemeriksaan TTGO 

75 g 

Thyroid 

Stimulating 

Hormone 

Ditawarkan pada semua ibu 

hamil 

Diperiksa pada ibu hamil 

dengan riwayat atau gejala 

penyakit tiroid atau penyakit 

lain yang berhubungan 

dengan penyakit tiroid 

B Kadar subnormal 

pada kehamilan dini 

berhubungan 

dengan gangguan 

perkembangan 

intelektual janin 

Pap Smear Ditawarkan bila ada indikasi B  

 

Tabel 10. Rekomendasi pemeriksaan genetik5 

Penyakit Frekuensi Tes 

alfa- and beta 

thalassemia 

1 dari 10 - 75 MCV < 80 fL, hemoglobin 

elektroforesis, ferritin dan 

morfologi RBC. Analisis DNA 

diperlukan untuk deteksi alfa-

thalassemia carrier

 

 

Ultrasonografi1,8,9 

 

Pemeriksaan USG trimester I (sebelum usia kehamilan 14 

minggu): dapat menentukan taksiran persalinan dan usia 

kehamilan lebih akurat daripada hari pertama haid terakhir. 

Untuk deteksi dini kehamilan ganda, skrining aneuploidi 

dengan nuchal translucency dan diagnosis nonviable-

pregnancies. 

Pemeriksaan USG anatomi janin trimester II: Ibu hamil usia 

kehamilan 18-22 minggu sebaiknya ditawarkan untuk 

skrining USG. Pemeriksaan USG rutin ini dapat 

menurunkan insiden kehamilan lewat waktu dan induksi 

persalinan, meningkatkan deteksi dini kehamilan ganda, 

meningkatkan deteksi dini kelainan kongenital mayor.  

Pemeriksaan USG pertumbuhan janin trimester III: Pada 

ibu hamil risiko rendah atau populasi tidak terseleksi USG 

rutin trimester III tidak berhubungan dengan perbaikan 

mortalitas perinatal. Pemeriksaan USG selektif bermanfaat 

untuk keadaan tertentu, seperti kecurigaan pertumbuhan 

janin terhambat, penilaian indeks cairan amnion untuk 

dugaan oligo atau polihidramnion, dan penilaian 

malpresentasi. Pemeriksaan rutin Doppler arteria 

umbilikalis pada ibu hamil risiko rendah atau populasi tidak 

terseleksi tidak menujukkan manfaat berarti. 

 

Gizi dan Makanan1 

Ibu hamil harus dianjurkan untuk mengonsumsi makanan 

gizi seimbang. Kebutuhan kalori meningkat 340-450 kkal 

per hari pada trimester kedua dan ketiga. Penambahan 

berat badan yang dianjurkan selama kehamilan yaitu  

11.5 sampai 16 kg pada ibu hamil dengan IMT normal. 

Pada studi observasional ditemukan bahwa penambahan 

berat badan di bawah yang direkomendasikan 

berhubungan dengan berat bayi lahir rendah dan 

persalinan preterm.  Penambahan berat badan di atas yang 

direkomendasikan berhubungan dengan risiko 

makrosomia, seksio sesaria dan retensi berat pasca 

melahirkan10. 

Suplementasi asam folat sejak 4 minggu sebelum konsepsi 

sampai 12 minggu kehamilan mencegah defek tuba 


 

neuralis. Dosis rekomendasi untuk pencegahan primer 

yaitu  0.4 mg per hari. Dosis untuk pencegahan sekunder 

pada perempuan dengan riwayat defek tuba neuralis pada 

anak sebelumnya yaitu  4 mg per hari. 

Beberapa otoritas menganjurkan suplementasi besi 

pranatal universal (27 sampai 30 mg per hari) sebab  

konsumsi rata-rata dan cadangan besi endogen sering 

tidak cukup untuk pemenuhan kebutuhan besi pada 

kehamilan dan sebab  defisiensi besi berhubungan dengan 

luaran kehamilan yang buruk, serta sebab  suplementasi 

cukup aman. Namun demikian belum cukup bukti yang 

mendukung atau menolak suplementasi rutin pada ibu 

hamil. Semua ibu hamil harus diskrining untuk anemia pada 

kunjungan pranatal pertama 

 

Tabel 11. Rekomendasi Suplementasi Makanan5 

Suplemen Rekomendasi Level Keterangan 

Kalsium Rekomendasi asupan harian 

1000 sampai 1300 mg per 

hari 

Suplementasi rutin kalsium 

untuk mencegah eklampsia 

tidak direkomendasikan. 

Suplementasi kalsium 

bermanfaat pada populasi 

berisiko tinggi hipertensi 

dalam kehamilan atau 

dengan asupan kalsium 

rendah 

A Suplementasi kalsium 

dapat menurunkan 

tekanan darah dan 

kejadian preeklamsia, 

namun  tidak untuk 

mortalitas perinatal 

Asam folat Suplementasi asam folat  

0.4-0.8 mg (4 mg untuk 

pencegahan sekunder) 

harus dimulai 1 bulan 

sebelum konsepsi 

 

AKG yaitu  600 mcg per 

hari 


Suplementasi 

mencegah defek tuba 

neuralis 

 

 

 

Defisiensi folat 

berhubungan dengan 

berat bayi lahir rendah, 

kelainan jantung 

kongenital dan anomali 

orofasial, solusio 

plasenta, dan abortus 

spontan 

Besi Ibu hamil harus diskrining 

untuk anemia dan diterapi, 

kalau perlu. 

 

Ibu hamil harus mendapat 


Anemia defsiensi besi 

berhubungan dengan 

persalinan preterm dan 

BBLR 


 

     

 

suplementasi besi 30 mg per 

hari 

 

Vitamin D Suplementasi vitamin D 

dapat dipertimbangkan pada 

ibu hamil dengan paparan 

matahari yang terbatas 

(misal pengguna purdah). 

Namun demikian bukti efek 

suplementasi masih 

terbatas. 

AKG 5 mcg per hari (200 IU 

per hari) 

C Defisiensi vitamin D 

jarang terjadi namun  

berhubungan dengan 

hipokalsemia neonatal 

dan osteomalasia 

maternal 

 

 

Dosis tinggi vitamin D 

bersifat toksik. 

 

Gaya Hidup1 

Olahraga 

Olahraga teratur selama kehamilan dengan risiko rendah 

bermanfaat sebab  meningkatkan kesehatan dan daya 

tahan tubuh ibu hamil. Namun tidak cukup data untuk ibu 

hamil risiko tinggi. Tidak ada laporan pengaruhnya 

terhadap persalinan preterm dan BBLR, atau luaran 

maternal dan perinatal lainnya. Pada meta-analisis, 

olahraga berhubungan dengan penambahan berat badan 

ibu hamil yang lebih rendah (sampai 600 g). 

Kemungkinan manfaat olahraga yaitu  memperbaiki fungsi 

kardiovaskuler, pembatasan pertambahan berat badan ibu 

hamil, mengurangi ketidaknyamanan muskuloskletal, 

menurunkan keluhan kram otot dan edema tungkai, 

stabilitas mood dan memperbaiki DMG dan hipertensi 

gestational. Manfaat untuk janin antara lain menurunkan 

massa lemak, memperbaiki toleransi stress, dan 

meningkatkan maturasi neurobehavioral. 

Olahraga ringan 20 menit, 5 kali sehari tidak memberikan 

dampak buruk. Olahraga dalam kehamilan meningkatkan 

denyut jantung (masih aman sampai 140 pada fungsi 

jantung yang normal, dapat bervariasi tergantung usia dan 

toleransi). Direkomendasikan melakukan jalan kaki, 

berenang, dan olahraga lain yang tidak berat. Hindari 

hipoglikemia dan dehidrasi. 

 

Perjalanan 

Konseling dilakukan tentang penggunaan sabuk pengaman 

di mobil, mencegah risiko tromboemboli vena selama 


 

perjalanan jauh dengan pesawat terbang dengan berjalan-

jalan dan pecegahan jatuh sakit dalam perjalanan. 

 

Hubungan seksual 

Hubungan seksual tidak berhubungan dengan luaran 

kehamilan yang buruk. Namun suami istri harus waspada 

bahwa hubungan seksual dapat membahayakan 

kehamilan. Semen yaitu  sumber prostaglandin. 

Pyosperma berhubungan dengan ketuban pecah dini dan 

orgasme serta stimulasi puting  susu meningkatkan 

kontraksi. 

 

Lain-lain 

Tabel 12. Masalah-masalah dalam kehamilan4,5 

Masalah Rekomendasi Level Keterangan 

Terbang Menaiki pesawat udara aman untuk 

ibu hamil sampai 4 minggu sebelum 

taksiran persalinan 

Lama perjalanan berhubungan 

denganrisiko trombosis vena 


 

Menyusui Menyusui terbaik untuk bayi. Menyusui 

kontraindikasi pada HIV, 

ketergantungan obat, dan pemakaian 

obat-obatan tertentu 

Konseling tingkah laku terstruktur dan 

program edukasi ASI meningkatkan 

kesuksesan menyusui 


 

Olahraga Ibu hamil harus menghindari olahraga 

yang berisiko jatuh atau 

membahayakan perut. 

Menyelam selama kehamilan tidak 

direkomendasikan 


Perawatan 

rambut 

Walaupun pewarnaan rambut tidak 

jelas berhubungan dengan malformasi 

janin, paparan terhadap tindakan ini 

harus dihindari pada kehamilan dini 

C  

Berendam 

air panas 

dan sauna 

Kemungkinan harus dihindari pada 

trimester pertama 

Paparan panas maternal pada 

kehamilan dini berhubungan dengan 

defek tuba neuralis dan keguguran 


Persalinan Semua ibu hamil harus dikonseling 

tentang apa yang harus dilakukan bila 

ketuban pecah, bila perssalinan 

dimulai, strategi manajemen nyeri, dan 

nilai dukungan pada persalinan 

C  

Obat 

bebas dan 

herbal 

Hanya sedikit obat yang aman untuk 

ibu hamil, khususnya pada trimester 

pertama 

C Risiko yang 

berhubung -

an dengan 


 

pengobatan 

individual 

harus 

dibahas 

berdasar  

kebutuhan 

pasien. 

Seks Hubungan seksual selama kehamilan 

tidak berhubungan dengan luaran 

kehamilan yang buruk 

B  

Alkohol Semua ibu hamil harus diskrining 

apakah peminum alkohol 

 

Tidak diketahui jumlah aman konsumsi 

alkohol selama kehamilan. Dianjurkan 

tidak minum alkohol 

 

 

Ada bukti 

bahwa 

konseling 

efektif untuk 

menurunkan 

konsumsi 

alkohol ibu 

hamil dan 

morbiditas 

bayinya 

Napza Harus diinformasikan potensial efek 

buruknya terhadap janin 

 

Rujukan ke unit detoksifikasi dapat 

diindikasikan. Methadone dapat 

menyelamatkan hidup pada 

perempuan tergantung opioid 

 

 

Ibu hamil 

dengan 

keter-

gantungan 

obat sering 

memerlukan 

intervensi 

khusus 

Merokok Semua ibu hamil harus diskrining 

apakah merokok atau tidak, konseling 

kehamilan khusus diberikan pada ibu 

hamil perokok 

A Konseling 

bahaya 

merokok  

dan strategi 

multikompo -

non efektif 

untuk 

menurunkan 

BBLR 

Bekerja Bekerja dengan berdiri cukup lama 

dan terpapar zat kimia tertentu 

berhubungan dengan komplikasi 

kehamilan 

B  

Vaksinasi 

Imunitas terhadap rubela, varisela, hepatitis B, influensa, 

tetanus dan pertusis harus dievaluasi saat kunjungan 

pertama. Pemberian vaksinasi idealnya diberikan sebelum 

konsepsi. Vaksin rekombinan, inaktivasi dan subunit, serta 

toksoid dan imunoglobulin tidak membahayakan 

perkembangan janin. Vaksin yang dilemahkan tidak boleh 

diberikan selama kehamilan. Vaksin hepatitis B aman 

diberikan saat kehamilan1. 


 

     

 

PANDUAN PEMERIKSAAN  

ULTRASONOGRAFI OBSTETRI 

DASAR  

 

 

Saat ini pemeriksaan ultrasonografi (USG) merupakan 

pemeriksa-an yang tidak terpisahkan atau sudah menjadi 

bagian dari perawatan antenatal. Pemeriksaan USG 

antenatal pada dasarnya yaitu  skrining untuk mendeteksi 

kelainan kongenital janin disamping kelainan pada 

plasenta, tali pusat dan cairan ketuban yang dapat 

berdampak pada luaran kehamilan khususnya pada 

kualitas hidup kelak di kemudian hari. 

Mengingat pentingnya tujuan skrining antenatal ini  

maka perlu disusun panduan yang sampai saat ini  belum 

kita miliki. Panduan ini merupakan Panduan Pemeriksaan 

Ultrasonografi Obstetri Dasar Antenatal yang meliputi: 

waktu pemeriksaan, apa saja yang perlu dinilai sampai 

aspek dokumentasi, peralatan dan keamanan. 

Walaupun tidak mungkin untuk  menemukan semua kelai-

nan kongenital pada janin dan atau patologi kehamilan 



 

namun  setidaknya panduan ini dapat memaksimalkan upaya 

deteksi kelainan, proses tumbuh kembang janin pada 

kehamilan  trimester satu, dua dan tiga. 

Panduan ini akan sangat efektif bila dilaksanakan secara 

konsisten dan juga sangat bergantung kepada kompetensi 

pemeriksa. Untuk itu perlu selalu ada peningkatan 

pengetahuan dan ketrampilan dari pemeriksa terutama di 

lini terdepan pelayanan obstetri.  Pada kasus-kasus 

dengan kecurigaan kelainan kongenital pada janin atau 

pada kehamilan dengan risiko tinggi terjadinya kelainan 

kongenital janin perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih 

mendalam di senter rujukan dengan spesifikasi peralatan 

dan kompetensi pemeriksa yang lebih tinggi. 

 

TRIMESTER I (8-12 minggu) 

 

Pemeriksaan USG pada trimester pertama ini umumnya 

dilakukan dengan probe transvaginal (5-7.5 MHz) walaupun 

demikian pelaksanaan dengan probe transabdominal pun 

dapat dilakukan. Tujuan utama skrining pada trimester 

pertama ini yaitu  untuk : 

• Memastikan kehamilan intrauterin 

• Menentukan umur kehamilan 

• Mendeteksi aktifitas kardiak 

• Mendeteksi kehamilan ganda  

• Mendeteksi kelainan perkembangan embrio 

 

a. Uterus dan adneksa dievaluasi untuk terlihat tidaknya 

kantung gestasi (gestational sac = GS). Bila terlihat, 

tentukan lokasinya dan periksa apakah sudah 

didapatkan yolk sac dan embrio. Bila embrio sudah 

terlihat maka ukur crown-rump length (CRL), bila belum 

terlihat maka ukur diameter rata-rata GS. Perlu 

penilaian secara hati-hati bila struktur yolk sac dan 

embrio belum terlihat sebab  kemungkinan 

gambarannya dapat menyerupai pseudo-GS pada 

kasus kehamilan ektopik. Ukuran CRL yaitu  

parameter yang paling akurat untuk menentukan umur 

kehamilan pada trimester pertama dengan 

 

Panduan Pemeriksaan USG Obstetri Dasar      25 

 

penyimpangan ± 6 hari dibandingkan dengan 

menggunakan ukuran rata-rata diameter GS (± 10 hari) 

maupun diameter biparietal (± 8 hari). Penentuan umur 

kehamilan ini penting untuk dilakukan mengingat 

beberapa alasan medik diantaranya: pertumbuhan janin 

terhambat (intrauterine growth restriction = IUGR) 

hanya dapat didiagnosis bila sejak awal umur 

kehamilan sudah dapat dipastikan dan dapat 

menghindarkan kesalahan melakukan induksi 

persalinan pada kasus-kasus yang diduga kehamilan 

lewat bulan (serotinus). 

b. Tentukan ada tidaknya aktifitas kardiak. Dengan probe 

transvaginal aktifitas kardiak sudah harus terlihat pada 

embrio dengan panjang ± 5 mm. Pada embrio dengan 

panjang < 5 mm dan belum terlihat aktifitas kardiak 

maka diperlukan pemeriksaan ulang untuk memastikan 

kehidupan embrio. 

c. Pastikan jumlah embrio. Deteksi kehamilan ganda 

dengan USG didasarkan pada jumlah kantung amnion 

dan jenis plasentasi. Monokorion-monoamniotik (MM) 

dan monokorion-diamniotik (MD) mempunyai risiko 

yang lebih tinggi terjadinya twin to twin transfusion 

syndrome (TTTS) dan insufisiensi plasenta dibanding 

dikorion-diamniotik (DD). Pada umur kehamilan 10 

sampai 24 minggu dapat dideteksi adanya lambda sign 

yaitu proyeksi jaringan korion pada membrane placental 

junction antara kedua janin. Bila tidak ditemukan tanda 

ini berarti kemungkinan yaitu  MD. 

d. Nilai apakah terdapat kelainan dan  gangguan tumbuh 

kembang janin. Dicurigai terdapat gangguan per-

kembangan pada awal kehamilan dengan prognosis 

yang tidak baik bila didapatkan tanda-tanda sebagai 

berikut : 

• ukuran GS lebih kecil dari yang seharusnya 

• deformitas GS 

• tidak tampak embrio pada rata-rata diameter GS    

±3 cm 

• tidak tampak aktifitas kardiak pada umur kehamilan 

± 7 minggu 

 

Panduan Pemeriksaan USG Obstetri Dasar      26 

 

• tidak ada peningkatan rata-rata diameter GS dalam 

waktu 1 minggu pengamatan.  

Kelainan janin dapat pula  dideteksi pada akhir 

kehamilan trimester pertama, seperti anensefal dan 

defek dinding abdomen. Pemahaman tentang 

perkembangan embrio (embriologi) menjadi dasar 

penting untuk mampu mendeteksi abnormalitas janin. 

e. Struktur uterus, adneksa dan daerah  cul de sac juga 

haruslah dievaluasi.  Bila didapatkan massa pada 

adneksa atau mioma, catat lokasi dan ukurannya. Bila 

didapatkan cairan pada cul de sac perlu juga dilihat 

daerah panggul dan sub-hepatik untuk menentukan 

adanya cairan bebas intrabdominal. 

f. Pemeriksaan lain yang perlu dilakukan yaitu  

pengukuran nuchal translucency (NT) dan deteksi nasal 

bone (NB) namun  untuk pengukuran keduanya dibahas 

pada panduan khusus. 

 

TRIMESTER II (18 - 22 minggu) 

 

Tujuan utama dari skrining pada trimester kedua ini yaitu  

untuk : 

• memastikan kehamilan tunggal atau ganda 

• memastikan viabilitas 

• menilai parameter pertumbuhan (biometri) 

• mendeteksi kelainan janin 

• menilai cairan ketuban 

• menilai struktur dan letak plasenta 

 

a. Memastikan kehamilan tunggal atau ganda dan 

viabilitasnya.  Tentukan jumlah janin, aktifitas dan ritme 

kardiak. Pada kehamilan ganda periksa korionisitas dan 

amniositasnya, perbandingan ukuran antara masing-

masing janin, estimasi volume cairan ketuban pada 

masing-masing kantong dan bila terlihat, catat jenis 

kelamin masing-masing janin. 

b. Menilai parameter pertumbuhan janin. 

Ukur biometri janin untuk menilai pertumbuhan. Minimal 

parameter yang digunakan yaitu  diameter biparietal 

 

Panduan Pemeriksaan USG Obstetri Dasar      27 

 

(biparietal diameter = BPD), lingkar abdomen 

(abdominal circumference = AC) dan panjang diafisis 

femur (femur length = FL). Perlu diperhatikan bahwa 

variabilitas penentuan umur kehamilan dengan 

mengukur biometri janin makin besar penyimpangan-

nya seiring dengan bertambahnya umur kehamilan. 

Demikian juga pada janin dengan kelainan struktural 

(misal: hidrosefalus atau displasia skeletal) pengukuran 

biometri tidak dapat dijadikan dasar dalam menentukan 

umur kehamilan. Perbedaan yang signifikan antara 

umur kehamilan dengan biometri janin dapat 

mengarahkan pada kecurigaan kelainan pertumbuhan 

janin. Kecurigaan kelainan pertumbuhan janin bila 

didapatkan ketidaksesuaian hasil pengukuran  dengan 

umur kehamilan (lebih baik bila sebelumnya umur 

kehamilan sudah dapat dipastikan). Ketidaksesuaian 

baik yang proporsional maupun disproporsional 

mengarah pada kemungkinan adanya kelainan 

kromosom. 

c. Mendeteksi kelainan janin 

Mendeteksi kelainan janin yaitu  dengan cara 

melakukan survei anatomi janin. Umumnya dilakukan 

sesudah  umur kehamilan 18 minggu. Beberapa keadaan 

yang dapat berpengaruh terhadap hasil pemeriksaan  

yaitu  ukuran, posisi dan gerakan janin, ketebalan dan 

adanya jaringan parut pada dinding abdomen ibu serta 

acoustic shadowing.  

Daerah atau struktur janin yang minimal harus dinilai 

yaitu  : 

1. Kepala dan leher 

a. Serebelum 

b. Pleksus koroidalis 

c. Sisterna magna 

d. Ventrikel lateralis 

e. Falks serebri 

f. Kavum septum pelusidum 

2. Toraks 

 

Panduan Pemeriksaan USG Obstetri Dasar      28 

 

Pemeriksaan dasar jantung meliputi 4 bilik jantung 

(four chambers view). Bila memungkinkan periksa 

pula outflow tracts dari jantung 

3. Abdomen 

a. Gaster (ada tidaknya, ukuran dan situsnya) 

b. Ginjal 

c. Vesika urinaria 

d. Tali pusat (jumlah pembuluh darah 

didalamnya dan insersinya pada abdomen 

4. Kolumna vertebralis (servikal, torakal, lumbal dan 

sakral) 

5. Ekstremitas superior dan inferior 

6. Jenis kelamin 

Diperiksa pada kehamilan yang low risk kecuali 

pada kehamilan ganda. 

d. Menilai cairan ketuban. 

Penilaian volume cairan ketuban merupakan bagian 

penting dari skrining USG. Perlu diperhatikan variasi 

fisiologis volume cairan ketuban dengan umur 

kehamilan. Kelainan jumlah cairan ketuban baik 

polihidramnion (7.9 – 18%) maupun oligohidramnion (7 

– 13%) berkaitan erat dengan kejadian kelainan janin. 

Polihidramnion umumnya disebab kan  kelainan 

selubung saraf (neural tube defect) dan traktus digestif 

sedangkan oligohidramnion disebab kan kelainan ginjal 

dan traktus urinarius. 

e. Menilai struktur dan letak plasenta 

Kelainan struktur plasenta merupakan salah satu tanda 

kelainan janin terutama bila didapatkan vakuol-vakuol 

yang cukup besar disebab kan hal ini berhubungan 

dengan triploidi. Penentuan letak plasenta pada 

timester kedua mempunyai makna penting bila 

didapatkan plasenta previa sentralis. Sedangkan 

plasenta marginalis atau letak rendah kemungkinan 

bisa berubah letaknya seiring dengan pertambahan 

besar uterus. Perlu diperhatikan bahwa penentuan letak 

plasenta pada awal kehamilan sering tidak 

berhubungan dengan letaknya saat persalinan. 

Overdistensi vesika urinaria ibu atau adanya kontraksi 

 

Panduan Pemeriksaan USG Obstetri Dasar      29 

 

pada segmen bawah uterus dapat menyebabkan 

kesalahan interpretasi letak plasenta. 

Periksa tali pusat dan tentukan jumlah pembuluh darah 

didalamnya. Bila ditemukan arteria umbilikalis tunggal 

(single umbilical artery) dapat berhubungan dengan 

kejadian kelainan janin pada 7-50% kasus. 

 

Pada skrining trimester II ini struktur uterus dan adneksa 

tetap harus dievaluasi untuk kemungkinan ditemukannya 

patologi yang dapat berpengaruh pada kehamilan, 

misalnya mioma dan atau  massa pada adneksa.  

 

TRIMESTER III (28 - 32 MINGGU) 

 

Skrining pada trimester ketiga ini meliputi semua 

pemeriksaan yang dilakukan pada skrining kedua ditambah 

dengan penentuan posisi janin. Tujuan pemeriksaan pada 

trimester ketiga ini yaitu  : 

• Memastikan kehamilan tunggal atau ganda 

• Memastikan viabilitas janin 

• Mengevaluasi pertumbuhan janin 

• Menentukan posisi janin 

• Mendeteksi kelainan janin yang late onset 

• Mengevaluasi struktur dan letak plasenta 

• Mengevaluasi cairan ketuban 

 

a. Mengevaluasi pertumbuhan janin 

Penentuan ada tidaknya kelainan pertumbuhan janin, 

baik pertumbuhan janin terhambat atau makrosomia 

yaitu  hal penting sebagai dasar untuk melakukan 

pengelolaan klinik selanjutnya. Pertumbuhan janin 

dinilai dengan mengukur biometri janin. Pengukuran 

biometri sama dengan yang dilakukan pada trimester 

kedua dengan tetap memperhatikan tinggi potongan 

dan titik yang tepat untuk melakukan pengukuran.  

Pertumbuhan janin terhambat secara ringkas / mudah 

yaitu  bila hasil pengukuran lingkar abdomen di bawah 

persentil  ke 5 dan makrosomia bila hasilnya di atas 

persentil ke 95 dari kurva normal lingkar abdomen 

 

Panduan Pemeriksaan USG Obstetri Dasar      30 

 

sesuai dengan umur kehamilan. Evaluasi pertumbuhan 

janin dapat juga didasarkan atas estimasi berat badan 

janin (dengan berbagai formula yang ada) dan 

dibandingkan dengan nomogram yang banyak 

dipublikasikan.  

b. Menentukan posisi / letak janin 

Menentukan posisi janin dapat menjadi dasar bagi 

pengelolaan obstetrik selanjutnya. Penting untuk 

dievaluasi kemungkinan pemicu  bila didapatkan 

kelainan posisi / letak janin. 

c. Mendeteksi kelainan janin yang late onset 

Upaya deteksi kelainan janin yang late onset (sebagai 

contoh : perbedaan pertumbuhan pada kehamilan 

ganda, hidrosefalus, hidronefrosis, dll) penting untuk 

dilakukan sebab  bila ditemukan dapat dipersiapkan 

secara lebih dini  penatalaksanaannya. Deteksi 

kelainan janin ini dengan menilai daerah dan struktur 

sebagaimana skrining pada trimester kedua. 

d. Mengevaluasi struktur dan letak plasenta 

Disamping penting untuk menentukan posisi janin, 

skrining trimester ketiga juga penting untuk menentukan 

struktur dan letak plasenta. Kemungkinan plasenta 

letak rendah atau plasenta previa / marginalis  perlu 

ditentukan pada trimester ketiga. Bila perlu dilakukan 

dengan probe transvaginal. Ketebalan plasenta juga 

dapat merupakan tanda abnormalitas kehamilan. 

Plasenta yang tebal (> 5 cm) menunjukkan 

kemungkinan fetal hidrops sedangkan plasenta yang 

tipis / kecil mengarah pada insufisiensi plasenta. 

e. Mengevaluasi cairan ketuban 

Volume cairan ketuban dapat ditentukan baik secara 

kualitatif maupun semikuantitatif dengan mengukur 

indeks cairan ketuban. Kelainan volume cairan ketuban 

pada trimester ketiga dapat berpengaruh pada hasil 

akhir kehamilan. Polihidramnion misalnya dapat menye-

babkan persalinan prematur sedangkan oligohidram-

nion merupakan tanda telah terjadi insufisiensi 

plasenta. 

 

 

Panduan Pemeriksaan USG Obstetri Dasar      31 

 

SPESIFIKASI PERALATAN 

 

Peralatan yang digunakan sebaiknya berupa real time 

ultrasound (agar dapat menilai viabilitas) dengan probe 

yang memadai. Umumnya 3 – 5 Mhz untuk probe trans-

abdominal dan 5 – 10 Mhz untuk probe transvaginal. 

 

 

 

KEAMANAN 

 

Program skrining ini bila dilakukan dengan benar dan 

menggunakan prinsip seting paparan USG terendah yang 

bisa dilakukan (as low as reasonable achievable principle) 

yaitu  aman bagi janin. Tidak diperkenankan melakukan 

pemeriksaan USG tanpa tujuan yang jelas (misalnya 

secara rutin melakukan pemeriksaan USG setiap kali 

pasien datang memeriksakan diri).   

Pemeriksaan USG  di luar program skrining ini  di atas 

dapat dilakukan hanya bila ada indikasi medis, diantaranya: 

• perdarahan 

• nyeri pelvis 

• kecurigaan mola hidatidosa 

• kecurigaan massa pada pelvis atau kelainan uterus 

• kecurigaan inkompetensi serviks 

• sebagai alat bantu melakukan versi luar 

• ketuban pecah dini 

 

DOKUMENTASI 

 

Dokumentasi merupakan salah satu faktor penting dalam 

skrining USG obstetri. Data yang perlu didokumentasikan 

diantaranya: identitas pasien, tanggal pemeriksaan, 

gambar-gambar beserta orientasinya, hasil-hasil penguku-

ran biometri dan catatan kelainan yang ditemukan (bila 

ada). Kadang diperlukan rekaman video terutama pada 

kasus yang sulit untuk kepentingan konsultasi. 

 

 

 

 

 

KEHAMILAN DENGAN 

DIABETES MELITUS  

 

 

 

Diabetes Mellitus (DM) merupakan salah satu penyulit 

medik yang sering terjadi saat kehamilan. Angka 

kejadiannya 3-5% dari semua kehamilan. Kehamilan 

dengan DM terdiri dari Diabetes Gestasi (DMG) atau 

intoleransi karbohidrat yang ditemukan pertamakali saat 

hamil, yang terjadi pada hampir 90% kasus, sedangkan 

yang 10% lainnya yaitu  Diabetes Pragestasi (DMpG) 

yang meliputi DM tipe 1 dan tipe 2. Peningkatan angka 

kematian dan angka kesakitan perinatal pada kehamilan 

dengan DM berkorelasi langsung dengan kondisi 

hiperglikemia ibu. Kehamilan merupakan keadaan yang 

diabetogenik. Glukosa melewati plasenta dengan cara 

difusi (facilitated diffusion), sehingga hiperglikemia pada ibu 

akan berakibat hiperglikemia pada janin dan keadaan ini 

akan berdampak pada hiperplasi sel beta Langerhans dari 

pankreas janin sehingga terjadi hiperinsulin janin yang 

dikaitkan dengan kejadian makrosomia janin (hipotesis 

Pedersen). Freinkel mengemukakan hipotesis bahwa 

hiperglikemia perikonsepsi akan menyebabkan kelainan 

bawaan janin dan hiperglikemia pada trimester akhir 

menyebabkan viseromegali atau makrosomia. 

Kelainan bawaan janin saat ini merupakan salah satu 

pemicu  kematian perinatal pada 10% kasus kehamilan 

dengan DM tipe 1 dan tipe 2 yang tidak teregulasi dengan 

baik. Bayi-bayi dengan makrosomia akan terjadi 

kelambatan maturasi paru janin yang akhirnya juga 

meningkatkan kejadian Respiratory Distress Syndrome 

(RDS). Kejadian kematian janin intrauterin pada kasus-

kasus kehamilan dengan DM juga dikaitkan dengan kondisi 

hiperglikemia yang berakhir dengan keadaan lactic 

acidosis. 

Sampai saat ini penatalaksanaan DM pada kehamilan, cara 

penapisan, menegakkan diagnosa, perawatan antenatal 

maupun cara persalinannya masih belum ada kesepakatan 

diantara para dokter spesialis kebidanan di Indonesia. 

Untuk itu diperlukan suatu panduan agar mencapai 

kesamaan pendapat tentang penatalaksanaan kehamilan 

dengan DM sehingga dalam perawatan kasus ini  

akan mencapai hasil yang optimal bagi ibu dan anak. 

 

KLASIFIKASI DIABETES MELLITUS 

 

American Diabetes Association (ADA) secara garis besar 

membuat klasifikasi DM pada umumnya berdasar  

etiologinya (Perkeni 2006, ADA 2007) 

 

Tabel 1. Klasifikasi DM menurut etiologinya. 

 

I. DM tipe 1. (Kerusakan sel Beta yang menjurus ke 

defisiensi insulin yang absolut). 

a. Immuned Mediated 

b. Idiopathic 

 

II. DM tipe 2. (Terjadi resistensi insulin dengan defisiensi 

insulin yang relatif sampai dengan suatu gangguan pada 

sekresi insulin yang disertai resistensi insulin) 

 

 

III. DM tipe spesifik 

a. Kelainan genetik fungsi sel Beta 

b. Kelainan genetik kerja insulin 

c. Kelainan eksokrin pankreas 

d. Endokrinopati 

e. Drug/Chemical induced 

f. Infeksi 

g. Bentuk lain dari immune-mediated Diabetes Mellitus 

yang jarang. 

h. Kelainan-kelainan genetik yang menyertai DM 

IV. Diabetes Gestational. 

 

PATOFISIOLOGI 

Adaptasi maternal selama ibu hamil menunjukkan ciri-ciri 

yang khas yakni terjadinya hipoglisemia puasa, 

hiperglisemia postprandial, resistensi insulin (Gambar 1). 

 

 

Gambar 1. Adaptasi maternal dalam metabolisme karbohidrat  

                    selama hamil. 

 

Patofisiologi DM pragestasi sama dengan patofisiologi DM 

tipe 1 atau 2. Hiperglikemia pada saat perikonsepsi akan 

menyebabkan  gangguan pertumbuhan organ. 

 

 


                                   

 

 

Gambar 2. Potential teratology (Hipotesis Freinkel) 

 

Hiperglikemia pada trimester 3 menyebabkan 

terhambatnya sintesa surfaktan oleh sel pneumosit II, 

sehingga menyebabkan keterlambatan dalam pematangan 

paru janin ( Delayed Lung Maturation) yang berakibat 

terjadinya RDS pasca lahir. Makrosomia diakibatkan oleh 

sebab  masuknya glukosa yang tinggi ke sirkulasi janin 

yang merangsang hiperplasi sel beta Langerhans janin 

sehingga terjadi hiperinsulin pada janin yang pada 

gilirannya akan menyebabkan viseromegali (Hipotesis 

Pedersen) 

(Gambar 3).   

 

 

Gambar 3. Hipotesis Pedersen 

Patofisiologi DMG (yang terjadi pada 2-4% wanita hamil), 

resistensi insulin terjadi sebab  efek diabetogenik dari 

kehamilan (Tabel 1) yang tidak bisa diimbangi oleh sel 

beta Langerhans. 

 

 

 

Tabel 1. Resistensi insulin selama hamil  

 

PERUBAHAN HORMONAL EFEK THD.METAB. KH. 

DINI (S/D 20 MINGGU) 

Estrogen 

Progesteron 

Hiperplasi sel Beta 

Sekresi Insulin 

 

Tissue Glycogen Storage 

Hepatic Glucose Production 

Peripheral Glucose Utilization 

Fasting Plasma Glucose 

LAMBAT (20 – 40 MINGGU) 

HPL 

Prolaktin 

Bound and Free Cortisol 

 

“Diabetogenics” 

Glucose Tolerance 

Insulin Resistance 

Hepatic Glycogen Stores 

Hepatic Glucose Production 

 

Patofisiologi terjadinya penyulit jangka panjang DMG 

yaitu  melalui mekanisme fetal programming dari Barker 

yang menyatakan bahwa ancaman pada periode kritis 

tertentu akan diakomodasi (adaptasi janin) yang terbawa 

seumur hidup. Bayi-bayi yang mengalami IUGR akan lebih 

mudah berkembang menjadi DM, gangguan jantung dan 

penyakit kardiovaskuler yang lain. Demikian juga bayi 

makrosomiaaa akan lebih mudah berkembang menjadi 

DM dan obesitas dikemudian hari. 

 

DIABETES MELLITUS PRAGESTASI 

 

BATASAN 

Diabetes pragestasi (DMpG) terjadi sebelum terjadinya 

kehamilan (DM Tipe 1 dan 2). Terminologi lain yaitu  

Overt atau Preexisting DM. 

 

ANGKA KEJADIAN 

Sekitar 0,5% 

 

 

DIAGNOSIS 

Pada anamnesa ada riwayat DM Tipe 1 atau Tipe 2, 

pemakaian obat anti-diabetes Insulin atau OAD dan diet 

DM sebelum terjadinya kehamilan. 

 


 

RISIKO 

Risiko maternal dan perinatal akan meningkat dengan 

adanya: 

1. Vaskulopati, misalnya adanya retinopati, nefropati 

dan hipertensi 

2. Regulasi glukosa yang jelek 

3. Faktor prognostik yang jelek seperti ketoasidosis, 

pielonefritis, hipertensi dalam kehamilan (HDK) dan 

perawatan antenatal yang jelek. 

 

PERAWATAN SEBELUM KEHAMILAN 

Tujuan. 

1. Regulasi glukosa untuk menurunkan risiko 

terjadinya kelainan bawaan janin dan keguguran. 

Waspada terjadinya hipoglikemi. 

2. Menentukan adanya vaskulopati dengan evaluasi 

opthalmologi, penyakit jantung koroner, fungsi 

ginjal, fungsi tiroid. 

3. Penyuluhan pasien dan suami tentang rencana 

perawatan pada kasus kehamilan dengan DM. 

4. Pemberian asam folat untuk pencegahan risiko 

terjadinya defek pada susunan syaraf janin. 

5. Konseling kontrasepsi. 

 

DETEKSI DAN EVALUASI KELAINAN BAWAAN JANIN 

1. Pemeriksaan HbA1C ibu pada trimester 1 untuk 

mengetahui regulasi glukosa darah 3 bulan terakhir. 

2. Pemeriksaan AFP pada UK 16 minggu untuk 

memperkirakan kemungkinan adanya kelainan 

bawaan janin. 

3. USG pada UK 13-14 minggu untuk mendeteksi 

anensefalus. 

4. USG pada UK 18-20 minggu untuk pemeriksaan 

struktur jantung janin termasuk pembuluh darah 

besar untuk mendeteksi kemungkinan kelainan 

jantung bawaan. 

 

  

 

PERAWATAN ANTENATAL 

A. Regulasi gula darah. 

Yang paling penting selama perawatan kehamilan 

yaitu  regulasi glukosa darah. 

 

Kadar glukosa yang diharapkan selama hamil : 

 Kadar rata-rata   100 mg/dL 

 Sebelum makan pagi   < 95 mg/dL 

 Sebelum makan siang,  

 makan malam, sebelum tidur  < 100 mg/dL 

 1 jam sesudah  makan   < 140 mg/dL 

 2 jam sesudah  makan   < 120 mg/dL  

  

1. Monitoring kadar glukosa darah (kapiler) harian, 

baik puasa, sebelum makan siang, makan malam 

dan saat menjelang tidur. 

2. Monitoring kadar glukosa darah (kapiler) 1 jam atau 

2 jam sesudah  makan. 

3. Pemeriksaan kadar HbA1C (Glycosylate Haemo-

globin) tiap semester = 6%. 

 

B. Terapi Insulin. 

- Multiple Insulin Injection. 

- Continuous-subcutaneous insulin infusion (insulin 

pump).  

- Insulin reguler lispro, diberikan secara continuous 

basal rate dan bolus pada pasien dengan kepatuhan 

tinggi. 

 

C. Diet yang dianjurkan. 

- Rencana : 3 kali makan dan 3 kali snack 

- Kalori : 30-35 kcal/kg berat badan normal  

 Total 2000-2400 kcal/hari 

- Komposisi : Karbohidrat 40-50%, kompleks dan tinggi    

serat Protein 20%, Lemak 30-40% (asam 

lemak jenuh < 10%). 

- Pertambahan berat badan ibu 10-11 kg. 

D. Pedoman penggunaan insulin dan asupan karbohidrat. 

  - 1 unit rapid-acting insulin akan menurunkan glukosa 

darah 30 mg/dL 

Kehamilan dengan Diabetes Melitus      41 

 

- 10 g karbohidrat akan meningkatkan glukosa darah 

30 mg/dL (1 unit insulin rapid acting diberikan pada 

pemberian karbohidrat 10g) 

 

E. Pemantauan janin. 

Dilakukan pemantauan kesejahteraan janin antenatal 

untuk mencegah kematian janin 

1. Profil Biofisik Janin. 

2. Pemeriksaan USG untuk memantau pertumbuhan 

janin (makrosomia/PJT) 

3. Amniosentesis bila diperlukan, untuk memperkira-kan 

maturasi paru janin bila direncanakan untuk seksio 

elektif sebelum 39 minggu. 

 

RENCANA PERSALINAN 

 

Saat persalinan. 

Pengelompokan risiko kehamilan dengan DM ini ditujukan 

ke arah risiko terjadinya kematian janin dalam rahim. 

 

1. Risiko rendah. 

- regulasi baik 

- tidak ada vaskulopati 

- pertumbuhan janin normal 

- pemantauan kesejahteraan janin antepartum baik 

- tidak pernah melahirkan mati (stillbirth) 

Persalinan diperbolehkan sampai UK 40 minggu. 

 

2. Risiko tinggi. 

- regulasi jelek 

- ada komplikasi vaskulopati 

- pertumbuhan janin abnormal (makrosomia/PJT) 

- polihidramnion 

- pernah lahir mati (stillbirth) 

Pertimbangkan untuk terminasi kehamilan pada UK 38 

minggu (bila test maturasi paru janin positip). 

 

 

  

 

Cara persalinan 

1. Pada kasus-kasus risiko rendah diperbolehkan 

melahirkan ekspektatif spontan pervaginam sampai 

dengan usia hamil aterm 

2. Pada kasus-kasus risiko tinggi direncanakan terminasi 

pada UK 38 minggu dengan pemberian kortikosteroid 

untuk pematangan paru janin. Cara persalinan 

tergantung indikasi obstetri. 

3. Pada kasus-kasus dengan makrosomia, berat janin 

≥4500 g dapat dipertimbangkan untuk SC elektif. 

 

Regulasi glukosa intrapartum 

1. Periksa kadar glukosa darah (kapiler) setiap jam dan 

pertahankan selalu dibawah 110 mg/dL. 

2. Kontrol glukosa selama proses persalinan (lihat tabel) 

 

Tabel 2. Kontrol glukosa selama kala I 

              pada pasien dengan DMpG. 

 

 Insulin (IU/h) Glucose (g/h) 

Fase latent 

Fase aktif 

10 

 

KONTRASEPSI PADA DM Pragestasi  

(DM tipe 1 dan tipe 2). 

 

1. Pil KB Kombinasi 

- Pil KB dosis rendah pada pasien tanpa vaskulopati 

- Jangan diberikan pada perokok dan hipertensi 

2. Pil progesteron diperbolehkan pada pasien dengan 

vaskulopati. 

3. AKDR tidak berpengaruh terhadap kontrol glukosa 

maupun vaskulopati 

4. Sterilisasi dianjurkan pada pasien dengan vaskulopati 

yang berat. 

 

 

 

 

DIABETES MELLITUS GESTASI 

 

BATASAN 

Diabetes Gestasi (DMG) didefinisikan sebagai gangguan 

toleransi karbohidrat dalam berbagai variasi yang 

ditemukan pertama kali saat kehamilan. Hal itu tidak 

menyingkirkan kemungkinan bahwa intoleransi glukosa 

mungkin sudah terjadi sebelum kehamilan. 

 

ANGKA KEJADIAN 

Bervariasi antara 2 - 5% 

 

FAKTOR RISIKO 

Risiko rendah 

a. Usia < 25 tahun 

b. Berat badan normal sebelum hamil 

c. Tidak ada riwayat keluarga/orang tua DM 

d. Tidak ada riwayat kelainan toleransi glukosa 

e. Tidak ada riwayat obstetri yang jelek 

f. Bukan dari kelompok etnis dengan prevalensi tinggi 

untuk DM  

Risiko tinggi 

a. Usia > 30 tahun 

b. Obesitas 

c. Polycystic ovary syndrome 

d. Kehamilan yang lalu ada intoleransi glukosa 

e. Kehamilan yang lalu dengan bayi besar (> 4000g) 

f. Riwayat kematian janin dalam rahim yang tidak 

diketahui sebabnya 

g. Keluarga dengan DM tipe 2 (first-degree relatives) 

h. Dari kelompok etnis dengan prevalensi tinggi untuk 

DM antara lain : Hispanic, African, Native American 

dan South East Asian. 

 

SKRINING DAN DIAGNOSIS 

Skrining dilakukan hanya pada wanita hamil dengan risiko 

tinggi untuk DM (ADA). Dengan alasan bahwa orang 

Indonesia termasuk kelompok etnis Asia Tenggara maka 

kita menganut skrining universal (ACOG) yakni dilakukan 

untuk setiap ibu hamil dimulai sejak kunjungan pertama 


 

(trimester 1) untuk menapis DMpG. Bila negatif maka harus 

diulangi pada UK 24-28 minggu untuk menapis DMG. 

Skrining dan diagnosis yang direkomendasikan yaitu  

pemeriksaan satu tahap (One Step Approach menurut 

WHO) yakni dengan Tes Toleransi Glukosa Oral (TTGO), 

dengan memberikan beban 75 gram glukosa anhidrus 

sesudah  berpuasa selama 8 – 14 jam. 

Dinyatakan DM positif apabila hasil glukosa puasa = 126 

mg/dL dan 2 jam = 200 mgh/dL. Bila hasil negatif diulangi 

dengan cara pemeriksaan yang sama pada UK 24-28 

minggu. 

 

PENYULIT 

1. Ibu : 

- DM menetap sampai sesudah  persalinan (DM tipe 2). 

- Preeklamsia 

- Polihidramnion 

2. Janin dan Neonatus : 

- Makrosomia & trauma persalinan 

- Hipoglikemia, hipokalsemia dan hiperbilirubinemia 

neonatal 

- Jangka panjang bayi dikemudian hari mudah 

berkembang penyakit DM, kardiovaskuler, obesitas 

(Hipotesis Barker). 

 

PERAWATAN ANTENATAL 

1. Program perawatan kasus DMG dilaksanakan secara 

multi-disiplin yang terdiri dari Bagian Kebidanan, 

Penyakit Dalam, Gizi, Neonatus dan Anestesi. 

2. Perawatan antenatal, kunjungan setiap 2 minggu 

sampai dengan UK 36 minggu kemudian 1 minggu 

sekali sampai dengan aterm (bila kadar glukosa darah 

terkendali dengan baik). 

3. Target glukosa darah senormal mungkin dengan kadar 

glukosa puasa = 100 mg/dL dan 2 jam pp = 140 mg/dL 

yang dicapai dengan diet, olahraga dan insulin. 

4. Obat Anti Diabetes (OAD) tidak dianjurkan oleh sebab  

dapat menembus barier plasenta, dikawatirkan efek 

teratogenik dan lebih merangsang sel beta Langerhans 

pada janin. 


 

 

PERAWATAN SELAMA PERSALINAN 

1. Untuk pasien yang kadar glukosa terkendali dengan diet 

saja diperbolehkan melahirkan sampai UK aterm. Bila 

sampai UK 40 minggu belum terjadi persalinan maka 

mulai dilakukan pemantauan kesejahteraan janin 2 kali 

seminggu.  

2. Pasien dengan HDK dan pernah stillbirth sebelumnya 

harus dilakukan pemantauan kesejahteraan janin 2 kali 

seminggu mulai usia hamil 32 minggu 

3. Perkiraan berat lahir secara klinis dan pemeriksaan 

USG dilakukan untuk mendeteksi adanya tanda-tanda 

makrosomia. Untuk mengurangi kelainan janin akibat 

trauma kelahiran dianjurkan untuk mempertimbangkan 

SC elektif pada taksiran berat janin ≥ 4500 g.  

4. Pasien dengan DMG yang dalam terapi insulin disertai 

diet untuk mengendalikan kadar glukosa direncanakan 

program pemantauan/evaluasi janin antenatal 

(antepartum fetal surveillance) seperti pada DMpG. 

5. Perawatan intensif untuk mendeteksi dan mengatasi 

kejadian hipoglikemia, hipokalsemia dan 

hiperbilirubinemia pada neonatus. 

 

PERAWATAN PASCA PERSALINAN 

1. Evaluasi untuk mengantisipasi intoleransi karbohidrat 

yang menetap. 

- Self monitoring untuk mengevaluasi profil glukosa 

darah 

- Pada 6 minggu pasca persalinan, dilakukan TTGO 

dengan beban 75 g glukosa (lihat persyaratan 

diagnosis DMG) kemudian diukur kadar glukosa darah 

(plasma) saat puasa dan 2 jam. 

- Bila TTGO diatas menunjukkan kadar yang normal, 

evaluasi lagi sesudah  3 tahun dengan kadar glukosa 

puasa. Dianjurkan untuk berolah raga teratur untuk 

menurunkan berat badan pada yang obesitas. 

2. Kontrasepsi oral dosis rendah ( Low-dose pils) 

dilaporkan tidak pernah berpengaruh terhadap kejadian 

intoleransi karbohidrat. 

3. Reccurrence risk untuk DMG sekitar 60 %. 


 

Tabel 3. Kadar glukosa plasma pada 6 minggu pasca   

              persalinan pada DMG. 

 

 Normal Glucose 

Intolerance DM 

Puasa(mg/dL) 

 

2 jam (mg.dL) 

< 100 

 

< 140 

100-125 

 

140-199 

≥ 100 

 

≥ 140 

 

REKOMENDASI 

1. Pada wanita DM tipe 1 (Preexisting DM) risiko 

terjadinya preeklamsia meningkat (Rekomendasi A) 

2. DM tipe 1  yang telah ada sebelum kehamilan 

(Preexisting DM) akan meningkatkan risiko terjadinya 

kelainan bawaan sepuluh kali (Rekomendasi A) 

3. Risiko bawaan kelainan janin berhubungan dengan 

regulasi glukosa. Dengan regulasi yang baik maka 

risiko terjadinya kelainan bawaan sama dengan tanpa 

DM (Rekomendasi A) 

4. HbA1C sebagai parameter keberhasilan regulasi kadar 

glukosa darah harus mencapai kadar yang normal 

(≤6%) atau sedekat mungkin dengan normal (≤ 7%) 

 (Rekomendasi B) 

5. Pemantauan janin (NST,FBP) setiap minggu yang 

mulai pada 32 minggu dan dua kali seminggu mulai 34-

36 minggu akan menurunkan kematian neonatal 

(Rekomendasi E) 

6. Faktor risiko untuk DMG antara lain usia yang makin 

tua (> 30 th), riwayat keluarga DM, obesitas, etnis dan 

perokok (Rekomendasi A) 

7. Skrining dan diagnosis DMG dilakukan secara 

universal (ACOG) dengan menggunakan One Step 

Approach (WHO) TTGO dengan beban 75 g glukosa 

anhidrus (Rekomendasi C ) 

8. Kontrol glukosa yang baik selama hamil menunjukkan 

penurunan angka kejadian makrosomia dan 

hipoglikemia neonatal (Rekomendasi C) 

9. Makin tinggi kadar glukosa berkaitan dengan 

meningkatnya angka kejadian makrosomia dan SC 

(Rekomendasi A) 


 

10. Wanita dengan DMG harus dilakukan skrining untuk 

DM pada 6-12 minggu pasca persalinan untuk 

antisipasi terjadinya DMG yang menetap 

(Rekomendasi E) 

 

  


 

 

KEHAMILAN DENGAN  

PENYAKIT JANTUNG 

 

Perubahan sistem kardiovaskuler pada kehamilan 

Perubahan hemodinamik terjadi selama kehamilan, inpartu, 

persalinan dan pasca persalinan seperti yang ditunjukkan 

pada Tabel 1. Perubahan ini dimulai sejak usia kehamilan 5 

hingga 8 minggu dan mencapai puncaknya di akhir 

trimester kedua. Pada pasien dengan adanya gangguan 

jantung sebelumnya, dekompensasi seringkali terjadi pada 

puncak perubahan ini. 

 

 

Tabel 1. Perubahan hemodinamik normal selama    

              kehamilan (1,2,3) 

 

PARAMETER 

HEMODINAMIK 

KEHAMILAN 

NORMAL 

INPARTU DAN 

PERSALINAN 

PASCA- 

PERSALINAN 

Volume darah ↑ 20%-50% ↑ ↓  

(auto diuresis) 

Denyut jantung ↑ 10-15 

denyut/menit ↑ ↓ 

Cardiac output 

(CO) 

↑ 30%-50% 

diatas 

baseline 

↑  

tambahan 50% ↓ 

Tekanan darah ↓ 10mmHg ↑ ↓ 

Stroke volume 

(SV) ↑ 30% 

↑  

(300-

500mL/kontraksi) 

↓ 

Resistensi 

vaskular 

sistemik 

↓20% ↑ ↓ 

 

Volume plasma mencapai maksimum 40% diatas baseline 

pada usia kehamilan 24 minggu.2 Hampir sama pula, 

cardiac output (CO) mencapai 30% hingga 50% diatas 

baseline, mencapai puncaknya pada akhir trimester kedua 

dan plateau hingga persalinan.1 Pada awal kehamilan, 

peningkatan CO berhubungan dengan peningkatan stroke 

volume (SV), sedangkan pada akhir kehamilan, denyut 

jantung menjadi faktor yang utama peningkatan CO. 

Denyut jantung mulai meningkat saat usia kehamilan 20 

minggu dan terus meningkat hingga usia kehamilan 32 

minggu. Hal ini terus bertahan tinggi hingga 2-5 hari sesudah  

persalinan.2 Peningkatan CO terjadi oleh sebab  tiga faktor: 

peningkatan preload disebab kan volume darah yang 

bertambah, pengurangan afterload disebab kan penurunan 

resistensi vaskuler sistemik, dan peningkatan denyut 

jantung maternal 10-15 denyut/menit. Stroke volume 

meningkat selama trimester pertama dan kedua, namun  

menurun saat trimester ketiga disebab kan kompresi vena 

kava inferior oleh uterus. Tekanan darah menurun sekitar 

10 mmHg dibawah baseline pada akhir trimester kedua 

disebab kan oleh vasodilatasi aktif melalui aksi mediator 

 

 

lokal seperti prostasiklin dan nitric oxide,2 serta penurunan 

resistensi vaskuler sistemik akibat penambahan pembuluh 

darah baru di uterus dan plasenta.1 

Kontraksi uterus, posisi (miring kiri vs supinasi), nyeri, 

cemas, perdarahan, dan involusi uterus menyebabkan 

perubahan hemodinamik yang signifikan saat inpartu dan 

pascapersalinan. Peningkatan CO sampai 15% pada awal 

inpartu, 25% saat kala I, dan 50% selama usaha 

mengedan.4 Tiap kontraksi uterus memberikan 300-500 ml 

darah ke sirkulasi umum. Tiap kontraksi SV meningkat, 

dengan resultan peningkatan CO bertambah 50%. 

Kehilangan darah selama persalinan  sekitar 300 hingga 

400 mL saat persalinan pervaginam dan 500 hingga 800 

mL saat SS dapat berpengaruh terhadap stres 

hemodinamik. 

Segera sesudah  lahir, tekanan pengisian jantung (cardiac 

filling pressure) meningkat sebab  adanya dekompresi vena 

kava inferior dan kembalinya darah dari uterus ke dalam 

sirkulasi sistemik. Hal ini mencapai peningkatan 80% CO 

pada awal pasca persalinan disebab kan autotransfusi 

yang berhubungan dengan involusi uterus dan resorpsi dari 

edema tungkai. Hal ini juga menyebabkan suatu diuresis. 

Kehamilan juga mengawali suatu perubahan dari 

hemostasis, yaitu peningkatan konsentrasi faktor koagulasi, 

fibrinogen, dan adhesi platelet serta berkurangnya 

fibrinolisis yang menyebabkan hiperkoagulabilitas dan 

peningkatan risiko kejadian tromboemboli. Selain itu, 

hambatan dari kembalinya aliran darah vena oleh 

pembesaran uterus meningkatkan risiko 

tromboembolisme.2 

Klasifikasi penyakit jantung 

Klasifikasi berdasar  fungsional  

Menentukan fungsi jantung yaitu  penting bagi pasien 

hamil dengan penyakit jantung. Status fungsional untuk 

pasien dengan penyakit jantung umumnya dikelompokkan 

menurut sistem klasifikasi New York Heart Association 

(NYHA) seperti pada Tabel 2 Pasien dengan NYHA kelas I 


 

atau II memiliki risiko komplikasi yang lebih sedikit jika 

dibandingkan dengan pada kelas III atau IV.5 

 

Tabel 2. Sistem klasifikasi fungsional jantung  

             menurut New York Heart Association (NYHA) (6) 

 

Klasifikasi berdasar  kelainan anatomis   

Selain itu adanya kelainan anatomis pada jantung dapat 

mempersulit penanganan gagal jantung selanjutnya. 

Menurut American College of Cardiology/ American Heart 

Association ACC/AHA Heart Failure Guideline 2001, gagal 

jantung dibagi menjadi 4 stadium (Lihat tabel 3) 

 


 

KELAS DESKRIPSI 

Kelas I 

Pasien dengan penyakit jantung namun  tanpa adanya 

pembatasan aktivitas fisik. Aktivitas fisik biasa tidak 

menimbulkan kelelahan, palpitasi, dispnu atau nyeri 

angina. 

Kelas II 

Pasien dengan penyakit jantung mengakibatkan sedikit 

keterbatasan aktivitas fisik. Akan merasa lebih baik 

dengan istirahat. Aktivitas fisik biasa menimbulkan 

kelelahan, palpitasi, dispnu ataupun nyeri angina. 

Kelas III 

Pasien dengan penyakit jantung dengan adanya 

keterbatasan aktivitas fisik. Nyaman saat istirahat. 

Aktivitas fisik yang kurang dari biasanya menyebabkan 

kelelahan, palpitasi, dispnu ataupun nyeri angina. 

Kelas IV 

Pasien dengan penyakit jantung ditandai 

ketidakmampuan untuk melakukan semua aktivitas fisik. 

Gejala insufisiensi jantung dapat muncul saat istirahat. 

Jika aktivitas fisik dilakukan, ketidaknyamanan 

meningkat. 

 


 

Tabel 3. Stadium gagal jantung menurut ACC/AHA (7) 

 

 

 

STADIUM DESKRIPSI CONTOH 

Pasien dengan resiko tinggi berkembang 

menjadi gagal jantung sebab  adanya kondisi  

yang berhubungan. Tidak teridentifikasi  adanya 

abnormalitas struktural atau fungsional 

perikardium, miokardium, atau katup jantung 

dan tidak pernah menunjukkan tanda atau 

gejala gagal jantung. 

Hipertensi sistemik, 

penyakit arteri koroner, 

diabetes melitus, riwayat 

terapi obat kardiotoksik 

ataupun penyalahgunaan 

alkohol, riwayat demam 

reumatik, riwayat keluarga 

kardiomiopati. 

Pasien dengan penyakit jantung struktural yang 

erat hubungannya dengan berkembangnya 

gagal jantung namun  tidak pernah menunjukkan 

tanda atau gejala gagal jantung. 

Fibrosis  atau hipertrofi 

ventrikel kiri, dilatasi atau 

hipokontraktilitas ventrikel 

kiri, penyakit katup jantung 

asimptomatik, infark 

miokard sebelumnya.  

 

Pasien yang saat ini atau sebelumnya memiliki 

gejala gagal jantung berhubungan dengan 

penyakit jantung struktural yang menyertainya. 

Dispnu atau kelelahan 

akibat disfungsi sistolik 

ventrikel kiri, pasien 

asi