iplikasi sel.
Catatan: Hadiah Nobel ilmu kedokteran tahun 1972 diberikan kepada R. Porter (Univ. Oxford) dan G.
Edelman (Rockefeller Univ.–NY) untuk kontribusinya mengenai struktur dan sifat-sifat biologi dari
imunoglobulin.
Azatioprin (Azafalk, Imuran) dan merkap-
topurin (Puri-Nethol, Xaluprin) yaitu imuno-
modulansia yang termasuk dalam kelom-pok
tiopurin, seperti juga obat kanker tio-guanin
(Lanvis).
Pengobatan komplementer memakai
sediaan enzim (Wobenzym = papain 100 mg,
bromelain 60 mg dan pancreatin 100 mg)
untuk memusnahkan auto-antibodies serta
kompleks imun dan dengan demikian meng-
hentikan serangan terhadap organ sendiri.
Penyakit auto-imun. Pada penyakit ini,
fungsi sistem imun terganggu akibat adanya
auto-antibodies, pada mana limfo-T dan NK-
cells menyerang jaringan dan organ tubuh
sendiri. Keadaan ini dapat terjadi bila sistem
imun tidak berdaya (lagi) untuk mengenali
jaringan tubuh sendiri dan menye rangnya.
Yang terkenal yaitu penyakit rema, diabe-
tes tipe-I (pada orang muda), MS (Multiple
Sclerosis), SLE (Systemic Lupus Erythematodes),
MG (Myasthenia gravis) dan radang tireoid.
pemicu mengapa sistem tangkis kehilangan
daya pengenalannya belum begitu jelas,
walau pun diketahui bahwa faktor gene tik,
hormonal, viral dan lingkun gan berperan
pada manifestasi dan hebatnya penyakit.
* Auto-antibodies dalam keadaan normal
juga dibuat oleh sistem imun, namun segera
diinaktifkan oleh makrofag dan limfo-T. Bila
produksinya terlam pau banyak, barulah
dapat merusak jarin gan. Auto-antibodies da-
pat bereaksi langsung terhadap organ dengan
menimbul kan peradangan dan kerusakan,
seperti pada membran glomerulus ginjal.
Dapat pula mengacaukan fungsi suatu proses,
misalnya dari receptor asetilkolin (ACh) pada
myasthenia gravis.
Kemungki nan lain yaitu terbentuknya
kompleks imun yang beredar dengan ak-
tivitas biologik, lihat di atas. Adakalanya
kompleks ini diendap kan di ginjal, kulit,
sendi dan sistem saraf dengan mengaki bat-
kan kerusa kan jaringan hebat. Dapat pula
terjadi aktivasi dari komple men, akumulasi dan
aktivasi dari neutrofil dengan pelepa san enzim
protea se yang bersifat merusak pula. Pada
de struksi jaringan ini, ternyata juga terlibat
makrofag, monosit, sel-T4 dan sel-T8.
MONOGRAFI
2a. Siklosporin: Sandimmun, Neoral
Endekapeptida siklis ini (1983) diperoleh
dari fungi Tolypocla dium inflatum dan terdiri
dari 11 asam amino. Berkhasiat imunosu-
presif istimewa melalui penghambatan
spesifik respons imun seluler. Proliferasi
T-helper cells dan cytotoxic cells dihambat se-
cara selektif dan reversibel. Juga merin tangi
produk si dan pele pa san IL-2 serta banyak
limfo kin lain. Produk si limfo-T supres sorcells
justru disti mulasi. Tidak berkhasiat myelosu-
presif. Siklosporin teruta ma diguna kan ber-
kat sifat-sifat ini pada trans plantasi organ
atau sumsum untuk profilaksis dan pe-
nanganan reaksi penola kan . Juga pada pso-
riasis, colitis dan penyakit Crohn. Siklosporin
dapat dikombinasi dengan kortikoida atau
imunosu presiva lain dengan tujuan mengu-
rangi nefrotoksisitasny a.
Resorpsinya dari usus sangat variabel, BA
10-50%, PP 98%, plasma-t½ ±20 jam. Bersifat
sangat lipofil, maka distribusinya berlangsung
baik ke semua jaringan tubuh. Dalam hati
dirombak menjadi 15 metabolit yang teruta-
ma diekskresi melalui empedu denga n si-
klus enterohepatik. Hanya 6% dikeluar kan
lewat urin. Efek samping utama nya yaitu
nefrotoksisitas yang tergantun g dari dosis de-
ngan menurunnya nilai kreatini n (reversi bel).
Juga dapat terjadi hipertens i, hiperlipidemia,
hipertrichosis, gangguan lambung-usus, nyeri
kepala, tangan rasa terbakar, konvul si dan
gangguan darah. Bersifat karsi nogen, ter-
utama bila digunaka n untuk jangka waktu
lama dengan dosis tinggi (limfo ma, kanker
kulit).
Dosis: 4-12 jam sebelum transplantasi oral
2,5-15 mg/kg selama 1-12 bulan, juga sebagai
infus intravena. Dosis disesu aikan dengan
kadar siklosporin dalam darah.
2b. Takrolimus: Advagraf, Prograft, Protopic
Senyawa makrolida ini diekstrak si dari
jamur Streptomy ces tsukubaensis (1993). Kha-
siat dan mekanisme imunosupresifnya sama
dengan siklosporin, namun ±50x lebih kuat
dalam hal pencegahan sintesis IL-2 yang
mutlak diperlukan untuk proliferasi sel-T.
Juga bersifat sangat lipofil dan sama efektifnya
dengan siklosporin pada transplantasi hati,
jantung, paru-paru dan ginjal. Terutama
di-gunakan bersama kortikos teroida. Lebih
sering menimbul kan efek samping toksisitas
bagi ginjal dan saraf.
Dosis: infus i.v. 0,05-0,1 mg/kg/hari, 6 jam
sesudah tranplan tasi selama 2 -3 hari, lalu di-
lanjutkan oral 0,15-0,3 mg/kg/h ari dalam 2
dosis.
*Pimekrolimus (Elidel) yaitu derivat ma-
krolaktam yang memblokir sintesis dari si-
tokin meradang pada T-cel. dipakai lokal
pada dermatitis atopik (eksim) bila peng-
gunaan kortikosteroid tidak memberikan
hasil.
Efek samping : perasaan terbakar, iritasi lo-
kal, gatal, eritema dan gangguan kulit.
Dosis : lokal 2x sehari sebagai krem.
2c. Mikofenolat mofetil: CellCept
Obat ini (1996) yaitu prodrug dengan
khasiat menekan perbanyakan limfosit
melalui inhibisi enzim dehid rogenase yang
diperlukan untuk sintesis purinnya (DNA/
RNA). Ternyata sangat efektif terhadap peno-
lakan akut sesudah transplan ta si ginjal. Di-
bandingkan dengan obat-obat lainnya, yaitu
azatioprin dan siklos po rin (dan prednison),
persentase penolakan dikuran gi sampai 50%.
Lagi pula efek sampingnya lebih sedikit.
Mungkin juga berkhasiat untuk menghambat
penolakan menahun (jangka pan jang) yang
sampai kini merupakan masalah serius.
Resorp si dari usus baik, dengan BA 90%.
Dalam hati segera diubah menjadi asam
mikofenolat aktif. Ekskresi berlangsung
melalui urin sebagai glukuronidanya (inak-
tif), sesudah mengalami resirkulasi entero-
hepatik. Plasma-t½ ±16 jam.
Dosis: dalam waktu 72 jam sesudah trans-
plantasi 2 dd 1g a.c. dengan minum banyak
air.
* Mikofenolat Na (Myfortic) menghambat
enzim inosinmonofosfat dehidrogenase de-
ngan menghasilkan efek sitostatik terhadap
limfosit B dan T. Dalam kombinasi dengan
siklosporin dan glukokortikoid digunaka n
sebagai profilaksis terhadap penolakan organ
pada transplantasi ginjal. Dosis: oral 1440 mg
terbagi dalam 2 dosis.
2d. Kortikosteroida
Hormon anak ginjal berkhasiat anti ra-
dang, imunosupresif dan anti alergik. Ke-
dua efek terakhir untuk sebagian berhu-
bun gan dengan khasiat anti radangnya dan
ter utama nampak pada reaksi imun di jaring-
an. Misalnya migrasi sel dan aktivi tas fago-
sitosis dari makrofag/monosit dikurangi.
Juga jaringan limfe dirombak, pada mana
limfo sit-T dan -B berperan. Pemben tukan
antibodies hanya ditekan pada dosis sangat
tinggi.
Kortikosteroida banyak dipakai sebagai
obat tambahan pada penyakit auto-imun,
seperti rema, Sjögren, SLE dan MS, juga pada
terapi kanker. Efektif sekali untuk menekan
dengan cepat exacerbatio penyakit (mendadak
menjadi parahnya gejala penyakit). Untuk
memelihara remisi pada penyakit usus
beradang kronis ternyata kurang efektif.
Lihat selanjutnya Bab 46 ACTH dan Korti-
kosteroida.
2e. Talidomida: Synovir
Derivat piperidin ini (1957) yaitu obat tidur
dengan efek terato gen sangat kuat (peristiwa
Softenon, 1962, lihat Edisi empat), berdasar
khasiat anti angiogenesisnya. Juga berdaya
imunosu pre sif (anti-TNF) dan anti radang.
sesudah dilarang peredarannya selama lebih
dari 25 tahun sejak awal tahun 1990-an
talidomida mulai dipakai lagi antara lain
untuk menekan reaksi lepra (lihat Bab 10)
dan mering ankan gejala AIDS seperti luka
hebat (aphthae) di mulut, kerongkon gan dan
kemaluan, serta diare dan kehilangan bobot
yang serius.
Di AS pemakaian nya pada lepra disahkan
kembali sejak akhir tahun 1997 dengan sya-
rat-syarat ketat. Juga diselidiki secara klinis
efektivitasnya untuk berbagai penyakit auto-
imun. Lihat juga Bab 24.
Talidomida ternyata dapat memperpan-
jang remisi penyakit myeloma, suatu penya-
kit para lansia (rata-rata usia 60 tahun)
yang sangat kompleks dan tidak dapat di-
sembuhkan. Mekanisme kerja talidomida
pada penyakit ini belum diketahui.
*Lenalidomida (Revlimid, Celgene). Imuno-
modulator dengan struktur menyerupai tali-
domida ini menghambat proliferasi dari
sel-sel tumor hematopoeitik, meningkatkan
imunitas dan jumlah sel NKT. Metabolisasi
dalam jumlah kecil di dalam hati dan di-
ekskresi terutama melalui urin (82%) dan
feses (4%). dipakai dalam kombinasi
dengan deksametason terhadap myeloma
multipel (penyakit Kahler). Bersifat teratogen
dan kemungkinan masuk ke dalam air susu
ibu.
Dosis: sangat individual.
2f. Sulfasalazin yaitu persenyawaan dari
sulfapiridin dengan 5-ASA (lihat Bab 8,
Sulfonamida dan Kuinolon). Berkhasiat anti
radang melalui blokade siklo-oksigenase
dan lipoksigenase dan dengan demikian
mencegah sintesis prostaglandin dan leukot-
riën. Sulfasalazin memengaruhi fungsi lim-
fosit, mungkin melalui sitokin dan juga ber-
daya ‘menang kap’ radikal bebas O2. Zat
ini dipakai khusus pada penyakit usus
beradang kronis (Crohn, colitis) dan pada
rema. Lihat juga Bab 21, Analgetika perifer
dan Bab 14 Sitostatika, B2 Imunosupresiva.
VAKSIN DAN IMUNOGLOBULIN
Penyakit infeksi merupakan jenis penya-
kit yang hampir selalu menempati urutan
teratas, terutama di negara-negara berkem-
bang yang taraf kehidupan sosialnya masih
di bawah garis yang layak. Keadaan ini
antara lain menyangkut pola higiene yang
erat hubungannya dengan penularan dan
penyebaran penyakit infeksi.
Dewasa ini tersedia berbagai obat ampuh,
terutama dari golongan kemoterapeutika
untuk memerangi penyakit infeksi. Namun,
tujuan utama dari program penanggulangan
penyakit infeksi yaitu profilaksis atau
menghindari terjangkitnya infeksi. Hal ini
dapat dicapai dengan antara lain :
– menghilangkan sumber atau memutuskan
mata rantai penyebaran suatu penyakit
infeksi dan
– mengurangi kepekaan seseorang terha-
dap organisme patogen atau dengan kata
lain meningkatkan kekebalannya terha-
dap suatu infeksi. Keadaan ini dapat di-
capai melalui proses imunisasi.
Di negara kita , semua jenis sera yang me-
ngandung imunoglobulin spesifik dan vak-
sin dibuat oleh PT Bio Farma (d/h Lembaga
Pasteur).
BUMN (Badan Usaha Milik Negara) ini
merupakan satu-satunya produsen vaksin
dan anti sera di negara kita dengan tujuan
turut serta mendukung program imunisasi
nasional. Program ini bertujuan memberikan
kekebalan pada bayi agar dapat mencegah
penyakit dan kematian bayi serta anak
yang disebabkan oleh penyakit yang sering
berjangkit di negara kita .Metode
Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta: Salemba Medika.
IDAI.2008. Pedoman Imunisasi Di Indo-nesia.
Jakarta: Satgas Imunisasi.
Pengawasan sumber dan transmisi
Sumber infeksi utama yaitu makanan dan
air minum yang mutlak harus dipantau tingkat
kebersihannya dalam rangka memberantas
penyakit infeksi yang menyerang saluran
cerna, misalnya diare. Bagi jenis penyakit
lainnya, pengendalian perantaranya (vector)
yaitu esensial, misalnya jenis nyamuk yang
merupakan vektor dan pemicu penyakit
malaria dan dengue (demam berdarah).
Yang merupakan topik sekarang ini yaitu
screening dari donor darah dalam rangka
menghindari penyebaran penyakit HIV dan
hepatitis B/C.
Mengurangi kepekaan terhadap pe-
nyakit infeksi
Kondisi ini dapat dicapai dengan jalan
imunisasi. Cara ini telah mengubah sejarah
dari banyak jenis penyakit infeksi. Sejak
dahulu telah diketahui bahwa orang yang
luput dari serangan penyakit sampar (pes) yang
mematikan, tidak akan diserang untuk kedua
kalinya oleh penyakit ganas ini. namun , pada
waktu itu tidak diketahui kesimpulan ilmiah
mengenai peristiwa ini.
Edward Jenner(1749 -1823). Pada tahun 1796
dr Jenner, seorang dokter Inggeris sederhana,
mengintrodusikan penyuntikan pertama
dengan cairan cacar lembu sebagai vaksin
alami, suatu kejadian yang menakjubkan dan
membuatnya termashur. Peristiwa itu
terjadi sewaktu penyakit cacar melanda
dunia dan hampir semua orang bisa men-
jadi korban. Pengidap cacar umumnya
berisiko kematian atau menjadi cacat seumur
hidup, terutama di bagian muka. Dalam
kasus ini ternyata bahwa seseorang tidak
dapat diserang penyakit yang sama untuk
kedua kalinya atau dengan lain kata bahwa
seorang yang telah terjangkit penyakit cacar
akan terbebas untuk seumur hidupnya
(Edward Jenner 1798). Di tahun 1980 WHO
mendeklarasi bahwa penyakit cacar telah
dieradikasi dari seluruh dunia dan hal ini
merupakan suatu achievement terbesar da-
lam sejarah kedokteran.
Dr. Jenner menemukan bahwa imunitas
seperti itu juga bisa diperoleh bila sejenis
penyakit cacar lembu, yang jauh kurang
berbahaya, ditularkan dengan sengaja kepa-
da manusia. Cara ini disebut vaksinasi
(Lat. vacca = lembu, vaccinia = cacar lembu).
Demikianlah asal mula istilah vaksinasi, yaitu
menyuntikan cacar lembu kepada manusia.
Sekarang istilah vaksinasi dipakai un-
tuk segala bentuk imunisasi aktif yang di-
berikan per oral, subkutan, intramuskular,
maupun dengan cara menggoreskan pada
kulit (skarifikasi).
Edward Jenner (1749 -1823)
“Cowpox to prevent smallpox” .
Louis Pasteur(1822- 1895). Baru limapuluh
tahun kemudian sarjana biologi dan kimia
Prancis Dr L. Pasteur yang termashur, mende-
monstrasikan bahwa keganasan (virulensi)
suatu kuman patogen dapat dikurangi
tanpa mengurangi kemampuannya untuk
memicu imunitas (sifat imunogen). Hal
ini dicapai dengan cara pemanasan atau me-
lalui «passage», yaitu menginjeksikan kuman
ini secara beruntun pada sejumlah hewan
percobaan, lihat di bawah.
Louis Pasteur (1822-1895),
ahli kimia Prancis, pencetus pengeta-
huan modern mengenai imunologi.
“The most perfect man who has ever
entered the kingdom of Science.”
Imunitas (lihat juga Bab 49, Dasar-dasar
imunologi). Teori yang mendasari fenomena
itu di atas yaitu sebagai berikut. Bila
tubuh kemasukan mikroba, maka tubuh akan
melawannya dengan membentuk zat-zat pe-
nangkis yang disebut antibodies (atau juga
immunity bodies). Dalam kasus ini, mikroba
itu berfungsi sebagai antigen (zat yang
imunologik aktif), yaitu suatu zat yang men-
stimulasi pembentukan antibodies dan de-
ngan demikian memobilisasi defensi imu-
nologi tubuh. Bila tubuh berhasil memus-
nahkan mikroba ini, maka antibodies yang
terbentuk dalam jumlah berlebihan mem-
berikan kekebalan (imunitas] terhadap infeksi
selanjutnya oleh mikroba itu . Kekebalan
ini dinamakan kekebalan yang diperoleh
(acquired immunity), sedang kekebalan
asli yang sudah ada dalam tubuh berasal dari
bawaan disebut kekebalan alamiah (natural
immunity).
Antigen yang paling ampuh yaitu protein
bermolekul besar atau kombinasi dari protein
dan karbohidrat (glycoprotein). Zat-zat ini bia-
sanya ada dalam dinding bakteri atau
bagian luar yang menyelubungi virus.
Mekanisme terbentuknya imunitas
Dua jenis sel darah putih yang memegang
peranan penting dalam sistem imunitas ada-
lah makrofag dan limfosit. Respons imun
terhadap suatu antigen pada awalnya dimulai
dengan penyerapannya oleh makrofag, yang
kemudian „menyajikan“antigen itu ke-
pada limfosit untuk dimusnahkan. Seperti
diketahui limfosit terdiri dari dua jenis, yakni
T-cells (thymus-dependent) dan B-cells (bursa-
dependent), lihat juga Bab 49, Dasar-dasar
imunologi.
*Imunitas seluler. T-cells dalam thymus ke-
mudian dimatangkan menjadi „sensitized
T-limfosit“ yang mampu bereaksi langsung
dengan antigen khusus itu , di samping
juga berdaya mengaktivasi makrofag. Kea-
daan ini disebut imunitas seluler.
* Imunitas humoral. Di lain pihak, B-cells
berubah menjadi sel-sel plasma yang mem-
produksi antibodies yang juga disebut imu-
noglobulin (= Ig). Senyawa-senyawa ini ter-
utama ada dalam serum darah atau
di atas permukaan membran mukosa ser-
ta khusus diarahkan terhadap suatu anti-
gen tertentu. Inilah yang dinamakan imu-
nitas humoral. Lihat Bab 49, Dasar-dasar
Imunologi, Gambar Imunitas seluler dan
humoral.
Memory cells yaitu sel-sel „pengingat“
yang dibentuk oleh T-cells maupun B-cells
dan merupakan sistem defensif cadangan
terhadap suatu antigen tertentu. Oleh sebab
itu, bila terjadi lagi kontak dengan antigen
ini, akan timbul suatu respons imunitas yang
lebih cepat dan lebih ampuh. Lihat Gambar
49-2, Dasar-dasar Imunologi.
Tujuan akhir dari kedua jenis imunitas yang
secara artifisial dapat ditimbulkan dengan
jalan vaksinasi yaitu untuk menciptakan
perlindungan tubuh terhadap antigen atau
terhadap mikroba yang membawanya. Lihat
selanjutnya Bab 49, Dasar-dasar Imunologi.
A. IMUNISASI AKTIF
Dengan ini dimaksudkan pencapaian imu-
nisasi jangka panjang secara buatan mela-
lui pemberian antigen via injeksi i.m., s.k.
atau oral untuk memicu respons imu-
nitas yang spesifik, berupa antibodi, T-sel
yang diaktivasi dan memori spesifik. Anti-
gen dapat berupa kuman patogen yang
mati, dilemahkan (attenuated) atau produk
metabolismenya, yaitu eksotoksin yang telah
dimurnikan atau diinaktifkan dan dinamakan
toksoid (difteri, tetanus) serta bagian-bagian
kuman atau virus. Secara alamiah kekebalan
aktif juga dapat diperoleh sebagai akibat dari
infeksi dengan kuman patogen (Yun. pathos =
penyakit, genesis = memproduksi). Imunisasi
aktif ini diperoleh melalui vaksin, misalnya
terhadap cacar, kolera, pertussis, pes, tbc, rabies,
influenza, tifus dan poliomyelitis. Dapat pula
dipakai toksoid, mis terhadap difteri dan
tetanus.
Perbedaan antara vaksin yang mengandung
mikroorganisme hidup. diperlemah atau
mikroorganisme mati yaitu penting, sebab
pada sebagian pasien dengan defisiensi
imunologik dapat timbul infeksi fatal pada
pemakaian vaksin dengan mikroorganisme
hidup atau yang diperlemah.
Vaksin Tipe
BCG Bakterial, hidup/diperlemah
Kolera Bakterial, mati
Difteri toksoid Bakterial, mati
Haemoph.Influ B Bakterial, mati
Hepatitis A Viral, mati
Hepatitis B Viral, mati
Influenza Viral, mati
Batuk rejan Bakterial, mati
Virus papilloma Viral, mati
Poliomyelitis Viral, mati
Rabies Viral, mati
Tetanus toksoid Bakterial, mati
Tifus (per injeksi) Bakterial, mati
Varicella Viral, hidup/diperlemah
Tabel 50-1: Jenis-jenis vaksin dan
sumbernya
V a k s i n
Tujuan pemberian vaksin yaitu merangsang
imunitas seluler maupun humoral seperti
yang layaknya timbul sebagai reaksi terhadap
suatu infeksi alamiah. Bila seseorang yang
sudah divaksinasi mengalami infeksi yang
mungkin sekali serius, gejalanya akan lebih
ringan atau sama sekali tanpa manifestasi
klinis. Vaksinasi menghindari efek-efek serius
yang diakibatkan oleh mikroba yang virulen.
Oleh sebab itu, vaksin merupakan salah
satu senjata yang paling ampuh dalam ilmu
kedokteran preventif terhadap penyakit in-
feksi. Kendala dari vaksin hidup yang telah
diperlemah yaitu kekuatiran bahwa mikro-
ba itu melalui proses mutasi menjadi
virulen kembali.
Vaksin kuman yaitu sediaan aman dari
bakteri yang telah dimatikan (tifus) atau dari
bakteri hidup yang diperlemah dan tidak
ganas (virulen) lagi (sampar atau pes). namun
sebagai antigen, vaksin demikian masih
mampu menstimulasi sistem imunitas tubuh
manusia atau hewan. Dengan imunisasi aktif
ini tubuh dapat dilindungi terhadap penyakit
infeksi kuman bersangkutan.
Vaksin virus terdiri dari beberapa jenis virus
yang telah dimatikan atau yang dibuat non-
virulen melalui passage hewan. Lazimnya
vaksin virus dibuat dengan pembiakan pada
telur, ginjal atau otak hewan.
Cara pembuatannya dapat dengan cara
passage telur, kultur sel atau melalui kultur
jaringan. Dapat dipakai mikroba yang ter-
sedia di laboratorium (‘stock-vaccine’) atau
mikroba yang dipisahkan dari tubuh pende-
rita sendiri (‘auto-vaccine’).
– Vaksin bakterial. Pertama-tama bakteri
dari suku (strain) tertentu ditanam dalam
medium cair yang optimal dalam botol
atau pada produksi besar-besaran dalam
tangki fermentasi. Sebagai medium la-
zimnya dipakai kultur persemaian
(brothculture). sesudah suatu masa terten-
tu, kuman dimatikan dengan cara pe-
manasan atau dengan zat kimia dan
bila perlu dipisahkan dari mediumnya.
Bakteri yang sudah mati ini kemudian
diproses sebagai suspensi sel utuh atau
sebagian tertentu diisolasi, misalnya:
fraksi polisakarida.
– Vaksin viral. Langkah pertama yaitu
memelihara sel-sel untuk replikasi virus,
sebab virus tidak mampu memper-
banyak diri sendiri kecuali di dalam
sel hidup (host cells). Host cells yang te-
lah dipenetrasi oleh virus (DNA/RNA)
kemudian dirangsang untuk mempro-
duksi lebih banyak materi virus, yang
kemudian diisolasi, dimurnikan dan di-
stabilisasi.
– Cara-cara khusus. Teknik rekayasa gene-
tik memungkinkan untuk memproduksi
vaksin yang aman/murah dan dengan
biaya yang relatif rendah. Melalui teknik
DNA rekombinan dapat dibuat antigen
bakterial dan viral secara massal. Lalu,
hanya fraksi DNA yang cocok dengan
suatu antigen tertentu diisolasi dan di-
pindahkan ke sel-sel tuan rumah.
Melalui sintesis organik dapat pula
dibuat bagian yang aktif dari suatu antigen
tertentu, sesudah rangkaian asam aminonya
diidentifikasi. Namun, untuk dapat menim-
bulkan daya imunitas, peptida sintetik ini
harus diikat pada suatu protein lain yang
berfungsi sebagai “carrier”. Perkembangan
lebih lanjut di bidang bioteknologi membuka
aspek-aspek baru dalam produksi vaksin.
Penggolongan. Vaksin dapat digolongkan
antara lain berdasar jenis, viabilitas, kom-
posisi dan cara pembuatannya.
Jenis mikroba dalam vaksin menghasilkan:
a. vaksin bakterial, yang terdiri dari bakteri
hidup yang dilemahkan atau diinaktif-
kan, polisakarida dari kapsel bakteri, atau
fragmennya yang memiliki sifat antigen;
b. vaksin viral,yang terdiri dari virus hidup
yang dilemahkan atau diinaktifkan, ju-
ga fragmen virus yang memiliki sifat
antigen;
c. vaksin parasiter,yang terdiri dari suatu
protein yang ada pada permukaan
sporozoit Plasmodium falciparum (vaksin
malaria, eksperimental).
Komposisi antigen menentukan jenis vaksin,
yakni:
– whole vaccine: terdiri dari mikroba utuh;
– split/sub-unit vaccine: dibuat dari bagian-
bagian mikroba yang mengandung anti-
gen paling aktif;
– vaksin toksoid: dibuat dari (ekso)toksin
bakteri yang diisolasi atau dibuat secara
biosintetik dan kemudian dinetralisasi
dengan formaldehida.
Antibodi (immunoglobulin) pada imunisasi
aktif bertahan untuk jangka waktu lebih
lama dari pada antibodi yang diberikan
dari luar sebagai s e r u m (imunisasi pasif).
Dengan demikian, imunisasi aktif yaitu
long-acting dan terutama dipakai bila
dikehendaki kekebalan yang bertahan lama
terhadap suatu penyakit. Lazimnya imunitas
ini bertahan selama beberapa bulan sampai
beberapa tahun, yang biasanya dapat
diperkuat kembali atau diperpanjang dengan
injeksi ulang(‘booster’, revaksinasi). Injeksi
booster ini harus diberikan paling lambat
maksimal 6 bulan sesudah serangkaian injeksi
primer (imunisasi dasar).
Antibodi monoklonal yaitu antibodi yang
hanya aktif terhadap satu antigen spesifik.
Dibuat dengan teknik rekombinan DNA
dengan memakai sel-sel hewani, pada
umumnya tikus.
Adjuvantia. Di samping antigen itu
di atas, vaksin dapat mengandung zat-zat
tambahan (adjuvantia) seperti bahan untuk
mensuspensikan, zat pengawet, stabilisator,
antibiotika dalam kadar rendah dan zat lain
yang tidak memengaruhi respons imunitas.
Begitu juga garam-garam aluminium (mis.
Al-fosfat) atau kalsium, yang berdaya meng-
adsorpsi jasad yang telah diinaktifkan atau
metabolitnya (toksoid, fragmen virus yang
bersifat antigen). Vaksin jerap demikian
yang telah diserap pada garam, dimaksudkan
untuk menciptakan suatu daya kerja depot,
sehingga sifat antigen diperkuat dan dapat
memicu imunitas dengan jangka kerja
lebih lama.
pemakaian . Vaksin dan imunoglobulin ter-
utama dipakai untuk tujuan profilaksis,
untuk menghindari terkena infeksi misalnya
cacar, polio, rabies dan tetanus. namun be-
berapa jenis vaksin juga dipakai sebagai
pengobatan penyakit menahun, misalnya
pada penyakit yang disebabkan oleh sta-
filokok atau gonokok, sehingga mendorong
tubuh membentuk antibodies ekstra terhadap
infeksi itu .
Vaksin kombinasi. Selain vaksin khusus
untuk prevensi satu jenis penyakit, misalnya
vaksin cacar, juga dapat dibuat vaksin kom-
binasi terhadap beberapa jenis penyakit se-
kaligus dengan tujuan mempermudah peng-
gunaannya. Lagi pula sering kali saling mem-
perkuat khasiatnya. Contohnya yaitu vaksin
terhadap kolera-tifus-paratifus (Kotipa) dan
terhadap difteri-tetanus-pertussis(DTP). Juga
tersedia kombinasi dari vaksin dan toksoid,
misalnya vaksin DKTP, yang terdiri dari
toksoid difteri/tetanus dan jasad pertussis/
polio.
Sama dengan vaksin pasif (dahulu disebut
serum), maka secara teoretis vaksin aktif da-
pat dibuat dari berbagai jenis mikroba, namun
beberapa pertimbangan mengenai khasiat
dan faktor ekonomi memegang peranan pen-
ting.
Serokonversi. Sukses dari suatu vaksinasi
dalam kebanyakan hal tampak dari serokon-
versi pasien. Dengan ini dimaksudkan bahwa
pasien yang sebelumnya tidak memiliki an-
tibodies spesifik (seronegatif) sekarang me-
milikinya (seropositif). namun hal ini tidak
berarti bahwa sudah tercapai imunitas.
B. IMUNISASI PASIF
Dengan ini dimaksudkan pemberian anti-
bodies “siap-pakai” dalam bentuk imuno-
globulin yang telah dimurnikan untuk meng-
hasilkan imunitas dalam waktu singkat dan
ternyata efektif untuk prevensi dan terapi
(imunoprofilaksis dan imunoterapi) beberapa
jenis infeksi bakteriil maupun viral. Imu-
nitas yang diperoleh demikian dengan vak-
sinasi pasif ini selalu bertahan agak sing-
kat, biasanya hanya beberapa minggu sam-
pai beberapa bulan, tergantung dari t½
antibodies yang dipakai .
Keuntungan imunisasi pasif yaitu per-
lindungan yang berlangsung dengan segera,
namun “kerugiannya” yaitu jangka waktu
perlindungan yang singkat.
S e r a diperoleh dari darah hewan yang
mengandung antibodi spesifik (imunoglo-
bulin) dalam kadar tinggi. Dalam arti lu-
as, serum (bentuk jamak: sera) sebetulnya
dimaksudkan cairan darah yang telah dike-
luarkan sel-sel darah dan fibrinnya. Fibrin
yaitu suatu zat serat protein yang pada
pembekuan darah memisahkan diri.
Seekor hewan, umumnya kuda, disuntik
dengan suatu antigen mikroba tertentu yang
kemudian dalam darahnya akan terbentuk
antibodi terhadap antigen itu (imunisasi
aktif). Dari darah ini, melalui ekstraksi dan
pemurnian, dibuat serum yang bila disun-
tikkan pada manusia, memicu keke-
balan pasif terhadap penyakit itu (imu-
nisasi pasif). namun , sebab selalu masih
mengandung sisa-sisa protein hewan, peng-
gunaan serum ini dapat memicu reaksi-
reaksi hipersensitivitas yang tidak diinginkan.
Kasus demikian dapat terjadi bila suatu serum
yang berasal dari hewan yang sama .(kuda)
dipakai untuk kedua kalinya. Oleh sebab
itu, sekarang ini di banyak negara sera hewan
sudah diganti dengan sera berasal dari darah
manusia, yang dinamakan imunoglobulin,
misalnya tetanus imunoglobulin dan difteri-
imunoglobulin.
Sumber sera yaitu darah hewan, bila da-
rah manusia yang dipakai disebut imu-
noglobulin (antibodi).
pemakaian . Pada keadaan akut, misalnya
bila infeksi sudah terjadi, maka imunisasi
aktif tidak dapat dipakai dengan efek-
tif. pemicu nya ialah masa inkubasi sua-
tu infeksi berlangsung antara 2-5 hari, se-
dangkan pembentukan antibodies dalam
tubuh umumnya membutuhkan waktu be-
berapa minggu. Misalnya, masa tunas rabies
yaitu panjang, antara 1-6 bulan, maka
seorang yang telah digigit anjing gila dapat
segera diberikan imunoglobulin rabies untuk
perlindungan langsung dan „menjembatani“
masa tunas. Serentak disuntik pula dengan
vaksin rabies untuk memicu imunitas
aktif yang sesudah antibodies terbentuk, bekerja
lebih kuat dan lebih panjang.
Singkatnya kedua cara imunisasi, aktif
(melalui vaksinasi) maupun pasif (melalui
pemberian serum atau imunoglobulin) dapat
dikombinasi.
Rabies (penyakit gila anjing) yaitu penyakit
infeksi yang disebabkan oleh virus rabies
yang via air liur hewan (anjing, kelalawar)
atau manusia yang terinfeksi ditularkan
melalui gigitan atau garukan. Bila gejala-
gejala klinisnya sudah timbul, penyakit ini
tidak dapat disembuhkan dan berlangsung
fatal.
Penyakit ini dapat dihindari melalui vak-
sinasi yang pertama kali dilakukan oleh
Louis Pasteur, ahli bakteriolog termashur, di
tahun 1885.
biasanya sera antibakterial memiliki
khasiat terapi yang rendah sekali. Sebaliknya,
sera terhadap infeksi virus (sera antiviral)
memiliki khasiat yang tinggi bila diberikan
sesudah penyakitnya sudah berjangkit. Dalam
kasus demikian, lazimnya terapi dengan
imunoglobulin dan vaksin menjadi kurang
efektif. Pengecualian yaitu pengobatan de-
ngan antiserum spesifik terhadap gigitan
ular berbisa (polyvalen antivenin). Begitu pula
antitetanus imunoglobulin dipakai untuk
pengobatan bila diagnosis tetanus sudah di-
tentukan secara klinis.
Dalam kasus lainnya harus dipakai ke-
moterapeutika.
Efek-efek samping
a. Imunoglobulin. Banyak orang memiliki
kepekaan berlebihan (hipersensitivitas) ter-
hadap protein asing hewani, yang meng-
akibatkan timbulnya anafilaksis (= tanpa
perlindungan) bila diinjeksi dengan sediaan
yang mengandung protein ini. Juga ada
kepekaan bawaan (idiosinkrasi) terhadap
produk metabolisme bakteri. Kuda dan kelinci
yaitu hewan yang terbanyak dipakai
untuk pembuatan imunoglobulin. Suatu
injeksi dengan serum yang mengandung
imunoglobulin ini dapat membuat seseorang
peka terhadap komponen darah hewan
itu . Injeksi selanjutnya dengan serum
dari hewan yang sama dapat memicu
reaksi alergi, seperti ‘serum sickness’(demam,
nyeri di persendian) atau syok anafilaktik.
* Hipersensitivas. Serum sickness merupakan
reaksi hipersensitivity ke-III (Arthus atau
imunkompleks, lih. Bab 51 Antihistaminika)
dan sering kali timbul akibat injeksi serum
asing pada pengobatan penyakit infeksi.
Dapat juga akibat misalnya pemakaian
antibiotika seperti penisilin, streptomisin dan
sulfonamida. Diperkirakan bahwa peristiwa
ini disebabkan oleh pembentukan kompleks
antigen-antibodi yang mengendap di saluran
darah, kulit, ginjal dan persendian. Gejalanya
berupa antara lain demam, urticaria, radang
kulit, proteinuria dan timbulnya eosinofilia
yang khas.
Dengan tujuan untuk sementara waktu
menghilangkan kepekaan yang berlebihan
ini dapat dilakukan injeksi dengan serum
dalam jumlah sekecil-kecilnya (desensitizing,
desensibilisasi). Atau, memberikannya dengan
suatu cara yang memicu absorpsi
berlangsung lambat atau memberikan serum
yang dibuat dari hewan lain.
– Tes hipersensivitas. Pada proses pembu-
atannya, sera telah dipekatkan dan di-
murnikan dengan saksama. Walaupun
demikian, suatu tes untuk menyelidiki
kemungkinan adanya kepekaan berle-
bihan (hipersensitasi) selalu harus dila-
kukan, sebelum menyuntikkan suatu
serum hewan. Untuk ini tersedia antara
lain dua cara, yakni tes intradermal dan tes
konjungtiva.
– Tes intradermal: serum hewani yang
telah diencerkan 1:10 disuntikkan intra-
dermal sebanyak 0.1 ml untuk kemudian
dipantau selama 15 menit. Timbulnya
kemerahan (eritema) dan udema yang
disertai timbulnya suatu gelembung
(wheal) pada kulit, menandai hiper-
sensitivitas spesifik terhadap serum ybs.
– Tes konjungtiva: pemberian 1 tetes ba-
han yang telah diencerkan 1:10 pada
konjungtiva akan memicu keme-
rahan, air mata dan gatal dalam 5 menit
apabila yang bersangkutan hipersensitif.
Sebagai kontrol, 1 tetes larutan garam
faäli diteteskan pada mata sebelahnya.
b. Vaksin. biasanya efek samping
dari pemakaian vaksin tidaklah begitu
serius, biasanya hanya berupa reaksi ringan
setempat yang selewat (eritema, bengkak dan
nyeri lokal). Reaksi ini dapat timbul segera,
sesudah beberapa hari atau lebih lama lagi.
Efek samping setempat yang lebih serius
dapat ditimbulkan oleh beberapa vaksin
yang terdiri dari mikroorganisme hidup.
Misalnya vaksin BCG dan vaksin cacar da-
pat memicu peradangan, abses/ulsera-
si dan timbulnya parut.
Efek samping dapat pula timbul sebagai
akibat dari kepekaan terhadap beberapa
jenis antibiotika, misalnya penisilin dan strep-
tomisin, yang kadang-kadang dipakai pa-
da pembuatan vaksin.
Keamanan. Mikroba hidup yang diperlemah
praktis tidak memicu infeksi, sedang-
kan jasad yang telah diinaktifkan dan tok-
sinnya bukan merupakan sesuatu yang
hidup dan tidak memicu infeksi.
Kontra indikasi. Vaksinasi biasanya
hanya diberikan pada orang sehat dan ti-
dak pada pasien yang sedang menderita
suatu infeksi (pilek, batuk) atau dalam masa
inkubasi suatu penyakit infeksi. Pengecualian
yaitu pemberian vaksinasi terhadap rabies
dan tetanus.
Kontra-indikasi lain terhadap pemakaian
vaksin yaitu selama pengobatan dengan
steroida dan imunosupresiva (hormon kela-
min, kortison dan vitamin D), sebab zat-
zat ini merintangi pembentukan antibodies.
Misalnya, pencacaran pada orang yang se-
dang menjalani terapi dengan steroida dapat
memicu reaksi hebat dan adakalanya
fatal. namun steroida tidak membatasi peng-
gunaan sera.
Vaksinasi juga jangan diberikan pada
mereka yang diketahui memiliki kepekaan
berlebihan atau yang pernah memberikan
reaksi serius terhadap vaksin tertentu.
* Anak-anak. Pemberian beberapa jenis
vaksin kepada anak-anak di bawah usia
tertentu tidak ada gunanya, sebab pada
anak-anak yang terlampau muda sistem
imunnya belum berkembang. Vaksin dengan
bakteri hidup juga jangan diberikan pada
anak-anak di bawah usia 1 tahun, sebab
kemungkinan mereka masih memiliki anti-
bodies yang berasal dari ibunya, sehingga
akan melemahkan respons imunnya.
* Kehamilan dan laktasi. Pemberian vaksin
dengan jasad hidup pada wanita hamil atau
wanita yang diperkirakan akan hamil dalam
jangka waktu 3 bulan sesudah vaksinasi,
merupakan kontra-indikasi sebab ada ke-
mungkinan terjadinya infeksi pada janin.
Di lain pihak, vaksin dengan kuman mati/
diinaktifkan atau toksoid, biasanya
dapat diberikan. Untuk pemakaian selama
laktasi belum tersedia data yang cukup.
Vaksinasi juga jangan diberikan bila pasien
menderita infeksi parah akut yang disertai
demam tinggi. Juga harus berhati-hati pada
pemakaian vaksin dengan mikroorganisme
hidup pada penderita dengan defisiensi imu-
nologik atau imunosupresi, sebab bahaya
timbulnya infeksi menyeluruh (generalized).
Pasien demikian dapat diberikan vaksin
dengan mikroorganisme mati, walaupun
vaksinasi menjadi kurang efektif sebab ber-
kurangnya pembentukan antibodi. Dalam
hal ini perlu dipantau titernya.
C. DIAGNOSTIKA
Salah satu metode pemeriksaan dalam ilmu
pengobatan pencegahan (preventive medicine)
penyakit infeksi, didasarkan atas reaksi
antara suatu antibodi dengan antigen yang
bersangkutan. Untuk ini dipakai sun-
tikan intrakutan atau goresan di atas kulit
(immunity skin test) dengan suatu antigen
dalam kadar yang serendah-rendahnya, yang
masih memungkinkan timbulnya reaksi.
– Reaksi positif dalam bentuk semacam
benjolan di atas kulit menunjukkan
bahwa tubuh sudah memiliki antibodi
tertentu. Hal ini berarti bahwa orang itu
pernah mengalami infeksi dengan kuman
itu ataupun pernah dikebalkan
dengan sengaja. Antibodi itu melindungi
tubuhnya terhadap infeksi ulang dengan
antigen (kuman) bersangkutan.
VAKSINASI SELAMA
KEHAMILAN
Selama kehamilan ada suatu keseim-
bangan pada sistem imun sang ibu.
Di satu pihak ibu harus melindungi dirinya
sendiri dan janin terhadap infeksi, namun di
pihak lain tidak boleh memicu reaksi imu-
nologi/penolakan terhadap janinnya. Kese-
imbangan imunologi ini dapat dipengaruhi
secara tidak baik oleh vaksinasi, terutama
bila ada zat-zat tambahan pada vaksin
yang dipakai . Sebagai akibat dapat timbul
pertumbuhan terhambat dari janin, abortus
atau lahir prematur dan juga risiko efek
teratogen dari vaksin. Lagipula kemungkinan
timbulnya infeksi pada janin akibat vaksin
yang mengandung jasad hidup.
namun vaksinasi selama kehamilan dapat
melindungi neonat terhadap penyakit infeksi
melalui pengalihan zat-zat anti dari sang ibu.
Sebagai contoh yaitu vaksinasi terhadap
infeksi dengan risiko tinggi bagi sang ibu,
seperti influenza pandemik di tahun 2009.
Status imun selama kehamilan
Pada hakikatnya janin merupakan suatu
allotransplantaat asing bagi tubuh sehingga
proses-proses yang timbul selama kehamilan
dapat disamakan dengan proses pemeliharaan
toleransi sesudah suatu tranplantasi organ.
Oleh sebab ini dapat dipahami bahwa sistem
imun sang ibu harus mengalami perubahan
untuk dapat menerima janin.
Penelitian mengenai efek sistemik dari
vaksinasi selama kehamilan tidak/belum
banyak dilakukan. namun berdasar keya-
kinan baru terhadap imunologi selama keha-
milan dan pengalaman sampai sekarang,
vaksinasi lebih bermanfaat ketimbang risi-
ko potensialnya. Namun tiap keadaan me-
merlukan pertimbangan sendiri mengenai
untung ruginya yang dapat diputuskan oleh
dokter yang merawat.
– Reaksi negatif menunjukkan bahwa
tubuh tidak memiliki antibodi itu, ber-
arti tanpa perlindungan. Dalam keada-
an demikian, lazimnya orang itu
diberikan suatu vaksin untuk menge-
balkan tubuhnya secara aktif.
* Reaksi tuberkulin yaitu salah satu tes
kekebalan yang terkenal untuk mendiagno-
sis penyakit tuberkulosa (Mantoux skin test,
Pirquet´s scarification test). Tuberkulin ada-
lah larutan filtrat dari perbenihan basil
Mycobacterium tuberculosis. Reaksi negatif bia-
sanya dilanjutkan dengan pemberian vaksin
BCG (vaksin tbc). 1 ml mengandung 100.000
U.T. alt tuberkulin.
* Schicks skin-test toxin yaitu suatu reaksi
lainnya untuk mendiagnosis penyakit difteri.
Tes ini memakai larutan encer dari toksin
difteri (Toxinum diphtericum diagnosticum).
MONOGRAFI
A. VAKSIN MIKROBA
Vaksin dipakai untuk imunisasi aktif
terhadap penyakit bersangkutan. Yang kini
tersedia yaitu vaksin-vaksin berikut:
1. Autovaksin
Autovaksin mengandung mikroba mati
yang diperoleh dan dikembangbiakkan dari
jaringan sakit penderita. dipakai untuk
imunisasi terhadap infeksi kronis yang tidak
kunjung sembuh, misalnya furunculosis.
2. Vaksin BCG kering (Bacillus Calmette
Guérin)
Khusus dipakai sebagai pencegahan
terhadap penyakit TBC bagi mereka yang
bereaksi negatif terhadap tes tuberkulin.
Vaksin ini mengandung suspensi basil
Mycobacterium bovis (lembu) hidup dari su-
atu suku Paris yang sudah dilemahkan.
Kontra-indikasi yaitu bila reaksi Mantoux
positif. Perlindungan yang diberikan oleh
vaksinasi ini berlangsung untuk 10-15 tahun.
Efektivitasnya sering kali disangsikan oleh
sebagian ahli (Lancet 1997, December 13, 350).
namun ada petunjuk kuat bahwa vaksin BCG
juga memberikan perlindungan terhadap pe-
nyakit kusta bentuk menjalar (bentuk-L),
lihat Bab 10, Leprostatika. Di samping me-
miliki sifat imunostimulans spesifik, vaksin
ini juga menstimulasi imunitas aspesifik.
berdasar yang terakhir ini, vaksin itu
juga dipakai pada kanker kandung ken-
cing, lihat juga Bab 49, Imunostimulansia.
Efek samping: timbulnya ulserasi dan abses
pada tempat injeksi yang kemudian terjadi
parut. Beberapa tuberkulostatika dapat me-
ngurangi efektivitas vaksinasi, sebab perli-
patgandaan Mycobacterium terhambat.
Dosis: bayi < 1 tahun: 0,05 ml i.k.; anak >
1 tahun: 0,1 ml i.k. Imunisasi ulang: usia 5-7
tahun 0,1 ml dan usia 12-15 tahun 0,1 ml.
3. Vaksin Campak Kering(measles)
Vaksin yang dibeku-keringkan ini me-
ngandung virus campak hidup suku „CAM
70“ yang sudah sangat dilemahkan. Tidak
boleh diberikan kepada wanita hamil, sebab
efek vaksin virus campak hidup terhadap
janin belum diketahui.
Dosis: anak mulai umur 9 bulan s.k. 1 dosis
0,5 ml dari vaksin yang telah dilarutkan.
4. Vaksin Hepatitis-B Rekombinan: HB Vax
yaitu vaksin virus rekombinan yang
telah di-inaktivasi dan non-infectious, berasal
dari HbsAg yang dihasilkan dalam sel ragi
memakai teknologi DNA rekombinan.
dipakai untuk imunisasi aktif terhadap
infeksi akibat HBV, tidak untuk Hepatitis A
(Avaxim, Havrix) atau C. Khusus dianjurkan
bagi mereka yang memiliki risiko tinggi
terhadap infeksi oleh virus ini. Misalnya,
tenaga (para-)medis, penderita hemofili,
pasien hemodialisis dan orang yang sering
mendapatkan transfusi darah, pecandu
obat bius suntik dan kaum homoseksual.
Satu bulan atau lebih sesudah imunisasi
dasar, dianjurkan untuk menentukan titer
anti-HBsAg dan perlu/tidaknya revaksinasi
tergantung dari titer ini.
Penyebaran. Di seluruh dunia lebih dari 2
miliar orang telah terinfeksi HBV, ±350 juta
di antaranya merupakan pembawa kronis.
Maka, pada tahun 1991, WHO menyarankan
untuk mencantumkan vaksin HBV pada
program vaksinasi di semua negara. Di
Taiwan, bayi menerima dosis pertama lang-
sung sesudah dilahirkan, yang disusul oleh
dosis berikutnya sesudah 1 dan 2 bulan,
lalu pada usia 12 bulan. Pada tahun 1984,
seroprevalensi pada anak-anak di bawah usia
12 tahun yaitu 9,8%, sesudah 10 tahun turun
secara dramatis sampai 1,3%. (NTvG 1996;
140: 2106). Lihat juga Bab 7, Virustatika.
Wanita hamil: vaksinasi tidak dianjurkan,
sebab pengaruh antigen terhadap janin
belum diketahui.
Imunisasi pasif-aktif dapat dilakukan dengan
jalan pemberian serentak serum hepatitis-B,
yang mengandung minimal 90% IgG serta
IgA dan IgM dalam jumlah sedikit.
Dosis: Vaksin terdiri dari 3 dosis, yang
disuntikan i.m. dengan interval 1 dan 6 bulan
(pada bulan 1, 2, dan 7). Kemudian setiap 5
tahun sesudah imunisasi dasar.
5. Vaksin influenza:Influvac, Vaxigrip, ACT-
HIB, Agrippal, Fluarix, Hiberix
Influenza atau ‘griep’/flu disebabkan oleh
suatu virus RNA kecil (diameter 0,l mu), yang
terdiri atas inti protein dengan antara lain
RNA dan polimerase. Bagian luarnya yaitu
membran dari albumin dan lemak, di mana
ada tajuk („spikes“) dari glikopeptida
[hemagglutin (HA) dan neuraminidase (N)]
yang bekerja sebagai antigen. Lihat Gambar
50-1 di bawah.
Disebabkan adanya mutasi spontan yang
terjadi hampir setiap tahun, maka susunan
vaksin influenza juga perlu diganti setiap
tahun, sebab tidak ampuh lagi terhadap mu-
tan baru. Lihat juga Bab 7, Virustatika, sub 4.
Virus influenza. Masalah sama dike-temukan
pada perkembangan vaksin AIDS, yang
sering kali bermutasi. Hal ini berbeda dengan
vaksin virus lainnya, seperti polio, cacar dan
rubella, yang tidak mengalami mutasi.
Di tahun 2005 telah diberitakan 9 bahwa
suatu perusahaan Hongaria yang bekerja
sama dengan Institut Virologi Hongaria telah
berhasil untuk membuat vaksin terhadap
virus flu burung A/ H5N1. Dikabarkan bah-
wa vaksin ini mudah di sesuaikan dengan
varian-varian baru dari virus. namun vaksin
ini belum boleh diedarkan sebelum semua
persyaratan keamanan bagi suatu obat baru
telah di penuhi untuk mendapatkan izin
perdaftaran dari instansi kesehatan Hongaria
maupun Eropa.
* Jenis vaksin influenza. Vaksin terdiri dari
virus influenza dari 1 atau lebih suku tipe
A dan/atau B yang diinaktivasi dengan for-
maldehida, lalu disemaikan pada telur ayam
yang telah dibuahi. Jenis yang paling banyak
dipakai yaitu split-virus vaccin dan
subunit vaccin.
– Split-virus vaccin(Vaxigrip), di mana la-
pisan lemak dan sebagian protein dike-
luarkan sesudah inti virus dirombak. Me-
ngandung virion yang diuraikan, yakni
antigen selubung HA dan N, juga bahan
intinya.
– Subunit vaccin (Influvac) atau „sub-virion“
vaccin yaitu vaksin split-virus yang
dimurnikan: hanya terdiri dari antigen
HA dan N tanpa kotoran tak-berguna
lainnya. Vaksin ini paling murni dengan
efek samping paling ringan (nyeri otot,
demam dan sebagainyanya). Dalam
praktik, khasiat melindungi kedua jenis
vaksin itu ternyata tidak berbeda banyak
sewaktu timbul mutasi ‘drift’ kecil.
Pada suatu mutasi „shift”-antigen besar
dengan subtipe baru, efeknya belum
diketahui.
– Vaksin trivalen. Vaksin yang kini dibuat
setiap tahun lazimnya terdiri atas kom-
binasi dari 3 suku (trivalen), yang susun-
Gambar 50-1: Virus influenza
annya setiap tahun ditentukan pada bulan
Maret oleh para ahli WHO berdasar
ramalan epidemiologi.
* Siapa yang harus divaksinasi. pemakaian nya
khusus dianjurkan bagi lansia (>65 tahun),
pasien berisiko tinggi, antara lain pasien
asma dan bronchitis kronis, pasien jantung,
epilepsi, diabetes, pasien ginjal kronis dan
tbc. Tidak dianjurkan bagi ibu hamil dalam
3 bulan pertama dan bayi di bawah usia 6
bulan.
Di negara Barat, vaksinasi biasanya di-
lakukan pertengahan November berhubung
munculnya epidemi griep selalu di bulan
Desember atau Januari. Imunitas humoral
(antibodies) baru terbentuk sesudah ±10
hari dan bertahan hanya 8-12 bulan. Untuk
memperoleh perlindungan selama masa
inkubasi itu, maka dapat diberikan aman-
tadin(Symmetrel) 2 dd 100 mg selama 10
hari. Obat Parkinson ini bekerja cepat (dalam
1-2 jam) dan melindungi terhadap virus
influenza A subtipe H1N1, H2N2, dan H3N2,
dan mungkin juga terhadap subtipe lainnya.
Terhadap virus B tidak berdaya. Saat ini
dianjurkan oseltamivir (Tamiflu, per oral)
yang juga aktif terhadap flu burung H5N1,
lihat selanjutnya Bab 7.
Dosis: vaksin flu subkutan 0,5 ml.
6. Vaksin kolera:*Kotipa
Tiap ml mengandung suspensi dari 4
miliar kuman Vibrio cholerae Inaba resp. Ogawa
yang telah dimatikan melalui pemanasan.
Kadang-kadang juga dipakai tipe El Tor.
Perlindungan (terbatas) yang diberikan oleh
vaksinasi ini terhadap kolera menurun sete-
lah 3-6 bulan.
Dosis: untuk imunisasi dasar s.k. 2 dosis
dengan jarak antara 4-6 minggu. Besarnya
dosis sesuai usia.
* Vaksin Kotipa yaitu vaksin kombinasi
untuk imunisasi aktif terhadap kolera, tifus
dan para tifus.
7. Vaksin pertussis:*DKTP, Tripacel
Batuk rejan (pertussis, kinkhoest) yaitu
penyakit infeksi saluran pernapasan oleh
kuman Bordetella pertussis, yang telah dibahas
dalam Bab 41, Obat-obat Batuk. Vaksin ini
hanya dipakai dalam vaksin cocktail
DKTP (difteri, pertussis, tetanus dan polio).
Mengandung suspensi dari toksoid difteri
dan tetanus serta kuman pertussis yang
dimatikan dan virus polio yang diinaktifkan.
Kekebalannya berlangsung selama 2-4 tahun
dan menurun selama 10 tahun berikutnya
sampai nihil. Untuk memperpanjang daya
kerja vaksin ini, dapat juga diendapkannya
dengan garam aluminium (aluminium preci-
pitated vaccin) atau diadsorpsi pada permu-
kaan aluminium hidroksida (vaksin jerap/
serap petussis). Berhubung efek sampingnya,
di Belanda tidak dipakai lagi vaksin
yang mengandung seluruh kuman (whole
cell vaccin), namun suatu acellular vaccin, yang
terdiri dari hanya beberapa protein kuman
yang berperan pada respons imun.
Morbiditas dan kematian akibat batuk
rejan paling besar pada bayi di bawah
usia 4-5 bulan.Infeksi bakteri yang sangat
menular ini menyerang 30 hingga 50 juta
orang di seluruh dunia setiap tahun (data
WHO) dan menewaskan sekitar 300 ribu per
tahun, sebagian besar anak-anak di negara-
negara berkembang. Oleh sebab itu timbul
pertanyaan apakah bayi cukup terlindungi
dengan program vaksinasi dewasa ini (NTvG
1996; 140: 2006).
Dosis: imunisasi bayi pada usia 3, 4 dan
5 bulan 3 dosis pertama; minimal 6 bulan
kemudian dosis ke-4.
8. Vaksin Polio Oral Trivalen( Albert Sabin,
1961): Imovax Polio
Vaksin ini terdiri dari virus poliomyelitis
hidup dari tipe 1, 2, dan 3 dari suku Sabin
yang telah dilemahkan dan dibuat dalam
biakan jaringan ginjal kera. Vaksin ini dibe-
rikan per oral dan memicu infeksi
tanpa-gejala (asimtomatis) di bagian usus
besar selama beberapa minggu. Vaksin ini
memberikan kekebalan ke seluruh tubuh.
Keuntungan vaksin suku Sabin ini yaitu
mudah diberikan (per oral), terjadinya keke-
balan yang lebih cepat (dalam beberapa
minggu) dan perlindungan yang lebih sem-
purna. Vaksin yang terdiri dari jasad hidup,
seperti vaksin polio, tidak boleh diberikan
kepada mereka yang kekebalan tubuhnya
bermasalah (immunodeficient patients)
NTvG 2006; 150:2691.
Dosis: dasar, mulai usia 3 bulan diberikan
per oral 3 dosis dari 2 tetes selang 6 minggu;
ulangan (booster) 3 tahun kemudian 1 dosis (2
tetes).
* Vaksin polio dari Salk yaitu vaksin
trivalen dan terdiri atas ketiga tipe polio
itu di atas yang telah diinaktifkan de-
ngan formaldehida. Kekurangan dari vak-
sin ini yaitu lambatnya pembentukan anti-
gen di tubuh, di samping tidak memberikan
perlindungan yang sempurna. Kebaikan uta-
manya yaitu khasiatnya yang dapat me-
ngurangi gejala kelumpuhan. Vaksin ini
diberikan dengan cara injeksi subkutan
atau intramuskular dan memberikan perlin-
dungan selama ±14 tahun. sesudah waktu itu,
perlu diberikan injeksi booster.
Dosis: bayi sejak usia 2 bulan s.k. 1 ml, 1-2
bulan kemudian dosis kedua, 6-12 bulan
kemudian dosis ke-3.
9. Vaksin rabies kering:Verorab, Imovax Rabies
Vero
Vaksin yang dibeku-keringkan ini mengan-
dung suspensi otak bayi mencit yang telah
disuntik dengan virus rabies (Lat. rabere =
mengamuk) dan dipakai sebagai pencegah
terhadap penyakit anjing gila (rabies, lyssa
atau hydrophobia = takut kepada air). Imuni-
sasi aktif ini biasanya dilakukan selama
masa inkubasi (yang agak panjang, antara
1-6 bulan) sesudah digigit oleh seekor anjing
yang diduga menderita rabies. Profilaksis ini
yaitu sangat penting sebab bila penyakit
sudah berjangkit, maka rabies yaitu fatal
berhubung tidak adanya suatu terapi khusus.
Pengobatan dilakukan dengan cara vaksinasi
atau penyuntikan rabies immune globulin
(ImogamRabies). Cara terakhir ini terutama
dilakukan bila gigitan anjing terletak pada
bagian tubuh yang dekat kepala, sebab virus
rabies terutama menyerang otak (lihat juga
di bawah C.2 Rabies immune globulin).Vaksin
rabies diberikan dengan cara penyuntikan
subkutan sekitar pusar atau antara tulang
belikat (interskapuler). Cara imunisasi tergan-
tung pada tujuannya, yakni untuk pengobatan
(sesudah digigit) atau pencegahan (sebelum
digigit).
Dosis: s.k. anak-anak < 3 tahun 1 ml, di atas
3 tahun/dewasa 2 ml.
10. Vaksin sampar (pes)
Tiap ml mengandung suspensi 1 miliar
kuman pes (Pasteurella pestis, ditemukan oleh
Alexandre Yersin 1893) hidup yang sudah
dilemahkan dari suku Ciwidey dan Harbin.
Kuman ini dibuat non-virulen dengan cara
pembiakan melalui berbagai jenis hewan
(animalpassage, Otten).
Dosis: untuk imunisasi dasar s.k. 2 dosis
vaksin dengan jarak antara 4 minggu. Dosis
disesuaikan dengan usia dan di daerah
endemis pemberian booster tiap 6 bulan.
11. Vaksin Stafilokok Polivalen
Tiap ml mengandung 1 miliar kuman
mati yang terdiri dari Staphylococcus aureus
haemolyticus dan anhaemolyticus dengan Staph.
albus. Vaksin ini antara lain dipakai terha-
dap furunculosis.
12. Vaksin Streptokok Polivalen
Tiap ml mengandung 1 miliar kuman mati
yang terdiri atas Streptococcus haemolyticus
dan anhaemolyticus serta S. viridans.
13. Vaksin tifus:Typhim VI, Vivotif, Typherix
Vaksin tifus dipakai untuk imunisasi
aktif terhadap tifus (typhoid fever). Tiap ml
mengandung 1 miliar kuman Salmonella typhi
yang telah dimatikan melalui pemanasan.
Suatu vaksin lain mengandung hanya anti-
gen-Vi(= virulensi), yang memberikan per-
lindungan selama 3 tahun.
Vaksin oral (Vivotif Berna) terdiri dari 3
kapsul enteric coated, yang berisi suatu suku
S. typhi. Suku ini telah diperlemah dan di-
buat non-patogen dengan mengubah din-
ding selnya dengan mempertahankan si-
fat imunogennya. Daya kerjanya juga bisa
sampai 3 tahun. Dosis: i.m. 1 x 0,5 ml, oral
pada hari ke-1, ke-3 dan ke-5: 1 kapsul 1 jam
a.c. dimulai 3 minggu sebelum berangkat ke
daerah endemik.
* Vaksin TIPA dipakai untuk imunisasi
aktif terhadap tifus (typhoid fever), paratifus A,
B dan C. Vaksin ini merupakan suatu vaksin
kombinasi yang terdiri dari suspensi kuman
mati pembangkit tifus (Salmonella typhi)
dan paratifus A/B/C (S. paratyphi A/B/C).
Kekebalannya berlangsung selama beberapa
bulan sampai beberapa tahun.
Dosis: untuk imunisasi dasar diperlukan
2 dosis vaksin, s.k. dengan jarak antara 4-6
minggu. Dosis bagi orang dewasa 1 ml dan
untuk anak-anak di antara 2-12 tahun 0,5 ml.
Selanjutnya, revaksinasi sesudah 12 bulan.
14. Vaksin lainnya
Masih ada sejumlah vaksin lain, yang
di negara Barat sudah banyak dipakai .
Yang terpenting di antaranya yaitu sebagai
berikut.
a. Vaksin Bof (Mumpsvax) dibuat dari vi-
rus parotitis (paramyxo virus) hidup yang di-
lemahkan dan disemaikan dalam embrio
anak ayam (seperti vaksin influenza). Kadar
antibodi optimal baru tercapai sesudah 2-3
minggu dan bertahan minimal 10 tahun. Kini
dipertimbangkan untuk menvaksinasi semua
anak lelaki antara 1 dan 9 tahun (subkutan).
b. Vaksin German measles/‘rode hond‘
(Meruvax) dibuat dari virus rubella hidup
yang dilemahkan. Khusus dipakai untuk
imunisasi aktif dari anak perempuan sebelum
pubertas (di atas 11 tahun) dan wanita tak-
imun segera sesudah persalinan atau selama
haid. Seperti diketahui, penyakit “rode hond”
ini (= anjing merah) yang berjangkit selama
kehamilan dapat memicu bayi cacat,
khususnya pada mata. Vaksinasi subkutan
memberikan imunitas selama minimal 3
tahun, mungkin juga seumur hidup.
c. Vaksin cacar air: Varicella, Okavax. Vaksin
terhadap «waterpokken» (chickenpox) ini khu-
sus dikembangkan bagi anak-anak yang
sistem imunnya tidak bekerja lagi, misalnya
sebab penyakit ganas, seperti leukemia.
d. Vaksin pneumokok : Pneumo 23, Pre-
venar 13, Synflorix. Di banyak negara Eropa,
insidensi infeksi pneumokok cukup besar,
misalnya di Belanda 50.000 kasus setahun
(termasuk 5.000 kasus pneumonia) dengan
angka kematian tinggi, ±3.000 kasus. Ter-
utama diberikan kepada para penderita pe-
nyakit kronis berisiko tinggi, seperti pasien
PJP, paru-paru, hati, diabetes atau AIDS.
Pada tahun 1988, WHO menyarankan untuk
memvaksinasi semua lansia di atas 65 tahun
terhadap pneumokok. Oleh sebab itu, di
sejumlah negara (Inggris, Skandinavia, Jer-
man dan Belgia) sejak beberapa tahun sudah
dilakukan vaksinasi aktif sebagai tindakan
prevensi.
e. Vaksin meningokok tipe C: Mencevax,
Menveo, Pedvax HIB. dipakai terhadap
radang selaput otak(meningitis) akibat infeksi
meningokok(Neisseria meningitides). Meningitis
berbahaya ini kebanyakan melanda anak-
anak usia 5-18 tahun dan bercirikan demam,
sakit kepala, termenung-menung, adakalanya
timbul bercak kebiru-biruan di kulit dan
bintik-bintik perdarahan kecil (petachiae).Bila
kuman berproliferasi cepat, maka akan terjadi
sepsis, yang sangat gawat. Pasien menderita
kejang tengkuk (dagu tidak bisa ditundukkan
ke dada) dan dengan sangat mendadak menjadi
sangat nyeri. Tanpa penanganan di ICU ru-
mah sakit, keadaan ini selalu berakhir fatal.
Lihat Seksi II. Kemoterapeutika, Sepsis.
f. Vaksin Haemophilus influenzae (tipe B).
Meningitis juga bisa disebabkan oleh kuman
Haemophilus influenzae (tipe B). Di Belanda
dan banyak negara Barat, vaksin ini sudah
dimuat dalam program vaksinasi anak-anak.
Kuman ini tidak seganas meningokok.
Organisasi Kesehatan Dunia WHO telah
menyusun suatu model pola imunisasi aktif
yang dianjurkan bagi negara-negara ber-
kembang dan dapat disesuaikan dengan
kebutuhan dan tersedianya vaksin.
Di bawah ini disampaikan jadual imunisasi
dasar dari Bio Farma bagi bayi/anak-anak
sebelum usia 1 tahun terhadap 7 penyakit
infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Dari jadual ini dapat dilihat bahwa bebe-
rapa jenis vaksin dapat diberikan kepada
bayi langsung sesudah dilahirkan, mis. BCG
dan HBV. Lainnya tergantung dari usia bayi,
sebab respons imunitas dari bayi yang
baru lahir biasanya belum memadai,
lagipula antibodies sang ibu masih beredar
dalam tubuh bayi.
Imunisasi Dasar pada Bayi
Lima Imunisasi Dasar Lengkap untuk bayi
di bawah 1 tahun (L-I-L)
Berikut yaitu lima imunisasi dasar yang
wajib diberikan sejak bayi lahir.
• Imunisasi BCG (Bacillus Calmette-Gué-
rin) sekali untuk mencegah penyakit Tu-
berkulosis. Diberikan pada umur sebelum
3 bulan. namun dianjurkan pemberian
imunisasi BCG pada umur antara 0-12
bulan.
• Imunisasi Hepatitis B sekali untuk men-
cegah penyakit Hepatitis B yang ditu-
larkan dari ibu ke bayi saat persalinan.
• Imunisasi hepatitis B-1 diberikan sedini
mungkin (dalam waktu 12 jam) sesudah
lahir.
Imunisasi hepatitis B-2 diberikan sesudah 1
bulan (4 minggu) dari imunisasi hepatitis B-1
yaitu saat bayi berumur 1 bulan. Imunisasi
hepatitis B-3 diberikan pada umur 3-6 bulan.
• Imunisasi DPT-HB 3 (tiga) kali untuk
mencegah penyakit Difteri, Pertusis (ba-
tuk rejan), Tetanus dan Hepatitis B. Imu-
nisasi ini pertama kali diberikan saat
bayi berusia 2 (dua) bulan. Imunisasi
berikutnya berjarak waktu 4 minggu.
• Imunisasi polio diberikan 4 (empat) kali
dengan jelang waktu (jarak) 4 minggu.
• Imunisasi campak diberikan saat bayi
berumur 9 bulan. (IDAI, 2008).
Jadwal Imunisasi
Umur Jenis Imunisasi
0-7 hari HB 0
1 bulan BCG, Polio 1
2 bulan DPT/HB 1, Polio 2
3 bulan DPT/HB 2, Polio 3
4 bulan DPT/HB 3, Polio 4
9 bulan Campak
Di tahun 2012, Bio Farma meluncurkan
produk baru yaitu Vaksin Pentavalen (DPT-
HB-Hib) yang merupakan gabungan dari
lima antigen, yaitu difteri, pertusis, tetanus,
hepatitis B serta Haemophilus influenza tipe
B atau HiB (vaksin 5 in one).
Vaksin ini merupakan pengembangan dari
vaksin tetravalen (DPT-HB) dengan penam-
bahan Haemophylus Infuenza type B (HiB).
Sebelum penggabungan vaksin DPT, HB
dan HiB masing-masing diberikan 3 kali
sehingga total anak disuntik 9 kali. Dengan
imunisasi pentavalen, anak hanya disuntik
3 kali, sebab setiap kali disuntik sudah
‘kombinasi’ dari ketiga jenis vaksin itu .
Vaksin Pentavalen berupa cairan yang
diberikan dalam bentuk suntikan intra-
muskuler, bagi bayi berusia dua bulan dan
diberikan tiga dosis. Sehingga bayi hanya
disuntik tiga kali dengan waktu minimal satu
bulan.
Dalam pemakaian nya produk ini sangat
efisien sebab satu suntikan berarti untuk
pencegahan 5 penyakit sekaligus, sehingga
mengurangi jumlah suntik dan biaya jasa
dokter.
Dengan dipakai nya vaksin Pentavalen
bersama vaksin campak, polio dan BCG,
maka program imunisasi baru ini bisa men-
cegah delapan penyakit sekaligus.
B. VAKSIN TOKSOID
Toksoid atau anatoksin yaitu suatu tok-
sin yang telah diubah strukturnya oleh pe
manasan atau formaldehida, sehingga
tidak toksik lagi. Sifat antigennya tidak
dihilangkan, yakni kemampuannya untuk
menstimulasi pembentukan antibodies. Bebe-
rapa jenis bakteri, misalnya basil difteri dan
tetanus, dapat mengeluarkan racun kuat,
eksotoksin ( Lat. exo = dari /ke luar), yang
dapat dipisahkan dari perbenihan dengan
cara penyaringan. Toksoid dapat diberikan
sebagai toksoid biasa (plain, crude, atau fluid,
misalnya fluid-formol-toksoid) atau sebagai
sediaan long-acting. Ini yaitu toksoid biasa
yang telah diendapkan dengan tawas (aluin,
K-Al-sulfat) atau diadsorpsi pada permukaan
aluminiumhidroksida atau zat koloida lainnya.
Adsorpsi dan sekresi dari sediaan yang
tidak melarut ini berlangsung lebih lambat,
sehingga memberikan kadar (titer imunitas)
yang lebih tinggi pula daripada toksoid biasa.
Begitu juga sifat antigen dan kekebalan yang
dihasilkannya berlangsung lebih lama.
15. Vaksin Jerap Difteri(Infanrix)
Vaksin jerap (jerap/serap = diadsorpsi) dif-
teri terdiri atas suspensi steril dari toksoid
difteri yang dimurnikan dan diadsorpsikan
pada permukaan Al-fosfat, Al-hidroksida
atau K-Al-sulfat. Diperoleh dari perbenihan
basil (Corynebacterium diphtheriae). Berhubung
kemungkinan timbulnya reaksi kepekaan
lokal dan umum, maka sebaiknya terlebih
dahulu dilakukan suatu tes intrakutan de-
ngan toksoid yang telah diencerkan sebe-
lumnya. Kekebalannya berlangsung selama
± lima tahun.
Efek samping kadang kala terjadi dengan
reaksi kuat dan demam tinggi, terutama bila
sebelumnya pernah diberikan vaksinasi ini
(hiperimunisasi pada orang dewasa). Oleh
sebab itu, orang dewasa divaksinasi dengan
dosis toksoid yang lebih rendah.
Dosis dan cara imunisasi: untuk imunisasi
dasar 3 kali 0,5















